-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-18 : Pendekar Gila Bertekuk Lutut (Tamat)

Bab-18 : Pendekar Gila Bertekuk Lutut (Tamat)

SEMENTARA itu, telah dua kali dengan ini Siang Cu mengalami peristiwa seperti ini, yaitu dibawa lari oleh Tiong San sambil berlompatan dan lari secepat angin. Di dalam dukungan tangan kiri pemuda itu, ia merasa amat aman dan senang, sama sekali lenyap rasa takut yang dulu masih dirasainya pada pertolongan pertama. Akan tetapi melihat betapa pemuda itu melarikan diri dari kedua perwira yang menangkapnya, ia tidak merasa puas.

“Engko Tiong San, apakah kau tidak bisa menangkan mereka?” tanyanya dan Tiong San merasa seakan- akan ia bermimpi. Benarkah ini suara Siang Cu yang berada dalam pondongannya? Telah lama sekali ia tidak mendengarkan suara gadis ini berbicara kepadanya, sehingga ia hampir tidak percaya kepada telinganya sendiri. Apalagi karena gadis ini menyebutnya “engko”, sebutan yang amat merdu dan sedap memasuki telinganya!

“Tentu saja aku berani dan dapat mengalahkan mereka!” jawabnya dengan hati berdebar-debar, sehingga Siang Cu yang menempelkan telinganya ke dada pemuda itu dapat mendengar degupan jantungnya. “Kalau begitu, mengapa kau berlari-lari seperti orang ketakutan? Mengapa kau tidak melawan dan memberi ajaran kepada orang-orang kurang ajar itu?”

“Mereka adalah utusan-utusan kaisar, bagaimana aku dapat melawan mereka? Bukankah aku akan dicap pemberontak?”

“Mereka bohong! Dari percakapan mereka aku tahu bahwa mereka sama sekali bukan utusan kaisar, tetapi adalah kaki tangan pangeran jahanam yang hendak memaksaku menjadi bini mudanya.”

Tiong San menahan langkah kakinya dan menurunkan Siang Cu dari pondongannya. “Kau berani berdiri di sini?” ujar Tiong San.

Siang Cu melihat ke bawah. Wuwungan itu tinggi sekali, akan tetapi ia merasa malu untuk menyatakan kengerian hatinya, maka ia menjawab, “Tentu saja berani!”

Tiong San tersenyum, lalu berdiri menanti datangnya dua bayangan orang yang mengejarnya.

“Shan-tung Koai-hiap, kau berani menculik pelayan kaisar?” teriak Bu Kam yang maju dengan sepasang kipasnya.

“Perwira gadungan! Jangan bertopeng nama kaisar, kalau kau memang gagah, majulah!” Tiong San membentak dan telah siap dengan sepasang senjatanya. Kini ia maklum akan menghadapi lawan tangguh, maka dipegangnya pedang pemberian Si Cui Sian di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri.

Im-yang Po-san Bu Kam membentak marah dan menyerang dengan sepasang kipasnya yang berbahaya itu, tetapi Tiong San dengan tenang menyambut serangan itu dengan pedang dan cambuknya. Ilmu kipas Im-yang dari Bu Kam sebenarnya telah mencapai tingkat tinggi sehingga ia telah menduduki tempat kelas satu dan menjadi seorang di antara perwira-perwira yang paling pandai.

Kalau Tiong San hanya memegang cambuknya saja, belum tentu pemuda ini akan dapat menang, karena biarpun ilmu cambuk Tiong San amat lihai dan mengatasi ilmu silat lawannya, tetapi dalam hal lweekang dan pengalaman pertempuran, ia masih kalah jauh. Akan tetapi, kini Tiong San memegang dua macam senjata yang digerakkan dalam ilmu silat dua macam pula, dan dalam hal kelihaian, ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat dari Si Cui Sian memang hebat dan jarang terdapat.

Wanita itu telah mempergunakan waktu puluhan tahun untuk menyempurnakan ilmu pedang ini. Kini setelah ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat digabung dengan ilmu cambuk Im-yang Joan-pian, maka kehebatannya mengagumkan sekali dan karenanya ia dapat mengimbangi kelihaian sepasang kipas dari Bu Kam.

Pertempuran itu dilakukan di atas wuwungan rumah yang tinggi dan dalam keadaan gelap. Mereka hanya mempergunakan ketajaman mata dan telinga untuk mengikuti gerakan senjata lawan, maka pertempuran kali ini benar-benar merupakan pertempuran antara mati dan hidup!

Ketika Siang Cu melihat betapa kedua orang itu bertempur dengan gerakan cepat, sehingga tubuh mereka hanya merupakan bayangan-bayangan yang sebentar lenyap sebentar muncul di antara sinar senjata yang menyambar-nyambar. Ia mulai merasa menyesal mengapa ia menyuruh pemuda itu menghadapi lawan yang demikian lihainya.

