-->

Pemberontakan Taipeng Jilid 06

Jilid 06

#Aku tidak membantu siapa juga kecuali mereka yang lemah tertindas dan menantang mereka, yang jahat, siapapun juga adanya mereka.#

#Keparat, orang macam setan ini masih berlagak menjadi pendekar! Suheng, tak perlu banyak cakap lagi, dia telah membunuh belasan orang perajurit kita, dia harus dibasmi!# kata Tung-hai Pek-liong. Mereka mencabut pedang dan menghampiri Bu Beng Kwi dari kanan dan kiri. Si muka setan itu berkata, suaranya lantang dan penuh wibawa,

#Tung-hai Siang-liong, aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun juga dan di antara kita tidak terdapat permusuhan. Kuperingatkan kepada kalian, mundurlah dan jangan menggangu kami sebelum terlambat.#

#Keparat Bu Beng Kwi, siapa takut kepada setan tanpa nama macam engkau?# bentak si muka merah dan diapun sudah menyerang dengan pedangnya, disusul sutenya yang juga menyerang dengan tusukan pedang ke arah dada, hampir bersamaan dengan datangnya bacokan pedang si muka merah ke arah leher Bu Beng Kwi. Namun, hanya nampak bayangan berkelebat dan dua serangan itu tidak mengenai sasaran. Tung-hai Siang-liong terkejut dan cepat membalikkan tubuhnya karena lawan itu tahu-tahu telah berkelebat ke belakang mereka. Dan merekapun menyerang lagi dengan sepenuh tenaga karena merasa penasaran. Bu Beng Kwi membiarkan mereka berdua menyerang sampai belasan jurus, akan tetapi kedua pedang yang biasanya amat lihai dan sukar ditemukan tandingannya itu, kini seperti permainan kanak-kanak saja layaknya bagi si muka setan itu. Dia hanya meloncat dan menyusup ke sana-sini, namun kedua pedang itu sama sekali tidak pernah dapat menyentuhnya.

#Tung-hai Siang-liong, sekali lagi dan untuk akhir kalinya kuperingatkan kalian. Pergilah dan jangan ganggu aku sebelum terlambat!# Akan tetapi, dua orang itu tidak mau mendengarkan kata-katanya dan mereka menyerang terus, lebih ganas lagi.

#Omitohud...... ampunkan aku, terpaksa aku melawan......# terdengar Bu Beng Kwi mengeluh dan tiba-tiba kedua lengannya dipentang dan dia menyerbu ke depan, menyambut dua orang lawan yang menyerangnya dengan pedang mereka itu. Terdengar suara keras, dua batang pedang itu terpental, bahkan sebatang di antaranya patah-patah disusul terlemparnya tubuh Tung-hai Siang-liong sampai jauh ke belakang. Mereka terbanting dan tidak bangkit kembali! Bu Beng Kwi tidak memperdulikan lagi dua orang bekas musuh itu, melainkan menghadapi Sheila dan anaknya. Wanita ini sudah menjatuhkan diri berlutut di depan penolongnya. Juga Han Le yang tadi nonton dengan mata terbelalak dan kagum, kini berlutut dan mengangkat mukanya memandang kepadanya. Sejenak Bu Beng Kwi menatap wajah anak itu, kemudian dia berkata,

#Anak baik, engkau berjodoh untuk menjadi muridku. Maukah engkau?#

#Tentu saja aku mau dan terima kasih banyak atas kebaikan locianpwe,# jawab anak itu dan diam-diam si muka setan kagum melihat sikap sopan dan baik dari anak itu. seorang anak yang terdidik baik, pikirnya.

#Kalau begitu, engkau ikutlah denganku.# berkata demikian, Bu Beng Kwi membalikkan tubuhnya dan terus melangkah pergi. Sampai beberapa lamanya dia melangkah, kemudian membalik dan menatap ibu dan anak itu.

#Aku hanya mengajak anak ini untuk menjadi muridku.# Mendengar ini Sheila dan Han Le kembali menjatuhkan diri berlutut.

#Taihiap, sampai matipun kami tidak dapat saling berpisah. Di dunia ini aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi, bagaimana mungkin Henry anakku akan dipisahkan dariku? Taihiap, kalau anakku kau ambil murid, aku berterima kasih sekali akan tetapi biarkanlah aku ikut pula......# Wajah yang buruk sekali itu nampak semakin buruk ketika dia mengerutkan alisnya.

#Akan tetapi...... aku tidak membutuhkanmu. #

#Aku mengerti, taihiap. Akan tetapi biarlah aku berdekatan dengan anakku, aku tidak akan mengganggumu, aku bahkan akan bekerja apa saja, menjadi pembantu rumah tanggamu, mengerjakan semua pekerjaan rumah...... tapi jangan pisahkan aku dari anakku karena hal itu berarti membunuhku. #

#Suhu, kalau benar suhu ingin mengambil teecu sebagai murid, teecu baru mau kalau ibu juga diperbolehkan ikut serta. Ibu tidak mempunyai keluarga lain dan teecu sampai matipun tidak tega untuk meninggalkan ia hidup seorang diri saja.# kata pula Han Le dengan sikap yang tegas. Kembali sinar kekaguman terpancar keluar dari pandang mata Bu Beng Kwi. Seorang anak yang mencinta ibunya, berbakti dan keras hati. diapun mengalihkan pandang matanya, menatap kepala berambut keemasan yang menunduk itu dan dia menarik napas panjang, wajahnya yang buruk itu tergores penuh penyesalan dan iba membayang di sinar matanya.

#Baiklah, asal engkau tahu saja bahwa aku adalah seorang yang hidup miskin dan mengasingkan diri dari dunia ramai. Akan tetapi, nyonya, perjalanan menuju ke tempat tinggalku terlampau jauh dan sulit kalau ditempuh dengan jalan kaki biasa. Karena itu maafkanlah kelancanganku!# Tiba-tiba saja Sheila dan Han Le merasa betapa tubuh mereka terangkat naik kemudian meluncur dengan amat cepatnya. Mula-mula, mereka terkejut bukan main dan terutama sekali Sheila yang merasa betapa tubuhnya dipanggul di pundak kanan orang itu. Melihat ke bawah, ternyata orang itu membawanya berlompatan jauh dan cepat sekali sehingga ia menjadi pening dan ngeri, cepat-cepat ia memejamkan kedua matanya. Akan tetapi Han Le yang mula-mula takut, kini tidak merasa takut lagi melihat dirinya dipanggul di pundak kiri. Dia malh membuka matanya lebar-lebar dan bersorak gembira.

#Wahhh, aku terbang! Suhu sungguh hebat, kelak harap ajarkan ilmu terbang ini kepada teecu!# Bu Beng Kwi memnggul tubuh ibu dan anak itu dan kedua kakinya berlari amat cepatnya seperi terbang saja. Jurang- jurang diloncatinya dan dengan ilmu berlari cepat yang luar biasa ini, pada keesokan harinya tibalah dia di puncak sebuah bukit yang sunyi dan jauh dari dusun-dusun. Di puncak bukit itu, di antara pohon-pohon besar, nampak sebuah pondok sederhana terbuat dari kayu-kayu besar dengan kokoh kuat dan cukup luas, dikelilingi ladang yang penuh dengan tanaman sayur-mayur dan pohon-pohon buah. Bu Beng Kwi menurunkan ibu dan anak itu dari pundaknya.

#Kita telah tiba di rumah.# Ibu dan anak itu menggeliat karena tubuh mereka terasa penat-penat dan kaku setelah semalam suntuk dipanggul dan dibawa lari cepat. Akan tetapi Han Le sudah melupakan kelelahannya dan anak ini sudah berlari-lari di sekitar rumah itu, nampaknya gembira sekali. Di lain saat dia telah memanjat pohon buah per di mana bergantungan banyak buah yang sudah tua dan masak. Melihat ini,legalah hati Sheila dan wanita ini merasa bahwa ia dan puteranya kini berada di tempat aman, dan suasana di tempat itu tenang dan tenteram, juga indah sekali pemandangannya. Bu Beng Kwi memandang ke arah Han Le sambil tersenyum, kemudian dia menghadapi Sheila.

#Lihat, aku hidup di sini sendirian saja dan makan dari hasil ladang dan kebun. Bagaimana seorang seperti engkau dapat hidup di tempat seperti ini?# Sheila tersenyum, senyum yang manis sekali.

