-->

Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 06

Jilid 06

Buk! Buk! Tiba-tiba Lung Sen dan Lung Ping jatuh terbanting di atas tanah. Untung saja ilmu kepandaian kedua orang ini memang cukup tinggi. Ketika melihat kelebatan cahaya golok, tiba-tiba saja hati mereka merasa ada firasat buruk. Mereka memaksakan gerakan kaki yang sudah melayang keluar itu agar dapat ditarik mundur.

Namun, Seebun Jit justru terkenal di dunia kang ouw karena sebilah golok dan sepasang cambuknya yang aneh. Panjang goloknya kira-kira empat ciok. Tipisnya seperti selembar kertas. Tetapi tajamnya jangan ditanyakan lagi. Dibuat dari baja pilihan yang sulit didapatkan. Bila sedang tidak digunakan, golok itu dapat digulung seperti sabuk pinggang. Bisa disembunyikan di balik pakaian tanpa terlihat oleh lawan. Bila dicabut keluar pun tidak tampak oleh mata lawan, tahu-tahu sudah tergenggam dalam telapak tangan. Jurus yang digunakannya tadi diberi nama Lihat Golok Lihat Darah. Karena itu kaki kiri Lung Sen dan Lung Ping langsung terkerat sebatas betis dan langsung jatuh tanpa dapat mempertahankan diri lagi. Dalam keadaan terluka parah, Seebun Jit masih sanggup melawan tiga musuh sekaligus, bahkan melukai dua di antaranya. Ilmu kepandaiannya benar-benar tidak dapat dipandang ringan. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping hanya terluka di bagian luar, tetapi lukanya justru di kaki yang merupakan anggota penting dari tubuh. Mereka segera menutup jalan darahnya untuk menghentikan pendarahan. Untuk sementara mereka tidak bisa berhadapan dengan musuh.

Seebun Jit memaksakan diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Lung Goan Po menghambur ke depan melihat keadaan dua saudaranya. Mengambil kesempatan itu Seebun Jit segera mengayunkan goloknya ke bagian punggung Lung Goan Po. Gerakan golok menimbulkan cahaya seperti pelangi. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Lung Goan Po menyambar kedua saudaranya kemudian mencelat ke depan sejauh beberapa depa.

Ayunan golok Seebun Jit memang bertujuan membuat Lung Goan Po menghindarkan diri untuk sementara. Dia bukan menyerang dengan sungguh-sungguh. Melihat Lung Goan Po mencelat ke depan, dia juga menggeser kakinya dan memungut kembali sepasang cambuknya yang terlepas dari tangannya tadi.

Tampak tangan kirinya menggenggam golok¬nya yang berbentuk aneh, sedangkan tangan kanannya memegang cambuk bercabang lima. Seebun Jit berdiri dengan tegak, penampilannya angker. la mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang. Kalau diperhatikan tidak seperti orang yang sudah terluka parah. Padahal kenyataannya justru dalam keadaan ter¬luka parah.

Semestinya, orang yang sudah terluka seperti Seebun Jit sekarang ini, tidak boleh menggunakan tenaga dalamnya untuk tertawa terbahak-bahak. Karena akan menyebabkan lukanya semakin parah. Namun Seebun Jit menyadari keadaan di depan matanya saat ini. Sekarang tinggal Lung Goan Po yang masih bisa bertarung dengannya. Apabila otaknya cerdas, dia bisa mendesak. Seebun Jit terpaksa mundur terus dan mendekati Lung Sen serta Lung Ping. Meskipun keduanya terluka dan terkulai di atas tanah, sepasang tangan mereka masih dapat digerakkan. Tidak sampai dua puluh jurus, Seebun Jit pasti berhasil dikalahkan. Yang jelas tubuhnya sendiri sudah terluka parah. Saat ini seandainya dia berpura- pura tidak terluka, bahkan berlagak mencoba menantang ketiga orang itu, mungkin mereka malah menjadi ragu atau mungkin mereka malah mengundurkan diri untuk sementara!

Kedatangan ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai tujuan tertentu. Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih dari cukup. Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-hahak.

Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya dengan suara keras.

Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas, kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hen! Jangan senang dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti datang kembali! Tunggu saja!"

Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.

"Biar kapan pun kalian datang, asal aku . . ." Seebun Jit mengerutkan kening sedikit saja, "Anggaplah aku band!"

"Kata-kata yang bagus!" Sembari memapah kedua orang saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit. Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin Hua kok.

Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi nienyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.

Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi. Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang. Darah yang bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah keluar setelah perasaannya lebih lega.

"Hooakkkk!!!!"

Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih. Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua dalam waktu yang singkat.

Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit menggunakan goloknya untuk menopang dirinya. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah sudah terdengar suara batuk-batuk kecil.

Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir, apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.

Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya kem¬bali, tampak di mulut lembah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering. Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.

Seebun Jit memaksakan dirinya untuk me-ngembangkan seulas senyuman. "Leng Coa sian sing, ada keperiuan apa berkun-jung ke Gin Hua kok?"

Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang berkecimpung di dunia kang ouw sehingga orang-orang yang tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang tinggi sekali.

"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekeh- kekeh.

Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu ini. Karena itu dia tertawa getir.

"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperiuan apa Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"

Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh.

Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.

"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"

Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah len-cana berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan. Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya putih keperakan.

Seebun Jit tertegun melihatnya.

"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bulim, siapa yang tidak kenal a pa lagi tidak tahu?"

"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"

Seebun Jit terkejut sekali.

"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu. Benda yang demikian berharga, mengapa kau menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"

"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai pertimbangan sendiri."

Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya. Tetapi mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian sing juga menginginkannya?

"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah perkataan kokcumu sendiri?" tanya Leng Coa sian sing sambil menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya semakin berkilauan.

Seebun Jit mengangkat bahunya.

"Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang dapat aku lakukan?"

Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa tidak ada?"

Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit terkesiap. Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa sian sing ini bersamaan wak-tunya dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung. Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri dan menunggu kesempatan baik!

Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik. Karena itu, dia segera menenangkan hatinya.

"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini, aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!" sahut Seebun Jit.

Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya kemudian mengangkat bahunya.

"Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga Lung, berarti kau juga bisa saja memper¬mainkan aku. Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin memeriksa seluruh lembah ini."

Seebun Jit tertegun sejenak. "Berani-beraninya kau!" bentaknya.

Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang pemegang lencana perak!" sahutnya.

Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati.Dia melihat Leng Coa sian sing membawa lencana perak.Seandainya sampai terjadi perkelahian de¬ngan orang itu dan diketahui oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar. Sama saja mengundang bencana. Karena I Ki Hu sudah menyatakan dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya sendiri. Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang pemegang lencana itu. Tetapi Seebun Jit pernah menerima budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Dan sekarang dia berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu. Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa sian sing ini?

Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan menggetarkan golok di tangannya. "Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga tidak akan sungkan lagi!"

Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak. "Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah,

tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."

Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke depan. Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur mengincar pundak Seebun Jit.

Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit tercekat. Ketika me-ngetahui Leng Coa sian sing menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri menghimpun hawa murni dalam tubuh. Golok di tangannya segera diangkat ke atas. Tampak cahaya berkilauan saat golok itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya.

Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke bawah. Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan mata. Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular itu.

Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil menebas tubuh ular itu. Dia yakin ketajaman goloknya pasti akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata oleh Leng Coa sian sing. Diam-diam dia berpikir dalam hati, setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan kembali langkah berikutnya.

Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun Jit. Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang. Dalam keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat sekilas. Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu. Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh. Bahkan ular itu makin bertambah marah. Ditekannya golok itu kuat-kuat. Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan darah terpenting di ubun-ubun kepala Seebun Jit.

Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu. Cepat-cepat dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya menghindari serangan ular. Tetapi dia terlambat juga, sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk juga oleh ular itu.

Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana tertimpa besi yang berat. Bagian kepala sebelah mana pun merupakan tempat yang paling membahayakan apabila terbentur. Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi tetap saja membawa pengaruh yang hebat.

