-->

Pusaka Gua Siluman Jilid 02

Jilid 02

Pertama-tama banyak orang gagah merasa penasaran melihat nasib pendekar besar Souw Teng Wi yang sudah demikian banyak jasanya dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman raksasa penjajah, sehingga diam-diam mereka siap sedia membantu Souw-taihiap. Kedua kalinya, banyak orang kang-ouw yang berilmu tinggi terbujuk oleh kemilaunya emas permata sehingga orang-orang berilmu ini sudi menjadi kaki tangan para durna untuk membasmi siapa saja yang merintangi jalan mereka. Hal ini yang sesungguhnya menimbulkan perpecahan antara orang-orang kang-ouw sendiri sehingga sering kali terjadi pertentangan-pertentangan dan salah paham, memancing timbulnya pertempuran-pertempuran yang kadang-kadang mengorbankan banyak nyawa orang-orang kang-ouw.

Di antara para pembesar durna, yang amat berkuasa di antara mereka adalah seorang menteri muda bernama Auwyang Peng atau lebih terkenal dengan sebutan Auwyang-taijin. Usianya empat-puluh tahun lebih dan dahulu ketika Kaisar Thai Cu masih menjadi pemberontak Cu Goan Ciang, sebetulnya Auwyang Peng ini adalah seorang pembesar Kerajaan Mongol Biarpun ia seorang Han, namun dengan kepandaiannya bun dan bu (surat dan silat) ia berhasil menduduki pangkat di Kerajaan Mongol.

Ketika melihat pergerakan Cu Goan Ciang yang mendapat dukungan banyak tuan tanah makin lama makin besar dan mendekati hasil baik, Auwyang Peng tidak menyia-nyiakan kesempatan baik. Diam- diam ia menghubungi Cu Goan Ciang dan membantunya dari sebelah dalam sampai akhirnya Kerajaan Mongol tumbang. Mengingat akan jasa-jasanya inilah maka Cu Goan Ciang setelah menjadi kaisar lalu mengangkat Auwyang Peng sebagai menteri muda.

Sudah tentu saja karena Auwyang Peng menjadi pembesar dengan ada jasa betul-betul, para durna lainnya tunduk kepadanya dan ia seakan-akan diangkat menjadi pelindung dan kepala mereka. Tentu saja Auwyang- taijin menerima banyak "hadiah” dan "tanda mata” sehingga istana Auwyang-taijin amat besar menyaingi istana kaisar, juga hampir di setiap kota besar menteri muda ini mempunyai gedung. Auwyang Peng yang maklum bahwa sejak dahulu Souw Teng Wi membencinya dan menganggapnya seorang pengkhianat yang dulu telah mengekor kepada pemerintah Mongol, kini memusuhi Souw Teng Wi. Kedudukan Auwyang-taijin kuat sekali dan di tangannyalah terletak kekuasaan besar di mana banyak orang berilmu tinggi menghambakan dirinya. Auwyang-taijin mempunyai seorang putera bernama Auwyang Tek. Pemuda ini bertubuh jangkung kurus, berwajah tampan dan halus. Akan tetapi isi dada pemuda itu tidak setanpan wajahnya. Pemuda ini berhati keji dan kejam melebihi ayahnya, dan selama ia mengandalkan kekuasaan ayahnya yang dibantu banyak oiang pandai, juga ia mengandalkan kepandaiannya sendiri yang memang hebat. Auwyang Tek adalah murid termuda dari Tok-ong Kai Song Cinjin, seorang pendeta dari Tibet yang amat sakti.

Seperti dapat dimaklumi dari julukannya, yaitu Tok ong (Raja Racun), pendeta ini selain lihai ilmu silatnya juga amat pandai dalam menggunakan racun-racun berbahaya untuk mengalahkan musuh. Juga Auwyang Tek memiliki kepandaian khusus yang istimewa yang disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam), sebuah kepandaian yang amat dahsyat dan mengerikan, didasarkan tenaga lwee-kan tinggi dan hawa mujijat dari racun hitam.

Oleh karena Souw Teng Wi menyembunyikan diri, Auwyang-taijin tak dapat melampiaskan bencinya. Ribuan orang mata-mata disebarnya untuk mencari musuh besarnya ini, namun sia-sia. Souw Teng Wi seperti lenyap ditelan bumi tidak meninggalkan jejak. Namun Auwyang-taijin masih belum puas dan tetap memasang penyelidik-penyelidik di setiap kota.

Maklum akan bahayanya, orang-orang gagah yang memihak Souw Teng Wi, tidak berani menyatakan secara berlerang. Di antara banyak pendukung Souw Teng Wi di kota raja Nan-king, terdapat seorang gagah perkasa bernama Kwee Cun Gan yang berjuluk Kim-sin-kang-jiu (Berhati Emas Bertangan Baja). Julukannya ini membuktikan bahwa pendekar ini biarpun memiliki kepandaian tinggi sehingga kedua tangannya diumpamakan tangan baja, namun ia berhati emas, tanda pribudinya yang luhur. Sebetulnya Kwee Cun Gan ini masih seperguruan dengan pendekar besar Souw Teng Wi, yaitu dari partai persilatan Kun-lun-pai, akan tetapi tentu saja hal ini jarang ada orang yang mengetahuinya.

Mengingat akan jasa-jasa Souw Teng Wi terhadap tanah air, juga karena sampai sebegitu lama Souw Teng Wi tidak pernah muncul, Kwee Cun Gan diam-diam mendirikan sebuah perkumpulan rahasia di antara orang-orang gagah yang diberi nama perkumpulan Tiong-gi-pal (Perkumpulan Setia Ingat Budi). Banyak orang gagah menyokong pendiriannya ini dan menjadi anggauta Tiong-gi-pai, dan di antara pembantu-pembantu Kwee Cun Gan adalah anak keponakannya sendiri yang sudah yatim piatu bernama Kwee Tiong, ia seorang pemuda teruna, baru berusia tujuh belas tahun, akan tetapi ia telah memiliki kepandaian tinggi, hampir menyamai kegagahan pamannya! Ini tidak mengherankan oleh karena dia adalah murid terkasih dari Pek Mao Lojin, tokoh pantai timur yang terkenal sekali dan menjadi pula pendukung dari Tiong-gi-pai. Selain guru dan murid ini, masih banyak pendekar- pendekar perkasa yang secara langsung maupun tidak membantu pergerakan Tiong-gi pai.

Akan tetapi manusia ini memang macam-macam pendiriannya. Ada sebagian orang-orang gagah di dunia kang ouw, biarpun tidak langsung membantu Menteri Auwyang Peng, namun diam-diam mereka ini tidak setuju akan gerakan Tiong-gi-pai dan selalu mereka ini menganggap Tiong gi-pai sebagai perkumpulan yang tidak puas melihat negara dikemudikan oleh bangsa sendiri. Penjajah terusir dan tanah air dikuasai oleh bangsa sendiri, mengapa masih hendak mengacau? Bukankah itu berarti pro kepada penjajah Mongol? Demikianlah pendapat kelompok orang ini dan mereka ini merupakan fihak netral yang biarpun tidak membantu Auwyang-taijin namun anti kepada Tiong-gi- pai.

Sukarnya bagi Auwyang-taijin untuk membasmi Tiong-gi-pai adalah karena perkumpulan ini tidak mempunyai markas yang tetap, dibentuk secara rahasia dan bergerak secara rahasia pula. Yang sudah pasti, pusatnya berada di kota raja, di Nan-king. Memang jarang terjadi bentrokan antara mereka. Bentrokan besar-besaran yang pernah terjadi dan yang sekaligus membuka mata Auwyang-taijin, bahwa ada perkumpulan Tiong-gi-pai yang tak boleh dipandang ringan terjadi kurang lebih setahun yang lalu.

Ketika itu, putra Auwyang-taijin, yaitu Auw-yang Tek, baru saja turun gunung, karena tamat pelajaran silatnya dan kembali ke kota raja bersama gurunya, Tok-ong Kai Song Cin jin. Dasar pemuda berwatak bejat, biarpun ia memiliki bakat ilmu silat yang luar biasa dan kini menjadi seorang pemuda yang kepandaiannya tinggi sekali, begitu sampai di kota raja, Auwyang Tek menjadi binal, beberapa tahun ia harus hidup terasing di atas gunung mempelajari ilmu silat, sekarang setelah tiba di kota nafsu binatangnya timbul. Dia seorang pemuda mata keranjang yang tidak segan-segan mempermainkan anak bini orang lain.

Pada suatu hari di kota raja datang serombongan pemain akrobat terdiri dari seorang laki-laki setengah tua berjenggot panjang, dua orang gadis remaja dan seorang bocah laki-laki tanggung. Empat orang ini menuju ke sebuah tempat yang ramai di pusat kota lalu menurunkan barang-barang bawaan mereka di tempat terbuka pinggir jalan, tak jauh dari jembatan Kim-niau (Jembatan Burung Emas). Pemuda tanggung itu segera membuka buntalan-buntalan besar, lalu bersama laki-laki setengah tua ia memasangi alat-alat bermain akrobat, di antaranya sebatang gala bambu yang tingginya ada lima meter, sebuah tangga dan tiga buah guci arak besar. Sementara itu, dua orang gadis yang berwajah manis-manis itu menabuh tambur dan gembreng.

Di kota raja memang banyak didatangi orang-orang dari luar kota yang mencari nafkahnya dengan jalan menjual kepandaian, ada guru-guru silat menjual obat ada pula tukang-tukang sulap dan pedagang-pedagang lain yang menarik perhatian orang dengan pelbagai pertunjukan. Akan tetapi karena rombongan ini terdapat dua orang gadis manis, sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan orang-orang yang hendak menonton. Terutama sekali menonton dua orang gadis manis itu, karena semenjak dunia berkembang, tidak ada daya penarik lebih memikat dari pada wajah dara- dara ayu.

Sehelai kain bertuliskan ROMBONGAN AKROBAT LIEM terpancang di situ seperti sebuah bendera.

Kemudian melihat di situ sudah berkumpul banyak sekali orang, dengan

wajah ramah berseri laki-laki setengah tua berjenggot panjang melompat bangun, menjura ke empat penjuru lalu memberi isyarat kepada dua orang gadis yang segera menghentikan pemukulan tambur dan gembreng. Mereka berdua lalu melompat pula menghampiri orang tua itu dan berdiri di sebelah kirinya, sementara itu pemuda tanggung tadi berdiri pula di sebelah kanannya.

Kalau dua orang gadis itu manis-manis berkulit putih berbibir merah, adalah pemuda tanggung itu tampan juga, keningnya lebar matanya bersinar-sinar Laki-laki berjenggo panjang itu sendiri berwajah tampan dan angker, ini semua menjadi tanda bahwa anggauta rombongan itu terdiri dari orang-orang yang bukan sembarangan.

