-->

Peninggalan Pusaka Keramat Jilid 03

Jilid 03

Beberapa detik kemudin, tampak tirai penyekat ruangan kabin muiai tersingkap. Tao Ling sadar apabila mereka dipergoki oleh ketiga orang itu pasti nyawa mereka tidak dapat dipertahankan lagi. Dia mengerti tidak boleh menunda waktu lagi. Cepat dia menghambur ke depan jendela dengan menyeret lengan Lie Cun Ju. Melalui jendela kabin itu, tubuhnya melesat keluar lalu Plung! Jatuh ke dalam sungai.

Baru saja tubuhnya masuk ke dalam air, teli-nganya mendengar suara pekikan aneh ketiga orang tadi. Dia cepat- cepat menekan hawa murni dari dalam perutnya. Dia berusaha memberatkan tubuhnya agar terus melorot ke dalam dasar sungai. Dia sendiri tidak tahu sudah berapa jauh dia tenggelam. Di sekelilingnya hanya air yang menggelembung- gelembung. Sejak tadi Tao Ling sudah menutup jalan pernafasannya. Hatinya mengkhawatirkan keadaan Lie Cun Ju yang dalam keadaan terluka parah. Apakah pemuda itu sanggup menahan nafas sekian lama? Seandainya Lie Cun Ju tidak kuat menahan nafasnya, berarti selamat dari pembantaian ketiga orang tadi, dia malah mati karena paru- paru dipenuhi air sungai.

Tapi biar bagaimana, Tao Ling tidak berani menyembulkan kepalanya di atas permukaan sungai. Rupanya ketika dia hampir tersandung jatuh di dalam kabin perahu tadi, kakinya menendang salah satu topeng penutup wajah mayat-mayat. Dia masih sempat melihat sekilas. Wajah orang itu kurus, di bagian jidatnya terdapat lima titik hijau seperti gambar bunga Bwe. Tao Ling pernah ber-temu dengan orang itu satu kali. Lagipula titik-titik hijau itu mudah diingat. Asal melihat satu kali, selamanya tidak akan terlupakan lagi. Orang itu berasal dari Shan Tung. Biasanya bergerak sendirian. Hatinya keji dan tangannya telengas. Senjatanya sebuah pecut panjang beruntai sembilan. Kepandaiannya tinggi dan jurusnya aneh- aneh. Tentu saja merupakan tokoh dari golongan sesat. Julukannya di dunia kang ouw Ceng Bwe atau bunga Bwe hijau. Nama aslinya Ciok Kun. Setiap kali mengungkit orang yang satu ini, tokoh-tokoh Bu lim di daerah Shan Tung dan sekitarnya kebanyakan menghindar karena takut timbul masalah.

Tokoh seperti Ciok Kun ternyata tidak sanggup memberikan perlawanan apa-apa dan mati begitu saja di tangan ketiga orang bertopeng tadi. Dapat dibayangkan betapa tingginya kepandaian yang mereka miliki.

Lagipula, belasan orang lainnya yang juga me-ngenakan topeng. Walaupun mungkin mereka bukan jago kelas satu di dunia kang ouw, tetapi setidaknya pasti tokoh-tokoh seperti Ciok Kun. Karena itu pula, meskipun Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lama-lama dalam air, dia tetap tidak berani menyembulkan kepalanya. Sebab bila menelan air beberapa teguk saja masih ada kemungkinan tertolong. Akan tetapi apabila mereka menyembulkan kepalanya dan tertangkap oleh tiga orang bertopeng tadi, tidak usah diragukan lagi pasti akan mati seketika.

Tidak lama kemudian, Tao Ling merasa kakinya sudah menyentuh dasar sungai. Sembari menarik tubuhh Lie Con Ju, Tao Ling berpegangan pada batu-batu di sisi sungai, dengan demikian dia meramhat perlahan-laban. Til*a~(iba dia n'«>nde-ngar suara glek! dari tenggorokan Lie Cun Ju.

Tao Ling tahu Lie Cun Ju tidak sanggup menahan nafas lagi sehingga terpaksa menelan seteguk air sungai. Hatinya sangat panik. Tapi dirinya sedang berada di dalam air, dia tidak bisa berbicara. Pikirnya ingin menyembulkan kepala ke atas permukaan air. Dia ingin mengadakan perlawanan sengit dengan ketiga orang tadi. Tapi dia tidak berani menempuh bahaya sebesar itu. Ketika pikirannya sedang ruuwet dan tidak berhasil menemukan apa pun, tiba-tiba tangannya menyentuh sesuatu yang lembut.. Ternyata tanaman liar yang biasa banyak terdapat di sungai yaitu Eceng Gondok.

Diam-diam hati Tao Ling melonjak girang. Karena adanya tanaman liar ini pertanda mereka sudah berada di tepian sungai. Tao Ling masih tidak berani menyembulkan kepalanya. Dia memutahkan setangkai tanaman itu kemudian mendesakkan hawa murninya untuk meniup. Bagian tengah tanaman itu langsung menyembur keluar dan jadilah sebatang pipa dari batang tanaman itu. Cepat-cepat dia memasukkan pipa itu ke dalam mulut Lie Cun ju. Bagian ujungnya menyembul sedikit di permukaan air, maka pemuda itu bisa mengganti hawa, Setelah itu dia membuat lagi sebatang pipa dari batang tanaman tadi. Dimasukkannya pipa itu ke mulut sendiri. Dengan bibir dikatupkan serta menyedot hawa dari alas, mereka dapat mempertahankan diri untuk beberapa saat lagi berada di dalam air.

Kurang lebih dua kentungan sudah berlalu. Perlahan-lahan Tao Ling menyembulkan kepalanya di atas pennukaan air. Ketika matanya sudah dapat melihat, hatinya tercekat bukan kepalang. Ternyata mereka berada di tengah gerombolan tanaman Eceng Gondok. Matahari sudah di atas kepala. Keadaan di sekitar tepian sungai itu sunyi senyap. Kecuali suara ikan-ikan yang sedang bercandu di atas permukaan air, tidak terdengar suara lainnya.

Ketika Tao Ling melihat ke depan, tampak beberapa perahu sedang bergerak. Akan tetapi karena geromholan tanaman liar itu sangat lebat, maka mereka dapat bersembunyi di tempat itu tanpa diketahui orang lain.

Tao Ling berpikir dalam hati, "Waktu sudah berlalu sekian lama. Tentunya kami sudah terlepas dari intaian ketiga iblis itu."

Tao Ling tidak berani menyembulkan diri ke atas permukaan air. Gadis itu hanya menarik leher Lie Cun Ju agar kepalanya tidak tenggelam.

Dalam waktu sekian lama, Tao Ling tidak mempunyai kesempatan memperhatikan Lie Cun Ju. Entah pemuda itu masih hidup atau sudah mati. Setelah dia mengangkat leher pemuda itu agar keluar dari dalam air, dia baru dapat melihatnya dengan jelas. Hatinya terkejut hukan main. Rupanya saat itu selembar wajah Lie Cun Ju sudah pucat pasi hahkan keabu-abuan seperti mayat hidup. Meskipun kepalanya sudah timbul di atas permukaan air, tetapi pipa tanaman liar masih dijepit bibirnya kuat-kuat. Dapat dipastikan hahwa pemuda itu sudah tidak sadarkan diri sejak tadi.

Tao Ling mengulurkan tangannya untuk merasakan dengus nafas pemuda itu. Ternyata Lie Cun Ju belum mati. Perasaan Tao Ling pun agak lega. Dia menyibakkan rambut yang menutupi jidat pemuda itu.

"Lie toako! Lie toako!" panggil Tao Ling dengan suara lirih.

Setelah memanggil sebanyak tujuh delapan kali, baru terdengar suara glek! glek! dari tenggorokan Lie Cun Ju. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Sinar matanya redup, tanpa sinar kehidupan sama sekali. Hati Tao Ling terasa pilu melihatnya.

"Lie toako, apa yang kau rasakan?" tanyanva lembut.

Lie Cun Ju mengedarkan pandangannya sejenak kemudian memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman yang pahit.

"Tao . . . kouwnio . . . apakah . . . ki . . . ta ma . . . sih . . . hidup?"

"Kita sudah berada di tepian sungai, kita ber-hasil melarikan diri dari cengkeraman ketiga iblis itu.

"Lie toako, apakah kau tahu siapa ketiga iblis itu?" tanya Tao Ling.

"Aku juga tidak tahu." Lie Cun Ju menggeleng kepala.

"Aku mengenali salah satu dari belasan anak buah yang mereka bantai. Dia mempunyai julukan Ceng Bwe dan nama aslinya Ciok Kun, biasa malang melintang di daerah Shan Tung dan sekitar-nya!" kata Tao Ling.

Lie Cun Ju terkejut sekali mendengar kete-rangan Tao Ling.

"Dia? Orang itu bukan saja ahli dalam ilmu pecut beruntai sembilannya, bahkan dengar-dengar dia mempelajari semacam ilmu kebal yang tidak mempan senjata tajam."

"Mungkin pedang yang dipakai si gemuk pen-dek itu pedang pusaka." Tao Ling melihat Lie Cun Ju berusaha berbicara dengannya. Hatinya men-jadi iba. "Lie toako, lebih baik jangan banyak bicara dulu!"

Dengan sorot mata penuh terima kasih, Lie Cun Ju memandangnya sekilas. Kemudian berkata dengan perlahan, "Tao kouwnio, kebaikanmu ini, untuk selamanya tidak akan kulupakan!"

"Untuk apa bicara seperti ini dalam keadaan seperti sekarang?" sahut Tao Ling.

Keduanya berdiam diri. Sampai menjelang sore, Tao Ling baru membimbing tubuh Lie Cun Ju dan diajaknya naik ke atas tepi sungai. Tampak di kejauhan ada asap mengepul-ngepul, namun jaraknya paling tidak tiga li dari tempat mereka.

