-->

Pendekar Bunga Merah Jilid 1

Jilid 1

Tembok Besar selaksa li itu bukan hanya sebutan kosong belaka. Tembok itu sudah dibangun sejak hampir dua ribu tahun yang lalu. Beberapa ratus tahun sebelum masehi, manusia telah mulai membangun Tembok Besar itu. Cin Sih Huang-ti (259-210 S.M.) Kaisar kerajaan Cin juga mempunyai jasa besar dalam membangun Tembok Besar itu.

Akan tetapi, pembangunan besar-besaran, setelah di dalam jaman seribu tahun lebih itu para Kaisar terus menerus berusaha membangunnya, terjadi pada dinasti Beng. Ketika cerita ini terjadi (1449) pembangunan juga dilanjutkan oleh Kaisar Ying-chong atau juga dikenal dengan nama kecil Cu Shi Sen dan julukannya Ceng Tung yang masih muda juga melanjutkan pekerjaan besar yang sudah dilakukan oleh Kaisar-Kaisar terdahulu semenjak kerajaan Beng berdiri. Pembangunan yang luar biasa besarnya itu tentu saja mengorbankan banyak keringat dan tangis dan darah rakyat jelata. Sistim kerja paksa ditrapkan, karena pemerintah tidak mungkin mengandalkan tenaga pasukan saja. Dan tidak ada orang yang mau bekerja membangun Tembok Besar secara suka rela. Untuk membayar dengan upah mahal, kerajaan juga tidak kuat, karena pembangunan itu melibatkan tenaga ratusan ribu orang.

Apa lagi di waktu musim dingin, penderitaan para pekerja sungguh berat. Banyak yang mati kedinginan, membeku bersama tembok yang sedang digarapnya. Tembok yang sesungguhnya merupakan benteng penjagaan untuk menahan serbuan bangsa liar dari utara.

Namun, hasilnya kerja-paksa ini, setelah pekerjaan itu makan waktu beratus bahkan seribu tahun lebih, memang menakjubkan sekali. Tembok benteng yang kokoh kuat, melintasi gunung, mendaki puncak menuruni jurang, dengan panjangnya yang tidak kurang dari selaksa li (6000 km lebih) membentang dari timur ke barat, melingkar-lingkar bagaikan seekor naga yang kepalanya menghadap ke timur.

Pada suatu pagi, di luar kota Hui Lai, kurang lebih lima puluh li sebelah barat laut kota raja Peking, di atas Tembok Besar yang sunyi sepi karena di situ bukan merupakan pos penjagaan, seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun nampak duduk termenung seorang diri. Kabut pagi menyelimuti Tembok Besar, dan perlahan-lahan sinar matahari yang muncul di timur mulai mengusir kabut itu. Perlahan-lahan kabut itu bergerak, membubung ke atas dan menipis sehingga akhirnya mulailah nampak pemandangan indah dari atas tembok. Bukit-bukit dan jurang-jurang, dan tembok besar melingkar-lingkar di antara bukit- bukit. Indah sekali! Tembok Besar itu masih dilanjutkan pembangunannya, namun letaknya sudah jauh dari situ, tidak kurang dari ratusan li.

Pria itu menghela napas panjang. Biarpun pembangunan itu dilaksanakan jauh dari situ dan dia tidak dapat melihatnya, namun dia sudah banyak mendengar tentang kesengsaraan rakyat yang mengerjakannya. Dia tidak menyalahkan Kaisar. Kaisar Ceng Tung hanya melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Kaisar-Kaisar yang mendahuluinya. Mula-mula Kaisar Thai Cu (Cu Goan Ciang) sebagai Kaisar pertama kerajaan Beng, dibantu oleh Jenderal Shu Ta, melanjutkan pembangunan Tembok Besar yang sudah dimulai sejak seribu tahun lebih yang lalu. Pekerjaan ini dilanjutkan oleh Kaisar-Kaisar berikutnya dan Kaisar Ceng Tung juga tidak mau ketinggalan. Tidak Kaisar tidak dapat dipersalahkan. Tembok Besar itu memang penting sekali untuk pertahanan, untuk membendung gelombang serangan bangsa liar dari utara. Lalu siapa yang harus dipersalahkan? Rakyat menderita, rakyat yang hidupnya sudah miskin itu, ditambah beban kerja paksa membangun tembok.

Pria itu bertubuh sedang dan tegap. Usianya baru tiga puluh lima tahun, namun rambutnya di bagian atas dan depan telinga sudah mulai bercampur uban sehingga nampak kelabu. Wajahnya gagah, dengan tekukan-tekukan yang keras, matanya tajam seperti mata rajawali, dan sepasang kaki dan tangannya kekar. Bahkan di punggungnya tergantung buntalan pakaian dan pedang. Namun pakaiannya berbentuk pakaian pelajar yang longgar.

Kabut sudah terbawa angin dan diusir oleh sinar matahari. Hawa udara tidak begitu dingin lagi, bahkan nyaman dengan hangatnya sinar matahari pagi.

Tiba-tiba terdengar orang bernyanyi, atau lebih mirip dengan orang membaca sajak. Pria itu mendengarkan dan segera memperhatikan dengan muka mengandung keheranan karena dia mengenal sajak itu. Satu di antara sajak-sajak terkenal dari penyair Pai Chu Yi (772-848) di jaman dinasti Tang. Dia mendengarkan dengan kagum:

Dalam bulan kedua belas tahun ke delapan Salju turun tebal terus menerus selama lima hari Semua bambu dan pohon binasa dalam dingin

Lalu apa yang terjadi dengan para petani setengah telanjang?

Ketika aku melihat keluarga-keluarga dusun itu dari sepuluh, sembilan atau delapan amatlah miskin Angin utara menghujam seperti pedang

Namun mereka tidak berpakaian cukup untuk lindungi tubuh Mereka hanya dapat menyalakan api dengan daun dan ranting Duduk sedih di malam hari menanti datangnya fajar

Aku melihat selama musim dingin yang kejam Petani-petani menderita amat sengsara

Pada waktu itu aku mempunyai gubuk dengan pintu tertutup Memakai baju bulu dan selimut dari sutera kasar

Aku mendapatkan kehangatan waktu duduk ataupun tidur Sungguh beruntung terbebas dari lapar dan dingin

Juga aku tidak perlu membanting tulang di ladang Memperhatikan ini semua aku merasa sungguh malu Dan katanya diri sendiri, orang macam apakah aku ini?

Pria itu hafal akan sajak ini yang menggambarkan kemiskinan dan kesengsaraan petani di musim dingin. Sebagai bekas penasihat di istana, dia adalah seorang patriot yang banyak menulis tentang rakyat, bahkan pernah dia memprotes kerja paksa dan protes ini membuat dia kehilangan kedudukannya. Akan tetapi, siapakah yang menyanyikan sajak itu di tempat sesunyi ini?

Pria itu bangkit berdiri dan menjenguk keluar tembok. Seorang laki-laki bongkok menuntun onta! Dialah yang bernyanyi tadi. Siapa lagi? Di situ tidak ada orang lain.

Pria itu tertarik sekali. Seorang penuntun onta berusia kurang lebih lima puluh tahun dan pakaiannya compang camping! Membaca sajak tulisan Pai Chu Yi! Bukan main!

Selagi dia hendak memanggil, tiba-tiba dia melihat debu mengepul di depan, di luar Tembok Besar dan nampaklah belasan orang penunggang kuda. Orang-orang Mongol, siapa lagi. Yang menarik perhatian pria itu, orang terdepan di rombongan itu adalah seorang gadis cantik berpakaian puteri Mongol yang nampak gagah. Cara ia duduk di atas kudanya membuktikan bahwa ia mahir sekali menunggang kuda, dan busur serta anak panah di punggungnya, pedang bengkok di pinggangnya, juga menunjukkan bahwa gadis cantik itu bukanlah seorang wanita lemah. Dua belas orang pria yang mengawalnya juga kelihatan kekar dan gagah perkasa. Tentu orang penting, pikir pria di atas Tembok Besar. Mungkin puteri seorang kepala suku. Akan tetapi mau apa ia di sini?

Mendadak terjadi hal yang tak diduganya sama sekali. Penuntun onta itu tiba-tiba meloncat ke atas punggung ontanya dan melarikan ontanya menghampiri rombongan itu. Setelah berhadapan, si bongkok itu memaki, “Anjing-anjing Mongol, sekali ini kalian bertemu aku, jangan harap dapat pergi hidup-hidup!”

Mendengar ancaman itu, tentu saja rombongan orang Mongol menjadi marah. Puteri itu membalikkan kudanya dan membiarkan dua belas orang pengawalnya menghadapi si bongkok yang sombong itu. Agaknya para pengaawal Mongol itupun malu untuk mengeroyok seorang tua bongkok yang berpakaian seperti orang jembel. Mereka adalah perajurit-perajurit dari suku mereka, yaitu suku bangsa Oirat yang gagah perkasa. Setelah bangsa Mongol yang tadinya menguasai Tiongkok sebagai dinasti Goan dapat diusir sampai keluar Tembok Besar, bangsa itu terpecah-belah dan dikenal sebagai bangsa Tar-tar yang mempunyai banyak suku bangsa. Satu di antara suku bangsa Tar-tar itu adalah golongan Oirat yang gagah perkasa.

Karena itu, dua belas orang perajurit yang mengawal gadis cantik itu tentu saja merasa malu untuk mengeroyok seorang tua bongkok. Seorang di antara mereka, yang tinggi besar bermuka kuning, membentak, “Orang tua bongkok, apakah engkau sudah gila? Hayo cepat kau pergi dari sini atau aku akan memukul remuk kepalamu!”