#Taihiap, aku adalah seorang wanita yang sudah banyak mengalami kehidupan yang serba pahit dan penuh dengan kekerasan dan kesulitan. Tempat ini indah, rumahmu juga cukup besar. Apalagi dengan kebun dan ladang sedemikian luasnya, apalagi yang dikehendaki? Andaikata tempat tinggalmu tidak sebaik ini sekalipun, aku akan hidup berbahagia.# Bu Beng Kwi menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata yang kebiruan dan jernih itu. Teringat dia betapa tadi tubuh yang berkulit lembut, halus dan hangat itu dipanggulnya, betapa bau badan wanita itu semalam membuat dia harus mengerahkan tenaga batin untuk melawan rangsangan yang sudah bertahun-tahun tak pernah dirasakannya.

#Engkau...... engkau seorang wanita yang tabah, dan puteramu adalah seorang anak yang baik, berbakti, mencinta ibunya dan gagah perkasa.#

#Tentu saja, taihiap, karena mendiang ayahnya juga seorang pendekar gagah perkasa, seorang pejuang yang berjiwa pahlawan,# kata Sheila dengan suara mengandung kebanggaan ketika dia teringat kepada mendiang suaminya, yaitu pendekar Gan Seng Bu. Mendengar ini, Bu Beng Kwi memundukkan mukanya lebih dalam, lalu memutar tubuh membelakangi Sheila, agaknya hendak pergi, akan tetapi kakinya ditahannya dan dia berkata dengan suara lirih, #Di dalam pondok terdapat dua buah kamar, kamar depan adalah kamarku, dan kamar belakang yang besar boleh kaupakai bersama puteramu. Di belakang terdapat dapur dan perabotnya yang lengkap. kau dan puteramu tentu sudah lapar, kalau hendak membuat makanan, di gudang dekat dapur terdapat semua bahan keperluannya.#

#Terima kasih, taihiap. Jangan khawatir, aku akan mengerjakan itu semua, dan aku akan membersihkan pondok ini, kelihatan agak tidak terawat,# kata nyonya itu sambil menyambar sebuah sapu yang bersandar pada dinding tembok depan.

#Oh.. ya, siapa nama puteramu itu?# Tiba-tiba Bu Beng Kwi yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah itu tiba-tiba bertanya tanpa menengok, hanya menahan langkahnya.

#Namanya Han Le, taihiap, aku sendiri menyebutnya Henry,#

#Han Le, nama yang bagus!# kata Bu Beng Kwi sambil melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumahnya.

#Shenya Gan, taihiap!# Sheila menambahkan.

#Hemmm......!# hanya itulah jawaban Bu Beng Kwi dan dia sudah menghilang ke dalam kamarnya. Demikianlah, mulai hari itu, Sheila dan Han Le tinggal di dalam rumah itu, dan Sheila segera bekerja keras untuk membersihkan rumah itu, mencuci, memasak dan semua pekerjaan rumah dikerjakannya dengan baik.

Rumah itu nampak bersih semenjak Sheila tinggal di situ, dan makin lama Sheila semakin betah tinggal di situ karena Bu Beng Kwi jarang sekali mengajak dia bicara, bahkan jarang bertemu dengannya. pendekar yang bermuka buruk itu hanya keluar untuk melatih ilmu silat kepada Han Le, dan tidak pernah mengganggu Sheila, bahkan seolah-olah Bu Beng Kwi menjauhkan diri dari Sheila, seperti orang yang takut! Hal ini membuat Sheila menjadi heran bukan main. setelah berbulan-bulan tinggal di rumah itu, biarpun berada di bawah satu atap, namun ia jarang sekali dapat bertemu tuan rumah. Bahkan kalau ia sengaja menemuinya untuk melaporkan bahwa makanan siang atau malam sudah sedia, Bu Beng Kwi nampak seperti orang gugup dan membuang muka! Sheila merasa amat kasihan kepada pria itu.

Apakah pria itu malu kepadanya karena mukanya yang demikian buruk? Namun, betapapun buruk wajahnya, seperti setan, orang itu jelas memiliki watak yang amat baik, pikir janda ini. Belum pernah selama hidupnya dikenalnya seorang pria seperti itu baik dan sopannya. dan selain memberi latihan-latihan dasar ilmu silat tinggi kepada Han Le, juga Bu Beng Kwi melatih ilmu membaca dan menulis kepada anak itu, di samping gemblengan moral melalui nasihat-nasihat tentang kehidupan, tentang baik dan buruk dan tentang sifat-sifat seorang pendekar yang gagah perkasa dan menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Waktu luangnya setelah memberi latihan kepada Han Le, masih dipergunakannya untuk bekerja di ladang dan kebun-kebun dengan amat rajinnya. Setiap hari betapapun paginya Sheila bangun tidur untuk menyapu dan memasak air,

Ia selalu melihat bahwa tuan rumah telah bangun terlebih dulu, dan telah sibuk di ladang belakang rumah! Kadang-kadang Sheila merasa terharu sekali melihat kehidupan Bu Beng Kwi ini. Ada rahasia yang tersembunyi di balik wajah yang buruk itu, pikirnya, rahasia yang tentu amat menyedihkan sekali. Sinar mata yang kadang-kadang mencorong itu seringkali nampak demikian penuh kepedihan hati, Bahkan penuh penyesalan, demikian sayu dan tidak bercahaya lagi. dan agaknya Bu Beng Kwi menanam diri dalam kesibukan sehari-hari, agaknya hendak melupakan ssuatu. dan jelas sekali menjauhkan diri darinya, seolah-olah takut berhadapan dengan dirinya. Semua ini merupakan teka-teki yang amat menarik bagi Sheila, membangkitkan gairahnya untuk menyelidiki rahasia apa gerangan yang tersembunyi di balik wajah yang amat buruk itu.

Ia merasa telah diselamatkan nyawanya, juga nyawa puteranya, dari ancaman maut dan bahkan mungkin lebih mengerikan daripada maut. Bukan hanya sampai di situ ia berhutang budi, bahkan Bu Beng Kwi telah memberi kehidupan yang lebih cemerlang dan tenteram kepada ia dan puteranya. Mendidik Han Le dengan ilmu tinggi, kesusasteraan dan pendidikan rohani. Hal ini ia ketahui semua karena setelah malam tiba dan puteranya rebah tak jauh darinya di dalam kamar itu, ia selalu mengorek keterangan dari puteranya tentang semua pelajaran yang diterimanya dari Bu Beng Kwi. Bahkan dari anak itu ia menanyakan semua kata-kata yang diucapkan Bu Beng Kwi pada siang harinya, dan apa saja yang ditanyakan penolong itu kepada anaknya.

Dari Han Le ia mendengar bahwa Bu Beng Kwi pernah bertanya kepada Han Le tentang semua pengalaman Han Le dan ibunya semenjak ditinggal mati ayahnya. Tentu saja Han Le hanya mampu menceritakan apa yang dapat diingatnya saja, karena semenjak lahir dia sudah tidak lagi dapat melihat ayahnya. Ada sesuatu yang sangat menarik dalam pribadi Bu Beng Kwi bagi Sheila. Wajah yang amat buruk itu, tubuh yang cacat itu, kini sama sekali tidak lagi mendatangkan rasa serem, takut atau jijik bagi Sheila, bahkan mendatangkan perasaan iba yang mendalam. Ia merasa kasihan dan juga penasaran mengapa seorang manusia yang memiliki budi pekerti demikian baiknya menerima hukuman dari Tuhan dengan tubuh yang sedemikian penuh cacat dan keburukan. Bukan itu saja, ia juga dapat merasakan betapa penolongnya itu hidup dengan batin menderita, entah apa dan mengapa.

Pada suatu malam terang bulan Sheila tak dapat tidur. Han Le sudah sejak tadi tidur nyenyak. Anak itu agaknya lelah sekali karena selain harus berlatih silat, juga anak itu oleh ibunya diharuskan membantu pekerjaan Bu Beng Kwi di ladang, Sheila gelisah tak dapat tidur walaupun sudah sejak tadi ia rebah di atas pembaringannya. Sudah setahun ia tinggal di situ bersama puteranya, namun ia masih merasa asing terhadap Bu Beng Kwi. Selama setahun itu, hanya beberapa kali saja ia sempat berhadapan dengan penolongnya, lebih jarang lagi bercakap-cakap karena kalau ia memancing percakapan, selalu Bu Beng Kwi menghindar. bahkan untuk makan siang atau malam pun, Bu Beng Kwi minta kepada Han Le untuk mengantar makanan ke dalam kamarnya.

