-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-16 : Ibu… Wanita Cantik Yang Terlupakan

Bab-16 : Ibu… Wanita Cantik Yang Terlupakan

SI CUI SIAN berdiri perlahan-lahan, lalu berkata,

“Shan-tung Koai-hiap, betapapun lihaimu, kau bukanlah lawanku! Suhumu sendiri belum tentu dapat menghadapi ilmu pedangku, apalagi kau yang belum berpengalaman. Kita tidak mempunyai permusuhan sesuatu, maka kalau kau suka, dari pada kita bermusuh, marilah kau kuberi pelajaran ilmu pedang. Aku dan gurumu tidak ada jodoh, biarlah ilmu kepandaian kami berdua saja yang menjadi satu dan diwariskan kepadamu!”

“Kau musuh suhu! Kau pembunuh suhu! Bagaimana aku bisa menjadi muridmu? Hanya ada dua jalan bagiku, membunuhmu atau kau membunuh aku!” Tiong San berkeras.

“Orang bijaksana tidak memperdulikan akibat, tetapi dengan teliti memperhatikan sebab. Kematian suhumu hanya akibat dan sebab-sebabnya kau belum mengetahui. Dengarlah penuturanku, anak muda!” Maka berceritalah Si Cui Sian, wanita yang bermuka cacad itu. Tiong San mendengarkan dengan penuh perhatian oleh karena memang suhunya belum pernah menceritakan riwayatnya ketika masih muda.

“Dulu ketika masih muda, suhumu dan aku saling mencinta dengan tulus, saling berjanji akan mencinta dengan tulus, saling berjanji akan menjadi suami isteri. Akan tetapi malang sekali, ketika aku berkenalan dengan dia, aku belum tahu bahwa dia sebenarnya adalah orang yang menyakitkan hati orang tuaku. Sebelum aku turun dari perguruan, suhumu pernah mengalahkan ayahku yang menjadi jago terkenal sehingga ayah merasa demikian malu karena namanya dijatuhkan oleh suhumu. Ayah lalu jatuh sakit dan meninggal dunia karena sakitnya itu.”

“Sebenarnya, memang kematian ayah ini bukanlah salah suhumu, kiranya kau tentu mengerti perasaan ibuku. Ibu merasa demikian sakit hati kepada suhumu, sehingga ia bersumpah untuk membalas dendam. Ketika aku datang, ibu lalu membuat aku bersumpah pula untuk membalas dendam itu. Biarpun tidak secara langsung, memang suhumu yang menjadi sebab kematian ayah dan kehancuran hati ibuku.”

“Kemudian, setelah aku mengetahui bahwa sebenarnya suhumu atau kekasihku itu yang menjadi musuh besar ibuku, terpaksa kami lalu bertengkar. Aku tantang kekasihku sendiri untuk mengadu kepandaian. Kalau saja suhumu bijaksana, tentu ia sudah mengalah dan membiarkan aku menang dalam pertempuran itu karena bukan maksudku untuk membunuhnya. Ku pikir bahwa sakit hati ayah hanya karena dikalahkan saja, maka sudah menjadi kewajibanku untuk membalas sakit hati ini dengan mengalahkan suhumu pula di depan orang banyak.”

“Kami bertempur dengan disaksikan oleh banyak orang gagah, tetapi sayang, suhumu ternyata amat keras hati, seperti kau sekarang! Suhumu tidak mau mengalah sehingga kami bertempur dengan seru dan mati- matian! Akhirnya ternyata bahwa suhumu masih lebih tinggi tingkat kepandaiannya dan dalam pertempuran mati-matian yang disaksikan oleh banyak orang gagah itu, suhumu salah tangan dan membacok mukaku sehingga mukaku menjadi bercacad seperti ini untuk selamanya!” Wanita itu berhenti sebentar dan menangis, sedangkan Tiong San mendengarkan bagaikan sebuah patung tak bergerak sama sekali. Ia amat tertarik dan ia mulai merasa kasihan kepada wanita ini.”

“Rasa sakit pada mukaku yang terbacok pedang, bukan apa-apa apabila dibandingkan dengan rasa perih dan sakit pada hatiku. Aku telah dihina di depan orang banyak oleh kekasihku sendiri, oleh orang yang telah bersamaku bersumpah untuk saling mencinta selamanya! Aku lalu melarikan diri dan belajar ilmu silat yang lebih tinggi, dengan cita-cita membalas penghinaan ini! Akupun mendengar bahwa suhumu juga lari dan menjadi miring otaknya. Tetapi aku tidak perduli. Setelah berpuluh tahun melatih diri, aku mulai mencarinya.”