“Ha-ha-ha, anjing Mongol yang sudah kalah masih berani berlagak galak. Ingin kulihat bagaimana engkau memukul kepalaku.” Si bongkok itu meloncat turun dari atas ontanya dan pria di atas Tembok Besar itu melihat betapa gerakannya ketika meloncat turun itu tangkas sekali. Karena itu dia tidak merasa khawatir, maklum bahwa si bongkok itu mampu menjaga diri. Dia hanya meloncat keluar dari tembok dan diam-diam dia mendekat untuk menonton dan untuk diam-diam menjaga kalau-kalau si bongkok terancam bahaya. Bagaimanapun, dia tidak akan membiarkan saja sekelompok orang Mongol membunuh si bongkok yang pandai membaca sajak Pai Chu Yi itu.

Si muka kuning menjadi marah mendengar ejekan itu. Diapun meloncat turun dari kudanya dengan lagak mengancam menghampiri si bongkok, ditonton oleh kawan-kawannya yang menganggap kawan mereka itu pasti akan dapat membunuh si bongkok.

“Engkau mencari mampus!” bentak si muka kuning dan tiba-tiba dia menerjang ke depan, melayangkan tinju kanannya memukul muka si bongkok.

“Wuuuut!” dengan tenaga besar, tinju itu menyambar, akan tetapi dengan mudah saja si bongkok menarik mukanya ke belakang dan tinju itu lewat di depan hidungnya. Sebelum si muka kuning tahu apa yang terjadi, kaki si bongkok dua kali bergerak, menendang lutut kemudian membabat, dan sambil berseru kaget dan kesakitan si muka kuning terjungkal!

Kawan-kawan si muka kuning terkejut dan marah. Serentak mereka berloncatan turun dari kuda mereka dan mencabut golok. Juga si muka kuning sudah bangkit berdiri dengan mukanya berubah merah dan mencabut goloknya.

“Ha-ha-ha, kalian orang Mongol sudah terlalu sering merampok dan membunuh bangsaku. Sekarang tiba saatnya aku membunuh kalian!”

Dua belas orang itu sambil berteriak-teriak geram maju mengepung dan di lain saat golok mereka sudah menyambar-nyambar dari segala penjuru, membacok dan menusuk. Dan sekarang si bongkok memperlihatkan kelihaiannya. Biarpun tubuhnya bongkok, ternyata dia dapat bergerak lincah sekali, mengelak dan menangkis dengan kedua tangannya. Kemudian, tangan itu menyambar-nyambar, mengeluarkan angin keras dan para pengeroyok terhuyung ke belakang. Di saat berikutnya, si bongkok sudah mengeluarkan sebatang tongkat butut yang tadinya terselip di pinggangnya.

“Bersiaplah untuk menghadap Giam lo-ong (Raja akhirat)!” bentaknya. Tubuhnya bergerak lagi, didahului gulungan sinar hitam tongkatnya. Selosin orang Oirat itu berusaha mempertahankan diri dengan golok mereka, namun sia-sia belaka. Sinar tongkat yang bergulung-gulung itu menyambar-nyambar, terdengar pekik mengerikan dan satu demi satu dua belas orang itupun roboh dengan dada atau kepala dan leher ditembusi tongkat hitam sehingga mereka roboh dan tewas tak lama kemudian. Habislah dua belas orang itu, mayat mereka malang melintang di depan kaki si bongkok.

Pria berpakaian sasterawan tadi menonton dengan penuh kagum, akan tetapi alisnya berkerut, hatinya tidak senang karena dia menganggap si bongkok itu terlalu kejam. Dua belas orang Mongol itu tidak mengganggunya, kenapa harus dibunuh seperti itu? Akan tetapi dia mengikuti gerak-gerik si bongkok karena melihat si bongkok menghampiri gadis cantik yang masih menunggang kuda.

Gadis itu duduk di atas kudanya dengan wajah pucat melihat betapa dua belas orang pengawalnya mati semua. Cepat ia mengambil busur dan anak panah lalu memanah si bongkok dengan tiga batang anak panah berturut-turut. Akan tetapi si bongkok hanya tertawa dan dengan mudah tangannya menangkapi tiga batang anak panah itu.

Gadis itu semakin ketakutan, dan membalikkan kudanya lalu membedal kudanya untuk melarikan diri. Si bongkok menggerakkan tangannya dan tiga batang anak panah itu menyambar, menancap di perut kuda. Untung gadis itu dapat melompat turun ketika kudanya terhuyung sebelum roboh sehingga ia tidak ikut jatuh terhimpit kuda. Dan si bongkok sambil tertawa-tawa menghampiri gadis itu.

Gadis Oirat itu mencabut golok melengkungnya. Ketika si bongkok sudah dekat, ia lalu menyerang dengan galak. Akan tetapi apa artinya serangan gadis itu. Sedangkan dua belas orang pengawalnya saja tidak mampu menang menghadapi si bongkok, apa lagi ia! Dengan cepat, si bongkok menangkap tangan yang memegang golok, memuntirnya ke belakang sehingga golok terlepas dan dia lalu mendekap tubuh gadis itu.

“Lepaskan aku! Lepaskan...!” Gadis itu meronta-ronta. “Ha-ha-ha, merontalah, manis, berontaklah. Sudah ribuan orang gadis diperkosa oleh bangsamu, sekarang giliranmu merasakan bagaimana penderitaan seorang gadis yang diperkosa.” Tangannya mencengkeram dan menyentak, terdengar kain robek dan baju gadis itu telah dirobeknya terlepas sehingga kini si gadis tinggal mengenakan pakaian dalam yang tipis saja.

“Jangan, bunuh saja aku... ahhh, lepaskan, tolong...!”

Si bongkok melempar tubuh gadis itu ke atas tanah dan ketika ia sudah siap untuk menubruknya, tiba-tiba terdengar seruan orang, “Sobat, perbuatanmu ini keterlaluan dan tidak benar sama sekali!”

Si bongkok tidak jadi menubruk, cepat memutar tubuh dengan wajah beringas, tongkat bututnya masih berada di tangan kanannya, siap untuk menyerang. Akan tetapi ketika melihat bahwa yang menegurnya itu seorang yang berpakaian sasterawan, dia menjadi kaget dan bimbang.

“Siapa kau? Jangan mencampuri urusanku. Pergi...!” bentaknya.

Pria itu mengangkat kedua tangan depan dada untuk memberi hormat lalu berkata, “Aku bernama Liu Siong Ki, aku tidak mencampuri urusanmu, akan tetapi aku mencegah perbuatan siapapun juga yang tidak benar.”

“Apanya yang tidak benar? Orang-orang Mongol ini sudah membunuhi banyak rakyat kita, apalah tidak benar kalau mereka kubunuh? Dan orang-orang Mongol sudah menodai dan memperkosa ribuan orang wanita kita, apakah tidak sudah adil kalau aku menodai perempuan Mongol ini?”

“Sobat, kalau engkau melakukan hal itu, lalu apa bedanya engkau dengan mereka? Kalau mereka itu jahat dan kaumaki sebagai anjing, haruskah engkau mencontoh perbuatan mereka?”

“Aah, sudahlah jangan berkhotbah seperti pendeta! Engkau tidak merasakan bagaimana hartamu dirampok orang Mongol, bagaimana keluargamu dibunuh orang Mongol, bagaimana anakmu diperkosa orang Mongol! Sudah, pergilah, atau engkau mau menonton aku memperkosa gadis Mongol ini? Atau engkau yang akan melakukannya? Kaulihat aku bukan haus perempuan, aku hanya ingin ia diperkosa seperti para wanita kita. Kalau engkau mau memperkosanya, silahkan, aku cukup menonton saja ia menderita!”

Wajah pria yang bernama Liu Siong Ki itu menjadi merah dan matanya mengeluarkan sinar mencorong. “Aku bukan manusia semacam itu.”

“Habis, kau mau apa?”

“Aku melarang engkau melakukan kekejian itu!”

Si bongkok menegakkan lehernya dan alisnya berkerut. Sekarang nampak jelas wajahnya. Rambutnya sudah ubanan dan tidak tersisir rapi, matanya kemerahan dan wajah itupun kotor seperti wajah yang tak pernah bertemu air.

“Liu Siong Ki, jangan mencampuri urusanku atau engkau akan mati pula di sini. Ketahuilah, aku adalah Huang-ho Sin-kai (Jembel Sakti Sungai Kuning), apakah engkau masih berani menggangguku?”

Diam-diam Liu Siong Ki terkejut. Tentu saja dia pernah mendengar nama besar tokoh kang-ouw ini. Seorang pengemis yang hidup menyendiri dan berwatak aneh, akan tetapi biasanya tidak pernah terdengar dia melakukan kejahatan.

“Sin-kai, tidak perduli engkau atau siapapun juga, kalau kulihat hendak memperkosa seorang gadis biar gadis itu gadis Mongol sekalipun, pasti akan kuhalangi.”

“Tolol, engkau mempertaruhkan nyawa melindungi gadis Mongol?” Kakek itu seperti tidak percaya.

“Bukan mempertaruhkan nyawa melindungi gadis Mongol, melainkan mempertaruhkan nyawa untuk menegakkan kebenaran!”

“Jahanam, engkau sungguh sombong. Nih, kau coba tongkatku!” Pengemis itu menggerakkan tongkatnya yang berubah menjadi sinar hitam yang menyambar ke arah Liu Siong Ki. Pria ini dengan tenang meloncat ke belakang. “Huang-ho Sin-kai, sesungguhnya aku tidak ingin berkelahi denganmu. Kuminta sekali lagi, kaubebaskan gadis itu dan aku mau bersahabat denganmu.”

“Huh, kau yang berpakaian bersih itu mau bersahabat dengan aku? Engkau yang tak pernah merasakan derita kelaparan, kedinginan dan kemelaratan, yang tidak tahu artinya miskin dan papa, terhina dan sakit hati!”

“Biarpun belum merasakan, aku tahu, sobat. Seperti juga Pai Chu Yi.”

“Huh, engkau hanya tahu kulitnya tidak tahu isinya, hanya mencium baunya tidak merasakan sendiri! Sudahlah, sekali lagi pergilah engkau dan biarkan aku sendiri!”

“Tidak, selama, engkau belum membebaskan gadis itu.”jawab Liu Siong Ki tegas.

