-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 05

Jilid 05

Di atas dek sudah disediakan meja perjamuan, meja besar dan penuh barang hidangan. Sim Hong Lui menyambut dengan senyum ramah. Pemuda ini mengenakan pakaiannya yang paling indah hingga ia kelihatan makin tampan dan gagah. Agaknya pemuda ini mempersolek diri agar kelihatan menarik dalam pandangan gadis itu. Juga lima orang pelayan dipilih di antara bajak yang tidak begitu keren kelihatannya, termasuk orang-orang yang cukup tampan. Sim Kang segera menarik bangku mempersilahkan Souw Teng Wi dan Souw Lee Ing duduk. Lee Ing tidak mau berjauhan dari ayahnya duduk di sebelah kiri ayahnya. Kemudian Sim Kang dan Sim Hong Lui mengambil tempat duduk berhadapan dengan mereka. "Souw-twako. atas berkumpulnya kembali ayah dan anak, sekali lagi aku menghaturkan kionghi," kata Sim Kang sambil menuang arak dengan kedua tangannya sendiri ke dalam cawan arak di depan Souw Teng Wi dan Lee Ing, juga ke dalam cawannya sendiri, lalu ia mengangkat cawan mengajak minum.

Souw Teng Wi tertawa bergelak.

"Sudah berapa tahun aku tak minum arak, hari ini mendapat rejeki, tak baik ditolak." Ia mengangkat cawannya, juga Lee Ing mengangkat cawannya. Gadis ini dengan amat teliti mengawasi gerak-gerik Sim Kang dan melihat bahwa tuan rumah juga minum arak yang sama, ia tidak curiga. Apa lagi ia telah mencium arak itu dan tidak mencium bau yang mencurigakan. Ia menanti sampai Sim Kang minum araknya, baru ia minum pula araknya dengan sekali teguk menyusul ayahnya.

"Arak enak, arak enak..." kata Souw Teng Wi sambil mengecap-ngecap mulutnya.

Sim Hong Lui tertawa. "Souw-pek-pek. akupun memberi selamat kepada pekpek dan kepada Souw- siauwmoi atas pertemuan yang amat menggembirakan hati ini. Harap sudi menerima penghormatan." Pemuda inipun menuang arak ke dalam cawan masing-masing. Kali ini Lee Ing lebih hati-hati dan menaruh perhatian sepenuhnya, namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Makanan lalu ditawarkan dan mulailah mereka makan minum. Lee Ing melihat jelas betapa Sim Kang makan semua hidangan, maka iapun cepat mengambilkan setiap hidangan yang dimakan oleh Sim Kang, diambil dengan sumpit dan ditaruh ke dalam mangkok ayahnya. Sikapnya seperti melayani ayahnya, padahal ia menjaga agar ayahnya jangan sampai mengambil masakan yang tidak disentuh ayah dan anak she Sim itu. Memang Lee Ing amat cerdik dan pandai mengatur sikap sehingga semua perbuatannya ini nampak wajar.

Setelah minum banyak arak, timbul kegembiraan hati Souw Teng Wi dan ia tertawa-tawa. "Kau orang baik, saudara Sim, orang baik. "

Sim Kang tertawa. "Apakah kau sudah puas Souw-twako?" "Ha-ha, puas sekali. Arakmu enak. enak benari"

"Souw-pek-pek sambil makan minum, sudikal kau menceritakan dari mana kau mendapatkan ilmu silat yang hebat itu? Hitung-hitung penambah pengetahuan keponakanmu yang bodoh ini," tiba-tiba Sim Hong Lui bertanya.

Pertanyaannya ini sebetulnya wajar, akan tetap Lee Ing mengerutkan kening.

"Ilmu silat tentu saja didapat dari gurunyu mengapa harus ditanya lagi? Ayah sudah cukup minum, biarlah dia beristirahat. Ayah, mari kuantar ayah kembali ke kamar."

Akan tetapi Souw Teng Wi sudah setengah mabok dan kegembiraannya timbul.

"Ilmu silat? Ha- ha- ha, baru kupelajari seperdelapan bagian saja. Kalau sudah kupelajari semua, di kolong langit ini mana ada durna berani mengganggu aku? Ilmu sakti dari Gua Siluman tiada taranya di dunia ini, tiada keduanya. Baru mempelajari seperdelapan bagian, kepandaian silatku meningkat beberapa kali lipat. Ha-ha-ha!"

"Ayah, mari beristirahat." Memang ayah dan anak itu hendak membongkar rahasia kepandaian Souw Teng Wi sebelum membunuhnya. Mendengar ucapan Souw Teng Wi tentang ilmu sakti di Gua Siluman, mereka bertukar pandang penuh arti.

"Gua Siluman? Ha. aku pernah mendengar tentang itu dan pernah melihatnya, Souw-twako." kata Sim Kang.

Tiba-tiba sikap Souw Teng Wi berubah sungguh-sungguh. "Tidak mungkin. Di dunia ini hanya aku seorang yang pernah melihatnya."

Melihat kecurigaan Souw Teng Wi Sim Kang cepat memancing. "Bukankah gua berbentuk tengkorak yang terdapat di Pulau Naga Hitam?"

Souw Teng Wi tertawa. "Ha-ha-ha. bukan di Pulau Naga Hitam. Gua Siluman itu adalah. "

Lee Ing menarik tangan ayahnya. "Ayah, tak tahukah kau bahwa orang hendak mengetahui di mana adanya gua itu dan kemudian mengambil ilmu itu?"

Sim Kang terkejut sekali dan Souw Teng Wi memandang dengan mata mulai liar. "Tidak, tidak, Souw- twako, puterimu salah sangka. Mana aku ada keberanian berbuat seperti itu? Aku hanya ingin tahu saja dan kalau kau keberatan menceritakan, sudahlah."

Souw Teng Wi tertawa-tawa lagi dan menowel pipi Lee Ing. "Bocah nakal, pamanmu Sim itu orang baik-baik. Ha-ha-ha. araknyapun enak. !"

"Souw-twako, arak yang kau minum tadi masih belum enak betul. Aku mempunyai simpanan secawan lagi arak yang usianya sudah seratus tahun lebih. Orang bilang siapa yang meminumnya tentu akan bertambah panjang usianya. Selama ini kusimpan saja karena aku sayang meminumnya. sekarang. dalam kesempatan sebaik ini, aku ingin kau sudi menerimanyal"

"Arak baik seratus tahun usianya? Aduh, mana dia. Lekas bawa ke sini!"

Seorang di antara para pelayan datang membawa sebuah guci kecil terisi arak yang hanya ada secawan. Untuk menghilangkan kecurigaan, Sim Kang menyuruh pelayan menuang arak itu ke dalam cawan Souw Teng Wi sampai penuh. Bau yang amat harum keluar dari cawan itu dan Souw Teng Wi kelihatan girang sekali.

"Arak bagus sekali!" katanya dan ia mengulur tangan. Akan tetapi Lee Ing menjerit dan menangkap tangannya.

"Ayah, jangan sentuh arak itul" katanya cepat. "Biar kucoba dulu!"

Sebelum Sim Kang dan Sim Hong Lui hilang kagetnya, Lee Ing menotok pelayan yang menuang arak tadi dan cepat menuangkan sisa arak dari guci kecil ke dalam mulut yang terbuka karena totokan pada leher. Begitu arak yang tinggal sedikit memasuki kerongkongan, pelayan itu berkelojotan dan mukanya berubah hitam, napasnya putus!

Sim Kang dan Sim Hong Lui kaget setengah mati, akan tetapi mereka berubah girang ketika melihat betapa Souw Teng Wi yang sudah tidak beres otaknya itu telah menyambar cawannya dan sekali tenggak saja habislah arak beracun itu ke dalam perutnya. Ternyata Souw Teng Wi tak dapat menahan seleranya, tanpa memperdulikan anaknya yang sedang merobohkan pelayan, ia mempergunakan kesempatan itu untuk menghabiskan araknya.

"Ayah...!" Lee Ing menjerit dan melompat hendak merampas cawan. Akan tetapi terlambat, cawan itu sudah kosong dan ayahnya berdiri tegak, memandangnya dengan senyum lebar. Tiba-tiba Souw Teng Wi tersedak dan tubuhnya terguling roboh, miring di atas lantai.

"Berhasil...!” Sim Hong Lui dan Sim Kang bersorak girang.

"Ayah..!!" Lee Ing memeluk tubuh ayahnya dan melihat betapa mata ayahnya dipejamkan mulutnya terbuka dan bau arak yang wangi memenuhi ruangan. Tubuh ayahnya kaku, hanya mukanya tidak menjadi hitam seperti muka pelayan tadi.

Mendengar suara ketawa ayah dan anak yang keji dan curang itu, Lee Ing meloncat berdiri, matanya berlinang air mata, mukanya pucat, sikapnya mengancam, kedua tangan terkepal keras.

"Iblis-iblis keji ! Kalian ayah dan anak berhati binatang! Aku harus mengadu nyawa dengan kalian!"

Sim Hong Lui tertawa. "Manis sekali bukan, ayah? Makin manis kalau marah Ayah boleh berbuat sesuka ayah dengan Souw Teng Wi si manusia gila, akan tetapi puterinya ini adalah bagianku! Aku bisa mati merana kalau tidak mendapatkan nona ini, ayah!"

Ayahnya hanya tersenyum saja. Lee Ing tak kuat menahan lagi dan dengan marah, ia menerjang, menyerang Sim Hong Lui dengan pukulan keras. Akan tetapi kepandaian Lee Ing masih jauh lebih rendah dari pada kepandaian Hong Lui yang lihai. Sekali tangkap ia telah berhasil mencengkeram tangan gadis itu dan segera menotok pundak Lee Ing Gadis itu menjadi lumpuh akan tetapi masih sempat menjerit,

"Ayaaaahhhh !"

Sim Hong Lui tertawa-tawa dan memeluk serta memondong tubuh gadis itu, dibawa pergi berjalan meninggalkan ruangan itu hendak ke kamarnya. Lee Ing berteriak-teriak keras, namun tidak berdaya.

Tiba-tiba terdengar suara yang membuat Hong Lui merasa betapa seluruh bulu dan rambut di tubuh dan kepalanya berdiri satu-satu. Suara gerengan yang sudah ia kenal baik, gerengan Souw Teng Wi kalau sedang marah! Ia cepat menoleh ke belakang dan andaikata saat itu ada kilat dari angkasa menyambarnya, ia takkan begitu kaget seperti ketika melihat pemandangan di depan matanya pada saat itu.

Souw Teng Wi telah bangun kembali! Di depannya. Sim Kang dengan muka pucat seperti mayat telah mencabut sepasang pian-nya. Souw Teng Wi menggereng-gereng, matanya merah, mulutnya berbuih, melangkah maju setindak demi setindak ke arah Sim Kang. Kepada bajak ini menyurut mundur selangkah demi selangkah pula. Tiba-tiba saking ngerinya ia merenggut kantong piauw dan menghujankan senjata-senjata rahasia ini ke arah Souw Teng Wi. Akan tetapi hanya terdengar suara “tak-tok-tak-tok” dan semua piauw itu runtuk ke bawah setelah mengenai tubuh Souw Teng Wi, bagaikan mengenai menara baja saja.

