-->

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Jilid 6 (Tamat)

Jilid 6 (Tamat)

Pangeran Gila tidak mau ketinggalan dan memeluknya juga serta menciumi rambutnya. Kim Nio hampir pingsan karena tidak dapat menahan kejijikan dan kegelian hatinya. Ia hanya memeramkan matanya dan menggigit bibirnya. Ingin sekali ia memberontak dan lari pergi dari tempat gila ini, akan tetapi bayangan Kong Lee bergandeng tangan dengan Thio Eng membuat hatinya dingin kembali dan ia tidak pedulikan lagi segala kengerian itu karena melihat betapa rencananya hampir berhasil! Ia telah berhasil menawan hati mereka dan mulai saat ini ia boleh tinggal di situ bersama mereka tanpa merasa kuatir akan mereka bunuh. Ia telah diakui sebagai keluarga mereka, keluarga gila!

Raja Gila tiba-tiba bertanya, “Siapa namamu, mantuku?”

Kim Nio menjawab sambil tunduk karena tak tahan menentang pandangan mata yang liar, tapi sangat tajam berpengaruh itu, “Namaku Coa Kim Nio.”

“Nama bagus, nama bagus! Perkawinan harus segera dilangsungkan.” Raja Gila itu menghitung-hitung jari tangannya seperti sikap orang menghitung hari dan mencari hari baik. “Besok adalah hari baik dan besok boleh dilangsungkan perkawinan ini.” “Tidak, tidak besok!” Tiba-tiba Ratu Gila mencela. “Harus dilangsungkan sekarang juga. Hari ini lebih baik daripada besok! Sekarang kita langsungkan perkawinan anak kita!”

Kim Nio terkejut sekali mendengar ini. Tak disangkanya bahwa mereka ini masih ingat akan segala upacara perkawinan segala. Ia menjadi bingung. Haruskah ia kawin dengan laki-laki gila yang selain mengerikan, juga sudah berusia empat puluh tahun lebih dan keadaannya menjijikkan ini? Ia buru-buru berlutut lagi di hadapan kedua orang tua itu.

“Mohon dimaafkan, bukan aku hendak membantah, akan tetapi aku telah bersumpah takkan kawin sebelum musuh-musuhku kubinasakan. Dan musuh-musuhku berarti musuh-musuh kita bersama pula,” katanya.

“Musuh kita? Musuh kita si bangsat Beng Hwat Ong sudah mampus! Dia sudah habis dimakin cacing!” kata Leng Tin Ong atau Raja Gila itu.

“Belum, belum mampus semua!” Tiba-tiba Ratu Gila membantah, “Masih ada tosu jahanam Bong Ki Tosu yang belum mampus!”

Ternyata mereka ini masih ingat akan musuh-musuh mereka yang dulu mencelakakan mereka.

“Ya, Bong Ki Tosu belum kita bikin mampus. Tapi selain dia, kita tidak mempunyai musuh lain lagi,” kata Raja Gila.

“Tapi aku mempunyai dua orang musuh yang telah menghinaku.”

“Apa? Ada orang berani menghina isteriku? Siapa dia? Katakan, akan kupatahkan batang lehernya!” Tiba-tiba Ki Pok meloncat tinggi sambil mengepalkan tangan. “Benar! Kita harus basmi musuhmu itu. Siapa dia?” bertanya Raja Gila.

“Dia berada di kota Lam-sai dan untuk membalas sakit hati ini kita harus pergi ke sana. Ia sangat hebat sekali maka kita beremmpat harus pergi semua mencarinya.” “Boleh, boleh! Serahkan saja kepadaku!” kata Ki Pok bernafsu sekali.

“Tidak bisa, tidak bisa! Kami tak dapat pergi!” tiba-tiba Raja Gila berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kim Nio terkejut sekali dan cepat memandang. “Mengapa tidak bisa!” tanyanya kuatir.

“Kami tak dapat meninggalkan kerajaan!”

Kim Nio memandang dengan mata tak mengerti. “Kerajaan? Kerajaan apa?”

Tiba-tiba kakek tua itu tertawa terkakak-kakak sehingga suara ketawanya itu bergema di seluruh hutan.

“Anak bodoh! Kerajaan mana lagi? Kerajaan di sini yang indah dan luas, kerajaanku! Kalau kita pergi, siapa yang akan menjaga kerajaanku?”

Kim Nio terkejut dan tak dapat menjawab. “Kalau begitu, kau tidak suka kepada anak menantumu.”

“Anak menantu? Hi, hi, anak menantu? Benar, benar! Kau harus kawin sekarang juga dengan Ki Pok!” Tiba-tiba Ratu Gila berkata sambil tertawa-tawa.

Kim Nio makin bingung, akan tetapi ia pergunakan otaknya yang cerdik. Ia maklum bahwa biarpun mereka ini gila, namun mereka dapat diajak bercakap-cakap dengan baik dan di dalam kegilaan mereka, ternyata mereka ini mempunyai jalan pikiran dan pendapat sendiri-sendiri. Ia harus berlaku sadar dan menenangkan hati mereka lebih dulu, karena ketiga orang ini di dalam kedewasaan mereka ternyata sangat terpengaruh oleh pikiran kanak-kanak dan mereka ini masih harus akan kedudukan tinggi yang mungkin menjadi kenangan mereka yang akan datang dari keluarga bangsawan!

Oleh karena itu, biarpun dengan hati takut, jijik dan kuatir sekali, Kim Nio memperlihatkan muka girang dan menurut ketika kedua Raja dan Ratu Gila itu memaksa dia menjalankan upacara perkawinan dengan Leng Ki Pok, Si Pangeran Gila!

Kim Nio dan Ki Pok disuruh menjalankan upacara dengan bersembahyang di depan sebuh meja batu di mana setelah diatur korban-korban sembahyang berupa buah- buahan dan binatang-binatang hutan yang telah mereka bunuh. Kemudian kedua pengantin ini di dalam hutan, Kim Nio dan Ki Pok berjalan di depan sedangkan Raja dan Ratu Gila itu berjalan di belakang mereka bawa dengan kayu serta berteriak- teriak menyanyi sehingga keadaan di dalam hutan pada hari sungguh ramai dan aneh. Burung-burung hutan beterbangan dan binatang-binatang hutan berlari pergi karena terkejut dan ketakutan!

Setelah mengarak sepasang mempelai itu di seluruh hutan yang menurut Raja Gila hendak memperkenalkan sepasang pengantin kepada seluruh kerajaannya, maka upacara dianggap selesai!

