-->

Pendekar Tongkat Dari Liong-san Jilid 4

Jilid 4

“Tahan dulu, nona!” kata Kong Lee yang lalu menghadapi laki-laki itu. “Dan kau, tahanlah sedikit lidahmu yang kotor itu! Kau datang-datang memaki orang sesukamu tanpa mau memberi penjelasan! Sebenarnya, siapa kau dan apa hubunganmu dengan nona ini?”

“Ha, ha, ha! Kim Nio, jadi kau belum memberitahukan kepadanya tentang keadaan dirimu yang kotor? Anak muda, kau tampan dan gagah serta ilmumu tinggi, tapi sayang kau bodoh sehingga mau saja ditipu oleh perempuan ini! Ketahuilah, dia adalah isteriku!”

Kong Lee terkejut sekali dan memandang muka Kim Nio meminta penjelasan, tapi wanita itu kini hanya menangis dan menggunakan kedua tangan menutupi mukanya yang cantik.

“Aku adalah Ting Lu San, suami wanita ini. Tapi isteriku yang rendah budi ini telah melarikan diri dengan seorang pemuda yang menjadi kawanku sendiri, yang bernama Ong Lui! Memang rendah sekali perbuatan mereka berdua! Bertahun-tahun, aku mencari-cari mereka dan tidak kusangka tiba-tiba bertemu di sini dengan anjing betina ini. Ternyata ia telah berganti kekasih pula!”

“Lu San, tutup mulutmu!” tiba-tiba Kim Nio meloncat menyerang lagi dan Kong Lee yang merasa sebal mendengar kata-kata Ting Lu San, lalu memberikan pedang yang tadi dirampasnya kepada Lu San. Lu San segera menyambut pedang itu dan menangkis serangan Kim Nio dan tak lama kemudian, suami isteri itu telah bertempur seru dan mati-matian!

Kong Lee yang menderita pukulan batin, hanya berdiri melongo dan melihat pertempuran itu dengan kepala kosong. Ia merasa menyesal, kecewa, malu, dan marah. Gadis yang dicintainya ini, yang disangkanya seorang gadis baik-baik, cantik jelita, dan gagah perkasa, ternyata adalah seorang isteri yang melarikan diri dengan laki-laki lain!

Tapi betulkah ini?

Ia harus mendengar sendiri dari Kim Nio dan memaksa gadis ini membuat pengakuan sejujurnya!

Ketika ia menengok untuk melihat pertempuran itu, ternyata Coa Kim Nio telah mendesak Ting Lu San dengan hebat hingga laki-laki itu hanya mampu menangkis sambil mundur berputar-putar, menangkis dan mengelak menghindarkan diri dari serangan maut yang dilancarkan oleh Kim Nio dengan gemas!

Melihat betapa laki-laki itu berada dalam keadaan berbahaya, walaupun ia mersa tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga orang lain, namun karena ini menyangkut perkara jiwa, maka terpaksa Kong Lee bertindak. Ia melompat maju dan menggunakan tongkat bambunya menangkis pedang Kim Nio.

Melihat betapa Kong Lee maju membantu laki-laki itu, Kim Nio mundur dan tahan pedangnya sambil berkata, “Lim-taihiap, jangan kau mencampuri urusan ini dan biarkan aku membikin mampus laki-laki tak tahu malu ini!”

“Tidak bisa, Coa-lihiap, selama aku ada di sini, aku tidak bisa membiarkan saja orang membunuh tanpa sebab-sebab yang jelas!”

Sementara itu, Ting Lu San yang tak sanggup menghadapi Kim Nio, apalagi melihat bahwa di situ masih ada Kong Lee yang ulung, ia segera melompat ke atas kudanya dan pergi dari situ!

Kong Lee berdiri berhadapan dengan Kim Nio dan memandang muka nona itu dengan mata tajam.

Sementara itu, Kim Nio dengan air mata bercucuran berkata, “Lim ... koko ... jangan kau pandang aku seperti itu ... jangan kau pandang aku seperti itu ... ”

“Kalau kau menghendaki supaya hubungan kita tetap seperti semula, kau harus menceritakan segala hal mengenai peristiwa tadi!” kata Kong Lee dengan tandas. Tanpa menjawab, Kim Nio lalu berjalan dengan langkah lemas ke bawah sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan, diikuti oleh pandang mata Kong Lee yang tetap bersikap dingin.

Kim Nio duduk di atas tanah di bawah pohon itu lalu melihat ke arah Kong Lee sambil berkata, “Lim ... taihiap, kalau kau ingin benar mengetahui halku, duduklah di sini.”

Kong Lee menghampiri dan duduk di depan wanita itu, agak jauh dan tidak seperti biasanya. Kemudian dengan kadang-kadang menggigit bibir, dan wajahnya sebentar pucat sebentar merah serta basah oleh air mata yang mengalir di sepanjang pipinya dan yang keluar dari kedua matanya yang merah dan memandang sayu, Coa Kim Nio menceritakan riwayatnya kepada Kong Lee yang mendengarkan dengan sikap masih dingin.

Coa Kim Nio adalah anak tunggal dari hartawan Coa Keng di kota Tin-si-bun. Pada suatu hari ketika hartawan Coa membeli barang dagangan dari tempat lain dan membawanya ke kota Tin-si-bun, di tengah jalan barang-barangnya dirampok habis oleh para perampok hingga hartawan ini jatuh bangkrut dan miskin. Oleh karena ini, maka biarpun anaknya hanya seorang anak perempuan, tapi ayah Kim Nio lalu menyuruh anaknya belajar silat dari seorang hwesio di sebuah kelenteng, agar kelak dapat membalas sakit hatinya kepada para perampok itu.

Guru Coa Kim Nio adalah Beng An Hosiang, yang berilmu tinggi, tapi sayang sekali hwesio ini kurang baik perangainya. Selain Kim Nio, Beng An Hosiang masih mempunyai seorang murid lain, yakni Pauw Kian yang sebenarnya putera seorang perampok yang ingin melihat anaknya berkepandaian tinggi.

Oleh karena mendapat guru yang berwatak buruk, pula karena suhengnya, yakni Pauw Kian, memang anak perampok, tentu saja Kim Nio juga terpengaruh oleh orang-orang sekelilingnya ini dan wataknya yang tadinya halus berubah kasar dan

angkuh. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang masih belum lenyap dari sanubari gadis itu, yakni baktinya terhadap orang tuanya. Biarpun ia telah memiliki kepandaian tinggi, namun Kim Nio tetap berbakti dan taat akan segala perintah orang tuanya.

Setelah gadis itu menjadi dewasa, ia berhasil membalaskan sakit hati ayahnya dengan mendatangi gerombolan perampok yang dulu merampok ayahnya dan ia bunuh mati beberapa orang pemimpinnya serta mengobrak-abrik sarangnya. Sejumlah besar harta para perampok itu dirampasnya dan diberikan kepada ayahnya sebagai pengganti kerugiannya dulu. Sementara itu, para anak buah perampok yang dikalahkan itu, merasa kagum sekali melihat kehebatan Kim Nio dan ketika mendengar bahwa Kim Nio adalah sumoi dari Pauw Kian yang pada waktu itu terkenal sebagai kepala rampok menggantikan ayahnya dan berjuluk Iblis Tangan Hitam, lalu mengangkat Kim Nio sebagai kepala mereka!

Akan tetapi Kim Nio menolaknya dan ia membawa semua anak buah perampok itu menggabungkan diri dengan para perampok pimpinan suhengnya.

Adapun barang-barang yang ia rampas dari para perampok itu, telah berhasil membuat orang tuanya menjadi kaya kembali. Kemudian atas desakan orang tuanya, Kim Nio dikawinkan dengan seorang pemuda anak seorang berpangkat bernama Ting Lu San. Sebetulnya pada waktu itu, Kim Nio telah mempunyai seorang tunangan pilihannya sendiri, yakni seorang pemuda pembantu Pauw Kian yang berwajah tampan dan berkepandaian silat cukup tinggi. Akan tetapi ia tidak berani melawan kehendak orang tuanya, apalagi ketika diketahui bahwa Ting Lu San adalah seorang pemuda yang selain tampan dan terpelajar, juga mengerti ilmu silat cukup baik.

Perkawinan dilangsungkan dengan meriah sekali karena hartawan Coa tidak sayang- sayang membuang uang dengan royal untuk merayakan pesta perkawinan anak tunggalnya.

Betapapun juga, watak Kim Nio yang sudah terpengaruh oleh watak orang-orang jahat dan tidak benar di sekelilingnya, membuat ia tak dapat mencinta suaminya walaupun suaminya itu sangat mengasihinya. Dengan diam-diam Kim Nio masih merindukan kekasihnya yang dulu, yakni Ong Lui pemuda pembantu suhengnya itu. Sebaliknya, dasar seorang perampok yang berani mati, Ong Lui secara berani sekali mendatangi rumah Ting Lu San dan memperkenalkan diri sebagai sahabat Kim Nio, Lu San adalah seorang yang mengerti ilmu silat dan ia telah tahu pula akan keadaan hidup orang-orang kang-ouw di mana tidak ada pantangan keras akan pergaulan berlainan kelamin. Ia maklum pula bahwa suheng dari isterinya yaitu Pauw Kian Si Iblis Tangan Hitam yang terkenal, maka ia menerima kedatangan Ong Lui dengan baik, terutama melihat betapa pemuda itu sopan dan tampan. Karena seringnya Ong Lui mengunjungi rumahnya, lambat laun antara Lu San dan Ong Lui timbul persahabatan yang erat dan Lu San mulai mempercayai penuh sahabat barunya ini. Maka datanglah malapetaka menimpa orang tua Kim Nio!

Di antara barang-barang rampasan yang diambil oleh Kim Nio dari sarang perampok, terdapat barang-barang perhiasan seorang pembesar tinggi yang dulu dirampok. Tentu saja Hartawan Coa tidak mengetahui hal ini dan karena ia merasa bangga akan

barang-barang berharga yang memang indah itu, tiap kali ada kawan jauhnya datang, ia selalu mengeluarkan barang-barang itu dan memamerkannya.