“Kemudian, aku mendengar bahwa dia berada di kota raja dan aku segera menyusul ke sana. Kebetulan suhumu sedang mengacau di dapur istana dan aku mendapat kesempatan untuk berhadapan dengannya, untuk sekali lagi mengadu kepandaian! Akan tetapi, suhumu tidak mau melawan dan membiarkan saja pedangku menusuk dadanya, sehingga ..... sehingga ia tewas oleh pedangku ...”

Kembali wanita itu menangis terisak-isak sambil menutup mukanya dengan kedua tangan. Tiba-tiba ia mengangkat mukanya dan melangkah maju mendekati Tiong San sambil berkata gagah,

“Dia telah mati, untuk apa aku hidup lebih lama? Aku tak dapat membunuhmu, karena kau bukan musuhku. Tadi kau bilang bahwa jalan bagimu hanyalah membunuhku atau terbunuh olehku. Baiklah kau boleh ambil jalan kedua dan bunuhlah aku! Bunuhlah dengan pedang yang telah membunuh kekasihku itu agar aku dapat segera bertemu dan berkumpul dengan dia!”

Si Cui Sian mengambil pedangnya yang tadi dilemparkannya dan memberikan pedang itu kepada Tiong San. Pemuda itu dengan muka pucat menerima pedang itu. Hatinya berdebar dan pikirannya kalut. Pantas saja suhunya tidak melawan, dan pantas saja suhunya tidak membenarkan kalau ia membalas dendam!

Memang suhunya telah rela binasa di tangan perempuan ini, bahkan agaknya disengaja mencari kematian di tangan Si Cui Sian. Patutkah kalau ia kini membunuh wanita ini? Salahkah kalau wanita yang dirusak hidupnya karena cacad pada mukanya dan luka pada hatinya itu mencari suhunya untuk membalas dendam? “Aku .... aku tidak biasa mempergunakan pedang    , aku tidak tahu bagaimana harus memegang pedang

... Harap kau memberi pelajaran dulu kepadaku ,” jawabnya ragu-ragu.

Si Cui Sian memandangnya dan tiba-tiba sepasang matanya berseri. “Kau anak baik, aku suka memberi pelajaran kepadamu. Sebelum aku mati, aku harus turunkan kepandaianku kepadamu dulu, dan alangkah baiknya kalau ilmu pedangku Pat-kwa Kiam-hoat ini dijodohkan dengan ilmu cambuk Im-yang!”

Tiong San merasa girang sekali dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan wanita tua itu. “Terima kasih, subo!” Mendengar sebutan “subo” atau nyonya guru ini, Si Cui Sian merasa gembira sekali karena ia merasa seakan-akan ia menjadi isteri Thian-te Lo-mo.

“Bagus, anakku, bagus! Kau sudah memiliki dasar ilmu silat tinggi. Dalam setengah tahun saja semua dasar ilmu pedang Pat-kwa Kiam-hoat akan dapat kau pahami.”

Demikianlah, semenjak hari itu, di guha mendiang suhunya, kembali Tiong San mendapat gemblengan dari seorang berilmu tinggi. Dan oleh karena wanita itu tidak bertabiat aneh seperti suhunya, maka lambat laun kembalilah sifat sopan-santun Tiong San.

Sungguhpun kesukaannya memaki orang dengan sebutan gila masih selalu menempel pada bibirnya. Benar sebagaimana ucapan Si Cui Sian, dalam waktu enam bulan ia telah dapat mempelajari Pat-kwa Kiam-hoat sampai tamat dan dapat memainkan pedang gurunya itu dengan mahir.

“Tiong San,” kata gurunya setelah permainan pedangnya cukup baik. “Sekarang kau pergilah turun gunung dan pergunakan segala kepandaianmu untuk kebaikan. Kalau kau dapat menggabungkan dua ilmu itu, yakni ilmu cambuk Im-yang dan ilmu pedang Pat-kwa, kau akan menjadi lebih lihai dari pada mendiang Thian-te Lo-mo atau aku sendiri! Kau bawa pedang ini, kuhadiahkan kepadamu karena tidak berguna lagi untukku. Aku mau bertapa di sini menanti datangnya Thian-te Lo-mo yang tentu akan menjemputku tak lama lagi!”