"Souw-twako,... am...... ampun.... ampun...kan aku...." Dapat juga suara ini keluar dari bibir yang sudah membiru ketakutan. "Bangsat rendah, kau apakan Namilana isteri-ku...? Kau apakan Milanaku yang tercinta...?" Ternyata kegilaan Souw Teng Wi sudah kambuh pula dan kini semua kemarahan hatinya ia tumpahkan kepada Sim Kang!

Sim Kang menjerit dan dengan nekat ia mendahului lawan, menyerang dengan sepasang pian-nya. Akan tetapi dengan kedua tangan diangkat, Souw Teng Wi telah menangkap ujung pian dan sekali betot dua batang pian itu telah kena dirampas. Sim Kang hendak lari, akan tetapi Souw Teng Wi menggerakkan sebatang pian rampasan yang tepat sekali melilit leher Sim Kang, f Ditariknya pian itu dengan gerakan menyentak dan... leher Sim Kang putus, kepalanya menggelinding di atas lantai dan tubuhnya roboh. Darah mengucur seperti pancuran dari lehernya yang bolong.

Sim Hong Lui menjerit ngeri, lalu... lari secepatnya ke pinggir dek. Tanpa menoleh lagi ia lalu melempar diri ke laut. Byuurrr...! Air muncrat tinggi dan tubuh pemuda itu tenggelam tidak kelihatan lagi. Pemuda ini adalah seorang ahli dalam air maka ia terus menyelam menyelamatkan diri.

Souw Teng Wi melihat pemuda itu lari dan menceburkan diri, tak dapat mencegahnya dan mengamuk. Setiap orang anak buah bajak yang dapat dipegangnya, lalu dibanting atau dilemparkan ke dalam laut. Yang lain-lain bubar dan memilih mati di laut dari pada dalam tangan orang gila yang mengganas itu. Biarpun demikian, dua puluh orang lebih tewas di tangan Souw Teng Wi, yang lain melarikan diri, ada yang mati di laut, ada pula sebagian kecil yang dapat menyelamatkan diri.

Souw Teng Wi membungkuk di atas tubuh anaknya dan sekali pencet saja Lee Ing sudah terbebas dari totokan. Gadis ini memeluk ayahnya dan menangis sesenggukan. "Diamlah, Namilana isteriku sayang, diamlah."

Souw Teng Wi membelai-belai rambut anaknya, suaranya mengandung kesayangan besar, lemah lembut, jauh sekali bedanya dengan tadi ketika mengganas. Hati Lee Ing menjadi perih.

"Ayah, aku Lee Ing anakmu.   "

"Hush, diamlah, Namilana. Kelak kita mencari anak kita Lee Ing....." Bicara Souw Teng Wi menjadi tidak karuan.

"Ayah, mari kita beristirahat. Kau lelah, tidurlah..." Anak ini dengan sabar menuntun ayahnya memasuki kamar dan Souw Teng Wi seperti anak kecil yang menurut mau saja disuruh berbaring dan tidur. Tak lama kemudian iapun sudah tidur mendengkur.

Bagaimanakah Souw Teng Wi tidak mati terkena racun? Sebetulnya, orang biasa saja, bagaimana gagahpun, tentu takkan dapat menahan kalau minum racun yang berasal dari Auwyang Tek ini. Racun itu adalah Hek-coa-tok (Racun Ular Hitam) yang luar biasa jahatnya. Akan tetapi, Souw Teng Wi telah mendapatkan ilmu yang amat aneh, yang menurut pengakuannya tadi baru dipelajari seperdelapan bagian saja.

Akan tetapi yang seperdelapan bagian ini saja sudah membuat ia lihai bukan main, mendatangkan hawa sinkang yang amat hebat di dalam tubuhnya sehingga racun jahat macam Hek-coa-tok sekalipun tidak dapat merusak isi perutnya. Ia tadi pingsan karena hawa racun itu naik dan memenuhi kepalanya, akan tetapi setelah hawa racun itu keluar dari mulut dan hidung, ia siuman kembali. Sekarang, setelah ia tertidur, arak yang bercampur racun tadi perlahan-lahan mengalir keluar dari mulutnya. Inilah kehebatan sinkang yang sudah hampir sempurna, yang dapat mencegah masuknya barang yang tak dikehendaki ke dalam perut, hanya berhenti di pencernaan dan di "retour" kembali. Lee Ing cepat meninggalkan ayahnya, naik ke ruangan atas, la merasa ngeri juga melihat mayat- mayat bergelimpangan dalam keadaan yang amat menyeramkan. Akibat amukan ayahnya memang hebat sekali. Sambil menahan kegelian hatinya, ia melempar-lemparkan semua mayat itu ke dalam laut, lalu membersihkan lantai kapal dengan air yang ia timba dari pinggir dek. Setelah ia memeriksa baik-baik, ia mendapatkan tiga orang anak buah bajak yang bejum mati, juga tidak terluka. Mereka ini ternyata roboh pingsan sebelum disentuh oleh Souw Teng Wi saking takutnya. Girang hati Lee Ing la mengguyur kepala mereka dengan air dan mereka menjatuhkan diri berlutut dan minta-minta ampun.

"Kalian akan diampuni asal kalian mulai sekarang menurut perintahku. Betulkan tiang dan layar, jalankan terus perahu ini menuju pantai daratan."

Tiga orang itu cepat melakukan perintah ini karena mendapat jaminan dari gadis itu bahwa mereka takkan diganggu asalkan menurut perintah. Perahu berlayar lagi dengan cepat menuju ke barat. Akan tetapi menjelang senja setelah setengah hari Lee Ing berpikir-pikir, ia memerintahkan tiga orang anak buahnya untuk memutar kemudi, kembali ke timur. Tiga orang itu saling pandang, mengangkat pundak dan terpaksa melakukan perintah aneh ini.

Mengapa Lee Ing berlaku seaneh itu? Gadis ini berpikir bahwa ayahnya menjadi buronan. Seperti yang ia dengar dari percakapan Sim Kang dan puteranya, ayahnya dikehendaki para durna dan kalau ia membawa ayahnya mendarat, bukankah itu sama saja dengan ular mencari penggebuk? Lebih baik sementara ini ia membawa ayahnya merantau menyusul kakeknya. Itulah sebabnya maka ia memerintahkan anak buahnya untuk kembali ke timur, ke tengah samudera supaya jauh dari pantai, kemudian setelah cukup jauh, memutar kemudi ke utara.

Setiap hari ia melayani ayahnya yang masih bingung. Kadang-kadang Souw Teng Wi menganggap Lee Ing seperti Namilana isterinya, ada kalanya ia teringat dan menganggap Lee Ing seperti anaknya. Berkat rawatan yang setia dan berbakti dari Lee Ing, keadaannya menjadi banyak lebih baik.

Melihat pakaian ayahnya yang tidak karuan, Lee Ing mengambil se-stel pakaian Sim Kang dan menyuruh ayahnya bertukar pakaian. Souw Teng Wi tertawa geli, akan tetapi dipakainya juga pakaian itu. la nampak gagah, hanya mukanya masih penuh berewok.

Lee Ing mengambil pakaian ayahnya yang compang-camping itu, hendak ia cuci kemudian ia simpan untuk kenang-kenangan dan bahan cerita kelak kalau bertemu dengan kakeknya. Juga kelak kalau ayahnya sembuh benar, tentu ayahnya suka melihat pakaian compang-camping yang membawa riwayat itu.

Akan tetapi ketika gadis ini sedang mencuci pakaian kumal itu, tiba-tiba tangannya menyentuh benda di balik lipatan baju ayahnya. Ia cepat memeriksanya dan ternyata itu adalah sehelai kulit pohon yang digambari peta. Ada tulisan di gambar itu yang berbunyi :

GUA TENGKORAK TEMPAT PUSAKA RAHASIA.

Lee Ing menjadi girang sekali dan cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu membawa kulit pohon bergambar peta itu kepada ayahnya. "Ayah, aku mendapatkan ini di dalam saku bajumu sebelah dalam. Apakah artinya ini?"

Souw Teng Wi cepat menyambar benda itu, celingukan ke kanan kiri, lalu menarik napas panjang. "Apa tidak ada orang melihatnya tadi? Kalau seorang di antara pelayan itu melihat, dia harus dibunuh!" Lee Ing kaget dan menggeleng kepala, "Tidak ada yang melihat, ayah. Mengapakah segala rahasia ini?"

Souw Teng Wi kebetulan sedang dingin otaknya. "Kalau saja yang menemukan barang ini bukan kau anakku, kau tentu sudah kubunuh. Benda ini adalah rahasiaku yang tak boleh diketahui oleh siapapun juga. Sudah belasan tahun kusimpan sampai aku sendiri lupa di mana aku menaruhnya."

Lee Ing maklum akan watak ayahnya yang aneh, maka ia bersabar dan tidak bertanya lebih lanjut. Akan tetapi ia amat memperhatikan pelajaran-pelajaran ayahnya dan benar hebat, kepandaian Lee Ing meningkat hebat sekali setelah ia mempelajari latihan Iweekang, ginkang dan ilmu pukulan yang diberikan oleh ayahnya dengan cara yang kacau-balau. Ia maklum bahwa peta itu tentu ada hubungannya dengan kepandaian ayahnya, maka ia menanti saat yang baik.

Setelah berkumpul dengan ayahnya, Lee Ing berhasil mempelajari ilmu silat tinggi yang amat aneh. Juga gadis itu dapat menduga apa yang telah menimpa diri ayahnya. Dari ocehan-ocehan Souw Teng Wi di waktu kambuh gilanya, ditambah keterangan-keterangan ayahnya ini di waktu dingin otaknya, Lee Ing dapat menduga bahwa secara aneh ayahnya yang menjadi buronan dan merantau di luar daratan Tiongkok telah mendapatkan sebuah gua yang disebut Gua Siluman. Tentu ada rahasia hebat di dalam gua ini, di antaranya terdapat ilmu kesaktian yang baru seperdelapan bagian dipelajari ayahnya. Peta itu adalah peta yang menunjukkan di mana adanya Gua Siluman itu.

Timbul keinginan besar di hati Lee Ing untuk membongkar rahasia ini, untuk mencari Gua Siluman dan melihat dengan mata sendiri. Tentu saja sebagai seorang ahli silat yang tak pernah merasa puas dengan kepandaian sendiri, iapun ingin sekali mewarisi ilmu kesaktian yang terdapat dalam Gua Siluman.

Akan tetapi, beberapa kali ia pancing-pancing, ayahnya tetap tidak mau membuka rahasia itu. Malah memperingatkan Lee Ing.