"Cu-wi sekalian yang terhormat," laki-laki berjenggot panjang itu mulai berpidato, "terima kasih atas perhatian cu-wi yang sudi menonton pertunjukan kami yang tidak berharga. Pertama-tama kami hendak memperkenalkan diri. Siauwte (aku) sendiri adalah Liem Hoan dari daerah selatan, di sana dijuluki orang Sin-liong (Naga Sakti) akan tetapi di sini tentu saja siauwte tidak berani mempergunakan julukan itu. Di sebelah kiri siauwte ini adalah dua orang anak perempuan siauwte, Kui Lan dan Siang Lan, adapun di sebelah kanan riauwte adalah anak laki-laki siauwte bernama Liem Han Sin. Kami sekeluarga Liem bermaksud mengadakan sedikit hiburan kepada cu-wi, mudah- mudahan cu-wi tidak kecewa dan bermurah hari untuk sekedar memberi sokongan untuk penyambung perjalanan kami ke Peking.” Tepuk tangan riuh menyambut pidato ini. bukan saking baiknya isi pidato, melainkan seperti biasa karena orang-orang bergembira menyambut pertunjukan akan segera dimulai. Mula-mula dua gadis enci adik yang berusia enambelas dan tujuh-belas tahun itu memperlihatkan kepandaian mereka. Kui Lan berseru nyaring, tubuhnya berjungkir balik, kedua tangan menapak tanah dan kedua kaki tegak di atas, tetap kaku seperti pilar. Siang Lan-adiknya juga mengeluarkan seruan lembut dan tubuhnya yang langsing itu melayang naik merupakan lompatan indah.

Seperti seekor burung saja ia hinggap di atas kaki encinya, berdiri tegak tersenyum-senyum dan kedua tangannya melambai-lambai memikat ke arah penonton. Pertunjukan ini sih tidak berapa hebat dan banyak orang yang sanggup melakukannya, akan tetapi yang menarik ialah karena yang melakukannya adalah dua orang gadis jelita, maka para penonton yang semua terdiri dari laki-laki itu mulai bertepuk tangan memuji! Berbareng dengan bunyi tepuk tangan, tiba-tiba tubuh Siang Lan yang berada di atas itu mencelat ke udara, berjumpalitan, demikian pula Kui Lan dengan gerakan indah sekali berjungkir balik dan ketika tubuh Siang Lan turun, dua pasang tangan bertemu.

Kini Kui Lan berdiri tegak dan di atasnya, Siang Lan berdiri berjungkir balik dengan kaki di atas dan kedua tangan di atas telapak tangan enci-nya. Dua orang gadis itu terus bermain akrobat, berjungkir balik dalam pelbagai posisi yang sulit-sulit, gerakan mereka ringan dan cepat sekali, menimbulkan gaya indah dan pemandangan yang menarik hati sehingga tepuk tangan tiada hentinya menyambut kecekatan mereka.

Setelah keduanya melompat turun dan memberi hormat kepada penonton, tiba giliran Liem Han Sin pemuda tanggung yang tampan itu memperlihatkan kepandaiannya. Dengan lincah pemuda cilik ini mengambil tangga yang tingginya ada dua meter itu. melompat ke anak tangga pertama. Tentu saja tangga yang tidak dipegangi dan tidak disandarkan itu hampir roboh, akan tetapi dengan memegangi dua batang bambu tangga itu Liem Han Sin mengangkat dua kaki tangga mengatur keseimbangan badan seperti orang naik jangkungan.

Permainan ini lebih sukar dari pada tadi, membutuhkan keringanan tubuh dan tenaga besar, juga membutuhkan latihan matang. Akan tetapi dengan enaknya Han Sin melompat dari tangga terbawah ke tangga sebelah atas, terus makin ke atas, sampai pada anak tangga paling atas ia terpaksa memendekkan tubuhnya karena jarak pegangan dan anak tangga amat dekat. Makin sukarlah ia mempertahankan keseimbangan tubuhnya sehingga tangga itu berloncat-loncatan lucu ke sana ke mari. Tepuk tangan riuh-rendah menyambut permainan ini dan dari sana-sini terdengar pujian.

Kemudian Liem Hoan sendiri memperlihatkan kelihaiannya. Kini dia yang main keseimbangan tubuh, akan tetapi tidak mempergunakan tangga, melainkan mempergunakan gala bambu tadi yang begitu panjang. Bagaikan seekor kera ia memanjat batang bambu itu yang didirikan begitu saja diatas tanah. Gala bambu miring ke sana ke mari namun tidak sampai roboh dan sementara itu Liem Hoan sudah sampai di puncaknya yang lima meter tingginya itu, berdiri dengan sikap burung bangau berdiri dengan satu kaki, lalu merosot lagi ke bawah dengan cepatnya.

Pertunjukan ini hebat juga dan selain pecah tepuk sorak, juga kini uang kecil mulai membanjir di atas tanah di mana sudah disediakan kain kuning yang dibentangkan oleh Liem Han Sin. Kui Lan dan Siang Lan tersenyum senyuin memandang ke arah uang yang beterbangan ke atas kain kuning, akan tetapi tiba-tiba mereka mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat tiga buah uang tembaga lain mengeluarkan bunyi nyaring terus melesak ke dalam menembus kain kuning masuk ke dalam tanah. Kain kuning menjadi robek dan ada beberapa uang tembaga penyok-penyok kena pukulan uang tembaga yang dilemparkan dengan tenaga dalam hebat itu. Kui Lan dan Siang Lan melirik ke arah orang yang melempar tiga mata uang itu dan mereka melihat wajah seorang laki-laki muda dan tampan bertubuh jangkung kurus memandangi mereka sambil tersenyum-senyum ceriwis dan pandangan matanya kurang ajar sekali. Pada saat itu, terdengar suara "Permainan bagus sekali, patut disumbang!" dan melayanglah tiga buah mata uang perak ke arah tumpukan uang itu, tepat di atas tiga bagian yang tadi terusak oleh tiga buah mata uang tembaga pemuda kurus sehingga bolong-bolong pada kain tertutup oleh mata uang perak yang berkilauan.

Dua orang gadis ini melirik dengan penuh terima kasih kepada pelempar uang tadi, seorang laki-laki setengah tua yang memiliki pandang mata berpengaruh dan keningnya amat lebar. Laki-laki ini tersenyum-senyum saja, seakan-akan tidak melihat betapa pemuda kurus jangkung tadi memandang kepadanya lengan kening berkerut.

Pemuda itu bukan lain adalah Auwyang Tek, putera Menteri Auwyang yang memang suka berkeliaran di antara rakyat kota raja. Kalau saja kesederhanaannya tidak suka berlagak seperti putera menteri ini mengandung maksud untuk mendekati rakyat dan memang merasa satu dengan rakyat, itulah baik sekali. Sayangnya Auwyang Tek yang tidak memakai peraturan dan berkeliaran seperti pemuda biasa ini mengandung maksud agar gerakannya bebas dan dia boleh berbuat apa yang ia suka! Pemuda mata keranjang ini tertarik sekali kepada Kui Lan dan Siang Lan, maka tadi ia sengaja melepas mata uang sambil mengerahkan tenaga untuk menarik perhatian dua orang gadis itu.

Sedikit pun Auwyang Tek tidak pernah mengimpi bahwa orang setengah tua yang tadi melepaskan tiga mata uang-perak, yang secara "kebetulan'“ menutupi bekas demonstrasi tenaganya di atas kain kuning, adalah Kwee Cun Gan, ketua dari Tiong-gi-pai yang ditakuti! Sebaliknya, tentu saja Kwee Cun Gan yang berjuluk Kim-sin-kang-jiu ini tahu betul siapa adanya pemuda tampan kurus jangkung yang mendemonstrasikan tiga buah mata uang sambil cengar-cengir itu.

Sesuai dengan julukannya Kim-sin-kang-jiu, (Hati Emas Tangan Baja), tergeraklah hati Kwee Cun Gan dan merasa kasihan melihat keluarga yang kehabisan bekal uang di tengah jalan sehingga terpaksa menjual kepandaian itu, maka tanpa ragu-ragu ia menyumbangkan tiga mata uang perak dan sekaligus memperlihatkan keahliannya sehingga tiga mata uang yang dilemparkan itu menutupi bekas tangan Auwyang Tek.

Liem Hoan bukanlah seorang ahli silat biasa atau pemain akrobat pasaran. Di selatan dia juga seorang tokoh kang-ouw yang terkenal Sudah banyak pengalamannya dan matanya amat tajam. Maka apa yang terlihat oleh dua orang puterinya tadi pun tidak terlepas dari pandangan matanya, membuat ia berdebar tak enak dan maklum bahwa di kota raja baru di mana ia sudah mendengar terdapat banyak sekali orang pandai ini, kedatangannya tidak disuka orang.

Cepat ia memberi isyarat kepada tiga orang anaknya untuk mengumpulkan uang dan barang-barang, berkemas untuk segera pergi. Kepada orang banyak ia menjura sambil berkata, "Terima kasih banyak kami haturkan kepada cu-wi yang sudah menaruh kasihan kepada kami dan memberi sumbangan, terutama sekali kepada para eng-hiong yang memaafkan pertunjukan kami yang tidak ada harganya tadi."

Melihat pertunjukan akan dibubarkan, orang banyak menjadi kecewa. Biarpun apa yang disuguhkan tadi sudah cukup menarik dan mengagumkan, akan tetapi terlampau sedikit dan mereka menghendaki lebih banyak lagi. "Guci-guci besar sudah dikeluarkan dan belum dimainkan, apakah hanya untuk hiasan belaka?” terdengar seorang di antara para penonton mencela.

"Mungkin hanya untuk menarik hati kita supaya datang menonton!” kata orang ke dua. "Aku ingin melihat demonstrasi silat!” orang ke tiga berteriak keras.

"Akur! Akur!! Guci harap dimainkan!” Banyak orang kini berteriak-teriak karena mereka ingin melihat permainan guci yang biasanya amat menarik.

Liem Hoan saling pandang dengan anak-anaknya, kemudian dengan terpaksa sambil tersenyum ia berkata nyaring. "Baiklah. kalau cu-wi menghendaki dan tidak mencela permainan kami yang masih rendah dan tidak berharga, siauwte akan memperlihatkan kebodohan, mengharap petunjuk- petunjuk dari cu-wi yang pandai!” Setelah berkata demikian, Liem Hoan mengambil sebuah guci dan melemparkannya ke atas.

Lemparan ini disusul oleh guci ke dua, ke tiga, dan ke empat sehingga berturut-turut empat buah guci yang beratnya masing-masing ada lima puluh kati itu melayang turun. Dengan cekatan ia menyambut guci pertama terus dilemparkan lagi ke atas. Indah sekali pemandangan ini. Guci-guci itu menari-nari di udara, ditangkap dilemparkan bergantian dengan amat teratur. Setelah melakukan demonstrasi melempar guci, tiba-tiba Liem Hoan menerima sebuah guci bukan dengan tangannya melainkan dengan. kepalanya di bagian jidat! Memang kalau dilihat amat mustahil menerima guci

seberat itu dengan jidat, akan tetapi kenyataannya memang demikian.

Seni permainan guci ini di Tiongkok merupakan seni rakyat yang sudah amat tua usianya dan agaknya Liem Hoan menguasai permainan itu baik baik. Dengan guci berdiri di atas jidatnya, kedua tangannya tetap melempai lemparkan guci yang lain. Pada saat yang baik, guci ke dua jatuh tepat di atas guci yang berada di atas jidatnya dan...... dapat diterima dengan baik hampir tidak mengeluarkan suara.

