-->

Pendekar Wanita Baju Putih Jilid 3

Jilid 3

Giok Cu terpaksa duduk kembali. Dari pihak Kiciu keluarlah Liok Wan yang bertubuh tinggi besar dan bertenaga besar pula. Untuk mendemonstrasikan tenaganya, ia buka bajunya dan gerak-gerakkan kedua lengannya hingga terdengar bunyi berkerokotan dan urat-urat tubuhnya bermain bagaikan dalam tubuh itu terdapat beberapa ekor tikus bergerak ke sana kemari!

Dari pihak piauwsu, keluarlah seorang kate yang memandang gerak gerik lawannya dengan tertawa haha hihi dan sikap tak acuh, Giok Cu melihat Liok Wan merasa kecewa karena orang yang masih dapat berlagak macam itu tentu tak berapa tinggi kepandaiannya. Sebaliknya ketika melihat orang kate itu, hatinya berdebar. Jelas tampak olehnya telapak tangan yang kemerah-merahan dari si kate hingga diam- diam ia mengeluh dan berbisik kepada Liok An yang berada di sampingnya: “Celaka, orang itu tentu ahli Ang see chiu!” Liok An juga kaget dan menyesalkan sikap adiknya yang sembrono dan sombong. Ia tahu akan kehebatan ilmu Ang-see-chiu atau tangan pasir merah ini. Tapi untuk tenangkan hati ia berkata: “Liok An mampu hadapi dia.”

Setelah mereka mulai saling serang, hati Giok Cu agak lapang karena ternyata biarpun sikapnya bodoh dan banyak lagak, ternyata Liok Wan cukup lumayan ilmu silatnya. Liok Wan bersilat dengan Lo-han- kunhwat dari Siauwlimpiy dan tiap pukulannya disertai tenaga chian-kin-lat atau tenaga seribu hati. Hal ini membuat lawannya merasa sibuk juga dan tidak sempat gunakan ang-see-chiu yang diandalkannya, ia harus kerahkan semua perhatian untuk melayani serangan Liok Wan yang tak boleh dipandang ringan. Tapi diam-diam ia kumpulkan semangat dan warna merah di telapak tangannya menjalar ke atas perlahan. Hal ini diketahui baik oleh Giok Cu yang merasa khawatir karena ia melihat betapa Liok Wan tersenyum- senyum dan merasa diri di atas angin lalu hendak mempermainkan lawannya! Memang keadaan si kate terdesak sekali, loncat ke sana kemari, lari memutar dan sibuk hindarkan serangan-serangan Liok Wan yang sebaliknya tidak berusaha menjatuhkan lawan secepatnya tapi hendak mempermainkannya seperti kucing mempermainkan tikus. Kecemasan yang diderita oleh Giok Cu berujud dan terjadi dengan tiba-tiba. Setelah merasa bahwa tenaga tangan pasir merah sudah berkumpul sepenuhnya di lengan, si kate tiba-tiba menanti datangnya pukulan Liok Wan, dengan tabah dan ketika kepalan Liok Wan menyambar kepalanya, ia angkat lengan menangkis ke arah pergelangan tangan si tinggi besar itu! Dua batang lengan beradu dan Liok Wan menjerit ngeri lalu terhuyung ke belakang, kemudian roboh tak ingat orang. Si kate yang masih penasaran maju hendak memberi pukulan maut, tapi pada saat itu tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan si kate merasa betapa sesuatu yang lunak menyambar tangannya hingga pukulannya meleset! Dengan heran dan penasaran ia melihat gadis cantik yang menjadi saksi mereka berdiri di depannya sambil tersenyum dan berkata:

“Eh, tuan kate, jangan kau langgar peraturan!” Si kate mendengar ini menjadi sangat malu dan melangkah mundur. Sementara itu, Giok Cu larang orang-orang yang hendak angkat tubuh Liok Wan, kemudian dengan cepat setelah periksa keadaan lengan Liok Wan yang matanya biru itu, ia totok belakang siku Liok Wan untuk menghentikan jalan darah hingga racun ang-see-chiu tidak akan menjalar dan memasuki jantungnya. Setelah lakukan ini barulah ia perbolehkan orang mengangkat tubuh Liok Wan untuk diobati.

Liok An marah sekali melihat pihak musuh hendak jatuhkan tangan maut, maka ia meloncat ke tengah lapangan dan berkata kepada Thio Kiat yang juga sudah berada di situ: “Thio Piauwsu pertandingan telah dilakukan enam kali dan keadaan kita tiga lawan tiga hingga belum dapat diputuskan siapa yang boleh dinyatakan menang dan siapa yang kalah. Sekarang tinggal kau dan aku yang harus menjadi keputusan terakhir. Hayo majulah dan perlihatkan kepandaianmu!”

Thio Kiat tersenyum menyindir. “Boleh, boleh, Liak kisu! Memang sebaiknya kita sendiri yang turun tangan.”

Thio Kiat disebut orang Macan-muka kuning dan ilmu silatnya terkenal di daerah utara. Ia mahir sekali mainkan ilmu silat Ngoheng-kun-hwat dan dalam menghadapi Liok An ia merasa mainkan ilmu silat ini yang selain cepat gerak-geriknya, juga tidak terduga perubahan-perubahannya dan selalu dilakukan dengan tenaga dalam yang besar.

Namun Liok An, si gemuk pendek bukanlah orang lemah. Ia seorang ahli lweekeh dan biarpun tubuhnya gemuk pendek, akan tetapi gerak-geriknya tidak kalah gesit oleh lawan. Ilmu silatnya adalah keturunan cabang Kun-lun-pai, maka ginkangnya pun boleh juga dan ia dapat mengimbangi permainan Ngoheng-kun lawannya.

Mereka bertempur sampai ratusan jurus tapi keadaan mereka tetap berimbang. Karena beberapa kali mereka telah mengukur tenaga dengan beradu lengan, maka mereka merasa bahwa tenaga masing- masing pun berimabng. Karena itu, ketika Thio Kiat menyerang dengan tipu Pay-san-to-hay atau menolak gunung menguruk laut yang dilakukan dengan sepenuh tenaga, Liok An sengaja menapaki kedua lengan lawan dengan serangan To-tiu-kim-ciang atau Robohkan-lonceng-emas. Kedua lengan mereka bertumbukan dan dengan keluarkan seruan tertahan mereka berdua terpental mundur lalu jatuh terduduk dengan napas terengah-engah. Ketika kawan-kawan kedua pihak memburu maju, tiba-tiba Giok Cu keluarkan seruan dengan keras: “Jangan ganggu mereka!”

Seruannya demikian nyaring berpengaruh hingga mereka yang hendak menolong menjadi terkejut dan urungkan niat mereka. Kedua orang ketua rombongan itu duduk dengan wajah pucat. Terang bahwa mereka sedang atur napas untuk kembalikan tenaga. Beberapa lama kemudian, mereka buka mata. Keadaan mereka mendingan, tapi wajah mereka masih pucat. Dengan perlahan mereka berdiri kau saling pandang dengan senyum pahit.

“Thio Piauwsu sungguh gagah. Kita sama-sama terluka sebelah dalam. Keadaan kita sekrang tetap tiga lawan tiga.”

“Liok kisu benar tangguh. Biarpun keadaan kita masih seri, tapi masih ada kawan-kawanku yang belum bertanding. Kita harus tetapkan siapa yang menang siapa yang kalah.

Melihat bahwa dipihak Kiciu tidak ada wakil lagi, Giok Cu menyela: “Jiwi enghiong, haruskah hal sekecil ini dibesar-besarkan? Perlukah pertandingan yang tidak ada artinya ini dilanjutkan? Jiwi adalah dua orang gagah yang menjunjung tinggi peri keadilan dan persahabatan. Mengapa untuk urusan uang tak seberapa saja lalu hendak langgar peraturan kang-ouw? Aku yang muda berpendapat bahwahal ini akan menjadi buah percakapan dan olok-olok orang banyak saja! Biarlah pertandingan yang sudah dilakukan ini menjadi bukti bahwa kedua pihak adalah sama kuat dan sama gagah dan selanjutnya supaya dicari jalan perpecahan masalah ini secara damai. Kalau aku yang bodoh tidak salah duga demikianlah kiranya kehendak orang gagah yang kalian sebut Bu-eng-cu Koay-jin itu. Untuk apakah antara kita sama kita terbit perkelahian dan permusuhan hanya karena hal-hal yang tak berarti?”

Terdengar suara-suara menyatakan setuju untuk pemandangan gadis ini, tapi dipihak piauwsu ada dua orang yang bahkan merasa penasaran dan marah. Mereka ini adalah Thio Kiat sendiri dan kawannya si kate ahli Ang-see-chiu yang bernama Ban Kim.

“Omongan nona memang enak bagi kawanan Kiciu, tapi bagi kami merupakan penasaran. Keputusan harus diadakan atas dasar kalah dan menang sedangkan kedua belah pihak seimbang. Aku usulkan diajukan seorang jago lagi untuk menetapkan siapa lebih unggul dan berhak mengajukan usul.”kata Thio Kiat dengan napas tersenggal karena sebenarnya ia menderita luka dan tidak baik banyak bicara.

“Tapi pihakku semua telah bertempur.”membantah Liok An dengan suara lemah karena luka yang dideritanya tidak kalah hebat dengan luka Thio Kiat sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa haha-hihi bagaikan suara tawa orang gila. Ternyata si kate Ban Kim yang tertawa itu. Ia melangkah maju dan memandang ke arah Giok Cu dengan sikap kurang ajar sekali.

“Bukankah dipihak Kiciu masih ada nona. Nona ini kelihatan galak dan gagah mengapa tidak maju mewakili rombongan Kiciu? Aku juga tidak berkeberatan untuk mewakili Thio twako menghadapinya.” Setelah berkata begini Ban Kim tertawa-tawa lagi dengan ceriwisnya.

Hal ini membuat Giok Cu marah sekali. Mukanya menjadi merah dan sepasang alisnya yang berbentuk pedang tertarik ke atas.

“He, orang kate! Kau berani bawa-bawa aku dalam urusan ini, apakah kau mau andalkan ang-see-chiu di tanganmu? Karena kau yang usulkan dan melihat bahwa Thio Piauwsu agaknya masih penasaran dan tidak mau damai, baiklah kuterima tantanganmu. Mari, mari, majulah. Anggap saja aku mewakili orang gagah Bu-eng-cu untuk menghajarmu!”

