--> -->

Pembunuhan Zodiak Tokyo Jilid 1 : Misteri Yang Tak Terpecahkan, 40 Tahun Kemudian

ADEGAN 1 JEJAK-JEJAK KAKI DI SALJU

“Apa sih ini?” seru Kiyoshi. Dia menutup buku itu, melemparnya kepadaku, dan berbaring di sofa.

"Kau sudah membaca semuanya?” aku bertanya.

"Yah, setidaknya bagian kisah Heikichi Umezawa.”

“Dan apa pendapatmu?” tanyaku.

Kiyoshi, yang baru-baru ini dilanda depresi, tidak mengatakan apa-apa. Setelah jeda yang lama, dia menjawab, "Rasanya seperti dipaksa membaca Halaman Kuning!”

"Tapi bagaimana dengan teorinya mengenai astrologi? Apakah ada sesuatu yang tidak lazim?”

Kiyoshi seorang astrolog, sehingga pertanyaan itu tampaknya membuat dia tersanjung. "Yah, beberapa bagian ditulis berdasarkan penafsirannya sendiri,” dia menjawab. “Begini, dalam astrologi, bagian-bagian tubuh lebih banyak dicirikan oleh pengawasan, bukan lambang-lambang matahari, jadi menurutku penafsirannya sedikit terlalu luas. Tetapi selain itu, pengetahuannya cukup kuat. Aku rasa tidak ada kesalahpahaman yang fatal.”

"Bagaimana dengan gagasannya tentang alkimia?”

“Benar-benar salah. Pemikiran semacam itu sangat khas di antara generasi tua. Seperti permainan bisbol. Ketika pertama kali datang ke Jepang pada tahun 1880an, orang mengira bisbol adalah metode untuk mendisiplinkan pikiran gaya Amerika, tetapi mereka terlalu berlebihan. Mereka memperlakukannya dengan begitu serius, sehingga jika mereka tidak berhasil memukul bola, mereka siap melakukan harakiri. Heikichi Umezawa seperti itu, tapi kukira dia tahu lebih banyak ketimbang orang-orang yang berpendapat bahwa alkimia adalah cara untuk mengubah timbal menjadi emas.”

Namaku Kazumi Ishioka. Aku penggemar berat misteri, bahkan, sudah hampir kecanduan. Jika satu minggu saja kulewatkan tanpa membaca kisah misteri, aku menderita gejala penarikan diri. Kemudian aku akan berkeliaran seperti orang berjalan dalam tidur dan terbangun di sebuah toko buku, mencari novel misteri. Aku sudah membaca hampir semua kisah misteri yang pernah ditulis, termasuk kisah tentang Yamatai, kerajaan kuno yang kontroversial, dan kisah tentang perampok bank yang mencuri 300 juta yen dan tidak pernah tertangkap. Tetapi itu bukan perburuan intelektual, melainkan lebih seperti memuaskan kehausanku akan gosip.

Tetapi dari semua kisah misteri yang pernah kubaca, Pembunuhan Zodiak Tokyo adalah, tanpa diragukan lagi, yang paling mengusik keingintahuanku. Pembunuhan tersebut benar-benar terjadi—tahun 1936, tak lama sebelum Perang Dunia II, pada saat pemberontakan militer yang gagal tanggal 26 Februari, yang dikenal dengan nama “Insiden 2-26”.

Kisahnya luar biasa—tidak dapat dipahami, ganjil, dan dengan kedalaman yang sulit dipercaya. Misteri itu menyapu negeri ini bagaikan sekawanan belalang. Dan sejak saat itu—selama lebih dari empat puluh tahun—tak terhitung banyaknya cendekiawan dan detektif amatir yang berusaha memecahkannya. Tentu saja, hingga hari ini, kasus tersebut tetap tidak terpecahkan.

Dokumen-dokumen kasus serta pesan dan wasiat terakhir yang ditinggalkan Heikichi Umezawa disusun menjadi buku. Buku itu terbit pada masa sekitar waktu kelahiranku, dan segera saja menjadi buku terlaris. Pada saat itu, bagian dari gambar yang lebih besar adalah bahwa kegagalan untuk memecahkan pembunuhan tersebut seakan-akan melambangkan kegelapan yang menyelimuti Jepang pada masa sebelum perang.

Hal yang paling mengerikan dan sulit dimengerti dalam kasus Zodiak adalah bahwa keenam wanita muda tersebut dibunuh tepat seperti yang digambarkan dalam catatan Heikichi. Selain itu, mereka juga dikubur di enam tempat terpisah, pada setiap mayat ada bagian tubuh berbeda yang hilang, dan mayat mereka dikuburkan bersama-sama dengan satu unsur logam.

Yang aneh adalah, Heikichi dibunuh sebelum kematian wanita-wanita muda itu, yang, sebenarnya, adalah para putri dan keponakannya. Dia menyebut-nyebut nama sejumlah orang, tetapi mereka semua punya alibi. Tentu saja, semua alibi itu diperiksa dengan saksama, tetapi semua tersangka telah terbukti tidak bersalah. Heikichi sendiri tampaknya merupakan satu-satunya orang yang memiliki motif kuat, tetapi dia sudah mati ketika pembunuhan terjadi, sehingga dia tidak mungkin dicurigai.

Sebagai konsekuensinya, teori yang beredar luas menyebutkan bahwa si pembunuh adalah orang di luar keluarga. Khalayak umum mengajukan ratusan teori, yang hanya menimbulkan kekacauan. Semua motif yang bisa terpikirkan telah dibahas, tampaknya kasus ini telah menemui jalan buntu.

Sejak akhir 1970-an, terbit sejumlah buku yang mengaitkan pembunuhan tersebut dengan ilmu gaib. Sebagian  besar disusun dengan buruk dan asal-asalan, tetapi laris di pasaran. Jadi, wajar saja jika lebih banyak lagi buku semacam itu yang diterbitkan: sudah seperti demam emas saja.

Aku ingat beberapa teori paling konyol yang diulas dalam buku-buku itu: Kepala Polisi Metropolitan terlibat: ada campur tangan Perdana Menteri, Nazi menginginkan gadis-gadis itu untuk percobaan biologis: dan—yang terhebat menurut pendapatku —bangsa kanibal dari New Guinea mengambil bagian-bagian tubuh mereka untuk dimakan. Teori-teori ini lebih tepat disebut lelucon yang buruk, tetapi orang mulai menikmatinya. Ketika sebuah majalah kuliner memuat artikel mengenai seni memakan manusia, keadaan benar-benar sudah tak terkendali. Teori gila terakhir adalah pembunuhan tersebut dilakukan oleh alien dari luar angkasa.

Menurut pendapatku, semua teori ini melewatkan dua detail penting: bagaimana mungkin orang luar bisa membaca catatan Heikichi dan untuk apa seseorang bersusah payah melaksanakan rencananya itu?

Polisi memusatkan perhatian pada fakta bahwa putri tertua, Kazue, memiliki koneksi dengan Cina dan mungkin dia mata-mata. Jadi, ada spekulasi bahwa agen militer asing mungkin telah membantai gadis-gadis Umezawa.

Teori karanganku sendiri adalah seseorang menemukan catatan Heikichi dan kemudian menggunakannya sebagai dalih untuk kejahatannya sendiri. Pria tersebut mungkin terlibat hubungan romantis dengan salah satu gadis Umezawa—gadis itu memutuskannya, jadi dia membalas dendam. Dan jika dia membunuh keenam gadis itu, motif sesungguhnya tidak akan ketahuan. Tetapi teori ini tidak sesuai dengan fakta bahwa, menurut para penyelidik, gadis-gadis Umezawa dijaga ketat oleh ibu mereka dan tidak ada yang punya kekasih. Berkencan tanpa izin orangtua adalah hal terlarang pada tahun 1930-an. Dan jika salah satu gadis memang memiliki kekasih yang dia putuskan cintanya, pria itu pasti akan memilih cara yang lebih mudah untuk membunuhnya. Lagi pula, dia tidak akan punya akses ke catatan Heikichi.

Tidak ada yang masuk akal. Pada akhirnya, aku berhenti memikirkan pembunuhan aneh itu.

Kiyoshi Mitarai sebenarnya pria yang sangat energik, tetapi pada musim semi tahun 1979 dia baru pulih dari serangan depresi. Dia tidak berada dalam kondisi terbaik untuk memecahkan misteri seberat itu. Kebanyakan seniman adalah makhluk aneh, dan Kiyoshi bukan perkecualian. Dia bisa tiba-tiba bahagia saat menemukan rasa pasta gigi yang menyenangkan, atau dia bisa tiba-tiba depresi jika restoran kesukaannya mengubah warna taplak meja. Begitu suasana hatinya berubah buruk, itu akan bertahan selama beberapa hari. Jadi tidak mudah bergaul dengannya. Aku sudah terbiasa dengan perubahan suasana hatinya, tapi sepertinya akhir-akhir ini semakin parah saja. Saat berjalan ke dapur atau ke kamar mandi, dia bergerak seperti seekor gajah sekarat. Bahkan ketika menemui kliennya, dia kelihatan sakit. Biasanya dia jujur dan bermuka tebal di depanku, tetapi sekarang tidak begitu. Terus terang, aku lebih suka seperti ini. Kiyoshi dan aku bertemu tahun lalu, dan sejak saat itu aku menghabiskan sebagian besar waktu luangku di ruang kelas astrologinya. Aku membantunya ketika para murid dan klien mendatangi kantornya. Suatu hari, seorang Mrs. Iida datang dan berkata tanpa tedeng alingaling bahwa ayahnya terlibat dalam kasus Pembunuhan Zodiak yang terkenal. Dia menyerahkan sebuah bukti  kepada kami, yang rupanya belum pernah dilihat siapa pun, dan mengatakan sesuatu yang mengarah pada kesimpulan bahwa kami mungkin dapat memecahkan kasus tersebut dengan bukti yang dia berikan. Kiyoshi bukan orang terkenal, meskipun dia disegani rekan-rekan sejawatnya. Kenyataan bahwa wanita ini mau memercayakan bukti sepenting itu kepadanya membuat penilaianku terhadapnya melonjak tinggi. Aku merasa penting karena berteman dengannya.

Sudah lama sekali aku tidak memikirkan pembunuhan itu, tetapi tidak butuh waktu lama untuk mengingatnya. Kiyoshi, sebaliknya, tidak tahu sama sekali tentang kasus tersebut, meskipun dia sendiri seorang astrolog. Aku harus mencari Pembunuhan Zodiak Tokyo di rak bukuku, menyeka debunya, dan menjelaskan segalanya kepada Kiyoshi.

"Kaubilang penulis catatan ini, Heikichi Umezawa, dibunuh?” tanya Kiyoshi sambil meregangkan tubuh di sofa.

"Benar. Kau akan menemukan keterangannya di paruh kedua buku itu.”

"Aku capek. Huruf kecil-kecil ini merusak mataku.”

"Oh, sudahlah, berhentilah mengeluh!”

"Tak bisakah kau meringkasnya untukku?”

“Baiklah. Aku rasa kau ingin ringkasan peristiwa pembunuhannya dulu?”

"Ya"

“Siap?”

"Mulai saja...”

“Baik, peristiwa yang disebut "Pembunuhan Zodiak Tokyo' sebenarnya terdiri atas tiga kasus berbeda. Yang pertama adalah pembunuhan Heikichi Umezawa, yang kedua adalah pembunuhan Kazue Kanemoto, putri tirinya, dan yang ketiga adalah pembunuhan berganda Azoth. Heikichi ditemukan tewas di studionya pada tanggal 26 Februari 1936. Catatannya, yang mengambil bentuk kisah aneh, bertanggal lima hari sebelum kematiannya. Catatan itu ditemukan di laci mejanya.

"Kazue dibunuh di rumahnya di Kaminoge, Subdistrik Setagaya, yang cukup jauh dari rumah keluarga Umezawa dan studio Heikichi di Ohara, Subdistrik Meguro. Dia diperkosa, sehingga disimpulkan bahwa pembunuhnya laki-laki, dan kemungkinan perampok. Bisa jadi hanya kebetulan saja Kazue dibunuh pada saat bersamaan dengan Umezawa dan yang lainnya.

"Setelah kematian Kazue, pembunuhan berantai itu berlangsung, tepat seperti yang digambarkan dalam catatan Heikichi. Mereka menyebutnya "pembunuhan berantai', tetapi sebenarnya korban tidak dibunuh secara berantai satu demi satu —mereka dibunuh pada saat bersamaan. Entah bagaimana, keluarga Umezawa dikutuk. Omong-omong, apakah tanggal 26 Februari 1936 punya arti untukmu?”

Jawaban Kiyoshi lugas dan cepat. “Insiden 2-26.”

"Benar sekali,” kataku. "Aku sangat terkesan dengan pengetahuanmu mengenai sejarah Jepang! Kematian Heikichi terjadi pada hari yang sama. Oh, itu tertulis dalam buku? Yah, bagus kalau begitu. Sekarang mari kita lihat silsilah keluarga mereka. Usia mereka dihitung per hari itu, 26 Februari 1936.”

“Dan golongan darah mereka?” tanya Kiyoshi.

“Ya, golongan darah mereka juga. Informasi dalam catatan semuanya tepat dan benar. Tetapi dia tidak menulis tentang Yoshio, adiknya, jadi aku akan menceritakan sesuatu tentang dia. Yoshio adalah penulis yang menulis esai untuk majalah perjalanan, cerita bersambung untuk surat kabar, artikel, dan sebagainya. Sewaktu kakaknya dibunuh, dia sedang berada di timur laut Tohoku, melakukan riset untuk sebuah artikel. Alibinya terbukti benar, tetapi masih menarik untuk dibahas. Tetapi kita akan kembali ke Yoshio nanti.

“Selanjutnya, Masako, istri kedua Heikichi. Nama gadisnya adalah Hirata. Dia berasal dari keluarga kaya di Aizu-wakamatsu. Suami pertamanya adalah Satoshi Murakami, eksekutif di perusahaan ekspor-impor, pernikahan mereka merupakan hasil perjodohan. Mereka memiliki tiga putri— Kazue, Tomoko, dan Akiko.”

"Begitu ya,” ujar Kiyoshi. "Sekarang mengenai Heitaro Tomita?”

"Dia berusia dua puluh enam tahun saat pembunuhan terjadi. Dia tidak menikah, dan membantu mengurus galeri ibunya, De Medicis. Jika Heikichi benar ayah biologisnya, berarti dia membuahinya saat berusia dua puluh dua tahun.”

"Apakah golongan darah bisa memastikan jika Heikichi benar-benar ayahnya?”

"Dalam kasus ini tidak. Golongan darah Heitaro dan ibunya O. Golongan darah Heikichi A.”

"Kita tahu bahwa Heikichi dan Yasue, ibu Heitaro, berpisah di Tokyo dan belakangan bertemu kembali. Apakah pada tahun 1936 mereka masih berhubungan?”

"Kemungkinan besar masih,” aku menyahut. "Jika Heikichi keluar rumah untuk menemui seseorang, biasanya dia menemui Yasue. Sepertinya Heikichi memercayainya karena mereka memiliki minat seni yang sama. Heikichi tidak bisa sedekat itu dengan Masako maupun putri-putri tirinya.”

"Kalau begitu, mengapa dia menikahinya? ...Dmongomong, apakah Masako dan Yasue akur?”

”Aku rasa tidak. Mereka mungkin saling menyapa, tetapi Yasue jarang mampir ke rumah utama saat mengunjungi Heikichi. Lagi pula pria itu menghabiskan sebagian besar waktunya di studio. Yasue dapat dengan mudah mengunjunginya di sana tanpa diketahui siapa pun. Heikichi mungkin masih mencintai Yasue. Dia menikah dengan Tae karena merasa kesepian setelah kematian ibunya. Lalu dia terseret dalam hubungan gelap dengan Masako—ya, 'terseret mungkin kata yang tepat untuk menjelaskan watak Heikichi.”

"Jadi, agaknya, Yasue dan Masako tidak mungkin bersatu...”

“Itu sangat diragukan.”

“Apakah Heikichi pernah menemui Tae setelah perceraian mereka?”

“Tidak pernah. Tapi putri mereka, Tokiko, sering mengunjungi Tae di Hoya. Dia mengkhawatirkan Tae, yang mengurus kedai rokok kecil sendirian.”

”Heikichi berhati dingin ya?”

"Yah, dia tak pernah mengunjungi Tae dan Tae tak pernah mengunjunginya.”

"Tae dan Masako juga tidak akur, benar?”

"Tentu saja tidak. Masako merebut suami Tae darinya. Tae pasti membencinya. Itu sudah sifat alami perempuan.”

"Jadi, Kazumi, kau tahu banyak tentang psikologi perempuan rupanya!”

"Apa?.. Tidak!” aku menggerutu.

“Tapi kalau Tokiko begitu mengkhawatirkan ibunya, mengapa dia tinggal dengan keluarga Umezawa? Dia seharusnya bisa tinggal dengan Tae, iya kan?”

"Aku tidak tahu. Aku bukan pakar psikologi perempuan!”

“Bagaimana dengan istri Yoshio, Ayako? Apakah dia dekat dengan Masako?”

"Mereka cukup akur.”

"Tapi meskipun Ayako mengizinkan kedua putrinya tinggal bersama Masako, dia sendiri memilih untuk menjauhkan diri.”

“Mungkin pernah ada masalah di antara mereka.”

"Kembali ke putra Yasue, Heitaro. Apakah dia sering bertemu Heikichi?”

"Aku tidak tahu soal itu. Buku ini tidak memaparkan informasi sampai sejauh itu. Heikichi sering mendatangi galeri De Medicis di Ginza. Dia pasti bertemu Heitaro dari waktu ke waktu. Mungkin saja mereka berteman baik.”

"Hmm. Perilaku Heikichi yang tak lazim—tentu saja tidak terlalu aneh di kalangan seniman —jelas menciptakan hubungan yang rumit.”

"Ya, memang,” aku membenarkan. “Pelajaran moral yang baik untukmu, bukan begitu?”

"Pelajaran macam apa?” tanya Kiyoshi, tidak menyadari sindiranku. "Aku memiliki kepekaan moral tinggi — tidak seperti dia. Kata pengantarnya sudah cukup. Mari kita bahas detail pembunuhan Heikichi Umezawa.”

"Dengan senang hati. Aku ahlinya dalam soal itu!”

"Apa benar?” ujar Kiyoshi sambil menyeringai.

"Ya. Aku sudah hafal semuanya, jadi kau boleh memiliki buku itu... Oh tunggu... sisakan halaman yang berisi denah ruangan.”

Kiyoshi menguap. "Ah, aku hanya berharap aku tak perlu terus mendengarkan ceramahmu yang membosankan, tapi lanjutkan, lanjutkan...”

Itu sifat khas Kiyoshi. Aku mengabaikannya dan melanjutkan. “Siang hari tanggal 25 Februari, Tokiko meninggalkan rumah Umezawa untuk mengunjungi ibunya. Dia kembali pukul sembilan keesokan paginya, tanggal 26 Februari. Sekarang tolong diingat fakta bahwa pada hari itu dalam sejarah—selain percobaan kudeta —terjadi rekor hujan salju di Tokyo, yang paling lebat dalam tiga  puluh tahun. Setelah Tokiko sampai di rumah, dia menyiapkan sarapan untuk ayahnya. Heikichi selalu menyantap apa pun yang dimasak Tokiko, karena dia memercayai gadis itu dan, di antara alasan lainnya, Tokiko adalah putri kandungnya.

"Tokiko membawa sarapan ke studio beberapa menit sebelum pukul sepuluh pagi. Dia mengetuk pintu, tetapi Heikichi tidak menyahut. Dia berjalan ke samping studio dan mengintip melalui jendela. Dia bisa melihat ayahnya terbaring di lantai, di tengah genangan darah.

“Tokiko terkesiap. Pintu studio terkunci, jadi dia bergegas kembali ke rumah utama dan mengajak wanita-wanita lainnya untuk membantu mendobrak pintu studio. Heikichi sudah mati. Bagian belakang kepalanya dihantam benda tumpul, kemungkinan sebuah wajan. Diputuskan bahwa kematiannya disebabkan luka memar di otak. Darah keluar dari mulut dan hidungnya. Ada sejumlah uang dan barang berharga di meja, tetapi sepertinya tidak ada yang dicuri. Catatan anehnya, yang ditulis dalam buku catatan, ditemukan di dalam laci.

"Sebelas lukisan —yang disebut Heikichi karya hidupnya—terpajang di dinding utara. Tidak ada kerusakan pada lukisan-lukisan tersebut. Lukisan kedua belas yang masih belum selesai terpasang di kuda-kuda. Batu bara masih membara di dalam pemanas ketika putri-putrinya mendobrak masuk ke studio. Cerita detektif sangat populer pada masa itu, sehingga mereka tahu untuk tidak merusak tempat kejadian perkara. Tak lama kemudian polisi datang.

"Seperti kubilang tadi, pada malam sebelumnya Tokyo dilanda hujan salju paling lebat dalam tiga puluh tahun. Sekarang coba lihat ilustrasi kedua.”

"Di antara studio dan gerbang, beberapa jejak kaki di salju terlihat jelas. Itu jejak sepatu seorang pria dan seorang wanita—atau setidaknya sepatu pria dan sepatu wanita. Apa pun gender mereka, kelihatannya kedua orang tersebut tidak berjalan keluar dari studio bersamasama. Dan mereka jelas tidak berjalan beriringan. Jejak kaki mereka tumpang tindih.

"Benar, mereka mungkin meninggalkan studio pada saat bersamaan, yang satu di belakang yang lain. Tetapi igjak sepatu pria dari studio mengarah ke jendela di atas bak cuci di sisi selatan, di mana tampaknya pria itu berjalan mondar-mandir, sementara jejak sepatu wanita langsung mengarah dari pintu. Jika kedua orang tersebut meninggalkan studio pada saat bersamaan, maka si pria meninggalkan studio setelah si wanita. Karena terlihat bahwa dia berjalan di atas jejak sepatu si wanita. Di luar gerbang properti itu, jalan diaspal. Ketika polisi tiba, kedua jejak kaki berhenti di sana.”

"Ya, ya.”

"Durasi hujan salju adalah kunci utama. Di Meguro, salju mulai turun sekitar pukul dua siang tanggal 25 Februari. Di Tokyo jarang turun salju, dan sistem untuk meramalkan cuaca jelas belum secanggih saat ini, jadi tidak ada yang tahu berapa lama salju akan turun. Pada kenyataannya, salju terus turun sampai pukul 23.30— total sembilan setengah jam salju turun. Kemudian, keesokan paginya, pukul 08.30, salju turun lagi tapi tidak deras, selama sekitar lima belas menit.

"Kau bisa membayangkan bahwa hujan salju kedua hanya akan sedikit menutupi jejak sepatu. Dengan demikian, kedua orang tersebut pasti masuk ke studio setidaknya tiga puluh menit sebelum salju berhenti pukul 23.30: dan si wanita, diikuti si pria, meninggalkan studio antara pukul 23.30 dan 08.30 pagi. Mengapa aku mengatakan mereka masuk ke studio tiga puluh menit sebelum salju berhenti? Karena jejak sepatu mereka tertutup salju tetapi tidak tertimbun sepenuhnya.”

"Ya, ya."

“Nah, seharusnya ada tiga orang di dalam studio malam itu: orang yang meninggalkan jejak sepatu pria, orang yang meninggalkan jejak sepatu wanita, dan Heikichi Umezawa sendiri. Sepertinya amat kecil kemungkinannya si pria membunuh Heikichi setelah si wanita pergi. Tetapi jika si pria memang membunuhnya, maka si wanita pasti sudah melihat siapa dia. Atau, jika si wanita yang membunuhnya, maka si pria pasti sudah melihat siapa dia—tapi kejadiannya tidak mungkin seperti itu, karena si pria meninggalkan studio setelah si wanita. Si pria tampaknya tidak mungkin menonton si wanita membunuh Heikichi, ataupun tetap tinggal di studio setelah pembunuhan terjadi— begitu juga dia tidak mungkin berjalan mondar-mandir di antara jendela selatan dan pintu.

“Tetapi seandainya kedua orang tersebut berkomplot, maka ada kejanggalan mengenai pil-pil tidur yang ditemukan di dalam perut Heikichi. Dosisnya jauh dari mematikan, jadi dia pasti meminum pil itu untuk membantunya tidur. Lalu setelah meminum pil, dia dibunuh. Tapi mungkinkah dia minum pil tidur di hadapan kedua tamunya? Rasanya tidak mungkin ya?

"Jadi, apakah pembunuhan itu dilakukan oleh si pria setelah si wanita pergi? Itu juga kecil kemungkinannya. Heikichi tidak terlalu nyaman berada di dekat pria, dia tidak punya sahabat laki-laki. Dia merasa aman di antara para wanita, dan jika dia sampai minum pil di depan orang lain, orang itu pastilah wanita. Tetapi hal itu tidak mungkin terjadi karena si wanita pasti sudah pergi. Apa pun teorinya, tidak ada yang bisa menjelaskan mengenai pil-pil tidur itu.

