-->

Pendekar Pemabuk Jilid 01

Jilid 01

01. Calon Panglima Kiang-sui

DI sekitar tahun 600, Tiongkok berada di bawah pemerintahan Kaisar Yang Ti yang lalim dan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Kaisar ini memeras dan memaksa rakyatnya untuk membuat bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan raksasa dalam usahanya memperkuat pertahanan negaranya dan juga demi kesenangannya sendiri. Kota Lokyang di bangun kembali dengan hebat mempergunakan tukang-tukang dan ahli-ahli yang didatangkan dari tempat jauh di sebelah selatan sungat Yangtse. Sebagian dari para pekerja ini boleh dibilang dipekerjakan sampai mati.

Hasil pekerjaan paksa yang banyak makan jiwa rakyat Tiongkok itu masih dapat disaksikan hingga sekarang. Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk menggali saluran besar yang memanjang dari utara sampai ke selatan sungai Yangtse, yakni sampai ke Hongcou.

Pekerjaan besar ini selain membutuhkan banyak sekali tenaga manusia, juga membutuhkan banyak biaya hingga kekayaan istana kaisar dikeduk habis. Oleh karena itu, tanpa ragu-ragu dan dengan kejam sekali Kaisar Yang Ti kembali memeras rakyat dengan memerintahkan agar pajak-pajak dibayar sepuluh tahun di muka.

Selain pembuatan saluran besar itu, Kaisar Yang Ti juga memerintahkan agar supaya tembok besar diperbaiki dan dibetulkan, yang kembali memerlukan tenaga ahli dan tukang-tukang yang pandai serta tenaga pekerja-pekerja yang ribuan orang banyaknya.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa apabila pemimpin jahat, anak buahnya pun kurang benar. Kaisar yang lalim itu bagaikan seorang guru memberi contoh buruk sekali kepada pembesar- pembesarnya hingga pada waktu itu, para pembesar sebagian besar merupakan pemeras- pemeras rakyat yang bahkan lebih kejam lagi dari pada Kaisarnya sendiri. Mereka mempergunakan segala macam akal dan kesempatan untuk memperkaya diri, sama sekali tidak memperdulikan keadaan rakyat yang diperas habis-habisan. Dan pada saat-saat yang amat menyedihkan bagi rakyat Tiongkok inilah cerita ini terjadi.

****

Di sebelah selatan kota raja terdapat sebuah kota bernama Kiang-sui. Kota ini cukup ramai dan besar karena dekat dengan ibukota dan di situ terdapat banyak sekali rumah-rumah gedung yang indah dan megah. Hal ini tidak aneh oleh karena para pembesar dan hartawan mempergunakan kesempatan untuk memakai tenaga para ahli bangunan yang didatangkan oleh kaisar itu guna mendirikan gedung-gedungnya sendiri.

Di tengah-tengah kota Kiang-sui terdapat sebuah gedung yang terbesar dan paling megah nampak dari luar, dan apabila orang masuk ke dalamnya, ia akan kagum melihat keindahan gedung itu. Perumahan ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan, akan tetapi ada beberapa bangunan yang bentuknya menarik, ada yang bertingkat tiga, ada pula yang tidak bertingkat akan tetapi kesemuanya indah dan merupakan sekelompok bangunan yang dikelilingi tembok dua tombak tingginya. Kalau dilihat dari luar, yang nampak hanya dinding ini dan loteng- loteng yang bercat warna warni menyedapkan mata.

Gedung indah ini adalah tempat tinggal Residen atau Kepala Daerah di Kiang-sui yang bernama Liok Ong Gun. Kepala daerah ini memang keturunan bangsawan dan semenjak dahulu nenek-moyangnya memang orang-orang berpangkat yang setia dan mempunyai kedudukan tinggi. Ia amat berpengaruh, tidak saja karena kedudukannya sebagai Kepala daerah, akan tetapi juga karena kekayaannya. Pada waktu itu, siapa yang kaya ia berkuasa, sedangkan Liok Ong Gun ini memang semenjak lahir boleh dibilang hidup di atas tumpukan harta benda.

Liok Ong Gun berusia kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan memelihara jenggot pendek yang hitam menghias muka bagian bawah, dari bawah telinga kiri sampai ke bawah telinga kanan. Sepasang matanya lebar dan bersinar tajam. Ia seorang yang pandai dalam ilmu sastera dan silat, dan di waktu mudanya ia telah mencapai gelar siucai setelah lulus dalam ujian di kotaraja. Dalam hal ilmu silat, iapun tidak lemah oleh karena ia menjadi murid dari ketua cabang Go-bi-pai yang pada waktu itu meninggal dunia karena sakit.

Permainan goloknya cukup lihai dan hal ini membuat ia lebih disegani orang.

Dalam pernikahannya dengan seorang gadis bangsawan yang selain cantik juga berbudi halus, Liok Ong Gun memperoleh seorang anak tunggal. Anak ini perempuan dan diberi nama Liok Tin Eng yang kini telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik seperti ibunya. Akan tetapi beradat keras dan galak seperti ayahnya. Biarpun dalam hal kepandaian membaca dan menulis, dara ini tidak sepandai ayahnya dan dalam hal pekerjaan tangan tidak sepandai ibunya, namun terdengar desas-desus orang bahwa dalam hal ilmu silat, dara ini jauh melebihi kelihaian ayahnya sendiri!

Tin Eng sebagai puteri tunggal tentu saja manja sekali dan biarpun ia disohorkan sebagai kembang kota Kiang-sui dan banyak sekali pemuda merindukannya, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka berani mengajukan pinangan.

Kedudukan Liok Ong Gun memang amat kuat, selain ia sendiri memiliki kegagahan, iapun selalu dikawal oleh pasukan perwira Sayap Garuda yang berkepandaian tinggi. Selain para pengawal ini, iapun selalu didampingi oleh seorang kunsu atau penasehat yang cerdik pandai bernama Lauw Lui Tek yang bertubuh gemuk.

Demikianlah keadaan penghuni gedung-gedung Kepala daerah itu dan selanjutnya masih banyak pula para pelayan yang mengerjakan segala macam pekerjaan sehingga gedung- gedung di situ selain nampak indah juga bersih. Liok-hujin, isteri Liok Ong Gun tak pernah mencampuri urusan suaminya dan nyonya ini selalu tinggal di dalam, mengatur rumah tangga dan mengepalai semua pelayan yang amat taat dan tunduk terhadap nyonya yang berbudi halus itu. Dari pelayan wanita yang bekerja di dalam kamar sampai pelayan laki-laki yang bekerja di kebun atau di kandang kuda, semua amat taat dan setiap saat bersedia melakukan perintah Liok-hujin dengan senang hati.

Pada suatu hari, seorang penjaga pintu gerbang melaporkan kepada Liok Ong Gun bahwa di luar datang tiga orang tamu yang minta bertemu dengan Kepala daerah itu. “Siapakah mereka itu?” tanya Liok Ong Gun yang sedang duduk dengan Lauw Lui Tek dan beberapa orang perwiranya guna membicarakan perintah kaisar untuk membangun sebuah istana di atas bukit Bwee San sebelah timur kota Kiang-sui.

“Hamba telah bertanya tentang nama mereka, akan tetapi mereka tidak mau memberi tahu, hanya supaya hamba melaporkan kepada taijin,” jawab penjaga itu dengan hormat.

“Tamu-tamu yang tidak mau menyebutkan namanya tak perlu diterima,” kata Lauw Lui Tek, penasehat Kepala daerah itu dengan sikapnya yang hati-hati.

“Kenapa kau tidak usir saja mereka dan berani melaporkan kedatangan orang-orang yang mencurigakan itu?” Liok Ong Gun menegur sehingga penjaga itu menjadi pucat.

”Ampun, taijin. Tiga orang tamu itu bukanlah orang-orang biasa, maka hamba tidak berani bertindak sembarangan. Seorang di antara mereka adalah seorang hwesio gundul yang telah tua dan memelihara jenggot panjang, sikapnya agung dan di pundaknya tergantung pedang. Orang kedua juga seorang tosu tua yang gagah. Menurut pandangan hamba yang bodoh, mereka ini bukanlah orang-orang jahat, maka hamba berani berlaku lancang memberi laporan kepada taijin.”

Liok Ong Gun merasa heran mendengar bahwa tamu-tamunya adalah dua orang pertapa dan seorang pemuda. Ketika Lauw Lui Tek hendak memaki penjaga itu, Liok Ong Gun mendahuluinya dan berkata kepada penjaga tadi,

“Cobalah kau panggil mereka masuk.”

Akan tetapi, pada saat itu terdengar suara halus menegur,

“Liok Ong Gun, kau benar-benar memegang aturan keras sekali!”

Pembesar itu terkejut dan segera bangun dari tempat duduknya dan menuju ke ruang depan, diikuti oleh Lauw Lui Tek dan para perwira Sayap Garuda. Ketika mereka tiba di ruangan depan, muncullah tiga orang tamu tadi. Memang benar, ketiga orang itu terdiri dari seorang hwesio tua yang gagah, seorang tosu tua dan seorang anak muda yang tampan sekali.

Melihat Hwesio berjubah hitam itu Liok Ong Gun merasa terkejut sekali dan ia cepat-cepat menjura dengan hormatnya dan berkata,

“Ah tidak tahunya susiok-couw (kakek guru) yang datang. Mohon maaf sebanyaknya karena teecu tidak mengetahui kedatangan susiok-couw terlebih dahulu hingga tak dapat mengadakan penyambutan yang layak.”

Hwesio itu tertawa bergelak dengan senangnya. Ia menoleh kepada tosu itu dan berkata, “Bong Bi Toyu, apa kataku tadi? Biarpun telah menjadi seorang pembesar tinggi, namun Liok Ong Gun tidak melupakan hubungan antara guru dan murid.”

Tosu itu mengangguk-angguk puas dan tersenyum. Siapakah mereka ini? Hwesio tua itu sebenarnya adalah seorang tokoh besar dari Go-bi-san yang bernama Seng Le Hosiang dan kakek ini adalah paman guru dari suhu Liok Ong Gun, dengan demikian maka hwesio ini masih terhitung paman kakek gurunya! Adapun tosu itu juga bukan sembarang orang, karena ia ini adalah Bong Bi Sianjin, seorang yang sangat ternama dalam kalangan persilatan, sebagai tokoh besar dari Kim Lun San yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan tosu ini adalah kawan baik Seng Le Hosiang.

Liok Ong Gun dengan amat hormatnya lalu membungkukkan diri dan berkata, Susiok-couw dan kedua jiwi (tuan berdua) silahkan masuk dan duduk di dalam.”

Seng Le Hosiang sambil tersenyum di balik kumis dan jenggotnya yang putih itu berkata memperkenalkan, “Ketahuilah dulu, Liok Ong Gun. Kawanku ini adalah Bong Bi Sianjin, pertapa di bukit Kim Lun San, dan anak muda ini bernama Gan Bu Gi, murid Bong Bi Sianjin. Untuk keperluan mereka berdua inilah maka pinceng datang menjumpaimu.”

Liok Ong Gun menjura kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi. Lalu ia memperkenalkan pula Lauw Lui Tek kepada mereka, demikian pula kelima orang perwira yang berada di situ. Kemudian mereka semua masuk ke ruang dalam dan ketiga orang tamu itu tiada habisnya mengagumi keindahan gedung itu dan sekalian isinya. Dinding-dinding yang putih bersih penuh digantungi lian (kain penghias dinding yang ditulis sajak) dan lukisan-lukisan indah. Semua perabot rumah tangga tersebut dari kayu-kayu mahal yang terukir indah dan halus, bahkan lantainya berkembang indah dan di sana-sini terbentang permadani Turki berkembang.

“Bagus, bagus, rumahmu bagus sekali,” Seng Le Hosiang memuji dan memandang kagum. Gan Bu Gi yang semenjak kecil berada di atas gunung juga memandang ke kanan-kiri dengan kagum dan mata terbelalak lebar. Ia merasa malu-malu dan ketika kakinya menginjak lantai yang berkembang dan halus mengkilap itu, ia merasa takut kalau-kalau sepatunya akan merusak lantai maka ia berjalan dengan hati-hati sekali!

Setelah semua orang mengambil tempat duduk di ruangan tamu, Liok Ong Gun menanti sampai pelayan datang membawa minuman.

“Susiok-couw suka minum apa? Arak wangi atau teh wangi? Juga Bong Bi Locianpwe dan Gan-hiante ingin minum apa?” Liok Ong Gun menawarkan dengan ramah tamah.

“Arak saja, boleh keluarkan arak yang paling wangi!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira hingga diam-diam para perwira merasa heran mengapa ada hwesio yang suka minum arak.

