-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-03 : Iblis Tua Langit Bumi

Bab-03 : Iblis Tua Langit Bumi

IA duduk terus menanti dengan penuh harapan sambil menikmati keindahan pemandangan di malam itu. Ternyata bahwa pada malam hari, ditimpa cahaya bulan yang hampir bundar, pemandangan di situ benar- benar merupakan soranga. Cahaya bulan membuat air telaga berwarna kuning keemasan dan bulan sendiri tenggelam di dasar telaga, bergoyang-goyang kalau ada angin meniup permukaan air. Pohon- pohon nampak kebiru-biruan dan bunga nampak kekuning-kuningan, dan semua itu diliputi cahaya kemerahan dari sinar bulan yang amat menyejukkan hati.

Akan tetapi, hawa udara malam amat dinginnya sehingga Tiong San menggigil kedinginan. Betapapun juga, pemuda itu cukup memiliki kekerasan hati untuk diam dan tidak meninggalkan tempatnya semalam suntuk. Hatinya amat kecewa oleh karena pada malam hari itu ia tidak melihat bayangan seorangpun di pinggir telaga. Ia mulai ragu-ragu.

Dan ketika fajar mulai menyingsing, matahari menggantikan tugas bulan menerangi permukaan telaga Tai- hu dan para pemilik perahu berangsur-angsur muncul di pinggir telaga. Kekecewaan hati Tiong San membuat ia merasa lemas sekali. Ia tidak bisa tidur semalam penuh dan kini merasa mengantuk sekali. Ketika ia masuk ke dalam kelompok pohon dan memilih tempat yang sunyi agak jauh dari telaga, ia lalu membaringkan diri di bawah sebatang pohon dan segera tertidur nyenyak saking lelahnya!

Ketika ia terjaga, hari sudah siang dan ia merasa lapar sekali maka ditinggalkannya tempat itu dan ia membeli makanan sederhana untuk mengisi perutnya. Ia lalu berjalan-jalan mengelilingi telaga sambil mencari-cari kalau ia akan melihat orang gila yang ditunggu-tunggu. Akan tetapi ia tidak melihat bayangan orang yang dicarinya sehingga ia makin menjadi gelisah. Apakah ia datang jauh-jauh dengan sia-sia belaka?

Malam hari kedua kembali ia berjaga sampai pagi dan tidak melihat siapa-siapa. Hatinya makin sedih dan diam-diam ia memaki diri sendiri. Mengapa ia begitu bodoh menuruti tulisan kacau balau seorang yang tidak waras otaknya? Seorang gila telah mempermainkannya dan ia menuruti saja, berlaku seolah-olah ia sendiri juga gila! Apakah aku benar-benar telah mulai miring otakku?

Demikianlah Tiong San berpikir dan menurutkan hatinya yang panas, ingin segera pulang meninggalkan tempat yang mengesalkan hatinya itu, untuk menumpahkan seluruh isi hatinya yang sedih itu dihadapan ibunya yang tentu akan pandai menghiburnya.

Akan tetapi, kekerasan hatinya membuat ia mengambil keputusan untuk menanti semalam lagi! Malam nanti barulah bulan akan muncul sepenuhnya, demikian pikirnya. Siapa tahu kalau-kalau orang gila itu akan muncul malam nanti, karena dalam syairnya juga disebutkan malam bulan purnama!

Uang bekalnya telah habis dan semenjak sore hari, ia belum makan sesuatu. Ia mengambil keputusan untuk bertahan semalam lagi dan apabila si gila itu tidak muncul pada malam hari ini, ia akan pulang pada keesokan harinya.

Malang baginya, baru saja hari berganti malam, udara menjadi gelap tertutup mendung tebal dan tak lama kemudian turunlah hujan bagai dituangkan dari atas! Semua orang yang tadinya hendak berpelesir di atas perahu di waktu malam bulan purnama terpaksa meninggalkan telaga dan perahu-perahu mereka. Kalau tidak ada hujan, banyak orang yang berada di perahu sampai semalam suntuk, menikmati pemandangan indah yang ditimbulkan oleh bulan purnama. Akan tetapi, langit gelap dan hujan turun, siapa yang mau menderita kehujanan dan kedinginan? Namun Tiong San tetap duduk berlindung di bawah pohon. Air hujan yang membocor dari sela-sela daun pohon telah membuat seluruh pakaian dan tubuhnya menjadi basah kuyup dan ia menggigil kedinginan, menderita luar dalam. Tubuhnya di bagian luar menderita dingin sedangkan di bagian dalam menderita lapar. Sungguh penderitaan hebat yang belum pernah ia alami! Biarlah, biar aku menanti sampai mati di sini sebelum fajar mendatang, pikirnya dengan tekad bulat.