"Akhirnya sampailah kita pada teori ini: siapa pun yang meninggalkan jejak sepatu pria adalah pembunuhnya, dan siapa pun yang meninggalkan jejak sepatu wanita menyaksikan pembunuhan tersebut. Jadi, Kiyoshi, menurutmu siapa orang yang mengenakan sepatu wanita?”

"Modelnya?"

"Ya, bagus sekali! Dia bisa jadi seorang model, dan dia bisa jadi menyaksikan pembunuhan itu. Polisi menyebarluaskan beberapa pengumuman, meminta si model melapor dan menjanjikan bahwa privasinya akan dilindungi. Dia tidak pernah menampakkan diri. Tidak ada yang tahu siapakah model tersebut, bahkan hingga hari ini, empat puluh tahun sesudah hari itu.

"Tetapi jika si model berada di studio Heikichi pada pukul 23.30, maka misteri lain pun muncul: apakah mungkin model bekerja selarut itu? Jika iya, maka dia pasti sangat akrab dengan Heikichi. Kalau tidak, tak mungkin seorang wanita mau bekerja sampai larut. Pada masa itu, bahkan pekerjaan pada jam normal pun masih jarang untuk wanita. Tentu saja, ada kemungkinan dia memang sengaja menunggu salju berhenti. Dan memang tidak ditemukan payung di dalam studio. Tapi Heikichi seharusnya bisa berjalan ke rumah utama untuk mengambilkan payung.

"Namun banyak yang menyangsikan kalau model tersebut benar-benar ada. Polisi tidak dapat menemukannya, itu sudah pasti, mereka berpendapat jejak sepatu wanita hanyalah tipuan. Satu-satunya fakta tak terbantahkan adalah siapa pun yang meninggalkan jejak itu berjalan dari studio ke jalan, bukan sebaliknya. Hal itu dipastikan dengan melihat jejak yang terbentuk di salju. Dan jejaknya hanya satu arah. Kemungkinan seseorang mengenakan sepatu di telapak tangannya, lalu berjalan merangkak seperti anjing, juga dipertimbangkan. Kesimpulannya: tidak mungkin. Jika itu yang terjadi, tekanan berat tubuh yang tak seimbang pasti akan terlihat.

“Tapi, cukup sekian kita membahas jejak sepatu — yang jauh dari hal paling menarik dalam pembunuhan Heikichi. Seperti diungkapkannya sendiri, dia memasang jeruji besi pada jendela dan kaca atap studionya. Dia orang yang sangat berhati-hati. Jeruji tersebut sama sekali tidak diotak-atik. Untuk alasan keamanan, jeruji ini dirancang untuk dilepas dari dalam. Dengan demikian, hanya ada satu cara untuk memasuki studio, yaitu melalui pintu. Si pembunuh harus masuk dan keluar melalui pintu. Sebenarnya, pintu itu bukan pintu biasa. Pintu itu berpanel tunggal dan bergaya Barat yang membuka ke arah luar, dan di bagian dalam ada palang untuk mengamankannya. Rupanya, Heikichi pernah melihat pintu seperti itu di hotel-hotel pedesaan Prancis dan dia memesan satu untuk studionya. Untuk mengunci pintu, kau harus menggeser palang dan memasukkannya ke dalam lubang di kerangka pintu. Palang itu memiliki lidah kecil yang harus diputar ke bawah pada tonjolan di pintu. Tonjolan ini dilengkapi cincin, dan ke dalam cincin ini diselipkan kunci berbentuk kantong.”

Kiyoshi tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan mengangkat tubuhnya di sofa. “Serius?” katanya.

"Ya. Dan Heikichi dibunuh di balik pintu terkunci!”

ADEGAN 2 LUKISAN KE-12

“Tidak, itu tidak mungkin,” sergah Kiyoshi. "Si pembunuh pasti melarikan diri melalui jalan rahasia!”

"Kau benar. Tapi polisi sudah memeriksa setiap sudut. Tidak ada jalan keluar lain, kecuali mungkin si pembunuh menyelam ke dalam toilet dan keluar melalui pipa pembuangan! Tapi itu juga mustahil.

"Nah, di dalam studio itu sendiri, ditemukan dua hal yang mencurigakan. Pertama, tempat tidur Heikichi tidak menempel ke dinding seperti yang terlihat dalam ilustrasi. Kita tahu dia suka menggeser-geser tempat tidurnya, jadi mungkin fakta itu tidak terlalu aneh—tetapi tetap bisa menjadi petunjuk penting. Yang kedua, Heikichi selalu memelihara janggut. Tetapi ketika mayatnya ditemukan, janggutnya setengah tercukur. Dari apa yang terlihat, dia tidak melakukannya sendiri: ada orang lain yang melakukannya — dengan gunting. Potongan rambut dari janggutnya ditemukan di dekat mayatnya, tetapi tidak ada gunting maupun pisau cukur di studio itu.

"Heikichi dan adiknya Yoshio begitu mirip sehingga mereka seperti anak kembar, dan beredar kabar bahwa mayat itu sebenarnya mayat Yoshio. Mungkin —entah untuk alasan apa—Heikichi mengundang adiknya ke  studio, membunuhnya, lalu pergi, atau sebaliknya. Tetapi tidak ada yang menanggapi teori ini secara serius. Apalagi Yoshio tidak pernah memelihara janggut. Tetapi tetap ada kemungkinan anggota keluarga salah mengidentifikasi mayat. Mereka tidak pernah melihat Heikichi tanpa janggut, dan kepalanya telah dihancurkan. Jadi, kemungkinan salah identifikasi tidak bisa sepenuhnya disingkirkan. Heikichi begitu terobsesi pada karya seninya, sepertinya dia tega saja melakukan apa pun untuk menciptakan Azoth.

"Nah, itu semua fakta yang diketahui mengenai kejadian tersebut. Kita lanjutkan ke alibi para tersangka?”

"Tunggu sebentar...”

"Apa?"

"Penjelasanmu terlalu cepat! Kau tidak memberiku waktu untuk merenungkan fakta-fakta itu.”

"Kau bercanda ya!”

“Tidak, aku ingin tahu lebih banyak tentang Heikichi yang terkunci di dalam studio. Apakah perhatian yang diberikan terhadap fakta tersebut sama besarnya dengan perhatian terhadap jejak kaki?”

"Yah, paling tidak selama empat puluh tahun orang tak pernah berhenti memikirkannya.”

"Ceritakan lebih banyak tentang studio itu.”

"Baik. Aku harap aku bisa mengingat semua detailnya. Langit-langit studio itu setinggi rumah dua lantai, jadi meskipun tempat tidur disandarkan di dinding, tidak mungkin ada yang bisa menjangkau langit-langit. Tambahan lagi, kaca atap dilindungi jeruji besi. Tidak ada tangga. Pemanas dilengkapi cerobong timah, tetapi terlalu rapuh untuk dipanjat—bahkan Sinterklas pun tak mungkin melakukannya! Lagi pula, batu bara masih membara di dalam pemanas. Tentu saja ada lubang di dinding untuk memasang pipa, tetapi ukurannya tidak  lebih besar dari kepalamu. Hanya itu yang bisa aku ingat. Benar-benar tidak ada jalan lain untuk keluar dari studio.”

"Apakah ada tirai di jendela?”

"Beberapa dilengkapi tirai, ya. Dan tongkat panjang yang digunakan untuk membuka dan menutup tirai ditemukan di dekat tempat tidur di sisi utara studio, jauh dari jendela.”

"Ya, ya. Dan jendelanya terkunci!”

“Sebagian terkunci, sebagian lagi tidak.”

“Bagaimana dengan jendela di atas lokasi jejak sepatu pria ditemukan?”

"Jendela itu tidak terkunci.”

“Begitu. Dan ada apa lagi di dalam studio?”

"Tidak banyak barang, seperti bisa kaulihat dalam ilustrasi. Sebuah meja, beberapa lukisan dan cat, beberapa pena, buku catatan tempat Umezawa menuliskan catatannya, sebuah arloji, sejumlah uang tunai, dan sebuah peta. Aku rasa hanya itu. Tidak ada buku, majalah, atau surat kabar, dan tidak ada radio atau gramofon. Saat berada di dalam studionya, Umezawa tidak mau ada gangguan apa pun yang bersifat duniawi.”

“Aku lihat dinding rumah luar dilengkapi gerbang. Apakah gerbang itu terkunci?”

“Mungkin dikunci dari dalam, tapi kuncinya dibongkar. Kunci itu bisa diputar dan dibuka dengan mudah dari luar.”

“Tidak terlalu aman.”

"Tidak, tidak aman. Oh, ya, pada saat dibunuh, tubuh Heikichi kurus kering. Dia menderita insomnia dan tidak banyak makan.”

"Hmm. Dia lemah dan dia berada di dalam ruangan terkunci... Dan dia dibunuh dari belakang oleh seseorang yang bahkan tidak berusaha membuatnya terlihat seperti  tindakan bunuh diri. Nah, Kazumi, menurutmu mengapa si pembunuh mengunci studio?”

Aku sudah siap menghadapi pertanyaan itu. “Coba pikirkan tentang pil tidur tadi,” aku menjawab. "Ketika Heikichi meminumnya, dia sedang menerima satu atau dua orang tamu. Jadi, kau harus mempertimbangkan bahwa setidaknya salah satu dari mereka bukan orang asing baginya.”

"Hmm. Apakah dia punya teman?”

"Ada beberapa seniman yang dia kenal di galeri De Medicis, juga beberapa pelanggan di bar kecil bernama Kakinoki. Dia cukup sering datang ke sana dan berteman dengan dua pelanggan tetap: Genzo Ogata, pemilik pabrik maneken, dan Tamio Yasukawa, salah seorang pegawai Ogata. Tetapi mereka tidak benar-benar akrab. Seorang kenalan lainnya kadang berkunjung ke studio, tapi tidak bisa dibilang teman dekat juga.”

“Bagaimana dengan Yoshio? Atau Heitaro? Mereka mengenal Heikichi cukup baik."

"Alibi mereka kuat, walaupun mereka tidak punya banyak saksi. Pada malam tanggal 25, Heitaro bermain kartu dengan ibunya Yasue dan beberapa teman yang datang setelah pintu galeri ditutup. Para tamu pulang pukul 22.20, lalu ibu dan anak itu naik ke kamar tidur mereka di lantai atas sekitar pukul 22.30. Jika Heitaro pembunuhnya, dia harus sampai di studio Heikichi dalam waktu tiga puluh atau empat puluh menit untuk melakukan pembunuhan tersebut. Bahkan jika tidak ada salju, sangat sulit menempuh jarak Ginza-Meguro dalam waktu secepat itu. Sedangkan dalam hujan salju lebat, itu mustahil. Namun, jika Heitaro berkomplot dengan Yasue untuk membunuh Umezawa, mereka mungkin langsung berlari keluar dari galeri begitu teman-teman mereka pulang. Jadi, bisa saja mereka sampai dalam rentang waktu  yang tepat untuk melakukan pembunuhan. Tetapi apa motif mereka? Heitaro mungkin membenci Heikichi —kalau Heikichi memang ayah kandungnya—karena tidak bertanggung jawab dan karena membuat ibunya menderita. Yasue, di sisi lain, tidak punya alasan untuk membenci Heikichi, wanita itu cukup dekat dengannya, dan mereka rekan bisnis. Dan Yasue memasarkan karya seni Heikichi. Lukisan Heikichi terjual dengan harga sangat tinggi setelah kematiannya, terutama setelah perang berakhir. Yasue tidak punya kontrak dengan Heikichi, jadi dia tidak mendapat keuntungan—dan tidak akan mendapat keuntungan— dari kematian Heikichi.”

"Ya, ya."

“Sementara Yoshio, adik Heikichi, dia berangkat ke Tohoku tanggal 25 Februari, dan pulang ke rumah tanggal 27 Februari sekitar tengah malam. Pada saat pembunuhan terjadi, dia sedang dalam perjalanan menemui teman-temannya di Tsugaru: tidak ada keraguan bahwa dia memang pergi ke sana. Itu kisah yang panjang: aku tidak akan menceritakan detailnya. Dia punya alibi, tapi—seperti beberapa tersangka lainnya, terutama yang wanita —alibinya tidak sempurna. Istri Yoshio, misalnya. Sementara suaminya pergi dan kedua putrinya tinggal dengan Masako, dia sendirian. Dia tidak punya alibi.”

“Bagaimana kalau model itu ternyata dia?”

"Dia berumur empat puluh enam tahun saat itu. Apakah Heikichi punya kecenderungan melukis ibu rumah tangga paruh baya?”

“Hmm...”

“Lalu ada putri tertuanya, Kazue. Dia bercerai dan hidup sendiri di Kaminoge, yang pada waktu itu masih merupakan kota terpencil. Dia juga tidak punya alibi. Masako berada di rumah utama, makan malam dengan Tomoko, Akiko, dan Yukiko—putri-putrinya —serta Reiko  dan Nobuyo—keponakannya. Pukul sepuluh malam, mereka semua pergi tidur. Dan Tokiko sedang berada di rumah ibunya di Hoya.

"Rumah utama memiliki enam kamar tidur, selain dapur dan ruang tamu, tempat anak-anak perempuan belajar balet dan piano. Kamar Masako, Tomoko, dan Akiko berada di lantai satu. Di lantai atas, Reiko dan Nobuyo berbagi kamar yang paling dekat dengan tangga, kamar Yukiko di sebelahnya, dan satu kamar lagi milik Tokiko. Heikichi praktis tinggal di studionya.

"Salah satu wanita itu bisa saja menyelinap keluar dari kamarnya pada malam hari, tetapi di sekitar rumah utama tidak ada jejak sepatu. Jika mereka keluar ke jalan dari pintu depan, mereka bisa saja berjalan memutari rumah dan masuk melalui gerbang belakang. Tomoko bangun pagi-pagi pada tangal 26 dan mengatakan dia membersihkan salju dari tangga batu. Dia bilang hanya ada jejak sepatu bocah pengantar surat kabar, tetapi tidak ada saksi lain yang bisa membuktikan ucapannya. Masako memberikan kesaksian bahwa ketika dia bangun pagi itu, tidak ada jejak sepatu di luar pintu dapur. Juga tidak ada jejak sepatu di dekat dinding, yang memagari rumah tersebut dan dilengkapi kawat berduri di atasnya—sehingga nyaris tidak mungkin untuk berjalan di atas dinding atau memanjat melewatinya.

"Mantan istri Heikichi, Tae, dan putrinya Tokiko saling memberikan kesaksian menguatkan. Tae menyatakan Tokiko berada bersamanya pada tanggal 25. Di antara semua anak perempuan, hanya Tokiko yang memiliki alibi yang dikuatkan oleh orang lain, tetapi karena orang itu ibunya sendiri, maka alibinya tidak benar-benar bisa dipercaya.”

"Aku mengerti. Jadi mereka semua tersangka. Sekarang, bagaimana tentang model misterius yang tidak pernah muncul itu?”

"Polisi curiga jejak sepatu wanita yang ditemukan adalah milik seorang model. Umezawa sering kali menyewa model-modelnya melalui Klub Model Fuyo di Ginza, atau kalau tidak dia akan memilih salah satu kenalan Yasue. Tetapi tidak ditemukan seorang pun yang mungkin bekerja untuk Umezawa pada tanggal 25. Selain itu, menurut Yasue, Umezawa sangat gembira karena telah menemukan seorang model yang benar-benar sesuai dengan apa yang akan dia lukis. Rupanya model itu cocok dengan gambaran gadis impiannya, dan dia sangat bahagia. Dia akan mencurahkan seluruh energinya untuk lukisan tersebut, karena merupakan kesempatan terakhir baginya untuk melakukan sesuatu sebesar itu.”

"Ya, ya,” Kiyoshi menggerutu. Matanya tertutup dan dia merosot di sofa.

"Kau mendengarkan aku, tidak?” aku bertanya padanya. "Aku hanya menjelaskan semua ini untuk kepentinganmu sendiri! Ayolah.”

"Tentu saja aku mendengarkan! Silakan dilanjutkan...”

“Tampaknya model yang ingin dilukis Umezawa adalah seorang Aries, sama seperti lambang dalam lukisan terakhirnya, kalau kauingat. Dia mungkin saja menggunakan putrinya, Tokiko, yang seorang Aries, tetapi polisi menyimpulkan Heikichi memakai orang lain, karena model itu pasti harus telanjang.”

"Cukup masuk akal.”

"Jadi, polisi mendatangi semua agen di Tokyo, mencari seorang model yang penampilannya menyerupai Tokiko. Penyelidikan berlangsung selama sebulan, tetapi mereka tidak menemukan siapa pun. Menyusul pecahnya Insiden 2-26, polisi menjadi terlalu sibuk untuk melanjutkan penyelidikan, sehingga kasus pembunuhan Heikichi ditutup. Mereka menyimpulkan bahwa Heikichi mengambil seorang gadis dari jalan atau bar. Mungkin gadis itu sangat membutuhkan uang dan bersedia berpose telanjang, tapi ingin merahasiakannya. Bisa jadi dia sudah menikah. Yang jelas, dia tidak pernah menampakkan diri.”

"Tentu saja dia tidak akan muncul kalau dia bersalah!” tukas Kiyoshi.

"Hah?"

"Nah, seandainya model itu membunuh Heikichi,” dia melanjutkan. “Dia bisa saja menutupi jejak sepatunya sendiri dengan jejak sepatu pria, bukan? Jadi..."

"Dugaan itu sudah dikesampingkan,” aku menyela. "Jika dia membawa sepasang sepatu pria, berarti dia sudah tahu salju akan turun. Tetapi tidak ada yang tahu akan ada hujan salju sebelum salju benar-benar turun pada pukul dua siang itu. Dan anak-anak perempuan Heikichi mengatakan bahwa sejak sekitar pukul satu siang tirai-tirai di studio tertutup, biasanya itu menandakan ayah mereka sedang bersama seseorang. Tentu saja ada kemungkinan si model memakai sepatu Heikichi, tetapi dua pasang sepatu yang dia simpan di studio ditemukan di tempatnya yang biasa di ruang depan. Tidak mungkin si model berjalan kembali ke studio untuk mengembalikan sepatu itu ke tempatnya.”

"Itu pun jika benar ada seorang model.”

"Ya, jika benar ada seorang model.”

"Si pembunuh mungkin saja berjalan keluar dengan sepatu pria sambil membuat jejak sepatu wanita.”

Aku mengangguk. “Ya, itu mungkin saja.”

"Tapi tunggu... itu tidak masuk akal. Jika seorang wanita pembunuh ingin dikira sebagai pria, dia hanya membutuhkan jejak sepatu pria. Apa perlunya orang yang memakai sepatu pria membuat jejak sepatu wanita? Demi Tuhan!”

"Kenapa?"

"Kau membuatku sakit kepala. Kau seperti badai salju tanggal 25 itu—datang dan pergi, mulai dan berhenti. Beberkan fakta-faktanya saja padaku.”

"Maafkan aku. Kau mau istirahat dulu?”

"Tidak, terima kasih,” kata Kiyoshi sambil menggosok dahinya dengan kedua jari telunjuk.

“Baiklah. Fakta-fakta. Yah, tidak ada bukti yang tertinggal di lokasi. Heikichi perokok berat, jadi ada puntungpuntung rokok di asbak. Dan ada sidik jari— sebagian miliknya sendiri, sebagian milik adiknya, yang lain tidak dikenali, mungkin milik para model yang dia gunakan. Tidak ada tanda-tanda upaya penghapusan sidik jari.”

"Ya, ya."

"Dan tidak ditemukan senjata pembunuh. Tidak ada benda di dalam studio yang kelihatannya digunakan untuk melakukan pembunuhan.”

"Apakah ada sesuatu yang mungkin menyiratkan pesan terakhir dari Heikichi?” tanya Kiyoshi. “Misalnya, di dinding ada lukisan lambang-lambang zodiak, betul? Dia bisa saja menarik salah satu lukisan saat sedang meregang nyawa untuk menunjukkan zodiak si pembunuh.”

"Dia mungkin tidak punya waktu untuk itu.”

"Ya, ya. Atau dia mungkin bermaksud mengatakan sesuatu dengan memotong janggutnya...”

“Menurut perhitungan mereka, dia langsung tewas.”

"Langsung tewas, ya?”

"Ya," aku menyahut. “Nah, aku sudah menceritakan semua yang aku tahu, jadi sekarang giliranmu memulai kesimpulanmu!”

"Hmm. Ketujuh anak perempuan dan keponakan dibunuh setelah peristiwa itu, betul?”

"Ya."  "Jadi, mereka bisa dikeluarkan dari daftar tersangka.”

“Hati-hati, jangan mencampuradukkan pembunuhan Heikichi dengan pembunuhan lainnya.”

"Ah, ya. Tetapi dari sudut pandang motif, apa yang kita miliki sejauh ini? Ada anggota keluarga yang menginginkan —atau tidak menginginkan—gedung apartemen dibangun. Atau entah bagaimana gadis-gadis itu mengetahui ide gila Heikichi untuk menciptakan Azoth dan membunuhnya sebelum dia membunuh mereka. Atau seorang pedagang barang seni mungkin meyakini bahwa kejadian sensasional seperti ini bisa mendongkrak harga lukisan Heikichi. Atau... apa lagi?... Kazumi, berapa harga jual lukisan Heikichi setelah pembunuhan itu?”

"Lukisan zodiak dari cat minyak yang berukuran besar masing-masing seharga sebuah rumah.”

"Ha! Jadi, sebelas lukisan bisa berubah menjadi sebelas rumah?”

"Ya, tapi itu baru terjadi setelah lebih dari sepuluh tahun. Pertama-tama, Perang Sino-Jepang pecah, kemudian ada peristiwa Pelabuhan Pearl, lalu Perang Dunia Kedua. Jadi, tidak banyak lukisan yang terjual pada masa-masa itu. Setelah itu, Pembunuhan Zodiak Tokyo diterbitkan, dan langsung menjadi buku terlaris. Tae mendapat banyak uang dari situ, Yoshio juga, mungkin. Dan saat itulah harga lukisan Heikichi meroket.”

"Begitu ya. Kisah ini menyimpan banyak sisi gaib. Pasti dulu benar-benar menimbulkan sensasi.”

"Memang benar. Bahkan terjadi kegemparan yang luar biasa sehingga sebuah buku bisa ditulis hanya untuk membahas kegemparan itu sendiri! Seorang ilmuwan tua mengatakan pemikiran Heikichi memuakkan—bahkan bisa membuat Tuhan marah, dan kematiannya yang tragis adalah bukti dari kemarahan itu. Moralitas digembargemborkan ke sana kemari. Sekelompok orang fanatik  menyerbu ke rumah Umezawa. Polisi sampai harus dipanggil. Orang-orang dari berbagai profesi—pendeta, paranormal, pemanggil arwah — berdatangan dari segenap penjuru Jepang.”

"Luar biasa!” Kiyoshi berseru, raut gembira sesaat melintas di wajahnya.

"Jadi, bagaimana pendapatmu? Dari apa yang telah kauketahui saat ini, bagaimana menurutmu pembunuh Heikichi melakukannya di balik pintu terkunci?”

“Oh, itu mudah,” jawab Kiyoshi sambil meregangkan tangan di atas kepalanya. "Siapa pun pelakunya menggantung tempat tidur dari langit-langit dan menjatuhkannya di atas kepala Heikichi!”

“Dan dari mana kau mendapat kesimpulan itu?”

"Yah, senjata pembunuh tumpul,” Kiyoshi melanjutkan. "Sebilah papan bisa melaksanakan tugas itu, atau bahkan permukaan lantai. Dan tidak ada yang gaib dalam hal kunci berbentuk kantong itu jika Heikichi sendiri yang mengunci pintunya. Polisi menemukan catatan berisi pemikirannya tentang bunuh diri, yang bisa sangat menguntungkan bagi pembunuhnya—atau para pembunuhnya— tetapi pada kenyataannya dia tewas akibat pukulan di belakang kepala, yang mementahkan teori bunuh diri. Jadi, kejadiannya pasti seperti yang kubilang tadi.”

“Benar sekali! Kau hebat, tahu tidak? Polisi butuh waktu lama untuk menemukan teori itu.”

"Maksudmu polisi juga sudah mempertimbangkan teori tempat tidur? Ohh, aku sudah lelah bicara...” Kiyoshi mendesah, kecewa.

“Baiklah,” kataku, "akan kujelaskan teori itu untukmu. Tempat tidur Umezawa memiliki roda. Empat orang naik ke atap, membuka lempengan kaca atap, menurunkan seutas tali dengan kait di ujungnya ke dalam ruangan, mengaitkannya ke kerangka tempat tidur, dan mengatur  posisi tempat tidur. Mereka tahu Heikichi—yang sudah terbaring —pasti tertidur lelap setelah minum pil tidur. Mereka menjatuhkan tiga utas tali lagi, mengaitkannya ke tempat tidur, dan mulai menarik tempat tidur ke arah mereka. Ketika sudah memegang Heikichi, mereka bermaksud meracuninya dengan potasium sianida, atau mengiris pergelangan tangannya, atau apa pun yang menggambarkan tindakan bunuh diri. Tetapi mereka salah perhitungan. Ternyata menarik tempat tidur itu tidak mudah, mereka tidak bisa menjaga keseimbangannya. Dan dari ketinggian sekitar lima belas meter, Heikichi jatuh dengan kepala duluan dan tewas.”

