-->

Pendekar Wanita Baju Putih Jilid 5 (Tamat)

Jilid 5 (Tamat)

Thian In dan Giok Cu hanya melihat bayangan itu loncat pergi cepat sekali dan terdengar suara: “Thio- kongcu kenal tertawan si auwte coba mengejarnya!”

Thian In dan Giok Cu kagum sekali, dan setelah berdiri bengong agak lama, akhirnya Thian In berkata: “Hebat sekali kepandaian orang itu!”

“Dia adalah Bu-eng-cu Koayhiap. Aku kenal suaranya!” kata Giok Cu gembira.

“Pantas disebut Bu-eng-cu si Tanpa bayangan. Ginkangnya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan.”

“Tapi mengapa Thio-kongcu sampai dapat terampas? Siapa yang melakukan itu?”

Tiba-tiba Thian In teringat. “Eh, mana pendeta Lama yang tadi berdiri saja dan tiba-tiba merampas senjata kita? Dia lihai sekali tentu dialah yang telah menawan Thio kongcu.”

Giok Cu mengangguk membenarkan.  “Tentu dia! Siapa lagi selain dia.  Untung Bu-eng-cu Koay hiap datang, kalau tidak, selain Thio kongcu tertawan, jiwa kitapun tentu telah melayang.”

Thian In menghela napas lagi. “Kalau pendeta itu sampai dapat menawan Thio kongcu di depan mata Bu- eng-cu, dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian pendeta Lama itu.

Mereka merawat luka masing-masing. Untungnya Thian In selalu membekal obat-obat luka. Kemudian mereka memilih dua kuda yang terbaik dan naik kuda itu tinggalkan para korban. Delapan orang pahlawan Kaisar yang terkenal gagah perkasa semua rebah mandi darah di tempat itu, ada yang sudah mati, ada yang pingsan, dan ada yang masih bergerak-gerak sambil mengerang kesakitan!

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Giok Cu berkata bingung.

“Kita harus menuju ke rumah orang tua Thio kongcu. Aku dapat menduga bahwa kaisar tentu akan membasmi mereka serumah tangga. Marilah, makin cepat makin baik. Thio-tihu serumah tangga harus segera lari bersembunyi!”

Mereka lalu bedal kuda dan membalap menuju kota Anting. Mereka berjalan terus tak kenal lelah walaupun sesungguhnya mereka butuh sekali mengaso setelah mengalami pertempuran yang hebat itu dan mendapat luka-luka walaupun hanya luka-luka di luar dan tak berbahaya. Semua ini menunjukkan bahwa baik Thian In dan Giok Cu adalah orang-orang yang menjunjung tinggi prikebenaran, orang-orang yang setia akan tugas seperti halnya Thian In yang menjalankan perintah suhunya, dan yang bertekad dalam membalas budi, seperti halnya Giok Cu yang masih ingat akan budi keluarga Thio kepadanya!

Kedatangan mereka disambut oleh kedua suami isteri Thio. Dengan halus agar tak mengejutkan orang, Giok Cu ceritakan akan hal tertawannya Thio Seng. Namun, tetap saja Thio-hujin mendengar hal ini lalu menjerit dan jatuh pingsan! Setelah ditolong dan siuman kembali, nyonya itu menangis sedikit walaupun ia menahan suara tangisnya, agak tak kedengaran orang tapi tubuhnya bergerak-gerak menggigil dan air matanya tiada hentinya mengalir dari kedua belah matanya. Giok Cu menjadi terharu dan ikut menangis.

Thio tihu dapat menekan penderitaan batin itu. Ia geleng-geleng kepalanya. “Memang sudah kuduga bahwa Siouw Seng tentu akan menjadi seorang luar biasa. Aku girang mendengar dia berjiwa patriot, berarti ia menjunjung tinggi nama nenek moyangnya, tapi tak kusangka ia seberani itu. Ahh...ia masih muda, tak kurang hati-hati...

“Tapi, tayjin tak usah kau khawatir. Thio kongcu telah membangunkan semangat banyak orang gagah. Mereka tentu takkan tinggal diam dan berusaha menolongnya. Sekarang yang penting tayjin berdua harus segera lari dari sini, karena kalau tidak tentu bencana besar menimpa keluar ini! Pasti kaisar akan menangkap kalian serumah tangga!”

Thio tihu mengangguk-angguk. “Aku tahu...aku tahu...tapi sebagai seorang pemangku jabatan, aku harus menerima segala hukum yang dijatuhkan padaku oleh Sri Baginda!”

“Kau keliru, tayjin. Bukankah putermu sudah dengan nyata sekali menyatakan ketidak adilan pemerintah? Mengapa kau hendak berkorban jiwa serumah tanggamu untuk kaisar asing itu? Pula, kalau sampai tayjin tertawan, aku berani pastikan bahwa Thio-kongcu juga pasti akan menyerahkan diri kembali seandainya ia telah terbebas sekalipun. Mana dia mau melarikan diri jika diketahuinya bahwa orang tuanya mendekam dalam penjara!

Karena bujukan-bujukan Thian In dan Giok Cu, akhirnya orang tua itu menurut. Demikianlah, malam- malam mereka berangkat, diantar oleh Giok Cu dan Thian In. Mereka bersembunyi dalam sebuah kampung di bukit yang sunyi di mana mereka menuntut hidup sebagai petani biasa.

Setelah berjanji hendak menyelidiki keadaan Thio Seng, Thian In dan Giok Cu berpisah dari mereka. Kedua orang muda itu naik kud dan menuju ke kota raja. Di sepanjang jalan mereka tak banyak bercakap- cakap, karena mereka masih tertindas oleh rasa kasihan melihat nasib rumah tangga Thio.

Pada keesokan harinya ketika mereka sedang bedalkan kudanya melalui sebuah lereng bukit, dari jauh tampak dua kuda mendatangi dengan dijalankan perlahan oleh penunggangnya. Ketika mereka sudah datang dekat, hampir saja kedua anak itu berteriak dengan girang, kaget, dan heran. Seorang dari kedua penunggang kuda itu ternyata adalah Thio Seng sendiri! Pemuda itu tersenyum-senyum dan ayem saja, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu yang hebat! Setelah saling pandang denga heran, Thian In dan Giok Cu memperhatikan penunggang kedua, Thian In melihat bahwa orang itu adalah seorang tua yang berpakaian sebagai sastrawan pula. Kuku jari tangannya panjang-panjang dan jenggotnya putih panjang pula. Wajahnya biasa saja dan kedua matanya memandang dengan jujur dan terbuka. Bibirnya selalu membayangkan senyum ramah. Kalau bagi Thian In orang tua itu tak dikenal dan tampak seperti seorang guru sekolah biasa saja, bagi Giok Cu adalah sebaliknya. Ia loncat turun dan lari menghampiri lalu memberi hormat sambil menyebut:

“Gan lopeh benar-benar kaukah ini?”

Orang tua itu tertawa bergelak, suara tawa yang jujur dan tak dibuat-buat. Sebaris gigi yang putih, rata dan kokoh kuat tampak. Matana bersinar-sinar mengeluarkan cahaya kilat. Setelah berhenti ketawa, sastrawan tua itu mengelus-ngelus rambut Giok Cu sambil berkata:

“Nona Giok Cu! Hampir aku lupa ketika melihat kau sudah begini berubah. Bagaimanakah, baik-baik saja kau selama ini?”

Orang tua itu ternyata bukan lain ialah Gan Im Kiat, si sastrawan jujur yang dulu datang bersama puteranya, Kam Ciu dan bermalam di rumah Giok Cu. Gan Im Kiat inilah yang dulu melamar untuk dijodohkan dengan Kam Ciu, dan lamaran itu telah ditolaknya!

Giok Cu heran mengapa orang tua itu tidak menanyakan ayahnya dan sebaliknya menanyakan keadaannya sendiri? Masih marahkah orang tua itu kepada ayahnya karena penolakan pinangan dulu?

