-->

Pendekar Pemabuk Jilid 08

Jilid 08

Bab 23 …

TAN KUI HWA adalah puteri seorang hartawan yang bernama Tan Kia Swi, yakni Tan- wangwe yang dahulu telah mencelakai orang tua dan keluarga Bun Gwat Kong! Semenjak kecilnya, Tan Kui Hwa memang nakal sekali dan ia memiliki watak seperti seorang anak laki- laki saja. Bahkan ia suka bermain-main dengan anak lelaki yang menjadi anak tetangga ayahnya. Orang tuanya mendiamkannya, sebagai anak orang hartawan yang amat dimanja, diturut belaka oleh ayah bundanya.

Ketika ia berusia sepuluh tahun, ia masih suka bermain-main di luar rumah tangga. Kawan- kawannya yang sebagian besar terdiri anak-anak lelaki, bermain gundu, berkejar-kejaran, bahkan ikut pula memanjat pohon-pohon tinggi mencari sarang-sarang burung atau ikut pula berkelahi.

Pada suatau hari ia pergi bermain dengan beberapa orang kawan agak jauh dari rumahnya. Ketika mereka tiba di kampung lain, mereka bertemu dengan anak-anak kampung itu dan sudah menjadi kebiasaan bahwa anak-anak suka mengganggu anak-anak lain yang datang dari kampung lain. Tadinya anak-anak kampung itu hanya mengeluarkan ucapan-ucapan mengolok-olok saja, yang dibalas oleh olok-olok lain. Akan tetapi seorang di antara mereka yang melihat Kui Hwa lalu berkata, “Eh anak perempuan mengapa bermain-main dengan anak-anak lelaki. Sungguh tak tahu malu!”

“Barangkali dia bukan perempuan. Ia tentu seorang anak banci!” kata anak lain. “Mari kita lihat!” seru yang lain.

“Ya, ya ... mari kita buktikan!” kata lain anak lagi dan mereka lalu hendak menangkap Kui Hwa.

Semenjak kecilnya, Kui Hwa memang tukang berkelahi. Adatnya keras dan hatinya tabah luar biasa. Mendengar betapa ia dihina, ia lalu memaki-maki dan cepat menyerang anak yang menyebutnya banci tadi. Bukan main kagetnya anak itu oleh karena tak disangkanya sama sekali bahwa anak perempuan itu berani menyerangnya dan ternyata pukulannya keras dan kuat sehingga begitu kena dipukul ia jatuh terguling dengan pipi biru. Maka terjadilah perkelahian keroyokan yang ramai sekali di jalan itu. Tan Kui Hwa biarpun seorang anak perempuan, akan tetapi oleh karena ia memiliki keberanian luar biasa dan kenekatan berkelahi, maka sepak terjangnya mengecilkan hati anak-anak itu. Kui Hwa memukul, menendang, mencakar, dan menggigit. Tidak ada anak yang berani mendekatinya.

Pada saat ramai-ramainya anak-anak itu berkelahi, tiba-tiba datang tosu (pendeta agama To) yang segera menghampiri mereka dengan langkah lebar. Maka tosu memandang kepada Kui Hwa dengan kagum sekali. Belum pernah ia melihat seorang anak perempuan yang demikian tabah dan ganas dalam berkelahi. Memang amat ganjil kalau dilihat betapa seorang anak perempuan kuat dalam perkelahian keroyokan antara anak-anak lelaki.

“Hai, jangan berkelahi!” seru tosu itu dan semua anak-anak cepat menoleh memandang ke arah orang yang mencegah mereka. Bukan main terkejut hati mereka ketika melihat seorang tosu yang bermuka aneh sekali. Kedua mata tosu itu yang nampak hanya putihnya saja, karena manik matanya yang hitam hanya kecil sekali, bergerak-gerak liar ke kanan kiri menimbulkan pemandangan yang menakutkan. Hidungnya mendongak ke atas, mulutnya lebar sehingga hampir sampai ke telinga dengan dua buah gigi menonjol keluar seperti caling.

Tanpa diberi komando lagi, anak-anak itu melarikan diri dengan ketakutan. Semua anak melarikan diri, kecuali Kui Hwa sendiri yang memandang dengan heran dan juga takut-takut. Ia teringat akan dongeng-dongeng tentang setan dan iblis. Akan tetapi hatinya yang tabah membantah, karena ia mendengar di dalam dongeng-dongeng bahwa setan dan iblis hanya keluar di waktu malam hari. Saat itu mata hari telah naik tinggi, tak mungkin ada iblis berani keluar.

“Anak yang gagah, kau siapakah dan di mana rumahmu?”

“Namaku Kui Hwa dan rumahku di sana!” Anak itu menunjuk ke arah tempat tinggal orang tuanya.

“Mari kau kuantar pulang.” Kata tosu itu yang lalu memegang tangan Kui Hwa untuk menguji ketabahan anak ini. Akan tetapi Kui Hwa sama sekali tidak merasa takut, bahkan ia

tersenyum-senyum bangga. Alangkah akan herannya kawan-kawannya. Ia akan memperlihatkan bahwa ia lebih berani dan tabah dari pada mereka semua. Maka ia lalu berjalan bersama tosu itu menuju ke rumahnya dengan dada terangkat tinggi-tinggi. Dan benar saja, anak-anak yang melihat ia berjalan bersama tosu itu diam-diam mengintai dengan hati berdebar dan mengulurkan lidah dan di dalam hati mereka amat mengagumi keberanian Kui Hwa. Tosu ini adalah Thian Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai yang berilmu tinggi, yang kebetulan turun gunung untuk melakukan perjalanan merantau. Ia adalah suheng dari Sin Seng Cu tosu Hoa- san-pai yang telah berhasil mengalahkan Seng Le Hosiang dari Go-bi-pai sehingga kejadian itu menimbulkan permusuhan antara Hoa-san-pai dan Go-bi-pai.

Thian Seng Cu lalu menemui Tan-wangwe dan menyatakan hasrat hatinya melatih silat kepada Kui Hwa. Tadinya orang tua Kui Hwa tidak setuju, akan tetapi Kui Hwa berkeras mengangkat guru kepada tosu itu dengan rengek dan tangis sehingga kedua orang tuanya terpaksa menyetujuinya dengan syarat bahwa latihan ilmu silat itu harus dilakukan di rumah mereka.

Selama tiga tahun Thian Seng Cu melatih kepada Kui Hwa di rumah Tan-wangwe. Akan tetapi setelah anak itu berusia tiga belas tahun, pada suatu hari ia pergi meninggalkan rumah bersama gurunya tanpa memberitahukan kepada ayah bundanya. Hanya meninggalkan sepucuk surat yang menyatakan bahwa untuk memperdalam ilmu silat, Kui Hwa ikut gurunya naik ke gunung Hoasan. Ia sengaja pergi dengan diam-diam oleh karena maklum bahwa apabila ia minta ijin dari kedua orang tuanya tentu tak akan mungkin dapat.

Demikianlah, selama enam tahun mempelajari ilmu silat di puncak Hoasan, bersama dengan kedua orang suhengnya yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok dibawah asuhan Thian Seng Cu, Sin Seng Cu dan lain tokoh Hoa-san-pai. Setelah tamat belajar silat, Kui Hwa kembali ke rumah orang tuanya dan disambut dengan kegirangan besar.

Dasar watak yang telah menjadi kebiasaan di waktu masih kanak-kanak, ternyata masih belum meninggalkan tabiat Kui Hwa. Kini setelah menjadi dewasa, menjadi seorang dara yang cantik dan gagah perkasa, kesukaannya untuk berkelahi masih saja ada. Tiap kali ia mendengar ada seorang ‘jago silat’ yang berpengaruh, tidak perduli tempat jauh, tentu ia akan pergi mengunjunginya untuk ditantang pibu (mengadu kepandaian silat). Karena ilmu silatnya memang lihai maka entah sudah berapa banyaknya jago-jago silat dan guru-guru silat yang roboh di dalam tangannya.

Selain ini, juga Kui Hwa amat benci kepada orang-orang jahat, terutama para perampok dan bangsat-bangsat pemetik bunga. Ia tidak mengenal ampun terhadap mereka ini dan di mana saja ia bertemu dengan orang jahat, ia tak akan merasa puas sebelum membasminya, membunuh atau sedikitnya melukainya. Oleh karena ini, ia diberi julukan Dewi tangan maut.

Pada suatu hari, ia mendengar bahwa di kota Lok-se terdapat seorang penjahat yang melakukan perbuatan terkutuk, yakni mengganggu anak bini orang. Kui Hwa paling benci kepada bangsat Jay-hwa-cat (penjahat pemetik bunga), maka tanpa banyak menunda lagi, ia lalu menuju ke kota Lok-se dan melakukan pengintaian di waktu malam. Ia mengenakan pakaian hitam dan mendekam di atas genteng untuk menanti munculnya penjahat itu.

Baru setelah fajar hampir menyingsing, ia melihat berkelebatnya bayangan orang di atas sebuah bangunan besar. Ia cepat mengejar dan mengintai. Alangkah marahnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa orang itu adalah Jay-hwa-cat yang dicari-carinya, karena orang itu dengan gerakan yang amat cepat melompat ke dalam rumah dan memasuki kamar seorang gadis muda, puteri tuan rumah. Dengan amarah meluap-luap, Kui Hwa lalu membentak keras sehingga penjahat itu menjadi terkejut dan keluar dari jendela kamar itu. Kui Hwa telah menanti di atas genteng dan mereka bertempurlah dengan amat sengit dan mati-matian.

Penjahat itu ternyata memiliki kepandaian yang tidak buruk, ilmu pedangnya cukup cepat sehingga ia dapat bertahan sampai beberapa lama terhadap serangan-serangan pedang Kui Hwa. Gadis ini setelah mengenali ilmu pedang penjahat itu sebagai ilmu pedang dari cabang Go-bi-pai, membentak makin marah,

“Hmmm, dasar anak-anak murid Gobi amat rendah budi dan jahat. Kau membikin malu saja kepada tokoh Go-bi-pai.”

“Ha ha, perempuan sombong. Kau kira aku tidak tahu bahwa kau adalah orang Hoasan? Jangan banyak mulut, kau sudah berani berlancang tangan mencampuri urusanku.

Keluarkanlah kepandaianmu!”

Kui Hwa menyerang dengan ganasnya dan memang ilmu kepandaiannya lebih tinggi dari pada penjahat itu, sehingga dengan mengeluarkan suara keras, pedang di tangan penjahat itu terpental dan terlepas dari pegangan. Penjahat itu berseru kaget, memutar tubuh dan melarikan diri.Akan tetapi, mana Kui Hwa mau melepaskannya. Ia amat membenci Jay-hwa- cat dan sebelum ia dapat membunuh atau melukainya, ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

“Bangsat cabul, jangan harap akan dapat lari dari aku!” Bentaknya sambil mengejar cepat.

Penjahat itu, biarpun kepandaian ilmu pedangnya kalah oleh Kui Hwa, namun memiliki ilmu lari cepat yang lumayan juga. Agaknya ia telah melatih ilmu berlari cepat ini yang memang amat perlu dan penting bagi pekerjaannya. Namun Kui Hwa tidak mau mengalah dan mengejar terus.

Penjahat itu berlari keluar dari kota, terus dikejar oleh Kui Hwa sampai pagi. Ketika mereka tiba di sebuah kaki bukit, tiba-tiba muncul dua orang yang menghadang di jalan. Penjahat itu tadinya terkejut melihat dua orang itu berjalan dengan ilmu lari cepat yang tinggi, akan tetapi ketika ia mengenal mereka, ia menjadi girang dan berkata,

“Locianpwe ...... tolonglah teecu    !”

Kedua orang itu ternyata adalah seorang tosu tua dan seorang pemuda yang tampan dan mereka lalu mempercepat langkah menghampiri penjahat itu yang segera bersembunyi di belakang mereka. Tosu itu tak lain adalah Bong Bi Sianjin dan pemuda itu adalah muridnya yaitu Gan Bu Gi. Memang tokoh-tokoh Kim-san-pai ini telah mengadakan hubungan dengan Seng Le Hosiang dari Go-bi-pai dan telah berjanji untuk membantu dalam permusuhan Go-bi- pai melawan Hoa-san-pai. Oleh karena itu, sebagian besar anak murid Go-bi-pai telah kenal dengan Bong Bi Sianjin dan muridnya Gan Bu Gi. Juga anak murid Go-bi-pai yang tersesat dan menjadi penjahat itupun kenal pula kepada mereka.

Melihat munculnya seorang tosu dan seorang pemuda tampan yang agaknya hendak membantu penjahat itu, Kui Hwa melintangkan pedangnya di dadanya dan memandang kepada mereka dengan tajam. “Sicu (tuan yang gagah),” kata tosu itu kepada si penjahat. “Mengapa kau dikejar-kejar oleh nona ini?”

