-->

Pengemis Tua Aneh Jilid 6 (Tamat)

Jilid 6 (Tamat)

“Apa? Kami tidak sudi bergabung merendahkan diri dengan perkumpulan maling pengecut!”

Leng Kak tertawa. “Aduh, hebatnya, ha ha! Coba dengarkan nona ini. Dia sendiri copet, memaki-maki maling! Sungguh lucu. Apakah bedanya copet dan maling?” “Tentu saja berbeda,” jawab Swat Cu. “Kami mengambil barang orang berdasarkan kepandaian dan orang yang kami ambil barangnya adalah orang-orang yang sadar. Sedangkan kalian bangsa maling selalu berlaku curang dan mengambil barang orang sewaktu pemiliknya tidur pulas! Apakah ini laku orang-orang gagah?”

“Swat Cu! Sampai dimanakah kegagahanmu maka kau berani sombong? Marilah kita main-main sebentar!”

Dengan kata-kata ini Leng Kak lalu maju menubruk hendak peluk gadis ini. Tapi Swat Cu cepat berkelit dan menyerang dengan pedangnya. Baru beberapa gebrakan

saja Lie Bun tahu bahwa Swat Cu takkan menang, maka ia segera loncat menghalangi di antara mereka.

“Pangcu, aku sebagai tamu yang telah kau perlakukan dengan ramah tamah tak enak melihat gangguan ini dengan peluk tangan saja. Serahkan orang-orang liar ini kepadaku!” Swat Cu mengangguk dengan wajah berseri.

“Eh, Siapakah kau, anjing keparat? Tak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa?” Leng Kak membentak marah kepada Lie Bun.

Lie Bun tersenyum. “Aku disebut orang Ouw-bin Hiap-kek, dan tentu saja aku tahu siapa kalian ini. Kalian adalah tukang-tukang colong ayam yang rendah.”

“Bangsat gila!” Leng Kak memaki dan menyerang dengan pedangnya. Tapi Lie Bun hanya berkelit sedikit lalu maju menyerang.

Sekali serang saja, Lie Bun telah berhasil menampar pundak Leng Kak hingga kepala maling ini berseru kesakitan dan hampir saja pedangnya lepas dari pegangan.

Kedua saudara Liu melihat ini terkejut sekali dan mereka berbareng lalu menyerbu dengan pedang mereka. Tapi segala maling ini mana bisa menandingi Lie Bun?

Pemuda itu dengan tangan kosong melayani mereka dan bergerak bagaikan seekor capung bermain di antara kembang-kembang teratai. Tiga batang pedang itu tidak berdaya sama sekali. Bahkan beberapa kali mereka bertiga saling adu pedang.

Tentu saja semua orang, baik dari pihak copet maupun dari pihak maling yang menonton pertempuran ini dengan kagum sekali, memandang dengan mata terbelalak. Tak mereka sangka bahwa pemuda muka hitam ini demikian lihai. Bahkan Swat Cu sendiri tidak menyangka bahwa tamunya demikian hebat ilmu silatnya. Maka diam- diam gadis manis ini ambil ketetapan dalam hatinya. Ia harus dapat tarik pemuda ini disampingnya. Kalau saja ia dapat menjadi isteri pemuda lihai ini, maka hidupnya selanjutnya akan terjamin.

Lie Bun yang sedang gembira, sambil bergerak berkata kepada Swat Cu. “Pangcu, harus aku apakan ketiga tikus ini?”

Swat Cu menjawab sambil tertawa. “Tikus-tikus ini biasanya takut akan air. Biarlah kau suruh mereka mandi agar tidak terlalu berbau busuk!”

Lie Bun mengerti maksud gadis itu, maka sebentar saja terdengar suara teriakan dan tahu-tahu dengan kedua tangannya Lie Bun berhasil menangkap batang leher kedua saudara Liu dan dengan cepat ia lempar mereka ke sungai.

Sekali ia bergerak dan dengan sebuah dorongan kuat, Leng Kak terhuyung-huyung dan akhirnya juga jatuh ke dalam sungai!

Setelah minum banyak air sungai, akhirnya dapat juga ketiga maling itu ditolong oleh kawan-kawannya dan mereka merangkak ke darat.

Seluruh tubuh dan pakaian mereka yang hitam menjadi basah kuyup hingga benar- benar merupakan tiga ekor tikus air! Mereka lalu memandang Lie Bun dengan mata menyala, kemudian tanpa pamit lagi mereka bertindak pergi diikuti kawan-kawannya.

Para pemimpin copet tertawa besar.

“Lie-taihiap, sungguh kau luar biasa dan hebat sekali! Hal ini harus kita rayakan. Hayo kawan-kawan, sediakan arak wangi untuk Lie-taihiap!” berkata Swat Cu dan kembali mereka masuk ke dalam perahu besar dan seorang pencopet lalu mengeluarkan seguci arak wangi yang sangat keras.

Sebetulnya Lie Bun kurang biasa minum arak keras, maka setelah ia minum beberapa cawan karena gembiranya, ia menjadi mabok dan jatuh tertidur di atas meja! Ia tidak ingat apa-apa lagi dan tidak tahu betapa ia dipindahkan ke atas sebuah pembaringan dengan kasur yang empuk.

Menjelang senja Lie Bun terjaga dari tidurnya. Ia merasa kepalanya berat dan tubuhnya kaku semua. Pada saat ia hendak bangun, tiba-tiba terdengar suara Swat Cu berkata di luar pintu.

“Hayo lekas periksa dengan teliti dan kalau kau tidak bisa memberi obatnya, awas dan jaga kepalamu!”

Kemudian pintu kamar itu terbuka dan Lie Bun pura-pura tidur sambil mengintai dari balik bulu matanya.

Ternyata Swat Cu masuk dan diikuti oleh seorang tua yang berambut putih dan berpakaian sebagai sastrawan. Wajah kakek itu halus dan gerak-geriknya pun halus dan terang sekali bahwa ia seorang terpelajar.