Bagaimana kalau pemuda itu sampai binasa? Demikian pikirnya dengan hati penuh kegelisahan. Ah, ia menghibur diri sendiri. Kalau Tiong San sampai tewas dalam pertempuran ini, aku akan meloncat dari atas genteng dan tubuhku akan hancur lebur, nyawaku akan menyusul nyawanya!

Sebetulnya kalau Siang Cu mengerti tentang ilmu silat, tentu ia tak usah merasa demikian gelisah. Kini Tiong San mulai dapat mendesak lawannya. Ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat dan ilmu cambuk Im-yang Joan-pian ternyata benar-benar hebat, sehingga ilmu kipas Bu Kam kali ini tidak berdaya sama sekali!

Lui Kong Bu Tong Cu si Dewa Geluduk, semenjak tadi hanya menonton saja oleh karena ia maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih kalah jauh, maka ia tidak berani turun tangan, tetapi ketika melihat betapa Bu Kam mulai terdesak hebat, ia pikir lebih baik segera bertindak merampas Siang Cu dan membawanya ke kota raja untuk menerima pahala dan hadiah dari pangeran yang menyuruhnya!

Shan-tung Koai-hiap sedang sibuk melayani Bu Kam, maka saat yang terbaik ini tak disia-siakan oleh si Dewa Geluduk. Ia melompat ke tempat Siang Cu dan sebelum gadis itu tahu apa yang terjadi, tahu-tahu tubuh si tinggi kurus yang bongkok telah berada di depannya dengan menyeringai menakutkan!

Siang Cu menjerit dan suara itu cukup membuat ujung cambuk Tiong San menyambar ke arahnya dengan kecepatan yang tak disangka-sangka! Ujung cambuk dengan tepat sekali menotok jalan darah di punggung Bu Tong Cu yang segera memekik ngeri dan tubuhnya roboh lalu menggelinding turun ke bawah genteng!

Ketika Tiong San melancarkan serangan ke arah Bu Tong Cu, Im-yang Po-san Bu Kam tidak mau membuang sia-sia kesempatan itu, maka sambil mengerahkan tenaga ia lalu menyerang dengan sepasang kipasnya! Serangan ini luar biasa hebatnya, kipas di tangan kanan menyerang kepala dan kipas di tangan kiri digunakan untuk menusuk, yakni gagang kipas yang runcing itu mengarah jalan darah di iga Tiong San!

Melihat datangnya serangan yang cepat ini, Tiong San menjadi terkejut. Cambuk di tangan kirinya sedang digunakan untuk menyerang Bu Tong Cu, sehingga tak dapat digunakan untuk menghadapi Bu Kam, maka cepat ia mengelak ke kiri sambil merendahkan tubuhnya. Serangan kipas kanan ke arah kepalanya dapat dihindarkan dengan elakan ini. Tetapi kipas kiri dari lawannya terus mengejarnya dengan cepat.

Tiong San menggerakkan pedangnya dengan tiba-tiba dan dari samping, gerakan yang benar-benar mentakjubkan karena pedang itu meluncur melalui bawah sikunya dengan memutar pergelangan tangan sedemikian rupa yang takkan mudah dilakukan oleh ahli pedang lain. Ujung pedangnya bertemu dengan kipas dan “brettt!” ujung pedang itu berhasil merobek kain kipas di tangan Bu Kam.

Alangkah kagetnya Im-yang Po-san Bu Kam melihat hal ini, dan karena ia melihat betapa kawannya sudah dirobohkan, hatinya menjadi ngeri dan ia lalu melompat pergi dengan cepat!

Tiong San melompat ke dekat Siang Cu yang memandangnya dengan kagum sekali dan kalau saja malam tidak demikian gelap, tentu pemuda itu akan melihat betapa sinar mata gadis itu amat mesra menatapnya, dan betapa dua titik air mata bergantung di bulu mata yang panjang itu. Akan tetapi ia tidak melihat hal ini dan segera berkata, “Mari kita pergi!” Ia lalu memondong tubuh Siang Cu dan membawanya melompat ke depan dan berlari cepat keluar dari kota itu.

Kedatangan mereka disambut dengan tangis gembira oleh Nyonya Lie. Nyonya ini tidak saja merasa girang bahwa Siang Cu dapat tertolong, tetapi juga diam-diam ia merasa gembira melihat kegelisahan yang membayang di wajah puteranya ketika mendengar tentang perampasan gadis itu. Diam-diam ia mengucapkan doa kepada Yang Maha Kuasa bahwa akhirnya sepasang orang muda itu akan mendapatkan hati masing-masing!

