-->

Pengemis Tua Aneh Jilid 5

Jilid 5

“Apakah setan yang kau maksud itu?”

“Sudahlah, jangan kita bicarakan mereka di sini. Nanti saja kalau kita sudah keluar dengan selamat dari hutan ini, kuterangkan padamu,” jawab Lo Sam.

Ketika mereka tiba di tengah-tengah hutan, tiba-tiba dari pinggir melayang sebatang anak panah yang menancap di batang pohon besar di depan mereka.

“Nah, nah ...! Celakalah kita. Setan siang benar-benar muncul!” kata Lo Sam sambil mendekam di atas kudanya dengan tubuh gemetar.

“Oo, jadi kau maksudkan setan siang itu golongan perampok?”

Pada saat itu dari kanan kiri berlompatan keluar orang-orang tinggi besar yang kesemuanya memegang golok telanjang. Wajah mereka semua bengis-bengis dan yang mengepalai mereka adalah seorang tinggi besar yang tampaknya kuat sekali serta bersenjata sepasang ruyung besi yang besar dan berat.

“Hayo kalian berdua turun dari kuda dan tinggalkan semua barang bawaanmu!” bentak kepala rampok itu.

Menggigillah seluruh tubuh Lo Sam dan ia segera membaca liam-keng penolak setan. Mendengar ini, kepala rampok itu membentak.

“Hei, kau orang tua! Lekas turun!”

Lo Sam menjadi pucat dan ia berkata gagap. “Tet .....tet....tetapi ...!” “Tidak ada tapi, hayo lekas turun dan tinggalkan semua barang dan kuda! “Ampun tay-ong..... tapi ....ini .... adalah .... adalah barang mas kawin. ” Kepala rampok itu menjadi tidak sabar dan mengangkat ruyungnya hendak dipukulkan. Lo Sam tiba-tiba menjadi gesit, ketika ia lompat turun dari kudanya karena ketakutan. Ia lari ke arah Lie Bun dan peluk pemuda itu sambil sembunyikan muka di belakang tubuh Lie Bun. Lie Bun lepaskan dirinya dan menghadapi kepala rampok itu.

“Kami adalah pelancong-pelancong bukan pedagang, maka harap saja tay-ong suka maafkan dan lepaskan kami!”

Kepala rampok itu memandangnya dengan teliti, tapi karena ia belum kenal maka ia membentak.

“Kau bicara seperti seorang kang-ouw, siapakah nama dan julukanmu?” “Orang-orang menyebutku Ouw-bin Hiap-kek.”

“Ah, aku tidak kenal. Kau harus tinggalkan semua barang dan kuda. Baru kami dapat memberi jalan.”

Lie Bun sedang bergembira dan menghadapi urusan lamaran yang menggirangkan hatinya, maka ia tidak mau mencari permusuhan dan tidak ada nafsu untuk berkelahi. Maka ia mencari akal lain dan kemudian berkata.

“Tay-ong, sekarang begini saja baiknya. Aku tidak mau menjatuhkan banyak korban di antara orang-orangmu. Kalau kau bersikeras hendak merampas barang-barang dan kudaku, sekarang diatur begini saja. Dengan sepasang ruyungmu itu kau menyerang aku dalam sepuluh jurus. Kalau kau bisa menjatuhkan aku dalam sepuluh jurus, maka kau boleh memiliki semua ini. Kalau tidak kau harus lepaskan kami. Bagaimana?”

Terdengar suara tertawa di antara para anak buah perampok. Pemuda kecil itu hendak melayani kepala mereka yang gagah? Ah, mungkin dalam satu kali gebrakan saja sudah pecah kepala pemuda itu.

“Hei, anak muda! Aku kagum mendengar keberanianmu. Tahukah kau bahwa ruyungku ini selama bertahun-tahun belum pernah terkalahkan? Kau hendak menghadapi aku dengan senjata apakah?”

Lie Bun perlihatkan kedua tangannya. “Dengan ini, aku tidak biasa bersenjata.”

Kepala rampok itu tertawa menyeringai. “Anak muda, agaknya kau mencari mampus!”

Sementara itu, Lo Sam yang sejak tadi menutupi mukanya karena takut dan ngeri, kini mengintai dari balik celah-celah jarinya. Mendengar bahwa Lie Bun hendak menghadapi raksasa itu dengan tangan kosong, ia segera berseru. “Ya, Allah, jangan begitu! Ji-kongcu apakah kau sudah bosan hidup? Kalau kau mati, siapakah yang

akan kulamarkan?”

Kepala rampok itu tertawa geli, kemudian ia berkata. “Karena kau sendiri yang menghendaki, nah, bersiaplah untuk mampus!”

Lie Bun lalu loncat ke tempat yang agak luas, diikuti kepala rampok itu yang mengayun-ayunkan kedua ruyungnya. Setelah mereka berhadapan, kepala rampok itu lalu mengirim serangan pertama. Pukulan ruyungnya begitu hebat dan keras hingga mendatangkan suara mengaung dan menggerakkan daun-daun pohon yang berdekatan.

“Satu!” Lie Bun menghitung sambil berkelit cepat hingga ruyung itu menyambar di dekatnya. Ruyung kedua yang menyusul dapat juga dikelitnya. Kepala rampok menjadi penasaran sekali dan menyerang bertubi-tubi, makin cepat dan keras. Tapi Lie Bun dengan tenang dan enaknya loncat ke sana ke mari berkelit sambil menghitung jurus-jurus lawannya.

Setelah menghitung sampai sepuluh, Lie Bun berkata keras. “Nah, sepuluh jurus telah lewat, tay-ong. Kau kalah!”

Setelah berkata begitu, Lie Bun lalu berjalan seenaknya ke arah kudanya. Ia tidak tahu agaknya bahwa Kepala rampok itu dengan marah sekali mengejarnya dan dari belakang menghantamkan ruyungnya ke arah kepala Lie Bun dengan keras sekali.

Terdengar jerit Lo Sam dari atas kudanya, karena diam-diam ia telah naiki kudanya pula. Juga semua anak buah perampok merasa pasti bahwa kali ini pemuda muka hitam itu tentu akan remuk kepalanya.

Tapi kesudahannya membuat semua orang merasa heran. Dengan ringan dan lincah bagaikan seekor burung walet, Lie Bun miringkan kepalanya dan geser kakinya hingga ruyung itu menyerempet di dekat tubuhnya, lalu sambil berkata”Kau curang!” ia gunakan jari tangannya menotok.

Kepala rampok itu tiba-tiba berdiri bagaikan patung dengan ruyung di tangan dan sikapnya masih seperti hendak memukul.

Ternyata ia dengan tepat dan cepat sekali kena ditotok urat tai-twi-hiat di lambungnya hingga tubuhnya menjadi kaku.

Para anak buah perampok itu menjadi kaget sekali dan sambil berteriak-teriak ramai lebih dari dua puluh orang itu menyerbu ke arah Lie Bun.

Anak muda itu berseru. “Hai, mundur kalian! Lihatlah, kalau ada yang berani menyerang, pemimpinmu ini pasti binasa!” Lie Bun mengambil ruyung dari tangan kepala rampok dan gunakan senjata itu untuk mengancam di atas kepala pemimpin rampok itu.

Melihat betapa pemimpin mereka berdiri diam bagaikan patung, seorang anak buah perampok memberanikan diri bertanya. “Hai, kau apakan pemimpin kami itu?”

Seorang lain berkata. “Ah, ia tentu menggunakan ilmu siluman!” Lie Bun berkata sambil tertawa. “Aku tidak mencari permusuhan dengan kalian, maka aku ampuni jiwamu.” Kemudian kepada kepala rampok itu ia berkata. “Dan kau, tai- ong, hendaknya ini menjadi pelajaran bagimu. Terserah kalau kau mau merampok.

Tapi janganlah sewenang-wenang. Rampoklah mereka yang curang dan menipu rakyat. Jangan hantam kromo saja dan mengganggu sembarang orang.”

Setelah berkata demikian, Lie Bun tepuk pundak kepala rampok itu yang segera terbebas dari totokan. Kepala rampok itu lalu berlutut dan berkata.

“Sungguh mataku buta tidak melihat gunung Thay-san di depan mata. Harap taihiap sudi memberi tahu nama.”

Lie Bun berkata sederhana sambil bangunkan kepala rampok itu.

“Aku yang muda bernama Lie Bun, karena mukaku begini maka orang-orang sebut aku Ouw-bin Hiap-kek.”

Kepala rampok itu lalu memberi hormat sambil menjura dan setelah haturkan terima kasih atas kemurahan hati Lie Bun yang sudah mengampunkan mereka, ia pimpin anak buahnya menghilang di dalam hutan belukar.