Tao Ling melirik Lie Cun Ju. Tampak pemuda itu berdiri di sampingnya dengan tubuh terhuyung-huyung. Kemungkinan bisa jatuh setiap saat. Cepat-cepat Tao Ling memapahnya.

"Tao kouwnio, lu . . . ka ini terlalu ... pa ... rah, mungkin tidak . . . bisa . . . disembuhkan lagi," ujar Lie Cun Ju.

Selama dua hari dua malam, Tao Ling dan Lie Cun Ju mengalami berbagai penderitaan bersama. Dalam hati timbul rasa iba kepada pemuda itu. Hatinya bagai diiris sembilu.

"Jangan bicara dengan nada putus asa. Di kejauhan terlihat asap mengepul. Pasti ada sebuah kota kecil di depan sana.

Ayo, kita kesana sekarang

"Ketiga orang itu membunuh rekan-rekannya sendiri agar mereka membungkam untuk selamanya. Tentu mereka juga tidak akan melepas-kan kita begitu saja. Seandainya kita bergegas pergi, begitu masuk kota mungkin langsung menemui kesulitan. Biar bagaimana sulit bagi kita untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka."

"Apa yang dikatakan Lie Cun Ju memang ada benarnya," pikirnya dalam hati. "Kalau begitu ter-paksa kita menginap satu malam di tepi sungai ini," katanya kemudian. "Di depan sana ada sebuah hutan kecil, kita bermalam di sana saja," sahut Lie Cun Ju.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan sejauh tiga puluhan depa. Sesampainya di dalam hutan kecil itu, mereka mencari tempat yang rerumputannya agak tebal. Mereka langsung merebahkan diri. Tao Ling tidak perduli Iagi batas antara laki- laki dan perempuan. Dia menyandarkan dirinya di samping Lie Cun Ju. Meskipun keadaan mereka masih dikejar-kejar bahaya, namun dengan ber-dampingan seperti saat itu, mereka tidak merasa takut Iagi.

Waktu terus berlalu, malam semakin merayap, mana mungkin kedua orang itu bisa tertidur pulas . . .? Angin malam berhembus, pakaian mereka masih belum kering. Hal itu merupakan siksaan yang berat. Dengan susah payah mereka menunggu matahari terbit, dengan pakaian mereka masih tetap basah. Sampai siang harinya, barulah pakaian mereka kering. Tao Ling membantu Lie Cun Ju mengikat rambutnya kembali. Dia sendiri juga merapikan rambutnya kemudian baru memapah pemuda itu berjalan keluar dari hutan.

Tidak beberapa lama, Tao Ling dan Lie Cun Ju sudah berada di sebuah jalan raya yang langsung menuju kota kecil. Kedua orang itu berdiam sejenak di tepi jalan raya. Mereka melihat banyak kereta yang berlalu lalang. Kedua remaja itu sudah mendapat pengalaman pahit selama beberapa hari ini. Maka mereka tidak berani sembarangan meng-hentikan kereta yang lewat.

Tao Ling dan Lie Cun Ju duduk di warung arak. Kedai itu hanya menyuguhkan teh dan arak. Tidak lama kemudian tampak belasan kereta dorong berdatangan dari depan. Di bagian depan ada seorang laki-laki yang mengeluarkan suara teriakan. Teriakan itu seakan membangkitkan semangat pada anak buahnya untuk niendorong kereta lebih kuat. Kereta yang paling depan me-ni'ibarkan sebuah bendera. Tao Ling membaca tulisan pada bendera itu, Ling Wei Piau ki. Tao Ling belum pernah mendengar nama perusahaan itu. Rupanya laki- laki berusia lima puluhan tahun dengan jenggot menjuntai di bawah dagunya itu adalah pimpinannya.

"Kau tunggu di sini sebentar!" kata Tao Ling kepada Lie Cun Ju.

Kakinya melangkah dengan cepat, dalam sekejap mata Tao Ling sudah sampai di samping piau tau itu.

"Sahabat, aku mempunyai sedikit keperluan, entah apakah sahabat bersedia mengabulkannya atau tidak?" sapa Tao Ling.

Laki-laki setengah baya yang menunggang seekor kuda tampak terkejut sekali begitu ada seorang gadis yang tiba-tiba berhenti di sam-pingnya. Dia meraba gagang pedang di pinggangnya dan melihat Tao Ling dengan tatapan curiga. Belasan kereta di belakangnya pun tampak berhenti.

"Siapa nona ini?" sapa Piau tau tadi.

"Ayah bergelar Pat Sian Kiam, bermarga Tao."

Tadinya wajah Piau tau itu menyiratkan kecurigaan. Dia curiga jangan-jangan gadis ini pura-pura menanyakan sesuatu padahal tujuannya ingin merampok. Tetapi setelah mendengar Tao Ling putri Pat Sian Kiam Tao Cu Hun, wajahnya langsung berseri-seri.

"Rupanya Tao kouwnio!" ucap lelaki itu setelah turun dari kudanya.

"Anda kenal dengan ayah?" sahut Tao Ling dengan rasa gembira.

"Hanya mendengar nama besarnya, belum mempunyai jodoh untuk bertemu langsung," sahut Piau tau itu.

Mendengar ucapan Piau tau yang sopan itu, Tao Ling segera mengetahui bahwa orang ini jujur dan berjiwa besar. "Entah siapa panggilan tuan yang mulia?" tanyanya kembali.

"Aku she Liu bernama Hou, orang-orang kang ouw memberi julukan Tan To Pik Tian (Sebatang golok menentang langit)."

Di dalam dunia bu Hm, entah berapa banyak jago kelas tanggung seperti Tan To Pik Tian ini. Ayah ibu Tao Ling termasuk jago kelas satu di dunia kang ouw. Tentu tidak mengenal orang seperti Piau tau ini. Karena itu, Tao Ling juga belum pernah mendengar nama itu.

"Entah ada keperluan apa Tao kouwnio meng-hentikan kami?" tanya Liu Hou.

"Aku dan . . ." Berbicara sampai di sini, Tao Ling menjadi ragu. Dia seorang gadis remaja, tentu tidak enak apabila orang mengetahui dia berjalan dengan seorang pemuda yang tidak ada hubungan saudara. Karena itu dia menyebut nama 'Lie' dengan Hrih sekali sehingga tidak terdengar oleh yang lainnya. Kemudian melanjutkan, "Toako dikejar oleh musuh, tubuhnya terluka cukup parah. Kami ingin meminta bantuan Liu piau tau untuk mengan-tarkan kami ke dalam kota."

Liu Hou menganggukkan kepala. Dengan kereta mereka menuju kota yang jaraknya tidak jauh dari tempat itu. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai. Tao Ling menanyakan kepada Liu piau tau, dan ternyata kota ini bernama Sin Tang ceng. Dari tempat tinggal Kuan Hong Siau hanya seratus li lebih, masih termasuk wilayah Hu Pak.

***

Tidak sampai setengah kentungan, serom-bongan orang itu sudah sampai di kota Sin Tang ceng. Kota itu merupakan salah satu kota yang cukup besar di sebelah timur Pa Tung. Jalanannya lebar dan bersih. Kotanya ramai, berbagai toko memenuhi sepanjang jalan. Liu Hou mengajak Tao Ling dan Lie Cun Ju ke depan sebuah gedung yang besar. "Inilah markas 'Ling Wei piau ki' kami. Cong piau tau (pemimpin perusahaan pengawalan) berjuluk Harimau Bersayap Emas, namanya Tan Liang. Baik Iwe kang maupun gwa kangnya tinggi sekali," kata Liu Hou menjelaskan.

Orang yang mempunyai julukan Harimau Bersayap Emas Tan Liang, Tao Ling pernah mendengarnya. Dia juga seorang tokoh di sungai telaga yang sudah mempunyai nama. Dia yakin orang itu pasti bersedia menampung mereka dan luka Lie Cun Ju bisa mendapatkan perawatan yang baik.

Tao Ling memapah Lie Cun Ju berjalan memasuki 'Ling Wei piau ki'. Si Harimau Bersayap Emas Tan Liang tidak ada di tempat. Akan tetapi gedung itu besar sekali dan mempunyai banyak kamar. Liu Hou membawa mereka memasuki sebuah kamar. Ketika Lie Cun Ju direbahkan di atas tempat tidur, mulutnya langsung menge-luarkan suara rintihan. Rupanya sejak tadi dia memang sudah menahan rasa sakitnya. Liu Hou sendiri masih ada urusan lainnya. Maka terpaksa dia meninggalkan kedua orang itu. Sedangkan Tao Ling baru merasa kepalanya berdenyut-denyut setelah Lie Cun Ju dapat berbaring dengan tenang. Matanya bahkan berkunang- kunang.

Selama dua hari itu tidak ada sebutir nasi pun yang masuk ke dalam perut Tao Ling. Hanya karena ingin menjaga Lie Cun Ju, dia terpaksa mempertahankan diri. Sekarang untuk sementara dia tidak perlu menjaga Lie Cun Ju, dia merasakan seluruh tubuhnya letih dan tulang helulangnya seperti terlepas dari persendian. Dia duduk di atas sebuah kursi tanpa bergerak sedikit pun.

Setelah beristirahat sejenak, Tao Ling meminta agar pelayan di Piau kiok itu mengantarkan sedikit makanan untuk mereka. Seielah hidangan diantar ke kamar, tampak gadis itu makan seperti orang rakus. Ketika dia nienoleh kepada Lie Cun Ju, peinuda itu juga baru disuapi oleh salah seorang pelayan pedung itu. Keadaannya tampak sudah lebih segar, walaupun masih lemah sekali.

