-->

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Jilid 5

Jilid 5

Kedua mata Thio Sui Kiat terbelalak dan ia tercengang memandang kepada pemuda yang berdiri di depan itu. Tak disangkanya bahwa anak muda Lim Ek telah demikian besar dan gagah sehingga diam-diam ia merasa kagum dan girang, akan tetapi juga ada rasa kuatir karena betapapun juga ia dapat menduga bahwa pemuda ini tentu hendak menebus kekalahannya dulu! Apakah ia harus menghadapi calon menantunya ini? Ah, sungguh gila, seorang calon mertua berpibu melawan calon menantunya sendiri. Akan tetapi, iapun ingin sekali mencoba-coba sampai di mana kepandaian yang telah diperoleh calon menantunya dalam perantauannya.

“Lim ... hiante, duduklah, silakan duduk di dalam saja!” katanya dengan ramah sekali dan mereka lalu masuk ke dalam.

Dengan manis budi Thio Sui Kiat mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk. “Lim-hiante, pertama-tama aku hendak bertanya tentang ibumu. Telah lama ia pergi merantau, mencari-cari kau, di manakah dia sekarang dan apakah kau telah bertemu dengannya?”

Kong Lee merasa heran juga mendengar ini karena tidak disangkanya bahwa orang she Thio ini agaknya memperhatikan keadaan ibunya dan mengetahui ibunya telah pergi dari rumah!

“Inilah yang membingungkan hatiku, Lo-enghiong.”

“Jangan kau sebut-sebut Lo-enghiong kepadaku! Panggil saja Susiok (Paman) karena bukankah kita sudah lama berkenalan?”

“Baiklah, Thio-susiok. Ibu telah hampir dua tahun pergi dan entah di mana ia berada sekarang. Akupun sengaja pergi hendak mencarinya, dan sebelumnya aku mampir dulu di sini.”

“Bilakah, kau kembali? Dan mengapa tidak segera datang ke sini?” orang tua itu memotongnya.

“Aku telah setengah tahun lebih kembali ke Bi-ciu dan menanti-nanti kedatangan ibu. Tapi ia tak kunjung datang.”

Thio Sui Kiat lalu memerintahkan pelayan mengambil minuman.

“Thio-susiok, harap kedatanganku ini tidak merepotkan kau. Sebetulnya kedatangan ini tak lain hanya hendak membayar janjiku dulu dan untuk kedua kalinya aku yang muda mohon petunjuk darimu, karena pengetahuanku masih terlalu dangkal.” “Ooo, itukah maksudmu? Baiklah, tapi mari silakan minum dulu, Hian-te!”

Sambil berkata demikian orang tua itu menyodorkan secangkir air teh kepada anak muda itu. Kong Lee dengan sikap hormat menerimanya akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa cangkir itu berat sekali menekan tangannya!

Ia maklum bahwa tuan rumah sedang mencoba tenaganya maka iapun tidak mau berlaku segan-segan. Ia kerahkan lwee-kangnya yang ia pelajari di puncak Liong-san, bahkan ia tambah lagi dengan pelajaran lwee-kang yang ia dapat dari kitab pelajaran dari Raja Gila.

Thio Sui Kiat tadinya merasa betapa telapak tangan pemuda yang menerima cangkir itu lemas bagaikan kapas sehingga ia kagum sekali. Tapi setelah Kong Lee menambah dengan lwee-kang kedua, maka tangan pemuda yang tadinya lemas, tiba-tiba menjadi keras dan mengalirkan hawa dingin yang seakan-akan menjalar melalui cangkir dan terus menjalar ke tangan Thio Sui Kiat yang merasa dingin sekali sehingga tangannya seakan-akan lumpuh! Orang tua itu terkejut sekali dan cepat-cepat melepaskan cangkir itu sambil melangkah mundur dua tindak! Ia memandang dengan kagum dan heran kepada pemuda yang kini minum air teh itu dengan tenang.

“Lim-hiante, kau tentu telah mendapat kepandaian yang tinggi, bukan?”

“Ah, Thio-susiok, sukar untuk dikatakan batas kepandaian seseorang, karena sampai di manakah batas kepandaian? Aku hanya mempelajari sedikit kepandaian dan kini mohon petunjuk dari susiok yang telah banyak pengalaman.”

Thio Sui Kiat making girang mendengar kata-kata pemuda yang tahu membawa diri ini dan ia makin ingin sekali mencoba kepandaian calon menantunya ini. Ia lalu mempersilakan Kong Lee menuju ke lian-bu-thia yang letaknya di ruang belakang. Seperti dulu, pemuda ini mengikuti tuan rumah menuju ke belakang. Lian-bu-thia itu masih tetap seperti dulu dan di rak senjata terdapat senjata-senjata baru yang bagus- bagus karena orang tua ini memang suka mengumpulkan senjata-senjata yang baik. Thio Sui Kiat sengaja memanggil beberapa orang pelayan yang kebetulan berada di ruang belakang dan memerintahkan mereka untuk berdiri di pinggir ruang itu untuk menonton.

“Lihatlah! Hari ini aku kedatangan seorang pemuda gagah perkasa yang mengajak pibu. Lihatlah kepandaian Lim-kongcu, putera dari almarhum Lim Ek-kauwsu di Bi- ciu!”

Kong Lee merasa heran sekali mendengar ini dan ia masih ragu-ragu apakah maksud hartawan ini. sementara itu Thio Sui Kiat sudah melepaskan jubah luarnya. “Marilah, Hian-te, bukalah pakaian luarmu agar lebih leluasa.”

“Tak usah, susiok. Bukankah kita hanya main-main saja?”

Thio Sui Kiat mengambil toya kecil yang dulu juga dan ia kaget dan heran melihat betapa pemuda itu membawa sebatang tongkat bambu di tangannya.

“Ha, jadi kau rupanya telah memperdalam ilmu tongkat?” tanyanya. Kong Lee hanya tersenyum.

“Aku hanya mengikuti jejak mendiang ayahku,” jawabnya. “Nah, marilah kita mulai!” kata Thio Sui Kiat.

Kong Lee sengaja memainkan gerakan Bendungan Baja Menahan Banjir seperti yang dulu ia mainkan ketika ia dirobohkan hanya dalam tiga jurus oleh orang tua ini sambil berkata, “Seranglah, Thio-susiok!”

Thio Sui Kiat merasa sangat heran melihat betapa pemuda ini memainkan gerakan itu. Apakah benar-benar pemuda ini tidak mempelajari ilmu tongkat lain ataukah pemuda ini hendak main-main dengannya? Akan tetapi, tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal ini. Ia lalu menggerakkan toyanya dan menyerang sendiri dulu pula dengan maksud untuk memberi pemuda itu penerangan mengapa dulu ia sampai terjatuh dalam tiga jurus.

Melihat gerakan-gerakan Thio Sui Kiat, maka terbukalah mata Kong Lee dan tahulah ia mengapa ia dulu sampai dijatuhkan karena ternyata bahwa di dalam gerakan ini bagian atas tubuhnya kosong terbuka. Kini pada saat Thio Sui Kiat melompat ke atas dan menyerang ke arah kepala, ia diamkan saja, tapi pada saat toya tuan rumah sudah tiba dekat, dengan luar biasa cepatnya Kong Lee memutar tubuhnya dan toya Thio Sui Kiat mengenai tempat kosong. Orang tua itupun memiliki gerakan cepat sekali dan dapat meloncat turun dan memutar tongkatnya dengan hebat!

Kong Lee menyambutnya dengan tenang karena memang sengaja hendak mengukur sampai di mana tingginya kepandaian orang she Thio yang dulu mengalahkan mendiang ayahnya itu! Melihat betapa ujung toya Thio Sui Kiat bergetar dan terpecah menjadi berpuluh batang, diam-diam ia memuji dan maklumlah ia bahwa kepandaian orang ini masih juga melebihi kepandaian Coa Kim Nio, bahkan mungkin tidak kalah dengan Pauw Kian Si Iblis Tangan Hitam!

Setelah mengukur kepandaian Thio Sui Kiat sampai lebih dari lima puluh jurus, Kong Lee lalu merubah gerakannya dan kini ia mulai balas menyerang, Thio Sui Kiat tadinya merasa kagum dan merasai kemajuan anak muda itu karena ia sama sekali tidak berdaya mendesak pertahanan yang sangat kuat itu. Sekarang melihat datangnya serangan-serangan Kong Lee, ia terkejut sekali. Belum pernah ia menghadapi serangan yang demikian cepat dan bertenaga, maka ia menjadi makin kagum. Ia tidak mau menyerah begitu saja dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mempertahankan diri.

Akan tetapi, Kong Lee segera mengirim serangan-serangan yang paling berbahaya dari Liong-san Tung-hwat sehingga orang tua itu terdesak mundur demikian cepat. Sebuah sabetan dengan tongkat yang cepat sekali ke arah leher hampir saja mengenai sasaran, tapi Thio Sui Kiat dengan cepat menangkis dengan toyanya. Karena kerasnya tenaga Kong Lee, tangan Thio Sui Kiat terasa tergetar dan sebelum ia dapat membetulkan kedudukannya, ujung tongkat Kong Lee telah meluncur ke arah dadanya tepat di ulu hati!

