-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 8

Jilid 8

Berdebar juga hati Sin Lee ketika Kiang Cu I pergi dan dia menanti kedatangan Bi Hwa. Ternyata agak lama Bi Hwa tidak juga datang. Dia tidak tahu betapa gadis itu menjadi gugup dan panik, sibuk mendandani wajah dan menghapus bekas tangisnya ketika ayahnya memberitahu bahwa Sin Lee ingin bicara dengannya berdua saja.

Setelah merasa diri patut untuk berhadapan dengan Sin Lee, berdandan dan berganti baju, Bi Hwa muncul. Ia berdiri di ambang pintu memandang kepada Sin Lee dengan tersipu.

Sin Lee bangkit berdiri dan menenangkan hatinya. “Ah, adik Bi Hwa, silahkan duduk Hwa-moi,” katanya ramah dan mempersilahkan gadis itu duduk di atas kursi yang tadi diduduki ayahnya, berhadapan dengan dia terhalang meja.

Bi Hwa duduk. “Kata ayah, engkau memanggil aku, Lee-ko,” katanya lirih.

“Benar, Hwa-moi. Kita harus bicara untuk menghilangkan segala kesalahpahaman di antara kita. Aku sudah mendengar semua tentang engkau dari paman Kiang Cu I, dan beliau pun sudah menyampaikan niat beliau untuk menjodohkan kita.”

“Ahhh...!” Bi Hwa tersipu malu dan menundukkan mukanya.

“Hwa-moi, keterus-terangan dan kejujuran kadang terdengan tidak enak, bahkan menyakitkan hati. Ayahmu bicara tentan perjodohan, Hwa-moi. Akan tetapi, bukan aku tidak suka, aku berterima kasih sekali kepada keluargamu yang memberi kehormatan besar bagiku. Akan tetapi, pada saat ini aku sama sekali belum mempunyai pikiran untuk berjodoh, Hwa-moi. Dan engkau sendiri tahu bahwa aku terlibat dengan keluarga Song hanya karena aku ingin menolong Kong-thong-pai, ingin mengembalikan peti perhiasan itu kepada Kong-thong-pai. Dan pernikahan kita di sana itu, engkaupun tahu bahwa hal itu terjadi bukan atas kehendakmu, atau kehendakku, atau kehendak orang tuamu. Itu adalah syarat yang diajukan oleh keluarga Song yang mendengar pengakuanku bahwa engkau tunanganku. Dan engkau tahu mengapa aku mengaku engkau tunanganku, agar engkau tidak diperisteri oleh Aceng yang gila itu. Semua itu terpaksa kulakukan untuk menyelamatkan dirimu, untuk menyelamatkan Kong-thong-pai, bukan sungguh-sungguh.”

Bi Hwa mendengarkan dengan tunduk. Wajahnya yang tadinya kemerahan dan disertai senyum tersipu malu, kini menjadi pucat dan alisnya berkerut.

“Jadi engkau hendak mengatakan bahwa engkau tidak suka kepadaku, Lee-ko?”

“Sama sekali tidak, adikku. Engkau seorang gadis yang baik, pandai dan cerdik. Akan tetapi perjodohan haruslah berdasarkan cinta kedua pihak. Apa engkau menghendaki menikah dengan orang yang tidak mencintamu dan kelak setelah menikah hanya akan bentrok dan cekcok, menciptakan rumah tangga yang penuh pertentangan? Marilah kita berpisah sebagai sahabat, sebagai saudara, karena sesungguhnya pada saat ini, hatiku belum menghendaki aku berjodoh dengan siapapun juga.”

Bi Hwa terisak.

“Maafkan, maafkan aku, Hwa-moi. Memang menyakitkan, akan tetapi ini merupakan kata-kata yang sejujurnya dan kita berdua haruslah dapat menerima kenyataan hidup. Hidup ini memang banyak duka dan kecewa. Tidak semua keinginan kita terkabul dan tidak semua kejadian cocok dengan apa yang kita kehendaki. Dapatkah engkau menerima semua keteranganku ini?” Bi Hwa mengangguk sambil terisak.

“Anggap saja aku ini kakakmu, Hwa-moi. Jangan berduka, seorang gadis seperti engkau ini kelak pasti akan bertemu jodoh yang cocok, yang sepenuh hatinya mencintamu, dan kau cinta. Nah, terimalah ini sebagai hiburan, tanda ketulusan hatiku kepadamu.” Sin Lee mengambil bunga merah dari kancing bajunya dan menyerahkan kepada Bi Hwa. Bi Hwa menerimanya dan sesenggukan.

“Nah, Hwa-moi, sekarang aku hendak pergi melanjutkan perjalanan, sampaikan salamku kepada ayah ibumu, kepada pangcu, kepada saudara-saudara yang lain.” Setelah berkata demikian dengan cepatnya Sin Lee keluar dari ruangan itu.

“Lee-ko...!” Bi Hwa mengejar, akan tetapi ketika ia tiba di luar ruangan itu, Sin Lee sudah lenyap. Hanya nampak bayangannya saja berkelebat di atas genteng.

Sin Lee terpaksa berhenti ketika di depannya di atas genteng, terdapat Kam Sun Tojin. “Siancai, taihiap hendak pergi begitu saja? Belum sempat pinto mengucapkan terima kasih atas bantuan taihiap kepada Kong-thong-pai.”

Sin Lee memberi hormat. “Aih, pangcu, mengapa sungkan? Perbuatan saya itu bukan pertolongan sama sekali, melainkan pelaksanaan kewajiban saya. Di antara kita ini mana ada bantuan dan pertolongan? Yang ada hanyalah pelaksanaan tugas kewajiban dan sudah menjadi tugas saya untuk membantu Kong- thong-pai memperoleh kembali peti perhiasan itu.”

“Apakah taihiap tidak ingin menanti barang sepekan di sini? Ketahuilah bahwa dalam sepekan ini, di sini akan berkumpul para tokoh partai besar, para tokoh pendekar dari segala jurusan.”

“Ah, akan ada keramaian apakah, pangcu?” tanya Sin Lee, hatinya tertarik. Bertemu dengan para tokoh kang-ouw tentu saja merupakan suatu pengalaman yang berharga sekali, dan juga amat menarik hati.

“Mereka memilih Kong-thong-pai sebagai tempat untuk mengadakan perundingan.” “Perundingan apakah itu, kalau saya boleh bertanya?”

“Siancai, kenapa tidak boleh? Semua tokoh itu akan membicarakan tentang penyerbuan kepada Beng- kauw.”

Untung saja cuaca sudah mulai gelap sehingga ketua Kong-thong-pai tidak melihat betapa wajah Sin Lee berubah ketika mendengar bahwa para tokoh kang-ouw hendak menyerbu Beng-kauw!

“Menyerbu Beng-kauw? Akan tetapi kenapakah, pangcu?”

“Aih, apakah engkau belum mendengarnya, taihiap? Beng-kauw terkenal selama beberapa bulan ini dengan perbuatannya yang jahat. Beng-kauw agaknya telah melakukan penyelewengan lagi, melakukan segala macam kejahatan yang keji. Kalau menyerbu Beng-kauw, haruslah semua kekuatan dipersatukan, karena Beng-kauw mempunyai banyak orang pandai dan kuat sekali. Apakah taihiap tidak tertarik dan bukankah sudah menjadi kewajiban taihiap pula untuk membantu para tokoh kang-ouw memberantas kejahatan seperti yang dilakukan oleh Beng-kauw itu?”

“Maaf, pangcu. Saya mempunyai urusan lain yang penting sekali, akan tetapi kurasa kita akan dapat berjumpa kembali kelak, karena bagaimanapun juga, saya tidak dapat membiarkan saja kejahatan kalau benar dilakukan oleh Beng-kauw.”

“Kalau begitu, selamat jalan, taihiap, dan sekali lagi terima kasih.” “Selamat berpisah, pangcu!”

Sin Lee berkelebat lenyap ditelan kegelapan yang mulai menyelimuti bumi. Hatinya terguncang keras dan dia teringat kepada Giok Lan, sumoinya yang menjadi ketua Beng-kauw. Tidak mungkin sumoinya membiarkan orang-orang Beng-kauw menyeleweng dan melakukan kejahatan. Dia harus menyelidiki hal ini. Dan yang terpenting sekarang dia harus cepat-cepat mengunjungi sumoinya karena seperti yang diceritakan ketua Kong-thong-pai tadi, sumoinya terancam bahaya. Seorang gadis yang cantik keluar dari kota Kian-cu seorang diri. Gadis itu memang cantik manis, matanya tajam dan pada punggungnya terdapat sebatang pedang dan buntalan pakaian. Gadis ini bukan lain adalah Gan Lian Si, puteri guru silat Gan Kong yang tinggal di Syanghai itu. Pernah kita bertemu dengan gadis ini ketika ia dan ayahnya bertemu bahkan pernah bentrok dengan Sin Lee, akan tetapi kemudian menjadi sahabat. Bahkan Gan Kong mengusulkan perjodohan antara puterinya dan Sin Lee yang ditolak Sin Lee dengan halus.

Kini gadis itu melakukan perjalanan seorang diri. Ayahnya yang sudah merasa tua dan lemah tinggal di rumah, akan tetapi Lian Si yang haus akan pengalaman, melakukan perantauan seorang diri. Ia tinggal di Kian-cu beberapa hari lamanya, menikmati pemandangan di telaga dekat kota Kian-cu dan baru hari ini ia meninggalkan Kian-cu untuk melanjutkan perjalanannya merantau. Ia pamit untuk merantau selama setahun kepada ayahnya dan sekarang baru berjalan tiga bulan.

Baru saja ia keluar dari pintu gerbang kota Kian-cu sebelah selatan, ia melihat lima orang pemuda keluar pula dari pintu gerbang itu dan mereka selalu berjalan di belakangnya, tidak mengejarnya dan tidak pula mau tertinggal melainkan menjaga jarak. Ia menjadi curiga, sebab sikap lima orang itu seperti sedang membayanginya. Pada hal, jalan itu makin lama semakin sunyi. Akan tetapi, sebagai seorang ahli silat, seorang gadis kang-ouw tentu saja Lian Si tidak merasa khawatir. Ia mampu membela diri dan sikap lima orang itu membuatnya waspada.

