-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 3

Jilid 3

Demikian pula dengan cinta Tang Mo San terhadap Siu Lin. Isinya hanya cemburu, iri hati, dan kebencian penuh dendam. Bahkan setelah mendengar Siu Lin tewas, dia masih memperdalam ilmunya dengan tekun sekali dan kini, dibantu dua puluh orang anak buahnya, dia menyerbu dan mengambil keputusan untuk membunuh Souw Kian dengan cara apapun juga. Kalau tidak dapat dengan cara pendekar, yaitu bertanding dengan adil satu lawan satu, dia akan mengeroyoknya sampai berhasil membunuhnya. Ketika melihat Giok Lan yang demikian cantik dan mirip Siu Lin, dia mengambil keputusan lain, yaitu dia hendak memperisteri puteri wanita yang dicintanya itu sebagai pengganti ibunya!

Souw Kian repot menghadapi serangan-serangan Tang Mo San. Pada saat Souw Kian terdesak, Tang Mo San menggerakkan goloknya, membabat ke arah pinggang.

“Haiiiittt... singgg...!” Golok itu menyambar dengan dahsyat sekali sehingga hampir tak terelakan oleh Souw Kian. Dia cepat menggerakkan pedangnya menangkis, akan tetapi golok itu mental ke bawah dan bagaikan kilat telah menyambar pahanya.

“Srattt...!!” Darah muncrat ketika celana berikut kulit dan daging paha itu terbabat golok. Souw Kian terhuyung ke belakang dan kembali dengan dahsyatnya golok menyambar, sekali ini membacok dada Souw Kian yang roboh berlumuran darah.

“Ayah...!!” Giok Lan bertempur sambil memperhatikan ayahnya, sempat melihat ayahnya roboh mandi darah, maka ia meloncat dan pedangnya menusuk lambung Tang Mo San dari samping. Orang she Tang itu menggerakkan goloknya menangkis.

“Tranggg...!” Pedang hampir terlepas dari tangan Giok Lan saking kuatnya tangkisan itu, dan golok itupun dengan cepatnya sudah diputar membuat Giok Lan mundur-mundur sambil menggerakkan pedangnya melindungi tubuhnya. Melihat ini, Sin Lee juga melompat meninggalkan para pengeroyoknya. Dia dan Giok Lan tadi telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyok ketika terjadi perubahan dengan robohnya Souw Kian. Dia melompat dan menerjang Tang Mo San yang sedang mendesak dan hendak menangkap gadis itu.

Tang Mo San terkejut mendengar desir angin di belakangnya. Dia membalik dan menangkis keras sehingga pedang Sin Lee terpental. Dua orang muda itu mengeroyok Tang Mo San yang ternyata lihai sekali. Setelah para anak buahnya berlari mendatangi, mengepung dan mengeroyok dua orang muda itu, Sin Lee dan Giok Lan menjadi kerepotan sekali.

Akhirnya dua orang muda itu roboh, Giok Lan tertendang oleh Tang Mo San yang tidak ingin membunuhnya, sedangkan Sin Lee roboh karena pahanya terkena bacokan golok. Walaupun dia sudah melindungi dengan sin-kang tetap saja kulitnya terluka dan dia roboh dengan paha berlumuran darah.

“Bunuh pemuda itu!” kata Tang Mo San dan dia sendiri sudah menubruk dan menotok Giok Lan. Belasan batang golok dibacokkan ke arah Sin Lee yang sudah roboh terluka.

“Trang-trang-tranggg...!” Belasan batang golok itu terlempar dan beberapa orang terhuyung ke belakang ketika sinar hitam yang panjang menyambar-nyambar. Semua orang terkejut dan ingin melihat siapa yang datang menolong pemuda itu. Juga Tang Mo San yang sudah berhasil menotok gadis itu sehingga tubuhnya terkulai dalam rangkulannya, menengok dan melihat bahwa yang datang adalah seorang kakek kurus bertelanjang kaki, pakaiannya compang-camping namun bersih, tangan kiri mengempit sebatang tongkat hitam dan tangan kanan membawa guci arak. Pengemis tua itu kini membawa guci arak ke mulutnya dan menuangkan isinya ke mulut sampai terdengar bunyi menggelogok.

“Ha-ha-ha, golok-golok setan mengacau lagi. Kalau sekali ini tidak kubasmi, kapan berakhirnya kegilaan ini, heh heh!” katanya sambil mengalungkan tali guci ke lehernya sehingga guci arak kini tergantung ke leher.

Melihat pengemis tua itu, Tang Mo San menjadi marah. “Jembel busuk, siapa engkau berani mencampuri urusan Twa-to Kwi-ong ketua Kwi-to-pang?”

Jembel tua yang seperti orang mabok itu tertawa lagi. “Ha-ha-ha, aku memang jembel, tapi tidak busuk seperti engkau, Twa-to Kwi-ong. Aku adalah Ciu-sian Lo-kai Ong Su, sejak kecil tidak pernah menukar nama.”

Tang Mo San terbelalak. Biarpun baru sekali ini bertemu, akan tetapi sudah lama dia mendengar tentang Ciu-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Arak), pengemis tua pemabok yang kabarnya memiliki kesaktian yang sukar dicari tandingannya.

“Ciu-sian Lo-kai, selamanya kami, Kwi-to-pang tidak pernah menghalangi langkah hidupmu, kenapa hari ini engkau mencampuri urusan kami? Ketahuilah, bahwa urusan sekali ini adalah urusan permusuhan pribadi. Apakah engkau yang kabarnya menghargai kegagahan itu hendak memihak?”

“Omitohud...!” Dia menirukan doa seorang pendeta Buddha. “Aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu dengan Souw Kian. Akan tetapi setelah dengan perkelahian satu lawan satu engkau berhasil merobohkan Souw Kian, kenapa engkau menganggu pula anak perempuannya? Ini sudah bukan urusan pribadi lagi melainkan kejahatan yang tidak boleh kubiarkan begitu saja!”

Mendengar ucapan itu, Tang Mo San khawatir kalau dia akan kehilangan Giok Lan. Setelah merangkul gadis yang terkulai itu dan merasakan kehangatan tubuhnya, mana dia mau melepaskannya? Dia lalu berteriak kepada bawahannya. “Serbu, bunuh jembel busuk itu!” Dan dia sendiri lalu membawa Giok Lan meloncat pergi. Anak buahnya menaati perintah ketuanya, akan tetapi ketika mereka menyerbu, yang diserbu sudah tidak ada. Yang nampak hanya berkelebatnya bayangan hitam yang mengejar ketua mereka. Tentu saja beramai-ramai mereka melakukan pengejaran.

Baru seratus kaki Tang Mo San berlari, tanpa disadarinya, sebuah batu kerikil menyambar mengenai punggung Giok Lan dan membuat gadis itu terbebas dari totokan, Giok Lan yang berada dalam pondongan Tang Mo San, begitu sadar cepat mengerahkan sinkang pada tangan kanannya dan tiba-tiba tangan itu menyambar ke arah leher Tang Mo San.

“Desss...!” Sebuah pukulan dengan jari terbuka mengenai tenggorokan Tang Mo San. Orang ini mengeluarkan suara aneh, lalu pondongannya terlepas, dia terhuyung lalu roboh telentang dengan muka perlahan-lahan berubah menghitam keracunan!

Kakek jembel itu ketika tiba di situ dan melihat wajah Tang Mo San, mengerutkan alisnya. Akan tetapi Giok Lan sudah lari ke arah ayahnya, membiarkan para anak buah Kwi-to-pang kini mengeroyok pengemis itu setelah melihat ketua mereka tewas dan pengemis itu berjongkok memeriksanya. Mereka menduga bahwa tentu pembunuhnya adalah pengemis itu maka dengan riuh rendaj mereka lalu maju mengeroyok!

Giok Lan menubruk mayat ayahnya dan menangis. Tak lama kemudian Sin Lee menghampiri sambil menyeret kaki kirinya yang terluka pahanya. “Nona, kuatkan hatimu, ditangisi juga sudah tidak ada gunanya lagi. Sebaiknya kita bantu locianpwe itu, menumpas gerombolan Kwi-to-pang.”

Giok Lan menghentikan tangisnya. Akan tetapi ketika ia menengok seperti yang dilakukan Sin Lee ke arah pertempuran, pertempuran itu sudah terhenti. Semua anggota gerombolan sudah roboh kena hantamam tongkat kakek itu. Ada yang kepalanya benjol ada yang giginya rontok, ada yang tulang iganya patah dan ada yang salah urat. Pendeknya semua orang kebagian dan kini pengemis itu berkata.

“Apakah sudah cukup? Atau kalian minta kupukul sampai mampus? Kalau sudah cukup hayo bawa pergi mayat ketuamu dan jangan berani muncul di sini kembali!”

Dua puluh orang itu semua luka-luka, bukan hanya oleh kakek jembel itu, juga yang terluka oleh Sin Lee dan Giok Lan tadi. Mendengar ucapan itu, semua orang lalu membawa teman-teman yang terluka berat, mengangkat pula mayat ketua mereka dan berhamburanlah mereka pergi mencari kuda mereka untuk pergi dari situ.

“Kalian tidak boleh pergi begitu saja!” Giok Lan membentak dan ia lari mengejar dengan pedang di tangan. Ia sudah memungut kembali pedangnya yang tadi terlepad ketika ia ditawan Tang Mo San.

“Sian-cai...!” Kakek jembel itu berseru seperti seprang tosu dan sudah berdiri menghadang di depan gadis itu. “Menyerang orang yang sudah kalah bukan perbuatan gagah!”

Giok Lan menyadari hal itu dan ia kembali lagi kepada ayahnya dan berlutut di dekat mayat ayahnya, lalu menangis kembali. Sementara itu, terpincang-pincang Sin Lee menghampiri kakek itu, lalu mengangkat tangan memberi hormat. “Locianpwe, terima kasih atas bantuan locianpwe. Kalau tidak ada bantuan locianpwe, tentu saya dan nona Souw sudah tewas di tangan mereka.” Dia tidak mau bicara tentang ditawannya Giok Lan, lebih baik bicara tentang kemungkinan gadis itu terbunuh bersamanya, karena dia merasa ngeri kalau membayangkan nasib gadis itu andaikata tertawan oleh kepala gerombolan tadi.