Pada suatu hari datanglah seorang kawannya dari kota raja mengunjunginya untuk urusan dagang. Seperti biasa, Hartawan Coa memamerkan barang-barang perhiasan itu yang membuat tamunya kagum sekali. Akan tetapi, diam-diam tamu ini merasa kaget sekali melihat bahwa barang-barang perhiasan itu adalah milik seorang pembesar tinggi yang menjadi kawannya di kota raja dan yang dulu telah terampas oleh perampok. Tapi bagaimana sampai barang-barang itu jatuh ke dalam tangan Hartawan Coa ini?

Diam-diam, setelah kembali ke kota raja ia lalu memberitahukan hal itu kepada pembesar tinggi pemilik barang-barang itu. Alangkah marahnya pembesar itu. Ia lalu mempergunakan pangkatnya untuk memerintah pembesar setempat menangkap Hartawan Coa dan menyita semua harta bendanya! Dan setelah diperiksa, selain barang-barang pembesar tinggi itu, terdapat pula barang-barang berharga dari orang- orang yang dulu dirampok hingga mereka lalu datang pula mengajukan dakwaan terhadap Hartawan Coa!

“Tentu dia seorang pemimpin perampok, lihat saja. Anak gadisnya pun seorang yang pandai ilmu silat!” kata seorang di antara para pendakwa yang mengenali barang masing-masing.

Kemudian, Hartawan Coa dan isterinya ditangkap dan Hartawan Coa dijatuhi hukuman mati, sedangkan isterinya yang merasa malu sekali lalu membunuh diri dengan membenturkan kepalanya sampai pecah di tembok penjara!

Coa Kim Nio merasa marah dan sedih sekali, tapi apa dayanya menghadapi putusan pembesar dan pemerintah? Ia lalu mengajak suaminya lari ke dalam hutan minta perlindungan Pauw Kian. Karena selain kuatir terbawa-bawa dan mungkin juga ditangkap pula, Kim Nio dan suaminya juga merasa malu sekali atas terjadinya peristiwa itu. Kim Nio menjadi demikian berduka sehingga ia jatuh sakit sampai dua bulan lebih. Ia merasa berdosa sekali karena menganggap bahwa orang tuanya binasa karenanya!

Ia lalu bersumpah untuk memusuhi pemerintah yang menghukum kedua orang tuanya sehingga semenjak hari itu ia membantu pekerjaan Pauw Kian merampok! Suaminya Ting Lu San, tidak menyetujui cara hidup semacam ini, tapi apa dayanya? Isterinya memang tak pernah mau menurut segala nasihatnya, sedang ia sangat cinta kepada Kim Nio.

Kehidupan di dalam rimba ini membuat Kim Nio mendapat kesempatan lebih banyak untuk bertemu dengan Ong Lui bekas kekasihnya, dan iman wanita yang lemah ini tergoda dan gugur oleh bisikan setan. Ia makin benci kepada Ting Lu San suaminya dan cintanya terhadap Ong Lui makin mendalam!

Dan pada suatu hari, kedua orang yang hatinya telah dikuasai iblis itu, melarikan diri dari tempat itu sambil membawa semua barang-barang berharga.

Bukan main marah dan malunya Ting Lu San ketika melihat betapa isterinya melarikan diri dengan laki-laki lain! Hampir saja ia menjadi gila karenanya! Ia lalu meninggalkan sarang Pauw Kian dan pergi belajar silat lagi sampai pandai, karena niatnya hanya ingin mencari kedua orang itu untuk dibunuhnya! Cintanya terhadap Kim Nio telah berubah menjadi kebencian yang hebat.

Coa Kim Nio yang hatinya telah dikuasai iblis, melarikan diri dengan Ong Lui dan menuju ke selatan. Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, terbukalah matanya dan tahulah ia bahwa Ong Lui bukanlah laki-laki yang menjadi idaman hatinya. Bukanlah laki-laki yang betul-betul mencintanya karena cinta laki-laki itu palsu belaka. Pada suatu malam, Ong Lui meninggalkan dia sambil membawa semua barang-barang yang dulu mereka bawa kabur!

Bukan main marah Kim Nio melihat bahwa dirinya yang sudah berkorban meninggalkan suami itu ternyata hanya mengorbankan diri untuk seorang penipu jahat! Ia lalu mencari-cari Ong Lui dan mengejarnya dan beberapa lama kemudian berhasillah dia mengejar pemuda itu dan membunuhnya!

Setelah itu, Kim Nio lalu merantau ke mana-mana dan pengalamannya menjadi luas sekali, tapi hatinya menjadi dingin. Adakalanya ia kembali kepada Pauw Kian, suhengnya yang telah memaafkannya karena pergi membawa barang-barang berharga itu. Sambil menangis Kim Nio menuturkan kepada suhengnya akan segala riwayatnya dan walaupun Pauw Kian berhati keras, namun ia memang sayang kepada Kim Nio dan menganggapnya sebagai adik sendiri. Pada waktu Kim Nio tidak pergi merantau, ia tentu membantu pekerjaan suhengnya ini. Karena kepandaian Kim Nio memang tinggi, maka Pauw Kian menganggapnya sebagai tangan kanannya dan dalam waktu yang singkat saja barang-barang yang diperoleh wanita itu dalam perampokannya sudah jauh melebihi harga barang-barang yang dulu dibawanya lari.

Demikianlah riwayat Kim Nio sampai ia bertemu dengan Kong Lee dan hatinya yang tadinya telah tertutup rapat dan seakan-akan mati itu menjadi terbuka kembali dan ia jatuh cinta kepada pemuda yang sopan dan gagah perkasa itu.

Setelah mendengar riwayat Kim Nio yang diceritakan oleh gadis itu sendiri dengan air mata bercucuran, Kong Lee merasa muak dan benci sekali. Ia menganggap bahwa Kim Nio adalah seorang wanita yang tak tahu malu dan tersesat jauh sekali. Biarpun merasa sangat kasihan mendengar nasib Kim Nio yang menyedihkan, namun hatinya yang masih panas merasa jijik melihat segala perbuatan yang dianggapnya tidak pantas dan tidak layak dilakukan oleh seorang isteri. Cintanya terhadap nona baju hija itu menjadi lenyap, berganti dengan rasa muak dan jijik.

Setelah Kim Nio selesai bercerita, Kong Lee berdiri dan berkata dengan wajah dingin. “Siapa menanam pohon, dia sendiri memetik buahnya. Kau telah menanam banyak pohon dosa, maka kau harus memikul hukumannya sendiri. Nah, selamat berpisah!” Kong Lee lalu membalikkan tubuh dan melompat terus lari dari situ.

“Lim-taihiap ... Kong Lee ... tunggu ... jangan tinggalkan aku ... ”

Kim Nio menjerit dan mengeluh sambil mengejar secepatnya, akan tetapi karena ilmu gin-kangnya masih jauh berada di bawah tingkat kepandaian Kong Lee, tak lama kemudian bayangan pemuda itu lenyap dari pemandangannya.

Kim Nio menjatuhkan diri di atas tanah sambil menangis tersedu-sedu.

“Aku ... aku cinta padamu ... ” demikian keluhnya dengan hati perih dan kalbu remuk redam.

Kemudian ia menetapkan hatinya dan lari menyusul secepatnya. Ia maklum bahwa kepandaian pemuda itu jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri dan bahwa tak mungkin baginya untuk dapat mengejar pemuda yang hebat itu, namun ia mengambil ketetapan untuk mencari pemuda itu sampai dapat dan minta belas kasihannya!

Sementara itu, dengan hati gemas dan kecewa sekali, Kong Lee lari meninggalkan Kim Nio dan dengan berkeras hati ia mengambil keputusan takkan menjumpai lagi wanita itu selama hidupnya! Ia ingin cepat-cepat kembali ke kota raja untuk bertemu dengan ibunya, akan tetapi karena pikirannya terganggu oleh keadaan Kim Nio, wanita yang mendatangkan cinta pertama dalam hatinya itu, maka tanpa terasa lagi Kong Lee tersesat jalan dan masuk ke dalam sebuah hutan yang sangat liar!

Ketika melihat betapa hutan itu sangat liar dan tidak terdapat jalan di situ, Kong Lee berhenti sebentar dengan ragu-ragu. Dan pada saat itu ia melihat seorang tua sambil tertawa haha-hihi duduk di atas sebatang cabang pohon, tak jauh dari tempat ia berdiri. Orang itu berusia kurang lebih empat puluh tahun dan pakaiannya aneh sekali, karena terbuat dari bermacam-macam kain yang disambung-sambung menjadi satu, padahal kain itu semuanya masih baru! Dengan demikian maka pakaian itu boleh dibilang masih baru dan baik sekali, sedang kembangnya luar biasa, beraneka ragam tidak keruan. Dan yang lebih aneh lagi, orang tua itu sedang nongkrong di atas sebatang cabang sambil memakan sepotong paha burung yang mentah!

Kong Lee terkejut dan heran sekali mengapa ada orang begitu aneh! Ia lalu memberi hormat dan bertanya, “Lo-peh yang terhormat, mohon tanya hutan ini hutan apakah namanya dan manakah jalan yang menuju ke Bi-ciu?”

Tiba-tiba empek yang aneh itu tertawa terbahak-bahak dan terus saja makan daging mentah itu dengan enaknya. Setelah daging itu bersih tinggal tulangnya saja, ia lemparkan tulang itu ke bawah dan tulang itu menancap ke dalam tanah dan terus masuk ke dalam!

Kong Lee makin terkejut melihat bahwa orang ini ternyata memiliki tenaga lwee-kang yang tinggi juga!

