-->

Pendekar Pemabuk Jilid 07

Jilid 07

Bab 20 …

IA memandang orang yang kini telah berdiri di depannya itu dan merasa heran sekali. Orang yang berdiri di depannya adalah seorang gadis muda yang usianya paling banyak delapan belas tahun, berwajah cantik manis dengan sepasang mata tajam dan mulut kecil membayangkan kekerasan hati dan keberanian besar. Pakaiannya kuning dengan ikat pinggang dan ikat rambut sutera merah.

“Siapakah kau yang berani mencampuri urusan orang lain?” Cong Si Kwi membentak dengan marah, akan tetapi matanya menatap dengan kagum kepada gadis itu.

“Orang she Cong,” kata lagi gadis itu yang ternyata memiliki suara nyaring. “Aku pernah mendengar orang berkata bahwa kakak beradik she Cong adalah orang-orang berhati kejam melebihi singa yang liar. Ternyata sekarang bahwa ucapan-ucapan itu kurang tepat.

Seharusnya orang macam kau ini dipersamakan dengan serigala, anjing yang serendah- rendahnya dan sekejam-kejamnya.”

Bukan main marahnya Cong Si Kwi mendengar ini karena ia telah dimaki di depan para petani yang kini pada berdiri dan berkumpul di dekat pintu pekarangan sambil menolong kawan-kawan mereka yang tadi terpukul. Para petani itu memandang ke arah gadis itu dengan girang dan kagum, penuh harap-harap cemas karena masih ragu-ragu apakah si gadis itu akan sanggup melawan Cong Si Kwi yang terkenal kejam dan lihai.

“Perempuan lancang!” bentaknya. “Kau agaknya seorang yang memiliki kepandaian, akan tetapi kau tidak mengindahkan sopan santun di antara orang-orang kang-ouw! Siapakah kau yang datang-datang memaki orang?”

Dengan suara tenang gadis muda berpakaian kuning itu menjawab. “Biarpun kau mengaku orang dari kang-ouw, akan tetapi kau adalah termasuk golongan hek-to (jalan hitam, yakni golongan para penjahat). Terhadap orang macam kau, mengapa aku harus memakai banyak aturan? Kau ingin tahu namaku? Dengarlah, nonamu Sie Cui Giok tak perlu menyembunyikan nama. Dan kalau kau belum pernah mendengar namaku, mungkin kau telah kenal kakekku yang bernama Sie Cui Lui dari selatan.” Bagi Gwat Kong dan lain-lain orang yang mendengar, nama itu tidak mempunyai arti sesuatu. Akan tetapi heran sekali karena Cong Si Kwi menjadi pucat ketika mendengar nama ini.

“Kami selamanya belum pernah mengganggu Sie-locianpwe dan selalu memandangnya sebagai seorang tokoh besar yang patut kami hormati. Sekarang kau datang mengunjungi kami mempunyai maksud apakah? Kalau memang nona ada keperluan, kupersilahkan masuk ke dalam untuk bercakap-cakap dengan aku dan saudaraku. Dan kebetulan sekali sekarang kami sedang mempunyai seorang tamu yang mungkin tidak asing bagimu, yakni Sin Seng Cu thaisu, tokoh dari Hoa-san-pai.”

Kini Gwat Kong yang merasa terkejut mendengar nama ini, akan tetapi sebaliknya nona itu agaknya tidak perduli sama sekali.

“Aku tidak sudi untuk masuk ke dalam rumahmu dan bertemu dengan segala macam tosu. Kedatanganku ini tak lain karena melihat kekejamanmu kepada para petani itu. Dan sekarang aku mewakili mereka untuk minta kau suka segera mengeluarkan gandum dan padi yang mereka butuhkan dan sumber air itu harus kau buka untuk keperluan umum.”

Biarpun Cong Si Kwi maklum bahwa cucu dari Sie Cui Lui ini tentu memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi ia tidak merasa takut, apalagi karena nona itu demikian muda. Kini mendengar tuntutan nona itu yang dianggapnya mencampuri urusannya dan sama sekali tidak memandang sebelah mata kepadanya, ia menjadi marah sekali,

“Kau terlalu sekali! Agaknya kau sengaja hendak mencari perkara!”

“Jangan banyak cakap dan lekas kau penuhi kebutuhan mereka. Kau harus ingat bahwa kalau tidak ada para petani ini, apakah kau kira perutmu setiap hari akan dapat diisi? Sanggupkah kau mengerjakan tanahmu sendiri dan menanam gandum dan padi itu?”

Diam-diam Gwat Kong merasa kagum sekali melihat keberanian dan sepak terjang nona itu, maka tak terasa lagi ia melangkah memasuki pekarangan dan berdiri di dekat para petani sambil memandang dengan penuh perhatian. Ia bersiap sedia membantu nona itu apabila nona itu sampai kalah dalam pertempuran yang terjadi.

“Kalau aku menolak, bagaimana?” Cong Si Kwi berkata sambil pegang toyanya erat-erat.

“Kalau kau menolak, terpaksa aku minta sebelah daun telingamu!” kata gadis itu dengan pedangnya di tangan kiri berkelebat cepat sekali ke arah telinga Cong Si Kwi. Akan tetapi orang she Cong ini cukup pandai, maka tentu saja tidak mudah untuk mengambil telinganya. Ia berseru keras dan menggerakkan toyanya menangkis lalu membalas dengan serangannya yang keras dan hebat.

Sie Cui Giok, gadis muda berpakaian kuning itu, cepat mengelak dan kembali pedangnya meluncur dengan gerakan indah menyerang ke arah telinga Cong Si Kwi. Gwat Kong yang memperhatikan gerakan pedang gadis itu, menjadi kagum sekali karena kedua pedang di tangan gadis itu seakan-akan digerakkan oleh dua orang dengan ilmu silat berlainan!

Demikian jauh bedanya gerakan pedang di tangan kanan dan kiri. Bahkan seakan-akan berlawanan! Pedang di tangan kiri gerakannya lambat dan halus akan tetapi setiap kali toya Cong Si Kwi menangkis pedang ini, nampak betapa toyanya terpental keras seakan-akan membentur batu karang yang besar dan keras.

Adapun pedang di tangan kanan gadis itu gerakannya luar biasa gesitnya, menyambar- nyambar bagaikan seekor naga. Dan tiap kali toya Si Kwi menangkis pedang ini, selalu terdengar suara keras dan bunga api berterbangan. Inilah tandanya keras lawan keras, dan dari keadaan kedua batang pedang dan pergerakannya ini, tahulah Gwat Kong bahwa dua lengan tangan yang memegang pedang itu benar-benar melakukan gerakan-gerakan yang berlawanan.

Kalau tangan kiri mainkan pedang dengan tenaga lweekang (tenaga dalam) adalah pedang di tangan kanan digerakkan dengan tenaga gwakang (tenaga kasar). Ini adalah sifat-sifat yang bertentangan dari Im dan Yang (Negatif dan Positif) dan tiba-tiba Gwat Kong memandang dengan mata terbelalak.

Ia teringat akan penuturan suhunya tentang ilmu-ilmu silat dari empat penjuru yang disebut empat besar, yakni Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong Tung-hoat dari timur, Pat-kwa To- hoat dari utara, dan Im-yang Siang-kiam dari selatan. Ilmu pedang gadis ini berdasarkan Im dan Yang. Apakah gadis ini bukan seorang ahli ilmu pedang Im-yang Siang-kiam?

Ia memandang dengan penuh perhatian makin penuh dan dengan kagum ia mendapat kenyataan bahwa ilmu kepandaian gadis itu jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat Cong Si Kwi. Kalau gadis itu menghendaki, agaknya dalam sepuluh jurus saja Si Kwi pasti akan dapat dirobohkan. Akan tetapi, dengan hati geli Gwat Kong mendapatkan kenyataan bahwa sepasang pedang di tangan nona itu selalu mengarah dan mengancam daun telinga Si Kwi dan agaknya gadis itu benar-benar hendak membuktikan ancaman tadi, yakni hendak mengambil sehelai daun telinga Cong Si Kwi.

Orang tinggi besar itu merasa betapa kedua pedang lawannya menyambar dan mengeluarkan bunyi yang mengerikan di sekitar daun telinganya, maka dengan gugup dan ketakutan ia memutar-mutar toyanya untuk menangkis dan melindungi daun telinganya. Akan tetapi kedua ujung pedang itu terus mengejar daun telinganya, mengiang-ngiang seperti bunyi nyamuk- nyamuk yang tidak mau meninggalkan telinganya.

Cong Si Kwi menjadi takut dan gelisah sekali sampai keringatnya keluar membasahi jidatnya. Ia putar-putar toyanya dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Akan tetapi akhirnya ia harus mengakui keunggulan gadis itu dan ia mengeluarkan seruan ngeri ketika pedang di tangan kanan nona itu menyambar cepat dan anginnya telah terasa perih menyambar telinganya.

“Cukup ... nona ...! Baiklah, kukeluarkan gandum itu ...!”

Sie Cui Giok menahan pedangnya dan tersenyum mengejek. “Agaknya kau lebih menyayangi daun telingamu yang kotor dari pada tumpukan gandummu.”

Tak terasa pula Cong Si Kwi menggunakan tangan meraba telinga kirinya dan hatinya merasa lega ketika merasa betapa telinganya masih utuh. Hanya ketika ia menurunkan tangannya ternyata tangan itu penuh dengan darah. Sungguhpun daun telinganya belum putus, akan tetapi kulit daun telinga itu telah terluka oleh angin pedang dan mengeluarkan banyak darah. Ia bergidik mengingat akan kelihaian ilmu pedang nona itu. Pada saat itu, dari pintu depan itu keluarlah dua orang dengan langkah lebar. Yang seorang adalah seorang tinggi besar, bercambang bauk dan mukanya hampir serupa dengan Cong Si Kwi hanya tubuhnya lebih pendek sedikit. Inilah Tai-sai-cu Cong Si Ban, kakak dari Cong Si Kwi yang telah diberitahu oleh seorang pelayan bahwa adiknya sedang bertempur dengan seorang gadis lihai di luar gedung.

Orang kedua yang ikut keluar adalah seorang tosu yang tinggi kurus dengan rambut dan kumis jenggot hitam serta muka berkulit kemerah-merahan. Gwat Kong segera kenali tosu ini yang bukan lain adalah Sin Seng Cu, tokoh Hoa-san-pai yang dulu pernah bertempur melawan dia sebelum dia diberi palajaran silat oleh Bok Kwi Sianjin!

Melihat tosu yang pernah mengalahkannya dengan mudah itu, diam-diam Gwat Kong merasa berdebar jantungnya. Bukan karena takut, akan tetapi karena ingin sekali ia bertempur lagi melawan tosu itu dan berusaha menebus kekalahannya dulu. Karena Gwat Kong berdiri di antara para petani yang banyak jumlahnya itu, maka Sin Seng Cu tidak melihatnya dan hanya memandang kepada Sie Cui Giok dengan tajam.

“Eh eh, apakah yang telah terjadi di sini?” tanya Cong Si Ban kepada adiknya, akan tetapi sebelum Cong Si Kwi menjawab, Cui Giok tanpa memperdulikan munculnya Si Ban dan tosu itu, mendesak kepada Si Kwi.

“Hayo, kau lekas keluarkan gandum dan padi itu. Perut para petani dan keluarga mereka sudah terlalu lapar untuk menanti lebih lama lagi!”

Cong Si Ban yang melihat sikap gadis itu dan melihat adiknya yang berwajah pucat, maklum bahwa adiknya tentu telah dikalahkan oleh gadis ini, maka ia lalu menjura kepada gadis itu. Ia mengangkat kedua tangannya ke arah dada dengan gerakan cepat. Dan Gwat Kong terkejut sekali karena ia maklum bahwa tentulah gerakan itulah gerakan serangan gelap dengan tenaga khikang yang disebut gerak tipu Dewi Sakti Mempersembahkan Buah.

Biarpun nampaknya seperti orang memberi hormat akan tetapi dari sepasang kepalan tangan yang dirangkapkan itu menyambar angin pukulan khikang yang cukup kuat untuk merobohkan lawan. Akan tetapi kekagetan hati Gwat Kong terganti oleh kekaguman ketika ia melihat betapa dengan gerakan tenang dan indah, Cui Giok sambil tersenyum membongkokkan tubuhnya pula dan mengangkat kedua tangan ke dada dengan telapak tangan terbuka. Inilah gerakan Dewi Kwan Im Memberi Berkah dan diam-diam ia mengerahkan tenaga untuk menerima serangan gelap itu.

Dengan penuh perhatian Gwat Kong memandang dan melihat betapa kedua orang yang diam- diam mengadu tenaga itu melangkah mundur setindak, yang membuktikan bahwa tenaga khikang mereka seimbang. Hampir saja Gwat Kong mengeluarkan seruan kagum terhadap dara baju kuning itu.