“Tolonglah, locianpwe. Dia adalah anak murid Hoa-san-pai! Kami telah bertempur, akan tetapi teecu kehilangan pedang dan dan terpaksa melarikan diri!”

“Hmm, orang-orang Hoa-san-pai memang selalu mengandalkan kepandaiannya sendiri. Nona, biarpun pinto (aku) telah berjanji untuk menghadapi orang-orang Hoa-san-pai dengan pedang ditangan, akan tetapi melihat bahwa kau adalah seorang nona muda, biarlah pinto memberi ampun dan kau boleh pergi dengan aman!”

Ucapan ini benar-benar sombong dan memandang rendah, maka Kui Hwa yang beradat tinggi tentu saja merasa amat tersinggung.

“Totiang, kau seorang pertapa janganlah mencampuri urusan ini. Ketahuilah bahwa anak murid Gobi ini adalah seorang bangsat besar, seorang jay-hwa-cat yang kejam!”

“Perempuan Hoasan tutup mulutmu yang kotor! Tidak malukah kau seorang perempuan mengeluarkan kata-kata kotor itu? Memang tadi aku kurang hati-hati sehingga pedangku terlepas. Sekarang menghadapi jago dari Kim-san-pai kau merasa takut dan hendak mempergunakan ketajaman mulutmu. Cih, tak tahu malu!”

“Bangsat rendah!” Kui Hwa memaki dan menyerbu ke depan, hendak menyerang penjahat itu. Akan tetapi Gan Bu Gi yang telah mencabut pedangnya lalu menangkis serangan itu.

“Kau hendak melindungi penjahat ini?” teriak Kui Hwa sambil memandang tajam.

“Suhu, biar teecu yang menangkap gadis liar ini,” Gan Bu Gi berkata seperti minta izin kepada gurunya yang hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Bagus, kalau begitu kaupun harus mampus di tanganku,” Kui Hwa berteriak garang dan menyerang Gan Bu Gi. Pertempuran terjadi dengan amat serunya. Pemuda itu benar-benar tangguh dan ilmu pedangnya hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu kepandaian Jay- hwa-cat itu. Akan tetapi Kui Hwa tidak takut dan mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Setelah bertempur sampai seratus jurus lebih dengan amat seru dan saling serang tanpa ada tanda-tanda siapa yang akan menang. Semalaman suntuk ia tidak tidur menjaga di atas genteng yang dingin dan berangin, lalu ia harus bertempur melawan penjahat itu dan mengejarnya sampai jauh sehingga tubuhnya telah merasa lelah dan lemas.

Kini menghadapi Gan Bu Gi yang benar-benar kosen, membuat ia lelah sekali dan permainan pedangnya mulai kacau dan lemah. Akan tetapi sungguh aneh, ternyata pemuda yang tampan itu tidak bermaksud mencelakainya. Buktinya, tiap kali pedangnya hampir mengenai tubuhnya Kui Hwa, selalu ditariknya dan diserongkan sehingga tidak melukai Kui Hwa.

“Ha ha ha, muridku. Kau agaknya jatuh hati kepada lawanmu!” terdengar tosu itu tertawa bergelak. Kui Hwa melihat betapa muka pemuda itu menjadi kemerahan dan ia sedikit pun merasa jengah dan malu. Akhirnya dengan sabetan yang keras, pedang gadis itu terlepas dari tangan dan sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Gan Bu Gi berhasil menotok jalan darahnya sehingga ia menjadi lemas dan lumpuh tak berdaya. “Bunuh saja anjing betina Hoa-san-pai ini!” Jay-hwa-cat tadi berseru keras. Akan tetapi Gan Bu Gi segera menjawab,

“Jangan!” Kau pergilah dari sini! Musuhmu ini aku yang menjatuhkannya, maka aku dan suhu yang berhak memutuskannya. Pula kau telah melakukan pekerjaan buruk dan kalau saja tidak mengingat bahwa kau adalah anak murid Gobi, tentu kami tak sudi membantumu.”

Penjahat itu pergi bagaikan anjing kena pukul, tidak berani menengok lagi, bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak.

“Suhu, teecu harap suhu tidak berkeberatan untuk mengampuni nona ini.” Bong Bi Sianjin gelak terbahak mendengar ucapan muridnya ini.

“Kau yang menangkapnya, maka terserah kepadamu. Kau tahu kemana harus menyusul, kalau sudah selesai urusanmu dengan nona ini!” Kembali tosu itu tertawa bergelak, lalu tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ, meninggalkan Gan Bu Gi dan nona tawanan di tempat itu.

Tin Eng mendengar penuturan Kui Hwa dengan penuh perhatian. Ia melihat betapa kawannya itu memandang jauh dengan mata penuh lamunan, seakan-akan membayangkan segala peristiwa yang dahulu telah terjadi dan menimpa kepada dirinya.

“Demikianlah, adik Tin Eng. Tosu tua yang batinnya tidak bersih itu meninggalkan muridnya seakan-akan ia memang sengaja memberi kesempatan kepada muridnya untuk melakukan sesuatu yang tidak baik,” kata Kui Hwa melanjutkan ceritanya. “Dan semenjak saat itu, aku telah bersumpah di dalam hatiku bahwa pada suatu hari aku pasti akan membunuh bangsat Gan Bu Gi dan tosu keparat itu!” Gadis itu kini menjadi merah mukanya dan matanya mengeluarkan cahaya berapi.

“Akan tetapi enci Hwa, apakah yang telah dilakukan oleh Gan Bu Gi kepadamu?” tanya Tin Eng sambil memandang penuh perhatian.

“Apa yang dilakukan? Jahanam itu .... anjing rendah itu .... ia ah, tak dapat kuceritakan apa

yang telah ia perbuat terhadap diriku!” Dan tiba-tiba Kui Hwa mengucurkan air mata, lalu bangkit berdiri dan melompat ke atas kudanya serta melarikan kuda itu secepatnya.

Tin Eng melengak, terpaksa iapun melompat ke atas kudanya dan menyusul kawannya. Biarpun Kui Hwa tidak memberi penjelasan, akan tetapi ia dapat menduga apakah yang telah diperbuat oleh Gan Bu Gi terhadap gadis itu. Dan kebenciannya terhadap Gan Bu Gi meluap- luap, Bangsat rendah, pikirnya, orang macam itu harus dibinasakan. Dan ayahnya bahkan memaksanya untuk menjadi isteri dari pemuda macam itu.

Keduanya melanjutkan perjalanan menuju ke Hong-san dengan cepat. Karena Tin Eng tidak mendesaknya dan tidak minta penjelasan, maka Kui Hwa tidak banyak bicara lagi dan soal yang lalu itu tidak pernah disinggung-singgung oleh kedua pihak. Berkat kejenakaan dan kegembiraan Tin Eng, awan gelap yang selalu menyelimuti wajah Kui Hwa semenjak ia menuturkan pengalamannya, mulai pudar dan ia menjadi gembira lagi seperti biasa. Pada suatu hari, mereka tiba di kota Keng-hoa-bun yang berada di tepi sungai Siong-kiang. Baru saja mereka memasuki pintu gerbang kota dan kuda-kuda mereka dilarikan congklang, tiba-tiba terdengar suara laki-laki memanggil Kui Hwa. “Tan-sumoi!”

Kui Hwa menengok dan ketika melihat dua orang pemuda berdiri di pinggir jalan, ia menahan kudanya dan menjawab, “Hai ! Jiwi suheng! Kalian juga berada di sini?”

Tin Eng menengok dan memandang kepada dua orang pemuda yang ditegur oleh Kui Hwa. Mereka ini adalah dua orang laki-laki muda yang tegap dan gagah, yang seorang berpakaian baju biru dan yang kedua baju putih. Dari sebutan yang dikeluarkan oleh Kui Hwa tadi ia maklum bahwa kedua orang pemuda itu adalah suheng (kakak seperguruan) dari kawannya, jago-jago muda dari Hoa-san-pai, maka ia memandang dengan penuh perhatian.

Kui Hwa melompat turun dari kudanya, dituruti oleh Tin Eng, sedangkan kedua orang pemuda itupun berlari menghampiri mereka.

“Sumoi, kau hendak pergi kemanakah?”

Kui Hwa tersenyum dan berkata sambil menunjuk ke arah Tin Eng,

“Panjang untuk dibicarakan, kita harus mencari tempat yang cocok untuk memutuskan hal ini. Sekarang perkenalkan dulu, ini sahabat baikku yang bernama Liok Tin Eng yang berjuluk Sian-kiam Lihiap. Adikku, ini adalah kedua suhengku yang bernama Pui Kiat dan Pui Hok!”

Kedua saudara Pui itu menjura kepada Tin Eng yang membalasnya pula sebagaimana lazimnya.

“Sumoi berkata benar!” kata Pui Hok yang berbaju putih. “Mari kita pergi ke rumah makan untuk bercakap-cakap.”

Tin Eng dan Kui Hwa lalu menuntun kuda mereka dan berempat pergi ke sebuah rumah makan yang terdekat. Mereka disambut oleh seorang pelayan yang segera menyuruh seorang kawannya menerima dua ekor kuda itu untuk dicancang di pinggir rumah makan. Kemudian ia mengantar keempat orang tamunya ke ruangan tamu yang kosong.

Pui Kiat, Pui Hok, Tin Eng dan Kui Hwa lalu duduk mengelilingi sebuah meja. Rumah makan itu amat sederhana, bahkan buruk sekali. Temboknya sudah banyak yang rusak kelihatan batanya, karena keadaan di situ tidak amat bersih, mereka memilih tempat duduk dekat jendela yang kereinya tergulung agar mendapat hawa segar. Pelayan itu lalu mendekati mereka sambil membungkuk-bungkuk. Sikapnya menghormat sekali dan pelayan ini memang lucu wajahnya. Mukanya bundar, seperti juga tubuhnya yang gemuk pendek, senyumnya lebar dan pakaiannya sudah tambal-tambalan.

“Tuan-tuan dan nona-nona tentu haus dan hendak minum arak, bukan? Arak kami sudah tersohor enak dan wangi dan saya berani bertanggung jawab bahwa setetes pun air tidak dicampurkan seperti arak yang dijual di lain rumah makan!” kata pelayan itu sambil mengacungkan ibu jari kedua tangannya.

Pui Kiat berwatak polos dan kasar dan pada waktu itu ia telah merasa lapar sekali, maka berkata keras, “Sediakan nasi yang banyak dan arak baik!”

Pelayan itu mengangguk-angguk lalu mengundurkan diri untuk menyediakan pesanan Pui Kiat. Kemudian Pui Kiat memandang kepada sumoinya dan berkata dengan muka girang,

“Sumoi, telah lama kita tidak bertemu. Kau harus menuturkan semua pengalamanmu. Kau hendak pergi kemanakah dan setelah kita bertemu di sini, lebih baik kita mengadakan perjalanan bersama.”

Kui Hwa tersenyum dan Tin Eng yang melihat pandangan mata Pui Kiat kepada sumoinya diam-diam tersenyum juga karena pandang mata pemuda itu dengan jelas menyatakan bahwa Pui Kiat menaruh hati sayang kepada sumoinya.

“Twa-suheng, aku dan adik Tin Eng ini hendak pergi ke Hong-san!” jawab Kui Hwa.

Pui Kiat yang duduk di sebelah kanannya memandang kepada Pui Hok dan kedua orang itu menyatakan keheranan mereka.

“Mengapa semua orang hendak pergi ke Hong-san?” kata Pui Hok. “Pasukan berkuda itupun hendak pergi ke Hong-san! Ada apakah di Hong-san, sumoi?”

Kui Hwa bertukar pandang dengan Tin Eng dan Dewi tangan maut itu mengerti bahwa Tin Eng tidak setuju apabila ia menceritakan tentang harta terpendam itu kepada kedua suhengnya, maka lalu ia menjawab,

“Ah, itu hanya kebetulan saja barangkali jiwi-suheng. Kami berdua hanya ingin meluaskan pemandangan. Karena kami mendengar bahwa pemandangan di Hong-san amat indah, maka kami hendak pesiar di sana.”

Sementara itu, semenjak tadi Pui Hok mengerling ke arah Tin Eng dengan pandang mata kagum dan hormat,

“Bolehkah siauwte mengetahui, Liok lihiap ini anak murid dari mana?” ia bertanya kepada Tin Eng. Dara ini merasa ragu-ragu untuk menjawab oleh karena maklum bahwa kedua saudara Pui ini adalah anak murid Hoa-san-pai yang bermusuhan dengan Go-bi-pai, cabang persilatan dari ayahnya, maka ia menjadi serba salah dan memandang kepada Kui Hwa. Dewi tangan maut itu tertawa dan berkata kepada kedua suhengnya,

“Harap jiwi suheng jangan heran dan kaget. Nona ini adalah seorang anak murid yang tidak langsung dari Go-bi-pai.”

Kedua saudara Pui ini tercengang, bahkan air muka mereka berubah ketika mendengar ini, akan tetapi Kui Hwa cepat-cepat melanjutkan keterangannya.

