--> -->

Pembunuhan Zodiak Tokyo Jilid 3 : Mengejar Azoth

ADEGAN 1 LANGKAH PADA PAPAN CATUR

"Hei, Emoto!” Kiyoshi berseru saat melihat temannya yang menunggu kami di peron Stasiun Kyoto.

"Sudah lama sekali!” Emoto berkata seraya menyambut Kiyoshi, menjabat tangannya. Senyum lebar terpampang di wajahnya. "Bagaimana kabarmu?”

"Sayangnya," Kiyoshi menyeringai, "kabarku tidak terlalu baik, tapi aku senang sekali bertemu denganmu.” Dia memperkenalkan aku kepada Emoto.

"Wah, sedikit sekali barang bawaan kalian!” komentar Emoto ketika dia mengangkat tas-tas kami. Dia bertubuh cukup tinggi, dengan rambut pendek yang dipangkas rapi, dan kelihatannya memiliki sifat menyenangkan dan santai.

"Yeah. Kami langsung melompat ke dalam kereta.”

"Nah," Emoto berkata, menatap Kiyoshi. “Pilihan waktumu sangat bagus. Kau datang tepat waktu untuk cericeri itu.”

“Ceri?” ulang Kiyoshi dengan raut muka bingung. "Oh ya, sekarang musim bunga ceri! Kazumi akan senang sekali.”

Selain bunga cerinya, kota Kyoto terkenal dengan cara kota ini dirancang — dalam bentuk kisi, seperti papan catur. Setiap jalan mengarah ke selatan-utara atau timur-barat, seperti New York. Emoto tinggal di Nishi-kyogoku, sebelah barat daya dari pusat kota. Saat dia membawa kami ke rumahnya, aku melihat-lihat pemandangan kota. Banyak papan tanda neon dan bangunan kantor. Beberapa wilayah Kyoto tampak mirip Tokyo.

Emoto memiliki apartemen dengan dua kamar. Agaknya, Kiyoshi dan aku akan berbagi kamar untuk pertama kalinya dalam hidup kami.

"Kita akan sibuk besok. Sebaiknya kita tidur,” kata Kiyoshi sembari menyusup ke dalam futon'-nya.

Suara Emoto terdengar dari balik pintu. “Kalian mau memakai mobilku?”

"Tidak, terima kasih,” balas Kiyoshi, yang sudah berada di balik selimut.

Keesokan paginya, kami naik kereta api Jalur Hankyu ke Shijo-Kawaramachi, dekat dengan alamat rumah Tamio Yasukawa yang kami miliki.

"Alamat Yasukawa adalah Rokkaku-agaru, Tominokoji. Apakah kau tahu bagaimana mencari rumah berdasarkan alamatnya di Kyoto sini?”

"Maaf, seandainya kau lupa, aku dari Tokyo.”

“Baiklah, satu pelajaran singkat, kalau begitu. Rumahnya terletak di Jalan Tominokoji, yang mengarah ke utara-selatan. Dan Rokkaku mengarah ke timur-barat. Tempat kedua jalan itu bertemu adalah lokasi yang kita cari. Agaru artinya letak rumah tersebut sedikit 'naik' dari Rokkaku— dengan kata lain, ke arah utara.”

"Ah, begitu rupanya.”

Kami turun dari kereta dan menaiki tangga.

“ Kasur tradisional Jepang, terdiri atas matras futon, selimut, dan bantal.

"Shijo-Kawaramachi merupakan wilayah tersibuk di Kyoto. Namun para pecinta Kyoto bersepakat dengan suara bulat bahwa itu wilayah terburuk kedua di kota ini. Yang pertama adalah Menara Kyoto.”

"Mengapa begitu?”

"Karena bangunan itu tidak sesuai dengan gambaran mereka tentang Kyoto.”

Tepat seperti perkataannya, ketika sampai di permukaan tanah yang dapat kami lihat hanyalah barisan gedung modern yang berderet di jalan. Sudah tentu ini adalah Kyoto baru. Aku ingin tahu di mana Kyoto lama berada.

Kiyoshi berjalan bergegas, dan aku mengikuti. Menyeberangi jalan yang sibuk, kami tiba di jalan besar yang bersisian dengan sebuah sungai sempit dan dangkal. Airnya luar biasa jernih, bebatuan di dasarnya terlihat jelas. Rumput air menari lembut dalam alunan arus air yang memantulkan sinar matahari pagi. Kami jelas tidak dapat menemukan yang semacam itu di Tokyo.

"Ini Sungai Takase,” tutur Kiyoshi. "Sebenarnya ini sebuah kanal. Para pedagang menggalinya untuk mengangkut muatan barang mereka.” Itu penjelasan terlengkapnya, sementara kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, Kiyoshi mendadak berhenti di depan sebuah bangunan.

"Apa ini?” aku bertanya.

"Restoran Cina. Ayo kita makan.”

Saat kami makan, tidak banyak yang dibicarakan. Kami berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran. Aku berusaha membayangkan seperti apa kehidupan Yasukawa. Sejak namanya disebut-sebut dalam Pembunuhan Zodiak Tokyo, tidak diragukan lagi dia telah banyak didatangi tamu-tamu tak diundang yang ingin mewawancarainya. Dia pasti menginginkan kedamaian dan ketenangan. Sayangnya, bayangan tentang dirinya yang selalu terpatri di benakku adalah seorang pria kesepian yang sudah dikuasai minuman keras. Tidak masalah. Kepentinganku adalah membuktikan bahwa Heikichi Umezawa masih hidup —atau setidaknya tidak dibunuh.

Entah apa yang ada dalam pikiran Kiyoshi.

Ketika akhirnya kami sampai di alamat Yasukawa, Kiyoshi kebingungan. “Ini Tominokoji... dan itu Rokkaku... tetapi ada yang salah. Kita tidak bisa berjalan lebih jauh, di sebelah sana nama jalannya sudah berbeda. Ini satusatunya kompleks apartemen di sini. Mungkin dia tidak tinggal di apartemen...”

Di lantai dasar terdapat bar bernama Kupu-Kupu. Tak punya banyak pilihan, kami menaiki tangga sempit ke lantai dua tempat apartemen berada. Bangunan ini bukan yang paling bersih atau paling baru. Kami meneliti kotak-kotak surat di koridor, tidak ada yang memasang nama Yasukawa.

Kiyoshi mulai terlihat frustrasi, tetapi dengan segera dia mengumpulkan kembali ketenangannya yang biasa saat mengetuk pintu terdekat. Tidak ada jawaban, jadi dia mencoba pintu berikutnya. Lagi-lagi tak ada jawaban.

"Ini tidak bagus,” katanya. “Mereka mungkin mengira kita penjual barang dari pintu ke pintu. Kita coba pintu di ujung lorong ini.”

Taktik itu berhasil. Saat kami mengetuk pintu terjauh, seorang wanita tua gemuk membukanya.

“Permisi, Nyonya, kami tidak menjual apa-apa. Saya ingin tahu apakah Nyonya bisa menolong kami,” Kiyoshi bertanya, menampilkan sikap terbaiknya. "Kami sedang mencari seorang pria tua bernama Tamio Yasukawa. Apakah dia tinggal di gedung apartemen ini?”

"Mr. Yasukawa? Coba saya ingat dulu... Oh, ya, saya ingat dia. Dia sudah lama sekali pindah.”

Kiyoshi berbalik menghadapku, seolah-olah dia sudah menduganya.

"Oh, benarkah? Apakah Anda tahu ke mana dia pindah?”

"Saya tidak tahu. Mengapa Anda tidak menanyakannya pada manajer di lantai bawah? Namanya Okawa, tapi mungkin dia sedang keluar sekarang. Dia memiliki sebuah bar di Kita-shirakawa. Kalau tidak ada di sini, biasanya dia ada di sana.”

"Apa nama barnya?”

“Kupu-Kupu Putih.”

Kiyoshi berterima kasih kepadanya, dan kami pun pergi. Tetapi, seperti diperkirakan wanita tua itu, tidak ada yang menyahut saat kami mengetuk pintu di lantai bawah.

"Baiklah, mari kita pergi ke Kita-shirakawa dan mencari Mr. Okawa.”

Saat bus yang kami tumpangi bergerak menuju bagian utara kota, di sana-sini terlihat banyak kuil dan bangunan tua. Pemandangannya begitu indah, sehingga aku mulai membayangkan seperti apa rasanya tinggal di tempat itu.

Bar tersebut tepat berada di sebelah perhentian bus Kita-shirakawa. Sebelum kami sempat mengetuk, seorang pria membuka pintunya.

"Maaf, apakah Anda kebetulan Mr. Okawa?”

Pria itu tertegun ketika mendengar suara Kiyoshi, dan dia menatap kami bergantian.

Kami menjelaskan alasan kunjungan kami dan mengajukan pertanyaan kami.

"Hmm... Sebentar... Bisakah saya mengingat sampai sejauh itu?” dia berkata seraya mengamati kami dengan  hati-hati. "Mungkin saya menyimpannya dalam buku catatan saya, tetapi semuanya ada di apartemen saya di Kawaramachi. Apakah kalian ada kaitannya dengan polisi?”

Sikap Kiyoshi luar biasa tenang. "Yah,” dia menyeringai, "kelihatannya kami seperti apa?”

“Boleh saya lihat kartu nama Anda?”

Aku agak bingung dengan permintaan Okawa, tetapi Kiyoshi sedang bersemangat. Dia menautkan alisnya dan berbicara kepada Okawa dengan suara pelan, “Terus terang, Mr. Okawa, kami tidak diizinkan memperlihatkan kartu nama kami kepada warga sipil. Saya minta maaf. Apakah Anda pernah mendengar tentang Agen Penyelidikan Keamanan Publik?”

”"Mmm, yaa, sepertinya saya pernah dengar...” gumam Okawa. Sekarang giliran dia yang tampak gelisah.

"Nah..." Kiyoshi berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Sebenarnya saya tidak boleh mengatakan ini. Tolong lupakan kalau saya pernah menyingggungnya. Kapan Anda bisa menemukan alamat terbaru Mr. Yasukawa?”

Okawa tiba-tiba menjadi sangat kooperatif. "Saya harus pergi ke Takatsuki sekarang, tetapi saya akan segera kembali. Saya akan mendapatkan alamatnya pukul lima sore. Bisakah Anda menelepon saya sekitar waktu itu? Saya akan memberikan nomor saya...”

"Kau hebat,” aku berbisik pada Kiyoshi, saat kami berderap kembali ke jalan utama. "Aku tidak tahu kau pandai menipu!”

"Oh, itu hanya masalah logika,” dia menanggapi dengan santai. "Mungkinkah seorang detektif mengungkapkan jati dirinya?”

Taktik Kiyoshi berhasil dengan baik, tetapi aku gelisah. Kami punya empat jam waktu luang—empat jam yang akan terbuang percuma. Dan ini sudah hari Jumat tanggal 6.

Kami berjalan menyusuri sungai sampai tiba di sebuah jembatan dengan lalu lintas padat. Aku mengenali sebuah bangunan tinggi: kami telah kembali ke Shijo-Kawaramachi, tempat kami memulai kegiatan hari ini. Aku sedang membayangkan betapa nikmatnya meneguk minuman dingin ketika Kiyoshi mulai berbicara.

"Ada sesuatu yang hilang... Dan kemungkinan itu sesuatu yang sangat, sangat sederhana,” dia berkata, matanya menekuri tanah. “Kasus ini memang ganjil dan tidak dapat dipahami, tetapi aku punya firasat bahwa kasus ini sebenarnya tidak terlalu sulit dipahami. Kalau kita bisa menemukan mata rantai yang hilang, kita akan memahami keseluruhan kisah ini. Kita mungkin harus meninjau kasus ini dari awal, terutama setengah bagian pertamanya. Ya, aku rasa jawabannya terletak pada mata rantai yang hilang itu. Selama empat puluh tahun, detektif di seluruh penjuru Jepang membentur tembok penghalang. Yah, akulah detektif yang tidak akan menyerah!”

ADEGAN 2 KEBUSUKAN

Kami duduk di sebuah kedai kopi dan menghabiskan waktu dengan menyeruput jus buah tanpa terburuburu — perlahan-lahan sekali. Ketika waktu menunjukkan hampir pukul lima, Kiyoshi tiba-tiba berdiri dan pergi ke telepon umum. Dia bicara selama beberapa saat, kemudian kembali.

"Aku sudah dapat!” Hanya itu yang dia katakan. Aku menyambar barang-barangku dan mengikutinya keluar pintu.

Jalan bertambah padat dengan orang-orang yang pulang dari tempat kerja. Kiyoshi berjalan lurus menembus keramaian yang menyeberangi jembatan di atas Sungai Kamo.

"Jadi, dia tinggal di mana?”

"Di Neyagawa, arah ke Osaka. Kita bisa menumpang kereta api Jalur Keihan dari sana.”

Stasiun kereta berada tepat di depan kami.

Dari peron kami bisa melihat sungai perlahan-lahan berubah warna bersamaan dengan datangnya malam.

Kami turun di Stasiun Korien. Huruf Cina dalam nama tersebut berarti “taman di desa yang harum”, sehingga aku membayangkan sebuah wilayah nyaman penuh pepohonan. Kenyataannya sangat jauh dari bayanganku. Dari yang bisa aku lihat, tempat itu kebanyakan berisi bar-bar kecil dan kelab-kelab malam dengan papan tanda neon mencorong yang baru saja dinyalakan untuk menarik pelanggan pertama malam itu. Sejumlah pekerja kantor yang rupanya memutuskan untuk minum-minum lebih awal menyusuri jalan, dan beberapa pramuria dengan riasan tebal melewati kami dalam perjalanan ke tempat kerja.

Hari sudah benar-benar gelap saat kami menemukan alamat yang diberikan Okawa. Manajer blok tersebut sedang keluar, jadi kami naik ke atas dan mulai mengetuk pintu lagi. Seorang wanita separuh baya mengatakan dia tidak pernah mendengar ada penghuni bernama Yasukawa.

