-->

Pemberontakan Taipeng Jilid 03

Jilid 03

#Omitohud, jadi pihak Kun-lun-pai tidak tahu siapa sebenarnya orang she Lee murid Siauw-lim-pai itu dan apa yang menjadi sebab maka dia sampai membunuh dua orang tosu Kun-lun-pai?#

#Benar,# jawab utusan itu, #Ketua kami dengan hormat menyerahkan kepada kebijaksanaan locianpwe di Siauw-lim-pai untuk menyelidiki dan bertindak atas perbuatan muridnya, dan Kun-lun-pai tidak akan mencampuri.#

#Sungguh bijaksana sekali ketuamu itu, to-yu. Akan tetapi bagaimana kami akan dapat bertindak dan menghukum murid kami kalau kami tidak mengetahui siapa dia? Hendaknya diketahui bahwa murid Siauw-lim-pai yang berada di luar banyak sekali, dan tak terhitung junlah murid yang she Lee, bahkan mungkin ada cucu murid she Lee yang tidak pernah kami ketahui atau kenal sama sekali.#

#Siancai...... kami hanya utusan, locianpwe, dan kami sudah menyampaikan laporan dan pesan ketua kami. Kemudian terserah kepada kebijaksanaan Siauw-lim-pai. Kun- lun-pai hanya akan bertindak sebagai penonton untuk mengagumi keadilan dan ketegasan Siauw-lim-pai yang sejak ratusan tahun menjadi sahabat kami, demikian pesan ketua kami.#

#Omitohud...... betapa sukarnya tugas itu, akan tetapi pinceng akan mencobanya, melakukan penyelidikan itu. Harap sampaikan salam dan hormat kami semua kepada para pimpinan Kun-lun-pai.# Utusan itupun pergi meninggalkan Siauw-lim-pai dan tak lama kemudian, Lee Song Kim juga mendengar akan segala laporan anak buahnya yang melakukan penyelidikan. Hatinya merasa agak kecewa bahwa api yang dinyalakannya antara Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai tidak jadi berkobar. Kiranya kedua pihak tidak dibakar perasaan marah, bahkan Kun-lun-pai menyerahkan penyelidikan tentang perisriwa itu kepada Siauw-lim-pai.

Cita-citanya untuk membakar kedua perkumpulan besar itu agar mereka saling serang sehingga dia akan dapat mempelajari gerakan-gerakan ilmu silat mereka yang sedang bertanding, gagal. Ang-hong-pai (Perkumpulan Tawon merah) merupakan sebuah perkumpulan sesat yang anggautanya seluruhnya terdiri dari wanita-wanita belaka. Biarpun hanya merupakan sebuah perkumpulan wanita, namun nama Ang-hong- pai terkenal di dunia hitam sebagai perkumpulan yang kuat karena para anggauta wanita yang jumlahnya mendekati seratus itu rata- rata memiliki ilmu silat tinggi, ahli pula tentang penggunaan racun dan rata-rata memiliki watak kejam dan buas, mudah membunuh dan tidak segan-segan menyiksa lawan yang tertawan.

Juga banyak di antara mereka terkenal sebagai wanita-wanita yang haus akan pria, Suka menangkapi pria-pria muda dan celakalah pria yang sudah menjadi tawanan mereka karena dia akan dibawa ke sarang Ang-hong-pai dan tak seorangpun tahu apa yang menjadi nasibnya karena dia takkan pernah muncul lagi di dunia ramai!

Biarpun banyak di antara para anggauta Ang-hong-pai merupakan wanita-wanita muda yang berwajah cantik dan bersikap genit, namun kaum pria bergidik ngeri kalau mendengar disebutnya nama Ang-hong-pai. Terutama sekali mereka yang tinggal di daerah kota Nan-ping di Propinsi Hok-kian. Kalau ada seorang wanita, betapa cantikpun, mengenakan pakaian serba merah, sebagai tanda bahwa ia anggauta Ang- hong-pai, maka para pemuda yang tidak memiliki kepandaian segera cepat-cepat menyembunyikan diri, seperti anak-anak ayam melihat datangnya seekor musang.

