-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-11 : Kesetiaan Sahabat Sejati

Bab-11 : Kesetiaan Sahabat Sejati

SEMUA keburukan ini tidak terlihat oleh Thio Swie yang telah tergila-gila itu. Siu Eng hanya mempermainkannya saja, karena gadis ini memang suka sekali bergaul dan bercinta-cintaan dengan pemuda-pemuda cakap seperti Thio Swie, Selama perhubungan mereka itu, apabila Thio Swie mengemukakan tentang perjodohan, gadis itu hanya tersenyum dan menjawab dengan senyum manis dan kerling memikat,

“Kawin? Ah, koko yang baik, hal itu tak perlu dibicarakan sekarang!”

“Mengapa Eng-moi? Bukankah kita saling mencinta? Bukankah ....., bukankah kau juga cinta padaku seperti aku mencinta padamu?”

Dengan gaya manja dan menarik hati, Siu Eng lalu menyandarkan kepalanya dengan rambutnya yang harum itu pada dada pemuda itu dan berkata, “Tentu saja aku mencinta padamu!”

Ia meraba pipi Thio Swie yang halus. “Akan tetapi, kau harus ingat akan kedudukanmu. Gajimu belum cukup besar untuk dapat memelihara rumah tangga, mengapa bicara tentang kawin? Kelak kalau kau sudah memperoleh kedudukan tinggi, barulah kita bicara lagi tentang hal itu!”

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu berlari-lari keluar dari kamar Thio Swie dan tertawa berkikikan yang membuat Thio Swie makin tergila-gila!

“Memang dia benar!” pikirnya. “Siu Eng kekasihku itu selamanya berpikir tepat dan benar! Aku harus mencari kemajuan dan kedudukan tinggi lebih dulu, barulah aku dapat meminangnya dan kita hidup berbahagia!”

Lamunan-lamunan seperti ini membuat Thio Swie sering tak dapat tidur, dan hatinya penuh kebahagiaan dan cita-cita muluk. Memang patut dikasihani pemuda yang dimabuk cinta ini! Karena Siu Eng seorang bangsawan, keponakan seorang Pangeran dan hidup dalam keadaan mewah dan kaya raya, maka tidak ada sedikitpun kecurigaan dalam hatinya!

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan Khu Sin. Pemuda ini merasa terkejut dan kuatir sekali ketika pada suatu malam Siu Eng memasuki kamarnya dan bersikap tak kenal malu sekali! Ia memang selalu menaruh curiga dan tidak senang terhadap sikap Siu Eng yang agaknya terlalu manis kepadanya, karena dia tahu betul bahwa gadis ini saling mencinta dengan kawannya.

Thio Swie seringkali menceritakan kepadanya betapa sikap gadis itu amat manis terhadap Thio Swie, bahkan mereka telah bermain cinta! Tadinya dia merasa girang untuk nasib baik sahabatnya ini. Akan tetapi, tidak disangka-sangkanya bahwa gadis itu berani pula masuk ke dalam kamarnya! Memang kedua pemuda itu mendapat kamar di bangunan sebelah kiri gedung besar Pangeran Lu Goan Ong.

Sikap Siu Eng yang memikat-mikat hatinya dan dengan cara tak sopan memperlihatkan sikap cabul terhadapnya, membuat Khu Sin menjadi marah dan sedih sekali.

“Gui-siocia,” katanya dengan halus karena betapapun marahnya, dia tidak berani berlaku kasar terhadap keponakan Pangeran Lu yang dia tahu pandai ilmu Silat pula. “Harap kau jangan masuk ke dalam kamarku dan kalau kiranya ada keperluan, baiklah besok pagi aku menghadap padamu.”

Siu Eng memandang sambil tersenyum karena mengira bahwa pemuda ini tentu malu-malu.

“Khu Sin,” katanya sambil mencibirkan bibirnya yang merah dan menggairahkan itu. “Kau ternyata seorang pemuda yang kurang terima! Kalau tidak ada aku Siu Eng yang menjadi perantara, apakah kau ada harapan untuk bekerja di sini?” Khu Sin menjadi terkejut dan buru-buru ia menjura di hadapan gadis itu. “Maaf, Gui-siocia, memang aku merasa amat berterima kasih kepadamu. Kalau ada sesuatu yang dapat kulakukan untuk membantumu, katakanlah. Aku Khu Sin bukanlah seorang yang tidak tahu terima kasih akan budi orang!”