“Gan lopeh....ayah...ayah telah meninggal dunia,” katanya dan air matanya menitik turun.

“Hm, hm   jangan menangis, nona. Aku sudah mendengar akan hal itu dari Kam Ciu. Kematian bukanlah

hal yang aneh bagi manusia hidup. Bukankah kita semua ini akhirnya toh akan mati juga? Mati dulu atau mati belakangan itu hanya soal waktu saja! Mengapa kau bersedih? Mari, mari, kuperkenalkan aku kepada kawanmu ini. Ia agaknya gagah sekali.”

Thian In ketika mendengar bahwa orang tua itu adalah ayah Kam Ciu, menjadi heran sekali. Orang tua ini kelihatan biasa saja. Apakah anaknya itu benar-benar pandai? Ia sangsi. Mendengar kata-kata terakhir dari Gan Im Kiat, ia maju dan turun dari kuda dan menjura:

“Saya adalah Souw Thian In. Bagaimana lo-sianseng dapat menolong Thio kongcu?”

“Menolong? Ha, menolong?” Gan Im Kiat memandang kepada Thio-kongcu. “Coba kau ceritakan apa yang telah terjadi.

Thio Seng yang semenjak tadi hanya mendengarkan sambil tersenyum, segera berkata: “Gan lo-sianseng ini sebenarnya adalah guruku dalam hal kesusasteraan! Beliau pernah mengajarku beberapa bulan ketika aku masih tinggal di kota raja. Ketika aku ditawan dan dibawa pergi oleh pendeta Lama dulu, aku lalu dimasukkan dalam tahanan sementara menanti persidangan memeriksaku. Dan malam tadi datanglah seorang gagah menolongku. Aku tidak tahu siapa dia karena gerakan-gerakannya demikian cepat dan malam gelap. Tahu-tahu aku telah dibawa loncat naik ke atas rumah dan dibawa ke dalam hutan. Kemudian aku ditinggalkan di hutan itu seorang diri. Ketika aku tanya namanya, ia tak mau mengaku hanya berkata bahwa aku harus menanti di situ dan jangan pergi ke mana-mana. Lalu ia pergi dengan berjanji.

“Dengan bernyanyi? Ah, ia tentu Bu-eng-cu Koayhiap!” berkata demikian Giok Cu memandang kepada Gan Im Kiat dengan tajam tapi orang tua itu hanya tersenyum dan bertanya kepadanya.

“Kenalkah kau kepada Bu-eng-cu Koayhiap?”

Giok Cu geleng-geleng kepala dan menjawab: “Kenal sih tidak, tapi sudah beberapa kali kami bertemu tanpa saling bertemu muka. Beberapa kali ia menolongku dengan menggelap. Gan Lopeh kenalkah kau kepada Bo-eng-cu Koayhiap?” Dan gadis itu kembali gunakan matanya yang tajam menatap wajah orang tua itu.

“Pernah aku mendengar nama itu,” jawabnya sederhana. “Aku tidak tahu siapakah dia, hanya lagu nyanyiannya masih kuingat, beginilah:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram

Bumi hitam gelap kotor Pedang dan pit tak berguna

Biarlah pedangku tumpul berkarat! Biarlah pitku kering tak bertinta!

“Mendengar nyanyiannya itu, aku lalu berteriak dan mencelanya, dan mencelanya, dan kukatakan bahwa lagu itu seharusnya begini:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram

Bumi hitam gelap kotor

Asah pedang, gosik bak basahkan pit Biar pedangku membersihkan bumu Biar pitku menerangi langit

Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan Langit akan bersih, dunia akan terang.

“Setelah aku nyanyikan lagu yang telah kurobah itu, dari dalam gelap ia berseru bahwa lagu itu sangat baik dan ia sangat kagum padaku, lalu berjanji bahwa semenjak saat itu ia akan mengubah pendiriannya.”

Thian In dan Giok Cu mendengar penuturan Thio Seng dengan kagum dan heran. Tiba-tiba Giok Cu berpaling kepada Gan Im Kiat dan berkata:

“Gan Lopeh, di manakah saudara Kam Ciu? Telah lama aku tidak berjumpa dengan dia.

“Kam Ciu? Ah, anak yang tiada guna itu selalu pergi ke mana-mana. Ia mempunyai urusan tersendiri, entah di mana ia berada sekarang. Akupun hendak mencarinya, maka kebetulan sekali kami bertemu dengan kalian di sini. Nah, sekarang aku serahkan Thio Seng kepada kalian untuk diantar ke rumah orang tuanya. Aku harus mencari Kam Ciu!” Kemudian otrang tua itu naik ke atas kudanya lagi dan jalankan kuda itu perlahan ke jurusan lain.

Giok Cu masih merasa penasaran berteriak:

“Gan lopeh, kenalkah kau kepada seorang locianpwe?”

Gan Im Kiat tahan kudanya dan menengok. “Locianpwe yangmana?” “Heng-san Lojin, guru Bu-eng-cu Koayhiap! Kenalkah kau kepadanya?” Gan Im Kiat geleng-geleng kepala dan mulutnya berkata perlahan-lahan.

“Entahlah...entahlah...”kemudian sambil pandang muka Thio Seng, ia berkata sambil tertawa: “Nyanyian karanganmu yang kau ceritakan tadi bagus sekali, aku suka pula menyanyikannya...”

Setelah berkata demikian, orang tua itu jalankan lagi kudanya dan bernyanyi perlahan dengan suara tinggi:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan...

Giok Cu dan Thian In memandang perginya orang tua itu sampai lenyap di sebuah tikungan. Gadis itu menghela napas kecewa karena tidak mendapat keterangan yang jelas maka ia bertanya kepada Thio Seng:

“Thio kongcu, di manakah kau bertemu dengan Gan-lopeh?”

“Ceritaku tadi belum habis!” jawab Thio Seng tertawa. “Setelah penolongku itu memujiku, ia lalu pergi. Aku menaati nasihatnya dan tidak pergi ke mana-mana, hanya duduk saja di situ di atas sebuah batu karang, sampai fajar menyingsing. Kemudian berbareng dengan datangnya sinar matahari, datanglah Gan losianseng itu naik kuda dan menuntun kuda lain di belakangnya. Ia katakan bahwa di jalan ia bertemu dengan seorang yang pesan agar ia menjemput aku di tempat itu. Ia tidak tahu siapa orang yang memesan itu, hanya orang itu meninggalkan seekor kuda untukku! Nah, begitulah maka aku berjalan bersama dia sampai di sini.

Giok Cu makin bingung dan tak mengerti. Siapakah yang main sandiwara? Benarkah Bu-eng-cu yang gagah perkasa itu Kam Ciu? Juga Thian In merasa ragu-ragu, tapi ia masih teguh keyakinannya bahwa Kam Ciu bukanlah seorang pemuda sastrawan yang lemah, hanya ia tidak tahu pasti apakah pemuda itu Bu-eng-cu atau bukan.

Giok Cu dan Thian In lalu antar Thio Seng menuju ke kampung di mana bersembunyi Thio tihu dan isterinya. Pertemuan mereka mengharukan sekali, terutama sekali Thio hujin yang menangis tersedu-sedu karena girang melihat puteranya selamat tapi bersedih mengenang akan nasib keluarnya. Thio Seng menjatuhkan diri berlutut di depan ayah bundanya dan berkata dengan suara penuh penyesalan:

“Ayah dan ibu, ampunilah anakmu yang hanya mendatangkan malapetaka belaka kepada ayah bunda.” Ibunya hanya dapat memeluknya dan menangis makin sedih, tapi ayahnya berkata tegas:

“Tidak, Siauw Seng! Kau tidak berbuat salah!”

“Anak adalah seorang yang puthauw, ayah. Anak hanya mendatangkan bencana.”