Para hartawan di kota Nan-ping dan sekitarnya, tidak ada yang berani menolak untuk memberi sumbangan apabila ada wanita baju merah datang ke rumah mereka, sehingga kehidupan Ang-hong-pai terjamin oleh sumbangan-sumbangan itu, di samping hasil perampokan atau pencurian yang mereka lakukan di tempat-tempat yang jauh dari wilayah Nan-ping. Mereka tidak pernah mau mengganggu wilayah itu karena mereka memperoleh sumbangan dengan dalih #menjaga keamanan#. Ada memang terjadi beberapa kali munculnya seorang jagoan yang menganggap dirinya cukup mampu utuk menjadi pendekar dan menentang Ang-hong-pai, akan tetapi akibatnya, jagoan itu yang tewas dan mayatnya tak pernah dilihat orang. Maka, nama Ang- hong-pai menjadi semakin tersohor dan kaum pendekar merasa lebih aman untuk mengambil jalan sendiri dan tidak mencari perkara dengan waita-wanita liar itu.

Yang menjadi ketua dari Ang-hong-pai ketika itu adalah seorang wanita berusia kurang lebih enam puluh tahun, akan tetapi melihat bentuk wajahnya yang masih manis, mukanya yang belum dinodai keriput, tubuhnya yang masih padat rampng, ia nampak seperti seorang wanita berusia tiga puluh tahun saja! Para anggauta atau murid Ang-hong-pai menyebutnya Theng Toanio dan nama sebenarnya adalah Theng Ci. Wanita ini masih nampak cantik dan pakaiannya selalu mewah, berwarna merah terbuat dari sutera mahal dengan hiasan kuning emas dan garis biru. Theng Toanio ini melanjutkan kedudukan mendiang subonya (guru wanita) memimpin Ang-hong-pai dan karena ia nampak lebih pandai daripada mendiang subonya, maka anak buah Ang- hong-pai semua taat dan tunduk kepadanya.

Theng Toanio inilah yang mulai memungut sumbangan dari para hartawan, berbeda dengan mendiang subonya yang dahulu hanya mengandalkan kejahatan untuk membiayai perkumpulannya. Juga kini anggaua Ang-hong-pai mendekati seratus orang kesemuanya terdiri dari wanita-wanita cantik dengan usia tidak lebih dari tiga puluh tahun! Theng Toanio mengusir bekas anggauta yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun. Wanita ini memang lihai sekali, lihai permainan pedangnya dan juga amat pandai mempergunakan senjata rahasia jarum merah yang mengandung racun tawon yang amat kuat. Perlu diketahui bahwa diwaktu mudanya, Theng Ci ini pernah diperkosa oleh datuk sesat Thian-tok, dan agaknya pengalaman inilah membuat Thian-tok tidak melupakan wanita ini.

Pada tahun terakhir menjelang kematiannya, datuk sesat Thian-tok, satu di antara Empat Racun Dunia yang menjadi guru Ong Siu Coan, mencari Theng Ci di sarang

Ang-hong-pai. Mula-mula, melihat kedatangan datuk sesat yang pernah memperkosanya, Theng Ci menjadi marah dan mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok. Akan tetapi Thian-tok terlalu lihai baginya dan untuk kedua kalinya, wanita ini terpaksa menyerah, bahkan sekali ini ia melayani segala kehendak Thian-tok dengan sukarela karena Racun Dunia itu menjanjikan kepadanya untuk mengajarkan ilmunya yang paling hebat. Demikianlah, selama hampir satu tahun, Thian-tok hidup di antara para wanita di Ang-hong-pai, dan mengajarkan Ilmu Silat Ngo-heng Lian-hoan-kun-hoat kepada Theng Ci atau Theng Toanio, juga beberapa ilmu lain.