Akan tetapi ketika tiba di persimpangan jalan, lima orang pemuda itu bergabung dengan lima orang lain yang datang dari lain jurusan dan kini sepuluh orang pemuda itu mempercepat langkah mengejarnya! Maklum bahwa agaknya mereka tidak mempunyai niat baik. Lian Si sengaja berhenti dan menanti di tepi jalan. Matanya yang tajam itu berkilat ketika sepuluh orang itu sudah datang mendekat. Setelah dekat, ia mengenal dua orang pemuda hartawan yang pernah dihajarnya ketika ia bermain-main dekat telaga dan dua orang pemuda itu menggodanya dengan kata-kata cabul. Ia hanya menampar mereka saja ketika itu. Akan tetapi sekarang pemuda itu datang bersama delapan orang lain sehingga jumlah mereka menjadi sepuluh orang!

Lian Si pura-pura tidak mengenal mereka. Sepuluh orang pemuda itu setelah tiba di depannya, langsung mengambil sikap mengepungnya. Dan dua orang pemuda hartawan yang pakaiannya mewah itu lalu berkata.

“Inilah perempuan sombong yang telah berani menampar kami. Eh, nona galak, sekarang engkau harus minta maaf kepada kami dan bersedia menemani kami selama tiga hari tiga malam, atau kalau tidak kami akan menebus tamparanmu itu dengan menghajarmu babak belur lalu menyerahkanmu kepada anak buah kami agar engkau dikeroyok sampai mati!”

Lian Si memandang dan matanya berkilat. “Dua anjing mata keranjang, kalian berdua berani muncul lagi dan membawa serta delapan anjing lain? Apakah kalian masih belum jera dan minta dihajar lebih keras lagi?”

Dua orang pemuda hartawan itu menjadi merah mukanya dan marah sekali.

“Tangkap perempuan setan ini! Tangkap dan telanjangi ia!!” Dan mereka yang mengepung itu memperlihatkan sikap seperti sepuluh ekor anjing srigala mengepung seekor domba. Seolah-olah hendak dikeroyok dan dicabik-cabiknya daging domba yang lunak itu.

Melihat bahwa sepuluh orang yang mengepungnya itu tidak menggunakan senjata, agaknya memang hendak mengepungnya dan menangkapnya lalu menelanjanginya seperti yang diperintahkan dua orang pemuda hartawan itu, Lian Si juga tidak mencabut pedangnya. Biarpun dikeroyok, kalau pengeroyoknya tidak bersenjata, iapun enggan mengunakan pedang, kecuali kalau ternyata ia kewalahan.

Bagaikan segerombolan anjing mengeroyok harimau betina, sepuluh orang itu, atau lebih tepat delapan orang karena yang dua hanya menggonggong saja memerintahkan anak buah mereka, para pemuda yang tidak tahu malu itu mengeroyok Lian Si. Akan tetapi gadis yang sudah marah itu mengamuk, kaki tangannya bergerak menendang dan memukul dan para pengeroyok berjatuhan. Mereka menjadi marah. Dua orang pemuda hartawan lalu mengeluarkan aba-aba, “Pergunakan senjata. Bunuh saja ia!”

Mereka lalu mencabut senjata masing-masing, ada yang membawa golok, ada yang membawa pisau belati dan ada pula yang memegang pedang. Setelah para pengeroyoknya mengeluarkan senjata, barulah Lian Si melolos pedangnya. Akan tetapi, sebelum ia menggerakkan pedangnya untuk menghajar mereka, tiba- tiba terdengar bentakan, “Banyak laki-laki mengeroyok seorang wanita, sungguh tidak tahu malu!”

Entah dari mana datangnya, seorang muda sudah meloncat ke dalam gelanggang pertempuran ini dan begitu dia menyerbu, dia menggerakkan sebatang suling perak dan kipas lebar untuk menghajar para pengeroyok itu. Lian Si merobohkan dua orang dan ia memandang kagum betapa pemuda itu dengan gerakan yang gesit sekali menghajar sisa para pengeroyok. Karena pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan para pengeroyok, Lian Si cepat meloncat ketika melihat betapa dua orang pemuda hartawan itu hendak melarikan diri. Sekali pedangnya berkelebat, ia telah melukai dua orang pemuda itu pada pundaknya sehingga luka di pundak mengucurkan banyak darah membasahi baju mereka.

“Aduh, tolong... tolong... pembunuh...!” “Aduh, pundakku... pundakku putus...!”

Dua orang itu melolong-lolong dan minta tolong, akan tetapi siapa dapat menolong mereka? Delapan orang anak buah merekapun keadaannya tidak lebih baik dari mereka. Delapan orang itu sudah mengaduh-aduh dengan kepala benjol, ada yang tulang lengannya patah, hidungnya penyok berdarah, giginya rontok, salah urat dan perut mulas. Kemudian tanpa diperintah lagi, dua orang hartawan dan delapan orang anak buahnya itu melarikan diri, ada yang terpincang-pincang, ada yang terseok-seok, ada pula yang setengan merangkak.

Melihat ini, mau tidak mau Lian Si tertawa, dan pada saat itu, si pemuda juga tertawa geli. Mereka saling pandang dan berhenti tertawa. Lian Si memandang kagum sekali, karena pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun itu memang tampan dan gagah. Wajahnya bulat, kulit mukanya putih sehingga alisnya nampak hitam sekali. Matanya tajam dan mulutnya tersenyum setengah mengejek, hidungnya besar dan pemuda ini mengenakan pakaian sutera putih dengan potongan seperti seorang sasterawan. Pemuda ini masih memegang sebatang suling perak dengan tangan kanan dan sebuah kipas dengan tanan kiri. Gagah dan tampan sekali, tidak kalah tampan dibandingkan dengan Sin Lee yang pernah digandrunginya!

Mereka saling pandang dan sinar kagum terpancar dari pandang mata pemuda itu, membuat Lian Si tersipu malu dan tidak tahu harus berkata apa. Pemuda itu mendahului, “Sungguh sepuluh orang itu tidak tahu diri, berani mengganggu seorang pendekar wanita yang gagah perkasa!”

“Ah, engkau terlalu memuji, kongcu.” Lian Si menyebut kongcu karena dandanan pemuda itu memang mirip seorang tuan muda yang terpelajar. “Sebaliknya aku menghaturkan terima kasih atas bantuan kongcu mengusir orang-orang tidak sopan itu.”

“Tidak perlu berterima kasih, nona. Bagiku suatu keuntungan besar karena aku jadi dapat berkenalan denganmu. Namaku Bhe Tun Hok, nona. Bolehkah aku mengetahui nama nona yang terhormat?”

“Namaku Gan Lian Si, kongcu.”

“Lian Si... hemm, nama yang indah, seindah orangnya.”

Kalau saja yang mengeluarkan ucapan itu seorang di antara pemuda-pemuda tadi, Lian Si tentu marah dan menganggapnya kurang ajar. Akan tetapi karena yang memuji itu pemuda ini, mukanya berubah kemerahan dan hatinya menjadi senang sekali!

“Ah, kongcu terlalu memuji...” katanya sambil tersenyum dan tersipu.

“Nona hendak pergi ke manakah dan bagaimana dapat bertemu dengan serombongan anjing tadi?”

“Aku seorang perantau, kongcu. Kemarin dulu ketika aku berada di telaga di dekat kota Kian-cu, aku diganggu oleh dua orang pemuda hartawan itu dengan kata-kata cabul. Mereka itu kutampar dan mereka melarikan diri. Siapa kira, ketika hari ini aku keluar kota, mereka mengejarku bersama delapan orang anak buahnya.”

“Hemm, kalau aku tahu begitu, tentu sudah kupecahkan kepala dua orang pemuda hartawan itu.”

Lian Si terkejut. Pemuda ini kelihatan demikian lemah-lembut, demikian halus dan ramah, akan tetapi ketika mengeluarkan ancaman itu, sungguh amat  mengerikan. Ia dapat merasakan bahwa itu bukan sekedar ancaman belaka, akan tetapi agaknya kalau dua orang pemuda hartawan itu berada di situ, akan benar-benar hancur kepala mereka.

“Ah, tidak perlu begitu keras, kongcu. Bagaimanapun mereka itu belum menjamah sama sekali, kekurangajaran mereka hanya terbatas dalam kata-kata saja.”

“Nona Gan, setelah kita berkenalan, maukah kalau nona kupersilahkan singgah di tempat kediamanku? Tidak begitu jauh, di lereng bukit itu!” pemuda itu menunjuk dengan sulingnya ke arah bukit di sebelah kiri jalan. Kembali Lian Si merasa heran. Bagaimana pemuda yang kelihatannya seperti putera bangsawan pemuda yang kelihatannya seperti putera bangsawan atau hartawan ini tinggal di bukit yang sunyi itu? Atau barangkali tentu saja rumah itu adalah rumah peristirahatan. Biasanya kaum bangsawan atau hartawan memang suka mendirikan rumah-rumah peristirahatan di bukit-bukit, di dekat telaga atau di tepi laut untuk sekedar beristirahat dan bersantai. Setelah orang demikian baiknya, membantunya dari pengeroyokan para pemuda berandalan tadi, bagaimana ia menolak undangan itu? Apa lagi pemuda ini demikian sopan dan ramah, rasanya tidak pantas kalau ditolaknya. Apa lagi ia adalah gadis kang-ouw yang dalam pergaulan tidak dapat disamakan dengan gadis pingitan. Gadis kang-ouw sudah biasa bergaul, baik dengan pria sekalipun.

“Baiklah, kongcu, kalau tidak terlalu merepotkanmu.”

“Ah, sama sekali tidak repot. Di sana terdapat beberapa orang pelayanku, dan aku akan menyuruh mereka menyediakan hidangan untuk kita makan bersama. Dan aku akan meniup suling untukmu, nona.”

“Ah, engkau baik sekali, kongcu.”

