-->

Pendekar Gila Dari Shan-tung Bab-02 : Pembesar Misterius

Bab-02 : Pembesar Misterius

SETELAH semua orang merasai cambukannya, si gila lalu melompat lagi ke darat. Akan tetapi tubuhnya menukik ke arah perahu Tiong San dan kawan-kawannya. Tiga orang anak muda itu hanya melihat bayangan hitam seperti burung garuda menyambar ke arah mereka dan ketika melihat lagi, bayangan itu telah lenyap dan bersama bayangan itu, ketiga buah kipas mereka juga turut lenyap!

Thio Swie dan Khu Sin saling pandang dengan muka pucat.

“Apakah yang menyambar tadi dan ... dan kipas kita telah digondol pergi!” kata Thio Swie dengan bengong.

“Jangan-jangan setan telaga Tai-hu!” kata Khu Sin dengan bulu tengkuk meremang. “Tiong San, mengapa kau diam saja?”

Tiong San memang sedang memandang ke arah tempat orang gila tadi duduk memancing ikan dan kini ia tidak melihat lagi orang itu yang telah pergi entah ke mana dan dengan cara entah bagaimana. Ia memandang kepada kedua kawannya dan mengangkat pundak.

“Aku sendiri tidak mengerti, bagaimana kipas kita bisa lenyap!” katanya. “Sayang sekali karena syairku tadi belum selesai!”

“Heran sekali, jangan-jangan benar seperti kata Khu Sin bahwa yang mengganggu kita adalah setan telaga Tai-hu,” kata Thio Swie.

“Sudahlah, hal ini baiknya jangan kita bicarakan lagi dan jangan memberitahukan kepada siapa pun juga,” kata Tiong San yang tidak mau menceritakan apa yang telah dilihatnya tadi. “Kalau benar-benar yang mengambilnya malaikat telaga, siapa tahu syair kalian yang amat bagus itu akan menyenangkan hati Hai- liong-ong (Raja Naga) yang menguasai semua air dan kau berdua diangkat menjadi pembesar!”

“Hush, jangan begitu, Tiong San!” kata Khu Sin dengan wajah pucat karena pemuda ini memang agak takhyul dan percaya kepada dongeng-dongeng tentang raja naga itu.

Juga Thio Swie yang biasanya suka berkelakar, kini menjadi pucat. “Aku .... aku tidak mau menjadi pembesar di dasar laut atau telaga! Mari mari kita pulang saja. Lebih baik aku pergi tidur di kamarku dan

kalau sudah bangun menganggap semua ini sebagai mimpi.”

Pada saat itu, perahu besar tadi di dayung menuju ke arah mereka dan dari atas perahu kelihatan kepala orang menjenguk ke bawah memandang kepada mereka.

“Eh, eh    apakah mereka hendak menubruk kita lagi? Jangan-jangan perahu kita akan terbalik nanti, kata

Khu Sin dengan muka marah.

“Kalau kita tenggelam, barangkali kita memang sudah akan diterima menjadi pembesar air!” Thio Swie mulai berkelakar lagi setelah rasa kagetnya mereda.

“Hush, diam. Mereka rupanya hendak bicara dengan kita,” kata Tiong San.

Benar saja, perahu itu berhenti dekat perahu mereka dan orang yang menjenguk itu berpakaian seperti seorang pelayan pembesar, yang segera berkata, “Apakah sam-wi kongcu yang perahunya tertubruk tadi?” tanyanya.

“Benar, akan tetapi kami tidak pusingkan hal kecil itu,” kata Tiong San yang tidak mau berurusan dengan pembesar.

“Sam-wi, kalian dipersilahkan naik karena Ong-taijin (pembesar Ong) hendak bertemu dengan kalian.”

Tanpa menanti jawaban ketiga orang muda yang diundang itu, orang-orang di atas perahu besar segera menurunkan anak tangga terbuat dari kain yang menggantung turun sampai ke perahu kecil.

“Bagaimana ini?” Thio Swie berkata kepada kedua orang kawannya. “Apalagi yang akan terjadi dengan kita?”

“Naiklah saja, untuk apa ragu-ragu? Kita tidak mempunyai kesalahan sesuatu,” kata Khu Sin dan mereka lalu naik ke perahu besar melalui anak tangga itu. Akan tetapi, Thio Swie dan Khu Sin tidak mau naik lebih dulu dan memaksa Tiong San menjadi pelopor.

Mereka disambut oleh pelayan tadi yang dengan sikap hormat mengantar mereka masuk ke dalam ruang kamar perahu yang cukup luas dan yang berbentuk rumah indah di atas perahu itu, melalui sebuah pintu cat biru.