Mengapa dia selalu menjauhkan diri dariku? Apakah dia tidak suka kepadaku? Jangan-jangan dia membenci aku karena aku seorang wanita kulit putih! Pikiran ini terus menerus menganggu hati Sheila, membuatnya gelisah bukan main. Ia sudah berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati Bu Beng Kwi, membersihkan pondok itu sehingga menjadi tempat yang enak ditinggali, menanam bunga-bunga indah di depan rumah dan di luar jendela kamar Bu Beng Kwi, mencuci bersih pakaian-pakaian serba putih dari orang itu, dan membuat masakan yang selezat mungkin. Bahkan kini, dengan bantuan puteranya yang cekatan, ia berhasil menangkapi kelinci dan membuat peternakan kelinci sehingga ia mampu menghidangkan masakan daging kelinci yang sedap, bukan sekedar sayuran saja seperti sebelum ia dan puteranya datang ke situ.

Aih, apakah kesalahanku kepadanya? Sheila merasa nelangsa dan rasanya ingin ia menangis! Gila, mengapa pula menangis? Ia cepat menghapus dua titik air mata yang sudah berkumpul di sudut matanya dan untuk mengusir kekesalan hatinya, ia turun dari pembaringannya lalu menghampiri jendela. Dibukanya tirai jendela dan nampaklah sinar bulan purnama di luar kamarnya. Betapa indahnya bulan purnama. Hijau kekuningan dan nampak sejuk dan damai hening di luar. Ia menutup kembali tirai jendela dan menurutkan dorongan hatinya ia melangkah keluar, menutupkan kembali pintu kamar dengan hati-hati agar Han Le jangan sampai kaget dan terbangun.

Ketika dengan langkah hati-hati ia keluar dari dalam pondok menuju ke belakang untuk memasuki kebun dan menikmati keindahan bulan purnama, tiba-tiba ia menahan langkahnya dan cepat bersembunyi di balik tiang rumah bagian belakang. Tiang itu terbuat dari batang pohon besar dan ia bersembunyi di balik tiang. mengintai ke dalam kebun. Di sana, di atas bangku panjang, ia melihat Bu Beng Kwi duduk seorang diri dan ia terbelalak memandang karena melihat betapa penolongnya itu menangis! Benar-benar menangis seperti anak kecil, dengan suara sesenggukan dan kedua pundak berguncang, kedua tangan menutupi mukanya! Dengan mata terbelalak, dan jantung berdebar kencang Sheila mengintai dan mendengar suara Bu Beng Kwi yang diulang-ulang, suara yang mengandung isak tangis, menggetar penuh penyesalan.

#Ya Tuhan, ampunilah saya, ampunilah saya, ampunilah saya......# Sambil menangis, orang aneh itu terus minta ampun kepada Tuhan, kadang-kadang menjambak-jambak rambutnya penuh penyesalan. Sheila terbelalak dan hatinya dipenuhi rasa haru. Ia tidak tahu mengapa orang sebaik itu kini menangis dan

minta ampun kepada Tuhan, entah dosa apa yang penah dilakukannya, dosa yang kini membuatnya demikian penuh penyesalan. Melihat orang yang amat dikaguminya itu, orang yang dihormatinya dan dijunjungnya tinggi karena perbuatannya, karena sikapnya itu kini menangis dan minta-minta ampun kepada Tuhan seperti itu,

Sheila merasa demikian terharunya sehingga tanpa disadarinya, air matanya menetes turun di sepanjang pipinya. Ia seperti terpukau di tempat itu, tidak mampu bergerak. Hatinya ingin sekali menghampiri dan menanyakan, menghibur Bu Beng Kwi, namun kedua kakinya tidak dapat ia gerakkan. Juga ada perasaan segan dan takut untuk mengganggu orang yang sedang tenggelam dalam kedukaan yang amat besar itu. Berjam-jam Bu Beng Kwi menangis, meratap dan minta ampun kepada Tuhan. Berjam-jam pula Sheila berdiri di balik tiang melakukan pengintaian.

Akhirnya, seperti orang kelelahan, Bu Beng Kwi menjatuhkan diri rebah di atas bangku panjang, masih menangis akan tetapi makin lama, tangisnya makin lirih dan akhirnya diapun tertidur di atas bangku panjang di dalam kebun itu!

Beberapa kali nampak tubuhnya terguncang oleh isak sebagai tangisnya, akan tetapi dari pernapasannya dapat diketahui bahwa dia benar-benar telah tidur nyenyak, agaknya terlau lelah oleh penyiksaan batinnya sendiri tadi. Sheila melangkah perlahan-lahan menghampiri dan dalam jarak dua meter ia berdiri mengamati orang itu. Tidur pulas dengan lengan kanan melintang di atas dahi, tangan kiri tertumpang di dada. Napasnya penjang-panjang halus, kadang-kadang masih terisak, kedua kakinya yang panjang itu tergantung di ujung bangku. Hawa udara dingin bukan main di malam terang bulan purnama itu. Sheila menggigil dan ia merasa kasihan sekali melihat Bu Beng Kwi yang tidur pulas di atas bangku itu, di dalam kebun dalam hawa dingin sepeti itu. Ia lalu kembali ke dalam rumah,

Mengambil sehelai selimut tebal dan dengan hati-hati ia menghampiri tubuh yang pulas itu dan menyelimutinya dari leher sampai ke kaki. Tubuh itu bergerak lemah akan tetapi tidak tergugah. Kalau saja tidak sedang tenggelam ke dalam kedukaan dan penyesalan sehebat itu sehingga membuat seluruh tubuhnya lemas dan hatinya lelah dan kepulasan telah menelannya bulat-bulat. Tentu Bu Beng Kwi yang memiliki tubuh terlatih itu sudah terbangun ketika diselimuti Sheila. Namun kedukaan membuat orang menjadi lemah sekali. tenaga yang dibuang sia-sia sewaktu berduka amatlah besarnya. Sheila lalu kembali ke kamarnya dan ia tidak tidur, teringat akan keadaan Bu Beng Kwi dan beberapa kali, setiap kali teringat ia menitikkan air matanya karena iba dan haru. Ah, ia mau melakukan apa saja demi untuk menghibur dan membahagiakan hati pria ini,

Pria yang demikian bijaksana dan budiman, yang telah memberi segala-galanya kepada ia dan puteranya tanpa pamrih, tanpa minta imbalan apapun, bahkan yang selalu menghindar agar tidak menerima sikap manis dan berterima kasih darinya. Pada keesokan harinya, ketika Han Le sedang sibuk bekerja di ladang, ketika Sheila sedang membawa pakaian kotor untuk dicuci di pancuran air di sebelah kanan rumah, ia berpapasan dengan Bu Beng Kwi. Pria itu berhenti dan memandang kepadanya, sedangkan Sheila juga berhenti dan memandang penuh perhatian. Tidak nampak lagi tanda-tanda kedukaan yang hebat itu pada wajah yang tidak pernah dapat memperlihatkan perasaan hati itu, akan tetapi pandang mata itu tetap saja sayu dan bagaikan matahari tertutup awan hitam. Bu Beng Kwi mengeluarkan segulung selimut dan memberikannya kepada Sheila sambil berkata,

#Terima kasih atas kebaikan hatimu, nyonya. Maaf, aku telah membikin repot saja. Harap lain kali jangan perdulikan diriku, karena seorang seperti aku ini tidak pantas menerima kebaikan dan penghormatan seperti itu.# Begitu Sheila menerima gulungan selimut, Bu Beng Kwi membalikkan tubuh dan pergi.

#Taihiap...... tunggu dulu......!# Sheila berlari mengejar, dan Bu Beng Kwi menghentikan langkahnya, menghadapi Sheila dengan muka ditundukkan. Kini mereka saling berhadapan dan Sheila memandang tajam, berusaha untuk menguak tirai yang menyembunyikan rahasia di balik wajah yang cacat itu.