“Celaka!” dengan tak ia sadari Thio Sui Kiat berseru karena ia sudah tak mungkin lagi mengelakkan bahaya ini, maka ia hanya memandangi kepada anak muda itu dengan tajam.

Ketika ujung tongkat Kong Lee sudah hampir tiba di ulu hati lawan. Tepat di tempat dulu ayahnya dilukai oleh she Thio ini. Tiba-tiba ia merubah gerakannya dan ujung tongkatnya tidak jadi menembus dada, tapi meluncur ke kanan dan terdengar suara “brett!” maka robeklah baju Thio Sui Kiat sehingga dadanya tampak!

Kong Lee berdiri sambil memandang lawannya dengan sinar mata dingin karena baru saja dalam sedetik terjadi pertempuran yang lebih hebat lagi di dalam hatinya.

Menurut nafsunya, ia ingin sekali melihat orang she Thio itu roboh karena tusukannya, atau sedikitnya luka. Namun, hati nuraninya tak mengijinkannya sehingga ia hanya merobek saja pakaian orang tua itu! Hasilnya membuat ia kecewa dan juga puas. Kecewa nafsu mudanya yang menggelora dan menuntut balas dan puas bahwa ternyata ia masih kuat menahan nafsu itu!

Thio Sui Kiat dengan mata terbelalak memandang kepada pemuda itu. Nyawanya tadi benar-benar tergantung pada seujung rambut! Kalau saja Kong Lee tidak merubah gerakannya pada saat yang tepat sekali, pasti ia akan roboh binasa.

“Lim-hiante, sungguh kau hebat sekali! Tak kusangka bahwa dalam beberapa tahun saja kau benar-benar berhasil memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya!

Sungguh-sungguh aku merasa takluk! Bukankah kau berguru kepada seorang tokoh dari Liong-san?”

Kong Lee memuji ketajaman mata Thio Sui Kiat yang ternyata dapat mengenal Liong-san Tung-hwat. Ia lalu menjura karena kagum melihat sikap orang tua yang begitu tenang padahal baru saja terlepas dari bahaya maut.

“Thio-susiok, kau sengaja mengalah. Maafkan kelancanganku dan sekarang aku mohon pamit.”

Thio Sui Kiat hendak menjawab, tapi pada saat itu dari ruang dalam muncul seorang gadis berpakaian biru. Kong Lee memandang kagum karena gadis itu demikian cantik dan sopan sikapnya. Pakaiannya ringkas dan gagang pedang nampak tersembul dari belakang pundak kirinya. Ikat pinggang dan celananya berwarna merah, dan ikat pinggang itu bergantungan bagaikan dua ekor ular. Sepatunya yang kecil berwarna hitam mengkilat. Gadis ini adalah Thio Eng dan Kong Lee segera dapat menduganya. Akan tetapi, ketika mereka bertemu pandang, ia merasa heran sekali gadis yang tadinya gagah dan cekatan itu tiba-tiba memerah muka dan nampak gugup!

“Eng-ji,” kata Thio Sui Kiat kepada anaknya, “lihat, Lim-hiante sekarang telah memiliki kepandaian yang jauh melampaui kepandaian ayahmu!”

“Ayah, kebetulan aku tadi melihat sendiri, betapa bajumu robek oleh tongkatnya, maka biarlah aku mencoba kepandaiannya dengan pedangku!”

“Hush, jangan kau main gila, Eng-ji!” kata Thio Sui Kiat yang maklum bahwa gadisnya yang nakal ini merasa gemas mengapa “calon suaminya” berani mengalahkan ayahnya yang menjadi calon mertuanya.

Memang Thio Eng telah diberitahu oleh ayahnya tentang ikatan jodoh antara ia dengan Kong Lee. Sebagai seorang anak yang berbakti ia hanya taat kepada kehendak ayahnya. Lebih-lebih kini melihat betapa tunangannya telah memiliki kepandaian tinggi dan pemuda itu kini tampak demikian gagah dan tampan, tentu saja hatinya menjadi girang sekali. Tiada jalan lain baginya untuk dapat bertemu lebih lama dengan pemuda tunangannya yang sekaligus menawan hatinya itu, kecuali mengajaknya berpibu dengan alasan membela ayahnya yang telah dikalahkan!

Akan tetapi, Kong Lee yang juga terpesona oleh gadis itu, segera menjura kepada Thio Sui Kiat dan Thio Eng sambil berkata, “Kalau aku yang tiada kepandaian ini hendak diberi kehormatan melayani Siocia barang sepuluh jurus dan mendapat petunjuk-petunjuk berharga, tak lain aku haturkan banyak-banyak terima kasih.” Ucapan ini merupakan penerimaan tantangan yang bersifat halus.

Mendengar jawaban ini, Thio Sui Kiat hanya tersenyum dan orang tua ini bahkan pergi duduk di atas sebuah bangku yang berada di pinggir. Ia ingin melihat anaknya bertanding dengan calon menantunya yang sangat hebat itu.

Thio Eng sudah mencabut pedangnya dan melintangkannya di depan dada, sedangkan Kong Lee juga siap sedia dengan tongkat bambunya.

“Seranglah, Nona,” kata Kong Lee dengan halus sambil mengagumi raut muka yang kini nampak nyata keindahannya itu.

Thio Eng mengerling malu-malu dan ia segera maju menyerang dengan sungguh- sungguh. Ia memang hendak mengukur sampai di mana kepandaian Kong Lee. Akan tetapi dengan sengaja Kong Lee tidak mempergunakan tenaganya, hanya mendemonstrasikan kelincahan dan ketinggian ilmu gin-kangnya. Ia bergerak cepat dan tiba-tiba tubuhnya lenyap dari pandangan Thio Eng dan hanya tampak bayangannya saja berkelebat mengikuti sinar pedang!

Bukan main indahnya pemandangan ini sehingga semua pelayan yang menonton di situ bertepuk-tepuk tangan, sedangkan Thio Sui Kiat diam-diam tertawa senang karena gin-kang dari pemuda itu benar-benar hebat!

Kong Lee menjadi bingung karena tidak tahu bagaimana ia harus bertindak untuk menjatuhkan gadis itu. Dengan cara bagaimanakah agar gadis itu dapat dikalahkan tanpa merasa tersinggung dan malu?

Tiba-tiba ia mendapat akal. Dengan segera memainkan ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab pelajaran silat Raja Gila itu. Kini tidak saja Thio Eng, bahkan Thio Sui Kiat sendiri mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut. Belum pernah selama hidupnya ia melihat ilmu seperti itu! Gerakan-gerakannya aneh sekali dan kelihatan seperti gerakan seekor cacing terkena abu panas atau seekor kera yang tiba-tiba merasa gatal- gatal di sekujur tubuhnya sehingga kera itu kebingungan menggaruk ke sana-sini!

Gerakan-gerakannya lucu dan aneh, dan setiap gerakan merupakan kebalikan dari gerakan silat biasa! Dengan penuh perhatian Thio Sui Kiat berdiri dan melihat gerakan-gerakan aneh dari Kong Lee itu.

Sementara itu, Thio Eng merasa pening menghadapi ilmu silat pemuda ini dan pandangan matanya mulai menjadi kabur! Tiba-tiba entah bagaimana, ia merasa pedangnya telah pindah tangan dan sebagai gantinya, ia memegang sebuah tongkat bambu! Dengan cara yang ajaib sekali Kong Lee telah berhasil menukarkan senjatanya dengan senjata gadis itu tanpa disadari oleh si gadis.

Kini tidak saja para pelayan, bahkan Thio Sui Kiat sendiri bertepuk tangan memuji. Ia melihat dengan jelas betapa pemuda itu dengan gerakan yang luar biasa sekali menggunakan tangan kiri merampas pedang lawan dan tangan kanannya dengan cepat sekali menyodorkan tongkat sehingga terpegang oleh gadis itu! Mengetahui betapa pedangnya telah berganti menjadi tongkat, tanpa ia sadari ia mengeluarkan seruan perlahan dan wajahnya berubah merah!

Kong Lee menjura dan hendak menyatakan maaf, tapi gadis itu telah membalikkan tubuh dan lari masuk sambil membawa tongkat bambunya! Kong Lee berdiri dengan pedang di tangan. Ia merasa bingung sekali dan tak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba Thio Sui Kiat tertawa terbahak-bahak dan menghampiri Kong Lee sambil memegang pundaknya.

“Hiante, kau sungguh-sungguh hebat! Hai, kalian semua dengarlah. Kalian harus menyiarkan di kota ini aku telah dikalahkan seorang anak muda yang gagah perkasa bernama Lim Kong Lee!”

Akan tetapi Kong Lee segera berkata sambil menggoyang-goyangkan tangan kanannya ke atas sedangkan tangan kiri masih saja memegang pedang Thio Eng. “Jangan, jangan! Thio-susiok, janganlah membuat aku menjadi malu saja!”

Thio Sui Kiat makin senang dan ia lalu memerintahkan kepada para pelayannya agar jangan menceritakan hal pibu itu kepada orang lain dan sementara itu minta supaya mereka menyediakan hidangan. Melihat kebaikan hati dan keramahan Thio Sui Kiat yang sama sekali tidak merasa sakit hati karena dikalahkannya itu, Kong Lee menjadi malu hati dan ia tak dapat menolak.