Sementara itu Sin Seng Cu yang melihat pula adu tenaga ini agaknya tidak menyetujui sikap Cong Si Ban, karena sambil menggerak-gerakan ujung lengan bajunya yang panjang, ia berkata, “Apakah artinya semua pertunjukan ini? Kalau ada urusan, lebih baik diselesaikan dengan baik-baik. Nona muda yang gagah, siapakah kau dan mengapa agaknya kau membuat kegaduhan di pekarangan orang lain?” Ucapan ini menunjukkan betapa tosu itu mempunyai watak yang tinggi dan memandang rendah orang lain, terutama terhadap gadis muda ini, ia menganggapnya sebagai seorang ahli silat tingkat rendah.

“Siapa yang membuat gaduh? Orang she Cong ini telah berjanji kepadaku untuk membagi- bagikan gandum dan padi kepada para petani itu dan akan membuka sumber air untuk umum dan kupercaya ia cukup laki-laki untuk memegang janjinya.”

Cong Si Ban memandang adiknya. “Si Kwi, apakah yang telah terjadi?”

“Petani-petani itu hendak merampok dan ketika aku berusaha menghalau mereka, nona ini datang mencampuri urusan ini dan aku telah kalah olehnya. Terpaksa aku berjanji hendak

memberikan yang diminta oleh para perampok itu, twako!” Si Kwi mengadu.

“Bagus-bagus!” nona itu tersenyum sindir. “Kau sendiri yang telah merampok dan memeras rakyat petani dan menumpuk hasil sawahnya di dalam gudangmu. Sekarang karena berada dalam keadaan kelaparan para petani minta pertolonganmu. Bukan kau tolong bahkan kau pukul mereka. Siapakah sebenarnya yang patut disebut perampok? Benar-benar orang busuk!”

Cong Si Ban maklum bahwa adiknya tentu telah berlaku kasar sehingga membuat gadis gagah ini menjadi marah, maka oleh karena ia tahu sedang berhadapan dengan seorang yang pandai, ia lalu tersenyum dan berkata, memperlihatkan sikap baik.

“Lihiap harap jangan marah dan maafkan adikku yang kasar. Tentang gandum dan air, tentu saja akan kubagikan karena sebelum kau datang, akupun sedang memikirkan untuk menolong mereka itu. Marilah duduk dan bercakap-cakap di dalam rumah.”

“Hmm, jadi kaukah kakak orang ini? Tentu kau yang disebut Cong Si Ban, yang menjadi raja kecil di daerah ini. Aku tidak menghendaki jamuanmu, hanya satu yang kukehendaki, yaitu sekarang juga harap kau keluarkan gandum dan padi secukupnya agar dapat dibawa oleh para petani.”

“Kau betul-betul bersikap kurang ajar!” bentak Sin Seng Cu dengan marah. “Tuan rumah berlaku mengalah dan peramah, akan tetapi kau memperlihatkan sikap seakan-akan menjadi kepala! Eh, anak kecil, kau mengandalkan apakah maka begini sombong?”

Sambil berkata demikian, Sin Seng Cu tosu yang berdarah panas ini sudah hendak melangkah maju. Akan tetapi Cong Si Ban yang amat cerdik dan hendak menggaruk keuntungan nama dalam keadaan yang buruk ini, segera mencegah dan berkata, “Baik .. baik! Si Kwi, kau keluarkan gandum dan bagi-bagikan seorang sekantong kepada para petani itu, dan mereka boleh mengambil air seorang sepikul!”

Cong Si Kwi tak dapat membantah, maka ia lalu mengepalai sejumlah pelayan, mengeluarkan bahan makanan mutlak itu, yang diterima oleh para petani dengan wajah girang dan air mata mengalir saking terharu dan gembiranya. Mereka memandang ke arah gadis itu dengan sinar mata penuh terima kasih. Akan tetapi karena khawatir kalau-kalau kedua saudara Cong itu berobah pikiran, mereka segera membawa pergi gandum itu dan pulang ke rumah masing- masing.

Cong Si Ban kembali menjura kepada nona baju kuning itu, “Nona, sekarang keadaan telah beres dan kami telah menuruti kehendakmu. Maka kuharapkan kau tidak menolak sedikit permintaanku.”

“Apakah itu?” tanya Cui Giok sambil memandang tajam.

“Karena kau telah mengalahkan adikku, maka aku merasa kagum sekali dan ingin melihat kelihaianmu. Sukakah kau memberi sedikit pelajaran padaku?”

Sie Cui Giok tersenyum menghina. “Sudah kuduga!” katanya. “Orang seperti kau dan adikmu mana dapat memberikan gandum itu dengan cuma-cuma? Kau tersenyum di mulut akan tetapi mengutuk di hati. Kau hendak menguji aku? Baik, keluarkan senjatamu!” Sambil berkata demikian, sekali kedua tangannya bergerak sepasang pedang itu telah berada di kedua tangannya.

Sementara itu, ketika melihat para petani telah pergi, Gwat Kong masih saja berada di situ dan kini ia duduk di bawah sebatang pohon, menonton pertandingan yang hendak dilangsungkan itu. Dan karena semua mata sedang diarahkan kepada nona baju kuning yang gagah itu, maka tak seorangpun memperhatikan pemuda yang berpakaian sederhana itu. Kalau sekiranya ada yang melihatnya, tentu Gwat Kong akan dianggap sebagai seorang pemuda dusun yang ingin menonton pertandingan silat.

Sementara itu, melihat gerakan Cui Giok yang mencabut pedangnya. Cong Si Ban lalu menerima toyanya dari seorang pembantunya dan setelah berkata, “Mohon pengajaran!” ia lalu menggerakkan toyanya dan memasang kuda-kuda yang kuat sekali nampaknya. Nona baju kuning itu tidak mau membuang banyak waktu lagi dan segera mulai dengan penyerangannya.

Pedangnya di tangan kanan bergerak menusuk ke arah dada lawan dan ketika Si Ban mengangkat toya untuk menangkis, nona itu menggunakan pedang kiri yang bergerak lambat untuk menahan tangkisan lawan dan pedang di tangan kanannya yang dapat bergerak amat cepatnya itu melanjutkan tusukannya.

Cong Si Ban merasa terkejut sekali dan cepat mundur untuk menghindarkan diri. Ia tak pernah menduga bahwa nona itu demikian lihainya. Pantas saja Si Kwi tak dapat melawannya, pikir Si Ban yang segera menggerakkan toyanya dengan cepat dan memutar- mutarnya bagaikan kitiran angin, langsung menyerang dan melakukan pukulan-pukulan bertubi-tubi dengan kedua ujung toyanya.

Sie Cui Giok maklum bahwa kepandaian Si Ban jauh lebih lihai dari pada Si Kwi, maka ia berlaku hati-hati dan mainkan kedua pedangnya dengan gerakan yang amat indah. Tubuhnya amat lincah dan ketika kedua pedangnya dimainkan, tubuhnya melompat ke sana ke mari bagaikan seekor burung bulu kuning sedang menari-nari kegirangan.

Sin Seng Cu, tosu dari Hoa-san-pai itu ketika melihat permainan pedang nona itu, diam-diam melengak dan memandang dengan mata dipentang lebar. Ia segera mengeluarkan tongkatnya yang hebat, yakni Liong-thouw-koai-tung, tongkat kepala naga dan dengan tongkat di tangan ia melompat ke tengah pertempuran itu sambil berseru, “Tahan dulu!”

Pada saat itu, pedang Cui Giok telah mengurung dan mendesak Cong Si Ban sehingga orang tinggi besar itu hanya dapat menangkis dan mengelak saja tanpa dapat membalas karena kedua pedang di tangan Cui Giok tidak memberi kesempatan sedikitpun kepadanya untuk menggerakkan toya dalam penyerangan. Yang amat menggelisahkan dan membuat hati Si Ban menjadi jerih adalah pedang ditangan kiri nona itu, karena setiap kali toyanya terbentur oleh pedang itu, ia merasa betapa toyanya terputar!

Ia tidak dapat mengikuti gerakan sepasang pedang itu karena kedua pedang itu gerakannya amat berlainan, seakan-akan ia menghadapi keroyokan dua orang yang berpedang dari kanan kiri. Melihat keadaan ini, Sin Seng Cu lalu menyodorkan tongkat kepala naga di tangannya itu ditengah-tengah dan memisahkan kedua orang yang sedang bertempur itu.

Cong Si Ban menjadi lega karena ia telah merasa amat khawatir kalau-kalau ia akan dirobohkan oleh gadis muda itu dalam waktu demikian pendeknya, belum juga ada dua puluh jurus mereka bertempur ia telah terdesak demikian hebatnya. Kini melihat tosu itu turun tangan, ia melompat ke belakang dan berseru, “Lihai sekali!”

Sementara itu, gadis baju kuning itu merasa penasaran melihat betapa tiba-tiba tongkat kepala naga ditangan tosu itu telah dilonjorkan di tengah-tengah dan menghalangi penyerangannya terhadap Si Ban yang sudah hampir kalah. Ia lalu menggunakan kedua pedangnya yang digerakkan dengan berlawanan, satu dari atas dan satu dari bawah, untuk menggunting tongkat itu dan untuk membuatnya menjadi terpotong.

Tiga senjata bertemu mengeluarkan suara keras dan gadis itu menjadi terkejut sekali karena jangankan dapat diputuskan oleh guntingan kedua pedangnya, bahkan kedua tangannya, terutama tangan kanan merasa tergetar ketika kedua pedangnya membacok tongkat itu.

Sebaliknya Sin Seng Cu juga merasa kagum dan mengeluarkan seruan memuji ketika merasa betapa tongkatnya seakan-akan terjepit dan sukar ditarik kembali dari guntingan sepasang pedang itu.

Karena maklum bahwa tosu ini lihai sekali, nona itu lalu melompat mundur sambil memutar kedua pedangnya untuk menjaga diri. Akan tetapi Sin Seng Cu tidak menyerangnya, hanya bertanya dengan suara kagum,

“Nona, ilmu pedangmu itu bukankah ilmu pedang Im-yang Siang-kiam? Apakah kau murid Lo-hiapkek (pendekar tua) Sie Cui Lui?”

“Aku adalah cucu dari Sie Cui Lui, tidak tahu siapakah totiang ini?” balas tanya gadis itu.

Sin Seng Cu tertawa. “Ah, pantas saja ilmu pedangmu demikian hebat! Telah lama aku mendengar nama Sie Cui Lui, raja pedang di daerah selatan yang telah menggemparkan kalangan kang-ouw, dan telah lama aku ingin sekali merasai kelihaian ilmu pedangnya. Kebetulan sekali sekarang aku bertemu dengan ahli warisnya yang telah memiliki ilmu pedang Im-yang Siang-kiam. Ketahuilah nona, pinto adalah seorang dari Hoa-san-pai yang bernama Sin Seng Cu. Karena nona adalah cucu dari orang tua gagah perkasa Sie Cui Lui, maka melihat mukaku harap kau habiskan saja perkara dengan kedua saudara Cong ini. Juga Cong-sicu (orang-orang gagah she Cong) kuharap suka menghabiskan perkara ini. Nona ini adalah keturunan seorang gagah yang patut kita jadikan kawan, bukan lawan!”

Cong Si Ban telah merasai kelihaian nona itu, maka tentu saja ia setuju dengan omongan tosu itu. Apalagi karena iapun telah mendengar nama besar Im-yang Siang-kiam. Maka ia lalu menjura dan menyatakan maafnya. Sie Cui Giok melihat mereka bersikap ramah dan sungguh-sungguh juga menjadi sabar kembali dan membalas dengan menjurah. “Aku yang muda baru saja keluar dari kampung sendiri dan masih kurang pengalaman, maka banyak mengharap maaf dari cuwi yang lebih pandai. Tentu saja aku yang muda dan bodoh tidak mau mencari permusuhan. Hanya saja kuharap sukalah orang-orang yang mempunyai harta dan kepandaian menaruh sedikit belas kasihan kepada para petani yang miskin dan tidak berdaya!”

Sin Seng Cu kembali tersenyum. “Kau masih muda akan tetapi hatimu mulia, nona. Sungguh membuat pinto merasa kagum sekali. Memang perbuatanmu benar dan sudah menjadi kewajiban kedua saudara Cong untuk menolong para petani yang miskin. Kalau nona tidak datang, tentu pinto juga akan minta perhatian mereka akan hal ini. Sekarang nona telah datang dan berkenalan dengan kami, maka pinto minta kepadamu sukalah memperlihatkan ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat itu barang sepuluh jurus untuk menambah kegembiraan kedua mataku yang sudah tua.”

