-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 14

Jilid 14

Ciong Thai memberi isyarat kepada kedua orang pembantunya. Thio Sam dan Ho Kai Beng. "Keluarlah kalian, sambut kedatangan puteri Souw Teng Wi dan coba sarnpai di mana kelihaiannya."

Setelah dua orang itu pergi keluar, ia berkata kepada Han Sin, "Tidak ringan apa yang kau minta itu, apa lagi di sana ada Tok-ong Kai Song Cinjin yang bukan tidak berkepandaian dan berpengaruh. Akan tetapi kami tidak akan keberatan memenuhi permintaanmu asalkan ada imbangannya. Kamipun sekarang ini sengaja mengundangmu ke sini dari dalam hutan untuk minta pertolonganmu. Apakah kau suka membantu kami?"

"Tentu saja siauwte suka membantu asal siauw-te dapat dan urusannya tidak berlawanan dengan kebenaran," jawab Han Sin dengan suara tetap. "Akan tetapi siauwte yang muda dan dangkal kepandaian, bagaimana bisa menolong Ciong-enghiong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Ciong Thai menarik napas panjang "Kau ndak tahu, Liem-hiante. Sebetulnya aku, isteriku dan adikku, semua menderita luka hebat sekali akibat pukulan Pek-kong-sin-ciang. Kalau tidak mendapat obatnya, dalam waktu lima hari lagi kami takkan tertolong lagi " Han Sin terkejut bukan main, apa lagi ketika melihat wajah tuan rumah, adiknya, dan isterinya nampak berduka sekali. Bukan hanya ia kaget mendengar hal hebat ini, terutama sekali kaget dan heran mengapa orang-orang berkepandaian tinggi seperti mereka ini sampai bisa dilukai orang dan kalau mereka saja kalah, dia sendiri bisa berbuat apakah?

“Dalam suatu pertengkaran, kami telah kesalahan tangan membunuh seorang pemuda yang kami sama sekali tidak sangka adalah calon mantu Pek-kong-sin-ciang Bu-lohiap. Setelah hal ini terjadi baru kami tahu. Kami menyesal dan pergi minta maaf kepada Bu-lohiap, akan tetapi anak perempuannya itu tidak mau memberi maaf. Terjadi pertempuran dan kami akhirnya dilukai oleh pukulan Pek-kong-sin-ciang yang lihai Sekarang Liem-hiante lewat di sini, benar-benar ini kehendak Thian bahwa kami tidak harus mati sekarang "

"Ciong-enghiong, siauwte memang pernah mempelajari sedikit ilmu silat dari suhu, akan tetapi siauwte sama sekali tidak pernah belajar ilmu pengobatan. Bagaimana siauwLe bisa tolong?"

"Pek-kong-sin-ciang adalah pukulan mengandung racun yang amat berbahaya dan kiranya selain Bu- lohiap sendiri, tidak dapat diobati lagi. Bu-lohiap adalah seorang yang menjunjung tinggi patriot rakyat, oleh karena ini Liem-hiante sebagai anggauta Tiong-gi-pai kalau suka pergi kepadanya dan mintakan obat untuk kami, tentu akan dapat menolong nyawa kami.

Han Sin mengangguk-agguk. Sekarang ia mengerti maksud tuan rumah ini. Dia disuruh menghadap Bu-lohiap (pendekar tua she Bu) untuk mintakan obat tiga orang ini! Pekerjaan yang mudah, pikirnya dan pula, setelah di sini terdapat pendekar tua she Bu yang jauh lebih lihai dari pada tiga orang ini, sungguh kebetulan sekali. Tanpa mereka mintapun ia ingin pergi menemui pendekar tua itu untuk menyampaikan pesan Tiong-gi-pai! Cepat ia menyanggupi permintaan Ciong Thai.

Pada saat itu muncullah Souw Lee Ing seperti telah diceritakan di bagian depan. Mendengar penuturan Han Sin ini, Lee Ing mengangguk-angguk dan tahulah ia kini mengapa Han Sin bersikap demikian aneh.

"Ah, kiranya begitukah? Orang-orang itu memang menderita luka hebat dan tinggal menunggu mati, akan tetapi mengapa sikap mereka masih begitu angkuh dan aneh? Benar-benar memualkan perut!" akhirnya Lee Ing berkata.

"Nona Souw, memang demikianlah sikap orang orang kang-ouw, selalu aneh. Kalau mereka ini sudah demikian aneh, apa lagi orang tua she Bu itu. Oleh karena itu, aku yang bodoh merasa khawatir juga menghadapinya dan kalau seandainya kau sudi, aku sangat mengharapkan bantuanmu untuk menyertaiku mendatangi orang tua she Bu itu." Suara Han Sinn terdengar penuh permohonan dan sinar matanya memandang penuh harap.

Lee Ing tersenyum, lalu menarik napas panjang. "Aku sendiri sih, tidak tertarik oleh urusan perang segala macam. Akan tetapi karena Tiong-gi-pai amat membela nama baik ayahku, pula mengingat persahabatan kita, biarlah kali ini aku menemanimu ke rumah orang she Bu itu. Apa. kau sudah tahu di mana rumahnya?"

Pada saat itu, Thio Sam dan Ho Kai Beng muncul membawa senjata masing-masing. Mereka datang dan berdiri tegak di depan Han Sin dan Lee Ing. Melihat mereka. Lee Ing tertawa mengejek dan berkata,

"Apa kalian muncul untuk menerima gebukan-gebukan lagi?" "Tidak, nona. Kami diperintah untuk mengantar ji-wi ke rumah Bu-lohiap," jawab Ho Kai Beng penuh hormat sambil menjura di depan Lee Ing.

Lenyap sikapnya yang keras tadi dan kini ia takluk betul-betul kepada Lee Ing. Han Sin sendiri sampai heran melihat hal ini, karena ia tahu betul bahwa dua orang pembantu keluarga Ciong itu berkepandaian tinggi dan berwatak galak. Akan tetapi mendengar kata-kata sindiran Lee Ing, ia dapat menduga bahwa mereka tentu sudah menerima hajaran dari nona ini. Makin kagumlah ia terhadap Lee Ing yang belum ia ketahui sampai di mana kehebatan ilmu kepandaiannya.

"Mari kita pergi agar urusan lekas beres!" kata Lee Ing berdiri dari bangkunya.. Berangkatlah mereka keluar dari rumah itu dan dapat dibayangkan keanehan watak tuan rumah yang sama sekali tidak muncul untuk mengantar orang-orang yang hendak mencari obat guna menolong mereka!

Siapakah sebetulnya yang disebut Pck-kong-sin-ciang Bu-lohiap dan mengapa terjadi permusuhan antara dia dengan keluarga Ciong? Mari kita melihat keadaan pendekar tua ini yang sebetulnya adalah seorang tokoh besar yang sangat terkenal di daerah selatan, merupakan seorang di antara tokoh-tokoh nomor satu di selatan.

Kurang lebih dua puluh lima li jauhnya dari Lembah Yang-ce-kiang itu, di sebelah utara Telaga Tung- ting, terdapat sebuah dusun nelayan dan di sinilah tempat tinggal Pek-kong-sin-ciang yang bernama Bu Kam Ki. Tokoh ini memang seorang nelayan, hidup sebagai nelayan miskin, akan tetapi terkenal sebagai seorang sakti yang berwatak aneh. Dia hidup di dusun itu bersama seorang anak gadisnya bernama Bu Lee Siang yang sudah berusia tujuhbelas tahun, seorang gadis remaja yang biarpun tidak berapa cantik, bertubuh langsing dan berkepandaian tinggi.

Selain anak perempuannya, juga di situ terdapat beberapa orang nelayan kasar yang menjadi pembantu dan pelayan. Melihat keadaan mereka yang amat sederhana, orang takkan mengira bahwa kakek itu, juga anaknya, malah pelayan-pelayannya pula, adalah orang-orang berilmu silat tinggi yang sukar dicari bandingannya di wilayah itu.

Bu Kam Ki memang sengaja hidup sederhana setelah dahulu, belasan tahun yang lalu, ia gagal dalam usahanya mengguncangkan pemerintah Mongol yang ketika itu masih amat kuat. Oleh karena memang ia berjiwa patriot, biarpun ia bersembunyi dari kejaran pemerintah Mongol, diam-diam ia selalu memperhatikan dan ketika pemerintah Mongol roboh, kakek ini mengadakan pesta besar di rumahnya, mengundang semua tetangganya!

Bu Lee Siang gadis berkepandaian tinggi yang semenjak kecilnya hidup sebagai seorang gadis nelayan, berjiwa sederhana dan tidak banyak tingkah. Oleh karena itu ia menerima dengan senang hati ketika ayahnya mencalonkan ia sebagai isteri seorang pemuda nelayan pula bernama Lai Seng, seorang pemuda yang jujur dan cukup tampan. Setelah hidup sederhana sebagai nelayan miskin. Bu Kam Ki yang dahulunya amat terkenal di dunia kang-ouw, melihat betapa penghidupan rakyat kecil jauh lebih bersih dan murni dari pada penghidupan orang-orang kota dan bangsawan-bangsawan berikut pembesar-pembesarnya.

la maklum bahwa kalau puteri tunggalnya menjadi isteri seorang nelayan sederhana, puterinya itu akan mengalami hidup sederhana namun tenteram, damai, dan penuh kebahagiaan sejati. Tidak seperti kehidupan wanita-wanita bangsawan dan kaya raya di kota-kota yang hidupnya tidak sewajarnya lagi, penuh kepalsuan dan nafsu duniawi. Agaknya memang sudah takdirnya akan terjadi keributan, pada suatu hari nelayan muda Lai Seng yang sedang membetulkan jala di pinggir Telaga Tung-ling, tiba-tiba ditegur oleh suara halus seorang wanita. "Aku mau menyewa perahumu berkeliling di telaga, bisakah kau mengantarkan dan sewanya berapa?"

Lai Seng mengangkat muka dan melihat seorang wanita cantik manis berpakaian indah berdiri tegak memandangnya dengan senyum dikulum dan kerling mata menyambar tajam. Sekali pandang Lai Seng tahu bahwa wanita ini tentu orang kota, dapat dilihat dari bibirnya yang diberi cat merah dan alisnya yang ditambahi warna hitam, mungkin dengan angus dari pantat kwali.

"lni perahu nelayan untuk mencari ikan, nona, tidak disewakan. Bukan perahu pesiar," jawab Lai Seng tidak acuh lagi sambil melanjutkan pekerjaannya menambal jala yang pecah.

