-->

Pendekar Pemabuk Jilid 06

Jilid 06

17 …

TIN ENG tidak memperdulikan itu semua dan ia pura-pura tidak melihat pandang mata orang-orang yang ditujukan kepadanya dengan kagum, akan tetapi segera mendayung pergi perahunya menuju ke tengah danau. Ia tidak tahu bahwa di antara sekian banyak pendengar yang menjadi kagum mendengar dongeng dan obrolan orang-orang Hun-lam itu terdapat dua orang muda yang cukup menarik perhatian.

Mereka ini adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia mereka paling banyak delapan belas tahun akan tetapi sikap mereka menyatakan bahwa mereka itu selain agung dan tampan, juga bersikap gagah seperti orang-orang yang pandai ilmu silat. Gadis ini berbaju hijau, bercelana hitam dan wajahnya cantik manis dengan rambut dikuncir yang melambai ke belakang punggung. Di atas rambutnya sebelah kanan terdapat sebuah hiasan rambut bunga emas.

Pemudanya tampan dan gagah, tidak memakai topi dan rambutnya yang panjang dan hitam juga dikuncir ke belakang seperti biasa pemuda-pemuda bangsawan-bangsawan pada waktu itu. Bajunya putih dan celana Hitam, terbuat dari pada bahan-bahan yang mahal. Setelah mendengar penuturan orang-orang Hun-lam itu, mereka berdua memandang ke arah Tin Eng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjauhkan diri dari orang banyak dan bicara bisik-bisik, lalu menyewa perahu dan mendayungnya ke tengah danau.

Setelah berada di tengah-tengah danau itu, Tin Eng melepaskan dayungnya ke dalam perahu dan membiarkan perahunya bergerak perlahan. Ia menikmati pemandangan di sekitarnya sambil duduk termenung. Pikirannya makin melayang jauh ketika sayup-sayup ia mendengar suara penyanyi wanita dari sebuah perahu besar menyanyikan lagu asmara yang mengelus hati.

Ia lalu mendayung perahunya mendekat, karena suara itu merdu benar dan ia ingin mendengar kata-katanya lebih jelas. Setelah berada dekat, lagu asmara itu diulangi lagi dengan suara merdu dari penyanyi di dalam perahu besar dan kini ia dapat mendengar dengan jelas.

Danau Oei dengan airnya yang seperti kaca, Bagaikan hati seorang teruna yang setia!

Biarpun musim bunga datang dan pergi pula. Biarpun teratai jelita akan lenyap sebelum lama Danau Oei tetap menanti menanti setia!

Ah, betapa inginku menjadi teratai jelita. Mempunyai kekasih yang demikian setia !

Betapa inginku ......... menjadi teratai jelita !

Lagu asmara yang dinyanyikan dengan suara merdu merayu ini membawa Tin Eng ke alam lamunan yang lebih tinggi. Ia menatap permukaan air yang penuh bayang-bayang indah dari luar dan tiba-tiba ia melihat wajah orang di dalam bayangan air yang ketika diperhatikannya betul-betul ternyata adalah bayangan wajah Gwat Kong! Tin Eng terkejut dan sadar dari lamunannya, dan ketika ia memandang kembali ke dalam air, ternyata bayangan itu telah lenyap. Mengapa tanpa terasa wajah pemuda itu terbayang? Ia suka dan kagum sekali kepada pemuda itu, akan tetapi cinta ?

Ah, ia tidak mengerti. Ketika Gwat Kong masih menjadi pelayan, ia telah suka kepada pemuda itu tanpa disertai kekaguman. Dan tentang kekaguman ini dulu iapun kagum kepada Gan Bu Gi. Dan ternyata bahwa kini jangankan mencinta, bahkan ia merasa benci kepada pemuda she Gan itu!

Kata-kata dalam lagu tadi membuat ia berpikir-pikir tentang cinta dan sampai saat itupun ia tidak tahu apakah ia mencinta Gwat Kong. Memang mendalam sekali isi kata-kata lagu itu dan iapun suka menjadi seperti teratai jelita kalau mempunyai kekasih yang demikian setia air danau Oei-hu. Ia tahu bahwa Gwat Kong mencintainya. Hal ini telah diutarakan oleh pemuda itu ketika mabok di rumahnya dan pengutaraan itu dulu telah membuatnya menjadi marah sehingga hampir saja ia membunuh pemuda itu!

Akan tetapi, sesungguhnya kemarahan itu bukanlah sekali-kali karena Gwat Kong karena mencurahkan cintanya dengan ucapan-ucapan penuh sindiran itu. Akan tetapi adalah karena tuduhan-tuduhan Gwat Kong yang mengatakan bahwa ia tidak berjantung tidak kenal budi dan menyindir pula menyatakan bahwa setelah bertemu dengan Gan Bu Gi, lalu lupa kepada pemuda itu yang hanya seorang pelayan. Bahwa ia tergila-gila oleh harta dan kedudukan! Akan tetapi, ia maklum bahwa tentu Gwat Kong menduga bahwa ia marah karena tidak sudi mendengar pengakuan cinta pemuda itu yang dianggapnya rendah! Dengan demikian, dalam anggapan Gwat Kong, ketika pemuda itu masih menjadi pelayan, ia tidak menyukainya, dan sekarang setelah diketahuinya bahwa Gwat Kong ternyata pandai ilmu silat bahkan putera pembesar pula, apakah ia akan menyatakan cintanya kepada pemuda itu?

Memikirkan hal ini, tiba-tiba wajah Tin Eng menjadi merah. Tentu, tentu Gwat Kong akan berpikir demikian dan tentu pemuda itu akan memandangnya sebagai seorang gadis yang rendah budi, yang hanya memandang keadaan dan tergila-gila oleh pangkat dan kedudukan. Seorang gadis yang dulu membenci pemuda pelayan, akan tetapi berbalik pikir karena melihat bahwa pelayan itu ternyata seorang putera pembesar yang pandai! Ah, tidak! Aku tak boleh merendahkan diri semacam itu!

Demikian Tin Eng berpikir dengan marah kepada diri sendiri. Akan tetapi tiba-tiba ia merasa berduka karena semenjak Gwat Kong lari dari rumah, semenjak ia menusuk dada pemuda itu, telah timbul perasaan yang aneh dalam hatinya terhadap Gwat Kong. Perasaan itulah yang membuat ia mengeluarkan air mata apabila teringat akan luka di lengan pemuda itu akibat ujung pedangnya. Dan perasaan itu pulalah yang memperkuat hatinya sehingga terpaksa ia melarikan diri dari rumah ketika ayahnya hendak memaksa dia kawin dengan Gan Bu Gi.

Dalam keadaan masih dimabok lamunan, Tin Eng tidak melihat atau mendengar ketika sebuah perahu lain dengan cepat meluncur ke arah perahunya, seakan-akan hendak menubruk perahunya!

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari sebuah perahu yang juga meluncur cepat menuju ke tempat itu, “Adik Tin Eng! Awas perahu di sebelah kanan!”

Terkejutlah Tin Eng yang sadar dari lamunannya. Ia cepat menoleh dan melihat sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh seorang pemuda dan seorang gadis, sedang meluncur cepat ke arah perahunya sendiri, hanya terpisah setombak saja lagi! Dua orang penumpangnya itu kini memegang dayung mereka untuk mendorong perahu Tin Eng yang menghadang di jalan.

Tin Eng terkejut karena maklum bahwa dorongan itu akan berbahaya sekali bagi perahunya karena kalau terlalu keras bisa membuat perahunya terguling. Maka ia lalu cepat menyambar dayungnya dan menggerakkan dayungnya itu cepat-cepat ke kanan sambil membentak,

“Minggir!” Tin Eng menggunakan tenaga lweekangnya dan dengan cepat dayungnya digerakkan menyapu dua dayung pemuda dan gadis itu yang segera tertangkis dan terpental hampir terlepas dari pegangan! Tin Eng tidak berhenti dengan tangkisan itu saja oleh karena kepala perahu itu hampir menumbuk perahunya, sehingga keadaan masih tetap berbahaya. Ia lalu membungkukkan tubuhnya dan dayungnya cepat sekali didorongkan ke arah kepala perahu itu yang segera meluncur lewat di dekat kepala perahunya dan tubrukan hebat dapat digagalkan.

Akan tetapi, dorongannya yang keras itu membuat perahu yang ditumpangi oleh kedua anak muda itu miring dan hampir terguling. Tiba-tiba kedua anak muda itu berseru keras dan tubuh mereka telah melompat ke atas dengan gerakan yang amat ringan! Perahu yang kosong itu menjadi balik kembali kedudukannya dan barulah kedua orang muda itu melompat turun di dalam perahunya. Tin Eng merasa kagum melihat pertunjukan ginkang dan ketabahan ini. Akan tetapi ia merasa mendongkol juga mengapa mereka seakan-akan sengaja hendak menggulingkan perahunya. Selagi ia hendak menegur, mereka telah menoleh dan tersenyum kepadanya sambil berkata,

“Lihiap, maafkan kami!” lalu mereka mendayung perahu mereka dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Tin Eng teringat akan seruan orang yang memperingatkannya tadi, maka ia lalu menengok ke arah belakang dan kedua matanya terbelalak girang ketika ternyata olehnya bahwa yang tadi memanggilnya adalah seorang gadis cantik dan gagah yang sedang mendayung perahunya dengan kecepatan luar biasa menuju ke arahnya. Gadis itu bukan lain adalah Dewi Tangan Maut Tan Kui Hwa, dara perkasa anak murid Hoa-san-pai yang dulu pernah bertemu dengan dia dan menolongnya ketika ia hampir menjadi korban para bajak.

“Enci Kui Hwa ! serunya gembira dan mendayung perahu menyambut kedatangan si Dewi

Tangan Maut.

Kui Hwa tersenyum manis. Gadis ini nampak cantik dan gagah sekali dengan baju hijau, ikat kepala merah, ikat leher dan sabuk hitam. Gagang pedangnya nampak tersembul dari balik punggungnya.

Pertemuan yang tak tersangka-sangka dengan Tan Kui Hwa si Dewi Tangan Maut di atas danau Oei-hu itu benar-benar mendatangkan kegembiraan luar biasa kepada Tin Eng. Setelah perahu mereka berendeng, Tin Eng lalu melompat ke dalam perahu Kui Hwa dan memeluk gadis itu dengan gembira sekali.

“Enci Kui Hwa, sekali lagi kaulah orangnya yang menolongku dari bahaya, kini bahaya terguling dari perahu.”

“Tin Eng, mengapa kau tidak mengejar mereka? Dua orang kurang ajar itu terang-terangan sengaja hendak menubruk perahumu dan membuat kau terlempar ke dalam air! Mereka perlu diberi hajaran!”

Tin Eng memandang dengan senyum simpul. “Wah, enci Kui Hwa, kau benar-benar masih galak sekali, membikin aku takut saja!”

Kui Hwa balas memandang dan melihat sinar mata kawannya. Ia tertawa geli dan lenyaplah kekerasan yang tadi membayang pada wajahnya yang cantik, ketika ia marah terhadap dua orang di dalam perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. “Ah, jangan kau menggoda adik Tin Eng. Kujiwir nanti bibirmu yang merah itu!”

Memang semenjak pertemuannya yang pertama dengan Kui Hwa, Tin Eng merasa tertarik dan suka sekali kepada pendekar wanita ini. Karena dari sikap gadis ini terbayang kekerasan hati, dan kejujuran, dan sifat-sifat yang amat baik, yakni bencinya terhadap segala macam kejahatan. Hanya harus diakui bahwa gadis ini memiliki watak yang amat ganas dan tak kenal ampun. Sebaliknya Kui Hwa yang belum pernah mempunyai kawan wanita yang amat baik kepadanya, merasa suka pula kepada Tin Eng.

“Adik Tin Eng, bukankah kau yang disebut orang Sian-kiam Lihiap di kota Hun-lam?” “Eh, eh bagaimana kau bisa tahu akan hal itu, enci Kui Hwa?”

Kui Hwa tersenyum. “Namamu cukup terkenal, siapa yang tidak mengetahuinya?” Kini Tin Eng merasa gemas. “Sekarang akulah yang ingin menjiwir bibirmu, enci!” Kui Hwa tertawa, lalu berkata dengan sungguh-sungguh,

“Adikku yang manis, terus terang saja sudah dua hari aku berada di Hun-lam! Aku telah mendengar tentang nama Sian-kiam Lihiap dan Kang-lam Ciu-hiap yang menggemparkan kota Hun-lam, yang namanya dipuji-puji setinggi langit. Akan tetapi sungguh mati aku tidak pernah mengira bahwa Sian-kiam Lihiap adalah kau sendiri. Kau agaknya jarang keluar, maka aku tak dapat bertemu dengan kau, dan karena tadi melihat kau berada di dalam perahu seorang diri maka mudahlah bagiku untuk menduga bahwa Sian-kiam Lihiap tentulah kau!