Dengan kata-kata tantangan hebat ini Giok Cu loncat ke tengah lapangan. Si kate merasa marah sekali karena ia anggap gadis itu terlalu menghinanya, maka begitu berseru keras ia loncat menyerang dengan kepalanya. Giok Cu perlihatkan kepandaiannya. Tubuhnya berkelebat dan lenyap dari depan si kate karena gadis itu telah gunakan ginkangnya meloncat melewati kepala dan turun di belakangnya. Sebelum si kate balikkan tubuh, Giok Cu gunakan ujung sepatunya mendorong pantat si kate hingga tubuh pendek itu terjungkal ke depan! Kalau si kate dan kawan-kawannya merasa terkejut sekali adalah rombongan Kiciu tertawa geli dan memuji dengan kagum. Mereka semua tak dapat melihat dengan tegas gerakan gadis itu, demikian cepat ia bergerak! Si kate sendiri menjadi malu dan marah sekali. Ia kerahkan seluruh tenaga ang-see-chiu di tangannya hingga lengan kanannya berubah merah, jingga, lalu ia kirim pukulan maut ke arah dada Giok Cu. Gadis ini tadi telah mencoba lengan Ban Kim, maka ia dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga ang-see-chiu itu. Maka kali ini melihat bahwa orang gunakan seluruh tenaganya dengan maksud keji, timbullah marahnya dan ia ingin menghajar orang jumawa ini. Ketika kedua lengan lawan telah dekat ia telah merasa sebuah tenaga dengan hawa panas mendorongnya, cepat-cepat ia keluarkan kedua tangannya dan terima pukulan lawan dengan telapak tangannya!

Si kate Ban Kim merasa kepalanya bersarang ke dalam daging yang lunak. Pada saat itu Giok Cu gunakan telapak tangan kiri menerima hawa pukulan dan telapak tangan kanan membalikkan tenaga itu kembali memukul si kate Ban Kim hanya merasa betapa lengan kanannya menjadi kesemutan dan tiba-tiba ia menjerit ngeri ketika dadanya terasa sakit dan perih akibat serangan tenaganya sendiri yang membalik!

Ketika Giok Cu loncat mundur, si kate Ban Kim roboh dengan tubuh kaku dan mulut mengeluarkan darah. Ributlah rombongan piauwsu. Mereka menjadi marah dan belasan orang itu masing-masing cabut senjata dan maju menyerang Giok Cu. Tapi gadis itu segera membentak: “Siapa hendak mampus, majulah! Berbareng dengan bentakan itu, Giok Cu cabut pedang dengan tangan kanan dan loloskan sabuk sutera berwarna kuning karena semenjak berkabung ia mengganti sabuk merah menjadi sabuk kuning. Dengan gerak secepat kilat, sabuk kuning itu meluncur ke arah kawanan piauwsu dan sekali sendal saja dua batang golok telah terampas oleh ujung sabuk yang bergerak-gerak bagai ular liar! Kini gentarlah kawanan piauwsu dan melihat senjata dan gerakan gadis itu di antara mereka ada yang berseru:

“Pek I Lihiap! Pek I Lihiap!” “Memang, aku Pek I Lihiap Ong Giok Cu! Bagaimana hendak dilanjutkan adu senjata ini?” Giok Cu menantang.

Semua kawanan piauwsu tak berani bergerak. Mereka suda mendengar akan kelihaian gadis pendekar itu. Di antara mereka yang berusia tua segera menjura dan berkata lemah: “Mohon keputusan yang adil dari lihiap!”

Giok Cu maju menghampiri Ban Kim yang masih terlentang kaku. Ia menotok iga dan leher si kate itu untuk memulihkan jalan darahnya lalu suruh orang mengangkatnya dan memberi obat dalam.

“Ia sombong sekali, maka aku memberi sedikit pelajaran.”

Maka berkumpullah kedua rombongan itu mengelilingi Pek I Lihiap yang memandang mereka dengan wajah sungguh-sungguh.

“Cuwi, biarpun aku belum pernah bertemu dan tidak kenal dengan Koay-jin yang kalian segani itu, namun kurasa ia benar-benar seorang koayhiap yang cinta perdamaian. Memang di antara golongan sendiri mengapa mesti terbit permusuhan yang hanya mendatangkan perpecahan dan kerugian? Sebetulnya, apakah pokok persoalan yang mendatangkan pertikaian di antar kedua golongan ini?”

Liok An menghela napas. “Untung kau datang, Lihiap. Kami tak sangka bahwa kaulah yang akan mendamaikan kami. Sebetulnya, yang menjadi sebab ialah bahwa kami mempunyai peraturan bahwa yang menentukan kepada setiap rombongan piauwkiok yang lewat daerah ini untuk memberi sumbangan sebanyak lima ratus tail perak dengan jaminan takkanada yang berani mengganggu. Dan pihak Thio Piauwsu sama sekali menolak sumbangan ini dan menghendaki dihapuskannya sama sekali peraturan ini.”

“Benarkah bahwa Thio Piauwsu sama sekali tidak mau mengeluarkan uang sumbangan?” tanya Giok Cu kepada Thio Kiat.

“Bukannya kami sama sekali tidak mau menyerahkan uang sumbangan, tapi jumlah yang ditetapkan itu terlampau besar dan terasa berat bagi kami.”

“Jadi pada hakekatnya Thio Piauwsu mau memberi sumbangan?” “Asalkan jumlahnya jangan terlalu besar,” jawabnya.

Kemudian Giok Cu bertanya kepada Liok An. “Dan, apakah jumlah sumbangan yang terdapat dalam peraturan itu tak dapat dirobah sedikitpun?”

Merah wajah Liok An. “Bagi kami sih tidak berani menetapkan, tapi jumlah itu telah ditetapkan oleh Koay- hiap, kami hanya melanjutkan saja.”

“Aku harap cuwi suka saling mengalah. Memang pemungutan sumbangan itu adil juga, karena hendaknya Thio Piauwsu ingat bahwa para hohan di Kiciu menjamin keamanan barang-barangmu yang lewat, dan untuk itu harus disediakan uang guna membiayai mereka yang menjaga. Pula, di Kiciu diadakan usaha untuk menarik golongan rimba hijau (perampok) dan mengembalikan ke jalan benar dengan memberi pekerjaan sebagai penjaga keamanan. Tentu saja untuk biaya usaha ini harus ada sumbangan dari para dermawan dari para piauwsu yang lewat di daerah itu. Tapi sebaliknya, Liok enghiong yang mengepalai usaha itupun hendaknya memungut sumbangan dengan suka rela, tidak baik kalau ditetapkan jumlahnya hingga sifatnya seakan-akan paksaan!”

Baik Thio Kiat maupun Liok An mendengarkan uraian adil itu dengan tunduk. Mereka diam-diam merasa kagum kepada gadis muda belia ini yang ternyata mempunyai pandangan-pandangan luas dan pikiran sehat.

“Nah, sekarang aku mohon diri. Harapan saja jiwi suka ambil jalan tengah dan menyelesaikan urusan ini dengan damai. Dan bila Koay-hiap datang, tolong sampaikan hormatku dan kagumku padanya.”

Setelah berkata demikian, Giok Cu menjura memberi hormat kepada semua orang, lalu ia cemplak kudanya pergi dari situ, diikuti pandangan mata kedua rombongan itu. Giok Cu kembali ke hotelnya dan tidur. Pada keesokan harinya ia tinggalkan hotel setelah terpaksa menerima kiriman beberapa potong emas untuk bekal dari Liok An. Karena tidak mempunyai tujuan tertentu Giok Cu larikan kudanya menurut jalan besar. Setelah keluar dari kota, ia kaburkan kudanya. Mengingat perbuatannya semalam, hatinya menjadi gembira dan ia kaburkan kuda sambil tersenyum- senyum seorang diri. Matahari telah naik agak tinggi, memuntahkan cahaya kuning keemasan di permukaan sawah ladang. Kaum tani yang berangkat ke sawah dengan cangkul dipundak berjalan dengan paras berseri, sedangkan beberapa orang anak-anak menggiring kerbau dengan bersendau riang. Burung- burung pagi berkicau ramai di sepanjang jalan di mana ditumbuhi pohon-pohon yang rindang daunnya.

Giok Cu perlambat jalan kudanya ketika melewati para kaum tani yang memandangnya dengan heran. Memang agak mengherankan dan jarang terjadi seorang gadis cantik dan muda berkuda seorang diri di pagi hari lewat jalan itu. Apapula ketika mereka melihat gagang pedang yang tergantung di pinggang Giok Cu, mereka makin heran dan kagum.

Tiba-tiba Giok Cu mendengar tiupan suling. Ia menghentikan kudanya dan mendengarkan. Suling itu ditiup oleh seorang anak laki-laki berusia paling banyak empat belas tahun. Tiupannya bagus dan nyaring sedangkan lagunya bersemangat. Karena anak itu duduk di punggung kerbaunya dan berada di depan Giok Cu, maka dia tidak melihat ada seorang gadis sedang memandangnya dari belakang. Kerbaunya berjalan malas-malasan sambil ulurkan kepala ke bawah untuk makan rumput di kiri kanannya. Setelah lagu yang ditiupnya habis, anak itu bernyanyi. Suaranya sumbang dan parau, tapi kata-kata nyanyian itu membuat Giok Cu terkejut dan heran. Ia perhatikan kata-kata nyanyian yang berbunyi seperti berikut:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung Langit suram muram

Bumi hitam gelap kotor Pedang dan pit tak berguna

Biarlah pedangku tumpul berkarat! Biarlah pitku kering tak bertinta!

Ini bukanlah sembarang lagu! Giok Cu majukan kudanya sambil berpikir heran. Penggubah lagu ini tentulah seorang gagah atau seorang pandai yang kecewa dan putus asa melihat keadaan negeri yang makin kacau.

“He, adik yang baik, tegurnya kepada anak laki-laki yang segera berpaling memandang. Ternyata ia mempunyai sepasang mata yang bening dan mengandung kejujuran. Kalau semua orang di jalan tadi heran melihatnya, anak ini memandangnya tak acuh bagaikan menganggap keadaan Giok Cu itu biasa saja.