Begitu kepalanya terpatuk mulut ular 'itu, Seebun Jit merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang-kunang. Kakinya limbung. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan mantap.

Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah. Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka yang dideritanya membawa penga¬ruh hebat. Untung saja tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri. Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekat- lekat. Tampak Leng Coa sian sing tetap maju menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara bentakan. Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan sedikit pun.

Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman yang licik. Kelima jari tangannya mengencang pada bagian ekor ular. Jelas saja ular itu kesakitan dan tiba-tiba menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian dada Seebun Jit.

Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka. Warna kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tam¬pak bagus sekali. Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di dunia ini. Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun. Lagipula tenaga ular itu kuat sekali. Leng Coa sian sing menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam.

Baru kemudian berhasil menangkapnya. Begitu sayangnya Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri. Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk kumala'. Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan batu kumala. Justru dari nama yang diberikannya itu pula, Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya sebagai senjata.

Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor harimau ataupun singa. Begitu membentur dada Seebun Jit yang tidak  sempat menghindarinya,  kembali  dia menderita luka parah. Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup berdiri lagi.

Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan maju beberapa Iangkah. "Seebun Jit, tanyakan pada dirimu sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus ketigaku?" bentaknya sinis.

Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur pernafasannya. Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak ada sama sekali. Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran.

"Leng ... Coa . .. sian sing, mengapa ... jurus . . . keti . . . gamu . .. belum ... di ... lancarkan juga?"

"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki- Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana kekerasan hatimu."

Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian sing tidak akan membunuhnya langsung. Mungkin dia akan menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya. Pikirannya lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian sing, tetap saja dia tidak bisa menghin-darkan diri dari tiga iblis keluarga Lung yang akan datang kemba'I. Lebih baik menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri. Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju yang disembunyikan di dalam ruangan batu. Dengan demikian dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum terbunuh.

Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri. Tiba-tiba dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki kuda. Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas. Begitu mendengar suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan orang itu pasti Gin Hua kok. Tanpa dapat ditahan lagi keduanya jadi tertegun.

Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki kuda itu sudah semakin mendekat. Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah sampai di mulut lembah Gin Hua kok.

Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan kepalanya ke arah mulut lembah. Mereka melihat seekor kuda yang bersih mulus berwarna putih keperak-perakan dengan seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju datang secepat kilat. Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong.

Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing berkebat-kebit. Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul dibelakang. Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya menyurut mundur satu langkah.

I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah. Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang. Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sedikitpun. Secepat kilat melayang kearah Leng Coa Sian Sing. Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya dengan panik. Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.

Trak!!

Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok Hong.

Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat.Kakinya terhuyung – huyung mundur beberapa tindak. “I ....... kouwnio, lencana i ........ tu kau sendiri yang memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengam

........ bilnya kembali?” kata Leng Coa sian sing gugup.

I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan kembali.

“Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini, ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua kok. Cepat pergi dari sini!”

Selembar wajah Leng Coa sian sing tampak merah padam bagai dilumuri darah. Perlahan – lahan dia mengundurkan diri. Sesampainya di mulut lembah, dia melongokkan kepalanya. Keadaan diluar lembah sunyi senyap. Tampaknya I KI Hu tidak mengiringi kepulangan putrinya I Giok Hong.

Ilmu kepandaian I Ki Hu sudah mencapai taraf yang demikian tinggi sehingga kadang – kadang kedatangan dan kepergiannya persis setan gentayangan yang tidak menimbulkan jejak dan suara sedikitpun. Kalau dilihat dari keadaan sekarag, tampaknya I Giok Hong memang hany seorang diri. Tetapi siapa tahu si Raja Iblis itu bersembunyi disuatu tempat dan belum mau menampakkan dirinya. Meskipun hati Leng Coa sian sing mendongkol sekali, tetapi apabila dia sampai bergebrak dengan I Giok Hong, ada kemungkina I Ki Hu bisa muncul setiap saat.

Keadaan itu seperti perjudian yang hanya memegang besar atau kecil. Hanya ada kemungkianan yang taruhannya bukan uang atau harta benda yang dapat dicari penggantinya, tapi nyawanya sendiri.

Karena itu Leng Coa sian sing termenung-menung beberapa saat. Akhirnya dia tidak berani berspekulasi. Dia melilitkan sebagian tubuh dan ekor 'cambuk kumala' ke lehernya. Tubuhnya berkelebat dan menghilang di luar lembah. Sebetulnya kakek Leng Coa sian sing tidak kembali ke Leng Coa ki (tempat tinggalnya). Dia hanya berlari ke tempat yang agak jauh kemudian kembali lagi dengan mengambil jalan memutar. Dia menyembunyikan dirinya di sekitar mulut lembah dan tidak berani masuk ke dalam.

Sejak kecil Leng Coa sian sing senang memelihara ular. Setnua kepandaian yang dimilikinya sekarang merupakan ilmu yang didapatkannya dengan meniru gerak gerik ular. Bahkan ilmu ginkangnya lain daripada yang lain. Dia dapat merayap di atas tanah dan pulang pergi seperti melayang di atas tanah dengan tubuh tiarap. Bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun. Meskipun di luar lembah Gin Hua kok terdapat banyak pasir, tempat yang dilaluinya tidak meninggalkan jejak kaki sedikit pun karena dia bukan berjalan tapi melata seperti ular.

Setelah Leng Coa sian sing meninggalkan tem¬pat itu, Seebun Jit baru bisa menghembuskan nafas lega. Dia mendongakkan kepalanya.

"Sio . . . cia, keda . . . tanganmu sung .. . gun tepat, se . . . hingga se . . . lembar nya . . . waku ini tertolong."

Sepasang alis I Giok Hong menjungkit ke atas, seakan ia sedang ada keperluan penting.

"Siok-siok, kemana bocah she Li itu?Cepat suruh dia keluar, ayahku ingin menemuinya," tukas I Giok Hong.

Hati Seebun Jit langsung tertegun. Dia mengeluh dalam hati.

Aku berkelahi melawan tiga iblis dad keluarga Lung dan Leng Coa sian sing mati-matian justru karena ingin mempertahankan Lie Cun Ju. Tetapi kalau dilihat dari sikap I Giok Hong yang kalang kabut ini, tampaknya 1 Ki Hu juga mengandung niat tidak baik.

Seebun Jit menarik nafas panjang. "Siocia, aku yang bersalah. Setelah kalian pergi tidak lama, datang tiga iblis dari keluarga Lung. Justru ketika aku sedang bertarung dengan sengit melawan mereka, ternyata bocah itu menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri."

Meskipun dalam keadaan mendadak Seebun Jit mengarang cerita bohong, tetapi nada suaranya sedikit pun tidak meragukan. Namun I Giok Hong seorang gadis yang luar biasa cerdasnya. Setelah berpikir sejenak, dia mengeluarkan suara tertawa dingin.

"Siok-siok, kau sedang mendustai aku." "Siocia, masa hamba mempunyai nyali sebesar

itu? Dia . . . benar-benar sudah melarikan diri." Wajah I Giok Hong berubah menjadi angker.

“Seebun Jit, pada dasarnya kau musuh besar Gin Hoa Kok. Mengingat ilmu kepandaianmu yang tinggi, tia menahan kau disini. Justru karena hal itu aku tidak segan-segan memanggil kau siok-siok. Tetapi kalau kau bermaksud macam-macam, aku tidak akan membiarkannya,” katanya.

Ketika Seebun Jit bermaksud berdebat, I Giok Hong sudah mengayunkan pecutnya ke atas tanah kemudian membalikkan tubuh dan berjalan pergi. Seebun Jit segera menolehkan kepalanya. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya mengeluh celaka. Ternyata arah yang dituju I Giok Hong justru pintu batu tempat Lie Cun Ju disembunyikan.