“Yeah, tepat sekali.”

"Kau memang detektif hebat, Kiyoshi. Polisi butuh waktu satu bulan untuk sampai pada teori itu.”

"Ya, ya.”

"Tapi bagaimana dengan jejak di salju? Apakah kau punya ide tentang hal itu?”

"Hmm..."

“Bagaimana?”

"Itu tidak terlalu penting, bukan? Jejak sepatu terkumpul di bawah jendela karena di situlah mereka meletakkan tangga. Sedikitnya dibutuhkan empat orang untuk menarik tempat tidur. Mungkin saja ada satu orang yang menunggu di bawah, jadi semuanya lima orang. Itu bisa menjelaskan mengapa ada begitu banyak jejak sepatu. Mereka semua penari balet, betul? Itu berarti mereka bisa berjalan jinjit, melangkah hati-hati di atas jejak sepatu yang dibuat oleh orang pertama. Jejak kaki mereka tak dapat dihindari menimbulkan lekukan. Jadi, orang terakhir yang melangkah di atas jejak-jejak sebelumnya mengenakan sepatu pria. Dengan demikian, kemungkinan tersangka jadi terbatas bukan?”

"Kau memang genius! Negara ini rugi besar karena kau memutuskan untuk menjadi peramal nasib di pinggiran kota!”

"Kau harus tahu,” dia melanjutkan, “penjahat hampir selalu meninggalkan jejak.”

"Jadi, itu sebabnya ada banyak jejak dan jejak sepatu pria menutupi semua jejak lainnya, termasuk jejak tangga. Kau hebat, Kiyoshi, hebat sekali! Aku tak suka mengatakan ini, tapi sebenarnya semua yang kaukatakan tadi sudah pernah dipertimbangkan. Misteri yang sesungguhnya berawal dari sana...”

Kata-kataku tampaknya melukai perasaan Kiyoshi. "Oh, benarkah?” katanya sambil mengerutkan bibir. "Hmm. Yah, aku lapar! Ayo kita ke bawah dan makan sesuatu.”

ADEGAN 3 SEBUAH VAS DAN SEBUAH CERMIN

Keesokan paginya, aku sarapan lalu bergegas ke Tsunashima, tempat kantor Kiyoshi berada. Ketika aku tiba, dia sedang menyantap ham dan telur, yang agaknya dia siapkan sendiri. Piringnya kelihatan seperti wilayah bencana.

“Pagi! Maaf mengganggu acara makanmu...”

"Oh, kau pagi sekali hari ini” dia menyahut, menggerakkan bahunya menutupi piring. "Apa kau tidak punya pekerjaan sendiri?”

“Tidak, aku libur hari ini. Wow, sarapanmu kelihatannya lezat sekali!”

”"Kazumi,” dia berkata dengan khidmat, "apa lagi yang bisa kaulihat di atas meja?”

Ada sebuah bungkusan kecil.

"Ya, coba tebak...” katanya, "biji kopi yang baru digiling. Saat ini aku akan sangat menghargai secangkir kopi yang panas dan enak!”

“Baik, kita sudah sampai mana kemarin?” Kiyoshi bertanya padaku, begitu dia sudah menggenggam cangkir kopi di tangan. Depresinya seakan-akan lenyap begitu  saja. Dia kelihatan penuh semangat lagi, dan itu berarti aku harus mulai menebalkan muka untuk menerima sindirannya lagi.

"Si pembunuh —atau para pembunuh —menarik tempat tidur Heikichi ke langit-langit.”

"Ah, ya. Masih ada beberapa bagian yang tidak masuk akal, tapi aku tidak begitu ingat apa itu... nanti kuberitahu kalau ingatanku sudah kembali.”

Aku memulai tanpa ragu-ragu. "Ada sesuatu yang lupa kuceritakan padamu kemarin, mengenai Yoshio— kau tahu, adik Umezawa, yang sedang berada di Tohoko pada hari pembunuhan.”

“Dia dan Heikichi kelihatan seperti kembar,” sambung Kiyoshi. “Tapi Heikichi berjanggut. Oke, aku ingat semua itu.”

"Nah, menurutku kedua faktor itu menambah rumit kisah ini.”

Kiyoshi menatapku. "Bagaimana bisa begitu?”

"Ini penting, bukan? Bagaimana kalau korban itu benar-benar Yoshio, bukan Heikichi?”

“Itu tidak penting untuk dibahas. Setelah Yoshio kembali dari Tohoku pada tanggal 27 Februari, hidupnya berjalan seperti biasa, bukan? Keluarganya bertemu dia dan begitu pula orang-orang di perusahaan penerbitan. Baik Heikichi maupun Yoshio tidak mungkin mengelabui orang-orang yang sudah sangat mengenal mereka.”

"Kau mungkin benar, tetapi segala hal yang berhubungan dengan pembunuhan Azoth bisa membuatmu ingin merenungkan kembali pertanyaan ini: mungkinkah Heikichi Umezawa masih hidup? Pada kenyataannya, orang sering kali salah dikenali. Sebagai ilustrator, aku bertemu secara teratur dengan orang-orang di perusahaan penerbitan. Jika aku bertemu mereka setelah begadang  semalaman, mereka bilang aku kelihatan seperti orang lain.”

"Tapi apakah menurutmu kau bisa mengelabui keluargamu dengan cara seperti itu?”

"Aku tidak tahu, tapi cara itu bisa berhasil pada editor jika aku mengubah gaya rambutku, memakai kacamata, dan hanya menemui mereka pada malam hari...”

"Apakah Yoshio mulai memakai kacamata setelah pembunuhan?”

“Aku tidak menemukan catatan tentang hal itu.”

"Nah, kau bisa saja mengelabui semua orang di perusahaan penerbitan kalau mereka semua menderita rabun dekat yang parah dan juga gangguan pendengaran, tetapi kau tak mungkin mengelabui istrimu sendiri — kecuali dia kaki tanganmu. Tapi mungkinkah Ayako membantu suaminya jika kedua putrinya juga harus menjadi korban?”

"Hmm... Yoshio mungkin juga harus mengelabui kedua putrinya... Bukankah itu menjadi alasan yang tepat untuk membunuh mereka? Dia harus membunuh mereka sebelum mereka mengetahui yang sebenarnya.”

"Dengar, jangan mengatakan hal-hal yang sekadar berkeliaran di kepalamu. Berpikirlah! Jika demikian halnya, apa yang diinginkan Ayako? Mungkinkah dia tega mengorbankan keluarganya hanya demi mendapat tempat di gedung apartemen baru?”

“Hmm...”

"Ada celah yang tidak logis dalam pemikiranmu, Kazumi. Atau mungkin kau berpendapat bahwa Heikichi dan Ayako adalah sepasang kekasih?”

“Tidak.”

"Apakah Heikichi dan Yoshio benar-benar mirip? Kau tahu, orang cenderung melebih-lebihkan sesuatu hanya untuk merasa penting. Lagi pula, bagaimana mungkin ada orang yang meyakini Heikichi masih hidup?”

Aku tak tahu harus berkata apa.

"Menurutku tidak ada kekeliruan di antara kedua bersaudara itu,” lanjut Kiyoshi. “Bisa-bisa sebentar lagi aku percaya bahwa Heikichi dibunuh oleh Tuhan. Dia mungkin telah menemukan seseorang yang mirip dengannya dan kemudian membunuhnya—tapi tidak, itu juga gila! Mari kita susun alibi yang kuat untuk Yoshio, dan setelah itu kita tidak perlu memikirkan dia lagi.”

"Kau terdengar sangat percaya diri! Tapi itu akan berubah saat kita mulai membicarakan pembunuhan Azoth.”

"Oh, aku sudah tidak sabar lagi!”

"Kau tidak tahu betapa banyak yang terlibat... Baiklah, mari kita cermati alibi Yoshio.”

"Polisi tahu di mana Yoshio tinggal di Tohoku, bukan? Jadi alibinya bisa dengan mudah diperiksa.”

“Tidak semudah itu. Dia naik kereta malam ke Tohoku pada tanggal 25. Keesokan harinya dia bilang dia berjalan menyusuri pantai untuk memotret dan tidak bertemu seorang pun sampai dia mendaftar ke sebuah hotel. Dia tidak memesan lebih dulu, karena musim dingin adalah musim sepi. Jadi dia punya cukup waktu untuk membunuh kakaknya, dengan asumsi dia meninggalkan Tokyo pada tanggal 26 pagi dan tiba di hotel di Tsugaru malam harinya. Hasil bidikan Yoshio sudah terkenal, dan seorang kolektor mengunjunginya di hotel pada tanggal 27 pagi. Itu pertemuan kedua mereka. Yoshio cukup lama bersama si kolektor, dan kemudian sore harinya kembali ke Tokyo sendirian.”

“Begitu! Jadi, foto-foto yang dia ambil bisa menguatkan alibinya.”

"Benar, begitu juga si kolektor. Itu kunjungan pertama Yoshio ke Tsugaru pada tahun 1936. Jadi, kalau foto-fotonya tidak diambil pada saat itu, berarti diambil pada tahun sebelumnya.”

“Itu kalau Yoshio sendiri yang memotretnya.”

"Ya, tapi dia tidak punya teman yang bisa memotretkan dan mengirim filmnya kepada dia.”

"Bagaimana dengan si kolektor?”

"Jika seseorang melakukan perbuatan itu, dia—pria maupun wanita—pasti sudah melapor ke polisi. Tidak ada seorang pun yang mau mengambil risiko dipenjara karena menyembunyikan sesuatu tentang Yoshio. Apa pun yang terjadi, penyelidikan mendapati bahwa sebuah rumah di dalam foto Yoshio belum selesai dibangun sampai bulan Oktober 1935, jadi alibinya terbukti. Dramatis sekali, bukan? Kisah tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kasus ini.”

"Hmm, kalau begitu alibi Yoshio kuat. Dia tidak dibunuh untuk menggantikan Heikichi.”

"Yah, untuk sementara kau boleh bilang begitu. Mari kita lanjutkan ke pembunuhan selanjutnya. Putri pertama Masako, Kazue, dibunuh di rumahnya di Kaminoge antara pukul tujuh dan sembilan malam, pada tanggal 23 Maret, satu bulan setelah kematian Heikichi. Tampaknya dia dipukuli sampai mati dengan vas beling. Aku bilang 'tampaknya', karena darah pada vas sudah dibersihkan. Dibandingkan kasus Heikichi, kasusnya tidak terlalu misterius. Mungkin kedengarannya jahat, tapi itu seperti pembunuhan biasa, kemungkinan dilakukan oleh perampok. Rumahnya diobrak-abrik, dan barang berharga serta uang dicuri dari laci-lacinya. Meskipun si pembunuh sepertinya mengabaikan detail, tetapi dia menghapus darah dari vas dengan kain atau selembar kertas. Jika dia ingin menghancurkan barang bukti, dia bisa saja membawa vas itu bersamanya, tapi malah dia tinggalkan di lantai ruangan di sebelah ruangan tempat mayat Kazue ditemukan.”

"Ya, ya. Dan apa pendapat polisi serta para detektif amatir?”

"Menurut mereka, si pembunuh berusaha menghapus sidik jari.”

"Begitu. Tapi bagaimana kalau bukan vas itu yang digunakan sebagai senjata?”

“Itu tidak mungkin. Luka pada kepala Kazue sangat cocok dengan bentuk vas.”

"Kau berpendapat pembunuhnya seorang pria, Kazumi. Tapi bisa jadi dia seorang wanita. Secara alamiah wanita lebih mungkin membersihkan noda darah tanpa sadar, dan mengembalikan vas ke tempat semula.”

"Ah, tapi ada bukti kuat yang berlawanan dengan teori tersebut!” aku menimpali. "Pembunuhnya sudah pasti pria, karena Kazue diperkosa.”

"Umm...”

"Sepertinya dia diperkosa setelah dibunuh. Air mani yang ditemukan dalam vaginanya berasal dari seorang pria dengan golongan darah O. Di antara orang-orang yang berkaitan erat dengan kasus ini, hanya dua yang berjenis kelamin pria: Yoshio, yang golongan darahnya A, serta Heitaro, yang bergolongan darah O. Namun Heitaro punya alibi pada tanggal 23 Maret antara pukul tujuh dan sembilan malam.”

"Ya, ya.”

"Jadi, kasus ini tampaknya merupakan kejahatan yang berdiri sendiri, yang terjadi antara pembunuhan Heikichi dengan pembunuhan Azoth. Gila, keluarga Umezawa benar-benar dikutuk! Aku merinding dibuatnya.”

“Heikichi tidak menyebut tentang pembunuhan Kazue dalam catatannya, bukan?”

"Tidak, tidak ada.”

"Dan kapan mayat Kazue ditemukan?”

"Sekitar pukul delapan malam tanggal 24 Maret. Sore  itu, seorang ibu rumah tangga tetangganya datang ke rumah Kazue dengan papan informasi tentang beberapa acara warga yang akan datang. Pintu depan Kazue tidak terkunci, jadi dia masuk ke ruang depan dan memanggilmanggil Kazue. Tidak ada sahutan, jadi, karena menduga Kazue sedang pergi berbelanja, dia meninggalkan papan informasi itu dan pulang ke rumahnya. Beberapa waktu kemudian, si ibu menyadari bahwa papan informasi belum dioper ke rumah sebelah, jadi dia kembali ke rumah Kazue. Saat itu sudah petang, dan rumahnya gelap. Dia menjadi curiga. Kaminoge adalah kota terpencil di tepi Sungai Tama, jadi dia cepat-cepat pergi, menunggu sampai suaminya pulang, lalu kembali ke rumah Kazue bersama suaminya. Saat itulah mereka menemukan mayatnya.”

"Kazue bercerai, betul?”

"Ya, dia sebelumnya menikah dengan seorang pria Cina. Namanya Kanemoto.”

"Dan apa usaha keluarga Kanemoto? Semacam bisnis perdagangan?”

"Mereka punya beberapa restoran besar di wilayah-wilayah eksklusif Tokyo. Mereka pasti sangat kaya.”

"Jadi, Kazue tinggal di rumah yang besar.”

“Tidak, itu rumah satu lantai yang sederhana. Sebagian orang bertanya-tanya mengapa keluarga sekaya itu membeli rumah sekecil itu. Sebagian orang berpendapat Kazue pastilah mata-mata Cina!”

"Apakah Kazue dan Kanemoto menikah karena cinta?”

"Aku rasa begitu. Masako sangat menentang pernikahan putrinya dengan keluarga Cina. Karena situasi politik saat itu, dia punya alasan bagus, tentu saja. Kazue dan keluarga Umezawa tidak saling bertemu selama beberapa waktu, tapi belakangan mereka berbaikan. Pernikahan Kazue, sebaliknya, hanya bertahan tujuh tahun. Dia dan Kanemoto bercerai sekitar satu tahun sebelum kematiannya. Ketegangan antara Jepang dengan Cina sangat terasa di udara, sehingga keluarga Kanemoto menjual restoran-restoran mereka dan kembali ke Cina. Perang mungkin bukan satu-satunya masalah, pasti ada masalah lain karena Kazue bahkan tidak berusaha ikut pulang ke Cina bersama suaminya. Dia tetap tinggal di rumah yang mereka tinggali bersama, mempertahankan nama nikahnya untuk menghindari pengurusan dokumen yang melelahkan.”

“Siapa yang mewarisi rumah tersebut setelah kematiannya?”

"Kemungkinan keluarga Umezawa. Tidak ada anggota keluarga Kanemoto yang tersisa di Jepang. Kazue tidak memiliki anak, dan, setelah pembunuhan dirinya, tidak ada yang mau membeli rumahnya. Rumah itu pasti dibiarkan kosong untuk beberapa lama.”

"Rumah kosong di daerah terpencil... dekat Sungai Tama... itu bisa jadi tempat rahasia yang sempurna untuk menciptakan Azoth, bukan begitu?”

"Benar. Setidaknya, sebagian besar detektif amatir berpendapat demikian.”

"Meskipun Heikichi mengatakan dalam catatannya bahwa lokasinya di Niigata?”

"Ya"

“Apakah menurut mereka, orang yang sama membunuh Kazue dan Heikichi kemudian menciptakan Azoth di rumah Kazue?” Kiyoshi bertanya.

"Ya, dan dengan sejumlah alasan. Jika kau mencermati pembunuhan Azoth, kau bisa melihat bahwa si pembunuh bertindak berdasarkan rencana terperinci. Jadi, kasus Kazue pasti juga telah direncanakan. Tetapi polisi hanya satu kali menyelidiki tempat kejadian perkara  Kaminoge! Para tetangga menjauhkan diri, demikian pula para wanita Umezawa, mereka semua masih terguncang oleh kematian Heikichi — sesuatu yang mungkin telah diperkirakan oleh si pembunuh. Namun keadaan menjadi sedikit membingungkan sekarang. Kita anggap saja pembunuh yang sama—pria bergolongan darah O—juga melakukan pembunuhan Azoth. Sulit membayangkan seseorang di luar keluarga bisa melakukannya. Akan lebih masuk akal jika si pelaku memiliki motif kuat. Di antara para pria, hanya Heitaro yang golongan darahnya O, tetapi, seperti kubilang tadi, dia punya alibi kuat. Pada saat pembunuhan Kazue terjadi, dia sedang bersama tiga temannya di De Medicis, dan seorang pelayan bersaksi mengenai hal itu. Selain itu sangat kecil kemungkinannya—melihat skenario yang kaugambarkan— bahwa dia bisa membunuh Heikichi di balik pintu studio yang terkunci. Dia mungkin mengunjungi Heikichi untuk membicarakan bisnis, dan dia mungkin telah mengancamnya, memaksanya menelan pil tidur. Tetapi jika Heitaro adalah si tersangka, bagaimana dia bisa mengatasi tantangan kunci berbentuk kantong itu? Lagi pula, kita sudah memutuskan bahwa tidak mungkin Heitaro pembunuhnya. Kita harus memikirkan kemungkinan bahwa seseorang di luar keluarga yang melakukan kejahatan tersebut. Aku tahu itu tidak terlalu menggairahkan, tetapi penguasa kita harus memahami bahwa kasus ini terjadi bukan semata untuk memberi hiburan pada kita.”

“Benar.”

"Aku pikir—atau mungkin aku ingin berpikir—pembunuhan Kazue terjadi karena kebetulan.”

"Menurutmu rumahnya tidak digunakan sebagai studio?”

"Tidak, kurasa tidak... Walaupun menurutku itu sangat cocok untuk novel horor yang bagus: seorang seniman  tak waras menciptakan Azoth di sebuah rumah berhantu dalam kegelapan malam. Sangat gotik! Tetapi, pada kenyataannya, dia tidak mungkin bekerja dalam kegelapan. Jika dia bekerja dengan diterangi lilin, para tetangga akan tahu ada sesuatu yang terjadi dan melaporkannya ke polisi. Kalau aku jadi seniman itu, aku akan mencari rumah lain—rumah yang tidak terkenal dan tidak punya kisah apa pun. Kalau tidak begitu, aku tidak akan bisa berkonsentrasi dan tidak akan bisa menikmati ciptaanku yang indah!”

"Aku setuju,” ujar Kiyoshi. “Tetapi banyak orang masih merasa yakin bahwa Azoth diciptakan di rumah Kazue, betul?”

“Ya, mereka yakin pembunuhan Kazue adalah bagian dari rencana besar itu.”

"Tapi jika golongan darah si pembunuh adalah O, dan dia bukan Heitaro, maka dia pasti seseorang di luar keluarga... Jadi, bisa dibilang, kasus Kazue tidak terpecahkan?”

"Itu benar.”

"Mengapa polisi tidak bisa menangkap seorang perampok?”

"Kalau dipikir-pikir, tidak sesederhana itu. Misalkan kita pergi ke Hokkaido, membunuh seorang wanita tua, dan mencuri uangnya. Polisi mungkin tidak akan pernah menemukan kita karena kita tidak punya hubungan apa pun dengan wanita itu. Banyak kasus serupa yang tidak terpecahkan. Di lain pihak, para tersangka pembunuhan berencana memiliki motif yang dapat diteliti, jadi yang harus dilakukan adalah memastikan alibi. Salah satu alasan mengapa pembunuhan-pembunuhan ini tetap menjadi misteri adalah karena tak seorang pun memiliki motif untuk pembunuhan Azoth kecuali Heikichi— yang juga sudah dibunuh. Aku tidak ingin memikirkan bahwa  kejahatan ini dilakukan oleh orang luar. Itu sama sekali tidak menarik.”

"Jadi, itu sebabnya kau yakin bahwa kasus Kazue adalah kebetulan? Aku mengerti. Baiklah, tolong jelaskan kondisi kasusnya.”

"Baik. Coba perhatikan denah rumahnya.”

"Sebenarnya tidak banyak yang perlu dijelaskan, kasus ini kelihatannya sangat sederhana. Kazue ditemukan tergeletak di lantai. Dia memakai kimono, tetapi tidak mengenakan pakaian dalam.”

"Tanpa pakaian dalam?”

“Itu tidak terlalu aneh. Pada masa itu kaum wanita tidak mengenakan pakaian dalam di bawah kimono mereka. Ruangannya berantakan. Semua laci ditarik ke luar dan barang-barangnya bertebaran di seluruh ruangan. Jika dia menyimpan uang di rumah, semuanya hilang. Meja rias tiga cerminnya tidak disentuh. Vas yang dipastikan sebagai senjata pembunuh ditemukan di lantai di kamar sebelah, di balik pintu geser fusuma. Mayat Kazue ditemukan dalam keadaan seperti pada gambar, tetapi dia mungkin saja dibunuh di tempat lain. Tidak ada noda darah di dalam rumah, walaupun kau pasti membayangkan darah seharusnya memercik di sekitar tempat dia dipukul. Si pembunuh mungkin telah memindahkan mayat itu untuk memerkosanya.”

"Hmm. Kaubilang dia memerkosanya setelah membunuhnya. Apa kau yakin tentang hal itu?”

"Itu yang aku dengar.”

"Hmm. Aku tidak mengerti. Dia ditemukan dalam pakaian kimono. Jika si pembunuh hanyalah perampok yang agaknya tidak keberatan meninggalkan air mani sebagai barang bukti, mungkinkah dia mau repot-repot memakaikan kembali baju korban setelah membunuh dan memerkosanya?” "Itu pemikiran bagus.”

“Tetapi, silakan dilanjutkan.”

"Anehnya, polisi tidak dapat memastikan dengan tepat di mana Kazue dibunuh. Pastinya di suatu tempat di dalam rumah, bukan di luar. Berdasarkan penyelidikan, sejumlah kecil darah ditemukan pada cermin dan diidentifikasi sebagai darah Kazue.”

"Mungkinkah dia diserang saat sedang berdandan?”

“Dia hanya memakai riasan tipis. Polisi menduga dia sedang menyisir rambut ketika peristiwa itu terjadi.”

"Karena dia menghadap ke cermin?”

“Benar.”

"Tapi aku masih tidak mengerti. Ada pintu fusuma pada satu sisi meja rias. Jika dia sedang duduk di depan meja rias, dan menyisir rambutnya menghadap ke cermin, maka pintu shoji—yang terbuka ke arah koridor — berada tepat di belakangnya. Pintu fusuma dan shoji adalah satu-satunya jalan masuk ke dalam ruangan. Jika si perampok memasuki ruangan melalui pintu shoji, Kazue pasti melihatnya di cermin, dan dia mungkin akan berusaha melarikan diri. Jika si perampok masuk melalui pintu fusuma, Kazue setidaknya akan melihat dia di salah satu panel cerminnya. Paling tidak, dia pasti merasakan bahwa ada orang yang masuk dan menolehkan kepala ke arah si perampok. Apakah dia dipukul di bagian depan kepalanya saat menghadap si penyerang?”

“Tidak, aku rasa dia tidak... Tunggu sebentar... Tidak. Menurut laporan, dia dipukul di bagian belakang kepalanya saat duduk dengan punggung menghadap ke si pembunuh.”

"Hmm, sama seperti cara Heikichi terbunuh. Menarik. Menurutku dia sama sekali bukan perampok. Kemungkinan besar dia seorang kenalan, seseorang yang dikenal Kazue. Dia tidak berusaha melindungi dirinya, dia hanya  duduk di sana, menghadap ke cermin. Dia tidak bergerak walaupun dia melihat si pembunuh mendekatinya. Itu menandakan si pembunuh adalah orang yang sangat dikenalnya. Ya. Aku yakin itu bukan sembarang perampokan. Seorang perampok tidak mungkin terpikir untuk membersihkan darah dari cermin. Alasan si pembunuh membersihkan darah dengan saksama adalah untuk menutupi hubungannya dengan korban. Kazumi, ini petunjuk penting! Korban dan pembunuhnya mungkin bahkan cukup akrab untuk menjadi sepasang kekasih, karena, biasanya, wanita tidak menatap ke cermin dan memperlihatkan punggung mereka kepada lawan jenis— setidaknya pada masa itu mereka tidak melakukannya. Ya, si pembunuh pasti kekasihnya. Tapi tunggu... Mengapa dia memerkosanya setelah Kazue mati, padahal mereka bisa berhubungan seks saat Kazue masih hidup?”

