-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-15 : Kebencian Pada Wanita Cantik

Bab-15 : Kebencian Pada Wanita Cantik

“TAK disangka bahwa kami akan mendapat bantuan yang amat berharga dari koai-hiap, sungguh-sungguh kami berterima kasih sekali. Koai-hiap masih begini muda tetapi telah memiliki kepandaian yang demikian lihai luar biasa, sungguh-sungguh membuat kami yang tua-tua merasa kagum!”

Oleh karena semenjak dulu mengikuti suhunya yang sama sekali tidak suka akan segala penghormatan, maka Tiong San lalu tertawa karena geli hatinya.

“Ha ha ha! Kalian benar-benar berotak miring! Untuk apa segala macam omong kosong ini? Lebih baik lekas tolong kawan-kawanmu yang terluka dan melanjutkan perjalanan.”

Semua piauwsu tidak ada yang berani membantah, dan mereka lalu merawat kawan-kawan yang terluka dan segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan.

Ternyata orang-orang yang dirampok itu adalah keluarga Ciu-wangwe (hartawan Ciu) yang tinggal di kota Cin-an. Hartawan itu turun dari jolinya dan menghampiri Tiong San. Ketika melihat sikap pemuda yang menampik segala ucapan terima kasih dan penghormatan, Ciu-wangwe lalu menjura dan berkata,

“Shan-tung Koai-hiap, telah lama aku mendengar nama besarmu dan juga nama besar suhumu, Thian-te Lo-mo. Karena kebetulan sekali kita bertemu di sini dan agaknya sejurusan perjalanan pula, maka aku mengharap sukalah kiranya kau melakukan perjalanan bersama kami. Pertama-tama untuk mempererat perkenalan kita. Kedua, kami mohon pertolonganmu agar supaya keselamatan kami terjamin.”

Tiong San memandang kepada hartawan itu yang ternyata adalah seorang setengah tua yang berwajah menyenangkan dan dari sikap dan bicaranya, dapat diduga bahwa ia adalah seorang yang berwatak jujur dan terpelajar.

“Bolehkah aku tahu siapa saudara ini?” tanya Tiong San dan Ciu-wangwe tersenyum.

“Tadi aku tidak berani memperkenalkan nama oleh karena apakah artinya namaku bagi seorang gagah seperti kau? Aku adalah Ciu Twan atau untuk penduduk Cin-an cukup dikenal dengan sebutan Ciu- wangwe. Ya, memang aku seorang hartawan, tetapi ketika dirampok tadi, aku ingin sekali menjadi seorang miskin saja! Semenjak menjadi hartawan, aku selalu menghadapi kesulitan-kesulitan belaka!” Ciu-wangwe menarik napas panjang dan Tiong San merasa makin tertarik kepada orang ini.

“Kau lucu sekali, Ciu-wangwe,” katanya sambil tertawa. “Akan tetapi aku suka bercakap-cakap dengan orang seperti kau!” Mereka segera melanjutkan perjalanan dan Tiong San tidak menolak ketika ia diberi seekor kuda, sehingga ia dapat bercakap-cakap dengan hartawan Ciu itu. Nyonya Ciu masih duduk di sebuah joli yang digotong oleh enam orang, dan hartawan Ciu sendiri berganti tempat, tidak mau naik joli karena ia ingin bercakap- cakap dengan Tiong San. Para piauwsu merasa gembira sekali karena pendekar aneh dari Shan-tung itu suka melakukan perjalanan bersama mereka sehingga mereka tak usah mengkhawatirkan sesuatu lagi.

Di sepanjang jalan, Ciu-wangwe dengan amat jujur menuturkan riwayat hidupnya kepada Tiong San tanpa diminta. Ia menceritakan betapa dulu iapun seorang yang miskin, tetapi berkat kerajinannya dapat menjadi seorang kaya raya. Ia menceritakan pula tentang rumah tangganya, tentang seorang anaknya yang telah menjadi remaja puteri, betapa anaknya itu amat cantik dan pandai ilmu kesusasteraan.