Bagi Bong Bi Sianjin, tidak ada pantangan minum arak, akan tetapi dengan malu-malu Gan Bu Gi menjawab,

“Harap taijin jangan terlalu merepotkan penyambutan. Siauwte biasanya hanya minum air gunung.”

Jawaban pemuda yang sederhana ini membuat semua orang tersenyum dan Liok Ong Gun merasa suka kepadanya. Ia heran melihat betapa Bong Bi Sianjin yang terkenal akan kegagahannya itu mempunyai murid yang demikian lemah lembut.

Setelah semua orang minum, pembesar itu bertanya kepada susiok-couwnya, “Teecu merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan ini. Apakah kiranya yang dapat teecu lakukan untuk sam-wi?”

“Sudah pinceng katakan tadi bahwa kedatanganku semata-mata hanya untuk urusan kedua orang ini, terutama sekali untuk memperkenalkan Gan Bu Gi kepadamu. Ketahuilah, Liok Ong Gun bahwa sahabatku Bong Bi Sianjin ini datang bersama muridnya kepadaku dengan permintaan agar pinceng menjadi orang perantara terhadap dua hal yang hendak kukemukakan kepadamu, yaitu pertama: sukakah kiranya kau menerima pemuda ini dan memberi pekerjaan yang layak karena ia telah tamat belajar silat pada gurunya dan tentang kepandaian silat patut kupuji dan dengan adanya pemuda ini di sini, agaknya kedudukanmu akan makin kuat.”

Sambil berkata demikian, hwesio tua itu melirik ke arah para perwira yang duduk di pinggir. “Terus terang saja aku berani menyatakan bahwa tenaganya akan jauh lebih berguna dari pada tenaga dua puluh orang pengawalmu yang terpandai.”

Mendengar ucapan ini, tentu saja para perwira merasa mendongkol dan tak senang, akan tetapi mereka tidak berani menyatakan dengan terang-terangan, hanya menundukkan kepala dengan muka berubah merah. Sedangkan Kepala daerah itupun merasa tak enak hati terhadap para perwiranya, maka ia lalu menjawabnya,

“Tentang hal itu, karena susiok-couw yang menjadi penghubung, tentu saja teecu akan memberi pekerjaan yang layak bagi Gan-hiante sesuai dengan kepandaiannya.”

“Boleh diuji, boleh diuji!” kata Seng Le Hosiang sambil meraba jenggotnya yang putih. “Jangan diterima demikian saja, sebelum kau menguji kepandaian. Akan tetapi hal ini boleh dilakukan belakangan. Sekarang soal kedua. Pinceng tahu bahwa kau mempunyai seorang puteri yang baik, dan karena pinceng sudah tahu jelas akan keadaan Gan Bu Gi ini, maka atas persetujuan kami bertiga, pinceng dan sahabatku Bong Bi Sianjin ini bermaksud menjodohkan Gan Bu Gi dengan puterimu! Tentu saja kalau puterimu itu belum dipertunangkan dengan orang lain.” Bukan main terkejutnya hati Liok Ong Gun mendengar ini. Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam akan tetapi ia tidak berani menyatakan marahnya. Siapakah orang muda ini yang hendak dijodohkan dengan puterinya? Mengapa susiok-couwnya demikian lancang? Diam-diam ia memandang tajam kepada Gan Bu Gi yang menundukkan kepalanya. Memang pemuda ini cukup tampan dan sikapnya baik akan tetapi hal ini belum cukup pantas menjadi menantunya, menjadi suami Tin Eng puteri tunggalnya.

“Maafkan teecu, susiok-couw. Tentang hal perjodohan puteri teecu, sungguhpun puteriku itu belum dipertunangkan, akan tetapi agaknya hal ini tidak dapat diputuskan dengan tergesa- gesa dan harus mendapat pertimbangan semasak-masaknya dari teecu sekeluarga. Bukan teecu tidak percaya kepada susiok-couw yang tentu tidak akan memuji sembarangan saja, akan tetapi biarlah hal perjodohan ini ditunda dulu, karena betapapun juga, puteri teecu itu baru berusia lima belas tahun dan masih terlalu muda untuk meninggalkan orang tua.”

Seng Le Hosiang tertawa terbahak-bahak dan memandang kepada Bong Bi Sianjin. “Nah, kau telah mendengar sendiri, toyu. Pinceng hanya menjadi orang perantara, segala keputusan tergantung dari cucu-muridku.”

Sambil mengelus-elus jenggotnya yang juga sudah putih semua, tosu ini mengangguk ke arah Liok Ong Gun dan berkata, “Terima kasih banyak atas segala perhatianmu, taijin. Muridku adalah seorang anak muda yang bodoh dan masih hijau serta hanya memiliki sedikit kepandaian yang tak berarti belaka. Oleh karena pinto ingin melihat muridku yang bodoh itu mencari pengalaman dan ikut membantu pemerintah, mengangkat nama sendiri sebagai orang yang gagah, maka harapanku yang terutama ialah agar supaya taijin sudi menolongnya dan memberi pekerjaan yang layak. Sudah tentu saja ia perlu diuji terlebih dahulu dan pinto mempersilahkan kepada taijin untuk menguji.”

“Memang harus diuji!” kata Seng Le Hosiang dengan gembira.

Liok Ong Gun merasa serba salah. Ia percaya bahwa pemuda itu tentu memiliki kepandaian berarti sungguhpun nampaknya lemah, akan tetapi ia masih ragu-ragu untuk menguji yang tentu saja seakan-akan merupakan kekurangpercayaan terhadap Bong Bi Sianjin, terutama sekali terhadap susiok-couwnya. Dengan ragu-ragu ia lalu mengerling kepada penasehatnya yang selalu dapat diharapkan pertolongannya di waktu ia terdesak oleh suatu keadaan.

Lauw Lui Tek dengan tenang lalu berdiri dan membungkukkan tubuhnya yang gemuk ke arah para tamu,

“Maafkan kalau saya berlancang mulut karena sudah menjadi kewajiban saya untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi oleh taijin. Mendengar segala uraian jiwi lo- suhu tadi, saya dapat menduga bahwa kongcu ini tentu memiliki ilmu kepandaian silat dan yang dimaksudkan dengan pekerjaan tentulah dalam bidang keperwiraan. Sebagaimana lazimnya apabila kami menerima seorang perwira baru, ia harus diuji lebih dulu dan cara pengujiannya itu biasanya diadakan sebuah pertandingan adu kepandaian antara perwira baru itu dengan kepala-kepala pengawal untuk menentukan sampai di mana tingkat kepandaiannya. Oleh karena itu, menurut pendapat saya, hendaknya diadakan ujian seperti itu pula kepada kongcu ini dan para pengujinya ialah kelima ciangkun yang sekarang hadir di sini.” Mendengar ini, diam-diam kelima orang perwira Sayap Garuda itu menjadi girang. Tadinya mereka merasa mendongkol sekali karena dirinya dipandang rendah oleh tamu-tamu itu dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Hendak mereka beri hajaran kepada pemuda yang datang hendak mendesak kedudukan mereka itu!

Mereka adalah panglima-panglima terkemuka di Kiang-sui yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, sedangkan pemuda itu kelihatan demikian malu-malu dan bodoh seperti pemuda gunung. Apa susahnya mengalahkan pemuda macam itu dalam pertandingan pibu (silat)?

Sementara itu, Liok Ong Gun mengangguk-angguk dan berkata kepada Seng Le Hosiang, “Susiok-couw, memang tepat ucapan Lauw-toako tadi dan demikianlah memang sudah menjadi kebiasaan di sini, juga kebiasaan di kota raja apabila kaisar hendak mengangkat perwira baru.”

Bong Bi Sianjin bangun berdiri dan berkata, “Bagus, memang seharusnya demikian, taijin. Harap jangan berlaku sungkan dan marilah kita menyaksikan ujian itu dilaksanakan sekarang juga.”

Liok Ong Gun lalu mempersilahkan mereka menuju ke belakang gedung di mana terdapat kebun kembang yang indah dan di tengah-tengah terdapat pekarangan luas yang memang dipergunakan sebagai lian-bu-tia (tempat berlatih silat). Ketika mereka beramai-ramai tiba di tempat itu, kebetulan sekali puteri Kepala daerah itu sedang berlatih silat pedang seorang diri. Gadis itu berusia kurang lebih lima belas tahun, tubuhnya kecil padat, pinggangnya ramping. Wajahnya cantik jelita dan manis sekali, diramaikan oleh sepasang mata yang lebar berseri- seri dan mulut yang manis berwarna merah delima. Rambutnya hitam dan tebal digulung ke belakang dan dihiasi dengan bunga segar warna merah yang dipetiknya di kebun itu.

Segumpalan rambut menghias di depan telinganya, terurai sampai ke pipinya menambah kecantikannya. Bajunya ringkas dengan lengan baju pendek sampai di bawah siku, baju itu berwarna biru dengan pinggiran merah dan ikat pinggang warna merah pula. Celana berwarna hijau menutupi kedua kakinya yang ringan gerakannya, sepatunya kecil berwarna hitam.

Biarpun pakaiannya itu sederhana saja, akan tetapi bahan pakaiannya terbuat dari sutera mahal yang halus dan lemas.

Selain kembang hidup yang menghiasi rambutnya, gadis ini tidak mengenakan perhiasan lain sebagaimana biasa dipakai oleh puteri-puteri bangsawan yang kaya. Memang Tin Eng tidak suka memakai segala macam perhiasan emas permata yang mahal dan mewah. Namun kesederhanaannya ini tidak mengurangi kecantikannya, bahkan membuat kejelitaannya makin menonjol dan asli.

Tin Eng demikian asyiknya bermain silat pedang hingga ia tidak memperhatikan mereka yang datang. Disangkanya bahwa mereka yang datang hanyalah ayahnya dan para perwira yang sudah berada di situ dan ia tidak menghiraukannya.

Semua perwira di dalam gedung itu merasa kagum dan segan terhadap gadis itu karena maklum bahwa ilmu kepandaian gadis itu amat tinggi, bahkan tidak berada di sebelah kepandaian perwira yang manapun juga di kota Kiang-sui! Tadinya tak seorangpun menyangka bahwa Tin Eng memiliki ilmu silat tinggi dan lihai dan hanya menyangka bahwa gadis itu pernah belajar ilmu silat karena ayahnya pun seorang yang pandai ilmu silat, akan tetapi semenjak terjadi sebuah peristiwa yang mengagumkan, barulah mereka tahu bahwa gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Bahkan Liok Ong Gun sendiri tadinya tidak pernah menyangka bahwa puterinya memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada ilmu silatnya sendiri!

Hal itu terjadi beberapa bulan yang lalu. Ketika itu, kota Kiang-sui kedatangan seorang pencuri yang lihai sekali. Kepala daerah Liok telah mengerahkan para penjaga dan perwira untuk menangkap pencuri itu, akan tetapi maling itu ternyata amat tangguhnya hingga tak dapat ditangkap, bahkan ketika pada suatu malam dikepung, maling itu telah melukai beberapa orang perwira! Dalam kesombongannya karena tidak menemukan tandingan, maling itu akhirnya berani mendatangi gedung Liok Ong Gun untuk mencuri! Dan di tempat inilah ia menemui tandingannya, yakni Tin Eng sendiri!

Ketika maling itu sedang mencari-cari di atas genteng, tiba-tiba ia diserang oleh Tin Eng dan mereka bertempur hebat sekali. Ribut-ribut ini terdengar oleh Liok Ong Gun yang segera mengerahkan para perwira dan menyusul ke atas di mana dengan bengong mereka menyaksikan sebuah pertempuran hebat antara Tin Eng dan maling itu! Bukan main kagum hati mereka ketika akhirnya Tin Eng berhasil merobohkan maling itu yang segera dibekuk dan dihukum. Dan semenjak malam itulah maka Tin Eng terbuka rahasianya, dan semua orang, termasuk ayah sendiri, baru maklum bahwa dara jelita itu memiliki ilmu silat yang lebih tinggi dari pada para perwira di kota Kiang-sui.

Pada saat Liok Ong Gun dan tamu-tamunya datang di kebun itu, Tin Eng sedang berlatih silat pedang yang mempunyai gerakan-gerakan luar biasa cepatnya. Sinar pedangnya bergulung- gulung menyelimuti tubuhnya dan angin sabetan pedang menyambar-nyambar sampai jauh. Para perwira memandang kagum, demikian pula Liok Ong Gun karena tidak mudah untuk menyaksikan ilmu silat puterinya itu yang belum pernah mau memperlihatkan kepandaiannya kepada siapapun juga.

Sementara itu, melihat kecantikan gadis yang hendak dijodohkan dengannya, pemuda murid Bong Bi Sianjin tercengang dan pada saat itu yang kelihatan olehnya hanya kecantikan Tin Eng, sama sekali tidak memperdulikan ilmu pedang yang dimainkan oleh dara itu.