“Adik yang baik nyanyianmu indah sekali. Dari siap kau belajar nyanyian ini?” “Aku tidak belajar kepada siapa juga,” jawabnya.

“Aah, jangan bohong, adik. Apa kau mau bilang bahwa lagu itu buah karanganmu sendiri? Ingat, membohong bukanlah watak laki-laki bukankah kau seorang jantan?”

“Siapa berani bilang aku bukan seorang jantan?” Tiba-tiba anak itu turun dari punggung kerbaunya dan berdiri dengan dada terangkat. Sikapnya sungguh garang dan gagah hingga mau tak mau Giok Cu tersenyum.

“Tidak ada yang menyangka demikian. Aku anggap kau seorang jantan sejati, jantan kecil. Orang yang dapat menyanyikan lagu seperti yang kau nyanyikan tadi tak dapat tidak tentu seorang jantan.

Wajah anak itu berseri girang dan sikapnya menjadi ramah.

“Yang menyanyikan ini adalah Koay-hiap. Aku hanya mendengar saja ia bernyanyi siang malam di gubuknya hingga aku menjadi hafal kata-kata dan lagunya.” Lagi-lagi Bu-eng-cu si Tanpa bayangan! Hati Giok Cu ingin sekali melihat orang yang dikenal di mana- mana itu, siapakah Bu-eng-cu Koayhiap ini?

“Mari antar aku ke gubuknya!” ia membujuk anak itu.

Anak itu geleng kepala. “Ia telah pergi sebulan yang lalu.” “Ke mana perginya?”

Anak itu angkat pundak. “Siapa tahu? Tak seorangpun pernah tahu akan pergi atau datangnya. Ia bebas lepas bagaikan burung di udara, pergi dan datang sesukanya.”

Giok Cu menjadi kecewa, tapi ia ingin tahu lebih jauh. “Bagaimana roman mukanya?”

Anak itu tersenyum sambil memandangnya penuh pertanyaan.

Giok Cu merah mukanya lalu menambahkan: “Ia tentu sudah tua bukan? Roman mukanya menakutkan?”

Kini anak itu tertawa geli. “Kau anggap Koay-hiap menakutkan? Ah, ia seorang yang masih muda, mukanya tampan, gerak-geriknya halus hatinya baik. Tapi semua orang tunduk padanya.”

Giok Cu sangat tertarik tapi untuk menanya lebih jelas lagi ia merasa malu kalau-kalau dicurigai anak itu.

“Biarlah kalau ia sedang berada di sini, lain kali aku datang mengunjunginya,” akhirnya ia berkata sambil cemplak kudanya lagi.

“Sia-sia saja ia paling takut bertemu dengan gadis cantik.”

“Apa katamu?” Giok Cu membentak marah karena mengira anak itu mempermainkannya.

“Benar, aku tidak dusta. Pernah ada seorang nona mencarinya, tapi ia segera lari pergi seakan-akan ketakutan!”

Giok Cu merasa aneh kemudian ia keluarkan sepotong perak dan lempar ke arah anak itu yang diterimanya dengan senyum girang. Kemudian Giok Cu larikan kudanya.

Ketika kudanya lari sejauh belasan li dari tempat itu, ia memasuki sebuah hutan. Hatinya agak gentar melihat betapa hutan itu sangat liar dan gelap. Tapi ia tetapkan hati dan larikan terus kudanya. Ketika ia sampai di sebuah tempat di mana banyak tumbuh rumput alang-alang, tiba-tiba kudanya berhenti dan angkat kedua kaki depannya sambil meringkik ketakutan. Dari jauh terdengar geraman harimau yang menggetarkan hutan itu.

Giok Cu cepat loncat dari keduanya dan cabut pedang. Hatinya berdebar. Belum pernah ia melawan harimau, tapi dengan pedang di tangan ia tidak merasa takut. Ia menanti agak lama belum juga muncul. Hal ini membuat ia marah karena ia merasa dipermainkan. Haruskah ia berhenti saja di situ menanti munculnya raja hutan itu? Pikiran ini membuat ia nekad ia segera menuju ke arah tempat di mana terdengar geraman tadi.

Tiba-tiba terdengar harimau menggerung hebat dan rumput alang-alang jauh di depannya bergerak-gerak seakan-akan di situ ada dua makhluk bertempur hebat. Sekali lagi harimau itu menggereng hebat tapi kali ini disusul oleh suara laki-laki bernyanyi:

Langit suram muram Bumi hitam gelap kotor

Pedang dan pit tak berguna Biarlah pedangku tumpul berkarat Biarlah pitku kering tak bertinta

Giok Cu terkejut.Ini adalah lagu yang dinyanyikan anak petani tadi! Siapakah yang bernyanyi di depan itu? Ia segera lari ke arah tempat itu, tapi yang didapatnya hanya rumput alang-alang yang rusak terpijak dan bekas-bekas perkelahian hebat, sedangkan di sana sini tercecer darah! Ia loncat mengejar ketika mendengar suara berkeresekan jauh did epannya. Untuk sekejap mata ia melihat tubuh belakang seorang yang berbaju biru. Orang itu di pundaknya tergantung bangkai seekor harimau yang besar!

Hati Giok Cu berdebar dan tak terasa pula ia berteriak memanggil: “Engko Thian In!” Tapi sekali berkelebat bayangan orang lenyap dari pandangan, Giok Cu kerahkan ilmu larinya mengejar, tapi ia tak melihat lagi bayangan orang itu. Ia menjadi bingung dan tiba-tiba saja ia bersedih sekali. Sambil lepaskan tubuh duduk di atas rumput, ia menangis tersedu-sedu dan gunakan ujung baju menutupi mukanya!

Setelah agak lama menangis, akhirnya ia dapat juga tenangkan hati dan pikirannya, lalu ia teringat kembali kepada orang tadi. Benarkah dugaannya? Benarkah orang itu Souw Thian In? Memang potongan tubuhnya sama, warna bajunya pun biru. Tapi sayang ia tak dapat melihat wajahnya. Thian In atau bukan, ia kagum sekali akan kepandaian orang. Sekejap saja ia dapat membunuh seekor harimau sebesar itu dan dengan memanggul harimau ia dapat bergerak secepat itu. Padahal biasanya Giok Cu jarang kalah dalam hal berlari cepat. Tapi kali ini ia tak berdaya sama sekali. Sekali berkelebat saja orang itu telah lari jauh dan tak tampak pula!

Dengan hati berat dan pikiran kecewa Giok Cu menghampiri kudanya dan naik ke punggung kudanya dengan perlahan. Lalu ia kedut kendali kudanya dan melanjutkan perjalanannya.

Begitu lama ia jalankan kudanya, tiba-tiba dari belakang terdengar suara kaki kuda berlari cepat dibarengi suara teriakan keras:

“Nona yang di depan, tunggu!”

Biarpun orangnya belum tampak dan suara kaki kuda masih jauh, namun suara teriakannya terdengar jelas dan nyaring hingga hati Giok Cu berdebar. Tenaga dalam orang itu betul-betul tidak boleh dibuat permainan!

Ia tahan kudanya dan balikkan kuda itu untuk menanti datangnya orang yang berteriak menahannya. Tak lama kemudian datanglah orang yang dinantinya. Ia bukan lain adalah si kate Ban Kiam yang datang berkuda di sebelah kudanya tampak seorang saykong dengan rambut panjang menutup muka dan lehernya berlari cepat. Hebat adalah kepandaian saykong itu. Biarpun kuda sebagai makhluk yang pandai berlari pesat, ternyata kedua kaki saykong itu dapat mengimbangi bergeraknya empat kaki kuda itu! Agaknya saykong itulah yang berteriak tadi.

Giok Cu berlaku waspada dan ia coba tenangkan hatinya.

“Eh, kiranya kau yang menyusul. Ada keperluan apakah?” tanyanya dengan suara acuh. Ban Kim memandangnya dengan muram, lalu ia perkenalkan dengan saykong itu.

“Lihiap, ini adalah su-siokku bernama Gan Tin-cu. Susiok, inilah dia Pek I Lihiap seperti yang teecu ceritakan tadi.”

Saykong itu gunakan sepasang matanya yang merah memandang Giok Cu dengan tajam, kemudian ia tertawa terbahak-bahak memperlihatkan isi mulutnya yang kosong tak bergigi!

“Kukira Pek I Lihiap adalah siluman wanita yang berkepala tiga berlengan enam tidak tahunya seorang gadis cantik jelita yang berkulit halus putih. Ha, ha, ha!”

Giok Cu marah sekali, ia loncat turun dari kudanya dan menuding kepada si kate sambil memaki: “Eh kate, apa maksudmu menyusul aku membawa-bawa orang yang miring otaknya ini?”

“Nona kecil, jangan kau lancang mulut!” saykong itu berkata mengancam. “Ingatkah kau beberapa bulan yang lalu di kota Tit-lee telah membunuh seorang muridku bernama Cu Lok?”

“Ah, jadi penjahat Cu Lok itu adalah muridmu? Pantas kalau begitu. Kejahatannya telah bertumpuk- tumpuk. Di kota Tit-lee ia telah banyak melakukan perampokan, pembunuhan, perkosaan, maka sudah sepantasnya dia kubunuh!” “Hm, hm, ngoceh seenaknya! Dan malah tadi kau telah hinakan Ban Kim, keponakanku ini.”

“Siapa suruh ia berlaku sombong dan agulkan kepandaiannya yang tak seberapa itu?” Giok Cu menjawab tabah.

“Kau memang sombong, Pek I Lihiap! Tapi mengingat kau masih sangat muda dan pula bahwa kau sangat cantik, juga karena aku pernah kenal baik dengan Ong Kang Ek, ayahmu, maka biarlah kau kuberi ampun. Tapi kau harus berlutut dan mengangguk tiga kali padaku dan berjanji bahwa lain kali kau takkan berani lagi mengganggu anggota Kwi-san-pay barulah aku akan beri ampun kepadamu.”

Tentu saja Giok Cu marah sekali. Ia tahu bahwa saykong ini lihai karena ia dapat menduga bahwa Gan Tin Cu tentulah suheng atau sute dari Hoan Tin Cu yang pernah mengacau di pesta ayahnya dan bertanding melawan Souw Thian In dulu. Tapi jangankan baru orang seperti Gan Tin Cu, biarpun seratus kali lebih lihai juga, tidak sudi ia harus berlutut minta ampun? Lebih baik ia mati daripada terhina macam itu! Maka dengan muka merah ia cabut pedang dan sabuk suteranya lalu maju menantang:

“Saykong jahanam! Kau kira aku takut padamu? Majulah biar kau kuantar menyusul muridmu yang rendah itu ke neraka!”

