-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-04 : Ilmu Silat Si Gila

Bab-04 : Ilmu Silat Si Gila

DAN lima tahun kemudian setelah orang-orang mulai lupa kepada namanya, dari bukit Tai-san muncullah seorang kakek yang berpakaian tidak keruan, membawa-bawa cambuk dan tingkah lakunya seperti orang gila. Inilah Thian-te Lo-mo yang pada lima tahun yang lalu, baru melihat bayangannya saja sudah membuat penjahat-penjahat besar lari pontang-panting.

Kakek gila ini mengembara terus hingga ia tiba di telaga Tai-hu di dekat So-couw dan bertemu dengan Lie Tiong San yang akhirnya ia angkat menjadi muridnya. Demikianlah riwayat singkat dari kakek gila yang amat aneh dan lihai itu yang melarikan diri dengan murid digendong di atas punggungnya setelah tadi memperlihatkan ilmu kepandaiannya yang mengherankan semua orang di pinggir telaga Tai-hu. Ketika berada di atas punggung suhunya yang lari secepat angin, Tiong San merasa amat heran dan juga ngeri. Ia melihat betapa pohon-pohon di kanan kirinya seakan-akan berlari cepat dari depan dan telinganya mendengar suara dari daun-daun pohon di kanan kiri yang dilaluinya.

Ia tak dapat melihat dengan nyata karena pohon-pohon di kanan kiri jalan itu seakan-akan hanya terbang lewat sekilat saja. Apalagi ketika suhunya mengambil jalan melalui lereng gunung yang penuh jurang- jurang dalam dan melompati jurang-jurang itu demikian enaknya seperti dulu ketika ia masih kecil suka bermain-main melompati selokan-selokan. Terpaksa ia menutup matanya karena merasa ngeri dan takut. Pegangan pada leher suhunya dipererat agar supaya ia tidak sampai melepaskan leher itu dan jatuh ke dalam jurang yang amat dalam.

Tiba-tiba suhunya berhenti berlari dan menggoyang-goyang tubuhnya hingga Tiong San hampir saja tak dapat menahan lagi dan rangkulan tangannya pada leher orang tua itu hampir terlepas.

“Turun, turun! Anak gendeng, apakah kau kira aku ini seekor kuda yang boleh ditunggangi seenak hatimu?”

Tiong San terkejut sekali dan membuka matanya lalu melorot turun dari punggung kakek itu. Ketika ia memandang ke sekelilingnya, ternyata mereka telah tiba di sebuah jalan besar yang lurus tidak di tempat berbukit-bukit lagi. Ia tidak tahu bahwa mereka telah tiba di tempat yang belasan li jauhnya dari telaga Tai- hu.

“Seekor kuda tak dapat lari secepat suhu,” katanya tertawa. Karena pemuda ini mulai tahu tabiat suhunya yang sama sekali tidak menghendaki dipuja-puja dan dihormati sebagaimana layaknya seorang guru mendapat penghormatan dari muridnya.

Benar saja, kakek aneh itu tertawa senang. “Kau harus belajar berlari cepat!” katanya berulang-ulang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dan belajar pula memberi hadiah-hadiah kepada orang-orang yang mengalungi kembang pada lehermu!”

“Teecu bisa juga berlari, suhu.” “Coba kau larilah yang cepat!”

Karena jalan itu rata dan lurus, Tiong San lalu berlari ke depan, dan pada perasaannya larinya sudah cukup cepat hingga napasnya tersengal-sengal. Akan tetapi ketika ia menoleh, ia melihat suhunya berjalan di belakangnya sambil tertawa bergelak-gelak sehingga ia berhenti lagi sambil napasnya terengah-engah seperti mau putus.

“Ha ha ha! Kau seperti gajah berlari! Tubuhmu terlalu berat hingga suara kakimu memekakkan telinga! Ha ha, sungguh lucu melihat gajah kaki dua berlari!”

Merahlah muka Tiong San mendengar ejekan suhunya ini dan ia tak dapat berkata apa-apa selain memandang muka suhunya dengan bingung.