“Wirr...!” Tongkat hitam itu kini menyambar lagi dan karena maklum akan kelihaian lawan, Liu Siong Ki terpaksa mencabut pedangnya dan menangkis.

“Cring...!!” Bunga api berpijar dan keduanya terdorong ke belakang. Tahulah Liu Siong Ki bahwa tenaga mereka berimbang dan agaknya Huang-ho Sin-kai terkejut melihat kenyataan ini.

“Hemm, kiranya engkau memiliki sedikit kepandaian, maka berani menentang Huang-ho Sin-kai.” “Sin-kai, kita seimbang, kalau dilanjutkan, seorang di antara kita bisa terancam maut.”

“Siapa takut mati? Kalau engkau takut, pergilah!” kata pengemis itu dan menyerang lagi. Liu Siong Ki menggerakkan pedangnya dan dua orang ini sudah bertanding dengan seru sekali.

Gadis Mongol itu menonton dengan wajah dibayangi kecemasan. Ia masih mengenakan pakaian dalam saja, seolah terpukau dan tidak bergerak dari tempatnya, hanya berdiri sambil menyilangkan kedua lengan depan dada untuk menutupi dadanya yang nampak membayang di balik baju dalamnya yang tipis. Tentu saja ia mengharapkan kemenangan bagi Liu Siong Ki karena orang itu datang membela dan melindunginya.

Perkelahian itu hebat bukan main. Belum pernah selamanya Liu Siong Ki bertemu tanding sedemikian hebatnya. Pada hal, dia adalah seorang ahli silat yang berilmu tinggi. Tidak saja dia merupakan ahli waris ilmu-ilmu tinggi dari Bu-tong-pai, akan tetapi juga dalam perantauannya di dunia kang-ouw selama belasan tahun dia telah mempelajari berbagai ilmu silat tinggi dari berbagai aliran pula. Biasanya, jangankan seorang pengemis jembel, biar para ketua perkumpulan besar akan sukar dapat menandinginya. Dan sekarang, seorang pengemis tua dapat menandinginya dalma perkelahian yang seru.

Liu Siong Ki merasa khawatir. Bukan khawatir kalah, akan tetapi khawatir akan akibat perkelahian itu. Dia maklum bahwa menghadapi lawan setangguh itu, dia harus mengeluarkan semua kepandaiannya dan kalau ini terjadi, orang itu berada dalam ancaman bahaya maut tanpa dia mampu mencegahnya. Kalau dia tidak mau mengeluarkan jurus-jurus mautnya, besar kemungkinan dia sendiri yang akan menjadi korban! Pada hal, dia sama sekali tidak ingin membunuh lawannya, walaupun perbuatan yang dilakukan lawannya itu amat keji. Dia tahu bahwa kekejian terhadap gadis itu bukan karena memang Huang-ho Sin-kai seorang pelahap gadis yang mata keranjang, melainkan karena dendam yang membuatnya seperti orang gila.

“Tranggg...!!” kembali dia menangkis dengan keras dan keduanya terdorong ke belakang.

“Sin-kai, sudahlah jangan lanjutkan. Akibatnya tidak menguntungkan. Maukah kau mengalah dan membebaskan gadis itu?”

“Hanya melalui mayatku!” kata Huang-ho Sin-kai sambil menerjang lagi lebih dahsyat dari pada tadi. Agaknya dia sudah nekat untuk mempertahankan niatnya dan merasa yakin akan keluar sebagai pemenang.

Liu Siong Ki terpaksa kini mengeluarkan jurus-jurus mautnya. Pedangnya membuat gerakan yang aneh seperti gerakan ular lalu menyambar seperti kilat cepatnya. Itulah jurus Ular Kilat Memecah Awan. Huang- ho Sin-kai terkejut dan masih mencoba untuk memutar tongkat melindungi dirinya. Namun, sinar pedang yang melenggak-lenggok itu tetap saja dapat menerobos di antara gulungan sinar tongkat dan tahu-tahu ujung pedang telah menggores lehernya, namun cukup untuk membabat putus urat-urat penting di lehernya. Pengemis itu terhuyung dan roboh telentang.

Liu Siong Ki menyesal bukan main, lalu berlutut dekat bekas musuhnya. “Ah, Sin-kai, mengapa engkau lakukan semua ini? Engkau bukan orang jahat, mengapa engkau lakukan ini?”

Huang-ho Sin-kai membuka matanya memandang, dan mulutnya bergerak-gerak, masih sempat mengeluarkan kata-kata, “Kemiskinan... memaksa... orang melakukan... apa saja... dan dendam...” Dia terkulai dan tewas.

Liu Siong Ki menghela napas panjang dan bangkit berdiri. Dia teringat akan gadis tadi dan menengok. Gadis itu masih berdiri ketakutan sambil menutupi dadanya.

“Jangan takut, nona. Kenakan pakaianmu dan pulanglah...” kata Liu Siong Ki sambil membuang muka. Dia lalu menggunakan pedangnya untuk menggali lubang besar yang kemudian dipergunakan untuk mengubur mayat-mayat yang jumlahnya menjadi tiga belas orang itu. Setelah selesai menutupi lubang itu dengan tanah, dia lalu membersihkan kedua tangannya dan hendak pergi. Akan tetapi, dia melihat betapa gadis itu masih juga berdiri di sana, akan tetapi kini sudah mengenakan kembali pakaiannnya, walaupun tidak beres karena pakaian itu sudah robek direnggut oleh Huang-ho Sin-kai tadi.

“Ehh, kenapa engkau belum juga pergi?” tanya Liu Siong Ki.

Tiba-tiba gadis itu lari menghampiri dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Liu Siong Ki. Tentu saja pria itu terkejut dan cepat memegang kedua pundak gadis itu dan mengangkatnya berdiri. Akan tetapi, begitu dilepaskan gadis itu kembali menjatuhkan diri berlutut.

“Teecu (murid) tidak akan bangkit berdiri kalau suhu (guru) tidak menerima teecu sebagai murid,” katanya tegas.

Liu Siong Ki tertegun. Tak disangkanya sedikitpun juga, gadis itu akan minta dijadikan muridnya. Seorang gadis cantik, dan puteri Mongol pula! Bagaimana mungkin?

“Maaf, nona. Aku tidak dapat menerimamu sebagai murid.”

“Apakah suhu menganggap teecu ini jahat, atau tidak berbakat?” gadis itu bertanya dengan masih berlutut. “Tidak, bukan begitu, nona. Akan tetapi aku adalah seorang yang hidup sebatang kara, seorang pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap. Bagaimana mungkin membawa seorang murid sepertimu?”

“Teecu sanggup mengikuti suhu ke manapun suhu pergi. Teecu akan mencucikan pakaian suhu, akan memasakkan makanan untuk suhu. Teecu akan melayani suhu dan mau tinggal di dalam hutan sekalipun asal suhu mau mengajarkan ilmu silat kepada teecu.”

Liu Siong Ki tertarik. Aneh sekali gadis ini. “Nona, apakah orang tuamu tidak akan marah dan mencarimu?”

“Suhu, teecu adalah keponakan dari ketua suku Oirat yang bernama Esen. Teecu tinggal bersama paman dan ayah ibu teecu juga menjadi seorang Panglima dalam pasukan paman Esen. Paman, juga ayah, adalah orang-orang gagah yang tentu tidak akan marah malah girang sekali kalau mengetahui teecu menjadi murid seorang sakti seperti suhu!”

Liu Siong Ki merasa semakin tertarik. Dia sudah banyak merantau akan tetapi belum pernah memasuki daerah Mongol dan juga dia ingin sekali mengetahui bagaimana keadaan kehidupan masyarakat Mongol, bangsa gagah perkasa yang pernah menguasai seluruh Tiongkok selama seratus tahun itu. Diapun mendengar bahwa di antara suku-suku Mongol yang terpecah belah, suku bangsa Oirat terkenal paling gagah berani.

“Hemm, paman dan ayahmu tentu akan marah kepadaku, karena aku seorang Han berani mengambil murid engkau, seorang puteri Mongol yang dihormati.”

“Tidak sama sekali, suhu. Ayah dan paman adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan. Bangsa apapun, kalau orang itu gagah perkasa seperti suhu, pasti akan dihormati. Suhu, terimalah teecu sebagai murid. Teecu sampai mati tidak akan mau bangkit kalau suhu tidak menerima teecu sebagai murid.”

Melihat tekad yang demikian besar, Liu Siong Ki sangsi. Benarkah tekad gadis itu demikian besarnya? “Kalau begitu sesukamulah, aku tetap tidak dapat menerimamu!” Setelah berkata demikian, dia lalu meninggalkan gadis itu. Setelah jauh, dia lalu diam-diam kembali dan memilih dua ekor kuda yang baik dari kuda-kuda bekas kuda tunggangan para perajurit Mongol tadi dan menambatkan dua ekor kuda itu di pohon. Dia mengintai dan ternyata gadis itu masih berlutut di tempatnya yang tadi!

Siong Ki menanti sampai matahari naik tinggi. Tidak kurang dari lima jam gadis itu berlutut di situ dan belum juga bangkit berdiri! Bukan main! Dia tidak tega lalu menghampiri dengan langkah-langkah ringan sehingga gadis itu tidak mengetahuinya bahwa dia berada di belakangnya. Setelah dekat, barulah Siong Ki tahu bahwa gadis itu menangis tanpa mengeluarkan suara! Dia dapat membayangkan betapa hebat penderitaan gadis yang keras hati itu.

“Nona,” katanya sambil berdiri di depan gadis itu. “Engkau masih juga belum bangkit berdiri?”

Gadis itu berhenti menangis dan wajahnya tampak berseri. “Suhu sudah teecu katakan bahwa teecu tidak akan bangkit sebelum suhu menerima teecu menjadi murid!”

“Hem, keras sekali hatimu. Akan tetapi apakah engkau juga tahan uji? Coba kau berdiri, aku akan menerimamu sebagai murid dengan syarat bahwa engkau harus tahan uji.”