Akan tetapi, sikap Tiong San masih seperti biasa terhadap Siang Cu, acuh tak acuh dan dingin. Sebetulnya oleh karena ia merasa malu dan terlalu sopan-santun, maka ia jarang sekali berani mengajak bicara gadis itu dan kalau ia sekali-kali bicara, ia selalu bicara dengan penuh kesopanan dan selalu menyebut gadis itu dengan “Gan-siocia” (nona Gan), sehingga Siang Cu yang malam hari itu menyebutnya “kanda”, sekarang juga berobah lagi menjadi “inkong” (tuan penolong)! Hubungan mereka di luar nampak renggang sekali, dan di dalam hanya mereka saja yang tahu!

********************

Beberapa hari kemudian, pada suatu malam ketika Tiong San sedang layap-layap hendak pulas, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan di atas genteng kamarnya. Serentak pikirannya menjadi terang dan kantuknya lenyap sama sekali dan sebagai seorang ahli silat tinggi, seluruh perasaan dan pikirannya memang telah mempunyai gerakan otomatis untuk menjaga diri pada saat ia mencium datangnya bahaya. Ia maklum bahwa orang yang berada di atas gentengnya memiliki ginkang yang baik sekali, sehingga gerakannya hanya terdengar perlahan saja.

Selagi ia hendak turun dari pembaringan, tiba-tiba dari luar menyambar tujuh benda yang bersinar terang ke arah tubuhnya. Ia cepat melompat ke samping dan ternyata benda-benda itu adalah tujuh batang jarum perak yang kini menancap dan lenyap ke dalam kasur di atas pembaringan! Sebatang jarum itu kebetulan mengenai papan di pinggir pembaringannya dan sekali ia memandang, ia berseru kaget. “Siu Eng ....!” Jarum itu ternyata adalah Kiu-hwa-ciam yang biasa dipergunakan oleh Siu Eng. Ia segera menyambar pedang dan cambuknya, lalu melompat keluar dari jendelanya terus melompat ke atas genteng.

Benar saja dugaannya, gadis cantik jelita yang pernah ia permainkan itu telah berdiri di atas genteng dengan tangan memegang pedang.

“Hm, Shan-tung Koai-hiap, akhirnya aku dapat juga mencari tempat tinggalmu! Bersiaplah menerima pembalasanku!”

“Siu Eng, belum insyafkah kau akan kesalahanmu? Sayang .... sayang ....!” kata Tiong San sambil menangkis serangan Siu Eng, tetapi tanpa menjawab, gadis ini menyerang lagi dengan sengitnya. Tiong San hendak mencoba kepandaian pedang gadis itu, maka ia tidak mempergunakan cambuknya, hanya melayaninya dengan pedang saja.

Ternyata olehnya bahwa ilmu kepandaian gadis ini sudah banyak maju, akan tetapi ilmu pedangnya tidak kalah hebat sungguhpun harus ia akui bahwa dengan mengandalkan pedang saja, tak mungkin ia akan mendapatkan kemenangan dengan cepat. Dikerahkannya kepandaiannya dan di bawah sinar bulan yang terang, mereka bertempur di atas genteng dengan serunya.

Serangan-serangan pedang di tangan Siu Eng masih ganas dan cepat seperti dulu, tetapi sekarang permainannya lebih matang dan tenang, tidak banyak mengawur menuruti nafsu kemarahan hati seperti dulu, hingga diam-diam Tiong San memuji. Akan tetapi, untuk mengalahkan Shan-tung Koai-hiap, apalagi kalau dia mempergunakan jurus cambuknya, agaknya Siu Eng harus belajar sedikitnya sepuluh tahun lagi!

Selagi mereka bertempur dengan amat serunya sampai lebih lima puluh jurus, tiba-tiba dari jauh terdengar suitan nyaring dua kali. Tiba-tiba Siu Eng melompat mundur dan berkata sambil tersenyum manis,

“Shan-tung Koai-hiap, cukup sekian dulu. Besok pagi kita bertemu pula!” Gadis itu lalu melompat turun dari genteng dan melarikan diri. Tiong San tidak mau mengejar, karena iapun tidak mempunyai maksud untuk mengganggu gadis itu. Ia berdiri beberapa lama di atas genteng dan merasa heran sekali mengapa tiba- tiba gadis yang belum terdesak hebat itu telah menghentikan pertempuran dan melarikan diri. Lebih tak dimengertinya pula mengapa Siu Eng tadi mengatakan bahwa besok pagi mereka akan bertemu pula!

Ia menarik napas panjang lalu melompat turun dan memasuki rumahnya. Tiba-tiba ia menahan langkah kakinya dan wajahnya berobah. Mengapa ibunya dan Siang Cu tidak keluar? Ia tahu bahwa pada saat seperti itu, biasanya ibunya dan gadis itu belum tidur. Mengapa mereka tidak mendengar ribut-ribut tadi? Ia segera menuju ke kamar ibunya dan ia makin merasa khawatir ketika melihat pintu kamar ibunya dan pintu kamar Siang Cu yang berada di depan kamar ibunya itu terbuka! Ini tanda bahwa mereka belum tidur. Mengapa mereka tidak keluar? Apakah benar-benar mereka tidak mendengar pertempuran tadi?