Lie Bun tidak tahu bahwa Swat Cu telah memaksa orang tua itu datang ke kamarnya dan tidak tahu pula bahwa orang tua itu adalah Lie Ban Tong, tabib yang terkenal sekali di Nan-king sehingga mendapat julukan tabib dewa.

Karena keadaan dalam kamar itu sudah agak gelap, maka Swat Cu lalu menyalakan sebatang lilin. Tabib itu sambil dekatkan lilin pada muka Lie Bun, mulai melakukan pemeriksaan dengan teliti. Jari-jari tangannya yang halus itu beberapa kali mengusap- usap kulit muka Lie Bun hingga Lie Bun harus bertahan kuat-kuat karena merasa geli.

Setelah pemeriksaan beberapa lama, tabib itu berkata. “Kau tenanglah. Aku sanggup obati muka ini!”

Lie Bun berdebar hatinya. Diobati? Apa maksudnya? Tapi kedua orang itu bertindak keluar dan ia tidak keluar dan tidak mendengar apa-apa lagi.

Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk dan membawa makanan dan air dalam mangkuk.

“Siocia persilakan makan malam, kongcu,” katanya sambil meletakkan hidangan itu di dekat pembaringan.

“Terima kasih, eh di manakah aku sekarang? tanyanya.

Pelayan itu tertawa kecil. “Kau berada di kamar siocia! Sejak pagi tadi kau tidur saja!”

“Apa? Kamar siocia yang mana? Kau maksudkan pangcu?”

Pelayan itu mengangguk. “Sudahlah, jangan ribut-ribut. Pangcu atau Oey-siocia itu sudah berlaku baik sekali terhadapmu dan ia bahkan telah menyerahkan kamarnya untukmu sedangkan ia sendiri tidur di kamar lain. Kau harus berterima kasih atas budi kecintaannya ini, kongcu!”

Lie Bun tidak jadi berdiri dan ketika pelayan itu meninggalkannya, ia duduk termenung.

Alangkah baiknya nona Swat Cu itu. Baru saja kenal telah merawatnya begini baik, bahkan telah bersusah payah mendatangkan tabib untuk mengobati mukanya.

Tiba-tiba ia terkejut ketika teringat akan kata-kata pelayan tadi. Budi kecintaan? Apakah nona yang gagah dan menjadi pangcu itu cinta padanya? Tak mungkin nona gagah dan cantik itu cinta padanya, sedangkan ia buruk rupa?

Ia lalu mengenangkan kembali peristiwa-peristiwa pagi tadi. Cinta Kasih Murni (Tamat)

TIBA-TIBA ia teringat dan ia loncat bangun lagi. Ah, bukankah nona itu tertarik dan kagum padanya karena pertempuran tadi?

Mungkin nona itu sangat kagum setelah ia mengusir ketiga musuhnya dan jatuh cinta. Tapi tabib itu? Lie Bun tersenyum pahit. Tentu saja Swat Cu ingin sekali melihat ia menjadi tampan, jadi betapapun juga, gadis ini tidak menyukai mukanya yang buruk, dan yang disukai hanyalah kepandaiannya saja.

Tentu akan lain halnya kalau ia tidak berkepandaian tinggi. Ah dan ia menjadi

kecewa. Tapi karena kepalanya masih terasa berat, ia lalu makan sedikit dan tidur lagi dengan nyenyaknya!

Pada keesokan harinya, ia mendengar lagi suara tabib yang lemah lembut itu, disusul suara Swat Cu yang lembut.

“Kau sungguh keras hati, nona. Kau kuat menunggu aku sampai semalam penuh membuat obat itu, sungguh mengagumkan!” tabib itu memuji.

Lie Bun terkejut, jadi tabib itu dengan Swat Cu telah sibuk semalam penuh dalam pembuatan obat untuk mukanya! Cepat Lie Bun bangun dan bereskan pakaiannya lalu ia membuka pintu kamarnya.

Ternyata tabib itu sedang duduk menghadapi secangkir teh dan di depannya duduk Swat Cu yang rambutnya agak kusut dan mukanya mengantuk. Dan di dekat cawan teh itu tampak sebuah bungkusan kecil.

Melihat Lie Bun telah bangun, Swat Cu berdiri dan menyambutnya dengan senyum. “Lie-taihiap, enakkah tidurmu?”

Melihat sikap ini, Lie Bun merasa tidak enak kalau tidak menjawab, maka iapun berkata.

“Terima kasih atas segala kebaikanmu, pangcu. Sekarang perkenankanlah aku kembali ke hotelku dan maafkan bahwa selama ini aku telah mengganggumu.”

“Eh, Lie-taihiap, nanti dulu. Silakan duduk dulu, taihiap.” Terpaksa Lie Bun duduk di atas sebuah bangku.

Tabib itu lalu berkata kepada Swat Cu. “Kau telah tahu cara menggunakannya, nona yakni kuulangi lagi. Masak dengan air semangkuk sampai airnya habis. Lalu campur dengan embun yang terkumpul di ujung daun-daun bambu sampai basah betul.

Biarkan menempel di muka sampai satu hari satu malam lamanya, pasti akan berhasil dan sembuh!”

Setelah berkata demikian, tabib itu lalu berpamitan dan meninggalkan tempat itu sambil membawa sebuah bungkusan yang tampak berat, agaknya uang perak hadiah dari Swat Cu.

“Pangcu, sekarang terpaksa aku juga harus pamit,” kata Lie Bun sambil berdiri.

“Tunggu sebentar, taihiap. Aku merasa sangat kagum dan berterima kasih kepadamu. Untuk menyatakan terima kasihku, maka sukalah kau terima pemberianku ini. Bukan barang berharga, melainkan semacam obat yang kau telah mendengar sendiri cara pemakaiannya tadi. Sesungguhnyaaku ingin sekali diberi kesempatan untuk mengobati mukamu, taihiap. Aku ingin sekali bahwa aku dan tanganku sendiri yang mengerjakan pengobatan itu, tapi ” gadis itu menundukkan mukanya dengan pipi

kemerah-merahan.