“Aku tidak menganggapnya begitu, Siauw Seng. Bahkan...aku bangga melihat sepak terjangmu. Kau tidak nodai nama keluarga bahkan kau membuat keluarga Thio terpandang tinggi oleh rakyat. Kau mengharumkan nama keluargamu, anakku. Biarlah jangan kita bekerja setengah-setengah. Teruskanlah cita-citamu, kalau perlu lawanlah pemerintah asing! Atau setidak-tidaknya gunakanlah pengertianmu untuk mengumpulkan kawan-kawan membasmi para durna yang hanya merusak rakat. Akupun sudah bosan menjadi pembesar, karena di sekelilingku hanya orang-orang rendah, penjilat-penjilat, dan pengejar- pengejar harta benda belaka yang bekerja! Majulah, Siauw Seng, aku dan ibumu hanya bisa berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu. Kau akan dibantu oleh banyak orang-orang gagah seperti yang telah terjadi sekarang ini!”

Thian In dan Giok Cu ditahan semalam di kampung itu. Malam harinya Thio hujin ma suk ke kamar Giok Cu.

“Giok Cu kau anak nakal! Kau ke mana saja, nak? Semenjak kau pergi diam-diam dulu itu, kau kelihatan sibuk sekali. Bukankah urusan yang kau campuri semua itu urusan laki-laki? Mengapa kau ikut-ikut dan turut campur? Biarkanlah saja orang-orang lelaki yang mengurus dan menyelesaikannya!”

Giok Cu tersenyum. “Memang aku berbeda jauh dengan kau, peh-bo. Kau adalah wanita yang halus terpelajar, kau adalah bagaikan bunga, aku adalah bagaikan bunga hutan, bunga liar yang sudah biasa hidup di hutan-hutan!

Thio-hujin tersenyum. “Bunga hutan kalau dipindahkan dan ditanam dalam taman akan menjadi bunga yang lebih indah dan harum lagi, Giok Cu.”

Giok Cu geleng kepala. “Belum tentu, peh-bo. Siapa tahu, iklim dalam taman yang terkurung dan tidak bebas bahkan membuat ia mudah layu dan mati.”

Thio hujin mendekat dan pegang pundak gadis itu. “Giok Cu betapapun juga, aku sayang padamu, dan...dan usul pinanganku dulu itu masih berlaku, nak. Bagaimana pendapatmu? Kau telah melihat anakku yang bodoh. Memang aku tahu, Siauw Seng tidak berharga menjadi suamimu, tapi, kami yang cukup tahu kewajiban.” Giok Cu memandang Thio hujin dengan muka sungguh-sungguh, peh bo. Jangan kau bilang begitu, Thio kongcu adalah seorang yang sangat mulia dan berjiwa gagah perkasa. Bukan dia yang tak berharga, tapi akulah yang tak pantas sama sekali duduk di sampingnya. Aku seorang gadis kasar dan bodoh yang hanya bisa sedikit bermain pedang dan olah raga kasar.”

“Jadi kau tidak menolak?” Thio hujin tanya cepat-cepat.

Giok Cu geleng-geleng kepala. “Peh bo sebenarnya...aku...aku sudah kawin dengan orang lain ”

Terkejutlah Thio-hujin mendengar ini. “Apa?? Kau sudah kawin? Mana suamimu ?

Ditanya demikian, tiba-tiba Giok Cu menangis. Wajah Thio-hujin melembut dan ia segera pegang pundak gadis itu. “Ah, apakah suamimu telah meninggal?” Giok Cu geleng-geleng kepala kemudian dengan terisak-isak ia ceritakan riwayatnya semenjak ia dikawinkan dengan Thian In. Thio hujin mengucurkan air mata karena kasihan dan terharu.

“Jadi pemuda di lain kamar itu, dia itu suamimu, juga musuhmu? Giok Cu tak dapat menjawab karena hatinya perih, maka hanya mengangguk-angguk saja.

“Kalau demikian halnya, maafkanlah aku urusan pinanganku itu anggaplah seperti yang tak pernah kuucapkan saja.” Setelah menghibur dengan kata-kata manis, Nyonya Thio tinggalkan Giok Cu.

Gadis itu duduk termenung seorang diri. Ia buka jendela kamarnya. Ketika bulan yang semenjak tadi tertutup mega kini muncul dengan cahayanya yang gemilang, tiba-tiba Giok Cu ingat besok adalah permulaan musin Chun! Hampir saja ia loncat dan lari ke kamar Thian In untuk memberi tahu hal itu. Hatinya berdebar girang dan seketika itu juga lupalah ia akan kesedihan yang baru saja timbul karena percakapan dengan Thio hujin! Besok ia dan Thian In akan ke Kwie san. Dan di sana pemuda itu akan membuka tabir rahasia yang mendatangkan kegelapan baginya.

Pada keesokan harinya, ketika ia bertemu Thian In dan memberitahukan hal itu, Thian In hanya tersenyum dan berkata:

“Apakah kau kira akupun lupa akan hal itu? Hayolah kita siap dan berangkat dengan cepat!”

Mereka lalu berkemas dan setelah mendapat nasehat-nasehat serta doa-doa dari Thio tihu suami isteri, juga dari Thio Seng, mereka naiki kuda mereka dan kaburkan kudanya menuju ke Kwie-san!

Setelah lewat tengah hari, mereka telah berada di lereng Kwie-san dan jalan mulai sukar. Akhirnya mereka turun dari kuda dan setelah ikat kendali kuda pada sebuah pohon yang lebat daunnya, mereka lalu lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.

Thian In menyatakan herannya mengapa ia belum melihat gurunya, juga Giok Cu yang mengharap-harap akan dapat bertemu dengan Bu-eng-cu merasa gelisah. Mereka telah mendekati puncak dan samar-samar telah tampak genteng sebuah kelenteng yang tinggi, tempat kediaman tokoh-tokoh Kwie-san-pay!

Timbul keraguan dan kecemasan dalam hati mereka. Bagaimana kalau orang-orang yang mereka andalkan itu tidak datang? Sama halnya dengan mengantar jiwa untuk binasa di situ, karena mereka maklum betapa lihainya lawan-lawan mereka di atas panggung itu. Kwie-san-ngokoay atau lima orang aneh dari Kwie san saja sudah merupakan lawan yang berat dan sukar kiranya bagi mereka berdua untuk mengalahkan mereka, belum ditambah dengan Gak Ong Tosu yang luar biasa lihainya! Giok Cu merasa bulu tengkuknya berdiri ketika ia teringat akan Gak Ong Tosu si pendeta siluman yang pernah menculiknya dulu itu!

Thian In tunda langkah kakinya, dituruti oleh Giok Cu.

“Mereka terlalu lihai....bukan makanan kita ” pemuda itu berkata pelan seakan-akan kepada diri sendiri.

“Akupun pikir demikian tapi tak mungkin kita kembali.”

“Tak mungkin! Lebih baik mati daripada berlaku demikian pengecut!” kata Thian In gagah. “Akupun berpendapat begitu!” kata Giok Cu.

“Hm, ada persamaan di antara kita,” kata Thian In. “Kurasa...banyak persamaan kita.”

Pada saat itu tiba-tiba dari atas puncak terdengar bunyi orang bernyanyi. Itulah nyanyian yang telah terkenal, tapi yang telah diubah oleh Thio Seng! Penyanyi itu hanya dinyanyikan bagian bawah saja.

Asah pedang, gosok bak basah pit!

Biar pedangku membersihkan bumi, biar pitku menerangi langit Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan

Langit akan bersih, dunia akan terang

Suara itu makin keras dan bergema di segenap penjuru hingga Thian In keluarkan suara pujian. Giok Cu telah loncat bangun dan pegang lengan Thian In.

“Dia telah datang!” katanya dengan gembira dan wajah berseri. Bu-eng-cu Koayhiap?” tanya Thian In.

Mereka lalu bergerak cepat ke arah datangnya suara. Semangat mereka timbul dengan mendadak! Tapi mereka tak dapat temukan penyanyi itu dan ketika mereka telah tiba di depan pintu kelenteng itu, belum juga mereka bertemu dengan orang yang dicarinya! Bangunan itu adalah sebuah gedung beras yang besar yang berbentuk seperti kelenteng, dan di atas pintunya yang besar terdapat tulisan: “Kwie-san-pay.”