Siu Eng tersenyum lagi dan tiba-tiba ia melangkah maju lalu duduk di dekat pemuda itu. “Kalau begitu, mengapa kau tidak berlaku manis kepadaku? Bukankah kita sudah menjadi sahabat-sahabat baik?” tangannya memegang lengan Khu Sin dengan mesra sekali.

Makin terkejutlah pemuda itu melihat hal ini. Kalau saja ia tidak ingat bahwa Siu Eng adalah kekasih kawannya, dan kalau saja ia sendiri belum menjatuhkan hatinya kepada seorang gadis pelayan di gedung itu, tentu ia akan jatuh dan tidak kuat menghadapi godaan gadis cantik jelita ini. Ia bangkit berdiri dan berkata,

“Maaf, siocia, harap kau suka ingat bahwa kalau ada orang lain melihat siocia berada di kamarku, akan mendatangkan omongan yang kurang enak. Pula, bagaimana kalau Thio Swie mendengarnya? Dia adalah kawan baikku dan ... dan ... bukankah dia dan siocia sudah saling mencinta?”

“Siapa mencinta dia?” tiba-tiba Siu Eng menjadi marah. “Aku suka kepada siapapun juga, tak boleh kau turut campur! Apakah kau tidak suka kepadaku, Khu Sin?”

“Aku berhutang budi kepada siocia dan aku menghormat siocia setulus hatiku!” jawab Khu Sin. “Dan kau tidak suka kepadaku?” tanya gadis itu sambil memandang tajam.

“Hal ini .....” Khu Sin menundukkan muka dengan hati berdebar, “Aku aku tidak berani menyatakan tidak

suka ”

“Hm, kau mengecewakan hatiku, Khu Sin. Kaukira untuk apakah aku menolongmu sehingga bisa diterima bekerja di sini? Ah, aku mulai menyesal dan kecewa telah menolongmu?” Sambil berkata demikian, Siu Eng lalu keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar Khu Sin keras-keras. Untuk beberapa lama pemuda itu berdiri kebingungan dengan hati berdebar-debar.

Apakah artinya ini? Sungguhpun ia tidak tahu akan riwayat dan keadaan gadis itu, akan tetapi ia mulai merasa khawatir dan tidak suka kepada gadis itu. Ia menganggap bahwa gadis itu telah berlaku tidak setia terhadap Thio Swie dan dari kata-kata gadis itu, ia dapat menduga bahwa gadis itu bukanlah seorang berhati mulia dan ia merasa amat kasihan dan menyesal kepada Thio Swie, sahabat karibnya.

Ia segera langsung menjumpai sahabatnya untuk memberi peringatan bahwa Siu Eng bukanlah gadis yang patut untuk dijadikan calon isteri. Bukan main marahnya Thio Swie mendengar ini dan dengan mengepal tinju dan mata memancarkan cahaya berapi-api, ia membentak sahabatnya itu.

“Khu Sin! Kalau kau bukan sahabatku sejak kecil, tentu akan kupukul mukamu! Mengapa kau tidak menahan lidahmu dan apakah yang meracuni bibirmu sehingga kau mengeluarkan ucapan-ucapan yang amat keji itu?” katanya marah. “Kalau kau tidak bisa menceritakan dasar-dasar dan alasan-alasanmu mengapa kau berkata sekeji itu, mulai sekarang lebih baik hubungan kita sebagai sahabat diputuskan saja!”

“Thio Swie,” kata Khu Sin dengan muka sedih, “Kita telah menjadi sahabat karib bertahun-tahun semenjak kita kecil. Ingatkah kau betapa kau, aku dan Tiong San pernah menyatakan bahwa kita bertiga akan tinggal setia selama hidup? Nah, karena itu, apakah kau masih meragukan kesetiaanku sebagai kawan baikmu? Aku memang mempunyai dasar alasan kuat mengapa aku berani menyatakan bahwa Siu Eng bukanlah seorang gadis yang patut kau idam-idamkan! Akan tetapi, perlukah aku harus menceritakan alasan yang hanya akan menyakitkan hatimu saja?”

