-->

Pendekar Pemabuk Jilid 05

Jilid 05

14.

GWAT Kong tidak menjadi jerih, bahkan dengan tertawa bergelak ia lalu keluarkan seguci arak dari jubahnya. Dengan tangan kiri ia menenggak araknya yang dibawanya dari rumah Lie-wangwe, sedangkan tangan kanannya yang memegang pedang diputar sedemikian rupa sehingga senjata para pengeroyoknya tidak ada yang dapat menembus sinar pedangnya itu. Kemudian, ia menyimpan kembali guci araknya di dalam saku jubahnya dan para penjaga yang melihat ini diam-diam merasa heran sekali. Mengapa pemuda itu demikian doyan arak sehingga dalam keadaan pertempuran hebat dan dikeroyok sembilan orang ia ada kesempatan untuk minum arak?

“Benar-benar setan arak!” kata seorang penjaga.

“Kalau tidak doyan arak, masa disebut Ciu-hiap (Pendekar Arak)?”

Akan tetapi, mereka itu kecele bahwa Gwat Kong itu demikian gila arak sehingga dalam pertempuran sempat menikmati rasa arak yang wangi. Karena setelah menyimpan kembali guci araknya, tiba-tiba tubuhnya melesat maju dan pedangnya diputar sedemikian rupa sehingga terdengar dua kali teriakan dan tubuh dua orang pengeroyok jatuh tersungkur.

Kemudian tiba-tiba pemuda itu membentak keras dan dari mulutnya tersemburlah arak yang diminumnya tadi dan para penjaga kini bengong dan memandang dengan mata terbelalak karena terdengar pekik kesakitan dan lima orang di antara tujuh pengeroyok itu segera melemparkan pedangnya atau goloknya dan menggunakan tangan untuk menutupi muka mereka sambil merintih-rintih kesakitan. Ternyata bahwa semburan arak itu bagaikan jarum- jarum tajam menusuk-nusuk muka mereka, bahkan yang tidak keburu memeramkan mata ada yang rusak matanya bagaikan ditusuk jarum.

Dua orang penjahat ketika melihat hal ini hendak lari, akan tetapi begitu Gwat Kong melompat dan pedangnya digerakkan, dua orang inipun roboh terguling dengan pundak mereka terluka hebat.

Tentu saja para penjaga menjadi girang luar biasa melihat hal ini. Mereka berebutan maju untuk memasang belenggu pada tangan para penjahat itu. Tiada henti-hentinya mereka memuji-muji Gwat Kong. Akan tetapi yang dipuji sudah semenjak tadi pergi dari tempat itu dan cepat berlari menuju ke rumah Lie-wangwe untuk menyusul Tin Eng.

Juga Tin Eng menghadapi lawan-lawan, bahkan lawannya lebih berat dari pada yang dihadapi oleh Gwat Kong ketika gadis itu tiba di atas genteng rumah Lie-wangwe. Ternyata ia melihat lima orang penjahat sedang mengamuk dan biarpun di rumah pamannya itu terjaga oleh para penjaga yang sepuluh orang banyaknya, akan tetapi mereka tak berdaya apa-apa dan enam orang penjaga sudah rebah sambil merintih-rintih.

Lima orang inipun mengenakan kedok pada mukanya. Akan tetapi Tin Eng mengenal potongan badan dua orang di antara mereka yang terlihai, yang ia tahu adalah Touw Cit dan Touw Tek. Segera ia menyambar turun dengan pedang di tangan sambil membentak,

“Touw Cit dan Touw Tek, dua bangsat rendah! Tak perlu kalian memakai ledok, karena kalian tak dapat menipu nonamu!”

Touw Cit tertawa mendengar ini dan melemparkan kedoknya yang menutupi mukanya sehingga sisa penjaga yang melihat ini menjadi terheran-heran!

“Mundurlah biar aku menghadapi tikus-tikus ini!” seru Tin Eng kepada mereka. Para penjaga tentu saja menjadi girang karena mereka telah mendengar akan kelihaian nona ini, maka mereka menolong kawan-kawan yang terluka itu.

Sementara itu, Touw Tek yang juga sudah melemparkan kedoknya, segera maju menyerang dengan goloknya. Penjahat tinggi besar ini masih teringat akan sakit hatinya siang tadi ketika ia dipermainkan oleh Tin Eng, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan dan mengandalkan kakak dan kawan-kawannya untuk membalas dendam.

Akan tetapi Tin Eng tertawa mengejek sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya. “Kau masih belum kapok?” Dan ketika ia membarengi tangkisan pedangnya itu dengan serangan mendadak, Touw Tek terkejut sekali dan cepat melempar tubuhnya ke belakang karena tahu-tahu ujung pedang nona itu telah berada di depan hidungnya.

Akan tetapi, betapapun cepat ia melempar diri ke belakang, ujung pedang itu agaknya tidak mau meninggalkan lehernya. Untung baginya bahwa Touw Cit segera bergerak dan menusuk lambung Tin Eng dari kanan. Nona itu terpaksa membatalkan serangannya kepada Touw Tek dan menangkis tusukan Touw Cit.

Akan tetapi diam-diam ia merasa terkejut ketika merasa betapa benturan pedang itu membuat tangannya tergetar. Maklumlah ia bahwa Touw Cit bukanlah seperti adiknya, Touw Tek.

Kepala gerombolan ini agaknya memiliki tenaga lweekang yang tinggi dan melihat gerakan pedangnya, ia merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan.

Maka Tin Eng tidak mau membuang banyak waktu lagi karena ia maklum bahwa kini ia menghadapi Touw Cit yang lihai ditambah dengan empat orang lagi. Dengan seruan garang, ia lalu putar-putar pedangnya dan mainkan Sin-eng Kiam-hoat yang telah disempurnakan atas petunjuk-petunjuk dari Gwat Kong.

Ilmu pedang ini memang lihai sekali dan baru beberapa gebrakan saja, kembali Touw Tek telah terkena ujung pedang Tin Eng yang melukai pangkal lengan kanannya. Tiga orang kawannya yang berkepandaian hanya setingkat dengan Touw Tek, menjadi jerih.

Pada saat itu, dari luar mendatangi serombongan penjaga lagi yang berjumlah enam orang. Mereka itu lalu menggabung dengan sisa penjaga dan mengeroyok Touw Tek dan tiga orang penjahat itu, karena tadi pun yang membuat para penjaga kewalahan hanyalah Touw Cit seorang yang amat lihai. Dengan berteriak-teriak para penjaga mengeroyok Touw Tek yang telah terluka dan sebentar saja Touw Tek yang kenyang mendapat gebukan dari para penjaga, kena ditangkap erat-erat bagaikan seekor babi mau disembeli!

Tiga orang kawannya melihat hal ini, menjadi kacau permainannya dan mereka lalu mencoba untuk melarikan diri. Dua orang kena dikepung dan dihantam oleh para pengeroyoknya sehingga tertangkap pula, sedangkan yang seorang lagi telah berhasil melompat naik ke atas genteng. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seruan Tin Eng,

“Turun kau!” Tangan kiri gadis yang masih bertempur hebat dengan Touw Cit ini diayun dan sebatang piauw meluncur ke arah kaki penjahat yang mencoba untuk melarikan diri.

Terdengar teriakan ngeri dan tubuh penjahat itu menggelinding kembali ke bawah genteng disambut oleh para penjaga dengan teriakan dan gebukan-gebukan.

Kini Tin Eng hanya menghadapi Touw Cit seorang lawan seorang. Ketika Touw Cit mainkan pedangnya, diam-diam Tin Eng terkejut sekali. Ternyata bahwa penjahat ini mainkan ilmu pedang Go-bi-pai. Ilmu pedang penjahat ini sama benar dengan ilmu pedang ayahnya dan yang telah ia pelajari pula.

“Kau anak murid Go-bi-pai!” tak terasa lagi mulut dara itu berseru kaget sambil menangkis serangan lawannya dengan pedang.

Touw Cit terkejut dan memandang tajam sambil menunda serangan. “Siapakah kau?”

“Akupun anak murid Go-bi-pai!” jawab Tin Eng. “Kau sungguh memalukan dan mencemarkan nama baik Go-bi-pai. Tak ingatkah kau akan sumpahmu ketika kau mulai belajar silat?”

“Bohong!” seru Touw Cit. “Permainan pedangmu sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai!”

“Aku bukan membohong seperti kau! Buka matamu lebar-lebar!” Setelah berkata demikian, Tin Eng lalu merobah permainan pedangnya dan kini ia menyerang lawannya itu dengan ilmu pedang Go-bi-pai yang ia pelajari dari ayahnya. Touw Cit segera menangkis dan untuk beberapa belas jurus lamanya mereka bertempur dalam ilmu pedang yang sama.

“Betul, betul kau, pandai mainkan ilmu pedang Go-bi-pai!” seru Touw Cit girang. “Mengapa kau memusuhi saudara seperguruan sendiri?”

“Cih, siapa sudi kau sebut saudara seperguruan?” bentak Tin Eng. “Orang yang melakukan kesesatan dan kejahatan macam kau tak berhak menyebut dirimu sebagai anak murid Go-bi- pai lagi!”

Kembali Tin Eng menyerang sambil mempergunakan ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat oleh karena ternyata bahwa ilmu pedang Go-bi-pai yang ia miliki masih kalah tinggi apabila dibandingkan dengan Touw Cit. Penjahat itu menjadi marah sekali dan mengerahkan seluruh kepandaian untuk melayani gadis yang lihai itu. Pertempuran berjalan makin seru dan hebat sehingga pedang mereka berkelebat dan sinarnya bergulung-gulung. Para penjaga yang kini telah membereskan semua penjahat yang menjadi korban, hanya menonton saja karena mereka maklum bahwa kepandaian mereka masih jauh untuk dapat membantu gadis pendekar itu. Mereka hanya berteriak-teriak menambah semangat Tin Eng.

Pada saat itu terdengar seruan, “Jangan lepaskan penjahat itu!” Dan dari atas wuwungan nampak bayangan Gwat Kong mendatangi.

Melihat ini Touw Cit menjadi gentar juga dan segera mengirim tusukan kilat ke arah dada Tin Eng yang mengelak cepat. Touw Cit menggerakkan tangan kiri dan dua butir peluru besi sebesar telor ayam menyambar ke arah leher dan lambung Tin Eng. Gadis ini cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dengan terkejut karena hampir saja ia menjadi korban serangan senjata gelap lawan.

Kesempatan ini digunakan oleh Touw Cit untuk melompat jauh dan melarikan diri di dalam gelap.

“Bangsat rendah hendak pergi ke mana!” teriak Tin Eng yang segera mengejar.

“Bagus, kejar dia Tin Eng!” Gwat Kong juga berseru dan menyusul pula untuk mengejar penjahat yang lari itu. Para penjaga juga berteriak-teriak dan berlari-lari mengejar dari belakang. “Kejar .....! Tangkap Touw Cit si bangsat besar !!”

Akan tetapi oleh karena penjahat itu menggunakan lari cepat, demikian pula Tin Eng dan Gwat Kong, sebentar saja para penjaga itu tertinggal jauh dan menjadi bingung karena tidak melihat tiga orang itu sehingga mereka tidak tahu harus mengejar ke jurusan mana?

Ternyata bahwa ilmu lari cepat dari Touw Cit sudah cukup tinggi, sehingga untuk beberapa lama Tin Eng dan Gwat Kong belum berhasil menyusulnya. Akan tetapi, jarak antara mereka dan Touw Cit makin mengecil juga sehingga penjahat itu menjadi bingung dan terus berlari ke luar dari kota dan bermaksud untuk bersembunyi ke dalam hutan yang berada di luar kota.

Sementara itu, fajar telah mulai menyingsing dan karena pagi itu tidak ada halimun, maka sebentar saja keadaan menjadi terang. Hal ini amat menggelisahkan hati Touw Cit yang melarikan diri, oleh karena ia lari memasuki hutan, kedua orang pengejarnya terus mengejar dan tak mau melepaskannya dan keadaan yang mulai terang itu tidak memungkinkan ia untuk menyembunyikan diri.

“Touw Cit, tidak ada gunanya kau melarikan diri, biarpun akan masuk ke dalam tanah, kau takkan terlepas dari tangan kami!” seru Gwat Kong sambil tertawa.

Karena kedua pengejarnya kini telah dekat sekali di belakangnya, ketika tiba di tempat terbuka, tiba-tiba Touw Cit menahan langkah kakinya dan dengan pedang di tangannya menanti datangnya para pengejar untuk berkelahi mati-matian!

“Keparat!” ia memaki sambil menudingkan pedangnya kepada Tin Eng. “Sebagai anak murid Go-bi-pai, kau benar-benar tidak memandang perguruan kita! Sebenarnya kau ini murid siapakah?”