Siapa lagi ahli pedang yang patut disebut Pendekar Wanita Pedang Dewa selain kau?”

“Cici, kau terlalu memuji, padahal orang yang dipuji-puji ini baru beberapa hari yang lalu telah dikalahkan oleh orang lain secara memalukan sekali. Sebutan itu sebenarnya tak patut bagiku dan hanya membuat aku malu saja.”

Tan Kui Hwa memandang tajam lalu berkata. “Apakah yang mengalahkan kau itu Song Bu Cu dan Lui Siok, kedua pangcu (ketua) dari Hek-i-pang?”

Tin Eng memandang kagum. “Enci, matamu benar-benar awas. Agaknya tidak ada sesuatu yang tak kau ketahui! Kau benar-benar hebat dan luas pengetahuanmu. Memang benar, aku telah dikalahkan oleh Lui Siok si Ular Belang! Bagaimana kau bisa tahu?”

“Adikku yang baik, aku tidak tahu apa-apa, hanya dugaan saja. Kalau kau tidak terlalu banyak bersembunyi di dalam kamar dan suka keluar pintu melakukan perantauan seperti aku maka bagimu juga akan mudah saja menduga-duga hal-hal itu. Aku tahu bahwa kau dan Kang-lam Ciu-hiap telah mengobarak-abrik anggauta Hek-i-pang di kota Hun-lam, sedangkan aku telah tahu pula bahwa sarang Hek-i-pang berpusat di Tong-kwan dengan diketuai oleh Song Bu Cu dan Lui Siok yang lihai! Kepandaian mereka berdua itu memang tinggi sekali, sehingga aku sendiripun tidak akan dapat melawan mereka. Maka, setelah kau mengobarak-abrik anggauta Hek-i-pang, lalu siapa lagi kalau bukan mereka berdua yang datang membalas dendam dan mengalahkan kau?”

“Ah, hal ini hanya menunjukkan kecerdikanmu, enci Kui Hwa.”

“Siapa bilang aku cerdik! Saat ini ada dua hal yang membuat aku merasa menjadi sebodoh- bodohnya orang!”

Sambil tertawa Tin Eng bertanya, “Apakah gerangan dua hal itu?”

“Pertama melihat kau masih segar bugar dan bahkan bertambah cantik setelah kau tadi bilang pernah dikalahkan oleh Lui Siok. Aku kenal Lui Siok sebagai seorang kejam dan aneh sekali kalau dia atau Song Bu Cu mau mengampunkan kau yang telah merusak pekerjaan anak buah mereka! Nah, hal itulah yang membikin aku menjadi bingung dan tak dapat menjawab. Kedua kalinya, aku heran sekali melihat mengapa kau tidak mengejar dua orang muda yang tadi sengaja menubruk perahumu. Apakah benar-benar kau telah menjadi seorang yang demikian sabarnya?”

Tin Eng menarik napas panjang dan menjawab, “Cici, jawaban kedua pertanyaan itu memang ada hubungannya. Pertama-tama kujawab pertanyaan kedua. Aku memang tidak mau mengejar kedua orang tadi yang menubruk perahuku. Oleh karena mungkin sekali mereka itu adalah orang-orang dari Hek-i-pang yang sengaja mencari perkara dan pula akupun merasa ragu-ragu karena melihat keadaan mereka itu seperti bukan orang jahat, sehingga mungkin sekali mereka tidak sengaja hendak menubrukku. Mengapa aku harus mencari-cari permusuhan baru sedangkan baru beberapa hari saja aku telah dikalahkan orang dan masih terasa mendongkol? Dan tentang pertanyaan pertama itu agak panjanglah penjelasannya.”

Tin Eng lalu menuturkan tentang pertempurannya melawan Lui Siok, dan menuturkan pula bahwa Lui Siok adalah suheng dari Gan Bu Gi, perwira muda yang telah dipilih oleh ayahnya untuk dikawinkan dengan dia, dan bahwa Lui Siok memandang muka Seng Le Hosiang maka tidak berani mengganggunya atau melukainya.

Kui Hwa mengangguk-angguk lalu berkata, “Masih baik bahwa dia tidak berani mengganggumu, kalau tidak, sukarlah bagimu untuk melepaskan diri dari bencana. Memang Lui Siok itu memiliki kepandaian tinggi, lebih-lebih Song Bu Cu yang menjadi ketua dari Hek-i-pang. Aku pernah bertemu dengan Song Bu Cu dan kalau tidak keburu datang kedua suhengku, tentu aku tewas dalam tangannya. Kau dan aku tak dapat menandingi mereka, adik Tin Eng!”

Si Dewi Tangan Maut menarik napas panjang dan nampak menyesal dan kecewa sekali. Lalu katanya gagah, “Akan tetapi, kalau kau tak dapat menahan sakit hatimu dan hendak membalas dendam sekarang juga, jangan takut, aku tentu akan membantumu menghadapi mereka!”

Tin Eng terharu dan memegang lengan Kui Hwa, “Enci Kui Hwa, mereka memang jahat dan perlu dibasmi, akan tetapi setelah tahu bahwa tenaga sendiri tak kuat menghadapi mereka namun terus maju menyerbu bukankah itu amat bodoh namanya dan sama halnya dengan membunuh diri? Takut sih tidak, akan tetapi lebih baik kita menanti saat yang lebih sempurna dan mencari kawan-kawan yang sehaluan untuk menyingkirkan serigala-serigala buas itu.”

Kui Hwa mengangguk-angguk. “Kau sekarang telah banyak maju, adikku! Dari ucapanmu tadi saja sudah menyatakan bahwa kau kini telah dewasa!”

“Aah, bisa saja kau memuji! Aku malah khawatir kalau-kalau kau menganggap aku pengecut dengan ucapan tadi.”

Kui Hwa memandang dengan sikap sungguh-sungguh. “Tidak Tin Eng. Biarpun terus terang kuakui bahwa adatku keras dan mudah marah, akan tetapi akupun sependapat dengan kau.

Keberanian dan ketabahan harus disertai kesadaran dan perhitungan yang masak sebagaimana layak dilakukan oleh orang berakal. Keberanian yang dilakukan dengan serampangan dan serudukan bagaikan kerbau gila secara hantam kromo tanpa perhitungan sama sekali, tidak termasuk kegagahan, akan tetapi adalah kebodohan orang yang kurang pikir. Kita tidak menyerbu dan menghalau penjahat-penjahat itu pada waktu ini bukan karena kita takut. Akan tetapi karena kita menggunakan siasat, menanti saat baik di mana kekuatan kita melebihi mereka sehingga gerakan kita akan berhasil.” “Terima kasih, cici. Sebetulnya kau hendak pergi ke manakah?”

“Aku hanya merantau saja tanpa tujuan tertentu, dan ketika aku mendengar nama besar Kang- lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap, aku menjadi tertarik dan menuju ke kota ini. Tidak tahu siapakah sebetulnya Kang-lam Ciu-hiap yang baru saja muncul telah membuat nama besar itu? Di mana dia dan anak murid mana?”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Kang-lam Ciu-hiap telah pergi meninggalkan Hun-lam. Kalau ia masih berada di sini, tak mungkin ada orang berani menggangguku dan Hek-i-pang pasti telah rusak olehnya. Sayang ia telah pergi. Namanya adalah Bun Gwat Kong dan kalau kau ingin mengetahui dari cabang persilatan mana ia datang, aku sendiripun tidak tahu. Hanya satu hal yang boleh kau ketahui bahwa dia itu boleh juga disebut guruku!”

“Apa???” Kui Hwa memandang dengan mata terbelalak. “Menurut berita yang kudengar, Kang-lam Ciu-hiap masih amat muda. Bagaimana bisa menjadi gurumu? Jangan kau main- main Tin Eng!”

“Aku tidak main-main, memang ilmu pedangku kudapatkan dari dia! Cici, hayo kau ikut aku ke rumah pamanku. Jangan pergi dulu sebelum ada sesuatu yang memaksamu. Dari pada seorang diri saja bukankah lebih senang kita berdua?”

“Ah, aku hanya akan mengganggu kau dan pamanmu saja.”

“Siapa bilang mengganggu? Paman jarang berada di rumah, selalu mengurus perdagangannya. Sedangkan aku selalu menganggur dan duduk termenung seorang diri di rumah.”

Sambil tertawa-tawa mereka lalu mendayung perahu ke pinggir. Kemudian setelah membayar sewa perahu, mereka lalu berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke rumah Lie- wangwe. Kebetulan sekali Lie-wangwe berada di rumah, maka Tin Eng lalu memperkenalkan kawannya itu yang diterima dengan ramah tamah oleh Lie Kun Cwan. Kemudian Tin Eng mengajak kawannya menuju ke taman bunga yang indah di mana mereka bercakap-cakap dengan gembira sambil menikmati hidangan yang dikeluarkan oleh pelayan.

Belum lama kedua orang gadis itu bercakap-cakap, seorang pelayan memberitahukan bahwa di luar ada dua orang muda datang minta bertemu dengan Sian-kiam Lihiap.

“Bagaimana macamnya orang-orang itu?” tanya Tin Eng.

“Mereka adalah seorang pemuda yang cakap dan seorang gadis yang cantik, siocia,” jawab si pelayan. “Katanya mereka minta bertemu untuk menyampaikan hormatnya dan katanya tadi mereka telah bertemu dengan siocia di danau Oei-hu.”

Tin Eng dan Kui Hwa saling pandang. Tak salah lagi, kedua orang itu tentulah dua orang penumpang perahu yang menubruk perahu Tin Eng tadi. Apakah kehendak mereka datang?

“Suruh mereka datang ke taman ini, Tin Eng,” kata Kui Hwa.

“Persilahkan mereka masuk dan antarkan mereka datang ke sini, kemudian kau ambil tambahan hidangan untuk mereka!” Pelayan itu mundur dan melakukan tugas yang diperintahkan itu. Tak lama kemudian, benar- benar saja kedua orang yang tadi menubruk perahu Tin Eng, muncul dari pintu taman dengan wajah nampak bersungguh-sungguh. Setelah bertemu dengan Tin Eng, mereka berdua lalu menjura dan pemuda itu berkata, “Maafkan kami sebanyak-banyaknya kalau kami mengganggu kepada lihiap!”

Tin Eng tersenyum dan menjawab, “Ah, sama sekali tidak. Silahkan ji-wi (kalian berdua) duduk.”

“Terima kasih, lihiap. Kami tak berani mengganggu terlalu lama. Terus terang saja kedatangan kami ini tak lain mohon pengajaran sedikit dari lihiap tentang ilmu pedang untuk meluaskan pengetahuan kami yang amat dangkal!”

“Hmm, bagus!” tiba-tiba Tan Kui Hwa berkata menyindir. “Dengan dayung tidak berhasil sekarang hendak menggunakan pedang!”

Pemuda dan gadis muda itu mengerling ke arah Kui Hwa, akan tetapi mereka tidak menjawab, bahkan tidak memperdulikan sama sekali, dan kini gadis cilik itu yang bertanya kepada Tin Eng.

“Bagaimana, lihiap? Sudikah kau bermurah hati dan memberi sedikit petunjuk kepada kami?” Sambil berkata demikian, gadis itu meraba-raba gagang pedangnya.

Tin Eng di atas perahu telah mengukur tenaga dan kegesitan mereka menangkis dengan dayungnya, maka ia maklum bahwa kepandaian kedua anak muda ini tidak seberapa. Hanya ia merasa heran sekali mengapa dua orang ini mengejar-ngejarnya! Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik kelakuan mereka itu.

Tiba-tiba Kui Hwa yang juga mempunyai pikiran yang sama dan mempunyai sifat yang suka akan kejujuran dan terus terang, berkata, “Kalian berdua anak kecil ini mengapa mengejar- ngejar Sian-kiam Lihiap? Apakah yang tersembunyi di balik sikap kalian yang mencurigakan ini? Awas, jangan kalian berani main gila!”

Kedua orang itu merasa terhina, akan tetapi tidak marah, sedangkan Tin Eng juga menyambung. “Benar juga kata-kata kawanku itu. Sebetulnya mengapakah kalian hendak mengajak pibu (adu kepandaian) dengan aku?”

“Terus terang saja lihiap. Kami berdua kakak beradik pernah mempelajari sedikit permainan pedang dan ketika kami tiba di kota ini, kami mendengar tentang namamu sebagai Pendekar Wanita Pedang Dewa. Maka kami merasa amat tertarik karena kami yakin bahwa lihiap tentu memiliki ilmu pedang yang amat tinggi. Pertemuan kita yang amat kebetulan di danau tadi membuat kami kakak beradik mengambil keputusan untuk mencoba lihiap dan ternyata dugaan kami tak meleset. Lihiap memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai. Hanya kami belum merasa puas kalau belum melihat ilmu silat lihiap. Maka, mohon sedikit pengajaran dari lihiap!”

