-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 6

Jilid 6

“Memang sebaiknya begitu. Kalau sekarang paduka menyuruh tangkap mereka, lalu apa alasannya? Belum ada bukti dan tidak mungkin paduka menjatuhkan hukuman kepada orang-orang yang tidak terbukti kesalahannya. Apa lagi kalau mereka itu orang-orang berkedudukan tinggi seperti mereka. Tentu akan menimbulkan geger dan semua orang akan mencela perbuatan paduka. Sekarang, saya mohon kepada paduka agar memanggil Tabib Loa ke sini, akan tetapi harus secara rahasia dan tidak diketahui orang lain.”

“Ada apa dengan tabib itu?”

“Saya ingin menyelidiki siapa sebenarnya yang telah meracuni ayahanda kita.”

Kaisar menyetujui dan segera mengirim utusan, seorang pengawal kepercayaannya, untuk memanggil Tabib Loa ke istana dengan dalih bahwa ada seorang anggota keluarga yang sakit, kalau-kalau ada yang mengetahuinya walaupun panggilan itu dilakukan mendadak dan secara rahasia.

Tabib tinggi kurus itu terbongkok-bongkok memasuki istana dari pintu tembusan, diikuti perajurit pengawal kepercayaan Kaisar. Dengan membawa surat perintah Kaisar, dengan mudah mereka melewati para penjaga yang mengira bahwa tentu ada keluarga kerajaan yang sakit, maka memanggil tabib terkenal itu.

Ketika dibawa memasuki ruangan khusus, Tabib Loa menjadi heran karena yang menerimanya bukan Kaisar, melainkan seorang pemuda yang diketahuinya sebagai Pangeran Cu Sin Lee, yang belum lama diangkat menjadi pangeran, seorang pangeran peranakan Mongol!” Dari Bong Thaikam diapun sudah tahu bahwa pangeran ini termasuk ‘golongan sendiri’ yang menjadi sekutu Bong Thaikam, maka dia tidak merasa takut.

“Selamat siang, Pangeran. Yang Mulia, Sribaginda mengutus orang memanggil saya, ada urusan apakah, Pangeran? Siapa yang menderita sakit?”

“Tidak ada yang sakit, Paman Loa. Akan tetapi, aku sengaja mengaku sakit kepada kakanda Kaisar sehingga kanda Kaisar berkenan memberi surat kuasa untuk mengundangmu. Sebetulnya, aku hanya ingin bicara penting kepadamu. Kalau aku yang datang ke rumahmu, mungkin akan menarik perhatian orang.”

“Ada keperluan apakah, Pangeran?” tanya tabib itu merasa heran dan tidak enak hati.

“Paman tentu tahu bahwa aku bekerja sama dengan Bong Thaikam. Aku sudah mengetahui segala yang dilakukan Paman Bong dengan Panglima Coa, Gubernur Cen dan termasuk engkau. Tentang kematian mendiang Kaisar Ceng Tung...”

“Hamba... hamba tidak tahu apa-apa, pangeran. Mendiang Kaisar diserang penyakit jantung dan hamba telah gagal mengobatinya, telah terlambat.”

Sin Lee tersenyum, “Sudahlah, paman. Aku sudah tahu semuanya. Kau tahu, aku juga membenci orang yang mendi ayahku itu karena dia telah menyia-nyiakan ibu dan aku, ditinggal di utara sana. Andaikan racunmu tidak membunuhnya, tentu aku juga akan datang membunuhnya.”

“Racun...? Hamba tidak...”

“Sstt, Paman Loa. Paman Bong sudah menceritakan semuanya, engkau tidak perlu berpura-pura lagi. Bahkan aku sekarang membutuhkan racun seperti yang dulu kau berikan kepada Bong Thaikam. Engkau tentu memiliki racun serupa, bukan?”

Tabib itu merasa tersudut, “Yaaah, kalau paduka sudah mengetahui semuanya, tentu paduka tahu pula bahwa semua itu direncanakan oleh Bong Taijin. Hamba hanya membuatkan racunnya saja, menyerahkan kepada Bong Taijin...”

“Kemudian engkau yang menjaga Kaisar yang sedang sakit, mencegahnya agar jangan ada orang lain yang memberinya obat penawar racun bukan? Aku mengetahui semuanya!” kata Sin Lee memancing dan pancingannya berhasil.

“Paduka sudah mengetahui semuanya, tidak perlu hamba menceritakan lagi.” “Dan tentang racun itu, apakah engkau sekarang membawanya, paman?”

Tabib itu membuka peti kecil yang tadi dibawanya, “Hamba kita ada sedikit, pangeran, Racun ini adalah racun dari lima macam ular berbisa, kerjanya halus dan orang yang makan tidak merasakan apa-apa, hanya lemas dan jatuh sakit. Selama tiga hari dia sakit dan tidak ada obat yang akan dapat menolongnya, tidak ada orang yang tahu bahwa dia keracunan. Hanya sayangnya, mayat orang itu akan menjadi hitam semua kukunya.”

“Mana racun itu, paman. Aku membutuhkannya.”

Tabib itu mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan putih, “Inilah, pangeran. Campurkan kepada makanan atau minuman tidak akan terasa apa-apa, akan tetapi racun sedikit ini saja cukup untuk membunuh lima orang.”

Sin Lee yang sejak tadi sudah menahan kemarahannya, menerima botol itu, membuka tutupnya dan benar saja. Racun itu tidak mengeluarkan apapun.

“Nah, Paman Loa, sekarang bukalah mulutmu.”

Tabib tua tinggi kurus itu terbelalak, “Buka mulut? Apa maksud paduka...?” Dia begitu heran sampai tidak menyangka buruk.

“Buka mulutmu, kataku!” kata Sin Lee dan baru sekarang Tabib Loa tahu apa maksudnya.

Dia menjatuhkan diri berlutut, “Ampun pangeran. Hamba tidak bersalah, hanya menaati perintah Bong Taijin... ahhhh, ampuni hambamu yang sudah tua ini...” Dia meratap dan menangis.

Kini suara Sin Lee terdengar berbeda. Suaranya dingin dan tegas, menyeramkan bagi tabib itu. “Ayah kandungku mati karena kauracuni. Nah, sekarang minumlah racun ini agar engkau segera menghadap beliau dan mempertanggung-jawabkan perbuatanmu!”

“Ti... tidak... ampun, pangeran... ampunkan hamba...” kakek itu menangis.

Sin Lee menjadi gemas. Tangan kirinya menyambar, menangkap geraham tabib itu dan sekali menekan mulut tabib itu terbuka, lalu didorong ke belakang dan dia menuangkan semua isi botol ke dalam mulut yang terbuka dengan paksa itu. Terdengar suara gelogokan dan semua racun itu memasuki perut si tabib. Sin Lee melepaskannya dan tabib itu menangis, bergulingan di atas lantai karena racun itu terlalu banyak bagi perutnya sehingga menimbulkan rasa nyeri yang hebat, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum panas.

Sin Lee bertepuk tangan memanggil dan dua orang pengawal kepercayaannya muncul. “Bawa dia, seret ke dalam kamar tahanan dan biarkan dia mati, jangan sampai ada orang mengetahui hal ini.”

“Baik, pangeran.” Kedua pengawal itu sudah diberitahu mengapa tabib ini harus dibunuh sebagai hukuman atas kejahatannya, maka merekapun tanpa kasihan menyeret tubuh yang sudah berkelojotan itu keluar ruangan. Setelah itu, Sin Lee bersiap-siap untuk menghadiri pertemuan di rumah Bong Thaikam.

Malam itu, di dalam sebuah ruangan yang terang benderang karena dipasangi banyak lampu, mereka semua telah berkumpul mengelilingi sebuah meja besar. Bong Thaikam duduk di kepala meja, Sin Lee duduk di sebelah kanannya. Panglima Coa dengan pakaiannya yang mentereng. Lalu Gubernur Cen, yang sebetulnya juga seorang pangeran yang diangkat oleh mendiang Kaisar Ceng Tung menjadi gubernur di Lok yang, dan ada lima orang pejabat tinggi lainnya, yaitu tingkatan menteri dan menteri muda.

Mula-mula Bong Thaikam memperkenalkan Pangeran Cu Sin Lee kepada mereka semua, kemudian dia menceritakan pertemuannya dengan Sin Lee yang kini sudah diterima oleh Kaisar dan diakui sebagai seorang pangeran atau adik Kaisar. Semua orang memandang kagum kepada Sin Lee yang seperti biasa, memakai setangkai bunga merah di kancing bajunya. “Kami pernah mendengar bahwa ada seorang pendekar baru muncul, diberi julukan Pendekar Bunga Merah yang selalu memakai bunga merah di bajunya. Apakah ada hubungannya dengan paduka, pangeran?”

Bong Thaikam tertawa bergelak. “Memang, inilah orangnya. Ilmu silatnya amat tangguh dan sudah kami uji sendiri. Kami beruntung mempunyai seorang sekutu seperti beliau ini. Beliau merasa sakit hati sekali mendengar bahwa ayahanda beliau diracuni oleh Kaisar Kian Cung, maka bersedia membantu kita.”

Semua orang mengangguk dan tersenyum. Tentu saja mereka tahu bahwa yang meracuni Kaisar Ceng Tung bukanlah Kaisar sekarang, melainkan komplotan mereka juga.

“Lalu bagaimana siasat itu direncanakan? Apakah hendak memakai racun? Ataukah dengan kekerasan?” tanya Panglima Coa yang ingin sekali gerakan itu berhasil, karena dia dijanjikan akan menjadi Panglima besar yang menjadi Panglima besar yang menjadi orang pertama di kalangan ketentaraan. “Untuk merundingkan itulah kami mengundang cu-wi (anda sekalian) ke sini,“ kata Bong Thaikam. “Mari kita bicarakan bagaimana sebaiknya usaha itu diatur.”

“Bong Taijin adalah orang yang paling dekat dengan Kaisar, tentu akan dapat melihat kesempatan- kesempatan yang paling baik untuk melaksanakan niat kita. Kami hanya menanti tugas saja, apa yang harus kami lakukan demi tercapainya cita-cita kita,” kata Gubernur Cen dari Lok-yang. Diapun dijanjikan kelak akan diangkat menjadi perdana menteri kalau gerakan itu berhasil, satu pangkat yang jauh lebih besar dari pada sekedar Gubernur!