Sie Cui Giok maklum bahwa tosu tokoh Hoa-san-pai ini memiliki watak yang tidak mau kalah dan sedikit menyombongkan kepandaian sendiri, maka ia tak dapat menghindarkan diri dari tantangan ini, dan karena ia maklum pula bahwa tosu ini telah memiliki kepandaian yang amat tinggi. Maka kalau ia tidak mengerahkan kepandaiannya, ia takkan bisa menang.

“Harap totiang suka berlaku murah kepada aku yang muda,” kata gadis itu yang telah siap pula dengan sepasang pedangnya.

Sin Seng Cu lalu menggerakkan tongkat kepala naganya di tangan dengan sambaran keras sambil berseru, “Lihat tongkat!”

Sie Cui Giok mengelak cepat dan merendahkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya, kaki kanan di belakang ditekuk rendah dan kaki kiri dilonjorkan ke depan sehingga tongkat itu menyambar di atas kepalanya. Kemudian gadis itu dengan amat cepatnya menggerakkan tangan kanan dan pedangnya menusuk ke arah perut lawan melalui atas kaki kirinya yang dilonjorkan.

Inilah gerak tipu Burung Hong Mengulur Leher, sebuah gerakan dari ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat. Sin Seng Cu cepat miringkan tubuh lalu memutar tubuhnya sambil menyabetkan toyanya dari belakang tubuh menyerampang kedua kaki lawan. Gerakan ini dilakukan dengan memutar tubuh di atas tumit kakinya lalu membarengi memutar tongkatnya yang setelah dekat dengan sasaran lalu digerakkan ke bawah sambil tiba-tiba berjongkok. Lawan yang kurang waspada dan kurang lincah gerakannya pasti akan tertipu karena serangan ini dibuka dengan menyabet ke arah pinggang ke atas akan tetapi tiba-tiba berobah menjadi serampangan pada kedua kaki.

Akan tetapi Sie Cui Giok benar-benar mengagumkan. Dengan tenang ia tadi menanti datangnya sambaran tongkat dan ketika tiba-tiba tongkat itu dialihkan arahnya, yaitu menyambar kedua kakinya, ia berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dengan kedua kaki di atas dan kedua tangan di bawah. Dan di dalam keadaan seperti itu ia balas menyerang dengan kedua pedangnya, yang kiri menusuk leher dan yang kanan membacok kepala! Inilah gerakan Burung Hong Terkam Harimau, sebuah gerakan yang selain indah juga amat sukar karena serangan ini dilakukan selagi tubuh masih berada di udara. Sesungguhnya serangan ini amat berbahaya, baik bagi lawan maupun bagi diri sendiri, oleh karena dalam keadaan tak menginjak tanah itu, sungguhpun serangannya berbahaya dan tak terduga oleh lawan. Akan tetapi apabila lawannya cepat mengelak dan melakukan serangan balasan, ia takkan dapat menjaga diri dengan baik. Namun Sie Cui Giok telah memperhitungkannya dengan tepat.

Pada saat ia mengelak dari serampangan tongkat lawan, ia maklum bahwa tongkat lawan yang sedang disabetkan pada kedua kakinya itu takkan dapat segera menyerangnya, sehingga ia menang waktu, maka ia berani melakukan serangan ini. Seandainya tongkat di tangan lawan berada dalam keadaan lebih baik dan dapat segera menyerangnya, tentu ia takkan menggunakan tipu ini dan hanya melompat ke atas menghindarkan serampangan lalu turun kembali.

Sin Seng Cu terkejut juga melihat serangan dari atas yang amat lihai ini, maka mereka tidak ada waktu baginya untuk menangkis dan untuk mengelak dengan kepalanya pun masih berbahaya lantaran kedua pedang itu menyerang dengan dua macam gerakan, maka terpaksa ia melempar tubuh bagian atas ke belakang terus melakukan gerakan poksai (salto) dan dengan cara demikian baru ia dapat menghindarkan diri dari serangan yang berbahaya itu.

Melihat pertempuran yang luar biasa ini, semua penonton menjadi kagum sekali sehingga kedua saudara Cong dan beberapa orang pelayan yang berada di situ memandang dengan bengong. Juga Gwat Kong tanpa disadarinya berseru,

“Bagus sekali!”

Cong Si Ban dan Cong Si Kwi yang mendengar seruan ini segera menengok dan mereka merasa heran ketika melihat seorang pemuda asing tengah duduk menonton pertempuran itu sambil minum arak dari guci araknya yang terbuat dari pada perak. Baru sekarang mereka melihat pemuda ini dan menjadi tertarik, juga curiga. Mereka belum pernah melihat pemuda ini dan juga tahu bahwa pemuda ini bukanlah penduduk di sekitar bukit itu.

Si Kwi yang berdarah panas dan sedang mendongkol karena kekalahannya tadi, menjadi marah melihat seorang pemuda enak-enak menonton dan minum arak di dalam pekarangan rumahnya tanpa minta ijin, maka ia lalu menghampiri dengan tindakan lebar.

“Siapa kau? Hayo minggat dari sini!” tegur Cong Si Kwi dengan marah.

Akan tetapi Gwat Kong tersenyum-senyum sambil menenggak araknya, bahkan lalu bertanya dan angsurkan gucinya,

“Kau suka arak? Ha ha lucu benar. Bukan tuan rumah yang menawarkan arak kepada tamu, sebaliknya tamu yang menawarkan araknya. Tuan rumah macam apakah ini?”

Si Kwi yang sedang marah dan mendongkol, tentu saja merasa makin marah melihat betapa seorang pemuda dusun berani mempermainkannya, maka ia menggerakkan toya yang berada di tangannya sambil membentak,

“Bangsat kurang ajar! Pergilah ke neraka!” Toyanya dikemplangnya dengan sekuat tenaga ke arah guci arak perak yang disodorkan oleh Gwat Kong itu, dengan maksud membuat guci itu pecah berantakan. Akan tetapi, dengan hanya menggerakkan sedikit tangannya yang pegang guci arak, pukulan toya itu mengenai tempat kosong dan Gwat Kong membelalakan mata sambil bersungut-sungut. “Eh eh, hati- hati kawan! Guciku ini bukan guci arak biasa dan kalau sampai rusak, kau harus menggantinya dengan kepalamu!”

Si Kwi makin marah mendengar ini dan kini menggerakkan toyanya menyodok ke arah perut Gwat Kong untuk membuat pemuda itu terpental. Akan tetapi, kembali ia kecele, karena tanpa berpindah tempat duduk, Gwat Kong dapat mengelak sodokan itu dengan miringkan tubuhnya sedemikian rupa sehingga sodokan ujung toya masuk ke bawah lengannya, menyerempet bajunya yang menutupi iga. Ia lalu turunkan lengannya mengempit toya itu dan tangan kanannya tetap mengangkat guci arak dan minum lagi seteguk.

Sia-sia saja Si Kwi hendak menarik kembali toyanya. Ia membetot-betot sekuat tenaga, makin kuatlah kempitan lengan Gwat Kong.

Kalau Si Kwi tidak sedang marah dan mendongkol tentu akan terbuka matanya dan maklum bahwa pemuda ini bukanlah orang yang boleh diperlakukan sembarangan. Akan tetapi, ia sedang marah sekali, maka ketika ia tidak dapat menarik kembali toyanya, tiba-tiba ia meludah ke arah muka Gwat Kong untuk menghinanya.

Semenjak tadi Gwat Kong hanya hendak mempermainkan orang ini saja dan sama sekali tidak mau menjatuhkan tangan keras. Akan tetapi melihat sikap orang yang tiba-tiba meludah kepadanya itu, timbul nafsu marahnya. Ia cepat mengelak dan terpaksa melepaskan kempitan toya itu. Kemudian dari mulutnya tersemburlah arak obat itu, dibarengi bentakan nyaring.

Puluhan titik arak yang berwarna kuning keemasan itu menyambar ke arah muka Si Kwi yang menjadi terkejut sekali dan tidak sempat mengelak. Ketika titik-titik arak itu mengenai kulit mukanya, Si Kwi menjerit ngeri dan terhuyung-huyung. Toyanya terlepas dari tangan dan kedua tangannya digunakan untuk menutup mukannya yang terasa perih dan panas sekali seakan-akan kulit mukanya ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum!

Darah membasahi seluruh mukanya biarpun semburan arak itu hanya melukai kulitnya akan tetapi demikian kerasnya sehingga kulitnya itu terluka dan mengeluarkan darah. Masih untung bagi Si Kwi bahwa ia tadi menutup matanya ketika butir-butir arak itu menyambar, kalau tidak tentu matanya akan menjadi buta.

Bab 21 …

MELIHAT betapa Si Kwi berjongkok dan menutup mukanya sambil mengaduh-aduh, Cong Si Ban menjadi terkejut sekali dan juga marah. Tanpa bertanya lagi siapa adanya pemuda itu dan tanpa mengingat bahwa sebetulnya adiknya sendirilah yang mencari penyakit dan bersikap sewenang-wenang terhadap pemuda itu. Si Ban telah maju dan menghantam dengan toyanya ke arah kepala Gwat Kong.

Pada saat itu, Gwat Kong masih duduk di tempat semula. Melihat sambaran toya di tangan Si Ban ini, ia maklum bahwa kepandaian Si Ban lebih lihai dari Si Kwi. Maka tanpa membuang waktu lagi, ia lalu menggelindingkan tubuhnya ke kiri sambil membawa guci araknya dan ketika ia melompat berdiri, ternyata bahwa guci araknya telah digantungkan ke pinggang dan kini tangan kanannya telah memegang ranting pohon yang tadi dipungutnya ketika ia menggelundung dan menghindarkan diri dari sambaran toya Si Ban. Ia tersenyum dan diam- diam ingin menguji kepandaiannya yang baru dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, yakni ilmu to Sin-hong Tung-hoat.

Melihat gerakan Gwat Kong ketika mengelak dari sambaran toyanya, Si Ban maklum bahwa pemuda ini adalah seorang yang “berisi” maka diam-diam ia mengeluh mengapa hari ini demikian banyaknya orang-orang pandai datang mengganggunya! Ia tidak tahu hubungan apakah adanya pemuda ini dengan gadis dari selatan itu. Akan tetapi karena melihat adiknya telah dilukai, ia lalu mendesak maju dengan mainkan toyanya dalam ilmu toya Sai-cu-tung- hoat yang juga memiliki gerakan amat ganas dan dahsyat.

Kalau tadi ia merasa bahwa menghadapi ilmu pedang nona itu ia akan kalah, maka kini ia hendak mendapat kemenangan dari pemuda yang hanya pegang sebatang ranting ini. Akan tetapi, bukan main terkejutnya ketika dalam satu gebrakan saja ia hampir celaka! Ketika ia mulai menyerang dengan membabat ke arah leher pemuda itu dengan gerakan cepat dan keras dari kanan ke kiri, Gwat Kong tidak mengelak mundur.

Akan tetapi ia diam saja dan menanti sampai toya itu datang dekat di pinggir pundaknya. Tiba-tiba pemuda ini merendahkan tubuh dan melangkah maju di bawah sambaran toya dan mengirim tusukan dengan rantingnya ke arah jalan darah Kiu-ceng-hiat di pundak kirinya! Untung bahwa ia masih sempat melepaskan tangan kiri yang ikut memegang toya dan menggunakan tangannya menangkis ranting itu yang membuat lengannya yang menangkis merasa sakit sekali dan ujung ranting itu biarpun tidak mengenai jalan darahnya di pundak, namun masih tetap mengait bajunya di bagian pundak.

Dan “brettt!” sobeklah bajunya. Dalam segebrakan saja mendapat pelajaran sedemikian rupa, Cong Si Ban tentu saja merasa terkejut dan pucat. Maka ia berlaku hati-hati sekali dan menjaga dirinya rapat-rapat dari serangan ujung ranting di tangan pemuda itu yang kini berkelebatan bagaikan kilat di hari hujan di depan matanya membuat ia merasa silau karena lawannya seakan-akan telah menjadi beberapa orang yang menyerangnya dari seluruh jurusan.

Sementara itu, pertempuran yang berlangsung antara Sin Seng Cu dan Sie Cui Giok makin ramai dan seru sekali. Terdorong oleh wataknya yang tidak mau kalah biarpun mereka telah bertempur lebih dari empat puluh jurus, namun Sin Seng Cu belum merasa puas karena ia belum berhasil mengalahkan gadis muda itu!

Masa dia, seorang tokoh besar dari Hoa-san-pai, yang telah mengangkat tinggi namanya karena kelihaian ilmu tongkatnya kini tak dapat mengalahkan seorang gadis muda yang masih hijau? Diam-diam ia mengeluh karena benar-benar pedang di kedua tangan gadis itu amat lihai dan sukar sekali dibobolkan oleh tongkat kepala naga di tangannya.

Gadis itu telah meyakinkan ilmu pedang Im-yang Kiam-hoat secara sempurna sekali sehingga biarpun dalam hal keuletan dan tenaga ia masih berada di bawah tingkat tosu itu, namun ia dapat mengimbangi permainan silat Sin Seng Cu dan selama itu tidak nampak terdesak sama sekali.