Setelah Thian-tok merasa bosan tinggal di situ dan pergi, Theng Toanio telah menjadi seorang wanita yang lihai bukan main, jauh lebih lihai daripada sebelum ia digembleng Thian-tok. Dan iapun melatih anak buahnya sehingga mereka juga memperoleh kemajuan pesat. Semakin ditakutilah Ang-hong-pai semenjak waktu itu. Ang-hong-pai berada di puncak sebuah bukit yang penuh dengan hutan lebat, di luar kota Nan-king dalam Propinsi Hok-kian. Dari jauh, perkampungan Ang-hong-pai tidak nampak saking lebatnya hutan di bukit itu. Akan tetapi, bukit yang diberi nama Ang-hong-pai atau Bukit Tawon Merah itu terkenal sebagai tempat berbahaya dan tidak ada seorangpun berani mencoba-coba untuk mendudukinya.

Di dalam hutan itu terdapat penuh binatang hutan yang buas, akan tetapi yang membuat orang merasa gentar adalah rombongan tawon-tawon yang bermacam-macam di tempat itu. Banyak di antara tawon- tawon ini berbisa. Sengatannya dapat mengakibatkan maut dalam waktu beberapa jam saja. Dan tentu saja, selain bahaya binatang buas dan tawon, bahaya terbesar yang mengancam mereka yang berani mendaki bukit itu adalah perkumpulan Ang-hong-pai sendiri. Pada waktu itu, kaisar amat lemah dan berenang di dalam kesenangan pemuasan nafsu belaka.

Kelemahan kaisar tentu mengakibatkan kelemahan pemerintahan, pejabat-pejabat tidak terkendali sehingga mereka bagaikan kuda-kuda yang lepas dari kekangan, berubah menjadi raja-raja kecil yang tidak memperdulikan keadaan rakyat,

Melainkan berlomba untuk menumpuk kekayaan dan memperkuat kedudukan. Adanya gangguan kepada rakyat seperti perampok dan golongan hitam macam Ang-hong-pai, tidak diperdulikan oleh para pejabat daerah. Bagi mereka, asal kedudukan mereka tidak diganggu, sudahlah. bahkan banyak terjadi penjahat berkomplot dengan pejabat, keduanya memiliki kepentingan yang sama, yaitu makmur dengan jalan menghisap darah rakyat jelata dan tidak saling menentang, Katakanlah bagi hasil! Theng Toanio tidak terkecuali. Iapun melihat kelemahan pemerintah, maka iapun segera mengadakan kontak dengan para pejabat daerah, mengirimkan barang-barang berharga sebagai tanda penghormatan dan hal ini membuat para pejabat segan untuk menentang Ang-hong-pai,

Asal perkumpulan itu tidak mengganggu alat-alat pemerintah. Demikianlah kedudukan Ang-hong-pai amat kuat di daerah itu, dan para pendekarpun segan untuk menentangnya. Namun, pada suatu pagi yang sunyi dan cerah, nampak sesosok bayangan mendaki bukit Ang-hong-san dengan lenggang seenaknya, seolah-olah dia sedang mendaki sebuah bukit yang indah untuk pergi bertamasya, bukan sedang mendaki bukit yang penuh dengan bahaya yang mengancam nyawanya. Bayangan itu adalah seorang laki-laki yang belum tua, usianya tiga puluh delapan kurang lebih, pakaiannya mewah, wajahnya tampan dan tubuhnya membayangkan kekuatan.

Rambutnya tersisir licin dan mengkilap karena minyak, mulutnya tersenyum-senyum.

Seorang pria muda yang tampan menarik dan berpakaian mewah, pesolek dan senyumnya tentu mudah meruntuhkan benteng pertahanan hati wanita! Orang ini bukan lain adalah Lee Song Kim! Tidak mengherankan kalau orang seperti dia sudah tahu bahwa bukit itu adalah sarang Ang-hong-pai, karena dia adalah seorang yang amat lihai dan memang dia naik ke puncak bukit dengan maksud mengunjungi Ang- hong-pai. Lee Song Kim mendengar berita tentang Ang-hong-pai, tentang ketuanya yang masih nampak cantik biarpun usianya sudah setengah abad lebih, tentang para anggautanya yang berjumlah hampir seratus orang, semua wanita muda yang menarik. Timbul keinginan hatinya untuk berkunjung dengan dua macam niat di hatinya.