Thio Swie menjadi pucat dan ia memegang lengan Khu Sin dengan tangan gemetar. “Sahabatku, ceritakanlah! Ceritakanlah demi persahabatan kita dan jangan membuat aku mati karena bimbang ragu!”

Dengan hati terharu karena diliputi rasa kasihan, terpaksa Khu Sin menceritakan semua pengalamannya malam tadi dan tentang sikap tidak sopan dan cabul dari Siu Eng. Thio Swie mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka makin pucat. Ia lalau bangkit berdiri dan sekali tangannya bergerak ia telah menampar muka Khu Sin, hingga Khu Sin menjadi terhuyung-huyung!

“Keluar...! Pergilah kau dari hadapanku! Kau bohong .....! Kau memfitnah     ! Kau mengeluarkan kata-kata

beracun karena kau ... hendak memisahkan aku dari kekasihku. Kau .... ha ha, kau iri hati, bangsat! Kau sendiri tergila-gila kepada Siu Eng dan karena kekasihku itu tidak menghiraukan bujukanmu, kau lalu mengeluarkan siasat ini! Ya ...... kau bangsat rendah, kau memfitnah! Ayo lekas keluar, kalau tidak .....

demi Tuhan, akan kubunuh kau    !!”

Khu Sin dengan tenang dan sambil mengusap bibirnya yang berdarah, melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu sambil berkata perlahan,

“Betapapun juga, Thio Swie, aku tidak membencimu karena ini. Aku bahkan makin kasihan kepadamu    ”

“Tutup mulutmu yang berbisa, lekas keluar!”

Demikianlah, terjadi perpecahan di antara dua orang sahabat karib yang tadinya saling mencinta seperti dua orang saudara kandung itu. Semenjak saat itu, Thio Swie tak pernah mau bicara kepada Khu Sin dan apabila mereka bertemu muka, Thio Swie selalu membuang muka dan tidak mau memandangnya. Khu Sin tak dapat berbuat apa-apa melainkan menarik napas dengan hati amat berduka.

Khu Sin telah jatuh hati dan mencinta seorang gadis pelayan di dalam gedung itu, seorang gadis dari keluarga tani yang cukup manis dan lincah, bernama Man Kwei. Dengan diam-diam keduanya telah saling menyatakan cinta dan saling berjanji akan hidup sebagai suami isteri.

“Tunggulah sampai aku mendapat kedudukan yang pantas, aku akan meminangmu dan minta izin kepada Lu-taijin untuk mengawinimu!” kata Khu Sin dalam sebuah pertemuan yang mereka lakukan di dalam taman bunga istana Pangeran Lu Goan Ong.

“Kalau kau sudah mendapat kedudukan tinggi, tentu kau takkan ingat kepada Man Kwei gadis dusun yang bodoh dan buruk ini,” kata Man Kwei dengan sikap manja.

“Tak mungkin! Aku adalah seorang yang telah banyak mempelajari budi pekerti, tahu akan arti kesetiaan, kepercayaan dan pribudi,” jawab Khu Sin.

Di dalam hubungan yang amat sederhana dengan gadis yang sederhana pula itu, ia menemukan kebahagiaan yang besar.

Akan tetapi, ia tidak mengira bahwa kebahagiaan hanya merupakan cahaya bulan yang mudah tertutup oleh mega-mega mendung yang hitam mengerikan. Dan kini yang merupakan awan penutup dan penghalang kebahagiaannya adalah Gui Siu Eng, gadis cantik jelita dan gagah perkasa itu!

Ternyata bahwa Siu Eng merasa penasaran sekali melihat betapa Khu Sin menolak cintanya, bahkan tidak memperdulikannya. Hal ini baru sekarang ia alami. Seorang pemuda menolak permainan cintanya! Makin ditolak, makin bernafsulah dia dan makin penasaran.

Demikianlah sifat Siu Eng yang amat rendah. Kalau dituruti kehendaknya, maka sebentar saja ia akan merasa bosan kepada pemuda kekasihnya. Akan tetapi kalau ditolak, ia akan berusaha selalu dan sekuatnya untuk dapat memiliki pemuda itu, atau untuk melampiaskan marahnya dan mencelakakan orang yang berani menampiknya!