Juga Sie Cui Giok merasa penasaran dan marah melihat kenekatan tosu itu karena desakan- desakan Sin Seng Cu ini benar-benar di luar dugaannya. Tak disangkanya bahwa seorang tokoh persilatan yang telah menduduki tempat tinggi itu memiliki watak yang demikian buruk. Maka ia lalu menggertak gigi dan melawan sebaik-baiknya untuk menjaga namanya sendiri. Ia kini tidak mau mengalah dan membalas setiap serangan dengan balasan yang tak kalah lihainya.

Pada saat pertempuran antara mereka sedang berjalan amat ramainya, tiba-tiba ia mendengar seruan kaget dan tubuh seorang tinggi besar terlempar di antara mereka! Keduanya memandang dan melihat bahwa tubuh yang melayang dan terlempar itu adalah tubuh Cong Si Ban! Baik Cui Giok maupun Sin Seng Cu yang sedang mencurahkan perhatian karena menghadapi lawan berat, tadi tidak melihat peristiwa lain terjadi tak jauh dari tempat mereka bertempur yaitu tentang perkelahian antara Gwat Kong melawan kedua saudara Cong.

Maka kini melihat betapa tubuh Si Ban tiba-tiba terlempar dalam keadaan tunggang-langgang ke tengah kalangan pertempuran tentu saja mereka menjadi terkejut dan juga terheran-heran lalu menarik senjata masing-masing dengan cepat agar jangan sampai tersesat ke tubuh Si Ban yang melayang itu. Tubuh itu jatuh ke atas tanah mengeluarkan suara “bukk!” dan debu dari atas tanah yang tertimpa tubuh itu, sama sekali tak bergerak dan berada dalam keadaan kaku, hanya kedua matanya saja yang masih bisa melirik!

Sin Seng Cu maklum bahwa Si Ban telah ditotok orang secara luar biasa sekali, maka ia lalu maju dan memulihkan totokan itu dengan urutan dan ketukan. Kemudian Sin Seng Cu menoleh ke arah Gwat Kong dan memandang kepada pemuda itu dengan mata tajam. Ia seperti pernah bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi ia lupa lagi entah di mana.

Bagaimanakah Si Ban bisa di”terbang”kan dalam keadaan tertotok oleh Gwat Kong?

Ketika kedua orang ini tadi bertempur, makin lama mata Si Ban menjadi silau dan kabur. Ia tak dapat melihat dengan baik lagi dan terpaksa ia lalu memutar toya sedemikian rupa untuk melindungi seluruh tubuhnya. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa bahwa toyanya telah menempel pada ranting di tangan lawannya.

Gwat Kong telah mempergunakan tenaga “cam” (melibat/mengikat) sehingga toya Si Ban menempel pada rantingnya dan tak dapat lepas lagi. Si Ban mengerahkan lweekangnya dan berusaha membetotnya, dan tiba-tiba Gwat Kong melepaskan tenaganya lalu membarengi betotan tenaga Si Ban itu untuk menusukkan rantingnya ke arah sambungan lutut Si Ban! Kalau tusukan itu mengenai sasaran, tentu Si Ban akan roboh berlutut di depannya.

Akan tetapi Si Ban tentu saja tidak mau membiarkan lututnya dihajar, maka ia lalu berseru keras dan melompat ke atas menarik kedua kakinya ke dekat tubuh belakang. Pada saat itu, tak pernah disangkanya, ranting di tangan Gwat Kong kembali menyambar dan kini hendak memukul kepalanya!

Si Ban benar-benar lihai karena dalam keadaan meloncat itu, masih sempat buang tubuh atas ke depan sehingga kepalanya ditundukkan ke bawah mengelak serangan ranting itu. Akan tetapi kini tubuhnya menjadi telungkup dengan kepala dan kaki ditarik bagaikan seekor anjing sedang merangkak.

Gwat Kong masih tidak melepaskan korbannya dan secepat kilat ujung rantingnya menotok jalan darah di iga lawan itu sehingga tubuh Si Ban menjadi kaku. Dan berbareng dengan serangan itu Gwat Kong mengangkat sebelah kakinya menendang pantat lawannya sehingga tubuh Si Ban tanpa dapat dicegah lagi melayang ke depan bagaikan sebutir pelor dan jatuh di tengah-tengah gelanggang pertempuran Sin Seng Cu dan Cui Giok!

Setelah melakukan perbuatan yang nakal itu, Gwat Kong berdiri bertolak pinggang dan memandang dengan senyum. Ketika ia melihat betapa Sin Seng Cu memandangnya, ia segera menjura dan bertanya, “Sin Seng Cu totiang, apakah selama ini totiang baik-baik saja?”

Sin Seng Cu memandang tajam, kemudian ia teringat dan bertanya, “Bukankah kau pemuda yang mahir ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan kemudian diambil murid oleh Bok Kwi Sianjin?”

Gwat Kong tersenyum, “Totiang memang memiliki pandangan mata yang tajam.”

Sementara itu ketika mendengar bahwa pemuda yang baru datang ini adalah seorang ahli ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan bahkan menjadi murid Bok Kwi Sianjin. Nona baju kuning itu nampak terkejut sekali dan kini ia memandang kepada Gwat Kong dengan penuh perhatian.

Melihat hubungan pemuda ini yang agaknya telah kenal baik kepada Sin Seng Cu, diam-diam ia merasa khawatir kalau-kalau pemuda ini akan berpihak kepada tosu itu. Baru menghadapi tosu itu saja ia tadi telah merasa sukar untuk mengalahkannya, apalagi kalau mendapat bantuan pemuda yang memiliki ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat!

“Maafkan, aku tak dapat mengganggu lebih lama lagi!” kata Sie Cui Giok, nona baju kuning itu dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berlari cepat keluar dari pekarangan itu dan sebentar saja sudah lenyap dari pandangan mata.

“Hmm, seorang gadis muda yang memiliki kepandaian mengagumkan,” kata Sin Seng Cu perlahan setelah bayangan gadis itu lenyap. Kemudian ia teringat kepada Gwat Kong dan sambil memandang tajam ia berkata,

“Kau agaknya juga hendak memperlihatkan kepandaian, maka datang-datang kau telah menghina Cong Si Ban!”

Akan tetapi, Gwat Kong hanya mendengar setengah-setengah saja. Oleh karena pikirannya ikut terbang menyusul nona baju kuning yang menarik hati dan yang menimbulkan kekagumannya itu.

“Ah, akupun harus pergi!” katanya perlahan dan membalikkan tubuh hendak pergi.

“Anak muda, jangan harap bisa pergi sebelum aku mencoba kepandaianmu dan menebus kekasaranmu terhadap tuan rumah,” seru Sin Seng Cu yang mengulur tangannya hendak menangkap pundak pemuda itu untuk mencegahnya pergi.

Akan tetapi, tanpa menoleh, Gwat Kong menggerakkan tangannya ke belakang dan jari tangannya dengan cepat sekali mengirim totokan ke arah pergelangan tangan Sin Seng Cu yang hendak mencengkeram pundaknya, maka terpaksa tosu itu menarik kembali tangannya dengan hati terkejut dan kagum.

Tanpa menengok dapat melihat datangnya serangan bahkan dapat mengirim totokan yang tepat ke arah pergelangan tangannya hanya dapat dilakukan oleh seorang yang ilmu kepandaiannya sudah tinggi. Maka tosu ini menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan niatnya menguji kepandaian lawan ini.

Tadi, menghadapi seorang gadis muda saja tak dapat mengalahkannya dan baiknya pertempuran tadi tidak berakhir kekalahan baginya dan keburu terhenti karena Si Ban terlempar. Maka kalau kini ia berkeras menghadapi Gwat Kong untuk kemudian ia kalah dalam tangan pemuda ini, biarpun yang menyaksikannya hanya kedua saudara Cong. Akan tetapi namanya akan terbanting turun dengan hebat!

Maka ia diamkan saja Gwat Kong berlari keluar mengejar Cui Giok. Dan setelah pemuda itu lenyap dari pandangan mata, ia bahkan lalu menegur kedua saudara Cong itu yang dikenalnya baik. Ia memberi nasehat agar kedua saudara itu suka merobah pikirannya dan jangan berlaku sewenang-wenang kepada kaum tani yang miskin. Karena hal itu tentu akan menimbulkan hal-hal yang tidak enak seperti yang telah terjadi sekarang ini.

“Sebagai orang gagah kalian harus berwatak terlepas dan berlaku baik terhadap orang yang patut ditolong. Karena kalau tidak demikian, tentu kalian akan dimusuhi oleh banyak orang kang-ouw.

Kedua saudara Cong itu tak berani membantah dan hanya menyatakan kesanggupannya untuk menurut nasehat tosu ini. Keduanya benar-benar telah merasa betapa hari ini mereka telah mendapat hajaran keras dari dua orang muda yang kelihatannya masih hijau. Mereka baru insyaf bahwa ilmu kepandaian mereka sesungguhnya masih rendah dan dangkal.

Maka mereka lalu mengajukan permohonan kepada Sin Seng Cu untuk melatih dan memberi pelajaran silat kepada mereka. Tosu ini tidak keberatan dan untuk beberapa hari lamanya ia memberi petunjuk-petunjuk kepada kedua saudara Cong itu dan banyak memberi nasehat kepada mereka sehingga keduanya sedikitnya terbuka mata mereka dan diharapkan takkan berlaku sewenang-wenang dan kejam terhadap kaum petani selanjutnya.

****

Gwat Kong percepat larinya untuk menyusul nona baju kuning yang amat dikaguminya itu. Ia bukan kagum karena kecantikan gadis itu, akan tetapi kagum karena menyaksikan ilmu pedangnya. Semenjak gurunya, yakni Bok Kwi Sianjin menceritakan kepadanya bahwa selain Sin-eng Kiam-hoat dan Sin-hong Tung-hoat masih ada lagi Pat-kwa To-hoat dari utara dan Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan. Ia ingin sekali bertemu dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian itu.

Kini tak disangka-sangkanya, ia bertemu dengan seorang ahli waris Im-yang Siang-kiam dan ternyata ahli waris itu adalah seorang gadis muda yang cantik dan gagah dan berpribudi tinggi. Oleh karena inilah maka Gwat Kong ingin sekali berkenalan dan kalau mungkin mencoba ilmu pedang Im-yang Siang-kiam itu dalam sebuah pertandingan persahabatan.

Ia tadi melihat betapa gadis baju kuning itu berlari keluar dari dusun itu menuju ke barat, maka kini ia berlari cepat mengejar. Ia telah berlari cepat sekali dan cukup lama, akan tetapi belum juga ia dapat menyusul gadis itu. Ia menjadi penasaran dan mempercepat larinya hingga ia tiba di sebuah hutan yang penuh dengan pohon liu (semacam pohon cemara). Hutan itu indah sekali dan dari dari jauh ia mendengar suara air sungai mengalir. Akan tetapi ia merasa heran sekali karena tidak melihat bayangan orang yang dikejarnya. Kemanakah perginya gadis baju kuning itu? Apakah benar-benar ia memiliki ilmu lari cepat yang demikian luar biasa sehingga ia tidak mampu mengejarnya?

Gwat Kong masih merasa penasaran, maka ia lalu mendapat akal. Ia melompat ke atas cabang pohon liu dan terus memanjat ke atas bagaikan seekor kera. Setelah tiba di puncak pohon, ia berdiri dan memandang sekelilingnya. Akhirnya ia mengeluarkan seruan girang ketika melihat bayangan kuning berlari-lari di sebelah kiri hutan itu. Ia cepat melompat turun dan melakukan pengejaran ke arah kiri.

Tak lama kemudian, benar saja ia melihat gadis baju kuning itu berlari-lari di dalam hutan itu dengan gerakan yang gesit dan tubuh yang ringan. Gwat Kong lalu mempercepat larinya dan berseru,

“Lihiap (nona yang gagah)! Tunggulah sebentar!”

Akan tetapi ia kecele kalau menyangka bahwa nona itu akan memperhatikan seruannya, karena mendengar teriakannya ini, tanpa menoleh lagi dara baju kuning itu bahkan lalu mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari cepat Jouw-sang-hwe (Terbang di atas rumput). Gwat Kong menggigit bibirnya saking gemas. Jangan kau kira aku akan kalah dalam hal ilmu lari cepat darimu, demikian pikirnya dengan hati panas.

Ia tidak mau teriak-teriak lagi dan hanya mempercepat larinya dan menggunakan ilmu lari cepat yang belum lama ini disempurnakan atas petunjuk suhunya, yakni ilmu lari Teng-peng- touw-sui (Injak rumput seberangi sungai). Demikianlah, pada senja hari yang cerah itu, di dalam hutan pohon liu yang indah dua orang muda yang lihai sedang berlari cepat seakan- akan berlomba atau berkejar-kejaran!