#Taihiap...... namaku adalah Sheila dan aku adalah pelayanmu, ibu dari muridmu, tidak perlu engkau menyebutku nyonya. Dan mengapa taihiap kelihatan membenciku? Harap taihiap berterus terang agar aku dapat mengerti akan kesalahanku dan dapat memperbaikinya, dan taihiap...... mengapa demikian berduka. ?#

#Nyonya, engkau adalah seorang wanita yang bijaksana, terhormat dan mulia, jauh bedanya dengan aku yang hina ini, dan tentang sikapku...... ah, aku tidak apa- apa, harap nyonya jangan perdulikan aku lagi......# Dan diapun cepat melangkah pergi menuju ladang, meninggalkan Sheila yang berdiri melongo dengan hati penasaran. Penolongnya itu demikian merendahkan diri, dan kata-katanya demikian penuh keprihatinan. Apa saja yang membuat orang itu bersikap seperti itu? Apakah karena wajah dan tubuhnya menjadi penuh dengan cacat seperti itu lalu merasa rendah diri? Beberapa hari kemudian, ketika pagi-pagi sekali Sheila sedang menyapu lantai di pekarangan depan dan Bu Beng Kwi masih bersamadhi di dalam kamarnya setelah pagi-pagi tadi dia mengamati Han Le yang berlatih silat, muncul dua orang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun, berpakaian sederhana namun berwajah tampan dan bersikap gagah. Dua orang laki-laki muda itu demikian terkejut ketika melihat seorang wanita kulit putih berambut kuning keemasan dan bermata biru,

Mengenakan pakaian sederhana sedang menyapu di situ sehingga mereka berdua terbelalak dan terpukau, hampir tidak percaya kepada pandang mata mereka sendiri. Melihat dua orang pemuda itu seperti terkejut, bingung dan heran, Sheila lalu menghampiri mereka dengan sapu di tangan, dan menegur dengan sikap halus dan bahasa yang sopan. Dua orang muda itu saling pandang, dengan sinar mata bertanya-tanya siapa gerangan wanita kulit putih ini. Sheila juga memperhatikan mereka. Seorang di antara mereka bertubuh tinggi besar dengan muka gagah berbentuk persegi empat dan mukanya yang masih muda itu mulai ditumbuhi brewok yang lebat, sepasang matanya lebar dan tajam. Orang kedua bertubuh tinggi kurus, mukanya putih seperti muka perempuan namun tampan dan sepasang alisnya tebal sekali, tebal dan hitam lebat.

#Kami adalah murid dari tuan rumah ini,# kata pemuda tinggi besar. #Siapakah engkau?# sambung pemuda tinggi kurus.

#Aih, kiranya ji-wi adalah murid-murid taihiap!# Sheila berseru kaget dan girang. #Aku bernama Sheila dan aku......aku pelayan dari taihiap. #

#Apa? Suhu mempunyai pelayan seorang wanita kulit putih? Rasanya tidak mungkin!# kata pemuda tinggi besar. Pada saat itu terdengar suara nyaring dari sebelah dalam, suara yang keluar dari dalam kamar Bu Beng Kwi.

#Kok Han dan Hong Can, kalian baru datang?# Mendengar suara ini, dua orang pemuda gagah perkasa itu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke dalam rumah dan berkata penuh hormat,

#Suhu.......# Muncullah Bu Beng Kwi , diikuti oleh Han Le yang diajak latihan samadhi di dalam kamar gurunya itu. Sepasang mata orang aneh itu memancarkan sinar berseri ketika dia memandang kepada dua orang muda yang berlutut.

#Han Le dan kau, nyonya, ketahuilah bahwa yang baru datang ini adalah murid- muridku bernama Ceng Kok Han dan Li Hong Cang yang sudah hampir dua tahun turun gunung. Kok Han dan Hong Cang, anak ini adalah Gan Han Le, sute kalian, dan wanita ini ibunya, Gan Toanio (nyonya Gan).Bangkitlah dan beri hormat kepadanya,# kata Bu Beng Kwi memperkenalkan. Diam-diam dua orang pemuda itu merasa heran. Guru mereka mengambil murid anak seorang wanita kulit putih dan biarpun sute mereka yang masih kecil itu berwajah biasa, namun sepasang matanya yang bening tajam itu kebiruan seperti mata orang kulit putih! Mereka lalu menjura dengan hormat kepada wanita kulit putih yang pandai berbahasa daerah itu dan menyebutnya Gan Toanio. Sheila membalas penghormatan mereka selayaknya.

Sebagai seorang anak yang terdidik baik, oleh gurunya dan oleh ibunya, Han Le lalu menjura pula kepada mereka.

#Ji-wi suheng (kakak seperguruan), aku Gan Han Le memberi hormat pada ji-wi dan mohon bimbingan ilmu silat.# Ceng Kok Han dan Li Hong Cang memandang gembira.

Kiranya sute mereka itu, biar anak wanita kulit putih, biar masih kecil, namun nampak cerdik dan pandai membawa diri. Mereka merangkul dan mengelus rambut kepala Han Le dan merasa akrab dan sayang. Mereka semua kecuali Sheila yang merasa sungkan dan juga ia harus menyediakan minuman untuk dua orang muda yang baru tiba, segera masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian, Bu Beng Kwi sudah bercakap-cakap dengan serius bersama dua orang murid yang baru datang itu disaksikan oleh Han Le yang mendengarkan saja.

Mereka bicara tentang hal- hal yang belum dimengertinya benar, tentang perjuangan, pemberontakan, dan perang. Kiranya dua orang muda perkasa itu, atas persetujuan guru mereka, seperti para pendekar lain, telah pergi meninggalkan tempat perguruan dan ikut membantu perjuangan Ong Siu Coan yang memimpin balatentara Tai Peng pada bulan-bulan terakhir sampai pasukan itu dapat menduduki Nan-king dan daerah selatan sungai. Akan tetapi, akhirnya mereka berdua menjadi muak melihat betapa pasukan-pasukan Tai Peng mulai melakukan penyelewengan dan kejahatan dan agaknya tingkah laku mereka itu dibiarkan saja oleh Ong Siu Coan. Seperti juga banyak para pendekar lainnya, dua orang murid Bu Beng Kwi ini meninggalkan Tai Peng dan pulang ke tempat tinggal guru mereka.

#Demikianlah, suhu. Teecu berdua meninggalkan pasukan tai peng, melihat penyelewengan dan kejahatan yang dilakukan oleh pasukan itu. seperti para pendekar lain yang tadinya membantu pasukan Tai Peng sehingga gerakan itu berhasil, teecu berdua juga sudah berusaha untuk melakukan protes dan laporan kepada Ong-bengcu sebagai pimpinan. namun, semua laporan tidak diperhatikan, bahkan pernah Ong-bengcu mengatakan bahwa sudah sewajarnya kalau para perajurit mendapatkan sedikit kesenangan setelah semua jerih payah dan taruhan nyawa dalam perang.# Ceng Kok Han menutup ceritanya. Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.

#Sudah kuduga semua itu, Dan aku sudah mendengar desas-desus tentang sepak terjang mereka sehingga diam-diam aku mengkhawatirkan kalian. Apalagi ketika terjadi malapetaka yang menimpa para pengungsi yang diganggu oleh pasukan Tai Peng, termasuk sutemu ini dan ibunya, makin yakinlah aku bahwa Ong Siu Coan dan pasukannya bukanlah pejuang-pejuang yang dapat diharapkan akan mengangkat nasib rakyat jelata.#

#Benar, suhu. Para perajurit Tai Peng kemasukan banyak orang-orang jahat. Mereka memang mengaku sebagai tentara rakyat, dan mengaku bahwa mereka berjuang demi rakyat, untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Mereka mengatakan bahwa perjuangan mereka murni, namun nyatanya mereka melakukan perbuatan- perbuatan yang jahat, merampok, membunuh dan memperkosa, tidak memiliki perikemanusiaan seperti binatang-binatang buas yang hanya mengenal hukum rimba. Kini jelas dapat dilihat betapa rakyat yang hidup di daerah kekuasaan Tai Peng bahkan menderita lebih hebat daripada sebelum daerah itu dibebaskan. Mereka menjadi penguasa-penguasa yang lebih kejam daripada penjajah Mancu sendiri!# kata pula Li Hong Cang. Percakapan mereka terhenti ketika Sheila masuk ke ruangan itu membawa hidangan minuman bagi mereka semua. Bu Beng Kwi sejenak memandang wanita itu dan setelah Sheila kembali ke dapur, dia berkata kepada Han Le,

#Han Le, engkau bantulah ibumu. Kami akan membicarakan urusan penting yang tidak kau mengerti.# Han Le mengangguk dan bangkit tanpa membantah. setelah tiba di dapur, dia dihujani pertanyaan oleh ibunya. Han Le memberi keterangan sebisanya dan mendengar bahwa dua orang suheng dari puteranya itu baru saja pulang berjuang membantu balatentara Tai peng yang kini menduduki sebagian dari daerah selatan, Sheila menarik napas panjang.