"Apa salahnya? Mencari ikan berarti mencari uang, menyewakan perahu juga mendapat uang. Aku berani membayar lima tail untuk berputar-putar selama dua tiga jam. Setelah kau mengantarkan aku putar-putar, kau masih banyak waktu mencari ikan, bukan? Malah, kalau kau mau. kau boleh sekalian menjala ikan, aku ingin menonton. Wanita itu mengeluarkan uang lima tail dan melemparkannya di depan Lai Seng.

Tergerak hati pemuda nelayan ini. Uang lima tail sungguh tidak mudah ia dapatkan. Dan lagi, kalau sambil mengantar wanita pesolek ini putar telaga ia masih boleh menjala ikan, lumayan juga, la perlu mendapatkan hasil lebih banyak, perlu mengumpulkan uang setelah hari pernikahannya makin mendekat, kurang lima bulan lagi.

"Jadilah, akan tetapi perahuku buruk, harap nona jangan menyesal dan mencela nanti." Ia mengantongi uang itu lalu membersihkan perahunya.

Ketika ia mempersilahkan nona itu menaiki perahunya, ia melihat nona itu melompat dengan gerakan seperti burung walet saja ringannya. Mengertilah ia sekarang mengapa nona ini melakukan perjalanan seorang diri. Kiranya seorang wanita kang-ouw, yang memiliki kepandaian. Ia tidak heran sama sekali karena dia sendiri juga banyak mendapat petunjuk tentang ilmu silat dari calon mertuanya, bahkan tunangannya adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat luar biasa tingginya.

Betul saja dugaannya ketika nona itu duduk di atas perahunya, ia melihat pedang tergantung di bawah baju. Akan tetapi Lai Seng tidak curiga atau takut, karena biarpun ia seorang nelayan miskin, melihat pedang dan ilmu silat bukan hal baru baginya.

Siapakah wanita ini? Bukan lain dia adalah Bu-eng-sin-kiam Giam Loan, isteri Ciong Thai yang amat genit dan cabul. Wanita ini memang sering kali berpelesir ke tempat-tempat indah dan kadang- kadang ditemani oleh adik iparnya, Ciong Sek yang selain menjadi adik ipar juga menjadi kekasihnya. Giam Loan dan Ciong Sek memang cocok sekali, seperti keranjang dengan sampahnya. Mereka berpesiar dan kalau sudah merasa bosan satu kepada yang lain, lalu mencari jalan masing-masing, mencari hiburan sendiri-sendiri.

Demikianlah, selelah kenyang berpesiar berdua di Telaga Tung ting, kmi Ciong Sek pelesir di dalam sebuah perahu bersama dua orang wanita penyanyi, sedangkan Giam Loan keluyuran mencari korban baru. Akhirnya ia melihat Lai Seng, pemuda nelayan yang beriubuh sehat kuat, kulitnya agak kecoklatan karena setiap hari terbakar matahari, pemuda sederhana yang cukup tampan sehingga menggerakkan hari Giam Loan yang kotor.

Tadinya perahu Lai Seng yang ditumpangi dan disewa oleh Giam Loan itu nampak bergerak tenang dan biasa saja, ke sana ke mari di antara perahu-perahu yang berada di telaga itu. Akan tetapi, kurang lebih satu jam kemudian, terdengar ribut-ribut dari perahu itu. Lai Seng berdiri di kepala perahu dan mengeluarkan suara keras.

"Tak tahu malu! Siapa sudi menurutkan kehendakmu yang kotor? Kau mau memaksa saja mengandalkan apa sih? Kau kira aku takut? Hayo kuantar kau mendarat dan minggat dari perahuku, uang kotormu boleh kau bawa lagi!"

Ternyata bahwa setelah berada di perahu, Giam Loan mencoba untuk membujuk pemuda nelayan itu, merayu dan memikatnya. Akan tetapi kali ini ia bertemu dengan batu karang yang kuat. Lai Seng menolak keras, mula-mula dengan halus dan bersifat mengingatkan agar wanita cabul itu tidak melanjutkan usahanya yang menjijikkan. Akan tetapi ketika Giam Loan dengan tak tahu malu malah mengeluarkan ancaman bahwa kalau Lai Seng menolak akan dibunuhnya, Lai Seng tak dapat menahan kemarahannya lagi, la lalu memaki-maki dan cepat mendayung perahunya ke pinggir.

Dapat dibayangkan betapa malunya hati Giam Loan. Akan tetapi ia menahan sabar karena maklum bahwa kalau bertempur di perahu, sekali pemuda itu melompat ke air dan menggulingkan perahu ia akan celaka. Di darat ia boleh garang dan ganas, akan tetapi di dalam air tanpa diapa-apakan ia akan mati sendiri.

Lebih-lebih malunya ketika perahu sudah mendekati daratan, Giam Loan melihat Ciong Sek sudah berada disitu, tertawa-tawa gembira menunggunya setelah puas berpelesir dengan perempuan- perempuan tukang menyanyi di dalam perahu pesiar. Giam Loan takut kalau-kalau Lai Seng pemuda nelayan itu akan membikin malu padanya di daratan maka begitu ia melompat turun setelah Lai Seng keluar lebih dulu, ia segera menyerang pemuda itu dengan pukulan keras.

Lai Seng pernah menerima sedikil pelajaran ilmu silat dari calon mertuanya, maka pukulan ini dapat ia hindarkan dengan elakan cepat, lalu ia memaki, "Perempuan tak tahu malu...!"

Cong Sek yang melihat kekasihnya atau kakak iparnya berkelahi dengan tukang perahu, cepat menghampiri dengan lompatan-lompatan jauh.

"Anjing ini mencoba berlaku kurang ajar kepadaku!" kata Giam Loan mendahului. Tentu saja Ciong Sek marah bukan main dan cepat menyerang.

Biarpun pernah dapat petunjuk dari seorang jago tua kang-ouw yang lihai, namun Lai Seng semenjak kecilnya tidak belajar silat, hanya setelah menjadi tunangan Bu Lee Siang saja ia belajar sedikit ilmu silat, itupun belum ada satu tahun. Mana ia mampu menghadapi lawan pandai seperti Giam Loan atau Ciong Sek? Dalam beberapa gebrakan saja ia sudah menjadi bulan-bulan pukulan Ciong Sek dan tendangan Giam Loan!

"Lekas berlutut dan minta ampun tujuh kali, baru aku takkan membunuhmu!" bentak Giam Loan yang sebetulnya tidak bermaksud membunuh pemuda ini, hanya ingin membalas dan membikin malu. Akan tetapi Lai Seng adalah seorang pemuda jujur kasar yang berhati keras dan tak kenal takut. Biarpun ia disiksa dan seluruh tubuhnya sakit-sakit, ia tidak sudi minta ampun, malah memaki- maki.

"Anjing buduk! Kau memang sudah bosan hidup!" bentak Ciong Sek yang mengirim pukulan dengan keras yang tepat mengenai kepala Lai Seng. Pemuda nelayan ini terlempar lalu terpelanting dan roboh tak berkutik lagi, tewas!

Pada saat itu terdengar jeritan keras dan marah. Seorang gadis muda berpakaian sederhana, agaknya gadis nelayan, bertubuh langsing dan gerakannya ringan sekali, datang berlari-lari. Inilah Bu Lee Siang, gadis berusia tujuh belas tahun yang menjadi tunangan Lai Seng. Inilah puteri tunggal Pek- kong-sin-ciang Bu Kam Ki. Melihat tunangannya menggeletak dengan kepala pecah. Bu Lee Siang marah bukan main.

"Jahanam laki perempuan dari manakah berani membunuh dia?" teriaknya dengan muka pucat saking marahnya.

Ciong Sek si mata keranjang melihat gadis muda ini marah-marah, tersenyum sambil melangkah maju. "Eh. nona, jangan galak-galak kau, kalau galak hilang manismu! Mari ikut saja dengan aku orang she Ciong untuk bersenang-senang!"

Sementara itu, Giam Loan yang tadi dihina dan dibikin malu, masih panas hatinya. Kini melihat ada seorang gadis nelayan datang-datang memaki, ia lalu bertolak pinggang dan berkata, "Aku Bu-eng- sin-kiam Giam Loan yang membunuh anjing laki-laki, kau anjing betina apakah sudah bosan hidup pula?"

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Bu Lee Siang. Ia menjerit nyaring dan maju menyerang sambil mencabut sebuah pisau pemotong ikan di tangan kiri. Kepandaian Lee Siang hebat sekali dan ayahnya telah sengaja menciptakan semacam ilmu silat senjata yang luar biasa, yaitu dengan sebatang pembelek perut ikan dan sebuah jala kecil, sesuai dengan pekerjaan puterinya kelak sebagai isteri nelayan.

Tadinya Gam Loan dan Ciong Sek memandang ringan. Apa sih yang perlu ditakuti dari seorang gadis nelayan saja? Akan tetapi begitu gadis itu bergerak, pisaunya menyambar ke arah lambung Giam Loan dan jalanya terbuka menyambar kepala Ciong Sek, dua orang ini terkejut bukan main. Dua senjata ini datangnya cepat dan kuat sekali, mendatangkan angin pukulan yang dahsyat.

Tak berani lagi Ciong Sek dan Giam Loan memandang rendah Mereka cepat melompat mundur agak jauh sambil mengeluarkan senjata masing-masing. Giam Loan mencabut keluar sebatang pedang yang sinarnya kehijauan menandakan bahwa itu adalah sebatang pedang pusaka, sedangkan Ciong Sek mencabul keluar siang-kiam (pedang sepasang). Namun Lee Siang sama sekali tidak menjadi gentar dan menyerbu terus dengan sepasang senjatanya yang dapat digerakkan secara istimewa. Segera terjadi pertempuran yang hebat dan kembali dua orang itu terkejut karena mendapat kenyataan bahwa gadis nelayan ini benar benar hebat kepandaiannya. Mereka mulai khawatir dan menduga-duga.

"Lekas beritahukan Bu-taihiap! Bu-lihiap bertempur dengan dua orang kota!" terdengar suara beberapa orang nelayan yang menonton pertempuran itu.

Mendengar seruan ini, semangat Ciong Sek dan Giam Loan seperti terbang meninggalkan raga. Mereka menjadi pucat.

"Tahah dulu!" kata Ciong Sek. "Apakah nona ini puteri Bu-lohiap?"

"Jahanam keparat! Aku Be Lee Siang, kau tunggulah nonamu membalas dendam ini!" bentak Lee Siang menyerang lagi.

"Akan tetapi kami tidak bermusuhan dengan keluarga Bu-lohiap! Maafkan, kami tidak mau melawan lebih lama lagi," kata pula Ciong Sek sambil memberi isyarat kepada Giam Loan untuk menyimpan senjata. "Kalian sudah membunuh dia, masih bilang tidak ada permusuhan?" bentak Lee Siang, hampir tak dapat menahan kemarahannya.

