-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 03

Jilid 03

Melihat cambuk dan muka orang itu, Kwee Cun Gan menjadi pucat. Pernah ia mendengar seorang tokoh menyeramkan, seorang manusia yang dianggap iblis, bernama Toat-beng-pian Mo Hun. Dari julukan Toat-beng-pian (Pian Pencabut Nyawa) saja dapat dibayangkan betapa hebatnya joan-pian (ruyung lemas) itu. Kabarnya manusia iblis ini menyembunyikan diri di batu-batu karang dekat laut selatan, bagaimana ia bisa muncul di sini?

"Hayaaaa, si gundul lancang mulut, masa aku disebutnya iblis. Dasar dia mencari mampus sendiri!” katanya bersungut-sungut, kemudian matanya yang besar itu menjuling dan tubuhnya digerakkan sehingga baju luarnya tersingkap. Tersirab darah semua orang melihat bahwa baju luar yang tadi menggembung itu ternyata menutupi kepala seorang wanita. Kini karena jubah itu tersingkap maka kepala itu terputar ke bawah dan tergantung pada ikat pinggang dengan rambutnya yang panjang, sebuah kepala wanita yang agaknya baru saja dipotong lehernya karena masih ada tanda-tanda darah merah basah. Mata besar juling ini tertuju kepada Lee Ing yang biarpun amat tabah menjadi gemetar juga menyaksikan manusia iblis yang dahsyat ini.

"liiihhh. kepala manusia untuk apa...?” seru gadis itu tanpa terasa lagi saking jijik dan ngerinya. Iblis itu tertawa, suara ketawanya seperti singa mengaum dan Kwee Cun Gan sendiri yang lwee-kangnya sudah kuat tergetar juga oleh suara ketawa ini. Ia ingat bahwa ada ilmu lweekang yang disebut Saicu-hokang, yaitu ilmu mengeluarkan suara mengaum seperti singa yang dilakukan dengan tenaga lweekang serta khikang tinggi sekali. Orang yang meyakinkan ilmu ini sampai sempurna, sekali menggertak akan cukup menaklukkan lawan yang menjadi mengkeret nyalinya. Kalau saikong ini sudah memiliki Saicu-hokang, alangkah tinggi kepandaiannya dan tahulah Kwee Cun Gan bahwa mereka semua bukanlah lawan manusia aneh ini.

Orang aneh itu memang betul Toat-beng-pian Mo Hun, seorang tokoh besar selatan yang selama ini menyembunyikan diri di tepi laut selatan, memperdalam ilmu-ilmunya setelah ia pernah dikalahkan oleh seorang pendekar muda bernama Bu-beng Sin-kun (Tangan Sakti Tak Bernama). Dengan tekun Mo Hun ini mempelajari bermacam-macam ilmu silat untuk kelak mencari Bu-beng Sin-kun dan menebus kekalahannya. Bahkan akhir-akhir ini ia melakukan semacam ilmu hitam yang amat mengerikan Ilmu hitam ini kalau sudah dipelajari sempurna akan membuat tubuhnya kebal dan usianya panjang dan awet muda. Akan tetapi syaratnya juga gila, yaitu ia harus makan otak orang- orang muda yang sehai, otak segar dari kepala yang baru dipenggal.! "Sudah lama aku ingin mempunyai murid, kau selain cantik jelita dan bertulang bersih, juga nyalimu besar Kau ikut aku!" kata Toat-beng-pian Mo Hun dan begitu jari-jari tangannya bergerak, pian kelabangnya tergulung mengkeret dan lenyap di balik bajunya, kemudian mengulurkan tangan kanan ke arah Lee Ing. Gadis ini kaget dan coba mengelak, akan tetapi lengan itu tiba-tiba mengeluarkan bunyi berkerotokan dan menjadi lebih panjang tiga puluh senti lebih! Tanpa dapat dicegah lagi pinggang Lee Ing kena dijambret lalu ditarik sehingga pada lain saat gadis itu telah dikempit pinggangnya oleh lengan kanan kakek sakti itu yang tertawa-tawa gembira.

"Muridku, haa-ha, muridku." Dengan langkah lebar kakek ini meninggalkan bukit batu karang itu. Tentu saja Kwee Cun Gian tidak mau tinggal diam saja dan cepat melompat mengejar. diikuti oleh Liem Hoan dan kawan-kawan lain.

"Locianpwe, harap sudi mendengarkan kami,” kata Kwee Cun Gan, tidak berani sembrono atau berlaku lancang. Toat-beng-pian Mo Hun menghentikan tindakannya, memutar tubuh menghadapi mereka, matanya berkedip-kedip menakutkan.

"Kalian mau apa? Ada yang iri melihat si gundul kuberi hadiah dan ingin ikut dengan dia?” kata kakek ini menyindir, mulutnya yang meringis itu makin lebar sehingga nampak dua gigi seperti taring di kanan kiri. Benar-benar kakek ini dikurniai wajah seperti iblis!

"Kawan kami Thian Le Hosiang tewas oleh locianpwe karena dia bicara lancang dan karena kepandaian locianpwe yang tinggi. Mana kami orang-orang lemah berani mengantarkan nyawa sia- sia? Akan tetapi nona itu, kami harap locianpwe sudi melepaskan dan membebaskannya!”

"Dia muridku, keparat!” kata kakek itu memandang penuh ancaman kepada Kwee Cun Gan.

“Akan tetapi dia adalah puteri tunggal dari Souw Teng Wi taihiap, kami harus melindunginya, biarpun untuk itu kami harus berkorban nyawa. Kalau dia locianpwe bawa, bagaimana kami harus mempertanggungjawabkan kalau Souw taihiap kelak menanyakan dia?”

"Mana dia, Souw Teng Wi?” tiba tiba kakek ini bertanya penuh gairah.

"kami sedang mencari-carinya, ini hari bertemu dengan puterinya kami sudah merasa amat girang, maka harap locianpwe sudi melepas kannya."

"Ha ha, bagus sekali. Jadi ini puteri orang she Souw yang menjemukan? Ha-ha, biar anaknya menjadi muridku. dia anak baik, cantik manis berkulit halus pipinya merah. Ayahnya biar kutangkap belakangan...”

Jantung Kwee Cuu Gan dan yang lain-lain serasa berhenti berdetik Celaka, pikir mereka. Tidak tahunya kakek iblis inipun memusuhi Souw Teng Wi. Kalau begini percuma saja minta dia melepaskan Lee Ing. Dengan nekat Kwee Cun Gan mencabut pedangnya, akan tetapi ia didahujui oleh Thio Sek Eng. Orang she Thio ini seperti diketahui adalah bekas anak-buah Souw Teng Wi dan ia masih mempunyai hati setia kepada pendekar itu.

Mendengar ada orang memusuhi Souw Teng Wi dan menculik puterinya, timbul keberanian dan kenekatannya. Sambil memaki, "Saikong siluman lepaskan Souw-siocia!” ia menyerbu dengan senjata siang-to (golok kembar) dengan gerakan cepat dan kuat.

Golok menyambar dari atas dan tengah, akan tetapi Mo Hun tidak bergerak, hanya tertawa bergelak dengan suara ketawanya yang  seperti setan-setan menangis di neraka.  Akan tetapi begitu  dua batang golok itu mendekati bajunya, ia menggerakkan tangan kiri ke arah golok-golok itu dan....

bagaikan dipegang oleh tangan yang tidak kelihatan tiba-tiba saja dua batang golok itu membalik tanpa dapat dicegah lagi oleh pemegangnya dan langsung menyerang leher dan dada Thio Sek Eng sendiri. Orang she Thio ini menjerit keras, dadanya tertancap golok lalu lehernya terbabat sampai hampir putus. Dilihat begitu saja, Thio Sek Eng seakan-akan mati membunuh diri, padahal sebetulnya dia terkena hawa pukulan yang lihai sekali dari Toat-beng-pian Mo Hun.

Dengan nekat dan marah Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya menyerbu. Lagi-lagi kakek itu mengangkat tangan kiri, kini ujung lengan baju dikebut-kebutkan ke depan, angin dingin menyambar-nyambar, mula-mula dari depan menyambar keras membuat mereka tak dapat membuka mata, kemudian hawa pukulan yang mendatangkan angin itu berputaran seperti puyuh dan belasan orang itu terguncang dan terhuyung saling tabrak. Di antara putaran angin ini terdengar suara pletak-pletok dan senjata-senjata di tangan mereka patah-patah.

Hanya Kwee Cun Gan dan Liem Hoan saja yang masih dapat memegang pedangnya, biarpun mereka juga limbung dan terhuyung kesana-kemari, ini menandakan bahwa Iweekang mereka sudah lebih tinggi dari pada kawan-kawan mereka. Dan hanya Kwee Cun Gan seorang yang dapat melihat gerakan kakek itu dan dia pula yang melihat kakek itu pergi dengan langkah lebar sambil membawa Lee Ing. Yang lain-lain hanya tahu kakek itu sudah lenyap setelah angin puyuh berhenti. Dengan tubuh sakit-sakit mereka merangkak bangun, karena tadinya, kecuali Kwee Cun Gan dan Liem Hoan, sudah roboh saling tindih!

"Hebat !” Kwee Cun Gan menghela napas. Kemudian ia membanting-banting kaki dengan gemas.

"Souw-siocia dibawanya, bagaimana kita harus merampasnya kembali? Celaka... celaka, tak menduga nasib Souw-suheng (kakak seperguruan) demikian buruknya...” Tak terasa lagi sepasang mata pendekar Berhati Emas Bertangan Baja ini mengalirkan air mata? Kawan-kawannya yang mendengar dan melihat sikap ini menjadi terharu dan barulah mereka tahu bahwa sebetulnya Kwee Cun Gan masih terhitung saudara seperguruan dengan Souw Teng Wi. Kenyataan ini saja sudah menimbakan kekaguman yang makin mendalam.

“Aku harus minta bantuan para locianpwe di Kun-Iun-san.” katanya kemudian. "Kalau manusia seperti Toat-beng-pian Mo Hun sudah turun gunung, ditambah lagi dengan Auwyang Tek yang menjadi murid Tok ong Kai Song Cinjin yang kiranya malah lebih sakti dari pada Mo Hun tadi, hanya para couwsu di Kun-lun-pai saja yang dapat menandingi mereka Souw suheng sekeluarga perlu ditolong, tidak saja karena dia seorang anak murid Kun-lun-pai, akan tetapi terutama sekali karena tenaga Souw-suheng perlu didatangkan untuk memimpin kita melawan para menteri dorna. Terutama sekali, kita harus memperkuat diri untuk menghadapi merajalelanya para menteri dorna dengan kaki tangan mereka yang demikian lihai “

"Mungkinkah Mo Hun tadipun kaki tangan para kan sin?" tanya Liem Hoan ragu-ragu.

