-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-14 : Nasib Pelayan Istana

Bab-14 : Nasib Pelayan Istana

BIARPUN sukar dan lama, akhirnya selesai juga penggalian lubang itu dan sambil menangis tersedu-sedu Tiong San lalu mengubur jenazah suhunya, dibantu oleh Siang Cu. Mereka berdua tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya diam-diam bekerja menguruk jenazah itu dengan tanah. Sampai lama keduanya berlutut di depan kuburan itu, kemudian Tiong San berkata,

“Suhu mengorbankan nyawanya untuk kau, seorang perempuan! Yang melukai suhu juga seorang perempuan pula! Alangkah jahatnya orang-orang perempuan!” Ia memandang kepada Siang Cu dan bertanya,

“Sekarang kau ceritakan, bagaimana asal mulanya maka kau sampai bertemu dengan suhu?”

Siang Cu memandang kepada Tiong San, tetapi bibirnya tidak menyatakan sesuatu, namun matanya seakan-akan menegur pemuda itu dan seakan-akan berkata, “Hm, kau akhirnya ingin tahu juga?”

“Seperti kukatakan tadi, aku bernama Siang Cu dan she Gan!” sampai di sini gadis itu berhenti bicara dan mengerling kepada Tiong San, seakan-akan menanti reaksi dari pemuda itu. Akan tetapi oleh karena pemuda itu mendengar penuturannya sambil menundukkan muka dan tidak berkata atau menyela barang sepatah katapun, ia melanjutkan ceritanya dan kisahnya seperti berikut.

Gan Siang Cu semenjak masih kecil telah dijual oleh orang tuanya yang miskin kepada seorang pembesar kota raja. Pembesar ini berhati baik dan mendidiknya dengan berbagai kepandaian, sehingga setelah dewasa. Siang Cu terkenal pandai ilmu kesusastraan dan juga pandai mengatur rumah tangga serta kerajinan tangan, pendeknya segala kepandaian wanita terpelajar telah dipelajarinya dengan baik.

Karena ia rajin, baik dan sopan santun serta berwatak bersih, ia menarik perhatian permaisuri kaisar ketika Siang Cu diperbantukan dalam sebuah pesta untuk melayani permaisuri itu. Permasisuri suka kepadanya karena biarpun Siang Cu berasal dari dusun, tetapi tingkah lakunya amat sopan dan menyenangkan. Maka ia diminta oleh permaisuri bekerja di istana sebagai pelayan, dan akhirnya ia mendapat kekuasaan untuk memeriksa segala hidangan untuk kaisar dan permaisuri, berhak mengatur dan memilih hidangan sehari- hari.

Siang Cu tidak begitu cantik, akan tetapi ia mempunyai gaya tersendiri yang penuh daya tarik. Seratus persen wanita yang diidam-idamkan setiap laki-laki. Tubuhnya berpotongan indah, mukanya cukup manis karena selalu dihias oleh senyum sopan dan ramah, matanya memancarkan kebahagiaan hidup dan kehalusan budi.

Hal ini menarik hati seorang pangeran yang tinggal di istana itu, yakni putera kaisar yang lahir dari seorang selir. Beberapa kali pangeran ini menggodanya, akan tetapi dengan bijaksana dan tidak menyakiti hati, Siang Cu dapat menghindarkan diri dari bujukan-bujukan pangeran muda ini. Akhirnya hal ini diketahui oleh ibu pangeran atau selir kaisar itu yang segera mempergunakan pengaruhnya untuk memaksa Siang Cu menjadi bini muda atau selir puteranya yang belum kawin!

Siang Cu tentu saja menolak keras, tetapi sebagai seorang pelayan yang betapapun tinggi kedudukannya ia masih terhitung seorang budak atau hambah sahaya, bagaimana ia dapat menolak dan kepada siapa ia harus minta perlindungan? Demikianlah, ia melarikan diri ke dalam dapur dengan ketakutan dan dikejar- kejar oleh para perwira yang dikerahkan oleh pangeran itu!

Kebetulan sekali, pada saat itu, Thian-te Lo-mo telah dua hari bersembunyi di dalam dapur. Tak seorangpun melihatnya karena kakek ini bersembunyi di balik tiang-tiang penglari yang besar! Dan pada waktu dapur itu ditinggalkan orang, barulah ia keluar dan menyapu semua hidangan yang serba lezat!