"Siapa.. siapakah dia    ?" Giam Loan bertanya perlahan sambil memandang ke arah mayat Lai Seng.

Lee Siang tidak menjawab, sepasang senjatanya bergerak-gerak di tangannya, wajahnya pucat matanya bersinar-sinar. Seorang nelayan tua mewakilinya menjawab pertanyaan Giam Loan itu, "Dia Lai Seng, calon mantu Bu-lohiap!"

Kalau ada halilintar menyambar mereka, kiranya dua orang itu takkan begitu kaget seperti ketika mendengar jawaban ini.

"Celaka, kita kesalahan membunuh orang. Bu-siocia, perkara ini harus dibicarakan secara damai, kita... kita tidak bersalah. " kata Ciong

Sek gugup.

Akan tetapi Lee Siang sudah menyerang lagi. Ciong Sek melompat mundur dan berkata kepada Giam Loan, "Kita pulang dulu, kelak damaikan urusan ini !"

Dua orang itu cepat lari, dikejar oleh lee Siang. Akan tetapi Ciong Sek dan Giam Loan sudah sampai di tempat kuda mereka yang segera mereka tunggangi dan kaburkan dari tempat berbahaya itu Lee Siang yang tidak mempunyai kuda tidak berdaya mengejar, lalu kembali dan menangisi mayat tunangnannya.

Sepasang alis putih itu bergerak-gerak naik turun, sepasang matanya mengeluarkan cahaya menakutkan. Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki mengangkat bangun puterinya dan berkata, "Sudahlah, orang yang sudah mati takkan hidup lagi biar kau tangisi dengan air mata darah Mati hidup sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa Aku tahu siapa Bu eng Sin-kiam itu, dia isteri Ciong Thai yang tinggalnya tidak jauh dari sini Iaki-laki muda itu mungkin adiknya. Aku akan menyusul ke sana."

"Aku ikut, ayah. Biar kuhancurkan kepala mereka!" Lee Siang berkala penuh geram.

"Tak usah, jangan kau mengotorkan tanganmu dengan permusuhan. Percayalah, ayahmu akan membereskan urusan ini."

Pek-kong-sin-cang Bu Kam Ki yang sudah tua itu dapat menahan kesabarannya dan ia lalu pergi menyusul dua orang tadi pergi ke tempat tinggal jago lembah Sungai Yang-ce bagian barat, yaitu Sin- jiu Ciong Thai. la pergi seorang diri tanpa membawa senjata.

Kedatangannya disambut oleh Ciong Thai sendiri bersama isteri dan adiknya. Ciong Thai sudah diceritai oleh isterinya, tentu saja dengan bohong. Giam Loan bercerita bagaimana Lai Seng mencoba untuk berlaku kurang ajar kepadanya, maka ia menegur dan mendampratnya, lalu Lai Seng malah marah memaki-maki sampai terjadi pertempuran.

"Kalian tentu sudah maklum apa keperluanku datang ke tempat ini," kata Bu Kam Ki dengan suara perlahan namun membuat jantung tiga orang itu berdebar gelisah. "Hayo ceritakan terus terang mengapa calon mantuku yang bodoh itu dibunuh."

"Bu-lohiap, aku. aku hanya membantu soso (kakak ipar). Melihat so-so dihina orang, tentu saja aku

turun tangan, sama sekali tidak mengira bahwa dia itu calon mantumu.." kata Ciong Sek mendahului untuk membebaskan diri, karena sesungguhnya dialah yang memukul pemuda Lai Seng sampai mati. Bu Kam Ki menatap wajah Giam Loan dan berkata keren, "Ceritakan yang jelas."

"Bu-lohiap, sesungguhnya pemuda itu yang bersalah. Aku menyewa perahunya dan minta dia mengantarku berpesiar di Telaga Tung-ting. Eh, tidak tahunya pemuda itu hendak berlaku kurang ajar padaku di tengah telaga.

Tentu saja aku marah dan memakinya. Ia lalu marah pula, dan hendak menggunakan kekerasan. Kami bertengkar dan aku minta dia mendaratkan perahu. Sesampai di daratan, baru aku berani memukul dan memakinya. Dia melawan, lalu terjadi pertempuran sampai dia menemui ajalnya. Sungguh aku tidak pernah menyangka dia itu masih ada hubungan keluarga dengan kau orang tua, kalau aku tahu pasti takkan terjadi perkara itu. Malah aku tentu takkan menyewa perahunya.

Sepasang mata tua itu menatap tajam seperti hendak menembus wajah Giam Loan dan menjenguk isi hatinya. Diam-diam Giam Loan berdebar dan mengkirik. Akan tetapi demi keselamatannya dan menjaga nama baiknya, ia menentang pandang mata kakek itu dengan berani seperti orang yang betul-betul tidak mempunyai kesalahan dalam perkara itu.

"Harap Bu-lohiap suka mempertimbangkan dengan baik-baik," kata Sin-jiu Ciong Thai, "isteriku dihina laki-laki yang tak dikenalnya menjadi marah sampai terjadi pertempuran dan laki-laki itu tewas. Hal ini sesungguhnya bukan kesalahan isteriku dan adikku membantu iparnya adalah kewajibannya untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga. Hanya menyesal sekali yang terbunuh itu adalah pemuda calon mantumu. Untuk peristiwa ini benar-benar aku menyatakan menyesal sekali dan bersedia melakukan apa saja untuk meringankan kedukaan keluargamu."

Bu Kam Ki masih memandang tajam kepada Giam Loan, mengangguk angguk dan berkata, "Hemmm, isterimu ini memang masih muda, cantik dan genit. Tidak amat mengherankan kalau ada orang muda tertarik oleh lagaknya. Akan

tetapi.. Lai Seng itupun seorang pemuda yang tampan dan gagah, masih muda lagi. Kalau dibandingkan, dia menang banyak dari kau atau adikmu ini. Dalam perkara itu. siapa tahu apa yang terjadi sesungguhnya di tengah telaga? Hanya telaga bisa menjadi saksi, Aku sayang sekali tidak mau bertindak tanpa bukti-bukti terang.

Yang sudah mati takkan kembali, perlu apa ditambah kematian yang tidak jelas sebab-sebabnya? Ciong Thai, perkara sudah menjadi begini. Kau sekeluarga menjaga keselamatan dan aku menjaga nama baik. Kalau kau. isterimu, dan adikmu suka datang bersembahyang di depan peti mati jenazah Lai Seng untuk minta ampun, kemudian berlutut di depan Lee Siang minta

ampun pula, aku orang tua akan menghabiskan urusan sampai di sini saja."

Berat sekali permintaan ini bagi Sin-jiu Ciong Thai. Diapun meragukan kebenaran cerita isterinya, akan tetapi oleh karena tidak ada bukti, dan pula memang ia harus pula menjaga nama baiknya sendiri, ia tentu membela isterinya. Kalau sekarang kakek itu menyuruh dia sekeluarga minta-minta ampun, bukankah itu sama artinya dengan mengakui kesalahan di depan orang banyak?

"Permintaanmu terlampau berat, Bu-tohiap. Ini menyangkut soal nama dan kehormatan, aku orang she Ciong mana bisa melakukannya?"

"Calon mantuku sudah mati, kalian yang membunuhnya. Aku yang mempunyai hak menuntut sesuatu, Kalau kalian tidak mau melakukan permintaanku dengan suka rela, terpaksa akan kulakukan paksaan," jawab Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki dengan suara keras dan tegas. Nama besar Pek-kong-sin-ciang Bu Kam Ki sudah amat terkenal dan keluarga Ciong ini juga sudah lama mendengar nama ini, Akan tetapi Sin-jiu Ciong Thai juga bukan seorang biasa saja, ia sudah membuat nama besar di dunia persilatan, biarpun ia sudah mendengar tentang Pek-kong-sin-ciang yang hebat, namun ia sendiri juga terkenal akan ilmu silat tangan kosongnya dan memiliki beberapa pukulan ampuh, di antaranya yang amat ia andalkan adalah Tok-see-jiu (Tangan Pasir Beracun), semacam pukulan khusus yang selain mempergunakan tenaga lweekang, juga mengandung hawa beracun karena ketika melatihnya dulu tangannya dipakai menampari pasir panas beracun.

Selain dia sendiri, Ciong Thai juga maklum akan kelihaian isterinya sebagai ahli pedang Go bi-pai dan ketangguhan adiknya yang memiliki ilmu pedang pasangan yang tak boleh dibilang lemah. Mengingat akan ini semua, tentu saja jawaban Bu Kam Ki itu memanaskan perutnya dan membuai ia tiba-tiba bersikap dingin dan kaku.

"Bu-lohiap. kau orang tua benar-benar agak keterlaluan terhadap kami. Kami tidak merasa bersalah, bagaimana kami mau disuruh berlutut minta ampun di depan umum? Kami menolak permintaanmu dengan halus, kau hendak menggunakan paksaan. Bagaimana kau bisa memaksa kami?"

Bu Kam Ki tertawa bergelak. "Orang she Ciong, manusia seperti aku mana bisa disamakan dengan engkau? Biarpun aku hidup miskin seperti nelayan, akan tetapi namaku bersih tak pernah tercemar seperti namamu, juga nama Bu-eng-sin-kiam bukanlah nama yang bersih dan harumi Biarpun tidak bisa melihat bukti-buktinya, orang yang berurusan dengan isterimu sudah dapat disangka siapa yang salah. Kalau aku hendak menggunakan paksaan, kalian bisa membantah bagaimana lagikah?"

Ciong Thai melompat bangun. "Bagus. Orang she Bu benar-benar sombong. Coba hendak kami lihat bagaimana kau bisa memaksa kami?"

Bu Kam Ki mengeluarkan suara ketawa menyeramkan, kemudian tubuhnya bergerak maju dan mulutnya membentak, "Mau tahu? Lihatlah pukulanku!"

Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek melihat sinar putih menyambar-nyambar ke arah mereka, hawanya panas sekali. Mereka cepat mencabut senjata masing-masing sambil mengelak lalu menerjang maju. Akan tetapi mereka disambut oleh hawa pukulan Pek-kong sin ciang yang amat hebat. Baru melihat berkelebatnya sinar putih dan merasakan panasnya saja membuat mereka tak kuat menahan dan kacau gerakan-gerakan mereka.

Hampir bersamaan waktunya, Giam Loan roboh disusul Ciong Thai kemudian Ciong Sek. Ketiganya telah terluka oleh pukulan Pek kong-sin ciang yang amat lihai. Pukulan ini tak usah mengenai kulit lawan, langsung hawa pukulannya menembus kulit dan mengakibatkan luka mengandung racun yang amat berbahaya.