"Aku tidak tahu. Buku itu tidak memberikan alasan apa pun. Hanya disebutkan bahwa Kazue diperkosa. Aku setuju denganmu-—itu aneh.”

"Itu menjadikan si pembunuh seorang nekrofilia. Tetapi di luar itu, dia pasti sudah sangat intim dengan Kazue. Kazue memang punya pacar, kan?”

"Maaf, tapi menurut polisi, sejauh yang diketahui, dia tidak punya kekasih.”

"Hmm, gagal sudah teori itu! Tidak, tunggu... Riasannya. Kaubilang dia hanya memakai riasan tipis?”

“Benar.”

“Seorang wanita di usia tiga puluhan, bersiap-siap bertemu kekasihnya, tanpa riasan memadai... Ah, aku paham sekarang. Itu mengubah keseluruhan cerita. Kau tahu apa yang kupikirkan, Kazumi? Si pembunuh adalah wanita! Oh, tidak, tidak mungkin—tidak jika korban diperkosa dan ada air mani di dalam tubuhnya! Tapi situasi tersebut akan lebih masuk akal jika pelakunya  wanita. Kazue mudah saja menatap ke cermin, memperlihatkan punggungnya kepada seorang wanita, terutama jika dia mengenalnya dengan baik. Dan kalau yang datang memang seorang wanita, Kazue tak akan peduli kalau dia hanya memakai sedikit riasan, betul? Si wanita pembunuh mendekati korban dengan senyuman di wajahnya, dan kemudian —hantam!”

“Bagaimana dengan air mani itu?”

"Hmm. Yah, bagaimana kalau si wanita pembunuh sengaja membawa air mani? Istri Yoshio dapat melakukannya dengan mudah, menggunakan air mani suaminya... Tidak, itu tidak cocok. Golongan darah Yoshio A.”

“Polisi bisa memeriksa usia air mani itu. Pasti akan jelas jika usianya sudah satu hari.”

"Benar sekali. Saat bertambah tua, sperma kehilangan ekornya. Sekarang, Kazumi, aku harus memintamu menjelaskan alibi semua orang yang punya hubungan dengan keluarga Umezawa.”"

"Yah, tidak satu pun yang memiliki alibi kuat, kecuali Heitaro. Ibunya, Yasue, berada di galerinya, tetapi dia sedang pergi ke Ginza pada jam pembunuhan terjadi. Di rumah keluarga Umezawa, Masako, Tomoko, Akiko, dan Yukiko semuanya sedang berada di dapur. Tokiko lagilagi sedang bersama Tae di Hoya. Dengan demikian, semua wanita punya alibi, meskipun hanya dijamin oleh sesama anggota keluarga. Reiko dan Nobuyo tidak punya alibi. Mereka bilang mereka pergi menonton film, The Age of Aerial Revue Zaman Sandiwara Udara, di Shibuya. Film selesai sekitar pukul delapan malam, kemudian mereka kembali ke rumah orangtua mereka sekitar pukul sembilan malam. Jadi, keduanya bisa menjadi tersangka. Kaminoge tidak terlalu jauh dari Stasiun Sekolah Menengah Atas Kota pada jalur kereta api Tokyo-Yokohama.

Tetapi kedua wanita muda tersebut tidak punya motif yang meyakinkan. Ayako dan Yoshio juga tidak punya alibi yang bagus, tetapi sekali lagi kita tidak bisa menemukan motif kuat untuk melakukan pembunuhan. Mereka mengenal Kazue, tentu saja, tetapi mereka tidak pernah dekat dengan dia. Yasue dan Heitaro tidak pernah bertemu Kazue. Dan mengapa pula anak-anak perempuan keluarga Umezawa ingin membunuh kakak tertua mereka?”

"Apakah Kazue sering mengunjungi keluarga Umezawa?”

"Yah, kadang-kadang. Tapi kelihatannya tidak satu pun di antara mereka yang punya motif, itu sebabnya aku mulai mencurigai keterlibatan seorang perampok. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa kita baru saja memperoleh petunjuk baru dari Mrs. Iida. Jadi, mengapa kita tidak melanjutkan saja ke pembunuhan Azoth?”

ADEGAN 4 JUS BUAH BERACUN

Kiyoshi ingin mendengar lebih banyak tentang kasus Kazue, tapi aku merasa sudah cukup membahasnya untuk sementara waktu, dan berkeras agar kami melanjutkan ke pembunuhan Azoth.

"Asalkan nanti kita kembali ke soal itu lagi,” dia berkata.

Dan aku pun memulai.

"Tak lama setelah pembunuhan Heikichi dan Kazue, pembunuhan Azoth yang menghebohkan itu terjadi— mungkin inilah pembunuhan paling ganjil dan aneh dalam sejarah Jepang. Setelah pemakaman Kazue, para wanita Umezawa pergi ke sebuah kuil di Gunung Yahiko di Prefektur Niigata. Mereka berharap kunjungan tersebut dapat membantu menyucikan diri mereka. Kalau kau ingat, itu adalah kuil yang ingin dikunjungi Heikichi, dan keluarga tersebut berharap perjalanan yang mereka lakukan bisa membuat jiwa Heikichi tenang. Sebenarnya, mereka takut dikutuk oleh Heikichi.”

"Siapa yang mengusulkan ide itu?”

"Kemungkinan Masako, tapi dia bilang mereka semua menyimpan perasaan yang sama. Pada tanggal 28 Maret, Masako dan keenam wanita muda itu meninggalkan  Tokyo—Tomoko, Akiko, Yukiko, Tokiko, Reiko, dan Nobuyo. Mereka bepergian bersama-sama, seakan sedang melakukan karyawisata sekolah. Bahkan ada sekelumit semangat rekreasi di tengah-tengah mereka. Mereka tiba di tempat tujuan malam itu dan menginap di Hotel Tsutaya. Mereka mendaki gunung keesokan harinya.”

"Apakah mereka mendatangi kuil itu?”

"Tentu saja. Dari Yahiko, mereka naik bus ke sumber air panas Iwamuro di Taman Nasional Sado Yahiko. Di tempat itu mereka menghabiskan malam tanggal 29. Pemandangan sekitarnya sangat indah, dan wanita-wanita muda itu berkata mereka ingin memperpanjang masa tinggal mereka. Masako hendak mengunjungi orangtuanya di Aizu-Wakamatsu, yang tidak terlalu jauh dari Yahiko. Dia tidak ingin mengajak keenam gadis itu bersamanya, jadi dia setuju mereka tinggal lebih lama. Gadis-gadis memutuskan mereka akan menginap satu malam lagi di sumber air panas, kemudian pulang ke Tokyo tanggal 31. Masako meninggalkan Iwamuro tanggal 30 Maret pagi, dan tiba di Aizu-wakamatsu siang harinya. Dia tinggal dua malam di rumah orangtuanya dan kembali ke Tokyo pada pagi hari tanggal 1 April. Dia tiba di Tokyo malam harinya, dan mengira akan mendapati gadis-gadis sudah berada di rumah.”

"Apakah itu yang terjadi?”

“Tidak. Ketika Masako sampai di rumah, tidak ada orang di sana. Bahkan mereka tidak pernah muncul lagi. Pada saat itu, mereka semua sudah meninggal. Belakangan, mayat-mayat mereka ditemukan tepat seperti penggambaran dalam catatan Heikichi: masing-masing berada di lokasi berbeda, dan masing-masing kehilangan bagian tubuh tertentu. Mengerikan sekali. Masako ditahan atas dugaan pembunuhan.”

Kiyoshi terbenam dalam pikirannya. Dia jelas terlihat  bingung. "Tapi kenapa Masako? Bukan karena mereka mengira dia telah membunuh Kazue, kan?”

"Bukan. Yang benar, mereka menahannya sebagai tersangka dalam pembunuhan Heikichi.”

"Jadi polisi sudah tahu bagaimana para pembunuh menarik tempat tidur ke kaca atap?”

"Itu bukan hasil pemikiran polisi sendiri. Banyak orang menulis surat kepada mereka, mengajukan teori.”

Kiyoshi mendengus pongah. "Nah, Kazumi, itu membuktikan bahwa detektif amatir kadang-kadang bisa terbukti berguna! Aku pasti juga melakukan hal yang sama. Baiklah, biar kutegaskan. Polisi mendatangi rumah keluarga Umezawa, tidak menemukan siapa-siapa di sana, dan menyimpulkan bahwa semua wanita itu telah pergi. Kemudian, ketika Masako kembali ke rumah sendirian, dia ditahan sebagai tersangka dalam pembunuhan Heikichi—dan rupanya juga dianggap bertanggung jawab atas menghilangnya keenam gadis itu.” Kiyoshi baru akan menambahkan sesuatu, tetapi dia menelan kembali kata-katanya. Dia berpikir selama beberapa saat, kemudian bertanya, "Apakah Masako mengakui kejahatan tersebut?”

"Tidak, dia tetap menyatakan diri tidak bersalah, sampai dia meninggal di penjara pada tahun 1960 dalam usia 76 tahun. Mereka menjulukinya Lady Monte Chwisto dari Jepang. Pada tahun 50-an dan 60-an, dia adalah topik liputan sensasional di Jepang. Itu salah satu sebab mengapa orang berlomba-lomba memecahkan kasus Pembunuhan Zodiak. Bisa kaubayangkan ketenaran yang akan dinikmati orang yang berhasil membongkar kasus tersebut?”

"Hmm. Dan apakah dia juga menjadi tersangka dalam pembunuhan Azoth?”

"Sebenarnya, polisi tidak sungguh-sungguh memiliki  petunjuk. Mereka menahan Masako karena dia tampak mencurigakan, dan setelah itu memaksanya agar mengaku—yang belakangan dia akui sebagai suatu kesalahan.”

"Ah, mereka memang biadab, polisi-polisi itu! Bagaimana mungkin mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan dengan hanya berdasarkan tebakan?”

"Aku tidak tahu.”

"Mereka pasti sudah putus asa dan nekat menangkap siapa saja yang bisa ditangkap. Tapi apa kata jaksa penuntut? Apakah argumen mereka kuat?”

“Setahuku tidak.”

"Apa keputusannya?”

“Bersalah. Dia dijatuhi hukuman mati."

"Apakah itu keputusan Mahkamah Agung?”

"Ya. Masako berkali-kali meminta sidang banding.”

"Dan pengadilan selalu menolaknya?”

"Benar sekali.”

"Nah, Kazumi, dari apa yang kudengar, aku tidak percaya Masako tega membunuh putrinya sendiri. Hanya tukang sihir —onibaba—yang bisa berbuat seperti itu!"

"Tapi mungkin saja dia tega melakukannya. Dia memang dikenal berhati batu.”

"Mungkin. Tapi kalau kita sungguh-sungguh memikirkannya dari sisi kepraktisan, apakah dia punya waktu untuk melakukan semua pembunuhan tersebut?”

“Hal itu diperdebatkan dalam waktu lama, tentu saja, dengan cukup banyak penjelasan yang sulit diterima. Tapi tampaknya dia memang tidak mungkin membunuh mereka semua, tak peduli selihai apa dia mengakali jadwal kereta api. Para pegawai Hotel Tsutaya bersaksi bahwa Masako dan keenam wanita muda itu menginap di sana seperti penuturan Masako. Tidak ada yang melihat gadis-gadis itu setelah mereka meninggalkan hotel.

"Waktu kematian sulit dipastikan, karena lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menemukan mayat mereka. Tomoko ditemukan jauh lebih awal dibandingkan yang lain, dan diyakini dibunuh antara pukul tiga sore dan sembilan malam tanggal 31 Maret. Melihat situasinya, kemungkinan besar yang lain tewas pada saat bersamaan di tempat yang sama.

"Alibi Masako lemah. Orangtuanya mengatakan dia bersama mereka di rumah pada malam tanggal 30 Maret, tapi kesaksian anggota keluarga tak pernah bisa dipercaya seratus persen. Parahnya lagi, Masako tidak pernah meninggalkan rumah orangtuanya selama dia di sana. Wajahnya sudah dikenal luas dari pembunuhan Heikichi, dan dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Jadi dia berdiam di rumah sepanjang hari pada tanggal 31 dan tidak bertemu siapa pun. Itu berarti dia tidak bisa membuktikan bahwa dia tidak kembali ke Yahiko pagi-pagi tanggal 31.”

"Ya, ya. Tetapi mayat mereka ditemukan di tempat berbeda-beda, bukan? Jika Masako tidak bisa mengemudi, dia tidak mungkin melakukannya.”

"Benar. Pada masa itu sangat sedikit wanita yang punya surat izin mengemudi—pada masa sekarang, perbandingannya seperti mempunyai surat izin pilot. Bahkan di antara semua orang yang terlibat dalam kasus tersebut, hanya Heikichi dan Heitaro yang memiliki SIM.”

"Jadi, dengan alasan tersebut, jika kejahatan itu dilakukan oleh satu orang, kecil kemungkinan pelakunya wanita.”

"Kau benar.”

"Masih bisakah kita melacak jalur yang diambil gadisgadis itu? Apakah benar-benar tidak ada saksi? Mereka berenam bepergian bersama-sama. Tentunya ada seseorang yang melihat mereka.”

"Tidak. Tidak ada yang melihat mereka.”

"Mereka seharusnya tiba di rumah tanggal 31 Maret malam, mungkin mereka berubah pikiran dan menginap satu malam lagi?”

"Para penyelidik menanyakan ke semua penginapan dan hotel di Iwamuro, Yahiko, Yoshida, Maki, Nishikawa, kemudian memperluas pencarian mereka ke wilayah-wilayah sekitarnya. Tidak satu pun yang menerima tamu enam orang gadis. Jadi, bahkan berkembang spekulasi bahwa sebagian dari mereka dibunuh sebelum tanggal 31.”

"Keenamnya menginap di Hotel Tsutaya pada hari itu, betul?”

"Ya. Jika salah satu dari mereka tiba-tiba menghilang, secara logika yang lain pasti akan melapor ke polisi — dan itu berarti si pembunuh telah membunuh mereka semua sekaligus!”

"Mungkinkah mereka naik feri ke Pulau Sado?”

"Aku rasa tidak. Polisi juga sudah memeriksanya. Kapal feri ke Sado hanya berangkat dari Niigata atau Naoetsu, dan keduanya cukup jauh dari Iwamuro.”

"Yah, kita sudah tahu pasti tentang satu hal: gadis-gadis itu tak punya alasan untuk menyembunyikan diri selama bepergian. Jadi, seseorang pasti pernah melihat mereka berenam bepergian bersama-sama, ke mana pun mereka pergi.”

“Benar.”

“Polisi pasti mendapatkan sesuatu setelah menginterogasi Masako, bahkan jika mereka tidak punya bukti kuat.”

"Ya, mereka menemukan tali berkait di rumahnya.”

"Apa? Tali?”

"Ya, tapi hanya satu utas. Menurutku tali itu tidak sengaja tertinggal di rumah.”

"Aku tidak percaya. Dia pasti telah dijebak.”

"Yah, itulah yang dia katakan, tapi dia tidak tahu siapa yang mungkin melakukannya.”

"Hmm. Itu aneh. Sekarang, mari kita kembali ke kaca atap. Ketika polisi memeriksanya, apakah ada tanda-tanda kaca tersebut pernah dipindahkan?”

"Ya, sebenarnya ada. Beberapa hari sebelum pembumnuhan, salah satu kaca atap pecah—mungkin terkena lemparan batu anak-anak — dan diganti. Kaca itu direkatkan dengan gala-gala. Jadi, ketika polisi memeriksa kaca, mereka tidak bisa memutuskan apakah kaca tersebut dipindahkan saat pembunuhan Heikichi atau tidak. Bagaimanapun, kejadiannya sudah lebih dari satu bulan.”

"Pintar sekali!”

"Pintar?"

"Aku menduga si pembunuhlah yang melempar batu.”

"Apa maksudmu?”

“Nanti kujelaskan. Polisi seharusnya sudah memikirkannya. Pasti ada salju tebal menutupi atap malam itu. Kalau mereka menaiki tangga untuk memeriksa atap, seharusnya mereka menemukan jejak sepatu, jejak tangan, atau apa pun. Oh, tunggu sebentar!” Kiyoshi berseru.

"Ada apa?”

"Atap pasti tertutup lapisan salju. Ketika mayat Heikichi ditemukan, studio pasti dalam keadaan gelap, tanpa cahaya. Tetapi jika salah satu kaca atap diangkat dan kemudian dipasang kembali, lapisan salju di atasnya tidak akan terlalu tebal. Dan lebih banyak cahaya masuk dari satu kaca atap itu. Apakah ada catatan mengenai hal tersebut?”

"Tidak. Kedua kaca atap tertutup salju.”

"Yah, kurasa si pembunuh, karena begitu penuh tipu daya, pastinya cukup cerdas untuk menutupi kaca dengan salju setelah dipasang kembali ke kerangka... Apakah keluarga Umezawa punya tangga?”

"Ya. Disimpan di sisi dinding rumah utama.”

"Dan apakah tangga itu dipindahkan?”

"Sulit mengatakannya. Tangga itu disimpan di bawah lis atap, jadi tidak terkena salju. Kita tahu tukang menggunakannya saat mengganti kaca atap, tetapi, seperti kataku tadi, polisi baru melakukan pemeriksaan menyeluruh di rumah itu setelah lebih dari satu bulan dari saat pembunuhan.”

“Jika Masako dan putri-putrinya membunuh Heikichi, mereka pasti harus menggunakan tangga itu, tetapi kaubilang tidak ada jejak di salju...”

"Ada banyak cara untuk mengakalinya. Mereka bisa saja membawa tangga melalui rumah utama, keluar dari pintu depan, lalu memutari properti itu ke gerbang belakang.”

"Ya, mungkin saja. Mereka bisa melakukannya kalau mereka membunuh Hetikichi.”

"Menurutmu itu perbuatan orang luar? Lalu bagaimana kau menjelaskan ramuan arsenik di dalam rumah?”

"Ramuan arsenik? Apa yang kaubicarakan?” tanya Kiyoshi, terkejut.

"Keenam gadis itu dibunuh dengan asam arsenius. 0,2 03 gram zat tersebut ditemukan di dalam perut mereka berenam.”

“Apa? Ada yang tidak cocok di sini. Menurut catatan Hetikichi, setiap gadis seharusnya dibunuh dengan logam berbeda. Dan sebotol racun yang berada di dalam rumah tidak masuk akal— bukankah gadis-gadis itu dibunuh di tempat lain sebelum Masako sampai di rumah?”

"Ironisnya, itu alasan yang digunakan polisi untuk meringkusnya. Racun tersebut memungkinkan mereka  untuk mengeluarkan surat penangkapan. Sementara untuk logam yang disebutkan dalam catatan Heikichi, beberapa jenis logam yang berbeda memang ditemukan di dalam mulut dan kerongkongan korban, tetapi bukan itu yang membunuh mereka. Jelas asam arsenat yang menyebabkan kematian mereka—dosis 0,1 gram saja sudah mematikan. Di antara para pembunuh, potasium sianida adalah racun pilihan, tetapi jumlah yang dibutuhkan 0,15 gram. Asam arsenius lebih beracun. Arsenik trioksida terurai di dalam air dan menjadi asam arsenius. Semakin besar kadar alkali di dalam air, semakin mudah ia terurai. Rumusnya adalah As,O, 3H,O & H,AsO,. Sebagai tambahan, obat penawar untuk keracunan arsenik adalah besi oksida hidrat.”

"Terima kasih. Aku rasa itu sangat penting untuk diketahui.”

"Korban meminum jus buah yang telah dibubuhi racun. Nah, jus buah belum dijual di pasaran pada masa itu, jadi si pembunuh pasti menyiapkannya sendiri. Keenam gadis minum dari sajian yang sama, karena racun yang dideteksi di dalam tubuh mereka jumlahnya persis sama. Jadi, masuk akal untuk menyimpulkan bahwa mereka dibunuh ketika sedang bersama-sama.”

"Aku mengerti.”

“Setelah itu si pembunuh memasukkan unsur logam yang berbeda ke dalam mulut masing-masing. Tomoko, si Aguarius, menyimpan timbal oksida di mulutnya. Berbentuk bubuk kuning yang tidak mudah terurai di dalam air, dan juga racun mematikan. Tetapi bukan itu yang membunuhnya. Agaknya si pembunuh tidak dapat menggunakan unsur logam yang berlainan sebagai racun jika bermaksud membunuh gadis-gadis itu pada saat bersamaan.”

"Kau mungkin benar.”

”Akiko, si Scorpio, ditemukan dengan oker merah di mulutnya. Itu sejenis Iumpur merah yang sering digunakan dalam cat, tidak beracun, dan merupakan zat yang mudah didapat. Yukiko, si Cancer, menyimpat nitrat perak di kerongkongannya, tidak berwarna dan beracun. Tokiko, si Aries, dipenggal lehernya, tetapi oker merah melumuri sekujur tubuhnya. Reiko, si Virgo, ditemukan dengan merkuri di dalam mulutnya. Dan Nobuyo, si Sagitarius, menyimpan timah di kerongkongannya.

“Satu pertanyaan yang muncul adalah: dari mana si pembunuh memperoleh bahan-bahan kimia tersebut? Merkuri tentu saja bisa dengan mudah diambil dari termometer, tetapi bahan kimia lainnya tidak begitu mudah diperoleh, kecuali kau punya hubungan dengan bidang medis atau laboratorium universitas atau apotek. Kau juga butuh pengalaman bekerja dengan bahan kimia. Heikichi jelas cukup terobsesi dengan pembunuhan tersebut untuk mencari pengetahuan dan bahan yang dibutuhkan.”

"Apakah polisi menemukan bahan kimia di dalam studionya?”

"Tidak."

"Tetapi mereka yakin Masako bisa mengumpulkan semua bahan kimia itu dan membubuhi jus dengan racun?”

“Tampaknya demikian. Di luar masalah itu, si pembunuh mengikuti penafsiran alkimia dalam catatan Heikichi sampai ke detail terkecil, dan dengan demikian mewujudkan rencana gilanya. Tapi kenapa?”

"Ya, kenapa dia melakukannya? Bagaimana pendapat masyarakat umum mengenai Masako?”

"Menurut mereka, dia tidak bersalah.”

"Jadi, semua orang kecuali polisi menganggap dia tidak bersalah? Hmm.” Untuk sesaat Kiyoshi tidak bersuara. "Kazumi, apakah Heikichi benar-benar mati?” dia bertanya sambil menatapku.

Aku tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja dia sudah mati! Sudah kuduga kau akan memikirkan ide gila seperti itu!”

Kiyoshi terlihat sedikit malu. "Yah, soalnya dari sudut pandang yang berbeda...”

"Apa teorimu, kalau begitu?” Aku berharap dia akan mengakui kalau dia menyerah, meskipun aku ragu dia akan berkata begitu.

"Tidak, kau duluan. Tolong lanjutkan ceritanya,” dia berkata, mengulur waktu. "Aku akan memaparkan teoriku setelah kau menceritakan semua yang kauketahui. Nah, sekarang, di mana mereka menemukan mayat gadis-gadis itu? Siapa yang pertama kali ditemukan? Yang kuburannya paling dekat dengan Tokyo?”

“Tidak. Sebenarnya, mayat Tomoko yang pertama kali ditemukan, di tambang Hosokura di Prefektur Miyagi. Mayatnya terbungkus kertas minyak dan kedua kakinya dipotong mulai dari lutut ke bawah. Mayat itu ditemukan di dalam hutan, tepat di samping jalan setapak. Dia tidak dikubur. Pakaiannya sama dengan yang dia kenakan di Yahiko. Dia ditemukan tanggal 15 April oleh seseorang yang tinggal di daerah tersebut, jadi lima belas hari telah berlalu sejak dia terakhir kali terlihat bersama saudari-saudarinya pada tanggal 31 Maret pagi. Tambang Hosokura menghasilkan seng dan timah, yang berkaitan dengan lambang zodiak Tomoko, Aguarius. Polisi segera saja mulai curiga bahwa rencana Heikichi sedang dijalankan dan bahwa gadis-gadis lainnya mungkin telah mengalami nasib serupa.

"Sekarang, kalau kau ingat, catatan Heikichi merinci beberapa unsur logam, tetapi tidak ada keterangan lokasi. Jadi, polisi mulai menyelidiki tambang-tambang di seluruh negeri berdasarkan logam yang disebutkan Heikichi. Tak perlu dikatakan, upaya itu memakan banyak waktu dan sumber daya. Ketika mayat mereka akhirnya ditemukan, semuanya dikubur, dibungkus dengan jenis kertas minyak yang sama, dan mengenakan pakaian yang dilihat orang mereka kenakan pada saat terakhir.”