Ketika Thian-te Lo-mo melihat seorang gadis berlari masuk sambil menangis, ia menjadi heran sekali. Kemudian dilihatnya tiga orang perwira mengejar masuk, seorang di antaranya tertawa-tawa dan berkata,

“Nona, mengapa kau lari pergi? Bukankah senang menjadi selir seorang pangeran muda yang tampan? Ha ha ha!”

Perwira kedua juga tertawa dan menyindir. “Ah, kau seperti tidak tahu saja, twako. Seekor kuda betina yang liar harus dibikin jinak dulu dengan cambuk! Biarlah aku menangkapnya!” sambil berkata demikian, ia melangkah maju, tetapi tiba-tiba Siang Cu mencabut pisau yang disembunyikannya di balik ikat pinggangnya. Gadis itu mengangkat pisau dan berkata, “Dari pada mendapat hinaan dari pangeran, lebih baik aku mati!” dan sekuat tenaga Siang Cu lalu menusukkan pisau itu ke dadanya sendiri. Akan tetapi, tiba-tiba bayangan hitam menyambar dari atas dan tahu-tahu pisaunya telah lenyap terlepas dari tangannya.

Gadis itu terkejut sekali. Demikian pula para perwira karena bayangan tadi yang sebenarnya ujung cambuk Thian-te Lo-mo, bekerja amat cepatnya, sehingga tidak terlihat oleh mereka. Tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan tanpa kelihatan orangnya, dan sebelum tiga orang perwira itu tahu apa yang terjadi, kembali bayangan hitam berkelebat dan tiga orang perwira itu memekik kesakitan karena muka telah terluka dan menjadi matang biru kena cambuk Thian-te Lo-mo hingga membuat garis memanjang pada muka mereka.

Karena terluka dan diserang oleh sesuatu yang tidak kelihatan, ketiga orang perwira yang tak berapa tinggi ilmu kepandaiannya itu, segera angkat kaki melarikan diri sambil berseru-seru, “Ada setan ! Ada setan

....!” terdengar lagi gelak tertawa dari dalam dapur.

Siang Cu juga tidak melihat Thian-te Lo-mo, maka ia lalu berlutut dan memuji, “Po-kong (malaikat pelindung keselamatan) yang mulia, terima kasih atas pertolongan ini, semoga Po-kong selanjutnya melindungi hamba  ”

Akan tetapi, suara tertawa itu mengeras dan seorang kakek melompat turun sambil berkata, “Anak gendeng, kau benar-benar gila! Masa aku kau sebut malaikat? Ha ha ha! Jangan kau takut, anak baik, aku akan membela dan melindungimu, tak kalah dengan perlindungan Po-kong sendiri! Ha ha ha!”

Sementara itu berita tentang adanya “setan” di dapur istana, segera terdengar oleh semua orang. Juga perwira-perwira kelas satu setelah mendengar hal ini dan ketika melihat bekas luka di muka ketiga orang perwira penjaga itu, mereka menjadi pucat dan Im-yang Po-san Bu Kam berkata, “Thian-te Lo-mo! Ayoh kita serbu dia!”

Maka berlarianlah para perwira kelas satu, dipimpin oleh Bu kam, menyerbu dapur itu. Melihat pintu dapur tertutup, Bu Kam dan kawan-kawannya tidak berani berlaku lancang dan sembrono untuk memasuki tempat itu, hanya berdiri di depan pintu dengan senjata di tangan.

“Thian-te Lo-mo, keluarlah kau!” teriak Im-yang Po-san Bu Kam sambil menggerak-gerakkan sepasang kipasnya yang lihai.

“Bagaimana, lo-inkong (tuan penolong tua),” kata gadis itu dengan tubuh menggigil. “Mereka telah datang, mereka adalah perwira-perwira kerajaan yang terkenal gagah perkasa .... lo-inkong, biarkan aku mati membunuh diri saja dan kau lebih baik lekas pergi sebelum mereka mencelakakan kau!”