Gan Tian Cu tertawa aneh untuk menunjukkan kemurkaannya. Ia cabut sebatang tongkat berwarna hitam yang terselip di pinggangnya. “Kalau kau begini sombong dan berkepala batu, jangan anggap aku keterlaluan kalau aku paksa kau berlutut!” Sehabis berkata demikian tongkatnya bergerak menyambar. Giok Cu gerakkan pedangnya menangkis tapi hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena tongkat itu ternyata terbuat dari pada baja yang berat dan digerakkan oleh tangan yang kuat pula! Melihat pedang nona itu terpental oleh sambaran tongkatnya, saykong itu tertawa menyindir dan teruskan serangannya. Giok Cu berkelit ke samping lalu gerakkan sabuk suteranya menyambar leher orang. Ia bermaksud membelit leher saykong itu dan menyendalnya sampai roboh. Tapi sayang saykong itu meniup dengan mulutnya sambil berseru keras dan ujung sabuknya ternyata dapat tertiup pergi! Sekali lagi Giok Cu merasa terkejut dan tahu bahwa kepandaian saykong ini masih jauh berada di atasnya. Akan tetapi ia tidak mau menyerah kalah. Dengan kertak gigi, ia keluarkan kepandaian turunan ayahnya dan mainkan pedang di tangan kanan serta sabuk sutera di tangan kiri dengan cepat hingga kedua senjata itu bergulung-gulung merupakan dua sinar yang menyerang lawannya. Tapi tongkat Gan Tin-cu lihai sekali. Dengan goyangan perlahan saja semua serangan pedang Giok Cu dapat dipunahkan. Perlahan tapi pasti bayangan tongkatnya makin melebar dan menekan pedang dan sabuk sutera Giok Cu yang telah terdesak hebat. Hanya kenekatan dan ketabahan gadis yang pantang menyerah itulah yang membuat Giok Cu bertahan sampai lima puluh jurus lebih!

Pada saat gadis itu telah terdesak mundur sampai ke bawah pohon siong tun, tiba-tiba tongkat Gan Tin-cu menyerang hebat ke arah kepala gadis itu. Giok Cu gunakan pedang m enangkis dan berbareng tangan kirinya sabetkan sabuknya ke arah pinggang lawan. Tapi Gan Tin-cu tangkap ujung sabuk itu dengan tangan kiri, dan secepat kilat kaki kanannya bergerak menendang ke arah lutut Giok Cu sambil berseru dibarengi tertawa: “Berlututlah kau gadis sombong!”

Giok Cu merasa bahwa kali ini ia takkan dapat pertahankan diri lagi. Tongkat yang menyambarr kepalanya dapat ditangkis dengan pedang. Tapi betotan sabuknya oleh tangan kiri saykong itu membuat kuda- kudanya tergempur dan ia tak mungkin dapat menghindarkan diri dari tendangan kilat itu. Ia hanya meramkan mata menanti datangnya tendangan dan bertekad dalam hati takkan berlutut, kalau perlu biar jatuhpun ia akan usahakan miring dan tidak menghadap kepala saykong itu! Tapi pada saat itu ia mendengar Gan Tin-cu berteriak keras menahan sakit! Giok Cu cepat buka matanya dan hampir tak dapat percaya pandangan matanya sendiri! Gan Tin-cu pegang-pegang kaki kanannya yang dipakai menendang tadi karena betis kaki itu telah mengucurkan darah dengan hebat! Saykong itu marah sekali dan bergerak hendak menubruknya, tetapi tiba-tiba saja tubuh saykong itu bagaikan terbawa angin dan terlempar ke belakang! Gan Tin-cu berteriak-teriak lebih hebat dari tadi dan kini ia pegang pundak kirinya yang mengeluarkan darah hingga tangan kirinya menjadi lemas.

Kali ini saykong itu memandang ke arah Giok Cu dengan mata terpentang lebar dan penuh keheranan. “Kau gunakan ilmu siluman! Baiklah, Pek I Lihiap, kali ini aku mengaku kalah, tapi kalau kau memang wanita gagah, datang ke Kwie-san. Kalau kau berani datang, di sana kita bertempur mengadu jiwa!”

“Kau gunakan akal bulus untuk diberi kesempatan lari!” Giok Cu menyindir. “Baiklah, kau larilah dan bawalah si kate ini pergi dari sini pula. Tentang mampir ke Kwie-san, kalau kebetulan aku lewat, tentu aku akan lihat-lihat gunungmu itu!”

Gau Tin-cu menyeret kaki kanannya dan dengan bantuan Ban Kim ia naik ke punggung kuda si kate, hingga kini saykong itulah yang naik kuda sedangkan Ban Kim menuntun kuda sambil berjalan perlahan. Mereka pergi sambil bersungut-sungut diikuti gelak tawa Giok Cu.

Setelah mereka pergi jauh, Giok Cu berpaling sambil berteriak memanggil: “In kong (tuan penolong), keluarlah agar aku dapat menghaturkan terima kasihku!” Ia memanggil berkali-kali dengan mengharap munculnya Thian In yang diharap-harapnya, tapi tak seorangpun menjawab. Tiba-tiba dari tempat jauh ia mendengar suara nyanyian:

Pedang di tangan kiri

Pit dan kertas di tangan kanan Menjelajah rimba raya

Menurun jurang mendaki gunung....

Giok Cu mendengarkan lagu itu dengan bengong dan sekali lagi tak terasa air matanya jatuh turun menitik di sepanjang kedua pipinya. Mengapa Koay-hiap tidak mau bertemu dengannya. Bukankah Koay-hiap ini Souw Thian In? Apakah Thian In masih menaruh dendam dalam hati karena urusan ibunya, karena urusan ibu mereka yang bermusuhan? Ah, nasib....dan sekali lagi dalam hati Giok Cu merasa hatinya hancur hingga tak terasa pula ia menghampiri kudanya lalu sadarkan kepalanya di leher kuda. Kedua tangannya merangkul leher itu dan ia menangis terisak-isak! Kudanya agaknya mengerti akan kesedihan nona penunggangnya, beberapa kali kuda itu palingkan mukanya dan dengan lidahnya ia menjilat tangan Giok Cu sambil perdengarkan suara rintihan perlahan.

Setelah puas menangis, Giok Cu naiki kudanya dan jalankan kudanya perlahan. Hari telah sore ketika akhirnya ia keluar dari hutan yang panjang itu. Melihat udara luar agak legalah hatinya dan pikirannya tak segelap tadi. Ia pun merasa sangat lapar dan teringat bahwa semenjak pagi tadi ia belum makan apa-apa.

“Hayo kudaku yang baik, kita cari makanan!” katanya kepada kudanya sambil keprak kuda itu. Dengan cepat empat kaki kuda itu bergerak dan membalap hingga Giok Cu mendengar angin bersiutan di pinggir kedua teliganya.

Tak lama kemudian ia melihat sebuah kelenteng tua di pinggir jalan. Bau asap masakan yang sedap membuat perutnya makin terasa lapar dan terpaksa ia belokkan kudanya ke halaman kelenteng itu karena tak dapat menahan lapar lebih lama lagi. Ia ikatkan kendali kuda di pohon dan mengetuk pintu.

Di luar dugaannya, yang membuka pintu kelenteng bukanlah seorang hwesio atau niko, sama sekali bukan golongan pendeta, tapi ia adalah seorang laki-laki tinggi besar yang berewokan.

“Aku hendak bertemu dengan pendeta kelenteng ini,” kata Giok Cu ragu-ragu. Orang itu memandang tajam lalu tertawa.

“Bukankah nona hendak mencari makanan?” Giok Cu terkejut dan bercuriga.

“Nona jangan curiga atau cemas. Aku dengan tiga orang saudaraku juga tamu. Kelenteng ini kosong tidak ada penghuninya. Kami berempatpun merasa lapar dan berhenti di sini untuk masak makanan. Kalau nona sudi, silahkan makan bersama kami.”

Giok Cu hendak menolak, tapi perutnya tak tertahan lagi laparnya. Orang itu tahu akan keragu-raguannya, maka sambil tersenyum dan mengerling ke arah pedang di pinggang Giok Cu, ia berkata pula: “Nona, tak usah khawatir, aku lihat nona membawa-bawa po-kiam, tentu nona ahli silat, jadi kita masih segolongan. Kamipun penjual silat dan obat yang berkeliling.”

Maka tenanglah hati Giok Cu. Ia menjura dan berkata:

“Maaf kalau aku mengganggu, dan jika tuan sudi menolong, aku haturkan banyak terima kasih.”

Orang berewokan itu mengucapkan kata-kata merendah lalu ia persilahkan gadis itu memasuki ruangan belakang. Benar saja di ruangan itu terdapat tiga orang laki-laki lain yang duduk mengelilingi meja sambil menghadapi empat macam masakan daging rusa yang masih mengepulkan uap dan berbau sedap. Tiga orang itu heran sekali melihat saudara mereka membawa seorang gadis cantik, tapi setelah diberitahukan bahwa gadis itu adalah seorang tamu yang hendak sama-sama makan, mereka dengan ramah mempersilahkan Giok Cu ambil tempat duduk. Gadis itu merasa berterima kasih sekali. Dengan segera mereka mulai makan.

Setelah habiskan semangkok daging rusa, Giok Cu merasa laparnya berkurang dan kegembiraannya kembali serta kecurigaannya lenyap. Ia perhatikan keempat orang itu yang tampaknya bertubuh kuat dan bersikap gagah.

“Tuan sekalian yang berjualan lebih dulu, apakah bertemu seorang berbaju biru? Tanyanya.

“Berbaju biru? Ah, semenjak siang tadi kami tak bertemu dengan seorangpun, nona. Siapak orang yang kau maksudkan itu?”

Baiklah kuberitahukan saja, barang kali mereka kenal, pikir gadis itu, maka ia lalu berkata dengan suara biasa: “Ah, dia Bu-eng-cu Koay-hiap.”