"Lie toako, apakah kau merasa lukamu dapat disembuhkan?" tanya Tao Ling hati-hati.

Lie Cun Ju mencoba mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya. Dia merasa hawa murninya tidak dapat dihimpun malah mengalir secara tidak beraturan. Lie Cun Jw menarik nafas panjang. "Kalau mengandalkan tenaga dalamku sendiri, mungkin dalam tiga bulan juga tidak bisa sembuh."

"Tidak perlu khawatir. Menurut Liu Hou, pemilik gedung ini, si Harimau Bersayap Emas Tan Liang adalah seorang yang berbudi luhur. Biar kita tinggal di gedungnya setengah tahun, dia juga tidak akan menolak."

Lie Cun Ju merasa ada serangkum kehangatan yang melanda hatinya. Dia memandang Tao Ling. Kebetulan gadis itu juga sedang memandang ke arahnya. Tao Ling langsung menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu.

Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu kamar digubrak dengan keras oleh seseorang. Tao Ling terkejut setengah mati. la segera melonjak bangun dan menghalang di depan Lie Cun Ju.

Ketika Tao Ling mempertajam pandangan matanya, ternyata yang baru masuk dengan kasar itu Liu Hou. Tangan laki-laki itu menggenggam sebilah golok lebar. Wajahnya menyiratkan kegusaran. Di belakangnya mengikuti seorang laki-laki bertubuh pendek kurus. Tampangnya biasa-biasa saja. Tapi sepasang matanya menyorotkan sinar yang tajam. Usianya kurang lebih lima puluhan tahun.

Tao Ling jadi terkesima.

"Liu piau tau, kenapa kau . . .?" tanya Tao Ling terkesima. "Huh! Terus terang saja, Tao kouwnio. Tadi aku tidak tahu

persoalan   yang   sebenarnya.   Boleh   dibilang   di   dalam perusahaan pengawalan ini, aku terhitung setengah pemiliknya juga. Biar hagaimana aku tidak sudi menerima orang seperti kalian tinggal di sini!" ucap Liu Hou memaki- maki Tao Ling.

"Memangnya orang seperti apa kami ini, coba kau katakan saja terus terang!"

"Urusan ini sudah diketahui seluruh orang bu lim. Dia bertanding ilmu di gedung Kuan loya namun tidak menggubris peraturan dunia kang ouw, Tao Heng Kan membunuh Li Po, putra Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan suami istri dengan keji. Setelah itu dia melarikan diri sehingga jejaknya tidak diketemukan. Tidak tahunya malah bersembunyi di sini. Pokoknya sekarang juga kami akan menggeretnya ke rumah Kuan loya agar dapat diadili," ujar Liu Hou sambil menudingkan goloknya kepada Lie Cun Ju.

Saat itu Tao Ling baru sadar bahvva Liu Hou dan Tan Liang berdua salah menduga Lie Cun Ju dikira abangnya Tao Heng Kan. Hatinya merasa mendongkol juga geli. Pasti Liu Hou baru kembali dari perjalanan jauh sehingga tidak mengetahui persoalan ini. Sedangkan Tan Liang tidak kemana-mana. Jarak antara kota ini dengan tempat tinggal Kuan Hong Siau tidak seberapa jauh. Dia pasti sudah mendengar berita pembunuhan atas diri Li Po oleh Tao Heng Kan. Karena itu. begitu bertemu dengan Liu Hou dan mendengar mereka ada di rumahnya, dia langsung menganggap Lie Cun Ju sebagai abangnya yang sedang buron.

"Kalian berdua salah duga. Tahukah kalian siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk kepada Lie Cun Ju.

Si Harimau bersayap emas Tan Liang maju satu langkah. "Memangnya dia bukan abangmu Tao Heng Kan?" tanya

Tan Liang.

"Bukan. Dia putra kedua pasangan suami istri Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan dan Lim Cing Ing, namanya Lie Cun Ju." Tentu saja Tan Liang tsdak akan percaya begitu saja.

"Apa buktinya?" tanya si Harimau Bersayap Emas Tan Liang.

Lie Cun Ju yang berharing di atas tempat tidur melirik sekilas kepada Tao Ling dan memberi isyarat kepadanya. Gadis itu langsung mengerti. Dia mengulurkan tangannya dan terdengarlah Cring! Cring! sebanyak dua kali. Dia mengeluarkan pedang emas dan perak dari selipan ikat pinggangnya.

"Lie toako terluka parah, pedang Kim Gin Kiam ini untuk sementara aku yang menjaganya! inilah bukti yang Anda minta!"

Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia bu lim, Juga sulit dihuat tiruan-nya. Tapi hati Liu Hou dan Tan Liang tidak hahis mengerti, mengapa dua keluarga yang saling ber-musuhan sedalam itu, putra putri masing- masing malah bisa menjalin persahabatan dan tampaknya sudah akrab sekali?

Karena Tan Liang adalah penduduk setempat, Tao Ling yakin dia sudah mendengar peristiwa tentang hancurnya perahu mereka dan terhanyutnya dirinya serta Lie Cun Ju.

"Setelah perahu tiba-tiba terbelah menjadi dua bagian, kami terhanyut sampai jauh. Entah bagaimana keadaan Kuan tayhiap, orang tuaku, pasangan suami istri Lie Yuan dan ko . .

. ko . . . ku sekarang?"

"Jejak Tao Heng Kan tidak jelas. Keadaan orang tuamu dan Kuan tayhiap baik-baik saja, hanya pasangan suami istri Lie tayhiap ditotok jalan darahnya dengan cara yang aneh. Sampai sekarang masih belum sanggup dibebaskan. Keluarga Sang yakni Sang Cu Ce malah melarikan diri dengan ketakutan ketika diminta bantuannya," sahut Tan Liang. "Apakah sudah diketahui siapa orangnya yang menotok jalan darah pasangan suami istri Lie tayhiap?" tanya Tao Ling.

Wajah si harimau bersayap emas Tan Liang jadi kelam. "Sampai saat ini masih belum diketahui!"

Lie Cun Ju masih sadar. Dia mendengar jalan darah kedua orang tuanya masih belum terbebas-kan sampai saat ini, hatinya menjadi gundah.

"Tao kouwnio, biar bagaimana lukaku ini harus dirawat.

Lebih baik kita pergi saja ke gedung Kuan loya."

Tao Ling mengerti maksud hatinya yang ingin cepat-cepat bertemu dengan ayah bundanya

Memangnya dia sendiri tidak rindu kepada kedua orang tuanya? Walaupun jarak antara tempat ini dengan kediaman Kuan loya hanya seratus li lebih, tetapi apabila di dalam perjalanan kepergok ketiga iblis yang kemarin, jiwa mereka pasti tidak dapat dipertahankan lagi. Karena itu dia menasehati Lie Cun Ju.

"Lie toako, bahkan Kuan tayhiap saja tidak sanggup membebaskan jalan darah orang tuamu, apa gunanya kau kesana? Aku rasa Kuan tayhiap dan kedua orang tuaku pasti akan mencari akal untuk membebaskan jalan darah mereka."

"Betul," tukas Tan Liang. "Kuan tayhiap sendiri sudah bersiap-siap mengantarkan kedua orang tuamu ke Si Cuan untuk meminta pertolongan si Kakek berambut putih.Sang Hao telah merundingkan masalah ini."

Lie Cun Ju baru agak lega mendengar keterangan orang itu. Sedangkan dia juga maklum larangan Tao Ling adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Oleh karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.

"Tao kouwnio, apakah aku perlu menyuruh orang menyampaikan beritamu kepada kedua orang tuamu? Jarak dari sini ke tempat tinggal Kuan tayhiap hanya memakan waktu tiga ken-tungan apabila menunggang kuda pilihan," tanya Tan Liang kembali.

Tao Ling sadar, apabila orang tuanya sanipai datang kemari, pasti dia tidak bisa bersama-sama Lie Cun Ju lagi. Karena itu dia menyahut cepat.

"Tidak usah!"

Tan Liang dan Liu Hou masih duduk di dalam kamar dan menanyakan masalah Tao Heng Kan yang membunuh Li Po tanpa sebab musabab. Karena urusan ini sudah tersebar kemana-mana dan menjadi tanda tanya bagi setiap orang. Tentu saja Tan Liang dan Liu Hou juga ingin mengetahui hal yang sebenarnya. Tao Ling hanya dapat menceritakan kejadian yang berlangsung saat itu, sedangkan apa sebabnya kokonya sampai membunuh Li Po, dia sendiri tidak habis mengerti.

Baru saja selesai bercerita, tiba-tiba dua orang petugas piau kiok masuk ke dalam kamar dengan sikap gugup.

"Tan . . . cong piau . . . tau, di... luar .. . ada orang ... yang ingin ... ber... temu dengan ...Anda!"

"Ada orang ingin bertemu saja, mengapa kau sampai segugup ini?" bentaknya kesal.

"Begitu masuk ke dalam halaman, orang itu sudah menghancurkan patung singa di depan dengan sekali hantam!" kata yang satunya.

Wajah Tan Liang langsung berubah mendengar keterangan anak buahnya. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya. "Bagaimana rupa orang yang datang itu?"

"Yang ... satu bertubuh tinggi kurus, satunya lagi . . . gemuk pendek, sedangkan yang terakhir ... tampaknya seorang perempuan. Wajah mereka tidak terlihat karena mengenakan sebuah topeng berwarna merah darah." Tan Liang dan Liu Hou tampak merenung memikirkan kira- kira siapa orang yang berpenampilan demikian di dunia kang ouw. Tetapi wajah Tao Ling langsung pucat pasi. Tidak disangka-sangka dengan susah payah dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi di gedung itu. Ternyata ketiga iblis itu masih mengejar mereka. Dalam keadaan panik, dia sendiri sampai kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.