"Lee Ing, jangan sekali-kali kau bicara tentang Gua Siluman dengan orang lain. Tempat itu berbahaya sekali, dapat masuk tak dapat keluar." Dan orang tua ini kelihatan ketakutan dan ngeri.

Setelah kapal tiba di pesisir Propinsi Liao-ning, Lee Ing menyuruh tiga orang anak buah kapal untuk minggir dan mendarat. Ia sengaja mengumpulkan dan mengambil barang-barang berharga peninggalan Sim Kang untuk dibawa sebagai bekal, lalu mengajak ayahnya, mendarat di pesisir yang amat sunyi. Girang hatinya melihat tanah gunung dan pohon.

"Kalian boleh ambil kapal ini dan pergi sesuka hati kalian," kata Lee Ing kepada tiga orang itu. "Akan tetapi kalau ada yang bertanya tentang kami, awas jangan kalian ceritakan kalau kalian masih sayang nyawa!"

Tentu saja tiga orang anak buah bajak itu girang sekali mendapat kebebasan dan cepat mereka berlutut dan berjanji akan mentaati-perintah.

"Nona telah memperlakukan kami dengan baik, tentu saja kami takkan membuka mulut. Nona dan Locianpwe ini adalah orang-orang gagah, mana berani kami membocorkan rahasia?" Kata seorang di antara mereka.

Tiba-tiba terdengar suara angin bersuitan, berkelebat sinar-sinar berkeredepan datang dari daratan dan.... tiga orang anak buah bajak itu menjerit dan roboh tersungkur! Ternyata mereka telah terserang oleh anak-anak panah dan tewas seketika itu juga! Lee Ing kaget sekali dan cepat mencari- cari dengan matanya ke empat penjuru, akan tetapi sunyi saja. Hanya pohon-pohon dan batu-batu karang tinggi yang kelihatan, tidak ada gerak-gerik manusia di sekitar tempat itu. Padahal sudah jelas bahwa tentu pelepas anak-anak panah itu seorang ahli panah yang lihai.

Ketika ia menoleh kepada ayahnya, orang tua ini berdiri tegak tak bergerak, nampak tenang-tenang saja akan tetapi matanya tertuju kepada sebuah bukit batu karang yang berada di depan. Lee Ing juga menaruh perhatiannya ke situ dan benar saja, dari balik batu karang itu terdengar suara yang keras dan berpengaruh.

"Souw Teng Wi pemberontak hina, menyerahlah kau dan anakmu secara baik sebelum kami turun tangan membunuh kalian!"

Dari balik bukit itu muncullah seorang hwesio gemuk yang berkepala bundar berkalung tasbeh putih dan sikapnya angker sekali. Di sebelah kirinya berdiri seorang pemuda jangkung kurus yang bermuka tampan dan kejam. Itulah Tok-ong Kai Song Cinjin Si Raja Racun, tokoh besar dari Tibet yang menjadi tangan kanan para menteri durna. Pemuda di sebelahnya itu bukan lain adalah Auwyang Tek, muridnya. Di belakang dua orang ini muncul pula sepasukan tentara yang jumlahnya ada seratus orang, di bagian depan berjajar pasukan panah yang sudah siap mementang gendewa masing- masing!

Melihat banyak musuh, hati Lee Ing menjadi gentar. "Ayah, mari kita lari   " bisiknya.

Akan tetapi dalam keadaan yang amat berbahaya itu, tiba-tiba Souw Teng Wi berbisik dan sikapnya kelihatan waras, "Lee Ing, bawa ini dan carilah rahasia ini, letaknya di pantai Laut Kuning, di pantai batu karang seratus lie jauhnya di sebelah selatan mulut Sungai Huang-ho. Kau warisi segala isinya!"

Lee Ing tidak tahu kapan ayahnya bergerak, akan tetapi tahu-tahu ia merasa ada sesuatu dimasukkan ke dalam tangannya dan ternyata itu adalah kulit pohon bersurat itu Cepat ia menyimpannya ke dalam saku baju dalam.

"Ayah, musuh terlampau banyak...." bisik Lee Ing khawatir, tidak tahu apa yang akan dilakukan ayahnya.

Tiba-tiba Souw Teng Wi tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, apa kau kira aku takut Souw Te ng Wi tak pernah mengenal takut terhadap penghianat-penghianat bangsa! Ha-ha-ha!"

"Souw Teng Wi, kau berhadapan dengan Kai Song Cinjin yang menjadi koksu (guru negara) dari Kerajaan Beng!" Terdengar pula suara yang tadi berseru dan ternyata itu adalah suara Auw-yang Tek. "Lekas kau berlutut dan menyerah sebelum terlambat"

"Ayah, mari kita lari saja   " kata pula Lee Ing yang amat mengkhawatirkan keselamatan ayahnya. Ia

tahu betapa ayahnya dicari sebagai pemberontak dan kalau tertangkap tentu akan menderita bencana hebat.

"Tidak!" Souw Teng Wi membentak dan mendelikkan matanya kepada Lee Ing sehingga gadis ini terkejut sekali. "Kaulah yang harus lari pergi. Hayo cepat! Apa kau tidak mentaati ayahmu dan hendak menjadi seorang anak yang tidak berbakti? Pergi lekas, pergi..!"

Lee Ing menjadi pucat dan air matanya, menitik turun ke atas pipinya. Dengan lemas ia tak dapat membantah lagi, terus melangkah mundur dan memandang kepada ayahnya dengan hati tidak karuan. Tiba-tiba ayahnya tersenyum kepadanya, senyum penuh kasih sayang dan ayahnya mengangguk-angguk, kelihatan senang sekali bahwa puterinya menuruti perintahnya, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan berkata mengejek, "Aku tidak mengenal Kai Song Cinjin atau siapapun juga Aku tidak sudi mengenal para penghianat dan tidak mau berlutut atau menyerah. Kalian mau apa?" Sekali lagi ia menoleh dan makin berseri wajah Souw Teng Wi melihat bahwa betul-betul Lee Ing sudah pergi tidak kelihatan bayangannya lagi, menghilang di dalam hutan di sebelah kanan.

Oleh karena perhatian Auwyang Tek dan Tok-ong Kai Song Cinjin dicurahkan kepada Souw Teng Wi, maka kepergian gadis itu tidak begitu diperdulikannya, dianggap tidak begitu penting. Yang penting adalah pemberontak Souw Teng Wi yang harus ditangkap, mati atau hidup. Inilah perintah Auwyang- taijin yang menerima laporan dari para anak buah bajak yang dapat menyelamatkan diri bahwa Souw Teng Wi yang tadinya hendak diantar ke kota raja oleh Sim Kang telah memberontak dan merampas kapal.

Auwyang-taijin adalah seorang cerdik, juga ia memiliki pembantu-pembantu yang lihai dan cerdik. Ia dapat menduga bahwa satu-satunya tempat yang mungkin didatangi oleh Souw Teng Wi dalam buronannya, tentulah ibu kota Peking di mana ia mempunyai banyak kawan, atau ke utara di mana menjadi tempat tinggal keluarga isterinya. Oleh karena itu, Tok-ong Kai Song Cinjin dan Auwyang Tek melakukan pencegatan di pantai utara Laut Po-hai.

Biarpun sudah mendengar penuturan para anak buah bajak betapa lihainya Souw Teng Wi yang sudah dapat membunuh Thian Te Cu dan membasmi hampir semua anak buah kapal, namun melihat Souw Teng Wi hanya seorang laki-laki biasa saja yang kelihatan tidak waras otaknya, Auwyang Tek timbul keberaniannya. Mendengar kata-kata Souw Teng Wi yang menantang tadi, ia lalu menerjang maju dan mengirim pukulannya Hek-tok-ciang yang amat lihai.

Tok-ong Kai Song Cinjin menyesal sekali melihat kecerobohan muridnya, akan tetapi ia tahu bahwa ilmu pukulan Hek-tok-ciang muridnya ini sudah cukup tinggi dan kuat, maka ia mendiamkan-nva saja. Adapun Souw Teng wi yang menghadapi pukulan Hek-tok-ciang ini sama sekali tidak mengelak. hanya mengangkat tangan kanan menangkis.

Dua pasang tangan kanan kiri bertemu "plak-plak!" dan tubuh Souw Teng Wi terhuyung mundur dua langkah. Akan tetapi Auwyang Tek terlempar ke belakang, dan jatuh terjengkang dengan muka pucat. Tok-ong Kai Song Cinjin kaget sekali dan cepat ia menotok kedua pundak muridnya sambil menyalurkan hawa sinkang untuk membantu memperkuat pertahanan dalam diri-putera menteri ini agar hawa Hek-tok-ciang yang membalik tidak menyerang jantung sendiri.

Bagi yang mengerti, memang tangkisan Souw Teng Wi tadi aneh sekali. Ilmu pukulan Hek-tok-ciang sama sekali tidak boleh ditangkis dan sama sekali tidak boleh menyentuh kulit tubuh. Tersentuh oleh pukulan Tangan Racun Hitam ini tentu akan mengakibatkan kulit menjadi hangus dan tulang- tulangnya terkena racun yang amat berbahaya.

Akan tetapi dengan enaknya Souw Teng Wi berani menangkis yang mengakibatkan orang aneh ini hanya terhuyung mundur, akan tetapi ternyata tangkisan itu telah membuat hawa pukulan Auwyang Tek membalik dan memukul dirinya sendiri! Cara Souw Teng Wi bergerak tadi amat kacau dan aneh, sama sekali tidak membayangkan adanya ilmu silat tinggi, akan tetapi harus diakui bahwa ia memiliki tenaga dalam istimewa yang membuat kulitnya kebal terhadap Hek-tok-ciang, suatu tingkat yang kiranya hanya dimiliki oleh Tok-ong Kai Song Cinjin sendiri! Hanya Raja Racun ini yang kiranya berani menangkis pukulan Hek-tok-ciang.

"Serbu dan bunuh dia!” Auwyang Tek dengan marah memberi perintah kepada pasukan di belakangnya yang sudah siap dengan gendewa mereka. "Nanti dulu!" Kai Song Cinjin mencegah sambil mengangkat tangannya ke atas. Sebagai seorang tokoh besar di empat penjuru dunia kang-ouw, tentu saja ia merasa malu kalau harus mengalahkan seorang musuh saja dengan bantuan pasukan. Belum pernah selama hidupnya hwesio Tibet ini dikalahkan orang, kecuali dua puluh tahun yang lalu akan tetapi hal itu sudah lewat dan orang yang pernah mengalahkannya sekarang sudah tidak ada di permukaan bumi lagi. Tentu saja menghadapi Souw Teng Wi ia tidak menjadi jerih dan malulah ia kalau ia harus berpeluk tangan melihat Auwyang Tek mengerahkan pasukannya.