Ia berlari memasuki kamar ibunya dan setibanya di dalam ia menahan teriakannya ketika melihat betapa ibunya duduk di atas sebuah kursi dengan tubuh lemas tak dapat bergerak!

“Ibu ....!” teriaknya sambil menahan napas. Ia cepat memeriksa dan hatinya menjadi lega ketika melihat bahwa ibunya hanya lumpuh karena tertotok saja. Ia cepat menggerakkan tangan menotok dan mengurut tubuh ibunya untuk memulihkan tenaganya dan membebaskan orang tua itu dari pengaruh totokan. Kemudian ia teringat sesuatu dan setelah didengarnya ibunya mengeluh tanda telah terbebas dari totokan, ia lalu melompat keluar dari kamar ibunya itu dan lari memasuki kamar Siang Cu dengan hati berdebar khawatir. Dan benar saja, gadis itu tidak berada di dalam kamarnya! Ia mencari-cari, akan tetapi gadis itu benar-benar lenyap tak berbekas!

Ibunya tersaruk-saruk menyusulnya ke dalam kamar Siang Cu.

“Ibu, di mana dia   ?? Di mana Siang Cu???” tanyanya dengan muka pucat.

“Tadi dia berada di kamarku,” kata ibunya dengan napas masih sesak, “Kemudian datang seorang wanita berpakaian sebagai seorang to-kouw (pertapa wanita) yang sekali meraba dadaku telah membuat aku seperti lumpuh. Kemudian to-kouw itu juga membuat Siang Cu tak dapat bergerak maupun berteriak, lalu memondongnya pergi setelah meninggalkan surat ini di atas meja.” Tiong San mengambil surat itu dari tangan ibunya dan segera membacanya. Tulisan tangan yang indah menghias kertas itu berbunyi:

Shan-tung Koai-hiap!

Aku mendengar dari Im-yang Po-san Bu Kam bahwa kau berada di sini dan kini mempunyai seorang kekasih yang tak lain hanya seorang pelayan hina!

Kalau kau tidak datang pada esok pagi sebelum matahari naik tinggi di kuil sebelah barat kampung, kau akan menemukan kekasihmu menjadi mayat!

Kalau kau datang pada waktu dan di tempat tersebut, akan kupikir-pikir dulu apa yang akan kulakukan dengan pelayan ini.

Tertanda Gui Siu Eng

“Perempuan jahanam!” Tiong San memaki sambil menggertakkan giginya. Ibunya tadi telah membaca surat itu sebelum memberikannya kepada Tiong San, maka ia kini bertanya dengan suara gemetar.

“Aduh, bagaimana baiknya, anakku? Kalau dia sampai mencelakakan Siang Cu ah, bukankah Siu Eng

ini gadis dari gedung pangeran Lu Goan Ong yang dulu kau permainkan? Kau telah membikin sakit hati seorang perempuan dan hal ini berbahaya sekali. Ah, ah, bagaimana baiknya?”

“Tenanglah, ibu. Aku bersumpah akan mendapatkan kembali Siang Cu,  biarpun untuk itu aku harus membunuh Siu Eng dan to-kouw yang membantunya itu, bahkan biarpun untuk itu aku harus mengorbankan nyawaku!”

Nyonya Lie memeluk pundak puteranya yang bidang, “Tiong San .... kau kau mencintainya, bukan?”

Tiong San mengangguk. “Benar, ibu. Aku mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwaku. Sungguhpun anakmu yang bodoh ini tidak tahu akan hal itu sebelum peristiwa ini terjadi!”

“Kalau begitu, lekas-lekas kau tolong dia, anakku!” suara nyonya ini mengandung kegirangan besar dan kecemasan hebat sehingga seperti suara orang yang mau menangis.

“Memang, sekarang juga aku akan menyusul ke sana, ibu, tak usah menanti besok pagi!”

Setelah berkata demikian, Tiong San lalu berlari keluar dan segera menuju ke barat. Ia tahu bahwa di sebelah barat Kui-ma-chung itu, agak di luar kampung yang amat sunyi, terdapat sebuah kuil tua yang sudah rusak dan tidak terpakai. Orang-orang kampung menganggap kuil itu angker dan dijadikan rumah setan-setan jahat, maka jarang ada orang berani memasukinya, apalagi di waktu malam hari.