Alasan ini masih meragukan hati Kui Hwa. Akan tetapi Tin Eng telah merasa puas dan ia segera melompat ke atas jalan taman yang sengaja dibuat dengan lantai tembok dan biasanya ia berlatih silat di tempat ini. Sambil berdiri di tengah-tengah lorong tembok itu, ia tersenyum dan berkata,

“Baiklah, cabut pedang kalian dan mari kita main-main sebentar!”

Kedua anak muda itu saling pandang, lalu mencabut pedangnya. Akan tetapi melihat Tin Eng berdiri dengan tangan kosong, pemuda itu berkata sangsi,

“Lihiap, kuharap lihiap segera mengeluarkan pedang untuk menghadapi kami kakak beradik.”

Tin Eng tersenyum. “Ini hanya main-main saja, mengapa mesti berpedang? Hayo, jangan sangsi-sangsi, gerakkanlah pedang kalian, hendak kulihat sampai di mana tingkat pelajaranmu.”

Sementara itu, Kui Hwa berdiri tak jauh dari situ sambil memandang dengan khawatir. Ia menganggap perbuatan Tin Eng ini terlalu gegabah maka diam-diam ia bersiap sedia menjaga kalau-kalau kawannya itu akan dicelakakan oleh kedua orang muda yang mencurigakan itu.

Sementara itu, pemuda dan adik perempuannya itu telah bersiap pula dengan pedang masing- masing di tangan. Pemuda itu di sebelah kanan Tin Eng dan gadis cilik itu di sebelah kirinya. Tin Eng tersenyum lagi dan berkata,

“Hayo, jangan ragu-ragu. Kalian maju dan seranglah baik-baik!”

Bukan watak Tin Eng untuk menyombongkan kepandaiannya dan memandang rendah kepandaian lawan. Akan tetapi karena ia telah mengukur tenaga dan kegesitan kedua orang muda itu di atas perahu dan maklum bahwa kepandaian mereka tak perlu ditakuti, pula karena seperginya Gwat Kong, ia telah melatih ilmu silat tangan kosong Garuda Sakti dan kini ia ingin mencoba kepandaiannya ini.

“Maaf, lihiap!” Pemuda itu berseru dan mulai menyerang dengan tusukan pedangnya, juga adiknya menyerang dari samping kiri dengan gerakan indah.

Tin Eng segera mengelak dan mempergunakan ginkangnya yang telah memperoleh banyak kemajuan. Gerakannya gesit dan tubuh seakan-akan burung garuda beterbangan di antara sambaran pedang. Kedua tangannya dipentang ke kanan kiri atau ke depan belakang, menghadapi keroyokan kedua orang lawannya.

Benar saja sebagai dugaan semula, biarpun kedua orang muda itu agaknya telah mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai yang indah gerakannya, akan tetapi tingkat kepandaian mereka masih rendah, sehingga mudahlah bagi Tin Eng untuk menghadapi mereka ini.

Tin Eng bersilat memperlihatkan gaya silat Garuda Sakti sambil tersenyum manis dan diam- diam Dewi Tangan Maut Tan Kui Hwa memuji kelincahan kawannya itu. Ia dapat melihat betapa dalam waktu yang tak berapa lama, Tin Eng telah memperoleh kemajuan pesat sekali.

Setelah mereka bertempur kurang lebih tiga puluh jurus, Tin Eng merasa sudah cukup dan tiba-tiba ia berseru keras. Dengan gerakan Garuda Sakti Hinggap Di Cabang, ia berdiri menghadapi pemuda itu dengan kaki kanan berdiri berjingkat dan kaki kiri diangkat tinggi ke kiri lengan kanan dengan jari-jari tangan terbuka menghadapi gadis yang berada di belakangnya.

Pemuda itu menyerang dengan menyabetkan pedangnya ke arah kaki kanan Tin Eng yang berdiri itu. Tin Eng berseru nyaring dan kaki kanannya tiba-tiba melompat ke atas. Pada saat itu, ia mendengar sambaran angin pedang gadis yang berada di belakangnya membacok kepalanya. Maka dalam keadaan melompat tadi dan tubuhnya masih di tengah udara, ia cepat mengayun diri ke depan menghindarkan kepalanya dari bacokan sambil tangannya bergerak cepat ke arah pergelangan tangan pemuda yang tak berhasil menyerampang kakinya tadi.

Pemuda itu hendak mengelak dan menarik kembali pedangnya, akan tetapi terlambat, gerakan Tin Eng lebih cepat darinya dan pergelangan tangannya telah kena ditotok oleh jari tangan Tin Eng. Ia berseru kesakitan dan pedangnya terlepas.

Pada saat itu juga, Tin Eng telah membalikkan tubuh dan sebelum gadis cilik itu sempat menyerang lagi, ia telah mendesak maju, menggerakkan tangan kiri mencengkeram ke arah muka gadis itu yang menjadi terkejut sekali dan miringkan kepala untuk mengelak. Akan tetapi ternyata bahwa serangan ini hanyalah gertakan saja, karena sebenarnya yang dikendaki oleh Tin Eng hanya untuk mengacaukan pandang mata lawannya dan ketika lawannya miringkan muka, tahu-tahu pedang di tangan lawannya telah kena dirampas dan kini pindah ke dalam tangannya.

Tin Eng sambil tersenyum melompat ke dekat Kui Hwa dan berkata, “Cukup, cukup ....

kepandaian kalian tidak jelek hanya kurang latihan dan pengalaman!”

Bukan main terkejutnya hati kedua orang muda itu ketika melihat betapa tanpa terduga lebih dahulu, pedang mereka telah dapat dirampas dan dipukul jatuh. Mereka saling pandang dengan mata penuh arti, kemudian tiba-tiba mereka menghampiri Tin Eng dan menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu.

Tentu saja hal ini membuat Tin Eng menjadi gelagapan dan gugup sekali.

“Eh, eh apa-apaankah kalian ini? Kalau kalian bermaksud mengangkat guru kepadaku,

jangan harap! Aku masih belum begitu tua untuk mengambil murid. Juga kepandaianku masih terlampau rendah!”

“Hmm, Hmm, mereka ini benar-benar mencurigakan. Hayo kalian katakan terus terang saja. Sebenarnya apakah kehendak kalian mengganggu Sian-kiam Lihiap?” tegur Kui Hwa yang tidak suka melihat segala macam kelakukan yang berahasia ini.

“Sian-kiam Lihiap, harap jangan salah mengerti. Bukan maksud kami untuk mengangkat guru, sungguhpun hal itu akan mendatangkan kebahagiaan bagi kami yang bodoh. Akan tetapi

.... kami berdua mohon sudilah kiranya lihiap menolong kami, anak-anak yang amat sengsara ini ”

Setelah berkata demikian, gadis cilik itu lalu menangis.

Tentu saja Tin Eng makin terheran-heran mendengar ini dan ia memandang kepada Kui Hwa yang mengerutkan keningnya. Tin Eng segera mengangkat bangun gadis itu sambil berkata, “Tenanglah adik yang manis dan ceritakanlah dengan jelas semua maksudmu!”

Ia membelai rambut yang halus itu dan diam-diam dia merasa makin heran karena melihat sikap dan keadaannya, gadis cilik dan kakaknya ini bukanlah orang sembarangan. Kata-kata mereka diucapkan dalam bahasa yang baik dan sopan sebagaimana biasa diucapkan oleh orang-orang terpelajar. Pakaian mereka juga indah dan terbuat dari pada bahan yang halus, sedangkan sedangkan kulit muka mereka halus dan bersih, semua menunjukkan perawatan yang teliti. Siapakah mereka ini?

Gadis cilik itu ketika mendengar betapa Tin Eng menyebutnya adik yang manis, berubah sikapnya. Ia memeluk Tin Eng dan berkata,

“Cici yang gagah, selain kau agaknyatidak ada orang lain yang akan dapat menolong aku dan kakakku ini. Sebetulnya kami berdua ” tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya dan

mengerling kepada Kui Hwa. “Cici, siapakah kawanmu ini? Kalau boleh, aku ingin bicara dengan kau sendiri saja!”

Tin Eng tersenyum sedangkan Kui Hwa bermerah muka. “Jangan kau pandang rendah nona ini. Dia adalah Tan Kui Hwa yang disebut Dewi Tangan Maut! Biarpun ia berjulukan seram dan nampaknya galak, akan tetapi dia adalah seorang pendekar wanita yang kegagahannya jauh di atasku!”

Mendengar disebutnya nama yang amat terkenal ini, kedua orang muda itu menjadi pucat dan segera menghampiri Kui Hwa dan menjura.

“Tan-lihiap, mohon maaf sebanyaknya bahwa mata kami kakak beradik seakan-akan buta tidak melihat gunung Tai-san menjulang di depan mata!” kata pemuda tanggung itu.

Kui Hwa tersenyum menyindir. “Sudahlah tak perlu banyak peradatan ini. Lebih baik kalian segera menceritakan segala hal kepada Tin Eng dan aku, karena apa yang boleh diketahui oleh Tin Eng, boleh pula kuketahui, demikian sebaliknya. Sikap yang diliputi rahasia dan sembunyi-sembunyi, bukanlah sikap orang-orang gagah. Kalau tidak ada kepentingan lain, lebih baik kalian segera pergi saja, jangan mengganggu aku dan kawanku ini bercakap- cakap.”

Setelah mengetahui bahwa gadis yang nampaknya galak itu adalah pendekar wanita yang namanya telah terkenal sebagai pembasmi penjahat itu, kedua anak muda ini tak lagi merasa ragu-ragu untuk menceritakan riwayat mereka.

Bab 18 …

DUA orang anak muda itu sebetulnya adalah anak-anak seorang Pangeran di kota raja, yakni mendiang Pangeran Pang Thian Ong yang kaya raya. Hanya dua orang itulah anak Pangeran Pang, yang laki-laki bernama Pang Gun, sedangkan adiknya bernama Pang Sin Lan.

Ketika masih hidup, Pangeran Pang amat gemar berjudi dengan taruhan besar sehingga harta bendanya yang amat besar itu hampir habis. Ia banyak berhutang uang dari adik misannya yakni Pangeran Ong Kiat Bo, yang selain sering memberi hutang uang, juga menjadi kawan- kawan judi yang paling baik. Baik nyonya Pang maupun kedua anaknya, amat benci kepada Pangeran Ong ini karena mereka menganggap bahwa yang membawa Pangeran Pang ke jalan sesat adalah adik misan ini.

Karena seringkali bermain judi sampai beberapa malam tidak tidur, kesehatan Pangeran Pang makin lama makin buruk sehingga akhirnya setelah harta bendanya hampir habis dikorbankan di meja judi, ia jatuh sakit yang membawanya kembali ke tempat asal. Ia tidak meninggalkan banyak harta. Bahkan meninggalkan hutang yang cukup besar kepada Pangeran Ong Kiat Bo.

Akan tetapi, diam-diam secara rahasia, ia meninggalkan warisan yang aneh kepada Pang Gun dan Pang Sin Lan yang diberikan tanpa diketahui oleh orang lain sebelum Pangeran itu meninggal dunia. Warisan ini hanya sehelai kain kuning yang mengandung sebuah lukisan peta.

“Anak-anakku,” kata Pangeran Pang sebelum menghembuskan napas terakhir, sambil memberikan peta itu kepada anaknya. “Ayahmu telah berlaku sesat dan mata gelap sehingga harta benda kita habis kupakai bermain judi. Kalian berhati-hatilah terhadap Ong Kiat Bo, baru sekarang aku tahu bahwa selama ini ia bermain curang. Bahkan ia sengaja menjerumuskan uangku dengan bantuan kawan-kawannya di meja judi! Akan tetapi, jangan kalian khawatir, peta ini adalah petunjuk tempat penyimpanan harta benda yang amat besar, di gunung Hong-san. Di sana terdapat sebuah gua yang disebut gua Kilin, dan di situlah letaknya harta benda yang tersimpan. Kalian cari dan ambillah harta itu dan hiduplah dengan tenteram. Jaga ibumu baik-baik!”

Setelah Pangeran Pang meninggal dunia, maka mulailah Ong Kiat Bo memperlihatkan maksud jahatnya. Pangeran Ong ini yang usianya telah empat puluh tahun lebih, dengan berani sekali mengajukan pinangan terhadap diri Pang Sin Lan. Tentu saja pinangan itu ditolak keras oleh nyonya Pang sehingga Pangeran Ong Kiat Bo menjadi marah dan lalu menagih hutang yang bertumpuk-tumpuk dari mendiang Pangeran Pang, dengan ancaman bahwa kalau tidak segera dibayar, maka hal itu akan diajukan ke muka pengadilan agung.

