-->

Pendekar Pemabuk Jilid 11

Jilid 11

Bab 33 ...

SUMBU ini menyala agak lama dan selama itu Cui Giok masih terheran-heran melihat sinar indah di ujung kanan itu. Ia mendekati dan mencongkel tanah dengan pedangnya. Makin indahlah sinarnya dan tiba-tiba ujung pedangnya menyentuh benda keras yang ternyata adalah batu-batu sebesar telur ayam yang mengeluarkan cahaya luar biasa. Ia tertegun dan maklum bahwa inilah yang dimaksudkan Gwat Kong dahulu itu. Inilah harta pusaka yang tak ternilai harganya.

Batu-batu permata yang masih aseli dan besar-besar. Banyak sekali jumlahnya. Untuk sesaat Cui Giok merasa girang sekali, akan tetapi perasaan itu segera terganti dengan kepahitan ketika ia teringat bahwa ia tak mungkin dapat keluar dari situ.

Setelah api dari sumbunya padam, Cui Giok tidak membuat api lagi dan menanti datangnya siang sambil merebahkan tubuhnya di atas pasir dekat pendaman harta itu. Karena ia merasa amat lelah, maka tak lama kemudian ia tertidur.

Pada keesokan harinya ketika sinar-sinar matahari telah memasuki sumur dan mendatangkan cahaya suram, ia lalu mengeduk batu-batu permata itu. Dengan girang dan heran ia melihat bahwa tempat terpendamnya batu permata itu terdiri dari tanah pasir yang mudah digali dan merupakan terowongan.

Setelah batu-batu itu digali habis dan merupakan tumpukan batu-batu permata yang banyak sekali, ia menggali terus. Terowongan itu menembus tempat kosong. Dengan hati berdebar ia lalu merangkak memasuki terowongan itu dan alangkah herannya ketika ia mendapatkan dirinya berada di tempat terbuka yang terang.

Ia keluar dari terowongan itu dan ketika ia memandang ke depan dan ke bawah, ia merasa pening dan ngeri. Ternyata bahwa tembusan ini membawanya ke lereng gunung yang curam sehingga tanah di bagian bawah merupakan pemandangan yang luar biasa.

Pohon di bagian bawah itu kelihatan seperti rumput saja. Untuk turun dari lereng ini tidak mungkin sama sekali, karena lereng itu dari batu-batu karang yang licin dan tajam, juga terjal sekali. Akan tetapi hatinya agak terhibur karena di dekat lereng itu terdapat banyak tumbuhan, di antaranya bahkan ada pohon-pohon yang berbuah. Hatinya agak terhibur dan penemuan ini merupakan penyambungan umurnya, karena ia tidak akan kelaparan lagi. Memikirkan tentang kelaparan, ia tiba-tiba teringat akan pel pemberian Lo Han Cinjin dan ia lalu masuk kembali ke dalam guha itu untuk makan sebuah pel. Benar saja, rasa laparnya lenyap dan perutnya terasa hangat dan enak.

Kini Cui Giok tidak begitu sedih lagi. Ia mulai bekerja, yakni memperlebar lubang yang menembus ke lereng bukit itu. Cahaya penerangan masuk dari lubang itu membuat dasar sumur itu makin terang dan hawa masuk makin banyak. Tentang penerangan di waktu siang dan hawa udara, ia tidak usah khawatir lagi. Juga tentang makanan, ia tak perlu takut kekurangan. Hanya kegelapan malam masih membuat ia bingung.

Akan tetapi ia mendapat akal juga. Ia melihat burung-burung beterbangan di lereng itu, bahkan ada yang hinggap di pohon-pohon sekitar lereng itu. Dengan mudah ia dapat menangkap burung itu mempergunakan kepandaiannya menyambit dengan batu. Gajih burung itu dapat dipergunakan sebagai bahan bakar yang akan mengawetkan sumbuh buatannya, sehingga ia bisa membuat penerangan di waktu malam.

Demikianlah, dengan ketabahan yang luar biasa sekali, Cui Giok hidup di tempat yang aneh itu sampai berhari-hari, tiada hentinya berusaha mendapatkan jalan keluar, akan tetapi selalu tak berhasil.

****

Kita tinggalkan dulu dara perkasa yang harus dikasihani ini dan marilah kita melihat keadaan Kui Hwa, Tin Eng, Pui Kiat dan Pui Hok. Empat orang muda yang kegelisahaannya mungkin tak kalah besar dari pada kegelisahan yang diterima Cui Giok.

Mereka ini menanti kedatangan Gwat Kong dengan hati tidak keruan. Apalagi kalau teringat akan nasib nona pendekar yang telah menolong mereka.

Akan tetapi, dua hari kemudian, kegelisahaan mereka itu lenyap ketika tiba-tiba Gwat Kong muncul di situ. Pada waktu itu, mereka sedang berjalan di pinggir sungai. Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dengan suara girang,

“Tin Eng       !”

Gadis itu menengok dan       alangkah girangnya melihat bahwa yang memanggil itu bukan

lain ialah Gwat Kong.

“Gwat Kong   ” serunya dan kalau saja di situ tidak ada Kui Hwa dan kedua orang

suhengnya, tentu ia telah berlari menghampiri pemuda itu.

“Bun-taihiap!” Kui Hwa juga berseru dengan bibir terkatup erat dan mata memandang tidak enak, karena bukankah pemuda ini adalah putera dari Bun-tihu yang difitnah oleh ayahnya?

Gwat Kong datang berlari-lari dan karena Tin Eng bukan berada seorang diri, maka pemuda ini lalu menjura kepada mereka yang dibalas sebagai mestinya.

“Mengapa kalian masih berkumpul di sini? Bagaimana tentang     tempat itu?” Ia menengok

ke arah puncak Hong-san yang nampak dari situ. “Sssttt ” kata Tin Eng. Tidak leluasa bicara di sini. Mari kita pergi ke perahu itu!” Ia

menunjuk ke sebuah perahu restoran yang besar dan kebetulan kosong.

Mereka berlima lalu berjalan menuju ke perahu itu. Wajah Tin Eng kemerah-merahan dan matanya berseri-seri tanda bahwa pertemuan ini benar-benar amat menggembirakan hatinya. Kui Hwa ketahui hal ini dan diam-diam ia membenarkan pilihan hati Tin Eng yang amat tampan dan gagah itu. Akan tetapi, Dewi Tangan Maut ini masih saja merasa tidak enak hati.

Perahu besar itu kosong dan Tin Eng lalu memesan kepada pelayan untuk menyediakan makanan dan minuman. Mereka duduk mengelilingi dua meja yang dijejerkan. Tin Eng duduk di sebelah kanan Gwat Kong, sedangkan Kui Hwa mengambil tempat duduk di depan pemuda yang baru datang itu.

“Bagaimana keadaan di sini?” tanya Gwat Kong begitu mereka duduk. “Mengapa kalian masih berada di sini?”

“Gwat Kong,” kata Tin Eng yang tak dapat merobah sebutannya terhadap pemuda itu, biarpun di sini ada orang lain, “Sebelum kami menuturkan lebih jauh, lebih dulu perkenalkanlah dengan kawanku ini!” Ia menunjuk kepada Kui Hwa, “Dia ini adalah enci Tan Kui Hwa Dewi Tangan Maut!”

Berobahlah wajah Gwat Kong mendengar nama orang yang sudah lama diharapkannya untuk bertemu ini. Ia segera bangkit berdiri mengangkat kedua tangannya memberi hormat kepada Kui Hwa.

”Ah, sudah lama aku mendengar nama lihiap yang menggemparkan dunia kang-ouw. Sungguh kebetulan bahwa saat ini aku dapat bertemu muka.”

Kui Hwa juga sudah berdiri dan dengan senyum dingin ia berkata,

“Tentu saja taihiap mengharapkan pertemuan untuk dapat melampiaskan dendam dan sakit hati taihiap, bukan?”

“Enci Kui Hwa! Jangan berkata begitu!” kata Tin Eng yang bangkit berdiri. Gwat Kong tersenyum lalu duduk kembali.

“Tan-lihiap, kalau urusan lama di bongkar dan permusuhan lama dibangkit-bangkit, maka kiranya dari pihakmulah datangnya, bukan dari pihakku. Aku sudah menganggap habis persoalan lama itu dan sudah kupendam.”

