-->

Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 11

Jilid 11

Lagipula nama orang penotok jalan darah itu bisa membuat Gin leng hiat ciang begitu terkejut sehingga wajahnya pucat pasi. Entah siapa tokoh yang misterius itu?

Keheranan di hati Kuan Hong Siau jangan ditanyakan lagi. Dia juga tidak mengerti apa sebenarnya yang ada di balik semua ini. Tampak I Ki Hu merenung sekian lama, senyuman di wajahnya baru dikembangkan kembali. Tetapi tam-paknya terlalu dipaksakan. Sepasang tangannya menyilang di depan dada. Di dalam ruangan batu itu dia berjalan mondar mandir, seakan-akan sedang memikirkan persoalan yang amat rumit.

Sampai lama sekali masih belum terdengar I Ki Hu mengucapkan sepatah kata pun.

"Apakah I sian sing sudah mengenali siapa orangnya yang menotok jalan darah mereka?" tanya Kuan Hong Siau yang sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin tahunya.

I Ki Hu hanya mendehem satu kali sebagai jawaban.

"Kalau begitu, tentu I sian sing dapat mem-bebaskan totokan mereka, bukan?" tanya Kakek Kuan kembali.

Mendengar pertanyaan itu, langkah kaki I Ki Hu langsung terhenti. Sepasang matanya menyorot-kan sinar yang dingin. Dari alisnya terpancar hawa pembunuhan yang tebal. la menatap Kuan Hong Siau lekat-lekat.

Mendapat tatapan sedemikian rupa, tanpa di-sadari tubuh Kuan Hong Siau bergetar hebat.

"Sahabat Kuan, kau toh tidak mungkin keluar lagi dari ruangan batu ini. Untuk apa kau masih memikirkan hidup?" ucap I Ki Hu dengan nada suara dingin.

Seumur hidupnya, Kuan Hong Siau tidak per-nah meninggalkan dunia bu Lim. Terhadap ucapan I Ki Hu barusan, ia mengerti bahwa dirinya tidak akan luput dari kematian. Tetapi hatinya justru merasa heran mengapa tiba- tiba saja timbul niat jahat dalam hati I Ki Hu kepadanya? Apalagi barusan sikap yang diperlihatkan si Raja Ibiis itu baik- baik saja. Tidak terkandung kesan akan men-celakainya.

"Orang she Kuan itu sudah lama hidup di dunia. Kematian bukan suatu hal yang menakut-kan. Tetapi cayhe justru ingin tahu mengapa tiba-tiba timbul keinginan membunuh di hati saudara?" tanya Kuan Hong Siau dengan tawa getir, "Kau memang tidak malu disebut laki-laki sejati. Terns terang saja aku katakan kepadamu bahwa aku tidak sanggup membebaskan jalan darah kedua orang itu. Tetapi aku justru tidak ingin hal ini diketahui orang-orang bu lim. Jangan sampai ada yang tahu bahwa dengan kepandaian yang kumiliki, ternyata masih ada hal yang tidak sanggup kulakukan. Karena itu pula, aku tidak akan membiarkan ada mulut yang hidup."

Hati Kuan Hong Siau tercekat. Diam-diam dia berpikir dalam hati. Nama husuk si Raja Ibiis itu ternyata bukan nama kosong. Hanya karena alasan yang sederhana, dia tidak segan melakukan pembunuhan.

Setelah termangu-mangu sejenak, Kuan Hong Siau tertawa sumbang.

"Kalau begitu, harap I sian sing turun tangan saja!" ucap Kakek Kuan.

Tiba-tiba tubuh I Ki Hu berkelebat ke depan. Lengan bajunya mengibas tepat di jalan darah terpenting bagian dada Kuan Hong Siau. Orang tua itu juga sadar dirinya sudah terluka parah, per-cuma saja menghindar. Karena itu dia memejam-kan matanya dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Begitu jalan darah di dadanya terkena kibasan lengan baju I Ki Hu, orang tua itu pun terkulai jatuh dan mati seketika.

I Ki Hu tertawa seram. Kemudian dia berjalan ke arah pasangan suami istri Lie Yuan. Langkah-nya perlahan tapi pasti.

Sejak masuk ke dalam ruangan batu, kecuali seruan terkejut tadi, Tao Ling tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ketika ia melihat I Ki Hu meng-hampiri pasangan suami istri Lie Yuan, hatinya langsung tercekat. Kedua orang itu, bagaimana pun merupakan orang tua Lie Cun Ju.

Entah di mana sekarang Lie Cun Ju berada. Tetapi selama Tao Ling masih hidup, ia tidak ingin bertemu lagi dengan pemuda itu. Sekarang kedua orang tua Lie Cun Ju sedang menghadapi kesulitan. Tentu saja dia tidak bisa berdiam diri tanpa memberikan pertolongan apa-apa.

"Hu kun, tunggu dulu!" seru Tao Ling tanpa sadar. I Ki Hu menolehkan kepalanya.

"Apakah Hu jin ingin memintakan pengampunan bagi kedua orang ini?" katanya.

Tao Ling maju selangkah.

"Sekarang jalan darah mereka sudah tertotok, mengapa Hu kun niasih ingin menurunkan tangan jahat?" ujar Tao Ling.

I Ki Hu tertawa terbahak-bahak.

"Hu jin tidak tahu, orang yang menotok jalan darah mereka mempunyai hati yang keji sekali. Bahkan jauh lebih keji daripadaku. Seandainya mereka dapat berbicara, tentu mereka memilih mati daripada tersiksa sedemikian rupa. Apabila aku turunkan tangan jahat kepada mereka sama halnya aku melepaskan mereka dari kesengsaraan. Di alam baka, arvvah mereka malah akan berterima kasih atas budiku ini."

Tao Ling terdiam mendengar kata-katanya. I Ki Hu melanjutkan kemhali. "Tetapi aku harus membebaskan dulu jalan darah mereka agar bisa menjawab beberapa pertanyaanku."

Tao Ling terkejut sekali.

"Aih .. . Bukankah tadi kau mengatakan bahwa kau tidak sanggup membebaskan jalan darah mereka?"

"Aku memang tidak bisa membebaskan jalan darah mereka. Tetapi aku bisa menggunakan semacam cara untuk mengedarkan hawa murni tubuh mereka, lalu memutuskan seluruh urat nadi dalam tubuh. Dengan demikian totokan di bagian mana pun bisa lancar kembali?" tukas I Ki Hu. Tao Ling memang gadis yang cerdas. Dia langsung memahami maksud I Ki Hu.

"Tetapi .. . dengan cara seperti itu, mereka toh bisa langsung mati."

"Betul. Kalau seluruh urat nadi dalam tubuh sudah putus, mana mungkin seseorang bisa mempertahankan hidupnya. Tetapi aku masih mempunyai semacam cara yang bisa menunda kematian mereka sesaat sehingga ada waktu untuk menjawab pertanyaan yang akan aku ajukan."

Tao Ling merenung sejenak.

"Hu kun, bolehkah kau pandang aku dan menunda sebentar keinginanmu itu?" ucap Tao Ling.

"Hu jin, kau tidak ingin melihat kematian kedua orang ini, apakah karena Lie Cun Ju?" tanya I Ki Hu tajam.

Mengetahui isi hatinya dapat terbaca oleh I Ki Hu, hati Tao Ling tercekat bukan main.

"Bu . . . bukan." Tao Ling menjawab dengan panik. I Ki Hu tidak memperdulikannya.

"Apabila kedua orang ini tidak menjelaskan riwayat hidup Lie Cun Ju, seumur hidup aku tidak akan tenang. Aku boleh gagal, membunuh sepuluh orang tetapi tidak boleh membiarkan seorang musuh yaitu Lie Cun Ju lolos. Tetapi apabila mereka berdua mengatakan hal yang sebenarnya, bahwa Lie Cun Ju memang anak kandung mereka, maka harapan untuk hidup bagi pemuda itu masih ada."

Pikiran Tao Ling jadi ruwet mendengar kata-kata I Ki Hu. Dia tidak ingin pasangan suami istri Lie Yuan mati begitu saja, justru karena memikirkan Lie Cun Ju. Tetapi sekarang, setelah mendengar nada perkataan I Ki Hu, dia sadar bahwa Lie Cun Ju sudah pasti akan dibunuhnya apabila kedua orang ini tidak mati. Tao Ling melirik sekilas kepada pasangan suami istri Lie Yuan. Wajah mereka pucat pasi, tubuh keduanya kurus kering. Ditilik dari keadaan ini saja sudah membuktikan bahwa mereka tidak akan bertahan lama hidup di dunia ini lagi. Kalau dibandingkan dengan Lie Cun Ju yang masih muda dan sehat, tentu saja Tao Ling memilih yang ter-akhir. Karena itu dia hanya dapat menarik nafas panjang mengingat nasib yang akan dialami kedua orang itu.

"Terserah kau saja!" kata Tao Ling singkat.