Lima orang penjabat lain juga mendesak agar Bong Thaikam saja yang mengatur dan mereka hanya membantu. Bong Thaikam mengangguk-angguk lalu berkata degan perlahan namun jelas. “Membunuh dengan racun akan menimbulkan kecurigaan karena kematian Kaisar yang lalu juga karena keracunan. Sebaiknya dilakukan dengan kekerasaan, akan tetapi diatur agar aman betul. Pada persidangan lengkap minggu depan merupakan kesempatan baik sekali.”

“Ah, kenapa justru dalam persidangan lengkap? Berarti akan menemui banyak halangan dan disaksikan banyak pejabat!” bantah Coa ciangkun.

“Justru kita membutuhkan saksi-saksi,” kata Bong Thaikam. “Agar kelihatan bahwa para pembunuhnya bukanlah kami melainkan orang-orang berkedok yang lihai. Kita menyerahkan tugas ini kepada Huang-ho Sam-liong, dan Pangeran Cu Sin Lee inilah yang akan menjaga agar jangan sampai tiga orang pembunuh itu dihalangi. Kemudian, Coa-ciangkun harus siap dengan pasukannya mengepung ruangan persidangan dan para pengawal akan saya ganti dengan orang kita sendiri. Juga diminta bantuan Coa-ciangkun agar mengatur supaya para Panglima yang hadir adalah kawan-kawan kita. Cen-taijin diperlukan kesaksiannya kelak bahwa pembunuhnya adalah orang-orang berkedok yang kita katakan saja bangsa asing yang menyelundup.”

“Bangsa asing apa?” tanya Gubernur Cen.

”Sekarang ini di pantai timur terdapat banyak bajak laut Jepang. Kita dapat menggunakan nama mereka. Kalau para pembunuh itu mengenakan pakaian hitam dan penutup kepala hitam, dengan pedang samurai, tentu tidak meragukan lagi bahwa mereka adalah orang-orang Jepang, pembunuh bayaran Jepang yang dikenal dengan sebutan ninja. Bagaimana kalian pikir dengan siasat ini?”

“Baik sekali,” kata Panglima Coa. “Akan tetapi, bagaimana dapat menyelundupkan mereka ke tempat persidangan tanpa diketahui?”

“Ha, ha, itu urusan mudah sekali. Dengan dalih melakukan penjagaan dan menjaga dengan pasukan pengawal khusus, saya dapat menyusupkan mereka di antara pasukan pengawal.”

Demikianlah, siasat diatur sebaik-baiknya, bahkan di mana masing-masing akan berdiri telah ditentukan dalam perundingan itu, seolah mereka semua merupakan pemain panggung yang akan memainkan suatu lakon sandiwara, Sin Lee sendiri mempunyai tugas agar menjaga jangan sampai ada yang berani menghalangi pembunuhan itu dengan pura-pura menyerang orang yang hendak menghalangi dengan menuduhnya sebagai pembantu para pembunuh. Dan dia pula yang akan ‘mengejar’ para pembunuh setelah berhasil dalam tugas mereka. Tentu saja pengejaran itu akan gagal dan setelah para pembunuh keluar dari ruangan sidang, maka Coa-ciangkun yang bertanggung jawab menyembunyikan tiga orang pembunuh itu ke dalam pasukannya yang berjaga di luar ruangan sidang. Dan setelah Kaisar terbunuh, Bong Thaikam yang akan menguasai keadaan di dalam istana bersama pasukan pengawalnya. Sidang darurat akan diadakan di mana Sin Lee akan diangkat menjadi Kaisar menggantikan kakaknya. Semua rencana sudah diatur semasak-masaknya dan sampai jauh malam barulah perundingan itu selesai dan bubar.

Setelah mengerti betul semua siasat yang direncanakan Bong Thaikam dan sekutunya, Sin Lee pada keesokan harinya ketika seperti biasa dia melatih silat kepada Kaisar seperti yang diminta oleh Kaisar semenjak dia tinggal di istana, dia membisikkan kepada Kaisar bahwa dia ingin bicara empat mata. Kaisar yang memang sudah menanti hasil perundingan rahasia itu, lalu mengajaknya memasuki kamarnya dan menyuruh para pengawal yang terpercaya untuk berjaga di luar dan tidak memperkenankan siapa juga mengganggunya.

Setelah berada di dalam kamar, Sin Lee dengan jelas menceritakan semua rencana jahat yang sudah diatur Bong Thaikam. Setelah mendengar ini, Kaisar menjadi marah sekali. “Akan kusuruh tangkap dan hukum mati semua pengkhianat dan pemberontak itu!”

“Harap paduka tenang saja, kakanda, karena kita membutuhkan bukti. Biarkan mereka melakukan rencana mereka itu.”

Kaisar memandang dengan mata terbelalak. “Dan membiarkan diri kami terancam bahaya maut?”

“Jangan khawatir, kakanda. Kita dapat melawannya dengan gerakan rahasia pula. Untuk melindungi paduka dan menangkap tiga orang pembunuh itu serahkan saja kepada saya, karena saya sudah tahu sampai di mana kemampuan Huang-ho Sam-liong itu. Kita atur pasukan untuk menundukkan semua pasukan anak buah Panglima Coa yang mengepung ruangan sidang. Dengan pasukan yang jumlahnya lebih besar, dipimpin oleh Panglima yang setia, dilakukan penyergapan tiba-tiba selagi sidang sedang berlangsung tentu membuat mereka tidak berdaya. Kemudian, paduka selundupkan beberapa orang jagoan istana yang tidak dikenal, menyamar sebagai pengawal pribadi, untuk menjaga kalau-kalau para Panglima di dalam ruangan sidang itu membantu para pembunuh. Pada saat terjadi keributan, saya akan membunyikan tanda rahasia sempritan untuk para perajurit yang sedang menguasai keadaan di luar ruangan sidang untuk masuk dan menangkapi para pengkhianat dan pemberontak itu.”

“Akan tetapi, berarti membiarkan kami terancam bahaya!” Kaisar masih merasa ragu dan gentar.

“Sama sekali tidak, kakanda. Saya yang mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan paduka. Pula, hanya dengan siasat inilah maka segala kepalsuan mereka dapat terbongkar. Saya melakukan ini bukan hanya untuk menyelamatkan paduka, akan tetapi juga untuk membalaskan dendam kematian ayah kita.”

Akhirnya Kaisar Kian Cung menyetujui walaupun dia sudah tidak bernafsu lagi untuk berlatih silat dan hanya tinggal termenung di dalam kamarnya dengan jantung berdebar tegang.

Persidangan dibuka ketika Kaisar tiba dan nampaknya seperti di persidangan biasa saja, tenang dan semua orang berlutut sambil berseru, “Ban-swe, ban-ban-swe (panjang usia selaksa tahun)...!”

Kaisar mempersilakan semua orang untuk bangkit berdiri dan biarpun Kaisar nampak tenang saja namun sesungguhnya jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Sin Lee yang mendampingi Kaisar juga bersikap tegang. Pemuda ini memakai pakaian Pangeran yang gemerlapan, dan di dada bajunya terhias bunga merah seperti biasa. Dia berdiri di samping kiri Kaisar karena dia tahu bahwa tiga orang pembunuh yang sebentar lagi akan muncul, akan keluar dari pintu sebelah kiri yang tertutup dan menyerang Kaisar dari belakang dan kiri. Kini tentu Huang-ho Sam-liong sudah berada di antara para perajurit yang menjaga dan mengepung ruangan persidangan itu, mengenakan pakaian perajurit dan di sebelah dalamnya mereka memakai pakaian serba hitam seperti Ninja, yaitu golongan pembunuh bayaran dari Jepang. Belasan orang pengawal yang berjaga di sekitar tempat sidang itu adalah orang-orang kepercayaan Bong Thaikam. Akan tetapi, tujuh orang pengawal pribadi Kaisar adalah jagoan-jagoan istana yang selalu siap waspada karena mereka sudah diberitahu apa yang terjadi.

Sebelum Kaisar mengeluarkan suara, tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar persidangan dan terdengar bunyi senjata beradu. Tahulah Sin Lee bahwa Panglima Ciok yang suda diberi tugas untuk melumpuhkan anak buah Panglima Coa telah mulai bergerak melucuti senjata pasukan yang mengepung ruangan sidang sehingga terjadi pertempuran. “Mendengar keributan ini, Kaisar menoleh kepada para penjaga di dekat pintu-pintu ruangan itu, “Apa yang sedang terjadi?”

Tiba-tiba, pintu yang berada di sebelah kiri singgasana jebol dan tiga sosok bayangan hitam berlompatan masuk, mereka memakai kedok kain hitam dan memegang pedang samurai panjang melengkung. Berbareng dengan itu, tujuh belas orang pengawal yang menjaga di situ juga menggerakkan tombaknya maju mengepung Kaisar. Mereka bukannya menyerang tiga orang berkedok itu, bahkan menghadap keluar untuk mencegah kalau ada orang ikut bercampur tangan.

Sambil mengeluarkan teriakan khas Jepang, tiga orang berkedok itu menyerbu ke arah Kaisar! Akan tetapi, dua orang pengawal menggandeng lengan Kaisar dari kanan kiri dan menarik Sribaginda untuk lari ke dalam. Adapun yang lima orang pengawal pribadi itu, dengan pedang ditangan menerjang tujuh belas orang perajurit pengawal anak buah Bong Thaikam.

Ketika tiga orang bayangan hitam itu hendak mengejar Kaisar yang dilarikan oleh dua orang pengawal pribadinya, Sin Lee meloncat ke depan, tangannya sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan dan dia menghadang tiga orang ninja itu. Tiga orang pembunuh itu terkejut dan sejenak mereka tertegun dan bingung, akan tetapi keadaan yang memaksa mereka harus melanjutkan tugas mereka. Maka, dengan teriakan marah mereka mengayun samurai di tangan mereka mengeroyok Sin Lee.

Bong Thaikam terkejut dan panik melihat betapa Sin Lee menandingi tiga orang pembunuhnya dan para perajurit pengawal kepercayaannya dihadang lima orang perajurit pengawal pribadi Kaisar yang ternyata adalah jagoan-jagoan istana yang lihai.