Kui Hwa memandang kepada wajah yang tampan itu dengan sinar mata kurang percaya dan terharu, lalu menjadi kagum dan bertitiklah dua butir air mata dari kedua matanya. Ia menundukkan matanya dan berkata perlahan,

“Bun-taihiap, ternyata kau bijaksana sekali, seperti mendiang ayahmu, tidak seperti aku yang jahat seperti mendiang ayahku. Aku hanya bisa mohon ampun atas dosa-dosa ayahku terhadap ayahmu ” “Ah, Tan-lihiap, mengapa berkata begitu? Urusan orang tua kita bukanlah urusan kita. Kalau ayahmu masih hidup, itu lain lagi barangkali. Akan tetapi antara kau dan aku tidak ada sesuatu, bahkan ada pertalian persahabatan seperti buktinya sekarang kita bertemu di antara kawan-kawan di tempat ini. Duduklah dan jangan sungkan-sungkan, kita di antara kawan sendiri.”

“Sumoi, kata-kata Bun-taihiap benar. Alangkah baiknya kalau permusuhan lama dirobah menjadi persahabatan!”

Kui Hwa duduk kembali, menyusut air matanya lalu tersenyum dan berkata, “Maaf, aku telah berlaku seperti anak kecil.”

Pada saat itu, kembali perahu itu miring dan bergoyang dan masuklah Tong Kak Hwesio sambil tersenyum-senyum. Ia mengerling ke arah lima orang muda yang duduk bercakap- cakap. Kemudian tanpa banyak cakap, ia lalu mengambil tempat duduk di meja dekat mereka, di sebelah belakang kursi yang diduduki oleh Gwat Kong. Di situ ia duduk memesan makanan lalu bersedakap sambil tersenyum menyeringai dan kedua matanya memandang kepada Kui Hwa dan Tin Eng berganti-ganti, seakan-akan anak kecil memandang dua barang permainan yang indah menarik.

Gwat Kong mengerutkan alis matanya dan memandang kawan-kawannya. Akan tetapi kawan- kawannya tidak memberikan reaksi apa-apa atas kehadiran hwesio itu. Maka Gwat Kong lalu menggunakan ibu jari tangannya digerakkan ke arah di mana hwesio itu duduk sambil bertanya kepada kawan-kawannya,

“Apakah kalian kenal dia?”

Kui Hwa yang duduk di depannya menjawab,

“Tidak, dan sudah lama dia selalu mendekati kami. Akan tetapi karena dia tidak berkata atau melakukan sesuatu, maka kami mendiamkannya saja.”

“Kalau begitu, biarlah jangan perhatikan dia dan anggap saja dia seperti patung penjaga keselamatan kita!” kata Gwat Kong dengan suara mengejek.

Hwesio itu masih duduk diam, akan tetapi tidak menyeringai lagi dan mukanya menjadi merah, sedangkan matanya memancarkan cahaya merah. Tiba-tiba Gwat Kong merasa betapa tempat duduknya terdorong dari belakang. Ia tahu bahwa ini adalah perbuatan hwesio itu.

Tempat duduknya menempel pada kaki meja yang berada di depan hwesio itu. Dan agaknya hwesio itu menggunakan kekuatan lweekangnya yang disalurkan pada kaki untuk mendorong meja di depannya sehingga kaki meja itu mendorong bangku yang diduduki Gwat Kong.

Tenaga dorongan itu besar sekali dan kalau didiamkan saja tentu Gwat Kong akan terdorong ke depan dan meja di depannya akan terguling menimpa kawan-kawannya. Akan tetapi dengan tenang dan masih tersenyum, Gwat Kong mengerahkan lweekangnya sehingga bangku yang didudukinya itu sampai berbunyi bagaikan ditindih oleh benda yang amat berat.

Tong Kak Hwesio terkejut sekali ketika tiba-tiba meja yang didorong dengan kakinya itu berhenti bergerak, bahkan tenaganya mental kembali. Ia merasa penasaran dan memperkuat tenaganya. Akan tetapi makin keras ia mendorong, makin besar pula tenaganya mental kembali. Dan tiba-tiba “krek!” meja di depannya patah membuat meja itu terdorong hendak menimpanya.

“Meja bobrok!” katanya sambil menekan meja itu sehingga pecah. Kemudian tanpa berkata sesuatu, ia meninggalkan ruangan itu.

Kui Hwa, Tin Eng dan kedua saudara Pui menjadi heran sekali melihat kejadian ini, akan tetapi Gwat Kong hanya tersenyum saja.

“Nah, sekarang ceritakanlah semua pengalamanmu!” kata Gwat Kong kepada Tin Eng. Ia merasa heran dan khawatir ketika tiba-tiba melihat wajah Tin Eng menjadi muram.

“Telah terjadi malapetaka hebat sekali,” kata gadis itu. “Gwat Kong, benarkah kau menyuruh seorang gadis cantik untuk mewakilimu datang membantu kami?”

“Benar!” kata Gwat Kong tanpa ragu-ragu lagi. “Dia adalah nona Sie Cui Giok ahli pedang Im-yang Siang-kiam-hoat. Di mana dia sekarang?”

“Dia ... dia ...” dan tiba-tiba Tin Eng menangis. Bukan main kagetnya hati Gwat Kong melihat hal ini. “Tin Eng! Apa yang telah terjadi dengan Cui Giok?”

Kalau Tin Eng tidak sedang terharu memikirkan nasib Cui Giok, tentu ia akan cemburu juga mendengar betapa pemuda itu menyebut nama Cui Giok begitu saja dan melihat betapa pemuda itu menjadi pucat karena mengkhawatirkan keselamatan gadis itu. Akan tetapi ia sendiri sedang amat terharu dan dengan suara terputus, kadang-kadang dibantu oleh Kui Hwa, Tin Eng lalu menceritakan semua pengalamannya.

Mendengar betapa Cui Giok terjerumus ke dalam jurang pada seminggu yang lalu oleh seorang raksasa liar bernama Badasingh, Gwat Kong menjadi terkejut sekali.

“Celaka!” serunya dengan pucat. “Dia datang ke sini karena aku minta padanya. Kalau ia tewas, berarti aku yang mendatangkan kematiannya. Tin Eng, aku harus pergi ke sana sekarang juga untuk mencekik leher siluman raksasa itu.”

Sambil berkata demikian, Gwat Kong bangkit berdiri dari bangkunya, akan tetapi Pui Kiat dan Pui Hok lalu menyambarnya.

“Tenang dulu, Bun-taihiap. Memang kita harus berusaha membunuh raksasa jahat itu. Tidak saja untuk membalaskan dendam Sie-lihiap, akan tetapi juga untuk menghindarkan rakyat dari bencana. Badasingh ini benar-benar jahat.”

Kemudian mereka menceritakan betapa raksasa hitam itu telah menculik wanita dan kalau saja tidak datang mereka dan Huang-ho Sam-kui, entah bagaimana jadinya dengan nasib wanita itu. “Bahkan sumoi dan Liok-lihiap inipun hampir saja celaka ditangannya, kalau saja tidak datang Sie-lihiap yang bernasib malang itu.” Maka kembali mereka menceritakan pengalaman mereka ketika Cui Giok datang membantu.

“Guha Kilin adalah guha yang amat berbahaya, Bun-taihiap. Di dalamnya terdapat sumur yang tak terukur dalamnya. Dan di situlah Sie-lihiap terjerumus karena tertipu oleh Badasingh. Kalau tidak bisa memancing keluar raksasa itu, sukar untuk mengalahkannya. Apabila ia telah berada di dalam guha Kilin, tak mungkin menyerangnya.”

Mereka lalu menceritakan betapa sia-sia mereka yang dibantu oleh Huang-ho Sam-kui mengeroyok setelah raksasa itu bersembunyi di guha Kilin.

Sementara itu, makanan yang dipesan dihidangkan oleh pelayan, akan tetapi sukar sekali bagi Gwat Kong untuk menelan nasi melalui kerongkongannya. Hatinya penuh kesedihan karena mengingat akan nasib Cui Giok. Terbayanglah semua pengalamannya ketika ia masih bersama-sama dengan gadis pendekar itu.

Teringatlah ia akan kata-kata nelayan tua yang menceritakan betapa Cui Giok merawat dan menjaganya sampai tiga malam tidak tidur dan hampir tidak makan ketika ia jatuh sakit.

Teringat akan hal ini semua, sambil menghela napas Gwat Kong menunda sumpitnya dan duduk termenung dengan wajah muram.

“Aku harus bunuh jahanam Badasingh itu. Aku harus membunuhnya sekarang juga!” Sambil berkata demikian, Gwat Kong lalu bangkit berdiri dari tempat duduknya dan melompat ke darat.

“Gwat Kong !” Tin Eng berseru memanggil dengan isak tertahan.

Mendengar suara ini, Gwat Kong menahan kakinya, berpaling dan berkata,

“Tin Eng, marilah kau ikut ke puncak Hong-san. Kita bersama membalas sakit hati yang hebat ini!”