Tin Eng dengan pedang ditangan berdiri menghadapi Touw Cit sambil tersenyum. “Ayahku adalah murid Go-bi-pai. Akan tetapi, aku sendiri bukan langsung menjadi anak murid Go-bi- pai. Aku lebih senang mempergunakan ilmu pedang lain! Ayahku adalah Liok Ong Gun Kepala daerah Kiang-sui, seorang anak murid Go-bi-pai tulen dan sama sekali tidak dapat disamakan dengan kau penjahat kejam yang hanya mengotorkan nama Go-bi-pai!”

Merahlah muka Touw Cit mendengar ini. “Aku pernah mendengar nama ayahmu yang tingkatnya sama dengan aku. Kalau kau seorang gadis yang mengerti peraturan, kau seharusnya menyebut aku susiok (paman guru).”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Aku harus menyebut paman guru kepada seorang perampok, penipu dan pemeras rakyat? Hm, nanti dulu, kawan! Pada saat ini, aku adalah seorang petugas yang membawa dendam penduduk Hun-lam yang telah lama kau ganggu. Kalau kau hendak menganggap aku sebagai anak murid Go-bi-pai, baiklah, aku mewakili Go-bi-pai pula untuk membersihkan nama Go-bi-pai dari anak muridnya yang tersesat dan yang patut menerima hukuman berat!”

“Boca sombong!” Touw Cit menjadi marah sekali lalu menyerang dengan pedangnya. Tin Eng menangkis sambil tersenyum manis dan sebentar kemudian mereka telah bertempur kembali dengan hebatnya. Gwat Kong hanya berdiri tak jauh dari situ dengan kedua tangan bertolak pinggang dan bibir tersenyum. Ia hendak menyaksikan kemajuan ilmu pedang Tin Eng.

Pertempuran kali ini benar-benar hebat dan jauh lebih sengit dari pada tadi oleh karena Touw Cit yang telah menghadapi jalan buntu dan tidak mempunyai harapan untuk melarikan diri dan melepaskan diri dari kedua orang muda yang lihai ini, telah mengambil keputusan untuk berlaku nekad dan bertempur mati-matian. Sepasang matanya memandang marah, seakan- akan mengeluarkan sinar berapi, mengandung nafsu membunuh. Ia lebih mengerahkan kepandaian dan tenaganya untuk menyerang dari pada mempertahankan diri, dalam usahanya untuk membunuh atau dibunuh.

Menghadapi serangan-serangan nekad ini, Tin Eng berlaku tenang dan hati-hati sekali dan biarpun mulutnya masih memperlihatkan senyum manis, akan tetapi ia mencurahkan seluruh perhatiannya karena maklum bahwa lawannya telah nekad untuk mengadu jiwa. Dara ini mempergunakan ilmu ginkangnya yang lebih tinggi dari pada Touw Cit yang bertubuh besar pula. Tubuh Tin Eng nampak ringan sekali dan gerakan kedua kakinya demikian cepat dan gesit sehingga ia seakan-akan bertempur sambil menyambar-nyambar tanpa menginjak tanah. Bagaikan seekor burung walet bermain di antara mega.

Pertempuran berjalan dengan ramainya sampai lima puluh jurus dan diam-diam Gwat Kong merasa girang melihat kemajuan ilmu pedang gadis itu karena ia maklum pula bahwa gadis itu sengaja mempermainkan lawannya. Kalau Tin Eng mau, memang sudah semenjak tadi ia dapat merobohkan lawannya yang dalam kenekatannya telah membuka banyak lowongan pada dirinya sendiri.

Akan tetapi Tin Eng masih tidak tega untuk memberi tusukan yang dapat membinasakan lawannya atau mendatangkan luka berat. Karena betapapun juga ia masih ingat bahwa lawannya ini adalah anak murid Go-bi-pai atau masih saudara seperguruan ayahnya.

Pertahanan Touw Cit makin lemah karena ia telah menggunakan tenaga terlalu banyak dan terlalu dipaksakan, menuruti hatinya yang penuh dendam dan marah. Juga kegelisahannya membuat permainan pedangnya kacau balau. Dan tak lama kemudian, ia mulai terdesak dan berkelahi sambil mundur!

Tiba-tiba Tin Eng berseru keras dan tubuhnya melompat ke atas dan mengirim serangan dengan gerak tipu Air Mancur Menyiram Bunga. Pedangnya di tangan kanan ditusukkan ke arah dada lawan sedangkan tangan kirinya dipentang ke belakang, kedua kakinya membuat imbangan untuk menahan turun tubuhnya dari atas.

Serangannya cepat sekali sehingga dengan terkejut Touw Cit lalu melangkah mundur dan menggerakkan pedangnya untuk menangkis dengan sabetan dari atas ke bawah dengan maksud menghantam pedang gadis itu agar terlepas. Akan tetapi secepat kilat, pedang Tin Eng ditarik mundur dan setelah pedang Touw Cit lewat ke bawah, ia lalu menindih pedang lawan itu. Dengan pedangnya di atas pedang Touw Cit yang tak berdaya itu, maka kini dada Touw Cit terbuka dan bagi Tin Eng dengan mudah saja kalau ia hendak merobohkan lawannya. Sekali ia menusukkan pedangnya akan tertembus dada lawan.

Akan tetapi Tin Eng tidak mau melakukan hal ini, hanya menggerakkan pedang ke atas, ke arah tangan Touw Cit yang memegang pedang. Penjahat itu menjerit kesakitan dan pedangnya terlepas karena tangannya telah termakan oleh pedang Tin Eng sehingga ibu jarinya hampir putus. Tin Eng menarik kembali pedangnya pada saat itu digunakan oleh Touw Cit untuk melompat mundur dalam usahanya melarikan diri.

Akan tetapi, nampak berkelebat bayangan yang cepat sekali dan sebuah tendangan pada lututnya membuat Touw Cit terjungkal tak dapat bangun kembali. Ternyata bahwa sambungan lutut kanannya telah terlepas akibat tendangan yang dikirim oleh kaki Gwat Kong.

Pada saat itu, para penjaga yang mengejar baru dapat menemukan mereka dan dengan girang mereka lalu menubruk dan mengikat kaki tangan Touw Cit, lalu diseretnya kembali ke kota. Dengan jatuhnya Touw Cit, maka boleh dibilang semua penjahat yang melakukan pengacauan itu, yang semua berjumlah empat belas orang telah diringkus.

Kota Hun-lam merayakan peristiwa itu dengan gembira sekali. Touw Cit dengan kawan- kawannya dimasukkan ke dalam penjara dan mendapat hukuman berat atas dosa-dosanya. Para penjahat di luar kota yang mendengar hal ini, menjadi ketakutan dan nama Kang-lam Ciu-hiap makin terkenal. Sementara itu penduduk Hun-lam juga memberi nama pujian bagi Tin Eng, yakni Sian-kiam Lihiap atau Pendekar Wanita Pedang Dewa.

****

Setelah tinggal di gedung Lie Kun Cwan sepekan lamanya, Gwat Kong lalu meninggalkan kota Hun-lam. Atas permintaan Tin Eng, Gwat Kong hendak berusaha mendamaikan permusuhan yang timbul antara Go-bi-pai dan Hoa-san-pai.

“Betapapun juga aku merasa bersedih kalau mengingat keadaan permusuhan itu, karena ayah adalah anak murid Go-bi-pai dan tidak suka kalau ayah sampai terlibat dalam permusuhan ini. Harap kau suka memberitahukan kepada setiap orang gagah dari Hoa-san-pai bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai jahat-jahat belaka. Juga kalau kau bertemu dengan tokoh-tokoh Go-bi-pai harap beritahukan bahwa tidak semua anak murid Go-bi-pai baik dan benar.

Buktinya Touw Cit itu juga telah mengotorkan nama Go-bi-pai dan melakukan perbuatan yang jahat,” kata Tin Eng kepadanya. Sebetulnya Gwat Kong merasa berat untuk berpisah dari Tin Eng, gadis yang diam-diam dicintainya semenjak ia masih menjadi pelayan di gedung orang tua gadis itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak bisa terus-terusan tinggal di rumah paman gadis itu. Lagi pula juga tidak enak bagi Tin Eng untuk ikut pergi merantau dengan dia. Karena sebagai gadis sopan, tidak selayaknya melakukan perantauan dengan seorang pemuda yang bukan menjadi keluarganya.

Ia hanya berpesan agar supaya gadis itu suka berlatih dengan giat. Karena biarpun telah mendapat petunjuk-petunjuk darinya, namun gadis ini belum lama mempelajari Sin-eng Kiam-hoat yang tulen sehingga gerakannya masih agak kaku.

Gwat Kong pergi dengan diantar oleh Lie-wangwe sampai di luar kota. Hartawan ini merasa suka dan kagum sekali kepada Gwat Kong yang masih muda akan tetapi memiliki kepandaian tinggi. Ia bahkan memberi hadiah sebuah guci arak terbuat dari pada perak terukir yang amat indah kepada pemuda itu, berikut isinya yakni arak Hang-ciu yang bukan main keras dan wanginya dan telah berusia tua sekali.

Gwat Kong menyimpan guci ini dengan menggantungkannya pada pinggangnya dan berangkatlah dia, mulai dengan perantauannya. Ia cinta kepada Tin Eng, akan tetapi tidak berani ia menyatakan cintanya itu. Sungguhpun dulu pernah ia menyatakan di luar kesadarannya, yakni ketika ia mabuk di rumah gadis itu sebelum ia meninggalkan gedung Liok-taijin.

Ia tidak berani menyatakan cintanya kepada seorang gadis puteri Kepala daerah, bangsawan tinggi dan keponakan dari seorang yang demikian kaya seperti Lie-wangwe. Ia seorang pemuda yatim piatu yang miskin, maka Gwat Kong merasa lebih baik ia menjauhkan diri dari Tin Eng dan berusaha melupakannya sebelum terlambat, yakni sebelum ikatan hatinya makin erat.

Sementara itu, Tin Eng yang ditinggal pergi oleh Gwat Kong, lalu berlatih diri dengan giatnya. Ia senang tinggal di rumah pamannya yang amat baik terhadap dia dan Lie Kun Cwan juga merasa terhibur dengan adanya gadis itu yang seakan-akan ia anggap sebagai anak sendiri.

Kejenakaan dan kegembiraan watak gadis itu seolah-olah merupakan matahari yang menyinari kesuraman suasana dalam gedungnya yang kosong setelah isterinya yang tercinta meninggal dunia. Lie-wangwe telah mengirim surat kepada Liok-taijin suami isteri menceritakan bahwa Tin Eng berada di rumahnya dan membujuk agar supaya suami isteri itu tidak terlalu memaksa kepada Tin Eng yang disebutnya masih berwatak anak-anak.

Baik Gwat Kong maupun Tin Eng sama sekali tidak tahu bahwa dua orang bersaudara Touw Cit dan Touw Tek adalah anggauta-anggauta dari perkumpulan Hek-i-pang, yakni perkumpulan baju hitam yang berpusat di Tong-kwan, sebelah selatan Hun-lam. Ketika menjalankan pemerasan pada para hartawan di Hun-lam, Touw Cit dan Touw Tek juga dapat perlindungan dari perkumpulan gelap ini dan kedua saudara itu setiap bulan memberi bagian kepada perkumpulan itu.

Yang menjadi Pangcu atau ketua Hek-i-pang adalah seorang tua bernama Song Bu Cu, berusia lima puluh tahun dan terkenal sebagai seorang ahli silat yang memiliki lweekang tinggi. Song Bu Cu ini adalah bekas perampok tunggal yang telah ‘mengundurkan diri’ dan untuk melewati hari tuanya ia membentuk perkumpulan baju hitam itu di mana ia menjadi ketuanya dan hidup dari hasil ‘pensiun’ yang diterimanya dari para anak buahnya.

Perkumpulan ini mempunyai banyak anggauta dan Song Bu Cu yang cerdik itu tidak mau menggunakan tenaga para anak buahnya untuk melakukan kejahatan secara terang-terangan dan kasar seperti merampok, mencuri dan lain-lain. Ia lebih mengutamakan pekerjaan yang aman baginya, yakni pekerjaan pemerasan yang tidak terlalu menyolok mata.

Dengan pengaruhnya yang besar, ia menyebar anak buahnya untuk minta ‘sumbangan’ dari para hartawan dengan cara halus, yakni dengan berkedok menjaga keamanan sebagaimana yang telah dijalankan dengan baiknya oleh Touw Cit dan Touw Tek di kota Hun-lam. Selain ini juga setelah mendapat banyak uang, Song Bu Cu lalu menggunakan uang itu sebagai modal dan membuka rumah-rumah gadai dengan bunga tinggi.

Bahkan di kota Tong-kwan ia memonopoli rumah-rumah makan, sehingga sebagian besar rumah makan yang berada di kota Tong-kwan adalah milik perkumpulan Hek-i-pang, kecuali rumah-rumah makan yang kecil dan bukan merupakan saingan besar. Orang-orang tidak berani membuka rumah makan besar di kota itu karena mereka sungkan dan segan untuk membukanya dan menghadapi perkumpulan gelap itu sebagai musuh.