Mendengar ini, gadis itu nampak girang sekali. Ia lalu bangkit berdiri akan tetapi ia terhuyung dan jatuh lagi berlutut. Kiranya kakinya sampai menjadi kesemutan karena berjam-jam berlutut terus. Akan tetapi ia berdiri lagi dan jatuh lagi, berdiri lagi sampai akhirnya ia berhasil berdiri di depan Siong Ki. Melihat ini saja Siong Ki semakin kagum. Benar-benar keras hati. Jarang dapat ditemukan seorang gadis seperti ini.

“Sekarang aku hendak mengujimu sampai di mana tenaga dan kepandaianmu. Engkau seranglah aku dan jangan berhenti sebelum kusuruh berhenti. Mulai!” kata Siong Ki memerintah.

Gadis itu sedikitpun tidak memperlihatkan keraguan seolah perintah itu wajar saja. Ia lalu mengepal kedua tinjunya dan dengan cekatan ia menerjang, menyerang Siong Ki dengan pukulan yang cukup keras. Ketika Siong Ki menangkis sambil mengerahkan tenaga, gadis itu terhuyung dan menyeringai, akan tetapi ia menyerang lagi dengan lebih ganas. Siong Ki kagum. Gadis ini cukup hebat, kalau hanya dikeroyok dua orang laki-laki biasa saja tentu akan menang. Dia meraih, menangkap pergelangan tangan gadis itu dan sekali membuat gerakan menyentak, gadis itupun terpelanting dan terbanting keras. Namun, ia cepat bangkit berdiri lagi dan menyerang terus! Berulang kali Siong Ki membuatnya roboh, kedua lengannya sudah matang biru karena tangkisan Siong Ki, akan tetapi ia terus menyerang dengan tak kurang kerasnya.

Kini Siong Ki yakin. Dia telah menemukan murid yang baik.

“Berhenti!” katanya dan gadis itu berhenti lalu jatuh berlutut saking lelahnya, akan tetapi ia tersenyum lebar karena girang. Ia telah lulus ujian.

“Siapa namamu, nona?” “Nama teecu Chi Li, suhu.”

“Chi Li? Baiklah, mulai sekarang engkau menjadi muridku. Akan tetapi karena engkau seorang gadis dewasa, tidak selayaknya kalau ikut merantau bersamaku. Bagaimana kalau aku mengikutimu ke rumah orang tuamu dan mengajarkan silat kepadamu di sana?”

“Terima kasih, suhu!” kata Chi Li sambil tersenyum gembira, “Terima kasih, dan sungguh baik sekali kalau begitu. Marilah suhu, kuiringkan ke perkampungan kami.”

“Apakah bangsamu tidak akan memusuhi aku karena aku orang Han?”

“Ah, aku tanggung, suhu. Ayahku dan pamanku sungguh mengagumi orang gagah, tentu suhu akan diterima dengan baik selama suhu tidak mencampuri urusan bangsaku.”

“Baik, mari kita pergi.” “Sayang kudaku telah mati dan kuda para perajurit tadi telah melarikan diri. Tempatku jauh sekali, suhu. Tidak kurang dari seratus li dari sini suhu.”

Siong Ki tersenyum. “Jangan khawatir, di sana ada dua ekor kuda untuk kita.” Mereka pergi ke dalam hutan itu dan melihat bahwa itu adalah dua ekor kuda dari pengawalnya yang kini tertambat di pohon, Chi Li berkata kepada Siong Ki.

“Wah, kiranya suhu sudah menyediakan kuda. Kiranya suhu tadi sengaja hendak mengujiku!”

Siong Ki tertawa. Selain keras hati dan tahan uji, gadis inipun cukup cerdik. Gadis seperti ini memang sudah pantas sekali kalau menjadi muridnya.

“Mari suhu, kita pergi agar tiba di sana sebelum malam.” Dan mereka lalu membalapkan kuda. Gadis itu di depan menjadi penunjuk jalan dan Siong Ki mengiringkan di belakangnya. Dia menyimpan pertanyaan di hatinya, apa sebetulnya yang dikerjakan gadis itu bersama dua belas orang pengiringnya di dekat Tembok Besar.

Pada masa itu (1449) yang menjadi Kaisar di kerajaan Beng adalah Kaisar Ceng Tung atau Kaisar Ying Chong yang nama kecilnya Cu Shi Sen. Kaisar ini masih amat muda, usianya baru dua puluh tahun dan dia seorang laki-laki yang tampan. Dia seorang laki-laki yang tampan dan pandai, terpelajar, juga berjiwa gagah. Sayang sekali, karena sejak kecil dia menjadi pangeran mahkota, dan hidupnya dikelilingi para thai- kam (sida-sida) maka dengan sendirinya dia dipengaruhi oleh para sida-sida ini yang pandai sekali mengambil hati, pandai menjilat dan menyenangkan hati Kaisar ini. Kekuasaan para thaikam ini amat besar karena mereka menjadi orang kepercayaan yang disayang oleh Kaisar.

Banyak hal yang membuat rakyat merasa tidak senang kepada Kaisar Ceng Tung yang muda itu. Pertama, karena dia melanjutkan pekerjaan besar membangun Tembok Besar yang menyengsarakan rakyat itu. Pekerjaan ini yang membutuhkan ratusan ribu orang tenaga, menciptakan kerja paksa, pekerjaan yang mengorbankan banyak nyawa orang dan menimbulkan korupsi besar-besaran. Rakyat yang dikerahkan itu sebetulnya menerima upah seperti telah ditentukan oleh Kaisar Ceng Tung. Kaisar ini bukan seorang manusia kejam dan untuk pekerjaan besar yang dilanjutkannya sebagai pekerjaan turun temurun, dia tidak ingin melakukan kerja paksa melainkan memberi upah selayaknya. Akan tetapi dia tidak tahu betapa pelaksanaannya sungguh berbeda dengan rencananya. Pembesar yang korup telah mengebiri upah itu sehingga akhirnya yang jatuh ke tangan rakyat pekerja hanyalah sekedar makan untuk sehari. Upah itu dipotong sedikit-sedikit dari atas ke bawah, maka akhirnya rakyat hampir tidak menerima upah selain makan yang sederhana sekali. Dan karena itu, menimbulkan pula pemerasan. Rakyat yang diharuskan bekerja, kalau dia kuat dan memiliki harta, maka disogoklah para pejabat sehingga yang tidak memberi uang sogokan saja yang dipaksa bekerja, sedangkan yang dapat menyogok bebas! Masih ada lagi yang melakukan korupsi besar-besaran, yaitu pembesar yang bertugas memberi ransum. Ransum yang ditentukan harganya, dipotong sedemikian rupa sehingga tinggal sepersepuluh saja dan dapat dibayangkan macam ransum yang harus dimakan oleh para pekerja. Rakyat tidak tahu akan hal ini dan hanya menganggap bahwa Kaisar mereka adalah seorang penindas rakyat yang kejam!

Gembongnya para thaikam yang menjadi kepercayaan Kaisar adalah seorang thaikam bernama Wang Cin. Thaikam ini bukan hanya berkuasa di istana, nasihatnya ditelan saja oleh Kaisar yang membuat perintah dan keputusan tertulis maupun lisan, namun kekuasaannya meluas sampai keluar istana, di antara para pembesar dan pejabat. Tentu saja dia ditakuti dan dihormati karena satu kata-kata saja dari mulutnya yang melakukan fitnah terhadap seorang pejabat, cukup untuk membuat Kaisar mengeluarkan perintah penangkapan. Atau sebuah kata pujian dari Wang Cin terhadap seorang pejabat, cukup untuk membuat Kaisar memberi kenaikan pangkat. Pendeknya Wang Cin yang menjadi kepala thaikam itu amat dipercaya oleh Kaisar bahkan dia diberi kedudukan sebagai Koksu (guru negara) yang bertugas mempertimbangkan semua keputusan Kaisar dan memberi nasihat kepadanya.

Pada suatu hari, dalam percakapannya dengan Kaisar Ceng Tung, Wang Cin memuji-muji keindahan kampung halamannya, Hui Lai yang terletak di daerah pedalaman batas Mongolia selatan, di luar Tembok Besar. Dia bercerita tentang keindahan daerah itu, tentang kecantikan wanita-wanita peranakan Mongol, dan tentang kuda-kuda yang kuat dan tinggi besar. Dan dia bercerita pula betapa dia rindu akan kampung halamannya dan membujuk Kaisar untuk melakukan ekspedisi ke sana, membawa pasukan dan sekalian mengusir para pengacau yang mengeruhkan keadaan di perbatasan.

Kaisar tertarik sekali, apa lagi tentang wanita cantik dan kuda indah itu. Kaisar adalah penggemar kedua makhluk ini, dan merupakan seorang penunggang kuda yang amat mahir.

“Kami ingin sekali melihat daerah yang indah itu, Wang Cin!” kata Kaisar gembira. Percakapan itu dihadiri pula oleh beberapa orang menteri yang kebetulan melakukan laporan-laporan tentang pekerjaan mereka dan terutama tentang kemajuan pembangunan Tembok Besar. Mendengar usul Wang Cin dan tanggapan Kaisar, Menteri Kebudayaan Cian Bun segera berkata dengan hormatnya.

“Mohon beribu ampun, Yang Mulia. Akan tetapi, hamba akan berpikir beberapa kali untuk berpesiar ke daerah itu. Suku bangsa Oirat atau Wala sekarang sedang mengadakan gerakan. Suku-suku lain banyak yang sudah mereka tundukkan dan kuasai. Hamba khawatir sekali kalau paduka melakukan perjalanan ke luar Tembok Besar, mereka akan turun tangan menghadang atau menyerang.”

“Ah, takut apa menghadapi segelintir orang biadab suku Oirat itu?” kata Wang Cin mendahului Kaisar. “Tentu saja kita harus mempersiapkan pasukan yang kuat untuk mengawal Yang Mulia.”

