-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-05 : Guru Silat Mencari Mantu

Bab-05 : Guru Silat Mencari Mantu

DALAM latihan-latihan kegesitan, tidak jarang Tiong San harus menjadi bulan-bulanan cambuk suhunya, karena dengan cambuk ditangan, Thian-te Lo-mo menyerang muridnya itu yang harus mengandalkan kegesitan tubuh dan ginkang untuk mengelak. Mula-mula seluruh tubuhnya matang biru kena cambukan, akan tetapi lambat laun ia memiliki kegesitan cukup hebat sehingga dalam serentetan serangan yang tidak kurang dari lima puluh jurus, ia hanya dua atau tiga kali saja terkena pecutan cambuk suhunya.

Agaknya Thian-te Lo-mo telah merasa puas melihat kemajuan muridnya, karena kini timbul pula penyakitnya suka merantau. Ia mengajak Tiong San meninggalkan gunung Thai-san dan mulai mengadakan perantauan ke seluruh daerah Shan-tung. Tentu saja hal ini amat menggirangkan hati pemuda itu karena berarti bahwa ia mulai hidup lagi di dunia ramai.

Propinsi Shan-tung mempunyai daerah yang luas sekali. Di bagian barat berdiri tegak gunung Thai-san yang tingginya hampir lima ribu kaki itu dan di bagian timur merupakan semenanjung besar antara laut Po dan sungai Kuning. Sebagian besar tanahnya merupakan pertanian yang amat luas karena Shan-tung terletak di bagian hilir sungai Huang-ho atau sungai Kuning yang amat terkenal sehingga sepanjang lembah Huang-ho ini merupakan tanah yang amat subur.

Selain kota-kota besar seperti Cin-an, Cing-tau, dan lain-lain, juga Shan-tung merupakan pusat kebudayaan. Oleh karena di situ terletak pula kota Ci-fu yang menjadi tempat kelahiran Kong Hu Cu (confusius), pujangga termasyhur di seluruh dunia yang melahirkan kebudayaan Tionghoa yang tak dapat lenyap hingga masa kini.

Di kota Ci-fu ini terdapat sebuah kelenteng Kong Hu Cu yang amat besar dan para pengunjung propinsi Shan-tung selalu tak ketinggalan untuk menyaksikan kelenteng ini, disamping menikmati keindahan alam yang banyak terdapat di daerah itu, seperti Cing-tau yang kaya akan tamasya alam indah dan iklimnya amat baik, atau mengunjungi danau Taming yang terkenal di Cin-an yang menjadi ibukota propinsi Shan- tung.

Tempat pertapaan Thian-te Lo-mo adalah di lereng gunung Thai-san sebelah barat yang masih liar dan penuh dengan hutan belukar yang jarang atau hampir belum pernah diinjak manusia lain kecuali Thian-te Lo-mo dan muridnya.

Karena selain penuh dengan binatang-binatang liar yang berbahaya, juga tidak mudah untuk mendaki bukit itu dari bagian barat karena amat sukar jalannya dan melalui banyak jurang-jurang dalam dan rawa-rawa yang berbahaya. Akan tetapi, lereng sebelah timur, merupakan pusat kebudayaan karena di lereng ini penuh dengan kelenteng-kelenteng, menara-menara tua dan bahkan terdapat anak tangga menaik yang luar biasa panjangnya.

Setelah turun gunung bersama suhunya, selain menikmati pemandangan indah yang membuat hatinya amat gembira, juga Tiong San mulai mengalami peristiwa-peristiwa di mana ilmu kepandaiannya mendapat ujian berat. Pakaiannya yang dulu berwarna hijau dan merupakan pakaian seorang terpelajar, kini hanya tinggal merupakan celana pendek tambal-tambalan sampai di bawah lutut dan sebuah baju penuh tambalan pula.

Akan tetapi, betapapun juga Tiong San tetap menjaga kebersihan sehingga baju dan celananya yang sudah penuh tambalan itu tetap nampak bersih karena seringkali dicuci. Bahkan kini ia nampak lebih tegap dan tampan dari pada dulu, sungguhpun rambutnya agak awut-awutan dan hanya diikat dengan sehelai kulit pohon yang telah dilemaskan saja.

Satu-satunya barang yang menempel pada pakaiannya hanyalah sebatang cambuk warna hitam yang panjang dan digulung lalu digantungkan pada pinggangnya. Cambuk ini bukanlah cambuk biasa, karena terbuat dari kulit sebatang pohon yang terdapat di tengah-tengah hutan menurut petunjuk suhunya.