“Suheng berdua jangan salah sangka. Biarpun adik Tin Eng anak murid Gobi, akan tetapi sikap dan pendiriannya berbeda dengan anak murid Go-bi-pai yang lain. Ia tidak bermusuhan dengan cabang kita, buktinya ia menjadi sahabat karibku. Adik Tin Eng samasekali tidak memperdulikan permusuhan-permusuhan itu, dan menurut pertimbangannya, tidak perduli dari cabang manapun yang jahat adalah musuhnya dan yang baik menjadi sahabatnya.” Kedua saudara Pui itu mengangguk-angguk dan memandang dengan kagum dan girang. “Pertimbangan yang amat bijaksana!” Pui Hok memuji.

“Bagus!” Pui Kiat menyatakan kegirangan. “Kalau semua anak murid Go-bi-pai seperti Liok lihiap ini, alangkah akan senangnya hatiku.”

“Akan tetapi sesungguhnya adik Tin Eng bukanlah mengandalkan kepandaiannya dari ilmu silat cabang Gobi. Ia mendapat sebutan Sian-kiam lihiap, bukan karena ilmu pedang cabang Go-bi-pai, akan tetapi karena ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat!”

Makin tercengang kedua orang pemuda itu mendengar keterangan ini.

“Ah ...! Tidak tahunya kita berhadapan dengan seorang ahli pedang Sin-eng Kiam-hoat yang terkenal itu!” kata Pui Kiat sambil berdiri dan menjura kepada Tin Eng, diturut pula oleh Pui Hok. “Maaf, lihiap. Kami berlaku kurang hormat!”

Tin Eng cepat berdiri dan membalas penghormatan ini, lalu berkata cemberut sambil mengerling kepada Kui Hwa yang duduk di sebelah kanannya,

“Dasar enci Kui Hwa yang bisa saja memuji orang. Ilmu pedangku yang masih dangkal apa harganya untuk diperkenalkan? Harap jiwi enghiong tidak berlaku sungkan dan banyak menjalankan peradatan!”

Pada saat itu, pelayan yang gemuk pendek itu muncul membawa guci arak, cawan-cawan arak dan empat mangkok nasi putih yang bersih. Dengan cekatan dan tersenyum-senyum ia mengatur cawan-cawan arak dan mangkok nasi itu dihadapan keempat orang tamunya. “Silahkan, tuan-tuan dan nona-nona. Selamat makan dan minum!”

Pui Kiat sudah lapar semenjak tadi. Melihat nasi putih yang masih mengebul hangat itu, cepat ia menyambarnya dan menggunakan sumpit untuk makan nasi itu. Akan tetapi Kui Hwa memandang kepada pelayan tadi dan berkata,

“Apakah kau sudah mabok? Mana masakan sayurannya? Apakah kami harus makan nasi saja?”

Pui Hok juga merasa tidak senang dan sambil memandang kepada pelayan itu dengan mata mendelik ia berkata,

“Bagaimana sih kau melayani tamu? Apakah restoran ini hanya menjual nasi saja? Hayo, cepat sediakan masakan-masakannya yang paling istimewa. Cepat, kami sudah lapar!”

Akan tetapi, pelayan itu tidak cepat-cepat melakukan perintah ini, bahkan berdiri seperti patung dan memandang kepada mereka dengan muka yang bodoh.

“Mengapa kau masih berdiri saja?” Pui Kiat yang masih makan nasinya itu membentak pula.

Pelayan gemuk pendek itu mengangkat pundak dan mengembangkan kedua tangannya seperti orang yang merasa susah dan putus harapan. “Harap jangan marah, tuan-tuan dan nona-nona. Selain nasi, tidak ada masakan apapun juga di sini. Kalau tuan-tuan dan nona-nona suka akan kecap saja ”

“Kau suruh kami makan nasi dengan kecap? Gila! Kenapa tidak ada masakan? Apakah restoranmu ini sudah mau gulung tikar?” kata Pui Kiat yang menunda makannya. Nasi semangkok itu tinggal sedikit saja karena perutnya yang lapar membuat nasi tanpa sayur itu terasa cukup nikmat.

“Pagi tadi sih lengkap,” pelayan itu menjawab. “Akan tetapi semua masakan kami diborong oleh pasukan berkuda dari kota raja itu dan harus diantarkan semua ke tempat pemberhentian mereka. Bukan dari restoran kami saja, bahkan dari restoran lain pun demikian.”

Pui Kiat menggebrak meja. “Apakah hanya mereka saja yang mampu membayar? Kami juga akan membayar sepenuhnya!”

Pelayan itu makin gelisah dan mukanya menjadi pucat melihat dandanan pakaian empat orang tamu ini. Ia dapat menduga bahwa mereka ini adalah orang-orang kang-ouw, ahli-ahli silat yang tak boleh dibuat gegabah. Maka dengan amat hati-hati dan membungkuk-bungkuk ia berkata,

“Maaf siauw-ya (tuan muda). Siapa berani membantah kehendak perwira dari kota raja? Kalau kami memberi masakan kepada cuwi, kemudian terlihat kepada mereka, bukankah itu berarti bahwa kami mencari bencana sendiri?”

“Jangan takut, kami yang akan tanggung!” kata pula Pui Kiat yang berangasan. Keluarkan sayur dan daging untuk kami, akan kami bayar sepenuhnya. Lagi pula, kami hanya berempat dan kami bukanlah orang-orang yang gembul, tentu takkan habis persediaan masakanmu oleh kami berempat.”

Pelayan itu tidak menjawab hanya kini ia mewek seperti mau menangis, matanya memandang bingung dan kadang-kadang melirik ke arah mangkok nasi Pui Kiat yang hampir habis nasinya itu. Agaknya meragukan ucapan Pui Kiat yang menyatakan bahwa empat orang ini bukan orang-orang gembul. Kalau bukan gembul, masa semangkok nasi tanpa sayur dapat dilalap habis dalam waktu sebentar saja?

Pui Kiat tidak sabar lagi, lalu bangkit berdiri menghampiri pelayan itu, memegang tangannya dan menariknya menuju ke dapur di restoran itu. Merasakan betapa pegangan tangan Pui Kiat bagaikan jepitan besi pada pergelangan tangannya, pelayan itu tidak berani berlambat-lambat lagi dan segera mengerjakan semua pesanan Pui Kiat. Juga para tukang masak melihat hal ini menjadi bingung karena mereka benar-benar merasa takut kalau-kalau mendapat marah dari perwira pemesan masakan itu.

Atas desakan dan ancaman Pui Kiat, karena bahan-bahan berupa sayur dan daging memang sudah tersedia, sebentar saja beberapa mangkok masakan yang mengepul dan mengeluarkan kesedapan yang menimbulkan selera dihidangkan oleh pelayan gemuk pendek ke meja empat orang muda itu. Pui Kiat dan tiga orang kawannya lalu makan minum dengan gembira.

“Anak-anak murid Hoasan bermakan minum dengan seorang murid Gobi!” kata Pui Hok sambil mengerling ke arah Tin Eng yang duduk di sebelah kanannya. “Aduh, sungguh hal yang belum pernah terjadi selama bertahun-tahun ini. Sungguh hal yang mengagumkan dan menyenangkan sekali!”

“Jiwi suheng (kakak seperguruan berdua) sebetulnya hendak ke manakah? Tanya Kui Hwa yang telah menghabiskan nasinya.

“Kami hendak pergi ke Swi-siang mengunjungi seorang paman dan karena kita satu jurusan, maka biarlah kita melakukan perjalanan bersama,” kata Pui Kiat. “Bukankah perjalanan ke Hong-san melalui kota itu?”

“Bagiku sih tidak ada halangannya, bahkan makin banyak kawan seperjalanan makin gembira. Akan tetapi harus ditanyakan dahulu kepada adik Tin Eng.”

“Liok–lihiap tentu tidak keberatan untuk melakukan perjalanan bersama kami berdua, bukan?” Pui Hok bertanya sambil memandang pada gadis itu.

Bab 24 …

MENGHADAPI dua orang bersaudara yang amat peramah itu, tentu saja tak mungkin bagi Tin Eng untuk menyatakan keberatannya. Sungguhpun ia akan lebih senang apabila dapat melakukan perjalanan berdua saja dengan Kui Hwa. Demi kesopanan dan persahabatan, ia tersenyum sambil menjawab,

“Mengapa aku harus keberatan? Jiwi enghiong adalah kakak seperguruan enci Kui Hwa dan karena enci Kui Hwa adalah sahabat baikku, maka jiwi berarti juga sahabat-sahabatku pula.”

Bukan main girangnya Pui Kiat dan Pui Hok mendengar ini. Lagi-lagi mereka memuji gadis ini dan menyatakan bahwa apabila semua anak murid Go-bi-san seperti Tin Eng, tentu keadaan dunia akan menjadi aman.

“Akan tetapi kalian berdua menunggang kuda,” kata Pui Kiat. “Maka lebih baik aku dan adikku ini mencari dua ekor kuda pula. Sumoi dan Liok-lihiap harap tunggu sebentar di sini, karena aku dan adikku akan membeli dua ekor kuda dulu.”

Kui Hwa dan Tin Eng menyatakan baik dan kedua orang saudara Pui itu meninggalkan rumah makan untuk pergi membeli kuda tunggangan. Kedua orang gadis yang ditinggal berdua saja itu bercakap dengan gembira.

“Kedua suhengku itu biarpun agak kasar, akan tetapi mereka mempunyai hati yang baik dan jujur,” kata Kui Hwa.

“Enci Hwa, melihat suhengmu Pui Kiat itu amat menaruh perhatian padamu. Apakah kau tidak merasakan hal itu?”

Merahlah muka Kui Hwa. Ia mengangguk dan menjawab, “Dugaanmu memang benar, Tin Eng. Semenjak dahulu dia memang ada hati terhadapku.”

Setelah berkata demikian, Dewi tangan maut ini menundukkan kepalanya dan mukanya membayangkan kedukaan besar. Tin Eng yang cerdik dapat menduga bahwa kawannya ini tentu teringat lagi akan malapetaka yang menimpa dirinya berhubungan dengan pertemuannya dengan Gan Bu Gi.

Pada saat itu terdengar suara orang di depan restoran dan mereka mengenal suara pelayan pendek gemuk yang bicara dengan suara gemetar ketakutan.

“Ampun, tai-ciangkun. Bukan sekali-kali maksud hamba membangkang terhadap perintah akan tetapi kami tidak berdaya. Empat orang tamu telah memaksa kepada hamba melayani mereka dan menghidangkan masakan yang telah dipesan oleh Tai-ciangkun, maka terserahlah kepada kebijaksanaan tai-ciangkun!”

“Kurang ajar!” terdengar suara orang memaki. Suara ini tinggi dan kecil hingga amat ganjil bagi suara seorang laki-laki.

Kemudian terdengar tindakan kaki banyak orang memasuki restoran itu.

Tin Eng dan Kui Hwa saling pandang dan bersiap sedia karena mereka maklum bahwa yang datang ini tentulah perwira kerajaan yang menurut kata pelayan tadi, itulah pemborong semua masakan restoran itu. Mereka melihat munculnya lima orang.

Yang terdepan adalah seorang laki-laki berusia hampir empat puluh tahun yang berpakaian seperti guru silat dengan sarung golok tergantung pada pinggang kirinya. Tubuh orang ini tegap dan jenggotnya hanya sedikit, meruncing ke bawah bagaikan jenggot kambing bandot.

Di belakangnya nampak empat orang berpakaian seragam dan melihat hiasan bulu di atas topi mereka, tahulah kedua orang gadis itu bahwa mereka adalah perwira-perwira kerajaan. Ketika melihat seorang yang masuk paling belakang, Tin Eng terkejut sekali karena mengenal orang itu sebagai Thio Sin, kepala pengawal atau perwira yang bekerja pada ayahnya. Thio Sin membisikkan sesuatu kepada laki-laki setengah tua yang memimpin tadi. Laki-laki itu berubah mukanya dan kalau tadi ia nampak marah sekali, kini ia berubah menjadi girang, bahkan lalu tertawa bergelak.

“Ah, ini namanya jodoh! Dicari dengan sengaja ke mana juga tidak bertemu. Tidak tahunya tanpa disengaja berjumpa di sini. Ha ha!”

Tin Eng berdiri dengan hati tidak enak. Ia tidak tahu siapakah orang ini. Akan tetapi dengan hadirnya Thio Sin di situ, ia merasa bahwa tentu akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Liok-siocia,” kata Thio Sin. “Ketahuilah bahwa orang gagah ini adalah Ang Sun Tek, pembantu istimewa dari kerajaan. Biarpun ia tidak mengenakan pakaian seragam, namun Ang-ciangkun menduduki pangkat amat tinggi di kalangan perwira kerajaan.”

“Aku tidak perduli dan tidak ingin mengetahui hal itu!” jawab Tin Eng dengan kasar.

