-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 5

Jilid 5

“Kalau lain kali aku mendapatkan kalian masih bersikap kejam terhadap penduduk dusun yang miskin, aku tidak akan mengampuni kalian lagi!” kata Sin Lee sambil bertolak pinggang melihat mereka itu tertatih-tatih meninggalkan dusun itu, meninggalkan pula senjata mereka yang berserakan di atas tanah.

Karena tidak ingin orang-orang itu melapor lebih dulu sehingga dia akan menghadapi persiapan yang membuat tugasnya menjadi berat, Sin Lee menghampiri petani dan dua orang anak perempuannya, dan bertanya, “Di mana rumah hartawan Chi itu?”

Petani itu dan dua orang puterinya menjatuhkan diri berlutut dan berkata, “Rumahnya di dusun sebelah utara, tak jauh dari sini, taihiap!”

Sebelum mereka yang berlutut itu sempat mengucapkan terima kasih, setelah mendengar keterangan itu, Sin Lee melompat dan lenyap dari depan mereka.

Sin Lee dengan ilmu berlari cepat, mendahului menuju ke dusun sebelah utara itu. Dusun ini tidaklah semiskin dusun yang baru saja dia tinggalkan dan ada beberapa rumah yang cukup besar dan mewah. Dengan mudah dia mendapatkan keterangan tentang rumah hartawan Chi dan bersembunyi, menanti sampai belasan orang tukang pukul yang terpincang-pincang itu sampai di rumah gedung hartawan Chi.

Ketika hartawan Chi mendengar bahwa para tukang pukulnya pulang tidak membawa dua orang gadis melainkan dalam keadaan luka-luka, dia menjadi marah dan cepat keluar menemui mereka. Para tukang pukul itu berdiri di bawah anak tangga dan hartawan Chi berdiri di atas anak tangga, matanya merah karena marah.

”Apa yang terjadi? Dan mana dua orang gadis itu?” bentaknya.

Si jenggot panjang menjawab dengan takut. “Mohon maaf, loya, kami... kami telah gagal karena tiba-tiba saja muncul Pendekar Bunga Merah yang membela dua orang gadis itu dan menghajar kami. Dia lihai sekali dari kami... kami tak mampu menandinginya.

Wajah hartawan Chi menjadi pucat. “Pendekar Bunga Merah? Di mana dia...?”

“Aku di sini!” terdengar jawaban dan sesosok tubuh melayang dan berkelebat, tahu-tahu seorang pemuda yang memakai bunga merah di dadanya telah berdiri di depan hartawan Chi. Hartawan itu terkejut, mukanya menjadi semakin pucat dan dia mundur-mundur. Akan tetapi Sin Lee maju mendekati dan Chi wan-gwe berteriak kepada anak buahnya untuk maju melindunginya. Akan tetapi para tukang pukul itu tidak ada seorangpun yang berani maju.

Sin Lee mencabut pedangnya dan secepat kilat pedang itu berkelebat, tahu-tahu sudah ditodongkan ke dada hartawan Chi yang berusia lima puluhan tahun itu. Tubuh yang gendut pendek itu menggigil dan kedua kakinya menjadi lemas. Dia menjatuhkan dirinya berlutut dan mengangguk-angguk seperti ayam makan beras sambil berkata dengan suara gemetar “Ampun, taihiap... ampunkan aku, apa salahku maka taihiap marah kepadaku...?”

Pada saat itu, keluarga hartawan Chi yang terdiri dari isterinya, dua orang selirnya dan beberapa orang anak-anaknya muncul dari dalam mendengar suara ribut-ribut itu. Mereka  terkejut sekali mendengar hartawan itu berlutut di depan kaki seorang pemuda yang memakai bunga merah.

“Kalian semua masuk dan jangan keluar!” bentak Sin Lee dan keluarga itu dengan ketakutan lalu masuk kembali.

Chi wangwe, engkau masih dapat menanyakan apa kesalahanmu? Engkau mengirim tukang-tukang pukul untuk memaksa gadis-gadis untuk menjadi pembayar hutang. Engkau memberi hutang dan menyita sawah ladang mereka, memberi hutang untuk makan mereka selama musim kering dengan bunga yang berlipat ganda. Dan engkau masih bertanya tentang kesalahanmu?”

“Ampun, taihiap. Saya... saya sungguh telah banyak menolong penduduk dusun itu. Kalau tidak ada saya yang memberi pinjaman bibit padi, memberi hutang uang, bagaimana mereka akan dapat bertahan hidup? Akan tetapi mereka malas, sudah diberi hutang tak mempu mengembalikan. Kalau saya menyita sawah ladang mereka, bukankah itu sudah adil? Dan gadis-gadis itu untuk dipekerjakan dalam perusahaan saya, baik bekerja di rumah maupun di sawah ladang...”

“Cukup semua alasan kosong itu! Aku ingin melihat apakah engkau benar seorang hartawan yang dermawan dan suka menolong orang dusun. Sekarang, suruh keluarkan semua surat tanah yang kausita, engkau harus mengembalikan semua tanah itu, kemudia memberi hutang agar mereka dapat membeli bibit padi dengan perjanjian, kalau kelak mreka panen maka hutang itu akan dikembalikan. Kalau engkau bertindak begini, maka engkau akan dihormati dan disayang semua orang. Akan tetapi, kalau engkau tidak mau melakukan, aku akan membunuhmu, karena tidak ada artinya engkau menjadi hartawan yang semestinya dapat menolong mereka!” Kembali ujung pedang di tangan Sin Lee menempel di leher Chi Wan gwe.

Hartawan itu mengangguk-angguk sambil berkata, “Baik-baik, akan kulakukan semua yang dikehendaki taihiap!”

“Hayo sekarang juga laksanakan, bersama aku pergi ke dusun mengembalikan tanah mereka dan memberi pinjaman.”

Dengan tubuh gemetaran Chi wan-gwe berteriak kepada isterinya untuk mengambilkan surat-surat tanah dan beberapa kantung uang, kemudian dengan berkereta dia pergi ke dusun yang kelaparan itu bersama Sin Lee, Sin Lee memerintahkan agar beberapa karung gandum dikirim pula ke dusun itu untuk menolong mereka yang sudah kehabisan makanan dan terancam kelaparan.

Tentu saja penduduk dusun itu menjadi kaget dan juga heran melihat hartawan Chi sendiri datang dengan kereta bersama Pendekar Bunga Merah. Ketika hartawan Chi itu mengumumkan bahwa semua tanah yang pernah disita akan dikembalikan kepada pemilik lama dan mereka diperbolehkan meminjam uang dan gandum atau bibit, semua penduduk keluar dari dalam rumah mereka, bersorak gembira, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu sambil berlutut menghadap hartawan itu dan berulang-ulang menghaturkan terima kasih mereka.

“Kaulihat, bukankah lebih menyenangkan begini, dianggap sebagai penolong penduduk daripada dijadikan bahan kutuk dan umpan caci merek?” bisik Sin Lee kepada hartawan itu yang wajahnya nampak berseri. Baru sekarang dia merasakan betapa perbuatannya yang mengakibatkan penduduk itu begitu bahagia dan berterima kasih, mendatangkan suatu perasaan bangga dan bahagia yang selama ini tidak pernah dirasakannya.

“Terima kasih, taihiap. Mulai sekarang saya akan mengubah pandangan dan jalan hidup saya. Di sini, saat ini, saya menemui kebahagiaan.”

Tentu saja Sin Lee merasa girang sekali bahwa dia telah berhasil menyadarkan hartawan itu tanpa harus menggunakan ancaman kekerasan. Dia hanya berharap mudah-mudahan hartawan itu tidak akan berubah pandangan lagi. Chiwan-gwe, aku girang sekali engkau berpendapat begitu. Lain kali aku lewat di daerah ini, tentu daerah ini sudah tidak dihuni orang-orang yang sengsara dan kelaparan lagi, dan aku pasti akan singgah di rumahmu.” Setelah berkata demikian, Sin Lee yang gembira sekali itu mengambil bunga dari kancing bajunya dan menyodorkannya kepada Chi wan-gwe yang diterimanya dengan senyum lebar. Setelah itu, Sin Lee meloncat dan lenyap dari situ.

Pagi yang cerah, Sin Lee berjalan di sepanjang jalan raya yang menuju ke kota besar Nan-king itu. Banyak penduduk dusun berjalan pula menuju ke kota. Mereka membawa barang dagangan berupa sayur dan hasil sawah ladang. Berat nampaknya sayur-sayuran yang dipikul mereka itu, akan tetapi wajah mereka membayangkan kegembiraan. Mungkin mereka itu membayangkan dagangan mereka laku dengan harga baik dan pulang ke dusun membawa oleh-oleh untuk anak isteri mereka. Tubuh mereka mengkilat karena peluh.

Melihat mereka, diam-diam Sia Lee memperhatikan dan melamun. Betapa sedikitnya orang kaya di dunia ini, dan alangkah banyaknya orang miskin. Semua orang setiap hari sibuk mencari uang! Dan karena amat membutuhkan uang yang menjadi sumber semua kesenangan dan kesejahteraan, maka uang diperebutkan dengan cara apa saja. Orang yang lupa diri kehilangan kepribadiannya, digantikan oleh pribadi uang sehingga apapun yang dilakukannya, tentu diukur dengan keuntungan uang. Orang memperebutkan kedudukan juga karena kedudukan itu mendatangkan uang. Andaikan kedudukan atau jabatan itu tidak mendatangkan uang banyak, kiranya orang tidak akan memperebutkannya. Kehormatan dan kemuliaan juga didatangkan oleh uang. Bagaimana seorang yang miskin dan apa dapat memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia yang penuh dengan manusia penyembah harta ini?

