-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 2

Jilid 2

Berangkatlah Kaisar Ceng Tung beberapa hari kemudian, dikawal pasukan Oirat yang seratus orang banyaknya. Chi Li berkurang kesedihannya ketika mendapat kenyataan bahwa gurunya juga ikut mengawal Kaisar. Ia percaya penuh kepada gurunya dan hanya mengharapkan akan segera bertemu kembali dengan suaminya tercinta setelah anaknya terlahir.

Rombongan Kaisar Ceng Tung dengan selamat sampai di Tembok Besar. Ketika para penjaga melihat ada serombongan orang Oirat mendekati tembok, mereka sudah siap siaga untuk menyerangnya. Akan tetapi rombongan itu berhenti dan yang turun dari kuda adalah seorang yang berpakaian sasterawan, lalu orang itu mendekati Tembok Besar, berteriak kepada para penjaga.

“Beritahukan kepada Panglima kalian bahwa yang datang adalah Yang Mulia Sribaginda Kaisar Ceng Tung...!”

Mendengar teriakan itu, para penjaga terkejut. Sudah lebih dari setahun Kaisar Ceng Tung dikabarkan hilang tertawan orang Oirat ketika pasukan Beng dihancurkan orang Oirat di Tumupou dekat Huai Lai. Bagaimana kini tiba-tiba saja Kaisar Ceng Tung dapat muncul di situ? Tak lama kemudian nampak Panglima berdiri di atas tembok, seorang Panglima yang nampak gagah dalam pakaian yang gemerlapan. Melihat Panglima tua itu, Kaisar Ceng Tung yang sudah keluar dari dalam kereta, segera berseru,

“Yauw-ciangkun apakah engkau tidak mengenal kami?” suara Kaisar terdengar mengandung keharuan. Panglima itu segera terbelalak dan dari atas tembok dia memberi hormat.

“Ah, kiranya benar Yang Mulia Kaisar Ceng Tung! Cepat buka pintu benteng!”

Liu Siong Ki menuntun Kaisar Ceng Tung memasuki kembali keretanya dan menjalankan kereta memasuki tembok besar. Kemudian Liu Siong Ki membalik, dan mengatakan kepada pimpinan pasukan pengawal agar pulang dan melaporkan kepada ketua mereka bahwa Kaisar sudah sampai di Tembok Besar dan sudah disambut oleh pasukan kerajaan. Pasukan pengawal itu lalu kembali ke utara.

Tentu saja Kaisar Ceng Tung disambut dengan gembira oleh Yauw-ciangkun yang memberi hormat sambil berlutut dan Panglima tua ini menangis saking gembiranya melihat junjungannya masih dalam keadaan selamat dan sehat.

Segera Kaisar Ceng Tung dikawal menuju ke Peking. Panglima Yu Cian sendiri menyambutnya dengan segala kehormatan dan cepat dia mengirim kabar ke Nan-king kepada Kaisar Ceng Ti bahwa kakak Kaisar itu masih hidup dan kini sudah kembali ke Peking.

Terjadi keributan di Nan-king ketika Kaisar Ceng Ti mendengar berita itu. Akan tetapi siapa orangnya yang mau melepaskan kedudukan yang begitu tinggi? Kaisar Ceng Ti segera menulis perintah yang dikirim ke utara bahwa Kaisar Ceng Tung sudah lama kehilangan kedudukannya dan bahwa dialah Kaisar Beng- tiauw yang sah, diangkat oleh para pembesar dengan sah. Oleh karena itu, mengingat bahwa Ceng Tung adalah kakaknya, maka dia mengangkat kakaknya itu sebagai seorang raja muda di Peking dan menjadi pembantunya. Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Ceng Tung mendengar perintah adiknya itu. Dia tidak lagi diakui menjadi Kaisar melainkan diangkat menjadi raja muda. Diangkat oleh adiknya sendiri yang telah menggantikan kedudukannya sebagai Kaisar. Sakit sekali hatinya.

“Yang Mulia, perbuatan Kaisar Ceng Ti itu sungguh tidak patut dan kalau paduka menghendaki hamba sanggup merebutkan kedudukan itu untuk paduka dan mengembalikan paduka di atas singgasana, menjadi Kaisar kerajaan Beng yang menjadi hak paduka!” kata Jenderal Yu Cina dengan marah.

Akan tetapi Kaisar itu tersenyum dan menggeleng kepala dengan sedih sekali. “Jangan, Yu-ciangkun. Aku tidak menghendaki perebutan kekuasaan dengan adikku yang kelak hanya akan mendatangkan perang saudara yang akibatnya akan menyengsarakan rakyat jelata.”

Ceng Tung berkeras tidak mau menggunakan kekerasan terhadap adiknya dan dia menerima menjadi raja muda yang dalam waktu berkala mengirim laporan kepada adiknya yang menjadi Kaisar. Juga dia harus menaati perintah Kaisar untuk menjaga perbatasan utara, tetap memusuhi orang Mongol termasuk bangsa Oirat.

Hal ini membuat marahnya bangsa Oirat dan Esen beberapa kali menyerbu ke selatan, akan tetapi selalu dapat dihancurkan oleh pasukan Jenderal Yu Cian.

Dengan adanya perubahan keadaan itu, di mana dia harus mengambil sikap bermusuhan dengan bangsa Oirat, dengan sendirinya Kaisar Ceng Tung tidak dapat menyuruh jemput Chi Li. Pula, keadaannya yang membuat dia prihatin juga membuat dia tidak sempat lagi mengurus urusan pribadinya. Tidak mungkin hanya karena seorang wanita dia harus melawan perintah Kaisar untuk memusuhi bangsa Mongol.

Melihat keadaan ini, Liu Siong Ki juga tidak mampu berbuat sesuatu. Bahkan dia dicurigai di kalangan para perwira Beng karena dikabarkan bahwa dia menjadi guru dari puteri Esen ketua suku Oirat. Hal ini membuat dia tidak kerasan di Peking. Hanya karena dia dipercaya oleh Ceng Tung saja yang membuat dia tidak ditangkap. Akhirnya Liu Siong Ki berpamit dari Kaisar untuk kembali kepada bangsa Oirat.

“Paman Liu Siong Ki, baiklah kalau engkau hendak kembali ke sana. Aku hanya pesan kepadamu. Jagalah baik-baik Chi Li dan anakku. Kelak kalau aku bisa kembali kepada kedudukanku semula, barulah aku dapat membawa mereka ke sini,” demikian pesan Ceng Tung kepada Liu Siong Ki.

Demikianlah, pendekar itu berangkat kembali ke utara seorang diri. Kedatangannya disambut dengan marah oleh Esen yang marah kepada Ceng Tung, akan tetapi Chi Li menyambutnya dengan gembira, dengan seorang bayi di dalam pondongannya. Bayi itu adalah seorang anak laki-laki yang hebat yang diberi nama Haitu oleh ibunya. Akan tetapi Liu Siong Ki memberi tambahan nama Cu Sin Lee kepada anak itu, menggunakan nama keturunan Kaisar Ceng Tung yang bernama Cu Shi Sen.

Untuk mencegah agar anak itu tidak mencari-cari ayahnya, maka Liu Siong Ki mengangkat Sin Lee sebagai puteranya dan anak itu menyebutnya ayah.

Chi Li menanti dengan penuh kesabaran. Ia selalu mengirim seorang penyelidik untuk menyelidiki keadaan suaminya di Peking. Setelah lewat tujuh tahun, pada suatu hari ia mendapat kabar dari penyelidiknya bahwa Kaisar Ceng Tung telah diangkat kembali menjadi Kaisar karena adiknya, Kaisar Ceng Ti sedang menderita sakit berat. Akan tetapi Kaisar Ceng Tun pindah pula ke Nan-king dan mengambil alih kekuasaan adiknya yang hanya menjadi permainan para thaikam. Dengan bantuan pasukan yang dipimpin para jenderal dan Panglima yang setia kepadanya, Kaisar Ceng Tung dapat mengambil alih kekuasaan dari adiknya tanpa penumpahan darah sedikitpun.

Ceng Ti sebetulnya menjadi Kaisar karena paksaan dan bujukan para thaikam yang mengelilinginya. Bahkan perintahnya agar kakaknya yang kembali itu diangkat menjadi raja muda adalah juga atas nasihat dan paksaan para thaikam. Setelah dia sakit barulah para thaikam tidak berdaya karena seolah-olah mereka kehilangan alat untuk memerintah. Maka, atas desakan para Panglima yang memanfaatkan keadaan Ceng Ti yang sakit, para thaikam itu tidak berdaya dan tidak dapat menghasut para Panglima sekutu mereka untuk menentang pengangkatan kembali Kaisar Ceng Tung.

Yang kasihan adalah Kaisar Ceng Ti. Oleh keluarga kerajaan, dia dianggap sebagai pengkhianat yang berani merampas kedudukan kakaknya. Dia dipandang rendah, bahkan sesudah dia meninggal dunia, jenazahnya tidak boleh dimakamkan di makam para Kaisar Beng, melainkan di makam yang terpisah, di belakang Taman Sumber Kemala yang terletak beberapa li di sebelah barat Peking. Sementara itu, setelah kembali menduduki singgasana, Ceng Tung disibukkan oleh pekerjaan dan pemerintahan sehingga dia tidak ingat lagi kepada Chi Li. Juga dianggapnya bangsa Oirat tentu telah membencinya, dan akan merendahkan martabatnya kalau dia mendatangkan seorang wanita Mongol sebagai selirnya.

Memang sudah lajim manusia itu lupa akan keadaan yang lalu, lupa akan kesengsaraan dan lupa pula akan para penolongnya apabila dia sudah meraih hasil gemilang dalam kehidupannya. Apa lagi kalau ada sesuatu yang mengancam kedudukan dan martabatnya, membuat dia dapat melakukan apa saja untuk mencegahnya. Demikian pula dengan Kaisar Ceng Tung. Kini dia dikelilingi selir-selir baru, gadis-gadis muda belia yang cantik jelita, bagaimana mungkin dia dapat teringat kepada Chi Li?