Pertama, untuk menguji ilmu ketua Ang-hong-pai, kalau perlu menguasai ilmu silatnya,

Dan kedua, kalau memang benar bahwa anggauta Ang-hong-pai terdiri dari wanita- wanita muda yang cantik, dia bermaksud menaklukkan perkumpulan itu. Pertama, agar Ang-hong-pai dapat memperkuat kedudukannya, dan kedua, wanita-wanita itu dapat menghibur hatinya dan memuaskan nafsunya. terutama sekali dia harus menyusun kekuatan, karena untuk mempunyai jagoan nomor satu, harus mempunyai kekuatan yang mendukung di belakangnya, untuk menghadapi lawan yang banyak jumlahnya. Ang-hong-pai bukanlah perkumpulan yang besar kalau kedatangan orang asing di bukit itu tidak mereka ketahui semenjak orang itu menginjakkan kaki di tanjakan pertama. Mereka selalu memasang penjaga di semua sudut, secara bergilir. Ketika para penjaga melihat munculnya seorang laki- laki yang demikian tampannya,

Jantung mereka sudah berdebar tidak karuan, merasa gembira dan tegang sekali, seperti sekumpulan serigala kelaparan melihat munculnya seekor domba yang gemuk dari dalam semak-semak. Tiga orang penjaga ini ingin sekali segera menubruk pria itu, diperebutkan. Akan tetapi mereka bukan orang-orang yang bodoh dan lancang. Mereka dapat melihat, dari sikap dan langkah pria itu, bahwa yang mendaki bukit ini bukanlah orang sembarangan. Mereka tidak berani sembrono. Sekali bertindak dan gagal, tentu mereka akan mendapat kemarahan ketua mereka. Padahal, kalau sudah marah, Theng Toanio kejam luar biasa. Mudah saja membuntungi lengan atau kaki, atau bahkan leher orang! Maka, sambil menahan getaran hati yang penuh dengan nafsu melihat pria yang demikian gantengnya, tiga orang ini lalu membagi tugas.

Seorang melapor kepada ketua di atas, yang lain tetap mengintai. mereka tidak khawatir pria itu akan dapat pergi dari bukit itu karena bukit itu, di antara pohon-pohon besar di dalam hutan, terdapat jebakan-jebakan dan perangkap- perangkap yang penuh rahasia. Sebelum tiba ditanjakan lereng pertengahan, tentu pria itu sudah akan masuk perangkap dan mudah saja mereka tawan! Demikian pikir mereka, sama sekali tidak mengetahui bahwa calon korban yang mereka sangka seekor domba gemuk yang lunak dagingnya itu ternyata adalah seekor harimau yang tidak akan mudah dikalahkan oleh pengeroyokan segerombolan serigala betina yang kelaparan! Bahkan mungkin segerombolan serigala betina itulah yang akan menjadi korban terkaman sang harimau. Lee Song Kim memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.

Penglihatan dan pendengarannya, juga panca-indera yang lain, amatlah peka dan terlatih. Maka, diam-diam dia sudah mendengar dan melihat berkelebatnya tiga bayangan wanita di antara semak-semak belukar itu. Akan tetapi dia hanya tersenyum saja, tidak membuat gerakan mencurigakan, pura-pura tidak tahu saja. Namun dia sudah dapat menduga bahwa tentu bayangan-bayangan itu adalah penjaga- penjaga yang sudah melihat di mendaki bukit dan tentu kini Ang-hong-pai telah membuat persiapan untuk menyambutnya. Mengingat akan hal ini, Song Kim tersenyum, penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Dia terus melangkah maju dengan gagah, memasuki hutan lebat itu, mendaki tanjakan pertama yang penuh liku. Beberapa kali dia mendapatkan jalan buntu, terhalang jurang yang menganga lebar dan mengerikan.