Kalau mengingat suara tawa si gemuk pendek yang aneh dan menyeramkan, seluruh bulu kuduk Tao Ling langsung merinding. Bagi dia sendiri masih tidak apa-apa, tetapi Lie Cun Ju sedang terluka parah. Mana mungkin dia sanggup mendengar berita yang mengejutkan itu. Begitu perasaannya galau, kembali dia memuntahkan darah segar. Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang aneh itu, dan ketiga iblis itu pun sudah berdiri di depan pintu kamar.

Melihat ketiga orang itu langsung menerobos ke dalam kamar, mula-mula Tan Liang agak tertegun, kemudian wajahnya menyiratkan perasaan kurang senang.

"Siapa kalian?" bentaknya sinis.

Tetapi si gemuk pendek itu tidak menyahut, dia saling lirik dengan kedua saudaranya. Tubuh si laki-laki tinggi kurus langsung berkelebat. Sebelah lengannya menjulur ke depan, dia langsung me-nyerang Tan Liang.

Selama hidupnya, entah sudah berapa banyak mara bahaya yang dihadapi si Harimau Bersayap Emas Tan Liang. Tentu saja dia tidak merasa takut, malah tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya bergerak sedikit untuk menggeser ke samping, tetapi lengan si laki-laki kurus yang panjang itu memainkan jurus yang aneh. Padahal terang-terangan sebuah pukulan sedang diarahkan kepada Tan Liang, tetapi di tengah jalan, telapak tangannya itu mengatup dan berganti menjadi tinju. Tangannya seperti mempunyai mata dapat menggeser ke arah mana pun Tan Liang bergerak. Lagipula serangannya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tan Liang bukan jago kelas satu di dunia kang ouw. Dia sebagai seorang Cong piau tau dari perusahaan piau kiok. Pengalamannya cukup banyak dan pengetahuannya juga luas sekali. Setidaknya setiap ilmu pukulan yang terkenal di kolong langit ini, dia pernah mendengarnya. Akan tetapi jurus partai mana yang dikerahkan laki-laki bertubuh tinggi kurus ini? Dia tidak pernah mendengar ada ilmu pukulan seaneh ini di dunia kang ouw.

Tan Liang tidak berani menyambut dengan kekerasan. Dia berusaha menghindar dari serangan laki-laki bertubuh tinggi kurus itu. Tetapi orang itu masih juga memainkan jurus yang sama. Hanya saja tinjunya membuka dan jari tangannya melakukan penyerangan dengan mencengkeram

Tiga kali perubahan ini membuat hati Tan Liang tercekat. Ilmu kepandaiannya sendiri terhitung tidak rendah, tapi tidak pernah dia menyaksikan perubahan jurus seaneh ini. Sekitar kurang dari satu depa Tan Liang dengan penuh pukulan, tinju, dan cakar. Dia menyadari bahwa dirinya telah berhadapan dengan musuh yang tangguh. Terdengar suara Crep! Pecut lemasnya segera dilepaskan dan tidak mau menghadapi lawan dengan tangan kosong.

Tetapi ketika Tan Liang baru saja melepaskan pecut lemasnya, tiba-tiba dia mendengar suara jeritan ngeri dari mulut Liu Hou. Hubungan Tan Liang dengan Liu Hou sangat akrab, bahkan sudah seperti saudara kandung. Mendengar suara jeritan sahabatnya itu, pikirannya langsung terpecah, tangannya tanpa sadar merenggang dan tahu-tahu pecut lemasnya sudah direbut oleh si laki-laki bertubuh tinggi kurus. Kemudian disusul dengan suara Blam! Dadanya telah terhantam telak oleh pukulan lawan.

Dalam keadaan panik, Tan Liang masih sempat menolehkan kepalanya. Dia melihat Liu Hou sudah terkulai di atas tanah, mati dengan bersimbah darah. Rupanya ketika laki-laki bertubuh tinggi kurus mulai bergebrak dengan Tan Liang, perempuan yang dipanggil 'sam moay' segera menghunus sepasang goloknya dan menerjang ke arah Liu Hou. Liu Hou yakin terhadap kekuatan sendiri. Dia menangkis serangan perempuan itu dengan golok lebarnya. Tidak disangka begitu saling membentur, goloknya langsung terpental. Golok di tangan kiri perempuan itu langsung menancap ke dalam ulu hatinya!

Sedangkan Tan Liang yang terkena hantaman si laki-laki tinggi kurus langsung merasa dadanya seperti mendidih. Tubuhnya terhuyung-huyung. Si Tinggi kurus mengeluarkan suara tawa yang aneh. Pukulan kedua langsung dilancarkan. Kali ini, Tan Liang bahkan tidak sempat bersuara sedikit pun. Tubuhnya terpental ke dinding kamar dengan keras, kemudian terkulai jatuh dan mati seketika dengan beberapa tulang belulang yang patah.

Keempat orang itu hanya bergebrak dalam waktu yang singkat. Ternyata sudah berhasil memperlihatkan pihak mana yang kalah dan pihak mana yang menang. Tao Ling yang duduk di sam-ping Lie Cun Ju merasa hatinya diguyur air dingin. Tetapi biar bagaimana pun dia tidak bersedia melarikan diri atau meninggalkan pemuda itu.

Tampak perempuan tadi dan si laki-laki tinggi kurus membalikkan tubuh dan berlari keluar. Baru saja mereka meninggalkan kamar itu, dari luar berkumandang serentetan jeritan yang menyayat hati. Keadaan di luar sana tampaknya kalang kabut. Si laki-laki bertubuh gemuk pendek malah tertawa terkekeh-kekeh. Dia melangkahkan kakinya menghampiri Tao Ling dan lie Cun Ju.

Tao Ling sadar mereka sulit menghindarkan diri dari ancaman bahaya kali ini. Daripada mati konyol, lebih baik mengadu jiwa, pikirnya dalam hati. Dia segera melepaskan pedang ernas dan perak dari selipan pinggangnya kemudian menerjang ke arah si gemuk pendek. Tetapi baru saja ruangan kamar itu dipenuhi cahaya yang berkilauan, orang itu sudah menghantamkan sebuah pukulan dan membuat sepasang pedang Kim Gin Kiarn itu terpental jauh.

Belum sempat Tao Ling berdiri dengan mantap, sebuah pukulan lainnya sudah meluncur ke arahnya. Tao Ling merasa telapak tangan orang itu masih belum menyentuh dadanya. Hanya serangkum kekuatan telah menerpanya dengan kencang. Tubuhnya bagai ditimpa besi seberat ribuan kati. Matanya langsung berkunang-kunang, tubuhnya limbung dan Hooaakkk! Dia memuntahkan segumpal darah segar. Tapi gerakan tubuhnya masih belum berhenti, kakinya terhuyung- huyung ke belakang, kemudian secara kebetulan jatuh menimpa tubuh Lie Cun Ju. Terdengar pemuda itu menjerit histeris. Tampaknya tekanan tubuh Tao Ling membuat lukanya bertambah parah beberapa kali lipat!

Tao Ling merasa dirinya hampir jatuh tidak sadarkan diri begitu tubuhnya menimpa Lie Cun Ju. Tetapi dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, dia masih sempat mendengar suara perem-puan itu berkata.

"Toako, satu pun tidak ada yang tertinggal, mari kita pergi!"

Tao Ling masih berusaha memberontak, tetapi tiba-tiba dadanya terasa sakit, si Gemuk Pendek sudah melancarkan kembali pukulannya yang kedua. Dia hanya merasa isi perutnya seperti membrendel dan kacau balau. Tubuhnya hanya sempat bergerak-gerak sedikit kemudian terdiam.

***

Entah berapa lama telah berlalu, Tao Ling tersentak sadar oleh rasa sakit dan perih. Dia ingin membuka matanya, tetapi kelopak matanya tidak bisa digerakkan sedikit pun.

Seluruh tubuhnya bahkan seluruh isi perutnya bagai ditusuk ribuan jarum yang telah dipanaskan di atas bara api. Karena sakitnya sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Dalam tenggorokannya seakan ada segumpal darah yang telah membeku, sehingga sulit baginya meskipun hanya menelan ludah saja. Jangan kan berbicara, merintih pun Tao Ling tidak sanggup.

Tetapi, ketika dia sudah tersadar. Meskipun matanya tidak bisa membuka, mulutnya tidak bisa bicara, tetapi telinganya masih bisa mendengar, walaupun suara yang ada di sekelilingnya hanya sayup-sayup seakan jauh sekali. Dia merasa ada seseorang di dalam kamar itu yang terus bolak balik. Kadang suara langkah kakinya berhenti di sampingnya, kemudian menjauh lagi seakan meninggalkannya.

Saat itu, kecuali pasrah pada nasibnya sendiri, Tao Ling tidak sanggup melakukan apa-apa lagi. Tidak lama kemudian terdengar seseorang berkata.

"Meskipun kedua orang ini masih ada setitik nafas, tapi seluruh isi perutnya sudah tergetar. Meskipun bisa mendapatkan obat yang mujarab, takutnya nyawa mereka hanya tinggal beberapa kentungan saja." Suara itu terdengar terlontar dari mulut orang yang sudah tua.

"Belum tentu. Aku juga tidak mengharapkan mereka tertolong. Pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup." Suara yang satu ini terdengar nyaring dan merdu. Seakan terlontar dari mulut seorang anak gadis berusia lima belasan tahun.

"Kalau begitu kita coba saja." Terdengar orang yang sudah tua berkata lagi.

Tao Ling merasa ada sebuah telapak tangan yang panas membara menempel di punggungnya.

Lukanya saat itu memang parah sekali, sampai dia sendiri tidak dapat membayangkan keparahannya itu. Kalau dalam keadaan seperti ini, dia tidak mengalami kematian, boleh dibilang merupakan suatu keajaiban. Ketika tangan itu menempel di punggungnya, gadis itu merasa nyeri yang tidak terhingga. Sesaat kemudian dia jatuh tidak sadarkan diri lagi.