Tiba-tiba empek itu lalu melayang turun dengan gerakan yang aneh tapi ringan dan tahu-tahu telah berdiri di depan Kong Lee sehingga sekali lagi pemuda ini terperanjat. Gin-kang empek inipun hebat sekali. tak disangkanya bahwa di tempat yang sunyi mati ini ia bertemu dengan orang yang demikian aneh dan berkepandaian tinggi. “Kau mau tahu nama hutan ini?” kakek itu bertanya dengan suara parau. “Ha, ha, ha! Ini namanya Hutan Selaksa Siluman! Dan kau tanya jalan? Aku hanya tahu jalan ke neraka untukmu! Ha, ha, ha!”

Sehabis berkata demikian, orang aneh itu lalu menubruk maju dan memukul dada Kong Lee dengan hebat! Tentu saja Kong Lee merasa heran dan marah.

Ia mengelak cepat dan membentak, “He, kau ini orang apa? Datang-datang menyerang orang lain, apa kau gila?”

“Ha, ha, ha! Kau sendiri yang gila memaki orang lain gila! Ha ha!” orang yang berotak miring itu kembali menyerang.

Terpaksa Kong Lee melayani dengan hati-hati dan sungguh-sungguh ternyata ilmu berkelahi orang gila ini sungguh-sungguh hebat. Pukulan-pukulannya tampaknya tidak keruan dan dilakukan dengan menyeruduk saja bagaikan kerbau gila, akan tetapi di dalam kekacauannya itu tersembunyi dasar ilmu silat yang sulit sekali dilawan.

Selain ilmu silatnya yang aneh, ternyata orang gila itupun memiliki lwee-kang dan gin-kang cukup tinggi dan hanya sedikit kalah oleh Kong Lee. Oleh karena itu, agak sukar juga baginya untuk menjatuhkannya!

Telah lama sekali mereka bertempur, lebih dari dua ratus jurus namun Kong Lee tetap tak dapat mengalahkan orang gila itu, karena ia kalah nekad! Akhirnya terpaksa Kong Lee mencabut tongkat bambunya dan tanpa malu-malu lagi ia gunakan senjata ini untuk menghadapi Si Gila.

“Ha, ha, ha! Hayo kuantar kau ke neraka!” orang gila itu berkali-kali berkata dan tertawa menyeramkan.

Kini melihat betapa anak muda itu memegang sebatang tongkat, ia makin merasa geli agaknya, karena ketawanya makin sering dan keras. Ia tidak peduli bahwa lawannya telah bersenjata, dan ia terus maju dan menyerang dengan sengit dan hebat.

Kong Lee lalu mengeluarkan ilmu tongkatnya Liong-san Koai-tung-hwat yang hebat, dan betul saja, orang gila itu menjadi terdesak dan beberapa kali kena pukul dengan tongkat sehingga orang gila itu berteriak-teriak menangis dan tertawa berganti-ganti sehingga terdengar menyeramkan sekali. bahkan sewaktu-waktu ia mengeluarkan geraman-geraman seperti seekor binatang buas. Kong Lee memang tidak berniat membunuhnya atau melukainya, maka ia hanya menggunakan tongkatnya untuk menghajar saja agar Si Gila itu mau tunduk.

Akhirnya, karena tidak kuat melawan ilmu tongkat Kong Lee yang terlalu hebat baginya itu, Si Gila lau berteriak-teriak keras dan lari masuk ke dalam hutan!

Kong Lee hendak mengejar, tapi pada saat itu terdengar suara wanita berseru, “Lim- taihiap ... ! jangan ... ! Jangan kau masuki hutan itu!”

Kong Lee cepat berpaling dan ternyata yang berseru itu adalah Coa Kim Nio! Wanita baju hijau itu kini berubah kurus dan pucat sehingga untuk sesaat Kong Lee merasa terharu dan kasihan.

“Jangan masuk ke dalam hutan itu!” katanya lagi sambil maju menghampiri. “Aku telah melihat kau bertempur melawan orang gila tadi dan aku tahu siapa dia! Dia adalah Pangeran Gila dan hutan ini tentulah Hutan Seribu Siluman yang amat berbahaya! Jangan kau masuk ke situ, Lim-taihiap!”

Tapi perasaan iba yang timbul di hati Kong Lee karena melihat tubuh Kim Nio yang kurus dan wajah yang pucat itu segera lenyap, berganti dengan benci. Ia lalu memutar tubuhnya dan cepat mengejar orang gila yang lari memasuki hutan tadi! Kong Lee memang merasa heran dan ingin sekali mengetahui keadaan orang gila yang memiliki kepandaian tinggi itu.

Sementara itu, biarpun ia tahu bahwa pemuda itu sudah tidak mau mempedulikan ia lagi, akan tetapi hatinya yang mencintanya membuat ia merasa kuatir sekali. Kim Nio telah banyak merantau pernah mendengar tentang Pangeran Gila yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang disebut Raja Gila dan Ratu Gila!

Keluarga yang terdiri dari tiga orang-orang gila ini memang hebat sekali dan tak seorangpun berani memasuki hutan itu untuk bertempur melawan ketiga orang itu. Menurut kabar yang didengar oleh Kim Nio, Raja Gila yang menjadi ayah Pangeran Gila tadi memiliki kepandaian yang setingkat tingginya dengan Liat Song Hosiang ketua Go-bi-pai dan Liong-san Lo-kai!

Karena merasa kuatir akan keselamatan pemuda yang dicintanya itu, Kim Nio lupa akan keselamatan sendiri dan dengan nekad iapun lari mengejar ke dalam hutan. Akan tetapi ia tertinggal jauh oleh Kong Lee yang telah hampir dapat mengejar Si Gila yang lari bagaikan seekor kijang, menerjang rumpun dan menghindari pohon yang menghadang di jalan dengan hebatnya. Suara tawanya yang menyeramkan masih terdengar dan inilah yang membuat Kong Lee dapat mengetahui di mana tempat orang gila itu.

Setelah mengejar beberapa lama, orang gila itu akhirnya terkejar juga oleh Kong Lee. Mereka berdua telah tiba di sebuah tempat terbuka yang tidak ditumbuhi pohon, hanya penuh dengan rumput hijau yang rendah. Di situ, Si Gila berdiri menanti kedatangan Kong Lee dengan menyeringai aneh. Begitu Kong Lee tiba di situ, kembali Si Gila menyerang membabi-buta!

Kong Lee melayaninya kembali sambil berkata, “He, Lopeh, apa namamu Pangeran Gila?”

“Ha, ha! Memang aku pangeran, lihat saja pakaianku! Kau tidak segera berlutut kepadaku?”

Tapi mana Kong Lee mau berlutut kepada seorang gila? Ia hendak menangkap orang itu untuk ditanyai lebih lanjut, tapi tiba-tiba dari dalam hutan melayang keluar seorang kakek tua yang pakaiannya lebih aneh lagi. Kakek ini usianya paling sedikit tujuh puluh tahun, rambut dan jenggotnya telah putih semua dan bergantungan di pundak tak terpelihara. Yang mengherankan, biarpun pakaian kakek ini penuh tambalan macam-macam seperti pakaian Pangeran Gila, tapi dihiasi sulaman benang emas! Juga, berbeda dengan Pangeran Gila, kakek ini memakai sepasang sepatu merah dan di kepalanya memakai sebuah benda yang terbuat dari ranting-ranting pohon, bunga-bunga dan daun-daunan yang menyerupai sebuah mahkota!

Tiba-tiba Pangeran Gila menjatuhkan diri berlutut dan membentak kepada Kong Lee, “Raja Yang Agung telah tiba, ayo kau berlutut menghaturkan hormat!”

Akan tetapi Kong Lee hanya berdiri dengan mata terbelalak heran. Siapakah kakek tua ini dan di dunia apakah ia berada? Selama hidupnya belum pernah ia menemui orang yang lebih gila dari ini.

Tiba-tiba kakek tua itu tertawa dan suara ketawanya lebih menyeramkan dari suara ketawa Pangeran Gila, karena terdengar seperti suara burung hantu di waktu malam. “Hi-hi-hi! Bagus sekali. Ki Pok, kau telah pulang membawa daging muda yang empuk!” sambil berkata demikian, tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan tahu-tahu di tangannya telah memegang sebilah pedang kuning yang mengeluarkan cahaya mengkilat!

“Kau majulah, hendak kucoba rasanya sedikit dagingmu!” katanya kepada Kong Lee dengan dua mata berputar-putar. Kong Lee merasa ngeri sekali, dan Pangeran Gila lalu berkata kepadanya, “Ayo, kau lekas berlutut dan mendengar perintah rajamu!”

“Ji-wi Lo-peh,” kata Kong Lee dengan muka pucat, “janganlah kalian mempermainkan siauw-te. Apakah artinya semua ini?”

“Ha, ha, kau orang gila!” kata kakek itu dan Pangeran Gila lalu menyambung, “Memang otaknya rada miring.”

Tiba-tiba kakek itu melangkah maju dan mengayun pedangnya hendak memotong lengan Kong Lee. Tapi anak muda itu cepat mengelak, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ujung pedang itu masih berhasil memapas ujung bajunya dan menyerempet kulit lengannya hingga kulitnya berdarah! Tak disangkanya bahwa gerakan kakek itu sedemikian cepat dan luar biasa.

Hati Kong Lee berdebar karena ngeri dan takut ketika melihat betapa dengan lahapnya kakek tua itu menjilat-jilat darah yang menempel di pedang itu.

Kong Lee maklum bahwa ia terjatuh dalam tangan orang gila yang liar dan suka makan daging manusia, maka ia pikir lebih baik mendahului menyerang dan menewaskan orang-orang berbahaya ini. Ia lalu maju menyerang dengan tongkatnya. Ketika itu, kakek gila itu sedang menjilat-jilat darah, dan sama sekali tidak mempedulikan datangnya tongkat Kong Lee, akan tetapi ketika tongkat itu telah menempel di kulit dadanya, tiba-tiba daging bagian dada itu melesak ke dalam dan sebelum Kong Lee hilang kagetnya, Raja Gila itu telah menangkap lengannya dan sekali pijit lumpuhlah lengan tangan Kong Lee.