Auwyang Tek dan pasukannya tidak jadi turun mengeroyok Souw Teng Wi ketika mendengar seruan Kai Song Cinjin tadi dan mereka memandang dengan gembira, hendak melihat bagaimana caranya tokoh Tibet yang disegani ini menangkap pemberontak itu dengan kedua tangan sendiri. Selama Kai Song Cinjin menjadi jagoan dan pembantu Menteri Auwyang Peng, belum pernah ada orang menyaksikan kepandaiannya, akan tetapi semua orang yang mengenal dan tahu betapa hebatnya ilmu silat Auwyang Tek. tidak ragu-ragu lagi bahwa tingkat kepandaian gurunya tentu tinggi luar biasa.

Tingkat kepandaian Kai Song Cinjin memang sudah termasuk tingkat tokoh besar dan jarang ada orang dapat menandinginya. Di dunia ini orang yang memiliki kepandaian ilmu silat setara dengan Kai Song Cinjin boleh dihitung dengan jari. Bahkan mendiang Thian Te Cu dan suhengnya, Ma-thouw- koai-tung Kui Ek, dua orang yang sudah termasuk jagoan-jagoan kelas berat, amat segan dan takutkepada hwesio tokoh besar dari Tibet ini.

Selain ilmu silatnya yang sangat tinggi, juga kepandaiannya tentang racun amat ditakuti orang. Melihat julukannya saja, yaitu Tok-ong (Raja Racun), sudah dapat dibayangkan betapa lihainya kakek ini mempergunakan racun berbahaya. Muridnya, Auwyang Tek yang baru mempelajari satu macam ilmu pukutan beracun, yaitu Hek-tok-ciang (Pukulan Racun Hitam) sudah menggemparkan dunia persilatan.

Apa lagi gurunya Si Raja Racun ini, selain memiliki ilmu sakti Hek-tTok-ciang, masih mempunyai beberapa macam pukulan-pukulan berdasarkan Iweekang beracun seperti Ngo-tok-kun (Ilmu Sakti Lima Racun) dan Coa-tok-sin-ciang (Tangan Sakti Racun Ular), belum lagi segala macam senjata rahasia beracun seperti Toat-beng-ciam (Jarum Pencabul Nyawa), asap beracun hitam, dan lain-lain. Pendeknya menghadapi Tok-ong Kai Song Cinjin sebagai lawan adalah hal yang amat berbahaya karena setiap serangan yang dilakukan hwesio gundul dari Tibet mi merupakan jangkauan tangan setan maut yang benar-benar sukar dihindarkan.

Baiknya, sebagai seorang tokoh besar, hwesio ini tidak mau sembarangan mempergunakan racun- racunnya kalau tidak amat terpaksa. Apa lagi sekarang ia menghadapi Souw Teng Wi, seoriang buronan yang diharapkan dapas ditawan hidup-hidup untuk dibawa ke kota raja, maka iapun tidak segera mengeluarkan racunnya. Dengan tenang dan senyum memandang rendah ia melangkah maju menghampiri Souw Teng Wi. Biarpun ia tadi sudah menyaksikan betapa Souw Teng Wi dapat melawan Hek tok-ciang muridnya dengan mudah yang berarti bahwa Souw Teng Wi memiliki kepandaian tinggi, namun hwesio ini sama sekali tidak menjadi jerih.

"Souw Teng Wi, kau mengandalkan apakah melawan? Berhadapan dengan orang lain mungkin kau lihai. Akan tetapi kalau kau hendak mempergunakan kekerasan terhadap pinceng (aku), ooo. kau

keliru sekali! Lebih baik kau menyerah dan biar pengadilan kerajaan memberi keputusanya secara adil, dari pada kau harus mengalami hajaran pinceng."

"Hwesio gundul penghianat! Aku Souw Teng Wi adalah seorang jantan sejati, mana aku takut menghadapi gertak sambal seorang kaki tangan penghianat macam kau dan kawan-kawanmu? Ha- ha-ha! Seorang patriot menghadapi perjuangan seperti mempelai menghadapi pasangannya, tahukah kau?" Merah wajah Kai Song Cinjin mendengar makian lawannya di depan pasukan.

"Pemberontak she Souw! Mulutmu kotor dan kurang ajar. Kau sendiri yang menjadi pemberontak dan buronan, kau memaki orang lain penghianat. Kerajaan sudah berdiri megah, kerajaan bangsa sendiri yang sudah merobohkan kerajaan penjajah Mongol dan pinceng membantu pemerintah bangsa sendiri. Bagaimana kau berani lancang mengatakan penghianat? Kaulah penghianat bangsa."

Akan tetapi Souw Teng Wi menerima ucapan ini dengan tertawa lebar. Ha-ha-ha-ha, tukang pukul berselimut jubah pendeta! kau kira aku tidak tahu? Seekor domba biasa berobah tabiatnya setelah masuk ke kandang penuh srigala! Seorang patriot yang berjiwa besar menjadi rusak moralnya setelah di sekelilingnya terdapat menteri-menteri durna yang jahat! Dan kau menjadi kaki tangan para durna yang hanya di mulut saja membela negara, namun pada hakekatnya hatinya palsu, penghianat-penghianat keji tak tahu malu! Semenjak kecil aku menyerahkan jiwa raga untuk membela negara dan bangsa, untuk berjuang mati-matian, akan tetapi sekarang... aku dijadikan buronan, dianggap pemberontak, siapa lagi biang keladinya kalau bukan majikan-majikanmu para durna keparat? Ha-ha-ha. majulah!"

Makin lama suara ketawa Souw Teng Wi makin serem dan aneh, sepasang matanya mulai menjadi merah dan berputar-putar liar. Bicara tentang nasib dan sakit hatinya membuat bekas pahlawan ini kambuh pula penyakit otaknya. Kini Tok-ong Kai Song Cinjin tak dapat menahan kemarahannya lagi. Tentu saja hwesio ini tidak tahu akan segala urusan negara, dan ia juga tidak perduli akan segala macam politik, yang ia ketahui hanya bahwa dia mengabdi kepada Auwyang Peng, seorang Menteri Kerajaan Beng yang berpengaruh, juga kaya raya dan banyak hadiahnya. ayah dari muridnya yang ia sayang.

"Kau memang minta dihajar!" bentaknya dan kakinya bergerak maju dua langkah. Begitu Kai Song Cinjin menggerakkan kedua lengannya, dari tangan kirinya menyambar angin pukulan yang dahsyat dan lengan kanannya tiba-tiba terulur panjang! Lengan ini bisa "molor" (memanjang) sampai satu kaki lebih, kuku-kuku jarinya mencengkeram pundak Souw Teng Wi.

Biarpun penyakit bingung dan gila sudah kambuh pula di kepala Souw Teng Wi, namun dalam kegilaannya ia makin lihai. Dengan gerakan aneh seperti orang mabok, ia dapat mengelak secara tepat sekali dari dua serangan ini dan Kai Song Cinjin sampai melengak kaget dan heran. Sepasang serangannya ini bernama Kwi-liong-jut-hai (Naga Siluman Keluar Dari Laut). Pukulan dengan hawa Iweekang di tangan kiri merupakan ombak lautnya dan tangan kanannya merupakan naga silumannya.

Sepasang lengannya ini biasanya jarang sekali gagal kalau menangkap orang dengan gerak, tipu Kwi- liong-jut-hai, dan andaikata ada yang dapat lolos sekalipun, orang itu harus mempergunakan ilmu yang lihai dan kecepatan yang luar biasa baru dapat selamat. Akan tetapi, Souw Teng Wi yang miring otaknya itu hanya bergerak-gerak aneh seperti orang mabok,berjingkrak-jingkrak tidak karuan dan... dapat menghindarkan serangannya.

Memang kegilaan Souw TengWi bukan kegilaan biasa. Bekas tokoh besar dalam perjuangan rakyat melawan penjajah ini adalah seorang pendekar yang berhati baja, besar semangatnya dan tak kenal takut.

Akan tetapi, melihat betapa pemimpin pejuang Cu Goan Ciang yang dahulu berjuang bahu- membahu dengannya kini menjadi permainan para durna penghianat setelah menjadi kaisar, dan dalam kesesatannya kaisar itu  bahkan  menangkapi dan  membunuhi bekas pejuang  yang  gagah perkasa, hati Souw Teng Wi menjadi penasaran dan berduka sekali di samping kemarahannya yang meluap-luap. Apa lagi setelah para durna itu berhasil menghasut kaisar di mana bekas kawan seperjuangan itu mengeluarkan perintah untuk menangkapnya, hati Souw Teng Wi merasa sakit sekali. Dengan hati terluka ia melarikan diri, menjadi buronan.

Tadinya Souw Teng Wi, hanya memiliki kepandaian yang tidak begitu tinggi sebagai seorang murid Kun-lun-pai, hanya ilmu pedangnya yang cukup kuat karena ilmu pedang Kun-lun memang sudah tersohor kelihaiannya. Akan tetapi setelah ia merantau di lautan, setelah ia lenyap dari dunia ramai untuk bertahun-tahun lamanya, tahu-tahu ia sekarang muncul sebagai seorang yang berotak miring namun memiliki kepandaian hebat sekali. Sesungguhnya kepandaian maupun kegilaannya ia dapatkan di dalam Gua Siluman dan hal ini akan dituturkan kemudian.

Anehnya, kelihaiannya baru muncul dan mencapai puncaknya apa bila kegilaannya kambuh. Agaknya kegilaan dan ilmu kesaktiannya itu menjadi dwi tunggal yang sekarang menguasai hati dan pikirannya.

Sementara itu, Kai Song cinjin yang dibikin penasaran karena serangan Kwi-liong-jut-hai tadi dengan secara aneh dan amat mudah dihindarkan oleh Souw Teng Wi, kini sudah melangkah maju setindak dan menyerang lagi, lebih hebat dan ganas. Jarak antara dia dan Souw Teng Wi ada dua meter dan kedua lengannya yang memukul ke depan itu tidak mengenai tlubuh lawannya, akan tetapi dari kedua tangannya yang dibuka jarinya itu menyambar angin pukulan yang dahsyat sekali.

Souw Teng Wi mengerahkan Iweekangnya ke arah dada dan perut yang disambar angin pukulan. Semenjak mendapat ilmu di dalam Gua Siluman, sinkang di dalam tubuhnya secara ajaib telah menjadi kuat bukan main, membuat tubuhnya menjadi kebal luar dalam. Dengan Iweekang sehebat ini, benar saja angin pukulan lawannya yang lihai tidak dapat melukainya, hanya membuat kuda- kudanya tergempur dan ia terdorong sedikit ke belakang.

Akan tetapi, pada saat itu ia merasa hawa dingin seperti salju memasuki tubuhnya melalui tempat yang disambar hawa pukulan. Souw Teng Wi mengeluarkan suara gerengan keras dan belasan orang anak buah pasukan yang berdiri dekat bergelimpangan roboh. Juga hawa dingin yang meresap ke dalam tubuhnya lenyap terusir oleh pengerahan ilmu ini. Kai Sonj Cinjin benar-benar terkejut kali ini. Tak disangkanya bahwa pukulannya kembali kena ditangkis, bahkan robohnya belasan orang anak buah pasukan merupakan tamparan baginya.