Kami lebih beruntung dengan penyewa apartemen berikutnya. "Ada satu orang yang belum lama ini pindah,” katanya. "Saya rasa namanya Yasukawa. Kami tidak pernah mengobrol, jadi saya tidak tahu dia pindah ke mana. Mengapa kalian tidak menanyakannya kepada manajer?”

Kiyoshi tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Tetapi kami tetap mendatangi kantor manajer lagi dan, dengan terkejut, mendapati bahwa dia baru kembali dari tugasnya.

"Saya tidak tahu ke mana keluarga itu pindah,” dia menjawab, berusaha bersikap kooperatif. “Sepertinya mereka tidak ingin memberitahu siapa pun, dan saya tidak mendesak mereka. Mereka pasti sedih sekali, karena si kakek baru saja meninggal.”

“Meninggal?” seru Kiyoshi dan aku berbarengan.

"Maksudmu Tamio Yasukawa?” tanya Kiyoshi.

"Tamio? Oh, benar, namanya kira-kira seperti itu.”

Jadi, Yasukawa meninggal di sini di Osaka. Aku merasa hilang semangat. Sekarang kami tidak mungkin tahu seperti apa kehidupannya. Dia pernah tinggal di Tokyo, dia pernah ikut perang, dan dia pindah ke Osaka. Dan hidupnya berakhir di apartemen tua ini, dengan dindingdinding yang sudah retak.

Tanpa kami duga, si manajer bisa memberikan informasi baru kepada kami. Dia memberitahukan bahwa Yasukawa tidak hidup sendiri. Dia punya seorang putri, yang kemungkinan berusia tiga puluhan. Wanita itu menikah dengan seorang tukang kayu dan mereka dikaruniai dua orang anak.

Bola lampu di koridor berkedip-kedip, dan si manajer melemparkan pandangan benci setiap kali cahayanya mengecil.

Hatiku tenggelam dalam kesedihan yang getir. Aku merasa seperti seorang anak yang tertangkap berbuat salah. Kami sedang melacak seorang pria malang yang tidak pernah merasakan hidup bahagia, dan waktu yang dia miliki telah habis. Ini bukan lagi sebuah petualangan. Rasanya sangat busuk mengendus-endus sejarah pribadi pria tua itu—kebusukan yang melanggar semua prinsip kemanusiaan.

Kiyoshi juga tampak termangu-mangu.

“Kalau kalian benar-benar ingin tahu ke mana mereka pergi,” si manajer menawarkan diri, "kalian bisa bertanya pada perusahaan pengangkutan. Mereka baru bulan lalu kemari, jadi saya masih ingat namanya — Pengangkutan Neyagawa. Kantor mereka terletak di depan Stasiun Neyagawa.”

Kami mengucapkan terima kasih dan pergi.

"Pukul berapa ini?” tanya Kiyoshi.

"Delapan lewat sepuluh.”

“Berarti kita masih punya waktu,” katanya gembira. "Sekarang kita ke Pengangkutan Neyagawa.”

Kami berjalan kembali ke stasiun dan menaiki kereta ke Neyagawa.

Tidak sulit menemukan perusahaan tersebut, tetapi sudah terlambat untuk berbicara dengan siapa pun. Dari papan tanda bertuliskan “PINDAH? HUBUNGI KAMI!" Kiyoshi mencatat nomor telepon perusahaan tersebut. Dia akan menelepon mereka besok pagi. Setelah itu kami pulang ke apartemen Emoto.

Dan berakhirlah hari Jumat tanggal 6 April.

ADEGAN 3 MENYEBERANGI BULAN

Keesokan paginya aku terbangun oleh suara Kiyoshi: dia sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Saat itu sudah cukup siang dan Emoto pastilah sudah berangkat ke tempat kerja. Aku bangun, menyimpan futon di lemari, dan pergi ke dapur untuk menyeduh kopi. Sewaktu aku masuk ke ruang tamu untuk menawari Kiyoshi secangkir kopi, dia baru menuntaskan teleponnya. Dia merobek selembar kertas dari bloknotnya dan berkata, "Putri Yasukawa tinggal di Higashi-yodogawa di Osaka. Aku tidak bisa memperoleh alamat tepatnya, tetapi menurut petugas di perusahaan pengangkutan, rumahnya tidak jauh dari stasiun bus di Toyosato-cho, menyusuri sebuah gang, dan dekat kedai kue dadar bernama Omichi-ya. Nama suaminya Kato. Ayo berangkat!”

Ketika kami tiba di Toyosato-cho, kami bisa melihat di kejauhan jembatan besi yang melintasi Sungai Yodo. Daerah ini tidak terurus. Ban-ban bekas bertebaran di sebentang tanah kosong yang dipenuhi rumput liar. Namun jalan di situ tampaknya baru diaspal. Kami menyusuri sebuah gang di antara kerumunan gubuk, dan sesaat  kemudian menemukan kedai kue dadar itu. Tak jauh dari situ terdapat beberapa kompleks apartemen sederhana. Dari nama-nama di kotak surat, kami dengan cepat menemukan apartemen keluarga Kato.

Kami menaiki tangga kayu dan berjalan ke apartemen mereka, meliuk-liuk di antara baju-baju yang dijemur di lorong. Jendela mereka sedikit terbuka, dan kami bisa mendengar suara piring dicuci dan bayi menangis.

Kiyoshi mengetuk, dan tak lama kemudian seorang wanita membuka pintu. Dia tidak memakai riasan dan rambutnya berantakan. Itu putri Yasukawa. Kiyoshi mulai menjelaskan tujuan kedatangan kami, tetapi putri Yasukawa memotongnya sebelum dia sempat berbicara banyak.

"Tidak ada yang bisa saya katakan! Ayah saya tidak melakukan apa pun. Kami sudah cukup diganggu. Tinggalkan kami!” Dia membanting pintu, membuat bayinya meraung semakin kencang.

Kiyoshi berdiri di depan pintu, bergeming. Dia tampak kaget.

Aku tidak menyangka akan mendengar putri Yasukawa berbicara dalam dialek Kanto: kami berada di pedalaman wilayah Kansai, dan selama dua hari terakhir aku hanya mendengar berbagai variasi dialek Kansai.

Saat kami berjalan menjauhi bangunan apartemen tersebut, Kiyoshi berkata perlahan, "Sudah kuduga dia akan menolak berbicara dengan kita. Ayahnya pasti akan berbuat sama, jika dia masih hidup. Aku hanya ingin menemui Yasukawa atas nama Bunjiro Takegoshi. Oh, kita lupakan saja tentang Yasukawa dan putrinya.”

"Lalu apa yang akan kita lakukan?”

"Aku tidak tahu. Kita kembali saja ke Kyoto.”

Demikianlah, nyaris tanpa rencana apa pun di benak, kami menaiki kereta.

Di tengah perjalanan, Kiyoshi, yang sejak tadi terlihat berpikir keras, mendadak buka suara. "Kazumi, mumpung kau sedang di Kyoto, mengapa tidak kaugunakan kesempatan ini untuk berwisata? Aku sangat merekomendasikan Arashiyama, di sana bunga ceri pasti sedang mekar-mekarnya. Kau bisa ganti kereta pada perhentian berikutnya, Katsura. Ini ada buku petunjuk. Aku ingin sendirian supaya bisa berkonsentrasi. Kita bertemu lagi nanti di apartemen Emoto.”

Aku turun dari kereta di Arashiyama dan melangkahkan kaki menuju sungai. Kiyoshi benar mengenai satu hal: bunga-bunga ceri di sana sangat memesona.

Seorang maiko— gadis muda yang sedang berlatih menjadi geisha—melintas, menarik perhatian semua orang. Dia mengenakan kimono dan berjalan bersama seorang remaja laki-laki yang rambutnya dicat pirang. Di leher remaja itu tergantung kamera. Sandal kayu tebal milik sang maiko mengeluarkan bunyi lembut menyenangkan setiap kali dia melangkah.

Aku mengikuti kerumunan orang menyeberangi Sungai Katsura. Jembatan itu, menurut buku petunjuk, bernama Togetsu-kyo, yang berarti "jembatan yang menyeberangi bulan”. Maksudnya, ketika bulan terpantul pada permukaan sungai, kau akan benar-benar merasa seakan sedang melayang di atas bulan.

Di dekat jembatan terdapat sebuah kuil kecil. Tetapi ketika didekati, aku baru sadar bahwa itu sebenarnya bilik telepon yang dibuat menyerupai kuil. Aku terpikir untuk menelepon seseorang dari tempat itu, sekadar untuk bersenang-senang, tetapi tak seorang pun terlintas di benakku.

Setelah makan siang, aku berkeliling dengan menumpang trem. Kegiatan sederhana itu membuatku gembira, karena Tokyo tidak lagi mempunyai trem. Aku ingat pernah membaca novel misteri yang mengisahkan si detektif mendapat inspirasi saat berada di atas trem. Aku terkesiap menyadari bahwa novel-novel misteri yang bagus saat ini sudah sama usangnya dengan trem!

Aku tidak tahu ke mana trem itu menuju, dan aku turun di perhentian terakhir. Rupanya Shijo-Omiya. Aku melangkah menyusuri jalan yang sibuk, dan sekonyongkonyong mendapati diriku kembali berada di Shijo-Kawaramachi. Apakah semua jalan di Kyoto mengarah ke Shijo-Kawaramachi?

Dari sana, aku melanjutkan perjalanan ke Kuil Kiyomizu yang terkenal. Aku menyusuri trotoar batu Sannenzaka dan berhenti di sebuah kedai teh kecil untuk menikmati secangkir anggur beras amazake yang manis. Kemudian aku berjalan lagi.

Di depan sebuah toko barang antik, seorang wanita dalam balutan kimono memercikkan air ke trotoar untuk menyingkirkan debu. Dia berhati-hati agar tidak menciprati aku, dan terlintas di pikiranku betapa aku sangat menghargai perhatiannya.

Aku kembali ke Shijo-Kawaramachi. Aku merasa lelah setelah perjalanan wisata yang sibuk, dan memutuskan untuk pulang ke apartemen Emoto.

Emoto sudah pulang dari kantor.

"Oh, kau sudah pulang! Apakah kau menikmati wisatamu?”

"Ya, menyenangkan sekali.”

"Apa yang terjadi pada Kiyoshi?”

"Kami berpisah di atas kereta... Yah, sebenarnya dia mengusirku!”

Emoto mengerutkan dahi, setengah geli, setengah bersimpati.

Saat kami sedang menyiapkan tempura untuk makan malam, Kiyoshi datang dalam keadaan linglung, seakanakan sedang berjalan dalam tidur. Selain kata sapaan yang datar, dia tidak mengucapkan apa-apa lagi.

Setelah makan malam, sikapnya tidak berubah. Masakan Emoto sangat lezat, tetapi sepertinya Kiyoshi tidak menyadarinya.

“Besok hari Minggu,” si juru masak berkata kepadanya. "Hari liburku, jadi bagaimana kalau kita berkendara ke utara Kyoto? Aku tahu kau sibuk, tapi, menurut Kazumi, yang kaulakukan di sini kebanyakan adalah kerja otak. Bagaimana kalau kau ikut jalan-jalan? Kau bisa bekerja di dalam mobil.”

Kiyoshi mengangguk patuh. "Baiklah —asalkan kalian membiarkan aku duduk dengan tenang di kursi belakang.”

ADEGAN 4 TEPI SUNGAI

Kiyoshi tidak mengucapkan sepatah kata pun sementara Emoto membawa kami ke Sanzen-in, sebuah kelenteng di Ohara, sebelah utara Kyoto. Dia duduk di kursi belakang, bagaikan sesosok patung Buddha.

Kami berhenti di sebuah restoran Ohara untuk menikmati hidangan Zen kaiseki yang mewah. Bahkan ketika Emoto sibuk menjelaskan masakan tradisional tersebut, pikiran Kiyoshi tampak mengembara ke tempat lain.

Emoto dan aku cepat akrab, dan aku senang mendapat kesempatan mengunjungi banyak tempat di seputar Kyoto: Universitas Doshisha, Universitas Kyoto, Kastil Nijo, Kuil Hetan, Istana Kekaisaran, dan Studio Film Uzumasa.

Malam harinya, Emoto menraktir sushi di Kawaramachi, dan kemudian mengajak kami ke sebuah kedai kopi yang sangat menarik dan hanya menyajikan musik klasik.

Sepanjang hari itu sangat menyenangkan, meskipun kami tidak memperoleh kemajuan dalam kasus yang kami hadapi.

Ketika aku bangun keesokan paginya, Kiyoshi dan Emoto sama-sama sudah pergi.

Aku menyantap sarapan di dekat stasiun dan kemudian mulai berjalan tanpa tujuan pasti. Aku pergi ke pusat perbelanjaan, kemudian menyeberangi sungai kecil dan memasuki sebuah taman bermain. Beberapa kelompok pelari melintas. Aku mencoba mengembalikan perhatianku ke kasus ini.

Kasus Pembunuhan Zodiak bukanlah misteri biasa. Kasus ini telah mencapai tingkat begitu tinggi, sehingga kehidupan sejumlah orang sampai kacau karenanya. Ada yang menjual semua tanahnya untuk membiayai penyelidikan kasus ini. Ada lagi yang menjadi gila dan akhirnya bunuh diri dengan meloncat dari tebing ke Laut Jepang. Apakah aku juga akan dikorbankan di altar misteri ini?

Aku memutuskan untuk kembali ke Kawaramachi. Aku terpikat oleh kedai kopi yang memutar musik klasik itu dan berpikir untuk menyepi di sana. Setelah itu aku mungkin akan mampir ke toko buku untuk membeli buku mengenai ilustrasi.

Saat menunggu kereta lokal di peron stasiun, sebuah kereta cepat melesat lewat, menerbangkan sampah yang tercecer. Tiba-tiba saja aku teringat pemandangan tepi sungai di Toyosato-cho—tanah kosong, rumput liar, banban bekas. Aku berpikir tentang putri Yasukawa. Kegagalan berbicara dengannya meninggalkan lubang besar dalam penyelidikan kami. Kami membutuhkan kisahnya—apa pun yang bisa dia ceritakan kepada kami. Itu dia. Aku berdiri, menuruni tangga, dan menyeberang ke sisi lain rel kereta. Aku akan kembali untuk menemuinya.