“Ha ha, gadis gila, kau kira aku bisa melihat kau mati membunuh diri begitu saja? Tidak, selama aku masih bernafas, kau tak kubiarkan bunuh diri. Kau anak yang baik.  ”

“Lo-inkong, jangan ....., jangan kau hadapi mereka! Mati bagiku bukan apa-apa, lekaslah kau pergi dan kembalikan pisauku!” Siang Cu mendesak, tetapi tiba-tiba Thian-te Lo-mo membentak,

“Jangan membantah! Kau tinggal saja di sini dan aku akan menghadapi mereka di luar dapur!” Setelah berkata demikian sambil tertawa terbahak-bahak ia menerjang keluar sambil mengayunkan cambuknya.

Pertempuran terjadi amat hebatnya dan Siang Cu yang ingin melihat keadaan penolongnya, lalu mengintai dari balik daun pintu. Bukan main kagumnya ketika melihat betapa cambuk panjang di tangan kakek itu mengamuk hebat seperti naga sakti menerjang mega. Para perwira terdesak mundur oleh amukan ini yang disertai suara ketawa menyeramkan.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang wanita baju putih yang rupa mukanya mengerikan sekali karena cacad bekas bacokan pedang, telah berdiri di situ dengan pedang di tangan.

“Kui Hong San! Aku datang untuk membalas sakit hatiku!” seru wanita itu dan ketika mendengar bentakan ini, tiba-tiba Thian-te Lo-mo menjadi pucat sekali. Cambuk ditangannya tergantung dengan lemah dan ia sama sekali tidak bergerak, hanya menatap wanita itu dengan tarikan muka seakan-akan merasa sakit sekali. “Cui Sian .... kau ... kau   ?” katanya dengan suara amat lemah dan gemetar. Akan tetapi ucapannya ini

disambut dengan sebuah tusukan pedang pada dadanya oleh wanita itu! Thian-te Lo-mo sama sekali tidak mengelak atau menangkis dan setelah Cui Sian mencabut kembali pedangnya yang telah berlumur darah, tubuh Thian-te Lo-mo terhuyung-huyung ke belakang. Sesudah itu Cui Sian dan perwira-perwira itu berlalu. Akan tetapi anehnya ia masih tertawa gelak-gelak sambil menekan luka pada dada dengan tangan kiri dan tangan kanan masih memegang cambuknya.

“Ha ha ha! Cui Sian .... saat ini telah lama kunanti-nantikan! Kau sudah membalas dengan satu tusukan maut! Ha ha, kau sungguh baik hati dan pemurah! Bacokan pedang yang membuat kau bercacad selama hidupmu kau balas dengan tusukan pedang yang akan menamatkan nyawaku dalam beberapa detik lagi! Ha ha, kita sudah impas, hutangku kepadamu telah kubayar dengan darahku di ujung pedangmu! Ha ha ha!”

Sementara itu, ketika Siang Cu melihat betapa penolongnya telah kena tusuk dadanya sehingga terluka, menjerit, “Lo-inkong ” dan dengan nekat gadis itu lalu berlari menghampiri, memegang lengan tangan

Thian-te Lo-mo dan menariknya ke dalam pintu dapur kembali. Gadis itu lalu memasang palang pintu dapur yang kuat dan segera menolong dan merawat luka di dada Thian-te Lo-mo.

Kakek itu rebah di lantai dengan lemah, tetapi ia masih tersenyum.

“Kau gadis baik .... kau anak baik ... aku suka padamu     sudah, jangan ributkan luka kecil ini. Lebih baik

kau panaskan masakan-masakan itu karena telah berhari-hari ku makan dalam keadaan dingin. Kurang sedap!”

“Nanti, lo-inkong, nanti kuhangatkan masakan itu, tetapi biarlah kurawat dulu lukamu ini    ” kata Siang Cu

sambil menahan air matanya karena ia merasa amat terharu. Telah lama ia rindu akan ayah bunda yang tak dikenalnya sama sekali dan kini kakek yang berani mempertaruhkan jiwa untuk melindunginya ini bagaikan seorang ayahnya sendiri. Ia merasa amat sayang kepada kakek ini dan juga kagum dan kasihan.