I Ki Hu tertawa. Dia membungkukkan tubuhnya untuk mengangkat Lie Yuan dan disandarkan-nya ke tembok ruangan. Kemudian tangan kanan-nya secepat kilat bergerak menepuk ubun-ubun kepala laki-laki itu.

Ubun-ubun kepala merupakan pusat urat nadi yang berhubungan dengan seluruh bagian tubuh. Begitu mendapat tepukan oleh tangan I Ki Hu, seluruh tubuh Lie Yuan langsung bergetar.

Kemudian tampak I Ki Hu menepuk lagi salah satu jalan darah di punggung laki-laki tersebut. Tampak rona wajah Lie Yuan mulai menyiratkan kemerahan. Kemudian Hoakkkk! Darah segar pun bermuncratan dari mulutnya.

Tangan I Ki Hu tetap menekan jalan darah di punggung Lie Yuan.

"Sahabat Lie, biar bagaimana kau tetap akan mati. Cepat katakan apakah Lie Cun Ju anak kandungmu sendiri atau bukan?" tanya I Ki Hu dengan nada membentak.

Rona wajah Lie Yuan yang merah perlahan-lahan memudar lagi. la menarik nafas panjang.

"Siapa kau?" tanya Lie Yuan.

I Ki Hu tidak merasa heran dengan pertanyaan-nya itu. Ketika memeriksa keadaan pasangan suami istri Lie Yuan, I Ki Hu mendapatkan bahwa bukan saja jalan darah mereka tertotok, melainkan pada setiap bagian tubuh pun terdapat luka yang parah sekali. Tubuh mereka bukan saja tidak dapat bergerak, bahkan telinga pun tidak dapat mendengar apa-apa. Sebetulnya tidak jauh berbeda dengan mati. Satu-satunya yang dapat dijadikan pegangan bahwa mereka masih hidup, hanyalah pernafasan yang sudah lemah sekali.

Karena itu pula, meskipun I Ki Hu sudah cukup lama berada di dalam ruangan batu itu, lie Yuan tetap tidak tahu siapa dia.

Sementara itu, I Ki Hu terus menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh lie Yuan agar orang itu tidak langsung mati.

"Kau tidak perlu urus siapa aku, tapi aku mempunyai permusuhan yang dalam dengan tocu Hek cui to, C\ Cin Hu. Cepat kau katakan apakah lie Cun Ju anakmu yang sebenamya atau anak tocu Hek Cui to itu?" tanya I Ki Hu lagi.

Di wajah Lie Yuan tampak tersirat seulas senyuman yang ganjil.

"To . . . cu Hek .. . cu ... i to ...Ci... Cin . . . Hu . . .? Anak .

.. nya ... Mak . . . sud ... mu . . .?"

Kata-kata Lie Yuan dicetuskan dengan susah payah. Suaranya tersendat-sendat. Hati I Ki Hu justru diliputi ketegangan menunggu ia menyelesaikannya.

Namun di tengah ketegangan hati I Ki Hu terselip beberapa bagian kegembiraan. Selama dua

puluh tahun belakangan ini, dia terus mencari keturunan musuh besarnya itu. Boleh dibilang ia tidak pernah mendapat berita apa pun. I Ki Hu fanatik sekali dengan prinsipnya yang dikatakan 'api yang liar sulit dipadamkan, angin musim semi terus berhembus silih berganti'. Meskipun ilmu silatnya sekarang sudah mencapai taraf yang tidak terkatakan tingginya, asal masih ada seorang saja keturunan musuhnya yang masih hidup, dia tidak dapat tidur dengan tenang.

Sebetulnya pendapat I Ki Hu itu salah sekali. Yang membuat hidupnya tidak tenang, sebetulnya perbuatannya sendiri. Apabila seseorang tidak melakukan kejahatan, tentu tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan ia pun dapat hidup dengan tenang. Tetapi sekali seseorang melakukan kejahatan, perbuatannya itu akan membayang-bayangi dirinya sendiri, perasaan khawatir di dalam hati tidak dapat dihapuskan. Seperti seorang pencuri, meskipun sudah berhasil, tetapi setiap saat ia khawatir dirinya akan ketahuan.

Sedangkan ketegangan di hati Tao Ling diliputi dengan perasaan takut. Sebab apabila Lie Yuan mengiakan pertanyaan I Ki Hu, sama saja Lie Cun Ju telah divonis hukuman mati.

Tetapi setelah mengucapkan beberapa patah kata dengan susah payah, Lie Yuan malah terdiam kembali

"Cepat jawab. Iya atau bukan? Tidak usah bertele-tele!" tanya I Ki Hu lagi dengan nada tidak sabar.

Sepasang mata Lie Yuan mendelik marah. Tenggorokannya mengeluarkan suara Krok! Krok! yang aneh. Melihat keadaannya, sepertinya laki-laki itu sedang berusaha ingin mengatakan sesuatu. Tetapi sampai akhirnya dia tidak sempat mengatakan apa-apa lagi. Kepalanya terkulai dan ia pun menghembuskan nafas terakhir.

I Ki Hu semakin gusar melihat dirinya sudah menghamburkan sekian banyak hawa murni tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Tenaga dalamnya dikerahkan dan tuhuh Lie Yuan yang sudah kaku itu pun dipentalkan sampai jauh. Kemudian dia membalikkan tuhuhnya dan menatap Tao Ling sekilas sambil tertawa dingin. Hati Tao Ling ter-getar. Sekali lagi I Ki Hu memondong tubuh Lim Cin Ing. Dia juga menepuk ubun-ubun kepala perempuan itu persis seperti yang dilakukunnya pada Lie Yuan.

Lim Cin Ing juga mengeluarkan seruan terkejut, darah merembes dari sudut hibirnya. Matanya membuka dan melirik ke sekelilingnya.

"Di . . . ma . . . na . . . a . . . ku . . .?" Ketika matanya sempat melihat jenasah Lie Yuan, sekali lagi mulutnya menjerit.

I Ki Hu menahan hawa amarah dalam dadanya yang hampir meluap.

"Lie hu jin, suamimu sudah mati. Kau juga tidak bisa hidup lebih lama lagi. Apabila ada kata-kata yang ingin kau sampaikan. Utarakanlah sekarang juga!" katanya.

Keadaan Lim Cin Ing tampaknya lebih lumayan dibandingkan suaminya tadi. Dia menarik nafas panjang satu kali.

"Tidak ada pesan apa-apa lagi," jawab Lim Cin Ing.

"Kau mempunyai dua orang putra. Yang satu sudah mati terbunuh Tao Heng Kan di kediaman Kuan Hong Siau. Masa kau tidak mempunyai pesan apa-apa terhadap putramu yang satunya lagi?" kata I Ki Hu dengan panik.

Mata Lim Cin Ing langsung mengedar ke sana ke mari. "Di ... ma ... na ... dia sekarang?"

"Dia baik-baik saja. Tetapi dia tidak ingin ber-temu dengan kalian lagi."

Wajah Lim Cin Ing tampak menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan mendengar ucapan I Ki Hu.

"Kenapa?" tanya Lim Cin Ing.

Sepasang mata I Ki Hu menatap reaksi Lim Cin Ing lekat- lekat. "Dia mengatakan bahwa kalian bukan orang tua kandungnya. Tetapi selama ini kalian selalu menutupi hal ini. Karena itu dia merasa benci dan tidak ingin bertemu dengan kalian lagi," sahut I Ki Hu.

Tiba-tiba Lim Cin Ing tertegun. Dia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, tetapi keadaan-nya sudah lemah sekali. la tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Setelah berusaha sesaat, wajahnya jadi merah padam, tetapi tetap saja tubuhnya tidak dapat ditegakkan.

"Mengapa . . . dia . . . bisa berkata demi . . . kian . . .?"

Kata-kata yang diucapkan I Ki Hu seakan dirinya mengandung perhatian yang besar ter-hadap Lie Cun Ju. Tetapi sebenarnya semua hanya karangannya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya pendapat hatinya saat itu.

"Cepat katakan, benar atau tidak? Nanti aku bisa sampaikan kepadanya. Meskipun kalian akan mati, jangan sekali-sekali membuat seorang anak bingung dengan riwayat hidupnya sendiri." Sungguh ucapan yang man is. Tao Ling yang mendengarkan sampai meremang seluruh bulu kuduknya.

Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.

"Uru . . . san ... ini pan . . . jang seka . . . li apabila dice . . . ritakan."

Tangan I Ki Hu masih menekan jalan darah di punggung Lim Cin Ing. Dia dapat merasakan detak jantung perempuan itu sudah semakin lemah. Dalam sekejap mata saja perempuan itu akan menemui kematiannya, karena perasaannya semakin panik.

"Tidak usah panjang lebar, yang penting kau jawab, apakah dia anak kandung kalian atau bukan?"

Kepala Lim Cin Ing sudah mulai terkulai. Suaranya juga sudah lirih sekali, tetapi keadaan di dalam ruangan batu itu demikian heningnya sehingga I Ki Hu dan Tao Ling masih bisa mendengar ucapannya dengan jelas.