Sin Lee mengaso, duduk di bawah pohon sambil melihat orang-orang dusun yang berlalu lalang. Ya, dunia memang tempat orang mengejar harta be nda sebagai sumber segala kesenangan. Akan tetapi, harta benda itu sesungguhnya bukan merupakan jaminan bagi manusia untuk dapat hidup berbahagia. Lihat mereka itu, yang sedang berjalan pulang, sesudah menjual hasil ladangnya, membawa uang yang tidak berapa beserta oleh-oleh yang murah harganya untuk anak isterinya, membayangkan anak isterinya akan menyambut mereka dengan senyum dan tawa. Betapa bahagia mereka itu nampaknya. Dan wajah anak yang menggembala domba di padang rumput sana itu. Begitu cerah dan gembira, pada hal dia anak penggembala yang miskin. Agaknya bagi anak itu, asal perutnya kenyang, ternak yang digembalanya tenang dan mendapatkan rumput gemuk, diapun sudah merasa bahagia. Dan lihat pedagang yang dari pakaiannya dapat diduga seorang kaya itu. Menunggang kereta akan tetapi wajahnya nampak demikian tegang dan tertekan, penuh kerut merut, agaknya baru saja menderita kerugian yang mengurangi jumlah besar kekayaannya. Harta kekayaan yang sudah menguasai hati akan melekat pada jiwa raga orang itu sehingga seorang kaya yang memiliki seratus ekor ternak, baru kehilangan lima ekor saja sudah menjadi sedih dan murung, pada hal orang yang memiliki dua ekor domba dapat tertawa bahgia karena dombanya melahirkan dua ekor anak domba. Jadi, bukan jumlah kekayaan yang penting, melainkan kemelekatannya.

Kekayaan dapat membuat orang menjadi mata gelap. Berbagai kejahatan dilakukan orang demi memperoleh harta, memperoleh uang. Uang dapat mempermainkan manusia sedemikian rupa, membuat orang menjadi sejahat-jahatnya, semurung-murungnya, dan sebaliknya juga dapat membuat orang segirang-girangnya. Manusia menjadi boneka yang dipermainkan oleh harta benda. Akan tetapi, bagaimanapun juga, manusia tidak mungkin dapat hidup sebagai manusia tanpa disertai benda. Rumah dengan segala perabotnya, pakaian dengan segala perhiasannya, alat-alat perhubungan, segala macam alat demi kesehatan dan kesenangan semua adalah benda d an manusia tak dapat hidup tanpa benda. Kalau hal ini dilakukan maka manusia akan hidup telanjang bulat di dalam guha-guha, akan terancam malapetaka karena manusia yang berkulit lunak tanpa taring tanpa kuku atau tanduk ini akan kalah melawan binatang kalau dia tidak membawa alat atau benda untuk senjatanya.

Tak dapat disangkal lagi. Benda mutlak diperlukan oleh manusia untuk menjamin keselamatan dan kesejahteraannya. Jadi, mencari benda atau harta yang dibutuhkan itu memang perlu. Akan tetapi, harta benda ini bermanfaat dan mendatangkan kebaikan kalau dia tetap menjadi peserta, pelengkap dan pembantu kita. Kalau terjadi sebaliknya, kalau kita membiarkan harta benda menjadi majikan dan menguasai jiwa raga kita, maka akan celakalah kita. Untuk mengejar harta benda, kita tidak segan melakukan hal-hal yang tercela, dan kalau ditinggalkan harta benda kita menjadi susah atau bahkan gila atau membunuh diri!

Kalau harta benda menguasai diri, maka rasa memiliki dalam hati kita amatlah tebalnya sehingga kita tidak rela kalau milik kita itu diambil orang, atau hilang terlepas dari kita. Akan berbahagialah kita kalau kita dapat terbebas dari rasa memiliki ini dan meyakini bahwa semua ini, benda atau makhluk apa saja, adalah milik Tuhan Yang Maha Kasih. Bahkan kita tidak memiliki tubuh kita sendiri. Semua milik Tuhan. Kita tidak memiliki apa-apa, dan segalanya terserah kepada Tuhan yang memilikinya. Kita boleh mempunyai secara lahiriah, namun jiwa kita tidak memiliki apa-apa yang membuat kita melekat kepada apa yang kita miliki itu.

Sin Lee menanti sampai iring-iringan penduduk dusun itu mulai menipis karena matahari mulai meninggi. Dia bangkit dan melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Nan-king. Ketika dia melihat sebuah kuil tua di atas bukit kecil di tepi jalan, entah mengapa hatinya tertarik untuk mendaki bukit itu dan menjenguk ke dalam. Ternyata kuil itu memang kosong, tidak ada penghuninya, namun keadaannya terawat. Mungkin penduduk perkampungan di dekat situ yang merawat karena masih menganggap kuil ini sebagai tempat para dewa dan pada waktu-waktu tertentu penduduk masih bersembahyang di situ.

Ketika Sin Lee memasuki ruangan depan kuil itu, terdengar rintihan dan suara lirih memanggil namanya, “Sin Lee !”

Sin Lee terkejut dan terbelalak karena dia mengenal suara itu, lalu meloncat ke sebelah dalam. Dan di ruangan dalam itu, di atas tumpukan jerami kering, dia melihat ayah tirinya, Liu Siong Ki, bersandar pada dinding dengan tubuh yang kurus dan muka pucat. Agaknya ayahnya itu tadi baru mengintai dari balik pintu tembusan dan mengenalnya. “Ayah.!!” Sin Lee berlutut dan merangkul ayahnya. “Kau kenapa, ayah?” Engkau terluka...? Sakit ? Kenapa ayah berada di sini?”

Dengan susah payah, Liu Siong Ki yang nampak menyedihkan sekali itu, berusaha untuk menegakkan duduknya. Dalam usianya yang baru lima puluh lima tahun itu, Liu Siong Ki sudah nampak tua sekali dan tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, pakaiannya lusuh seperti seorang pengemis dan keadaannya sedemikian lemahnya sehingga Sin Lee merasa terkejut bukan main.

“Sin Lee... ahh... agaknya Tuhan telah menuntunmu ke sini, anakku... aku... aku... terluka parah ”

“Ayah, apa yang telah terjadi? Di mana ibu? Sejak kapan ayah berada di sini?” Bertubi-tubi pertanyaan dilontarkan Sin Lee dan dia harus bersabar karena Liu Siong Ki hanya dapat berbicara dengan lemah, tersendat-sendat.

Dalam keadaan yang sukar itu, Liu Siong Ki menceritakan apa yang telah terjadi dengan dia. Seperti telah diceritakan di bagian depan, melihat Sin Lee pergi meninggalkan perkampungan ibunya, Liu Siong Ki merasa khawatir dan akan mencarinya ke selatan Chi Li tidak mau ditinggalkan dan isteri ini ikut pula. Suami isteri ini melakukan perjalanan mereka melakukan penyelidikan tentang putera mereka. Di beberapa tempat mereka mendapat keterangan bahwa putera mereka itu melakukan perjalanan ke selatan akan tetapi sampai di Peking mereka kehilangan jejak. Jelas bahwa putera mereka itu tidak memasuki Peking.

“Lebih baik kita menghadap Kaisar Ceng Tung,” kata Liu Siong KI kepada isterinya.

Isterinya mengerutkan alisnya. Chi Li agaknya enggan untuk bertemu kembali dengan suami yang telah menyia-nyiakan dirinya itu.

“Tidak, kita terus saja mencari ke selatan. Untuk apa pergi mengunjunginya?” katanya.

“Maksudku berkungjung itu untuk minta pertanggungan jawab Kaisar Ceng Tung terhadap putera kandungnya. Agar sewaktu-waktu kalau Sin Lee berkunjung ke istana, dia akan menerimanya sebagai seorang puteranya dan memberi kedudukan pangeran kepada anak itu.”

Chi Li menggeleng kepala. “Nanti saja yang penting sekarang kita harus mencarinya terus. Engkau tentu memiliki banyak hubungan dengan dunia kang-ouw. Engkau dapat bertanya-tanya tentang Sin Lee kepada para tokoh kang-ouw yang pernah kaukenal.”

Liu Siong Ki menghela napas panjang. Dia tidak menyalahkan sikap isterinya, bahkan dapat mengerti perasaannya. Tentu saja isterinya merasa tidak enak bertemu dengan Kaisar Ceng Tung setelah disia- siakan dan kini sudah menjadi isterinya. “Baiklah, aku akan singgah ke Bu tong pai. Siapa tahu di antara murid Bu tong pai ada yang sempat bertemu dengan Sin Lee. Akan tetapi, kita akan mencari dulu ke selatan.” Demikianlah, suami isteri ini mencari jauh ke selatan. Di sepanjang perjalanan suami isteri ini melihat kesengsaraan rakyat dan sebagai seorang pendekar, Liu Siong Ki dibantu isterinya, selalu mengulurkan tangan membantu mereka dan menentang kejahatan.

Akan tetapi, semua usaha mereka mencari Sin Lee sia-sia belaka sehingga akhirnya, terpaksa Chi Li menuruti keinginan suamisnya untuk langsung menemui Kaisar Ceng Tung dan memesan agar suka menerimanya kalau Sin Lee datang menghadap.

Dengan jantung berdebar karena tegang, menduga-duga bagaimana sikap Kaisar Ceng Tung kalau sampai keduanya menghadap dan Kaisar itu mendengar bahwa Chi Li telah menikah dengan Liu Siong Ki, akhirnya suami isteri ini menghadap ke istana. Mereka diterima oleh pasukan pengawal dan Liu Siong Ki memberikan namanya dan diperkenankan menghadap Kaisar.

“Tidak begitu mudah, sobat,” kata kepala pengawal, “Untuk menghadap Sribaginda, harus dilaporkan dulu kepada Thaikam yang akan meneruskan kepada Sribaginda. Nah, kalau sudah ada perkenan barulah ditentukan dari dalam istana, kapan engkau boleh menghadap.”

“Sampaikan saja sekarang, aku adalah orang yang dulu mengawal Sribaginda ketika kembali dari utara.” Mendengar ini para pengawal itu terkejut dan cepat melapor ke dalam. Belum sampai satu jam menanti, suami isteri itu telah mendapat kabar bahwa mereka berdua diperkenankan menghadap sekarang juga. Dan para pengawal kini bersikap hormat sekali kepada mereka berdua karena belum pernah ada tamu yang seketika diterima oleh Sribaginda Kaisar.

Tentu saja mereka merasa gugup, terutaman sekali Chi Li yang akan bertemu muka denga pria yang pernah menjadi suaminya, ayah puteranya yang menyia-nyiakan dirinya. Akan tetapi ia menekan semua ketegangan hatinya, dan memberanikan diri, demi puteranya. Melihat keadaan istana yang demikian megah dan mewah, ia sama sekali tidak iri dan tidak ingin tinggal di tempat itu bahkan merasa dirinya seperti seekor semut dalam tempat yang terlalu besar. Ia tidak akan betah tinggal di tempat seperti ini, walaupun amat megah dan indah.