“Kau harus berlari seperti rusa, jangan seperti gajah!” kata suhunya. “Jangan pergunakan semua telapak kakimu untuk menginjak tanah, akan tetapi pergunakan jari-jari kaki saja. Tumit harus diangkat dan terutama sekali napasmu harus diatur baik-baik! Tubuhmu harus seringan mungkin. Ah, celaka kau

masih harus belajar banyak!”

Demikianlah si gila yang dalam hal menerangkan ilmu kepandaian ternyata sama sekali tidak menunjukkan kegilaannya itu, mulai memberi pelajaran kepada Tiong San yang memperhatikan baik-baik. Mereka melanjutkan perjalanan sambil berlari-lari dan mulai dengan pelajaran ilmu berlari cepat di sepanjang jalan yang sunyi.

Menjelang senja mereka tiba di luar sebuah kampung. Dan tiba-tiba dari dalam kampung itu keluarlah tiga orang laki-laki yang setelah dekat ternyata bahwa mereka adalah orang-orang yang memakai pakaian perwira-perwira dengan topi pangkat di atas kepala masing-masing.

Seorang di antara mereka telah tua dan ketika melihat orang gila itu berjalan bersama muridnya, perwira tua itu tiba-tiba berseru keras dan menghentikan langkah kakinya. Kedua orang kawannya juga berhenti tiba-tiba. Bukankah, kau Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian??” perwira tua itu berseru sambil menghadang di depan kakek gila itu.

Tiong San merasa takut karena peristiwa penangkapan di pinggir telaga Tai-hu tadi. Maka melihat sikap yang galak dari ketiga orang perwira ini, ia lalu mundur dan berdiri di belakang tubuh suhunya. Sementara itu, si gila tertawa ha ha, hi hi, dan sambil monyongkan mulutnya ke arah perwira tua itu, lalu berkata,

“Eh, eh, mukamu seperti monyet tua! Ha ha ha, muridku, coba kau lihat orang gila ini. Bukankah seperti seekor monyet tua yang meniru lagak manusia? Ha ha!”

Tiong San yang sudah maklum akan adat suhunya, lalu tertawa juga dan berkata, “Benar, suhu. Akan tetapi jenggotnya seperti kambing!” Tiong San sengaja berkelakar untuk menyenangkan hati suhunya karena ia memang sedang merasa gembira sekali.

Tanpa disengaja ia kini dapat mengetahui nama dan julukan suhunya, yaitu Thian-te Lo-mo Kui Hong Sian atau Kui Hong Sian si Iblis tua langit bumi! Biarpun selama hidupnya Tiong San belum pernah mendengar nama ini. Akan tetapi dari julukannya saja, ia maklum bahwa suhunya tentu seorang gagah yang luar biasa dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Thian-te Lo-mo tertawa terkekeh-kekeh mendengar ucapan muridnya ini. Dan perwira tua itu menjadi merah mukanya. Dia memang mempunyai julukan Sin-kun Lo-wan (Monyet tua bertangan sakti). Perwira ini adalah seorang perwira kota raja yang mempunyai kedudukan tinggi dan ia menduduki tingkat kelima dari para panglima kaisar. Maka ilmu silatnya sudah tinggi sekali.

Dulu ketika Kui Hong Sian suka datang ke kota raja dan membikin kacau, perwira yang bernama Kwee Houw inipun pernah ikut mengepung. Oleh karena itu ia masih dapat mengenal muka Thian-te Lo-mo. Tentu saja ia menjadi marah sekali ketika kedua orang itu begitu bertemu telah menggodanya dengan hina-hinaan.

“Thian-te Lo-mo! Kau telah membuat kedosaan besar ketika dulu mengacau ke kota raja. Akan tetapi setelah kau mengundurkan diri, dosamu dilupakan orang. Tidak tahunya kau makin menjadi gila dan berani main-main mengganggu pangeran Lu Goan Ong dan mencuri cap kebesarannya. Mengingat bahwa kau adalah seorang tua berotak miring, maka kalau kau mau mengembalikan cap pangkat itu kepadaku, aku akan menghabiskan perkara sampai di sini saja. Akan tetapi kalau kau hendak tetap menggila, kau pasti akan menemui bencana. Karena bukan aku saja yang akan menghadapimu, akan tetapi seluruh perwira kerajaan!”