Tiong San berlutut menghaturkan terima kasih dengan hati amat terharu, karena tak disangkanya sama sekali bahwa pertemuannya dengan wanita tua yang tadinya dianggap musuh itu dapat mendatangkan keuntungan besar bagi dirinya. Semenjak Si Cui Sian menceritakan riwayatnya, Tiong San telah berubah pandangannya terhadap wanita tua itu.

Ia merasa kagum dan juga kasihan sekali akan nasib wanita itu yang sebetulnya sampai sekarang pun masih amat mencintai Thian-te Lo-mo dengan setia! Ia teringat akan pengalamannya sendiri. Alangkah jauh bedanya wanita tua yang kini juga menjadi gurunya itu dengan wanita-wanita yang pernah dijumpainya.

Ia teringat akan Siu Eng, wanita cantik yang gagah itu. Gadis inipun menaruh dendam sakit hati kepadanya, tetapi persoalannya jauh berbeda dengan sakit hati Si Cui Sian terhadap Thian-te Lo-mo. Siu Eng bukanlah seorang wanita baik-baik, bersifat cabul dan berhati kejam.

Ia teringat pula kepada Liong Bwee Ji puteri jago silat Liong Ki Lok, juga teringat kepada Ciu Leng Hwa, puteri Ciu-wangwe, akan tetapi semua itu hanya terbayang samar-samar saja dan ia hampir lupa kepada wajah gadis-gadis itu. Akan tetapi, ketika ia teringat kepada Gan Siang Cu, diam-diam ia berdebar dan menarik napas panjang. Kasihan gadis itu, pikirnya dan ia merasa betapa ia telah berlaku kejam kepada gadis itu.

Gadis patut dikagumi, berhati mulia sehingga suka menolong Thian-te Lo-mo ketika terluka, memegang teguh kesucian sehingga ia berlaku nekat dan menolak ketika hendak dipaksa menjadi bini muda seorang pangeran, dan berhati tabah sekali sehingga dengan berani ia hendak membunuh diri di depan makam Thian-te Lo-mo ketika tidak ada jalan lain baginya. Juga gadis itu cerdik sekali, dan diam-diam Tiong San merasa geli hatinya kalau ia teringat betapa gadis pelayan istana yang biasanya hidup mewah dan yang bersikap lemah lembut dan halus itu menyamar sebagai petani!

Di manakah adanya Siang Cu? Demikian Tiong San berpikir sambil melanjutkan perjalanannya sambil menuruni bukit Tai-san. Kalau ada kesempatan bertemu, aku harus minta maaf kepadanya atas segala perlakuanku yang kasar-kasar dulu, pikirnya. Akan tetapi di manakah ia dapat bertemu dengan gadis yang tak diketahui asal-usul dan tempat tinggalnya itu? Ketika ia sedang berjalan sambil melamun, tiba-tiba ia mendengar suara kambing mengembek ramai di pinggir jalan. Ia menengok dan melihat betapa seekor kambing betina sedang mengembek-embek dan berjalan memutari sebuah lubang di dalam tanah dengan kebingungan. Dari dalam lubang terdengar suara embek kambing kecil yang lemah seperti bunyi anak menangis.

Beberapa kali induk kambing itu mencoba untuk masuk ke dalam lubang, tetapi tak dapat, dan jelas sekali nampak betapa ia hendak berusaha sedapatnya untuk menolong kambing kecil, tetapi ia tidak berdaya sehingga ia menjadi bingung sekali, suaranya terdengar oleh Tiong San seperti orang minta tolong, maka ia menjadi kasihan dan menghampiri, lalu mengeluarkan kambing kecil itu dari dalam lubang.

Induk kambing merasa girang sekali, lalu menghampiri anaknya dan menjilat-jilat dengan lidahnya, sedangkan si kecil itu lalu menekuk kedua kaki depannya seperti berlutut dan minum air tetek ibunya dengan lahapnya. Agaknya sudah lama ia terjerumus ke dalam lubang itu dan perutnya menjadi amat lapar.