Tentu saja nyonya Pang menjadi gelisah sekali. Oleh karena kalau hal itu dilakukan oleh Pangeran Ong, berarti bahwa nama keluarga Pang akan menjadi rusak dan ternoda. Maka mulailah penjualan sisa barang-barang yang masih ada. Bahkan gedungnya pun dijual murah- murahan untuk dapat membayar hutang itu.

Hutang dapat dibayar lunas, akan tetapi keluarga Pang menjadi rudin dan melarat betul-betul. Mereka lalu berpindah ke sebuah dusun tak jauh dari kota raja. Nyonya Pang amat menderita dengan adanya peristiwa ini sehingga jatuh sakit dan meninggal dunia tak lama kemudian, menyusul suaminya.

Kemudian ternyata bahwa rahasia peta itu dapat diketahui juga oleh Pangeran Ong Kiat Bo, karena semenjak Pangeran Pang hidup, Ong Kiat Bo telah tahu bahwa kakak misannya ini diam-diam memiliki sebuah rahasia tentang tempat harta pusaka yang amat besar. Ia dapat menduga bahwa rahasia itu tentu diwariskan kepada dua anak muda itu.

Berkali-kali ia mendatangi Pang Gun dan Pang Sin Lan dan membujuk-bujuk mereka untuk menjual peta itu dengan harga tinggi. Bahkan ia menjanjikan pangkat dan kedudukan tinggi untuk Pang Gun dan sebuah gedung baru untuk kedua orang keponakannya itu. Akan tetapi Pang Gun dan Pang Sin Lan tetap tidak mau memperdulikan orang yang berhati jahat itu. Bahkan mereka berdua lalu mempelajari ilmu silat dari kepala hwesio di sebuah kelenteng, untuk digunakan sebagai penjagaan diri dan juga sebagai persiapan mereka untuk pergi mencari harta pusaka itu.

Ong Kiat Bo yang merasa penasaran sekali, mempergunakan segala daya upaya untuk dapat merampas peta itu. Bahkan orang ini tak segan-segan untuk menyuruh seorang pencuri yang berkepandaian tinggi untuk pada suatu malam memasuki kamar kedua orang itu dan menggeledah seluruh milik mereka.

Akan tetapi hasilnya nihil sehingga membuat Pangeran Ong itu menjadi makin mendongkol dan penasaran. Ia tidak mau mencelakakan kedua orang itu karena kalau mereka sampai terbunuh, siapa lagi yang dapat menjadi petunjuk jalan kepada harta pusaka itu?

Pangeran Ong tentu tak pernah menduga bahwa peta itu sebenarnya telah dibakar oleh Pang Gun dan adiknya, setelah mereka menghafal lukisan peta itu di luar kepala. Dan karena menduga bahwa peta itu disimpan dengan amat baiknya oleh kedua saudara itu, dan ia tak berdaya lagi untuk merampasnya. Ia lalu merobah siasatnya dan sekarang ia mengutus orang untuk mengikuti dan mengawasi setiap gerak-gerik kedua saudara itu.

Hal ini diketahui pula oleh Pang Gun dan Pang Sin Lan, akan tetapi apakah daya mereka? Dengan giat mereka berlatih silat. Akan tetapi ketika mereka dengan marah menyerang orang yang ditugaskan untuk mengintai mereka, ternyata bahwa mereka masih belum cukup tangguh dan bahkan kena dipukul matang biru!

“Demikianlah, cici!” kata Pang Sin Lan menutup ceritanya. “Kami berdua tak dapat berdaya dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk pergi mencari harta pusaka itu. Maka kami lalu mengambil keputusan dan melarikan diri dari kota raja dari tempat tinggal kami, pergi merantau dan sampai di sini.”

“Apakah sampai sekarangpun kalian masih terus diikuti orangnya Pangeran Ong?” tanya Kui Hwa.

“Tentu saja, biarpun secara sembunyi, kami merasa pasti bahwa ada yang mengikuti kami.”

“Jahanam!” kata Kui Hwa yang berdarah panas dan tubuhnya segera berkelebat dan lenyap dari hadapan kedua saudara Pang itu, karena pendekar wanita ini telah melompat keluar. Tak lama kemudian terdengar bunyi gaduh di luar dan muncullah Kui Hwa kembali sambil menyeret leher baju seorang laki-laki. Ia melemparkan tubuh orang itu ke depan Pang Gun dan Pang Sin Lan sambil bertanya,

“Inilah tikus yang mengikuti kalian?”

Pang Gun dan Pang Sin Lan memandang dengan kagum dan menganggukkan kepalanya, sedangkan orang itu dengan tubuhnya menggigil minta ampun dan berkata, “Ampunkan siauw-jin (hamba yang rendah) sama sekali siauw-jin tidak berani mengintai Pang kongcu

dan Pang siocia ” Kui Hwa menggerakkan kakinya dan tubuh orang itu tertendang sampai terguling-guling dan mengaduh-aduh. “Bangsat hina. Kau bilang tidak mengintai akan tetapi dari mana kau tahu bahwa mereka ini adalah Pang kongcu dan Pang siocia?”

Orang itu menginsafi kekeliruannya yang tidak sengaja membuka rahasianya sendiri, maka ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepala minta ampun.

“Siapa yang menyuruhmu? Hayo lekas memberitahu!” bentak Tin Eng.

“Hamba ... hamba disuruh oleh ..... Hek-i-pangcu Song Bu Cu diharuskan mengikuti dan

menjaga kedua kongcu dan siocia ini Ampun, lihiap, hamba hanya pesuruh belaka.”

Terkejutlah hati Tin Eng dan Kui Hwa mendengar jawaban ini. Bagaimana Hek-i-pang sudah ikut campur pula dalam urusan ini?

“Jangan kau membohong!” Pang Gun membentak, dan memandang tajam. “Bukankah Pangeran Ong yang memerintahmu?”

“Memang tadinya datang orang pesuruh Pangeran Ong yang minta tolong kepada Hek-i- pangcu dan akulah yang ditunjuk oleh pangcu untuk mengikuti ji-wi di kota ini,” menerangkan orang itu.

Mengertilah Tin Eng dan Kui Hwa bahwa Pangeran Ong itu ternyata telah pula kenal dan berhubungan dengan Hek-i-pang. Tak mereka sangka bahwa pengaruh Hek-i-pang demikian besarnya sehingga dikenal pula oleh seorang Pangeran.

“Nah, kau pergilah dan awas, jangan kau berani memperlihatkan mukamu lagi. Pedangku takkan memberi ampun!” kata Kui Hwa dan orang itu lalu berlari keluar dengan ketakutan.

“Cici, bagaimana kau bisa menangkapnya demikian cepat?” tanya Tin Eng kepada Kui Hwa sambil tertawa.

“Kebetulan saja,” jawab Kui Hwa sedangkan kedua kakak beradik Pang memandang kepada Dewi Tangan Maut dengan penuh kekaguman. “Ketika aku mendengar penuturan Pang kongcu bahwa mereka selalu diikuti orang, aku menduga bahwa sekarang juga tentu ada orang yang mengikuti mereka ini dan tentu pengintai itu berada di luar tembok. Begitu aku melompat keluar, aku lalu berseru keras. ‘Hai, pengintai kedua saudara Pang! Kau masih berani bersembunyi di situ?’ Dan ternyata akalku ini berhasil karena kulihat seorang laki-laki mencuri dengar dari balik tembok muncul dan hendak melarikan diri akan tetapi aku keburu datang dan membekuknya!”

Pang Gun memandang kagum dan berseru. “Akan tetapi para pengawas kami itu biasanya memiliki ilmu silat tinggi!”

Tin Eng tersenyum. “Mungkin bagimu ia berilmu tinggi, akan tetapi bagi Dewi Tangan Maut, ia hanya merupakan seekor tikus kecil belaka. Sekarang ceritakanlah maksud kalian.

Pertolongan apakah yang hendak kalian minta?”

“Tak lain kami berdua mohon sudilah kiranya lihiap mewakili kami untuk mengambil harta pusaka itu. Kami adalah orang-orang lemah yang tak berdaya dan kalau kami berdua yang pergi, tentu kami akan diganggu oleh Pangeran Ong dan kaki tangannya. Andaikata kami berhasil mendapatkan harta pusaka itu, juga sukar bagi kami untuk membawanya pulang dengan selamat. Maka kami mengambil keputusan untuk mencari seorang berilmu tinggi dan boleh dipercaya. Dan kini pilihan kami terjatuh pada lihiap. Maaf lihiap, bukan sekali-kali maksud kami hendak menyuruh lihiap demi kepentingan kami, akan tetapi sesungguhnya kami hendak menyerahkan rahasia peta itu kepada lihiap. Adapun apabila kelak lihiap berhasil mendapatkan harta pusaka itu, terserah kepada kebijaksanaan lihiap untuk memberi bagian kepada kami berdua, karena kamipun bukanlah orang-orang temaha akan harta benda yang banyak sekali. Bagiku, cukuplah kiranya asal aku dapat membeli rumah dan pakaian sekedarnya untuk adikku ini ...”

Setelah berkata demikian, Pang Gun memandang kepada adiknya dengan mata mengalirkan air mata, dan adiknya lalu memegang tangan kakaknya sambil berkata, “Engko Gun, kau terlalu memikirkan aku. Aku bukanlah seorang adik yang manja!”

Melihat sikap kedua kakak beradik yang telah yatim piatu dan telah jatuh miskin itu, mau tidak mau tergeraklah hati Tin Eng dan Kui Hwa. Tin Eng berpikir sebentar. Rahasia harta pusaka itu menarik perhatiannya, bukan karena ia ingin memperoleh harta benda, sama sekali bukan, karena dia sendiri adalah seorang anak pembesar hartawan, bahkan pamannya sendiri juga cukup kaya.

Akan tetapi yang menarik perhatiannya ialah rahasia itu sendiri, dan bahaya-bahaya yang mengintai dalam usaha mendapatkan harta pusaka itu! Pula, ia merasa kasihan kepada Pang Gun dan Pang Sin Lan dan ingin sekali dapat menolong mereka.

“Baiklah,” jawabnya kemudian, “Kalian boleh percayakan peta itu kepadaku. Akan tetapi, aku hanya akan mencoba melanjutkan usaha kalian ini dan jangan sekali-kali kalian pastikan bahwa aku akan berhasil mendapatkannya. Dan akupun tidak mau pergi sendiri, kalau cici Kui Hwa suka pergi bersama, baru aku mau pergi pula.”

“Kalau mereka ini percaya kepadaku, tentu saja aku akan senang sekali pergi bersamamu, adik Tin Eng.”

Bukan main girangnya hati Pang Gun dan Pang Sin Lan. Mereka kembali menjatuhkan diri berlutut, kini kepada Tin Eng dan Kui Hwa.

“Kalau ji-wi lihiap yang gagah perkasa mau pergi bersama, kami yakin usaha ini akan berhasil dan pesan mendiang ayah kami takkan tersia-sia.”

Tin Eng dan Kui Hwa minta supaya bangun lagi, kemudian Pang Gun minta sehelai kain putih dan alat tulis. Tin Eng mengeluarkan sehelai sapu tangannya yang berwarna kuning dan di atas sapu tangannya itulah Pang Gun lalu melukiskan peta yang telah dihafal di luar kepala itu, dibantu oleh Pang Sin Lan. Peta itu jelas sekali, tidak saja disebutkan di mana letaknya gunung Hong-san dan Gua Kilin, akan tetapi juga disebutkan rahasia tempat harta pusaka di dalam gua itu.

Setelah memberi penjelasan, kedua kakak beradik she Pang itu lalu berpamit untuk kembali ke dusunnya sebelah selatan kota raja. Kini mereka tidak merasa takut dan gelisah lagi. Tak khawatirkan lagi segala pengintaian kaki tangan Pangeran Ong. Mereka tidak memegang rahasia lagi. Rahasia itu telah diserahkan kepada orang lain. Berada di tangan dua orang pendekar wanita yang gagah perkasa! Apa yang mereka takuti lagi?

“Pangeran Ong boleh mengikuti kita terus selama hidup,” Pang Gun berkata kepada adiknya sambil tertawa. “Untuk kita tidak ada ruginya, bahkan gagah sekali ke mana-mana ada yang mengawal dan menjaga keselamatan kita! Ha ha ha!”

Juga Pang Sin Lan menertawakan Pangeran itu. Tentu saja para pengintai yang ditugaskan untuk mengikuti mereka menjadi heran melihat betapa kedua anak muda itu kini kembali ke tempat tinggal mereka dalam keadaan demikian gembira!

Pangeran Ong Kiat Bo yang diberi laporan tentang hal ini juga merasa heran dan curiga, maka ia lalu mengunjungi rumah kedua keponakannya yang keras kepala itu. Ia masih merindukan Pang Sin Lan akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu dengan kekerasan. Karena ia maklum bahwa kedua orang muda ini mempunyai banyak kenalan di antara orang-orang besar. Dan kalau saja ia menggunakan kekerasan terhadap gadis yang jelita ini, tentu namanya akan tercemar.