Keduanya lalu mendaki bukit itu, berjalan perlahan-lahan dan ketika mereka berjalan berdekatan, Lian Si mencium bau yang harum keluar dari pakaian pemuda itu. Sungguh seorang pemuda tampan dan pesolek, pandai memikat hati wanita, pikirnya dengan gembira karena ialah yang menjadi pilihan pemuda itu. Ia kelak akan menceritakan pengalamannya yang hebat ini kepada ayahnya.

“Maaf, kongcu, kalau aku banyak bertanya. Kongcu ini kelihatan seperti seorang pemuda pelajar, seorang pemuda bangsawan, akan tetapi kongcu memiliki ilmu silat yang tinggi, sungguh mengagumkan sekali.”

“Ha-ha-ha, dan engkau sendiri bagaimana, nona? Engkau begini cantik jelita, anggun dan nampaknya lemah-lembut, akan tetapi sepuluh orang dibuat kocar-kacir olehmu.”

“Apakah rumah di bukit itu merupakan tempat tinggal tetap kongcu? Kongcu tinggal di sana bersama siapa? Keluarga kongcu?”

“Ha-ha-ha, maksudmu isteri dan anak? Ha, kau salah sangka, nona. Akua masih perjaka tulen, belum menikah dan rumah itu hanya merupakan rumah peristirahatan saja. Orang tuaku tinggal jauh dari sini, di kota raja.”

Jantung Lian Si berdebar. Di kota raja? Jangan-jangan pemuda ini seorang pangeran. Ia hanya puteri seorang guru silat biasa, maka tentu saja membayangkan pemuda itu seorang pangeran membuat jantungnya berdebar tegang.

“Dan suhumu? Tentu guru kongcu seorang tokoh sakti yang amat terkenal di dunia persilatan.”

“Ah, tidak. Guruku sama sekali tidak terkenal. Dia seorang pendeta Lama dari Tibet. Bagaimana dengan engkau sendiri, nona? Siapakah gurumu?”

“Guruku adalah ayahku sendiri, kongcu. Ayah telah menjadi duda dan dia adalah seorang guru silat di Syanghai, hidup dari mengajar silat. Kami dari keluarga sederhana saja, kongcu, tidak seperti kongcu.”

“Ah, sudahlah. Persahabatan tidak diukur dari kedudukan, bukan? Asal ada kecocokan hati, dua orang manusia bisa saja bersahabat dan aku suka sekali bersahabat denganmu, Nona Gan.”

“Terima kasih, kongcu. Akupun senang sekali dapat bersahabat dengan orang seperti kongcu.”

Kedua orang muda yang berjalan santai mendaki bukit ini tidak tahu bahwa dari jauh ada seorang yang membayangi dan mengintai mereka. Orang ini bukan lain adalah Sin Lee. Sin Lee tadi melihat ketika terjadi keributan dan dia heran bukan main mengenal gadis itu sebagai Gan Lian Si, puteri guru silat Gan Kong yang pernah diusulkan untuk dijodohkan dengan dia, akan tetapi yang ditolaknya dengan halus. Tadinya dia hendak turun tangan membantu, akan tetapi melihat gadis itu dapat mengatasi semua pengeroyoknya, diurungkan niatnya untuk membantu dan dia melihat munculnya pemuda berpakaian putih yang lihai dan yang membantu Lian Si itu. Kini mereka berdua mendaki bukit. Sin Lee merasa tidak enak hatinya.

Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi ada sesuatu pada diri pemuda itu yang membuatnya waspada. Mungkin karena gerakan suling yang dimainkan pemuda itu ketika menghajar para pemuda berandalan tadi. Dia seperti pernah melihat gerakan seperti itu, akan tetapi lupa lagi di mana. Dan sesuatu yang membuat dia waspada adalah sinar mata pemuda itu ketika memandang Lian Si. Dia sudah cukup sering melihat sinar mata pria seperti itu kalau memandang gadis dan biasanya sinar mata seperti itu mengandung nafsu yang berkobar. Karena khawatir akan keselamatan Lian Si yang begitu mudahnya diajak singgah ke rumah seorang pemuda, maka Sin Lee diam-diam membayangi mereka dan mengintai dari jauh. Dia melihat keduanya bicara dengan akrab dan tidak melihat pemuda itu melakukan sesuatu yang mencurigakan. Biarlah, dia tidak akan memperlihatkan diri. Kalau kekhawatirannya itu ternyata tidak betul, dia akan meninggalkan mereka tanpa memperlihatkan diri. Bahkan kalau Lian Si dan pemuda itu saling jatuh cinta, dia akan ikut merasa gembira karena dia pernah menolak gadis itu.

Lian Si dan Tun Hok sudah tiba di sebuah rumah mungil yang berdiri terpencil di lereng bukit itu. Mereka disambut oleh seorang pelayan pria berusia empat puluhan tahun dan dua orang pelayan wanita yang baru belasan tahun usianya dan cantik-cantik wajahnya.

“Cepat potong ayam dan kelinci, buatkan hidangan yang lezat untuk kami berdua,” perintah Tun Hok kepada tiga orang pelayannya yang tersenyum sambil mengangguk dan pergi ke belakang.

“Silahkan duduk, nona. Di sini tidak ada orang lain kecuali tiga orang pelayanku itu dan anggaplah seperti di rumah sendiri.”

Akan tetapi Lian Si tidak duduk, melainkan melihat-lihat ruangan itu. Semua prabot rumahnya serba mewah dan di situ tergantung banyak lukisan dan syair-syair berpasangan yang tulisannya indah sekali. Ia kagum bukan main. Tak salah lagi, pemuda ini tentu seorang pemuda bangsawan, bahkan mungkin saja dia seorang pangeran! Kalau ayahnya tahu bahwa ia diundang oleh seorang pangeran!

“Nona, maukah engkau mendengarkan permainan sulingku?”

“Tadinya aku mengira bahwa sulingmu itu hanya sebuah senjata yang lihai sekali, tidak tahunya engkau pandai pula meniup suling? Tentu saja aku suka sekali mendengarnya, kongcu!”

Tun Hok bertepuk tangan tiga kali dan muncullah seorang di antara dua pelayan wanita itu. Bahkan pelayan wanita inipun pakaiannya tidak seperti pelayan, dan cukup mewah serta cantik.

“A Mi, tinggalkan dulu dapur, biarkan A Lan dan Acian memasak. Kau ambil yang-kim dan temani aku meniup suling,” perintah Tun Hok.

Gadis itu membungkuk dalam dan cepat pergi dari situ. Tak lama kemudian ia sudah kembali dan membawa sebuah yang-kim (semacam gitar) lalu duduk di atas lantai dengan yang-kim di depannya.

“Kita mainkan lagu “Menanti Kekasih”, A Mi,” kata pula kongcu itu.

“Baik, kongcu,” kata gadis itu dan jari-jari tangan yang lentik itu mulai memetik-metik dawai yang-kimnya. Terdengarlah suara merdu dan nyaring berkerintingan. Tun Hok lalu membawa suling yang tadi menjadi senjata ampuh itu ke depan mulutnya dan melengkinglah suara suling yang merdu, diikuti suara yang-kim yang berkerintingan. Dan terdengarlah lagu yang merdu merayu, membuat Lian Si memandang kagum bukan main. Hebat pemuda ini, lebih hebat dari pada yang diduganya. Permainan sulingnya sungguh mengagumkan, membuat hatinya seperti ditarik-tarik.

Setelah beberapa lagu diperdengarkan, dan setiap habis satu lagu Lian Si bertepuk tangan memuji, hidangan dari dapur pun dikeluarkan.

“Wah, sudah matang. Mari kita makan dulu, nona Gan,” kata Tun Hok dengan ramah.

Mereka makan minum dengan gembiranya karena memang Tun Hok pandai bicara dan pandai mengambil hati. Dalam waktu singkat saja Lian Si sudah tertarik, bahkan boleh saja dikatakan bahwa dia sudah terpikat dan jatuh hati kepada pemuda yang pandai membawa diri itu. Dan gadis yang sudah dimabok dan dibuai perasaan cinta itu menjadi lupa diri dan setiap kali tuan rumah mengajaknya minum arak, iapun menuruti saja sehingga akhirnya Lian Si menjadi mabok!

Dan dalam keadaan mabok itu, secara setengah sadar Lian Si dituntun oleh Tun Hok, dipapah masuk ke dalam kamarnya. “Kepalaku pening, semua rasanya berputaran...!” keluh Lian Si.

“Kalau begitu mengasolah dulu, nona. Mari, mari kuantar nona tidur-tiduran dulu sampai peningmu hilang.”

“Aihh, tidak kongcu. Tidak baik kalau tidur di sini...” Lian Si masih teringar akan kesopanan dan tahu benar bahwa tidak pantas sekali kalau ia tidur di kamar diantar pemuda itu.

“Tidak mengapa, nona...” Pemuda itu merangkul dan memapahnya. “Tidak, tidak baik, kongcu. Biar aku pergi sendiri ke kamar...”

“Dan membiarkan engkau jatuh? Lihat, kalau kulepas engkau akan jatuh.” Tun Hok melepaskan rangkulannya dan Lian Si terhuyung, tentu roboh kalau tidak dirangkul lagi oleh Tun Hok. “Nah, kaulihat, hampir engkau jatuh. Marilah nona Gan, mari kuantar, jangan sungkan. Bukankah kita sudah menjadi sahabat baik?” Dia memapah lagi dan Lian Si, sambil tersipu, terpaksa membiarkan saja dirinya dirangkul dan dipapah ke dalam kamar.

Setelah berada di dalam kamar, Tun Hok menutupkan daun pintunya, dan membawa gadis itu ke pembaringan. Dia merebahkan Lian Si telentang di atas tempat tidur dan langsung saja ditubruk, dirangkul dan diciuminya gadis yang mabok itu.

Biarpun ia mabok, Lian Si masih sadar bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar. Ia meronta lemah, akan tetapi apa artinya tenaganya dalam keadaan mabok dan pening itu? Tun Hok berbuat lebih berani dan mulai menanggalkan pakaiannya.