Celaka, pikir Lie Bun. Dugaannya benar! Ia merasa tidak enak kalau menolak pemberian ini, karena ternyata betapa gadis ini dengan sabar menunggu tabib itu mengerjakan dan membuat obat ini sampai semalam penuh. Maka ia lalu berkata sambil tersenyum.

“Pangcu, kau benar-benar baik hati. Baiklah, pemberianmu kuterima dengan senang hati dan terima kasih. Tapi aku tidak berani mengganggumu dan membuatmu repot, pula akupun sebenarnya tidak ingin menjadi tampan. Tapi ” sambungnya ketika

melihat betapa Swat Cu merasa terpukul dengan pernyataan ini. “Siapa tahu, mungkin sewaktu-waktu aku perlu dengan obat pemberianmu ini.” Setelah berkata demikian, maka Lie Bun terima bungkusan obat yang telah diangsurkan oleh Swat Cu itu.

“Nah, selamat tinggal, nona. Aku akan selalu mengingatmu sebagai seorang yang baik dan ramah tamah.”

“Tapi, tapi ..... kau hendak kemana taihiap? Tidakkah    kau kembali lagi kesini?”

Lie Bun tersenyum. “Tentu, kalau aku kebetulan lewat kota ini, tentu aku akan mampir kesini.”

“Ah, alangkah baiknya kalau      kalau kau suka di sini, taihiap.”

“Tak mungkin, nona. Aku harus kembali ke tempat tinggalku di Bi-ciu.”

Maka, Lie Bun tinggalkan nona kepala copet yang lihai itu dengan perasaan kasihan, sungguhpun ia tahu bahwa nona itu mencintainya karena kepandaiannya, bukan karena sewajarnya.

Setelah tiba dihotelnya, Lie Bun keluarkan bungkusan obat itu dan ia pandang obat yang ditaruh di atas meja itu lama sekali. Timbul perang di dalam hatinya.

Alangkah baiknya kalau ia pakai obat itu dan ternyata berhasil. Ia akan berubah tampan, kulit mukanya akan putih dan cakap, seputih Lie Kiat, secakap kakaknya itu.

Ia akan disukai orang, tidak diejek dengan julukan si muka buruk lagi. Ia akan dapat membanggakan kecakapannya. Ia akan dicintai oleh ya oleh siapa? Apa artinya

dicintai seluruh orang di muka bumi ini kalau Kwei Lan tidak mencintainya?

Kwei Lan tidak mungkin mencintainya karena gadis itu kini telah menjadi isteri Lie Kiat, telah menjadi kakak iparnya. Tapi Kwei Lan juga tidak tergila-gila muka

tampan. Sekarang, setelah tiada seorangpun gadis yang diharapkan olehnya, untuk apa ia menjadi tampan? Tiada guna! Dengan tak terasa ia ambil obat itu dan masukkan ke sakunya.

Pada hari itu juga Lie Bun melanjutkan perjalanannya karena ia dengan sengaja tinggalkan kota itu cepat-cepat agar dapat terlepas dari Swat Cu.

Ia melakukan perjalanan sepanjang pantai laut timur dan tidak lupa tiap kali bertemu dengan peristiwa yang membutuhkan bantuan tenaganya, ia selalu melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa demi membela kebenaran dan keadilan.

Karena sepak terjangnya yang memang menggemparkan berkat kepandaiannya yang tinggi itu, sebentar saja namanya sebagai Ouw-bin Hiapkek telah menjadi terkenal sebagai seorang pendekar muda yang budiman, yang selalu membantu orang yang kesusahan.

Setelah merantau kurang lebih enam bulan, maka Lie Bun lalu putar arah perjalanannya menuju pulang. Kini ia ambil jalan darat dan tempuh perjalanan yang sangat jauh itu dengan berkuda.

Juga pada waktu pulangnya, di tiap tempat yang dilewatinya, ia selalu melepas tenaga membela mereka yang perlu ditolong. Ia sengaja tidak melewati Nan-king, tapi memutar ke selatan melalui Han-kou.

Beberapa bulan kemudian tibalah ia kembali di kotanya.

Kalau dihitung semenjak ia tinggalkan kota itu pergi merantau, maka ia telah pergi kurang lebih sebelas bulan. Nyata bahwa ia tidak boleh pergi lebih lama dari pada setahun.

Ketika ia hendak masuk pekarangan rumah orang tuanya, hatinya sudah dak dik duk tidak karuan karena ia takut kalau-kalau ia akan bertemu dengan Kwei Lan yang pasti sudah menjadi isteri Lie Kiat dan tinggal di rumahnya itu.

Tapi ia heran karena di rumahnya sunyi saja. Seorang pelayan yang melihat datangnya segera lari masuk memberi laporan dan sebentar kemudian ayah ibunya berlari-lari keluar menyambutnya.

Lie Bun memberi hormat kepada mereka dengan girang dan ibunya senang sekali melihat puteranya yang kedua ini kembali dengan selamat, bahkan tampak lebih matang air mukanya.

Karena melihat kesunyian rumah itu, Lie Bun serentak bertanya. “Ayah, ibu, mana twako?”

Ayah dan ibunya saling pandang hingga Lie Bun merasa terkejut dan menyangka yang bukan-bukan.

“Dimana dia?” Lie Bun mendesak. Ayahnya menjawab sambil menghela napas. “Ia di belakang, mungkin di kebon seperti biasa.”

Lie Bun lalu berlari-lari ke belakang, dipandang oleh ayah dan ibunya sambil geleng- geleng kepala.

Benar seperti kata ayahnya, Lie Kiat sedang duduk di pinggir empang sambil melamun. Ia tampak sedih sekali dan ketika ia menengok dan memandang Lie Bun.