“Pembunuh...! Tangkap pembunuh... tangkap pemberontak...!” Dia berteriak-teriak seperti orang kesetanan karena takut kedoknya akan terbuka.

“Brakkkk...?” Daun pintu besar jebol terbuka dan Panglima Ciok bersama anak buahnya menyerbu masuk setelah berhasil melumpuhkan pasukan Panglima Coa yang mengepung ruangan itu. Panglima Coa menjadi pucat wajahnya melihat ini dan semua sekutu Bong Thaikam ikut-ikutan berteriak seperti Bong Thaikam.

“Tangkap pembunuh...! Tangkap pemberontak...!!”

Sin Lee tidak membutuhkan waktu terlalu lama untuk merobohkan tiga orang ‘ninja’ palsu itu, karena dia mengerahkan tenaganya dan mengeluarkan ilmu simpanannya. Berturut-turut tiga orang berkedok itu roboh menjadi makanan pedangnya. Dua orang tewas seketika dan orang ketiga terluka parah, dadanya tertembus pedang.

Semua orang memandang dengan muka pucat. Kaisar Kian Cung melangkah keluar setelah tahu keadaan aman dan pasukan Ciok-ciangkun sudah memasuki ruangan.

“Tangkap pembunuh...! Ahhh, tangkap pemberontak...!” teriak Bong Thaikam sambil lari ke sana sini dengan kedua tangan terangkat ke atas.

Sin Lee menggerakkan tangannya dan sinar merah menyambar thaikam itu, setangkai bunga merah dengan tepat sekali menancap di mulutnya.

“Engkaulah pembunuh itu! Engkaulah pemberontak itu!” seru Sin Lee dan Ciok-ciangkun sendiri maju untuk meringkusnya dan memaksanya berlutut. Sin Lee mengeluarkan seikat bunga merah dari sakunya dan menyambit-nyambitkan bunga itu. Nampak di dada baju Gubernur Cen, Panglima Coa, dan para pejabat tinggi lain yang menjadi anggota persekutuan pemberontak itu ditembus tangkai bunga merah. Inilah tanda dari Sin Lee untuk menunjukkan siapa-siapa yang terlibat dalam usaha pemberontakan itu sehingga mudah bagi Ciok-ciangkun yang lebih dulu sudah diberitahu untuk menangkapi mereka. Kedua tangan orang-orang itu ditelikung dan mereka semua dipaksa berlutut menghadap Kaisar. Tak seorangpun berani melawan karena sekarang ruangan itu sudah penuh dengan pasukan anak buah Ciok-ciangkun.

“Bawa mereka dan hukum mati semua berikut keluarga mereka!” perintah Kaisar dengan marah. Terdengar orang-orang itu minta-minta ampun dengan suara yang memelas, akan tetapi para petugas sudah menyeret mereka keluar dari situ. Kaisar membubarkan persidangan dan kini tinggal berdua saja dengan Sin Lee. Kaisar turun dari singgasananya dan merangkul Sin Lee dengan terharu. “Hari ini aku berhutang budi dan nyawa kepadamu, adinda pangeran. Sungguh tidak kusangka bahwa kedatangan adinda di istana ini telah menyelamatkan kami dari malapetaka yang hebat.”

“Ah, semua itu telah dikehendaki oleh Tuhan, kakanda. Orang yang benar dan baik tentu akan dilindungi Tuhan, sebaliknya si jahat pasti akan terjerat oleh kejahatannya sendiri. Hanya satu hal yang mengganggu hati saya, kakanda. Kenapa Sribaginda Kaisar menjatuhkan hukuman kepada keluarga para pengkhianat itu? Mereka tidak berdosa, kenapa harus memikul dosa yang dilakukan suami, ayah dan kakek mereka?”

Kaisar Kian Cung melepaskan rangkulannya dan kembali duduk di kursi kebesaran dan menghela napas berulang-ulang. “Adinda Pangeran Cu Sin Lee, inilah tidak enaknya menjadi Kaisar. Engkau agaknya tidak tahu tentang seluk beluk pemerintahan, tentang ancaman yang selalu membayangi kedudukan seorang Kaisar. Kalau terjadi pemberontakan atau pengkhianatan, haruslah seluruh keluarga pengkhianat itu dibasmi. Seperti kata pepatah, membasmi ular harus dengan sarangnya, karena kalau tidak dia meninggalkan anak dan telur yang kalau sudah dewasa dapat mendatangkan malapetaka lebih hebat lagi. Keturunan pemberontak itu tentu akan menaruh dendam dan kelak akan membalas kepada kerajaan.”

Mendengar ini, Sin Lee menarik napas panjang dan dia tidak begitu bodoh untuk minta ampun bagi para keluarga pengkhianat karena ucapan Kaisar itu sangat mungkin akan terjadi kalau keluarganya dibebaskan.

“Terserah kepada paduka, kakanda. Saya harap saja paduka selalu berhati-hati, jangan mudah menjatuhkan kepercayaan mutlak dan begitu saja kepada seseorang. Dan terutama sekali, kalau kakanda memerintah dengan adil, menghukum berat para penindas rakyat yang melakukan korupsi, yang mengandalkan kedudukan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, kalau kakanda memperhatikan keadaan rakyat, meringankan mereka dari beban kehidupan, saya kira paduka akan menjadi Kaisar yang dicintai rakyat dan kedudukan paduka dengan sendirinya akan menjadi kuat. Kaisar yang adil bijaksana tentu akan dicintai rakyat dan balatentara, dan kalau sudah begitu tidak mungkin timbul pemberontakan.”

“Adinda pangeran, biarpun engkau lebih muda dariku, namun banyak kebijaksanaan yang kupelajari darimu. Oleh karena itu, bantulah aku mengemudikan pemerintahan kerajaan kita.”

“Maaf, kakanda. Baru beberapa lama saja tinggal di istana, saya sudah merasa tidak bebas, terkekang oleh segala macam peraturan dan tata tertib. Tidak, saya lebih senang hidup bebas di luar, kakanda, bahkan hari ini juga saya mohon pamit hendak melanjutkan perjalanan. Hati saya sudah cukup bahagia dan puas melihat pemerintahan dipegang oleh kakanda yang bijaksana, yang sudi menerima saya sebagai saudara. Itu saja sudah cukup dan menghapus segala sakit hati yang pernah saya rasakan terhadap mendiang ayah kita.”

Biarpun Kaisar berusaha menahannya, namun Sin Lee berkeras hendak pergi dan dia melepaskan kembang dari bajunya, menghaturkannya kepada Kaisar itu sambil berkata, ”Semoga kakanda mengemban tugas seperti setangkai bunga ini. Selalu indah berseri dan bahkan sudah layu masih berbau harum.”

Kaisar menerima bunga merah itu dan tersenyum. “Pendekar Bunga Merah, ya? Kami mendengar dari Panglima Ciok tentang nama julukanmu itu, adinda. Besok akan kami umumkan kepada seluruh pejabat di mana saja agar mulai sekarang menyambut Pendekar Bunga Merah dengan segala kehormatan dan suka membantumu dalam segala keperluanmu.”

“Ah, paduka berlebihan, kakanda. Saya tidak membutuhkan apa-apa, akan tetapi bagaimanapun juga, terima kasih atas kebaikan hati kakanda.”

Hari itu juga Sin Lee meninggalkan istana. Kaisar memaksanya membawa sekantung emas untuk bekal. Karena khawatir menyinggung perasaan kakaknya itu kalau menolak, maka Sin Lee menerimanya, juga seekor kuda yang baik, sambil menghaturkan terima kasih.

Sin Lee menuntun kudanya mendaki bukit itu. Jalannya penuh dengan batu kerikil, sehingga amat berbahaya kalau dia menunggang kuda. Kuda itu dapat tergelincir dan membawanya jatuh ke dalam jurang di kanan kiri jalan kecil itu. Sebaliknya, Sin Lee tidak semestinya menempuh jalan yang sukar ini. Akan tetapi di dusun-dusun yang berada di kaki bukit, dia mendengar berita aneh. Orang-orang dusun menceritakan bahwa tidak ada seorangpun berani mendaki bukit itu karena bukit itu tempat tinggal siluman yang kadang suka menggoda orang. Banyak sudah pemuda dari dusun-dusun itu lenyap tanpa meninggalkan bekas, dan ada yang melihat beberapa orang pemuda yang lenyap itu tadinya berjalan bersama seorang wanita cantik mendaki bukit itu.

Mendengar berita ini, tentu saja hati Sin Lee tertarik sekali. Dia merasa curiga bahwa yang disebut siluman adalah seorang penjahat yang mengacau kehidupan rakyat di dusun-dusun. Maka, pada pagi hari itu dia menjalankan kudanya mendaki bukit dan terpaksa turun ketika jalan yang dilalui itu penuh kerikil yang berbahaya bagi kudanya.

Setelah mendaki sampai ke lereng sebelah timur bukit itu, tiba-tiba angin yang bersilit membawa suara orang berdendang. Dia tertarik dan merasa seram. Orang bercerita tentang seekor siluman dan kini dia mendengar suara seorang wanita menyanyi. Ketika dia memperhatikan dan menangkap kata-kata dalam nyanyian itu, dia menjadi semakin heran.

“Mengerti akan orang lain adalah bijaksana, mengerti akan diri sendiri adalah waspada. Menaklukkan orang adalah berjaya, menaklukkan diri sendiri adalah perkasa.

Mengetahui batas kecukupan berarti kaya, berbuat dengan paksaan berarti nekat.

Siapa yang tidak meninggalkan kedudukannya akan berlangsung, mati tanpa tersesat berarti panjang usia.”

Tentu saja Sin Lee merasa heran sekali karena dia mengenal sejak itu. Itu adalah ujar-ujar dalam To-tek- khing ayat ke tiga puluh tiga. Sin Lee hafal akan kitab-kitab suci seperti To tek khing dari aliran agama To, maupun kitab Su si Ngo keng dari agama Khong hu cu. Ayahnya mengajarnya ketika dia masih kecil.