Hidangan dikeluarkan dan mereka berdua menghadapi meja penuh hidangan lezat. Kong Lee mengembalikan pedang Thio Eng kepada orang tua itu, akan tetapi Thio Sui Kiat dengan tertawa senang lalu berkata, “Hian-te, simpan saja pedang itu, memang seharusnya ada sesuatu untuk dijadikan barang tanda ikatan!”

Terbelalak kedua mata Kong Lee mendengar ini. Ia bingung dan tidak mengerti. “Duduklah, Hian-te,” kata Thio Sui Kiat dengan suara sungguh-sungguh dan halus. “Karena kau belum bertemu dengan ibumu, tentu saja kau belum tahu akan hal ini. Dengarlah!”

Orang tua itu lalu menceritakan kepada Kong Lee pada waktu anak muda itu dulu meninggalkan gedung itu, betapa Nyonya Lim Ek datang mencari anaknya dan betapa orang-orang tua itu telah setuju untuk menjodohkan Kong Lee dengan Thio Eng.

Bukan main terkejut dan malu sekali mengapa orang tua she Thio yang selain kaya- raya juga memiliki kepandaian tinggi itu sudi mengambil menantu kepadanya yang waktu itu masih bodoh lagi miskin. Ia merasa malu akan kebaikan hati Thio Sui Kiat, padahal ia sendiri merantau mencari kepandaian untuk dapat digunakan membalas dendam kepada orang tua itu!

Karena tidak tahu harus menjawab bagaimana, anak muda itu hanya menundukkan wajahnya yang merah dan tidak berani menentang muka Thio Sui Kiat.

“Hian-te, walaupun ibumu dulu telah menyatakan persetujuan secara bulat namun ia mengatakan hendak menanyakan lebih dulu kepadamu. Sementara itu, biarpun anakku sekarang berusia sembilan belas tahun, namun karena kami telah memberi janji kepada ibumu, maka akupun tidak mempunyai keinginan untuk mengambil menantu orang lain. Sekarang karena kita telah bertemu muka, jawablah, Hian-te.

Bagaimana pendapatmu tentang ikatan jodoh itu?”

Untuk sejenak Kong Lee mengangkat mukanya dan memandang orang tua yang bijaksana ini dengan mata kagum sekali kemudian ia lalu bangkit dari tempat duduknya, maju beberapa langkah dan berlutut di depan Thio Sui Kiat lalu berkata perlahan, “Anak ... hanya menurut kehendak ibu saja dan ... dan ... harap ... Gak-hu (Ayah Mertua) sudi memaafkan kekasaran dan kelancangan tadi ... ”

Bukan main girang rasa hati Thio Sui Kiat mendengar ini. Ia lalu mengangkat bangun calon menantunya dan memeluknya dan di kedua mata orang tua itu tampak dua butir air mata berlinang! “Kong Lee ... aku puas ... puas sekali!” Lalu orang tua itu tertawa bergelak-gelak. Ia lalu memanggil seorang pelayan dan berkata dengan suara nyaring dan wajah berseri, “Ayo panggil Nyonya dan Nona datang ke sini! Pertemuan ini harus kita rayakan!” Pelayan itu dengan heran berlari-lari masuk dan tak lama kemudian Nyonya Thio beserta anak gadisnya berjalan perlahan masuk ke ruang tamu itu. Thio Eng telah berganti pakaian dan kini memakai pakaian yang indah sehingga nampaknya makin cantik dan lemah lembut. Ia berjalan sambil membimbing tangan ibunya dengan kepala tunduk. Sifatnya yang angkuh tadi telah lenyap sama sekali.

Nyonya Thio sangat girang menerima penghormatan bakal menantunya yang berlutut di depannya memberi hormat. Empat orang itu lalu duduk mengelilingi meja dan makan bersama. Memang, dalam pergaulan, Thio Sui Kiat mempunyai pandangan bebas, maka ia sengaja mengajak Thio Eng untuk duduk di situ sehingga tentu saja gadis itu selalu menundukkan muka, sama sekali tidak berani memandang ke arah Kong Lee. Demikianpun pemuda itu, sehingga keduanya hanya saling mengirim lirikan kilat saja.

Dengan gembira sekali, Thio Sui Kiat lalu membicarakan tentang penetapan hari kawin.

Mendengar ini, tiba-tiba Kong Lee teringat akan ibunya dan ia menghela napas. “Gak-hu, harap hal ini dibicarakan kelak saja apabila ibu telah kembali.” Kemudian ia mengutarakan keinginannya menyusul dan mencari ibunya dan berangkat besok pagi. Thio Sui Kiat menyatakan persetujuan dan ia memang menganggap hal ini sudah selayaknya.

Demikianlah, sampai jauh malam Thio Sui Kiat mengajak calon mantunya bercakap- cakap dengan gembira dan dengan sejujurnya Kong Lee menceritakan pengalaman- pengalamannya sehingga calon mertuanya menjadi kagum sekali. Terutama orang tua ini mengagumi keadaan keluarga gila itu. Maka mengertilah kini Thio Sui Kiat bahwa pemuda calon menantunya ini telah memiliki kepandaian yang tinggi karena Kong Lee menceritakan semua hal, kecuali persoalannya dengan Kim Nio. Ia hanya menceritakan bahwa ketika tertawan oleh keluarga gila, ia tertolong oleh seorang pendekar wanita.

Sedikitpun Kong Lee tidak menduga bahwa pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan dengan calon mertuanya itu telah didengar oleh dua pasang telinga yang secara diam-diam bersembunyi di atas genteng! Ia tidak menduga sedikitpun bahwa di atas genteng telah mengintai seorang wanita dan seorang laki-laki yang tentu akan membuatnya kaget sekali karena kedua orang itu tidak lain ialah Pauw Kian dan Kim Nio!

Setelah puas bercakap-cakap, Kong Lee meninggalkan rumah calon mertuanya dan bermalam di sebuah rumah penginapan yang telah dipesan oleh pelayan mertuanya. Ia merasa tidak enak untuk bermalam di gedung itu dan Thio Sui Kiat juga menganggap bahwa tidak pantas bagi seorang calon menantu bermalam di rumah calon mertuanya. Akan tetapi, hal ini menjadikan sebab datangnya malapetaka pada keluarga Thio itu. Seandainya Kong Lee bermalam di gedung itu, tak mungkin malapetaka itu dapat terjadi!

Pada keesokan harinya, ketika Kong Lee baru saja bangun dari tidurnya, tiba-tiba datang Thio Sui Kiat dengan wajah pahit sekali.

“Kong Lee, celaka! Thio Eng diculik orang!” hanya demikian orang itu dapat berkata dengan muka kuatir sekali dan napas terengah-engah.

Kong Lee terkejut sekali, akan tetapi dia dapat menekan perasaannya dan minta penjelasan dengan suara tenang. Thio Sui Kiat lalu menuturkan pengalamannya semalam. Setelah Kong Lee pergi meninggalkan gedung keluarga Thio, orang tua itu dengan hati puas dan girang lalu menuju ke kamarnya untuk membicarakan hal anak muda itu dengan isterinya.

Thio Eng sendiri tak dapat tidur. Semenjak pertemuannya dengan pemuda tunangannya tadi, gadis ini selalu merasa berdebar-debar dan diam-diam ia merasa bahagia sekali karena ternyata pemuda itu telah menjadi seorang perwira yang melampaui dugaan dan harapannya semula. Alangkah bahagia dan bangganya dapat menjadi isteri seorang muda yang tidak hanya berkepandaian tinggi, tapi juga tampan dan berbudi halus!

Menjelang tengah malam, tiba-tiba Thio Eng mendengar suara kaki di atas genteng kamarnya. Ia memang berhati tabah dan kecurigaannya timbul karena suara ini. Cepat ditiupnya api lilin di kamarnya sehingga padam dan gelap, lalu disambarnya pedang yang tergantung di dinding. Tak lama kemudian ia telah bertukar pakaian ringkas dan dengan gesit bagaikan seekor burung, ia meloncat keluar dari jendelanya terus mengayun tubuhnya ke atas genteng. Tak disangkanya sama sekali bahwa Kim Nio dan Pauw Kian sengaja membuat suara untuk memancing ia keluar!

Melihat bayangan dua orang di atas genteng, Thio Eng membentak, “Bangsat malam berani mati!”

Tiba-tiba seorang dari dua tamu malam itu yang ternyata seorang wanita cantik, tertawa, “Inikah macamnya gadis tunangan Kong Lee? Menyesal sekali terpaksa kau harus mati, kawan!”

Setelah berkata demikian, wanita itu yang tidak lain adalah Kim Nio Si Garuda Bermata Emas, menyerang dengan pedangnya.

Thio Eng merasa heran sekali mendengar ini, akan tetapi ia tidak diberi kesempatan untuk banyak bicara karena pedang Kim Nio telah menyerang hebat! Terpaksa ia menangkis dan balas menyerang dan kedua orang wanita cantik ini saling serang dalam sebuah pertempuran hebat. Akan tetapi, kepandaian Thio Eng masih berada di bawah tingkat kepandaian Kim Hio yang mempunyai banyak pengalaman bertempur, maka setelah bertanding belasan jurus, segera ia terdesak!