"Siapa tahu? Para pembesar korup itu sudah kelebihan harta benda yang dapat mereka hamburkan untuk mempertahankan kedudukan mereka.” Kwee Cun Gan menarik napas panjang, lalu katanya, "Aku Kwee r’un Gan hai i ini terpaksa membocorkan rahasia Ilmu Pedang Lian-cu-sam-kam kepada seorang rendah semacam Bu Lek Hwesio, kemudian terpaksa kehilangan puteri Souw-suheng. Benar- benar penasaran, aku Kwee Cun Gan kalau belum dapat membunuh Bu Lek Hwesio selama ludup akan merasa menyesal. Kawan-kawan, mari kita segera pergi, siapa tahu mata-mata Auwyang taijiin mengetahui tempat pertemuan kita ini."

Dengan hati gelisah dan kecewa, orang-orang gagah itu berpencaran turun dari bukit itu. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara dari jauh, "Cu-wi enghiong, tunggu dulu!" Mereka behenti dan menengok. Dari kaki bukit itu datang berlarian dua bayangan orang yang amat cepat dan gesit gerakannya. Kwee Cun Gan tertegun. Lagi-lagi datang orang-orang yang tinggi kepandaiannya, lawan atau kawankah yang datang lagi ini? Setelah dekat ternyata bahwa mereka itu adalah seorang laki-laki gagah setengah tua, kurang lebih empat puluh lima tahun usianya, memakai topi berbentuk batok, di sebelah kirinya berlari seorang wanita cantik dan gagah berusia empat puluh tahun lebih. Begitu berhadapan dengan Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya, orang itu menjura dengan hormat.

"Apakah siauwte berhadapan dengan para enghiong dari Tiong-gi-pai?” Perkumpulan Tiong-gi-pai adalah perkumpulan rahasia yang tidak boleh diperkenalkan kepada orang asing begitu saja, maka Kwee Cun Gan menjawab singkat.

"Sahabat siapa dan dari manakah, datang mencari siapa?"

Orang itu mengerling, kepada wanita gagah di sebelahnya sambil tersenyum, lalu memandang ke arah dua gundukan tanah yang baru digali, agaknya baru saja untuk mengubur orang, yaitu kuburan dari Thian Le Hosiang dan Thio Sek Eng yang dibuat oleh para anggauta Tiong-gi-pai baru saja sebelum mereka pergi.

"Saudara-saudara Tiong gi-pai benar-benar teliti dan hati-hati. Agaknya baru saja terjadi sesuatu yang hebat. Bekas-bekas tangan Toat-beng-pian Mo Hun masih nampak jelas, agaknya lagi-lagi pian pencabut nyawa dari iblis tua itu sudah mendapat korban di antara saudara-saudara Tiong-gi-pai. Cu-wi enghiong harap jangan menaruh curiga kepada kami, kiranya cu-wi mengenal tanda ini?” Orang itu mengeluarkan sebuah lengki (bendera tanda utusan raja) kecil dari saku bajunya. Melihat ini, Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya terkejut. Kiranya dua orang inilah utusan-utusan dari Raja Muda Yung L o di Peking.

"Harap taijin maafkan kami yang tidak mengenal dan tidak menyambut sepatutnya,” kata Kwee Cun Gan yang hendak menjatuhkan diri berlutut di depan utusan raja itu. Akan tetapi orang itu cepat- cepat memegang pundaknya sambil berkata,

"Sahabat-sahabat Tiong-gi-pai jangan terlalu banyak sungkan. Bangunlah agar kita enak bicara." Ketika kedua tangannya memegang pundak Kwee Cun Gan, ketua Tiong-gi pai ini merasa sepasang telapak tangan yang lunak, namun di dalamnya mengandung tenaga menarik yang dia sendiri tak mampu mempertahankan sehingga terpaksa ia bangkit lagi lalu menjura.

"Taijin benar-benar telah memberi pelajaran, hamba merasa tunduk.”

"Adakah kau yang bernama Kwee Cun Gan?” tanya orang itu sambil memandang tajam. "Betul, hamba yang rendah adalah Kwee Cun Gan.”

Mendengar ini, orang itu memegang tangan Kwee Cun Gan dengan girang lalu berkata,

"Kwee sicu. Buang jauh-jauh itu segala sebutan taijin dan hamba-hambaan! Copot jantungku mendengar aku disebut-sebut taijin utusan raja. Dengarlah, aku bukan seorang pembesar biarpun kini terpilih menjadi utusan raja. Tentu Kwee-sicu dan kawan-kawan lain sudah mendengar namaku, Siok Beng Hui. Dan ini isteriku Tan Sam Nio.”

Kwee Cun Gan dan kawan-kawannya makin terkejut, akan tetapi bercampur girang. Siapa pula yang belum mendengar nama Siok Beng Hui yang berjuluk Pek-kong-sin-kauw (Senjata Kaitan Sakti Bersinar Putih) dan isterinya, Tan Sam Nio yang berjuluk Ang-lian-ci (Biji Teratai Merah)? Sepasang suami isteri yang mempunyai saham besar dalam jasa mengusir orang-orang Mongol di utara! Nama mereka amat terkenal karena selain Siok Beng Hui merupakan "raja kaitan” yang memiliki sepasang senjata kaitan atau gaetan luar biasa lihainya, isterinya juga terkenal dengan senjata rahasia Ang- lian-ci dengan timpukan-timpukan seratus kali lepas seratus kali kena”.

“Ah, kiranya kami berhadapan dengan Siok-taihiap dan toanio yang gagah perkasa!” seru Kwee Cun Gan girang sekali.

"Apakah benar dugaan kami bahwa tadi Mo Hun si kakek iblis datang ke sini dan menjatuhkan korban?”

"Memang betul, yang baru kami kubur adalah jenazah dua orang kawan kami yang tewas oleh iblis itu. Bagaimana Siok-taihiap bisa tahu?”

"Ketika kami berangkat, kami diikuti oleh putera kami Siok Bun. Tadi ketika kami tiba di kaki bukit, kami melihat seorang kakek yang berlari cepat Kakek itu mengempit tubuh seorang gadis remaja dan di pinggangnya tergantung sebuah kepala orang wanita. Kami menjadi curiga dan menahannya, akan tetapi ia malah menyerang dengan cambuk kelabang. Melihat kelihaiannya dan melihat cambuk itu, tahulah aku bahwa dia adalah Toat-beng-pian Mo Hun. Kami bertiga lalu mengeroyoknya karena tahu bahwa orang macam dia selalu di mana-mana melakukan hal-hal yang tidak baik. Biarpun kami tidak mengenal siapa gadis itu, kami berusaha menolongnya. Akan tetapi dia benar-benar amat lihai. Setelah kami bertiga mengurung rapat, barulah ia merasa kewalahan dan melarikan diri. Kami mengejar, isteriku melepas beberapa Ang-lian-ci akan tetapi senjata rahasia itu dipukul hancur oleh kibasan tangan kirinya. Benar-benar iblis yang jahat dan berbahaya sekali. Karena kami sedang menjalankan tugas, terpaksa kami tidak mengejar lebih jauh, hanya menyuruh putera kami Siok Bun untuk diam-diam mengikuti jejaknya dan sedapat mungkin menolong gadis remaja yang dibawa lari itu."

Orang-orang Tiong- gi-pai girang mendengar bahwa putera pendekar ini mengikuti Mo Hun untuk berusaha menolong Lee Ing. "Apa yang taihiap lakukan benar-benar tepat sekali. Hendaknya diketahui bahwa gadis itu adalah Souw Lee Ing, puteri tunggaI Souw Teng Wi taihiap,” kata Kwee Cun Gan yang kini mendapat giliran menceritakan apa yang telah terjadi di situ.

Siok Beng Hui menarik napas panjang. “Ayaa, para kan-sin itu benar-benar menjemukan sekali! Tapi lebih rendah adalah orang-orang kang-ouw yang dapat diperalat oleh mereka. Kwee-sicu, kami mendapat tugas untuk menyampaikan surat pribadi Raja Muda Yung Lo kepada kakak tirinya, putera mahkota di istana. Surat pribadi ini harus dapat kusampaikan sendiri kepada thaicu (putera mahkota). dan kami hanya menyerahkan hal ini kepada kebijaksanaan Tiong-gi-pai bagaimana harus diaturnya agar kami dapat bertemu dengan thaicu. Demikianlah pesan baginda kepada kami.”

Dengan girang Kwee Cun Gan lalu mengajak suami isteri pendekar itu menuju ke tempat persembunyiannya, yaitu di sebuah kelenteng tua di mana mereka akan membicarakan tugas itu. Kawan-kawan lain lalu bubaran, siap menanti tugas-tugas selanjutnya di tempat masing-masing.

Hubungan Kwee Cun Gan di kota raja memang luas sekali. Orang-orang yang bersimpati kepada pergerakan Tiong-gi pai bukan hanya orang-orang kang-ouw. Juga banyak pembesar-pembesar yang jujur dan berjiwa patriot menaruh simpati kepada pergerakan Tiong-gi-pai yang membela Souw Teng Wi dan memusuhi para kan-sin yang mempengaruhi para kaisar. Dengan mempergunakan hubungan inilah, hubungan dengan "orang-orang dalam”, mudah saja bagi Kwee Cun Gan untuk mempertemukan utusan Raja Muda Yung Lo dengan putera mahkota, atau lebih tepat mendapatkan kesempatan untuk menghadap putera mahkota itu.

Biarpun ia sendiri tidak terpengaruh oleh para kan-sin dan kadang-kadang juga tahu bahwa para kan- sin itu adalah koruptor-koruptor besar yang menjilat-jilat hati ayahnya, namun putera mahkota tak dapat banyak bertindak. Ayahnya, kaisar, sudah terlalu mendalam menaruh kepercayaan kepada menteri-menteri dorna macam Auwyang Peng, maka kalau putera mahkota berani menentangnya, bisa berbahaya untuk diri calon pengganti kaisar itu sendiri.

Putera mahkota bukannya seorang pangeran muda, melainkan seorang yang sudah berusia hampir empat puluh tahun, la menerima kedatangan Siok Beng Hui dan isterinya di waktu senja hari di mana istana sedang sunyi. Oleh perantara dikabarkan bahwa yang datang menghadap adalah utusan raja muda di Peking yang mnembawa hadiah-hadiah bagi saudaranya, putera mahkota, maka para dorna tidak menaruh hati curiga. Kalau saja para dorna dan kaki tangannya tahu bahwa utusan itu adalah Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui, tentu mereka akan menjadi curiga dan akan berusaha mengorek rahasia kunjungan ini.

Siok Beng Hui tidak lama menghadap putera mahkota. Setelah surat pribadi Raja Muda Yung Lo diterima oleh tangan putera mahkota sendiri, suami isteri pendekar ini lalu meninggalkan istana dan segera kembali ke utara sekalian mencari tahu tentang putera mereka yang menyusul jejak kakek iblis Mo Hun.