Siapakah wanita yang membaca sajak dengan suara nyaring begitu merdunya? Suara itu jelas suara wanita, dan biasanya sajak seperti itu suka diucapkan oleh para pendeta agam To, bukan dinyanyikan dengan suara merdu dan berlagu indah pula! Karena kini jalannya sudah tidak berkerikil lagi, Sin Lee lalu menunggang kudanya dan mendaki lereng itu menuju ke puncak. Dan dia tertegun. Nun di puncak bukit itu berdiri sebuah bangunan mungil. Terbuat dari kayu, dicat warna warni menyegarkan mata, dan dikelilingi oleh tanaman bunga-bunga yang teratur indah dan rapi. Itulah rumah seekor siluman? Hampir dia tertawa. Yang disangka siluman itu tentulah seorang wanita yang pandai mengatur rumah, pandai mengatuh taman dan memiliki suara inidah, pandai bernyanyi menyuarakan ujar-ujar dalam kitab To tek khing!

Dia meloncat turun dari atas panggung kudanya, menambatkan kudanya di sebatang pohon dan membiarkannya makan rumput. Kalau dia melepaskan kuda itu dia khawatir kalau kuda itu makan tanaman bunga di taman.

Selagi dia memasuki taman dengan hati-hati untuk menghampiri rumah mungil itu, tiba-tiba terdengar suara wanita dari dalam rumah itu, “Siapakah orang datang berkunjung dan tanpa ijin memasuki kediaman orang?”

Sin Lee terkejut dan cepat dia menjawab dengan hormat, “Harap maafkan, karena sesat jalan maka melihat rumah lalu menghampiri. Kalau penghuni rumah tidak berkenan menerimaku, tentu aku akan pergi lagi dari sini.”

“Ludah sudah dikeluarkan tidak dapat dijilat kembali, kaki sudah dilangkahkan tak mungkin dapat ditarik kembali. Engkau sudah memasuki kediaman orang lain tanpa ijin, harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu!”

Sin Lee tersenyum. Bagaimanapun juga, wanita yang tadi bernyanyi dan kini mengeluarkan ucapan seperti itu, amat menarik perhatiannya dan ingin sekali melihat bagaimana orangnya. “Baik, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku sepenuhnya!”

Hening sejenak, kemudian dari dalam rumah itu terdengar daun pintu terbuka dan sesosok bayangan merah meluncur keluar dari dalam rumah. Tahu-tahu di depan Sin Lee telah berdiri seorang wanita dan Sin Lee terbelalak kagum. Seorang wanita yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun, cantik jelita dan wanita yang sudah masak, baik dilihat dari bentuk tubuhnya, dandanannya yang rapi dan mewah, juga dari sikapnya yang anggun. Gelung rambutnya tinggi seperti sanggul puteri istana, wajah bulat telur tajam dan membayangkan kecerdikan, dengan kerling yang tajam bagaikan gunting. Hidung yang mancung itu menjungat ke atas seperti menantang dan mulutnya membayangkan kegairahan besar dengan bibir yang penuh dapat bergerak-gerak.

Juga wanita itu berdiiri tegak sambil mengamati Sin Lee seperti orang keheranan dan kagum, kemudian matanya memandang ke arah bunga merah di dada Sin Lee, lalu ia bertanya, “Engkaukah yang terkenal dengan julukan Pendekar Bunga Merah itu?”

Sin Lee mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat. “Julukan yang kosong belaka. Nona, sekali lagi aku minta maaf kalau aku telah memasuki kediamanmu tanpa minta ijin terlebih dahulu.”

“Sudah kaukatakan hendak bertanggung jawab sepenuhnya dan aku mempunyai peraturan, bahwa siapa yang memasuki tempat ini tanpa ijin harus dapat melayani aku sampai sepuluh jurus!”

Sin Lee tersenyum. Betapa sombongnya wanita ini. Sepuluh jurus? “Baik, aku tidak akan menarik kembali kata-kataku. Nona boleh memberi petunjuk kepadaku selama sepuluh jurus.”

“Hemm, kalau sebelum sepuluh jurus engkau terluka atau tewas, jangan salahkan aku.” “Tidak akan ada yang menyalahkanmu, nona. Silakan.”

Wanita itupun tidak banyak cakap lagi, lalu mulai menyerang sambil berseru, “Jaga pukulanku!” Dan tangannya sudah memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah pelipis kanan Sin Lee. Pukulan itu dilakukan perlahan saja namun mendatangkan angin pukulan yang kuat sehingga Sin Lee tidak berani memandang rendah. Dengan melangkah ke belakang dia dapat menghindarkan diri dari tamparan tangan kiri itu. Akan tetapi wanita itu sudah maju dan kini tangan kanannya menyodok ke arah perut, disusul tangan kirinya kembali mencengkeram ke arah muka Sin Lee!

Memang hebat serangan itu. Cepat sekali. Namun, Sin Lee sudah waspada. Diapun menggerakkan kedua tangan menyambut dan menangkis.

“Plak...! Plak...!” Kedua pasang tangan itu bertemu di udara dan wanita itu terhuyung ke belakang karena Sin Lee tadi mengerahkan tenaga sin-kangnya.

“Ihh, boleh juga Pendekar Bunga Merah! Cabut senjatamu!” bentaknya sambil mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya.

Sin Lee mengenal watak orang-orang kang-ouw yang selalu merasa penasaran kalau bertemu tokoh lain sebelum menguji ilmunya. Maka, diapun tidak menolak, karena menolak berarti membuat wanita itu semakin penasaran. Dia memungut ranting kayu dari bawah pohon dan menggunakan ranting itu sebagai semacam tongkat.

“Inilah senjataku, nona. Mulailah!”

“Engkau berani memandang rendah kepadaku!” bentak wanita itu dengan muka berubah merah. “Bukan memandang rendah, nona. Melainkan teringat bahwa ini hanya merupakan adu ilmu persahabatan belaka. Kenapa harus menggunakan senjata tajam?”

“Baik, sesukamu, akan tetapi nanti jangan katakan aku terlalu mendesakmu. Nah, sambut pedangku!” Kembali wanita itu menyerang dengan dahsyatnya. Gerakan pedangnya selain cepat juga kuat sekali. Namun tidak terlalu cepat dan kuat bagi Sin Lee yang menggerakkan tongkatnya melindungi diri, menangkis.

“Trak! Tranggg...!” Sepasang pedang itu tidak mampu bergerak maju karena terhalang sinar tongkat. Biarpun   wanita   itu   mengerahkan   tenaga   menyerang   bertubi-tubi,   tetap   saja   sepasang pedangnya terhadang oleh gulungan sinar tongkat. Perlu diketahui, bahwa Ciu-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Arak) yang menggemblengnya mempunyai kepandaian khusus mempergunakan tongkat. Biarpun ilmu tongkat itu telah diubah menjadi ilmu pedang yang diturunkan kepada dua orang muridnya, Sin Lee dan Giok Lan, namun tetap saja lihai kalau dimainkan dengan sebatang tongkat.

Sudah lewat dua puluh jurus lebih dan wanita itu sama sekali belum mampu mendesak Sin Lee, apa lagi mengalahkannya. Tiba-tiba Sin Lee melompat ke belakang dan berkata, “Sudah cukup, nona.” “Aku belum kalah, mari lanjutkan!” Tantang wanita cantik itu penasaran.

Sin Lee tersenyum. “Nona, biarlah aku mengaku kalah. Seorang gagah harus memegang teguh janjinya. Bukannya kau tadi mengatakan bahwa aku harus melayanimu berlatih selama sepuluh jurus saja?” Dia lalu melepaskan bunga merah dari kancing bajunya dan menyerahkannya kepada si nona. “Biarlah bunga ini sebagai tanda bahwa aku telah kalah.”

Wanita itu terbelalak, agaknya merasa penasaran dan heran, akan tetapi melihat sinar mata yang jujur dan sama sekali tidak mengandung pandang mempermainkannya atau memandang remeh, ia otomatis menerima bunya merah itu, lalu memasang di rambutnya. Kemudian disimpannya kembali sepasang pedangnya dan ia berkata, “Sobat, belum pernah aku bertemu dengan seorang yang begini aneh seperti engkau. Siapakah namamu dan mau apa engkau datang ke sini?”

“Nona sudah tahu bahwa aku disebut Pendekar Bunga Merah ”

“Tapi aku belum mengetahui namamu.” “Namaku Sin Lee, Cu Sin Lee.”

“Dan mengapa engkau datang ke sini?”

“Terus terang saja, nona. Aku seorang perantau yang kebetulan lewat di bawah bukit ini dan aku mendengar dari orang-orang dusun bahwa di puncak bukit ini tinggal seorang siluman jahat yang suka mengganggu orang-orang dusun. Oleh karena itulah maka aku datang ke sini untuk mencari siluman, tidak tahunya yang kutemukan adalah engkau.” “Hem, engkau menganggap aku siluman?”

“Aku tidak berani, nona. Akan tetapi, bagaimanakah seorang gadis cantik dan muda seperti engkau tinggal seorang diri di tempat sesunyi ini? Memang engkau memiliki ilmu silat yang cukup hebat untuk melindungi dirimu. Akan tetapi, apakah engkau tidak merasa kesepian?”

Wanita itu tersenyum dan Sin Lee merasa jantungnya berdebar. Mengapa wanita cantik itu kalau tersenyum begitu memikat hati? “Saudara Cu Sin Lee, aku memang suka kesunyian. Eh, kau bilang tadi bahwa siluman suka mengganggu orang dusun? Gangguan apa saja yang dilakukannya?”

“Kata mereka, ada beberapa orang pemuda dusun lenyap setelah naik ke bukit ini bersama seorang wanita cantik.”

Wanita itu tertawa lagi, suara tawanya merdu dan ia menutupi mulut dengan ujung lengan bajunya. Gerakannya ini lembut dan menarik sekali, penuh kewanitaan.

“Sobat, engkau melihat pondok ini?” “Ya, mungil dan masih baru.”

“Dan engkau melihat taman bungaku di sekeliling pondok?” “Ya, bagus sekali.”

“Semua itu, untuk membuatnya, tentu membutuhkan tenaga, bukan?”

