-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-17 : Tuduhan Yang Menyakitkan

Bab-17 : Tuduhan Yang Menyakitkan

NYONYA itu menyambut mereka dengan ramah-tamah dan sebentar saja Siang Cu telah merasa suka sekali kepadanya. Juga nyonya Lie merasa suka kepada Siang Cu yang pandai membawa diri. Setidaknya, nyonya Lie adalah bekas isteri seorang pembesar, maka melihat sikap dan gerak-gerik Siang Cu yang sopan-santun dan tahu bagaimana harus bersikap terhadapnya, ia merasa suka sekali.

Apalagi ketika Man Kwei menuturkan betapa gadis itu adalah seorang yatim-piatu yang lari dari istana kaisar karena hendak dipaksa menjadi bini muda pangeran, nyonya itu merasa kasihan sekali dan ia menerima dengan tangan dan hati terbuka ketika gadis itu minta supaya ia suka menerimanya di rumah itu.

“Aku girang sekali kalau kau sudi tinggal di rumah gubuk dan hidup dengan sederhana dan miskin di sini. Aku memang amat kesepian dan seorang seperti kau akan merupakan penghibur dan kawan yang amat menyenangkan hatiku,” katanya.

Demikianlah, mulai hari itu, setelah Khu Sin dan isterinya kembali ke kota, Siang Cu tinggal berdua dengan nyonya Lie dan ketika melihat bahwa nyonya tua itu mendapatkan nafkahnya dengan menghasilkan pekerjaan sulam dan tenun, Siang Cu segera turun tangan membantu. Dia memang terkenal sebagai ahli pekerjaan tangan yang halus-halus, maka setelah ia berada di situ, hasil pekerjaan sulam dari nyonya Lie makin indah dan banyak disukai orang sehingga pesanan datang semakin banyak.

Bahkan para hartawan dan bangsawan dari luar kota pada memesan barang-barang sulaman kepada nyonya itu sehingga biarpun mereka hanya hidup berdua, namun mereka merasa sibuk setiap hari dan cukup gembira. Dengan adanya Siang Cu, nyonya Lie merasa terhibur sekali dan makin lama ia merasa makin suka kepada gadis itu.

Dalam percakapan-percakapan mereka, akhirnya Siang Cu menceritakan juga tentang pengalamannya dan menceritakan pula bahwa ia pernah ditolong oleh putera nyonya itu yang kini berjuluk Shan-tung Koai- hiap. Tentu saja nyonya Lie merasa girang sekali mendengar ini, tetapi sambil menghela napas ia berkata,

“Tak kusangka bahwa Tiong San yang dulu kuharap-harapkan untuk menjadi seorang pembesar seperti ayahnya, ternyata kini berubah menjadi seorang pendekar. Dan yang paling membuat aku menyesal adalah mengapa ia tidak lekas-lekas pulang. Ah, kalau saja ia berada di sini dan kita bertiga tinggal bersama seperti ini aku akan merasa bahagia dan puas! Dengan adanya kau dan dia di dekatku setiap

hari, usiaku akan lebih panjang dan hatiku selalu akan merasa senang    ”

Mendengar ucapan ini, dada Siang Cu berdebar dan ia menundukkan mukanya yang menjadi merah. Berbulan-bulan gadis itu tinggal di rumah itu dan kini ia telah menganggap nyonya Lie sebagai ibu sendiri yang dihormati dan dikasihinya. Sebaliknya nyonya itupun amat cinta kepadanya.

Pernah nyonya Lie menderita sakit panas, dan siang malam Siang Cu menjaga dan merawatnya dengan penuh kesabaran, telaten, dan penuh perhatian. Gadis ini sampai lupa makan dan lupa tidur, demikian prihatin ia menjaga dan merawat nyonya itu sampai hampir dua pekan lamanya, sehingga nyonya tua itu merasa amat bersyukur dan berterima kasih.

Setelah ia sembuh, rasa kasihnya kepada Siang Cu makin tebal. Diam-diam ia mengharapkan kembalinya Tiong San dan ia telah mengambil keputusan di dalam hatinya bahwa kalau anaknya itu datang, ia akan menjodohkan Tiong San dengan Siang Cu.