Kulit ini setelah diambil dari batang pohon, lalu direndam dalam air sampai sebulan lebih. Kemudian dipukul-pukul dengan batu sehingga hilang patinya dan tinggal seratnya saja. Dari serat-serat yang halus, kuat dan lemas inilah maka lalu dibuat sebatang cambuk yang lemas dan kuat serta panjang pula.

Tentu saja dalam pembuatan cambuk ini, suhunya sendiri yang turun tangan sehingga cambuk yang panjang itu merupakan serat-serat yang masih utuh dan tidak ada sambungannya dan untuk membabat putus cambuk ini, agaknya diperlukan sebuah pedang yang luar biasa sekali. Pedang atau senjata tajam biasa saja jangan harap akan dapat membabat putus cambuk ini.

Ketika guru dan murid ini tiba di kota Cin-an, mereka tidak lupa mengunjungi danau Taming yang indah. Mereka memilih tempat sunyi di sebelah selatan. Dan dalam kegembiraannya, Tiong San teringat akan pertemuannya dengan suhunya di telaga Tai-hu dulu.

Maka ia lalu mengambil cambuknya dan sambil duduk di tepi danau, ia mulai mencambuk, dan menangkap ikan dengan ujung cambuknya seperti yang dilakukan oleh suhunya dulu di tepi telaga Tai-hu. Thian-te Lo- mo tertawa geli melihat perbuatan muridnya, maka ia lalu berkata,

“Tangkap ikan besar-besar kemudian pangganglah, aku hendak tidur!” dan sebentar kemudian ia telah mendengkur di bawah pohon.

Tiong San merasa gembira sekali melihat betapa ujung cambuknya tak pernah gagal menangkap ikan yang dikehendakinya. Ketika berlatih di gunung Thai-san, suhunya menyuruh mencambuk ujung kayu yang terbakar seperti lilin dan latihan ini dilakukan terus menerus sampai beberapa bulan sehingga kini ia dapat menggerakkan cambuknya sedemikian rupa sehingga tiap kali ia mencambuk, ujung cambuk pasti mengenai sasaran yang jitu!

Tiap kali melihat ikan besar yang hendak ditangkapnya, ia lalu menggerakkan cambuknya yang menyambar ke air dan dengan gerakan cepat ia dapat membuat ujung cambuk itu membelit tubuh ikan yang segera diangkat ke darat dengan mudahnya. Kalau ikan itu kurus atau kurang besar. Ia lalu melemparkannya kembali ke air.

Setelah mendapat cukup banyak ikan, Tiong San lalu membuat api dan memanggang ikan-ikan itu. Akan tetapi suhunya masih saja mendengkur dan biarpun ia telah bertahun-tahun ikut suhunya, namun sikapnya yang berbakti masih belum lenyap, sungguhpun kini terhadap suhunya ia tidak bersopan santun lagi seperti dulu karena maklum bahwa suhunya tidak suka akan sikap demikian itu.

Ia meletakkan ikan-ikan panggang itu pada sehelai daun dan menaruh di dekat suhunya. Kemudian karena tertarik melihat banyaknya perahu yang hilir mudik di atas danau dan ramainya tepi danau sebelah timur, ia lalu berjalan-jalan ke sana.

Tiba-tiba ia mendengar suara tambur dan melihat banyak orang berkerumun, mengelilingi sebuah tempat yang ramai dengan leher diulur ke depan seakan-akan melihat sesuatu yang menarik. Makin lama makin banyaklah orang menonton dan berkerumun di situ sehingga Tiong San tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat pula.

Ketika ia melongok ke dalam lingkaran manusia yang berdiri menonton, ternyata bahwa tambur itu dipukul oleh seorang gadis baju merah yang kecantikannya mengingatkan dia akan Siu Eng, gadis yang berada dengan pangeran Lu Goan Ong di perahunya. Gadis cantik yang membuat Thio Swie tergila-gila!

Diam-diam Tiong San tersenyum, bukan karena melihat kecantikan gadis itu, akan tetapi oleh karena teringat kepada Thio Swie, sahabat karibnya. Orang-orang di dekatnya yang melihat pakaiannya dan kemudian melihat ia tersenyum-senyum seorang diri, memandangnya dengan mata mengandung penuh sangkaan bahwa ia tentulah seorang pemuda otak miring.