Siu Eng telah merasa bosan kepada Thio Swie dan kini tak pernah pula ia datang menjumpai Thio Swie, bahkan bertemu, ia selalu menarik muka dan seperti orang marah-marah! Hal ini tentu saja menyusahkan hati Thio Swie yang kembali menyangka bahwa perubahan ini tentu gara-gara Khu Sin!

Sebaliknya, ketika mendengar dari para pelayan bahwa Khu Sin mempunyai seorang kekasih, yakni Man Kwei, kegusaran Siu Eng memuncak! Dengan pengaruhnya yang besar terhadap pamannya, Siu Eng lalu mengusir Man Kwei, bahkan dengan kejamnya ia lalu mencari jalan dan menjual gadis itu kepada rumah pelacur! Memang, nasib para anak gadis di masa itu amat buruk dan sengsara, teristimewa anak-anak orang miskin. Anak-anak ini dapat diperjualbelikan, yakni seorang petani yang miskin dapat menjual anaknya kepada rumah seorang kaya atau berpangkat untuk menjadi pelayan dan selanjutnya kehidupan anak ini seluruhnya berada di dalam kekuasaan majikannya!

Biarpun Pangeran Lu Goan Ong tidak terlalu kejam untuk melakukan penjualan macam itu, akan tetapi karena ia berada di bawah pengaruh Siu Eng yang amat dimanjakannya, akhirnya Man Kwei terjual juga kepada rumah pelacuran! Dalam hal ini masih belum memuaskan hati Siu Eng yang kejam, karena Khu Sin masih juga belum mau memperlihatkan sikap manis kepadanya.

Bahkan ketika Khu Sin melihat betapa Siu Eng mengubah sikapnya kepada Thio Swie sehingga pemuda itu kini selalu mengeram diri di dalam kamar bagaikan seorang menderita penyakit gila, Khu Sin lalu menjumpai Siu Eng dan dengan suara memohon ia berkata,

“Siocia, kasihanilah kawanku Thio Swie itu! Dia telah tergila-gila kepadamu, dia telah mencintaimu sepenuh jiwa dan raganya, mengapa kini siocia berbalik membenci dan tidak mau pemperdulikannya? Siocia, kau berlakulah bijaksana dan jangan membikin ia sengsara serupa itu!”

Akan tetapi Siu Eng bahkan menjadi marah sekali. “Khu Sin, kau anggap aku ini siapa maka kau berani berkata demikian kepadaku? Apakah kau anggap aku ini seperti Man Kwei kekasihmu yang ternyata bukan lain hanya seorang pelacur?”

Tiba-tiba dendam di hati Khu Sin yang ditahan-tahannya itu berkobar ketika mendengar ini. “Siocia! Man Kwei adalah seorang sesuci-sucinya, seorang gadis yang betul-betul berbatin bersih! Ia telah menjadi korban keganasan orang, akan tetapi, betapapun juga, aku tetap mencintainya dan akan menjadikan dia sebagai isteriku yang tercinta!”

“Kau katakan! Keganasan siapakah yang kau maksud itu? Baru dua hari Man Kwei melarikan diri dari gedung ini sambil membawa barang perhiasan dan tahu-tahu ia kini berada di rumah pelacuran!”

Makin marahlah Khu Sin mendengar ini. Ia telah tahu akan segala yang menimpa diri Man Kwei, akan tetapi ia tinggal diam saja. Hanya dengan bantuan kawan-kawannya, ia dapat mengirim uang kepada kepala rumah pelacuran itu untuk menjaga Man Kwei baik-baik dan jangan mengganggunya. Ia telah mengambil keputusan untuk berhenti bekerja dan menggunakan uang simpanannya untuk membawa Man Kwei pulang ke desanya.