Keadaan di situ sunyi saja dan pintu depannya tertutup. Thian In mencoba untuk dorong daun pintu, tapi ternyata pintu yang tebal dan berat itu terpalang dari dalam. Pemuda itu berani gunakan kepalan tangan menggedor pintu sambil berseru keras:

“Kwie-san Ngo-lo-enghiong! Kami berdua orang-orang muda telah datang memenuhi janji. Berilah pintu!”

Setelah berteriak beberapa kali, tiba-tiba dari dalam terdengar suara orang ketawa nyaring dan disusul oleh kata-kata.

“Pintu memang tertutup, tapi tembok kami demikian rendah, lompati saja tembok itu kami menanti di taman!” Kata-kata ini seolah-olah dikeluarkan terhadap seorang kawan lama, hingga Thian In dan Giok Cu segera memandang tembok itu. Bukan main tingginya dinding yang mengurung tempat itu. Tidak kurang dari lima belas kaki! Dan di atas tembok dipasangi besi-besi tajam seperti ujung tombak lagi. Kalau bukan orang yang telah mempunyai kepandaian loncat dan ginkang yang tinggi, sukarlah agakna untuk dapat meloncati tembok itu tanpa terluka kulitnya atau terobek pakaiannya oleh ujung tombak tajam itu!

Tapi Thian In tidak mampu perlihatkan kelemahannya hanya karena menghadapi rintangan macam itu. “Dapatkah kau loncati tembok ini?” tanyanya kepada Giok Cu.

Setelah mengukur dengan matanya, Giok Cu berkata terus terang: “Kalau tidak terhalang oleh ujung-ujung tombak itu, tentu dapat.”

Tiba-tiba dari dalam terdengar suara tertawa lagi yang diikuti suara ejekan: “He anak-anak muda, hati- hatilah. Ujung-ujung besi itu telah karatan dan beracun!”

Thian In merasa mendongkol sekali.

“Aku hendak loncat dulu, kau menyusul kemudian dan pegang kedua kakiku. Aku akan lempar kau lewat tembok dengan kedua kakiku. Mengertikah?

Giok Cu tersenyum maklum. “Baiklah!”

Setelah kencangkan ikat pinggang dan ringkaskan pakaian, Thian In enjot tubuhnya dan dengan gerakan Pek-lion-seng thian atau Naga-putih-naik ke langit ia loncat ke atas dengan ringannya. Tubuhnya melayang dengan cepat dan ia gunakan kedua tangannya untuk menyambar dan memegang dua batang besi tombak di atas tembok! Ia ulur kedua kakinya melintang dan berseru ke bawah:

“Adik Giok, kau naiklah!”

Giok Cu kagum melihat gerakan pemuda itu. Kemudian setelah mendengar seruan Thian In, ia loncat ke atas dengan gerakan Hui hiau-coan-in atau burung terbang terjang mega. Ia telah gunakan seluruh tenaganya meloncat dengan mudah ia dapat menangkap pergelangan kedua kaki Thian In yang diulurkan.

Awas, aku lempar kau ke dalam!” Thian In lalu ayunkan kakinya beberapa kali untuk ambil tenaga, kemudian dengan keras ia tendangkan kakinya ke atas dan tubuh Giok Cu terlempar ke atas melewati ujung-ujung tombak!

Karena sudah berjaga, maka Giok Cu dapat atur tubuhnya sedemikian rupa hingga ia melayang dengan baik ke dalam! Ternyata di sebelah dalam adalah sebuah taman bunga yang indah dan dengan selamat Giok Cu dapat turunkan kedua kakinya di atas rumput hijau!

Melihat bahwa Giok Cu telah melayang ke dalam dengan selamat, Thian In lalu ayun kakinya ke atas dan dengan ber-poksay atau berjumpalitan dengan gerakan Lee-hi-ta-teng atau Ikan-lohi-loncat meletik ia berhasil melewati ujung-ujung tombak dan melayang ke dalam dengan selamat pula!

Mereka berdua memandang ke sekeliling dengan waspada. Dan apa yang tampak di dalam taman adalah di luar dugaan mereka.

Lima orang saykong rambut panjang dengan pakaian seragam warna hijau tengah berdiri mengelilingi dua orang yang sedang duduk main catur. Thian In dan Giok Cu kanali bahwa dua di antara kelima saykong itu adalah Hoan Tin-cu dan Gan Tin-cu, maka mereka dapat menduga bahwa tiga saykong yang lain tentulah tokoh-tokoh Kwie-san-pay yang lain. Maka lengkaplah Kwie-san-ngo-koay! Tapi kenyataan ini belum terlalu mengagetkan mereka, karena ketika mereka melihat kedua orang yang sedang bermain catur itu mereka terkejut sekali. Mereka adalah Gak Ong Tosu dan Beng Po Hiatsu, si pendeta Lama yang kelihaiannya seperti iblis dan yang telah berhasil menculik Thio Seng dulu!

Biarpun mereka berdua tabah dan gagah, namun melihat keadaan lawan yang tangguh itu, diam-diam Thian In dan Giok Cu mengeluh! Mereka bertujuh, lima tokoh Hwie-san dan dua pendeta siluman yang sedang main catur itu sama sekali tidak melihat mereka bahkan seakan-akan tidak tahu akan kedatangan mereka.

Thian In merasa dihina sekali maka ia maju hendak menegur, tapi tiba-tiba Gan Tin-cu goyang-goyang tangan menyuruh ia diam!

Thian In tidak jadi menegur dan melihat betapa kelima saykong itu memandang ke arah papan catur dengan penuh perhatian, ia pun sangat tertarik! Dengan tak heran ia maju melangkah mendekati tempat itu, diikut Giok Cu. Tak lama kemudian mereka berdua berdiri di sebelah kelima saykong itu sambil menonton orang main catur! Sungguh lugu keadaan mereka. Jauh-jauh datang hendak menguji ilmu silat, tidak tahunya mereka kini berdiri diam bagaikan patung, nonton orang beradu otak dengan tertarik sekali!

Pada saat itu kedudukan raja yang dipegang Beng Po Hoatsu terdesak dan terkurung.

“Ha, ha, ha! Toyu, sekarang kau pasti kalah! Taruhan itu takkan terlepas lagi dari tanganku!” kata Gak Ong Tosu girang.

Tapi Beng Po Hoatsu tidak menjawab hanya usap-usap jidatnya dan mencari jalan untuk mengeluarkan rajanya dari kepungan Thian In makin tertarik.

“Apakah taruhan mereka?” tanyanya kepada Gan Tin-cu. Saykong itu tersenyum dan gerakan kepalanya ke arah Giok Cu!

“Apa maksudmu?” Thian In berbisik dan Giok Cu memandang dengan mata terbelalak. “Nona inilah taruhan mereka,” jawab Gan Tin-cu dengan perlahan.

Bukan main marah hati Giok Cu. Ia hendak menerjang kedua pertapa yang main catur itu, tapi Thian In pegang lengannya dan menyabarkannya.

Pada saat itu terdengar suara orang bernyanyi. Yang dinyanyikan adalah lagu-lagu yang diambil dari sajak To-tik-khing. Ketika Thian In dan Giok Cu menengok, ternyata pintu depan yang tadinya tertutup kini telah terbuka dan dari pintu muncullah seorang pemuda berpakaian sebagai seorang siucay atau sastrawan. Sambil berjalan lenggang kangkung ke arah mereka, orang itu tiada hentinya bernyanyi den gan suara tinggi.

Ketika ia telah datang dekat, bukan main heran hati Giok Cu dan Thian In karena orang itu bukan lain ialah Gan Kam Ciu!