Thio Eng menjadi bingung dan ia segera berseru keras dan nyaring, “Ayah! Ada penjahat!”

Pada saat itu pedang Kim Nio telah mengurungnya dengan hebat dan keadaannya berbahaya sekali. Tiba-tiba dengan sebuah tendangan kilat, pergelangan tangan Thio Eng kena tendang dan pedangnya terlempar, jatuh di atas genteng mengeluarkan suara berisik. Ketika Kim Nio mengangkat pedangnya hendak mengirim tusukan maut.

Tiba-tiba Pauw Kian mencegahnya dan berkata, “Sumoi, jangan bunuh dia!”

Si Iblis Tangan Hitam ini dengan cepat mengirim totokan ke pundak Thio Eng dan dalam keadaan tidak berdaya Thio Eng lalu dipondong oleh Pauw Kian.

“Apa maksudmu, Suheng?” Kim Nio bertanya heran.

“Ingat, kau belum menpunyai enso (kakak ipar perempuan)!”

Kim Nio dapat menangkap maksud suhengnya dan ia pikir memang lebih baik kalau gadis ini menjadi isteri paksa dari suhengnya!

Akan tetapi, sebelum mereka sempat pergi dari situ membawa gadis yang mereka culik, tiba-tiba dari bawah menyambar bayangan seorang tua yang gerakannya gesit sekali.

“Bangsat, kurang ajar, lepaskan anakku!” teriak bayangan itu dan Thio Sui Kiat menyerang cepat dengan tongkatnya kepada Pauw Kian yang memondong Thio Eng! Pauw Kian mengelak dan melihat serangan begitu hebat, ia lalu melempar tubuh Thio Eng ke arah Kim Nio sambil berseru, “Sumoi, kaubawa dia pergi dulu! Biar aku hadapi kambing tua ini!”

Kim Nio yang juga dapat melihat kehebatan gerakan Thio Sui Kiat, segera menangkap tubuh Thio Eng, dipanggulnya dan dibawanya lari pergi dari situ secepatnya.

Thio Sui Kiat merasa bingung sekali melihat betapa anaknya dilarikan orang, maka dengan nekat ia mengamuk dan menyerang Pauw Kian dengan hebat. Pauw Kian menangkis dan balas menyerang sehingga di atas genteng itu terjadilah sebuah pertempuran yang ramai dan seru. Akan tetapi, biarpun sudah tua Thio Sui Kiat masih belum kehilangan kehebatannya. Tongkatnya menyambar bagaikan seekor naga mengintai korban sehingga Pauw Kian harus mengakui bahwa orang tua ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya! Ia lalu menggunakan seluaruh kepandaian silatnya untuk membela diri dan mengirim serangan-serangan balasan.

Setelah merasa bahwa kalau bertempur terus akan membahayakan dirinya, Pauw Kian tiba-tiba berseru, “Awas, piauw!” tangan kirinya bergerak dan tiga batang senjata rahasia menyambar ke arah Thio Sui Kiat.

Akan tetapi, orang tua ini cukup waspada. Dengan memutar tongkatnya, ia dapat memukul pergi tiga buah senjata piauw itu sehingga jatuh berantakan di atas genteng. Kesempatan ini digunakan dengan baik oleh Pauw Kian yang segera meloncat turun dari atas genteng dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

“Bangsat rendah, jangan lari!”

Thio Sui Kiat dengan marah sekali mengejar, akan tetapi malam demikian gelapnya sehingga ia tidak dapat melihat ke arah mana penjahat itu melarikan diri. Orang tua ini terus mengejar dan mencari-cari sampai pagi, akan tetapi hasilnya nihil dan ia pulang dengan hati berat, bingung dan kuatir akan keselamatan puterinya.

Kemudian ia teringat kepada calon menantunya, maka segera ia pergi ke rumah penginapan Kong Lee untuk menceritakan pengalamannya.

“Gak-hu, bagaimana macamnya penjahat-penjahat itu?”

“Yang perempuan cantik, tubuhnya tinggi ramping dan pakaiannya hijau, sedangkan yang laki-laki ilmu silatnya hebat dan tubuhnya tinggi besar, memelihara cambang bauk dan usianya kurang lebih empat puluh tahun.”

Jantung Kong Lee memukul keras mendengar keterangan ini, akan tetapi ia menghendaki ketentuan, maka tanyanya, “Apakah kedua tangan laki-laki itu berkulit hitam?”

“Ya, ya, benar! Kedua tangannya hitam seperti seorang yang memiliki kepandaian Thiat-ciang-kang.”

“Hm, tak salah lagi!” kata Kong Lee dengan marah sekali. “Mereka adalah Kim-gan- eng Coa Kim Nio dan Hek-ciu-mo Pauw Kian.”

“Kau kenal mereka? Mengapa mereka memusuhi aku dan menculik anakku?” tanya Thio Sui Kiat dengan gemas.

Akan tetapi Kong Lee yang merasa marah dan kuatir sekali telah lari meninggalkan mertuanya. Ia memasuki kamarnya, menyambar buntalan dan pedang Thio Eng, lalu lari keluar lagi dengan terburu-buru.

“Gak-hu, nanti saja bila Eng-moi telah tertolong, kuceritakan tentang permusuhanku dengan mereka!” Setelah menjura sebagai pemberian hormat, pemuda itu lalu lari cepat pergi dari situ.

“Kong Lee, biar aku ikut pergi!” orang tua itu berteriak. Kong Lee menahan larinya.

“Tak usah, Gak-hu. Aku sendiri sanggup merampas kembali Eng-moi. Percayalah!” Terpaksa Thio Sui Kiat membiarkan calon menantunya pergi dan ia segera kembali ke gedungnya untuk menghibur isterinya yang menangis sedih.

“Tenanglah, isteriku. Calon menantu kita telah pergi menyusul penjahat-penjahat itu dan aku percaya ia tentu akan berhasil.” “Apakah dosa kita maka terjadi hal ini? Siapakah orang-orang jahat yang memusuhi kita itu? Mengapa mereka tidak mencari harta, tapi menculik Eng-ji yang tidak berdosa!” Ibu ini dengan sedih meratap dan menangis.

“Aku sendiripun tidak mengenal mereka. Akan tetapi Kong Lee tahu siapa mereka itu. Mereka tentulah musuh-musuh Kong Lee yang tidak berani mengganggunya, maka sengaja mengganggu tunangannya. Sudahlah jangan kau menangis, aku menjadi makin bingung karenanya. Lebih baik kita berdoa kepada Tuhan agar anak kita ini akan tertolong kembali dengan cepat.”

Demikianlah, kedua orang tua itu, dengan hati kuatir bersembahyang untuk keselamatan anak mereka.

Biarpun kepandaian silatnya cukup hebat, namun terjatuh ke dalam tangan Pauw Kian dan Kim Nio, Thio Eng tidak berdaya sama sekali dan ia terpaksa tak dapat memberontak ketika kedua orang itu membawanya lari dengan cepat sekali. Mereka menggunakan dua ekor kuda dan Thio Eng duduk di depan Kim Nio di atas seekor kuda tanpa dapat melawan. Pauw Kian melarikan kudanya di belakang untuk menjaga pengejaran, karena ia maklum bahwa ayah gadis ini sangat hebat.

Karena mereka tak berhenti-henti maka dua hari kemudian mereka telah masuk ke dalam hutan di mana Pauw Kian dan kawan-kawannya bersarang. Thio Eng dimasukkan ke dalam sebuah kamar yang cukup mewah dan diikat kaki tangannya. Sementara itu, Pauw Kian segera menyuruh kawan-kawannya membuat persiapan pesta perkawinan karena ia telah mengambil keputusan hendak mengawini gadis tawanannya itu!

Sekali bertemu dengan Thio Eng, Pauw Kian telah tergila-gila.

Dengan hati marah, gemas dan duka, Thio Eng menanti kelanjutan nasibnya. Ia tak pernah menangis dan selalu menggertakkan gigi untuk menahan tangisnya. Ia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya di depan musuh-musuhnya. Betapapun juga, Thio Eng belum putus asa dan masih percaya bahwa ayahnya tentu akan berhasil menolongnya. Ayahnya tentu memberi tahu Kong Lee dan pemuda itu sendiri akan menolongnya!

Alangkah senangnya kalau ia sampai tertolong oleh tunangannya sendiri! Akan tetapi, diam-diam Thio Eng merasa cemburu sekali, karena ternyata bahwa penjahat wanita yang cantik dan genit itu telah mengenal dengan Kong Lee dan agaknya wanita membencinya karena ia mencinta Kong Lee!

Ketika Thio Eng sedang melamun sambil berusaha melepaskan ikatan tangannya, tiba-tiba Kim Nio memasuki kamar itu. Bibir wanita ini tersenyum menghina, “Kau tahu mengapa kau kutangkap dan kutawan?” tanyanya kepada Thio Eng.

“Siapa dapat mengetahui maksud hati segala macam penjahat perempuan seperti engkau ini?” Thio Eng menjawab dengan berani.

“Ketahuilah, hai puteri orang kaya. Karena kau telah merampas Kong Lee dariku maka aku terpaksa menculikmu. Pemuda itu adalah milikku! Ia kekasihku, punyaku, mengerti?” Wajah Kim Nio merah dan matanya mengeluarkan sinar marah penuh kebencian.

