-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-06 : Pendekar Gila dari Shan-tung

Bab-06 : Pendekar Gila dari Shan-tung

MERAHLAH muka Liong Ki Lok mendengar ucapan ini. Ini adalah penghinaan yang besar dan yang tak dapat ditelannya begitu saja.

“Tiat-ciang-kang, urusan perjodohan baik kita habiskan sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau memang masih menantangku, aku yang bodoh tentu saja takkan mundur untuk melayanimu beberapa gebrakan dan merasai kelihaian tangan besimu!”

“Bangsat sombong, kalau begitu rasakan tanganku!” Gu Mo membentak dan segera memukul dengan tangan kanannya. Pukulan ini hebat sekali, akan tetapi dengan cepat sekali Liong Ki Lok telah dapat mengelak dan sebentar saja kedua orang jagoan itu saling serang dengan seru.

Terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Bwee Ji telah melompat maju sambil menghunus pedangnya. “Ayah, biar aku yang memberi ajaran kepada bangsat tua ini!”

Akan tetapi ia disambut oleh si muka kuning yang juga telah mengeluarkan pedangnya sehingga pertempuran terjadi dalam dua rombongan. Permainan pedang Bwee Ji cepat sekali, akan tetapi si muka kuning yang telah mempelajari ilmu pedang Bu-tong-pai, ternyata bukanlah lawan yang ringan baginya.

Pada saat pertempuran berjalan seru, tiba-tiba terdengar bentakan orang yang melompat ke kalangan pertandingan.

“Berhenti kalian semua!” Orang itu adalah seorang yang berpakaian sebagai seorang perwira, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya mewah sekali. Tangannya memegang sebuah pemukul yang merupakan ruyung berduri, yakni seringkali terlihat digunakan oleh para algojo yang menyiksa dan memaksa pengakuan seorang tahanan atau pesakitan pada masa itu. Orang ini menggerakkan senjatanya dua kali dan pedang di tangan si muka kuning terlempar jauh sedangkan Tiat-ciang-kang sendiri ketika tangannya terbentur oleh ruyung ini, tubuhnya terhuyung ke belakang. Melihat datangnya orang ini, empat orang yang sedang bertempur itu menjadi pucat, terutama sekali Liong Ki Lok dan Tiat-ciang-kang yang segera menjura memberi hormat. Sedangkan Bwee Ji nampak jelas betapa tubuhnya menjadi gemetar ketika melihat perwira tinggi besar yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu.

“Liong Ki Lok, bagus sekali perbuatanmu! Kau lari dari kota raja untuk mengingkari janjimu kepada ongya dan kini dengan berani mati sekali telah mencari menantu untuk calon selir ongya! Apakah kau sudah bosan hidup? Aku datang menyusul kalian dan sekarang juga kau dan anakmu harus ikut aku kembali ke kota raja!” Kemudian perwira itu berpaling menghadapi Tiat-ciang-kang Gu Mo yang berdiri sambil menundukkan kepalanya,

“Dan kau, Tiat-ciang-kang! Kau berani mati untuk mengganggu calon mertua dan calon selir ongya! Apakah kau sudah berani menghadapi aku, Te-sam Tai-ciangkun?”

Dengan muka masih pucat, Tiat-ciang-kang Gu Mo segera berlutut di depan perwira itu sambil berkata, “Susiok, teecu mana berani berlaku kurang ajar? Teecu bertengkar dengan Liong Ki Lok karena tidak tahu akan hal yang susiok (paman guru) sebutkan tadi. Harap sudi memberi maaf banyak-banyak kepada teecu!”

“Hm, pergi kau!” kata perwira itu dengan sombongnya sambil menggerakkan tangan, dan Tiat-ciang-kang Gu Mo yang ternyata adalah murid keponakan perwira gagah itu, segera berdiri dan pergi diikuti si muka kuning bagaikan dua ekor anjing mendapat gebukan.

Perwira itu adalah Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong. Disebut Te-sam Tai-ciangkun atau Panglima besar ketiga, oleh karena ia memang menduduki tingkat ke tiga di antara semua panglima kota raja dan ilmu kepandaiannya amat tinggi. Perwira ini lalu menghadapi Liong Ki Lok dan berkata,

“Ayoh kau dan anakmu ikut kembali ke kota raja!” ucapannya mengandung suara memerintah.