Menjelang tengah malam, hujan berhenti. Langit menjadi bersih dan bulan muncul penuh, indah dan ayu berseri-seri, bagaikan wajah seorang puteri jelita mengintai dari jendela, segar dan gemilang seakan-akan wajah itu makin bersih dan segar setelah dicuci oleh air hujan tadi.

Suara kodok yang bersembunyi di bawah alang-alang di pinggir telaga, menimbulkan lagu yang berirama, yang terdengar riang bagi mereka yang sedang bergembira, akan tetapi terdengar memilukan hati bagi mereka yang sedang berduka. Bagi telinga Tiong San, suara nyanyian kodok-kodok terdengar tidak keruan, oleh karena semangatnya telah menjadi lemah akibat kelelahan, kedinginan dan kelaparan.

Pada saat ia sedang duduk menggigil di bawah pohon, tiba-tiba permukaan air yang tadinya tenang itu menjadi bergerak-gerak dan terdengar suara air terpukul dan suara orang membentak-bentak marah.

“Nah, kau mau lari ke mana sekarang? Huh, ini yang besar, telah tertangkap. Ah, akan kunikmati dagingmu. Ha ha ha!”

Tiong San tersentak bangun dari lamunannya dan segera berdiri. Ia sendiri merasa heran mengapa tiba- tiba ia menjadi begitu kuat dan segar. Ia melihat ke arah suara itu dan ternyata seorang sedang berenang ke sana ke mari menangkap-nangkap ikan dengan amat mudahnya!

Tangan kiri orang itu membawa tiga ekor ikan besar, sedangkan tangan kanannya masih juga menguber- uber ikan. Bahkan pada mulutnya nampak seekor ikan yang tergigit dan ikan itu masih hidup, bergerak- gerak dan ekornya memukul-mukul hidungnya. Agaknya ikan yang tertangkap paling akhir itulah yang kini digigitnya.

Tiong San tidak dapat melihat tegas wajah itu dan ia berdebar. Bagaimana kalau penangkap ikan itu bukan orang gila yang ia tunggu-tunggu? Akan tetapi, kalau orang lain, bagaimana ia bisa dengan tiba-tiba saja berada di air tanpa diketahui masuknya dan bagaimana ia bisa menangkap-nangkapi ikan seakan-akan ikan itu menyerah begitu saja pada tangannya?

Tiong San lalu melangkah maju sampai ke dekat telaga dan setelah berada dekat dengan orang yang bermain-main dengan ikan-ikan di air itu, ia menjadi girang sekali. Tak salah lagi, rambut yang panjang dan terapung-apung di atas air seperti rambut seorang wanita itu membuktikan bahwa orang ini memang benar orang gila yang ditunggu-tunggunya!

“Locianpwe (orang tua gagah)!” Tiong San memanggil ke arah orang itu. Akan tetapi yang dipanggilnya tidak meladeninya, bahkan makin gembira, tertawa terbahak-bahak sambil mengejar seekor ikan sisik kuning.

“Emas ..... emas.....! Ha, aku ingin emas pada sisikmu itu!” Ikan bersisik kuning emas itu berenang cepat melarikan diri. Akan tetapi tangan kanan orang itu lebih cepat lagi dan sebentar saja ia telah dapat menangkap ikan itu, diangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menjepit ikan itu pada bawah lengan kirinya karena tangan kiri sudah penuh ikan. Lalu ia menggunakan tangan kanan untuk mencabut beberapa sisik ikan itu lalu diletakkannya di atas kepalanya bagai penghias rambut.

“Bagus, bagus.... aku memakai emas    ha ha ha!”