Akan tetapi, oleh karena tidak tega meninggalkan sahabatnya yang berada dalam keadaan sengsara itu, ia telah berlaku nekat dan menjumpai Siu Eng untuk mengajukan permohonan bagi sahabatnya yang dulu pernah menamparnya itu. Dapat dibayangkan betapa setia kawan dan mulia hati pemuda ini! Akan tetapi, sesabar-sabarnya seorang laki-laki, apabila orang yang dicintai dihina dan dimaki orang, ia takkan dapat bertahan, maka kini dengan marah ia berkata kepada Siu Eng,

“Gui-siocia! Jangan kira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu yang kejam itu. Karena Man Kwei menjadi kekasihku dan calon isteriku, kau sengaja berlaku kejam dan mencoba untuk menjerumuskan dia ke jurang kehinaan. Akan tetapi dengarlah, wahai puteri bangsawan yang kurang pikir! Aku adalah seorang terpelajar yang tak sudi berbuat melanggar kesusilaan dan kesopanan, dan sekarang juga aku hendak menghadap kepada Lu-taijin untuk minta berhenti dari pekerjaan ini. Aku akan membawa calon isteriku pulang ke kampung dan hidup dengan aman dan damai di sana, jauh dari gedung ini, dan jauh dari kau!”

“Bangsat, tutup mulutmu!” tiba-tiba Siu Eng menampar dan Khu Sin roboh terguling. “Kau hendak pulang? Hendak mengawini Man Kwei? Hm, jangan harap, bangsat! Kau akan kubunuh dulu dan Man Kwei akan menjadi pelacur yang sebesar-besarnya, sehina-hinanya!”

Sambil berkata demikian, ia maju untuk mengirim tendangan maut kepada Khu Sin. Pemuda ini maklum akan kelihaian Siu Eng dan tamparan tadipun telah membuat kepalanya pening dan pandangan matanya berkunang, maka kini ia hanya dapat memeramkan mata menanti datangnya tendangan maut itu!

Akan tetapi sebelum tendangan itu mengenai tubuh Khu Sin, tiba-tiba Siu Eng berseru heran karena mendadak saja tubuh Khu Sin itu lenyap dari depannya! Dan ketika ia memutar tubuh, ternyata di belakangnya telah berdiri seorang pemuda cakap sekali dengan pakaian warna hijau, sedangkan Khu Sin telah pula berdiri di sampingnya sambil memandang kepada pemuda baju hijau itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga!

“Tiong San .....!” Khu Sin berseru, hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Akan tetapi Tiong San hanya tersenyum kepadanya, lalu melangkah maju dan berkata kepada Siu Eng,

“Mau bunuh kawanku? Tidak boleh, tidak boleh! Perempuan jahat, jangan kau ganggu sahabat karibku!”

Siu Eng dapat menduga bahwa pemuda ini tentulah pemuda yang dulu dilihatnya di dalam perahu, karena sesungguhnya telah lama ia mengagumi ketampanan pemuda ini. Akan tetapi melihat dia sekarang tiba- tiba datang di tempat itu dan dapat menolong Khu Sin, ia tahu bahwa pemuda ini tentu memiliki ilmu kepandaian, maka ia lalu mencabut pedangnya dan membentak,

“Kau kira aku takut kepadamu?”

Tiong San tertawa sinis dan berkata, “Wanita kejam memegang pedang, sungguh berbahaya!” dan ia meloloskan cambuknya.

Dengan marah sekali Siu Eng lalu menyerang dengan pedangnya dan gerakannya benar-benar cepat bagaikan menyambarnya burung walet. Akan tetapi Tiong San segera mengayun cambuknya dan ujung cambuknya menyambar ke arah pergelangan tangan Siu Eng!

Gadis itu terkejut sekali melihat lawan menyambut serangannya dengan serangan yang mendahului, maka terpaksa ia mengelak, kemudian meloncat dengan gesitnya mendekati Tiong San untuk menyerang dari dekat. Pemuda itu kagum melihat kegesitan tubuh Siu Eng, maka lalu melayaninya dengan sungguh- sungguh. Ia sengaja memperpendek cambuknya sehingga mereka dapat bertarung dengan seru dan ramainya.

Biarpun Siu Eng diam-diam merasa terkejut dan kagum sekali melihat pemuda ini, yang paling terkejut dan terheran-heran adalah Khu Sin. Benarkah pemuda ini Tiong San? Tak salah lagi, ia dapat mengenal wajah kawannya ini di antara ribuan orang.