Orang yang bernama Ang Sun Tek itu tertawa bergelak. Dia inilah ketua dari Liok-te-Pat-mo (Delapan Iblis Bumi) yang kini menjadi pembantu-pembantu istimewa dari pasukan pengawal kerajaan. Ang Sun Tek inilah murid Lok Kong Hosiang yang telah mewarisi ilmu silat Pat- kwa To-hoat, ahli golok yang amat lihai dan yang menjagoi di seluruh daerah utara. Dialah yang kini sedang dicari-cari oleh Gwat Kong dan Cui Giok. “Nona Liok, sudah lama mendengar namamu yang hebat. Bukankah kau yang dijuluki Sian- kiam Lihiap dan yang menerima tugas dari kedua anak Pangeran Pang Thian Ong untuk mencari harta terpendam? Ha ha! Kebetulan sekali, kami serombongan ini sengaja keluar dari kota raja untuk mencari permata yang telah terjatuh ke dalam tangan kedua putera she Pang itu. Selain itu, akupun mendapat pesan dari ayahmu untuk mencarimu dan membawamu kembali ke Kiang-sui!”

“Aku tidak kenal kepadamu dan tidak perduli apa yang sedang kau lakukan, tidak perduli tentang segala urusanmu dengan ayahku!”

“Ha ha ha! Ganas, ganas! Aku hanya menerima pesan ayahmu dan mau atau tidak, kau harus ikut kami pergi ke Kiang-sui untuk menghadap ayahmu!”

Tin Eng menjadi marah dan mencabut pedangnya. “Mau memaksa! Boleh, majulah berkenalan dengan pedangku!”

“Ha ha ha! Sian-kiam Lihiap, si pedang dewa telah mencabut pedangnya Sungguh lihai!” Sambil berkata demikian, Ang Sun Tek menggerakkan kaki tangannya ke kanan kiri dan hebat sekali. Meja kursi yang berada di kanan kirinya, sungguhpun tidak tersentuh oleh kaki tangannya, akan tetapi terdorong jatuh bagaikan disapu angin besar.

Tin Eng terkejut melihat kehebatan tenaga lweekang ini dan Kui Hwa yang melihat ini pun kaget sekali. Ia maklum bahwa kepandaian Tin Eng takkan dapat menandingi laki-laki ini, maka iapun segera mencabut pedangnya dan melompat di dekat Tin Eng.

“Eh, ada pendekar pedang wanita yang lain lagi. Siapakah kau, nona?” Ang Sun Tek tertawa mengejek.

“Tak perlu aku memperkenalkan namaku kepada segala orang macam kau. Cukup kalau kau kenal namaku sebagai Dewi Tangan Maut!”

Mendengar nama ini, kembali Ang Sun Tek tertawa menghina. “Ah, tidak tahunya ada anak murid Hoa-san-pai di sini. Kau agaknya lebih bijaksana dari pada Sin Seng Cu. Buktinya kau mau menjadi sahabat nona Liok yang menjadi anak murid Go-bi-pai.”

“Kau adalah seorang yang berkepandaian tinggi, akan tetapi sungguh tidak kusangka bahwa kepandaianmu itu hanya kau gunakan untuk menghina wanita. Adik Tin Eng tidak mau pulang, mengapa kau hendak memaksanya?”

“Ha ha! Dewi Tangan Maut. Apa kaukira bahwa dengan adanya kau di sini, aku takkan dapat membawa nona Liok pulang ke Kiang-sui.

“Manusia sombong, pergilah!” Tin Eng yang tak dapat menahan sabar lagi melompat maju dan mengirim serangan kilat dengan pedangnya.

Ang Sun Tek tertawa-tawa dan menggunakan kakinya menendang meja kursi melayang ke arah Tin Eng sehingga gadis itu terpaksa menangkis dengan pedangnya. Sekali bacok kursi itu terbelah dua dan jatuh di atas lantai. Dengan perbuatannya itu, Ang Sun Tek membuat ruangan itu menjadi lega. “Nah, majulah dan coba perlihatkan ilmu pedangmu!” ia menantang Tin Eng yang segera mau menyerbu. Tadinya Ang Sun Tek mengira bahwa ilmu pedang Tin Eng tentulah ilmu pedang cabang Go-bi-pai. Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat pedang itu berkelebat cepat laksana halilintar menyambar-nyambar.

Terpaksa ia harus menggunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana ke mari sambil mempergunakan kedua tangannya mainkan ilmu silat semacam eng-jiauw-kang untuk merampas pedang di tangan Tin Eng. Kalau saja Tin Eng mempergunakan ilmu pedang Go- bi-pai, dalam beberapa jurus saja pedangnya tentu telah kena dirampas oleh Ang Sun Tek.

Akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan oleh Tin Eng adalah ilmu pedang Sin-eng Kiam- hoat yang luar biasa lihainya, maka jangankan untuk dapat merampas, bahkan kalau dilanjutkan menghadapi gadis itu dengan tangan kosong, belum tentu Ang Sun Tek akan dapat mengalahkannya.

Barulah Ang Sun Tek merasa terkejut dan tidak berani memandang rendah. Ia berseru keras dan mencabut keluar goloknya dan ketika goloknya itu digerakkan, maka menyambarlah angin dingin yang membuat Tin Eng tercengang. Bukan main hebatnya ilmu golok ini dan luar biasa pula tenaga sambarannya. Ia tidak tahu bahwa ilmu golok ini adalah Pat-kwa To- hoat yang merupakan ilmu silat yang paling tinggi untuk daerah utara.

Melihat betapa dalam segebrakan saja golok Ang Sun Tek telah menindih dan mendesak pedang Tin Eng, Kui Hwa lalu melompat maju dan membantu Tin Eng. Sementara itu, empat orang perwira kerajaan yang mengikuti Ang Sun Tek hanya berdiri di pinggir menjadi penonton saja oleh karena mereka tidak berani membantu tanpa diperintah dari Ang Sun Tek.

Biarpun dikeroyok oleh dua orang gadis pendekar itu, namun ilmu golok Ang Sun Tek benar lihai sekali. Tiap kali goloknya membentur pedang lawan, Tin Eng atau Kui Hwa merasa tangan mereka tergetar dan pedang mereka hampir terlepas dari genggaman. Hoa-san Kiam- hoat yang dimainkan oleh Kui Hwa adalah ilmu pedang yang lihai, sedangkan Sin-eng Kiam- hoat lebih luar biasa lagi. Akan tetapi kalau kedua ilmu pedang itu digunakan berbareng oleh dua orang untuk mengeroyok, kedua ilmu pedang ini tidak mendatangkan kehebatan yang berganda. Biarpun keduanya merupakan ilmu pedang yang lihai, akan tetapi memiliki keistimewaan masing-masing dan gerakannya yang berbeda.

Hal ini menguntungkan Ang Sun Tek karena kalau saja yang mengeroyoknya itu keduanya memiliki ilmu pedang Hoa-san Kiam-hoat tentu akan lebih berat baginya. Atau kalau saja yang mengeroyoknya adalah dua orang Tin Eng, agaknya akan sukar baginya untuk menjatuhkan lawan-lawannya.

Dengan gerakan-gerakan ilmu golok Pat-kwa To-hoat, yang mempunyai dasar delapan segi itu, maka ia dapat menghadapi dua orang lawannya dengan baik, bahkan ia selalu berada di pihak yang mendesak. Baik Tin Eng maupun Kui Hwa telah mulai lambat dan kacau gerakan pedang mereka, oleh karena mereka telah dibikin bingung oleh perobahan-perobahan sinar golok yang menyilaukan mata. Ketika Ang Sun Tek sambil tertawa-tawa memperhebat gerakannya, maka sibuklah mereka menangkis dan mengelak.

“Lepas senjata!” Ang Sun Tek berseru keras dan terdengar bunyi “trang!!” keras sekali. Tahu- tahu pedang di tangan Kui Hwa telah terlempar dan mencelat ke atas sampai menancap pada langit-langit rumah makan itu. “Ha ha ha! Dewi Tangan Maut, aku merasa malu untuk melukai seorang yang tak pantas menjadi lawanku. Kalau kau masih penasaran, suruhlah Sin Seng Cu atau yang lain mencariku di kota raja!” kata Ang Sun Tek sambil mengelak dari sambaran pedang Tin Eng. Kemudian secepat kilat tangan kirinya menotok Tin Eng. Gadis itu menjerit, pedangnya terlepas dari pegangan dan tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya lagi.

“Thio-ciangkun, rawatlah baik-baik nona majikanmu itu!” kata Ang Sun Tek kepada Thio Sin yang segera maju dan menolong Tin Eng yang sudah tak berdaya itu. Sementara itu dengan hati gemas, marah, sedih dan malu, Kui Hwa melompat pergi meninggalkan tempat itu.

Tak jauh dari situ, ia melihat Pui Kiat dan Pui Hok datang menunggang kuda. Kui Hwa lalu memberi tanda-tanda kepada mereka sehingga kedua orang muda itu memutar kembali kuda mereka dan mengikuti sumoi mereka itu keluar dari kota. Melihat wajah Kui Hwa yang nampak pucat dan bersungguh-sungguh dan tidak bersama dengan Tin Eng, mereka merasa gelisah.

“Sumoi, apakah yang telah terjadi?” tanya Pui Kiat setelah mereka tiba di luar kota. “Dan dimanakah nona Liok?” tanya Pui Hok. “Mengapa ia tidak bersamamu?”

Dengan singkat Kui Hwa lalu menuturkan tentang pengalamannya bertemu dengan Ang Sun Tek yang kosen dan yang telah berhasil menawan Tin Eng untuk dipulangkan ke Kiang-sui.

“Celaka!” kata Pui Kiat. “Dia adalah kepala dari Liok-te Pat-mo yang amat terkenal Pat-kwa- tin mereka. Dia telah memandang rendah Hoa-san-pai kita. Benar-benar kurang ajar!”

“Mari kita tolong nona Liok!” kata Pui Hok.

“Tidak ada gunanya,” kata Kui Hwa. “Orang she Ang itu terlalu tangguh bagi kita. Aku sendiri bersama Tin Eng sama sekali tidak berdaya menghadapinya. Ilmu goloknya amat luar biasa. Selain itu, ia masih mempunyai kawan yang berkepandaian tinggi, semua perwira dari kerajaaan yang tak boleh dipandang ringan. Kalau kita bertiga pergi menolong, kita sendiri yang akan mendapat bencana.”

“Aku tidak takut!” seru Pui Hok bersemangat. “Apakah kita harus membiarkan saja nona Liok tertawan?”

“Bukan begitu, ji-suheng,” kata Kui Hwa. “Aku sendiri tentu akan membela mati-matian apabila mengetahui bahwa Tin Eng berada dalam bahaya. Akan tetapi ia tertawan oleh kawan-kawan ayahnya sendiri dan maksud mereka hanya akan membawa Tin Eng secara

paksa kembali ke rumah orang tuanya. Memang Tin Eng pergi dari rumah orang tuanya tanpa izin ayahnya.”

Kemudian karena terpaksa, secara singkat Kui Hwa menuturkan riwayat Tin Eng yang dipaksa kawin sehingga lari dari rumahnya dan betapa mereka berdua bertemu dengan Phang Gun dan Phang Si Lan yang mempercayakan pengambilan harta terpendam kepada Tin Eng dan dia sendiri. “Oleh karena itu, keselamatan Tin Eng kurasa takkan terganggu. Mereka takkan berani mengganggu puteri dari Kepala daerah Liok di Kiang-sui. Yang kukhawatirkan hanya kalau- kalau mereka akan dapat memaksa Tin Eng membongkar rahasia peta tempat harta pusaka itu tersimpan. Dan terutama sekali, tantangan Ang Sun Tek amat menggemaskan hati, maka sekarang baiknya diatur begini saja. Ang Sun Tek dan para kawannya belum kenal kepada suheng berdua, maka suheng berdua baiknya mengikuti perjalanan mereka, sambil menjaga kalau-kalau Tin Eng mengalami bencana. Pendeknya, suheng berdua mengawal Tin Eng secara sembunyi. Aku sendiri hendak melaporkan hal ini kepada suhu dan susiok agar supaya penghinaan Ang Sun Tek terhadap Hoa-san-pai dapat terbalas. Kemudian aku akan mewakili Tin Eng mengambil harta pusaka itu sebelum didahului oleh Ang Sun Tek atau pesuruh dari Pangeran Ong Kiat Bo yang lain.”

Pui Kiat dan Pui Hok menyatakan persetujuan dan kesanggupan mereka, terutama sekali Pui Hok yang tanpa tedeng aling-aling lagi menyatakan perasaan tertarik dan sukanya kepada Tin Eng dan pemuda ini amat mengkhawatirkan keadaan nona cantik itu. Dengan diam-diam mereka mengikuti rombongan yang dipimpin oleh Ang Sun Tek itu, yang tidak melanjutkan perjalanan mereka ke Hong-san, akan tetapi kembali ke utara dan kini menuju Kiang-sui.