Ciu-sian Lo-kai Ong Su, kakek berusia enam puluh tahun itu, tersenyum dan mengangguk-angguk kagum memandang kepada Sin Lee. “Dan engkau siapakah, orang muda? Apa hubunganmu dengan keluarga Souw?”

“Bukan apa-apa, locianpwe, hanya pagi tadi aku pernah menerima pemberian sebutir buah semangka oleh Nona Souw. Sewaktu aku makan semangka, Nona Souw diganggu lima orang anggota Kwi-to-pang dan aku membantunya. Setelah kami dapat mengusir lima orang itu, aku pergi melanjutkan perjalanan, akan tetapi di tengah jalan aku melihat rombongan ini. Karena khawatir Nona Souw akan diganggu lagi, aku lalu kembali dan sempat membantu. Akan tetapi, ketua itu lihai sekali dan kalau tidak ada locianpwe, celakalah kami.”

“Sudah, tidak ada budi ditanam dan tidak ada dendam dibalas, yang penting rawatlah luka di pahamu dan bantulah nona itu mengurus jenazah ayahnya.”

Oleh ayahnya, Sin Lee memang diberi petunjuk tentang merawat luka dan juga membawa obat luka yang manjur buatan ayahnya. Mendengar ucapan kakek itu, dia sadar dan melihat kakek itu membalikkan tubuh dan pergi, diapun tidak dapat berbuat sesuatu. Dia sudah banyak mendengar dari ayahnya tentang keanehan orang-orang di dunia persilatan. Setelah memeriksa lukanya, memberi obat dan membalut pahanya, terpincang-pincang Sin Lee menghampiri gadis itu. Melihat Giok Lan menangisi lagi jenazah ayahnya, dia menghibur.

“Sudahlah, nona. Dari pada ditangisi, sebaiknya kalau kita rawat jenazah ayahmu sebagaimana mestinya. Mari kubantu engkau mengangkat jenazah ke dalam rumahmu.”

Gadis itu menoleh dan melihat muka yang menangis itu, Sin Lee merasa terharu. Kalau menangis, wajah itu demikian kekanak-kanakan dan baru dia menyadari bahwa gadis ini memang masih muda sekali.

“Toako... aku... aku hanya hidup berdua dengan ayah... dan sekarang dia meninggalkan aku... aku hidup sebatang... kara...” Gadis itu menangis lagi dan Sin Lee merasa semakin iba. Dalam kesedihannya, gadis itu menyebutnya toako (kakak) tentu untuk mengisi perasaan sepi dan tertinggal sendirian saja di dunia ini.

“Sudahlah, siauw-moi (adik), engkau harus berani menghadapi kenyataan hidup. Ayahmu telah meninggal dan dia tewas sebagai seorang pendekar yang gagah. Mati di tangan musuh merupakan kematian yang gagah bagi seorang pendekar dan agaknya Tuhan sudah menghendaki demikian. Sebaiknya kalau kita urus jenazah ayahmu.”

Dengan mata merah Giok Lan menjawab, “Akan tetapi aku... aku hidup sebatang kara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi...” “Hemm, kenapa engkau berkata demikian? Engkau masih memiliki dirimu sendiri dan di dunia ini terdapat banyak manusia yang menjadi temanmu yang baik. Aku juga menjadi teman baikmu, bukan? Kenapa engkau mengatakan tidak mempunyai siapa-siapa?”

Hati Giok Lan terhibur dan ia menghentikan tangisnya, menoleh kepada pemuda itu dan bertanya, “Engkau mau membantu aku mengurus penguburan jenazah ayahku?”

“Tentu saja aku mau, dan memang akan kulakukan itu.” “Kenapa engkau begini baik kepadaku, toako?”

Sepasang mata yang masih basah kemerahan itu menatap wajahnya sedemikian rupa membuat Sin Lee tertegun. “Mengapa...? Aih, siauw-moi orang hidup haruslah bantu-membantu, bukan? Andaikan aku yang mengalami kesengsaraan sepertimu, apakah engkau yang kebetulan berada dekat denganku tidak akan mau membantuku?”

Hening sejenak, lalu gadis itu menggeleng kepalanya. “Belum tentu, toako. Aku tidaklah sebaik engkau yang melimpahkan budi kepadaku.”

“Ah, engkaupun memberi semangka kepada aku yang kehausan dan kelaparan, bukan? Sudahlah, tidak ada budi ditanam dan tidak ada dendam dibalas, ini kata kakek sakti yang menolong kita. Sebaiknya kita urus jenazah ayahmu, kau bersihkan tubuhnya dan ganti dengan pakaian yang bersih. Aku akan mencari peti mati...” Tiba-tiba Sin Lee teringat bahwa gadis itu tinggal di tempat terpencil dan dia tidak tahu di mana dapat dibeli peti mati.

Melihat pandang mata Sin Lee yang kebingungan, gadis itu berkata sedih, “Aku sendiri tidak tahu di mana kita bisa mendapatkan peti mati. Di dusun-dusun terdekat tidak ada yang jual, sedangkan kota terdekat jauhnya seratus li. Kalau diangkut dari sana dengan kereta, selain harga peti mati itu mahal, biaya angkutannya pun mahal sekali. Aku tidak akan mampu membelinya...” Gadis itu menggigit bibir menahan tangis.

“Jangan khawatir, aku masih mempunyai uang untuk membelinya. Di mana kota yang ada penjual peti matinya itu?”

“Kota See-tung, kurang lebih seratus li dari sini di sebelah barat.”

“Baik, aku akan berangkat sekarang juga membeli peti mati itu, siauw-moi.”

Pada saat itu terdengar suara orang dengan suara panjang-panjang, seperti orang bernyanyi, “Sungguh bodoh, ribut mencari peti tebal, membiarkan mayat menjadi busuk sebelum peti datang.”

Sin Lee dan Giok Lan meloncat keluar dan ternyata yang bicara itu adalah kakek pengemis yang telah menolong mereka. Kakek itu duduk di atas tanah, bersandarkan sebatang pohon. Melihat kakek itu, Giok Lan segera menghampiri dan gadis ini memberi hormat, “Locianpwe sudah menyelamatkan nyawaku, sekarang aku mohon petunjuk, bagaimana jadinya dengan jenazah ayahku? Kenapa locianpwe mencela Liu-toako yang hendak membeli peti jenazah?”

“Ha-ha-ha, kota See-tung jauh, belum tentu besok pagi peti mati itu akan sampai di sini, sementara itu jenazah ayahmu akan membusuk. Tegakah kau membiarkan jenazah itu membusuk? Jenazah itupun ingin sekali cepat-cepat kembali ke alam asalnya.”

Sin Lee tidak mengerti ucapan itu. “Bukankah ayah nona ini sudah kembali ke alam asal, locianpwe?”

“Yang kembali ke alam asal adalah jiwanya, akan tetapi apa kaukira jasmaninya juga tidak ingin kembali ke alam asal secepatnya? Jiwa kembali ke alam asalnya, yaitu alam baka, sedangkan napas kembali ke udara, suhu badannya kembali kepada api, air jasmani kembali kepada air, tanah kembali kepada tanah. Dan kalian ingin menahan kembalinya semua itu dengan menaruh mayat di peti tebal, dibiarkan membusuk karena rindu kepada alam asalnya. Hayo, cepat bikin peti sederhana saja dari kayu, lalu kubur jenazah itu sebelum membusuk kalau kau memang sayang kepada ayahmu, nona.”

Mendengar ucapan itu, Giok Lan dan Sin Lee saling pandang. Giok Lan mengangguk dan Sin Lee lalu melangkah pergi. “Aku akan mencari kayu untuk membikin papan peti.”

Untung di dalam rumah itu terdapat alat-alat yang biasa dipergunakan Souw Kian untuk membuat meja kursi dan prabot rumah lain, tersedia paku, gergaji dan lain-lain. Sin Lee dapat membuat peti yang sederhana sekali. Setelah jenazah dibersihkan oleh Giok Lan dan diberi pakaian bersih, lalu dimasukkan peti mati dan dikubur di belakang rumah.

Sin Lee ikut memberi hormat di depan kuburan itu bersama Giok Lan sehingga gadis itu agak terhibur juga, merasa senang mempunyai teman yang baik hati. Kakek pengemis itu duduk diam, tak jauh dari situ.

Giok Lan masih bersimpuh di depan gundukan tanah, tidak menangis lagi akan tetapi ia mengeluh, “Ayah, engkau tidak dapat memberitahu kenapa engkau bermusuhan dengan ketua Kwi-to-pang itu dan mengapa pula dia tadi menyebut-nyebut nama mending ibuku. Ahhh... kini tidak akan ada lagi orang yang akan dapat menerangkan kepadaku.”

Tiba-tiba kakek itu yang sejak tadi duduk tidak perduli akan semua kesibukan kedua orang muda itu, menjawab, “Kalau ingin tahu, tanyalah kepada Ciu-sian Lo-kai!”

Giok Lan segera bangkit dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. “Locianpwe, kalau memang locianpwe mengetahui persoalannya, mohon memberi petunjuk kepadaku.”

“Hemm, kalau sudah tahu mau apa? Segala sudah terjadi, kalau dikenang hanya akan meracuni hati saja. Baiklah kalau kau ingin mengetahui. Dua puluh tahun yang lalu, Tang Mo San yang berjuluk Twa-to Kwi- ong itu menculik seorang gadis yang hendak dipaksa menjadi isterinya. Hal ini diketahui oleh ayahmu dan dia mencegahnya. Terjadi perkelahian dan Tang Mo San kalah. Gadis itu bernama The Siu Lin dan ayahmu lalu menikah dengannya. Nah, sejak saat itu, terjalin permusuhan antara ayahmu dan Tang Mo San. Akhirnya Tang Mo San berhasil mengalahkan dan membunuh ayahmu, akan tetapi dia sendiri tewas di tanganmu. Ini namanya sudah takdir.”

Giok Lan tahu bahwa biarpun ia yang membunuh musuh ayahnya, namun tanpa bantuan pengemis ini tidak mungkin hal itu ia lakukan. Bahkan ia telah terjatuh ke tangan Twa-to Kwi-ong yang hendak memaksanya menjadi pengganti ibunya. Ngeri ia membayangkan nasibnya andaikata tidak ditolong oleh kakek ini. Karena itu, mengingat bahwa ia sebatang kara, ia lalu memberi hormat dengan menempelkan dahinya ke atas tanah.