Demikianlah adanya pengalaman Siang Cu semenjak ia berpisah dari Tiong San di dalam hutan beberapa bulan yang lalu sampai ia tinggal di dalam rumah ibu Tiong San dan pada hari itu tak tersangka-sangka Tiong San muncul di depan pintu! ********************

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Tiong San menjadi terkejut dan heran sekali ketika tiba-tiba melihat Siang Cu berada di depannya. Bagaimana gadis ini bisa berada di dalam rumahnya dan tinggal bersama ibunya?

“Kau    ?” katanya perlahan tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah gadis itu.

“Ya, inkong (tuan penolong). Aku Gan Siang Cu yang dulu telah kau tolong. Apakah selama ini kau baik- baik saja?” jawab Siang Cu tanpa berani mengangkat muka.

Kegembiraan yang meluap-luap di dalam hati nyonya Lie membuat nyonya itu tersenyum-senyum di dalam tangisnya, dan melihat kedua orang muda itu, niat yang terkandung di dalam hatinya untuk menjodohkan mereka, mendesak hebat dan tak dapat ditahannya pula, maka ia lalu berkata dengan suara girang sekali,

“Tiong San! Siang Cu! Saat yang amat baik ini memaksa aku memberitahukan niatku yang semenjak lama terkandung di dalam hatiku. Aku bermaksud menjodohkan kalian sebagai suami isteri!” sambil berkata demikian ia memandang kepada mereka berganti-ganti dengan mata berseri.

Siang Cu mendengar ucapan ini dan tiba-tiba air matanya turun menitik dan mukanya menjadi merah sekali. Ia makin menundukkan kepalanya dengan perasaan yang luar biasa malu dan bahagianya! Sedangkan Tiong San merasa seakan-akan jantung di dalam hatinya berloncat-loncatan, tetapi tiba-tiba ia mengerutkan dahinya dan memandang kepada ibunya. Mulutnya tak dapat ditahan lagi berseru,

“Ibu, kau gi ....” untung ia masih dapat menahan lidahnya yang hampir saja menyebut “gila” sebagai kebiasaannya! Kemudian ia menoleh kepada Siang Cu yang masih menundukkan kepalanya. Ia ingin menahan mulutnya, tetapi bisikan di dalam hatinya yang mendorong-dorongnya, membuat ia bicara seperti tanpa disadarinya.

“Bagus sekali! Kau benar-benar seorang yang tak tahu malu!”

Nyonya Lie menjadi terkejut dan memandang kepada puteranya dengan mata terbelalak dan berseru,

“Tiong San, tutup mulutmu!” sedangkan air mata yang tadi menitik turun dari pelupuk mata Siang Cu karena merasa bahagia, kini disusul oleh air mata yang membanjir karena perasaan duka dan sakit hati. Tetapi gadis itu tetap menundukkan mukanya.

Tiong San seakan-akan sudah kemasukan iblis dan mulutnya tanpa dapat dikendalikan lagi melanjutkan tuduhan-tuduhannya yang keji.

“Di luar tahuku kau telah menjalankan siasat yang licin dan jahat. Seperti perempuan-perempuan jahat lain yang telah kujumpai, kau pun merupakan seekor ular yang berbisa dan berbahaya. Apakah kau kira aku tidak tahu akan akalmu ini? Kau tak berhasil mendekatiku, maka kau sengaja mencari ibuku untuk memperlihatkan sikapmu yang halus, sopan-santun, untuk memikat hatinya sehingga ibu benar-benar masuk perangkap! Bagus sekali!”

Siang Cu tiba-tiba mengangkat mukanya dan sinar matanya yang halus itu memandang Tiong San. Pemuda ini tiba-tiba menjadi pucat dan insyaf akan kekejian ucapannya. Ia merasa betapa sinar mata yang lembut itu laksana pedang tajam menembus matanya dan langsung menusuk hatinya.

Dengan pekik memilukan Siang Cu berlari keluar sambil mengeluh, “Baiklah     aku yang jahat, yang hina-

dina .... biarlah aku pergi dari sini .... agar jangan mengganggumu   ”

“Siang Cu    !” nyonya Lie melangkah maju untuk mencegah gadis itu lari pergi, akan tetapi tanpa menoleh

Siang Cu berlari keluar dan terus lari terhuyung-huyung ke depan.

Bagaikan seekor harimau betina yang dirampas anaknya, nyonya Lie berdiri tegak, memutar tubuh menghadapi puteranya. Mukanya pucat, air matanya mengalir turun sepanjang pipinya dan suaranya terdengar gemetar penuh perasaan marah ketika ia berkata, “Anak durhaka ....! Untuk apa kau pulang?? Kau sudah berobah menjadi orang kasar, menjadi orang biadab! Apakah kau pulang hanya untuk menyakiti hati ibumu?”