Orang yang termuda ketika itu sedang minum arak. Mendengar nama ini ia terbatuk hingga arak dimulutnya tersemprot keluar lagi, tapi ketika kawannya tak memperhatikannya karena mereka semua memandang ke arah Giok Cu dengan mata terbelalak dan hampir berbareng mereka bertanya: “Di manakah Koay-hiap berada? Adakah mereka di sini?” Mereka lalu memandang ke kanan kiri seperti orang ketakutan. Giok Cu merasa heran dan tersenyum melihat sikap mereka. “Tidak, ia tidak berada di sini. Kalau ia berada di sini, tentu ia menjumpaiku.”

Empat orang itu kelihatan lega dan kini mereka memandang kepada Giok Cu dengan pandangan curiga dan segan. Berkali-kali yang brewok dan menyambut Giok Cu tadi memandang ke arah pedang gadis itu. Kemudian mereka tuang arak di mangkok Giok Cu dan persilahkan gadis itu meminumnya.

Biarpun Giok Cu tidak begitu suka arak tapi karena ia telah mengalami perasaan yang menekan perasaan di hari itu dan lagi karena orang-orang ini telah berlaku baik kepadanya, maka tak baiklah kiranya kalau ia menolak. Ia angkat mangkok itu ke mulutnya, tapi sebelum mangkok menempel di bibirnya, tiba-tiba saja mangkok itu memperdengarkan bunyi „ting!!‟ dan terloncat lalu terlepas dari pegangannya. Arak dari mangkok itu tumpah dan membasahi pakaiannya!

Empat orang itu tiba-tiba loncat dan cabut golok dan pedang masing-masing kemudian tanpa banyak bicara lagi mereka menyerang Giok Cu! Alangkah kagetnya gadis itu tapi ia tetap waspada. Sekali loncat saja ia sudah berada di ruang tengah, kemudian dengan dua kali loncatan ia sudah berada di luar kelenteng, berdiri di halaman kelenteng dengan pedang dan sabuk-sutera di tangan.

Empat orang itu memburu dengan garangnya. Giok Cu pedangnya dan berkata: “Tahan dulu! Sebenarnya apa kehendak kalian? Mengapa kalian memusuhi aku?”

Si brewok berkata singkat: “Serahkan saja buntelan dan pedangmu, kami akan pergi dengan aman. Biarlah itu kau anggap pembayar makanan.”

“Eh, eh, jadi diam-diam kalian berempat ini bangsa perampok kecil? Sungguh tak tersangka. Tak heran kalian takut mendengar nama Koay-hiap!”

“Jangan banyak cerewet. Serahkan barangmu!” Berandal itu berkata lagi agaknya mendengar namanya saja sudah membuat ia ngeri terhadap Koay-hip. Giok Cu tertawa kecil.

“Enak saja kau bicara. Mau barang-barangku? Tapi ternyata kepandaian mereka biasa saja hingga dengan sabuk suteranya Giok Cu dapat kocar-kacirkan mereka dan dalam beberapa puluh jurus saja mereka telah terlempar atau terbetot lepas oleh gerakan sabuk sutera Giok Cu yang lihai!

Giok Cu gunakan sabuknya menyabet dan melibat kaki mereka hingga sekali dibetot tubuh mereka bergulingan di tanah. Mereka segera berlutut meminta ampun. Giok Cu tertawa geli. “Ha, perampok-perampok kecil yang rendah. Biarlah nonamu ampunkan kalian hari ini karena kalian hari ini telah berlaku baik dan memberi makan padaku. Biarpun aku tahu kini di dalam arakmu itu tentu ada obat atau racun, bukan?”

Mereka tidak mampu menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala memohon ampun. Ketahuilah bahwa aku Pek I Lihiap tak suka balas budi orang dengan pembunuhan, nah, kalian pergilah!”

Empat orang itu pungut senjata mereka lalu lari terbirit-birit.

Giok Cu kembali ke ruang dalam ia teringat sesuatu. Segera ia tuang sisa arak dari guci ke dalam mangkok dan cabut tusuk kondenya yang terbuat dari perak asli. Ia celupkan ujung tusuk konde itu ke dalam arak dan merendamnya beberapa lama kemudian diangkatnya kembali. Ternyata ujung tusuk kondenya telah berwarna hijau kehitam-hitaman! Giok Cu merasa ngeri dan bersukur telah dapat terhindar dari bahaya. Sekali lagi ia tertolong dengan cara bersembunyi. Ia merasa yakin bahwa yang menolongnya pasti bukan lain ialah Bu-eng-cu Koay-hiap itu orang aneh yang cara kerjanyapun aneh dan berahasia! Ia kini dapat menduga bahwa mangkok arak di tangannya tadi tentu telah pecah oleh senjata rahasia kecil.

Mengingat kembali pengalaman-pengalamannya ia menghela napas. Nyata sekali bahwa kepandaian silat tinggi saja masih belum menjami keamanan seseorang. Tadi hampir saja ia menjadi korban empat perampok kecil yang tak berarti kepandaiannya. Selain kepandaian silat, ia butuh pula pengalaman yang dapat membuat ia berlaku waspada dan hati-hati.

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu hal. Rasanya tidak mungkin kalau kelenteng ini kosong karena keadaannya masih bersih. Pula bagaimana empat orang perampok tadi dapat masak daging rusa? Dari mana mereka dapat bumbu-bumbu dan alat untuk masaknya? Memikir sampai di sini Giok Cu segera lari ke ruang belakang dan mulai memeriksa kamar-kamar di belakang kelenteng itu. Betul saja, dalam sebuah kamar gudang ia dapatkan tiga orang pendeta yang sudah tua dan bertubuh lemah rebah dengan kaki tangan terikat dan mulut tersumbat! Segera ia lepaskan ikatan mereka dan dengan ringkas ia tuturkan bahwa keempat penjahat itu telah diusirnya.

Empat perampok itu ternyata telah merampok kelenteng itu dan membikin tiga penghuni kelenteng tak berdaya. Kemudian mereka sengaja menanti kalau-kalau ada orang lewat di situ. Kebetulan sekali Giok Cu yang lewat hingga kejahatan mereka terbasmi. Tiga orang itu menghaturkan terima kasih yang ditolak oleh Giok Cu dengan merendah dan gadis itu bahkan minta tolong untuk lewatkan malam di kelenteng itu. Tentu saja petapa-petapa itu menerimanya dengan senang hati.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Giok Cu telah berkemas untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mencari pendeta-pendeta di ruang belakang, kepada mereka ia menghaturkan terima kasihnya, kemudian ia tanyakan jalan.

Kepala pendeta memberitahu padanya bahwa jalan yang menuju ke utara itu akan bercabang, yang kiri menuju ke kota Siong-ek dan yang ke kanan menuju ke kota Hay-tin.

“Kalau nona hendak merantau, lebih baik nona pergi ke Siong-ek saja, karena selain di situ lebih banyak terdapat pemandangan-pemandangan indah, juga pada waktu ini di kota Hay-tin tidak aman.”

“Tidak aman? Apakah di situ terganggu oleh perampok?” tanya Giok Cu.

“Bukan perampok biasa, tapi lebih tepat disebut siluman,” pendeta itu menjawab dengan sikap takut. “Beberapa orang kota Hay-tin pergi mengungsi dan yang lewat di sini semua membawa cerita yang menyeramkan.”

“Apakah yang terjadi?” tanya Giok Cu bertanya.

“Telah hampir sebulan di kota ini berjangkit semacam penyakit hebat! Tapi yang selalu menjadi korban adalah anak-anak bayi atau anak-anak gadis yang cantik. Orang tidak tahu bila terjadinya, tapi tahu-tahu orang melihat seorang gadis cantik atau seorang anak bayi telah mati di dalam kamarnya dalam keadaan yang menyeramkan. Lebih-lebih anak bayi perutnya telah dibelek dan jantungnya lenyap dicuri!

Giok Cu rasakan bulu-tengkuknya berdiri dan ia merasa ngeri dan serem. Ia pandang pendeta itu dengan sangsi. “Memang kabar ini luar biasa dan sukar dipercaya,” pendeta itu menyambung. Tapi bagaimana juga dengan adanya bukti banyak orang lari mengungsi dari kota Hay-tin, pasti di sana terjadi apa-apa yang hebat dan menyeramkan. Maka lebih baik nona jangan menuju ke kota yang sedang dilanda malapetaka itu.”

Tapi pendeta itu tidak kenal dan tidak tahu akan keberanian gadis itu. Kalau ia tidak ceritakan hal yang seram-seram dan aneh-aneh itu mungkin Giok Cu akan tertarik bujukannya dan pergi ke Siong-ek. Tapi kini setelah mendengar berita itu, biarpun dilarang agaknya Giok Cu takkan mundur untuk menyaksikan sendiri keadaan yang ganjil itu. Selain dari pada keingin tahu ini, iapun merasa penasaran dan marah sekali.

“Tidak adakah orang-orang gagah di kota itu untuk basmi kejahatan itu?” tanyanya penasaran.

Pendeta itu geleng-geleng kepala dan menghela napas. “Itulah yang celaka. Guru-guru silat dan para enghiong sudah berusaha membasminya tapi apakah daya orang-orang gagah melawan siluman? Akibatnya tiga guru silat binasa. Karena itu sampai sekarang iblis itu masih terus merajalela.”

Hawa marah yang bergelora dalam dada Giok Cu tak dapat tertahan lagi. Matanya berapi-api hingga pendeta itu menjadi takut. “Aku harus basmi iblis itu!” Giok Cu berkata keras lalu lari keluar dan cempak kudanya, tinggalkan pendeta yang berdiri dengan tubuh gemetar sambil berkali-kali mengucap “O-mi-to- hud!”

Setelah bedal kudanya beberapa lama, benar saja Giok Cu bertemu dengan jalan simpang kanan kiri. Tanpa ragu-ragu lagi Giok Cu belokkan kudanya ke kanan, menuju ke kota Hay-tin, kota yang sedang diganggu siluman itu!

Setelah balapkan kudanya kira-kira tiga puluh li jauhnya, Giok Cu tiba dipinggir sebuah kota. Tembok yang mengelilingi kota itu berwarna merah dan tidak berapa tinggi. Pintu tembok terpentang lebar. Benar saja, kota itu tampak sunyi. Di antara sepuluh buah toko yang buka hanya dua tiga, kebanyakan menutup tokonya. Di jalan-jalan yang kelihatan hanya laki-laki yang membekal senjata dan wanita-wanita tua. Tak kelihatan seorang perempuan muda atau perempuan yang menggendong bayi! Benar-benar merupakan kota mati!