Tanpa memperdulikan pandangan orang-orang itu, Tiong San memperhatikan lebih lanjut dan ia melihat seorang laki-laki setengah tua sedang bermain silat, diiringi suara tambur sehingga gerakannya menjadi hidup seakan-akan suara tambur itu menambah tenaga pada tiap gerakan tangannya.

Ilmu silat orang itu cukup kuat dan cepat. Dan ternyata bahwa ia memainkan ilmu silat monyet (Kauw-kun) dengan langkah kaki tetap dan cermat sekali. Pakaiannya ringkas berwarna putih dan wajah orang itu cukup gagah.

Tiong San tertarik sekali melihat permainan silat ini. Dulu ia mungkin akan merasa kagum sekali melihat kecepatan gerakan tangan orang itu. Kini ia melihat betapa orang itu amat lambat gerakannya dan ia melihat kekosongan-kekosongan yang mudah dimasuki pukulan lawan pada permainan orang itu. Hal ini bukan menunjukkan bahwa ilmu silat orang itu kurang tinggi, akan tetapi adalah karena pandang mata Tiong San telah jauh berbeda dengan dulu. Tadipun ketika ia mencari ikan, setiap ikan yang berenang lalu di bawah permukaan air, bahkan yang berenang dalam sekali sampai hampir merayap di dasar danau, ia dapat melihatnya dengan terang.

Ilmu silat orang itu memang tidak rendah, terbukti dari tepuk tangan memuji dari para penonton setelah ia menghentikan permainannya. Orang itu lalu mengangkat kedua tangan dan menjura keempat penjuru dan ketika ia menjura ke arah Tiong San, pemuda itu buru-buru membalas dan menjura pula sehingga semua orang yang berada di dekatnya tertawa geli.

Tiong San merasa heran sekali mengapa orang mentertawakannya dan ia melihat bahwa orang-orang lain tidak ada yang membalas penghormatan itu, sehingga ia merupakan orang satu-satunya yang membalas dan menjura. Tiong San tidak melupakan adat sopan santun dan karena ia belum pernah melihat orang menjual silat di depan umum, maka menurut kesopanannya, iapun membalas penghormatan itu yang tidak semestinya sehingga tanpa disadari ia membuat dirinya menjadi buah tertawaan.

Akan tetapi orang yang tadi bersilat itu mengangguk kepadanya sekali lagi, kemudian berkata kepada orang banyak.

“Cuwi (tuan-tuan) sekalian yang terhormat. Kami berdua ayah dan anak datang dari luar daerah Shan-tung dan karenanya kami mohon maaf kepada para ahli silat di Shan-tung apabila kami berbuat lancang dengan pertunjukan ini. Bukan sekali-kali maksud kami untuk menjual silat dan mencari uang, dan bukan sekali-kali kami memandang rendah kepada para ahli silat di daerah ini. Bahkan dengan kedatangan kami ini, kami bermaksud untuk mencari orang gagah yang banyak terdapat di Shan-tung. Anakku yang bodoh dan buruk rupa ini telah cukup dewasa dan ia mempunyai permintaan yang aneh, yakni dengan jalan mengadu pibu (mencoba kepandaian), anakku baru mau diikat dengan jodohnya!”

Terdengar gelak tertawa dari para penonton dan gadis itu menundukkan kepala kemalu-maluan.

“Aku sebagai orang tua yang memanjakan anak, tentu saja tidak dapat mencari jalan lain, kecuali mengharap para enghiong (orang gagah) yang sudi turun tangan untuk membuktikan padanya bahwa di dunia ini, terutama di daerah Shan-tung, terdapat banyak orang-orang gagah. Dan harap saja para enghiong yang menaruh minat untuk menjadi keluarga kami, suka turun ke lapangan ini agar hatiku tidak selalu merasa gelisah. Syarat untuk dapat mengadu pibu dengan anakku mudah saja. Pertama-tama ia harus dapat mengangkat tambur ini di atas kepala. Kedua ia harus dapat bertahan menghadapi aku dalam tiga puluh jurus. Siapa saja yang dapat memenuhi dua syarat ini, akan mengukur kepandaian dengan anakku dan apabila kedua pihak setuju, akan diadakan ikatan kodoh!”

Hal ini memang istimewa sekali dan belum pernah terjadi, maka tentu saja menimbulkan kegemparan di antara penonton. Siapa orangnya yang tidak ingin memperisteri gadis yang demikian cantik jelita?