********************

Ketika Siu Eng dulu melarikan diri dari kota raja setelah tak berhasil mengalahkan Tiong San, ia lalu lari mencari gurunya, yakni Kiu-hwa-san Toanio yang kini telah menjadi to-kouw dan bertapa di bukit Kiu-hwa- san. Hati gadis itu penuh dengan dendam sakit hati dan ia takkan merasa puas sebelum dapat membalas sakit hatinya terhadap Tiong San.

Kiu-hwa-san Toanio juga merasa tak senang sekali ketika ia mendengar penuturan Siu Eng betapa Shan- tung Koai-hiap telah mempermainkan dan menghinanya. Ia dapat memaklumi rasa malu dan marah yang mengamuk dalam hati muridnya, maka ketika muridnya minta pertolongannya, ia lalu menyanggupi. Demikianlah, keduanya lalu turun dari Kiu-hwa-san setelah untuk beberapa bulan lamanya Siu Eng menerima pelajaran dan latihan-latihan lagi untuk mematangkan ilmu pedangnya.

Akan tetapi, ketika mereka sedang mencari-cari itu, Tiong San tengah melatih ilmu pedang di puncak Tai- san di bawah bimbingan Si Cui Sian sehingga Siu Eng dan gurunya tidak tahu di mana adanya anak muda itu. Kemudian, mereka mendengar dari Im-yang Po-san Bu Kam bahwa kini pemuda itu telah kembali ke kampungnya, dan perwira yang telah dikalahkan oleh Shan-tung Koai-hiap ini segera menambahkan untuk membuat panas hati Siu Eng bahwa sekarang pemuda itu telah mempunyai seorang kekasih, yakni pelayan kaisar yang dilarikannya!

Tanpa membuang waktu lagi, Siu Eng lalu mengajak gurunya untuk mendatangi kampung dan rumah Tiong San. Siu Eng tidak mau mendapatkan kegagalan dalam pembalasan dendamnya, maka ia lalu mengatur siasat “memancing harimau keluar dari guanya”. Ia sendiri memancing Tiong San keluar dan bertempur untuk mencoba kepandaian pemuda itu, sedangkan gurunya diam-diam membawa suratnya dan menawan Siang Cu yang dianggapnya kekasih Tiong San itu.

Siang Cu yang menjadi korban tiam-hoat (ilmu totok jalan darah) dari Kiu-hwa-san Toanio, tak berdaya sama sekali dan tak dapat berteriak ketika ia dibawa lari oleh to-kouw yang lihai itu. Setelah tiba di kuil tua, Siang Cu dilepaskan dari totokan dan dengan tenang serta tabah ia menghadapi Siu Eng.

“Hm, kau pelayan hina-dina yang tidak tahu malu!” Siu Eng memaki-makinya dengan gemas. “Kau telah melakukan perbuatan rendah yang mencemarkan nama seluruh pelayan kaisar! Kau telah melarikan diri dengan seorang pemuda gila!”

Mendengar makian ini sama sekali Siang Cu tidak memperlihatkan muka takut, bahkan ia tersenyum tenang dan sama sekali tidak membuka mulutnya. Dengan marahnya, Siu Eng mengeluarkan maki-makian kotor, sehingga gurunya yang mendengar ini lalu berkata,

“Siu Eng, besok pagi kita menghadapi pertempuran, lebih baik beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Kau jangan terlalu ribut, aku akan tidur dan mengaso sebentar.” To-kouw ini lalu masuk ke dalam kuil bagian belakang di mana terdapat sebuah kamar yang telah bobrok dan pecah-pecah genteng serta dindingnya.

Siu Eng berjalan hilir-mudik di depan Siang Cu yang masih saja duduk menyandar tiang. Agaknya Siu Eng telah merasa capai memaki-maki dan kini ia berjalan ke sana ke mari sambil berpikir-pikir. Siang Cu mengikuti langkah Siu Eng dengan pandangan matanya dan aneh sekali, pandangan mata gadis ini nampak sayu dan agaknya ia merasa kasihan kepada Siu Eng!

Beberapa lama mereka berada dalam keadaan seperti itu. Siu Eng merupakan seekor harimau betina yang marah dan berjalan hilir mudik di ruang itu sambil menggigit-gigit bibir dan mengerutkan kening, sedangkan Siang Cu duduk menyandar tiang sambil melihat penculiknya dengan sikap yang tenang dan sama sekali tidak tampak takut atau khawatir.

“Siu Eng,” tiba-tiba Siang Cu mengeluarkan suara dengan halus, “Kau .... kau mencintainya    ?”

Siu Eng menghentikan langkahnya dan memandang kepada Siang Cu seakan-akan seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya. “Aku ....? Aku mencintai Shan-tung Koai-hiap? Hah!” Ia menyeringai menghina. “Aku benci dia! Akan kubunuh dia! Akan kubunuh dia besok pagi! Akan kubelah dadanya, kucabut jantungnya! Ya, dan kau juga. Akan kubunuh kalian berdua dengan ujung pedangku sendiri!”