Sekali lagi Lim Cin Ing menarik nafas panjang.

"Di . . .a ... me . . . mang ... bu ... kan ... a ... nak kan . . . dung ... ka ... mi."

I Ki Hu langsung tertawa terbahak-bahak. Ta-ngannya merenggang.

"Aku memang sudah menduganya!"

Lim Cin Ing memang hanya mengandalkan bantuan hawa murni yang dipancarkan tangan I Ki Hu di punggungnya sehingga masih sempat hidup beberapa saat. Begitu tangan I Ki Hu merenggang, ia pun mati seketika.

"Apakah dia putra tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu?" tanya Tao Ling panik.

Lim Cin Ing sudah mati, mana bisa men jawab pertanyaan Tao Ling. Dengan perasaan lesu Tao Ling berdiri. Di depan pelupuk matanya seakan terlintas bayangan Lie Cun Ju yang sebatang kara tanpa perlindungan siapa pun. Dan di sebelahnya seakan ada I Ki Hu yang siap menghantam batok kepala pemuda itu dengan telapak darahnya.

Hati Tao Ling terasa perih. Sepasang Iututnya jadi lemas. Tiba-tiba dia sudah menjatuhkan diri berlutut di depan I Ki Hu.

"Hu kun, apa yang dikatakan Lim Cin Ing menjelang kematiannya tidak dapat dijadikan pegangan. Apakah kau tetap akan menurunkan tangan jahat kepada Lie Cun Ju?"

Ucapannya ini benar-benar mengharukan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan tergerak hatinya. Tetapi I Ki Hu sama sekali tidak tergugah, bahkan tampak angker.

"Hu jin, kita sudah menjadi suami istri, tentunya kau tidak mengharapkan kelak aku dicelakai orang, bukan?" "Hu kun, kau memiliki kepandaian yang sakti. Siapa pula yang sanggup mencelakaimu?"

"Hal ini sulit dikatakan," kata I Ki Hu dengan nada dingin. "Hampir dua puluh tahun ini aku mencari jejaknya. Aku berniat membasmi rumput sampai ke akar-akarnya. Itu bukan hal yang mudah. Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi!"

Tao Ling sadar banyak bicara pun tidak ada gunanya. Terpaksa dia bangun dari berlutut. I Ki Hu sendiri terus mondar mandir di dalam ruangan batu itu. Suasana di dalam ruangan itu demikian heningnya. Tao Ling masih berdiri dengan termangu-mangu. Perasaan hatinya terlalu galau. Bahkan begitu resahnya ia sampai pikirannya menjadi kosong melompong. Sampai cukup lama tiba-tiba terdengar suara Bum! Bum! seperti ada benda-benda yang dilemparkan di depan pintu.

Begitu mendengar suara itu, I Ki Hu langsung menuju depan pintu. Dia menempelkan telinganya dan mendengarkan suara itu dengan seksama. Tampak vvajah I Ki Hu semakin lama semakin tidak enak dilihat. Tampak menyiratkan kegusaran yang tidak terkirakan. Kemudian dia mendengus dingin. Tangannya menjulur ke depan dan diguncang- guncangkannya pintu batu itu.

Tetapi pintu batu itu demikian tebal, beratnya mungkin mencapai laksaan kati. Meskipun tenaga dalam I Ki Hu sudah hampir mencapai taraf kesem-purnaan, tenaga seorang manusia mana mungkin dibandingkan dengan dinding sekokoh itu. Apalagi di kiri kanannya dipasang seutas rantai sebesar lengan manusia dewasa. Karena itu, pintu batu itu tidak bergeming sedikit pun juga.

Kegusaran di wajah I Ki Hu semakin parah, dia terus mondar mandir di dalam ruangan batu. Langkah kakinya berat sekali. Setiap tempat yang dilaluinya meninggalkan bekas tapak kaki yang dalam. Seakan-akan ia sedang mengumbar kemarahannya dengan cara demikian. Tidak lama kemudian, dari luar berkumandang suara pletak! pletok! Tao Ling tidak mengerti mengapa ketika mendengar suara debuman dari luar, wajah I Ki Hu langsung tampak menyiratkan kegusaran. Sekarang dia mendengar suara pletak! pletok! dari luar pintu. Dia langsung tersadar, rupanya keluarga Sang sedang melemparkan kayu atau balok- balok besar di depan pintu barusan sehingga terdengar suara debuman. Dan suara yang didengarnya sekarang membuktikan bahwa mereka akan membakar ruangan batu itu.

Meskipun tembok batu ruangan itu sangat tebal, apabila terbakar selama berhari-hari ber-malam-malam, mungkin tiga hari saja pasti seluruh ruangan batu itu sudah merah membara seperti tungku perapian. Dan otomatis orang yang ter-kurung di dalamnya pun tidak bisa memper-tahankan selembar nyawanya.

Hati Tao Ling menjadi gundah mengingat dirinya akan terbakar hidup-hidup di dalam ruangan batu. Sesaat kemudian sebuah ingatan melin-tas di benaknya. Perasaannya menjadi lega. Di bibirnya tersungging seulas senyuman yang sudah cukup lama tidak diperlihatkan.

Dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba Tao Ling mengembangkan seulas senyuman yang manis. Hal ini bukan disebabkan karena jiwanya yang terguncang mengetahui dirinya akan dibakar hidup-hidup oleh keluarga Sang.

Tao Ling yakin malaikat Elmaut pasti akan menjemputnya beberapa hari kemudian, namun hatinya tidak merasa takut sedikit pun. Bahkan tersirat kebahagiaan yang tidak terlukiskan, karena yang akan mati terbakar di dalam ruangan batu itu bukan hanya dia seorang, tetapi termasuk juga I Ki Hu.

Pada dasarnya Tao Ling tidak mencintai I Ki Hu sedikit pun. Kebahagiaan yang dirasakannya tentu bukan karena mereka saling mencintai dan dapat mati bersama. Tetapi karena dia menyadari, apabila I Ki Hu sampai mati, selembar nyawa Lie Cun Ju dapat dipertahankan.

Lie Cun Ju lah laki-Iaki yang dicintai Tao Ling. Asal Lie Cun Ju dapat meneruskan kehidupannya dengan tentram, meskipun dia harus terkurung dalam ruangan batu dan terbakar menjadi abu, hatinya rela sekali.

Di pelupuk matanya kembali melintas ba-yangan Lie Cun Ju. Cuma kali ini tidak ada lagi bayangan I Ki Hu yang mengangkat tangannya yang berwarna merah darah ke atas. Bahkan dalam bayangannya Lie Cun Ju sedang tersenyum.

Senyuman di bibir Tao Ling pun semakin me-ngembang. Meskipun sadar dirinya pasti akan mati, tetapi hatinya gembira sekali. Sekarang dia merasa I Ki Hu sama sekali tidak menakutkan. Karena paling lama tiga hari laki-laki itu juga akan melebur jadi abu bersama-sama dirinya. Begitu senangnya hati Tao Ling sampai-sampai ter-tawanya menimbulkan suara terkekeh-kekeh.

I Ki Hu memandang Tao Ling dengan dingin. Wajahnya juga tersenyum. Tetapi senyumnya me-ngandung kemarahan dan menyeramkan.

Sampai cukup lama, Tao Ling baru mendengar kata I Ki Hu. "Hu jin, apakah kau mengira aku tidak akan keiuar lagi dari

ruangan batu ini?"

Tao Ling mendongakkan kepalanya, seakan tidak mendengar apa yang dikatakan suaminya. Sekali I Ki Hu mengeluarkan suara tawa yang dingin dan menyeramkan.

"Hu jin, dugaanmu salah sekali. Aku pasti bisa keiuar dari ruangan batu ini. Seluruh keluarga Sang akan kubunuh sampai binatang peliharaan mereka pun tidak ada yang kulepaskan. Demikian pula Lie Cun Ju, dia juga tidak bisa meloloskan diri dari kematian." Kata-katanya demikian tegas. Seperti mengan-dung keyakinan penuh. Tetapi Tao Ling hanya menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya atas apa yang dikatakannya. I Ki Hu pun tertawa terbahak-bahak.

Pada saat itu mungkin di dalam hati I Ki Hu memang ada keyakinan bahwa dia bisa keiuar dari ruangan batu itu. Karena dia tidak tahu apa yang sedang dilakukan keluarga Sang di luar.

Di luar ruangan batu, sebatang demi sebatang balok telah disusun setinggi tiga depa. Keluarga Sang menumpuk balok dan kayu-kayu bukan hanya di depan pintu ruangan itu saja, tetapi juga sekelilingnya. Bahkan setiap balok dan kayu sudah direndam sebentar dengan minyak tanah. Mereka menggunakan jenis balok dan kayu dari pohon siong yang paling cepat menyerap minyak. Karena itu, apabila api disulutkan, kayu dan balok itu akan bertahan lama dalam pembakaran. Dan sekarang pun pembakaran telah dimulai.