Bu Kam Ki tersenyum mengejek "Kalian hanya akan hidup lima hari lagi Dalam lima hari aku menanti kunjungan kalian untuk memenuhi permintaanku lagi. Aku bukan seorang keji yang bisa mencabut nyawa orang begitu saja. Kalau kalian suka memenuhi permintaanku, aku sanggup mengobati luka- luka kalian."

Setelah berkata demikian, kakek yang kosen itu meninggalkan mereka dalam keadaan luka hebat di sebelah tubuhnya. Dari luar mereka tidak kelihatan terluka. akan tetapi di sebelah dalam mereka menderita luka yang tak dapat disembuhkan lagi kecuali oleh pemukulnya.

Demikianlah, tiga orang itu bingung dan gelisah sekali. Ciong Thai berkeras tidak mau melakukan permintaan Bu-lohiap karena memang dia tidak merasa bersalah. Seorang tokoh besar seperti dia, masa untuk membela nyawa saja harus berlutut minta-minta ampun di depan umum sedangkan dia tidak merasa bersalah apa-apa? Adapun Ciong Sek dan Giam Loan, tidak berani mereka melakukan hal ini di luar persetujuan Ciong Thai.

Kebetulan sekali Han Sin datang. Ketika mendengar bahwa Han Sin itu murid Im-Yang Thian-Cu dan utusan Tiong-gi-pai, Ciong Thai timbul lagi harapannya dan minta tolong kepada pemuda ini supaya suka mintakan obat kepada Bu-lohiap, sebagai balasan janjinya kelak akan membantu gerakan Tiong-gi-pai.

Ia maklum bahwa Bu Kam Ki dahulunya seorang pejuang dan tentu kakek itu memandang tinggi sekali kepada orang-orang Tiong-gi-pai. Seperti telah kita ketahui, Han Sin yang maklum akan beratnya tugas ini, mengingat bahwa kakek she Bu itu bukan seorang sembarangan, minta tolong kepada Lee Ing untuk membantunya. Sebetulnya Lee Ing tidak suka kepada keluarga Ciong itu dan hendak mengajak pergi Han Sin meninggalkan tempat itu dan membiarkan mereka mampus karena luka-lukanya, akan tetapi Han Sin adalah seorang laki-laki sejati, selain ia harus memenuhi tugas sebagai utusan Tiong-gi-pai mencari bantuan. juga ia sudah berjanji untuk coba membantu keluarga itu. Andaikata Lee Ing tidak mau, tentu pemuda itu akan nekat pergi sendiri. Mana Lee Ing tega membiarkan dia pergi sendiri?

Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang murid atau kaki tangan Ciong Sek, sudah menjemput untuk mengantar Han Sin ke tempat tinggal Bu Kam Ki. Berangkatlah mereka menunggang kuda yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Karena letak kampung dekat Telaga Tung-ting tempat tinggal Bu Kam Ki hanya terpisah dua puluh lima li, sebentar saja mereka telah memasuki kampung itu.

"Kita turun di sini dan berjalan kaki," kata Han Sin yang segera diturut oleh dua orang kaki tangan Ciong Sek.

"Hemm, perlu apa sih pakai banyak peraturan? Seperti menghadap pembesar tinggi saja!" kata Lee Ing tak puas melihat sikap pemuda itu yang selalu menghormat Bu-lohiap.

"Bukan begitu, nona Souw. Aku datang untuk mintakan maaf dan mintakan obat, sudah sepatutnya aku menghormati tuan rumah, apa lagi keluarga Bu sedang berkabung," jawab Han Sin merendah.

"Hemmm....." Lee Ing tidak puas sekali melihat sikap Han Sin yang dianggapnya terlampau merendahkan diri dan terlampau lemah, la merasa heran mengapa pemuda yang menghadapi Tok- ong Kai Song Cinjin sedikitpun tak merasa gentar yang menghadapi bahaya maut dengan sikap jantan dan mengagumkan, sekarang untuk menolong nyawa tiga orang keluarga Ciong itu rela berlaku begini hormat dan merendah, sampai-sampai harus turun dari kuda begitu memasuki kampung tempat tinggal keluarga Bu!

"Kau mau berjalan kaki, sesukamulah. Aku tidak mau turun dari kuda sebelum sampai tempatnya!" katanya singkat dan Han Sin juga tidak berani menyuruh turun karena pemuda itu mengajak Lee Ing dengan maksud supaya ia jangan sampai terpisah dari nona yang telah merampas hatinya ini, sama sekali ia tidak mengandalkan kelihaian gadis ini untuk memenuhi tugasnya. Ia diam saja dan berjalan terus, diikuti oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang juga berjalan kaki sambil menuntun tiga ekor kuda mereka.

Bu Kam Ki adalah seorang kakek yang amat disegani dan dihormati di dusunnya. Kematian calon mantunya ternyata membuat dusun itu nampak sunyi karena semua penduduk ikut berkabung dan berbelasungkawa. Kedatangan empat orang ini amat menarik perhatian, apa lagi karena keadaan mereka yang agak ganjil. Yang wanita muda belia dan berwajah cantik jelita berseri-seri, menunggang kuda lambat-lambat dan di sebelahnya berjalan

seorang pemuda tampan diikuti dua orang tinggi besar yang menuntun kuda. Bu Kam Ki adalah seorang tokoh kang-ouw yang ternama. Biarpun ia tidak aktip lagi di dunia kang- ouw dan hidup sederhana setengah tersembunyi, namun setiap orang kang-ouw yang lewat di tempat itu sudah tentu memerlukan mengunjunginya. Oleh karena itu orang-orang dusun ini sudah biasa melihat tokoh kang-ouw yang aneh-aneh. Kini menyaksikan keganjilan empat orang ini merekapun tidak berani membuka mulut.

Biarpun demikian, pandang mata mereka cukup membuat Lee Ing turun dari. kudanya, menarik napas panjang lalu menuntun kudanya berjalan kaki di sebelah Han Sin. Pemuda itu melirik, melihat gadis ini cemberut ia menjadi geli.

"Kenapa nona turun dari kuda?"

"Dasar kau yang menjadi gara-gara pakai banyak aturan turun dari kuda segala. Kau turun dan gentong-gentong nasi itupun turun, aku sendiri naik kuda mana patut? Pandang mata semua orang mencela dan menegurku!"

Han Sin menahan senyumnya dan diam-diam makin suka melihat gadis yang memiliki kepandaian yang tak dapat diukur sampai di mana tingginya akan tetapi yang wataknya masih kekanak-kanakan ini.

"Biarkan kami yang menuntun kudamu, nona. Tempatnya sudah dekat, itu di persimpangan jalan membelok ke kanan sedikit," kata Ho Kai Beng dengan sikap hormat. Dia dan Thio Sam maklum bahwa kali ini menghadapi keluarga Bu yang sudah mengalahkan guru mereka, mereka sendiri tidak berdaya dan hanya mengandalkan pemuda dan terutama nona yang lihai ini.

Betul saja, setelah tiba di jalan persimpangan, menoleh ke kanan sudah terlihat rumah keluarga Bu yang besar sederhana dan di situ sudah banyak orang yang sudah datang, maka Bu Kam Ki yang mengurus jenazahnya, malah kini ditaruh di dalam peti mati di rumahnya pula. Hal ini sengaja ia lakukan, bukan hanya untuk menolong keluarga Lai yang miskin, juga untuk menanti kedatangan keluarga Ciong yang ia pastikan tentu akan datang kalau mereka masih ingin hidup. Di depan rumah dipasangi kain putih dan asap hio mengebut terus keluar dari pintu.

Agaknya penduduk dusun cepat sekali melaporkan kedatangan empat orang ini kepada Bu-lohiap oleh karena sebelum tiba di rumah itu, Bu Kam Ki dan puterinya telah muncul dan menyambut jauh di luar rumah dengan sikap keren sekali.

Melihat Thio Sam dan Ho Kai Beng, Bu-lohiap mengenal mereka sebagai orang-orang keluarga Ciong maka ia berkata kepada puterinya, "Dua orang tinggi besar itu orang-orangnya keluarga Ciong, agaknya mereka ini datang bukan dengan maksud baik." Dengan kata-kata ini Bu-lohiap hendak memperingatkan puterinya supaya berhati-hati dan tidak bertindak secara sembrono.

Akan tetapi, begitu mendengar kata-kata ayahnya ini Bu Lee Siang sudah melompat maju, memandang kepada dua orang tinggi besar yang menuntun empat ekor kuda itu dan membentak, "Kalian ini apakah datang mewakili keluarga Ciong?"

Thio Sam dan Ho Kai Beng kaget, lalu Thio Sam yang mengangkat tangan menjura dan berkata, "Kami berdua hanya murid atau pesuruh."

"Setan, segala macam kantong nasi dikirim ke sini mau apa? Hayo lekas minggat dari sini, suruh guru atau majikan kalian sendiri datang ke sini!" Thio Sam dan Ho Kai Beng adalah orang-orang kasar yang tidak bisa diperlakukan kasar, bahkan sudah biasa membentak-bentak orang. Sekarang mereka dibentak-bentak dan dimaki-maki oleh seorang gadis yang menurut pandangan mereka amat sederhana, pakaiannya dari kain kasar putih, matanya kemerahan karena terlampau banyak menangis. Gadis yang usianya belasan tahun ini saja berani membentak-bentak dan memaki mereka? Kalau saja di situ tidak ada Bu-lohiap yang mereka tahu amat lihai karena sudah mengalahkan guru mereka, tentu mereka akan memaki gadis muda ini Thio Sam menjawab, suaranya kaku, "Biarpun hanya murid, akan tetapi kami orang kepercayaan Ciong raihiap, dan..."

"Manusia tiada guna!" Lee Siang membentak marah, kedua tangannya bergerak dan empat sinar putih menyambar seperti kilat ke depan. Thio Sam dan Ho Kai Beng terkena, cepat mereka melompat ke samping untuk mengelak dari serangan inr. Akan tetapi mereka kecele karena yang diserang oleh gadis ini bukan mereka melainkan empat ekor kuda yang segera roboh berkelojotan dan tewas tak lama kemudian. Sebatang pek kong-ciam (Jarum sinarn putih) mengenainya. Bukan main marahnya Thio Sam dan Ho Kai Beng. Mereka meraba gagang senjata dan dengan muka merah Ho Kai Beng berkata,

"Nona, kau keterlaluan sekali. Kalau perlu kami dapat menjaga diri! Biarpun kami hanya murid dan pesuruh, namun telah puluhan tahun kami belajar ilmu silat, sebelum nona terlahir. Bagaimana nona berani menghina kami secara begini keterlaluan?"