Adapun putera mahkota setelah membaca surat dari adik tirinya, mengunci diri di dalam kamarnya dan termenung-menung laksana patung. Wajahnya berkerut membayangkan prihatin besar. Berkali- kali ia menarik napas panjang dan mengeluh seperti orang berduka. Di dalam suratnya itu adik tirinya yang menjadi raja muda di utara secara terang-terangan menggambarkan keadaan pemerintah Beng yang amat menyedihkan, betapa ayahnya. Kaisar Thai Cu, telah menaruh kepercayaan yang keliru, berada di bawah pengaruh para kan-sin (menteri dorna) dan pembesar- pembesar busuk.

"Sungguh amat disayangkan,” demikian antara lain Raja Muda Yung Lo menulis. "Kerajaan Beng yang susah payah dibangun oleh ayah, yang dengan taruhan nyawa seluruh rakyat berhasil menggulingkan kekuasaan penjajah Mongol, kini dirusak dan diinjak-injak oleh para menteri dorna. Dahulu sudah sering kali ayah kuperingatkan akan bahaya yang mengancam dari para kan-sin, akan tetapi akibatnya aku malah dijauhkan atau setengah diusir, diharuskan menempati kedudukan di utara yang amat berat, setiap waktu menghadapi serbuan pembalasan dari para Mongol. Namun demi keselamatan negara dan bangsa, aku berusaha sekuat tenaga untuk berbakti kepada tanah air. sekuat tenaga kuhantam setiap usaha musuh yang hendak menyerbu ke Tiong-goan.”

Putera mahkota menghela napas panjang. Adiknya memang betul. Dahulu sebelum Yung Lo dipindahkan ke utara, ia masih tabah dan semangatnya besar. Namun semenjak adiknya yang gagah berani itu tidak ada, putera mahkota merasa dirinya lemah sekali, tidak berdaya sungguhpun ia maklum sedalam-dalamnya akan tipu muslihat para menteri dorna yang menguasai kepercayaan ayahnya.

"Ayah sudah tua, tidak akan ada gunanya lagi bagiku untuk memperingatkan beliau, takkan beliau turut. Akan tetapi kau, saudaraku. Kau adalah putera mahkota yang tak lama lagi akan menggantikan kedudukan ayah, kalau tidak dari sekarang kau bertindak, kelak kaupun akan menjadi seorang raja yang lemah tak berdaya. Namanya saja raja namun pada hakekatnya tiada lain hanya sebagai boneka di tangan para kan-sin! Tahukah kau bahwa seluruh orang gagah di negeri kita ini marah- marah kepadamu? Kau dibenci karena kelemahanmu. Karena kelemahanmu kau dianggap segolongan dengan para dorna! Lekaslah bertindak, pergunakan kedudukanmu sebagai putera mahkota. Basmi sampai habis para dorna dan pembesar korup sebelum terlambat. Hanya kalau kau berani menempuh perjuangan berbahaya melawan para penjilat itu, kerajaan kita dapat diselamatkan. Lebih baik kita sendiri cepat-cepat membersihkan kotoran yang menempel di badan sebelum rakyat yang bertindak mendaulat kita. Bukankah kelak kau menjadi raja juga demi rakyat? Rakyat sekarang terhisap oleh koruptor-koruptor yang menggantikan kedudukan penjajah, mereka amat menderita, jangan kau enak-enak saja."

Isi surat Raja Muda Yung Lo yang penuh berisi peringatan pedas itu menggugah hati putera mahkota, membuatnya semalam suntuk tak dapat tidur. Beberapa kali pintu terketuk oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang datang hendak melayaninya, namun semua ia usir pergi lagi. Pada keesokan harinya, dengan muka pucat tubuh layu karena semalam tidak tidur, putera mahkota terus berdandan dan mohon menghadap ayahnya. Di depan ayahnya, dengan wajah sungguh-sungguh ia menyatakan kekhawatirannya tentang keadaan pemerintahan. Tentang berita yang didengarnya bahwa para menteri banyak yang tidak melakukan tugas sebaiknya, banyak yang berkorupsi, bahkan banyak peraturan berat di luar peraturan raja telah dilakukan oleh para pembesar untuk menindas rakyat. Bahwa banyak orang gagah merasa tidak puas.

"Bodoh, kau tahu apa?” Raja membentaknya sambil menghirup arak hangat yang disuguhkan oleh selir-selir cantik dan muda untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah tua dan suka sakit-sakit tulang pada hawa dingin itu, "menteri-menteriku semua setia dan baik, bagaimana kau bisa mendengarkan hasutan-hasutan orang luar yang merasa iri kepada kita? Itulah omongan para musuh yang hendak memberontak, manusia-manusia macam Souw Teng Wi yang berkepala dua, ingin merebut tahta kerajaan. Kau harus hati-hati kelak kalau kau menggantikan aku, harus banyak minta nasehat menteri-menteri kita yang sudah banyak pengalaman menghadapi manusia-manusia durjana itu. Rakyat tertindas? Hah! Siapa bilang? Kita sudah berjuang mati-matian mcmbebaskan rakyat dari pada penindasan penjajah, bagaimana sekarang bisa tertindas setelah merdeka? Lihat saja keadaan rakyat di luar istana, bukankah mereka jauh lebih baik keadaannya dari pada dahulu di jaman penjajahan?”

Putera mahkota menghela napas. Diam-diam ia membenarkan isi surat Yung Lo bahwa percuma saja berunding dengan ayahnya yang sudah tua. Ayahnya hanya melihat kehidupan di dalam kota raja, pusat keramaian dan pusat perdagangan di mana orang hidup serba cukup. Apa lagi memang para menteri dorna tidak berani menjalankan peranannya di kota raja di depan hidung kaisar. Akan tetapi coba saja lihat keadaan di kampung-kampung, di dusun-dusun, biarpun ayahnya sendiri tentu akan kaget setengah mati melihat penderitaan rakyat yang tak jauh bedanya dengan masa penjajahan pemerintah Mongol.

Dengan hati berat dan semangat patah kembali, putera mahkota mengundurkan diri dari depan ayahnya, sama sekali tidak tahu betapa beberapa pasang mata yang indah jeli dari selir dan pelayan mengerling ke arahnya dengan tajam. Kerlingan maut yang amat berbahaya karena beberapa orang di antara sekian banyak juita yang setiap hari siang malam melayani dan mendampingi kaisar ini adalah kaki tangan Auwyang-taijin!

Malam hari berikutnya terjadi hal yang hebat dan ngeri. Putera mahkota kedapatan telah tewas di dalam tempat tidurnya sendiri! Tidak terdapat tanda-tanda pembunuhan, tidak ada setetes darah- pun mengalir, tidak ada luka sedikitpun. Para ahli pengobatan yang datang memeriksa hanya menyatakan bahwa putera mahkota meninggal dunia karena keracunan, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka tahu cara bagaimana pangeran sulung itu terkena racun. Yang bisa menjawab hanyalah Auwyang-taijin, karena menteri dorna inilah yang minta pertolongan guru puteranya, yaitu Tok-ong Kay Song Cinjin yang luar biasa tinggi kepandaiannya. Hwe sio Tibet yang sakti ini memberikan beberapa helai senjata rahasia Sai-cu-kim-mau (Bulu Emas Singa) kepada muridnya dan sebetulnya Auwyang Tek yang menyelundup ke dalam istana. Tentu saja sebagai putera menteri yang disayang kaisar, mudah saja baginya untuk memasuki bangunan istana tanpa menimbulkan kecurigaan. Dan pada malam harinya, Mempergunakan kepandaiannya yang tinggi, Auwyang Tek berhasil menyelinap ke atas genteng kamar putera mahkota dan menyerangnya dari atas dengan senjata rahasia Sai-cu-kim-mau itu. Senjata rahasia ini berupa jarum-jarum halus seperti bulu yang menembus kulit dan memasuki jalan darah, terbawa oleh aliran darah bergerak sampai ke jantung. Senjata rahasia ini mengandung racun hebat yang hanya dapat dibuat oleh seorang Raja Racun seperiti Kai Song Cinjin, dan hebatnya, saking lembutnya ketika memasuki kulit tidak meninggalkan bekas apa-apa, seperti bekas gigitan seekor nyamuk saja.

Auwyang-taijin dan para menteri menyatakan duka citanya atas meninggalnya putera mahkota ini dan mereka mempergunakan kesempatan ini untuk menimbulkan prasangka terhadap orang-orang Tiong-gi-pai!

"Hamba mendengar bahwa Tiong-gi-pai mempunyai banyak orang pandai. Siapa tahu kalau-kalau kematian thaicu bukan kematian wajar, melainkan perbuatan keji dari pada Tiong-gi-pai. Siapa lagi kalau bukan Tiong-gi-pai yang menghendaki kematian putera mahkota karena bermaksud merebut tahta kerajaan?” demikianlah antara lain suara-suara berbisa dari Auwyang-taijin dan para menteri sehingga kaisar menjadi makin benci dan marah, lalu memberi perintah kepada seluruh panglima untuk membasmi Tiong-gi-pai.

Sementara itu, para menteri juga mengusulkan agar kedudukan putera mahkota diberikan kepada putera thaicu yang sudah meninggal dunia, jadi kepada cucu baginda yang masih muda. Kaisar yang sudah terlalu percaya kepada para dorna itu berbalik curiga kepada putera-puteranya sendiri. terutama sekali kepada Raja Muda Yung Lo, maka tanpa ragu-ragu kaisar menerima usul ini.

"Orang tua, kau hendak membawaku ce mana?” Lee Ing bertanya ketika ia dapat memutar kepalanya sehingga tiupan angin kencang tidak menyesakkan napasnya. Tubuhnya masih dikempit oleh kakek iblis Toat beng-pian Mo Hun, dibawa lari cepat bukan main melalui bukit-bukit yang penuh hutan menuju ke timur.

Akan tetapi kakek itu hanya terkekeh saja tanpa menjawab, berlari-lari terus dengan cepatnya. Kepala yang tergantung di pinggangnya bergerak-gerak dan rambut yang panjang itu melambai- lambai mengerikan. Oleh tiupan angin rambut itu menyapu-nyapu muka Lee Ing yang mencium bau rambut harum tercampur bau amis darah. Menjijikkan sekali, Apa lagi ketika kepala itu bergeser ke belakang sehingga muka mayat tak bertubuh itu berhadapan dengan mukanya, melihat kulit pucat pasi, mata setengah terbuka dan bibir yang tadinya manis itu seperti menyeringai kepadanya, Lee Ing menjadi muak dan takut. Baru kali ini selama hidupnya ia merasa takut dan ngeri.

"Kakek tua, kau yang berkepandaian tinggi ternyata berhati kecil. Pengecut!” makinya tanpa berdaya karena kempitan kakek itu benar-benar erat sekali membuat ia tak dapat bergerak sama sekali. Apa lagi karena pundaknya sudah ditotok membuat kedua tangannya lumpuh.