"Setan!" makinya marah. "Kalau delapan jurus lagi pinceng tidak dapat merobohkanmu, pinceng terima kalah." Sebagai seorang tokoh besar, ia membatasi diri dan memberi kesempatan sampai sepuluh jurus kepada lawan yang dianggapnya bukan setingkat. Bahkan ada kalanya kakek gundul ini memberi kesempatan dalam dua tiga jurus saja kepada lawannya. Tentu saja ia tidak akan begini sombong kalau ia menghadapi orang setingkat. Akan tetapi. Souw Teng Wi hanya seorang anak murid Kun-lun-pai dan seorang buronan yang otaknya miring, tentu ia malu tidak mengeluarkan omongan besar memberi kesempatan sampai sepuluh jurus.

Tinggal delapan jurus lagi dan ia tahu bahwa delapan jurus itu harus ia pergunakan sebaiknya untuk merobohkan lawan yang memiliki kepandaian aneh ini. Sekarang ia tidak berlaku sungkan lagi dan secepat kilas jurus ke tiga ia isi dengan pukulan Hek-tok-ciang. Begitu kedua tangannya memukul dengan ilmu ini, saking marahnya ia tidak memakai kira-kira lagi, bahkan tidak melihat bahwa di belakang Souw Teng Wi, kurang lebih dalam jarak lima meter, berdiri beberapa orang anak buah pasukan yang tadi mengepung Souw Teng Wi. Menghadapi Hek-tok-ciang yang lihai bukan main, Souw Teng Wi dengan gerakan otomatis merendahkan tubuhnya dan cepat miring lalu menggunakan kedua tangannya mendorong dari samping sebagai tangkisan terhadap serangan musuh. Terdengar jerit mengerikan dan... tiga orang anggauta pasukan yang tadinya berdiri di belakang Souw Teng Wi terjengkang dan tewas seketika. Pada leher dan muka mereka terdapat tanda jari-jari menghitam, tanda yang menyeramkan dari korban pukulan Hek-tok-ciang.

Harus diketahui bahwa kehebatan Hek-tok-ciang dari kakek gundul ini sama sekali tak boleh disamakan dengan pukulan Hek-tok-ciang muridnya, Auwyang Tek. Memang betul pukulan Hek-tok- ciang pemuda inipun sudah menggemparkan dunia persilatan karena lihai dan kejinya. Namun dalam hal tenaga lweekang, ia hanya setengahnya dan tingkat gurunya. Maka dapat dibayangkan betapa hebatnya kelihaian Kai Song Cinjin. Sampai-sampai Souw Teng Wi yang pikirannya kacau-balau itu meleletkan lidah melihat betapai tiga orang yang tadi berada jauh di belakangnya telah tewas, hanya karena "keserempet" hawa pukulan maut itu!

"Lihai, lihai... gundul jahat benar keji!" katanya dan ia mengeluarkan pula suara gerengan lalu menubruk ke depan, membalas serangan lawan yang sudah tiga kali ia terima itu. Serangannya nampaknya kacau-balau seperti seekor monyet besar menyerang secara buas dan tak teratur, asal mencakar dan memukul sekenanya saja. Akan tetapi Kai Song Cinjin melihat bahwa inti gerakan ini luar biasa lihainya, mendatangkan hawa pukulan yang berputaran dan saling labrak seperti hawa pukulan dalam Ilmu Silat Soan-hong-kun-hoat (Ilmu Pukulan Angin Puyuh).

Kakek dari Tibet ini tidak berani berlaku sembrono dan cepat ia mengebutkan ujung lengan bajunya sambil mengelak. Souw Teng Wi menyerang terus sambil tertawa-tawa. Suara ketawanya seperti orang gila tertawa, akan tetapi jauh bedanya, karena suara ini mengandung daya serang yang luar biasa pula, yang akan melemahkan semangat lawan yang kurang kuat tenaga lweekangnya.

"Heh-heh-lieh, keledai gundul. Kau takut menerima pukulanku, ya? Ha-ha!" ejeknya sambil mendesak terus. Diejek begini, Kai Song Cinjin menjadi panas hatinya. Serangan kedua datang dan ia cepat menyambutnya dengan kedua tangan, la berusaha menangkap tangan lawan dan mengirim totokan pada iga. Anehnya, Souw Teng Wi agaknya tidak perduli tangan kanannya ditangkap, malah dengan mudah saja pergelangan tangan kanannya kena dicengkeram oleh Kai Song Cinjin dan iga kanannya juga agaknya mau saja menerima totokan. Akan tetapi, secara tiba-tiba sekali tangan kiri Souw Teng Wi bergerak macam ular dan tahu-tahu jari-jari tangan kiri ini sudah menyerang ke arah tenggorokan kakek dari Tibet itu dengan totokan maut!

Baiknya Kai Song Cinjin sudah menaruh curiga Segila-gilanya Souw Teng Wi, melihat kelihaian ilmu silatnya, tak mungkin tangan diberikan saja kepada lawan untuk ditangkap dan iga dibiarkan untuk ditotok tanpa ada maksud-maksud tersembunyi. Kiranya orang gila ini sengaja memancing untuk mengadu nyawa! Memang Souw Teng Wi juga cukup maklum bahwa lawannya bukan orang biasa melainkan seorang ahli silat nomor satu yang amat sukar dikalahkan. Karena itu ia sengaja menantang supaya tangannya terpegang untuk dapat mengadu nyawa.

Tidak rugi mengadu nyawa dengan Kai Song Cinjin, pikirnya. Kakek Tibet ini amat lihai dan tentu merupakan tangan kanan para menteri durna maka harus dilenyapkan. Dengan pikiran ini di samping kegilaannya, Souw Teng Wi lalu melakukan serangan maut itu tanpa memperdulikan keselamatan diri sendiri.

Akan tetapi, kepandaian Kai Song Cinjin benar-benar sudah mencapai tingkat yang sukar diukur lagi. Sebetulnya, tingkat Souw Teng Wi masih jauh kalah tinggi olehnya, hanya saja karena Souw Teng Wi mewarisi ilmu silat yang sakti dan aneh maka bekas pahlawan ini dapat melawannya. Kalau saja tidak menemukan ilmu kesaktian yang luar biasa, biarpun ia akan belajar lagi sampai lima puluh tahun di Kun-lun-san, belum tentu ia dapat menangkan Kai Song Cinjin. Kiranya di antara sekalian tokoh besar Kun-lun-pai, hanya Swan Thai Couwsu, Ciangbunjin (ketua) Kun-lun-pai seoranglah yang akan dapat menandingi Kai Song Cinjin!

Menghadapi totokan maut yang dilakukan secara tiba-tiba dan tidak terduga oleh Souw Teng Wi yang mengancam tenggorokannya, Kai Song Cinjin masih dapat menolong dirinya. Ia tahu bahwa untuk mengelak tak ada waktu lagi, untuk menangkis juga tidak dapat karena kedua tangannya sedang bekerja, yang kiri menangkap pergelangan tangan kanan lawan dan yang kanan sedang melakukan totokan pada iga. la malah menundukkan muka mengkeretkan leher sehingga totokan yang ditujukan kepada tenggorokannya itu kini menyambar ke arah mulutnya. Kakek Tibet ini membuka mulut dan menerima jari-jari Souw Teng Wi dengan gigitan.

"Krakk!” Souw Teng Wi mengeluh, dua jari tangannya putus dan tubuhnya lemas karena jalan darah di dada kena totokan, lalu roboh pingsan. Adapun Kai Song Cinjin juga harus menderita akibat kelihaian Souw Teng Wi yang Iweekangnya sudah tinggi sekali. Bibir mulutnya robek dan giginya yang tinggal tujuh buah lagi itu kini berkurang empat buah, rontok ketika dipergunakan menggigit jari tangan Souw Teng Wi sampai putus.

Biarpun seorang tokoh besar dunia persilatan yang sudah tersohor, namun Kai Song Cinjin adalah seorang manusia yang mempunyai watak rendah dan kejam. la bisa berlaku lemah lembut dan alim sebagai seorang hwesio beradat kalau hatinya senang, akan tetapi dalam kemarahan, ia bisa berobah menjadi seorang iblis yang keji. Karena bibirnya pecah-pecah dan giginya rontok, kemarahan dan kebenciannya terhadap Souw Teng Wi meluap. Dengan langkah lebar ia menghampiri tubuh Souw Teng Wi yang sudah pingsan itu, dua jari tangan kanannya digerakkan dan... sepasang biji mata Souw Teng Wi sudah dicukil keluar. Souw Teng Wi menjadi seorang tuna netra (buta) mulai saat itu!

"Belenggu dia! Gusur binatang ini ke kota raja! terdengar perintah Awyang Tek yang pelantang- petenteng seperiti seorang jagoan setelah melihat buronan itu tak berdaya lagi. Beberapa orang serdadunya lalu datang membelenggu Souw Teng Wi selagi dia ini masih pingsan. Namun mereka melakukan pekerjaan ini dengan hati dag-dig-dug, karena jerih. Memang andaikata Souw Teng Wi tidak pingsan, kiranya orang-orang ini akan menemui maut kalau berani mendekatinya.

Teriakan Auwyang Tek yang memberi perintah kepada pasukannya dan bergeraknya pasukan itu menyelimuti suara jerit dan tangis tertahan yang terdengar dari balik batang-batang pohon. Inilah suara Lee Ing. Gadis ini hampir pingsan ketika ia menahan dirinya untuk tidak melompat dan mengamuk. Akan tetapi dia seorang gadis cerdik yang amat patuh kepada ayahnya.

Ia disuruh pergi oleh ayahnya dan maklum bahwa ayahnya menghendaki ia selamat untuk mempelajari ilmu agar kelak dapat membalas kepada para penghianat itu. Dapat dibayangkan betapa hancur perasaannya melihat ayahnya dicongkel matanya dan digusur seperti orang menggusur bangkai macan saja. Terutama sekali sikap sombong Auwyang Tek setelah ayahnya tak berdaya lagi itu amat menyakitkan hati Lee Ing, membuat ia benci sekali melihat wajah pemuda itu.

"Tunggu saja kalian... kelak akan datang saatnya aku membalas sakit hati ayah. !" Sambil menggigit

bibir dan menahan air mata, Lee Ing lalu pergi menyelinap di antara pohon-pohon, pergi untuk memenuhi keinginan hati ayahnya. Mencari Gua Siluman.

"Auwyang-kongcu, kau bawa binatang ini ke kota raja dan jaga baik-baik. Pinceng hendak berangkat lebih dulu!” kata Tok-ong Kai Song Cinjin kepada muridnya, kemudian sekali berkelebat orang tua yang sakti ini lenyap dari depan muridnya. Di dalam hatinya, Kai Song Cinjin mengandung sakit hati yang amat mendalam. Dia seorang tokoh besar, kini bibirnya sampai pecah-pecah dan giginya rontok oleh Souw Teng Wi.