“Baiklah, baiklah .... kau boleh cuci dan balut, tapi takkan ada gunanya .... ujung pedang Cui Sian telah melukai paru-paruku dan takkan dapat diobati lagi Eh, anak gendeng, Cui Sian itu dulu kekasihku, dia

baik dan mulia hatinya, cuma agak keras kepala ..... Nanti akan kuminta kepadanya supaya suka menolongmu keluar dari sini Kalau kau sudah tertolong, pergilah ke rumah penginapan Thian-an-kwan.

Rumah penginapan itu kepunyaan paman seorang pemuda bernama Khu Sin. Katakan bahwa kau adalah kawan baik dari Khu Sin, Thio Swie dan Tiong San. Tentu kau akan ditolongnya ”

Sementara itu, para perwira, dan juga Cui Sian, kembali lagi di muka pintu kamar di mana Thian-te Lo-mo berada yang kini sudah di palang dari dalam, maka mereka tidak berani secara sembrono mendorong pintu memaksa masuk karena mereka maklum bahwa biarpun telah mendapat luka, kakek itu masih berbahaya sekali, maka mereka hanya berteriak-teriak dari luar menyuruh kakek itu keluar dan menyerahkan gadis pelayan itu kembali kepada mereka.

Dan pada saat Siang Cu merawat luka di dada Thian-te Lo-mo, datanglah Tiong San sebagaimana yang telah dituturkan di atas.

********************

Tiong San mendengarkan semua penuturan Siang Cu itu dengan muka cemberut tanpa berani menentang pandangan mata gadis itu. Sebetulnya saja, ia hanya dapat memperlihatkan muka masam apabila ia tidak menatap wajah gadis itu, oleh karena tiap kali ia bertemu pandang, sinar mata gadis yang lemah lembut dan halus itu seakan-akan menembus matanya dan langsung menyerang ke dalam hatinya dan dapat mengintai di dalam dadanya bahwa sebenarnya ia sama sekali tidak mempunyai alasan untuk benci atau marah kepada gadis ini. Apabila ia menatap wajah gadis ini, ia tidak mungkin menaruh perasaan yang tidak enak terhadapnya.

“Semua gara-gara perempuan,” katanya seorang diri. “Kawan-kawanku Khu Sin dan Thio Swie hampir menjadi korban perempuan, dan suhuku tewas karena gara-gara perempuan pula. Perempuan hanya merusak kehidupan seorang gagah!” Sambil berkata demikian, Tiong San berdiri. Ia menjura ke kuburan suhunya dan berkata keras, “Suhu, teecu sudah memenuhi pesanmu. Gadis ini telah teecu bawa keluar dari kota raja, sekarang teecu hendak mencari musuh suhu, perempuan jahat yang telah membunuh suhu untuk membalaskan dendam ini!”

Ia tidak melihat betapa Siang Cu memandangnya dengan amat khawatir dan gelisah. Mata gadis ini menyatakan permohonan agar ia jangan ditinggalkan seorang diri di dalam hutan itu, akan tetapi keangkuhan hati Siang Cu tidak mengijinkannya membuka mulut!

Setelah Tiong San berlutut di depan makam suhunya, pemuda itu lalu melompat dan berlari pergi, sama sekali tidak mau menengok kepada Siang Cu. Gadis itu memandang dengan bengong dan pucat, mengikuti bayangan pemuda itu dengan pandangan matanya, sama sekali tidak berdaya.

Setelah bayangan pemuda itu lenyap, barulah ia menubruk gundukan tanah di mana jenazah Thian-te Lo- mo terkubur, menangis tersedu-sedu dan mengeluh dengan amat sedihnya. Air matanya yang semenjak tadi ditahan-tahannya, kini membanjir keluar dari kedua matanya.

Sementara itu, Tiong San berlari meninggalkan hutan itu dengan pikiran ruwet dan hati tidak keruan rasa. Ia ingin melupakan wajah Siang Cu, akan tetapi sinar mata yang halus itu seakan-akan terus mengikutinya. Di sekelilingnya sunyi senyap tak terdengar sesuatu, akan tetapi langkah kakinya seakan-akan mengeluarkan bisikan, “Kau kejam .... kau kejam .... kejam ... kejam ”

Suara ini mengikutinya tepat di belakang punggungnya, membuat bulu tengkuknya berdiri. Ia tidak tahu bahwa itu adalah suara dari liangsimnya (hati nuraninya) sendiri. Akhirnya ia tidak tahan pula dan cepat membalikkan tubuh dan berlari ke dalam hutan.