Melihat pemandangan ini, tiba-tiba Tiong San merasa betapa hatinya seperti diremas dan tanpa disadarinya, dua titik air matanya melompat keluar dari pelupuk matanya. Pemandangan yang nampak di depannya itu mengingatkan ia akan ibunya sendiri! Melihat kasih sayang sedemikian besar dan mesranya dari induk kambing kepada anaknya, dan melihat betapa ketika hendak menetek, kambing kecil itu menekuk kaki depan seakan-akan berlutut, lambang dari kebaktian anak terhadap ibunya.

Hati Tiong San menjadi amat terharu. Telah hampir lima tahun ia meninggalkan ibunya dan seakan-akan terlupa kepada orang tua itu. Kini hatinya penuh kerinduan kepada ibunya. Rindu sekali untuk melihat wajah ibunya yang sabar dan agung itu, untuk mendengar suaranya yang halus penuh kasih sayang dan untuk merasai belaian tangannya yang mencinta.

“Ibu ...,” hati Tiong San berbisik dan segera ia berlari cepat dari tempat itu. Keinginan satu-satunya pada saat itu hanya untuk pulang ke kampungnya dan untuk bertemu ibunya. Ia melakukan perjalanan secepat mungkin agar lebih cepat tiba di kampung Kui-ma-chung, kampung kelahirannya dan di mana ibunya kini berada.

Ia membayangkan dengan gembira betapa kini keadaan ibunya sudah senang dan cukup, tak perlu membanting tulang, menyulam dan menenun sampai jauh malam untuk mendapatkan nafkah, karena bukankah ia dulu telah mengirimi uang sepuluh ribu tail perak yang didapatnya sebagai “emas kawin” dari pangeran Lu Goan Ong?

Mengingat hal ini, tak dapat tidak ia terkenang pula kepada Khu Sin dan Thio Swie sehingga kegembiraannya makin meluap. Ia akan bertemu dengan ibunya, dengan Khu Sin dan Thio Swie yang kini tentu telah menjadi pembesar! Alangkah senangnya dapat bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka. Kegembiraan ini membuat Tiong San makin tergesa-gesa untuk segera sampai di kampungnya dan ia melakukan perjalanan siang malam, tidak pernah ditundanya, kecuali terjadi hal yang amat penting.

Dan ketika ia tiba di kampung Kui-ma-chung, hatinya berdebar keras karena terlalu amat girang dan terharunya. Ia segera menuju ke rumah ibunya. Dari jauh sudah tampak rumah ibunya dan ia merasa amat heran. Mengapa rumah ibunya masih tua dan buruk seperti dulu? Bukankah ia sudah mengirim uang sebanyak sepuluh ribu tail perak? Apakah ibunya belum menerima uang itu? Bermacam-macam pertanyaan timbul di dalam pikirannya.

Ia mempercepat larinya untuk segera bertemu dengan ibunya dan memecahkan semua teka-teki yang membuatnya terheran-heran itu. Tiba-tiba ia tertegun karena timbul pikiran baru. Mungkin ibunya sudah berpindah rumah! Siapa tahu? Dengan uang sebanyak itu, mungkin sekali ibunya mendiami rumah baru dan rumah lama ini dijualnya kepada orang lain!

Pikiran baru ini membuat ia berlari lebih cepat lagi dan sebentar saja ia telah berada di depan pintu rumah itu. Kebetulan sekali pada saat itu seorang wanita tua keluar dari rumah dengan tindakan yang tenang dan perlahan. Wanita itu melihat Tiong San, berdiri diam dan tiba-tiba, memandang dengan mata terbelalak, tak bergerak bagai patung.

“Ibu ....!!” Tiong San bersorak gembira karena ternyata bahwa wanita itu memang benar ibunya. Ia menubruk maju dan menjatuhkan diri berlutut, tak kuasa menahan mengucurnya air mata. “Tiong San .....! Kau ....? Kau .... sudah kembali ....? Tiong San     !” Sambil memeluk anaknya yang telah

diangkatnya berdiri itu, nyonya janda Lie menangis. Berkali-kali ia memandang wajah puteranya dan mendekapkan kepala anaknya itu ke dadanya dengan hati penuh bahagia dan terharu.

“Ibu, ampunkan aku, anakmu yang tidak berbakti    ” Tiong San berkata.

Ibunya tak dapat berkata apa-apa, hanya memeluknya makin erat seakan-akan khawatir kalau-kalau puteranya akan pergi lagi, pergi jauh tak tentu tempat tinggalnya.

Pada saat itu, terdengar langkah kaki ringan dari dalam rumah.