Lie Bun terkejut melihat betapa wajah yang tampan itu kini nampak tua. Padahal Lie Kiat baru juga berusia paling banyak dua puluh tiga tahun.

“Twako, kau kenapa? Dan mana isterimu?”

Lie Kiat pada waktu melihat adiknya datang, wajahnya menjadi girang, tapi hanya sebentar. Apalagi ketika Lie Bun bertanya demikian, mukanya menjadi muram.

“Ah, nasibku memang ternyata lebih buruk darimu, Lie Bun!” “Kenapa, twako, kenapa? Apa belum juga kau kawin?”

Lie Kiat geleng-geleng kepalanya. “Aku telah minta kepada ayah dan ibu untuk mengijinkan aku kawin dengan Cui Im, tapi mereka tidak memberi izin, bahkan marah-marah kepadaku.”

Lie Bun terkejut. “Dengan Cui Im? Mengapa begitu? Ah, apa yang terjadi, twako? Kenapa kau tidak kawin dengan nona Lo?”

“Dia itulah yang menimbulkan persoalan ini!” jawab kakaknya dengan wajah muram. “Beberapa bulan yang lalu, ketika perkawinanku dengan dia kurang tiga hari dilangsungkan, tiba-tiba datang berita dari Lun-kwan yang membuat aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ternyata gadis she Lo itu agaknya membenci aku sedemikian rupa, atau agaknya ia sakit hati padaku sedemikian hebatnya sehingga ia mengambil keputusan nekad.”

“Apa?” kedua mata Lie Bun terbelalak dan wajahnya pucat sekali. “Kau maksud ia

...ia     ”

Lie Kiat geleng-geleng kepala dengan sedih. “Tidak, ia tidak membunuh diri, tapi lebih hebat dari pada itu. Ia telah menjadi nikouw di kelenteng Kwan-im di Kwie-cu!”

Lie Bun menghela napas lega. “Ah, tapi mengapa, twako?” “Mengapa? Siapa yang tahu mengapa!”

“Twako, bukankah ia tunanganmu? Kau harus mencari tahu, kau harus hibur hatinya. Siapa tahu, mungkin ia marah karena dulu kau maki-maki dia. Mungkin kalau kau datang minta maaf, dia akan ubah kenekatannya itu!” “Ah, mana bisa. Sedangkan ayah ibunya sendiri menangis-nangis dan membujuknya, tapi ia tidak mau menurut.”

“Kenapa mereka tidak mau menggunakan kekerasan?”

“Ah, ayah ibunya terlalu sayang kepada anak tunggal mereka, maka mereka lalu batalkan perkawinan dan melepaskan ikatan jodohnya dengan aku!”

“Tapi, twako, kau harus kasihani dia. Hayo kuantar kau pergi ke sana untuk membujuknya. Siapa tahu, ia akan berubah pikiran melihatmu.”

Mendengar bujukan adiknya ini, timbul pula harapan Lie Kiat.

Memang ia telah tergila-gila melihat kecantikan Kwei Lan. Dengan semangat baru, Lie Kiat kenakan pakaiannya yang terindah dan setelah memberi tahu kepada ayah ibunya bahwa mereka hendak mengunjungi nona Lo di kelentengnya.

Lie Ti dan isterinya hanya bisa saling pandang saja.”

“Ah, sungguh anak kita Lie Bun itu mempunyai hati dari pada emas, jauh bedanya dengan watak Lie Kiat,” kata nyonya Lie.

“Memang, kebagusan di luar belum tentu mencerminkan keadaan di dalam,” kata Lie Ti sambil menghela napas.

Kedua saudara itu dengan cepat menuju ke Kwei-ciu. Mereka tidak tahu bahwa dari jauh seorang pemuda cakap mengejar mereka dengan diam-diam.

Pemuda cakap itu agaknya tahu bahwa kedua saudara itu lihai, maka ia berlaku hati- hati sekali dan hanya mengikuti mereka dari jauh. Gagang sebatang pedang tampak menonjol di punggungnya.

Sebetulnya tidak mudah bagi orang luar untuk mengunjungi seorang nikouw dari Kwan-im-bio, Tapi karena Lie Kiat telah terkenal sekali dan ayah pemuda itu terkenal sebagai penderma terbesar dari kelenteng ini, maka kedua pemuda itu diperkenankan masuk dan menanti di ruang tamu.

Kami hendak bertemu dengan Lo-siocia yang masuk menjadi nikouw di sini,” kata Lie Kiat.

“Tapi kongcu       dia tidak mau bertemu dengan siapa juga, bahkan ayahnya yang

kemaren datang ke sini tidak dapat bertemu dengan dia.”

Lie Kiat menjadi marah. “Katakan bahwa aku Lie Kiat dan Lie Bun hendak bertemu. Kalau ia tidak mau, aku akan memaksa masuk, tak perduli apa yang akan terjadi!”

Nikouw yang menyambut tamu itu menjadi ketakutan dan buru-buru ia lari ke dalam untuk memberitahukan kepada yang berkepentingan. Lie Kiat menanti dengan uring-uringan, sebaliknya Lie Bun duduk dengan sabar dan hati berdebar.

Setelah menanti agak lama, dari dalam terdengar tindakan kaki yang halus dan ringan. Pintu terbuka dan tubuh seorang nikouw yang sangat ramping muncul dari pintu.

Nikouw itu memakai kerudung sutera hitam di atas kepala sampai ke dada hingga

mukanya tidak tampak. Tapi biarpun demikian, tubuh yang berpakaian sederhana sekali itu membayangkan bentuknya yang menggiurkan hingga Lie Kiat diam-diam mengagumi.

Muka yang berkerudung itu memandang kepada Lie Kiat sebentar, kemudian berpaling dan memandang ke arah Lie Bun dan agaknya ia terkejut dan tidak menduga bahwa Lie Bun berada pula di situ.