Mendengar bahwa Kaisar Ceng Tung sudah menjadi Kaisar kembali dan pindah ke Nan-king, bahkan tidak lagi memperdulikannya, ia masih sabar menanti bahkan berhasil mengirim surat dengan utusannya yang bukan lain adalah Liu Siong Ki sendiri, untuk menemui Kaisar dan menyampaikan suratnya. Sementara itu, Kaisar Ceng Tung sudah kembali ke Nan-king yang menjadi pusat pemerintahan. Namun, surat dari Chi Li itu tidak mendapat perhatian, bahkan dia mengirim emas permata untuk isterinya dengan pesan agar Chi Li tinggal di utara saja dan jangan mengganggunya karena banyak urusan pemerintahan harus diselesaikan! Ini sama saja dengan penolakan.

Biarpun hatinya mendongkol bukan main melihat sikap Kaisar Ceng Tung terhadap nasib Chi Li muridnya, namun Liu Siong Ki tidak dapat berbuat sesuatu dan terpaksa dia kembali ke utara sambil membawa emas permata kiriman Kaisar kepada Chi Li.

Ketika Chi Li mendengar bahwa gurunya sudah kembali, dengan gembira sekali ia lari menyambut. Melihat wajah gurunya yang begitu pendiam, wanita itu lalu bertanya, “Bagaimana suhu, sudahkan suhu berjumpa dengan Yang Mulia? Dan apa kata beliau? Akan segerakah saya diboyong ke kota raja?”

“Mari kita bicara di dalam,” kata Liu Siong Ki dan muridnya itu dengan was-was mengikuti dia memasuki pondoknya. Setelah berada di dalam rumah dan muridnya duduk di atas bangku dia lalu berkata, “Aku sudah bertemu dengan Kaisar Ceng Tung...”

“Bagaimana, suhu? Apakah dia sehat-sehat saja? Apakah dia gemuk atau kurus?” Chi Li bertanya dan wajahnya berseri penuh harapan.

Kembali gurunya menghela napas panjang, “Aku sudah menceritakan tentang engkau dan anakmu, dan mengajukan permohonanmu agar segera dijemput ke kota raja, akan tetapi...”

“Akan tetapi bagaimana, suhu?” Chi Li mendesak, jantungnya berdebar tegang.

Liu Siong Ki mengeluarkan sekantung emas permata dan berkata, “Dia memberikan ini untuk diserahkan kepadamu.”

Chi Li berseru girang dan menerima bungkusan kantung emas permata itu. Bagaikan seorang anak kecil menerima hadiah, ia tersenyum dan memeriksa perhiasan itu satu demi satu. “Ah, ternyata beliau masih ingat kepadaku. Dan kapan saya akan dijemputnya, suhu? Tidak lama lagi, bukan?”

Sukar bagi Liu Siong Ki untuk bicara dan dia merasa marah sekali kepada Kaisar Ceng Tung. Wanita begini baik dan mulia disia-siakan.

“Chi Li, Kaisar berpesan... ah, persetan. Dia bukan manusia baik-baik, Chi Li...” Mata itu terbelalak dan wajah itu berubah pucat. “Kenapa, suhu?”

“Dia tidak menghendaki engkau lagi. Dia berpesan agar engkau tinggal saja di sini dan jangan mengganggunya karena dia menghadapi banyak sekali pekerjaan! Aku tahu, itu berarti bahwa dia tidak menginginkan engkau dan anakmu menyusul ke kota raja.”

Perlahan-lahan Chi Li bangkit berdiri, kantung perhiasan itu terlepas dari tangannya, terbuka dan berhamburan, kedua kakinya gemetar dan tubuhnya menggigil. “Tapi... tapi... aku... aku tidak mengerti... mengapa begitu, suhu? Mengapa...?” “Hemm, aku mengerti, Chi Li. Engkau seorang wanita Mongol, itulah sebabnya. Dia tidak mau seorang wanita Mongol menjadi selirnya. Hal itu akan merendahkan martabatnya. Manusia tak berbudi!”

Wajah itu makin pucat, sepasang mata itu basah dengan air mata, suaranya gemetar dan lirih, “Tapi... ketika di sini... dia mencintaku, suhu. Sungguh, saya merasa benar dia amat mencintaku...”

“Begitulah watak manusia tak berbudi. Dia mencinta tubuhmu karena menyenangkan dirinya. Akan tetapi dia tidak suka kepada suku bangsamu. Itulah sebabnya dia menolakmu.”

“Ahhh... ohhh... hu-hu-huhh... anakku... bagaimana dengan anakku... dan aku...” Wanita itu berdiri sambil menangis, mengguguk menutupi mukanya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir keluar melalui celah-celah jari tangannya.

Liu Siong Ki terharu bukan main. Baru sekarang terasa olehnya betapa mendalam dia mencinta wanita ini. Kalau sampai dia bertahun-tahun betah tinggal di utara, di antara bangsa Oirat, itu sebabnya karena dia mencinta Chi Li. Baru sekarang dia menyadari. Bukan hanya cinta seorang guru kepada muridnya, melainkan telah tumbuh menjadi cinta seorang pria kepada wanita. Dimulai setelah wanita itu menderita ditinggalkan suaminya. Tanpa terasa lagi dia melangkah maju dan merangkul Chi Li.

“Sudahlah, Chi Li. Jangan menangis. Engkau masih mempunyai anakmu, masih ada aku di sini yang akan mendidik Sin Lee, yang akan melindungimu dengan segenap jiwaku.”

Mendengar suara yang bergetar penuh kasih sayang itu, Chi Li dapat merasakan. Sebagai seorang wanita iapun sudah lama dapat menduga akan perasaan hati gurunya terhadap dirinya, maka hiburan itu sungguh amat memilukan dan mengharukan hatinya dan iapun menangis di atas dada gurunya.

“Ah, suhu... suhu... huuuuuhuhu...”

Sampai basah semua baju yang dipakai Liu Siong Ki oleh air mata Chi Lo. Setelah tangis yang dibiarkan saja oleh Liu Siong Ki itu agak mereda, seorang anak berusia tujuh tahun memasuki ruangan itu dan memandang kepada mereka dengan mata terbelalak. Anak ini tampan sekali, dengan tubuh yang sehat, sedang dan tegap, matanya bersinar terang seperti mata burung Hong dan bibirnya manis seperti bibir Chi Li.

“Ayah, kenapa ibu menangis?” tanyanya dan dia merasa heran sekali karena belum pernah melihat ibunya menangis dalam rangkulan ayahnya! Pernah ibunya menangis, menangis lirih akan tetapi ketika berada seorang diri dan kalau dia bertanya, ibunya tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa. Kini, adegan ibunya menangis dalam rangkulan ayahnya sungguh mengherankan hatinya.

Liu Siong Ki melepaskan rangkulannya dan dia menggandeng tangan Sin Lee dipangkunya anak itu. “Ibumu menangis karena bahagia, Sin Lee.”

“Berbahagia kenapa menangis?”

“Ya, ia menangis karena melihat aku pulang dengan selamat dan membawa banyak mainan bagus. Lihat emas permata itu. Bagus, bukan?”

Chi Li sudah dapat menguasai dirinya dan dipeluknya anaknya. Gurunya benar. Biarpun anak ini keturunan Ceng Tung, namun dia tidak pernah melihat ayahnya dan yang menjadi ayahnya selama ini, ayah dan guru yang baik, adalah Liu Siong Ki.

“Aku tidak apa-apa, anakku. Nah, ini, banyak mainan. Kau boleh pilih mana yang kausukai,” katanya sambil menuangkan emas permata itu keluar dari dalam kantung.

“Ah, aku tidak suka, ibu. Ini mainan anak perempuan.”

“Ini aku bawakan oleh-oleh untukmu, Sin Lee. Engkau suka pedang pusaka kakek itu, bukan? Akan tetapi punya kakek itu terlalu besar dan berat untukmu. Ini aku dapatkan yang kecil dan cocok untukmu.”

Sepasang mata burung Hong itu terbelalak ketika dia melihat pedang yang bentuknya melengkung seperti pedang kakeknya. Juga pedang melengkung ini indah sekali, dan kecil. Gagang dan sarungnya dihias dengan permata, seperti milik kakeknya! Memang sengaja Liu Siong Ki menyuruh seorang pandai besi terkenal di kota raja untuk membuatkan pedang bengkok itu, persis milik Esen, akan tetapi bentuknya kecil dan dihias permata pada gagang dan sarungnya.

Sin Lee berteriak girang ketika dia menerima pedang itu. Dicabutnya pedang melengkung itu dan nampak pedangnya berkilauan saking tajamnya.

“Horeeee...! Ah, terima kasih, ayah!” katanya berkali-kali sambil memainkan pedang bengkok itu. “Aku akan minta kepada kakek untuk mengajarku bermain pedang ini.” Dia lalu berlari keluar untuk memamerkan pedangnya kepada kakeknya dan kepada teman-temannya.

Liu Siong Ki dan Chi Li mengikuti Sin Lee dengan pandang mata penuh kasih dan kini Chi Li yang tadi habis menangis sedih, dapat tersenyum kembali. Setelah Sin Lee lenyap dari pandangan mereka, mereka menengok dan tanpa disengaja mereka saling pandang. Sejenak dua pasang sinar mata itu bertemu, bertaut dan melekat. Kemudian Chi Li yang melihat betapa sinar mata gurunya kepadanya itu penuh kasih sayang, menundukkan mukanya yang berubah kemerahan karena tersipu malu.

Liu Siong Ki merasa bahwa saatnya tiba untuk membuka isi hatinya. Kini dia tidak ragu lagi karena sudah jelas bahwa Kaisar Ceng Tung tidak memperdulikan Chi Li, bahkan menolaknya dan sama halnya dengan menceraikannya.

“Chi Li, maafkan aku kalau kata-kataku menyinggung. Tidak sepatutnya sebagai guru aku berkata begini. Akan tetapi, melihat keadaan kita, dan demi Sin Lee yang sama-sama kita sayangi, aku mengambil keputusan untuk hidup selamanya bersamamu sebagai suami isteri, bersama-sama mendidik dan merawat Sin Lee. Bagaimana, Chi Li, maukah engkau menjadi isteriku? Jangan ragu-ragu, tolak saja kalau engkau tidak setuju. Aku tidak akan marah, tidak akan sakit hati.”