Akan tetapi, Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin saling pandang dengan mata mengandung keheranan besar. Selama mereka hidup, baru satu kali saja mereka pernah menyaksikan ilmu pedang seperti ini, yaitu ketika mereka masih muda. Inilah ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat yang jarang terlihat di atas dunia ini. Pencipta ilmu pedang ini telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu, dan orang itu setahu mereka tidak mempunyai murid, bagaimana ilmu pedangnya kini terjatuh kepada puteri Liok Ong Gun?

Dengan penuh perhatian, kedua kakek itu memandang ilmu pedang yang dimainkan Tin Eng. Mereka maklum bahwa ilmu pedang itu benar-benar hebat sekali, akan tetapi sayang dara itu masih belum sempurna kepandaiannya dan terdapat kesalahan di sana-sini, sungguhpun mereka berdua juga tidak paham ilmu pedang Sin-eng Kiam-hoat (ilmu pedang garuda sakti), namun sebagai ahli-ahli ilmu silat mereka dapat melihat kesalahan-kesalahan dan cacat dalam permainan gadis itu.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin tak dapat menahan lagi kegembiraannya dan berseru, “Bagus sekali Kiam-hoat ini!”

Mendengar seruan ini, barulah Tin Eng sadar bahwa di antara rombongan terdapat orang asing, maka ia segera melompat mundur dan menahan gerakan pedangnya. Dengan mata mengandung keheranan ia memandang ke arah dua orang kakek dan pemuda yang tak dikenal itu, kemudian ia mengundurkan diri dengan malu-malu.

Liok Ong Gun menghampiri puterinya dan sambil tertawa berkata, “Tin Eng, kau berhadapan dengan susiok-couw, beliau inilah yang bernama Seng Le Hosiang, susiok dari mendiang suhuku.”

Tin Eng terkejut sekali dan segera menjura dengan hormatnya.

“Bagus, bagus! Kau patut menjadi puteri Liok Ong Gun. Cantik jelita dan kepandaian hebat pula! Entah siapa yang memberi pelajaran ilmu pedang tadi kepadamu.”

Tin Eng tidak menjawab, hanya memberi hormat kepada Bong Bi Sianjin dan Gan Bu Gi ketika ayahnya memperkenalkan mereka kepadanya. Mendengar bahwa pemuda yang tampan dan nampak malu-malu itu hendak masuk menjadi perwira dan kini akan diuji kepandaiannya, Tin Eng merasa gembira dan segera berdiri di tempat yang agak jauh dari situ untuk menonton. Ayahnya tak dapat melarang puterinya yang manja dan keras hati ini, maka ia mendiamkan saja.

Di dekat tempat gadis itu berdiri, terdapat seorang pelayan muda yang sedang mencabuti rumput pengganggu pohon kembang. Dan melihat pemuda ini, Tin Eng segera berkata, “Gwat Kong, tolong beritahu kepada ibu bahwa aku berada di sini untuk menyaksikan ujian perwira baru!”

Pemuda itu mengangguk dan menjawab, “Baik, siocia.” Dan sebelum ia pergi jauh tiba-tiba Liok Ong Gun memanggilnya. Ia segera berjalan kembali dan pembesar itu berkata,

“Kalau kau masuk ke dalam, sekalian ambil dua buah kursi untuk jiwi locianpwe ini!” “Baik, taijin,” kata pemuda pelayan itu setelah memandang sekilas ke arah Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin. “Siapakah pemuda itu?” tanya Seng Le Hosiang kepada Liok Ong Gun. Ia merasa tertarik karena melihat betapa sepasang mata pelayan muda itu mengeluarkan cahaya yang tajam. “Ah, dia adalah seorang pemuda she Bun yang telah tiga tahun bekerja di sini sebagai pelayan. Orangnya jujur, pendiam, dan pekerjaannya baik,” jawab Liok Ong Gun sambil lalu. Sementara itu, Liok Ong Gun lalu memberi perintah kepada seorang perwiranya untuk bersiap menguji pemuda yang hendak menjadi perwira itu. Perwira ini adalah seorang perwira yang sudah berusia empat puluh tahun lebih dan bernama Thio Sin. Dia memang dianggap sebagai pimpinan para panglima yang berjumlah lima orang dan kepandaiannya dianggap paling tinggi.

“Thio-ciangkun, harap kau segera melakukan upacara ujian ini sebagaimana mestinya dan boleh kau pilih siapakah yang diharuskan maju untuk berpibu dengan Gan-kongcu,” kata Liok Ong Gun kepadanya.

“Biarlah siauwte maju dan mengujinya, Thio-twako,” kata seorang perwira yang bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar. Perwira ini adalah Lie Bong yang beradat kasar. Ia tadi merasa penasaran dan mendongkol sekali, maka kini ia hendak menggunakan kesempatan untuk membalas penghinaan tadi.

Thio Sin mengangguk sambil tersenyum. Ia percaya penuh kepada kegagahan Lie Bong yang memiliki tenaga besar dan ilmu silat cukup tinggi.

“Majulah, Lie-lote, akan tetapi hati-hatilah,” kata Thio Sin.

Lie Bong berseru girang dan segera bersiap sedia. Ia membereskan topinya yang dihias bulu garuda panjang, lalu memasukkan kuncir rambutnya ke dalam punggung bajunya dan menyingsing lengan bajunya, kemudian ia melompat ke tengah lapangan. Di tengah lapangan itu terdapat sebongkah batu besar yang biasanya digunakan untuk melatih tenaga. Melihat batu besar itu dengan congkaknya Lie Bong lalu menempelkan kakinya kanannya kepada batu itu dan sekali ia menggerakkan kaki, batu itu terlempar jauh ke bawah pohon.

Setelah melakukan demonstrasi untuk memperlihatkan kehebatan tenaganya itu, Lie Bong lalu menjura ke arah pemuda gunung yang masih berdiri sambil tersenyum malu-malu di dekat suhunya sambil berkata,

“Gan-kongcu, aku mendapat kehormatan untuk melayani bermain-main denganmu. Silahkan maju!”

Gan Bu Gi berpaling kepada suhunya seakan-akan minta perkenan dan setelah Bong Bi Sianjin mengangguk, ia lalu berjalan dengan tenang ke dalam lapangan itu, menghadapi Lie Bong.

Pada saat itu, pelayan muda yang diperintah mengambil kursi telah datang. Biarpun hanya disuruh mengambil dua buah kursi, pemuda itu ternyata membawa empat buah kursi. Dua buah diletakkan di belakang kedua pendeta tua itu, sebuah diberikan kepada Liok Ong Gun dan yang sebuah lagi lalu ia bawa menuju tempat Tin Eng berdiri dan ia memberikan kursi kepada gadis itu!

Tak seorangpun memperhatikan pekerjaan ini dan Liok Ong Gun juga sudah lupa bahwa ia tadi hanya memerintahkan mengambil dua buah kursi saja untuk Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin. Mereka duduk dan memperhatikan ujian yang hendak dilangsungkan, sedangkan pemuda pelayan yang bernama Bun Gwat Kong itu lalu melanjutkan pekerjaan mencabuti rumput sambil kadang-kadang menengok ke arah tempat duduk Tin Eng.

“Gan-kongcu,” kata Lie Bong dengan suara keras. “Menurut kebiasaan, pibu ini dilakukan dua kali. Pertama kali dengan bertangan kosong, dan kedua kalinya menggunakan senjata untuk menguji kepandaian main senjata dari calon perwira. Sekarang marilah kita main-main sebentar dengan bertangan kosong. Harap kau suka menanggalkan jubahmu yang panjang itu agar supaya gerakanmu lebih leluasa.”

02. Pelayan Muda Kepala Daerah Memang pemuda itu memakai jubah pendeta yang panjang dan berlengan baju lebar sekali maka tentu saja dalam pakaian seperti itu, gerakannya akan kurang leluasa. Akan tetapi, sambil tersenyum Gan Bu Gi menjawab,

“Ciangkun, ujian ini hanya main-main belaka, bukan? Biarlah siauwte tetap memakai jubah ini, hanya siauwte harap ciangkun suka menaruh kasihan kepadaku.” Biarpun Gan Bu Gi berkata demikian, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum hingga bagi Lie Bong seakan-akan pemuda itu mengejeknya dan memandang rendah. Menghadapinya dengan pakaian seperti itu saja berarti sudah memandangnya rendah, maka ia menjadi marah sekali.

“Kalau begitu, jangan kau menggunakan alasan bajumu itu kalau nanti kau roboh!” katanya sambil memasang kuda-kuda.

“Seranglah, ciangkun,” kata Gan Bu Gi yang masih tenang-tenang saja dan berdiri biasa seakan-akan tidak menghadapi lawan yang hendak menyerangnya. Tin Eng merasa geli dan juga heran melihat sikap pemuda itu dan ia menduga bahwa dalam satu-dua jurus saja Lie Bong tentu akan menjatuhkan.

“Awas seranganku!” Lie Bong berseru keras dan maju menyerang dengan gerakan Go-yang- pok-sit atau kambing lapar tubruk makanan. Pukulannya keras sekali dan gerakannya cepat hingga serangan pertama ini saja agaknya sudah cukup merobohkan lawan yang kurang gesit. Akan tetapi, dengan masih tenang pemuda itu mengelak ke samping hingga serangan lawan mengenai tempat kosong.

Lie Bong melanjutkan serangannya dengan pukulan Siok-lui-kik-ting atau Petir sambar kepala. Serangan kedua ini lebih hebat dan pukulan yang ditujukan ke arah kepala Gan Bu Gi itu. Kalau mengenai sasaran mungkin akan menghancurkan kepala pemuda itu. Sekali lagi pemuda itu mengelak dengan cepat luar biasa sehingga Lie Bong mulai merasa panas dan penasaran.

Ia tiada hentinya menyerang bertubi-tubi, kini tidak sungkan-sungkan lagi dan mengeluarkan serangan-serangan yang paling berbahaya. Namun sungguh mengherankan, jangankan mengenai tubuh pemuda itu, ujung baju yang panjang dari pemuda itu saja ia tak mampu menyentuhnya! Pemuda itu berkelebat ke kanan-kiri dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, gesitnya melebihi burung walet dan setelah menyerang belasan jurus, belum juga Lie Bong berhasil memukul lawannya.

Kini barulah para perwira merasa terkejut, sedangkan Tin Eng sendiri merasa kagum melihat kelincahan pemuda itu yang ternyata memiliki ilmu gin-kang atau keringan tubuh yang luar biasa sekali. Makin cepat Lie Bong menyerang, makin cepat pula pemuda itu bergerak sehingga sebentar saja tubuhnya seakan-akan menjadi tiga atau empat karena cepatnya gerakannya. Lie Bong mulai merasa pening karena ia tidak melihat dengan jelas ke jurusan mana lawannya mengelak dan tahu-tahu lawannya telah berada di kanan, di kiri, bahkan di belakangnya.

Tak terasa lagi Liok Ong Gun bertepuk tangan saking gembiranya.

“Gan-kongcu, balaslah, jangan sungkan!” teriaknya, lupa bahwa pertandingan itu sebetulnya hanya merupakan ujian bagi calon perwira itu.

Mendengar ini, Gan Bu Gi berkata kepada Lie Bong,

“Ciangkun, maafkan siauwte!” Baru saja kata-kata ini diucapkan, tahu-tahu Lie Bong memekik dan tubuhnya terlempar sampai dua tombak jauhnya, jatuh berdebuk dengan pantat di depan ke atas tanah sehingga debu mengepul ke atas dan ia merasa pantatnya sakit sekali! Ternyata bahwa ketika ia sedang memukul, secepat kilat pemuda itu mengelak dan melompat ke samping dan ketika ia melanjutkan serangannya dengan sebuah tendangan, sambil mengelak pemuda itu lalu mendorong tubuh belakangnya dari samping dengan tenaga yang luar biasa besarnya sehingga tidak ampun lagi ia terbawa oleh tenaga tendangan dan dorongan itu sehingga terlempar jauh! Terdengar suara terbahak-bahak dari Seng Le Hosiang dan Bong Bi Sianjin, dibarengi tepuk tangan Liok Ong Gun yang merasa kagum sekali.

Dengan mendongkol, malu, dan pemasaran Lie Bong merayap bangun dan hendak melawan dengan menggunakan senjata, akan tetapi ternyata bahwa tubuh belakangnya terasa sakit sekali sehingga ketika ia berdiri, ia merasa bahwa tak mungkin baginya untuk maju bertanding lagi. Ia hanya berdiri dan mengurut-urut pantatnya sambil meringis kesakitan!” Sementara itu, empat orang perwira lainnya merasa penasaran sekali melihat betapa Lie Bong dipermainkan demikian mudahnya oleh pemuda itu. Thio Sin sebagai kepala perwira merasa penasaran dan melompat maju sambil menjura kepada Liok Ong Gun dan berkata,

“Taijin, oleh karena saudara Lie Bong sudah kalah dan tidak mungkin untuk melakukan ujian senjata, biarlah siauwte sendiri yang maju untuk melakukan ujian ini.”