Akhirnya tiba juga saat yang dinanti-nantikan suami isteri itu. Mereka tiba di ruangan perpustakaan karena Sribaginda berkenan menerima sahabatnya di situ. Dia tadinya hanya mendengar laporan bahwa Liu Siong Ki dan isterinya datang berkunjung. Bukan main girang rasa hatinya mendengar disebutnya nama ini dan lebih girang lagi mendengar bahwa Liu Siong Ki telah beristeri dan kini datang bersama isterinya.

Ketika suami isteri itu memasuki ambang pintu ruangan yang luas itu dan melihat Kaisar Ceng Tung yang kini nampak jauh lebih tua dari dua puluh tahun yang lalu, diam-diam Chi Li merasa terharu. Suami yang menyia-nyiakan dirinya itu ternyata tidak kelihatan bahagia! Mereka lalu memberi hormat sambil berlutut.

“Liu Siong Ki...!” Seru Kaisar dengan gembira, “Bangkitlah kalian dan majulah, duduk dengan kami di sini!”

“Terima kasih, Yang Mulia,” kata Liu Siong Ki dan bersama Chi Li dia bangkit, menghampiri Kaisar dan duduk di atas bangku yang disediakan untuk mereka berhadapan dengan Kaisar. Dari cara duduk bersama ini saja sudah merupakan penghargaan besar dari Kaisar.

“Ah, Paman Liu Siong Ki, kiranya engkau sudah beristeri? Dan ini isterimu? Cantik juga isterimu, paman Liu. Siapa namanya?” “Nama hamba Chi Li, Yang Mulia.”

Kaisar Ceng Tung terbelalak, akan tetapi cepat dia dapat menguasai keadaan sehingga para pengawal dan thaikam yang berdiri di pinggiran tidak dapat melihat kekejutan di wajahnya. Sekarang Kaisar telah dapat mengenal wanita itu dan dia membelalakkan matanya, terheran.

“Engkau menjadi isteri paman Liu Siong Ki?” “Ampunkan kami Yang Mulia. Melihat keadaannya, hamba merasa kasihan dan kami bersepakat untuk hidup bersama sebagai suami isteri.”

“Bagus, bagus! Kami berterima kasih sekali kepadamu, paman Liu. Engkau memang selain bijaksana dan baik. Engkau setia dan jujur. Pantas engkau mendapat anugerah dari kami. Nah, anugerah apa yang kau kehendaki dari kami?”

“Ampun, Sribaginda. Hamba berdua tidak minta apa-apa, kecuali satu, yaitu apabila murid hamba Cu Sin Lee datang menghadap paduka, harap paduka sudi menerima sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, dia adalah darah paduka sendiri.”

Kaisar Ceng Tung mengangguk-angguk. “Kami tidak pernah lupa akan ceritamu tentang dia ketika engkau berkunjung ke sini, paman Liu. Baiklah, permintaan itu kami kabulkan dan kalau dia muncul di sini, akan kami beri kedudukan pangeran seperti sudah menjadi haknya. Dan sekarang kami minta kepada kalian agar kalian tidak tergesa-gesa meninggalkan istana, jadilah tamu kami selama beberapa hari untuk melepas rindu. Kami membutuhkan kalian untuk bercakap-cakap tentang masa lalu di utara yang mengesankan.”

Demikianlah, mereka bercakap-cakap dengan gembira dan suami isteri itu menjadi tamu Kaisar yang dihormati. Percakapan mereka itu diam-diam diperhatikan oleh thaikam yang hari itu bertugas di situ dan setelah dia diperkenankan mengundurkan diri, thaikam ini cepat berlari membuat laporan kepada Bong Thaikam, yaitu kepala thaikam di situ yang mempunyai kekuasaan besar karena menjadi orang kepercayaan Kaisar. “Celaka, Bong-taijin, celaka...”kata thaikam itu.

Bong Thaikam adalah seorang thaikam berusia lima puluhan tahun yang bertubuh gendut pendek, kalau berjalan seperti sebuah bola menggelinding. Wajahnya bulat seperti boneka, akan tetapi sepasang matanya membayangkan kecerdikan. Dia mengerutkan alisnya yang hanya beberapa lembar dan bersungut-sungut, “Hemm, apanya yang celaka itu? Engkau seperti monyet kebakaran jenggot.”

“Bong taijin, tadi hamba mendengarkan percakapan antara Sribaginda dengan Liu Siong Ki dan isterinya. Ternyata di utara sana Sribaginda mempunya seorang putera dan beliau sudah berjanji kepada Liu Siong Ki bahwa kalau puterana itu datang akan diberi kedudukan pangeran!”

“Ah benarkah?” Bong Thaikam terbelalak dan mukanya berubah pucat. “Ceritakan yang jelas!”

Thaikam itu lalu bercerita tentang semua percakapan yang dapat didengarnya antara Kaisar dan Liu Siong Ki dan isterinya. Setelah thaikam itu selesai bercerita, Bong Thaikam berjalan hilir mudik di ruangan itu. “Harus cepat ambil tindakan! Harus sebelum terlambat!” berulang-ulang dia berkata kepada diri sendiri. Pada waktu itu, kekuasaan kaisan sebagian besar dipengaruhi oleh Bong Thaikam. Dan Bong Thaikam bahkan sudah merencanakan siapa kelak pengganti Kaisar, yaitu dipilihnya seorang pangeran yang kiranya kelak akan dapat dia pengaruhi seperti ayahnya. Kini muncul seorang pangeran baru, dari utara. Kalau sampai pangeran baru ini dapat merebut kedudukan putera mahkota, celakalah dia dan para sekutunya!

“Cepat sediakan perabot tulis!” katanya kepada para pembantunya dan tak lama kemudian thaikam kepala itu telah menulis beberapa buah surat. Dia lalu memanggil thaikam pengawal dan memberi perintah dengan bisik-bisik agar thaikam pengawal itu mengirimkan tiga buah surat itu. Sebuah dilayangkan kepada Gubernur di Lok-yang, yang kedua kepada Panglima Coa di kota raja dan yang ketiga kepada seorang tabib terkemuka yang sudah lama menjadi anteknya.

Pada malam harinya, tiga orang itu mengadakan pertemuan dengan Bong Thaikam di sebuah kamar rahasia di rumah pribadi thaikam itu, mengatur siasat mereka. Persekutuan rahasia antara Bong Thaikam, Gubernur Cen di Lok-yang, Panglima Coa di kota raja dan Tabib Loa itu merupakan persekutuan untuk menguasai Kaisar yang bertahta, agar Kaisar selalu berada di bawah pengaruh mereka sehingga kekuasaan mereka amat besar. Bong Thaikam sudah mendekati pangerang sulung, yaitu pangeran Chu Jian Shen atau juga disebut pangeran mahkota karena dialah yang akan menggantikan kedudukan ayahnya kelak. Bong Thaikam sudah mulai mendekati putera Kaisar ini sejak pangeran itu masih kecil sehingga pangeran Cu Jian Shen amat percaya kepada thaikam kepala ini. Kini merasa ada muncul ancaman kalau putera Kaisar yang berdarah Mongol itu masuk istana, mereka lalu merencanakan untuk mengatur agar penggantian kedudukan Kaisar dapat dilakukan. Kalau Kaisar telah diganti oleh Pangeran Cu Jian Shen, tentu akan mudah sekali mencegah masuknya pangeran berdarah Mongol itu.

Liu Siong Ki dan Chi Li merasa berbahagia sekali akan sikap Kaisar Ceng Tung yang ternyata sedikitpun tidak merasa cemburu. Bahkan hampir setiap hari Kaisar mengajak mereka pesta di taman, dihibur oleh para penari dan penyanyi istana.

Telah dua pekan mereka menjadi tamu istana. Malam ini mereka sudah siap berkemas karena besok mereka akan melanjutkan perjalanan mereka mencari Sin Lee. Akan tetapi ketika pada keesokan harinya pagi-pagi sekali mereka bangun dan bersiap-siap mereka dikejutkan oleh berita yang dibawa oleh thaikam bahwa Kaisar sakit keras! Tentu saja suami isteri ini menjadi terkejut dan heran. Baru semalam Kaisar masih berbincang-bincang dengan sehat gemira dengan mereka, bagaimana mungkin secara tiba-tiba saja pagi ini menderita sakit keras?

Cepat suami isteri itu lalu pergi ke ruangan dalam, untuk menjenguk Kaisar dalam kamar peraduannya. Akan tetapi tiba di luar pintu kamar, mereka dihadang oleh para pengawal.

“Apakah kalian tidak mengenal kami?” tegur Chi Li. “Kami adalah tamu-tamu dan sahabat Sribaginda Kaisar yang sudah dua pekan tinggal di sini!” Kami harus menjenguk keadaan Sribaginda yang kabarnya menderita sakit.”

“Maaf, toanio. Akan tetapi, Sribaginda sedang sakit keras dan kami hanya menaati perintah Bong Taijin untuk melarang siapapun juga datang menganggu Kaisar. Kaisar perlu beristirahat total,” jawab kepala pengawal. Anehnya, tidak seperti biasa, sekali ini yang melakukan penjagaan di depan kamar itu banyak sekali pengawal, tidak kurang dari dua puluh orang, sedangkan biasanya hanya tiga atau empat orang saja.

“Ciangkun,” kata Liu Siong Ki kepada kepala pengawal, “harap engkau suka berbaik hati untuk melapor ke dalam. Percayalah, kalau Sribaginda Kaisar tahu bahwa kami yang datang menghadap, tentu beliau akan suka menerima kami!”

“Kami... kami tidak berani, kami hanya menaati perintah saja,” kata Panglima pengawal itu. “Bong Taijin telah memesan dengan tegas...”

“Pada saat itu, pintu terbuka dan muncullah Bong Thaikam. Pembesar yang gendut pendek ini mengerutkan alisnya ketika melihat Liu Siong Ki dan Chi Li di situ.

“Ada apakah ribut-ribut di luar kamar ini? Sudah kupesan agar jangan ribut karena Sribaginda sakit dan tidak suka diganggu!” bentaknya.

Liu Siong Ki dan Chi Li lalu maju memberi hormat. “Taijin, kami ingin menjenguk Sribaginda. Kalau beliau tahu, tentu akan suka menerima kami.”