Semua anggauta Hek-i-pang selalu mengenakan jubah hitam, sungguhpun celana mereka boleh sesukanya. Ada yang putih, hijau dan menurut kesukaan masing-masing, akan tetapi jubahnya selalu hitam. Inilah tanda pengenal anggauta perkumpulan Hek-i-pang. Oleh karena itu pula, maka Touw Cit dan Touw Tek selalu memakai jubah hitam.

Ketika Song Bu Cu mendengar tentang para anak buahnya yang diobrak-abrik oleh Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap di Hun-lam, ia menjadi marah sekali. Ia mengumpulkan semua pembantunya untuk merundingkan hal ini. Kemudian memutuskan untuk mendatangi tihu dari Hun-lam dan minta agar supaya para penjahat yang ditangkap itu dibebaskan kembali.

Song Bu Cu sendiri hendak turun tangan dan membalas dendam kepada Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap. Akan tetapi seorang pembantunya yang cukup pandai dan lihai, yakni seorang yang bernama Lui Siok berjuluk si Ular Belang, segera berkata,

“Untuk apa pangcu harus maju sendiri? Menangkap dan memukul anjing-anjing kecil seperti dua anak-anak muda itu tak perlu mempergunakan pentungan besar. Biarlah aku saja ke Hun- lam untuk membereskan urusan ini!”

Semua orang merasa girang mendengar ini karena mereka telah maklum akan kelihaian Lui Siok ini yang juga menjadi wakil ketua dari Hek-i-pang. Kepandaian Lui Siok hampir seimbang dengan kepandaian Song Bu Cu, bahkan si Ular Belang ini terkenal sekali dengan kepandaiannya Siauw-kin-na Chiu-hwat, yakni ilmu silat yang berdasarkan tangkapan dan cengkeraman tangan seperti ilmu Jujitsu dari Jepang.

Oleh karena memiliki kepandaian ini, maka Lui Siok jarang sekali mempergunakan senjata di waktu menghadapi lawan. Sekali saja lawannya terkena pegang oleh tangannya maka lawan itu takkan mudah dapat melepaskan diri tanpa mendapat luka patah tulang atau urat keseleo. “Kalau Lui-te (adik Lui) mau mewakili aku pergi, itu adalah yang baik sekali. Aku percaya penuh bahwa kalau Lui-te yang pergi turun tangan, hal ini akan beres dan sakit hati kiranya akan terbalas!” kata Song Bu Cu dengan girang. Dibandingkan dengan Song Bu Cu, Lui Siok ini lebih muda dua tahun karena usianya baru empat puluh delapan. Akan tetapi melihat rambut di kepalanya, ia nampak lebih tua karena rambutnya telah putih semua.

Demikianlah, beberapa hari kemudian, Lui Siok dengan diantar oleh dua orang kawannya datang ke kota Hun-lam. Ia langsung menuju ke rumah tihu dan berkata kepada penjaga bahwa ia datang dari Tong-kwan hendak bertemu dengan tihu karena urusan yang amat penting. Penjaga lalu melaporkan dan tihu kota Hun-lam segera keluar dan menanti di ruang tamu. Ketika tiga orang tamunya itu memasuki ruang tamu, ia melihat bahwa mereka adalah orang-orang tak dikenal, akan tetapi baju mereka yang hitam itu menimbulkan perasaan kurang enak di dalam hatinya mengingatkan tihu itu kepada Touw Cit dan Touw Tek yang juga selalu berpakaian hitam.

“Taijin, kami datang dari Tong-kwan untuk menyampaikan surat ini dari perkumpulan kami!” kata Lui Siok setelah dipersilahkan duduk.

Dengan heran dan tanpa banyak curiga tihu menerima surat itu dan membukanya. Akan tetapi, setelah ia membaca surat itu wajahnya menjadi pucat dan ia mengerling ke arah Lui Siok. Makin pucatlah dia ketika melihat betapa Lui Siok tersenyum-senyum penuh arti. Akan tetapi ketika tihu melihat ke arah kedua tangan Lui Siok yang memegang pinggir meja, ternyata meja itu telah remuk pinggirnya karena dicengkeram oleh sepuluh jari tangan tamunya yang aneh itu. Seakan-akan orang mencengkeram keripik saja. Kedua tangan pembesar itu mulai menggigil dan ia membaca sekali lagi surat yang dipegangnya:

Thio-tihu dari Hun-lam,

Kami mengutus seorang wakil perkumpulan kami bersama dua orang anak buah kami, untuk menyampaikan hormat kami kepada taijin. Tentu taijin telah mendengar tentang nama perkumpulan kami yang merupakan jaminan bagi keamanan daerah Tong-kwan, termasuk Hun-lam.

Oleh karena mengingat akan perhubungan ini, kami minta dengan sangat kepada taijin agar supaya berlaku bijaksana dan suka membebaskan kedua anggauta perkumpulan kami Touw Cit dan Touw Tek yang telah ditahan oleh Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Li-hiap! Juga kawan-kawan mereka harap diberi kelonggaran.

Terima kasih atas kebijaksanaan taijin. Hormat kami,

Ketua dari Hek-i-pang Di Tong-kwan.

Thio-tihu memang pernah mendengar tentang perkumpulan ini, akan tetapi ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa Touw Cit dan Touw Tek adalah anggauta perkumpulan yang berpengaruh itu. Baru satu kali saja ia berurusan dengan perkumpulan itu, yakni pada tahun yang lalu ketika hari tahun baru, di Hun-lam kedatangan serombongan pemain Barongsai yang minta derma tanpa memberitahukan kepada rombongan Barongsai pribumi, yakni rombongan dari Hun-lam sendiri. Maka terjadilah pertengkaran yang diakhiri dengan perkelahian.

Akan tetapi ternyata bahwa rombongan Barongsai Baju Hitam ini lihai sekali sehingga rombongan dari Hun-lam banyak yang menderita luka-luka. Para penjaga tak berdaya terhadap mereka, sedangkan Touw Cit dan Touw Tek yang diminta bantuannya, hanya menyatakan bahwa lebih baik rombongan dari Tong-kwan itu jangan diganggu. Maka rombongan itu melanjutkan permainannya di depan tiap rumah dan pada para hartawan di Hun-lam mereka minta jumlah sumbangan yang telah ditetapkan.

Kini setelah menerima surat ini dan melihat demonstrasi kelihaian yang diperlihatkan oleh Lui Siok dengan mencengkeram hancur ujung mejanya yang tebal dan keras itu, tentu saja Thio-tihu menjadi terkejut, gelisah dan ketakutan. Dengan lemas ia duduk kembali di kursinya dan berkata dengan suara gemetar,

“Harap saja Samwi-enghiong (bertiga orang gagah) jangan marah karena sesungguhnya urusan ini tak dapat dilakukan dengan mudah begitu saja. Bagaimana aku bisa membebaskan orang-orang yang telah menjadi tahanan karena dianggap penjahat-penjahat?”

“Taijin,” berkata Lui Siok yang masih tersenyum ramah, akan tetapi matanya bersinar tajam mengerikan. “Kami orang-orang dari Hek-i-pang selalu berlaku sabar, mengalah dan memandang persahabatan. Kalau kami mau, apakah sukarnya mendatangi tempat tahanan itu dan mengeluarkan kawan-kawan kami? Akan tetapi kami tidak mau melakukan kekerasan itu dan sengaja minta kebijaksanaan taijin karena bukankah taijin yang berkuasa dan berhak membebaskan mereka? Lebih baik taijin segera menulis sepucuk surat pembebasan agar dapat kami bawa ke tempat tahanan untuk membebaskan kawan-kawan kami itu!”

Thio-tihu menjadi bingung. Menolak ia tidak berani karena maklum bahwa ketiga orang ini bukanlah orang baik-baik dan tentu akan mencelakakannya apabila ia menolak, akan tetapi untuk mentaati permintaan itu, juga sukar baginya.

15.

“SAM-wi, memang benar aku yang berkuasa, akan tetapi harus kalian ketahui bahwa yang menangkap mereka bukanlah aku! Semenjak dahulu hubunganku dengan saudara Touw baik sekali, sampai datang Kang-lam Ciu-hiap dan memaksaku memberi hukuman kepada mereka. Kalau sekarang aku melepaskan mereka, bukankah aku melakukan kesalahan besar terhadap kedua pendekar muda itu? Harus diketahui bahwa mereka itu lihai sekali dan apa dayaku terhadap mereka?”

Tiba-tiba Lui Siok si Ular Belang tertawa terbahak-bahak. “Anjing-anjing kecil itu untuk apakah ditakuti sekali? Mereka hanya pandai menyalak dan tak mampu menggigit! Tentang mereka, serahkanlah kepadaku, taijin. Setelah membebaskan Touw Cit dan Touw Tek, aku akan langsung mencari mereka di gedung Lie-wangwe.”

Lega juga Thio-tihu mendengar ini, karena memang maksudnya hendak mengadu orang- orang ini dengan kedua pendekar muda ini yang tentu takkan tinggal diam. Hanya sayangnya ia telah mendengar bahwa Kang-lam Ciu-hiap meninggalkan Hun-lam kemarin sehingga kini hanya tinggal Sian-kiam Lihiap seorang. Terpaksa ia membuat sepucuk surat pembebasan bagi Touw Cit dan Touw Tek dan menyerahkan kepada Lui Siok. Si Ular Belang tertawa bergelak dan sekali lagi tangan kanannya digerakkan menghantam meja di depannya yang segera menjadi pecah bagaikan kena hantaman kampak.

“Taijin, kalau lain kali terjadi penangkapan atas diri anggauta-anggauta perkumpulan kami, bukan meja ini yang kupecahkan, akan tetapi kepala orang-orang yang bertanggung jawab dalam urusan penangkapan itu!”

Setelah berkata demikian, dengan senyum dimulut, Lui Siok mengajak kedua anak buahnya pergi meninggalkan Thio-tihu yang masih berdiri menggigil sambil memandang kepada meja yang telah rusak terpukul itu.

Dengan surat perintah dari Thio-tihu, maka mudah saja Lui Siok dan dua orang anak buahnya membebaskan Touw Cit dan Touw Tek. Kedua saudara ini segera memberi hormat dan menghaturkan terima kasih banyak kepada Lui Siok yang menjawab sambil tertawa,

“Sudahlah, pengalaman ini kalian jadikan contoh agar lain kali tidak bertindak semberono dan lebih dulu memberitahukan kepada kami apabila menghadapi urusan besar! Sekarang ceritakanlah bagaimana kalian sampai kalah terhadap Kang-lam Ciu-hiap dan Sian-kiam Lihiap.”

Touw Cit menceritakan pengalamannya dan ketika ia menceritakan bahwa Sian-kiam Lihiap adalah seorang anak murid Go-bi-pai pula dan bahkan anak perempuan Liok Ong Gun Kepala daerah Kiang-sui, Lui Siok membuka matanya lebar-lebar dan berseru, “Ah, kalau begitu kita telah menghadapi orang sendiri!”

Touw Cit dan kawan-kawannya heran mendengar ini, akan tetapi Lui Siok tidak mau banyak bicara, hanya berkata, “Kalian lebih baik segera kembali dulu ke Tong-kwan. Biarlah aku sendiri yang membereskan segala urusan di sini. Tidak baik kalau kalian berada terlalu lama di sini.”

Touw Cit, Touw Tek dan dua orang anak buah Hek-i-pang itu tidak berani membantah dan mereka pergi menuju ke Tong-kwan. Adapun Lui Siok lalu pergi mencari Sian-kiam Lihiap Liok Tin Eng.

Siapakah sebenarnya Lui Siok ini dan mengapa ia menganggap Tin Eng sebagai orang sendiri? Si Ular Belang yang lihai ini sebenarnya bukan lain ialah murid kepala dari Bong Bi Sianjin tokoh Kim-san-pai itu! Dengan demikian maka Lui Siok ini masih terhitung kakak seperguruan dari Gan Bu Gi, pemuda yang hendak dijodohkan dengan Tin Eng dan yang sekarang menjadi perwira di gedung ayah Tin Eng itu! Lui Siok telah mendengar tentang keberuntungan Gan Bu Gi yang menjadi perwira itu, karena suhunya telah menceritakannya, maka ia tahu bahwa sutenya itu hendak dipungut menantu oleh Liok-taijin.