“Locianpwe, sejak saat ini saya ingin ikut locianpwe, harap suka menerima saya, menjadi murid.”

Sebelum kakek itu menjawab, Sin Lee yang memang amat kagum kepada kakek itu dan baru saja dia mengalami pengalaman yang membuka matanya bahwa ilmu kepandaiannya masih belum cukup untuk melindungi dirinya sehingga dia ingin mempelajari ilmu dari kakek itu, serta merta menjatuhkan diri berlutut pula di samping Giok Lan.

“Saya juga mohon menjadi murid locianpwe!”

“Siancai...! Ini yang dinamakan jodoh. Kaukira mengapa aku belum juga pergi dari sini menemani kalian berdua? Memang aku melihat bakat kalian dan ingin mengambil kalian menjadi murid.”

“Suhu...!” Giok Lan berseru gembira.

“Suhu, teecu berdua menghaturkan terima kasih,” kata pula Sin Lee.

“Kalian sudah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, hanya tinggal mematangkannya saja. Karena kalian ingin belajar dariku, aku harus mengetahui benar keadaan kalian. Anak muda, siapa namamu dan siapa pula ayahmu atau gurumu?”

“Teecu bernama Liu Sin Lee, guru teecu adalah ayah teecu sendiri.”

“Kulihat gerakan pedangmu seperti ilmu pedang Bu-tong-pai, apakah ayahmu murid Bu-tong-pai?”

“Ayah bernama Liu Siong Ki dan menurut keterangan ayah, memang ilmu silatnya mempunyai dasar dari Bu-tong-pai karena ayah pernah menjadi murid Bu-tong-pai. Akan tetapi ayah mempelajari banyak ilmu silat dari aliran lain.” “Liu Siong Ki? Hemm, tak pernah aku mendengar nama itu.” Sin Lee merasa lega karena untuk menyembunyikan keadaan dirinya yang sebenarnya, sebaiknya memang kalau Liu Siong Ki tidak dikenal orang.

“Dan engkau, nona cilik. Engkau puteri Souw Kian, siapa namamu?”

“Nama teecu Souw Giok Lan, teecu sekarang sudah yatim piatu dan sebatang kara, suhu.”

“Giok Lan, cara engkau menyerang Twa-to Kwi-ong, sungguh tidak menyenangkan hatiku. Engkau menggunakan pukulan beracun. Itu tentu Hek-see-ciang (Tangan Pasir Hitam), bukan?”

“Benar, suhu. Sebetulnya ayah juga melarang teecu mempergunakan Hek-see-ciang, akan tetapi karena terpaksa, teecu menggunakannya untuk membunuh musuh ayah.”

“Hemm, mulai sekarang engkau tidak boleh menggunakan ilmu-ilmu sesat lagi, mengerti? Aku akan mengubah ilmu sesat itu menjadi ilmu yang bersih.”

“Maaf, suhu. Apa yang suhu maksudkan dengan ilmu sesat dan ilmu bersih?” tanya Sin Lee.

“Ilmu silat yang bersih mengandalkan kecepatan dan kekuatan, juga kecerdikan yang tidak mengandung kecurangan. Akan tetapi ilmu silat yang sesat mengandung tipudaya dan kecurangan, sehingga tidak segan-segan menggunakan senjata gelap beracun, atau pukulan beracun yang mematikan. Ilmu silat yang bersih bukan alat untuk membunuh, melainkan untuk membela diri dan menundukkan penyerangnya tanpa maksud membunuh. Tentu wajar kalau dalam adu ilmu silat ada yang terbunuh, namun bukan sengaja membunuh. Pukulan seperti Hek-see-ciang dari Bengkauw itu sengaja dipelajari untuk membunuh orang, oleh karena itu kukatakan ilmu sesat.”

Demikianlah, mulai saat itu, Ciu-sian Lo-kai Ong Su mengajak dua orang muridnya merantau. Setiap hari dia menggembleng mereka, menyempurnakan ilmu yang sudah mereka miliki, dan mengajarkan ilmu-ilmu baru yang dahsyat.

Hubungan antara Sin Lee dan Giok Lan sebagai suheng dan sumoi semakin akrab. Giok Lan amat sayang kepada suhengnya ini yang dianggap sebagai pengganti keluarganya terdekat. Juga Sin Lee amat menyayangnya dan menaruh iba hati kepada gadis itu.

Sin Lee menyimpan rahasia tentang dirinya. Dia tidak ingin diketahui bahwa dia putera Kaisar sebelum Kaisar yang menjadi ayah kandungnya itu menerimanya. Dan dia bersyukur bahwa dia bertemu dengan gurunya, karena kalau hanya dengan kepandaiannya yang dibawanya dari utara dia berani mencoba untuk menyelidiki ke istana Kaisar, tentu dia akan celaka. Menurut gurunya, di istana banyak terdapat jagoan- jagoan yang tinggi ilmunya.

Dalam perantauannya dengan gurunya, dia melihat sendiri akan kesengsaraan rakyat. Ancaman musim kering yang diseling bahaya banjir yang terjadi setiap tahun amat menyengsarakan rakyat. Akan tetapi yang lebih menekan kehidupan rakyat jelata adalah kesewenang-wenangan penguasa setempat yang memeras dengan bermacam “pajak”, ditambah lagi dengan kerja paksa membangun Tembok Besar dan menggali terusan yang menghubungkan Peking dengan Nan-king melalui terusan yang menyambung sungai Huang-ho dengan sungai Yang-ce. Dua pekerjaan besar ini depergunakan para penguasa daerah untuk memeras dengan cara memaksa rakyat untuk bekerja. Gaji para pekerja dikorup, dan memaksa rakyat untuk mengusahakan agar terbebas dari kerja paksa dengan jalan menyogok pejabat.

Sin Lee melihat semua ini dan merasa muak. Apa lagi kalau dia ingat bahwa orang pertama yang memerintahkan pembangunan Tembok Besar dan terusan itu adalah Kaisar, ayah kandungnya! Kalau dia bertemu ayahnya dan diterima sebagai puteranya, tentu akan dibujuk ayahnya itu agar melakukan pengawasan ketat sehingga rakyat tidak dipaksa dan diperas.

Ciu-sian Lo-kai Ong Su melihat betapa kedua orang muridnya merasa penasaran dan marah karena menyaksikan rakyat dipaksa bekerja yang menimbulkan bermacam korupsi dan pemerasan itu. Dia menghela napas panjang dan berpantun:

Di bawah pemerintah yang baik Rakyat tidak merasa diperintah Di bawah pemerintah yang kurang baik Rakyat mendekati dan memujanya

Di bawah pemerintah yang buruk Rakyat takut dan menghinanya

Siapa yang kurang menaruh kepercayaan Tidak akan mendapat kepercayaan

Waspadalah dengan kata-katamu yang berharga Supaya setelah engkau berjasa dan hasilnya nyata Rakyat akan berkata: kami sendirilah yang membuatnya

Sin Lee tahu bahwa itu adalah ujar-ujar dalam kitab To-tek-kong dari Nabi Locu. Apakah sekarang ini dapat dikatakan pemerintah yang buruk? Dan ayahnyalah yang menjadi Kaisarnya. Dan tiba-tiba hatinya berduka dan semangat untuk bertemu ayah kandungnya menipis. Apakah ayah kandungnya memang jahat, seorang Kaisar lalim, ataukah para pejabatnya yang korup dan tidak melaksanakan perintahnya dengan baik? Andaikata para pejabat itu tidak benar, tetap saja Kaisar bertanggung jawab. Kaisar harus mengadakan penelitian dan penyelidikan dan kalau memang para pejabat tidak benar harus Kaisar turun tangan menghukum dan mengganti mereka!

Inilah sebabnya mengapa Sin Lee menunda niatnya untuk bertemu dengan ayah kandungnya dan mengikuti gurunya merantau dan belajar ilmu silat sampai tiga tahun lamanya.

Tiga tahun lewat tanpa terasa semenjak Sin Lee dan Giok Lan menjadi murid Ciu-sian Lo-kai Ong Su. Pada suatu hari, mereka bertiga, atas desakan Giok Lan yang ingin sekali makan di rumah makan besar yang dari luar saja sudah menghamburkan kesedapan masakan, masuk ke rumah makan itu. Seorang pelayang menyambut mereka. Rumah makan itu penuh dengan tamu dan selagi pelayan membungkuk- bungkuk untuk menerima tiga orang itu, seorang penjaga yang menjadi tukang pukul di rumah makan itu menghampiri. Pada waktu itu, setiap rumah umum, baik rumah makan, penginapan atau rumah pelesir tentu memiliki tukang pukul untuk menjaga keamanan. Demikian pula rumah makan besar di kota Nan-king itu, memiliki beberapa tukang pukul untuk menjaga keamanan, kalau-kalau ada orang yang makan tanpa bayar.

Nan-king merupakan ibu kota atau kota raja di selatan, yang merupakan kota terbesar ke dua setelah Peking, maka banyak terdapat rumah penginapan, rumah makan dan rumah pelesir yang besar. Dan baru hari itu Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya memasuki kota Nan-king.

“Hei, jembel tua. Engkau tidak boleh memasuki rumah makan ini!” kata tukang pukul yang mukanya bopeng itu sambil menudingkan telunjuknya ke arah Ciu-sian Lo-kai.

Tentu saja Sin Lee dan Giok Lan marah sekali, akan tetapi guru mereka mengedipkan mata memberi tanda agar muridnya tidak membikin ribut di tempat umum itu. Dia terkekeh menghadapi penjaga yang mukanya bopeng itu.

“Kenapa aku tidak boleh memasuki rumah makan ini?” tanyanya sambil menurunkan guci araknya dari gantungan lehernya, membuka tutupnya dan menuangkan isinya ke mulut.

“Engkau pengemis kotor, hanya akan mengotori kursi dan mana engkau mampu bayar harga makanan yang mahal? Untuk mengemis, harus di luar rumah makan, tidak boleh mengemis di dalam!”

“Heh-heh-heh, aku berani bertaruh. Kalau pakaian kita dibuka, tubuhmu jauh lebih kotor dari pada tubuhku. Mau bertaruh? Hayo kita buka baju kalau berani bertaruh,” kata kakek pengemis itu.

Muka si bopeng berubah merah. Memang ia sedang menderita penyakit kudis yang gatal, kalau pakaiannya dibuka tentu akan nampak kudisnya. Dan harus diakuinya bahwa biarpun pakaiannya penuh tambalan, namun baju pengemis yang tidak memakai alas kaki itu cukup bersih.