Untung bagi Kim Nio bahwa ia telah dapat menenangkan hati Ki Pok dan telah dapat mempengaruhinya sehingga Pangeran Gila ini tunduk dan takut kepadanya, sehingga dari pihak “suami” ini ia tidak menguatirkan gangguan, asal saja tidak menguatirkan gangguan, asal saja ia dapat bersikap manis terhadapnya. Hanya terhadap kedua mertuanya Kim Nio masih belum dapat mempengaruhinya dan ia masih belum dapat membujuk mereka pergi meninggalkan “kerajaan” mereka untuk menyerbu ke Lam- sai guna membalas dendamnya kepada Kong Lee dan Thio Eng!

Akan tetapi, betapapun juga, lambat laun pikiran Kim Nio yang waras dan cerdik itu akhirnya dapat menguasai pikiran-pikiran gila itu. Dengan perlahan ia dapat membujuk bahwa kerajaan mereka takkan terganggu bila mereka pergi meninggalkannya. Ia membakar hati kedua orang tua dengan menceritakan betapa musuh besarnya itu sangat kurang ajar, sangat menghinanya dan bersikap tidak mengindahkan kedudukan Raja dan Ratu itu!

Beberapa kali Leng Tin Ong dan isterinya dapat dibakar hatinya dan mereka menyatakan siap untuk ikut pergi membalaskan sakit hati menantu mereka. Akan tetapi niat ini selalu tidak jadi karena mereka agaknya masih takut-takut untuk meninggalkan hutan yang mereka anggap sebagai kerajaan mereka itu.

Kim Nio lalu mempergunakan pengaruhnya kepada Ki Pok untuk membantunya membujuk kedua orang tua itu. Pangeran Gila ini telah tunduk benar-benar kepada Kim Nio dan segala kata Kim Nio tentu ia turut dengan taat. Maka mulailah Ki Pok membujuk-bujuk ayah ibunya dengan sungguh-sungguh, bahkan sampai menangis atau marah seperti anak kecil!

Sementara itu Kim Nio menerima pelajaran silat yang hebat dari “suaminya” karena biarpun kini telah mempunyai keluarga hebat yang dapat diandalkan untuk membantunya, namun ia ingin mempelajari ilmu silat mereka yang luar biasa itu untuk menjaga kalau-kalau mereka tidak mau membantunya sehingga ia harus bekerja sendiri.

Demikianlah, dengan tiada hentinya ia membujuk mereka setindak demi setindak. Tiga bulan kemudian akhirnya ia berhasil juga membujuk mereka pergi meninggalkan hutan itu untuk menuju ke Lam-sai dan menyerbu tempat tinggal Thio Sui Kiat!

Mereka pergunakan ilmu jalan cepat mereka yang luar biasa sehingga di sepanjang jalan orang-orang hanya melihat tiga bayangan orang berkelebat cepat di depan mata mereka tanpa dapat melihat tegas siapa adanya orang-orang yang seakan-akan terbang lewat tadi! Kim Nio yang tidak memiliki kepandaian setinggi mereka, digendong oleh Ki Pok.

Untung di dalam tiga bulan selama Kim Nio tinggal di hutan itu, ia berhasil memperingatkan mereka bahwa tidak baik sekali makan daging manusia, sehingga di dalam perjalanan ini mereka tidak mengganggu orang-orang yang mereka jumpai di jalan!

Kong Lee semenjak kawin hidup penuh kebahagiaan di rumah mertuanya dan membantu pekerjaan Thio Sui Kiat. Akan tetapi karena telah lama tidak bertemu dengan suhunya, Kong Lee merasa rindu kepada orang tua itu. Terutama sekali karena ia ingin memperkenalkan isterinya yang cantik kepada suhunya itu, sekalian minta doa restu dari orang tua yang baik budi itu. Ia menuturkan niatnya kepada Thio Eng dan isteri yang baik inipun menyatakan persetujuannya untuk bersama-sama pergi ke Liong-san mengunjungi Liong-san Lo-kai. Mereka berdua lalu menghadap kepada orang tua mereka untuk minta ijin.

“Baik sekali maksud kalian ini,” kata Thio Sui Kiat yang cukup bijaksana untuk mengetahui bahwa orang-orang muda ini sebagai pengantin baru tentu saja ingin pergi berdua saja bagaikan sepasang burung merpati terbang bebas di udara. “Dan sampaikanlah hormatku kepada orang tua yang sakti itu.”

Juga Nyonya Lim tidak merasa keberatan dengan kehendak anak dan menantunya ini. “Asal saja kau berdua tidak lupa untuk pulang ke sini. Ingat bahwa orang tuamu sudah tua dan tidak ingin berpisah terlalu lama dengan kalian!” Ibu ini masih takut- takut melepas Kong Lee pergi.

Maka berangkatlah Kong Lee dan Thio Eng, membawa bekal secukupnya. Mereka langsung menuju ke Liong-san, gunung yang penuh dengan tamasya alam indah dan sedap dipandang itu. Tak perlu diceritakan lagi kiranya betapa senang dan gembira hati mereka. Dunia nampak indah di mana-mana dan apa saja yang nampak di depan mata seperti khusus diadakan untuk mereka dan untuk menambah kegembiraan mereka!

Kong Lee dan isterinya sama sekali tidak menduga bahwa beberapa hari semenjak mereka meninggalkan rumah mereka, di Lam-sai telah datang Kim Nio yang membawa serta tiga orang luar biasa yang berbahaya sekali!

Alangkah terkejutnya Thio Sui Kiat ketika pada suatu malam, entah dengan cara bagaimana karena ia sama sekali tidak mendengar suara kaki orang, tahu-tahu di dalam kamarnya telah berdiri tiga orang aneh dan seorang perempuan cantik! Tiga orang aneh yang tidak lain adalah Leng Tin Ong, isterinya, dan Leng Ki Pok itu, hanya berdiri diam bagaikan patung, sedangkan perempuan cantik itulah yang bicara kepadanya.

“Orang she Thio, kalau kau sayang nyawamu, beritahukan padaku adanya Kong Lee dan isterinya!”

Thio Sui Kiat memandang tajam dan ia makin terkejut ketika dapat mengenal bahwa perempuan cantik ini tidak lain adalah Kim Nio, wanita yang dulu pernah menculik Thio Eng!

“Kau datang ke sini hendak berbuat apa? Mengapa tidak siang hari saja datang, sebagai tamu baik-baik?”

Thio Sui Kiat dengan tenang turun dari pembaringannya dan berdiri menghadapi tamu-tamu malam yang tak diundang itu. Ia menduga-duga siapa adanya tiga orang yang berpakaian dan bersikap aneh ini, dan tiba-tiba bulu tengkuknya berdiri ketika ia melihat betapa mata mereka mengeluarkan sinar aneh, karena ia teringat akan cerita Kong Lee tentang keluarga yang mengerikan itu. Inikah mereka itu dan apakah maksud mereka ikut datang bersama penjahat wanita ini?