Pang Gun dan Pang Sin Lan menyambut Ong Kiat Bo dengan sikap dingin sekali, sungguhpun sebagai keturunan bangsawan mereka tidak melupakan peradatan dan menjura dengan hormat kepada Pangeran itu.

“Eh, kalian pergi ke mana sajakah hampir sebulan ini?” tanyanya dengan nada suara penuh perhatian sebagaimana layaknya seorang yang mencintai sanak keluarga.

“Ong-ya sudah tahu mengapa masih bertanya lagi?” balas Pang Gun dengan suara mengejek. Memang kedua kakak beradik ini tidak mau menyebut siok-hu (paman) kepada adik misan ayah mereka ini dan selalu menyebut Ong-ya atau tuan Ong sebagaimana para pelayan menyebutnya karena kedua saudara Pang ini tidak sudi menganggapnya sebagai paman.

Sebaliknya Ong Kiat Bo lebih senang disebut seperti itu, karena ia akan merasa kurang enak apabila ia disebut ‘paman’ oleh Pang Sin Lan, gadis yang dirindukannya itu.

“Hmm, memang aku mendengar dari kenalan-kenalan di Hun-lam bahwa kalian pergi ke Hun-lam,” kata Pangeran itu dengan berani karena merasa takkan ada gunanya apabila ia berpura-pura tidak tahu.”Mengapa kalian begitu keras kepala dan tidak mau ikut aku ke kota raja kembali?”

Ia melihat ke sekelilingnya. Rumah yang ditinggali oleh kedua kakak beradik itu adalah rumah kampung yang kecil lagi buruk, perabot rumahnya juga sederhana sekali. “Tak pantas kalian tinggal di tempat seperti ini, memalukan aku saja! Lebih baik kalian tinggal bersamaku di kota raja dan hidup sebagai keturunan bangsawan.”

“Aku seribu kali lebih senang tinggal di tempat yang buruk ini bersama kakakku dari pada tinggal di gedung besar orang lain!” Tiba-tiba Sin Lan berkata sambil merengut. Akan tetapi dalam pandangan mata Ong Kiat Bo, wajah gadis itu tambah cantik kalau sedang marah- marah.

“Gun-ji (anak Gun),” kata pula Pangeran Ong dengan suara membujuk kepada Pang Gun. “Kau tahu bahwa kau dan adikmu takkan mungkin dapat mencari harta pusaka itu, maka mengapa kau begitu berkepala batu? Berikanlah peta itu kepadaku dan aku akan mengerahkan orang-orangku mencari untuk kalian berdua. Aku sudah cukup kaya raya, untuk apakah harta itu bagiku? Aku hanya ingin menolong kalian berdua, lain tidak. Kalau kalian ragu-ragu aku boleh bersumpah dalam kelenteng bahwa setelah dapat diketemukan, harta pusaka itu akan kuberikan kepada kalian berdua.”

“Peta itu sudah tidak ada lagi, Ong-ya,” jawab Pang Gun. “Hmmm, berkali-kali kau berkata demikian. Aku tidak percaya!” “Percaya atau tidak adalah soalmu sendiri, Ong-ya.”

“Pang Gun, jangan kau main-main. Kau di Hun-lam mengunjungi Sian-kiam Lihiap ada keperluan apakah?” Sepasang mata Pangeran Ong memandang tajam dan menyelidik.

Pang Sin Lan tersenyum sindir. “Bagus sekali, kami mempunyai sahabat Sian-kiam Lihiap, kau pun tahu! Kalau ingin sekali tahu urusan kami, mengapa tidak datang saja kepada Sian- kiam Lihiap untuk bertanya? Hmmm, tentu takut kepadanya, bukan? Takut kepada pedangnya yang tajam?”

Disindir seperti ini, Ong Kiat Bo merah juga mukanya. Ia lalu melangkah menuju ke pintu dan berkata, “Betapapun juga, tak mungkin kalian akan bisa mendapatkan harta pusaka itu tanpa bantuanku!” Ia lalu bertindak keluar dengan muka masam dan hati mendongkol. Pang Gun dan adiknya saling pandang sambil tersenyum puas.

Sementara itu, ketika Tin Eng dan Kui Hwa sedang membicarakan soal pencarian harta pusaka yang tiba-tiba saja diserahkan ke dalam tangan mereka itu, datanglah Lie-wangwe menyusul keponakannya ke dalam taman. Ternyata bahwa pesuruh yang dulu membawa suratnya untuk ayah Tin Eng, kini telah tiba kembali membawa balasan di mana Liok Ong Gun minta agar supaya Tin Eng untuk sementara berdiam dulu di rumah Lie-wangwe dan menanti datangnya orang-orang yang akan menjemputnya.

Selain itu, ayah Tin Eng menyatakan juga dalam surat itu bahwa kesalahan Tin Eng yang melarikan diri dari rumah itu dimaafkan, dan kini sedang dipersiapkan perayaan pernikahannya apabila sudah kembali ke rumah.

Mendengar berita ini, Tin Eng menjadi marah sekali.

“Paman, surat itu tidak ada artinya, karena hari ini juga aku mau pergi bersama kawanku ini!”

Lie-wangwe terkejut, “Eh, hendak pergi kemana, Tin Eng? Jangan kau tinggalkan rumah ini seperti yang telah dipesankan oleh ayahmu. Bagaimana aku harus menjawab kalau ayahmu atau orang-orang suruhannya datang ke ini dan tidak mendapatkan kau berada di sini?”

“Mudah saja, pekhu. Kau bilang saja bahwa aku telah berangkat pulang lebih dulu dengan ambil jalan memutar, sekalian merantau dan melihat-lihat pemandangan, bersama seorang kawan baikku, yakni cici Kui Hwa ini!”

Berkali-kali Lie-wangwe membujuk dan mencegah, akan tetapi akhirnya ia maklum bahwa ia tak dapat menahan kehendak hati keponakannya yang keras ini. Ia amat mencinta keponakannya ini dan pencegahannya hanya khawatir kalau-kalau keponakannya akan mengalami bencana di jalan. Maka ia lalu cepat menyuruh para pelayan untuk membeli dua ekor kuda yang besar dan baik, serta mempersiapkan beberapa stel pakaian untuk Tin Eng. Tak lupa ia memberi bekal uang mas yang sekiranya cukup untuk dipakai membiayai perjalanan gadis itu.

Tin Eng merasa amat berterima kasih dan girang. Ia menjura kepada hartawan itu bersama- sama Kui Hwa yang juga menyatakan terima kasihnya atas pemberian kuda, dan Tin Eng berkata,

“Lie-pekhu, aku takkan melupakan kebaikan hatimu dan mudah-mudahan saja kelak aku akan dapat membalasnya!”

Maka berangkatlah kedua orang gadis pendekar ini, mengaburkan kuda keluar dari Hun-lam, menuju ke bukit Hong-san untuk mencari harta pusaka yang dipercayakan oleh kedua anak pangeran itu kepada mereka.

****

Kira-kira sepuluh lie di luar kota Hun-lam, ketika dua orang gadis sedang menjalankan kudanya dengan perlahan, tiba-tiba mereka mendengar suara telapak kaki kuda mengejar dari belakang dan suara panggilan penunggang kuda itu.

“Nona Liok, tunggu dulu!”

Tin Eng menahan kudanya lalu menoleh, juga Kui Hwa memutar kudanya memandang penunggang kuda yang datang itu.

“Dia adalah Hoa-coa-ji Lui Siok, wakil ketua Hek-i-pang!” bisik Tin Eng dengan hati tak enak.

“Hmm, hmm, apakah maksud kedatangannya? Dengan tenaga kita berdua untuk menghadapinya, ia benar-benar mencari mampus sendiri!” kata Kui Hwa.

Setelah datang dekat, ternyata bahwa orang itu memang benar Lui Siok si Ular Belang, wakil ketua Hek-i-pang yang lihai itu. Tangan kanannya bergerak dan sabuk ular belangnya yang lihai telah berada di tangannya. Ia maklum akan kelihaian Dewi Tangan Maut, maka ia tidak mau menghadapinya dengan tangan kosong.

“Kau berada di sini, bangsat perempuan dari Hoa-san? Kebetulan sekali, tanganku sudah gatal-gatal untuk menghajar seorang bangsat Hoa-san-pai!”

Kui Hwa memandang tajam dan mencabut keluar pedangnya. “Lui Siok manusia busuk! Bersiaplah untuk mampus!”

Juga Tin Eng mencabut keluar pedangnya, siap membantu Kui Hwa menghadapi si Ular Belang yang telah diketahui kelihaiannya itu. Melihat sikap Tin Eng ini, Lui Siok berkata kepadanya, “Nona Liok kau adalah anak murid Go-bi-pai. Tidak tahukah kau bahwa perempuan ini adalah musuh besar cabang kita? Dia adalah musuhmu juga, mengapa kau berjalan bersama- sama?”

Tin Eng tersenyum sindir. “Orang she Lui, dengarlah! Aku tidak tahu tentang permusuhanmu dan takkan perduli sedikitpun juga. Aku hanya kenal dua golongan orang, yakni orang baik- baik dan jahat. Yang baik kudekati dan yang jahat ku jahui. Cici Kui Hwa adalah orang baik tidak seperti kau seorang penjahat, maka mudah saja bagiku untuk mengambil keputusan harus membantu yang mana!”

“Anak kurang ajar! Tahukah kau bahwa ayahmu dan tunanganmu akan menjadi malu dan marah sekali kalau mendengar bahwa kau membantu seorang anak murid Hoa-san-pai yang menjadi musuh kita?”

“Aku tidak pernah bertunangan dan jangan kau sebut-sebut nama ayahku! Lebih baik kau lekas bilang apa keperluanmu menyusul dan memanggil-manggil aku!”

Lui Siok marah sekali. Ia menuding ke arah Tin Eng dengan telunjuk tangan kirinya dan membentak, “Perempuan tak tahu diri! Tadinya aku menyusulmu untuk membujuk agar supaya jangan meninggalkan gedung Lie-wangwe karena akupun bertugas menjaga keselamatanmu. Akan tetapi karena ternyata kau mengkhianati cabang persilatan kita, maka kau akan kuhajar sekalian dengan anjing betina dari Hoa-san-pai ini!”

Sambil berkata demikian ia melompat turun dari kuda. Kui Hwa sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi, sambil berseru nyaring iapun melompat turun dari kuda dan langsung menyerang Lui Siok dengan pedangnya. Serangan yang amat ganas dan cepat dan ia mainkan Hoa-san-kiam-hoat yang cepat gerakannya dan lihai. Lui Siok berseru keras dan menangkis dengan senjatanya yang istimewa.

Tin Eng lalu melompat turun dari kudanya pula, lalu membawa kudanya sendiri dan kuda Kui Hwa ke bawah pohon di mana terdapat banyak rumput. Kemudian, dengan pedang ditangannya ia lalu lari menyerbu pertempuran itu dan membantu Kui Hwa. Pedang Tin Eng berkelebat menyambar bagaikan seekor burung garuda menyambar mangsanya. Ketika Lui Siok menangkis serangan pedang gadis itu, diam-diam ia terkejut karena tenaga dan kecepatan gadis ini sudah banyak maju jika dibandingkan dengan dulu ketika ia datang menyerang gadis itu di kebun bunga Lie-wangwe.

Memang semenjak dikalahkan oleh Lui Siok, Tin Eng lalu melatih diri dengan amat giatnya, sehingga ia mendapatkan kemajuan yang lumayan. Kini menghadapi musuh yang pernah mengalahkannya, tentu saja hatinya penuh dendam hendak menebus kekalahannya sehingga permainan pedangnya menjadi makin kuat. Ditambah pula dengan adanya Kui Hwa membuat Tin Eng merasa tabah sekali dan setiap serangan pedangnya dengan ilmu pedang Sin-eng- kiam-hoat yang luar biasa, merupakan tangan maut yang menjangkau ke arah nyawa Lui Siok.

Lui Siok harus mengerahkan seluruh kepandaian dan kegesitannya menghadapi kedua orang lawannya ini, karena Tin Eng dan Kui Hwa benar-benar merupakan lawan yang amat tangguh dan berbahaya! Ilmu pedang Kui Hwa adalah Hoa-san-kiam-hoat yang memiliki gerakan cepat, ditambah oleh watak Kui Hwa yang keras maka gerakan pedangnya menjadi ganas dan berbahaya sekali. Tingkat kepandaian Kui Hwa sudah mencapai tempat cukup tinggi dan pengalaman bertempur yang banyak membuat ia merupakan lawan yang bahkan lebih berbahaya dari pada Tin Eng yang memiliki ilmu pedang luar biasa. Juga Tin Eng merupakan lawan yang cukup berbahaya, maka kini ia menghadapi dua orang pendekar yang mainkan dua macam ilmu pedang dengan gaya jauh berbeda.