“Sudah, jangan banyak cakap atau akan kuseret keluar dan kupukul!” Dia mengangkat tangan mengancam.

Giok Lan sudah tidak dapat mengendalikan kemarahannya dan ia membentak, “Orang macam engkau berani menghina guruku?” Dengan gerakan cepat sekali tangannya menotok dan tukang pukul itu tidak mampu bergerak lagi. Dia masih berdiri dengan tangan terangkat ke atas, siap memukul. Kini dia mirip patung, hanya matanya saja yang lirak-lirik cemas. Dua orang tukang pukul lain yang tubuhnya tinggi besar sudah menghampiri. “Hei, siapa berani memukul temanku?” kata mereka akan tetapi kembali Giok Lan menggerakkan tangannya dan dua orang inipun berdiri kaku tertotok. Bukan main cepatnya gerakan Giok Lan ini sehingga sebelum dua orang itu sempat berbuat sesuatu, mereka sudah tertotok.

“Hayo antarkan kami ke meja kosong,” bentak Giok Lan kepada pelayan yang tadi menyambut mereka dan tergopoh pelayan itu mengantarkan mereka bertiga ke sebuah meja kosong di sudut ruangan itu. Ciu-sian Lo-kai sambil tertawa-tawa berjalan bersama kedua orang muridnya, tanpa memperdulikan lagi tiga orang tukang pukul yang masih berdiri seperti patung. Para tamu yang melihat peristiwa itu menjadi kagum dan juga khawatir kalau-kalau terjadi perkelahian di rumah makan itu.

Tak lama kemudian, pemilik rumah makan yang berusia lima puluhan tahun, tergopoh menghampiri meja itu dan memberi hormat kepada Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya.

“Harap sam-wi memaafkan saya dan memberi ampun kepada para penjaga saya yang kurang hormat. Saya mengaku salah dan untuk menebus kesalahan itu saya akan menjamu sam-wo (anda bertiga) dengan masakan paling istimewa di rumah makan kami.”

“Ha-ha-ha, bagus! Giok Lan, bebaskan mereka!” kata Ciu-sian Lo-kai dengan girang. Gadis itu memungut sepotong sumpit, mematahkannya menjadi tiga dan tiga kali tangan menyambitkan potongan sumpit itu dan tiga orang tukang pukul itu sudah dapat bergerak kembali.

“Hayo cepat minta maaf kepada locianpwe itu dan dua orang muridnya!” kata pemilik rumah makan dan tiga orang tukang pukul itu yang maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang pandai, tidak malu- malu lagi mengangkat tangan memberi hormat untuk minta maaf.

“Pergilah dan jangan bersikap kasar kepada orang lagi!” bentak Giok Lan dan tiga orang itupun mengundurkan diri dengan muka merah. Kejadian ini membuat banyak orang merasa gembira. Baru sekarang ada orang berani melawan tukang pukul bahkan membuat mereka tidak berdaya.

Mereka lalu makan minum dengan gembira. Ketika Ciu-sian Lo-kai dan dua orang muridnya selesai makan, selagi mereka akan memanggil pelayan untuk membuat perhitungan, nampak pemilik rumah makan berdiri di tengah ruangan dan dengan suara lantang berseru, “Cuwi yang terhormat, hendaknya diketahui bahwa baru saja saya menerima berita duka dari kota raja. Sribaginda Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia!”

Semua orang menerima berita ini dengan kaget dan hening sejenak, kemudian mereka saling bicara sendiri dengan suara riuh rendah. Akan tetapi mereka mengambil sikap acuh, seolah berita itu hanya berita kematian biasa saja, tidak ada yang kelihatan berduka.

“Suheng, kau kenapakan...?” Giok Lan memandang kepada suhengnya dengan kaget dan heran. Sin Lee yang mendengar berita itu menjadi pucat sekali wajahnya dan sepasang sumpit yang masih dipegangnya hancur berkeping-keping lalu dia menutupkan kedua tangan di depan mukanya. Tentu saja dia terkejut dan berduka mendengar bahwa ayah kandungnya yang belum sempat dia kunjungi itu telah wafat.

Ciu-sian Lo-kai juga melihat sikap muridnya, akan tetapi maklum bahwa di tempat umum yang ramai begitu tidak baik bertanya tentang sikap muridnya, maka dia bangkit berdiri dan berkata, “Mari kita keluar!” Dan dia mendahului melangkah pergi.

Sin Lee dapat menahan perasaannya dan diapun membayar harga makanan lalu keluar, diiringkan dengan sikap hormat oleh pemilik rumah makan.

Setibanya di luar, Ciu-sian Lo-kai mengajak mereka ke tempat sunyi di taman yang pada waktu itu belum dikunjungi orang, lalu mengajak mereka duduk di bangku. “Nah, ceritakan mengapakah kau bersikap begitu ketika mendengar kematian Kaisar, Sin Lee.”

Pemuda itu tadi sudah menyadari bahwa sikapnya yang terkejut dan duka itu tentu menarik perhatian sumoi dan suhunya. Dia diam-diam sudah mengatur jawaban untuk itu. “Suhu, teecu terkejut sekali ketika mendengar bahwa Kaisar Ceng Tung telah meninggal dunia. Tentu suhu mengetahui bahwa Kaisar itu telah lama tinggal di utara, menjadi tawanan suku Oirat di mana teecu dibesarkan, bahkan ayah teecu mengenal baik Kaisar itu. Dan ayah berpesan agar dalam perantauan teecu ini teecu berkunjung kepada Kaisar. Siapa tahu sebelum teecu mengunjunginya, dia telah meninggal dunia.” Keterangan ini agaknya dapat diterima oleh Ciu-sian Lo-kai dan Giok Lan sehingga mereka tidak bertanya lebih lanjut. Kakek itu kemudian berkata, “Sekarang tiba giliranku untuk menyampaikan keinginanku kepada kalian. Telah tiga tahun kalian mengikutiku dan hampir semua ilmuku telah kuajarkan kepada kalian. Kini kalian bukan remaja lagi, melainkan telah menjadi orang dewasa. Nah, hari ini kita harus berpisah.”

“Suhu...!” Giok Lan terkejut, tidak pernah menduga akan terjadi perubahan secepat itu dalam hidupnya. Ia sudah menganggap suhunya dan suhengnya sebagai pengganti keluarganya dan tiba-tiba saja suhunya menyatakan akan berpisah.

“Hushh, Giok Lan, jangan cengeng. Engkau sudah dewasa, sudah berusia delapan belas tahun, haruskan aku menjagamu terus? Seekor burung sekalipun, kalau sudah mampu terbang sendiri, harus dapat hidup sendiri. Aku sudah tua, aku akan mengundurkan diri sama sekali dari dunia ramai, menjadi seorang pertapa di pegunungan Hoa-san. Kalian boleh mencari jalan masing-masing karena aku percaya bahwa kalian mampu melindungi diri sendiri, juga telah banyak mengenal dunia kang-ouw dalam perantauan selama tiga tahun ini.”

Sin Lee menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki gurunya, diikuti oleh Giok Lan. “Suhu, teecu menghaturkan terima kasih atas segala kebaikan suhu kepada teecu.”

“Teecu juga menghaturkan terima kasih atas budi kecintaan suhu,” kata Giok Lan dengan suara terharu, hampir menangis.

“Ha-ha-ha, ingat, tidak ada budi ditanam atau dendam dibalas. Semua itu sudah wajar. Seorang pendekar hanya membela diri, bukan sengaja membunuh, ingat ini selalu!” Setelah berkata demikian, kakek ini pergi sambil menuangkan arak ke dalam mulutnya.

Dua orang muda itu masih berlutut sampai kakek itu hilang dari penglihatan mereka. Kemudian Sin Lee terkejut mendengar isak tangis sumoinya.

“Sumoi, kenapa engkau menangis? Ada waktunya berkumpul dan ada waktunya berpisah. Kepergian suhu tidak baik kalau ditangisi.”

“Aih, suheng. Aku tidak menangisi kepergian suhu. Beliau telah berbuat banyak unutk kita, untukku. Aku tidak boleh menuntut lebih. Aku menangis karena bingung, suheng. Selama ini aku seperti seekor burung dalam kurungan, ada yang mengamati ada yang kugantungi. Dan hari ini, tiba-tiba aku dilepas begitu saja. Suheng, apa yang harus kulakukan dan ke mana aku harus pergi? Aku tidak tahu, dan aku bingung, suheng.”

Sin Lee menghela napas panjang. Pertanyaan serupa juga seringkali mengaduk hatinya. Apa yang harus dia lakukan dan ke mana dia harus pergi? Tidak ada tujuan tertentu setelah mendengar bahwa Kaisar, ayah kandungnya, telah meninggal dunia. Apa lagi bagi seorang gadis seperti Giok Lan. Dia dapat memaklumi kebingungan hatinya.

“Tenanglah, sumoi. Kita senasib, bagaikan dua orang dalam satu biduk di tengah samudera luas. Jangan khawatir, aku akan menemanimu. Mari kita lanjutkan perjalanan hidup ini bersama.”

“Suheng! Terima kasih, suheng!” Giok Lan tersenyum dengan sepasang mata masih bercucuran air mata.

Sin Lee tertawa. “Sudah, hapus air matamu itu. Tidak pantas bagi seorang pendekar wanita seperti engkau ini menangis!”

Giok Lan cepat menyusut air matanya. “Suheng, ke mana kita hendak pergi?”

“Aku mau pergi ke kota raja, hendak kulihat bagaimana macamnya kota raja yang terkenal itu. Dan... kalau mungkin... aku mau menengok makam Kaisar Ceng Tung.”

“Eh, mau apa menengok makam Kaisar?”

“Lupakah engkau akan ceritaku, bahwa Kaisar itu sahabat baik ayahku, jadi dia itu seperti pamanku sendiri, seperti keluarga sendiri. Karena itulah setelah aku tidak sempat bertemu dengannya, aku ingin bersembahyang di depan makamnya.”

“Engkau sungguh berbakti sekali kepada orang tuamu, suheng. Aku kagum kepadamu.”