Mendengar jawaban Wang Cin, Kaisar Ceng Tung berkata, “Harap kalian tidak merasa gelisah. Benar apa yang dikatakan Wang Cin, kami akan melakukan perjalanan dengan dikawal pasukan yang besar. Selaksa pasukan saja sudah cukup kiranya untuk mengawal kami. Apa lagi, tempat itu dekat Tembok Besar, kalau ada apa-apa, mudah saja pasukan yang berada di Tembok Besar mengirim bantuan.”

Panglima Sun yang hadir pula di situ, lalu mengangkat bicara. “Mohon ampun, Yang mulia. Menurut pendapat hamba, apa yang diucapkan Cian-taijin tadi benar dan hambapun merasa khawatir kalau paduka melakukan perjalanan tamasya ke daerah itu. Suku bangsa Wala atau Oirat itu kabarnya merupakan orang-orang yang gagah berani dan banyak suku lain yang sudah menakluk kepada mereka.”

“Aih, Sun-ciangkun mengapa tidak memberi hiburan malah mengecilkan hati Yang Mulia? Apa sih artinya segelintir manusia biadab itu? Hanya merupakan pecahan bangsa Mongol. Padahal, bangsa Mongol yang bersatu padu saja dapat diusir oleh kita, bangsa Beng. Apa lagi sekelompok kecil orang Wala. Kalau Yang Mulia menghendaki datang mengunjungi Huai Lai, akulah yang akan bertanggung jawab atas keselamatan beliau! Di kampung halamanku dihuni oleh bangsa campuran antara Mancu dan Hui, kalau ada orang Mongolpun merupakan peranakan Han, mereka adalah golongan yang setia dan tunduk kepada kerajaan Beng. Takut apa? Aku yang tanggung!”

Mendengar ucapan Wang Cin yang penuh semangat berkobar-kobar itu, tidak ada lagi pembesar yang berani membuka mulut. Berbahaya sekali, kalau Koksu itu marah kepada mereka. Dan Kaisar juga senang mendengar alasan-alasan yang dikemukakan Koksu atau kepala Thai-kam yang dipercaya itu. Kaisar sudah membayangkan betapa menyenangkan perjalanan itu dan pulangnya tentu akan membawa banyak gadis cantik dan kuda yang indah.

Demikianlah, dipersiapkan pasukan pengawal. Dan karena Wang Cin tidak ingin mereka yang menentang menjadi Panglima pasukan, dia sendiri yang menentukan komandannya, yaitu para Panglima penjilat yang menjadi sekutunya. Selaksa pasukan dipersiapkan dan pada hari baik yang ditentukan, berangkatlah rombongan ini menuju ke utara. Untuk Kaisar disediakan sebuah kereta dan tandu, karena melalui jalan tertentu yang sukar, tentu tidak enak mengendarai kereta, dan Kaisar harus diangkut dengan tandu.

Para pejabat tinggi mengantar keberangkatan Kaisar itu dengan prihatin. Mereka merasa khawatir, akan tetapi tidak lagi berani menyatakan di depan Kaisar atau Wang Cin. Apa lagi melihat kenyataan bahwa Wang Cin sendiri yang mengangkat diri menjadi komandan atau Panglima tertinggi dalam pasukan pengawal itu. Pada hal, mereka yakin bahwa Wang Cin adalah seorang yang sama sekali tidak menguasai ilmu-ilmu peperangan. Wang Cin hanya menganggap perjalanan itu sebagai tamasya biasa yang tidak diperlukan siasat perang! Kalau toh ada pasukan pemberontak bangsa liar, mudah saja digilas hancur oleh pasukannya yang terdiri dari selaksa orang demikian pikirannya.

Pengangkatan Wang Cin menjadi Panglima tertinggi yang memimpin pasukan pengawal Kaisar itu, tentu saja membuat para Panglima tua menjadi tidak senang sekali. Mereka merasa tersinggung. Mereka yang telah mengabdi kepada kerajaan Beng, yang ikut berperang melawan orang Mongol semenjak Kaisar Yung Lo, kini diremehkan dan ditinggalkan begitu saja. Pada hal Kaisar melakukan perjalanan yang berbahaya. Juga Wang Cin menolak ketika bawahannya yang lebih berpengalaman mengusulkan untuk membawa bekal ransum kalau-kalau terjadi sesuatu yang membuat perjalanan terhalang. Dia mengatakan bahwa bekal itu cukup untuk dimakan di perjalanan saja karena kalau mereka sudah tiba di Huai Lai, rakyatnya akan berduyun-duyun menjamu Kaisar dan pasukannya! Pada mulanya memang perjalanan itu menyenangkan dan tidak nampak tanda-tanda adanya ancaman bahaya. Akan tetapi tanpa diketahuai siapapun, mata-mata bangsa Oirat telah membayangi rombongan itu, memperhitungkan segalanya, jumlah kekuatan pasukannya, perbekalannya, dan siapa pula pemimpin pasukan. Dan mereka segera membuat persiapan.

Esen, ketua suku bangsa Oirat atau Wala yang gagah perkasa itu mengumpulkan para pembantunya dan mengadakan rapat kilat. Para pembantunya sebanyak dua puluh lima orang itu menyatakan kesepakatan bulat untuk menawan Kaisar Ceng Tung yang akan merupakan seorang tawanan yang amat berharga untuk memaksakan kehendak mereka kepada kerajaan Beng. Akan tetapi, seorang yang berpakaian seperti orang-orang Oirat, akan tetapi wajahnya seperti orang Han, segera berkata, “Ketua, sayalah orangnya yang tidak setuju kalau sampai Kaisar Ceng Tung dibunuh. Bagaimanapun juga, beliau adalah Kaisar saya dan sebagai rakyat, saya harus melindunginya.”

“Liu-taihiap, kami menghargai kesetiaanmu, akan tetapi ini adalah urusan negara, urusan rakyat, bukan urusan pribadi. Oleh karena itu, bagaimana nasib Kaisar Ceng Tung tergantung dari dirinya sendiri. Kami akan bertindak demi keuntungan bangsa kami, dan kami tidak begitu bodoh untuk membunuh seorang sandera yang begitu berharga dan menguntungkan.”

“Ketua Esen, aku cuma memperingatkanmu agar jangan membunuh Kaisar Ceng Tung. Aku tidak akan mencampuri urusan negara. Dan apa untungnya membunuh seorang Kaisar? Kalau Kaisar dibunuh, akan diangkat Kaisar lain!”

“Kami mengerti, karena itu memang tidak ada rencana kami untuk membunuh Kaisar, melainkan kalau mungkin menangkapnya sebagai sandera demi keuntungan kami.”

“Hmm, jangan tekebur dahulu, ketua Esen. Pasukan Beng amat kuat dan dipimpin oleh Panglima-Panglima yang gagah perkasa,” kata orang itu yang bukan lain adalah Liu Siong Ki. Seperti diceritakan di bagian depan, Liu Siong Ki mengangkat Chi Li sebagai murid dan dara ini mengajaknya ke kampung halamannya, tempat tinggal suku Oirat, di mana seperti yang dikatakan oleh Chi Li, Liu Siong Ki diterima dengan hormat. Ketua suku itu, Esen, memang seorang yang gagah dan amat menghargai keperkasaan seseorang. Apa lagi setelah dia menguji Liu Siong Ki dengan mengadukan jagonya yang ternyata hanya mampu bertahan dua puluh jurus saja melawan Liu Siong Ki. Pendekar ini diterima dengan gembira dan penuh penghormatan. Bahkan banyak orang muda yang minta menjadi muridnya. Akan tetapi Liu Siong Ki menolak dengan halus, dan hanya menjadi guru Chi Li seorang. Dia tinggal di situ bahkan disebut sebagai taihiap (pendekar besar) karena dia sudah menolong Chi Li dari bahaya maut.

Ketika mendengar ucapan terakhir dari Liu Siong Ki, Esen tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, Liu-taihiap, kita lihat saja. Sekarang ini pasukan Beng dipimpin oleh seorang pelawak!”

Liu Siong Ki mengerutkan alisnya, tidak berkata-kata lagi karena dia menganggap ketua suku Oirat itu tekebur. Biar dia nanti mengalami kepahitan, pikirnya. Dia sendiri tidak akan mencampuri urusan perang, akan tetapi kalau sampai Kaisar diganggu, dia mengambil keputusan untuk membela Kaisarnya. Untuk menenangkan hatinya yang terusik, dia lalu meninggalkan persidangan itu, disambut oleh muridnya di luar.

“Suhu, ada apakah maka suhu nampak seperti orang khawatir?” tanya murid itu. Chi Li ternyata seorang murid yang baik, selain berbakat juga ia amat sayang kepada gurunya, benar-benar ia melayani gurunya, mencucikan pakaiannya dan memasakkan makanannya.

Liu Siong Ki menghela napas dan dia kembali ke pondoknya, diikuti oleh gadis itu. “Aku mengkhawatirkan nasib Kaisarku, Chi Li.”

“Katanya suhu tidak mencampuri urusan perang?” gadis itu menegur.

“Aku juga tidak mencampuri, hanya karena sekarang Kaisar berada di dalam pasukan itu dan terancam, aku merasa khawatir. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, terpaksa aku akan turun tangan membelanya, kalau perlu dengan taruhan nyawa, Chi Li.”

“Dan suhu sudah mengemukakan hal itu kepada paman Esen?”

“Sudah, dan dia berjanji tidak akan membunuh atau mengganggu Sribaginda Kaisar, kalau mungkin hanya menawannya saja.” “Suhu, Kaisar Beng itu orang macam apa sih?”

Liu Siong Ki tersenyum. “Dia masih muda, Chi Li, sepantar denganmu, mungkin baru dua puluh tahun usianya. Dia tampan, terpelajar, juga berjiwa gagah. Sayang dia kurang pengalaman sehingga mudah dipengaruhi orang lain.” Liu Siong Ki teringat akan berita tentang kekuasaan para thaikam atas diri Kaisar, membuat Kaisar seperti boneka karena pengaruh mereka.

“Ah, aku ingin sekali bertemu dengannya. Kata orang, Kaisar itu adalah Putera atau Wakil Tuhan! Bukan manusia biasa!”