“Aduh .... hebat.... berbahaya sekali ...” Lo Sam mengeluh dengan wajah pucat. Tidak kusangka sama sekali bahwa calon penganten begitu gagah perkasa! “Untung ada kau,

Ji-kongcu. Kalau aku Lo Sam seorang diri bertemu dengan mereka, ah, tanggung sekali pukul beres dah!”

“Lho, apanya yang beres, lopeh?” tanya Lie Bun sambil naiki kudanya kembali.

Mereka lalu melanjutkan perjalanan itu dan pada hari kesembilan mereka tiba di Bhok-chun. Dada Lie Bun berdebar-debar dengan penuh rasa terharu dan gembira. Terharu karena kota itu mengingatkan ia akan suhunya dan gembira karena ia berada di kota Kwei Lan, gadis yang tak pernah meninggalkan ingatannya itu.

Mereka tidak langsung menuju ke gedung Lo-wangwe, tapi atas kehendak Lo Sam mereka mencari sebuah penginapan yang terbesar. “Kita harus berganti pakaian yang bersih dan baik sebelum pergi ke sana. Ketahuilah, bukan orang saja membuat pakaian, tapi pakaian pun membuat orang!”

“Eh, kata-katamu kau jungkir balikkan hingga aku menjadi bingung dan tidak mengerti artinya, lopeh. Apa maksudmu dengan kata-kata pakaian membuat orang?”

“Aaiih, kau benar-benar bodoh, Ji-kongcu. Apakah kau belum mendengar juga tentang pakaian yang bisa makan sayur dan pandai minum arak?”

Lie Bun geleng-geleng kepala karena sungguh-sungguh ia tidak mengerti.

“Marilah kita masuk mencari kamar, lalu makan dulu sampai kenyang. Nanti sambil makan kuceritakan padamu tentang itu.” Mereka lalu memilih sebuah kamar besar untuk berdua. Setelah bersihkan badan, mereka memesan makanan dan sambil menanti datangnya makan, Lo Sam bercerita tentang pakaian yang suka makan sayur dan pakaian minum arak itu.

“Ada seorang kakek pergi mengunjungi seorang sahabatnya di kota lain. Karena menganggap bahwa sahabatnya itu telah lama dikenalnya hingga tak perlu menggunakan peradatan lagi. Kakek itu mengenakan pakaian yang sudah lama dan buruk. Ketika ia sampai di rumah sahabatnya, ternyata ia diterima dengan dingin sekali dan agaknya sahabat itu tidak suka menerima kedatangannya. Jangankan hidangan-hidangan lezat, secawan airpun tidak dikeluarkan oleh sahabatnya itu untuk disuguhkan padanya. Kakek ini pulang dengan hati sakit dan perih.

Beberapa bulan kemudian ia mendapat rezeki besar hingga dapat membeli pakaian sutera, sepatu baru dan baju luar yang tebal dari bulu yang mahal. Ia teringat akan sahabatnya itu. Lalu ia pergi mengunjunginya lagi, tapi kali ini ia mengenakan pakaian yang serba indah dan mahal itu.

Dan bagaimanakah sikap sahabatnya? Ah, ia buru-buru menyambutnya, memberinya kursi terbesar dan cepat memanggil semua anaknya untuk memberi hormat kepada tamu agung ini. Lalu ia keluarkan hidangan-hidangan yang paling lezat dan dipersilahkan kakek itu makan. Kakek itu lalu tanggalkan baju luarnya yang indah, dan sambil pegang-pegang baju itu dengan tangan kirinya lalu mengambil sayur dalam mangkok. Lalu ia tuangkan sayur itu ke dalam saku baju sambil berkata dengan hormat sekali meniru-niru suara sahabatnya,

“Silahkan saudara baju bulu yang terhormat makan sayur!”

Kemudian ia ambil pula secawan arak dan tuangkan arak itu ke dalam saku baju itu sambil berkata lagi.

“Silahkan saudara pakaian yang mahal minum arak!”

Tentu saja sahabatnya heran melihat kelakuan ini dan menegurnya. Maka dengan wajah bersungguh-sungguh kakek itu berkata kepada sahabatnya.

“Dulu ketika aku datang dalam pakaian buruk, jangankan sayur dan arak , air putih secawanpun tidak kau keluarkan. Sekarang aku datang dalam pakaian mewah dan indah, kau menyambutku begini hormat dan mengeluarkan sayur serta arak, maka bukankah yang kau jamu ini pakaianku dan bukan aku?”

“Nah setelah berkata demikian, kakek yang telah puas menyindir dan membalas sakit hatinya itu lalu meninggalkan sahabatnya yang berdiri dengan wajah kemerah- merahan karena malu.”

Lie Bun tersenyum dan kagum akan isi cerita yang tepat dan menggambarkan tabiat orang yang sebagian besar memang demikian.

“Jadi sekarang kita berpakaian indah agar mendapat hidangan lezat?” ia menggoda Lo Sam dan keduanya lalu tertawa girang. Hidangan yang dipesan tiba dan keduanya lalu makan minum dengan gembira karena menghadapi urusan baik. Lo Sam angkat cawan araknya dan minum arak dengan harapan agar urusan ini akan berhasil baik.

Setelah makan, mereka lalu mengenakan pakaian-pakaian indah dan Lo Sam minta pemuda itu membawanya ke rumah keluarga Lo-wangwe.

Ketika mereka keluar dari rumah penginapan itu, dari luar datang tiga orang dan Lie Bun terkejut sekali karena orang yang berjalan di tengah, seorang hwesio pendek gemuk, ternyata adalah Bok Bu Hwesio, pertapa kosen yang dulu telah melukai suhunya dan karenanya menjadi pembunuh Kang-lam Koay-hiap.

Ia rasakan dadanya berdebar dan dendamnya timbul, tapi karena sedang menghadapi urusan besar, maka ia pura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan perjalanan dengan Lo Sam. Ia anggap bahwa urusan dengan Kwei Lan jauh lebih besar dari pada urusan dengan Bok Bu Hwesio, dan bukankah suhunya memesan agar ia jangan mencari Bok Bu Hwesio untuk menuntut balas? Maka ia segera melupakan hwesio itu dan dengan girang menuju ke rumah gedung tempat tinggal Kwei Lan.

Alangkah terkejut dan menyesalnya hati Lie Bun ketika ia mendengar dari seorang pelayan bahwa Lo-wangwe telah lama pindah dari rumah itu. Ketika ditanya ke mana pindahnya keluarga Lo itu, pelayan tadi tidak dapat memberi keterangan. Karena ia adalah pelayan dari keluarga baru yang menempati bekas gedung Lo-wangwe itu.

Lo Sam dan Lie Bun setengah hari lamanya mencari tahu di seluruh kota kalau-kalau ada yang dapat menerangkan ke mana pindahnya Lo-wangwe. Tapi tidak ada orang yang dapat memberitahukan mereka. Dan mereka hanya mendengar bahwa keluarga Lo telah pindah lebih setahun yang lalu ke tempat yang jauh sekali, tapi entah ke mana.

Malam hari itu Lie Bun tinggalkan Lo Sam dan ia langsung menuju ke taman bunga di belakang gedung besar bekas tempat tinggal Kwei Lan dulu.

Taman bunga itu masih seperti dulu, sedikitpun tidak berubah. Karena melihat di situ sunyi tidak ada orang, Lie Bun lalu duduk di empang di mana dulu ia dan Kwei Lan duduk berdua sambil melihat lukisannya di atas kipas. Ia teringat betapa Kwei Lan berdiri di belakangnya sambil melihat lukisannya, dan betapa ia beri totol-totol hitam di muka lukisan dirinya itu dan Kwei Lan menjerit.

Ia heran dan sampai kinipun tidak tahu mengapa gadis itu menjerit ketika ia beri warna totol-totol hitam yang merusak mukanya itu.

Apakah kipas itu masih dibawa oleh Kwei Lan? Lie Bun duduk termenung di situ, tenggelam dalam lamunannya sendiri. Hatinya sedih dan sunyi dan ia melihat seekor ikan tampak berenang di dalam cahaya bulan di empang itu.

Hanya seekor di situ. Ah, sama benar dengan nasibnya. Lalu teringatlah ia akan syair yang ditulis oleh Kwei Lan di atas kipas yang digambarnya dulu. Syair itu berbunyi.

“Sepasang ikan bercerai ”

“Seekor ke kanan, seekor ke kiri ” Teringat akan bunyi syair ini, tak terasa lagi Lie Bun angkat kedua tangannya dan menutupi mukanya. Alangkah sengsara hidupnya. Mukanya yang buruk sukar mendatangkan rasa kasih dalam hati orang lain, kecuali dalam hati ibunya, kakaknya dan ayahnya.