“Nah, itulah mengapa beberapa orang laki-laki dari dusun kuajak ke sini, untuk membantuku membuat pondok dan taman, tentu saja dengan upah yang cukup banyak karena aku bukan seorang pelit.”

“Ah, jadi begitukah? Akan tetapi mengapa mereka tidak kembali lagi ke dusun mereka?”

“Mana aku tahu? Mungkin setelah menerima upah banyak, mereka lalu pergi menghabiskan uang itu. Apakah aku kelihatan seperti silumana? Hi hik, lucu sekali. Saudara Cu Sin Lee, setelah engkau datang ke sini, mari silakan singgah ke rumahku, dan engkau lihat sendiri apakah rumah itu pantasnya dihuni oleh siluman. Kebetulan baru tadi aku menyembelih ayam dan kelinci, sedang kumasak. Maukah engkau makan bersamaku?”

Penawaran itu wajar dan ramah sekali. Dan Sin Lee yang sudah merasa bersalah karena mengira orang secantik itu seorang siluman dan karena dia sudah terlanjur memasuki pekarangan orang tanpa permisi, tidak dapat menolak ajakan itu.

“Akan tetapi, sebelum aku menjadi tamumu, setelah engkau mengetahui siapa namaku, tidak sudah sepatutnyakah kalau akupun mengetahui namamu, nona?”

Wanita itu tersenyum manis. “Tentu saja, namaku Lai Kim Li, usia dua puluh lima tahun, tinggal di sini seorang diri karena aku memang tidak memiliki keluarga seorangpun. Mari, sobat, mari silakan masuk.”

Ia mendahului dan membuka daun pintu rumahnya lebar-lebar. Sin Lee diam-diam merasa heran mengapa seorang wanita secantik ini belum juga berumah tangga dan betah tinggal di tempat sunyi di bukit itu seorang diri saja. Ketika dia melangkahkan kaki melewati ambang pintu, dia semakin kagum. Ternyata rumah kecil mungil itu memiliki prabot rumah yang serba indah dan mewah!

“Ah, ternyata engkau seorang yang kaya raya!” kata Sin Lee. “Seorang gadis yang kaya tinggal di sini seorang diri, sungguh luar biasa!”

Lai Kim Li tertawa. “Hi hik, seorang gadis? Engkau panggil aku nona? Sepatutnya engkau memanggil aku enci, karena aku bukan gadis, aku seorang janda yang ditinggal mati suamiku dua tahun yang lalu.”

“Ah, maafkan aku, enci, “kata Sin Lee sungguh-sungguh dengan nada suara terharu dan iba.

“Ah, rasa nyeri kematian suami itu sudah lama berlalu, Sin Lee. Boleh kan aku panggil engkau Sin Lee saja? Engkau mengingatkan aku akan seorang adik laki-lakiku yang juga sudah meninggal dunia. Kalau kau menyebut enci kepadaku, aku jadi ingat kepadanya.”

“Tentu saja boleh.”

“Nah, duduklah, Sin Lee. Di sebelah kiri itu terdapat banyak kitab bacaan. Kau boleh membaca kitab yang mana saja sedangkan aku akan mempersiapkan makanan untuk kita.”

“Apakah engkau tidak mempunya pembantu atau pelayan, enci?” “Tidak ada. Hanya aku seorang diri yang tinggal di sini.”

“Kalau begitu, mari kubantu mempersiapkan makanan. Tidak enak tinggal di sini sendiri selagi engkau sibuk di dapur.”

“Benarkah? Baiklah kalau begitu,” kata Kim Li sambil tertawa dan mereka berdua lalu memasuki dapur di bagian belakang dan benar saja, wanita itu telah menyembelih seekor ayam gemuk dan seekor kelinci gemuk. Diam-diam Sin Lee merasa heran. Kalau hanya seorang diri, mengapa membelih kedua ekor binatang itu? Terlalu royal dan terlalu banyak kalau bagi seorang diri saja. Akan tetapi dia tidak banyak bertanya dan membantu wanita itu membersihkan ayam dan kelinci.

Setelah masak, mereka lalu makan berdua dan harus diakui oleh Sin Lee bahwa masakan wanita itu cukup lezat. Kemudian mereka bercakap-cakap di ruangan depan, sambil memandangi bunga-bunga yang sedang mekar.

“Nah, sekarang ceritakanlah tentang dirimu, Sin Lee. Aku sungguh merasa gembira sekali, engkau datang berkunjung, seolah sudah lama aku mengenalmu dan aku kagum sekali akan ilmu tongkatmu tadi. Di mana orang tuamu dan siapa pula gurumu?”

Sin Lee menghela napas panjang. “Agaknya aku tidak banyak bedanya denganmu, enci Kim Li. Aku hidup sebatang kara karena aku sudah yatim piatu. Tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Langit adalah atapku dan bumi lantaiku. Aku tidak memiliki apa-apa.”

“Agaknya kita memang berjodoh, Sin Lee. Akan tetapi jangan mengatakan bahwa engkau tidak memiliki apa-apa. Yang kaubwa di buntalan pakaianmu itu saja sudah cukup untuk kaupakai modal memberli rumah dan berdagang!”

Sin Lee terkejut. “Enci, bagaimana kau bisa tahu, bahwa aku membawa ” “Emas? Tentu saja aku tahu. Ketika kita bertanding tadi, aku tahu bahwa engkau membawa sesuatu yang berat dalam buntalanmu dan ujung pedangku pernah bertemu dengan benda berat itu. Lihat, buntalanmu tentu berlubang dan pedangku bertemu dengan benda yang kusangka tentulah emas.”

“Hebat! Engkau memang hebat, enci! Terus terang saja, aku memang membawa emas, hadiah dari Sribaginda Kaisar.”

Kini Kim Li terbelalak. “Hadiah dari Sribaginda Kaisar? Wah, kiranya engkau mempunyai hubungan dengan Kaisar? Sungguh, engkau membawa banyak kejutan, Sin Lee.”

“Tidak ada hubungan apa-apa, hanya aku membantu Kaisar menggagalkan pemberontakan.”

“Kaumaksudkan pemberontakan dari Bong Thaikam yang tersohor itu? Aku sudah mendengar peristiwa hebat itu dan kabarnya banyak pejabat tinggi yang terlibat. Wah, engkau memang hebat, Sin Lee. Aku benar bahagia telah berkenalan denganmu. Dan itu, yang di sana itu, tentu kuda itu juga kaudapatkan dari Sribaginda Kaisar, bukan? Jarang ada orang memiliki kuda sebagus itu.”

“Dugaanmu benar, dan engkau memang cerdik sekali, enci.”

“Sin Lee, bolehkah aku mencoba menunggang kudamu itu? Sudah lama sekali aku tidak pernah menunggang kuda yang baik.”

“Silakan, enci.”

Wanita itu dengan gembira lalu berlari menghampiri kuda itu, melepaskan tambatannya dan sekali meloncat dengan gerakan indah dan ringan dia sudah berada di atas sela kuda dan membalapkan kuda itu ke depan. Sin Lee yang ditinggal seorang diri lalu bangkit berdiri dan berjalan-jalan mengagumi keindahan taman bunga itu. Dia terus berjalan sampai jauh ke belakang rumah, di mana terdapat jurang yang dalam. Dia menjenguk ke bawah, tertarik melihat warna warni seperti terdapat banyak kain jauh di bawah jurang itu. Karena iseng saja, dia menuruni jurang yang terjal. Orang biasa saja tidak mungkin berani menuruni jurang itu, karena sekali terpeleset orang akan jatuh ke dasar jurang yang puluhan meter dalamnya, dan tak mungkin dapat bertahan hidup setelah terjatuh ke dalam jurang sedalam itu. Namun, Sin Lee telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, yang membuat dia mampu menuruni lereng jurang terjal itu dengan mudah dan cepat.

Setelah agak dekat, dia mengerutkan alisnya dan menutupi hidungnya karena tercium bau busuk, seperti bau bangkai! Dia makin tertarik dan mempercepat gerakannya turun ke dasar jurang. Tak lama kemudian, dia melihat pemandangan yang mengerikan dan menyedihkan. Di dasar jurang itu tertumpuk mayat manusia, semuanya pria muda, ada yang sudah tinggal kerangka, ada yang sudah membusuk dan ada pula yang masih baru! Kiranya warna warni tadi adalah warna pakaian mereka. Sin Lee menghitung. Tidak kurang dari sepuluh orang yang tewas di situ secara menyedihkan sekali.

Dia lalu mendaki naik dengan cepat. Mukanya merah dan sudah dapat menduga apa yang terjadi dengan para pemuda itu. Tak salah lagi. Cerita penduduk dusun itu bukan dongeng kosong belaka. Memang ada silumannya di bukit ini. Dan silumannya bukan setan, bukan iblis, melainkan seorang manusia, manusia wanita yang cantik jelita, bernama Lai Kim Li! Tentu wanita itu yang memilih pemuda-pemuda dusuun yang ganteng dan kuat, kemudian pemuda itu dipermainkannya untuk memuaskan nafsu binatanya, kemudia kalau sudah bosan para pemuda itu dilempar ke bawah jurang. Dengan kepandaiannya, tentu hal itu akan mudah saja dilakukan. Benar-benar siluman atau iblis berbentuk manusia!

Dia harus menahan kesabaran hatinya. Biarpun agaknya sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa para pemuda itu dibunuh oleh Lai Kim Li, namun dia masih harus dapat membuktikan bahwa wanita itulah pembunuhnya. Kalau dia menuduh begitu saja dan Kim Li menyangkal, bagaimana dia harus membuktikan? Adanya mayat-mayat di jurang itu belum membuktikan bahwa Kim Li pembunuhnya. Dia harus bersabar dan memancing wanita itu.

Tak lama kemudian dia mendengar derap kaki kuda dan nampaklah Kim Li datang membalapkan kuda itu. Memang hebat wanita itu. Bukan hanya ilmu silatnya saja yang tangguh, bahkan dalam hal menunggang kuda, ia amat sigap dan ahli, wanita itu menghentikan kudanya dekat Sin Lee dan begitu melompat turun ia menambatkan kuda di bawah pohon dan memuji, “Hebat, kudamu ini kuat sekali dan dapat berlari cepat, memang cocok untuk menjadi kuda tungganganmu, Sin Lee. Mari kita bercakap-cakap di dalam, masih banyak yang perlu kita bicarakan.” “Terima kasih, enci Kim Li. Kurasa sudah cukup lama aku singgah di tempatmu dan membikin repot saja. Engkau telah menerimaku dengan ramah, aku berterima kasih sekali.”