Ketika mereka melangkahi ambang pintu, mereka tercengang melihat betapa keadaan dalam perahu itu amat mewah dan indah, tidak kalah dengan ruang dalam sebuah gedung besar. Terdapat tiga buah meja besar di situ yang penuh dengan dengan hidangan serba mewah dan lezat. Meja terbesar mempunyai beberapa bangku terukir dan di atas sebuah bangku duduk seorang laki-laki berpakaian mewah.

Pada meja yang berada di ujung, duduk tiga orang wanita, sedangkan pada meja terkecil duduk pula beberapa orang wanita yang ternyata adalah penyanyi-penyanyi yang bermuka sebagai kedok karena kulit muka mereka tebal tertutup bedak dan yanci (bedak untuk memerahi muka).

Laki-laki yang duduk menghadapi meja besar itu bertubuh tinggi besar dan dari pakaiannya ternyata bahwa ia tentu seorang berpangkat tinggi. Wajahnya angker dan nampak galak sedangkan sikapnya angkuh sekali. Ketika para pemuda itu masuk, ia tidak menyambutnya dengan berdiri, hanya tetap duduk sambil mengangkat tangan memberi tanda agar supaya pelayan yang menyambut tadi keluar lagi.

Tiong San dan kawan-kawannya melirik ke arah meja kedua. Di situ duduk menghadapi meja tiga orang wanita. Seorang di antara mereka sudah tua, agaknya isteri pembesar ini, yang seorang lagi masih muda dan cantik, sedangkan orang ketiga adalah seorang gadis yang mempunyai kecantikan seperti seorang bidadari dari kahyangan.

Sukar melukiskan gadis ini yang berpakaian mewah, akan tetapi memakai bedak yang tipis sekali. Kalau Thio Swie di suruh membuat syair memuji kecantikan gadis itu, tentu ia akan menyamakan gadis itu dengan burung hong, raja segala burung, dan kalau kembang ia adalah kembang seruni, kalau pohon tentu pohon liu (cemara) yang tidak saja indah, akan tetapi juga mempunyai batang yang lemas hingga dapat menari-nari kalau tertiup angin.

Pembesar itu memandang kepada ketiga pemuda itu dengan matanya yang lebar dan ia nampak senang melihat tiga orang muda yang sopan santun dan tampan itu.

Melihat bahwa orang yang mengundang mereka adalah seorang pembesar tinggi, Thio Swie yang telah sering bertemu dengan pembesar-pembesar di kota raja lalu menjura dengan amat hormatnya, di turut oleh Khu Sin dan Tiong San. Pembesar itu tertawa senang dan berkata,

“Ah, anak-anak muda, duduklah di sini, di mejaku ini. Aku girang melihat bahwa yang ditubruk perahunya adalah kalian orang-orang muda terpelajar. Harap kalian bertiga suka memaafkan orang-orangku yang menubruk perahumu tanpa sengaja dan mendatangkan banyak kekagetan.”

“Tidak apa, taijin. Kami bertiga tidak mendapat kecelakaan sesuatu,” jawab Tiong San dan mereka bertiga lalu duduk di depan pembesar itu setelah sekali lagi dipersilakan. Thio Swie menjadi girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa dengan duduk menghadapi pembesar itu, maka mereka bertiga secara langsung dapat melihat meja di mana duduk gadis cantik itu yang kebetulan duduknya menghadap ke arah mereka pula.

Thio Swie dan Khu Sin hampir tak dapat menahan keinginan hati mereka untuk sering-sering melirik ke arah gadis cantik itu. Hanya Tiong San yang selalu tunduk karena ia memang sama sekali tak pernah merasa tertarik kepada keindahan wajah dan bentuk tubuh seorang wanita.

“Untuk menghilangkan kaget, kalian harus minum arak wangi yang sengaja kudatangkan dari Hok-ciu,” kata pembesar itu dan ia lalu berseru ke arah pintu ruangan itu, “Hei, tambahkan arak dan daging!” Kemudian ia lalu menoleh kepada gadis cantik tadi dan berkata,

“Siu Eng, suruh mereka menyanyi lagi!”

Terdengar suara gadis itu memberi perintah kepada rombongan penyanyi dengan suara yang amat merdu dan tak lama kemudian terdengar suara nyanyian diiringi suara yang-khim. Biarpun muka para penyanyi itu menyebalkan pemandangan mata Thio Swie dan kawan-kawannya, akan tetapi mereka harus mengakui bahwa suara para penyanyi itu cukup merdu.

