-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 13

Jilid 13

Kalau Tok-ong memaki-maki marah merasa kecewa dan juga malu sekali terhadap Auwyang-Taijin bahwa dia tidak bahasil membasmi semua orang Tiong-gi-pai maka di lain fihak Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya yang sudah berhasil melarikan diri ke hutan, juga menderita kesedihan besar. Ternyata ada sembilan orang anggauta Tiong-gi-pai tewas, di antaranya Kwee Tiong! Pemuda gagah ini biarpun sudah tertolong oleh Pek Mao Lojin dan dibawa lari, namun luka-lukanya amat parah dan ia tak tertolong lagi. Dapat dibayangkan betapa sedihnya hati Kwee Cun Gan. Perkumpulannya terancam, banyak kawan tewas dan kini tidak aman lagi berada di tempat itu. "Tidak ada lain jalan. Kita harus ke utara dan menggabungkan diri dengan Raja Muda Yung Lo. menanti saat baik untuk menghancurkan durna-durna jahat itu," kata Kwee Cun Gan setelah pemakaman jenazah Kwee Tiong diurus beres, disaksikan oleh semua anggauta Tiong-gi-pai, juga Pek Mao Lojin dan lin-Yaug Thian-Cu hadir dalam upacara pemakaman.

"Sudahlah, sudah cukup kiranya pinto mengotorkan tangan, mencampuri urusan dunia. Pinto minta permisi Kwee sicu dan betapapun juga, pinto tidak menyesal telah membantu pergerakanmu yang memang mulia," kata lm-Yang Thian-Cu sambil menarik napas panjang.

Kwee Cun Gan menjura dalam ke arah Im-Yang Thian-Cu. "Totiang telah banyak menolong karni, dan tanpa bantuan totiang, kiranya Tiong-gi-pai telah terbasmi di Lian-bu-koan. Terima kasih dan selamat jalan, totiang, mudah-mudahan kelak kita saling bertemu pula."

"Han Sin, apakah kau masih belum ingin ikut dengan pinto mencari perdamaian abadi?" Im-Yang- Thian-cu menengok ke arah muridnya. Han Sin sudah sembuh dari lukanya, kini kelihatan sehat dan segar, la berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara dan wajah bersungguh-sungguh,

"Suhu, harap maafkan kalau teecu terpaksa belum dapat ikut. Pula, teecu merasa bahwa perdamaian abadi tidak ada gunanya kalau hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri saja, seperti halnya kebahagiaan takkan ada artinya kalau hanya dimiliki oleh beberapa gelintir orang saja. Perdamaian abadi baru timbul kalau pengacau dan perusuh, penindas manusia dan pemeras rakyat kecil sudah terganyang habis! Bagaimana hati ini bisa damai kalau mata melihat rakyat diperas habis-habisan oleh kaum durna? Tidak, suhu. Teecu hendak melanjutkan perjuangan, membantu Tiong-gi-pai, membantu Raja Muda Yung Lo, dan kelak kalau perdamaian dan kebahagiaan sudah dimiliki oleh semua orang, terutama rakyat kecil bukan orang-orang besar seperti Menteri Auwyang dan kaki tangannya, baru teecu suka ikut dengan suhu."

Im-Yang Thian-Cu mengerutkan kening. "Agaknya kaulah yang betul, muridku. Sesukamulah, lanjutkan perjuanganmu. Adapun aku sendiri... ah, untuk apa semua itu....? Untuk apa ?" Tosu itu

menggeleng-geleng kepalanya dengan muka sedih, lalu pergi dari situ tanpa bicara apa-apa lagi, kepalanya masih digeleng-gelengkan dan elahan napasnya terdengar.

Pek Mao Lojin juga minta diri. "Lohu juga mau melanjutkan perantauan," katanya kepada Kwee Cun Gan, "senang sekali dapat membantu kalian dan biarpun aku kehilangan murid, namun dia tewas sebagai seorang gagah, seorang pahlawan yang berjuang demi kebenaran dan untuk memusuhi pengaruh-pengaruh jahat yang menindas rakyat. Yang baik-baik saja menjaga diri agar kalian dapat sampai di utara dengan selamat. Kelak apa bila tiba saatnya, pasti lohu tidak segan-segan untuk membantu lagi." Kakek botak ini dengan mulut tersenyum-senyum seperti biasa lalu pergi dari situ tanpa menghiraukan ucapan terima kasih dari Kwee Cun Gan.

"Kalau kita semua ke utara untuk membantu Raja Muda Yung Lo, sebaiknya kita jangan datang dengan tangan kosong. Menurut keterangan Pek-kong-Sin-kauw Siok-taihiap dahulu, raja muda di Peking sudah membuat persiapan-persiapan untuk memperkuat kedudukan berhubung dengan makin meluasnya pengaruh para dunia. Kaisar Thai Cu agaknya tidak menghiraukan puteranya itu karena hasutan para durna, maka menurut dugaanku, kelak akan terjadi perebutan kedudukan. Sudah tentu kalau terjadi hal itu, kita akan memihak utara, karena kita tahu bahwa Raja Muda Yung Lo yang paling bijaksana dan tepat untuk memimpin rakyat, ke arah kemakmuran. Oleh karena itu, kita harus bekerja, sebelum ke utara, kita harus menghubungi orang-orang kang-ouw di selatan ini, memberi dorongan semangat kepada mereka agar jangan sampai masuk perangkap Auwyang Kansin (Menteri Korup Auwyang). Dengan demikian, mereka tidak akan dapat dibujuk oleh Tok-ong dan kelak dapat diharapkan bantuan mereka." Semua orang memuji buah pikiran Kwee Cun Gan ini. Memang Kwee Cun Gan mempunyai bakat menjadi pemimpin serta memiliki kecerdikan dan pemandangan luas.

"Siauwte bersiap sedia melakukan petunjuk suheng." kata Siok Ho kepada Kwee Cun Gan yang ia anggap suheng (kakek seperguruan).

"Juga saya bersiap menanti perintah paman Kwee." kata Liem Han Sin dengan penuh semangat. Yang lain-lain juga meniru kesanggupan dua orang muda itu. Kwee Cun Gan mengangkat tangan menyuruh semua orang diam.

"Kita semua sekarang telah menjadi orang-orang buronan, tentu fihak Auwyang Kansin tidak mau tinggal diam saja dan sekali kita dilihat, tentu akan ditangkap sebagai pemberontak-pemberontak. Oleh karena itu, di selatan ini kita sudah tidak dapat bergerak bebas lagi. Berbahaya sekali kalau kita masih berkeliaran di sini. Oleh karena itu hanya sute Oei Siok Ho dan Han Sin yang tepat untuk menemui tokoh tokoh kang-ouw di selatan dan mengajak mereka bersama-sama membantu gerak an Raja Muda Yung Lo kalau saatnya sudah tiba. Dua orang ini selain muda, juga berkepandaian tinggi dan kiranya lebih mudah menjaga diri. Yang lain-lain secara berpencaran, mengajak kawan- kawan. sehaluan untuk bersama mengadakan persiapan. Akan tetapi yang kemarin ikut ke Lian-bu- koan, harus mengungsi ke utara." Demikianlah Kwee Cun Gan mengatur kawan-kawannya.

Siok Ho dan Han Sin diberi tugas menghubungi orang-orang kang-ouw. Dua orang muda ini akan Melakukan perjalanan ke selatan, kemudian mengambil jalan memulai, seorang melalui barat dan seorang timur, untuk menyusul ke utara.

"Jangan lebih dari enam bulan melakukan perjalanan ini," kata Kwee Cun Gan. "dan di dalam waktu itu apa bila kalian mendengar tentang pergerakan dari utara sudah dimulai, jangan membuang waktu, terus kalian menyusul kami untuk bersama-sama membantu Raja Muda Yung Lo."

Agak berat hati Liem Hoan melepas puteranya, akan tetapi oleh karena puteranya pergi melakukan tugas mulia ia merelakan harinya, hanya memesan agar puteranya dapat menjaga diri baik-baik dan berhati-hati.

"Gadis puteri Souw-taihap itu hebat, aku akan girang dan bangga kalau kelak kau bisa berjodoh dengan dia," kata Liem Hoan sebagai penutup.

Merah wajah Han Sin la juga sudah mendengar tentang puteri Souw Teng Wi, gadis muda yang tadinya ia kira Kwan lm Pouwsat, akan tetapi ternyata seorang gadis yang berkepandaian tinggi itu. Juga mendengar bahwa sekarang Kwee Cun Gan dan lain lain angganta Tiong-gi-pai lama termasuk ayahnya sendiri, mengenal gadis itu sebagai Souw Lee lng yang dulu diculik oleh Toat-beng-pian Mo Hun. Memang tak dapat disangkal Iagi bahwa hati Liem Han Sin sekaligus jatuh cinta kepada gadis ini. Akan tetapi ia menjadi ragu-ragu kalau mengingat betapa mesra dain rukun agaknya hubungan antara Lee Ing dan Siok Ho!

Setelah segalanya dirundingkau masak-masak, rombongan Tiong-gi-pai dibubarkan dan masing- masing mulai melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Kwee Cun Gan berdua Liem Hoan langsung menuju ke utara untuk menghadap Raja Muda Yung Lo dan memberi laporan. Liem Han Sin dan Oei Siok Ho, dua orang muda gagah perkasa itu bersama dengan yang lain, malah menuju ke selaian. Mereka sudah bersepakat untuk mengambil jalan sendiri-sendiri ke selatan. Siok Ho hendak menghubungi orang-orang gagah di sepanjang Sungai Kan-kian sedangkan Han Sin hendak melakukan perjalanan di sepanjang Sungai Siang kian terus ke barat. ke Bukit Ta-liang san. Liem Han Sin berjalan seorang diri keluar dari wilayah Nanking menuju ke selatan, la berjalan dengan tenang dan sunyi. pikirannya masih penuh dengan bayangan gadis lincah jenaka yang telah menguasai hatinya, Souw Lee Ing. Di samping ini, juga ia merasa amat penasaran karena sebegitu jauh belum juga ia dapat membalaskan sakit hati atas kematian dua orang saudara perempuannya yang dibunuh oleh Auwyang Tek.

"Aku harus belajar lagi," pikirnya, "harus memperdalam ilmu silatku yang ternyata masih amat rendah. Aku harus berlatih keras, pertama-tama untuk dapat mengatasi Auwyang Tek, ke dua kalinya..." Jalan pikirannya berhenti dan terbayanglah ia kepada Lee Ing yang menurut orang-orang Tiong-gi-pai memiliki kepandaian yang amat tinggi! Ia harus dapat mengimbangi Lee Ing!