Tiong San terkejut sekali. Ibu   ” ia berseru.

“Kau     ” kata ibunya pula sambil menuding mukanya dengan telunjuknya, “Kau telah melakukan penipuan,

kau telah memeras pangeran Lu Goan Ong dan menipu uangnya sepuluh ribu tail perak! Dengan perbuatanmu itu saja, kau sudah membuat ibumu berkurang usianya. Biarpun aku sudah mengembalikan uang itu kepada pangeran Lu, aku masih saja selalu berduka memikirkan betapa puteraku telah menjadi demikian jahat. Kemudian kedatangan Siang Cu membuat kedukaanku terhibur .... tetapi     kini kau datang

menghinanya dengan kata-kata keji ....! Kau anak durhaka, anak puthauw (tak berbakti) ... Kau       kau

pergilah dari sini!” jari telunjuknya kini menuding ke arah pintu. “Pergi dari sini     ! Minggat kau dan jangan

kembali lagi     !”

Tiong San menjadi pucat dan tubuhnya menggigil. Sambil menangis ia menjatuhkan dirinya memeluk kaki ibunya. “Ibu ...... ibu ..... jangan kau usir aku, ibu ” Ia menangis seperti anak kecil dengan hati hancur.

Melihat keadaan Tiong San, kemarahan yang telah memuncak di dalam hati ibu itu menjadi luluh. Hampir saja nyonya Lie mendekap puteranya, tetapi ia pertahankan perasaan hatinya dan berkata sebagai sebuah keputusan tetap,

“Keluarlah dan kau harus berusaha agar Siang Cu suka kembali ke sini! Kalau kau tidak kembali bersama Siang Cu, aku takkan menerimamu, takkan mengaku anak kepadamu, tahu??”

Mendengar ini, Tiong San lalu melompat keluar dengan cepat sekali dan berlari mengejar Siang Cu yang sudah tak tampak lagi. Ia mencari-cari dan akhirnya melihat tubuh gadis itu masih bergerak maju dengan kaki lemah dan tubuh terhuyung-huyung ke depan. Ia mengejar cepat dan memanggil,

“Nona Gan ....., berhentilah      !”

Akan tetapi telinga Siang Cu seakan-akan tuli dan tidak mendengar panggilan ini, terus saja berlari maju. Ketika Tiong San dapat menyusulnya, pemuda ini melihat betapa gadis itu berlari sambil menangis terisak- isak Ia melompat melewati gadis itu dan berdiri menghadang di depannya.

Siang Cu memandangnya dengan muka pucat dan menahan kakinya. Napasnya terengah-engah dan mukanya pucat sekali seperti mayat. Melihat Tiong San menghadang di depannya, ia memandang dari balik air matanya.

“Mengapa .... mengapa kau mengejarku? Apakah perlunya kau menghadang orang hina-dina seperti aku

....?” katanya dengan suara terputus-putus.

“Aku minta kau kembali kepada ibuku!” kata Tiong San dengan suara kaku.

“Tidak! Kau minggir dan jangan menghalangi perjalananku!” jawab Siang Cu menahan tangisnya dan melangkah maju lagi.

“Nona Gan ....., kau ..... kuharap, kau suka kembali   ” kata Tiong San lagi dengan suara lebih halus.

“Tidak, tidak!” Siang Cu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Untuk apa aku kembali? Untuk memikat hati ibumu? Untuk memasang perangkap sehingga ibumu akan masuk ke dalamnya? Tidak ....!” Sambil menangis terisak-isak Siang Cu lalu berlari ke depan lagi, diikuti oleh Tiong San yang menjadi bingung sekali.

Pemuda itu segera melompat mendahului dan melihat kekerasan hati Siang Cu ia menjadi kehabisan akal dan segera ia menghadang pula. Ketika Siang Cu berhenti, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan nona itu! Tertegun juga gadis itu melihat betapa Tiong San berlutut di depannya!

“Apa ..... apa kehendakmu    ?”