Setelah seorang pelayan membawa masuk seguci arak wangi dan menuang isinya ke dalam cawan-cawan yang telah disediakan, pembesar itu lalu berkata, “Ayo, kita minum untuk menghilangkan kekagetan tadi sambil mendengar nyanyian merdu!”

Biarpun merasa sungkan-sungkan, akan tetapi ketiga orang muda itu lalu minum arak yang ternyata amat wangi dan enak.

“Anak-anak muda, kalian siapakah, siapa namamu dan di mana kalian tinggal? Setelah bertemu, ada baiknya aku mengetahui nama kalian. Siapa tahu kelak dapat bertemu lagi,” kata pembesar itu.

“Saya adalah she Lie, bernama Tiong San, dan kedua kawanku ini bernama Khu Sin dan Thio Swie. Kami bertiga dari dusun Kui-ma-chung tidak jauh dari telaga Tai-hu. Kawan-kawanku ini yang mendapat hari libur dan baru kembali dari kota raja bersama saya sendiri sengaja datang menghibur diri di tempat ini. Sungguh beruntung dapat bertemu dengan taijin yang ramah tamah dan mulia.”

Pembesar itu amat senang mendengar sucapan Tiong San yang sopan santun. “Bagus, bagus, kalian orang-orang muda memang harus belajar dengan rajin agar kelak dapat membantu pemerintah menghatur negara.” Kemudian suaranya berubah ketika ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan tiba-tiba,

“Apakah kalian kenal dengan orang gila yang mengacau tadi? Siapakah dia dan di mana tempat tinggalnya?” Sambil berkata demikian, ia memandang tajam dan matanya menatap wajah ketiga orang pemuda itu berganti-ganti dengan sinar mata menyelidik.

“Orang gila yang manakah, taijin?” Thio Swie balas bertanya dengan heran sehingga ia membuka matanya lebar-lebar. “Sudah sering benar saya mendengar adanya orang-orang gila pada hari ini! Pertama-tama orang gila yang mencambuki perahu-perahu di pantai tadi, dan juga dalam syairnya ”

“Itulah yang kumaksudkan!” pembesar itu memotong ucapan Thio Swie yang tadinya hendak menceritakan bahwa di dalam syair Tiong San juga disebut-sebut adanya orang gila! “Pengemis gila yang membawa cambuk itu! Siapakah dia dan di mana tinggalnya?”

“Saya tidak tahu, taijin. Selama hidup baru tadi saja kami melihat dia di pantai telaga.”

Pembesar itu nampak kecewa dan ia berkata kepada Tiong San dan kawan-kawan, “Coba ceritakan apa yang kalian lihat setelah perahu kalian tertumbuk oleh perahuku tadi!”

Biarpun hatinya merasa heran, akan tetapi Tiong San dapat menduga bahwa pembesar ini tentu sedang menyelidiki orang gila tadi dan menyangka bahwa mereka bertiga mengetahui hal ihwalnya, maka ia cepat menginjak kaki kedua kawannya dan jawabnya,

“Sesungguhnya, taijin, tadi kami hanya melihat seorang gila berkeliaran di pantai dan digoda oleh para nelayan. Kemudian kami melihat ia duduk melenggut di bawah pohon sana dan sesudah itu kami tidak melihatnya lagi. Setelah perahu kami tertumbuk oleh perahu ini kami tidak melihat sesuatu, hanya mendengar teriakan-teriakan di atas perahu ini. Akan tetapi tidak terlihat apa yang terjadi dari perahu kami yang kecil. Hanya itulah sesungguhnya yang kami ketahui, taijin.”

“Sudahlah, sudahlah!” kata pembesar itu dengan muka berubah merah. “Apapun juga yang akan terjadi, aku harus dapat menangkap si gila kurang ajar itu! Kalian boleh turun lagi dan aku mengucapkan terima kasih atas segala keteranganmu. Kalau kalian perlu sesuatu di kota raja, mungkin aku dapat membantumu asal saja kau suka mencari rumahku.”

Tiba-tiba Thio Swie mendapat pikiran bagus. Siapa tahu kalau-kalau pembesar ini dapat menolongnya mendapatkan pangkat? Ia lalu menjura dan bertanya, “Maaf, taijin, akan tetapi di kota raja terdapat banyak sekali gedung-gedung besar. Yang manakah milik taijin?”

Pembesar itu tertawa. “Asal kau tanya di mana tempat tinggal pangeran Lu Goan Ong, siapakah yang takkan kenal namaku?”

Thio Swie membuka mata lebar-lebar dan ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu, diturut oleh Khu Sin yang juga amat terkejut. Akan tetapi, Tiong San hanya menjura saja dan ia tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk ikut-ikutan berlutut.