Pukul empat lebih sedikit, aku tiba di Toyosato-cho. Tidak banyak kesibukan di stasiun. Hanya ada beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan kue dadar okonomiyaki dan kue bola takoyaki dengan isian daging gurita, keduanya camilan favorit di Kansai. Aku berjalan menuju jembatan di atas Sungai Yodo, menyusuri gang yang sama, menemukan kedai kue dadar, dan mulai menaiki tangga blok apartemen. Pada saat itu keraguan merayapi diriku.

Apakah dia akan bersedia bicara kepadaku? Pembunuhan keluarga Umezawa bukan topik menyenangkan, tetapi dia pasti punya setidaknya secuil ketertarikan mengenai keterlibatan ayahnya dalam kasus tersebut. Mungkin aku harus menyinggung tentang catatan Takegoshi. Hubungan kami dengan polisi itu jelas membedakan kami dari gerombolan detektif amatir yang dulu berbondong-bondong mengetuk pintu rumah mereka. Aku bisa mengatakan bahwa aku teman dekat putri Takegoshi. Itu tidak benar, tetapi aku harus melaksanakan kewajibanku. Yang aku inginkan adalah memperoleh sedikit saja petunjuk bahwa Umezawa Heikichi tidak tewas dibunuh. Selain itu, aku menyimpan ketertarikan tak senonoh terhadap kehidupan Yasukawa setelah kasus pembunuhan tersebut. Jika Heikichi tidak dibunuh, mungkinkah mereka terus berhubungan?

Saat itu tidak ada cucian baju di lorong. Aku mengetuk pintu. Wanita itu membukanya, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya karena melihatku lagi.

"Saya benar-benar minta maaf, tolong maklumi saya, saya tidak bermaksud kurang ajar, saya sungguh-sungguh minta maaf,” aku berkata sambil membungkuk berulang kali. Aku ingin sekali mendapatkan beberapa kata di balik pintu itu sebelum dia membantingnya di depan  mukaku. "Saya datang sendirian. Saya punya informasi baru mengenai kasus itu, dan saya ingin menyampaikannya kepada Anda...”

Aku mungkin terlihat sangat serius— dan bisa jadi sedikit konyol— memohon maaf dengan begitu sungguh-sungguh. Dia tersenyum, lalu perlahan-lahan melangkah keluar pintu. “Sebaiknya kita ke tepi sungai,” katanya. "Anak saya senang berada di luar.”

Begitu tiba di sana, aku mulai bicara, hampir tanpa jeda untuk menarik napas. Anehnya, dia kelihatan tidak begitu tertarik dengan ceritaku seperti dugaanku semula. Tetapi dia mendengarkan, dan kemudian dia mulai bicara.

"Nah, Mr. Ishioka, apa yang bisa saya katakan kepada Anda? Saya dibesarkan di Tokyo. Rumah saya terletak di dekat Stasiun Hasunuma pada Jalur Ikegami, tapi ibu saya biasa berjalan ke Kamata untuk menghemat uang,” dia bertutur, tersenyum sinis. "Orangtua saya tidak bercerita tentang masa muda mereka, jadi saya tidak tahu sebanyak apa bantuan yang bisa saya berikan. Yang saya tahu, setelah pembunuhan keluarga Umezawa, ayah saya dipanggil untuk menjalani wajib militer. Dia terluka dalam perang: lengan kanannya lumpuh. Setelah kembali ke Jepang, dia bertemu ibu saya dan menikahinya. Awalnya mereka bahagia, tetapi kemudian ayah saya terperosok ke dalam gaya hidup yang agak sembrono. Kami jatuh miskin dan hidup dengan tunjangan, sementara ayah saya berjudi. Dia pergi ke tempat pacuan Omori dan Oi setiap hari. Ibu saya terpaksa bekerja. Apartemen kami hanyalah ruangan seluas enam-tikar tatami. Tempat itu terlalu kecil untuk kami bertiga, tetapi tak ada pilihan lain. Ayah saya mabuk dan menyiksa ibu saya setiap hari. Kadang-kadang dia berhalusinasi, berkeras bahwa dia melihat para kenalan yang sudah meninggal...”

Aku harus memotong. "Siapa mereka? Apakah dia menyebut Heikichi Umezawa?”

"Sudah saya kira Anda akan menanyakannya. Ya, saya mendengar dia menyebut Umezawa, tapi bagaimana mungkin kami memercayai ayah saya? Sebagian besar yang dia katakan tidak masuk akal. Dia mungkin berkhayal akibat mengonsumsi alkohol atau narkoba. Dia kerap kali menggunakan morfin.”

"Kalau ayah Anda benar-benar melihat Umezawa, maka dia seharusnya menjadi saksi yang sangat penting dalam kasus ini.”

Dengan bersemangat aku memaparkan teoriku kepadanya: Heikichi membunuh kembarannya dan menghilang: dia membunuh Kazue agar kejahatannya tidak terbongkar, hanya Heikichi yang memiliki motivasi untuk melakukan pembunuhan Azoth...

Minat Mrs. Kato terhadap kasus ini kelihatannya semakin berkurang. Dia menggoyangkan bayinya naik-turun di punggungnya, membuat angin bertiup di sela-sela rambutnya.

"Apakah ayah Anda pernah mengatakan sesuatu tentang Azoth?” aku bertanya.

"Yah, dia mungkin pernah mengatakan sesuatu, tetapi waktu itu saya masih kecil... Sepertinya saya mendengar nama Heikichi Umezawa disebut-sebut lagi belakangan ini, tetapi saya tidak tertarik pada kasus maupun orang itu. Saya masih merasa muak jika mendengar namanya. Nama itu hanya membangkitkan kenangan buruk. Orang-orang asing tak henti-hentinya mengganggu kami. Sekali waktu saya pernah pulang ke rumah dan mendapati seorang pria duduk di dalam apartemen kami, menunggu ayah saya, bermaksud mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol. Kami tidak punya privasi, dan saya hidup dengan rasa malu setiap hari. Sekarang pun  saya masih marah. Itu salah satu alasan mengapa kami pindah ke Kyoto.”

"Saya minta maaf. Anda sudah mengalami banyak kesukaran, dan saya malah menambahnya. Saya benar-benar minta maaf telah mengganggu Anda.”

"Tolong jangan minta maaf. Saya minta maaf soal kemarin itu. Kalian datang pada waktu yang salah, dan saya kehilangan kesabaran.”

"Anda baik sekali, dan saya berterima kasih karena Anda mau bicara dengan saya. Apakah ibu Anda sehat?”

“Dia menceraikan ayah saya. Dia ingin membawa saya bersamanya, tetapi Ayah melarang. Setelah Ibu pergi, dia menjadi ayah yang baik untuk saya. Saya menyesal dia harus meninggalkan pekerjaan yang dia sukai. Kami miskin, tetapi pada masa itu banyak orang miskin, jadi saya tak pernah merasa malu dengan keadaan kami.”

"Apakah ayah Anda punya teman dekat?”

"Dia berjudi dan minum-minum dengan orang yang berbeda-beda, tetapi dia hanya punya satu teman dekat, Shusai Yoshida. Ayah saya sangat mengaguminya.”

"Apakah dia masih hidup?”

"Ya, masih.”

"Apa pekerjaannya?”

"Saya rasa dia peramal nasib gaya Cina. Umurnya kira-kira sepuluh tahun lebih muda dari ayah saya. Mereka bertemu di sebuah bar di Tokyo.”

“Di Tokyo?”

“Ya, benar.”

“Apakah ayah Anda juga tertarik pada ramalan nasib?"

"Setahu saya tidak. Ayah menyukai Mr. Yoshida karena mereka sama-sama tertarik pada pembuatan boneka.”

"Pembuatan boneka?”

"Ya, saya rasa itu yang membuat mereka berteman. Setelah Mr. Yoshida pindah ke Kyoto, ayah saya ikut pindah.”

"Apakah Anda mengatakan ini kepada polisi?”

"Polisi? Kenapa saya harus mengatakannya? Tidak, tidak pernah.”

“Saya ingin mengajukan dua pertanyaan lagi kepada Anda. Dari apa yang Anda dengar dari ayah Anda, apakah menurut Anda Heikichi Umezawa masih hidup? Dan apakah menurut Anda dia benar-benar membuat Azoth?”

“Saya tidak tahu. Saya tidak menganggap serius ucapan ayah saya. Dia kelihatannya yakin Umezawa masih hidup, tapi—saya akan mengatakannya lagi kepada Anda—ayah saya sudah kehilangan akal sehat. Kalau Anda sempat bertemu dengannya, Anda pasti bisa melihatnya. Mengapa Anda tidak menemui Mr. Yoshida saja? Dia pasti lebih bisa diandalkan. Ayah saya memercayai dia sepenuhnya. Saya pikir dia tidak akan menutupi kenyataan.”

"Di mana dia tinggal?”

"Saya hanya sekali bertemu dia, dan saya tidak menyimpan alamat maupun nomor teleponnya. Saya ingat dia tinggal di dekat Bengkel Karasuma di Subdistrik Kita, Kyoto. Itu di ujung Jalan Karasuma. Kalau Anda bertanya pada seseorang, saya yakin dia tahu di mana letaknya.”

Aku mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Dia berjalan menjauh, menidurkan bayinya. Dia tidak menoleh lagi ke arahku.

Aku menuruni pinggiran sungai, dan berjalan memasuki barisan ilalang, menyusuri jalan setapak sempit yang mengarah ke air. Ilalang itu lebih tinggi daripada  tubuhku, membuatku merasa sedang berjalan di dalam terowongan. Di tepi air, riak-riak lembut memukuli tanah yang menghitam. Aku menengadah. Jembatan besi itu memetakan bayangan pada permukaan sungai sementara hari beranjak gelap, dan lampu-lampu mobil mulai berpendaran.

Berbicara dengan putri Yasukawa telah memompa semangatku.

Jadi ayahnya menganggap Heikichi tidak mati... Yoshida Shusai pasti mengetahui sesuatu.

Saat itu pukul tujuh lewat lima pada malam tanggal 9. Kami punya waktu tiga hari penuh sebelum tenggat waktu kami. Aku tidak boleh membuang waktu.

Aku menumpang kereta kembali ke Shijo-Kawaramachi, dilanjutkan dengan bus yang melewati Bengkel Karasuma. Aku sama sekali tidak tahu jalan, dan sepertinya bus itu mengambil rute yang paling berputar-putar. Hampir pukul sepuluh malam ketika aku tiba di sana. Jalanan sepi. Aku menyusuri jalan, mencari rumah dengan nama Yoshida, tanpa hasil. Aku menanyakan arah di pos polisi lingkungan tersebut.

Akhirnya aku menemukan rumah itu, tetapi tidak terlihat lampu menyala di dalam rumah. Terlambat lagi! Aku memutuskan untuk kembali besok. Aku hanya berharap dia ada di rumah pada saat itu.

Saat aku kembali ke apartemen Emoto, tempat itu sepi. Kiyoshi dan Emoto sudah pergi tidur. Kiyoshi berbaik hati menggelar tikar tatami untukku —mungkin dia hanya tidak ingin terganggu dengan kedatanganku yang sangat larut. Apa pun itu, aku menghargai tindakannya. Tanpa  bersuara aku menyusup ke bawah selimut, memikirkan semua yang telah terjadi dan semua yang menanti di depanku. Napasku melambat, dan aku tergelincir dalam tidur pulas.

ADEGAN 5 SI PEMBUAT BONEKA

Aku terbangun keesokan paginya dan mendapati Kiyoshi dan Emoto sudah pergi—lagi. Aku tidak sempat memberitahu Kiyoshi mengenai semua yang aku dapatkan dari putri Yasukawa, informasi yang membuatku sangat bersemangat. Aku menyesal bangun kesiangan, tetapi kemudian terpikir olehku: aku bisa melanjutkan penyelidikanku secara terpisah. Dan kalau aku berhasil memecahkan kasus ini sebelum Kiyoshi, itu akan menambah akhir yang bahagia.

Aku berpakaian dan berangkat ke Bengkel Karasuma. Aku tiba di rumah Shusai Yoshida sekitar pukul sepuluh pagi. Aku membuka pintu geser di jalan masuk dan berseru menanyakan apakah ada orang di rumah. Seorang wanita tua berpakaian kimono muncul. Aku menanyakan apakah aku bisa bicara dengan Mr. Yoshida.

"Sayangnya suami saya sedang di Nagoya,” dia menjawab.

Aku merasa tertohok. “Boleh saya tahu kapan dia kembali?”

"Mungkin malam ini.”

Yah, itu lebih baik daripada tidak mendapat apa-apa.

Aku meminta nomor mereka supaya aku bisa menelepon dulu sebelum datang lagi.

Patah semangat, aku berjalan ke utara di sepanjang sisi Sungai Kamo hingga sungai itu bertemu dengan Sungai Takano. Tanpa kusadari, aku mendapati diriku berada di dekat Imadegawa, tempat keluarga mantan istri Heikichi, Tae, menjalani kehidupan mereka yang menyedihkan.

Saat ini tanggal 10. Dua hari lagi kami harus menyelesaikan urusan kami dengan Takegoshi Jr. Sepertinya mustahil kami sudah memperoleh sesuatu pada saat itu, bahkan mengharapkan adanya satu petunjuk penting dari Shusai Yoshida malam ini atau sejumlah petunjuk tak terduga besok.

Aku menelepon rumah Yoshida pukul dua siang. Istrinya mengabarkan bahwa Yoshida belum pulang dan memohon maaf. Aku tidak ingin terus-terusan mengganggunya, jadi kuputuskan untuk tidak menelepon lagi sebelum pukul lima sore. Tetapi aku bisa merasakan serangan frustrasi yang makin kuat.