“Nona Gan, kau tolonglah aku, kembalilah kepada ibu ..... Kalau tidak, ibu takkan mengaku anak lagi kepadaku ....! Kembalilah, nona Gan !” Siang Cu merasa ragu-ragu dan memandang kepada kepala pemuda yang ditundukkan itu dan kepada tubuh yang sedang berlutut di depannya. Ingin sekali ia mengangkat bangun pemuda itu karena ia merasa tidak enak mendapat penghormatan sebesar ini, tetapi dikeraskannya hatinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.

“Tidak mau! Aku tidak akan kembali. Kau sudah sepantasnya tidak diakui anak oleh ibumu yang berhati

mulia itu. Kau .... kau tidak berjantung! Kau kejam dan keras seperti batu karang Kau bukan manusia!”

“Baik, baik, kau boleh memaki sesuka hatimu,” jawab Tiong San yang masih berlutut, “Asal kau suka kembali dengan aku ke rumah ibu.”

Akan tetapi tiba-tiba isak tangis Siang Cu mengeras dan sambil berlari lagi ia mengeluh, “Kau kau

bodoh!”

Tiong San memandang dengan bingung dan melihat betapa gadis itu berlari-lari lagi. Ia tak berdaya lagi, dan tak mungkin ia mempergunakan kekerasan karena hal itu tentu takkan disetujui oleh ibunya.

“Nona Gan, kalau kau tidak kasihan kepadaku, apakah kau tidak kasihan pula kepada ibuku? Ia mungkin akan jatuh sakit karena menderita !”

Mendengar ini, tiba-tiba Siang Cu berhenti. Ia teringat bahwa nyonya Lie memang mempunyai jantung yang lemah dan yang mudah sakit apabila terlampau bersedih. Ketika nyonya itu dulu jatuh sakit dan dirawatnya, ahli pengobatan yang didatangkannya memberi nasehat agar supaya nyonya tua itu jangan terlalu banyak bersedih. Kini, perginya ini tentu membuat nyonya itu merasa berduka dan kalau benar seperti yang diucapkan oleh Tiong San tadi bahwa pemuda itu telah diusir oleh ibunya, tentu nyonya itu akan menderita sekali!

Tanpa memperdulikan Tiong San yang berdiri memandangnya, Siang Cu lalu berlari kembali menuju ke rumah nyonya Lie. Pemuda itu merasa girang sekali dan mengikuti dari belakang.

Ketika melihat nyonya Lie berdiri menanti di depan pintu rumahnya, Siang Cu sambil menangis tersedu- sedu menubruk nyonya itu dan keduanya saling berpelukan sambil menangis.

“Tiong San, ayoh minta maaf kepada Siang Cu!” nyonya Lie memerintahkan anaknya. Terpaksa Tiong San lalu menjura kepada Siang Cu dan berkata perlahan,

“Nona Gan, harap kau suka memaafkanku!”

Akan tetapi, sambil menahan isaknya gadis itu telah berlari masuk ke dalam rumah dan meninggalkannya tanpa memperdulikannya sama sekali!

“Tiong San,” kata ibunya pada puteranya, “Gadis itu dapat tinggal di sini atas perantaraan Khu Sin dan isterinya. Ia telah membantuku bekerja, telah merawat dan menemaniku. Aku suka kepadanya dan telah menganggap ia seperti anakku sendiri. Ketika aku sakit sampai hampir setengah bulan, bukan kau yang merawatku! Kau pergi merantau sesuka hatimu meninggalkan ibumu yang sudah tua dan lemah dan ketika aku sakit, Siang Culah yang menjaga dan merawatku dengan penuh perhatian. Apakah budi yang besar dan kemuliaan hatinya itu kini patut kau balas dengan tuduhan-tuduhan keji itu? Kau benar-benar telah mengecewakan dan membikin malu ibumu sendiri!”

Tiong San lalu berlutut kembali di depan ibunya. “Ibu, ampunilah aku, ibu. Aku mengaku salah ”

Ibunya menarik napas panjang. “Anak bodoh, yang sudah lewat biarlah, tetapi lain kali jangan kau berlaku sekeji itu!”

Kemudian ibunya lalu minta ia menceritakan semua pengalamannya semenjak pergi dari rumah. Tiong San menuturkan dengan sejelas-jelasnya. Ibunya berkali-kali menghela napas dan ia menyatakan kekaguman dan juga kasihan mendengar tentang kematian Thian-te Lo-mo yang menjadi guru anaknya.