Liok Ong Gun mengangguk dengan girang dan Thio Sin mencabut sepasang siang-kiam (sepasang pedang) yang tajam dan tipis. Ia terkenal sebagai ahli main siang-kiam yang jarang mendapat tandingan maka ia yakin bahwa kini ia akan dapat mengalahkan pemuda yang hendak mendesak kedudukannya itu. Hatinya merasa iri sekali melihat betapa Liok Ong Gun agaknya tertarik dan kagum sekali kepada Gan Bu Gi.

Setelah melompat dengan ringan dan gesitnya kehadapan pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menyilangkan sepasang pedangnya di dada.

“Gan-kongcu, harap kau suka mengeluarkan senjatamu agar kita dapat segera menguji kepandaian masing-masing. “ Dengan hati–hati Thio Sin menyebut “menguji kepandaian masing-masing” dan tidak menguji kepandaian pemuda itu, oleh karena ia menduga bahwa pemuda itu tentu berkepandaian tinggi dan belum tentu ia dapat mengalahkannya.

Gan Bu Gi balas menjura, “Ciangkun, biarlah kau saja yang mempergunakan senjata, siauwte akan menghadapimu dengan bertangan kosong saja. Bukankah kita hanya hendak main-main saja?”

Thio Sin marah sekali dalam hatinya karena jawaban ini. Biarpun tidak dikeluarkan untuk menghinanya akan tetapi maksudnya sama dengan memandang rendah. Ia adalah perwira kelas satu di kota Kiangsui, bahkan apabila ia menjadi perwira di kotaraja, sedikitnya akan menduduki kelas tiga. Ilmu silatnya tinggi dan sudah dikenal oleh semua orang. Apakah sekarang ia harus menghadapi seorang pemuda gunung yang bertangan kosong ini dengan senjatanya? Sungguh memalukan sekali. Jangankan sampai kalah, biarpun ia mendapat kemenangan, namanya akan jatuh dan ia akan ditertawakan orang karena sebagai seorang perwira tinggi ia melawan dan menjatuhkan seorang pemuda tak ternama yang bertangan kosong dengan menggunakan siang-kiam! Maka ia lalu berkata,

“Gan-kongcu, aku percaya bahwa kau memiliki ilmu silat yang luar biasa tingginya. Akan tetapi kalau kau tidak menghadapiku dengan senjata, terpaksa ujian ini tidak dapat dilanjutkan.”

Mendengar ucapan ini, Bong Bi Sianjin lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata dengan suara keras,

“Ciangkun, kalau muridku sudah menggunakan senjata, maka pertandingan ini tidak akan menarik lagi. Akan tetapi oleh karena memang sudah menjadi peraturan, biarlah muridku mempergunakan senjata dan kau bersama tiga orang kawanmu itu maju berbareng hingga pertempuran ini akan menarik dan sedap ditonton! Bu Gi, kau pergunakanlah senjatamu, akan tetapi jangan yang tajam, cukup dengan jubahmu itu saja,” perintahnya kepada muridnya.

Gan Bu Gi mengangguk dan segera menanggalkan jubahnya yang panjang itu. Ternyata bahwa di sebelah dalam ia memakai pakaian yang ringkas dan kini ia nampak gagah sekali. Ia menggulung jubahnya itu dan memegang di tangan kanan, lalu berkata kepada Thio Sin,

“Ciangkun, kau telah mendengar usul suhu tadi. Harap kau dan ketiga orang kawanmu itu maju berbareng dan marilah kita main-main sebentar!” Saking marah dan mendongkolnya melihat kesombongan Bong Bi Sianjin yang mengusul agar muridnya itu dikeroyok empat, Thio Sin tak dapat mengeluarkan kata-kata dan hanya memandang dengan mata terbelalak marah. Akan tetapi ketiga orang kawannya tak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Mereka ini adalah tiga saudara yang disebut Kiangsui Sam- eng atau Tiga Pendekar Kiangsui karena sebelum mereka menjadi perwira-perwira pengawal Liok Ong Gun, memang mereka ini merupakan tiga saudara cabang atas di kota itu.

Kepandaian mereka tidak rendah, hanya kalah sedikit saja dari Thio Sin, maka kini mendengar kesombongan itu, mereka menjadi marah sekali dan berbareng mereka melompat ke tengah lapangan sambil mencabut pedang masing-masing!

“Baik, kami akan maju bareng!” kata Thio Sin. “Akan tetapi, ini bukan kehendak kami.” Kemudian ia menghadapi Liok Ong Gun untuk minta perkenan pembesar itu.

Liok Ong Gun juga merasa penasaran ketika melihat betapa para perwiranya dipandang rendah. Ia ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda itu dengan sepotong jubah saja sanggup menghadapi keempat orang perwira yang memegang pedang, maka ia lalu mengangguk dan berkata,

“Karena mereka yang meminta, biarlah kalian mulai saja.”

Tin Eng merasa semakin kagum dan heran. Ia kagum melihat kelihaian pemuda itu dan heran melihat keberaniannya. Ia maklum bahwa empat orang perwira ayahnya itu memiliki kepandaian yang tidak rendah dan apabila mereka maju bersama, maka mereka merupakan merupakan lawan yang tangguh. Akan tetapi diam-diam ia merasa gembira oleh karena ia akan menyaksikan pertandingan yang benar-benar hebat.

Sementara itu, pelayan muda yang tadi masih mencabuti rumput dan hanya menonton pertandingan yang terjadi antara Gan Bu Gi dengan Lie Bong, kini juga tertarik sekali hingga lupa untuk melakukan pekerjaannya. Dengan tangan kiri memegang sekepal rumput yang sudah dicabut, ia berjongkok tanpa bergerak dan nongkrong di situ sambil memandang dengan hati berdebar.

Gan Bu Gi dengan tenangnya berdiri menghadapi empat orang perwira itu dengan jubah tergulung dalam tangannya. Sikapnya tenang, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya sehingga Liok Ong Gun makin lama makin kagum saja melihatnya. Pemuda yang baru berusia paling banyak dua puluh tahun itu benar-benar mengagumkan, baik kepandaian maupun keberaniannya.

Melihat sikap pemuda itu, Thio Sin lalu berkata sambil menahan marahnya, “Kongcu, kau sendiri yang memilih senjatamu, jangan kau menyesal kalau nanti roboh di tangan kami.” “Tidak akan ada penyesalan dalam hal ini dan silahkan mulai, cuwi ciangkun!” jawab Gan Bu Gi yang memperlebar senyumnya. Pemuda ini merasa gembira sekali bukan karena kemenangannya, akan tetapi oleh karena ia maklum bahwa Tin Eng gadis bidadari itu sedang memandangnya dengan penuh perhatian dan ia mendapat kesempatan untuk memamerkan kepandaiannya kepada dara jelita yang telah membetot hatinya.

Thio Sin dan kawan-kawannya lalu mulai menyerang dengan senjata mereka. Gerakan mereka itu gesit dan cepat sekali, setiap serangan yang mereka lakukan amat berbahaya. Akan tetapi pemuda itu dengan tenangnya lalu menggerakkan jubah di tangannya dan sekali gus saja semua senjata lawan dapat ditangkis dengan hebat. Empat orang perwira itu merasa terkejur sekali ketika merasa betapa tenaga yang keluar dari tangkisan itu hebat dan kuat sekali, maka mereka lalu maju lagi mendesak dari segala jurusan dengan berpencar. Sebentar saja pemuda itu terkepung dari empat penjuru dan datangnya serangan lawan bagai hujan.

Akan tetapi ia segera berseru keras dan Tiba-tiba jubah di tangannya yang kini menjadi sebatang senjata yang keras dan kuat itu, diputar demikian cepatnya sehingga tubuhnya tertutup sama sekali oleh gulungan sinat senjata istimewa ini.

Tak terasa lagi Tin Eng berseru dengan suara nyaring, “Bagus sekali!” Sementara itu, pelayan muda Bun Gwat Kong yang juga merasa kagum, tak terasa pula meremas-remas rumput digenggamannya sehingga menjadi hancur. Kini ia tidak berjongkok lagi akan tetapi berdiri dan memandang tanpa berkedip. Ia kagum melihat kehebatan permainan silat Gan Bu Gi dan diam-diam merasa iri hati melihat betapa senjata istimewa pemuda itu dapat melindungi dirinya sedemikian rupa terhadap kurungan lima batang pedang dari keempat perwira itu. Memang Gan Bu Gi hendak mendemonstrasikan kepandaiannya dan ia hanya memperlihatkan kekuatan menahan semua serangan itu tanpa membalas sedikit pun. Tiga puluh jurus lebih telah berjalan dan senjata empat orang perwira itu ternyata sama sekali tidak dapat mendesak padanya. Kini barulah mereka maklum dan mengakui keunggulan pemuda itu dan merasa kuatir karena tadinya mereka sama sekali tak pernah menyangka bahwa pemuda gunung itu demikian lihai.

“Bu Gi, rampas senjata mereka!” Tiba-tiba Bong Bi Sianjin berseru dengan gembira. Mendengar perintah suhunya ini, Gan Bu Gi lalu berseru keras dan gulungan baju panjang di tangannya lalu bergerak secara luar biasa sekali. Kini baju itu bergulung-gulung dan sebentar saja ia berhasil melibat sepasang siang-kiam dari Thio Sin dan sekali membetot, sepasang pedang itu terlepas dari pegangan dan jatuh di atas lantai! Tiga pendekar Kiangsui terkejut melihat ini dan sebelum mereka sempat mengelak, pedang mereka telah terlibat pula dan terbetot sehingga terlepas dari pegangan pula!

Pada saat itu juga, Lie Bong yang berhati curang melihat kekalahan kawan-kawannya, dari belakang lalu mengirim tusukan dengan pedangnya tanpa memberi peringatan lebih dulu. Tin Eng yang bermata tajam dapat melihat gerakan ini dan ia tak dapat menahan jeritannya, sedangkan pelayan muda yang berdiri di belakangnya lalu tanpa disadarinya menggerakkan

tangan yang mengepal hancuran rumput tadi. Gerakan ini dilakukannya karena ia pun melihat hal itu dan terkejut. Maksudnya hendak mencegah kecurangan itu, akan tetapi karena ia tidak berani maju, maka tangannya secara otomatis lalu melempar bubukan rumput itu ke arah pedang yang ditusukkan!

Gan Bu Gi juga merasa datangnya angin tusukan senjata, maka secepat kilat ia memutar tubuh dan menggerakkan jubahnya untuk menangkis! Semua kejadian ini terjadi cepat sekali dan semua mata ditujukan ke arah Lie Bong dan Gan Bu Gi hingga tak seorangpun melihat datangnya hancuran rumput itu. Dengan tenaga yang luar biasa, hancuran rumput itu memukul pedang Lie Bong dan sambil berteriak keheranan, perwira ini merasa betapa pedangnya disambar oleh sebuah tenaga raksasa sehingga pedangnya terlepas dari pegangan! Sementara itu, jubah di tangan Bu Gi sudah menyambar ke arah tubuhnya. Akan tetapi, ‘senjata rahasia’ yang membentur dan melemparkan pedang Lie Bong tadi, terpental dan dengan tenaga yang masih hebat kini meluncur ke arah jubah Gan Bu Gi. “Brettt!” Jubah itu tertembus oleh hancuran rumput dan menjadi bolong!

Gan Bu Gi terkejut sekali dan cepat menarik kembali jubahnya yang ketika diperiksa ternyata telah menjadi bolong! Ia mengerling ke arah Tin Eng yang memandangnya dengan dada lega karena pemuda itu dengan secara lihai sekali telah menyelamatkan diri. Tak seorangpun tahu bahwa ada senjata rahasia yang aneh telah menolong pemuda itu. Orang satu-satunya yang tahu hanyalah Gan Bu Gi sendiri dan pemuda ini pun menyangka bahwa nona jelita itulah yang telah menolongnya, maka diam-diam ia menjadi girang sekali dan juga terkejut karena tak disangkanya bahwa nona itu sedemikian lihai sehingga tenaga sambitannya berhasil membuat jubahnya menjadi berlubang!

Dengan senyum manis Gan Bu Gi mengangguk ke arah Tin Eng dan berkata perlahan-lahan, “Terima kasih!”