Bu Lee Siang membanting-banting kakinya. "Keluarga Ciong benar-benar harus mampus! Tidak saja tak mau datang sendiri minta ampun, malah menyuruh datang dua ekor babi bau yang mengoceh tidak karuan! Kalau kalian tidak mempunyai kepandaian, mengapa tidak lekas-lekas mencabut senjata itu? Hendak kulihat bagaimana caranya dua ekor monyet mainkan senjata!"

Dimaki babi dan monyet, dua orang yang biasanya berlaku sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya itu tentu saja tak dapat menahan kemarahan yang sudah memuncak. Mereka melirik ke arah Bu-lohiap yang berdiri sambil memeluk kedua lengan dan sama sekali malah tidak memandang kepada mereka, melainkan memandang ke arah Han Sin dan Lee Ing yang berdiri di pinggiran. Lee Ing tersenyum geli melihat pertunjukan itu, akan tetapi Han Sin mengerutkan kening tidak senang akan sikap dua orang kasar itu yang tak mau mengalah sebagai utusan yang membutuhkan pertolongan.

"Nona, kami hanya utusan dan tidak ingin mencari perkara. Akan tetapi kalau nona hendak menguji kami, silahkan," jawab Thio Sam yang sudah mencabut sepasang gembolannya.

Dua orang ini tentu tidak akan bersikap demikian galak kalau saja mereka tidak yakin akan kelihaian Lee Ing yang datang bersama mereka. Mereka ini memang tergolong orang-orang licik yang sudah memperhitungkan semua tindakan secara licik pula. Menghadapi gadis nelayan dusun ini saja tentu mereka tidak takut dan andaikata kakek she Bu itu turun tangan, bukankah di situ ada pemuda dan gadis yang sudah sanggup hendak menolong majikan mereka? Memang mereka ini menghendaki supaya obat untuk majikan mereka itu didapatkan dengan bertempur, bukan dengan jalan mengemis. Sedikit banyak mereka juga merasa panas perut karena majikan mereka telah dilukai.

Di lain fihak, Bu Lee Siang berada dalam keadaan berkabung, hatinya sakit dan sedih kehilangan tunangannya secara demikian menyedihkan. Tentu saja keadaan seperti itu. Bu Lee Siang yang pada dasarnya sudah memiliki watak jujur dan keras hati itu, mudah sekali terbakar hatinya dan lebih- lebih lagi menghadapi dua orang utusan musuh-musuhnya. ia menjadi berang dan tak dapat menahannya. "Tikus-tikus busuk, jadi kalian minta dihajar? Pergunakan senjata itu baik-baik dan awas, lihat pukulanku!" Setelah berkata demikian, Lee Siang lalu menerjang maju dengan serangannya, dua tangannya bergerak-gerak melakukan pukulan kilat, pertama ke arah kepala Thio Sam yang kedua kalinya ke arah lambung Ho Kai Beng. Serangan-serangannya ini dilakukan dengan amat cepatnya. Melihat puterinya mempergunakan Pek-kong-sin-ciang untuk menyerang dua orang lawannya. Bu Kain Ki mengerutkan kening dan memperingatkan.

"Siang-ji, ingat mereka itu hanya pesuruh-pesuruh biasa, jangan bunuh mereka."

Lee Siang tidak menjawab, hanya melanjutkan serangannya yang dahsyat, akan tetapi ayahnya melihat bahwa puterinya itu tidak mempergunakan Pek-kong-sin-ciang lagi maka ia bernapas lega. Sikap ayah dan anak ini mendatangkan rasa kagum dalam hati Souw Lee Ing dan Liem Han Sin. Sekaligus memperlihatkan kegagahan dan watak kakek itu karena dalam peringatan itu kakek itu agaknya yakin bahwa dua orang itu bukan tandingan puterinya, padahal dua orang kepercayaan keluarga Ciong itupun bukannya orang-orang lemah. Pula memperlihatkan bahwa sebetulnya kakek Bu bukannya orang kejam yang suka membunuh orang secara sembarangan.

Sementara itu, gadis she Bu itu sudah dikeroyok dua. Ruyung dan gembolan menyambar-nyambar dahsyat, rupanya dua orang itu hendak menebus kekalahan majikan mereka dan "membalaskan dendam" kepada gadis she Bu ini. Di samping itu, mereka merasa malu kalau sampai kalah. Mengeroyok seorang gadis bertangan kosong, berdua dengan senjata saja sebetulnya sudah merupakan , hal yang menjatuhkan nama mereka. Akan tetapi hal ini bukan kehendak mereka, adalah gadis itu yang sengaja menghina dan menantang. Kalau sampai mereka berdua, laki-laki tinggi besar, kuat dan berkepandaian tinggi memegang senjata pula, mengeroyok seorang gadis dusun bertangan kosong sampai kalah, benar-benar mereka tak tahu harus ke mana menyimpan muka!

Tadinya dua orang ini hanya menggerakkan senjata secara main-main saja. Maksud mereka hendak menakut-nakuti gadis galak ini dan akhirnya menjatuhkannya tanpa melukai berat apa lagi menewaskan. Akan tetapi setelah belasan jurus, dua orang ini kaget bukan kepalang. Untuk kedua kalinya dalam satu hari, mereka bertemu dengan seorang gadis muda yang hebat! Jangan bilang mempermainkan atau mendesak, menjaga diri saja sudah sukar bukan main terhadap serangan- serangan Bu Lee Siang yang memiliki gerakan cepat seperti burung walet. Yang hebat, hawa pukulan gadis itu saja sanggup menahan gerakan senjata mereka.

Pada jurus ke dua puluh, tiba-tiba Bu Lee Siang berseru, "Pergilah!" dan tepat sekali ujung sepatu kirinya menendang tulang kering kaki kanan Ho Kai Beng. Orang tinggi besar she Ho ini mengaduh aduh kesakitan. Ia tidak mau melepaskan senjata gembolannya, akan tetapi rasa nyeri pada tulang kering kakinya membuat ia berjingkrakan atas kaki kiri, melompat-lompat dan mulutnya mengaduh- aduh, "Aduh kakiku... kakiku..... aduuuuhhh !"

Tendangan yang dilakukan oleh Lee Siang tadi bukanlah tendangan biasa saja, melainkan tendangan lweekang yang telah mengenai jalan darah dan membikin tulang kering itu retak-retak! Sungguh kasihan Ho Kai Beng yang berjingkrak-jingkrak karena sakitnya memang tak dapat ditahan lagi. Selain kasihan juga kelihatan lucu seperti seekor monyet besar belajar dansa. Hanya karena sedang dalam perkabungan saja penduduk dusun yang menyaksikan pemandangan ini tidak tertawa geli. Akhirnya Ho Kai Beng tidak dapat menahan sakit lagi, menjatuhkan diri di pinggir jalan dan memijit-mijit kaki sambil menggigit bibir, air matanya bercucuran keluar!

Lee Ing merasa kasihan juga. Gadis ini mengambil sebuah batu kecil dan menyambit. "Tak!" Kai Beng roboh tak berkutik, pingsan seperti orang tertidur, terkena totokan batu kecil itu. Hal ini menolongnya karena sekarang ia tak usah menderita sakit lagi. Pada saat itu, Thio Sam juga sudah roboh. Bagian Thio Sam lebih berat sungguhpun rasa nyerinya tidak sehebat Ho Kai Beng. Orang she Thio ini yang tadinya nekat memutar ruyungnya, melakukan serangan dahsyat ke arah kepala nona nelayan itu, disambut oleh Lee Siang dengan totokan ke arah pundak dan terdengar bunyi "krekk" ketika tulang pundaknya terlepas sambungannya! Thio Sam meringis dan ruyung itu terlepas dari pegangannya. Ia terbungkuk-bungkuk tanda menyerah kalah.

"Hayo minggat dari sini dan beritahukan majikanmu suruh datang merangkak sendiri ke sini!" Bu Lee Siang membentak sambil mengancam dengan tangannya. Dengan muka marah Thio Sam menoleh kepada Han Sin dan Lee Ing yang diam saja, hatinya mendongkol bukan main. Akan tetapi ia dapat berbuat apakah? Dengan menanggung rasa malu besar, Thio Sam menghampiri Ho Kai Beng dan memanggul kawannya yang masih pingsan itu di atas pundaknya yang tidak terluka lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah besar sambil menahan rasa sakit pada pundak yang terluka.

Bu Lee Siang kini menghadapi Han Sin dan Lee Ing, sikapnya masih galak dan setiap saat siap bertempur melawan musuh. Matanya berapi-api ketika mengajukan pertanyaan,

"Kalau kalian ini siapa yang datang bersama dua ekor monyet tadi? Apakah kalian datang sebagai utusan keluarga Ciong?"

"Siang-ji, jangan kurang ajar terhadap tamul" Terdengar kakek she Bu membentak anaknya.

Tidak percuma Bu Kam Ki menjadi seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman. Sekali pandang saja ia dapat menduga bahwa pemuda tampan dan bersikap halus yang datang ini tentu bukan orang biasa, apa lagi tadi ia melihat gerakan tangan Lee Ing yang menotok pingsan Ho Kai Beng untuk membebaskan orang itu dari siksaan rasa nyeri. Diam-diam ia kagum dan memuji watak gadis ini yang tidak tahan melihat orang tersiksa, biarpun bagi dia totokan menggunakan batu kecil seperti itu bukanlah hal yang amat mengherankan hatinya.

"Ji-wi siapakah dan keperluan apakah yang hendak disampaikan kepada kami?" tanya Bu Lohiap dengan sikap hormat akan tetapi suaranya juga tegas. Bagaimanapun juga, ia menaruh hati curiga karena kedatangan dua orang muda ini bersama-sama dengan Thio Sam dan Ho Kai Beng, dua orang utusan keluarga Ciong yang tidak mau datang sendiri. Han Sin cepat menjura dengan sikap hormat.

"Harap locianpwe sudi memaafkan kelancanganku yang datang tanpa diundang. Saya bernama Liem Han Sin dan kalau tidak salah, suhuku Im-yang Thian-cu pernah mengenal locianpwe dan memang betul saya datang sebagai utusan Ciong lo-enghiong."

Mendengar nama Im-yang Thian-cu tadi, wajah Bu-lohiap berseri akan tetapi segera menjadi muram kembali ketika mendengar bahwa murid Im-yang Thian-cu ini datang sebagai utusan Ciong Thai !