Rumah batu yang mirip penjara itu sekarang berubah menjadi sarana kremasi. Hanya saja yang dibakar bukan niayat tetapi manusia hidup.

Sang Ling dan anggota keluarga lainnya berdiri di kejauhan. Suara tertawa I Ki Hu yang menyeramkan berkumandang keiuar dan terde-ngar jelas di telinga mereka. Walaupun saat ini 1 Ki Hu sudah terkurung di dalam ruangan batu, tetapi nama besar iblis ini memang menggetarkan. Suara tawanya saja masih sanggup membuat wajah-wajah keluarga Sang pucat pasi.

Bahkan ada seseorang yang berkata dengan suara berbisik.

"Moay cu, meskipun sekarang kita berhasil mengurungya di dalam rumah batu itu, tetapi kalau dia sampai tidak mati dan berhasil keluar dari sana, seluruh permukaan tempat tinggal keluarga Sang ini pasti rata menjadi tanah dan jangan harap ada satu pun dari kita yang berhasil meloloskan diri." Sang Ling tidak langsung menyahut, di dalam hatinya juga timbul ketakutan yang sama. Sejak kematian si Kakek berambut putih Sang Hao, secara tidak langsung dia sudah menjadi kepala dalam keluarga Sang. Dia juga tahu I Ki Hu tidak mungkin meloloskan diri dari rumah batu itu. Rasa takut dalam hatinya dan dalam hati setiap anggota keluarganya hanya karena kepandaian I Ki Hu yang terlalu tinggi dan namanya yang terlalu meng-getarkan.

"Kalian tidak perlu cemas!" katanya singkat.

Seluruh anggota keluarga Sang memang berkumpul di tempat itu. Dari kejauhan mereka melihat api mulai berkobar. Dari kecil api itu mem-besar. Kurang lebih satu kentungan kemudian, seluruh rumah batu itu sudah tertutup api.

Malam harinya, anggota keluarga Sang masih terus menambah balok-balok dan kayu yang telah dilumuri minyak. Dengan demikian nyala api bukan mengecil bahkan semakin lama semakin besar.

Meskipun si jago merah sudah memperlihatkan kegarangannya dan mengurung seluruh rumah batu itu, lidah api tampak menjilat-jilat dan me-ngeluarkan suara deruan yang mengerikan hati, tetapi para jago keluarga Sang masih tidak berani beristirahat.

Mereka ingin menunggu sampai I Ki Hu benar-benar tidak bisa meloloskan diri lagi baru hati mereka merasa tenang. Cahaya api menyoroti wajah puluhan orang itu. Tampak mimik wajah mereka menyiratkan ketegangan dan ketakutan yang tidak terkatakan. Kalau saja I Ki Hu sampai mati, nama keluarga Sang pun akan menjulang tinggi seketika dalam dunia kang ouw.

Tapi bagaimana kalau I Ki Hu tidak mati, berarti seluruh keluarga itu akan musnah oleh pembalasannya.

Mereka terus menunggu. Satu hari telah ber-lalu. Keadaan di dalam rumah batu hening men-cekam. Tidak terdengar suara sedikit pun. Baru saja anggota keluarga Sang bermaksud menghem-buskan nafas lega, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang dan kegusaran dari mulut I Ki Hu.

Mereka saling pandang sesaat. Kemudian masing-masing bergegas mengambil balok dan kayu bakar untuk ditimbun di sekeliling rumah batu itu. Bahkan mereka juga menyiram minyak tanah bergentong-gentong di atasnya. Api pun terus berkobar dan berkobar ...

Apakah api yang menjulang tinggi itu bisa membunuh atau membakar hidup-hidup seorang pentolan dunia hitam dan raja iblis yang ditakuti seluruh dunia kang ouw seperti I Ki Hu? Untuk sementara pengarang sengaja menunda kisahnya.

***

Kita kembali pada I Giok Hong yang tidak sudi berlutut di depan Tao Ling dan memanggilnya ibu. Begitu kerasnya adat gadis yang satu ini sehingga tulang kakinya patah tetap rela memutuskan hubungan ayah dan anak antara dirinya dengan I Ki Hu.

Dengan golok pemberian Seebun Jit yang dijadikan tongkat, dia berjalan tertatih-tatih. Rasa nyeri yang dirasakannya ditahannya kuat-kuat. Akhirnya dia berhasil juga menempuh perjalanan sejauh tiga-empat li.

Sakit yang dirasakannya semakin menjadi-jadi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuh-nya, I Giok Hong benar-benar tidak dapat memper-tahankan diri lagi.

la menolehkan kepalanya dan memandang ke sekitarnya. Keadaan di tempat itu sunyi senyap. Ternyata ayahnya tidak mengejarnya atau memin-fanya kembali. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman. Hal ini membuktikan betapa angkuh dan kerasnya hati gadis itu.

Akhirnya dia duduk di atas tanah, sepasang kakinya yang patah perlahan-lahan dilonjorkan ke depan. Dengan hati-hati dia menyambung kembali tulang itu. Ujung pakaiannya dikoyak dan dijadikan pembalut. Setelah selesai, dia beristirahat sejenak. Kemudian baru meneruskan perjalanan- nya dengan bantuan golok tadi sebagai penopang.

Ketika hari sudah gelap, dia sampai di tepi sebuah danau. Di sekitar danau itu tumbuh her-bagai pepohonan. Dan tanah di sekelilingnya juga ditumbuhi rerumputan yang cukup tebal. I Giok Hong berbaring di atas rumput sampai cukup lama. Bau harum yang terpancar dari rerumputan di sekitarnya membuat semangat I Giok Hong bang-kit. Dia mendongakkan kepalanya ke atas. Tampak rembulan sudah menggantung di atas langit. Cahayanya menyorot ke permukaan danau sehingga air tampak cemerlang bagai cermin. Dia segera berjalan ke tepi danau. Kemudian dia mem-bungkukkan tubuhnya dan diminumnya air danau yang jernih itu. Setelah rasa dahaganya hilang, dia mengayunkan pecutnya ke tengah danau. Dalam beberapa kali gerakan dia pun mendapatkan tiga ekor ikan yang besar-besar. I Giok Hong mencari ranting-ranting kering untuk menyalakan api ung-gun. Dibakarnya ikan-ikan itu lalu dimakannya dengan lahap. Selama lima hari berturut-turut dia melakukan hal yang sama.

Sampai hari keen am, dia merasa tulang kakinya sudah mulai pulih. Dia pun sudah bisa meninggalkan tepi danau itu. Sampai saat itu, dia baru merasa bingung. Kemana dia harus pergi? Biar bagaimana, dia tidak dapat kembali ke Gin Hua kok. Dia merantau ke mana saja. Bukankah hal itu juga merupakan pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan termangu-mangu I Giok Hong meman-dangi air danau yang jernih. Hatinya diliputi kebimbangan. Tiba-tiba di dalam riak permukaan air, sepertinya ada seseorang yang berjalan dari arah belakang menghampirinya.

Tadinya I Giok Hong mengira orang itu seorang gembala, penduduk di sekitar tempat itu. Tetapi di bawah sorot matahari, tampak sinar berkilauan terpancar dari pinggang orang itu. Ternyata kilaunya sebatang pedang yang terpantul sinar mentari.

I Giok Hong cepat-cepat membalikkan tubuhnya. Jarak orang itu dengan dirinya tinggal dua depaan. Dia juga dapat melihat jelas wajah orang itu. Ternyata seorang pemuda dengan wajah murung dan tampang pasrah. Siapa lagi kalau bukan Tao Heng Kan?

Melihat Tao Heng Kan muncul di tempat itu, hati I Giok Hong langsung tergetar.

Beberapa hari yang lalu pemuda itu menikam jantungnya dengan pedang. Sekarang bayangan belum pernah terlintas di benaknya itu menjadi terlihat. Sedangkan adik Tao Heng Kan, Tao Ling sudah menikah dengan ayahnya. Ingatan itu pun melintas kembali di benaknya.

Selama lima hari berturut-turut di tepi danau, entah sudah berapa kali I Giok Hong mengucapkan sumpahnya. Dia akan membunuh Tao Ling, kalau bisa dia akan mencincangnya sampai tubuhnya tidak berbentuk. Sekarang, begitu melihat Tao Heng Kan, kebenciannya tiba-tiba saja meluap.

Tampaknya Tao Heng Kan juga tidak me-nyangka bisa bertemu dengan I Giok Hong di tempat itu. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya. Begitu melihat I Giok Hong, dia langsung tertegun.

"I ... kouwnio, rupanya kau . . . ada di sini juga," tegur Tao Heng Kan.

I Giok Hong tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di dalam pandangan mata Tao Heng Kan, apa yang dilihatnya mirip dengan sebuah lukisan karya pelukis ternama. Langit yang biru, hari yang cerah, rumput-rumput menghijau, pepohonan melambai-lambai, dan di pinggir danau berdiri seorang gadis yang cantik jelita. Tapi Tao Heng Kan justru tidak tahu apa yang terkandung dalam hati I Giok Hong. Dengan perasaan melayang-layang, Tao Heng Kan menghampirinya.