Hal ini membuat Lie Bong merasa heran karena tadipun ia tak mengerti mengapa tiba-tiba pedangnya terlepas sedangkan jubah di tangan lawannya itu belum menyentuh sendjatanya. Juga Tin Eng merasa terheran karena ia tidak mengerti mengapa pemuda itu berterima kasih kepadanya. Yang paling merasa heran adalah si pelayan muda itu sendiri. Tanpa disengaja ia menyambit ke arah pedang Lie Bong dan melihat betapa benda lunak yang disambitkannya itu dapat melemparkan pedang perwira itu, bahkan menembus jubah di tangan Gan Bu Gi, ia merasa terheran-heran dan menjadi bengong! Kemudian ia lalu pergi dari situ, masuk ke dalam kandang kuda di mana ia duduk melamun sambil mengelus-elus kuda yang menjadi sahabat baiknya.

Sementara itu, Thio Sin dan kawan-kawannya lalu menjura kepada Gan Bu Gi dan dengan jujur berkata, “Gan taihiap benar-benar hebat! Kami berlima mengaku bahwa kau memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi dari pada kami. Sudah sepatutnya kalau kau diangkat menjadi Panglima Tertinggi di Kiangsui!”

Memang Thio Sin seorang yang cerdik. Tadinya ia merasa penasaran karena pemuda ini dianggap sebagai pendesak kedudukannya. Akan tetapi setelah menyaksikan betapa lihainya pemuda ini, ia merasa lebih baik menjadikannya sebagai sahabat dari pada sebagai musuh, maka ia lalu memuji-mujinya untuk mengambil hati.

Liok Ong Gun merasa girang bukan main. Ia menghampiri pemuda itu dan melepaskan ikat pinggang berikut pedangnya, diberikan kepada Gan Bu Gi sambil berkata, “Gan-hiante, mulai sekarang kau kuangkat menjadi kepala perwira di daerah Kiangsui ini dan terimalah pedangku ini sebagai tanda pangkatmu!”

Gan Bu Gi lalu menjatuhkan diri berlutut menghaturkan terima kasih.

Sementara itu, Bong Bi Sianjin dan Seng Le Hosiang juga menghampiri sambil tertawa tergelak-gelak.

“Liok Ong Gun,” kata Seng Le Hosiang. “Tugasku telah selesai dan pinceng merasa girang sekali bahwa kau dapat menerima Gan Bu Gi. Sekarang aku hendak kembali karena masih ada urusan lain yang harus pinceng selesaikan.”

“Pinto juga mau pergi, taijin. Tentang perjodohan itu, biarlah lain kali kita bicarakan! Bu Gi, berhati-hatilah dalam pekerjaanmu!”

Setelah berkata demikian, dua orang kakek pertapa itu berkelebat dan bagaikan dua ekor burung saja, tahu-tahu tubuh mereka telah berada di atas dinding yang mengelilingi gedung itu! Sekali lagi mereka melambaikan tangan kemudian berkelebat lenyap dari situ.

Tin Eng memandang semua itu dengan kagum dan ketika ia melihat betapa Gan Bu Gi sekali lagi memandangnya dengan mata mengandung penuh perasaan, ia menjadi malu. Wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat ia berlari masuk ke dalam gedung.

****

Bun Gwat Kong yang berdiri termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu masih saja terheran-heran. Ia lalu membungkuk dan mengambil sekepal makanan kuda yang sudah hancur, lalu ia sambitkan makanan kuda itu ke arah tiang dengan sekuat tenaga.

Dengan mudah saja benda itu melesat ke dalam tiang kayu yang keras! Bukan main herannya sehingga ia bergidik sendiri karena ngerinya. Bagaimana ia bisa mempunyai kelihaian seperti itu?

Memang, di luar tahunya, pemuda ini memiliki kepandaian dan tenaga lweekang yang luar biasa sekali. Hal ini memang aneh sekali, akan tetapi baiklah kita berhenti sebentar untuk mengikuti pengalaman pemuda ini semenjak ia masih kecil sehingga ia menjadi pelayan di rumah gedung keluarga Liok.

Bun Gwat Kong ini sebenarnya adalah putera tunggal seorang tihu di kota Lam-hoat sebelah selatan. Ayahnya adalah seorang tihu yang amat adil dan bijaksana, serta jujur menjalankan tugasnya. Ketika Gwat Kong masih kecil, ayahnya, yakni Bun-tihu, memeriksa perkara seorang hartawan yang diadukan oleh orang-orang kampung karena memeras mereka dan merampas tanah hak milik rakyat tani. Sebagai seorang tihu yang adil, Bun-tihu menjatuhkan keputusan yang adil, mendenda hartawan itu dan merampas tanah itu untuk dikembalikan kepada yang berhak, orang-orang kampung yang miskin. Hal itu tentu saja membuat hartawan she Tan itu menjadi sakit hati dan dengan pengaruh uangnya, Tan-wangwe (hartawan she Tan) itu lalu memfitnahnya kepada pembesar yang lebih tinggi pangkatnya dan dengan curang sekali ia menyuruh seorang penjahat untuk mencuri harta dan cap kebesaran pembesar itu lalu disembunyikan ke dalam kamar Bun-tihu.

Kemudian Tan-wangwe mendakwa tihu itu sebagai seorang kepala pencuri yang diam-diam mengepalai serombongan pencuri untuk mengumpulkan harta kekayaan. Rumah Bun-tihu diperiksa dan benar saja, harta dan cap yang tercuri itu telah diketemukan di dalam kamarnya, sedangkan maling yang melakukan perbuatan itu pun lalu menyerahkan diri dan mengaku bahwa ia adalah anak buah Bun-tihu yang menjadi kepala gerombolan maling. Tentu saja semua ini adalah tipu muslihat Tan-wangwe yang sudah memberi suapan besar kepada pembesar itu sehingga Bun-tihu akhirnya ditangkap dan dijatuhi hukuman. Diam-diam maling yang telah membantu itu dibebaskan, bahkan banyak mendapat hadiah dari Tan-wangwe.

Peristiwa ini merupakan malapetaka besar bagi keluarga Bun. Bukan hanya karena hukuman itu, akan tetapi yang lebih menyedihkan hati Bun-tihu ialah kehancuran namanya. Nama yang tadinya putih bersih dan yang dijaganya dengan baik itu tiba-tiba saja menjadi ternoda kotor dan hina. Ia tak kuat menahan kesedihannya dan akhirnya membunuh diri di dalam tahanan! Nyonya Bun telah menjadi janda yang miskin karena setelah Bun-tihu ditangkap, harta bendanya dirampas semua dengan alasan bahwa harta benda itu datang dari hasil rampokan dan curian. Dengan kejamnya pembesar-pembesar atasan mengusir Nyonya Bun serta putera tunggalnya dari rumah itu. Nyonya ini lalu meninggalkan Lam-hoat dan dengan hati hancur, nyonya bangsawan yang tidak biasa hidup melarat ini merantau ke utara.

Ketika malapetaka itu menimpa keluarganya Bun Gwat Kong baru berusia lima tahun dan anak kecil yang belum tahu apa-apa ini hanya dapat menangis di sepanjang perjalanan karena sebagai putera bangsawan ia pun tidak biasa melakukan perjalanan jauh dan sengsara seperti itu! Akhirnya ibu dan anak ini setelah mengalami kesengsaraan hebat, tiba di sebuah kota di sebelah utara Lam-hoat. Kota ini adalah kota Ki-hong dan di sinilah nyonya Bun memilih tempat tinggal. Mereka mondok di tempat seorang petani miskin dan nyonya Bun lalu mempergunakan kepandaiannya untuk membuat kain sulaman indah dan menyuruh puteranya menjual hasil kerajinan tangan itu ke rumah orang-orang hartawan. Karena hasil kerjanya memang indah dan bermutu tinggi, maka barang-barang itu laku baik dan mendatangkan penghasilan yang cukup untuk biaya sehari-hari.

Kalau ia mau, nyonya Bun tentu saja dapat pergi ke rumah orang tua atau keluarga lainnya yang terdiri dari orang-orang hartawan, akan tetapi nyonya ini mempunyai keangkuhan yang tinggi dan ia tidak mau menumpangkan diri membikin repot orang lain. Selain ini, ia pun merasa malu karena tahu bahwa nama keluarganya telah menjadi cemar karena peristiwa itu. Hatinya berduka dan sakit sekali kalau teringat betapa suaminya telah meninggal dunia dalam keadaan yang amat menggenaskan. Kalau dia tidak mengingat puteranya, Gwat Kong, tentu nyonya ini telah membunuh diri pula karena sedih dan malu.

Kini ia hidup hanya untuk putera tunggalnya. Dengan rajin ia mendidik puteranya itu dalam hal kepandaian membaca dan menulis. Gwat Kong belajar dengan tekun dan rajin sehingga ia dapat memiliki kepandaian itu dengan baik karena otaknya memang tajam. Selama lima tahun sehingga usianya menjadi sepuluh, Gwat Kong merupakan seorang anak yang rajin bekerja membantu ibunya dan rajin belajar pula hingga kesedihan hati ibunya banyak terhibur karenanya.

Akan tetapi, sudah menjadi lazimnya bagi seorang anak laki-laki untuk bermain-main dan bergaul dengan sesama kawannya. Di waktu senggang, Gwat Kong keluar dari rumah dan bermain-main dengan banyak kawan di kota itu dan memang sesungguhnya bahwa pergaulan itu mempengaruhi hidup dan tabiat seseorang. Setelah banyak bergaul dengan pemuda- pemuda yang nakal maka mulai berubahlah sifat Gwat Kong yang tadinya pendiam dan penurut. Ia mulai malas belajar, bahkan kadang-kadang pada saat ibunya menyuruh dia mengantarkan hasil sulaman, anak itu tidak ada di rumah, entah pergi bermain-main di mana. Ibunya mulai berkuatir, apalagi setelah makin lama Gwat Kong makin menjadi malas, bahkan kini berani pula pergi membawa uang yang dimintanya dari nyonya itu. Nyonya Bun mulai menegur anaknya, akan tetapi tidak ada hasilnya. Diam-diam Gwat Kong telah kena pengaruh pergaulan yang kurang baik.

Kawan-kawannya yang suka berjudi itu menyeretnya sehingga anak remaja yang baru berusia sepuluh tahun itu kini gemar berjudi dan bertaruh mengadu jangkrik. Bahkan, yang lebih hebat lagi Gwat Kong mulai belajar minum arak dengan kawan-kawannya. Dan yang aneh, anak ini ternyata kuat sekali minum arak dan dalam beberapa bulan saja, tidak ada seorang pun anak di kota itu yang berani bertanding minum arak dengan Gwat Kong. Oleh karena itu, maka tak lama kemudian Gwat Kong disebut oleh kawan-kawannya ‘Ciu-siauwkoai’ atau setan arak kecil!

Baiknya bukan hanya keburukan yang ia dapat dari pergaulannya dengan anak-anak jahat itu, akan tetapi juga ada hasilnya yang baik yakni kepandaian silat. Ia mulai gemar belajar silat karena selalu kalau sedang bermain-main dan berkelahi, ia menjadi korban yang menderita kekalahan. Dan seperti juga dalam hal minum arak, dalam hal ilmu silat pun setelah ia mulai belajar dari guru silat kota itu yang menerima bayaran, tak seorangpun di antara kawan- kawannya, biar yang lebih besar sekalipun, dapat melawannya dalam perkelahian. Selain tenaganya besar, iapun memiliki kecerdikan sehingga dapat mempergunakan sedikit ilmu silat yang dipelajarinya dengan baik dan praktis, sedangkan sebagian besar kawan-kawannya itu hanyalah mempelajari ilmu silat untuk dipakai berlagak belaka, bagus dilihat kalau bersilat seorang diri, akan tetapi tidak ada gunanya jika menghadapi lawan.

Melihat keadaan puteranya ini, luka di hati nyonya Bun kambuh kembali. Tadinya hatinya yang terluka karena peristiwa yang menimpa keluarganya itu mulai sembuh dan terhibur, akan tetapi kini melihat keadaan puteranya, ia teringat kembali kepada suaminya dan berpikir bahwa anaknya takkan menjadi demikian apabila suaminya masih hidup! Hal ini amat mendukakan hatinya dan nyonya yang bernasib malang itu jatuh sakit. Barulah Gwat Kong merasa terkejut dan menyesal sekali melihat ibunya jatuh sakit, dan sekali gus ia lalu menghentikan kebiasaannya pergi bermain dan meninggalkan rumah itu. Ia berdiam saja di rumah menjaga, akan tetapi terlambat. Penyakit nyonya ini bukanlah penyakit biasa, akan tetapi penyakit yang timbul dari kesedihan hati dan akhirnya, setelah menghabiskan uang simpanan untuk membeli obat guna menyembuhkan ibunya ternyata penyakit itu mengantar nyonya Bun pulang ke alam baka.