“Ah, mengapa begitu tergesa-gesa? Engkau harus bermalam di sini, sobatku Sin Lee. Atau, tidak sudikah engkau bersahabat dengaku?”

“Bukan begitu, enci. Akan tetapi sungguh aku harus melanjutkan perjalananku,” kata Sin Lee tidak enak. Dia belum dapat menuduh wanita ini membunuh para pemuda itu, dan untuk itu dia perlu melakukan penyelidikan terlebih dahulu.

“Benarkah? Kurasa engkau tidak akan dapat pergi dari sini sekarang, Sin Lee. Engkau harus tinggal dulu di sini beberapa lamanya, karena aku telah memutuskan untuk memilih engkau sebagai suamiku.”

Sin Lee terbelalak dan terkejut bukan main. “Suamimu...? Apa maksudmu, enci..? “Maksudku sudah jelas, aku ingin mengambil engkau sebagai suamiku, kita kawin!”

“Ah, tidak mungkin, ini!” Sin Lee bangkit berdiri dan tiba-tiba dia terhuyung. Kepalanya seperti terasa berat sekali dan sekelilingnya berputar. Ah, tidak mungkin aku mudah dipengaruhi wanita ini, pikirnya. Diracuni? Akan tetapi mereka makan berdua, minum berdua. Tidak ada sesuatu yang telah dimakan atau diminum pula oleh wanita ini. Akan tetapi, rasa pening di kepalanya semakin menghebat dan pandang matanya kabur. Dia hanya mendengar suara wanita itu tertawa, dan suara tawa itu tidak lagi terdengar merdu, melainkkan mengerikan, seperti tawa kuntilanak dalam dongeng. Kemudian semuanya menjadi gelap dan Sin Lee tidak tahu bahwa dia roboh dalam rangkulan wanita itu dan dia diangkat, direbahkan di atas pembaringan yang harum dan mewah. Dia tidak tahu pula bahwa wanita itu mencium dan mengecup bibirnya sambil berbisik-bisik mesra.

“Sin Lee, engkaulah pria yang kunanti-nanti. Engkau ganteng, engkau gagah perkasa, lebih lihai dari pada aku.”

Sin Lee pingsan atau tidur sampai lama. Pada keesokan harinya, ketika dia terbangun, dia dapatkan dirinya di atas pembaringan. Dia merasa aneh dan bingung, hendak meloncat bangun akan tetapi merasa betapa tubuhnya lemas dan lunglai.

“Ah, Sin Lee yang tampan, engkau sudah terbangun? Marilah minum ini agar tubuhmu terasa sehat dan tidak lapar.” Kim Li muncul membawa sebuah mangkok dan menghampirinya.

Sin Lee hendak bangkit dan menolak, namun tenaganya seperti hilang! “Kau... kau... apa artinya semua ini?” tanyanya lemah.

“Sin Lee, sudah kukatakan bahwa engkau harus menjadi suamiku. Percuma saja engkau hendak menentang kehendakku, karena di tubuhmu telah mengalir racun bunga lima racun. Tubuhmu akan tetap lemah dan engkau tidak akan mampu mengerahkan tenaga melawan. Asal engkau suka menuruti kehendakku dengan suka rela menjadi suamiku, kelak tentu akan kuberi obat pemunah racun dan engkau kembali seperti biasa.”

Tahulah kini Sin Lee bahwa makanan dan minuman itu memang beracun dan iblis betina ini tentu telah menggunakan obat penawar maka tidak terpengaruh racun itu. Iblis betina, siluman. Kini tahulah dia bahwa memang wanita cantik ini sama dengan iblis atau siluman.

“Nah, engkau minumlah, sayang.”

“Tidak sudi, dan aku tidak sudi menjadi suamimu,” katanya ketus walaupun suaranya lemah.

“Hi hik,engkau tak dapat berkeras kepala sayang. Mau atau tidak engkau harus minum ini dan mau atau tidak engkau harus merayakan pernikahanmu dengan aku.” Kim LI mendekatkan mukanya hendak mencium akan tetapi Sin Lee menjauhkan mukanya. Wanita itu hanya tertawa dan sekali menotok pundak Sin Lee, pemuda itu tidak mampu bergerak lagi. Dengan mudah, dalam keadaan telentang, pemuda itu dipaksa minum isi mangkok itu. Dengan tangan kiri Kim Li memaksa mulut pemuda itu terbuka dan tangan kanannya menuangkan isi mangkok perlahan-lahan. Mau tidak mau terpaksa Sin Lee menelan isi mangkok yang rasanya seperti bubur itu. Rasanya cukup lezat akan tetapi dia tahu bahwa makanan itu tentu mengandung racun yang melemahkan.

Demikianlah, sampai tiga hari Sin Lee ditawan seperti itu dan Kim Li sibuk untuk mengundang para penduduk dusun di sekitar bukit itu untuk datang merayakan hari perkawinannya! Para penghuni dusun itu merasa heran sekali bahwa di puncak bukit itu tinggal seorang wanita cantik yang mengundang mereka datang merayakan pernikahan. Akan tetapi, tentu saja mereka menyatakan sanggup untuk datang, dan bahkan beberapa orang wanita yang dimintai tolong untuk membantu, siap melakukannya karena wanita cantik itu memberi upah dengan royal sekali.

Demikianlah, pesta pernikahan dipersiapkan, dan wanita-wanita dusun yang diundang itu membantu mempersiapkan masakan dan merias rumah mungil di atas bukit itu. Bahkan Kim Li secara royal mengundang serombongan pemain musik untuk memeriahkan suasana.

Sementara itu, selama tiga hari itu Sin Lee hanya rebah di tempat tidur. Dia mengingat-ingat, bagaimana untuk dapat membebaskan diri dari keadaan itu. Dia sama sekali tidak berdaya. Setiap hari dia dipaksa makan atau minum bubur yang mengandung obat pembius itu. Setiap kali dia mencoba untuk mengerahkan sin-kang, ulu hatinya seperti ditusuk rasanya. Namun dia tidak putus asa. Dia harus melepaskan diri dari keadaan ini. Dan dia siang malam mengingat-ingat pelajaran ilmu yang pernah didapat dari Ciu sian Lo kai. Akhirnya dia mendapat jalan. Pengaruh racun pembius itu hanya mempengaruhi otaknya. Dan karena segala macam gerakan itu datangnya dari otak sebagai alat yang memerintah dan mengaturnya, maka begitu otaknya dipengaruhi hawa beracun, maka dia menjadi seperti lumpuh atau hanya mampu bergerak lemah saja. Memang dia dapat berjalan, duduk rebahan dan melakukan gerakan biasa, akan tetapi dia sama sekali tidak mampu melawan untuk berkelahi karena tidak dapat mengerahkan tenaga sin-kang. Dia harus dapat membebaskan kepalanya dari serangan hawa beracun itu, pikirnya.

Pada pagi hari ke empat, yang ditentukan sebagai hari pernikahan, Sin Lee mencoba dengan melakukan jungkir balik kepalanya di bawah dan kedua kakinya di atas. Dengan keadaan tubuh seperti ini, dia mengatur pernapasan dan benar saja, mulai terasa ringan dan terang kepalanya. Agaknya hawa yang selalu membubung ke atas dan menyerang kepalanya itu kini membalik dan kepalanya terbebas dari pengaruh hawa itu. Dan begitu dia berniat untuk mengerahkan sin-kang, dia berhasil! Ditekannya hawa beracun itu. Ini pernapasannya, keluar dari dalam perutnya, dan sedikit demi sedikit hawa beracun itu meninggalkan tubuhnya. Ketika dia mendengar langkah kaki halus, tahulah dia bahwa Kim Li yang datang. Dia cepat rebah kembali dan siap siaga. Kalau dia akan diberi minum obat bius lagi, dia akan melawan. Akan tetapi, dia bersabar hati. Dia masih lemah karena selama tiga hari ini dia kurang makan, hanya makan bubur yang dicampuri obat bius itu. Kalau dia melawanpun dia akan kalah dan semua usahanya tadi akan sia-sia belaka. Maka, ketika wanita itu melangkah masuk, diapun merintih.

“Aihhh, kepalaku pusing... jangan engkau begitu kejam, enci...” katanya. Padahal, biasanya dia suka memaki kalau wanita itu muncul.

Mendengar ini, Kim Li tersenyum gembira, mengira bahwa pemuda itu sudah mulai menyerah kalah!

“Sin Lee sayang, hari ini adalah hari pernikahan kita, engkau tidak boleh lemah dan engkau harus bertukar pakaian pengantin. Mari, mari kudandani kau...”

Biarpun hatinya marah dan dongkol sekali akan tetapi terpaksa Sin Lee menurut saja ketika pakaian luarnya dibuka dan pada tubuhnya dikenakan pakaian pengantin yang mewah dan merah!

“Enci, biarkan aku tidur sebentar dan nanti aku akan melakukan apa saja yang kau kehendaki. Kalau ada, berikan aku nasi dan sedikit sayur, aku merasa lemah sekali.”

“Baik, akan tetapi engkau minum dulu ini seperti biasa. Baru aku akan mengambilkan nasi dan sayur untukmu, suamiku yang gagah.” Wanita itu merangkul dan menciumnya, dan Sin Lee terpaksa diam saja dan tidak melawan. Diapun minum isi mangkok itu, bubur cair berikut obat pembius sambil mengerahkan sin-kangnya. Ketika wanita itu keluar untuk mengambilkan nasi dan sayur, diapun memuntahkan kembali bubur itu. Hal ini dapat dilakukan berkat sing-kangnya yang sudah mulai bekerja. Dia membuang bubur itu keluar jendela kamarnya.

Ketika Kim Li datang memberikan nasi dan sayuran, dia memperlihatkan dirinya lemas sekali dan makan dengan lahapnya. Melihat ini, Kim Li tersenyum. “Sekarang aku akan berganti pakaian pengantin dulu, suamiku, dan sebentar lagi kalau para tamu sudah datang, kita keluar melakukan upacara pernikahan, disaksikan oleh mereka.”