“Anakku itu adatnya agak kukoai (aneh). Telah berkali-kali datang lamaran orang, tetapi ia berkeras menampik semua pinangan itu biarpun yang mengajukan pinangan adalah pemuda-pemuda kaya raya, bahkan pinangan seorang pemuda bangsawan ia tolak pula! Ahh, aku dan ibunya sudah merasa pusing sekali, tetapi semenjak kecil ia dimanja, maka aku dan isteriku tak dapat berdaya apa-apa! Kalau saja ”

ia memandang tajam kepada Tiong San, kemudian menyambung kata-katanya sambil tersenyum. “Kalau saja aku bisa mendapat seorang menantu seperti kau .... ah, seumur hidupku aku akan merasa senang dan aman!”

Tiong San tertawa terbahak-bahak sehingga membuat Ciu-wangwe memandang heran dan ragukan kesehatan otak pemuda itu, karena memang suara ketawa Tiong San amat nyaring dan keras, sehingga para piauwsu pun menengok dan memandang dengan heran!

“Ciu-wangwe, kau .... gila!” kata Tiong San yang telah menjadi biasa menyebut semua orang dengan makian gila seperti adat gurunya. “Aku aku paling tidak suka kepada wanita apalagi wanita yang pandai,

lebih-lebih lagi kalau ia cantik jelita!”

Kini Ciu-wangwe yang tertawa geli mendengar ucapan ini.

“Shan-tung Koai-hiap, aku benar-benar suka kepadamu. Kau berbeda sekali dengan pemuda-pemuda lain. Kuharap kau suka bermalam di rumahku di Cin-an agar hatiku puas. Sukakah kau?”

Melihat sikap hartawan yang amat tulus dan jujur ini, memang Tiong San telah merasa suka dan cocok sekali, maka ia menganggukkan kepalanya dan menjawab,

“Aku sedang ada urusan penting, yakni mencari seorang di sekitar bukit Tai-san. Karena akupun harus melalui Cin-an, tidak ada halangan apabila aku mampir semalam di rumahmu.”

Ciu-wangwe merasa girang sekali dan perjalanannya dilanjutkan dengan selamat sampai di Cin-an. Mereka menuju ke gedung Ciu-wangwe dan hartawan itu selain memberi upah yang telah dijanjikan kepada para piauwsu, juga memberi hadiah ekstra karena ia merasa kasihan kepada para piauwsu yang terluka.

Tentu saja para piauwsu itu amat berterima kasih sekali dan memuji-muji kebaikan budi hartawan itu. Hartawan lain tentu akan marah-marah dan menyatakan ketidak puasannya karena terjadinya gangguan perampok yang hampir mencelakakan itu, akan tetapi hartawan ini bahkan memberi hadiah dan ongkos- ongkos pengobatan kawan-kawan mereka yang terluka!

Ciu-wangwe memang mempunyai seorang anak perempuan yang telah berusia delapan belas tahun. Gadis ini bernama Ciu Leng Hwa dan semenjak kecil ia memang telah mempelajari ilmu kesusasteraan dengan amat rajinnya. Ia mempunyai otak yang cerdas dan setelah ia menjadi dewasa, ia terkenal sebagai kembang kota Cin-an, baik mengenai kecantikan maupun mengenai kepandaiannya, terutama tulisan- tulisannya yang indah. Sering kali kawan-kawannya minta supaya menuliskan lian (tulisan-tulisan di atas kain yang mengandung arti dan ditulis indah, biasanya berbentuk syair).

Ciu-wangwe suami isteri merasa amat bangga akan puteri mereka ini, tetapi sebagaimana yang diceritakan oleh Ciu-wangwe kepada Tiong San, gadis ini selalu menolak apabila orang tuanya bicara tentang perjodohan dan pinangan orang kepadanya!

Ketika Leng Hwa mendengar dari ibunya bahwa ayah bundanya tadi diganggu perampok dan terjadi pertempuran hebat, ia menjadi khawatir sekali dan berkata, “Ah, untung sekali ibu dan ayah tidak sampai mendapat celaka. Kalau terjadi apa-apa, bagaimana dengan

.... aku? Ah, syukur kepada Thian Yang Maha Kuasa, malam ini kebetulan bulan purnama dan tengah malam nanti aku harus bersembahyang untuk mengucap syukur.”

“Memang kita harus bersyukur, anakku, terutama sekali kepada Shan-tung Koai-hiap, karena dialah yang menolong sehingga ayah bundamu masih dapat bertemu dengan kau dalam keadaan hidup!” Nyonya Ciu lalu menceritakan betapa pendekar muda itu telah menolong mereka dengan gagahnya.