Sebelum menghembuskan napas terakhirnya itu, dengan suara terputus-putus menceritakan kembali peristiwa yang menimpa keluarganya kepada Gwat Kong yang telah lupa sama sekali akan hal itu. Setelah mengubur jenazah ibunya atas bantuan beberapa orang kawan Gwat Kong yang baru berusia dua belas tahun itu, tak pernah dapat melupakan sakit hatinya yang timbul serentak setelah mendengar cerita ibunya. Ia bersumpah di depan kuburan ibunya untuk membalas dendam ini kepada Tan-wangwe yang tinggal di Lam-hoat. Dengan tabah anak yang baru berusia dua belas tahun itu lalu pergi ke Lam-hoat dan setelah mendapatkan rumah gedung Tan-wangwe ia lalu masuk kedalam rumah itu dan memaki-maki lalu mengamuk.

Akan tetapi, apakah daya seorang anak tanggung yang hanya memiliki kepandaian silat pasaran? Ia dianggap anak gila yang datang mengacau dan setelah menerima gebukan- gebukan dari para penjaga sehingga tubuhnya bengkak-bengkak dan kulitnya matang biru, ia dibebaskan dan diusir bagaikan seekor anjing.

Bukan main hancur dan gemasnya hati Bun Gwat Kong menerima hinaan ini. Ia lalu keluar meninggalkan Lam-hoat dan terus merantau ke utara. Akhirnya ia sampai di kota Kiangsui dan setelah mencari pekerjaan di sana-sini, akhirnya ia diterima sebagai seorang pelayan di gedung keluarga Liok, Kepala daerah Kiangsui yang kaya raya itu.

Pada waktu itu, Gwat Kong telah berusia tiga belas tahun. Dengan pikiran dewasa telah membuat ia dapat merahasiakan keadaannya. Ia bekerja dengan rajin sekali. Sikapnya yang sopan dan pendiam membuat ia disukai oleh Liok Ong Gun dan orang-orang yang tinggal di gedung itu.

Cita-cita Gwat Kong hanyalah untuk bekerja dengan baik, mengumpulkan hasil upahnya untuk kemudian dipakai biaya mencari guru silat dan kemudian membalas sakit hati orang tuanya.

Di antara semua orang yang tinggal di gedung besar itu, yang paling menarik hatinya ialah puteri tunggal keluarga Liok, yakni Tin Eng. Semenjak ia melihat anak perempuan itu, ia merasa kagum sekali dan timbul perasaan yang aneh dalam dadanya. Biarpun Tin Eng selalu memperlakukannya dengan kasar dan menyuruhnya mengerjakan ini itu dengan lagak seorang majikan memerintah hambanya, namun selalu Gwat Kong melakukannya dengan taat dan girang. Entah mengapa, ia merasa girang sekali apabila ia dapat melakukan sesuatu untuk menyenangkan hati gadis cilik itu!

Dengan adanya Tin Eng inilah maka Gwat Kong seakan-akan lupa akan segala. Lupa akan kesukaannya minum arak, lupa akan cita-citanya belajar silat dan bahkan lupa pula akan maksudnya membalas dendam sakit hati orang tuanya! Makin lama ia tinggal di situ, makin betahlah ia dan sedikitpun tidak ada keinginan dalam hatinya untuk meninggalkan tempat itu. Bahkan ia bekerja makin rajin hingga ia makin disuka saja.

Ia tahu bahwa Tin Eng suka sekali akan kembang-kembang indah, maka tiap hari ia merawat kebun kembang di belakang gedung itu, menjaganya baik-baik, menanaminya dengan bunga- bunga indah dan setiap hari selain menyapu kebun itu sehingga bersih, ia pun mencabuti rumput-rumput yang tumbuh di situ. Tanpa diperintah ia lalu menggulung lengan baju dan mencangkuli tanah yang ditumbuhi tumbuhan liar di sebelah barat kebun itu untuk memperluas kebun kembang.

Dan kerajinannya inilah yang mendatangkan hal yang sama sekali tak pernah diduganya dan yang kemudian mengubah keadaan hidupnya sama sekali.

Pada suatu hari, ketika dengan rajinnya ia pagi-pagi sekali mencangkul tanah liar yang keras karena banyak terdapat batu-batu di tempat itu, Tiba-tiba ia berseru keras karena kaget. Ia telah memukul benda yang amat keras dengan cangkulnya dan ketika diperiksanya ternyata cangkulnya telah patah ujungnya! Dengan heran ia lalu menggali tanah itu, karena kalau hanya batu yang terpukul cangkulnya tadi, tak mungkin cangkul itu sampai rusak. Benar saja dugaannya, setelah ia menggali di bawah tanah itu terdapat sebuah peti logam yang kecil, akan tetapi berat dan kokoh kuat sekali.

03. Cinta Kasih Pelayan Muda

Dengan hati berdebar ia membersihkan peti besi itu dan ternyata bahwa tutup peti itu tidak terkunci. Ia lalu membukanya dan karena tertutup itu rapat sekali, maka tidak ada tanah yang masuk ke dalam peti. Akan tetapi, kalau tadinya ia menyangka akan mendapatkan harta pusaka di dalam peti, ia kecewa, karena ternyata bahwa isi peti itu tak lain hanyalah tiga buah kitab yang kertasnya telah menjadi kuning saking tuanya. Terutama yang sebuah dan yang paling tebal, sudah amat tuanya dan pinggirannya telah banyak di makan kutu, akan tetapi tulisan di dalamnya masih lengkap.

Dengan ingin tahu sekali Gwat Kong membuka-buka kitab itu satu demi satu. Kitab pertama adalah sebuah kitab kecil yang berisi tulisan kecil-kecil dan ternyata kitab ini adalah semacam kamus yang menerangkan arti tulisan-tulisan kuno. Kitab kedua adalah semacam kitab pelajaran ilmu silat tangan kosong dan ilmu silat pedang yang ditulis dengan huruf-huruf amat buruk, akan tetapi mudah dimengerti isinya. Adapun kitab ketiga yang tertua dan paling tebal itu, pada sampulnya terdapat lukisan Burung Garuda yang indah sekali dan ketika ia membukanya ternyata bahwa kitab ini penuh dengan tulisan-tulisan tangan yang bukan main bagusnya. Akan tetapi sayang sekali, tulisan-tulisan itu agaknya dilakukan oleh seseorang di jaman dahulu sehingga bahasanya adalah bahasa kuno yang sukar untuk dimengerti.

Gwat Kong merasa girang juga karena mendapatkan kitab pelajaran ilmu silat itu dan mengambil keputusan untuk mempelajari ilmu silat dari buku itu. Ia segera mengubur kembali peti kosong itu dan membawa ketiga kitab tadi ke dalam kamarnya. Kedua kitab yang besar itu ia bawa dan kitab kecil seperti kamus itu ia masukkan ke dalam saku bajunya.

Dan pada saat itu, datanglah Tin Eng dari dalam. Ketika itu, Tin Eng baru berusia tiga belas tahun dan Gwat Kong berusia lima belas tahun. Akan tetapi, gadis yang baru berusia tiga belas tahun itu telah nampak cantik sekali dan ilmu silatnya telah cukup baik karena ia mendapat didikan dan latihan dari ayahnya sendiri yang menjadi anak murid Gobi-san.

Melihat Gwat Kong membawa dua buah kitab tebal, Tin Eng segera menghampirinya dan bertanya,

“Eh, Gwat Kong! Apakah yang kau bawa itu?”

Kalau saja yang melihat bukan Tin Eng, pemuda itu tentu segan untuk memperlihatkan kitab- kitabnya, akan tetapi ia memang ingin sekali menyenangkan hati Tin Eng, maka jawabnya, “Siocia, tadi aku telah mendapatkan sebuah peti terpendam di dalam tanah yang berisi kitab- kitab pelajaran silat!” katanya dengan dengan wajah berseri.

Tin Eng merasa tertarik dan menghampiri lebih dekat.

“Coba kulihat kitab itu!” perintahnya dan tanpa disengaja Gwat Kong memberikan kitab yang tertua dan yang amat tebal itu. Tin Eng membuka-bukanya sebentar, akan tetapi ia sama sekali tidak mengerti, bahkan banyak huruf yang tak dikenalnya. Memang gadis ini kurang pandai tentang ilmu membaca, maka sebentar saja kepalanya yang bagus itu telah menjadi pening ketika ia membalik-balik beberapa helai kertas dalam kitab itu.

“Ah, ini adalah kitab kuno!” katanya dan perhatiannya menipis. “Apa isi kitab itu, siocia?” tanya Gwat Kong.

Tin Eng adalah seorang gadis cilik yang cerdik dan tinggi hati. Ia tidak mau kalau sampai pelayan ini mengetahui bahwa ia tidak mengerti atau tak dapat membaca kitab itu, maka dengan lagak gagah ia berkata sambil mengembalikan kitab itu,

“Ini adalah kitab berisi syair zaman kuno semacam kitab To Tik King hasil karya Lo cu!” Mendengar ini Gwat Kong menahan gelinya di dalam hati, karena biarpun ia hanya mengerti sedikit saja akan isi kitab kuno itu, namun ia tahu bahwa kitab ini bukanlah kitab syair!

Tin Eng lalu memeriksa kitab kedua dan makin lama wajahnya makin berseri-seri.

“Inilah kitab pelajaran silat yang hebat!” serunya dengan bisikan dan kedua pipinya menjadi merah. “Gwat Kong, kitab ini kau berikan kepadaku saja!”

“Boleh saja, siocia. Untuk apakah kitab seperti itu padaku?” jawab Gwat Kong, padahal kalau lain orang yang minta, belum tentu akan ia berikan begitu saja.

Akan tetapi, setelah membaca halaman pertama dari kitab itu, Tin Eng lalu berkata lagi, “Gwat Kong, kau harus merahasiakan hal ini dari siapa pun juga, bahkan kepada ayah sendiri kau tidak boleh menceritakan tentang kitab ini, mengerti? Kitab kuno itu boleh kau simpan, akan tetapi jangan sampai ketahuan orang lain!”

Gwat Kong mengangguk, akan tetapi ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk mengetahui sebabnya, maka ia bertanya,

“Baik, siocia. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui sebabnya maka hal ini harus dirahasiakan?”

Tin Eng memandangnya dengan mata merah. “Kau tidak perlu tahu!” katanya, akan tetapi agaknya ia merasa bahwa ia berlaku keterlaluan, maka sambil membuka halaman pertama tadi ia berkata, “ Ini, kau baca sendiri!” Gwat Kong melihat betapa pada halaman pertama itu, di sebelah bawah, terdapat tulisan yang tadi ia tidak memperhatikannya dan tulisan itu berbunyi demikian,

“Yang mendapatkan kitab ini berarti ada jodoh dan boleh mempelajari ilmu silat ini, akan tetapi dengan syarat bahwa ia sama sekali tidak boleh memberitahukan kepada orang lain tentang pelajaran ini.”

Biarpun sepintas lalu saja, Gwat Kong sudah dapat membaca habis kalimat itu, akan tetapi ia berpura-pura tidak mengerti dan memandang dengan bodoh.

“Aku, tak dapat membacanya, siocia.”

“Ah, ya aku lupa,” kata Tin Eng sambil menarik napas panjang. “Seorang pelayan muda

seperti kau tentu saja tak pandai membaca.” Kemudian ia lalu membacakan kalimat itu kepada Gwat Kong dan berkata,

“Karena itu, kita harus merahasiakan hal ini dari siapapun juga, dan kitab syair kuno itu boleh kau simpan atau kau bakar saja karena tiada gunanya.”

“Kalau siocia sudah mempelajari ilmu silat ini tentu akan menjadi pandai sekali,” kata Gwat Kong dengan mata berseri.

“Sudahlah, jangan banyak mengobrol, lekas kau sembunyikan kitab tebal itu sebelum orang lain melihatnya,” kata Tin Eng tergesa-gesa dan ia menyembunyikan kitab pelajaran silat itu di dalam bajunya, lalu masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke kamarnya sendiri. Gwat Kong juga segera masuk ke dalam kamarnya dan menyembunyikan kitab tebal itu. Dan barulah ia teringat akan kitab kamus kecil di dalam saku bajunya, maka iapun segera menyimpan pula kitab kecil itu. Setelah itu ia kembali ke kebun dan melanjutkan pekerjaannya, akan tetapi hatinya selalu memikirkan penemuan kitab-kitab itu. Giranglah hatinya memikirkan bahwa ia telah memberi kesempatan kepada Tin Eng untuk mempelajari kitab itu dan kalau kelak Tin Eng menjadi seorang yang pandai, maka jasanyalah itu.

Setelah malam hari tiba, Gwat Kong mulai mengeluarkan kedua kitab tadi dan membuka- bukanya. Alangkah girangnya bahwa kamus kecil itu adalah catatan-catatan yang menerangkan isi kitab kuno itu sehingga ia mulai dapat membacanya dan bukan main terperanjat dan gembiranya ketika mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu adalah pelajaran ilmu silat tinggi terdiri dari tiga bagian.