Di depan goa batu itu memang telah diganjal dengan sebuah batu besar. Tapi Seebun Jit tahu I Giok Hong sejak kecil sudah dilatih oleh ayahnya sehingga meskipun usianya masih muda, kepandaiannya sudah tinggi sekali. Batu besar itu tentu tidak sanggup menghalangi niat gadis itu.

“Socia, tunggu dulu!” teriak Seebun Jit.

I Giok Hong menolehkan kepalanya sambil tertawa cekikikan. “Rupanya kau menyimpan pemuda itu di goa batu tempat tinggalmu,” katanya.

Seebun Jit langsung tertegun. Sekarang dia baru sadar bahwa bukan hanya kepandaiannya saja yang masih kalah dengan I Giok Hong. Bahkan kecerdasannya pun terpaut jauh. Sebetulnya I Giok Hong tidak tahu tempat Lie Cun Ju disembunyikan. Tetapi saking paniknya Seebu Jit berteriak, itu sama halnya dengan memberitahukan kepada I Giok Hong.

Akhirnya Seebun Jit hanya daoat menarik nafas panjang. Sekonyong-konyong, dia melompat bangun dengan tangan menumpu diatas tanah. Dia berdiri juga berjalan maju beberapa langkah kemudian bersandar pada batang pohon.

Tampak I Giok Hong sudah sampai di depan pintu batu. Pecut ditangannya diayunkan, Tar! Sekali gerak saja batu besar itu, tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti ledakan bom. Batu besar yang beratnya paling tidak dua-tiga ribu kati itu langsung terpental ke atas kemudian pecah berhamburan.

Pada saat itu, I Giok Hong sedang berdiri di depan pintu goa. Sekonyong – konyong batu besar yang mengganjal di depan pintu itu terpental ke atas dan pecah berhamburan. Gadis itu merasa ada serangkum angin yang kuat melanda kearahnya. Tetapi ia bahkan menerjang kedepan. Melihat keadaan yang membahayakan, Seebun Jit sampai mengeluarkan suara seruan terkejut.

Orang yang di tengah bertubuh gemuk pendek, di sebelah kirinya seorang perempuan, hal ini terlihat dari bentuk tubuhnya. Sedangkan di bagian kanan berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus.

Ketiga orang ini memang iblis keluarga Lung dari Kui Cou. Yang gemuk sebagai saudara tertua, namanya Lung Goan Po. Orang yang bertubuh tinggi kurus saudara kedua, namanya Lung Sen. Sedangkan yang perempuan menduduki tangga terakhir, namanya Lung Ping!

Ketika masih berada di dalam goa batu, Lie Cun Ju dan Seebun Jit sudah mendengar suara perempuan itu. Karenanya mereka pun mengetahui bahwa yang datang adalah tiga iblis keluarga Lung. Lie Cun Ju pernah kena batunya ketika bertemu dengan mereka di tengah sungai. Karena itu dia mengenali suaranya. Sedangkan pengetahuan dan pengalaman Seebun Jit sangat luas, dia juga senang menjelajahi dunia. Ketika dunia bu lim belum mengenal nama tiga iblis dari keluarga Lung, dia sudah sempat bertemu dengan mereka beberapa kali.

"Rupanya kalian. Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya Seebun Jit dengan nada dingin.

Ketiga iblis dari keluarga Lung tidak menyahut. Mereka langsung melepaskan topeng penutup wajah mereka yang warnanya seperti berlumuran darah.

Perasaan Seebun Jit langsung tertegun. Tanpa dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur tiga langkah. Sewaktu berkunjung ke Kui Cou tempo dulu, kakek itu sudah pernah mendengar orang mengatakan bahvva ketiga iblis keluarga Lung memang tiga bersaudara. Tadinya mereka prajurit suku Biao. Kemudian menurut berita yang tersebar di dunia kang ouw, tokoh utama dari golongan hitam Hek Leng sin kun berpesiar ke daerah Biao dan menetap di sana. Kemudian ketiga saudara ini diterimanya sebagai murid.

Tetapi selamanya ketiga iblis dari keluarga Lung ini tidak pernah mengungkit tentang gurunya kepada siapa pun juga. Apabila bergebrak dengan seseorang, selamanya musuh mereka tidak pernah dibiarkan hidup. Karena itu tidak ada orang yang tahu sampai dimana ketinggian ilmu mereka dan keistimewaan yang mereka miliki. Mereka juga selalu mengenakan topeng. Bahkan setiap tokoh hitam yang takluk kepada mereka, dijadikan anak buah dan diharuskan mengenakan topeng serupa. Ini merupakan peraturan bagi mereka. Apabila mereka sampai melepaskan kedok atau topeng yang menutupi wajah mereka, itu tandanya mereka mempunyai dendam sedalam lautan dan turun tangan mereka pun tidak tanggung-tanggung lagi.

Karena teringat selentingan di luaran bahwa ketiga orang ini merupakan murid Hek leng sin kun dan begitu bertemu mereka langsung melepaskan topengnya, Seebun Jit jadi tertegun. Tampak ketiga orang itu tidak berwajah buruk. Setidaknya semua panca inderanya komplit. Kalau ditilik dari usianya, ketiga orang itu paling sedikit sudah di atas empat puluhan tahun.

"Dari tempat yang jauh kalian berkunjung ke¬mari. Sebetulnya ada keperluan apa? Harap katakan terus terang saja!" tanya kakek Jit.

"Apakah Anda Seebun Jit yang pernah bertemu muka dengan kami di Kui Cou tempo dulu?" tanya Lung Goan Po sambil batuk-batuk kecil.

Mendengar nada mereka yang tidak begitu garang, perasaan Seebun Jit pun agak lega. Karena bagaimana pun, mereka terdiri dari tiga orang, sedangkan dia hanya sendirian, apakah dia sanggup mengalahkan mereka masih merupakan sebuah tanda tanya besar.

"Ingatan sam wi sungguh hebat. Cayhe memang Seebun Jit!" sahutnya.

Ketiga orang itu saling lirik sekilas. Kemudian topeng di tangan mereka dilempar ke atas tanah. Trang! Rupanya topeng itu terbuat dari emas murni yang kemudian dilumuri lagi dengan sejenis zat pewarna.

Setelah melemparkan ketiga topeng itu di atas tanah, tiba- tiba mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan Seebun Jit

... Tentu saja Seebun Jit terkejut setengah mati. Dia menduga mereka sedang menjalankan akal yang licik dan mencari kesempatan untuk mencelakainya. Karena itu dia segera menghentakkan kakinya mencelat ke belakang sejauh beberapa tindak untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan. Pecut bercabang limanya pun langsung dikeluarkan dari selipan ikat pinggang.

Tetapi saat itu juga Lung Goan Po mendongakkan wajahnya.

"Sahabat Seebun, jangan khawatir. Kecuali di hadapan guru kami yang berbudi, selamanya kami belum pernah menekuk lutut di hadapan siapa pun. Tetapi urusan ini gawat sekali, kami memohon bantuan sahabat Seebun. Kami sengaja datang kemari untuk memohon bantuanmu. Apahila sahabat Seebun bersedia mengabulkan, meskipun kami harus menjadi kerbau atau kuda di kehidupan mendatang, kami pun rela."

Seebun Jit mendengar nada bicara Lung Goan Po yang tulus, seakan tidak ada maksud jahat sedikit pun. Juga tidak tampak berpura-pura. Dia merasa aneh, meskipun kakek itu belum pernah bergebrak langsung dengan ketiga orang itu, tapi mereka cukup terkenal di dunia kang ouw. Apalagi di wilayah Hun Kui. Entah berapa banyak tokoh golongan hitam yang tidak berani menginjakkan kakinya ke wilayah itu, karena merupakan tempat tinggal ketiga iblis dari keluarga Lung ini. Sekarang mereka seakan menghadapi suatu masalah besar yang entah apa, malah berlutut di hadapannya.

"Sam wi harap berdiri! Ada apa-apa bisa kita rundingkan baik-baik!"