Biarpun tingkat kepandaian Kui Hwa masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Tin Eng, akan tetapi ilmu pedang Tin Eng masih menang jauh. Menghadapi ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang makin lama makin kuat, Lui Siok merasa bingung juga dan diam-diam ia akui bahwa ilmu pedang ini jauh lebih berbahaya dari pada ilmu pedang Hoa-san-pai.

Lui Siok tidak ragu-ragu lagi menghadapi Tin Eng, karena ia mendapat alasan kuat untuk melukai atau bahkan membunuh gadis ini. Terang-terangan gadis ini membantu Dewi Tangan Maut yang telah menjadi musuh besar golongan Go-bi-pai. Maka kalau kini Tin Eng membantunya, berarti gadis ini menjadi pengkhianat, menjadi musuh Go-bi-pai juga dan karenanya ia takkan dipersalahkan oleh Seng Le Hosiang atau tokoh-tokoh Go-bi-pai yang lain.

Kalau saja di situ tidak ada Kui Hwa, tentulah maksudnya hendak merobohkan Tin Eng akan berhasil, karena sungguhpun Tin Eng telah mendapat banyak kemajuan, akan tetapi untuk dapat mengalahkan sabuk ular belang dari Lui Siok bukanlah hal yang mudah. Mungkin kalau ilmu pedangnya sudah matang betul, ia akan dapat mengalahkan jago dari Kim-san-pai yang selain mahir ilmu silat Kim-san-pai, juga telah banyak mempelajari bermacam-macam ilmu silat dari golongan hitam itu.

Setelah Lui Siok yang benar-benar lihai itu dapat bertahan sampai lima puluh jurus lebih, kedua orang gadis itu merasa penasaran. Mereka lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya dan pergerakan pedang mereka makin cepat, tubuh mereka berkelebat bagaikan dua ekor burung walet sedang menyambar dan mengeroyok seekor ular besar. Dikeroyok sedemikian rupa, Lui Siok menjadi pening juga karena ia harus memutar-mutar tubuhnya agar jangan sampai terkena serangan pedang lawan.

Pada saat yang baik, Tin Eng mempergunakan kesempatannya dan berhasil memasuki pertahanan lawannya. Pedang meluncur dan menerobos di antara sinar sabuk ular belang mengarah ulu hati Lui Siok. Gerakannya ini demikian cepat dan dengan ujung pedang digetarkan sebagaimana telah menjadi keistimewaan Sin-eng-kiam-hoat, sehingga Lui Siok merasa terkejut sekali.

Pada saat itu, ia sedang menangkis bacokan pedang dari Kui Hwa, maka ia tak mendapat kesempatan untuk menangkis tusukan Tin Eng itu. Ia berseru keras dan menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan Tin Eng yang memegang pedang sambil miringkan tubuhnya. Tin Eng sudah pernah berkenalan dengan lihainya cengkeraman tangan ini, maka cepat gadis ini memutar pergelangan tangannya dan kini ujung pedangnya meluncur cepat sekali ke arah tenggorokan Lui Siok.

Si Ular Belang mencoba untuk miringkan kepala, akan tetapi terlambat dan ujung pedang Tin Eng berhasil melukai pundaknya. Lui Siok berseru marah dan memutar sabuknya secepat mungkin. Kedua gadis itu melompat mundur dan mengurung lagi dengan hebat. Lui Siok merasa betapa pundaknya sakit dan perih, membuat sebelah tangan kirinya seperti lumpuh. Gerakannya tidak lincah lagi dan ia tak dapat mengelak ketika sebuah tendangan Kui Hwa menyambar bagaikan kilat. Ia hanya dapat mengerahkan lweekangnya ke arah lambung yang tertendang. Akan tetapi tendangan itu demikian kerasnya sehingga biarpun di dalam lambungnya tidak terluka parah tetap saja tubuhnya terlempar sampai setombak lebih dan roboh di atas tanah bergulingan.

Pada saat yang amat berbahaya bagi nyawa Lui Siok itu, tiba-tiba terdengar suara kaki kuda, dan terdengar seruan keras,

“Penjahat perempuan kalian berani melukai kawanku!”

Kui Hwa menengok dan berkata kaget. “Ah, Song Bu Cu sendiri datang!”

Juga Tin Eng menengok dan berkata terkejut. “Dan yang seorang itu adalah Gan Bu Gi!”

Kui Hwa juga mengenal pemuda itu, maka bingunglah mereka karena maklum bahwa dengan datangnya dua orang itu, sedangkan Lui Siok juga akan melawan lagi, keadaan mereka sungguh berbahaya. Mereka maklum bahwa kepandaian Gan Bu Gi tidak kalah jauh jika dibandingkan dengan Lui Siok, sedangkan kepandaian Song Bu Cu bahkan lebih tinggi lagi.

Bab 19 …

TIBA-tiba Tin Eng mendapatkan akal dan ia lalu mengeluarkan piauwnya dari kantong piauw. Ia memberi dua batang piauw kepada Kui Hwa dan berkata perlahan,

“Kita hajar kuda mereka dan melarikan diri!”

Kui Hwa maklum akan maksud kawannya, maka ia menerima dua batang piauw itu dan keduanya lalu melompat ke atas kuda masing-masing.

Song Bu Cu dan Gan Bu Gi telah mengenal kedua orang gadis itu, dan ketika Gan Bu Gi melihat Kui Hwa, musuh besarnya ia berseru,

“Dewi Tangan Maut, jangan lari!”

Akan tetapi, Kui Hwa dan Tin Eng yang sudah siap sedia, tiba-tiba lalu menggerakkan tangan mereka dan dua batang piauw menyambar dengan cepat sekali, sebatang ke arah Gan Bu Gi dan sebatang lagi ke arah Song Bu Cu. Piauw yang dilepas oleh Kui Hwa mengarah ke tubuh Gan Bu Gi sedangkan piauw dari Tin Eng menyambar dengan lebih cepat ke arah dada Song Bu Cu. Dalam hal melepaskan senjata rahasia, Tin Eng lebih pandai dari Kui Hwa, karena Tin Eng memang telah mempelajarinya dengan sempurna.

Gan Bu Gi dan Song Bu Cu yang berkepandaian tinggi, tentu saja tak dapat dirobohkan dengan sambaran piauw itu. Maka mereka cepat mengelak di atas kudanya, sambil menyampok piauw itu dengan tangan mereka.

Akan tetapi, beberapa detik setelah piauw pertama menyambar, dua batang piauw menyambar lagi dan kini mengarah kuda yang ditunggangi oleh kedua orang itu! Hal ini sungguh-sungguh di luar dugaan Gan Bu Gi dan Song Bu Cu sehingga mereka menjadi terkejut. Piauw yang dilepas oleh Kui Hwa menyambar ke arah kuda Gan Bu Gi, akan tetapi bidikannya terlalu tinggi sehingga Gan Bu Gi dapat menendangnya dengan ujung sepatu sehingga piauw itu terlempar ke samping.

Akan tetapi, Tin Eng yang melemparkan piauwnya ke arah kuda Song Bu Cu, telah membidik dengan tepat sekali dan sebelum Song Bu Cu dapat menghalanginya, piauw itu telah menancap pada perut kudanya! Kuda Song Bu Cu meringkik kesakitan, berdiri di atas dua kaki belakang dan melompat-lompat dengan liar, sehingga Song Bu Cu tak kuasa mengendalikannya lagi dan terpaksa melompat turun.

Pada saat itu, Tin Eng dan Kui Hwa sudah membalapkan kuda mereka sambil tertawa senang. Song Bu Cu menyumpah-nyumpah dengan amat marah. Akan tetapi ia tidak berdaya untuk mengejar. Sedangkan Gan Bu Gi, sungguhpun kudanya tidak terluka dan dapat mengejar, akan tetapi merasa jerih untuk menghadapi dua orang pendekar wanita itu sendiri saja, maka iapun tidak mau mengejar.

Lui Siok yang terluka pundaknya oleh pedang Tin Eng dan terkena tendangan Kui Hwa menjadi marah sekali dan tiada hentinya mengeluarkan makian-makian kotor terhadap kedua orang gadis itu.

“Gan-sute,” katanya kepada Gan Bu Gi ketika Song Bu Cu berusaha merawat lukanya. “Mengapa kau memilih seorang gadis liar dan jahat seperti dia untuk calon isterimu? Dia sekarang telah menjadi musuh kita, telah berani membantu si jahat Tan Kui Hwa.”

Gan Bu Gi menarik napas panjang dan berkata, “Namun ia cantik dan pandai, suheng, dan pula harus diingat bahwa dia adalah puteri dari Liok-taijin Kepala daerah Kiang-sui dan anak murid Go-bi-pai. Kalau aku menjadi menantu Kepala daerah, bukankah hal itu akan memperkuat kedudukan Kim-san-pai kita? Hal ini adalah rencana dari suhu dan Seng Le Hosiang dan aku hanyalah menurut saja perintah suhu!”

Memang, kedua kakek bersahabat itu, yakni Bong Bi Sianjin ketua Kim-san-pai dan Seng Le Hosiang, tokoh Go-bi-pai, membuat rencana yang amat baik demi keuntungan masing- masing.

Pada saat itu, cabang-cabang persilatan di Tiongkok tidak mendapat nama baik bagi pemerintah yang mulai merasa curiga dan khawatir kalau-kalau orang-orang kang-ouw memiliki kepandaian tinggi itu sewaktu-waktu akan mengadakan pemberontakan. Kaisar dan para penasehatnya maklum akan bahayanya hal ini, maka mulailah diadakan pengawasan dan tekanan terhadap para ahli-ahli silat.

Partai-partai besar seperti Go-bi-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain yang berpusat di gunung- gunung yang luas daerahnya dan sukar didatangi pasukan negeri, tidak merasa khawatir akan hal ini. Akan tetapi golongan-golongan kecil mempunyai kekhawatiran juga kalau-kalau cabang persilatan mereka akan mendapat gangguan.

Seng Le Hosiang merasa sakit hati dan menaruh hati dendam terhadap Hoa-san-pai dan tokoh-tokoh Go-bi-pai yang lain tidak mau menghiraukan dan tidak ada nafsu untuk ikut campur memperbesar permusuhan dengan Hoa-san-pai, lalu mencari kawan-kawan dan pembantu dari luar. Di antaranya yang ia paling harapkan, adalah Bong Bi Sianjin sendiri ketua Kim-san-pai. Oleh karena selain Bong Bi Sianjin sendiri berkepandaian tinggi, juga tokoh Kim-san-pai ini mempunyai beberapa orang murid yang tingkat kepandaiannya sudah boleh diandalkan.

Bong Bi Sianjin bukanlah seorang yang bodoh. Sungguh pun ia bersahabat baik dengan Seng Le Hosiang, akan tetapi ia maklum bahwa mencampuri urusan permusuhan itu berarti mendatangkan bahaya baginya dan para muridnya, karena iapun tahu akan kelihaian anak murid Hoa-san-pai. Maka ia takkan mau membantu begitu saja kalau ia tidak melihat hal-hal yang kiranya akan mendatangkan kebaikan dan keuntungan bagi partainya sendiri.

Ia maklum bahwa di antara anak murid Go-bi-pai, terdapat Liok Ong Gun yang menjadi Kepala daerah dan mempunyai hubungan dekat dengan kotanya. Maka alangkah baiknya kalau ia bisa mendekati pembesar itu, agar kedudukan cabang persilatan Kim-san-pai terlindung.

Oleh karena pikiran ini, maka ia lalu mengajukan usul agar supaya muridnya yang bungsu, yakni Gan Bu Gi, dapat dipekerjakan pada Liok-taijin. Bahkan dapat dijodohkan dengan puteri pembesar itu. Seng Le Hosiang suka melihat Gan Bu Gi, maka karena iapun mengharapkan bantuan dari Kim-san-pai, dalam hal ini ia membantu sekuat tenaga, sehingga Liok-taijin akhirnya tidak hanya menerima Gan Bu Gi sebagai perwira akan tetapi juga sebagai calon mantu!

Gan Bu Gi mendengarkan dari calon mertuanya bahwa Tin Eng berada di Hun-lam. Sebelum berangkat ke kota itu, ia lebih dulu mampir di kota Tong-kwan pusat perkumpulan Hek-I- Pang karena ia tahu bahwa sesungguhnya Lui Siok berada di tempat itu menjadi wakil ketua.

Akan tetapi ia tidak bertemu dengan suhengnya yang sedang pergi ke Hun-lam dan hanya bertemu dengan Song Bu Cu. Ketika mendengar bahwa Lui Siok menyelidiki ke Hun-lam karena mendengar tentang adanya Tan Kui Hwa, si Dewi Tangan Maut yang menjadi musuh besarnya, Gan Bu Gi lalu menyusul ke Hun-lam bersama Song Bu Cu dan di tengah jalan kebetulan sekali mereka bertemu dengan Lui Siok yang sedang berada dalam bahaya.