“Maafkan hamba yang kurang hormat kepada taijin karena tidak tahu,” kata Thio Swie dan Khu Sin.

“Bangunlah, bangunlah!” kata pangeran itu sambil mengerling tajam ke arah Tiong San yang masih berdiri. Setelah kedua orang pemuda itu bangun, pangeran Lu Goan Ong lalu bertanya kepada Tiong San,

“Anak muda, siapakah ayahmu?”

“Ayahku telah meninggal dunia, taijin,” jawab Tiong San sederhana. Akan tetapi Thio Swie yang merasa girang bertemu dengan pangeran itu, segera menyambung, “Taijin, kawan hamba Tiong San ini adalah putera tunggal mendiang Lie-tihu yang menjabat pangkat tihu di kota Liong-shia, sedangkan kawan hamba Khu Sin ini adalah anak kepala kampung hamba, dan hamba sendiri adalah anak seorang guru sastra di kampung hamba pula. Hamba bertiga berasal sekampung, taijin, yaitu kampung Kui-ma-chung.”

Tentu saja segala keterangan ini hanya seperti angin lalu saja terhadap telinga pangeran Lu Goan Ong, maka ia hanya menjawab, “Hm ......hmm ” dan memberi tanda kepada pelayan untuk mengantar mereka

keluar.

Setelah tiba di perahu sendiri dan mendayung perahu itu ke tepi telaga, Tiong San mengomel, “Kalian berlaku seolah-olah dia itu raja sendiri. Apakah sikap menjilat itu kalian pelajari pula di kota raja?”

Dengan muka sungguh-sungguh Thio Swie berkata, “Tiong San, kau tidak tahu, pangeran Lu Goan Ong adalah seorang yang amat tinggi kedudukannya. Kalau tidak salah ia adalah keluarga kaisar sendiri dan menjadi seorang di antara para penasehat kaisar! Ia kaya raya dan amat berpengaruh sehingga semua pembesar di kota raja tunduk kepadanya! Tentu saja kita harus menghormatinya sebagai seorang pembesar tinggi.”

Kini tahulah Tiong San, maka ia berkata, “Hm, kalau begitu soalnya, pantas saja kalian demikian menghormatinya, sungguhpun bagiku yang tidak membutuhkan pertolongannya tak perlu aku harus melakukan penghormatan sedemikian rupa.”

Ketiga orang pemuda itu kembali ke kampung mereka dan di sepanjang perjalanan, Thio Swie dan Khu Sin tiada hentinya membicarakan pangeran besar itu, dan menyatakan pengharapannya mereka untuk bisa mendapat pertolongan kelak di kota raja.

“Gadis tadi amat cantik jelita seperti bidadari,” kata Khu Sin setelah mereka habis membicarakan pangeran itu sendiri.

“Cocok!” kata Thio Swie dengan hati puas. “Memang ia bidadari dan namanya juga manis, Siu Eng ah,

siapa tahu kalau-kalau kelak aku dapat bertemu pula padanya! Ia cantik sekali, dan biarpun mukanya tidak dibedaki, akan tetapi sepasang pipinya seperti bunga bouwtan!”

“Berbeda sekali dengan para penyanyi yang berbedak tebal!” kata Khu Sin. “Hih! Muak dan geli aku melihat para penyanyi itu!” kata Thio Swie sambil meludah. “Bedak mereka itu mungkin tebalnya ada setengah dim! Seperti topeng setan!”

Kedua pemuda itu tertawa geli, akan tetapi Tiong San tidak ikut membicarakan keadaan pangeran dan gadis itu karena pikirannya penuh dengan bayangan orang gila yang aneh tadi. Siapakah dia? Dan mengapa kepandaiannya demikian hebat? Manusiakah dia atau dewa telaga Tai-hu? Dan yang paling mengherankan hatinya dan membuatnya penasaran adalah perampasan kipas-kipas yang ia yakin dilakukan pula oleh orang gila! Apakah kehendaknya maka sampai mengambil kipas-kipas bersyair yang tidak berharga itu?

Setibanya di rumah, ketiga orang pemuda itu tenggelam dalam lamunan dan masing-masing terserang penyakit rindu yang berbeda-beda. Tiong San ingin sekali bertemu kembali dengan orang gila yang amat menarik hatinya itu. Khu Sin ingin sekali dapat menghadap pangeran Lu Goan Ong karena rindu akan pangkat dan kedudukan tinggi. Sedangkan Thio Swie biarpun juga mengharapkan pangkat, namun lebih condong hatinya untuk bertemu dengan Siu Eng, gadis yang telah menawan hatinya itu! Ternyata bahwa pengalaman yang mereka alami di telaga Tai-hu itu berkesan hebat dalam hati mereka dan mendatangkan perubahan yang hebat sekali kepada hidup mereka selanjutnya.