“Tak kusangka bahwa seorang pemuda yang begitu halus dan kelihatan lemah, memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Sayangnya .... bicaranya aneh-aneh sehingga ayahmu menyangka bahwa ia agak ....

miring otaknya! Ia ikut datang atas undangan ayahmu dan ayahmu suka sekali bercakap-cakap. Percakapan mereka aneh-aneh sehingga aku tidak mengerti sedikitpun. Coba saja pikir, pendekar yang usianya belum tentu ada dua puluh tahun itu beberapa kali kudengar menyebut ayahmu gila!”

Leng Hwa tertarik sekali. “Memang kata orang-orang dahulu, orang yang gila paling suka menyebut orang waras gila!” katanya perlahan dan diam-diam ia mempunyai keinginan keras untuk melihat bagaimana macamnya pendekar muda yang amat terkenal itu. Akan tetapi sebagai seorang gadis terpelajar dari keluarga sopan, tentu saja tak mungkin baginya untuk menjumpai seorang tamu laki-laki yang masih muda dan asing pula.

Malam hari itu, Leng Hwa berada di taman bunga. Memang taman bunga keluarga Ciu-wangwe amat indah dan terkenal, karena selain Leng Hwa suka sekali kepada kembang-kembang, juga suami isteri Ciu suka berjalan-jalan di situ.

Gadis itu menanti datangnya tengah malam di taman itu sambil menghadapi dua helai kain yang disulam indah. Seorang kawannya minta kepadanya untuk menuliskan dua buah syair di atas dua helai kain yang lebar itu. Akan tetapi, entah mengapa, malam hari ini agaknya jalan pikiran gadis ini kurang tenang.

Telah lama sekali ia duduk di atas sebuah bangku menghadapi kain yang terbentang di hadapannya tanpa dapat menuliskan sehurufpun. Ia bertopang dagu dan pelayannya duduk tak jauh dari situ, sama sekali tidak berani mengganggu nonanya yang sedang mengasah otak itu.

Sambil bertopang dagu, Leng Hwa memandang kepada bulan yang nampak bulat dan terang di angkasa raya. Pelayannya, seorang gadis tanggung, memandang nonanya dengan kagum sekali. Karena sedang berdongak, wajah Leng Hwa sepenuhnya ditimpa sinar bulan dan pelayan itu diam-diam berpikir, manakah yang lebih indah, wajah nonanya atau bulan itu!

Melihat bulan seakan-akan bergerak di atas awan-awan putih dan kadang-kadang bersembunyi di belakang sekelompok awan hitam. Tiba-tiba Leng Hwa menggerakkan pensil bulunya di atas kain itu. Ia telah mendapat bahan bagi syairnya, ialah bulan itu! Dengan asyiknya ia menulis, sambil mengeluarkan ujung lidahnya yang merah dan kecil itu di ujung bibirnya, mengerahkan seluruh perhatiannya pada pensil bulu yang kini menari-nari di atas kain. Setelah syair itu selesai, ia memandangnya dengan puas, wajahnya berseri-seri.

“A-bwe,” ia memanggil pelayannya yang duduk kedinginan karena hawa malam yang sejuk itu membuatnya mengantuk. A-bwe terkejut dan berdiri.

“Kau lihat, syair telah selesai sebuah! Coba kau baca keras-keras hendak kudengarkan!”

A-bwe memang amat mengagumi syair nonanya dan ia senang sekali membaca syair yang ditulis oleh nonanya. Banyak syair tulisan Leng Hwa telah dapat dibacanya di luar kepala, padahal Leng Hwa sendiri sudah lupa akan bunyi syair-syairnya itu. Akan tetapi ia suka mendengar A-bwe membaca syairnya karena suara pelayan ini memang merdu dan apabila syairnya dibaca oleh A-bwe, seakan-akan syair itu menjadi lebih hidup dan indah!

A-bwe berlari-lari menghampiri dan melihat tulisan yang indah itu ia memuji-muji, lalu membaca syair itu dengan suara nyaring dan merdu, penuh perasaan dan gaya serta tekanan suaranya tepat sekali:

Bulan indah, begitu tinggi dan mulia

kau menerangi seluruh permukaan dunia ratu malam yang megah, cantik jelita menyaingi matahari

raja siang yang jaya!

namun sekali terbang lalu

awan dan mega yang terang menjadi gelap, kau tak berdaya !