Ketika Giok Cu jalankan kudanya memasuki kota itu, semua orang yang melihatnya menjadi heran dan memandangnya dengan mulut ternganga, tapi gadis itu tak hiraukan semua pandangan itu, lalu terus saja mencari kamar di sebuah penginapan.

Baru saja ia memasuki kamarnya, pelayan hotel memberitahukan bahwa di luar ada Kwa Loya ingin berjumpa.

“Siapakah Kwa Loya itu?” tanyanya.

“Kwa Loya adalah guru silat yang paling ternama di kota ini.”

Giok Cu lalu keluar dan menyambut tamunya di ruang tengah. Setelah memperkenalkan diri, guru silat she Kwa itu lalu berkata dengan halus:

“Nona, agaknya nona orang asing di sini. Sebetulnya, tadi ketika nona masuk kota ini kami sudah hendak memberitahu agar nona dapat lewati saja kota kami yang terkutuk ini. Tapi melihat bahwa nona membawa pedang, kami rasa nona adalah seorang ahli yang dapat diajak bicara segolongan. Ketahuilah nona bahwa kota ini sedang terganggu oleh...”

“Iblis pengganggu wanita?” Giok Cu menyambung sambil tertawa. “Aku sudah mendengar tentang hal itu, tuan Kwa, dan justeru karena itulah maka aku datang ke kota ini.”

Mendengar kata-kata yang jumawa ini Kwa-suhu memandang ke arah gadis itu. “Nona, betapapun tinggi ilmu kepandaianmu, tapi tahukah kau betapa lihainya siluman yang mengganggu kota ini? Harap kau jangan main-main dengan jiwa dan lebih baik menyingkirlah dari sini sebelum terlambat!”

“Aku tidak takut. Pertama, aku ingin melihat bagaimana macam iblis itu, kedua aku tak percaya bahwa ia adalah siluman, kurasa ia adalah siluman biasa.”

“Adakah manusia, bagaimana jahatpun ia tega membelek perut bayi-bayi untuk mengambil jantungnya?”

Kembali Giok Cu bergidik mendengar ini dan pada saat itu Giok Cu berseru: “Awas!” ulur tangannya menyambut sebatang piauw yang menyambar ke arah leher orang she Kwa itu! Ketika tangannya menyambut barang itu, Giok Cu merasa betapa besar tenaga orang yang menyambitnya, lebih-lebih ketika ia melihat bahwa piauw itu bukan lain hanyalah sebatang kayu basah?”

“Bangsat jangan lari!!” Giok Cu berseru dan loncat ke atas genteng, di mana ia celingukan mencari-cari. Tapi tak tampak bayangan seorangpun. Ia loncat turun kembali, disambut oleh guru silat she Kwa itu yang kini berwajah girang.

“Sukur kau keburu menolong, Lihiap. Ternyata kepandaianmu cukup tinggi. Kalau begitu marilah kita bersama kawan-kawan coba membasmi siluman ini!” Guru silat itu melihat kepandaian Giok Cu, tiba-tiba menjadi tabah dan semangatnya timbul kembali. Tapi diam-diam Giok Cu sangsi adakah ia akan sanggup melawan penjahat yang dari sambitannya saja ia tahu mempunyai kepandaian yang sangat lihai! Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Ia akan lawan sekuat tenaga.

“Baiklah saudara Kwa. Mudah-mudahan saja dengan bantuan pedang dan sabuk suteraku, aku akan dapat ikut membasmi setan itu. Kata-kata ini diucapkan oleh Giok Cu dengan sejujurnya, tapi tanpa merasa ia memperkenalkan diri sendiri, karena guru silat itu memandangnya dengan mata terbelalak lalu berkata:

“Lihiap, kalau begitu kau kau adalah Pek I Lihiap?”

Giok Cu mengangguk, dan orang she Kwa yang telah lama mendengar nama Pek I Lihiap yang mulai termasyhur, memandangnya kagum dan sikapnya menjadi ramah dan hormat.

“Bagaimana diaturnya untuk menempur si paman itu, lihiap?”

“Bilakah keluarnya siluman itu dan tahukah kau di mana tempat sembunyinya?”

“Biasanya ia keluar di waktu malam, lihiap. Ia keluar dengan berterang karena suara ketawanya yang menyeramkan terdengar sampai di mana-mana. Suara ketawa itu saja cukup membuat orang menjadi lumpuh!”

“Bagaimana bentuk badan dan mukanya?”

“Tubuhnya tinggi besar dan kepalanya ditumbuhi rambut panjang yang riap-riapan. Tapi bagaimana rupanya tak seorangpun dapat melihatnya karena gerakannya demikian cepat hingga kami hanya melihat bayangannya saja.”

“Kalau begitu, baik kita kepung saja dia, jika malam nanti dia keluar. Biarkan aku bertempur dengan dia. Jika kiranya dia terlalu kuat bagiku, barulah kalian turun tangan ramai-ramai.”

Setelah bertanding, guru silat itu lalu pamit untuk memberi tahu kawan-kawannya dan mengatur barisan pengepungan. Giok Cu biarpun tidak percaya penuh keterangan guru silat itu, namun hatinya agak khawatir. Ia duduk bersemadhi untuk tenangkan pikiran, tetapi duduknya tak dapat diam karena wajah Thian In selalu terbayang di depan matanya. Teringat akan Thian In, hatinya agak lega dan kekhawatirannya berkurang. Bukankah pemuda itu selalu melindunginya? Buktinya ketika ia akan diserang harimau dan ketika ia bertempur melawan Gan Tin Cu, ia selalu tertolong! Tentu kali ini pula penolong itu tidak berada jauh darinya. Tapi ketika memikir sampai di sini, kembali timbul keragu-raguan di dalam hatinya. Benarkah penolong itu Be-eng-cu Koay-hiap dan jika benar, adalah Koayhiap itu Souw Thian In? Hal ini selalu meragukannya dan merupakan teka teki baginya.

Malam tiba! Giok Cu telah bersiap-siap. Sore tadi ia telah makan dan berpakaian serba ringkas. Seperti biasa pakaiannya berwarna putih. Dengan pedang terhunus di tangan kanan dan sabuk suteranya di tangan kiri tergulung dalam kepalannya, ia menanti dalam kamarnya.

Pada waktu menjelang tengah malam, guru silat she Kwa datang di atas genteng rumah penginapan itu. Tindakan kakinya terdengar oleh Giok Cu yang lalu loncat ke atas. “Lihiap, agaknya dia tidak datang, karena waktu sudah hampir tengah malam. Barangkali dia takut kepada Lihiap!” katanya senang:

“Waspadalah saja tuan Kwa.” Giok Cu memesan dan guru silat itu kembali ke tempat penjagaannya. Pada saat Giok Cu hendak loncat turun ke kamarnya, tiba-tiba dari jauh terdengar suara ketawa yang nyaring dan aneh. Sekejab kemudian suara ketawa itu telah datang dekat. Kini suara itu sangat menyeramkan hingga diam-diam Giok Cu terkejut ketika ia merasa betapa tubuhnya hampir limpung. Ia segera tetapkan hati dan semangat dengan kerahkan lweekangnya, karena ia tahu bahwa siluman itu tertawa sambil gunakan tenaga dalam yang sangat hebat. Sungguh lawan yang berat, pikirnya. Tapi ia tidak takut dan dengan penuh perhatian ia memandang ke arah dari mana suara itu datang.

Suara tertawa itu lalu disusul suara yang parau dan keras:

“Ha, ha, ha! Pek I Lihiap telah menunggu pada pinto?? Bagus. Kali ini kalau bisa dapatkan kau, pinto berjanji akan tinggalkan kota ini dan pindah ke kota lain. Ha, ha, ha!”

Suara itu telah terdengar nyata tapi orangnya belum tampak! Giok Cu memandang ke sana kemari dengan hati tegang. Pada saat itu bayangan tubuh yang tinggi besar datang dan menyambarnya! Giok Cu gunakan tipu loncat Koay-lion-hoa-sin atau Siluman naga jumpalitan untuk hindarkan diri dari tubrukan hebat itu, kemudian secepat kilat kedua tangannya bekerja, pedang di tangan kanan berkelebat menyambar leher bayangan ibu sedangkan sabuk suteranya meluncur ke arah pinggang orang! Gerakan Giok Cu adalah gerakan campuran, yakni tangan kanan yang pegang pedang bergerak dengan Lya-lion-sin-yauw atau Naga-mas-ulur pinggang, sedang sabuk sutera di tangan kirinya bergerak dengan tipu Tiang-khing-king- tian atau Pelangi panjang melengkung di langit. Tentu saja serangan kombinasi ini berbahaya sekali karena Giok Cuyang tahu akan kelihaian lawan gunakan gerakan mematikan ini. Tapi tak dinyana bahwa bayangan itu benar-benar hebat. Sambil perdengarkan suara ketawa keras, bayangan itu secepat kilat mendekam ke bawah hingga kedua senjata Giok Cu memukul angin, kemudian dari bawah bayangan itu maju pula menubruk. Gerakan bayangan itu sembarangan saja seakan-akan bukan gerakan seorang ahli silat, tapi gerakannya mendatangkan angin menandakan bahwa ia memiliki tenaga yang hebat! Giok Cu melawan dengan mati-matian dan keluarkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan lawan yang aneh ini.

Benar bagaimana kata guru silat she Kwa tadi. Gerakan siluman itu benar-benar cepat hingga tubuhnya yang tinggi besar berkelebat ke sana kemari dan sukar untuk dapat dilihat mukanya. Yang terlihat oleh Giok Cu hanya rambutnya yang riap-riaoan berkibar dan sepasang mata yang tajam dan besar. Giok Cu melawan sedapat-dapatnya sampai puluhan jurus, tapi setelah bersilat lima puluh jurus lebih ia merasa lelah. Pukulan-pukulan lawannya terlampau berat baginya dan gerakannya terlampau gesit. Ia tahu bahwa lawannya jauh lebih pandai darinya dan bahwa jika dikehendaki oleh lawan itu sudah dari tadi ia dapat dirobohkan. Agaknya lawan itu sengaja mempermainkannya karena sambil bergerak, tiada hentinya ia tertawa keras. Beberapa kali tangan lawannya telah dekat dengan tubuhnya, tapi sebelum memukul, segera tangan itu ditarik kembali dibarengi suara tawa menyeramkan.