“Jahanam busuk!” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan daun pintu terbuka lebar, ditendang orang dari luar dan Sin Lee nampak di ambang pintu. “Keparat, hentikan perbuatanmu yang terkutuk itu!”

Tun Hok terkejut sekali ketika melihat seorang pemuda berpakaian sederhana telah berdiri di ambang pintu dengan muka merah karena marah. Dia menjadi marah sekali. Daging yang sudah berada di mulut dan tinggal mengunyah saja hendak dirampas orang!

Setelah membereskan pakaiannya sendiri yang awut-awutan, Tun Hok lalu menyambar suling dan kipasnya dari atas meja, meloncat ke pintu dan memaki orang yang baru datang itu.

“Engkau yang jahanam busuk! Engkau memasuki rumah orang seperti maling dan mencampuri urusan orang lain. Engkau patut dihajar!” Setelah berkata demikian, Tun Hok menyerang dengan sulingnya.

Kaget juga Sin Lee mendapat serangan yang dahsyat itu. Tahulah dia bahwa pemuda ini seorang yang lihai sekali, maka dia melompat keluar untuk mencari tempat yang lebih luas. Setelah tiba di pekarangan luar, dia menanti dan begitu lawan menyerbu, dia mencabut pedang dari punggungnya dan terjadilah perkelahian yang sengit. Kini giliran Tun Hok yang terkejut melihat gerakan pedang lawannya. Ketika dia memperhatikan, dia melihat bunga di kancing baju Sin Lee dan semakin kagetlah dia.

“Engkau Pendekar Bunga Merah?” bentaknya sambil melompat ke belakang.

“Hemm, engkau sudah tahu siapa aku, maka tentu tahu pula bahwa aku tidak akan mengampuni orang yang berlaku keji terhadap seorang gadis.”

Tun Hok menjadi gentar juga setelah mengetahui siapa yang dihadapinya. Nama Pendekar Bunga Merah cepat terkenal karena dilindungi Kaisar, dan semua pejabat setempat diperintahkan menyambutnya dengan baik. Bukan itu saja. Dia mendengar dari suhunya yaitu Bouw Sang Cinjin, bahwa Pendekar Bunga Merah adalah seorang pendekar yang sakti dan dia dipesar agar berhati-hati kalau bertemu dengannya.

“Pendekar Bunga Merah! Aku mendengar bahwa engkau seorang yang gagah perkasa, akan tetapi mengapa mencampuri urusan cinta antara aku dan kekasihku? Sungguh tak kusangka engkau ternyata seorang yang tidak tahu malu! Orang sedang berkasih-kasihan dengan pacarnya diganggu!”

Muka Sin Lee berubah kemerahan. “Sobat, engkau tidak perlu berpura-pura suci. Aku tahu siapa gadis itu. Ia seorang gadis gagah dan sopan, puteri seorang guru silat. Engkau telah menjebaknya, bukan? Engkau menjamunya dan membuatnya mabok, kemudian engkau merayunya dan berusaha memperkosanya!”

Tun Hok marah sekali. “Itu fitnah! Kami saling mencinta. Aku cinta kepadanya dan gadis itupun cinta kepadaku. Aku akan segera meminangnya untuk menjadi isteriku!”

“Bohong!” bentak Sin Lee dan dia sudah menerjang lagi dengan pedangnya.

“Trang! Tranggg!” Dua kali pedangnya tertangkis suling perak dan tangkisan itu membuat Tun Hok terkejut sekali karena dia merasa betapa tangannya tergetar hebat. Dia tidak dapat mengandalkan siapapun di rumah itu, maka terpaksa dia memutar suling dan menggerakkan kipasnya, menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Namun, sekali ini murid Bouw Sang Cinjin ini menghadapi seorang lawan yang amat tangguh. Dia seolah bertemu dengan orang yang tingkat kepandaiannya seimbang bahkan lebih unggul dari gurunya sendiri. Maka, ke manapun sulingnya menerjang dan kipasnya menotok dengan gagangnya, atau mengebut ke arah mukanya, selalu saja lawannya dapat menangkis atau menghindar dengan mudahnya. Dan balasan serangan pedang yang dilakukan Sin Lee selalu membuat dia kewalahan.

Sin Lee mulai mendesaknya. Akan tetapi Pendekar Bunga Merah ini bukan seorang yang kejam, bukan pembunuh. Dia hanya ingin mengalahkan pemuda itu dan menyadarkannya bahwa perbuatannya itu tidak baik. Karena itu, dia hanya mendesak dan bermaksud mengalahkan Tun Hok tanpa melukai berat atau membunuhnya. Dan hal ini tidaklah begitu mudah mengingat bahwa Tun Hok juga sudah memiliki tingkat kepandaian yang tingg.

“Haiiittt...!!” Tiba-tiba Sin Lee mengeluarkan bentakan nyaring dan pedangnya menyerang dengan kuatnya sehingga Tun Hok yang menangkis sampai terhuyung ke belakang. Sin Lee sudah mendesak dan hendak merobohkannya, akan tetapi tiba-tiba sebatang pedang menyambar dan menusuknya dari samping. Dia terkejut dan menangkisnya.

“Trangg...!” Pedang itu terpental dan Sin Lee berhadapan dengan Gan Lian Si yang mukanya merah sekali.

“Lian Si... kau...!” Sin Lee berseru heran. Baru saja dia membebaskan gadis itu dari ancaman perkosaan dan kini gadis itu mencegah dia merobohkan calon pemerkosanya.

“Jangan bunuh dia...!” Lian Si berkata dengan suara gemetar. “Aku tidak akan membunuhnya, akan tetapi...”

“Jangan mencampuri urusan kami!” bentak pula Lian Si dengan muka merah. Ia masih mabok akan tetapi agaknya ia telah mengambil keputusan tetap.

“Tapi dia...” Sin Lee membantah.

“Kami saling mencinta!” kata pula Lian Si dan mendengar ini, Tun Hok yang tadinya sudah khawatir sekali lalu tertawa.

“Ha-ha-ha, Pendekar Bunga Merah, engkau mendengar sendiri pengakuan adik Gan Lian Si itu. Apakah engkau begitu jahil untuk mengganggu sepasang orang muda yang sedang berkasih-kasihan dan saling mencinta? Apakah engkau merasa iri hati? Ha-ha-ha!”

Wajah Sin Lee berubah merah sekali. Tak disangkanya sama sekali pengakuan yang diucapkan Lian Si itu. Tentu saja dia merasa terpukul dan tidak mampu menjawab ejekan Tun Hok.

“Adik Lian Si, benarkah apa yang kaukatakan itu? Bahwa engkau mencinta pemuda ini? Sesungguhnyakah?”

“Aku mencinta pemuda ini dan apa hubungannya itu dengan engkau?” balas tanya Lian Si, pertanyaan yang dikeluarkan dalam keadaan setengah mabok dan bercampur dengan rasa sakit hati karena ia pernah ditolak oleh Sin Lee. Gadis ini tadi mendengar pengakuan Tun Hok yang mengaku mencintainya, dan hal inilah yang membuat ia berani menentang Sin Lee. Kalau Tun Hok memang mencintainya ia dapat memaafkan semua yang telah dilakukan kongcu itu atas dirinya. Pula, mungkin saja Tun Hok ini seorang pangeran, atau putera bangsawan tinggi.

Sin Lee merasa seperti ditampar mukanya, apa lagi mendengar suara tawa mengejek dari pemuda itu. “Baiklah, kalau begitu aku hanya dapat menghaturkan selamat!” katanya dan dua kali tangannya bergerak, nampak sinar merah menyambar ke arah Tun Hok dan Lian Si. Dua orang ini tidak sempat mengelak dan di dada baju Tun Hok telah menancap setangkai bunga merah, demikian pula di sanggul rambut Lian Si. Pemuda ini lalu berkelebat dan lenyap dari depan dua orang muda itu.

Tun Hok kini berhadapan dengan Lian Si. Tun Hok menghampiri gadis itu, dan berkata lirih, “Gan-siocia...” “Kongcu, masih perlukah kongcu menyebutku nona lagi?”

“Si-moi... ah, Si-moi yang tercinta...” dia merangkul.

“Koko, aku... aku cinta padamu, koko... jangan sia-siakan aku...” bisik Lian Si dalam rangkulan pemuda yang pandai memikat hati itu. Pengaruh arak dan juga pengaruh nafsu hatinya sendiri mendorong Lian Si untuk menurut saja ketika dibawa pemuda itu ke kamarnya, mabok dan gairah nafsu membuatnya lupa diri, lupa bahwa yang dilakukannya itu sebenarnya amat tidak baik dan merugikan dirinya sendiri sebagai seorang wanita!

Banyak gadis yang jatuh oleh rayuan pria, baik rayuan itu melalui harta benda, melalui kedudukan, atau juga melalui wajah tampan dan kata-kata bermadu. Setiap orang gadis haruslah waspada menghadapi godaan yang amat berbahaya ini, karena sekali mereka terpeleset dan jatuh, dirinya akan ternoda dan masih baiklah kalau si pria bertanggung jawab dan mau menikahinya. Akan tetapi kalau ia ditinggal lari, ditinggal pergi tanpa tanggung jawab? Apa jadinya dan apa yang dapat dilakukannya kecuali menangis air mata darah menyesali perbuatannya? Tangis yang tiada gunanya lagi. Masih mending kalau hubungan yang lajim disebut perjinaan itu tidak berakibat apa-apa, bagaimana kalau mengakibatkan si gadis mengandung? Mengandung dan tidak ada yang bertanggung jawab, berarti akan melahirkan seorang anak tanpa ayah. Dua jalan yang sama-sama tidak enak pilihannya. Menggugurkan kandungan atau membunuh bayi yang lahir tanpa dikehendaki, atau membiarkan aib melumuri nama dan kehormatan.