Tepuk sorak riuh-rendah menyambut permainan istimewa ini. Guci ke tiga sudah "hinggap” pula di atas guci ke dua dan pada saat guci ke empat melayang turun hendak diterima oleh guci ke tiga, tiba- tiba terdengar suara keras dari sebelah kanan dan guci ke empat itu tahu-tahu meledak pecah. Itulah pukulan Hek tok Ciang yang dilepas dari jauh oleh Auwyang Tek, akan tetapi hawa pukulannya saja sudah dapat membikin guci itu meledak pecah! Akan tetapi pada saat yang hampir bersamaan dari sebelah kiri terdengar seruan keras dan guci yang sudah pecah itu terdorong ke samping sehingga jatuhnya tidak menimpa Liem Hoan.

Inipun merupakan pukulan istimewa dari Kwee Cun Gan yang menolong muka guru silat itu sehingga tidak tertimpa pecahan guci dan tidak menderita malu. Dengan hawa pukulan yang dikerahkan menggunakan tenaga Iweekang tinggi, ia berhasil menolong Liem Hoan. Akan tetapi diam-diam ketua Tiong gi-pai ini terkejut bukan main menyaksikan kedahsyatan pukulan pemuda tinggi kurus putera menteri itu dan diam-diam memuji.

Adapun Liem Hoan yang melihat kejadian itu, terkejut bukan main. Cepat ia menurunkan tiga buah gucinya dan berdiri dengan muka pucat. Sedangkan Auwyang Tek yang sengaja hendak mencari perkara dan ingin mendapatkan dua orang gadis Liem yang jelita itu, melihat ada orang pandai membantu mereka, timbul kecurigaannya. Ia bersuit keras memberi tanda kepada orang-orangnya lalu berseru, "Tangkap mata-mata pemberontak, tawan dua orang gadis itu!” Ucapan ini bermaksud bahwa dua orang gadis itu harus ditawan hidup-hidup. Memang, pada masa itu kaum durna berhasil menguasai kendali pemerintahan dengan jalan mempengaruhi kaisar dan sebuah di antara siasat mereka untuk menjatuhkan musuh-musuh mereka adalah fitnah busuk bahwa para musuh itu adalah pemberontak-pemberontak yang katanya hendak merebut kekuasaan Kerajaan Beng! Juga dalam menghadapi rombongan akrobat karena ingin mendapatkan dua orang gadis itu, apa lagi melihat adanya orang pandai membantu, Auwyang Tek tidak segan-segan menggunakan fitnah ini dan menyiapkan orang-orangnya.

Belasan orang pengawal istana yang sudah siap selalu menanti perintah putera menteri itu, cepat menyerbu masuk. Mereka ini seperti anjing-anjing disuruh mengambil tulang, saling berebut untuk menawan dan memeluk gadis-gadis cantik itu, dan berebut memperoleh pahala! Liem Hoan berseru keras dengan marah sambil menyerbu dan seorang pengawal yang terdepan terlempar oleh pukulannya. Juga dua orang gadis Liem itu tidak gampang-gampang ditangkap, mereka mencabut pedang dan melakukan perlawanan sengit. Demikian pula Liem Han Sin yang ternyata memiliki ilmu silat yang lumayan juga. Sementara itu, Auwyang Tek sendiri tidak mcmperdulikan lagi penyerbuan orang-orangnya untuk menawan dua orang gadis itu, melainkan melompat ke dekat orang setengah tua yang menolong Liem Hoan tadi sambil mengulur tangan kanan untuk mencengkeram dada orang itu!

Kwee Cui Gan maklum akan kelihaian pemuda yang memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang ini, maka ia mengerahkan tenaganya menangkis. Dua tenaga Iweekang bertemu dan Auwyang Tek berseru keras sambil terhuyung-huyung ke belakang. Tak pernah disangkanya bahwa orang setengah tua ini demikian lihai.

"Siapa kau..?” bentaknya, lalu mengeluarkan sepasang sarung-tangan yang mengeluarkan sinar dari dalam sakunya, langsung dipakainya.

Para penonton begitu melihat lapangan pertunjukan berubah menjadi lapangan pertarungan, lari simpang-siur dan panik. Keadaan menjadi gaduh sekali dan ribut.

Sementara itu, ketika Kwee Cun Gan melihat putera menteri itu mengenakan sarung tangan, ia makin terkejut. Tahulah ia bahwa pemuda ini merupakan lawan tangguh sekali, apa lagi tadi pertemuan tangan membuat ia merasa lengannya kesemutan Biarpun ia dapat membuat pemuda itu terhuyung dan ini menyatakan bahwa dalam hal tenaga Iweekang ia sedikit lebih kuat, namun kiranya untuk menghadapi pemuda ini. ia membutuhkan ratusan jurus untuk mencapai kemenangan. Dan bertempur melawan putera menteri berikut kaki tangannya di dalam kota raja bukanlah hal main-main.

Cepat ia nengayun tangannya dan tiga buah uang logam perak meluncur cepat menyambar tiga bagian tubuh Auwyang Tek. Pemuda ini kelabakan ketika pertanyaannya tadi dijawab dengan tiga sambaran senjata rahasia. Cepat ia menggerakkan tangannya yang sudah bersarung itu menangkis. Terdengar suara nyaring dan tiga buah mata uang itu terpukul runtuh. Akan tetapi ketika ia menengok, orang setengah tua yang berjenggot tadi sudah lenyap dari depannya.

Para pengawal istana itu rata-rata memilik kepandaian tinggi, pula sebentar saja di situ sudah berkumpul puluhan orang pengawal. Tentu saja orang-orang muda seperti anak-anak Liem Hoan itu bukan lawan mereka dan sebentar saja Kui Lan dan Siang Lan sudah dapat tertawan dan diseret pergi atas perintah Auwyang Tek.

"Lepaskan saudara-saudaraku!” Han Sin berseru sambil memburu cepat dengan pedang di tangan. Akan tetapi ia dikeroyok dan terguling roboh dengan pundak terluka. Namun dengan semangat tak kunjung padam pemuda tanggung ini melompat lagi dan berlari cepat mengejar Auwyang Tek yang membawa pergi dua orang gadis tawanan itu. Sementara itu, Liem Hoan setelah merobohkan empat orang pengawal, akhirnya terpaksa tak dapat mempertahankan diri dari keroyokan lagi. Sebuah bacokan pedang membuat ia terguling roboh. Baiknya sebelum para pengawal menghujankan senjata ke arah tubuhnya, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu empat lima orang pengawal bergelimpangan dan di lain saat tubuh Liem Hoan sudah dikempit oleh Kwee Cun Gan yang membawanya pergi dengan lari cepat sekali. Baiknya Auw- yang Tek sudah tidak berada di situ karena pemuda ini lebih mementingkan urusan dua tawanan wanita itu dari pada mengurus Liem Hoan, maka guru silat akrobat itu dapat diselamatkan oleh Kwee Cun Gan.

Adapun Liem Han Sin yang mengejar untuk menolong enci-encinya. kembali roboh oleh keroyokan para pengawal. Tubuh pemuda tanggung ini sudah mandi darah, pakaiannya sudah cobak-cabik dan pedangnya sudah terpental entah ke mana. Namun dengan gigih ia menyerang terus, bersiap sedia mengadu nyawa untuk membela saudara-saudaranya.

Akan tetapi kepandaiannya belum tinggi, tubuhnya sudah lemas dan sebuah tendangan keras yang tepat mengenai lambungnya membuat ia roboh dan mengeluh kecil, terguling pingsan. Lima enam buah golok gemerlapan menyambar ke arah tubuh pemuda tanggung yang sudah mandi darah itu.

"Triungg... traanggg..... aduh.... ahh.... uakk....! Ayaaaa   !” sekalian pengawal yang

mengeroyok hendak membunuh Liem Han Sin roboh malang melintang ketika sebatang pit (alat tulis) menangkis senjata-senjata ini, kemudian pit itu mengamuk dengan totokan-totokan luar biasa. Pit itu bergerak tanpa kelihatan orangnya. Para pengawal seperti melihat setan di tengah hari dan mereka lari tunggang-langgang menyusul Auwyang Tek yang sudah lebih dulu membawa lari dua orang gadis tawanannya.

Dalam keadaan selengah pingsan Liem Han Sin melihat bahwa penolongnya adalah seorang kakek losu (pendeta lo) yang berwajah angker, tangan kanan memegang sebatang pit baja dan tangan kiri memegang sebuah kitab. Wajah tosu tua ini halus dan sikapnya seperti seorang sasterawan, namun sinar matanya tajam mengiris jantung dan tarikan bibirnya dan dagunya keras membayangkan kegagahan luar biasa. Dengan tenang kakek itu mengangkat tubuh Liem Han Sin dan membawanya pergi dari situ. Langkahnya lambat saja namun Han Sin merasa angin menyambar di kedua telinganya, sebentar saja mereka sudah keluar dari kota raja.

Inilah peristiwa "perkenalan" pertama-dari pihak Auwyang-taijin dengan Kwee cun Gan, sedangkan Kwee Cun Gan sendiri yang menolong Liem Hoan, tidak berlaku kepalang tanggung. Dia melarikan diri membawa Liem Hoan bukan karena takut, melainkan karena maklum bahwa ia sudah tidak akan dapat menolong dua orang gadis yang ditawan itu. Maka ia membawa Liem Hoan ke luar kota dan bersembunyi di kelenteng tua yang menjadi tempat persembunyian sementara. Cepat Kwee Cun Gan mengumpulkan kawan-kawannya dan pada malam hari itu dia bersama lima orang kawannya diam-diam memasuki kota raja dan berusaha menolong Kui Lan dan Siang Lan.

Dengan mudah Kwee Cun Gan mendapat keterangan bahwa dua orang gadis itu ditahan di dalam istana Menteri Auwyang Peng dan bahwa urusan ini tidak dilanjutkan kepada yang berwajib seperti yang ia sudah duga. Memang Kwee Cun Gan mempunyai banyak kawan pula di kota raja. Kawan sehaluan, yaitu anti pembesar korup dan jahat semacam Auwyang taijin Dia sudah mendengar akan watak jahat dan mata keranjang dari Auwyang Tek. maka tadi melihat dua orang gadis itu tidak dilukai melainkan ditawan, ia sudah menduga akan maksud keji Auwyang Tek.

Kwee Cun Gan didampingi oleh Liem Hoan yang sudah diobati lukanya, dan lima orang kawannya yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, mempergunakan ginkang mereka dan pada tengah malam mereka menuju ke istana Menteri Auwyang di sebelah barat kota. Istana ini besar dan dikurung pagar tembok yang tinggi. Para pengawal menjaga di depan pintu gcihang dan selalu meronda. Namun enam orang yang tinggi kepandaiannya ini dengan mudah melompati pagar tembok dan langsung melompat ke atas genteng. Dengan hati-hati mereka maju menyelidik.

Keadaan di atas genteng sunyi, bahkan di bawahpun amat sunyi. Agaknya semua orang sudah tidur pulas. Akan tetapi Kwee Cun Gan yang berpengalaman dan memiliki kepandaian yang paling lihai di antara mereka semua, merasa tidak enak hati. Keadaan di situ terlampau sunyi sehingga tidak wajar.

"Tunggu dulu...” bisiknya dan seorang diri ia meninggalkan kawan-kawannya di atas genteng, melompat turun dengan gerakan seperti seekor burung walet menyambar, mengagumkan enam orang kawannya. Tak lama kemudian ia melompat naik lagi ke atas genteng sambil mengempit tubuh seorang pengawal. Tadi ia menyergap pengawal ini yang sedang meronda di bagian dalam, menotok-nya dan dibawanya melompat naik.