“Lie kongcu, kau memaksa hendak bertemu aku, ada keperluan apakah?” terdengar suara Kwei Lan yang merdu dan halus tapi terdengar ketus.

“Aku ..... kami ...... eh. ” Lie Kiat berkata gagap hingga diam-diam Lie Bun

menjadi geli.

“Duduklah Lie Kongcu dan katakan dengan tenang,” kata Kwei Lan. Lie Kiat lalu duduk dan Kwei Lan duduk pula.

“Twako, perlukah aku keluar sebentar?”

“Tidak usah kau keluar, Lie-inkong. Kami tidak akan bicara tentang suatu rahasia. Kau duduklah saja.” Kwei Lan dengan cepat , berkata.

“Duduklah Lie Bun, tak perlu kau keluar.” Lie Kiat membenarkan. Kemudian setelah beberapa kali menelan ludah, Lie Kiat berkata.

“Lo-siocia, aku aku datang mohon maaf darimu jika kiranya aku yang

menyebabkan kau mengambil keputusan nekad ini. Aku harap saja, mengingat ikatan di antara kita, kau akan memaafkan kekasaranku dulu dan jika kau mau aku akan

merasa bahagia sekali untuk menyambung kembali ikatan yang kau putuskan itu

.......”

Mendengar kata-kata ini, Kwei Lan tundukan mukanya dan tidak menjawab.

Lie Bun merasa perlu untuk membantu kakaknya karena ia merasa terharu mendengar kata-kata kakaknya yang menyatakan cintanya terhadap gadis itu.

“Nona Lo, perkenankanlah aku bicara sedikit,” kata Lie Bun.

Kwei Lan gerakan kepalanya dan memandang ke arah Lie Bun melalui sutera hitam tipis itu, lalu ia mengangguk.

“Nona Lo, kasihanilah kakakku yang mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Semenjak kau masuk kesini, dia bagaikan seorang yang kehilang ingatan. Maka aku harap kau suka menaruh belas kasihan kepadanya, tidak saja kepadanya, tapi juga kepada ayah ibuku, kepada orang tuamu sendiri. Maafkanlah dia jika kiranya ia bersalah kepadamu, nona dan ... dan ... kau terimalah permintaannya.”

Terdengar sedu sedan tertahan dibalik kerudung itu. Agaknya nona ini terharu sekali mendengar ucapan Lie Bun yang diucapkan dengan suara gemetar. Setelah beberapa kali mengangkat tangannya dan mengusap mukanya, agaknya menyusut air mata, terdengar Kwei Lan berkata.

“Alangkah halusnya budi pekertimu, Lie-inkong. Kau katakan bahwa Lie-kongcu menyintai aku. Ah, Lie-kongcu, benarkah ini?”

Ditanya langsung seperti ini, terkejutlah Lie Kiat dan buru-buru ia berkata. “Tentu saja aku cinta padamu, nona.”

“Benar-benarkah itu kongcu? Coba kau ulangi lagi kata-katamu. Benar-benarkah kau cinta padaku?” berkata Kwei Lan dengan keras.

“Haruskah aku bersumpah? Nah, inilah adikku menjadi saksi. Aku benar-benar cinta sepenuh jiwaku kepadamu, nona Kwei Lan.”

Terdengar ketawa kecil mencemoohkan dari balik kerudung dan Kwei Lan lalu berdiri mendekati Lie Kiat yang berdiri juga.

Lie-kongcu, sekali lagi aku harap kau nyatakan dengan keras, benar-benarkah kau cinta padaku? Lihatlah mukaku, lihat!”

Sambil berkata demikian, ia renggut kerudungnya hingga terlepas dan mukanya kelihatan.

“Nah, kau lihat dan katakan sekarang, betul-betulkah kau cinta padaku?”

Ketika kerudung itu sudah terbuka, Lie Bun menjerit. “Kwei Lan!” suaranya tergetar mengandung perasaan kaget, heran dan kasihan. Sedangkan Lie Kiat ketika melihat muka itu lalu terhuyung ke belakang bagaikan kena sambar petir. Ia mundur-mundur dengan mata terbelalak.

“Lie-kongcu, cepat jawab! Cintakah kau padaku? Hayo katakan, katakan dengan keras!”

Lie Kiat gunakan tangan kanannya menutupi mukanya dan ia berkata.

“Ya, Tuhan ......... apakah yang terjadi dengan mukamu? Ah ... tidak ...tidak!”

Tiba-tiba Kwei Lan tertawa keras sambil gunakan ujung lengan baju menutup mulutnya. “Hayo ... kau katakan tentang cinta hayo kau bujuk rayu aku, Lie-

kongcu ha ha ha!”

Dan Kwei Lan lalu jatuhkan diri di atas bangku dan menangis terisak-isak sambil gunakan kerudung yang direnggutnya tadi menutupi mukanya. Lie Kiat hendak loncat keluar dari ruangan itu, tapi secepat kilat Lie Bun menghalanginya dan memegang lengannya erat-erat. “Twako, hayo kau katakan bahwa kau masih tetap cinta padanya! Katakan bahwa apapun yang terjadi dengan dia, kau tetap mencintainya dan suka ambil dia untuk menjadi isterimu!”

“Tidak ..... tidak ” kata Lie Kiat dengan pucat.

“Twako! Bukankah kau seorang jantan? Bukankah kau seorang gagah? Apakah kau akan menjilat kembali kata-kata yang telah kau keluarkan? Twako, berlakulah sebagai laki-laki!”

“Tidak, Lie Bun! Tidak mungkin aku mengawini seorang cacad mukanya seperti ini. Tidak!”

Dan pada saat itu tangan Lie Bun sudah jatuh di mukanya hingga Lie Kiat terhuyung- huyung ke belakang dengan muka berdarah.

“Hayo, kau minta maaf padanya dan menyatakan cintamu. Kalau tidak, demi Tuhan kubunuh kau, twako!”

“Tidak, tidak Lie Bun. Kau gila!”