Mendengar dimaki pengecut, kakek itu menghentikan larinya, ia melempar tubuh Lee Ing ke atas tanah seperti orang membenci. Matanya yang lebar melotot seperti mau copot dari pelupuknya. mulut yang tak pernah tertutup bibirnya itu menyeringai makin lebar.

"Selama hidup belum pernah ada orang berani memaki aku pengecut. Kau bocah setan berani berlancang mulut!” bentaknya marah sekali. Lee Ing sudah berlaku nekat. Lebih baik segera dibunuh dari pada hidup tersiksa di tangan iblis ini. Ia tertawa nyaring, suara ketawanya menggema di hutan itu. Ketika tadi terlempar ke atas tanah yang penuh rumput, ia merasa betapa enaknya rebah di situ, lebih baik rebah di situ selamanya dari pada dibawa lari seperti tadi. Ia melihat di atasnya pohon-pohon raksasa dan tanpa menoleh ke sana ke mari ia dapat menduga bahwa mereka berada di sebuah hutan besar.

"Kakek iblis saikong busuk Kau lebih pengecut dari pada pengecut yang paling hina!"

Rasa heran akan keberanian gadis mi mengalahkan kemarahannya, bahkan kemarahan Mo Hun berangsur-angsur lenyap, terganti oleh keinginan tahu sampai di mana keberanian gadis cilik ini.

"Gadis bernyali naga, mengapa menganggap aku pengecut?”

"Seorang dengan kedudukan tinggi seperti ini, beraninya hanya menghina seorang anak perempuan kecil seperti aku. Tadi menghadapi tiga orang gagah kau tidak berani banyak tingkah dan melarikan diri. Huh, apakah sikapmu itu bukan sikap seorang pengecut? terhadap mereka kau takut, beranimu hanya terhadap aku bocah cilik!”

Mo Hun menjadi marah sekali, akan tetapi karena takut dianggap benar-benar hanya berani terhadap gadis itu, ia melampiaskan marahnya pada kepala wanita yang tergantung di pinggangnya. la merenggut putus rambut kepala itu, memegang kepala di tangan kiri, lalu tangan kanannya bergerak memukul dengan jari-jari tangan terbuka dimiringkan.

"Krakkk!” pecahlah kepala itu dan di lain saat tangan kanannya sudah menjumputi benda putih-putih lunak dan dimasuk kau ke mulut, terus dikunyah kelihatan enak sekali. Akan tetapi muka yang mengerikan itu nampak muram dan marah, matanya terus memandang Lee Ing.

Dapat dibayangkan betapa hebat guncangan hati gadis itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini. Perutnya seperti diaduk-aduk rasanya. hawanya naik ke dada terus ke tenggorokan. Hanya dengan ketabahan luar biasa saja gadis itu dapat menekan perasaannya hendak muntah- muntah karena ia merasa muak sekali. Ia maklum bahwa di samping kesukaannya makan otak manusia, kakek iblis ini sengaja hendak membikin dia ketakutan.

"Bocah lancang, siapa bilang aku takut kepada mereka? Jangankan baru ada Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui bersama anak dan isterinya, biarpun ada sepuluh Siok Beng Hui aku takkan takut! Aku. Toat-beng-pian Mo Hun selama hidup tidak takut siapa-siapa, dengan pian kelabangku ini aku sanggup memenggal leher siapapun juga!”

Setelah berkata demikian, Mo Hun mencabut piannya dan “tar-tar-tar!!” pian kelabang itu berbunyi dan menyambar dekat leher Lee Ing. Akan tetapi gadis itu hanya tersenyum, bahkan berkata,

"Kau kira aku takut terhadap senjata brengsekmu itu? Hah, mau bunuh lekas bunuh, siapa takut? Sebaliknya kau yang takut kepadaku.”

"Ha-ha-ha, aku takut kepadamu?”

"Buktinya, mengapa kau menotok membikin lumpuh aku? Tentu kau takut kalau-kalau aku menyerangmu kau takkan mampu membela diri.” Kakek iblis itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini. Masa dia takut kepada bocah yang diculiknya ini? Benar-benar lucu, dan bocah ini benar-benar amat besar nyalinya. Pian kelabangnya bergerak cepat menyambar tubuh Lee Ing tanpa mengeluarkan bunyi dan tahu-tahu Lee Ing merasa terbebas dari pada totokan. Diam-diam gadis ini merasa makin kagum melihat kelihaian iblis itu dan maklum bahwa memang Toat-beng-pian Mo Hun seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Sambil berseru keras ia melompat maju dan memukulkan tangan kanannya ke arah ulu hati kakek itu.

"Mampuslah!” bentaknya.

Seperti seorang dewasa menghadapi bocah cilik yang nakal, Mo Hun hanya tertawa cengar-cengir, seakan-akan ia tidak melihat datangnya pukulan. Kalau saja Lee Ing melanjutkan pukulannya, tentu setidaknya kepalan tangannya yang kecil akan bengkak atau tulang jarinya akan patah-patah bertemu dengan dada yang sudah diisi penuh dengan tenaga Iweekang yang tinggi itu. Akan tetapi, biarpun maklum akan kerendahan ilmu silat gadis itu, Mo Hun masih belum tahu akan kecerdikan Lee Ing. Gadis cilik inipun maklum bahwa memukul seorang sakti seperti Toat-beng-pian Mo Hun adalah berbahaya sekali, maka begitu kepalan tangannya menyambar lengan kakek itu dan dengan gerakan amat aneh, cepat dan tidak terduga ia telah melemparkan tubuh kakek itu.

Toat-beng-pian Mo Hun tadi memang sengaja diam saja tidak melawan. Ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa gadis cilik ini akan melakukan serangan aneh ini. bukan memukul melainkan melemparkannya dengan gerakan aneh yang tidak dikenalnya. Memang itulah gerakan ilmu silat yang dipelajari oleh Lee Ing dari kakeknya, Haminto Losu ahli gulat di utara. Karena tidak mau kelihatan lucu dan kaget, Mo Hun terpaksa diam saja dan tubuhnya terlempar ke depan. Orang lain tentu akan terbanding ke atas tanah, akan tetapi Mo Hun jatuh berdiri, masih menggeragoti otak dari kepala wanita tadi.

Melihat Lee Ing berdiri memandangnya dengan ejekan menantang, ia membanting kepala itu yang otaknya sudah habis dimakan, kemudian ia mengejek,

"Bocah macam kau ini masih berani banyak tingkah? Melihat kepalamu yang mempunyai mata demikian terang indah, tentu otakmu luar biasa enaknya dan segarnya. Akan tetapi sayang kalau kepalamu dipisahkan dan tubuh yang indah itu. Aduh sayang, kalau saja aku tidak sedang meyakinkan l-jwe-hoat-sut (Ilmu Gaib Mengganti Sumsum), tentu kau dapat memberi banyak kesenangan kepadaku. Ha-ha-ha!”

Lee Ing marah sekali dan cepat melompat ke depan menyerang lagi, la telah nekat dan hendak melawan sampai mati. Kedua kepalan tangannya yang kecil bergerak-gerak memukul bertubi-tubi. Akan tetapi, sekali tangan kiri Mo Hun yang berjari panjang-panjang seperti cakar itu diangkat, dua pergelangan tangan Lee Ing sudah ditangkapnya dan gadis itu ditarik dekat.

"Aduh bagusnya kepala ini...” Tangan kanan Toat-beng-pian Mo Hun membelai-belai rambut dan kepala Lee Ing dengan mulut berliur seperti seorang kelaparan melihat kepala babi panggang.! Setiap saat dapat timbul seleranya untuk mencaplok kepala itu dan makan otak di dalamnya.

Lee Ing yang tak berdaya lagi, yang ditarik sedemikian rupa sehingga mukanya terdekap di atas dada kakek itu, menjadi kelabakan, pengap dan hampir tak dapat bernapas karena bau apak yang memuakkan keluar dari balik baju kakek iblis itu. Agaknya sudah bertahun-tahun kakek ini tak pernah mandi, jangan kata lagi memakai sabun mandi yang harum. Bajunya juga mendekil penuh bekas peluh kehitaman dan inenjadi sarang kutu.

"Kepala bagus... enak... enak... enak... hem.   ” Selera Mo Hun sudah timbul dan sudah gatal-gatal

tangannya untuk meremukkan kepala itu mencari oraknya. Tiba-tiba tampak olehnya pipi  yang kemerahan dan kulit muka yang halus itu. Dijambaknya rambut Lee Ing yang hitam panjang dan ditariknya ke belakang sehingga muka gadis itu menengadah ke atas.

Alangkah ngerinya hati Lee Ing ketika mukanya berhadapan dengan muka iblis itu. Terasa olehnya dengus napas yang panas sekali dari hidung dan mulut Mo Hun, tercium olehnya bau amis dan busuk dari mulul itu, bau bangkai! Apa lagi ketika muka itu menyeringai terkekeh, hampir tak tertahan pula bau menjijikkan itu.

"Heh-heh, sayang kalau dirusak. Kau cantik sekali, cantik sekali... pipimu kemerahan. Aaahh, seperti buah masak... cantik...!” Saking tak kuat menahan bau busuk dan kemarahannya, Lee Ing mengumpulkan kekuatan lalu meludah ke arah muka itu!

"Iblis busuk, lepaskan nona itu!” tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tampan yang langsung menyerang Mo Hun dari belakang dengan sebuah senjata gaetan di tangan kanannya. Pemuda ini bukan lain adalah Siok Bun, putera Pek-kong sin kauw Siok Beng Hui yang ditugaskan oleh ayahnya untuk mengikuti perjalanan Toat beng-pian Mo Hun.

Karena tadinya Mo Hun melakukan perjalanan dengan berlari cepat sekali, Siok Bun tertinggal jauh. Akan tetapi pemuda yang gigih ini terus mengejar sehingga akhirnya ia dapat juga menyusul. Siok Bun maklum bahwa kepandaiannya masih jauh untuk dapat menandingi kakek itu, namun melihat Lee Ing diperlakukan seperti itu, ia tak dapat menahan gelora darah mudanya, dengan nekat lalu maju menerjang. Entah mengapa, melihat sikap yang berani dan kegagahan luar biasa dari gadis itu, Siok Bun menjadi terharu dan tertarik, bahkan siap membela dengan mempertaruhkan nyawanya.

Sungguhpun tingkat kepandaian Toat-beng-pian Mo Hun masih jauh lebih tinggi dari pada pemuda itu, namun ilmu kauw hoat dari Siok Bun tak boleh dipandang ringan. Dia adalah putera tunggal dari Pek-kongsin-kauw Siok Beng Hui, maka gerakan gaetannya cepat dan mengeluarkan sinar putih menyilaukan mata. Gaétan ini dengau cepat dan kuatnya menyambar ke arah kepala Mo Hun.