Begitu jahatkah pria? Sebetulnya bukan karena jahatnya karena perbuataan itu dilakukannya tanpa unsur kesengajaan hendak menipu. Pada saat nafsu berahi menghitamkan otak, si pria berani bersumpah bahwa dia akan mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya. Sebetulnya diapun bersungguh karena sudah didorong oleh nafsu berahi, karena sudah patah pertimbangannya dan kabur pandangannya yang menutup kesadarannya. Akan tetapi setelah semua terjadi dan lewat, barulah dia merasa menyesal dan karena keadaannya belum siap, baik secara lahir maupun batin, maka dia lalu lari dari tanggung jawab.

Keduanya memang menyesali perbuatannya yang terdorong nafsu setan. Akan tetapi bedanya, kalau si pria enak-enak saja dan sama sekali tidak ternoda baik badan maupun namanya, adalah si wanita yang hancur lebur kehidupannya hanya oleh kesesatan semalam atau bahkan sejenak. Saat yang amat menentukan jalan hidup selanjutnya, yang mungkin menjadi kelabu atau menghitam pekat. Lian Si lupa akan semua itu. Ia dibuai oleh nafsu yang terdorong oleh pengaruh arak. Ia lupa diri, dipermainkan gairah nafsunya sendiri. Ia merasa bahagia, karena dicinta oleh seorang pemuda yang mungki saja seorang pangeran, atau setidaknya seorang pemuda bangsawan yang kaya raya. Berilmu silat tinggi pula. Walaupun tidak setinggi tingkat Pendekar Bunga Merah, akan tetapi sudah patut dibanggakan karena pemuda itu jauh lebih pandai dari pada ia sendiri.

Sampai tiga hari tiga malam Lian Si dikeram di rumah itu biarpun sudah berulang kali ia mengatakan hendak pulang dan memberi tahu ayahnya agar mengatur dan membicarakan tentang pernikahan mereka. Baru pada hari ke empat Tun Hok yang sudah puas kekenyangan itu membiarkan ia pergi dengan berjanji bahwa dia akan menanti di situ menunggu kedatangan ayahnya.

Dengan hati penuh kebahagiaan, Lian Si melakukan perjalanan secepatnya ke Syanghai, memberitahukan kepada ayahnya bahwa ia telah bertemu dengan jodohmya. Ketika ayahnya mendengar cerita anaknya, ayah inipun merasa bangga dan berbahagia. Puterinya hanya bercerita bahwa ia bertemu dengan seorang pemuda bangsawan yang berilmu tinggi dan keduanya jatuh cinta, bersepakat unutk menikah dan kini puterinya itu pulang memberi tahu kepadanya agar dia suka pergi mengurus soal pernikahannya itu. Sama sekali Lian Si tidak bercerita tentang keributan yang terjadi dengan Pendekar Bunga Merah, juga tidak bercerita bahwa selama tiga hari tiga malam ia hidup seperti sepasang pengantin baru dengan pemuda pilihan hatinya itu! Gan Kong, guru silat di Syanghao itu segera mempersiapkan diri dan pada keesokan harinya setelah Lian Si pulang, dia bersama Lian Si naik kuda dan melakukan perjalanan secepatnya menuju ke bukit di sebelah selatan kota Kian-cu seperti yang ditunjukkan oleh Lian Si itu. Di sepanjang perjalanan Lian Si nampak sedemikian gembira sehingga ayahnya ikut gembira, mengira bahwa tentu sekali ini Lian Si bertemu jodohnya yang tepat dan agaknya amat dicinta oleh puterinya itu.

Akhirnya, pada suatu pagi mereka sampai juga di bukit itu. Dengan Lian Si yang melarikan kudanya di depan sebagai penunjuk jalan, mereka memasuki hutan dan tiba di depan rumah mungil itu. Akan tetapi apa yang mereka dapatkan? Rumah itu kosong, tidak ada seorangpun penghuninya! Lian Si memandang dengan muka pucat, akan tetapi ia segera menghibur dirinya dan berkata kepada ayahnya, “Ayah, kurasa Hok-koko pergi ke Kian-cu atau bermain-main di telaga sambil berbelanja. Mari kita cari dia di Kian-cu atau di telaga.” Gadis itu masih belum putus harapan dan ayahnyapun hanya mengikutinya saja.

Mereka berputar-putar di kota Kian-cu tanpa hasil dan akhirnya Lian Si dan ayahnya pergi ke telaga kecil yang berada dekat kota itu. Dan benar saja, Lian Si melihat pria yang dicintanya itu sedang berperahu bersama seorang kakek yang tinggi besar berpakaian pendeta. Ia memanggil dari daratan, dan agaknya Tun Hok melihatnya karena pemuda ini segera mendayung perahunya ke tepi, dan setelah tiba di tepi, meloncat ke darat dan mengikat perahunya. Kakek tinggi besar masih duduk bersila di dalam perahu sambil memandang dengan sikap acuh.

“Ah, kiranya engkau, adik Lian Si,” kata Tun Hok.

Lian Si mengerutkan alisnya melihat sambutan Tun Hok tidak seperti yang diduganya itu. Sambutan pemuda itu demikian dingin dan tidak bersemangat, seolah bertemu kenalan biasa saja. Pada hal, ia merasa rindu sekali kepada pemuda yang sudah dianggap suaminya itu! Akan tetapi karena ayahnya berada di situ, ia tidak memperlihatkan rasa penasaran di hatinya.

“Koko, ini adalah ayahku, sengaja kuajak ke sini!” Lian Si memperkenalkan. “Ayah, inilah kanda Bhe Tun Hok seperti yang kuceritakan kepada ayah.”

Sejak semula Gan Kong sudah mengerutkan alisnya. Penyambutan pemuda itu kepada Lian Si bukan sambutan seorang kekasih, pikirnya. Demikian dingin dan dia melihat kecongkakan pada sikap pemuda itu, seperti memandang rendah kepada dia dan Lian Si. Apakah karena dia pemuda bangsawan seperti pengakuan Lian Si?

“Ah, pamankah yang menjadi guru silat di Syanghai, ayah Lian Si? Selamat bertemu, Gan-kauwsu (guru silat Gan)!” kata Tun Hok malas-malasan. Ayah dan anak itu semakin kaget dan penasaran. Terutama sekali Lian Si yang mendengar betapa kekasihnya itu menyebut ayahnya “guru silat Gan”.

“Koko, ini adalah ayahku, calon ayah mertuamu!” ia menegur. “Aihh, Lian Si. Siapa bilang dia calon ayah mertuaku?”

“Koko, bukankah engkau menjanjikan untuk mengawini aku?”

“Ha-ha-ha, janji kita berdua dalam suasana mabok seperti itu tidak ada artinya, Lian Si. Aku tidak akan kawin dengan siapapun.”

Lian Si menjadi pucat sekali wajahnya dan ia memandang kepada Tun Hok dengan sepasang mata terbelalak, tidak percaya. Apakah ini bukan pemuda dengan siapa ia tidur selama tiga hari tiga malam itu?

“Hok-ko, apa artinya ini! Bukankah di rumahmu, di bukit itu, engkau menjanjikan akan menikah dengan aku, dan aku berpamit untuk memanggil ayahku agar mengurus dan membicarakan pernikahan kita?”

Tiba-tiba kakek berpakaian pendeta yang duduk di perahu itu berkata, “Tun Hok, ada apa ribut-ribut ini?”

“Ini, suhu. Gadis ini pernah bersenang-senang dengan teecu selama tiga hari tiga malam dan sekarang ia minta dikawini!” kata Tun Hok sambil tertawa.

“Hemm, siapa ia?” “Ia Gan Lian Si, puteri Gan Kong guru silat di Syanghai.” “Bagaimana ilmu silatnya?”

“Biasa-biasa saja, suhu. Akan tetapi lumayan, lebih baik dari pada para pembantu kita.”

“Kalau begitu, suruh mereka membantu kita menggempur Beng-kauw, baru kita bicara lagi. Mungkin engkau dapat mengambilnya sebagai seorang selir.”

Tun Hok berkata kepada ayah dan anak yang memandang dengan mata terbelalak itu. “Nah, kalian dengar apa kata guruku. Maukah kalian membantu kami menggempur Beng-kauw yang menjadi musuh kami? Setelah itu baru kita bicara. Biarpun aku sudah mempunyai tujuh orang selir, ditambah seorang lagi pun tidak mengapa.”

Hampir saja Lian Si menjerit seperti ditusuk jantungnya dengan pedang berkarat. Ia menudingkan telunjuknya ke arah muka Tun Hok. “Bhe Tun Hok, laki-laki macam apa engkau ini? Engkau telah berjanji akan menikahiku dan sekarang di depan ayah engkau hendak menyangkalnya?”

“Ha-ha, Lian Si, aku tidak akan menikah dengan seorang perempuan gampangan seperti engkau.”

“Tun Hok!” Lian Si menjerit. “Engkau jahanam busuk, keparat! Aku akan mengadu nyawa denganmu!” Lian Si mencabut pedangnya dan menyerang dengan tusukan kilat. Akan tetapi dengan mudahnya Tun Hok sudah mengelak dan dari samping menendang yang membuat Lian Si terhuyung.

Melihat keadaan ini, Gan Kong merasa tidak enak sekali. Dia memegang tangan puterinya. “Sudahlah, Lian Si. Kalau dia tidak mau, kita berdua pergi saja dari sini. Untung engkau belum menjadi isteri seorang pemuda seperti itu. Mari kita pergi.”

“Tidak, ayah! Dia harus menikah denganku, atau dia atau aku mati di sini!” Lian Si merenggut tangan ayahnya dan menyerang lagi membabi buta. Karena penyerangan Lian Si amat bersungguh-sungguh, terpaksa Tun Hok mengeluarkan sulingnya dan terdengarlah bunyi kerontangan ketika pedang berkali-kali ditangkis suling.

“Ayah, bantu aku membunuh binatang berkaki dua ini. Dia telah menodai aku, ayah!”

Mendengar ucapan anaknya yang dikeluarkan sambil menangis, Gan Kong terkejut bukan main. “Jahanam...!” Dia memaki dan kini Gan Kong juga mencabut pedangnya dan ikut membantu puterinya mengeroyok Tun Hok.