Sebetulnya, ketika mereka memasuki kota itu dan bertemu dengan pasukan berkuda di bawah pimpinan Ang Sun Tek, secara iseng Pui Kiat dan Pui Hok mencari keterangan tentang hal mereka dan mendapat penuturan pengurus hotel bahwa rombongan berkuda itu adalah perwira-perwira kerajaan yang akan pergi ke Hong-san. Tadinya mereka tidak mengambil perhatian dan mereka tertarik ketika mereka bertemu dengan Kui Hwa dan mendapat keterangan bahwa Kui Hwa dan Tin Eng juga sedang menuju ke Hong-san. Kini setelah mendengar penuturan Kui Hwa, barulah kedua saudara Pui ini mengerti apakah maksud semua orang pegi ke Hong-san, yakni mencari harta pusaka yang tersembunyi di daerah pegunungan itu.

Sebagaimana yang telah diduga oleh Kui Hwa, Tin Eng tidak mendapat gangguan di tengah perjalanan, sungguhpun ia tidak berdaya sama sekali, naik kuda di tengah-tengah rombongan, Ang Sun Tek yang kosen itu senantiasa mendampinginya untuk menjaga kalau-kalau nona pendekar itu melarikan diri.

****

Kita tinggalkan dulu pasukan berkuda yang membawa Tin Eng menuju Kiang-sui dan yang selalu diikuti jejaknya oleh Pui Kiat dan Pui Hok itu dan marilah kita menengok keadaan Bun Gwat Kong dan Sie Cui Giok yang melakukan perjalanan bersama.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan bahwa nona Sie Cui Giok yang gagah perkasa itu sedang melakukan perjalanan untuk mencari Liok-te Pat-mo dan membalas dendam kakeknya yang pernah dikalahkan oleh delapan iblis bumi yang lihai itu dan Bun Gwat Kong yang merasa tertarik mendengar hal ini lalu ikut pergi bersama Cui Giok untuk bersama-sama mencoba kelihaian Pat-kwa-tin dari Liok-te Pat-mo itu.

Karena perjalanan mereka ke kota raja itu, melalui Hun-lam, maka setelah lewat di kota itu, Gwat Kong menyatakan kepada kawan seperjalanannya untuk mampir sebentar.

“Apakah kau ada keperluan di kota ini?” tanya Cui Giok yang ingin buru-buru sampai di kota raja. Gwat Kong belum pernah menceritakan kepada nona ini perihal Tin Eng dan ia mengira bahwa Tin Eng masih tinggal di rumah Lie-wangwe, yakni paman dari Tin Eng yang tinggal di kota Hun-lam. Mendengar pertanyaan Cui Giok ini ia menjadi bingung karena sukar untuk menyebut nama Tin Eng tanpa menceritakan semua riwayatnya dengan gadis itu. Akan tetapi akhirnya ia menjawab juga, “Aku mempunyai seorang kawan baik di kota ini.”

“Siapa dia? Siapa namanya?”

Gwat Kong berwatak jujur dan sukar sekali baginya untuk membohong atau menyembunyikan sesuatu, maka ia menjawab perlahan, “Namanya Tin Eng, ia she Liok.”

“Liok Tin Eng? Hm, indah sekali nama ini untuk seorang wanita!” Muka Gwat Kong menjadi merah, “Memang dia seorang wanita.” “Hmm, namanya sudah indah, tentu orangnya muda lagi cantik.” “Eh, Cui Giok. Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu?”

“Apakah kau menganggap aku sebodohnya orang? Kau katakan bahwa dia adalah kawan baikmu. Kalau dia bukan seorang dara jelita, habis apakah kau berkawan baik dengan seorang nenek-nenek tua yang ompong?”

Mau tak mau Bun Gwat Kong tertawa juga mendengar ucapan jenaka ini. Akan tetapi aneh sekali, ketika ia memandang muka gadis itu, Cui Giok tidak tertawa geli sebagaimana dugaannya, bahkan gadis itu nampak tak senang dan cemberut.

“Gwat Kong, apakah aku harus ikut pula mengunjunginya?”

“Tentu saja!” jawab Gwat Kong sambil memandang heran. “Mengapa tidak ikut?” Cui Giok menundukkan mukanya. “Ah, .... aku khawatir kalau-kalau hanya akan

mengganggunya.”

“Kau benar-benar aneh. Bagaimana seorang sahabat dapat mengganggu pertemuan antara kedua orang kawan?”

“Jadi kau anggap aku seorang sahabatmu?”

“Tentu saja, habis, bukankah kita memang sahabat karib?” Diam sejenak.

“Gwat Kong, apakah dia akan suka melihat dan menerima aku kalau aku ikut ke sana?”

“Siapakah yang kau maksudkan? Tin Eng? Tentu saja! Tin Eng adalah seorang gadis pendekar yang berkepandaian tinggi dan berhati gagah. Dia mempunyai ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat.” Mendengar ini, Cui Giok memandang cepat. “Oh, jadi dia masih sumoimu sendiri?”

Memang pertanyaan Cui Giok ini sudah sewajarnya oleh karena ia tahu bahwa Gwat Kong adalah ahli waris Sin-eng Kiam-hoat, maka kalau gadis yang bernama Tin Eng itu pandai ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat pula, siapa lagi kalau bukan sumoi (adik perempuan seperguruan) dari Gwat Kong?

“Bukan, bukan sumoiku. Dia itu adalah anak dari bekas majikanku. Tentang kepandaiannya dalam ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat itu sesungguhnya ada perbedaannya dengan kepandaianku.”

Gwat Kong lalu menuturkan tentang kitab pelajaran ilmu pedang yang diketemukannya ketika ia menggali kebun di belakang rumah gedung Liok-taijin dan bahwa Tin Eng hanya mempelajari ilmu pedang itu dari kitab salinannya yang disalin secara buruk sekali oleh Bu- eng-sian Leng Po In.

Sambil bercakap-cakap mereka memasuki kota Hun-lam dan tak terasa pula tahu-tahu mereka telah berada di depan gedung Lie-wangwe. Hati Gwat Kong berdebar ketika ia melihat gedung itu. Kegembiraan memenuhi hatinya kalau ia ingat bahwa sebentar lagi akan bertemu dan berhadapan muka dengan Tin Eng.

Akan tetapi gedung itu nampaknya sunyi saja dan ketika Gwat Kong yang diikuti oleh Cui Giok telah masuk di ruang depan, seorang pelayan menyambutnya. Pelayan itu masih mengenali Gwat Kong maka dengan muka girang ia lalu mempersilahkan pemuda itu duduk untuk menunggu sedangkan ia lalu melaporkan kedatangan tamu ini kepada Lie-wangwe.

Tak lama kemudian pelayan itu keluar lagi dan mempersilahkan kedua orang tamunya masuk ke ruang tamu di mana Lie-wangwe sendiri menyambut mereka. Gwat Kong terkejut melihat orang tua itu nampak pucat dan seperti keadaan sakit. Ia buru-buru memberi hormat yang diturut pula oleh Cui Giok.

“Bun-hiante, kau baru datang?” tanya hartawan itu dengan suara lemah. “Lie-siokhu, apakah kau selama ini sehat-sehat saja?”

Hartawan itu menghela napas dan memberi isyarat dengan tangannya untuk mempersilahkan kedua orang tamunya mengambil tempat duduk.

“Semenjak Tin Eng pergi, kesehatanku selalu terganggu. Aku merasa sunyi dan tak ada kegembiraan sama sekali.”

“Tin Eng pergi? Kemanakah dia siokhu? Apakah dia pulang ke Kiang-sui?” tanya Gwat Kong dengan hati kecewa.

“Tidak, mana dia mau pulang ke Kiang-sui? Dia pergi bersama seorang sahabatnya, seorang nona gagah perkasa yang bernama Tan Kui Hwa yang berjuluk Dewi Tangan Maut.”

“Ah, dia??” kata Gwat Kong, teringat bahwa Dewi Tangan Maut adalah anak musuh besar ayahnya. “Kemanakah mereka pergi, susiokhu?” “Siapa tahu ke mana anak-anak muda pergi. Mereka hanya menyatakan hendak merantau. Ah

... memang aneh sekali anak-anak muda sekarang. Lebih suka merantau bersusah payah dan mencari lelah, padahal di rumah lebih senang dan segala apa tersedia.”

Gwat Kong tidak lama berada di situ, karena ia maklum bahwa orang tua yang sedang tidak sehat itu tidak boleh diganggu terlalu lama. Ketika ia berpamit, Lie-wangwe hanya memesan bahwa apabila pemuda itu bertemu dengan Tin Eng, minta supaya gadis itu kembali ke Hun- lam.

Cui Giok dapat melihat kekecewaan yang membayang keluar dari pandang mata Gwat Kong, maka ia tidak mau mengganggunya. Hanya berkata sambil berjalan di sebelah pemuda yang menjadi pendiam itu,

“Aku pernah mendengar nama Dewi Tangan Maut yang terkenal. Bukankah dia itu anak murid Hoa-san-pai?”

Gwat Kong hanya mengangguk. Kekecewaan membuat ia malas bicara. Cui Giok dapat merasakan pula sikap Gwat Kong ini. Maka gadis yang berhati polos ini bertanya,

“Gwat Kong, agaknya kau dan Tin Eng saling menyintai.”

Gwat Kong terkejut mendengar ini dan mukanya menjadi merah sekali.

“Cui Giok, bagaimana kau bisa berkata demikian? Tin Eng adalah anak tunggal dari Kepala daerah di Kiang-sui, seorang bangsawan tinggi yang berpengaruh dan kaya raya. Sedangkan aku ini orang macam apakah? Aku dahulu hanyalah menjadi seorang pelayan tukang kebon dari keluarga Liok. Mana ada aturan seperti yang kau duga itu?”

“Jadi kalau begitu, kau dan Tin Eng hanyalah sahabat belaka?”

“Disebut sahabat pun sudah janggal terdengarnya. Aku pernah menjadi pelayannya. Mana ada pelayan menjadi sahabat puteri majikannya?”

Kini Cui Giok memandang dengan mata berseri.

“Gwat Kong ” katanya akan tetapi kata-katanya terhenti.

“Kau hendak bilang apakah, Cui Giok?” Gwat Kong bertanya sambil memandang. “Ada orang yang semenjak bertemu dengan kau ” ia berhenti lagi.

“Ya ?” Gwat Kong mendesak.

“Yang tidak memandang rendah kepadamu bahkan yang menganggap kau cukup berharga untuk menjadi sahabat seorang puteri kaisar sekalipun!”

“Ah, orang itu tentu terdorong hatinya oleh rasa kasihan terhadap anak yatim piatu sebatang kara yang miskin ini,” cela Gwat Kong. “Tidak! Orang itu menyatakan dengan sejujur hatinya bahwa kau adalah orang yang jujur dan mulia. Sifat kebajikan ini tak dapat diukur dengan hanya melihat keadaan lahirnya. Sejarah menyatakan bahwa tak sedikit jumlahnya orang-orang yatim piatu yang paling miskin memiliki jiwa kesatria dan hati mulia yang jauh lebih berharga dari pada segala pangkat dan harta benda orang-orang berhati rendah!”

Maka merahlah muka Gwat Kong. “Aaah, orang itu terlalu melebih-lebihkan!” Diam-diam ia menjadi bingung dan dadanya berdebar, karena ia maklum bahwa yang dimaksudkan oleh Cui Giok ‘orang’ itu adalah Cui Giok sendiri.

Nona itu tertawa dan memandang kepada Gwat Kong dengan mata berseri dan gembira. “Sayangnya kau pemalu dan berpura-pura alim!”

“Haaa ?” Gwat Kong memandang dengan mata terbelalak. Akan tetapi Cui Giok hanya

tertawa geli lalu berlari cepat sehingga Gwat Kong harus mengerahkan tenaga untuk menyusulnya.

Beberapa hari kemudian mereka tiba di pinggiran sungai Yung-ting di propinsi Hope.

“Gwat Kong, aku sudah bosan melakukan perjalanan melalui darat. Marilah kita melanjutkan melalui sungai Yung-ting ini. Aku mendengar kabar bahwa pemandangan di kanan kiri sungai ini amat indahnya, pula dengan membonceng kepada aliran air, kita menghemat tenaga kaki.”

“Kau pemalas!” Gwat Kong menggoda.

Akan tetapi ia tidak membantah dan keduanya lalu menyewa sebuah perahu kepunyaan seorang nelayan tua yang berjenggot panjang. Perahu itu kecil saja akan tetapi masih baik dan kuat. Di sini terdapat sebuah payon dari bilik yang kecil akan tetapi cukup untuk digunakan sebagai pelindung serangan hujan atau angin. Tiang layarnya dari kayu kasar dan kuat, dipasang di tengah-tengah perahu.

“Ji-wi jangan kuatir, perahuku ini cukup dan baik, tidak bocor sedikitpun juga seperti mulut seorang budiman.”