Keduanya lalu berlari cepat dan tiga orang anak murid Hoa-san-pai itu setelah membayar makanan juga lalu berlari menyusul.

Lima orang muda itu tidak tahu bahwa pada saat itu, mereka telah didahului oleh Tong Kak Hwesio yang berlari-lari seorang diri naik ke puncak Hong-san, kemudian oleh tiga Huang-ho Sam-kui yang juga berlari naik ke puncak sambil membawa senjata dayung mereka.

Mengapa Tong Kak Hwesio berlari-lari cepat menuju ke puncak Hong-san? Dan mengapa pula Huang-ho Sam-kui berlari-lari naik ke Hong-san sambil membawa dayung mereka dan dengan muka kelihatan marah?

Sebetulnya ketika Gwat Kong bercakap-cakap dengan kawan-kawannya di perahu tadi, Tong Kak Hwesio tidak pergi jauh dan masih memasang telinga mendengarkan di luar pintu. Ia mendengar tentang harta pusaka dan tentang Badasingh yang menjaga guha itu, maka timbullah hati ingin mencari sendiri harta pusaka itu. Di dalam kesombongannya ia tidak memandang sebelah mata kepada Badasingh yang dianggapnya seorang kasar yang liar dan bertenaga besarnya. Maka ia ingin mendahului rombongan Gwat Kong itu, mendahului naik ke Hong-san dan kalau mungkin mendapatkan harta pusaka.

Sementara itu, Huang-ho Sam-kui, tiga kepala bajak dari sungai Huang-ho itu, juga mempunyai alasan yang kuat untuk naik ke Hong-san dengan marah-marah karena malam tadi Badasingh yang merasa sakit hati kepada mereka atas penyerangan mereka bersama Kui Hwa dan kawan-kawannya, diam-diam mendatangi sarang mereka dan berhasil menculik isteri Louw Lui dan di bawa lari ke puncak Hong-san.

Tong Kak Hwesio, bekas murid Kun-lun-pai itu, ketika tiba di depan guha Kilin, segera berteriak dengan sombongnya,

“Badasingh, siluman keparat! Keluarlah kau untuk berlutut di depan tokoh Kun-lun-pai, baru pinceng mau memberi ampun!”

Badasingh sedang berada di guha sebelah guha Kilin. Ketika mendengar suara tantangan ini segera keluar menyeret rantai bajanya. Melihat seorang hwesio muda berdiri dengan hanya bersenjata sehelai sabuk sutera, ia menjadi marah sekali.

“Bangsat gundul, kuremukan kepalamu yang licin!” serunya dan ia segera menyerbu.

Sementara itu, ketika menyaksikan kehebatan raksasa itu, diam-diam Tong Kak Hwesio menjadi terkejut sekali dan lenyaplah sebagian besar kesombongannya. Akan tetapi, ia terpaksa menyambut serangan raksasa itu dengan sabuknya. Biarpun senjatanya hanya sabuk lemas, akan tetapi berkat lweekangnya yang tinggi, sabuk itu bisa digerakkan menjadi sebatang senjata yang kaku. Juga ia tidak takut untuk menangkis senjata lawannya yang berat karena sabuk sutera itu takkan rusak terkena rantai.

Akan tetapi, ia segera merasa terkejut sekali karena serangan lawannya benar-benar hebat sekali. Ternyata raksasa ini bukanlah sebagaimana yang ia sangka, bukan hanya seorang yang mengandalkan tenaga besar akan tetapi memiliki ilmu silat tinggi yang aneh gerakannya. Oleh karena itu, ia mengeluh di dalam hati dan terpaksa mengerahkan seluruh kepandaiannya dan mainkan ilmu silat Kun-lun-pai yang hebat. Namun, betapapun juga ia masih terdesak hebat sebelum melakukan perlawanan dua puluh jurus, bahkan terpaksa ia main mundur.

Akan tetapi Badasingh agaknya tidak mau memberi ampun kepadanya dan mengurungnya dengan rantai baja itu sehingga Tong Kak Hwesio menjadi kewalahan sekali. Ketika rantai baja itu bergerak bagaikan seekor naga menyambar ke arah lehernya, Tong Kak Hwesio mengebutkan sabuknya menangkis dan ketika kedua senjata bertemu, hwesio itu lalu melepaskan sabuknya yang segera melibat rantai itu.

Mereka saling betot, tidak ada yang mau mengalah dan dalam keadaan yang amat berbahaya itu Tong Kak Hwesio mengirim pukulan dengan tangan kiri sambil melangkahkan kakinya maju. Tangan kirinya dengan gerak tipu Pai-in-chut-sui (Dorong awan keluar puncak) menghantam sekerasnya ke arah dada lawannya. Akan tetapi, Badasingh sama sekali tidak mau berkelit, bahkan lalu memukul pula dengan tangan kirinya dari atas ke arah kepala Tong Kak Hwesio. “Blukkk! “Krakk!” Dua suara terdengar dan tanpa dapat menjerit lagi, Tong Kak Hwesio

yang kepalanya pecah terpukul oleh Badasingh itu roboh tak bernyawa lagi. Adapun pukulannya yang mengenai dada Badasingh hanya membuat raksasa itu meringis kesakitan saja, akan tetapi tidak terluka. Ternyata raksasa ini memiliki kekebalan yang luar biasa sekali.

Badasingh tertawa bergelak-gelak dan bagaikan orang gila ia lalu mengangkat rantai bajanya dan berkali-kali memukul tubuh hwesio ini sehingga remuk semua tulangnya. Kemudian sambil tertawa-tawa ia menendang tubuh itu sehingga melayang dan masuk ke dalam jurang di dekat guha.

Pada saat itu, datanglah Huang-ho Sam-kui di tempat itu. Mereka tidak melihat lagi apa yang menyebabkan iblis itu tertawa-tawa, hanya melihat Badasingh berdiri bertolak pinggang sambil tertawa bergelak-gelak.

“Badasingh, manusia iblis. Kembalikan isteriku!” teriak Louw Lui dengan marah.

Badasingh menundukkan kepala dan memandang kepada tiga kepala bajak itu. Kemudian ia tertawa dan berkata keras,

“Eh, eh, datang lagi tiga orang yang sudah bosan hidup? Ha ha ha! Hari ini aku benar-

benar berpesta pora! Anjing-anjing serigala dibawah jurang yang akan kenyang makan bangkai manusia.” Setelah berkata demikian, ia lalu mengayun rantai bajanya dan menyerang dengan hebatnya.

Huang-ho Sam-kui lalu menggerakkan senjata mereka dan sebentar saja Badasingh dikeroyok tiga oleh Huang-ho Sam-kui yang marah dan menyerang dengan nafsu membunuh itu.

Biarpun dahulu Huang-ho Sam-kui mengeroyok Badasingh bukan hanya mengandalkan tenaga sendiri, akan tetapi dalam keroyokan campuran itu mereka tidak dapat bergerak dengan leluasa. Kini karena hanya bertiga, mereka dapat menjalankan pengepungan lebih rapi lagi, disesuaikan dengan kepandaian mereka. Mereka mengambil kedudukan segi tiga berdasarkan ilmu silat Sha-kak-kun-hoat (ilmu silat segi tiga) dan menyerang dengan teratur sekali. Tiap kali Badasingh mendesak seorang pengeroyok, dua orang lain lalu menyerbu dari kanan kiri. Dengan demikian perhatian raksasa itu terpecah menjadi tiga bagian.

Pertempuran kali ini benar-benar hebat sekali. Badasingh mengamuk bagaikan harimau terluka. Rantai bajanya berputar-putar merupakan pencabut nyawa yang mengerikan. Tiap kali ujung rantainya menyambar lawan yang dapat mengelak, maka ujung rantai itu menyambar batu karang yang pecah berantakan atau kalau mengenai tanah, maka mengebullah debu tebal ke atas.

Ketiga Huang-ho Sam-kui itu jarang berani mengadu senjata. Karena biarpun dayung mereka cukup kuat, akan tetapi tiap kali terbentur oleh rantai baja, selalu telapak tangan mereka tergetar dan panas sehingga banyak bahayanya senjata mereka itu akan terlepas dari pegangan.

Pada saat mereka bertempur dengan seru mati-matian, Gwat Kong dan rombongannya tiba di tempat itu. Mereka berhenti dan menonton pertempuran itu dan Gwat Kong berkata perlahan,

“Hmm, tiga orang itu takkan dapat menang!” “Mereka adalah Huang-ho Sam-kui yang pernah kuceritakan padamu,” kata Tin Eng. Sedangkan kawan-kawan yang lain masih berlari-lari di belakang karena mereka kalah cepat larinya sedangkan Tin Eng karena digandeng tangannya oleh Gwat Kong ketika lari tadi, dapat lari lebih cepat dari biasanya.