Setelah berada di atas genteng dengan pedang ditodongkan ke tenggorokan Kwee Cun Gan memaksa peronda itu mengaku di mana adanya dua orang nona yang siang tadi ditawan.

"Di.... di kamar... kongcu. ” katanya dengan tubuh menggigil, kemudian peronda itu menunjuk ke

kiri ke arah sebuah kamar yang masih bercahaya, tanda bahwa di dalamnya masih dinyalakan penerangan. Liem Hoan tidak sabar lagi lalu melompat dan lari ke kamar itu.

“Liem-kauwsu, tunggu...’’ kata Kwee Cun Gan perlahan, akan tetapi guru silat yang amat mengkhawatirkan nasib dua orang puterinya itu cepat lari terus tanpa memperduiikan. seruan kawannya. Terpaksa Kwee Cun Gan. cepat menusukkan pedangnya, peronda itu tewas tanpa sempat membuka suara, kemudian bersama lima orang kawannya iapun mengejar Liem Hoan.

Dengan dada berdebar guru silat ini mendorong daun pintu dengan tangan kirinya, dan tangan kanan siap dengan pedang di tangan. Pintu terbuka dengan mudah. Cahaya lilin menerangi kamar itu, dan menyambut mata Liem Hoan yang menjadi silau. Dengan menggunakan tangan kiri melindungi matanya dari cahaya lilin, guru silat ini memandang ke arah ranjang besar yang diterangi oleh lilin di atas meja.

Tiba-tiba ia berteriak dan tubuhnya terhuyung-huyung. “Kui Lan.... Siang Lan. !” ia mengeluh dan ia

tentu roboh terlentang kalau saja Kwee Cun Gan tidak cepat-cepat memeluknya. Kwee Cun Gan dan lima orang kawannya memandang ke dalam kamar, mereka menahan seruan marah dan merasa ngeri. Pantas saja ayah yang bernasib malang itu hampir pingsan melihat pemandangan di dalam kamar itu.

Apakah yang dilihatnya dan yang dilihat pula oleh Liem Hoan? Apakah betul-betul kedua orang anak daranya berada di dalam kamar itu, yang oleh peronda dikatakan bahwa itu adalah kamar Auwyang Tek? Dapat dibayangkan betapa hancur hati seorang ayah seperti Liem Hoan ketika melihat pemandangan di dalam kamar yang serba indah perabotnya itu. Di atas sebuah ranjang yang lebar, yang ditilami kain sutera merah muda dan bantal-bantalnya berkembang indah, menggeletak dua tubuh dara remaja dalam keadaan tidak bernyawa pula. Itulah Liem Kui Lan dan Liem Siang Lan, kakak beradik yang tertawan oleh Auwyang Tek dan kini terdapat telah tewas di dalam kamar, putera menteri yang keji itu.

Ketika Liem Hoan dan kawan-kawannya memasuki kamar menghampiri dua jenazah itu, ternyata bahwa dua orang gadis itu tewas oleh pukulan Hek-tok-ciang. Hal ini mudah dilihat karena pada dada dan pundak terdapat bekas tapak tangan menghitam yang menghanguskan pakaian dan kulit terus menembus daging dan tulang merenggut nyawa. Pukulan keji yang mengerikan. "Jahanam keparat Auwyang....!" Liem Hoan memaki dan saking marahnya ia hanya melotot, napasnya memburu. Ia dapat menduga apa yang telah terjadi di kamar ini. Dua orang puterinya tentu menolak akan maksud keji putera menteri itu dan melakukan perlawanan sekuat tenaga untuk membela kehormatan dirinya, sehingga Auwyang Tek menjadi marah dan membunuh mereka dengan pukulan dahsyat itu.

Akan tetapi. Kwee Cun Gan berpikir lain. Tadinya iapun menduga seperti Liem Hoan meng ingat akan watak mata keranjang dan keji dari Auwyang Tek. akan tetapi ia lebih teliti. Kalau benar pemuda iblis itu membunuh dua orang gadis Liem karena mereka ini melawan kehendaknya, mengapa setelah dibunuh lalu dibiarkan saja menggeletak di dalam kamarnya di atas ranjang? Mengapa pula kamar ini kosong dan sekeliling rumah gedung itu sunyi belaka?

"Awas mungkin musuh memasang perangkap!" katanya. "Hayo lekas kita bawa pergi jenazah mereka.”

Baru saja kata-kata ini diucapkan terdengar suara ketawa dan terdengar pula suara senjata dicabut. Kwee Cun Gan kaget sekali, cepat ia menubruk ke depan, menyambar tubuh Kui Lan dan Liem Hoan menyambar tubuh Siang Lan. Kemudian serentak tujuh orang ini menerjang keluar kamar. Tempat yang tadinya sunyi sekarang ternyata telah terkurung rapat oleh barisan pengawal, dikepalai oleh Auwyang Tek sendiri. Melihat Auwyang Tek sambil memaki Iblis kejam terima pakaian enam tujuh orang pengawal di dekatnya, dapat diduga bahwa mereka ini adalah pengawal-pengawal pilihan, karena lebih mewah dari pada pakaian pengawal biasa yang memenuhi dan mengurung tempat itu.

“Harha-ha-ha, kiranya kau yang bernama Kwee Cun Gan! Ha, kalau tahu demikian, tentu siang tadi tak kuberi ampun!” kata Auwyang Tek dengan sombongnya sambil menuding ke arah Kwee Cun Gan dengan tangannya yang keduanya memakai sarung tangan.

Diam-diam Kwee Cun Gan kaget.. Sekarang dia telah dikenal, dan itu artinya pergerakannya di kota raja tidak aman dan tidak mudah lagi. Dan diam-diam dia memuji kecerdikan putera menteri ini yang selain cerdik juga memiliki kepandaian luar biasa, jarang ada seorang demikian muda telah memiliki kepandaian tinggi.

“Buka jalan darah!” seru Kwee Cun Gan kepada kawan-kawannya. Pemimpin perkumpulan Tiong-gi- pai ini sudah cukup berpengalaman. Sekilas pandang saja ia maklum akan bahayanya keadaan dia. dan kawan-kawannya, maka membuang waktu dengan bercakap cakap takkan ada gunanya. Lebih cepat lebih baik untuk segera menyelamatkan diri keluar dan kepungan. Sambil berseru demikian, Kwee Cun Gan sudah menggerakkan pedangnya, cepat sekali ia menusuk Auwyang Tek sambil memaki "Iblis kejam terima pedangku"

Di lain fihak, Auwyang Tek sudah maklum akan kelihaian pemimpin Tiong-gi-pai ini, maka ia cepat mengangkat tangan menangkis pedang. Sarung tangannya adalah benda istimewa, terbuat dari pada kulit ular putih yang sudah dimasak dengan obat dan racun. Selain kulit ini kebal terhadap senjata tajam, juga amat lemas sehingga mudah disaluri tenaga Iweekang. Sifatnya yang lemas akan tetapi kuat ini amat cocok bagi Auwyang Tek yang memiliki ilmu pukulan Hek-tok-ciang, apa lagi karena kulit ular itu sendiri mengandung bisa sehingga menambah kelihaian Hek-tok-ciang.

Pemuda ini memang lihai sekali. Telapak tangannya yang terbungkus sarung itu. jangankan memukul orang, baru menampar dengan pengerahan Ilmu Hek-tok-ciang saja, sudah cukup untuk merenggut nyawa orang dan meninggalkan tanda telapak tangan hitam pada tubuh si korban. Pedang Kwee Cun Gan yang ditangkis tangan terpental dan di lain saat kedua orang jago dari dua aliran ini sudah bertempur seru dan sengit. Memang, Auwyang Tek masih kalah sedikit tenaga Iweekangnya, apa lagi ketua Tiong-gi-pai itu mempergunakan pedang panjang sehingga keadaannya lebih untung. Akan tetapi sebaliknya, Kwee Cun Gan memondong mayat Liem Kui Lan sehingga gerakannya tidak begitu gesit.

Adapun Liem Hoan yang juga memondong tubuh puterinya yang ke dua, mengamuk pula mempergunakan pedangnya Tadinya ia hendak membantu Kwee Cun Gan saking bencinya ia melihat Auwyang Tek. Akan tetapi seorang panglima pengawal sudah menyambutnya dengan senjata golok besar. Lima orang kawan Kwee Cun Gan atau anggota dari Tiong-gi-pai telah bertempur pula dikeroyok oleh banyak orang pengawal pilihan sehingga ruangan itu sebentar saja tdah menjadi medan pertempuran yang ramai.

Berkali-kali Kwee Cun Gan mendesak hebat untuk membuka jalan darah, namun Auwyang Tek yang sudah dapat menduga, mencegahnya mencari kesempatan. Pemuda ini mendesak hebat, melancarkan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang yang hawanya mempengaruhi keadaan di sekelilingnya. Liem Hoan sendiri pada suatu saat terkena sambaran angin pukulan Hek-tok-ciang, mengeluh dan terhuyung-huyung. Seorang pengawal menusuknya dengan tombak. Baiknya Liem Hoan masih dapat menguasai diri, begitu melihat tombak meluncur, ia terus melempar diri ke belakang dan melakukan gerakan poksai (bersalto) sampai tiga kali.

"Bagus...!” Panglima pengawal yang menombaknya itu berteriak memuji Memang indah sekali gerakan Liem Hoan tadi. Dalam keadaan limbung dan lagi sedang memondong sebuah jenazah, masih dapat melakukan gerakan poksai seperti itu, benar-benar hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli akrobat yang pandai.

Juga Kwee Cun Gan mulai terdesak hebat. Jenazah yang dipondongnya merintangi gerakannya, padahal ilmu pedangnya dari Kun Lun pai itu mengandalkan kelincahan dan kecepatan gerakan. Betapapun juga, ilmu pedangnya benar-benar lihai.

Dua kali sudah seorang pengawal mencoba-coba untuk membantu Auwyang Tek, akan tetapi tiap kali seorang pengawal maju, ia roboh terkena sinar pedang yang gemilang itu. Terpaksa pengawal- pengawal yang lain mundur tak berani sembrono mendekati pertempuran hebat itu Dua orang yang bertempur ini tingkatnya sudah terlampau tinggi sehingga hawa pukulan masing-masing saja sudah tak tertahankan oleh para pengawal.

Sementara itu, lima orang kawan Kwee Cun Gan sudah terdesak hebat oleh pengeroyokan para pengawal. Biarpun mereka inipun gagah perkasa dan setiap orang dari mereka sudah merobohkan sedikitnya tiga orang lawan sehingga di tempat itu sudah bergelimpangan tubuh para pengawal, namun fihak lawan terlampau banyak dan mereka sendiri sudah luka-luka. Jalan keluar tak mungkin dibuka, pengepungan terlampau rapat. Oleh karenanya, sebuah serampangan toya membuat ia jatuh terguling bersama jenazah anaknya yang masih itu, para anggota Tiong-gi-pai ini menjadi nekat dan bertempur mati-matian. Tingkat kepandaian mereka sedikit lebih rendah dari pada Liem Hoan dan dalam pertemputan mati-matian, seorang demi seorang dari lima anggota Tiong-gi-pai ini roboh!