“Bagus, Siocia (nona), bagus! Akan tetapi agak   agak sedih!”

Akan tetapi, kebetulan sekali memang pada saat itu ada segunduk awan hitam bergerak perlahan menutup bulan.

“Aku hanya menuliskan keadaan yang sebenarnya A-bwe. Lihat, agaknya awan hitam itu akan lama menutup bulan karena berkelompok besar, lebih baik kita masuk dulu dan kau sediakan alat-alat sembahyang karena tak lama lagi tengah malam akan tiba. Kalau bulan sudah terang lagi kita kembali ke sini,” Kedua wanita itu lalu meninggalkan tempat itu, masuk ke dalam rumah.

Tak lama setelah mereka pergi, nampak sesosok bayangan berjalan ke tempat itu dan ia berhenti di depan meja, membaca syair yang baru ditulis oleh Leng Hwa tadi. Bayangan ini adalah Tiong San yang juga merasa tertarik oleh bulan purnama dan keluar dari kamarnya untuk menikmati pemandangan dalam taman bunga yang indah itu.

Biarpun masih ada awan tipis menutup bulan, dan keadaan tidak sangat terang, akan tetapi matanya yang tajam dapat membaca syair itu dengan terang. Ia merasa tertarik sekali dan melihat bahwa di situ masih ada sehelai kain yang sama ukuran dan bentuknya dengan kain yang sudah ditulisi, dan kain itu masih kosong, tak terasa pula timbul kegemarannya menulis syair.

Ia pegang pensil bulu, mencelupkannya di tempat tinta, lalu berpikir sebentar sambil memandang kepada syair Leng Hwa tadi, lalu menulis dengan gerakan cepat dan kuat. Baru saja ia selesai menulis, terdengar suara orang mendatangi. Ia terkejut dan sadar bahwa ia telah berlaku lancang, maka cepat-cepat ia melompat ke balik gerombolan pohon bunga dan mengintai. Ternyata yang datang adalah dua orang wanita, seorang gadis cantik diikuti oleh seorang gadis pelayan yang membawa lilin dan dupa.

Bulan bersinar penuh dan keadaan menjadi terang sekali. Ketika Leng Hwa tiba di dekat mejanya, ia terkejut sekali dan terdengar ia mengeluarkan seruan tertahan. Mendengar ini A-bwe berlari menghampiri dan juga pelayan ini menjadi terkejut sekali.

“Bagus, bagus! Syair ini lebih bagus, siocia!” kata pelayan itu yang lalu meletakkan barang-barangnya di atas tanah. Kemudian dengan suara nyaring ia membaca syair yang baru saja ditulis oleh Tiong San itu:

Sungguh! Awan tak mungkin dihindarkan namun awan gelap hanya rintangan

yang akan lenyap oleh tiupan angin gelap sebentar,

hujan badai boleh menggelegar! Sesudah lewat,

bulan muncul lagi berseri segar! matahari akan terbit lagi, hangat dan terang!

“Bagus, siocia, bagus!” Syair ini merupakan pasangan yang cocok sekali dengan syairmu dan sekali gus menghapus kesedihan syairmu itu! Dan tulisannya .... alangkah indahnya ... tak kalah oleh tulisanmu !”

Akan tetapi, Leng Hwa merasa marah sekali melihat betapa kain yang masih kosong itu ada orang lain yang lancang tangan menulisi. Ia berdiri tegak dan memandang ke kanan kiri, lalu katanya dengan suara nyaring, tanda kemarahan hatinya.

“Orang kurang ajar dari manakah yang berani membikin kotor kain ini? Sungguh gila!”

Tiong San adalah seorang yang berhati tabah dan ia paling tidak suka kalau dianggap kurang ajar dan pengecut, maka mendengar ini ia merasa sudah sepantasnya kalau ia mengakui perbuatannya itu dengan terus terang dan berani. Maka ia lalu muncul keluar dari balik gerombolan pohon kembang itu, sehingga kedua orang wanita itu melangkah mundur dengan terkejut.

“Nona, akulah yang menulis syair itu!”