“Tiong San, anakku. Lihatlah, dia ini adalah seorang berhati mulia yang selama ini menemani ibumu dan menjadi penghibur besar dari kedukaan karena kehilangan kau,” kata nyonya itu dengan suara gembira, memperkenalkan.

Tiong San mengangkat kepala memandang dan hampir saja ia berteriak. Ia memandang dengan keheranan kepada seorang gadis yang berpakaian sederhana, seorang gadis yang manis sekali dalam pandangan matanya, gadis yang selama ini seringkali muncul dalam pikirannya. Dan gadis itu memandangnya dengan mata sayu, dengan senyum simpul setengah mengejek pada bibirnya. Kemudian gadis itu menjura perlahan sebagai penghormatan kepadanya. Gadis ini bukan lain ialah Gan Siang Cu!

Bagaimana Siang Cu, pelayan istana itu sampai bisa berada di rumah ibu Tiong San dan tinggal bersama orang tua itu? Marilah kita ikuti pengalamannya semenjak ia berpisah dengan Tiong San di dalam hutan itu.

********************

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Gan Siang Cu, gadis pelayan istana yang ditolong oleh Thian-te Lo-mo, kemudian ditolong pula oleh Tiong San yang membawanya keluar kota raja, telah menyamar sebagai seorang petani muda, dengan pakaian hasil curian Tiong San yang sengaja dikotorkan dengan tanah lempung dan telah memotong rambutnya menjadi pendek. Kemudian gadis itu lalu meninggalkan Tiong San dan kembali ke kota raja.

Berkat penyamarannya, dengan mudah ia dapat melalui pintu gerbang kota raja tanpa menimbulkan banyak curiga. Gadis ini teringat akan pesan mendiang Thian-te Lo-mo bahwa kalau ia berhasil keluar, ia dapat minta tolong kepada pemilik rumah penginapan Thian-an-kwan yang menjadi paman seorang pemuda bernama Khu Sin.

Setelah tiba di Thian-an-kwan dan menuturkan bahwa ia adalah kenalan baik Thio Swie, Khu Sin dan Tiong San, benar saja paman Khu Sin itu segera menyambutnya dengan ramah tamah sekali. Tanpa membuka rahasianya, Siang Cu lalu menyatakan bahwa karena sesuatu sebab, ia terpaksa melarikan diri dari kota raja dan minta tolong kepada paman Khu Sin itu untuk membelikan seekor kuda yang baik dan menanyakan pula di mana tempat tinggal Khu Sin. Ia menyatakan bahwa sudah lama ia tidak bertemu dengan Khu Sin sehingga tidak tahu di mana sekarang tinggalnya pemuda itu.

Ia mengeluarkan sebuah dari pada perhiasannya yang terbuat dari emas untuk digunakan sebagai pembeli kuda, dan mendapat keterangan yang jelas tentang keadaan Khu Sin yang telah menjadi wedana dari kota Bun-an-kwan. Setelah menghaturkan terima kasihnya, Siang Cu lalu naik kuda itu dan terus menuju ke kota Bun-an-kwan.

Setelah tiba di kota ini, ia menghadap kepada wedana kota yang bukan lain adalah Khu Sin sendiri. Ia dibawa menghadap kepada Khu Sin yang merasa amat heran yang mendengar dari penjaganya bahwa seorang sahabat dari kota raja hendak bertemu. Lebih-lebih herannya ketika melihat bahwa tamunya adalah seorang petani muda yang berpakaian kotor.

Akan tetapi, Khu Sin berbeda dengan pembesar-pembesar lain sehingga belum lama ia menjadi wedana kota, ia amat disukai oleh penduduk di situ. Kini ia menerima tamunya dengan ramah tamah dan setelah tamunya dipersilahkan duduk, ia bertanya,

“Siapakah saudara dan datang dari mana? Mengapa saudara mengaku menjadi sahabatku sedangkan sepanjang ingatanku, aku belum pernah bertemu dengan kau?” Dengan ketenangan yang amat mengagumkan, Siang Cu menjawab dengan pertanyaan pula. “Taijin, bukankah kau bernama Khu Sin dan berasal dari kampung Kui-ma-chung?”

Khu Sin memandang heran. “Benar,” jawabnya.

“Dan kenalkah kau kepada dua orang muda bernama Thio Swie dan Tiong San?”