Tiba-tiba Siang Cu tertawa geli. “Siu Eng, kau gadis bodoh! Sama seperti aku pula!” “Apa maksudmu? Jaga mulutmu sebelum kutampar sampai rusak!”

“Kau diracuni oleh sakit hati dan cemburu! Kau dan aku adalah gadis-gadis bodoh yang mencintai seorang pemuda pembenci wanita! Ha, sungguh lucu menggelikan. Kita berdua sama-sama patah hati, hanya bedanya, aku menerima nasib dengan diam-diam dan sabar, tetapi kau diracuni oleh rasa sakit hati dan cemburu!” Siang Cu tertawa lagi.

“Pelayan hina-dina! Kau boleh tertawa sepuas hatimu, aku tidak akan mengganggu kau sekarang! Aku tidak mau merusak mukamu agar besok pagi kekasihmu itu melihat dengan mata sendiri betapa kekasih hatinya yang manis kurusakkan mukanya. Ya, ya, kau boleh tertawa sekarang, tetapi lihat saja besok! Biarpun kekasihmu itu lihai, dengan mudah guruku akan merobohkannya! Kalian akan mampus sebelum matahari naik tinggi dan mayat kalian akan kutinggalkan di sini, biar dimakan oleh binatang liar!”

Sambil berkata demikian, Siu Eng memandang tajam dan maksudnya sebelum ancaman itu dilaksanakan, ia hendak menikmati penderitaan rasa takut pada gadis kekasih Tiong San itu. Akan tetapi ia kecele, karena Siang Cu sama sekali tidak kelihatan takut, bahkan tersenyum manis. “Siu Eng, aku tahu siapa adanya kau dan aku pernah pula mendengar tentang riwayatmu dengan Shan- tung Koai-hiap. Kau tak perlu menakut-nakuti aku, karena soal mati bagiku hanya soal kecil saja! Kalau aku tidak ingat kepada nyonya Lie yang mulia dan baik hati, apakah gunanya hidup bagiku? Mungkin akupun sudah berada di dunia lain pada saat ini. Sebagai seorang yang senasib sependeritaan dengan kau sungguhpun sikap kita berlainan, baik kuceritakan kepadamu. Terus terang kukatakan bahwa seperti kau juga, aku mencintai Shan-tung Koai-hiap, mencinta sepenuh hatiku. Akan tetapi, jangan kau kira bahwa dia juga mencintaiku! Ha, kau belum kenal baik adat Shan-tung Koai-hiap yang aneh! Kau benar-benar kecele kalau mengira bahwa dia mencintaiku. Dia adalah seorang pembenci wanita, mana bisa ia mencinta seorang seperti aku? Akupun diam-diam menderita karena kebodohanku sendiri, maka, kalau kau mau bunuh aku, sekarang maupun besok atau kapan saja aku tidak takut!”

Mendengar ucapan ini, Siu Eng tertegun. Kemudian ia tertawa dengan hati penuh kegelian. Memang demikianlah watak orang yang kurang mulia, apabila dia sedang berada dalam keadaan susah, maka kesusahan orang lain merupakan hiburan terbesar baginya!

“Ha ha ha!” Wanita kejam itu tertawa lagi. “Kalau begitu, hukumanmu kurobah! Kau takkan kubunuh, tetapi kau akan menyaksikan dengan mata sendiri betapa pemuda yang kaucintai itu mampus di depan matamu. Kemudian kau boleh pergi ke mana saja sesukamu, dan kau boleh menangisi kematian kekasihmu setiap hari!”

“Siu Eng, benar-benarkah kau sekejam itu, untuk membunuh laki-laki yang kau sendiri mencintai?” Kini Siang Cu memandang dengan mata menyatakan kengerian.

Kedua orang gadis ini sama sekali tidak tahu betapa pembicaraan mereka semenjak tadi didengarkan oleh orang yang makin lama makin menjadi pucat, apalagi ketika mendengar pengakuan Siang Cu tadi. Orang ini adalah Tiong San yang diam-diam telah melakukan pengintaian sehingga mendengar dengan jelas semua percakapan kedua orang gadis itu!

Tubuhnya menggigil ketika ia mendengar pengakuan Siang Cu yang menyatakan cintanya yang demikian besar! Ingin ia melompat kegirangan, dan karena tidak mau membiarkan kekasihnya itu tersiksa lebih lama lagi, ia lalu mengeluarkan cambuknya yang menyambar ke arah muka Siu Eng, dibarengi kata-katanya yang ditujukan kepada Siang Cu,

“Siang Cu .... kau salah sangka ....! Aku ... cinta kepadamu, kekasihku Cinta padamu dengan seluruh

hati dan nyawaku !” Tiong San melompat ke ruang itu ketika Siu Eng dengan kaget sekali mengelak dari

sabetan cambuk.