Aku duduk di taman selama beberapa saat, dan kemudian pergi ke toko buku. Akhirnya aku mendatangi sebuah kedai kopi di lantai dua agar bisa mengamati orang yang lalu-lalang tanpa dilihat mereka. Pukul 16.50 aku tak bisa menunggu lagi. Aku memutar nomor Yoshida dan bersukacita mendengar dia sudah pulang. Aku menutup telepon dan berlari keluar, nyaris menabrak seorang pelayan yang membawa baki kopi panas.

Putri Yasukawa mengatakan Shusai Yoshida berusia sekitar enam puluh tahun, tetapi kepalanya yang dipenuhi uban membuat dia kelihatan lebih tua. Dia menyambutku dengan sopan dan mengajak aku ke ruang tamu. Setelah duduk di sofa, dengan tergesa-gesa aku menceritakan  pengakuan tertulis Bunjiro Takegoshi dan percakapanku dengan putri Yasukawa.

"Kelihatannya Mr. Yasukawa berpikir bahwa Heikichi Umezawa masih hidup. Apakah menurut Anda dia hidup? Dan jika iya, apakah dia membuat Azoth?” aku bertanya.

Sambil bersandar di kursinya, Yoshida mendengarkan dengan tenang dan penuh perhatian. Penampilannya menyenangkan —rambut kelabunya dengan bagus membingkai wajahnya yang agak sempit, dan matanya memancarkan sinar kuat tetapi lembut. Postur tubuhnya tegap dan kondisi kesehatannya tampak baik. Tanpa dapat dicegah, aku membayangkan dirinya sebagai serigala penyendiri.

“Saya tahu tentang kasus itu, tentu saja,” dia memulai. "Saya menyelidikinya dengan teknik ramalan nasib saya, tetapi tidak berhasil memperoleh kesimpulan apa pun dalam hal kematian Heikichi Umezawa. Saya pikir kemungkinan dia mati adalah enam puluh persen. Mengenai Azoth, saya pikir dia memang membuatnya, ya. Saya sendiri pembuat boneka, jadi saya bisa memahami apa yang mungkin ada dalam pikirannya. Jika dia yang melakukan pembunuhan itu, tidak ada alasan baginya untuk tidak menyelesaikan ciptaannya.”

Pada saat itu, istri Yoshida masuk ke ruang tamu dengan membawa teh dan kue-kue. Aku menyadari bahwa aku begitu asyik dengan pikiranku, sehingga lupa membawa buah tangan. Aku meminta maaf dengan malu.

"Oh, tidak usah khawatir soal itu,” Yoshida tertawa, menenangkan aku.

Rak-rak di ruang tamu penuh dengan buku dan boneka bermacam ukuran, sebagian terbuat dari kayu, sebagian lagi dari damar sintetis. Sebagian besar boneka terlihat seperti sungguhan. Aku menanyakan awal mula ketertarikan Yoshida pada pembuatan boneka.

"Yah, sebenarnya, saya tertarik pada manusia. Tidak mudah menjelaskan hubungannya, kecuali orang itu memiliki minat yang sama.”

“Begitu. Tapi Anda bilang Anda bisa memahami hasrat Heikichi Umezawa untuk menciptakan Azoth.”

"Biar saya jelaskan. Ada sesuatu yang magis—itu kata yang paling mendekati —mengenai pembuatan boneka. Boneka adalah tiruan manusia. Saat kita membuat boneka dan hasilnya memuaskan, kita memperoleh semacam perasaan menciptakan. Kita merasa seolah-olah boneka itu perlahan-lahan memiliki jiwa. Saya sering sekali mengalami perasaan itu. Dalam hal ini, ada rasa berkuasa saat membuat boneka. Rasa itu begitu kuat, sehingga saya tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengutarakan mengapa pekerjaan ini begitu menarik bagi saya. Kata 'menarik juga tidak tepat untuk menggambarkan perasaan saya. Secara tradisional, Mr. Ishioka, orang Jepang tidak terlalu suka membuat boneka. Pada zaman kuno, mereka membuat figur haniwa untuk upacara agama, figur-figur itu pengganti manusia yang harus dikubur hidup-hidup sebagai korban. Pembuatan boneka kemudian berarti penciptaan manusia, itu bukan hobi atau seni. Bahkan orang Jepang kuno takut jiwa mereka bisa dicuri oleh boneka. Itu sebabnya mereka tidak mau membuat boneka atau bahkan menggambar orang: bukan karena mereka tidak punya keahlian. Menggambar orang — seperti membuat boneka —adalah hal yang tabu. Itu sebabnya hanya ada sedikit lukisan atau patung para kaisar dan pemimpin Jepang, sementara di Yunani dan Romawi bertebaran patung dan lukisan para kaisar dan pahlawan. Di Jepang Kuno, hanya Buddha yang dibuat patungnya. Semua ini mungkin terdengar aneh bagi masyarakat modern, tetapi itu keyakinan kuno. Para pengrajin mengabdikan hidup mereka demi kekhidmatan  karya mereka. Pembuatan boneka baru dikenal luas sebagai hobi yang lazim pada, mungkin, akhir 1920-an.”

"Jadi, ide tentang Azoth adalah...”

"Yah, itu mungkin suatu ketertarikan secara intelektual, tetapi tentu saja konsep tersebut sangat keterlaluan. Menggunakan manusia sungguhan untuk membuat boneka melanggar semua aturan, itu melawan kodrat alam. Jika menengok sejarah, saya dapat membayangkan dari mana Umezawa mendapatkan idenya. Mungkin sebagian besar pembuat boneka yang serius dari generasi saya dapat memahaminya. Tetapi tidak seorang pun akan pernah mengikuti jalan yang dia ambil. Ini masalah prinsip. Ide Umezawa sangat jauh dari ide kreatif seorang pembuat boneka.”

"Itu sangat menarik. Saya mulai memahami apa yang Anda maksud, Mr. Yoshida. Tetapi Anda mengatakan Umezawa mungkin mati. Mengapa Anda berpikir begitu?”

"Itu perkiraan saya. Sebagai pembuat boneka sekaligus peramal nasib, saya dibuat penasaran oleh kasus ini. Selain itu, seperti Anda tahu, saya kenal Yasukawa, yang berteman dengan Umezawa. Memang ada sedikit kemungkinan bahwa Umezawa masih hidup, tetapi untuk membuktikannya, saya membutuhkan bukti spesifik, dan saya tidak memilikinya. Firasat saya berdasarkan pada perasaan, bukan logika. Saya akan menjelaskannya seperti ini, Mr. Ishioka. Seandainya Umezawa tidak tewas, dia akan tetap membutuhkan kontak dengan masyarakat. Bahkan jika dia bersembunyi di gunung, dia tetap butuh makan. Ini tidak semudah seperti perkiraan orang. Jika penduduk desa melihat Umezawa berburu makanan, mereka bisa-bisa mengira dia gelandangan dan melaporkannya kepada polisi. Dan seandainya Umezawa memilih untuk hidup di kota, tetangganya pasti ingin tahu siapa dia dan dari mana asalnya.

"Orang Jepang sangat ingin tahu—bahkan, menurut saya, mereka terlalu ingin tahu masalah orang lain. Jepang adalah sebuah pulau, dan karena mentalitas negarapulau kita, komunitas mana pun akan segera mencurigai orang seperti Umezawa, di mana pun dia mencoba menetap. Seandainya dia bunuh diri setelah menciptakan Azoth, mayatnya pasti telah ditemukan. Orang lain pasti akan harus mengubur atau membakarnya. Dia tidak mungkin melakukannya sendiri, tentu saja. Jadi, agaknya sulit membayangkan Umezawa masih hidup.”

"Apakah Anda membicarakan ini dengan Yasukawa?”

"Ya, saya bicarakan.”

"Apa tanggapannya?”

"Dia tidak mau mendengarkan saya. Dia agak fanatik dengan gagasannya sendiri.”

"Ya, saya dengar dia yakin Umezawa masih hidup... Tapi apa menurutnya yang terjadi pada Azoth?”

"Menurut dia, Azoth diciptakan dan disimpan di suatu tempat dalam negara ini.”

"Apakah dia menyebutkan satu lokasi tertentu?”

"Ya, dia menyebutkannya,” balas Yoshida, sekonyongkonyong meledak tertawa.

"Menurutnya Azoth ada di mana?!”

“Di Meiji-Mura... Desa Meiji. Anda tahu tempat itu?”

“Saya hanya pernah mendengar namanya.”

"Itu taman bertema yang dibangun Perusahaan Kereta Api Meitetsu di Inuyama, Prefektur Aichi, sebelah utara Nagoya. Semua tema berdasarkan pada kehidupan di zaman Meiji (1868-1912) dan berisi lusinan bangunan asli dari masa itu. Kebetulan, saya baru dari sana hari ini.”

"Benarkah? Tetapi Azoth ada di bagian Meiji-Mura yang mana? Dikubur di suatu tempat?”

"Begini, di dalam taman ada sebuah kantor pos tua,  dari Uji-Yamada, yang memamerkan barang-barang khas dari jawatan pos sepanjang masa. Di antaranya manekenmaneken pengantar surat dengan seragam dari berbagai periode, kotak-kotak surat kuno—semacam itulah.”

"Jadi, tempat itu seperti museum?”

"Ya. Nah, di dalam pameran tersebut ada satu maneken wanita yang diletakkan di sudut. Yasukawa bersikeras bahwa itu Azoth!”

"He...? Itu tidak masuk akal! Memangnya kita tidak bisa melacak dari mana asalnya? Itu bisa dilakukan, bukan?”

"Oh, Anda tidak perlu melacak asalnya, Mr. Ishioka. Itu proyek yang melibatkan saya secara pribadi. Saya dulu termasuk tim Perusahaan Maneken Owari dari Nagoya yang mondar-mandir antara Nagoya dan Kyoto, membuat maneken untuk desa itu. Tetapi sesuatu yang misterius memang terjadi: pada hari pembukaan, kami menyadari bahwa sebuah maneken yang bukan buatan kami ditambahkan dalam pameran. Para pengrajin di Owari tidak tahu dari mana asalnya. Itu maneken seorang wanita. Tak seorang pun dari kami diminta membuat maneken wanita, jadi kami menyimpulkan bahwa para pengelola Meiji-Mura berubah pikiran dan pada saat-saat terakhir memasukkan satu maneken wanita. Yasukawa tidak sepenuhnya gila jika mengira itu Azoth, karena kehadiran maneken wanita itu memang sangat aneh.”

"Apakah Anda pergi ke Meiji-Mura hari ini untuk memperbaiki maneken?”

"Tidak. Saya mengunjungi seorang teman, dulu dia sesama pengrajin seperti saya. Saya harus mengakui bahwa saya jatuh cinta pada tempat itu, karena mengingatkan pada masa muda saya di Tokyo. Mereka memindahkan banyak bangunan tua ke sana: sebagian Hotel  Imperial tua—yang dirancang Frank Lloyd Wright —Jembatan tua Sungai Sumida — bangunan-bangunan semacam itu. Pada hari biasa tidak banyak pengunjung, jadi berada di sana sangat menenangkan. Tokyo terlalu padat: saya tidak akan bisa tinggal di kota itu lagi. Kyoto lumayan, tetapi menurut saya Meiji-Mura paling baik. Saya kadang-kadang iri pada teman saya yang bisa bekerja di sana.”

"Apakah tempatnya sebagus itu?”

"Oh, tempat itu sempurna. Tetapi saya tidak tahu apakah anak muda akan sepakat dengan saya.”

“Baiklah, kembali ke masalah maneken wanita... Apakah Anda masih menertawakan gagasan Mr. Yasukawa bahwa itu Azoth?”

"Yah, Yasukawa selalu tenggelam dalam khayalannya. Saya tidak pernah menganggap dia serius.”

"Tetapi dia pindah ke Kyoto agar dekat dengan Anda, bukan?”

“Saya tidak tahu,” Yoshida tersenyum, dengan sedikit nuansa kegetiran.

"Kalian pasti berteman akrab?”

"Dia sering mengunjungi saya. Saya seharusnya tidak membicarakan keburukan orang yang sudah meninggal, tetapi, terus terang saja, selama hari-hari terakhirnya tindakan Yasukawa menjadi tidak logis. Berusaha memecahkan Pembunuhan Zodiak menjadi obsesi baginya. Seperti Anda tahu, itu hobi banyak orang, tetapi bagi Yasukawa hobi itu berubah menjadi semacam kegilaan. Dia mendiskusikan kasus tersebut dengan semua orang yang dia temui. Dia juga sakit. Dia selalu membawa sebotol kecil wiski murah di sakunya. Saya menasihatinya agar berhenti minum, tetapi dia menggebah saya. Dia tidak peduli. Dia akan meneguk wiskinya, lalu mengocehkan pemikirannya tentang pembunuhan tersebut, tak peduli  pendengarnya tertarik atau tidak. Jadi, lama-kelamaan orang-orang mulai menjauhinya. Kunjungannya menjadi berkurang setelah saya mengungkapkan keberatan saya terhadapnya. Tetapi kapan pun dia mendapat mimpi, dia akan datang untuk menceritakannya pada saya dengan mendetail. Seringnya, apa yang dia katakan tidak masuk akal. Dia sudah tidak berpijak pada kenyataan. Kegilaan terakhir adalah ketika dia menunjuk teman saya dan berkata, Orang ini Heikichi Umezawa! Dia kemudian menjatuhkan diri ke lantai, merengek dan menangis dan berkata, "Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, Mr. Umezawa! Teman saya mempunyai bekas luka di atas alisnya, dan agaknya itu yang membuat Yasukawa meledak."

"Apakah Umezawa punya bekas luka?”

"Saya tidak tahu. Mungkin hanya Yasukawa yang tahu."

"Apakah Anda masih berhubungan dengan teman Anda itu?”

"Ya, dia salah satu teman terdekat saya. Dialah yang saya temui di Meiji-Mura.”

"Begitu. Boleh saya tahu namanya?”

"Hachiro Umeda.”

"Hachiro Umeda?!”