Kam Ciu lewati Thian In dan Giok Cu seakan-akan tak mengenalnya, dan ketika kedua orang muda itu hendak menegurnya, ia menggunkan sebelah mata mengedip dan memberi tanda, hingga Giok Cu hanya memandang bengong terheran-heran! Tapi Thiau In tampak tersenyum-senyum dan agaknya ia tahu akan permainan sandiwara yang dilakukan oleh Kam Ciu!

Seperti seorang yang tolol, Kam Ciu mendekati meja tempat main catur dan berdiri menggendong tangan sambil terus saja bernyanyi-nyanyi.

Tiba-tiba Ceng Po Hoatsu yang baru pusing karena rajanya terkurung, merasa marah dan terganggu sekali. Ia angkat kepala dan membentak: “Bodoh! Diam jangan gaduh!”

Kam Ciu leletkan lindah dan angkat pundak. Ia lalu pindah ke belakang Beng Po Hoatsu dan memberi nasihat serta petunjuk.

“Berikan saja kuda itu. Nah, yang di kanan itu, biar saja dimakan kuda kurus itu. Mula-mula Beng Po Hoatsu marah-marah, tapi entah mengapa, ia menurut juga! Beberapa langkah dijalankan oleh Bong Po Hoatsu menurut petunjuk Kam Ciu yang agaknya ahli main catur pula hingga akhirnya Gak Ong Tosu menggebrak meja karena mereka bermain seri!!

“Ha, ha! Gak Ong Tobeng! Jangan kau buru-buru bergembira, akhirnya kita toh seri juga. Jadi taruhan itu harus dibagi dua!” Kemudian mereka berdua memandang ke arah Giok Cu dan Thian In.

“He, kemari kau!” Gak Ong Tosu melambaikan tangan ke arah Giok Cu. “Coba kau pilih di antara kami berdua, mana yang lebih kau suka?”

Bukan main marahnya Giok Cu. Ia cabut pedangnya. Thian In melangkah maju dan berkata: “Tidak pantas menghina yang muda.

Gak Ong Tosu memandang Thian In seperti juga baru saat itu ia meliihat pemuda itu, ia berdiri dan menuding:

“Eh, kau? Kau berani berlaku kasar terhadap susiokmu? Hayo berlutut!”

Tapi Thian In sudah memuncak marahnya maka sambil pelototkan mata ia menjawab:”Aku tidak mempunyai susiok seperti kau!”

“Eh, kurang ajar!” Gak Ong Tosu ulur tangannya, tapi kelima saykong segera maju menahannya.

“Sabar Gak Ong Tobeng, mereka ini datang untuk kami. Sabarlah, biar kami layani mereka lebih dulu untuk membalas dendam kami dulu!”

Gak Ong tertawa bergelak. “Ya, ya, aku tahu. Tapi awas jangan kalian merusak yang secantik halus itu!” Dan kembali ia tertawa bergelak sambil memandang ke arah Giok Cu dengan sikap menjemukan sekali.

Kemudian Gan Tin Cu menjura kepada Giok Cu. “Pek I Lihiap, kau sungguh gagah. Biarpun masih muda tapi ternyata keu penuhi janjimu. Nah, setelah kau datang marilah kita saling ukur tenaga. “Tanpa menjawab Giok Cu hunus pedang dan lepaskan sabuk suteranya. Gan Tin-cu juga lolos pedangnya dan mereka segera bertempur!

Hoan Tin-cu menghampiri Thian In dengan senyum mengejek.

“Orang she Souw! Bagus sekali kau juga datang! Ternyata kau bukanlah orang bai-baik melihat sikapmu terhadap susiokmu tadi. Mari, mari kuperkenalkan saudara-saudaraku.” Ia menunjuk kepada tiga orang saykong yang masih berdiri di belakangnya sambil memangku tangan.

“Nah, inilah toasuheng Ang Tin-cu yang bertempur melawan Pek I Lihiap itu adalah Jisuheng Gan Sin-cu. Ini suteku Lan Tin-cu dan Beng Tin-cu. Sekarang bersiaplah, dan cobalah jatuhkan aku untuk kedua kalinya!”

Thian In memandang kepada Kam Ciu yang masih duduk di atas sebuah bangku di bawah pohon bunga sambil tersenyum. Ia lihat pemuda itu berkedip padanya dan anggukkan kepala, maka tanpa ragu-ragu lagi ia cabut pedangnya.

“Marilah, Hoan lo-enghiong!”

Hoan Tin-cu segera mainkan Kwie-san-kianhwat yang lihay. Baru beberapa jurus saja tahulah Thian In bahwa Hoan Tin-cu telah memperdalam ilmu pedangnya dan kepandaiannya telah banyak maju jika dibandingkan dengan dulu. Tapi baiknya ia sendiri telah mendapat petunjuk-petunjuk dari suhunya hingga ia dapat melawan dengan gagah. Dengan gunakan ilmu pedang Delapan dewa mabok arak ia perlihatkan kegesitannya hingga Hoan Tin-cu merasa terkejut sekali. Tak disangkanya pemuda itu telah demikian maju selama ini.

Di lain, biarpun untuk beberapa lama masih dapat mengimbangi permainan pedang Gan Tin-cu, namun setelah bertempur lima puluh jurus lebih, gerakan pedang dan sabuk sutera Giok Cu makin lemah dan ia hanya dapat menangkis saja.

Sambil bertempur, Thian In kadang-kadang layangkan pandangannya ke arah Giok Cu dan diam-diam ia merasa cemas sekali melihat betapa gadis terkurung oleh sinar pedang Gan Tin-cu! Ia kertak gigi dan putar pedangnya lebih cepat lagi. Pada suatu kesempatan yang baik, ia gunakan gerakan Hong-cui-pay hio atau Angin tiup-daun-tua, pedang di tangan kanannya menyambar ke arah tenggorokan lawan sedangkan tangan kirinya yang trkepal mengirim pukulan. To-tiu-kim-ciang atau Robohkan-lonceng-mas! Hoan Tin-cu berseru kaget dan miringkan kepala untuk hindarkan pedang lawan, tapi ia tidak sangka bahwa tangan kiri Thian In dapat bergerak secepat itu. Kepalan pemuda yang dipukulkan dengan tenaga hebat itu menggempur dadanya hingga Hoan Tin-cu terlempar jauh lalu terguling sambil muntahkan darah dengan mata terbalik!

Tapi pada saat itu juga Gan Tin-cu berhasil melukai pundak Giok Cu yang terpaksa lepas pedangnya karena tangan kanannya terasa lumpuh! Ia loncat mundur dan kelebatkan sabuknya menjaga diri, tapi Gan Tin-cu yang melihat betapa Hoan Tin Cu roboh menjadi marah sekali dan kirim serangan maut!

Pada saat yang berbahaya bagi Giok Cu itu, berkelebatlah bayangan putih secepat kilat dan tahu-tahu pedang Gan Tin Cu telah tertangkis hingga terpental dan hampir terlepas dari tangannya! Ketika ia memandang, ternyata yang menangkisnya bukan lain ialah pemuda sasterawan yang nonton main catur tadi! Entah kapan mengambilnya, Kam Ciu telah berdiri di situ dengan pedang Giok Cu di tangan.

“Sabar, totiang, orang yang sudah kalah tak perlu didesak terus!” katanya sambil tersenyum.

Gan Tin Cu marah sekali dan tiga saudaranya yang tadi hanya nonton saja, kini maju mengurung Kam Ciu!

“Gan twako! Kau..kau...Bu-eng-cu?” Giok Cu memandang dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, tapi Kam Ciu hanya tersenyum.

“Nona Ong, kau mengasolah di sana,” ia menunjuk bangku yang didudukinya tadi, biarlah aku yang wakili kau menerima gebukan dan hajaran dari orang tua yang berbudi ini.”

Mendengar disebutnya nama Bu-eng-cu, terkejutlah keempat saykong itu. Sementara itu Gak Ong Tosu yang pada saat itu tengah merawat dan mencoba untuk memulihkan kesehatan Hoan Tin Cu yang terpukul, juga terkejut dan menengok. Ia pandang anak muda yang tampak lemah lembut itu dengan heran. “Benarkah kau Bu-eng-cu Koayhiap?” Ang Tin-cu tokoh tertua dari Kwie-san bertanya.