Namun, Tun Hok dengan tenangnya menggerakkan sulingnya, menangkis kedua pedang itu dan ketika sulingnya membalas, kembali Lian Si terhuyung. Gan Kong mengerahkan seluruh tenaganya dan menyerang dengan sengit, namun memang tingkatnya kalah jauh. Tun Hok dengan mudah menghindarkan diri dan ketika dia memutar sulingnya yang mengeluarkan suara berdengung-dengung, Gan Kong segera terdesak hebat.

Lian Si mengeluarkan teriakan melengking dan ia sudah menyerang lagi dengan sepenuh tenaga. Tun Hok kembali dikeroyok dua. Akan tetapi belum lewat lima belas jurus sulingnya berturut-turut menghantam pergelangan tangan ayah dan anak itu, membuat pedang mereka terlempar dan suling ini terus menghantam ke depan, mengenai dada Gan Kong dan pundak Lian Si. Ayah dan anak itu roboh terjengkang dan tidak dapat segera bangun kembali.

“Ha-ha-ha-ha, kepandaian kalian belum seberapa, membantu kamipun tidak ada gunanya.” Setelah berkata demikian, dia melompat ke atas perahunya dan mendayung perahu itu pergi ke tengah telaga.

Lian Si hendak bangkit, akan tetapi tidak kuat dan ketika ia menoleh, ia melihat ayahnya juga terluka, maka ia lalu menubruk ayahnya sambil menangis.

“Ayah... ahh, ayah...!” Ia menangis tersedu-sedu.

Ayah itu merangkul anaknya dan membiarkannya menangis sampai puas, baru dia bertanya, “Anakku, apa yang telah terjadi antara engkau dan dia?” “Ayah, kami berkenalan dan... dan... dia melolohku dengan arak sampai aku mabok... dan ketika itu sudah muncul Pendekar Bunga Merah melarang Tun Hok sehingga mereka bertanding dan Tun Hok sudah kalah. Akan tetapi aku... ah, mataku seperti buta... aku malah melindungi Tun Hok dan minta Pendekar Bunga Merah pergi. Kemudian... kemudian, aku seperti kehilangan segala pertimbangan dan kesadaran, ayah. Aku... aku menyerahkan diri kepadanya, selama tiga hari tiga malam aku...”

“Plakkk!!” Tamparan itu keras sekali mengenai pipi Lian Si yang jatuh terpelanting.

“Ayah, bunuhlah aku, ayah...” Lian Si menangis menggerung-gerung sambil menelungkup di atas tanah.

Gan Kong tenang kembali dan diapun menangis tanpa mengeluarkan suara, hanya air matanya yang menetes turun ke atas kedua pipinya. Dia teringat bahwa Lian Si adalah anak tunggalnya. Dirangkulnya gadis itu dan diangkatnya bangkit duduk kembali. Keduanya berpelukan sambil menangis.

“Ayah, aku harus membalas dendam. Harus! Kalau tidak, selama hidupku aku akan merana, menderita aib yang tak tertanggungkan.”

“Aku mengerti, Lian Si. Kesalahan langkahmu menghancurkan hidupmu dan pemuda jahanam itu memang harus dihukum. Mari, bukankah dia tadi mengajak kita membantu untuk menggempur Beng-kauw? Dia dan antek-anteknya tentu akan menyerang Beng-kauw. Jalan satu-satunya untuk membalasnya adalah kita pergi ke Beng-kauw dan membantu Beng-kauw memusuhinya.”

Ayah dan anak itu lalu pergi menunggang kuda mereka, menuju ke Beng-kauw. Semua peristiwa yang terjadi menimpa kita tidaklah terlepas dari pada perbuatan dan sikap kita sendiri. Tidak ada akibat tanpa sebab dan sebabnya harus dicari dalam diri sendiri. Kalau demikian, maka akan timbul kesadaran dan mawas diri ini mendatangkan keinsafan sehingga tidak akan mengulang kembali kesalahan yang pernah kita lakukan. Akan tetapi, pada umumnya kita hendak melemparkan kesalahan kepada orang lain dan kita lupa akan kesalahan diri sendiri. Timbullah dendam dan permusuhan turun temurun yang tidak ada habis- habisnya.

Demikian pula dengan Lian Si. Gadis ini merasa sakit hati dan mendendam kepada Tun Hok karena iapun tidak pandai mawas diri. Semua kesalahan ia timpakan kepada pemuda itu sehingga yang ada hanyalah benci dan dendam dan ingin membuat pemuda itu sengsara atau mati, seolah kalau sudah begitu akan hilang pula penderitaannya. Pada hal, penderitaan akan hilang dengan terhentinya sebab yang kita buat sendiri. Penyesalan tiada guna. Yang penting kesadaran akan kesalahan itu dan tidak akan mengulang lagi.

Keluarga gila itu bermain-main di telaga. Song Kian Ok minum arak sambil bernyanyi, nyanyian kanak- kanak diseling syair-syair dan ujar-ujar dalam kitab suci sehingga terdengar aneh sekali. Isterinya, Nyonya Song, memukul tutup panci sehingga berbunyi seperti canang. Dan Aceng atau Song Ceng mencari ikan. Caranya mencari ikan juga aneh dan luar biasa. Dia menggunakan sebilah papan yang lebarnya satu kaki panjang satu meter. Dan dia berdiri di atas papan yang meluncur ke sana ke mari sambil membawa sebuah bambu runcing. Begitu dia melihat ikan berenang di bawah permukaan air, bambu runcingnya menikam ke bawah dan dapatlah dia seekor ikan yang besar, yang sambil tertawa-tawa dibawanya ke perahu lalu diberikannya kepada ibunya. Dalam waktu tak lama dia telah berhasil menangkap enam ekor ikan yang besarnya sebetis kakinya. Ibunya sibuk membersihkan ikan itu untuk dipanggang di atas perahu.

Tak jauh dari situ, seorang kakek tinggi besar menonton sejak tadi. Hemm, pikirnya, mereka itu adalah keluarga gila yang terkenal di dunia kang-ouw. Kalau saja dia dapat mempergunakan mereka, tentu akan berhasil usahanya. Kakek itu adalah Bouw Sang Cinjin. Seperti diketahui, Bouw Sang Cinjin adalah bekas tokoh Lama Jubah Merah yang diusir dari negerinya. Tadinya dia sudah berhasil menguasai Beng-kauw dan hidup senang sebagai pimpinan Beng-kauw. Akan tetapi kemudian muncul Souw Giok Lan dan Cu Sin Lee yang menghancurkan apa yang telah dibangunnya itu. Dia kehilangan kedudukannya di Beng-kauw. Karena itu, kini dengan segala daya dia ingin merobohkan kekuasaan Souw Giok Lan yang menjadi ketua Beng-kauw. Dan untuk itu, dia membutuhkan banyak tenaga bantuan yang lihai karena Beng-kauw mempunyai banyak tokoh lihai, apa lagi Beng-kauw dibantu oleh Pendekar Bunga Merah yang namanya kian menonjol saja di dunia persilatan.

Melihat cara Song Ceng menangkap ikan, hatinya tertarik sekali. Pemuda itu saja sudah memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebat, apa lagi ayah dan ibunya. Kalau dia mampu menarik mereka bertiga memusuhi Beng-kauw, alangkah baiknya. Bouw Sang Cinjin adalah seorang yang cerdik. Dia sudaj mendengar banyak tentang keluarga Song yang gila dan tentang kehilaian mereka. Mengajak berunding orang gila sama sukarnya dengan mengajak berunding kerbau gila. Harus memakai akal, pikirnya.

Bouw Sang Cinjin segera berganti pakaian hitam, memakai topeng hitam dan diapun mengambil sebilah papan. Lalu dia meluncurkan papan itu di atas air dan meloncat di atasnya. Dengan jubah lebar sebagai layar terkembang, dia lalu meluncur mendekati Aceng yang masih tertawa-tawa itu. Dengan cepat dia lalu mendorong dari belakang sehingga Aceng kehilangan keseimbangannya. Kemudian, ketika Aceng terguling dan masuk ke dalam air, dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, mana bisa kau menandingi Beng-kauw? Ha-ha-ha!” dan diapun meluncur mendekati perahu. Sekali ini dia memegang kepala perahu dan menggulingkan perahu itu sehingga suami isteri Song terjebur pula ke dalam air. Setelah ketiga orang itu gelagapan dan berenang, orang berpakaian hitam memakai topeng hitam itu berkata nyaring, “Ha-ha-ha, keluarga Song Gila mana mampu menandingi Beng-kauw! Ha-ha-ha!” dan diapun meluncur pergi dari situ.

Song Kian Ok, Nyonya Song dan Aceng memaki-maki sejadinya. “Beng-kauw anjing, Beng-kauw kucing, Beng-kauw monyet, babi...!” Akan tetapi mereka tidak mendapat jawaban dan merekapun dengan susah payah berenang ke tepi, basah kuyup dan kehilangan ikan dan segalanya.

Sampai di pantai, Aceng menangis seperti anak kecil. “Ah, ikan-ikanku! Beng-kauw nakal, ibu!” “Diamlah, kita nanti beri hajaran kepadanya.”

“Beng-kauw berani kurang ajar kepada kita, sungguh harus ditumpas!” kata pula Song Kian Ok. “Akan tetapi Beng-kauw itu siapa?” tanya isterinya.

“Beng-kauw ya Beng-kauw, habis siapa?”

“Dia itu orang macam apa? Berkedok tadi? Di mana tempat tinggalnya?”

Pada saat mereka bersungut-sungut dan marah, muncul orang bertopeng hitam berjubah lebar tadi. “Ha- ha-ha, kalian berani menentang Beng-kauw. Sama dengan cari mampus!”