Semua ini terjadi di depan muridnya dan pasukannya, sungguh membuat ia kehilangan muka. Biarpun ia menang, namun terbukti bahwa kepandaian Souw Teng Wi juga hebat. Rasa sakit pada mulutnya menimbulkan sakit hati yang hebat dan membuat ia mengambil keputusan untuk menyerbu ke Kun-lun-san. Tentu di sana ada orang pandai yang melatih Souw Teng Wi dan ke sanalah ia hendak menumpahkan sakit hatinya.

Inilah pendirian seorang sesat yang hanya mencari enaknya sendiri. Dia sudah merobohkan Souw Teng Wi, sudah mencongkel keluar biji matanya, dialah yang menyiksa Souw Teng Wi, akan tetapi dia yang bersakit hati karena bibirnya pecah dan giginya copot! Kai Song Cinjin padahal tahu bahwa ilmu silat aneh yang dimainkan oleh Souw Teng Wi ketika menghadapi dia itu sekali-kali bukan ilmu alat Kun-lun-pai. Akan tetapi oleh karena Souw Teng Wi anak murid Kun-lun, sakit hatinya tertuju kepada partai persilatan itu.

Memang manusia itu biasanya suka bermata gelap dan berhati buta kalau sudah mencapai kedudukan mulia dan tinggi. Seperti halnya Kai Song Cinjin, karena dia itu seorang tokoh besar yang terkenal, juga seorang tangan kanan Kerajaan Beng, guru dari putera seorang menteri, ia menjadi sombong. Dia boleh menyebar maut, boleh membunuh atau menyiksa siapa saja, akan tetapi sedikit saja dia terganggu, baru bibirnya pecah-pecah dan giginya dibikin rompal. dia sudah menerima dendam hebat! Dia menganggap diri sendiri yang paling menonjol, paling penting dan tidak boleh diganggu.

Dengan ilmunya yang tinggi sekali, Kai Song Cinjin mendahului pasukan itu pulang ke kota raja, menceritakan kepada Auwyang-taijin tentang penawanan atas diri Souw Teng Wi, lalu berkata, "Souw Teng Wi adalah anak murid Kun-lun-pai. Selama ini dia menghilang dan tahu-tahu telah memiliki kepandaian tinggi. Siapa lagi yang menyembunyikan dan mengajarnya kalau bukan losu- tosu biadab dari Kun-lun-san? Oleh karena iiu, harap taijin memperkenankan pinceng membawa Kui- sicu untuk membantu pinceng menghukum losu-tosu biadab di Kun-lun-san."

Tentu saja Auwyang Peng meluluskan permintaan ini, dan orang yang disebut Kui-sicu adalah Ma- thouw Koai-tung Kui Ek yang merupakan orang ke dua setelah Kai Song Cinjin. Ma-thouw Koai-tung Kui Ek adalah seorang tokoh besar pula dalam dunia liok-lim. Kepandaiannya tinggi sekali, karena dia ini adalah suheng (kakak seperguruan) dari mendiang Thian Te Cu, atau guru dari mendiang Hui- houw Twa-to Ma Him yang keduanya sudah tewas di tangan Souw Teng Wi. Oleh karena itu, ketika ia mendengar ajakan Kai Song Cinjin untuk menggempur Kun-lun-pai sebagai pembalasan dendam terhadap Souw Teng Wi, ia segera bersiap sedia dengan hati girang.

Selain membawa kawan Kui Ek yang lihai, Kai Song Cinjin juga mempersiapkan sepasukan tentara, la tahu bahwa menghadapi sebuah partai besar seperti Kun-lun-pai. ia tidak boleh berlaku sembrono. Selain untuk menghadapi anak buah Kun-lun-pai yang besar jumlahnya, juga pasukan itu dapat ia pergunakan sebagai perisai, sehingga dunia kang-ouw akan mendapat kesan bahwa Kun-lun-pai diserbu oleh pasukan kerajaan karena anak murid Kun-lun-pai menjadi pemberontak, bukan Kai Song Cinjin pribadi yang mencari permusuhan dengan partai besar itu.

Memang agaknya sudah takdirnya partai persilatan besar Kun-lun-pai harus menghadapi bencana besar. Kai Song Cinjin adalah seorang yang kepandaiannya jarang tandingannya di kolong langit, ditambah lagi oleh Ma-thouw Koai-tung Kui Ek yang juga seorang tokoh besar yang lihai, masih ada lagi pasukan pilihan dari kota raja. Semua ini sudah merupakan bahaya besar bagi Kun-lun-pai, akan tetapi kebetulan sekali kekuatan ini masih ditambah lagi dengan seorang dahsyat dan berbahaya yang bukan lain adalah Toat-beng-pian Mo Hun.

Seperti diketahui, Toat-beng-pian Mo Hun gagal mencari Souw Teng Wi karena ketika ia membawa Lee Ing yang menipunya, gadis itu berhasil meloloskan diri dan melompat ke dalam laut. Terpaksa Toat beng-pian Mo Hun kembali ke darat dan tidak jadi mencari Souw Teng Wi. la kembali ke selatan dan di sepanjang perjalanan tidak lupa untuk mencari obat yang menjadi makanan kesukaannya, yaitu otak manusia.

Ketika itu, rombongan Kai Song Cinjin telah tiba di sebuah dusun Tsang-si di sebelah barat kota Si- ning di Propinsi Cing hai. Mereka sudah tak jauh lagi dari Pegunungan Kun-lun-san yang berada di barat. Tiba-tiba mereka mendengar teriakan-teriakan dan jerit tangis, disusul berlarinya para penduduk dusun yang ketakutan.

Melihat ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek berlari meninggalkan pasukan memasuki dusun. Dan mereka segera melihat apa yang menyebabkan orang-orang dusun itu melarikan diri ketakutan. Di tengah kampung itu nampak seorang tua yang mengerikan tengah mengamuk. Ia memegang sebatang pian yang bentuknya seperti binatang kelabang. Sambil tertawa-tawa dan menggereng seperti binatang buas, ia mengejar dan setiap kali senjatanya bergerak, putuslah leher seorang penduduk dan kepalanya yang copot itu ia sambar sebelum jatuh ke tanah. Dengan cara demikian ia telah mengumpulkan empat buah kepala orang.

"Toat-beng-pian Mo Huni" seru Ma-thouw Koai-tung Kui Ek kaget. Ia telah mengenal Mo Hun, akan tetapi baru sekarang ia melihat keganasan tokoh ini yang membuat dia sendiri sampai merasa ngeri. Kai Song Cinjin berkelebat dan pada saat pian kelabang menyambar ke arah leher calon korban ke lima, tiba-tiba pian itu berhenti setengah jalan dan tak dapat digerakkan lagi. Mo Hun terkejut bukan main dan cepat ia memandang.

Kiranya ujung pian kelabang yang lihai itu telah terpegang oleh seorang hwesio yang sikapnya angker Dua kali Mo Hun menger ahkan kekuatan Iweekangnya pada tangan yang memegang cambuk dan membetot, namun tetap saja pian itu tak dapat terlepas dari tangan hwesio itu. Selagi ia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menyerang karena marah, ia melihat adanya Kui Ek di situ. Kagetlah dia dan tidak berani ia berlaku gegabah. Hwesio tua ini lihai sekali dan agaknya menjadi kawan Ma- thouw Koai-tung Kui Ek.

"Eh, Kui Ek si tongkat butut, siapakah hwesio ini? Kawan atau lawan?" tanyanya.

"Sahabat Mo Hun, jangan main-main. Kau berhadapan dengan Tok-ong Kai Song Cinjin utusan Auwyang-taijin!" kata Kui Ek.

Mo Hun menjadi makin kaget. Sudah lama ia mendengar nama besar hwesio Tibet ini, maka ia berkata, "Maaf, maaf!" dan mengendurkan betotannya.

Kai Song Cinjin tersenyum dan melepaskan ujung pian yang dipegangn a lalu berkata perlahan.

"Kiranya sahabat Kui-sicu, makan otak manusia untuk menguatkan tulang baik-baik saja, akan tetapi tidak boleh membunuh rakyat yang tak berdosa"

Kembali Mo Hun tercengang. Bagaimana kakek gundul itu tahu bahwa ia makan otak manusia untuk memperkuat tulang-tulangnya? Mo Hun yang biasanya amat sombong dan berani mati, tidak takut kepada siapapun juga, sekarang bersikap hormat, ia tahu bahwa tingkat kepandaian Kai Song Cinjin jauh lebih tinggi dari padanya dan untuk masa itu kiranya kakek tokoh dari Tibet ini merupakan jago nomor satu di dunia. Biarpun ia belum pernah bertanding melawannya, tadi pegangan kakek itu pada ujung piannya saja sudah membuktikan bahwa tenaga Iwcekang kakek itu jauh melebihinya.

"Harap Cinjin sudi memaafkan. Pada waktu sekarang ini, dari mana lagi aku dapat mencari obat? Kalau saja peruntunganku baik, tentu otak pemberontak Souw Teng Wi ayah dan anak menjadi obatku dan tak usah aku mengganggu penghuni dusun ini."

Mendengar ini, Kai Song Cinjin dan Kui Ek menaruh perhatian besar dan segera Kui Ek bertanya, "Eh, orang she Mo. Apa hubungannya Souw Teng Wi dan anaknya dengan makananmu itu?"

Mo Hun tertawa bergelak sehingga kepala-kepala orang yang tergantung di pinggangnya bergoyang- goyang, menyeramkan sekali dan membuat pasukan yang sudah tiba di situ bergidik ngeri dibuatnya.

"Dasar nasibku yang sial. Ma-thouw Koai tung, kalau nasibku tidak sial, kiranya sekarang ini aku sudah menghadap ke kota raja, menyeret Souw Teng Wi dan puterinya.” Ia lalu menceritakan pengalamannya betapa ia telah berhasil menawan Souw Lee Ing dan sedang mencari ayah anak dara itu ke lautan. Akan tetapi, demikian ia membohong, ombak besar telah membuat perahu terguling dan gadis itu tenggelam, sedangkan ia terpaksa menyelamatkan diri ke pantai.

"Sayang sekali," ia menutup ceritanya. "Dan sekarang ini kau dan Cinjin hendak kemanakah? Mengapa membawa-bawa pasukan? Apakah kau sudah menjadi seorang jenderal?"

Kui Ek menjawab dengan muka sungguh-sungguh, "Toat-beng-pian Mo Hun, pada masa sekarang ini, setelah kerajaan bangsa sendiri berdiri dan kaum penjajah terusir, bagaimana kau masih bisa berkeliaran seperti orang gila? Auwyang-taijin atas nama kaisar telah mengumpulkan para orang gagah untuk membuat pahala membangun Kerajaan Beng menjadi besar, melawan penghianat- peng-hianat dan para pemberontak macam Souw Teng Wi dan yang lain-lain. Aku sendiri sudah lama membantu Auwyang-taijin dan bekerja di bawah petunjuk Kai Song Cinjin. Kami telah berhasil menawan Souw Teng Wi ke kota raja dan sekarang ini kami hendak ke Kun-lun-pai memberi hukuman kepada guru-guru pemberontak Souw Teng Wi." Toat beng-pian Mo Hun berseri wajahnya.