Leng Hwa memandang dengan mata melebar. “Kau ... siapakah? Dan mengapa kau berani lancang menulis syair ini dan .... dan ....bagaimana pula kau dapat masuk ke sini .....?” Harus diketahui bahwa taman bunga itu menjadi satu dengan gedung Ciu-wangwe dan bahwa sekelilingnya dilingkungi oleh tembok yang amat tinggi dan di luarnya terjaga pula.

Tiong San tersenyum, “Namaku Tiong San, dan aku menulis syair itu karena merasa tak setuju dengan bunyi syairmu yang memperlihatkan kelemahan hatimu, dan tentang bagaimana aku dapat masuk ke sini, karena memang aku bermalam di gedung ini!”

“Jadi kau .... kau Shan-tung Koai-hiap ....?” Makin lebar mata gadis itu memandang Tiong San. Tak disangkanya sama sekali bahwa pendekar muda yang diceritakan oleh ibunya itu ternyata adalah seorang pemuda yang demikian ... tampan dan gagah serta amat indah tulisannya! Dan menurut pandangannya, pemuda ini sama sekali tidak gila.

“Ada orang yang menyebutku gila,” jawab Tiong San sederhana.

Berobahlah sikap Leng Hwa mendengar ini. Bibirnya tersenyum manis dan mukanya berobah merah. Ia tidak berani memandang langsung, setengah menundukkan mukanya. Akan tetapi dari bawah bulu matanya itu kerlingnya menyambar halus.

“Ah .... kalau begitu kau adalah penolong ayah bundaku ... silahkan duduk, taihiap   ”

Tadi ketika Leng Hwa berdiri memandangnya dengan marah dan gadis itu mengeluarkan ucapan-ucapan kasar, ia memandang dengan tertarik juga karena harus diakui bahwa Leng Hwa adalah seorang gadis yang amat cantik jelita. Akan tetapi setelah sikap gadis ini berobah kemalu-maluan, tersenyum dan mengerling tajam yang sebetulnya lebih menggiurkan hati laki-laki lagi, Tiong San bahkan timbul rasa tidak senangnya terhadap gadis ini!

Dalam hati pemuda ini timbullah perasaan ragu-ragu, karena apabila seorang wanita telah bersikap seperti itu, ia akan amat berbahaya dan hanya mendatangkan bencana saja! Dalam pandangannya, sikap wanita yang seperti ini mengingatkan ia akan seekor ular yang melingkar diam tak bergerak, akan tetapi jangan sangka bahwa ular itu takkan menyerangmu.

Sekali kau lalai, ular itu akan menyambarmu. Oleh karena itu, melihat sikap Leng Hwa yang manis itu, tiba- tiba lenyaplah kegembiraannya tadi dan Tiong San segera memutar tubuh sambil berkata,

“Terima kasih, aku mau kembali ke kamar dan tidur!” Tanpa menanti jawaban ia lalu melompat pergi meninggalkan gadis itu yang masih berdiri tercengang.

“Aduh, siocia, dia ..... dia itu .... cakap sekali!” kata A-bwe menggoda nonanya yang sadar kembali dari lamunannya dengan muka makin merah. Dari pandangan mata pelayannya ia maklum akan isi hati A-bwe, maka ia lalu berkata,

“Sudahlah, A-bwe, ayoh kau beres-bereskan meja karena aku hendak mulai bersembahyang!”

Dan ketika Ciu Leng Hwa, gadis cantik jelita itu mengangkat hio (dupa biting) di depan meja sembahyang, biarpun di dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya kepada Yang Maha Kuasa karena ayah bundanya terhindar dari bahaya, namun pada dasar hatinya terdengar bisikan-bisikan yang tak terucapkan oleh mulut hatinya, bisikan-bisikan yang menyatakan harapan dan yang membuiat mukanya makin menjadi merah saja!

Dua gulung kain bersyair itu dibawanya sendiri ke dalam kamarnya setelah selesai sembahyang dan digantungkannya berjajar di dinding kamarnya. Kemudian ia berbaring dan memandangi dua syair itu dengan hati girang yang membuatnya tak dapat tidur sekejap pun semalam itu! A-bwe yang bermulut panjang itu segera menyampaikan peristiwa yang terjadi malam tadi kepada Ciu- wangwe dan nyonyanya. Kedua orang tua ini merasa girang sekali dan Ciu-wangwe lalu menjumpai Tiong San.