Dengan mendongkol Gwat Kong mendapat kenyataan bahwa gadis itu ternyata memang sengaja hendak mempermainkannya, karena gadis itu bukan terus berlari ke depan. Akan tetapi membuat putaran dan seakan-akan sengaja main kejar-kejaran mengelilingi hutan. Ia tidak mau kalah dan terus mengejar dengan cepat.

Akhirnya dara baju kuning itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu lari cepat Gwat Kong karena jarak di antara mereka makin lama makin dekat. Tiba-tiba ketika ia sampai di tempat terbuka, yakni sebuah lapangan rumput yang hijau dan segar, ia menunda larinya dan membalikkan tubuh dengan sepasang pedangnya di kedua tangan!

Gwat Kong segera mengangkat kedua tangan memberi hormat setelah berhadapan dengan nona baju kuning itu. Akan tetapi penghormatannya dibalas dengan sebuah tusukan kilat yang dilakukan oleh pedang di tangan kanan Sie Cui Giok. Gwat Kong segera mengelak dan berkata,

“Maaf, lihiap! Jangan marah dulu. Aku      ”

“Kau adalah seorang laki-laki ceriwis! Tukang mengejar wanita!” Kata-kata ini disusul dengan sebuah serangan pula. Kini pedang di tangan kanan membabat leher dan pedang di tangan kiri menyerampang kaki. Menghadapi serangan luar biasa lihainya ini Gwat Kong tak dapat membuka mulut karena ia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mengelak lagi dengan lompatan jauh ke belakang.

“Tidak nona. Aku tidak ceriwis! Aku hanya ingin kenal ...... aku tertarik dan kagum sekali

padamu ”

“Cih, tak tahu malu! Ucapanmu ini membuktikan bahwa kau adalah seorang laki-laki ceriwis, seorang pemuda hidung belang!” Kembali Cui Giok maju menyerang dengan hebat. Kini pedang di tangan kanan menusuk hulu hati dan pedang di tangan kiri membelek perut!

Serangan-serangan ini biarpun amat berbahaya dan lihai mendatangkan rasa girang dan gembira di hati Gwat Kong. Oleh karena ia benar-benar mengagumi gerakan-gerakan dua pedang yang mempunyai gaya dan kelihaian tersendiri itu.

Ia maklum akan bahayanya dua serangan itu, maka ia melempar tubuh ke belakang lagi, sambil berjungkir balik membuat salto ke belakang sampai dua kali. Ia melompat agak tinggi, sehingga dapat mencapai cabang pohon yang paling rendah dan ketika tubuhnya kembali menginjak tanah, di tangannya telah terdapat sepotong kayu yang dipatahkannya dari cabang tadi. Kini Gwat Kong mencabut-cabut daun dari ranting kayu itu dan berkata,

“Nona, kau salah sangka! Yang mengagumkan dan menarik hatiku adalah ilmu pedangmu yang luar biasa itu! Telah lama aku mendengar ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat, maka kini aku merasa kagum dan tertarik sekali menyaksikan bahwa ilmu pedang itu benar-benar indah dan luar biasa!”

Aneh sekali, mendengar ucapan ini, nona itu wajahnya menjadi merah dan agaknya ia marah sekali.

“Kau hanya mengagumi keindahan ilmu pedangku? Nah, rasakanlah siang-kiamku!” Tanpa banyak cakap lagi Cui Giok lalu menyerang dengan sepasang pedangnya dengan gerakan yang amat aneh dan cepat.

Gwat Kong menggerakkan kayu di tangannya itu dengan hati gembira. Tercapailah maksudnya untuk menguji ilmu pedang Im-yang Siang-kiam yang dipuji-puji oleh gurunya. Sungguhpun ia agak kecewa karena nampaknya ia telah mendatangkan kesan buruk di dalam hati gadis itu, yang seakan-akan marah dan membencinya. Apa boleh buat, pikirnya. Akupun hanya ingin mencoba kepandaiannya belaka.

Ia lalu kerahkan seluruh kepandaiannya dan mainkan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat yang ia pelajari dari Bok Kwi Sianjin. Biarpun yang dipegangnya hanya sebatang kayu ranting biasa, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang yang tinggi dan mainkan ilmu silat yang luar biasa sekali, maka ranting di tangannya itu bergerak-gerak dan menyambar- nyambar dengan amat ganas dan lincahnya sehingga ia dapat mengimbangi permainan siang- kiam dari Cui Giok yang benar-benar hebat itu.

Gwat Kong dengan teliti sekali memperhatikan gerakan kedua pedang di tangan nona itu, dan beberapa kali ia sengaja mengadu tenaga dengan pedang di tangan kanan maupun yang di kiri. Setelah beberapa kali mengadu tenaga, tahulah ia bahwa tangan kanan gadis itu mempergunakan tenaga yang-kang (tenaga kasar/besar), sedangkan di tangan kiri menggunakan tenaga Im-jin (halus/mulus), maka kedua pedang itu dapat digerakkan dengan berlainan sekali. Kalau pedang di tangan kanan menyambar-nyambar dengan ganas luar biasa dengan kecepatan yang menyilaukan mata, adalah pedang di tangan kiri digerakkan dengan lambat. Akan tetapi, biarpun kelihatannya lambat, Gwat Kong maklum bahwa pedang di tangan kiri inilah yang paling berbahaya di antara kedua pedang itu, karena kelambatan dan kelemasan itu sebetulnya hanya nampaknya saja. Sebetulnya di dalam kelambatan itu mengandung kecepatan yang lebih hebat dari pada pedang di tangan kanan.

Memang agaknya tak masuk diakal dan aneh, akan tetapi hal ini memang sebetulnya. Kecepatan di tangan kanan adalah kecepatan tenaga gadis itu sendiri yang dikerahkan dengan maksud menyerang dan membacok lawan dan pengerahan tenaga tangan untuk menggerakkan pedang inilah maka disebut bahwa tenaga tangan kanan itu adalah kasar/keras. Kecepatan hanya terletak pada sambaran senjata dan tergantung sepenuhnya dari besarnya dorongan tenaga nona itu.

Akan tetapi, pedang di tangan kiri itu tidak mengandalkan tenaga sendiri, akan tetapi mengandalkan tenaga lawan. Pedang yang nampaknya lambat apabila menyerang itu jangan sekali-kali dipandang rendah karena kalau ditangkis oleh senjata lawan, pedang ini mengambil atau mencuri tenaga lawan yang menangkis itu dan dengan dorongan tenaga yang dipinjam itu ia melakukan serangan lanjutan yang luar biasa cepatnya dan tidak diduga sama sekali oleh lawan.

Juga, setiap kali pedang di tangan kiri ini digunakan untuk menangkis serangan lawan, pedang ini tidak menggunakan tenaga kekerasan, akan tetapi menguasai atau menangkap tenaga lawan sedemikian rupa sehingga tenaga lawan yang besar itu akan lenyap sendiri. Bahkan dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk melakukan serangan balasan pada saat menangkis itu juga.

Memang agak sukar untuk mengerti bagi mereka yang tidak tahu akan ilmu silat tinggi. Akan tetapi memang tenaga “im” atau tenaga dalam yang lemas ini benar-benar luar biasa. Sebagai contoh untuk memudahkan penjelasan tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga lemas adalah seperti berikut.

Kalau kita melemparkan sebuah benda yang berat ke atas udara dan kemudian benda itu kembali menimpa ke arah tangan kita, maka ada dua jalan bagi kita untuk menerima kembali jatuhnya benda itu dengan tenaga kasar dan tenaga lemas. Dengan tenaga kasar, yakni berarti bahwa kita menggunakan kekuatan kita untuk menerima benda itu begitu saja dengan mengandalkan kekuatan urat-urat di lengan kita sehingga akibatnya kalau tenaga kita lebih besar dari pada luncuran benda yang jatuh itu, maka benda tersebut akan dapat kita terima dengan mudah dan enak. Akan tetapi sebaliknya apabila tenaga luncuran benda yang jatuh itu lebih besar dari pada tenaga tangan kita banyak bahayanya tangan kita akan tertimpa sampai patah tulangnya atau keseleo dan benda itu akan terlepas dari tangan kita.

Adapun penggunaan tenaga lemas ialah apabila kita menerima benda yang meluncur dari atas itu dengan ringan tanpa menggunakan tenaga besar atau kasar. Akan tetapi dengan tenaga lemas dan lemah kita menyambutnya dan menuruti luncurannya dari atas itu ke bawah kemudian dengan hanya sedikit tenaga saja kita mendorong benda itu ke samping untuk mematahkan tenaga luncurannya yang menimpa itu kemudian dengan gaya yang baik, yakni seakan-akan merupakan kemudi bagi tenaga luncur yang seperti raksasa itu. Kita bisa mendorong benda itu ke samping terus kembali ke atas, seakan-akan benda itu jatuh melalui sebuah pipa yang di bagian bawah dibengkokkan dan membelok ke atas lagi.

Nah, demikianlah sekedar penjelasan singkat tentang perbedaan tenaga kasar dan tenaga lemas. Permainan pedang di kedua tangan Sie Cui Giok adalah berdasarkan tenaga kasar dan lemas maka ilmu pedang ini disebut Im-yang Siang-kiam-hoat atau ilmu pedang pasangan Im dan Yang. Gwat Kong benar-benar merasa kagum karena setelah ia mengerahkan seluruh kepandaiannya berdasarkan permainan tongkat Sin-hong Tung-hoat yang baru-baru ini dipelajarinya dari Bok Kwi Sianjin, ia tetap saja terdesak oleh sepasang pedang itu sehingga ia harus menambah ekstra kegesitan tubuhnya agar jangan sampai terbabat atau tertusuk pedang nona itu.

“Ha ha! Tak tahunya Sin-hong Tung-hoat yang ternama itu hanya begini saja!” tiba-tiba nona itu menyindir dan memutar kedua pedangnya lebih hebat dan lebih cepat lagi mendesak Gwat Kong dengan serangan-serangan berbahaya dan yang paling lihai dari ilmu pedangnya.

Selain sibuk menghadapi desakan serangan ini, juga hati Gwat Kong merasa amat mendongkol mendengar sindiran yang memandang rendah ilmu tongkatnya ini. Kalau saja ia sudah melatih cukup masak, belum tentu ia akan kalah, pikirnya dengan mendongkol. Ia tahu bahwa kekalahannya yang membuat ia amat terdesak ini tak lain hanya karena kalah latihan.

Ia dapat menduga bahwa melihat kemahiran nona ini mainkan ilmu pedangnya, tentu ia telah melatih ilmu pedang ini bertahun-tahun lamanya. Maka ia segera berseru marah dan tiba-tiba ia melempar rantingnya ke atas tanah dan tahu-tahu pedang Sin-eng-kiam pemberian Bu-eng- sian Leng Po In dulu telah berada di tangannya, berkilau-kilau mendatangkan sinar putih yang panjang.

“Bagus! Hendak kulihat sampai di mana kehebatan Sin-eng Kiam-hoat!” seru nona baju kuning itu. “Benar-benar hebat ataukah hanya namanya saja yang hebat seperti Sin-hong Tung-hoat yang kau mainkan tadi!”

Saking mendongkolnya, Gwat Kong tak dapat menjawab sindiran ini dan segera menyerang dengan pedangnya sambil membentak, “Awas pedang!”

Kini pertempuran menjadi lebih hebat lagi, karena sungguhpun Sin-hong Tung-hoat yang baru tadi dimainkan oleh Gwat Kong tak kalah hebatnya, akan tetapi ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat telah dilatihnya lama juga dan ia lebih biasa menggerakkan pedang dari pada menggerakkan ranting tadi. Ketika memutar pedang tunggalnya, maka lenyaplah tubuhnya tertutup oleh sinar pedangnya itu karena Cui Giok juga tidak mau kalah dan mainkan sepasang pedangnya dengan cepat, maka yang nampak sekarang adalah tiga sinar pedang yang saling menggulung, seakan-akan seekor naga jantan yang gagah perkasa dikeroyok oleh sepasang naga betina yang memiliki gerakan indah.

Pertempuran ini benar-benar ramai dan hebat, jauh lebih ramai dari pada pertempuran yang pernah dihadapi oleh Cui Giok maupun Gwat Kong. Keadaan mereka benar-benar berimbang. Dalam hal gerakan ilmu pedang, Gwat Kong masih kalah mahir, dan hal ini adalah karena ia memang kalah latihan. Cui Giok semenjak kecil digembleng oleh engkongnya (kakeknya) dan telah belasan tahun ia mempelajari ilmu pedang Im-yang Siang-kiam-hoat ini, maka setiap gerakannya amat sempurna. Akan tetapi sebaliknya, gadis ini masih kalah dalam hal lweekang karena Gwat Kong telah mendapat latihan dari dua macam ilmu silat tinggi. Ginkang mereka setingkat, mereka sama- sama maklum bahwa kalau pertempuran dilanjutkan, yang lebih dulu kehabisan napas dan tenaga, dialah yang akan kalah. Dan sebelum mereka kehabisan tenaga dan napas, entah beberapa ratus jurus mereka sanggup bertahan. Sementara itu, keadaan telah mulai menjadi remang-remang, tanda bahwa senjakala telah hampir terganti malam.