Chi Li merasa terharu bukan main dan kembali kedua matanya basah. Harus diakui bahwa sebelum ia menyerahkan diri kepada Kaisar Ceng Tung, pria pertama yang dipujanya adalah gurunya ini. Hanya karena ia ingin berbakti kepada bangsanya, menuruti permintaan pamannya, ia menjadi isteri Ceng Tung. Dan kini, biarpun ia sudah pernah menjadi isteri Ceng Tung bahkan melahirkan puteranya, gurunya masih meminangnya untuk menjadi isterinya!

Ia mengangguk tanpa dapat mengeluarkan kata-kata, hanya kedua mata yang menatap wajah Liu Siong Ki itu mengalirkan air mata. Tentu saja Liu Siong Ki merasa berbahagia sekali, akan tetapi dia belum yakin. Dipegangnya kedua tangan muridnya seperti hendak membantu kekuatan hatinya.

“Jawablah, walaupun hanya sepatah kata, Chi Li.” “Aku... aku... berbahagia sekali...”

Esen merasa gembira dan menyetujui perjodohan antara keponakannya dan Liu Siong Ki. Dia sudah putus harapan untuk dapat mendekati Ceng Tung dan diapun marah sekali bahwa Kaisar Ceng Tung telah menolak keponakannya. Percuma saja rencananya dahulu dengan mengorbankan keponakannya. Kalau tahu akan demikian tentu dulu sudah dibunuhnya Kaisar Ceng Tung.

Demikianlah, Liu Siong Ki yang berusia empat puluh tiga tahun itu menikah dengan Chi Li yang berusia dua puluh tujuh tahun. Perayaan pernikahan itu diadakan secara sederhana sekali, tidak terlalu menyolok karena untuk menjaga putera mereka yang bertanya-tanya mengapa ayah dan ibunya menikah lagi.

Dan sejak kecil, Sin Lee digembleng dengan tekun oleh Liu Siong Ki. Setelah agak besar dan Sin Lee mulai mengerti, dia diberitahu bahwa namanya yang lengkap adalah Liu Sin Lee, menggunakan nama keturunan Liu, yang nama keturunan Liu Siong Ki, tidak lagi diberi nama marga Cu. Juga mainan kalung dari naga batu giok itu tadinya hendak dibuang saja oleh Chi Li, akan tetapi benda itu diminta oleh Esen dan diberikan oleh Chi Li yang menganggap benda itu tidak ada gunanya lagi, malah hanya akan mengingatkan hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya. Pendeknya Chi Li dan Liu Siong Ki tidak menghendaki Sin Lee mengetahui bahwa dia adalah putera Kaisar Ceng Tung!

Waktu berlalu dengan amat cepatnya bagi orang yang tidak memperhatikannya. Kalau kita renungkan kembali, belasan tahun yang lalu rasanya baru kemarin dulu saja. Tahu-tahu kita sudah menjadi tua melihat anak-anak kita sudah semakin dewasa, tanpa kita merasakannya. Usia menggerogoti kita sedikit demi sedikit, sedetik demi sedetik, lambat namun pasti. Sebaliknya, kalau kita memperhatikan waktu di kala kita menanti seseorang atau menanti sesuatu yang kita inginkan, waktu rasanya merayap lebih lamban dari pada siput.

Tanpa dirasa, delapan tahun telah lewat sejak Liu Siong Ki menikah dengan Chi Li. Pada suatu hari, di padang yang sunyi, nampak seekor kuda membalap amat cepatnya dan setelah dekat, ternyata kuda itu adalah seekor kuda yang berbulu hitam mulus, tinggi besar dan gagah. Larinya secepat angin dan yang duduk di atasnya juga seorang ahli menunggang kuda, dapat dilihat dari cara dia duduk di atas pelana kuda sambil membungkuk ketika kuda itu membalap.

Kini, setelah kuda itu tiba di luar perkampungan Oirat, kuda berjalan congklang. Bulunya yang hitam itu mengkilat karena peluh dan dari lubang hidungnya nampak uap tebal setiap kali dia menghembuskan napas. Dan nampak jelas penunggang kuda itu. Seorang pemuda berusia kurang lebih enam belas tahun yang tampan dan gagah. Wajahnya berbentuk bulat telur, rambutnya hitam dan agak keriting. Alisnya tebal sekali melindungi sepasang mata yang tajam namun lembut seperti mata burung Hong. Hidungnya mancung dan bibirnya yang manis itu selalu mengarah senyum. Dagunya berlekuk yang memberi sifat jantan kepadanya. Bentuk tubuhnya tidak kekanak-kanakan lagi, melainkan sudah dewasa berkat kebiasaan menunggang kuda dan berburu binatang buas. Pakaiannya ringkas dan wajah yang tampan gagah itu nampak berwibawa. Di kancing bajunya terdapat setangkai bunga merah.

Inilah Liu Sin Lee atau yang nama Oiratnya Haitu, putera Liu Siong Ki dan Chi Li. Dia baru pulang berburu. Seekor binatang seperti beruang berada di punggung kudanya. Diapun bersenjata lengkap. Pedang panjang di punggung, pedang bengkok pendek di pinggang dan busur beserta sekantung anak panah di pelana kudanya.

Ketika dia tiba di luar pintu gerbang perkampungan itu, beberapa orang gadis berlari-lari menyambutnya. Sin Lee atau Haitu melemparkan bangkai beruang kepada seorang penjaga dan berkata, “Bawa ke dapur, suruh masak yang enak untuk makan malam nanti!” Penjaga itu menerima beruang tadi sambil tertawa bangga dan juga kagum. Tidak mudah menangkap beruang hitam seperti itu karena selain terkenal gesit, juga suka bergerombol sehingga berburu binatang ini berbahaya sekali, dapat dikeroyok gerombolan beruang hitam.

“Haitu, engkau sudah pulang. Aku minta bonceng!” kata seorang gadis yang cantik sekali, kulitnya putih seperti susu dan mukanya bulat seperti bulan purnama.

Haitu atau Sin Lee tertawa. “Naiklah!” katanya dan dia menjulurkan tangan, menarik tangan gadis itu sehingga terangkat naik dan duduklah gadis itu di depannya! Hal ini dilakukan dengan cekatan, tanda bahwa dia bertenaga besar dan gadis itupun duduk dengan enaknya. Hal seperti ini biasa terjadi di antara mereka, tidak malu-malu bersopan-sopan seperti pada gadis-gadis Han.

“Haitu, aku juga ikut bonceng!” kata seorang gadis lain, yang hitam manis dengan mata dan mulut indah sekali.

Haitu tertawa. “Hayo naik ke belakangku!” Diapun memberikan tangannya, menarik gadis hitam manis itu sehingga gadis itupun dapat meloncat dan naik di belakangnya. Mereka bertiga duduk berhimpitan. Haitu duduk di tengah dan berjalanlah kuda memasuki pintu gerbang diikuti beberapa orang gadis lagi sambil tertawa-tawa. Dekat pintu gerbang kuda itu berhenti dan Sin Lee meraih kembang yang tumbuh di situ. Dia memetik bunga merah beberapa batang, lalu membagi-bagikan bunga itu kepada dua orang gadis yang duduk di kudanya bahkan empat orang gadis yang berjalan di dekat kuda juga mendapatkan seorang satu! Pemuda ini memang suka sekali kepada bunga merah dan dia suka pula membagi-bagikan bunga kepada gadis-gadis, bahkan kepada siapa juga. Hampir tidak pernah lubang kancingnya tidak terhias bunga merah.

Setelah tiba di depan rumah induk, tempat tinggal paman kakeknya yaitu Esen yang berusia hampir lima puluh tahun, pemuda itu menyuruh turun kedua orang gadis dan dia sendiripun meloncat turun. Akan tetapi sebelum menuntun kudanya pergi, dari pintu rumah itu terdengar suara kakeknya, “Haitu, ke sini kau sebentar. Aku ingin bicara denganmu!”

Haitu menyerahkan kuda kepada penjaga untuk dirawat, dan dia lalu memasuki rumah paman kakeknya. Di ruangan tengah, Esen sedang menghisap pipa tembakau yang panjang dan dengan anggukan kepala, dia minta cucu keponakannya untuk duduk di depannya. Haitu duduk bersila, karena kakeknya juga duduk di atas lantai.

“Engkau pulang berburu?” “Benar, kek.” “Hasilnya?”

“Seekor beruang hitam yang masih muda.”

“Bagus. Pisahkan kakinya untuk aku, suruh masak yang enak.”

“Baik, kek.” Pemuda itu hendak berdiri akan tetapi dengan gerakan tangannya, Esen meminta Haitu duduk kembali.

“Aku ingin bicara denganmu. Engkau sudah dewasa sekarang, sebentar lagi engkau boleh menggantikan kedudukanku, memimpin bangsa kita menjadi bangsa yang jaya dan besar. Akan tetapi engkau harus menikah dulu. Kulihat dua orang gadis itu cukup baik, kalau engkau mau, engkau boleh sekaligus menikah dengan mereka berdua.”

Haitu mengerutkan alisnya. “Kenapa kakek berulang kali menyatakan aku akan menjadi ketua bangsa kita? Aku tidak berniat, kek, aku tidak ingin menjadi ketua dan terikat di sini. Ayah telah bercerita banyak tentang negeri asal ayah, yaitu di selatan dan aku ingin meluaskan pengetahuan dengan merantau ke selatan. Aku ingin menemui orang-orang pandai seperti diceritakan ayah, ingin melihat negara besar itu.”

“Hemm, tahukah engkau? Negara besar itu dahulu adalah negara kerajaan kakek moyangmu. Negara besar itu dahulu dikuasai oleh kita bangsa Mongol yang jaya. Maka, engkau harus menjadi ketua suku Oirat dan membangun kembali kekuatan bangsa Mongol untuk merebut kembali kekuasaan di negara selatan.”

Pemuda itu mengerutkan alisnya. “Tidak, kek, aku ingin merantau dulu melihat-lihat di sana agar bertambah pengalamanku.”