******************** Semenjak terjadinya peristiwa itu, Siang Cu tak pernah berbicara dengan Tiong San. Keduanya sama- sama merasa malu-malu kucing untuk bicara, bahkan di waktu mereka dan nyonya Lie makan bersama, kedua orang muda itu duduk dengan kepala tunduk. Mereka tak berani saling pandang, terutama Tiong San. Ia merasa berdosa kepada gadis itu dan makin lama makin terasalah betapa ia telah berbuat tidak adil dan mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang benar-benar keji.

Beberapa hari kemudian, ia pamit kepada ibunya untuk pergi mengunjungi Khu Sin dan Thio Swie di kotanya masing-masing. Pertama ia pergi ke tempat tinggal Thio Swie. Kedatangannya diterima dengan pelukan mesra. Pemuda ini masih belum menikah karena luka di hatinya akibat perbuatan Siu Eng dulu agaknya masih belum sembuh betul. Ketika ia mendengar dari Tiong San tentang perlakuannya terhadap Siu Eng, Thio Swie tertawa besar dan ia merasa puas sekali. Kemudian Thio Swie lalu berkata,

“Tiong San, kau benar-benar telah membalas sakit hatiku dan aku berterima kasih kepadamu. Kaulah sahabatku yang telah menolong dan mengangkat aku dan Khu Sin ke tempat yang tinggi, sehingga kami berdua mendapat kedudukan dan pangkat. Tetapi, perbuatanmu terhadap Siu Eng itu menimbulkan kekhawatiran di dalam hatiku. Aku kenal baik adat gadis itu yang amat keras dan tidak mau kalah. Setelah menerima penghinaan dan perlakuan seperti itu, apakah dia akan tinggal diam saja? Ah, kau harus berlaku hati-hati, kawan, siapa tahu bahwa dia akan datang melakukan pembalasan!”

Tiong San tersenyum. “Aku maklum akan hal itu dan memang akupun menduga bahwa dia tentu akan muncul untuk membalas dendam. Akan tetapi, hal itu hanya menunjukkan bahwa dia bukan seorang baik dan tak dapat menginsafi kesalahannya sendiri. Biarlah, kalau ia datang, aku sudah siap menyambutnya!”

Setelah bercakap-cakap dengan gembira dengan kawan lama ini dan bermalam di situ satu malam, pada keesokkan harinya Tiong San lalu pergi mengunjungi kota tempat tinggal Khu Sin. Di sinipun ia disambut dengan amat gembira oleh Khu Sin dan isterinya yang merasa berhutang budi besar kepadanya. Bahkan Khu Sin tentu akan mati di ujung pedang Siu Eng kalau saja ia tidak ditolong oleh kawannya ini. Maka tentu saja sambutan mereka amat meriah dan mesra. Khu Sin sampai mengeluarkan air mata karena girang hatinya dapat bertemu kembali dengan Tiong San. Mereka lalu bercakap-cakap dengan gembira.

Ketika dalam percakapan ini Khu Sin beserta isterinya menceritakan tentang kedatangan Siang Cu yang menyamar sebagai seorang petani muda, Tiong San tertawa karena geli hatinya. Akan tetapi ketika Man Kwei menceritakan tentang percakapannya dengan Siang Cu tanpa merahasiakan sesuatu, menuturkan betapa Siang Cu sengaja tinggal bersama nyonya Lie dalam usahanya membalas budi yang diterimanya dari Tiong San dan Thian-te Lo-mo.

Di dalam hatinya Tiong San merasa terharu dan merasa makin besar dosanya terhadap gadis itu! Gadis yang berhati mulia itu telah menyatakan kemuliaannya dan keluhuran budinya, tetapi begitu ia datang, ia telah menghina dan menuduhnya yang bukan-bukan!

Di rumah Khu Sin, Tiong San bermalam sampai dua malam. Kemudian ia pamit untuk pulang. Khu Sin yang belum merasa puas menahannya, tetapi Tiong San berkata bahwa ia telah berjanji kepada ibunya untuk pergi tidak terlalu lama, dan khawatir kalau-kalau ibunya mengharap-harapkan kedatangannya.

Padahal sebetulnya, baru pergi empat lima hari saja pemuda itu telah merasa tidak betah dan ingin sekali cepat-cepat kembali. Entah mengapa, seakan-akan ada sesuatu yang menarik hatinya dan ia kini merasa suka sekali berada di rumah ibunya? Biarpun kepada hatinya sendiri, Tiong San tidak berani mengaku bahwa sebetulnya Siang Cu lah yang menarik dia untuk lekas-lekas pulang!