"Im-yang Thian-cu biarpun seorang yang tidak mau perduli tentang segala macam urusan dunia, sedikitnya ia mampu membedakan mana orang baik mana buruk dan setiap perbuatannya tentu ditujukan untuk membantu kebaikan. Akan tetapi mengapa hari ini muridnya bisa menjadi utusan manusia jahanam semacam Ciong Thai, adiknya dan isterinya? Benar-benar mengherankan sekali , dan ingin aku melihat muka Im-yang Thian-cu kalau ia melihat muridnya melakukan hal ini. Kakek itu menarik napas panjang, kemudian setelah melirik ke arah Lee Ing yang memandang acuh tak acuh itu, ia melanjutkan kata-katanya, "Betapapun juga, mungkin ada dasar dan sebabnya kalau sampai kau menjadi utusannya. Kau diutus apa dan mengapa kau murid Im-yang Thian-cu sampai menjadi utusan mereka?" "Saya menjadi utusan mereka untuk mohon locianpwe mengampuni mereka dan memberi obat penyembuh luka-luka mereka. Adapun dasar atau sebabnya maka saya suka menjadi utusan adalah dua macam. Pertama-tama oleh karena saya memang tidak tega melihat mereka terancam bahaya maut oleh luka-lukanya, padahal tidak usah mereka itu tewas kalau saja locianpwe sudi memberi obatnya. Ke dua, oleh karena saya sudah berjanji untuk memberi balasan jasa sebagai imbangan janji mereka kelak akan membantu pergerakan Tiong-gi-pai."

Bu Kam Ki nampak tertarik sekali. "Apa kau bilang? Apa hubungan Tiong-gi-pai dengan ini semua? Kau orang muda menyebut-nyebut Tiong-gi-pai mempunyai hubungan apakah?"

"Saya yang muda dan bodoh sebetulnya diutus deh Tiong-gi-pai untuk mengadakan hubungan dan minta bantuan orang-orang gagah di selatan agar kelak apa bila tiba masanya Tiong-gi-pai membantu perjuangan Raja Muda Yung Lo, para orang gagah sudi turun tangan pula memberi bantuan. Ciong lo- enghiong sekeluarga sudah memberi kesanggupan untuk membantu asal saya suka menolong mereka mintakan obat penolong bagi mereka kepada locianpwe. Oleh karena itu, saya mengharap dengan sangat kebaikan hati locianpwe, selain kelak dapat membantui pula pergerakan kami, juga sudi memandang persahabatan mengampuni keluarga Ciong."

Tiba-tiba Bu Kam Ki berdongak dan tertawa bergelak dengan nyaring sekali. Bu Lee Siang dan semua orang sampai terkejut dan memandang bengong. Memang aneh sekali kakek ini. Dalam keadaan berkabung, semenjak kemarin dulu selalu muram dan tak senang hati, bagaimana sekarang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak seperti itu? Han Sin sendiri menjadi bingung dan gelisah, tidak tahu apa yang menyebabkan kakek ini tertawa keras, padahal menurut anggapannya, ia bicara cukup sopan dan cukup cengli (menurut aturan pantas).

"Ha-ha-ha, kau pemuda bodoh barangkali sudah sinting. Aduh lucunya, dan ini dilakukan oleh murid Im yang Thian-cu pula! Ha-ha-ha, membikin perutku menjadi kaku dan mulas. Bocah tolol, mengapa Tiong-gi-pai mengutus seorang muda tolol seperti engkau? Tugas yang kau kerjakan ini terlalu berat dan sukar bagi seorang pemuda hijau seperti kau. Tak tahukah kau siapa adanya Ciong Thai dan manusia macam apa dia itu? Dia seorang tokoh golongan hek-to (jalan hitam atau jalan sesat)! Bagaimana dengan orang-orang macam mereka itu kau mengadakan persekutuan untuk membela nusa bangsa? Ha-ha-ha, benar lucu!"

Lee Ing tersenyum dan matanya yang menatap wajah Han Sin seakan-akan berkata menggoda, "Nah, itu! Kena batunya sekarang!"

Akan tetapi Han Sin mengerutkan keningnya, menjura lalu menjawab, suaranya lantang dan tegas, "Harap locianpwe jangan berpemandangan seperti itu, karena itu adalah pandangan yang amat sempit. Rakyat kecil menderita oleh karena yang berkuasa adalah menteri-menteri durna, boneka- boneka nafsu kemurkaan yang tidak segan-segan mencekik leher rakyat kecil. Menghadapi musuh rakyat ini, semua tenaga rakyat harus dihimpun, dipersatukan untuk melawannya. Dalam keadaan negara dikuasai oleh boneka-boneka ini, di mana rakyat hidup sengsara, kita harus menjauhkan segala permusuhan antara kita sendiri, tidak perduli dari golongan mana dan memiliki faham apa, harus bersatu padu untuk menghancurkan musuh rakyat."

Mendengar pemuda ini bicara penuh semangat berapi-api, Lee Ing kembali menjadi kagum, sungguhpun apa yang dibicarakan itu ia hampir tidak mengerti. Bu Kam Ki juga kagum menyaksikan semangat pemuda tampan ini. Akan tetapi ia menarik napas panjang dan berkata,

"Inilah salah satu sebab dari sekian banyaknya kegagalan-kegagalan dari perjuangan para patriot untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman pembesar-pembesar lalim. Dulupun demikian keadaannya sampai kami gagal mengusir orang-orang Mongol. Orang muda, kau tahu apa tentang perjuangan maka berani bicara seperti itu? Ah, kalau saja kau tahu betapa banyaknya manusia- manusia palsu, kau akan merasa ngeri. Kalau saja semua berjalan menurut, teorimu tadi, alangkah mudahnya perjuangan! Akan tetapi sayang sekali tidak semudah itu, orang muda. Kau boleh mempercayai rakyat kecil sepenuhnya, kaum tani, nelayan, pekerja-pekerja biasa boleh kau percaya karena mereka itulah massa rakyat yang tertindas. Sudah tentu mereka akan bangkit kalau ada yang memimpin, sudah tentu mereka akan menghancurkan kekuasaan yang menindas dan sudah dapat dipastikan di dalam dada mereka berkobar api setia kawan karena senasib sependeritaan!

Akan tetapi orang-orang macam Ciong Thai? Lebih selamat kalau kau tidak bawa-bawa dia! Di mulutnya berkata putih, di hatinya berkeyakinan hitam! Di mulutnya dia boleh jadi akan membantu Tiong-gi-pai atau perjuangan rakyat lainnya, akan tetapi yang begini ini amat berbahaya, suatu waktu akan tampak kepalanya dua! Manusia semacam dia inilah yang tidak segan-segan untuk menjual bangsanya asal dia diberi kemuliaan," Bu Kam Ki berhenti untuk mengambil napas, dia tadi telah bicara penuh semangat pula. Baru sekarang kelihatan keasliannya patriot tua ini, biasanya ia diam saja dan hidup seperti seorang nelayan miskin yang sederhana.

"Saya masih belum yakin betul akan kebenaran keterangan Iocianpwe tadi. Orang boleh jadi berbeda-beda wataknya boleh jadi berlainan golongannya, boleh jadi berlainan pula jalan hidupnya dan tak boleh disangkal lagi banyak yang mengambil jalan sesat. Akan tetapi dalam satu hal ini, yaitu demi kepentingan nusa bangsa. hanya ada satu tekad, satu kebaktian."

"Ho-ho-ho, lantunan kosong seorang patriot muda! Alangkah enaknya jalan perjuangan kalau begitu. Ketahuilah, perjuangan bangsa itu berliku-liku, banyak pula rintangannya. Adalah kewajiban setiap orang patriot sejati untuk memberantas rintangan-rintangan ini, apapun juga macamnya, oleh siapapun juga rintangan ini ditimbulkannya. Biarpun bangsa sendiri, kalau dia berhati palsu dan merintangi perjuangan, dia itu penghianat, dia itu musuh dan harus dibasmi habis-habis! Dan kau... kau percaya akan bantuan orang macam keluarga Ciong itu? Heran!"

"Bu-locianpwe, agaknya dalam hal ini pandangan kita berbeda. Akan tetapi atas nama Tiong-gi-pai, kami mohon juga dengan hormat bantuan lo-cianpwe kelak apa bila masanya tiba untuk meruntuhkan kekuasaan para durna yang mencekik leher rakyat."

"Hemm, sekali aku pernah gagal. Akan tetapi sudah lama aku mendengar tentang kelaliman para menteri durna. Sayang sekali Ciu-taihiap yang sekarang sudah menjadi kaisar, terjatuh ke dalam pengaruh mereka. Tanpa kau minta, kalau tenagaku mengijinkan dan kalau aku masih hidup, tentu aku akan suka sekali membantu rakyat."

Han Sin berseri wajahnya, menambah tampannya. Ia menjura sampai dalam menghaturkan terima kasihnya, kemudian berkata, "Sekarang saya harap locianpwe juga berbaik hati untuk memberi ampun kepada keluarga Ciong dan memberi obat."

"Suruh mereka datang sendiri, mengapa harus engkau yang mintakan?" Bu Lee Siang membentak. Matanya melotot tajam memandang Han Sin.

"Puteriku betul, orang muda. Keluarga Ciong harus datang sendiri dan obat itu hanya dapat ditebus dengan permintaan ampun sambil berlutut di depan peti mati Lai Seng," kata Bu Kam Ki dengan suara tegas.

"Aku menjadi pesuruh dan aku bersedia untuk berlutut mintakan ampun bagi mereka," kata Han Sin dengan suara tetap pula. "Tidak bisa... tidak bisa...!" kata pula kakek itu tegas dan keningnya mulai berkerut tanda kesabarannya menipis. "Orang akan memandang kami tak pandai memegang kata-kata sendiri. Keluarga Ciong sendiri harus datang dan kalau mereka minta bantuan orang lain, karena kami telah melukai mereka dengan pukulan, utusan mereka harus pula dapat menundukkan kami dengan pukulan pula!"

Inilah ucapan tantangan bahwa utusan keluarga Ciong baru bisa mendapatkan obat yang diminta kalau bisa mengalahkan Bu Kam Ki dan puterinya! Tentu saja hal ini amat berat bagi Han Sin. Keluarga Ciong bertiga saja tidak kuat melawan kakek ini seorang diri, apa lagi dia? Melawan puterinya saja ia masih belum yakin benar apakah akan dapat menang. Akan tetapi Han Sin, seperti dapat dilihat dari sikap dan kelakuannya, adalah seorang pemuda keras hati yang tidak akan mundur selangkah sebelum tugasnya terpenuhi. Ia sudah berani menjadi utusan, maka ia harus berani membela tugasnya sampai berhasil.