“Cih! Tak tahu malu!” Thio Eng menghinanya dan kedua orang wanita cantik itu saling pandang bagaikan dua ekor harimau betina hendak saling terkam!

“Kau hendak kawin dengan Kong Lee?” Suara Kim Nio terdengar penuh ejekan, “Jangan harap, kawan! Kau tak pantas menjadi isteri pemuda itu. Kau akan kami paksa untuk kawin dengan suhengku dan menjadi isteri Hek-ciu-mo Pauw Kian. Adapun Kong Lee hanya boleh kawin dengan aku seorang!”

“Penjahat rendah! Aku lebih baik mati dari pada harus kawin dengan orang macam itu!” Thio Eng berkata penuh kebencian. “Percayalah, akupun lebih senang melihat kau mampus, sobat! Tapi suhengku yang bertangan hitam itu jatuh cinta padamu, apa boleh buat!” sambil mengangkat pundak dengan gaya mencemoohkan dan menghina sekali, Kim Nio meninggalkan kamar itu. Setelah Kim Nio pergi, Thio Eng tak dapat menahan kegemasan dan kemarahannya maka air matanya mengucur deras dari kedua matanya dan menuruni sepanjang pipinya. Ia telah mengambil keputusan tetap, yakni apabila ayahnya atau Kong Lee datang terlambat sehingga ia dipaksa kawin dengan kepala rampok itu, ia akan membunuh diri!

Setelah hari menjadi malam, pintu kamar Thio Eng terbuka dari luar dan ketika gadis itu memandang dengan tajam, bukan main girangnya karena melihat bahwa yang memasuki kamarnya itu adalah ... Nyonya Lim Ek atau Ibu Kong Lee!

“Thio Eng ... !” Nyonya Lim Ek berseru dengan kaget. “Jadi kaukah yang mereka tawan?”

“Ibu ... ” hanya demikian Thio Eng dapat mengeluarkan kata-kata karena terharu dan girangnya. Gadis ini terisak-isak menangis sedangkan Nyonya Lim dengan cepat menggunakan pedang memutuskan semua tali pengikat kaki tangan Thio Eng. Mereka lalu berpelukan.

Pada saat itu Kim Nio masuk ke dalam kamar dan ia tercengang melihat betapa Nyonya Lim Ek telah berada di situ pula! Ketika Lim-hujin (Nyonya Lim) melihat Kim Nio, ia memandang dengan heran.

“Nona, mengapa kau dan suhengmu menawan dia? Dia adalah calon menantuku!” Kim Nio memandang penuh kebencian kepada Thio Eng.

“Justeru karena ia calon menantumu, maka terpaksa kutawan! Ia tidak boleh kawin dengan Kong Lee, tidak boleh!”

“Eh, eh, apa maksudmu?” Nyonya tua ini heran sekali mendengar ucapan itu, karena sesungguhnya ia belum tahu akan perhubungan Kim Nio dengan puteranya.

“Ia tidak boleh menjadi isteri Kong Lee! Tak seorang gadispun boleh merampas Kong Lee dariku, Kong Lee adalah pujaanku, dan hanya aku yang pantas menjadi isterinya!”

Lim-hujin memandang dengan mata terbelalak. Ia menyangka bahwa nona itu tentu sudah menjadi gila.

“Kim Nio! Apa artinya semua ini? Nona Thio ini telah resmi bertunangan dengan anakku. Apakah ... apakah kau telah mengenal Kong Lee?”

“Kenal ... ?” suara Kim Nio mengandung isak. “Tidak hanya kenal ... aku ... aku cinta kepada Kong Lee ... !”

“Apa ... ?” Lim-hujin melangkah maju dan memegang kedua pundak Kim Nio lalu mengguncang-guncangnya. “Kau tahu di mana Kong Lee? Katakanlah! Di mana dia

... ? Di mana anakku?”

Kim Nio tidak menjawab, tapi Thio Eng lalu berkata dengan suara pasti, “Dia telah kembali ke Bi-ciu dan pada waktu aku diculik oleh penjahat ini, dia berada di Lam- sai! Dia dan ayah pasti akan datang ke sini menolong kita.”

Bukan main girang hati Lim-hujin mendengar ini. Wajahnya berseri-seri dan mulutnya tersenyum-senyum.

“Kau sudah bertemu dengan dia, Eng-ji? Dia sekarang di Lam-sai? Ayo kita pergi ke sana!” Nyonya itu memegang tangan Thio Eng untuk diajak pergi dari situ, tapi Kim Nio telah menghadang di pintu dengan pedang di tangan!

“Jangan harap akan dapat pergi dari sini!” bentaknya. Lim-hujin memandang heran.

“Kim Nio! Kau ... telah gilakah kau? Ingatlah, Nak, kau kembali menuju jalan sesat! Insyaflah dan biarkan kami pergi.” Wajah Kim Nio yang cantik berubah menjadi dingin dan lenyaplah keramahan yang selama ini ia perlihatkan di depan Lim-hujin.

“Sesat? Kau bilang aku tersesat karena mencintai anakmu? Sesatkah seorang wanita jika ia mencintai seorang pemuda seperti puteramu? Aku ... aku cinta padanya dan akan kukorbankan segala apa untuk menghalangi Kong Lee mengawini seorang gadis lain!”

“Kau perempuan rendah tak tahu malu!” Thio Eng membentak, sementara itu Lim- hujin juga berkata dengan marah.

“Kim Nio, kalau benar kau tidak mau insaf, terpaksa aku orang tua menggunakan kekerasan untuk keluar dari sini bersama calon menantuku!”

Kim Nio tertawa menghina.

“Aku sesungguhnya tidak suka bertempur melawan ibu pemuda yang kucintai. Akan tetapi kalau kau memaksaku, apa boleh buat.”

Dengan berseru marah Lim-hujin menggerakkan pedangnya menyerang yang ditangkis oleh Kim Nio. Thio Eng mengangkat sebuah bangku dan bantu menyerang sehingga tak lama kemudian di dalam kamar pengantin itu telah terjadi pertempuran hebat. Thio Eng dan Lim-hujin menyerang dengan nekad sedangkan Kim Nio membela diri dengan kepandaiannya yang tinggi.

Mendengar suara ribut-ribut ini, beberapa orang anak buah perampok memburu ke dalam kamar dan segera mereka ramai berseru, “Calon pengantin mengamuk!

Pengantin mengamuk!”

Pauw Kian datang memburu dan menyerbu ke dalam kamar. Melihat betapa Kim Nio dikeroyok, ia segera membantu dan tak lama kemudian Thio Eng dan Lim-hujin dapat ditangkap. Lim-hujin lalu diseret ke kamar lain, sedangkan Thio Eng lalu dibelenggu kembali di atas tempat tidur! Lim-hujin menangis dan memaki-maki.

Memang Lim-hujin telah beberapa hari berada di sarang perampok itu. Melihat bahwa Pauw Kian walaupun seorang kepala rampok tapi bersikap ramah-tamah dan baik terhadapnya, ia tidak menolak ajakan Kim Nio untuk tinggal di situ, karena Pauw Kian juga berjanji hendak membantu mencari Kong Lee. Padahal Kim Nio dan Pauw Kian diam-diam telah sengaja bersekongkol untuk menahan nyonya itu di situ agar jangan dapat bertemu dengan Kong Lee. Ini adalah kehendak Kim Nio yang mempunyai semacam niat buruk. Setelah mengetahui tempat tinggal gadis tunangan Kong Lee, ia lalu membujuk suhengnya untuk membantunya dan membinasakan gadis itu. Demikianlah, mereka meninggalkan nyonya itu dengan alasan hendak menyelesaikan sebuah perkara, akan tetapi sebenarnya mereka pergi ke Lam-sai mencari rumah Thio Eng.

Kebetulan sekali ketika mereka tiba di Lam-sai, Kong Lee juga berada di situ sehingga Kim Nio dapat mendengar pembicaraan mereka. Wanita ini menahan-nahan kegemasan hatinya, dan setelah malam tiba, ia ajak suhengnya datang memancing Thio Eng keluar dan gadis tunangan Kong Lee itu pasti akan berhasil dibunuhnya kalau saja ia tidak dihalangi oleh Pauw Kian yang jatuh hati melihat kecantikan Thio Eng.

Pauw Kian dengan girang sekali lalu mengadakan persiapan dan setelah berhasil menawan Thio Eng dan Lim-hujin, ia lalu mengatur segala persiapan pesta yang akan diadakan pada keesokan harinya. Undangan kilat telah disebar oleh anak buahnya untuk mengundang para kenalan yang bertempat tinggal di sekitar hutan itu dan yang kebanyakan terdiri dari para penjahat pula.

Pada keesokan harinya, sarang perampok telah dihias dan para anak buah perampok telah mengenakan pakaian baru untuk merayakan perkawinan kepala mereka.

Semenjak pagi, para tamu telah datang sambil membawa berbagai barang hadiah. Pauw Kian dengan mengenakan pakaian serba indah bagaikan seorang hartawan besar, menyambut para tamu yang memberi selamat dengan gembira sekali. Tadinya kepala rampok ini memang tiada maksud hendak kawin seumur hidupnya, akan tetapi setelah melihat kecantikan Thio Eng, ia menjadi tertarik dan jatuh hati. Usianya pada waktu itu telah empat puluh satu, akan tetapi karena memang tubuhnya gagah dan wajahnya tampan, ia nampak lebih muda dalam pakaiannya yang mewah.