Biarpun ia menjura dengan sikap yang amat menghormat, akan tetapi menghadapi perintah ini, agaknya Liong Ki Lok tidak mau menurut. Ia berkata perlahan,

“Tai-ciangkun, betapapun juga, siauwte tak dapat kembali ke kota raja karena anakku menyatakan lebih baik mati dari pada menjadi selir ongya!”

Ban Kong melebarkan matanya yang sudah lebar dan mengangkat sepasang alisnya yang hitam tebal ketika ia membentak, “Apa katamu? Apa kau ingin mampus di sini? Sekali lagi kuperingatkan, kalau kau membangkang perintah ini, kau akan kupukul mampus seperti anjing dan anakmu akan kupaksa pergi ke kota raja!”

“Apa boleh buat,” kata Liong Ki Lok. “Lebih baik siauwte mati dari pada mengorbankan anak sendiri!”

“Keparat!” Ban Kong membentak dan ketika tangan kirinya bergerak, secepat kilat ia telah mengirim pukulan tangan kiri yang hebat dan cepat ke arah kepala Liong Ki Lok. Liong-kauwsu cepat melompat ke pinggir untuk menghindarkan diri dari pukulan maut ini.

Akan tetapi dengan dua langkah saja Ban Kong telah dapat mendekatinya dan sekali ia ayun tangan kiri dan kaki kanan, tubuh Liong Ki Lok terpental dan terguling-guling. Memang serangan itu hebat sekali, oleh karena sebelum tangan atau kaki itu tiba di tubuh orang, angin pukulan dan tendangannya telah mendatangkan tenaga hebat yang cukup kuat untuk merobohkan orang.

Liong Ki Lok biarpun telah roboh, akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang cukup pandai, segera melompat bangun lagi dan cepat menerima pedang yang dilemparkan oleh puterinya. Melihat kenekatan Liong Ki Lok, Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong tertawa bergelak-gelak dan ia lalu menerjang dengan ruyungnya yang berat dan hebat.

Serangannya benar-benar dahsyat sekali sehingga para penonton yang masih berdiri di tempat jauh, merasa ngeri dan mundur ketakutan. Liong Ki Lok melawan sekuat tenaga. Akan tetapi setelah dapat menangkis lima jurus serangan, akhirnya pedangnya kena terpukul hingga terlempar dan ketika ruyung itu sudah melayang untuk menghancurkan kepalanya, tiba-tiba Bwee Ji menubruk ayahnya dan menghalangi serangan Ban Kong. Ban Kong tertawa berkakakan dan berkata, “Liong Ki Lok, aku masih ingat muka puterimu yang akan menjadi nyonya muda ongya, maka aku tidak menghabisi nyawamu. Ayoh kau dan puterimu lekas ikut aku pergi sebelum aku berobah pikiran dan menghancurkan kepalamu!”

Sebagai sambutan ucapan yang keras ini, terdengarlah tiba-tiba suara tambur dipukul orang. Orang-orang menjadi terkejut sekali dan tiba-tiba terdengar penonton tertawa oleh karena ternyata bahwa yang memukul tambur itu adalah pemuda gila tadi! Dengan tekanan tangannya, Tiong San telah membuat tambur yang pecah tadi terangkap kembali dan kini ia menggunakan tangan kirinya memukul tambur dengan suara riuh!

Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji menengok dengan kaget karena tambur yang sudah pecah menjadi dua itu bagaimana tiba-tiba dapat dirangkapkan kembali dan dipukul sehingga menerbitkan suara keras? Mereka memandang ke arah pemuda gila itu dengan mata terbelalak heran, sedangkan Ban Kong juga memandang dengan marah.

Melihat sikap pemuda itu yang cengar-cengir sambil menabuh tambur seperti anak kecil, melihat pakaian dan rambutnya serta melihat betapa orang-orang memandang dan mentertawakannya, perwira ini dapat menduga bahwa pemuda itu tentulah seorang yang miring otaknya!”