“Ah, Liu taihiap. Maafkan, pada saat ini Sribaginda tidak mungkin diganggu. Beliau sakit keras dan sedang tidur, sama sekali tidak boleh diganggu.”

“Akan tetapi, Bong Taijin, kami mengerti sedikit tentang ilmu pengobatan!” bantah Chi Li. “Biarlah kami melakukan pemeriksaan terhadap beliau, siapa tahu kami akan dapat mengobati dan menyembuhkan.”

“Ah, tidak mungkin, nyonya. Saat ini Sribaginda sedang diperiksa dan dirawat oleh Tabib Loa, yaitu tabib istana yang merupakan tabib terpandai di seluruh negara.”

“Tapi, apa salahnya kalau sebagai sahabat-sahabat baik Sribaginda kami ikut memeriksa?” bantah Liu Siong Ki. “Siapa tahu kalau-kalau Sribaginda keracunan. Karena semalam masih berpesta dan bercengkerama dengan kami.”

“Tidak, taihiap. Menurut Tabib Loa, Sribaginda mempunyai kelemahan pada jantungnya dan karena terlalu sering bergadang, maka beliau mendapat serangan jantung. Kalau taihiap melakukan pemeriksaan tentu akan menyinggung perasaan Tabib Loa seolah-olah kita tidak percaya kepadanya.”

Melihat ketegasan dan kekerasan thaikiam yang memang berkuasa dalam istana, maka suami isteri itu terpaksa mengundurkan diri. Akan tetapi merekapun tidak jadi meninggalkan istana karena tidak enak mereka pergi tanpa pamit kepada Kaisar.

Selama menanti itu, mereka selalu merasa tegang dan tidak enak hati, juga curiga karena istana dijaga keras oleh pengawal-pengawal baru, yang kabarnya merupakan anak buah Panglima Coa, seorang Panglima di kota raja. Dan tidak ada kabar sama sekali tentang keadaan Kaisar. Yang boleh mendekati Kaisar hanyalah Tabib Loa, Bong Thaikam dan keluarga Kaisar.

Dan pada tiga hari kemudian, dengan hati terkejut bukan main Liu Siong Ki dan Chi Li mendengar berita bahwa Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia!

Chi Li menangis dalam kamarnya dan Liu Siong Ki mengepal tinju saking penasaran. “Ini mencurigakan sekali!” katanya kepada isterinya. “Aku yakin bahwa ada permainan kotor di sini.”

“Kita harus memeriksa jenazahnya,” kata Chi Li sambil menyusut air mata. “Aku juga curiga bahwa beliau diracuni orang. Tiga hari yang lalu masih segar bugar, tiga hari kemudian sudah meninggal dunia. Ini tidak mungkin!”

“Tenanglah, isteriku. Kita memang harus melakukan penyelidikan. Akan tetapi, harus hati-hati karena kalau kita hendak memeriksa jenazah secara terang-terangan tentu tidak diperbolehkan. Sedangkan ketika masih hidup saja tidak boleh, apa lagi setelah meninggal. Malam ini kita bergerak. Aku curiga kepada thaikam yang gendut itu.”

Malam itu, setelah lewat tengah malam Liu Siong Ki dan Chi Li mengenakan pakaian ringkas dan memakai pula penutup muka dengan sehelai kain, kemudian berindap-indap mereka menuju ke ruangan di mana diletakkan peti mati Kaisar. Tempat itu luas dan sunyi karena hari sudah jauh malam. Beberapa orang thaikam yang berjaga di situ sudah melenggut. Di bagian luar ruangan itu terdapat dua losin pengawal. Liu Siong Ki yang mengintai dengan isterinya melihat bahwa yang berjaga di dalam ada lima orang thaikam. Lima orang ini harus mereka tangani lebih dulu sebelum mereka dapat melakukan pemeriksaan terhadap peti mati Kaisar.

Setelah membuat perhitungan cermat, mereka menyusup masuk ke dalam ruangan itu. Chi Li mendapat bagian dua orang thaikam sedangkan yang tiga lainnya bagian Liu Siong Ki. Suami isteri itu bergerak cepat sekali. Bagaikan dua sosok bayangan hitam mereka telah berhasil menotok lima orang thaikam itu tanpa mereka ketahui, membuat mereka tertotok pingsan dalam keadaan rebah atau duduk. Setelah itu barulah mereka menghampiri peti mati.

“Sribaginda, maafkan kami kalau kami menganggu jenazah paduka,” kata Liu Siong Ki dan dengan pengerahan sinkang mereka berhasil membuka tutup peti mati. Baru kemarin Kaisar itu meninggal dunia, maka jenazahnya masih utuh. Akan tetapi mereka melihat tanda-tanda menghitam di bawah matanya dan ketika Siong Ki memeriksa kuku-kuku tangannya, maka kuku-kuku itupun menghitam. Jelas, ini tanda mati keracunan!

Tiba-tiba saja terdengar bentakan, “Heii, siapa kalian!”

Tentu saja suami isteri itu terkejut dan ketika mereka menengok, tahulah mereka bahwa mereka terjebak. Pasukan pengawal telah mengepung tempat itu.

Siong Ki nekat. “Kaisar telah mati keracunan!” katanya. Akan tetapi, Panglima itu yang bukan lain adalah Coa-ciangkun, yang memimpin sendiri penjagaan di situ, sudah menyerukan aba-aba dan puluhan orang perajurit pengawal sudah maju mengeroyok suami isteri itu.

Liu Siong Ki dan Chi Li tentu saja melakukan perlawanan mati-matian untuk membela diri. Mereka menjadi penasaran karena seruan mereka bahwa Kaisar mati keracunan tidak dihiraukan sama sekali. Mereka merobohkan para pengeroyok terdepan dan hendak mencari lowongan untuk dapat melarikan diri. Namun ternyata dari luar berdatangan lebih banyak pengawal lagi.

Di antara para pengeroyok banyak jagoan istana yang berkepandaian tinggi. Tentu saja Liu Siong Ki dan Chi Li terjepit dan terhimpit, bahkan Chi Li sudah menderita luka-luka di tubuhnya. Namun, wanita Mongol ini memiliki darah panas yang pantang menyerah. Ia mengamuk terus, merobohkan belasan orang pengawal. Akan tetapi, sebuah bacokan golok dari belakang mengenai punggungnya dan iapun terhuyung mandi darah.

Liu Siong Ki juga sudah terluka. “Chi Li...!” serunya melihat keadaan isterinya. Dia merangkul isterinya sambil memutar pedangnya melindungi diri.

“...tinggalkan aku... cari anak kita... balaslah pelaku semua ini...” isterinya mengeluh dan memaksa diri lepas dari suaminya dan iapun mengamuk lagi seperti seekor singa betina terluka. Hebat sekali wanita ini. Dengan tubuh luka-luka ia masih dapat merobohkan beberapa orang pengeroyok lagi. Akhirnya iapun roboh.

Liu Siong Ki mengamuk dan suara isterinya mengiang di telinganya. Dia tidak boleh mati. Dia harus dapat meloloskan diri. Dia harus dapat bertemu Sin Lee untuk membalaskan pembunuh Kaisar dan pembunuh isterinya. Dengan mengerahkan tenaga terakhir, Liu Siong Ki menggunakan ginkangnya dan tubuhnya bagaikan terbang saja melalui kepala para pengeroknya, melayang ke atas genteng. Mereka yang memiliki ginkang tinggi mengejar, namun tubuh Siong Ki sudah lenyap ditelan kegelapan malam.

Semalam itu para perajurit pengawal menggeledah di seluruh istana atas perintah Bong Thaikam yang marah sekali. Akan tetapi tetap saja mereka tidak dapat menemukan Liu Siong Ki yang sudah lari jauh keluar dari istana, bahkan keluar dari kota raja.

Dalam keadaan tubuh luka-lukka bahkan menderita luka dalam akibat pukulan para jagoan istana dan beberapa buah paku beracun mengeram pula di dalam tubuhnya. Liu Siong Ki terus melarikan diri sampai jauh ke selatan.

“Demikianlah, anakku, apa yang dialami oleh ibumu dan aku...” Liu Siong Ki menutup kisahnya dan Sin Lee kini berlutut sambil bercucuran air mata mendengar ibunya tewas dikeroyok pasukan pengawal istana. Juga mendengar bahwa ayah kandungnya mati diracuni orang pula. “Ayah, katakan, siapa yang telah meracuni Kaisar? Tentu dia pula yang mengerahkan pasukan pengawal untuk menjebak ayah dan ibu!” katanya penuh semangat untuk membalas dendam.

“Kami... kami belum mendapat bukti... akan tetapi... ah, Sin Lee, kau... kau selidiki... Bong Thaikam itu... dia mencurigakan...”

“Sudahlah, ayah. Sekarang yang penting ayah harus berobat dulu sampai sembuh.” Kata Sin Lee, “Mari kuantar ke rumah seorang ahli obat di dalam kota Nan-kiang, ayah.”

Liu Siong Ki menggeleng kepala dan menghela napasnya yang sudah tinggal satu-satu. “Tidak ada gunanya... sudah kupertahankan... sampai hari ini... aku sudah tidak kuat lagi, Sin Lee... aku ingin... menyusul... ibumu... kasihan ia...”

Liu Siong Ki yang sudah empas-empis itu akhirnya tewas dalam rangkulan Sin Lee. Sin Lee menangis terisak-isak sambil memeluk ayahnya. Sungguh mengenaskan sekali kematian seorang pendekar gagah perkasa seperti Liu Siong Ki. Dia terluka pawah dan terpaksa menahan diri tanpa obat bahkan menderita kelaparan karena dia harus menyembunyikan diri dari pengejarang pasukan yang masih harus mencarinya.

Dengan amat sederhana, diiringi cucuran air mata dari sepasang mata Sin Lee, jenazah Liu Siong Ki dikubur oleh pemuda itu di kebun belakang kuil tua itu. Tidak disaksikan oleh orang lain.

Setelah selesai mengubur jenazah itu, Sin Lee berlutut di depan makam ayah tirinya dan berkata, “Ayah, beristirahatlah dengan tenang, ayah. Aku yang akan menyelidiki tentang kematian ayah kandungku dan membalas kematian ibu dan ayah.”