Kam Ciu menjura, kemudian ia kembalikan pedang Giok Cu kepada gadis itu. Ia sendiri lalu gunakan tangan kanan mencabut sebatang pedang tipis dari bawah baju dan keluarkan sebatang pensil besi dengan tangan kiri. Lalu ia bernyanyi:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram

Bumi hitam gelap kotor

Asah pedang, gosok bak basahkan pit Biar pedangku membersihkan bumi Biar pitku menerangi langit

Pedang dan pit bersatu, ribuan, laksaan Langit akan bersih, dunia akan tenang

Sambil bernyanyi, ia putar-putar pedang dan pit dari tangan kiri ke tangan kanan. Gerakannya demikian cepat hingga orang tidak tahu di tangan manakah pedang atau pit terpegang!

Mendengar lagu itu, Ang Tin Cu menjura:

“Bok-en-cu Koayhiap! Selama ini pinto dengar bahwa kau dan suhumu telah cuci tangan dan bebaskan diri dari ikatan segala macam urusan dunia. Tapi ternyata dugaan pinto keliru. Mengapa tanpa sebab koayhiap datang ke sini dan ikut cam pur dalam urusan ini? Kalau memang koayhiap menghargai persahabatan, biarlah lain kali koayhiap datang agar kami dapt menyambut sepantasnya.”

“Ha, kau terlalu sungkan, totiang! Jangan katakan bahwa aku datang tanpa sebab! Sebenarnya kalian sendirilah yang telah berubah adat. Itupun sebenarnya bukan urusanku, kalau saja kalian tak ikut-ikut menjadi anjing penjilat segala durna dan hendak membasmi orang-orang gagah pembela rakyat seperti Thio kongcu!”

“Eh, eh! Jadi kau juga bercampur gaul dengan segala pemberontak?? Ah, rusaklah dunia kang-ouw. Kalau begitu, biarlah, jangan kau anggap kami tidak pandang persahabatan.” Sebagai penutup bicaranya, Ang Tin-cu gerakan pedangnya menyerang. Ternyata gerakannya lebih hebat daripada saudara-saudaranya. Sabetannya berat dan cepat mendatangkan angin dingin.

Kam Ciu tertawa geli bagaikan seorang anak-anak mempermainkan kawannya. Sekali ia berkelit, maka lenyaplah tubuhnya! Ang Tin-cu menjadi heran dan bingung, maka ketiga saudaranya segera maju menyerbu!

Tapi Kam Ciu buktikan bahwa ia pantas mendapat julukan si Tanpa bayangan, karena ia betul-betul bagaikan seekor burung kepinis yang gesit seklai dan terbang ke sana kemari melayani empat pedang lawannya. Pedangnya bergerak lihai dan lebih hebat adalah pit atau pensilnya, karena pensil itu dengan tak tersangka-sangka digunakan untuk menotok jalan darah musuh! Maka biarpun dikerook empat, ia masih sempat mempermainkan semua lawannya!

Thian In dan Giok Cu kagum sekali. Thian In kagum karena biarpun memiliki kepandaian yang berapa kali lipat lebih tinggi darinya, namun Kam Ciu dapat sembunyikan kepandaiannya itu sedemikian rupa hingga ia sendiri tertipu. Sedangkan Giok Cu memandang sepak terjang Kam Ciu dengan dada berdebar. Ia menghendaki seorang suami yang pandai ilmu surat dan lihai ilmu silat dan seorang pemuda seperti Kam Ciu pernah ditolak lamarannya! Kini ia dapat buktikan mata sendiri betapa hebat dan tinggi ilmu silat pemuda kutu buku itu.

Gak Ong Tosu melihat betapa keempat saykong terdesak hebat dan sewaktu-waktu tentu dapat dirobohkan oleh Kam Ciu, merasa heran sekali. Saykong itu kepandaiannya sangat tinggi dan tak kalah banyak dengan dia sendiri, namun dengan berempat mereka masih dapat terdesak. Alangkah hebatnya kepandaian pemuda itu. Maka ia segera perhatikan pemuda itu. Pernah ia bertempur melawan Kam Ciu, tapi ia tidak dapat melihat jelas wajah Kam Ciu. Kini melihat bahwa Bu-eng-cu hanyalah seorang pemuda, keheranannya besar sekali.

Gak Ong Tosu lalu menerjang maju dengan tongkat bajanya diputar di tangan. Datangnya tosu ini membuat keadaan berubah dan Kam Ciu segera terdesak!

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini Thian In segera menyerbu membantu Kam Ciu. Pertempuran dua lawan lima terjadi seru sekali. Namun gak Ong Tosu ilmu tongkatnya memang luar biasa dan tenaga lweekangnya masih jauh lebih tinggi dari Thian In dan setingkat lebih kuat daripada Kam Ciu. Keadaan mereka berbahaya sekali. Tapi terdengar Kam Ciu berseru keras dan pemuda luar biasa itu segera putar pedangnya sedemikian rupa hingga sinar pedangnya mengurung tubuhnya dan tubuh Thian In hingga tak mudak terserang lawan. Ia kerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk digunakan menjaga diri tapi sedikitpun tak dapat balas menyerang. Biarpun demikian, agaknya tak mudah bagi kelima lawannya untuk menerjang masuk di antara sinar pedang Kam Ciu! Thian In mengikuti contoh Kam Ciu, iapun putar pedangnya dalam gerak perlindungan. Tapi sampai berapa lamakah kedua orang itu dapat bertahan? Diam-diam Giok Cu mengeluh dan merasa cemas sekali.

Pada saat itu terdengar bentakan: “Gak Ong, kau mundur!” dan tahu-tahu seorang tosu gemuk pendek telah berada di dalam taman dan gunakan kipas mengebut-ngebut dirinya.

Mendengar suara itu, Gak Ong Tosu loncat keluar dari medan pertempuran dan berdiri menghadapi tosu yang baru datang itu dengan sikap menantang dan tongkat dilintangkan! Thian In mendengar suara tosu itu segera bertambah semangatnya dan ia berseru perlahan: “Suhu telah datang!”

“Sudah sejak tadi beliau datang!” berkata Kam Ciu sambil tertawa. “Hayo kita bereskan empat siluman ini.” Setelah berkata demikian gerakan pedangnya berubah. Kalau tadi ia hanya menjaga diri saja, kini sinar pedangnya menyambar-nyambar dan berkeredepan menyerang dengan hebatnya!”

Terdengar pekik ngeri dan Gan Tin Cu roboh mandi darah. Gak Ong Tosu marah sekali. Ia tinggalkan suhengnya dan loncat membantu para pengeroyok Kam Ciu.

“Gak Ong, ke sini kau!” Gak Bong Tosu membentak, tapi bukan Gak Ong Tosu yang datang, sebaliknya terdengar suara tertawa seperti ringkik kuda dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang pendeta Lama berbaju kuning.

“Hi, hi, hi! Kalau orang tua mulai sesat, yang muda tidak menghargainya lagi. Gak Bong Tosu, telah lama aku mendengar namamu yang meenjulang tinggi sampai ke langit. Untung sekali hari ni aku dapat bertemu muka dengan kau. Ternyata nama besarmu itu meragukan. Kau agaknya bersekutu dengan kaum pemberontak dan untuk membela mereka kau hendak kurbankan sute sendiri. “Bagus, bagus!”

Gak Bong tunda kebutan kipasnya dan memandang Lama itu dengan tajam. Tosu siapakah dan apa gelaran, di mana tempat pertapaan?”

Kembali pendeta Lama itu tertawa ngikik. “Aku tidak ternama seperti engkau. Aku disebut orang Beng Po Hoatsu.”