Kalau perlu nyawanya boleh menjadi korban atau penebus. Dalam tugas yang ia Hadapi sekarang ini, bukan sekali-kali ia menjadi pembela keluarga Ciong karena penasaran pribadi, melainkan ia menganggapnya sebagai kelanjutan tugasnya terhadap Tiong-gi-pai dan karenanya juga tugas terhadap rakyat, terhadap cita-cita orang gagah pembela rakyat. Ciong Thai sudah menyanggupinya untuk kelak membantu pergerakan Tiong-gi-pai mengabdi raja muda di utara dan sebagai balas jasa, sudah sepatutnya kalau ia berjuang mencarikan obat bagi mereka. Han Sin melangkah maju menghadapi kakek she Bu itu, sikapnya hormat akan tetapi sepasang mata yang tajam itu menyinarkan cahaya penuh ketabahan dan kejujuran.

"Bu-locianpwe, modal seorang pejuang adalah kejujuran, kenekatan dan keyakinan. Jujur dalam membela kewajibannya dan yakin akan kebenaran apa yang diperjuangkannya. Aku yang bodoh tidak memiliki kepandaian dan tentu saja tidak mungkin sekali aku dapat minta obat dari locianpwe mengandalkan ilmu pukulan. Akan tetapi aku mempunyai tiga syarat itu. maka aku tidak mundur sebelum locianpwe mempertimbangkan permintaanku untuk menolong nyawa keluarga Ciong."

Bu Kam Ki tersenyum dan ia mulai kagum melihat pemuda itu. "Lihat, Siang-ji, beginilah aku ketika muda! He, orang muda, memang pendirian orang berbeda-beda. Akan tetapi seorang gagah memang tidak akan mundur untuk memegang teguh pendiriannya. Kau gagah dan berani, juga patut menjadi seorang pejuang. Sayang kau masih terlampau hijau, kurang pandai membedakan mana hijau mana merah, mana hitam mana putih. Biarpun sikapmu ini kuanggap gagah, tetap saja kau buta kalau hendak membela Ciong Thai dan mengajaknya bersekutu. Aku tetap kepada pendirianku, asal kau atau suruhan Ciong Thai sanggup mengalahkan aku dengan ilmu pukulan, dengan suka rela aku menyerahkan obat dan akan menghabiskan semua perkara."

"Kalau begitu, maafkan aku yang muda berlaku kurang ajar. Tentu saja aku bukan tandingan iocianpwe, akan tetapi menang atau kalah adalah hal yang sewajarnya, seperti mati atau hidup. Bagiku yang terpenting adalah kebenaran!" Sambil berkata demikian, tanpa ragu-ragu dan sama sekali tidak takut, pemuda ini mencabut keluar kipas dan pitnya, sepasang senjata yang amat ia andalkan sebagai warisan gurunya.

Untuk kedua kalinya Lee Ing memandang kagum. Pemuda ini benar-benar hebat. Gagah berani dan bersemangat baja. Seorang jantan yang jarang tandingannya. Juga Bu Kam Ki kagum bukan main. Dia sendiri dahulunya seorang pejuang yang gigih membela rakyat yang ditindas oleh penjajah, sekarang melihat seorang pemuda seperti Han Sin, tentu saja hatinya tergerak dan diam-diam ia membandingkan pemuda ini dengan Lai Seng yang telah tewas, kalau saja anaknya bisa menjadi isteri pemuda seperti ini atau lebih tepat lagi, Kalau saja ia bisa mempunyai seorang mantu seperti Han Sin! "Orang muda, sebelum aku melayanimu, hendak aku bertanya. Kalau aku kalah dalam pertandingan ini, sudah tentu obat kuberikan. Akan tetapi bagaimana kalau kau yang kalah?"

"Kalau aku kalah, tiada jalan lain aku akan kembali kepada keluarga Ciong dan menyatakan terus terang akan kegagalanku. Betapapun juga, asal tugas sudah kulakukan dan kalau perlu kubela dengan nyawa, bagiku sudah cukup. Akan tetapi menyuruh aku kembali sebelum berusaha sedapatku, tak mungkin aku mau melakukannya," jawab Han Sin.

Tiba-tiba Bu Lee Siang yang sejak tadi mendengarkan saja percakapan antara ayahnya dan pemuda ganteng itu, menjadi tak sabar dan melompat maju.

"Bocah sombong! Kalau mau menjual kepandaian majulah siapa sih takut padamu?"

"Lee Siang, mundurlah," ayahnya menegur, "Liem-sicu ini hatinya demikian baiknya sampai mau menolong keluarga Ciong. Eh, orang muda, Ciong Thai menjanjikan untuk kelak membantu Tiong-gi- pai dan kau membalas jasanya dengan mati-matian minta obat dariku. Kalau sekarang aku dengan suka hati memberikan obat itu kepadamu, kemudian akupun minta balas jasa, maukah kau menolongku pula?"

Wajah kakek ini berseri dan sepasang matanya berkilat-kilat cerdik, agaknya ada pikiran yang amat baik memasuki otaknya. Liem Han Sin menjura dan menjawab, suaranya sungguh-sungguh, "Bu- locianpwe, mengingat dan membalas budi adalah satu di antara kewajiban-kewajiban seorang kuncu (budiman). Biarpun aku tidak berani mengaku seorang baik, namun setidaknya aku selalu berusaha mengikuti jejak orang-orang baik. Kalau locianpwe sudi mengalah dan menolongku memberikan obat itu, sudah tentu aku bersedia untuk melakukan apa saja untuk membalas kebaikan locianpwe."

"Bagus, kulihat kau seorang yang baik, tentu keturunanmu juga merupakan tunas yang patut dipelihara. Aku akan memberikan obat itu kepadamu tanpa pertandingan, akan tetapi kau harus menyerahkan anakmu untuk menjadi muridku selama lima tahun "

Tiba-tiba terdengar suara Lee Ing tertawa geli dan wajah Han Sin menjadi merah sekali seperti kepiting direbus. "Menyesal sekali, locianpwe. Aku aku tidak punya anak "

"Hi-hi, orang tua she Bu, kau ini benar lucu dan aneh. Dia seorang laki-laki mana bisa punya anak?" kata Lee Ing yang nakal sambil tertawa tawa menutupi mulut dengan saputangan.

Melihat sikap Lee Ing yang wajar lucunya, bukan genit atau dibuat-buat, Bu Kam Ki mau tidak mau terpaksa tersenyum juga. "Kau betul, nona Kumaksudkan isterimu dan anakmu juga. Kalau sekarang belum punya anak, berjanjilah kalau kelak isterimu melahirkan anak, anak itu harus diserahkan kepadaku mulai berusia sepuluh tahun sampai lima belas tahun."

Hampir tidak kedengaran saking perlahannya jawaban Han Sin, "Locianpwe, aku tak berani berjanji karena karena aku belum mempunyai isteri."

"Eh, begitukah? Sayang sekali! Tapi tentu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah.   "

"Juga belum!" jawab Han Sin cepat-cepat. Wajahnya tidak membayangkan sesuatu, namun di dalam hatinya kakek she Bu ini girang sekali. Syaratnya tadi hanya merupakan "jalan memutar" untuk mengetahui apakah pemuda mi sudah ber-isteri ataukah bertunangan. Ternyata sekarang bahwa pemuda ini masih belum ada ikatan Kalau saja ia dapat menarik pemuda ini sebagai mantunya, akan puas dia dan perkara memberi cbat kepada keluarga Ciong merupakan hal yang tak penting lagi. "Kalau begitu sukar," katanya mengerutkan kening. "Akan tetapi melihat kesungguhanmu hendak menolong mereka, juga mengingat bahwa kau adalah murid Im-yang Thian-cu yang kukenal baik, mengingat lagi bahwa kau adalah utusan Tiong-gi-pai yang berarti kawan seperjuangan, biarlah aku mengalah dan boleh kau membawa obatku untuk diberikan kepada mereka Adapun tentang balas jasa, aku hanya akan minta tolong darimu setelah kau memberikan obat itu kepada mereka. Berjanjilah untuk datang kembali ke sini dan akan memenuhi permintaanku dengan suka hati."

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Han Sin. Saking girang dan terima kasih, ia lalu menyimpan senjatanya dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. "Locianpwe berpemandangan luas, dan sudi mengalah, benar-benar menjadi bukti bahwa locianpwe seorang gagah yang berbudi luhur. Tentu saja saya akan memenuhi undangan locianpwe dan akan memenuhi segala permintaan locianpwe, suatu hal yang dapat saya lakukan mengingat kebodohan saya."

"Akupun takkan minta yang bukan-bukan atau yang tak dapat kau lakukan," kata Bu Kam Ki. Kemudian iapun memberikan tiga bungkus obat bubuk kepada Han Sin. Pemuda ini menerimanya dengan girang, lalu berpamit mengundurkan diri. Lee Ing diam saja, hanya mengikuti pemuda itu dan sekarang mereka terpaksa harus berjalan kaki karena kuda mereka sudah tewas oleh Bu Lee Siang.

"Nona Souw. semua ini adalah rejekimu. Tak kusangka akan semudah itu kesudahannya," kata Han Sin girang sekali.

"Kau tolol....!" Han Sin sampai meloncat karena ujung kakinya tertumbuk batu saking kagectnva mendengar ucapan ini.

"Apa   ? Mengapa?" Ia bertanya gagap, memandang wajah nona itu dengan muka merah. Lee Ing

cemberut, benar-benar marah.

"Kau terlalu baik hati, karenanya tolol. Orang yang lemah dari terlalu baik hatinya suka melakukan perbuatan tolol. Baru satu kali bertemu dengan kakek tua bangka she Bu itu. begitu saja kau berjanji akan memenuhi sebala permintaannya. Hemm. !"

Han Sin tersenyum lega. Tadinya ia sudah khawatir sekali kalau kalau terjadi sesuatu yang hebat sampai nona itu perlu memakinya tolol. Kiranya hanya urusan itu saja.

"Nona Souw yang baik. Bukankah menolong sesama hidup adalah tugas utama orang gagah? Kau sendiri hanya pada lahirnya saja seperti yang tidak acuh akan tetapi bukankah kau sudah menolong nyawaku beberapa kali tanpa kuminta.? Ciong-enghiong minta tolong kepadaku maka aku berusaha menolongnya, sedangkan Bu-locianpwe juga minta tolong, tentu saja aku bersedia menolong. Jangankan diminta, kau yang tidak pernah dimintai tolong selalu bersiap sedia menolong sesamanya. Nona Souw, bukankah kaupun setali tiga uang, sama saja dengan aku dalam hal ini, malah lebih hebat lagi?"

"Tentu saja aku suka menolong orang. mengapa tidak? Akan tetapi tidak membina seperti kau! Aku menolong orang setelah melihat apa macam orangnya dan bagaimana duduk perkaranya. Tidak seperti kau. belum tahu apa yang akan diminta oleh tua bangka Bu. lebih dulu sudah berjanji memenuhinya."