Setelah bersembahyang tanpa memakan perabot sembahyang, secara sederhana sekali namun penuh kesedihan, Sin Lee lalu meninggalkan tempat itu dan dia tidak jadi memasuki kota Nan-king. Dia memutar haluan menuju ke utara, hendak pergi ke kota raja Peking untuk menyelidiki kematian ayah kandungnya, Kaisar Ceng Tung, seperti yang dipesan gurunya atau ayah tirinya.

Bong Taijin (pembesar Bong) atau Bong Thaikam (Sida-sida Bong) berjalan hilir mudik di dalam ruangan dalam rumahnya yang mewah. Pembesar ini dapat mengumpulkan kekayaan sehingga dapat membangun istana yang hampir menyaingi istana Kaisar sendiri. Dia nampak gelisah dan marah, seperti sebuah bola digelundungkan kian kemari, dan wajahnya yang seperti boneka itu penuh kerut merut, tanda bahwa hatinya sedang risau dan pikirannya penuh dengan berbagai macam ingatan yang tidak menyenangkan hatinya.

Pada masa itu, kerajaan Beng tak pernah terlepas dari pengaruh para sida-sida, yang mulanya diadakan untuk menjaga dalam istana yang penuh dengan selir dan dayang Kaisar tanpa adanya bahaya perjinaan antara mereka dan para petugas jaga. Laki-laki yang sudah dikebiri itu tentu saja tidak mampu menggauli para wanita di istana, oleh karena itu hubungan mereka dengan penghuni istana menjadi akrab. Mereka amat dipercaya oleh Kaisar dan keluarga Kaisar sehingga banyak di antara mereka yang pandai mengambil hati Kaisar lalu mempengaruhi jalan pikiran Kaisar. Mula-mula, para lelaki kebiri ini dijadikan penjaga keamanan dan kesetiaan para selir dan dayang, akan tetapi lama kelamaan mereka menjadi penjilat dan pengaruh mereka amat besar. Karena mendapat kepercayaan Kaisar, tentu saja para pejabat di luar istana menaruh segan dan hormat kepada mereka. Ketika Ceng Tung menjadi Kaisar saja jumlah sida-sida sudah ratusan orang!

Bong Thaikam berasal dari keluarga bangsawan. Dia memang sejak kecil bercita-cita besar, karena itu dia rela melenyapkan sifat jantannya, mengebiri dirinya menjadi sida-sida. Dia melenyapkan gairah nafsunya terhadap wanita, dan dengan sendirinya nafsu itu dipusatkan kepada materi dan kedudukan, kemuliaan dan kehormatan. Sejak pemuda remaja dia sudah menjadi sida-sida di istana dan bergaul akrab dengan para pangeran sehingga dengan mudah dia dapat menaiki tangga pangkat sampai akhirnya, ketika Kaisar Ceng Tung menjadi Kaisar, dia sudah menjadi thaikam kedua yang amat berpengaruh. Thaikam pertama yang amat berkuasa dan mempengaruhi Kaisar Ceng Tung adalah thaikam Wang Cin. Akan tetapi ketika thaikam Wang Cin mengawal Kaisan Ceng Tung ke utara terbunuh oleh orang-orang suku Oirat, otomatis yang berkuasa di istana tentu saja Bong Taijin atau Bong Thaikam.

Apa yang menyebabkan Bong Thaikam hari itu hilir mudik di ruangan gedunya dengan murung? Beberapa kali dia menghantamkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya. ”Celaka, sekali ini aku salah perhitungan. Wah, semuanya serba salah!” demikian katanya, seperti memaki- maki diri sendiri karena kebodohannya.

Mengapa? Dia sudah bersekutu dengan Tabib Loa untuk meracuni Kaisar Ceng Tung sampai mati dengan maksud agar Kaisar diganti dengan segera oleh Pangeran Mahkota Cu Jian Shen. Kini pangeran itu telah menjadi Kaisar dengan berjuluk Kaisar Ceng Hwa atau Kaisar Kian Cung (1465-1487). Dan celakanya, bagi Bong Thaikam, setelah pangeran itu menjadi Kaisar, ternyata Kaisar itu tidak mengindahkan semua usulnya dalam pemerintahan. Kaisar muda ini berbeda dengan ayahnya, berwatak keras dan tidak mudah menerima bujukannya!

Inilah yang membuatnya uring-uringan. Pagi tadi dia menghadap Kaisar untuk meminta kenaikan pangkat bagi seorang menteri muda. Biasanya, usul kenaikan pangkat itu yang dia ajukan kepada mendiang Kaisar Ceng Tung, selalu mendapat tanggapan yang serius. Akan tetapi sekali ini, usulnya kepada Kaisar Kian Cung agar menaikkan pangkat Menteri Muda The Kiat sama sekali tidak ditanggapi dan Kaisar bahkan mengatakan bahwa dia mendapat berita yang tidak menguntungkan bagi Menteri Muda The Kiat itu yang kabarnya melakukan korupsi dalam pembangunan! Pada hal, Bong Thaikam telah menerima bingkisan yang amat berharga dan besar jumlahnya dari Menteri Muda The Kiat itu.

“Celaka, kalau terus begini sikapnya, matilah aku!” kata Bong Thaikam. Dan dia menjadi marah, marah kepada Kaisar Kian Cung yang dianggapnya Kaisar yang tidak mengenal budi. Bukankah dia yang membuat Kaisar itu cepat menduduki tahta kerajaan? Dia pula merupakan pendukung utama agar Pangeran Cu Jian Shen itu yang diangkatnya menjadi putera mahkota!

“Awas kau, manusia tak mengenal budi!” Dia menggigit bibirnya dengan marah. Dia lalu memerintahkan pelayan untuk menyediakan kereta. Kemudian dia memerintahkan kusir untuk membawanya berkunjung kepada sekutunya, yaitu Panglima Coa di dalam bentengnya.

Mendengar pendapat Bong Thaikam, Panglima Coa terkejut. Orang kebiri itu mengusulkan untuk melenyapkan nyawa Kaisar dan agar diganti dengan Kaisar lain yang dapat dikuasai!

“Akan tetapi, kalau menggunakan racun seperti dulu ketika kita menggunakan keahlian Tabib Loa, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kaisar Ceng Tung mati mendadak, kalau Kaisar yang sekarang mati mendadak pula, bukankah itu akan memancing kecurigaan?” kata Panglima Coa itu.

“Kita menggunakan cara lain. Pendeknya, Kaisar Kian Cung harus dilenyapkan, harus mati agar kita dapat mengangkat Pangeran Yin Seng menjadi penggantinya.”

“Akan tetapi Pangeran Yin Seng amat lemah dan bahkan agak bodoh, lagi pula masih muda.”

“Itulah yang terbaik bagi kita! Kita ambil suara terbanyak untuk memilih dia sebagai pengganti Kaisar dan tentang pemungutan suara, serahkan saja kepadaku. Semua orang akan memilih dia kalau sudah kuberi syarat. Pendeknya, sekali ini harus berhasil. Kalau diteruskan Kaisar Kian Cung memegang kekuasaan, mungkin saja pada suatu hari aku dan engkau akan kehilangan kedudukan, ciangkun.”

“Baiklah, aku akan mengabarkan dulu kepada Gubernur Cen di Lok-yang, dan kita mencari jalan terbaik yang aman jangan menimbulkan kecurigaan. Pula, memilih Pangeran Yin Seng itu kurasa bukan langkah yang baik, karena semua pejabat dan rakyat sudah tahu belaka betapa tololnya pangeran itu.”

“Mudah, kalau Pangeran Yin Seng dianggap tidak memenuhi syarat, kita memilih pangeran lain, asal jangan keras hati seperti Kaisar Kian Cung.”

Agak lega rasa hati Bong Thaikam setelah dia meninggalkan benteng Coa-ciangkun dan rencananya disetujui oleh sekutunya. Dia menyuruh kusir menjalankan keretanya perlahan saja ketika dia pulang dari benteng itu. Dia membuka tirai kereta sehingga jelas menikmati penghormatan yang diterima dari orang- orang itu yang mengenal pembesar yang berkuasa ini.

Ketika keretanya tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba saja kuda penarik kereta itu mengangkat kaki ke atas dan meringkik keras kemudian kuda itu kabur diturut oleh temannya yang terseret. Dua ekor kuda ini menjadi binal dan meloncat-loncat seperti kesetanan. Tentu saja Bong Thaikam menjadi pucat. Dia berpegang kepada tangan bangku di kereta itu dan menjerit-jerit minta tolong. Akan tetapi siapa berani menolong kereta yang sedang dibalapkan oleh dua ekor kura penariknya itu? Sang kusir sendiri tidak mampu menguasai kuda. Makin kuat dia menarik kendali, makin mengamuk kuda itu dan akhirnya sang kusir terpental keluar dari tempat duduknya. Bong Thaikam semakin panik dan ketakutan.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda sudah duduk di atas punggung kuda yang binal itu, menjepit perut kuda dengan kedua kakinya dan tangannya menarik kendali yang berjuntai. Kuda itu akhirnya dapat berhenti dan meringkik ketakutan. Tanpa ada yang melihatnya, pemuda itu mencabut dua batang paku yang tadi menancap di dekat ekor kuda dan mengantungi paku- paku itu.

Setelah berhasil berhenti, Bong Thaikam yang sudah setengah mati oleh guncangan kereta dan ketakutan segera turun dari dalam kereta. Sementara itu pasukan pengawal yang sudah mendengar akan malapetaka itu sudah datang memburu. Pemuda itu yang bukan lain adalah Cu Sin Lee, turun dari punggung kudanya dengan sikap tenang.

Bong Thaikam segera menghampirinya, “Ah, orang muda perkasa. Sungguh engkau lihai dan pemberani. Aku telah berhutang nyawa kepadamu! Katakan, apa yang kauharapkan sebagai imbalan jasamu ini?”

Sin Lee memberi hormat dan berkata, “Kalau taijin tidak berkeberatan, saya ingin bicara dengan taijin. Pertemuan ini sungguh kebetulan, karena memang saya ingin menghadap taijin.”

Bong Taijin membelalakkan matanya, ”Mau bicara dengan aku? Boleh, boleh, bahkan aku akan senang sekali kalau engkau dapat bekerja padaku orang muda.”

“Karena kusir paduka sudah terpental keluar, bagaimana kalau saya yang menggantikannya mengantar paduka pulang?”