"Sebelum sahabat Seebun mengabulkan, untuk selamanya kami tidak akan bangun!" kata Lung Goan Po.

Seebun Jit adalah tokoh yang sudah banyak makan asam garam. Dia bisa melihat apa yang terkandung di dalam hati seseorang hanya dari mimik wajahnya. Dia tahu ketiga orang ini ada sesuatu dan ingin memohon bantuannya, tetapi dia justru tidak habis pikir apa masalahnya?

"Terserah, katakan saja apa permohonan ka¬lian itu!"

Wajah ketiga orang itu langsung beseri-seri mendengar jawaban Seebun Jit.

"Sekarang Anda tinggal di Gin Hua kok ini, tentunya Anda mempunyai hubungan yang baik dengan I losian sing. Kami bertiga ingin bertemu dengannya, harap Anda sudi mengantar kami kepada orang tua itu!" kata Lung Goan Po kembali.

Tadinya Seebun Jit mengira ada urusan sebesar apa sehingga mereka perlu meminta bantuannya, ternyata mereka hanya ingin bertemu dengan si raja iblis I Ki Hu. Hampir saja dia tertawa geli.

"Kedatangan kalian sungguh tidak tepat. I Kokcu sedang keluar, tidak ada di dalam lembah!"

Tidak disangka-sangka wajah ketiga orang itu semakin bersseri-seri.

"Benar?"

"Tentu. Buat apa aku rnendustai kalian?”

"Dalam perjalanan menuju tempat ini, secara kebetulan kami bertemu dengan Leng Coa sian sing, dia mengatakan hahwa I kokcu menolong seorang laki-laki dan perempuan, apakah yang di-katakannya benar?"

"Tidak ..." Hampir saja Seebun Jit kelepasan bicara. Tetapi baru mengucap sepatah kata 'tidak', dia teringat sesuatu hal. Rupanya ketiga orang ini takut berselisihan dengan I Ki Hu, karena itu mereka menggunakan aka! licik untuk memancingnya. Mendengar I Ki Hu tidak ada di lembah, wajah mereka semakin berseri-seri. Lain secara tiba-tiba mereka menanyakan tentang Lie Cun Ju dan Tao Ling. Di balik semua itu pasti ada apa-apanya. "Tidak tahu menahu mengenai urusan ini!" Seebun Jit memang manusia yang cerdas, meskipun dalam sedetik, dia mengalihkan jawabannya, namun tidak terlihat sedikit pun bahwa dia sedang berdusta.

Lung Goan Po menarik nafas panjang.

"Sahabat Seebun benar-benar tidak bersedia berterus terang kepada kami?"

"Aku tinggal di Gin Hua kok, ada kejadian apa pun di sini, aku pasti tahu. Tapi aku memang tidak mengenal laki-laki dan perempuan yang ditolong kokcu."

"Mungkinkah Leng Coa sian sing mendustai kami? Aih!

Sudahlah!" gumam Lung Goan Po.

Tiba-tiba ketiga orang itu melonjak bangun.Seebun Jit langsung menggetarkan pergelangan tangannya. Sepasang cambuk di tangannya mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Diam-diam dia bersiap siaga terhadap segala kemungkinan.Tetapi tiba-tiba dia melihat wajah Lung Goan Po berubah pucat pasi.Sepasang lengannya gemetar!

"Toako! Kita toh masih bisa menemukan mereka!" teriak kedua saudara Lung Goan Po.

"Dunia begini luas. Kemana kita harus mencari mereka? Batas waktunya sudah sampai pula, untuk apa kita bercapai diri lagi?" ucap Lung Goan Po sambil menarik napas panjang.

Sembari berbicara, sepasang lengannya terus menggigil. Kemudian terdengar suara Krek! Krek! dua kali. Di kening laki- laki bertubuh gemuk pen-dek itu, tampak keringat dingin bercucuran. Seebun Jit adalah seorang tokoh bu lim yang banyak pengalaman. Melihat keadaan ini, dia tahu bahwa Lung Goan Po telah memutuskan seluruh urat nadi di kedua lengannya dengan paksa.

Hati Seebun Jit semakin curiga. Dari kata-kata Lung Goan Po barusan, dia bisa menduga bahwa ketiga iblis itu mendapat perintah dari seseorang untuk menemukan Lie Cun Ju dan Tao Ling. Bahkan diberikan batas waktu. Seandainya sampai batas waktunya mereka masih belum menemukan kedua orang itu, mereka harus memutuskan urat-urat di kedua lengan mereka sendiri!

Orang yang berani bermusuhan dengan tiga iblis dari keluarga Lung, di dalam dunia kang ouw boleh dibilang dapat terhitung dengan jari tangan. Seebun Jit sendiri juga mempunyai nama yang cukup terkenal di dunia kang ouw, tetapi dia pun tidak berani sembarangan mencari masalah dengan ketiga iblis ini. Kecuali Gin leng hiat ciang I Ki Hu atau tokoh yang sebanding dengannya, Seebun Jit benar-benar tidak habis pikir siapa yang berani mendesak ketiga iblis dari keluarga Lung itu?

Seebun Jit merenung sejenak.

"Sahabat Lung, tunggu sebentar. Seandainya tidak berhasil menemukan seorang laki-laki dan perempuan itu, mengapa Anda sampai harus memutuskan seluruh urat di kedua lenganmu sen¬diri?" tanya kakek itu.

"Sahabat Seebun toh tidak tahu dimana kedua orang itu berada, untuk apa bertanya? Kami memberitahukan pun tidak ada gunanya." Sembari berkata, dia menolehkan kepala kepada kedua saudaranya. Setelah itu berkata lagi. "Kalian berdua masih tidak cepat turun tangan! Apalagi yang kalian tunggu? Meskipun kehilangan dua buah le¬ngan, paling tidak masih ada selembar nyawa!" kata orang yang gemuk pendek sambil menahan sakit yang dideritanya.

Seandainya Seebun Jit seorang tokoh dari golongan lurus, tentu dia akan mendesak siapa orangnya yang memaksa mereka dan untuk apa mereka ingin menemukan Lie Cun Ju dan Tao Ling. Dia juga akan mencegah perbuatan mereka bertiga yang memutuskan urat nadi lengan sendiri. Tetapi pada dasarnya dia memang seorang tokoh dari golongan hitam. Dia sadar seorang diri melawan mereka bertiga, lebih banyak ruginya daripada untungnya. Lebih baik menunggu mereka me¬mutuskan dulu urat nadi lengan masing-masing, dia baru tentukan langkah selanjutnya. Karena itu, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata kedua adik Lung Goan Po juga mengikuti tindakan toako mereka memutuskan urat nadi di lengan masing-masing.

Tubuh mereka gemetar dengan hebat. Keringat dingin membasahi kening. Seebun Jit menunggu sampai pekerjaan mereka sudah selesai, baru tersenyum simpul.

"Entah siapa nama laki-laki dan perempuan yang kalian cari itu? Apabila kalian bisa menyebutkan namanya, mungkin aku bisa membantu!"

Wajah ketiga iblis dari keluarga Lung langsung berubah hebat.

"Rupanya kau memang tahu, mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" teriak Lung Goan Po.

"Toako, jangan bersikap kasar! Sahabat Seebun, orang yang ingin kami cari bernama Tao Ling dan Lie Cun Ju!" Lung Ping menjawab sambil mengerlingkan matanya pada toakonya.

Seebun Jit melihat kening ketiga orang itu dibasahi oleh keringat dingin. Sepasang lengan mereka menjuntai ke bawah, belum lagi wajah mereka yang pucat pasi. Dapat dipastikan bahwa urat nadi di lengan ketiga orang itu sudah putus. Diam-diam hatinya merasa senang. Seebun Jit menggetarkan cambuknya dan tertawa terbahak-bahak,

"Rupanya mereka yang kalian cari! Meng¬apa kalian tidak katakan dari tadi?"