Siang Cu memandang dengan mata terbelalak seakan-akan melihat setan di siang hari. Pandangan matanya bertemu dengan pandangan mata Tiong San dan melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan sinar mata penuh kasih sayang dan amat mesra. Tiba-tiba ia menutupi mukanya dengan kedua tangan!

Sementara itu, Siu Eng menjadi marah sekali.

“Shan-tung Koai-hiap, bangsat hina! Kau sudah tidak sabar untuk menerima mampus? Baik, malam ini juga aku akan membunuh kau dan kekasihmu yang hina-dina ini!” Ucapan ini dikeluarkan dengan marah dan sangat kerasnya, sehingga pada saat itu juga dari dalam berkelebat bayangan yang cepat sekali datangnya. Kiu-hwa-san Toanio telah berada di ruang itu, menghadapi Shan-tung Koai-hiap dengan pedang di tangan.

Tanpa banyak cakap lagi, Tiong San lalu menyerang to-kouw itu karena ia maklum bahwa inilah orangnya yang membantu Siu Eng. Ia melakukan serangan dengan pedangnya yang segera ditangkis oleh Kiu-hwa- san Toanio. Tiong San terkejut juga ketika pedangnya bertemu dengan pedang yang amat kuat dan tajam, tetapi ia semakin bersemangat. Sebentar saja ia telah dikeroyok dua oleh Kiu-hwa-san Toanio dan muridnya yang menyerang dengan mati-matian.

Tiong San mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan pedang di tangan kiri dan cambuk di tangan kanan, ia mempertahankan diri dan bahkan melakukan serangan balasan yang tak kalah hebatnya, sehingga kedua orang lawannya merasa terkejut dan kagum. Tiong San maklum akan kekejian hati Siu Eng, maka sambil bertempur ia memperhatikan gadis itu, khawatir kalau-kalau Siu Eng akan mencelakai kekasihnya.

Benar saja dugaannya karena ketika merasa betapa sukarnya mengalahkan Shan-tung Koai-hiap yang amat lihai itu, tiba-tiba Siu Eng menggerakkan tangan kirinya dan sinar-sinar putih kecil menyambar ke arah Siang Cu yang masih duduk menyandar tiang dengan muka gelisah, mengkhawatirkan keadaan Tiong San yang dikeroyok dua oleh to-kouw dan Siu Eng!

“Perempuan keji!” Tiong San membentak dan cambuknya menyambar cepat ke arah beberapa batang jarum yang menyambar ke arah Siang Cu itu. Sekali ia kebutkan cambuknya, semua jarum itu terpukul jatuh.

“Siang Cu, kau sembunyilah di belakang tiang itu!” teriaknya dan ia cepat mendesak Siu Eng yang dengan pedang di tangan hendak memburu Siang Cu. Siang Cu segera memutar tubuhnya dan bersembunyi di belakang tiang yang besar. Kini ia terlindung dari serangan senjata rahasia, karena tiang itu tebal dan besar, menutup semua tubuhnya.

Dengan amat gemas dan marah, kini Tiong San mengubah permainannya dan memainkan Im-yang Joan- pian serta Pat-kwa Kiam-hoat dengan sehebat-hebatnya. Pedang dan cambuknya berkilat-kilat menyambar dengan tak terduga dan dengan sangat cepatnya ke arah dua orang lawannya. Tentu saja Siu Eng amat sibuk menghadapi serangan ini, sedangkan gurunya sendiri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan pengalaman yang luas, merasa bingung dan hanya dapat menangkis saja!

Gadis ini dengan sibuk dan marah menangkis pedang Tiong San yang meluncur ke arah dadanya, tetapi Tiong San sengaja menggetarkan pedangnya sedemikian rupa sehingga ketika pedang beradu, ujung pedangnya meleset dan membacok tangan Siu Eng yang memegang pedang! Siu Eng menjerit dan melepaskan pedangnya serta menarik tangannya, tetapi pedang yang tadi menyerangnya itu kini digunakan untuk menangkis serangan Kiu-hwa-san Toanio, sedangkan ujung cambuk di tangan kiri Tiong San secepat kilat mengirim cambukan hebat ke arah muka Siu Eng!

Dalam kegemasannya tadi, Tiong San hendak menggunakan tenaga besar untuk memberi “hadiah besar” kepada Siu Eng agar muka gadis yang dibencinya itu terluka dan berdarah. Akan tetapi, tiba-tiba wajah kekasih gurunya kedua, Si Cui Sian, dengan mukanya yang terluka oleh guratan pedang, terbayang pada pikirannya. Apakah ia hendak mengulangi perbuatan suhunya dan membuat Siu Eng bercacad mukanya selama hidupnya? Ia tidak tega dan mengendurkan tangannya sehingga ujung cambuknya itu hanya memberi “hadiah kecil” saja, yakni mendatangkan gurat merah melintang pada muka Siu Eng, tanda merah yang mudah lenyap kembali. Akan tetapi cukup menyakitkan sabetan ini karena Siu Eng menjerit dan menutup mukanya dengan tangan.