Lui Siok dan Song Bu Cu lalu menceritakan kepada Gan Bu Gi betapa mereka mendapat tugas dari Pangeran Ong Kiat Bo untuk menyelidiki halnya kedua orang muda yang kini telah kembali ke kota raja.

“Mungkin sekali peta rahasia itu oleh kedua saudara Pang diberikan kepada Tin Eng dan Kui Hwa,” kata Lui Siok. “Maka lebih baik kita mengejar mereka. Pertama-tama untuk membinasakan perempuan rendah Dewi Tangan Maut itu, kedua untuk menawan tunanganmu yang keras kepala, dan ketiga untuk merampas peta.”

“Akan tetapi, aku harus pergi ke Kim-san-pai untuk menemui suhu lebih dulu,” kata Gan Bu Gi. “Karena suhu dulu berpesan bahwa apabila aku menghadapi kesulitan, aku harus melaporkan kepada suhu. Hal ini amat ruwet. Tin Eng telah membawa kehendak sendiri bahkan telah bersekutu dengan Dewi Tangan Maut. Sebagaimana kita semua mengetahui, Dewi Tangan Maut selain lihai, juga seorang anak murid Hoa-san-pai yang paling jahat dan paling banyak kawan-kawannya. Kini kalau betul-betul dia mendapatkan peta harta pusaka dan bersama Tin Eng pergi mencarinya, maka hal yang penting ini harus kuberitahukan kepada suhu. Apalagi kini telah muncul Kang-lam Ciu-hiap yang benar-benar gagah dan tak boleh dipandang ringan!” Gan Bu Gi teringat akan pengalaman pahit ketika ia bersama kawan-kawannya sama sekali tak berdaya menghadapi Gwat Kong. Akan tetapi hal ini ia tidak mau menceritakan kepada Lui Siok dan Song Bu Cu karena malu. Adapun kedua ketua Hek-I-Pang ini biarpun telah mendengar nama Kang-lam Ciu-hiap, akan tetapi belum pernah bertemu dan belum merasai sendiri sampai di mana kelihaian pemuda pendekar itu.

“Aaah,” Lui Siok yang sombong mencela. “Mengapa harus ditakuti Kang-lam Ciu-hiap? Sayang ia sudah pergi ketika aku datang di gedung Lie-wangwe. Kalau dia berada di sana ketika itu, tentu sekarang Kang-lam Ciu-hiap tinggal namanya saja!”

Di dalam hatinya, Gan Bu Gi tidak menyetujui ucapan suhengnya ini, karena ia tahu bahwa kepandaian suhengnya ini jauh untuk menandingi kelihaian Gwat Kong, akan tetapi ia tidak mau membuka mulut, hanya berkata,

“Biarlah suheng dan Song twako berangkat dulu menyusul mereka, aku mau mencari suhu lebih dulu agar kelak tidak mendapat teguran dari suhu yang menanti-nanti berita dariku.”

Demikianlah, Gan Bu Gi lalu berangkat mencari suhunya ke Kim-san dan kedua ketua Hek-I- Pang itu lalu mengadakan perundingan untuk menyusul Tin Eng dan Kui Hwa.

****

Perjalanan ke Hong-san jauh sekali dan biarpun menggunakan kuda, akan makan waktu berbulan-bulan. Maka biarlah kita tinggalkan dulu Tin Eng dan Kui Hwa yang menuju ke bukit Hong-san untuk mencari harta pusaka rahasia itu. Dan marilah kita menengok keadaan Gwat Kong, Kang-lam Ciu-hiap, yang sedang menerima gemblengan ilmu silat dan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat dari Bok Kwi Sianjin di tepi sungai Huang-ho.

Gwat Kong memang memiliki bakat yang baik sekali dan otak cerdas. Setelah belajar selama seratus hari di gua pertapaan Bok Kwi Sianjin itu, ia telah dapat mempelajari Sin-hong Tung- hoat dan Sin-hong Kun-hoat dengan baik. Ia telah dapat menghafal semua kouw-koat (teori persilatan) ilmu silat itu di luar kepala. Sedangkan dalam prateknya iapun telah menguasai dasar-dasar yang penting sehingga tinggal melatih dan mematangkannya.

Bok Kwi Sianjin merasa girang sekali dan amat puas melihat kemajuan muridnya ini. Maka ketika Gwat Kong menyatakan hendak melanjutkan perjalanannya ia tidak keberatan.

“Maksudmu hendak berusaha mendamaikan permusuhan yang ada antara Hoa-san-pai dan Go-bi-pai memang baik,” kata Bok Kwi Sianjin dalam pesannya ketika ia mendengarkan muridnya menyatakan pendapatnya. “Akan tetapi kukira hal itu takkan mudah kau lakukan dengan berhasil. Memang di dunia ini segala hal mempunyai dua muka, terutama sekali bagi manusia yang belum sadar akan rahasia Im-yang (positif dan negatif). Segala sesuatu yang dianggap mendatangkan kebaikan bagi manusia selalu mempunyai bagian yang sebaliknya, yakni keburukan. Ilmu kepandaian silat memang baik sekali dimiliki oleh setiap orang, demi untuk alat penjaga diri dan kesehatan. Akan tetapi tetap saja ada pengaruhnya yang tidak baik dan merugikan orang itu, yakni bagi orang yang lemah iman, kepandaian ini mendatangkan watak sombong dan suka berkelahi ilmu kepandaian silat mendatangkan sifat pemberani dan tabah. Karena orang yang memiliki kepandaian ini merasa dirinya terlindung oleh kepandaiannya dan tidak menakuti apapun juga. Akan tetapi sifat tabah dan berani yang berlebih-lebihan, membuat ia makin gelap dan hanya mengandalkan keberaniannya, siap sedia setiap saat untuk bertempur melawan siapapun juga, membangkitkan nafsu ingin memperlihatkan kegagahan sendiri tanpa mau mengalah sedikit juga terhadap orang lain karena takut kalau-kalau disangka jerih dan takut kalah. Karena sifat-sifat inilah maka terbit permusuhan di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.”

“Akan tetapi suhu, menurut penuturan dua orang anak murid Hoa-san-pai, yakni kakak beradik she Pui, banyak murid-murid Go-bi-pai yang jahat dan melanggar pantangan- pantangan orang gagah, melakukan perbuatan sewenang-wenang dan jahat sehingga golongan Hoa-san-pai turun tangan memberi hajaran. Dan inilah yang menimbulkan perselisihan,” kata Gwat Kong.

Suhunya tersenyum. “Mungkin benar juga kata kedua orang itu, akan tetapi muridku, penuturan itu tak boleh kau jadikan dasar untuk memandang buruk kepada Go-bi-pai dan membenarkan Hoa-san-pai. Kalau pandanganmu dipengaruhi oleh penuturan-penuturan kedua belah pihak, kau lebih-lebih takkan berhasil menjadi pendamai di antara mereka. Seorang pendamai tak boleh berpikir berat sebelah. Kalau hatinya dikotori oleh sifat memihak, lebih baik jangan jadi pendamai karena hal itu berarti bahwa kau menaruh dirimu dalam kedudukan yang amat berbahaya, yakni jangan-jangan kau akan dimusuhi oleh kedua belah pihak!

Orang-orang yang sedang bermusuhan dan marah memiliki perasaan curiga yang amat besar, maka kau harus berhati-hati.”

Gwat Kong terpaksa membenarkan pernyataan suhunya itu dan menundukkan mukanya.

“Muridku, di antara dua orang atau dua pihak yang bermusuhan, mereka itu masing-masing tentu membesar-besarkan kesalahan pihak musuh dan mencoba seberapa bisa untuk menghapus dan menyembunyikan kesalahan sendiri. Kalau kau bertanya kepadaku, siapakah yang bersalah di antara dua orang yang bermusuhan? Maka jawabku tentu bahwa dua orang itu kedua-duanya bersalah! Karena orang yang sudah menjadikan orang lain sebagai musuhnya, atau yang dijadikan musuh oleh orang lain, pokoknya dipengaruhi rasa benci kepada orang lain atau menimbulkan benci, ia itu sudah bersalah!”.

Kakek ini tertawa geli ketika melihat bahwa muridnya nampak bingung mendengar jawaban yang sulit dimengerti ini. Maka lalu ia berkata pula,

“Gwat Kong, tak perlu kau memusingkan hal ini. Kau masih terlalu muda untuk dapat mengerti. Untuk mengetahui hal ini, orang harus berdiri di luar perputaran arus kehidupan, sedangkan kau berada di dalamnya dan ikut terputar! Hal yang baik bagimu ialah harus dapat menyesuaikan dirimu dengan keadaan di sekelilingmu, dan semua perbuatanmu harus berdasarkan keadilan dan kebajikkan. Lenyapkanlah pandanganmu yang berat sebelah terhadap permusuhan yang timbul di antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai dan aku tahu betul bahwa baik di pihak Go-bi maupun pihak Hoa-san, para ketua dan tokohnya yang tertinggi sama sekali tidak mempunyai permusuhan, dan semua itu hanyalah akibat sikap ‘keras kepala’ dn ‘tak mau kalah’ dari tokoh-tokoh kecil kedua pihak seperti Seng Le Hosiang dan Sin Seng Cu. Jangan sampai kau ikut menanam bibit permusuhan muridku, dan ingatlah akan ucapan para cerdik pandai di jaman dahulu bahwa seribu orang kawan masih terlampau sedikit, akan tetapi seorang musuh sudah terlalu banyak bagi seorang budiman.”

Setelah menghaturkan terima kasih kepada suhunya dan berjanji akan mengingat segala nasehat dari kakek ini, Gwat Kong lalu keluar dari hutan liar itu. Pemuda yang keluar dari hutan itu jauh bedanya dengan Gwat Kong yang dulu memasuki hutan untuk mengikuti suhunya belajar silat.

Dia telah mendapat kemajuan yang luar biasa sekali dalam waktu tiga bulan lebih itu. Tidak saja tenaga lweekangnya telah meningkat karena petunjuk-petunjuk yang tepat dan cara berlatih yang penuh rahasia, dan ginkangnya juga maju pesat berkat latihan-latihan pernapasan dan bersamadhi, dalam hal ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat sungguhpun Bok Kwi Sianjin tidak pernah mempelajarinya akan tetapi kakek ini telah memberi nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk yang penting untuk menyempurnakan permainan pedang pemuda itu.

Yang lebih hebat lagi, kini Gwat Kong dapat mengkombinasikan ilmu pedangnya dengan ilmu tongkat Sin-hong Tung-hoat. Apabila ia mainkan pedangnya, ia dapat memasukkan gerakan Sin-hong Tung-hoat di dalam pedang dan apabila memegang sebatang tongkat, ia dapat memasukkan pula ilmu pedangnya, sehingga di dalam gerakannya telah dapat ia mengawinkan dua macam ilmu silat yang lihai itu.

Dan selama seratus hari di dalam hutan itu bersama suhunya, terpaksa Gwat Kong menekan kesukaannya akan arak, karena suhunya pernah berkata bahwa biarpun arak merupakan minuman yang baik dan sehat, akan tetapi apabila dilakukan dengan berlebih-lebihan tak kenal batas, sebagaimana hal lain di dunia ini, maka akan mendatangkan pengaruh buruk bagi kesehatannya.

Sebagai gantinya, Bok Kwi Sianjin menganjurkannya untuk minum arak ringan yang terbuat dari pada buah yang mengandung khasiat menyehatkan dan membersihkan darah. Kini guci arak dari perak yang tergantung di pinggang Gwat Kong terisi oleh minuman ini.

Gwat Kong merasa rindu sekali kepada Tin Eng. Selama ini, ia makin merasa betapa sesungguhnya ia amat mencintai gadis itu, dan berkali-kali usahanya untuk mengusir bayangan gadis itu dari pikirannya, ternyata gagal. Tanpa disadarinya, kini kedua kakinya membawa ia menuju ke Hun-lam. Ia telah lupa ke mana arah jalan yang menuju ke kota itu. Akan tetapi berlawanan dengan maksud hatinya untuk berdaya melupakan Tin Eng, tiap kali bertemu dengan orang dan bertanyakan jalan, ia selalu bertanya arah jalan ke Hun-lam.

Pada suatu hari, ia tiba di dusun Ngo-bun-chung di kaki bukit Siang-san. Dusun ini cukup besar dan padat penduduk yang hidup sebagai petani. Biasanya dusun ini terkenal makmur karena memang tergolong tanah subur. Akan tetapi pada waktu itu di Tiongkok banyak daerah yang menderita karena musim kering yang luar biasa sekali.