"Rupanya Anda tahu dimana mereka sekarang berada?" tanya Lung Goan Po. "Tentu saja tahu. Kalian tadi mengatakan kokcu menolong seorang laki-laki dan perempuan. Kedua orang itu bukan ditolong oleh kokcu, mereka bahkan datang sendiri."

"Dimana mereka sekarang?" tanya Lung Ping gugup.

Tentu Seebun Jit tidak mungkin mengatakan jejak Lie Cun Ju dan Tao Ling kepada ketiga iblis dari keluarga Lung itu. Karena dia tahu mereka terdiri dari orang-orang yang keji dan selalu turun tangan dengan telengas. Tentu mereka mengan- dung niat kurang haik.

Sekarang Seebun Jit melihat ketiga iblis itu karena sesuatu hal memutuskan urat nadi tangannya sendiri. Dengan kekuatannya sendiri, kakek itu juga sanggup mengalahkan mereka dalam beberapa jurus saja. Karena itu dia tidak merasa takut sedikit pun.

"Tao kouwnio pergi mengikuti kokcu. Sedangkan Lie Cun Ju masih ada di dalam lembah!" sahutnya tenang.

"Mengapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?" Ketiga iblis itu bertanya sambil melangkahkan kakinya maju.

"Mengatakannya sejak tadi? Siapa yang tahu apa yang terkandung dalam hati kalian?" jawab kakek itu dengan nada mempermainkan.

"Baik. Kami akan mengadu jiwa denganmu!" ujar Lung Goan Po dengan nada marah.

Lung Goan Po yang pertama-tama bergerak. Tubuhnya membungkuk sedikit, dengan nekat dia menyerudukkan kepalanya ke arah Seebun Jit. Tenaganya begitu kuat sehingga mengejutkan!

Seebun Jit malah tertawa terbahak-bahak.

"Manusia tanpa lengan! Masih berani sesumbar? Apakah setelah mati ingin menjadi setan gentayangan?" Tubuh kakek Jit berkelebat, pecut di tangannya langsung melayang ke depan. Cahaya perak berkilauan. Dalam sekejap timbul bayangan cam¬buk yang tidak terhitung jumlahnya.

Pecutan Seebun Jit itu juga terhitung keji sekali. Walaupun tidak sampai mematikan, tetapi apahila Lung Goan Po sernpat tersambar pecutannya, paling tidak sebelah wajahnya langsung men¬jadi tidak karuan karena seluruh kulitnya terkelupas.

Lung Goan Po menggeserkan kepalanya sedikit, kedua lengannya masih menjuntai ke bawah. Tetapi sepasang cambuk di tangan Seebun Jit seperti seekor naga sakti. Cahaya terang memercik. Tampaknya sekejap lagi, Lung Goan Po pasti akan terkena sambaran pecut itu.

Tetapi tiba-tiba, sepasang lengan Lung Goan Po yang tadinya menjuntai ke bawah langsung meng-angkat ke atas. Tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah cambuk Seebun Jit yang sedang menyambar ke arahnya. Dalam waktu yang bersamaan, tangan kanannya juga menjulur ke depan mengirimkan sebuah pukulan ke dada Seebun Jit.

Gerakan kedua tangan ini benar-benar di luar dugaan Seebun Jit. Hatinya terkesiap bukan kepalang. Karena tadi dia melihat dengan kepala sendiri keringat dingin menetes membasahi kening Lung Goan Po. Tangan mereka juga menimbulkan suara berderak-derak seperti tulang yang remuk, belum lagi tubuh mereka yang gemetar dan wajah mereka yang pucat pasi!

Ternyata, sepintar-pintarnya Seebun Jit, dia masih bisa dikelabui oleh Lung Goan Po.

Sebetulnya Seebun Jit bukan tokoh sembarangan, tetapi kali ini dia benar-benar bertemu dengan lawan yang seirn! ang. Ternyata nama besar ketiga iblis dari keluarga Lung bukan nama kosong. Kelicikan mereka tidak terduga oleh Seebun Jit.

Sementara Seebun Jit memang terkesiap bukan kepalang, namun di sisi lainnya untung dia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang dilatih selama puluhan tahun. Dengan panik pergelangan tangan¬nya ditekan ke bawah. Yang digenggam olehnya masih sepasang cambuk bercabang lima. Begitu dihentikan, cambuk itu melontar ke atas. Ternyata dalam keadaan yang demikian terdesak, dia bisa menghindarkan serangan Lung Goan Po.

Tetapi biar bagaimana, penghindaran Seebun Jit itu boleh dikatakan dipaksakan sekali. Sedangkan dalam waktu yang bersamaan, Lung Sen dan Lung Ping berdua juga menerjang ke arahnya dari kiri kanan. Mereka menjulurkan lengan masing-masing dan mencengkeram ke depan. Ternyata mereka berdua juga berpura-pura, sama halnya dengan toako mereka. Sedangkan lengan mereka tidak cacat sedikit pun.

Pada dasarnya kepandaian Lung Sen dan Lung Ping memang tidak sembarangan. Apalagi Seebun Jit menghindarkan diri dengan terpaksa sekali. Empat buah lengan dari kedua orang itu meluncur dalam waktu yang bersamaan.

Plak! Plak! Plak! Plak! Empat kali pukulan sekaligus tepat mendarat di bagian kiri kanan punggung Seebun Jit.

Ilmu silat Seebun Jit sendiri memang tinggi sekali. Begitu saling menggebrak dengan lawannya, meskipun seorang diri melawan tiga musuh, tetap saja dia bisa mempertahankan ketenangannya. Hawa murni dalam tubuhnya memang sudah dihimpun sejak tadi. Dengan demikian seluruh tubuhnya seperti terlindung hawa murninya.

Tiga lblis dari Keluarga Lung, masing-masing anggotanya mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah dilatih selama puluhan tahun. Begitu Seebun Jit terhantam empat buah pukulan dari Lung Sen dan Lung Ping, dirasakan bagian kanan kiri pinggangnya bagai ditimpa besi seberat ratusan kati. Telinganya sampai berdengung, matanya berkunang-kunang, tubuhnya bergetar, dan ham-pir saja tidak dapat mepertahankan keteguhan kakinya sehingga nyaris terjatuh!

Dalam keadaan panik, Seebun Jit merasa ping¬gangnya nyeri bukan main. Nadi di pergelangan tangannya juga sempat tersampok kekuatan dari cengkeraman Lung Goan Po. Sebelah tubuhnya terasa bagai kesemutan.

Di dalam hati ia baru sadar bahwa tiga iblis dari keluarga Lung sudah mempersiapkan akal licik sebelum datang ke tempat itu. Kata-kata mereka yang menyatakan ingin meminta bantuannya hanya omong kosong belaka. Tujuan mereka hanya ingin mengetahui apakah I Ki Hu ada di dalam lembah Gin hua kok. Dan apakah Tao ling dan Lie Cun Ju benar di sana atau tidak. Dirinya sendiri sudah malang melintang di dunia kang ouw selama puluhan tahun. Pengalamannya sudah banyak, pengetahuannya luas pula, tetapi dia masih sempat terkecoh oleh Tiga Iblis dari Keluarga Lung itu.

Seebun Jit merasa benci sekali mengingat dirinya yang dibodohi mereka. Diam-diam dia bertekad untuk menebus kekalahannya itu. Namun dia juga sadar bukan hal yang mudah baginya. Dia berusaha membesarkan hatinya. Tetapi rasa sakit di pinggangnya hampir tidak tertahankan. Kelima jari tangannya merenggang, cambuk di tangannya pun terlepas. Matanya dipejamkan dalam keadaan tubuhnya terhuyung mundur beberapa tindak.

Di sudut sebelah sana, Lung Sen dan Lung Ping mengeluarkan suara tawa yang aneh. Mereka lalu menerjang kembali dengan mengirimkan ten-dangan ke bagian dada Seebun Jit.

Sebelum tendangan mereka mengenai lawannya, terdengar Lung Goan Po berteriak dengan keras. "Orang ini sudah lama berkecimpung di dunia kang ouw, kalian harus hati-hati!"