Akhirnya Giok Cu tak tahan lagi. Ia berteriak: “Tuan Kwa, hayo maju bantu kepung siluman ini!”

Dari tempat sembunyinya guru silat Kwa dan kawan-kawannya telah melihat jalannya pertandingan yang hebat itu. Kini mendengar seruan Giok Cu, mengertilah mereka bahwa gadis itu terdesak. Dengan sorakan keras dua puluh orang yang pandai silat menerjang dengan senjata tajam di tangan!

Bayangan itu melejit ke sana-sini, menyambar-nyambar di antara golok dan pedang sambil tertawa dan berkata: “Ha, ha, ha! Sekalian gentong kosong! Pinto telah bosan melayani kalian! Hayo Pek I Lihiap kau ikut pinto!”

Dengan sekali terjang, robohlah empat orang pengeroyok dan sebelum dapat hindarkan diri, Giok Cu kena tertotok jalan darah Tay-twi-hiat hingga dengan kedua senjata masih di tangan gadis itu menjadi kaku tak berdaya! Kemudian sekali saut saja bayangan itu telah dapat pondong tubuh Giok Cu dibawa lari! Orang- orang ribut mengejar tapi sekejab saja bayangan itu telah lenyap dari pandangan mata.

Mereka bingung sekali dan kembali untuk merawat kawan-kawan yang terluka. Lebih-lebih guru silat Kwa, ia merasa bingung dan cemas memikirkan nasib Pek I Lihiap dan diam-diam ia merasa menyesal mengapa ia ajak gadis itu menempuh bahaya maut ini. Tapi ia teringat akan kata-kata siluman tadi bahwa setelah mendapat Pek I Lihiap, siluman itu akan pergi dari situ, maka diam-diam iapun bergirang karena dengan adanya korban seorang Pek I Lihiap, banyak orang lain akan terhindar dari bahaya maut.

Biarpun tubuh Giok Cu kaku tak berdaya, namun pikiran dan panca inderanya masih bekerja. Matanya masih dapat melihat. Ia merasa dibawa lari cepat sekali di atas genteng-genteng rumah lalu turun dan memasuki hutan. Pada saat itu sesosok bayangan lain menghadang di depan dan membentak:

“Tosu siluman! Lepaskan korbanmu!”

Tosu yang dianggap siluman itu tertawa keras. “Ha, ha, ha! Kau Bu-eng-cu hendak lancang ikut campur dalam urusanku? Ketahuilah, aku bisa bikin kau si tanpa bayangan menjadi si tanpa nyawa!”

Karena Giok Cu berada dalam panggulan di pundak tosu itu hingga mukanya berada di belakang maka ia tak dapat melihat muka orang yang menghadang di depan. Ia hanya mendengar suara orang itu dan hatinya girang sekali ketika tosu menyebut namanya Bu-eng-cu! Jadi dia adalah Koayhiap yang telah berkali-kali menolongnya. Apakah dia Thian In? Ia dengarkan dengan teliti ketika orang itu menjawab:

“Gak Ong Tosu! Ternyata kau masih ambil jalan sesat! Sebentar lagi tentu suhengmu akan menangkapmu dan memberi hukuman yang setimpal!”

“Gila kau! Jangan kau takut-takuti aku dengan nama Gak Bong! Kau kira aku takut padanya? Ha, ha, ha! Anak muda, lebih baik kau pergi sebelum datang marahku.”

“Hm, kau kira akupun takut padamu? Bagi orang lain mungkin kau dianggap siluman lihai, tapi bagiku tak lain hanya seorang pertapa yang rendah martabatnya! Lepas Pek I Lihiap!”

Diam-diam Giok Cu merasa heran. Dan suaranya ia tak dapat menetapkan apakah orang itu Thian In atau bukan. Tapi barusan ia mendengar nama Gak Bong dan teringatlah ia bahwa dulu Thian In pernah menyatakan bahwa dia adalah murid Gak Bong Tosu. Kalau begitu, tosu siluman yang menculiknya ini adalah sute atau adik seperguruan dengan gurunya Thian In! Tak heran ia demikian lihai! Dan siluman ini adalah susiok atau paman guru sendiri dari Thian In. Kalau begitu, tak mungkin pemuda yang disebut Bu- eng-cu itu adalah Thian In. Ia menjadi bingung.

Pada saat itu Cak Bong Tosu menjadi marah sekali. Dengan menggerang keras ia menyerang Bu-eng-cu. Agaknya ia memandang rendah karena ia menyerang dengan Giok Cu masih dipanggulnya di pundak. Tapi ketika pemuda itu berkelit dan balas menyerang, kagetlah Tosu itu. Serangan pemuda itu demikian cepat dan gerakannya tak kalah gesit dengan dia sendiri, sedangkan dari tangan yang menyerang itu keluarlah tenaga yang hebat! Apalagi ketika Cak Ong menangkis dan kedua lengannya beradu, ia merasa betapa tangannya bergetar, ia terkejut sekali. Tenyata lengan lweekang lawannya tidak kalah lihai! Cepat ia lempar tubuh Giok Cu ke pinggir untuk dapat menghadapi Bu-eng-cu yang lihai itu dengan leluasa.

Sayang sekali kebetulan jatuhnya tubuh Giok Cu dengan punggung menghadapi pertempuran itu hingga ia tak dapat menonton. Hati gadis itu gemas sekali. Ia mencoba kerahkan tenaga dalamnya untuk melepaskan diri, tapi sia-sia, urat-uratnya lumpuh! Maka dengan diam saja hanya pasang telinga untuk mendengarkan mereka yang sedang bertempur, sedangkan hatinya hanya berdoa supaya Bu-eng-cu beroleh kemenangan. Ia mendengar suara beradu dan mengerti bahwa mereka sedang bertempur menggunakan senjata tajam.

Tapi ternyata selihai-lihainya Bu-eng-cu, ilmu silatnya masih kalah setingkat oleh Gak Ong Tosu hingga setelah bertempur puluh jurus ia mulai terdesak. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara halus.

“Terima kasih, terima kasih, Bu-eng-cu Koay-hiap! Kau telah menahan iblis ini. Nah, serahkanlah ia padaku.” Berbareng dengan suara itu entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang tosu berambut putih tahu-tahu sudah berada di situ dan menghadapi Gak Ong Tosu!

“Gak Bong lo-cian-pwee! Bagus kau datang. Silahkan memberi hajarang kepada sutemu yang tersesat ini.” Dan Bu-eng-cu segera mencelat mundur ke arah Giok Cu yang masih rendah miring. Dengan perlahan ia gunakan du jari tangannya menotok pundak Giok Cu hingga gadis itu terlepas dari pengaruh totokan. Setelah jalan darahnya pulih kembali dan tubuhnya sembuh dari rasa kesemutan, cepat gadis itu bangkit dan duduk dan menengok untuk memandang wajah Bu-eng-cu. Tapi ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Giok Cu memandang ke sana kemari, tapi ternyata pemuda itu telah pergi dari situ setelah meninggalkan lawannya kepada Gak Bong Tosu dan setelah lepaskan Giok Cu dari totokan.

Giok Cu merasa kecewa sekali dan ia memandang ke arah kedua tosu yang masih berdiri berhadapan. Kini ia dapat melihat macamnya siluman yang jahat itu. Ia merupakan seorang tosu dengan rambut hitam kaku dan riap-riapan menutup muka dan leher. Mukanya penuh cambang hingga sebagian mukanya tak tampak, yang kelihatan hanya sepasang matanya yang tajam dan mengeluarkan sinar kejam. Pakaiannya mewah dan jubahnya berwarna kuning keemasan. Sepatunya pun baru dan mengkilat. Di rambut yang tak karuan itu terselip hiasan dari emas yang penuh dengan batu permata. Ia berdiri dengan mata melotot dan mulut menyeringai. Giok Cu alihkan pandangan matanya kepada tosu yang baru datang.

Cak Bong Tosu adalah seorang pendeta gemuk pendek yang telah putih semua rambutnya. Pakaiannya dari kain kasar warna abu-abu dan kakinya telanjang. Tangan kirinya memegang sebuah kipas yang dipakai untuk mengipasi tubuhnya yang gemuk. Mulutnya tersenyum tapi sepasang matanya yang bersinar lembut itu kini ditujukan kepada sutenya dengan penuh sesal.

“Gak Ong sudah tahukah akan kesalahanmu?” Berbeda dengan senyumnya suaranya terdengar tegas dan berpengaruh.

Gak Ong Tosu tundukkan kepala sambil bibirnya bergerak-gerak gugup. “Sujeng kau ampunilah sutemu kali ini.” Ia berkata perlahan.

“Ampuni? Gak Ong lupakah, kau akan larangan suhu dulu? Lupakah kau bahwa sekali membunuh nyawa tidak berdosa maka kita harus tebus dengan nyawa kita pula? Kau tidak hanya melanggar larangan suhu, tapi kau bahkan melanggar pantangan Yang Maha Tunggal!! Kau telah terpikat oleh pengaruh jahat, kau mempelajari ilmu hitam, ilmu siluman, kau menjadi sejahat siluman sendiri. Bahkan lebih jahat! Aku tahu, kau hendak penuhi syatat ilmu itu dengan makan tiga belas jantung bayi dan menganiaya tiga belas orang gadis suci. Kau tersesat jauh sekali, Gak Ong. Perbuatan itu terkutuk sekali dan entah sampai kapan jiwamu akan terhukum karena perbuatan ini!!”

“Sudahlah suheng tak perlu kita bertengkar. Sekarang terangkan maksudmu, apa yang kau kehendaki dariku?”

“Sesuai dengan sumpahmu, kita di depan suhu dulu. Kau harus ikut aku pulang ke Lang-san, segala ilmu yang kau pelajari di sana harus kau kembalikan dan kau harus lepaskan nyawa dari tubuhmu yang kotor itu di depan makam suhu.”

Tiba-tiba sikap Gak Ong Tosu berubah beringas. “Enak saja kau bicara! Apakah kau anggap ayam saja demikian mudah menyerah hendak kau sembelih? Ha, ha! Gak Bong kalau kau sudah lupakan perhubungan suheng dan sute, biarlah kita menjadi musuh. Aku tidak takut padamu. Kau baru boleh bawa aku ke Lang-san kalau kau mampu kalahkan aku!”