Ketika Tao Ling tersadar kembali, rasa sakit-nya sudah jauh berkurang. Tapi seluruh persendian dan tulang belulangnya masih ngilu dan lemas, seperti terlepas atau beruraian di dalam kulit. Tao Ling tidak mempunyai tenaga sedikit pun. Niatnya ingin membuka mata untuk melihat dimana dirinya berada, tetapi tidak ada kekuatan sama sekali. Sedangkan tubuhnya terasa terguncang-guncang dan terdengar suara berderak-derak. Rasanya dia berada di dalam sebuah kereta yang sedang melaju. Tao Ling berusaha menenangkan pikirannya. Mula-mula dia mencemaskan keadaan Lie Cun Ju.

Dengan menenangkan perasaannya, Tao Ling mencoba mengingat pembicaraan kedua orang yang didengarnya tempo hari. Kemungkinan Lie Cun Ju belum mati, hanya dia tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.

Dalam hati Tao Ling menarik nafas panjang, Kembali gadis itu merasa ada orang yang membuka mulutnya dan menuangkan sejenis cairan. Cairanitu harum dan menyejukkan perutnya. Perasaannya juga lebih segar. Dia mendengar anak gadis itu berkata.

"Lihat! Dia tidak mati kan? Malah sudah jauh lebih segar dari beberapa hari sebelumnya."

"Meskipun tidak mati, tetapi takutnya dia tidak bisa bergerak lagi selamanya dan menjadi orang cacat yang tidak dapat berbicara!" Terdengar suara orang tua menyahut.

Selesai pembicaraan, keadaan menjadi hening kembali. Hati Tao Ling dilanda rasa sedih yang tidak terhingga mendengar pembicaraan mereka. Diam-diam dia berpikir dalam hati.

"Waktu itu aku datang ke Si Cuan mengikuti kedua orang tuaku. Kata mama ada urusan yang penting sekali. Tetapi aku tidak tahu urusan apa yang dimaksudkan. Malah tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Padahal kota Si Cuan saja belum sampai. Bahkan aku sendiri tidak tahu dimana sekarang aku berada?" Hati Tao Ling kembali terasa pilu mengingat nasibnya.

Tujuh-delapan hari telah berlalu, Tao Ling masih belum sanggup membuka kedua matanya. Kadang-kadang dia jatuh tidak sadarkan diri. Tapi kadang-kadang dia tersadar kembali. Hanya satu hal yang disadarinya, bahwa dia memang berada di atas sebuah kereta kuda. Lagipula selama tujuh-delapan hari ini, kereta kuda itu tidak pernah berhenti sekalipun!

Setiap kali mengingat dirinya akan menjadi orang cacat, hati Tao Ling terasa perih kembali. Kalau ditilik dari kecepatan kereta itu dan tidak pernah berhenti melakukan perjalanan selama tujuh-delapan hari, rasanya mereka sudah menempuh ribuan li. Entah kemana kedua orang itu akan membawa dirinya?

Tiga-empat hari kembali berlalu. Tao Ling merasa nyeri di seluruh tubuhnya sudah lenyap. Dia berniat membuka matanya. Karena itu dia mengerahkan semua kekuatannya dan ternyata dia berhasil.

Begitu matanya membuka, Tao Ling merasa ada seberkas cahaya putih yang menutupi pandangannya. Mula-mula dia terkejut sekali. Untuk sesaat dia sampai tertegun. Tetapi setelah terbiasa, dia baru dapat melihat dengan jelas. Rupanya cahaya putih yang terlihat olehnya adalah tirai kereta. Begitu putihnya sehingga menyilaukan mata. Entah terbuat dari bahan apa. Di bagian jendela dan atas pintu kereta juga terdapat rumbai-rumbai berwarna putih keperakan. Indah sekali. Meskipun Tao Ling sudah sanggup membuka mata, namun kepalanya masih belum sanggup digerakkan. Jadi yang dapat terlihat olehnya hanya atap kereta. Pokoknya sebatas kerlingan matanya.

Tiba-tiba angin berhembus, rumbai-rumbai dari benang putih tersingkap karena hembusan angin itu, Tao Ling dapat melihat bahwa udara saat itu cerah sekali. Dia juga melihat hamparan cakrawala yang putih membentang.

Dia tidak tahu dimana dirinya berada. Ingin sekali dia memhuka mulut mengatakan sesuatu, tetapi sedikit suara pun tidak dapat tercetus dari tenggorokannya.

Dalam keadaan seperti itu, kembali beberapa hari dilewati. Kereta itu masih terus melaju. Sekarang Tao Ling sudah dapat membedakan arahnya. Mereka menuju ke barat. Dan setiap menjelang malam ada seseorang yang menyuapkan cairan yang harum ke mulutnya.

Tao Ling memperhatikan orang yang menyuapkan cairan kepadanya. Tetapi kedua orang itu seakan menghindarkan pandangan matanya. Karena itu Tao Ling hanya dapat melihat tangan mereka. Tangan yang satunya kurus seperti tengkorak. Urat-uratnya yang berwarna hijau bersembulan. Warna kulitnya kusam. Tetapi tangan yang satunya justru halus seperti sutera. Warnanya merah dadu yang segar dan kukunya panjang-panjang berbentuk indah. Malah diusapkan sejenis cairan dan bunga-bungaan, terlihat seperti merah menyala. Sekali lihat saja dapat dipastikan bahwa tangan itu milik seorang gadis yang cantik. Dan Tao Ling yakin suara gadis itulah yang didengarnya beberapa hari yang lalu. Tetapi dia tidak habis pikir siapa kedua orang itu?

Beberapa hari kemudian, kepala Tao Ling mulai bisa digerakkan. Dia juga melihat kereta tenipat dirinya terbaring merupakan sebuah kereta yang mewah. Di samping bantalnya menggeletak sepasang pedang emas dan perak. Di bagian kepalanya duduk dua orang yang mengenakan pakaian putih keperakan. Namun mereka mebelakangi Tao Ling sehingga gadis itu tidak dapat melihat vvajah mereka.

Tao Ling hanya dapat melihat sekilas orang itu dari samping. Yang satu adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Rambutnya penuh dengan uban berwarna keperakan. Yang satunya lagi mepunyai rambut sehalus sutera, hitamnya bekilauan. Tentu saja gadis bertangan indah yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Keempat ekor kuda yang menarik kereta itu juga berwarna putih keperakan. Derap kaki kuda itu teratur dan larinya cepat sekali. Selama dua puluhan hari ini, kemungkinan mereka sudah menempuh perjalanan sejauh tiga ribuan li.

Tao Ling ingin menggunakan kesempatan ketika disuapi cairan harum untuk melihat jelas wajah kedua orang itu. Tetapi malam itu mereka tidak menyuapinya apa-apa. Pagi hari keduanya, Tao Ling merasa perutnya nyeri karena kelaparan. Tanpa sadar dia mengeluarkan suara rintihan.

Boleh dibilang ini merupakan pertama kalinya mulut Tao Ling mengeluarkan suara selama dua puluhun hari belakangan. Begitu mulutnya mengeluarkan suara rintihan, gadis itu membentak nyaring kemudian, Sret! Seberkas cahaya keperakan memercik berkilauan. Ternyata sebuah pecut panjang berwarna keperakan pula. Keempat ekor kuda itu langsung menghentikan derap kaki mereka. Gadis itu pun menolehkan kepalanya dan bertemu muka dengan Tao Ling.

Tao Ling merasa pandangan matanya menjadi terang. Seakan dirinya berada di khayangan. Perasaannya menjadi nyaman dan lega. Ternyata kecantikan gadis itu sulit diuraikan dengan kata-kata. Begitu cantiknya sampai Tao Ling merasa dirinya bertemu dengan bidadari. Rambutnya terurai sepanjang bahu, dia tidak mengenakan perhiasan apa-apa. Alisnya melengkung indah dan bulu matanya lentik. Bola matanya berkilauan seperti sebuah telaga yang bening. Hidungnya mancung, bibirnya tipis mempesona. Begitu cantiknya sampai-sampai Tao Ling curiga dirinya bukan bertemu dengan manusia biasa, melainkan peri atau dewi khayangan. Padahal Tao Ling sendiri bukan gadis yang jelek, tetapi kalau dibandingkan dengan gadis itu, ternyata tidak ada apa-apanya. "Akhirnya kau bisa berbicara juga, bukan?" ujar gadis itu tersenyum.

Selama dua puluh hari lebih, sudah berkali-kali Tao Ling mendengar suara gadis itu. Hatinya ingin sekali berbicara dengannya. Oleh karena itu, dia berusaha dengan susah payah untuk menyahut.

“I…ya…”

Suara itu begitu lirih sampai Tao Ling sendiri hampir tidak mendengarnya. Tetapi gadis berpakaian putih ternyata dapat mendengarnya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, akhirnya aku bisa menolongnya juga, bukan?" Gadis itu tertawa cekikikan seakan senang sekali. Dia memalingkan kepalanya kembali. "Kalau kau sudah bisa berbicara, dapatkah kau menjawab pertanyaanku?"

Tao Ling menganggukkan kepalanya. Keadaan Tao Ling sekarang ini, kalau dibandingkan dengan dua puluhan hari yang lalu, yang boleh dibilang sebelah kakinya sudah menginjak di alam kematian, tentu jauh lebih baik. Tetapi apabila ingin membuka mulut berbicara, tentu harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Tetapi meskipun suara gadis itu lembut dan merdu didengar namun di dalamnya seakan terkandung kekuatan yang memaksa siapa pun menuruti kehendaknya.