Lung Goan Po menyadari bahwa Hantu Tanpa Bayangan Seebun Jit ini bukan lawan yang mudah dihadapi sehingga dia mengingatkan kedua saudaranya, namun sudah terlambat. Belum lagi tendangan keduanya berhasil mengenai sasarannya, tiba-tiba Seebun Jit sudah melangkah ke depan. Dengan mata mendelik, mulutnya menge¬luarkan suara bentakan kemudian tubuhnya melesat ke atas. Dalam waktu yang bersamaan, tangan kirinya mengibas. Tampak segurat cahaya seperti pelangi melintas, mengedari kaki Lung Sen dan Lung Ping yang sedang mengirimkan tendangan kepadanya. Darah segar memercik, sementara Seebun Jit tertawa terbahak-bahak. Dia menahan rasa sakit karena luka dalamnya, kemudian menyurut mundur setengah langkah.

Buk! Buk! Tiba-tiba Lung Sen dan Lung Ping jatuh terbanting di atas tanah. Untung saja ilmu kepandaian kedua orang ini memang cukup tinggi. Ketika melihat kelebatan cahaya golok, tiba-tiba saja hati mereka merasa ada firasat buruk. Mereka memaksakan gerakan kaki yang sudah melayang keluar itu agar dapat ditarik mundur.

Namun, Seebun Jit justru terkenal di dunia kang ouw karena sebilah golok dan sepasang cambuknya yang aneh. Panjang goloknya kira-kira empat ciok. Tipisnya seperti selembar kertas. Tetapi tajamnya jangan ditanyakan lagi. Dibuat dari baja pilihan yang sulit didapatkan. Bila sedang tidak digunakan, golok itu dapat digulung seperti sabuk pinggang. Bisa disembunyikan di balik pakaian tanpa terlihat oleh lawan. Bila dicabut keluar pun tidak tampak oleh mata lawan, tahu-tahu sudah tergenggam dalam telapak tangan. Jurus yang digunakannya tadi diberi nama Lihat Golok Lihat Darah. Karena itu kaki kiri Lung Sen dan Lung Ping langsung terkerat sebatas betis dan langsung jatuh tanpa dapat mempertahankan diri lagi. Dalam keadaan terluka parah, Seebun Jit masih sanggup melawan tiga musuh sekaligus, bahkan melukai dua di antaranya. Ilmu kepandaiannya benar-benar tidak dapat dipandang ringan. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping hanya terluka di bagian luar, tetapi lukanya justru di kaki yang merupakan anggota penting dari tubuh. Mereka segera menutup jalan darahnya untuk menghentikan pendarahan. Untuk sementara mereka tidak bisa berhadapan dengan musuh.

Seebun Jit memaksakan diri menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Lung Goan Po menghambur ke depan melihat keadaan dua saudaranya. Mengambil kesempatan itu Seebun Jit segera mengayunkan goloknya ke bagian punggung Lung Goan Po. Gerakan golok menimbulkan cahaya seperti pelangi. Kecepatannya sungguh mengejutkan. Lung Goan Po menyambar kedua saudaranya kemudian mencelat ke depan sejauh beberapa depa.

Ayunan golok Seebun Jit memang bertujuan membuat Lung Goan Po menghindarkan diri untuk sementara. Dia bukan menyerang dengan sungguh-sungguh. Melihat Lung Goan Po mencelat ke depan, dia juga menggeser kakinya dan memungut kembali sepasang cambuknya yang terlepas dari tangannya tadi.

Tampak tangan kirinya menggenggam golok¬nya yang berbentuk aneh, sedangkan tangan kanannya memegang cambuk bercabang lima. Seebun Jit berdiri dengan tegak, penampilannya angker. la mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara siulan panjang. Kalau diperhatikan tidak seperti orang yang sudah terluka parah. Padahal kenyataannya justru dalam keadaan ter¬luka parah.

Semestinya, orang yang sudah terluka seperti Seebun Jit sekarang ini, tidak boleh menggunakan tenaga dalamnya untuk tertawa terbahak-bahak. Karena akan menyebabkan lukanya semakin parah. Namun Seebun Jit menyadari keadaan di depan matanya saat ini. Sekarang tinggal Lung Goan Po yang masih bisa bertarung dengannya. Apabila otaknya cerdas, dia bisa mendesak. Seebun Jit terpaksa mundur terus dan mendekati Lung Sen serta Lung Ping. Meskipun keduanya terluka dan terkulai di atas tanah, sepasang tangan mereka masih dapat digerakkan. Tidak sampai dua puluh jurus, Seebun Jit pasti berhasil dikalahkan. Yang jelas tubuhnya sendiri sudah terluka parah. Saat ini seandainya dia berpura- pura tidak terluka, bahkan berlagak mencoba menantang ketiga orang itu, mungkin mereka malah menjadi ragu atau mungkin mereka malah mengundurkan diri untuk sementara!

Kedatangan ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung ini mempunyai tujuan tertentu. Dan mereka tidak mungkin menyelesaikan masalahnya begitu saja. Tetapi asal bisa mendapat kesempatan untuk mengatur nafas dan menjaga pintu batu agar mereka tidak menerobos masuk ke dalam, sudah lebih dari cukup. Karena itu, Seebun Jit tidak memperdulikan keadaannya yang terluka parah dan sengaja mengeluarkan suara siulan panjang kemudian tertawa terbahak-hahak.

Setelah tertawa beberapa saat, dia mengayunkan golok di tangannya. "Lung Lo toa, nyalimu sudah ciut?" ujarnya dengan suara keras.

Sesaat ketiga iblis dari keluarga Lung benar-benar terkecoh oleh sikap Seebun Jit. Mereka saling pandang sekilas, kemudian Lung Goan Po memapah kedua saudaranya dan mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hen! Jangan senang dulu, Seebun Jit! Hari ini tidak berhasil, besok kami pasti datang kembali! Tunggu saja!"

Sekali lagi Seebun Jit tertawa terbahak-bahak.

"Biar kapan pun kalian datang, asal aku . . ." Seebun Jit mengerutkan kening sedikit saja, "Anggaplah aku band!"

"Kata-kata yang bagus!" Sembari memapah kedua orang saudaranya di kiri dan kanan, Lung Goan Po mendelik kepada Seebun Jit. Meskipun Lung Sen dan Lung Ping berjalan dengan sebelah kaki, gerakan tubuh mereka tetap gesit. Dalam sekejap mata, mereka sudah keluar dari lembah Gin Hua kok.

Seebun Jit sadar kepergian mereka kali ini demi nienyembuhkan luka Lung Sen dan Lung Ping.

Setelah keduanya sembuh, mereka pasti kembali lagi. Diam-diam Seebun Jit menarik nafas panjang. Darah yang bergejolak di dalam dadanya sejak tadi, langsung tercurah keluar setelah perasaannya lebih lega.

"Hooakkkk!!!!"

Butiran darah memenuhi jenggotnya yang sudah memutih. Hal ini membuat tampang Seebun Jit berubah seperti tua dalam waktu yang singkat.

Setelah memuntahkan darah segar, Seebun Jit menggunakan goloknya untuk menopang dirinya. Baru saja kakinya hendak melangkah menuju pintu batu, entah mengapa begitu membalikkan tubuhnya, dari luar lembah sudah terdengar suara batuk-batuk kecil.

Seebun Jit tersentak kaget. Diam-diam hatinya khawatir, apabila di saat seperti ini datang lagi seorang musuh yang tangguh. Sudah pasti dirinya tak sanggup menghadapinya.

Cepat-cepat dia menghapus darah di sudut bibir dan jenggotnya dengan ujung lengan jubahnya. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya kem¬bali, tampak di mulut lembah berdiri seorang laki-laki tua bertubuh kurus kering. Tampangnya licik dan tangannya menggenggam seekor ular hijau yang bentuknya aneh. Ekor ular itu malah melilit di lehernya. Panjangnya mungkin kira-kira tujuh ciok.