Pidato perwira ini agaknya sama sekali tidak menarik perhatian Thian-te Lo-mo karena sambil menekan- nekan perutnya yang kempis tipis, ia menyeringai dan berkata, “Aduh, perutku sudah lapar! Eh, bocah gendeng, ke mana perginya ikan-ikan panggang itu?” tiba-tiba ia berpaling kepada Tiong San yang menjadi celangap!

“Suhu, bukankah ikan-ikan itu kini telah berenang di dalam perut kita?” jawabnya sambil tersenyum- senyum juga.

“Kurang ajar! Kau sudah makan habis ikan-ikan itu?”

“Bukan teecu sendiri, akan tetapi bersama suhu!” Tiong San memperingatkan.

Bukan main marahnya Kwee Houw ketika melihat betapa kata-katanya tadi sama sekali tidak dihiraukan oleh orang gila itu.

“Thian-te Lo-mo, kembalikan cap pangkat pangeran Lu Goan Ong kepadaku!” katanya sambil mencabut keluar senjatanya, yakni sepasang siang-kek atau sepasang tombak bercabang yang pendek dan runcing.

Tiba-tiba Thian-te Lo-mo berpaling kepadanya. “Monyet tua, apakah kau membawa makanan? Perutku lapar sekali!”

Perwira tua itu hendak menyerang karena tidak dapat menahan marahnya lagi. Akan tetapi seorang kawannya, perwira yang lebih muda berkata perlahan, “Kwee-ciangkun, sukar berurusan dengan seorang yang miring otaknya.” Ia memang agak merasa gentar juga terhadap orang gila ini karena nama Thian-te Lo-mo memang nama yang amat ditakuti oleh orang-orang kang-ouw. Ia lalu mengeluarkan bungkusan roti kering dan memberikan roti itu kepada Thian-te Lo-mo sambil berkata,

“Kakek yang baik, ini rotiku boleh kau ambil. Akan tetapi harus ditukar dengan cap pangkat pangeran Lu Goan Ong!”

Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tahu-tahu bungkusan roti itu telah berada di tangan Thian-te Lo- mo! Perwira itu tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia hanya melihat orang gila itu mengulurkan tangannya dan tahu-tahu bungkusan telah terampas dan berpindah tangan!

“Ha ha, roti kering, makanan anjing!” kata Thian-te Lo-mo sambil tertawa, lalu mengambil sepotong roti dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia memandang kepada Tiong San dan bertanya, “Eh, anak gendeng, apakah kau juga suka makanan anjing istana?”

“Kalau suhu suka, teecu tentu suka pula,” jawabnya.

Kembali Thian-te Lo-mo tertawa. “Lihat, monyet tua, bukankah muridku ini lucu sekali!” Ia memberi beberapa potong roti kepada Tiong San yang lalu menerima dan memakannya. Roti itu memang enak, patut dibawa dan dijadikan bekal oleh perwira-perwira kerajaan.

Thian-te Lo-mo, mana cap pangkat itu?” tanya si perwira muda yang merasa penasaran dan cemas juga karena kakek itu makan rotinya tanpa mengembalikan cap yang dimintanya. Akan tetapi Thian-te Lo-mo seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan setelah roti itu dengan cepat habis dimakannya, lalu ia bertanya lagi,

“Masih adakah rotinya? Kalau tidak ada, keluarkan arakmu, aku ingin sekali minum arak!”

“Orang gila kurang ajar!” Kwee Houw yang sudah tak dapat menahan sabarnya lalu menyerang dengan siang-kek. Gerakannya gesit dan cepat ketika siang-kek di tangan kanannya menusuk dada Thian-te Lo- mo dengan gerak tipu Macan hitam menyambar hati.

Melihat betapa suhunya diserang, Tiong San menjadi takut dan segera berseru kepada suhunya yang masih enak-enak berdiri tanpa memandang kepada penyerangnya, “Suhu, awas!”

Akan tetapi, ketika ujung tombak bercagak itu telah dekat dengan dada Thian-te Lo-mo, tiba-tiba kakek itu tertawa mengejek dan tubuhnya telah lenyap dari depan Kwee Houw. Ketika Kwee Houw cepat memutar tubuh, ternyata kakek itu telah berada di dekat perwira muda yang tadi memberi roti kepadanya dan begitu ia mengulur tangannya, buntalan besar di punggung perwira itu telah dapat direnggutnya dan kini berada di tangannya.