“Jangan banyak cakap! Katakan saja di mana Kong Lee dan isterinya?”

Thio Sui Kiat dapat menduga bahwa wanita ini dalam kegilaan cintanya kepada Kong Lee tentu akan melakukan perbuatan nekad dan mungkin akan membunuh mantunya dan anaknya dengan pertolongan ketiga orang gila ini. Maka ia hanya menggelengkan kepala sambil berkata, “Mereka telah pergi, aku tidak tahu ke mana!”

“Ha, ha, ha! Orang she Thio! Kau takut aku akan bertemu dengan mereka? Ha, ha!” Kim Nio tertawa menyindir sehingga Thio Sui Kiat merasa mendongkol sekali. “Siapa yang takut kepadamu?” serunya dan ia lalu menggerakkan tangan menyerang Kim Nio.

Akan tetapi, di saat itu juga dari samping telah menyambar tenaga pukulan yang dahsyat sekali. Thio Sui Kiat terkejut dan mengelak, akan tetapi terlambat. Sebuah totokan dengan tepat mengenai jalan darahnya sehingga jago tua ini roboh tak berdaya!

Kim Nio menggeledah seluruh gedung dan menotok roboh semua orang yang tinggal di gedung itu, akan tetapi ia tidak mendapatkan orang-orang yang dicarinya! Ia menjadi marah sekali dan akhirnya setelah mengancam dan memaksa seorang pelayan untuk mengaku, ia mendengar bahwa dua pekan yang lalu Kong Lee dan Thio Eng benar-benar telah pergi menuju ke Liong-san!

Kim Nio lalu memerintahkan pelayan-pelayan untuk membuat dan mengeluarkan hidangan-hidangan dan di tengah malam buta itu ia menjamu ketiga orang gila itu. Leng Tin Ong dan anak isterinya makan jamuan dengan nikmat sekali, kemudian mereka tidur di atas pembaringan-pembaringan yang berkasur lunak dan bertilamkan kain bersih sehingga mereka senang sekali. Agak sukar bagi Kim Nio untuk membujuk mereka meninggalkan gedung itu pada keesokan harinya!

Thio Sui Kiat tak berdaya sama sekali menghadapi mereka. Ia hanya dapat memandang dengan penuh kekuatiran akan keselamatan Kong Lee dan anaknya, karena maklum bahwa menantunya itu walaupun tinggi kepandaiannya, agaknya tak mungkin dapat mengalahkan orang-orang gila ini!

Betapapun juga sebelum pergi dari situ, Kim Nio tidak lupa untuk menyembuhkan semua orang dari totokan. Ia lalu mengajak ketiga orang gila itu pergi cepat bagaikan terbang, menyusul ke Liong-san!

Gegerlah seluruh isi rumah Thio Sui Kiat sepeninggal orang-orang gila itu. Thio Sui Kiat sendiri dengan isterinya dan Nyonya Lim Ek, merasa sangat kuatir. Tanpa memperdulikan bahaya yang mungkin mengancam dirinya, Thio Sui Kiat lalu berdandan dan ia pergi pula menyusul ke Liong-san pada hari itu juga.

“Kalau mereka itu mengganggu Kong Lee dan Thio Eng, aku akan mengadu tenaga dengan Kim Nio Si Perempuan Rendah!” katanya dengan gagah. Sambil menangis isterinya memesan agar supaya ia berhati-hati.

Ketika Kong Lee dan Thio Eng tiba di puncak Liong-san di mana dulu ia berlatih silat untuk bertahun-tahun, kebetulan sekali Liong-san Lo-kai baru saja kembali dari perantauannya sehingga guru dan murid ini dapat bertemu. Liong-san Lo-kai merasa gembira sekali dan ia menyatakan rasa senangnya melihat muridnya telah hidup bahagia dengan seorang isteri yang cantik dan berbudi seperti Thio Eng.

“Muridku, kebetulan sekali kau datang karena aku justeru sedang bingung memikirkan siapa gerangan yang dapat kuminta bantuan untuk melakukan sebuah pekerjaan penting.”

“Pekerjaan apakah itu, Suhu? Katakanlah dan teecu tentu akan membantu sekuat tenaga teecu!”

“Ha, ha! Kau memang murid yang baik. Tapi pekerjaan ini berbahaya sekali, apakah isterimu rela melepaskanmu?” sambil berkata demikian, kakek tua itu mengerling ke arah Thio Eng.

“Suhu, mengapa teecu takkan rela melepas dia pergi?” jawab Thio Eng. “Sudah sepatutnya seorang murid membantu suhunya yang boleh disebut sebagai orang tua sendiri! Bahkan, biarpun teecu hanya berkepandaian dangkal, namun teecu juga menyediakan tenaga untuk membantu pekerjaan itu!” kata Thio Eng dengan muka merah dan suara gagah.

“Ha, ha, ha! Bagus, bagus! Kong Lee, kau ternyata pandai memilih seorang isteri yang bijaksana dan gagah perkasa!”

“Suhu, sebetulnya pekerjaan apakah yang Suhu maksudkan itu?”

“Dengarlah, ketika aku merantau, terdengar olehku akan adanya seorang tosu yang tinggal di puncak bukit Si-swe-san. Tosu itu dengan menggunakan ilmu hitamnya kabarnya telah menipu para penduduk desa di sekitar bukit itu dan bahkan berani mengorbankan manusia-manusia yang katanya dijadikan hidangan malaikat gunung. Aku ingin sekali menyaksikan sendiri keadaan di Si-swe-san, akan tetapi aku mendengar bahwa tosu itu berkepandaian tinggi dan mempunyai banyak kawan yang pandai sehingga betapapun juga, pergi seorang diri saja aku merasa kuatir. Maka kedatanganmu ini kebetulan sekali, muridku. Kau bantu aku menyelidiki keadaan tosu itu. Isterimu boleh turut asal berlaku hati-hati.”

Kong Lee merasa girang sekali.

“Baiklah, Suhu. Teecu tentu akan membantu sekuat tenaga, karena biarpun tidak diperintah oleh Suhu, jika mendengar akan hal ini, sudah menjadi kewajiban teecu untuk menyelidiki, bukan?”

Maka berangkatlah Liong-san Lo-kai dengan Kong Lee dan Thio Eng menuju ke puncak Si-swe-san yang letaknya tidak jauh dari Liong-san.