Bagian pertama adalah pelajaran latihan lweekang dan ginkang, bagian kedua pelajaran ilmu silat tangan kosong yang disebut Sin-eng Kun-hoat, bagian ketiga adalah pelajaran ilmu silat pedang yang disebut Sin-eng Kiam-hoat! Kini mengertilah ia bahwa kitab yang dibawa oleh Tin Eng tadi hanyalah salinan dari pada kitab kuno ini dan yang disalin hanya bagian ilmu pedangnya saja, akan tetapi menurut dugaannya karena melihat buruknya tulisan penyalin itu, maka salinan itupun tidak sempurna. Inilah kitab aslinya, kitab kuno peninggalan seorang sakti yang kini dapat ia pelajari dengan pertolongan kamus kecil ini. Bukan main girangnya hati Gwat Kong dan ia segera berlutut sambil mengangkat tinggi-tinggi kitab itu dan berbisik, “Teecu akan mempelajari isi kitab ini, harap locianpwe memberi berkah dan ijin.”

Semenjak saat itu, setiap malam ia mempelajari isi kitab itu dengan penuh ketekunan. Ia memperhatikan isi kitab itu dari baris pertama dan mempelajarinya dengan penuh kerajinan dan ketekunan, dengan bantuan kamus itu. Ternyata susunan pelajaran itu rapi sekali dan ia mulai mempelajari bagian pertama di mana terdapat pelajaran-pelajaran bersemedi dan latihan napas untuk memperkuat lweekang dan ginkang.

Demikian pula keadaan Tin Eng. Gadis ini dengan diam-diam mempelajari ilmu silat pedang yang tidak diketahui namanya itu di dalam kamarnya. Dengan girang ia mendapat kenyataan bahwa ilmu pedang itu benar-benar lihai dan hebat sekali, jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat yang ia pelajari dari ayahnya.

Selama dua tahun lebih, Tin Eng dan Gwat Kong mempelajari isi kitab itu dalam kamar masing-masing, akan tetapi tentu saja Tin Eng tidak tahu bahwa pemuda pelayan yang bodoh itu pun sedang mempelajari ilmu silat yang sama dengan yang dipelajarinya, bahkan yang aslinya. Gadis ini hanya melihat betapa tubuh pelayan itu makin kurus saja seperti orang sakit. Ia tidak pernah menduga bahwa hal ini adalah karena Gwat Kong hampir tak pernah tidur di waktu malam untuk mempelajari ilmu itu dengan penuh ketekunan.

Dan dalam hal mempelajari ilmu itu, Gwat Kong jauh lebih rajin dari pada Tin Eng dan juga pemuda itu tidak sering terganggu karena gadis itu tinggal di dalam gedung dan sewaktu- waktu ibunya dan ayahnya tentu datang ke kamarnya. Sedangkan Gwat Kong tidur di dekat kandang kuda karena tugasnya pula untuk merawat kuda, jarang sekali mendapat gangguan. Baik Tin Eng maupun Gwat Kong, keduanya tidak sadar sama sekali bahwa mereka telah mempelajari ilmu silat Sin-eng Kiam-hoat yang pada ratusan tahun yang lalu telah menggemparkan dunia persilatan! Bahkan penyalin yang buruk tulisannya itu ketika masih hidup, merupakan jago silat yang tak terkalahkan sungguhpun ia hanya mempelajari ilmu silat itu dengan kurang sempurna oleh karena orang itu kurang pandai menyalin isi kitab!

Kedua orang muda itu tidak tahu bahwa di dalam tubuh mereka telah memiliki ilmu kepandaian yang amat mengagumkan. Terutama sekali Gwat Kong yang mempelajari kitab aslinya dan yang mempelajari dari tingkat permulaan. Pemuda itu sama sekali tidak merasa bahwa ia telah memiliki kepandaian kepandaian yang sukar diukur tingginya.

Ketika terjadi pertempuran melawan maling sakti dan berhasil mengalahkan maling itu, barulah Tin Eng sadar akan kelihaian ilmu pedang yang secara rahasia dipelajarinya itu dan tentu saja ia menjadi girang dan bangga sekali, akan tetapi pada waktu itu, tetap saja Gwat Kong sendiri belum menyadari bahwa ia telah memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada Tin Eng!

Gadis yang keras hati dan manja ini tetap memegang teguh rahasianya sehingga biarpun ayahnya sendiri yang bertanya karena terheran melihat kemajuannya setelah ia berhasil menangkap maling, tidak diberitahunya tentang kitab itu.

Maka tibalah saatnya Gwat Kong menyadari dan mengherankan kelihaiannya sendiri yakni ketika terjadi pertandingan sebagai ujian terhadap pemuda Gan Bu Gi itu. Tanpa disengaja ia menyambit dengan hancuran rumput yang digenggamnya dan ternyata bahwa berkat latihan lweekang dari kitab itu, ia memiliki pandangan mata yang luar biasa tajamnya sehingga bidikannya mengenai sasaran dengan tepat!

Sebagaimana dituturkan di bagian depan, Gwat Kong termenung di kandang kuda sambil mengelus-elus leher kuda itu. Semalam suntuk ia tidak dapat tidur, karena selain ia merasa bangga dan girang mendapat kenyataan tentang kelihaian ilmu silatnya. Iapun merasa amat gelisah.

Pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu amat tampan dan gagah dan agaknya Tin Eng tertarik hatinya kepada pemuda yang kini diangkat menjadi panglima dalam gedung keluarga Liok. Ia tidak tahu tentang percakapan kedua kakek itu dengan Liok Ong Gun tentang perjodohan.

Kalau ia tahu, tentu ia akan merasa makin gelisah lagi! Diam-diam dan di luar tahunya, pemuda yang kini menjadi pelayan ini telah terkena panah asmara yang menancap dalam- dalam di lubuk hatinya.

****

Kawan-kawan baik yang merupakan hiburan bagi Gwat Kong hanyalah kuda-kuda di dalam kandang dan juga sebuah suling bambunya. Setahun yang lalu ketika ia membabat bambu- bambu di dalam kebun kembang, ia merasa suka melihat bambu kecil yang hijau dengan bintik-bintik kuning, maka dalam waktu senggangnya ia lalu membuat sebatang suling. Ia tidak pandai menyuling, akan tetapi oleh karena tidak ada hiburan lain, ia mulai mempelajari dan dapat juga meniup beberapa lagu dari suling buatan sendiri itu.

Akan tetapi ia jarang sekali meniup sulingnya. Malam hari itu, bulan bersinar terang dan Gwat Kong membawa sulingnya menuju ke kebun kembang. Ia merasa sedih sekali malam itu karena banyak hal yang mengganggu hatinya. Pertama-tama hal Gan Bu Gi. Telah enam bulan lamanya pemuda tampan itu bekerja pada Kepala daerah Liok dan kini pemuda itu selalu mengenakan pakaian panglima yang menambah kegagahannya.

Ternyata pemuda gunung yang dulu amat sederhana itu, setelah mendapat kedudukan tinggi dan tinggal di kota besar, kini menjadi seorang pesolek. Hal ini bukan merugikan baginya, karena ia tampak makin tampan dan makin gagah saja sehingga tidak heranlah apabila Tin Eng merasa tertarik hatinya. Hal ini amat menggelisahkan dan menyusahkan hati Gwat Kong. Hal kedua yang membuatnya bersedih pada malam hari itu adalah kenangan tentang dendam hatinya terhadap Tan-wangwe.

Ia kini telah memiliki kepandaian dan seharusnya ia boleh mencoba kepandaiannya itu untuk membalas dendam orang tuanya. Akan tetapi bagaimana ia bisa meninggalkan pekerjaan? Ia tidak merasa berat untuk meninggalkan pekerjaan, karena iapun tidak terlalu suka menjadi pelayan seumur hidupnya, akan tetapi yang berat baginya ialah bahwa ia harus meninggalkan Tin Eng. Tak sanggup rasanya untuk pergi meninggalkan dara jelita yang telah merebut hatinya itu. Jangankan harus meninggalkan sampai lama dan jauh, sedangkan sehari saja tidak jumpa, rasa hidupnya menjadi sunyi dan kosong!

Gwat Kong duduk di bawah pohon kembang sambil memandangi bulan yang nampaknya meluncur maju, melayang-layang dan menari-nari di antara mega-mega putih. Bulan yang bundar itu tiba-tiba berubah bentuknya, bermata, berhidung dan bermulut lalu perlahan-lahan terbentuklah wajah Tin Eng yang tersenyum padanya. Ia menggosok-gosok matanya dan pemandangan itu menjadi buyar lagi. Ah, ... mengapa ia demikian tergila-gila? Ia sama sekali tidak mempunyai harapan dan mana bisa seorang pelayan rendah seperti dia menjadi jodoh puteri Kepala daerah yang kaya raya dan berkedudukan tinggi? Berpikir tentang keadaannya sebagai pelayan, tiba-tiba mengalir air mata dari kedua mata Gwat Kong. Teringatlah ia akan keadaannya di masa kecil dan kalau saja ia masih menjadi putera Bun-tihu dan tinggal di gedung besar berpakaian indah, tentu ia mempunyai banyak harapan dan tidak usah khawatir menghadapi seorang saingan seperti Gan Bu Gi!

Akan tetapi Gwat Kong adalah seorang pemuda yang telah banyak menelan pengalaman pahit getir sehingga hatinya menjadi kuat dan tabah. Segera ia mengusap pipinya yang basah dan dipaksanya senyum keluar menghias bibirnya. Sambil menatap bulan di atas kepalanya, ia berkata dalam hati,

“Kau goblok! Kalau kau masih menjadi putera tihu di Lam-hoat, mana bisa kau bertemu dengan dia? Mungkin kau menjadi seorang pemuda pemabukan!”

Ia tersenyum lagi dan teringatlah ia akan segala pengalamannya ketika masih kanak-kanak dan bermain gila dengan kawan-kawannya di kota Ki-hong. Ia merasa menyesal sekali karena kesesatannya itulah yang membuat ibunya sampai meninggal dunia.

“Aku harus membalas sakit hati ayah ibuku. Harus dan secepat mungkin! Kalau mungkin besok pagi aku harus pergi.”

Akan tetapi kembali bulan di atasnya itu berubah menjadi wajah Tin Eng yang cantik jelita, membuat ia menjadi ragu-ragu dan keputusannya tadi menjadi goyah!

“Tin Eng ..... Tin Eng ” ia berbisik.

Tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya, “Gwat Kong, mengapa kau menyebut-nyebut namaku?”

Gwat Kong terkejut sekali dan menoleh. Ternyata di belakangnya telah berdiri Tin Eng yang nampak ayu sekali tertimpa cahaya bulan purnama.

“Kau .... siocia, eh ... tidak, aku tidak menyebut-nyebut nama siapapun juga ” jawabnya

gugup.

Tin Eng lalu duduk di atas rumput dekat Gwat Kong, membuat pemuda itu merasa berdebar- debar jantungnya. Memang Tin Eng tidak merasa sungkan atau malu-malu pada Gwat Kong karena biarpun mereka itu majikan dan pelayan namun karena telah empat tahun mereka tinggal bersama di satu tempat, dan hubungan mereka telah terjadi semenjak Tin Eng baru berusia sebelas tahun dan Gwat Kong tiga belas tahun, maka Tin Eng menganggap Gwat Kong sebagai seorang pelayan dan sahabat yang baik.

Gadis itu duduk sambil memandang bulan, wajahnya tertimpa cahaya bulan sepenuhnya, yang menimbulkan pemandangan yang membuat hati Gwat Kong berdenyut-denyut lebih cepat dari pada biasanya.

“Alangkah indahnya bulan itu,” kata Tin Eng dengan wajah berseri-seri.

“Nona, kau nampak gembira sekali,” kata Gwat Kong perlahan, mengagumi wajah cantik itu selagi pemiliknya memandang bulan dan tidak memperhatikannya.

“Mengapa tidak? Hidup ini memang penuh kegembiraan,” jawab Tin Eng sambil tersenyum manis, dan dara itu tetap memandang bulan.

Gwat Kong juga mengalihkan pandangannya kepada bulan lalu bertanya tanpa menoleh, “Kalau begitu kau tentu berbahagia, siocia?”

“Tentu saja!” jawab yang ditanya secara langsung. “Mengapa aku tidak bahagia?”

Gwat Kong memandang kepada gadis itu lagi dan mereka bertemu pandang karena ketika menjawab tadi, Tin Eng juga menatap wajahnya.

“Kau berhak menikmati kebahagiaan, siocia,” katanya perlahan.