“Gwat Kong, lihatlah, guha yang di kiri itu adalah guha Kilin. Di situlah Cui Giok terjerumus. Maka hati-hatilah kau. Jangan sampai Badasingh bersembunyi ke dalam guha itu, karena kalau ia sudah masuk ke situ, sukarlah untuk menyerangnya.”

Gwat Kong mengangguk. “Kau tunggulah saja di sini bersama kawan-kawan lain dan jangan membantuku. Juga Huang-ho Sam-kui itu lebih baik kau panggil saja apabila aku sudah berhadapan dengan raksasa itu.”

Setelah berkata demikian, Gwat Kong mencabut pedang dan sulingnya. Tiba-tiba Tin Eng memegang tangannya dan ketika ia menengok, gadis itu sambil memandang mesra berkata,

“Gwat Kong, hati-hatilah kau!”

Pemuda itu tersenyum dan mengangguk, kemudian sekali ia berkelebat, tubuhnya telah melompat dan berdiri di depan guha Kilin.

”Badasingh, akulah lawanmu dan aku pulalah yang akan menamatkan riwayatmu yang penuh dosa!” katanya nyaring.

Sementara itu, Tin Eng berseru kepada tiga orang pengeroyok itu,

“Sam-wi Tay-ong! Tinggalkanlah siluman itu, biar dihadapi sendiri oleh Kang-lam Ciu-hiap!”

Karena mereka memang sudah merasa kewalahan dan payah menghadapi Badasingh yang benar-benar kosen, ketiga kepala bajak itu lalu melompat mundur dan berdiri di pinggiran menonton. Hendak mereka lihat siapa orangnya yang akan berani menghadapi Badasingh seorang diri saja.

Sementara itu, ketika melihat seorang pemuda dengan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri berdiri di depan guha Kilin, Badasingh menjadi marah sekali.

“Bangsat kecil! Kau akan kubunuh lebih dahulu!” Sambil berkata demikian ia menggerakkan rantai bajanya untuk menghantam kepala Gwat Kong dengan maksud mendesak pemuda itu mundur ke dalam guha agar terjeblos pula ke bawah jurang. Akan tetapi, seperti taktik Cui Giok dulu, pemuda ini tidak mengundurkan diri, bahkan mengelak ke kiri sambil menggeser kaki ke depan lalu menyerang dengan pedangnya.

Badasingh terkejut sekali karena tahu-tahu pedang itu telah menyambar di depan dadanya, maka ia lalu melompat ke samping dan memutar rantainya sehingga senjata yang bergerak bagaikan ular itu menyambar tubuh Gwat Kong dari belakang. Namun kini Badasingh benar- benar menghadapi seorang lawan yang lebih tinggi ilmu kepandaiannya. Disambar oleh rantai dari belakang arah kakinya itu, Gwat Kong tidak menjadi gugup. Dengan ringan sekali, ia melompat ke atas dan terus menyerang lagi. Kini menggunakan sulingnya menotok pundak kiri lawannya. Badasingh melihat datangnya totokan itu hanya dilakukan dengan sebatang suling bambu yang bolong dan tipis. Di dalam hati mentertawakan lawannya dan sambil mengerahkan tenaga dalamnya ke arah pundak, ia hendak menyambut suling itu dengan kekebalannya agar supaya suling itu menjadi patah atau pecah. Akan tetapi ia kecele kalau memandang rendah suling itu.

Ketika ujung suling itu menotok pundaknya, Badasingh mengeluarkan seruan kaget, karena ia merasa betapa suling itu mendatangkan rasa sakit pada pundaknya sehingga menembus ke hulu hatinya. Ia cepat melangkah mundur dan tangan yang memegang rantai baja itu meraba pundaknya yang sakit sekali.

Sebaliknya, Gwat Kong juga terkejut dan diam-diam memuji karena biarpun sulingnya telah menotok jalan darah dengan jitu akan tetapi hanya dapat mendatangkan rasa sakit saja dan tidak mempengaruhi tubuh tinggi besar itu.

Namun Badasingh telah mendapat pelajaran keras dan ia tidak berani memandang rendah lagi. Ilmu silat pemuda ini benar-benar lihai sekali, bahkan lebih lihai dari pada ilmu pedang gadis cantik yang telah terjerumus ke dalam jurang. Maka ia berseru keras sambil putar rantai bajanya untuk mengurung dan membikin jerih lawannya.

Badasingh mendesak Gwat Kong sedemikian rupa dengan maksud agar supaya pemuda itu merobah kedudukannya sehingga ia dapat berputar dan melompat ke dalam guha. Oleh karena kalau ia sudah bisa masuk ke dalam guha Kilin, ia dapat memancing pemuda itu mengikutinya dan menjebaknya ke dalam sumur atau jurang yang dalam itu. Atau setidaknya, kalau usahanya menjebak tidak berhasil, ia dapat bersembunyi di situ tanpa dapat diganggu atau diserang oleh lawannya yang amat lihai ini.

Akan tetapi Gwat Kong telah dapat maklum akan maksud ini karena ia telah diberi tahu tentang rahasia guha itu oleh Tin Eng. Maka sambil mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin- hong Tung-hoat di kedua tangannya, ia memutar pedang dan sulingnya sedemikian rupa sehingga Badasingh tak berdaya sama sekali. Tubuh pemuda ini bagaikan segulung asap bergulung-gulung dan menyelinap di antara sambaran rantai bajanya, mengirim serangan- serangan maut ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Pertempuran sudah berjalan ratusan jurus dan Badasingh yang luar biasa kuatnya itu biarpun sejak tadi didesak hebat, namun masih belum menyerah dan melakukan perlawanan mati- matian. Sudah beberapa kali suling Gwat Kong menotok jalan darahnya dan ujung pedang Sin-eng-kiam melukainya, akan tetapi tubuhnya benar-benar kebal dan kuat sekali sehingga luka-lukanya itu merupakan luka di luar saja yang tidak berbahaya. Pakaiannya telah penuh dengan darahnya sendiri dan kini ia bertempur sambil menggereng-gereng bagaikan seekor binatang buas.

Setelah kehabisan daya dan maklum bahwa kalau dilanjutkan ia akan kalah. Badasingh lalu mengambil keputusan nekad untuk mengajak pemuda ini mati bersama. Ia menyerang dengan sambaran rantainya sedemikian rupa dan ketika Gwat Kong mengelak, ia lalu menubruk sambil pentangkan kedua tangannya.

Gwat Kong terkejut sekali dan cepat menjatuhkan diri ke kiri sambil menggunakan pedangnya masuk ke dalam lambung lawannya. Akan tetapi Badasingh masih dapat miringkan tubuh dan dengan nekad tangannya mencengkeram. Pundak kanan Gwat Kong kena dicengkeram oleh jari-jari tangannya yang berkuku panjang dan raksasa yang telah mendapatkan luka parah itu hendak menyeretnya untuk bersama-sama masuk ke dalam sumur. Gwat Kong berlaku tenang dan cepat mengirim tusukan dengan sulingnya ke arah sambungan tulang pundak lawan.

“Pletak!” remuklah tulang itu dan cengkeraman tangan Badasingh terlepas. Tubuh raksasa itu terhuyung-huyung ke kiri dan roboh di atas tanah tanpa dapat berkutik pula.

Huang-ho Sam-kui dan lain-lain orang menonton pertempuran dahsyat itu sambil menahan napas. Louw Lui telah mencari isterinya dan mendapatkan isterinya yang malang itu rebah pingsan di dalam guha, maka Louw Lui lalu memondongnya dan turun gunung terlebih dulu.

Kini Louw Tek dan Louw Siang serta Tin Eng dan kawan-kawannya berlari menghampiri Gwat Kong. Ternyata Badasingh telah tewas tak bernyawa pula.

Bab 34 ...

TANPA sungkan-sungkan lagi, Tin Eng memegang tangan Gwat Kong.

“Gwat Kong, kau terluka?” tanyanya sambil memeriksa pundak pemuda itu. Baju Gwat Kong di bagian pundak itu robek dan kulit pundaknya matang biru akan tetapi tidak terluka parah.

“Jahanam ini benar-benar kuat,” kata Gwat Kong menghela napas. “Akan tetapi aku puas, sakit hati Cui Giok telah terbalas!”