“Ayoh, Liong Ki Lok, kita pergi!” bentaknya lagi. Akan tetapi suaranya tidak terdengar nyata, karena begitu ia membuka mulut, suara tambur dipukul lagi dengan kerasnya! Kalau ia berhenti bicara, tamburpun berhenti. Dan kalau ia mulai mengajak lagi, suara tambur riuh lagi, sehingga berkali-kali Te-sam Tai- ciangkun Ban Kong membuka mulut tanpa dapat didengar orang karena kalah riuh oleh suara tambur yang riuh.

Orang-orang yang menonton biarpun tidak mendengar suara perwira itu, namun tahu akan hal ini karena mulut perwira itu bergerak-gerak. Maka mereka menjadi geli dan tertawa melihat betapa pemuda gila itu seakan-akan mempermainkan si perwira yang galak dan menimbulkan rasa benci dan takut kepada mereka itu.

Kini kesabaran Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong habis dengan langkah lebar ia menghampiri Tiong San yang memandangnya dengan tertawa ha ha, hi hi. Namun, biarpun ia marah sekali, perwira besar itu tidak mau merendahkan diri dengan memukul seorang pemuda yang miring otaknya, maka ia hanya membentak,

“Pergi kau, anak gila!” Akan tetapi, bukannya menurut perintah, bahkan dengan menyengir Tiong San membarengi bentakan dengan memukul tambur pula.

Ban Kong kehabisan akal (bohwat) dan dengan gemasnya, ia lalu mengulur tangannya menjewer telinga Tiong San dan menariknya ke tengah lapangan. Tiong San menurut saja dan jalan terpincang-pincang sehingga semua penonton tertawa geli karena pemandangan itu memang lucu.

Melihat betapa pemuda gila itu terpincang-pincang dan memandangnya dengan mulut mengejek, Ban Kong menjadi marah dan hendak memperkeras pijitannya untuk menghancurkan telinga Tiong San yang dijewernya. Akan tetapi tiba-tiba telinga itu bergerak dan terlepas dari pencetannya,

Hal ini tentu saja tidak diketahui oleh lain orang dan hanya terasa oleh Ban Kong sendiri yang menjadi terheran-heran. Ia lalu mengangkat tangan memukul kepala pemuda itu yang terhuyung-huyung ke belakang, akan tetapi terlepas dari pukulan, bahkan tertawa ha ha, hi hi, sambil menuding ke muka Ban Kong.

“Orang gila, pergilah kau sebelum kuhancurkan kepalamu!” Ban Kong berseru marah.

Akan tetapi tiba-tiba Tiong San mengucapkan syair kuno dengan suara seperti orang bernyanyi. Menteri durna memukul tambur

Raja monyet menari-nari Rakyat kecil peluh mengucur

Menteri dan monyet senyum berseri Semua orang kembali gelak tertawa mendengar nyanyian yang tidak keruan artinya akan tetapi setidak- tidaknya mengandung sindiran bagi perwira itu, karena bukankah tadi pemuda gila itu memukul tambur? Dalam dugaan mereka, perwira itu disebut raja monyet, maka mereka merasa puas dan gembira melihat betapa pemuda gila itu berani memaki dan mempermainkan Ban Kong.

Akan tetapi, di antara para penonton terdapat orang-orang yang termasuk golongan pelajar sastra, maka seorang sastrawan tua yang juga ikut menonton berseru heran.

“Itulah nyanyi kanak-kanak di jaman dinasti Tang!”

Memang benar, syair yang dinyanyikan oleh Tiong San tadi adalah sebuah nyanyi kanak-kanak yang dikarang oleh seorang sastrawan dalam usahanya menyindir keadaan kaisar yang dipengaruhi oleh menteri dorna sehingga mengadakan peraturan-peraturan yang memeras rakyat.

Sebagai seorang perwira kerajaan, sedikit banyak Ban Kong pernah mempelajari tentang kesusasteraan, maka iapun kenal lagu ini. Telinganya menjadi merah karena marahnya dan ia lalu memukul ke arah kepala Tiong San sekerasnya untuk memecahkan kepala itu.