“Setiap manusia berhak berbahagia,” jawab Tin Eng memandang tajam. “Gwat Kong, apakah kau hendak berkata bahwa kau tidak bahagia?”

“Gwat Kong memandang ke arah bulan lagi. “Bahagia ...? Apakah bahagia itu ...?” pertanyaan ini diucapkan dengan ragu-ragu dan perlahan, seakan-akan ia menggajukan pertanyaan itu kepada bulan dan sang bulan agaknya tidak dapat menjawab karena buktinya ia menyembunyikan dirinya di balik awan untuk menghindari pandang mata dan pertanyaan Gwat Kong yang sulit itu!

Tin Eng merasa penasaran. “Setiap orang berhak berbahagia!” ia mengulangi. “Dan kau juga! Mengapa kau tidak harus berbahagia? Apakah bedanya kau dan aku? Setiap hari aku makan nasi dan kau pun juga. Aku boleh bergembira dan kau pun juga. Apakah perbedaan antara kita?” Tiba-tiba ia sadar dan segera disambungnya cepat-cepat, “Ah, barangkali karena kau merasa diri hanya sebagai seorang pelayan dan aku seorang puteri bangsawan. Di situkah letak perbedaannya? Akan tetapi Gwat Kong, hal itupun tidak menjadi penghalang bagimu untuk menikmati kebahagiaan hidup.” Memang gadis ini pandai sekali menghubungkan sesuatu dengan filsafat hidup yang banyak dibacanya ketika ia dipaksa mempelajari ilmu kesusasteraan oleh ayahnya.

Gwat Kong merasa tidak enak untuk melanjutkan percakapan ini, maka ia lalu berkata, “Entahlah, siocia, akan tetapi buktinya hingga sekarang aku masih belum tahu apakah artinya kebahagiaan, yang ada hanyalah penderitaan dan kekecewaan,” ia menghela napas.

“Kasihan kau, Gwat Kong,” kata Tin Eng dan untuk beberapa lama keduanya diam saja memandang bulan yang telah muncul kembali, terbenam dalam lamunan masing-masing. Tiba-tiba Gwat Kong insyaf betapa berbahagianya keadaan ini. Belum pernah ia mengadakan percakapan semesra ini dengan gadis impiannya itu dan ia maklum bahwa kalau sampai Liok- taijin melihat mereka duduk berdua di atas rumput menikmati cahaya bulan, akan berbahayalah jadinya. Teringat akan hal ini, ia merasa khawatir, bukan untuk diri sendiri, akan tetapi khawatir kalau-kalau gadis itu akan mendapat teguran dan marah dari ayahnya. “Sudahlah, siocia, mari kita bicarakan tentang lain hal. Bagaimanakah dengan dengan

kitab pelajaran silat itu?”

Mendengar pertanyaan yang tiba-tiba ini, Tin Eng agak terkejut dan ia sadar kembali dari lamunannya.

“Kitab itu? Ah, justru inilah maksud kedatanganku. Aku sengaja mencarimu dengan dua maksud, Gwat Kong. Pertama-tama untuk mengucapkan terima kasihku atas penemuan kitab pelajaran itu. Kalau bukan kau yang mendapatkan kitab itu dan menyerahkan kepadaku serta menjaga sehingga rahasia ini tertutup baik-baik, aku takkan mendapat kemajuan sehebat ini.” Gwat Kong pura-pura tidak mengerti dan bertanya, “Jadi kitab itu berguna bagimu, siocia?” “Berguna? Bukan main! Sepuluh orang guru silat yang mengajarku belum tentu sebesar itu gunanya! Setelah aku menangkap maling dulu itu, barulah aku merasa betapa hebatnya kemajuan silatku, bahkan kini kepandaianku sudah lebih tinggi dari pada kepandaian ayah sendiri!”

“Aduh, hebat sekali, siocia!” kata Gwat Kong dengan kagum dan girang.

“Karena itu, maka aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu dan sebagai pembalasan budi, kalau kiranya kau perlu akan sesuatu, aku bersedia membantumu, Gwat Kong. Kau ajukanlah permintaanmu dan aku akan memberikannya sebagai hadiah.”

Gwat Kong memandang dengan muka merah. “Apakah yang dapat kuminta, siocia? Aku ... aku tidak membutuhkan sesuatu.”

“Uang misalnya, atau pakaian? Aku akan memberi dengan suka hati.”

Gwat Kong menggelengkan kepalanya. Pada saat itu, hanya satu hal yang dikehendaki dari gadis itu, akan tetapi seribu ujung pedang takkan kuasa memaksanya membuka mulut, karena yang dibutuhkan itu adalah hati penuh cinta kasih dari gadis itu. “Tidak, siocia, aku tidak

membutuhkan sesuatu. Terima kasih atas kebaikanmu.”

Tin Eng menghela napas panjang. “Kau mengecewakan hatiku, Gwat Kong. Dengan demikian maka aku tetap berhutang budi kepadamu dan entah kapan aku dapat membayarnya. Sekarang hal kedua, yaitu aku hendak minta tolong kepadamu.”

“Bagaimanakah aku yang bodoh ini dapat menolongmu, siocia?”

“Dengarlah. Kau tentu tahu sendiri betapa lihai ilmu silat Gan-ciangkun yang kita saksikan ketika ia diuji dulu itu.”

Kalau saja cahaya bulan bukannya memang sudah pucat, tentu Tin Eng akan dapat melihat betapa wajah pemuda itu menjadi pucat ketika mendengar kata-kata ini. “Kau maksudkan pemuda yang bernama Gan Bu Gi itu, siocia?”

Tin Eng mengangguk. “Ya, dialah, akan tetapi jangan sekali-kali kau menyebut namanya begitu saja, harus menyebut Gan-ciangkun karena ia telah menjadi perwira kelas satu, bahkan menjadi panglima dari ayah. Nah, aku ingin sekali mencoba kepandaiannya, kau harus menyampaikan kepadanya akan keinginan hatiku ini. Kalau mungkin, besok malam suruhlah dia datang ke tempat ini untuk mengadu kepandaian dengan aku. Kalau belum mengukur kepandaiannya dengan ilmu pedangku sendiri, aku masih belum puas.”

Untuk beberapa saat Gwat Kong tak dapat berkata-kata. Hatinya merasa perih sekali karena ia dapat menduga bahwa gadis ini tertarik oleh ketampanan wajah panglima muda itu, maka hendak mencoba kepandaiannya pula sebagai pembukaan isi hatinya!

“Bagaimana, Gwat Kong? Kau mau menolongku atau tidak?”

“Tentu saja, siocia. Besok pagi aku berusaha menyampaikan hal ini kepadanya. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai ayahmu mendapat tahu?”

“Ah, hal itu tidak mengapa. Bukankah sudah lazim bagi orang-orang berkepandaian silat untuk mengadakan pibu (adu kepandaian)? Dan pibu inipun hanya untuk menguji kepandaian masing-masing saja. Kalau ayah marah, biarlah aku yang menghadapinya!” Anak manja ini memang tidak takut kepada ayahnya.

Sambil menekan hatinya yang perih, Gwat Kong mengangguk dan berkata, “Baiklah, siocia. Mudah-mudahan ia tidak akan mengecewakanmu.”

“Eh, eh, apa maksudmu?”

“Tidak apa-apa, siocia. Maksudku mudah-mudahan dia mau menerima tantanganmu ini sehingga kau tidak akan menjadi kecewa.”

Tin Eng lalu meninggalkan Gwat Kong yang duduk termenung di tempat semula. Kini ia lebih berduka lagi dan makin tetap keputusannya untuk pergi meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, betapapun juga ia harus memenuhi kehendak Tin Eng dulu dan iapun hendak menyaksikan sampai di mana kepandaian gadis itu, dan apakah ia akan dapat menandingi Gan Bu Gi yang lihai itu.

Pada keesokan harinya, Gwat Kong mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Gan Bu Gi. Dengan cepat ia menghampiri dan berkata,

“Gan-ciangkun, saya membawa pesan dari Liok-siocia untukmu.”

Panglima muda ini nampak tercengang dan memandang heran. Ia sudah kenal kepada pemuda pelayan ini yang pandai membawa diri maka ia lalu bertanya, “Gwat Kong, jangan kau main- main! Pesan apakah yang dapat disampaikan Liok-siocia kepadaku?”

Melihat di situ tidak ada orang lain, Gwat Kong lalu berkata, “Siocia minta agar supaya ciangkun suka datang di kebun bunga malam nanti untuk mengadu kepandaian pedang.” Gan Bu Gi merasa makin terkejut, “Apa maksudmu? Mengadu pedang bagaimana?” “Ah, benar-benarkah kau tidak tahu, ciangkun? Pendeknya siocia ingin mengajak pibu

kepadamu dan harap saja ciangkun suka menerima tantangan ini. Malam nanti siocia menanti di taman bunga.”

Karena pada saat itu muncul pelayan lain, Gwat Kong lalu tinggalkan panglima muda yang masih berdiri dengan mata terbelalak itu. Gan Bu Gi masih terlampau muda dan kurang pengalaman untuk dapat mengetahui isi hati Tin Eng yang hendak mengukur sampai di mana tingkat ilmu silatnya itu. Namun ia merasa girang juga mendapat kesempatan untuk bertemu, bhakan mungkin bercakap-cakap dengan gadis yang cantik. Selama ia berada di situ sampai enam bulan, ia hanya mendapat kesempatan sedikit saja untuk bertemu muka dengan Tin Eng. Karena ia harus berlaku sopan dan menjaga diri agar jangan sampai tercela oleh Liok-taijin.

Pada malam hari itu, bulan masih bersinar terang, akan tetapi Gwat Kong tidak seperti biasanya, tidak keluar dari kamarnya, karena ia tidak mau mengganggu Tin Eng yang hendak mengadu kepandaian dengan Gan Bu Gi, sungguhpun ia ingin sekali menyaksikannya. Selagi ia duduk termenung di dalam kamarnya tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.

Ketika ia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang mengetuk itu adalah Tin Eng. Memang kamar Gwat Kong yang berada di dekat kandang kuda itu tidak jauh letaknya dari kebun kembang.

“Gwat Kong, kau harus ikut menyaksikan pibu ini hingga kalau sampai ketahuan oleh ayah aku mempunyai saksi bahwa aku tidak bermaksud buruk dalam hal ini.”

Gwat Kong menyembunyikan rasa girangnya. Ia bergirang oleh karena tidak saja ia mendapat kesempatan menyaksikan pertandingan, juga karena ternyata bahwa gadis itu benar-benar berhati bersih dan hanya ingin menguji kepandaian Gan Bu Gi belaka tanpa maksud-maksud lain.

Mereka lalu menuju ke tengah kebun kembang di mana memang terdapat lapangan berlatih silat yang dulu dipergunakan untuk menguji kepandaian Gan Bu Gi itu. Mereka tidak usah lama menanti, oleh karena Gan-ciangkun tak lama kemudian datang dengan sikapnya yang gagah. Ia menjura dengan hormat kepada Tin Eng yang dibalas dengan selayaknya. Jelas nampak kekecewaan membayang pada muka yang tampan itu ketika ia melihat Gwat Kong berada di situ pula.

“Saya mendengar dari Gwat Kong tentang pesanan siocia maka sekarang saya datang untuk memenuhi pesanan itu. Sebetulnya apakah kehendak siocia?” tanyanya.

“Tidak lain aku ingin mengadu kepandaian pedang denganmu, ciangkun. Marilah kita main pedang sebentar untuk menambah pengalaman,” jawab Tin Eng singkat dan ia agak malu- malu.

Gan Bu Gi tersenyum, senyum yang manis memikat dan yang membuat dada Gwat Kong terasa panas.

“Siocia, kepandaianmu telah kusaksikan dan aku masih berterima kasih atas pertolonganmu dulu itu. Baiklah, kalau kau masih penasaran dan hendak mengujiku, silahkan!” Biarpun Tin Eng merasa heran mendengar ucapan yang tidak dimengertinya ini, akan tetapi ia tidak mau membuang waktu lagi dan mencabut pedangnya. Juga Gan Bu Gi mencabut pedang dari pinggangnya sedangkan Gwat Kong yang mengerti bahwa panglima itu salah sangka ketika dulu ia membantunya terhadap serangan gelap dari perwira Lie Bong, lalu duduk di atas rumput dan menonton mereka mengadu kepandaian.

“Silahkan menyerang, siocia,” kata Gan Bu Gi dengan tenang dan ia memasang kuda-kuda dengan melintangkan pedang pada dadanya dan tangan kirinya diangkat ke atas dengan sikap yang amat menarik.

“Awas pedang!” seru Tin Eng yang segera maju menyerang dan menggunakan ilmu pedang Garuda Sakti yang baru dipelajarinya selama hampir tiga tahun itu.