“Ha, ha, ha, kau hendak melawan? Ha, ha! Kau berhadapan dengan seorang raja dan jangan mencoba main gila!” sambil berkata demikian, Raja Gila yang hebat itu lalu mengangkat pedangnya ke atas hendak diayunkan ke arah leher Kong Lee. Sementara itu Pangeran Gila memandang dengan mata berputaran dan mulut mengilar hendak cepat-cepat ikut menikmati daging muda itu!

Akan tetapi, pada saat yang sangat berbahaya bagi jiwa Kong Lee yang sudah tidak berdaya sama sekali itu, tiba-tiba terdengar pekik nyaring yang memekakkan telinga dan tiba-tiba datang melayang bayangan merah. Ketika Kong Lee memandang, ternyata yang datang itu adalah seorang nenek tua yang pakaiannya merah semua, dari ikat rambutnya sampai ke sepatunya! Merah polos tanpa kembang hingga menyakitkan mata yang memandang.

Inilah Ratu Gila isteri dari Raja Gila dan ibu dari Pangeran Gila itu!

“Orang rakus!” Ratu Gila itu mencela suaminya, “Daging begini muda dan enak harus dimakan matang! Biarkan aku masaknya dulu, baru kita makan beramai-ramai. Telah bertahun-tahun kita tidak mendapat daging seperti ini, maka kali ini kita harus menikmatinya benar-benar!”

Setelah berkata demikian, nenek serba merah itu lalu mengempit tubuh Kong Lee dan dibawa lari seperti terbang cepatnya, diikuti oleh suami dan anaknya yang tidak hentinya tertawa-tawa girang!

Kong Lee mencoba mengerahkan tenaga dalamnya dan akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari totokan Raja Gila dan dapat menggerakkan kembali tangannya yang lumpuh. Tapi ketika ia mencoba untuk melepaskan diri dari kempitan wanita tua itu, hasilnya sia-sia belaka!

Lengan kiri yang mengempitnya itu mempunyai tenaga yang luar biasa sekali sehingga jangankan hendak melepaskan diri, untuk menggerakkan tubuh saja ia tidak mampu! Bukan main terkejut hati Kong Lee. Baru Pangeran Gila itu tadi saja kepandaiannya sudah hebat dan hanya dengan tongkat bambunya ia dapat melawan dan mengalahkannya, apalagi Raja dan Ratu Gila yang agaknya memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri ini! Hatinya berdebar dan ia merasa takut sekali. Baru kali ini seumur hidupnya merasa benar-benar takut dan ngeri. Ia hendak dimasak, mungkin disembelih dulu baru tubuhnya dipotong-potong dan dimasak di atas api, kemudian dagingnya dibagi-bagi untuk dimakan dengan nikmat oleh ketiga orang gila ini! Kong Lee merasa sangat ngeri dan berdiri bulu tengkuknya. Ia dibawa ke sebuah pondok yang terbuat dari kayu-kayu hutan dan tubuhnya lalu dilepaskan oleh nenek itu di atas tanah. Kong Lee merasa betapa tubuhnya menjadi lemas karena kempitan itu hampir mematahkan tulang-tulang iganya karena kerasnya.

“Ki Pok, kau ikat baik-baik domba ini,” kata Ratu Gila dan Kong Lee melihat betapa nenek ini dulunya tentu seorang wanita yang cantik sekali, akan tetapi sekarang kedua mata yang masih bersinar terang itu berputar-putar dengan ganasnya dan bibirnya yang merah itu kini mengeluarkan air liur ketika memandang kepadanya!

Menerima perintah ini Pangeran Gila lalu berloncat-loncatan seperti anak kecil dan menghilang ke dalam hutan. Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa beberapa helai kulit pohon yang agaknya ia kerat dari batang pohon. Kemudian, dengan cekatan sekali ia ikat tangan dan kaki Kong Lee. Pemuda ini merasa betapa kulit pohon itu kuat sekali dan memiliki sifat mulur sehingga biarpun ia memiliki lwee-kang yang tinggi, agaknya tak mungkin ia dapat memutuskan ikatan ini! “Nah, sekarang kita harus mencari buah merah di puncak bukit selatan. Daging ini kalau tidak dimasak dengan buah merah itu, rasanya akan masam baunya amis!”

“Aah, sibuk amat. Aku sudah ingin sekali merasai dagingnya yang empuk!” Raja Gila mencela.

Ratu Gila cemberut, “Kau laki-laki tahu apa? Asal nanti tahu makan enak saja sudah, jangan cerewet. Ayo ikut aku mencari buah itu, biar Ki Pok menjaga domba ini!” Sambil bersungut-sungut dan sebentar tertawa sebentar mengomel sehingga nampak aneh dan lucu sekali, Raja Gila itu mengikuti isterinya pergi dengan lari cepat ke arah selatan! Pangeran Gila yang ternyata bernama Ki Pok itu tertawa haha-hihi, lalu duduk di dekat Kong Lee yang sudah diikat seperti seekor ayam hendak direbus.

Pangeran Gila itu tertawa-tawa seorang diri, meringis-ringis dan berbisik-bisik seakan-akan bercanda dengan orang yang tidak kelihatan, kemudian ia menguap beberapa kali dan akhirnya tidur mendengkur di dekat Kong Lee.

Pemuda ini menatap wajah orang gila yang tidur di dekatnya itu. Dan alangkah herannya ketika melihat betapa wajah orang gila itu kini berubah. Wajah yang tadinya menyeramkan itu kini nampak sehat dan biasa seperti orang waras. Lenyaplah bayangan kegilaan dari wajah itu dan tampak wajah aslinya yang tidak buruk bahkan kini pada wajah itu terbayang kesedihan! Kong Lee merasa heran sekali dan ia maklum bahwa jika sedang tidur, maka orang ini tidak gila! Apakah yang menimpa ketiga orang ini sehingga mengalami nasib seperti itu?

Pada saat ia termenung dengan bingung tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba terdengar suara ranting kering terpijak kaki dan tak lama kemudian Kim Nio telah berada di depannya sambil menaruhkan jari telunjuk di depan mulut untuk memberi isyarat agar ia jangan keluarkan suara!

Dada Kong Lee berdebar dengan perasaan tidak keruan. Ia merasa girang karena mengharapkan pertolongan, juga merasa malu karena perempuan yang dihina dan direndahkannya itu agaknya hendak menjadi penolongnya karena tidak menghiraukan keselamatan sendiri dan nekad memasuki tempat berbahaya itu semata-mata hendak menolong dirinya. Alangkah besarnya cinta wanita ini kepadanya. Kong Lee menundukkan muka dan wajahnya berubah merah. Betapapun juga, sukar baginya untuk mencintai seorang wanita yang telah melarikan diri dengan laki-laki lain meninggalkan suami! Kim Nio lalu mencabut pedangnya dan hendak diayunkan ke leher Pangeran Gila yang sedang tidur! Kong Lee cepat memberi isyarat melarangnya dan kembali timbul kebencian di dalam hati melihat kekejaman Kim Nio. Melihat perasaan yang terbayang di wajah pemuda itu, Kim Nio lalu mengurungkan niatnya dan sebaliknya ia menggunakan pedangnya untuk memutus tali yang mengikat kaki dan tangan Kong Lee.

Akan tetapi, pada saat itu, Pangeran Gila tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Untuk sesaat ia memandang dengan muka waras, bagaikan seorang yang merasa nanar dan bangun tapi sejenak kemudian datanglah kembali kegilaannya dan kedua matanya berputar-putar! Kim Nio terkejut sekali karena ia belum berhasil memutuskan pengikat kaki Kong Lee, baru pengikat tangannya saja!

Sementara itu ketika melihat betapa Kim Nio berusaha melepaskan belenggu Kong Lee, Si Gila itu meloncat maju dan berkata, “Jangan lepaskan dombaku ... jangan lepaskan dombaku ... ”

Akan tetapi ketika matanya yang liar itu memandang wajah Kim Nio, Pangeran Gila itu tiba-tiba terbelalak dan memandang mata kagum.

“Kau ... kau bidadari cantik sekali ... kau cantik sekali ... ” dan kedua tangan yang tadi telah diangkat hendak menyerang kini diturunkan lagi!

Kim Nio yang cerdik maklum bahwa ia bukanlah lawan Si Gila itu karena tadi ketika Si Gila bertempur melawan Kong Lee, ia telah tahu akan kehebatan orang gila ini, dan ia dapat menduga bahwa Si Gila ini kagum sekali akan kecantikannya. Maka diam- diam ia melepaskan pedangnya yang jatuh di dekat Kong Lee agar pemuda itu dapat membuka ikatan kakinya sendiri, lalu ia hadapi orang gila itu dengan mulut tersenyum-senyum manis dan matanya mengerling menarik hati.

“Kau ... cantik sekali ... ” Pangeran Gila itu mendekat dan meraba-raba seluruh tubuh Kim Nio, tangannya, lehernya, bahkan kakinya diraba untuk mengagumi kulit yang putih halus dan potongan tubuh yang indah menarik itu! Dan Kim Nio hanya tersenyum-senyum saja, bahkan ia merasa bangga bahwa dirinya dikagumi sedemikian rupa oleh orang gila ini!

Kim Nio sengaja tidak mencegah gila itu mengaguminya agar perhatian Si Gila itu terlepas dari Kong Lee untuk memberi kesempatan kepada anak muda itu untuk melepaskan diri. Sementara itu, ketika melihat betapa Kim Nio membiarkan saja dirinya dipegang-pegang dan diraba-raba oleh kedua tangan orang gila itu dan mempergunakan kecantikannya untuk menolong dirinya, Kong Lee merasa muak sekali dan makin membenci Kim Nio!