Toat-beng-pian Mo Hun mengibaskan tangan kanannya dan ujung lengan bajunya membentur gaetan. Senjata itu terpental kembali dan Siok Bun kaget sekali karena dalam gebrakan pertama ini saja hampir senjatanya terlepas dari pegangan Sementara itu, Toat-beng-pian Mo Hun menggereng saking marahnya dan mendorong Lee Ing ke samping. Gadis ini begitu bebas lalu mencari batu dan membantu pemuda itu dengan, menyambitkan batu ke arah Mo Hun. Namun, batu-batu itu seperti, mengenai menara baja saja, terpental kembali dan ada yang pecah-pecah begitu mengenai tubuh kakek sakti itu.

"Bocah lancang, apa kau ingin menyumbangkan kepalamu? Bagus, ke sinikanlah!” Pian kelabang meluncur seperti kilat, mengeluarkan suara meledak keras dan melayang ke arah leher Siok Bun. Kalau mengenai, leher pemuda itu pasti akan tertabas putus. Siok Bun mengerahkan tenaganya dan menangkis dengan gaetan.

"Traaanggg...!” Gaetan itu terlempar dan tubuh Siok Bun terhuyung-huyung ke belakang.

"Orang muda, tinggalkan kepalamu!” Pian menyambar lagi mengarah leher Siok Bun. Pemuda itu dalam keadaan terhuyung ternyata masih berlaku gesit, cepat merendahkan tubuh mengelak.

Lee Ing menjerit melihat pian itu membawa kepala Siok Bun, akan tetapi menjadi lega ketika ternyata kemudian bahwa yang "diambil” oleh pian kelabang itu bukannya kepala Siok Bun, melainkan topinya. Memang pemuda ini memakai sebuah topi batok model utara yang bentuknya bundar dan ketika ia mengelak tadi, pian itu menyambar topinya membuai rambutnya awut-awutan. "Iblis, jangan membunuh dia!” Lee Ing berseru marah dan dari belakang ia menyerang dengan tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Berantai) ajaran Haminto Losu kakeknya.

"Plak-plek-plak-plek!" Bertubi-tubi tendangannya mengenai betis, paha dan pantat kakek itu, akan tetapi yang ditendang tidak apa-apa, malah Lee Ing merasa kakinya sakit. Bagaimanapun juga, tendangannya ini memperlambat gerak Mo Hun sehingga sebelum pian kelabang melayang kembali, Siok Bun sudah keburu menyambar kembali gaetannya yang tadi terlempar dan dapat bersiap untuk mempertahankan diri, Ia mengerling ke arah Lee Ing yang masih pringisan karena kakinya sakit sekali menendang pantat kakek itu, lalu berkata,

"Nona, kau baik sekali..."

"Siapa yang baik? Kaulah yang terlalu baik. Lebih baik lekas lari sebelum nyawamu dicabut pula. Kakek ini jahanam benar!" jawab Lee Ing.

Akan tetapi, mana Siok Bun mau lari? Diapun seorang pemuda yang berjiwa gagah perkasa tak kenal arti takut dalam membela kebenaran. Tadi ia melihat sendiri betapa gadis itu biarpun kepandaiannya tidak seberapa, telah berani menentang kakek iblis itu untuk membantu dan menolongnya, bagaimana sekarang dia mau lari meninggalkan gadis itu seorang diri menghadapi kakek iblis yang lihai ini? Dengan gerakan cepat kembali Siok Bun menggerakkan gaetannya menyerang. Akan tetapi ia berlaku amat hati-hati. Kini tidak berani sembarangan mengadu senjatanya dengan senjata aneh dari Toat beng-pian Mo Hun. la mengerahkan seluruh ginkangnya dan mengandalkan kelincahannya untuk menyerang sambil mempertahankan diri.

Di lain flhak, Mo Hun menghadapi pemuda itu seperti seekor kucing menghadapi tikus. Ia tak pernah menggeser kaki, hanya berdiri menyeringai dan setiap kali gaetan datang menyambar, ia menangkis dan berusaha untuk melibat gaetan itu dengan pian kelabangnya. Biarpun ia berlaku lambat dan tenang-tenang seenaknya saja, namun payahlah Siok Bun untuk maju. Angin pukulan pian yang menyambar-nyambar dahsyat cukup membuat ia terhalang dan serangan-serangannya tidak ada artinya, bahkan beberapa kali hampir saja gaetannya terlibat dan terampas lagi.

“Ha-ha-ha, nona cilik. Kau lihat saja tingkah pemuda goblok ini. Kepandaiannya tidak ada artinya akan tetapi berani dia mengganggu Toat-beng-pian Mo Hun. Ha-ha-ha, biar dia keluarkan semua peluhnya dulu baru kuambil kepalanya agar otaknya tidak berbau keringat!”

Sungguhpun kepandaian Lee Ing masih terlampau rendah untuk dapat menilai pertempuran itu, namun dengan otaknya yang cerdik begitu melihat sikap Mo Hun, tahulah dia bahwa pemuda tampan itu bukan lawan kakek sakti ini.

"Tahan dulu" serunya nekat sambil melompat di depan Mo Hun. Kakek ini terpaksa menahan senjatanya. “Aku mau bicara sebentar dengan dia!” Dengan enaknya Lee Ing menghentikan dua orang yang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari padanya dari pertempuran, benar-benar hal yang lucu dan aneh. Lee Ing menghampiri Siok Bun yang juga terheran-heran.

"Kau baik sekali, siapa sih namamu?"

Melihat sikap polos gadis berpipi merah ini, makin terharu dan tertariklah hati Siok Bun. la harus membela mati-matian, tidak boleh gadis seperti ini dikorbankan kepada manusia iblis macam Mo Hun.

"Aku bernama Siok Bun, nona   " "Aku Lee Ing. Souw Lee Ing anak tunggal Souw Teng Wi." Pemuda itu kelihatan terkejut sekali mendengar disebutnya nama pahlawan besar ini, saking herannya ia sampai tidak dapat berkata apa-apa. "Siok Bun. kau percayalah kepadaku, kau tidak akan menang melawan iblis jahat ini. Lebih baik kau lekas lari menyelamatkan diri."

“Aku harus melindungimu. nona, biarpun harus mengorbankan nyawa." Ucapan ini keluar dari hati pemuda itu karena begitu mendengar bahwa nona ini puteri Souw Teng Wi, ia menjadi makin kagum dan tertarik.

"Bodoh, dari pada kita dua-duanya mampus, lebih baik seorang saja. Kelak kalau bertemu dengan ayah, katakan bahwa aku mati di tangan iblis busuk bau. bangkai Mo Hun. Nah, kau pergilah cepat!"

Namun Siok Bun tetap tidak mau pergi. Sementara itu. Mo Hun yang mendengarkan percakapan ini, tertawa menyeringai penuh ejekan. Tiba-tiba pian kelabangnya berdetak di udara dan di lain saat ujung pian sudah melihat pinggang Lee Ing dan sekali disentakkan, tubuh nona itu sudah tergulung dan tertarik ke dalam kempitan lengan kirinya lagi. Benar-benar hebat sekali kepandaian Mo Hun.

Pian itu penuh duri meruncing di kanan kiri, duri-duri yang amat runcing dan tajam. Akan tetapi dapat digunakan untuk melibat pinggang gadis itu tanpa melukainya. Hal ini membutuhkan Iweekang yang sudah mencapai tingkat tinggi baru dapat orang melakukan hal itu. Namun Siok Bun tidak kenal takut dan senjata kauw-nya sudah bergerak lagi mengeluarkan sinar putih.

"Sekarang roboh kau!" Mo Hun membentak dan piannya menangkis dengan tenaga sepenuhnya. Terdengar suara keras karena Siok Bun tidak berhasil menarik kembali senjatanya sehingga gaet-an itu kena digempur terlepas dari pegangannya. Pian menyambar lagi ke arah leher pemuda itu yang cepat melompat mundur hampir dua tombak jauhnya. Namun mana Mo Hun mau melepaskannya. Dengan lompatan seperti harimau melompat, kakek ini mengejar dan piannya menyambar lagi. Sekali lagi dengan susah payah Siok Bun mengelak dengan jalan melempar diri ke atas tanah dan bergulingan. Hanya satu dim terpisahnya pian itu dari leher.

"Ha-ha-ha, kau boleh juga. Dua kali dapat menghindarkan pian-ku, akan tetapi sekali lagi kepalamu pasti putus!" Toat-beng-pian Mo Hun memutar-mutar pian kelabang di atas kepalanya, kakinya cepat melompat mendekat, sedangkan Siok Bun mencoba untuk melompat menjauhi. Pada saat itu, tiga sinar merah menyambar.

"Traang traanggg. .!" tiga buah senjata rahasia Ang-lian-ci terpukul oleh pian kelabang, pecah berantakan di atas tanah. Akan tetapi serangan ini menyelamatkan nyawa Siok Bun karena tadi pian itu tidak jadi menyerang pemuda itu melainkan ditarik kembali untuk mcnyampok senjata rahasia. Menyusul sinar merah ini, dua sinar putih meluncur cepat menyerang Toat-beng-pian Mo Hun.

Inilah sepasang gaetan di tangan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui yang bersama isterinya pelepas senjata rahasia tadi sudah berada di situ. Melihat ayah bundanya sudah datang, dengan girang Siok Bun lari mengambil gaetannya yang tadi terlempar, kemudian ia membantu ayah bundanya mendesak Mo Hun. Ternyata bahwa suami isteri gagah ini dalam perjalanan kembali ke Peking, kebetulan sekali mengambil jalan ini dan tepat dapat menyelamatkan nyawa putera mereka dari jangkauan maut Seperti ketika turun dari bukit batu karang menara, kini Mo Hun menghadapi keroyokan Siok Beng Hui seanak isteri.

Biarpun kepandaian Mo Hun masih lebih tinggi, namun ia tidak ada nafsu untuk bermusuhan dengan keluarga gagah ini. Apa lagi Ang-lian-ci yang bertubi-tubi dilepas oleh nyonya Siok Beng Hui benar- benar merupakan bahaya. Oleh karena itu selelah memutar piannya sehingga tiga orang lawannya terpaksa melompat mundur, sambil mengeluarkan suara ketawa panjang Toat-beng-sin-pian Mo Hun melarikan diri.

Tiga orang itu tidak dapat mengejarnya, karena memang dalam hal ilmu lari cepat, Mo Hun masih menang setingkat dari Siok Beng Hui. sedangkan ilmu silatnya masih jauh lebih unggul. Kalau saja Siok Beng Hui maju sendiri tanpa bantuan isterinya yang selain ahli senjata rahasia Ang-lian-ci juga seorang ahli pedang yang tidak rendah kepandaiannya, tentu pendekar she Siok itu tidak akan dapat menandinginya.