Seebun Jit memaksakan dirinya untuk me-ngembangkan seulas senyuman. "Leng Coa sian sing, ada keperiuan apa berkun-jung ke Gin Hua kok?"

Seebun Jit sadar bahwa Leng Coa sian sing jarang berkecimpung di dunia kang ouw sehingga orang-orang yang tahu namanya pun sedikit sekali, tetapi ilmunya memang tinggi sekali.

"Sahabat Seebun, tampaknya luka yang kau derita tidak ringan?" ujar Leng Coa sian sing sambil tertawa terkekeh- kekeh.

Seebun Jit tahu tidak mudah mengelabui orang yang satu ini. Karena itu dia tertawa getir.

"Terima kasih atas perhatianmu! Entah ada keperiuan apa Leng Coa sian sing bertandang ke Gin Hua kok ini?"

Sekali lagi Leng Coa sian sing tertawa terkekeh-kekeh.

Mimik wajahnya sungguh mencurigakan.

"Sahabat Seebun, apakah kau mengenali benda ini?"

Sembari berkata, dia mengeluarkan sebuah len-cana berbentuk segi tiga yang ukurannya sebesar telapak tangan. Lencana itu mengeluarkan cahaya berkilauan karena warnanya putih keperakan.

Seebun Jit tertegun melihatnya.

"Itukan lencana kokcu. Di dalam dunia bulim, siapa yang tidak kenal a pa lagi tidak tahu?"

"Memang betul. Melihat lencana ini, merasa seperti bertemu dengan pemiliknya sendiri. Sahabat Seebun, harap kau serahkan Lie Cun Ju kepadaku!"

Seebun Jit terkejut sekali.

"Leng Coa sian sing, lencana itu hanya boleh digunakan satu kali saja. Setelah itu harus dikembalikan kepada kokcu. Benda yang demikian berharga, mengapa kau menggunakannya untuk tujuan yang satu ini?"

"Loheng tidak perlu ikut campur! Aku mempunyai pertimbangan sendiri."

Diam-diam Seebun Jit berpikir dalam hati, dia begitu memperhatikan Lie Cun Ju justru karena dia mengenali pemuda itu sebagai putra tocu Hek Cui to, sahabatnya. Tetapi mengapa ke Tiga Iblis dari Keluarga Lung dan Leng Coa sian sing juga menginginkannya?

"Sahabat Seebun, apakah kau berani membantah perkataan kokcumu sendiri?" tanya Leng Coa sian sing sambil menggoyang-goyangkan lencana di tangannya. Sinarnya semakin berkilauan.

Seebun Jit mengangkat bahunya.

"Sayang orangnya sudah tidak ada di sini, apalagi yang dapat aku lakukan?"

Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Tadi ketika kau bertarung dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung, orangnya masih ada di dalam lembah, kok tiba-tiba bisa tidak ada?"

Mendengar ucapan itu, diam-diam hati Seebun Jit terkesiap. Dia langsung tersadar bahwa kedatangan Leng Coa sian sing ini bersamaan wak-tunya dengan Tiga Iblis dari Keluarga Lung. Hanya saja dia sengaja menyembunyikan diri dan menunggu kesempatan baik!

Meskipun Seebun Jit belum mengerti mengapa Leng Coa sian sing dan Tiga Iblis dari Keluarga Lung menginginkan Lie Cun Ju, hatinya yakin mereka pasti berniat tidak baik. Karena itu, dia segera menenangkan hatinya.

"Leng Coa sian sing hanya tahu soal satunya tetapi tidak tahu mengenai yang lainnya. Ketika Tiga Iblis dari Keluarga Lung datang, sebetulnya Lie Cun Ju sudah tidak ada di sini, aku hanya ingin mempermainkan mereka saja!" sahut Seebun Jit.

Leng Coa sian sing merentangkan kedua tangannya kemudian mengangkat bahunya.

"Kalau kau bisa mempermainkan tiga iblis dari keluarga Lung, berarti kau juga bisa saja memper¬mainkan aku. Pokoknya aku tidak percaya apa yang kau katakan. Aku ingin memeriksa seluruh lembah ini."

Seebun Jit tertegun sejenak. "Berani-beraninya kau!" bentaknya.

Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak.

"Dengan adanya lencana ini, kedudukanku sekarang sama dengan kokcu lembah ini. Kau yang berani-berani menentang pemegang lencana perak!" sahutnya.

Diam-diam Seebun Jit mengeluh dalam hati.Dia melihat Leng Coa sian sing membawa lencana perak.Seandainya sampai terjadi perkelahian de¬ngan orang itu dan diketahui oleh I Ki Hu, pasti Raja Iblis itu akan marah besar. Sama saja mengundang bencana. Karena I Ki Hu sudah menyatakan dengan tegas bahwa bertemu dengan pemegang lencana perak, tidak perduli siapa pun, ibarat bertemu dengan dirinya sendiri. Dengan demikian siapa pun tidak boleh menentang pemegang lencana itu. Tetapi Seebun Jit pernah menerima budi besar dari tocu Hek Cui to, Ci Cin Hu. Dan sekarang dia berhasil menemukan putranya yang selamat tempo dulu. Mana mungkin dia menyerahkan Lie Cun Ju kepada Leng Coa sian sing ini?

Karena itu, dia menyurut mundur dua langkah dan menggetarkan golok di tangannya. "Leng Coa sian sing, kalau kau tetap berkeras ingin menggunakan lencana itu untuk menekan aku, maka aku juga tidak akan sungkan lagi!"

Kembali Leng Coa sian sing tertawa terbahak-bahak. "Sahabat Seebun, sekarang kau sedang terluka parah,

tetapi masih berlagak gagah. Kau bisa menggertak tiga iblis dari keluarga Lung sampai mereka mengundurkan diri. Tetapi kau tidak bisa menggertak aku. Apabila dalam tiga jurus, aku tidak dapat membuatmu terkapar di atas tanah menjadi mayat, benar-benar percuma nama besar Leng Coa sian sing yang telah dipupuk dengan susah payah selama ini."

Pergelangan tangan Leng Coa sian sing bergerak, ternyata dia melemparkan ular yang sebagian melilit di lehernya itu ke depan. Ular itu seperti seutas cambuk lemas yang meluncur mengincar pundak Seebun Jit.

Melihat sikap dirinya yang berlagak gagah tidak sanggup menggertak Leng Coa sian sing, diam-diam hati Seebun Jit tercekat. Ketika me-ngetahui Leng Coa sian sing menggunakan ularnya sebagai senjata, apalagi ular itu sedang meluncur kepadanya, cepat-cepat Seebun Jit membungkukkan tubuhnya sedikit sembari memaksakan dirinya sendiri menghimpun hawa murni dalam tubuh. Golok di tangannya segera diangkat ke atas. Tampak cahaya berkilauan saat golok itu menyambut tubuh ular yang sedang meluncur ke arahnya.

Leng Coa sian sing menghentakkan tubuh ular dari atas ke bawah. Jurus-jurus kedua orang itu dilakukan dengan kecepatan yang hampir tidak tertangkap oleh pandangan mata. Ujung golok bekelebat dan tepat mengenai tubuh ular itu.

Hati Seebun Jit merasa gembira melihat goloknya berhasil menebas tubuh ular itu. Dia yakin ketajaman goloknya pasti akan memutus tubuh binatang melata yang dijadikan senjata oleh Leng Coa sian sing. Diam-diam dia berpikir dalam hati, setelah ular itu terputus menjadi dua, dia baru menentukan kembali langkah berikutnya.

Ternyata perkembangannya justru di luar dugaan Seebun Jit. Meskipun ketika goloknya bergerak ke atas tepat mengenai tubuh ular itu, tetapi Seebun Jit merasakan bahwa tenaga dorongan ular itu besar sekali, menyebabkan kakinya terhuyung-huyung setengah tindak ke belakang. Dalam keadaan panik, dia sempat mendongakkan wajahnya melihat sekilas. Ternyata goloknya berada di bawah perut ular itu. Hatinya terkesiap setelah melihat tubuh ular tetap utuh. Bahkan ular itu makin bertambah marah. Ditekannya golok itu kuat-kuat. Tapi tekanan itu membuat kepala ular menjadi semakin menjulur ke depan dan menunduk mengincar jalan darah terpenting di ubun-ubun kepala Seebun Jit.