Sin Lee hanya mengangguk dan nampak pasrah sehingga menyenangkan hati Kim Li. Akan tercapailah niat hatinya hari itu menikah dengan pria yang dikaguminya dan mejadi isterinya!! Ia lalu berlari keluar untuk berganti pakaian pengantin, dan begitu ia keluar, Sin Lee cepat sudah berjungkir balik lagi seperti tadi. Memang tidak enak berjungkir balik seperti itu sehabis makan, akan tetapi dia perlu mengusir sisa hawa beracun, terutama yang sudah memasuki kepalanya.

Alangkah girang rasa hati Sin Lee setelah dia merasa bahwa hawa beracun telah tidak mempengaruhi lagi otaknya. Dia dapat mengerahkan sin-kang dengan mudah, dan tidak merasa pening atau lemas lagi. Akan tetapi, dia masih bersabar. Wanita itu telah mengundang orang-orang dusun, maka sebaiknya kalau rahasianya itu dibongkar di depan orang-orang dusun.

Ketika dua orang wanita tua penghuni dusun memasuki kamarnya dan memberi tahu bahwa mereka bertugas menjemput dan membawanya ke ruangan depan untuk upacara pernikahan, Sin Lee bertanya dengan sikap tenang. “Apakah semua tamu telah datang, bibi?”

“Sudah, semua tamu sudah berkumpul. Kongcu dipersilakan ke ruangan upacara sekarang. Kami diperintahkan menjemput.”

“Baiklah, mari bibi!” kata Sin Lee gembira dan mereka lalu melangkah keluar.

Terdengar suara musik di ruangan tamu yang sudah dirias dengan indahnya. Ketika Sin Lee tiba di ruangan itu, terdengar sorakan-sorakan, “Pengantin pria datang!”

Dia melihat bahwa Kim Li sudah berada di situ dalam pakaian pengantin yang mewah. Dengan dituntun wanita tua yang bertugas mempertemukan pengantin, Sin Lee dibawa menghampiri pengantin wanita. Mereka saling memberikan hormat dan dituntun menuju ke depan meja sembahyang yang sudah disediakan. Semua tamu memandang kagum karena pengantin prianya tampan sedangkan wanita cantik jelita. Pasangan yang serasi.

Akan tetapi, ketika sepasang pengantin tiba di depan meja sembahyang dan oleh wanita tua diminta untuk berlutut, Sin Lee tiba-tiba saja merenggu lepas kerudung yang menutupi muka wanita yang dimaksudkan menjadi isterinya itu. Kim Li terkejut dan tidak dapat mencegah karena tidak mengira sama sekali bahwa ‘suaminya’ akan melakukan hal itu. Ia hanya merasa heran tidak merasa khawatir karena bagaimanapun juga suaminya tidak akan mampu berbuat sesuatu di bawah pengaruh obat biusnya. Akan tetapi apa yang terjadi selanjutnya amat mengejutkan dan mengherankan hatinya. Setelah merenggut lepas penutuh muka pengantin wanita, Sin Lee segera meloncat ke atas meja sembahyang dan menghadapi orang-orang dusun yang menjadi tamu dan yang merasa terkejut melihat perbuatannya itu.

“Paman dan bibi, saudara sekalian. Lihatlah baik-baik, pengantin wanita inilah siluman yang kalian takuti itu. Ia telah membunuhi pemuda-pemuda yang hilang dari dusun kalian, mayat mereka dilempar ke dalam jurang di belakang kebun rumah ini. Aku akan menangkap ia untuk kalian!”

“Sin Lee, keparat kau! Dia berbohong dan aku akan menghajarnya!” teriak Kim Li dengan wajah pucat dan marah, juga heran sekali. Ia lalu menerjang ke arah meja sembahyang, ditendangnya meja sembahyang itu sehingga hancur berantakan. Akan tetapi dengan lincah sekali, membuat Kim Li terkejut bukan main, pemuda itu dapat mengelak dengan loncatan ke samping.

Kim Li terkejut dan khawatir bahwa pemuda itu telah pulih kekuatannya, maka iapun mencabut pedang yang ia sembunyikan di balik meja sembahyang untuk menjaga segala kemungkinan. Kini, dengan sepasang pedang di tangan, ia mengejar dan menyerang Sin Lee. Namun, pemuda ini diam-diam juga sudah mempersiapkan diri, dan dari balik jubah pengantin yang longgar itu dia telah mencabut pedang panjang dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencabut sebatang pedang pendek bengkok. Kedua senjata ini memang tidak disingkirkan oleh Kim Li, disimpan di atas lemari, karena ia pikir toh pemuda itu sudah kehilangan tenaganya. Siapa tahu, kini pemuda itu dengan gagahnya mempergunakan kedua pedangnya.

“Sin Lee, keparat busuk, tak tahu dicinta orang. Aku bunuh engkau!” bentaknya. Namun dengan tangkisannya, Sin Lee membuat pedang lawan terpental dan dia membalas dengan serangan yang dahsyat. “Lai Kim Li, engkau siluman betina yang kejam. Engkau membunuhi banyak pemuda, engkau perempuan cabul dan jahat!” Sin Lee balas memaki sambil menyerang. Kim Li menangkis dan di tempat uparaca pengantin itu terjadilah pertandingan hebat antara si pengantin wanita melawan pengantin pria. Sementara itu, kalau tadinya para tamu orang-orang dusun itu hanya tercengang kebingungan, kini mereka dapat menduga ke mana perginya pemuda-pemuda dusun yang lenyap itu. Kalau memang benar dibunuh oleh wanita cantik itu, maka wanita cantik itulah silumannya. Tadinya mereka menjadi ketakutan bahkan ada di antara mereka yang melarikan diri. Akan tetapi beberapa orang yang merasa kehilangan keluarganya, yaitu para pemuda yang hilang, segera memungut apa saja yang dapat dijadikan senjata, bahkan ada yang mengangkat bangku dan kursi, dan mereka menghampiri dengan sikap mengancam.

“Bunuh siluman jahat!” Karena ada beberapa orang yang berani, maka yang lain berbesar hati dan tidak kurang dari tiga puluh orang mengurung mereka yang bertanding dengan pandang mata bengis mengancam kepada Kim Li.

Pertandingan itu jelas berat sebelah. Sin Lee mendesak lawannya dengan hebat karena kini dia tidak lagi menaruh kasihan dan memang dalam hal ilmu silat, ginkang maupun sinkang tingkatnya lebih tinggi dari Kim Li. Wanita itu terkejut bukan main dan tidak dapat mengerti bagaimana pemuda itu yang tadinya jelas lemas terpengaruh obat bius, tiba-tiba saja menjadi kuat dan pulih seperti sebelum terbius. Tentu saja ia menjadi jerih karena ketika pemuda itu melawannya menggunakan sebatang kayu saja ia tidak mampu mengalahkannya, apa lagi sekarang membawa dua macam pedang yang tajam.

Setelah lewat belasan jurus, Sin Lee mendapat kesempatan. Kakinya menendang dan tubuh Kim Li terlempar ke belakang. Akan tetapi wanita ini kebal dan lincah, begitu terjatuh ia sudah melompat bangun lagi dan melarikan diri.

“Kejar siluman! Kejar!” Orang-orang dusun itu mengejarnya, didahului oleh Sin Lee yang khawatir kalau jatuh korban jika orang-orang itu dapat mengejar Kim Li.

Kim Li menjadi panik. Dikejar Sin Lee saja ia sudah ketakutan, apa lagi ditambah kejaran orang-orang dusun yang ia tahu amat marah dan haus darah. Ngeri ia membayangkan kalau sampai ia terjatuh ke tangan mereka. Maka ia berlari terus memasuki kebunnya. Akan tetapi Sin Lee mengejar dan nekat di belakang wanita itu. Ketika tiba di tepi jurang, baru Kim Li teringat bahwa ia telah keliru mengambil jalan pelariannya. Kini di depannya membentang jurang yang amat lebar dan dalam, sedangkan di belakang dan kanan kiri mendatangi Sin Lee dan orang-orang dusun.

“Lai Kim Li, lebih baik engkau menyerah!” kata Sin Lee. “Engkau tidak dapat melarikan diri lagi.” Sebetulnya, maksud Sin Lee baik. Kalau wanita itu menyerah, dia tidak akan mengganggunya. Melainkan akan diserahkan kepada pengadilan di kota, agar diadili. Akan tetapi, Kim Li menganggap Sin Lee akan menyerahkannya kepada orang-orang dusun yang pasti akan menghancur leburkan tubuhnya. Ia merasa ngeri dan tiba-tiba saja ia melompat ke dalam jurang!

“Kim Li...!” Namun teriakan Sin Lee hanya bergema dari dasar jurang, karena wanita itu sudah tertelan jurang yang menganga. Kiranya tidak mungkin lagi wanita itu hidup setelah terjun dari ketinggian seperti itu.

“Di bawah sana, kalian akan menemukan mayat-mayat para pemuda yang telah dibunuh wanita itu,” kata Sin Lee. “Harap mereka itu diangkat dan dikuburkan baik-baik, juga mayat wanita itu.”

“Mayat siluman tidak perlu dikuburkan, biar dimakan burung gagak, membusuk di dalam jurang!” teriak beberapa orang.

“Pendapat yang bodoh dan keliru!” kata Sin Lee nyaring. Yang jahat adalah orangnya dan orang itu sudah mati. Jasadnya tidak bersalah apa-apa, karena jasad itu hanyalah alat, diperalat setan melakukan kejahatan. Harap kalian menguburkannya, aku yang minta ini. Ingat, kalau tidak ada aku, kalian tentu sudah mati semua di tangannya, dan letakkan bunga ini di depan maka Kim Li.” Dia melepaskan bunga merah yang berada di kancing baju dalamnya, menyerahkannya kepada seorang di antara mereka.

“Pendekar Bunga Merah...!” seru beberapa orang ketika melihat bunga merah yang diberikan pemuda itu.