“Dikubur? Jadi, maksudmu hanya Tomoko yang tidak dikubur?”

"Benar. Dan itu membawa kita ke soal menarik lainnya. Masing-masing gadis dikubur pada kedalaman berbeda. Apa pendapatmu tentang hal itu dari sudut pandang astrologis?”

"Hmm. Berapa dalam mereka dikubur?”

"Akiko ditemukan pada kedalaman sekitar 50 sentimeter, Tokiko 70 sentimeter, Nobuyo 1,4 meter, Yukiko 1,05 meter, dan Reiko 1,5 meter. Baik polisi maupun para calon Sherlock Holmes tidak dapat menemukan penjelasan yang masuk akal untuk hal itu!”

"Aha!"

"Tentu saja, fakta itu mungkin tidak disengaja. Si pembunuh bisa jadi tidak punya maksud tertentu: kalau tanahnya keras, dia tidak mau repot-repot menggali lubang yang dalam, kalau tanahnya tidak keras, dia menggali lebih dalam.”

“Mungkin. Tetapi kau nyaris tidak bisa mengubur mayat pada kedalaman 50 sampai 70 sentimeter. Sebenarnya ada perbedaan besar dalam masalah kedalaman ini. Kuburan terdalam adalah 150 sentimeter —orang yang pendek bisa dikubur berdiri dalam lubang seperti itu! Coba kita lihat... Akiko seorang Scorpio, dan kedalamannya 50 sentimeter... Tokiko...”

"Seorang Aries, dikubur pada kedalaman 70 sentimeter, si Scorpio 50 sentimeter, si Virgo 1,5 meter, si Sagitarius 14 meter, dan si Cancer 1,05 meter. Ini peta lokasi tempat mereka ditemukan.”

“Baiklah. Jadi, hanya si Aguarius yang tidak dikubur. Terus terang, aku tidak dapat memikirkan hubungannya dengan unsur astrologis. Aku tak bisa melihat sebab atau alasan untuk melakukannya.”

“Bagaimana dengan kedalaman 1,05 meter itu? Apakah menurutmu ada artinya?”

"Si pembunuh kelelahan? Baiklah, setelah Tomoko, mayat siapa yang ditemukan selanjutnya?”

“Akiko. Mayatnya ditemukan tanggal 4 Mei oleh anjing-anjing polisi di pegunungan dekat tambang besi Kamaishi. Sebagian pinggulnya —sepanjang sekitar dua puluh sampai tiga puluh sentimeter—lenyap. Masako, yang berada dalam tahanan polisi, mengidentifikasi kedua mayat tersebut.

“Setelah itu, polisi mengerahkan unit anjing pelacak mereka. Pencarian Tokiko membawa mereka ke Nakatoya di Hokkaido, Chichibu di Distrik Saitama, Kamaishi lagi, dan kemudian tambang besi besar di Prefektur Gumma. Di situlah mereka menemukan mayatnya tiga hari kemudian, tanggal 7 Mei. Mayatnya tak berkepala, jadi Tae — ibu kandung Tokiko—lah yang harus mengidentifikasinya. Mayat itu memiliki kaki seorang penari balet, dan juga sebuah tanda lahir pada sisi kanan perut—seperti digambarkan dalam catatan Heikichi.

"Butuh waktu lebih lama untuk menemukan gadis-gadis lainnya, karena mereka dikubur lebih dalam. Polisi menyisir tambang perak Koh-no-mai dan Toyoha di Hokkaido, tambang Kamioka di Prefektur Gifu, serta tambang Kosaka di Prefektur Akita— Yukiko ditemukan di sana pada tanggal 2 Oktober. Tubuhnya setengah membusuk setelah musim panas yang panjang, dan dadanya  diambil. Sungguh pemandangan mengerikan. Dialah yang dikubur pada kedalaman 1,05 meter. Masako mengidentifikasinya.

"Kemudian mayat Nobuyo ditemukan pada tanggal 28 Desember. Unsur logam untuk Sagitarius dan Virgo adalah timah dan merkuri, yang hanya dihasilkan di sedikit wilayah. Di Honshu, hanya tambang Yamato di Prefektur Nara yang menghasilkan merkuri, dan hanya tambang Akenobo dan Ikuno di Prefektur Hyogo yang menghasilkan timah. Tanpa petunjuk tersebut, dua mayat terakhir mungkin tak akan pernah ditemukan, karena dalamnya lubang tempat mereka dikubur. Nobuyo ditemukan di pegunungan dekat tambang timah Ikuno. Tubuhnya kehilangan kedua paha, sehingga batang tubuhnya dikubur bersama kaki yang terpotong pada lutut. Sembilan bulan telah berlalu sejak dia dibunuh, dan mayatnya sudah nyaris menjadi kerangka.

"Yang terakhir ditemukan adalah mayat adik Nobuyo, Reiko. Saat itu tanggal 10 Februari 1987, hampir satu tahun setelah pembunuhan Heikichi. Mayatnya ditemukan pada lubang sedalam 1,5 meter di pegunungan dekat tambang Yamato, yang menghasilkan merkuri. Perutnya lenyap. Jasadnya juga nyaris berupa kerangka, dan sebenarnya Ayako tidak bisa mengidentifikasi kedua putrinya dengan yakin.”

"Hmm. Jadi, jika wajah-wajah mereka tidak dikenali, dan petunjuk satu-satunya hanya pakaian mereka, ada kemungkinan mereka bukan Reiko dan Nobuyo yang asli.”

“Bisa jadi, ya, tetapi ada sejumlah fakta yang tidak dapat dibantah. Polisi mengandalkan golongan darah dan struktur kerangka: mereka bahkan merekonstruksi wajah gadis-gadis itu dengan menggunakan tanah liat. Tetapi faktor yang paling kentara adalah susunan otot kaki dan  jari kaki yang khas penari balet. Berhubungan dengan kebiasaan menari di atas jari kaki. Karena tidak ada penari balet lain yang hilang, sepertinya aman untuk menyimpulkan bahwa yang ditemukan memang mayat gadis-gadis Umezawa.”

"Diterima,” ujar Kiyoshi.

"Meskipun demikian, tidak satu pun barang mereka ditemukan, dan itu mungkin satu petunjuk penting. Waktu kematian Tomoko diperkirakan antara pukul tiga sore dan sembilan malam, tanggal 31 Maret 1936. Gadis-gadis lainnya, diduga dibunuh pada saat yang sama. Sejumlah detektif menduga mereka dibunuh pada awal April, tapi aku tidak sependapat.”

"Ada yang lain?”

"Tidak, aku rasa tidak. Kita hanya bisa menebak apa yang terjadi pada Nobuyo dan Reiko. Para spesialis kedokteran forensik tidak bisa bersepakat mengenai waktu kematian mereka, terlebih karena waktu kejadian sudah begitu lama berlalu.”

"Baiklah. Sekarang aku ingin tahu tentang alibi semua orang pada siang hari tanggal 31 Maret. Ini pembantaian keluarga Umezawa. Masalah Azoth bisa jadi hanya kamuflase untuk tindakan balas dendam. Dan dengan sudut pandang seperti itu, orang pertama yang terlintas di pikiran adalah Tae, mantan istri Heikichi.”

“Tapi tidak mungkin dia pembunuhnya. Dia menunggui kedai rokoknya seharian, dan para tetangga melihat dia duduk di sana seperti biasa pada tanggal 31 Maret. Kita tidak tahu dia berada di mana ketika Heikichi dibunuh, tetapi dia jelas berada di kedainya ketika gadisgadis itu menghilang. Ada kedai pangkas rambut di seberang jalan, dan si pemangkas bersaksi bahwa Tae duduk di depan etalase sepanjang siang sampai toko tutup pukul 19.30. Kedainya buka setiap hari sepanjang  tahun. Selain itu, apa mungkin seorang wanita 48 tahun sanggup membawa enam mayat ke enam tempat berbeda sendirian? Dia tidak bisa menyetir mobil, dan Tokiko, putrinya, adalah salah satu korban. Menurutku sangat kecil kemungkinannya dia adalah si pembunuh.”

"Tapi apa kau yakin alibinya kuat?” tanya Kiyoshi sambil mengangkat cangkir kopinya. Melihat cangkir itu kosong, dia meletakkannya lagi.

"Ya."

“Di sisi lain, Masako ditahan karena alibinya lemah. Tetapi hal itu tidak terjadi pada Heitaro atau ibunya, bukan?”

"Aku rasa semua tersangka pernah ditahan untuk beberapa waktu. Pada masa itu, polisi boleh menahan tersangka mana pun tanpa surat perintah, dan menahan mereka selama yang mereka inginkan. Penahanan diberlakukan kepada semua orang yang dihentikan dan ditanyai. Yoshio jelas ditahan selama beberapa hari.”

"Bahkan tembakan buruk pun pada akhirnya akan mengenai sasaran jika cukup sering ditembakkan!” Kiyoshi berkata sinis.

"Mungkin betul. Yasue dan Heitaro bisa membuktikan bahwa mereka berada di De Medicis pada tanggal 31 Maret. Pembeli, kenalan, dan seorang pelayan bersaksi bahwa keluarga Tomita tidak pernah hilang dari pandangan lebih dari tiga puluh menit sampai galeri tutup pukul sepuluh malam. Teman-teman bersaksi bahwa mereka bersama ibu dan anak itu sampai tengah malam.

"Sementara Yoshio, dia bisa membuktikan bahwa dia sedang rapat dengan penerbitnya di Gokokuji, Tokyo, dari pukul satu siang sampai lima sore, dan kembali dengan kereta api ke rumahnya di Meguro bersama Mr. Toda, editornya. Mereka minum-minum sampai pukul sebelas malam lebih sedikit. Kita tidak tahu apa yang  dilakukan Ayako, istrinya, pada pukul enam petang, tetapi dia mengobrol dengan tetangganya sekitar pukul 16.50. Alibinya tidak terlalu kuat, tetapi jika dia pembunuhnya, dia harus berada di Yahiko pagi-pagi hari itu. Dia tidak mungkin punya waktu untuk mengubur mayat-mayat itu dan pulang ke rumah malam harinya. Selain kelima orang itu, tidak ada tersangka lain.”

"Masako juga punya alibi, bukan?”

"Sayangnya, dia hanya punya kesaksian dari keluarga. Dan karena sebotol arsenik ditemukan di rumahnya, kelima tersangka tadi dianggap tidak bersalah.”

"Ya, ya. Tapi seandainya Masako dan putri-putrinya berkomplot untuk membunuh Heikichi dan mereka bekerja sama untuk menarik tempat tidurnya ke kaca atap, aku tidak percaya kalau sebulan kemudian dia tiba-tiba memutuskan untuk membunuh semua gadis itu.”

"Apa maksudmu?” aku bertanya.

"Nanti kujelaskan. Baiklah, si pembunuh —seniman dengan bakat gila—memperoleh bahan-bahan yang dia — ada sedikit kemungkinan bahwa pelakunya perempuan — butuhkan untuk membuat Azoth. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah: apakah si seniman gila berhasil menciptakan monster itu?”

“Nah itu benar-benar misteri utama kasus ini, bukan? Kemungkinan tidak. Yang jelas, Azoth tidak pernah ditemukan. Jadi, tidak ada yang tahu apakah dia berhasil atau tidak. Beberapa orang mengatakan bagian-bagian tubuh itu dibuat menjadi spesimen isi—kerajinan taksidermi yang mengerikan—yang disimpan di suatu tempat. Sementara kita mencari pembunuhnya, kita mungkin juga ingin menemukan Azoth. Menurut catatan Heikichi, Azoth harus ditempatkan di 'pusat dari 13', pusat negeri Jepang—entah apa maksudnya. Karena si pembunuh tampaknya mengikuti rencana Heikichi dengan sangat tepat,  yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu apa yang dimaksud dengan 'pusat dari 13 —dan itulah yang berusaha dilakukan para pemburu Azoth selama empat puluh tahun terakhir. Tae menawarkan sejumlah besar warisannya sebagai hadiah bagi siapa pun yang menemukan Azoth. Aku yakin hadiah itu masih tersedia.”

"Sebaiknya kita fokus pada pencarian si pembunuh dulu.”

"Kau kelihatan sangat yakin, Kiyoshi. Tapi biar kuulangi: semua orang yang punya hubungan dengan keluarga Umezawa —termasuk Masako, yang telah dihukum, meskipun dengan tidak adil— mempunyai alibi. Jadi, kemungkinan pelakunya adalah orang di luar keluarga, atau kita harus mencari Azoth untuk mendapatkan petunjuk.”

"Heikichi tidak punya anak didik... tetapi dia kenal beberapa orang di De Medicis, betul?”

"Ya. Dia kenal dengan lima atau enam orang di sana dan di Kakinoki, tapi mereka bukan teman dekat. Mereka bahkan tidak tahu di mana studionya, kecuali satu orang yang mengunjunginya. Ada satu lagi yang diundang, tapi tidak pernah datang.”

"Hmm...

"Aku yakin Heikichi tidak pernah berbicara tentang Azoth kepada orang lain. Dan dia sama sekali tidak menyebut soal itu dalam catatannya. Sulit membayangkan ada orang yang bersedia melakukan pembunuhan untuknya, kecuali ada ikatan kuat di antara mereka, atau persaudaraan atau apa.”

"Kau benar...”

"Satu-satunya kemungkinan lain adalah Heikichi mabuk dan seseorang mencuri kunci studionya, menyelinap masuk, dan membaca catatannya. Cukup ngawur, tetapi tidak banyak penjelasan lain yang masuk akal.”

"Hmm. Ini jelas sebuah misteri! Bisa kautunjukkan lagi padaku tanggal-tanggal mayat mereka ditemukan? Mungkin ada semacam pola di sana.”

“Baik, ini tabelnya.”

Tanggal Ditemukan Tempat/Prefektur Kedalaman Nama Tahun Lambang 15 April 1936 Hosokura, Miyagi 0 cm. Tomoko 1910  Aguarius 4 Mei 1936 Kamaishi, Iwate — 50 cm. Akiko 1911 Scorpio, 7 Mei 1936 Gumma, Gumma 70 cm. Tokiko 1913 Aries, 2 Oktober 1936 Kosaka, Akita 105 cm. Yukiko 1913 Cancer 28 Desember 1936  Ikuno, Hyogo 140 cm. Nobuyo 1915 Sagitarius 10 Februari 1937 Yamato, Nara 150 cm. Reiko 1913 Virgo

Kiyoshi menyimak data-data itu selama beberapa saat.

"Lihat, kelihatannya mungkin wajar,” katanya, "tetapi semakin dalam mereka dikubur, semakin lama mereka ditemukan. Mayat yang dibiarkan di atas tanah ditemukan pertama kali. Mungkin itu tujuan si pembunuh? Menurutku mayat-mayat ini ditemukan dalam urutan yang direncanakan si pembunuh. Sekarang, apa kira-kira maksud dari rencananya itu? Hmm... ada dua kemungkinan: pertama, untuk membantu si pelaku menutupi kejahatannya: kedua, urutan tersebut bisa jadi berhubungan dengan astrologi atau alkimia, bidang yang menjadi obsesi Heikichi. Yang pertama Aguarius, kedua Scorpio, kemudian Aries, Cancer, Sagitarius, Virgo... Tidak, aku tarik kembali teoriku. Sepertinya tidak ada urutan astrologis... atau hubungan apa pun antara urutan tersebut dengan geografi... Tunggu, bukankah mayat yang dikubur paling dekat dengan Tokyo ditemukan pertama kali? Tidak, aku salah... Sepertinya urutan tersebut sama sekali tidak mengandung maksud apa pun.”

"Aku harus mengakui bahwa aku juga berpendapat urutan itu tidak penting,” kataku. "Mungkin si pembunuh sudah berencana mengubur keenam mayat, tetapi dia kelelahan. Lubang yang dia gali semakin dangkal dan semakin dangkal, dan akhirnya Tomoko hanya dia geletakkan di atas tanah. Bisakah kita melacak jejak si pembunuh dari sudut pandang tersebut?”

“Lubang paling dalam terdapat di Hyogo dan Nara— yang jaraknya tidak terlalu jauh —tetapi lubang dalam lainnya ditemukan di Akita, dan itu jaraknya sangat jauh.”

"Ya, itu sedikit mengacaukan teorinya, bukan? Jika Yukiko tidak dikubur sedalam itu di Akita, situasinya menjadi lebih sederhana... Pertama-tama, si pembunuh pergi ke Nara dan Hyogo untuk mengubur Reiko dan Nobuyo. Selanjutnya, dia naik ke Gumma dan mengubur Tokiko. Kemudian dia langsung menuju utara ke Aomori dan mengubur Yukiko di Kosaka, yang berbatasan dengan Akita. Dari sana, dia menuju selatan ke Iwate dan mengubur Akiko, dan setelah itu dia kelelahan dan tidak mau repot-repot mengubur korban keenam, Tomoko. Dia hanya melemparkan mayatnya ke tanah dan kembali ke Tokyo.”

“Bisa jadi karena dia khawatir mayat-mayat itu akan ditemukan sebelum dia kembali ke Tokyo, dan bukan karena dia sudah capek menggali.”

"Ya, itu mungkin saja. Tetapi Yukiko dikubur dalamdalam di Akita, sementara mayat terdekat, Tokiko, dikubur dangkal. Urutannya adalah dalam, dalam, dangkal, dalam, dangkal, tidak dikubur. Sebenarnya, itu tidak bisa dibilang urutan. Apakah seorang pembunuh bepergian dari timur ke barat, atau—satu hal yang belum kita pertimbangkan—dua kelompok dinas rahasia militer mengerjakan semuanya pada saat bersamaan? Seingatku, pada  masa itu memang ada organisasi-organisasi semacam itu di Tokyo. Satu kelompok bisa menuju barat ke Nara dan Hyogo, kemudian kembali ke Gumma, kelompok lainnya mungkin pergi ke Akita, Iwate, dan Miyagi di timur. Masing-masing kelompok bisa jadi menggali lubang yang lebih dalam untuk mengubur korban-korban pertama. Itu lebih masuk akal. Tapi itu akan menyingkirkan teori pembunuh tunggal.”

"Dengan pemikiran seperti itu,” Kiyoshi berkomentar, “berarti Tokiko dibiarkan di atas tanah oleh kelompok di barat Jepang.”

"Hmm. Sulit membayangkan dinas rahasia terlibat dalam kasus ini. Bahkan ada seseorang yang memiliki pengetahuan tentang masalah internal militer bersaksi bahwa dinas rahasia tidak mungkin melakukan perbuatan semacam ini.”

"Ah-ha!"

"Dinas rahasia mungkin saja menutupinya!”

"Aku tidak akan memercayai kesaksian orang dalam.”

"Yah, jika Yukiko dikubur dalam-dalam, kita bisa menduga bahwa ada kemungkinan si pembunuh tinggal di Kanto, di bagian timur Jepang. Jika dia tinggal di Aomori, Yukiko, yang mendapat giliran terakhir untuk dikubur, pasti akan dibiarkan saja tergeletak di tanah.”

"Mungkin kau ada benarnya dalam hal itu,” Kiyoshi sepakat. “Tetapi apakah tidak ada petunjuk lain? Ada banyak tambang di kepulauan Kyushu dan Hokkaido, tetapi mayat-mayat itu hanya ditemukan di Honshu. Pada masa itu belum ada terowongan yang menghubungkan pulau-pulau tersebut, jadi mungkin si pembunuh terbatas geraknya dan hanya bisa mengubur mereka di Honshu. Apakah si pembunuh mengubur mereka sesuai urutan umur mereka? Coba kita lihat... Tomoko dua  puluh enam tahun... Akiko dua puluh empat tahun... Ya! Setidaknya mereka menemukan yang lebih tua dulu, dan terus sampai yang terakhir ditemukan adalah gadis termuda. Apa artinya?...”

"Menurutku itu hanya kebetulan. Beberapa orang memang menduga bahwa itu sebuah petunjuk, tetapi mereka tidak bisa memastikan maksudnya.”

"Mungkin... tapi mungkin juga tidak.”

"Aku rasa sudah semua,” kataku. "Jadi, apa pendapatmu?”

“Ternyata ini jauh lebih sulit dari perkiraanku,” dia menanggapi, alisnya bertaut dan menekan kelopak matanya. Dia kelihatan depresi lagi, atau mungkin dia hanya berakting. "Aku tak mungkin bisa memecahkannya dalam satu hari. Setidaknya aku butuh waktu beberapa hari.”

"Kau bisa memecahkannya dalam beberapa hari?!” Aku pikir dia hanya bercanda.

"Semua orang punya alibi untuk pembunuhan Azoth,” Kiyoshi memulai, seperti sedang bicara sendiri. “Pembunuhan tersebut seolah-olah dilakukan secara acak, satusatunya alasan atau tujuan yang diketahui adalah catatan peninggalan Heikichi. Tetapi tampaknya tidak ada orang yang cukup dekat dengannya yang mungkin punya alasan untuk melaksanakan rencananya. Dan tidak seorang pun pernah membaca catatan itu. Dinas rahasia tidak mungkin membacanya, lagi pula apa kepentingan mereka dengan urusan Azoth? Sejauh ini, Kazumi, kita menghadapi jalan buntu!”

"Kau benar. Jadi, mengapa kita tidak meneruskan saja dan memikirkan bagian selanjutnya dari misteri ini —angka 4, 6, 3, dan 13.”

"Ah, ya. Heikichi mengatakan Azoth akan ditempatkan di pusat Jepang.”

"Kau ingat rupanya.”

"Tentu saja aku ingat. Pusat itu antara timur dan barat—pada garis 138” 48 Bujur Timur. Apakah aku benar?”

"Tepat sekali. Sangat mengesankan!”

"Jadi, Azoth seharusnya berada di suatu tempat pada garis itu. Mengapa kau tidak menyusurinya dan mencarinya?”

"Tidak mungkin. Jaraknya sekitar 355 kilometer, hampir sama dengan jarak Tokyo ke Nara. Garis itu terputus oleh Pegunungan Mikuni, wilayah Pegunungan Chichibu, dan hutan di sekitar Gunung Fuji, jadi mengendarai mobil atau motor tidak akan ada gunanya. Selain itu, Azoth bisa saja dikubur: kita tidak mungkin menggali seperti tikus sepanjang 355 kilometer! Kita mesti memutuskan di mana harus melakukan penggalian.”

Kiyoshi mendengus. "Oh, itu tidak terlalu sulit. Aku akan memberitahumu besok pagi...”

Suaranya menjadi begitu pelan, sehingga aku tidak bisa mendengar bagian terakhir kalimatnya.

ADEGAN 5 GARIS LINTANG DAN GARIS BUJUR

Aku tiba-tiba dilanda kesibukan di tempat kerja keesokan harinya, dan baru malam hari bisa bertemu Kiyoshi. Dia juga tidak menghubungi aku. Mungkin dia sedang berkonsentrasi memecahkan misteri angka-angka itu. Sebagai ilustrator lepas, aku kadang menyesali keadaan karena aku jadi tidak punya kebebasan memilih. Aku ingin melanjutkan pembahasan mengenai pembunuhan, tetapi menolak klien bisa berakibat kehilangan mereka untuk selamanya.

Aku pernah mengeluh pada Kiyoshi, "Kalau aku pindah ke pekerjaan kantoran, hidupku akan lebih mudah.”

”"Gantungkan wortel di depan seekor kuda, dan dia akan berlari!” sergah Kiyoshi, sekonyong-konyong berdiri. "Ada seorang pria di semak-semak mawar. Tebang semak dengan kapak, dan dia akan menerobos keluar untuk sampai ke rumah. Kau sudah punya bayangan?”

Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi aku mengangguk seolah-olah mengerti.

"Pengorbanan untuk melakukan perjalanan yang begitu jauh, manfaatnya tidak sebesar yang terlihat. Seandainya dia mau memanjat pagar dan melihat ke sekelilingnya, dia pasti akan melihat bahwa tujuannya sebenarnya sangat dekat.”

Kebingunganku pastilah terlihat jelas.

"Sayang sekali!” kata Kiyoshi sambil mendesah. "Kalau kau tidak mengerti, maka mahakarya Picasso pun akan kehilangan nilainya.”

Baru belakangan aku memahami maksud perkataannya. Dia berpendapat bahwa bekerja seperti anjing itu konyol. Tapi aku rasa dia juga bermaksud mengatakan bahwa dia tidak ingin sendirian, aku tidak akan bisa selalu menemaninya kalau bekerja dengan jam kantor normal. Harga dirinya terlalu tinggi, sehingga dia tidak mampu mengutarakan maksudnya secara langsung.

Setelah hariku yang sibuk, aku pergi menemui Kiyoshi. Kelihatannya suasana hatinya sedang cerah. Setiap kami bertemu, dia biasanya berbaring di sofa, seolah-olah sedang mengapung di atas rakit di tengah laut. Tetapi kali ini dia berdiri dan mondar-mandir seperti beruang, menirukan pidato kampanye yang menggelegar dari pengeras suara truk di luar.