Ketika mereka tiba di kaki bukit Si-swe-san, mereka menanyakan keterangan- keterangan kepada penduduk desa dan mendapat keterangan yang membuat mereka merasa heran sekali.

Ternyata bahwa di puncak Si-swe-san terdapat sebuah kuil besar yang pada akhir- akhir ini diperbaiki dan diperbesar lagi oleh seorang tosu. Dan semenjak tosu ini tiba di situ, maka banyak terjadi keganjilan. Menurut penuturan tosu tadi, Si-swe-san adalah sebuah gunung yang suci dan yang harus dihormati semua penduduk. Sebagai buktinya banyak orang sakit telah dapat disembuhkan oleh tosu itu yang katanya mempergunakan air mujijat yang keluar dari gunung itu. Oleh karena itu, penduduk desa menjadi percaya sekali menganggap bahwa gunung itu benar-benar gunung keramat dan tosu itu lalu menjadi “orang perantara” yang menyampaikan perintah- perintah dari malaikat gunung.

Menurut cerita tosu itu, malaikat gunung adalah seorang malaikat yang belum kawin dan sedang memilih seorang isteri, maka telah beberapa kali ditunjuk dan dipilih seorang gadis tercantik untuk dijadikan isteri malaikat itu!

Apabila ada seorang gadis yang dipilih atas petunjuk tosu itu, maka gadis yang malang ini lalu dirias seperti seorang pengantin, lalu ia dimasukkan ke dalam sebuah lubang yang terdapat di puncak gunung itu! Tadinya orang-orang mengira bahwa gadis itu tentu terlempar ke dalam kawah gunung dan binasa, akan tetapi alangkah heran merasa ketika beberapa hari kemudian, gadis yang tadinya dilempar ke dalam lubang yang agaknya tak berdasar gelap dan dalam itu, muncul kembali di puncak bukit dalam keadaan tak ingat orang dan setengah gila!

Menurut penuturan tosu tadi, katanya gadis yang di “kembalikan” oleh malaikat itu tidak diterima dan si malaikat minta ganti seorang calon isteri yang lebih cantik dan yang akan menyenangkan hatinya.

Hal ini telah berulang kali terjadi sehingga dalam beberapa bulan saja semenjak tosu itu datang di situ telah ada tujuh orang gadis dijadikan korban dilempar ke dalam lubang. Akan tetapi, ketujuh orang gadis itu kesemuanya ditolak kembali oleh si malaikat dalam keadaan tidak ingat orang dan setengah gila! Maka gelisahlah para penduduk kampung di sekitar bukit itu. Mereka takut kalau-kalau malaikat sakti itu menjadi marah dan mengutuk kampung-kampung sehingga sawah ladang akan berkurang hasilnya dan banyak penyakit akan timbul!

Ketika Liong-san Lo-kai dan Kong Lee berdua tiba di bukit itu, kebetulan sekali tosu itu hendak mengadakan pemilihan calon isteri baru. Liong-san Lo-kai dan kedua anak muda itu heran sekali melihat akan ketaatan dan kepercayaan penduduk yang memaksa para gadis mereka untuk datang menghadap di kuil untuk dipilih! Orang- orang kampung ini akan merasa berbahagia sekali apabila anak mereka sampai terpilih. Siapa orangnya yang tidak ingin menjadi mertua malaikat gunung yang sakti? Liong-san Lo-kai bersama Kong Lee dan Thio Eng ikut bersama para penduduk kampung yang berbondong-bondong menuju ke puncak bukit. Semua orang yang melihat bahwa orang tua ini datang bersama Thio Eng, mengira bahwa orang tua inipun hendak mempersembahkan gadisnya yang cantik-jelita itu kepada malaikat gunung!

Di depan kuil telah dibangun sebuah panggung yang cukup tinggi, dan semua gadis itu diharuskan berdiri berderet-deret di depan panggung untuk dipilih! Dengan suara berbisik Liong-san Lo-kai lalu minta kepada Thio Eng untuk ikut berdiri di situ, dan hal ini disetujui oleh Kong Lee dan Thio Eng sendiri yang dapat memaklumi siasat orang tua ini.

Berdiri di antara gadis dusun itu, maka tentu saja Thio Eng nampak berbeda sekali. Tak seorang pun yang berkumpul di situ pernah melihat seorang gadis secantik Thio Eng, sehingga semua mata memandang ke arahnya membuat Thio Eng merasa malu. Ia tersenyum-senyum sambil memandang ke arah suaminya yang berdiri dengan hati berdebar! Betapapun juga, kejadian ini membuat ia merasa gelisah juga.

Para penjaga kuil terdiri dari orang-orang yang menganut Agama To, dan mereka ini kesemuanya bertubuh kuat dan menyatakan bahwa mereka mengerti ilmu silat. Tiba- tiba terdengar suara tambur dipukul dan dari dalam kuil keluarlah seorang tosu yang sudah tua sekali, tapi yang mengenakan pakaian indah dan rambut serta jenggotnya yang sudah putih itu terpelihara baik-baik!

Semua penduduk kampung membungkukkan tubuh memberi hormat kepada tosu ini. Liong-san Lo-kai dan Kong Lee tidak mengenal tosu ini, akan tetapi dari sinar matanya yang mengeluarkan cahaya berpengaruh, tahulah mereka bahwa tosu ini tentu berilmu tinggi.

“Kawan, tahukah kau siapa nama tosu itu?” tanya Liong-san Lo-kai kepada seorang kampung yang berdiri dekat dengan dia.

Orang kampung itu memandang heran, kemudian ia dapat menduga bahwa orang tua ini tentu datang dari tempat lain dan belum tahu akan nama Si Tosu Sakti.

“Namanya ialah Bong Ki Tosu,” jawabnya singkat lalu memandang ke arah tosu yang kini berdiri di atas panggung itu dengan penuh penghormatan.

Bagi Liong-san Lo-kai nama ini bukan nama asing, karena ia pernah mendengar bahwa Bong Ki Tosu adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan datang dari pegunungan Tibet. Akan tetapi Kong Lee terkejut sekali mendengar nama ini dan ia memandang dengan penuh perhatian.