"I kouwnio, apakah kau . . .menyalahkan diriku . . .?"

I Giok Hong mencibirkan bibirnya. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Tao Heng Kan.

"Untuk apa aku menyalahkan dirimu?”

Tao Heng Kan pun tersenyum. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebuah kantong kulit.

"Luka yang diderita Lie Cun Ju masih belum sembuh. la ada di tempat yang tidak seberapa jauh. Aku ingin mengambilkan sedikit air minum untuknya."

I Giok Hong memperdengarkan suara tawa yang merdu. "Air di danau ini toh bukan milikku. Kalau mau ambil,

silakan! Tidak perlu menanya dulu padaku."

Wajah Tao Heng Kan langsung merah jengah. Dia berjalan ke tepi danau dan mengisi kantong kulitnya dengan air. I Giok Hong berdiri di sam-pingnya kurang lebih dua ciok. Tangan kirinya menggenggam golok pemberian Seebun Jit, sedangkan tangan kanannya memegang pecut lemas.

I Giok Hong tahu, Tao Heng Kan pasti tidak menyangka bahwa ia mengandung niat jahat kepadanya.

Asal dia menggerakkan goloknya saja, pasti Tao Heng Kan akan rubuh di atas rumput dengan bersimbah darah. Dan hal ini merupakan urusan yang bukan main mudahnya.

Tetapi bibir I Giok Hong masih tersenyum manis. Tubuhnya atau tangannya tidak bergerak sedikit pun juga. Bukan karena dia tidak ingin melihat kematian Tao Heng Kan, melainkan dia tidak ingin Tao Heng Kan mati dengan cara yang begifu esiik. Dia ingin menyiksa bathin pemuda itu. Dengan demikian kebencian dalam hatinya baru bisa terlampiaskan. Lagipula, di dalani hatinya masih banyak per-tanyaan yang belum terjawab. Baginya, pemuda itu merupakan sebuah 'teka teki' yang rumit. Siapa suhunya yang berilmu tinggi itu? Mengapa dia menyuruh Tao Heng Kan menculik Lie Cun Ju?

Ketika Tao Heng Kan mengisi kantong kulitnya dengan air danau, dia sudah mengambil keputusan. Dia tidak akan membiarkan pemuda ini mati begitu saja. Dia akan menyiksanya secara halus dan menyelidiki semua misteri yang menyelubungi dirinya.

Ketika Tao Heng Kan kembali berdiri, dia pun memandang pemuda itu dengan seulas senyuman manis.

"Tao kongcu, kemana gurumu?"

Tao Heng Kan seperti terkejut mendapat per-tanyaan yang tidak terduga-duga itu

"Ah! Guruku sedang pergi. Aku sendiri tidak tahu dia kemana."

Sekali lagi I Giok Hong tersenyum.

"Tao kongcu, adikmu sudah menikah. Apakah kau sudah mengetahuinya?"

Tao Heng Kan terkejut sekali lagi.

"Sudah menikah?" katanya terhenti sejenak, kemudian dia baru melanjutkan kembali, "Menikah dengan siapa?"

"Menikah dengan Gin leng hiat dang, I Ki Hu."

Mata Tao Heng Kan langsung membelalak lebar-lebar. "Menikah dengan ayahmu?"

Wajah I Giok Hong langsung tampak murung.

"Tao kongcu, mengapa kau menyebut I Ki Hu sebagai ayahku? Hubungan kami sudah putus. Jangan mebuat aku marah!" Tao Heng Kan tertegun mendengar ucapannya.

"Aku tidak tahu urusan yang sebenarnya, harap I kouwnio sudi memaafkan. Sebetulnya apa yang telah terjadi. Dapatkah I kouwnio menjelas-kannya?"

I Giok Hong dapat mendengar nada suara Tao Heng Kan yang mengandung perhatian kepadanya. Bibirnya pun menyunggingkan seulas senyuman yang pahit.

"I Ki Hu dengan kejam mematahkan kedua tulang kakiku, tentu saja aku tidak sudi menganggapnya sebagai ayah. Tao kongcu, kita tidak membicarakan urusan ini. Kau tadi mengatakan Lie Cun Ju ada di tempat yang tidak jauh. Dimana dia? Mari kita sama-sama menemuinya!"

Tao Heng Kan pun tidak mendesak lagi. Tadinya dia mengira ucapan I Giok Hong tentang pernikahan Tao Ling dan I Ki Hu hanya gurauan.

"Baik!" Mereka segera berjalan bersama meninggalkan tepi danau itu.

Kurang lebih satu li, tampak sebuah bukit yang luas. Di sana tampak dua ekor kuda. Tao Heng Kan segera menghambur ke depan.

"Aih!" Tiba-tiba Tao Heng Kan mengeluh.

***

I Giok Hong bingung melihat tingkahnya. "Ada apa?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan menunjuk ke arah gundukan rumput di depannya.

"Ta ... di dia masih tidur di sini. Dia tidak bisa bergerak sedikit pun, sekarang ke rnana perginya?"

Mendengar ucapan Tao Heng Kan, I Giok Hong langsung tertawa getir. "Orang itu benar-benar sudah menjadi benda pusaka, di sana sini menjadi bahan rebutan. Jangan-jangan ada orang yang menculiknya lagi."

Padahal I Giok Hong hanya asal ucap saja, tetapi bagi pendengaran Tao Heng Kan justru men-jadi suatu pertimbangan. Wajahnya langsung berubah.

"I kouwnio, maksudmu ... Lie Cun Ju diculik lagi oleh orang lain?"

I Giok Hong benar-benar bingung melihat sikapnya. "Kalau benar, memangnya ada a pa?"

Tao Heng Kan tidak menjawab. Tubuhnya melesat mendaki ke atas bukit. I Giok Hong meng-ayunkan pecut di tangannya. Terdengar suara Tar! yang memecahkan keheningan. Pecutnya sudah menyambar tempat sejauh setengah depaan.

Dengan meminjam tenaga lontaran pecut itu, tubuh I Giok Hong pun mencelat ke udara. Tiga kali berturut-turut tubuhnya menjungkir balik. Ketika melayang turun kembali, dia sudah melewati Tao Heng Kan.

Ketika kedua orang itu sudah sampai di puncak bukit, mereka segera mengedarkan pandangan matanya. Pada jarak kurang lebih dua li di barat daya, tampak debu mengepul tinggi. Tidak syak lagi ada orang yang menunggang kuda dengan kecepatan tinggi menempuh perjalanan.

Hati Tao Heng Kan panik sekali

"I kouwnio, aku ingin mengejar mereka."

I Giok Hong memang tidak mempunyai tujuan kemana pun. Lagipula hatinya sudah bertekad untuk menyiksa pemuda ini perlahan-lahan demi membalaskan sakit hatinya akibat diputuskan hubungan antara ayah dan anak gara-gara Tao Ling.

"Aku ikut bersamamu!" kata I Giok Hong segera. Kedua orang itu segera menuruni bukit. Di dalam dunia bu lim mereka termasuk remaja yang sudah memiliki kepandaian tinggi. Bahkan dapat digolongkan jago kelas satu. I Giok Hong di depan, Tao Heng Kan di belakang. Gerakan tubuh kedua orang itu persis seperti bin tang komet yang melesat. Dalam waktu yang singkat mereka sudah mengejar sejauh belasan li.

Ketika mereka baru mulai mengejar, kepulan debu karena derapan kaki kuda lawan masih ter-lihat. Tetapi setelah berlari sejauh belasan li, kepulan debu itu semakin lama semakin jauh. Akhirnya bukan saja tidak terkejar, bahkan ba- yangannya pun tidak terlihat.

"Tao kongcu, rasanya tidak mungkin terkejar lagi," kata I Giok Hong.

Begitu paniknya sehingga selembar wajah Tao Heng Kan merah padam.

"Tidak bisa! Kalau tidak terkejar, selembar nyawaku ini pasti hilang."

"Sebetulnya apa yang ada pada diri Lie Cun Ju, mengapa dia menjadi rebutan semua pihak?" tanya I Giok Hong.

Tao Heng Kan menarik nafas panjang.

"Aku juga tidak tabu. Tetapi apabila aku sampai kehilangan pemuda itu, guruku pasti tidak akan mengampuni. Aku mati tidak apa-apa, tetapi kedua orang tuaku pasti akan menemui bencana. Bagai . . . mana baiknya?"

I Giok Hong mendengar suara Tao Heng Kan demikian gugup. Saking paniknya seluruh tubuh pemuda itu dibasahi oleh keringat dingin. Hatinya semakin penasaran. Terpaksa ia mengikuti terus pemuda itu. Mereka kembali berlari sejauh belasan li. Mereka sudah melintas daerah perbukitan. Bah-kan sudah sampai di jalanan yang bertumpur dan becek.