“Sayang aku sudah beristeri,” terdengar seorang laki-laki muda mengeluh dan ucapannya ini disambut oleh suara ketawa geli.

“Sayang aku tak pandai bersilat,” kata orang lain.

Tiba-tiba dari rombongan penonton maju seorang pemuda bermuka hitam yang bertubuh tinggi besar. Sambil tersenyum malu-malu ia menjura kepada orang tua itu dan berkata,

“Bolehkah kiranya siauwte mencoba-coba mengangkat tambur itu?”

“Boleh sekali! Tentu saja, siapa juga boleh mencobanya,” jawab yang ditanya sambil tersenyum ramah. Sedangkan gadis itu lalu berdiri meninggalkan tamburnya dan berdiri dipinggir. Setelah ia berdiri orang makin kagum karena gadis itu mempunyai potongan tubuh yang benar-benar menggiurkan hati laki-laki.

Bajunya merah, celananya biru muda dengan ikat pinggang kuning. Pada pinggangnya tergantung satu pedang yang berukir indah. Sungguhpun sikap gadis itu amat sungguh-sungguh dan tak pernah nampak senyum, akan tetapi kedua matanya yang bening berseri-seri hingga dapat diduga bahwa ia adalah seorang gadis yang berwatak gembira. Si Muka hitam melangkah maju dengan gagah, menanggalkan jubahnya hingga kini hanya memakai baju yang berlengan pendek hingga nampak kedua lengan tangannya yang besar dengan urat melingkar- lingkar. Ia tersenyum-senyum lagi lalu menghampiri tambur yang ternyata terbuat dari pada besi itu. Ia lalu membungkuk dan sambil berseru keras ia mengangkat tambur itu ke atas.

Ia berhasil mengangkat tambur sampai ke pundaknya. Akan tetapi kedua tangannya telah gemetar dan terpaksa ia menunda tambur itu pada pundaknya dan tidak kuat melanjutkan mengangkat sampai ke atas kepalanya. Biarpun ia sudah mencobanya berkali-kali sambil mengerahkan tenaga! Ternyata bahwa tambur itu beratnya tidak kurang dari lima ratus kati!

Dengan muka merah karena lelah dan malu, si muka hitam lalu menurunkan lagi tambur itu dengan susah payah. Kemudian ia memungut jubahnya yang tadi diletakkan di atas tanah lalu membungkuk-bungkuk kepada orang tua itu sambil berkata, “Maaf, maaf ...!” dan segera keluar dari situ dan cepat pergi, diikuti oleh suara ketawa dari para penonton.

Melihat hal ini, beberapa orang pemuda yang tadinya hendak mencoba, menjadi kuncup hatinya dan mundur teratur sebelum mencoba. Akan tetapi ada pula yang berani dan maju mencobanya, akan tetapi kembali dua orang pemuda gagal mengangkat tambur yang amat berat.

Timbul keraguan dan kekecewaan di antara para penonton melihat hal itu karena mereka ingin sekali menyaksikan pertempuran silat, terutama dengan gadis cantik itu.

“Tambur itu terlalu berat,” terdengar seorang berkata.

“Kalau Hek-twako (engko hitam) tadi tidak kuat mengangkatnya, takkan ada orang yang kuat! kata suara lain.

“Apakah nona itu kuat mengangkatnya?” tanya suara yang perlahan akan tetapi cukup keras hingga terdengar oleh nona itu dan ayahnya.

Orang tua itu tersenyum dan segera melangkah ke arah tambur itu mengangkat dengan tangan kanannya dan berseru kepada puterinya,

“Bwee-ji, sambut!”

Sambil berkata demikian ia melontarkan tambur itu ke arah puterinya yang segera mengulurkan tangan kanan dan menyambut tambur itu dengan gerakan indah, yaitu dengan kaki kanan di depan kaki kiri di belakang agak ditekuk sedikit dan membarengi luncuran tambur yang berat itu dengan memegang pinggir tambur, terus didorong memutar dan tambur besi itu meluncur kembali kepada ayahnya!

Inilah gerakan Dewa sakti memindah bintang sehingga tanpa banyak mengeluarkan tenaga, hanya dengan mengerahkan lweekang, ia dapat mengemudikan tenaga luncuran tambur itu sehingga dapat diatur sedemikian rupa, tanpa menggunakan tenaga sendiri ia dapat menambah tenaga luncuran dengan sedikit dorongan untuk mengembalikan kepada ayahnya.