Kembali Lee Ing dibawa lari cepat oleh Mo Hun. Akan tetapi gadis ini sekarang agak terhibur mengingat bahwa Siok Bun. pemuda yang gagah tampan dan baik hati itu, selamat dan tentu pemuda itu kelak akan membalaskan sakit hatinya dan menyampaikan kepada ayahnya sehingga iblis tua ini akan terbalas.

"Pengecut, menghadapi musuh kuat melarikan diri. Cih, tak tahu malu!" kembali ia mengejek. Lee Ing sudah putus harapan untuk dapat menyelamatkan diri. Dia sama sekali tidak takut mati, biarpun nanti kepalanya dipecah dan otaknya dimakan, gadis keturunan pahlawan ini tidak gentar menghadapi maut. Yang membuat ia gelisah dan meremang bulu tengkuknya adalah sikap Mo Hun yang agaknya suka kepadanya. Bahaya ini jauh lebih besar dari pada bahaya maut, dan gadis ini maklum bahwa di tangan iblis ini, ia selemah lilin, tidak berdaya apa-apa.

Oleh karena itu ia sengaja memancing-mancing kemarahan iblis ini agar dia lekas dibunuh, habis perkara, tidak menanggung kegelisahan yang hebat ini.

Kali ini Mo Hun menjawab sambil masih tetap berlari, "Siapa takut? Aku hanya tidak mau melepaskan kau. Kalau tidak ada kau yang merepotkan tentu mereka bertiga sekarang sudah menjadi setan-setan tanpa kepala. Ha-ha-ha!"

"Hemmm, hanya menyombong saja pandai! Beraninya hanya menghina anak kecil seperti aku. Coba kau bertemu dengan ayah, kutanggung dalam sepuluh jurus kau akan terjungkal dan pian bobrokmu itu patah-patah menjadi selusin!"

"Tidak mungkin!" Kini Mo Hun berhenti dan melepaskan Lee Ing.

"Tidak percaya? Coba saja! Ayah baru seorang jantan gagah perkasa, tidak sudi menghina perempuan kecil. Pantas saja kau berani kepadaku, seorang bocah yang tidak berkepandaian. Coba ada ayah di sini, kau diganyang habis dalam sepu eh tidak, dalam tujuh jurus saja!" Memang Lee

Ing pandai bicara dan sikapnya begitu sungguh-sungguh sehingga Mo Hun terkena bakarannya dan menjadi panas perutnya.

"Kau bohong! Aku mendengar Souw Teng Wi itu murid Kun-lun-pai biasa saja, hanya terkenal berani dan pandai mengalur barisan. Apanya yang lihai?"

"Hah, orang macam kau mana mengenal ayah? Ketika aku masih kecil, aku menyaksikan sendiri betapa seribu orang tentara Mongol diganyang habis oleh ayah seorang diri dalam waktu kurang dari setengah hari saja. Kau mampu berbuat begitu?"

Mo Hun tertegun. Hebat juga, pikirnya. Dia ini memang hanya pandai silat, otaknya tidak dapat dikata cerdik, bahkan mendekati tolol. Kalau tidak manusia tolol, mana ada meyakinkan ilmu yang syaratnya harus makan otak manusia? Kini ia mulai terpengaruh oleh "gertak sambal" Lee Ing. "Betul demikian lihaikah Souw Teng Wi ayah-mu itu? Lihai mana dengan Pek-kong-sin-kauw Siok Beng Hui tadi?” tanyanya untuk mencari perbandingan.

Lee Ing masih ingat akan ucapan Mo Hun yang tadi bersumbar tidak takut menghadapi sepuluh orang Siok Beng Hui, maka tanpa ragu ragu ia menjawab. "Kau maksudkan laki-laki setengah tua bertopi batok bersenjata kaitan tadi? Uhh! Dua puluh orang seperti dia masih dapat dilawan oleh ayah dengan sebelah tangan kiri saja."

Mo Hun benar-benar terpukul oleh ucapan sombong ini. Dicabutnya pian kelabangnya, diayun ke atas berkali-kali. “Tar-tar-tar!” Hawa dingin pian ini menyerempetnya. Pian itu bergerak terus, kadang-kadang menyambar tanah, debu mengebul tinggi. Menyambar pohon sebesar tubuh manusia, dengan suara keras pohon itu tumbang! Akhirnya menyambar ke arah sebuah batu besar di pinggir jalan. Terdengar suara keras disusul oleh bunga api

berhamburan dan.     batu itu telah pecah di tengah! Ngeri juga hati Lee Ing menyaksikan kehebatan

ilmu silat semacam ini. Akan tetapi gadis ini tertawa bergelak dengan suara nyaring.

"Tak mungkin ayahmu dapat melawan pian-ku. Tak mungkin!" seperti orang gila Mo Hun marah- marah dan kakinya mencak-mencak dibanting di atas tanah.

"Huh. pian bobrokmu ini hanya bisa untuk menakut-nakuti anjing dan babi. Tentu saja aku anak kecil tidak menang melawannya, jangan melotot macam itu kepadaku. Akan tetapi bagi ayah, yang kau perlihatkan tadi hanya mainan anak kecil belaka!"

"Bohongi Aku tidak percaya!" Mo Hun membentak marah.

"Tidak percaya? Coba kau hadapi ayah kalau minta dibeset kulitmu."

"Mana.....? Mana dia    ? Suruh ke sini!" tantang Mo Hun. Pada saat itu terselip sebuah akal yang

cerdik dalam kepala Lee Ing. Biarpun dia sudah tidak mempunyai harapan terlepas dari iblis ini, akan, tetapi kalau waktunya diperpanjang, mungkin sekali waktu ia akan dapat mengakali kakek bodoh ini.

"Betul-betul kau berani kepada ayahku? Mari kuantar menjemputnya."

Tiba-tiba pian yang masih diayun-ayunkan itu berhenti, mata Mo Hun menyinarkan cahaya aneh. Dia memang sedang mempertimbangkan permintaan Tok-ong Kai Song Cinjin untuk membantu Auwyang-taijin dan kata Tok-ong, kalau dia bisa menangkap Souw Teng Wi dan menyeretnya kehadapan Auwyang-taijin, tentu ia akan mendapat hadial besar dan mungkin pangkat tinggi. Kini mendengar bahwa gadis ini hendak membawanya kepada Souw Teng Wi, tentu saja ia menjadi tertarik dan penuh perhatian.

"Gadis bernyali naga, betul-betulkah kau mengetahui di mana tempat tinggal ayahmu sekarang? Ke mana kau hendak membawaku menjumpai ayahmu?"

"Kalau kau memang jantan dan betul-betul berani bertempur melawan ayah, kau tentu tidak akan segan melakukan perjalanan jauh. Ayah tinggal di sebuah pulau kosong di laut timur."

"Di pulau kosong yang mana? Pulau apa itu dan di mana? Ada ribuan pulau di laut timur."

Tentu saja Lee Ing tidak tahu pulau apa itu karena dia sendiripun hanya mengarang saja dan selama hidupnya belum pernah melihat laut, hanya mendengar dongeng kakeknya. Akan tetapi ia tahu bahwa sungai-sungai besar memuntahkan airnya di laut timur, maka tanpa ragu-ragu dan dengan sikap sungguh-sungguh ia menjawab, "Pulau itu letaknya tidak jauh dari pantai, dekat muara Sungai Huang-ho. Nama pulau kosong itu tentu saja menurut nama keturunan ayah, Souw-eng-to (Pulau Pendekar Souw)"

"Bagus, mari kita pergi mengunjungi ayahmu!” kata Mo Hun yang cepat mengempit Lee Ing dan membawanya lari cepat menuju ke Sungai Hoang-ho

Berhari-hari, bahkan berpekan-pekan mereka melakukan perjajanan. Dengan akal bulusnya lee Ing dapat membuat kakek itu percaya, bahkan kakek itu berjanji takkan mengganggunya sebelum bertanding dengan Souw Teng Wi.

"Kalau ayah sampai kalah olehmu, benar-benar kau seorang jantan yang gagah luar biasa dan aku akan suka menjadi apa saja yang kau inginkan. Jadi muridmu, atau isterimu, atau... menyerahkan otakku dengan suka rela, tentu takkan membantah lagi."

Bukan main girangnya hati Toat-beng-pian Mo Hun mendengar janji ini. Akhirnya mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho yang airnya sedang pasang. Mo Hun mencari tempat nelayan, membunuh seorang nelayan tua dan merampas perahunya yang masih baru dan besar, kemudian sambil mengempit tubuh Lee Ing ia melompat ke dalam perahu dan perahu itu hanyut terbawa aliran sungai yang deras. Mo Hun tidak pandai berlayar, akan tetapi kalau mengatur jalannya perahu yang sudah hanyut terbawa arus itu, tenaganya cukup besar.

Berhari-hari mereka berlayar. Kadang-kadang mendarat untuk mencari buah-buah atau binatang hutan. Dengan penuh kesabaran Lee Ing memasak daging untuk mereka berdua, setiap saat tidak lengah untuk menjaga diri dan untuk mencari lubang guna menyelamatkan diri. Namun kakek itu biarpun bodoh tahu pula bahwa ia tidak boleh lupa menjaga agar gadis itu jangan lari. Makin lama kakek ini makin tertarik oleh Lee Ing, makin tergiur oleh kecantikan aseli gadis ini. Sudah bertahun- tahun dia tidak perduli akan kecantikan wanita lagi, akan tetapi sekarang, berpekan-pekan dekat dengan Lee Ing membangkitkan cintanya terhadap wanita muda ini. Bukan cinta suci, melainkan cinta seorang berwatak rendah, cinta yang terdorong oleh nafsu.

Pada suatu malam mereka tiba di dekat muara, hanya beberapa li saja dari laut. Kebetulan udara bersih, bulan purnama menyinarkan cahayanya yang lembut. Air mengalir tenang dan angin sejuk menyegarkan badan. Entah karena angin itu, entah karena pengaruh bulan yang katanya dapat membangkitkan nafsu binatang dalam diri manusia, sejak tadi Mo Hun memandang kepada Lee Ing penuh gairah. Yang dipandang bukan apa-apanya, melainkan kepalanya. Salahnya pada saat itu Lee Ing sedang menyisiri rambutnya, sehingga bentuk kepala yang indah, kulit kepala keputih-putihan nampak di antara rambut, membuat penyakit Mo Hun kambuh pula. Penyakit selera makan otak wanita muda.

"Lee Ing...kepalamu bagus sekali."

Suaranya serak, membuat Lee Ing kaget bukan main. Sudah lama setan itu tidak pernah mengeluarkan suara seperti ini. Cepat Lee Ing menggulung rambutnya lagi dan dari bawah ia melirik ke arah kakek itu. Bulan purnama memancarkan cahaya sepenuhnya sehingga ia dapat melihat betapa wajah kakek itu berseri, matanya berapi-api mengerikan dan mulutnya meneteskan air liur!

"Orang tua. tunggu sampai kau bertemu dengan ayahku. Sudah dekat dengan laut dan sebentar lagi tentu kau akan bertemu dengan dia!” katanva memperingatkan.