"Siapa tahu," pemuda itu melanjutkan lamunannya, "siapa tahu dalam perjalanan menghubungi orang-orang kang-ouw ini aku akan bertemu dengan orang sakti yang suka menurunkan kepandaiannya kepadaku. "

Akan tetapi hatinya menjadi gelisah kecewa kalau ia teringat akan Oei Siok Ho. Pemuda itu hebat, tampan sekali dan ilmu silatnya juga tinggi, lebih tinggi dari padanya. Bagaimana ia mampu bersaing dengan Siok Ho? Melihat sikap Lee Ing ketika meminjamkan pedang kepada Siok Ho, sudah dapat dilihat bahwa gadis itu suka kepada Siok Ho. Dia sendiri tidak melihat hal ini karena ketika terjadi ia masih pingsan. Akan tetapi kawan-kawan di Tiong-gi-pai yang tiada habisnya bicara tentang Lee Ing, mengatakan demikian. Bagaimana dengan Siok sendiri? Pemuda itu hanya tersenyum dengan wajahnya yang ganteng, tidak mau memberi komentar apa-apa.

Hanya kata Siok Ho kepadanya, "Saudara Han Sin, kita bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan nona Souw. Kepandaiannya sepuluh kali lebih menang dari kita."

Anehnya, Siok Ho nampaknya tidak begitu memperhatikan Lee Ing, malah kelihatan jemu dan tidak senang kalau ada orang bicara penuh pujian terhadap gadis puteri Pendekar Besar Souw Teng Wi itu! Cemburu ataukah memang tidak ada perhatian? Masih sukar bagi Han Sin untuk menerkanya.

Saking asyiknya melamun sambil berjalan perlahan, pemuda ini tidak merasa bahwa semenjak tadi ada orang mengejarnya dari belakang. Baru setelah orang itu dekat, ia mendengar gerakannya dan menoleh. Berubah wajah Han Sin dan ia cepat mencabut kipas dan pitnya. Sepasang senjata ini adalah senjata suhunya. Im-Yang Thian-Cu meninggalkan sepasang senjatanya kepada muridnya ini untuk bekal dalam perjalanan karena senjata pemuda ini telah rusak oleh Tok-ong Kai Song Cinjin.

Pengejarnya bukan lain orang, adalah Ma-thouw-Koai-iung Kui Ek! Kakek bermuka burung ini menyeringai penuh ejekan, nampaknya girang sekali karena ia berhasil mendapatkan seorang buronan yang cukup berharga. Memang tidak salah dugaan Kwee Cun Gan, Menteri Auwyang menjadi marah sekali mendengar bahwa orang-orang Tiong-gi-pai dapat meloloskan diri. Pembesar ini segera memberi perintah kepada orang-orangnya untuk melakukan pengejaran dan mengerahkan sejumlah besar tentara penjaga keamanan. Juga menteri yang berhati palsu ini melapor kepada kaisar bahwa gerombolan pemberontak bernama Tiong-gi-pai dipimpin oleh Kwee Cun Gan telah membunuh banyak perwira. Kaisar yang mendengar laporan ini tentu saja memberi ijin untuk membasmi gerombolan itu.

Tok-ong Kai Song Cinjin mengerahkan pembantu-pembantunya, melakukan pengejaran secara berpencar. Dia sendiri segera mengejar ke utara karena Tok-ong maklum bahwa orang-orang Tiong- gi-pai mengandalkan pengaruh Raja Muda Yung Lo untuk memusuhi fihak Menteri Kerajaan Beng.

Akan tetapi Kui Ek dan Mo Hun berpikir lain. Dua orang ini suka membantu Menteri Auwyang hanya karena mereka ingin memperoleh kedudukan mulia dan kemewahan hidup belaka, berlindung di bawah kewibawaan kaisar. Akan tetapi kalau pemerintah Beng-tiauw akan berperang dengan Raja Muda Yung Lo misalnya, mereka tentu merasa enggan untuk membantu. Bagi mereka, tidak ada pikiran sedikitpun tentang tata negara dan tidak berfihak kepada siapapun. Pokoknya asal dapat hidup senang dan siapa yang dapat menjamin kesenangan dialah yang akan mereka bantu.

Akan tetapi kalau sampai harus bermusuhan dengan raja muda di utara yang kabarnya didukung oleh orang-orang gagah di utara nanti dulu. Itu terlalu berbahaya! Maka keduanya tidak mengejar ke utara agar jangan sampai berganti musuh dengan tokoh-tokoh utara. Mo Hun melakukan pengejaran ke timur sedangkan Kui Ek ke barat. Mereka juga hendak melanjutkan kesenangan mereka merantau, karena di kota raja sudah tidak ada apa-apa lagi. Kalau orang-orang Tiong-gi-pai sudah pergi semua, ada apa lagi sih harus tinggal di kota raja?

Inilah sebabnya maka Kui Ek secara kebetulan dapat bertemu dengan Han Sin. Tentu saja kakek bermuka burung itu girang sekali karena terbuka kesempatan baginya utnuk membuat jasa dan menerima pahala dengan menangkap Liem Han Sin, seorang tokoh Tiong-gi-pai yang sudah dicap pemberontak-pemberontak, la sudah melihat sendiri kepandaian pemuda ini ketika melawan Tok- ong Kai Song Cinjin, karenanya ia memandang rendah.

"Aha, murid lm-Yang Thian-Cu! Kebetulan sekali, agaknya sudah nasibmu untuk mati dalam usia muda setelah kau terlepas dari tangan Tok-ong!" kata Kui Ek tertawa-tawa dan menggoyang- goyangkan tongkatnya. Liem Han Sin sama sekali tidak kelihatan takut, malah bibirnya menyungging senyum mengejek.

"Kukira siapa, tidak tahunya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang kemarin dulu keok dalam pibu oleh suhu." Mendengar kata-kata ini dan melihat senjata kipas dan pit di tangan pemuda itu. Kui Ek menjadi marah sekali. Panas hatinya karena diejek tentang kekalahannya melawan Im-Yang Thian- Cu.

"Bagus, sekarang kau muridnya yang harus membayar hinaan itu!" serunya dan cepat sekali tongkatnya sudah digerakkan menyerang kepala Han Sin.

Tentu saja pemuda itu tidak berani berlaku lambat. Cepat ia mengelak dan balas menyerang dengan pit di tangan kanannya. Pemuda ini pernah bertanding melawan Tok-ong, sama sekali tidak gentar biarpun nyawanya terancam bahaya maut, apa lagi sekarang hanya melawan Kui Ek. Biarpun tingkat kepandaian Kui Ek memang lebih tinggi darinya, namun pemuda yang gagah berani ini sama sekali tidak menjadi jerih. Dengan sepenuh tenaga ia mengerahkan kepandaiannya, mati-matian melawan Ma-thouw Koai-tung Kui Ek. Ketabahan dan kenekatan pemuda ini banyak membantunya, membuat gerakan-gerakannya jauh lebih cepat dan berbahaya sehingga Kui Ek sendiri terpaksa berlaku hati- hati menghadapi lawan yang tabah ini.

"Gurumu saja sudah payah melawanku, apa lagi kau!" Kui Ek sengaja mengejek untuk membuyarkan pencurahan perhatian (konsentrasi) lawannya yang benar-benar ulet itu. Akan tetapi Han Sin sama sekali tidak terpengaruh, bahkan la tiba-tiba mengibaskan kipasnya ke arah muka lawan, tubuhnya menyelinap di bawah tongkat yang menyambar-nyambar, terus maju sambil "memasukkan" pitnya mencoba menotok lambung lawannya. Kui Ek terkejut dan cepat ia membanting tubuhnya ke belakang, menggunakan tongkatnya yang ditekan pada tanah untuk melambung lagi dan berjungkir balik ke belakang. Hanya dengan cara begini ia dapat menyelamatkan diri. Bukan main marahnya Ma-thouw Koai-tung Kui Ek. Serangan tadi hampir saja mencelakakannya. Kalau sampai lambungnya terkena totokan tadi, amat boleh jadi ia akan roboh!

"Bangsat cilik lihat pembalasanku!" teriak Kui Ek dan tongkatnya menyambar ganas. Tongkat yang ujungnya dipasangi kaitan itu kini bergerak dengan cepat dan kuat, membuat Han Sin repot menangkis dan mengelak. Sebentar saja Han Sin yang memang kalah tinggi tingkatnya, hanya mampu mempertahankan diri saja. Kui Ek mulai lagi dengan ejekan-ejekannya sambil mendesak terus dengan pukulan pukulan mautnya.

Han Sin dalam kerepotannya dan Kui Ek dalam kesombongannya itu tidak dapat melihat adanya seorang gadis yang baru datang dengan gerakan yang cepat sekali, Gadis ini adalah Lee Ing. Setelah menolong orang-orang Tiong-gi -pai melarikan diri dari kepungan Tok ong Kai Song Cinjin dan kawan- kawannya. Lee Ing segera meninggalkan Nanking hendak mencari ayahnya di utara. Akan tetapi kalau ia teringat akan sikap Han Sin, ia menjadi tidak enak sekali. Pemuda itu menganggapnya seorang dewi, menganggapnya Kwan lm Pouwsat, benar benai menggelikan dan juga mengharukan.

Ia harus menemui pemuda itu, pemuda yang berjiwa gagah perkasa, dan membuktikan bahwa dia bukan seorang dewi kahyangan, melainkan seorang gadis biasa. Sikap yang diperlihatkan oleh Han Sin ketika menghadapi Tok-ong, benar-benar sikap seorang pemuda gagah perkasa yang menjamah hati nurani gadis ini. Lee Ing paling menghargai kegagahan, dan sikap Han Sin memang sikap seorang ksatria, membuat gadis itu tertarik sekali dan timbul rasa suka dan simpati. Maka ia merasa tidak enak kalau pemuda itu mendewi-dewikan dia. Di samping ini, iapun hendak memancing keterangan dari Han Sin tentang ayahnya.

Ketika orang-orang Tiong-gi-pai meninggalkan hutan ternpat persembunyian mereka, Lee Ing yang bersembunyi di luar hutan menjadi terheran-heran melihat Siok Ho dan Han Sin menuju ke selatan, tidak seperti lain-lain kawan yang menuju ke utara. Lee Ing juga maklum bahwa orang-orang gagah ini tentu akan menggabungkan diri dengan pemerintah di utara, maka ia merasa heran mengapa dua orang pemuda ini malah berangkat ke selatan, la segan untuk muncul karena setelah apa yang ia lakukan di Lian-bu-koan, tentu ia menjadi pusat perhatian dan pujian, dan hal ini Lee Ing paling benci. Ia datang ke Nan-king hanya untuk mencari ayahnya dan untuk membalas dendam kepada Tok-ong, yang lain ia tidak perduli. la membantu Tiong-gi-pai adalah perserikatan yang membela ayahnya.