Gwat Kong merasa sudah cukup menguji ilmu kepandaian gadis itu, maka tiba-tiba ia berseru keras dan gerakan pedangnya berubah hebat. Cui Giok terkejut sekali dan hampir saja pundaknya terkena sambaran ujung pedang pemuda itu. Gwat Kong makin gembira melihat hasil perubahan ini dan menyerang makin hebat. Benar saja, Cui Giok menjadi terdesak dan gadis ini nampak sibuk sekali.

Ternyata bahwa Gwat Kong telah mencampur adukkan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Ilmu pedang dan ilmu tongkat memang berbeda, akan tetapi banyak pula persamaannya, yakni dalam hal serangan menusuk dan membacok. Hanya berbeda, pedang menusuk untuk menembus kulit daging lawan sedangkan tongkat menusuk ke arah jalan darah lawan. Diserang dengan ilmu silat campuran yang memang luar biasa ini, Cui Giok benar-benar merasa bingung dan akhirnya ia merasa bahwa ia takkan kuat menghadapi pemuda yang luar biasa ini, Maka ia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri.

Gwat Kong merasa tidak puas. Setelah bertempur sekian lamanya, ia harus dapat mengalahkan gadis itu, atau setidaknya nona itu harus mengakui bahwa Im-yang Kiam-hoat masih kalah oleh ilmu silatnya yang campuran ini. Maka melihat nona itu melarikan diri, ia juga berlari cepat mengejar.

Sie Cui Giok berlari menuju ke utara dan tiba-tiba di depannya terdapat sebatang anak sungai yang cukup lebar dan airnya jernih itu nampak kehijauan, tanda bahwa sungai itu cukup dalam. Pemandangan di situ amat indahnya karena pohon-pohon dan bunga tumbuh di kedua tepi sungai, dan di situ terdapat pula sebuah jembatan terbuat dari pada tiga batang bambu yang disambung-sambung.

Rupa-rupanya para pemburu binatang yang membuat jembatan darurat ini.

Tanpa pikir panjang lagi Cui Giok lalu melompat dan berlari melalui bambu itu. Bambu itu ketika diinjak dengan keras lalu bergerak-gerak dan bukan main sukarnya melintasi bambu- bambu yang kecil, licin dan bergerak-gerak ini. Akan tetapi gadis itu sudah tak dapat kembali lagi, karena ia melihat Gwat Kong sudah tiba di pinggir sungai pula dan agaknya hendak melintasi jembatan itu pula.

“Awas nona, kau nanti jatuh!” Gwat Kong berseru kaget melihat betapa tubuh nona itu bergerak-gerak di atas bambu yang bergoyang-goyang. Ia sendiri tidak berani melompat ke atas jembatan karena maklum bahwa kalau ia ikut melompat, bambu-bambu itu belum tentu kuat menahan beratnya dua tubuh orang.

Cui Giok agaknya akan dapat menyeberang dengan selamat, akan tetapi tiba-tiba gadis itu berteriak ketakutan. Di tengah-tengah jembatan itu terdapat seekor tikus hutan yang besar dan yang sedang menyeberangi jembatan itu pula. Dan Cui Giok termasuk seorang di antara para gadis yang jijik dan takut serta geli melihat tikus. Wajahnya pucat, dan ia menjadi begitu takut dan kaget sehingga ia tidak dapat mengatur imbangan tubuhnya lagi. Dengan teriakan ngeri, gadis itu terpeleset dari jembatan bambu dan tubuhnya melayang ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik tinggi dan Gwat Kong menahan napas ketika melihat betapa tubuh gadis itu timbul dipermukaan air dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, tanda seorang yang tak dapat berenang. Gadis itu memandangnya seketika, kemudian tenggelam timbul dengan tangan terangkat. Keadaannya sungguh menyedihkan sekali.

Bab 22 …

SUNGGUHPUN ia sendiri tak amat pandai berenang, akan tetapi kalau hanya berenang dan menolong orang tenggelam saja Gwat Kong masih sanggup, maka tanpa banyak pikir lagi ia lalu melompat dan terjun ke bawah.

“Jebur!!” Air memercik lagi tinggi-tinggi dan Gwat Kong menggunakan kakinya untuk mengangkat tubuh ke permukaan air. Kepalanya telah tersembul ke atas. Ia memandang ke kanan kiri. Akan tetapi ia tidak melihat tubuh gadis yang sedang hanyut tadi!

“Nona ..... nona   !” Ia berteriak-teriak dengan panik menyangka bahwa nona itu tentu

tenggelam. Ia berenang ke sana ke mari sampai kaki dan tangannya terasa lemas karena selain ia tidak biasa berenang, juga rasa lelah cepat membuatnya lemas.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat ke pinggir sungai dan nampak nona baju kuning itu sedang duduk dalam keadaan basah kuyup, dan sedang memandang ke arahnya sambil tersenyum. Gwat Kong merasa seakan-akan hidungnya dipukul dari depan. Dengan gemas ia dapat menduga bahwa tadi gadis ini hanya berpura-pura belaka. Dengan susah payah, Gwat Kong lalu berenang ke pinggir sambil diam-diam menyumpahi ketololannya sendiri.

Ia merayap ke atas melalui tanah lumpur sehingga ketika ia telah berhasil duduk di dekat nona itu dengan napas terengah-engah, seluruh pakaiannya kotor terkena lumpur dan seluruh tubuhnya basah kuyup. Dalam keadaan basah dan hawa senja amat dinginnya itu, Gwat Kong merasa amat tidak enak. Akan tetapi, tidak hanya tubuhnya terasa tidak enak, malah hatinya terasa lebih-lebih tak enak lagi. Ia merasa mendongkol sekali, apalagi ketika melihat betapa gadis itu memandangnya seperti seorang kakak memandang adiknya yang tolol.

“Nona, kau benar-benar keterlaluan!” katanya.

Cui Giok bangun berdiri, mencari-cari, lalu membungkuk dan mengumpulkan daun-daun dan ranting kering. “Sebelum mengobrol, lebih baik membuat api unggun untuk mengusir dingin dan mengeringkan pakaian,” katanya.

Gwat Kong menyetujui usul ini dan juga berdiri lalu membantu pengumpulan kayu-kayu kering yang ditumpuk di dekat sungai itu. Lalu mereka membuat api dan tak lama kemudian mereka duduk di dekat api unggun yang bernyala besar dan hangat.

“Kau benar-benar keterlaluan!” kata Gwat Kong sambil membuka jubah luarnya dan memanggangnya di dekat api setelah diperasnya tadi.

“Mengapa keterlaluan?” Nona itu balas memandang sambil melonjorkan kakinya ke dekat api karena sepatu dengan kaos kaki yang masih basah itu terasa tidak enak sekali. “Kukira tadi kau betul-betul akan tenggelam sehingga aku melompat ke air. Kalau aku tahu kau pandai berenang, untuk apa aku bersusah payah sampai basah semua macam ini?”

Nona itu tertawa dan bukan main manisnya kalau ia tertawa. Dekik-dekik manis sekali menghias kanan kiri mulutnya. “Hmm, memang kau seorang muda yang usilan dan selalu mencampuri urusan orang lain. Siapakah yang minta kau menolongku? Apakah kau mendengar aku menjerit minta tolong?”

Terpaksa Gwat Kong harus mengakui bahwa gadis itu tadi memang tidak minta tolong. Akan tetapi mengapa kedua tangan gadis itu bergerak seakan-akan tak pandai berenang dan akan tenggelam? Diam-diam Gwat Kong dapat menduga bahwa gadis ini selain cerdik sekali, juga mempunyai kejenakaan. Sifatnya ini membuatnya teringat akan Tin Eng dan diam-diam ia memandang dengan penuh perhatian.

Biarpun tubuhnya telah mulai hangat karena terpanggang api dari luar, namun ia masih merasa dingin perutnya. Maka Gwat Kong lalu mengeluarkan guci araknya dan membuka tutupnya. Ia mengulurkan tangan menawarkan minuman itu kepada Cui Giok.

“Minumlah supaya perut menjadi hangat!”

Cui Giok menerimanya dan memandang guci perak itu dengan kagum dan tanyanya, “Mana cawannya?”

Gwat Kong menggeleng kepala. “Aku tidak pernah membawa cawan.” “Habis bagaimana minumnya?”

“Teguk saja dari mulut guci!”

“Kau kira aku setan arak?” kata Cui Giok. Akan tetapi karena iapun merasa betapa perut dan dadanya dingin, ia lalu membawa mulut guci itu ke bibirnya dan menuangkan sedikit isinya ke dalam mulut. Ia merasai minuman yang manis dan wangi, sama sekali berbeda dengan arak biasa, akan tetapi juga mempunyai sifat panas seperti arak. Ia menunda minumnya, dan memandang kepada pemuda itu dengan heran dan mata mengandung pertanyaan.

“Itu sari buah, bukan arak biasa. Disebut arak obat oleh suhu, baik untuk peredaran darah.”

Cui Giok tersenyum lalu minum lagi beberapa teguk. Benar saja, tubuhnya terasa hangat dan enak setelah arak obat itu mengalir masuk ke dalam perutnya. Ia mengembalikan guci itu kepada Gwat Kong yang menerimanya dan terus meneguknya dengan gaya seorang ahli minum benar-benar.

Melihat betapa pemuda itu tidak membersihkan atau menghapus dulu mulut guci yang tadi menempel di bibirnya dan terus meneguknya, tak terasa lagi muka gadis itu menjadi merah karena jengah. Akan tetapi melihat cara pemuda itu minum arak ia teringat akan sesuatu dan setelah Gwat Kong menurunkan guci dan menutupnya kembali, Cui Giok berkata,

“Kau, tentulah Kang-lam Ciu-hiap yang disohorkan orang!” Gwat Kong tercengang, akan tetapi ia memandang kepada guci araknya dan tersenyum. “Kau pandai sekali menghubungkan sesuatu. Tentu guci arakku ini yang telah membuka rahasia.

Nona bicaramu seperti orang selatan. Apakah benar-benar kau ahli waris Im-yang Siang- kiam-hoat sebagaimana yang aku dengar tadi? Telah lama sekali aku mendengar dari suhu tentang kelihaian Im-yang Siang-kiam dan hari ini benar-benar aku membuktikan kebenaran ucapan suhu itu. Ilmu pedangmu benar-benar hebat!”

Merahlah wajah gadis itu. “Kalau kau tidak mengeluarkan ilmu silat cap-jai itu, ilmu pedangku takkan kalah oleh Sin-eng Kiam-hoat atau Sin-hong Tung-hoat!”

Gwat Kong tersenyum mendengar betapa ilmu silat campuran yang ia mainkan tadi untuk mengalahkan gadis ini disebut ilmu silat cap-jai.

“Memang Im-yang Siang-kiam hebat sekali,” ia memuji. “Nona sebetulnya siapakah kau dan hendak pergi ke mana?”

Nona itu memandang dengan mata yang tajam, lalu menjawab,

“Kau yang mengejarku dan karena gara-gara kau aku menjadi basah semua, maka sudah sepatutnya kalau kau yang menceritakan lebih dulu siapa kau ini dan apa maksudmu mengejarku tadi!”

Kembali Gwat Kong tertegun karena banyak sekali persamaan watak gadis ini dengan Tin Eng akan tetapi ia mengalah dan mulai menuturkan keadaan dirinya.

“Aku bernama Gwat Kong, she Bun seorang biasa saja, tidak ada apa-apa yang aneh

padaku dan eh, apalagi yang harus kuceritakan padamu?”

Ia memandang dengan bingung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya. Ketika ia melihat betapa mata gadis itu memandang dengan lucu seakan-akan mentertawakannya, ia buru-buru melanjutkan penuturannya.

“Aku Bun Gwat Kong ... eh, sudah kukatakan tadi .... hmmm kau juga sudah tahu bahwa

aku disebut Kang-lam Ciu-hiap. Aku yatim piatu, sebatang kara tak berhandai taulan, tiada kawan kenalan, dan aku tadi tanpa kusengaja aku melihat sepak terjangmu dan mendengar

bahwa kau adalah ahli waris Ilmu pedang Im-yang Siang-kiam. Oleh karena itu, aku sengaja hendak berkenalan dengan ilmu pedangmu.”