“Aku tahu kau akan membangkang, Gak Ong! Tapi baik hidup maupun mati kau harus ikut aku ke Lang- san!”

“Kaulah yang akan mampus di sini!” Gak Ong berteriak keras dan maju menubruk. Gak Bong berkelit dan sebentar lagi Giok Cu hanya melihat dua bayangan berputar-putar bagaikan menjadi satu hingga biarpun matanya telah terlatih namun tetap ia tak dapat bedakan mana Gak Ong, mana Gak Bong! Giok Cu rasakan matanya menjadi kabur dan kepalanya pening hingga terpaksa ia lepaskan pandangan matanya dari mereka. Ketika ia memandang kembali ternyata mereka telah lenyap dan ia hanya mendengar suara Gak Ong Tosu berseru:

“Gak Bong! Kalau kau memang gagah, datanglah ke Kwie-san!”

Dari jauh Giok Cu mendengar jawaban Gak Bong Tosu! Tunggulah saja, manusia sesat, saatmu pasti akan tiba!”

Kemudian keaadaan menjadi sunyi dan Giok Cu berada seorang diri di hutan itu. Ia memandang ke atas sambil termenung ia melihat bulan-bulan terang berjalan-jalan di atas mega. Pikirannya making bingun. Yang masih berat menekan pikirannya ialah kenyataan bahwa Bu-eng-cu Koay-hiap bukan Souw Thian In! Thian In adalah murid Gak Bong Tosu, sedangkan tadi ia mendengarnya bahwa Gak Bong Tosu tidak menyebut nama pemuda penolongnya itu sebgai murid! Sedangkan Bu-eng-cu juga tidak menyebut guru kepada Gak Bong Tosu. Siapakah pemuda itu? Siapakah Bu-eng-cu Koay-hiap? Mengapa selalu menolongnya? Dan kenapa setelah menolong selalu tidak mau memperlihatkan diri?

Dengan pikiran dan tubuh lemas Giok Cu pungut kedua senjatanya yang terlepas dari pegangan ketika ia lepaskan dari totokan tadi, lalu ia berjalan kembali ke kota Hay-tin. Ketika memasuki kota, maka ia disambut oleh para ahli silat dengan tercengang keheranan, tapi penuh kegembiraan bahwa nona pendekar itu ternyata tidak mengalami bencana seperti yang mereka khawatirkan.

Lebih-lebih guru silat Kwa. Ia menyambut Giok Cu dengan seribu satu macam pertanyaan. Giok Cu hanya menjawab singkat:

“Siluman itu telah terusir pergi oleh orang yang lebih pandai darinya. Bahkan aku pun ditolong olehnya. Kini jangan kalian ikut lagi, siluman itu takkan kembali ke sini.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi ia tinggalkan kota itu, diantar oleh para penduduk yang berterima kasih kepadanya. Ia menuju terus ke utara, melalui bukit dan hutan.

Pada suatu hari, ia sampai di kota An-ting. Kota ini letaknya di daerah pegunungan, dengan sebelah timur mengalir sungai Huang-ho yang terkenal dan di sebelah utara berdirilah Tembok Besar ban-li-tiang-sia dengan megahnya sebagai lambang kekuatan Tiongkok.

Karena kota itu tidak terlalu besar, maka terpaksa Giok Cu harus merasa puas mendapat kamar dalam sebuah rumah penginapan yang sederhana. Ia melihat bahwa keadaan kota itu d alam suasana gembira. Maka ia minta keterangan kepada pelayan yang menuturkan dengan wajah berseri:

“Kownio, kau beruntung sekali masuk ke kota ini pada hari ini, karena selama tiga hari berturut-turut dan mulai hari ini, patung Kwan Im dari Kwan Im-bio di kota ini akan diarak menuju ke bukit Ho-san di mana telah dibangung sebuah bio baru untuk Kwan Im Pouwsat. Banyak tontonan akan diadakan di antaranya barongsay dan tari liong.”

Girang hati Giok Cu mendengar itu karena sudah lama ia tidak melihat keramaian dan hiburan. Maka dengan hati senang ia keluar dari kamar dan melihat-lihat. Banyak tontonan dimainkan orang di kota itu. Bahkan ada serombongan tukang silat yang mempertontonkan kepandaiannya di sebuah panggung. Suara tambur gembreng menulikan telinga.

Sebagai seorang ahli silat tentu saja panggung inilah yang paling menarik hati Giok Cu. Ia berdiri di tempat yang enak dan melihat dengan penuh perhatian. Tapi ia kecewa karena pemain-pemain silat yang mempertunjukkan kepandaian mereka itu hanyalah orang-orang biasa saja.

Tapi ketika mereka itu mundur dan lari dari belakang, loncat pemain barongsay. Ia menjadi kagum. Pemain barongsay itu bergerak dengan lincah sekali sedangkan permainan kakinya demikian gesit dan hidup seakan-akan barongsay tulen! Pembantunya yang main di belakangnya adalah seorang anak tanggung yang juga indah gerak kakinya. Permainan barongsay ini disambut denga tepuk tangan riuh rendah.

Giok Cu bertanya kepada seorang kakek yang berdiri di dekat: “Lopeh, pandai sekali pemain barongsay itu. Siapakah dia?”

Orang tua itu tersenyum kepadanya. “Ia adalah Ong Sin dan adiknya, pemain barongsay terbaik di kota ini.

Barongsay itu mempermain-mainkan cu atau mustika yang terbuat daripada kain membungkus bola dari bambu. Cu itu digantungkan kelenengan-kelenangan kecil hingga ketika dilempar, digigit lalu dikejar oleh barongsay itu mengeluarkan bunyi tang-tang-ting-ting lebih menghidupkan permainan barongsay. Memang indah permainan Ong Sin hingga diam-diam Giok Cu kagum dan bangga karena permaian itu masih satu she dengan dia.

Tiba-tiba dari bawah panggung loncat seorang tinggi besar yang dengan sekali tendang saja sudah membuat cu atau mustika itu terlempar ke bawah panggung. Penonton-penonton me njadi tegang karena mereka tahu bahwa ada orang hendak mencoba kepandaian barongsay itu! Memang di kota itu terdapat semacam peraturan, yaitu apabila ada permainan barongsay, maka siapa saja diperbolehkan ikut bermain seakan-akan menjadi lawan barongsay itu. Jika orang itu sampai kena gigit sedikit saja ujung baju atau anggota badannya maka ia dinyatakan kalah. Tapi sebaliknya jika ia dapat cabut jambul sutera di kepala barongsay itu, ia dianggap menang atau gagah. Harus diketahui bahwa pemegang ekor atau pembantu pemain barongsay itu boleh membantu kepalanya dan boleh mengeroyoknya.

Telah banyak orang gagah mencoba untuk mencabut jambul di barongsay yang dimainkan Ong Sin. Tapi mereka gagal semua dan dikalahkan, hingga pemain barongsay Ong Sin yang muda itu menjadi terkenal dan dianggap pemain yang terbaik dan terpandai. Sudah lama juga tak seorangpun berani coba-coba lagi, tapi tak disangka kini ada orang tinggi besar itu yang loncat menantang. Yang membuat para penonton tidak senang ialah cara orang itu menantang. Biasanya jika ada orang hendak mengajak bermain ia loncat dan cepat ambil bola cu itu lalu diangkat tinggi di atas kepala, baru dilemparkan ke arah penonton untuk menyimpannya sebentar. Tapi orang tinggi besar itu dengan kurang ajar sekali menendang begitu saja hingga cu terlempar ke tanah. Ini merupakan penghinaan besar terhadap Ong Sin.

Tapi ketika orang-orang memandang orang itu, mereka tidak berani mencela karena wajah orang itu sungguh-sungguh bengis dan menakutkan. Sebaliknya Ong Sin berlaku tenang. Ia mainkan barongsaynya dan tekuk kaki kiri ke belakang hingga tubuhnya merendah. Gerakan ini ialah berarti memberi hormat kepada yang datang. Tapi si tinggi besar hanya mengangguk perlahan dan berkata keras: “Jagalah jambul dan nyawamu!”

Berbareng dengan kata-katanya ini, si tinggi besar segera loncat menyambar jambul barongsay itu, tapi barongsay itu seperti hidup dan bermata, dengan gesit sekali ia berkelit dan kepalanya bergerak memutar hendak menggigit lengan si tinggi besar yang menjadi kaget dan tidak menyangka akan gerakan secepat itu hingga ia buru-buru loncat ke belakang! Para penonton bersorak memuji.

Si tinggi besar kini bergerak dengan hati-hati. Kini ia gerakkan tangan dan kakinya menyerang dengan hebat. Penonton menjadi cemas ketika melihat betapa orang itu berlaku curang, tidak hanya bergerak hendak merampas jambul semata-mata, tapi bahkan menyerang Ong Sin dengan hebatnya! Jelas sekali bahwa orang itu mengandung maksud baik. Sebentar saja mereka bertempur betul-betul biarpun Ong Sin masih berada dalam barongsay! Ong Sin bergerak dengan mengagumkan sekali dan dia tidak hany adapat hindarkan tiap serangan dengan baik, bahkan beberapa kali hampir berhasil menggigit ujung baju si tinggi besar.

Pada suatu saat ketika si tinggi besar menyerang ke arah dada barongsay itu loncat secepat kilat ke samping dan anak yang pegang ekorpun ikut meloncat, kemudian dengan sekali saut gigi barongsay itu berhasil menyangkut ujung baju si tinggi besar! Tentu saja penonton menjadi gembira dan bersorak sambil menyatakan bahwa si tinggi besar telah kalah. Tapi tidak dinyana bahwa dalam kekalahannya, si tinggi besar masih mau bertindak curang. Ia berseru keras dan tangan kanannya yang merdeka mengayun pukulan keras ke arah kepala barongsa di mana tersembunyi kepala Ong Sin! Semua orang berseru kaget, tapi pada saat berbahaya itu Ong Sin masih sempat berkelit sambil melepas barongsaynya yang terpukul hancur! Juga adiknya yang pegang ekor lalu loncat menyingkir. Si tinggi besar yang merasa malu dan marah terus saja menyerang kepala Ong Sing dengan nekad.