Akan tetapi, para tamu tidak dapat melihat pengantin perempuan, karena pada saat itu, Thio Eng bagaikan seekor harimau betina yang tidak mau menurut. Ketika orang datang hendak mengenakan pakaian pengantin kepadanya, ia memberontak dan tak mungkin ia dapat dipaksa, sehingga Kim Nio terpaksa menotok jalan darahnya dan membuat gadis itu lumpuh tak berdaya. Setelah Thio Eng menjadi lemah tak berdaya. Setelah Thio Eng menjadi lemah tak berdaya, barulah ikatan tangan dan kakinya dilepaskan dan orang mengenakan pakaian pengantin kepadanya. Thio Eng hanya bisa mengalirkan air mata akan tetapi tidak berdaya melawan sama sekali. Gadis ini masih mengharapkan kedatangan ayah atau tunangannya untuk memberi pertolongan, maka ia masih bersabar dan tidak mengambil keputusan pendek. Ia masih hendak menanti sampai pada saat Pauw Kian memasuki kamarnya, baru ia akan membunuh diri.

Sementara itu, di kamarnya, Lim-hujin juga menangis dengan sedih. Ia tidak pernah menyangka bahwa Kim Nio bisa menjadi begitu jahat, tapi apa dayanya? Kepandaian gadis itu dan suhengnya jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri atau kepandaian Thio Eng, sehingga melawan pun takkan ada gunanya. Apalagi sekarang ia telah dibelenggu di dalam kamar itu sehingga untuk melepaskan belenggunya saja ia tak sanggup. Maka, seperti Thio Eng, nyonya tua itu hanya mengharapkan datangnya pertolongan dari Thio Sui Kiat atau Kong Lee.

Setelah melihat bahwa Thio Eng mengenakan pakaian pengantin, maka Kim Nio lalu berkata kepadanya, “Thio Eng, tak perlu kau melawan lebih jauh. Kau tahu bahwa terhadap aku, kau tidak berdaya. Kalau kau berlaku manis terhadap suhengku, kau akan hidup senang. Sekarang aku akan membebaskan kau dari totokan, tapi kau jangan berani memberontak lagi. Kalau kau memberontak, maka aku akan menotok kau sehingga selamanya kau akan menjadi lumpuh!”

Kim Nio lalu memunahkan totokannya sehingga Thio Eng dapat bergerak lagi. Menurut kehendak hatinya yang marah dan gemas, Thio Eng hendak memberontak akan tetapi pikirannya mencegahnya. Lebih baik ia berpura-pura menurut, agar ia tidak dibuat tak berdaya seperti tadi, karena kalau ia ditotok seperti tadi, jangankan hendak memberontak, sedangkan untuk membunuh diri saja ia takkan sanggup pula! Ia menundukkan muka dan menangis tanpa mengeluarkan suara karena ia tidak sudi memperlihatkan kelemahannya di depan Kim Nio.

Setelah semua tamu pulang dan meninggalkan hutan itu, dalam keadaan setengah mabuk Pauw Kian memasuki kamar pengantin. Ia melihat betapa calon isterinya duduk sambil menundukkan kepala, sedangkan Kim Nio ketika melihat suhengnya masuk, baru berani meninggalkan Thio Eng yang keras hati itu sambil tertawa-tawa. Kini Pauw Kian berada berdua saja dengan Thio Eng.

“Isteriku yang manis, jangan kau diam saja. Sambutlah suamimu, ha, ha, ha!”

Pada saat itulah Thio Eng sudah habis harapannya untuk tertolong lagi. Ia telah mengambil keputusan bulat untuk berdiri dan membenturkan kepalanya pada dinding supaya hancur dan binasa, akan tetapi pada saat itu, jendela kamar itu terbuka dari luar demikian kerasnya, hingga daun jendelanya terlepas!

Sebuah bayangan berkelebat masuk dan tahu-tahu Kong Lee telah berdiri di depan Pauw Kian! “Hm, bagus sekali perbuatanmu, manusia busuk!” kata pemuda ini.

Melihat kedatangan Kong Lee, bukan main girangnya hati Thio Eng hingga tak tercegah lagi ia menangis keras tersedu-sedu!

Alangkah terkejutnya hati Pauw Kian melihat kedatangan pemuda hebat ini. Wajahnya berubah pucat dan kedua kakinya tak terasa menjadi lemas dan menggigil. Ia maklum bahwa ia harus bertempur mati-matian karena pemuda ini tentu takkan mau mengampuni perbuatannya terhadap tunangan pemuda itu.

“Kau datang? Baik, kalau tidak kau tentu aku yang binasa pada hari ini!”

Pauw Kian berkata sambil menarik keluar senjatanya, yakni pian baja lemas yang merupakan sebuah cambuk penuh duri-duri tajam! Tanpa menanti jawaban lagi, Pauw Kian lalu melompat menyerbu dan Kong Lee menggunakan pedang di tangannya menangkis. Pemuda ini mempergunakan senjata pemberian Thio Eng dan memainkannya dengan hebat sekali karena memang ilmu tongkatnya dapat pula dimainkan dengan menggunakan pedang.

Dengan kenekatan luar biasa, Pauw Kian memutar-mutar pian bajanya dalam gerak tipu Raja Naga Atur Barisan. Pian baja yang penuh duri itu berputar menyerang Kong Lee dari semua jurusan sambil mengeluarkan angin.

“Bagus!” Kong Lee berseru sambil melompat mengelak.

Ia lalu menggunakan gerak tipu Awan Putih Menutup Mega menyerang ke sebelah kiri dari atas. Tapi Pauw Kian dapat juga menangkap serangan ini yang demikian hebat datangnya sehingga tangannya yang memegang pian bergetar.

Pauw Kian maklum bahwa ia bukanlah lawan seimbang pemuda yang hebat itu maka ia berlaku sangat hati-hati sekali sehingga untuk beberapa lama Kong Lee tak dapat merobohkannya. Tiba-tiba dari pintu kamar melompat masuk Kim Nio dengan pedang di tangan.

Wajahnya pucat sekali dan ia membentak, “Kong Lee, manusia tak berbudi! Jangan kau kacaukan hari perkawinan suhengku!”

“Kim Nio, tak kusangka bahwa kau benar-benar sejahat ini!” jawab Kong Lee dan rasa marahnya melihat wanita ini membuat gerakannya berubah ganas sekali.

Hampir saja leher Pauw Kian menjadi korban pedangnya kalau Si Iblis Tangan Hitam ini tidak buru-buru menjatuhkan diri ke belakang!

Kim Nio merasa sedih sekali melihat betapa Kong Lee kini tentu membencinya, maka tanpa berkata apa-apa lagi ia lalu melangkah maju ke arah Thio Eng yang masih menangis dengan pedang di tangan! Dengan penuh kebencian Kim Nio menggerakkan pedang menusuk. Akan tetapi biarpun sedang menundukkan muka dan menangis, Thio Eng cukup terlatih untuk menangkap suara angin serangan ini dan cepat sekali ia gulingkan tubuh ke kiri sehingga tusukan itu tidak mengenai sasaran.

Sementara itu, Kong Lee melihat betapa Kim Nio hendak membunuh tunangannya, cepat bagaikan kilat ia membuat gerakan menendang dan aneh sekali. Dua kali kaki kanan kirinya bergerak dan tahu-tahu Pauw Kian dan Kim Nio telah tertendang sehingga terpental jauh! Inilah sebuah gerakan dari ilmu silat yang dipelajarinya dari kitab pelajaran Raja Gila!

“Eng-moi ... kau tidak apa-apa?” tanya Kong Lee dengan penuh perhatian.

Thio Eng mendengar suara pemuda itu menjadi malu dan seketika itu juga tangisnya berubah menjadi senyum!

“Tidak, Koko ... terima kasih atas pertolonganmu. Ibumu juga berada di sini.” “Apa katamu? Ibuku? Mana dia?”

Dalam kegirangannya, Kong Lee melompat sambil memegang tangan gadis itu, lupa akan rasa malu.

“Entah, mungkin di belakang, karena beliau juga ditawan!” “Aku pergi mencarinya, Eng-moi!” kata Kong Lee sambil melompat ke belakang dan keluar dari kamar itu.

Thio Eng tidak mau ditinggal seorang diri, maka iapun melompat keluar. Semua anak buah perampok yang telah tahu akan kelihaian Kong Lee, tak seorangpun berani mengganggu. Mereka hanya ramai-ramai maju menolong Pauw Kian dan Kim Nio.

Pauw Kian tertendang dadanya sehingga dua buah tulang iganya patah. Sedangkan Kim Nio yang hanya kena tendangan yang sengaja dilakukan oleh Kong Lee dengan tenaga gwa-kang hanya terpental dan membentur dinding sehingga pingsan untuk beberapa lama. Setelah siuman kembali, Kim Nio mendorong pergi orang-orang yang menolongnya, lalu sambil menangis ia lari pergi dari situ dan terus keluar hutan, lari secepatnya sambil terisak-isak!