Bong Ki Tosu? Ini adalah nama tosu yang mencelakakan Leng Tin Ong dan anak isterinya, yang membuat pangeran itu serta isteri dan anaknya menjadi gila dan yang kini menjadi keluarga gila dan berkeliaran di dalam hutan! Inikah tosu jahat yang dulu membantu Beng Hwat Ong mencelakakan Pangeran Leng Tin Ong sekeluarganya itu? Sementara itu, setelah mengangkat kedua lengannya untuk memberi tanda bahwa semua orang boleh berdiri kembali, Bong Ki Tosu lalu memberi tanda dengan tangannya dan seorang pembantunya yang tinggi besar maju ke arah deretan gadis yang berjumlah dua puluh orang lebih itu! Kemudian, seorang demi seorang, gadis- gadis itu disuruh menaiki panggung melalui sebuah anak tangga dan mereka ini untuk beberapa lama berdiri di depan tosu itu yang memandangnya dengan penuh perhatian! Dengan hati berdebar Thio Eng juga mengikuti gadis-gadis itu menaiki anak tangga. Ketika ia berdiri di depan tosu itu, ia melihat betapa mata tosu tua itu memandangnya dengan tajam tiba-tiba lemaslah tubuh Thio Eng. Seakan-akan ada tenaga gaib keluar dari kedua mata itu dan tenaga itu dengan kuat sekali menekan dan menundukkan segala kehendak dan tenaganya!

Thio Eng merasa terkejut sekali dan mencoba untuk melawan, akan tetapi makin ia lawan makin kuatlah tenaga itu dan akhirnya ia menundukkan muka di depan tosu itu dan sama sekali tidak membantah ketika tosu itu menaruh tangan kanannya di atas kepalanya!

Terdengar sorak-sorai ramai sekali karena ternyata bahwa malaikat gunung yang diwakili oleh tosu itu telah menjatuhkan pilihannya, yakni kepada gadis asing yang cantik jelita itu! Beberapa orang pembantu lalu naik ke atas panggung sambil membawa jubah pengantin dan Thio Eng lalu dikerobongi jubah pengantin itu, sedangkan di atas kepalanya dipasang sebuah mahkota yang indah!

Bukan main terkejut dan heran Kong Lee ketika melihat betapa Thio Eng nampak lemas dan seakan-akan menurut dengan segala senang hati, kedua matanya memandang ke bawah seperti mata orang mengantuk dan sedikitpun tak pernah menengok kepada suaminya!

“Suhu, celaka! Thio Eng tentu kena sihir tosu siluman itu!”

Liong-san Lo-kai tersenyum tenang, “Tenanglah, muridku. Aku tahu akan hal itu. Biarlah untuk membuka kedok imam durhaka itu, kita harus mendapatkan buktinya. Kalau kita bertindak sembrono, tentu orang-orang kampung ini akan marah kepada kita. Biarlah, kita tunggu sampai Thio Eng dimasukkan ke dalam lubang. Kemudian kau cepat meloncat dan menyusul ke dalam lubang itu sedangkan aku hendak bergerak dari luar. Mengerti?” kata kakek ini sambil berbisik.

Setelah Thio Eng selesai dirias, dengan diikuti oleh semua penduduk yang berada di situ, Thio Eng lalu diarak ke atas puncak!

Puncak ini berada tepat berada di belakang kuil dan di situ terdapat panggung kecil pula, dan di tengah-tengah panggung terdapat sebuah lubang yang garis tengahnya kira-kira tiga kaki lebarnya! Lubang ini kalau dilihat dari luar tidak nampak dasarnya, karena gelap sekali.

Di atas panggung ini lalu diadakan sembahyang pengantin yang dipimpin oleh Bong Ki Tosu. Kemudian Thio Eng dipondong oleh seorang pelayan tinggi besar dan setelah Bong Ki Tosu membaca doa maka tubuh Thio Eng dilempar ke dalam sumur yang gelap itu! Semua penduduk kampung lalu berlutut di atas tanah untuk memberi penghormatan terakhir kepada pengantin malaikat gunung!

Sementara itu, dengan diam-diam Liong-san Lo-kai telah menggunakan kepandaiannya dan menyerbu masuk ke dalam kuil tanpa terlihat oleh seorang pun. Sedangkan Kong Lee yang sudah mendapat petunjuk suhunya, ketika melihat betapa isterinya telah dilempar ke dalam sumur, lalu menggunakan kepandaiannya pula. Ia menanti sampai Bong Ki Tosu berada agak jauh dari sumur itu agar jangan menghalang-halangi perbuatannya.

Kemudian ia berseru, “Cu-wi, semua jangan kena ditipu oleh tosu siluman ini!” ia lalu meloncat dan langsung terjun ke dalam sumur itu menyusul Thio Eng!

Bukan main terkejutnya Bong Ki Tosu melihat ini. Ia hampir saja lupa dan hendak menyusul ke dalam sumur, akan tetapi ia teringat bahwa orang-orang kampung masih berada di situ, maka ia lalu berkata, “Lihatlah, tadi itu adalah orang yang dimasuki roh jahat dan yang hendak melawan malaikat gunung, akan tetapi akan menemui kematiannya dan besok kalian akan melihat mayatnya di atas panggung ini! Sekarang kalian pulanglah karena malaikat gunung tentu tak senang dengan adanya gangguan tadi!”

Maka pulanglah orang-orang kampung itu dengan rasa takut. Setelah semua orang pergi, buru-buru Bong Ki Tosu mencabut pedang dan kebutannya dan lari masuk ke dalam kuil kembali!

Sementara itu, ketika Kong Lee terjun ke dalam sumur, ia terjeblos ke dalam tempat yang dalam sekali sehingga mau tidak mau hatinya menjadi cemas. Akan tetapi, seperti yang ia telah duga, tiba-tiba tubuhnya menimpa sebuah jala yang dipasang di sini. Cepat ia meloncat keluar dan tiba di dalam sebuah ruang yang luas. Di situ ia melihat betapa tiga orang laki-laki tinggi besar baru saja menurunkan Thio Eng yang telah pingsan dari jala itu juga.

Ketiga orang laki-laki tinggi besar itu melihat kedatangan Kong Lee, mereka terkejut dan cepat menyerbu, akan tetapi dalam beberapa jurus saja Kong Lee telah dapat merobohkan mereka! Sementara itu, Thio Eng telah siuman kembali dan ia memandang dengan heran bagaikan orang baru saja bangun dari sebuah mimpi yang menyeramkan. Semenjak berdiri di depan Bong Ki Tosu tadi, ia telah kehilangan kemauan dan pikirannya dan tidak ingat apa-apa lagi.

Kong Lee lalu mengajak isterinya menyerbu keluar, melalui sebuah jalan di bawah tanah yang berliku-liku. Kemudian mereka tiba di sebuah kamar yang merupakan kamar tidur terhias indah dan mewah. Ini agaknya kamar pengantin dari Bong Ki Tosu sendiri yang tentu mewakili pula malaikat gunung untuk menyambut isterinya! Di dalam kamar itu terdapat sebuah anak tangga yang tinggi dan Kong Lee serta Thio Eng lalu menaiki tangga ini ke atas.