"Jangan khawatir, nona. Bu locianpwe adalah seorang gagah perkasa yang ternama, tentu ia tak kan minta yang bukan-bukan." "Hemm... kita sama lihat saja, hmmm, dia punya anak gadis..." "Apa maksudmu, nona?" Han Sin memandang heran.

Akan tetapi Lee Ing sudah melanjutkan perjalanannya, malah menggunakan ilmu lari cepat sehingga Han Sin terpaksa mengerahkan tenaga untuk mengimbangi kecepatan nona yang luar biasa itu.

"Dia punya anak gadis...." kembali Lee Ing bersungut-sungut "...anak gadis yang sudah menjadi janda kembang sebelum kawin... hemmm...!"

Han Sin merasa heran mengapa gadis ini membawa-bawa puteri Bu Kam Ki. Akan tetapi melihat gadis itu cemberut dan kelihatannya tak senang hati, ia tidak berani bertanya-tanya lagi, tahu bahwa toh ia takkan mendapat penjelasan yang memuaskan. Belum lama berdekatan dengan gadis ini, ia seperti telah mengenal baik wataknya yang aneh dan sulit dimengerti.

Ketika mereka tiba di rumah keluarga Ciong yang letaknya terpencil di tengah-tengah daerah berhutan, hari telah mulai gelap dan mereka mempercepat lari mereka ketika baru saja memasuki hutan pertama. Untung mereka dapat sampai di rumah keluarga itu, karena tadinya dua orang muda-mudi ini kehilangan jalan di dalam hutan dan tidak tahu ke mana jurusan rumah Ciong Thai. Sampai lama mereka berputar-putar di dalam hutan dan beberapa kali melompat naik ke atas pohon besar, namun tidak kelihatan sinar api dari rumah yang mereka pergunakan sebagai penunjuk jalan. Tiba-tiba kelihatan api bernyala sebentar di jurusan kanan. Mereka memburu ke arah tempat itu, akan tetapi kembali ada sinar api di depan, agak jauh.

"Barangkali kalau benar di dunia ini ada setan, itulah agaknya," Han Sin mengomel, mendongkol juga karena merasa dipermainkan oleh api itu.

"Hanya orang-orang sial bertemu dengan setan dan kalau benar itu setan, memang kita ini sedang sial!" kata Lee Ing dan di dalam suara gadis itu Han Sin mendengar suara hati gadis itu yang menimpakan kesalahannya kepadanya seakan-akan ia mendengar bisikan hati gadis itu mencelanya. "Kau yang membawa sial, tahu?"

Diam-diam ia mengakui hal ini dan memang sudah sepatutnya gadis ini marah dan mendongkol kepadanya. Kalau tidak karena dia. tentu Lee Ing tidak akan bertemu dengan keluarga Ciong, takkan ikut ke rumah Bu Kam Ki dan tidak akan kehilangan jalan malam-malam di dalam hutan yang gelap lagi dingin Semuanya karena dia. Karena dia??

"Nona Souw    "

"Eh, saudara Han Sin, kau kenapakah?" Lee Ing terkejut dan heran mendengar suara pemuda itu tergetar. Sayang ia tidak dapat melihat wajah pemuda itu yang memandang ke arah dia dengan muka sebentar merah sebentar pucat.

"Nona Souw yang mulia, entah bagaimana aku kelak dapat membalas budimu. Biarlah di dalam penghidupan yang akan datang kelak aku menjelma menjadi kuda atau anjing untuk dapat melayanimu."

Pada masa itu, ucapan seperti kalimat terakhir ini memang sering digunakan orang di Tiongkok. Orang-orang semua percaya akan kelak akan kembali (reincarnation) maka untuk menyatakan terima kasih atas hutang budi, orang berjanji kelak akan menjelma menjadi kuda atau anjing untuk membalas budi. "Aku.... aku tidak butuh kuda, biar di lain penjelmaan sekalipun. Apa lagi di dalam hutan malam- malam gelap seperti ini. kuda untuk apa sih?" Lee Ing berjenaka, sama sekali tidak tahu bahwa pemuda di depannya itu bicara dengan sepenuh hatinya dan dengan sungguh-sungguh sekali.

"Anjing juga tidak butuh?" tanya Han Sin penuh harap.

"Aku biasanya tidak suka anjing, biar di lain penjelmaan juga tidak suka, akan tetapi sekarang aku akan lebih merasa girang kalau kau berobah menjadi anjing karena binatang itu biasanya pandai sekali mencari jalan kalau kita kehilangan jalan. Eh, Liem twako, kau ini apa sudah kemasukan siluman di hutan ini? Kok bicara tentang anjing dan kuda segala macam. Lebih baik lekas kita berusaha mencari jalan keluar kalau tidak kita akan terpaksa bermalam di dalam hutan bergelap- gelap!"

"Nona Souw, kau mengganggap aku main-main. Biarlah aku bersumpah, dalam penghidupan sekarang aku akan bersetia kepadamu sampai mati, setia melebihi anjing atau kuda."

"Sudahlah, gelap-geap kau bicara aneh-aneh, membikin bulu tengkukku meremang semua. Lihat, tuh di sana nyala api yang nampak lagi."

Han Sin memandang ke depan dan benar saja, nyala api yang aneh itu nampak lagi. Cepat mereka menuju ke tempat itu, nyala api itu maju terus dan mereka menjadi amat girang ketika mendapat kenyataan bahwa nyala api itu membawa mereka ke jalan atau lorong di hutan itu yang mereka lalui tadi ketika ke rumah Bu Kam Ki!

Setelah mengikuti nyala api itu beberapa lama, tiba-tiba apinya padam dan mereka mendapatkan kenyataan bahwa mereka telah berada di depan rumah keluarga Ciong. Terhyata api tadi sengaja menjadi petunjuk jalan bagi mereka.

"Agaknya Ciong-enghiong sudah tahu bahwa kita berhasil maka dia sengaja memberi petunjuk jalan kepada kita," kata Han Sin. Lee Ing diam saja dan mengikuti pemuda itu memasuki halaman rumah. Akan tetapi Han Sin menjadi ragu-ragu ketika di depan pintu ia disambut oleh Ciong Thai, Giam Loan, dan Ciong Sek yang berdiri dengan muka pucat dan lesu. Dengan penuh gairah Ciong Thai bertanya.

"Bagaimana, Liem-hiante? Berhasilkah? Maukah Bu-lohiap menolong kami?"

"Bu lohiap telah demikian baik hati untuk menolong nyawa sam-wi (saudara bertiga) dan telah memberikan obat itu kepadaku." jawab Han Sin, agaknya tak senang hatinya karena orang yang ditolongnya itu datang-datang menanyakan kepentingan dan kebutuhan sendiri dan sama sekali tidak perduli orang lain yang setengah mati mencari obat.

"Bagus sekali! Aku sudah menduga kalau kau yang pergi pasti berhasil! Mana obat itu, Liem-hiante?" Ciong Thai segera menghampiri Han Sin dengan wajah girang, juga Giam Loan melompat dekat sambil tersenyum senyum manis, sedangkan Ciong Sek tertawa lebar. Ketiga orang yang tadinya muram seperti lampu kehabisan minyak sekarang berseri-seri mendapat tambahan minyak baru.

"lni obatnya." Han Sin menyerahkan bungkusan tiga buah itu yang cepat diterima oleh Ciong Thai dan langsung dibagikan kepada isteri dan adiknya, seorang sebungkus. Bukan main girangnya hati Ciong Thai, la merangkul Han Sin dan pemuda ini merasa betapa lehernya menjadi basah oleh air mata jago Lembah Yang ce ini. Hati pemuda yang baik ini seketika menjadi lemas dan lenyaplah rasa mendongkolnya tadi, terganti rasa terharu. "Thio Sam! Kai Beng, Lekas siapkan pesta penghormatan bagi Liecm-taihiap dan lihiap!" Secara mendadak Ciong Thai menyebut taihiap (pendekar besar) kepada Han Sin dan lihiap (pendekar wanita) kepada Lee Ing, Kemudian ia menarik lengan Han Sin sedangkan Giam Loan menarik lengan Lee Ing. diajak ke ruangan dalam yang lebih lebar dan diterangi oleh banyak lilin besar yang penuh hidangan! Orang telah menanti kedatangan mereka dan siap menyambut dengan pesta!

Akan tetapi Lee Ing masih bersikap kaku, dengan sekali renggut saja ia telah melepaskan lengannya dari tarikan Giam Loan Akan tetapi nyonya muda itu tidak menjadi tak senang, malah sambil tersenyum ramah ia membungkuk-bungkuk mempersilahkan Lee Ing jalan dulu ke ruang dalam. Karena melihat Han Sin telah berjalan masuk, terpaksa Lee Ing juga mengikutinya. Kalau menurutkan perasaan hatinya, ia lebih suka segera meninggalkan rumah orang-orang ini pada malam itu juga, biar malam dingin gelap.

Entah mengapa, di dalam hatinya Lee Ing amat tidak suka kepada tiga orang ini, terutama sekali Giam Loan. Akan tetapi, kejengkelannya berkurang ketika ia melihat Ciong Swi Kiat, bocah gundul mata gede itu sudah menanti di dalam ruangan itu, berdiri di sudut dengan sikap seperti seorang pelayan. Kebalikan dari orang tuanya, bocah ini mendatangkan rasa kasihan dalam hati Lee Ing.

"Taihiap dan lihiap tentu lelah dan lapar setelah melakukan perjalanan jauh dan tugas berat, silahkan makan sekedarnya dan minum arak sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih kami," kata Ciong Thai mempersilahkan dua orang muda-mudi itu yang kini diperlakukan seperti dua orang tamu agung.

Sibuklah tuan rumah melayani dua orang itu dibantu oleh Thio Sam dan Ho Kai Beng yang sudah agak sembuh dari luka-lukanya. Juga Ciong Swi Kiat tadinya bantu melayani, akan tetapi melihat anak itu kadang-kadang memandang ke arah masakan dengan mata melotot dan mulut komat kamit kadang-kadang menelan ludah, Lee Ing lalu menarik tangannya disuruh duduk ikut makan minum.

Ciong Thai hanya tersenyum saja melihat ini, akan tetapi mata Lee Ing yang tajam dapat melihat kilat mata kemarahan terpancar keluar dari sepasang mata Giam Loan yang biasanya genit dikerling ke arah Han Sin itu. Dengan secara terbuka sekali nyonya muda yang genit itu melempar senyum dan kerling tajam, mengajak main mata kepada Han Sin. Hal ini saja sudah mempertebal rasa tak suka dalam hati Lee Ing.