“Locianpwe ....!” Tiong San memanggil lagi lalu mengulang panggilannya sampai berkali-kali. Akan tetapi orang itu sama sekali tak menghiraukannya. Kemudian pemuda itu teringat bahwa orang ini biarpun berkepandaian tinggi, akan tetapi mungkin memang benar-benar miring otaknya hingga tidak mau disebut locianpwe, maka ia berseru lagi keras-keras,

“Eh, kakek gila    !”

Benar saja kali ini si gila itu menengok dan ketika melihat Tiong San berdiri di pinggir telaga, ia lalu berkata sambil tertawa, “Ha ha ha, kau anak gendeng sudah berada di situ? Ayo, kau bantu aku menangkap daging ikan yang lezat!” sambil berkata demikian, ia mengambil ikan yang tadi digigitnya dan dengan hati ngeri Tiong San melihat betapa ikan itu telah kehilangan ekornya, agaknya sudah masuk ke dalam perut orang itu.

“Kau tidak lekas-lekas melompat turun?” orang gila itu berteriak dan suaranya terdengar marah. Aneh sekali, Tiong San ketika mendengar suara ini, merasa betapa suara itu amat berpengaruh yang mengharuskan ia menuruti perintah, maka tanpa memperdulikan sesuatu lagi, ia lalu melompat dan mencebur ke dalam telaga!

Biarpun bukan seorang ahli berenang, akan tetapi oleh karena di dalam kampungnya terdapat anak sungai di mana ia mandi dengan kawan-kawannya ketika kecil, Tiong San cukup dapat menguasai kaki tangannya yang digerakkan untuk menjaga dirinya supaya tidak tenggelam.

“Ha ha, bagus! Tangkap ikan itu!”

“Mana?” tanya Tiong San sambil memandang ke sekelilingnya yang hanya air belaka. “Itu! Dia berenang di dekat kakimu! Ah ia berenang jauh, dasar kau tolol!”

Orang tua itu menangkap seekor ikan lagi dan berkali-kali memberi tahu kepada Tiong San akan adanya ikan di dekatnya yang sama sekali tidak terlihat oleh Tiong San. Sebetulnya andaikata pemuda itu dapat melihat ikan yang berada di dekatnya, tetap ia takkan dapat menangkapnya. Jangankan disuruh menangkap ikan yang dapat berenang amat cepatnya dan mempunyai tubuh yang sangat licin, sedang untuk menjaga diri jangan sampai tenggelam saja sudah merupakan pekerjaan yang amat berat baginya.

Sampai lama si gila itu bermain-main di air dan Tiong San mulai tidak tahan lagi. Tubuhnya memang sudah lemas dan lapar, maka kini karena berada di dalam air, ia menggigil kedinginan dan hampir tak kuasa menggerakkan kaki tangannya lagi.

“Aku .... aku dingin ” katanya dengan bibir gemetar dan muka berwarna biru.

Orang gila itu memandangnya dan tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh seakan-akan merasa amat geli hatinya. “Kau kau seperti mayat hidup! Ha ha ha! Alangkah lucunya! Kalau tidak bisa menangkap ikan, mengapa

masuk ke dalam air? Benar tolol!”

“Kau yang suruh aku turun!” jawab Tiong San yang merasa mendongkol juga. “Aku? Ha ha ha! Aku suruh kau membantu tangkap ikan, bukan suruh kau mandi.” “Siapa yang mandi?”

“Kau lapar! Ya, kau lapar, kudengar perutmu berkeruyuk. Ha ha ha!”

Mendengar perkataan yang tidak keruan arahnya ini, Tiong San makin merasa yakin bahwa orang ini benar-benar gila. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendengar suara perutnya yang berkeruyuk? Ia memang merasa betapa perutnya menggeliat-geliat, akan tetapi telinganya sendiripun tidak mendengar suara keruyukan perutnya.

“Aku dingin ”

“Lapar! Bantah kakek itu.

“Tidak, dingin!” Tiong San berkeras karena merasa malu mengaku lapar.

“Lapar, lapar, lapar!” kakek itu berteriak berulang-ulang dengan marah seperti laku seorang anak kecil bertengkar dengan kawannya. Tiba-tiba Tiong San merasa geli sekali melihat hal yang dianggapnya amat lucu ini. Ia teringat betapa dulu ketika kecilnya, ia sering bertengkar dengan Thio Swie tentang sesuatu dan sikap kakek gila ini sama dengan Thio Swie di waktu kecil.