Tiong San tidak mau berlambat-lambatan lagi dan segera mendesak Kiu-hwa-san Toanio dengan kedua senjatanya yang lihai itu. Dengan libatan ujung cambuknya pada pergelangan tangan to-kouw itu, akhirnya ia dapat pula membuat pedang Kiu-hwa-san Toanio terlepas dari pegangan dan jatuh ke lantai! Tiong San melompat mundur dan menahan senjatanya sambil memandang tajam kepada to-kouw itu.

Kiu-hwa-san Toanio menjadi merah mukanya. Dipungutnya pedangnya dan berkata, “Shan-tung Koai-hiap, kau benar-benar lihai sekali!” Kemudian tanpa berkata sesuatu lagi, to-kouw itu memegang tangan muridnya dan mengajak muridnya melompat pergi dari kuil itu, menghilang di dalam bayangan pohon!

Tiong San menyimpan kedua senjatanya dan ketika ia memutar tubuh memandang ternyata Siang Cu tak tampak pula di situ! Ia menjadi heran dan mengejar keluar. Ternyata bahwa gadis itu setelah melihat betapa Tiong San mengalahkan musuh-musuhnya, menjadi malu sekali teringat akan kata-kata pemuda tadi dan diam-diam ia mendahului lari ke kampung!

Ketika Tiong San dapat menyusulnya, ternyata Siang Cu telah berpeluk-pelukan dengan nyonya Lie yang juga menyusul ke kuil itu dan bertemu di jalan dengan Siang Cu. Mereka lalu kembali ke rumah mereka.

“Ibu,” kata Tiong San, “Pada malam ini juga, saat ini juga kuminta ibu supaya meminang Siang Cu menjadi jodohku!” Ucapan ini terdengar gagah dan tidak malu-malu lagi. Nyonya Lie memandang dengan mata terbelalak, kemudian ia tertawa lebar.

“Tiong San, bukankah kau membenci wanita?” ia menggoda. “Ibu, kau gi !” tetapi tiba-tiba ia berhenti karena Siang Cu mengerling tajam kepadanya penuh teguran.

“Di antara semua wanita di dunia ini, hanya ibu dan Siang Cu yang kucintai sepenuh hatiku. Dan aku ....

aku bukan pembenci wanita lagi sekarang!”

“Siang Cu, kau mendengar sendiri pinangan anakku, bagaimana jawabmu?” tanya nyonya Lie kepada gadis itu sambil tersenyum.

“Aku .... aku ” gadis ini tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan lalu berlari keluar, dikejar oleh Tiong

San! Nyonya Lie tertawa bahagia dan masuk ke dalam kamarnya, membiarkan mereka berdua “menyelesaikan” urusannya.

Ketika Tiong San tiba di luar, ia melihat Siang Cu berdiri memandangi bulan.

“Siang Cu ” kata pemuda itu halus sambil menyentuh pundaknya. “Bagaimana jawabmu?”

“Kau tentu sudah tahu akan isi hatiku,” jawab gadis itu perlahan sambil tunduk, “Tetapi ada tiga hal yang hendak kukatakan.”

“Katakanlah!”

“Pertama, kau tidak boleh menyebut orang dengan makian gila lagi! Kedua, semenjak sekarang kau tidak boleh meninggalkan ibu lagi. Ketiga, kalau kau melanggar dua pantangan itu, aku aku akan kembali ke

kota raja menjadi pelayan kaisar!”

Tiong San tertawa geli dan hatinya berbahagia sekali.

“Kau ... kau gila ....!” katanya dan ia terkejut sekali karena kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya tanpa disadarinya itu ternyata telah merupakan pelanggaran! Maka cepat-cepat ia menyambung, “Eh ....

maksudku .... kau .... kau manis sekali !”

Siang Cu mengerling dan tersenyum geli. Sepasang matanya menatap wajah Tiong San dengan seri yang mengagumkan.

“Coba kau ulangi makianmu tadi ” bisiknya.

“Ha ....??? Kau .... kau .... gila ?”

“Memang aku gila ...., aku gila karena tergila-gila kepada seorang seperti kau ....!” bisik Siang Cu yang pada saat itu juga tenggelam dalam pelukan Tiong San.

Bulan purnama di atas kepala mereka berseri menyaksikan kebahagiaan dua makhluk bumi ini…..

>>>>> T A M A T <<<<<