Louw Tek dan Louw Siang menyatakan kekagumannya terhadap Gwat Kong yang dipuji- pujinya. Kemudian untuk menyatakan kegemasan mereka terhadap Badasingh, dengan dayung mereka sehingga hancur dan mayatnya mereka lemparkan ke dalam jurang di dekat guha, di mana tadi Badasingh melemparkan tubuh Tong Kak Hwesio. Setelah itu, kedua kepala bajak itu lalu pamitan dan meninggalkan tempat itu untuk menyusul adik mereka.

“Kita harus bekerja cepat,” kata Gwat Kong kepada Tin Eng. “Rombongan perwira dari kerajaan tentu akan menyusul kemari dan kalau sampai mereka melihat kita, tentu kita akan menghadapi pertempuran lagi. Pihak mereka itu bukan lawan ringan, karena di antara mereka terdapat Liok-te Pat-mo yang lihai.”

Sambil berkata demikian, Gwat Kong terkenang kepada Cui Giok karena tadinya gadis itu bermaksud mencari Liok-te Pat-mo untuk mengadu kepandaian. Kini gadis itu takkan tercapai pengharapannya, pikirnya sambil menghela napas sedih.

Mereka lalu mengadakan perundingan dan Tin Eng yang hafal akan isi peta yang dibakarnya, lalu memberi keterangan.

“Menurut peta itu,” katanya sambil membuat coretan-coretan di atas tanah. “Memang ditunjukkan bahwa harta terletak di dalam guha Kilin. Akan tetapi ada petunjuk yang menyatakan bahwa jalan masuk untuk mengambil harta itu adalah dari atas, melalui batu karang kembar di sebelah kanan guha Kilin. Melihat keadaan guha ini yang isinya hanya sumur amat dalam, maka tentu jalannya bukan dari situ. Sekarang kita harus mencari batu karang kembar itu.” Ketika mereka mengambil jalan memutar ke sebelah kanan guha itu, benar saja di situ terdapat sepasang batu karang yang sama bentuk dan ukurannya, maka mereka lalu memanjat batu karang itu terus ke atas. Gwat Kong dan Tin Eng berjalan di depan, yang lain di belakang.

Oleh karena petunjuk peta itu menyatakan bahwa tempat harta terletak tepat di guha Kilin, maka dari atas itu mereka lalu merayap naik ke atas guha Kilin. Aneh sekali, tepat di atas guha itu terdapat alang-alang yang hijau dan tinggi, seakan-akan merupakan jambul atau rambut Kilin dan guha itu merupakan mulutnya. Gwat Kong menyingkap rumput alang itu dan di situlah terdapat sebuah batu licin yang bentuknya bulat.

Ia mencoba mengangkat batu itu, akan tetapi amat beratnya sehingga setelah kawan- kawannya membantu, barulah batu itu dapat digeser. Dan ternyata bahwa di bawah batu terdapat sebuah lubang yang lebarnya kira-kira dua kaki persegi. Karena lubang itu tidak seberapa dalam, Gwat Kong lalu turun ke bawah dan kakinya menginjak batu karang pula sedangkan dalamnya lubang itu sampai sebatas lehernya. Ia memandang ke bawah dan disekelilingnya. Akan tetapi di situ hanya batu karang semua dan tidak terlihat tanda-tanda lain yang menarik perhatian.

“Tidak ada apa-apa di sini!” kata Gwat Kong.

“Kalau begitu, mari kita pergi saja dari sini,” kata Tin Eng.

“Hatiku tidak enak sekali untuk berada di tempat aneh ini lebih lama lagi. Tempat ini seakan- akan terkutuk dan sudah banyak orang tewas di sini. Apalagi kalau rombongan perwira kerajaan datang, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan.”

“Jangan khawatir, Tin Eng!” kata Gwat Kong tersenyum menghibur. “Kita sudah sampai di sini, masa harus pulang dengan tangan kosong? Bagaimana nanti kau akan menjawab kepada kedua saudara Phang yang menyerahkan kepercayaan kepadamu? Soal para perwira, jangan takut, ada aku di sini dan saudara-saudara yang gagah inipun tentu akan membantu.”

Gwat Kong merasa penasaran lalu menggenjot-genjot tubuhnya dan ia berseru heran, “Ah, lantai yang kuinjak ini dapat bergoyang!” Ia meraba-raba ke kanan kiri. “Tentu ada rahasianya di sini!”

Pemuda itu menggunakan jari-jari tangannya meraba-raba di sekitar dinding batu karang, sedangkan kawan-kawannya yang di atas yang tak dapat melihat apa-apa kecuali kepalanya, memandang sambil menahan napas.

Tiba-tiba jari tangan Gwat Kong meraba sesuatu yang keras dan ternyata benda itu adalah sebuah gelang besi yang dipasang di dinding itu.

“Ada gelang besi di sini!” katanya gembira. Karena gelang besi itu letaknya agak di bawah lutut, terpaksa ia merendahkan tubuh dan menekuk lututnya agar tangannya dapat mencapai gelang itu. Ia memegang erat-erat dan menarik keras. Benda itu tidak bergerak. Ia mengumpulkan tenaga dan menarik lagi dan benda itu dapat bergerak sedikit. “Aku hampir dapat membuka gelang ini!” katanya dari bawah sambil menahan napas lalu menarik lagi sekuat tenaga.

Terdengar suara keras dan tiba-tiba batu karang yang diinjaknya itu nyeplos ke kanan sehingga tubuhnya yang kini tidak menginjak sesuatu lagi, lalu nyeplos ke bawah. Gelang besar itu terlepas dan Gwat Kong melayang ke bawah. Ia melihat bahwa tubuhnya melayang terus melalui mulut guha Kilin dan dalam kengeriannya ia berteriak,

“Tin Eng !” Akan tetapi tubuhnya terus melayang turun dengan kecepatan hebat yang tak

dapat ditahannya lagi.

“Gwat Kong ....! Gwat Kong !” Tin Eng berteriak-teriak, menjerit-jerit memanggil nama

pemuda itu bagaikan seorang gila dan dengan nekad ia lalu melompat ke dalam lubang itu. Akan tetapi tiba-tiba sepasang tangan menangkapnya dan ia meronta-ronta dalam pelukan Kui Hwa.

“Biarkan aku menyusulnya. Lepaskan aku, lepaskan!” Ia meronta-ronta bahkan memukul

Kui Hwa, akan tetapi kedua saudara Pui membantu Kui Hwa dan memegang kedua tangan Tin Eng yang menjadi kalap bagaikan orang gila itu.

“Gwat Kong ...! Gwat Kong kau dimana??” Suara Tin Eng makin lemah, tangisnya

tersedu-sedu menyayat hati Kui Hwa dan kedua saudara Pui. Kemudian Tin Eng roboh pingsan tak sadarkan diri lagi.

“Celaka !” kata Pui Kiat yang menjenguk ke dalam lubang. Lubang itu sekarang tak

berdasar lagi dan ternyata menembus ke dalam sumur di guha Kilin itu.

Kui Hwa hanya menangis tersedu-sedu sambil memeluki tubuh Tin Eng. Juga Pui Hok tak dapat menahan air matanya lagi yang mengalir turun. Mereka lalu mengangkat tubuh Tin Eng, dibawa turun ke depan mulut guha Kilin yang kini merupakan mulut iblis maut yang haus akan nyawa manusia.

Pada saat itu, serombongan orang berlari naik ke tempat itu. Ketika Kui Hwa dan kedua suhengnya menengok, ternyata bahwa mereka itu adalah rombongan perwira yang dikepalai oleh Liok-taijin sendiri. Selain Liok Ong Gun, nampak juga Gan Bu Gi, Liok-te Pat-mo, Seng Le Hosiang, Bong Bi Sianjin dan perwira-perwira lain yang jumlahnya semua dua puluh orang.

Mereka memburu ke arah guha itu dan ketika melihat Tin Eng rebah dipangkuan seorang gadis dalam keadaan tak bergerak seperti mayat. Liok Ong Gun cepat memburu sambil bertanya gugup,

“Dia kenapakah ......? Anakku Tin Eng ..... kenapakah dia ?”

Juga lain orang datang mengepung dan memandang dengan heran. Gan Bu Gi dan Bong Bi Sianjin yang mengenal kepada murid-murid Hoa-san-pai itu, memandang dengan amat terheran-heran. “Taijin, jangan khawatir. Anakmu hanya pingsan saja,” kata Kui Hwa dengan tenang sambil mengerling ke arah Gan Bu Gi dengan pandang mata yang membuat pemuda itu cepat membuang muka dengan wajah tiba-tiba menjadi merah.

“Nona siapa dan mengapa anakku berada di sini dalam keadaan pingsan?”

“Dia mencari tempat harta pusaka. Kami membantunya juga Kang-lam Ciu-hiap Bun Gwat Kong.”