“Bagus, engkau memang pandai dan menyenangkan!” Pembesar gendut itu dengan girang memasuki lagi keretanya dan menyuruh pergi para pengawal yang datang terlambat itu.

Setelah mereka berhadapan duduk di ruangan dalam, Bong Taijin lalu berkata, “Orang muda, siapakah namamu dan urusan apa yang hendak kaubicarakan denganku?”

Mendengar pertanyaan itu, Sin Lee lalu bangkit dan menjatuhkan diri berlutut. “Taijin, saya mempunyai urusan penasaran dan hanya padukalah yang akan mampu menolong saya!”

Bong Thaikam tersenyum, mengelus dagunya yang tak berjenggot. “Jangan khawatir, orang muda. Semua urusan akan menjadi beres kalau aku yang menanganinya. Katakan, urusan apakah itu?”

“Sebelumnya, saya harap taijin suka memeriksa benda ini dan apakah taijin mengenalnya?” Sin Lee melepas kalung yang melingkari lehernya dan memperlihatkan hiasan kalung dari batu kemala itu.

Bong Thaikam menerimanya dan begitu melihat benda itu, wajahnya menjadi pucat. Tentu saja dia mengenal kalung kekuasaan dari mendiang Kaisar Ceng Tung! Dia memandang wajah pemuda itu penuh selidik.

“Eh? Dari mana engkau mendapatkan kalung ini, orang muda?”

“Kalung itu adalah peninggalan ayahku yang diberikan kepada ibuku ketika ayah meninggalkan ibuku,” jawab Sin Lee.

“Dan engkau tahu siapa ayahmu?” “Mendiang Kaisar Ceng Tung...!”

Otak dari Bong Thaikam memang cerdas dan dapat bekerja cepat sekali. Seketika dia sudah dapat mengatasi kekagetannya bahkan sudah dapat merencanakan apa yang harus diperbuatnya dalam keadaan seperti itu. Serta merta dia menunduk dan membangunkan pemuda itu.

”Paduka pangeran! Jangan merendahkan diri seperti ini. Hamba adalah abdi paduka pangeran!”

“Aih, paman, jangan begitu. Biarlah saya menyebut paman dan paman anggap saya sebagai keponakan sendiri karena saya sungguh mengharapkan bantuan paman. Saya merasa penasaran sekali karena ayah kandung saya itu, Kaisar Ceng Tung, telah menyia-nyiakan ibu dan saya berhak untuk menjadi pangeran di sini, bukan? Sayang sekali, saya terlambat untuk membalas dendam karena orang yang menjadi ayah kandung saya itu telah meninggal dunia.”

“Pangeran, tentu saja saya siap untuk bekerja sama. Siapakah nama paduka?’

“Nama saya pemberian ayah adalah Cu Sian Lee. Kalau saya dapat menjadi pangeran, apalagi pangeran mahkota, tentu saya tidak akan melupakan budi kebaikan paman!”

Bong Thaikam tertawa. Sungguh pemuda ini seperti dikirim oleh para dewa untuk menolongnya. Pemuda ini perkasa, dan penuh nafsu dendam, sungguh cocok untuk dijadikan sekutu.

“Pangeran Cu Sin Lee, sungguh kebetulan sekali. Ketahuilah, menurut dugaan kami, ayah kandung paduka itu mati keracunan, dibunuh oleh Kaisar Kian Cung yang sekarang ini.”

“Ah, bukankah dia masih putera sulung dari ayahanda Kaisar?”

“Benar, akan tetapi dia terlalu murka dan tergesa-gesa hendak menjadi Kaisar.”

“Alangkah jahatnya!” Sin Lee pura-pura marah pada hal tentu saja dia meragukan keterangan ini. Dia memang mencari jalan untuk mendekati thaikam ini, untuk menyelidiki tentang kematian ayah kandungnya. Tadi, dia sengaja menyerang kuda kereta itu dengan paku dan ketika kuda itu menjadi kesakitan dan kabur, dia lalu turun tangan menolong. Usahanya berhasil dan kini dia sudah diterima oleh Bong Thaikam.

“Memang dia jahat. Akan tetapi siapakah yang berani menentangnya? Apa lagi dia telah menjadi Kaisar.”

“Ah, kalau begitu akan sia-sia saja cita-citaku membalas dendam ayahku?” Sin Lee berkata dengan nada sedih.

Bong Thaikam memandang tajam. “Benar-benarkah paduka ingin membalas dendam atas kematian yang tidak wajar dari ayahanda paduka itu, pangeran?”

“Tentu saja!” Akan tetapi mana mungkin? Dia sudah menjadi seorang Kaisar, tentu sukar untuk didekati.”

“Jangan khawatir, pangeran. Kalau paduka bekerja sama dengan saya, kalau paduka suka tentu saja kita dapat melaksanakan niat paduka itu. Kita membunuh Kaisar dan paduka yang menjadi penggantinya, bagaimana?”

“Paman, apakah paman bukan hanya bermimpi?” Sin Lee memancing.

“Ada jalannya untuk mendekati dia, pangeran. Pertama-tama paduka akan saya perkenalkan kepada Kaisar sebagai seorang pangeran dengan tanda kemala yang paduka bawa. Kalau paduka sudah diterima dan dapat berdekatan dengan kakak paduka itu, mudah saja kelak kita mengatur siasat.”

“Baik sekali, paman. Saya menyerahkan nasib saya kepada paman dan akan menaati semua petunjuk paman!” kata Sin Lee dengan girang. Sejak pertama saja dia sudah mengenal bahwa sida-sida ini seorang yang berhati palsu dan amat jahat. Teringat dia akan cerita ayah tirinya dan dia hampir yakin bahwa orang kebiri inilah yang mengusahakan kematian ayah kandungnya dengan cara meracuninya. Dia akan bersandiwara terus agar memperoleh kepercayaannya dan mengetahui semua rencana jahatnya. “Tinggallah paduka di sini dulu, pangeran. Berganti pakaian sebagai seorang pangeran dan pada saat yang tepat paduka akan saya bawa menghadap Sribaginda Kaisar. Saya juga harus memberitahu kepada sekutu saya.”

Demikianlah, untuk beberapa hari lamanya Sin Lee tinggal di dalam istana itu dan diam-diam dia heran sekali bagaimana seorang pejabat dapat memiliki istana sehebat itu. Kekayaan yang dimiliki thaikam ini sungguh tak ternilai besarnya.

Andaikata Kaisar Kian Cung dapat dijadikan boneka oleh Bong Thaikam dan kawan-kawannya, mungkin akan lain sikapnya terhadap Sin Lee. Mungkin Sin Lee akan dianggap sebagai ancaman bagi mereka. Akan tetapi, mereka sedang kecewa terhadap Kaisar Kian Cung yang tidak tunduk kepada mereka, dan melihat betapa Sin Lee bermaksud membalas dendam atas kematian ayah kandungnya dan menuntut agar dijadikan pangeran, maka tentu mereka melihat Sin Lee sebagai orang yang cocok untuk diangkat menjadi pengganti Kaisar dan sekaligus menjadi boneka mereka! Para sekutu Bong Thaikam juga setuju dengan rencana yang diatur oleh thaikam itu, dan beberapa hari kemudian, Sin Lee diantar oleh Bong Thaikam menghadap Kaisar! Ketika itu persidangan lengkap dan sebagian besar dan para menteri yang hadir sudah dipengaruhi oleh Bong Thaikam. Ketika Bong Thaikam datang menghadap bersama seorang pemuda gagah yang berpakaian indah, berlutut di depannya, Kaisar Kian Cung memandang heran dan bertanya kepada thaikam itu.

“Bong Thaikam, siapakah pemuda yang kaubawa menghadap ini? Kami tidak mengenalnya sebagai seorang pejabat istana.”

“Ampun, Yang Mulia, memang dia bukanlah pejabat istana. Sebelum hamba memperkenalkan dia, lebih dulu hamba mohon paduka mengenali benda ini yang selalu tergantung di lehernya.”

Sin Lee yang sudah diberitahu sebelumnya lalu melepas kalungnya dan menyerahkannya kepada Bong Thaikam yang kemudian sambil berlutut menghaturkan benda itu kepada Kaisar. Kaisar Kian Cung menerimanya, terbelalak heran dan mengeluarkan benda serupa yang tergantung di lehernya sendiri. Ternyata benda itu serupa.

“Hemmm, orang muda, dari mana engkau memperoleh benda ini?” tanyanya sambil memandang dengan penuh perhatian.

“Hamba mendapatkannya dari mendiang ibu hamba, sebagai peninggalan dari ayah kandung hamba,” jawab Sin Lee dengan sikap hormat.

“Siapa ayah kandungmu?” tanya pula Kaisar itu dengan suara agak gemetar. “Ayah kandung hamba adalah mendiang Yang Mulia Kaisar Ceng Tung.”

Semua orang yang hadir di situ terkejut sekali. Juga Kaisar Kian Cung terkejut dan bertanya kepada Bong Thaikam.

“Bong Thaikam, benarkah keterangan orang muda ini?”

“Ampun, Yang Mulia. Hamba sudah memeriksanya dengan seksama dan memang keterangan itu benar. Ketika mendiang Yang Mulia ayah paduka menjadi tawanan di utara, beliau memiliki seorang isteri yang kini telah meninggal dunia, dan meninggalkan seorang putera. Sebelum beliau kembali ke selatan, sebagai tanda bahwa beliau meninggalkan seorang keturunan, beliau meninggalkan tanda kemala itu. Semua ini memang benar, Yang Mulia.”

“Ah...!” Kaisar terkejut akan tetapi wajahnya memperlihatkan kegembiraan. “Kalau begitu, pemuda ini adalah saudaraku sendiri. Dia adalah adik kandungku, seorang pangeran. Orang muda, siapakah namamu?”

“Nama hamba Cu Sin Lee, Yang Mulia.

“Cu Sin Lee? Ah, mulai sekarang engkau adalah Pangeran Cu Sin Lee! Bangkitlah, Sin Lee.” “Terima kasih, Yang Mulia.”

“Aku adalah kakanda Kaisar bagimu, dan engkau adalah dinda pangeran bagiku.”

”Terima kasih, kakanda Kaisar,” Sin Lee merasa terharu sekali. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa Kaisar ini demikian ramah dan telah menyambutnya dengan baik, seperti saudara sendiri.