Baru saja mereka berjalan beberapa tindak, tiba-tiba I Giok Hong menarik nafas panjang. "Tao kongcu, rasanya kita tidak perlu mem-buang-buang tenaga!"

Sembari berbicara, I Giok Hong menghentikan gerakan kakinya. Tao Heng Kan masih berlari sejauh beberapa depa baru ikut berhenti.

"Kenapa?" tanya Tao Heng Kan.

"Tao kongcu, tadi di atas bukit kita memang melihat kepulan debu yang tinggi. Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau mendengar suara derap kaki kuda?"

Mendengar pertanyaannya, Tao Heng Kan langsung tertegun. Diam-diam dia mengingat-ingat. Kenyataannya dia memang tidak mendengar derap kaki kuda ataupun ringkikannya.

"Mungkin orang yang menculiknya memiliki ilmu Gin Kang yang sudah mencapai taraf tertinggi karena itulah kita tidak sanggup mengejar-nya."

I Giok Hong menggelengkan kepalanya.

"Kalau orang yang menculiknya menguasai ilmu Gin Kang yang tinggi sekali, di saat berlari, dia tidak perlu menginjakkan kakinya di atas tanah, hanya perlu menutul saja. Mana mungkin bisa timbul kepulan debu setinggi itu? Coba kau perhatikan, apakah ini jejak kaki manusia?"

Tao Heng Kan menundukkan kepalanya melihat ke jejak kaki yang ditunjuk oleh I Giok Hong. Karena tanah di situ becek dan berlumpur maka jejak kaki terlihat dengan jelas. Tao Heng Kan memperhatikan dengan seksama. Jejak itu tidak mungkin ditinggalkan oleh kaki manusia. Bentuknya aneh dan arahnya terus lurus ke depan. Meskipun bentuknya memang mirip dengan kaki manusia, tetapi jauh lebih panjang dan jari-jemarinya besar-besar.

Setelah melihat jejak kaki itu, hati Tao Heng Kan langsung tertegun. Meskipun seseorang yang tubuhnya tinggi besar, tetap tidak mungkin mem-punyai tapak kaki yang begitu lebar, panjang bah-kan jari-jemarinya besar-besar seperti itu. Lagipula tidak masuk akal bila seseorang berjalan di luaran tanpa memakai sepatu!

"I kouwnio, pengetahuanmu jauh lebih luas. Apakah kau dapat menduga jejak kaki apa yang terlihat ini?" tanya Tao Heng Kan.

I Giok Hong tersenyum mendengarkan pujian-nya.

"Tao kongcu, pujianmu terlalu tinggi. Orang seperti aku ini mana pantas dikatakan berpenge-tahuan luas?"

Hati Tao Heng Kan sedang tegang-tegangnya. Ucapan I Giok Hong yang diiringi dengan senyuman manis itu tetap sempat membuat dirinya terpaku sesaat. la menarik nafas panjang.

"I kouwnio, kalau aku tidak berhasil mengejar Lie Cun Ju. Mau tidak mau aku harus bunuh diri." Sembari berkata, tubuhnya langsung berkelebat lagi melesat ke depan.

Dengan tergesa-gesa I Giok Hong mengikuti Tao Heng Kan. Kembali mereka berlari sejauh tiga-empat li. Tanah yang becek sudah dilalui. Di hadapan mereka tampak tanah yang keras dan kering. Jejak kaki yang aneh itu pun putus sampai di situ. Tao Heng Kan hanya termangu-mangu

sesaat kemudian berlari lagi. Setelah berlari sejauh belasan li, di hadapan mereka sekarang memben-tang sebuah sungai yang lebar.

Sungai itu lebarnya hampir mencapai delapan depa. Sampai di situ kembali Tao Heng Kan termangu-mangu beberapa saat. Tingkahnya seperti orang linglung. Kemudian, tampak dia menghunus pedangnya kemudian bermaksud menggorok ba- tang lehernya sendiri.

I Giok Hong yang berdiri di sampingnya sejak tadi sudah melihat sikap Tao Heng Kan yang men-curigakan. Mimik wajah pemuda itu menyiratkan keputusasaan. Maka dari itu, baru saja tangan Tao Heng Kan bergerak, ia segera mengayunkan pecut-nya. Tali pecut itu laksana seekor ular hidup yang langsung melilit pedang di tangan Tao Heng Kan. Sret! I Giok Hong menarik pecutnya kuat-kuat sehingga pedang Tao Heng Kan menjauh dari batang lehernya.

"Tao kongcu, usiamu masih sangat muda, mengapa memilih jalan pendek?"

Kembali Tao Heng Kan menarik nafas panjang dan menatap I Giok Hong dengan wajah menyiratkan penderitaan.

"I kouwnio . . . kau tidak bisa menolongku . . . biarkan aku menempuh jalanku sendiri!"

I Giok Hong tertawa sumbang.

"Tao kongcu, kau lihat keadaanku ...? Ayahku sendiri sudah tidak menginginkan aku. Tetapi aku masih mencintai kehidupan ini. Sedangkan kau, orang tuamu masih ada, masih ada keluarga yang akan melindungimu, mengapa kau malah memilih jalan kematian?"

Tao Heng Kan termangu-mangu sesaat. la menggeleng- gelengkan kepalanya. Jari tangannya mengendur. Pedang yang digenggamnya pun ter-lepas dan jatuh dengan menimbulkan suara den-tangan di atas tanah. I Giok Hong membungkukkan tubuhnya untuk memungut kembali pedang itu. Dia memasukkan pedang Tao Heng Kan ke dalam sarungnya.

"I kouwnio . . . mengapa kau begitu baik terhadapku?" tanya Tao Heng Kan dengan tam-pang kebodoh-bodohan.

"Kau juga baik terhadapku," sahut I Giok Hong sambil tersenyum. "Beberapa hari yang lalu, ketika gurumu memerintahkan kau menikam aku, kau toh tidak sudi melakukannya." "Tapi . . . tapi aku ... toh . . ." Wajah Tao Heng Kan merah padam rnengingat kejadian itu.

"Kau tidak perlu banyak bicara lagi. Sekarang belum tentu kita gagal mengejar orang atau siapa saja yang menculik Lie Cun Ju itu. Lebih baik kita lanjutkan pengejaran kita!"

"Tetapi bagaimana kau bisa tahu arah man a yang diambilnya setelah menyeberangi sungai?

Bagaimana kita bisa mengejarnya kalau tidak ada kepastian?"

"Bagaimana lagi? Terpaksa kita mengadu peruntungan." Tao Heng Kan tertawa getir.

"I kouwnio, itu sama artinya dengan nyawa kita sudah hilang dua bagian. Aku benar-benar tidak mengerti, mengapa kau bersedia menempuh bahaya sebesar ini?"

Mendengar ucapan Tao Heng Kan yang tulus, hati I Giok Hong tergerak juga. Di samping itu dia juga tahu bahwa Tao Heng Kan memang seorang laki-laki sejati. Namun I Giok Hong tetap tidak mampu mengubah niatnya.

I Giok Hong menatap Tao Heng Kan lekat-lekat.

"Tao kongcu, apa yang terjadi atas dirimu sudah menjadi buah bibir orang-orang di dunia bu lim. Mereka menganggapmu sebagai tokoh yang misterius. Sebetulnya apa yang menyebabkan kau membunuh Li Po di kediaman Kuan Hong Siau hari itu? Siapa sebenarnya suhumu? Dapatkah kau men-ceritakannya kepadaku?"

Tao Heng Kan tertegun sesaat. "I kouwnio, seandainya aku tidak bertemu de-nganmu di tepi sungai itu, mungkin sekarang aku sudah mati bunuh diri. Aih! Sebetulnya aku tidak boleh menutupi masalah ini terhadapmu."

"Betul. Lagipula kita sudah saling mengenal, karena itu seharusnya kita saling terbuka." Tao Heng Kan menganggukkan kepalanya.

"Tapi, I kouwnio . . . aku khawatir, meskipun aku menceritakan dengan terus terang, belum tentu kau akan mempercayainya."

"Aku memang tidak mudah mem per cay ai perkataan seseorang, tetapi aku percaya penuh kepadamu."

Wajah To Heng Kan tampak menyiratkan perasaan terharu. Kemudian dia mengedarkan pandangan matanya ke sekitarnya. I Giok Hong tersenyum melihat sikap Tao Heng Kan.

"Tao kongcu, apakah kau khawatir ada yang mendengarkan kata-katamu? Pada jarak sejauh beberapa li dari tempat ini, rasanya tidak ada orang lain lagi."

"I kouwnio, apabila kita tidak berhasil menemukan Lie Cun Ju kembali, guruku pasti akan mencari kita sampai bertemu. Pada saat itu, aku khawatir kita tidak akan terlepas dari tangan kejinya, sebaiknya kau . . ."

Wajah I Giok Hong tampak menyiratkan kelembutan.

"Tao kongcu, tidak perlu kau teruskan lagi kata-katamu.