Tapi dapatkah ia mengharapkan kasih seorang gadis, apalagi seorang gadis yang secantik dan sejelita Kwei Lan? Mengapa pula ia tak dapat melupakan gadis itu? Mengapa ia harus mencintai gadis itu? Ah, beginilah kalau bernasib buruk. Lahir dengan wajah cacat, hitam bopeng menjijikkan.

Mungkin yang pernah mencinta padanya selain keluarga sendiri, dari orang-orang lain yang sekian banyaknya di dunia ini hanya suhunya seoranglah. Suhunya yang selama tujuh tahun mendidiknya, membimbingnya, mengisi jiwa raganya dengan kekuatan yang menganggap ia seperti anak sendiri.

Tiba-tiba teringatlah ia betapa suhunya tewas dalam tangan Bok Bu Hwesio. Dan hwesio pembunuh suhunya itu tadi ia lihat di rumah penginapan.

Serentak bangunlah Lie Bun. Semangatnya bernyala-nyala dan rasa dendam dan sakit hatinya bagaikan api mendapat kayu kering. Ia lalu loncat dan keluar dari taman secepatnya. Ia tiba dihotelnya dan cepat sekali karena ia lari melalui atap genteng- genteng rumah.

Setelah tiba di hotel dan ia mengintai ke bawah dan tahu di mana kamar hwesio gemuk pendek bersama dua orang kawannya itu. Ia segera loncat turun dan dari jendela kamar ia berseru.

Tak Disangka ........

“BOK BU HWESIO! Kau keluarlah untuk lunaskan perhitungan lama!”

Bok Bu Hwesio adalah seorang tokoh kangouw yang ternama. Mendengar tantangan orang di luar jendela, ia tenang saja karena baginya tidak aneh untuk sewaktu-waktu mendapat kunjungan seorang musuh yang hendak menuntut balas. Ia lalu kebutkan ujung lengan bajunya hingga lampu dalam kamarnya padam seketika.

Kemudian ia berkelebat keluar dan langsung loncat ke atas genteng, diikuti oleh kedua orang kawannya yang sebetulnya hanya dua orang muridnya yang baru saja datang dari luar kota.

Ketika hwesio itu tiba di atas genteng, ia melihat seorang pemuda dengan tongkat bambu di tangannya berdiri menanti kedatangannya.

“Anak muda, dari manakah dan siapakah yang sengaja datang mencari pinceng?” tegurnya.

Melihat musuh gurunya dihadapannya, hati Lie Bun yang sedang sedih dan risau itu menjadi panas dan timbullah marahnya. Ia menuding dengan tongkat bambu sambil berkata. “Bok Bu! Tidak ingatkah kau, betapa kau telah melukai suhuku ketika ia sedang menderita sakit? Kau telah berlaku pengecut menyerang seorang yang tidak sehat. Sekarang kau berhadapan dengan muridnya yang hendak menuntut balas!”

“Bok Bu Hwesio tertawa tergelak-gelak. “Anak muda, orang-orang yang telah kulukai dan kujatuhkan banyak sekali hingga aku sendiripun tidak ingat lagi ada berapa banyak. Siapakah kau ini, dan siapakah gurumu yang telah kulukai itu?”

“Suhuku ialah Kang-lam Koay-hiap!”

Terkejutlah Bok Bu Hwesio mendengar pengakuan ini. Ah, kalau benar anak muda ini murid Kang-lam Koay-hiap, maka tidak boleh berlaku sembrono.

“Kalau kau hendak menuntut balas, mengapa tidak mencari aku di Thian-siang saja? Di sana aku akan melayani tuntutanmu. Sekarang aku sedang sibuk!” Hwesio gemuk pendek yang licin ini tahu dan ingat bahwa Lie Bun adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan barangkali tidak banyak bedanya dengan Kang-lam Koay- hiap sendiri, maka berbahayalah melayaninya di sini. Kalau melayani di sarangnya, yakni di Thian-siang, ia dapat mengharapkan bantuan dari kawan-kawannya.

“Hwesio pengecut! Kau berani berbuat mengapa mundur menghadapi tanggung jawab? Kau terimalah pembalasanku!”

Lie Bun segera menyerang dengan tongkat bambunya.

“Baiklah, kalau kau sudah kepingin mampus!” jawab Bok Bu Hwesio untuk tidak kalah garang dan ia segera menyampok dengan ujung lengan bajunya yang panjang.

Pertempuran hebat terjadi di atas genteng rumah penginapan itu. Kedua murid Bok Bu Hwesio cabut pedang mereka dan membantu hwesio itu. Tapi sebentar saja, mereka kena terpukul ujung tongkat bambu Lie Bun yang digerakkan dengan gemas hingga sangat ganas dan lihai.

Tubuh kedua murid Bok Bu Hwesio itu roboh dan membuat pecah banyak genteng. Bok Bu Hwesio marah sekali dan ia berhasil memungut sebilah pedang muridnya yang telah dirobohkan. Kini mereka berdua memegang senjata dan pertempuran dilanjutkan dengan seru sekali.

Harus diakui bahwa kepandaian Bok Bu Hwesio sangat tinggi dan hampir sejajar dengan kepandaian Kang-lam Koay-hiap. Hanya di dalam ilmu tongkat dan ilmu pedang, Kang-lam Koay-hiap menang setingkat. Dulu Kang-lam Koay-hiap dapat dilukai karena kakek pengemis yang lihai itu sedang sakit dan tenaganya lemah.

Kini menghadapi Lie Bun, segera Bok Bu Hwesio merasa bahwa pemuda ini lebih tangguh dari pada Kang-lam Koay-hiap sendiri. Hal ini karena ketika menghadapi Kang-lam Koay-hiap dulu, pengemis sakti itu sedang sakit dan kini Lie Bun yang

sedang menderita hati sedih dan risau itu menyerangnya dengan nekat dan tidak kenal takut hingga Bok Bu Hwesio merasa jerih sekali. Pertempuran hebat itu berjalan ratusan jurus dan Lie Bun telah berhasil menotok iga kanan lawannya. Tapi karena Bok Bu Hwesio adalah seorang kebal, totokan itu tidak melukai hebat hanya membuat sebelah tubuh hwesio itu untuk sesaat merasa linu. Kemudian hwesio itu loncat ke bawah dan dikejar oleh Lie Bun.

Di tanah mereka lanjutkan pertempuran mati-matian itu. Lie Bun keluarkan ilmu simpanannya, yakni Im-yang Kiam-sut. Ilmu pedang ini memang sukar dicari tandingannya hingga setelah bertempur puluhan jurus, Bok Bu Hwesio terdesak hebat.

Ketika Lie Bun menyerang dengan tongkat menusuk perutnya, Bok Bu Hwesio gunakan pedangnya menekan tongkat itu ke bawah dengan tipu Hui-eng Bok-tho atau Elang terbang sambar kelinci. Maksudnya hendak menggunakan tenaga gwakang untuk membuat tongkat itu patah. Tapi tidak tahunya itu memang pancingan Lie Bun.

Ketika merasa betapa pedang itu menggencet tongkatnya, Lie Bun kerahkan lweekangnya dan tangan kirinya menyambar leher musuh, berbareng tongkatnya ia tarik cepat. Melihat serangan tangan kiri yang cepat itu Bok Bu Hwesio segera miringkan kepala berkelit. Tapi karena gerakan ini maka perhatiannya kepada pedangnya agak mengurang hingga Lie Bun berhasil membetot tongkatnya yang langsung disodokkan ke arah muka lawannya.

Dua kali serangan masih dapat dikelit oleh pendeta gemuk pendek itu. Tapi serangan ketiga tepat sekali melukai pinggir matanya karena Lie Bun menyerang mata lawannya.

Karena luka ini, maka terpaksa Bok Bu Hwesio gunakan tangan kiri untuk menutupi sebelah matanya. Tapi cepat seperti burung menyambar, Lie Bun sudah kirim serangan lagi dengan ujung tongkatnya yang menotok uluhati lawannya.

Terdengar jerit ngeri dan menyeramkan, dan tubuh Bok Bu Hwesio yang gemuk pendek itu roboh di tanah dengan tidak bernyawa lagi.

Habislah riwayat hwesio yang mencemarkan nama golongannya dengan perbuatan- perbuatan yang tak patut dilakukan oleh seorang hwesio yang seharusnya menuntut penghidupan suci.

Mendengar jeritan itu, semua orang penghuni hotel menjadi bingung dan panik. Tidak seorangpun berani tongolkan kepala dari jendela semenjak mereka tahu bahwa di atas genteng ada orang sedang bertempur mati-matian.

Lie Bun masuk ke kamarnya dan seret Lo Sam dari atas pembaringan di mana orang tua itu sembunyikan diri di bawah selimut. Merasa betapa kakinya di seret orang, Lo Sam buka mulut hendak berteriak minta tolong tapi Lie Bun cepat bekap mulut orang tua itu.