"Tolong jangan buru-buru mengambil kesimpulan, Mr. Ishioka. Yasukawa sangat yakin bahwa Hachiro Umeda adalah Heikichi Umezawa. Nama mereka mungkin terdengar mirip, tetapi sama sekali tidak ada bukti bahwa mereka orang yang sama. Umeda adalah nama yang sangat umum di wilayah Kansai, dan bahkan stasiun terbesar di Osaka terletak di sebuah tempat bernama Umeda.”

Meskipun Yoshida berusaha menyangkal semua hubungan, kecurigaanku semakin meningkat. Aku lebih  memusatkan perhatian pada nama depan temannya ketimbang nama belakangnya. Hachiro. Hachi berarti “delapan” dan ada delapan korban dalam Pembunuhan Astrologi: Heikichi (atau kembarannya, jika teoriku benar), Kazue, dan keenam gadis Umezawa.

"Sejauh yang saya tahu,” Yoshida melanjutkan, "Umeda tidak pernah tinggal di Tokyo. Dia lebih muda dari saya, jadi tidak mungkin dia Umezawa. Mungkin Yasukawa salah sangka karena dia pikir Umeda mirip dengan Umezawa di masa mudanya.”

"Dan apa pekerjaan Mr. Umeda di Meiji-Mura?”

"Dia membantu di Kantor Polisi Kyoto Shichijo, bangunan asli lainnya dari zaman Meiji. Dia berperan sebagai polisi, berpakaian seragam polisi abad ke-19, lengkap dengan pedang.”

Aku sedang memikirkan cara menemui pria ini, ketika Yoshida berbicara seolah-olah dia telah membaca pikiranku. "Anda mungkin ingin bertemu dia, tetapi harus saya tegaskan bahwa Anda sebaiknya jangan berpikir bahwa dia benar-benar Heikichi Umezawa. Dia jauh lebih muda dari Umezawa seandainya masih hidup, dan dia memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda, Umeda komedian sejati, sementara Heikichi Umezawa anti-sosial dan senang menyendiri. Selain itu, Umezawa kidal, Umeda tidak.”

Saat aku berpamitan dan berterima kasih pada Yoshida atas waktu yang dia berikan, istrinya keluar untuk mengucapkan selamat jalan dengan membungkuk dalam-dalam. Yoshida mengantarku sampai ke jalan. “Meiji-Mura buka dari pukul sepuluh sampai lima pada musim semi,” dia berkata. "Datanglah pagi-pagi. Anda butuh waktu beberapa jam untuk melihat-lihat.”

Ketika aku pulang ke apartemen Emoto, aku mendapati dia sedang mendengarkan musik dengan santai. Tetapi Kiyoshi tidak terlihat.

“Di mana Kiyoshi? Apakah kau sempat bertemu dia?” aku bertanya.

"Ya, aku bertemu dengannya saat dia bersiap pergi,” jawab Emoto.

"Bagaimana keadaannya?”

"Yah... mm... dia kelihatan geram. Dia tidak bilang mau pergi ke mana. Dia hanya mengatakan, 'Aku tak akan pernah menyerah! lalu melesat keluar.”

Aneh sekali. Tetapi aku punya urusan sendiri, jadi aku bertanya pada Emoto apakah aku boleh meminjam mobilnya besok.

"Oh, silakan saja,” sahutnya.

Aku memutuskan untuk tidur cepat, karena kelelahan. Aku menyalakan alarm, bermaksud untuk berangkat pagi-pagi. Aku tidak tahu apakah lalu lintas di Kyoto sama parahnya dengan di Tokyo, tetapi menurut perkiraanku aku bisa menghindari kemacetan jika berangkat sekitar pukul enam. Aku tidak akan punya waktu untuk berbicara dengan Kiyoshi, tetapi hal itu tidak bisa dihindari. Dia jelas mengikuti jalannya sendiri, demikian pula aku. Aku bisa berbicara dengan dia setelah aku pulang malam harinya.

Aku menggelar futon-ku di lantai, lalu menyiapkan futon Kiyoshi, membalas kebaikannya semalam. Aku menutupi tubuhku dengan selimut dan langsung tertidur nyenyak.

ADEGAN 6 MANEKEN

Aku mendapat mimpi aneh. Saat bangun, aku tak dapat mengingat isi mimpiku, tetapi masih tersisa sedikit gemetar karena memikirkannya.

Kiyoshi masih tidur. Aku mendengar dia mengerang ketika aku menyelinap keluar dari futon-ku.

Di luar sangat dingin, tetapi udaranya segar, dan aku sudah sepenuhnya bangun saat sampai di dasar tangga.

Mobil Emoto menyala dengan mudah, dan aku berkendara ke Jalan Bebas Hambatan Meishin. Lalu lintas mengalir lancar. Sebuah papan reklame di lapangan sebelah kiriku menampakkan diri. Seorang gadis duduk sambil tersenyum di samping kulkas, rambutnya berkibar tertiup angin. Sekonyong-konyong mimpi itu kembali mendatangiku. Seorang wanita cantik, telanjang bulat, menggelepar di tengah laut, rambut panjangnya mengalun bersama ombak. Dada bawahnya, perutnya, dan lututnya terlihat kurus secara tidak wajar, seolah-olah diikat tali. Dia menatap tepat ke arahku, tetapi aku tidak mengenalinya. Dia seakan memberi isyarat kepadaku dalam kesunyian yang dingin. Kemudian dia menghilang di bawah gelombang gelap.

Mengingatnya saja sudah cukup membuatku merinding. Mungkinkah itu semacam pesan dari Azoth? Aku  tiba-tiba ingat guna-guna mistis yang menghantui Tamio, juga pria yang menjadi gila dan meloncat ke laut...

Aku meninggalkan jalan bebas hambatan di Persimpangan Komaki, dan seketika itu lalu lintas menjadi lebih padat. Aku baru tiba di Meiji-Mura pukul sebelas siang. Aku memarkir mobil dan menumpang bus ulang-alik yang membawa pengunjung ke pintu masuk taman. Jalannya sempit, dan ranting-ranting dari pepohonan rendah tak henti-hentinya menyapu jendela bus: rasanya seperti berkendara melintasi hutan. Lalu tiba-tiba sebentang perairan biru terlihat— Kolam Iruka. Taman bertema dirancang mengelilingi kolam tersebut, bagaikan museum besar di udara terbuka.

Aku mengikuti papan tanda ke pemugaran sebuah pusat kota yang khas dari zaman Meiji. Yang paling membuatku terkejut adalah semuanya kelihatan sangat Amerika. Rupanya arsitek-arsitek Meiji sangat terpengaruh bangunan gaya Barat. Hanya sedikit bangunan dari masa itu yang masih tersisa di Jepang: modernisasi pesat telah mengubah lanskap perkotaan, mengakibatkan hancurnya banyak tradisi. Sebaliknya, orang Inggris masih tinggal di rumah yang sama, dengan perabotan yang sama dari periode Sherlock Holmes. Kota-kota khas Jepang terlihat begitu membosankan dan tidak mempunyai karakter, semua gedung baru tampak seperti pabrik atau penjara. Dikelilingi dinding mortar dan jendela-jendela tempelan, orang tampaknya telah memilih untuk hidup di kuburan. Popularitas bangunan gaya Barat tidak bertahan lama, mungkin karena tidak terlalu cocok dengan iklim Jepang. Pada musim panas, orang lebih suka membuka jendela lebar-lebar guna mengurangi panas dan kelembapan di dalam bangunan. Untuk menjaga privasi, mereka menumpuk pagar beton di sekitar rumah mereka. Tetapi sebagai hasil dari kesuksesan ekonomi pascaperang Jepang, sebagian besar rumah tangga Jepang kini beralih menggunakan pendingin ruangan. Tak lama lagi, kita akan bisa menyingkirkan pagar-pagar beton yang jelek itu.

Saat berjalan menyusuri Meiji-Mura, aku mulai berharap agar arsitektur Jepang mendapatkan kembali keterbukaan yang dulu pernah dimilikinya.

Aku melewati Toko Daging Oi dan Gereja St. Church, kemudian mendapati dua bangunan Jepang tradisional. Salah satunya rumah Tokyo asli tempat Soseki Natsume menulis novelnya yang terkenal, Aku Seekor Kucing. Beberapa orang sedang duduk di beranda. Salah seorang dari mereka memanggil, “Sini, pus pus!” berpura-pura menjadi sang penulis. Aku jadi berharap Kiyoshi ada di sini. Dia pasti senang sekali meniru tindak-tanduk sang penulis legendaris.

Satu pikiran membawa ke pikiran lain, dan aku ingat sebuah baris dari novel Natsume lainnya, Dunia Bersudut Tiga. Aku menghafalnya saat pertama kali membacanya.

Hadapi segalanya dengan logika, dan kau menjadi kaku. Mengalahlah mengikuti aliran emosi, dan kau akan terseret arusnya... memang tidak

mudah menempatinya, dunia kita ini.

Aku bisa mengatakan bahwa Kiyoshi sesuai dengan gambaran pertama. Sebaliknya, aku lebih mendekati tipe emosional, selama ini aku begitu mudah terseret. Kami berdua sama-sama tidak terlalu berhasil dalam dunia materi ini. Apa yang dikatakan Natsume saat ini terasa lebih masuk akal dibandingkan saat pertama kali aku membacanya. Bunjiro Takegoshi dalam hal ini menyerupai aku—dia pria yang dikuasai emosi. Jika aku berada  pada posisinya, aku yakin akan melakukan hal yang sama dengannya. Dan, tentu saja, dunia sama sekali bukan tempat yang mudah untuk dia tempati.

Sesudah rumah Natsume, terdapat beberapa anak tangga batu. Saat aku berjalan menuruninya, seekor kucing putih dengan santai memotong jalanku. Aku jadi tersenyum. Siapa pun yang memelihara kucing di sana pasti memiliki selera humor bagus. Tangga itu mengarah ke sebuah alun-alun, tempat sebuah trem Kyoto lama memulai perjalanan lambatnya mengelilingi kota. Di salah satu sisi, sekelompok gadis remaja cekikikan saat dipotret bersama-sama dengan seorang pria paruh baya dalam balutan seragam polisi kuno. Pria itu mengenakan celana panjang hitam dengan hiasan emas di sepanjang kelimannya, dan sebilah pedang terkait di sabuknya. Sementara gadis-gadis bergiliran berpose, si polisi memilin ujung melengkung kumis tebalnya yang berlapis lilin, membuat gadis-gadis itu memekik tertawa. Beberapa pengunjung lain tersenyum sambil mengantre untuk menunggu giliran dipotret.

Segalanya tampak begitu menyenangkan dan lembut. Semua pekerja di tempat ini berumur setengah baya dan baik hati, dan kelihatannya mereka menikmati pekerjaan mereka. Terpikir olehku bahwa pria yang berpakaian sebagai polisi Meiji itu mungkin Hachiro Umeda. Aku memutuskan untuk kembali lagi nanti dan berbicara dengannya.

Aku naik ke atas trem. Kondektur tua melubangi karcisku, memberi cap di atasnya, dan mengembalikannya kepadaku seraya berkata, "Anda bisa menyimpan karcis ini sebagai kenang-kenangan perjalanan.” Aku bertanyatanya, mungkinkah kehidupan di Jepang pernah seanggun ini. Sangat jauh berbeda dari kereta bawah tanah Tokyo saat jam sibuk.

"Mercusuar yang terlihat di sebelah kanan Anda dulunya berada di Shinagawa, Tokyo... dan rumah di sebelah kiri Anda adalah rumah penulis terkenal Rohan Koda...” Kondektur bertutur dengan suara mantap seorang pendongeng profesional atau aktor panggung. Setiap kali dia menunjuk bangunan atau monumen bersejarah, kelompok wanita paruh baya di dalam trem akan bergegas dari satu sisi ke sisi lain agar dapat melihat dengan lebih baik. Mereka mengingatkan aku pada kawanan banteng yang menyeruduk.

Ketika trem sampai di terminal, si kondektur melompat berdiri dari kursinya. Terkejut melihat gerakannya yang gesit, aku mengamatinya melalui jendela. Berlawanan dengan usia dan tubuh mungilnya, dia melompat untuk meraih tali yang menggantung dari pantograf, bagai kodok yang melompat menjangkau cabang pohon willow. Berat badannya menarik tali itu turun. Kemudian dia berlari di samping trem saat kendaraan tersebut berbalik arah di atas putaran langsir. Dia memutar pantograf ke arah berlawanan, lalu berlari kembali ke kursinya. Dia memberi tanda pada pengemudi dan trem mulai bergerak lagi dengan sangat pelan, seperti seekor sapi yang baru bangun dari tidur siang.

Kesigapan pria tua itu membuatku kagum. Tidak ada orang yang dikejar waktu di Meiji-Mura, dan kemungkinan tidak ada jadwal kedatangan dan keberangkatan, meskipun demikian dia tampak sangat serius menjaga agar trem beroperasi dengan lancar. Aku yakin keluarganya pasti cemas jika mereka bisa melihat betapa keras dia bekerja. Bekerja seperti itu menandakan dia tidak menderita sakit punggung maupun insomnia —tetapi bagaimana kalau dia terkena serangan jantung saat melompat ke sana kemari? Yah, aku rasa itu sudah takdirnya. Bahkan dia mungkin akan lebih bahagia jika mati dengan  menggenggam tali trem ketimbang mati dengan damai di ranjangnya. Aku ingat perkataan Yoshida tentang rasa iri pada temannya yang bekerja di desa ini. Aku bisa mengerti mengapa dia merasa seperti itu.

Setelah perjalanan dengan trem, aku melewati Jawatan Kereta Api Shimbashi dan Pabrik Kaca Shinagawa. Akhirnya aku tiba di Kantor Pos Uji-Yamada. Aku siap bertemu Azoth!

Aku berjalan perlahan-lahan menaiki tangga batu dan masuk. Di dalam terdapat lantai kayu berlapis minyak. Jantungku nyaris berada di kerongkongan. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela-jendela tinggi. Butiran debu melayang di udara. Tidak ada orang lain di tempat itu.