“Shan-tung Koai-hiap,” katanya dengan wajah berseri, “Kami telah mendengar akan pertemuanmu dengan puteri kami dan aku sendiri merasa amat gembira bahwa kau dan Leng Hwa telah mendapatkan kecocokan dalam hal .... membuat syair! Hal ini telah membuat aku dan isteriku mengambil keputusan, yakni ... kalau kau setuju ... kami akan merasa gembira sekali apabila anak tunggal kami itu menjadi ....

jodohmu!”

Pada saat itu, nyonya Ciu diikuti oleh A-bwe datang di ruang itu dan mereka ini mendengar juga ucapan Ciu-wangwe tadi, maka nyonya Ciu lalu menyambung,

“Memang benar, anak muda yang baik. Telah lama kami mengharapkan datangnya seorang pemuda yang patut menjadi menantu kami dan kami merasa girang sekali apabila kau suka menjadi suami Leng Hwa!”

Sementara itu, A-bwe memandang kepada pemuda itu dengan kagum. Pemuda ini benar-benar tampan dan gagah, cocok sekali menjadi suami nonaku, pikirnya.

Akan tetapi, ketika mendengar ucapan kedua suami isteri itu, tiba-tiba Tiong San tertawa terbahak-bahak, suara tertawa yang ia warisi dari mendiang suhunya.

“Ha ha ha! Kalian memang gila dan anakmu pun gila! Kalian mau ikat aku dengan perjodohan? Sudah

kukatakan bahwa aku tidak suka kepada wanita, terutama wanita cantik seperti anakmu! Kalian sudah berlaku baik kepadaku, dan untuk itu aku Lie Tiong San merasa berterima kasih, tetapi tentang perjodohan

..... ha ha! Tidak, seribu kali tidak!”

Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu memutar tubuh dan pergi meninggalkan gedung itu, diikuti oleh pandang mata kedua suami isteri itu. Nyonya Ciu nampak berlinang air matanya karena merasa terhina sekali, sedangkan Ciu-wangwe sendiri memandang bingung.

“Untung dia menolak. Agaknya dia memang benar-benar gila seperti kukatakan kemaren ” Ia menarik

napas panjang.

A-bwe berlari masuk dan tentu saja ia menceritakan semua ini kepada Leng Hwa. Gadis itu tadinya merasa gembira ketika mendengar cerita ini dan mendengar ucapan-ucapan Tiong San yang diulang oleh A-bwe beserta gaya-gayanya sekalian, merasa betapa hatinya menjadi perih. Mukanya pucat dan ia memandang kepada tulisan Tiong San yang tergantung di dinding seakan-akan tulisan itu merupakan diri Tiong San sendiri! Ia menangis. Sekali lagi tanpa disadarinya, Tiong San telah menyebabkan seorang gadis cantik menjadi patah hati!

********************

Tiong San meninggalkan kota Cin-an dan langsung mendaki bukit Tai-san untuk mencari Si Cui Sian, wanita bermuka cacad yang membunuh suhunya. Setelah dua hari berputar-putar di bukit itu, mencari keterangan pada dusun-dusun sekitar lembah bukit, tak seorangpun dapat memberi keterangan tentang seorang wanita tua yang bermuka cacad.

Tiong San menjadi kecewa sekali dan karena sudah berada di bukit itu, maka ia teringat akan tempat tinggal suhunya, di mana ia telah tinggal untuk tiga tahun lamanya. Maka ia segera menuju ke tempat itu, yakni sebuah guha besar yang berada di puncak lereng sebelah kiri dan yang masih liar belum pernah didatangi lain orang kecuali dia dan suhunya.

Setelah ia tiba di dekat guha pertapaan gurunya, tiba-tiba ia mendengar suara tangisan. Tiong San menjadi heran sekali karena siapakah orangnya yang berada di tempat sunyi ini? Ketika ia mencari-cari, ternyata bahwa suara itu datangnya dari guha suhunya! Ia makin merasa heran dan segera menghampiri dan berdiri di depan guha. Sekarang ia dapat mendengar suara tangis itu lebih jelas lagi. Itu adalah tangis seorang wanita disertai keluh-kesah mengharukan.