Ia telah mengetahui bahwa Liok-taijin adalah seorang anak murid Go-bi-pai yang pandai dan mendengar pula bahwa ilmu silat gadis yang hendak dijodohkan dengan sutenya itu bahkan lebih tinggi lagi. Maka tentu saja ia terkejut sekali mendengar bahwa yang memusuhi Touw Cit dan Touw Tek adalah Liok Tin Eng atau calon isteri dari Gan Bu Gi sutenya. Pada saat itu, Tin Eng sedang berada di kebun belakang yang dikelilingi tembok tinggi dan gadis ini sedang berlatih silat seorang diri untuk menyempurnakan ilmu silat tangan kosong Sin-eng Kun-hoat yang ia pelajari dari Gwat Kong. Berbeda dengan Sin-eng Kiam-hoat yang pernah ia pelajari dari kitab salinan, untuk ilmu silat tangan kosong yang belum pernah ia pelajari sama sekali ini, ia mendapatkan berbagai kesulitan.

Baiknya ia telah ingat di luar kepala tentang teori-teorinya sehingga ia dapat melatih seorang diri dengan giat dan tekunnya. Ia sedang melatih berkali-kali gerakan dari Sin-eng Kai-peng (Garuda Sakti Membuka Sayap). Gerakan ini walaupun dimulai dengan dua lengan terpentang ke kanan kiri, akan tetapi mempunyai pecahan yang banyak macamnya, yang disesuaikan dengan gerakan dan kedudukan lawan.

Ia pernah melihat Gwat Kong mendemonstrasikan gerakan ini. Akan tetapi masih saja ia mendapatkan kesulitan dan belum merasa puas dengan gerakan sendiri yang dianggapnya masih kurang sempurna. Oleh karena itu semenjak tadi ia mengulangi lagi gerakan itu.

Tiba-tiba ia mendengar suara teguran. “Aneh sekali, mengapa anak murid Go-bi-pai mainkan ilmu silat yang aneh semacam itu?”

Tin Eng cepat menengok dan melihat seorang laki-laki tua berbaju hitam berambut putih berdiri di atas tembok taman itu. Ia kaget sekali karena sama sekali ia tidak mendengar atau melihat gerakan orang ini sehingga ia dapat menduga bahwa kepandaian orang ini tentu tinggi sekali. Ia memandang dan bertanya,

“Kakek yang gagah siapakah kau dan apakah maksudmu melompat ke atas tembok lain orang?”

Kakek ini yang bukan lain adalah Lui Siok si Ular Belang, tertawa bergelak.

“Apakah kau yang disebut Sian-kiam Lihiap dan bernama Liok Tin Eng?” Ia balas bertanya. Tin Eng mendongkol sekali karena sikap kakek ini ternyata memandang rendah, belum menjawab sudah balas bertanya.

“Kalau aku benar Sian-kiam Lihiap Liok Tin Eng, habis kau mau apakah?”

“Benar galak ...!” Lui Siok kembali tertawa. “Akan tetapi cantik manis dan gagah!” Kini ia berjongkok di atas tembok itu dan sambil tersenyum ia berkata kembali,

“Nona, ketahuilah bahwa kau berhadapan dengan Hoa-coa-ji Lui Siok (Si Ular Belang)!”

Tin Eng tersenyum mengejek. “Semenjak hidupku, aku belum pernah mendengar nama dan julukan itu.”

Lui Siok tidak marah, hanya tertawa lagi. “Tentu saja belum kenal karena kau masih hijau dan kurang pengalaman.”

Tin Eng makin mendongkol lalu berkata ketus, “Orang tua, sebetulnya apakah maksud kedatanganmu? Apakah kau datang hanya hendak memamerkan nama dan julukanmu? Kalau benar demikian, kau salah alamat. Seharusnya kau pergi ke pasar di mana terdapat banyak orang dan kau boleh menjual nama sesuka hatimu. Aku tidak butuh julukan!” “Aduh aduh! Mengapa sute berani menghadapi nona yang begini galak?” kembali Lui Siok berkata. Akan tetapi ia benar-benar cantik jelita dan gagah. Ha ha, nona kecil, jangan kau berlaku galak kepadaku. Ketahuilah bahwa aku sebetulnya masih suhengmu (kakak seperguruan) sendiri!”

Tin Eng terkejut dan heran, akan tetapi ia makin gemas. Terang bahwa orang tua ini hendak mempermainkannya. Dari mana ia mempunyai kakak seperguruan seperti ini? Melihat atau mendengar namanya belum pernah.

“Aku tidak pernah mempunyai seorang suheng yang manapun juga!” katanya mendongkol. “Harap jangan mengobrol di sini dan pergilah!”

“Ha ha ha! Tentu sute belum menceritakan hal suhengnya ini kepadamu. Ah, kalau bertemu dengan Gan-sute, tentu ia akan kutegur! Ketahuilah nona, Gan Bu Gi, calon suamimu itu adalah suteku! Kalau aku menjadi suhengnya, bukankah kau juga harus menyebut suheng kepadaku?”

Kini mengertilah Tin Eng, akan tetapi pengertian ini bahkan menambah kemarahannya. Dengan muka merah ia menuding,

“Jangan kau ngaco belo! Siapa yang menjadi calon isteri orang she Gan itu? Jangan kau berlancang mulut!”

Kini Lui Siok memandang heran dan ia menggeleng-gelengkan kepala lalu berdiri di atas tembok itu.

“Heran, heran! Gan-sute benar-benar gila! Mengapa ia mau mencari jodoh dengan gadis segalak ini? Nona Liok! Ku berlaku kurang ajar terhadap saudara tua, kalau calon suamimu mendengar tentang hal ini, kau tentu akan mendapat teguran keras!”

“Tutup mulutmu yang busuk!”

Marahlah Lui Siok melihat sikap Tin Eng yang dianggapnya terlalu kurang ajar ini. Mana ada calon isteri seorang sute bersikap seperti ini terhadap seorang suheng?

“Hmmm, agaknya kau sombong karena kau telah mendapat julukan Sian-kiam Lihiap! Ketahuilah nona galak, kedatanganku ini sebenarnya untuk mencari dan membunuh Kang-lam Ciu-hiap yang telah mengganggu kawan-kawanku yaitu Touw Cit dan Touw Tek! Tadinya kaupun hendak kuhajar, akan tetapi mendengar bahwa kau adalah calon isteri suteku, tentu saja aku tidak mau turun tangan, hanya mengharapkan sikap manis darimu dan pernyataan maaf. Sekarang sikapmu begini kurang ajar, agaknya kau mau mengandalkan kepandaian Kang-lam Ciu-hiap. Suruh dia keluar agar dapat berkenalan dengan kelihaian Hoa-coa-ji Lui Siok!”

“Kang-lam Ciu-hiap tidak berada di sini!” jawab Tin Eng dengan tabah. “Tak perduli kau menjadi suheng siapapun juga, kalau kau membela Touw Cit, berarti kaupun bukan manusia baik-baik. Bukan hanya Kang-lam Ciu-hiap yang memberi hajaran kepada Touw Cit, akan tetapi akupun mempunyai saham terbesar! Kalau kau memang berani dan berkepandaian turunlah, siapa takuti omonganmu yang besar?” “Bocah kurang ajar!” Lui Siok membentak dan ia segera melompat turun dengan gerakan Chong-eng-kim-touw (Burung Sambar Kelinci), langsung menubruk dari atas dengan kedua tangan diulur dan dibuka bagaikan seekor burung garuda menyambar dan menerkam tubuh Tin Eng. Akan tetapi gadis itu telah siap menanti dan ketika tubuh lawannya telah turun dekat, kaki kanannya menyambar sambil menendang dengan keras untuk memapaki dada musuhnya itu.

“Bagus!” seru Lui Siok yang segera mengulur tangan kirinya yang tadi dibuka untuk menangkap kaki kanan Tin Eng itu. Gadis itu terkejut sekali melihat gerakan tangan memutar yang hendak menangkap kakinya dari bawah, maka ia cepat menarik kembali kakinya melompat ke kiri dan mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah pelipis lawan.

Diam-diam Lui Siok memuji kegesitan gadis ini dan cepat ia miringkan kepala dan kembali tangan kanannya menyerbu cepat untuk menangkap pergelangan tangan yang memukul itu. Tin Eng maklum bahwa lawan ini memiliki lweekang yang kuat dan jari-jari tangan yang dibuka dan merupakan kuku garuda itu. Ia dapat menduga lawan tentulah seorang ahli dalam ilmu silat mencengkeram seperti halnya ilmu silat Eng-jiauw-kang, maka tentu saja ia tidak membiarkan tangannya ditangkap dan segera menarik kembali tangannya cepat-cepat dan menerjang lagi dengan pukulan tangan kiri.

Serangan-serangan yang dilakukan oleh Tin Eng ini adalah pukulan-pukulan dari Sin-eng Kun-hoat dan gerakannya demikian aneh sehingga untuk jurus-jurus pertama Lui Siok merasa bingung dan terkejut. Serangan-serangannya itu dapat dirubah sedemikian cepatnya dan disusul oleh serangan-serangan berikutnya yang makin lama makin cepat. Ia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk menggunakan cengkeraman dan tangkapannya.

Akan tetapi sayang sekali bahwa ilmu silat tangan kosong yang dipelajari oleh Tin Eng ini belum sempurna benar sehingga setelah beberapa jurus lamanya ia belum berhasil memukul lawannya. Tin Eng segera merubah ilmu silatnya dan kini ia bersilat dengan ilmu silat Go-bi- pai yang dipelajari dari ayahnya. Dalam hal ilmu silat ini, Tin Eng sudah mempunyai kepandaian yang cukup lumayan. Akan tetapi Lui Siok tertawa bergelak menghadapi ilmu silat yang dikenalnya dengan baik ini.

“Nona manis, kalau Seng Le Locianpwe melihat kau menyerang aku, tentu dia akan menegur kau! Aku kenal baik padanya!”

“Siapa sudi banyak mengobrol dengan kau?” seru Tin Eng dengan marah dan menyerang terus dengan bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan keras. Ia merasa sayang sekali bahwa pedangnya tidak dibawa dan ditinggalkan di dalam kamarnya. Karena memang tadi ia sengaja datang untuk berlatih silat tangan kosong, maka ia tidak membawa-bawa pedang.

“Bangsat tua bangka!” teriaknya memaki. “Kalau kau memang gagah, tunggulah aku mengambil pedangku!”

“Ha ha ha, bocah galak. Boleh, boleh, kau ambillah pedangmu. Memang aku ingin sekali menyaksikan bagaimana lihainya pedang dari Sian-kiam Lihiap!”

Tin Eng lalu berlari masuk dan tak lama kemudian ia telah kembali membawa pedangnya. Benar saja, Lui Siok masih menanti di situ dengan tersenyum-senyum mengejek. “Awas pedang!” seru Tin Eng yang sama sekali tidak memperdulikan lawannya yang bertangan kosong. Seruannya ini dibarengi dengan tusukan pedangnya yang digerakkan secara luar biasa. Tadinya Lui Siok mengira bahwa ia akan menghadapi ilmu pedang Go-bi, dan melihat tingkat nona itu, ia merasa cukup kuat untuk menghadapi pedang nona itu dengan tangan kosong, mengandalkan lweekangnya yang jauh lebih kuat dan ilmu silatnya Siauw- kin-na Jiu-Hoat yang lihai. Akan tetapi, setelah nona itu menyerang bertubi-tubi dengan hebat sekali membuat ia harus melompat kesana ke mari menghindarkan diri, terkejutlah dia! Ilmu pedang ini sama sekali bukan ilmu pedang Go-bi-pai dan hebatnya bukan main! Belum pernah ia menyaksikan ilmu pedang seperti ini.

Biasanya menghadapi ilmu pedang biasa, ia berani menghadapi dengan kedua tangannya mengandalkan lweekang dan ilmu silatnya. Akan tetapi melihat betapa pedang ditangan gadis itu, cara menusuk dan membacoknya berbeda dengan ilmu pedang yang lain, yakni tusukannya digetarkan dan bacokannya dibarengi gerakan mengiris, ia tidak berani berlaku gegabah dan tidak mau coba-coba untuk menangkap dan merampas pedang itu. Menghadapi serangan-serangan ini, Lui Siok tidak berani main-main lagi, bahkan kini ia berhenti tersenyum dan tak dapat mengeluarkan kata-kata ejekan lagi, akan tetapi mengerahkan seluruh perhatian dan kepandaiannya untuk menjaga diri.

Lui Siok benar-benar lihai, karena setelah bertempur tiga puluh jurus lebih, pedang di tangan Tin Eng belum juga berhasil sama sekali. Gerakan kakek ini terlampau gesit dan tangannya yang kuat itu benar-benar lihai. Tiap kali pedang Tin Eng dengan gerakan aneh hampir berhasil mengenai tubuhnya, ia lalu mempergunakan jari-jari tangannya dikepretkan ke arah pedang sehingga senjata itu terpental dan tidak mengenai sasaran. Tin Eng benar-benar merasa terkejut sekali.