“Kalau begitu, kau betul-betul akan mati di tanganku!” kata Lie Bun sambil bertindak maju dengan wajah mengancam.

Lie Kiat melihat wajah adiknya ini, tiba-tiba menjadi nekad karena takut. Ia loncat menerjang dengan sepenuh tenaganya. Tapi dengan mudah saja Lie Bun menangkapnya dan melemparkannya ke dinding hingga ia roboh sambil merintih- rintih.

“Twako, dulu aku telah bersumpah. Kalau kau membikin dia sengsara, kau akan kubunuh!”

Pada saat itu terdengar pekik Kwei Lan. “Lie-koko! Jangan kau menjadi pembunuh saudara sendiri!”

Dan berbareng pada saat itu, dari luar berkelebat masuk bayangan seorang pemuda dengan pedang terhunus di tangan. Ia berdiri menghadang di depan Lie Bun dengan menggertak gigi dan mata menyala.

“Lie taihiap, kalau kau hendak membunuh Lie-koko, kau harus dapat melalui mayatku lebih dulu!”

“Nona Cui Im    ” Lie Bun berkata terharu.

Tubuhnya menjadi lemas melihat betapa nona itu demikian besar rasa cintanya terhadap Lie Kiat hingga rela berkorban jiwa untuk membelanya.

Sementara itu, Kwei Lan telah mendekatinya dan memegang lengannya. “Dengar Lie koko, aku aku tidak menderita karenanya, karena aku tidak pernah

mencintainya.”

Lie Bun mendengar kata-kata ini merasa bagaikan dalam mimpi. “Apa apa katamu?”

Kwei Lan lalu menarik dia duduk di atas sebuah bangku dan nona itu duduk di depannya.

Sementara itu, Cui Im yang berpakaian sebagai seorang pemuda yang semenjak tadi mengikuti Lie Kiat dan Lie Bun, kini menarik bangun pemuda kekasihnya itu dan membantunya keluar dari bio itu.

Lie Bun memandang gadis yang duduk menangis di depannya. “Nona, betulkah kau tidak menderita karenanya?”

“Tidak, sejak dulu aku tak pernah mencintainya. Setelah kau dipukul dulu itu. Aku menjadi sangat benci padanya. Karena benci itulah maka aku menjadi nikouw di sini.”

“Dan mukamu itu kenapakah, Kwei Lan?” tanya Lie Bun dengan sangat kasihan. “Kutusuk-tusuk dengan jarum.”

“Apa? Mengapa?” Lie Bun bertanya dan merasa ngeri.

“Mengapa? Ah, biar aku tidak dicintai oleh orang-orang semacam Lie-kongcu itu.”

Lie Bun merasa heran. “Heran sekali, sungguh aku merasa tidak mengerti mengapa kau rusak mukamu sendiri yang cantik itu Kwei Lan.”

“Lie koko, bukankah kalau begini aku dapat membuka rahasia hatinya? Aku tahu, pemuda-pemuda seperti dia itu hanya sampai di kulit saja cintanya. Rusakkanlah kulit yang dicintainya itu, maka ia akan berbalik muka! Dan bagiku, perasaan suci itu hanya di kulit, Lie koko. Apa artinya di luar indah kalau di dalamnya busuk?”

Mendengar kata-kata ini, Lie Bun berdebar karena merasa tersindir.

“Kwei Lan, semenjak dulu aku .... aku ah, mukaku buruk sekali. Karena itulah

dulu .... di pinggir empang itu aku lari. Aku lari darimu, Kwei Lan karena kau

begitu cantik dan aku aku begini buruk. Aku menjadi takut dan aku lari pergi!”

Kwei Lan mengeluarkan sebuah kipas dari lipatan bajunya. Ia buka kipas itu dan Lie Bun menahan napas ketika ia melihat bahwa kipas itu ialah kipas yang ia lukis dulu!

Gambar wajahnya masih ada di situ, dengan muka totol hitam!

Kwei Lan lalu membalikkan kipas itu dan di situ terdapat gambar Kwei Lan, tapi Lie Bun melihat betapa wajah di gambar itupun telah ditotol-totol hitam pula. “Kau lihat koko. Bukankah kita sekarang sudah sama?”

“Kwei Lan, kau maksudkan bahwa aku ..., kau tidak jijik melihat mukaku?”

Kwei Lan buka kerudungnya hingga tampak kedua pipinya yang hitam dan totol-totol itu, tapi sepasang matanya bening bagaikan mata burung Hong.

“Dan katakanlah, apa kau juga tidak jijik melihat mukaku yang seburuk ini?” Lie Bun memegang kedua tangan gadis itu.

“Tidak, Kwei Lan, kau masih tetap Kwei Lan bagiku, biar mukamu berubah bagaimana juga! Aku ... semenjak pertemuan kita dulu telah mencintaimu ”

“Dan kau aku mengagumimu karena kau gagah, berbudi, setia dan berjiwa luhur.

Tiada laki-laki di dunia ini yang melebihi kau bagiku.” Suara gadis yang merdu ketika mengucapkan kata-kata ini, bagi Lie Bun terdengar bagaikan nyanyian surga yang membuat ia terayunayun ke surga ke tujuh. Tiada kebahagiaan yang lebih besar pernah dirasainya seperti pada saat ini!

“Kwei Lan, kalau begitu, aku akan memberitahukan kepada orang tuaku. Mereka tentu akan datang melamarmu, tapi kau kau harus pulang dulu!”

Kwei Lan mengangguk. “Ini hari juga tentu aku pulang dan menanti-nanti berita girang darimu.”

“Kwei Lan!” Lie Bun hanya dapat berkata demikian sambil pegang jari-jari tangan gadis itu erat-erat. Kemudian ia tinggalkan gadis itu dan lari pulang secepat mungkin.

Ketika tiba di rumah, ayah ibunya berkata dengan khawatir.