Liu Siong Ki tersenyum. “Siapa bilang? Kaisar juga seorang manusia biasa, hanya kebetulan saja dia menjadi Kaisar.” Dia tidak mengatakan suara hatinya selanjutnya. Hatinya berkata bahwa karena menjadi pangeran putera Kaisarm tentu saja kini menggantikan ayahnya menjadi Kaisar. Jadi tidak ada anehnya, bukan pilihan Tuhan, bukan pula pilihan rakyat, melainkan pilihan keluarganya. Andaikata dia menjadi putera Kaisar, tentu diapun menggantikan ayahnya menjadi Kaisar!

Sementara itu, Esen dan para pembantunya mengerahkan seluruh kekuatan pasukannya dibantu oleh para kepala suku yang sudah menakluk kepada mereka, mengumpulkan kurang lebih lima ribu orang perajurit. Kemudian, mereka menanti sampai tiba saatnya yang baik, yaitu di sekitar Huai Lai, tempat yang hendak dikunjungi Kaisar, dan pada saat itu, ketika pasukan dari kota raja itu sudah amat lelah, mereka dikepung dan dihadang. Perhitungan Wang Cin yang tidak berpengalaman berperang itu meleset semua. Dari Huai Lai tidak dapat diharapkan bala bantuan karena Huai Lai telah dikuasai oleh orang Oirat. Sementara itu, perbekalan ransum sudah habis sampai hari itu, dengan maksud akan diberi ransum setelah tiba di Huai Lai. Akan tetapi sebelum tiba di Huai Lai ternyata mereka dihadang ribuan orang perajurit Mongol.

Melihat pasukan Mongol menghadang, para perwira tua menasihati Wang Cin agar kembali saja ke Tembok Besar dan jangan menyerang musuh. Akan tetapi Wang Cin yang sombong itu tidak memperdulikan nasihat mereka.

“Menurut penyelidik, jumlah mereka hanya separuh jumlah kita, kenapa takut? Pula, orang-orang liar itu akan mampu berbuat apa? Di depan sana ada Huai Lai di mana bangsaku akan dapat membantu kita. Pasukan Mongol itu malah terjepit, akan kita hancurkan mereka. Mari jalan terus, maju dan serbu mereka!”

Pasukan dikerahkan dan menyerbu tanpa perbekalan air dan makan, dan terjadilah perang yang hebat di tempat tandus itu. Karena pasukan itu sudah melakukan perjalanan jauh dan sudah kelelahan, ditambah lagi ransumnya habis, maka segera terbukti bahwa mereka kalah kuat. Banyak yang tewas dalam pertempuran itu dan lagi-lagi para perwira menasihatkan Wang Cin untuk mundur saja dan melarikan diri ke Tembok Besar. Akan tetapi Wang Cin yang berkeinginan keras memamerkan daerahnya kepada Kaisar, tetap membantah dan perang dilanjutkan terus sampai malam tiba. Kegelapan malam menghentikan perang. Mundur sudah tidak mungkin lagi karena gelap. Perkemahan didirikan untuk melindungi Kaisar dari angin dan dingin. Kaisar berada di tenda besar dan dilindungi oleh dua losin pengawal pribadinya.

Menggunakan kesempatan ini, pasukan Esen yang lebih mengenal daerah membuat gerakan mengepung. Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu terang tanah, pasukan Mongol itu menyerang dengan tiba-tiba dari segala jurusan karena mereka telah mengepung. Terjadi perang yang amat seru. Akan tetapi pasukan Beng berperang hanya untuk membela diri saja karena mereka sudah menjadi panik dan lemah. Akhirnya hancurlah pertahanan mereka, sisa pasukan melarikan diri cerai berai menyelamatkan nyawa masing-masing. Para perwira melakukan perlawanan sampai mati. Wang Cin sendiri ditangkap dan langsung dibunuh oleh Esen, demikian pula para Panglima anak buah Wang Cin, tidak seorangpun lolos. Semua mati di bawah pancungan golok.

Dua losin pengawal pribadi Kaisar Ceng Tung melakukan perlawanan melindungi Kaisar semua akhirnya merekapun roboh dan tewas semua. Esen sendiri bersama para Panglimanya memasuki tenda dan mencari Kaisar. Dan ditemukanlah Kaisar Ceng Tung, duduk di atas permadani di tengah tenda, tenang saja, sedikitpun tidak nampak takut, di antara mayat para pengawal pribadinya.

Melihat ini, Esen tertegun dan kagum bukan main. Dia memang seorang pengagum kegagahan. Biasanya, kalau dia menangkan peperangan, kepala suku yang dikalahkan akan minta ampun, atau akan melarikan diri. Akan tetapi Kaisar ini, Kaisar Ceng Tung yang masih amat muda, sama sekali tidak kelihatan takut, dan duduk dengan pedang terhunus di tangan!

“Sribaginda hendak melawan kami seorang diri saja?” Esen bertanya dengan nada mengejek. Kaisar Ceng Tung menjawab dengan tenang. “Aku bukan seorang tolol yang tidak mempunyai perhitungan, aku tidak ingin mati konyol, akan tetapi akupun tidak sudi menjadi tawanan. Lebih baik mati!” Kaisar itu lalu menggerakkan pedangnya untuk menggorok leher sendiri, akan tetapi Esen yang sudah curiga akan sikap Kaisar, menubruk dan merampas pedang itu. Kemudian dia menyuruh anak buahnya untuk menangkap dan membelenggu Kaisar agar tidak dapat membunuh diri, akan tetapi Kaisar tidak diperlakukan kasar dan tidak diarak sebagai yang kalah, bahkan dinaikkan kereta. Dalam kereta belenggunya dilepas dan Esen sendiri yang menjaga di dalam kereta dan membujuk agar Kaisar tidak membunuh diri.

“Berjanjilah untuk tidak membunuh diri, dan aku berjanji akan memperlakukan paduka sebagai seorang tamu, bukan tawanan,” katanya berulang kali. Akhirnya Kaisar Ceng Tung berjanji karena diapun masih mempunyai harapan kalau diperlakukan sebagai tamu. Dia akan dapat meloloskan diri dan kembali ke kota raja di selatan.

Berita tentang hancurnya pasukan dan tertawannya Kaisar Ceng Tung mengejutkan seluruh istana dan kota raja. Para thaikam takut akan kehilangan kekuasaan mereka, maka cepat-cepat mereka mengangkat Ceng Ti adik dari Kaisar Ceng Tung, untuk menggantikan kedudukan kakaknya yang disangka akan dibunuh oleh orang Mongol. Tentu saja Kaisar Ceng Ti yang muda itupun dijadikan boneka oleh para Thaikam. Dan atas bujukan para Thaikam yang khawatir akan serbuan orang Mongol, Kaisar Ceng Ti memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Nan-king. Peking diserahkan kepada para Panglima yang setia untuk menjaga dan mempertahankan dari serbuan para suku liar dari utara itu.

Sudah sebulan lamanya Kaisar Ceng Tung menjadi tawanan di rumah Esen. Dan ketua itu memegang teguh janjinya, yaitu memperlakukan Kaisar seperti seorang tamu agung diberi kebebasan, akan tetapi diawasi dan dijaga ketat. Hal ini membuat Kaisar Ceng Tung menjadi murung karena dia tidak melihat kesempatan untuk melarikan diri. Dia dianggap seorang sandera yang amat berharga bagi orang Mongol. Selama itu, Liu Siong Ki tidak pernah menemuinya. Bagaimanapun juga, dia merasa sangat sungkan kepada Kaisar kalau terlihat dia berada diantara orang Oirat, walaupun dia tidak ikut berperang, namun diam-diam dia pun mengawasi kalau-kalau ketua Oirat melanggar janjinya dan mengganggu sang Kaisar.

Sementara itu, Chi Li yang sebelumnya sudah mendengar banyak tentang Kaisar yang dipuji-puji oleh gurunya, ketika melihat Kaisar itu dengan sikapnya yang tenang, berwibawa dan gerak-geriknya yang lembut, tutur katanya yang halus dan teratur, segera menjadi tertarik sekali. Ia merasa kasihan kepada Kaisar itu yang tadinya disembah-sembah dan dipuja-puja oleh ratusan juta orang, kini hidup terasing di dalam kamarnya. Melihat wajah tampan itu muram, ingin ia menghiburnya, ingin ia menyenangkan hatinya. Sebetulnya, dalam hati dara Mongol ini diam-diam tumbuh cintakasih kepada gurunya sendiri, akan tetapi karena gurunya bersikap sebagai guru dan orang tua, ia tidak berani menyatakannya dan memendam di dalam hatinya. Kini, melihat Kaisar itu, perasaan cintakasih itu berkembang dan berbalik ke arah sang Kaisar! Tentu saja iapun tidak berani mendekati Kaisar yang dianggap sebagai tawanan, walaupun diperlakukan sebagai tamu terhormat.

Pada suatu pagi, ketika dara itu sedang melamun di dalam kamarnya karena pagi itu ia malas latihan dan hanya termenung memikirkan sang Kaisar, pamannya mengetuk daun pintu kamarnya. Gadis itu kaget ketika membuka pintu melihat bahwa yang mengetuk pintu adalah pamannya sendiri, ketua suku mereka.

“Ah, paman, kiranya paman yang datang. Silahkan masuk, ada keperluan apakah paman?”

“Sstt, lirih saja bicara, Chi Li. Yang akan kubicarakan kepadamu ini suatu rahasia, rahasia besar.” Esen berbisik sambil duduk di atas kursi di dalam kamar itu. “Biarkan pintunya terbuka sehingga kita dapat melihat kalau ada yang ikut mendengarkan pembicaraan kita.”

Tentu saja Chi Li menjadi terkejut dan heran, lalu iapun duduk berhadapan dan mendengarkan penuh perhatian. “Ada apakah paman?” ia berbisik.

“Chi Li, aku sudah bicara dengan ayahmu mengenai hal ini dan diapun sudah menyetujui, tinggal engkau yang menentukan, tergantung dari besar kecilnya kesetiaanmu kepada bangsa kita.”