#Negara ini dilanda perang saudara tiada hentinya. Aih, Henry, mendiang ayahmu dahulu juga seorang pejuang yang amat gagah perkasa.# Han Le mengerutkan alisnya.

#Ibu, apakah ayah juga membantu pasukan Tai Peng menentang pasukan Mancu?#

#Ya, memang tujuan mereka sama, yaitu menghapuskan penjajah, akan tetapi ayahmu tidak membantu Tai Peng.#

#Tentu ayah tidak seperti orang-orang Tai Peng yang jahat itu, ibu. Kedua suhengku itupun meninggalkan Tai Peng karena orang-orang Tai Peng berobah jahat sekali!#

#Kau benar, anakku. Engkau belajarlah baik-baik, agar kelak dapat menjadi seorang gagah perkasa, seorang pendekar yang menentang kejahatan.#

#Seperti ayah, ibu?#

#Ya, seperti ayahmu, seperti gurumu yang gagah perkasa dan budiman itu.# Sementara itu, Bu Beng Kwi masih bercakap-cakap secara serius dengan kedua orang muridnya..

#Perjuangan seperti yang dipimpin oleh Ong Siu Coan itu tidaklah sehat lagi,# kata Bu Beng Kwi. #Perjuangan Tai Peng yang tadinya diharapkan untuk dapat membebaskan rakyat daripada cengkeraman penjajah, ternyata bahkan membuat rakyat menjadi semakin celaka, seperti terlepas dari mulut harimau masuk dalam cengkeraman serigala.#

#Memang demikianlah, suhu.# kata Ceng Kok Han. #Dan kini terjadi pemberontakan di selatan, Suku Bangsa Nien-fei, bahkan teecu mendengar bahwa suku Miau di Kwei-couw juga mulai bangkit dan memberontak. Kalau begini, berarti bangsa kita bahkan akan terpecah belah tidak karuan.#

#Belum lagi diingat ancaman bangsa kulit putih dari pantai timur,# kata pula Li Hong Cang. #Suhu, kalau dibiarkan pemerintah dihantam dari kanan kiri dan keadaan menjadi semakin kacau, maka rakyatlah yang akan menderita hebat.

Terutama sekali harus dicegah penberontakan Tai Peng itu sampai dapat menaklukkan semua daerah, karena bangsa kita akan mengalami nasib lebih mengerikan lagi di bawah memuasaan orang-orang yang kini memimpin Tai Peng, yang terdiri dari penjahat-penjahat yang bersembunyi di balik agama baru dan perjuangan.# Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.

#Para pendekar sudah meninggalkan Tai Peng, berarti bahwa mereka sudah melihat kenyataan akan kejahatan orang-orang Tai Peng dan tidak mau membantu gerakannya. Kiranya hanya para pendekar yang dapat bersatu dan bangkit menentang Tai Peng.#

#Teecu kira hal itupun tidak mudah dilakukan, suhu.# kata Ceng Kok Han. #Tai Peng telah merupakan balatentara yang amat besar dan kuat. Kalau para pendekar bersatu, berapa besar kekuatan mereka? Pula, karena mereka datang dari berbagai aliran yang mempunyai pendapat berbeda, kiranya tidak mudah mempersatukan mereka.#

#Hemm, beralasan juga kata-katamu. Lalu, bagaimana baiknya? Orang-orang muda seperti kalian, tidak mungkin akan berpangku tangan saja melihat kelaliman Tai Peng.#

#Teecu berdua sute telah bersepakat untuk minta pendapat dan perkenan suhu. Teecu berdua ingin mengajak kawan- kawan seperjuangan, antara para pendekar untuk bersama-sama membangkitkan semangat rakyat di pedesaan, perlahan-lahan menyusun kekuatan dengan mendirikan lascar yang kuat yang bertujuan menyelamatkan tanah air dan bangsa. Kalau perlu, laskar kami akan membantu pemerintah Mancu untuk memadamkan semua pemberontakan yang sifatnya hanya pengejaran ambisi tanpa mementingkan penderitaan rakyat, karena pemberontak- pemberontak macam Tai Peng dan lain- lain itu bahkan menjadi penghambat perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah.#

#Membantu pemerintah Mancu, bekerja sama dengan pemerintah penjajah?# Bu Beng Kwi berseru kaget dan memandang dua orang muridnya itu.

#Maksud suheng hanya untuk sementara, suhu,# kata Li Hong Cang.

#Untuk dapat menghancurkan kekuatan yang berbahaya seperti Tai Peng, dibutuhkan pasukan besar dan sukarlah membentuk laskar sekuat itu untuk menentang Tai Peng. Maka, untuk sementara, sebaiknya kalau menggunakan kekuatan pasukan pemerintah untuk menghancurkan Tai Peng dan para pemberontak suku bangsa lain. Setelah itu, barulah kekuatan disusun sepenuhnya untuk menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air.# Bu Beng Kwi mengangguk-angguk,

#Mungkin kalian benar. Terserah kepada kalian. Yang penting bagi kita adalah bahwa sepak terjang kalian haruslah murni, tanpa pamrih demi keuntungan pribadi, sepenuhnya ditujukan demi menyelamatkan rakyat dan bangsa kita. Akan tetapi, kalau cita- cita kalian demikian besar, kalian perlu membelaj ari ilmu memimpin pasukan, ilmu perang, bukan sekedar ilmu silat. Dan agaknya aku masih menyimpan sebuah kitab kuno tentang ilmu perang, ilmu pusaka peninggalan Jenderal Gak Hui. Boleh kalian miliki dan pelajari bersama ilmu perang melalui kitab kuno itu.# Bu Beng Kwi lalu masuk ke dalam kamarnya, mengambil sebuah kitab tebal yang sudah amat tua, menyerahkannya kepada dua orang muridnya yang menjadi gembira bukan main. Sejenak keduanya tenggelam ke dalam kitab itu, membuka-buka lembarannya dan membaca beberapa bagian penuh kekaguman, Kemudian Ceng Kok Han menyimpannya.

#Maaf, suhu. Teecu percaya semua tindakan suhu tentu sudah dipertimbangkan semasaknya dan setiap perbuatan suhu berdasarkan kebijaksanaan. Akan tetapi terus terang saja, teecu dan sute tadi merasa terkejut dan terheran-heran melihat suhu telah mengambil murid seorang anak dari wanita kulit putih. Teecu berdua ingin sekali mendengar sebab dan alasannya, kalau suhu tidak keberatan.# Bu Beng Kwi mencoba untuk tersenyum, namun wajahnya yang kaku itu agaknya sudah terlalu lama tidak tersenyum maka gerakan mulutnya tidak cukup untuk menunjukkan sebuah senyuman.

#Pertanyaan kalian memang pantas dan sudah sepatutnya aku memberi penjelasan. Ibu dan anak itu adalah pengungsi- pengungsi yang ketika pegi mengungsi bersama penduduk dusun, dicegat oleh pasukan kecil Tai Peng yang mengganggu mereka.

Pasukan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan, maka aku turun tangan menyelamatkan para pengungsi dan membasmi para penjahat yang berkedok pejuang itu. Anak itu terluka dan pingsan. Ketika aku hendak mengobatinya, aku melihat bakat yang baik sekali pada tubuhnya, dan aku kasihan kepadanya. Ibunya tidak mau berpisah dari anaknya dan nekat untuk ikut ke sini, bekerja menjadi pelayan walaupun aku tidak menganggapnya sebagai pelayan. Sudah hampir setahun mereka di sini dan Han Le ternyata memang cerdik dan berbakat, sedangkan ibunya juga seorang wanita yang amat rajin. Lihat saja, bukankah pondok kita ini menjadi bersih dan taman itu penuh dengan tanaman bunga yang indah?# Dua orang murid itu sudah cukup mengenal watak suhu mereka. Biasanya, suhu mereka sama sekali tidak perduli akan keadaan rumah, apalagi bunga dalam taman. Tentu ada sesuatu yang mendorong suhunya menerima wanita kulit putih itu tinggal di situ. Mereka memandang dengan sinar mata bertanya-tanya dan agaknya Bu Beng Kwi dapat menduga bahwa kedua orang muridnya ini masih meragukan kehadiran Sheila dan keterangannya tadi belum memuaskan hati mereka. #Baiklah kalian ketahui hal lain yang mendorong aku untuk menerima ibu dan anak itu di sini. Ketahuilah bahwa mendiang ayah dari anak itu bernama Gan Seng Bu, seorang pendekar dan pahlawan yang pernah berjuang bersama para pendekar untuk menentang penjajah dan juga orang kulit putih yang menjual madat.#

#Gan Seng Bu......?# Li Hong Cang berseru.