Lie Kiat telah berkelahi dengan orang. Ia pulang dibantu oleh seorang gadis yang gagah ”

“Aku sudah tahu, ayah. Dan gadis gagah itu adalah seorang gadis yang betul-betul mulia hatinya dan patut menjadi isteri twako. Ayah dan ibu, demi kebahagiaan twako, izinkanlah dia mengawini gadis itu.”

Ayah dan ibunya saling pandang. “Jadi gadis yang membawa pulang Lie Kiat tadi

.....”

“Ya, dia itulah nona Cui Im yang gagah perkasa dan yang telah menolong jiwa twako dari bahaya maut!”

“Kalau gadis yang tadi akupun setuju. Ia cukup cantik manis. Sikapnya sopan santun dan untuk membela A Kiat, ia sampai berani keluar menyamar sebagai seorang pemuda ” kata nyonya Lie.

“Akupun tidak keberatan,” kata Lie Ti. Lie Bun girang sekali mendengar keputusan ini.

“Dan sekarang ada kabar baik lain lagi, ayah,” kata Lie Bun. Ayah dan ibunya memandang heran.

“Ada apa lagi?”

“Aku aku harap, ayah dan ibu suka melamarkan seorang gadis untukku.”

Ibunya girang sekali dan memeluknya. Juga ayahnya tersenyum senang.

“Katakan lekas, siapa gadis itu? Anak siapa dan di mana rumahnya?” kata ibunya dengan cepat.

“Orang dekat saja, ibu. Bukan lain ialah Lo-siocia, puteri Lo-wangwe di Lun-kwan!” Wajah ayah dan ibunya menjadi pucat. Bibir ibunya gemetar ketika ia bertanya. “Lie Bun, gilakah kau? Gadis bekas tunangan saudaramu itu?”

“Benar, ibu.”

“Bukankah ia sudah menjadi nikouw dan sudah memutuskan tali perjodohannya dengan Lie Kiat?”

“Ya, tapi kini aku yang menggantikan twako, karena twako sendiri tidak mau kawin dengan dia.”

“Apa?” tanya ayahnya. “Lie Kiat tidak mau kawin dengan dia?”

“Begini, ayah dan ibu. Coba tanyakan hal ini kepada twako. Kalau dia setuju aku mengawini nona Lo, maka besok pagi harap dilamarkan gadis itu untukku. Kalau tidak dengan gadis itu, aku tidak akan mau kawin dengan siapa pun juga.”

Dengan heran kedua orang tuanya melihat Lie Bun memasuki kamarnya dan mereka berdua berlari-lari memasuki kamar Lie Kiat yang masih merintih-rintih karena pundaknya sakit terbentur tembok tadi.

“Lie Kiat! Adikmu menjadi gila!” kata ibunya begitu masuk ke kamarnya. Lie Kiat balikkan tubuh dengan malas-malasan.

“Mengapa lagi, ibu?”

“Coba dengar! Ia minta dilamarkan bekas tunanganmu yang telah menjadi nikouw itu! Kau keberatan tentunya, bukan?” Untuk sesaat Lie Kiat terbelalak tak percaya. Benar-benar gila anak itu, mau mengawini seorang gadis yang mukanya telah berubah seperti muka setan! Kemudian ia tersenyum.

“Boleh saja, ibu. Aku tidak keberatan. Memang nona itu lebih pantas menjadi isteri Lie Bun.”

“Dan kau ... bagaimana kalau kami lamarkan gadis yang mengantarmu ... eh, siapa namanya tadi?”

“Cui Im,” kata suaminya.

Serentak Lie Kiat loncat bangun. “Benarkah, ibu?” tanyanya dengan girang. “Siapa yang memberitahukan kepada ibu?”

“Siapa lagi kalau bukan adikmu, Lie Bun!”

Maka terharulah hati Lie Kiat. Betapapun juga, Lie Bun memang seorang adik yang benar-benar luar biasa dan setia.

“Ibu, kawinkanlah kami berbareng, Aku dengan Cui Im dan Lie Bun dengan Lo- siocia!”

Ayah dan ibunya sling pandang, lalu mengangguk-angguk.

Setelah mengadakan perundingan dengan Lo-wangwe, ternyata Lo-wangwe tidak keberatan menyerahkan puterinya untuk menjadi isteri Lie Bun, apalagi ketika mereka mendengar dari Kwei Lan bahwa pemuda itu bukan lain ialah penolong mereka di

Bok-chun dulu. Ketika Lo-wangwe dan isterinya minta pendapat tentang lamaran itu, Kwei Lan hanya menundukkan muka dengan muka merah, maka mengertilah kedua orang tuanya bahwa gadis itu telah setuju.

Karena mengawinkan kedua puteranya dengan berbareng, maka gedung keluarga Lie dihias indah sekali.

Di dalam kamar penganten, Lie Bun mendatangi Lie Kiat dan memeluk kakaknya sambil berbisik.

“Twako, maafkanlah adikmu.”

Lie Kiat balas memeluk. “Akulah yang seharusnya minta maaf, adikku.” Maka semenjak saat itu, lenyaplah ganjalan hati di antara keduanya.

Setelah penganten bertemu, di mana Cui Im dan Kwei Lan dikerudung seluruh tubuhnya hingga tak tampak orangnya ditemukan dengan Lie Kiat dan Lie Bun.”

Lie Kiat lalu memboyong pengantennya ke rumah orang tuanya, sedangkan Lie Bun atas kehendaknya sendiri dan kehendak mertuanya, tinggal di rumah mertuanya di Lun-kwan. Malam hari itu setelah semua tamu pulang, Lie Bun memasuki kamar penganten di mana Kwei Lan duduk di atas pembaringan dengan muka masih dikerudung.

Ketika Lie Bun hendak membuka kerudung itu, Kwei Lan menahannya karena ia merasa malu.

“Kwei Lan, alangkah bahagianya perasaan hatiku memikirkan bahwa kau kini telah menjadi isteriku. Kwei Lan aku membawa semacam hadiah untukmu. Bukan barang berharga, melainkan sebungkus obat, isteriku.”