Akan tetapi, pemuda itu sambil terhuyung-huyung dapat menghindarkan diri dari pukulannya, sambil mundur berputar-putar mengelilingi lapangan itu. Kini tidak saja Ban Kong menjadi terkejut sekali, juga Liong Ki Lok dan puterinya merasa heran sekali karena kedua kaki Tiong San yang kelihatan terhuyung- huyung ke belakang itu merupakan gerakan sebaliknya dari Cin-pou-lian-hwan yang disebut Gerakan kaki mundur berputar-putar, dan digerakkan dengan amat sempurna dan lincah!

Ban Kong merasa penasaran sekali dan ia segera maju pula menyerang. Bahkan kini ia mempergunakan ruyungnya untuk menghancur leburkan kepala pemuda gila itu! Semua orang merasa terkejut dan ngeri, sehingga terdengar seruan-seruan “Jangan pukul dia, jangan pukul dia!”

Akan tetapi, Ban Kong tentu saja tidak mau memperdulikan seruan itu dan tetap maju menyerang, menggerakkan ruyungnya dengan sikap galak dan kedua matanya memancarkan cahaya membunuh. Liong Ki Lok dan Bwee Ji merasa terkejut sekali karena mereka merasa bahwa kali ini si gila tentu akan pecah kepalanya.

Akan tetapi, sambil ketawa ha ha, hi hi, dengan muka menunjukkan kegembiraan hatinya, Tiong San mengambil cambuknya. Ia mengayundan memutar-mutar cambuknya di atas kepala, berlagak seperti seorang penggembala menggiring kerbau, sehingga cambuknya berbunyi “tar-tar!” berkali-kali, dan mulutnya tiada hentinya berkata.

“Monyet gila     ayoh menari-nari!”

Setelah berkata demikian, Tiong San memainkan cambuknya menyabet ke arah kedua kaki perwira itu. Melihat datangnya ujung cambuk yang kecil ke arah kakinya, Ban Kong memandang rendah dan tidak memperdulikan cambuk itu, bahkan langsung melangkah maju mengejar.

Akan tetapi kesombongannya hampir membuat ia mendapat malu besar. Ketika ujung cambuk menyabet kakinya, ia merasa betapa kulit kaki yang terbungkus celana dan kaos itu perih dan pedas sekali. Dan sebelum ia dapat bergerak, ujung cambuk itu telah melibat kedua kakinya sehingga hampir saja ia jatuh!

Ia berseru keras dan menggunakan lweekangnya lalu melompat ke atas sehingga libatan itu terlepas. Akan tetapi kembali Tiong San sudah menyabet-nyabet lagi ke arah kakinya sambil tertawa-tawa dan berseru,

“Monyet gila, ayoh menari-nari!”

Karena tahu akan kelihaian pecut itu, terpaksa Ban Kong mengelak dan berloncat-loncatan sehingga ia benar-benar seperti seekor monyet sedang menari-nari. Sambil menyabet-nyabet dengan pecutnya ke arah kaki, mulut Tiong San menirukan suara tambur mengiringi tarian lawannya itu sehingga semua penonton tak dapat menahan gelak tawanya lagi. Riuh rendah suara ketawa mereka dibarengi sorakan- sorakan karena girang. Sementara itu, Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji, ayah dan anak ini saling pandang sambil membelalakkan matanya. Tak pernah mereka sangka bahwa pemuda gila itu demikian lihai sehingga cambuknya dapat mempermainkan Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong yang memiliki ilmu silat tinggi sekali!

Sebetulnya adalah salah Ban Kong sendiri sehingga ia dapat dipermainkan oleh Tiong San. Kalau tadi ia tidak memandang rendah, belum tentu ia akan mendapat malu besar. Kini ia telah mendapat serangan lebih dulu dan karena cambuk itu panjang serta digunakan secara istimewa, terpaksa ia menurut perintah pemuda itu untuk berloncat-loncatan seperti menari. Akan tetapi, dengan gemas ia lalu berseru keras dan tubuhnya melayang ke depan, melancarkan serangan hebat.