Ternyata bahwa anak tangga itu membawa mereka keluar dari dalam tanah dan tiba di dalam ruang belakang kuil itu!

Tiba-tiba terdengar suara pertempuran hebat di dalam ruang sebelah dalam. Mereka lalu lari menghampiri dan melihat Liong-san Lo-kai sedang bertempur melawan dua orang tosu, yakni Bong Ki Tosu sendiri dan seorang tosu lain yang menjadi sutenya, yakni Bong Bi Tosu. Kepandaian kedua orang tosu ini tinggi juga, dan agaknya Liong-san Lo-kai terdesak.

Kong Lee memesan isterinya agar supaya jangan ikut bertempur melawan kedua orang yang hebat itu. Kemudian ia menarik keluar tongkatnya dan menyerbu untuk membantu suhunya.

Bong Bi Tosu menyambutnya dan segera Kong Lee maklum bahwa kepandaian tosu ini tinggi juga. Dengan Liong-san Koai-tung-hwat ia membela diri dari pedang dan kebutan lawan, akan tetapi masih saja ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya agar jangan sampai terdesak.

Sementara itu, Liong-san Lo-kai yang menghadapi Bong Ki Tosu, dengan mudah dapat mendesak Bong Ki Tosu ini, karena memang kepandaiannya masih lebih tinggi setingkat daripada kepandaian tosu siluman ini. Dengan tongkatnya, pengemis tua dari Liong-san ini mendesak lawannya yang hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat balas menyerang!

Thio Eng melihat pertempuran itu dengan hati cemas. Ia tidak dapat menentukan siapa kalah siapa menang, karena keempat orang itu telah lenyap dari pandangan matanya dan tertutup oleh sinar-sinar pedang dan tongkat. Demikian hebat mereka bertempur!

Ketika Thio Eng sedang menonton pertempuran, tiba-tiba ia merasa ada orang yang menubruknya dari belakang. Ia cukup waspada dan gesit, maka cepat ia mengelakkan diri dari tubrukan ini dan ternyata bahwa yang menubruknya adalah seorang pembantu tosu siluman itu. Thio Eng lalu mengirim tendangan yang hampir saja mengenai lambung orang itu.

Melihat bahwa Thio Eng pandai ilmu silat, orang itu menjadi marah dan mencabut pedangnya lalu menyerang. Akan tetapi, ternyata bahwa kepandaian orang itu tidak berapa tinggi. Tak lama kemudian, Thio Eng berhasil merobohkannya dengan sebuah tendangan dan merampas pedangnya. Beberapa orang pelayan lain mencoba untuk mengeroyok dan menangkap Thio Eng, akan tetapi dengan adanya sebuah pedang di tangan, Thio Eng merupakan seekor harimau betina yang galak. Ia mengamuk dan tak lama kemudian dua orang pelayan itu roboh mandi darah, sedangkan yang lain lalu lari ketakutan!

Kong Lee merasa bahwa Liong-san Koai-tung-hwat yang baru dipahami delapan bagian itu, takkan dapat merobohkan lawan. Maka ia lalu mencampur ilmu tongkatnya dengan ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab Raja Gila!

“Eh, ilmu silat macam apakah yang kau keluarkan ini?” mula-mula lawannya mengejek melihat betapa Kong Lee bergerak-gerak dengan aneh dan ganjil sekali. Akan tetapi, segera ia merasa terkejut sekali karena ilmu silat anak muda itu kini menjadi hebat dan tak terduga gerakan-gerakannya!

Sementara itu, dengan sebuah totokan kilat, Liong-san Lo-kai telah berhasil membuat Bong Ki Tosu rebah tak berdaya. Kakek tua inipun heran melihat ilmu silat Kong Lee dan ia menonton dengan kedua mata terbelalak. Akhirnya, Kong Lee berhasil pula menendang roboh Bong Bi Tosu, tepat di lututnya sehingga sambungan tulang lututnya terlepas!

Tiba-tiba Bong Ki Tosu mengeluh dan siuman dari pingsannya, lalu tosu tua itu mengeluh, “Jangan bunuh aku ... jangan bunuh ... ”

Kong Lee merasa jijik melihat sifat pengecut ini, tapi tiba-tiba ia mendapat sebuah pikiran.

“Kau tidak ingin mati? Baik, kami akan ampunkan jiwamu, akan tetapi kau harus serahkan obat pemunah gila!”

“Apa ... apa maksudmu?” tanya Bong Ki Tosu yang meringis-ringis karena dadanya terasa sakit sekali akibat totokan.

Liong-san Lo-kai merasa heran, akan tetapi diam-diam muridnya memberi isyarat dengan matanya.

“Kau telah menggunakan obat untuk membikin gila orang-orang di kampung maka kau harus menyembuhkan mereka.”

“Baik, baik ... ” keluhnya, “lepaskan dulu pengaruh totokan ini ... ”

Liong-san Lo-kai lalu menggunakan tongkatnya menotok pula dan sembuhlah Bong Ki Tosu. Tosu tua ini sudah takluk betul dan ia lalu mengeluarkan sebungkus obat berwarna putih.

“Inilah obat pemunah itu. Campur dengan arak dan suruh mereka minum, tentu mereka akan sembuh ... ” katanya.

Kong Lee merasa ragu-ragu. “Apakah kau tidak menipu kami?” Bong Ki Tosu memandang marah.

“Kau kira aku ini orang macam apa? Tidak percuma aku merantau puluhan tahun di puncak Tibet! Obat yang membuat orang gila itu terbuat dari akar pohon di Tibet dan ini adalah otak semacam monyet yang telah dikeringkan. Monyet putih yang memiliki otak ini hanya hidup di puncak Tibet dan khasiatnya manjur sekali.”

Bong Ki Tosu dan Bong Bi Tosu lalu diarak keluar dari kuil oleh Liong-san Lo-kai dan muridnya. Guru dan murid ini lalu memberi penerangan kepada orang-orang kampung yang merasa keheran-heranan dan marah sekali melihat betapa mereka telah menjadi korban penipuan. Gadis-gadis yang menjadi gila itu lalu didatangkan, dan Kong Lee atas petunjuk Bong Ki Tosu lalu mencampurkan otak monyet itu dengan seguci arak. Benar saja, setelah diberi minum secawan arak obat, gadis-gadis itu lalu roboh pingsan dan tak lama kemudian mereka sadar kembali dan sembuh!