Ketika ia melihat Siok Ho dan Han Sin berjalan ke selatan, ia diam-diam mengikuti mereka. Diam- diam gadis remaja ini membuat perbandingan. Benar-benar dua orang muda yang hebat, sama-sama gagah perkasa dan keduanya tampan. Akan tetapi Lee Ing tetap saja lebih terpikat oleh Siok Ho, pemuda yang gerak-geriknya halus dan ganteng sekali itu. Di luar tahunya dua orang muda itu, Lee Ing terus mengikuti mereka dengan diam-diam dan gadis ini menjadi merah mukanya, jengah dan malu kepada diri sendiri yang sebagai seorang gadis membanding-bandingkan dua orang pemuda!

Akan tetapi di persimpangan jalan, dua orang pemuda itu berpisahan, Siok Ho ke timur dan Han Sin ke barat. Lee Ing menjadi bingung. Hatinya ingin ia mengikuti Siok Ho, akan tetapi pikirannya menyuruhnya menemui Han Sin. Sampai lama ia berdiri di persimpangan jalan, sebentar memandang ke timur, sebentar ke barat. Hatinya bimbang sekali dan ia belum dapat mengambil keputusan harus menyusul siapa setelah dua orang muda itu tidak kelihatan bayangannya lagi.

Tiba-tiba gadis itu melompat dan menyelinap di balik rumpun karena telinganya yang tajam pendengarannya itu mendengar tindakan orang dari jauh. Benar saja, tak lama kemudian kelihatan kakek bertongkat burung berlari-lari cepat. Lee Ing terkejut melihat bahwa kakek ini adalah Ma- thouw Koai-tung Kui Ek Sampai di persimpangan jalan Kui Ek ragu-ragu sebentar lalu membelok ke kanan, ke arah barat ke mana Han Sin tadi melanjutkan perjalanannya.

Tentu saja Lee Ing mengkhawatirkan Han Sin yang akan menghadapi bencana kalau sampai tersusul oleh kakek ini. Akan tetapi, gadis ini tidak segera mengejar, menanti sampai beberapa lama untuk melihat apakah selain Kui Ek tidak ada orang lain lagi yang melakukan pengejaran terhadap dua orang muda itu. Akhirnya, setelah yakin bahwa tidak ada musuh lain, ia lalu mengejar ke barat dan melihat betapa Kui Ek seperti dugaannya, telah mendesak Han Sin dengan tongkat burungnya yang lihai. Gadis ini dengan marah hendak turun tangan, akan tetapi ia mendapatkan pikiran lain dan membalikkan tubuh, menyelinap di belakang batang pohon lalu melompat dengan gerakan seringan burung walet ke atas pohon di atas tempat dua orang itu bertempur.

Sementara itu, Han Sin makin terdesak, tongkat Kui Ek makin hebat mengurungnya dan agaknya sebentar lagi pemuda itu tentu akan roboh. Wajah Han Sin penuh keringat, demikian pula leher dan kedua lengannya, akan tetapi biarpun ia sudah lelah sekali, biarpun napasnya sudah agak terengah- engah, sepasang matanya masih bersinar penuh keberanian dan gerakan sepasang senjatanya masih dahsyat dan berbahaya. Mau tidak mau di dalam hatinya Kui Ek terpaksa memuji kegagahan pemuda ini. Juga ia merasa penasaran sekali. Masa dia tidak mampu merobohkan lawan muda ini dalam tiga puluh jurus?

Dengan gemas Kui Ek merobah ilmu silatnya. Sekarang ia menggunakan tangan kanan saja untuk mainkan tongkatnya menyerang lawan, sedangkan tangan kirinya melakukan serangan-serangan pula dengan pukulan dahsyat. Ternyata Kui Ek telah mengeluarkan ilmu tongkatnya yang paling dahsyat, seperti yang ia mainkan ketika ia menghadapi Im-yang Thian-cu. Ia selalu menyerang dengan pukulan maut, mempergunakan ujung tongkat sehingga pemuda itu tidak sempat membalas, dan pukulan-pukulan tangan kirinya disertai tenaga Iweekang sepenuhnya sampai angin pukulannya menyambar-nyambar dan membuat baju Han Sin berkibar.

"Kalau dalam sepuluh jurus kau tidak jatuh, biar aku orang she Kui dianggap kalah saja!" kata Kui Ek mengejek sambil memperhebat serangannya Han Sin sampai terhuyung-huyung ke belakang karena sambaran angin serangan lawannya benar-benar hebat tak tertahankan.

"Celaka," pikir Han Sin. kali ini aku tewas...!

Akan tetapi tiba-tiba wajahnya berseri dan matanya bersinar, terdengar ia menjawab. "Begitukah? Baik, mari kita menghitungnya!" Kui Ek benar-benar kagum.

Pemuda itu sudah terdesak hebat. Baru terkena sambaran angin pukulann saja sudah terhuyung ke belakang dan kiranya dalam satu dua jurus takkan kuat menahan serangannya, namun masih dapat menjawab dengan nada menantang! la mengirim pukulan pertama setelah tongkatnya membuat gerakan melingkar tiga kali di atas kepala sendiri, lalu meluncur ke arah kepala, Han Sin dengan dahsyat.

Pukulan ini disebut Rajawali Menyambar Ular Laut, hebatnya bukan main. Kalau Han Sin menangkis, tentu kipas atau pitnya yang dipakai menangkis akan hancur berikut lengan dan pundaknya karena di dalam pukulan ini tersembunyi tenaga Iweekang yang dahsyat dan jauh lebih kuat dari pada tenaga pemuda itu. Kalau hendak mengelak, tidak mungkin karena semua jalan keluar sudah dihadang oleh tangan kiri Kui Ek yang siap mengirim pukulan maut!

Akan tetapi hebatnya, Han Sin malah berkata lagi. "Jurus ke satu. " dan mengibaskan kipasnya ke

arah ujung tongkat yang menyambar sambil mengajukan kaki dan merendahkan tubuh, menikam dengan pitnya ke arah lutut lawannya, la menangkis berbareng menyerang!

Kui Ek hampir tertawa terbahak melihat kenekatan pemuda yang dianggapnya amat tolol ini. Menangkis saja tak mungkin kuat, bagaimana masih dibarengi dengan serangan pula? Sebelum pemuda itu tahu akan kesalahannya, kepalanya pasti sudah hancur! Akan tetapi tiba-tiba ia terpaksa menelan kembali ketawanya, malah hampir ia berseru kaget ketika merasa tongkatnya itu terpental mundur oleh kibasan kipas Han Sin. Ini sama sekali tidak disangka-sangkanya dan ia terpaksa mencelat mundur untuk meluputkan diri dari tusukan pit di lututnya. Hebat sekali, pikirnya.

Bagaimana pemuda ini tiba-tiba jadi sekuat itu? Kibasan kipas tadi malah lebih kuat dari pada kibasan Im-yang Thian-cu! Kenapa baru sekarang pemuda itu mengeluarkan ilmunya? Ataukah hanya kebetulan saja?

Kui Ek penasaran sekali, tak mungkin pemuda ini tiba-tiba saja berobah menjadi orang yang bertenaga Iweekang kuat sekali. Tentu ada apa-apa yang tidak beres, la memutar tongkatnya dan menyerang lagi, lebih dahsyat dari pada tadi. Kini tongkatnya menghantam ke arah lambung Han Sin dari arah kiri. Batu karang saja akan hancur agaknya oleh pukulan ini, apa lagi lambung manusia dari kulit daging! Datangnya saja sudah membawa angin dingin dan amat mengerikan.

Akan tetapi, pemuda itu memandang dengan mata tidak berkedip, sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut, malah ia tersenyum-senyum sambil berkata lagi,

"Jurus ke dua.!" Memang hebat pemuda ini. Tidak saja ia tidak takut, bahkan ia menghitung serangan lawan dan pukulan tongkat itu ia tangkis dengan pitnya di tangan kiri. Hampir saja Kui Ek menarik kembali pukulannya saking heran dan gelinya. Agaknya pemuda ini sudah miring otaknya, pikirnya. Bagaimana pukulan tongkat sehebat yang ia lakukan itu, hendak ditangkis dengan sebatang pit kecil? Akan tetapi karena penasaran mengingat serangannya yang pertama tadi, ia malah melanjutkan pukulannya dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Traakkl" Tongkat itu terpental dan Kui Ek melompat mundur sampai tiga langkah. Mukanya pucat sekalil Ia memandang kepada Han Sin yang berdiri tersenyum-senyum di depannya seperti orang melihat setan di tengah hari. Bagaimana mungkin ini? Tongkatnya yang kuat itu tertangkis oleh pit Han Sin menjadi terpental seakan-akan bertemu dengan bukit baja! Dari mana pemuda itu tiba-tiba memperoleh tenaga sehebat itu?

Kalau memiliki tenaga seperti ini, mengapa tadi terdesak dan baru sekarang mempergunakannya? Kalau memang pemuda itu memiliki tenaga seperti itu, tentu tadi-tadi ia sudah kalah! Kui Ek benar- benar tidak mengerti. Ia memandang kepada tongkatnya, tidak ada apa-apa yang aneh. Apa tiba-tiba ia kehilangan tenaganya? Merasa ragu-ragu akan diri sendiri, Kui Ek mengayun tongkatnya ke kiri. Terdengar suara keras dan batu karang pecah berhamburan.

"Eh, Kui Ek, apa kau sudah berubah ingatan? Batu tidak apa-apa kau pukul?" Han Sin menegur. Kui Ek makin-tidak mengerti. Tenaganya masih baik, la mengeluarkan suara menggeram lalu menyerang lagi, kini lebih cepat dan lebih hebat dari pada tadi.

"Jurus ke tiga!" Han Sin menghitung terus sambil menangkis atau menyampok dengan seenaknya ke arah ujung tongkat, akan tetapi tiap kali ia menangkis, tongkat Kui Ek pasti terpental kembali. Kui Ek terus menyerang dan Han Sin terus menangkis sambil menghitungi jurus dan sepuluh kali Kui Ek dibikin terheran-heran karena tongkatnya selatu kena ditangkis, juga karena sampai telapak tangannya sendiri pecah-pecah kulitnya dan berdarah sedangkan pemuda itu segar bugar berdiri di depannya tanpa mengganti langkah atau berpindah tempat. Hal yang ajaib telah terjadi dan ini terlalu hebat bagi Kui Ek.

"Sudah sepuluh jurus dan kau harus mengaku kalah, Kui Ek," kata Han Sin.

"Aku melihat setan....!" Kui Ek menggerutu, memutar tubuhnya dan... lari pergi dari tempat itu, dikejar oleh suara ketawa Han Sin. Kui Ek tidak mendengar kata kata Han Sin perlahan, "Sayang, kalau dengan tenagaku sendiri, tak mungkin kubiarkan tikus busuk itu melarikan diri!" "Kita bukan Giam lo-ong. tak baik mencabut nyawa orang lain!" terdengar suara halus dan tahu-tahu Lee Ing sudah berdiri di depan Han Sin. Pemuda ini memandang penuh kekaguman, kemudian ia menjatuhkan diri berlutut dan berkata,

"Berkali-kali aku menerima pertolongan lihiap hingga aku masih dapat bernapas sampai saat ini, entah bagaimana aku dapat membalas budi itu."