Sambil tertawa-tawa Thian-te Lo-mo membuka bungkusan dan keluarlah seguci arak yang menjadi bekal perwira itu. Ia melemparkan bungkusan tadi kepada perwira yang menyambutnya dengan melongo, lalu minum arak itu langsung dari guci!

Bukan main marahnya Kwee Houw melihat hal ini. Ia merasa dipermainkan oleh orang gila itu. Maka ia segera melompat dan menerjang lagi dengan siang-keknya. Juga dua orang kawannya telah mencabut golok masing-masing dan kini maju mengeroyok.

Tiong San merasa khawatir sekali melihat keadaan suhunya karena orang tua itu agaknya tidak melihat betapa tiga orang perwira sedang menerjang dan menyerangnya. Karena ia masih enak-enak menuangkan isi guci ke dalam mulutnya sambil mendongakkan kepalanya!

Akan tetapi, sungguh mengherankan, ketika ketiga senjata lawan itu telah hampir mengenai tubuhnya, tanpa menunda minumnya, orang gila itu menggeser kedua kakinya dengan amat indah dan cepatnya telah bergerak dengan gerakan Jiauw-pouw-poan-soan atau Tindakan Kaki Berputar-putar sesuai dengan Toa-su-siang-hong-wi (Kedudukan Empat Penjuru).

Dan karena menghadapi tiga orang penyerang dari tiga jurusan atau tiga penjuru, maka ia selalu dapat bergerak ke arah penjuru ke empat atau ke tempat yang kosong hingga betapapun juga ketiga orang lawannya menyerang, ia dapat meloloskan diri dengan menduduki tempat atau penjuru ke empat yang kosong.

Sementara itu, ia masih saja minum arak yang mengeluarkan suara menggelogok di tenggorokannya. Setelah puas minum arak, Thian-te Lo-mo lalu melompat ke dekat muridnya dan memberikan guci itu kepada Tiong San. “Kau minumlah, air keruh ini lumayan juga!”

Tiong San tadi bengong dengan perasaan kagum sekali melihat betapa suhunya sambil minum arak dapat menghindarkan diri dari kepungan tiga orang perwira itu. Maka kini dengan girang dan tersenyum ia menerima guci itu dan minum dengan lagak seperti suhunya tadi, yakni tangan kanan memegang guci yang dituangkan ke mulut sedangkan tangan kiri bertolak pinggang dan mendongakkan kepala.

Akan tetapi diam-diam ia berpikir bagaimana caranya dapat mengelakkan serangan-serangan orang dalam kedudukan seperti itu! Memang kedua kaki mudah saja digerakkan, akan tetapi tanpa melihat musuh, bagaimana suhunya dapat mengelak secara sebegitu sempurnanya?

Ia hanya minum beberapa teguk oleh karena arak itu ternyata keras sekali. Maka ia segera menurunkan guci itu dan kembali memandang ke arah gurunya yang telah dikurung pula! Kini ia melihat hal yang lebih mengagumkannya lagi.

Tiga orang perwira itu yang merasa amat marah dan penasaran, telah menggerakkan senjata mereka dalam penyerangan yang cepat dan ganas. Dua orang perwira muda menggerakkan golok mereka sedemikian cepatnya sehingga nampak dua sinar golok yang berkilauan menyerang suhunya dari depan, karena sepasang tombak ini bergerak-gerak tak menentu, dari bawah dan atas, kanan kiri dengan serangan-serangan maut.

Kini Thian-te Lo-mo tidak hanya mengelak sambil berputar-putar seperti tadi. Seperti seorang yang nampak gembira sekali ia tertawa terkekeh-kekeh sambil menggerakkan kedua lengannya. Jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya terbuka sedangkan jari-jari yang lain terkepal dan dengan dua jari tangan kanan kiri ini ia menghadapi senjata-senjata lawan.