“Orang gila kau!” Aceng sudah berseru nyaring dan dia sudah meloncat ke depan, menyerang orang itu. Serangannya kacau balau, akan tetapi mengandung sin-kang kuat dan orang bertopeng itu segera menangkis dan balas menyerang. Ayah ibu Aceng sudah berloncatan dan merekapun menyerang sehingga orang bertopeng yang bukan lain adalah Bouw Sang Cinjin itu dikeroyok tiga. Dia memang ingin mencoba kepandaian mereka, maka melayaninya dengan penuh semangat. Kalau satu lawan satu, pasti dia menang, akan tetapi kalau dikeroyok tiga, dia repot juga. Senanglah hatinya. Kalau keluarga ini maju bersama, akan menjadi pembantu yang bahkan lebih tangguh dari pada dirinya. Dia lalu melompat ke belakang dan melemparkan sebuah benda yang meledak dan mengeluarkan asap tebal. Keluarga gila itu berteriak-teriak ketakutan, lari menyingkir. Terdengar suara dari dalam asap itu.

“Kalau kalian memang berani, datanglah di Beng-kauw. Cari di lereng pegunungan Beng-san sebelah selatan dan kalian akan dapat menemukan tempat kami. Nah, sampai jumpa. Kalau kalian tidak datang, berarti kalian pengecut besar.” Setelah asap menipis, orang bertopeng itupun sudah lenyap dari situ.

Song Kian Ok mencak-mencak, matanya mencorong aneh. “Jahanam keparat busuk, engkau Beng-kauw! Siapa sih yang takut kepada Beng-kauw? Akan kudatangi Beng-kauw, akan kuobrak-abrik dan kubunuhi semua orang Beng-kauw!”

“Ait-ait-ait, suamiku. Jangan main bunuh, apa lupa akan pesan Si Dewa Arak?” tegur isterinya.

“Pemabok tua gila itu? Dia sendiri suka membunuh orang. Setidaknya, si tinggi besar itu akan kubikin patah kedua kakinya!”

Aceng tidak kalah semangatnya. “Akan kubakari semua rumah Beng-kauw! Ya, dan akan kugoda gadis- gadisnya sampai kaku ketakutan!”

Keluarga gila itu memaki-maki dan mengancam sampai merasa puas. Pada saat itu terdengar suara orang tertawa. “Ha-ha-ha, bagus sekali. Sekali ini Beng-kauw yang jahil dan jahat itu tentu akan mampus semua!” Muncullah Bouw Sang Cinjin yang mengenakan pakaian biasa dari balik rumpun alang-alang.

“Heh, siapa kau! Orang Beng-kauw?” tegur Song Kian Ok dan sekali melompat dia sudah berada di depan Bouw Sang Cinjin.

“Siancai, pinto adalah seorang pendeta, sobat, bukan orang Beng-kauw. Pinto adalah sahabat, bukan musuh, kawan dan bukan lawan.”

“Kawan atau lawan siapa tahu? Kau siapa?”

“Ha-ha-ha, pinto berhadapan dengan keluarga Song yang terhormat dan lihai, bukan? Pinto adalah Bouw Sang Cinjin, seorang pendeta.” Bouw Sang Cinjin adalah bekas Lama, akan tetapi kini dalam pelarian dan penyamarannya, dia mengaku sebagai seorang pendeta yang beraliran agama To.

“Dan alasan apa yang mengatakan bahwa engkau adalah sahabat kami?” tanya Nyonya Song.

“Pertama, pinto mempunyai hadiah untuk kalian untuk menunjukkan bahwa pinto ingin bersahabat.” Dia mengeluarkan tiga helai kalung dari mutiara dan menyerahkannya kepada mereka. Nyonya Song dan Aceng girang bukan main menerima kalung itu dan segera dipakainya. Hanya Song Kian Ok yang masih uring-uringan karena tadi dipaksa tercebur ke dalam air telaga, nampak masih bercuriga.

“Dan kedua, pinto mengundang sam-wi untuk makan bersama. Di balik ilalang itu pinto sudah mempersiapkan hidangan untuk kita berempat, lengkap dengan panggang ikan dan arak wangi.”

“Panggang ikan? Wah, ikan-ikanku hilang. Mana ada panggang ikan?” kata Aceng gembira. “Arak wangi...?” Kini Song Kian Ok menjilat lidahnya.

“Mari, sam-wi, silahkan makan...!” Bouw Sang Cinjin segera mengajak mereka ke belakang semak ilalang dan benar saja, di situ telah tersedia makanan dan minuman di atas tikar yang terbentang. Memang semua telah diatur sebelumnya oleh Bouw Sang Cinjin dan para pembantunya.

Tiga orang keluarga Song itu tanpa sungkan lagi lalu makan minum dengan lahapnya sampai kekenyangan. Song Kian Ok mengelus perutnya sambil mengangguk-angguk.

“Bouw Sang Cinjin, engkau memang seorang sahabat, sahabat baik. Ha-ha, kami senang mempunyai sahabat yang dapat menyuguhkan arak begini harum dan lezatnya.”

“Dan ikan panggang ini gurih sekali, ayah!” Aceng memuji.

“Aku lebih senang kalung-kalung ini!” kata Nyonya Song yang memakai dua untai kalung karena bagian suaminya diberikan kepadanya.

“Pinto masih mempunyai hadiah yang ketiga, yaitu di mana kalian dapat menemukan Beng-kauw. Beng- kauw berada di bukit Beng-san, bagian selatan. Dan ketuanya adalah seorang gadis yang jahat sekali bernama Souw Giok Lan. Masih ada lagi suhengnya yang tidak kalah jahatnya, dia adalah Pendekar Bunga Merah.”

Tiga orang itu saling pandang dengan mata berputar, “Pendekar Bunga Merah? Kami seperti pernah mendengarnya.”

“Mereka semua musuh kalian, dan musuh kami pula. Maka, kalau kita bekerja sama, tentu sam-wi akan mampu membalas penghinaan mereka.”

“Baik, baik. Kami mau bekerja sama dan sekarang juga kami hendak pergi ke sana,” kata Song Kian Ok. Tentu saja Bouw Sang Cinjin merasa girang bukan main. Dengan cara yang amat mudah dan murah dia berhasil menarik tiga orang keluarga gila yang amat lihai itu.

Bukan hanya tiga orang keluarga Song gila itu yang kini menjadi sekutu Bouw Sang Cinjin. Akan tetapi ada pula seorang wanita yang amat berbahaya karena wanita inipun lihai sekali dan ia bukan lain adalah Lai Kim Li. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lai Kim Li adalah murid pula dari Bouw Sang Cinjin dan ia adalah sumoi dari Bhe Tun Hok, juga selain sumoi, ia menjadi pula kekasih Bhe Tun Hok. Di bagian depan telah diceritakan bahwa wanita iblis ini pernah dapat menjebak Sin Lee yang ingin dipersuami, akan tetapi akhirnya Sin Lee dapat lolos bahkan mengalahkannya. Karena takut terjatuh ke tangan penduduk dusun yang mengamuk dan mendendam karena ia telah menewaskan banyak pemuda, Lai Kim Li melarikan diri dan terjun ke dalam jurang. Mestinya terjun dari tempat yang sedemikian tingginya ia tentu mati. Akan tetapi kenyataannya, orang-orang dusun tidak menemukan mayatnya dan Lai Kim Li lenyap begitu saja. Sebetulnya, Lai Kim Li sudah mengenal daerah itu dan ketika meloncat ke dalam jurang, ia sudah memperhitungkan bahwa ia akan menimpa sebatang pohon yang tumbuhnya miring di jurang itu. Inilah yang menyelamatkannya, karena ia sudah dapat memegang cabang pohon itu dan ia tidak terbanting ke bawah. Biarpun tubuhnya lecet-lecet dan lengannya terasa nyeri namun ia selamat.

Tentu saja ia mendendam kepada Pendekar Bunga Merah dan ketika bertemu gurunya ia mendengar bahwa gurunya juga mendendam kepada pendekar itu, ia lalu bergabung dengan gurunya untuk menyerbu dan memburuk-burukkan nama Beng-kauw. Baginya, bukan karena hendak membalas kepada Beng-kauw seperti yang dikehendaki gurunya maka ia bergabung, melainkan karena suhunya mengatakan bahwa ketua Beng-kauw adalah sumoi dari Pendekar Bunga Merah dan kalau Beng-kauw diganggu, tentu pendekar itu akan muncul.

Semakin santer berita tentang orang-orang kang-ouw hendak menyerbu Beng-kauw dan di mana-mana Sin Lee mendengar berita ini. Orang-orang kang-ouw marah karena kabarnya Beng-kauw melakukan segala macam kejahatan, bahkan banyak melakukan pembunuhan di antara para pendekar yang berani menentangnya.

Tentu saja Sin Lee amat mengkhawatirkan keadaan sumoinya. Kalau benar para tokoh kang-ouw dan partai-partai besar hendak menyerbu Beng-kauw, berarti sumoinya terancam bahaya besar! Dia teringat kepada Bu-tong-pai, maka dalam perjalanannya menuju ke Beng-kauw, dia singgah dulu ke Bu-tong-pai, dan segera menghadap ketua Bu-tong-pai.

Beng Sian Tosu menerimanya dengan gembira sekali dan dia cepat menyuruh Sin Lee bangun ketika pemuda ini dengan hormatnya berlutut kepadanya dan menyebut “supek”.

“Ahh, Sin Lee, Si Pendekar Bunga Merah. Jangan banyak sungkan, Sin Lee, bangkit dan duduklah. Angin apakah yang meniupmu terbang ke sini?” kata tosu itu dengan ramah dan gembira.

“Supek, saya datang ini sengaja untuk membicarakan tentang Beng-kauw dengan supek dan mohon petunjuk supek.”

“Ahh, itu? Aku sudah mendengar desas-desus bahwa para tokoh kang-ouw akan mendatangi Beng-kauw bulan depan dan kalau perlu akan menyerang Beng-kauw karena ada berita bahwa Beng-kauw melakukan penyelewengan. Tentu saja aku tidak percaya begitu saja berita itu, maka aku telah mengutus beberapa orang murid untuk datang ke Beng-kauw dan membuktikannya sendiri.”

“Dan buktinya bagaimana, supek?”