********************

Tiga hari kemudian, Khu Sin dan Thio Swie datang ke rumah Tiong San untuk berpamit karena mereka berdua hendak kembali ke kota raja dan melanjutkan pelajaran mereka. Kebetulan sekali terdapat serombongan piauwsu (pengawal dan pengantar barang-barang dari satu ke lain tempat, semacam usaha ekspedisi) yang datang dari So-cou dan hendak mengantarkan barang-barang dua gerobak banyaknya ke kota raja.

Pada masa itu, melakukan perjalan jauh tidaklah semudah sekarang oleh karena selain tidak ada kendaraan-kendaraan baik dan juga tidak terdapat jalan-jalan raya yang cukup sempurna. Juga perjalanan itu melalui hutan-hutan liar yang banyak terdapat binatang-binatang buas dan perampok-perampok yang lebih buas lagi dari pada binatang hutan!

Oleh karena itu, Khu Sin dan Thio Swie merasa girang sekali melihat adanya rombongan piauwsu dari Pek- eng-piauwkiok (Perusahaan ekspedisi Garuda Putih) lewat di dusun Kui-ma-chung, dan mereka lalu mempergunakan kesempatan itu untuk “membonceng” atau ikut minta perlindungan dengan membayar sedikit biaya. Memang, piauwkiok-piauwkiok ini dibuka oleh orang-orang gagah yang memiliki kepandaian tinggi untuk mengantar barang-barang berharga dan mengawalnya serta melindunginya dari gangguan perampok-perampok di jalan. Dan Pek-eng-piauwkiok telah mempunyai pengaruh besar sekali oleh karena yang menjadi kepala atau pemimpinnya adalah seorang gagah perkasa bernama Souw Cit yang berjuluk Pek-eng atau Garuda Putih.

Souw Cit mempergunakan pengaruh namanya untuk memberi nama kepada perusahaannya. Dan tiap kali orang-orang atau murid-muridnya mengantar barang berharga, asal pada gerobak-gerobak itu ditancapi bendera yang dilukis dengan gambar seekor garuda putih sedang terbang mengembangkan sayap dan mengulur kedua cakarnya, kaum rimba hijau (perampok) takkan berani mengganggunya.

“Tiong San,” kata Thio Swie. “Alangkah senangnya kalau kau bisa ikut dengan kami dan tinggal bersama di kota raja!”

“Benar,” menyambung Khu Sin. “Tanpa adanya kau di sana, seakan-akan kami merasa kurang lengkap!”

Tiong San tersenyum dan menarik napas panjang. “Terima kasih atas kebaikan hati kalian. Percayalah, tak ada keinginan yang lebih besar dalam hatiku selain dapat bersama dengan kalian, kawan-kawanku yang baik. Akan tetapi, selain aku tidak punya biaya untuk melanjutkan pelajaran, juga aku tidak ada nafsu lagi. Entah mengapa, kawan-kawanku, akan tetapi aku mempunyai perasaan seakan-akan percuma saja aku mempelajari semua kepandaian menulis dan membaca selama ini! Harap kalian jangan meniru sikapku yang tak baik ini, karena kalian mempunyai harapan besar di kemudian hari. Belajarlah rajin-rajin, agar kalian dapat mencapai cita-cita, menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana karena dengan demikian kalian akan berjasa bagi rakyat banyak.” Thio Swie merasa terharu dan memegang pundak kawannya itu. “Akan tetapi, kau sendiri, Tiong San? Apakah yang hendak kau lakukan?”

Kembali Tiong San tersenyum dan matanya bersinar-sinar ganjil.

“Aku? Entahlah, aku hanya seorang kutu buku kecil yang tidak ada gunanya. Mungkin aku akan menukar pitku dengan sebatang pacul, siapa tahu?”

“Apa?” seru Khu Sin sambil membelalakkan mata. “Kau hendak menjadi petani? Kau yang pandai bersyair dan amat indah tulisanmu ini hendak menjadi petani dan bekerja di ladang berlumpur-lumpur kotor?”