"Bagus! Kebetulan sekali! Memang sejak lama aku ingin mengabdi kepada pemerintah Beng di Nan- king namun belum ada kesempatan. Oleh karena itu pula maka aku berusaha menawan Souw Teng Wi. Sekarang kalian hendak menyerbu Kun-lun-pai. Baik sekali, masih ada perhitungan lama dengan Swan Thai Couwsu si tua bangka Kun-lun-pai yang belum dibereskan. Aku ikut kalian, hendak membantu kalian agar kelak dapat diterima oleh Auw-yang-taijin."

Tok-ong Kai Song Cinjin tertawa senang. "Kau sudah diterima! Siapapun juga asal ada pinceng yang menanggung, tentu diterima oleh Auwyang-taijin. Mari kita berangkat."

Memang kakek Tibet ini cerdik. Tadi ia telah mengukur kekuatan Mo Hun dan ia maklum bahwa Toat-beng-pian Mo Hun tidak kalah lihai oleh Kui Ek, maka tentu saja orang seperti ini akan dapat menjadi seorang pembantu yang kuat dan boleh diandalkan. Demikianlah, rombongan itu berangkat dalam keadaan yang lebih kuat lagi dengan adanya Toat-beng-pian Mo Hun, merupakan ancaman besar bagi partai persilatan Kun-lun-pai.

Kita tinggalkan dulu Tok-ong Kai Song Cinjin dan pasukannya yang sedang menyerbu Kun-lun-pai dan mari kita mengikuti keadaan yang amat sengsara dari bekas pahlawan besar Souw Teng Wi. Dalam keadaan payah sekali, tubuhnya menderita luka dalam, sepasang matanya kehilangan bijinya dan dari lubang mata masih mengalir darah, Souw Teng Wi diborgol kedua tangannya dan diseret-seret oleh pasukan yang dipimpin oleh Awyang Tek. Setelah Souw Teng Wi tertawan barulah Auwyang Tek yang mata keranjang teringat akan gadis jelita yang datang bersama Souw Teng Wi. la tahu bahwa gadis cantik itu adalah puteri Souw Teng Wi yang bernama Souw Lee Ing dan ia merasa menyesal sekali mengapa tadi membiarkan gadis itu melarikan diri. Ia mulai mencari dan menyebar anak buahnya, namun Lee Ing menghilang tak dapat dicari lagi. Dengan hati kesal dan makin gemas kepada Souw Teng Wi. Auwyang Tek berangkat kembali ke selatan, di sepanjang jalan menyiksa Souw Teng Wi akan tetapi menjaga agar orang tawanan ini jangan sampai mati.

Agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat, ia menyuruh orang-orangnya membuat sebuah kerangkeng besi dan Souw Teng Wi diangkut seperti membawa seekor binatang liar. Di sepanjang jalan rakyat melihat keadaan pahlawan ini dengan hati marah dan berduka. Akan tetapi apakah daya mereka? Kaisar telah menganggap bekas pahlawan ini sebagai pemberontak yang harus dihukum.

Akan tetapi, di antara rakyat jelata terdapat banyak bekas pejuang yang gagah perkasa, yang dahulu ikut dalam perang gerilya melawan penjajah Mongol. Mereka ini mengenal Souw Teng Wi, mengenal orangnya dan mengenal perjuangan serta sepak terjangnya yang gagah perkasa. Mereka sendiri tentu saja tidak berdaya menghadapi pasukan kerajaan yang kuat, dipimpin oleh Auwyang Tek yang berkepandaian tinggi, yang amat ditakuti karena ilmunya Hek-tok-ciang. Akan tetapi, diam diam ada beberapa orang yang cepat mempergunakan kuda, mendahului rombongan ini menuju ke selatan, mencari hubungan dengan perkumpulan Tiong-gi-pai yang mendukung Souw Teng Wi.

Beberapa orang yang bangkit setia kawannya bahkan mengumpulkan kawan-kawan dan nekat berusaha merampas dan menolong Souw Teng Wi. Akan tetapi orang-orang ini seperti serombongan nyamuk menyerang api lampu. Mereka merupakan makanan empuk bagi Auwyang Tek dan bergelimpanganlah di sepanjang jalan para orang gagah yang berusaha menolong Souw Teng Wi. Tubuh mereka kaku dan terdapat tanda lima jari tangan hitam, inilah tanda bahwa mereka tewas sebagai korban tangan racun hitam yang ganas dari Auw yang Tek Dengan sikap garang sekali Auwyang Tek terus memimpin pasukannya menuju ke Nan-king. Ia sudah membayangkan betapa ia akan disambut dengan segala kehormatan atas hasilnya penangkapan pemberontak Souw Teng Wi. Tentu kaisar akan menjadi girang sekali dan memberi hadiah besar, atau bahkan pangkat ayahnya akan dinaikkan.

Pada suatu hari, rombongan ini tiba di sebelah utara Sungai Yang-ce, sudah dekat dengan kota raja. Mereka memasuki sebuah hutan besar terakhir yang akan membawa mereka ke lembah sungai. Makin dekat dengan kota raja, hati Auw yang Tek makin girang, demikian pula anak buahnya. Pasukan itu tadinya sudah gentar kalau-kalau ada musuh mencegat, mereka maklum bahwa orang macam Souw Teng Wi tentu mempunyai kawan-kawan yang lihai Kini kota raja hanya tinggal beberapa ratus li lagi, terpisah Sungai Yang-ce. Mereka mulai tertawa-tawa dan bernyanyi gembira.

Tiba-tiba mereka berhenti dan terheran-heran mendengar suara khim (tetabuhan seperti siter) yang amat merdu dan indah. Siapakah orangnya yang menabuh khim di tengah hutan? Juga Auwyang Tek merasa heran sekali, timbul kecurigaannya. Akan tetapi mereka maju terus, mengambil jalan lain supaya tidak melewati orang yang menabuh khim. Akan tetapi anehnya, ke manapun juga mereka menuju, selalu suara khim itu berada di depan menghadang mereka, seakan-akan orangnya memang sengaja berpindah-pindah menghadang perjalanan rombongan ini.

"Perkuat penjagaan sekeliling kerangkeng!" kata Auwyang Tek hati-hati dan ia sendiri cepat memajukan kudanya mendahului rombongan. Tak lama kemudian sampailah ia di tempat terbuka dan dari pinggir jalan ia melihat seorang wanita cantik duduk di atas sebuah alat tetabuhan khim yang terletak di atas pangkuannya dan ia mainkan khim itu dengan asyik. Wanita ini tidak muda lagi, akan tetapi masih mempunyai kecantikan yang membuat hati Auwyang Tek berdebar. Dapat ia membayangkan betapa jelitanya wanita ini ketika masih muda dulu, raut wajah yang elok masih nampak jelas. sepasang mata bening berbulu mata panjang lentik, mulut berbibir merah masih tersenyum manis. Jari-jari tangan yang bermain-main di atas kawat khim juga masih mungil terawat, bergerak lincah dan lemah gemulai seperti menari-nari.

Lega hati Auwyang Tek ketika melihat bahwa yang menabuh khim hanyalah seorang wanita lemah, sungguhpun ia agak terheran mengapa di tempat sesunyi itu terdapat seorang wanita menabuh khim. Menilik pakaiannya, wanita ini adalah wanita gunung karena pakaiannya sederhana saja seperti pakaian pendeta namun potongan rambutnya tidak seperti pendeta. Tentu seorang wanita dusun yang istimewa pikirnya, atau dahulu bekas perempuan lacur yang pandai menabuh khim dan sekarang di hari tua kembali ke dusun, pikir Auwyang Tek.

Karena tidak melihat sesuatu yang membahayakan, ia bahkan turun dari kuda, menghampiri wanita itu, menonton orang main khim sambil menanti datangnya rombongannya. Para anak buah pasukan juga menjadi lega bahwa pemain khim itu hanya seorang wanita dusun yang sederhana, cantik lembut dan sudah setengah tua. Malah ada yang tertawa-tawa.

"Aduh merdunya, benar-benar membuat orang ingin mengaso dan tidur!" kata seorang anggauta pasukan.

"Dan dia menemanimu sambil main khim. bukan?" orang ke dua berolok-olok. "Benar, biarpun sudah tua akan tetapi masih hebat !" menyambung orang ke tiga.

Wanita itu agaknya tidak mendengar atau tidak mau memperdulikan segala macam olok-olok kotor yang menghinanya, terus saja bermain khim. Auwyang Tek yang memperhatikan permainan khim itu, kagum bukan main. Pemuda ini adalah putera seorang menteri, sebagai putera bangsawan tentu saja ia tidak asing akan seni suara, bahkan ia mengerti bagaimana cara menabuh khim biarpun ia bukan seorang ahli. Melihat gerak jari wanita itu

dan mendengar suara khim, tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang ahli, la makin tertarik lalu berkata sambil tertawa.

"Enci, kau mainkan lagu Dewi dan Gembala nanti kuberi hadiah banyak!"

Suara khim berhenti dan wanita itu mengangkat kepala memandang. Auwyang Tek tercengang melihat sinar mata yang amat tajam dan sepasang mata yang jernih. Benar-benar wanita ini dulu tentu cantik jelita sekali, pikirnya kagum. Wanita itu menggerakkan biji matanya, menyapu semua orang, juga mengerling ke arah kerangkeng di mana Souw Teng Wi duduk bersandar ruji besi dan matanya yang tak berisi itu nampak mengerikan sekali.

Wanita itu mengangguk ke arah Auwyang Tek, kemudian ia menunduk kembali, jari-jari tangannya bergerak lagi, kini dengan lemah gemulai menciptakan suara khim yang merdu merayu dan romantis. Memang yang diminta oleh Auwyang Tek tadi adalah sebuah lagu romantis yang mengisahkan percintaan antara seorang pemuda penggembala dan seorang dewi kahyangan. Lagu romantis ini menjdi kesayangan para kongcu (pemuda) hidung belang dan populer di tempat-tempat pelesir. Namun wanita itu dapat memainkannya dengan amat indahnya, terang bahwa wanita

ini dahulunya tentu bukan seorang wanita baik-baik. Semua anggauta pasukan terbawa oleh pengaruh suara khim yan luar biasa ini sehingga tubuh mereka bergoyang-goyang mengikuti irama, bahkan ada yapg bernyanyi perlahan mengikuti lagu itu. Semua orang, termasuk Auwyang Tek, seperti kena pesona. Lagu itu makin lama makin memikat, suaranya melengking tinggi dan aneh sekali, beberapa orang anak buah pasukan ada yang jatuh tertidur! Banyak yang sudah menguap hampir tak dapat menahan kantuknya. Auwyang Tek sendiri merasa dadanya berdebar, telinganya mengiang dan matanya mengantuk.