Siang Cu menderita bukan main karena ditinggalkan seorang diri di dalam hutan. Apakah yang dapat diperbuatnya? Ke mana ia harus pergi? Akhirnya gadis ini setelah puas menangis, lalu teringat kepada pisaunya.

“Lo-inkong,” ia meratap di depan makam Thian-te Lo-mo. “Aku .... aku tak berdaya ...., aku takut ....! Lo- inkong, tunggulah, aku ikut !” Ia lalu memegang belati itu kuat-kuat dan menusuk dadanya sendiri!

Akan tetapi, seperti yang terjadi ketika ia hendak membunuh diri di dalam dapur istana, kembali berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu belatinya telah terlepas dari tangannya. Ketika ia memandang dengan kaget dan seram karena mengira bahwa kakek itu hidup kembali. Ia melihat Tiong San telah berdiri tak jauh darinya.

“Gadis gendeng ..... gadis gila .....!” pemuda itu berkata perlahan yang mengingatkan Siang Cu kepada suara dan sikap Thian-te Lo-mo. Tiong San mengambil pisau itu dari ujung cambuknya dan memasukkan pisau itu ke dalam saku bajunya.

“Gadis gila    ” kembali ia berkata.

Siang Cu sama sekali tidak mau terlihat oleh Tiong San bahwa ia telah menangis, maka ia cepat pergunakan kedua tangan untuk menghapus sisa-sisa air mata dari kedua pipinya dan cepat bangun berdiri.

“Kau datang kembali mau apa? Mengapa kau mencampuri urusanku? Aku .... aku tidak minta pertolonganmu ...., aku .... aku ....” akhirnya ia tak dapat menahan air matanya dan cepat-cepat ia membalikkan tubuhnya agar jangan terlihat oleh pemuda itu bahwa ia betul-betul menangis.

“Aku datang kembali bukan untuk menolongmu,” kata Tiong San yang merasa girang bahwa gadis itu berdiri membelakanginya, sehingga ia tak usah menakuti mata yang halus itu dan gadis itu takkan dapat melihat betapa ia merasa amat kasihan dan terharu! “Aku hanya teringat bahwa tidak selayaknya seorang gadis yang lemah seperti kau ditinggal seorang diri di tengah hutan. Sekarang katakan, apa yang harus kulakukan? Ke mana kau hendak pergi dan aku akan mengantarkanmu ke tempat tujuanmu itu. Hanya untuk mengantarkan sampai di tempat tujuanmu, lain tidak!”

Dengan gerakan perlahan, Siang Cu memutar kembali tubuhnya dan kini ia menghadapi Tiong San. Pemuda itu menekan perasaan herannya ketika melihat betapa kini bibir gadis itu tersenyum. “Gadis gila    !” tak terasa pula ia berkata dan Siang Cu tersenyum makin lebar, lalu tertawa seakan-akan

ia dikitik-kitik dan merasa geli sekali!

“Ah, eh, mengapa kau tersenyum-senyum dan tertawa-tawa? Kau benar-benar gila!” Akan tetapi, dimaki gila beberapa kali itu bukannya marah, Siang Cu bahkan nampak makin geli.

“Kalau aku gila, kau juga gila!” jawabnya dengan halus. “Kau hendak mengantarkanku? Tak perlu. Kalau kau memang tidak mau meninggalkanku sendiri di dalam hutan liar ini, carikanlah satu stel pakaian laki-laki untukku. Tak usah yang baik-baik, pakaian yang telah usang saja, asalkan pakaian laki-laki. Hanya itu permintaanku kalau kau suka menolong, dan lain tidak!”

Tiong San menjadi heran, tetapi ia dapat menduga bahwa gadis itu tentu hendak melanjutkan perjalanan dengan menyamar sebagai seorang laki-laki! Diam-diam ia memuji keberanian dan kecerdikan Siang Cu, maka ia lalu berkata,

“Tunggu sebentar, akan kucarikan pakaian itu untukmu!” tubuhnya lalu berkelebat pergi dengan cepat sekali, sehingga Siang Cu memandangnya dengan amat kagum dan untuk beberapa lama gadis itu termenung dalam kebingungan, membanding-bandingkan pemuda itu dengan Thian-te Lo-mo karena ia tidak tahu, mana yang lebih kukoai (aneh) dan gila antara guru dan murid itu!