Kwee Cun Gan menjadi marah dan jengkel sekali. Untuk menolong anak-anak Liem Hoan, ternyata sekarang anak-anak itu tidak tertolong malah ia kehilangan kawan-kawannya! Bukan itu saja, melihat keadaannya, agaknya dia sendiri dan Liem Hoan takkan mampu keluar dari sini. Sebetulnya dia dan Liem Hoan masih dapat mempertahankan diri oleh karena Auwyang Tek berseru kepada orang-orangnya supaya yang dua ini ditawan hidup-hidup. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai, tentu saja Auwryang Tek menghendaki tokoh ini tertawan hidup-hidup agar ia dapat menikmati jasanya ini di depan ayahnya dan juga di depan kaisar.

Liem Hoan tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi. Beberapa kali jenazah Siang Lan terlepas dari pondongannya, akan tetapi untuk ke sekian kalinya ia selalu menyambar pula jenazah puterinya sambil mengamuk terus, tidak perduli akan luka-luka di tubuhnya. Hebat amukan guru silat ini sehingga sejak bertempur sedikitnya ada tujuh orang pengawal sudah dirobohkannya. Akhirnya, sebuah serampangan toya membuat ia jatuh terguling bersama jenazah anaknya yang masih dipeluknya.

Juga Kwee Cun Gan sudah payah sekali keadaannya, Kini Auwyang Tek dibantu oleh empat orang panglima pengawal yang cukup tangguh menggunakan tombak dan toya panjang mengurung dan mendesaknya. Ketua Tiong-gi-pai ini benar-benar gagah perkasa. Ia sudah lelah sekali, dan dua kali sudah pundaknya kena serempet hawa pukulan Hek-tok-ciang yang membuat ia merasa panas, namun pedangnya masih diputar cepat melindungi seluruh tubuhnya. Semua ini ia lakukan dengan memondong sebuah jenazah, benar-benar mengagumkan sekali.

“Ha-ha-ha, Kwee Cun Gan. Lebih baik kau melempar pedang dan berlutut menyerah Kalau kau menyerah kalah, takluk dan selanjutnya menunjukkan di mana adanya teman-temanmu, tentu kaisar akan mengampunimu,” kata Auwyang Tek mentertawakan. Namun Kwee Cun Gan tidak menjawab, melainkan memainkan pedangnya lebih cepat lagi sehingga seorang pengawal roboh terbabat pedang, putus pinggangnya berikut tombak yang tadi dipegangnya!

"Setan, kau benar-benar sudah bosan hidup!” seru Auwyang Tek marah sekali dan secepat kilat ia mengerjakan kedua tangannya, bergantian melancarkan pukulan Hek-tok-ciang ke arah lawannya. Saking marahnya, Auwyang Tek tidak perduli lagi apakah ketua Tiong-gi-pai itu akan mati terkena pukulannya. Sudah terlalu banyak pengawal tewas dalam pertempuran ini.

Pada saat itu, Kwee Cun Gan sedang menangkis serangan dari kanan kiri dengan memutar-mutar pedangnya menjadi sinar melebar dari kanan ke kiri. Ketika pukulan Auwyang Tek mencuit bunyi anginnya menyambar dari depan, ia cepat mengumpulkan tenaganya melakukan gerakan menangkis. Namun ia sudah terlalu lelah dan pukulan bertubi-tubi itu terlalu kuat. Biarpun Kwee Cun Gan berhasil menyelamatkan diri sehingga pukulan itu tidak tepat mengenai dadanya, namun hawa pukulan yang dahsyat itu membuatnya limbung.

Sodokan tombak yang hendak memasuki perutnya masih dapat ia tangkis dengan pedang sehingga tombak itu patah tengahnya, namun serampangan toya besi pada kakinya tak dapat ia hindarkan lagi dan ia roboh terguling dengan pedang masih di tangan. Namun dalam robohnya Kwee Cun Gan masih berusaha menyelamatkan diri, cepat ia bergulingan menjauhkan diri dari musuh-musuhnya dan terpaksa ia melepaskan jenazah Kui Lan yang tak dapat dipertahankannva lagi. Sambil tertawa- tawa mengejek Auwyang lek melangkah maju perlahan lahan menghampiri Kwce Cun Gan.

Pada saat itu, terdengar suara ketawa bergelak-gelak. Suara ini datangnya dari jauh akan tetapi demikian nyaring sehingga suara ketawa Auwyang Tek tertindih. Auwyang Tek tertegun, sejenak mengira bahwa gurunya yang datang. Gurunya, Tok-ong Kai Song Cinjin adalah seorang sakti yang kadang-kadang kalau ketawa juga mendatangkan pengaruh luar biasa sekali. Akan tetapi ia tahu betul bahwa pada saat itu gurunya sedang pergi ke Tibet, baru dua pekan perginya, mana mungkin sudah kembali? Betapapun juga, suara ketawa itu membuat Auwyang Tek berhenti sebentar dan melupakan Kwee Cun Gan. Ternyata suara ketawa inilah yang menolong nyawa ketua Tiong-gi-pai itu karena kalau tidak tentu ia akan mati dalam tangan Auwyang Tek dan anak buahnya. Selenyapnya gema suara ketawa, terdengar bentakan keras, "Siokhu (paman), siauwtit (keponakan) datang membantu!"

Auwyang Tek tertegun karena entah dari mana datangnya tahu-tahu di depannya menghadang seorang kakek botak tua sekali yang membawa sebuah guci tuak. Begitu ia muncul, di sekitar tempat itu berbau tuak yang amat wangi dan keras. Kakek ini tertawa dan ternyata suara ketawa tadi adalah suaranya, ketawanya lembut namun nyaring menusuk telinga dan ketika ia tertawa, bau arak makin menyengat hidung sampai beberapa orang pengawal terbatuk-batuk, padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang tidak doyan arak.

Akan tetapi bau arak ini benar-benar amat kerasnya. Hanya Auwyang Tek yang Iweekangnya sudah tinggi masih dapat menahan, dan ia marah sekali melihat kakek ini. Sebelum ia menegur, melayanglah dari atas bayangan seorang pemuda berpakaian sasterawan yang halus gerak-geriknya, di tangan kanannya nampak sebatang pedang panjang. Begitu pemuda itu turun, ia diserbu oleh para pengawal, akan tetapi sekali pedang berkelebat empat orang pengawal roboh dengan senjata patah-patah.

Auwyang Tek maklum bahwa ada orang pandai hendak menolong ketua Tiong-gi-pai, maka cepat ia berseru keras sainbil melancarkan pukulai Hek-tok-ciang sekuatnya ke arah kakek itu. Pukulan ini bukan main kerasnya sehingga pemuda yang baru turun itu nampak terkejut sekali dan melompat ke samping agar jangan terkena hawa pukulan yang luar biasa itu. Akan tetapi kakek yang dipukul itu tersenyum saja, guci arak yang berukir-kan gambar naga itu diangkat tinggi lalu dituang-nya ke mulutnya, setelah itu ia menyemburkan arak ke depan.

Semua ini dilakukan dengan gerakan lembut namun terjadi amat cepatnya. Semburan arak ini mengandung kekuatan khikang yang tidak terukur kuatnya, namun ternyata pukulan Hek-tok-ciang itu tertahan. Hawa pukulan itu tidak kelihatan, yang kelihatan hanyalah uap arak yang disemburkan itu terhenti di tengah-tengah untuk sesaat lalu maju lagi mengejar Auwyang Tek!

Karuan saja pemuda putera menteri itu kaget sekali. Maklum menghadapi seorang lawan tangguh ia cepat memutar tubuh dan melompat keluar dari ruangan itu, dikejar oleh uap arak! Akan tetapi sekejap mata Auwyang Tek sudah lenyap dari situ ditelan kegelapan malam. Juga para pengawal melihat tuan mudanya lari, berserabutan lari tergesa-gesa.

Kakek botak itu tertawa lalu menyambar tubuh Liem Hoan yang pingsan dengan jenazah Siang Lan. Adapun pemuda sasterawan yang tampan sekali itu memanggul tubuh Kwee Cun Gan yang patah tulang kakinya, tidak lupa mengempit jenazah Kui Lan. Dengan cepat sekali, kakek dan pemuda itu berkelebat dan lenyap dari ruangan yang segera menjadi sunyi itu.

Pemuda tampan berpakaian sasterawan itu bukan lain adalah Kwee Tiong, seorang pemuda yatim piatu keponakan Kwee Cun Gan. Kwee Tiong ini adalah putera Kwee Hai kakak Kwee Cun Gan, dan dahulunya juga seorang patriot pejuang yang gagah perkasa di samping isterinya, seorang murid Siauw-lim yang gagah pula. Suami isteri yang gagah ini gugur di medan juang meninggalkan Kwee Tiong yang menjadi sebatangkara dan yatim piatu. Kwee Cun Gan yang tidak menikah dan tidak mempunyai anak, lalu merawat Kwee Tiong dan memberi pelajaran ilmu surat kepada bocah itu sehingga Kwee Tiong berhasil menempuh ujian dan menjadi siucai.

Akan tetapi Kwee Cun Gan tidak memberi pelajaran ilmu silat kepada keponakannya ini, bukan karena ia tidak mau menurunkan ilmunya, melainkan karena ia ingin mencarikan guru yang pandai untuk keponakan yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu. Akhirnya, ketika Kwee Tiong berusia empat belas tahun, tercapailah cita-cita Kwee Cun Gan ini dan ia berhasil mencari Pek Mao Lojin seorang kakek tua tokoh pantai timur yang sakti. Melihat Kwee Tiong, kakek itupun suka menjadi gurunya, bahkan kakek pemabokan yang luar biasa ini  bersimpati kepada Tiong-gi-pai. Demikianlah Kwee Tiong dibawanya ke pantai timur dan mendapat gemblengan ilmu silat tinggi oleh gurunya, Pek Mao Lojin.

Pada malam hari itu, kebetulan sekali Kwee Tiong pulang ke Nan-king untuk menjenguk pamannya yang sudah lima tahun ia tinggalkan la datang bersama suhunya. Ketika tiba di kuil tua ia mendapat kabar bahwa pamannya itu sedang menyerbu ke istana Auw-yang-taijin. Maka ia segera menyusul bersama gurunya dan berhasil menolong Kwee Cun Gan dan Liem Hoan pada saat yang tepat.

Pada keesokan harinya, mayat lima orang anggauta Tiong-gi-pai digantung oleh Auwyang Tek di tengah-tengah tempat ramai agar semua orang melihatnya dan membuat gentar mereka yang memusuhi golongannya atau golongan ayahnya. Akan tetapi, juga di tempat yang ramai ini Kwee Tiong bersama suhunya memperlihatkan kepandaian, berhasil merampas lima jenazah itu yang dibawa lari keluar kota.

“Kwee-sicu harap jangan gegabah,” berkata Pek Mao Lojin memberi nasihat kepada Kwee Cun Gan setelah mengobati bekas pukulan Hek-tok-ang yang membuat tubuh ketua Tiong-gi-pai itu sedikit banyak kemasukan hawa beracun. Pihak kaum bangsawan korup seperti Auwyang Peng itu tidak holeh dipandang ringan. Selain mereka telah berhasil mempengaruhi kaisar, juga mereka ini dibantu oleh golongan shia pai (partai kotor) yang mempunyai banyak tokoh besar. Lohu tadinya mendengar bahwa Tok ong Kai Song Cinjin. itu raja racun dari Tibet sudah pula turun gunung dan membantu golongan kan-sin (menteri dorna) yang didukung oleh para ok pa (hartawan jahat), dan terus terang saja lohu masih kurang percaya. Masa seorang tokoh besar sakti seperti Tok-ong sudi diperalat oleh orang-orang yang berkedudukan dan beruang. Akan tetapi, melihat Hek-tok-ciang dari orang -muda tadi, keraguanku lenyap. Hanya Tok-ong yang bisa mengajarkan ilmu pukulan sejahat itu.”