Walaupun Tao Ling juga seorang gadis, tapi dia merasakan bahwa pengaruh nada suara gadis itu yang seakan tidak boleh dibantah. Karena itu sekali lagi dia berkata dengan susah payah.

"Katakanlah!"

Tiba-tiba tubuh gadis itu berkelebat. Tao Ling belum sempat melihat gerakan apa yang digunakan gadis itu, tahu- tahu orangnya sudah berada di sampingnya. Dia bertanya dengan suara berbisik.

"Apakah kau mengenal Seebun locianpwe?"

Tao Ling tertegun. Kemudian dia berpikir. "Siapa Seebun locianpwe yang dimaksudkannya?" Dia sendiri belum pernah mendengar nama orang ini. Karena itu dia menggelengkan kepalanya.

Wajah gadis itu memperlihatkan mimik yang aneh. Tetapi dalam sekejap mata sudah pulih kembali seperti semula.

"Tahukah kau, siapa orang yang melukaimu?"

Tao Ling menggelengkan kepalanya kembali. Karena dia memang tidak tahu siapa ketiga orang yang menggunakan topeng merah itu.

Tiba-tiba wajah gadis itu menyiratkan kepanikan. Dalam sesaat, hampir saja Tao Ling tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri. Karena di wajah gadis yang secantik bidadari itu tiba-tiba terlihat senyuman yang dingin.

Walaupun dalam sekejap mata keadaan gadis itu sudah pulih kembali seperti sedia kala. Tetapi Tao Ling sudah merasakan berbagai penderitaan selama hari-hari belakangan ini. Karena itu timbul kewaspadaan dalam hatinya. Apalagi bila ia ingat gadis itu pernah mengucapkan kata-kata 'Aku juga tidak ingin mereka tertolong, pokoknya salah satu dari mereka bisa berbicara beberapa patah kata, cukup', ketika dia tersadar setelah terkena pukulan si laki-laki bertubuh gemuk pendek itu.

Kalau begitu, selama dua puluh hari ini mereka berusaha susah payah membangkitkan dirinya dari jurang kematian hanya ingin mendengar beberapa patah kata dari mulutnya. Sama sekali bukan karena ingin menolongnya. Tapi, Tao Ling juga merasa bingung, apa yang ingin diselidiki gadis itu dari mulutnya? Di saat itu pikiran Tao Ling sangat bingung. "Apakah kau juga tidak ingat, bagaimana rupa orang itu?" tanya gadis itu.

"Kouwnio, di . . . mana Lie . . . toako?" Tao Ling balik bertanya.

"Maksudmu, orang yang terluka bersama-samamu itu?" Tao Ling menganggukkan kepalanya.

"Lukanya terlalu parah, meskipun kami berniat menolongnya juga tidak mungkin berhasil. Belasan hari yang lalu, kami sudah melemparkannya di tepi jalan."

Hati Tao Ling terasa pilu. Di benaknya ter-bayang sinar mata Lie Cun Ju. Meskipun gadis itu mengatakan lukanya parah sehingga sulit tertolong lagi, karena itu mereka melemparkannya ke tepi jalan. Kalau dibayangkan, lebih banyak kemungkinan sudah matinya daripada hidupnya. Mengingat hal yang menyedihkan, pelupuk matanya jadi basah. Dua bulir air mata menetes dari sudut matanya. Terdengar dia menarik nafas panjang.

"Cepat kau katakan, siapa yang melukai kau dan orang she Lie itu, juga yang membunuh Harimau Bersayap Emas Tan Liang, kemudian wakilnya Liu Hou dan belasan orang pegawai 'Ling Wei piau ki'?" tanya gadis itu kembali.

Hati Tao Ling terkejut sekali mendengar kata-katanya. Ternyata karena dirinya menumpang di gedung itu, belasan orang sampai kehilangan nyawanya. Cara turun tangan ketiga orang itu benar-benar keji dan bedarah dingin.

"Jum . . . lah musuh . . . ada tiga . .. orang . . . Dua . . .

laki-la . . . ki dan sa . . . tu pe . . . rem ... pu ... an, se . . .

muanya . . . me . . . ngena . . . kan to ... peng . . . berwar . .. na me ... rah da ... rah!" jawab Tao ling.

"Rupanya mereka!" Gadis itu tertawa terkekeh-kekeh. "Bagus. Semuanya sudah jelas. Kita sudah boleh melanjutkan perjalanan," sahut orang tua dengan tanpa menolehkan kepalanya sama sekali.

"Betul," sahut gadis itu. Cahaya perak berkelebat, gadis itu sudah kembali ke tempat semula.

Tao Ling tidak mengerti apa yang akan dilakukannya. Tiba- tiba pecut keperakan di tangan gadis itu melayang ke atas, Creppp! arahnya menuju Tao ling.

Tentu saja Tao Ling terkejut sekali. Tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali. Terpaksa dia membiarkan perbuatan gadis itu. Ketika pecut itu mengenai dirinya, dia tidak merasa sakit. Tetapi Tao Ling merasa kalau pecut itu menekuk dan melilit tubuhnya. Kemudian gadis itu menghentakkan tangannya sehingga tubuh Tao Ling pun terangkat. Begitu gadis itu mengibaskan tangannya, tubuh Tao Ling terlempar sejauh dua depa dari kereta, terhempas di tanah. Dari dalam mulutnya menyembur darah segar dalam jumlah yang sangat banyak.

Secara sekonyong-konyong gadis itu mengulurkan pecutnya melemparkan' tubuh Tao Ling keluar dari kereta. Meskipun kejadiannya hanya sekejap mata, namun pikiran Tao Ling masih sadar. Dia teringat sepasang pedang emas dan perak yang menggeletak di samping bantalnya. Sepasang pedang itu membawa pengaruh besar bagi dirinya. Biar bagaimana pun dia tidak ingin kehilangan pedang itu.

Tapi baru saja tubuhnya menghempas di tepi jalan, tiba- tiba matanya melihat dua berkas cahaya yang berkilauan. Gerakannya seperti cahaya kilat. Cep! Cep! terdengar suara sebanyak dua kali. Ter-nyata sepasang pedang emas dan perak itu juga dilontarkan keluar dengan pecut di tangan gadis tadi. Sedangkan jatuhnya tepat di samping leher Tao Ling.

Tubuh Tao Ling tidak dapat digerakkan. Dengan mata membelalak dia melihat kereta kuda itu meluncur pergi dengan cepat. Pada saat itu, dia baru melihat bahwa kereta kuda itu juga berwarna putih keperakan. Rumbai-rumbai benang yang menghiasi tepian kereta melambai-lambai ketika kereta itu bergerak. Tidak lama kemudian, kereta kuda itu hanya tinggal tampak setitik warna perak di kejauhan.

Tao Ling berusaha mempertahankan ke-sadarannya. Dia benar-benar tidak dapat menduga apakah gadis dan orang tua itu terhitung orang dari golongan lurus atau sesat. Dia juga tidak dapat menduga siapa mereka?

Tadinya dalam hati Tao Ling timbul kebencian yang dalam. Tetapi setelah dipikirkan matang-matang, dia merasa tidak sepantasnya membenci mereka. Biar bagaimana mereka telah menolongnya. Bila tidak mungkin di gedung ‘Ling Wei Piau ki' dirinya sudah terkapar menjadi mayat. Walaupun akhirnya dia harus mati juga, namun setidaknya dia sudah memperpanjang kehidupannya selama dua puluh hari lebih.

Hatinya menertawai dirinya sendiri. Apa artinya hidup lebih lama dua puluhan hari? Sedangkan dirinya sendiri tidak tahu dimana sekarang dia berada, apalagi setelah mati, tidak mungkin ada yang menemukannya. Beberapa tahun kemudian, dirinya hanya tinggal onggokan tengkorak dan tulang-tulang putih.

Dengan perasaan sedih Tao Ling memejamkan matanya. Selama beberapa kentungan dia berada di antara sadar dan tidak. Hari lambat laun menjadi gelap. Rembulan jernih seperti air telaga. Sinarnya menyoroti sepasang pedang emas dan perak di samping lehernya sehingga tampak berkilauan.

Tao Ling menolehkan kepalanya menatap sepasang pedang emas dan perak itu, di dalam hatinya timbul lagi secercah harapan. Sepasang pedang emas dan perak ini sangat terkenal di dunia kang ouw. Seandainya ada orang yang melewati tempat ini, kemungkinan dirinya akan tertolong. Mata Tao Ling masih mengerling ke samping menatap sepasang pedang itu lekat-lekat. Tiba-tiba angin berhembus. Hidungnya mengendus serangkum hawa yang harum. Hanya mencium baunya saja perasaannya sudah jauh lebih nyaman dan segar. Ketika matanya memperhatikan dengan seksama, dia melihat ada semacam tumbuhan disamping sepasang pedang emas dan perak. Daunnya berwarna ungu, ukurannya lebih tinggi sedikit dari rum put biasa. Tanaman itu melambai- Iambai karena gerakan angin, pemandangan pun menjadi indah sekali.

Di bagian atas tanaman itu tumbuh empat butir buah berwarna merah sebesar kelengkeng. Merahnya demikian indah. Meskipun Tao Ling harus memiringkan kepalanya dan melihat dengan susah payah, tapi rasanya sayang untuk mengalihkan pandangannya.

Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara pletok! yang lirih, sebutir buah pecah. Buah itu meneteskan air yang baunya harum sekali. Kebetulan tetesannya jatuh di bibir Tao Ling. Gadis itu segera menjulurkan lidahnya dan menjilat cairan buah itu. Rasanya manis, begitu masuk ke dalam mulut harumnya semakin menjadi-jadi.