Biarpun mulutnya masih tersenyum-senyum hingga wajahnya yang cakap nampak lucu. Akan tetapi Tiong San tidak berani main-main menghadapi lawan yang tangguh ini. Semenjak turun gunung, belum pernah ia menghadapi pertempuran dengan lawan dan pertama kali yang dihadapinya adalah jago nomor tiga dari perwira kerajaan.

Tentu saja ia maklum akan kelihaian lawan ini dan biarpun ia seringkali menghadapi serangan-serangan hebat dari suhunya ketika mereka sedang berlatih, akan tetapi belum pernah menghadapi lawan sesungguhnya. Maka ia segera mengerahkan tenaga dan kepandaiannya bermain cambuk untuk melawan Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong.

Baiknya ketika berlatih dengan suhunya, Thian-te Lo-mo tidak pernah berlaku sungkan atau kasihan dan menyerangnya benar-benar dan sungguh-sungguh, sehingga bagi Tiong San sudah biasa menghadapi serangan senjata. Maka kini menghadapi serbuan ruyung dari Ban Kong, ia tidak merasa gentar dan memainkan cambuknya cepat sekali.

Ketika Ban Kong menerkamnya dengan serangan Macan lapar menubruk kambing, ia cepat mengelak ke kiri dan segera menghayunkan cambuknya ke arah muka lawan. Ban kong menurunkan kakinya dan sambil mengelak ia mencoba untuk menangkap ujung cambuk dengan tangan kirinya.

Akan tetapi tiba-tiba cambuk itu melengkung ke atas seakan-akan ia merupakan seekor ular hidup yang tidak mau ditangkap dan ujungnya yang panjang dan kecil itu melalui atas kepalanya, sambil mengeluarkan bunyi nyaring. Ujung cambuk itu memecut punggungnya sehingga bajunya di bagian punggung menjadi pecah!

Para penonton yang tadinya tertawa-tawa geli melihat tingkah laku pemuda gila itu, lalu disusul oleh suasana tegang dan khawatir karena perwira itu menyerang dengan ruyungnya. Kini menjadi bengong terlongong-longong karena tak disangka-sangkanya pemuda gila itu ternyata pandai sekali, sehingga tidak saja dapat menghadapi Ban Kong, bahkan sekali gus dapat merobek baju lawan di bagian punggung.

Mereka berdiri memandang sambil menahan napas dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar-lebar, tanpa berani mengejapkan mata seakan-akan takut kalau-kalau tidak dapat menonton pertandingan yang hebat itu!

Sementara itu, makin lama Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji makin merasa heran, sehingga gadis itu tak terasa lalu mendekati ayahnya dan memegang tangan ayahnya yang lalu diremas-remasnya dengan hati tegang. Ayahnya maklum akan perasaan hati gadisnya dan diam-diam ia berbisik dalam hatinya, “Pemuda inilah yang akan dapat membantu kita!”

Pertempuran berjalan makin seru dan kini Ban Kong sama sekali tak mau memandang rendah lawannya karena ternyata bahwa benar-benar lawan cilik ini hebat sekali. Bertubi-tubi ia mengirim serangan dengan ruyungnya yang mengerikan itu, akan tetapi selalu ia memukul angin.

Tiong San cepat sekali gerakannya dan selalu berusaha menjauhinya agar dapat mengirim serangan dengan ujung cambuknya yang panjang itu dari jarak jauh. Akan tetapi Ban Kong yang telah menerima cambukan pada punggungnya, maklum akan kelihaian senjata itu sehingga kini ia menjaga diri baik-baik agar jangan sampai dapat ditipu seperti pada jurus pertama tadi.

Ia mengerahkan lweekangnya dan selain ruyungnya di tangan kanan melakukan serangan-serangan dahsyat, juga tangan kirinya bergerak-gerak melancarkan pukulan-pukulan dari jauh dan berusaha merampas ujung cambuk untuk dibetotnya. Gerakan mereka berdua makin cepat saja sehingga tak lama kemudian mereka telah lenyap dari pandangan mata penonton yang makin heran dan kagum. Akan tetapi, di dalam pandangan mata Liong Ki Lok yang sudah terlatih, nampaklah betapa pemuda ini benar-benar hebat ilmu cambuknya dan dengan senjatanya yang luar biasa itu ia dapat mempermainkan Ban Kong.