Tidak tahu diri pikirnya! Biarpun kalah tinggi kepandaiannya, mengapa perempuan itu mau saja dihina dan diraba-raba? Mengapa tidak mau melawan sekuatnya? Kalau saja Kim Nio melawan dan terpukul roboh, mungkin kebenciannya akan lenyap dan rasa cintanya akan timbul kembali karena merasa telah ditolong dengan berani mengorban jiwa. Akan tetapi perempuan itu dengan cara rendah, yakni dengan mengorbankan kehormatannya dan menjual kecantikannya, berusaha menolongnya. Sambil mengertakkan giginya, Kong Lee menggunakan pedang itu untuk memutuskan tali pengikat kakinya. Kemudian sekali loncat saja ia telah berhasil berdiri di dekat Si Gila, menangkap tangan yang masih meraba-raba rambut Kim Nio dan menciumi rambut itu dengan heran dan kagum seperti seorang kanak-kanak melihat sebuah barang mainan baru, lalu ditariknya sekuat tenaga!

Pangeran Gila itu terlempar dan bergulingan. Ia memandang sebentar kepada Kong Lee dengan mata marah, akan tetapi perhatiannya kembali tertuju kepada Kim Nio dan bagaikan besi tertarik oleh besi berani ia menghampiri gadis baju hijau itu, bagaikan kena pesona! “Kau cantik sekali ... cantik sekali ... bidadari ... ” mulutnya berbisik-bisik dan matanya memandang kagum.

Kedua tangannya telah diulurkan lagi untuk membelai rambut Kim Nio.

Tapi Kong Lee yang sudah menjadi gemas sekali kepada Kim Nio, lalu menyerang dan menotok iga Pangeran Gila itu sehingga Si Gila tanpa mengeluarkan sepatah kata pun roboh pingsan karena kena totok jalan darahnya. Kemudian tanpa menoleh kepada Kim Nio, Kong Lee lari memasuki pondok keluarga gila itu untuk memeriksa. Ia melihat keadaan pondok itu kotor sekali dan di atas sebuah meja batu ia melihat sebuah kitab tebal yang masih terbuka. Ia merasa heran sekali melihat tulisan tangan yang indah di dalam kitab itu. Tanpa banyak pikir, ia mengambil kitab itu karena menduga bahwa rahasia keluarga gila itu tentu berada di dalam kitab ini.

Setelah ia keluar dari pondok, dilihatnya Kim Nio berdiri menanti dengan muka kuatir, lalu gadis baju hijau itu berkata cemas, “Lim-taihiap, cepat! Mereka datang ... cepat ... !”

Kong Lee lalu melompat dan lari pergi, diikuti oleh Kim Nio. Mereka lari secepatnya keluar hutan yang berbahaya itu.

Dengan napas lega mereka dapat keluar dari hutan siluman, tapi masih saja mereka berlari terus, takut kalau keluarga gila yang luar biasa hebatnya itu mengejar mereka. Setelah berada jauh barulah Kong Lee menahan kakinya dan memandang kepada Kim Nio yang berdiri dengan napas tersengal-sengal karena wanita ini harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat mengejar pemuda yang larinya cepat sekali itu!

Sambil menundukkan muka agar jangan memandang muka Kim Nio, Kong Lee berkata perlahan, “Kiranya sudah sepantasnya kalau aku ... mengucapkan terima kasih kepadamu atas pertolonganmu. Dan sekarang ... selamat berpisah, kita harus berpisah!”

Hancur hati Kim Nio mendengar ini. Ia telah mengorbankan segala untuk menolong pemuda ini dan bahkan bersedia mengorbankan nyawa untuk pemuda yang dicintanya ini, tapi kini ... pemuda itu sama sekali tidak mempedulikannya.

“Taihiap ... tidak kasihankah kau kepadaku? Aku ... aku hanya ingin tinggal dekat denganmu ... akan sunyilah hidupku kalau harus berpisah denganmu ... ” dengan terus terang Kim Nio membuka isi hatinya dengan mata mencucurkan air mata!

Akan tetapi, Kong Lee yang sudah merasa benci dan tidak suka kepadanya, apalagi ia mengingat peristiwa tadi, ia merasa muak dan jijik, lalu berkata, “Tidak mungkin, Nona. Kita tidak sepaham dan biarlah kita saling berpisah sebagai dua orang sahabat.” Setelah berkata demikian, Kong Lee lalu lari cepat meninggalkan gadis itu!

“Taihiap ... ” Kim Nio mengeluh, tapi ia tidak kuasa mengejar pemuda yang menggunakan seluruh kepandaiannya untuk pergi meninggalkannya itu dan akhirnya wanita ini hanya bisa berjalan perlahan sambil menggunakan ujung bajunya menyeka air matanya!

-***-

Semenjak ditinggalkan pergi oleh putera tunggalnya, Nyonya Lim Ek hidup dalam kesunyian. Akan tetapi, nyonya yang berhati gagah berani ini dapat menekan kesedihannya dan dengan penuh harap yang tak kunjung padam ia selalu menanti kedatangannya Kong Lee. Untuk mengisi waktunya, ia menerima beberapa murid wanita yang diberi pelajaran silat. Namun, karena murid-murid yang diterimanya adalah anak-anak orang miskin sehingga tidak dapat membayar biaya pelajaran, maka keadaan Nyonya Lim Ek sangat kekurangan. Apalagi ada beberapa orang muridnya yang keadaannya miskin sekali dan bahkan ikut makan di situ pada waktu belajar silat, maka Nyonya Lim membutuhkan uang yang agak banyak.

Thio Sui Kiat sering bersama isterinya mengunjungi calon besan ini dan melihat keadaannya yang susah, Thio-wangwe seringkali mengirim uang dan kebutuhan sehari-hari sehingga Nyonya Lim Ek merasa berhutang budi. Berkali-kali Thio Sui Kiat dan isterinya mengajak nyonya janda itu untuk pindah dan tinggal dengan mereka di Lam-sai, akan tetapi Nyonya Limm tetap menolaknya dengan halus, karena nyonya ini hendak menanti kedatangan puteranya di rumah.

Akan tetapi, telah dinanti-nanti sampai bertahun-tahun, tak juga Kong Lee pulang. Setelah menanti selama lima tahun lebih, akhirnya Nyonya Lim merasa kuatir sekali karena puteranya tak kunjung datang. Kesabarannya hilang dan ia lalu menutup rumahnya untuk pergi sendiri mencari anaknya itu.

Pada suatu hari, ketika ibu yang mencari anaknya ini tiba di kaki sebuah bukit yang sunyi, tiba-tiba ia mendengar suara orang menjerit minta tolong. Nyonya yang berhati tabah dan yang memiliki kepandaian silat cukup tinggi ini segera lari menuju ke arah suara itu dan segera ia mendengar suara senjata beradu. Ia percepat larinya dan tak lama kemudian ia melihat betapa seorang wanita muda sedang bertempur melawan tiga orang laki-laki yang berpakaian sebagai pengawal. Wanita muda itu hebat sekali dan dengan pedangnya ia mendesak ketiga orang lawannya yang bersenjata golok. Di dekat tempat pertempuran itu, terdapat sebuah kendaraan kecil yang ditarik oleh seekor kuda. Dari dalam kendaraan yang tertutup kain terdengar suara wanita menangis ketakutan.

Nyonya Lim Ek segera melompat menghampiri kereta itu dan menyingkap kain penutupnya. Ternyata di dalam terdapat seorang laki-laki berpakaian pembesar yang telah lanjut usianya sedang duduk dengan tubuh menggigil, sedangkan seorang wanita yang agaknya isteri pembesar itu, menangis ketakutan. Jelas bahwa ini tentu sebuah perampokan akan tetapi Nyonya Lim tidak tahu siapakah yang merampok. Apakah wanita muda yang cantik dan hebat itu? Ia heran dan bertanya kepada mereka yang berada di dalam kereta.

“Kami ... dirampok ... ” pembesar ini menjawab setelah hilang kagetnya karena tadinya ia mengira bahwa wanita tua yang menjenguk inipun seorang anggota perampok.

“Mana perampoknya?” Nyonya Lim bertanya. “Wanita berbaju hijau itu ... ”

Nyonya Lim Ek merasa heran sekali. Ia memandang lagi dan maklum bahwa wanita itu tentu seorang perampok tunggal dan ternyata kepandaiannya tinggi sekali. Ia maklum bahwa ia sendiri pun bukan tandingan wanita muda itu, akan tetapi ia tidak bisa melihat terjadinya perampokan begitu saja tanpa membantu para korban yang dirampok. Dengan tabah nyonya ini lalu mencabut pedangnya dan melompat ke medan pertempuran.

“Nona, tahan pedangmu!” serunya kepada wanita baju hijau yang sedang mendesak hebat ketiga lawannya itu.

Melihat datangnya seorang wanita tua berpedang, perampok wanita tunggal yang tidak lain adalah Coa Kim Nio, terkejut sekali. Ia tidak tahu dari mananya nyonya ini dan segera ia memandang. Entah mengapa, tiba-tiba ia mendapat perasaan seakan- akan ia telah mengenal wanita ini dan muka nyonya ini menimbulkan rasa suka di dalam hatinya. Ia hanya menahan pedangnya dan melompat menghampiri Nyonya Lim, sedangkan ketiga pengawal yang tadinya sangat sibuk menghadapi nona ini, segera mundur dan berdiri dengan golok di tangan menjaga kereta.

“Peh-bo (bibi), siapakah kau dan apa maksudmu mencampuri urusanku?” tanya Kim Nio dengan pedang dilintangkan di dada. “Nona, aku hanya kebetulan saja lewat ke tempat ini dan melihat pertempuran tadi. Aku tak hendak mencampuri urusan orang lain, akan tetapi setelah mendengar bahwa pertempuran ini adalah karena perampokan, maka aku merasa berkewajiban untuk maju dan menolong.”