Lee Ing tersenyum. "Saudara Han Sin, kalau kau tidak nemandang aku sebagai seorang dewi atau bersikap sungkan-sungkan seperti ini, aku sudah senang. Orang-orang segolongan seperti kita ini, tolong-menolong sudah jadi kebiasaan dan sewajarnya, mengapa kau membikin aku menjadi malu dan tidak enak saja. Harap kau suka berdiri, kita bicara seperti kawan sendiri."

Han Sin bangkit berdiri mengangkat muka menatap wajah gadis itu penuh kekaguman, juga mukanya menjadi merah, entah mengapa ia merasa sungkan-sungkan dan malu sekali.

"Nona memiliki kepandaian tinggi seperti Kwan Im Pouwsat, memiliki kemuliaan seperti seorang dewi, bagaimana aku berani mengangkat diri sejajar dengan nona dan mengaku Segolongan?" katanya perlahan sambil menarik napas panjang. Biarpun mulutnya bilang begitu, di dalam hatinya pemuda itu merasa sedih dan menyesal sekali mengapa ia tidak dapat mengimbangi kepandaian nona yang telah menundukkan hatinya ini!

Lee Ing cemberut, pura-pura marah. "Saudara Liem, belum pernah selama hidupku bertemu dengan orang yang begitu pandai memuji seperti kau. Kalau aku tidak yakin bahwa kau. seorang pemuda jujur, tentu kuanggap semua pujianmu ini bujukan-bujukan belaka! Eh, saudara Han Sin, apa kau tidak suka menganggap aku seperti orang biasa dan sebagai kawan saja?"

Han Sin menjadi gugup. "Tentu saja..." jawabnya cepat, "tentu saja aku suka sekali. Agaknya aku yang bodoh dan tidak berharga ini sedang dikasihani oleh Thian sehingga menemukan nasib begini baik. Menjadi sahabatmu, nona? Aduh, tentu saja aku senang sekali! Kalau saja aku bisa berbuat sesuatu untukmu, katakan saja, aku siap melakukan perintahmu "

Wajah Lee Ing menjadi merah, apa lagi ketika ia melihat betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya, mata yang memandang mesra, penuh kasih, penuh kekaguman. Ahh, mengapa bukan mata Oei Siok Ho yang memandang seperti itu kepadanya? He, mengapa teringat kepada Siok Ho lagi? Lee Ing mencela diri sendiri dalam hatinya.

"Saudara Han Sin, aku memang sengaja mencarimu untuk minta tolong sedikit saja   "

"Katakan lekas, aku siap melakukannya!" Lee Ing tersenyum geli melihat sikap pemuda ini, betapapun juga sikap ini menyenangkan hatinya.

"Aku tidak minta kau melakukan sesuatu, hanya minta keterangan tentang ayahku, mungkin kau mengetahui di mana sebetulnya ayahku dan bagaimana keadaannya?"

"Aku mendengar bahwa kau adalah puteri Souw-taihiap, pahlawan yang gagah perkasa itu, nona. Semenjak dahulu aku sudah merasa kagum sekali kepada Souw-taihiap, seorang pejuang rakyat perkasa yang rela dimusuhi para menteri dorna, rela dikejar demi membela rakyat. Pantas saja kau ini puterinya dan. "

"Setop! Kau mulai memuji-muji lagi, bagaimana sih? Aku tanya tentang dia, dan kau memuji-muji saja!" Han Sin cepat-cepat menjawab, "Maaf nona. Maafkan aku yang bicara menurutkan perasaan hati. Sebetulnya aku sendiri juga tidak begitu mengerti jelas apa yang telah terjadi dengan Souw-taihiap. Menurut yang kudengar dari kawan-kawan di Tiong-gi-pai, Souw-taihiap telah berhasil diselamatkan dan kini berada di utara. Akan tetapi, agaknya tempatnya itu tersembunyi karena tak seorangpun yang mengetahui. Hal inipun tidak aneh karena banyak orang memusuhi Souw-taihiap, malah banyak orang kang-ouw yang berusaha mendapatkannya karena pengkhianat-pengkhianat macam Auwyang-taijin menjanjikan hadiah besar sekali bagi siapa yang dapat menangkap Souw-taihiap, hidup atau mati. Tentu saja tempatnya itu disembunyikan dan dirahasiakan oleh raja muda di utara."

Lee Ing mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian mengangguk-angguk. "Terima kasih atas keteranganmu ini, saudara Han Sin. Bagaimanapun juga, kalau mengetahui bahwa ayah tidak berada di tangan musuh, hatiku sudah menjadi lega. Aku akan menyusul dan mencari ke utara."

"Akupun sedang menuju ke Peking!" seru Han Sin gembira sekali mendengar gadis itu hendak pergi setujuan dengan dia.

Lee Ing mengerling dan tersenyum mengejek. "Hemm, menurut pendapatku, kau sekarang ini tidak sedang menuju ke utara, melainkan ke selatan, saudara Han Sin!"

Han Sin sadar akan kesalahannya bicara, maka ia cepat-cepat menyambung,

"Aku memang akan menyusul kawan-kawan ke utara, hanya aku bertugas untuk menghubungi orang-orang gagah di sepanjang Sungai Hsiang-kang, terus ke Bukit Ta-liang-san untuk mencari kawan-kawan satu haluan dan memperingatkan orang-orang gagah agar mereka jangan sampai terbujuk membantu menteri-menteri durna di Nan-king."

Lee Ing mengerutkan kening. "Mengapa begitu? Apakah di utara kekurangan orang gagah?"

Dengan muka sungguh-sungguh Han Sin memberi penjelasan kepada nona yang agaknya tidak mengerti sama sekali tentang keadaan pemerintahan.

"Begini nona. Biarpun tadinya Kaisar Thai Cu adalah pahlawan rakyat Cu Goan Ciang yang berjuang mengusir Bangsa Mongol bersama dengan ayahmu, akan tetapi setelah menjadi kaisar menjadi amat lemah, Kekuasaan di istana boleh dibilang berada dalam tangan menteri durna seperti bangsa Auwyang-taijin itu. Oleh karena itu sudah dapat diramalkan bahwa rakyat yang tertindas takkan mau menerima begitu saja. Dulu rakyat berjuang mati-matian mengusir penjajah untuk membasmi kaum penindas dan penghisap, sekarang biarpun yang memegang kekuasaan bangsa sendiri, namun segala macam penindas harus pula dibunuh tanpa memilih bulu! Coba saja bayangkan, siapa yang takkan marah melihat pahlawan besar seperti ayahmu itu dikejar-kejar seperti seorang pengkhianat? Coba kau tengok keadaan rakyat tani, lalu bandingkan dengan kedudukan para pembesar macam Auwyang-taijin. Padahal dahulu yang berjuang mati-matian melawan penjajah Mongol adalah anak- anak para petani itu, bukan orang-orang macam Auwyang-taijin! Sekarang sinar terang kelihatan memancar dari utara. Pangeran atau Raja Muda Yung Lo adalah seorang pemimpin besar yang selalu mengangkat penghidupan rakyat kecil. Kepada beliau kita menyerahkan nasib, juga kepada beliau kita hendak menyerahkan tenaga membantu usaha merobohkan musuh rakyat. Oleh karena perjuangan kita selalu berdasarkan kerakyatan, maka sekarang pun aku diberi tugas untuk menghubungi orang-orang gagah di dunia kang-ouw untuk membantu kalau kelak tenaga mereka dibutuhkan."

Lee Ing inengangguk-angguk biarpun ia hanya mengerti setengah-setengah saja. Persoalan yang dikemukakan oleh Han Sin tadi terlampau sulit dan ruwet baginya. Akan tetapi ia amat kagum dan menganggap pemuda itu. benar-benar seorang gagah yang jarang keduanya. "Apa kau sudah yakin bahwa orang-orang gagah di dunia kang-ouw mau membantu?" tanyanya.

Han Sin mengerutkan keningnya. "Hal itu masih amat diragukan. Orang-orang berkepandaian tinggi seperti Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek dan sebangsanya, biarpun mereka itu tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal, masih mau menjual diri kepada menteri-menteri durna. Tentu saja segala sesuatu itu ada yang membantu ada yang menentang."

Tiba-tiba terdengar suara keras dan dari depan nampak debu mengepul. Ketika Lee Ing dan Han Sin memandang penuh perhatian, ternyata Ma-thouw Koai-tung Kui Ek nampak berlari-lari seperti orang ketakutan, menyeret tongkatnya dan lewat di dekat mereka tanpa menoleh. Di belakangnya kelihatan debu mengepul tinggi, akan tetapi debu ini bergerak cepat ke depan, mengejar Kui Ek!

"Bocah aneh. !" kata Lee Ing perlahan.

Han Sin yang pandang matanya masih tertutup debu tidak melihat apa-apa, menjadi heran. Akan tetapi setelah gulungan debu yang bergerak itu datang dekat, iapun melihat bahwa di dalam gulungan debu itu memang terdapat orangnya, seorang bocah laki-laki paling banyak dua belas tahun. Bocah ini memakai pakaian aneh berwarna merah, kepalanya gundul, matanya benar-benar seperti gundu.

Tangannya memegang sebuah gelindingan surung yang patah sebelah rodanya. Karena ia menyurung gelindingan yang rodanya sudah patah sebelah, maka mainan nu menimbulkan debu yang bergulung tinggi. Tentu saja hal ini sudah aneh sekali, kalau bocah biasa paling-paling membuat debu mengepul sedikit, tidak seperti ini. Bocah itu berlari cepat dengan kedua kakinya yang telanjang, sambil bersungut-sungut.

"Kalau tidak kau ganti gelindinganku, biar lari ke laut akan kukejar kau!"

"Adik kecil, kalau roda gelindinganmu rusak, mana kubikin betul!" Han Sin berkata. Pemuda ini merasa kasihan melihat bocah itu dan entah mengapa, ia ingin menghibur dan menolongnya. Tentu saja ia sama sekali tidak mengira bahwa Kui Ek tadi lari ketakutan karena bocah ini!

Lee Ing yang lebih tajam pandangan matanya, hanya tersenyum dan menoleh kepada Han Sin. "Kau memang berhati mulia."

Bocah itu berhenti berlari, menatap wajah Han Sin dengan alis berkerut. Setelah berhadapan muka baru Han Sin tercengang melihat sinar mata yang amat tajam dan luar biasa dari bocah itu, sama sekali tidak seperti pandang mata kanak-kanak.