“Mari kita berjuang bersama,” dia mencicit dengan suara bergetar dan bernada tinggi, dengan sempurna menirukan kandidat perempuan Otome, “atau kita warga Jepang akan menghadapi kesulitan keuangan yang menakutkan!” Tiba-tiba suaranya menjadi rendah, dan dia menyerukan, "Kanno! Kanno! Kanno! Mansaku Kanno berjanji akan memberi perawatan kesehatan yang layak Anda peroleh!”

Sudah pasti, sesuatu yang bagus telah terjadi. Dia berbalik ke arahku, melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Kemudian dia mengumumkan, ” Aku telah memecahkan misteri 4-6-3! Truk-truk kampanye itu membuatku gila, tetapi aku berhasil memecahkannya.”

Dengan secangkir kopi di tangan, dia mulai menjelaskan.

"Begini, Kazumi. Kita sudah tahu di mana pusat sumbu timur laut-barat daya Jepang berada. Tetapi kita tidak tahu di mana letak sumbu utara-selatan. Menurut Heikichi, ujung paling utara Jepang adalah Kharimkotan pada garis 49911 Lintang Utara, dan ujung paling selatan adalah Iwo Jima pada garis 24”43' Lintang Utara. Itu menjadikan garis 24”3' Lintang Utara sebagai titik pusat. Silangkan titik itu dengan sumbu timur-barat pusat, pada garis 138”48 Bujur Timur, dan kau akan muncul di suatu tempat di sekitar wilayah ski Ishiuchi di Niigata.

"Heikichi juga menyatakan bahwa Pulau Hateruma, yang berada pada garis 24”3' Lintang Utara, merupakan ujung paling selatan Jepang, jadi aku mencoba menemukan titik tengah antara Kharimkotan dengan Hateruma. Hasilnya adalah garis 3637 Lintang Utara. Garis ini bersilangan dengan garis 138”48 Bujur Timur pada suatu tempat di sekitar sumber air panas Sawatari di Prefektur Gumma. Lokasi Ishiuchi dan Sawatari jaraknya sekitar 20. Data statistik ini mungkin punya arti penting.

”"Heikichi menjelaskan bahwa Gunung Yahiko, pada garis 37”42' Lintang Utara, sebagai pusar Jepang. Gunung Yahiko dan Wilayah Ski Ishiuchi jaraknya tepat 45”, tapi tetap tidak ada angka 4, 6, atau 3 di mana pun. Jarak antara Gunung Yahiko dengan Sawatari adalah 65 —sekali lagi, bukan angka yang kita cari.

"Jadi, aku berbaring di lantai selama beberapa saat, dan kemudian sebuah ide cemerlang melesat di dalam benakku. Aku meneliti garis bujur dan garis lintang keenam tambang tempat mayat keenam gadis itu ditemukan. Aku membuat daftarnya. Coba lihat ini...” Kiyoshi berkata penuh kemenangan dan melemparkan selembar kertas ke arahku. Ini yang tertulis di atasnya:  ) Tambang Kosaka Akita 14046 Bujur Timur  40”21' Lintang Utara G' Tambang Kamaishi  Iwate 14194? Bujur Timur 39918 Lintang Utara h Tambang Hosokura Miyagi 14054 Bujur Timur  38”48' Lintang Utara G' Tambang Gumma Gumma 138038 Bujur Timur  36”36' Lintang Utara 2 Tambang Ikuno Hyogo 134049 Bujur Timur 35919 Lintang Utara 5 Tambang Yamato Nara 13559 Bujur Timur 34929 Lintang Utara

"Ketika aku membuat rata-rata dari garis-garis bujur ini, aku mendapatkan hasil mengejutkan: 138”48' BT. Kau tahu di mana itu? Tempat itu sama persis dengan lokasi yang ditunjuk Heikichi sebagai sumbu timur-barat. Jadi, keenam tambang tersebut bukan kebetulan! Selanjutnya, aku membuat rata-rata dari garis lintang keenam tambang, dan hasilnya adalah 37027 LU. Titik ini bersilangan dengan 138048 BT pada suatu tempat di sebelah barat Nagaoka. Kalau kau membandingkan lokasi ini dengan titik tengah garis utara-selatan antara Kharimkotan dengan Iwo Jima, maka jaraknya hanya 30”. Antara 37027 LU dengan Gunung Yahiko, jaraknya hanya 15.

"Jadi, sekarang kita punya empat titik, termasuk Gumung Yahiko, yang berbaris pada garis 138”48' Bujur Timur. Dari selatan ke utara: pertama, ada titik tengah antara Kharimkotan dengan Hateruma, 20” ke utara dari situ adalah titik tengah antara Kharimkotan dengan Iwo Jima, 30' ke utara dari situ adalah rata-rata garis lintang keenam tambang, dan, akhirnya, 15' ke utara dari situ adalah Gunung Yahiko. Empat titik ditempatkan pada garis 138”48' Bujur Timur dengan jarak 20”, 30”, dan 15'. Bagi jarak tersebut dengan lima, dan kau memperoleh angka 4, 6, dan 3: tambahkan semuanya dan kau mendapat angka 13!

"Jika keempat titik tersebut dijumlahkan dan kemudian dibagi empat, hasilnya adalah 37”9,5' LU. Titik ini bersilangan dengan garis 138248 Bujur Timur pada suatu  tempat di pegunungan di kota Toka, Prefektur Niigata. Pasti di tempat itulah Azoth berada! Kau tahu, Kazumi, kopi yang aku seduh selalu enak, tapi hari ini yang paling enak! Kau bisa merasakan bedanya?” Dan setelah berkata demikian, dia tertawa terbahak-bahak.

"Um, yeah, rasanya lumayan...”

"Huh? Hanya itu? Hei, aku sudah memecahkan misteri angka 4, 6, dan 3! Aku bahkan menggambar sebuah peta untukmu. Ini.”

"Yah, benar, kau memang hebat,” aku menanggapi dengan enggan. Aku tidak ingin melukai perasaannya, tetapi dia tidak tahu bahwa kesimpulan yang persis sama juga telah dibuat oleh sejumlah detektif amatir cerdas lainnya. "Ini sangat mengagumkan. Kau bisa sampai sejauh ini hanya dalam waktu satu malam, itu bisa menjadi rekor...”

"Apa? Maksudmu sudah pernah ada yang membuat kesimpulan seperti ini?”

"Yah, empat puluh tahun telah berlalu sejak pembunuhan Azoth, Kiyoshi. Bahkan orang awam pun bisa membangun piramida dalam rentang waktu selama itu.”

Tanggapan jujur seperti itu adalah sesuatu yang aku pelajari dari Kiyoshi, dan aku hanya mengembalikan kepadanya. Dia tidak menganggapnya lucu. Dia menendang sofa dan berteriak marah, "Aku belum pernah terlibat omong kosong semacam ini! Apa yang kulakukan? Hanya mengikuti jalur orang lain yang sudah sering dilalui? Kau sudah tahu semua jawabannya, dan kau hanya mengujiku! Kenapa kau membuang-buang waktuku seperti ini?”

"Tidak, Kiyoshi, tidak...”

Dia berdiri di depan jendela, tidak mau membalikkan badan, tidak mau menyahut. "Kiyoshi, aku hanya...”

"Aku tahu apa maksudmu,” dia berkata seraya berbalik menghadapku. "Aku tidak merasa aku luar biasa. Kita semua hidup di planet yang sama, kita semua berbagi kesadaran dan emosi yang sama—tetapi apakah itu membuat kita semua sederajat sebagai manusia? Lihat seorang pengusaha dari Tokyo, lihat pria dari Thailand yang menanam padi, lihat para seniman dan para bankir. Tentu saja kita satu kesadaran, tetapi karma kita di masa kini dan masa lalu berbeda. Kita pernah berlutut di makam yang berbeda dan berjalan menyusuri kebun yang berbeda. Hidup kita hanyalah ledakan serbuk bintang, atau awan yang berarak pergi. Aku bukan orang aneh, yang lainlah yang aneh. Aku merasa seakan-akan hidup di Mars. Ketika aku mengamati keberadaan orang lain dan mencoba memahami kehidupan mereka, aku merasa pusing!”

Dia bersikap sangat serius.

"Kiyoshi, kondisimu akhir-akhir ini tidak begitu baik... Kau terlalu banyak berpikir... Kau membuat dirimu gila... Kenapa kau tidak duduk dulu dan menenangkan diri?”

"Aku benar-benar tidak mengerti!” Kiyoshi berteriak, sama sekali tidak mendengarkan aku. "Kita semua berjuang begitu keras, bergerak ke arah yang salah. Semua usaha kita tidak berguna, Kazumi. Sama sekali tidak ada hasilnya! Kebahagiaan kita, penderitaan kita, kemarahan kita—semua datang dan pergi bagai angin topan atau hujan badai atau bunga-bunga ceri. Kita semua didorong oleh perasaan kita yang remeh dan terhanyut ke tempat yang sama. Tak seorang pun dari kita dapat menolaknya. Kaupikir kau melakukan apa yang menurutmu ideal? Tetapi pada kenyataannya tidak! Itu hanya hal remeh! Pada akhirnya kita hanya akan menyadari bahwa semua usaha kita sia-sia!”

Dia ambruk ke sofanya.

"Ya, aku mengerti maksudmu..."

Kiyoshi menatapku. "Benarkah? Bagaimana bisa?” katanya. Kemudian, dengan nada meminta maaf, dia menambahkan, "Maaf, ini bukan salahmu. Tolong maafkan aku. Kau tidak menganggap aku gila, kan? Terima kasih. Kau mungkin salah satu orang yang menganggap diri mereka normal, tetapi kau jauh lebih baik daripada kebanyakan orang itu. Baiklah, mari kita kembali ke papan gambar. Jadi, apakah ada sesuatu yang ditemukan di tempat yang kausebutkan sebelumnya?”

“Apa? Tempat apa?”

"Ayolah! Aku bicara tentang “pusat dari 13', di timur laut kota Toka. Aku yakin detektif-detektif amatir menyerbu ke sana seperti sekawanan lebah.”

"Ya, aku rasa kota kecil itu pasti sudah menjadi tujuan wisata saat ini.”

"Mereka mungkin menjual kue-kue berbentuk seperti Azoth.”

"Bisa jadi.”

"Apakah mereka menemukan sesuatu di sana?”

"Tidak."

"Tidak? Sama sekali?”

"Tidak ada apa-apa.”

"Jadi, meskipun Heikichi hanya meninggalkan angkaangka misterius itu—4, 6, dan 3—si pembunuh tampaknya tahu persis tempat yang dimaksud. Aku ingin tahu apakah keduanya adalah orang yang sama.”

"Tepat sekali! Itu yang selama ini aku pikirkan!”

"Si pembunuh mungkin harus mengubah rencananya untuk alasan tertentu, atau mungkin dia menemukan tempat yang lebih baik... atau mungkin dia mengubur Azoth begitu dalam. Apakah sudah ada yang menggali di tempat itu?”

"Tentu saja sudah. Mereka menggali di mana-mana. Tempat itu seakan-akan baru dihujani bom seperti Iwo Jima.”

“Seperti Iwo Jima, ya? Heikichi sepertinya menyebutkan soal itu... Tapi tidak ada yang ditemukan? Bagaimana dengan struktur geografis tempat itu? Apakah ada bagian yang belum tersentuh?”

"Aku rasa tidak. Wilayah itu relatif datar. Orang sudah menggali di sana selama empat puluh tahun.”

"Hmm. Jadi mungkin Azoth tidak pernah dibuat.”

“Tapi tidak ada keraguan bahwa tubuh gadis-gadis itu dipotong.”

"Mungkin proses pembusukannya lebih cepat daripada yang dia perkirakan, dan itu berarti dia harus mengandalkan taksidermi. Mungkinkah dia memiliki keahlian semacam itu?”

"Dia bisa mempelajarinya.”

"Kaupikir begitu?”

"Heikichi tidak pernah menyinggung itu dalam catatannya, tapi pemikiran itu bukannya tidak logis. Jika si pembunuh harus menyatukan berbagai bagian tubuh, dalam satu hari saja pasti sudah mulai membusuk. Akan lebih memuaskan jika dia memberi kehidupan baru kepada Azoth. Menurutku dia pasti melakukan sesuatu untuk mengawetkannya, bahkan jika hasilnya tidak sempurna.”

“Heikichi yakin Azoth akan bertahan selamanya, seperti Kerajaan Ketiga Hitler.”

“Dia tidak mungkin serius,” aku menukas. “Yah, sebenarnya mungkin saja. Dia gila.”

"Ya, benar... Aku punya ide lain, Kazumi.”

"Apa itu?”

"Seluruh kisah Heikichi ternyata hanya cerita fiksi yang hebat.”

"Tidak, aku rasa tidak. Itu mustahil.”

"Benarkah? Mengapa kau berkata begitu?”

"Karena pasti ada sesuatu tentang garis 138”48' Bujur Timur.”

"Apa maksudmu?” tanya Kiyoshi.

"Yah," aku menyahut, "ini mungkin agak menyimpang dari pokok persoalan, tetapi Heikichi bukan satu-satunya yang memiliki pikiran seperti itu. Penulis misteri Seicho Matsumoto menulis tentang hal itu dalam bukunya Garis 139 Derajat Bujur Timur. Kau mungkin tidak terlalu hafal novel misteri seperti aku. Apakah kau pernah mendengarnya?”

“Tidak.”

"Nah, novel itu seolah-olah mendukung pandangan Heikichi tentang sejarah. Begini, ada dua jenis teknik meramal nasib di Jepang kuno—kiboku dan rokoboku. Ahli nujum kuno membakar tulang belikat rusa dan kemudian menancapkan tusuk daging ke tulang itu untuk meretakkannya. Mereka membaca retakan tersebut untuk meramalkan seperti apa kondisi perburuan dan panen setiap tahunnya: teknik ini dikenal dengan nama rokoboku. Lama-kelamaan, mereka menggunakan tempurung kurakura, bukan tulang rusa, karena kura-kura lebih mudah ditangkap, dan teknik itu dikenal dengan nama kiboku.

"Hanya ada dua tempat yang mempraktikkan kiboku. Salah satunya adalah Kuil Yahiko, di dekat Laut Jepang. Satu lagi adalah Kuil Shirahama di Semenanjung Izu, dekat Samudra Pasifik, tepat di utara Yahiko. Di antara kedua kuil tersebut ada tiga kuil lain: Kuil Nukisaki di Prefektur Gumma, Kuil Mitake, dan Kuil Akiru— keduanya di Tokyo. Kelima kuil ini terletak pada garis lurus utara-ke-selatan pada garis 139? Bujur Timur, dan hanya kuil-kuil tersebut yang mempraktikkan kiboku maupun rokuboku."  "Wah!"

"Dan kemudian seseorang muncul dengan fakta sangat menggugah: dalam bahasa Jepang kuno, jika kau mengeja angka 1, 3, dan 8, yang terdengar adalah hi, mi, dan kokonotsu, yang disingkat ko. Gabungkan semuanya, dan kau mendapat 'Himiko', ratu dalam legenda Jepang!”

"Sangat menarik. Tetapi itu hanya kebetulan saja, tentunya? Konsep garis bujur dan garis lintang didasarkan pada ilmu pengetahuan modern, dengan pengukuran yang berpusat di Greenwich, Inggris. Di lain pihak, Ratu Himiko yang menjadi legenda itu hidup dua ribu tahun yang lalu. Tidak mungkin ada hubungan di antara keduanya.”

"Matsumoto tidak memperdebatkan hal itu. Tetapi melihat fakta bahwa Himiko adalah cenayang hebat, aku pikir mungkin saja ada hubungannya. Menurutku dia pasti mempraktikkan rokuboku dan kiboku selama masa Kekaisaran Yamatai.”

"Maksudmu Kekaisaran Yamatai berada pada garis 139” Bujur Timur?”

"Tidak, tapi—dalam perjalanan sejarah —rezim pasca Yamata pindah, atau dipaksa untuk pindah, ke tempat itu. Menurut salah satu buku sejarah Cina yang ditulis pada pertengahan abad ketiga, penduduk Yamatai tinggal di Kyushu. Tidak ada pembahasan mengenai Yamatai dalam semua dokumen Jepang, hanya disebutkan tentang Kekaisaran Yamato, yang terbentuk pada abad kedelapan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Yamatai. Ada yang bilang mereka dihancurkan oleh lawannya, Kuna, atau oleh bangsa yang datang dari daratan Cina. Heikichi menyetujui teori yang terakhir. Pakar sejarah menduga Kekaisaran Yamatai dihancurkan atau bergabung dengan pemerintah pusat.

"Menurut novel Matsumoto, pemerintah memaksa penduduk Yamatai, termasuk keturunan Ratu Himiko, untuk pindah ke timur. Kebijakan ini sedikit banyak terulang saat periode Nara, ketika pemerintah memutuskan bahwa Kanto di timur Jepang —termasuk Kazusa, Kozuke, Musashi, dan Kai—adalah tempat untuk menampung para pengungsi Korea. Matsumoto berpendapat Yamatai mungkin merupakan kasus pertama kewajiban imigrasi dalam sejarah Jepang. Menarik, bukan?”

"Hmm.

"Mari kita kembali ke misteri garis 139” Bujur Timur, yang jelas menggugah imajinasi Matsumoto juga. Seperti kubilang tadi, ada lima kuil di sepanjang garis bujur dari Yahiko ke Shirahama, yang sangat dekat dengan garis 13848 Bujur Timur yang disebutkan Heikichi dalam catatannya. Garis itu kebetulan berada di pertengahan antara garis 124” Bujur Timur —tempat Kepulauan Sakishima di Okinawa berada — dengan garis 154” Bujur Timur, tempat Pulau Shiashkotan berada— berdampingan dengan Pulau Kharimkotan—yang dia tentukan sebagai ujung paling timur Jepang. Kita tidak tahu apakah para peramal masa lalu sengaja memilih pusat negeri Jepang sebagai tempat untuk membuat ramalan, tetapi sekarang kelihatannya ide-ide Heikichi tidak sepenuhnya absurd.”

“Tidak, jelas tidak.”

"Kemudian ada novel Kunci Emas, karangan Akimitsu Takagi."

"Yang menceritakan sesuatu mengenai garis bujur yang sama?”

"Yah, ceritanya agak rumit. Tema novel ini adalah kejatuhan Edo. Pada masa itu, kekuasaan dipegang oleh dua politisi — Katsu Kaishu dan Oguri Kozukenosuke. Katsu penuh perhitungan, tetapi Oguri, terlepas dari lemahnya tentara Edo, siap menyerang pasukan gabungan Satsuma dan Choshu. Kehati-hatian Katsu menang, tetapi  ketika Saigo Takamori, jenderal Satsuma, belakangan mengetahui strategi Oguri, dia merasa ngeri. Strategi Oguri adalah sebagai berikut: Edo akan menarik pasukannya kembali ke Hakone dan Odawara, membiarkan pasukan sekutu maju ke timur ke pantai Tokaido. Di Hakone, tempat kapal perang modern Edo menunggu dekat pantai, Edo akan mendirikan pertahanan, memaksa musuh mundur ke Okitsu, sebuah kota di jalur sempit antara punggung gunung dengan laut. Ketika kapal-kapal Edo menyerang, pasukan sekutu tidak akan punya tempat untuk bersembunyi.

"Shogun Tokugawa Yoshinobu merasa keberatan, sehingga rencana Oguri tidak jadi dilaksanakan. Seandainya jadi, pemerintah Edo mungkin bisa mempertahankan rezimnya. Tapi ini bukan pelajaran sejarah. Dari perspektif geografis, kota Hakone dan Okitsu terletak sama jauhnya, ke arah timur dan barat, pada garis 138” 48' Bujur Timur. Selain itu, desa Gonda, tempat Oguri dilahirkan, terletak pada garis 13848 Bujur Timur. Belakangan, Oguri ditangkap di sana oleh musuh, dipenggal kepalanya, dan dikubur—semua di garis 138948 Bujur Timur. Oguri dilaporkan telah mengubur sejumlah besar kekayaan pemerintah di Gunung Akagi, pada garis 139” 12 Bujur Timur. Akimitsu menyebutkan bahwa tempat yang dipilih Oguri pasti berada di antara Matsuida dan Gonda. Jika dia benar, itu akan sangat dekat dengan garis 138” 48 Bujur Timur.”

"Kebetulan-kebetulan ini belum juga berhenti, ya?”

"Belum, belum berhenti. Akimitsu juga menulis tentang bagaimana, pada fase terakhir Perang Dunia II, Jepang —yang memperkirakan bahwa pasukan AS akan segera mendarat— membuat rencana untuk memindahkan markas besar militernya dari Tokyo ke Matsushiro, di selatan Nagano. Matsushiro terkenal karena pertempuran  di Kawanakajima, di mana dua pasukan samurai yang dipimpin Takeda Shingen dan Uesugi Kenshin bertarung dalam pertempuran berdarah. Takeda, dengan dukungan kekuatannya dan sedikit nasib baik, meraih kemenangan. Pemerintah Jepang, sadar bahwa mereka akan bertempur dengan punggung menghadap ke dinding, berharap memperoleh keberuntungan yang sama seperti Takeda. Pasukan AS diperkirakan akan mendarat di Pantai Kujukurihama dan Teluk Sagami dalam upaya menduduki wilayah Kanto terlebih dahulu. Kemudian mereka akan mengerahkan pasukannya ke dalam untuk menyerang markas besar Jepang di Matsushiro. Militer Jepang berharap dapat membendung serangan ini dengan menempatkan sejumlah unit di sepanjang Jalan Nakasendo, yang terletak antara Annaka dan Celah Usui, di mana pertempuran paling dahsyat diramalkan akan terjadi. Tetapi, inti cerita yang ingin kusampaikan adalah ini: Matsuida terletak di tengah-tengah antara Annaka dan Celah Usui pada garis 13848 Bujur Timur.”

Ceritaku menyimpang dengan mendadak, dan raut wajah Kiyoshi yang kosong menggambarkannya dengan jelas. "Yah, mungkin akan menyenangkan menjelajahi wilayah itu,” dia berkata dengan linglung.

"Sebenarnya, beberapa orang memang menjelajahinya. Mereka menganggapnya sebagai salah satu garis ley Jepang.”

"Ah, garis ley? Seperti garis ley di Inggris?”

"Jadi, kau pernah mendengar tentang garis ley?”

"Ya, tentu saja. Itu fenomena situs-situs kuno yang terletak pada satu garis lurus."

"Nah, kita juga punya yang seperti itu di Jepang. Di sepanjang garis 34”32' Lintang Utara misalnya, terdapat banyak kuil dan situs kuno yang berjajar sejauh tujuh ratus kilometer.”

"Hmm."

“Selain ita, di timur laut Istana Kekaisaran di Tokyo, terdapat deretan kuil, termasuk Yasaki Inari, Hie, Ishihama, dan Tenso. Selain itu—dan ini yang seru— beberapa kuil yang memuja dewa-dewa logam terletak pada garis utara-selatan yang menghubungkan Tsurugaoka Hachimangu di Kamakura dengan Toshogu di Nikko.”

"Aha!"

"Jadi, Jepang kuno, seperti halnya Inggris kuno, pasti memiliki semacam teori geografis untuk penempatan situs-situs keramat mereka.”

"Dan si tua Heikichi yang gila pasti mengetahui semua itu.”

"Menurutku begitu. Baiklah, aku sudah menjelaskan semua yang kuketahui tentang kasus ini kepadamu. Dengan sepotong bukti baru dari Mrs. Iida, yang harus kaulakukan sekarang adalah memecahkan ketiga kasus tersebut...”

Kau mungkin bertanya-tanya, apa yang membuat kami begitu serius membahas Pembunuhan Zodiak. Yah, sebenarnya, ini dipicu oleh kunjungan seorang wanita bernama Misako Iida. Pada suatu hari dia datang menemui Kiyoshi di kantornya, tanpa membuat perjanjian.

Aku tak pernah mengira Kiyoshi punya banyak pelanggan. Kantornya selalu sepi, kecuali ketika murid-murid astrologinya datang. Tetapi nyatanya ada beberapa klien, kebanyakan wanita, yang pernah mendengar namanya dari teman dan mengunjunginya untuk minta diramal. Mrs. Iida adalah salah satu dari mereka. Tetapi permintaannya sangat, sangat tidak lazim.

"Ini mungkin kedengaran aneh...” dia mulai dengan lambat. "Sebenarnya saya datang bukan untuk minta diramal — walaupun itu mungkin bisa membantu saya, meskipun ini bukan tentang saya... Tetapi tentang ayah saya.”

Sikapnya kelihatan sungguh-sungguh serius. Kiyoshi duduk tak bergerak, seperti sedang memancing ikan di kolam. Dia terlalu depresi untuk mendorong tamunya berbicara, tetapi wanita itu menunggunya mengatakan sesuatu. Ini adalah jenis jeda saat kau menyalakan rokok, menunggu lawan bicara melanjutkan perkataannya. Tetapi Kiyoshi anti-rokok-kelas-berat, jadi dia hanya duduk diam dan terlihat sedikit konyol.