“Picik sekali pandanganmu ini, Khu Sin,” Tiong San mencela kawannya sambil memegang pundaknya. “Siapa bilang petani kotor? Kalau kau mempunyai pendirian begitu, baiknya mulai sekarang, tiap kali kau makan, kau boleh mengingat bahwa barang yang kau masukkan ke mulut dan perut dan yang menjaga sehingga hidupmu dapat berlangsung terus, tak lain adalah hasil tetesan keringat para petani! Bagiku, lebih baik menjadi seorang pekerja kasar dengan perut kenyang dari pada menjadi seorang kutu buku yang kempis perutnya. Dan pula, aku harus membantu pekerjaan ibuku!”

Ketiga orang kawan karib semenjak kanak-anak itu bercakap-cakap tiada habisnya dan agaknya akan makin panjang dan hangat percakapan mereka kalau tidak datang rombongan piauwsu yang memberi tahu kepada Khu Sin dan Thio Swie bahwa saat untuk berangkat sudah tiba. Mereka berdua lalu memeluk Tiong San dan mengucapkan selamat berpisah dengan hangat. Juga mereka masuk ke dalam rumah dan menjura di depan ibu Tiong San, memberi hormat dan minta diri. Nyonya janda Lie memberi doa restu kepada dua orang pemuda kawan baik puteranya itu.

Setelah rombongan itu berangkat, Tiong San berdiri termenung memandang sampai rombongan itu lenyap dalam sebuah tikungan jalan, Masih terdengar suara kaki kuda yang menarik tiga buah gerobak itu dan suara para piauwsu yang bersenda gurau sepanjang jalan. Untuk sesaat timbul rasa iri dan keinginan untuk ikut ke kota raja dalam hati Tiong San sehingga ia merasa betapa sedu sedan naik dari dada menuju kerongkongannya. Akan tetapi ia menindas perasaan itu dan mulutnya bergerak-gerak.

“Semoga kalian bisa menjadi pembesar-pembesar yang baik dan bijaksana       ” Kemudian ia lalu masuk

ke dalam rumah. Ibunya yang sedang menyulam lalu menunda pekerjaannya dan memandang kepada puteranya dengan penuh kasih sayang.

“Tiong San, kalau kau dapat ikut pergi dengan kawan-kawanmu itu, untuk belajar dan menempuh ujian di kota raja, biarpun hatiku merasa berat berpisah dengan kau, akan tetapi perasaan itu tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan kegiranganku karena harapan melihat kau pulang dengan menggondol sebuah pangkat!” Nyonya ini lalu menarik nafas panjang dan matanya membayangkan rasa kasihan yang besar terhadap puteranya yang tercinta.

“Ah ibu, kalau aku pergi, bukankah kau menjadi sendirian di rumah ini dan merasa kesunyian!” kata Tiong San yang lalu duduk di dekat kaki ibunya.

Nyonya itu meraba kepala puteranya dan membelai rambutnya.

“Anakku, seorang ibu di manapun juga akan mendapatkan kebahagiaan dalam penderitaan dan pengorbanan perasaan demi keberuntungan anaknya! Kalau saja kau dapat melanjutkan pelajaranmu, ah

... alangkah akan senangnya hatiku .....” dan nyonya ini cepat-cepat menundukkan mukanya dan melanjutkan sulamannya agar air mata yang telah memenuhi pelupuk matanya itu tidak menetes turun.

Akan tetapi, keharuan hatinya mendorong airmata itu keluar hingga dua titik air bening jatuh ke atas kain yang sedang disulamnya, kain sulaman yang menjadi pekerjaannya sehari-hari di samping pekerjaan menenun untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Tiong San memeluk ibunya. “Ibu, jangan kau bersedih karena anakmu tidak dapat melanjutkan pelajaran. Terus terang saja, ibu. Akupun tidak ingin untuk melanjutkan pelajaran hanya untuk memperebutkan pangkat. Aku tidak ingin menjadi pembesar!”

Ibunya cepat menengok. Inilah kata-kata baru baginya. Cita-citanya sejak dulu, juga cita-cita mendiang suaminya, adalah melihat putera tunggal ini menjadi seorang pembesar yang terhormat dan bijaksana seperti ayahnya. Akan tetapi pengakuan tidak suka menjadi pembesar ini benar-benar mengagetkan hatinya.

“Apa katamu, nak? Kau tidak suka menjadi pembesar? Mengapa?”

“Aku tidak suka menjadi pembesar, terutama pada dewasa ini, ibu. Hal ini disebabkan oleh rasa sebal dan benciku melihat betapa sebagian banyak pembesar negeri menjalankan kejahatan di balik kedok kedudukan mereka! Tentu ibu masih teringat betapa aku yang telah lulus ujian tak dapat menerima pangkat oleh karena aku tidak punya uang untuk menyogok! Keadaan di kota raja kotor sekali. Hampir semua pembesar hanya mementingkan kesenangan diri dan menumpuk harta tanpa memperdulikan halal atau tidaknya harta yang mereka tumpuk untuk keperluan diri sendiri itu! Aku tidak sudi menjadi pembesar macam itu, ibu!”