Dengan jari-jari tangannya yang panjang dan kurus tak berdaging itu, ia menangkis serangan senjata setiap lawannya dengan kepretan-kepretan keras, dan selalu ia dapat mementalkan senjata pengeroyok dengan memukulkan jarinya pada punggung golok yang tidak tajam dan gagang tombak bercagak. Tiap kali ia menangkiskan jarinya pada senjata musuh, lawannya yang memegang senjata merasa betapa tangan mereka kesemutan karena dari jari tangan Thian-te Lo-mo keluar tenaga lweekang yang bukan main besarnya.

Tiong San yang menonton pertempuran itu merasa pening kepalanya karena gerakan empat orang itu, terutama suhunya, amat cepat sehingga seakan-akan yang bertempur bukan empat orang, akan tetapi banyak sekali! Betapapun juga, ia merasa amat khawatir karena suhunya hanya menggunakan jari tangan untuk menangkis senjata-senjata musuh. Apakah tangan suhunya takkan luka?

Agaknya Thian-te Lo-mo memang sengaja mempermainkan ketiga pengeroyoknya itu, karena tiba-tiba gerakan tubuhnya makin cepat ketika sambil tertawa ia berkata,

“Monyet tua dan monyet-monyet muda, sudahlah, aku sudah lelah!” begitu ia mengeluarkan ucapan ini, terdengar suara tang-ting-tong, dan dua golok beserta sepasang siang-kek itu terpental ke tengah udara dan tubuh Thian-te Lo-mo melayang ke arah muridnya.

“Ayoh kita kabur!” katanya sambil menangkap lengan kanan Tiong San. “Suhu, cap itu kembalikan saja! Untuk apakah cap macam itu bagi kita?”

Thian-te Lo-mo tertawa gelak-gelak. Lalu merogoh saku baju di antara baju kutangnya yang tinggal sedikit itu, dan mengeluarkan sebuah cap yang dulu dicurinya ketika ia mengacau di atas perahu pangeran Lu Goan Ong. Ia melambaikan tangannya kepada Kwee Houw dan berkata,

“Monyet tua, ke sinilah kau dan terimalah kembali cap busuk ini!” Biarpun tadi merasa kaget dan marah karena dikalahkan, akan tetapi melihat orang gila itu benar-benar hendak mengembalikan cap pangeran Lu Goan Ong, perwira itu merasa girang sekali. Kalau ia berhasil mendapatkan kembali cap yang hilang tentu ia akan menerima banyak hadiah dan mungkin kenaikan pangkat dari pangeran Lu yang berpengaruh! Maka ia segera melangkah lebar menghampiri Thian-te Lo- mo.

“Thian-te Lo-mo, kau sungguh baik, terima kasih,” katanya mengulurkan tangan. Thian-te Lo-mo memberikan cap itu dan melepaskan di tangannya Kwee Houw. Akan tetapi ketika perwira ini memandang, ternyata bahwa cap itu telah ditekan oleh tangan Iblis Tua Langit Bumi itu dan menjadi pecah berantakan!

Setelah memberikan cap yang dirusaknya itu, Thian-te Lo-mo lalu menarik tangan muridnya, dan lari bagaikan terbang! Tiong San merasa betapa ia ditarik cepat sekali sehingga kedua kakinya tidak menginjak bumi.

Biarpun cap itu telah pecah-pecah, akan tetapi Kwee Houw merasa lega. Karena rusaknya cap tidak menjadi soal besar. Bagi seorang berpangkat, pada dewasa itu, cap merupakan benda yang bernilai besar bagaikan ajimat. Dengan cap ini, seorang pembesar memberi tanda-tanda kepada semua surat-surat dan cap merupakan lambang kebesaran. Apabila cap itu dirusak, dapat dibuat yang baru, akan tetapi kalau sampai hilang dan terjatuh ke dalam tangan orang lain, maka orang lain akan dapat mempergunakan cap itu untuk memalsu dan merusak nama baik.

Oleh karena ini, maka cap dijaga amat tertib dan keras oleh setiap pemiliknya sehingga ketika Thian-te Lo- mo mencuri cap pangeran Lu Goan Ong, pangeran ini merasa gelisah dan tak sedap makan tak nyenyak tidur sehingga ia mengerahkan seluruh perwira untuk mencari dan mendapatkan kembali cap itu!