Sin Lee memetik setangkai bunga merah kecil yang kebetulan tumbuh di situ dan memasang di lubang kancing bajunya. “Kalian mengenalku!” katanya sambil memberi hormat dan sekali melompat, dia sudah lenyap dari depan mereka. Sin Lee mengambil buntalan pakaiannya dari dalam rumah itu dan ketika memasuki kamar pengantin, dia menghela napas panjang. Bagaimanapun juga, Kim Li telah memperlihatkan kasih sayang amat besar kepadanya walaupun ia dapat menduga bahwa cinta seorang wanita macam Lai Kim Li hanyalah cinta yang didorong oleh nafsu berahi semata.

Membayangkan betapa wanita itu membelainya, menciuminya, kadang-kadang menciuminya sambil menangis, kembali dia menarik napas panjang. Betapa anehnya wanita kalau jatuh cinta. Bahkan berani memaksanya dengan obat bius. Bagaimana mungkin seorang pria hendak dipaksanya menjadi suami?

Dia lalu menuruni bukit itu, sama sekali tidak tahu betapa orang-orang dusun yang menuruni jurang, setelah tiba di dasar jurang menjadi ketakutan setengah mati karena mereka hanya menemukan mayat- mayat para pemuda yang sudah menjadi rangka dan membusuk, akan tetapi sama sekali tidak dapat menemukan mayat Lai Kim Li! Kembali ketahyulan menyerang mereka. Wanita itu terjatuh dari atas jurang, namun mayatnya lenyap. Siapa lagi dapat berbuat begitu kalau bukan setan, bukan siluman? Mereka bergegas mengangkuti mayat-mayat para pemuda itu dan cepat meninggalkan tempat itu dengan bulu tengkuk berdiri. Bahkan ketika mereka mengubur jenazah atau rangka-rangka itu, para penduduk dusun masih merasa ngeri dan sampai berhari-hari lamanya mereka dicekam rasa ngeri yang membuat mereka tidak berani keluar rumah setelah malam tiba. Akan tetapi, setelah ternyata berminggu-minggu lamanya tidak terjadi sesuatu, tidak ada lagi pemuda yang lenyap, barulah mereka dapat hidup tenteram seperti biasa.

Pada suatu hari, Sin Lee tiba di pegunungan Hong-san dan dia tahu bahwa pegunungan itu menjadi pusat perkumpulan Kong-thong-pai, sebuah aliran persilatan yang cukup terkenal namanya, walaupun tidak sebesar Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Gobi-pai atau Siauw-lim-pai. Sebetulnya Kong-thong-pai dapat dibilang masih keturunan dari partai Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Pendirinya mahir ilmu-ilmu silat Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Kedua ilmu itu digabungnya dan lahirlah Kong-thong-pai. Baik Kun-lun-pai maupun Siauw- lim-pai tidak berkeberatan karena buktinya perkumpulan Kong-thong-pai itu melahirkan pendekar-pendekar dan tidak pernah melakukan kejahatan di dunia kang-ouw, bahkan terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang gagah perkasa.

Karena para murid Kong-thong-pai banyak yang membuka perusahaan pengawal kiriman barang, maka nama Kong-thong-pai terkenal di antara golongan hitam. Pengawalan barang yang dilakukan murid Kong- thong-pai jarang ada yang berani mengganggu.

Ketika Sin Lee sedang berjalan dengan santai mendaki sebuah puncak, tiba-tiba dia melihat tiga orang laki- laki berusia kurang lebih tiga puluh tahunan, dalam keadaan pakaian robek-robek dan luka-luka datang dari arah belakangnya. Dia terheran dan karena tertarik dia menegur. “Sam-wi kenapakah, maka sampai luka- luka seperti ini?”

Tiga orang itu mengerutkan alisnya dan seorang di antara mereka yang berkumis tebal menjawab, “Lancang mulut! Apa sangkut pautnya keadaan kami dengan engkau?”

Mendengar jawaban seperti itu, tentu saja Sin Lee merasa mendongkol juga. Ditanya baik-baik orang ini menjawab demikian kasar. “Ah, sekarang aku mengerti mengapa kalian luka-luka, tentu akibat dari sikap kalian yang tidak sopan itu!”

Mendengar ucapan ini, tiga orang yang sudah luka-luka itu menjadi marah dan tanpa banyak cing-cong lagi mereka segera menyerang Sin Lee! Bukan main gemasnya hati Sin Lee. Akan tetapi tiga orang ini sudah luka-luka, bagaimana dia dapat melayani bertanding tiga orang yang sudah luka-luka? Maka dia hanya main kelit, loncat ke sana-sini dan tidak pernah membalas.

Pada saat itu, dari puncak bukit berlari seorang laki-laki berusia lima puluh tahun. Orang itu memiliki pedang di punggung dan begitu melihat tiga orang yang luka-luka bertanding melawan seorang pemuda yang memakai bunga di dada dan yang gerakannya gesit mempermainkan tiga orang itu dengan berloncatan ke sana-sini, orang itu membentak. “Tahan...!”

Tiga orang yang sudah luka-luka dan kini napasnya ngos-ngosan itu berteriak girang, “Susiok, harap suka memberi hajaran kepada bocah kurang ajar ini!”

Sang susiok mengerutkan alisnya dan mencabut pedangnya. “Orang muda, kulihat engkau membawa pedang. Nah, cabutlah pedangmu. Engkau melanggar wilayah kami, bahkan menyerang tiga orang murid kami, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu itu dengan pedang.”

Sin Lee tersenyum dan kagum akan kegagahan orang itu. Timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu orang ini, maka tanpa banyak cakap dia juga mencabut pedangnya.

“Bagus, lihat pedang!” kata orang berusia setengah abad yang jenggotnya panjang itu. Jenggotnya berkibar ketika dia menyerang dengan dahsyat. Sin Lee menggerakkan pedangnya menangkis, karena dia ingin menguji tenaga lawan.

“Cringgg...!!” Bunga api berpijar ketika sepasang pedang bertemu. Keduanya meloncat mundur karena merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa lawannya memiliki tenaga sin-kang yang kuat.

Ketika melihat tiga orang murid keponakan itu luka-luka mengeroyok pemuda itu, si jenggot panjang yang menduga mereka dilukai oleh Sin Lee, sudah dapat menduga bahwa Sin Lee lihai, maka begitu bertemu pedang dan merasakan tenaga yang kuat, diapun segera membuka serangan dengan lebih hati-hati, mengeluarkan jurus-jurusnya yang pilihan.

“Haiiittt...!” Dia memekik dan pedangnya membuat gerakan melengkung membacok ke arah kepala Sin Lee dengan jurus Pek-hong-koan-jit (Pelangi Putih Menutup Matahari).

Sin Lee maklum akan datangnya serangan hebat, maka diapun segera menggerakkan tubuh dan pedangnya, membalik dan menggerakkan pedang dengan jurus Sin-liong-tiauw-si (Naga Sakti Menyabetkan Ekornya) menangkis serangan lawan itu dan membalas dengan lanjutan jurus Kong-ciak-kai- pang (Burung Merak Membuka Sayap).

Si jenggot panjang mengeluarkan seruan kaget dan segera meluncurkan pedangnya sambil mengelak dan tubuhnya miring tangannya seperti orang memanah karena dia memainkan jurus Likong-sia-ciok (Likong Memanah Batu). Demikianlah kedua orang itu tukar menukar jurus, saling serang dan karena Sin Lee bermaksud hanya menguji kepandaian orang, maka diapun tidak bermaksud merobohkan atau melukai.

Si jenggot panjang agaknya merasakan ini dan diapun meloncat ke belakang sambil berseru, “Tahan senjata!” Dia mulai curiga. Pemuda ini sama sekali tidak bermaksud menyerang sungguh-sungguh, bagaimana pemuda ini sampai membuat tiga orang muridnya luka-luka?

“Ilmu pedang paman sungguh hebat, saya mengaku kalah,” kata Sin Lee sambil memberi hormat.

Melihat sikap ini, orang itu semakin terkesan lagi. Dari pertemuan pedang tadi saja dia sudah tahu bahwa pemuda ini memiliki sin-kang yang tidak kalah kuat dengan sinkangnya. Dia memandang penuh perhatian dan melihat bunga merah di dada pemuda ini, teringatlah dia akan nama seorang pendekar baru yang sebentar saja namanya amat terkenal, yaitu Pendekar Bunga Merah. Bahkan para pejabat daerah membicarakan nama ini, terutama penduduk dusun-dusun karena pendekar ini banyak menolong orang- orang dusun yang tertindas.

“Sobat muda, apakah engkau yang dijuluki Pendekar Bunga Merah?”

Sin Lee memberi hormat. “Dugaan paman memang benar, sebetulnya julukan itu tidak pantas bagi saya yang muda dan bodoh.”

“Hemm, Pendekar Bunga Merah. Kami mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar yang suka membela si lemah, akan tetapi sekarang engkau melanggar wilayah kami dan bahkan melukai tiga orang murid kami?”

Sin Lee tersenyum. “Melukai? Sebaiknya paman bertanya kepada tiga orang itu dan kalau mereka tidak terlalu pengecut tentu akan bercerita yang sebenarnya.”

Kini tokoh Kong-thong-pai itu memandang kepada tiga orang murid keponakannya, membentak, “Hayo ceritakan mengapa kalian bertiga luka-luka dan mengapa pula berkelahi melawan Pendekar Bunga Merah.”

“Ampun, susiok (paman guru). Semua kesalahan kami. Pertama, kami tidak tahu bahwa sobat muda ini adalah Pendekar Bunga Merah dan yang melukai kami sama sekali bukanlah dia. Kami sedang mendaki bukit untuk pulang melapor akan malapetaka yang menimpa kami dan kami yang sedang sedih dan jengkel bertemu dengan pemuda ini. Karena kesalah pahaman maka kami menyerangnya dengan curiga kepadanya. Harap paman guru sudi memaafkan.”

“Bodoh dan ceroboh kalian. Bukan kepadaku harus minta maaf, melainkan kepada Pendekar Bunga Merah.”

Tiga orang itu memberi hormat kepada Sin Lee. “Maafkan kami, taihiap.” Mereka menyebut taihiap karena maklum bahwa yang berjuluk Pendekar Bunga Merah memiliki kepandaian tinggi, bahkan tadi susioknyapun tidak mampu menang.