“Hong Sian .... kau kejam sekali .... Kalau saja dulu kau tidak berbuat kejam ah, kita tentu telah menjadi

suami isteri yang beruntung ..... Kau menyakiti hatiku sehingga aku hidup menderita .... Aku tekun mempelajari ilmu pedang, akan tetapi ketika kita bertemu .... kau kembali mengecewakan hatiku Kau

tidak melawan dan sengaja mencari kematian di tanganku sekarang .... sekarang aku merasa makin sengsara ... Hong Sian ” tangis itu makin menjadi-jadi dan Tiong San yang mendengar ucapan ini merasa

terkejut bercampur girang. Inilah orang yang ia cari-cari!

“Si Cui Sian, perempuan jahanam yang kejam! Keluarlah kau untuk menerima pembalasan!” teriaknya sambil mencabut cambuknya.

Suara tangisan itu tiba-tiba berhenti dan tak lama kemudian dari dalam guha itu keluarlah seorang wanita tua dengan pedang di tangan. Pedangnya berkilauan terkena cahaya matahari dan sekali pandang saja tahulah Tiong San bahwa pedang itu adalah sebuah senjata yang tajam dan ampuh.

Ia memperhatikan wanita itu. Jelas kelihatan bahwa wanita itu dulunya tentu amat cantik dan sekarang pun kulit mukanya masih nampak putih dan halus. Akan tetapi bekas luka yang melintang pada mukanya membuat muka itu nampak mengerikan dan menakutkan sekali, sehingga diam-diam Tiong San bergidik dan merasa seram.

“Si Cui Sian! Kau telah membunuh suhuku dengan kejam. Sekarang lawanlah Shan-tung Koai-hiap, murid Thian-te Lo-mo yang hendak membalaskan sakit hati!” kata Tiong San sambil menggerak-gerakkan cambuk di tangannya.

Wanita itu mendongak ke atas dan berkata sambil menghela napas, “Hong Sian .... kau telah mati ....

Apakah dendam yang terkutuk ini takkan ada habisnya   ??”

Akan tetapi kemudian ia merobah sikapnya dan dengan mata bersinar ia memandang kepada Tiong San. “Kau Shan-tung Koai-hiap murid Kui Hong Sian? Bagus, bagus! Aku sudah mendengar namamu dan kabarnya kau lihai seperti gurumu dan sudah mewarisi ilmu kepandaian Hong Sian! Gurumu tidak mau melawanku, biarlah kau yang mewakilinya dan coba kau perlihatkan kepandaianmu. Hendak kucoba sampai di mana hebatnya ilmu cambuk Im-yang Joan-pian!”

Setelah berkata demikian, ia melompat maju dan langsung menyerang Tiong San dengan pedangnya! Pemuda itu cepat melompat mundur dan menggerakkan cambuknya yang segera mengeluarkan bunyi keras dan menyambar ke arah leher perempuan cacad itu. Pertempuran hebat segera terjadi dengan amat serunya. Kali ini tidak seperti biasanya, Tiong San menggerakkan cambuknya dengan serangan-serangan maut karena ia bermaksud membunuh musuh suhunya ini.

Akan tetapi, Si Cui Sian benar-benar lihai sekali ilmu pedangnya dan tiap kali ujung cambuk terbentur pedang, Tiong San merasa betapa tenaganya mental kembali dan ujung cambuknya terpental keras. Wanita itu dengan gerakannya yang amat cepat mendesak maju dan memaksa Tiong San bertempur dari jarak dekat.

“Ayoh, kau keluarkan semua ilmu cambukmu yang lihai!” Si Cui Sian tertawa mengejek.

Tiong San harus mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya. Kini ia memegang cambuknya yang telah ditekuk menjadi pendek dan ia memainkan Im-yang Joan-pian dengan hati-hati. Ujung cambuknya menyambar-nyambar kaku merupakan sebatang tongkat, akan tetapi tiap kali ditangkis, ujung cambuk itu menjadi lemas dan dapat meluncur dan melanjutkan serangan mengarah jalan-jalan darah lawan untuk ditotoknya.