“Lopeh, hayo kita pergi!”

“Apa? Bagaimana? Kemana ...? Malam-malam begini pergi?” “Sudahlah, kau turut saja!” Dengan diam-diam dan cepat, keduanya lalu keluarkan kuda dan naiki kuda itu menuju keluar kota dengan cepat.

“Ji-kongcu, apa yang terjadi? Siapa yang bertempur di atas hotel tadi?” tanya Lo Sam dengan menggigil kedinginan karena memang jauh bedanya hawa di dalam kamar hotel yang hangat karena berselimut, dengan hawa di luar di mana angin malam bertiup perlahan-lahan.

“Aku yang bertempur dan aku berhasil membunuh musuh besarku.”

Mendengar pengakuan ini, Lo Sam melirik ke arah Lie Bun dan ia menelan ludah.

Diam-diam timbul hati seram dan takut terhadap anak muda itu. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda yang hendak dipinangkan seorang gadis itu dapat membunuh orang dengan demikian enaknya. Maka ia tak berani banyak cerewet lagi dan selalu menurut kehendak Lie Bun.

Seminggu kemudian mereka telah tiba di kota Bi-ciu dan Lie Bun segera memasuki kamarnya dan membanting dirinya di atas pembaringan.

Keesokan harinya ia menderita sakit panas yang hebat sekali. Ayah ibunya menjadi bingung dan tabib yang pandai segera dipanggil.

Lie Bun bergulingan di atas pembaringan dengan gelisah. Tubuhnya panas dan ia bicara kacau balau. Seringkali menyebut nama suhunya dan berkali-kali ia ucapkan syair.

“Sepasang ikan bercerai ”

“Seekor ke kanan, seekor ke kiri ”

Kedua orang tuanya tidak tahu maksud syair itu dan mereka hanya dapat menjaga Lie Bun dengan hati cemas.

Dari Lo Sam mereka diberitahu bahwa gadis yang hendak dilamar itu telah pindah dan tak seorangpun yang tahu ke mana gadis itu pindah.

Ibu Lie Bun segera dapat menduga bahwa anaknya menderita sakit rindu.

Hampir sebulan Lie Bun menderita sakit. Setelah sembuh, tubuhnya menjadi kurus dan ia jarang sekali keluar dari kamarnya. Berhari-hari ia hanya duduk bersila sambil bersamadhi di dalam kamarnya, jarang mengeluarkan kata-kata kalau tidak ditanya.

Demikianlah keadaan pemuda yang sengsara itu sampai tiba musim chun di mana orang-orang menyambutnya sebagaimana kebiasaan mereka setiap tahun. Rumah- rumah dihias dan dikapur dan orang-orang mengenakan pakaian serba baru. Rumah keluarga Lie tidak ketinggalan. Terutama Lie Kiat, ia gembira sekali dan mengenakan pakaiannya yang indah berwarna biru dan merah muda hingga ia tampak gagah. Di depan rumah-rumah dipasangi lampion-lampion yang beraneka macam dan di sana-sini terdengar suara tetabuhan karena banyak orang-orang mainkan singa- singaan dan barongsai.

Seluruh kota Bi-ciu tenggelam dalam pesta pora dan kegembiraan. Mungkin hanya Lie Bun seorang yang duduk termenung di taman belakang sambil melihat ikan-ikan berenang kesana kemari dalam empang. Bunga-bunga teratai warna merah dan putih tersenyum dengan manis berseri di atas air kehijau-hijauan.

Orang-orang saling kunjung mengunjungi untuk mengucapkan selamat, satu kepada yang lain berhubung dengan datangnya musim terindah dan terbaik selama setahun.

Lie Kiat berlari-lari mencari adiknya di taman.

“A Bun ...! Lie Bun ...!” teriaknya, dan ketika ia melihat Lie Bun duduk termenung di pinggir empang, ia segera lari menghampiri.

“Lie Bun, jangan kau termenung saja. Hari ini adalah hari baik dan ayah mengajak kita pergi mengunjungi rumah tunanganku. Kau harus ikut, A Bun!”

Melihat kegembiraan kakaknya ini, Lie Bun terpaksa senyum lemah. “Untuk apakah aku harus ikut?” tanyanya halus.

Mata Lie Kiat terbelalak. “Untuk apa? Ampun, anak ini! Untuk apa, katanya! Bukankah ini hari besar dan kita harus mengucapkan selamat kepada orang-orang yang kita cinta? Kau harus mengucapkan selamat pula pada calon ensomu! Tidak maukah kau memberi selamat kepada calon isteriku?”

Tentu saja Lie Bun tidak berani menolaknya.

“Hayo, kau ganti pakaian yang paling indah dan paling baru!” “Untuk apa berganti pakaian segala?” tanya Lie Bun.

Kakaknya menjadi gemas dan segera menarik tangannya diajak berlari ke kamarnya sambil berkata.

“Ah, kau ini rewel benar. Hayolah, aku malu kalau calon isteriku melihatmu dalam pakaian buruk.”

Terpaksa Lie Bun bertukar pakaian. Kemudian ia berkata kepada Lie Kiat.

“Twako, kau hanya teringat kepada tunanganmu saja, apakah kau sudah lupa kepada Cui-siocia?”

“Bodoh, siapa yang lupa? Kau kira kemanakah aku sehari kemarin? Berpesta di rumahnya. Sekarang giliran tunanganku!”

Mau tidak mau Lie Bun tersenyum melihat lagak Lie Kiat. Ah, alangkah bedanya nasibnya dengan nasib Lie Kiat. Kakaknya ini selalu mendapat apa yang dikehendakinya, karena kakaknya memang tampan dan gagah. Siapa yang tidak suka melihat pemuda secakap ini? Tapi dia? Ah, orang buruk memang selalu bernasib buruk pula.

Kemudian ia mencela diri sendiri. Ia memang telah terlahir buruk. Mengapa harus mengeluh? Kwei Lan pindahpun bukan sengaja menyakiti hatinya. Mengapa ia harus bersedih? Apakah ini laku seorang gagah? Apakah ia harus tunduk kepada nasib buruk? Ah, suhunya kalau masih hidup tentu akan marah padanya.

Pada saat itu ayah ibunya datang menghampiri mereka.

Melihat pandangan ayah ibunya yang ditujukan padanya dengan khawatir. Tiba-tiba Lie Bun insyaf betapa ia telah berdosa besar terhadap mereka. Ia telah membuat mereka itu bersedih dengan sikapnya yang selalu murung. Ah, sungguh bodoh dan sesat. Beginikah laku seorang yang uhauw, seorang yang berbakti kepada orang tua?

Lie Bun merasa betapa ia telah bersalah kepada orang tuanya, maka kini melihat mereka mendatangi dengan pakaian indah dan baru sambil memandang ke arahnya, hatinya menjadi terharu sekali. Ia maju dan memberi hormat kepada ayah ibunya sambil menghaturkan selamat.

Lie Ti dan isterinya heran melihat perubahan ini dan mereka gembira sekali. Ternyata Lie Bun telah sembuh benar-benar sekarang. Ibunya pegang pundak puteranya yang kedua ini sambil berkata.

“Syukur, anakku, kalau kau sudah dapat menguasai hatimu. Mari kau ikut pergi ke Lun-kwan. Kita harus bergembira ria, karena kepergian kita kali ini ialah untuk menetapkan hari perkawinan kakakmu!”

Lie Bun tersenyum dan dengan tenaga luar biasa ia tekan hatinya yang berdebar mendengar betapa kakaknya akan segera kawin.

“Anak telah berlaku bodoh selama ini. Mohon ayah dan ibu suka memberi ampun,” katanya.

Dalam suasana gembira, keluarga Lie berangkat menuju ke Lun-kwan. Lie Ti dan kedua puteranya naik kuda sedangkan nyonya Lie naik sebuah kereta kecil yang dihias indah. Banyak pelayan ikut sambil membawa barang-barang hadiah yang hendak diberikan kepada calon besan itu.

Ketika tiba di Lun-kwan dan rombongan berhenti di depan sebuah gedung besar yang indah. Lie Kiat mendengar tetabuhan ramai di taman yang berada di sebelah kanan gedung itu. Pemuda itu segera tarik tangan adiknya yang diajak langsung memasuki taman itu.

“Twako, jangan, nanti kita disebut kurang tahu adat!” Lie Bun mencegah, tapi seperti biasa Lie Kiat suka membawa kehendak sendiri. Dengan tindakan gagah Lie Kiat cepat memasuki taman sedangkan Lie Bun setelah itu masuk pula, berhenti dengan ragu-ragu karena di sebelah dalam taman itu tampak seorang sedang menikmati pertunjukkan Ki-lin yang agaknya sengaja diundang untuk menghibur keluarga hartawan itu. Kalau Lie Bun berhenti dan berdiri ragu-ragu, adalah Lie Kiat langsung menuju ke taman dan ketika melihat betapa gadis tunangannya menonton pertunjukkan itu dari sebuah menara kecil yang dibangun di tengah-tengah taman, ia segera menghampiri dan masuk dari pintu belakang.