Akhirnya Lui Siok mengambil keputusan untuk mempergunakan senjatanya yang jarang sekali dikeluarkannya oleh karena ia maklum bahwa dengan hanya mengandalkan sepasang tangannya saja, sukarlah baginya untuk memperoleh kemenangan terhadap gadis yang lihai sekali ilmu pedangnya itu. Ia berseru keras dan tahu-tahu ia telah melepaskan sehelai sabuknya yang aneh, karena sabuknya ini ternyata adalah seekor ular belang yang telah kering akan tetapi masih lemas seperti hidup saja.

Inilah yang membuat dia diberi julukan si Ular Belang, karena senjatanya ini pernah menggemparkan dunia kang-ouw. Lui Siok adatnya sombong dan angkuh, maka apabila tidak menghadapi musuh yang benar-benar tangguh, ia jarang sekali mau mempergunakan senjatanya ini.

Tin Eng merasa agak geli melihat ular itu, dan juga jijik sekali, akan tetapi itu bukan berarti bahwa ia takut. Dengan cepat ia menyerang lagi dan ketika senjata ular itu menangkis, Tin Eng terkejut sekali karena bukan saja ular itu ternyata keras bagaikan logam, akan tetapi tangkisan itu membuat tangannya gemetar. Demikian hebatnya tenaga lweekang dari Lui Siok ini.

Tin Eng terus menyerang dan mengerahkan seluruh kepandaiannya. Akan tetapi ternyata bahwa ilmu kepandaian Lui Siok amat lihai dan tingkatnya masih lebih tinggi dari padanya. Perlu diketahui bahwa twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua) dari Gan Bu Gi atau murid yang paling lihai dari Bong Bi Sianjin, Lui Siok ini tentu saja mempunyai kepandaian yang amat tinggi, ditambah pula dengan pengalamannya bertempur yang sudah puluhan tahun, maka kini Tin Eng merasa terdesak hebat.

Betapapun juga, gadis itu masih dapat mempertahankan diri sampai hampir lima puluh jurus. Akhirnya, sebuah serangan dengan sabetan ular itu ke arah lehernya membuat Tin Eng terkejut dan memperlambat gerakan pedang karena ia harus melompat ke pinggir melindungi lehernya.

Kesempatan ini dipergunakan dengan baik oleh Lui Siok yang mempergunakan tangan kirinya menyerang dengan ilmu silat mencengkeram. Sebelum Tin Eng dapat menarik, pedangnya itu telah dapat dicengkeram dan dirampas. Gadis ini masih nekad dan hendak merampas kembali pedangnya, akan tetapi pedang itu digerakkan oleh Lui Siok ke arah dada gadis itu dengan ancaman tusukan. Tin Eng miringkan tubuh dan “brett!” robeklah baju Tin Eng di bagian pinggang.

“Ha ha ha! Kau benar-benar lihai! Lihai, cantik dan galak. Kecantikan dan kepandaianmu memang membuat kau patut menjadi nyonya Gan Bu Gi, akan tetapi sayang kau terlalu galak. Kalau aku tak ingat bahwa kau adalah anak murid Seng Le Hosiang dan calon isteri Gan-sute, tentu kau telah menggeletak tak bernyawa di depan kakiku!”

Sambil berkata demikian, Lui Siok menggerakkan tangannya mencengkeram pedang itu dan “kreek!” patahlah pedang Tin Eng yang telah dirampas tadi. Kemudian ia melompat ke arah tembok dan lenyap dari pandangan mata Tin Eng yang marah dan penasaran sekali.

Kemudian ia mendengar dari pamannya yakni Lie-wangwe, betapa Touw Cit dan Touw Tek telah dibebaskan dari penjara oleh tihu karena ancaman Lui Siok yang lihai itu. Tin Eng menarik napas panjang dan berkata,

“Mereka memang lihai sekali. Baru terhadap seorang lawan saja aku dapat dikalahkannya, apalagi kalau mereka itu mengeluarkan jago-jago yang lain. Pek-hu, lebih baik untuk sementara waktu kita jangan mencari permusuhan dengan mereka. Kecuali kalau mereka datang mengganggu, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk membela diri. Kalau saja Gwat Kong berada di sini, tentu mereka itu akan disapu bersih. Tanpa adanya Kang-lam Ciu-hiap, mereka terlalu berat bagiku.”

Song Bu Cu, ketua Hek-i-pang adalah seorang cerdik, maka setelah berhasil membebaskan Touw Cit dan Touw Tek, ia melarang orang-orangnya untuk mengganggu kota Hun-lam. Ia adalah seorang yang ingin bekerja dengan aman, tidak suka lagi mempergunakan kekerasan seperti dulu-dulu. Ia ingin agar supaya keadaan di Hun-lam menjadi ‘dingin’ dulu untuk kemudian menggunakan kecerdikan untuk mengeduk uang para hartawan dan pembesar.

Apalagi setelah ia mendengar dari Lui Siok bahwa Kang-lam Ciu-hiap yang menjadi musuh mereka telah pergi dan mendengar bahwa Sian-kiam Lihiap ternyata adalah tunangan Gan Bu Gi dan anak murid Seng Le Hosiang, maka tentu saja Song Bu Cu tidak berani mengganggunya.

Melihat keadaan yang aman dan tidak adanya gangguan dari pihak penjahat, tidak saja mendatangkan rasa heran kepada Tin Eng, akan tetapi juga perasaan lega, karena tanpa ada pembantu yang pandai, ia merasa percuma untuk memusuhi gerombolan yang memiliki banyak orang pandai itu. Kini ia merasa benci kepada Gan Bu Gi karena ternyata bahwa pemuda itu mempunyai seorang suheng yang berjiwa penjahat. ****

Gwat Kong melakukan perjalanan dengan perlahan, tidak tergesa-gesa dan orang-orang yang melihatnya akan menyangka bahwa ia adalah seorang pemuda pelancong yang lemah. Sama sekali takkan menyangka bahwa ia adalah Kang-lam Ciu-hiap, pendekar muda yang baru saja muncul di dunia kang-ouw dan dalam waktu singkat telah membuat nama besar dengan mengalahkan Ngo-heng-kun Ngo-hiap dan mengobrak-abrik anggauta-anggauta Hek-i-pang di kota Hun-lam.

Ia ingin pergi lagi ke Ki-hong di mana terdapat makam ibunya dan hendak bersembahyang di depan makam ibunya. Setelah ia selesai bersembahyang dan berjalan perlahan-lahan keluar dari tanah kuburan itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang menangis sedih sekali. Hatinya menjadi tergerak dan ikut terharu.

Siapakah yang menangis di kuburan itu? Suaranya menyatakan bahwa yang menangis adalah seorang laki-laki, agaknya menangisi mendiang orang tuanya atau isterinya. Biarpun hal itu tiada sangkut pautnya dengan dia, akan tetapi oleh karena Gwat Kong mempunyai perasaan halus dan hatinya mudah tergerak, ia lalu membelokkan langkah kakinya menuju ke arah suara yang menangis itu.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika ia melihat bahwa yang menangis itu adalah seorang laki-laki tua. Seorang kakek yang rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya biarpun putih bersih akan tetapi penuh tambalan. Di dekatnya terdapat sebuah pikulan dan keranjang terisi daun-daun dan akar-akar obat-obatan. Kakek inilah yang mengeluarkan suara tangisan demikian sedihnya sambil memukul-mukul tanah dan menjambak-jambak rambutnya.

Akan tetapi tak mungkin dia dia menangisi orang yang sudah mati, oleh karena ia tidak duduk di depan makam tertentu. Akan tetapi duduk di bawah pohon sambil memandang ke arah gundukan-gundukan tanah kuburan itu. Ketika Gwat Kong berdiri agak jauh sambil memandang heran, ia mendengar keluh kesah kakek itu di antara tangisnya.

“Dasar aku yang bernasib buruk Hidupku yang lampau terlalu banyak dosa, maka aku

harus menderita entah berapa tahun lagi ... ah ... nasib ... aku sudah bosan hidup !” Kata-

kata ‘bosan hidup’ ini ia teriakan beberapa kali sambil mengangkat kedua tangan dan memandang ke angkasa, seakan-akan ia hendak mengajukan protesnya kepada langit biru.

Gwat Kong makin terheran-heran melihat sikap kakek ini. Mengapakah kakek ini begitu sedih? Siapakah gerangan orang aneh yang sudah bosan hidup ini dan apa pula yang menyusahkan hatinya? Terdorong oleh rasa kasihan, pemuda itu melangkah maju mendekati dan bertanya,

“Lopeh, agaknya ada sesuatu yang menyusahkan hatimu. Apakah yang mengganggumu dan dapatkah kiranya aku menolongmu?”

Kakek itu mengangkat muka dan memandang. Gwat Kong tercengang karena sepasang mata kakek itu bersinar tajam dan kuat sekali sehingga ia tak kuat menatapnya lama-lama. Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak dan hal ini kembali membuat Gwat Kong tertegun keheranan. Baru saja kakek itu menangis demikian sedihnya sehingga air matanya masih nampak mengalir di sepanjang pipinya, akan tetapi kini telah dapat tertawa bergelak.

“Kau mau menolongku? Ha ha, boleh! Cabut pedangmu itu dan seranglah aku!”

Gwat Kong terkejut sekali. Pedangnya Sin-eng-kiam ia sembunyikan di balik jubahnya. Bagaimana kakek ini bisa tahu bahwa ia membawa pedang?

“Akan tetapi .... aku ... tidak mempunyai maksud jahat, lopeh? Sesungguhnya dengan tulus hati aku ingin menolongmu kalau aku dapat.”

Tiba-tiba kakek itu berdiri dan menyambar pikulannya yang terbuat dari pada bambu kuning melengkung di bagian tengah, hampir menyerupai sebatang gendewa.

“Kau mau menolongku bukan? Nah, mari kita bertempur! Kalau kau bisa menewaskanku, berarti kau telah menolongku.”

Setelah berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pikulannya ke arah kepala Gwat Kong. Pukulan ini cepat sekali dan mendatangkan angin keras sehingga Gwat Kong merasa terkejut dan cepat-cepat melompat ke belakang. Ia merasa heran, bingung dan mendongkol sekali.

Gilakah orang ini?

Akan tetapi ia tidak sempat banyak berpikir karena kembali pikulan itu telah menyambar dan melihat gerakan yang hebat itu, ia maklum bahwa kepandaian kakek ini tak boleh dibuat permainan. Maka ia lalu mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi kakek gila ini.

“Pokiam (pedang pusaka) yang bagus!” kakek itu berseru, lalu menyerang lagi dengan cepat lebih cepat dan keras. Terpaksa Gwat Kong menangkis serangan itu dan sekali lagi ia menjadi terkejut karena tangkisannya ini membuat telapak tangannya terasa perih sekali dan hampir saja pedangnya terlepas dari pegangannya. Dari benturan senjata ini saja, ia maklum bahwa senjata di tangan kakek itu adalah senjata pusaka yang ampuh dan tenga lweekang orang gila ini jauh lebih tinggi dari pada lweekangnya sendiri. Maka ia tidak berani memandang ringan dan segera mainkan Sin-eng Kiam-hoat untuk menjaga diri dan balas menyerang.

“Kiam-hoat yang bagus!” seru kakek itu lagi yang memuji ilmu pedang yang dimainkan oleh Gwat Kong.

Akan tetapi kembali Gwat Kong terheran-heran karena ternyata bahwa kakek itu tidak saja bertenaga kuat dan memiliki senjata yang luar biasa, akan tetapi ilmu silatnya pun amat tinggi. Baru beberapa belas jurus saja pertempuran ini berjalan, tahulah ia bahwa kakek ini benar-benar seorang yang sakti.

Tubuhnya berkelebat demikian cepat sehingga membuat pandangan matanya kabur, sedangkan tipu gerakan kakek itu mendatangkan sambaran angin yang dahsyat.

Gwat Kong telah mengeluarkan tipu-tipu serangan yang paling ampuh dan lihai dari Sin-eng Kiam-hoat. Akan tetapi dengan amat baiknya kakek itu dapat memecahkannya, bahkan membalas dengan serangan-serangan yang lebih aneh gerakannya dari pada gerakan pedangnya dan beberapa kali hampir saja ia menjadi sasaran pukulan itu kalau saja ia tidak berlaku gesit. Pada suatu saat, Gwat Kong tak terasa mengeluarkan seruan kaget ketika pikulan itu dengan gerakan yang cepat sekali menusuk ke arah dadanya. Ia cepat memutar pedangnya melalui bawah lengan kirinya dan menyampok tusukan itu dari dalam dan menolak pikulan yang telah mengenai bajunya itu.

Pikulan terpental akan tetapi terus melayang lagi menghantam pinggangnya dengan kecepatan yang luar biasa sehingga tak mungkin dielakkan pula. Akan tetapi Sin-eng Kiam-hoat memang mempunyai bagian mempertahankan diri yang istimewa.