#Ah, ketika teecu membantu Tai Peng bersama para pendekar, teecu pernah mendengar nama ini disebut-sebut dengan kekaguman. Kiranya sute cilik itu puteranya? Dan wanita kulit putih. #

#Ia adalah isteri mendiang Gan Seng Bu. Pendekar itu pernah menyelamatkan wanita itu ketika ia masih gadis melarikan diri bersama orang tuanya dan diserbu oleh para pemberontak. Hampir ia menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ayah ibunya tewas dan Gan Seng Bu menolongnya. Mereka saling jatuh cinta dan semenjak itu, ia hidup di dusun di antara para pejuang dan menikah dengan pendekar itu.# Kini kedua orang murid itu mengerti dan merekapun maklum mengapa guru mereka menerima ibu dan anak itu. Bahkan diam-diam merekapun merasa setuju sekali.

Bagaimanapun juga, biarpun rambutnya seperti benang emas dan matanya seperti warna lautan yang dalam, tidak seperti orang-orang kulit putih yang merusak hidup rakyat dengan penyebaran racun madat. Bahkan wanita itu telah hidup belasan tahun lamanya di antara para pejuang, hidup seperti orang dusun dan kini bahkan bekerja keras seperti seorang pelayan saja membersihkan pondok dan memperindah suasananya. Diam-diam mereka merasa kagum sekali. Setelah beberapa hari tinggal di situ, dua orang muda itu segera menjadi akrab sekali dengan Han Le dan mereka memberi bimbingan kepada anak itu dalam latihan ilmu silat. Han Le merasa girang sekali dan bangga mempunyai dua orang suheng itu. Bukan hanya dengan Han Le, bahkan kedua orang muda itu bersikap manis terhadap Sheila.

Janda muda ini adalah sorang kulit putih, tentu saja iapun mudah menjadi akrab dengan mereka karena baginya tidak ada pantangan dalam keakraban pergaulan antara pria dan wanita. Apalagi melihat betapa dua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, seperti mendiang suaminya, dan mereka bersikap demikian baik terhadap puteranya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat Sheila merasa kurang enak hati. belum sampai sebulan dua orang muda itu berada di situ, akhir-akhir ini sinar mata mereka terhadap dirinya terasa lain olehnya. Biasanya hanya ada keramahan dan penghormatan, namun akhir-akhir ini ia dapat menangkap dengan naluri kewanitaannya betapa dalam sinar mata mereka terkandung kekaguman yang berlebihan dan mendekati kehangatan dan kemesraan. Pandang mata mereka penuh arti, juga senyum mereka tidak wajar lagi!

Sheila cukup berpengalaman sebagai seorang janda muda yang sering digoda orang untuk dapat menangkap perasaan kagum dan suka dalam hati kedua orang muda itu yang terpancar melalui sinar mata mereka. Tentu saja hal ini membuatnya merasa kurang enak, walaupun tentu saja ia tidak mau menyatakan sesuatu dan bersikap wajar saja di depan mereka. Lebih tidak menyenangkan hatinya lagi ketika ia mendapat menyataan bahwa sejak dua orang muridnya itu pulang, Bu Beng Kwi jarang sekali keluar dari dalam kamarnya sehingga ia jarang bertemu dengan penolongnya itu. Akan tetapi sebaliknya, ia sering bertemu dengan dua orang muda yang nampaknya kini makin suka mendekatinya. Pada suatu sore, ketika Sheila sedang membersihkan daun- daun kering dari taman di depan rumah, tiba-tiba muncul Ceng Kok Han yang tanpa banyak cakap lalu membantu pekerjaannya memunguti dan menyapu daun-daun kering itu.

#Aih, sudahlan, Ceng-sicu. Tidak perlu kaubantu, ini pekerjaanku sehari-hari, nanti tangan dan pakaianmu menjadi kotor saja.# kata Sheila menolak dengan lembut dan tersenyum manis.

#Tidak mengapa, toanio, aku suka membantumu karena aku merasa kasihan kepadamu,# jawab Ceng Kok Han. Sheila menunda pekerjaannya dan memandang kepada pemuda itu sambil tertawa kecil. #Engkau sungguh aneh, sicu. Kenapa kasihan kepadaku? Aku senang melakukan pekerjaan di sini.#

#Toanio, orang cantik dan sepandai engkau ini sungguh tidak selayaknya hidup sederhana ini, bekerja keras seperti pelayan. #

#Harap jangan berkata demikian, sicu!# Sheila berkata cepat memotong dan suaranya mengandung penasaran.

#Ketahuilah bahwa selama bertahun-tahun ini, baru sekarang aku merasakan hidup penuh kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan. Aku suka sekali melakukan semua pekerjaan ini, jadi, kalau engkau merasa kasihan, hal itu tidak tepat bahkan lucu sekali.#

#Toanio, engkau dahulu isteri seorang pendekar perkasa yang terkenal. Sekarang, selayaknya kalau engkau menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga yang terhormat dan hidup serba kecukupan. Akan tetapi sebaliknya engkau malah hidup di tempat yang amat sunyi, jauh tetangga jauh masyarakat. Toanio, kenapa sejak suamimu meninggal dunia, sudah belasan tahun lamanya, engkau tidak. tidak

menikah lagi?# Mendengar pertanyaan ini, wajah yang masih cantik dan nampak jauh lebih muda dari usianya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu berubah kemerahan. Sheila yang sudah mengenal pemuda ini karena sering bercakap-cakap, tahu bahwa Ceng Kok Han adalah seorang pemuda yang gagah perkasa yang berwatak terbuka dan jujur, suka mengeluarkan isi hatinya melalui mulut tanpa sungkan lagi. Oleh karena itu, iapun tidak merasa tersinggung, lalu tersenyum lebar memandang pemuda itu.

#Wah, Ceng-sicu, engkau ini aneh-aneh saja. Siapakah orangnya yang suka dengan sungguh-sungguh mengawini aku? Seorang janda dengan seorang anak, perempuan kulit putih pula yang pada umumnya dianggap musuh. Kalau ada, mereka itu hanya berniat untuk mempermainkan aku saja. Karena itu aku tidak pernah menerima lamaran mereka, sicu. Aku harus menjaga kebahagiaan hidup anakku satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.#

#Engkau terlalu merendahkan diri, toanio. Engkau seorang wanita yang biarpun berkulit putih, namun amat cantik, bijaksana dan tidak kalah dibandingkan dengan wanita pribumi yang manapun.# Wajah itu menjadi semakin merah, dan hatinya terasa tidak enak karena pujian dari pemuda yang jujur itu semakin berlebihan.

#Sudahlah, sicu, harap jangan bicara tentang itu. Buktinya, sampai sekarang aku hidup berdua saja dengan anakku dan aku tidak pernah mengeluh.#

#Akan tetapi, tanio, kalau sekiranya toanio ingin merubah kehidupan yang penuh dengan kesepian ini, kalau saja toanio sudi menerimanya, ada seorang pria yang dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh ingin membahagiakanmu, ingin mempersuntingmu sebagai isteri tercinta, bukan sekedar main-main seperti yang kukatakan tadi.# Sepasang mata yang biru itu terbelalak memandang Ceng Kok Han penuh selidik.