“Baiklah,” katanya kemudian. “Aku memang lapar.”

Si gila tertawa bergelak-gelak, “Ha ha ha! Kau dingin!” “Aku lapar!”

“Dingin, dingin, dingin!” lagi-lagi kakek itu berteriak-teriak sehingga Tiong San merasa bohwat (kehilangan akal) dan terpaksa pula ia mengangguk-anggukkan kepala. “Memang aku dingin dan lapar.”

“Kau memang bodoh, anak gila yang bodoh. Makanan sudah tersedia, mengapa masih menderita kelaparan?”

“Makanan? Mana?”

“Ikan-ikan itu, bukankah tinggal ambil saja?” “Aku tak dapat menangkapnya.”

“Hm, memang kau bodoh. Nah, ini makanlah!” sambil berkata demikian si gila menyodorkan seekor ikan besar yang masih bergerak-gerak karena belum mati kepada Tiong San. Pemuda itu menerimanya dan harus mempergunakan kedua tangannya untuk memegang erat-erat karena ikan itu meronta-ronta. Karena kedua tangannya memegang ikan, maka tubuhnya lalu tenggelam.

Tiong San mendengar suara orang gila itu menertawakan, maka ia menggertakkan gigi dan menggerakkan kedua kakinya hingga tubuhnya mumbul lagi ke permukaan air. Selanjutnya ia menggerak-gerakkan kedua kakinya seperti orang berlari hingga tubuhnya tetap terapung dan tidak tenggelam.

“Lekas makan!” kata si gila.

“Apa! Makan apa? Ikan ini harus dimasak dulu!”

“Gila dan tolol! Makanan enak-enak akan dirusak pula! Kau makanlah, ikan ini enak sekali apabila belum mati. Masih segar darahnya!” Setelah berkata demikian, orang gila itu menggeragoti seekor ikan yang dipegangnya. Ikan itu meronta-ronta, akan tetapi tidak kuasa melawan gigi orang gila yang telah membenamkan giginya pada perut ikan dan sekali ia menggeragot, daging perut telah terbawa pada mulutnya yang lalu dikunyahnya dengan enaknya!

Tiong San menjadi pening kepalanya melihat hal ini. Kengerian terbayang pada matanya. “Ayo, makan ikanmu!” si gila kembali mendesak.

Tentu saja Tiong San tidak mau menurut perintahnya, dan tiba-tiba pemuda ini timbul sebuah pikiran. Ia maklum akan kesaktian orang gila ini dan ingin sekali menjadi muridnya untuk memiliki ilmu kepandaian yang hebat itu, maka ia lalu berkata.

“Aku mau menurut perintahmu asal kau mengambil murid padaku!”

Orang gila itu kembali bergelak tertawa. “Mengapa harus mengambil murid?”

“Karena hanya seorang muridlah yang harus tunduk kepada gurunya. Kalau kau tidak mau mengambil murid kepadaku, aku takkan sudi menjalankan peintahmu!”

“Ha ha ha! Semenjak melihatmu, aku memang suka kepadamu, karena kau tidak seperti orang-orang gila yang lain. Baiklah, kau kuterima menjadi muridku. Nah, makanlah ikanmu!”

Tiong San merasa girang sekali, akan tetapi juga gelisah. Bagaimana ia dapat makan daging ikan yang mentah, bahkan ikan yang masih hidup segar dan berkelonjotan di tangannya? Akan tetapi, ia tahu bahwa orang gila itu aneh sekali pikirannya dan kalau ia menolak atau tidak mentaati perintahnya, tentu akan menjadi marah dan akan sia-sialah maksudnya berguru.

Maka sambil meramkan mata ia lalu membuka mulut dan menggigit perut ikan yang dipegangnya! Ikan itu meronta keras sekali dan telinga Tiong San seakan-akan mendengar pekik kesakitan dari ikan itu, maka ia urungkan maksudnya dan membelalakkan mata dengan penuh kengerian.