Terkejutlah hati Gak Bong Tosu mendengar nama ini. Beng Po Hoatsu adalah seorang tokoh kenamaan dari Tibet! Ia tahu bahwa Beng Po Hoatsu adalah seorang pendeta Lama yang sangat tinggi ilmu kepandaiannya. Ia tahu pula bahwa Ulama ini telah menyeleweng dari agamanya dan kini datang ke Tiongkok dan bersekutu dengan kaisar Boan membantu para durna untuk memuaskan nafsunya akan harta dan kemuliaan! Mengingat akan hal ini, Gan Bong Tosu tersenyum.

“Hm, jadi tosu adalah Beng Po Hoatsu? Ah, siapakah yang belum pernah mendengar namamu yang termashur? Aku pernah mendengar cerita tentang seorang pendeta Lama yang mengkhianati dan mencemarkan nama agamanya sendiri. Tidak tahu apakah hubungan pendeta itu dengan kau!

Merahlah wajah Beng Po Hoatsu mendengar sindiran ini. Ia angkat papan catur dari meja dan banting itu ke tanah. Papan itu amblas dan lenyap, masuk ke dalam bumi bagaikan tenggelam.

“Gak Bong, jangan kau menghina orang. Sampai di mana sih tingginya kemampuanmu maka kau berani menyombongkan diri di depanku?” Kemudian sambil perdengarkan suara ringsik nyaring Beng Po Hoatsu kebutkan ujung jubahnya yang panjang ke arah kepala Gak Bong Tosu. Guru Thian In ini maklum betapa lihai dan berbahayanya kebutan ini yang dapat menghancurkan batu karang, maka cepat ia angkat kipasnya menangkis. Kipas Gak Bong Tosu bukaknlah sembarangan kipas. Benda itu terbuat dari pada bambu kuning yang ulet, tipis dan ujungnya runcing. Kipas ini merupakan senjatanya yang jarang terkalahkan.

Giok Cu melihat kedua orang tua jagoan itu berdiri berhadapan dan gerak-gerakkan senjata mereka yang istimewa, yakni ujung-ujung lengan baju dan kipas perlahan-lahan seakan-akan orang bermain-main. Tapi dari kedua ujunag baju dan kipas itu menyambar keluar angin dan pukulan yang mematikan! Ternyata dalam hal tenaga lweekang mereka berimbang.

Melihat bahwa dengan lweekang ia tak dapat menjatuhkan lawannya, Beng Po Hoatsu segera berseru keras dan tahu-tahu tubuhnya lenyap dari pandangan mata Giok Cu. Ia hanya melihat bayang-bayang putih menyambar ke arah Gak Bong Tosu yang juga berseru keras dan putar kipasnya. Sebentar saja kedua tokoh persilatan yang tinggi ilmunya itu telah berputar-putar merupakan dua bayangan atau gundukan sinar yang melesat ke sana sini saling serang. Mereka telah terlibat dalam pertempuran mati- matian! Giok Cu merasa pandangan matanya kabur dan ia tak dapat bedakan mana Gak Bong mana Beng Po! Ketika ia menengok ke arah Kam Ciu dan Thian In, hatinya makin cemas saja, karena kembali kedua anak muda itu terdesak hebat oleh Gak Ong Tosu dan ketika saykong Kwie-san yang masih mengeroyoknya!

Ingin sekali Giok Cu membantu, tapi apa daya? Kepandaiannya masih jauh daripada cukup untuk memasuki pertempuran.

Tiba-tiba Giok Cu melihat seorang kakek berjalan dari luar memasuki pintu dan menuju ke taman itu. Hatinya berdebar keras, karena orang tua itu bukan lain ialah Gan Im Kiat, ayah Kam Ciu. Orang tua itu langsung menghampiri Giok Cu dan tersenyum padanya, lalu berkata: “Perkelahian hebaat, pemandangan bagus, bukan?”

Kemudian Gan Im Kiat berseru ke arah kedua pendeta yang sedang bertempur: “He, Gak Bong! Kau turutlah urusanmu dengan Gak Ong! Tinggalkan Lama ini.

“Heng San Lojin! Aku serahkan penghianat agama ini padamu! Gak Bong Tosu lalu loncat keluar dan langsung menyerang Gak Ong yang terpaksa melayani suhengnya dengan lihai.

Sementara itu Bong Po Hoatsu marah sekali. Ia tuding muka Gan Im Kiat dan berkata keras marah: “Jadi, inikah macamnya Heng San Lojin, manusia setengah dewa yang kabarnya telah sucikan diri di atas gunung Heng San dan yang telah cuci tangan dari segala urusan dunia?”

“Gan Im Kiat gerakkan alis matanya dan angkat pundak, lalu menarik napas panjang. “Memang tadinya aku orang tua bosan mencampuri segala urusan tapi setelah muncul orang-orang seperti kau ini, setelah ini, setelah para pertapa turun gunung, keluar gua dan menambah kacau dunia yang sudah kotor, terpaksa aku tak biarkan lagi. Kalau orang-orang seperti kau dan kawan-kawanmu turun ke dunia dan membuat ribut, selain orang-orang seperti aku dan Gak Bong ini, siapa lagi yang dapat mengendalikan kalian?”

“Heng-san Lojin! Jangan kau sombong! Kau kira kau saja orang pandai di dunia ini? Majulah, kalau kau bisa kalahkan aku, barulah kau boleh banggakan diri sebagai jago silat kelas tertinggi!”

Gan Im Kiat tersenyum. “Ah, kau jumawa sekali. Memang, tadi kau telah berhasil mendesak Gak Bong, tapi hal itu kau anggap suatu kemenangan? Gak Bong sengaja mengalah, tahukah kau?” Heng-san Lojin tertawa keras hingga pendeta Lama itu makin marah.

“Hari ini kuantarkan ke neraka!” ia berseru sambil menerjang maju.

“Cobalah akupun ingin sekali melihat nerakamu itu seperti apa!” Gan Im Kiat pentang kedua telapak tangannya dan dengan kepretan-kepretan ujung jari ia melawan ujung tangan baju Beng Po Koatsu yang lihai. Kalau tadi Giok Cu telah kabur pandangannya melihat Gak Bong Tosu bertempur melawan Beng Po Hoatsu, kini tiba-tiba ia merasa pening karena kedua orang luar biasa itu bertempur dengan lebih cepat lagi. Beberapa tombak di sekeliling mereka seakan-akan diserang angin puyuh yang berputar-putar hingga daun pohon rontok berhamburan. Kedua orang itu seakan-akan berkelahi dengan kaki tak menginjak tanah karena tidak sedikitpun debu mengepul dan kadang-kadang bayangan tubuh mereka mengapung tinggi! Sementara itu, setelah Gak Ong terpaksa melayani Gak Bong. Thian In dan Kam Ciu berhasil merobohkan ketiga saykong dari Kwie-san! Dan Gak Bong Tosu yang mendesak adik seperguruannya akhirnya dapat juga merobohkan Gak Ong Tosu dengan sebuah tendangan soan-houng-twie. Setelah Gak Ong Tosu roboh, Gak Bong Tosu berkata kepadanya:

Gak Ong, terpaksa aku mentaati pesan suhu. Serahkan kembali kepandaianmu!” Secepat kilat kaki kanannya bergerak dan terdengar suara pletak pletak tulang patah. Ternyata kedua tulang pundak Gak Ong telah terpapas dan kedua sambungan lututnya juga terlepas! Dengan demikian, walaupun Gak Ong dapat sembuh kembali, namun ia akan menjadi seorang yang lemah dan bercacad, tak mungkin lagi gunakan kepandaiannya berbuat kejahatan!

Melihat keadaan kawan-kawannya, Beng Po Hoatsu berteriak. “Aku pasti mengadu jiwa dengan kalian!”

“Sudahlah, hoatsu, lebih baik kau kembali ke Tibet dan minta ampun agar dosamu dibersihkan!” Gan Im Kiat berkata.