Hemm, anak ini keras hati seperti ayah ibunya, pikir Esen. Kalau dibiarkan pergi, bisa musnah harapannya. Sebaiknya diikat dulu dengan pernikahan agar di sana tidak akan tergila-gila kepada bangsa Han.

“Baiklah, akan tetapi engkau harus menikah dulu sebelum kau pergi. Pilihlah satu di antara kedua gadis itu, atau kau nikahi saja keduanya.”

“Tidak, kek. Mereka hanya teman bermain. Aku belum ada keinginan untuk menikah. Ayah bilang, seorang laki-laki harus meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan, tidak boleh buru-buru menikah.”

“Ayahmu! Ayahmu!” Esen berkata marah. “Siapa ayahmu?” “Eh, kakek ini bagaimana sih! Ayahku ya ayahku!”

“Hemm, siapa nama ayahmu?”

“Kakek bergurau. Namanya Liu Siong Ki, siapa yang tidak mengetahuinya?” Haitu tertawa. Akan tetapi Esen tidak tertawa dan memandang cucu keponakan itu dengan wajah serius. Dia mengesampingkan pipa tembakaunya.

“Haitu, apakah selama ini kakekmu bersikap baik kepadamu?”

“Tentu saja, kakek baik sekali. Mengajar aku menunggang kuda dan memanah...” “Dan apakah kakek pernah berbohong kepadamu?”

“Tidak pernah. Ayah bilang bahwa kakek seorang yang jujur tidak pernah berbohong.”

“Bagus! Nah, apakah engkau sudah cukup dewasa untuk menyimpan rahasia, kalau aku menceritakan suatu rahasia kepadamu? Apakah engkau tidak akan bersikap kekanak-kanakan dan cengeng?”

Pemuda itu mengerutkan alisnya, “Sejak kecil kakek dan ayah mengajarkan agar aku tidak menjadi orang cengeng. Dan tentu saja aku dapat menyimpan rahasia, kek.” “Baik, sudah waktunya engkau mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Coba tutupkan dulu daun pintu dan daun jendela itu.”

Pemuda itu bangkit berdiri dan dengan wajah keheranan akan tetapi juga tegang dia menutupi semua daun pintu dan jendela ruangan itu. Kemudian dia kembali duduk berhadapan dengan kakeknya.

“Nah, dengarlah, cucuku yang baik. Sebetulnya Liu Siong Ki itu bukan ayahmu yang sejati, bukan ayah kandungmu, melainkan ayah tirimu yang sudah menganggap engkau sebagai putera sendiri.”

Tentu saja pemuda itu terkejut bukan main. Akan tetapi selama ini dia sudah digembleng secara hebat oleh Liu Siong Ki sehingga kekagetan itu dapat ditindasnya di hati saja dan wajahnya hanya memperlihatkan sikap ingin tahu.

“Lalu, siapa ayah kandungku, kek?” tanyanya tanpa memperlihatkan perasaannya yang terguncang. “Ayah kandungmu adalah Kaisar Ceng Tung yang menjadi maharaja di selatan.”

Sin Lee tertegun. Keheranan besar menyelimuti hatinya sehingga sampai lama dia tidak mampu bicara. Kemudian dia berkata dengan nada membantah. “Ah, bagaimana aku dapat percaya cerita yang aneh itu, kek? Bagaimana mungkin ibuku menjadi isteri maharaja di selatan? Kalau benar begitu, tentu ibu berada di istana Kaisar, bukan di sini.”

“Dengarkan dulu, jangan mencela. Akan kuceritakan padamu apa yang terjadi. Tujuh belas tahun yang lalu, dengan pasukanku, kakekmu ini berhasil menghancurkan pasukan Beng yang sedang mengawal Kaisarnya dan bahkan aku telah berhasil menawan Kaisar Ceng Tung dari kerajaan Beng. Bayangkan saja, aku, kakekmu ini, berhasil menawan Kaisar dari kerajaan besar di selatan!” Kakek itu berhenti dan memandang kepada cucunya dengan bangga. Memang, keberhasilannya menawan Kaisar itu merupakan kebanggaan besar dalam hidupnya, karena setelah itu, dia tidak pernah berhasil mencapai sesuatu yang besar lagi. Pasukannya berulang kali dipukul mundur oleh pasukan Beng.

“Kakek memang hebat. Lalu bagaimana, kek?”

“Kaisar Ceng Tung kujadikan sandera yang berharga. Dan dalam keadaan itulah dia... eh, bertemu dengan ibumu yang ketika itu masih gadis. Mereka... eh, saling mencinta dan aku setuju saja ibumu menikah dengan Kaisar Ceng Tung karena mengharapkan selanjutnya Kaisar itu akan bersikap sebagai keluarga yang baik dan di antara kedua bangsa akan ada kerja sama yang saling menguntungkan. Nah, ibumu menikah dengan dia dan lahirlah engkau!”

Sin Lee mengerutkan alisnya, memandang kepada kakeknya dengan bimbang, “Akan tetapi, kalau benar begitu, kenapa sejak aku kecil sekali, sejak aku dapat ingat, yang menjadi ayahku adalah ayah yang sekarang ini?”

“Ketahuilah, Liu Siong Ki adalah seorang pendekar yang pernah menyelamatkan ibumu dari tangan orang- orang jahat dan ibumu lalu menjadi muridnya dan dia tinggal pula di sini. Sebelum engkau terlahir, ayahmu meninggalkan tempat ini untuk memegang kedudukannya kembali, dengan janji kelak akan menjemput ibumu dan engkau ke kota raja, selama dia tidak ada itu, engkau lahir dan agar engkau tidak menanyakan ayahmu, Liu Siong Ki mengaku sebagai ayahmu. Akan tetapi itu hanya pengakuan saja karena ketika itu Liu Siong Ki tidak menikah dengan ibumu yang masih dianggap isteri Kaisar Ceng Tung.”

Pemuda itu tertarik sekali. “Lalu bagaimana, kakek?”

“Ternyata Kaisar Ceng Tung tidak memenuhi janjinya. Setelah dia menjadi Kaisar kembali, dia tidak memboyong ibumu dan engkau ke istananya. Bahkan ketika engkau berusia tujuh tahun, ibumu menyuruh Liu Siong Ki, yang ketika itu masih menjadi gurunya dan gurumu serta ayah angkatmu, untuk pergi ke selatan menyerahkan surat ibumu kepada Kaisar Ceng Tung, dan apa hasilnya? Engkau tentu masih ingat ketika Liu Siong Ki pulang membawa sekantung emas permata yang indah-indah.”

“Ah, aku ingat sekarang. Aku disuruh memilih permata yang indah akan tetapi aku tidak mau, lebih senang menerima pedang bengkok ini dari ayah.” Dia menyentuh pedang bengkok yang berada di pinggangnya. “Dan aku melihat ibu menangis dalam rangkulan ayah.” “Ya, benar begitu. Liu Siong Ki pulang membawa emas permata pemberian Kaisar Ceng Tung dengan pesan agar ibumu tidak mengganggunya lagi, agar ibumu tinggal saja di sini. Pendeknya, Kaisar Ceng Tung mengingkari janji, menolak untuk memboyong ibumu ke istana.”

“Akan tetapi kenapa, kek?”

“Kaisar sombong itu merasa malu kalau harus memboyong seorang wanita Mongol ke dalam istananya. Dia menganggap bangsa kita ini bangsa liar.”

“Ah, orang macam begitu mana mungkin menjadi ayahku, kek? Aku tidak sudi mempunyai ayah macam itu.”

“Akan tetapi kenyataannya, engkau adalah puteranya, Haitu. Namamu adalah Haitu atau Sin Lee, Cu Sin Lee, bukan Liu Sin Lee. Setelah ayahmu menolak untuk menerima ibumu, barulah ibumu menikah dengan Siong Ki. Engkau ingat pesta pernikahan sederhana itu?”

Jantung Sin Lee berdebar keras sekali. Berbagai macam perasaan, mengaduk hatinya. Rasa penasaran, rasa kecewa, dan keharuan membuat dia tidak mampu bicara. Tentu saja dia masih ingat akan pesta pernikahan itu yang membuat dia terheran-heran mengapa ayah dan ibunya menikah lagi!

Setelah agak lama berdiam diri, pemuda itu menatap wajah kakeknya penuh selidik. “Kakek, benarkah apa yang kakek ceritakan kepadaku ini?”

“Kau tahu, kakekmu ini tidak pernah berbohong.”

“Tapi ini adalah urusan yang bagiku teramat penting, kek. Aku tidak dapat percaya begitu saja. Harus ada buktinya, harus kataku!” Sin Lee berkata dengan nada marah.

Esen bersikap tenang dan dia mengeluarkan sebuah mainan kalung dari batu giok yang berbentuk naga. “Benda ini bukanlah benda sembarangan, Haitu. Ini adalah tanda kekuasaan Kaisar Beng. Dia memberikan ini kepada ibumu dan ketika ibumu menikah dengan Liu Siong Ki, benda ini akan dibuangnya, lalu aku simpan. Sekarang, terimalah benda ini, karena engkaulah yang berhak memiliki.”

Kakek itu mengalungkan kalung itu pada leher Sin Lee yang agak gemetar saking tegangnya. “Kek, apa yang harus kulakukan? Aku harus menanyakan hal ini kepada ibu dan ayah!”

“Hemm, apakah kau akan menjadi seorang yang melanggar janji, menjilat kembali ludahmu yang sudah kauludahkan? Kau berjanji akan dapat menyimpan rahasia.”

“Tapi, kek. Aku harus dapat yakin akan kebenaran ceritamu tadi!”

“Mudah saja, tidak perlu bertanya kepada ibumu dan ayah tirimu. Kau selidiki saja di antara orang-orang kita yang sudah berusia lanjut. Kau tahu bagaimana caranya. Kalau perlu ancam dan paksa mereka. Tentu akan bercerita tentang dirimu yang sebenarnya.”

Begitu mendengar ucapan kakek itu, Sin Lee lalu berlari keluar. Esen menghisap kembali pipanya dan termenung, tersenyum-senyum puas. Dia sudah membuat rencana untuk cucu keponakannya itu, sebagai siasat terakhir untuk keberhasilan bangsanya, atau setidaknya untuk memberi pukulan terakhir kepada musuhnya, yaitu kerajaa Beng!