Sisa cairan itu menetes di atas tanah lalu meresap ke dalam dan menjadi kering. Pada saat itu Tao Ling sudah tahu bahwa keempat butir buah itu adalah buah sian tho atau buah dewa yang langka. Kemungkinan apabila dia makan semua buah itu, lukanya bisa lebih cepat pulih atau mungkin tenaga dalamnya bisa bertambah.

Walaupun jarak buah itu sangat dekat, tetapi Tao Ling tidak menemukan akal untuk memakannya. Dia hanya dapat memandang lekat-lekat seperti orang rakus.

Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara pletak! sebutir buah pecah lagi, dan cairannya pun menetes ke dalam mulut Tao Ling. Dengan rakus Tao Ling menjilatinya. Jarak pecahnya buah yang satu dengan buah yang lainnya hanya kurang lebih sepeminum teh. Tao Ling merasa jantungnya berdebar-debar. Di dalam tubuhnya mengalir hawa yang hangat.

Perasaan ini pasti dimiliki oleh orang yang normal. Padahal selama dua puluhan hari, Tao Ling justru tidak merasakannya. Bahkan sebelumnya detak jantungnya merasa lemah seperti lampu kehabisan minyak.

Kali ini, Tao Ling semakin yakin dengan dugaannya. Buah itu pasti buah langka yang mempunyai khasiat besar untuk menyembuhkan luka dalam. Dia hanya meneguk helasan tetes cairan dari buah itu, tetapi perasaannya sudah jauh lebih segar. Berarti faedah buah itu sudah terlihat. Seandainya dia bisa makan sisa buah yang tinggal dua butir lagi, bukankah keadaannya akan semakin baik?

Apabila seseorang mencapai detik kematian, pasti akan memikirkan cara untuk menyelamatkan diri sendiri. Pasti ada semacam kekuatan yang mendesak hati kecilnya untuk mempertahankan nyawanya. Begitu pula Tao Ling, kehangatan yang mengalir dalam tubuhnya seakan memberinya kekuatan. Dengan sekuat tenaga dia meneiengkan kepalanya. Walaupun dia belum sanggup mengangkat kepalanya, tetapi dia berusaha untuk menjulurkan lehernya agar dapat menggigit buah itu. Tetapi biar bagaimana dia berusaha, jaraknya dengan buah itu masih terpaut sedikit. Persis seorang anak berusia dua tahun ingin meraih suatu benda di atas meja. Apalagi keadaan Tao Ling sedang terluka parah. Dia ingin meraih buah itu rasanya sesulit terbang di angkasa.

Hampir kehabisan tenaga Tao Ling meluruskan kepalanya kembali. Dia beristirahat sejenak. Sesaat kemudian dia memberontak lagi untuk berusaha mencapai buah tadi. Kali ini, dia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya. Matanya melihat bibirnya hampir menyentuh buah itu. Dia membuka mulutnya lebar-lebar tetapi tetap saja masih terpaut sedikit.

Tao Ling membuka mulutnya lebar-lebar menunggu. Dalam hati dia berpikir, seluruhnya ada empat butir buah, sekarang yang dua sudah pecah dan cairannya menetes ke dalam mulutnya. Mungkin apabila dia menunggu sebentar lagi, salah satu dari buah itu pasti akan pecah pula. Demikian pula buah yang satunya. Asal dia menunggu dengan mulut terbuka, apabila kedua butir buah itu pecah, tetesannya pasti akan jatuh ke mulutnya pula.

Tetapi sampai cukup lama dia menunggunya, kedua butir buah itu tidak pecah-pecah juga.

Begitu tegangnya hati Tao Ling, sehingga hampir saja dia semaput. Di saat hatinya sedang gelisah, tiba-tiba telinganya mendengar suara dentingan. Ting! Ting! Ting! Suara itu lirih tapi beruntun. Sumber suara itu dari samping tubuhnya. Ketika dia menolehkan kepalanya untuk melihat bunyi apa yang terdengar di telinganya, Tao Ling tiba-tiba tercekat hatinya.

Rupanya dia melihat seekor ular kecil sebesar telunjuk tangan. Tubuh ular itu belang-belang kombinasi merah putih. Merahnya seperti bunga Tho, sedangkan putihnya seperti salju. Di bagian ekor ular itu terdapat sepasang keliningan kecil yang terikat. Ular itu sedang melata ke arah tanaman tadi. Setiap kali tubuhnya bergerak, keliningan di ekornya pun saling membentur dan menimbulkan suara dentingan.

Dalam sekejap mata, ular itu tampak semakin mendekat. Dengan menggunakan bagian ekornya, ular itu mendongakkan kepalanya ke atas. Dua kali mencaplok, kedua butir buah yang masih tersisa itu langsung masuk ke dalam mulutnya.

Tao Ling yang sudah bersusah payah menunggu di bawah tanaman itu tidak berhasil mengangkat kepalanya untuk menggigit buah itu. Namun ular kecil itu datang dengan menggerak-gerakkan ekornya memaplok seenaknya. Hati Tao Ling benci sekali. Dia melihat ular kecil itu kembali menggerak-gerakkan ekornya melata dengan tenang setelah menikmati kedua butir huah tadi. Lagaknya seakan mengejek Tao Ling. Hal ini membuat perasaan si gadis semakin mendongkol.

Tanpa disadari mulut Tao Ling masih terus membuka. Ular kecil itu merayap di lehernya dan hampir saja menyentuh giginya. Tiba-tiba hati Tao Ling tergerak, seandainya buah itu memang buah dewa yang langka, sedangkan saat ini baru saja masuk ke dalam mulut ular kecil itu, pasti khasiatnya masih ada. Mengapa dia tidak menggigit ular itu saja sampai putus? Bukankah sama saja dia yang menelan buah tersebut?

Diam-diam Tao Ling sudah mengambil keputusan. Demi mempertahankan nyawanya, otak Tao Ling tidak memikirkan hal lainnya lagi. Dia terus membuka mulutnya lebar-lebar dan menanti ular itu merayap lewat sekali lagi. Padahul di hari biasa, jangan kan menggigit seekor ular. bahkan menyentuhnya saja, Tao Ling merasa jijik.

Tiba-tiba ular itu merayap ke atas leher Tao Ling, kemudian mendongakkan kepalanya seakan ingin memandang gadis itu dengan seksama. Tanpa menunda waktu lagi, Tao Ling mengerahkan seluruh kekuatannya dan dicaploknya kepala ular itu bulat-bulat.

Ketika Tao Ling mencaplok kepala ular itu, keadaannya sendiri sudah setengah sadar. Bahkan seperti orang gila. Padahal kalau dilihat dari bentuk ularnya saja, siapa pun bisa menduga bahwa ular itu seekor ular yang sangat berbisa. Kalau Tao Ling sadar, dia juga tidak akan menelannya bulat- bulat.

Dalam pikiran Tao Ling, yang penting dia harus mendapatkan kedua butir buah yang sudah masuk ke dalam mulut ular itu. Karenanya, Tao Ling menggigit dengan giginya kuat-kuat, sampai sekian lama dia tidak melepaskannya. Terdengar ekor ular itu mengeluarkan suara dentingan yang terus menerus. Ular itu rupanya kesakitan dan berusaha memberontak. Bahkan berkali-kali ekornya sempat menghempas pipi dan kening Tao Ling. Gadis itu tidak perduli. Dia terus menggigit kepala ular itu. Sesaat kemudian dia merasa ada cairan yang masuk ke dalam tenggorokannya. Entah darah ular atau air buah tadi, Tao Ling tidak sempat merasakannya lagi. Hampir dua kentungan lamanya dia menggigit kepala ular itu, kemudian lambat laun dia tertidur.

***

Entah berapa lama kemudian, Tao Ling merasa kelopak matanya terasa perih. Ketika dia membuka matanya kembali, ternyata matahari sudah tinggi. Jadi saat itu adalah siang hari keduanya.

Begitu Tao Ling memperhatikan ternyata mulutnya masih menggigit kepala ular itu. Dengan gugup memuntahkannya, puih! Kepala ular yang sudah terputus itu termuntahkan keluar, tetapi bagian tubuh dan ekor ular itu masih menggeletak di lehernya.

Tao Ling merasa bagian lehernya agak gatal, tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan membuang tubuh ular itu jauh-jauh. Ketika ular itu sudah melayang jauh, dia baru tersentak sadar, hatinya gembira sekali, dengan nada parau dia berteriak, "Aku bisa bergerak!"

Sebelurn tertidur, Tao Ling telah berusaha sekuat tenaga untuk mendongakkan kepalanya karena ingin mencaplok kedua butir buah dewa tadi. Tetapi biar tenaganya sampai habis, dia tetap tidak sanggup menggigit buah itu. Padahal bagi orang lain hanya perlu memhungkukkan tubuhnya untuk memetik, namun hagi Tao Ling justru sulitnya hukan kepalang. Padahal saat ini, tanpa disengaja dia membuang bangkai ular tadi, ternyata dia sudah bisa bergerak seperti orang biasa. Bagaimana hatinya tidak menjadi senang. Cepat-cepat Tao Ling menumpu kedua tangannya di atas tanah kemudian bangun dan duduk. Dengan tanpa menguras tenaga, kemudian dia berdiri, perasaannya seperti orang yang baru bangun tidur. Apa yang dialaminya selama dua puluhan hari seperti sebuah mimpi buruk yang panjang.

Di lain pihak, apa yang dialaminya selama dua puluhan hari ini memang merupakan kenyataan. Tao Ling tidak ingin memikirkan hal-hal iainnya. Dia segera duduk bersila dan mencoba peredaran hawa murni da lam tubuhnya. Padahal bagi setiap pesilat asalkan latihan, hawa murni di dalam tubuh otomatis akan beredar sendiri. Tetapi kali ini meskipun Tao Ling telah mengosongkan pikiran dan memusatkan perhatian, namun dia tidak merasakan apa-apa. Persis orang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali. Rasanya hawa murni di dalam tubuhnya terlalu meluap sehingga bergerak dengan kacau tanpa bisa dihimpun.