“Obat? Obat apakah, koko?”

“Obat untuk kulit mukamu. Obat ini mustajab sekali. Kwei Lan, dan setelah dipakai maka mukamu akan pulih kembali seperti sedia kala, halus dan cantik.”

“Hm, kalau begitu kau tidak senang mempunyai isteri yang mukanya buruk sepertiku?” tanya isterinya dengan suara manja.

“Hush bukan begitu, Kwei Lan. Kau tahu, betapapun berubah mukamu, aku akan

tetap mencintaimu. Tapi tidak senangkah kau kalau mukamu sembuh kembali? Pakailah obat ini, Kwei Lan !”

“Jangan twako. Kaulah yang harus pakai obat itu!

“Mengapa aku? Apa kau malu melihat mukaku yang buruk?” Digoda demikian, Kwei Lan mencubit lengan suaminya.

“Bukan begitu, tapi kau pakailah dulu obat itu. Kalau berhasil, mudah saja mencari lagi untukku”

Maka teringatlah Lie Bun bahwa obat itu adalah buatan seorang tabib di Nan-king. Ia tepuk-tepuk kepalanya. “Ah, mengapa aku tidak ingat hal ini? Alangkah bodohnya aku!”

Ia lalu menuturkan kepada isterinya bagaimana cara menggunakan obat itu. Dan Kwei Lan lalu berkeras menyatakan bahwa Lie Bun harus segera pakai obat itu, malam itu juga!

“Eh, eh! Mengapa kau begitu tidak sabar? Mengapa harus malam ini? Inikan malam perkawinan kita!”

“Suamiku, apakah permintaan sedikit saja dari isterimu pada malam pertama ini tidak kau turuti?” tanya Kwei Lan dengan manja sekali. Lie Bun angkat pundak dan terpaksa mengalah. Kwei Lan dengan girang lalu masak obat itu dengan air semangkuk sampai habis airnya. Kemudian ia suruh pelayan mengumpulkan air yang tergantung pada daun-daun bambu. Malam itu juga ia berhasil membuat ramuan itu dan ia paksa suaminya berbaring telentang. Kemudian dengan halus dan hati-hati sekali, kedua tangannya yang halus lemas itu membedaki kulit muka Lie Bun dengan obat itu sampai tebal.

“Aduh! Gatal-gatal rasanya!” Lie Bun merintih.

“Hush, diamlah jangan bergerak, nanti obatnya jatuh,” tegur Kwei Lan.

Demikianlah sehari semalam lamanya Lie Bun telentang dengan tak berani gerak- gerakan mukanya. Ia makan dan minum dengan disuapi oleh isterinya yang tak pernah tinggalkan dia. Lie Bun tak dapat membuka mata dan ia hanya merasa puas dengan pegangan erat isterinya yang halus. Selama itu, Kwei Lan selalu masih pakai kerudungnya.

Pada malam kedua, maka cukuplah obat itu dipakai sehari semalam. Dengan dada berdebar-debar dan leher seakan-akan tersumbat karena menahan gelora hatinya, Kwei Lan mencuci muka Lie Bun. Ketika obat itu sudah tercuci habis dan muka itu sudah dikeringkan dengan kain, maka Kwei Lan memandang muka suaminya dan .....

ia tak tahan lagi karena girang dan terharunya. Ia tubruk suaminya dan menangis tersedu-sedu di atas dada Lie Bun!

Lie Bun heran dan bingung. Cepat ia bangun dan mengambil alat cermin untuk melihat mukanya sendiri. Hampir saja ia berteriak karena ia melihat muka Lie Kiat di dalam cermin itu! Sungguh ia sama benar dengan Lie Kiat setelah mukanya menjadi halus dan putih!

Lie Bun peluk isterinya. “Kwei Lan, kini kau harus buka kerudungmu.”

“Koko Apakah kau tidak jijik melihat mukaku yang buruk? Kau kan sudah

menjadi cakap dan tampan sekarang, isterimu masih buruk menakutkan.”

“Kwei Lan, jangan kau berkata begitu. Aku masih tetap Lie Bun yang kemarin, yang akan mencintaimu sepenuh jiwaku. Tak peduli kau akan berubah menjadi makhluk seburuk-buruknya di dunia ini!”

Kwei Lan memeluk suaminya. “Kalau begitu, suamiku, aku hanyalah isterimu yang rendah dan setia .... kau ... bukalah kerudungku ini ”

Dengan kedua tangan gemetar, Lie Bun buka kerudung yang menutup muka dan kepala isterinya. Ketika kerudung itu disentakkan ke atas hingga muka isterinya tampak, Lie Bun loncat ke belakang seperti tiba-tiba diserang senjata tajam. Ia berdiri kesima dan memandang wajah isterinya dengan mata terbelalak.

Kwei Lan memandangnya dengan bibir tersenyum semanis-manisnya dan mata cemerlang menatap semesra-mesranya. Dan wajah itu demikian cantik jelita,

lebih cantik malah dari pada dulu kulit pipinya begitu putih kemerah-merahan

dan halus .... rambut yang sebagian menutup jidatnya itu ah! Lie Bun kucek-kucek

matanya, lalu mencubit lengannya untuk menyatakan bahwa ia tidak sedang mimpi. “Kwei Lan !” “Koko !”

Mereka saling rangkul dan masing-masing mengeluarkan air mata karena terharu dan girang.

“Kwei Lan .... bagaimanakah ini .....? Sungguh aku tidak mengerti ”

“Aku hanya pura-pura, koko. Aku hanya memakai kedok pemberian ketua kelenteng Kwan-im-bio. Aku sengaja pakai itu untuk membuat kakakmu mundur teratur dan

sementara itu ...... aku selalu .... menanti-nantimu ”

“Kwei Lan, kau sungguh mulia ”

Dan mereka berdua hidup bahagia sampai hayat meninggalkan badan!

TAMAT