Pernah satu kali ujung cambuknya melilit ruyung lawan dan perwira itu mengerahkan tenaga untuk menarik kembali. Akan tetapi sambil tersenyum-senyum Tiong San menahan. Dalam gerakan-gerakan mereka yang cepat, terjadilah saling betot dan mengadu tenaga lweekang.

Dan tiba-tiba Tiong San melepaskan gagang cambuknya, sehingga ruyung itu dapat terbetot dan tersendal hampir memukul hidung Ban Kong yang besar. Ban Kong marah sekali, apalagi ketika kembali ujung cambuk Tiong San yang mengeluarkan angin keras menyambar-nyambar kepalanya, tiba-tiba melejit ke bawah dan tahu-tahu telah melibat sepatu kirinya!

Ia berseru keras dan menendangkan kakinya ke samping dan tahu-tahu sepatunya telah terlepas. Sepatu itu masih terlibat oleh ujung cambuk dan kini Tiong San mengayun-ayunkan cambuknya ke atas dengan sepatu itu masih terikat pada ujungnya, lalu berseru-seru kegirangan.

“Aku dapat ikan besar .... ha ha, ikan besar ...!” Ia membuat gerakan seolah-olah seorang pemancing berhasil mendapat seekor ikan besar dan dengan menggerak-gerakkan tangan ia membuat cambuknya terayun-ayun dan sepatu itu bergerak-gerak seperti seekor ikan yang meronta-ronta di ujung pancing!

Ban Kong marah sekali dan tanpa memperdulikan kaki kirinya yang kini hanya memakai kaos saja itu, ia lalu menerkam maju sambil membentak.

“Bangsat gila! Rasakan pembalasanku!” Akan tetapi dengan tersenyum mengejek Tiong San melompat jauh ke kiri dan menurunkan sepatu itu.

“Ah, ikan bau ... ikan busuk ...!” Tiba-tiba ia melemparkan sepatu itu ke arah penonton dan karena memang sepatu dari kulit itu telah dipakai dan berjalan jauh dan kini terkena peluh pula menyiarkan bau yang tidak sedap, sehingga para penonton yang kejatuhan sepatu itu dengan hati geli dan girang juga berseru-seru,

“Memang bau ... sepatu bau!”

Bukan main mendongkolnya hati Ban Kong diganggu secara demikian oleh Tiong San. Sekali ini hancurlah nama besarnya. Ia berpikir dan pikiran ini membuat ia nekat sekali untuk mengadu jiwa. Ia melompat lagi untuk melakukan serangan-serangan maut yang paling berbahaya, akan tetapi pada saat itu terdengar seruan dari jauh.

“Ikan sudah matang ...! Murid gila, mari kita makan    !”

Tiong San mengenal suara suhunya, maka ia lalu melompat dan sekali tubuhnya berkelebat ia telah melompati kepala para penonton dan berlari menuju ke tempat di mana tadi suhunya tidur. Ban Kong merasa penasaran dan marah.

“Bangsat gila, kau hendak lari ke mana?” Ia mengejar secepatnya, dan Liong Ki Lok beserta puterinya juga mengejar karena mereka ingin kenal dengan pemuda yang lihai itu. Para penonton yang ingin tahu kelanjutan peristiwa yang menggemparkan itu juga berlari-lari menyusul.

Ban Kong telah tiba di tempat itu terlebih dulu dari yang lain dan ia melihat betapa pemuda gila yang mempermainkannya tadi kini telah duduk di atas rumput, berhadapan dengan seorang tua yang lebih gila lagi karena makan tulang-tulang dan kepala ikan dengan enaknya. Keduanya sedang makan ikan panggang dengan enak dan tidak memperdulikannya sama sekali.

Ban Kong hendak menyerang dan memaki, akan tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi pucat ketika ia melihat cambuk panjang yang tergantung di pinggang Thian-te Lo-mo.