“Ha, bagus! Apakah kau hendak melawanku?” tanya Kim Nio sambil memandang muka orang itu dengan tajam.

“Nona, terus terang saja kuakui bahwa kepandaianku tidak berapa tinggi dan aku bukanlah lawanmu. Namun betapapun juga, dengan melupakan kebodohan sendiri terpaksa aku membela orang-orang yang hendak kau rampok ini, biarpun aku harus mengorbankan nyawaku yang tak berharga ini!”

Kim Nio heran sekali mendengar kata-kata ini. “Kalau begitu, mengapa tidak tadi-tadi saja kau mengeroyokku? Untuk apa segala pembicaraan yang tiada guna ini?”

“Nona, kau masih muda sekali dan cantik, juga gerak-gerikmu halus tak pantas menjadi seorang perampok. Dari kata-katamu aku dapat menduga bahwa kaupun pernah menerima pelajaran orang pandai. Mengapa kau menjadi perampok? Untuk apakah harta besar yang kau dapatkan dengan jalan kotor? Nona, orang semuda kau ini sepantasnya duduk di dalam rumah bersama suamimu dan mendidik anakmu!

Lihatlah aku ini! Aku sudah tua seorang janda miskin yang kehilangan anak tunggalnya. Ingatlah bahwa kelak kaupun akan menjadi seorang wanita tua seperti aku. Kalau kau hidup menyendiri dan menjadi perampok, nanti setelah kau menjadi tua, untuk apa semua harta benda kotor itu? Kau takkan hidup bahagia, bahkan kau akan selalu menyesal dosa-dosamu. Mengapa kau tidak mengambil jalan benar?” Kata-kata yang keluar dari mulut Nyonya Lim ini lebih tajam dan runcing daripada sebatang pedang pusaka dan tepat sekali menikam ulu hati Kim Nio. Wanita muda itu menjadi pucat dan memandang dengan mata sayu, kemudian tiba-tiba ia tak dapat menahan kesedihan hatinya lagi lalu menangis tersedu-sedu sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya!

Nyonya Lim Ek lalu memberi tanda kepada pembesar dan para pengawalnya untuk melanjutkan perjalanan karena ia dapat menduga bahwa nona baju hijau ini telah terpengaruh oleh ucapannya dan ia maklum bahwa ia dapat menghadapi nona ini. Dengan anggukan kepala menyatakan terima kasih, rombongan itu melanjutkan perjalanannya, sedangkan Kim Nio yang sedang menangis tidak mempedulikan mereka itu lagi.

Kemudian Nyonya Lim Ek melangkah maju dan memegang pundak Kim Nio dengan sentuhan halus.

“Nona, janganlah kau bersedih dan maafkan kata-kataku kalau menyinggung perasaanmu. Kiranya kau berperasaan halus, tapi mengapa kau sampai tersesat seperti ini?”

Mendengar suara halus penuh perhatian ini dan merasa betapa nyonya itu memegang pundaknya dengan halus, Kim Nio merasa makin sedih dan ia lalu menangis keras sambil menyandarkan kepalanya dan mukanya di pundak Nyonya Lim!

“Peh-bo ... kau tidak tahu ... aku yatim piatu ... tak berayah tak beribu tiada kawan tiada handai taulan ... tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang menyayangi dan mencintaiku ... aku tidak mempunyai pengharapan lagi, hidup di atas jalan benar maupun sesat bagiku sama saja hanya kesepian, duka dan derita saja bagianku ... ” Kim Nio teringat kepada Kong Lee dan tangisnya makin sedih.

“Nona, selama hayat di kandung badan, pengharapan selalu ada dan orang yang berputus harapan tidak saja bodoh tapi juga kurang kepercayaan kepada diri sendiri. Coba kau renungkan, bukankah pengharapan nikmat hidup pula? Kita mengharap- harapkan sesuatu, mengharapkan suatu yang indah, yang kita tunggu-tunggu. Alangkah senangnya kalau sesuatu yang kita harap-harapkan itu kelak akan tiba dan mimpi kita itu akan terbukti. Bahagialah orang yang masih mempunyai sesuatu yang diharapkan! Kau bilang kau tiada handai taulan? Lihatlah, aku, anak! Aku sudah tua, semenjak muda ditinggal mati suami dan semenjak tujuh delapan tahun yang lalu anakku yang tunggal meninggalkan aku pula, tidak tahu sekarang ia berada di mana, entah mati entah hidup. Aku miskin pula, akan tetapi aku masih mempunyai pengharapan. Yakni pengharapan bertemu kembali dengan anakku itu! Dan sebelum aku mati, pengharapan itu akan selalu menyala di dalam dadaku, bagaikan sepucuk api lilin yang biarpun kecil, tertutup angin dan berkedap-kedip, namun takkan lenyap sebelum lilinnya habis! Demikianlah, pengharapanku takkan lenyap sebelum hayat meninggalkan tubuhku!”

Kim Nio merasa terharu sekali dan terisak-isak ia peluk Nyonya Lim.

“Aduh, Peh-bo, kau wanita bijaksana sekali! Alangkah beruntungnya aku yang malang ini bertemu dengan orang seperti kau! Peh-bo ... jangan kau tinggalkan aku. Kau sebatang kara, aku seorang diri di dunia ini, biar kita hadapi hidup yang penuh penderitaan dan kepalsuan ini bersama-sama. Dengan kau yang bijaksana sebagai pembimbing, aku akan hadapi segala rintangan dengan tabah, dan aku takkan mungkin tersesat lagi, Peh-bo ... ”

Nyonya Lim Ek juga merasa terharu dan bercampur girang. Ia suka kepada gadis yang hebat ini dan yang bernasib buruk.

“Anak, usulmu ini baik sekali. Akupun pada waktu ini tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Langit menjadi atapku dan bumi menjadi lantaiku. Kau sebenarnya bernama siapa, nona?”

“Aku she Coa bernama Kim Nio, Peh-bo.”

“Aku adalah Kwee Cin Hwa atau Nyonya janda Lim Kong Lee,” kata Nyonya Lim dengan halus dari Kim Nio yang masih memeluknya.

Kalau saja nona itu tidak menyembunyikan mukanya di dada Nyonya Lim, wanita tua itu tentu akan melihat betapa muka yang cantik itu tiba-tiba menjadi pucat. Akan tetapi ia masih dapat merasakan betapa tubuh Kim Nio menggigil ketika mendengar bahwa Kong Leelah putera janda ini!

“Nona, kenapa kau?” tanya Kwee Cin Hwa sambil memegangi pundak Kim Nio dan memandangi muka itu. Ia melihat bahwa muka itu pucat sekali dan Kim Nio segera menutup kedua matanya.

“Ti ... dak apa-apa ... aku hanya pening Peh-bo ... ” jawab Kim Nio yang belum sadar kembali dari rasa kagetnya.

“Marilah kita duduk dulu, mungkin kau lelah setelah bertempur tadi.”

Nyonya janda yang baik hati itu membimbing Kim Nio dan mereka lalu duduk di atas rumput di bawah sebatang pohon.

Bergantian mereka saling menuturkan riwayat masing-masing sehingga Kim Nio kini tahu akan riwayat Kong Lee, sedangkan ia sendiri lalu menuturkan riwayatnya tanpa menyebut tentang suaminya dan tentang pelanggaran yang ia lakukan sebagai seorang isteri yang melarikan diri dengan laki-laki lain!

“Berapakah usia anakmu itu Peh-bo? Dan apakah dia telah ... kawin?” Kwee Cin Hwa tersenyum.

“Anak bodoh! Kalau ia sudah kawin tentu aku takkan telantar seperti keadaanku sekarang ini. Ia telah berusia dua puluh satu, belum kawin tapi sudah kutunangkan dengan seorang gadis cantik!”

Kim Nio menggunakan sapu tangannya, untuk mengusap peluh dari mukanya sehingga muka yang cantik itu tertutup sapu tangan, kemudian nona baju hijau itu menggunakan kekerasan hatinya untuk menekan perasaan perih dan hatinya yang berdebar-debar mendengar bahwa Kong Lee telah ditunangkan dengan gadis lain. Pantas saja pemuda itu menolak cintanya.

“Ah, kalau begitu kau beruntung sekali, Peh-bo. Begitu dapat bertemu dengan puteramu, kau tentu segera melangsungkan perkawinannya!” kata Kim Nio dengan mulut tersenyum, tapi bibirnya gemetar dan hatinya perih.

Muka Kwee Cin Hwa berseri.

“Itulah yang kuharapkan! Akan tetapi Kong Lee sendiri belum tahu bahwa ia telah kutunangkan dengan gadis keluarga Thio itu!”

“Siapakah gadis itu, Peh-bo? Cantikkah ia?” Kim Nio bertanya secara sambil lalu. Nyonya janda itu lalu menuturkan tentang keadaan keluarga Thio yang kaya raya di kota Lam-sai dan ia menuturkan pula tentang pengalaman suami dan puteranya dengan Thio Sui Kiat, Kim Nio mendengarkannya dengan heran dan kagum. “Maaf, Peh-bo. Kalau begitu, menurut pendapatku yang bodoh, Thio Sui Kiat itu adalah musuh keluargamu. Mengapa kau bahkan mengikatkan diri dengan mereka sebagai besan? Ini benar-benar aneh sekali bagiku, Peh-bo.”

“Memang demikian, anak. Kalau didengar begitu saja memang menimbulkan heran seakan-akan aku membaiki musuh. Padahal Thio Sui Kiat itu tak dapat disebut musuh. Ia kalahkan suamiku dalam sebuah pibu yang adil dan suamiku meninggal dunia karena selalu keras hati dan menyiksa hati sendiri. Bahkan sebelum mendiang suamiku menutup mata ia telah meninggalkan pesan supaya aku dan anakku tidak menaruh dendam kepada Thio Sui Kiat. Kemudian ternyata bahwa anakku Kong Lee itu pergi mencari kepandaian Thio-wangwe dan dikalahkan. Akan tetapi Thio- wangwe tidak benci kepadanya, bahkan mengajukan usul untuk menjodohkan gadisnya dengan anakku itu. Bukankah ini menunjukkan betapa bijaksananya Thio Sui Kiat dan isterinya? Pula, gadisnya yang bernama Thio Eng itu selain cantik jelita, juga pandai ilmu silat sehingga kurasa sudah pantas menjadi isteri puteraku.”