"Memang benar apa yang diucapkan oleh locianpwe. Siauwte sudah mendengar bahwa Auwyang Tek putera Menteri Auwyang itu adalah murid Tok-ong Kai Song Cinjin,” jawab Kwee Cun Gan.

Pek Mao Lojin mengangguk-anggukkan kepalanya yang botak. "Berbahaya sekali! Kalau Si Raja Racun itu kebetulan berada di sana, biarpun aku pertaruhkan kepalaku yang botak, sicu takkan dapat tertolong. Mulai sekarang harap sicu jangan mencari perkara dengan mereka. Memang harus menolong rakyat, akan tetapi hal ini dapat dilakukan secara sembunyi, jangan menentang mereka secara berterang sebelum fihak kita cukup kuat. Pula, lohu mendengar bahwa keadaan di Peking lebih baik, kalau Kaisar Thai Cu di sini terpengaruh oleh para kan-sin. sebaliknya para tiong-sin (menteri bijaksana) sebagian besar mengungsi ke utara untuk membantu raja muda di sana yang bijaksana. Kalau demikian halnya, bukankah lebih baik sicu sekalian membantu bintang baru yang gemilang dari pada menunggu bulan yang sudah tertutup mendung?”

"Locianpwe bicara tepat sekali, terima kasih banyak atas segala petunjuk dan pertolongan locianpwe. Akan tetapi siauwte dan kawan-kawan tidak tega meninggalkan rakyat selatan yang terhisap oleh lintah-lintah darat, buaya-buaya yang sekarang menjadi pembesar korup itu. Kami tidak akan bertindak secara berterang, akan tetapi kalau kami dapat membujuk orang-orang gagah dan menundukkan orang-orang sesat dari partai shia-pai, itupun merupakan bantuan yang besar artinya untuk mengangkai nasib rakyai dari lembah penindasan.”

Setelah memberikan janjinya untuk mendukung pergerakan Tiong-gi-pai dan untuk kelak kalau perlu menyumbangkan tenaga di bawah pimpinan Souw-taihiap yang masih dicari-cari, Pek Mao Lojin lalu mengajak pergi muridnya. Mereka hanya berkumpul tiga hari tiga malam dengan orang-orang Tiong- gi-pai. Yang paling berduka adalah Liem Hoan. Selain kehilangan dua orang puterinya. juga Liem Han Sin tidak diketahui ke mana perginya. "Jangan-jangan puteraku itu menjadi korban pula..." keluhnya.

"Kurasa tidak demikian," Kwee Cun Gan menghibur, "kalau belul puteramu itu tewas, tentu jenazahnya akan digantung pula seperti jenazah kawan-kawan lain. Agaknya puteramu itu dapat melarikan diri."

Akan tetapi sepekan kemudian, pada menjelang tengah malam, Liem Hoan terbangun dari tidurnya mendengar seruan puteranya. "Ayah.     !” la mengira sedang mimpi, akan tetapi alangkah herannya

ketika ia melihat wajah Liem Han Sin di luar jendela tersenyum kepadanya. Ketika ia melompat ke jendela, ia mendengar angin menyambar dan bayangan puteranya lenyap. Cepat ia menyalakan lilin dan.     di atas meja dalam kamar itu telah terdapat coretan-coretan huruf dengan tinta hitam yang

indah sekali gayanya. Itulah empat baris sajak yang berbunyi demikian:

Bertemu menteri dorna, menderita sakit hati seluas lautan Putera tunggal bertemu jodoh penuntun ke arah kemajuan Peristiwa suka dan duka sudah ditentukan Thian

Ayah dan putera lima tahun lagi adakan pertemuan

Membaca tulisan ini, Liem Hoan menjadi terhibur. Ia maklum bahwa puteranya telah bertemu guru yang sakti dan puteranya itu akan dibawa selama lima tahun untuk menjadi murid guru itu. Hanya sayangnya, ia tidak tahu siapakah gerangan orang sakti yang membawa pergi puteranya. Akan tetapi ketika Kwce Cun Gan melihat tulisan ini, pendekar ini berseru kaget dan hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

"Betul-betul diakah yang datang? Aneh dan hampir tak masuk di akal!" katanya. "Siapakah dia itu?” Liem Hoan bertanya tak sabar.

Kwee Cun Gan menggeleng-geleng kepalanya. “Aku belum berani memastikan bahwa beliau yang menulis sajak ini, akan tetapi coba lihat saja. Biarpun huruf-huruf ini ditulis dengan pit bulu, akan tetapi bekas bulu menggurat dalam-dalam pada meja tanda bahwa penulisnya adalah seorang ahli Iweekeh yang jarang tandigannya, dapat membuat bulu pit menjadi seperti kawat kerasnya. Pula, bentuk huruf ini aneh, tintanya mendoyong dan menyiprat ke kanan kiri demikian rata seperti ditiup atau dikipasi selagi masih basah. Akan tetapi cipratannya demikian rata seperti kembang. Di dunia ini hanya ada seorang tokoh saja yang sudah terkenal dengan senjata anehnya, pit dan kipas akan

tetapi ia kabarnya menghilang di luar daratan, di antara pulau-pulau kosong di lautan. Bagaimana dia bisa muncul di sini ?”

Liem Hoan nampak kaget. "Apakah yang kau maksudkan itu locianpwe Im-yang Thian-Cu. ?”

Kwee Cun Gan mengangguk, kalau berkata, “Kau beruntung, saudara Liem. Kalau betul puteramu itu menjadi murid beliau, benar-benar penasaranmu telah terobati. Pada masa ini, kedudukan Im-yang Thian-cu amat tinggi, kiranya tidak kalah saktinya kalau dibanding dengan Pek Mao-Lojin yang menjadi guru keponakanku."

Demikianlah, hati Liem Hoan agak terhibur dan ia mengharapkan puteranya kelak akan menjadi orang pandai dan selain dapat membalaskan sakit hatinya, juga dapat menjadi pahlawan rakyat yang patriotik. Dan demikian pula "perkenalan" pertama antara fihak Tiong-gi-pai dengan fihak Auwyang- taijin dan semenjak itu. Auwyang-taijin mengerahkan seluruh orangnya untuk menyelidiki dan mengawasi gerak gerik perkumpulan ini. Setahun telah lewat dan Liem Hoan kini menjadi anggauta Tiong-gi-pai yang biarpun berdiri dalam rahasia, makin lama makin banyak pendukungnya yang terdiri dari orang-orang kang-ouv yang merasa prihatin melihat kesengsaraan rakyat di bawah penghisapan lintah-lintah darat berupa pembesar-pembesar korup.

Karena sudah mendapat petunjuk dari Pek Mao Lojin, Kwee Cun Gan membatasi gerakannya dengan membantu rakyat yang membutuhkan pertolongan, juga ia telah mengadakan hubungan dengan Raja Muda Yung Lo, putera selir dari Kaisar Thai Cu yang mendapat tugas menjaga tapal batas utara. Raja Muda Yung Lo juga melarang orang-orang gagah memusuhi ayahnya, karena maklum bahwa ayahnya itu pada dasarnya seorang patriot, hanya pada waktu ini terpengaruh oleh para kan-sin (menteri dorna). Raja Muda Yung Lo di Peking hanya minta kepada Kwee Cun Gan supaya berusaha mencari Souw Teng Wi, bahkan menjanjikan hadiah seribu tail emas bagi siapa yang dapat membawa Souw Teng Wi, menghadap kepadanya.

Di lain fihak, Auwyang-taijin juga menjanjikan hadiah lebih besar lagi, yaitu duaribu tail dan kedudukan tinggi bagi siapa yang dapat membawa ia "pemberontak" Souw Teng Wi! Dari dua janji ini saja dapat diukur bagaimana pentingnya seorang seperti pahlawan Souw Teng Wi itu. Kurang lebih setahun setelah peristiwa yang di alami oleh keluarga Liem di kota raja. Seperti sudah diceritakan, selama itu Liem Hoan menjadi anggauta setia dari Tiong-gi-pai. la bekerja dengan baik, menjadi kepercayaan Kwee Cun Gan sendiri.

Pada Suatu hari Liem Hoan yang melakukan penyelidikan tentang Souw Teng Wi tiba di kota Ki-liang. la pergi bersama seorang anggauta Tiong-gi-pai yang dulu pernah menjadi anak buah Souw-taihiap ketika berjuang melawan penjajah Mongol. Secara kebetulan sekali mereka bertemu dengan Lo Houw yang berjalan tergesa-gesa. Thio Sek Eng, kawan Liem Hoan itu mengenal Lo Houw bekas kawan seperjuangannya dan cepat menegur.

“Lo Houw, kau hendak ke mana?” Lo Houw terkejut akan tetapi menjadi girang ketika mengenal Thio Sek Eng. Segera dua orang kawar, lama ini bercakap-cakap.

“Lo Houw, tahukah kau di mana adanya tai-hiap sekarang?” tanya Thio Sek Eng serta-merta.

"Akupun sedang mencarinya,” jawab Lo Houw, kemudian dengan suara perlahan ia melanjutkan, "Juga Haminto Losu dan Souw-siocia mencarinya...” tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan nampak menyesal sambil melirik ke arah Liem Hoan yang tak dikenalnya. Lo Houw merasa sudah bicara terlalu banyak.

"Apa kau bilang Haimnto Losuhu datang ke selatan bersama Souw-siocia....? Souw-siocia yang mana? Apakah benar isteri taihiap sudah mempunyai anak perempuan?” Didesak demikian itu Lo Houw menjadi bingung.

“Aku.... hanya mendengar berita angin saja, benar tidaknya entahlah" Kemudian dengan tergesa gesa ia minta diri dan pergi tanpa dapat ditunda lagi. Mendengar berita itu. Liem Hoan dan Thio Sek Eng cepat-cepat memberi kabar kepada Kwee Cun Gan yang menjadi girang sekali,

"Kita harus mencari orang tua itu, dia mertua Souw-taihiap dan terutama sekali puteri Souw-taihiap harus kita lindungi Kalau fihak shia-pai dan para kaki tangan kan-sin (menteri dorna) tahu bahwa Souw-taihiap mempunyai seorang puteri, mereka tentu akan mencoba untuk mengganggunya. Lekas panggil kawan-kawan untuk berkumpul malam nanti di Bukit Ratu Menara!” Demikianlah, pada malam hari itu beberapa belas orang gagah para anggauta Tiong-gi-pai berkumpul di sebuah bukit di mana terdapat batu karang-batu karang yang bentuknya seperti menara. Malam itu bulan hanya muncul sepotong kecil saja, namun orang-orang gagah ini membuat api unggun besar sehingga keadaan di bukit itu menjadi terang. Tempat pertemuan mereka adalah di tempat terbuka, tempat duduk mereka hanya batu-batu gunung. Seorang demi seorang datang dan tanpa banyak cakap mereka mencari tempat duduk di sekeliling api unggun. Selelah cukup empat belas orang anggauta Tiong-gi-pai yang tergolong para pemuka berkumpul, Kwee Cun Gan yang memimpin pertemuan itu berkata,

"Kawan-kawan, kita berkumpul untuk membicarakan tiga hal yang amat penting. Pertama-tama adanya berita buruk bahwa para dorna telah membawa-bawa hongsiang (kaisar) sehingga beliau kena mereka pengaruhi dan menganggap Tiong-gi-pai sebagai partai pemberontak. Sekarang, thaicu (putera mahkota) sendiri yang mengepalai para suwi (pahlawan istana) berusaha menangkap kita, dibantu oleh Auw yang-taijin dan kaki tangannya.”