Gwat Kong menarik napas lega karena dapat bicara lancar dan dapat menyelesaikan penuturan itu, karena sesungguhnya belum pernah ia menuturkan riwayatnya sendiri di depan orang lain, terutama kalau orang lain itu seorang gadis muda yang memandangnya dengan sepasang mata yang bersinar demikian tajam dibarengi bibir menahan senyum geli seakan- akan mentertawakan.

“Jadi, kau murid Bok Kwi Sianjin?” “Benar”

“Kalau begitu, untung aku bertemu dan bertempur dengan kau!” Gwat Kong memandang heran. “Mengapa bertempur dengan aku, kau anggap untung?”

“Kalau tidak bertemu dan bertempur dengan kau, tentu aku akan bertemu dengan Bok Kwi Sianjin!”

“Nona, apa maksudmu?”

Sie Cui Giok menarik napas panjang dan berkata sambil mulai menguncir kembali rambutnya yang telah mulai kering. Tadi ia melepaskan kuncirnya sehingga rambut terurai di atas pundaknya.

“Untuk menjelaskan maksud kata-kataku tadi, terpaksa aku harus menceritakan riwayatku.” “Ceritakanlah!” kata Gwat Kong dengan gembira dan penuh perhatian.

“Namaku Cui Giok, she Sie. Keluargaku tinggal di daerah selatan, di propinsi Ciang-si. Aku memang keturunan langsung dari pencipta Im-yang Kiam-hoat, yakni Sie Cui Lui, kakekku. Ayah telah meninggal dunia semenjak aku masih kecil. Ibu tinggal bersama kakek dan nenek. Jadi nasibku tak banyak bedanya dengan kau.

“Tapi kau masih punya ibu!” Gwat Kong mencela. “Ya, akan tetapi ada ibu tidak ada ayah, apa artinya?”

“Tapi kau masih punya kakek, punya nenek!” Gwat Kong mengejar dan mendesak lagi.

Cui Giok memandangnya dan tersenyum, “Sudahlah, biar kau menang! Memang nasibmu lebih buruk. Semenjak kecil aku mendapat latihan Im-yang Kun-hoat dan kiam-hoat dari kakekku.”

“Kemudian aku mulai melakukan perjalanan perantauan, yakni kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Aku mendapat dua macam pesanan dari kakek yang merupakan tugas bagiku dan belum terlaksana. Pertama-tama kalau aku kebetulan lewat di daerah di mana tinggal Bok Kwi Sianjin, aku harus menemuinya dan mengajak pibu sebagai wakil dari kakekku yang menjadi kawan baik Bok Kwi Sianjin! Karena kakek berpesan bahwa pibu ini harus dilakukan secara persahabatan untuk mengukur kepandaian masing-masing. Maka setelah kini bertemu dengan kau yang menjadi murid Bok Kwi Sianjin, bahkan kita sudah bertempur pula, kurasa tugas pertama ini sudah kupenuhi!”

Gwat Kong mengangguk-angguk. “Kurasa memang benar begitu!” Ia sengaja membenarkan pandangan nona ini agar nona yang karena hari ini tidak mencari suhunya untuk mengajak pibu.

“Karena inilah maka tadi kukatakan untung telah bertempur dengan kau!” kata pula nona itu dan karena melihat betapa api unggun itu mengecil karena kayu bakarnya telah hampir habis, ia berkata,

“Apa ini perlu ditambah bahan bakar lagi?” Gwat Kong tersenyum, karena ia maklum bahwa secara tidak langsung, gadis ini minta ia mencari tambahan kayu kering. Tak terasa lagi, ketika ia mencari kayu kering di bawah- bawah pohon, ia mendapat kenyataan bahwa pada saat itu senja telah terganti malam. Ia cepat mengumpulkan kayu kering dan menambahkannya pada api unggun itu yang segera membesar lagi nyalanya.

“Dan apakah adanya pesan kedua dari kakekmu?” tanya Gwat Kong setelah menambah kayu pada api itu dan duduk di atas rumput lagi.

Untuk beberapa lama gadis itu tidak menjawab, kemudian tiba-tiba ia berkata, “Kau putarlah tubuhmu dan harap duduk membelakangiku, jangan sekali-kali melihat aku!”

Tentu saja Gwat Kong menjadi bengong dan memandang dengan terheran-heran lalu bertanya, “Bagaimanakah ini? Jawabanmu sama sekali tidak sejalan dengan pertanyaanku. Dan mengapa aku harus duduk membelakangimu? Apakah mukaku begitu mengerikan dan menjijikan sehingga kau tidak kuat memandang lebih lama lagi? Kalau kau tidak tahan duduk lebih lama di dekatku, katakanlah saja, aku bersedia untuk pergi!”

“Bodoh!” gadis itu menjawab dengan muka merah. “Pakaianku telah kering, akan tetapi sepatu dan kaos kaki ini sukar sekali keringnya. Kalau dibiarkan basah amat tidak enak maka aku hendak membuka dan memanggangnya dekat api. Karena itu kau harus memutar tubuhmu!”

Merahlah muka Gwat Kong mendengar ini dan cepat-cepat ia memutar tubuhnya membelakangi gadis itu. Ia mendengar suara sepatu dan kaos kaki dilepas dan diam-diam ia tersenyum geli. Gadis ini berani, tabah dan lucu.

“Bagaimana kau begitu percaya kepadaku? Mengapa kau begitu yakin bahwa aku bukan seorang laki-laki kurang ajar yang akan menengok dan melihatmu pada saat ini?” tanya Gwat Kong tanpa menggerakkan kepalanya.

“Tak mungkin! Laki-laki seperti kau takkan berani berbuat sekurang ajar itu!”

Gwat Kong menggigit bibirnya. Benar-benar berani sekali gadis itu, lebih berani dari Tin Eng. Ia merasa heran mengapa malam ini ia bisa duduk-duduk di dekat api unggun bersama seorang gadis yang tadinya sama sekali tak pernah dikenalnya, bercakap-cakap bagaikan dua sahabat baik. Baru saja bertemu dan berkenalan belum beberapa lama, ia telah merasa dekat sekali dengan nona ini, sama sekali tidak merasa asing, seakan-akan gadis ini adalah adik perempuan sendiri.

Ia terkenang kepada Tin Eng, gadis yang telah merebut hatinya itu. Alangkah senangnya kalau saja ia bisa melakukan perjalanan bersama Tin Eng, duduk di pinggir sungai di dekat api unggun seperti sekarang ini.

“Gwat Kong, mengapa kau diam saja?”

Gwat Kong terkejut. Gadis ini tanpa banyak peraturan lagi telah memanggilnya berani. Hampir saja ia lupa menengok. Untung ia masih teringat dan menjawab, “Aku sedang memikirkan tentang tugasmu yang kedua yang dipesankan oleh kakekmu. Kau belum menceritakannya itu kepadaku.”

Terdengar gadis itu tertawa perlahan. “Kau benar-benar seorang pemuda yang ingin mengetahui segalanya seperti watak seorang perempuan saja. Baiklah, dari pada kita diam saja akan kuceritakan kepadamu. Pesan kakekku yang kedua ialah bahwa aku harus mencari Liok-te Pat-mo (Delapan Iblis Bumi) dan membalaskan sakit hati kakekku kepada mereka. Karena mencari mereka itulah maka aku sampai di tempat ini.”

“Siapakah delapan iblis bumi itu? Namanya amat mengerikan!”

“Ilmu kepandaian mereka lebih mengerikan lagi,” kata gadis itu. “Mereka adalah ahli-ahli ilmu golok Pat-kwa To-hoat.”

Gwat Kong terkejut sehingga ia menengok. Akan tetapi untung bahwa ia hanya memandang muka gadis itu dan segera membalikkan kepala kembali sebelum melihat kaki gadis itu yang telanjang. (Pada masa itu, kaki seorang wanita dianggap sebagai bagian tubuh yang tak boleh diperlihatkan kepada sembarangan orang, terutama kepada laki-laki, seperti halnya anggauta tubuh lain yang dirahasiakan dan ditutup).

“Aku pernah mendengar dari suhu bahwa Pat-kwa To-hoat adalah ilmu golok yang menjagoi di daerah utara, yang kedudukannya sama tingginya dengan Im-yang Siang-kiam-hoat!”

“Memang suhumu berkata benar,” jawab Cui Giok perlahan. “Di empat penjuru, Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong Tung-hoat dari timur, Im-yang Siang-kiam-hoat dari selatan dan Pat-kwa To-hoat dari utara telah amat terkenal. Kurasa Pat-kwa To-hoat tidak kalah hebatnya dari ilmu pedangmu Sin-eng Kiam-hoat atau ilmu tongkatmu Sin-hong Tung-hoat.”

“Akan tetapi, mengapa pula kakekmu bermusuhan dengan mereka?”

Untuk beberapa lama Cui Giok tidak menjawab dan Gwat Kong mendengar betapa gadis itu mengenakan kembali kaos kaki dan sepatunya pada kakinya.

“Sekarang kau boleh memutar tubuhmu.”

Gwat Kong memutar duduknya dan menghadapi gadis itu yang menarik napas panjang dan kelihatan senang dan puas.

“Aaah     katanya senang. “Sekarang enaklah rasanya kedua kakiku. Hangat sekali!”

Gwat Kong merasa betapa sepatunya yang basah memang mendatangkan rasa dingin pada telapak kakinya yang menjalar naik ke perut dan dada, maka iapun lalu melepaskan kedua sepatunya dan mendekatkannya pada api.

“Kau pandai memancing cerita orang,” kata Cui Giok. “Karena untuk menjawab pertanyaanmu terpaksa aku harus menuturkan pula riwayat Liok-te Pat-mo itu dan mengapa mereka sampai dibenci oleh kakekku.”

Gwat Kong merasa betapa ia memang keterlaluan semenjak tadi hanya menjadi pendengar saja dan ia belum menuturkan riwayatnya sendiri. “Biarlah kau menuturkan ceritamu dulu, Cui Giok, nanti baru tiba giliranku untuk bercerita. Aku berjanji akan menceritakan keadaanku seluruhnya. Tentang riwayatku mempelajari ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat dan lain-lain!”

“Nah, itu baru adil namanya!” Cui Giok berseru girang. Nah, sekarang dengarlah. Ilmu golok Pat-kwa To-hoat diciptakan oleh mendiang Lok Kong Hosiang yang tinggal di propinsi Ce- kiang. Sebagaimana sering kali terjadi pada ahli-ahli silat yang pandai, Lok Kong Hosiang ternyata telah salah menerima murid. Murid tunggalnya ini bernama Ang Sun Tek, seorang yang amat pandai membawa diri sehingga setiap orang akan menganggapnya sebagai seorang pemuda yang amat berbudi. Oleh karena inilah maka Lok Kong Hosiang sampai tertipu olehnya dan telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada pemuda she Ang itu. Ang Sun Tek mempelajari Pat-kwa To-hoat sampai sempurna betul dan tidak ada satupun gerakan yang belum ia pelajari dari Lok Kong Hosiang. Kemudian, suhunya anggap ia telah tamat belajar dan menyuruhnya mencari pengalaman di dunia kang-ouw. Akan tetapi, begitu ia turun gunung, ia membuka kedoknya dan nampaklah wajah serigala kejam di balik kedok domba itu. Ang Sun Tek berubah menjadi seorang penjahat yang kejam, yang melakukan segala macam perbuatan hina. Merampok, membunuh, mengganggu anak bini orang, ah ....

pendeknya segala macam perbuatan jahat tidak ada yang tak dilakukan oleh penjahat itu!” “Benar-benar manusia rendah budi dan bejat akhlak!” seru Gwat Kong.

“Bukan itu saja,” Cui Giok melanjutkan penuturannya. “Bahkan ia lalu mengumpulkan kawan-kawan lamanya yang terdiri dari orang-orang jahat. Kemudian memilih empat pasang saudara yang berbakat, yakni dia dan adiknya sendiri yang bernama Ang Sun Gi dan tiga pasang saudara lain she Liem, Thio dan Tan. Empat pasang saudara ini merupakan delapan orang muda yang berbakat baik. Kemudian Ang Sun Tek melatih tujuh orang kawannya ini dengan ilmu Pat-kwa To-hoat itu. Memang ia memiliki kecerdikan yang luar biasa, sehingga ia dapat menciptakan Pat-kwa-tin (Barisan Pat-kwa atau segi delapan), dan pat-kwa-tin inilah

yang hebat luar biasa. Entah berapa banyak orang gagah tewas dalam menghadapi Pat-kwa-tin ini. Karena setelah membentuk delapan sekawan ini, Ang Sun Tek dan kawan-kawannya makin mengganas dan berlaku sewenang-wenang, maka mereka diberi julukan Liok-te Pat- mo atau Delapan Iblis Bumi dan banyak orang gagah datang untuk menumpasnya. Akan tetapi mereka semua dipukul hancur, ada yang terluka, ada pula yang tewas. Bahkan, ketika Lok Kong Hosiang mendengar hal ini dan datang pula untuk menghukum muridnya, ia disambut dengan keroyokan delapan orang itu. Ang Sun Tek telah menyerang dan mengeroyok gurunya sendiri mempergunakan Pat-kwa-tin!”