“Paman Manguen, aku selalu baik kepadamu, bukan?” tanya Sin Lee kepada seorang anggota kelompok Oirat yang pekerjaannya mengurus kuda kakeknya.

“Tentu saja, Haitu. Engkau selalu baik kepadaku, engkau memang ramah dan pemurah, tidak sombong sebagai cucu ketua,” jawab orang itu.

“Kalau begitu, tentu engkaupun akan berbuat kebaikan kepadaku, bukan?” “Tentu saja.”

“Nah, sekarang ceriterakan kepadaku tentang Kaisar Ceng Tung dan ibuku!” Manguen terbelalak dan mukanya berubah pucat, dia menggeleng kepalanya. “Ah, aku tidak tahu apa-apa tentang itu, aku sungguh tidak tahu, tidak dapat menceriterakan apa-apa.”

“Hemm, begitukah engkau membalas kebaikanku? Dengan membohongi aku? Ceriterakan, paman Manguen, dan jangan takut. Aku yang bertanggung jawab.”

“Tidak, Haitu. Aku tidak bisa, tidak berani...”

Tiba-tiba Haitu mencabut badik melengkung dari pinggangnya. “Engkau lihat ini? Apa kaukira aku tidak berani menikam dadamu dengan ini dan siapa yang akan membelamu? Katakanlah terus terang dan aku tidak akan menyakitimu, bahkan berterima kasih kepadamu.”

Manguen menjadi serba salah. Dia tahu bahwa urusan Kaisar Ceng Tung itu hendak dirahasiakan dari Haitu, maka dia takut bercerita.

“Aku tidak berani...”

“Dengar, paman. Aku sudah tahu akan rahasia itu, maka tidak ada artinya lagi kausembunyikan. Sekarang begini saja, jawab saja pertanyaanku, akan tetapi harus benar jawaban itu. Kalau engkau berbohong, hari ini untuk pertama kalinya aku membunuh orang! Nah, sekarang pertanyaan pertama, benarkah Kaisar Ceng Tung pernah menjadi tawanan di sini enam belas tahun yang lalu?”

“Be... benar...”

“Benarkah Kaisar Ceng Tung lalu menikah dengan Chi Li, ibuku?” “Ini... ini...”

“Hayo jawab sejujurnya. Benar atau tidak?” “Benar...”

“Dan kemudian Kaisar Ceng Tung meninggalkan tempat ini, kembali ke negerinya, meninggalkan ibuku dalam keadaan mengandung tua?”

Manguen tidak berani menjawab, akan tetapi mengangguk-angguk seperti ayam makan jagung. Akan tetapi hal itu sudah cukup bagi Sin Lee.

“Dan kemudian anak yang terlahir itu adalah aku yang kemudian diaku anak oleh Liu Siong Ki?”

Karena agaknya pemuda itu sudah mengetahui segalanya, Manguen berkata, “Agaknya engkau sudah mengetahui semua. Semua itu memang benar, Haitu, akan tetapi engkau sendiri tahu bahwa yang membuka rahasia ini bukanlah aku.”

“Jangan khawatir, memang aku hanya ingin yakin saja.”

Dengan cara demikian, Sin Lee bertanya kepada beberapa orang lagi. Setelah semua jawaban meyakinkan bahwa memang benar dia putera Kaisar Ceng Tung, dia lalu menghadap kakeknya, Esen.

“Kau sudah yakin sekarang, Haitu?”

“Sudah, kek, dan terima kasih atas pemberitahuan kakek. Sekarang, mohon tanya, apa maksud kakek dengan membuka rahasia ini dan apa yang harus kulakukan?”

“Haitu, ibu kandungmu disia-siakan orang, apa yang sepatutnya kaulakukan?” “Menghukum orang itu, kek!”

“Bagus! Kaisar Ceng Tung telah menghina bangsa kami, merendahkan ibu kandungmu, mengakibatkan ibumu menderita dan sengsara sampai bertahun-tahun. Dan dia enak-enakan menjadi Kaisar di selatan. Sepatutnya engkau berbakti kepada ibumu, berbakti kepada bangsamu. Kau pergilah ke selatan, cari Kaisar Ceng Tung, perlihatkan kalungmu itu. Kalau engkau tidak diakui, bunuh Kaisar itu, dan kalau engkau diakui, usahakanlah agar engkau dapat menjadi pangeran mahkota, agar engkau kelak menggantikan kedudukannya dan dengan demikian berarti engkau membuat bangsa Mongol jaya kembali. Atau setidaknya engkau dapat membujuk Kaisar agar jangan memusuhi bangsa Oirat dan membiarkan kami berdagang di selatan. Bahkan mungkin engkau akan diberi kedudukan yang kuat dan tinggi. Namun kalau semua itu gagal, jangan ragu-ragu untuk membunuh Kaisar keparat itu. Untuk membalas sakit hati ibumu dan membalas sakit hati bangsamu.”

Terbakar semangat pemuda itu mendengar ucapan kakeknya. Memang tidak pantas sekali orang yang menjadi ayah kandungnya itu. Sebagai orang tawanan, kakeknya tidak membunuhnya bahkan menariknya sebagai mantu keponakan. Akan tetapi, di waktu ibunya mengandung dia, ayahnya pergi. Setelah menjadi Kaisar kembali, tidak mau menjemput ibunya karena malu mempunyai selir Mongol. Terlalu sekali! Patut dihukum! Dia teringat akan ajaran dalam kitab Tiong Yong yang diajarkan oleh ayah tirinya. “Yang dikatakan berbakti ialah, seorang yang dapat melanjutkan cita-cita mulia dan dapat melanjutkan pekerjaan luhur dari nenek-moyangnya” (Tiong Yong pasal 19 ayat 2).

“Baik, akan saya lakukan itu, kek. Akan tetapi kalau ayah dan ibu mengetahui, tentu mereka akan melarangku.”

“Ayahmu adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, akan tetapi diapun seorang hamba setia dari Kaisar, maka biarpun dia menganggap Kaisar itu tidak patut dan perbuatannya tidak benar, dia tidak melakukan sesuatu. Kenapa harus memberitahu dan minta persetujuan mereka?” Kakek itu lalu membisikkan rencananya dan sang cucu keponakan yang sudah terbakar semangatnya itu mengangguk- angguk.

Demikianlah, beberapa hari, kemudian, Sin Lee yang berpamit hendak pergi berburu sampai tiga hari tiga malam belum juga pulang. Tentu saja Liu Siong Ki menjadi penasaran dan khawatir. Dia tidak pergi sendiri menyusul, karena Esen selalu mengatakan bahwa Sin Lee pasti dapat menjaga diri sendiri dan tidak perlu dikhawatirkan, maka sampai tiga hari baru dia pergi mencari. Dan di sebuah pohon dia menemukan sehelai surat yang ditancap di pohon dengan anak panah.

“Ayah dan ibu, aku pergi mengembara untuk menambah pengalaman dan meluaskan pengetahuan, oleh karena itu harap ayah dan ibu tidak khawatir dan tidak mencariku.”

Demikianlah bunyi surat itu. Bagaimanapun juga hati Liu Siong Ki merasa tidak enak karena kalau anak itu hendak pergi mengembara, mengapa dengan sembunyi dan tidak terang-terangan pamit dari ayah ibunya? Dia lalu menyelidiki dan dari beberapa orang didengar keterangan bahwa beberapa hari yang lalu anak itu bertanya-tanya kepada beberapa orang tentang dirinya dan tentang Kaisar Ceng Tung. Agaknya Sin Lee telah mengetahui tentang dirinya, bahwa dia anak kandung Kaisar Ceng Tung.

Ketika Liu Siong Ki dan Chi Li menghadap Esen untuk minta pertimbangannya, orang tua itu berkata, “Putera kalian sudah dewasa dan sepatutnya dia mengetahui siapa dirinya. Bagaimana rahasia itu dapat disimpan kalau diketahui begini banyak orang? Kalau dia pergi merantau dan andaikata dia mencari ayah kandungnya hal itu sudah sewajarnya. Kenapa kalian merasa khawatir?”

“Paman Esen, Sin Lee masih belum dewasa, baru remaja dan kurang pengalaman. Bagaimana kami tidak akan khawatir kalau seorang diri dia pergi ke selatan yang demikian luasnya? Aku akan pergi menyusulnya!”

“Aku ikut!”

“Jangan, Chi Li. Kau dirumah saja, biar aku yang akan mencarinya sampai dapat.”

“Tidak, tidak! Aku tidak mau kehilangan suami untuk kedua kalinya. Ke manapun kau pergi, aku harus ikut!”

Liu Siong Ki tidak dapat melarangnya lagi dan pada hari itu juga, berangkatlah suami isteri itu untuk mencari putera mereka.

Bersama serombongan orang yang biasa keluar masuk Tembok Besar untuk melakukan perdagangan dengan suku-suku liar di utara, Sin Lee dapat memasuki pintu gerbang tembok itu tanpa menimbulkan kecurigaan. Dia memang sudah biasa mengenakan pakaian seperti orang Han, pakaian yang dibuatkan oleh ibunya, pakaian seperti yang biasa dipakai Liu Siong Ki, ayah tirinya yang juga gurunya. Juga pemuda ini fasih berbahasa Han, karena sejak kecil Liu Siong Ki mengajak dia berbahasa Han. Diapun tentu saja paham bahasa Mongol, yaitu bahasa ibunya.

Tak seorangpun mencurigainya, melihat pemuda tampan dan gagah mengenakan pakaian seperti seorang sasterawan Han, dengan pedang di punggung dan potongan pakaiannya tidak longgar seperti yang biasa dipakai ayah tirinya, melainkan ringkas karena pemuda ini suka berburu ke hutan.

Setelah memasuki pintu gerbang Tembok Besar, Sin Lee memisahkan diri dari rombongan pedagang itu. Dia menunggangi kuda hitamnya dan mendaki sebuah bukit. Tembok Besar nampak dari puncak bukit itu, melingkar-lingkar bagaikan seekor naga sehingga Sin Lee menghentikan kudanya sejenak di puncak untuk menikmati pemandangan alam itu. Ketika melihat tumbuh-tumbuhan bunga merah, dia meloncat turun, memetik setangkai bunga segar untuk mengganti bunga merah di kancing bajunya yang sudah mulai layu. Sejak kecil dia menyukai bunga merah dan sekarang rasanya pakaiannya tidaklah lengkap tanpa adanya setangkai bunga merah di lubang kancing bajunya atau di sakunya.