"Ah, tidak aneh!” Tiba-tiba seorang hwesio berkata lantang dan marah. "Thaicu bukan manusia baik- baik, segolongan dengan manusia-manusia macam Auwyang Tek dan ayahnya!” Hwesio yang usianya tiga puluh tahun lebih itu adalah Thian Le Hosiang, seorang anak murid Siauw-lim-pai yang menggabung pada Tiong-gi-pai karena bersimpati dengan usaha orang-orang gagah ini, "Sudah banyak pinceng mendengar berita buruk tentang keganasan pangeran sulung itu."

Kwee Cun Gan menarik napas panjang. "Memang sayang sekali, semenjak bergaul dengan Auwyang Tek, thaicu menjadi tersesat. Benar-benar merupakan awan gelap bagi Kerajaan Beng, mempunyai calon junjungan seperti itu. Akan tetapi kita tidak perlu takut, karena kita berada di fihak benar. Sekarang soal ke dua yang lebih menggembirakan. Raja Muda Yung Lo yang mulia telah berkenan mengirim utusan dari utara dan kabarnya pada malam hari ini akan tiba di sini Kita bersiap untuk menyambut utusan agung itu."

Mendengar ini, semua orang kelihatan gembira. Berbeda sekali dengan putera sulung atau thaicu (putera mahkota) Kerajaan Beng, Raja Muda Yung Lo yang menjabat kedudukan raja muda di Peking itu adalah seorang gagah lahir batinnya, karenanya menentang pembesar-pembesar bawahan ayahnya sendiri yang korup dan menindas rakyat. Karena didesak oleh para dorna yang meminjam tangan kaisar, kini Tiong-gi-pai berpaling ke utara dan minta bantuan raja muda itu. Dengan gembira empat-belas orang itu bercakap-cakap membicarakan hal ini dan menduga-duga siapa gerangan yang dijadikan utusan Raja Muda Yung Lo.

"Di utara terdapat banyak sekali orang gagah," kata Liem Hoan guru silat akrobat yang sering kali merantau ke utara, "Dan dengan adanya raja muda bijaksana, tentu mereka semua serempak membantu beliau. Dapat diduga bahwa utusan itu tentulah seorang yang berilmu tinggi."

Setelah cukup mempercakapkan persoalan ini, Kwee Cun Gan bicara tentang soal ke tiga. Wajahnya berubah keren dan sungguh-sungguh ketika ia berkata, "Kawan-kawan, setelah lama mencari-cari kini ada sedikit berita mengenai keluarga Souw-taihiap.” Suara berisik orang-orang itu tiba-tiba terhenti dan semua telinga mendengarkan penuh perhatian.

"Silahkan saudara Thio Sek Eng menceritakan pertemuannya dengan Lo Houw.” kata pula Kwee Cun Gan.

Thio Sek Eng yang duduk di dekat Liem Hoan lalu bercerita, “Lo Houw adalah bekas kawan seperjuanganku ketika kami dahulu berjuang di bawah pimpinan Souw-taihiap. Kemarin ketika aku dan Liem lo-enghiong berada di Ki-liang, kami melihat Lo Houw berjalan dan cepat aku tanya dia tentang Souw-taihiap. Dari Lo Houw inilah aku mendengar bahwa Haminto Losu, ayah mertua Souw- taihiap seorang tokoh Bangsa Hsi-sia. telah masuk ke Tiong-goan bersama cucu perempuannya, puteri Souw-taihiap, untuk mencari Souw-tai hiap pula.”

“Di mana mereka berada sekarang?" serentak orang-orang bertanya.

"Itulah sayangnya. Lo Houw tergesa-gesa dan segera berlari pergi, tak sempat memberi tahu dengan Jelas.” Semua orang juga merasa sayang dan menyesal karena mendengar berita tentang puteri Souw-taihiap, semua orang ingin bertemu dengan puteri pendekar besar itu.

"Betapapun juga, kita sudah mendengar bahwa Souw-taihiap mempunyai seorang anak perempuan, dan lebih penting lagi, anaknya itu bersama kongkongnya sekarang telah berada di Tiong-goan (pedalaman Tiongkok). Oleh karena itu kita jangan kurang waspada, harus memberi tahu kepada seluruh kawan kita untuk membuka mata dan telinga, di mana saja mendengar adanya Souw-sio-cia, kita harus segera mendapatkannya dan melindunginya,” kata Kwee Cun Gan.

Tiba tiba Kwee Cun Gan dan Thian Le Hosiang serentak berdiri, wajah mereka tegang memandang ke arah selatan. Di antara semua yang hadir Kwee Cun Gan memiliki kepandaian yang paling tinggi, kemudian menyusul Thian Le Hosiang murid Siauw-lim-pai itu. Oleh karena itu, hanya dua orang ini yang lebih dulu mendengar sesuatu yang mencurigakan.

“Heh-heh-heh, orang-orang gagah berkumpul mengelilingi api unggun, sungguh menarik dan asyik. Heh-heh-heh!” Tiba-tiba terdengar suara ini dan Muncullah seorang gundul tua yang menggandeng tangan seorang dara cilik yang berpipi merah. Orang gundul ini bukan lain adalah Bu Lek Hwesio dan dara cilik itu tentu saja Souw Lee Ing. Sebelum datang ke tempat ini, lebih dulu Bu Lek Hwes o menotok ya-hiat di leher gadis itu sehingga seketika Souw Lee Ing kehilangan suaranya dan menjadi gagu! Kemudian ia memegang pergelangan lengan gadis itu dengan erat. Lee Ing tentu saja kaget sekali, juga heran mengapa orang gundul yang katanya hendak menjadi gurunya, juga hendak membawanya kepada ayahnya ini tahu-tahu mengandung maksud yang tidak baik, buktinya telah menotoknya dan memegang lengannya demikian erat. Mau apakah orang gundul ini, akan tetapi Lee Ing tidak berdaya, tidak kuasa   berteriak, tidak dapat bergerak. terpaksa melangkah dan menurut saja sambil memandang ke arah orang-orang yang duduk mengelilingi api.

Mendengar suara Bu Lek Hwesio, orang-orang di situ menjadi kaget dan menoleh. Liem Hoan yang duduknya paling dekat, memutar tubuh dan meraba gagang pedangnya, akan tetapi hwes o gundul itu hanya tertawa-tawa saja.

"Kawan-kawan, tenang jangan bergerak!” kata Kwee Cun Gan yang merasa khawatir kawan- kawannya akan turun tangan secara lancang. Kemudian ia menjura ke arah hwesio itu dan berkata, "Losuhu yang baru datang ini siapakah dan apakah ada keperluan penting?"

Bu Lek Hwesio tertawa lagi. “Heh-heh-heh pinceng Bu Lek Hwesio, ingin bertemu dengan Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai. Bukankah kalian ini anggauta-anggauta Tiong-gi-pai? Heh-heh-heh.”

Mendengar pertanyaan ini. tahulah semua orang bahwa hwesio yang baru datang ini belum kenal Kwee Cun Gan, maka Liem Hoan cepat melangkah maju dan berkata, "Losuhu ada keperluan apa mencari Kwee pangcu (ketua Kwee) Memang kami orang-orang Tiong-gi-pai dan kalau ada keperluan, cukup losuhu bicara dengan kami untuk disampaikan kepada ketua kami.”

Liem Hoan mendahului kawan-kawannya karena ia berlaku hati-hati tidak ingin Kwee Cun Gan dikenal orang luar. Bu Lek Hwesio memandang tajam kepada Liem Hoan dan matanya menyapu ke arah pedang yang tergantung di pinggang guru silat itu. Ia pernah mendengar bahwa Kwee Cun Gan adalah seorang setengah tua yang berpakaian sederhana, berjenggot panjang dan selalu membawa pedang, persis seperti orang yang kini berdiri tegak di depannya ini. Akan tetapi Bu Lek Hwesio masih ragu-ragu dan cepat ia mendorong dengan tangan kirinya ke arah dada Liem Hoan sambil berkata. "Pergilah!”

Liem Hoan adalah seorang yang kepandaian silatnya sudah tinggi menghadapi dorongan dari jarak dua meter ini ia maklum bahwa hwesio itu seorang ahli Iweekeh, maka cepat ia menangkis dengan tangannya. Akan tetapi, tetap saja dorongan angin pukulan yang dahsyat membuat kuda-kudanya tergempur dan tubuh Liem Hoan terhuyung mundur sampai tiga tindak tanpa dapat la cegah lagi.

“Heh-heh-heh-heh, kau bukan Kwee Cun Gan!” kata Bu Lek Hwesio tertawa mengejek dan maklumlah Liem Hoan dan yang lain-lain bahwa hwesio ini tadi hanya mencoba tenaga saja. Namun Liem Hoan yang merasa terhina menjadi marah. dicabutnya pedang dari pinggangnya dan cepat ia menyerang dengan tusukan ke leher hwesio itu.

"Bagus, ilmu pedangmu tidak buruki” seru Bu Lek Hwesio sambil mengelak ke kanan, akan tetapi dengan amat cepatnya Liem Hoan memutar pedang melakukan serangan membacok. Dan pada saat itu Souw Lee Ing biarpun tak dapat bersuara dan lengan kirinya sudah dipegang erat-erat, melihat ada orang menempur hwesio ini, tidak mau menyia-nyiakan kesempatan baik dan mengirim tendangan dengan kakinya ke arah lutut Bu Lek Hwesio,hal yang tak disangka sama sekali oleh Bu Lek Hwesio.

Biarpun kepandaian Lee Ing belum tinggi namun dara cilik ini pernah menerima gemblengan Haminto Losu dan tendangan merupakan kepandaian istimewa dari Haminto Losu, maka tendangan Lee Ing ini bukan tidak berbahaya. Apa lagi gerakan pedang dari Liem Hoan juga cepat dan mantap. Dengan marah. Bu Lek Hwesio menyendal tangan Lee Ing sehingga tubuh gadis itu terayun, tendangannya gagal dan kini tubuh gadis itu dipergunakan oleh Bu Lek Hwesio untuk menangkis datangnya pedang Liem Hoan yang membacok ke arahnya.

Datangnya pedang dan tubuh demikian cepat sehingga biarpun Liem Hoan menjadi amat kaget, namun ia tak kuasa menarik kembali pedang itu. Agaknya tak dapat dicegah lagi tubuh dara cilik itu tentu akan terbacok pedang.

"Traaanggg...!” Pedang terpental dari tangan Liem Hoan dan menancap di atas lantai, bergoyang- goyang gagangnya. Liem Hoan mencelat mundur dan memandang kepada Kwee Cun Gan yang kini sudah berdiri dengan tenang. Pedangnya tetap berada di punggungnya, akan tetapi semua orang tadi melihat betapa dengan kecepatan kilat Kwee Cun Gan sudah menangkis pedang Liem Hoan lalu menyarungkan lagi pedang itu.