Gwat Kong tersenyum dan sambil memandang air sungai Yung-ting yang sedang pasang, ia bertanya,

“Apakah tidak berbahaya, lopek? Aku harus akui bahwa aku tak pandai berenang, sungguhpun kawanku ini seorang ahli berenang yang pandai.” Sambil berkata demikian, ia mengerling kepada Cui Giok yang tertawa geli karena kata-kata ini mengingatkan ia akan peristiwa ketika ia berjumpa untuk pertama kalinya dengan Gwat Kong.

“Sama sekali tidak berbahaya. Bahkan kalau air sedang pasang seperti ini, lebih mudah untuk berlayar. Tidak takut akan bahayanya batu karang yang menghalang di bawah permukaan air.”

“Apakah tidak ada bajak sungai?” tanya Cui Giok. Kakek nelayan itu mengerutkan alisnya. “Tak berani aku mengatakan tidak ada. Biasanya sih aman saja. Hanya kadang-kadang di dekat Kiang-sui suka timbul gangguan bajak sungai.

Akan tetapi setelah Kepala daerah Kiang-sui mengadakan pembersihan, kabarnya banyak bajak sungai tak berani mengganggu lagi.”

Gwat Kong melompat ke atas ketika mendengar ini. “Apa sungai ini mengalir sampai ke Kiang-sui?”

“Tidak memasuki kotanya, kongcu. Hanya mengalir di sebelah selatan kota itu. Kira-kira lima li jauhnya dari batas kota.”

“Bagus!” kata Gwat Kong dengan girang. “Kalau begitu kita dapat berhenti sebentar karena aku akan mengunjungi Kiang-sui.”

Cui Giok cemberut. “Hmm, kau tentu mencari Tin Eng di rumah ayahnya.”

Gwat Kong tersenyum. “Tidak, Cui Giok, Tin Eng tidak akan ada di rumahnya, karena aku tahu betul gadis itu takkan mau pulang ke rumah orang tuanya. Aku hanya ingin melihat kota di mana aku telah tinggal bertahun-tahun di situ, karena bukankah kita kebetulan melalui kota itu?”

Pada saat kedua orang muda itu hendak naik ke dalam perahu itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah lima orang penunggang kuda. Dua di antara mereka adalah Lui Siok si Ular Belang dan Song Bu Cu, dua orang pemimpin perkumpulan Hek-i-pang. Tiga yang lain adalah tiga orang anak buah mereka di kota Tong-kwan, pusat perkumpulan itu.

Song Bu Cu dan Lui Siok belum pernah bertemu Gwat Kong, maka mereka hanya melirik saja dan hendak melarikan kuda mereka melewati tempat itu. Akan tetapi seorang di antara anak buah mereka pernah melihat Gwat Kong ketika pemuda ini menangkap Touw Cit dan Touw Tek, pemeras kota Hun-lam dan anak buah Hek-i-pang, maka ia menahan kendali kudanya dan berseru,

“Kang-lam Ciu-hiap!”

Mendengar disebutnya nama ini, Song Bu Cu dan Lui Siok terkejut dan segera menahan kuda mereka.

“Mana jahanam itu?” tanya Lui Siok kepada anak buahnya yang berseru tadi. Orang itu lalu menudingkan jarinya ke arah Gwat Kong dan berkata,

“Itulah dia orangnya, Kang-lam Ciu-hiap yang telah mengacau di Hun-lam!”

Song Bu Cu dan Lui Siok memandang dan ketika melihat bahwa yang bernama Kang-lam Ciu-hiap seorang pemuda yang nampaknya lemah dan kawan pemuda itupun hanya seorang dara muda yang cantik. Maka mereka lalu melompat turun dari kuda dan menghampiri perahu itu dengan lagak sombong.

“Cui Giok,” kata Gwat Kong melihat sikap kedua orang itu. “Kita bertemu dengan orang- orang jahat. Mereka tentu akan mencari perkara.” “Bagus!” kata Cui Giok tersenyum girang. “Mereka akan menyesal hari ini selama hidupnya.”

Bab 25 ...

SEMENTARA itu, nelayan tua ketika mendengar ucapan-ucapan ini dan melihat sikap Song Bu Cu dan Lui Siok yang galak mengancam menjadi ketakutan. Ia berjongkok di dalam perahunya dengan tubuh menggigil dan mulutnya tiada hentinya menyebut nama Budha sambil memohon,

“Omi-tohud! Lindungilah hamba ”

Dengan sikap tenang sekali Gwat Kong dan Cui Giok lalu keluar dari perahu dan berjalan maju menyambut kedatangan kedua orang itu. Setelah mereka berhadapan, Lui Siok menudingkan telunjuknya ke arah muka Gwat Kong dan membentak,

“Bangsat kecil, apakah kau yang bernama Gwat Kong dan yang menyombongkan diri sebagai Kang-lam Ciu-hiap?”

“Bangsat besar!” Gwat Kong balas memaki. “Memang cocok sekali watakmu sebagai bangsat besar, datang-datang memaki orang, seperti orang yang miring otaknya.”

“Kang-lam Ciu-hiap! Dengarlah baik-baik. Aku adalah Lui Siok, wakil ketua dari Hek-i-pang di Tong-kwan, sedangkan twako ini adalah Song Bu Cu, ketua dari Hek-i-pang. Kau telah berlaku kurang ajar dan telah menghina Touw Cit dan Touw Tek di Hun-lam. Mereka itu adalah anggauta-anggauta perkumpulan kami.”

“Pantas, pantas!” Gwat Kong mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pantas saja nama Hek-i- pang dibenci semua orang. Tidak tahunya yang menjadi ketua dan wakil ketuanya orang- orang macam ini.”

“Akupun pernah mendengar tentang kebusukan nama Hek-i-pang,” tiba-tiba Cui Giok ikut bicara. “Karenanya sudah lama aku ingin menegurnya. Sekarang pemimpin-pemimpinnya datang menyerahkan diri. Sungguh bagus, tidak usah aku mencapekkan diri mencari.”

Bukan main marahnya Song Bu Cu dan Lui Siok mendengar ucapan kedua orang muda ini. “Perempuan busuk!” Song Bu Cu membentak. “Siapakah kau yang lancang mulut ini?”

Cui Giok tertawa. “Mau tahu aku siapa? Aku adalah malaikat penjaga sungai Yung-ting ini dan aku telah mendapat pesan dari Hay-liong-ong (Raja naga laut yang menguasai air) agar supaya aku menangkapmu dan melemparkan kau ke air agar dosa-dosamu dicuci bersih dengan air sungai ini.”

“Anjing betina!” Song Bu Cu memaki dengan marah yang meluap-luap. Belum pernah ada orang yang berani menghina sedemikian rupa. Apalagi seorang dara muda seperti Cui Giok. Maka ia lalu bergerak maju hendak menyerang, akan tetapi ia didahului oleh Lui Siok yang berkata,

“Twako, biarlah aku yang menangkap domba betina yang pandai berlagak ini. Harap twako membereskan saja Kang-lam Ciu-hiap!” Memang Lui Siok berwatak licik. Ia telah mendengar dari Gan Bu Gi tentang kelihaian Kang- lam Ciu-hiap, maka biarpun dulu di depan Gan Bu Gi ia bicara sombong, akan tetapi karena kini Gwat Kong berkawan seorang gadis muda, ia hendak mengambil rsiko sekecil-kecilnya dengan melawan gadis itu. Melawan Kang-lam Ciu-hiap ada bahayanya menderita kalah.

Akan tetapi menghadapi gadis muda ini tak mungkin akan kalah, demikian pikirnya.

Ia bermaksud membikin malu dara muda yang cantik itu, maka begitu ia menubruk maju, ia mengeluarkan ilmu silatnya yang lihai, yakni ilmu tangkap yang disebut Siauw-kin-na-jiu- hoat, sebagaimana pernah ia pergunakan ketika ia melawan Tin Eng. Siauw-kin-na-jiu-hoat ini dilakukan mengandalkan kekuatan jari tangan dan kecepatan gerakan. Setiap tangkapan atau cengkeraman ditujukan kepada jalan darah sehingga sekali saja tangan atau bagian tubuh lain dari lawan kena tertangkap, maka amat sukarlah bagi lawan itu untuk dapat melepaskan diri.

Sambil berseru keras, Lui Siok menyerang ke arah kedua pundak Cui Giok dan ia merasa bahwa serbuannya ini pasti akan berhasil karena selain ia lakukan dengan amat cepatnya, juga ia melihat betapa gadis itu masih berdiri dengan bertolak pinggang, sama sekali tidak memasang kuda-kuda.

Sementara itu, Song Bu Cu juga maju menyerbu Gwat Kong. Ketua dari Hek-i-pang terlalu percaya kepada kepandaian sendiri dan ia memandang rendah kepada Gwat Kong yang masih amat muda, maka ia menyerang menggunakan kedua tangannya saja. Melihat betapa pemuda itu dengan sikap sembarangan berdiri dengan kaki kiri di depan dan dua tangan disilangkan di dada, ia lalu memajukan kaki kanan dan memukul dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho (Kerah putih persembahkan buah Tho) dengan maksud untuk menipu. Dan apabila lawannya mengelak sambil mengundurkan kaki kiri, ia akan menyusul dengan kaki kirinya mengirim tendangan dibarengi dengan pukulan tangan kanan.

Serangan yang dilakukan oleh Lui Siok dan Song Bu Cu datangnya pada saat yang sama, dan keduanya telah merasa yakin bahwa serangan pertama itu tentu akan merobohkan lawan.

Akan tetapi, tiga orang anak buah Hek-i-pang dan nelayan tua yang menonton pertempuran itu, tiba-tiba membelalakkan mata dan memandang dengan penuh keheranan ketika serangan itu bukan mengakibatkan robohnya Gwat Kong dan Cui Giok, bahkan tiba-tiba terdengar suara kaget disusul oleh melayangnya tubuh Song Bu Cu dan Lui Siok ke sungai.

“Byur........ byur !!” air memercik ke atas ketika dua tubuh ketua Hek-i-pang itu menimpa

air. Song Bu Cu masih untung oleh karena ia terjatuh di air dengan kepala lebih dahulu sehingga ia dapat meluruskan tubuhnya dan kedua tangannya dipergunakan untuk memasuki air dengan baik. Akan tetapi Lui Siok terjatuh dengan pantat lebih dulu sehingga ia merasa pantatnya panas dan pedas.

Gwat Kong dan Cui Giok saling pandang dengan alis terangkat dan ulut tersenyum geli. Sungguh tak pernah mereka duga bahwa mereka mempunyai maksud dan gerakan yang sama yakni melemparkan kedua lawan itu ke dalam air. Maka tak tertahan pula keduanya tertawa bergelak sambil memandang ke arah dua orang lawannya yang sedang berenang ke pinggir.

Song Bu Cu dan Lui Siok menjadi marah sekali. Memang tadi mereka telah sangka dan terlalu memandang rendah kepada lawan yang muda-muda ini. Ketika tadi Lui Siok mencengkeram ke arah pundak Cui Giok, gadis itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, akan tetapi mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya ke arah pundak dan mengeluarkan ilmu sia-kut-hoat (melepas tulang melemaskan tubuh). Sehingga ketika kedua tangan Lui Siok mencengkeram pundak gadis itu, si Ular Belang terkejut karena kulit pundak gadis itu terasa amat licin dan tak dapat ditangkap. Sebelum ia menginsyafi bahwa ia telah melakukan serangan yang amat berbahaya bagi kedudukannya sendiri, tiba-tiba kedua tangan Cui Giok telah menangkap leher dan bajunya, lalu melontarkan dengan tenaga lweekang hebat ke sungai.

Adapun Song Bu Cu ketika menyerang Gwat Kong dengan pukulan Pek-wan-hian-tho sama sekali tidak mengira bahwa Gwat Kong sudah dapat menduga maksudnya, maka dengan sengaja pemuda itu melangkahkan kaki kiri ke belakang. Song Bu Cu menjadi girang dan cepat menyusul dengan tendangan kaki kirinya dan pukulan tangan kirinya. Akan tetapi, tiba- tiba Gwat Kong berjongkok meluputkan diri dari pukulan lawan. Adapun kaki kiri Song Bu Cu menyambar kearahnya. Ia menyambut kaki kiri itu dengan tangkapan tangan kanan dan sambil ‘meminjam’ tenaga tendangan lawan, ia membetot dan melontarkan tubuh Song Bu Cu ke dalam air.

Demikianlah, maka dengan amarah yang menyesakkan pernapasan dan dengan pakaian basah kuyup, Song Bu Cu dan Lui Siok berenang ke pinggir dan melompat ke darat.

Cui Giok menyambut Lui Siok dengan tertawa mengejek, “Nah, baru sekali kau mencuci dosa, masih belum bersih. Masih kurang lama kau mencuci dosamu.”