Pokoknya aku tidak akan me-ninggalkan kau begitu saja."

Sekali lagi wajah Tao Heng Kan menyiratkan keharuan yang tidak terkatakan. Dia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan I Giok Hong erat-erat.

"I kouwnio, suatu hari kelak, apabila aku sudah bisa memutuskan sendiri apa yang akan kulakukan, aku tentu tidak akan melupakanmu."

I Giok Hong tahu kata-kata yang diucapkan Tao Heng Kan ada kaitannya dengan penemuannya yang janggal. Pokoknya, dia yakin Tao Heng Kan akan menceritakan semuanya. Karena itu dia tidak ingin mendesaknya sekarang juga. "Tao kongcu, mengapa kau bicara seperti itu?" I Giok Hong mendongakkan kepalanya. Tampak sepasang mata Tao Heng Kan sedang menatapnya lekat-lekat. Dari sinar mata pemuda itu terpancar berbagai perasaan. Tanpa disadari jantung I Giok Hong berdegup-degup dengan cepat. Wajahnya jadi merah padam, dia merasa ada perasaan yang ganjil menyelinap dalam hatinya.

Kedua orang itu berdiri saling berhadapan dan bergenggaman tangan untuk beberapa saat.

"I kouwnio, menurutmu arah mana yang harus kita ambil?" tanya Tao Heng Kan setelah melepas-kan genggaman tangan gadis itu.

I Giok Hong mendongakkan kepalanya mem-perhatikan sungai itu. Tampak air sungai mengalir dengan deras. Permukaannya pun lebar dan di sekitarnya tidak tampak perahu satu pun. Meskipun orang yang ilmu Gin Kangnya tinggi sekali dan jago berenang sekali pun, tidak mudah menyeberangi sungai itu. Rasanya siapa pun yang menculik Lie Cun Ju juga tidak menyeberangi sungai itu.

"Tao kongcu, kita terpaksa mengadu nasib saja!" Jari tangan I Giok Hong menunjuk ke sebelah kanan."Kita ambil arah kanan saja!"

"Baik," sahut Tao Heng Kan.

Mereka pun turun ke sungai dan mengambil arah kanan. Baru saja tubuh mereka masuk ke dalam sungai, tiba-tiba terdengar suara deburan yang keras, air sungai pun bergelombang dan beriak-riak. Kemudian tampak dua sosok makhluk muncul dari dalam sungai.

Salah satu di antaranya memiliki tubuh tinggi besar. Begitu kekarnya hampir menyerupai rak-sasa. Kalau dilihat sepintas lalu makhluk itu seperti manusia. Tetapi kalau diperhatikan dengan sek-sama, sebenarnya bukan. Pokoknya sejenis makhluk aneh yang boleh dikatakan, monyet bukan, orang hutan pun bukan. Tubuhnya penuh dengan bulu berwarna hitam. Hidungnya mendo-ngak ke atas, dan mulutnya merah seperti bersim-bah darah. Tampangnya benar-benar menakutkan.

Tampak makhiuk aneh itu memanggul se-seorang. Dan orang yang dipangguinya itu ternyata Lie Cun Ju, yang sedang dicari-cari oleh Tao Heng Kan. Yang satunya seperti seorang pendeta. la memakai jubah berwarna kuning. Begitu keluar ke permukaan air, pendeta itu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk paha makhluk aneh itu. Ternyata tenggorokan makhluk aneh itu pun me-ngeluarkan suara Ho ... ho ... ho ... ho ...! seperti tertawa tapi bukan. Benar-benar menggidikkan bulu roma.

Pendeta itu mengulurkan tangannya dan menurunkan tubuh Lie Cun Ju. Kemudian dia menepuk punggung pemuda itu keras-keras. Lie Cun Ju langsung mengeluarkan suara hoakkk! sejumlah air keluar dari mulutnya. Setelah itu Lie Cun Ju baru membuka matanya.

"Sia ... pa kau? Un . . . tuk a ... pa kau membawa aku kesini?" tanya Lie Cun Ju.

"Kau tidak perlu tanya siapa aku. Kalau aku tidak menolongmu, mungkin selembar nyawamu sulit lagi dipertahankan," jawab pendeta dengan tersenyum.

Lie Cun Ju teringat berbagai peristiwa yang dialaminya selama satu bulan itu. Semua serba aneh dan hampir tidak masuk akal. Sejak dilukai oleh tiga iblis dari keluarga Lung, boleh dibilang dia tidak pernah melewati satu hari pun dengan tenang. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas pan-jang. Sepasang matanya dipejamkan kembali dan dia pun tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah terluka oleh tiga iblis dari keluarga Lung, Lie Cun Ju dibawa oleh I Giok Hong ke wilayah barat. Tetapi baru setengah jalan, gadis itu merasa tidak memerlukannya lagi dan melem-parkan tubuhnya yang sekarat di tengah jalan. Kemudian dia ditolong oleh Leng coa sian sing. Lalu dia ditukar dengan lencana Gin leng hiat ciangnya I Ki Hu serta dibawa oleh I Giok Hong ke lemhah Gin Hua kok. Ketika I Ki Hu dan putrinya meninggalkan Gin Hua kok, Seebun Jit yang yakin bahwa ia adalah putra sahabat lamanya langsung membawanya ke kamar batu dan memaksanya tidur di atas batu Ban nian si ping. Pada saat itu Lie Cun Ju berpendapat bahwa untuk sementara dirinya bisa meresapi ketenangan.

Tidak disangka-sangka, tak lama setelah Seebun Jit keluar dari niangan batu, terdengarlah suara Krek!

Pada saat itu, Lie Cun Ju sedang memejamkan matanya heristirahat.Hatinya mulai tenang me-lihat perhatian Seehun Jit terhadap dirinya.Maka ketika mendengar suara itu, dia mengira Seebun Jit kembaii lagi. Karena itu pula perhatiannya tidak tertarik. Tetapi dia tetap mengedarkan hawa murni dalam tubuhnya.

Tidak lama kemudian, dia mendengar suara langkah kaki. Dia dapat merasakan seseorang sudah sampai di sampingnya. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Setelah melihat dengan jelas, tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut. Ternyata orang yang berdiri di sampingnya, bukan lain daripada Tao Heng Kan yang membunuh kokonya di kediaman Kuan Hong Siau.

Tampak Tao Heng Kan berdiri di sampingnya dengan tangan menggenggam sebatang pedang. Matanya yang berkilauan menatap Lie Cun Ju lekat-lekat.

"Apa yang akan kau lakukan?" seru Lie Cun Ju sambil mencoba bangun.

Seperti merasa bersalah, Tao Heng Kan me-ngembangkan seulas senyuman.

"Sahabat Lie, aku mendapat perintah dari suhu untuk mengajakmu menemuinya." "Siapa gurumu? Mengapa dia ingin bertemu denganku?" tanya Lie Cun Ju keheranan.

Tao Heng Kan tidak memberikan jawaban. Dia mengulurkan tangannya dan menotok jalan darah di pundak Lie Cun Ju. Pada dasarnya kepandaian Lie Cun Ju memang sudah musnah. Setelah ditotok oleh Tao Heng Kan, dia semakin tidak bisa meng-adakan perlawanan. Tao Heng Kan menghunus pedangnya, setelah itu dia memondong tubuh Lie Cun Ju dan dibawanya ke luar dari rumah batu itu.

Begitu menerjang ke luar, Tao Heng Kan langsung berhadapan dengan I Giok Hong. Ketika terjadi perkelahian sengit antara I Giok Hong de-ngan Tao Heng Kan, Lie Cun Ju masih dipondong oleh pemuda itu. Kemudian Tao Heng Kan berhasil meloloskan diri. Lie Cun Ju hanya merasa dirinya dibawa ke dalam sebuah hutan kecil. Kemudian diletakkannya di atas tanah. Entah berapa lama sudah berlalu, dia baru mendengar suara pem-bicaraan.

Suara pembicaraan kedua orang itu dekat sekali dengannya, tetapi tubuh Lie Cun Ju tidak dapat bergerak sedikit pun. Karena itu dia tidak tahu siapa mereka.

Telinganya mendengar sebuah suara yang me-lengking dan menusuk gendang telinga.

"Muridku, dengan susah payah kita baru ber¬hasil mendapatkan tiga Tong tian pao Hong (Naga pusaka penembus langit), mengapa kau semba-rangan menggunakannya sebagai senjata rahasia? Seandainya aku tidak keburu datang, pasti tiga batang tong tian pao Hong ini sudah terjatuh ke tangan tiga iblis dari keluarga Lung, atau tangan Leng Coa sian sing. Bukankah timbul kesulitan lagi yang lainnya?"

Suara yang lain ternyata suara Tao Heng Kan.

"Suhu, pada waktu itu keadaan terlalu men-desak. Aku pun tidak berpikir panjang lagi. Sean¬dainya aku tidak menyambitkan tiga batang Tong tian pao Hong itu, nyawaku sendiri sulit dipertahankan, apalagi membawa orang ini me- nemuimu."