Kaisar yang bergembira itu lalu membubarkan persidangan karena dia ingin sekali membawa Sin Lee dan memperkenalkannya kepada Ibu Suri dan keluarga yang lain.

Karena Sin Lee menjadi pangeran kedua dan semua pangeran yang lain termasuk puteri-puteri Kaisar menjadi adik-adiknya, maka dia disambut dengan hormat dan ramah. Tentu saja, Sin Lee yang tadinya tidak mengira demikian, segera dapat merasakan mana pihak yang baik mana yang tidak. Jelas bahwa keluarga Kaisar ini, juga keluarganya dari pihak ayah kandungnya, adalah orang-orang yang baik hati. Sedangkan Bong Thaikam yang merencanakan pembunuhan terhadap Kaisar ini jelas orang jahat. Sebuah pesta keluarga diadakan untuk menyambut kedatangan Sin Lee yang dihujani pertanyaan. Terpaksa Sin Lee menceritakan tentang ibunya dan dia tidak mau menceritakan bahwa ibu kandungnya telah menikah dengan orang lain bahkan pernah berkunjung dan menjadi tamu istana ini, kemudian mati terbunuh di tempat ini.

“Aih, Sin Lee. Kedatanganmu ini mengingatkan kami akan peristiwa yang menyedihkan itu, ketika ayahmu meninggal dunia secara mendadak karena penyakit yang aneh, yang membuat kukunya berubah menjadi hitam semua,” kata Ibu Suri, yaitu ibu kandung Kaisar Kian Cung. “Peristiwa apakah itu, Ibunda?” tanya Sin Lee yang cepat dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di situ, juga tentang sebutan dia tidak canggung karena sebelumnya dia memang telah diberi petunjuk yang jelas oleh Bong Thaikam.

Ibu Suri memandang kepada Kaisar Kian Cung dan berkata, “Ah, terlalu menyedihkan. Paduka saja yang menceritakan kepadanya, puteranda Kaisar!” Ini bukan merupakan perintah melainkan permintaan dari seorang ibu kepada anaknya.

“Begini, adinda pangeran. Di sini telah datang sepasang suami isteri yang menjadi sahabat ayahanda, yaitu pendekar Liu Siong Ki dan isterinya. Nah, pada waktu mereka masih menjadi tamu yang disukai ayahanda, ketika tiba-tiba ayahanda almarhum jatuh sakit aneh dan tiga hari kemudian beliau wafat. Dan pada malam harinya, suami isteri itu ketahuan telah berada di kamar jenazah dan membongkar peti mati. Mereka lalu dikeroyok oleh para pengawal sehingga si isteri tewas dan si suami melarikan diri. Sampai sekarang tidak ditemukan jejak Liu Siong Ki itu.”

Sin Lee hanya mengangguk. Tentu saja dia lebih tahu dari pada mereka tentang perbuatan ayah tiri dan ibunya itu. Karena Sin Lee bersikap sederhana dan pandai membawa diri, maka Kaisar dan seluruh keluarga kerajaan dapat menerimanya dan akrab dengannya. Dia mendapatkan sebuah bangunan samping di istana.

Tentu saja Bong Thaikam girang bukan main melihat betapa Sin Lee diterima oleh Kaisar bahkan kini bergaul dekat dengan Kaisar, sehingga akan memudahkan melaksanakan rencana siasatnya. Diapun diam-diam bersama para sekutunya mengatur rencana lain yang tidak diketahui pemuda itu untuk menguji sampai di mana kesungguhan hati dan kesetiaan Sin Lee untuk bekerja sama dan melaksanakan niat mereka menyingkirkan Kaisar.

Pada suatu malam, Sin Lee diundang oleh Bong Thaikam ke rumahnya. Setelah Sin Lee datang, Bong Thaikam dengan muka ketakutan memberitahukan bahwa menurut para penyelidiknya malam itu akan datang pembunuh yang dikirim oleh pembesar-pembesar yang menjadi saigannya untuk membunuhnya.

Sin Lee mengerutkan alisnya. “Mengapa ada pejabat yang hendak membunuhmu, Paman Bong? Apa alasan mereka untuk melakukan pembunuhan itu?”

“Aih, paduka belum tahu, pangeran. Di antara pejabat tinggi, banyak yang merasa iri dengan kedudukanku. Bahkan Kaisarpun selalu curiga kepadaku karena agaknya Kaisar telah mencium keterangan bahwa aku mengerti sebab-sebab kematian mendiang Sribaginda ayah paduka. Dan para penyelidikku mendengar bahwa mereka malam ini akan mengirim pembunuh-pembunuh lihai untuk membunuhku.”

“Takut apa, paman? Bukankah paman mempunyai banyak pengawal jagoan? Dan kalau paman memberi tahu kepada Panglima Coa, saya kira Panglima akan mampu melindungi paman dengan mengirim pasukan khusus.”

“Ah, usaha mereka itu rahasia, maka harus dihadapi dengan rahasia pula. Kalau secara ramai-ramai tentu akan terdengar banyak orang dan kalau Sribaginda mendengar bahwa saya dimusuhi oleh pembesar lain, tentu tidak enak jadinya. Saya teringat akan kelihaian paduka, maka saya mengundang paduka untuk melindungi saya dari ancaman ini.”

Sin Lee tersenyum. “Paman Bong telah menolong saya sehingga saya dapat diterima dengan baik oleh kakanda Kaisar, tentu saja saya suka membantu paman. Jangan khawatir, paman. Serahkan saja kepadaku. Dan paman boleh bersembunyi dan juga tidur dengan nyenyak. Bawalah setangkai bunga ini untuk menentramkan hati paman.” Dia lalu mencabut bunga merah dari kancing bajunya dan menyerahkan kepada Bong Thaikam.

“Bong Thaikam menerimanya dan dia tersenyum lega. “Pangeran, nyawaku tergantung kepadamu.” “Jangan khawatir. Saya akan melindungi paman dengan taruhan nyawaku.”

Bong Thaikam lalu mengundurkan diri dan membawa keluarganya bersembunyi. Sementara itu, dia menyuruh pelayan untuk menyediakan makan minum bagi pangeran itu.

Sin Lee berpikir tegas. Apa artinya semua datang untuk mengambil nyawa Bong Thaikam? Siapa pembunuh yang ini? Benarkah, bahwa akan ada pembunuh yang nekat itu? Dia jadi ingin sekali mengetahuinya.

Malam itu dia menerima pesan melalui surat dari Bong Thaikam bahwa kalau pembunuh muncul agar ditangkap hidup-hidup karena dia ingin mengorek keterangannya siapa yang menyuruh mereka mencoba melakukan pembunuhan.

Sampai tengah malam tidak terjadi sesuatu. Sin Lee yang tadinya menjaga di ruangan tamu, menjadi jemu dan dia lalu keluar. Ternyata tempat seperti itu biasa dijaga oleh para pengawal. Di depan, di belakang, dan setiap kali diadakan perondaan ke dalam dan sekeliling gedung. Cukup terjaga dan aman, pikirnya. Lalu siapa yang akan berani mencuri masuk?

Lewat tengah malam dia merasa mengantuk. Untuk menghilangkan kantuknya, Sin Lee lalu melompat ke atas genteng. Di wuwungan rumah ini semua dapat terlihat karena malam itu kebetulan bulan sudah muncul dengan gemilangnya walaupun hanya tiga perempat bulatan. Mendadak perhatiannya tertarik oleh tiga sosok bayangan yang gerakannya cepat sekali. Tiga sosok bayangan itu melompati pagar tembok dengan kecepatan yang membuat para penjaga sukar dapat melihatnya. Tiga sosok bayangan itu lalu menyusup ke dalam taman.

“Hem, itu mereka datang!” pikir Sin Lee dan diapun cepat melayang turun dan menanti di pintu tembusan dari taman yang menuju ke ruangan belakang. Tak lama dia menanti. Terdengar bunyi di pintu dan dia membiarkannya saja. Setelah daun pintu terbuka dan tiga orang berkedok hitam memasuki ruangan itu barulah dia muncul. Dia tidak memanggil penjaga, karena dia ingin menghadapi mereka sendiri saja.

“Bagus, tiga ekor cacing busuk berani mengganggu ketentraman rumah orang!” katanya sambil memegang pedangnya.

Tiga orang berkedok itu terkejut dan mereka mencabut pedang masing-masing, lalu tanpa banyak cakap lagi mereka bertiga mengeroyok Sin Lee. Gerakan pedang mereka cepat dan kuat sehingga nampak tiga gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar.

Melihat bahwa para pembunuh itu ternyata bukan orang sembarangan, Sin Lee lalu menggerakkan pedangnya dengan ilmu pedang Bu-tong-pai yang sudah disempurnakan oleh gemblengan Ciu-sian Lo-kai Ong Su. Ilmu pedang yang dimainkan oleh Sin Lee kini bercampur dengan jurus-jurus ilmu tongkat Dewa Arak itu sehingga gerakannya aneh dan sukar diikuti perkembangannya. Tiga orang pembunuh itu hanya mendengar suara berciutan dan sinar panjang menyambar. Begitu tertangkis oleh pedang di tangan Sin Lee, pedang mereka terpental dan hampir terlepas dari pegangan, membuat mereka terkejut bukan main.

Kini, mereka bertiga membuat gerakan mengepung dengan mengambil kedudukan segi tiga. Dan gerakan mereka begitu teratur semacam barisan. Dan memang sesungguhnya tiga orang itu telah memasang barisan yang disebut Sha-kak Kiam tin (Barisan Pedang Segi Tiga). Kalau seorang menyerang maka dua orang lain melindungi dan menyusulkan serangan. Yang diserang lalu berbalik melindungi dan yang dibelakang melakukan serangan, begitu berganti-ganti sehingga Sin Lee terkejut karena dia segera terdesak oleh cara penyerangan lawan seperti itu. Dia mencoba keluar dari kepungan dengan berloncatan ke sana sini, akan tetapi dengan gerakan aneh, sebentar saja dia sudah terkepung kembali oleh bentuk segi tiga itu. Dan tiga orang itu cepat sekali mengubah-ubah kedudukan mereka. Kadang mereka mengepung dari depan, kanan dan kiri. Sedetik kemudian sudah berubah menjadi kepungan dari belakang, kanan dan kiri, atau depan, belakang, dan kiri. Dengan demikian, Sin Lee harus berputar-putar dan kini dia lebih banyak menangkis dari pada menyerang. Kemudian dia teringat akan sebuah ilmu yang dipelajari dari Ciu-Sian Lo-Kai, yaitu ilmu pedang Ciu-cwi-jip-pek-kiam (Pemabok Menyerbu Ratusan Pedang). Sebetulnya jurus inipun berdasarkan ilmu pedang Bu-tong-pai yang bernama Ilmu Pedang Dewa Mabok, akan tetapi Ciu-Sian Lo-Kai diubah sedemikian rupa, digabungkan dengan ilmunya sendiri dan jadilah Ciu- cwi-jip-pek-kiam itu. Kini gerakan Sin Lee menjadi aneh. Dia terhuyung ke sana ke mari seperti orang mabok, akan tetapi pedangnya membuat gerakan yang kacau dan sukar diikuti gerakannya oleh tiga orang pengepungnya. Serangan dipusatkan kepada seorang pengepung, dan dengan gerakan terhuyung itu dia menghindarkan diri dari serangan yang dua orang lagi.