Hampir saja ia melepaskan ikan itu dari pegangannya. Akan tetapi ia bertemu pandang dengan si gila yang kini telah menjadi gurunya, dan sepasang mata orang itu berputar-putar liar hingga ia takut sekali. Dengan cepat ia lalu menggigit lagi dan kini ia betul-betul menggigit hingga terasa darah ikan yang asin dan agak manis itu pada lidahnya. Ia telah berhasil menggeragot sepotong daging yang terus dikunyahnya tanpa berani memandang kepada ikan yang masih meronta-ronta di tangannya!

Orang gila itu tertawa terbahak-bahak. “Gila! Gila dan bodoh! Mengapa ikan hidup dimakan?”

Panas sekali hati Tiong San mendengar ini, akan tetapi karena ia ingat bahwa orang itu memang gila, maka ia menjadi sabar kembali.

“Ayo, ikut aku naik!” kata pula si gila dan entah bagaimana caranya bergerak, biarpun tubuhnya masih lurus seperti orang berdiri di dalam air, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya dapat bergerak maju dengan amat cepatnya. Tiong San lalu berenang ke pinggir dengan tubuh lemas dan napas tersengal-sengal. Ia dapat mencapai pinggir telaga, akan tetapi tidak dapat naik karena pinggir telaga itu tingginya lebih dari satu tombak. Si gila tadi dengan mudahnya menggerakkan tubuh dan tahu-tahu tubuhnya telah melompat ke darat tanpa memperdulikan Tiong San.

“Suhu .... tolong teecu (murid) naik ....!” Tiong San berseru karena ia benar-benar telah tidak kuat lagi. Kedua kakinya telah menjadi kaku kedinginan dan sukar digerakkan lagi hingga beberapa kali ia telah tenggelam dan minum air telaga secara terpaksa.

Kepala orang gila itu muncul di atasnya dan tiba-tiba si gila itu menggerakkan cambuknya yang tadi digulung dan berada di pinggangnya. Cambuk ini panjang sekali dan tahu-tahu cambuk itu telah menyambar air di pinggir tubuh Tiong San dan telah melibat perutnya. Tiong San tidak tahu bagaimana hal itu dapat terjadi, akan tetapi ia merasa seakan-akan pinggangnya ada yang memegang dan tahu-tahu tubuhnya melayang ke atas dan ia terlempar ke darat dengan selamat, dalam keadaan berdiri.

Segera ia menjatuhkan diri berlutut di depan orang gila itu. “Suhu, teecu menghaturkan terima kasih bahwa suhu telah sudi menerima teecu sebagai murid.”

“Ha ha ha! Orang gila memang aneh kelakuannya. Aku belum mati mengapa kausembah-sembah? Ayo, lekas panggang ikan itu, aku ingin makan daging panggang. Kau muridku, bukan? Maka kau harus menurut segala perintahku. Panggang ikan itu baik-baik!” Setelah berkata demikian, si gila itu lalu melompat-lompat dengan girang sambil tertawa-tawa dan tak lama kemudian terdengar mendengkur karena ia telah tertidur di bawah sebatang pohon dengan tubuh masih basah kuyup.

Tiong San lalu mengambil kayu kering dan membuat api dengan susah karena tangannya yang lemah itu sukar sekali menyalakan api dengan menggosok. Akhirnya ia mendapatkan batu karang yang keras dan ketika ia menggosok batu-batu itu, ternyata bahwa batu itu adalah batu api yang mudah mengeluarkan api.

Ia menjadi girang sekali dan sebentar saja di tempat itu nampak api unggun menyala dan Tiong San merasa betapa hangat dan enaknya duduk memanggang ikan di dekat api yang panas itu pada saat tubuhnya sedang menderita kedinginan. Akan tetapi, kehangatan tubuh ini menimbulkan penderitaan baru, karena perutnya yang tadi tidak amat mengganggu ketika ia kedinginan, kini setelah tubuhnya hangat dan darahnya berjalan cepat, rasa lapar itu mengganggunya bukan main seakan-akan menggeragoti perutnya dari sebelah dalam. Belum pernah selama hidupnya Tiong San menderita kesengsaraan sehebat ini.