“Ah, jangan terlalu memuji, sumoi. Sekarang kita telah berpisah dari suhu dan melakukan perjalanan berdua saja. Oleh karena kita sudah tidak mempunyai sanak keluarga di tempat ini, seolah-olah hanya kita berdua, maka melakukan perjalanan bersama akan terasa lebih leluasa kalau kita menjadi kakak dan adik. Maukah engkau menjadi adik angkatku, sumoi?”

“Adik angkat? Dan engkau kakak angkatku? Tentu saja aku suka, suheng.”

“Bagus. Mulai sekarang engkau jangan menyebut suheng, akan tetapi menyebut koko dan aku tidak menyebutmu sumoi melainkan moi-moi. Kakak dan adik melakukan perjalanan bersama bukan hal yang aneh, akan tetapi kalau suheng dan sumoi, dapat mendatangkan persangkaan yang bukan-bukan.”

“Perduli apa dengan persangkaan orang, suheng... eh, koko? Yang penting kita benar, kalau hendak dinilai salah oleh orang lain, perduli amat.”

Sin Lee tersenyum. Tentu saja sebagai puteri tokoh Beng-kauw, gadis itu berpendirian seperti itu. Dan dia harus akui bahwa pendirian itu benar, akan tetapi mereka tidak boleh mengabaikan pandangan umum. “Moi-moi, pendapatmu itu memang benar, akan tetapi kita harus mengakui bahwa kita hidup di tengah masyarakat dan masyarakat mempunyai anggapan dan pertimbangan sendiri. Kita tidak dapat mengabaikan pendapat umum ini kalau kita tidak ingin terasing dan tersingkir. Sudahlah, adikku yang manis, mari kita berangkat.”

“Baik, Lee-koko.” Sebutan itu terasa lebih manis dari pada sebutan suheng, lebih akrab dan lebih dekat.

Sin Lee dan Giok Lan keluar dari kota Nan-king. Pemuda dan gadis ini menarik perhatian orang karena mereka merupakan pasangan yang cocok sekali. Sin Lee nampak tampan dengan tubuhnya yang tinggi tegap, hidungnya mancung dan matanya seperti mata burung Hong dengan mulut selalu tersenyum dan nampak wajahnya jantan karena dagunya berlekuk. Sebatang pedang menempel di punggungnya, juga sebuah buntalan pakaian. Pakaiannya memang sederhana saja namun bersih dan yang menarik perhatian adalah setangkai bunga merah yang tertancap di lubang kancing bajunya. Karena bajunya putih, maka bunga merah itu dari jauh saja sudah nampak.

Giok Lan juga seorang gadis yang cantik jelita. Bentuk wajahnya bulat telur, rambutnya hitam panjang disanggul secara sederhana namun manis. Matanya tajam seperti bintang, hidungnya kecil mancung dengan ujung agak menjungat ke atas dan cuping hidungnya itu dapat berkembang kempis kalau perasaannya tersinggung. Bibirnya menggairahkan dengan hiasan lesung pipit di sebelah kiri ujung mulutnya dan setitik tahi lalat hitam di pipi kanan menambah manisnya wajah itu. Sebatang pedang dengan ronce merah berada di punggungnya, juga sebuah buntalan pakaian. Melihat pedang dan buntalan ini saja tahulah orang yang bertemu dengannya bahwa ia seorang gadis kang-ouw yang sedang melakukan perjalanan jauh.

Setelah matahari naik tinggi, mereka telah jauh meninggalkan Nan-king dan tiba di lereng sebuah bukit yang sunyi, dari jauh mereka melihat sebuah kereta yang dikawal pasukan pengawal sebanyak dua belas orang. Kemudian tiba-tiba muncul dua orang pria setengah tua yang menghadang kereta dan berdiri di tengah jalan. Kereta dihentikan dan dua belas orang pengawal itu menghadapi dua orang laki-laki itu. Terjadi percekcokan dan dua belas orang pengawal itu maju mengeroyok, akan tetapi dua orang itu lihai sekali, dengan gerakan yang cepat kaki tangan mereka bergerak dan dua belas orang pengawal itu dihajar dan terpelanting ke kanan kiri. Terdengar jerit minta tolong dari dalam kereta.

“Mari kita mendekat, agaknya dua orang itu rampok dan kita perlu melindungi mereka yang berada di dalam kereta,” kata Sin Lee. Giok Lan mengangguk dan kedua orang itu berlompatan cepat sekali. Tepat kedatangan mereka karena dua orang itu kini telah merobohkan dua belas orang pengawal dan dengan golok di tangan mereka menghampiri kereta dengan wajah bengis! Mereka terkejut ketika dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang pemuda dan seorang gadis telah berdiri menghadang mereka dan melindungi kereta.

“Siapakah kalian? Jangan mencampuri urusan kami. Pergilah!” kata seorang di antara mereka yang wajahnya penuh cambang dan kumis jenggot, nampak menyeramkan. “Tentu kami mencampuri kalau kalian hendak berbuat jahat kepada penghuni kereta ini,” kata Sin Lee tenang.

“Jadi kalian hendak melindungi pembesar itu?” bentak yang seorang lagi, mukanya merah.

“Kalau kalian hendak mengganggunya, tentu kami melindunginya!” kini Giok Lan berkata dengan lantang.

“Kalau begitu kami harus menghajar antek-antek pembesar jahanam!” bentak si brewok yang segera mengayun goloknya menyerang Sin Lee. Si muka merah juga mengayun goloknya menyerang Giok Lan.

Giok Lan mencabut pedangnya dan menangkis. Ketika orang itu dengan cepatnya memainkan goloknya, Giok Lan terkejut. Ia mengenal benar ilmu golok itu. Itulah Kui-Liong-to (Golok Naga Selatan) ilmu golok dari Beng-kauw! Ia lalu mempercepat permainan pedangnya. Setelah mendapat gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai, ilmu kepandaian Giok Lan meningkat cepat dan kini ia tidak pernah lagi mau memainkan jurus-jurus Beng-kauw yang curang. Ilmu silatnya berubah bersih namun cepat dan kuat bukan main sehingga belum sampai lima belas jurus ia telah mampu merobohkan lawannya dengan sebuah tendangan kilat. Sin Lee juga sudah merobohkan lawan tanpa melukai berat. Giok Lan menodongkan pedangnya ke leher lawannya yang bermuka merah.

“Kami sudah kalah, mau bunuh kami bunuhlah. Jangan harap kami mau menyerah kepada antek-antek pembesar korup!” kata si muka merah.

“Ya, kami tidak mampu menandingi kalian. Bunuhlah kami!” kata pula si brewok yang sudah ditotok tak dapat bergerak lagi oleh Sin Lee.

“Kalian orang-orang Beng-kauw?” tanya Giok Lan dan pertanyaan ini selain mengejutkan dua orang itu, juga membuat Sin Lee memandang heran.

“Jangan tanya kami dari mana. Kami malu telah jatuh ke tangan antek-antek pembesar lalim!” kata si muka merah.

“Hemm, aku mendengar bahwa Beng-kauw adalah perkumpulan yang hendak membersihkan namanya dengan perbuatan-perbuatan gagah. Akan tetapi kalian hendak melakukan perampokan! Aku mengenal ilmu golokmu itu. Kui-Liong to, bukan?”

“Siapa bilang kami hendak merampok? Kami tokoh-tokoh Beng-kauw pantang untuk merampok. Kami menghadang untuk mencabut nyawa pembesar Ouw yang berada di kereta itu. Dia orang jahat, memeras rakyat, memaksa rakyat menyerahkan uang sumbangan bahkan anak-anak gadisnya dengan ancaman untuk dikerjapaksakan.”

“Ah, benarkah?” tanya Giok Lan sambil menoleh ke arah kereta.

“Kalau tidak percaya, periksa saja ke dalam kereta. Di situ terdapat dua orang gadis yang dirampas dari orang tua mereka,” kata si brewok.

Giok Lan melompat ke dekat kereta, dengan pedangnya membuka tirai kereta dan di situ terdapat seorang pembesar gendut bermuka kuning mendekam ketakutan, juga ada dua orang gadis yang duduk berhimpitan sambil menangis.

“Jangan kalian menangis dan jawablah. Kenapa kalian berada di kereta ini dan kalian siapakah?”

“Kami... kami dari dusun Ke-ciu... kami... dipaksa taijin ini untuk ikut...” kata gadis yang manis berbaju hijau, sedangkan gadis kedua yang berbaju kuning hanya menangis.

Giok Lan mengerutkan alisnya dan menodongkan pedangnya kepada pembesar gendut itu. “Hei... kamu! Siapakah dua orang gadis ini dan hendak kaubawa ke mana?”

Dengan tubuh gemetaran pembesar itu menjawab gagap, “Mereka... mereka... adalah... selir-selirku... hendak kuajak pulang. Nona, eh, lihiap, mohon pertolongan lihiap. Selamatkan kami dari ancaman dua orang perampok itu dan kami akan memberi hadiah besar kepada lihiap.”

“Plakkk!” tangan kiri Giok Lan menampar dan demikian kerasnya tamparan itu sehingga tubuh pembesar itu terpental keluar dari kereta dan jatuh ke atas tanah dengan pipi kanan bengkak. Dia mengaduh-aduh dan menangis ketakutan. Giok Lan tidak sampai di situ saja mengumbar amarahnya. Tubuhnya berkelebatan dan dua belas orang pengawal itu semua mendapat hadiah tendangan sehingga mereka terlempar berserakan dengan tulang patah atau kepala benjol-benjol.

“Sudah cukup, Lan-moi, jangan sampai engkau membunuh orang.”

Giok Lan menghela napas panjang. “Sebetulnya mereka itu pantas dibunuh. Entah sudah berapa banyak rakyat yang mereka peras, gadis mereka paksa, dan nyawa orang menjadi korban kejahatan mereka.” Ia lalu menghampiri pembesar itu yang merangkak-rangkak minta ampun.

“Hayo naik ke kereta!” bentaknya dan pembesar itu dengan muka pucat merayap naik ke dalam kereta.

“Koko, biarkan aku menyelesaikan urusan ini, bolehkah?” Giok Lan berkedip kepada kakaknya dan Sin Lee kagum sekali. Tak disangkanya bahwa adik angkatnya ini demikian trampil menguasai keadaan bagaikan seorang pemimpin. Diapun mengangguk.