“Tidak ada bukti akan penyelewengan Beng-kauw, dan para suhengmu itu diterima oleh ketua Beng-kauw sendiri yang juga menyatakan sudah mendengar tentang berita itu. Ketua Beng-kauw membantah dan mengatakan bahwa berita itu fitnah belaka, bahkan menuntut bukti-bukti bahwa ada anak buah Beng-kauw melakukan kejahatan. Pinto yakin setelah dipimpin oleh sumoi-mu itu, Beng-kauw menjadi perkumpulan yang mengambil jalan lurus, bahkan peraturannya terhadap para murid keras dan ketat sekali.”

Sin Lee menghela napas lega. “Kalau begitu, saya dapat mengharapkan suara supek dalam pertemuan nanti, apa bila para tokoh kang-ouw itu mendatangi Beng-kauw. Kalau sumoi tidak bersalah, sudah sepatutnya ditolong, bukan, supek?”

“Siancai? Dengan lain kata-kata, engkai menghendaki agar pinto mendatangi pertemuan itu dan memberikan suara untuk kebersihan Beng-kauw?

“Kalau supek tidak berkeberatan tentu saja.”

“Aihh, untuk membela yang benar, tentu saja pinto tidak berkeberatan dan pinto berjanji akan datang sendiri ke sana kalau saatnya tiba.” “Terima kasih banyak, supek.”

Sin Lee tidak lama berada di Bu-tong-pai, karena dia segera pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Beng- kauw. Dia melakukan perjalanan cepat sekali dan tiba di Beng-kauw sebelum ada orang kang-ouw yang mendatangi perkumpulan itu.

Bukan main gembiranya Souw Giok Lan ketika ia melihat munculnya suheng yang tercinta ini. “Suheng, akhirnya engkau datang...!” serunya sambil lari menyambut dan kedua mata gadis itu menjadi basah.

“Sumoi, apa kabar...?” Sin Lee berkata dan mereka saling berpegang tangan tanpa berkata apa-apa lagi, hanya sinar mata mereka yang bicara banyak, yang dengan jelas menyatakan betapa mereka saling merindukan. Melihat sepasang mata sumoinya perlahan-lahan meneteskan beberapa butir air mata ke atas sepasang pipinya, Sin Lee juga merasa betapa kedua matanya menjadi basah dan tahulah dia betapa sebenarnya mereka saling merindukan dan saling mencinta, bahwa perpisahan antara mereka itu dipaksakan sekali.

“Aih, sumoi, rasanya sudah bertahun-tahun kita tidak berjumpa. Bagaimana, sumoi, engkau baik-baik saja, bukan?”

“Baik, suheng, dan engkau sendiri, bagaimana? Engkau kelihatan agak kurus, suheng.” “Sama denganmu, sumoi. Engkau sehat akan tetapi agak kurus, ada apakah, sumoi?”

“Mari kita bicara di dalam, suheng. Ada sesuatu yang amat penting kupikirkan dan kebetulan sekali engkau datang. Aku sedang gelisah, suheng.”

Mereka berdua memasuki ruangan dalam dan dua orang anggota wanita masuk menghidangkan minuman. “Kalian keluarlah dan suruh jaga, kalau tidak penting sekali aku tidak mau diganggu karena hendak bicara penting dengan suhengku.”

“Baik, pangcu,” kata kedua orang anggota itu dan mereka lalu keluar. “Nah, sumoi. Ada berita apakah, sumoi?”

“Suheng, baru-baru ini, sekitar tiga bulan, Beng-kauw dihujani fitnah dari sana-sini!” Giok Lan segera mengeluarkan kerisauan hatinya.

“Justeru karena itulah maka aku datang mengunjungimu, sumoi. Akupun mendengar bahwa Beng-kauw telah menyeleweng, melakukan bermacam kejahatan dan kabarnya bulan depan para tokoh kang-ouw dan pimpinan partai besar akan datang untuk menghukum dan menyerbu Beng-kauw.”

“Aih, jadi engkau sudah mendengarnya, suheng? Kalau begitu, engkau tentu tahu betapa risaunya hatiku.”

“Akan tetapi, kurasa tidak semua orang percaya akan berita itu, sumoi. Bukankah baru-baru ini ada utusan Bu-tong-pai datang ke sini?”

“Benar, suheng. Mereka menanyakan tentang berita itu dan aku menuntut agar kalau ada murid Beng- kauw melakukan kejahatan, ditunjukkan bukti-buktinya. Kukatakan kepada mereka bahwa itu semua hanya fitnah dan agaknya orang-orang Bu-tong-pai mempercayainya.”

“Tentu saja, sumoi. Aku sudah bertemu dengan ketua Bu-tong-pai, supek Beng Sian Tosu dan beliau sudah berjanji untuk membela Beng-kauw kalau saatnya orang-orang kang-ouw berkumpuk di sini.”

“Ah, bagus sekali kalau begitu, suheng. Dan ada pula utusan dari Siauw-lim-pai yang seperti juga utusan dari Bu-tong-pai hendak menanyakan tentang berita itu. Kepada mereka aku juga menyangkal dan minta bukti.”

”Aku percaya bahwa para pimpinan partai besar adalah orang-orang bijaksana yang tidak mudah termakan desas-desus tanpa melihat buktinya. Karena itu, jangan gelisah, sumoi.”

“Sekarang aku tidak gelisah lagi setelah engkau berada di sini, suheng!” kata gadis itu gembira. Mereka membicarakan keadaan perkumpulan Beng-kauw yang menurut keterangan Giok Lan kini telah maju pesat. Para anggotanya selain tekun mempelajari keagamaan juga mereka diharuskan bekerja apa saja, tidak boleh menganggur dan peraturan amatlah ketat dan kerasnya. Setiap pelanggaran dikenakan hukuman berat.

“Hemm, kalau begitu baik sekali, sumoi. Aku ikut bangga dan gembira bahwa engkau telah dapat mengangkat kembali nama baik mending ayahmu. Kau tentu senang sekali dengan tugasmu sebagai ketua di sini, bukan?”

Ditanya begitu, Giok Lan menundukkan mukanya dan mengerutkan alisnya, tidak menjawab. “Sumoi, mengapakah?”

“Tidak, tidak apa-apa...” jawab yang ditanya, masih menunduk dan menggeleng kepalanya. Akan tetapi Sin Lee terkejut melihat ada air mata jatuh dari mata itu.

“Lan-moi, kenapa? Apakah engkau tidak suka dengan kedudukanmu sebagai ketua Beng-kauw?”

Giok Lan menyusut air matanya dan mengangkat muka, menatap wajah suhengnya. “Suheng, apa yang dapat kukatakan? Aku harus membersihkan nama Beng-kauw demi mending ayah, dan mereka menuntut agar aku menjadi ketua. Bahkan engkau... engkau sendiri menganjurkan agar aku menjadi ketua. Apa lagi yang dapat kulakukan? Aku tidak ada pilihan lain, suheng...” Ia menunduk kembali. Tahulah Sin Lee bahwa gadis ini menjadi ketua Beng-kauw karena terpaksa, bukan karena suka rela. Dan dia merasa bersalah, karena dia yang dahulu mendesak sumoinya agar mau menjadi ketua Beng-kauw dengan maksud agar Giok Lan membersihkan nama ayahnya yang pernah dianggap sebagai pengkhianat di Beng-kauw. Kini dia merasa amat iba kepada sumoinya ini. Menjadi ketua! Seorang dara yang begitu muda. Memimpin ratusan orang anggota dan bertanggung jawab untuk kemajuan Beng-kauw dan kebersihannya. Betapa beratnya tugas itu!

“Tugasmu memang berat, sumoi. Tanggung jawabmu amat besar, akan tetapi jangan takut, aku akan membantumu sekuat tenagaku. Kurasa ada orang yang sengaja hendak melempar fitnah kepada Beng- kauw dan agaknya aku dapat menduga siapa orangnya.”

Giok Lan mengangkat muka menatap wajah suhengnya. Bukan main, pikir Sin Lee. Mengapa seolah dia baru melihat sekarang? Baru terbuka matanya sekarang ini? Apakah dahulu dia menjadi seperti orang buta, tidak melihat betapa cantik jelitanya sumoinya ini? Mukanya yang bulat telur manis sekali. Matanya tajam bagaikan bintang kejora, dan hidungnya kecil mancung itu ujungnya agak menjungat ke atas, nampak lucu sekali, dengan cuping hidung yang agak berkembang kempis. Bibir itu penuh dan seperti buah apel yang sudah masak menantang untuk digigit, dengan lesung pipit menghias di pipi kiri. Tahi lalat kecil di pipi kanan merupakan imbangan yang tepat dan serasi sekali. Manisnya ketika bibir itu bergerak- gerak bicara. Kenapa baru sekarang semua itu nampak jelas olehnya? Dan juga baru terasa dia betapa dia amat merindukan Giok Lan, amat mencinta Giok Lan.

“Suheng, kau kenapa...?” tiba-tiba Giok Lan menegurnya.

Sin Lee terkejut, baru sadar dari lamunan. “Kenapa... apa... sumoi?” “Aku bicara sejak tadi dan engkau sama sekali tidak menjawab.” “Bicara? Bicara apakah, sumoi?”

“Ya ampun! Jadi engkau tidak mendengarnya? Aku mengatakan bahwa akupun agaknya dapat menduga siapa adanya orang yang melakukan fitnah atas Beng-kauw, karena hanya dia yang kiranya mengandung dendam sakit hati terhadap Beng-kauw.”

“Engkau benar, sumoi. Tentu dia orangnya.” “Bouw Sang Cinjin?”

“Siapa lagi kalau bukan dia? Agaknya dia masih merasa penasaran ketika kita mengusirnya dari sini. Dia kehilangan kedudukan, dan tentu merasa penasaran sekali.” “Habis, bagaimana baiknya, suheng?”

“Takut apa? Biarlah dia melakukan fitnha. Kalau ada yang percaya, maka yang percaya itu tolol dan condong berbuat tidak benar. Kita tidak perlu takut, karena tanpa bukti, mereka itu tidak mungkin akan percaya. Kecuali kalau memang sudah ada yang membenci Beng-kauw dan hendak mencari gara-gara, kita lawan saja!”