Tetapi ketika ia tiba di rumah ibunya, ia disambut oleh tangis ibunya yang membuatnya amat terkejut. “Ada apakah, ibu?” tanyanya dengan cemas.

“Siang Cu   ” kata ibunya dengan terisak-isak.

“Mengapa dia ....?” Makin gelisahlah hati Tiong San mendengar ini, mengkhawatirkan hal yang mungkin terjadi. Sakitkah gadis itu? Atau telah pergi pula?

“Dia    dibawa pergi oleh serombongan perwira dari kaisar!” Tiong San merasa seakan-akan kepalanya disambar geledek. Ia melompat dan bertanya, “Kapan terjadinya?”

“Pagi tadi dua orang perwira tua datang dan memaksanya ikut pergi, katanya atas perintah kaisar yang

menghendaki kembalinya pelayan istana itu.” “Naik apa?”

“Mereka menunggang kuda dan Siang Cu juga dinaikkan ke atas kuda.”

Tanpa pamit lagi Tiong San lalu berlari keluar. Pedang dan cambuknya tak terlupa, tergantung di pinggangnya. Ia tahu ke mana harus mengejar!

Ibunya lalu memeramkan matanya dan diam-diam berdoa semoga puteranya akan berhasil menolong dan membawa kembali gadis itu.

********************

Dua orang perwira yang datang merampas Siang Cu sebenarnya bukan lain adalah Im-yang Po-san Bu Kam, perwira kerajaan kelas satu yang bertubuh tinggi kurus dan bermata juling itu. Seperti diketahui, perwira ini gagah perkasa sekali dan ketika dulu bertempur melawan Thian-te Lo-mo, perwira ini telah dicabut jenggotnya oleh Thian-te Lo-mo. Oleh karena itu, ia masih merasa sakit hati sekali dan setelah kematian kakek sakti itu, ia masih mempunyai keinginan untuk bertemu dan mengadu kepandaian dengan Shan-tung Koai-hiap, murid Thian-te Lo-mo.

Perwira kedua adalah Bu Tong Cu yang berjuluk Lui-kong atau Dewa Geluduk, perwira kelas dua yang juga tinggi ilmu silatnya, bertubuh bungkuk dengan punggung seperti punggung unta. Sebagaimana diketahui, Bu Kam bersenjata sepasang kipas dan Bu Tong Cu bersenjata sebatang tongkat besi yang berat.

Di istana kaisar, masih terdapat beberapa orang perwira kelas satu yang lihai, tetapi kali ini yang datang merampas Siang Cu hanya dua orang perwira ini, oleh karena sebetulnya mereka ini sama sekali tidak diutus kaisar. Kaisar yang mendengar tentang larinya pelayan itu, tidak mengambil pusing karena baginya, apakah artinya seorang pelayan wanita yang lari? Yang menyuruh dua orang perwira itu adalah pangeran yang tergila-gila kepada Siang Cu, dan hanya dua orang perwira itu saja yang dapat “dibeli” oleh pangeran itu.

Bu Kam dan Bu Tong Cu memaksa Siang Cu naik kuda dan segera melarikan kuda itu menuju ke kota raja. Akan tetapi oleh karena Siang Cu adalah seorang gadis lemah dan mereka telah mendapat pesan keras dari pangeran itu agar jangan sampai membuat gadis itu menderita, maka mereka tidak melarikan kuda mereka terlalu cepat. Malam hari itu mereka bermalam di sebuah kota pada sebuah rumah penginapan. Mereka masukkan Siang Cu dalam sebuah kamar dan menjaga kamar itu bergiliran.

Siang Cu merasa berduka cita dan bingung sekali. Ia tidak takut akan nasibnya, oleh karena ia telah bersumpah takkan menyerahkan diri kepada pangeran itu. Banyak jalan baginya untuk menghindarkan diri dari paksaan pangeran itu, dan mudah saja baginya kalau hendak membunuh diri. Tetapi ia tidak mau melakukan hal itu sekarang, karena diam-diam ia ingin melihat apakah yang akan dilakukan Tiong San apabila mendengar tentang penangkapan ini.

Malam itu gelap dan awan hitam menutup langit, sehingga bintang-bintang tak tampak dari bawah. Menjelang tengah malam ketika yang mendapat giliran menjaga pintu kamar Siang Cu adalah Bu Tong Cu si Dewa Geluduk, tiba-tiba ia mendengar suara perlahan sekali di atas genteng.