Suara tetabuhan gembreng dan tambur yang ramai itu akhirnya menarik pula perhatian Lie Bun. Dengan tak terasa kakinya melangkah maju mendekat dan ia menggabungkan diri dengan para pelayan yang sedang mengelilingi pemain Ki-lin dan menikmati tari-tarian yang lincah dan indah itu.

Kemudian Lie Bun teringat akan kakaknya. Ia menjadi khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu atas diri kakaknya, maka ia segera mengitari lingkungan penari Ki-lin itu hingga sampailah ia di belakang menara.

Ketika ia sedang mencari-cari Lie Kiat, tiba-tiba ia mendengar suara kakaknya itu di dalam menara sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita.

“Siocia, mengapa kau marah? Bukankah kita telah bertunangan dan apa salahnya bagi orang yang telah bertunangan untuk bertemu di sini? Ah, siocia, kau cantik sekali dan perkenankanlah aku untuk mengucapkan selamat kepadamu!”

Kemudian terdengar jawaban seorang wanita, suaranya halus tapi tajam.

“Lie-kongcu, aku mendapatkan bahwa kau adalah seorang terpelajar, tapi ternyata bahwa kau agaknya memang biasa bergaul dengan segala macam perempuan rendah. Tapi kau ingatlah, aku belum menjadi isterimu dan kau tak berhak berlaku sesuka hatimu di tempatku ini. Kau keluarlah, tak pantas kalau sempat terlihat orang perbuatanmu yang tak pantas ini!”

Suara Lie Kiat terdengar marah dan penasaran ketika ia menjawab. “Siocia, perbuatan mana yang tidak pantas?”

“Kau masuk ke sini tanpa izin, seakan-akan ini tempatmu sendiri. Apakah itu pantas namanya? Pula, akupun mendengar bahwa kau telah mempunyai tunangan. Mengapa kau masih hendak mencari aku? Apakah itupun pantas namanya?”

Celaka, pikir Lie Bun ketika mendengar ini. Agaknya gadis inipun sudah tahu akan hal hubungan Lie Kiat dengan Cui Im. Nah, berabelah kini!

“Ooo       jadi kau cemburu?” terdengar Lie Kiat berkata.

“Aku? Cemburu?? Hah! Peduli apakah aku, biarpun kau mempunyai kekasih puluhan orang? Hanya saja, aku tak sudi dipermainkan orang! Kau keluarlah dari sini!”

Lie Bun merasa betapa kakaknya harus keluar dari situ karena kalau sampai terdengar orang, akan mendapat malu besarlah keluarganya. Maka ia lalu masuk ke dalam pintu yang terpentang itu untuk memanggil kakaknya. “Twako, mari keluar,” katanya sambil membuka tirai. Dan pada saat itu ia melihat seorang gadis cantik jelita yang berdiri berhadapan dengan Lie Kiat dan yang pada saat itu memandang ke arahnya.

Baik Lie Bun dan gadis itu berdiri kesima. Mata mereka terbelalak dan mereka saling pandang lama sekali.

Tak terasa kaki Lie Bun bertindak maju menghampiri dan tiba-tiba pada wajah gadis yang tadinya muram dan marah itu tampak senyum menghias bibirnya yang indah.

“Kwei Lan !” Lie Bun berbisik bagaikan dalam mimpi dan ia maju mendekat.

Sama sekali tidak melihat Lie Kiat yang berdiri memandang mereka dengan heran.

“Kau .......? Kau di sini??” gadis itu menunjuknya dengan telunjuknya yang

runcing dan mungil ke arah Lie Bun dan mukanya menjadi girang sekali.

“Kwei Lan ...... siocia ...... kau masih ..... masih ingat kepadaku? Aku adalah .....

pengemis dulu itu !”

“Lie-inkong ........., Lie-twako ! Bagaimana aku bisa melupakan kau?”

Tiba-tiba kedua anak muda yang seakan-akan terkena pesona dan lupa segala, saling pandang dengan mesra. Dan terkejutlah mereka ketika terdengar suara Lie Kiat tertawa keras. Mereka baru sadar dan merasa malu.

“Ha ha ha! Pantas, pantas! Tahulah aku sekarang mengapa sikapmu kepadaku dingin dan benci! Tidak tahunya kau sudah mempunyai kekasih. Ha ha! Sungguh memalukan, sungguh menjemukan! Lie Bun, kau adik yang selama ini kuanggap seorang gagah dan budiman, ternyata hanya seorang tidak tahu malu! Kau

mengadakan hubungan kotor dengan calon iparnya sendiri! Ha ha ha! Kwei Lan dimanakah kau hendak sembunyikan mukamu yang kotor?”

Lie Bun loncat ke depan kakaknya. “Twako! Aku larang kau maki-maki dia! Kami tidak melakukan sesuatu yang buruk. Kau salah sangka!”

Lie Kiat gerakkan tangan dan menampar muka Lie Bun dengan keras. Lie Bun tidak berkelit dan menerima tamparan itu hingga pipinya kena tampar keras sekali hingga menjadi biru.

“Lie Bun! Kau kau manusia rendah. Kalau kau hendak mencari kekasih,

mengapa justru kau menggoda calon isteriku? Bukankah itu memalukan sekali?”

“Twako! Dengarlah aku! Kami tidak mempunyai hubungan apa-apa. Kami dulu kebetulan saja pernah bertemu dan berkenalan. Sungguh, twako. Aku tidak mengganggu tunanganmu dengan Lo-siocia!”

“Bangsat bermulut manis!” dan Lie Kiat kini mengirim pukulan ke mulut Lie Bun.

Sekali lagi Lie Bun tidak menangkis hingga bibirnya berdarah ketika menerima hantaman Lie Kiat. Karena merasa cemburu dan panas, Lie Kiat tidak puas dan ia menjadi mata gelap. Ia kirim lagi pukulan ke dada Lie Bun dan pukulan ini berbahaya sekali karena Lie Kiat pergunakan seluruh tenaganya.

Lie Bun tidak dapat melawan kakaknya, maka ia hanya kerahkan tenaga dalam untuk melindungi isi dadanya, maka ketika pukulan Lie Kiat mengenai dadanya, terdengarlah suara keras dan Lie Bun terlempar jauh menabrak dinding dan jatuh dengan wajah pucat. Tapi Lie Bun tidak mendapat luka dalam hanya merasa betapa kulit dan daging di dadanya terasa panas dan sakit. Betapa pun juga, Lie Bun tidak mengeluarkan sedikit rintihan, hanya memandang kakaknya dengan sedih.

Sementara itu, Kwei Lan menjerit-jerit minta tolong dan menangis sedih hingga semua pelayan datang berlari-larian.

Beberapa orang pelayan segera memberi laporan kepada Lo-wangwe dan dengan berlari-lari Lo-wangwe datang diikuti oleh tamunya, yakni Lie-wangwe. Kedua orang tua itu saling pandang dan heran sekali melihat keadaan yang mereka hadapi.

Lie Kiat sedang berdiri dengan wajah merah dan mata bernyala-nyala sedang dibujuk oleh para pelayan untuk bersabar. Kwei Lan duduk di atas bangku sambil menutup mukanya dan menangis sedih sekali. Sedangkan Lie Bun berdiri bersandar pada dinding dengan wajah pucat dan mulut berdarah. Tapi senyum menyedihkan terlukis di bibirnya yang pecah-pecah.

“Kwei Lan, apakah yang terjadi?” tegur Lo-wangwe kepada Kwei Lan.

Gadis itu hanya menangis makin sedih dan isaknya membuat seluruh tubuhnya bergoyang-goyang. Kemudian dengan tiba-tiba gadis itu berdiri dan lari keluar dari situ memasuki gedung dan membanting dirinya di dalam pembaringan di kamarnya.

Lie-wangwe membentak kedua puteranya. “Lie Kiat! Lie Bun! Apa yang kalian perbuat? Sungguh memalukan sekali! Hayo keluar!”

Lie Kiat dengan angkat dada dan wajah masih merah segera keluar dengan tindakan lebar, sedangkan Lie Bun dengan kepala tunduk berjalan keluar pula.

“Eh, bukankah ..... bukankah kau yang dulu pernah datang di rumahku?”

“Lie Bun geleng-geleng kepala. “Wan-gwe salah kenali orang. Siauwte yang rendah ini tak pernah mengenal siapa-siapa. Harap maafkan, Wan-gwe.” Dan ia lalu keluar dengan kepala masih tunduk. Ia merasa sedih sekali. Hatinya terasa perih dan sakit.