Pameran tersebut ditata berdasarkan urutan kronologis, dimulai dengan sebuah maneken kurir kilat yang mengantarkan surat dengan berjalan kaki. Selanjutnya, kotak surat pertama yang digunakan sistem pos Jepang. Diikuti beberapa rancangan berbeda yang diakhiri dengan sebuah kotak surat merah berbentuk tiang yang familier. Lalu pameran pengantar surat dengan berbagai jenis seragam.

Aku mulai tidak sabar. “Di mana dia?” aku bertanya keras-keras kepada diriku sendiri. Aku berpaling ke satu sisi, dan di sana, dalam sebuah sudut gelap, berdiri maneken wanita yang mengenakan kimono merah. Rambut hitamnya berponi.

Apakah kau benar-benar dia?

Aku mendekati maneken itu dengan takut-takut, seperti anak kecil yang bimbang. Dia berdiri tegak. Mata hitamnya yang kosong menatapku. Debu di rambut dan bahunya menjadi saksi bagi sejarah empat puluh tahunnya.

Siapakah kau? Apa yang ingin kausampaikan kepadaku?

Pada sore yang tenang, menatap objek misterius ini,  aku merasa begitu kesepian. Tiba-tiba aku dilanda ketakutan hebat. Aku mulai gemetar dan membungkus diri dengan lenganku. Aku bersandar pada pagar untuk melihat lebih dekat, kakiku terasa berat seperti terbuat dari timah.

Bagaimana kalau dia bergerak?

Aku berdiri di sana —hampir dua meter jauhnya— dan menatapnya lekat-lekat. Maneken itu seakan-akan memiliki kerutan di sekitar matanya. Mata yang terbuat dari kaca. Tangannya tampak palsu.

Tunggu...kerutan di wajahnya? Aku harus melihat lebih dekat...

Aku memandang berkeliling. Tidak ada siapa-siapa. Namun tepat ketika aku hendak melangkahi pagar, pintu kantor pos terbuka dan masuklah seorang petugas kebersihan, menenteng sapu dan pengki logam. Dia mulai menyapu tanpa menaruh perhatian. Tiba-tiba dia menjatuhkan pengki dan benda itu berkelontang ke lantai.

Ketakutan, aku bergegas meninggalkan kantor pos...

Aku merasa sangat lapar. Aku membeli beberapa potong kue dan susu di sebuah kios dan duduk di bangku. Dari sana aku bisa melihat pintu masuk utama Hotel Imperial Tokyo lama yang terkenal. Di depanku ada kolam dengan jembatan berlengkung ganda. Beberapa angsa meluncur di permukaan air. Begitu indah dan sunyi. Tidak seorang pun terlihat. Lintasan asap membubung di atas pepohonan. Sebuah lokomotif uap muncul dari hutan, menarik tiga gerbong. Kendaraan itu menggelinding di atas jembatan besi.

Saat mengunyah kue, aku mulai bertanya-tanya lagi. Aku benar-benar tak habis pikir. Bagaimana mungkin Tamio Yasukawa berpikir bahwa maneken itu adalah  Azoth? Sepertinya mustahil. Bukan, bukan maneken yang itu. Apakah Yasukawa sudah benar-benar gila? Ataukah seseorang telah menukar maneken yang asli?

Aku kembali ke kantor pos untuk mengamatinya lagi, tetapi, sayangnya, ada beberapa pengunjung di dalam kantor pos. Aku memandangi boneka itu sesaat, lalu pergi mencari Hachiro Umeda.

Si polisi berkumis sedang menyapu alun-alun di depan kantor polisi saat aku kembali. "Sayonara," sekelompok gadis berseru gembira, membungkuk seraya berjalan menjauh. Si polisi—yang benar-benar mirip polisi sungguhan —balas membungkuk.

Aku berjalan mendekatinya. “Maaf, apakah benar Anda Mr. Hachiro Umeda?” aku bertanya.

"Ya, benar,” dia menjawab dengan cukup lugas.

"Nama saya Ishioka. Saya datang dari Tokyo. Mr. Shusai Yoshida memberikan nama Anda kepada saya. Dia pikir saya mungkin ingin bertemu Anda.”

Ekspresi heran muncul pada wajah Umeda. Setelah aku menjelaskan duduk persoalannya —pada saat ini aku sudah banyak berlatih—dia meletakkan sapunya dan mengundangku ke dalam. Dia menawariku kursi.

"Coba kuingat-ingat... Yasukawa Tamio... Ya, ya, aku ingat dia. Peminum berat. Dia mati, bukan? Pria tua yang malang, dia pasti bisa lebih menikmati hidup jika pindah ke sini. Udaranya bersih, makanannya enak... Semua akan sempurna baginya seandainya alkohol diperbolehkan di sini!” Dia berhenti, tersenyum, dan melanjutkan, "Saya tampak hebat dengan seragam ini, betul tidak? Ini impian saya. Demi kesempatan untuk mengenakan seragam dengan pedang seperti ini, saya dengan senang hati akan melakukan apa pun—bahkan ikut parade  atau berpose untuk poster. Jadi, ketika ditawari pekerjaan di sini, saya senang sekali. Saya punya beberapa pilihan—saya bisa menjadi kondektur kereta api, pengemudi trem, apa saja—tetapi saya langsung memilih pekerjaan polisi!”

Dia menyenangkan dan ramah, tetapi dia membuatku kecewa. Dari semua petunjuk yang tampak, sangat kecil kemungkinannya pria paruh baya yang ceria ini bisa merencanakan tipuan Umezawa yang rumit dan melakukan pembunuhan kejam. Selain itu, kelihatannya dia baru berusia akhir lima puluhan, jauh lebih muda dibandingkan Umezawa seandainya dia masih hidup. Tentu saja, gaya hidupnya kemungkinan berpengaruh besar pada kemudaannya.

Aku bertanya apakah dia pernah mendengar nama Heikichi Umezawa.

"Heikichi Umezawa? Ah, itu lucu sekali. Yasukawa pernah mabuk berat dan memanggil saya 'Heikichi Umezawa. Saya bilang padanya bahwa nama saya bukan Umezawa, tetapi dia terus membungkuk dan berbicara kepada saya seakan-akan saya adalah orang itu. Saya mirip dia, mungkin? Tetapi Umezawa adalah penjahat, jadi saya sama sekali tidak suka. Kalau saya dikatakan mirip Jenderal Nogi atau Kaisar Meiji, nah, itu lain perkara. Saya pasti akan senang sekali!” Dia tertawa keras.

"Maaf, tetapi bolehkah saya tanya di mana Anda tinggal pada tahun 1936? Saya tahu itu hampir empat puluh tahun yang lalu, tapi...”

"1936? Hmmm... umur saya dua puluh tahun... Itu sebelum perang, jadi saya tinggal di Takamatsu di Pulau Shikoku. Saya bekerja di toko minuman keras.”

"Apakah Anda lahir di Takamatsu?”

“Benar sekali.”

“Tetapi kedengarannya Anda punya dialek Osaka.”

”Oh, itu karena saya lama tinggal di Osaka. Sewaktu meninggalkan kemiliteran, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di kampung halaman, jadi saya pindah ke kota besar. Saya diterima di toko minuman keras lainnya, tetapi mereka bangkrut. Sejak itu, saya sudah melakukan berbagai jenis pekerjaan. Pada suatu waktu saya menarik gerobak dan berkeliling menjajakan mie ramen, lain waktu, saya bekerja di pabrik maneken.”

"Saat itukah Anda bertemu Mr. Yoshida?”

"Tidak, tidak, saya bertemu dengannya setelah berhenti dari pekerjaan pabrik, sewaktu saya menjadi petugas keamanan di sebuah gedung di Osaka. Itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu... bukan... tepatnya hampir dua puluh tahun yang lalu. Saya kenal seorang pematung yang menyewa tempat untuk menyimpan hasil karyanya di gedung yang sama. Kami lalu berteman, dan dia memperkenalkan saya pada sebuah klub pembuat boneka di Kyoto. Shusai Yoshida adalah orang yang mendirikan klub tersebut. Dia baru pindah dari Tokyo dan masih asing dengan daerah itu, jadi saya menawarkan diri untuk membantu. Akhirnya, saya menjadi asistennya dalam membuat boneka. Dia bilang dia hanya melakukannya sebagai hobi, tetapi dia terlalu merendah. Dalam hal pembuatan boneka, tidak ada yang lebih baik dibandingkan dia. Ini bukan hanya pendapat pribadi saya: semua ahli mengatakan hal yang sama. Dia penguasa dalam bidang itu. Tetapi teknik dan keterampilan seninya terutama sangat menonjol dalam hal menciptakan wajah-wajah boneka gaya-Barat. Untuk Expo '70 di Osaka, dia diminta memamerkan beberapa bonekanya, dan pada saat itulah pertemanan kami berkembang. Agar semuanya bisa siap saat hari pembukaan, kadang-kadang kami harus bekerja lembur. Itu tugas berat, tetapi saya sangat senang bekerja dengan dia.”

Itu betul—Shusai Yoshida memang memiliki karisma. Aku sudah melihatnya sendiri. Yasukawa dan Umeda tunduk kepadanya, yang lain pastinya juga demikian. Apa rahasia karismanya? Kemampuan meramalnya? Kepekaan artistiknya?

Di sisi lain, Umeda kelihatannya pria yang santai, orang yang menikmati hidup, sehingga aku tidak lagi memikirkan kemungkinan bahwa dia adalah Umezawa. Aku bertanya tentang keluarganya.

"Jadi, saya dulu pernah menikah. Sudah lama, lama sekali, sulit bagi saya untuk mengingatnya. Istri saya terbunuh dalam serangan udara saat saya bertugas di kemiliteran. Tetapi meskipun saya berada di garis depan, saya tidak mati... saya tidak tahu sebabnya. Tugas kami adalah melindungi wanita, anak-anak, dan negara kami, tetapi saya malah kehilangan istri saya. Saya sangat mencintainya. Sejak itu saya melajang, menikmati kebebasan saya. Mungkin bagi sebagian orang kehidupan pernikahan yang mengikat dan mengekang itu bagus, tapi bagi saya tidak.”

Aku tidak tahu bagaimana menanggapinya, jadi aku mengganti topik. "Mr. Yoshida kemarin ke sini, bukan?”

"Ya, dia cukup sering berkunjung, mungkin sebulan sekali. Saya sangat menyukainya, jadi kalau beberapa minggu tidak bertemu dia, saya pergi ke Kyoto untuk mengunjunginya.”

"Apa latar belakang keluarganya?”

"Baik saya maupun anggota klub lainnya tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya,” dia menjawab, “tetapi kami tidak terlalu peduli. Saya mendengar seseorang mengatakan dia berasal dari keluarga kaya. Dia sudah punya rumah dan studio sendiri waktu masih muda, jadi cerita itu pasti benar—tetapi siapa yang peduli? Kami  semua menyukainya. Dia seperti guru kami. Saya merasa tenang saat melihat dia. Dia memiliki pengetahuan dan pengalaman begitu luas dalam begitu banyak bidang. Saya menanyakan masa depan saya, dan dia sangat pengertian, sangat bijaksana. Asal Anda tahu, bakatnya bukan hanya dalam hal meramal nasib. Dia kemungkinan tahu segalanya... Ya, itu benar, dia tahu segalanya..."

Umeda berbicara dengan nada biasa, tetapi kalimat terakhirnya membuatku terpaku. Jiwa yang bebas dan sederhana ini telah memahami sesuatu yang aku lewatkan sepenuhnya. Orang yang aku cari adalah pembunuh dengan kekuatan, pengetahuan, dan kecerdasan supernatural, yang terampil dalam bidang pembuatan boneka dan ramalan nasib... Mungkinkah orang itu Shusai Yoshida?

Sekonyong-konyong potongan-potongan detail seakan menyatu. Yoshida mungkin berumur sekitar delapan puluh tahun, umur yang tepat. Yang lebih penting lagi, dia mengetahui sesuatu yang tidak disinggung di dalam buku: bahwa Heikichi bertangan kidal. Bagaimana dia bisa tahu? Ketika Yoshida berbicara tentang kehidupan seorang buronan, dia tampak berbicara seperti orang yang pernah mengalaminya. Dia juga mengetahui sejarah dan filosofi pembuatan boneka di Jepang. Pengetahuan tersebut dapat dengan mudah menjadi bagian dari catatan Heikichi.

Pertanyaan lain meletup di benakku. Yoshida memang pribadi yang memesona dan menarik, tetapi apa sebenarnya alasan yang membuat Tamio Yasukawa mengikutinya ke Kyoto? Kegembiraan mengalir deras di dalam diriku.

Tanpa menyadari apa yang sedang berlangsung di benakku, Umeda terus bercerita tentang kehebatan gurunya. Aku menunggu sampai dia selesai, lalu menanyakan tentang maneken misterius di kantor pos.

"Oh, ya, aku tahu maneken-maneken itu. Mr. Yoshida dan Perusahaan Maneken Owari yang membuatnya... Oh, kau sudah tahu? Apa? Ada maneken misterius? Saya tidak pernah mendengarnya, tidak pernah... Mr. Yoshida juga tidak tahu dari mana asalnya? Wah, benarkah? Hmm, mengapa Anda tidak menanyakannya kepada Mr. Muro-oka, direktur Meiji-Mura? Dia berada di kantor utama dekat pintu masuk.”

Aku mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Umeda dan meninggalkan kantor polisi. Dia begitu baik dan terbuka, dan aku merasa seakan-akan meninggalkan seorang teman yang baru ditemukan. Aku menoleh ke belakang dan memandangnya dengan agak sedih, berpikir bahwa aku mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Dia terlihat begitu nyaman menjalani hidupnya yang sederhana dan mengenakan seragam kesukaannya. Namun, hampir dapat dipastikan, dia bukanlah pria yang kucari.

Setiba di kantor, aku dibawa ke ruangan direktur. Ketika aku menanyakan tentang maneken wanita itu, pada awalnya dia kelihatan terkejut. Kemudian dia tertawa, "Itu sama sekali bukan misteri, anak muda. Kami awalnya hanya memiliki maneken pria, jadi saya bicara dengan Perusahaan Meitetsu, dan keesokan harinya mereka mendatangakan maneken wanita dari toko serbaada.”