"Kau bisa membikin betul? Nih!" Anak itu memberikan gelindingannya kepada Han Sin. Han Sin menerima gelindingan itu dan menahan seruan kaget dan heran, la tadinya mcngira bahwa gelindingan itu tentu gelindingan kayu seperti biasa barang permainan kanak-kanak, akan tetapi gelindingan ini ternyata terbuat seluruhnya dari pada besi! Roda besi patah-patah mana bisa ia membikin betul? Sementara bocah itu, seakan akan tidak melihat sinar kebingungan di mata Han Sin, terus berkata sambil merengut,

"Kakek muka ayam itu menyebalkan sekali Gelindinganku dia injak. Kumaki dia, dia memukul dengan tongkat. Aku menangkis dan gelindinganku rusak terpukul oleh tongkatnya. Baiknya ada kau orang baik yang bisa membikin betul gelindinganku, kalau tidak tentu aku tak mau sudah dan terus mengejarnya sampai dapat."

Dari bingung. Han Sin menjadi kaget sekali mendengar omongan itu. Tidak bohongkah anak ini? Mungkinkah anak yang masih belum dewasa ini mampu menangkis pukulan tongkat Ma-thouw Koai- tung Kui Ek?

"Lekas bikin betul! Katanya mau membikin betul, kok hanya ditimang-timang saja?" anak itu menegur Han Sin yang menjadi makin bingung.

Akhirnya dengan muka merah Han Sin mengembalikan gelindingan itu sambil berkata, "Menyesal sekali, aku tidak bisa. Kukira tadi gelindingan kayu, tidak tahunya gelindingan besi. Aku tidak bisa bikin betul."

"Kalau tidak becus, kenapa tidak dari tadi-tadi bilang?" anak itu menegur dengan mulut merengut. "Kau juga menyebalkan seperti si muka burung!"

Karena merasa sudah salah janji, biarpun hatinya mendongkol kena dimaki oleh seorang bocah, Han Sin diam saja. Akan tetapi bocah itu agaknya tidak puas kalau hanya memaki. Diangkatnya gelindingan yang bergagang panjang itu, lalu disodokkan ke perut Han Sin!

"Eh. adik kecil, jangan kau kurang ajar!" seru Han Sin yang menjadi gemas juga. Akan tetapi karena yang menyerang hanya anak kecil, tentu saja ia merasa enggan untuk melawan, maka ia hanya menggeser kaki ke pinggir, mengelak sambil tangannya menyampok gagang gelindingan.

Tak dinyana tak dikira, gagang gelindingan itu ditarik kembali dan dari samping mendorong lagi mengenai paha Han Sin yang tiba-tiba merasa pahanya kaku dan sakit sekali. Kagetlah ia, cepat- cepat ia mengerahkan Iweekang ke arah paha untuk menahan dorongan keras itu dan menarik kakinya. Tetap saja ia terdorong sampai terhuyung huyung ke belakang! Dengan mata terbelalak heran, terkejut, dan kagum tercampur marah Han Sin memandang bocah itu setelah dapat berdiri tegak.

"Bocah kepala besar, kau ini anak siapa begini tidak tahu aturan?" Lee Ing membentak sambil melangkah maju mendekati anak itu, Anak laki-laki itu menengok, gerakannya cepat sekali. Melihat yang menegurnya seorang gadis jelita yang mengerutkan kening, dia mengeluarkan suara ketawa aneh.

"Aduh cantiknya! Paman tentu senang melihatmu. Hayo kau ikut aku bertemu dengan paman, biar aku diberi hadiah!" katanya menyeringai, matanya yang besar itu berputaran.

Merah wajah Lee Ing. "Bocah gelandangan, kotor sekali pikiran dan mulutmu!" bentaknya dan tangannya digerakkan untuk menjewer telinga anak itu.

Akan tetapi Lee Ing juga kecele seperti Han Sin tadi karena memandang rendah. Jewerannya biarpun dilakukan dengan gerakan tangan cepat sehingga tahu-tahu jari tangannya sudah dekat dengan telinga anak itu, namun dengan gerakan aneh anak itu masih dapat menyelamatkan telinganya dan jari tangan Lee Ing hanya menyentuh kulit daun telinga sedikit saja.

"Eh, kau melawan? Nona manis kalau melawan ditawan saja, kata paman!" kata bocah nakal itu. Gagang gelindingannya digerakkan dan tiga serangan beruntun merupakan totokan-totokan lihai mengancam jalan darah di tubuh Lee Ing! "Anak iblis, jangan main gila!" Kini Lee Ing benar-benar marah. Sekali tangannya bergerak. gelindingan itu dapat dirampasnya dan ditekuk patah lalu dilempar ke atas tanah.

"Cialat (celaka)! Kiranya lihai amat....l" Bocah itu berseru sambil mengambil langkah seribu, lari secepatnya ke barat.

"Anak setan, sebelum minta ampun, jangan harap dapat lari pergi!" Lee Ing mengejar. Juga Han Sin ikut mengejar dengan hati tertarik sekali. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang bocah berusia dua belas tahun selihai bocah ini. Bocah yang aneh sekali dan berkepandaian tinggi. Tentu orang tuanya memiliki kepandaian luar biasa, atau mungkin juga gurunya, pikir Han Sin. Dia sedang melakukan tugas menghubungi orang-orang pandai di selatan untuk kelak diajak membantu meruntuhkan kekuasaan yang menindas rakyat. Siapa tahu kalau dari bocah ini, ia bertemu dengan tokoh-tokoh sakti yang akan dapat membantu kelak.

"Bocah setan, ini terima kembali gelindinganmu!" teriak Lee Ing sambil melemparkan gagang gelindingan yang tadi dipungutnya ketika melakukan pengejaran. Gagang gelindingan itu meluncur seperti anak panah melayang di atas kepala yang gundul pelontos itu dan menunjam ke bawah menancap di atas tanah depan anak itu! Lee Ing melakukan perbuatan ini untuk menakut-nakuti bocah itu agar tidak berlari terus. Akan tetapi anak itu benar-benar luar biasa.

"Benar-benar gouwsu (berbahaya)!" terdengar ia berseru. Lain orang akan jatuh tersungkur kalau berlari terus menumbuk gagang gelindingan yang sudah tertancap seperti batang pohon di depannya. Akan tetapi tubuh anak itu mencelat ke atas dan jauh ke depan seperti seekor kijang melompat, setibanya di tanah kembali ia mengenjot tubuhnya melompat-lompat jauh ke depan. Dengan cara begini ia dapat melompat seperti kijang, meloncati semak-semak dan jurang dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata!

"Nona Souw....., jangan lukai dia   !" Han Sin mencegah ketika melihat Lee Ing menyambar sebuah

batu kecil dengan maksud hendak menimpuk bocah itu dengan batu. Lee Ing menunda niatnya dan memandang heran.

"Bocah setan masih kecil sudah jahat, apa lagi kelak kalau sudah dewasa, kalau tidak sekarang diberi hajaran supaya takut, kelak sudah terlambat," omel gadis ini yang merasa tidak puas akan cegahan Han Sin tadi.

"Anak itu masih begitu kecil sudah lihai sekali, tentu dia anak atau murni orang sakti. Aku sedang bertugas menghubungi orang-orang pandai, bukankah ini kesempatan baik sekali?"

Lee Ing mengangguk-angguk. "Betul juga katamu itu. Mari kita susul dia!" Han Sin menoleh ke kanan kiri, akan tetapi anak tadi sudah tidak kelihaian bayangannya.

"Dia cepat sekali, sudah menghilang " katanya kecewa.

"Biarpun cepat, masa kita tak dapat mengejarnya? Dia tadi lari ke sana," kata Lee Ing sambil menudingkan telunjuk kirinya. Han Sin memandang dan melihat bahwa di luar hutan terdapat lembah hijau Sungai Yang-ce kiang terbentang luas dan kelihatan segar kehijauan. Di sana-sini terdapat rawa tertutup gerombolan pohon yang merupakan hutan-hutan, ada yang kecil dan banyak pula yang lebat. Lembah hijau penuh rumput itu terletak di tengah-tengah, dan di beberapa bagian kelihatan air Sungai Yang-ce-kiang yang mengalir tenang dan megah. "Dia tadi lari ke jurusan hutan di sebelah kiri lembah rumput hijau itu, mari kita lekas susul, akupun ingin berkenalan dengan guru atau orang tuanya," kata Lee Ing.

Dua orang muda ini lalu berlari cepat menuju ke tempat itu. Akan tetapi ilmu lari cepat Lee Ing jauh lebih menang dari pada Han Sin. Biarpun Han Sin mengerahkan semua tenaganya, tetap saja tertinggal. Lee Ing menoleh ke belakang dan sengaja memperlambat larinya agar Han Sin dapat menyusulnya, akan tetapi Han Sin yang merasa khawatir takkan dapat mengejar anak itu, berkata,

"Nona Souw, kau teruslah. Kejar dia dulu jangan sampai kehilangan jejaknya. Aku menyusul di belakangmu!"

Lee ing mengangguk dan sekali tubuhnya melesat, ia telah berada jauh di depan dan sebentar lagi ia sudah menghilang di dalam hutan lebat itu. Han Sin kagum bukan main, menggeleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.

"Hebat.... hebat sekali dia... mana aku patut di sampingnya?" Kata-kata terakhir ini keluar dari bibirnya ketika pemuda ini teringat akan kata-kata ayahnya yang ingin sekali mengambil Lee Ing sebagai mantunya.

"Dia cantik jelita seperti bidadari, dia sakti seperti dewi... Han Sin... Han Sin.... kau tolol sekali merindukan dia. Seperti si gila merindukan bulan. " Tiba-tiba hati pemuda ini menjadi sedih sekali.

Akan tetapi ia segera teringat akan tugasnya dan cepat ia lari mengejar.

Sementara itu, dengan kepandaiannya yang luar biasa serta keringanan tubuhnya, cepat sekali Lee Ing melakukan pengejaran memasuki hutan lebat itu. Akan tetapi ia tidak melihat bayangan bocah aneh itu, juga tidak melihat jejaknya. Hutan yang liar dan luas itu penuh pohon-pohon besar dan kelihatannya sunyi menyeramkan, tidak kelihatan tanda-tanda ada manusia pernah menginjaknya. Lee Ing penasaran, Tidak mungkin matanya menipunya.

Biarpun tadi ia tidak mengejar dan berhenti untuk bicara dengan Han Sin, namun jelas betul ia melihat bocah gundul itu berlari masuk ke hutan ini. la terus maju dan mencari-cari. Kemudian Lee Ing yang cerdik itu melompat naik ke atas pohon, terus merayap ke puncaknya dan berdiri di atas cabang yang paling tinggi. Bagaikan seekor burung besar ia berdiri tegak, kepalanya menonjol keluar antara daun-daun hijau dan ia memandang ke sana ke mari.