“Bangsat itu berada di sini? Mana dia?” tanya Liok Ong Gun.

“Orang yang taijin maki sebagai bangsat itu kini telah tewas dalam membela anakmu. Baru saja Bun-taihiap memasuki lubang di atas itu, dan ia menyeplos ke bawah, di dalam sumur maut itu. Tidak ada harta pusaka di sini, yang ada iblis maut telah makan banyak nyawa.”

Setelah berkata demikian, dengan singkat Kui Hwa menuturkan tentang tewasnya Cui Giok, juga diceritakannya serba singkat tentang Badasingh. Semua orang mendengarkan dengan penuh keheranan dan kengerian.

“Inilah anakmu, kami tidak ada keperluan lagi di sini!” kata Kui Hwa yang lalu berdiri dan memberi isyarat kepada kedua suhengnya untuk meninggalkan tempat itu.

“Taijin, mereka ini adalah murid-murid Hoa-san-pai. Kita Harus bunuh mereka!” kata Gan Bu Gi tiba-tiba ketika melihat tiga orang itu hendak pergi.

Mendengar ucapan ini, tiba-tiba Kui Hwa berhenti dan memutar tubuh, memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam,

“Orang she Gan, manusia berhati binatang. Kalau kau menghendaki kematianku, cabutlah pedangmu. Mari kita sama lihat, siapa yang akan mampus di ujung pedang!”

Akan tetapi Liok Ong Gun melangkah ditengah-tengah dan berkata kepada Gan Bu Gi. “Gan- ciangkun, betapapun juga, kalau tidak ada nona ini, entah bagaimana nasib anakku.”

Ia menoleh kepada Kui Hwa dan berkata dengan muka menunjukkan betapa kesal dan rusuh hati serta betapa bosannya menghadapi permusuhan antara kedua cabang persilatan itu.

“Nona, harap kau suka pergi bersama kedua kawanmu. Hatiku sudah cukup menderita.”

Kui Hwa dan kedua suhengnya lalu pergi dari situ. Akan tetapi tiba-tiba Seng Le Hosiang berkata kepada mereka,

“Hei, anak-anak murid Hoasan. Beritahukan kepada guru-gurumu terutama si sombong Sin Seng Cu agar mereka jangan lupa untuk pergi ke puncak Thaysan pada permulaan musim Chun!”

Kui Hwa dan kedua suhengnya belum sempat mendengar cerita Gwat Kong bahwa pemuda itu telah menemui Pek Tho Sianjin di Hoasan, maka Kui Hwa lalu menjawab, “Baik, jangan khawatir! Akan kami sampaikan pesan itu!” Mereka bertiga lalu turun gunung dengan hati mendongkol.

Setelah Tin Eng siuman dari pingsannya dan melihat ayahnya dan para perwira, ia menangis terisak-isak dengan amat sedihnya.

“Sudahlah, Tin Eng. Jangan menangis. Katakan saja di mana Gwat Kong terjerumus karena mungkin di situlah tempat harta itu,” kata ayahnya.

Mendengar betapa ayahnya hanya meributkan soal harta terpendam saja dan sama sekali tidak memperdulikan nasib Gwat Kong, makin hebatlah tangis Tin Eng.

Seng Le Hosiang dapat mengerti perasaan gadis ini, maka ia lalu berkata, “Tidak saja harta itu, akan tetapi mungkin kita dapat menolong atau setidaknya menemukan jenazahnya.”

Mendengar ucapan ini, terbangunlah semangat Tin Eng. Ia lalu mendekati guha Kilin dan menuding ke arah sumur, “Disitulah disitulah Cui Giok dan Gwat Kong terjerumus!” Jari

tangannya menggigil dan suaranya gemetar.

“Biar aku memeriksa ke bawah!” kata Ang Sun Tek. Mereka segera mengeluarkan tambang yang kuat dan amat panjang. Memang rombongan ini sudah mempersiapkan segalanya.

Tambang itu lalu dilepas ke bawah dan diganduli batu. Panjangnya tambang itu tidak kurang dari seratus kaki. Akan tetapi setelah habis diulur ke bawah, ternyata batu yang mengandulinya masih dapat digerakkan ke kanan kiri yang berarti bahwa tambang itu masih belum mencapai dasar sumur.

“Bukan main dalamnya!” kata Ang Sun Tek membelalakkan matanya dengan penuh kengerian. Sedangkan Tin Eng mendekap mukanya sambil menangis lagi. Tak dapat diragukan lagi nasib Gwat Kong. Orang yang terjatuh ke dalam tempat sedemikian dalamnya tentu akan putus nyawanya.

Dibantu oleh kawan-kawannya yang memegang tambang itu di luar sumur, Ang Sun Tek lalu turun ke bawah melalui tambang. Bagi seorang yang tidak memiliki kepandaian tinggi, pekerjaan ini amat berbahaya karena tambang itu panjang sekali dan sekali saja pegangan tangan terlepas sudah jelaslah nasibnya.

Akan tetapi, Ang Sun Tek adalah seorang yang memiliki tenaga daam yang cukup besar. Maka dengan cepat bagaikan seekor kera, ia meluncur melalui tambang itu ke bawah. Ketika ia memandang ke bawah, yang nampak hanyalah halimun gelap keputih-putihan dan makin dalam hawa udara makin dingin sehingga Ang Sun Tek menggigil kedinginan. Akhirnya ia tiba di ujung tambang karena kakinya menginjak batu kekar pada akhir tambang itu. Benar saja, batu itu masih tergantung di udara.

Karena keadaan gelap sama sekali dan bukan main dinginnya, Ang Sun Tek tidak mau berdiam lebih lama lagi di tempat itu, lalu memanjat kembali ke atas dengan cepat. Ia merasa tak enak dan ngeri sekali. Ketika tiba di atas dan dihujani pertanyaan oleh kawan-kawannya, ia menarik napas panjang,

“Bukan main dalamnya, dalam, dingin, gelap. Tambang ini masih kurang panjang, kukira belum setengahnya. Tak mungkin di tempat seperti itu terdapat harta pusaka. Siapa orangnya yang menyimpan harta di tempat itu? Seperti lubang neraka. Aku merasa pasti bahwa di dasarnya tentu air karena halimun bergulung dari bawah dan hawanya amat dingin.”

Tin Eng menahan isaknya dan ia masih saja menangis ketika rombongan ayahnya itu kembali turun dari gunung. Ia naik kuda dengan lemah tak bergaya sama sekali, lemas lahir batin dan merasa seakan-akan semangatnya tertinggal bersama Gwat Kong di dalam sumur itu.

****

Pada saat Gwat Kong dan kawan-kawan berada di atas guha Kilin, juga pada saat mereka masih bercakap-cakap di depan guha, maka suara mereka itu terbawa oleh angin yang memasuki sumur dan dapat terdengar oleh Cui Giok yang berada di dalam jurang. Memang sungguh aneh suara dari luar dapat terbawa masuk dan dapat terdengar sampai ke dasar sumur itu, sungguhpun tidak sangat jelas, bagaikan suara orang dari jauh saja. Sebaliknya suara dari dalam, sama sekali tak dapat keluar, terbawa kembali oleh angin yang masuk dari atas.

Ketika Gwat Kong berseru di atas guha karena mendapatkan lubang dan gelang besi yang ditariknya, maka Cui Giok yang mendengar di bawah, di dekat tanah berlumpur di mana ia terjatuh dahulu, dapat mengenal suaranya. Suara lain orang tak dapat dikenalnya, akan tetapi suara Gwat Kong biarpun hanya terdengar sayup sampai saja, dapat dia kenal baik.

“Gwat Kong !” teriaknya keras ke atas dengan girang sekali.

“Gwat Kong !” suaranya kembali merupakan gema yang besar dan menyeramkan.

Percuma saja Cui Giok memekik-mekik dan memanggil-manggil nama Gwat Kong berkali- kali, karena suaranya tak dapat menembus halimun itu bahkan terbawa kembali oleh angin yang meniup ke bawah.

Ia masih mendengar suara-suara di atas, kemudian terdengar suara keras dan ia mendengar pula teriakan wanita yang menjerit-jerit memanggil nama Gwat Kong. Ia makin girang karena tak salah lagi bahwa Gwat Kong telah tiba dan berada di atas. Suara wanita yang memanggil- manggil Gwat Kong itu adalah Tin Eng yang menjerit-jerit melihat pemuda itu jatuh ke dalam lubang.

Karena jurang itu benar-benar amat dalam, maka tubuh yang terjerumus ke dalam membutuhkan waktu lama sebelum mencapai dasarnya.