Akan tetapi agaknya iblis malam yang katanya suka muncul melalui cahaya bulan, sudah menguasai hati kakek ini. la menubruk dan sebelum Lee Ing dapat menghindarkan diri, tangannya sudah disambar dan ditarik. Di lain saat, kakek itu sudah membelai-belai rambut dan kepala Lee Ing, nampaknya sudah tidak tahan lagi hendak segera menggerogoti kepala itu. Merasa betapa kuku- kuku jari tangan itu mencengkeram kepalanya menimbulkan rasa nyeri, Lee Ing sibuk bukan main.

"’Locianpwe, kau...kau mau apakah.   ?"

"Ha-ha-ha, aku tak tahan lagi, anak manis. Sudah tercium olehku otakmu yang manis, yang gurih, yang menyegarkan badan. Sudah terlalu lama aku tidak makan otak. ha-ha-ha!"

"Locianpwe, ingat Ayah setiap saat akan muncul!"

Ucapan ini ada pengaruhnya juga. Toat-beng-pian Mo Hun memandang ke kanan kiri dan air sungai kini mulai berombak-ombak, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu. Ia tertawa dan mengangkat muka gadis itu untuk diejeknya bahwa gadis itu telah membohonginya, akan tetapi begitu melihat wajah gadis itu, melihat bibir yang kemerahan, melihat mata yang bening, melihat kecantikan Lee Ing, sikapnya berubah lagi.

"Kau cantik....cantik manis....sayang kalau dibunuh. Kau patut menjadi isteriku... ha-ha, kau cantik manis !”

Seketika wajah Lee Ing menjadi pucat sekali. Kengerian kali ini hampir membuatnya pingsan. Jari-jari tangan itu tidak lagi mencengkeram kepalanya, kini mulai membelai-belai rambutnya, mukanya digerayangi dengan sikap halus. Mata kakek itu bercahaya lembut, mulut yang mengerikan itu tersenyum iblis. Lee Ing lebih takut dari pada tadi. Lebih baik kepalanya dipecahkan dan otaknya dimakan dari pada ia dijadikan isteri kakek iblis macam ini.

Secepat kilat Lee Ing meronta, mempergunakan ilmu silat yang ia pelajari dari Haminto Losu. Bagaikan seekor belut, gadis ini berhasil melepaskan pelukan kakek itu. Bukan karena ia lebih kuat, melainkan karena Toat-beng-pian Mo Hun memang sengaja melepaskannya, untuk mempermainkannya seperti tikus dipermainkan kucing. Di perahu sekecil itu di tengah sungai, hendak lari ke manakah?

"Ha-ha-ha, manisku! Jantung hatiku, jangan kau menggoda. Kau hendak lari ke manakah? Mari, ke sinilah, Lee Ing. !"

Suara Mo Hun ini seperti pisau mengiris-iris jantung, membuat tubuh Lee Ing menggigil Hampir saja gadis ini tidak kuat melakukan hal yang sudah lama direncanakan. Ketika itu perahu mulai cepat jalannya, dan air mulai berombak. Ketika ia melihat kakek itu bangkit dan bayangannya di atas perahu nampak besar dan panjang, siap hendak menubruknya, tiba-tiba Lee Ing mengerahkan seluruh tenaganya menekan pinggiran perahu sambil terus menyebur ke dalam air.

"Byuurrr   !” Perahu itu terbalik tak dapat dicegah lagi, biarpun Mo Hun sudah berusaha menekan

keseimbangan perahu. Di darat kakek ini boleh jadi kuat bukan main, namun di air tidak berdaya. Ia tidak dapat mencegah perahunya terbalik, akan tetapi kakek ini memang lihai bukan main. Cepat ia dapat menyambar dayungnya dan melompat ke atas. Melihat perahu itu timbul kembali dalam keadaan terbalik, ia melompat turun di atas perahu sambil memaki-maki.

"Bocah setan, apa kau mencari mati menjadi setan air?” serunya sambil memukul-mukul dengan dayungnya ke kanan kiri sehinga air muncrat tinggi-tinggi. Kalau dayung itu mengenai Lee Ing, tentu akan pecah kepala gadis itu. Akan tetapi Lee Ing sudah lebih dulu menyelam. Tidak tahunya di bawah permukaan air terdapat arus yang amat kuat dan cepatnya sehingga tubuh gadis itu terbawa arus ke depan.

Memang belum nasib Lee Ing untuk terjatuh ke dalam tangan kakek iblis ini. Dalam saat itu, ketika Mo Hun sedang mencari-cari dengan matanya, tiba-tiba ada awan menutupi bulan sehingga ketika Lee Ing timbul ke permukaan air untuk mengisap hawa, keadaan demikian gelap dan kakek itu tidak dapat melihatnya.

Arus makin santer. Tubuh Lee Ing terbawa aliran air terus ke laut! Adapun Toat-beng-pian Mo Hun yang merasa tertipu, dengan marah mendayung perahu terbalik itu ke pinggir dan melompatlah ia ke darat sambil menyumpah-nyumpah. Dari darat ia melihat-lihat kalau gadis itu timbul, akan tetapi jaraknya sudah terlampau jauh sehingga ia tidak melihat Lee Ing lagi. Ia membanting-banting kakinya lalu pergi cepat-cepat dari tempat itu.

Bagaimana dengan Lee Ing? Malang baginya, arus sungai yang terjun ke laut membawanya ke tengah dan ombak besar menerima tubuhnya, dipermainkan, diayun ke sana ke mari, dibanting ke kanan ke kiri, gadis itu kehabisan tenaga dan payah sekali! Baiknya ia di utara dulu pernah belajar berenang sehingga ia masih dapat mempertahankan diri tidak sampai tenggelam.

Setelah melalui enam propinsi besar-besar, berliku-liku naik turun gunung dan menempuh jarak puluhan ribu lie, Sungai Huang-ho atau Sungai Kuning akhirnya menumpahkan airnya di laut Po-hai. Setiap hari banyak sekali air dimuntahkan sungai itu ke dalam laut, tak pernah berhenti beratus, beribu tahun lamanya. Tidak hanya Sungai Huang-ho, masih banyak ratusan

batang sungai besar kecil menumpahkan airnya ke dalam laut. Terus mengalir tiada hentinya. Namun laut tak pernah terlalu penuh, tidak pernah meluap sampai merendam pulau-pulau. Aneh benar, sama anehnya dengan sungai-sungai yang tak pernah kehabisan air biarpun airnya terus dibuang ke dalam laut.

Jarang ada orang sudi memusingkan otak memikirkan hal ini. jarang ada yang mengagumi Pengatur Maha Besar yang mengatur semua ini demikian beres dan lancar. Dan sama sekali tak mungkin kalau ada orang yang sedang terapung di tengah laut memikirkan hal itu. Akan tetapi benar-benar ada orang terapung-apung di tengah samudera yang pada saat itu memikir akan semua ini, Dan orang itu adalah Souw Lee Ing, gadis yang berhasil nielepaskan diri dari kekuasaan manusia iblis Toat-beng- pian Mo Hun untuk merelakan diri diterima oleh kekuasaan air laut yang ganas.

Tadinya ia lelah bukan main dan sudah hampir habis harapan untuk hidup, dipermainkan oleh ombak laut yang menggelora. Pada saat tubuhnya dihempaskan ke kanan kiri bagaikan sehelai daun ringannya, tiba-tiba betisnya terasa sakit tertumbuk sebilah papan kayu tebal. Cepat Lee Ing menerkam kayu ini dan selanjutnya ia dapat bernapas lega. Papan itu merupakan penolong nyawanya, penolong sementara sebelum ia ditelan ombak memasang. Baiknya air laut mulai tenang dan ia memeluk papan itu melepaskan lelah, membiarkan dirinya dibawa hanyut oleh papan sambil... melamun!

Lee Ing seorang gadis yang berhati baja, tabah dan ia dapat menghadapi maut tanpa berkedip mata. Gemblengan kakeknya, Haminto Losu bukan percuma, kakek ini menempa dan menggemblengnya menjadi seorang gadis remaja yang berhati baja bersemangat gagah perkasa sungguhpun tingkat ilmu silatnya masih jauh untuk membuat ia patut disebut wanita gagah perkasa.

Selain ketabahan, pada dasarnya Souw Lee Ing berwatak periang, memandang dunia dan sudut terang, selalu bergembira dan dalam segala hal masih dapat mengecap kenikmatan kejadian itu, masih dapat menemukan "untung" dalam semua peristiwa, sungguhpun bagi orang lain tak mungkin ada keuntungan itu. Sebagai contoh, biarpun dirinya sudah tak berdaya, berada di tengah laut yang tidak kelihatan tepinya, tak diketahui bagaimana nasib dirinya selanjutnya, namun mendapatkan sebatang papan itu Lee Ing masih merasa beruntung! Untung ada papan ini, pikirnya gembira lahir batin, sama sekali lupa akan "rugi" yang dideritanya, yakni diombang-ambingkan di tengah samudera tanpa harapan tertolong.

Tidak mengherankan apa bila seorang dara seperti Lee Ing dapat melamun dan memikirkan tentang keanehan alam. Tentang air sungai yang tiada habisnya mengalir ke laut, tentang laut tidak menjadi penuh walau menerima tumpahan air dari ratusan sungai.

Pernah ia diceritai oleh Haminto Losu bahwa air sungai terjadi dari pada hujan dan air hujan adalah penjelmaan dari pada air laut. Jadi kalau air sungai tertumpah semua ke dalam laut, sama halnya dengan "kerbau pulang ke kandang" Lee Ing adalah seorang gadis sederhana, tidak terpelajar seperti gadis-gadis jaman sekarang yang mendapat pelajaran tentang ilmu alam, mana ia dapat mengerti akan "kesederhanaan" peristiwa ini? Dianggapnya hal itu ajaib dan membuat ia makin kagum kepada Yang Maha Kuasa.

"Yang mengatur semua itu adalah Thian (Tuhan)," biasa Haminto Losu memberi penjelasannya, "Juga yang mengatur jalannya matahari bulan dan bintang di langit, yang mengatur segala benda, hidup atau mati. Mengapa burung yang bersayap dan bukan ikan? Mengapa ikan yang hidup di air dan bukan manusia? Semua ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Juga hidup kita ini sudah ditentukan dan diatur, kita hanya tinggal menjalani saja. Oleh karena itu Lee Ing, dalam segala hal, kita harus menyerahkan nasib sebulatnya kepada Tuhan sebagai penentu dan pemutus terakhir di atas segala daya upaya dan ikhtiar, kita sebagai manusia hidup yang berakal budi."

Dalam keadaan tak berdaya itu, semua kata-kata Haminto Losu mengiang ke dalam telinganya, membuat Lee Ing berbesar hati. Gadis ini memandang ke sekelilingnya. Air, air dan air, tidak kelihatan tepi laut, yang nampak hanya buih buih air dan kepala ombak keputih-putihan seperti iblis- iblis mengerikan mengelilingi dirinya.