Gwat Kong menjadi gembira juga mendengar kejenakaan Cui Giok, maka sambil tersenyum- senyum yang memanaskan hati, ia berkata kepada Song Bu Cu,

“Pangcu (ketua), orang bilang bahwa air sungai Yung-ting ini rasanya asin seperti air laut, betulkah itu?”

Song Bu Cu dan Lui Siok menjawab ejekan ini dengan mencabut senjata masing-masing. Song Bu Cu mengeluarkan sepasang pedangnya, sedangkan Lui Siok melepaskan sabuk ular belang yang tadi melibat di pinggangnya,

Gwat Kong dan Cui Giok maklum bahwa kedua orang lawan ini betapapun juga tak boleh di pandang ringan dengan senjata-senjata mereka, maka kedua orang muda itupun lalu mencabut pedang masing-masing. Gwat Kong mengeluarkan Sin-eng-kiam yang bercahaya gemilang sedangkan Cui Giok juga mengeluarkan sepasang pedangnya yakni Im-yang Siang-kiam.

Berbareng dengan bentakan-bentakan mereka, Song Bu Cu menyerang Gwat Kong sedangkan Lui Siok menyerang Cui Giok. Pertempuran yang amat seru terjadi di pinggir sungai itu.

Benar-benar hebat dan menarik, karena Gwat Kong yang berpedang tunggal menghadapi sepasang pedang Song Bu Cu. Sedangkan sabuk ular belang di tangan Lui Siok yang lihai bertemu dengan sepasang pedang pula di tangan Cui Giok.

Lui Siok adalah seorang murid tertua Kim-san-pai. Maka ilmu silatnya sudah cukup tinggi. Dibandingkan dengan sutenya, yakni Gan Bu Gi, kepandaiannya masih lebih tinggi dan ditambah pula dengan pengalaman bertempur berpuluh tahun, maka ia benar-benar tangguh dan merupakan lawan berat. Juga Song Bu Cu lebih lihai lagi. Sepasang pedangnya berputar-putar cepat bagaikan sepasang naga berebut mustika dan sebagai seorang ahli lweekeh yang memiliki ilmu lweekang amat tinggi, maka gerakan sepasang pedangnya itu mengeluarkan angin dingin yang mengerikan.

Akan tetapi kini kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu benar-benar menjumpai batu karang. Betapapun lihainya Song Bu Cu, kini menghadapi Sin-eng Kiam-hoat yang dimainkan oleh Gwat Kong, ia seakan-akan bertemu dengan gurunya. Pedang tunggal Gwat Kong bergerak lebih cepat dan tiap gerakannya merupakan tangkisan dan serangan balasan yang berbahaya sekali sehingga dalam beberapa belas jurus Song Bu Cu telah terdesak mundur dan sepasang pedangnya tertindih, membuat ia sukar sekali mengirim serangan balasan.

Apalagi Lui Siok. Orang ini setelah bertempur belasan jurus, diam-diam mengeluh dan memaki kepada dirinya sendiri yang dianggapnya goblok dan buta sehingga tadi memilih gadis ini untuk menjadi lawannya. Biarpun ia belum pernah bertempur melawan Gwat Kong, akan tetapi menghadapi kelihaian gadis ini, ia berani bersumpah untuk menyatakan bahwa kepandaian Gwat Kong tak mungkin dapat setinggi gadis ini.

Sebentar saja gerakan sabuknya menjadi kalut sekali. Sepasang pedang dari Cui Giok yang bergerak dengan tenaga lemas dan keras berganti-ganti membuat Lui Siok menjadi pening kepala dan pandangan matanya menjadi kabur berkunang.

Cui Giok memang seorang dara yang jenaka sekali dan ia paling suka mempermainkan orang. Apalagi kalau orang itu seorang penjahat yang dibencinya. Bagaikan seekor kucing betina menangkap tikus, ia tidak mau menamatkan riwayat tikus itu demikian saja tanpa dipermainkan terlebih dahulu.

Kalau ia mau, sudah semenjak gebrakan pertama ia dapat membabat putus sabuk lawannya, atau bahkan melukai tubuh Lui Siok. Akan tetapi ia tidak melakukan hal ini dan sengaja menanti sampai Gwat Kong mengalahkan lawannya lebih dulu. Maka ujung pedangnya hanya ‘mampir’ saja dipakaian lawannya sehingga baju Lui Siok sudah bolong-bolong dimakan ujung pedang. Bahkan kulit tubuhnya di beberapa bagian juga terbawa hingga mengeluarkan darah dan terasa perih sekali.

Di lain pihak, Gwat Kong tidak mau mempermainkan Song Bu Cu sebagaimana yang dilakukan oleh Cui Giok. Pemuda ini mainkan pedangnya dengan hebat dan mendesak terus sambil mengirim serangan-serangan yang berbahaya. Sungguhpun ia tidak mau melakukan serangan yang mematikan atau membahayakan keselamatan lawannya.

Ia hanya ingin merobohkan lawannya dengan luka seringan mungkin. Beberapa kali ia berusaha membuat kedua pedang lawan terlepas. Akan tetapi ternyata bahwa usaha ini amatlah sukar. Oleh karena itu Gwat Kong menjadi penasaran sekali. Ia maklum bahwa berkat keuletan lawannya, maka amat sukarlah baginya untuk dapat merobohkan lawan ini tanpa mengirim serangan hebat yang dapat mengakibatkan luka berat atau kebinasaan. Maka setelah berpikir agak lama, Gwat Kong lalu mencabut sulingnya yang disimpan pada buntalan pakaian yang diikat di punggungnya. Kemudian dengan suling di tangan kiri dan pedang di tangan kanan, ia mendesak lagi.

Bukan main terkejutnya hati Song Bu Cu melihat gerakan suling ini, karena tidak saja hebat dan lihai, bahkan lebih berbahaya agaknya dari pada pedang pemuda itu. Ia tidak tahu bahwa Gwat Kong mainkan sulingnya dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat, ilmu silat tingkat tinggi yang dipelajari dari Bok Kwi Sianjin. Dengan suling dan pedang ditangannya, maka sekali gus pemuda itu telah mainkan Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat.

Sudah tentu Song Bu Cu tidak kuat menghadapi dua ilmu silat yang telah menggemparkan daerah barat dan timur ini. Maka mukanya menjadi pucat dan sepasang pedangnya tak berdaya sama sekali. Pada saat yang tepat, suling di tangan kiri Gwat Kong bergerak menyerang dengan totokan jalan darah di bagian pundak dan pedangnya berkelebat mengancam pergelangan tangan lawan.

Song Bu Cu menjadi bingung oleh karena gerakan kedua senjata lawannya itu benar-benar tak dapat diduga semula, maka ia terpaksa harus miringkan tubuh ke kiri untuk menghindarkan totokan suling dan menggerakkan siang-kiamnya untuk menangkis sambaran pedang. Akan tetapi pada saat itu ketika kedudukan tubuhnya masih buruk dan lemah, tiba-tiba kaki kanan Gwat Kong menyambar dibarengi dengan ketokan sulingnya pada pergelangan tangan kanan lawannya.

Song Bu Cu memekik nyaring dan untuk kedua kalinya, tubuhnya yang tinggi itu terlempar ke tengah sungai.

Cui Giok gelak terbahak melihat hal ini, maka sambil tertawa-tawa ia lalu mempercepat gerakan pedangnya yang menyambar-nyambar dan mengancam ulu hati dan leher lawan bertubi-tubi. Lui Siok merasa bingung dan gelisah sekali, terutama karena ia melihat Song Bu Cu telah dikalahkan, maka sambil menangkis ia main mundur saja tanpa dapat membalas serangan Cui Giok.

“Hayo mundur! Terus sampai ke sungai. Kau harus mandi sekali lagi!” Sambil berkata demikian, pedangnya berkelebat menghadang jalan keluar bagi Lui Siok, sehingga si Ular Belang ini hanya mempunyai sejurus jalan, yakni di belakangnya di mana membentang sungai Yung-ting. Makin cepat Cui Giok berjalan dan mendesak, makin cepat pula ia mundur sehingga akhirnya ia sampai di pinggir sungai itu.

“Hayo, lekas lompat ke air! Kau harus mandi lagi seperti kawanmu!”

Karena pedang Cui Giok menyambar-nyambar dengan hebatnya, terpaksa Lui Siok melompat ke belakang dan “byuuur..!” untuk kedua kalinya iapun dipaksa minum air sungai.

Bukan main hebatnya hinaan yang diderita oleh kedua orang pemimpin Hek-i-pang itu. Mereka adalah jago-jago silat yang terkenal dan ditakuti, dan banyak orang kang-ouw menganggap mereka sebagai ahli-ahli silat berkepandaian tinggi. Siapa nyana bahwa pada hari ini mereka bertemu dengan dua orang muda yang mempermainkan mereka semaunya, seakan-akan mereka adalah dua ekor tikus kecil berhadapan dengan dua kucing besar.

Lebih-lebih Song Bu Cu. Pangcu ini telah membuat nama besar dan belum pernah ia dikalahkan orang dengan mudah. Kini setelah dipaksa untuk berenang melawan air sungai oleh seorang pemuda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw, ia merasa gemas dan marah, sedih, malu dan penasaran sehingga ketika tubuhnya telah timbul dipermukaan air lagi, ia memekik keras dan pingsan. Tubuhnya hanyut dibawa air dan baiknya pada saat itu tubuh Lui Siok yang melompat ke air jatuh menimpa badannya yang mulai hanyut. Lui Siok tadinya merasa terkejut sekali dan mengira bahwa yang ditimpa oleh tubuhnya adalah seekor buaya atau ikan besar. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang disangka ikan itu bukan lain adalah Song Bu Cu, ia segera menolongnya dan membawanya ke pinggir.

Ia dan Song Bu Cu lalu ditolong oleh tiga orang anak buahnya dan ketika Lui Siok memandang ke arah kedua orang muda lawannya, ternyata Cui Giok dan Gwat Kong telah naik ke atas perahu dan menyuruh nelayan tua itu mendayung perahu ke tengah. Sepasang anak muda itu berdiri di kepala perahu sambil tersenyum memandangnya. Lui Siok tak dapat berkata sesuatu hanya mendelikkan mata memandang penuh kebencian dan sakit hati.

Pengalaman dan pertempuran melawan dua orang pemimpin Hek-i-pang itu membuat pergaulan antara Gwat Kong dan Cui Giok makin erat. Sambil menikmati pemandangan yang sungguh indah di sepanjang sungai tiada hentinya mereka membicarakan kedua orang itu sambil tertawa-tawa gembira. Yang lebih gembira lagi adalah tukang perahu yang tua itu.

Tiada habisnya ia memuji dan matanya yang sudah tua itu berseri-seri.

“Seumur hidupku belum pernah aku menyaksikan dua orang muda yang sehebat dan segagah kalian!” katanya sambil mendayung. “Kalian merupakan pasangan yang paling cocok dan hebat yang pernah kujumpai, sama gagah, sama elok, pendeknya hebat! Anak kalian kelak

tentu seorang yang luar biasa dan ”

“Hush ” Lopek jangan bicara sembarangan! Kami bukan suami isteri, juga bukan

tunangan!”

Nelayan itu melongo dan memandang dengan heran. Jelas bahwa ia merasa amat kecewa. Adapun Cui Giok ketika mendengar ucapan kakek nelayan itu, merahlah wajahnya sampai ke telinganya. Semenjak saat itu, apabila mata mereka bertemu, Gwat Kong melihat cahaya gemilang yang aneh di dalam manik mata gadis itu, sinar yang sebelumnya tak terlihat olehnya.

Dan kalau dulu Cui Giok memandangnya dengan berani dan terbuka, kini gadis itu tidak berani menentang pandang matanya terlalu lama. Aneh, pikirnya. Akan tetapi sama sekali ia tidak dapat menduga apakah sebenarnya yang terdapat dibalik sinar mata itu.

Benar sebagaimana keterangan nelayan tua itu, perjalanan melalui air sungai Yung-ting itu aman dan mnyenangkan. Tidak terdapat gangguan bajak sungai dan mereka kadang-kadang hanya bertemu dengan perahu-perahu nelayan yang menjala ikan. Akan tetapi ketika telah memasuki daerah Kiang-sui yang banyak terdapat hutan-hutan lebat, muncullah bajak sungai yang pernah dituturkan oleh nelayan tua itu kepada mereka.

Perahu mereka sedang berlayar dengan tenang melalui sebuah hutan dan pada sebuah tikungan yang tajam, ketika perahu mereka baru saja membelok, tiba-tiba mereka berhadapan dengan lima buah perahu besar penuh dengan bajak-bajak sungai.

“Celaka!” nelayan tua yang mengemudikan perahu kecil itu berseru dengan wajah pucat. “Minggirkan perahu ke darat!” kata Gwat Kong yang duduk bersama Cui Giok. Kedua anak muda ini masih tenang saja, bahkan ketika saling pandang, senyum gembira membayang di bibir mereka.