Tak lama kemudian, benar saja Tiong San kembali sambil membawa satu stel pakaian laki-laki, pakaian petani berwarna biru muda yang masih cukup baik dan belum ada tambalannya. Ia memberikan pakaian itu kepada Siang Cu dan suaranya benar-benar mengandung penyesalan ketika ia berkata,

“Sayang aku tak dapat mencarikan yang lebih baik. Orang-orang dusun di luar hutan itu kesemuanya petani-petani yang tidak kaya!”

“Bagaimana kau memperoleh pakaian ini?”

“Mengapa kau bertanya? Aku     aku mengambilnya dari sebuah rumah petani.”

“Mencuri    ?” gadis itu membelalakkan kedua matanya dan pakaian yang dipegangnya itu tak terasa pula

terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas tanah.

“Biarpun mencuri, akan tetapi aku yang melakukannya, bukan kau!” kata Tiong San dengan mendongkol dan mukanya berobah merah.

Siang Cu merogoh saku bajunya sebelah dalam dan mengeluarkan tiga potong uang perak. “Tidak boleh, kau harus membayarkan uang ini kepada pemilik pakaian. Aku belum pernah memakai barang curian!”

“Aku tak mau!”

“Kalau begitu, akupun tidak mau memakai pakaian ini!”

Tiong San menarik napas panjang dan menerima uang itu. “Baiklah, nanti akan kubayarkan uang ini kepadanya.”

Siang Cu tersenyum girang dan diam-diam Tiong San merasa heran mengapa iapun merasa amat girang oleh karena gadis itu percaya kepadanya, sama sekali tidak meragukan bahwa uang itu akan betul-betul dibayarkan kepada petani yang ia curi pakaiannya itu!

“Pakaian itu amat buruk,” katanya pula.

“Siapa bilang? Ini terlalu bagus untukku,” kata Siang Cu yang segera membawa pakaian itu ke tanah bekas galian di mana terdapat tanah-tanah lempung yang agak basah, lalu ia menggosok-gosokkan pakaian

itu ke dalam tanah lempung!

“Kau gendeng!” kata Tiong San, akan tetapi, ia segera teringat bahwa di dalam penyamaran, memang lebih tepat apabila seorang petani muda pakaiannya berlumur tanah! Kembali ia memuji kecerdikan gadis itu, tentu saja hanya di dalam hati karena mulutnya ia kunci rapat-rapat. “Kau pergilah dulu, aku hendak bertukar pakaian,” kata Siang Cu dan mukanya tiba-tiba berobah merah.

Tiong San juga menjadi malu dan mukanya menjadi merah sampai ke telinga. Ia masih berdiri di tempatnya, hanya memutar tubuh membelakangi gadis itu. “Siapa yang ingin melihat kau bertukar pakaian?” katanya mendongkol.

Biarpun Tiong San sudah memutar tubuh, akan tetapi Siang Cu masih belum puas kalau belum bersembunyi di belakang sebatang pohon besar. Di balik pohon itu ia mengganti pakaiannya, menanggalkan pakaian luar lalu menutup pakaian dalamnya dengan pakaian petani yang telah menjadi kotor berlumpur itu. Sambil berganti pakaian, berkali-kali ia mengintai dari balik batang pohon dan berkali- kali berkata, “Awas, belum selesai, jangan menengok dulu!”

Diam-diam Tiong San menjadi mendongkol dan juga geli. Bencinya terhadap gadis ini banyak berkurang, meskipun ia masih merasa tak senang kepada kaum wanita yang dianggapnya telah merusak hidup orang- orang yang dikasihinya.

“Sekarang kau boleh menengok!” kata Siang Cu dan ketika Tiong San berpaling, ia hampir pangling. Di depannya berdiri seorang petani muda yang amat tampan.

“Bagaimana? Sudah patutkah aku menjadi seorang pemuda tani?”