Tiba-tiba Gwat Kong ingat akan gerakan Garuda Sakti Mendekam Di Tanah. Tubuhnya lalu ditarik ke bawah dengan kaki di tekuk sehingga ia menjadi berjongkok dengan punggung direndahkan sehingga dadanya hampir menyentuh tanah, akan tetapi pedangnya terus diputar di atas kepalanya menjaga diri. Dengan gerakan yang cepat ini, ia terhindar dari pada serangan yang hebat tadi. Akan tetapi keringat dingin keluar dari jidatnya karena tadi hampir saja ia terkena celaka. Ia makin gelisah dan menjadi gentar menghadapi kakek yang benar- benar lihai ini.

Akan tetapi, tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak menunda serangannya.

“Ha ha ha! Anak muda yang baik, maukah kau menjadi muridku? Hanya memiliki Sin-eng Kiam-hoat saja, seakan-akan kau tahu barat tidak kenal timur!”

Gwat Kong adalah seorang pemuda yang cerdik dan memang sudah menjadi wataknya suka merendah. Maka tanpa sangsi-sangsi lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata,

“Kalau locianpwe sudah memberi bimbingan kepada teecu yang bodoh, teecu Bun Gwat Kong akan merasa beruntung sekali.”

Melihat pemuda itu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya kepadanya, kakek itu tertawa girang, lalu mengangkat pikulan bambunya dan memukulkan pikulannya ke arah kepala Gwat Kong dengan keras.

Gwat Kong tentu saja tahu akan hal ini. Akan tetapi pemuda ini mengeraskan hatinya dan meramkan matanya. Sama sekali tidak bergerak, karena memang sesungguhnya ia memang takluk dan percaya kepada kakek yang sakti ini. Ketika pikulan itu telah dekat sekali dengan kepala Gwat Kong, tiba-tiba pikulan itu seakan-akan tertolak oleh tenaga aneh dan membalik, dibarengi suara ketawa kakek itu.

“Bagus, bagus! Kau benar percaya kepadaku. Mulai sekarang kau menjadi muridku. Namamu Bun Gwat Kong? Bagus sekali, dan aku adalah Bok Kwi Sianjin!”

Kakek itu lalu melangkah maju menghampiri gundukan-gundukan kuburan yang terdekat dan memukul-mukulkan tongkat bambunya itu kepada gundukan tanah itu sambil berkata,

“Aku tarik kembali omonganku tadi. Sekarang aku tidak ingin mati, belum bosan hidup karena aku harus menurunkan Sin-hong-tung-hoat kepada muridku ini.”

Ia lalu menengok kepada Gwat Kong dan berkata, “Gwat Kong, kau kesinilah dan bersumpah dihadapan kuburan ini bahwa kau akan mempelajari Sin-hong-tung-hoat dengan baik kemudian mewakili suhumu membasmi kejahatan dan memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu di waktu mendatang!”

Gwat Kong maklum bahwa suhunya adalah seorang kakek yang beradat aneh, maka tanpa banyak bertanya ia lalu berlutut di depan beberapa gundukan tanah yang tidak diketahuinya kuburan siapa itu, lalu bersumpah.

“Teecu Bun Gwat Kong dengan disaksikan oleh gundukan kuburan-kuburan ini, bersumpah bahwa teecu akan mempelajari ilmu silat yang diajarkan oleh suhu Bok Kwi Sianjin sebaik- baiknya. Kemudian kepandaian itu akan teecu pergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan, membasmi kejahatan!”

“Dan juga mewakili aku memperebutkan sebutan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,” kata Bok Kwi Sianjin.

“Dan juga mewakili aku memperebutkan ahli silat kelas satu dan ilmu silat terbaik,” Gwat Kong mengulangi.

“Juga akan membasmi musuh-musuhku,” kata pula Bok Kwi Sianjin.

16.

GWAT Kong merasa terkejut dan ragu-ragu. Bagaimana ia bisa mengangkat sumpah untuk membalas musuh-musuh gurunya? Sedangkan musuh ayahnya pun ia tidak mau membalasnya karena ternyata bahwa puteri musuh ayahnya bukan orang jahat. Akan tetapi ia tidak berani membantah dan dengan cerdiknya ia mengulangi kata-kata suhunya dengan sedikit tambahan.

“Dan juga teecu akan membasmi musuh-musuh suhu yang jahat.”

Ia sengaja menambah kata-katanya, ‘yang jahat’ sehingga kalau kelak ia mendapatkan bahwa musuh suhunya bukan orang jahat, ia tidak usah membalas dendam dan berarti ia tidak melanggar sumpahnya. Kalau musuh suhunya memang jahat, jangankan menjadi musuh suhunya, biarpun tidak menjadi musuh, sudah menjadi kewajibannya untuk membasmi orang jahat! Memang Gwat Kong benar-benar cerdik dan berpikiran luas.

Bok Kwi Sianjin tertawa-tawa senang dan berkata kepada muridnya yang masih duduk di atas tanah, bersila sambil memukul-mukulkan pikulannya pada tanah keras,

“Gwat Kong kau tak kusangka-sangka adalah penemu dari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang kukira telah lenyap dari permukaan bumi ini. Aku tahu bahwa dulu yang mendapatkan kitab pelajaran ilmu pedang itu adalah Leng Po In atau Bu-eng-san, si Dewa Tanpa Bayangan.

Akan tetapi ia menjadi gila dan entah ke mana ia buang kitab itu. Tak tahunya, kau yang mendapat jodoh dan mewarisi kitab itu dan telah pula mempelajari ilmu pedangnya yang luar biasa. Ketahuilah bahwa Sin-eng Kiam-hoat ini pada seratus tahun yang lalu menjadi ilmu yang paling terkenal di barat. Akan tetapi masih belum dapat mengalahkan pengaruh ilmu tongkat Sin-hong-tung-hoat dari timur. Sucouwmu (nenek moyang guru) yang menciptakan Sin-hong-tung-hoat adalah saudara seperguruan dan keduanya selalu berusaha untuk menang sehingga entah berapa kali kedua ilmu itu diadu. Betapapun juga, dibandingkan dengan ilmu- ilmu keluaran berbagai cabang persilatan, kedua ilmu itu tidak akan kalah. Selain Go-bi, Kun- lun, Thai-kek dan Hoa-san, yang berkembang luas dan telah terkenal, maka para ahli persilatan maklum bahwa di empat penjuru terdapat Sin-eng Kiam-hoat dari barat, Sin-hong- tung-hoat dari Timur, Pat-kwa-to-hoat (Ilmu Golok Pat-kwa) dari utara dan Im-yang Siang- kiam-hoat (Ilmu Pedang Berpasangan Im-yang) dari selatan. Keempat ilmu silat ini tingkatnya sedemikian tinggi sehingga tak usah menyerah terhadap cabang-cabang persilatan yang manapun juga, oleh karena semua ini adalah ilmu silat khusus. Sin-eng Kiam-hoat khusus pelajaran pedang. Sin-hong-tung-hoat pelajaran tongkat. Pat-kwa-to-hoat permainan golok dan Im-yang Siang-kiam-hoat permainan pedang berpasangan. Tidak seperti cabang- cabang persilatan yang selain mempelajarkan banyak macam permainan sehingga tidak dapat mencapai tingkat tinggi. Juga mereka menerima murid secara serampangan saja sehingga terbukti sekarang terdapat kekacauan dan permusuhan antara Go-bi dan Hoa-san.”

Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar itu, diam-diam Gwat Kong merasa girang karena ternyata bahwa sekali-kali suhunya bukanlah seorang gila seperti yang disangkanya semula. Memang suhunya mempunyai watak dan sikap yang aneh sekali akan tetapi setelah ia bicara, ternyata bahwa suhunya yang memiliki pengetahuan yang luas tentang keadaan di kalangan kang-ouw. Akan tetapi agaknya yang mendengar pembicaraan Bok Kwi Sianjin tadi bukan hanya Gwat Kong seorang, karena tiba-tiba terdengar suara orang mencela,

“Bok Kwi Sianjin, kau masih saja amat sombong dan tidak memandang kepada golongan lain.”

Berbareng dengan habisnya perkataan ini, orang yang bicara ini muncul dan ternyata bahwa ia tadi bersembunyi di atas pohon yang besar, agak jauh dari situ sehingga Gwat Kong merasa kagum karena orang itu mempunyai pendengaran yang amat tajam serta mempunyai gerakan yang amat cepat. Ia memperhatikan dan orang ini adalah seorang tosu (pendeta penganut agama To) yang bertubuh tinggi kurus bagaikan pohon bambu, keningnya telah penuh keriput dan giginya telah ompong semua.

Akan tetapi anehnya, kedua pipinya kemerah-merahan dan sehat sekali. Sedangkan rambut dan kumis jenggotnya yang panjang semua masih hitam seperti dicat. Di punggungnya tergantung sebuah tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga.

Melihat tosu ini, Bok Kwi Sianjin tertawa terkekeh-kekeh dan bangkit dari duduknya,

“Aha! Sin Seng Cu, tidak saja kau kelihatan makin muda, akan tetapi hatimu bertambah muda saja.”

Kemudian ia berkata kepada Gwat Kong yang juga sudah berdiri. “Muridku, inilah tokoh Hoa-san-pai, orang pertama yang menimbulkan kerusuhan antara Go-bi dan Hoa-san setelah ia mengalahkan Seng Le Hosiang. Agaknya ia masih saja beradat keras. Lihat saja matanya ditujukan kepadaku dengan penuh kehendak menguji kepandaian, ha ha ha!”

Mendengar nama ini, Gwat Kong menjadi terkejut dan memandang dengan penuh perhatian. Kalau tosu itu pernah mengalahkan Seng Le Hosiang, tokoh Go-bi-pai yang pernah dijumpainya itu, dapat dibayangkan betapa hebat dan tingginya ilmu kepandaian tosu ini.

Sementara itu, Sin Seng Cu ketika mendengar ucapan Bok Kwi Sianjin tadi, tertawa bergelak lalu berkata, “Bok Kwi Sianjin, agaknya kau masih mengandalkan ilmu tongkatmu Sin-hong-tung-hoat. Mari-mari kita boleh main-main sebentar untuk saling mengukur sampai di mana kemajuan masing-masing.”

Sambil berkata demikian, kedua tangan tosu itu bergerak dan tahu-tahu tongkat kepala naga itu telah berada di tangannya.

Kembali Bok Kwi Sianjin tertawa, “Sin Seng Cu! Sebelum kita tua sama tua bermain gila dengan pedang harap kau suka berlaku murah sedikit kepadaku dan menguji kebodohan pemuda yang menjadi muridku ini. Kalau dia bisa bertahan sampai dua puluh jurus menghadapi Liong-thouw-koai-tung (Tongkat Iblis Kepala Naga) di tanganmu, aku takkan menganggapmu bodoh lagi!” Kemudian kakek itu tanpa menanti jawaban Sin Seng Cu, berkata kepada Gwat Kong.

“Hayo kau cabut pedangmu dan hadapi tosu ini dengan baik sampai dua puluh jurus!”

Diam-diam Sin Seng Cu merasa mendongkol karena hendak diadu dengan murid kakek itu. Akan tetapi iapun merasa heran sekali karena mengapa Bok Kwi Sianjin yang menjadi ahli ilmu silat tongkat, tiba-tiba mempunyai murid yang menggunakan pedang. Maka ia segera menjawab sambil tersenyum,

“Baik, baik! Kau majulah anak muda!”

“Harap totiang suka berlaku murah hati kepada teecu,” kata Gwat Kong dengan hormat karena maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang tokoh Hoa-san-pai yang tinggi ilmu silatnya.

Ia diberi waktu untuk melawan sampai dua puluh jurus, maka ia merasa penasaran, karena benarkah ia tidak kuat menghadapi tosu ini dalam dua puluh jurus saja? Dengan pikiran ini, ia lalu maju dan mulai menyerangnya dengan gerak tipu yang lihai dari Sin-eng Kiam-hoat.

Pertama-tama ia menyerang dengan tusukan pedang pada leher tosu itu dalam gerak tipu Sin- eng-chio-cu (Garuda Sakti Rebut Mestika) dan ketika tosu itu mengelak sambil gerakkan tongkatnya yang aneh itu untuk menyabet pedang, ia segera menarik kembali pedangnya dan membuka serangan kedua dengan gerakan Sin-eng-hian-bwe (Garuda Sakti Memperlihatkan Ekor). Gerakan kedua ini dilakukan dengan membalikkan tubuh lalu tiba-tiba pedang diluncurkan dari bawah lengan kiri dengan tidak terduga-duga dan cepat sekali.

“Bagus!” seru Sin Seng Cu memuji karena ia benar-benar tertegun melihat gerakan yang cepat dan aneh ini sehingga ia harus cepat menggerakkan tongkatnya untuk melindungi dadanya yang hendak disate. Tak pernah ia menyangka bahwa pemuda ini memiliki gerakan pedang yang demikian aneh dan cepat, maka ia segera berseru keras dan sebentar saja tongkat kepala naga di tangannya menyambar-nyambar ke atas dan ke bawah, mengurung Gwat Kong dengan sinarnya. Tongkat itu kini seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan semua mengancam jalan darah dan bagian yang berbahaya dari tubuh Gwat Kong.