“Thian-te Lo-mo ....!” bisiknya dengan terkejut. “Tak salah lagi    ”

Sementara itu, biarpun si perwira hanya mengeluarkan seruan perlahan, agaknya si kakek gila itu telah mendengarnya, maka ia mengangkat kepala dan berkata, “Eh, perwira gila, kau hendak makan? Ini, terimalah sepotong daging ikan panggang!” Sambil berkata demikian, ia melemparkan sepotong daging ke arah perwira itu yang menyambutnya dengan tangan kanan.

Ia terkejut sekali karena tangannya menjadi gemetar dan seakan-akan menjadi setengah lumpuh ketika daging itu tiba di telapak tangannya. Ia menjadi jerih karena maklum bahwa kakek gila itu tak boleh dibuat permainan. Iapun tidak mau menghinanya, maka sambil berkata, “Terima kasih!” Ia lalu membalikkan tubuh dan pergi dari situ.

Ketika ia bertemu dengan Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji yang mengejar ke situ, ia berkata, “Liong Ki Lok, kalau dalam tiga hari kau tidak datang ke kota raja bersama puterimu, aku akan mendatangi dusun Bi-lu- siang dan membunuh semua keluargamu!”

Setelah berkata demikian, Te-sam Tai-ciangkun Ban Kong lalu lari secepatnya meninggalkan tempat di mana untuk pertama kalinya selama ia hidup ia menderita kekalahan yang amat memalukan dan menjatuhkan namanya yang terkenal!

Liong Ki Lok menjadi pucat mendengar ucapan itu dan ia lalu memegang lengan puterinya. “Celaka, ia telah tahu tempat sembunyi ibumu dan adik-adikmu!”

Gadis itu tak menjawab, hanya menjadi amat berduka dan air mata memenuhi kedua matanya dan datang di tempat di mana Thian-te Lo-mo dan muridnya sedang makan daging ikan panggang. Orang-orang yang tadi menonton juga sudah tiba di tempat itu dan memandang kepada kedua orang aneh itu dengan penuh kekaguman.

Sementara itu, Liong Ki Lok setelah tiba di dekat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Ji-wi inkong (tuan-tuan penolong), siauwte Liong Ki Lok berdua anak menghaturkan hormat.” Juga Liong Bwee Ji ikut berlutut di dekat ayahnya.

Thian-te Lo-mo tertawa terpingkal-pingkal karena geli hatinya melihat hal ini.

“Eh, anak gendeng, dari mana kau membawa badut-badut lucu ini? Ha ha ha!” kemudian ia berkata kepada Liong Ki Lok, “Orang gila, apakah aku dan muridku ini telah menjadi kaisar dan pangerannya, maka kau dan anakmu berlutut, menyembah kami?”

Liong Ki Lok tidak memperdulikan suara ketawa geli dari para penonton melihat lagak orang tua ini yang ternyata lebih gila lagi. Bahkan ia lalu mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata,

“Siauwte ayah dan anak telah menerima pertolongan siauw-enghiong (orang gagah muda), maka sengaja datang hendak menyatakan terima kasih!”

Tiong San telah ketularan adat suhunya dan ia tidak memperdulikan segala macam upacara, dan juga membenci sekali kalau ada orang bersopan-sopan terhadap dirinya. Sungguhpun melihat penghormatan orang ini ia segera membalasnya. Ia menggeser tempat duduknya dan kini iapun tiba-tiba berlutut di depan Liong Ki Lok sehingga menimbulkan pemandangan yang amat ganjil.

Dua orang saling berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kembali para penonton tertawa, sedangkan Liong Ki Lok dan puterinya makin merasa heran karena kini merekapun merasa ragu-ragu dan menyangka bahwa dua orang itu benar-benar adalah orang-orang gila!

“Orang she Liong,” kata Tiong San yang teringat akan kata-kata Ban Kong, “Apakah kau sudah menjadi gila? Guruku bukan kaisar dan akupun bukan pangeran. Maka pergilah kau dan anakmu kepada Ongya yang patut kau sembah-sembah! Pergilah!” Sambil berkata demikian ia melemparkan tulang ikan di depan Liong Ki Lok yang menjadi terkejut sekali karena tulang-tulang ikan itu ketika dilempar telah menancap pada batu karang di depannya!