Thian-te Lo-mo membawa muridnya kembali ke Shan-tung, dan di sepanjang jalan, Tiong San makin mengenal tabiat dan watak suhunya yang benar-benar aneh. Pada umumnya, suhunya ini berwatak gila- gilaan, dan suka sekali menggoda orang dengan perbuatan-perbuatan yang seperti perbuatan anak kecil. Dan tiap kali bertemu dengan orang yang berlaku sewenang-wenang atau penjahat, tentu ia tidak lupa untuk menghadiahkan sekali cambukan pada muka atau tubuhnya.

Akan tetapi, adakalanya suhunya bicara seperti seorang yang waras dan berpandangan luas sekali terutama pada waktu mengajar silat kepadanya. Sungguhpun di luar tahunya, Thian-te Lo-mo mengajar silat dengan cara yang amat luar biasa dan jauh berbeda dengan ahli-ahli silat lainnya kalau mengajar silat.

Selama perjalanan yang memakan waktu hampir sebulan menuju ke propinsi Shan-tung itu, Tiong San dengan gembira dan kagum dapat mengetahui bahwa pada hakekatnya Thian-te Lo-mo mempunyai sifat pendekar yang budiman dan gemar menolong orang.

Hanya cara-caranya saja yang luar biasa sekali dan mirip perbuatan orang gila. Kalau gurunya sedang kumat gilanya, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa suhunya memang benar-benar mempunyai penyakit otak miring. Akan tetapi kalau suhunya sedang waras, ia merasa seakan-akan berhadapan dengan seorang berhati suci yang sakti.

Setelah mereka tiba di sebelah barat propinsi Shan-tung, suhunya lalu menggendongnya dan secepat burung terbang orang tua itu mendaki gunung Tai-san sambil berlari-lari. Mereka tiba di sebelah guha yang menjadi tempat tinggal Thian-te Lo-mo bertahun-tahun bertapa dan mengasingkan diri.

Mulailah kakek ini melatih Tiong San dengan dasar-dasar silat tinggi, dan terutama melatih lweekang dan ginkang. Dalam latihan mengatur jalan darah di tubuh, Thian-te Lo-mo mempunyai cara-cara istimewa sekali yang membuat Tiong San mula-mula merasa menderita sekali.

Kakek itu dengan ringannya melompat ke atas cabang sebatang pohon siong, lalu menyuruh muridnya menyusulnya. Tentu saja Tiong San tidak dapat melompat setinggi itu. Maka pemuda ini lalu memanjat pohon dan menyusul suhunya yang berdiri di atas cabang pohon.

“Kau tirulah perbuatanku ini!” kata Thian-te Lo-mo yang lalu menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan tubuh itu lalu bergantungan pada cabang oleh karena ia menggunakan kedua kakinya untuk dikaitkan kepada cabang tadi.

“Teecu tidak bisa, suhu.” “Cobalah!”

Dengan nekat Tiong San lalu meniru perbuatan suhunya akan tetapi tentu saja kakinya tidak kuat menahan tubuhnya hingga ia meluncur ke bawah dengan kepala lebih dulu! Pada saat kepalanya sudah hampir tertumbuk kepada batu di bawah pohon yang tentu akan membuat kepalanya pecah, tiba-tiba kakinya terpegang kuat-kuat dan dalam keadaan menggantung dengan kepala di bawah, tubuhnya lalu ditarik kembali ke atas!

Ternyata bahwa dalam keadaan menggantung tadi, Thian-te Lo-mo telah mempergunakan cambuknya yang panjang yang dilibatkan ke kaki muridnya itu dan kemudian menarik cambuknya itu ke atas. Ia membelitkan gagang cambuknya pada cabang dan membiarkan muridnya dalam keadaan seperti dia, yakni dengan tubuh tergantung pada cabang, kaki di atas dan kepala di bawah! Hanya bedanya, kalau ia menggantungkan diri dengan mempergunakan kedua kaki mencantol cabang, adalah Tiong San benar- benar tergantung pada tali cambuk.

Tiong San tidak tahu harus berbuat bagaimana dan karena ia tergantung dengan muka menghadap suhunya, maka ia lalu memandang dengan penuh perhatian.