Gadis itu terbelalak, dan menjawab dengan sungguh-sungguh, “Apakah paman masih menyangsikan kesetiaanku kepada bangsa kita? Katakanlah, apa yang harus kulakukan, paman?”

“Chi Li, engkau pasti tahu mengapa kita menawan Kaisar Ceng Tung, bukan?” Gadis itu mengangguk. “Untuk dijadikan sandera, paman, karena dia merupakan sandera yang berharga sekali, karena itu dia diperlakukan sebagai tamu agung.”

“Bagus, engkau memang cerdik, Chi Li. Nah, sekarang kita mendapat kenyataan bahwa kerajaan Beng telah mengangkat seorang Kaisar baru yang menggantikan Kaisar Ceng Tung sehingga dengan sendirinya dia tidak lagi menjadi sandera yang berharga, bahkan tidak ada gunanya.”

“Lalu, apa yang hendak paman lakukan terhadap dia?” Chi Li bertanya dengan nada suara gelisah karena ia takut kalau-kalau pamannya akan membunuh Kaisar yang telah mendatangkan kesan mengagumkan di hatinya itu. Mendengar nada suara khawatir ini, senanglah hati Esen.

“Bagaimanapun juga, masih ada satu jalan untuk dapat memetik keuntungan dari adanya Kaisar itu di sini, Chi Li, akan tetapi hal ini tergantung sepenuhnya kepadamu. Kalau saja kelak Kaisar Ceng Tung dapat memegang tampuk kerajaan kembali, kembali ke kedudukannya sebagai Kaisar, kita harus dapat menarik keuntungan dari peristiwa itu.”

“Bagaimana mungkin, paman? Kita telah menyanderanya, bagaimana kelak dia mau berbaik dengan kita? Tentu dia telah menaruh dendam kepada kita.”

“Karena itulah, keadaan harus diatur sedemikian rupa. Pertama, dia sudah kita perlakukan dengan baik, kalau ada lagi ikatan batin yang kuat antara dia dan kita, tentu kelak kita akan memperoleh banyak keuntungan untuk bangsa kita. Dan hanya engkau yang akan mampu melakukannya, Chi Li.”

“Paman, harap jangan berputar-putar, katakan saja apa yang harus kulakukan,” kata Chi Li tidak sabar karena ia sama sekali tidak dapat menduga apa yang dikehendaki pamannya.

Esen memandang ke kanan kiri, berbisik, “Di mana gurumu?” “Dia tidak berada di sini, paman. Ada apakah?”

“Gurumu sekali-kali tidak boleh mendengarkan urusan ini, siapapun tidak boleh mendengar karena itu, mari kubisiki apa yang harus kaukerjakan.” Esen mendekati keponakannya dan berbisik-bisik lirih sekali. Mendengar bisikan pamannya, tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah sampai ke lehernya dan ia tersipu malu.

“Ihhh, paman...! Ia berkata sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. Pamannnya mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan ternyata itu adalah sebotol cairan merah. “Kalau engkau menyetujui, inilah benda itu. Pergunakan baik-baik.” katanya dan diapun meninggalkan botol kecil itu di atas meja lalu keluar dari kamar keponakannya.

Setelah pamannya keluar, Chi Li cepat menutupkan daun pintu dan sebentar lagi ia sudah duduk melamun di atas pembaringannya, memegangi botol kecil itu. Tiba-tiba ia menangis, lalu berhenti menangis dan nampak tersenyum-senyum.

“Demi bangsaku... demi menjaga keselamatannya... aku harus melakukannya...” katanya berulang-ulang kepada diri sendiri.

Malam itu Chi Li nampak segar dan harum. Ia telah mandi air bunga dan malam itu ia memasuki pondok di mana Kaisar Ceng Tung ditahan. Esen sengaja mengajak Liu Siong Ki membicarakan urusan keamanan di daerah mereka dan para penjaga juga sudah dipesan agar membiarkan Chi Li memasuki pondok sang Kaisar tanpa diganggu.

Kaisar masih belum tidur dan hidangan makan malam hanya dimakannya sedikit. Dia sedang duduk melamun dengan wajah muram ketika Chi Li memasuki kamarnya. Tentu saja dia merasa heran sekali melihat masuknya seorang gadis yang cantik ke kamarnya dan segera dia menegur, “Siapa engkau dan apa keperluanmu masuk ke sini?” dan diam-diam Kaisar Ceng Tung mengagumi kecantikan gadis yang memasuki pondoknya itu. Keharuman yang menyegarkan masuk bersama gadis itu yang tersenyum kepadanya.

“Sribaginda, saya datang ke sini karena merasa kasihan kepada paduka yang setiap hari saya lihat hanya bermuram durja dan bersedih saja. Juga paduka hanya makan sedikit sehingga kini nampak kurus, berbeda sekali dengan ketika paduka datang pada hari pertama.” Chi Li ingat akan semua yang dibisikkan pamannya, maka iapun bicara sesuai dengan siasat yang diberikan pamannya kepadanya.

Kaisar menghela napas panjang. “Nona, aku tidak tahu engkau siapa, akan tetapi ucapanmu itu sedikit banyak mengharukan hatiku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Aku adalah seorang Kaisar besar, dan sekarang menjadi tawanan yang tidak berdaya di sini.”

“Akan tetapi kenapa paduka tidak memenuhi permintaan ketua kami? Kalau paduka mau membantu dan bersahabat, tentu paduka akan dibebaskan.”

Kaisar Ceng Tung mengepal tinju. “Bagaimana mungkin aku menyatakan takluk kepada orang Mongol? Tidak, biar aku ditawan, biar dibunuh sekalipun aku tidak akan menjual kerajaan kepada orang Mongol!”

“Saya mengagumi kegagahan paduka, Sribaginda. Sayapun tidak melihat jalan keluar. Paduka dijaga ketat, dan nasib paduka tentukan akan lebih menyedihkan lagi. Mungkin paduka akan diperhina kalau tetap berkeras kepala.”

“Aku lebih senang mati!”

“Akan tetapi bagaimana paduka dapat mati kalau dijaga ketat dan tidak diberi kesempatan? Karena itu, saya akan menolong paduka. Saya merasa kasihan kepada paduka, maka kalau paduka memang lebih memilih mati dari pada menyerah, saya membawakan racun ini kepada paduka. Racun ini bekerja dengan halus sekali dan tidak menimbulkan nyeri.”

Begitu mendengar ucapan Chi Li, Kaisar Ceng Tung segera meraih dan mengambil botol kecil itu dari tangan Chi Li. Gadis itu tentu saja akan dapat mengelak kalau dikehendaki. Tidak percuma ia menjadi murid Liu Siong Ki. Akan tetapi ia sengaja membiarkan Kaisar itu merampas botol obat dan ia berkata.

“Paduka jangan tergesa-gesa. Racun itu akan bekerja lebih cepat dan tidak menyakitkan kalau diminum dengan secawan arak merah.” Ia lalu menghampiri meja dan dengan gerakan yang gemulai ia menuangkan anggur dari guci yang tersedia ke dalam sebuah cawan yang disediakan.

Melihat ini, Kaisar yang memang memilih mati dari pada tersiksa dan terhina, karena kematiannya akan dipuja semua rakyat dari pada hidup terhina dan menjadi cemoohan rakyatnya, segera membuka tutup botol dan menuangkan isinya ke dalam anggur merah. Tercium bau harum olehnya sehingga dia percaya bahwa racun itu tentu kuat sekali.

Dia mengangkat cawan arak itu ke atas dan berkata, “Selamat tinggal rakyatku, selamat tinggal kerajaanku, selamat tinggal semua keluargaku!” Dan tanpa ragu sedikitpun dia menuangkan isi cawan ke dalam mulutnya, dan terasa manis dan sama sekali tidak memuakkan.

Begitu minuman itu memasuki perutnya, terasa perutnya panas dan dia makin yakin bahwa racun itu sudah bekerja. Maka dia menghampiri pembaringan dan merebahkan diri, tidak ingin mati menggeletak di atas lantai.

Rasa panas di perutnya semakin hebat sehingga seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat. Saking panasnya, dia membuka bajunya, sehingga hanya mengenakan pakaian dalam saja, tidak perduli di situ ada seorang gadis yang sudah hampir dilupakannya.

Kaisar Ceng Tung sama sekali tidak menyadari bahwa yang diminumnya itu sama sekali bukan racun yang mematikan, melainkan obat perangsang yang biasa dipergunakan bangsa itu untuk memaksa kuda jantan yang masih muda agar mau kawin! Dia semakin kepanasan dan timbul gairah yang amat sangat dan akhirnya dia merasa seperti tertidur dan mimpi. Akan tetapi mimpinya sungguh luar biasa sekali. Dia merasa seperti tidur bersama seorang bidadari yang amat dicintanya, melampiaskan berahinya tanpa mengenal batas sampai dia akhirnya terkulai kelelahan dengan seluruh tubuh terasa lemas dan lemah lunglai.

Menjelang pagi dia terbangun dari mimpi dan mendapatkan dirinya berada di atas pembaringan bersama seorang gadis yang amat cantik jelita dan melihat keadaan pakaiannya, dan melihat pula betapa gadis itu menangis, mengertilah dia bahwa semalam dia tidaklah bermimpi. Dia telah tidur dengan seorang gadis dan telah terjadi hubungan yang berkali-kali di antara mereka! Tentu saja Kaisar Ceng Tung terkejut setengah mati. Apakah dia sudah mati, pikirnya, karena dia teringat bahwa semalam dia telah minum racun pemberian gadis yang kini menangis di atas tempat tidur itu. Dia bangkit duduk dan memandang gadis itu penuh perhatian.

“Di mana aku...? Apa... apa yang telah terjadi?” tanyanya.

Chi Li, gadis itu, menangis dengan sungguh-sungguh, bukan berpura-pura. Ia telah menyerahkan dirinya, sesuai dengan perintah pamannya. Walaupun ia kagum dan suka kepada Kaisar Ceng Tung, namun cara ia menyerahkan diri sungguh membuat ia merasa malu dan menyesal.