#Sicu.....! Apa...... apa maksudmu......? Siapa siapa yang kau maksudkan itu?# #Akulah pria itu, toanio. Kalau sekiranya engkau sudi menerima, aku. aku

meminangmu untuk menjadi isteriku.# Sapu itu terlepas dari tangan Sheila. Matanya masih terbelalak memandang dan bibirnya yang setengah terbuka itu gemetar namun tidak dapat mengeluarkan suara. Kemudian ia memejamkan matanya, tidak tahu harus tertawa atau menangis karena hatinya ingin melakukan keduanya. Ia ingin tertawa karena geli hatinya bahwa seorang pemuda seperti Ceng Kok Han menyatakan cinta kepadanya melalui pinangan, dan ia ingin menangis karena merasa terharu mengetahui bahwa pemuda perkasa seperti Kok Han ini dapat dipercaya

kata-katanya dan tentu sungguh-sungguh merasa suka dan kasihan kepadanya,

Bukan sekedar tertarik dan bermaksud mempermainkan terdorong oleh nafsu berahi semata. Akan tetapi ia cukup bijaksana untuk tidak melakukan keduanya, tidak menangis dan tidak tertawa, hanya memejamkan matanya sejenak dan menguatkan hatinya. Kemudian ia membuka matanya memandang. pemuda itu masih berdiri di depannya, tegak dan gagah, dengan sikap menanti penuh kesabaran, menanti jawabannya. Ah, terasa benar olehnya kasih sayang yang hangat terpancar keluar melalui sinat mata pemuda itu dan iapun tahu benar bahwa hidup sebagai isteri pemuda ini tentu membawa ketenangan dan ketenteraman, terlindung dengan baik. Akan tetapi satu hal ia tahu pasti, yaitu bahwa ia tidak memiliki cinta kasih terhadap pemuda perkasa ini, walaupun ia merasa kagum dan suka.

#Ceng-sicu, harap engkau maafkan aku. Aku adalah seorang wanita yang tidak muda lagi, usiaku sudah hampir tiga puluh lima tahun. sedangkan engkau baru berusia paling banyak dua puluh lima tahun. Bukan hanya selisih usia ini saja yang membuat aku tidak berani menerima pinanganmu, sicu, melainkan karena aku......

aku. #

#Engkau telah menaruh hati kepada orang lain, mencinta orang lain?# Sungguh seorang laki-laki yang terbuka dan terus terang, pikir Sheila. Maka iapun mengangguk setelah mengamati hatinya sendiri. Benar, ia telah jatuh cinta kepada orang lain. Baru sekarang kenyataan ini nampak benar olehnya. Ia telah jatuh cinta kepada Bu Beng Kwi, kepada penolongnya, penyelamatnya, kepada pendekar besar yang buruk rupa dan cacat tubuhnya itu! Maka, dengan penuh keyakinan iapun mengangguk untuk menjawab pertanyaan pemuda itu. Ceng Kok Han menerima pengakuan wanita itu dengan gagah. Dia memang merasa hatinya tertusuk kekecewaan, namun dia menerimanya tanpa mengeluh.

#Toanio, katakanlah, dia...... dia berada di sini?# Karena ia berhadapan dengan seorang pria yang jujur dan gagah perkasa, Sheila meras tidak perlu menyembunyikan rahasianya dan iapun mengangguk.

#Apakah dia...... sute Li Hong Cang?# Sheila tersenyum lemah dan menggeleng kepala. Sejenak Ceng Kok Han tertegun dan terbelalak memandang wajah wanita itu, kemudian dia menundukkan mukanya dan pandang matanya berpancar kekaguman dan keharuan. Dia lalu menjura dengan dalam dan penuh dengan hormat.

#Ah, toanio, aku semakin kagum kepadamu. sungguh engkau seorang wanita yang berbudi luhur, seorang wanita yang akan dapat menjadi cahaya terang dalam kehidupan seseorang dengan cinta kasihmu yang suci murni. Maafkan kelancanganku tadi, toanio.# Dia menjura lagi. Sheila membalas penghormatan itu dengan hati terharu.

#Engkaulah yang harus memaafkan aku, sicu, karena aku telah mengecewakan hatimu. Semoga engkau kelak dapat bertemu dengan jodohmu yang sepadan dengan kegagahan dan kebaikanmu.# Pemuda itu membalikkan tubuh dan meninggalkan Sheila yang masih berdiri termenung. kemudian iapun melanjutkan pekerjaannya, diam-diam merasa kagum kepada murid tertua Bu Beng Kwi itu. Pengalaman yang menegangkan hati Sheila terulang kembali pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Ia baru saja mandi dan berganti pakaian, terus pergi membawa pakaian kotor menuju ke pancuran air di mana ia biasanya mencuci pakaian. baru saja ia mulai mencuci, terdengar suara lirih memanggil namanya.

#Sheila......!# Tentu saja ia merasa terkejut sekali karena selama berada di situ, belum pernah ada orang menyebut nama kecilnya begitu saja. Ia cepat menoleh dan terbelalak melihat bahwa yang memanggilnya adalah Li Hong Cang, murid kedua dari Bu Beng Kwi. Pemuda tinggi kurus dengan muka putih dan alis tebal itu telah berdiri di dekatnya dan memandang kepadanya dengan sinar mata memancarkan kekaguman.

#Eh, Li-sicu! Engkau mengejutkan orang saja!# kata Sheila sambil tersenyum cerah, memaksa diri untuk bersikap biasa dan menekan debar jantungnya.

#Engkau nakal sekali. Darimana engkau mengetahui nama kecilku, sicu?# Akan tetapi pancingannya untuk mencairkan suasana dengan senda gurau tidak ditanggapi oleh Hong Cang yang masih saja bersikap serius dan pandang matanya yang penuh kagum itu tidak berubah. #Aku tahu dari anakmu. Sheila, engkau sungguh cantik jelita pagi ini, seperti dewi pagi yang gemilang. Alangkah indahnya rambutmu itu, seperti benang sutera emas....... Sheila merasa bulu tengkuknya meremang mendengar pujian ini. Ia tahu akan gawatnya suasana. Pemuda ini tidak main-main dan seperti juga apa yang dilakukan Ceng Kok Han kemarin, pemuda ini berterang memujinya dan memperlihatkan perasaan kagum dan cintanya! Karena tidak tahu harus berbuat apa, Sheila tetap saja bersikap sendau gurau.

#Ih, sicu, jangan memuji berlebihan. Aku hanyalah seorang perempuan tua. Anakku yang menjadi sutemu itu sudah hampir dewasa!# Ucapannya ini dimaksudkan untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali Hong Cang dari maboknya. Akan tetapi agaknya pagi itu Li Hong Cang sudah mengambil keputusan, sudah nekat untuk mengaku cintanya kepada wanita yang membuatnya tergila-gila ini.

#Sheila...... aku memujimu dari lubuk hatiku, setulus cintaku. Aku cinta padamu, Sheila, dan kalau engkau sudi meneimanya, aku ingin hidup bersamamu sebagai suamimu. Akan kuajak engkau tinggal di kota, hidup yang layak dan aku akan membahagiakanmu, Sheila. Sudikah engkau menerima cintaku?, Hampir saja Sheila tak dapat menahan ketawanya. ia merasa seperti berada di panggung saja, seperti sedang bermain sandiwara. Baru saja kemarin kok Han menyatakan keinginannya hendak meminang, kini hong cang menyatakan cintanya! Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mentertawakan pemuda yang nampaknya serius sekali itu. Maka iapun mengambil keputusan untuk menolaknya dengan halus namun tegas untuk membuyarkan khayal yang membuat pemuda itu bersikap demikian romantis.

#Li-sicu, maafkan aku dan harap jangan menyesal kalau aku terpaksa mengecewakan hatimu. Aku tidak mungkin membalas cintamu, tidak mungkin dapat menerima pinanganmu, pertama karena engkau jauh lebih muda dariku, kita tidak pantas menjadi suami isteri. Dan kedua karena aku sudah mencinta laki-laki lain. Nah, maafkanlah aku, sicu.# Alis yang hitam tebal itu berkerut dan muka yang putih itu menjadi semakin pucat,

#Sheila, engkau...... engkau memilih suheng? jadi engkau mencinta suheng Ceng Kok Han?# Sheila menggeleng kepala,

#Tidak, bukan dia yang kucinta.# Sepasang mata pendekar itu terbelalak dan mukanya menjadi kemerahan. Tiba-tiba dia lalu menjura dengan sikap hormat,

#Toanio, maafkan kelancanganku...... engkau sungguh seorang wanita yang luar biasa, toanio.# Li Hong Cang lalu memberi hormat lagi dan pergi meninggalkan Sheila.