Ibunya menarik napas panjang. “Hatimu sama benar dengan ayahmu. Mendiang ayahmu biarpun menjadi seorang pembesar akan tetapi hidup secara jujur, tidak memeras rakyat bahkan membuang-buang uang untuk orang miskin. Akan tetapi, anakku, selain kedudukan tinggi dan pangkat, pekerjaan apalagi yang dapat mengangkat derajat dan nama kita dan dapat mendatangkan penghasilan yang cukup untuk kita makan dan pakai?”

“Aku tidak inginkan derajat dan nama besar itu, karena sebagaimana ucapan orang-orang cerdik pandai di jaman dahulu, nama besar dan derajat hanya akan membuat kita berada di tempat yang amat tinggi hingga kalau sekali jatuh, akan terasa sekali sakitnya! Lebih baik aku menjadi seorang petani saja, ibu!”

“Petani?”

Tiong San memandang muka ibunya dengan sedih. “Ah, ibu, apakah ibu juga memandang rendah pekerjaan petani dan tidak dapat menghargai jasa-jasa mereka?”

Nyonya Lie menaruh kain sulamannya di atas meja dan memeluk puteranya. “Bukan demikian anakku. Pekerjaan itu sendiri tidak apa-apa, karena tidak ada pekerjaan yang rendah. Akan tetapi, ada dua hal yang amat kusesalkan apabila kau hanya menerima menjadi seorang petani biasa. Pertama, kau semenjak kecil telah mempelajari ilmu kepandaian, membuang-buang waktu penuh ketekunan, dan membuang- buang uang yang tidak sedikit jumlahnya, sehingga tidak seharusnya apabila segala pengorbanan itu sekarang tidak menghasilkan sesuatu dan kau hanya ingin menjadi petani biasa! Kedua, dengan menjadi petani, maka kau berarti tidak dapat mempergunakan segala kepandaianmu yang telah kau pelajari bertahun-tahun itu untuk bekerja guna kepentingan umum! Dua hal inilah yang akan membuat aku menyesal selama hidupku!” Kemudian nyonya itu tak dapat menahan lagi turunnya air matanya.

Tiong San dapat menyelami hati ibunya. Sebagai seorang wanita biasa, sudah tentu ibunya rindu sekali melihat ia memakai pakaian kebesaran, dihormati orang dan menduduki pangkat tinggi. Hati ibunya akan menjadi besar dan bangga melihat puteranya menjadi orang mulia. Kalau ia menjadi petani, maka setidak- tidaknya ibunya akan merasa malu dan kecewa.

“Ibu!” katanya kemudian dengan suara menghibur. “Percayalah bahwa anakmu akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan yang akan menjunjung tinggi nama keluarga kita! Akan tetapi tidak sebagai pembesar, karena kepandaian kesusasteraan pada dewasa ini hanya digunakan untuk mencelakai sesamanya, untuk merusak, bukan untuk melakukan kebaikan. Kalau aku melakukan sesuatu demi kebaikan orang banyak, maka pekerjaan yang kulakukan itu bukan berdasarkan kepandaianku menulis!”

“Habis, selain menulis dan membaca, kau mempunyai kepandaian apalagi?” tanya ibunya yang mulai merasa jengkel.

Tiong San menundukkan kepalanya dan terbayanglah orang gila yang dijumpainya di telaga Tai-hu kemaren dulu itu. Ah, pikirnya. Kalau saja aku mempunyai kepandaian selihai orang gila itu, tentu aku dapat melakukan perbuatan mulia yang akan lebih menggemparkan dari pada kepandaian kesasteraan yang kumiliki! Ia menarik napas panjang berulang-ulang tanpa dapat menjawab pertanyaan ibunya, sehingga orang tua itu merasa kasihan melihatnya.

“Sudahlah, Tiong San. Kau beristirahatlah di kamarmu dan jangan terlalu banyak memikirkan hal ini. Kita percaya saja kepada Thian pada suatu waktu akan datang saat baik bagi kita. Aku hendak meneruskan pekerjaanku ini, karena aku sudah berjanji kepada orang yang memesannya untuk menyelesaikan dalam hari ini juga.”