Akan tetapi kalau ia benar-benar Tiong San, mengapa ia dapat memiliki ilmu kepandaian sedemikian hebatnya? Kini ia tidak dapat melihat bayangan kedua orang itu lagi, karena mereka telah bertempur dengan amat cepatnya sehingga bayangan mereka seakan-akan bergulung-gulung menjadi satu!

“Tiong San .... Tiong San ..... bukan main hebatnya ...” demikian Khu Sin berkali-kali berbisik seorang diri.

Sementara itu, di dalam dada Siu Eng timbul perasaan yang amat aneh baginya dan yang selama hidupnya belum pernah ia rasakan. Telah lama ia sering teringat kepada pemuda ini yang dulu pernah bertemu dengan pamannya di dalam perahu. Ia dulu mengagumi ketampanan wajah pemuda itu dan sikapnya yang tenang dan sopan santun. Akan tetapi setelah kini ia bertempur dengan pemuda ini dan mendapat kenyataan bahwa ilmu silat pemuda ini sangat tinggi, diam-diam ia menjadi sangat tertarik.

“Ah, inilah pemuda yang tepat dan sesuai menjadi suamiku .....” demikian pikirnya dan ia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melawan dan mengukur tingkat ilmu silat Tiong San. Akan tetapi, betapapun juga ia menyerang, ia tak dapat berhasil melukai pemuda itu karena kemana saja pedangnya berkelebat, cambuk lawannya tentu menghadang dan menangkis! Ilmu pedang yang dimainkan oleh Siu Eng adalah ilmu pedang Kiu-hwa Kiam-hoat yang amat hebat dan belum pernah ia menemui tandingan seperti itu.

Juga Tiong San merasa kagum dan diam-diam memuji ilmu pedang gadis yang hampir saja membunuh sahabatnya itu, karena iapun tak dapat mendesak Siu Eng. Tiba-tiba Tiong San berseru keras dan tubuhnya melompat ke belakang, dua tombak jauhnya. Ketika tangannya bergerak, cambuknya menyambar dan menjadi panjang, terus menyerang dengan gerakan hebat bagaikan naga melayang- layang ke arah tubuh Siu Eng.

Gadis ini cepat menangkis, akan tetapi kini ia tidak berdaya membalas, karena cambuk yang melayang dari tempat jauh itu terus mengurung dan mendesaknya dengan hebat. Ia makin kagum saja, akan tetapi sebagai murid terkasih dari Kiu-hwa-san Toanio, ia tidak mau menyerah mentah-mentah. Ia berseru keras dan tangan kirinya cepat bergerak melempar senjata rahasianya yang amat diandalkan, yakni kiu-hwa- ciam, semacam jarum-jarum halus yang terbuat dari perak. Dengan mengeluarkan cahaya terang, jarum-jarum itu menyambar ke arah Tiong San yang segera mengelakkan dengan cepat! Berkali-kali Siu Eng menghujani Tiong San dengan jarum-jarumnya, akan tetapi selalu senjata-senjata rahasia itu dapat dielakkan oleh Tiong San. Bahkan Tiong San lalu menggunakan tangan kirinya menyaut jarum-jarum itu dari samping, lalu melontarkan kembali ke arah Siu Eng sambil tertawa mengejek.

“Jarum-jarum memang permainan wanita, tapi untuk menjahit, bukan untuk membunuh orang! Terimalah kembali jarum-jarummu untuk menjahit pakaian suamimu!”

Digoda seperti itu, Siu Eng merasa gemas sekali, akan tetapi rasa kagumnya terhadap Tiong San meningkat. Kini ia betul-betul terdesak dan serangan cambuk Tiong San dari jarak jauh itu mengurung dirinya membuat ia sibuk dan bingung sekali.

Akan tetapi diam-diam Siu Eng merasa girang sekali karena biarpun dirinya dikurung, ujung cambuk itu agaknya tidak mau melukainya, buktinya beberapa kali ujung cambuk itu telah meluncur dan akan dapat merobohkannya, tiba-tiba ditarik kembali! Ia mengira bahwa Tiong San merasa sayang dan tidak mau melukainya dan menganggap bahwa pemuda itu suka kepadanya! Padahal sebenarnya Tiong San memang tidak mau melukainya karena tidak ingin bermusuhan kepada siapapun juga.