Dari puncak bukit itu dia dapat melihat sebuah gubuk di tengah ladang yang luas. Hatinya tertarik. Siapa tahu rumah itu dapat menyediakan sekedar minuman dan makan untuknya karena dia merasa haus dan lapar.

Dilarikannya kudanya menuruni bukit menuju ke ladang itu. Ketika tiba di dekat ladang, dia merasa girang melihat banyaknya buah semangka yang sudah tua di situ. Alangkah sedapnya makan semangka yang banyak airnya, semangka yang harum dan manis. Akan tetapi melihat rumah di sebelah sana, dia lalu menuntun kudanya menuju ke rumah itu. Tidak baik mengambil buah semangka orang, sebaiknya membeli atau meminta kepada pemiliknya. Rumah itu terpencil, tidak mempunyai tetangga sama sekali dan diam- diam dia merasa heran bagaimana ada orang tinggal di pegunungan yang amat sunyi ini, dekat Tembok Besar.

Ketika dekat dengan rumah itu, dia melihat seorang gadis sedang menjemur biji semangka. Biji semangka yang besar-besar itu tentu akan laku kalau dijual di kota, karena orang kota banyak yang suka makan kwa- ci (isi semangka). Akan tetapi yang menarik perhatian Sin Lee adalah gadis itu. Pakaiannya amat sederhana, ringkas dan juga rambutnya yang hitam panjang itu dikuncir dan hanya dihias pita kuning, wajahnya tidak dirias, akan tetapi wajah itu nampak segar kemerahan dan manis sekali. Ketika mendengar langkah kaki kuda, gadis yang membawa tempat menjemur kwa-ci yang lebar, menengok dan kelihatan ia merasa heran dan terkejut. Bibir yang segar basah kemerahan tanpa gincu itu setengah terbuka, memperlihatkan sekilas gigi yang rapi dan putih.

Sin Lee menyadari kejanggalan kehadirannya, maka dengan cepat dia mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat sambil tersenyum ramah. “Maafkan aku, nona, kalau aku mengganggumu. Aku kebetulan lewat di sini dan melihat buah semangkamu yang besar-besar dan tua di sana tadi, aku berniat untuk membeli sebuah. Aku sedang haus dan lapar...”

“Oohhh... kalau memang engkau menghendaki, ambillah saja sebuah, tidak usah beli.”

Sin Lee girang sekali dan berterima kasih. “Engkau baik sekali, nona.” Dia memasuki kebun dan memetik sebutir buah semangka yang besarnya sama dengan kepalanya. Kulit buah itu hijau menghitam tanda bahwa buah itu sudah tua. Dengan badiknya, dia memecah semangka dan ternyata isinya mengandung daging buah yang merah sekali, baunyapun harum dan ketika dia memakannya, rasanya manis bukan main dan banyak airnya. Segar dan manis. Dia berjongkok di luar pondok itu dan menggerogoti semangka dengan enaknya, dan gadis itupun sudah masuk ke dalam pondok, agaknya malu dengan kehadiran seorang pemuda yang asing baginya.

Selagi Sin Lee makan semangka dengan nikmatnya, terdengar bunyi kaki kuda dan serombongan orang menghentikan kuda mereka di depan pondok. Lima orang yang menunggang kuda itu berloncatan turun. Sin Lee melihat bahwa mereka itu berusia tiga puluh sampai empat puluh tahun, nampak berwajah bengis dan pakaian mereka serba biru seperti pakaian seragam.

Melihat lima orang itu turun dari kuda dan menghunus golok menghampiri pondok, Sin Lee menjadi heran dan khawatir sekali. Sedangkan lima orang itu ketika melihat Sin Lee yang sedang makan semangka, memandang dengan penuh kecurigaan. Apa lagi melihat adanya seekor kuda hitam yang demikian gagah dan bagusnya. Seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus, menghampiri Sin Lee yang sedang berjongkok makan semangka dan bertanya dengan suara nyaring, “Sobat, engkau siapakah dan di mana adanya Souw Kian? Kalau dia berada di dalam pondok, suruh Souw Kian keluar segera menemui kami atau kami terpaksa akan masuk dan mencarinya sendiri!” Sin Lee membuang isi semangka dari mulutnya dan memandang orang itu. Sinar matanya sungguh liar, pikir Sin Lee, seperti sinar mata beruang yang buas. Karena dia sama sekali tidak tahu siapa itu Souw Kian, maka dia tidak dapat menjawab dan hanya menggeleng kepalanya. Melihat ini, si jangkung kurus menghardik.

“Hei, anak muda, apa engkau tuli, atau gagu? Kami bertanya kepadamu!” Dia mengamangkan tinju kirinya seolah hendak memukul Sin Lee.

Sin Lee bangkit berdiri masih memegangi sebagian dari semangka yang belum dimakannya, dan sebelum dia menjawab, daun pintu pondok terbuka dan gadis tadi muncul dengan tangan masih memegang tempat biji semangka. Gadis itu memandang dengan sinar mata menyelidik, dan ialah yang menjawab dengan lembut namun tegas.

“Ayahku tidak berada di rumah. Kalian berlima siapakah dan ada keperluan apakah mencari ayahku?”

Si jangkung kurus itu kini menghadapi gadis itu dan tiba-tiba dia tertawa dengan sikap yang mengejek. “Aha, kiranya engkau ini anak perempuan dari Souw Kian? Benarkah Souw Kian mempunyai seorang anak perempuan yang begini manis?”

Gadis itu mengerutkan alisnya. “Souw Kian adalah nama ayahku dan sekarang dia sedang tidak berada di rumah. Kalian mau apa?”

Si jangkung menoleh kepada teman-temannya dan tertawa. “Ia tanya kita mau apa? Ha-ha-ha-ha, kita datang untuk menangkap atau membunuh Souw Kian!”

“Toako, kita tangkap saja gadis manis ini untuk memaksa Souw Kian keluar menemui kita!” teriak seorang di antara mereka yang bertubuh pendek dan berkepala botak gundul. Teman-temannya mengangguk setuju dan kini si pendek itu menemani si jangkung, sikapnya hendak menangkap gadis yang memegang tempat biji semangka itu.

“Nona, menyerahlah dan ikutlah dengan kami!” kata si jangkung.

“Pergilah dan jangan ganggu aku. Ayahku sedang tidak berada di rumah, lain hari saja kalian kembali ke sini,” kata gadis berusia lima belas tahun itu dengan sikap tenang dan sedikitpun tidak kelihatan takut.

“Cui-te, tangkap saja!” kata si jangkung dan bersama si pendek gundul, dia mengembangkan kedua lengannya yang panjang itu seperti seekor beruang hendak menangkap mangsanya. Gadis itu nampak berdiri tegak, matanya memandang tajam. Ketika si jangkung kurus dan si pendek gundul bergerak menubruknya, dia menggerakkan tempat semangka. Biji-biji semangka kecil itu beterbangan ke depan menyerang muka keduanya dan kedua orang itu berseru kesakitan dan terhuyung ke belakang. Ketika tangan mereka menyapu muka untuk membersihkan isi semangka, ternyata muka mereka berdarah karena kulit muka ada yang ditembusi isi semangka!

Marahlah lima orang itu dan nampak sinar berkeredepan ketika mereka mencabut golok besar mereka! Sin Lee terkejut sekali. Tadi dia kagum melihat betapa dengan kwaci yang berada di tempat kwaci yang lebar bulat itu si gadis mampu menyerang dua orang yang hendak menangkapnya. Akan tetapi kini dia khawatir melihat lima orang yang bengis itu mencabut golok, menghadapi seorang gadis yang nampaknya tidak berdaya. Maka, dengan sendirinya lalu dia bergerak untuk menolongnya. Ketika orang-orang terdepan menerjang untuk menyerangkan golok mereka, Sin Lee menyambitkan dua potong semangka yang masih dipegangnya,

“Plak! Plakkk!” Dua buah potongan semangka itu dengan tepat mengenai muka mereka sehingga muka itu berlepotan semangka merah, nampak seolah-olah muka tiu sudah remuk dan berdarah! Kesempatan itu dipergunakan oleh gadis tadi untuk berlari masuk dan ketika keluar lagi ia sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Sementara itu, tiga orang teman mereka yang tidak disambit dengan semangka, sudah menjadi marah. Mereka kini sudah menyerang Sin Lee tanpa banyak bertanya lagi karena mereka menganggap Sin Lee tentu kawan gadis itu. Dan melihat serangan mereka itu ganas sekali, Sin Lee tidak berani memandang rendah. Dia meloncat ke belakang dan mencabut pedang panjangnya. Segera dia dikeroyok oleh tiga orang bergolok itu. Adapun dua orang yang kena sambit semangka itu kini sudah menggeroyok si gadis yang memutar pedangnya dengan cepat.

Sin Lee sebentar saja dapat mendesak tiga orang penggeroyoknya. Ilmu pedang yang dipelajari dari ayahnya adalah ilmu pedang Bu-tong-kiam-hoat, maka gerakannya selain indah juga cepat dan kuat sekali. Tiga orang pengeroyoknya menjadi repot karena gulungan sinar pedang yang dimainkan Sin Lee kini mengepung mereka dan membuat mereka hanya mampu menangkis saja.

Gadis itupun ternyata lihai. Ilmu pedangnya aneh, kadang nampak ganas dan buas, kadang gerakannya lembut halus dan indah seperti menari, akan tetapi kedua orang lawannya itu menjadi repot. Kalau Sin Lee tidak bermaksud melukai atau membunuh tiga orang pengeroyoknya, sebaliknya gadis itu menyerang dengan tusukan-tusukan maut sehingga si tinggi kurus dan si pendek gundul itu menjadi sibuk. Tak lama kemudian pedang gadis itu telah melukai paha si jangkung dan pundak si pendek. Mereka maklum bahwa mereka tidak akan menang, apa lagi tiga orang kawan mereka sudah beberapa kali terhuyung dan terjungkal oleh tendangan atau tamparan tangan kiri Sin Lee. Si jangkung melompat jauh dan berteriak kepada teman-temannya, “Lari...!” dan berhamburanlah mereka, menuju ke kuda masing-masing, meloncat ke atas kuda dan kabur dari situ secepatnya.