Tiong San memandang penuh perhatian dan lupa akan “bencinya” tadi, ia membantu untuk mencari-cari apa yang kiranya perlu diperbaiki dalam samaran itu. “Wajahmu ”” katanya.

“Mengapa wajahku?” tanya Siang Cu cepat-cepat dan otomatis tangan kirinya naik untuk mengusap pipinya.

“Wajahmu terlalu cakap untuk seorang petani muda ... eh, maksudku ... hm ... terlalu terlalu putih dan

halus kulit mukamu ” Muka Tiong San menjadi merah sekali karena ucapan itu benar-benar amat sukar

keluar dari mulutnya dan ia benci kepada dirinya sendiri untuk mengeluarkan ucapan yang didorong- dorong oleh hatinya sendiri.

Siang Cu tersenyum. “Mudah sekali kalau hanya itu ....” Gadis itu lalu mengambil tanah lempung dan segera membedaki mukanya dengan tanah! Kini mukanya menjadi kotor berlumpur, hanya matanya saja yang tidak berubah, masih bening dan bersinar halus.

“Sayang ” tiba-tiba kata-kata ini hanya terloncat keluar dari mulut Tiong San.

“Apanya yang sayang?” tanya Siang Cu cepat.

Ingin Tiong San menampar mulutnya sendiri. Menurut kata hatinya, ia hendak menyatakan sayang karena kulit muka yang putih halus itu dirusak dengan lumuran lumpur hingga menjadi kotor. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mengucapkan kata-kata ini dan untung bahwa ia masih dapat mengekang lidahnya dan hanya mengucapkan kata-kata “sayang” tadi! Kini Siang Cu mengajukan pertanyaan yang membuatnya menjadi bingung dan terpaksa ia menjawab dengan gagap.

“Yang sayang ... itu loh .... eh, rambutmu !”

“Rambutku ...? Mengapa rambutku?” kembali otomatis tangannya diangkat dan menyentuh rambutnya yang hitam dan panjang.

“Rambutmu terlalu halus dan panjang, tak pantas dimiliki oleh seorang petani muda!”

“Begitukah? Coba kau ke sinikan pisauku tadi!”

“Tidak boleh! Kau akan berbuat gila dengan pisaumu tadi.”

Siang Cu tersenyum dan mukanya yang sudah kotor berlumur lumpur itu masih nampak manis karena terlihat giginya yang putih bersih dan rata. “Kalau aku hendak membunuh diri, masa aku harus menyamar dulu? Ke sinikan, hendak kupakai memotong rambutku!” “Tidak boleh, kau tidak boleh pegang pisau tajam.”

“Kalau begitu, tolong kau potongkan rambutku ini, agar jangan terlalu panjang dan untuk menyempurnakan penyamaranku.”

Sambil berkata demikian Siang Cu cepat mengulurkan rambutnya yang panjang kepada Tiong San. Pemuda itu ragu-ragu dan menyesal melihat rambut yang demikian indahnya di potong, akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan kemenyesalannya dan segera mencabut pisau tadi dan sekali ia menyabet, putuslah rambut yang panjang itu dan kini menjadi pendek.

“Nah, sekarang penyamaranku pantas, bukan?” kata gadis itu dengan suara menahan isak. Sesungguhnya, bukan main sakit hatinya melihat rambut yang tadi masih menghias kepalanya kini melingkar di atas tanah. Hati gadis mana yang tak merasa sedih?

“Sudah baik sekarang,” kata Tiong San singkat.

“Nah, selamat berpisah, kita mengambil jalan masing-masing,” kata Siang Cu yang segera pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kota raja kembali!

Kini dia yang meninggalkan Tiong San dan pemuda itu untuk beberapa lama berdiri bengong sampai bayangan Siang Cu lenyap di balik pohon. Ia memandang ke arah rambut gadis itu yang tadi terputus dan kini merupakan ular hitam melingkar di atas tanah.

Bagaikan orang tak sadar, ia membungkuk, memungut rambut itu dan bersama pisau belatinya ia masukkan ke dalam saku baju sebelah dalam. Kemudian ia lalu melompat dan berlari cepat dengan tujuan mencari Si Cui Sian, wanita bermuka cacad yang telah membunuh suhunya untuk membalas dendam.