Kagetlah dia. Pernah dia mendengar akan kehebatan tenaga Iweekang yang disalurkan ke dalam suara dan bunyi-bunyian dan suara yang mengandung tenaga sakti ini dapat mempengaruhi pendengarannya. Melihat para anak buahnya seorang demi seorang roboh pulas dalam cara aneh sekali, ia menjadi cemas dan mengerahkan seluruh tenaga dalam tubuhnya untuk melawan kantuk yang hampir tak dapat tertahankan lagi itu. Benar saja setelah pemuda yang memiliki kepandaian tinggi itu mengerahkan Iweekangnya, pengaruh suara itu buyar sebagian.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan keras dari dalam kerangkeng. Souw Teng Wi yang kumat gilanya itu agaknya juga terkena serangan suara khim dan biarpun ia buta, namun pendengarannya masih baik sekali. Maka untuk melawan pengaruh itu, ia mengeluarkan ilmunya, menggereng keras dan tiba-tiba saja terdengar suara “tring-tring-tring!” senar khim putus tiga buah. Ini menandakan bahwa gema suara gerengan yang mengandung getaran itu masih lebih kuat dari pada getaran suara khim.

Bagaikan diguyur air dingin setelah suara khim lenyap, para anak buah pasukan yang tertidur tadi berloncatan bangun dan saling pandang terheran-heran melihat kawan-kawannya sedang bangkit dan bangun dari tidur. Auwyang Tek sudah dapat menduga bahwa wainita pemain khim ini tentu bukan orang sembarangan. Akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan hendak cepat-cepat pergi dari depan wanita aneh itu. la merogoh sakunya, mengeluarkan tiga potong perak dan dilemparkan di depan wanita itu sambil berkata,

“Enci, permainanmu bagus sekali. Nah, ini hadiahku.” Ia menoleh kepada pasukannya dan memberi perintah untuk melanjutkan perjalanan.

Akan tetapi wanita itu memungut tiga potong perak sambil berkata. "Untuk apa benda tak berharga macam ini?" Sambil berkata demikian, sekali jari-jari tangannya yang halus itu mencengkeram. tiga potong perak telah menjadi segumpal perak yang tak karuan bentuknya. Auwyang Tek makin terkejut dan membelalakkan matanya sambil berkata,

"Habis, kau minta apa?"

Wanita itu tersenyum manis sekali, mencantolkan khim di belakang pundaknya lalu berkata sambil menudingkan telunjuk yang mungil ke arah kerangkeng, "Kau minta aku bermain khim dan kau berjanji memberi hadiah. Nah, aku minta hadiah binatang di dalam kerangkeng itu!"

Auwyang Tek tahu bahwa wanita ini mencari gara-gara dan tentu seorang di antara kawan Souw Teng Wi atau seorang anggauta perkumpulan Tiong-gi-pai. Maka ia berkata dingin,

"Hemmm, apa kau tidak tahu bahwa binatang itu adalah tawanan kami dan hendak dibawa ke pengadilan kerajaan. Apakah kau begitu berani mampus untuk merampas tawanan yang berarti pemberontakan besar? Toanio. kau seorang wanita dan aku Auwyang Tek tidak bisa melawan wanita, apakah kau anggauta Tiong-gi-pai dan kawan pemberontak Souw Teng Wi ini?"

Wanita itu meludah. "Jadi kaukah yang disebut Auwyang-kongcu. ahli Hek-tok-ciang? Hah, kiranya matamu buta tidak dapat membedakan orang. Kau menuduh aku kawan setan Souw Teng Wi, benar-benar kau menghina sekali. Aku minta dia dari tanganmu bukan untuk menolong, melainkan untuk membunuhnya. Tahukah kau?"

Memang Auwyang Tek tidak tahu bahwa wanita ini adalah Lui Siu Nio-nio, ketua dari perkumpulan Hoa-lian-pai yang bermarkas di kaki Gunung Ta-pie-san. Lui Siu Nio-nio ini adalah guru dari Hui-ouw- tiap Yap Lee Nio isteri Siang-pian-hai-liong Sim Kang. Biarpun Yap Lee Nio sudah berpisah atau bercerai dari suaminya, namun berita tentang terbunuhnya Sim Kang oleh Souw Teng Wi membuat hatinya berduka dan sakit. Ia mengadu kepada gurunya dan gurunya menyanggupi untuk membalaskan sakit hati ini.

Oleh karena itulah Lui Siu Nio-nio ketika mendengar bahwa Souw Teng Wi telah tertawan dan hendak dibawa ke kota raja, sengaja menghadang di tengah jalan untuk merampasnya. Memang penawanan Souw Teng Wi sebentar saja sudah tersiar luas dan setiap orang kang-ouw sudah mendengarnya.

Auwyang Tek tentu saja tidak mau percaya akan keterangan Lui Siu Nio nio. Ia bersiap sedia dan membentak, "Siapa percaya omonganmu? Kau siapakah?"

"Aku Lui Siu Nio-nio ketua Hoa-lian-pai"

Kembali Auwyang Tek melengak Ia memang pernah mendengar akan nama perkumpulan Hoa-lian- pai dan ketuanya yang berilmu tinggi, akan tetapi ia tidak menyangka sama sekali bahwa ketua Hoa- lian-pai demikian cantik dan lemah lembut, pandai bermain khim pula! Setelah mendengar bahwa ia berhadapan dengan ketua Hoa-lian-pai, Auwyang Tek tidak berani cengar-cengir lagi, tidak berani bersikap kurang ajar seperti kalau ia menghadapi seorang wanita cantik biasa.

Akan tetapi, ia juga tidak mau tunduk dan mengalah begitu saja, apa lagi mendengar bahwa nenek ini hendak merampas tawanannya. Ia tidak mau percaya begitu mudah akan keterangan nenek itu bahwa Souw Teng Wi hendak dirampas untuk dibunuh. Siapa tahu kalau-kalau itu hanya siasat belaka dan nenek ini menggunakan akal untuk menolong Souw Teng Wi karena untuk menggunakan kekerasan merasa jerih padanya. Ini mungkin sekali. Siapa yang tak pernah mendengar kelihaian Hek-tok-ciang? Apa lagi sekarang dia mengawal tawanan.

"Aha, kiranya Lui Siu toanio, ciangbunjin Hoa-lian-pai yang terhormat! Selamat bertemu. Telah lama siauwte mendengar bahwa Hoa-lian-pai adalah sebuah perkumpulan bersih yang selalu membantu pemerintah membersihkan orang jahat. Tidak heran sekarang toanio hendak membunuh pemberontak Souw Teng Wi. Akan tetapi, untuk urusan ini harap toanio ikut dengan kami ke kota raja, di sana toanio dapat mengajukan permohonan kepada ayah agar toanio diberi, kesempatan melaksanakan hukuman mati yang pasli dijatuhkan kepada pemberontak ini. Bagaimana?"

Lui Siu Nio-nio tersenyum sindir. Hatinya panas sekali mendengar betapa ia disuruh "mengajukan permohonan" seakan-akan kedudukan Menteri Auwyang Peng begitu tinggi sampai-sampai ia harus merendahkan diri. Jangankan terhadap seorang menteri seperti Auwyang Peng, terhadap kaisar sendiripun belum tentu ia sudi merendahkan diri.

"Auwyang-kongcu, usulmu itu terbalik. Aku harus membawa binatang ini kepada muridku, Hui-ouw- tiap Yap Lee Nio yang hendak membalas sakit hatinya. Setelah muridku melakukan pembalasannya, baru kau boleh membawa mayat binatang ini ke kota raja untuk dijadikan bukti jasamu. Bukankah kau akan mendapat pahala yang sama besarnya?" Auwyang Tek mendongkol sekali karena diejek. "Toanio, harap kau ingat bahwa pada saat ini aku adalah seorang yang memanggul tugas dari kaisar. Oleh karena itu, harap kau tidak menghambat perjalanan kami ke kota raja."

Ketua Hoa-lian-pai memperlebar senyumnya, berkata halus akan tetapi menyengat hati, "Sudah lama aku mendengar tentang Hek-tok-ciang yang lihai, agaknya kau orang muda hendak mengandalkan Hek-tok-ciang untuk mengabaikan usulku, ya?"

"Toanio, kalau aku orang muda berani menentang toanio, anggap saja hal itu sebagai keinginanku menambah pengalaman dan pelajaran, sebaliknya kalau tonaio berani menentang utusan kaisar, bukankah itu sama halnya dengan memberontak dan berdosa besar?" jawab Auwyang Tek.

"Bagus! Kau hendak berlindung di balik nama kaisarmu! Aku tidak mengenal segala kaisar, bagaimana bisa memberontak? Tak usah banyak cakap tinggalkan binatang dalam kerangkeng itu, habis perkara!"

Auwyang Tek melihat wanita itu sudah mengambil khim yang tergantung di punggungnya. Pemuda ini marah sekali dan tanpa banyak cakap ia lalu menggerakkan tangan kiri mengirim pukulan Hek- tok-ciang! Biasanya, sekali pukulan saja sudah cukup membuat lawan roboh binasa. Lui Siu Nio-nio maklum akan kehebatan pukulan Hek-tok-ciang ini. la tidak berani menerima begitu saja, cepat mengangkat khim yang dipegang di tangan kanannya, menangkis pukulan yang datangnya dekat, bukan dilakukan dari jarak jauh, pukulan yang pasti akan mengenai dadanya.

"Brakk. !!" Khim yang terbuat dari pada kayu hitam pilihan itu pecah berantakan, melayang ke sana

ke mari pecahannya. Adapun senar-senarnya juga putus semua dan mawut. Akan tetapi di lain fihak, Auwyang Tek terhuyung mundur. Dari tangkisan khim tadi menyambar tenaga yang amat dahsyat, membuat kuda-kudanya tergempur dan terpaksa ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya dan terhuyung-huyung.

Lui Siu Nio-nio menjadi pucat saking marahnya melihat alat tetabuhan yang disayangnya itu hancur oleh sekali pukulan pemuda itu. Di samping kemarahannya, juga ia terkejut sekali. Memang ia telah mendengar akan kelihaian Hek-tok-ciang, akan tetapi tak pernah menyangka sehebat itu. Maka ia lalu menggerakkan kedua tangannya dan tahu-tahu ia telah memegang sebatang senjata yang amat aneh, yaitu berupa setangkai kembang terbuat dari pada emas.

Tangkainya panjang dan ada tiga helai daun terbuat dari pada perak. Inilah senjata yang amat diandalkan oleh Lui Siu Nio-nio yang ia beri nama Hoa-lian-sin-kiam (Pedang Sakti Hoa-lian). Sebetulnya disebut pedang bukan pedang karena hanya merupakan setangkai bunga emas dengan tiga helai daunnya, akan tetapi cara memegang dan mempergunakannya memang seperti orang bermain pedang. Itulah sebabnya mengapa senjata aneh ini disebut Hoa-lian-sin-kiam dan penggunaannya yang istimewa khusus diciptakan oleh ketua Hoa-lian pai itu.