Dua hari kemudian semenjak dua orang pemuda itu menyatakan cintanya, mereka pergi meninggalkan pondok itu. Mereka berpamit kepada Sheila dengan sikap hormat, seperti sikap mereka ketika pertama kali datang. Tidak nampak lagi tanda-tanda bahwa mereka pernah mengaku cinta, Sinar mata mereka kini sungkan

dan hormat, dan sikap merekapun tetap ramah ketika mereka minta diri. Sheila pun besikap biasa dan menghaturkan selamat jalan kepada mereka. Baru setelah mereka pergi, ia merasa kehilangan karena bagaimanapun juga, kehadiran dua orang muda itu sedikit banyak mendatangkan perubahan di tempat yang amat sunyi itu. Setelah mereka pergi, baru ia berani bertanya kepada Han Le ke mana mereka pergi dan apa yang hendak mereka lakukan.

#Kedua orang suhengku itu berangkat ke kota besar untuk mulai dengan perjuangan mereka menentang pemberontak Tai Peng, ibu. Kelak kalau aku sudah besar, akupun ingin mengikuti jejak mereka.# kata Han Le dengan sikap gagah. Dan pada sore hari itu, ketika Sheila duduk di serambi belakang seorang diri, tiba-tiba muncul Bu Beng Kwi di depannya.

#Toanio, kenapa engkau menyia-nyiakan kesempatan baik dan rela mengubur dirimu di tempat sunyi ini?# Pertanyaan yang tiba-tiba itu mengejutkan hati Sheila.

#Taihiap, maafkan aku, akan tetapi apa maksud pertanyaan taihiap ini? Aku tak mengerti. #

#Engkau telah menolak cinta kasih dua orang muda seperti Ceng Kok Han dan Li Hong Cang!# Sheila memandang dengan mata terbelalak kaget. #Taihiap...... tahu akan hal itu?#

#Mereka mengaku kepadaku tentang cinta mereka kepadamu dan minta perkenanku untuk meminangmu. Aku memberi perkenan, akan tetapi mereka hari ini pergi dengan hati patah. Toanio, kenapa engkau tidak memilih seorang di antara mereka dan meninggalkan tempat yang sunyi ini, membangun kehidupan baru yang penuh bahagia dengan seorang di antara kedua muridku itu? Bukankah mereka itu adalah orang- orang muda yang gagah perkasa, berjiwa pendekar dan akan sanggup melindungimu selamanya?# Baru sekali ini Sheila mendengar orang ini bicara demikian banyak, dan bicara dengan suara demikian bersemangat. Akan tetapi kata-kata yang panjang dan bersemangat ini sama sekali tidak menyenangkan hatinya, bahkan baginya merupakan benda runcing yang menusuk perasaannya. Tak terasa lagi Sheila yang biasanya tabah itu kini menutupi mukanya untuk menyembunyikan air mata yang bercucuran keluar dari sepasang matanya yang biru. Namun, Bu Beng Kwi telah melihatnya dan dengan suara mengandung keheranan namun lembut dia bertanya.

#Toanio, kenapa engkau menangis?# Sheila menghapus air matanya. Lalu ia memandang kepada laki-laki itu. Hanya sebentar mereka bertatap pandang karena Bu Beng Kwi, seperti biasanya segera menundukkan mukanya.

#Taihiap, demikian bencikah taihiap kepadaku?# Bu Beng Kwi terkejut, sejenak mengangkat muka, matanya mencorong memandang wajah Sheila akan tetapi lalu menunduk kembali.

#Apa maksudmu?#

#Taihiap selalu menjauhiku, dan sekarang dengan halus mengusirku. mengapa taihiap membenciku? Apakah karena aku seorang perempuan kulit putih? Ataukah aku memberatkan penanggungan taihiap di sini? Kalau benar demikian, katakanlah saja, taihiap dan aku..... aku akan pergi bersama anakku, aku..... tidak ingin menyusahkan taihiap yang sudah demikian baik kepada kami. #

#Aku tidak membencimu, toanio. Jangan salah mengerti. Dua orang muridku itu tertarik dan jatuh cinta kepadamu. Mereka terus terang di depanku dan minta perkenan dariku untuk meminangmu. Tentu saja aku memperbolehkan karena aku lihat bahwa engkau cukup berharga untuk menjadi isteri orang yang bagaimanapun juga.

Akan tetapi engkau menolak mereka, memilih hidup bersunyi diri di sini? Mengapa? # Sheila merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Ingin mulutnya meneriakkan bahwa ia tidak mungkin dapat meninggalkan pria ini, bahwa ia tak mungkin berpisah dari tempat ini, dari Bu Beng Kwi. Akan tetapi tentu saja ia tidak seberani itu, karena Bu Beng Kwi sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda keramahan kepadanya, bersikap dingin, bahkan selalu menjauhkan diri. Malah orang yang diam-diam dipujanya, dijunjung tinggi dan dicintanya ini seperti menyuruh dua orang muridnya untuk meminangnya!

#Aku sudah merasa senang dan berbahagia sekali di sini, taihiap. Aku tidak ingin pergi ke manapun juga. Bukankah anakku juga berada di sini? Kami merasa suka dan merasa aman tenteram hidup di sini, dan kesunyian di sini bahkan merupakan keheningan yang menyejukkan hati.#

#Benarkah yang kau katakan itu, toanio# Sheila memandang kepadanya dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri.

#Perlukah aku bersumpah, taihap? Semenjak suamiku meninggal dunia, baru sekarang aku merasakan kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketenteraman, dan aku berbahagia sekali tinggal di sini, taihiap. Kalau boleh, aku ingin tinggal di sini, selamanya, sampai aku mati.# Kembali Bu Beng Kwi mengangkat muka memandang dengan sinar mata mencorong ketika mendengar ucapan ini, akan tetapi dia lalu membalikkan tubuhnya dan berkata, #Aku girang sekali mendengar ini, toanio'. Dan seperti orang tergesa-gesa diapun pergi meninggalkan Sheila. #Ya Tuhan, ampunkan semua dosaku...... ya Tuhan, ampunilah saya......# Sheila tak berani bergerak dan kini kedua pipinya basah oleh air matanya yang mengalir turun. Sejak tadi ia mengintai dan timbul dugaannya bahwa tentu Bu Beng Kwi seringkali meratap dan menangis seorang diri seperti itu di waktu malam,

Walaupun baru dua kali ini ia mengintai dan melihatnya. Sekali ini, ratap tangis Bu Beng Kwi yang minta-minta ampun kepada Tuhan akan dosa-dosanya itu diseling doa-doa dalam bahasa yang tidak dimengertinya, doa yang biasanya diucapkan oleh para hwesio. Kiranya Bu Beng Kwi ini pandai pula berdoa seperti pendeta, pikirnya penuh keharuan. Dosa apa gerangan yang pernah dilakukan orang ini sehingga kini dia menyesali diri sedemikian rupa? Sukar untuk dipercaya bahwa seorang gagah perkasa dan budiman seperti Bu Beng Kwi ini pernah melakukan dosa yang membuat dia begitu menderita dalam penyesalan. Ingin sekali Sheila meloncat dan berlari keluar untuk merangkul dan menghibur, menyusuti air mata orang itu, akan tetapi tentu saja ia tidak berani.

#Akulah yang telah membunuh...... akulah yang telah merusak kehidupannya, terkutuklah perbuatanku itu...... ya Tuhan, ampunilah hambamu ini. aku

sudah cukup menyiksa diri, menderita, namun hukuman ini masih belum cukup untuk menebus dosa-dosaku......# Bu Beng Kwi meratap dan menangis, bahkan menjambak rambutnya sendiri dan ketika dia menjatuhkan diri berlutut, dia membentur- benturkan kepalanya pada tanah sampai terdengar bunyi berdebukan yang mengerikan hati Sheila.

Akhirnya dengan suatu keluhan panjang, tubuh Bu Beng Kwi itu terguling roboh dan rebah terlentang tak bergerak lagi.Sheila memandang dengan bingung dan gelisah. Tertidurlah orang itu? Ataukah jatuh pingsan? Jangan-jangan dia jatuh sakit, pikirnya. Selagi ia merasa bimbang dan ragu, menghampiri ataukah tidak, dan merasa serba salah, tiba-tiba nampak bayangan dua orang berkelebat datang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang laki-laki. Mula-mula Sheila mengira bahwa yang datang itu adalah Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, akan tetapi karena malam itu bulan hanya muncul sepotong dan cuaca remang-remang, ia tidak dapat melihat jelas.

(Lanjut ke Jilid 07)