Ayahnya tersenyum dan dengan gerakan Jing-cin-hong-twi (Tendangan angin seribu kati) orang tua ini dengan kakinya mendupak tambur yang melayang ke arahnya itu sehingga tambur sekali lagi melayang ke arah gadis itu. Beberapa kali kedua orang itu mendemonstrasikan kepandaian mereka dan akhirnya gadis itu menggunakan kedua tangannya menyambut tambur itu dengan mudah dan ringan, lalu menaruhkannya ke atas tanah.

Pecahlah sorak-sorai dari penonton yang tiada habisnya memuji pertunjukkan yang hebat itu! Orang tua itu lalu menjura ke empat penjuru dan sambil tersenyum berkata,

“Aku dan anakku yang bodoh mohon maaf sebanyaknya kepada cuwi sekalian. Bukan aku Liong Ki Lok dan anakku Liong Bwee Ji hendak menyombongkan kepandaian kami, sama sekali tidak. Permainan rendah yang kami pertunjukkan tadi hanyalah untuk menarik perhatian para enghiong yang berada di sini untuk memperlihatkan kepandaian. Kalau sekiranya di sini kebetulan tidak ada orang gagah, terpaksa kami hendak pergi ke lain tempat!” Ucapan yang merupakan pancingan ini berhasil. Dari sebelah kiri melompat ke dalam lapangan seorang laki-laki yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun dan bermuka kuning. Ia menjura pada Liong Ki Lok dan berkata,

“Maafkan kalau siauwte berlaku lancang. Siauwte she Liok dan biarpun sudah berusia tiga puluh tahun lebih, akan tetapi siauwte belum mempunyai jodoh. Siapa tahu kalau jodoh siauwte berada di sini!” Setelah berkata demikian, orang bermuka kuning ini lalu menghampiri tambur dan dengan tangan kanan ia mengangkat tambur tinggi-tinggi di atas kepalanya!

Tiong San yang berdiri menonton di antara orang banyak, diam-diam merasa kagum dan maklum bahwa si muka kuning ini adalah seorang ahli lweekeh yang memiliki tenaga dalam cukup tinggi. Sedangkan para penonton bertepuk tangan riuh sungguhpun mereka merasa sayang kalau nona cantik itu akan dijodohkan dengan si muka kuning yang tidak saja usianya banyak lebih tua, akan tetapi juga berwajah tidak menyenangkan dan sama sekali tidak sesuai untuk mendampingi si cantik.

Akan tetapi Liong Ki Lok hanya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya kepada si muka kuning she Liok itu. “Sicu (tuan yang gagah) sungguh kuat. Tentang jodoh dapat dirundingkan kemudian, dan kegagahanmu menarik hatiku. Marilah kita main-main sebentar dan kalau sampai tiga puluh jurus kau dapat bertahan, maka boleh kau memberi pengajaran kepada anakku!”

Sambil berkata demikian, Liong Ki Lok lalu minta kepada semua orang untuk mundur sedikit untuk memberi tempat yang lebih lega kepadanya yang hendak mengadu pibu dengan si muka kuning.

Para penonton menjadi gembira karena segera akan menyaksikan pertempuran yang hebat. Maka mereka lalu mundur tiga langkah sehingga tempat itu menjadi cukup luas. Si muka kuning lalu mempererat tali pinggang dan ikat kepalanya.

Lalu ia memasang kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk sehingga tubuhnya merendah. Tangan kanan dipasang melintang di depan dada dan tangan kiri lurus di bawah menjaga pusar. Kedudukan kuda- kudanya cukup kuat dan Tiong San dengan hati gembira melihat ke arah Liong Ki Lok, ingin sekali tahu bagaimana orang tua itu akan melakukan serangannya.

Ternyata Liong Ki Lok berlaku tenang saja dan melihat pasangan kuda-kuda itu. Ia dapat menerka bahwa si muka kuning ini tentulah anak murid Bu-tong-pai. Ia berseru, “Liok-enghiong, awas serangan!”

Dengan sembarangan saja ia lalu melangkah maju dan tangan kanannya menyambar dengan sebuah pukulan miring ke arah kepala si muka kuning yang segera menggeser kakinya yang berada di bawah itu membalas dengan pukulan ke arah dada lawan, di susul dengan tangan kanan yang menyodok ke arah mata orang she Liong itu. Inilah pukulan dengan gerak tipu Pek-wan-hian-tho (Kera putih mempersembahkan buah To) dan dengan gerakan lincah, Liong Ki Lok dapat pula mengelak.