Pemuda ini terkejut sekali dan cepat mempergunakan ginkangnya dan mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan perlawanan. Ia mengeluarkan gerakan Sin-eng Kiam-hoat yang paling sukar dan tinggi setelah ia putar-putar pedangnya dengan gerakan Hwee-eng- koan-jit (Garuda Terbang Menutup Matahari), barulah ia dapat pecahkan serangan tosu yang lihai itu.

Sin Seng Cu adalah seorang tosu yang terkenal mempunyai watak keras tidak mau kalah. Ketika tadi menerima permintaan Bok Kwi Sianjin untuk menghadapi pemuda itu, ia memandang rendah dan merasa pasti bahwa ia tentu akan berhasil mengalahkan pemuda itu sebelum dua puluh jurus.

Kini melihat betapa sepuluh jurus telah berlalu tanpa ia dapat merobohkan lawannya, ia menjadi penasaran sekali berbareng kaget. Ilmu pedang pemuda ini benar-benar lihai sekali dan tingkatnya tidak berada di sebelah bawah ilmu tongkatnya. Kalau pemuda ini sudah begini lihai, tentu Bok Kwi Sianjin telah memiliki ilmu silat yang tak dapat diukur tingginya. Ia heran sekali karena ia belum pernah mendengar kakek itu memiliki ilmu pedang dan ketika ia memperhatikan ilmu pedang dari Gwat Kong, ia makin menjadi heran.

Sambil berseru keras karena hatinya mulai menjadi panas, Sin Seng Cu lalu menyerang makin hebat dan kini ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan pemuda itu. Biarpun untuk dapat mencapai maksudnya itu ia harus memukul hancur kepala lawannya yang muda!

Ia maklum bahwa terhadap pemuda ini ia tak bisa main-main dan berlaku murah karena tanpa penyerangan yang sungguh-sungguh dan mati-matian, agaknya tak mungkin ia akan dapat mengalahkan pemuda ini, jangankan hendak merobohkannya dalam dua puluh jurus.

Sebaliknya, sungguhpun Gwat Kong dapat mengimbangi permainan tosu itu, akan tetapi ia merasa betapa beratnya menghadapi lawan ini. Tiap kali tongkat itu menyerempet pedangnya, ia merasa seakan-akan lengannya menjadi kaku. Akan tetapi Gwat Kong memiliki ketabahan luar biasa yang membuat hatinya tenang dan matanya tajam waspada sehingga biarpun ia terdesak hebat.

Akan tetapi ia masih belum berada dalam keadaan berbahaya dan masih sanggup menangkis atau mengelak sambil melakukan serangan balasan yang tak kalah lihainya. Biarpun kedudukannya kalah kuat karena selain kalah tenaga, juga kalah pengalaman dan keuletan, akan tetapi ia dapat membalas tiap serangan sehingga boleh dibilang bahwa pertempuran itu tak terlalu berat sebelah dan cukup ramai.

Dua puluh jurus telah lewat tanpa ada yang terkena senjata. Dua puluh lima jurus, tiga puluh jurus! Tetap saja Gwat Kong dapat mempertahankan diri. Tiba-tiba Sin Seng Cu melompat mundur dan menahan tongkatnya, sedangkan Gwat Kong dengan hati lega juga berdiri dan menjura terhadap tosu itu.

“Bok Kwi Sianjin,” Sin Seng Cu menegur dengan muka merah. “Jangan kau main-main. Siapakah sebetulnya pemuda ini? Bukankah ilmu pedangnya itu Sin-eng Kiam-hoat?”

Bok Kwi Sianjin tertawa puas. “Ha ha ha! Matamu tajam juga, Sin Seng Cu. Memang dia ini ahli waris Sin-eng Kiam-hoat, dan sekarang dia juga calon ahli waris Sin-hong-tung-hoat.”

“Bok Kwi Sianjin, kau berlaku tolol,” kata Sin Seng Cu mengejek. “Bukan aku merasa takut kepada Sin-eng Kiam-hoat digabung dengan Sin-hong-tung-hoat. Akan tetapi, dengan terpisahnya kedua ilmu itu, kalau yang satu terbawa sesat, yang lain dapat menahannya. Kalau tergabung dalam diri seorang, lalu ia bermata gelap dan menjalani lorong kesesatan, bukankah sama dengan mencari penyakit?”

“Sin Seng Cu, kau berpandangan picik. Aku tidak sembarangan menurunkan ilmu kepada orang yang lemah iman. Tidak seperti kau dan golonganmu yang mengobral kepandaian kepada siapa saja yang mau belajar sehingga banyak anak muridmu yang memancing kekacauan dan permusuhan. Bagiku seorang murid yang baik lebih berharga dari pada seribu orang murid yang tak benar.”

“Bok Kwi Sianjin, masih saja kau memperlihatkan kesombonganmu! Sebetulnya sampai di mana sih, kelihaian Sin-hong-tung-hoat? Seakan-akan di kolong langit ini tak ada ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu tongkatmu itu.”

“Kepandaian dan ilmu yang tinggi memang banyak, sayangnya orang-orang yang patut memiliki kepandaian itu sedikit sekali,” jawab Bok Kwi Sianjin.

Diam-diam Gwat Kong mendengarkan perdebatan yang sukar ia mengerti ini dengan penuh perhatian.

“Bok Kwi, cukup kita bermain lidah. Marilah kita main-main sebentar agar aku dapat merasai di mana kemajuan tongkatmu.”

Bok Kwi Sianjin tersenyum lalu mengambil pikulannya yang tadi ditaruh di atas tanah dekat keranjang obatnya. Kedua kakek itu saling berhadapan dengan senjata masing-masing.

Tongkat di tangan Sin Seng Cu lebih besar dan panjang dan nampak mengerikan dengan ujung kepala naga itu. Ia memegang tongkatnya dengan lengan kanan di depan lurus ke bawah dengan lengan di atas tongkat, sedangkan tangan kiri di belakang kepala memegang ujung tongkat yang berkepala naga, menyangga di bawah tongkat itu. Inilah sikap pembukaan dari ilmu toya Heng-cia-kun-hoat yang terkenal.

Sebaliknya Bok Kwi Sianjin juga lalu membuka permainannya dengan Sin-hong-kai-peng (Burung Hong Sakti Buka Sayap), yakni gerakan permulaan dari Sin-hong-tung-hoat. Kedua kakek ini saling pandang dengan tajam, bersikap waspada dan hati-hati karena keduanya maklum bahwa lawan yang dihadapinya bukanlah lawan yang ringan.

Gwat Kong duduk di bawah pohon dan memandang dengan penuh perhatian. Pertempuran yang akan berlangsung antara dua orang tokoh besar dunia persilatan ini amat menarik hatinya dan oleh karena ia akan mendpatkan latihan dari Bok Kwi Sianjin yang telah menjadi gurunya, maka ia pusatkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu untuk melihat bagaimana tokoh Hoa-san-pai ini bersilat.

“Sin Seng Cu, majulah!” seru Bok Kwi Sianjin tanpa bergerak dari pasangan kuda-kudanya yang amat teguh.

“Bok Kwi, awas serangan!” Sin Seng Cu membentak dan berbareng dengan bentakan ini, tongkat kepala naga di tangannya bergerak cepat membuka serangan menyambar kepala lawan. Bok Kwi Sianjin juga menggerakkan pikulannya dan terdengar suara keras sekali ketika dua batang senjata itu bertumbuk. Ternyata dalam gebrakan pertama ini, keduanya sengaja hendak mencoba senjata dan tenaga masing-masing dan terpentalnya kedua senjata itu membuat mereka maklum bahwa tenaga mereka seimbang. Maklumlah mereka bahwa untuk dapat memperoleh kemenangan, mereka hanya harus mengandalkan kegesitan dan kesempurnaan ilmu silat masing-masing.

“Bok Kwi, jagalah baik-baik!” Sin Seng Cu berseru keras dan ia segera melanjutkan serangannya dengan gerakan yang cepat dan berbahaya sekali datangnya.

“Bagus!” seru Bok Kwi Sianjin yang segera mengimbangi permainan lawannya dan pikulan di kedua tangannya lalu bergerak berputar-putar sedemikian cepatnya sehingga tubuhnya lenyap terbungkus oleh sinar senjatanya. Sin Seng Cu kagum sekali melihat ini dan iapun menyerang lebih cepat lagi.

Tongkat kepala naga ditangannya menyambar-nyambar bagaikan seekor naga tulen yang tiba- tiba menjadi hidup dan mengancam kepala dan dada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi kakek ini dengan tenang, cepat sekali dapat menangkis semua serangan. Bahkan lalu mengembalikan serangan lawan dengan luncuran kedua ujung pikulannya yang dapat bergerak secara lihai sekali.

Sungguhpun pikulan di tangannya itu hanya berujung dua, akan tetapi gerakan-gerakannya membuat pikulan itu seakan-akan mempunyai lima bagian yang digunakan untuk menyerang dan inilah kelihaian Sin-hong-tung-hoat (Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti). Burung Hong atau segala burung sakti apabila berkelahi selalu menggunakan lima senjatanya untuk menyerang, yakni sepasang sayapnya untuk menampar, sepasang kaki untuk mencengkeram dan sebuah paruh untuk menusuk dan mematuk.

Berdasarkan gerakan lima senjata inilah ilmu tongkat itu diciptakan sehingga pikulan itu kedua ujungnya menyambar-nyambar dengan gerakan dan perubahan yang aneh dan tak terduga oleh lawan. Kadang-kadang merupakan paruh burung menusuk mata atau menyerang kepala. Kadang-kadang merupakan sayap burung yang menyabet pundak kanan atau kiri. Dan kadang-kadang merupakan sepasang cakar burung yang menyerang dan menusuk tubuh bagian bawah dari lambung ke bawah.

Gwat Kong tidak begitu memperhatikan permainan silat gurunya oleh karena ia pikir kelak tentu akan mempelajarinya pula dan ia mencurahkan perhatiannya kepada Sin Seng Cu. Tadi ketika ia bertempur menghadapi tosu itu, keadaannya amat terdesak sehingga tak mungkin baginya untuk memperhatikan gerakan lawan. Maka kini ia memperhatikan dengan amat tertarik.

Ternyata olehnya bahwa gerakan-gerakan kaki dari tokoh Hoa-san-pai ini berdasarkan ilmu silat Sha-kak-kun-hoat (Ilmu Silat Segi Tiga). Kedua kakinya selalu membuat gerakan langkah segi tiga yang teratur sekali sehingga bagaimana tosu itu diserang oleh lawan, selalu lawannya berada tepat di depannya. Senjata lawan takkan dapat menyerangnya dari pinggir kanan maupun kiri karena setiap kali tubuh lawannya bergerak, kedua kakinya ikut pula bergerak membentuk segi tiga yang baru sehingga selalu ia menghadapi lawannya dengan hanya menggerakan sedikit kedua kakinya.

Memang dalam persilatan, menghadapi serangan dari jurusan depan yang lurus lebih mudah ditangkis atau dikelit dari pada menghadapi serangan dari samping. Perubahan serangan yang datang dari depan mudah sekali dilihat perubahannya dengan hanya memandang gerakan pundak lawan. Akan tetapi perubahan serangan dari samping lebih sukar diketahui dan sering kali seorang ahli silat dijatuhkan oleh lawannya dengan menggunakan serangan yang menyerong dari samping kiri. Oleh karena itu, maka gerakan kaki yang berdasarkan Sha-kak- kun-hoat dan yang selalu membentuk garis-garis segi tiga dengan sepasang kaki dalam pergerakkannya itu, amat praktis dan kuat kedudukannya.

Adapun gerakan ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, sungguhpun cukup mengagumkan dan mempunyai perkembangan yang amat banyak, namun bagi Gwat Kong tidak ada bagian-bagian yang luar biasa. Kalau saja permainan ilmu tongkat dari Sin Seng Cu itu tidak digerakkan dengan lweekang dan ginkang yang sedemikian tinggi tingkatnya, pemuda ini merasa sanggup untuk menghadapinya dan mengalahkannya.

Memang betul, ilmu tongkat yang dimainkan Sin Seng Cu, ternyata masih jauh untuk dapat melawan Sin-hong-tung-hoat yang dimainkan oleh Bok Kwi Sianjin. Tadi ketika melawan Gwat Kong, ia dapat mendesak mengatasi pemuda itu oleh karena dalam hal lweekang dan ginkang, ia masih lebih unggul.