Kong Lee merasa girang sekali, kemudian ia lalu menceritakan kepada suhunya tentang keadaan keluarga gila yang menjadi korban dari Bong Ki Tosu pula. Dan niatnya kini hendak membawa sisa obat itu untuk menyembuhkan mereka karena menurut kata-kata Bong Ki Tosu, obat itu dapat juga digunakan untuk menyembuhkan sakit gila yang sudah puluhan tahun akibat bekerjanya racun akar yang luar biasa itu.

Bong Ki Tosu dan Bong Bi Tosu lalu dilepas setelah mendapat nasihat-nasihat dan peringatan-peringatan keras, kemudian kuil di puncak bukit itu dihancurkan serta para pengikut Bong Ki Tosu diusir pergi.

“Muridku, sekarang kita harus berpisah. Aku hendak merantau lagi dan kau bawalah isterimu pulang. Jangan terlalu banyak membuat musuh-musuh di kalangan kang-ouw dan jangan bertempur kalau tidak terpaksa sekali. Akan tetapi, jika tenagamu diperlukan untuk menolong sesama hidup, janganlah kau ragu-ragu untuk menolong.” Kakek yang sakti itu lalu pergi dari situ, sedangkan Kong Lee mengajak Thio Eng untuk pulang sambil membawa seguci arak obat.

Kim Nio dengan tiga orang gila berlari cepat ke Liong-san dan alangkah kecewa mereka ketika mengetahui bahwa tempat pertapaan itu kosong! Mereka lalu turun gunung dan pergi mencari sambil bertanya-tanya di jalan kalau-kalau ada sepasang suami-isteri muda lewat di situ.

Pada suatu hari, setelah Kim Nio menyatakan kekecewaannya kepada suami dan mertuanya, tiba-tiba dari depan tampak mendatangi dua orang, dan ketika dekat, dengan girang sekali Kim Nio mengatakan bahwa mereka ini adalah Kong Lee dan Thio Eng!

“Itulah mereka! Itulah musuh-musuhku yang harus dibunuh! Ayo, kita tangkap dia! tapi jangan dibunuh, tangkap hidup-hidup!” teriak wanita itu dengan girang sekali. “Kim Nio, tunggu dulu, biarkan aku memberi keterangan penting.”

Akan tetapi, Kong Lee tidak diberi kesempatan bicara lagi, karena ketiga orang gila itu telah maju menyerbu. Kong Lee merasa terkejut sekali. Tak pernah disangkanya bahwa Kim Nio berhasil memperalat tiga orang berbahaya dan hebat ini. Ia dan Thio Eng terpaksa melawan sekuat tenaga, akan tetapi, mana ia dapat melawan tiga orang hebat yang maju serempak itu? Tak lama kemudian Kong Lee dan Thio Eng telah tertotok dan roboh tak berdaya serta menjadi orang-orang tawanan!

“Ha, ha, ha! Musuh-musuhmu orang begini lemah!” Raja Gila tertawa tergelak-gelak. “Telah lama kita tidak makan daging domba, sekarang kita harus mengadakan pesta!” kata Ratu Gila.

“Isteriku, musuh-musuhmu telah kita tangkap. Lekas bunuh mereka dan berikan dagingnya kepadaku!” kata Pangeran Gila.

Kong Lee dan Thio Eng telah lumpuh melihat keluarga gila itu dengan hati ngeri. Pengharapan mereka telah habis dan mereka maklum bahwa kali ini mereka tentu akan mengalami kebinasaan di tangan orang-orang gila ini. hanya ada satu hiburan bagi Kong Lee dan Thio Eng, yakni bahwa mereka akan mati bersama!

Tiba-tiba Raja Gila melihat guci arak di dalam bungkusan pakaian Kong Lee yang tadi dibuka-bukanya.

Ia girang sekali dan sambil mencium tutup guci ia berkata, “Arak ... arak ... ” Isteri dan anaknya memburu dan mereka ini pun girang sekali. Ketiganya lalu bergantian minum arak itu tanpa mempedulikan lagi kepada tawanan mereka atau kepada Kim Nio!

Melihat kesempatan ini, Kim Nio lalu menghampiri Kong Lee dan tersenyum mengejek, “Kong Lee, akhirnya kau jatuh juga ke dalam tanganku!”

“Kim Nio kau telah dapat menawan kami, mengapa tidak lekas kaubunuh saja?” “Untuk apa banyak cakap lagi?” berkata Kong Lee sambil memandang ke arah tiga orang gila yang sedang bergembira minum arak obat itu dengan penuh perhatian! “Ha, ha! Tentu saja akan kubunuh! Dan kedua tanganku sendiri yang akan membunuh kau dan perempuan ini!” kata Kim Nio dengan gemas.

Kim Nio mencabut pedangnya dan mengangkat pedang itu tinggi-tinggi, tapi melihat wajah Kong Lee yang baginya tampak makin tampan dan menarik hati itu, ia menurunkan kembali pedangnya.

“Kong Lee, kau tahu betapa aku sangat mencintamu. Ya, aku tak perlu malu mengaku di depan isterimu. Aku cinta padamu dan dengarlah, kalau kau sudi menerimaku sebagai isterimu, aku akan bebaskan kalian dan aku turut kalian pergi. Biarlah aku menjadi pelayan di rumahmu, asal kau suka menerimaku sebagai isterimu.”

“Kim Nio, sudahlah jangan berkata-kata yang tiada gunanya ini.”

Tiba-tiba Kim Nio melihat perubahan pada wajah Kong Lee. Ia cepat membalikkan tubuh memandang, dan ternyata bahwa ketiga orang gila itu telah rebah menggeletak di atas tanah! Kim Nio tidak pedulikan mereka ini karena menyangka bahwa mereka hanya mabuk dan tidur saja. Ia tidak tahu bahwa ketiga orang itu telah pingsan akibat pengaruh obat! Sementara itu, Kong Lee dan Thio Eng memandang kepada tiga orang gila itu dengan hati berdebar-debar!

“Kong Lee, pikirkanlah baik-baik usulku tadi,” kata Kim Nio pula tanpa memperhatikan sedikit pun kepada keluarga gila itu. “Tak mungkin hatimu sekejam ini dan tidak merasa kasihan kepadaku.”

“Sudahlah, Kim Nio. Tak perlu kau membujuk-bujuk karena takkan ada gunanya. Apakah kau kira aku seorang yang takut mati dan orang serendah itu? Kau telah bersuami, lebih baik kau kembalilah kepada suamimu!”

Mata Kim Nio bersinar marah.

“Kong Lee, benar-benarkah kau tidak sayang kepada jiwamu?”

“Kau tahu bahwa aku tidak takut mati, apalagi kalau harus mati bersama isteriku yang tercinta!”

Sambil berkata demikian, Kong Lee mengerling kepada Thio Eng dengan pandangan mata penuh cinta.