Ketika berbicara demikian, nyonya janda itu memandang ke arah awan yang berarak di angkasa sehingga ia tidak melihat sinar kemarahan yang menjalar di muka Kim Nio yang menjadi merah. Akan tetapi Kwee Cin Hwa tidak tahu sama sekali bahwa sedikit sinar keinsyafan dan kebaikan yang tadi menguasai hati Kim Nio, kini telah lenyap dan buyar bagaikan awan tipis, tertiup angin. Hatinya telah menjadi kotor lagi penuh dengan dendam dan sakit hati. Ia mencintai Kong Lee dengan sepenuh hati, tapi pemuda itu menolaknya, bahkan menghinanya dan kini dari ibu pemuda itu ia mendengar bahwa pemuda itu telah bertunangan dan betapa gadis tunangannya itu dipuja-pujanya!

Hm, kalau aku tidak bisa mendapatkan pemuda itu, maka wanita lain pun jangan harap akan bisa mendapatkannya, demikian hatinya berbisik!

“Peh-bo, biarpun aku sebatang kara, namun aku mempunyai seorang suheng yang baik hati. Kalau tidak ada dia yang selalu menolongku, entah bagaimana jadinya dengan aku. Sekarang kita berdua tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan hal ini tidak baik bagi wanita-wanita seperti kita. Maka kalau kiranya Peh bo tidak keberatan mari kita untuk sementara tinggal bersama suhengku itu sekalian mencari anakmu.

Siapa tahu, kita akan bertemu di jalan, dan jika tidak bertemu kiranya suheng yang mempunyai banyak kawan tentu akan membantu mencari. Ia telah banyak pengalamannya dan kenalannya di dunia kang-ouw. Dengan bantuannya maka takkan sukar kiranya mencari di mana adanya puteramu itu.”

Tentu saja nyonya janda itu merasa girang sekali dan segera menyatakan persetujuannya. Mereka lalu berangkat menuju ke hutan di mana Pauw Kian Si Iblis Tangan Hitam bersarang, sehingga Kim Nio sengaja membawa ibu ini menjauhi anaknya karena Kong Lee baru saja meninggalkan tempat itu sehingga arah perjalanan ibu dan anak itu berlawanan!

Memang demikianlah, segala keputih-bersihan hati nurani manusia selalu berubah kotor dan hitam, dinodai oleh perasaan-perasaan perseorangan berupa dendam, sakit hati, iri hati, dan lain-lain yang terdorong semata-mata oleh nafsu mementingkan kesenangan hati sendiri!

Setelah meninggalkan Kim Nio, Kong Lee melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Bi-ciu. Ketika ia tiba di sebuah dusun ia mengambil kamar di tempat penginapan dan segera membuka-buka buku tebal yang diambilnya dari pondok keluarga gila dahulu itu. Ia ingin sekali mengetahui keadaan dan riwayat mereka.

Ternyata bahwa buku itu terbagi menjadi dua. Di bagian depan terdapat catatan harian yang ditulis dengan tangan dan tulisannya berbentuk indah sekali. Hanya seorang terpelajar tinggi yang dapat membuat tulisan seindah itu. Dan yang setengah buku lagi ternyata berisi pelajaran ilmu silat yang aneh sekali gerakan-gerakannya. Kong Lee terkejut dan girang sekali karena kitab yang dibawanya itu ternyata selain kitab catatan yang merupakan riwayat hidup ketiga orang gila itu, juga merupakan kitab pelajaran ilmu silat yang luar biasa dan yang kehebatannya telah dikenalnya sendiri!

Ia merasa malu karena ia telah mencuri kitab pelajaran orang lain, tapi kemudian timbul pikirannya bahwa biarpun ia mencuri kitab pelajaran, namun jika itu dibiarkan berada di tangan ketiga orang gila itu, tentu akan berbahaya sekali jika terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Maka ia membatalkan keinginan hatinya yang tadi untuk mengembalikan kitab itu. Pula bagaimana ia dapat mengembalikan kitab itu? Untuk memasuki hutan itu lagi saja ia tidak berani karena tahu akan bahaya hebat yang mengancamnya. Maka ia lalu mulai menelaah lembaran-lembaran kitab itu.

Semenjak membaca halaman pertama, ia telah menjadi demikian tertarik sehingga ia harus membaca habis riwayat itu sampai pagi!

Catatan harian yang disusun rapi sekali itu ternyata merupakan riwayat yang lengkap dari ketiga orang gila yang dipanggil Raja dan Ratu Gila serta putera mereka yang disebut Pangeran Gila.

Orang gila yang sekarang disebut Raja Gila itu dulunya adalah seorang pangeran yang berpengaruh di kota raja bernama Leng Tin Ong. Pengaruhnya demikian besarnya sehingga ia ditakuti serta disegani oleh para pembesar dan pangeran lain karena selain orangnya jujur dan keras hati, juga ia memiliki kepandaian tinggi sekali, karena ia adalah anak murid langsung dari Jing Li Tosu dari Kun-lun-san. Beberapa puluh tahun yang lalu ketika putera tunggalnya yang bernama Leng Ki Pok baru berusia tiga belas tahun, terjadilah malapetaka menimpa keluarga bangsawan ini.

Ketika itu kedudukan Leng Tin Ong sangat kuat dan ia disegani, bahkan mendapat penghormatan dan kepercayaan dari Kaisar sendiri. Pada masa itu, di dalam istana sedang terjadi perebutan kekuasaan dan di antara sekian banyak bangsawan yang memperebutkan kedudukan terdapat seorang pangeran bernama Beng Hwat Ong. Pangeran ini juga sangat berpengaruh karena adik perempuannya menjadi permaisuri ketiga dari Kaisar. Diam-diam Pangeran ini mengandung niat untuk merebut tahta kerajaan dan semua pembesar yang berhati khianat telah menjadi kaki tangannya.

Akan tetapi, rahasia ini diketahui oleh Leng Tin Ong yang jujur tentu saja hal ini merupakan ancaman besar bagi Beng Hwat Ong. Karena kalau Pangeran Leng Tin Ong ini menghalangi niatnya maka akan gagallah usaha dan maksudnya. Maka dimintalah pertolongan kepada seorang tosu yang terkenal memiliki ilmu hitam dan sihir serta berkepandaian silat tinggi pula. Tosu ini datang dari Tibet dan bernama Bong Ki Tosu.

Atas nasihat Bong Ki Tosu yang tidak berani secara terang-terangan melawan Leng Tin Ong yang berkepandaian tinggi itu, maka dengan tipu muslihat licik Beng Hwat Ong membujuk Leng Tin Ong untuk mengunjungi sebuah hutan di mana katanya hendak didirikan sebuah istana tempat beristirahat. Ia minta kepada Leng Tin Ong untuk memberi pandangan tentang rencananya itu.

Leng Tin Ong adalah seorang jujur maka ia mudah saja masuk ke dalam perangkap ini. Ia segera mengajak anak isterinya naik sebuah kendaraan dan bersama-sama Beng Hwat Ong masuk ke dalam hutan itu. Karena selain memiliki kepandaian silat tinggi, Leng Tin Ong juga seorang sastrawan yang mengerti tentang ilmu melihat hongsui, yakni memilih tempat yang baik dan yang mengandung pengaruh baik untuk bangunan yang hendak didirikan, maka Pangeran ini dengan sungguh-sungguh hati lalu memilihkan sebuah tempat di tengah hutan yang dikelilingi tetumbuhan berbunga indah dan penuh rumput-rumput hijau yang menyedapkan mata. Beng Hwat Ong menjadi girang sekali dan untuk menyatakan terima kasihnya, ia lalu mengadakan hidangan dan jamuan di tengah hutan.

Leng Tin Ong sama sekali tidak menyangka bahwa seorang tosu jahat telah bersembunyi di hutan itu, yakni Bong Ki Tosu. Ketika sedang makan minum dengan gembira, di dalam minuman arak telah dicampurkan obat oleh tosu itu. Obat ini terbuat dari semacam tetumbuhan yang hanya terdapat di puncak pegunungan Tibet dan yang meminum obat ini, akan menjadi gila. Zat-zat dari tetumbuhan yang terdapat di obat itu akan merusak urat-urat syaraf dan mendatangkan kegilaan yang tak mungkin dapat diobati lagi.

Biarpun Leng Tin Ong berkepandaian tinggi dan juga isterinya memiliki kepandaian tinggi pula karena sebenarnya ia adalah sumoinya atau adik seperguruannya sendiri, namun pengaruh obat itu tak dapat dilawannya. Mereka berdua dan putera mereka yang juga tidak luput dari keganasan Beng Hwat Ong dan kaki tangannya lalu roboh dan pingsan!

Beng Hwat Ong pura-pura merasa bingung dan segera mengirim laporan kepada pembesar setempat untuk memberi pertolongan. Akan tetapi, ketika sadar dari pingsannya, Leng Tin Ong dan isterinya mengamuk seperti kerbau gila karena mereka telah berubah ingatan dan menganggap setiap orang menjadi musuh mereka! Semua yang tampak dimusnahkannya, bahkan di dalam amukannya ia telah berhasil membunuh Beng Hwat Ong. Dan yang membuat semua orang segera lari dengan penuh ketakutan dan ngeri ialah ketika mereka melihat betapa Leng Tin Ong dan anak isterinya lalu menyerbu mayat Beng Hwat Ong dan ... memakannya!