Tiba-tiba cambuk itu berkelebat dan tahu-tahu telah membelit pedang di tangan Siu Eng. Kalau ia mau, gadis ini dapat mempertahankan pedangnya dan mengerahkan lweekang untuk bertahan agar pedangnya jangan sampai terampas. Akan tetapi dengan sengaja ia melepaskan pedangnya itu sambil melompat ke belakang dan berseru dengan suara nyaring dan merdu,

“Aku menyerah! Harap taihiap suka memberitahukan nama yang mulia!” Setelah berkata demikian, gadis itu menjura dan kemudian berdiri dengan sikap kemalu-maluan dan matanya mengerling serta bibirnya tersenyum manis!

Khu Sin memandang heran dan kagum, karena belum pernah ia melihat gadis itu semanis ini dan matanya mengeluarkan cahaya sehalus itu. Akan tetapi Tiong San hanya tertawa saja dan ketika ia menggerakkan tangan, cambuknya menyambar dan pedang itu telah dilepas dari libatan dan kini diayunkan kembali ke arah Siu Eng yang menyambarnya dengan senyum di bibir!

Pada saat itu, terdengar suara ketawa girang dan muncullah Pangeran Lu Goan Ong sendiri! Pangeran ini menjura kepada Tiong San dan berkata kepada Siu Eng, “jangan sebut taihiap, dia adalah Shan-tung Koay-hiap, pendekar aneh yang gagah perkasa! Shan-tung Koay-hiap, tepat sekali dugaanku bahwa kau adalah pemuda yang dulu berjumpa dengan aku di perahuku dan menjadi kawan dari Khu Sin dan Thio Swie! Tak terduga sama sekali bahwa kau ternyata adalah seorang pendekar muda yang gagah perkasa!”

Tiong San membalas penghormatan itu dan berkata, “Maaf, taijin, aku datang hanya hendak bertemu dengan dua orang sahabat karibku!”

“Boleh saja!” kata Lu Goan Ong sambil tersenyum. Khu Sin dan Thio Swie seringkali menyebut-nyebut namamu dan karena mereka berdua adalah pembantu-pembantuku yang baik dan rajin, kau juga menjadi tamuku pula! Shan-tung Koay-hiap, harap kau maklum bahwa aku orang she Lu tidak ikut campur dalam urusan dengan Ong-taijin tadi!”

Tiong San tersenyum. “Perkara itu sudah lewat, taijin.”

“Marilah masuk ke dalam dan aku harus menjamu tamuku yang gagah,” katanya dengan ramah tamah. Akan tetapi Tiong San menggoyang tangannya dan berkata,

“Terima kasih, taijin. Tak perlu repot-repot. Aku hanya ingin bicara dengan kedua sahabatku!”

Pangeran itu menarik napas panjang. “Tentu kau takkan dapat menikmati hidanganku yang jauh lebih buruk dari pada hidangan di rumah Pangeran Ong Tai Kun. Baiklah, kalau kau hanya hendak bercakap- cakap dengan kedua orang sahabatmu yang menjadi pembantu-pembantuku, aku akan menyuruh orang menyediakan kamar untukmu. Akan tetapi, aku mengharap agar supaya besok pagi kau suka bercakap- cakap dengan aku sebagai kawan-kawan baik!” Pangeran itu lalu mengajak pergi keponakannya yang melepas kerling tajam ke arah Tiong San sambil berkata, “Shan-tung Koay-hiap benar-benar lihai, siauwmoi (menyebut diri sendiri yang berarti adik perempuan muda) benar-benar merasa takluk!”

Setelah kedua orang itu pergi, Khu Sin menubruk kawannya itu dan mengucurkan air mata. “Tiong San ... Tiong San, apakah yang telah terjadi dengan kau? Mengapa kau bisa menjadi seorang pendekar yang begini hebat? Ah .... Tiong San ....” kemudian pemuda ini teringat akan nasibnya sendiri dan nasib Thio Swie, maka ia lalu menangis seperti anak kecil.

“Eh, anak gila!” Tiong San menghibur kawannya dan sebutan “gila” ini baginya merupakan sebutan mesra sebagaimana suhunya selalu menyebutnya. “Jangan menangis seperti perempuan saja!”