“Hm, kau sangka akan demikian enak untuk kalian? Dengar, kau akan kubunuh di depan mata isterimu dan isterimu akan kuberikan kepada Pangeran Gila untuk menjadi isterinya! Ha, ha!”

Kim Nio lalu berdiri dan pedangnya telah siap di tangan. Kali ini ia takkan ragu-ragu lagi, karena sudah maklum bahwa betapapun juga Kong Lee tidak mau menerima permintaannya. Ia pegang gagang pedang erat-erat dan siap menusuk dada Kong Lee. Orang muda ini sedikitpun tidak gentar, bahkan ia pandang muka Kim Nio dengan tajam dan dadanya diangkat untuk menerima datangnya tusukan.

Pedang telah digerakkan, tapi ... tiba-tiba tangan Kim Nio gemetar dan ia tak kuat menentang wajah Kong Lee lebih lama lagi. Sambil mengeluh, Kim Nio melempar pedangnya dengan wajah pucat, lalu ia jatuhkan dirinya dan memeluk tubuh Kong Lee sambil menangis sedih!

“Kong Lee ... aku tidak tega membunuhmu ... melukaimu saja aku takkan sanggup ... Kong Lee ... benar-benar demikian kejam dan keraskah hatimu ... ?”

Kong Lee tidak menjawab hanya membuang muka. Ia tak dapat melepaskan diri dari pelukan Kim Nio karena tidak kuasa menggerakkan tangan dan kakinya. Sementara itu, Thio Eng memandang dengan rasa terharu. Betapapun juga, perasaan hatinya sebagai seorang wanita lebih halus dan ia dapat membayangkan betapa sedih dan hancur hati Kim Nio.

Melihat betapa Kong Lee sama sekali tidak mempedulikannya, Kim Nio tiba-tiba bangkit berdiri.

“Baiklah, Kong Lee. Kau tidak sudi menerimaku dan aku tidak sampai hati membunuhmu. Akan tetapi kau akan menderita selama hidupmu karena sekarang aku hendak membinasakan isterimu yang kau cinta!”

Sambil berkata begitu, Kim Nio memungut kembali pedangnya dan kini menghampiri Thio Eng yang sama sekali tidak gentar. Kim Nio mengangkat pedangnya dan menusuk!

Tapi pada saat itu, tiba-tiba pedang di tangan Kim Nio terlepas dan suara yang halus membentaknya, “Eh, menantuku, kau hendak berbuat apa? Jangan kau sembarangan membunuh orang!”

Kim Nio terkejut sekali dan menengok. Alangkah kaget dan herannya melihat bahwa yang menghalangi maksudnya dan yang menegurnya itu tidak lain ialah Ratu Gila!

Akan tetapi, betapa nenek ini telah berubah sekali! Gerakannya lemah lembut, wajahnya nampak sungguh-sungguh dan lenyaplah bayangan-bayangan kegilaannya! Juga Raja Gila Leng Tin Ong telah siuman kembali, hampir bersama dengan Leng Ki Pok Si Pangeran Gila! Leng Tin Ong duduk memandang ke kanan kiri sambil berkata, “Eh, eh, apa yang terjadi!”

Sementara itu, Ki Pok segera maju dan berlutut di depan ayahnya, lalu berkata, “Ayah

... ”

Kedua orang ini lalu berpelukan bagaikan dua orang yang baru saja bertemu setelah berpisah puluhan tahun! Kemudian mereka teringat akan Ratu Gila dan keduanya segera melompat menghampiri Ratu Gila yang masih menghadapi Kim Nio dan mencegahnya membunuh Thio Eng.

Ternyata bahwa obat pemunah racun ini bekerja baik dan ketiganya sembuh dari pengaruh kegilaan mereka!

“Menantuku, kedua orang ini harus dibebaskan dan marilah kita segera kembali ke kota raja,” kata Leng Tin Ong yang cepat membebaskan Kong Lee dan Thio Eng dari totokan.

Kong Lee dan Thio Eng cepat menjura memberi hormat dan menghaturkan terima kasih.

“Anak muda, tak perlu kau berterima kasih. Seharusnya kami yang berterima kasih kepadamu, karena kau telah membawa obat penolong kami sekeluarga.

Perkenalkanlah, nona ini adalah menantu kami dan isteri anak kami Ki Pok.” Kemudian Kong Lee menceritakan betapa ia dapat minta obat itu dari Bong Ki Tosu sehingga keluarga Pangeran yang bernasib malang itu menjadi kagum sekali dan menyatakan terima kasih mereka. Kong Lee tidak membuka rahasia Kim Nio dan wanita ini terpaksa diam saja menyesali nasibnya yang selalu mendapat kemalangan. Akan tetapi melihat betapa ketiga orang itu kini telah sembuh dan hendak kembali ke kota raja, diam-diam ia merasa senang juga. Ia telah menjadi isteri Ki Pok, berarti menjadi menantu pangeran yang berkedudukan tinggi. Ia tentu akan menjadi seorang nyonya bangsawan yang terhormat!

Dan selain itu, ia pun akan dapat mempelajari ilmu silat tinggi dari kedua mertuanya! Setelah saling memberi hormat, Kong Lee dan Thio Eng minta diri dan kembali ke Lam-sai, sedangkan Leng Tin Ong lalu mengajak isteri serta anak dan menantunya untuk segera kembali ke kota raja di mana mereka disambut dengan segala kehormatan dan kegirangan oleh para keluarga dan kenalan mereka!

Sementara itu, dalam perjalanan pulang ke Lam-sai, di tengah jalan Kong Lee dan Thio Eng bertemu dengan Thio Sui Kiat. Bukan main girangnya Thio Sui Kiat melihat bahwa anak dan menantunya selamat dan terlepas dari bencana maut.

Ia menghela napas dan sambil mengelus-elus jenggotnya, orang tua ini berkata, “Memang demikianlah, anak dan menantuku, tidak ada pohon baik berbuah masam dan juga tak mungkin pohon buruk berbuah manis! Perbuatan-perbuatan baik pasti akan menghasilkan akibat baik pula dan kejahatan-kejahatan tentu akan mendatangkan bencana! Siapa menolong pasti tertolong dan siapa berbuat jahat akan dijahati orang pula! Tuhan memang adil!”

Demikianlah, Thio Sui Kiat beserta anak dan menantunya lalu kembali ke Lam-sai. Kedatangan mereka disambut dengan girang dan Nyonya Thio dan Nyonya Lim.

Selanjutnya mereka hidup dalam kerukunan dan kebahagiaan sampai di hari tua.

TAMAT