Demikianlah kehebatan pengaruh obat yang diberikan oleh Bong Ki Tosu itu! Si Tosu sendiri ketika melihat bahwa muslihatnya mendatangkan peristiwa yang sangat hebat dan mengerikan itu, segera angkat kaki dan lari!

Setelah mengamuk Leng Tin Ong dan isterinya lalu jatuh pulas dan mendengkur di tengah hutan. Di dekatnya terdapat sisa-sisa tubuh Beng Hwat Ong dalam keadaan mengerikan sekali. Juga putera mereka meringkuk tidur dengan nyenyaknya.

Ketika terjaga dari tidurnya, Leng Tin Ong yang sebetulnya telah memiliki lwee-kang yang sangat tinggi, dengan samar-samar dapat mengingat kembali peristiwa tadi melihat sisa mayat Beng Hwat Ong. Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga batinnya untuk melawan pengaruh hebat yang merusak pikirannya. Ternyata obat itu keras sekali dan ketika mereka siuman dari pingsan tadi, obat sedang bekerja hebat sehingga ia menjadi gila dan ganas. Tapi sekarang setelah dapat mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh itu, Leng Tin Ong dapat mengingat kembali peristiwa yang terjadi dan ia merasa menyesal sekali. Ia tahu lalu membangunkan isterinya dan bersama-sama mereka bersamadhi untuk melawan pengaruh racun yang merusak urat syaraf mereka. Kemudian mereka lalu mengubur jenazah itu.

Karena peristiwa itu, Leng Tin Ong merasa malu dan tidak berani kembali ke kota raja. Ia maklum bahwa racun telah merusak urat-urat syaraf di kepalanya dan ia dapat menduga dengan penuh kecemasan bahwa lambat laun pikirannya akan rusak sama sekali. Oleh karena itu ia lalu mengeluarkan sebuah kitab kosong yang selalu dibawanya karena untuk keperluan perjalanan memilih tanah itu iapun membutuhkan kertas tulis dan alat-alat tulis.

Setiap hari, sambil mengerahkan lwee-kang untuk melawan pengaruh racun yang makin kuat mendesaknya ke arah kurang kegilaan, Leng Tin Ong menuliskan riwayatnya di dalam kitab itu, bahkan ia lalu menuliskan semua ilmu silat yang dimilikinya. Akan tetapi karena otaknya sudah kurang waras entah bagaimana, ilmu silat yang pada dasarnya adalah cabang dari Kun-lun-pai itu, kini menjadi tercampur dengan gerakan-gerakan aneh yang hanya dapat diciptakan oleh seorang gila!

Pangeran yang gila ini hanya dapat mempertahankan desakan racun itu untuk kurang lebih setahun saja, bahkan isterinya hanya dapat bertahan sampai sembilan bulan.

Setelah itu, mereka benar-benar menjadi gila dan buas, melebihi binatang hutan yang paling buas! Ada pun putera mereka, Leng Ki Pok, pada hari setelah minum racun itu, terus saja menjadi gila dan tak dapat diobati lagi! Demikianlah, untuk puluhan tahun mereka bertiga merupakan keluarga gila yang aneh sekali.

Pernah Kaisar mengirimkan utusan untuk membujuk mereka kembali, akan tetapi para utusan ini bahkan diamuk oleh mereka dan hampir saja menjadi korban!

Semenjak itu, nama mereka terkenal sekali dan ditakuti oleh semua orang, karena mereka memiliki tenaga yang luar biasa dan kepandaian yang sangat tinggi.

Ketika utusan Raja datang mereka disambut oleh Leng Tin Ong dengan tertawa berkakakan dan berkata, “Kalian diutus Raja? Ha, ha, ha! Siapa Raja? Lihatlah, akulah Raja, ini permaisuriku yang harus disebut Ratu dan ini adalah anakku yang harus kalian sebut Pangeran!”

Semenjak itu, mereka disebut Raja Gila, Ratu Gila dan Pangeran Gila!

Memang telah ada beberapa ksatria yang mendatangi mereka, akan tetapi semuanya dipukul mundur dan tak kuat menghadapi serbuan mereka yang benar-benar hebat itu! Di dalam kegilaannya Leng Tin Ong masih memiliki sifat manusia. Ia dan isterinya mendirikan pondok dan bahkan mengajar silat kepada puteranya. Yang sangat mengherankan ialah bahwa ilmu silat mereka semenjak mereka gila menjadi semakin hebat dan berbahaya, karena sifat-sifat yang gila itu mendatangkan daya cipta baru yang aneh dan mengerikan.

Semalam suntuk Kong Lee membaca catatan-catatan yang merupakan riwayat ini dan bulu tengkuknya berdiri karena ngeri. Ia dapat membayangkan betapa hebatnya penderitaan mereka, karena semenjak Pangeran Gila berusia tiga belas tahun sampai sekarang telah berusia sedikitnya empat puluh tahun, mereka selalu berada di dalam hutan dalam keadaan gila! Akan tetapi, apakah betul mereka menderita? Mungkin karena itu sudah tidak kenal lagi akan apa yang disebut penderitaan oleh orang-orang waras!

Karena merasa ngantuk sekali, Kong Lee lalu tertidur di waktu matahari telah mulai muncul. Baru tengah hari ia bangun. Setelah mengisi perutnya, ia lalu membalik- balikkan lembaran yang berisi pelajaran silat. Ia merasa mendapat kesukaran untuk mengikuti dan mengerti isi pelajaran yang hebat ini, di mana terdapat gerakan- gerakan yang demikian aneh dan tak mungkin dilakukan oleh orang waras! Akan tetapi, berkat kecerdikannya, akhirnya pemuda ini dapat juga menangkap maksud penulisnya dan mulai terbukalah matanya untuk mengerti akan pelajaran silat yang ganas dan aneh ini. Ia mulai bersilat mengikuti petunjuk-petunjuk di situ dan alangkah girangnya ketika ia merasa betapa ilmu silat itu memang hebat, aneh, dan luar biasa.

Justeru gerakan-gerakan aneh dan yang juga agaknya tak mungkin dapat disebut orang bersilat jika digerakkan itu akan membuat lawan menjadi bingung dan tak dapat menduga perubahan-perubahan yang terdapat di dalamnya!

Oleh karena itu, maka dengan tekun sekali Kong Lee mempelajari ilmu silat baru ini sambil melanjutkan perjalannya menuju ke kota Bi-ciu. Dan karena berjalan sambil seringkali berhenti mempelajari ilmu silat ini, baru tiga bulan kemudian ia tiba di Bi- ciu.

Hatinya berdebar dan kerongkongannya serasa tercekik karena keharuan hatinya. Bagaimanakah keadaan ibunya? Sudah tuakah dia? Ia masih ingat benar akan jalan di kota itu yang ternyata tidak terdapat banyak perubahan. Hanya kini banyak rumah- rumah baru didirikan orang sehingga keadaan kota itu bertambah ramai.

Akan tetapi, alangkah kecewa dan sedihnya ketika ia mendapatkan rumah ibunya telah kosong!

Ia bertanya kepada para tetangga yang segera dapat mengenalnya, akan tetapi tetangganya itupun hanya dapat memberitahu bahwa ibunya telah pergi kira-kira setahun yang lalu. Tak seorang pun tahu ke mana perginya. Hal ini tentu saja merupakan pukulan berat bagi Kong Lee. Ia lalu membersihkan rumah tua itu dan mengambil keputusan untuk menanti kembalinya ibunya sambil mempelajari ilmu silat baru yang sangat menarik hatinya.

Demikianlah, setelah Nyonya Lim menanti-nanti kembalinya Kong Lee sampai bertahun-tahun lamanya, kini anaknya itulah yang menanti-nanti di situ menunggu kedatangannya!

Kong Lee sekarang berbeda dengan Kong Lee dulu ketika masih berusia tiga belas tahun. Kalau menurutkan hatinya pada saat itu juga ia ingin pergi ke Lam-sai untuk mencari Thio Sui Kiat. Akan tetapi kini ia telah dapat mengekang dorongan nafsunya dan ia mengambil keputusan untuk menanti lebih dulu kembalinya ibunya dan memberitahu ibunya akan maksudnya mengajak pibu kepada Thio Sui Kiat.

Sementara itu, dengan tekun sekali ia mempelajari ilmu silat yang didapatnya dari buku pelajaran Raja Gila sehingga ia telah dapat memainkan setengah bagian dari isi kitab itu. Akan tetapi, setelah menanti sampai hampir setengah tahun, belum juga ibunya datang!

Akhirnya ia menjadi putus asa dan mengambil keputusan hendak pergi menyusul ibunya! Ia hendak merantau mencari orang tua itu. Akan tetapi, terlebih dulu ia hendak mengunjungi Thio Sui Kiat di Lam-sai.

Kong Lee melihat bahwa keluarga Thio itu masih sama seperti dulu. Dan seperti dulu pula, kedatangannya disambut oleh seorang pelayan.

“Kongcu ada keperluan apa dan hendak bertemu dengan siapa?” tanya pelayan itu dengan hormat.

“Tolong beritahukan kepada majikanmu bahwa seorang she Lim minta bertemu sebentar,” jawab Kong Lee.

Pemuda itu dipersilakan duduk menunggu di ruang depan dan pelayan itu lalu masuk ke dalam. Kong Lee merasa yakin bahwa kali ini tentu ia akan dapat menebus kekalahan ayahnya dan kekalahannya dulu!

Ketika Thio Sui Kiat keluar, Kong Lee segera mengenalinya, karena orang tua ini tidak berubah, hanya rambut di atas telinganya saja nampak keputih-putihan dan jenggotnyapun telah berwarna dua. Akan tetapi, Thio Sui Kiat tidak dapat mengenal Kong Lee, maka orang tua itu lalu menjura dengan hormat sambil berkata, “Tuan yang terhormat datang dari mana dan ada urusan apa?”

Kong Lee tersenyum.

“Lo-enghiong tentu telah lupa kepadaku, aku adalah Lim Kong Lee ... ” “Kau ... ??”