Usahanya berhasil. Dari puncak pohon ini ia melihat samar-samar genteng rumah di depan, di pinggir hutan ini sebelah barat Tentu di sana rumah si gundul kurang ajar tadi, pikirnya. Ketika ia hendak melompat turun, tiba-tiba pandang matanya tertarik oleh empat bayangan orang yang bergerak cepat sekali dari belakang. Lee Ing menanti sampai bayangan-bayangan itu datang dekat. Dari jauh sukar mengenal muka mereka.

Hanya seorang yang berlari di tengah nampaknya berpotongan tubuh yang sudah dikenalnya. Ketika mereka sudah datang dekat, dengan heran sekali Lee Ing melihat bahwa orang yang berlari di tengah itu bukan lain adalah Liem Han Sin. Akan tetapi keheranannya berkurang bahkan terganti kemarahan ketika ia melihat betapa kedua tangan Han Sin dipegangi oleh dua orang yang berlari di kiri kanannya. Jelas bahwa Han Sin merupakan seorang tawanan.

Lee Ing sudah gatal-gatal tangannya hendak menerjang dan menolong Han Sin, akan tetapi melihat cara tiga orang itu berlari, Lee Ing tidak berani berlaku sembrono. Mereka itu ternyata adalah orang- orang berilmu tinggi dan andaikata dia turun tangan, bagaimana kalau mereka menyerang Han Sin? Kenyataan bahwa mereka menawan Han Sin dan tidak melukainya menjadi bukti bahwa mereka itu tidak bermaksud buruk, la memandang dengan penuh perhatian kepada tiga orang yang menawan Han Sin dengan hati agak lega karena mereka itu ketiganya bukanlah anggauta kaki tangan Auwyang- taijin.

Orang pertama yang berlari di depan adalah seorang perempuan muda, berwajah manis dan berpakaian indah, usianya paling banyak dua puluh lima tahun, tangan kanan memegang pedang dan tangan kiri memegang gendewa kecil. Gerak-gerik dan cara ia berdandan menandakan bahwa wanita ini adalah seorang pesolek dan genit. Dua orang yang memegangi lengan Han Sin di kanan kiri adalah dua orang laki-laki berusia tiga puluhan, bertubuh tinggi besar dan sikapnya kasar. Seorang memegang ruyung dan seorang lagi di pinggangnya tergantung sepasang senjata gembolan yang kelihatannya berat.

Melihat cara mereka berlari, Lee Ing dapat mengetahui bahwa wanita itu kepandaiannya paling tinggi di antara mereka, sedangkan dua orang laki-laki kasar itu juga bukan orang sembarangan, cara mempergunakan ilmu lari cepat tidak kalah oleh Han Sin. Setelah tiga orang itu lewat, Lee Ing cepat melayang turun dari atas pohon dan diam-diam melakukan pengejaran. Tepat seperti dugaannya, tiga orang itu membawa Han Sin menuju ke rumah yang tadi terlihat gentengnya dari atas pohon.

Setelah dekat Lee Ing menjadi makin terheran-heran Rumah itu terletak di pinggir hutan dan dikelilingi tembok tebal, akan tetapi tidak terlalu tinggi Dari luar tembok kelihatan bangunan yang indah dan di tengah-tengah kelompok rumah itu terlihat bangunan loteng yang bentuknya seperti menara. Pohon-pohon berbuah tumbuh di belakang tembok dan tempat itu benar-benar menyenangkan dan enak ditempati.

la melihat mereka membawa Han Sin memasuki pintu gerbang yang segera ditutup kembali. Pintu gerbang merah terbuat dari pada besi yang amat kuat. Lee Ing menanti sebentar lalu menyelinap ke samping, berdiri di luar tembok dan berpikir-pikir apa yang harus dilakukannya.

Di atas tembok yang mengelilingi bangunan itu terdapat gambar-gambar orang yang lucu dan sudah jelas bahwa penggambarnya tentu seorang bocah. Tentu bocah gundul kurang ajar itu yang menggambar, pikir Lee Ing.

Selagi ia berdiri memandangi gambar corat-coret di tembok itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang dari balik tembok. Lee Ing hendak bersembunyi akan tetapi sudah tidak keburu lagi karena dari balik tembok melompat dua orang laki-laki dengan senjata di tangan. Segera ia mengenal dua orang yang tadi memegangi lengan Han Sin, dua orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan kasar dan kuat. Orang yang pertama memegang ruyung dan yang ke dua memegang sepasang gembolan.

"Betul tajam pandang mata Ciong-kongcu, gadis ini benar cantik jelita!" kata si pemegang gembolan sambil tertawa menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar dan kuning. Sebal dan jijik Lee Ing melihatnya, akan tetapi juga ia menjadi geli dan hampir tak dapat menahan ketawanya. Siapakah yang mereka maksudkan dengan Ciong-kongcu? Apakah si gundul itu yang mereka panggil kongcu? Dengan senyum mengejek Lee Ing memandang pada dua orang itu.

"Kalian ini pringas-pringis (menyeringai kuda) seperti monyet mau apakah?" tegur Lee Ing yang merasa makin sebal melihat dua orang itu hanya

tersenyum-senyum sambil memandang kepadanya secara kurang ajar. Dua orang itu saling pandang. "Galak, kok?" kata si pemegang gembolan. "Bunga indah tentu berduri, kuda baik tentu liar, gadis cantik tentu galak dan sukar didekati. Ini ucapan Ciong-siauw-ya (Tuan Muda Ciong) dan ternyata cocok sekali. Ha-ha-ha!" kata si pemegang ruyung.

"Loheng (kakak tua), kita mendapat tugas mencobanya. Marilah!" kata si pemegang ruyung pula dan tiba-tiba ia menggerakkan senjatanya menyerang Lee Ing sambil berkata, "Awas, nona manis, jangan sampai kulitmu yang halus lecet oleh ruyungku!"

Lee Ing marah sekali. Cepat ia mengelak, akan tetapi sepasang gembolan orang ke dua sudah menyambar dari atas dengan gerakan yang dahsyat dan amat berbahaya. Dalam sekejap mata saja Lee Ing sudah dikurung dan didesak hebat oleh dua orang itu yang biarpun sikapnya main-main akan tetapi ternyata serangannya sungguh-sungguh dan tidak boleh dipandang ringan. Tentu saja Lee Ing tidak gentar biarpun kepandaian dua orang itu memang betul-betul lihai sekali dan memiliki ilmu silat yang sifatnya ganas dan aneh. Akan tetapi ia menjadi marah dan mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada dua orang yang sama kurang ajarnya dengan bocah gundul tadi.

"Kalian mau coba-coba? Boleh!" Sinar berkilauan membuat dua orang itu terkesiap dan silau ketika Lee Ing mencabut pedangnya yang tipis dari pinggangnya.

Dua orang itu mendesak maju lagi dengan serangan-serangan mereka yang ganas. Lee Ing tertawa perlahan, tubuhnya mencelat dan berkelebat cepat sekali, disusul dengan gerakan-gerakannya yang luar biasa. Dua orang itu mengeluarkan seruan kaget, senjata mereka diputar cepat dan kacau karena mereka sudah dibikin bingung oleh gerakan pedang Lee Ing. Alangkah kaget hati mereka ketika mereka tak dapat lagi menggerakkan senjata yang telah menempel pada pedang nona itu Ditarik-tarik sekuat tenaga, didorong-dorong bagaimanapun juga, senjata-senjata itu tidak dapat terlepas..

"IImu siluman....!" si pemegang gembolan sudah berteriak kaget dan ketakutan, mukanya sudah berubah pucat. Juga si pemegang ruyung nampak takut-takut dan ngeri.

Lee Ing tertawa lagi, kaki kanan dan tangan kirinya bergerak ringan dan... dengan teriakan-teriakan kesakitan dua orang itu terpental ke belakang sampai menubruk tembok, sedangkan senjata-senjata mereka tetap menempel pada pedang Lee Ing! Dengan kepala benjol-benjol dan tubuh sakit semua, dua orang itu merayap bangun, memandang ke arah Lee Ing dengan mata terbelalak dan mulut celangap, kemudian seperti mendapat komando, mereka melompat ke atas tembok.

"Dia siluman. !" terdengar lagi si pemegang ruyung berseru. Dapat dibayangkan betapa takut hati

mereka ketika ruyung dan gembolan itu terbang mengikuti dan memukul punggung dan kepala mereka. Si pemegang ruyung terpukul kepalanya oleh ruyungnya sendiri sampai benjol sebesar telur angsa, sedangkan si pemegang gembolan terpukul punggung dan kepalanya dari kiri kanan sampai pipinya bengkak-bengkak sebesar gembolannya sendiri! Mereka mengaduh-aduh sambil berlari-lari terus ke dalam.

Tentu saja kalau tadi ia mau, dengan mudah la dapat membunuh dua orang lawannya itu, akan tetapi Lee Ing tidak menghendaki hal ini. Pertama karena ia memang tidak mempunyai permusuhan sesuatu dengan penghuni rumah itu, kedua kalinya dan ini yang terutama, Han Sin berada di tangan mereka. Dia harus menyelamatkan dulu pemuda itu.

Lee Ing menyimpan kembali pedangnya dan tanpa ragu-ragu ia melompat ke atas tembok dan terus melompat ke dalam, la melihat taman yang indah dan melalui sebuah lorong kecil ia berlari terus menuju ke ruangan depan yang lebar. Rumah itu amat indah dan mewah, perabot-perabotnya juga serba indah. Benar amat mengherankan di tempat sesunyi itu terdapat sekelompok rumah yang indah ini.

Ruangan depan sunyi saja dan Lee Ing dengan berani maju terus melalui sebuah pintu, memasuki ruangan tengah. Ruang tengah ini lebih luas dari pada ruang depan, lantainya mengkilap dan dindingnya dihias lukisan-lukisan indah.

Begitu Lee Ing memasuki ruang ini, ia berdiri terpaku keheranan. Ia melihat Han Sin berdiri, baru saja bangkit dari bangkunya melihat ia masuk. Yang duduk berhadapan dengan pemuda ini ada tiga orang. Seorang laki-laki berusia empat-puluh lima tahun, tinggi kurus berjenggot pendek dan matanya yang melotot lebar serupa benar dengan mata bocah gundul tadi.

Orang ke dua adalah seorang pemuda berusia kurang dari tiga puluh tahun, mukanya panjang dan matanya liar agak kekuningan kulit mukanya, sedangkan orang ke tiga adalah wanita yang menawan Han Sin. Selain tiga orang ini, juga bocah gundul tadi duduk di pojok, menghadapi meja penuh makanan dan agaknya tidak memperdulikan kedatangan Lee Ing karena sedang makan dengan lahapnya. Juga di depan meja Han Sin dan tiga orang itu terdapat hidangan-hidangan.

"Nona Souw, kita berada di rumah orang-orang segolongan. Tuan rumah ini adalah Sin-jiu Ciong Thai, orang gagah nomor satu di lembah Sungai Yang-ce-kiang. Ciong-hujin (Nyonya Ciong) ini juga seorang wanita gagah yang sudah terkenal dengan julukan Bu-eng-sin-kiam (Pedang Sakti Tanpa Bayangan) tokoh Go-bi-pai. Saudara ini adalah adik Ciong-enghiong bernama Ciong Sek."