Ia mengangguk-anggukkan kepala lagi, “Sedikitnya, kalau inkong tidak mau diganggu, beritahukanlah nama inkong kepada kami agar kami takkan dapat melupakannya,” katanya dengan amat kecewa. “Namanya?” tiba-tiba kakek gila itu berkata sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Namanya adalah orang waras dan kalian adalah orang-orang gila. Ha ha ha!”

Akan tetapi Tiong San yang merasa bahwa kalau tidak diberi jawaban orang ini akan berkeras dan tidak mau pergi, lalu berkata, “Aku berada di tempat ini, maka namaku adalah Orang gila dari Shan-tung.”

Mendapat jawaban yang berbelit-belit ini, Liong Ki Lok menarik napas panjang. “Sudahlah, inkong tidak mau menolong kami. Apa boleh buat, biarlah kami mati di depan Ongya di kota raja! Memang di dunia ini banyak sekali orang-orang aneh yang berhati batu. Inkong mengaku orang Shan-tung, baik kami sebut Shan-tung Tai-hiap saja.”

Tiong San tidak menjawab, hanya melanjutkan makan daging ikan panggang. Sedangkan suhunya tertawa gelak-gelak. “Shan-tung tai-hiap? Ha ha ha, apakah kau hendak membikin muridku menjadi gila seperti kalian? Ha ha ha!”

Juga Tiong San tertawa seperti suhunya. Kemudian mereka berdua berdiri dan meninggalkan tempat itu sambil tertawa-tawa geli melihat penghormatan tadi.

Liong Ki Lok dan Liong Bwee Ji saling pandang dan menjadi kecewa dan berduka sekali. Terpaksa mereka harus kembali ke kota raja karena kalau tidak, bahaya besar mengancam keselamatan keluarga mereka.

Sementara itu, para penonton yang melihat peristiwa itu dan yang tiada habisnya mengagumi kegagahan Tiong San, lalu menyebut pemuda itu sebagai Shan-tung Koay-hiap atau pendekar ajaib dari Shan-tung, mengingat akan wataknya yang gila-gilaan dan aneh dari pemuda itu.

********************

Liong Ki Lok adalah seorang guru silat di kota raja yang ternama juga, oleh karena ilmu silatnya memang cukup tinggi. Ia menerima murid-murid dengan pembayaran sekedarnya dan nafkah hidupnya tergantung dari pembayaran para muridnya itu.

Biarpun ia tidak dapat hidup dengan mewah dan kaya dari penghasilan ini, akan tetapi ia sudah hidup berbahagia dengan isteri dan ketiga orang anaknya. Anaknya yang sulung perempuan, yaitu Liong Bwee Ji, dan anak kedua dan ketiga masih kecil-kecil, pada waktu itu baru berusia empat dan enam tahun. Bwee Ji sudah berusia enam belas tahun dan semenjak kecil Bwee Ji mendapat latihan silat dari ayahnya sehingga iapun memiliki ilmu silat yang cukup lumayan.

Di dalam kota raja tinggal banyak pembesar-pembesar yang masih terhitung keluarga kaisar dan mereka ini disebut pangeran-pangeran. Sebagian besar dari para pangeran ini berlagak lebih tinggi dari pada kaisar sendiri dan mereka mempergunakan pengaruh, kedudukan, dan kekayaan untuk melakukan segala macam perbuatan yang kalau dilakukan oleh penduduk biasa, maka pelakunya akan dicap penjahat. Akan tetapi siapakah yang berani menyebut penjahat kepada pangeran dan pembesar tinggi itu?

Di antara para pangeran yang berpengaruh ini terdapat seorang pangeran bernama Ong Tai Kun atau biasa disebut oleh para penjilatnya sebagai Ong-ya. Pangeran Ong ini belum tua benar, usianya masih kurang dari empat puluh dua tahun. Akan tetapi pengaruhnya amat besar, oleh karena selain berpengaruh di dalam istana kaisar sebagai keluarga dekat, iapun amat kaya raya dan memelihara banyak perwira- perwira yang kosen dan berkepandaian tinggi.