Lie Cun Ju mendengar kedua orang itu mem-bicarakan Tong tian pao Hong, diam-diam hatinya jadi tergerak. Entah di mana dia pernah mende¬ngar cerita tentang apa yang dinamakan naga pusaka penembus langit itu.

Tetapi ingatannya tidak dapat tergugah. Rasanya seperti sebuah lambang atau kode atau bisa jadi nama sejenis senjata rahasia. Sampai letih Lie Cun Ju menguras pikirannya, ia masih tidak sanggup mengingat kembali benda apa yang disebut Tong tian pao Hong itu.

Telinganya kembali mendengar suara yang melengking tadi.

"Tiga buah Tong tian pao liong ini kudapatkan dari kedua orang tuamu. Kemudian aku mendapat¬kan satu lagi dari saku pakaian Li Po. Sekarang jumlahnya ada empat, berarti kurang tiga lagi. Ha ... ha ... ha .. .!"

Kata-kata yang terucap dari mulut Tao Heng Kan justru singkat sekali. "Betul!"

"Sisa yang tiganya ada pada bocah ini. Kau harus mengawasinya baik-baik. Aku ada sedikit urusan sehingga harus pergi. Jangan sekali-sekali membiarkan bocah ini meloloskan diri!"

"Suhu tidak perlu khawatir!" Terdengar Tao Heng Kan menyahut.

Mendengar sampai di sini, hati Lie Cun Ju merasa heran. Karena dia dapat menduga 'bocah' yang dimaksud orang yang suaranya melengking itu pasti dirinya sendiri. Dan orang itu ingin mendapat tiga buah Tong tian pao Hong darinya. Sebetulnya benda apakah Tong tian pao liong itu? Dia sendiri merasa bingung dan tidak mengerti benda apa yang dimaksudkan?

Tetapi ada satu hat yang sudah dimengerti oleh Lie Cun Ju, bahwa kematian kokonya Li Po ter-nyata ada kaitannya dengan benda bernama Tong tian pao liong itu.

Perasaan Lie Cun Ju seperti bergejolak. Dia mendengar lagi orang itu berkata.

"Kepergianku ini tidak tentu lamanya. Kau boleh membebaskan jalan darahnya, tetapi harus menjaga jangan sampai meloloskan diri, apalagi sampai mati!"

Tao Heng Kan mengiakan sekali lagi. Setelah itu Lie Cun Ju tidak mendengar suara apa-apa lagi. Dia hanya merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Tahu-tahu totokan di tubuhnya sudah bebas. Secepat kilat Lie Cun Ju membalikkan tubuhnya. Kurang lebih sepuluh depa dari tempat-nya berada, tampak sesosok bayangan tinggi kurus sedang melesat pergi bagai terbang. Gerakannya tidak menimbulkan suara sedikit pun sehingga mirip setan gentayangan. Sedangkan orang yang membebaskan jalan darahnya siapa lagi kalau bukan Tao Heng Kan.

Meskipun jalan darah Lie Cun Ju sudah ter-buka, tetapi dia tidak mempunyai tenaga sedikit pun untuk melawan Tao Heng Kan. Matanya menatap pemuda itu dengan sinar mengandung kemarahan.

"Untuk . . . apa kau membawa aku kemari?" tanya Lie Cun Ju. Tao Heng Kan memperlihatkan tertawa yang getir. "Sahabat Lie, aku sama sekali tidak ada niat mencelakaimu, kau tidak perlu khawatir!"

Lie Cun Ju mendengus dingin.

"Kalau begitu, mengapa kau membunuh kokoku?" Tao Heng Kan menarik nafas panjang. Dia memalingkan kepalanya tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Lie Cun Ju melihat dirinya berada di atas sebuah bukit. Di sampingnya juga terdapat dua ekor kuda yang sedang memamah rumput.

Diam-diam Lie Cun Ju berpikir dalam hati.

"Seandainya aku menggunakan kesempatan di saat orang itu tidak sadar dengan mencuri seekor kuda untuk melarikan diri, rasanya bisa juga."

Tetapi berpikir sampai di situ, hatinya dilanda kegelisahan kembali. Biarpun bisa melarikan diri, tapi kemana tujuannya?

Sebetulnya Lie Cun Ju mempunyai keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya pun me-rupakan tokoh-tokoh kelas satu di dunia kang ouw yang namanya sudah cukup terkenal. Tetapi sejak Tao Heng Kan membunuh Li Po, kokonya, keluar¬ga mereka terpencar dan akhirnya menjadi terkatung- katung seperti sekarang ini.

Lie Cun Ju menatap bayangan punggung Tao Heng Kan dengan mat a menyorotkan dendam membara. Sampai lama sekali dia memandangi pernuda itu, akhirnya dalam benaknya timbul bayangan Tao Ling.

Dia teringat kasih sayang yang diperlihatkan Tao Ling selama ini. Hatinya timbul gejolak yang sulit dilukiskan. Lie Cun Ju hanya dapat menarik nafas panjang. Selama dua malam dia bersama-sama TaoHeng Kan di tempat itu. Di antara mereka tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun.

Pada hari ketiga, Tao Heng Kan tahu luka yang diderita Lie Cun Ju parah sekali. Tidak mungkin dia bisa meloloskan diri. Perasaannya pun menjadi lega. Teringat persediaan air sudah habis, maka dia berjalan menuju tepi danau untuk engambil air. Tidak disangka-sangka dia bertemu dengan I Giok Hong di tempat itu. Setelah Tao Heng Kan meninggalkannya, tim¬bul niat Lie Cun Ju untuk melarikan diri, Dia berusaha bangun, tetapi tubuhnya lemas sekali. Dengan susah payah dia baru berhasil berdiri, kepalanya terasa pening dan pandangan matanya langsung berkunang-kunang. Bahkan dia tidak sanggup berdiri tegak. Ketika ia bermaksud memaksakan diri melangkah ke depan beberapa langkah untuk bersandar di batang pohon, tiba-tiba dari belakangnya muncul dua sosok bayangan.

Ketika mata Lie Cun Ju sempat melihat dua sosok bayangan itu dengan jelas, dia sangat terkejut. Ternyata yang dilihatnya itu yang satu seorang pendeta, sedangkan yang satunya lagi sejenis makhluk aneh yang belum pernah ia temui seumur hidupnya.

Lagipula bentuk makhluk itu begitu aneh. Bah¬kan Lie Cun Ju tidak pernah tahu bahwa di dunia ini ada jenis makhluk seperti itu.

Tadinya Lie Cun Ju ingin berteriak, tetapi baru saja mulutnya membuka, pendeta berjubah kuning yang muncul bersama-sama makhluk aneh itu sudah berkelebat ke depannya dan menotok jalan darah Lie Cun Ju. Pemuda itu pun tidak dapat bergerak lagi.

Makhluk yang mirip manusia tapi bukan manusia itu langsung membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Lie Cun Ju di pundaknya. Kemudian mereka melesat ke depan. Tidak lama kemudian, mereka sampai di tepi sungai, dan meloncat ke dalamnya.

Di dalam sungai, Lie Cun Ju memaksakan diri untuk menu tup pernafasannya. Ketika ia mulai tidak kuat dan sudah meneguk air sungai itu beberapa tegukan, tiba-tiba makhluk yang menyeramkan dan pendeta berjubah kuning itu menyembulkan kepalanya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pendeta itu langsung berkelebat menotok jalan darah I Giok Hong dan Tao Heng Kan. Apabila dalam keadaan biasa, pasti jalan darah mereka tidak semudah itu bisa tertotok. Namun pada saat itu mereka sedang terkesima memandangi makhluk aneh yang muncul dari permukaan air itu. Maka dalam keadaan tanpa dapat bertahan lagi jalan darah mereka langsung tertotok.

Kemudian pendeta itu memberi isyarat kepada si makhluk aneh. Mereka memondong tubuh Lie Cun Ju kembali dan dibawanya lari meninggalkan tempat itu. Kira-kira menempuh perjalanan belasan li. Mereka baru berhenti. Makhluk aneh itu menurunkan tubuh Lie Cun Ju.

Pendeta itu menatap Lie Cun Ju sambil tertawa terkekeh- kekeh.

"Benar-benar keberuntungan bagi kami bahwa kau tidak sampai mati."

Hati Lie Cun Ju kesal dan marah. Dia mende-ngus dingin "Aku malah menganggap lebih baik mati," kata Lie Cun Ju. Pendeta itu mengeluarkan seruan terkejut.

"Akh! Kau sama sekali tidak boleh mati!"

Pada saat itu, dalam hati Lie Cun Ju memang berpendapat lebih baik mati daripada hidup tersik-sa seperti itu. Apabila saat itu dia mengetahui bahwa Tao Ling telah menikah dengan Gin leng hiat ciang, I Ki Flu, mungkin dia langsung bunuh diri saking kecewanya.