“Tentu saja! Mereka adalah kawan-kawan baikku. Thio Swie berada di kota tak jauh dari sini menjabat pangkatnya, sedangkan Tiong San ... eh, kau siapakah dan mengapa kau mengajukan pertanyaan itu? Apakah kau diutus oleh seorang di antara mereka?”

Siang Cu menggelengkan kepalanya. “Kalau taijin kenal kepada Tiong San, tentu tahu pula bahwa dia adalah Shan-tung Koai-hiap.”

“Ya, ya, aku tahu sampai habis hal itu. Katakanlah, apa keperluanmu menjumpaiku?”

Untuk mendapat kepastian, Siang Cu melanjutkan, “Dan kenalkah taijin kepada Thian-te Lo-mo?” “Kakek gila itu? Kenal betul, tidak, tetapi aku tahu bahwa dia adalah guru dari Tiong San!”

“Taijin, terus terang saja kedatanganku ini adalah atas petunjuk Thian-te Lo-mo dan kakek itu menyatakan bahwa di dalam kesukaran yang kuhadapi, aku dapat minta pertolongan kepada kawan-kawan muridnya, yakni kepada orang-orang muda bernama Khu Sin dan Thio Swie, dan juga kepada Tiong San. Oleh karena ternyata bahwa Shan-tung Koai-hiap Lie Tiong San tidak mau menolongku, maka dari kota raja aku langsung mencari taijin untuk mohon perlindungan.”

Khu Sin merasa terkejut dan heran sekali. “Apakah kau bertemu dengan Tiong San? Di mana? Bagaimana keadaannya? Dan mengapa ia tidak mau menolongmu? Dia adalah seorang berhati mulia, semulia- mulianya orang!”

Dihujani pertanyaan ini dan melihat sikap Khu Sin yang amat ramah tamah dan baik, Siang Cu tersenyum dan heranlah Khu Sin melihat gigi yang putih dan rata itu. Terlampau bagus untuk menjadi gigi seorang petani muda biasa!

“Khu-taijin, bukan saja aku telah bertemu dengan Shan-tung Koai-hiap, bahkan sudah bercekcok dengan dia!”

“Apa? Kau bercekcok dengan Tiong San? Mengapa?”

“Khu-taijin, ceritaku panjang dan sebelum aku menuturkan ceritaku ini, harap kau jawab dulu pertanyaanku. Sudahkah kau beristeri?”

Terbelalak mata Khu Sin memandang petani muda ini. Tiong San memang ajaib betul, pikirnya. Mempunyai guru seorang kakek gila dan sekarang kawannya ini rupa-ruoanya juga tak beres otaknya! Akan tetapi ia terpaksa mengangguk, karena memang ia telah kawin dengan Man Kwei, bekas pelayan pangeran Lu Goan Ong yang ditolongnya dulu.

“Kalau kau sudah kawin, baik sekali. Harap kau panggil isterimu keluar karena tidak enak sekali bagiku untuk bercerita tentang pengalamanku di depanmu sendiri. Mana isterimu?”

Kini Khu Sin menjadi marah dan menganggap bahwa orang muda ini pasti seorang gila! “Kau gila!” teriaknya sambil berdiri dari kursinya.

Siang Cu tertawa geli mendengar ini. “Agaknya kau dan kawanmu Shan-tung Koai-hiap itu semodel, paling suka memaki orang gila!”

“Jangan kau main-main!” Khu Sin membentak. “Mengapa kau berani berlaku begini kurang ajar dan menyuruh isteriku keluar? Kalau kau tidak lekas memberitahukan keperluanmu datang di sini, terpaksa aku akan memanggil penjaga untuk mengusirmu!” “Betul-betulkah kau ingin bicara dengan aku sendiri di luar tahu isterimu?” “Tentu saja! Dan jangan kau berlancang mulut membawa-bawa nama isteriku!”

“Bagaimana kalau isterimu mengetahui bahwa suaminya sedang mendengarkan penuturan seorang wanita muda? Apakah dia akan senang hati?”

Kini Khu Sin melompat bagaikan diserang ular dari bawah. “Apa katamu? Kau .... kau ”

Siang Cu berdiri dan menjura, kini bersikap biasa sebagai seorang wanita sungguhpun tampak lucu dalam pakaiannya sebagai petani laki-laki itu. “Aku memang seorang wanita, Khu-taijin. Namaku Gan Siang Cu, bekas pelayan istana kaisar.”