Kong Lee berhasil mendapatkan ibunya yang berada di dalam sebuah kamar dengan terikat tangannya, akan tetapi orang tua ini tidak menderita luka sama sekali, sehingga legalah hati Kong Lee. Ketika Nyonya Lim melhat seorang anak muda memasuki kamarnya, hampir saja ia tidak percaya. Ini adalah anaknya, Kong Lee! Setelah melepaskan ikatan tangan ibunya, Kong Lee lalu menjatuhkan diri berlutut sambil memeluk kedua kaki ibunya.

“Ibu ... ”

“Kong Lee ... benar-benar kaukah ini ... ? Tidak mimpikah aku ... ?” Mereka berdua berpelukan dengan air mata mengalir.

Air mata yang keluar terdorong rasa girang dan terharu. Thio Eng yang menyusul masuk juga mengalirkan air mata karena terharu.

Lim-hujin ketika mendengar bahwa Pauw Kian telah dihajar dan dirobohkan sehingga mendapat luka, membenarkan perbuatan puteranya yang tidak mau membunuh kepada perampok itu, karena menurut pendapatnya, betapapun besar dosa kepala rampok itu, namun ia pernah menerima Lim-hujin sebagai tamu dan telah menjadi tuan rumah yang baik, ada pun kejahatan yang dilakukan atas diri Thio Eng belum terjadi, maka ada baiknya memaafkan perampok itu dan tidak membunuhnya.

Ketika mendengar bahwa Kim Nio telah pergi, nyonya ini menghela napas berulang- ulang dan berkata, “Sayang ... sayang sekali. Aku telah mulai suka kepadanya dan jika ia tidak tersesat demikian jauhnya tentu ia menjadi seorang yang baik dan berguna.” Kemudian suaranya berubah tegas ketika ia berkata kepada Kong Lee, “Anakku, sekarang sebelum kita meninggalkan tempat ini kau harus lebih dulu menceritakan tentang perhubunganmu dengan nona baju hijau itu. Kau harus menceritakan itu di depan Thio Eng!”

Dengan muka merah Kong Lee lalu menceritakan perihal pertemuannya dengan Kim Nio dan betapa gadis itu telah menolongnya dari bencana maut ketika ia tertawan oleh keluarga gila, kemudian ia menceritakan pula mengapa ia menjadi tidak suka dan menjauhkan diri dari isteri yang tidak setia itu. Mendengar riwayat Kim Nio yang telah melarikan diri dengan laki-laki lain dan mencurangi suaminya, Lim-hujin menghela napas. Thio Eng merasa lega sekali karena tadinya telah ada sedikit perasaan cemburu mengganggu hatinya. Kemudian ketiganya lalu meninggalkan sarang Pauw Kian itu setelah Lim Hujin meninggalkan banyak nasihat kepada Pauw Kian yang hanya mendengarkan dengan muka pucat dan merintih-rintih karena sakitnya.

Kedatangan mereka disambut oleh Thio Sui Kiat dan isterinya dengan sangat girang. Terutama ketika melihat bahwa Lim-hujin sudah ditemukan dan datang bersama, maka kegembiraan mereka tak dapat dilukiskan besarnya.

Nyonya Thio memeluk anaknya dan calon besannya sambil menangis, dan semuanya berada dalam bahagia sekali. Thio Sui Kiat lalu mengadakan pesta untuk merayakan kebahagiaan ini dan ia makin kagum kepada Kong Lee. Pemuda inipun lalu menceritakan kepada Thio Sui Kiat tentang kedua orang yang telah menculik Thio Eng dan menceritakan pula sebab-sebabnya.

Sebulan kemudian, dilangsungkanlah perkawinan antara Thio Eng dan Kong Lee, dan karena nama Thio Sui Kiat sudah banyak dikenal orang, maka perayaan ini dihadiri ratusan orang dari segala tempat memerlukan datang. Atas persetujuan kedua pihak, Kong Lee dan ibunya lalu pindah ke Lam-sai dan tinggal bersama dengan Thio Sui Kiat di dalam gedung yang besar itu sehingga mereka berkumpul merupakan satu keluarga yang hidup bahagia. Kong Lee mendapat kenyataan bahwa isterinya selain cantik jelita dan berkepandaian juga berbudi halus dan baik seta sangat berbakti kepada orang tua, bahkan sikapnya terhadap Lim-hujin sangat baik sehingga Kong Lee merasa beruntung sekali.

-***-

Kim Nio dengan hati hancur lari terus meninggalkan hutan tempat tinggal suhengnya sambil menangis. Beberapa kali timbul niatnya hendak menerjunkan diri ke dalam jurang dan menghabiskan riwayatnya yang penuh derita dan kekecewaan, akan tetapi ia teringat kembali kepada Kong Lee dan Thio Eng, maka ia lalu merasa bahwa hidupnya masih mempunyai satu cita-cita terakhir yang terdorong oleh rasa iri hati dan kebencian yakni cita-cita untuk membalas dendam! Hati dan pikirannya yang sanat menderita karena sedih dan kecewa ini sekarang dikotori oleh rasa dendam yang tak kenal batas. Ia akan rela mati asal saja sudah dapat membinasakan kedua orang itu.

Pikiran ini timbul ketika Kim Nio berdiri di pinggir sebuah jurang yang curam sekali. Ia berdiri bagaikan sebuah patung batu dan dengan wajah menyeramkan ia berkata keras-keras kepada diri sendiri, “Kim Nio, kau tak boleh mati! Kau harus membinasakan mereka dan membawa mereka bersama-sama ke neraka.”

Kemudian, sepasang mata Kim Nio berkilat-kilat ketika ia mengepalkan tinjunya ke atas dan berteriak-teriak, “Kong Lee, kau laki-laki tak berbudi, aku bersumpah hendak membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri. Hendak kubuka dadanya dan kukeluarkan hatimu! Ingin kulihat bagaimana macamnya hatimu yang kejam itu! Thio Eng, awaslah kau! Kau wanita satu-satunya di dunia ini yang paling kubenci, karena kau telah merampas kekasihku!”

Kemudian bagaikan seorang gila, Kim Nio tertawa dan menangis. Lalu ia lari lagi dari situ, kini tujuannya tetap, yakni ke arah hutan di mana tinggal keluarga gila!

Ia ingat betapa Pangeran Gila dulu tertarik oleh kecantikannya sehingga dengan mempergunakan kecantikannya itu, ia dapat menolong Kong Lee, dan ia maklum pula bahwa dengan tenaga ketiga orang gila itu saja ia akan dapat membalas dendam.

Kepandaiannya sendiri terlampau rendah sehingga tak mungkin baginya untuk mengganggu Kong Lee yang berkepandaian tinggi. Siapa lagi selain keluarga gila itu yang dapat menolongnya? Ia tahu pula bahwa keluarga itu sangat berbahaya, akan tetapi Kim Nio sudah berlaku nekad.

Bulu tengkuknya berdiri dan hatinya merasa ngeri ketika ia tiba di hutan itu dan mulai masuk ke dalam hutan yang sangat liar dan gelap ini. tapi ia menggigit bibirnya dan mengeraskan hati, lalu memasuki hutan itu dengan langkah kaki lebar. Tiap kali mendengar suara atau melihat gerakan-gerakan yang mungkin dilakukan oleh binatang hutan, ia terkejut dan hatinya berdebar-debar. Ia hanya mengharapkan supaya bertemu lebih dulu dengan Pangeran Gila, karena kalau ia bertemu dengan Raja atau Ratu Gila, pengharapannya untuk hidup sedikit sekali. Biarpun ia belum pernah membaca buku catatan mereka dan tidak mengetahui riwayat mereka, namun ia pernah mendengar cerita orang-orang di kalangan kang-ouw betapa kejam dan ganas kedua kakek dan nenek gila itu. Menurut cerita yang pernah didengarnya, Raja dan Ratu Gila itu suka makan daging manusia.

Alangkah ngerinya!

Tapi ia mujur sekali, karena pada saat itu kedua Raja dan Ratu Gila sedang tidur mendengkur di dalam pondok mereka. Ketika Kim Nio dengan hati-hati sekali menghampiri tempat tinggal keluarga gila itu, ia melihat Pangeran Gila sedang bersilat seorang diri di lapangan rumput depan pondok! Ketika Kim Nio dengan hati berdebar-debar mengintai dari balik pohon, ternyata bahwa orang gila itu sedang bermain-main dengan beberapa ekor lalat yang ditangkapnya, dilepas kembali dan ketika lalat-lalat itu beterbangan ke sana-sini, ia bergerak cepat dan menangkapnya kembali untuk kemudian dilepas lagi dan demikian berulang-ulang ia lakukan dengan gesit sekali. Dalam bermain-main ini, Si Gila tertawa haha-hihi dengan senang dan geli hati seperti laku seorang anak kecil!

Dibandingkan dengan ayah ibunya, Leng Ki Pok atau Pangeran Gila ini masih dapat menghargai segala dan suka sekali bermain-main seperti lakunya seorang kanak- kanak. Harus dikasihani nasib orang ini, karena semenjak berusia belasan tahun ia harus menderita seperti seorang liar yang hidup di dalam hutan. Ia telah lupa sama sekali akan peradaban manusia dan manusia-manusia yang dikenalnya hanyalah ayah dan ibunya sendiri. Akan tetapi semenjak kecil ia telah dilatih silat oleh ayah ibunya sehingga ia menjadi hebat sekali. Ketika dulu melihat kecantikan Kim Nio, sebagai manusia biasa tertariklah hatinya dan timbul rasa sukanya kepada wanita ini. Akan tetapi setelah Kim Nio berhasil menolong Kong Lee dan pergi serta lenyap dari pandangan matanya, Pangeran Gila inipun sudah melupakan perempuan itu.