"Terus terang saja,” Mrs. Iida melanjutkan, “seharusnya saya melaporkan hal ini kepada polisi, tetapi situasi kami tidak mengizinkan kami untuk... Mr. Mitarai, apakah Anda ingat Miss Mizutani? Saya rasa dia mendatangi Anda sekitar setahun yang lalu.”

"Miss Mizutani...?” Mata Kiyoshi berkedip cepat. "Oh ya. Dia mendatangi kami karena urusan gangguan telepon yang dia terima.”

"Nah, dia itu teman saya. Dia memberitahu saya bahwa Anda sangat berbakat, bukan hanya sebagai peramal nasib, tapi juga sebagai detektif. Dia sangat mengagumi Anda.”

” Ah...” Kiyoshi membiarkan dirinya tersanjung.

Setelah jeda sesaat, Mrs. Iida sekonyong-konyong berkata, “Bolehkah saya tahu nama depan Anda, Mr. Mitarai?”

Kiyoshi sangat terguncang mendengar pertanyaan itu, dia benci jika ditanya tentang namanya. "Apakah nama saya akan ada hubungannya dengan kisah Anda?” dia menukas, mengangkat sebelah alisnya.

"Tidak, masalahnya Miss Mizutani bertanya-tanya mengapa Anda tidak pernah menyebutkan nama depan Anda.”

"Mrs. Iida, apakah Anda datang ke sini untuk menanyakan nama depan saya?”

"Namanya Kiyoshi,” aku cepat-cepat menyela. "Kiyoshi Mitarai. Asal Anda tahu, dalam huruf Cina namanya berarti 'toilet bersih. Saya tidak bercanda!”

Kiyoshi menunjukkan muka masam.

Mrs. Iida menunduk selama beberapa saat, berusaha keras menahan tawanya. "Oh, unik sekali!” dia berseru seraya mengangkat kepala. Pipinya terlihat sedikit merona.

"Orang yang menamai saya punya selera humor yang unik, Kiyoshi buru-buru menanggapi.

"Apakah ayah Anda yang memberi nama?”

Raut wajah Kiyoshi bertambah kaku. “Benar sekali. Dia membayarnya dengan mati muda.”

Suasana kembali hening, tetapi es tampaknya sudah pecah.

Ketika Mrs. Iida mulai berbicara, kata-katanya mengalir lancar. "Kisah ini mengandung sejumlah fakta yang mungkin sedikit memalukan bagi ayah saya. Dia meninggal bulan lalu, dan saya khawatir situasinya bisa berkembang menjadi urusan kriminal jika pihak berwenang mulai menanyakan keterlibatannya. Suami dan kakak saya bisa mendapat masalah besar karena—seperti ayah saya—mereka perwira polisi. Saya tidak bermaksud mengatakan ayah saya seorang penjahat. Dia laki-laki yang sangat jujur. Dia menerima beberapa penghargaan, dan ketika pensiun sebuah acara makan malam penghormatan diselenggarakan untuknya. Dia selalu tepat waktu dan tidak pernah bolos kerja satu hari pun. Namun saya kebetulan mengetahui tentang sebuah insiden mengejutkan yang melibatkan dirinya beberapa waktu lalu.

"Saya datang ke sini atas keinginan sendiri. Suami  saya bisa dibilang laki-kaki yang konservatif, sama seperti ayah saya, tetapi kakak saya tidak. Dia punya kecenderungan agresif, dan dia bisa bersikap keras serta berhati batu. Membayangkan kesulitan yang pasti dialami Ayah, saya tak bisa membiarkan kakak saya menyelesaikan masalah ini. Reputasi kasus ini sudah cukup buruk. Jika ada yang bisa memecahkan kasus ini tanpa menodai kehormatan ayah saya, itu yang terbaik untuk semua orang.”

Dia terdiam beberapa saat dan menarik napas panjang.

"Ayah saya dimanfaatkan penjahat,” dia melanjutkan. "Saya yakin Anda pernah mendengar tentang Pembunuhan Zodiak Tokyo, kasus pembunuhan berantai yang terjadi sebelum Perang Dunia II.”

Kiyoshi mengatakan dia tidak tahu apa-apa tentang kasus tersebut, membuat Mrs. Iida membelalak kepadanya dengan pandangan terkejut. Dia tidak dapat memercayainya, demikian pula aku. Kasus itu bukan hanya sangat terkenal, tetapi juga berhubungan dengan astrologi.

"Begitu ya,” dia berkata ragu. “Berarti saya harus menceritakannya pada Anda, bukan?”

Dia mulai menceritakan kisah kematian Heikichi, tetapi aku memotongnya dan mengatakan aku cukup banyak tahu tentang kisah tersebut dan akan menceritakannya pada Kiyoshi nanti. Dia mengangguk, tetapi kemudian dia tetap melanjutkan dengan menceritakan ringkasan kisah itu.

Lalu dia menambahkan, “Nama gadis saya Takegoshi. Saya putri dari Bunjiro Takegoshi, yang lahir pada tanggal 23 Februari 1905. Ketika Mr. Umezawa dibunuh, ayah saya berusia tiga puluh satu tahun dan bekerja di kantor polisi Takanawa. Saya belum lahir: baru ada kakak saya.

Mereka tinggal di Kaminoge ketika ayah saya tersangkut dalam kasus ini.

“Setelah ayah saya meninggal, saya membereskan rak bukunya dan menemukan catatan ini. Ditulis tangan oleh Ayah dengan alat tulis resmi, seperti yang digunakan para detektif di departemen kepolisian. Sewaktu membacanya, saya terperangah. Ayah saya orang yang sangat lurus dan konservatif. Dia pasti telah mengalami penderitaan dan kesukaran yang sangat berat, dan saya merasa iba padanya... Saya membuat keputusan untuk melakukan sesuatu. Dalam catatan ini, dia mengakui kesalahannya, yang, tentu saja, tidak berhak dilakukan seorang polisi. Itu sebabnya saya ada di sini. Bisakah Anda memecahkan kasus ini supaya ayah saya bisa beristirahat dengan tenang? Ini catatannya. Silakan dibaca. Anda akan melihat betapa ayah saya meninggal dalam penyesalan, kemarahan, dan rasa malu... Jika tidak mungkin untuk menyelesaikan seluruh kasus ini, bisakah Anda setidaknya mencari penjelasan yang masuk akal untuk keterlibatan ayah saya?”

"Saya mengerti,” Kiyoshi menyahut, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Dariku sendiri, tidak ada kata-kata untuk mengungkapkan betapa gembiranya aku. Aku bersyukur kepada Tuhan karena bisa mengenal seorang Kiyoshi Mitarai.

Setelah Mrs. Iida pergi, kami dengan hati-hati membaca catatan ayahnya bersama-sama.

Intermeso : Pengakuan Seorang Polis  Pengakuan Terakhir

Setelah tiga puluh empat tahun mengabdi sebagai polisi, hanya penderitaan yang tertinggal. Saya memperoleh tanda pengakuan dan jabatan inspektur, tetapi semua itu hanya lembaran kertas yang tak berarti bagi saya. Namun saya tidak boleh menganggap diri saya sebagai korban. Semakin dalam pendeyitaan yang kaualami, semakin ingin kau menyembunyikannya. Saya yakin saya bukan satu-satunya yang menderita. Kebenaran yang pahit sering kali ditutupi dengan senyum palsu.

Ketika saya menerima manfaat dana pensiun pada usia 57 tahun, para bawahan saya menunjukkan ketidakpercayaan mereka. Beberapa orang mungkin mengira saya tergiur dengan uang pensiun yang naik 5046, tetapi itu tidak benar: tidak benar juga kalau saya sudah kehilangan minat pada pekerjaan ini. Saya menerima tawaran tersebut karena saya ingin berhenti. Saya sudah menanti hari pensiun saya bagaikan seorang gadis yang memimpikan hari pernikahannya.

Saya sadar bahwa membuat pengakuan tertulis sangat berisiko, tetapi "peristiwa itu" tidak pernah meninggalkan benak saya selama bertahun-tahun ini. Saya tidak akan bisa meninggal dengan tenang tanpa berusaha mengakhirinya. Jadi, saya akan menuliskannya, dengan kesadaran bahwa saya bisa membakar catatan ini kapan saja.

Saya selalu merasa takut. Semakin tinggi jabatan saya, semakin paranoid pula saya. Ketika putra saya mulai menapaki tangga kesuksesan sebagai polisi seperti saya, ketakutan saya hampir tak tertahankan lagi. Tidak ada jalan keluar untuk saya.

Jika saya berhenti, rekan-rekan saya pasti curiga. Jika fakta-fakta itu terungkap, saya pasti akan langsung ditahan. Pengunduran diri saya pun tidak akan mengubah reputasi putra saya.

Apa yang saya sebut sebagai "peristiwa itu" adalah pembunuhan berantai Umezawa. Jepang dirunGung kasus kejahatan selama periode carut-marut pasca perang. Banyak kasus pembunuhan berantai Gan pembantaian kejam. Kasus-kasus tersebut lebih banyak terjadi di wilayah pedesaan, dan beberapa dl antaranya tak pernah terpecahkan. Kasus Umezawa ditangani kantor polisi Sakuradamon. Pada waktu itu, saya menjabat sebagai detektif kepala G1 Takanawa. Pada masa itu, para detektif mendapat bonus sesuai dengan banyaknya tersangka yang mereka bawa untuk dituntut. Saya cukup kompeten untuk dipromosikan sebagai kepala polisi pada usia 30 tahun. Saya membeli rumah di Kaminoge, dan saya dengan istri saya memperoleh anak pertama kami. Saya dipenuhi harapan. Tetapi kemudian, tiba-tiba saja, saya terlibat dalam peristiwa mengerikan itu. Saya masih enggan menceritakannya, tetapi saya harus menguatkan hati.

Ketika saya masih seorang detektif muda, kaGang-kadang saya bangun lebih awal daripada istri saya, pergi bekerja, dan pulang ke rumah setelah Gia tidur. Pada saat peristiwa itu terjadi, saya baru saja dipromosikan sebagai kepala seksi, jadi saya berangkat ke kantor pukul enam setiap pagi Gan kembali ke rumah pukul tujuh lebih sedikit setiap malam, melalui rute yang sama. Suatu hari, saya selesai bertugas seperti biasa dan, sesampai di Kaminoge, mulai berjalan kaki ke rumah. Setelah sekitar lima menit, saya melihat seorang wanita dengan kimono gelap berjalan di depan saya. Tidak ada orang lain di jalan itu. Tiba-tiba dia berjongkok. Dia memegangi perutnya, jadi saya bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia mengatakan sakitnya luar biasa, jadi saya membantunya pulang ke rumah, yang tidak terlalu jauh dari situ. Ketika saya hendak berpamitan, dia meminta saya menemaninya sebentar karena dia sendirian. Dia berbaring di lantai, meliukkan tubuh karena kesakitan. Kimononya terlipat sampai ke lutut, memperlihatkan pahanya. Saya bisa melihat sela-sela kakinya: dia tidak mengenakan pakaian dalam. Jujur saja, saya tidak pernah punya hubungan di luar nikah dan tidak berniat melakukannya dengan wanita ini, tetapi, dengan malu, saya bisa merasakan bahwa saya mulai hilang kendali.

Dia bersandar pada saya dan memeluk saya, berulang-ulang membisikkan betapa kesepiannya dia. Dengan suara sedih, dia meminta saya untuk tidak menyalakan lampu. Setelah kami selesai, dia meminta maaf berulang kali. Lalu dia berkata, "Tolong biarkan lampunya mati dan pulanglah. Istrimu akan khawatir kalau kau terlambat pulang. Aku hanya merasa kesepian. Tolong lupakan aku. Aku tak akan memberitahu siapa pun tentang kau." Saya memakai pakaian dalam kegelapan, dan pergi.

Saat berjalan pulang, saya berpikir tentang apa yang barusan saya lakukan, tetapi semuanya bagaikan mimpi. Berpura-pura sakit adalah tipuan populer wanita-wanita pencuri, tetapi tidak ada yang dicuri dari saya. Jadi wanita itu mungkin berpura-pura sakit untuk memancing saya berhubungan seks dengannya. Saya tidak merasa bersalah. Saya malah merasa sedikit puas karena telah memberinya  kesenangan. Istri saya tidak akan pernah tahu tentang perjumpaan ini. Dan bahkan jika dia tahu pun, kedudukan sosial saya tidak akan terganggu. Saya sampai di rumah sekitar pukul 21.30. Petualangan saya yang seperti mimpi hanya berlangsung kurang dari dua jam.

Dua hari kemudian, saya membaca di surat kabar pagi tentang pembunuhan wanita yang berhubungan seks dengan saya. Artikel tersebut mengisi hampir seperempat halaman dan dilengkapi foto korban. Namanya Kazue Kanemoto. Itu foto lama yang mungkin sudah diperbarui. Dia kelihatan agak berbeda, tetapi ada cukup kemiripan. Surat kabar itu memberitakan bahwa waktu kematian diperkirakan antara pukul tujuh dan sembilan malam tanggal 23, tepat saat saya bersamanya. Saya bertemu dia di jalan sekitar pukul 19.15 dan meninggalkan rumahnya beberapa saat sebelum pukul sembilan. Si pelaku, diduga perampok, pasti masuk ke rumahnya begitu saya pergi, atau dia mungkin sudah berada di dalam rumah, bersembunyi sampai saya pergi. Disebutkan bahwa wanita itu dibunuh ketika sedang menyisir rambut. Saya bisa membayangkan seluruh adegannya dengan jelas.

Saya cepat-cepat meninggalkan rumah, pergi ke kantor, dan berpura-pura belum mendengar tentang pembunuhan tersebut. Meskipun rumah wanita itu tidak terlalu jauh, tetapi tidak bisa dibilang sangat dekat. Saya bisa saja mampir ke sana sebelum pergi ke kantor, tapi saya tidak ingin melakukannya.

Penyelidikan awal menyimpulkan bahwa korban telah diperkosa, yang membuat saya waspada. Pemerkosa memiliki golongan darah 0, sama seperti saya.

Saya menjadi terlalu takut untuk membaca surat kabar. Kimono korban dan sebuah vas, yang memang saya lihat di rumahnya, disimpan sebagai barang bukti. Saya tidak percaya dia berusia tiga puluh satu tahun. Dia kelihatan lebih muda: mungkin dia sengaja membuat dirinya terlihat muda karena sedang menanti pertemuan romantis. Saya merasa sangat kasihan kepadanya. Apa kira-kira yang terlintas di benaknya ketika dia menatap diri di cermin setelah berhubungan seks dengan saya? Saya merasa sangat marah pada si pembunuh.

Kasus tersebut tidak berada di bawah yurisdiksi kantor kami. Karena tidak ada jalan untuk ikut dalam penyelidikan, saya menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi. Beberapa hari kemudian, saya menerima sepucuk surat kilat, bertanda "1 April, Ushigome, Tokyo". Surat itu dicap rahasia, dan si pengirim menyuruh saya membakarnya setelah dibaca, dan itulah yang saya lakukan. Sejauh yang bisa saya ingat, surat itu berbunyi seperti ini:

Kami adalah agen rahasia Kaisar. Kami telah mengetahui bahwa Anda adalah pembunuh Kazue Kanemoto. Sangat disayangkan dan tak bisa dimaafkan bahwa Anda, seorang polisi, sampai melakukan tindak kejahatan seperti itu. Namun, dengan mempertimbangkan fakta bahwa negara kita sedang berada dalam fase kritis, kami tidak berniat mempermalukan seorang warga negara yang hingga saat ini selalu menjalani kehidupan yang bersih. Oleh karena itu, kami akan membuat pengecualian terhadap situasi yang melibatkan Anda dan akan memaafkan kejahatan Anda jika Anda membantu kami mewujudkan tujuan kami. Kerja sama Anda hanya akan diminta satu kali ini dan tidak akan pernah diminta lagi di masa mendatang. Anda diminta membuang mayat enam wanita yang merupakan mata-mata Cina. Mereka dibunuh supaya perang antara Cina dengan Jepang dapat dihindarkan. Agar kerahasiaan tetap terjaga, tak seorang pun dari kantor ini akan berhubungan langsung dengan Anda selama Anda melaksanakan misi ini. Anda harus mencari kendaraan untuk membuang mayat-mayat tersebut di tempat yang telah ditentukan, dengan cara yang telah ditentukan, dalam rentang waktu tertentu. Jika sampai tertangkap, tanggung jawab sepenuhnya berada di pihak Anda. Mayat-mayat tersebut bisa ditemukan di gudang rumah Kazue Kanemoto. Anda harus memulai tugas Anda pada tanggal 3 April dan menyelesaikannya dalam waktu satu minggu. Sebaiknya Anda berkendara pada malam hari. Jangan menanyakan arah pada siapa pun: jangan berhenti di restoran mana pun, kontak dengan orang lain harus dijaga seminimal mungkin. Anda harus merahasiakan keseluruhan misi: ini untuk kepentingan Anda sendiri. Peta-peta terlampir. Dan ingat: satu tangan mencuci tangan lainnya. Sayonara.

Saya terguncang mengetahui tugas yang harus saya kerjakan, tetapi pada saat bersamaan, saya sadar bahwa nyaris tidak mungkin untuk membuktikan saya tidak bersalah dalam pembunuhan Kazue Kanemoto. Tanpa saksi mata pembunuhan tersebut, saya tidak akan bisa membersihkan diri dari kecurigaan. Bagaimanapun, air mani sayalah yang mereka temukan di dalam tubuh korban, Penyelidik tidak akan ragu bahwa saya telah membunuhnya.

Saya hancur lebur, tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan kepada saya. Saya pernah mendengar tentang keberadaan agen-agen rahasia seperti Nakano School. Jika si pengirim surat tergabung dengan salah satu agen itu, saya merasa dia akan, setidaknya, menghormati janji kerahasiaan.

Tugas itu tidak akan mudah. Saya butuh waktu satu minggu penuh untuk melaksanakannya, sebagian besar pada malam hari. Surat itu dilampiri petunjuk lengkap, termasuk rute perjalanan yang harus saya tempuh dan instruksl terperinci mengenai cara menguburkan wanita-wanita itu. Setiap tempat tujuan ditunjukkan pada peta, tetapi peta itu jauh dari mendetail maupun akurat. Saya merasa si agen rahasia mungkin belum pernah mendatangi tempat-tempat tersebut.

Keesokan harinya, saya begitu terbebani ketakutan akan ketahuan, sehingga saya tidak mampu mengerjakan apa pun. Saya bisa saja mengabaikan surat itu, tetapi situasi yang sedang saya hadapi tidak terlalu menguntungkan. Saya telah berhubungan seks dengan wanita korban pembunuhan. Jika saya mengatakan yang sebenarnya dalam proses penyelidikan, penghinaan yang saya terima akan luar biasa besar. Moral saya akan dibongkar secara sensasional di setiap surat kabar. Saya bisa kehilangan pekerjaan Jan keluarga saya akan berantakan. Dan saya mungkin juga akan dituduh membunuh wanita itu. Apa yang akan terjadi pada istri dan bayi saya kalau saya ditangkap dan dimasukkan ke penjara? Saya memutuskan untuk memperjuangkan hidup saya dan hidup mereka. Dalam situasi hidup-atau-mati seperti itu, saya bersedia melakukan apa pun.

Pada tahun 1936, hanya sedikit orang yang mampu membeli mobil. Bahkan teman-teman saya yang kaya pun tidak punya mobil, dan saya tidak terkecuali. Saya juga tidak bisa mengarang alasan untuk meminjam mobil polisi selama beberapa hari yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas. Saya hanya kenal satu pemilik mobil yang mungkin akan berseGia meminjamkannya kepada saya. Dia seorang kontraktor. Saya pertama kali bertemu dia saat penyelidikan sebuah kasus penipuan. Dia tersangkut uang haram. Dalam keadaan normal, dia adalah orang terakhir yang akan saya mintai tolong, karena hal itu akan membuat saya berutang kepadanya. Tetapi saya tidak punya pilihan.

Supaya saya bisa cuti kerja selama seminggu, saya mengarang cerita: istri saya sakit, dan saya akan membawanya ke sumber air panas Hanamaki, dekat rumah orangtuanya. Seperti digariskan oleh takdir, ternyata saya memang harus pergi ke daerah tersebut, agar bisa mampir membeli cinderamata untuk rekan-rekan saya, yang akan membuat mereka yakin bahwa saya memang pergi ke tempat itu. Cerita saya berhasil, dan pimpinan saya mengizinkan saya cuti selama seminggu. Pada pagi hari tanggal 3 April, saya memberitahu istri bahwa saya akan melakukan perjalanan kerja malam itu, dan memintanya menyiapkan bola-bola nasi yang cukup banyak untuk bekal saya selama tiga hari. Saya mengemas makanan tersebut, menaruh sekop di bagasi, Gan berkendara ke rumah di Kaminoge, tempat saya menemukan mayat-mayat itu seperti diperintahkan. Mayat mereka dimutilasi dan menyerupai anak-anak cacat. Saya mengambil dua mayat yang diminta untuk dikubur lebih dulu, dan kemudian pergi ke barat, menuju Wilayah Kansai, pada malam hari.

Saya harus bergerak cepat, karena saya tahu begitu proses pembusukan dimulai, bau busuknya akan tidak tertahankan: itu juga akan menarik perhatian. Terlebih lagi, sayup-sayup terdengar kabar mengenai kemungkinan penyelidikan ulang rumah Kazue. Saya harus mengeluarkan mayat-mayat itu dari sana secepat mungkin.

Pemeriksaan lalu lintas jarang terjadi, tetapi saya harus siap menghadapi segala kemungkinan. Saya menyiapkan lencana polisi saya, jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Saya mengisi penuh tiga wadah bensin tambahan. Jika beruntung, bahan bakar sebanyak itu akan cukup untuk sampai ke tempat tujuan tanpa harus berhenti lagi. Saya tidak ingin pengunjung pompa bensin mengingat wajah saya. Sembari menyetir, benak saya berpacu. Urutan dan lokasi penguburan setiap mayat telah dipaparkan secara mendetail. Tetapi apa alasan di balik itu? Apakah untuk menampilkan kesan pembunuhan berantai yang dilakukan oleh satu orang? Dan apakah ada alasan mengapa semua mayat dipotong dengan cara begitu berbeda?

Saya tidak mencapai Nara pada malam pertama Itu, jadi saya membawa mobil ke daerah Pegunungan Hamamatsu dan beristirahat di pinggir jalan. Saat 1ltu musim semi, dan matahari terbit lebih awal dari perkiraan saya, yang membuat saya semakin gelisah. Perintahnya adalah mengubur keenam mayat di tambang-tambang tertentu yang tersebar di Pulau Honshu. Setelah tambang Yamato di Nara, saya harus pergi ke tambang Ikuno di Prefektur Hyogo. Kemudian ke tambang Gumma di Prefektur  Gumma, tambang Kosaka di Akita, tambang Kamaishi di Iwata, dan tambang Hosokura di Miyagi.

Mobil yang saya pinjam adalah sebuah Cadillac. Lebih besar daripada semua mobil Jepang, tapi tetap terlalu kecil untuk mengangkut enam mayat sekaligus. Saya harus melakukan dua kali perjalanan. Meskipun demikian, jika saya sampai dihentikan untuk alasan apa pun, akan lebih mudah untuk menutupi kebohongan saya di dalam mobil daripada dil dalam truk. Saya bertekad memenuhi bagian saya dalam kesepakatan ini, walaupun saya tahu agen rahasia itu bisa meringkus saya kapan saja.

Saya melanjutkan perjalanan pada malam berikutnya dan tiba di tambang Yamato pukul dua pagi tanggal 5 April, Saya mulai menggali. Saya tak pernah membayangkan bahwa menggali lubang sedalam satu setengah meter ternyata sangat sulit. Tapi saya berhasil selesai sebelum fajar menyingsing. Saya tidur di pegunungan. Pada tengah hari, saya dengan geragapan terbangun karena kehadiran seorang pria dengan kepala terbungkus handuk. Dia sedang mengintip ke dalam mobil. Saat itu saya mengira semua sudah berakhir. Tetapi setelah menenangkan diri, saya bisa melihat bahwa dia menderita keterbelakangan mental dan sedang berkeliaran dl hutan seperti anak tersesat. Saya mengembuskan napas lega saat mengawasinya perlahan-lahan pergi menjauh. Dia satu-satunya orang yang pernah berada begitu dekat dengan mobil. Saya menyuruh diri saya sendiri bersabar sembari menunggu hari berakhir, supaya saya bisa pergi.

Penggalian di tambang Ikuno di Hyogo membuat saya lelah, tapi saya merasa sangat lega ketika  pekerjaan itu selesai. Setelah membuang kedua mayat, saya berkendara sepanjang sisa malam itu dan keesokan harinya, berusaha sekuat tenaga untuk tetap waspada. Saya tiba di rumah pada sore hari tanggal 6 April. Saya makan dengan cepat dan ambruk, tetapi saya tidak mengizinkan diri saya tidur terlalu lama.