Inilah kelihaian ilmu cambuk Im-yang, semacam ilmu cambuk yang tiada duanya dalam dunia persilatan. Akan tetapi, ia tidak tahu bahwa wanita itu selama berpuluh tahun, setelah terluka oleh suhunya, dengan tekun mempelajari ilmu pedang yang hebat dan yang sengaja diatur untuk menghadapi ilmu cambuk dari Thian-te Lo-mo. Maka kini semua serangannya, satu demi satu digagalkan oleh Si Cui Sian dan bahkan serangan balasan wanita itu membuat Tiong San menjadi sibuk sekali!

Setelah bertempur kurang lebih seratus jurus, perlahan-lahan Tiong San mulai terdesak hebat dan perempuan tua itu tertawa senang. “Ha, kalau saja Thian-te Lo-mo sendiri yang bertempur melawan aku ....

hm, akan tahulah dia bahwa Si Cui Sian bukanlah wanita yang mudah dikalahkan! Ha ha, anak muda, kau mulai berkeringat dan bingung!” Memang Tiong San merasa kewalahan sekali. Belum pernah ia menghadapi seorang lawan yang demikian tangguhnya. Ia menggertakkan gigi dan tiba-tiba ia melompat ke kanan dan mengeluarkan cambuknya yang digerakkan sedemikian rupa sehingga cambuk itu berlenggak-lenggok menyerang tubuh lawan dari atas ke bawah! Inilah gerakan cambuk yang disebut Ular Luka Mencari Obat, gerakan yang amat sukar ditangkis oleh lawan oleh karena tiap lekuk dari cambuk ini melakukan serangan tersendiri sehingga dalam gerakan ini, cambuk di tangan Tiong San sekali gus melakukan beberapa serangan yang tak boleh dipandang ringan!

Akan tetapi, agaknya wanita itu telah siap pula menghadapi serangan macam ini. Tiba-tiba ia tertawa masam, secepat kilat menangkap ujung cambuk yang menyambar lehernya, lalu melompat ke belakang sambil menarik ujung cambuk itu! Bagaikan seekor ular yang ditarik kepalanya, sekali gus semua lekuk yang menyerang itu menjadi gagal karena kini cambuk menjadi terpentang lurus.

Mereka saling menyentakkan dan tiba-tiba Si Cui Sian menggerakkan pedangnya dan putuslah cambuk itu pada tengah-tengah! Pedang pusaka itu memang tidak mampu membabat putus cambuk ketika mereka sedang bertempur, karena cambuk itu bersifat lemas. Tetapi setelah kini cambuk itu dipegang oleh kedua pihak dan ditarik kencang, tentu sekali sabet saja, pedang pusaka itu telah berhasil memutuskannya!

Tiong San merasa terkejut sekali dan karena kurang pengalaman, ia menjadi gugup. Saat itu digunakan oleh Si Cui Sian untuk melompat maju dan mengirim tusukan ke arah dada pemuda itu. Tiong San tak mendapat kesempatan berkelit dan agaknya iapun akan menerima nasib seperti suhunya, yakni dadanya tertembus pedang pusaka di tangan Si Cui Sian!

Akan tetapi, tiba-tiba wanita itu menahan tangannya yang memegang pedang, melemparkan pedangnya di atas tanah dan berlutut sambil menutupi mukanya lalu menangis!

“Thian-te Lo-mo   , apa artinya aku membunuh muridmu? Apa artinya membuat dosa baru? Ah, mengapa

kau tidak lekas datang mencabut nyawaku    ?”

Sementara itu, Tiong San merasa terhina dan menjadi marah sekali karena wanita itu tidak jadi membunuhnya. Ia banting-banting kakinya dan berkata,

“Perempuan gila! Mengapa kau tidak tusuk dadaku seperti yang kau lakukan kepada mendiang suhu? Jangan kau menghinaku! Aku tidak takut mati, aku sudah kalah terhadapmu, lekas kau ambil pedangmu dan bunuhlah aku!”

Si Cui Sian mengangkat mukanya dan aneh, sepasang matanya sungguhpun mengalirkan air mata, tetapi kini memandang kagum kepada Tiong San.

“Kau .... kau seperti Hong Sian di waktu muda   kau gagah perkasa!”

“Siapa sudi mendengar ocehanmu? Bunuhlah aku, ayoh, lekas bunuh. Kau kira aku takut mati? Kalau tidak, mari kita bertempur lagi sampai seribu jurus!”