Dalam penyelidikannya, Tiong San mendengar bahwa Si Cui Sian setelah berhasil membunuh bekas kekasihnya, yakni Thian-te Lo-mo, lalu kembali ke selatan, ke tempat tinggalnya, yakni kota Liang-hu. Akan tetapi, ketika ia menyusul ke sana, ia mendengar bahwa wanita itu kabarnya telah pergi ke pegunungan Tai-san di Shan-tung!

Ia merasa heran sekali mengapa wanita itu pergi ke tempat tinggal Thian-te Lo-mo. Apakah kehendak wanita itu? Akan tetapi ia tidak mau memusingkan hal ini dan langsung menuju ke Shantung, menyusul jejak wanita itu.

Pada suatu hari, ia tiba di sebuah hutan di luar kota Cin-an. Ia mendengar suara minta tolong. Ia segera berlari menuju ke arah suara itu dan melihat betapa serombongan orang sedang dikepung oleh perampok- perampok kejam!

Para pengawal rombongan itu yang terdiri dari piauwsu-piauwsu (pengawal/penjaga keamanan di jalan) dengan berani mengadakan perlawanan. Akan tetapi oleh karena kawanan perampok itu banyak jumlahnya, lagi pula dipimpin oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka mereka terdesak hebat dan beberapa orang piauwsu telah menderita luka-luka.

“Perampok gila, mundur semua!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan sebatang cambuk yang bergerak-gerak bagaikan naga menyambar, telah membuat banyak senjata perampok itu terlempar ke udara. Para perampok tentu saja tidak takut akan serbuan hanya seorang pemuda saja, tetapi ketika cambuk itu menyambar cepat, terdengar teriakan-teriakan mereka kesakitan dan muka para perampok itu seorang demi seorang menerima “hadiah” cambukan, sehingga terluka memanjang pada muka yang mengeluarkan darah atau menjadi matang biru!

Tiga orang kepala rampok dengan marah menyerbu ke depan. Akan tetapi mereka inipun berseru keras dan mundur kembali oleh karena kedatangan mereka disambut oleh ujung cambuk dan mengalirlah darah dari muka mereka ketika ujung cambuk itu menyabet dan memecahkan kulit muka mereka! Memang, menghadapi kepala-kepala rampok ini, Tiong San sengaja memberi “hadiah besar” sehingga muka mereka mengeluarkan darah.

Dalam hal membagi-bagi hadiah, suhunya mempunyai tiga istilah, yakni hadiah kecil yang hanya membuat muka bergaris merah, hadiah sedang yang lebih keras dan membuat muka lawan menjadi matang biru dan terasa sakit sekali, tetapi juga tidak mengeluarkan darah, dan ketiga hadiah besar yang dilakukan dengan tenaga lebih keras sehingga kulit muka lawan menjadi pecah oleh ujung cambuk dan mengeluarkan darah serta terasa perih dan sakit sekali!

Melihat kelihaian pemuda itu serta menyaksikan cara bertempurnya yang mempergunakan cambuk panjang, tiba-tiba mereka insyaf dan serentak para perampok berseru,

“Shan-tung Koai-hiap   !” Seruan ini menyatakan keterkejutan dan ketakutan hebat dan mereka segera lari

cerai berai masuk ke dalam hutan yang lebat! Memang untuk daerah Shan-tung, nama Shan-tung Koai- hiap telah terkenal sekali dan ditakuti orang, sungguhpun Tiong San belum banyak memperlihatkan kepandaiannya!

Berita akan kelihaian Shan-tung Koai-hiap dan bahwa pendekar itu adalah murid Thian-te Lo-mo, cukup menggentarkan hati setiap penjahat. Maka begitu mendengar nama ini diserukan orang dan melihat betapa segebrakan saja pemuda itu berhasil membuat muka ketiga kepala rampok terluka, semua perampok kehilangan semangatnya dan mereka lari dengan ketakutan!

Para piauwsu juga terkejut sekali mendengar disebutnya nama ini dan mereka lalu menghampiri Tiong San dan menjura dengan hormat sekali. Pemimpin rombongan piauwsu itu berkata kepada Tiong San dengan sikap hormat.