Orang yang diperkenalkan itu hanya memadang tajam kepada Lee Ing, sama sekali tidak berkata apa-apa dan juga tidak berdiri menyambut. Sikap mereka dingin saja, hanya Ciong Sek memandang dengan mata liar penuh taksir! Lee Ing yang baru saja turun di dunia kang-ouw, mana mengenal nama-nama ini? Berbeda dengan Han Sin yang sudah sering kali menjelajah dunia kang-ouw bersama suhunya, ia mengenal nama-nama ini biarpun baru sekarang bertemu muka.

Nama Sin-jiu Ciong Thai adalah nama yang sudah tersohor. Seperti dapat diduga dari julukannya, yaitu Sin-jiu atau Tangan Sakti, tokoh kang-ouw ini adalah seorang ahli silat tangan kosong yang tangguh. Selain ilmu silatnya, juga ia terkenal sebagai seorang aneh dari golongan hek-to (jalan hitam), seorang yang tidak berpartai, tidak tunduk kepada siapapun juga dan berwatak aneh.

Ilmu silatnya juga termasuk ilmu silat hitam, atau ilmu silat yang diwarisi dari golongan Sia-pai (Golongan Jahat) biarpun lihai dan aneh sekali akan tetapi tidak dihargai oleh orang-orang kang-ouw partai besar seperti Kun-lun-pai atau Go-bi-pai. Sudah lama Sin-jiu Ciong Thai tidak pernah muncul di dunia kang-ouw dan hal ini terjadi semenjak ia kehilangan isterinya.

Ciong Thai yang terkenal ganas dan kejam itu hampir gila ketika isterinya yang ia cinta meninggal dunia, meninggalkan seorang anak laki-laki yang sudah berusia sepuluh tahun. Akhirnya, atas bujukan adiknya, Ciong Sek, ia menikah lagi dengan seorang wanita muda cantik dan gagah, yaitu Bu-eng-sin-kiam Giam Loan.

Karena Giam Loan memang cantik dan genit, dahulunya sebelum menjadi isteri Ciong Thai sudah merupakan seorang perempuan liar, maka sebentar saja Ciong Thai terjatuh di bawah pengaruhnya. Apa lagi memang isteri barunya ini jauh lebih muda dari padanya. Celakanya, adiknya Ciong Sek juga seorang pemuda yang tidak sehat jiwanya sehingga pemuda ini tidak malu-malu dan tidak sungkan- sungkan lagi untuk mengkhianati kakaknya dan melakukan perhubungan yang tidak senonoh dengan Giam Loan, iparnya sendiri! Hal ini terjadi hampir secara berterang, dan Ciong Thai tidak bisa berbuat apa-apa! Ia terlalu takut dan terlalu sayang kepada isterinya yang muda, takut kalau ditinggal pergi.

Yang paling buruk nasibnya adalah Ciong Swi Kiat, putera Ciong Thai, bocah gundul itu. Ia tidak diperhatikan lagi, tidak mendapat pendidikan yang baik, dan ayahnya hanya memperhatikan makan pakaiannya saja, asal cukup makan cukup pakaian, sudah! Tidak mengherankan apa bila anak itu tumbuh besar dan menjadi rusak. Tidak saja amat nakal, juga kurang ajar dan meniru segala perbuatan dan sikap tidak baik dari ayah dan pamannya, juga dari dua orang anak buah atau murid pamannya yang bernama Thio San dan Ho Kai Reng yaitu dua orang yang tadi mengeroyok Lee Ing.

Demikianlah keadaan penghuni rumah mewah itu secara singkat telah dituturkan dan sekarang kembali kita menengok keadaan Lee Ing yang menghadapi mereka. Melihat sikap dingin pemilik rumah, apa lagi mengingat sambutan tuan rumah yang menyuruh orang mengeroyoknya, Lee Ing tersenyum mengejek mendengar Han Sin memperkenalkan mereka.

"Liem-twako (kakak Liem). kau bilang tuan rumah sekeluarga adalah orang-orang segolongan dan orang-orang gagah, akan tetapi jelas mereka itu tidak pandai menyambut tamu. Masa begitu datang mengerahkan dua ekor anjingnya untuk menggigit tamunya. Laginya, kau datang dengan tangan dicengkeram, apa kau masih bisa bilang mereka itu pandai menerima tamu?"

Dengan matanya Han Sin memberi tanda supaya Lee Ing menghentikan bicaranya dan jangan bersikap demikian, namun mana gadis ini mau menurut? Tadi melihat Han Sin diseret orang, hatinya sudah panas, lalu ditambah lagi dengan pengeroyokan dua orang terhadap dia, sekarang melihat sikap tuan rumah yang dingin itu membuat ia cukup mendongkol.

"Liem twako, aku tidak ingin berkenalan dengan mereka dan kalau kau sudah selesai dengan. urusanmu, mari kita melanjutkan perjalanan!" kata pula Lee Ing sambil memandang ke arah Han Sin. Aneh sekali, mendengar ucapan Lee Ing itu Han Sin cepat-cepat berdiri menghadapi tuan rumah sambil menjura dan berkata penuh hormat,

"Ciong-enghiong, harap kau sudi memaafkan, nona Souw masih terlalu muda dan terburu nafsu. Kalau dianggap bersalah, biarlah siauwte yang akan menanggung hukumannya "

Akan tetapi kata-katanya tidak diperdulikan orang karena tiba-tiba tuan rumah, yaitu Ciong Thai, menggerakkan tubuhnya dan "brakkkk!" bangku yang ia duduki amblas ke dalam tanah sampai dua dim lebih! Hebat sekali pengerahan Iweekang untuk memberatkan tubuh ini. Lantai itu keras, akan tetapi kaki bangku dari kayu toh dapat amblas sebegitu dalamnya! Di lain saat Ciong Thai sudah melompat dan berdiri di depan Lee Ing, matanya yang besar-besar itu melotot dan sinarnya seperti sepasang mata lembu tersorot lampu.

"Bocah sombong! Apakah setelah mengalahkan dua orang itu kau anggap tidak ada orang berani melawanmu? Mari, mari, kita coba-coba, Kau boleh membunuh aku kalau kau mampu!" Setelah berkata demikian, Ciong Thai berdiri dengan dua kaki dipentang dan tubuh sedikit membongkok.

"Ciong-enghiong, jangan! Nona Souw bukan lawanmu, dia lihai sekali, kau akan celaka   !" kembali

Han Sin mencegah dan Lee Ing yang mendengar ini menjadi terheran-heran dan juga tidak puas. Mengapa dalam kata kata ini agaknya Han Sin mengkhawatirkan keselamatan Ciong Thai?

"Nanti mati, sekarang juga mati, apa bedanya? Nona, aku sudah mendengar bahwa kepandaianmu tinggi sekali, coba kau terima doronganku hendak kulihat sampai di mana tingginya ilmumu!" kata Ciong Thai sambil melangkah maju dan mendorongkan kedua lengannya dengan telapak tangan di depan.

Lee Ing tersenyum mengejek. "Siapa sih takut menghadapi Sin jiu (Tangan Sakti)?" Dengan secara sembarangan iapun mendorongkan kedua lengannya menyambut dorongan lawan.

Terjadilah adu kepandaian yang hebat dan yang membuat semua orang memandang dengan bengong, kagum dan tegang. Bagi orang yang belum tinggi Iweekangnya, kalau mengadu tenaga saling mendorong dengan dua pasang tangan yang menempel. Akan tetapi ketika Lee Ing mendorongkan kedua lengannya ke depan, tenaganya yang merupakan hawa murni dari dalam tubuhnya telah menjadi hawa pukulan yang menyambar ke depan dan bertemu dengan hawa pukulan yang timbul dari dorongan Ciong Thai. Dalam jarak setengah meter, dua pasang lengan itu terhenti dan keduanya mengerahkan tenaga untuk mengalahkan lawan dengan hawa pukulan dari jauh.

Begitu merasa benturan tenaga pukulan yang kuat dari depan. Lee Ing sudah maklum bahwa lawannya ini benar-benar tangguh sekali, jauh lebih tangguh dari pada orang-orang yang pernah ia hadapi seperti Mo Hun, Kui Ek, atau Lui Siu Nio-nio! Sebaliknya, begitu bertemu dengan hawa pukulan tangan gadis itu, diam-diam Ciong Thai terkejut bukan main. Belum pernah selama hidupnya ia menghadapi seorang lawan yang masih begini muda namun sudah memiliki tenaga sehebat ini, hampir tak mungkin dapat dipercaya.

"Hebat   !" terdengar ia berseru sambil melompat mundur cepat sekali dan jauh. Mukanya penuh

peluh namun ada sinar gembira. "Betul hebat dan aku mengaku kalah tenaga, akan tetapi mari kita coba coba mengadu ilmu silat!" kata Ciong Thai sambil menerjang maju, kini gerakannya cepat bukan rnain, tahu tahu ia telah mengirim serangkai pukulan secara bertubi-tubi dan sambung- menyambung!

"Nona Souw, dia tidak bermaksud jahat !" kembali Han Sin berseru, merasa khawatir kalau nona itu

akan mencelakai tuan rumah.

Mendengar ini, Lee Ing mendongkol. Sudah jelas tuan rumah ini yang tiada hujan tiada angin menyerang dan mendesak dia, mengapa Han Sin malah hendak mencegahnya memberi hajaran? Padahal pemuda itu sudah ditawan oleh fihak tuan rumah. Benar-benar Lee Ing tidak mengerti dan ia cepat mempergunakan kepandaiannya menghadapi rangkaian serangan yang sungguh tak boleh dipandang ringan itu. ilmu silat tangan kosong dari Ciong Thai benar-benar aneh gerakannya, dan tidak mengecewakan kalau dia dijuluki Sin-jiu (Si Tangan Sakti).

Akan tetapi kali ini ia ketemu batunya. Ilmu silat yang dimainkan oleh Lee Ing lebih aneh lagi, mirip gerakan-gerakan orang mabuk atau orang gila! Benar benar Ciong Thai belum pernah bertemu dengan ilmu silat seperti ini.

"Hemmm, kau menderita luka hebat, kematian sudah di depan mata masih banyak lagak?" tiba-tiba terdengar Lee Ing berseru sambil melompat mundur.

Ciong Thai berdiri dan kelihatann lemas, menarik napas panjang lalu kembali ke tempat duduknya semula dan tiba-tiba saja isterinya menangis terisak-isak! Ciong Thai menggeleng geleng kepala, juga Ciong Sek kelihaian berduka sekali. Tentu saja Lee Jng menjadi terheran-heran. "Ciong-enghiong, sudah siauwte katakan tadi bahwa kepandaian nona Souw tinggi bukan main. Kiranya kalau nona Souw sudi membantu, urusanmu ini dalam sekejap mata saja dapat dibikin beres."