Demikianlah pertempuran mulai berlangsung dan sebentar lagi keduanya bergerak dengan amat cepatnya, saling serang. Akan tetapi si muka kuning lebih banyak mempertahankan diri oleh karena ia tak hendak memberi lowongan kepada Liong Ki Lok. Baginya asalkan ia dapat bertahan sampai tigapuluh jurus, berarti ia telah memenuhi syarat kedua dan dapat bertanding menghadapi si cantik.

Tak disangkanya sama sekali bahwa setelah ia dapat bertahan dan menghindarkan diri dari serangan- serangan orang tua itu sampai delapan jurus. Tiba-tiba Liong Ki Lok berseru keras dan serangannya datang bertubi-tubi dengan hebatnya!

Orang tua itu kini mengeluarkan kepandaian aslinya dan menyerang dengan tipu-tipu lihai seperti Pai-bun- twi-san (Atur pintu menolak gunung), disusul dengan Pai-in-cut-cui (Dorong awan keluar puncak) yang dilakukan dengan amat cepat dan kuatnya.

Si muka kuning kalah cepat dan ketika tangan kanan Liong Ki Lok menyambar seperti kilat ke arah dadanya untuk mendorongnya, ia lalu memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan lweekangnya. Orang muka kuning ini memang memiliki tenaga lweekang cukup baik sehingga ia hendak mengakhiri pertandingan itu dengan mngadu tenaga oleh karena maklum bahwa dalam hal ginkang ia masih kalah. Dua tangan beradu keras dan akibatnya, si muka kuning itu terhuyung-huyung mundur, sedangkan Liong Ki Lok masih tetap menyerang dan mempergunakan kesempatan itu untuk melangkah maju dan mendesak lawan yang sudah terhuyung-huyung.

Serangan tiba dengan cepatnya dan dengan gerak tipu Heng-pai-kwan-him (Puja Kwan-im dengan tangan miring) ia berhasil mendorong si muka kuning hingga terguling di atas tanah dan dengan demikian maka si muka kuning itu telah dikalahkan dalam dua belas jurus.

Tepuk tangan riuh rendah menyambut kemenangan ini dan si muka kuning wajah berubah pucat lalu menjura dan melangkah keluar dari lapangan pertandingan.

“Liok-enghiong cukup gagah dan terima kasih telah berlaku mengalah,” kata Liong Ki Lok sambil menjura ke arah orang itu yang tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di luar lingkaran penonton, bicara berbisik-bisik dengan seorang laki-laki tua yang berkepala botak.

Setelah si muka kuning mundur, majulah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Begitu ia maju dan menjura kepada Liong Ki Lok, semua orang bertepuk tangan memuji karena pemuda ini betul-betul cakap dan kalau saja kepandaiannya tinggi, maka ia akan menjadi calon jodoh yang sesuai dengan gadis itu. Bwee Ji mengerling cepat dan diam-diam iapun mengakui kecakapan pemuda itu.

“Siauwte she Pouw dari dusun sebelah barat hendak mencoba-coba kebodohan sendiri,” kata pemuda itu yang segera menghampiri tambur dan seperti si muka kuning tadi, iapun dapat mengangkat tambur itu dengan diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya. Orang-orang berteriak-teriak memuji dan sekali gus semua penonton merasa bersimpati kepada pemuda tampan itu dan mengharapkan kemenangannya.

Akan tetapi Tiong San yang melihat cara pemuda itu mengangkat tambur, maklum bahwa dalam hal lweekang, pemuda tampan ini masih belum dapat mengalahkan si muka kuning. Maka untuk menghadapi Liong Ki Lok jago tua yang kosen itu, ia tidak mempunyai banyak harapan.

Setelah lulus dalam ujian pertama, pemuda she Pouw itu lalu menghadapi Liong Ki Lok yang sudah siap untuk menguji kepandaiannya. Ketika mereka bertempur, ternyata bahwa gerakan pemuda cakap itu cepat sekali dan ternyata ia memiliki ginkang yang cukup mengagumkan.

Karena keduanya memiliki ginkang tinggi, maka pertandingan ini lebih seru dari pada pertandingan pertama sehingga para penonton berseru-seru memuji. Hampir semua penonton mengharapkan agar supaya pemuda ini dapat mempertahankan diri sampai tiga puluh jurus.