Ilmu kepandaian Tao Ling pada dasarnya belum tinggi. Dia juga tidak tahu apakah yang dirasakannya ini merupakan bencana atau keberuntungan, yang paling penting dia sudah bisa bergerak. Cepat-cepat dia mencabut sepasang pedang emas dan perak.

Ketika dia melirikkan matanya, dia melihat tanaman buah dewa itu sudah layu.

Meskipun tanaman itu sudah layu, tetapi Tao Ling bisa bergerak pasti karena khasiat buahnya. Tao Ling berpikir dalam hati, buah yang demikian berkhasiat, pasti daun dan akarnya berfaedah juga. Karena itu, Tao Ling segera menggunakan salah satu pedangnya untuk mengorek tanaman itu. Bahkan akarnya pun dicabutnya sekaligus. Setelah itu dia mengepal-ngepalkannya sehingga menjadi bulatan kecil lalu dimasukkannya ke dalam saku pakaian.

Setelah itu Tao Ling memperhatikan keadaan di sekitarnya. Dia baru memperhatikan dirinya berada di sebuah padang rumput yang luas. Di kejauhan terlihat pegunungan menjulang tinggi yang bayangan puncaknya penuh diselimuti salju yang putih bersih.

Pemandangan yang indah sekali, tetapi tidak terlihat adanya seorang manusia pun atau asap yang mengepul dari rumah penduduk.

Tao Ling merenung. Kereta itu sudah melakukan perjalanan selama dua puluh hari lebih. Apahila berangkatnya dari Hu Pak dan terus menuju ke arah barat, pasti jarak yang ditempuhnya sudah hampir mencapai tiga ribuan li. Berarti dirinya sekarang berada di wilayah Si Yu (Sekarang disebut Tibet). Sekarang dirinya sudah sehat. Yang paling penting tentu mengambil jurusan timur, dia ingin mencari Lie Cun Ju yang dilemparkan oleh gadis cantik itu ke tepi jalan. Karena itu, dia segera memasukkan sepasang pedang emas dan perak ke dalam selipan pinggangnya dan berjalan menuju timur.

Hampir setengah harian dia berjalan, bahkan dia sempat memburu beberapa ekor kelinci yang kemudian dibakarnya dengan api unggun dan dijadikan pengisi perut. Perasaannya sudah jauh lebih segar. Tenaganya juga pulih kembali. Tetapi bagian lehernya masih terasa gatal sekali.

Selama setengah harian Tao Ling berjalan, tidak menemukan sebuah sungai pun. Karena itu Tao Ling tidak dapat melihat apa yang terdapat di bagian lehernya yang masih terasa begitu gatal. Di permukaan tanah yang penuh dengan rerumputan masih terlihat jejak roda kereta. Tao Ling berpikir, seandainya dia mengikuti jejak kereta itu, pasti ada harapan menemukan Lie Cun Ju. Walaupun kemungkinan pemuda itu sudah mati, setidaknya Tao Ling dapat menguburkannya dengan layak.

Ketika malam tiba, dia menemukan sebuah hutan kecil dan terpaksa bermalam di sana. Pagi-pagi dia sudah bangun. Baru berjalan tidak seberapa jauh, tiba-tiba dia melihat dua ekor kuda pilihan yang berlari ke arahnya dengan cepat. Penunggang kuda itu terus melarikan kudanya sem-bari menundukkan kepalanya ke bawah seakan sedang mencari sesuatu.

Tao Ling seorang gadis yang berotak cerdas. Dia langsung mengerti apa yang sedang dilakukan kedua penunggang kuda itu. Akh! Orang-orang itu pasti mengikuti jejak roda kereta. Mungkinkah mereka sedang mengejar si orang tua dan gadis yang cantik itu?

Ketika Tao Ling memutar pikirannya, kedua ekor kuda itu sudah sampai di depan matanya. Tao Ling mendongakkan kepala. Kedua orang itu juga sudah melihatnya, tetapi yang aneh mereka menatapnya dengan mimik wajah menyiratkan perasaan kaget yang tidak terkirakan.

Wajah kedua orang itu hampir mirip, kemungkinan memang dua bersaudara. Usianya sekitar lima puluhan. Wajah mereka bersih dan lembut. Seandainya mereka tidak menunggang kuda dan di bagian pinggang tidak menyembul sebuah senjata yang bentuknya aneh, Tao Ling pasti mengira kedua orang itu pelajar atau sastrawan yang tidak mengerti ilmu silat.

Kedua orang itu menatap Tao Ling sekilas, kemudian salah satunya berseru.

"Lie kouwnio, apakah kau melihat sebuah kereta berwarna keperakan yang ditarik empat ekor kuda berwarna putih lewat di tempat ini?"

Ketika mendengar kedua orang itu me-nyapanya 'Lie kouwnio', Tao Ling agak tertegun. Tetapi setelah dipikirkan sejenak, dia langsung mengerti. Pasti karena sepasang pedang emas dan perak yang terselip di pinggangnya maka kedua orang itu mengira dia keturunan Pat Kua Kim Gin Kiam Lie Yuan. Dia segera mendongakkan wajahnya dengan maksud ingin menjelaskan siapa dirinya.

Tidak tahunya, begitu dia mendongakkan kepala, kedua orang itu langsung menarik tali pe-ngendali kudanya dan mundur beberapa tindak. Wajah mereka menyiratkan perasaan takut. Setelah saling pandang dengan saudaranya sekilas, mereka langsung menarik kembali tali laso bermaksud meninggalkan tempat itu.

"Hei! Kalian ingin mengejar kereta itu? Tapi harap kalian beritahukan dulu, tempat apa ini?" teriak Tao Ling.

Salah satu dari orang itu langsung menghambur ke depan sejauh tiga-empat depa.

Sedangkan yang satunya lagi malah berhenti sejenak kemudian berkata.

"Lie kouwnio, ini wiiayah Tibet.Kau lihat gunung itu? Itulah gunung Thian San. Lie kouwnio, apabila kau tidak menemui Leng Coa ki cu jin (Pemilik rumah ular sakti) untuk mengobati penyakit keracunanmu itu, mungkin tidak sampai sore hari kau akan menemui kematian.Kami sudah lama mendengar nama besar ayahmu, sengaja memberitahukan hal ini!"

Hati Tao Ling dilanda kebingungan. Dia ber-pikir dalam hati, kalau dua hari yang lulu, aku memang hampir menemui kematian, tetapi sekarang aku toh dalam keadaan baik-baik saja, untuk apa aku memohon seseorang meminta dia untuk menyembuhkan entah penyakit keracunan apa? Siapa pula pemilik rumah ular sakti yang dikatakannya?

"Toako, mari kita pergi! Jangan menimbulkan masalah lagi!" ucap penunggang kuda yang satunya lagi.

"Jite, ucapanmu salah sekali. Kita toh memang harus mati, apalagi yang harus ditakutkan?" Kemudian keduanya pun menarik nafas panjang.

"Entah siapa nama Hong wi yang mulia? Mengapa aku harus memohon pertolongan pemilik rumah Ular sakti, dapatkah kalian menjelaskannya?" tanya Tao Ling.

"Kami mendapat julukan Sepasang Elang . . ." Tao Ling tidak menunggu orang itu menyelesaikan ucapannya, dia segera menjura dalam-dalam.

"Oh! Rupanya Elang Besi Ciang Pekhu?" Orang itu menganggukkan kepalanya.

"Dia itu adik kandungku, Ciang Ya Hu!" katanya sambil menunjuk ke arah orang yang satunya lagi.

Rupanya kedua orang itu yang mendapat julukan Sepasang Elang dari Hian Tiong. Mereka berasal dari keluarga Ciang. Mereka tinggal di sebuah pulau di tengah danau dan hidup dengan mewah. Keluarga Ciang merupakan salah satu keluarga terkaya di dunia kang ouw. limu mereka juga cukup tinggi, maka nama mereka tersohor sekali. Lagipula sejak kecil senang mempelajari berbagai ilmu dari berbagai aliran. Menurut selentingan di luaran, kedua orang itu bahkan pernah berguru kepada Pun Cing Sian Sing dari Bu Tong Pai di Hok Kian. Mereka menjadi murid tidak resmi dari tokoh Bu Tong Pai itu. Hal ini karena Pun Cing Sian Sing melihat watak kedua orang ini yang berjiwa pendekar. Juga merupakan tokoh yang disegani baik oleh hek to maupun pek to di dunia bu lim. Tao Ling merasa gembira dapat bertemu dengan kedua orang itu.

"Apakah kalian berdua ingin mengejar kereta itu? Aku justru dilemparkan dari kereta itu oleh seorang gadis cantik dan seorang laki-laki tua. Tetapi tu terjadi dua-tiga hari yang lain!"

Si Elang besi Ciang Pek Hu memandangnya dengan terperanjat.

"Kau dilemparkan dari kereta itu? Dia tidak membunuhmu?" Kedua orang itu terperanjat.

"Mungkin karena dia menganggap aku tidak mungkin hidup lagi, tapi kenyataannya aku justru hidup kembali." Tao Ling tertawa getir. Si Elang besi Ciang Pek Hu menarik nafas panjang. Dia tidak bertanya lebih jauh.

"Lie kouwnio, dengarlah nasehatku, dari sini ke arah timur, kurang lebih sepuluh li, ada sebuah sungai kecil, airnya jernih sekali. Mudah dikenali, di sampingnva ada heberapa pondok yang dikelilingi pohon Liu. Di sanalah tempat tinggal pemilik rumah ular sakti. Racun aneh yang mengendap di tubuhmu, kemungkinan hanya dia yang bisa menawarkannya. Cepatlah kesana memohon pertolongannya!"