Giok Lan membebaskan totokan pada dua orang Beng-kauw. “Maafkan kami, kalian memang benar dan tidak mengecewakan menjadi anggota Beng-kauw. Akan tetapi ingatlah Beng-kauw tidak pernah menjadi pemberontak yang menentang pemerintah. Beng-kauw menentang pembesar jahat. Membunuh pembesar ini tidak akan ada gunanya. Akan muncul pembesar lain. Kita manfaatkan dia.”

“Nona bijaksana sekali, kami mengaku bersalah,” kata si brewok.

“Bagus, kami juga ingin berjuang demi rakyat. Mau membantu kami membereskan pembesar ini?” “Tentu saja, nona,” kata si muka merah girang.

“Nah, hayo ikut,” Giok Lan dengan berwibawa lalu memerintahkan para pengawal kembali mengawal kereta. “Kalian mengawal seperti biasa, kembali ke rumah Ouw-taijin. Awas, jangan banyak ulah karena kami berada di dalam kereta, siap membunuh Ouw-taijin kalau kalian membuat ribut.”

“Jangan ribut, awas kalian, aku perintahkan taati perintah lihiap ini!” Ouw-taijin menjulurkan kepala keluar pintu dan berteriak kepada para pengawalnya.

“Lee-ko, silahkan bergabung dengan para pengawal, juga dua saudara Beng-kauw, dan mari kita berangkat. Kusir, jalankan kereta seperti biasa, agak cepat sedikit!”

Sin Lee dan dua orang Beng-kauw mendapatkan masing-masing seekor kuda dan ada pengawal yang berboncengan, dan rombongan itu berangkat menuju kembali ke Nan-king. Ketika melalui pintu gerbang, para penjaga memandang keheranan melihat para pengawal babak belur, akan tetapi karena Ouw-taijin tidak memberi tanda apa-apa hanya menyuruh kusir cepat-cepat membawanya pulang, para penjaga juga tidak menaruh curiga.

Setelah tiba di pekarangan gedung milik Ouw-taijin, empat orang pendekar itu mengawal si pembesar masuk. Giok Lan melakukan penggeledahan dan membebaskan tujuh orang gadis dusun lagi. Kemudian dia memaksa Ouw-taijin untuk memberi uang bekal yang cukup banyak untuk para gadis itu dan memberi pula surat pembebasan orang tua mereka dari kerja paksa.

Giok Lan mengancam. “Ini merupakan hukuman ringan bagimu, Ouw-taijin. Sebetulnya melihat perbuatanmu yang melampaui batas, memeras rakyat, mempermainkan anak-anak gadis mereka, bahkan mengandalkan kekuasaan melakukan penyiksaan, sepatutnya engkau kubunuh. Akan tetapi biarlah ini menjadi peringatan bagimu. Mencari pekerja harus dengan cara yang benar, dan tidak boleh mengurangi upah mereka seperti ditentukan pemerintah, dan jangan memaksa. Awas, kalau kami berempat mendengar engkau masih melakukan kejahatan ini, kami akan datang lagi untuk membunuhmu!”

Ouw-taijin hanya mengangguk-angguk dan memenuhi semua permintaan gadis itu. Para gadis itu lalu dibebaskan dan diberi bekal uang seperti yang dimintakan Giok Lan. Setelah itu, Giok Lan, Sin Lee dan dua orang Beng-kauw itu meninggalkan Nan-king.

Setibanya di luar Nan-king, Sin Lee dan Giok Lan pamit hendak memisahkan diri dari dua orang Beng- kauw itu. Akan tetapi, dua orang tokoh Beng-kauw itu memberi hormat dan berkata “Banyak terima kasih atas bantuan ji-wi yang gagah perkasa. Karena kita telah bekerja sama, kami ingin sekali berkenalan dengan ji-wi sebelum kita saling berpisah. Nama saya Kam Tiong dan ini adalah sute Thio Kun. Bolehkah kami mengetahui nama ji-wi yang gagah perkasa?”

Sin Lee tersenyum. “Namaku Liu Sin Lee dan ini adalah adikku Souw Giok Lan.”

“Nona she Souw? Ah, kamipun sedang mencari seorang paman guru kami she Souw juga. Entah di mana dia sekarang?” kata Kam Tiong si brewok.

Giok Lan tersenyum dan sambil lalu ia bertanya, “Siapakah nama paman guru yang kalian cari itu?” “Susiok bernama Souw Kian.”

“Heii, itu nama mendiang ayah saya!” seru Giok Lan terkejut.

Dua orang Beng-kauw itu terbelalak, akan tetapi mereka kemudian mengerutkan alisnya. “Mendiang...?” tanya Thio Kun si muka merah.

Giok Lan menghela napas panjang. “Ayah tewas kurang lebih tiga tahun yang lalu.”

Dua saudara seperguruan Beng-kauw itu saling pandang dan tiba-tiba keduanya mengambil kesepakatan melalui pandang mata mereka dan Kam Tiong lalu berseru, “Ya, mengapa tidak? Lihiap, kalau begitu kami mengharapkan agar lihiap saja yang menggantikan ayah lihiap, menjadi ketua Beng-kauw!”

“Ya, benar juga. Tidak ada yang lebih tepat untuk menyelamatkan Beng-kauw kecuali puteri mendiang susiok Souw Kian!” kata Thio Kun.

Tentu saja Giok Lan terkejut sekali, membelalakkan mata.

“Eh , apa yang kalian maksudkan? Mengharapkan aku menjadi ketua Beng-kauw? Apakah kalian sudah gila?” Sikap dan ucapan Giok Lan memang ada kemiripan dengan sikap orang Beng-kauw yang polos dan kadang kasar. Hal ini tentu karena ia terbawa oleh sikap mendiang ayahnya.

“Lihiap, kami mencari susiok Souw Kian untuk mohon agar dia menyelamatkan Beng-kauw. Karena dia ternyata sudah meninggal, dan mengingat akan ilmu kepandaian lihiap yang tinggi, maka alangkah bahagianya kami seluruh anggota Beng-kauw apa bila lihiap suka menggantikan Souw-susiok.”

Giok Lan mengerutkan alisnya. “Hemm, menurut cerita ayah dahulu, ayah telah dikeluarkan dari Beng- kauw bahkan dianggap sebagai pengkhianat. Kenapa sekarang kalian mencarinya untuk diminta menjadi ketua?”

“Ah, peristiwa itu amat mendukakan banyak anggota Beng-kauw termasuk kami, nona. Ayah lihiap adalah seorang tokoh penting Beng-kauw. Akan tetapi Souw-susiok terlalu berani. Dia mengeritik ketua Beng- kauw yang menjadi suhengnya, menganjurkan agar Beng-kauw menghentikan semua perbuatan tercela dan memberi hukuman kepada para anggotanya yang melakukan kejahatan, dan hidup damai dan rukun dengan para partai lain. Akan tetapi ketua Beng-kauw menjadi marah dan tersinggung, lalu menganggap Souw-susiok sebagai pengkhianat dan mengeluarkannya dari Beng-kauw. Kami menyesal sekali dan sekarang, pangcu kami terbunuh oleh seorang yang lihai dari luar Beng-kauw, bernama Bouw Sang Cinjin yang menguasai Beng-kauw. Karena itulah, lihiap, kami sungguh memohon kepada lihiap atas nama Beng- kauw, sudilah lihiap menerimanya!”

Sin Lee yang sejak tadi mendengarkan saja, kini melihat kesempatan baik terbuka bagi Giok Lan. Ya, mengapa tidak? Kalau Giok Lan menjadi ketua Beng-kauw, ia akan dapat memperbaiki keadaan perkumpulan itu dan ini merupakan tugas yang berat namun luhur. Hidupnya tidak akan kosong lagi, bahkan penuh arti. Dari pada ikut dengan dia yang tidak karuan tujuannya.

Kebetulan Giok Lan menoleh kepadanya seperti minta pendapatnya. Sin Lee berkata, “Adik Giok Lan, kalau Beng-kauw terancam musnah dan akan dikuasai orang yang tidak berhak, maka sudah sepatutnya kalau engkau membantunya. Bagaimanapun juga, karena mending ayahmu merupakan tokoh Beng-kauw, maka engkaupun dengan sendirinya masih ada hubungan dengan Beng-kauw.”

“Tapi... tapi... bagaimana mungkin aku menjadi ketua? Seorang gadis yang semuda saya...” “Lan-moi, soal ketua itu adalah urusan nanti. Yang terpenting sekarang adalah membebaskan Beng-kauw dari kekuasaan orang bernama Bouw Sang Cinjin, dan kita harus membantunya.”

Dua orang tokoh Beng-kauw itu tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut di depan Giok Lan dan Sin Lee. “Terima kasih kepada taihiap dan lihiap. Memang tepat seperti yang dikatakan taihiap, urusan pengangkatan ketua dapat dibicarakan lagi kemudian. Yang terpenting mengusir Bouw Sang Cinjin dan anak buahnya dari Beng-kauw.”

“Baiklah, akan kami bantu kalian. Mari kita berangkat.”

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat menuju ke pusat Beng-kauw.

Sejak ratusan tahun yang lalu, perkumpulan Beng-kauw merupakan perkumpulan besar berdasarkan ajaran dari aliran agama Terang. Aliran agama ini sesungguhnya merupakan pandangan-pandangan hidup atau filsafat yang dianut oleh para anggotanya. Namun, sudah beberapa kali para ketua Beng-kauw membawa perkumpulan itu melalui jalan sesat sehingga Beng-kauw dikenal sebagai perkumpulan sesat. Hal ini adalah karena dalam aliran Beng-kauw terdapat banyak ajaran tentang kekuatan gaib, penggunaan kekuatan gaib seperti sihir dan sebagainya. Juga dalam perkembangan ilmu silat yang dipelajari oleh para anggota Beng-kauw terdapat banyak jurus dan ilmu yang tergolong sesat, tidak segan menggunakan cara- cara yang keji untuk memperoleh kemenangan.