Gadis itu mencoba untuk mengejar, akan tetapi Sin Lee menghalangi dan berkata, “Nona, berbahaya sekalo mengejar musuh yang sudah melarikan diri, apa lagi kalau jumlah mereka banyak.”

Gadis itu berhenti mengejar dan memandang kepada Sin Lee, kini dengan pandang mata lain. Kemudian ia mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata, “Terima kasih atas bantuanmu tadi, sobat.”

Sin Lee tersenyum dan membalas penghormatan itu. “Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu, nona, untuk pemberian semangka yang manis dan harum itu. Nona, orang-orang tadi siapakah? Dan apa maunya mencari ayahmu dengan sikap demikian ganas?”

Gadis itu menggeleng kepalanya. “Aku tidak tahu.”

Sin Lee maklum bahwa mungkin gadis itu sungkan untuk mengakui urusan ayahnya kepada seorang asing, maka diapun berkata, “Perkenalkanlah, nona. Namaku Sin Lee... Liu Sin Lee.” Dia tidak mau mengaku she Cu, karena she ini adalah she dari Kaisar Beng. Sebelum dia bertemu ayah kandungnya dan diterima sebagai puteranya, bagaimana mungkin dia akan menggunakan nama keturunan ayah kandungnya itu? “Kebetulan sekali kita bertemu dan sekali bertemu, kita telah bersama-sama melawan lima orang penjahat. Kalau nona tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui namamu? Nama keturunanmu sudah jelas Souw, bukan?”

Gadis itu agak tersipu. Selama ini ia hidup terasing dengan ayahnya, jarang ia bertemu apalagi bercakap- cakap dengan seorang asing, lebih-lebih seorang pemuda asing. Akan tetapi, orang ini telah membantunya, bahkan ia harus mengakui bahwa kalau pemuda itu tidak menolongnya, belum tentu ia mampu mengusir lima orang tadi. Dan pemuda itu sudah memperkenalkan namanya, maka akan tidak sopanlah kalau ia menolak memperkenalkan diri.

“Namaku Souw Giok Lan dan ayahku Souw Kian. Akan tetapi ayah memang sedang tidak berada di rumah. Aku seorang diri saja di rumah ini. Dan tentang lima orang itu, sungguh, aku tidak mengenal mereka dan tidak tahu mengapa mereka memusuhi ayahku.”

Sin Lee merasa tidak enak untuk berlama-lama bicara dengan seorang gadis yang berada sendirian saja di rumah itu. Maka, diapun segera memberi hormat lagi. “Untunglah bahwa mereka dapat diusir pergi. Nah, sekarang aku mohon diri, nona, hendak melanjutkan perjalananku.”

“Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu,... saudara Liu Sin Lee...” kata gadis itu sambil memandang dan tersenyum. Manis sekali!

Sin Lee mengambil bunga merah dari lubang kancing bajunya dan menyerahkan kepada gadis itu. “Akulah yang berterima kasih atas keramahanmu dan kebaikan hatimu. Terimalah bunga ini untuk tanda terima kasihku, nona.”

Gadis itu nampak terkejut dan heran, akan tetapi ketika pemuda itu mengangsurkan bunga, dengan sendirinya tangannya menerima bunga itu. Sin Lee lalu menghampiri kudanya, melepaskan kendalinya dari pohon dan meloncat ke atas pelana kuda. Dia menoleh dan tersenyum melihat gadis itu memegang bunga merah pada dadanya. Setelah mengangguk sekali lagi diapun membedal kudanya, meninggalkan tempat itu dengan cepat, menuju ke selatan.

Sampai lama Giok Lan berdiri dengan bunga di tangan, mengikuti bayangan Sin Lee sampai bayangan itu lenyap. Barulah ia menghela napas, lalu menancapkan bunga di rambutnya, dan memunguti biji semangka yang tadi jatuh berhamburan ketika ia berkelahi. Pedangnya ia sarungkan dan kini ia simpan di pinggangnya, untuk persiapan karena siapa tahu musuh-musuhnya akan datang kembali.

Baru setelah hari menjelang senja, ayahnya pulang. Lega rasa hati gadis itu melihat ayahnya pulang. “Ayah...!”

Melihat pedang di pinggang puterinya, Souw Kian mengerutkan alisnya. “Giok Lan, mengapa engkau memakai pedang di pinggangmu? Ini bukan waktunya untuk berlatih pedang.”

“Ah, ayah, tadi aku telah berkelahi.”

“Apa? Sudah kularang engkau berkelahi, kenapa mencari gara-gara berkelahi dengan orang? Siapa dia dan mengapa engkau berkelahi dengannya?” Ayah ini memperhatikan puterinya dan melihat bunga di rambut puterinya, diapun heran karena tidak biasanya puterinya itu menghias rambutnya dengan bunga. “Giok Lan, apa yang telah terjadi?”

“Ayah, tadi ketika aku sedang menjemur biji semangka, datang seorang pemuda yang minta semangka di sini. Aku menyuruh dia mengambil sebuah karena tadinya dia hendak membeli. Setelah dia makan semangka itu, aku lalu masuk ke dalam dan tak lama kemudiaan aku mendengar suara ribut-ribut di luat. Ternyata ada lima orang yang nampak bengis datang menanyakan engkau, ayah. Katanya mereka hendak menangkap atau membunuhmu, tentu saja aku menjadi marah dan mengusir mereka.”

Souw Kian yang bertubuh sedang akan tetapi kurus dan jenggotnya panjang itu nampak kaget. “Lalu bagaimana?”

“Mereka marah dan mengatakan hendak menangkap aku untuk memaksa ayah menemui mereka. Aku melawan dan pemuda yang tadi kuberi semangka lalu membantuku. Dia lihai, ayah dan berkat bantuannya, aku dapat mengusir lima orang itu yang melarikan diri dengan kuda mereka.”

“Lima orang itu siapa?”

“Entahlah, ayah. Mereka tidak memperkenalkan diri, hanya agaknya amat mengenalmu. Pakaian mereka serba biru dan senjata mereka golok besar.”

“Ah, kalau pakaian serba biru dan bergolok besar, tentu mereka itu orang-orang Kwi-to-pang!”

Melihat ayahnya nampak kaget, gadis itu lalu memegang tangan ayahnya. “Ayah, perkumpulan apakah Kwi-to-pang (Perkumpulan Golok Setan) itu?”

“Perkumpulan orang sesat, anakku. Ah, kenapa sampai selama ini mereka belum juga melupakan aku? Agaknya sekarang Twa-to Kwi-ong (Raja Setan Golok Besar) yang menjadi ketua mereka telah merasa dirinya kuat. “Hemm...!”

“Memang mereka itu bersikap seperti orang-orang bengis dan kasar. Untung ada pemuda yang...” “Oya, sampai lupa aku. Siapakah pemuda yang menolongmu itu? Dan di mana dia sekarang?”

“Dia mengaku bernama Liu Sin Lee, ayah. Setelah berhasil mengusir lima orang itu, dia lalu pamit dan pergi melanjutkan perjalanannya.”

“Engkau tidak bertanya dia dari perguruan mana dan berapa kira-kira usianya?”

“Aku tidak sempat bertanya, ayah, dan usianya kurang dari dua puluh tahun sebaya denganku atau sedikit lebih tua.”

“Hemm, masih muda sekali dan sudah lihai. Kalau dibandingkan dengan engkau, siapa kira-kira lebih tinggi tingkatnya?” “Entah, mungkin sekali aku akan kalah, ayah.” Gadis itu membayangkan si pemuda yang telah memberi bunga kepadanya dan sengaja berkata demikian untuk memujinya. Pada hal ia tidak tahu pasti siapa yang lebih lihai dari mereka.

“Giok Lan, kita berkemas, kita harus pergi sekarang juga dari tempat ini.” Tiba-tiba ayah itu berkata.

Giok Lan terkejut. “Akan tetapi kenapa, ayah? Apakah ayah... jerih menghadapi mereka?” Hampir ia tidak percaya bahwa ayahnya takut akan sesuatu, apalagi takut menghadapi musuh. Ayahnya adalah seorang gagah sejati, dan selalu mengajarkan ia bersikap gagah. Bagaimana mungkin kini ayahnya akan melarikan diri dari musuh? “Kalau mereka berani datang lagi, aku yakin ayah akan mampu menghajar mereka. Aku saja melawan dua dari mereka dapat menang.”

“Giok Lan, ayahmu bukan seorang penakut atau pengecut. Akan tetapi aku memikirkan dirimu. Kalau engkau sudah kutitipkan kepada seorang yang dapat kupercaya dan diandalkan, menghadapi seribu orang musuhpun aku akan membusungkan dada, dengan mempertaruhkan nyawaku.”

“Akan tetapi, ayah. Aku ingin bersamamu, melawan musuh bersamamu. Dan lagi, musuh seperti orang- orang kasar itu tidak perlu dibuat khawatir. Biar ada sepuluh dari mereka tentu kita berdua akan mampu mengusirnya,” kata Giok Lan dengan sikap gagah.

“Ah, engkau tidak tahu, Giok Lan. Yang memusuhi aku adalah ketua Kwi-to-pang, karena dendam pribadi setelah kami berkelahi dan dia kukalahkan untuk ketiga kalinya. Dia bersumpah untuk membalas dendam dan agaknya dia telah memperdalam ilmunya. Sekarang, orang-orangnya telah menemukan kita, tentu dia akan muncul bersama anak buahnya. Aku sangsi apakah kali ini akan mampu mengalahkannya dan melihat anak buahnya ganas dan buas aku tidak inigin melihat engkau terjatuh ke tangan mereka. Nah, nanti kuceritakan lebih jelas. Sekarang mari berkemas, bawa pakaian dan barang berharga yang dapat dibawa. Cepat!”