Melihat betapa Leng Ki Pok tertawa-tawa sambil dengan gesit bergerak ke sana kemari, Kim Nio lalu menabahkan hati dan maju menghampiri. Telinga Pangeran Gila ini sudah terlatih hebat maka ia dapat mendengar tindakan kaki Kim Nio dan dengan cepat ia bergerak dan melompat ke belakang sehingga tahu-tahu telah berdiri berhadapan dengan Kim Nio. Tadinya seluruh urat-urat di tubuh Pangeran Gila telah menegang untuk menyerang orang yang datang itu, akan tetapi ketika ia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri dengan tersenyum manis sekali, tubuhnya menjadi lemas. Ia sudah tak ingat lagi siapa adanya perempuan ini, akan tetapi agaknya potongan tubuh dan bentuk wajah Kim Nio telah meninggalkan kesan mendalam di hatinya, maka begitu melihat wanita ini, ia pun terus merasa suka. “Ah, kau ... cantik jelita ... bagus sekali ... ” Si Gila itu berkata sambil menghampiri Kim Nio.

Kim Nio mengangkat tangan kanannya untuk menahan orang gila itu maju lebih dekat.

“Pangeran, kau suka padaku?” tanyanya dengan suara yang merdu. Ki Pok tertawa-tawa girang dan ia berjingkrang-jingkrak.

“Suka, suka! Aku suka padamu, kau cantik!”

Melihat kelakuan ini, mau tidak mau Kim Nio tersenyum geli karena takut dan ngerinya.

“Kau suka padaku? Suka kepada Pangeran? Ha, ha, ha!”

“Aku juga suka padamu,” kata Kim Nio sambil tersenyum manis dan mengerlingkan mata tajam.

“Tentu saja kau suka padaku! Aduh, senang sekali hatiku, kau ... kau cantik!”

Setelah berkata demikian, Ki Pok lalu melompat maju, memeluk tubuh Kim Nio mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan menari-nari berloncat-loncatan sambil mengayun-ayun tubuh Kim Nio yang tak berdaya sama sekali dalam pegangan kedua tangan yang kuat itu.

“Pangeran, lepaskan aku!” bentaknya.

“Ha, ha! Kau suka padaku, bukan? Ha, ha, aku pun suka kepadamu, suka sekali!” jawab Si Gila tanpa mempedulikan bentakan Kim Nio.

Gadis ini menjadi bingung. Celaka, pikirnya.

“Pangeran, kalau kau tidak lepaskan aku, maka aku tidak akan suka lagi padamu, aku akan benci kepadamu!”

Ancaman ini berhasil baik. Ki Pok lalu menurunkan tubuh Kim Nio dengan perlahan dan hati-hati sekali ke atas tanah dan berkata sambil menyeringai, “Jangan membenci aku ... kau cantik, aku suka padamu.”

“Aku juga suka padamu, tapi kau harus selalu menurut kata-kataku. Kalau kau tidak mau menurut, aku akan membencimu, mengerti?”

“Mengerti, mengerti! Aku menurut, aku suka padamu. Kau cantik sekali!”

“Ingat, nanti kalau Raja dan Ratu marah kepadaku, kau harus membelaku, mengerti?” “Tentu, tentu! Tidak ada yang boleh marah padamu. Kau punyaku!”

Ngeri juga hati Kim Nio mendengar pengakuan Si Gila. “Di mana adanya Raja dan Ratu?” tanya Kim Nio.

“Ayah dan ibuku berada di dalam pondok. Ayo kita pergi ke sana.”

“Tak usah, biar kita menanti saja di sini!” kata Kim Nio dengan tegas tapi dengan hati takut-takut.

Ia girang sekali melihat betapa Pangeran Gila ini benar-benar telah menurut kata- katanya dan kini berdiri memegang tangannya sambil memandangi muka dan seluruh tubuhnya dengan pandangan kagum. Kim Nio tidak berani menarik tangannya yang terpegang karena ia maklum bahwa ia sama sekali tidak boleh berlaku keras agar jangan sampai menyinggung perasaan orang gila ini. Ia harus berlaku sabar untuk menundukkan orang ini sehingga dapat ia peralat sekehendak hatinya.

Pengharapannya hanya terletak pada orang ini dan berhasil atau tidaknya rencana untuk membalas dendam tergantung sepenuhnya kepada Pangeran Gila.

Maka ia pun menurut saja dan tidak berani melarang ketika Pangeran Gila itu menciumi rambutnya sambil tertawa-tawa haha-hihi dan berkata, “Kau cantik ... ha, ha! Lebih cantik daripada ibu, aku suka padamu, aku cinta padamu!”

Mendengar ini bulu tengkuknya berdiri lebih-lebih ketika merasa betapa jari-jari tangan Pangeran Gila itu meraba-raba lehernya. Terpaksa ia menggunakan tangannya untuk mencegah tangan itu karena ia tidak kuat menahan kegelian hati dan kejijikannya.

“Kau ... kau duduklah di situ dan jangan pegang-pegang aku. Aku juga cinta padamu, tapi kau jangan pegang-pegang leherku!”

Suara ini diucapkan dengan halus karena sesungguhnya Kim Nio merasa kuatir sekali. Akan tetapi, ia girang sekali ketika melihat betapa Pangeran Gila menarik kembali tangannya dan sekarang hanya duduk di dekatnya sambil memandang dengan senang. Pada saat itu Kim Nio mendengar suara orang tertawa yang datang dari pondok dan yang membuatnya tiba-tiba menjadi pucat dan tubuhnya menggigil ketakutan. Raja dan Ratu Gila agaknya telah bangun. Benar saja, mereka berdua tampak muncul dari balik pintu dengan pakaian mereka yang mengerikan. Ketika kakek dan nenek gila itu melihat Kim Nio, mereka membelalakkan mata dan sekali lompat saja kedua orang tua itu telah berada di depan Kim Nio.

“Ha, ha, ha! Ki Pok telah mendapat daging muda. Ah, kita akan berpesta!” kata Raja Gila dan ia menggerak-gerakkan mulut seakan-akan mengilar sekali, seperti seorang kelaparan melihat daging panggang yang sedap. “Bagus Ki Pok, kau berikan hatinya untukku!” kata Ratu Gila sambil tertawa haha- hihi.

Tapi Pangeran Gila segera berdiri menghadang di depan Kim Nio.

“Tidak, tidak! Perempuan ini cantik, aku suka padanya dan ia adalah tunanganku!” Kedua orang gila itu tertegun.

“Apa katamu?” Ratu Gila bertanya.

“Ibu, ini adalah tunanganku. Aku akan kawin dengannya. Ia cantik dan ia suka kepadaku!”

Tiba-tiba pada wajah nenek gila itu terbayang keharuan dan ia bersikap bagaikan seorang permaisuri raja bertanya kepada hambanya ketika ia bertanya kepada Kim Nio, “Hai, nona muda, benarkah kau suka kepada Ki Pok?”

Kim Nio memiliki otak yang cerdik sekali. Ia telah mendengar cerita orang bahwa mereka ini dulunya adalah seorang bangsawan, maka bagi seorang wanita bangsawan tentu saja nenek gila ini merasa heran mendengar bahwa ada seorang wanita suka pada laki-laki.

Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan mereka dan menjawab dengan suara perlahan, “Saya ... hanya menurut saja perintah dan kehendak Raja dan Ratu Yang Mulia.”

Mendengar jawaban ini, kedua orang gila ini nampak senang sekali.

“Ki Pok benar, nona ini baik sekali. Ia cantik dan akan menjadi isteri yang baik!” Tiba-tiba dengan terkejut dan heran sekali Kim Nio melihat Ratu Gila menangis tersedu-sedu bagaikan seorang yang terharu sekali.

Nenek gila ini lalu maju dan memeluk Pangeran Gila sambil berkata, “Ki Pok ... akhirnya kau telah dewasa ... ! Kau telah memilih seorang isteri ... aku girang sekali Anakku!”

Dan ibu ini berpeluk-pelukan dengan Ki Pok anaknya yang masih dianggap kecil! Kemudian dengan heran sekali Kim Nio melihat mereka berdua menari-nari dan berjingkrak-jingkrak, diikuti pula oleh Raja Gila yang tiada hentinya tertawa geli.

“Ki Pok telah mendapat jodoh! Ia akan kawin!” Raja Gila berkali-kali berteriak keras. “Ki Pok, anakku! Telah lama kunanti-nanti saat girang ini. Kau telah mendapat jodoh dan akan mendapat putera yang kelak menggantikan kedudukan Raja! Ha, ha, hi, hi!” Ratu Gila tertawa dan menangis karena girangnya, lalu ia angkat Kim Nio berdiri dan memeluk serta menciumnya. Kemudian Raja Gila itu pun memeluknya dan berkata, “Kau harum dan cantik, pantas menjadi menantuku!”