Jika aku sedang menyelidiki misteri biasa, tanpa tenggat waktu yang menghantui, aku mungkin akan menindaklanjuti petunjuk Meitetsu, tetapi misteri ini jauh dari biasa—dan setelah besok, waktu kami akan habis. Jadi, aku kembali ke mobil dan mengemudikannya ke Kyoto. Lagi pula, sudah berhari-hari aku tidak berbicara dengan Kiyoshi. Kami harus membandingkan catatan.

Saat mengemudi, benakku dipenuhi pikiran tentang Shusai Yoshida yang kini menjadi fokus penyelidikanku. Dia berkarisma dan licin dan cerdas, tetapi semua orang bisa melakukan kesalahan. Dia pria kaya tanpa masa lalu. Apakah sebuah tipuan sulap telah dipertunjukkan? Apakah Heikichi Umezawa telah dimasukkan ke dalam kotak hitam dan muncul kembali sebagai Shusai Yoshida?

Kasus ini menjadi terlalu berat bagiku. Aku butuh bantuan Kiyoshi.

Aku memasuki jam sibuk petang hari, jadi aku memarkir mobil di sebuah tempat istirahat pinggir jalan dan memesan makanan di kantin. Aku menatap matahari terbenam, masih berpikir tentang Yoshida. Pasti akan sulit menantang otak seperti miliknya. Aku harus memilih sesuatu yang hanya mungkin diketahui si pelaku. Tetapi temannya, Yasukawa, yang kenal dengan Heikichi, sekarang sudah mati, Yoshida bisa terus berkilah bahwa dia mendengarnya dari Yasukawa. Orang mati tidak dapat bercerita, jadi aku tidak akan bisa mengetahui kebenarannya.

Aku tiba di apartemen Emoto pada pukul sepuluh malam lebih sedikit. Kiyoshi belum pulang, dan Emoto sedang menonton TV sendirian. Aku berterima kasih atas pinjaman mobilnya dan memberikan sedikit oleh-oleh dari Meiji-Mura. Tetapi aku terlalu lelah untuk menceritakan tentang tempat itu kepadanya. Aku masuk ke kamar tidur, mengeluarkan kedua futon dari lemari, dan menggelarnya di lantai, lalu merangkak ke dalam futon-ku, dan seketika itu juga langsung tertidur pulas.

ADEGAN 7 JALAN FILSUF

Pola tidurku tampaknya telah berubah. Aku terbangun pagi-pagi, pada waktu yang tepat sama dengan hari sebelumnya. Shusai Yoshida segera saja terlintas di benakku. Aku harus bicara dengan Kiyoshi. Aku menoleh ke futonnya, tetapi dia sudah bangun dan pergi.

Begitu tekun, begitu berkomitmen terhadap pekerjaan!

Namun, setelah mengamati futon-nya dengan lebih saksama, aku menyadari bahwa matras itu tidak pernah ditiduri. Sebelum bablas tidur tadi malam, aku melemparkan alas tidurnya ke lantai seperti nelayan melempar jaring ke laut gelap, dan benda itu masih teronggok di tempat yang sama.

Di mana dia? Apakah sesuatu telah terjadi? Apakah dia dalam bahaya? Dan ke mana saja dia pergi? Apakah dia sudah menemukan petunjuk penting?

Hari ini hari Kamis tanggal 12, hari terakhir kami.

Kami harus bicara. Ya ampun, kami benar-benar harus bicara!

Penyelidikanku memang berguna, tetapi aku tidak memecahkan apa pun. Tepatnya, belum. Aku sangat ingin bertukar informasi dengan dia. Setelah itu, mungkin  kami bisa mengambil kesimpulan yang bermanfaat untuk penyelidikan kami.

Kenapa dia tidak menelepon?

Aku berusaha tetap berbaring, tetapi pikiranku terus berpacu. Aku bangun. Emoto masih tidur. Aku berpakaian tanpa bersuara dan keluar untuk berjalan-jalan. Aku berjalan bolak-balik menapaki rumput penuh embun di taman, pikiranku berpacu.

Ketika aku kembali, Emoto sedang menggosok gigi. Kiyoshi tidak menelepon. Aku memutuskan bahwa aku harus menunggu sampai dia menelepon.

Emoto berangkat kerja, dan tepat ketika aku mendengar langkah kakinya menuruni tangga, telepon berdering. Aku melompat dan menyambar gagang telepon.

"Kazumi..,” erang suara lemah di ujung sambungan. Aku butuh waktu beberapa detik untuk mengenali suara Kiyoshi.

"Apa yang terjadi? Kau ada di mana? Kau baik-baik saja?” Aku menyemburkan pertanyaan dengan suara bernada tinggi.

"Aku merasa sakit,” jawabnya, suaranya melemah. Kemudian, setelah jeda sesaat, dia berkata memohon, "Aku rasa aku sekarat... Aku mohon... datanglah dan tolong aku."

"Kau di mana? Apa yang terjadi?”

Aku tak bisa menghentikan rentetan pertanyaanku, tetapi aku harus tahu pasti di mana dia berada. Aku bisa mendengar bunyi lalu lintas dan suara anak-anak, jadi aku perkirakan dia menelepon dari telepon umum di pinggir jalan.

"Apa yang terjadi? Aku tak bisa menceritakannya sekarang... Aku terlalu lemah.”

“Baiklah, katakan saja kau ada di mana!”

"Jalan Filsuf... bukan di sisi Ginkakuji... sisi seberangnya... di jalan masuk...”

Aku kebingungan. Jalan Filsuf? Apa pula itu? Apakah Kiyoshi sudah tidak waras?

"Apa alamatnya? Apakah aku bisa naik taksi ke sana?”

"Ya, sopirnya pasti tahu. Bilang saja Jalan Filsuf. Dia akan menemukannya... Dan tolong... beli roti dan susu... untuk aku... tolong.”

“Roti dan susu? Baiklah, tapi untuk apa?”

"Untuk makan, tentu saja... Apa lagi yang bisa aku lakukan dengan benda-benda itu?”

Dia tetap bisa sarkastis walaupun kondisinya sedang tidak sehat. Khas Kiyoshi.

"Apakah kau terluka?”

"Tidak...

“Baiklah, aku segera ke sana. Jangan ke mana-mana!”

Aku melesat keluar dari apartemen dan berlari ke stasiun kereta api. Di Shijo-Kawaramachi, aku membeli beberapa roti isi dan susu kotak. Aku menghentikan taksi. Kiyoshi benar—sopir taksi tahu ke mana harus membawa aku.

Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kiyoshi kedengaran seperti orang yang nyawanya di ujung tanduk. Apakah dia benar-benar sekarat? Apakah ini episode lanjutan dari gangguan sarafnya? Apakah dia sedang mempermainkan aku? Kadang-kadang Kiyoshi bisa sangat mengesalkan, tetapi bagaimanapun dia satusatunya teman sejatiku.

Sopir taksi menurunkan aku di dasar sebentuk lereng kecil dan menunjukkan jalan ke atas. Di sana ada sebuah taman kecil, dan, tentu saja, papan tanda bertuliskan "Jalan Filsuf”. Tidak ada orang di sekitar situ.

Aku menyusuri jalan setapak di sepanjang kanal. Tidak lama kemudian, aku melihat seekor anjing hitam menggoyangkan ekor dan mengendus-endus gelandangan yang tergeletak di atas bangku.

Itu Kiyoshi!

Aku memanggil namanya. Dia menggumamkan sesuatu dan berusaha duduk. Dia begitu lemah sehingga aku harus membantunya. Sejak aku terakhir kali melihatnya, beberapa hari berselang, dia telah mengalami perubahan besar. Matanya merah, pipinya sangat cekung, dan dia butuh bercukur. Dia sama sekali tidak tampak sehat. Bahkan dia terlihat sangat sakit.

"Apakah kau membawa makanan seperti yang aku minta?” dia bertanya. Aku mengulurkan roti isi kepadanya, dan dia merobek bungkusan tersebut. "Ah, betapa merepotkan urusan makan ini! Seandainya kita tidak perlu makan, kita bisa menghemat banyak waktu...” dia bergumam, kemudian melanjutkannya dengan menyikat habis makanan yang kubawa.

Aku lega melihat dia makan, tetapi masih kebingungan. Kondisinya jelas sangat buruk, dan meskipun dia masih memancarkan cahaya, namun sudah berkedip-kedip tanda bahaya. Aku mengkhawatirkan keadaan pikirannya. Aku tidak ingin berpikir dia terserang mania depresi.

"Kapan kau terakhir kali makan?” aku bertanya.

"Entahlah... Mungkin kemarin, mungkin kemarinnya lagi... Aku lupa...”

Aku menunggu sementara dia makan, mengingatkannya agar tidak makan terlalu cepat. Setelah selesai, dia terlihat mendapatkan kembali sebagian energinya.

"Apakah kau sudah mendapat kemajuan dengan kasus ini?” aku bertanya dengan hati-hati.

"Peraslah sebutir jeruk, dan kau akan mendapat sampah!” dia berteriak marah, berdiri, dan melambaikan  tangannya. "Kazumi, kita terlahir untuk ditipu! Coba lihat aku. Setelah berlari ke sana kemari tanpa tidur selama berhari-hari, aku tidak lebih baik dibandingkan seekor belalang sekarat. Satu atau dua hari puasa itu bagus: bisa menajamkan indra kita. Oh, aku bisa melihatnya sekarang. Ladang luas bunga rape yang bermekaran! Kota ini tersusun dari sejarah dan misteri! Aku melihat atap, tak terhitung banyaknya, tampak seperti buku yang setengah terbuka. Dan aku mendengar mobil berdecit di mana-mana! Bukankah itu memuakkan? Tidak, itu bukan bunga rape, tetapi kosmos! Dulu aku cukup kuat untuk berjalan melintasi ladang-ladang kosmos. Aku bisa membabat tanaman itu dengan parang. Sekarang aku bahkan tak bisa mengingat bagaimana dulu aku melakukannya... Ah, di mana aku meninggalkan parangku? Pasti sudah berkarat sekarang! Aku harus mencarinya. Aku harus terus menggali seperti tikus mondok! Waktunya hampir habis. Sekarang atau tidak sama sekali!”

Ini kegilaan: Kiyoshi mulai gila. Aku merasa seluruh tubuhku membeku. “Tidak, tidak, tidak, Kiyoshi. Kau kelelahan. Tenanglah, tenang!” Aku mengulangi kata yang sama berkali-kali. Aku mencengkeram bahunya, lalu perlahan-lahan mendorongnya untuk duduk kembali di bangku batu.

Dia akhirnya duduk dengan tenang, dan aku mulai bernapas sedikit lega. Aku tercengang menyadari ironi getir dari situasi ini: kelelahan dan tekanan telah membuat dia gila, tetapi kelihatannya hal itu sama sekali tidak membantu penyelidikan kami. Aku tahu seharusnya aku tidak membiarkan dia terlibat dalam keseluruhan masalah ini: aku tahu kesehatan mentalnya belum pulih benar. Tetapi dia sendiri yang mengusulkan tantangan ini kepada Takegoshi Jr. Sekarang hasilnya sudah jelas: Kiyoshi akan menderita kekalahan. Sia-sia saja. Takegoshi  tak perlu melakukan apa pun selain menunggu kami datang membungkuk dan mengiba-iba dan meminta maaf seperti orang-orang konyol yang menyedihkan. Misteri ini tidak terpecahkan selama empat puluh tahun, kami gila kalau mengira bisa memecahkannya dalam satu minggu. Tetapi aku masih menyimpan harapan bahwa Shusai Yoshida sebenarnya penjelmaan dari Heikichi Umezawa. Itu hanya setitik harapan, tetapi entah kenapa aku merasa yakin. Namun, dalam keadaan seperti ini, Kiyoshi tak akan bisa diajak bicara baik-baik. Aku harus secepatnya mengambil tindakan, sendirian, bahkan jika aku harus meninggalkan Kiyoshi yang malang di tepi kegilaannya. Waktu yang tersisa tinggal beberapa jam lagi. Aku harus memburu Yoshida, demi kebaikan kami berdua.

Saat ini pukul sepuluh lewat. Aku baru akan menelepon Emoto untuk minta bantuan, ketika Kiyoshi mulai bicara lagi.

"Seharusnya aku tidak menjelek-jelekkan Sherlock Holmes. Kau benar, Kazumi, aku seharusnya tahu tempatku. Kupikir ini akan mudah bagiku, dan pada kenyataannya, aku memang hampir sampai. Ya Tuhan, semua ini terlalu mudah —seperti barisan kartu domino. Aku hanya perlu tahu di bagian mana harus mendorong agar kartukartu itu berjatuhan. Hanya satu lembar—itu yang aku butuhkan—dan semuanya akan jatuh ke tempat yang tepat! Brengsek! Aku mencurahkan seluruh upayaku untuk kasus ini, dan sekarang aku tersesat. Aku butuh inspirasi. Aku butuh sesuatu, sedikit sesuatu untuk menginspirasi aku.” Dia membenamkan kepala di tangannya. "Aduh! Hebat sekali. Kau pernah bilang aku akan menderita karena kesombonganku, dan sekarang aku bisa merasakan bibirku membengkak. Aku nyaris tak bisa menggerakkannya. Bagaimana aku bisa bicara dengan  keadaan seperti ini? Aku sudah kehilangan langkah, ini sia-sia. Tetapi kau sepertinya cukup berhasil. Ceritakan padaku, apa yang kautemukan.”

Cumbuan singkat dengan kewarasan— dan kerendahan hati yang tidak biasa —sangatlah menyenangkan, tetapi stabilitas dan kejernihan pikirannya itu soal lain. Pria ini —sahabatku —pernah mengalami serangan kecemasan tanpa sebab. Dan sekarang dia harus mengaku bersalah di hadapan si detektif arogan. Aku tidak tahan membayangkannya. Walaupun aku harus melakukan tugas ini sendirian, aku sudah bertekad untuk berusaha keras memenangkan tantangan ini.