Perahu-perahu bajak itu ketika melihat calon korbannya mendayung perahu ke pinggir, segera meminggirkan perahu pula dan terdengar seruan-seruan mereka diselingi suara ketawa.

Mereka merasa gembira melihat betapa korban-korban mereka itu seperti hendak melarikan diri ke darat. Akan tetapi, alangkah heran mereka ketika melihat sepasang orang muda yang berada di perahu kecil itu setelah melompat ke darat. Bukannya mereka melarikan diri sebagaimana mereka sangka, akan tetapi bahkan berdiri di pantai menanti mereka dengan sikap menantang.

Kepala bajak ini adalah seorang bermuka hitam bertubuh kurus tinggi. Ia bernama Oey Bong dan telah bertahun-tahun ia hidup sebagai kepala bajak yang ditakuti orang. Tadinya ia bersama anak buahnya berpangkal di sungai Yung-ting dekat kota Kiang-sui. Akan tetapi belakangan ini setelah Kepala daerah Kiang-sui, yakni Liok-taijin, mengerahkan tentara di bawah pimpinan Gan Bu Gi yang pandai untuk menggempurnya, sehingga pasukan bajak itu menjadi kocar-kacir. Terpaksa ia melarikan diri dan kini melakukan pencegatan dan pembajakan di dalam hutan itu.

Melihat betapa sepasang muda-mudi yang hendak dirampok itu mendarat, Oey Bong lalu mengerahkan anak buahnya untuk mengejar dan iapun terheran-heran ketika melihat sepasang orang muda itu tidak melarikan diri. Maka ia menduga bahwa kedua orang muda itu tentulah memiliki kepandaian.

Setelah perahunya berada dekat dengan daratan, ia lalu berseru keras dan tubuhnya melompat ke darat dengan gesit. Beberapa orang pembantunya yang juga pandai ilmu silat, lalu melompat pula ke darat dan sebentar saja Gwat Kong dan Cui Giok yang masih tersenyum- senyum itu telah dikurung oleh belasan orang yang dipimpin oleh pemimpin bajak. Para anggauta bajak hanya berdiri mengurung agak jauh sambil bersorak-sorak. Sementara itu, kakek nelayan yang mengantar Gwat Kong, duduk mendekam di dalam perahunya dengan tubuh menggigil ketakutan.

“Kalian ini orang-orang kasar menghadang perahu kami, mempunyai maksud apa?” tanya Gwat Kong kepada si muka hitam Oey Bong.

Oey Bong tertawa geli dan kawannyapun tertawa bergelak mendengar pertanyaan ini.

“Orang muda,” kata Oey Bong. “Kami adalah orang baik-baik dan kami takkan mengganggumu, asal saja kautinggalkan semua barang-barangmu, berikut isterimu yang cantik jelita ini!” Dengan jari telunjuknya yang panjang, kepala bajak ini menunjuk ke arah Cui Giok.

Merahlah wajah Cui Giok mendengar ini. Telah dua kali orang menyangka ia dan Gwat Kong sebagai suami isteri. Akan tetapi, kalau persangkaan nelayan tua membuat ia malu dan hanya diam-diam berdebar girang, adalah sangkaan kepala bajak yang amat kasar dan menghina ini membuat ia jadi marah sekali.

“Anjing bermuka hitam!” ia memaki sambil menuding ke arah muka Oey Bong. “Apa sih yang kau andalkan maka anjing buduk macam kau ini berani menjadi kepala bajak sungai?” “Ha ha ha!” Oey Bong yang dimaki itu tertawa bergelak. “Sungguh galak, makin galak makin manis! Kau cocok sekali untuk menjadi permaisuriku. Ha ha!

“Kurang ajar!” seru Gwat Kong sambil mencabut pedangnya. Hatinya panas dan marah sekali melihat kekurang ajaran bajak itu. Akan tetapi Cui Giok berseru menahannya,

“Jangan Gwat Kong! Biar aku yang memberi hajaran kepada anjing buduk ini. Kalau dia belum melepaskan dua buah telinganya, aku tak mau ampunkan dia!” Cui Giok mencabut sepasang pedangnya.

Gwat Kong tersenyum. “Ah, dasar kau yang sudah bernasib harus kehilangan telinga! Jagalah baik-baik daun telingamu, muka hitam!” Sambil berkata demikian, Gwat Kong menggenjotkan kedua kakinya dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dan ketika para penjahat dengan terkejut memandang ke atas, ternyata pemuda itu telah duduk di atas sebuah cabang pohon yang tinggi.

Mereka merasa kaget sekali karena gerakan itu saja sudah cukup membuka mata mereka bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada mereka. Akan tetapi telah terlanjur dan karena pemuda yang lihai itu tidak ikut menghadapi mereka, maka Oey Bong lalu mencabut goloknya dan mendahului menyerang Cui Giok.

Ia maklum bahwa pemuda itu amat lihai, maka lenyaplah keinginannya mengganggu Cui Giok. Ia hendak merobohkan gadis itu terlebih dahulu sebelum pemuda itu turun tangan. Kemudian kalau pemuda itu terlalu lihai baginya, ia akan mengeroyok dengan semua anak buahnya. Cepat sekali ia mencabut golok dan menyerang Cui Giok dengan sebuah sabetan ke arah pinggang. Inilah tipu gerakan Hon-cui-pai-hio (Angin Meniup Daun Tua) yang dilakukan cukup gesit dan kuat.

Akan tetapi dengan tertawa mengejek, pedang di tangan Cui Giok melakukan gerakan berbareng. Pedang kiri menangkis sambaran golok sedangkan pedang di tangan kanan menghantam ke arah pergelangan tangan lawan. Oey Bong terkejut bukan main dan cepat menarik kembali goloknya untuk menghindarkan tangannya terbabat putus. Akan tetapi percuma saja ia mencoba menghindarkan diri. Oleh karena ujung pedang Cui Giok bagaikan hidup dan bermata. terus mengikuti pergelangan tangannya dengan kecepatan yang menyilaukan mata, maka Oey Bong menjadi makin gelisah.

“Lepaskan golok!” Cui Giok membentak dan Oey Bong merasa betapa pergelangan tangannya menjadi perih sekali karena telah tertempel oleh mata pedang yang tajam. Ia tak dapat berbuat lain dan terpaksa melepaskan goloknya. Dalam kegugupannya, ia berteriak memberi komando kepada kawan-kawannya.

“Serbu!”

Setelah berteriak, kepala bajak yang licik ini lalu melompat mundur hendak lari.

Kawan-kawannya yang semenjak tadi telah berdiri dengan senjata di tangan, segera maju menyerbu, mengeroyok Cui Giok. Akan tetapi gadis itu berseru keras dan begitu tubuhnya berkelebat, maka terdengarlah seruan kaget dan pedang atau golok di tangan para bajak itu beterbangan ke atas, ada yang patah, ada yang mencelat berikut jari-jari tangan yang terbabat putus. Jerit dan pekik terdengar dan keadaan menjadi amat gaduh. Oey Bong masih mencoba untuk melarikan diri, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring di belakangnya,

“Anjing muka hitam! Tinggalkan dulu dua telingamu!” Sebelum ia dapat mengelak, tiba-tiba kedua telinganya mendengar sambaran angin yang luar biasa dan tiba-tiba ia merasa kepalanya menjadi sakit dan perih di kanan kiri. Ketika ia menggunakan kedua tangan untuk meraba ia menjerit keras karena daun telinga di kanan kiri kepalanya benar-benar telah lenyap. Oey Bong berhenti berlari dan membalikkan tubuh. Ia melihat gadis yang luar biasa itu telah berdiri dengan tertawa bergelak sedangkan daun telinganya telah putus dan kini berada di depan kakinya.

Melihat ini, makin sakitlah rasanya kepala yang luka itu. Maka tanpa dapat dicegah lagi, ia lalu menjatuhkan diri berjongkok dan mengaduh-aduh seperti seekor anjing kena gebuk.

“Nah, siapa lagi yang sudah bosan mempunyai daun telinga?” seru Cui Giok sambil memalangkan pedangnya di depan dada.

Para pemimpin bajak telah merasai kelihaian nona itu karena tadi ketika mereka menyerbu, dalam segebrakan saja gadis itu telah berhasil merampas senjata dan melukai beberapa orang, maka kini tak seorang pun berani bergerak. Juga anak buah bajak yang tadinya bersorak- sorak, kini berdiri bagaikan patung, sama sekali tak berani bersuara maupun bergerak.

Nelayan tua yang tadinya ketakutan, dengan memberanikan hati ia merangkak ke pinggir dan menyaksikan pertempuran itu. Kini ia menjadi lega dan girang bukan kepalang, maka ia lalu bangun berdiri dan dengan dada terangkat tinggi-tinggi dan kaki melangkah tetap, ia menghampiri kepala bajak dan kawan-kawannya. Sambil bertolak pinggang ia lalu berkata dengan suara keras,

“Nah, biarlah kali ini kalian mendapat pelajaran dan kapok. Kalian telah banyak mengganggu orang, banyak membunuh nyawa orang-orang tak berdosa. Kalau sekarang mendapat hukuman sebesar ini boleh dikatakan masih ringan dan terlalu murah. Jangan anggap bahwa di kolong langit ini tidak ada orang yang gagah seperti siocia dan kongcu ini. Tadi baru siocia sendiri yang turun tangan, kalau kongcu ikut marah, mungkin kepala kalian ini semua telah putus. Tidak berlutut minta ampun sekarang, mau tunggu kapan lagi?”

Bentakannya terakhir ini amat berpengaruh karena tiba-tiba semua anggauta bajak itu lalu menjatuhkan diri berlutut dan minta ampun. Bukan main senangnya hati kakek itu. Belum pernah ia mengalami hal seperti itu dan karena para bajak itu berlutut di depannya, maka ia merasa seakan-akan menjadi seorang raja. Ia lalu berkata lagi dengan suara gagah,

“Mulai sekarang jangan kalian berani sekali lagi mengganggu lalu lintas di sungai Yung-ting ini. Ketahuilah aku adalah kawan baik sepasang pendekar ini. Aku tukang perahunya dan kalau kalian mengganggu perahuku dan perahu kawan-kawanku. Tentu kedua pendekar gagah ini akan datang untuk menghukum kalian.

Kemudian ia berkata kepada Cui Giok dan Gwat Kong, “Jiwi yang mulia, marilah kita melanjutkan perjalanan kita!” Melihat sikap nelayan tua ini, Cui Giok dan Gwat Kong tertawa geli dan merasa lucu sekali. Akan tetapi mereka menganggap bahwa sikap nelayan tua itu bukan tak ada artinya bagi keselamatan para nelayan. Maka Gwat Kong hendak memperkuat ucapan nelayan tadi. Ia melompat turun bagaikan seekor burung garuda, kemudian menghampiri sebatang pohon yang besarnya sepelukan lengan.

“Ucapan lopek ini harus kalian perhatikan dan taati, karena kami tidak mengancam kosong belaka. Kalau kalian melanggar, inilah contohnya!” Dengan tangan kanannya, Gwat Kong lalu memukul batang pohon itu dengan tangan dimiringkan sambil mengerahkan ilmu keraskan tangan Cin-kong Pek-ko-jiu.

“Kraaak!” batang pohon itu terpukul patah dan dengan mengeluarkan suara keras pohon itu tumbang.

Para bajak melihat ini dengan muka pucat dan mata terbelalak. Batang pohon yang besar dan kuat itu sekali pukul saja patah, apalagi tubuh atau leher mereka. Maka mereka kembali mengangguk-anggukan kepala bagaikan ayam mematuk beras dan mulut mereka tiada hentinya minta ampun sambil berjanji akan mentaati larangan mengganggu sungai Yung-ting.

Gwat Kong, Cui Giok dan nelayan tua itu lalu berjalan kembali ke perahu mereka. Nelayan tua itu berjalan dengan lenggang dibuat-buat, kepala dikedikkan dan dadanya yang kurus ditonjolkan dengan perasaan seakan-akan dialah yang menjadi pendekar gagah dan mengalahkan semua bajak kejam itu.

Pelayaran itu dilanjutkan dengan penuh kegembiraan. Makin lama, hubungan antara kedua orang muda itu makin erat dan ternyata mereka saling cocok. Terutama sekali Cui Giok. Nona ini tidak saja merasa kagum melihat Gwat Kong akan tetapi juga api asmara telah membakar dan berkobar-kobar di dalam dadanya. Kalau dahulu dengan pedang ia sukar dirobohkan oleh Gwat Kong, sekarang ia roboh betul-betul dan merasa bahwa tanpa Gwat Kong di dekatnya, hidup akan sunyi tak berarti baginya.

Oleh karena itu semenjak gangguan bajak-bajak sungai, mereka tidak mendapat gangguan lain, maka pelayaran berjalan lancar dan cepat. Apabila malam tiba, mereka berhenti di pinggir sungai, membuat api unggun dan tidur di bawah pohon. Kadang-kadang Cui Giok tidur di dalam perahu.