Seperti juga dulu ketika Cui Giok terjerumus ke bawah, Gwat Kong juga mengerahkan ginkang dan tenaga dalam untuk melindungi dari benturan hebat pada dinding sumur atau bantingan pada dasar sumur itu. Akan tetapi, lehernya bagaikan tercekik oleh hawa dingin dan kelajuan tubuhnya yang meluncur ke bawah membuat ia tak dapat bernapas, maka ia tak sadarkan diri lagi sebelum tubuhnya mencapai dasar jurang.

Karena suara-suara di atas kini telah lenyap, dan keadaan menjadi sunyi lagi, maka Cui Giok duduk termenung dan hati yang lebih sunyi. Akan tetapi tiba-tiba ia melompat bangun dengan mata terbelalak memandang ke atas. Ia melihat sebuah benda panjang turun dari tengah- tengah halimun yang menyusap pandang dari bawah itu. Benda itu terus jatuh ke bawah dan tepat sekali menimpa tanah berlumpur seperti dulu ketika ia jatuh. Alangkah kagetnya ketika melihat bahwa benda itu adalah tubuh seorang manusia. Ia memburu ke depan dan memandang wajah orang yang penuh dengan lumpur karena jatuhnya dalam kedudukan miring itu.

“Gwat Kong !” Untuk beberapa lama Cui Giok berdiri bagaikan patung. Ia takut kalau-

kalau ini hanya sebuah mimpi dan mimpi ini akan lenyap kalau ia menggerakkan tubuhnya.

“Gwat Kong !” ia berbisik dan tak terasa lagi air mata menitik turun berbaris sepanjang

pipinya. “Be..... benarkah ???”

Karena air matanya keluar, maka matanya terasa perih sehingga terpaksa ia berkedip. Alangkah girangnya ketika ia melihat bahwa ini bukan mimpi. Tubuh pemuda itu masih berada di situ, sungguhpun telah berkali-kali ia berkejap mata. Ia gosok-gosok kedua matanya dan ketika dibukanya kembali tubuh itu masih berada di tempat itu.

“Gwat Kong !” jeritnya penuh perasaan girang, terharu, sedih, lega, campur aduk menjadi

satu. Ia menubruk ke tempat berlumpur itu, mengangkat tubuh Gwat Kong, dibawa keluar dari lumpur, lalu diletakkan di atas pasir dekat alat penerangan yang dibuatnya secara sederhana sekali, yakni sumbu terbuat dari robekan pakaian dengan minyak dari lemak burung dan tempat minyaknya dari batu karang yang dilubangi merupakan mangkok yang kasar.

“Gwat Kong ....... kau datang menyusulku!” Ia membersihkan muka pemuda itu,

memeluknya, mendekap kepala itu pada dadanya, mencium pipinya dan semua ini dilakukan sambil menangis, tertawa, menangis lagi.

“Gwat Kong ..... Ya Tuhan, terima kasih ..... Gwat Kong, kekasihku !” Tiada hentinya bibir

dara itu berbisik-bisik.

Dapat dibayangkan betapa perasaan gadis itu ketika tiba-tiba melihat pemuda yang dicintainya berada di situ seakan-akan dilemparkan ke bawah oleh tangan ajaib. Sengaja dilempar ke bawah agar pemuda itu dapat menemaninya. Tadinya ia merasa bahwa untuk selama hidupnya ia takkan dapat bertemu dengan manusia lagi, apalagi dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, melihat Gwat Kong, ia merasa seakan-akan seorang yang telah mati dan jiwanya merana dan terasing di neraka, tiba-tiba bertemu dengan seorang yang selalu dijadikan kenangan.

Seperti Cui Giok dahulu, pemuda itupun pingsan sampai berapa lama. Cui Giok telah memetik setangkai daun merah dan karena Gwat Kong masih pingsan, maka ia menjadi amat bingung dan gelisah. Ia takut kalau-kalau pemuda itu menderita luka berat di bagian dalam tubuhnya dan lebih-lebih lagi takutnya kalau pemuda itu akan mati.

Pikiran ini membuat ia bergidik. Bagaimana ia harus masukkan daun obat ini kedalam perut Gwat Kong? Untuk mencampuri dengan air, sukar sekali karena tahu bahwa daun ini kalau diperas seperti berminyak dan tak dapat campur air.

Dalam kekhawatirannya, Cui Giok mendapat akal. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak perlu merasa malu-malu atau sungkan lagi. Apalagi pemuda itu adalah Gwat Kong, pemuda yang telah dikasihinya, yang telah menawan hati dan jiwanya. Cui Giok berlutut lagi dan mengangkat kepala Gwat Kong yang lalu dipangkunya. Ia masukkan daun merah itu ke dalam mulutnya sendiri dan lalu mengunyah daun itu sampai hancur dan lembut. Kemudian ia merangkul leher Gwat Kong dengan lengan kirinya, diangkatnya seperti seorang ibu menggendong anaknya. Sedangkan jari-jari tangan kanannya membuka mulut Gwat Kong lalu ia menundukkan mukanya dan masukkan kunyahan

daun merah itu dari mulutnya ke mulut Gwat Kong.

Ia melakukan hal ini dengan hati tulus dan bersih, tanpa dipengaruhi nafsu birahi sedikitpun, bagaikan seorang ibu menyusui anaknya, bagaikan seekor burung betina meloloh anaknya, dengan hanya satu tujuan di dalam pikirannya dan satu kehendak di dalam hati yakni ingin melihat Gwat Kong terhindar dari pada bahaya maut, maka berhasillah ia memasukkan daun obat itu ke dalam tubuh Gwat Kong.

Sampai lama Gwat Kong tak sadarkan diri dan selama itu Cui Giok tak pernah meninggalkannya. Bahkan kepala pemuda itu tak pernah dilepaskan dari pelukannya.

“Gwat Kong !” bisiknya berkali-kali memanggil-manggil nama pemuda itu perlahan-

lahan di dekat telinganya. Lenyaplah segala keputus harapan, segala kedukaan. Kehadiran pemuda itu didekatnya membuat tempat yang tadinya seperti neraka berobah menjadi sorga.

Kini ketabahannya timbul kembali. Kegembiraannya hidup lagi. Ia tidak takut mati di situ. Rela diasingkan selama hidupnya, asal berdua dengan Gwat Kong, pemuda yang dicintainya. Dengan Gwat Kong disampingnya, jangankan baru penderitaan seperti ini, biarpun harus memasuki api neraka yang berkobar-kobar mengerikan, ia takkan ragu-ragu, mundur.

“Gwat Kong !” kembali ia memanggil mesra sambil mengusap rambut dan jidat pemuda

itu penuh kasih sayang.

Akhirnya Gwat Kong siuman kembali. Ia bergerak dalam pelukan Cui Giok dan hal ini membuat dara itu tiba-tiba merasa malu. Dengan perlahan dan hati-hati menurunkan kepala pemuda itu, diletakkan di atas pasir dengan amat perlahan, seakan-akan takut kalau-kalau gerakannya ini akan menyakitkan Gwat Kong.

Gwat Kong membuka matanya perlahan-lahan. Untuk sesaat lamanya tidak bergerak. Ia masih bingung dan tidak tahu di mana ia berada. Tubuhnya terasa sakit, akan tetapi sebagai seorang ahli silat, otomatis ia menahan napas dan mengalirkan jalan darahnya untuk merasakan apakah ia menderita luka dalam, dan menjadi lega bahwa ia tidak terluka.

Kemudian, dengan mata masih setengah tertutup, ia memusatkan pikirannya dan mengingat.

Tiba-tiba teringatlah ia akan kecelakaan yang telah terjadi itu, dan teringat bahwa ia telah jatuh ke dalam sumur. Hal ini amat mengejutkan hatinya, dan ketika ia membuka matanya, cepat ia melompat berdiri. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang gadis bangun berdiri pula di depannya. Karena matanya masih belum biasa dengan penerangan yang hanya suram-suram itu, ia tidak melihat wajah gadis itu dengan jelas. Akan tetapi, setelah mengenal gadis itu, ia menjadi makin terheran-heran.

“Cui Giok .......! Kaukah ini ???” Ia maju selangkah dan memegang lengan gadis itu.

“Bukankah kau sudah ... sudah mati ??” Tiba-tiba ia teringat pula akan sesuatu dan

wajahnya berobah menjadi pucat. “Ah, Cui Giok .....aku tahu ....... akupun sudah mati ! Apakah ini yang disebut neraka ?” Ia memandang ke sekelilingnya dengan mata

mengandung kengerian.