Bekas pukulan kakaknya tak berarti apa-apa baginya. Tapi kenyataan bahwa tunagan Lie Kiat bukan lain ialah Kwei Lan. Gadis yang dipuja-pujanya dan dicari-carinya

serta membuat ia sebulan lamanya menderita sakit. Ah hal ini sungguh merupakan

kenyataan yang pahit dan membikin hatinya perih. Kini ditambah lagi dengan dugaan- dugaan Lie Kiat yang keji. Ah, mengapa nasibnya selalu sengsara? Ketika tiba di rumah, Lie Bun segera masuk ke kamarnya dan memikirkan nasibnya. Ia mendengar betapa Lie Kiat masih marah-marah dan memaki-maki dia di luar kamarnya. Ketika ayah dan ibunya datang, Lie Bun dipanggil keluar.

“Lie Bun, sebenarnya apakah yang terjadi, nak? Kau ceritakanlah yang sejujurnya kepadaku karena Lie Kiat sukar diajak bicara,” kata ibunya.

“Ibu, biarlah kalau memang aku yang dipersalahkan dalam hal ini. Hanya Thian yang tahu bahwa aku tidak bersalah. Memang aku pernah bertemu dan kenal dengan Lo- siocia. Tapi kami tak pernah melakukan sesuatu. Bahkan kami baru sekali saja bertemu.”

“Bohong! Baru sekali bertemu tapi ketika berjumpa tadi kau langsung menyebut namanya saja! Dan dia menyebutmu Lie-twako. Sedangkan kepadaku sendiri, kepada tunangannya, calon suaminya, ia masih menyebut kongcu! Mungkinkah ini kalau kau dan dia tak mempunyai hubungan erat?” teriak Lie Kiat.

“Sungguh, twako. Maki-makianmu, pukulan-pukulanmu, dan fitnah-fitnah keji yang dilontarkan padaku itu kuterima dengan sabar. Aku tadi terlampau heran dan terkejut melihat ia di sana karena sama sekali tidak pernah kuduga, maka tak sengaja aku menyebut namanya. Pikirlah, apa mungkin seorang siocia seperti dia itu sudi mengadakan hubungan dengan aku yang begini buruk?” Lie Bun mengucapkan kata- kata ini dengan terharu sekali.

“Kau sangka aku buta? Pandangan matamu ketika melihat dia tadi aku bukan anak

kecil!” Lie Kiat masih saja marah-marah.

Lie Bun tiba-tiba berdiri dan berkata dengan gagah.

“Ya, biarlah aku akui. Semenjak pertemuanku yang hanya satu kali itu, aku telah jatuh cinta kepadanya! Ya, aku cinta kepada Kwei Lan! Dengarkah kalian? Aku cinta padanya. Dan tahukah kalian semua bahwa ketika aku pergi dengan Lo Sam dulu itu, yang hendak kulamar bukan lain ialah Kwei Lan seorang? Tahukah kalian bahwa aku menderita sakit karena memikirkan Kwei Lan? Dan tadi aku bertemu dengan dia!

Ternyata ia tunangan saudaraku sendiri! Nasib! Nah, aku sudah mengaku, kau mau apa twako? Membunuhku? Kau tahu baik-baik, bahwa kalau aku mau, tak mungkin kau dapat memukulku. Apalagi sampai menyakiti badanku. Kau tahu bahwa dengan sekali bergerak saja, dengan mudah aku dapat membunuhmu. Tapi aku tidak segila kau! Aku mengalah dan menerima pukulan-pukulan dan makian-makianmu karena aku kasihan melihat kau. Karena aku tidak ingin melihat kau sakit hati. Nah, aku sudah bicara. Aku takkan menghalang-halangi perjodohanmu dengan Kwei Lan. Tapi ingat, kalau kau sampai membuat dia sengsara atau kau menyia-nyiakan Kwei Lan, biarlah aku melanggar dosa terbesar dengan membunuh kakakku dengan kedua lengan tanganku sendiri!”

“Lie Bun!” jerit ibunya.

Maka sadarlah Lie Bun dari keadaannya yang seperti bukan maunya sendiri itu dan ia tubruk dan peluk kaki ibunya. “Ibu .... ampuni aku, ibu !”

Atas desakan Lie Kiat yang semenjak hari itu selalu marah-marah, perkawinan akan diadakan secepatnya, yakni dua bulan lagi. Pihak keluarga Lo juga telah menyatakan persetujuannya.

Biarpun Lie Kiat kini tidak berani maki-maki adiknya lagi. Tapi tiap kali ada Lie Bun di situ, pasti ia bicara tentang perkawinannya itu hingga dengan sengaja ia hendak menyakiti hati adiknya.

Agaknya Lie Kiat masih tak dapat melenyapkan perasaan cemburunya. Ia maklum bahwa tak mungkin Kwei Lan mencintai Lie Bun. Tapi ia mengetahui bahwa Lie Bun mencintai calon isterinya. Cukup membuat ia merasa cemburu sekali.

Karena makin dekat menjelang hari perkawinan itu, hati Lie Bun makin tergoda. Akhirnya ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk mengembara barang setahun.

Ibunya melarang, tapi Lie Bun berkata bahwa ia ingin menengok makam gurunya.

“Biarlah kalau ia mau pergi, tapi jangan lama, Lie Bun. Ingatlah bahwa kami di sini selalu menanti-nanti kembalimu. Jangan kau pergi lebih dari setahun. Ini merupakan perintah ayahmu, mengerti?”

Lie Ti cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa memang berat bagi Lie Bun untuk menyaksikan perkawinan kakaknya, maka ia sengaja memberi ijin kepada puteranya yang kedua ini.

Maka pergilah Lie Bun. Sebelum pergi ia menemui Lie Kiat di kamarnya. Kakaknya itu sedang duduk dan ketika melihat adiknya masuk ke kamarnya, ia buang muka sambil bersungut-sungut.

“Twako, aku .... aku pergi    ”

Lie Kiat tidak menjawab dan diam saja.

“Twako, aku tahu, kau tentu marah dan sakit hati kepadaku. Apa dayaku? Agaknya hidupku ini hanya merupakan gangguan saja bagi orang lain. Mengapa aku yang buruk rupa ini begini tidak tahu diri dan mencintai orang? Twako, kalau kalau kau

kehendaki, biarlah aku minta ampun padamu ... twako ” Lie Bun tak tahan lagi dan

air matanya keluar membasahi pipinya yang hitam. Kecintaan Raja Pencopet

Lie Kiat terharu dan rasa sayangnya terhadap adiknya timbul. Tapi ketika ia memandang Lie Bun, ia teringat pula betapa adiknya itu mendapat perhatian besar dari Kwei Lan, maka marahnya lebih kuat dari pada rasa sayangnya.

“Sudahlah, sudahlah! Kau mau pergi, pergilah! Siapa yang hendak menahanmu?” “Twako, kau memaafkan aku?”

“Sudahlah, jangan ulang-ulangi lagi hal itu!” Lie Kiat lalu banting diri di atas pembaringan sambil gunakan kedua tangan tutupi telinganya.

Lie Bun lalu tinggalkan kakaknya dan setelah berpamit kepada ayah ibunya, ia pergi dengan cepat.

Keadaannya kini jauh berbeda dari pada dulu ketika ia merantau bersama suhunya.

Dulu ia hidup sebagai seorang pengemis. Tapi sekarang ibunya memaksa ia membawa cukup uang guna belanja selama ia merantau. Pakaiannya juga bagus dan di dalam bungkusan pakaian yang berada di punggungnya masih ada barang dua stel pakaian baru.

Lie Bun menuju ke Timur karena ia ingin menjelajah sepanjang pantai laut timur yang terkenal indah.

Untuk menghibur hatinya yang terluka, ia sengaja ambil jalan air dan naik perahu sepanjang sungai Yang-ce menuju ke timur. Makin ke timur, sungai ini makin melebar dan pemandangan makin indah.

Lie Bun berlayar seorang diri dan membiarkan perahunya dibawa hanyut di pinggir sungai. Beberapa pekan kemudian, tibalah ia di Nan-king, kota yang sangat besar dan menjadi pusat kebudayaan itu.

Ia mendarat dan dengan penuh kagum di dalam hati. Ia berjalan sepanjang jalan yang lebar dan melihat-lihat rumah-rumah dan bagunan-bangunan dengan ukiran-ukiran indah.