Sampai menjelang fajar suhunya masih belum bangun. Daging ikan sudah semenjak tadi matang dan api unggun terus ia nyalakan untuk mengusir dingin. Ia merasa lapar sekali, akan tetapi ia tidak berani mengganggu lima ekor ikan besar yang kini telah matang itu. Ia anggap kurang sopan kalau ia mendahului suhunya makan daging tadi, maka dengan mengeraskan hati ia menahan lapar dan menunggu dengan penuh kesabaran. Setelah fajar berganti pagi dan telaga itu mulai dikunjungi orang, barulah si gila itu bangun dari tidurnya dan segera mulai makan. Tiong San diam saja tidak ikut makan sampai si gila itu menghabiskan sebuah kepala ikan dan berkata,

“Ayo, makan!”

Ketika Tiong San baru saja makan dua gigitan, ia membentak, “Makan ya makan, tapi jangan banyak-banyak!”

Bukan main mendongkolnya hati Tiong San. Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya makan dengan gigitan sedikit-sedikit dan perlahan-lahan. Gurunya membentak lagi sambil melototkan matanya yang besar,

“Kok sedikit amat! Kau makan atau main-main? Ayo, makan yang banyak! Apa kaukira aku harus menghabiskan semua ikan ini?”

Di dalam hatinya Tiong San merasa mendongkol dan juga geli. Akan tetapi ia mulai biasa dengan adat suhunya yang gila-gilaan, maka ia segera makan dengan lahap sekali. Karena memang perutnya telah amat lapar hingga ikan itu terasa amat gurih dan enak. Dengan heran ia melihat betapa gurihnya hanya makan sedikit daging ikan itu.

Akan tetapi semua kepala dan tulang ikan yang keras itu dikunyahnya sampai berbunyi keletak-keletuk seperti anjing menggeragoti tulang! Tulang ikan yang runcing dan keras itu beradu dengan giginya dan ternyata tulang-tulang itu kena dikunyah hancur dan harus ditelan dengan enaknya! Karena suhunya hanya sedikit makan daging ikan, maka bagian Tiong San amat banyak hingga telah menghabiskan tiga ekor ikan, ia merasa kenyang sekali.

Akan tetapi ketika ia berhenti makan, suhunya berkata lagi, “Makan terus! Ikan-ikan ini harus dihabiskan, kalau tidak ia akan menangis!”

Saking herannya, walaupun tahu akan keanehan adat suhunya, Tiong San sampai menunda makannya dan mengurungkan daging yang sudah dibawa ke mulutnya. Ia memandang kepada suhunya dan bertanya,

“Apakah ikan bisa menangis, suhu? Apalagi ikan yang sudah dipanggang dan mati, dan mengapa pula ia menangis?”

Gurunya tertawa-tawa geli. “Anak gendeng! Tentu saja menangis! Kita sudah tangkap dia dan panggang tubuhnya di atas api. Setelah mereka ini menderita sedemikian hebatnya, apakah mereka tidak menjadi sedih kalau mereka disia-siakan dan tidak dimakan? Ayo, kita makan terus!”

Tiong San terpaksa menjejal perutnya lagi dengan daging ikan dan ketika kedua orang murid dan guru itu sedang makan daging ikan, di situ lewat beberapa orang pelancong yang berjalan-jalan. Mereka memandang kepada Tiong San dan suhunya sambil tertawa-tawa, karena menganggap mereka berdua itu orang-orang gila.

Memang si gila itu nampak lucu dan menunjukkan bahwa ia memang seorang gila, sedangkan Tiong San kinipun kelihatan tidak keruan dengan pakaiannya yang kotor dan masih sedikit basah dan rambutnya yang awut-awutan cukup memberi kesan bahwa iapun seorang pemuda gila.

Melihat dua orang gila itu makan ikan dengan enaknya, para pelancong itu menganggapnya sebagai pemandangan yang aneh dan menggembirakan. Maka tak lama kemudian Tiong San dan gurunya telah dirubung orang banyak.