“Sribaginda... lupakah paduka apa yang paduka lakukan semalam terhadap diriku...?”

Kaisar Ceng Tung terbelalak. Kini dia ingat benar, memang gadis ini yang semalam seperti bidadari berada dalam pelukannya, telah menerima curahan cintanya.

“Ah, bagaimana aku dapat melakukan itu semua? Bukankah aku telah minum racun dan semestinya aku mati?”

“Sribaginda, agaknya para dewa tidak menghendaki paduka mati keracunan dan telah melindungi nyawa paduka. Sekarang semuanya telah terjadi, saya yang menerima aib, sebaiknya saya yang membunuh diri di depan paduka...” Gadis itu menangis makin sedih dan Kaisar itu lalu merangkulnya.

“Tidak, jangan. Sungguh, aku sayang kepadamu dan akan kupertanggung jawabkan semua kejadian ini.”

“Akan tetapi, apa artinya kalau paduka akhirnya akan membunuh diri dan meninggalkan saya seorang diri dalam keadaan terhina dan ternoda? Kalau paduka suka berjanji tidak akan berduka lagi, tidak berusaha melarikan diri, tidak akan membunuh diri, dengan senang hati saya akan melayani paduka dan menjadi selir paduka.”

“Baik, aku berjanji,” kata sang Kaisar sambil mencium wajah yang cantik itu. “Siapakah namamu dan siapakah sebenarnya engkau?”

Chi Li membiarkan diri dalam pelukan Kaisar dan ia merasa bahagia sekali karena selain tugasnya berhasil dengan baik, juga ia merasa bahagia menjadi milik Kaisar yang dikaguminya itu. “Sribaginda, saya bernama Chi Li dan saya adalah keponakan dari Paman Esen.”

Girang rasa hati Kaisar Ceng Tung, karena wanita yang dicintanya itu bukan gadis sembarangan bukan sekedar gadis pelayan melainkan keponakan dari kepala suku itu sehingga dia tidak merasa rendah diri. “Dan engkau senang menjadi selirku, Chi Li?”

“Saya... saya berbahagia sekali, Sribaginda. Saya hanya mengharapkan kalau kelak paduka kembali ke kerajaan paduka, paduka akan mengajak saya.”

“Tentu saja, sayang,” kata Kaisar Ceng Tung sambil merangkul kembali dengan hati gembira. Kini dia melihat kesempatan untuk meloloskan diri, dengan bantuan Chi Li!

Berulang kali Esen membawa pasukannya untuk menyerang ke selatan, namun semua usahanya menemui kegagalan. Biarpun ditinggalkan Kaisarnya, ternyata penjagaan di Peking amat ketat, bahkan di sepanjang Tembok Besar terdapat bala tentara yang kuat. Hal ini tidaklah mengherankan. Setelah diterima kabar bahwa Kaisar Ceng Tung tertawan orang Mongol dan mungkin terbunuh, dan adik Kaisar, yaitu Ceng Ti, diangkat menjadi penggantinya dan pindah ke Nanking, penjagaan Peking diserahkan kepada seorang Panglima bernama Yu Cian. Panglima ini adalah seorang yang berpengalaman dan pandai sekali. Dia mendatangkan ransum yang berlimpahan dari selatan, dan menghimpun pasukan lalu mengatur penjagaan di sepanjang batas utara. Maka dengan mudah dia selalu memukul mundur gerakan suku Oirat yang hendak menembus benteng Tembok Besar ke selatan.

Liu Siong Ki mendengar tentang hubungan Kaisar dan muridnya. Dia tidak dapat berkata apa-apa, karena memilih jodoh merupakan hal yang bebas bagi gadis-gadis Oirat. Kalau muridnya memilih Kaisar Ceng Tung sebagai suaminya, diapun tidak dapat melarangnya. Bahkan diam-diam dia merasa girang. Dia sayang kepada muridnya itu dan hubungan itu dengan sendirinya menghilangkan kekhawatirannya tentang keselamatan Kaisar. Setelah berulang kali usaha penyerbuannya ke selatan gagal, bahkan dia kehilangan banyak pasukannya, Esen lalu berganti siasat. Dia sudah memikirkan masak-masak. Dia sudah mendengar bahwa kerajaan telah mempunyai Kaisar baru, yaitu Kaisar Ceng Ti. Hal ini berarti bahwa Kaisar yang ditawannya kini tidak ada harganya lagi! Kecuali kalau Kaisar Ceng Tung dikembalikan dan menduduki singgasanya kembali. Baru Kaisar itu ada harganya karena bukankah Chi Li telah menjadi selirnya? Tentu dia akan dapat berhubungan baik yang amat menguntungkan bagi bangsa Oirat karena Kaisar Ceng Tung tentu tidak akan bersikap sebagai musuh, melainkan sebagai keluarga!

Apa lagi ketika beberapa bulan kemudian, Chi Li nampak mengandung. Hal itu amat membahagiakan Esen dan memperbesar harapannya. Dia mengadakan pesta besar untuk merayakan peristiwa yang membahagiakan ini. Dan ketika kandungan itu sudah mencapai usia tujuh bulan, pada suatu hari Esen mengundang Kaisar Ceng Tung dan Liu Siong Ki ke dalam pondoknya.

Setelah mereka mengambil tempat duduk, Esen bertanya kepada Kaisar Ceng Tung, “Sribaginda, kami mendengar bahwa di selatan orang telah mengangkat adik paduka, Ceng Ti menjadi Kaisar yang kini memindahkan kerajaannya di Nanking. Apakah paduka tidak ingin kembali menduduki singgasana paduka yang telah dirampas oleh adik paduka itu?”

Ceng Tung menghela napas. “Paman Esen, engkau menawan aku di sini sampai begitu lamanya, bagaimana engkau mengajukan pertanyaan seperti ini? Aku tidak bebas, biarpun di sini diperlakukan dengan baik. Tentu saja aku akan menduduki singgasanaku lagi kalau aku berada di sana.”

“Bagus! Sribaginda, dahulu kami memang menawanmu, karena paduka merupakan Kaisar musuh. Akan tetapi sekarang, paduka telah menjadi anggota keluarga kami. Keponakan kami telah menjadi selir paduka, bahkan ia akan melahirkan putera paduka. Berarti kami bukan musuh lagi dan seandai paduka sudah menjadi Kaisar lagi, kami yakin paduka tidak akan memusuhi kami.”

“Hal itu tergantung kepada sikapmu, paman Esen,” kata Kaisar Ceng Tung dengan bijaksana. “Kami tidak akan memusuhi golongan yang bersikap baik kepada kami. Bukankah begitu, paman Liu Siong Ki?” Setelah kini berhubungan sebagai suami isteri dengan Chi Li, Kaisar juga sudah lama berhubungan dan berkenalan dengan guru selirnya itu.

“Hamba yakin akan kebijaksanaan Sribaginda,” kata Liu Siong Ki.

“Kalau begitu, mulai sekarang paduka kami bebaskan. Bahkan paduka akan kami beri pasukan pengawal untuk kembali ke kota raja dengan selamat. Tentu saja kami mengharapkan paduka tidak akan melupakan kebaikan kami, terutama sekali tidak melupakan anak isteri paduka yang berada di sini.

Kaisar Ceng Tung mengerutkan alisnya. “Aku akan mengajak Chi Li pergi bersamaku.”

Akan tetapi Esen menggeleng kepalanya. “Sebaiknya jangan, Sribaginda. Keponakanku itu sedang mengandung tua, sungguh tidak baik bagi kesehatannya kalau melakukan perjalanan yang jauh dan sukar.”

Mengertilah Kaisar Ceng Tung. Chi Li ditahan di situ untuk menjamin agar dia kelak bersikap baik terhadap suku Oirat! Terpaksa dia menyatakan persetujuannya.

“Baiklah, paman Esen. Kami hanya minta agar paman Liu Siong Ki ikut pula mengawal kami sampai ke kota raja.”

Permintaan ini diluluskan dan Kaisar lalu pergi ke pondoknya untuk berkemas.

Chi Li yang mengandung tua itu menyambutnya dengan sikap manis. Kini Chi Li merupakan seorang isteri yang amat mencinta suaminya. Alasan-alasan kebangsaan sudah lama lenyap tak pernah dipikirkan lagi. Kini dia adalah isteri Ceng Tung yang mencinta suaminya.

Melihat suaminya seperti orang berkemas, Chi Li merasa heran dan bertanya. “Eh, Sribaginda hendak pergi ke manakah?” Ia bersandar kepada suaminya dan memandang khawatir.

“Chi Li, hari ini paman Esen membebaskan aku. Aku akan kembali ke kota raja bersama pasukan pengawal.” Wanita itu terbelalak dan wajahnya menjadi agak pucat. “Pulang...? Dan saya...?”

“Engkau sedang mengandung, sayang. Kandunganmu sudah tua dan melakukan perjalanan jauh dan sukar itu amat tidak baik bagi kesehatanmu.”

Chi Li menangis. “Sribaginda, bukankah berulang kali paduka mengatakan bahwa paduka akan membawa saya ke manapun paduka pergi? Kenapa sekarang paduka hendak meninggalkan saya yang dalam keadaan mengandung?”

“Chi Li, kekasihku, aku tidak melanggar janji. Akan tetapi ini demi kebaikanmu sendiri, demi keselamatan anak kita yang berada dalam kandunganmu. Jangan khawatir, kalau kelak aku sudah kembali ke kota raja dan anakmu sudah terlahir dengan selamat, aku akan mengirim pasukan untuk menjemputmu.”

Kaisar Ceng Tung melepaskan seuntai kalung yang hiasannya dari batu giok berbentuk naga, “Simpanlah ini baik-baik karena ini merupakan tanda bahwa engkau dan anakmu adalah keluargaku. Di kerajaanku, takkan ada yang berani mengganggu kalau engkau memperlihatkan benda ini.”