Bukan main terkejutnya hati Khu Sin mendengar ini dan ketika sekali lagi Siang Cu tersenyum manis, ia tidak ragu-ragu lagi. Pantas saja bentuk bibirnya demikian manis dan giginya demikian bagus.

“Mari, mari masuk saja ke dalam rumah ....” katanya gagap dan karena lupa hampir saja ia memegang tangan tamunya untuk ditarik ke dalam, tetapi ketika tangannya menyentuh kulit tangan yang halus itu, ia segera melepaskannya seperti menyentuh api panas.

“Maaf, saudara .... eh, nona ....., aku     , aku bingung sekali!” katanya sambil mempersilahkan Siang Cu

masuk ke dalam ruang dalam. Khu Sin lalu berlari-lari memberi tahu kepada isterinya yang segera keluar. Begitu melihat Man Kwei, Siang Cu memandang dan berkata,

“Kalau tidak salah, cici dulu bekerja di gedung pangeran Lu Goan Ong, betulkah?”

Sebagai seorang pelayan istana yang cukup ternama di antara semua pelayan-pelayan, Siang Cu tentu saja pernah dilihat dan dikenal oleh Man Kwei yang mengaguminya. Tetapi dalam keadaan yang demikian, tentu saja ia tidak mengenalnya. Siang Cu lalu membuka topinya dan rambutnya yang telah dipotongnya itu nampak lucu sekali.

“Cici, lupakah kau kepada Siang Cu?”

Man Kwei membelalakkan matanya. “Apa? Kau .... Siang Cu?” dengan herannya ia mendekati dan memandang lebih teliti lagi. Kemudian sambil tertawa ia memeluk Siang Cu.

“Benar, benar! Kau adalah Siang Cu, tetapi mengapa kau menjadi begini?”

Siang Cu menarik napas panjang dan sebelum ia mulai menuturkan pengalamannya, Man Kwei mencegahnya dan membawanya ke dalam untuk mandi dan bertukar pakaian. Setelah ia muncul lagi, ia telah menjadi seorang gadis cantik, dan ia lalu menuturkan seluruh pengalamannya semenjak pertemuannya dengan Thian-te Lo-mo sampai perpisahannya dengan Tiong San di dalam hutan.

Setelah Siang Cu menuturkan pengalamannya, Khu Sin dan isterinya menjadi sangat terharu.

“Akan tetapi,” kata Khu Sin, “Di manakah adanya Tiong San sekarang? Mengapa dia tidak mau pulang?” Hati Khu Sin selalu merasa khawatir semenjak ia mendengar betapa Tiong San telah mempermainkan pangeran Lu Goan Ong dan Siu Eng.

“Siapa tahu?” jawab Siang Cu mengangkat pundak.

“Tapi mengapa dia tidak mau menolongmu? Bukankah ia sudah menolongmu keluar dari istana dan kota raja? Mengapa tidak mau melanjutkan pertolongannya dan meninggalkanmu di dalam hutan?”

Siang Cu tak dapat menjawab dan menundukkan mukanya. Ketika Man Kwei membantu suaminya mendesaknya, ia menjawab, “Mengapa ia tidak mau menolong? Kukira karena ...., karena aku seorang perempuan!”

“Ha?!?” seru Khu Sin terheran-heran. “Dia memang pembenci perempuan,” kata Siang Cu pula dengan cemberut. Man Kwei lebih mengerti perasaan wanita, maka ia mengejapkan matanya kepada suaminya sehingga Khu Sin tidak membuka mulut lagi.

Kemudian Siang Cu bertanya tentang pengalaman mereka dan Khu Sin lalu menceritakan seluruh pengalamannya. Menurut penuturan Khu Sin, ternyata bahwa ia dan Thio Swie telah kembali ke kampung Kui-ma-chung dengan selamat, membawa pangkat dan uang sepuluh ribu tail perak untuk ibu Tiong San. Akan tetapi, nyonya janda Lie, ibu Tiong San, ketika mendengar dari kedua pemuda itu tentang puteranya yang kini telah menjadi seorang pendekar sakti dan uang sepuluh ribu tail perak itu adalah “emas kawin” dari pangeran Lu Goan Ong, menjadi marah-marah.