“Benar-benar manusia bong-im-pwe-gi (tak mengenal budi)!” seru Gwat Kong gemas.

Sebagai pencipta dari Pat-kwa To-hoat, tentu saja Lok Kong Hosiang dapat menghadapi dengan baik Pat-kwa-tin itu, yang diciptakan oleh muridnya berdasarkan Pat-kwa To-hoat pula. Akan tetapi, hwesio itu telah amat tua ketika meghadapi keroyokan mereka dan pula, ia tidak tega untuk membunuh delapan orang-orang muda itu, sehingga akhirnya dia sendirilah yang menderita luka-luka parah dan terpaksa melarikan diri.”

“Terkutuklah si jahanam Ang Sun Tek!” Gwat Kong memaki marah.

“Lok Kong Hosiang adalah sahabat baik dari kakekku dan ketika kakekku mendengar akan hal itu, ia segera mencari Lok Kong Hosiang di propinsi Ce-kiang. Akan tetapi, kakek terlambat karena ketika ia tiba di kelenteng tempat tinggal Lok Kong Hosiang, hwesio itu telah menghembuskan napas terakhir.”

“Hmmm, muridnya sendiri yang membunuhnya! Benar-benar manusia she Ang itu harus dibinasakan!” kata Gwat Kong sambil mengepal tinjunya.

“Kakek juga berpikir begitu, maka kakekku lalu pergi mencari mereka ke kota Sianuang di propinsi Ce-kiang.”

“Bagus!” kata Gwat Kong memuji.

“Sama sekali tidak bagus!” Cui Giok mencela. “Ternyata bahwa kakekku sendiri masih tak cukup kuat menghadapi Pat-kwa-tin mereka sehingga hampir saja kakek mendapat celaka. Untung kakek masih dapat menyelamatkan diri. Akan tetapi, kakek merasa amat terhina dan malu karena dikalahkan oleh mereka!”

“Sungguh lihai!” Gwat Kong memuji.

“Memang mereka lihai sekali. Akan tetapi aku tidak takut kepada mereka. Kakek telah menggemblengku dan menurut pendapat kakek, kepandaianku telah lebih kuat dari pada keadaan kakekku ketika menyerbu Pat-kwa-tin itu. Aku telah menyusul ke Ce-kiang. Akan tetapi ternyata bahwa sekarang Liok-te Pat-mo telah pindah dan mereka itu telah diangkat menjadi busu (perwira istana kaisar). Bahkan Ang Sun Tek dan kawan-kawannya merupakan pasukan perwira istana yang istimewa dan mereka tinggal di kota raja.”

“Jadi sekarang kau hendak menyusul ke kota raja?”

“Tentu saja! Jangankan ke kota raja, biarpun mereka itu pindah ke pulau api, aku tentu akan mengejar mereka!” kata Cui Giok dengan suara gagah.

“Akupun akan ke sana dan membantumu!” Cui Giok memandangnya dan merengut.

“Apa kau kira aku takut kepada mereka dan memerlukan bantuanmu?”

“Bukan begitu. Akupun ingin sekali mencoba kepandaian mereka yang sombong dan jahat hati itu. Suhu pernah bercerita tentang adanya Pat-kwa To-hoat. Agaknya suhu belum tahu tentang kejahatan anak murid Pat-kwa To-hoat ini. Kalau suhu tahu tentu aku diperintahkan pula untuk menghancurkan mereka!”

Tiba-tiba Cui Giok tersenyum lebar. “Bagus kalau begitu, empat besar akan bertemu di kota raja. Dengan adanya kau, aku merasa lebih yakin bahwa mereka tentu akan mengalami kehancuran. Aku tidak malu datang bersama kau mencari mereka, karena merekapun delapan orang!”

“Terima kasih Cui Giok. Kau baik sekali dan aku girang kau percaya kepadaku.”

“Sekarang tiba giliranmu untuk menceritakan semua pengalamanmu semenjak kau terlahir sampai sekarang!” kata Cui Giok yang mengumpulkan daun kering ditumpuk lalu ia membaringkan tubuhnya berbantal daun kering setumpuk itu, di dekat api. Gwat Kong tersenyum geli mendengar ucapan itu, maka dengan singkat ia lalu bercerita tentang riwayatnya, tentang ayahnya yang difitnah oleh hartwan Tan, tentang ibunya yang hidup sengsara dan menderita. Kemudian ia menceritakan pula betapa ia bekerja sebagai pelayan di rumah pembesar she Liok dan bagaimana ia menemukan kitab ilmu pedang Sin- eng Kiam-hoat secara kebetulan.

Pendeknya ia menceritakan seluruh riwayatnya, kecuali tentu tentang Tin Eng ia tidak menceritakan sama sekali. Lama juga ia bercerita sambil memandang ke arah api dengan pikiran melayang ke masa lampau. Setelah ia berhenti bercerita dan memandang kepada Cui Giok karena gadis itu semenjak tadi diam saja tidak bersuara sedikitpun, ia melengak. Karena ternyata bahwa nona baju kuning itu telah tidur pulas!

Gwat Kong merasa mendongkol sekali karena agaknya sudah sejak tadi gadis itu tertidur sehingga tadi ia bercerita kepada api unggun! Akan tetapi ia merasa geli juga dan

memandang kepada gadis itu dengan hati girang karena ia merasa suka melihat sikap gadis itu yang begitu terbuka. Ia percaya bahwa Cui Giok bukan tertidur karena kesal mendengar ceritanya. Akan tetapi karena memang benar-benar ia lelah sekali sehingga tertidur tanpa terasa lagi.

Gwat Kong mencari ranting-ranting kering untuk menambah bahan bakar, kemudian iapun duduk melenggut bersandarkan pohon dan tak lama kemudian iapun tertidur.

Pada keesokan harinya, pundaknya digoyang-goyang orang dan ketika ia terbangun ia mendengar suara Cui Giok. “Bangun! Bangunlah, pemalas benar.”

Gwat Kong membuka matanya dan melihat bahwa malam telah berganti pagi dan api unggun di depannya telah padam. Cui Giok nampak segar. Agaknya gadis ini pagi-pagi telah mandi di sungai itu. Melihat pakaiannya sendiri yang masih kotor berlumpur, Gwat Kong lalu membuka buntalan pakaiannya karena pakaian ini telah kering dan bersih. Kemudian ia berlari menuju ke sungai untuk mandi dan bertukar pakaian. Ketika ia kembali ke tempat itu, ternyata Cui Giok memanggang dua potong daging kelinci di atas api unggun. Bau daging panggang yang sedap itu membuat perut Gwat Kong berbunyi keras dan panjang.

“Aduh sedapnya!” ia berkata sambil menelan ludah.

Cui Giok mengerling dan berkata, “Akan kuberikan sepotong kepadamu asal kau duduk dengan baik dan menceritakan riwayatmu kepadaku. Kau belum menceritakannya sedangkan aku telah menuturkan semua riwayatku.”

“Siapa bilang belum kuceritakan? Semalam telah kuceritakan semua dari awal sampai akhir. Akan tetapi kau telah tertidur dan tidak mendengarkannya sama sekali!”

“Benarkah ??” Suara ini terdengar demikian kecewa dan wajah yang manis itu nampak

demikian menyesal sehingga Gwat Kong segera berkata, “Ah, tidak, aku membohong. Kau memang tertidur dan akupun menghentikan ceritaku. Nah, kau makanlah daging itu, aku akan menuturkan riwayatku dengan singkat!” Demikianlah, Gwat Kong untuk kedua kalinya menuturkan riwayatnya dan beberapa kali ia memandang tajam, takut kalau-kalau ia dipermainkan lagi. Akan tetapi melihat perhatian yang dicurahkan oleh Cui Giok, ia maklum bahwa gadis itu tidak mempermainkannya.

Setelah daging itu matang, mereka makan dengan lezat dan enaknya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja untuk mencari Liok-te Pat-mo si delapan iblis bumi.

Di sepanjang jalan mereka merasa gembira dan cocok sekali, bagaikan dua orang sahabat yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat.

****

Setelah merobohkan Lui Siok si Ular Belang yang menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang dan menjadi suheng (kakak seperguruan) Gan Bu Gi, kemudian melukai kuda yang ditunggangi oleh Song Bu Cu ketua Hek-i-pang sehingga ketua itu bersama Gan Bu Gi tak berdaya dan tak dapat mengejar. Tin Eng dan Kui Hwa melarikan kuda mereka dengan senang dan di sepanjang jalan kedua orang nona pendekar ini tertawa terkekeh-kekeh karena merasa geli hatinya.

“Aah, cici Hwa, benar-benar puas hatiku dapat mempermainkan mereka! Ha ha ha !! Kedua ketua dari Hek-i-pang bersama si keparat Gan Bu Gi itu telah mendapat hinaan dari kita berdua. Aah, sungguh senang melakukan perjalanan dengan kawan segagah engkau, enciku yang baik.”

Sebaliknya Kui Hwa menarik napas panjang. “Akan tetapi aku merasa kecewa, adik Eng. Kalau saja aku dapat bertemu berdua saja dengan Gan Bu Gi, tanpa adanya bantuan dari Lui Siok dan Song Bu Cu yang tangguh tentu pedangku akan menamatkan riwayat pemuda jahanam itu!”

“Enci Hwa, mengapakah sebetulnya maka kau amat membenci Gan Bu Gi? Dahulu kau mengatakan bahwa orang she Gan itu pernah menyakitkan hatimu. Penghinaan apakah yang telah ia perbuat?”

Tiba-tiba Kui Hwa menghentikan kudanya bahkan lalu turun dan pergi duduk di tepi jalan di bawah sebatang pohon. Tin Eng juga melompat turun dan melihat betapa kedua mata Kui Hwa tiba-tiba menjadi merah dan beberapa titik air mata turun membasahi pipinya. Tin Eng merasa terkejut sekali. Ia memegang tangan kawannya itu dan bertanya, “Ah, maafkan aku telah menyinggung perasaan hatimu, enci Hwa.”

Alangkah herannya ketika ia melihat Kui Hwa tiba-tiba menangis sedih, menutupi mukanya dan dengan ujung lengan baju dan tak dapat menjawab, hanya terisak-isak.

“Enci Kui Hwa, agaknya orang she Gan itu telah memberikan sesuatu yang hebat kepadamu. Ketahuilah bahwa aku juga menderita oleh karena dia.”

Kui Hwa mengangkat mukanya yang merah dan memandang kepada Tin Eng. Ucapan Tin Eng ini benar-benar menarik perhatiannya. Tin Eng maklum bahwa kawannya itu ingin mengertahui riwayatnya dan karena menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat antara Gan Bu Gi dan Kui Hwa, maka ia lalu menuturkan riwayatnya. “Enci Kui Hwa, entah apa yang ia lakukan terhadapmu sehingga kau merasa amat berduka. Akan tetapi, Gan Bu Gi yang menjadi biang keladi sehingga aku terpaksa meninggalkan rumah orang tuaku dan merantau seperti seorang yang tak berkeluarga.”

Diceritakannya betapa Gan Bu Gi itu diantar oleh gurunya, yakni Bong Bi Sianjin tokoh Kim- san-pai juga oleh Seng Le Hosiang tokoh Go-bi-pai mengunjungi ayahnya sehingga kemudian Gan Bu Gi diberi kedudukan sebagai komandan pasukan pengawal. Betapa kemudian ayahnya bahkan hendak memaksanya untuk menjadi isteri perwira she Gan itu.

“Demikianlah enci Kui Hwa, maka aku lalu melarikan diri dari rumah karena ayah memaksaku. Aku tidak sudi menjadi isterinya, aku aku benci kepadanya. Akhir-akhir ini

aku mendapat perasaan bahwa orang she Gan itu bukanlah seorang manusia baik.”

“Kau benar, adikku dan dalam hal ini kau lebih cerdik dan awas dari padaku,” akhirnya Kui Hwa berkata setelah berkali-kali menghela napas. “Gan Bu Gi memang hanya di luarnya saja kelihatan tampan dan gagah serta halus, sopan sikapnya. Akan tetapi ia memiliki watak yang tidak baik dan palsu.”

“Kalau kau percaya kepadaku, enci Kui Hwa, ceritakanlah pengalamanmu ini sehingga aku dapat mendengar sampai di mana kejahatan Gan Bu Gi.”

Tadinya Kui Hwa masih merasa ragu-ragu untuk menuturkan riwayatnya. Akan tetapi melihat pandang mata Tin Eng yang jujur dan karena ia memang merasa suka kepada dara ini dan mempunyai perasaan seolah-olah Tin Eng menjadi adiknya sendiri, ia lalu menuturkan riwayatnya secara singkat.