” Ayolah, ceritakan apa yang kautemukan,” kata Kiyoshi lagi.

Jadi, dengan kalimat-kalimat teratur, aku menjelaskan pada Kiyoshi semua yang telah aku lakukan: kunjungan ulang ke rumah putri Yasukawa, pertemuan dengan Shusai Yoshida, perjalanan ke Meiji-Mura untuk melihat maneken yang dibicarakan Yasukawa, dan percakapan dengan Hachiro Umeda, yang disangka Yasukawa sebagai Heikichi.

Saat aku bercerita, Kiyoshi berbaring di bangku, lengan di bawah kepala, memandang ke langit dengan tatapan kosong, tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun. Entah dia benar-benar gila atau dia telah menyerah dalam pengejaran ini. Aku benar-benar kecewa.

Tiba-tiba dia duduk tegak. "Sudah waktunya Nyakuoji buka...” dia berkata dengan suara mengantuk.

”"Nyakuoji? Apa itu? Sebuah kuil?”

“Itu kelenteng... bukan, bukan itu maksudku! Maksudku, bangunan di sebelah sana...”

Dia menunjuk ke puncak sebuah menara jam kecil bergaya Barat.

"Ke sanalah aku harus pergi! Lupakan soal kelenteng!”

Dari Jalan Filsuf, kami menuruni lereng dan kemudian menaiki beberapa anak tangga batu.

"Menara itu tempat apa?”

"Kedai kopi. Memangnya kaupikir apa? Aku butuh minuman panas.” Kiyoshi sudah hidup kembali.

Kedai kopi itu terletak di halaman rumah seorang aktor terkenal. Ada sumur bergaya Spanyol dan beberapa patung. Terlepas dari kondisi Kiyoshi dan kenyataan bahwa waktu terus berjalan, enak rasanya duduk di meja di bawah siraman matahari pagi. Kami satu-satunya pengunjung, dan ketenangan tempat itu membuatku semakin santai.

"Tempat yang bagus,” aku berkata pada Kiyoshi.

Dia mengangguk samar. “Yaa...”

"Aku rasa aku akan menemui Yoshida sekarang. Apa kau mau ikut denganku?”

"Ya, tentu, aku dengan senang hati akan...”

"Ayo, kalau begitu!” Aku berkata penuh semangat. “Kita harus mengejar tenggat waktu...”

Aku berdiri, menyambar bon di meja. Aku tak punya uang yang lebih kecil dari lembaran sepuluh ribu yen, dan karena hari masih pagi, kasir butuh waktu cukup lama untuk memberikan uang kembalian. Kiyoshi menungguku di luar. Saat kami kembali menaiki tangga baru ke Jalan Filsuf, aku menyusun sembilan lembar uang kertas seribu yen supaya menghadap ke arah yang sama—itu kebiasaan sejak dulu. Salah satu lembaran robek dan disatukan kembali dengan selotip. Membuka percakapan ringan, aku memperlihatkan uang yang diperbaiki itu kepada Kiyoshi.

"Selotip? Bukan yang buram, ya?” dia berkata, memegang uang tersebut dan mempelajarinya. "Bukan, mereka menggunakan selotip transparan. Tidak apa-apa.”

"Ada apa dengan selotip buram?”

"Itu digunakan untuk pemalsuan, tetapi biasanya pada uang kertas sepuluh ribu yen. Bukan yang murahan seperti ini.”

"Mengapa mereka menggunakan selotip buram?”

"Karena... Oh, terlalu sulit menjelaskannya. Aku butuh pena dan kertas untuk memperlihatkannya kepadamu. Tetapi pemalsuan mungkin bukan kata yang tepat. Sebenarnya lebih seperti... mungkin... menipu... barangkali...” Suaranya melemah. Itu kerap kali terjadi. Biasanya, itu menandakan awal serangan depresi berat. Situasi ini semakin menyedihkan.

Aku menoleh ke arah Kiyoshi, yang menghentikan langkahnya. Aku terperangah. Mata merahnya membelalak tak wajar. Mulutnya juga terbuka lebar. Dia mengepalkan tinju dan menjerit: "AAAAAHHHHHH!”

Beberapa wisatawan terdiam di tempat. Anjing hitam menatap Kiyoshi.

Aku sudah sering mengeluhkan keanehan Kiyoshi, tetapi aku tidak pernah meragukan bakat, kecerdasan, dan pengetahuannya, serta kekuatan intuisinya. Itu hal-hal baik tentang dia. Tetapi semua itu berkerumun tepat di seberang bencana.

Semua sudah berakhir!

Kiyoshi jelas sudah melewati gerbang kegilaan.

"Tenanglah!" kataku. Aku mencengkeram bahunya dan mencoba mengguncangnya.

Wajahnya yang kusut masai berada tepat di depanku. Tetapi bukan dia yang terperangah—melainkan aku. Kiyoshi tampak seperti seekor singa—kelaparan dan lemah, tetapi tetap penuh harga diri. Dia sudah berhenti  menjerit. Tiba-tiba dia menepis tanganku dan mulai berlari.

Apa yang dia lakukan sekarang? Berhalusinasi?

Dia berlari tepat ke arah kanal.

Apakah dia akan melompat? Menyelamatkan seorang anak yang tenggelam?

Aku bergegas menyusulnya, tetapi dia sangat cepat. Setelah menempuh seratus meter, dia berhenti, membalikkan badan, dan berlari kembali ke arahku. Beberapa wisatawan yang melintas menjauhkan diri. Anjing hitam mengawasi si pria gila dari kejauhan.

Kiyoshi berjongkok, tangan mencengkeram kepala, bernapas tersengal-sengal. Kemudian dia menengadah menatapku dan tersenyum. "Oh, Kazumi! Kau dari mana saja?”

"Baiklah, jadi kau pelari yang sangat cepat,” aku menggerutu.

"Aku sudah begitu bodoh!” Kiyoshi berseru, kali ini tidak sekencang tadi. "Apa saja yang telah kulakukan? Aku mencari-cari kacamata yang bertengger di puncak kepalaku! Brengsek! Seharusnya sejak awal aku mencurahkan seluruh tenagaku untuk itu! Syukurlah, aku tidak mengorbankan siapa pun dengan keteledoranku. Kita sangat beruntung!”

"Yah, kau yang beruntung. Kalau aku tidak ada di sini, orang-orang pasti sudah memanggil ambulans.”

"Itu hanya sebuah peniti kecil, Kazumi! Dan aku menemukannya! Aku menarik peniti itu, dan, BAM, semua jatuh ke tempat yang tepat! Benar-benar pesulap hebat! Tipuan yang begitu sederhana! Bahkan begitu sederhana sampai-sampai tak pernah terpikir oleh kita... luar biasa sederhana. Apa saja yang aku lakukan? Aku seperti tikus mondok yang menggali lobak dari sisi bumi yang salah... Katakan sesuatu, Kazumi! Tertawakan aku. Aku mohon,  semuanya, tertawakan aku! Aku ingin dunia menertawakan aku. Aku begitu bodoh. Bagaimana aku bisa sebuta ini? Anak kecil saja pasti bisa melihatnya. Sekarang aku harus cepat-cepat. Pukul berapa ini?”

"Apa?"

"Aku menanyakan jam padamu. Kau tidak pakai jam?”

"Pukul sebelas...”

"Ya Tuhan! Pukul berapa kereta peluru terakhir berangkat ke Tokyo?”

“"Ngng... 20.29, kurasa...”

“Baiklah, aku akan naik yang itu. Bisakah kau menungguku di apartemen Emoto? Aku akan meneleponmu nanti. Sampai jumpa!” Dia mulai berjalan menjauh.

"Tunggu, tunggu! Kau mau ke mana?”

"Menemui si pembunuh, tentu saja!”

Aku terkesiap. "Apa kau sudah gila? Kau bahkan tidak tahu dia ada di mana, tetapi kau masih mengejarnya?”

"Memang butuh waktu, tapi jangan khawatir. Masalah ini akan selesai malam nanti.”

Aku sudah mengikuti naik-turun emosi Kiyoshi sepanjang pagi ini, dan aku merasa sebentar lagi akan pingsan. "Kau tidak tahu apa yang kaulakukan, Kiyoshi,” aku mengingatkan. “Kita tidak sedang bicara tentang pergi ke kantor pengaduan barang hilang. Apa yang akan kita lakukan mengenai Yoshida? Bukankah kita akan pergi menemuinya?”

"Yoshida siapa? Siapa dia? Oh ya, kau menceritakannya tadi. Tidak, tidak, tidak ada perlunya menemui dia.”

"Tapi kenapa tidak?” aku protes, suaraku meninggi.

"Karena pembunuhnya bukan dia.”

"Bagaimana kau tahu?”

"Apakah kau tidak mengerti? Karena sekarang aku tahu siapa pelakunya!”

"Tunggu! Kau tidak serius, kan?”

Kiyoshi memutari tikungan dan menghilang.

Aku berdiri di sana, tanpa daya dan kelelahan.

Apa salahku sampai mendapat teman seperti dia? Jika ini adalah karma, aku pasti telah melakukan sesuatu yang sangat buruk dalam kehidupanku sebelumnya.

Karena sekarang aku sendirian lagi, aku harus membuat keputusan. Apakah aku harus pergi menemui Yoshida? Kiyoshi sudah mengatakan untuk melupakannya, tetapi apakah dia benar-benar tahu lebih banyak daripada aku?

Luar biasa sederhana? Kasus yang luar biasa sederhana? Apanya yang luar biasa sederhana dalam kasus ini? Belum pernah ada kasus yang begitu luar biasa rumitnya! Bahkan anak-anak pun bisa melihatnya? Bahkan anak-anak pun bisa melihat kalau dia gila...

Seandainya Kiyoshi tiba-tiba melihat cahaya, mungkinkah dia menemukan si pembunuh malam ini?

Orang telah berusaha memecahkan kasus ini selama empat puluh tahun —empat puluh tahun!— dan Kiyoshi dengan enaknya pergi mencari si pembunuh seperti mencari payung yang tertinggal di bilik telepon lima menit lalu? Tidak, aku tidak percaya. Kalau aku salah, aku akan berjalan keliling Kyoto dengan tanganku...

Kiyoshi tidak mungkin memperoleh lebih banyak informasi dibandingkan aku. Dia tidur-tiduran di bangku itu, membiarkan dirinya kelaparan. Dia tidak bertemu Yoshida dan dia tidak bertemu Umeda. Dan sekarang, dia bilang dia tahu siapa pelakunya.

Berani benar dia berkata begitu!

Aku harus menunggu telepon Kiyoshi di apartemen Emoto. Itu berarti dia mengharapkan aku untuk tidak melakukan apa-apa dan percaya bahwa dia tahu apa yang dia lakukan.

Dia jelas tidak tahu apa yang dia lakukan beberapa menit lalu. Tetapi bagaimana kalau dia membutuhkan bantuanku? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dengan intuisiku?

Intuisiku, akhirnya, adalah menyingkirkan segenap keraguanku dan berusaha mencari tahu bagaimana Kiyoshi akan memecahkan misteri. Apa yang memicu kesadaran mendadak ini? Kesadarannya muncul ketika dia melihat uang kertas seribu yen-ku yang diselotip. Tidak ada yang aneh dengan hal itu, hanya sepotong selotip di tempat uang tersebut robek. Apa yang mungkin dia temukan dari situ? Selotip melekat pada kedua sisi uang kertas, Kiyoshi hanya melihat sisi depannya.

Ada apa di sisi depan? Adakah sesuatu yang tertulis?... Tidak ada. Semuanya kelihatan sah. Wajah negarawan legendaris Ito Hirobum. Sesuatu tentang namanya? Tidak mungkin. Sesuatu mengenai uang kertas seribu yen? Bisa jadi. Intinya: aku tidak punya petunjuk. Coba lagi: Seribu yen artinya uang, masalah keuangan. Perebutan uang — Oke— tapi itu bukan hal baru. Mungkin ini masalah — bagaimana dia menyebutnya?—pemalsuan! Sesuatu yang palsu, suatu tiruan. Ya! Mungkin pembunuhan-pembunuhan itu palsu. Mungkin hanya pancingan, untuk mengalihkan perhatian dari tindak kejahatan lain? Tidak, itu juga tidak masuk akal. Lagi pula kejahatan lain apa? Dia bilang uang kertas itu mungkin palsu jika yang digunakan adalah selotip buram, tetapi biasanya yang dipalsukan uang kertas sepuluh ribu yen, bukan seribu yen. Jadi, semakin tinggi nominalnya, semakin baik? Itu berarti uang kertas seratus ribu yen, kalau ada, akan lebih baik dibandingkan uang kertas sepuluh ribu yen. Tetapi apa maksud dari selotip buram? Para pemalsu mencetak uang palsu. Mereka tidak memasang selotip pada uang yang sudah ada... Ah, aku tidak mengerti!

Aku berhenti mencoba menebak jalan pikiran Kiyoshi. Aku akan menunggunya di apartemen Emoto seperti  yang dia minta. Salah satu alasannya adalah kelelahan. Alasan lainnya adalah aku tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Aku hanya tidak ingin garis halus antara orang gila dan orang genius itu tercoreng...

PESAN DARI PENULIS

Pembaca yang Budiman,

Meskipun tidak lazim bagi seorang penulis untuk memotong di tengah cerita seperti ini, tetapi ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada titik ini.

Semua informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan misteri ini sekarang berada di tangan Anda, dan, sebenarnya, petunjuk yang paling menentukan pun telah diberikan. Saya bertanya-tanya apakah Anda menyadarinya? Ketakutan terbesar saya adalah bahwa saya mungkin telah memberitahu Anda terlalu banyak mengenai kasus ini! Tetapi saya berani melakukannya untuk keadilan permainan, dan, tentu saja, untuk memberi sedikit bantuan kepada Anda.

Izinkan saya mengajukan tantangan berikut: saya menantang Anda untuk memecahkan misteri ini sebelum bab terakhir!

Dan saya harap Anda beruntung. Dengan hormat.

Soji Shimada