“Tiong San menjual dirinya, kawin dengan gadis macam itu dan menerima emas kawin yang dikirimkan kepadaku? Ah, kalau ia menganggap ibunya mata duitan seperti itu, dia benar-benar gila! Aku tidak sudi menerima uang ini!” Kemudian ia menangis sedih. Terpaksa Khu Sin dan Thio Swie membawa dan menyimpan uang itu karena ibu Tiong San berkeras tidak mau menerimanya.

Ketika Khu Sin dan Thio Swie mendengar tentang Tiong San yang mempermainkan Siu Eng dan pangeran Lu Goan Ong, mereka menjadi girang dan geli sekali. Terutama Thio Swie yang tadinya merasa tidak puas dan mendongkol mendengar bahwa Tiong San hendak kawin dengan Siu Eng, tertawa terpingkal-pingkal sampai keluar air matanya.

“Bagus, bagus, Tiong San! Kau benar-benar sahabat karibku!” serunya sambil menepuk-nepuk bahu Khu Sin dengan girangnya. “Aha, Khu Sin, ingin benar aku melihat muka Siu Eng dan mengejeknya!”

Mereka segera memberitahukan hal itu kepada ibu Tiong San yang juga menjadi gembira, tetapi ia segera berkata dengan wajah bersungguh-sungguh kepada Khu Sin dan Thio Swie,

“Uang sepuluh ribu tail perak itu harap hari ini juga kalian kirimkan kembali kepada pangeran Lu Goan Ong! Uang itu adalah hasil penipuan puteraku dan kita tidak berhak memakainya sepeserpun!”

Khu Sin dan Thio Swie tidak berani membantah dan segera mengirimkan kembali uang itu disertai surat mereka yang menyatakan bahwa ibu Tiong San tidak mau menerimanya bahkan mohon banyak maaf untuk kekurang ajaran puteranya. Tak lupa kedua orang muda ini menyampaikan terima kasih atas kurnia yang diberikan kepada mereka.

Kalau pangeran Lu Goan Ong tadinya merasa mendongkol dan gemas sekali karena telah ditipu Tiong San, kini hatinya menjadi luluh menghadapi kemuliaan budi yang diperlihatkan oleh ibu pemuda itu. Maka iapun lalu memberi laporan yang amat baik kepada atasan untuk Khu Sin dan Thio Swie sehingga kedudukan kedua pembesar baru itu makin menjadi kuat.

Demikianlah penuturan Khu Sin kepada Siang Cu dan tiba-tiba gadis ini berkata dengan wajah berseri dan suara gemetar,

“Alangkah mulia hati nyonya Lie itu. Dalam keadaan miskin ia berani menolak uang sebesar itu. Sungguh jarang terdapat di dunia ini ”

Malam harinya ia bercakap-cakap berdua di dalam kamar dengan Man Kwei yang secara berterus terang menyerangnya dengan perkataan halus.

“Adik Siang Cu, kau mencinta Tiong San, bukan?”

Siang Cu tersenyum dan mukanya menjadi merah. “Dia adalah penolongku dan aku berhutang budi dan nyawa kepadanya. Tanpa pertolongan dia dan suhunya, sudah lama aku tentu tewas. Akan tetapi ....

siapakah berani mencinta seorang pembenci perempuan seperti dia?” Ia menarik napas panjang, lalu berkata sambil memegang tangan Man Kwei.

“Cici yang baik, tak mungkin aku dapat membalas budi Shan-tung Koai-hiap, karena ia pembenci wanita. Juga tak mungkin aku dapat membalas budi Thian-te Lo-mo karena orang tua itu telah meninggal dunia. Akan tetapi ketika tadi aku mendengar tentang nyonya janda Lie, ibu Shan-tung Koai-hiap, hatiku amat kagum dan tertarik. Ia seorang nyonya berhati mulia yang hidup seorang diri, ditinggalkan oleh puteranya. Akupun seorang diri pula. Biarlah aku membalas budi Shan-tung Koai-hiap kepada ibunya saja. Cici yang baik, kuharap kau dan suamimu sudi menolongku, menjadi perantara agar supaya nyonya itu suka menerimaku membantu dan mengawaninya.”

Ketika Khu Sin diberi tahu oleh isterinya tentang maksud Siang Cu yang hendak tinggal di rumah ibu Tiong San dan membantu nyonya tua itu, ia merasa setuju sekali. Maka beberapa hari kemudian, Khu Sin beserta isterinya mengantarkan Siang Cu ke dusun Kui-ma-chung, ke rumah nyonya janda Lie.