“Atur napasmu baik-baik, perlahan-lahan masukkan hawa dari hidung sebanyak mungkin, dada kembangkan perut dikempiskan keluarkan napas perlahan lagi dari mulut, dada dikempiskan dan perut dikembangkan. Jangan pikir apa-apa, terus bernapas dengan baik dan teratur.”

Tiong San dengan taat melakukan petunjuk-petunjuk suhunya, lalu bertanya, “Setelah itu, bagaimana, suhu?”

Tadinya Thian-te Lo-mo meramkan matanya, lalu dibukanya setelah mendengar pertanyaan ini dan mejawab marah, “Anak gendeng, setelah itu tidurlah! Bukankah kita naik ke sini untuk tidur?”

Bukan main bingung hati Tiong San mendengar petunjuk itu dan kebingungan hatinya membuat ia tiba-tiba merasa pening sekali. Kepalanya berdenyut-denyut keras dan kedua telinganya mendengar suara melengking, seluruh tubuhnya merasa betapa darah dalam tubuhnya berdenyut-denyut keras. Karena tubuhnya menggantung dengan kepala di bawah.

Tentu saja aliran darah yang tidak sewajarnya itu membuat ia merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan kepalanya pening. Ia lalu mengeraskan hati membulatkan tekad. Biar sampai mati akan kupertahankan, pikirnya. Suhu berada dalam keadaan yang sama, kalau ia tidak mati, mustahil aku takkan kuat menahan pula!

Kekerasan hatinya banyak menolong, karena kepeningannya berangsur-angsur lenyap dan ia hanya merasa betapa denyutan di seluruh tubuh makin mengeras seakan-akan ia melihat dengan mata sendiri betapa darahnya mengalir cepat dengan kacau balau.

Ketika ia memandang kepada suhunya, ternyata Thian-te Lo-mo telah meramkan matanya pula dan ia mendengar betapa suhunya telah mendengkur! Ia coba untuk meramkan matanya. Akan tetapi begitu matanya ditutup, ia melihat cahaya merah darah memenuhi pandangan matanya yang tertutup. Jangankan disuruh tidur mendengkur seperti suhunya, bahkan baru menutup matanya sebentar saja, kepeningan kepalanya muncul kembali.

Pengalaman pertama kali ini sungguh-sungguh hebat dan Tiong San menderita sekali. Ia menguatkan tubuh dan hatinya, akan tetapi oleh karena ia merasa tak enak sekali dan perutnya terasa kosong dengan jantung dan isi perut bergantungan di dalam rongga perutnya, telinganya serasa menjadi pekak karena suara melengking dan kedua kakinya yang terlibat ujung cambuk serasa mati kaku, tak lama kemudian ia menjadi pingsan dalam keadaan tergantung!

Ketika ia siuman kembali, ia telah berada di bawah, berbaring di dalam guha dan suhunya duduk bersila di dekatnya. Ia bangun dan duduk. Suhunya membuka mata dan tertawa girang. “Ha ha, kau bergantungan seperti ikan asin dijemur!”

Tiong San juga menyeringai dan berkata, “Suhu, apakah teecu belum mati?” “Ha ha ha! Dengan latihan seperti itu, kematian akan takut menghampiri kau!”

Kakek gila ini lalu memberi latihan-latihan samadhi kepada muridnya yang harus dilakukan pada saat itu juga. Semua latihan itu dilakukan dengan taat sekali oleh Tiong San sehingga gurunya menjadi makin girang.

Demikianlah, pemuda sasterawan yang tadinya hanya mengenal syair-syair kuno, sejarah-sejarah orang cerdik pandai dan membuat tulisan indah itu, kini tekun dan rajin belajar ilmu yang jauh berlainan dengan ilmu yang dipelajarinya semenjak kecil. Dan ganjilnya, biarpun ia dilatih oleh seorang yang ia tahu tidak waras otaknya, ia merasa gembira dan mempelajari semua latihan dengan giat.