Bukan main rasa terkejut Seebun Jit saat itu. Cepat-cepat dia mengangkat cambuk di tangan kanannya, kemudian dilecutkannya ke atas sembari memiringkan kepalanya menghindari serangan ular. Tetapi dia terlambat juga, sehingga jalan darah di bagian samping kepalanya terpatuk juga oleh ular itu.

Seebun Jit merasa di bagian samping kepalanya laksana tertimpa besi yang berat. Bagian kepala sebelah mana pun merupakan tempat yang paling membahayakan apabila terbentur. Memang tidak separah ubun-ubun kepala, tapi tetap saja membawa pengaruh yang hebat.

Begitu kepalanya terpatuk mulut ular 'itu, Seebun Jit merasa telinganya berdengung. Matanya berkunang-kunang. Kakinya limbung. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai tujuh-delapan tindak baru dapat berdiri dengan mantap.

Luka yang diderita oleh Seebun Jit semakin parah. Meskipun dia tokoh kelas satu dari golongan hitam, tapi luka yang dideritanya membawa penga¬ruh hebat. Untung saja tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali, sehingga sesaat dia masih bisa mempertahankan diri. Sepasang matanya menatap ke arah Leng Coa sian sing lekat- lekat. Tampak Leng Coa sian sing tetap maju menghampirinya, Seebun Jit segera mengeluarkan suara bentakan. Baru saja dia ingin melancarkan serangan dengan tiba-tiba, untuk dapat meraih keuntungan di kala Leng Coa sian sing belum siap, tetapi tidak mendapatkan kesempatan sedikit pun.

Wajah Leng Coa sian sing mengembangkan senyuman yang licik. Kelima jari tangannya mengencang pada bagian ekor ular. Jelas saja ular itu kesakitan dan tiba-tiba menyentakkan kepalanya ke atas lalu diserudukkan ke bagian dada Seebun Jit.

Ular berbisa itu merupakan jenis yang langka. Warna kulitnya bertotol-totol hijau sehingga tam¬pak bagus sekali. Kulitnya keras sekali, bahkan merupakan ular yang kulitnya paling tebal dan keras di antara seluruh jenis ular yang ada di dunia ini. Karena itu pula, walaupun golok Seebun Jit sangat tajam, tetap saja tidak sanggup melukainya sedikit pun. Lagipula tenaga ular itu kuat sekali. Leng Coa sian sing menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengintai goa tempat bersemayam ular itu di daerah Cin Lam.

Baru kemudian berhasil menangkapnya. Begitu sayangnya Leng Coa sian sing kepada ular yang satu itu sehingga dia memandangnya sama berharganya dengan nyawanya sendiri. Dia memberi nama kepada ular itu dengan sebutan 'Cambuk kumala'. Mungkin karena warna kulitnya yang mirip dengan batu kumala. Justru dari nama yang diberikannya itu pula, Leng Coa sian sing mendapat ilham untuk menggunakannya sebagai senjata.

Kekuatan tenaga ular itu tidak kalah dengan seekor harimau ataupun singa. Begitu membentur dada Seebun Jit yang tidak  sempat menghindarinya,  kembali  dia menderita luka parah. Seebun Jit langsung terkulai di atas tanah tanpa sanggup berdiri lagi.

Leng Coa sian sing mengeluarkan suara dengusan dan maju beberapa Iangkah. "Seebun Jit, tanyakan pada dirimu sendiri apakah kau masih sanggup menyambut jurus ketigaku?" bentaknya sinis.

Seebun Jit memaksakan diri untuk mengatur pernafasannya. Beberapa kali dia berusaha bangkit, tetapi karena luka yang dideritanya terlalu parah, tenaganya tidak ada sama sekali. Akhirnya dia tetap terkulai di atas tanah dengan sepasang mata menyiratkan kegusaran.

"Leng ... Coa . .. sian sing, mengapa ... jurus . . . keti . . . gamu . .. belum ... di ... lancarkan juga?"

"Bagus! Kau benar-benar tidak malu disebut seorang laki- Iaki sejati. Tetapi aku justru ingin melihat sampai di mana kekerasan hatimu."

Mendengar kata-katanya, Seebun Jit yakin Leng Coa sian sing tidak akan membunuhnya langsung. Mungkin dia akan menggunakan cara yang keji untuk menyiksanya. Pikirannya lalu tergerak, seandainya dia dapat menghadapi Leng Coa sian sing, tetap saja dia tidak bisa menghin-darkan diri dari tiga iblis keluarga Lung yang akan datang kemba'I. Lebih baik menggunakan kesempatan di saat jalan darahnya belum tertotok oleh lawan untuk memutuskan urat nadinya sendiri. Lagi pula mereka belum tentu dapat menemukan Lie Cun Ju yang disembunyikan di dalam ruangan batu. Dengan demikian dia tidak perlu menerima berbagai penderitaan sebelum terbunuh.

Setelah mengambil keputusan, Seebun Jit langsung bermaksud menggunakan sisa tenaganya untuk memutuskan seluruh urat nadi di tubuhnya untuk membunuh diri. Tiba-tiba dari luar lembah Gin Hua kok berkumandang suara derap kaki kuda. Baik Leng Coa sian sing maupun Seebun Jit adalah tokoh-tokoh yang bepengetahuan luas. Begitu mendengar suara derap kaki kuda, mereka langsung sadar bahwa tujuan orang itu pasti Gin Hua kok. Tanpa dapat ditahan lagi keduanya jadi tertegun.

Di saat keduanya masih termangu-mangu, suara derap kaki kuda itu sudah semakin mendekat. Kemudian tampak sesosok bayangan berkelebat, orang yang menunggang kuda itu sudah sampai di mulut lembah Gin Hua kok.

Serentak Leng Coa sian sing dan Seebun Jit menolehkan kepalanya ke arah mulut lembah. Mereka melihat seekor kuda yang bersih mulus berwarna putih keperak-perakan dengan seorang gadis yang memegang pecut berwarna sama melaju datang secepat kilat. Orang ini bukan siapa-siapa, tetapi putri si Raja Iblis I Ki Hu yaitu I Giok Hong.

Begitu melihat I Giok Hong, hati Leng Coa sian sing berkebat-kebit. Dia khawatir I Ki Hu juga menyusul dibelakang. Begitu terkejutnya kakek itu, sehingga kakinya menyurut mundur satu langkah.

I Giok Hong hanya berhenti sebentar di depan lembah. Kemudian mengayunkan pecutnya dan melesat datang. Gerakan pecutnya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sedikitpun. Secepat kilat melayang kearah Leng Coa Sian Sing. Manusia pecinta ular itu menghindarkan dirinya dengan panik. Gerakan pecut I Giok Hong yang tampaknya lemah itu justru berkelebat bagai cahaya kilat.

Trak!!

Tahu-tahu lencana ditangan Leng Coa sian sing sudah terbelit oleh pecutnya dan melayang kembali kearah I Giok Hong.

Wajah Leng Coa sian sing langsung berubah hebat.Kakinya terhuyung – huyung mundur beberapa tindak. “I ....... kouwnio, lencana i ........ tu kau sendiri yang memberikannya kepadaku. Mengapa sekarang kau mengam

........ bilnya kembali?” kata Leng Coa sian sing gugup.

I Giok Hong mendengus dingin. Lencana itu dimasukkan kedalam saku pakaiannya kemudian pecutnya diayunkan kembali.

“Leng Coa sian sing, setelah menerima lencana ayahku ini, ternyata kau berani mengumbar lagakmu di lembah Gin Hua kok. Cepat pergi dari sini!”