Tiong San merasa tak senang sekali dijadikan tontonan. Akan tetapi oleh karena ia melihat suhunya hanya menyeringai dan kadang-kadang memandang kepada orang-orang itu sambil tertawa ha ha, hi hi, maka iapun ikut menyeringai dan tertawa ha ha, hi hi, seperti lakunya seorang gila pula! Suhunya memandang kepadanya dengan muka girang dan seperti seorang yang menahan kegelian hatinya, ia berkata perlahan,

“Memang dunia penuh orang gila    ha ha ha!” Tiong San teringat bahwa itu adalah sebuah kalimat dari syair pada kipasnya, maka iapun lalu tertawa geli dan tidak memperdulikan mereka yang menonton dia dan suhunya makan. Setelah daging ikan dan semua tulang habis berpindah ke perut mereka, sehingga Tiong San merasa perutnya berat dan penuh padat. Orang gila itu lalu mengulurkan tangan merobek ujung jubah Tiong San dan menggunakan robekan baju itu untuk menyusuti mulutnya yang berlepotan minyak ikan. Tiong San tertawa dan iapun meniru perbuatan suhunya, merobek ujung bajunya yang lalu menyusuti mulutnya pula.

Orang-orang pada tertawa melihat hal ini, dan pada saat itu terdengar bentakan-bentakan. “Minggir!”

Semua orang minggir dan memberi jalan kepada orang-orang yang membentaknya. Ternyata bahwa yang datang itu adalah lima orang anggauta polisi yang membawa rantai dan golok. Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu mengalungi leher orang gila itu dan leher Tiong San dengan rantai besi. Lalu mengikat pula kedua lengan mereka.

Tiong San merasa terkejut sekali, akan tetapi oleh karena maklum akan adat yang aneh dari suhunya dan melihat betapa suhunya itu hanya tertawa ha ha, hi hi, tanpa mengadakan perlawanan, ia pun ikut-ikutan tertawa. Sungguhpun tertawanya masam karena diliputi hati yang amat gelisah dan takut!

Seorang pelancong yang melihat betapa dua orang gila itu ditangkap, lalu bertanya kepada para anggauta ponggawa itu,

“Mengapa mereka ditangkap?”

“Entah, kami hanya mendapat perintah untuk menangkap orang gila yang berada di sekitar telaga Tai-hu dan karena di sini kami melihat dua orang gila, maka kedua-duanya kami tangkap!”

Kakek gila itu ketika lehernya dikalungi rantai dan tangannya dibelenggu, hanya tertawa menyeringai sambil memandang kepada para penangkapnya dengan mata bodoh. Akan tetapi ketika seorang di antara para polisi itu mengambil cambuk yang digantungkan pada pinggangnya, ia segera berseru keras,

“Jangan ambil cambukku!” dan aneh ketika ia mengulurkan tangan, belenggu besi yang mengikat tangannya putus bagaikan sehelai benang saja! Sekejap kemudian ia telah berhasil merampas kembali cambuknya.

“Apa ini? Aku tidak mau dikalungi kembang!” katanya dan sekali renggut saja, rantai yang dikalungkan lehernya tadi telah putus-putus. “Juga muridku tak boleh dikalungi kembang!” Ia membetot dan merenggut dan semua belenggu yang mengikat leher dan tangan Tiong San juga putus-putus.

Semua orang terkejut sekali dan melarikan diri karena takut orang gila itu mengamuk. Sedangkan para penjaga itu berdiri bengong karena heran bagaimana rantai mereka yang kokoh kuat itu diperlakukan oleh si gila bagaikan sehelai benang yang mudah diputuskan saja.

Si gila lalu melompat dan berkata, “Kalian orang-orang gila, aku mau pergi saja!” Sekali melompat ia telah berada di tempat jauh dan Tiong San melangkahkan kaki hendak lari mengejar. Akan tetapi seorang penjaga memeluk pinggangnya dan yang lain berteriak-teriak, “Tangkap orang gila! Tangkap!!”

“Suhu!” teriaknya dengan ketakutan.

Si gila berhenti lari, menoleh dan segera menggerakkan cambuknya yang telah dilepas dari gulungan. Terdengar “tar-ter-tor” bunyi cambuk dan disusul oleh teriakan-teriakan kesakitan karena semua ponggawa yang berjumlah lima orang itu masing-masing telah mendapat hadiah satu cambukan pada mukanya hingga menjadi biru dan perih.

Tiba-tiba ujung cambuk melayang ke arah Tiong San dan membelit pinggangnya. Tiong San merasa betapa tubuhnya ditarik oleh kekuatan yang luar biasa, hingga tubuhnya segera melayang ke atas dan tahu-tahu ia telah jatuh di punggung suhunya bagaikan seorang sedang naik seekor kuda yang tinggi.