Ketika Souw Kian masih menjadi tokoh Beng-kauw, dia melihat gejala ini dan dia memprotes keras sehingga dia bentrok dengan suhengnya sendiri yang menjadi ketua Beng-kauw. Suhengnya, Louw Seng Hu, marah kepadanya dan Souw Kian dianggap pengkhianat, lalu diusir dari Beng-kauw. Louw Seng Hu tertarik oleh segala macam ilmu hitam sampai akhirnya dia bertemu dengan Bouw Sang Cinjin, seorang bekas tokoh Lama Jubah Merah yang menjadi pelarian dari Tibet karena dianggap menyeleweng. Di Beng- kauw, Bouw Sang Cinjin menemukan ladang baru. Dengan mengajarkan ilmu hitam kepada ketua Beng- kauw itu, dia memiliki pengaruh besar sekali. Dia menanam kukunya di Beng-kauw sampai akhirnya menjadi orang kedua setelah ketua Louw Seng Hu. Kurang lebih tiga tahun yang lalu, setelah menempatkan murid-muridnya sebagai petugas yang berkedudukan tinggi di Beng-kauw, barulah dia membuka kedoknya. Dengan ilmunya, dia membunuh Louw Seng Hu tanpa ada yang dapat membuktikan. Anak buah Beng-kauw hanya melihat ketua mereka menderita sakit seperti orang gila, dan tak lama kemudian meninggal dunia. Dan setelah Louw Seng Hu meninggal dunia, otomatis kekuasaan berada di tangan Bouw Sang Cinjin dan dia mengangkat diri sendiri sebagai ketua Beng-kauw.

Kam Tiong dan Thio Kun adalah dua orang di antara para tokoh Beng-kauw yang menaruh kecurigaan atas meninggalnya Louw Seng Hu. Akan tetapi mereka tidak dapat membuktikan apa-apa untuk memperkuat kecurigaan mereka. Setelah Bouw Sang Cinjin mengangkat diri menjadi ketua, dan ada beberapa orang tokoh Beng-kauw yang menentang menemui kematian secara aneh dan rahasia, Kam Tiong dan Thio Kun mengambil keputusan untuk melarikan diri dan mencari Souw Kian, yaitu susiok mereka yang diusir dari Beng-kauw, karena hanya Souw Kianlah yang kiranya akan mampu menolong Beng-kauw yang keadaannya sedang gawat. Dan tanpa disengaja mereka bertemu dengan Souw Giok Lan, puteri susiok mereka itu yang telah menjadi seorang gadis yang berilmu tinggi dan suhengnya, Liu Sin Lee.

Sebetulnya, sebagian besar dari anggota dan para tokoh Beng-kauw tidak rela kalau kedudukan ketua dipegang oleh Bouw Sang Cinjin. Akan tetapi mereka takut menentang bekas Lama yang sakti itu. Bouw Sang Cinjin selain sakti, juga mempunyai dua puluh empat orang murid yang tangguh dan para murid itu diberi kedudukan penting di Beng-kauw sehingga praktis semua kendali telah dipegang oleh Bouw Sang Cinjin dan para muridnya.

Setelah tiba di lereng Beng-san yang dijadikan pusat Beng-kauw, Kam Tiong dan Thio Kun minta kepada Sin Lee dan Giok Lan untuk tinggal dulu di dusun tak jauh dari situ dan mereka berdua lalu diam-diam menghubungi para anggota dan tokoh Beng-kauw. Dengan diam-diam para tokoh Beng-kauw mengadakan pertemuan dan semua menyambut gembira ketika dua orang tokoh Beng-kauw itu memberi kabar tentang kesanggupan Giok Lan dan Sin Lee untuk menentang kekuasaan Bouw Sang Cinjin dan para muridnya. Siasat lalu diatur dan seluruh anggota Beng-kauw yang jumlahnya tidak kurang dari seratus orang itu mendapat kabar dan perintah secara rahasia. Mereka merencanakan pemberontakan. Mereka semua akan menghadapi dua puluh empat orang murid Bouw Sang Cinjin sedangkan pendeta yang sakti itu akan dihadapi dua orang pendekar yang akan membantu mereka.

Pada hari yang telah ditentukan oleh mereka yang merencanakan pemberontakan, Sin Lee dan Giok Lan dengan tenang menghampiri pintu gerbang perkampungan Beng-kauw. Sebetulnya, oleh Bouw Sang Cinjin, di sekitar perkampungan itu sudah dipasangi jebakan-jebakan yang membahayakan tamu yang tak diundang. Akan tetapi oleh para anak buah Beng-kauw, kedua orang muda itu sudah diberitahu akan rahasia jebakan sehingga mereka dapat melewati dengan aman karena sudah tahu di bagian mana jebakan dipasang.

Para anggota Beng-kauw yang melakukan penjagaan di pintu gerbang tentu saja tidak merasa heran dengan munculnya dua orang muda itu karena mereka semua sudah tahu bahwa dua orang muda itulah yang akan membantu mereka terbebas dari kekuasaan Bouw Sang Cinjin. Akan tetapi dua orang murid Bouw Sang Cinjin yang mengepalai regu penjaga, terheran-heran bagaimana dua orang muda itu dapat tiba di pintu gerbang dan melewati jebakan-jebakan dengan demikian mudahnya. Mereka segera meloncat keluar gardu penjagaan di pintu gerbang, menghadang di depan Sin Lee dan Giok Lan.

“Berhenti! Siapakah kalian dan mau apa datang ke sini?” bentak seorang murid Bouw Sang Cinjin sambil melintangkan senjatanya yang mengerikan, yaitu sebatang golok bergagang panjang dan golok itu tajam sekali, juga ujung gagangnya runcing seperti tombak. Adapun orang kedua bersenjata sepasang golok besar yang berat dan tajam pula. Dari senjata mereka saja dapat diduga bahwa mereka itu memiliki tenaga besar.

Karena Giok Lan yang mempunyai kepentingan langsung dengan Beng-kauw, maka Sin Lee membiarkan gadis itu yang menjawabnya. Giok Lan maklum akan sikap Sin Lee yang diam, maka ialah yang menjawab dengan tegas.

“Kami hendak bertemu dengan Bouw Sang Cinjin. Suruh dia keluar menemui kami!”

Dua orang itu terbelalak. Mendengar seorang gadis begitu saja menyuruh guru mereka keluar menemuinya, sungguh merupakan sikap memandang rendah yang keterlaluan.

“Suhu kami tidak ada waktu untuk berurusan dengan bocah perempuan seperti engkau!” kata seorang dari mereka, “kalau ada urusan, beritahukan kepada kami yang akan melaporkan kepada suhu, enak saja menyuruh suhu keluar menemuimu!”

Giok Lan tersenyum mengejek. “Kalau kalian tidak mau memanggilnya dan kalau dia tidak mau keluar, biarlah kami yang mencarinya ke dalam.” Gadis itu bergerak hendak memasuki pintu gerbang.

“Berhenti! Berani memasuki pintu gerbang berarti mati!” Dua orang itu melintangkan senjata mereka menghadang di pintu gerbang dengan sikap yang bengis.

Giok Lan melangkah maju dan golok panjang menyambar ke arah lehernya. Betapa bengisnya orang itu, mengirim serangan yang jelas bermaksud membunuh. Dengan mudah gadis itu mengelak dan begitu golok lewat, kakinya menyambar ke depan dengan tendangan kilat. Akan tetapi pemegang golok panjang itu mampu meloncat ke belakang sehingga tendangan itu luput. Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa anak buah Bouw Sang Cinjin itu memang cukup lihai. Kini pemegang sepasang golok juga sudah menerjang ke depan, membabatkan goloknya dengan gerakan menggunting dari kanan kiri.

Kembali Giok Lan mengelak dengan loncatan jauh ke atas sehingga orang itu terkejut, mendongak ke atas untuk melanjutkan serangannya. Akan tetapi tubuh Giok Lan sudah menukik dan sekali tangannya menampar, pundak orang itu terkena tamparannya sehingga pemegang sepasang golok itu roboh bergulingan.

Si pemegang golok panjang memutar senjatanya dan menyerang dengan dahsyat. Giok Lan malah menyambut maju dan ketika golok menyambar, ia bukan mengelah malah melangkah ke depan, mendekati lawan dan dapat menangkap gagang golok, kakinya menendang dan sekali ini, karena orang itu tidak dapat mengelak mempertahankan goloknya, tendangan Giok Lan mengenai sasaran dan orang itu terjengkang bersama goloknya. Namun, keduanya memang cukup kuat sehingga tamparan itu tidak sampai merobohkan mereka dan kini mereka sudah bangkit kembali.

“Pukul tanda bahaya...!” teriak mereka kepada anak buah mereka yang berada di gardu penjagaan. Para anggota Beng-kauw yang sudah tahu apa yang mereka harus perbuat, segera memukul tanda bahaya berupa canang bertubi-tubi sehingga menimbulkan suara yang bising. Dan berdatanganlah anak buah Beng-kauw dari segala penjuru. Juga para murid Bouw Sang Cinjin bermunculan dengan senjata mereka mengepung Sin Lee dan Giok Lan. Sin Lee melihat bahwa semua murid Bouw Sang Cinjin yang berjumlah dua puluh empat orang itu telah berada di situ mengepung ketat, dan melihat pula mereka itu membentuk semacam barisan yang berantai dan saling melindungi. Jelas bahwa barisan bermacam-macam senjata seperti itu amatlah tangguh, maka dia berkata, “Lan-moi, pergunakan pedang dan kita saling melindungi.”

Dua orang muda itu beradu punggung sehingga tidak dapat diserang dari belakang. Mereka berdiri tak bergerak, hanya memandang dua puluh empat orang itu yang kini bergerak mengelilingi mereka. Ketika mereka mulai menyerang, dua puluh empat orang itu maju bersama dan berbareng sehingga terpaksa Sin Lee dan Giok Lan harus memutar pedang untuk melindungi tubuh mereka dari hujan senjata itu. Sin Lee terkejut. Mereka itu rata-rata memiliki tenaga yang kuat dan gerakan cepat sehingga kalau dilanjutkan, mereka berdua tentu akan terdesak dan tidak ada untungnya dalam perkelahian hanya menahan serangan tanpa mampu membalas.

“Kita pecahkan kepungan!” katanya kepada Giok Lan dan Giok Lan maklum apa yang dimaksudkan kakak angkatnya. Ia mengeluarkna suara melengking dan pedangnya berubah menjadi gulungan yang panjang dan kini pedang itu bukan hanya menangkis, melainkan mencuat ke kiri mengikuti gerakannya dan menerjang tiga orang yang berada di depannya. Juga Sin Lee mengeluarkan bentakan nyaring dan dia berbuat serupa, meloncat ke kanan sambil menggerakkan pedangnya yang menyambar-nyambar bagaikan kilat.