Khu Sin sadar dan segera menyusut air matanya, lalu ia menarik tangan Tiong San menuju ke bangunan di sebelah kiri dan berkata,

“Bagus kau datang, Tiong San. Agaknya hanya kau yang dapat mengobati penyakit Thio Swie!” “Thio Swie sakit!”

“Semacam penyakit yang sukar diobati,” kata Khu Sin dan ia tidak memberi kesempatan kepada Tiong San untuk bertanya lagi, akan tetapi langsung membawa Tiong San ke kamar Thio Swie.

Begitu Khu Sin membuka daun pintu dan melangkah masuk, ia disambut oleh maki-makian nyaring oleh Thio Swie,

“Bangsat, pengkhianat berhati rendah! Kau berani masuk ke sini! Setelah kau mencuri Siu Eng, kau kau

....” tiba-tiba ia terbelalak memandang kepada wajah Tiong San yang berdiri tersenyum memandangnya.

“Thio Swie, kau lebih gila dari pada yang kuduga semula!” kata Tiong San sambil memandang dengan penuh kasih sayang kepada sahabat karibnya yang dulu selalu bergembira dan berseri, akan tetapi yang sekarang nampak kusut dan pucat itu.

“Kau .... kau ... Tiong San ... !” seperti Khu Sin, pemuda ini menubruk Tiong San, memeluk dan menciuminya sambil mengucurkan air mata.

“Eh, eh, kalian berdua memang benar-benar gila! Gila dan cengeng! Kenapa bertangis-tangisan tidak keruan?”

“Tiong San .....” kata Thio Swie sambil menangis, “Betapa aku takkan menangis? Semenjak kau pergi, sahabat karibku hanyalah Khu Sin seorang, dialah orang satu-satunya yang menjadi curahan hatiku, yang menjadi penasehat dan teman berunding! Akan tetapi bagaimana kenyataannya ....? Ia, kawanku ini       ia

telah merampas kekasih hatiku, telah membujuk dan mencuri hati Siu Eng dengan cara yang amat rendah

.... ia ... ia     ”

“Ssst, diam, Thio Swie!” tiba-tiba suara Tiong San terdengar berpengaruh sekali. “Kau tersesat dan buta! Tahukah kau, baru saja Siu Engmu itu hampir membunuh Khu Sin kalau tidak aku kebetulan datang!”

“Apa ?!! Thio Swie memandang dengan mata terbelalak.

“Ya, kau boleh merasa heran. Aku mendengar dengan telingaku sendiri betapa Khu Sin telah minta dengan beraninya kepada Siu Eng agar tidak mengganggumu, agar suka kembali kepadamu dan jangan bermain curang dan melanggar kesetiaan terhadapmu! Dan untuk pembelaannya itu, Khu Sin telah kau benci, bahkan hampir terbunuh oleh Siu Eng gadis kejam itu!” kata pula Tiong San.

Khu Sin lalu melangkah maju dan memeluk pundak Thio Swie. “Thio Swie, memang kau sedang dimabok cinta. Kau tidak tahu betapa besar kasih ku kepadamu. Kita sahabat-sahabat karib semenjak kecil, bukan? Kita kawan-kawan sekampung, bukan? Tak pernah aku berlaku khianat dan curang kepadamu, kawan! Kau tidak tahu, kawan kita Tiong San telah menjadi seorang pendekar luar biasa! Ah, kalau saja kau tadi tahu betapa ia bertempur melawan Siu Eng yang lihai! Ia adalah Shan-tung Koay-hiap, dan kepandaiannya

.... ah, kau takkan percaya kepada matamu sendiri    ” Kemudian ia lalu berkata dengan sungguh-sungguh,” Kawan-kawanku, dengarlah baik-baik penuturanku dan aku bersumpah takkan mau menjadi manusia lagi kalau dalam penuturanku ini ada sepatah katapun yang tidak benar!”

Ia lalu menceritakan keadaan sebenarnya, betapa Siu Eng memasuki kamarnya, betapa ia telah mencintai seorang gadis pelayan yang kemudian difitnah oleh Siu Eng, dan betapa ia tadi hampir saja dibunuh oleh gadis kejam itu.