Sudah lima bulan daerah yang menderita itu kehabisan air sehingga akibatnya, tanaman- tanaman di sawah menjadi kering. Rakyat di daerah itu tidak saja menderita kekurangan makan, akan tetapi juga kekurangan air sehingga harga air menjadi semahal harga emas.

Dusun Ngo-bun-chung termasuk daerah yang sedang kekurangan air dan rakyat di situpun amat menderita. Pemandangan yang amat menyedihkan dari rakyat jelata yang menderita kelaparan dan kehausan ini telah dilihat oleh Gwat Kong semenjak ia meninggalkan hutan di mana ia belajar ilmu silat.

Daerah di dekat Sungai Kuning itu masih nampak subur dan tidak sangat menderita karena musim kering. Akan tetapi makin jauh ia menuju ke selatan, makin menyedihkan keadaan daerah-daerah yang kering itu. Akan tetapi, belum pernah Gwat Kong melihat dusun yang menderita gangguan alam itu sehebat dusun Ngo-bun-chung.

Baru masuk saja ia melihat keadaan yang amat menyedihkan dan mendengar suara tangis memilukan dari beberapa rumah, tanda bahwa terdapat pula orang-orang yang mati kelaparan. Di dusun-dusun lain yang ia lewati, keadaan belum demikian hebat karena penduduk dusun dengan secara gotong rotong saling membantu dan membagi persediaan ransum sehingga jumlah kematian karena kelaparan sangat sedikit.

Tiba-tiba Gwat Kong melihat serombongan petani berjalan menuju ke barat. Mereka itu nampak pucat-pucat dan bersungguh-sungguh dengan tangan memegang senjata tajam seperti cangkul, kampak, golok, dan lain-lain. Sikap mereka jelas menyatakan bahwa mereka itu tengah menghadapi perkelahian.

Gwat Kong menjadi tertarik hatinya dan diam-diam ia mengikuti rombongan petani yang terdiri tidak kurang dari dua puluh lima orang itu. Setelah rombongan itu tiba di ujung dusun sebelah barat, mereka berhenti di depan pintu pekarangan sebuah rumah yang membuat Gwat Kong merasa heran sekali. Rumah itu tak pantas berada di tempat semelarat ini. Sebuah rumah kuno yang amat besar dan megah dengan pekarangan yang amat luas mengelilingi bangunan itu. Pantasnya gedung ini menjadi tempat peristirahatan kaisar atau orang-orang besar dari kota raja.

Para petani ini agaknya nampak ragu-ragu setelah tiba di tempat tujuan, dan untuk beberapa lama berdiri di luar pintu pekarangan yang besar terbuat dari kayu tebal itu. Akan tetapi seorang di antara mereka mempelopori kawan-kawannya sambil berseru keras, “Serbu!”

Ia membuka pintu itu yang ternyata diikat dengan rantai besi. Tentu saja ia tidak kuat membukanya, akan tetapi kini kawan-kawannya telah dibangunkan semangat mereka oleh contoh ini dan dua puluh orang itu lalu merenggut dan menarik pintu pekarangan itu sehingga dengan mengeluarkan suara keras pintu itu roboh.

Suara roboh pintu yang gaduh ini seakan-akan menambah semangat kepada para petani itu karena mereka serentak menyerbu ke pekarangan gedung itu sambil mengangkat senjata- senjata mereka di atas kepala. Gwat Kong tidak ikut masuk hanya memandang dari luar pagar dengan heran dan penuh perhatian, ingin melihat apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba daun pintu yang lebar dari gedung besar itu terbuka dari dalam, dan semua petani yang memberontak itu memandang dengan mata terbelalak, seakan-akan tiba-tiba mereka merasa takut sekali. Akan tetapi sungguh aneh, ketika daun pintu itu terbuka, di dalamnya kosong tidak nampak sesuatu.

Gwat Kong merasa heran sekali dan sebelum ia dapat menduga, tiba-tiba dari dalam pintu yang kosong itu berkelebat bayangan orang yang bertubuh tinggi besar dan memegang toya kuningan. Tanpa banyak cakap bayangan itu menyambar dan tiga orang petani yang berada di depan sekali berteriak ngeri dan roboh pingsan!

Ributlah para petani melihat hal ini dan beberapa orang dengan marahnya mengangkat senjata untuk mengeroyok laki-laki tinggi besar itu. Akan tetapi, kembali toya kuningan itu bergerak dan empat orang petani roboh lagi sambil mengeluarkan teriakan keras! Melihat ini, lenyaplah nyali besar orang-orang itu karena kini orang-orang yang terberani di antara mereka dan yang dianggap menjadi pemimpin-pemimpin telah disapu roboh oleh toya kuningan yang lihai itu. Mereka lalu melemparkan senjata masing-masing dan menjatuhkan diri berlutut. Seorang di antara mereka yang paling tua berkata,

“Ji-cukong-ya .... (majikan kedua) harap suka memberi ampun kepada kami sesungguhnya

keluarga kami amat menderita dan dalam keadaan kelaparan, tolonglah kami.”

Orang tinggi besar itu berdiri dengan toya di tangan. Ia memandang dengan marah dan bibirnya yang tebal itu menggulung ke atas. Ia membanting-banting kakinya dan memaki marah.

“Anjing-anjing rendah tak tahu diri! Kalian ini orang-orang malas yang maunya hanya makan milik lain orang! Kalian ini benar-benar anjing-anjing yang bong-im-pwe-gi (manusia tak mengenal budi)! Kurang baik bagaimanakah keluarga Lai? Telah tiga bulan ini kami sengaja tidak memungut uang pajak tanah dan memberikan tanah kami dengan cuma-cuma kepada kalian untuk dikerjakan dan dimakan hasilnya. Sekarang kalian berani sekali datang seperti perampok? Sungguh harus dipukul mampus!” Sambil berkata demikian, dua kali ia menggerakkan kakinya dan tubuh dua orang, termasuk orang tua yang tadi mewakili kawan- kawannya bicara, terlempar sampai terguling-guling dua tombak lebih!

Petani-petani lain berlutut dengan tubuh menggigil dan memandang dengan wajah cemas. Mereka lebih menakuti penolakan pertolongan dari hartawan ini dari pada pukulan-pukulan yang mungkin dijatuhkan kepada mereka, maka seorang berkata,

“Ji-cukong, biarlah kami dipukul, dimaki, bahkan boleh dibunuh sekalian asal saja cukong sudi mengeluarkan sedikit gandum dan membiarkan anak-bini kita mengambil air dari sumber air hijau itu!”

“Bangsat benar, apakah benar-benar kalian ingin mampus? Hayo pergi, .. pergi! Dan jangan lupa untuk memperbaiki pintu pekarangan kami!” Ia mengancam lagi, dengan toyanya dan mengusir mereka. Akan tetapi, tak seorangpun di antara mereka mau bergerak.

“Pergi, kataku!” teriak pula laki-laki tinggi besar itu dengan marah.

“Ji-cukong, kami telah berjanji takkan mau pergi sebelum mendapat pertolongan itu, karena kalau kami pulang tanpa membawa gandum dan air, kami hanya akan melihat anak-bini kami mati kelaparan!”

“Anjing rendah, kalau begitu biarlah kalian kubikin mampus dulu!” Orang tinggi besar itu memaki kalang kabut dan ia nampak marah sekali. Agaknya ia benar-benar hendak menggunakan toyanya yang hebat itu untuk membunuh belasan orang tani yang berlutut di depannya itu.

Gwat Kong merasa marah sekali, dan sungguhpun ia belum tahu dengan jelas siapakah gerangan orang tinggi besar itu, akan tetapi ia dapat menduga bahwa orang itu tentulah seorang tuan tanah yang kaya raya dan kikir, yang menyimpan banyak gandum akan tetapi tidak mau menolong petani-petani miskin yang menderita kelaparan. Ia benci sekali melihat kekejaman orang itu dan selagi ia hendak bergerak untuk menolong para petani itu yang agaknya hendak dihajar, tiba-tiba dari atas genteng gedung besar itu menyambar turun bayangan orang berpakaian serba kuning.

Gerakan orang ini amat cepatnya dan Gwat Kong menahan gerakan kakinya yang tadi sudah akan melompat ke dalam pekarangan. Ia merasa heran dan kagum melihat bayangan itu ternyata adalah seorang gadis yang cantik dan gagah sekali. Gadis itu memakai pakaian kuning gading dengan ikat pinggang dan ikat rambut warna merah dan di kedua tangannya memegang sepasang pedang yang bercahaya saking tajamnya.

Pada saat itu, si tinggi besar itu telah menggerakkan toyanya dan hendak memukul seorang petani yang terdekat, akan tetapi tiba-tiba ia merasa ada sambaran angin dari atas dibarengi bentakan nyaring, “Orang she Cong yang kejam! Jangan berlaku sewenang-wenang!”

Orang tinggi besar itu adalah Cong Si Kwi dan terkenal dengan sebutan Ji-sai-cu (Singa Kedua), seorang yang amat terkenal di daerah itu yakni di sekeliling bukit Siang-san. Cong Si Kwi dan kakaknya, yang bernama Cong Si Ban berjuluk Tai-sai-cu (Singa Tertua) adalah dua kakak beradik yang kaya raya di daerah itu dan tiga perempat bagian tanah di sekitar bukit Siang-san adalah milik mereka. Oleh karena ini, maka penghidupan sebagian besar rakyat petani di sekitar daerah itu, boleh dibilang bersandar kepada kedua saudara Cong ini dan tidaklah berlebihan kalau ada orang di dusun itu berkata bahwa nyawa mereka berada dalam telapak tangan kedua singa itu.

Semua kepala dusun di seluruh daerah adalah pembantu atau kaki tangan kedua saudara Cong, dan tak seorangpun yang berani menentang mereka karena selain mereka amat kaya raya dan menjadi pemilik tanah yang dijadikan sumber nafkah para petani, juga kedua orang itu memiliki ilmu kepandaian silat yang amat tinggi dan dahsyat. Kedua kakak beradik she Cong ini memiliki ilmu silat keturunan yang disebut Sai-cu-ciang-hoat (Ilmu Pukulan Singa) dan keduanya memiliki ilmu toya yang tinggi juga.

Sebetulnya kedua saudara Cong ini tidak biasa memeras rakyat. Mereka mengadakan pajak tanah yang cukup pantas dan ketika musim kering mengganggu, mereka bahkan membebaskan para petani dari pajak. Akan tetapi mereka ini terkenal berhati keras dan kejam tidak mengenal kasihan, lagi pula amat kikir. Melihat keadaan rakyat di sekitar mereka yang amat menderita dan kelaparan, mereka sama sekali tidak mengambil perhatian dan tumpukan gandum dan padi di gudang mereka tetap bertumpuk.

Berkali-kali rakyat datang mohon pertolongan mereka, untuk meminjam gandum dengan perjanjian pembayaran berlipat ganda. Akan tetapi semua permohonan tidak dihiraukan oleh kedua saudara Cong itu. Yang lebih hebat lagi ialah ketika semua sumur dan anak sungai kering, ternyata yang masih mengeluarkan air hanya sebuah sumber air yang disebut sumber air hijau dan yang ada di sawah milik kedua saudara yang kaya itu. Karena tanah sawah itupun disewakan pada petani, maka selama musim kering tiba, sumber air hijau itulah yang menjadi penolong para petani karena mereka semua mendapat air minum dari sumber ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kedua saudara Cong yang juga kehabisan air, lalu memblokir sumber ini dan mengurungnya dengan pagar serta dijaga kuat oleh penjaga-penjaga bersenjata tombak.

Tak seorangpun boleh mengambil air dari sumber itu, kecuali pelayan keluarga Cong.

Cong Si Ban melakukan hal ini bukan karena ia berhati dengki, akan tetapi oleh karena ia berkhawatir kalau-kalau sumber air itu akan menjadi kering jika diambil airnya oleh sekian banyak orang dan ia mengkhawatirkan keadaan keluarganya sendiri. Demi keselamatan keluarga sendiri, ia tidak perduli apakah orang-orang di luar gedungnya akan mati kehausan atau tidak.

Hal ini membuat para petani merasa bingung dan keadaan mereka makin menderita. Akhirnya mereka tidak dapat menahan lagi dan demikianlah, maka dua puluh lima orang petani itu memberanikan diri menyerbu ke gedung keluarga Cong untuk minta gandum dan air. Dan yang keluar menyambut mereka adalah Cong Si Kwi, senga kedua yang lebih kejam dari pada kakaknya.

Ketika Cong Si Kwi mendengar bentakan dari atas dan merasa ada angin senjata menyambar, ia cepat melompat ke kiri dan menggerakkan toyanya ke atas untuk memukul orang yang menyambar dari atas ini. “Traaangg!” terdengar suara keras sekali ketika toyanya kena bentur sebatang pedang yang menyambar dari atas. Bunga api memancar keluar dan alangkah kagetnya hati Cong Si Kwi ketika melihat betapa ujung toyanya telah somplak!