"Bagus sekali kiam-hoat itu.” Bu Lek Hwesio memuji melihat gerakan tadi, kemudian “sett...

sett..” kedua kakinya melangkah maju ke arah Kwee Cun Gan dan kembali tangan kirinya mendorong ke depan, ke arah dada ketua Tiong-gi-pai itu.. Kwee Cun Gan tidak mengelak maupun menangkis, melainkan mengerahkan khikangnya bertahan. Hawa pukulan Bu Lek Hwesio membalik ketika bertemu dengan sinkang yang dikerahkan oleh Kwee-pangcu, membuat Bu Lek Hwesio merasa telapak tangan kirinya tergetar.

“Heh-heh-heh-heh...” Ia tertawa terkekeh girang sekali. "Lweekangmu tinggi, kiam-hoatmu indah, tidak bisa lain, kaulah tentu orangnya yang bernama Kwee Cun Gan ketua Tiong-gi-pai yang pinceng cari!” Mendengar ini, untuk sejenak Kwee Cun Gan berdebar hatinya. Inikah utusan Raja Muda Yung Lo? Mengapa begini macamnya? Ah. tak mungkin raja muda itu mengutus seorang kasar dan sombong macam ini!. "Benar, aku bernama Kwee Cun Gan. Losuhu ini datang-datang membuat ribut ada urusan apakah dengan aku orang she Kwee?” katanya terus terang.

“Heh-heh, baru saja pinceng mendengar kalian bicara tentang anak perempuan Souw Teng Wi. Nah, pinceng datang untuk menyerahkan anak perempuan Souw Teng Wi yang kalian bicarakan itu. Heh- heh-heh!” ia berkata demikian sambil mendorong Lee Ing ke depan, akan tetapi pergelangan tangan kiri gadis itu masih dipegangnya, kini lebih erat lagi. Semua orang terkejut dan serentak mereka bersiap-siap.

"Lepaskan dia!” teriak beberapa orang yang sudah mencabut pedang dan senjata lain.

“Heh-heh, gentong-gentong kosong! Kalian mau apa?” Bu Lek Hwesio mengejek sambil memencet pergelangan tangan Lee Ing lebih keras sehingga gadis itu mukanya mengernyit kesakitan.

“Saudara-saudara, tahan senjata!” Kwee Cun Gan berseru, mukanya berubah pucat ketika ia memandang kepada Lee Ing. Kemudian kepada Bu Lek Hwesio ia berkata.

"Losuhu, bagaimana kami dapat yakin bahwa nona ini benar-benar Souw-siocia?”

Bu Lek Hwesio sambil terkekeh-kekeh lalu menggerakkan tangan membebaskan totokan pada leher Lee Ing. Dara ini biarpun merasa lehernya masih sakit dan serak, cepat berkata.

“Cu-wi jangan percaya pada hwesio ini. Dia penipu, katanya hendak membawa aku kepada Souw Teng Wi, ternyata dia malah menawanku. Serang saja dia!”

Akan tetapi Kwee Cun Gan yang menjadi girang, juga kaget mendengar pengakuan gadis itu. cepat berkata kepada Bu Lek Hwesio. “Bu Lek Hwesio, kau datang membawa Souw-siocia kepada kami dengan maksud bagaimanakah?”

“Heh-heh Kwee Cun Can. Jangan kira aku menghendaki uang hadiah. Pinceng datang dengan maksud baik, mengadakan pertukaran yang adil. Pinceng hendak menukarkan bocah ini dengan Lian-cu-sam- kiam (Ilmu Pedang Tiga Tikaman Berantai).”

Kwee Cun Gan terkejut sekali. Di antara ilmu pedang Kun-lun-pai, terdapat tujuh belas ilmu pedang yang paling lihai dan jarang sekali ada anak murid Kun-lun-pai mampu memainkan. Dan Lian-Su-sam- kiam adalah tiga di antara tujuh-belas yang paling lihai itu, yang merupakan inti ilmu pedang Kun- lun-pai dan yang selama ini mengangkat nama besar Kwee Cun Gan. Biarpun namanya hanya ’’Tiga Tikaman Berantai” namun setiap tikaman mengandung dua belas pecahan sehingga ilmu pedang ini seluruhnya ada tiga puluh enam jurus yang sukar dilawan. Bagaimana ia dapat memberikan ilmu ini begitu saja kepada seorang hwesio yang dari gerak-geriknya dapat diketahui bukan orang baik-baik?

"Lopek (paman tua), jangan dengarkan omongannya! Serang dan bunuh dial” Lee Ing berseru sambil meronta-ronta, tidak perduli tangannya terasa sakit sekali. Orang-orang Tiong-gi-pai dibangunkan semangatnya oleh suara Lee Ing ini. juga mereka menganggap permintaan hwesio itu kurang ajar, dan tidak patut, maka Serentak mereka bangkit. Thian Le Hosiang yang tinggi kepandaiannya sudah memutar toyanya hendak menyerang. Akan tetapi, sambil menggereng marah Bu Lek Hwesio menggerakkan tangan dan tubuh Lee Ing kembali terayun, diputar-putar seperti kitiran cepatnya, dipergunakan sebaga senjata!

“Cu-wi enghiong, jangan perdulikan aku. Serang dia! Bunuh dia. biar aku matipun tidak apa!” Benar- benar hebat semangat bocah perempuan itu. Dia diputar-putar, selain lengannya sakit sekali rasanya, juga kepalanya menjadi pening, namun ia masih dapat memberi dorongan semangat kepada orang-orang Tiong gi pai. Menyaksikan kegagahan luar biasa ini. hati Kwee Cun Gan yang tadinya masih meragukan apakah betul bocah itu puteri Souw Teng Wi. kini menjadi percaya dan yakin. Hanya keturunan orang gagah luar biasa yang memiliki nyali dan semangat seperti dara remaja itu.

"Tahan!” serunya keras. "Bu Lek Hwesio. aku terima syaratmu!” Bu Lek Hwesio tertawa terkekeh- kekeh, lalu melepaskan tubuh Lee Ing. Begitu dilepas, Lee Ing terhuyung-huyung karena masih pusing. Tanah yang diinjaknya berputaran seperti ada gempa bumi besar.

"Bagus. Kwee Cun Gan. Lekas keluarkan Lian-cu-sam-kiam itu untuk pinceng lihat!”

Kwee Cun Gan dengan terpaksa lalu menyuruh kawan-kawannya pergi. Kemudian dengan perlahan ia bersilat pedang yang tiga puluh enam jurus banyaknya itu di depan Bu Lek Hwesio yang memandang penuh perhatian. Bagian-bagian yang kurang dimengertinya ia minta ketua Tiong-gi-pai itu mengulang. Dengan terpaksa Kwee Cun Gan terus melayani permintaan Bu Lek Hwesio. biarpun keringatnya sudah memenuhi muka dan lehernya. Bu Lek Hwesio cerewet sekali dan ia menyuruh Kwee Cun Gan mengulang sampai setengah malam penuh. Menjelang pagi barulah ia merasa puas.

“Nah, kau terimalah bocah ini!” serunya sambil mendorong Lee Ing ke arah Kwee Cun Gan. Dara remaja yang sudah lemas karena menderita lahir batin itu roboh pingsan dalam pelukan Kwee Cun Gan, sedangkan Bu Lek Hwesio cepat melarikan diri. Di kaki gunung ia disambut oleh Thian Le Hosiang dan kawan-kawannya yang tanpa banyak cakap segera menyerangnya!

"Heh-heh-heh, orang-orang Tiong-gi-pai tak tahu malu! Mana sifat kegagahan kalian?” bentaknya sambil melawan. Kepandaiannya yang tinggi membuat dia dengan mudah merobohkan dua orang pengeroyok dan Cepat ia melarikan diri. Betapapun juga ia khawatir kalau sampai Kwee Cun Gan mengejar ke situ, sukarlah baginya meloloskan diri.

"Kawan-kawan, lepaskan dia! Janji laki-laki harus dipegang teguh!” terdengar Kwee Cun Gan berseru keras. Mendengar ini, para anggauta Tiong-gi-pai menahan senjata dan mengurungkan niat mereka mengejar dan menyerang dengan senjata rahasia. Kemudian mereka menolong kawan-kawan yang terluka lalu menghampiri Kwee Cun Gan.

“Nona ini harus kita rawat baik-baik, agaknya ia lelah sekali. Menurut pengakuannya tadi, dia benar- benar puteri Souw-taihiap.”

Lee Ing membuka matanya dan melompat bangun. “Aku memang benar puteri Souw Teng Wi, namaku Souw Lee Ing. Tadinya aku datang bersama kongkongku, Haminto Losu, akan tetapi kena tertipu oleh hwesio keparat tadi. Dia pura-pura hendak mengambil murid kepadaku dan mengajakku ke tempat ayah, tidak tahunya ”

Tiba-tiba terdengar bunyi “tarrr!!” tarrl!” seperti cambuk, akan tetapi lebih keras dan nyaring sekali, disusul suara gerengan seperti singa yang memekakkan telinga. Semua orang terkejut. Suara ini membuat jantung mereka merasa berhenti berdetik dan kedua kaki mereka emas.

"Apa itu....???” tanya seorang dengan suara gemetar. Memang hebat sekali suara tadi, membuat hati seorang yang bagaimana tabahpun menjadi takut.

"Celaka...” kata Thian Le Hosiang perlahan sekali, wajahnya pucat. ’’Jangan-jangan iblis itu..” Baru saja ia berkata demikian, terdengar suara... tar..!!” yang keras sekali, lalu kelihatan sinar hitam menyambar disusul pekik Thian Le Hosiang dan ketika semua orang melihat... ternyata kepala hwesio itu sudah pecah berantakan dan tubuhnya terguling menjadi mayat. Dapat dibayangkan betapa terkejutnya semua orang melihat kejadian hebat ini.

Ilmu kepandaian Thian Le Hosiang hwesio Siauw-lim-pai itu bukannya rendah, kalau dibandingkan dengan yang lain, hanya Kwee Cun Gan seorang yang dapat mengatasinya. Namun dengan sekali serang dapat menghangurkan kepalanya, benar-benar musuh hebat

Sementara itu, Kwee Cun Gan dan yang lain-lain sudah mencabut pedangnya dan memandang tajam ke depan. Entah dari mana munculnya, di dalam cuaca pagi yang remang-remang itu muncul seorang yang wajahnya seperti setan, atau lebih tepat lagi seperti singa.

Rambutnya hitam mengkilat dan panjang, digelung ke atas kepala dan dibungkus kain, matanya besar-besar dilindungi alis yang menjulang ke depan hidungnya besar dan mulutnya meringis seperti mulut singa, di dagunya tumbuh rambut menjungkat ke depan seperti janggut kambing bandot. Tubuhnya tinggi besar, tertutup oleh pakaian yang longgar dan gedobyoran. Di tangan kanannya terdapat sebatang cambuk yang mengerikan, yaitu cambuk kelabang yang pada kanan kirinya dipasangi duri-duri tajam. Cambuk inilah yang tadi berbunyi nyaring dan cambuk ini pula yang sekali dipukulkan telah menghancurkan kepala Thian Le Hosiang.