Dengan cara demikian, maka kacaulah, pengepungnya itu dan pada saat yang baik ketika seorang lawan lengah, kakinya menendang dan mengenai dada orang itu membuat dia terjengkang dan pedangnya terlepas, orangnya pingsan.

Semakin kacau pengeroyokan kedua orang itu setelah seorang di antara mereka pingsan. Dengan mudah Sin Lee kini balas mengepung dengan sinar pedangnya dan dalam waktu singkat dia sudah mampu merobohkan yang dua orang lagi dengan luka di paha dan pundaknya. Dia memenuhi permintaan Bong Thaikam untuk tidak membunuh mereka, hanya melukai mereka saja. Tiga orang itu merintih dan pada saat itu, pintu dari sebelah dalam terbuka dan muncullah Bong Taijin sambil bertepuk tangan dengan wajah gembira sekali. “Ah, paman....?” Tanya Sin Lee dengan heran bagaimana orang yang seharusnya bersembunyi itu dapat muncul demikian cepat dan tiba-tiba.

“Saya sejak tadi mengintai di balik pintu ini, pangeran. Wah, hebat sekali paduka! Tiga orang ini adalah Huang-ho Sam-liong (Tiga Naga Sungai Kuning) dan pangeran telah dapat mengalahkan dengan mudah. Sam-liong, cepat kalian minta maaf kepada Pangeran Cu Sin Lee!”

Tiga orang itu melepas kedok mereka dan dengan menyeringai kesakitan mereka berlutut menghadap Sin Lee dan seorang di antara mereka berkata, “Harap paduka maafkan hamba bertiga. Hamba mengaku kalah.”

Sin Lee tertegun. “Paman, apa artinya ini semua?”

“Mari kita bicara di dalam,” kata si gendut pendek itu dan dia memerintahkan kepada Huang ho Sam liong untuk pergi mengobati luka mereka.

Setelah berada di dalam, Bong Thaikam memberi hormat kepada Sin Lee dan memuji. “Bukan main, ilmu silat paduka memang amat lihai dan ini menjamin berhasilnya usaha kita.”

Sin Lee mengerutkan alisnya. “Ah, jadi paman tadi hanya mencoba saya? Agaknya paman masih belum percaya kepada saya? Kalau begitu, kita tidak usah bekerja sama saja!”

“Mohon maaf, pangeran. Kami harus bersikap hati-hati dalam pekerjaan besar ini. Dan untuk menjadi Kaisar, paduka memang harus melalui ujian-ujian!”

“Menjadi Kaisar? Aku...? Apa maksudmu, paman Bong?”

“Tenanglah, pangeran. Bukankah paduka ingin sekali membalas kematian mendiang ayahanda paduka? Nah, yang mengatur diracuninya mendiang ayahanda padduka adalah Kaisar Kian Cung. Karena itu, beliau itulah yang harus dibalas. Dan kalau sudah berhasil beliau disingkirkan, kami akan mengusahakan agar paduka yang menggantikan kedudukan Kaisar, karena putera kedua adalah paduka!”

“Akan tetapi, saya... tidak mengerti apa-apa tentang pemerintahan. Bagaimana bisa menjadi Kaisar?” Sin Lee bertanya.

“Ha-ha-ha, apakah paduka lupa bahwa di sini ada saya? Sayalah yang akan berdiri di belakang paduka dan paduka tinggal tanda tangan saja, saya yang akan mengatur semua urusan negara. Sedangkan untuk urusan ketentaraan, ada Panglima Coa. Di Lok-yang juga ada Gubernur Cen yang menjadi sahabat kita dalam urusan ini. Jadi, kalau nanti paduka yang menggantikan Kaisar, semua pejabat di istana tentu akan mengikuti langkah saya menyetujui, semua Panglima akan terpengaruh oleh Panglima Coa, dan para pejabat di Lok-yang sana akan diatur oleh Gubernur Cen. Nah, semua akan berjalan lancar, bukan?”

Sin Lee mengangguk-angguk. “Paman sungguh cerdik sekali, membuat saya kagum. Saya senang sekali kalau mempunyai seorang penasihat seperti paman dan kalau saya menjadi Kaisar, tentu paman akan saya jadikan perdana menteri atau penasihat. Akan tetapi, paman, saya sudah tahu bahwa kakanda Kaisar yang meracuni ayah saya, akan tetapi siapa yang membuatkan racunnya?” Dia memancing.

“Dia tabib nomor satu di kota raja ini, yaitu Tabib Loa. Di dunia, ini tidak akan ada obat yang dapat menyembuhkan orang terkena racun dari Tabib Loa.”

“Hemm, kalau begitu, dia pembunuh ayah saya juga. Saya harus membalasnya!” “Ah, jangan salah mengerti, pangeran. Tabib Loa hanya dimintai racun oleh Kaisar Kian Cung, dia tidak tahu menahu tentang penggunaannya. Maka dia tidak bersalah dalam hal ini dan dia itu sewaktu-waktu amat berguna bagi kita.”

“Hemm, apakah kita akan menggunakan racun pula untuk membunuh kakanda Kaisar?”

“Tidak, pangeran. Untuk mengatur siasat yang matang, saya sudah mengundang Gubernur Cen dari Lok- yang dan Panglima Coa untuk mengadakan perundingan di sini. Besok Gubernur Cen akan tiba di sini dan paduka juga dipersilakan hadir. Besok paduka akan mendengar bagaimana akan diatur urusan yang besar itu. Karena sekali pukul, tidak boleh gagal. Kegagalan akan berarti kematian bagi kita semua sekeluarga.”

Sin Lee mengangguk-angguk dan dia lalu bermalam di rumah Bong Thaikam malam itu dan besok paginya, pagi-pagi sekali dia kembali ke istana setelah berjanji bahwa malam nanti akan datang lagi untuk menghadiri perundingan.

“Adinda Pangeran, ada urusan apakah engkau mohon bicara empat mata dengan aku?” tanya Kaisar Kian Cung setelah dia memenuhi permintaan Sin Lee untuk bicara empat mata di kamar Kaisar itu. Bahkan seorang dayangpun, tidak diperkenankan hadir.

“Ini rahasia besar yang menyangkut keselamatan paduka, karena itu tidak boleh seorangpun mendengarnya agar tidak sampai bocor, kakanda. Ada komplotan jahat yang merencanakan untuk membunuh paduka pada persidangan lengkap minggu depan. “

“Ah, mana mungkin hal itu terjadi? Apa lagi dalam persidangan lengkap? Para Panglima dan pengawal tentu akan melindungi aku,” kata Kaisar tidak percaya.

“Komplotan ini lihai sekali, kakanda. Sebagian besar pejabat akan tidak berbuat sesuatu karena sudah dipengaruhi, juga para Panglima, bahkan para pengawal akan diganti dengan anak buah mereka. Istanapun akan dikepung pasukan komplotan itu.”

Wajah Sribaginda Kaisar menjadi pucat dan dia bangkit berdiri. “Siapa mereka? Kita harus turun tangan lebih dulu membasmi mereka sebelum mereka bergerak!”

“Harap kakanda tenang dan bersabar. Tanpa adanya bukti, mana mungkin paduka akan bertindak? Jangan-jangan malah saya yang akan dituduh melempar fitnah.”

“Lalu, bagaimana baiknya? Siapakah komplotan busuk itu, adinda pangeran?”

“Paduka tidak akan percaya kalau saya beritahu, kakanda. Yang menjadi dalangnya adalah orang yang paduka paling percaya, yang dekat paduka, yaitu Bong Thaikam!”

“Ah, tidak mungkin...!!” Kaisar bangkit berdiri lagi, wajahnya pucat matanya terbelalak.

“Sudah hamba katakan bahwa paduka tentu tidak akan percaya. Dan paduka tahu, siapa komplotannya? Selain para pejabat, para menteri, juga Panglima Coa yang akan mengerahkan pasukan mengepung istana dalam pemberontakan itu.”

“Panglima Coa...?” Kembali Kaisar berkata seperti tidak percaya, akan tetapi dia menjadi lemas dan terduduk kembali.

“Dan satu di antara tiga tokoh besar dalam komplotan ini adalah Gubernur Cen di Lok-yang!” “Apa? Dia adalah paman kita sendiri, adik dari Ibu Suri!”

“Begitulah, kakanda. Saya mengetahui benar karena saya juga tertarik oleh Bong Thaikam untuk menjadi komplotannya. Saya pura-pura mau untuk menyelidiki apa yang hendak mereka perbuat.”

“Apa yang akan mereka lakukan dalam persidangan lengkap minggu depan itu?”

“Itu saya belum tahu benar, malam ini baru akan diadakan perundingan, dan akan dihadiri oleh Gubernur Cen dan Panglima Coa, juga saya. Karena itu, tenanglah, kakanda. Bahaya belum datang, dan nanti malam saya akan mengetahui semua rencana siasat mereka. Setelah itu, baru kita mengatur siasat untuk membasmi mereka. Paduka percaya kepada saya, bukan?”

Dengan kedua tangan gemetar Kaisar merangkul adiknya, “Ah, adinda Cu Sin Lee, tidak kusangka bahwa engkau orangnya yang akan menyelamatkan kami, menyelamatkan kerajaan kita. Baik, kuserahkan kepadamu untuk mengatur.”