Malam itu, saat menyiapkan bagian selanjutnya dari misi ini, saya meminta istri saya untuk tidak mengangkat telepon sampai saya pulang. Saya kembali lagi ke Kaminoge, memuat keempat mayat ke dalam bagasi, dan pergi. Saya mendekati Takasaki pagi-pagi sekali tanggal 7. Saya belum tidur, karena tidak bisa menemukan tempat parkir yang aman. Di sini saya menemukan tempat terpencil, jadi saya memarkir mobil dan memejamkan mata. Saya kembali mengemudi pada sore hari, dan tiba di tambang Gumma setelah tengah malam. Dibandingkan dua pekerjaan sebelumnya, yang satu ini mudah. Saya hanya menutupi mayat dengan sedikit tanah, dan kemudian saya kembali menyusuri jalan gunung.

Saya tiba di Hanamaki pukul tiga pagi tanggal 8. Pada jam begitu, tidak ada tempat yang buka, jadi saya melaju terus ke Akita. Saya berhenti di pertengahan jalan untuk beristirahat dan saya kehilangan arah satu kali, tapi untunglah saya tampaknya tidak meleset dari jadwal. Penggalian dan penguburan di tambang Kosaka selesai pada dini hari tanggal 9. Pekerjaan di Iwate selesai pagipagi sekali keesokan harinya, dan saya menyelesaikan pekerjaan berikutnya di Miyagi pada malam hari tanggal 10, hanya meninggalkan mayat di dekat jalan gunung. Saya telah menyelesaikan semuanya dalam satu minggu, seperti diperintahkan.

Saya sampai di YFukushima sebelum matahari terbit tanggal 11. Saya hampir tidak makan atau tidur selama seminggu penuh. Saya nyaris kehilangan kesadaran, saya hampir tak bisa memahami tindakan saya. Saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa menyelesaikan tugas yang begitu luar biasa. Setelah kembali ke Tokyo malam itu, saya tidur seperti sebatang pohon.

Cerita karangan saya berjalan mulus. Berat badan saya turun dan mata saya bengkak. Saya terlihat seperti orang yang menjalani cobaan berat karena harus merawat istri yang sakit, sehingga saya mendapat hujan simpati dari rekan-rekan kerja. Tetapi tekanan berat minggu itu berakibat buruk pada saya. Saya didera serangan pusing, saya merasa mual, dan saya merasa luar biasa lelah. Saya bisa melaksanakan tugas saya semata-mata karena usia saya yang relatif muda dan kedudukan saya yang tinggi. Seandainya sudah lebih tua, saya yakin saya tak akan punya kekuatan, dan seandainya kedudukan saya lebih rendah, pimpinan tidak akan mengizinkan saya cuti selama seminggu. Setelah minggu itu, saya tidak pernah mengambil cuti sakit satu hari pun.

Saya telah melakukan apa yang dipaksakan kepada saya untuk dikerjakan, tapi satu pertanyaan mulai menyerbu saya. Apakah saya telah ditipu untuk melakukan tugas kotor ini? Agen rahasia itu bisa saja menjebak saya, merekayasa situasi, dan kemuGian memeras saya untuk mengerjakan apa pun yang perlu dikerjakan. Hingga hari ini, saya masih tidak mengerti apa yang terjadi. Saya hanya tahu betapa rasa takut bisa menjadi senjata ampuh.

Mayat terakhir yang saya buang, di tambang  Hosokura, ditemukan pada tanggal 15 April. Ketika laporan polisi tiba di kantor saya, rasa bersalah dalam diri saya mulai berkembang. Pada saat mayat kedua ditemukan tanggal 4 Mei, jelas sudah bahwa mayat-mayat yang saya kuburkan berasal dari pembunuhan berantai keluarga Umezawa. Walaupun saya tahu tentang kasus itu, saya tidak terpikir untuk menghubungkan gadis-gadis Umezawa dengan wanita Kanemoto itu. Saya begitu ketakutan ketika menyadari mereka bersaudara. Dan meskipun Kazue memang menikah dengan seorang pria Cina, apa benar hal itu menjadikan adik-adiknya sebagai matamata? Saya merasa bodoh sekali. Saya telah menjadi korban. Harga diri saya sangat terluka, karena saya membiarkan diri saya percaya bahwa misi saya bertujuan untuk menjaga keamanan nasional, padahal sesungguhnya saya hanya bersedia melakukan apa pun guna menyelamatkan reputasi saya.

Rekan-rekan saya sibuk membicarakan pembunuhan berantai itu, tetapi saya nyaris tak mampu berdiam di kantor. Tidak lama sesudah itu, seorang wanita bernama Sada Abe ditangkap karena membunuh kekasihnya dan memotong penisnya. Untung bagi saya, kasus itu mengalihkan perhatian orang dari pembunuhan gadis-gadis Umezawa. Kasus Abe masih segar dalam ingatan saya. Dia ditangkap di Losmen Shinagawa, saat menginap di sana dengan menggunakan nama Nao Owada. Kasus tersebut berada dalam yurisdiksi kantor polisi Takanawa, dan rekan saya Ando menyanjung dirinya sendiri karena berhasil menjadi orang yang menangkapnya. Para detektif merayakan akhir kasus tersebut, dan suasana perayaan melingkupi kantor kami selama beberapa waktu, membawa sedikit kelegaan pada nurani saya.

Pada bulan Juni, saya membaca salinan catatan Heikichi Umezawa, yang selama penyelidikan dibagikan ke setiap kantor polisi. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana dia bisa melakukan pembunuhan Azoth. Si pembunuh melakukan segalanya tepat seperti yang dia tuliskan, tetapi dia sendiri sudah meninggal pada saat pembunuhan itu terjadi. Tapi kalau pelakunya bukan dia, lalu siapa? Pasti salah satu pengikutnya, seseorang yang ingin membuat Azoth-nya sendiri. Ya Tuhan, saya telah meminjamkan tangan saya kepada orang gila!

Ada begitu banyak pertanyaan. Apakah astrologi berada di balik rencana yang rapi ini? Apakah si pembunuh yang mempunyai ide untuk mengatur kapan mayat-mayat itu ditemukan? Jika demikian, mengapa mayat di Kosaka, Yamata, dan Ikuno ditemukan belakangan? Jika tujuannya adalah penundaan penemuan, mengapa tidak sekalian di tambang lain atau di tempat yang lebih jauh saja? Apakah ada sebuah pola?

Lalu ada pula urusan mengenai mata-mata Cina. Jika ada sedikit saja kebenaran dalam masalah itu, berarti saya telah dilibatkan karena perjumpaan saya dengan Kazue. Apakah semua itu telah direncanakan sebelumnya, seperti halnya pembunuhan keenam gadis tersebut telah dipikirkan masak-masak? Jika lya, siapa orang yang paling tepat untuk mengubur mayat mereka? Tentu saja, seorang perwira polisi! Dia pasti punya surat izin mengemudi, dan pengangkutan korban dalam kasus pembunuhan bisa jadi merupakan bagian dari pekerjaannya. Tak ada warga sipil—bahkan dokter maupun ilmuwan—yang bisa melakukannya. Dan tidak  seorang pun akan mengira seorang polisi bisa terlibat dalam perbuatan mengerikan seperti itu. Dan itu sebabnya saya dipilih! Dan Kazue pasti juga ikut bersekongkol, memancing saya untuk berhubungan seks dengannya. Tetapi kemudian dia bunuh diri—mengapa? Supaya saya bisa diancam dengan surat kaleng? Apakah Kazue tahu bahwa dia akan dibunuh? Atau dia juga telah dikhianati? Memang benar, saya tidur dengan Kazue karena dia memancing saya. Tetapi saya tidak mungkin mau mengubur mayat jika dia tidak dibunuh.

Bagaimana seandainya Kazue yang membunuh adikadiknya? Setelah membunuh mereka, dia memutuskan untuk menggoda saya supaya saya bisa diperas, dan kemudian dia bunuh diri. Tetapi apa tujuannya melakukan bunuh diri? Lagi pula, pukulan mematikan itu mengenai bagian belakang kepalanya. Nyaris tidak mungkin untuk melakukan bunuh diri dengan memukuli kepalamu sendiri dari belakang. Dan Kazue meninggal tanggal 23 Maret, keenam gadis itu masih hidup sampai seminggu kemudian. Seorang wanita yang sudah mati tidak mungkin melakukan pembunuhan.

Ketika Masako Umezawa ditahan, masalah ini menjadi semakin membingungkan. Dia mengaku, tetapi saya tidak percaya dia mengatakan yang sebenarnya. Saya berharap bisa mengunjunginya di penjara untuk berbicara dengannya, tetapi saya tidak bisa memikirkan alasan yang masuk akal.

Saya sangat tidak beruntung karena terlibat dalam kasus ini dengan cara yang menyedihkan, dan saya tidak pernah bisa menghilangkan rasa bersalah saya. Seiring berjalannya waktu, masyarakat ramai biasanya akan lupa. Bahkan kejutan kejahatan berskala besar akan memudar, dan orangorang berhenti membicarakannya. Tetapi tidak untuk kasus ini. Setelah perang, kasus ini dikenal dengan nama "Pembunuhan Zodiak Tokyo", ketika sebuah buku dengan judul tersebut diterbitkan. Usaha memecahkan misteri ini menjadi mode, dan berbagai usulan membanjiri proses penyelidikan. Hari Gemi hari, rekan-rekan saya membaca surat-surat tersebut. Saya mengernyit ngeri setiap kali mereka berteriak, "Informasi ini layak mendapat perhatian!" Ketakutan saya terus bertahan hingga saya pensiun. Bahkan hingga hari ini, saya belum juga terbebas darinya.

Pada masa itu, ada empat puluh enam detektif Galam Seksi 1 Departemen Penyelidikan Kriminal. Saat ini, Seksi 3 dan 4 menangani masalah penipuan, pembakaran dengan sengaja, dan kejahatan kekerasan, tetapi dulu itu tanggung jawab kami, selain pembunuhan dan perampokan. Tahun 1943, saya dipindahkan ke Seksi 1 atas rekomendasi Mr. Koyama, asisten direktur kantor polisi Takanawa, yang memuji saya karena ketekunan dan kemampuan logika saya. Saya khusus diminta menangani kasuskasus penipuan. Untuk mengangkut keenam mayat itu, saya meminjam Cadillac dari seorang tersangka dalam kasus penipuan di masa lalu. Setelah saya Gipindahkan ke Seksi 1, dia terus-menerus menelepon saya dan meminta bantuan. Saya selalu mengiyakan.

Gelombang perang berada di puncaknya, dan ancaman serangan udara oleh pasukan Amerika datang secara teratur. Para anggota Departemen Kepolisian Metropolitan dievakuasi dalam kelompok-kelompok kecil ke berbagai wilayah di kota. Seksi saya mendirikan kantor-kantor di Sekolah Menengah Atas Pertama untuk Wanita. Saya mulai berpikir, betapa senangnya mati dalam pertempuran. Banyak rekan saya bergabung dengan pasukan militer, tetapi pelantikan saya ditunda, membuat saya semakin merasa bersalah.

Pada saat pembunuhan-pembunuhan itu terjadi, putra saya Fumihiko baru berusia beberapa bulan. Sekarang dia juga seorang detektif, dan putri saya Misako juga menikah dengan polisi. Meskipun saya merasa seperti seorang tahanan, saya terus mendaki tangga promosi. Saya mengikuti ujian demi kepentingan putra saya, menjalaninya dengan baik, dan dipromosikan. Beberapa saat sebelum saya pensiun, Markas Besar dengan murah hati mempromosikan saya menjadi inspektur. Kehidupan profesional saya pasti terlihat sangat sukses, tetapi bagi saya itu adalah tahun-tahun di dalam kurungan. Borok di dalam diri saya tetap menjadi rahasia saya. Saya pensiun secepat saya bisa—tahun 1962, setelah bertugas selama tiga puluh empat tahun, pada usia 57 tahun. Dua tahun setelah kematian Masako Umezawa, yang didakwa dengan tuduhan membunuh suaminya Heikichi serta keenam gadis itu, ketertarikan masyarakat terhadap pembunuhan astrologi tetap tinggi. Saya sendiri membaca semua bahan yang bisa saya dapatkan, tetapi hanya menemukan apa yang sudah saya ketahui, tidak ada yang baru. Setelah satu tahun pensiun, saya mendapati diri saya perlahan-lahan mendapatkan energi saya kembali. Lalu, pada akhir musim panas 1964, saya memutuskan akan mengabdikan sisa hidup saya untuk memecahkan misteri ini. Saya berupaya mewawancara semua orang yang masih hidup dan mempunyai kaitan apa pun dengan kasus ini.

Ayako Umezawa, 75 tahun saat itu, adalah satusatunya anggota keluarga yang masih hidup. Dia telah membangun kompleks apartemen dan tinggal di sana. Dia memberitahu saya bahwa suaminya, Yoshio, meninggal dunia belum lama berselang. Dengan dua putri yang mati dibunuh dan tak ada lagi yang tersisa, dia merasa sangat kesepian.

Yasue Tomita berusia 78 tahun. Dia tinggal sendiri di sebuah apartemen di Denenchofu, kawasan eksklusif Tokyo yang mirip Beverly Hills. Dia suGah menjual galeri lamanya seusai perang dan membuka yang baru di Shibuya dengan nama sama, De Medicis. Setelah kematian putranya Heitaro dalam perang, dia mengadopsi putra seorang kerabat, yang kini mengelola galeri tersebut untuknya. Putra angkatnya kerap mengunjungi Yasue, tetapi wanita itu tetap terlihat kesepian.

Baik Ayako maupun Yasue tidak punya potongan sebagai tersangka, tetapi tidak ada lagi yang tersisa dari lingkaran dalam. Mantan istri Heikichi, Tae, telah meninggal, tetapi mantan suami Masako, Satoshi Murakami, masih hidup dalam usia 82 tahun. Murakami tidak pernah ditanyai —mungkin karena polisi praperang sangat berorientasi pada kelas dan dia berasal dari keluarga kaya. Menurutku Murakami punya satu motif: balas dendam. Masako berselingkuh dengan Heikichi dan kemudian menceraikan Murakami untuk menikah dengan seniman itu. Sebagai mantan-inspektur-polisi, saya pergi mengunjungi Murakami. Dia sudah pensiun, dan hidup tenang dengan bermain golf mini di kebunnya. Dia bungkuk, dan kepalanya yang botak membuat pria  itu terlihat sesuai umurnya. Tetapi acap kali matanya menunjukkan kejernihan dan kekuatan, dan saya dapat membayangkan Murakami pada masa jayanya.

Percakapan kami sangat mengecewakan. Murakami menegaskan bahwa, berkebalikan dengan prasangka saya, dia telah diinterogasi—tanpa alasan—dan bahwa polisi yang menanyainya bersikap tidak sopan. Dia melanjutkan panjang-lebar tentang penderitaannya diperlakukan sebagai tersangka. Saya meminta maaf dan pergi. Departemen Penyelidikan Kriminal ternyata lebih cermat dari yang saya perkirakan.

Orang terus mencari Azoth dengan antusias, tetapi saya sekarang meragukan keberadaannya. Meskipun demikian, saya pergi ke kuburan Heikichi untuk melihat apakah mungkin Azoth berada di suatu tempat di dekat situ. Kuburan itu penuh sesak. Makam Heikichi hampir berdempetan dengan makam keluarga lainnya. Saya tidak yakin Azoth ada di tempat itu.

Apakah dia punya pengikut? Teman? Kenalan? Dia bukan orang yang suka bersosialisasi, tampaknya Gia pergi keluar hanya untuk mengunjungi galeri De Medicis dan bar Kakinoki.

Di Kakinoki ada Satoko, si pemilik bar, yang mengenalkan Heikichi kepada Genzo Ogata, pemilik pabrik maneken. Pada saat itu, Ogata berusia 46 tahun dan Satoko—seorang janda—34 tahun. Heikichi kelihatannya senang berteman dengan Ogata, walaupun bidang pekerjaan mereka sangat berbeda. Polisi telah berbicara pada Ogata dan membebaskannya dari segala kecurigaan. Sebaliknya, Tamio Yasukawa, pengrajin di pabrik maneken Ogata, tampak seperti orang yang harus diselidiki lebih lanjut. Heikichi juga bertemu Yasukawa di Kakinoki, Gan karena Yasukawa bekerja di bidang pembuatan maneken, kedua orang tersebut mungkin memiliki kesamaan minat. Yasukawa berumur 28 tahun saat pembunuhan terjadi. Dia salah seorang dari sedikit kemungkinan tersangka yang masih hidup. Dia sempat bertugas sebentar di kemiliteran, dan sejak itu tinggal di Kyoto. Saya harus menemuinya sebelum dia mati—atau sebelum saya mati.

Di antara beberapa orang yang dikenal Heikichi di Kakinoki, satu-satunya yang sudah saya temui adalah Toshinobu Ishibashi, pelukis yang tinggal Gi dekat bar. Dia berumur 30 tahun saat pembunuhan terjadi —kebetulan hampir sama umurnya dengan saya. Keluarganya mengelola kedai teh, dan melukis adalah pekerjaan sampingannya. Mungkin Ishibashi bekerja dalam bisnis keluarga dan mengikutsertakan karyanya dalam kompetisi jika ada kesempatan. Karena impiannya adalah mengunjungi Paris, yang pada masa itu hanya mampu dilakukan segelintir orang, dia senang mengobrol dengan Heikichi mengenai petualangannya di Prancis. Saya mendatangi Ishibashi di kedai teh di Kakinokizaka, yang masih dikelola keluarganya. Dia bercerita bahwa dia ikut berperang dan nyaris saja mati. Dia tidak lagi melukis, tetapi putrinya lulusan sekolah seni. Dia baru kembali dari perjalanan ke Paris, dan sangat gembira menemukan restoran yang pernah diceritakan Heikichi kepadanya. Ishibashi menyenangkan untuk diajak bicara, istrinya sopan dan baik hati, dan pegawai wanita mereka sangat ramah. Ishibashi juga punya alibi, dan dia sama sekali tidak punya alasan untuk melakukan  pembunuhan itu. Saat saya bersiap-siap pergi, Ishibashi mengundang saya untuk kembali ke kedai kopinya kapan saja. Dia kedengaran tulus, dan saya pikir saya akan kembali kapan-kapan.

Mengenai Kakinoki, bar itu sudah tidak ada lagi. Satoko, yang dibebaskan dari segala kecurigaan, menutup tempat itu ketika dia menjadi kekasih Ogata. Ogata sudah mempunyai istri dan keluarga, jadi situasinya pasti sangat rumit. Putranya mengambil alih bisnis maneken dan memindahkan pabriknya ke Hanakoganei.

Berkat kepandaian Yasue bersosialisasi, galeri De Medicis merupakan tempat yang populer bagi para seniman paruh-baya: pelukis, pematung, model, penyair, penulis naskah, novelis, dan pembuat film. Mereka berkumpul di sana dan berdiskusi dengan panas, membahas seni. Heikichi tidak banyak bergaul dengan seniman-seniman itu—menurutnya mereka orang-orang sombong.

Tetapi dia berteman dengan satu orang, Motonari Tokuda, seorang pematung. Tokuda adalah intelektual bermata tajam yang memiliki studio di Mitaka. Pada usia 40 tahun, dia sudah sangat terkenal. Heikichi mengagumi pahatan Tokuda, membuat para penyelidik mencurigai pengaruh si pematung dalam Ide Heikichi tentang Azoth. Saya melihat Tokuda saat dia sedang ditanyai polisi. Dia memiliki rambut panjang tak terurus berwarna kelabu dan pipi cekung, yang membuat dia tampak seperti seniman gila. Namun Tokuda punya alibi kuat dan dia dibebaskan. Kenyataan bahwa dia sama sekali tidak paham cara mengemudikan mobil menjadi dasar pembelaannya. Selain itu, dia tidak pernah mengunjungi studio Heikichi, dan tidak pernah mengenal  Kazue. Jika melihat karya seni Tokuda, akan jelas bahwa seni seperti itu tidak mungkin datang dari hati seorang pembunuh. Dia meninggal mendadak pada awal tahun 1965. Studionya diubah menjadi Museum Motonari Tokuda.

Gozo Abe adalah pelukis yang dikenal Heikichi melalui Tokuda. Dia pencinta damai, karya seninya membawa pesan anti-kemapanan, bahkan pada tahun 1936, dan dia diasingkan rekan-rekan senimannya— kondisi yang sama-sama dirasakan olehnya dan Heikichi. Abe saat itu berusia dua puluh tahunan, satu generasi lebih muda dari Heikichi, dan kecil kemungkinannya mereka saling mengenal dengan baik. Dia tinggal di Kichijoji, jauh dari Meguro. Dia tidak pernah mengunjungi studio Heikichi. Dia tidak punya alibi kuat, tetapi dia tidak punya alasan untuk melakukan kejahatan itu. Selama perang, Abe dikirim ke Cina. Para pejabat militer memperlakukannya dengan buruk, memberinya julukan "ideolog picik", dan dia tetap menjadi tamtama hingga masa tugasnya berakhir. Ketika kembali ke Jepang, dia menceraikan istrinya, menikahi wanita yang lebih muda, dan kemudian melakukan perjalanan ke Amerika Selatan. Dia meninggal di Jepang pada tahun 1955, hanya punya sedikit reputasi di kalangan seniman. Istrinya mengelola Grell, kafe untuk para seniman. Lukisan-lukisan Abe digantung di dindingnya.

Di De Medicis, Heikichi juga berkenalan dengan pelukis Yasushi Yamada. Yamada memiliki kepribadian lembut, dan Heikichi dengan mudah merasa akrab dengannya. Bahkan dia dua kali mengunjungi rumah Yamada, mungkin karena ketertarikannya kepada istri Yamada, Kinue. Sebagai mantan model,  Kinue adalah penyair. Heikichi menyukai Rimbaud, Baudelaire, dan Marguis de Sade, dan kemungkinan dia dan Kunie memiliki selera yang sama. Kinue tampaknya juga memiliki pengetahuan mengenai karya Andre Milhaud, seniman yang sangat menginspirasi Heikichi. Baik Yasushi maupun Kinue meninggal pada pertengahan tahun 50-an. Mereka sudah menegaskan alibi mereka, tidak pernah mengunjungi studio Heikichi, dan tidak punya motif untuk membunuhnya.

Dari semua orang tersebut, satu orang yang paling menonjol adalah Tamio Yasukawa, pengrajin maneken. Namun sulit dipercaya bahwa para penyelidik tidak memasukkan dia ke dalam daftar tersangka. Yasukawa tinggal di sebuah asrama yang letaknya sepuluh menit berjalan kaki dari tempat kerjanya. Dia menghabiskan sebagian besar waktu luangnya dengan sesama pekerja. Alibinya tidak kuat—dia bilang dia sedang menonton di bioskop— tetapi dia baru tiga bulan mengenal Heikichi sebelum pembunuhan Azoth terjadi. Siapa yang mau melakukan pembunuhan berantai untuk seniman gila yang baru tiga bulan dikenalnya? Dan kalaupun dia pelakunya, di mana dia melakukannya, dan kapan? Tampaknya itu mustahil.

Ada tiga tindak kejahatan berbeda di sini —pembunuhan Heikichi Umezawa, pembunuhan Kazue Kanemoto, dan pembunuhan Azoth. Setelah bertahun-tahun berlalu, misteri itu mungkin akan ikut mati bersama si pembunuh atau para pembunuhnya. Saya menyesal bahwa saya tidak bisa melangkah lebih jauh. Berdasarkan kesimpulan departemen pembunuhan, semua tersangka tampaknya tidak bersalah.

Sejak pensiun, saya memikirkan kasus ini sepanjang hari dan malam. Hari ini saya mendapati pikiran saya berputar-putar dalam lingkaran dan tidak mengarah ke mana pun. Seiring bertambahnya usia, saya merasa kemampuan saya berkurang secara fisik maupun mental. Saya menderita borok akibat hari-hari menegangkan itu. Saya tidak akan hidup lama. Dan saya akan mati tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Selama ini cara saya menyikapi hidup terlalu moderat, tidak pernah berani melawan arus. Sebagai lelaki biasa, saya ingin mengakhiri hidup saya sebagai lelaki biasa. Saya seharusnya memikul tanggung jawab atas perbuatan saya, tetapi, dengan malu saya akui, saya gagal melakukannya. Saya berharap seseorang akan bisa memecahkan misteri ini. Bukan hanya untuk kepentingan saya dan peran yang terpaksa saya mainkan di dalamnya, tetapi demi keadilan. Saat ini yang bisa saya lakukan hanyalah berdoa. Sayang sekali saya masih tidak punya keberanian untuk menceritakan kisah ini kepada putra saya.

Apakah saya akan membakar catatan ini atau menyimpannya akan menjadi keputusan terakhir dalam hidup saya. Jika ada yang membaca catatan ini setelah kematian saya, saya ingin tahu apakah mereka akan menganggapnya menggelikan, sikap saya yang ragu-ragu... seperti halnya Hamlet?

Bunjiro Takegoshi