Tiong San lalu bangkit berdiri dan dengan kedua kaki lemas ia masuk ke dalam kamarnya. Ia membantingkan dirinya di atas pembaringan sambil mengeluh. Akan tetapi ia segera melompat bangun lagi karena terkejut ketika melihat sebuah kipas di atas meja kecil dalam kamarnya. Karena kipas itu adalah kipasnya yang lenyap dari atas perahu di telaga Tai-hu kemaren dulu itu!

Dengan tangan gemetar pemuda itu mengambil kipas itu dan mengamat-amatinya. Dan ternyata bahwa syairnya yang belum habis di tulis itu kini telah ditambah dengan tulisan orang lain yang gayanya aneh dan bengkak-bengkok seperti ular! Ketika ia menulis syairnya dulu, pada baris kelima baru ia tulis “aku ” dan

terhenti karena tabrakan perahu. Akan tetapi sekarang huruf “aku” itu telah ada sambungannya yang berbunyi,

Aku juga gila!

Dan alangkah baiknya gila bertemu gila

Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!

Tiong San membaca syairnya berulang-ulang dengan perasaan tidak keruan karena heran dan juga kagum. Ia heran akan maksud orang gila itu, dan kagum melihat betapa tulisan itu, biarpun tak dapat disebut indah, akan tetapi gayanya benar-benar aneh dan dari bentuk coretan yang lenggak-lenggok seperti ular itu dapat diketahui betapa huruf-huruf itu mengandung tenaga yang kuat sekali sehingga tiap coretan merupakan seekor ular yang seperti hidup bergerak-gerak dan mengerikan!

Ia membaca sekali lagi sajaknya yang kini selengkapnya berbunyi,

Memancing ikat dengan pecut, tanpa kaitan Bersikap seperti Kiang Cu Ce, sang budiman

Orang menyebut gila, memang dunia penuh orang gila! Yang waras dianggap gila, yang gila merajalela!

Aku juga gila!

Dan alangkah baiknya gila bertemu gila

Pada malam bulan purnama di pinggir telaga!

Alangkah aneh dan ganjilnya bunyi syair itu, dan hanya seorang yang tidak waras otaknya saja dapat menulis syair seperti itu. Apakah maksud orang gila itu menulis bahwa akan baik sekali kalau gila bertemu gila pada malam bulan purnama di pinggir telaga? Dan bagaimana ia bisa menaruh kipas itu di dalam kamarnya tanpa diketahui orang lain? Benar-benar seorang gila yang amat aneh.

Sampai malam Tiong San duduk termenung di dalam kamarnya dan ketika ibunya mengajaknya makan malam, ia tidak banyak bicara hingga membuat ibunya merasa gelisah sekali.. Sehabis makan, pemuda itu tanpa menukar pakaiannya lalu kembali ke dalam kamar lagi dan duduk termenung sambil membuka jendela kamarnya. Tiba-tiba tanpa disengaja ia melihat ke angkasa dan mukanya bercahaya terang ketika ia melihat bulan yang hampir tersenyum di balik awan.

Dan cepat Tiong San mengeluarkan kipas yang sejak tadi berada di sakunya dan membaca syair itu sekali lagi. Ah, tentu ada maksudnya si gila menulis syair itu, pikirnya. Bulan purnama akan muncul dua tiga hari lagi. Mengapa aku tidak pergi ke sana dan melihat-lihat kalau-kalau ia berada di pinggir telaga? Ia telah menyebutku gila dan mengaku bahwa iapun gila, dengan kata-katanya si gila bertemu si gila pada malam terang bulan purnama di pinggir telaga, Bukankah itu suatu ajakan untuk mengadakan pertemuan di pinggir telaga Tai-hu?

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tiong San menjumpai ibunya dan berkata, “Ibu, ijinkanlah aku pergi sekali lagi ke Tai-hu.”

Ibunya merasa heran. “Bukankah baru saja kau kembali dari sana?”

“Benar, ibu! Akan tetapi aku ingin sekali menghibur diri sekali lagi di sana. Siapa tahu perjalananku kali ini akan mendatangkan perubahan baik seperti yang ibu harapkan kemaren.” Ibunya menggelengkan kepala. “Anakku, kau terlalu banyak memikirkan masa datang yang suram. Baiklah, kauhiburlah hatimu di telaga Tai-hu dan mudah-mudahanan Thian Yang Maha Agung membuka jalan baik bagimu.”

Dengan tergesa-gesa Tiong San lalu berangkat ke Tai-hu. Malam hari itu, ketika semua pelancong telah meninggalkan telaga dan bahkan para pemilik perahu kembali ke rumah masing-masing sehingga telaga itu sunyi senyap, Tiong San tidak meninggalkan tempatnya dan masih duduk melamun di bawah pohon di mana si gila itu dahulu menangkap ikan.