Ia berlaku hati-hati dan waspada, maka sambil membawa tongkat besinya, ia lalu melompat naik ke atas. Akan tetapi, pada saat ia melayang naik, dari atas berkelebat bayangan hitam yang cepat sekali gerakannya dan begitu bayangan itu turun di depan kamar, ia segera membuka pintu kamar itu dengan sekali betot saja, lalu ia melompat masuk ke dalam.

Bu Tong Cu terkejut sekali, maka setibanya di atas genteng, ia lalu kembali melompat ke bawah dan menyerbu ke dalam kamar. Ternyata bahwa yang masuk ke dalam kamar itu bukan lain ialah Tiong San sendiri! Ketika ia telah memasuki kamar, ia melihat Siang Cu duduk dengan tenang di atas pembaringan dan begitu melihat Tiong San, ia tersenyum! Senyum kemenangan ini juga nampak dalam matanya yang berseri-seri puas. Sinar mata gadis itu seakan-akan berbisik kepada Tiong San, “Nah, akhirnya kau datang juga menolongku!”

Tiong San yang sudah lama sekali tak pernah bicara kepada gadis itu, kini merasa bingung karena apakah yang harus ia katakan. Ketika ia hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar bentakan Bu Tong Cu yang menyerbu masuk.

“Bangsat kurang ajar!” Akan tetapi Bu Tong Cu tertegun ketika pemuda itu membalikkan tubuhnya, karena tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu adalah Tiong San.

“Shan-tung Koai-hiap     !” serunya dengan suara gentar, tetapi ia segera mengangkat tongkatnya karena

tiba-tiba ujung cambuk Tiong San telah menyambar ke arah mukanya. Tongkatnya berhasil menangkis batang cambuk, tetapi ujung cambuk itu yang seperti ekor ular, dapat melanjutkan serangannya melalui pinggir tongkat, terus menghantam mukanya! Bu Tong Cu telah kenal kelihaian cambuk ini, maka ia segera melangkah mundur sambil menarik kembali tongkatnya sehingga mukanya terhindar dari pecutan ujung cambuk. Kemudian ia mendahului pemuda itu dan menyerangnya dengan tongkat besinya dengan gerak tipu Raja Monyet Mencari Buah, yakni sebuah serangan dari ilmu tongkat Heng-cia Kun-hoat.

Tiong San maklum bahwa dalam keadaan terdesak karena harus menolong Siang Cu, maka ia harus bertindak cepat. Maka ia lalu mencabut pedangnya dengan tangan kiri dan menangkis serangan tongkat itu. Seperti juga cambuknya, gerakan pedangnya ini luar biasa cepatnya dan lihai sekali.

Ketika pedangnya bertemu dengan tongkat lawan, ia merasa betapa hebatnya tenaga lweekang yang disalurkan melalui tongkat itu, tetapi pedangnya yang terpental itu merupakan serangan balasan karena ujung pedangnya yang terpental bukannya tertolak ke belakang, akan tetapi meleset ke bawah dan menusuk dada Bu Tong Cu! Perwira ini terkejut sekali karena ia memang belum pernah mengenal kelihaian Pat-kwa Kiam-hoat yang mempunyai gerakan-gerakan sambung menyambung. Tangkisan dapat diteruskan menjadi serangan. Sebaliknya di dalam serangan pedang selalu bersembunyi gerakan penjagaan diri yang kuat.

Dengan cepat Bu Tong Cu mengelak ke samping karena untuk menangkis dengan tongkat sudah tidak ada waktu lagi, tetapi pada saat itu, cambuk di tangan kanan Tiong San dengan tak terduga-duga telah menyambar ke bawah dan melibat kedua kakinya! Sekali menarik tangan kanannya yang memegang gagang cambuk sambil berseru keras, tubuh Bu Tong Cu yang bongkok itu terguling ke atas lantai!

Tiong San tidak mau membuang waktu lagi. Tanpa berkata sesuatu ia segera memasukkan pedang ke sarungnya dan menggunakan tangan kirinya yang kosong untuk menyambar tubuh Siang Cu yang segera didukungnya dan dibawa melompat keluar dari kamar terus melayang naik ke atas genteng! Terdengar bentakan Bu Kam dari bawah, tetapi Tiong San tidak mau melayaninya dan terus berlari dan berlompat- lompatan dari genteng ke genteng!