Kalau semua orang menyangka bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari pada si muka kuning, adalah Tiong San yang merasa terheran-heran. Ia tahu betul bahwa biarpun pemuda she Pouw itu ginkangnya lebih menang sedikit dari pada si muka kuning, akan tetapi dalam hal kepandaian silat dan lweekang, ia masih kalah setingkat.

Akan tetapi heran sekali, mengapa Liong Ki Lok tidak mau merobohkannya! Padahal kalau orang tua itu mau, sebelum bertempur sepuluh jurus, pemuda itu pasti akan kalah! Diam-diam Tiong San tertawa geli dalam hatinya karena ia dapat menduga bahwa orang tua ini tentu tertarik kepada pemuda itu untuk diambil menantu.

Benar saja dugaannya, biarpun melayani pemuda itu dengan amat cepat, namun Liong Ki Lok sengaja tidak mengeluarkan kepandaiannya dan hanya “main-main” saja sehingga pemuda itu dapat bertahan sampai tiga puluh jurus. Liong Ki Lok lalu menghentikan serangannya dan berkata sambil tersenyum, “Pouw-enghiong, kau lulus dalam ujian kedua!”

Tiba-tiba terdengar bentakan. “Curang! Curang!” dan si muka kuning yang tadi dikalahkan telah melompat ke dalam kalangan itu bersama seorang laki-laki tua yang berkepala botak. Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka merasa penasaran dan marah.

“Orang she Liong!” kata si kepala botak yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, akan tetapi mempunyai tubuh yang tinggi besar itu.

“Mengapa kau berlaku curang? Kau memilih menantu berdasarkan kepandaiannya atau ketampanan wajahnya? Pemuda she Pouw ini kepandaiannya tidak lebih tinggi dari pada kepandaian muridku ini. Akan tetapi kau sengaja tidak mau merobohkannya! Apakah maksudmu? Apa kau sengaja hendak merobohkan muridku dan menghina aku Tiat-ciang-kang Gu Mo (Gu Mo si Telapak tangan Besi)? Jangan kau bermain gila di Shan-tung?”

Liong Ki Lok menjadi pucat dan sambil tersenyum ia menjura dan berkata, “Tiat-ciang-kang, dalam hal memilih menantu, aku bebas dan orang luar tak berhak campur tangan. Aku sama sekali tidak berani menghina kau orang gagah!”

“Kau benar-benar curang! Apakah anehnya tamburmu ini?” Ia melangkah ke arah tambur itu dan sekali ia menggerakkan tangannya dengan miring memukul, tambur itu mengeluarkan suara keras dan pecah menjadi dua! Hebat sekali tenaga dari si Telapak tangan besi ini sehingga semua orang berseru kaget dan ketakutan!

“Dan apakah anehnya mengalahkan kau dan gadismu?” kata Tiat-ciang-kang Gu Mo pula sambil bertolak pinggang sambil menghadapi Liong Ki Lok.

Pemuda she Pouw itu yang melihat lagak ini menjadi marah dan menegur, “Lo-enghiong, tindakanmu ini tak pantas dilakukan oleh orang gagah!”

“Tikus kecil, kau berani mendekati mulut harimau?” Sambil berkata demikian, Tiat-ciang-kang mengayun kaki dan pemuda she Pouw itu tertendang sampai terpental menimpa penonton. Pemuda itu menjadi pucat dan dengan meringis kesakitan dan menggosok-gosok pahanya yang tertendang, ia lalu ngeloyor pergi! Orang-orang yang menonton menjadi makin ketakutan dan tak terasa lagi mereka melangkah mundur dan menjauhi.

“Tiat-ciang-kang! Apakah kehendakmu yang sebenarnya?” Liong Ki Lok berseru marah sambil menghadapi si Tangan besi.

“Kehendakku? Kehendakku hanyalah menjadi imbangan kehendakmu! Terus terang saja, muridku suka kepada anakmu. Dan menurut peraturan yang adil, apabila kau hendak memilih menantu berdasarkan kepandaian, biarlah yang tua lawan tua dan yang muda lawan muda. Kalau aku tidak bisa mengalahkan kau dan muridku tidak bisa mengalahkan puterimu, anggap saja bahwa kami tidak tahu diri. Akan tetapi kalau kami dapat menangkan kau dan puterimu, pinangan muridku harus kau terima!”