Kepungan itu mengendur dan melonggar karena para murid Bouw Sang Cinjin terkejut sekali melihat gerakan pedang yang amat berbahaya itu. Mereka terpaksa memecah barisan, masing-masing dua belas orang mengepung Sin Lee dan dua belas orang mengepung Giok Lan.

Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring sekali. “Keparat, dua orang muda kurang ajar dari mana berani sekali mengacau di Beng-kauw?”

Ketika melihat Bouw Sang Cinjin muncul sambil melintangkan tongkat naganya yang berwarna hitam, Kam Tiong dan Thio Kun memberi aba-aba kepada para anggota Beng-kauw dan menyerbulah kurang lebih seratus orang Beng-kauw itu. Mereka itu disangka akan membantu dua puluh empat orang murid Bouw Sang Cinjin, akan tetapi alangkah terkejut hati mereka ketika anggota Beng-kauw itu berbalik malah menyerang mereka! Karena diserang secara mendadak dari belakang oleh banyak sekali lawan, enam orang anak buah Bouw Sang Cinjin ini roboh di bawah bacokan dan tusukan puluhan buah senjata dan yang lain segera melakukan perlawanan mati-matian.

Sin Lee maklum bahwa pendeta itu tentu lihai sekali, maka dia segera meninggalkan Giok Lan yang kini dibantu seratus orang anggota Beng-kauw dan sekali loncat tubuhnya melayang dan turun di depan pendeta itu. Dia memandang penuh perhatian.

Bouw Sang Cinjin adalah seorang kakek tinggi besar berusia enam puluh tahun. Tubuhnya kekar dan mukanya hitam, jubahnya masih menunjukkan bahwa dia bekas Lama Jubah Merah. Jubah merahnya lebar dan tangannya memegang sebatang tongkat kepala naga yang nampaknya berat.

Bouw Sang Cinjin juga terkejut setengah mati melihat betapa anak buah Beng-kauw semua telah memberontak. Tahulah dia bahwa dua orang muda liha itu tentu telah berhasil membujuk semua anggota Beng-kauw untuk memberontak, maka marahnya makin membakar.

“Keparat, siapa engkau berani menentang Bouw Sang Cinjin?” teriaknya sambil memandang Sin Lee dengan matanya yang bundar besar.

“Namaku Liu Sin Lee dan adikku itu bernama Souw Giok Lan. Kami sengaja datang untuk membebaskan Beng-kauw dari kekuasaanmu yang tidak sah! Bouw Sang Cinjin, sebaiknya engkau cepat pergi meninggalkan Beng-kauw dan jangan mengganggunya lagi.”

“Engkau sudah bosan hidup!” bentak kakek itu dan dia mengeluarkan suara mengaum seperti harimau. Sin Lee terkejut karena auman itu mempunyai daya serang yang amat kuat, membuat jantungnya tergetar. Bahkan banyak anggota Beng-kauw terhuyung mendengar suara itu. Sin Lee mengerahkan sinkangnya untuk melawan suara itu.

Melihat betapa lawannya yang masih muda itu tidak roboh oleh serangan suaranya yang serangannya itu ditujukan kepadanya, Bouw Sang Cinjin menjadi penasaran sekali. “Heiiittt...!” Dia membentak dan tongkat naganya menyambar dahsyat, mengeluarkan angin dan suara mengaung. Namun Sin Lee sudah siap. Pemuda ini menggunakan keringanan tubuhnya untuk meloncat dan menghindar dari sambaran tongkat, kemudian secepat kilat tubuhnya membalik dan membalas dengan tusukan pedangnya.

“Tranggg...!” Tongkat naga itu menangkis pedang. Nampak bunga api berhamburan dan keduanya terkejut karena ternyata senjata mereka terpental ketika bertemu dengan senjata lawan. Segera terjadi perkelahian yang seru di antara mereka. Bouw Sang Cinjin terkejut. Selama hidupnya belum pernah dia menemui lawan semuda ini akan tetapi memiliki ilmu kepandaian selihai ini. Sebaliknya Sin Lee juga maklum bahwa andaikata dia belum menerima gemblengan dari Ciu-sian Lo-kai selama tiga tahun, tentu dia akan kalah oleh pendeta yang tinggi besar itu. Akan tetapi dalam gebrakan-gebrakan pertama Sin Lee tidak mampu menahan gelombang serangan yang dahsyat sehingga terpaksa dia main mundur, menangkis atau mengelak. Setelah dia dapat mengenal sifat serangan lawan, barulah dia dapat membalas dan terjadilah saling serang yang amat seru.

Sementara itu, anak buah atau murid Bouw Sang Cinjin yang tinggal delapan belas orang itu, melawan mati-matian atas pengeroyokan anggota Beng-kauw yang jauh lebih banyak jumlahnya itu. Karena para murid Bouw Sang Cinjin itu memiliki tingkat kepandaian yang lebih tinggi, maka banyak juga anggota Beng- kauw yang roboh disambar senjata mereka. Akan tetapi di situ terdapat Giok Lan yang mengamuk hebat. Amukan gadis ini mendorong semangat para anggota Beng-kauw sehingga mereka semakin nekat. Akhirnya delapan belas orang murid Bouw Sang Cinjin itu roboh bergelimpangan, yang enam orang roboh oleh pedang di tangan Giok Lan dan selebihnya roboh oleh pengeroyokan para anggota Beng-kauw. Tak seorangpun dari dua puluh empat murid Bouw Sang Cinjin itu lolos dari maut. Mereka tewas dengan tubuh hancur karena amukan para anggota Beng-kauw yang selama ini ditekan oleh kekejaman mereka.

Melihat Sin Lee masih bertanding seru melawan seorang kakek tinggi besar, Giok Lan menjadi marah dan segera ia meloncat dan membantu kakak angkatnya.

“Jahanam busuk, kau layak mampus!” bentak Giok Lan dan ketika pedangnya menyambar dengan tusukan ke arah leher Bouw Sang Cinjin, kakek itu terkejut bukan main. Lehernya nyaris tertusuk dan terpaksa dia melempar tubuhnya ke belakang, lalu bergulingan menjauh. Dari gerakan tadi saja tahulah dia bahwa gadis itupun lihai sekali. Apa lagi melihat semua anak buahnya telah roboh, hatinya menjadi jerih. Kalau para anggota Beng-kauw itu ikut mengeroyok, bagaimana mungkin dia dapat meloloskan diri. Dia mengambil sesuatu dari saku jubahnya dan melemparkan ke depan. Terdengar ledakan dan nampak asap mengepul tebal.

Sin Lee memegang tangan Giok Lan dan menariknya. Mereka berdua melompat jauh ke belakang sambil berjungkir balik menghindarkan diri dari asap karena mereka khawatir kalau asap itu beracun. Juga para anggota Beng-kauw mengundurkan diri. Mereka semua tidak asing dengan senjata peledak ini karena Beng-kauw sendiri juga memiliki senjata seperti itu. Akan tetapi mereka tidak tahu apakah asap itu beracun atau tidak.

Ketika asap menipis kembali, ternyata Bouw Sang Cinjin telah lenyap. Kiranya serangan itu hanya untuk melarikan diri saja. Orang-orang Beng-kauw bersorak gembira ketika Bouw Sang Cinjin melarikan diri dan dua losin muridnya telah tewas. Dipimpin oleh Kam Tiong dan Thio Kun, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap Giok Lan dan Sin Lee. Semua anggota Beng-kauw sudah mendengar bahwa gadis perkasa itu adalah puteri dari Souw Kain yang mereka kenal sebagai tokoh yang gagah perkasa dan adil.

“Atas nama seluruh anggota Beng-kauw, kami menghaturkan terima kasih kepada taihiap Liu Sin Lee dan lihiap Souw Giok Lan. Dan kami semua mengulang permohonan kami agar lihiap sudi memimpin kami dan menegakkan kembali Beng-kauw. “kata Kam Tiong.

“Urusan itu kita bicarakan di dalam dan sekarang aku minta agar semua mayat ini diurus dengan baik, dan yang luka dirawat, “ kata Giok Lan.

Kam Tiong menaati perintah ini. Setelah menyuruh Thio Kun mengatur semua tugas membersihkan tempat pertempuran itu dari mayat yang malang melintang. Kam Tiong mempersilakan Giok Lan dan Sin Lee untuk masuk ke bangungan induk yang tadinya menjadi tempat tinggal Bouw Sang Cinjin. Di tempat ini, juga di rumah-rumah yang ditempati para murid kakek itu, Giok Lan menjumpai banyak gadis yang diculik dan disekap. Ia segera membebaskan para wanita yang sengsara itu, menyuruh mereka pulang ke dusun masing-masing dan membekali mereka dengan emas yang banyak terdapat di rumah induk itu. Ternyata Bouw Sang Cinjin dan para muridnya telah mengumpulkan banyak harta dan wanita.

Atas perintah Giok Lan, semua mayat dikubur baik-baik, biarpun mayat para murid Bouw Sang Cinjin juga diurus dengan baik. Setelah itu, atas desakan Sin Lee, gadis perkasa itu menerima bujukan para tokoh Beng-kauw untuk memimpin Beng-kauw dan menjadi ketuanya. Ia menemukan pula banyak kitab Beng- kauw di perpustakaan perkumpulan itu sehingga kelak ia akan dapat mempelajari banyak hal tentang Beng-kauw juga mempelajari ilmu-ilmunya yang terdapat di dalam kitab-kitab pelajaran ilmu silat Beng- kauw.

Beberapa hari kemudian, dilakukan upacara pengangkatan ketua kepada Giok Lan. Meja sembahyang perkumpulan itu penuh dengan sarana sembahyang. Lilin-lilin besar dinyalakan dan Giok Lan bersembahyang di depan meja sembahyang mengucapkan sumpah kepada para ketua Beng-kauw yang telah tiada, untuk memimpin Beng-kauw dan membawa Beng-kauw kepada kejayaan. Semua itu dilakukan dengan penuh khidmat, disaksikan pula oleh Sin Lee dan setelah selesai upacara itu, di depan semua tokoh dan para anggota, Giok Lan memberi pengumuman pertama, “Mulai sekarang, kami memberi tambahan nama kepada perkumpuan kita, yaitu menjadi Beng-kauw-pang. Kami telah resmi menjadi pangcu (ketua) dari Beng-kauw pang dan untuk urusan agama, harus diangkat seorang kauwcu (pemimpin agama) yang ahli dalam hal Agama Terang.”