“Orang rendah! Kau akan kubunuh lebih dulu!” Dan pendeta Lama itu menyerang lebih hebat. Terpaksa Heng-san Lojin melayaninya dan pada suatu kesempatan baik, Gan Im Kiat berhasil kirim sentilan jari ke dada Beng Po Hoatsu yang terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung dengan wajah pucat!

“Terima kasih atas pemberianmu!” Lama itu berkata dan sambil meringis kesakitan ia angkat kaki dan lari!

“Omitohud!” Gan Im Kiat menyebut nama dewa. “Mudah-mudahan sebelum tiga hari ia dapat menemukan obat untuk menyambung jiwanya.”

Gak Bong Tosu menjura kepada Hek-san Lojin. “Sungguh kebetulan sekali kedatanganmu, orang tua. Kalau tidak entah bagaimana jadinya.”

“Yang benar tentu menang. Yang bersih pasti selamat.” Gan Im Kiat berkat tertawa. Giok Cu menghampiri Gan Im Kiat dan tiba-tiba jatuhkan diri berlutut di depan orang tua itu.

Heng-san Lojin mengangkatnya bangun. “Eh, nona, jangan berlaku sungkan. Aku adalah lopehmu seperti biasa.”

Gak Bong Tosu pandang muka dan tubuh Giok Cu dengan penuh perhatian. Kemudian ia menghela napas. “Aah, nona ini berjodoh unutk menjadi penggantiku kelak.” Kata-kata ini diucapkan perlahan seperti kepada diri sendiri.

Tiba-tiba Thian In menghampiri mereka dan setelah ia memberi hormat kepada suhunya dan kepada Heng-san Locianpwee. Telah lama ceecu menyangka bahwa saudara Kam Ciu bukan orang sembarangan dan ternyata dugaan ceecu betul. Ceecu tahu pula apa yang terkandung dalam hati saudara Kam Ciu terhadap nona Ong.” Kam Ciu memandangnya dengan mata melotot dan Giok Cu memandangnya dengan mata heran dan muka merah.

“Maka, hati ceecu takkan tentram kalau belum dapat menyaksikan perjodohan saudara Kam Ciu dengan adikku Giok Cu.

Gak Bong Tosu dan Heng-san Lojin saling pandang dengan tertawa, sebaliknya Kam Ciu hampir saja loncat ke atas karena heran dan malu.

“Tidak, tidak, Saudara Thian In jangan putar balikkan duduknya persoalan. Aku tidak dapat memenuhi usulmu itu. Aku telah ditolak Souw Lo-enghiong almarhum, juga oleh nona Giok Cu. Aku bukan jodohnya. Tapi kaulah suaminya, saudara Thian In. Bukankah kau pernah dikawinkan dengannya?”

Thian geleng-geleng kepala. Tak mungkin...tak mungkin ”

Kam Ciu melangkah maju. “Saudara Thian In, dengar! Aku telah berjanji almarhum Ong Lo-enghiong untuk mempersatukan kalian kembali, dan kau telah memasuki sayembara dan diterima! Bukankah kau seorang jantan? Ingat, kalau sekarang kau mengingkari janji dan tidak mau kembali menjadi suami nona Giok Cu, bukan orang lain, aku sendirilah yang akan menghajarmu!”

Juga Gak Bong Tosu dan Heng-san Lojin membujuk Thian In supaya berlaku secara laki-laki. Tiba-tiba Giok Cu sambil menghapus airmatanya berkata:

“Apa artinya semua ini? Apakah aku kalian anggap sebagai sebuah barang yang mudah diberikan begitu saja? Kalian tidak menanyakan pendapatku! Sekarang engkoh Thian In, kau sudah berjanji hendak menceritakan rahasia dirimu. Aku hanya menuntut itu, tak menghendaki yang lain!” Gadis ini merasa penasaran dan sedih sekali hingga ia lupa diri dan berlaku kasar.

Thian In tekap mukanya dan geleng-geleng kepala. “Aku berdosa. Tak munkin aku menjadi suami Giok Cu. Dulu    ibuku adalah isteri Ong Kang Ek yang dicerai dan dibuang selagi mengandung aku! Ong Kang Ek

melupakan ibuku karena ia kawin dengan ibu Giok Cu! Ketika ibu hendak menutup mata beliau pesan agar aku membalaskan sakit hatinya kepada seorang perempuan yang merampas suaminya. Ia memberiku sebuah gambar perempuan itu, dan ternyata perempuan itu adalah ibu Giok Cu yang tadinya hendak menjadi isteriku! Jadi    Giok Cu adalah adikku sendiri, kami lain ibu satu ayah. Mungkinkah kami menjadi

suami isteri? Suhu, ampunkan ceecu yang tak pernah ceritakan hal ini kepadamu. Sekarang    hidupku

kosong. Saudara Kam Ciu harus menolong Giok Cu, menolong adikku, aku tahu kau cinta padanya. Dan Giok, adikku, lenyapkanlah bayanganku dari lubuk hatimu. Aku saudaramu....Setelah berkata demikian, Thian In lalu berdiri dan loncat secepat kilat turun gunung!

Mendengar semua itu, Giok Cu menjadi pucat dan ia tentu roboh kalau tidak Kam Ciu cepat-cepat menangkapnya, hingga gadis itu pingsan dalam pelukannya.

Ketika sadar kembali, Giok Cu dapatkan dirinya berada dalam sebuah kamar goha yang bersih. Di sebelahnya terdapat sebuah batu besar di mana Gak Bong Tosu duduk bersemedhi. Kam Ciu dan ayahnya tak tampak. Mereka hanya berdua.

“Di mana mereka?” Giok Cu berkata.

“Mereka? Sudah pergi. Ayah anak she Gan itu memang keras hati dan julur. Mereka itu jantan-jantan tulen. Karena dulu kau dan ayahmu telah menolak lamaran mereka, maka merekapun mengundurkan diri, entah ke mana.”

“Kenapa ceecu berada di sini?”

“Aku yang membawamu. Kulihat kau memang bertulang pendeta. Hatimu telah terluka dan pendirianmu tidak menentu lagi. Jika kau masih sayang jiwa ragamu dan menghendaki kebahagiaan sejati, aku suka menerima menerima dan menjadi murid dan menunjukkan jalan kebahagiaan batin padamu. Giok Cu, sukakah kau menjadi pertapa wanita yang kelak akan menurunkan ilmu silatku kepada orang-orang yang mempunyai bakat pahlawan?”

Untuk semenjak Giok Cu diam saja. Thian In adalah kakakna dan tak mungkin menjadi suaminya. Kam Ciu telah pernah ditolaknya. Kemana dia hendak pergi? Merantau? Tanpa tujuan? Ah, dia sudah bosan! Hidup baginya penuh penderitaan dan kekecewaan belaka. Ia memandang sekeliling kamar. Dinding goha putih polos dan hawanya sejuk. Ia berdiri dan melongok keluar pintu. Di luar goha terdapat jurang dalam dan pemandangan sungguh indah permai menyejukkan hati. Kekayaan dan tamasya alam tampak terbentang luas di hadapannya seakan-akan dia yang memiliki semua itu.

Kemudian ia masuk lagi dan berlutut di depan Gak Bong Tosu. “Baiklah suhu, ceecu suka menjadi muridmu.”

Gak Bong Tosu tersenyum girang dan meramkan kedua matanya kembali setelah berkata: “Duduklah di sana dan bersemedhilah!”

Giok Cu lalu duduk di atas sebuah batu hitam yang ditunjuk lalu bersila dan pusatkan seluruh pancaindera meniru contoh suhunya. Ia berjuang untuk ketentraman batinnya.

Di masa yang akan datang, Giok Cu menjadi seorang pertapa yang tinggi ilmu kepandaiannya dan dikenal sebagai seorang wanita yang suci dan yang mengasingkan diri di puncak bukit Kouw-san, di mana ia bangunkan sebuah kelenteng dan selanjutnya Giok Cu disebut orang Kouw-san Nio-nio…..

>>>>> T A M A T <<<<<