"Aku tidak takut," katanya keras kepada buih dan kepala ombak yang kadang-kadang membentuk benda aneh seperti binatang atau setan, "seperti juga aku, kalian semua inipun terjadi karena kekuasaan Thian. Aku tidak takut Aku masih hidup dan aku akan berusaha sedapatku sebelum menyerah kepada maut!” Benar-benar hebat gadis ini. berani menantang maut seperti itu dalam keadaan yang sudah tidak berdaya sama sekali.

Tiba-tiba kakinya tersentuh sesuatu yang bergerak dan kuat. Perasaan, dan otak gadis ini bekerja cepat. Dengan sigap ia menarik kedua kakinya dan melompat ke atas papan. Baiknya ia berlaku cepat karena seekor ikan besar dua kali dirinya menyambar lewat dekat papan dengan moncong dibuka

lebar-lebar, membuai air berombak dan papan terdorong jauh.

Lee Ing tidak menjadi takut melihat ikan besar ini, bahkan ia tertawa-tawa sambil berkata, "Hi-hi, ada makanan datang! Terima kasih kakek laut atas antaranmu daging empuk, memang perutku lapar bukan main!" Ia lalu menggerak-gerakkan tangannya ke dalam air di dekat papan untuk menarik perhatian ikan itu. Betul saja, ketika ikan itu melihat tangan Lee Ing bergerak-gerak di dalam air, ia berenang kembali dan menyambar dengan mulut terpentang lebar

"Prakk!" Secepat kilat Lee Ing membalikkan tangannya dan menghantam kepala ikan itu dengan kepalannya yang kecil tetapi keras seperti baja. Ikan itu terputar-putar di dalam air, menyabet- nyabet dengan ekornya membuat air mengalun tinggi dan hampir saja papan yang ditumpangi Lee Ing terbalik. "Ha. enak ya pukulanku?" Lee Ing "mendayung" papan dengan tangan kirinya mendekati ilkan yang masih "pening", mencari kesempatan baik lalu kembali tangannya bergerak. Kini ia telah mencabut saputangan pembungkus rambutnya yang panjang. Saputangan ini setelah terkena air laut dan kering kembali, menjadi kaku. Di dalam tangan Lee Ing yang sudah melatih diri dengan tenaga Iweekang, saputangan itu merupakan senjata yang cukup kuat. Saputangan diayun, menjadi kaku seperti penggada dan "krakkl" kembali kepala ikan dihantam, sekarang lebih keras dari pada tadi. Pecahlah kepala ikan itu dan binatang yang sial ini berputaran sebentar, air menjadi merah terkena darah. Akan tetapi alangkah kecewa hati Lee melihat tubuh ikan itu tenggelam.

"Sialan!" gerutunya. "Makanan tinggal memasukkan mulut menghilang."

Tiba-tiba ia melihat sirip-sirip ikan bergerak cepat sekali dari depan. Ternyata itulah serombongan ikan hiu, ikan liar yang haus darah. Mau tidak mau Lee Ing bergidik melihat ini. Hiu yang panjangnya rata-rata dua meter ini kalau mengeroyoknya. tentu akan dirobek-robek dan dibagi-bagi oleh mereka.

Baiknya hiu itu datang karena bau darah ikan yang telah dibunuhnya, maka mereka menyerbu ke bawah dan sebentar saja tubuh ikan besar tadi telah dibuat bancakan (dikeroyok dan dimakan). Kepingan-kepingan daging ikan bercampur darah timbul ke permukaan air. Lee Ing timbul juga kegembiraannya melihat daging putih kemerahan yang terapung di dekat papan. Akan tetapi sebentar saja ikan-ikan hiu itu timbul kembali dan menyambari potongan-potongan daging itu.

"Haya.... hayooo.... binatang-binatang gembul. Jangan habiskan sendiri, dong..!" Lee Ing cepat menyambar segumpal daging yang cukup besar, mendahului moncong ikan yang sudah menyambar pula. "Ayaa, tidak kena, bung! Kau sudah cukup kenyang, bagi sedikit untuk nonamu, mengapa sih?"

Sambil tertawa-tawa Lee Ing memandang ikan yang berenang ke sekeliling "perahunya” kemudian ia membawa daging itu ke mulutnya terus digigit sepotong dan dikunyah. Mula-mula ia mengunyah dengan penuh nafsu dan selera karena perutnya memang sudah amat lapar, akan tetapi begitu daging yang dikunyah itu dimasukkan tenggorokan, kontan ia muntah-muntah. Rasa manis tercampur bau amis membuainya muntah-muntah. Akan tetapi ia dapat berpikir panjang. Keadaannya sudah cukup menderita dan berbahaya sekali, kalau ditambah lagi dengan perut kosong dan kelaparan, harapan tertolong makin tipis.

Dengan nekat Lee Ing meramkan mata dan kembali ia menggigit daging besar yang masih dipegangnya, lalu tangan kirinya memencet hidung dan daging itu dikunyah cepat terus ditelannya begitu saja. Sebelum habis segumpal besar daging itu memasuki perutnya, belum dilepasnya hidung yang dipencet, baru setelah ia mengambil air laut dengan sendokan tangan kanan dan diminumnya ia melepaskan pencetan hidungnya. Dengan cara demikian barulah ia dapat makan daging ikan mentah itu. Penciuman memegang peranan penting bagi rasa. Dengan memencet hidung, rasa yang tidak enak akan lenyap sebagian besar.

Akan tetapi setelah perutnya diisi, ia menghadapi kesukaran lain. Minum air laut membuat tenggorokannya menjadi kering dan tidak enak sekali. Rasa haus mengganggunya dan membuat leher serasa tercekik. Lee Ing menjadi kelabakan dan bingung sekali. Akan tetapi dasar ia memang tabah dan selalu gembira. Ia menghibur rasa yang amat tidak enak ini dengan berjenaka. Memandang ikan-ikan hiu yang berenang ke sana ke mari nampak segar itu. ia berkata,

"Ya Tuhan, alangkah senangnya menjadi ikan. Pada saat sekarang ini aku akan berterimakasih sekali kalau dijadikan ikan...!" Sifatnya yang gembira menolong banyak. Betapapun payah keadaannya, dengan sifat periang ini tidak begitu menekan hati. Berhari-hari Lee Ing hidup dalam keadaan amat sengsara di atas papan itu. Yang paling hebat mengganggunya adalah panas terik matahari dan rasa dahaga yang mengamuk, dapat ia puaskan dengan minum air laut. Bahkan sekarang ia sama sekali tidak berani minum air laut karena setiap kali ia minum tenggorokannya makin sakit tercekik rasanya.

Agaknya Thian belum menghendaki Lee Ing tewas di situ. Buktinya, pada hari ke tiga selagi gadis ini sudah empas-empis seperti ikan dilempar di darat saking hausnya, mendung yang sudah lama membubung di udara itu pecah menjadi air hujan. Lee Ing menari-nari di atas papannya sampai hampir ia terguling kalau ia tidak buru-buru mengatur keseimbangan tubuhnya. Terguling di air di antara sekelompok ikan hiu itu sama dengan memberi umpan! Berhari-hari itu ikan hiu tetap membuntuti papan, agaknya siap menanti! saatnya makanan empuk ini tergelincir ke air.

Sambil tertawa sampai keluar air matanya Lee Ing menerima air hujan dengan mulut dan tangannya dan minum sepuas hatinya, mandi sampai basah kuyup. Akan tetapi hujan tiada hentinya dan sebentar saja suasana menggembirakan itu berubah menjadi mjenyedihkan ketika datang badai mengamuk. Cuaca menjadi gelap sekali, air bergelombang. makin lama makin tinggi dan dahsyat. Papan kecil mulai terayun-ayun, dipermainkan secara hebat, dilempar ke sana ke mari seperti sebuah bola kecil dibuat main-main oleh banyak anak nakal. Lee Ing sudah memeluk papannya lagi erat-erat, kepalanya pening, seluruh tubuh sakit-sakit dan mata tak dapat dibuka karena gempuran air laut membuat matanya sakit dan perih.

Kalau Lee Ing tidak memiliki kekerasan hati yang luar biasa sekali, tentu ia telah direnggut terlepas dari papannya yang berarti maut baginya. Akan tetapi gadis ini benar-benar hebat. Pelukannya pada papan erat sekali. Ia maklum sepenuhnya bahwa nyawanya tergantung pada papan itu. pelukannya demikian erat sehingga andaikata dia mati, kiranya kedua tangannya akan tetap memeluk papan!

Sampai semalam penuh badai mengamuk, membawa papan sampai jauh ke selatan di luar kesadaran Lee Ing. Gadis itu sudah setengah pingsan. tubuhnya lemas tak bertenaga lagi, rambutnya awut-awutan dan tangan kanannya sudah terlepas dari papan. Akan tetapi tangan kirinya masih tetap memeluk papan kuat-kuat, bahkan sudah kaku tangan kiri itu. Keadaannya menyedihkan sekali. Melihat dari jauh, orang akan mengira dia itu peri atau dewi laut yang bermain-main dengan ombak, akan tetapi dilihat dari dekat, keadaannya amat menyedihkan.

Kedua matanya meram, napasnya terengah-engah dan rambutnya tidak karuan lagi letaknya. Masih untung baginya bahwa ikan-ikan juga ketakutan dan tidak berdaya dalam badai hingga tak seekor ikanpun sempat mengganggunya. Kalau pada saat itu, dalam keadaan tak berdaya dan setengah pingsan, ada seekor ikan hiu saja lewat dekat, tentu binatang itu akan menyambar kaki Lee Ing yang tenggelam dalam air. Akan tetapi semua ikan bersembunyi jauh jauh di dasar laut.

Timbulnya Matahari pagi menenangkan laut, agaknya mengusir kekuatan-kekuatan gaib yang mengguncang dan mengamuk semalam suntuk itu. Air laut menjadi tenang, hanya bekas amukan itu masih tampak dengan adanya keriput-keriput pada permukaan laut dan kadarig-kadang ada pula pertemuan keriput air yang menimbulkan percik air membusa keputihan ke atas.

Lee Ing masih setengah pingsan memeluk papan dengan tangan kirinya. Kemudian perlahan-lahan ia menggerakkan kepala dan membuka mata Terik matahari pagi menyengat kulit leher dan mukanya, la sadar kembali dan dengan gerakan sukar ia menarik kedua kakinya, duduk di atas papan. Tangan kirinya yang memeluk papan dan yang semalam suntuk direnggut-renggut oleh ombak diluruskan ke depan Ialu digerakkan perlahan-lahan untuk melemaskan urat-urat yang kaku. "Heran, aku masih hidup.....” komentarnya dengan suara berat "Yang berkuasa mengatur ombak laut, kuasa pula melindungi nyawaku. Hebat. ..!”