Beberapa bulan kemudian, ia telah sanggup untuk melakukan latihan menggantung tanpa diikat kakinya, akan tetapi langsung menggunakan kedua kaki dikaitkan pada cabang pohon seperti suhunya! Kini ia tak pernah mendapat gangguan pening lagi karena ia telah dapat menguasai jalan darahnya. Bahkan dalam keadaan seperti itu ia mulai dapat tidur layap-layap dengan nikmatnya.

Setahun kemudian, setelah Tiong San dapat menguasai ilmu lweekang dan ginkang sehingga ia dapat melompat ke atas cabang dari bawah tanah bagaikan seekor burung walet terbang, suhunya mulai mengajar memainkan cambuk. Secara langsung Thian-te Lo-mo menurunkan ilmu silat cambuk yang tiada duanya di dunia ini, yang hanya dapat dimainkan olehnya sendiri, yakni ilmu cambuk Im-yang-joan-pian (Cambuk lemas Im-yang) yang luar biasa hebatnya itu!

Mula-mula Tiong San mempelajari cambuk yang pendek saja dan yang harus ia gerakkan dengan lweekang sehingga cambuk pendek itu bisa menjadi lemas atau kaku menurut aliran tenaganya dan digunakan sesuai dengan keadaan. Kemudian, ia mulai mendapat pelajaran Im-yang-joan-pian yang amat sulit gerakannya. Cambuk yang panjangnya sampai dua tombak itu dapat dimainkan sesuka hatinya, dapat membetot, membelit, menangkis, menotok jalan darah, dan merampas senjata lawan. Juga, cambuk ini dapat digunakan setengah atau seperempatnya saja, hingga dapat digunakan sesuka hati pemainnya, mau panjang atau pendek hanya tinggal mengatur cara memegangnya saja!

Ternyata oleh Tiong San bahwa selain lihai ilmu silatnya, Thian-te Lo-mo biarpun tidak pandai ilmu kesusasteraan, namun amat gemar akan syair-syair indah. Itulah sebabnya maka ia dulu mencuri tiga kipas dia, Khu Sin dan Thio Swie! Dan karena kesukaannya akan syair ini pula yang membuat si gila ini tertarik kepadanya setelah membaca syairnya tentang orang gila dan mengambilnya sebagai murid!

Setelah kini ia tinggal bersama suhunya di guha yang liar dan yang tak pernah dikunjungi manusia lain itu, suhunya setiap hari menyuruh ia membuat syair yang harus diukir di dinding guha hingga setelah ia belajar selama tiga tahun, dinding guha itu penuh dengan ukiran-ukiran syair yang indah-indah.

Setelah belajar selama tiga tahun, Tiong San telah dapat memainkan Im-yang-joan-pian hampir sempurna. Ilmu ginkang dan lweekang yang dilatih secara aneh dan gila-gilaan itu ternyata mendatangkan hasil yang istimewa dan tingkat yang diperolehnya selama tiga tahun itu tidak kalah oleh hasil yang dicapai oleh seorang ahli silat yang telah melatih diri dengan cara biasa selama belasan tahun.

Akan tetapi, oleh karena selama tiga tahun ia tidak pernah bertemu dengan manusia lain kecuali gurunya yang mempunyai watak luar biasa, maka sifat-sifat yang aneh dari suhunya juga menular kepadanya. Dengan ucapan-ucapan aneh dan gerak tubuh seperti orang gila agaknya guru dan murid ini dapat mengenal masing-masing lebih erat dan baik lagi.

Untuk melatih kepandaian yang dipelajarinya selama itu, Tiong San diberi sebuah kitab catatan yang corat- coret tidak keruan, akan tetapi sebenarnya mengandung pelajaran inti sari ilmu silat yang dilatihnya karena kitab yang ditulis oleh suhunya itu adalah catatan yang mengandung Kauw-koat (teori silat) dari seluruh kepandaian Thian-te Lo-mo.

Orang lain yang belum pernah mendapat didikan langsung dari Thian-te Lo-mo, kalau mempelajari kitab itu akan merasa pusing dan sedikitpun takkan mengerti. Akan tetapi bagi Tiong San, kitab itu merupakan penuntun dan petunjuk yang amat penting dan dengan pertolongan kitab ini pemuda itu dapat mempelajari ilmu silat pemberian suhunya dengan sempurna.