Cui Giok merapatkan tubuhnya dan memeluk pundak pemuda itu. “Benar, Gwat Kong! Dalam pandangan manusia-manusia di luar tempat ini, kau dan aku memang sudah mati!”

“Akan tetapi kita masih hidup. Sungguh aneh kita masih hidup!” Gwat Kong berseru

gembira dan seperti orang yang masih belum mau percaya, ia meraba-raba kepala dan lengan Cui Giok. “Benar. Kau masih hidup dan aku juga.”

Ia memandang ke sekelilingnya lagi, lalu memandang ke atas, dari mana ia terjatuh. “Benar- benar menakjubkan. Kita berdua jatuh dari tempat yang tak terukur tingginya. Akan tetapi kita masih hidup. Bahkan aku tidak mendapat luka.”

“Kita terjatuh ditempat itu, Gwat Kong. Tempat itu lunak dan berlumpur. Karena itulah kita tidak terbanting hancur.” Cui Giok menunjuk ke arah tempat berlumpur di bawah lubang sumur itu. Gwat Kong lalu mendekat dan memeriksa tempat itu dengan penuh keheranan.

Kemudian ia teringat bahwa Cui Giok sudah seminggu berada di tempat ini, maka dengan muka berubah pucat, ia menengok dan memandang ke arah gadis itu.

“Cui Giok alangkah anehnya! Mengapa kau berada di tempat ini sampai begitu lama!

Bagaimana kau bisa hidup? Dan mengapa pula kau tidak berusaha untuk keluar dari sini?”

“Aku sudah berusaha, akan tetapi sia-sia Gwat Kong. Tidak ada jalan keluar dari tempat ini. Kita telah terkubur hidup-hidup. Kita telah terasing dari dunia ramai untuk selama-lamanya!”

Wajah Gwat Kong makin memucat. “Tak mungkin!” serunya. “Pasti ada jalan keluar! Harus ada jalan keluar!”

Bagaikan orang gila, ia lalu berlari-lari mengitari tempat itu, memeriksa batu dinding, bahkan lalu keluar dari lubang yang digali oleh Cui Giok. Sambil menghela napas, Cui Giok tidak berkata sesuatu, hanya mengikuti di belakang pemuda itu sambil membawa penerangan.

“Kita harus keluar dari sini! Harus, kataku!” Gwat Kong membentak-bentak sambil memeriksa seluruh tempat itu.

“Carilah, Gwat Kong. Dan periksalah! Agar kau merasa puas. Akan tetapi sesungguhnya aku sendiri telah mencari jalan keluar tiada hentinya, tanpa hasil sedikitpun.”

Gwat Kong masih penasaran. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia memeriksa dinding batu, mencoba untuk menggunakan kepandaiannya memanjat ke atas, mengetuk-ngetuk batu mencari terowongan. Sampai sehari penuh ia berusaha dan juga pada keesokan harinya berusaha lagi sampai lupa makan lupa tidur, akan tetapi hasilnya nihil.

Cui Giok selalu menghiburnya. “Mengasolah, Gwat Kong. Kau terlampau lelah. Aku tahu, tubuhmu masih sakit-sakit karena jatuh itu. Pikiranmu tidak tenang. Kau tidurlah dan makanlah daging burung ini. Di sini hanya ada daging burung dan buah di luar lereng itu. Akan tetapi cukup baik untuk mengenyangkan perut. “Aku, tidak! Aku tidak mau tidur, tidak mau mengaso, tidak ingin makan! Aku harus mencari jalan keluar. Kau dan aku harus keluar dari neraka ini!” Gwat Kong membandel dan terus mencari-cari kemungkinan keluar dari tempat itu.

“Kalau begitu, kau telanlah pel ini. Kau dapat bertahan sampai sepekan, kalau kau menelan pel ini!” Ia memberi sebutir pel pemberian dari Lo Han Sianjin dulu itu. Gwat Kong menerimanya dan menelannya. Kemudian tanpa mengaso sedikitpun ia mencari lagi. Kini menggunakan pedangnya untuk berusaha membuat tangga pada batu karang yang tegak lurus ke atas itu. Batu karang itu amat keras, akan tetapi pedang Sin-eng-kiam memang tajam sekali.

“Lihat, Cui Giok! Bantulah aku! Dengan pedang, kita dapat membuat lobang pada batu karang ini sehingga kita dapat membuat tangga ke atas. Asalkan ada tempat untuk berpegang dan menaruhkan kaki, mengapa kita tidak dapat mendaki ke atas?”

Cui Giok menggelengkan kepalanya. “Takkan ada gunanya, Gwat Kong. Aku pernah memikirkan hal itu. Apakah ketika jatuh kau tidak terbentur pada pinggiran sumur?”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya.

“Aku terbentur pada pinggir sumur berkali-kali,” kata Cui Giok. “Dan pinggir sumur bagian atas terdiri dari tanah lembek. Memang kita dapat membuat tangga ke atas pada batu-batu karang yang keras ini, akan tetapi bagaimana kalau sudah sampai di bagian tanah lembek?”

Namun Gwat Kong tidak putus asa dan tetap hendak mencoba! Terpaksa Cui Giok membantu untuk jangan mengecewakan hati pemuda yang tak mudah tunduk kepada nasib itu. Sampai sepuluh hari mereka bekerja membuat tangga, terus ke atas. Dan pada hari kesebelas, tepat sebagaimana dikatakan oleh Cui Giok, batu padat yang keras itu berubah menjadi tanah lihat yang amat lembek. Tentu saja tak mungkin memanjat naik melalui tanah selembek itu dan berair pula. Tanah itu akan melesak kalau diinjak dan licinnya bukan main!

Gwat Kong turun lagi ke bawah dan duduk menutup kedua tangannya pada muka dengan hati sedih sekali. Air matanya tak dapat tertahan pula mengalir keluar melalui celah-celah jari tangannya.

“Kita tak dapat keluar .... ah, Cui Giok, begini kejamnya nasib mempermainkan kita ...? Benar-benarkah kita harus mati di tempat ini ?”

Cui Giok berlutut di sebelahnya dan tanpa malu-malu lagi memeluk lehernya. Hatinya penuh keharuan. Akan tetapi ia tidak teringat akan kesedihannya sendiri. Ia kasihan melihat Gwat Kong yang berduka dan berusaha menghiburnya.

“Gwat Kong, mengapa bersedih?”

Gwat Kong menurunkan kedua tangannya dari depan muka. “Cui Giok, alangkah anehnya pertanyaanmu ini! Kita terkurung di tempat celaka ini untuk selamanya! Tidak ingatkah kau? Kita takkan bisa keluar, harus tinggal di sini selama hidup kita sampai mati! Apakah hal ini tidak menyedihkan hatimu?” Benar-benar Gwat Kong merasa heran ketika melihat dara itu menggelengkan kepala dan bibirnya bahkan tersenyum. Mula-mula memang aku bersedih, yakni sebelum kau datang! Akan tetapi sekarang ..... apakah yang kusedihkan? Ada kau di sini! Dan aku aku tidak bisa

merasa berduka selama kau di sampingku, Gwat Kong, biar dimana pun kita berada. Ditengah-tengah api nerakapun asal bersama kau, takkan merasa berduka, bahkan berbahagia!”

Bukan main terharunya hati Gwat Kong mendengar pengakuan ini. Ia telah tahu bahwa gadis ini mencintainya, menyinta dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi tak pernah mengira bahwa cinta kasih gadis ini terhadapnya demikian besarnya, demikian suci murninya! Tak terasa pula ia mengulurkan kedua tangan memeluk gadis itu yang segera menangis di atas dadanya, sedangkan Gwat Kong sendiri tak dapat menahan sedu sedan yang naik dari dadanya.

“Cui Giok, kita serahkan nasib kita kepada Thian Yang Maha Agung,” bisiknya perlahan.

****

Berkat hiburan-hiburan dan sikap jenaka dan gembira dari Cui Giok, terhibur jugalah hati Gwat Kong. Bahkan timbul pula kegembiraannya. Ia menyerahkan nasib sebulatnya kepada Yang Maha Kuasa dan karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, ia hanya mengharapkan pertolongan yang datang dari luar sumur. Ini bukan hanya pengharapan kosong belaka, oleh karena ia telah kenal banyak orang gagah di dunia kang-ouw.

Apabila mereka mendengar tentang nasibnya, mustahil kalau mereka tidak datang menolongnya atau berusaha menolongnya? Ia tak tahu bahwa tak lama semenjak ia terjerumus ke dalam jurang itu, namanya dan juga nama Cui Giok telah terhapus dari daftar orang-orang hidup! Semua orang yang mendengar tentang nasibnya itu telah menganggap dia tewas di bukit itu.