Keadaan menjadi tegang dan para penonton ke arah mereka dengan hati berdebar-debar. Mereka dapat menduga bahwa kali ini akan terjadi pertempuran yang benar-benar hebat, karena sifatnya bukan main- main lagi.

Akan tetapi tiba-tiba di tengah-tengah ketegangan itu, mereka tertawa gelak-gelak dan tak lama kemudian semua penonton itu tertawa sambil menuding ke arah tengah lapangan. Ternyata bahwa yang menjadi buah tertawaan mereka itu adalah Tiong San.

Ketika semua penonton mundur karena takut, pemuda ini tidak bergerak dari tempatnya hingga otomatis ia kini berada di tengah lapangan yang makin melebar itu. Pemuda ini tidak tahu akan hal ini karena perhatiannya tercurah kepada tambur yang dipukul pecah tadi.

Ia merasa heran karena betapapun tinggi kepandaian dan keras tangan orang berkepala botak itu, agaknya sukar dipercaya untuk dapat memukul sebuah tambur besi dengan sekali pukul saja! Maka tanpa merasa lagi ia melangkah maju dan pada saat si botak bersitegang dengan Liong-kauwsu (guru silat Liong), ia menghampiri tambur itu dan memeriksanya dengan teliti.

Kemudian ia melihat tempat yang pecah itu dan ternyata bahwa tambur itu terbuat dari pada besi yang bersambung sehingga pukulan tadi bukanlah memecahkan besi, akan tetapi hanya melepaskan sambungan-sambungan yang tak seberapa kuat. Ia menarik napas lega dan penasarannya hilang, lalu tertawa-tawa dan duduk di atas tambur itu.

Inilah yang membuat para penonton tertawa karena mereka menyangka bahwa anak muda itu tentulah seorang gila. Ketika orang-orang tertawa dan menudingkan telunjuk ke arahnya, Tiong San yang sudah ketularan watak aneh dari suhunya itu ikut-ikutan tertawa ha ha, hi hi sambil memandang ke kanan kiri. Ia tidak merasa bahwa ia menjadi buah tertawaan. Tentu saja Liong Ki Lok dan Gu Mo yang sedang sama-sama panas itu merasa heran mendengar suara ketawa dari para penonton. Maka mereka berdua, juga si muka kuning dan nona cantik itu, menengok dan memandang ke arah yang ditunjuk-tunjuk oleh penonton.

Mereka melihat seorang pemuda gila duduk di atas tambur, berpakaian tambal-tambalan tidak keruan, berkaki telanjang dan rambutnya awut-awutan. Akan tetapi sepasang matanya amat tajam dan gerak- geriknya halus.

Kedua orang tua itu sedang menghadapi urusan besar, yakni urusan kehormatan, maka tentu saja mereka tidak mau menghiraukan seorang gila. Demikianpun si muka kuning segera berpaling dan memandang lagi kepada Liong Ki Lok dengan muka marah.

Akan tetapi, Liong Bwee Ji nona cantik itu, masih memandang kepada Tiong San dengan penuh perhatian. Ia merasa tertarik sekali karena dalam pandangannya, biarpun pakaiannya tidak keruan, akan tetapi pemuda gila itu benar-benar tampan dan gagah sekali mukanya. Timbul rasa kasihan dalam hatinya, juga rasa sayang mengapa pemuda seperti itu sampai menjadi gila.

Sementara itu, Tiat-ciang-kang Gu Mo berkata lagi, “Bagaimana, orang she Liong. Apakah kau dapat menerima tantangan kami?”

Liong Ki Lok masih menahan sabar dan menjawab setelah menjura, Tiat-ciang-kang, sesungguhnya kedatanganku ke Shan-tung bukan hendak mencari perkara permusuhan. Dan harap kau ingat bahwa urusan perjodohan tak dapat dipaksakan dengan kekerasan.”

Marah sekali si botak mendengar ini. “Kalau begitu kau terang-terangan menolak pinangan muridku! Hal ini tidak mengapa, karena bukan hanya puterimu saja wanita di atas dunia ini. Akan tetapi kau telah membikin malu muridku yang berarti membikin malu aku pula. Maka kalau kau tidak berani menghadapi kami dan menerima tantangan kami, lebih baik kau sekarang minta maaf kepada muridku dan segera pergi meninggalkan daerah Shan-tung!”