Ketika ia masuk ke dalam sebuah jalan yang ramai dan banyak sekali orang. Tiba-tiba di tempat yang agak berdesakan ia merasa betapa sebuah tangan dengan cepat sekali menyambar bungkusannya. Tapi lebih cepat lagi jari telunjuk Lie Bun menyambar

dan dapat menotok pergelangan tangan itu hingga pergelangan itu menjadi lumpuh dan bungkusan yang telah disambar itu dijatuhkan kembali.

Lie Bun segera pungut buntalan pakaiannya dan ia melihat wajah seorang setengah tua meringis kesakitan sambil memandangnya dengan heran.

Kemudian copet itu lalu melarikan diri dengan cepat di dalam tempat yang ramai dan penuh sesak itu.

Lie Bun menghela napas. Ternyata tidak hanya rumah-rumah, jalan-jalan dan barang- barang yang istimewa di dalam kota besar ini. Bahkan tukang copetnya juga istimewa karena ia harus akui kelihaian tukang copet tadi yang sekali bergerak saja buntalan yang diikatkan di punggungnya telah kena disambar.

Untung ia cepat dapat menggunakan totokan dengan satu jari, yakni ilmu totok It-ci- sian, untuk merampas kembali buntalannya. Kalau tidak, entah bagaimana kalau sampai pakaian dan uangnya semua hilang! Ia tersenyum geli kalau teringat betapa pencoleng itu lari sambil membawa luka di pergelangan tangannya karena totokannya itu. Kalau bukan orang yang telah melatih ilmu totok ini dengan sempurna, sukar agaknya untuk memulihkan kembali pergelangan tangan itu.

Biarlah, tentu ia akan mencari aku dan minta pertolonganku, pikir Lie Bun. Dan pemuda ini lalu mencari kamar dalam sebuah hotel yang memakai merk “Lo-seng”.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah ia bersihkan badan, pelayan hotel memberikan sebuah sampul merah kepadanya.

“Surat ini untuk kongcu,” katanya.

Dengan menyembunyikan rasa herannya, Lie Bun menerima surat bersampul merah itu. Ketika ia buka sampulnya , maka ia mencium bau harum keluar dari sampul itu.

Ia tarik keluar suratnya yang berwarna merah muda. Tulisannya bagus dan halus. Nyata tulisan tangan seorang wanita. Ia membaca dengan heran.

Lie-taihiap yang terhormat,

Kelihaian taihiap telah kami rasakan melalui seorang anggota kami, maka kami kagum sekali kepada taihiap.

Sukalah taihiap memberi kehormatan pada kami dengan menghadiri pertemuan yang kami adakan hari ini di loteng rumah makan Ayam Emas.

Menanti dengan hormat, Cian-chiu Sin-touw

Lie Bun kagum sekali dengan kelihaian orang yang menulis surat ini. Baru saja ia datang, orang sudah tahu akan namanya.

Yang menandatangani surat adalah Cian-chiu Sin-touw atau Malaikat Copet Tangan Seribu, tentu inilah copet di kota ini. Ia lalu bertanya kepada pelayan hotel di mana letaknya rumah makan Ayam Emas.

“Ah, kongcu belum tahu letaknya Kim-kee-tian? Itu adalah rumah makan terbesar dan yang paling mahal di kota ini.”

Pelayan itu lalu memberi petunjuk kepada Lie Bun dan ia makin menaruh hormat. Karena biasanya orang yang mencari dan makan di rumah makan itu tentu tamu yang padat kantongnya.

Setelah bersiap, Lie Bun pergi ke rumah makan Ayam Emas. Ketika ia tiba di depan rumah makan itu, seorang setengah tua menyambutnya dengan menjura hormat sekali.

Lie Bun tersenyum karena ia segera kenal wajah ini, yaitu wajah pencopet yang kemaren mencoba mencopetnya! Ketika ia lirik pergelangan tangan orang itu, ternyata totokannya telah dibuka orang! “Siauwte kemarin telah menerima pelajaran dari taihiap, harap taihiap maafkan. Pangcu kami menanti taihiap di loteng dengan para saudara lainnya.”

Lie Bun balas memberi hormat, lalu ikut pencopet itu naik ke loteng. Ternyata loteng itu luas sekali. Tapi agaknya perkumpulan copet itu telah memborongnya karena keadaan sunyi sekali dan para tamu hanya memenuhi ruang di bawah saja.

Ditengah-tengah ruang atas itu tampak sebuah meja yang besar dikelilingi bangku- bangku sebanyak lima belas buah. Meja itu penuh masakan dan arak, sedangkan di situ telah duduk beberapa orang.

Ketika Lie Bun menghampiri, semua orang berdiri dan alangkah heran dan kagetnya Lie Bun ketika yang menyambutnya adalah seorang gadis kira-kira berumur dua puluh tahun yang berwajah cantik. Gadis itu mengenakan pakaian serba hijau dan sikapnya gagah sekali. Sebuah kantung piauw tergantung di pinggangnya dan wajah yang cantik itu diberi warnah merah-merah sehingga menambah kecantikannya.

Gadis itu tanpa malu-malu dan dengan ramah tamah mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.

“Lie-taihiap, silahkan duduk di tempat penerimaan kami yang buruk.”

Lie Bun balas memberi hormat. “Bolehkah aku yang bodoh ini mengetahui dengan siapa aku bertemu?”

Gadis itu tersenyum genit dan matanya mengerling tajam. “Aku yang rendah adalah Cian-chiu Sin-touw sendiri, pemimpin dari perkumpulan kami di kota ini. Mari, mari silakan, taihiap!”

Kemudian Malaikat copet tangan seribu yang bernama Swat Cu itu memperkenalkan Lie Bun kepada orang-orang yang kesemuanya merupakan pemimpin-pemimpin copet dari berbagai kota!

“Taihiap diundang ini untuk menjadi tamu kehormatan kami, karena kami tahu bahwa taihiap orang asing di sini. Kami mengagumi totokan It-ci-sian yang lihai dan maklum bahwa taihiap bukan orang sembarangan. Justru kami paling suka bersahabat dengan orang-orang pandai. Kebetulan sekali kami sedang mengadakan pertemuan tahunan untuk memilih pengurus baru, maka mungkin sekali hal ini menggembirakan taihiap. Karena inilah taihiap kami undang.”

Kemudian mereka makan minum dengan gembira karena ternyata bahwa mereka kesemuanya terdiri dari orang-orang yang pandai bergaul. Terutama Swat Cu pandai sekali bergaul dan sangat ramah tamah kepada Lie Bun, yang merasa tertarik sekali dan seakan-akan telah kenal lama dengan gadis baju hijau ini.

Lie-taihiap, apakah membawa kartu undangan?” tiba-tiba Swat Cu bertanya sambil memandang pemuda itu sambil tersenyum.

Lie Bun mengangguk dan meraba sakunya. Tapi alangkah herannya karena saku itu telah kosong dan kartu undangan itu telah lenyap. “Bukankah ini kartu undangan itu?” Swat Cu berkata sambil mengeluarkan sampul merah itu dari kantung bajunya yang lebar.

Lie Bun terkejut, karena baru saja ia menduga-duga sampai di mana kepandaian gadis yang menjadi kepala copet ini. Tahu-tahu dirinya telah dijadikan korban demonstrasi. Tanpa diketahuinya tahu-tahu kartu itu telah dicopet Swat Cu.

Lie Bun tertawa dengan muka merah dan hanya bisa berkata. “Kau sungguh lihai sekali, pangcu!”

Kini ia tahu bahwa yang membuka totokannya pada pergelangan lengan pencopet itu tentu gadis ini juga. Ia kini ingat bahwa tadi ketika mempersilakan ia duduk, gadis itu berada dekat sekali dan agaknya meraba bajunya sambil mempersilakan. Dan tentunya ketika itulah digunakan oleh gadis itu untuk mencopet isi sakunya.

Setelah makan-minum cukup, Swat Cu lalu berdiri dan berkata.

“Nah, cuwi yang terhormat. Sekarang tibalah waktunya bagi kita untuk menuju ke tempat perkumpulan kita dan mengadakan pemilihan. Lie-taihiap, kami tetap mempersilakan taihiap ikut dengan kami untuk menambah pandangan kami. Taihiap tetap menjadi tamu kehormatan kami.”

Karena merasa tertarik gembira melihat orang-orang yang begitu ramah tamah tapi yang sebenarnya adalah kepala-kepala copet yang lihai. Lie Bun mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.

Kemudian mereka beramai-ramai turun dari loteng itu dan menuju keluar kota sebelah barat.

Dan yang mereka sebut rumah perkumpulan itu bukan lain adalah sebuah perahu layar besar yang berlabuh di pinggir sungai Yang-ce.

Mereka lalu masuk ke dalam perahu itu yang ternyata cukup besar hingga dalamnya merupakan ruang yang cukup lebar. Di situ juga telah dipasang meja kursi dan semua orang lalu duduk mengitari meja. Swat Cu memimpin pertemuan itu dan membukanya sambil berkata.