Akan tetapi kini, menghadapi Bok Kwi Sianjin yang tingkat tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh tidak berada di sebelah bawahnya. Bahkan lebih menang sedikit, tentu saja ia menjadi sibuk dan sebentar saja, setelah mereka bertempur selama lima puluh jurus, Sin Seng Cu mulai merasa kewalahan! Beberapa kali ia kena dibingungkan oleh gerak tipu silat dari Sin-hong-tung-hoat dan sama sekali tidak dapat menduga bagaimana perubahan dari serangan selanjutnya. Dengan demikian, maka ia tidak berani membalas dengan serangan, hanya menanti datangnya serangan lawan yang membuatnya terdesak dan mulai main mundur.

Bok Kwi Sianjin tidak mau memberi kesempatan dan terus menyerang dengan pukulan- pukulan terlihai dari ilmu tongkatnya. Akan tetapi kakek ini tidak bermaksud kejam dan tiap kali ujung tongkatnya telah berhasil ‘memasuki’ lowongan pertahanan Sin Seng Cu, senjata itu tidak diteruskan, melainkan ditariknya kembali secepatnya tanpa melukai Sin Seng Cu.

Tosu dari Hoa-san-pai itu adalah seorang ahli silat yang sudah tinggi tingkatnya. Maka tentu saja iapun tahu akan hal ini dan maklum pula bahwa apabila dikehendaki, Bok Kwi Sianjin pasti telah berhasil merobohkannya. Sin Seng Cu terkenal sebagai seorang tosu yang belum berhasil menundukkan ‘tujuh musuh di dalam tubuh’ yakni perasaan-perasaan senang-susah, marah, malu dan sebagainya. Maka ia terkenal sebagai seorang yang tidak mau kalah oleh orang lain. Nafsunya masih besar dan kuat menguasai hati dan pikirannya. Oleh karena itu, ia tidak pernah mau mengalah terhadap siapapun juga, terutama dalam hal mengadu kepandaian silat.

Akan tetapi, ia bukanlah seorang bermuka tebal yang tak tahu diri. Maka menghadapi Bok Kwi Sianjin, ia tahu bahwa kepandaiannya masih belum dapat menandingi kesaktian Bok Kwi Sianjin. Kalau ia teruskan dan sampai ia kena dirobohkan atau terluka, ia mendapat malu yang lebih besar lagi, maka cepat ia meloncat jauh ke belakang dan berkata,

“Bok Kwi, kau benar-benar lihai! Biarlah lain kali aku minta berkenalan lagi dengan tongkatmu!” Setelah berkata demikian tosu itu berkelebat cepat dan pergi dari tempat itu.

Bok Kwi Sianjin tertawa dan berkata kepada Gwat Kong, “Muridku, lain kali kau lah yang wajib menghadapinya!” Gwat Kong buru-buru berlutut dan berkata, “Akan tetapi tosu itu lihai sekali suhu.”

“Memang dia lihai, namun bukan tak dapat terkalahkan! Ingatlah Gwat Kong, makin tinggi seseorang mengangkat diri sendiri, makin banyak bahaya ia akan jatuh ke bawah secepatnya. Sin Seng Cu terlalu mengagulkan kepandaian. Menilai kepandaian sendiri terlampau tinggi dan memandang rendah kepada orang-orang lain. Oleh karena itulah maka di antara saudara- saudaranya, yakni tokoh-tokoh besar dari Hoa-san-pai, hanya dia seorang yang mempunyai banyak musuh. Kalau hari ini ia tidak mengangkat diri sendiri terlalu tinggi, tak mungkin dia mengadu tongkat dengan aku dan ia takkan menerima kekalahan pula. Ha ha ha! Percuma saja dia menjadi seorang tosu yang sudah bertapa puluhan tahun. Ternyata ia belum dapat melihat bahwa tidak ada perbedaan antara atas dan bawah maupun antara tinggi dan rendah. Jangan kira bahwa siapa yang berada di atas itu lebih tinggi dari pada yang berada di bawah! Yang berpikir demikian, ia akhirnya akan kecele dan kecewa! Gwat Kong, kau tak usah takut terhadap seorang seperti Sin Seng Cu. Lebih berhati-hatilah terhadap seorang yang nampaknya bodoh tak berkepandaian karena biasanya mereka inilah yang benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Tepat sekali kata-kata tua yang menyatakan bahwa gentong penuh air takkan berbunyi.”

Gwat Kong menghaturkan terima kasih dan berjanji akan memperhatikan semua petunjuk dan petuah suhunya. Kemudian atas permintaan Bok Kwi Sianjin, Gwat Kong menuturkan asal mulanya ia belajar silat, yakni dari penemuan kitab ilmu silat Garuda Sakti.

Mendengar penuturan ini Bok Kwi Sianjin menjadi kagum sekali dan menarik napas panjang lalu berkata, “Aaah, kalau demikian, benar kata suhu dulu bahwa di antara empat ilmu yang terdapat di empat penjuru, Sin-eng Kiam-hoat boleh dibilang menduduki tempat tertinggi.

Kau yang tadinya tidak pernah belajar silat, dengan hanya belajar sendiri tanpa pimpinan guru yang pandai, hanya membaca kitab pelajaran itu, telah mempunyai kepandaian lumayan dan dapat bertahan menghadapi Sin Seng Cu sampai tiga puluh jurus. Benar-benar hebat sekali!

Kalau saja kau mempelajari Sin-eng Kiam-hoat lebih lama dan dipimpin oleh guru pandai, sekarang juga aku takkan dapat mengalahkan kau!”

Bok Kwi Sianjin lalu mengajak Gwat Kong pergi ke tempat pertapaannya, yakni di sebuah gua di tepi sungai Huang-ho. Karena gua ini berada di dalam hutan yang amat liar, maka tak ada orang lain yang mengetahui tempat ini, kecuali tokoh-tokoh persilatan kalangan atas yang telah kenal kepada Bok Kwi Sianjin. Akan tetapi, oleh karena merekapun tahu bahwa Bok Kwi Sianjin jarang berada di tempat pertapaannya dan seringkali pergi merantau, maka jarang ada kenalan yang datang ke tempat itu.

Gwat Kong mendapat latihan Sin-hong-tung-hoat atau Ilmu Tongkat Burung Hong Sakti yang amat lihai. Juga selain ilmu silat ini, ia mendapat tambahan latihan lweekang dan ginkang dan ilmu pedangnya juga mendapat kemajuan karena diberi petunjuk-petunjuk oleh Bok Kwi Sianjin yang memiliki dasar ilmu silat yang amat tinggi dan pengalaman yang luas sekali.

Setelah tinggal bersama kakek itu, Gwat Kong mendapat tahu bahwa selain tinggi ilmu silatnya, suhunya itu juga seorang ahli ilmu pengobatan maka ia menjadi kagum sekali dan sedikit-sedikit ia mempelajari pula ilmu pengobatan yang ada hubungannya dengan persilatan, misalnya cara menyambung tulang patah, mengobati luka-luka karena senjata tajam atau luka- luka dalam karena pukulan, serta obat-obat pemunah racun-racun yang banyak dipergunakan oleh ahli-ahli silat golongan hitam, yakni para penjahat yang berilmu tinggi. Dengan amat rajin dan penuh ketekunan, Gwat Kong mempelajari ilmu kepandaian di tepi Huang-ho di bawah pimpinan dan gemblengan Bok Kwi Sianjin. Kakek ini merasa girang sekali melihat kerajinan muridnya dan merasa kagum karena pemuda itu ternyata amat cerdik dan cepat memperoleh kemajuan.

****

Kita tinggalkan dulu Gwat Kong yang sedang mengejar ilmu di tepi Sungai Huang-ho, di dalam hutan yang liar itu, dan marilah kita menengok keadaan Tin Eng yang tinggal di rumah pamannya, yakni Lie Kun Cwan atau Lie-wangwe (Hartawan Lie).

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tin Eng telah didatangi oleh Lui Siok yang menjadi suheng dari Gan Bu Gi dan gadis itu telah dikalahkan dalam sebuah pertempuran, bahkan pedangnya telah dipatahkan oleh Hoa-coa-ji Lui Siok si Ular Belang yang lihai itu. Karena kekalahan ini dan karena maklum akan kelihaian para pemimpin Hek-i-pang, maka Tin Eng makin giat mematangkan ilmu pedangnya di rumah pamannya.

Ia merasa lega karena ternyata bahwa Hek-i-pang selanjutnya tidak mengganggu kota Hun- lam lagi. Ia tidak tahu bahwa hal ini adalah karena kelicinan Song Bu Cu ketua dari Hek-i- pang yang tidak mau berlaku kasar, dan pula orang-orang Hek-i-pang itu masih merasa sungkan-sungkan untuk bermusuhan dengan Tin Eng, mengingat bahwa gadis ini adalah ‘calon isteri’ Gan Bu Gi dan puteri dari Liok Ong Gun, Kepala daerah Kiang-sui dan anak murid Go-bi-pai.

Di dekat kota Hun-lam terdapat sebuah danau yang cukup indah dan setiap datang musim semi, banyak sekali pelancong dari dalam dan luar kota menghibur diri di danau itu sambil berperahu atau duduk di tepi danau memancing ikan atau bercakap-cakap dengan sahabat- sahabat sambil minum arak.

Pada suatu hari, karena merasa kesepian berada di rumah seorang diri sedangkan pamannya mengurus perdagangan di luar kota, Tin Eng keluar dari rumah dan berpesiar seorang diri di danau itu. Telah dua kali Tin Eng mengunjungi danau Oei-hu itu dan ia senang sekali menyewa perahu kecil, mendayung seorang diri dan bermain-main di atas telaga yang indah.

Hari itu udara cerah dan di danau itu terdapat banyak sekali pelancong. Perahu-perahu kecil besar bergerak ke sana ke mari di atas danau yang airnya bergerak-gerak perlahan sehingga bunga-bunga teratai yang bertumbuh di pinggir telaga ikut pula bergoyang-goyang seakan- akan menari-nari gembira. Dari perahu-perahu itu terdengar suara orang bercakap-cakap dengan senang dan diselingi suara ketawa. Juga terdengar suara orang bernyanyi diiringi oleh yang-kim yang amat merdu.

Tin Eng menyewa sebuah perahu kecil yang pada saat seperti itu jumlah sewanya dinaikkan semuanya oleh tukang perahu. Saat-saat seperti itu merupakan saat yang baik dan menguntungkan bagi para tukang perahu oleh karena para pelancong itu, terutama yang datang dari luar kota, amat berani membayar mahal untuk perahu-perahu yang mereka sewa.

Perahu yang disewa oleh Tin Eng biarpun kecil, akan tetapi cukup indah dengan kepala perahu diukir seperti seekor ular besar menjulurkan lidahnya. Tin Eng mendayung perahunya ke tengah dengan gembira sekali. Banyak mata pemuda-pemuda pelancong memandang kagum kepada gadis yang mengenakan pakaian biru dengan lengan baju agak pendek itu sehingga nampak sampai di atas pergelangan tangan.

Sungguhpun mereka merasa kagum akan kecantikan Tin Eng dan merasa heran karena melihat seorang gadis muda yang cantik jelita berpesiar seorang diri bahkan mendayung perahu seorang diri pula. Akan tetapi melihat sikap dan gerak-gerik Tin Eng, mereka dapat menduga bahwa gadis itu tentulah seorang gadis kang-ouw yang berkepandaian silat dan bukan seorang gadis biasa. Oleh karena itu, mereka tidak berani berlaku kurang ajar hanya memandang dengan kagum.

Tentu saja mereka ini terdiri dari laki-laki yang datang dari luar kota Hun-lam. Oleh karena orang-orang dari Hun-lam sendiri sebagian besar telah tahu dan kenal gadis ini, yang bukan lain ialah Sian-kiam Lihiap si pendekar Wanita Pedang Dewa yang telah mengobrak-abrik penjahat-penjahat yang mengganggu Hun-lam. Ketika Tin Eng tiba di tempat itu, mereka ini lalu memberi hormat dengan menjura atau menganggukkan kepala yang dibalas oleh Tin Eng dengan anggukan kepala dan senyuman manis.

Melihat betapa banyak orang agaknya kenal dan menghormati gadis muda itu, orang-orang dari luar kota segera mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Hun-lam, dan yang ditanya dengan senang hati dan bangga menceritakan keadaan dan kelihaian Tin Eng. Tentu saja dengan bumbu dan tambahan betapa dara jelita itu seorang diri telah menghalau pergi ratusan perampok.

Bahkan di antara mereka itu ada yang secara berani mati menuturkan bahwa Tin Eng adalah sebangsa Kiam-hiap, pendekar pedang yang memiliki Hui-kiam (pedang terbang) dan yang dapat mengambil kepala penjahat dari jarak puluhan tombak dengan hanya melontarkan pedangnya yang dapat terbang, memenggal kepala lawan dan membawa kepala itu kembali kepada si gadis. Biarpun penuturan ini simpang siur dan dilebih-lebihkan, akan tetapi cukup untuk membuat para pendengarnya meleletkan lidah dan kini mereka memandang ke arah Tin Eng dengan lebih kagum lagi.