Mendengar ucapan ini, Ciong Thai berdiri menatap wajah Lee Ing dengan sinar mata penuh pertanyaan dan harapan di balik linangan air mata, kemudian dengan menundukkan muka ia berjalan masuk tanpa berkata apa-apa. Isterinya juga sudah menyusut air mata dan tanpa berkata apa-apa mengikuti suaminya masuk pula ke dalam.

Ciong Sek juga berdiri, memandang kepada Lee Ing penuh kekaguman juga penuh harapan, akan tetapi mulutnya juga tidak berkata apa-apa, lalu dia masuk ke dalam menyusul kakak dan iparnya. Tinggal Ciong Swi Kiat bocah gundul itu yang duduk bengong, la tadi menyaksikan penandingan antara ayahnya dan nona itu dan kini ia memandang kagum bukan main.

Tadinya bocah ini mengira bahwa di dunia hanya ayahnya yang paling hebat dan tidak ada yang akan dapat menangkan ayahnya. Baru sekarang ia melihat orang yang dapat menandingi ayahnya dan orang itu hanya seorang gadis muda! Memang Ciong Thai amat mengabaikan anaknya ini sehingga boleh dibilang-bocah ini tidak pernah tahu apa-apa, tidak diberi tahu tentang segala sesuatu.

Pendidikan satu-satunya dari Ciong Thai hanyalah ilmu silat yang ia ajarkan kepada puteranya itu sewaktu-waktu. Kalau saja ia lebih memperhatikan nasib anaknya, tentu ia akan melihat bahwa sebetulnya bocah ini memiliki bakat yang besar sekali.

"Nona selain cantik juga lihai, cocok sekali dengan paman...." bocah gundul itu berkata sambil matanya terbelalak memandang Lee Ing.

"Swi Kiat, masuk kau...!" terdengar seruan nyonya Ciong. Swi Kiat bocah gundul itu meleletkan lidah memandang ke arah dalam, akan tetapi agaknya ia sudah biasa dengan perintah dan teguran ibu tirinya yang tidak boleh dibantah, maka ia-pun bangkit berdiri dan masuk setelah melempar kerling dan senyum main-main ke arah Lee Ing.

Melihat ini timbul rasa kasihan dalam hati Lee Ing terhadap bocah itu. la sudah dapat menduga sebagian besar dari keadaan anak ini. Akan tetapi pada saat itu ia lebih memperhatikan Han Sin yang dianggapnya bersikap aneh sekali. Begitu melihat di situ tidak ada orang lain lagi, Lee Ing segera membuka mulut menegur,

"Liem-twako, kau ini bagaimana sih...?" Tanpa disadari, sekarang Lee Ing tidak lagi menyebut saudara Liem, melainkan menyebut twako (kakak), sebutan yang membuat hati Han Sin berdebar bangga dan girang.

"Dan kulihat orang she Ciong itu menderita luka dalam atau racun yang amat hebat, mengapa sikapnya begitu aneh dan apa pula artinya segala tangis-tangisan tadi?"

"Duduklah, nona Souw. Memang amat membingungkan kalau kau belum mendengar duduk perkaranya. Tadipun aku sendiripun bingung sebelum mendengar penuturan mereka."

Lee Ing duduk menghadapi Han Sin dan pemuda itu mulai menuturkan pengalamannya semenjak tadi berpisah dengan nona ini. Ketika mereka berdua mengejar Ciong Swi Kiat si bocah gundul. Han Sin sudah mempunyai dugaan bahwa bocah itu tentulah anak atau murid orang sakti. Oleh karena ia sedang bertugas menghubungi dan menarik bantuan orang-orang sakti di daerah selatan, maka ia mencegah Lee Ing melukai bocah itu, kemudian ia mengejar Lee Ing yang jauh meninggalkannya. Ketika ia memasuki hutan lebat, tiba-tiba muncul Bu-eng-sin-kiam Giam Loan dan dua orang pembantunya, yaitu Thio Sam dan Ho Kai Beng. Tiga orang ini mengambil sikap mengancam, akan tetapi Han Sin tenang-tenang saja.

"Siapa kau dan mengapa kau berani sekali menghina Ciong-kongcu?" bentak Ho Kai Beng yang memegang gembolan dengan muka galak. Han Sin dapat menduga bahwa mereka ini tentulah kawan-kawan bocah gundul tadi, maka ia menjura sambil menjawab,

"Kalau sam-wi (tuan bertiga) maksudkan anak kecil gundul tadi, siauwte mengharap banyak maaf. Justeru siauwte hendak menemui sam-wi untuk menghaturkan maaf dan memberi penjelasan agar jangan timbul salah mengerti. Siauwte Liem Han Sin murid Im-yang Thian-cu dan siauwte datang ke daerah ini sengaja hendak mencari persahabatan dengan orang-orang gagah di daerah selatan."

"Siapa mau bersahabat dengari kau?" Ho Kai Beng yang berangasan membentak dan sepasang gembolannya bekerja, menyerang dada dan kepala Han Sin dengan hebat!

Han Sin kaget sekali. Serangan itu hebat benar. Baiknya ia sudah siap dengan kipasnya, maka cepat ia mengelak sambil mengebutkan kipas menangkis. Serangan Ho Kai Beng gagal, cara baik-baik," kata Han Sin karena memang sesungguhnya ia tidak menghendaki pertempuran dan permusuhan.

Akan tetapi tanpa menjawab, saking penasaran, Ho Kai Beng menyerang terus secara bertubi-tubi, mendesak Han Sin. Dua orang temannya hanya berdiri menonton saja. Karena serangan-serangan orang kasar ini memang berbahaya dan tidak boleh dipandang ringan, Han Sin terpaksa melakukan perlawanan dengan sepasang senjatanya. Dia juga masih muda, tentu saja dia tidak bisa mengalah terus-terusan, apa lagi terhadap lawan yang memiliki kepandaian tinggi. Di lain saat mereka sudah bertempur seru.

"Kai Beng, berhenti!" tiba-tiba Bu-eng sin-kiam Giam Loan berseru keras dan benar-benar suaranya berpengaruh sekali karena si pemegang gembolan itu cepat melompat mundur dan menahan sepasang senjatanya Han Sin juga tidak mau mendesak, hanya bersiap sedia sambil memandang tajam kepada wanita muda berwajah manis yang kini melangkah maju menghadapinya.

"Kau murid Im-yang Thian-cu?" tanya wanita itu, suaranya halus akan tetapi sikapnya keren. "Mau apa kau memasuki daerah ini?"

Han Sin menjura dan berkata, "Aku adalah utusan Tiong-gi-pai untuk mencari hubungan dengan orang-orang gagah di daerah selatan yang tidak sudi menyaksikan rakyat ditindas oleh menteri- menteri durna."

Giam Loan menatap tajam dan penuh perhatian kepada wajah pemuda yang gagah dan tampan itu. Mata bersinar-sinar dan alisnya berkerut, akhirnya ia berkata, "Bagus, kalau begitu mari kau bertemu dengan suamiku, Sin-jiu Ciong Thai. Sudah pernah mendengar namanya?"

Han Sin terkejut. Tentu saja ia sudah pernah mendengar nama ini, yang pernah disebut-sebut oleh gurunya sebagai seorang tokoh Hek-to yang berilmu tinggi, tokoh Ching-pai (Partai Bersih) maupun Sia-pai (Partai Kotor) yang berilmu tinggi, sebaiknya jangan sampai terpengaruh oleh Tok-ong Kai Song Cinjin dan mengabdi kepada durna-durna, pikir Han Sin. Biarpun dalam faham kepartaian berbeda faham, namun dalam mengabdi bangsa dan rakyat harus satu hati.

"Kebetulan sekali," jawabnya, "sudah lama siauwte mendengar nama besar Ciong-enghiong disebut- sebut oleh suhu. Tentu saja siauwte suka sekali menghadap untuk memberi hormat." Demikianlah, Han Sin lalu diajak masuk ke dalam hutan. Thio Sam dan Ho Kai Beng memegang kedua lengannya di kanan kiri atas perintah Giam Loan. Diperlakukan begini, Han Sin tidak membantah karena selain maklum bahwa ia menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, juga ia percaya bahwa andaikata terjadi apa-apa dengan dirinya. tentu "Dewi Pelindungnya." yaitu Souw Le Ing, tidak akan berpeluk tangan.

Di sepanjang jalan ia telah mendengar sedikit tentang keadaan lokoh besar lembah Yang-ce-kiang itu dan ketika ia bertemu dengan Ciong Thai sendiri, ia segera memberi hormat dan berkata,

"Siauwte Liem Han Sin menghaturkan hormat kepada Ciong-enghiong dan membawa salam dan hormat para sahabat dari Tiong-gi-pai."

Ciong Thai mengangguk dan mempersilahkan duduk tamunya itu sambil mendengar bisikan-bisikan isterinya yang bicara di dekatnya perlahan sekali. Mereka berdua memandang kepada Han Sin penuh perhatian, kemudian Ciong Thai berkata, "Liem-hiante dari Tiong-gi-pai datang ke sini ada keperluan apakah? Sepanjang ingatanku, kami belum pernah berhubungan dengan Tiong-gi-pai."

Han Sin lalu menceritakan bahwa setelah menjadi kaisar di Nan-king, pahlawan dan pejuang rakyat Cu Goan Ciang lalu menjadi lemah dan mudah dipengaruhi para menteri durna sehingga nasib rakyat tidak lebih baik dari pada ketika dijajah oleh pemerintah Mongol. Juga menteri-menteri durna itu memusuhi orang-orang gagah bekas pejuang, malah pahlawan besar Souw Teng Wi juga diperlakukan secara keji dan tidak adil.

"Oleh karena itu, demi penderitaan rakyat, Tiong-gi-pai dibentuk dan didirikan untuk membasmi para durna. Sayang sekali para menteri durna itu kedudukannya amat kuat, malah sekarang dibantu oleh orang-orang seperti Tok-ong Kai Song Cinjin, Toat-beng-pian Mo Hun, Ma-thouw Koai-tung Kui Ek, dan lain lain. Siauwte mendapat tugas dari Tiong-gi-pai untuk menghubungi orang-orang gagah termasuk Ciong-enghiong, mohon bantuan semangat, kalau mungkin tenaga apa bila kelak tiba masanya kekuasaan yang menindas rakyat itu ditentang." Selanjutnya Han Sin lalu menceritakan apa yang lelah terjadi, tentang bentrokan-bentrokan antara orang-orang menteri durna dan Tiong-gi-pai.

"Malah sekarang siauwte datang bersama puteri pahlawan besar Souw Teng Wi, sayangnya tadi terpisah dari siauwte (saya yang muda)," demikian kata-kata penutup Han Sin.