“Cuwi, sebagaimana terjadi tiap tahun, kali ini kita bersama hendak memilih ketua baru di antara kita. Dan tiap orang yang hadir mewakili kota masing-masing. Tahun yang lalu aku mendapat kehormatan untuk memimpin perkumpulan ini dan sekarang aku hendak serahkan kedudukan ini kepada siapa yang terpilih.”

Seorang yang telah tua tapi matanya tajam angkat bicara.

“Pangcu, lebih baik kau letakkan kedudukan atau lepaskan kedudukan sebagai ketua lebih dulu. Kemudian baru dipilih seorang ketua baru dan kau masih berhak juga untuk menjadi ketua baru itu.”

Semua orang setuju. “Tapi kalau pangcu melepaskan kedudukannya, siapa yang akan memimpin pemilihan ini?” tanya seseorang.

Seorang berdiri dan berkata. “Aku tidak setuju kalau ketua lama berhak dipilih lagi. Pantasnya ketua harus seorang pria!”

Yang berkata ini adalah seorang yang masih muda dan tidak lebih dari tiga puluh tahun usianya. Tubuhnya tegap dan mukanya kejam.

“Aku setuju dengan pendapat ini!” kata seorang lain yang juga masih muda dan brewokan mukanya.

Swat Cu berdiri dengan tenang. “Siapa lagi yang setuju dengan pendapat ini?” Tak seorangpun menjawab.

“Jiwi,” kata Swat Cu kepada dua orang itu. “Jangan kira bahwa akupun terlalu suka menjadi pangcu. Kalau aku bukan anak pangcu yang lama dan dipilih oleh semua pemimpin daerah, tak nanti aku mendapat kedudukan ini. Nah, saudara-saudara sekalian. Karena kita harus berlaku adil, maka tidak tepat kalau kini setelah aku letakkan jabatan pangcu, lalu memimpin kembali rapat ini. Lebih baik kita minta tolong kepada Lie-taihiap untuk membantu kita sebentar dengan pemilihan ini.”

Semua orang setuju dan Lie Bun juga tidak keberatan. Ia lalu mendengar suara semua orang. Seorang demi seorang dan setelah dihitung, maka ternyata bahwa suara terbanyak memilih Swat Cu! Karena ini dengan gembira Lie Bun berdiri dan mengumumkan.

“Suara terbanyak jatuh kepada Cian-chiu Sin-touw. Maka dialah yang berhak menjadi ketua untuk tahun ini! Nah, sekarang kuserahkan kembali pimpinan kepada saudara ketua.”

Semua orang bertepuk tangan dan kedua orang muda tadi serentak berdiri. “Aku tidak setuju!”

“Akupun tidak setuju!” teriak yang seorang lagi.

“Jiwi!” Swat Cu membentak marah. “Kalau jiwi tidak suka menjadi anggota perkumpulan kami, jiwi boleh keluar!”

Marahlah orang yang brewokan. Ia lalu menggebrak meja dan berkata.

“Dulu ayahmu menjadi pangcu karena kami akui bahwa ia lebih cakap dan lebih tinggi kepandaiannya dari pada kami! Tapi kau, seorang gadis muda, sampai dimanakah kepandaianmu?”

Swat Cu tersenyum sindir. “Nah, lebih baik berterus terang saja. Kalian berdua hendak menguji kepandaianku? Boleh, mari kita keluar!” Dengan tenang dan gagah Swat Cu lalu keluar dari perahu dan loncat ke darat diikuti oleh kedua orang itu dan oleh semua orang yang berada di dalam perahu.

Lie Bun juga keluar dengan sangat tertarik. Ia kagum melihat sikap gagah dan ketenangan Swat Cu. Jarang terdapat gadis seperti dia ini!

Melihat Lie Bun berdiri di situ, Swat Cu berkata.

“Lie-taihiap, kebiasaan kami untuk menguji kepandaian ialah dengan tangan kanan bermain pedang dan tangan kiri mencoba serobot ikat rambut yang dipakai masing- masing. Siapa yang berhasil menyerobot ikat rambut itu, menanglah dia!”

Swat Cu cabut pedangnya yang tersembunyi di punggung dan menghadapi dua orang itu.

“Kalian boleh maju berbareng dan mengeroyokku!” “Tapi itu tidak adil!” Lie Bun berseru.

Tapi Swat Cu berkata sambil tersenyum. “Biarlah, agar urusan ini cepat selesai.”

Kedua orang yang memprotes itu lalu mencabut pedang dan mengikat rambut mereka erat-erat. Kemudian sambil berseru keras mereka menyerang dengan pedang!

Pertandingan macam ini bukanlah tidak berbahaya, bahkan lebih berbahaya karena kemenangan bukan didasarkan atas menjatuhkan lawan. Tapi menyerobot pengikat rambut. Tentu saja bukan mudah mencuri ikat rambut dari seorang yang menjaga dirinya dengan pedang di tangan!

Tapi setelah Swat Cu bergerak, yakinlah Lie Bun bahwa gadis itu pasti menang. Gerakan pedang gadis itu cepat sekali, hingga sebentar saja ia berhasil mengurung kedua lawannya dan berputar-putar sekeliling mereka hingga terpaksa kedua orang itu ikut berputar.

Pada suatu saat terdengar Swat Cu berseru dan pedangnya berkelebat. Tahu-tahu sebagian besar rambut si berewok terpapas oleh pedang itu dan pengikat rambutnya terbawa pula yang segera disambar oleh tangan kiri Swat Cu! Sebelum hilang kagetnya, kembali pedang gadis itu membabat hingga jari tangan pengeroyok kedua berdarah dan terpaksa ia lepaskan pedangnya. Pada saat itu si gadis telah berhasil pula membetot ikat rambutnya hingga beberapa ikat dari rambut kepalanya terbawa bersama-sama dan menimbulkan rasa pedas dan sakit!

“Bagaimana, sudah puaskah jiwi sekarang?” Swat Cu bertanya kepada kedua orang itu sambil melemparkan pengikat rambut kepada mereka.

“Memang kau jauh lebih pandai dari pada kami dan pantas menjadi pangcu,” jawab mereka berdua dengan tunduk.

Pada saat itu terdengar suara orang tertawa mengejek yang disusul dengan ucapan. “Bagus sekali, mengandalkan kepandaian merebut kedudukan!” Semua orang memandang dan ternyata yang datang adalah orang-orang yang berpakaian hitam yang jumlahnya tujuh orang. Di depan sekali sebagai pemimpin tampak tiga orang tua yang kesemuanya berwajah pucat tapi mempunyai mata yang tajam dan liar.

“Kawan-kawan dari gabungan Yang-heng-jin mempunyai kepentingan apakah mengunjungi kami?” Swat Cu bertanya dengan keren.

Ternyata yang datang itu adalah kawanan Yang-heng-jin atau orang-orang jalan malam, yang bukan lain adalah sekumpulan maling-maling di kota itu!

Memang sejak dulu telah terjadi pertempuran yang sifatnya seperti persaingan di antara kumpulan copet dan maling ini! Kawanan maling ini selalu berpakaian hitam dengan ikat pinggang dan ikat kepala warna merah darah.

Ketiga ketua mereka adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, yakni yang pertama adalah Lui Kian, yang kedua adiknya sendiri bernama Lui Tong, dan yang ketiga adalah seorang bernama Leng Kak.

Ketiga orang maling ini merupakan tiga tokoh maling yang ditakuti orang.

Sudah lama ketiga orang ini ingin sekali menjatuhkan perkumpulan copet agar dapat menggabungkan diri dengan perkumpulan mereka. Dan terutama sekali karena Leng Kak tertarik dan ingin memperisteri Swat Cu yang manis. Maka mereka sengaja datang pada saat pemilihan ketua ini untuk mengacau.

Leng Kak maju mendekati Swat Cu sambil berkata.

“Jadi kau telah terpilih menjadi ketua lagi? Kurang pantas, kurang pantas! Mana ada raja copet seorang wanita? Lebih baik aku menjadi rajanya dan kau menjadi permaisuriku. Bukankah itu lebih baik?”

Swat Cu marah sekali dan menggerak-gerakkan pedangnya. “Tutup mulutmu dan pergi kau dari sini!”

Tapi Leng Kak hanya tertawa saja, dan memandang dengan mengejek.

“Saudara-saudara, sebenarnya apakah maksud kalian?!” bentak Swat Cu yang telah marah sekali.

“Kurang jelaskah?” Lui Tong berkata. “Tadi Leng-twako berkata bahwa ia ingin menjadikan kau sebagai permaisurinya. Nah, lebih baik kau gabungkan perkumpulanmu dengan kami dan kita bekerja sama. Bukankah itu lebih baik?”