Biarpun hatinya tidak setuju, gadis itu tidak lagi berani membantah ayahnya dan mereka berdua lalu berkemas. Setelah menaruh barang-barang bawaan di atas pelana kuda, mereka lalu menunggang dua ekor kuda dan pergi ke arah timur.

Baru mereka tiba di lereng bukit, dari depan muncul banyak sekali penunggang kuda. Souw Kian terkejut sekali tapi sudah tak dapat menghindar lagi karena para penunggang kuda itu muncul dari tikungan secara tiba-tiba dan tidak terduga. Dan yang berada di depan sendiri adalah seorang laki-laki tinggi besar yang brewokan, kurus kurang lebih lima puluh tahun dan tubuhnya nampak kokoh kuat sekali. Begitu melihat, Souw Kian tahu bahwa itulah musuh besarnya, Twa-to Kwi-ong (Raja Setan Golok Besar) Tang Mo San, ketua dari Kwi-to-pang yang pernah dikalahkan sampai tiga kali. Di belakangnya terdapat dua puluh orang anak buah yang kesemuanya nampak bengis dan menyeramkan.

“Giok Lan, cepat kau kembali dan lari. Biar aku menghadapi mereka semua!” kata Souw Kian kepada puterinya.

Akan tetapi bagaimana mungkin gadis yang sudah ditanamkan keberanian di dalam hatinya itu mau melarikan diri meninggalkan ayahnya berada dalam bahaya?

“Tidak, ayah. Aku akan melawan mereka!” katanya sambil mencabut pedangnya.

Si tinggi besar brewokan itupun mendengar percakapan antara ayah dan anak ini. Dia tertawa. “Ha-ha-ha- ha, Souw Kian. Biar anakmu kau suruh melarikan diri juga akan dapat ditangkap anak buahku. Anakmu harus menjadi pengganti Siu Lin, ha-ha-ha! Kepung mereka, jangan sampai ada yang lolos!”

Dua puluh orang itu berloncatan turun dari atas kuda dan mengepung ayah dan anak itu. Souw Kian mencabut pedangnya dan menghardik kepada si tinggi besar brewokan, “Tang Mo San, mana kejantananmu? Bersikaplah sebagai laki-laki. Aku akan menghadapimu untuk bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak mati. Akan tetapi jangan ganggu anakku dan biarkan ia pergi. Tidak malukah engkau mengganggu seorang anak perempuan remaja?”

“Ha-ha-ha, Souw Kian, lupakah engkau bahwa engkaupun merampas Siu Lin, calon isteriku? Sekarang, aku akan membunuhmu dan anakmu harus menjadi pengganti Siu Lin, barulah puas hatiku!” Kepada anak buahnya dia berkata, “Biarkan aku menghadapi Souw Kian sendiri, kalian jaga saja agar anak perempuannya tidak melarikan diri. Kalau ia melawan, tangkap dan jangan lukai ia!” Setelah berkata demikian, Twa-to Kwi-ong Tang Mo San meloncat turun dari atas kudanya dan tubuhnya melayang ke atas, berjungkir balik beberapa kali di udara untuk hinggap di depan Souw Kian. Tampak sinar kilat dan golok telanjang sudah berada di tangannya, sebatang golok yang mengeluarkan sinar kebiruan dan nampak tajam sekali.

Souw Kian terkejut melihat cara musuhnya melompat dari atas kuda. Jelas bahwa lawannya itu mendemonstrasikan gin-kangnya yang ternyata telah memperoleh kemajuan pesat sekali. Dan golok di tangannya itupun bukan sembarang golok, melainkan sebatang golok pusaka terbuat dari logam murni yang amat kuat.

Tanpa banyak bicara lagi, dua orang lawan yang menjadi musuh besar itu sudah saling serang. Berdenting-denting suaranya diikuti bunga api berpijar ketika pedang dan golok bertemu di udara. Baru beberapa gebrakan saja tahulah Souw Kian bahwa seperti dikhawatirkannya, kepandaian lawan telah meningkat tinggi. Bukan saja gin-kangnya yang membuat gerakannya cepat bukan main, akan tetapi juga sinkangnya yang dulu selalu kalah kuat olehnya, sekarang menjadi seimbang.

Sementara itu, Giok Lan yang dikepung banyak anak buah Kwi-to-pang, menjadi khawatir dan marah melihat ayahnya sudah berkelahi dengan orang tinggi besar brewokan itu, maka iapun menggerakkan pedangnya menyerang para pengepungnya yang menyeringai menyebalkan. Para pengepung yang sudah mendapat perintah dari ketua mereka agar jangan melukai atau membunuh gadis itu melainkan menangkapnya, lalu mengepung ketat dan pedang gadis itu bertemu dengan banyak golok. Banyak tangan mencoba untuk menangkapnya, namun Giok Lan memutar pedangnya menjadi gulungan sinar yang melindungi tubuhnya. Melihat ini, para pengepung mencoba untuk menggunakan golok yang dipersatukan untuk memukul lepas pedang dari tangan gadis itu.

“Tranggg...!” Giok Lan merasa tangannya tergetar hebat bertemu dengan tujuh batang golok itu, akan tetapi ia mempertahankan dan mengamuk terus, walaupun amukannya itu selalu gagal karena banyak sekali golok yang menahan dan menangkis sambaran pedangnya.

Tiba-tiba kepungan itu terkuak dan dua orang terpelanting. Ternyata yang maju membantu Giok Lan itu adalah Cu Sin Lee! Seperti diketahui, pemuda ini sudah meninggalkan Giok Lan akan tetapi mengapa kini tiba-tiba dia dapat muncul kembali? Kiranya tadi dalam perjalanannya, Sin Lee melihat debu mengepul di depan dan dia cepat membelokkan kudanya, menyelinap di antara pohon-pohon dan di balik semak belukar. Para penunggang kuda itu lewat dan dia mengenal lima orang yang menyerang Giok Lan tadi berada di antara rombongan orang yang sekitar dua puluh orang banyaknya itu. Mengertilah dia bahwa tentu rombongan itu kawan-kawan lima orang tadi yang hendak membalas kekalahan mereka. Timbul kekhawatirannya akan keselamatan Giok Lan, maka diapun membayangi dari jauh.

Demikianlah, ketika melihat Giok Lan dikeroyok dua puluh orang itu, Sin Lee tidak dapat tinggal diam saja. Kalau gadis itu bertanding satu lawan satu seperti halnya ayahnya, tentu Sin Lee tidak akan mencampuri urusan pribadi orang lain. Akan tetapi melihat dara itu dikeroyok dua puluh orang laki-laki yang ganas, dia lalu meloncat dengan pedang di tangan dan begitu dia menyerbu dua orang terpelanting oleh tendangannya.

“Jangan khawatiw, nona Souw, aku datang membantumu!” kata Sin Lee.

Tentu saja Giok Lan girang sekali melihat pemuda yang menjadi buah kenangannya itu. “Terima kasih!” katanya dan kedua orang muda ini saling mendekati lalu beradu punggung untuk menghadapi para pengeroyoknya.

Sementara itu, pertandingan antara Souw Kian dan Tang Mo San berlangsung amat serunya. Dua orang ini memang merupakan musuh lama, musuh bebuyutan. Sudah tiga kali Tang Mo San selalu menderita kekalahan dari Souw Kian dan sekali ini, setelah memperdalam ilmunya dengan tekun, dia mulai dapat mendesak Souw Kian. Permusuhan di antara mereka terjadi sejak mereka berdua masih sama-sama muda, dua puluhan tahun yang lalu ketika Tang Mo San dengan kekerasan menculik seorang gadis yang dicintanya. Namun gadis itu, The Siu Lin tidak membalas cintanya. Perbuatan itu diketahui oleh pendekar muda Souw Kian yang segera bertindak. Mereka bertanding dan Tang Mo San menderita kekalahan sehingga terpaksa dia merelakan Siu Lin diantar pulang oleh Souw Kian.

Sejak saat itu, hubungan antara Souw Kian dan Siu Lin menjadi akrab dan akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menikah. Baru beberapa tahun kemudian Siu Lin mengandung dan melahirkan Souw Giok Lan. Tang Mo San tidak mau menerima begitu saja kekalahannya, apa lagi ketika dia mendengar bahwa gadis yang dicintanya itu menikah dengan Souw Kian. Dia belajar silat lagi dan beberapa tahun kemudian mencari Souw Kian untuk membalas dendam. Akan tetapi, dia kalah lagi.

Selama beberapa tahun, dia belajar dan memperdalam ilmu silatnya, lalu mencari Souw Kian lagi. Ketika itu Giok Lan baru berusia tiga tahun dan Tang Mo San yang datang bagaikan pencuri itu diketahui kedatangannya oleh Siu Lin yang terbangun dari tidurnya. Ia berteriak dan menyerang, akan tetapi ia roboh oleh pukulan tangan Tang Mo San. Souw Kian terbangun dan kembali kedua orang itu bertanding mati- matian dan akhirnya kembali Tang Mo San kalah dan melarikan diri membawa luka di dada dan di hati. Akan tetapi dia puas karena dia telah merobohkan Siu Lin, apa lagi ketika dia mendengar bahwa beberapa bulan kemudian wanita itu mati akibat sakit setelah mendapat pukulannya. Wanita yang diperebutkan itu telah mati, berarti Souw Kian juga tidak memilikinya lagi!

Cinta memang aneh. Akan tetapi cinta yang terkandung di hati Tang Mo San itu adalah cinta yang dipenuhi nafsu berahi semata, nafsu untuk menyenangkan diri sendiri. Nafsu begini yang membuat cinta dapat berubah menjadi benci kalau yang dicinta itu tidak membalas cintanya, kalau yang dicinta itu tidak dapat dimiliki. Cinta seperti ini kalau sampai berhasil memiliki yang dicintanya, tentu akan merasa bosan. Karena nafsu itu seperti asap api, mengepul bergulung-gulung akan tetapi mudah memadamkan apinya sendiri. Kalau sudah terlampiaskan nafsunya, maka padam pula rasa cintanya. Akan tetapi kalau belum dipuaskan nafsunya, maka berkobar-kobarlah sehingga dapat membakar segala macam dan menimbulkan perbuatan-perbuatan yang jahat.