“Ha ha ha! Orang-orang gila, ayo kita balapan lari!” kata suhunya yang segera berlari secepat kijang melompat dan sebentar saja ia menggendong muridnya itu dan telah lenyap dari pandangan semua orang. Peristiwa ini tentu saja menggemparkan orang dan sampai lama orang-orang membicarakan kesaktian orang gila itu dan tiada habisnya mereka terheran-heran mengapa seorang gila bisa mempunyai murid seorang pemuda pelajar, atau seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang pelajar.

Sebetulnya, siapakah orang gila yang aneh dan luar biasa lihainya itu? Para jago silat muda tentu takkan ada yang kenal kepadanya. Akan tetapi para locianpwe atau ahli-ahli silat tua yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya, tentu masih ingat akan seorang hiapkek (pendekar) yang diberi julukan Thian-te Lo-mo atau Iblis Tua Langit Bumi!

Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, Thian-te Lo-mo masih merupakan seorang muda yang menjagoi di seluruh dunia kang-ouw dengan ilmu kepandaiannya yang amat mengagumkan. Ketika itu ia bernama Kui Hong Sian, seorang pendekar muda berusia belum tiga puluh tahun, akan tetapi yang telah menumbangkan jago-jago besar dalam pertandingan pibu atau pertempuran oleh karena Kui Hong Sian memang mempunyai watak yang keras dan tidak mau dikalahkan orang.

Kemudian ia bertemu dengan seorang pendekar wanita yang cantik dan ia jatuh cinta. Tak disangkanya bahwa pendekar wanita ini adalah puteri seorang jago tua yang pernah dikalahkannya dan ketika hal ini diketahui oleh pendekar wanita itu, maka sepasang orang muda yang sudah saling mencinta ini lalu bertempur karena pendekar wanita itu hendak membalaskan sakit hati ayahnya. Dalam pertempuran ini, Kui Hong Sian salah tangan dan melukai muka wanita itu dengan pedangnya sehingga muka yang cantik menjadi bercacad.

Semenjak peristiwa ini, Kui Hong Sian lalu lenyap dari dunia kang-ouw. Ia menderita patah hati karena terputusnya cinta yang telah berakar di dalam hatinya. Sampai hampir sepuluh tahun ia mengasingkan diri dan ketika muncul kembali, ia menjadi seorang yang amat ganas. Tiap orang penjahat yang bertemu dengan orang setengah tua yang pakaiannya tidak keruan ini pasti mengalami celaka, karena Kui Hong Sian tidak mau memberi ampun kepada penjahat-penjahat besar maupun kecil.

Didalam waktu itulah ia melakukan hal-hal yang menggemparkan dunia kang-ouw, karena seorang diri saja ia naik ke bukit Tung-hwa-san dan mengobrak-abrik sarang perampok yang dikepalai oleh tujuh orang perampok bersaudara yang terkenal gagah perkasa, yang menggemparkan ialah, bahwa ia mengganti pedangnya dengan sebatang cambuk panjang yang lihai sekali. Memang Kui Hong Sian telah bersumpah takkan memegang pedang lagi semenjak ia melukai muka wanita yang dicintai itu dengan pedangnya.

Selain mengobrak-abrik perampok di bukit Tung-hwa-san, ia masih banyak melakukan kegemparan, diantaranya dengan memasuki istana raja dan dalam satu malam saja ia mencuri puluhan cap-cap kebesaran para pembesar di kota raja dan melukai para pengawal dengan cambuknya yang lihai. Namanya menjadi terkenal sekali dan pada waktu itulah ia mendapat julukan Thian-te Lo-mo.

Setelah membuat nama besar selama lima tahun, kemudian ia lenyap lagi dari dunia ramai. Dan orang tidak tahu bahwa si Iblis tua langit bumi ini telah kembali ke tanah kelahirannya, yakni di propinsi Shan- tung, di sebuah guha yang banyak terdapat di pegunungan Tai-san di propinsi Shan-tung sebelah barat.

Ternyata bahwa di dalam hidupnya, Kui Hong Sian mengalami berbagai kekecewaan dan terutama sekali kesedihan hati yang timbul akibat patah hatinya itu membuat ia semakin tua makin menjadi tidak keruan tingkah lakunya.