Bagi orang biasa demikian, akan tetapi dengan mudah Song Kim melompati jurang- jurang itu! Beberapa buah perangkap yang tertutup daun-daun dapat diketahuinya karena sebelum melangkah, dia melemparkan batu-batu kecil dengan tenaga kuat ke atas tanah yang akan diinj aknya. Perangkap itu bekerja dan tebukalah lubang jebakan ketika terkena sambitan keras itu sehingga tidak sampai menjebak tubuhnya. Dari kauh, para anggauta Ang-hong-pai mengamati gerak-geriknya dan mereka semua terkejut melihat betapa laki-laki itu mampu melewati semua rintangan. Makin yakin hati mereka bahwa pria itu bukan orang bisa, melinkan orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Melihat ini, Theng Toanio cepat mempersiapkan anak buahnya untuk melakukan penghadangan secara bertahap.

Pasukan penghadang pertama muncul ketika Song Kim tiba di lereng pertama. Dia melihat munculnya lima orang gadis yang memegang tali hitam mengepungnya dari belakang batang-batang pohon. Dia melihat betapa lima orang itu mengikatkan ujung tali hitam panjang pada pinggang mereka, sedangkan tali itu mereka gulung dan dipegang di tangan mereka. Ujung lainnya berbentuk lasso dan mengertilah dia bahwa mereka itu adalah ahli-ahli melempar tali untuk menjerat binatang buas, dan kini agaknya pasukan lasso ini hendak menangkapnya dengan tali hitam itu.

Dian-diam dia tersenyum dan pura-pura tidak melihat mereka. Benar saja dugaannya. Tiba-tiba lima orang gadis itu menggerakkan tangan, dari lima jurusan yang mengepung Song Kim, dan nampaklah lima sinar hitam ketika tali-tali itu meluncur dengan mulut lasso terbuka lebar menyambar kepalanya.

Tentu saja dengan mudah Song Kim akan dapat melepaskan diri dari ancaman bahaya. Akan tetapi dia sengaja membiarkan tubuhnya, lasso-lasso itu dengan cepat memasuki kepalanya dan menjerat seluruh tubuh dari leher sampai ke kaki! Karena lima orang gadis itu tadi melempar tali melalui di atas cabang pohon di depan masing-masing, hal yang sudah diatur lebih dahulu, kini mereka menarik tali itu dengan harapan agar tubuh Song Kim tertarik dan tergantung di udara, di antara lima batang pohon. Akan tetapi, betapapun kuat mereka membetot dan menarik, tetap saja tubuh Song Kim tidak bergeming, tidak terangkat sedikitpun. Laki-laki itu malah tersenyum lebar dan menoleh ke sana-sini untuk melihat lima orang gadis yang bersitegang menarik tali masing-masing.

Dengan kedua tangannya, Song Kim mengumpulkan lima helai tali yang mengikat tubuhnya itu, mengerahkan tenaga dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring sambil terus menarik lima helai tali itu dan akibatnya, dengan sentakan yang mengejutkan, tubuh lima orang gadis iti kini tertarik ke atas dan tergantung kepada cabang pohon di depan masing-masing! Mereka meronta-ronta, akan tetapi tidak mampu melepaskan diri karena ikatan ujung tali pada ikat pinggang mereka, yang sengaja dibuat demikian agar lawan tidak dapat merampas tali, amatlah kuatnya. Song Kim kini melepaskan lasso-lasso itu dari tubuhnya. Dengan satu tangan saja dia menahan tubuh lima orang gadis itu dengan cara memegang ujung tali erat-erat, kemudian mengikat kelima ujung tali menjadi satu, mengikatnya pada sebatang pohon.

Sekarang tubuh lima orang gadis itu tergantung setinggi satu meter dari tanah, mereka masih meronta-ronta, akan tetapi makin meronta, makin kuat saja tali mengikat pinggang mereka. Sambil tersenyum lebar Song Kim menghampiri mereka, mengamati mereka satu demi satu. Rata-rata mereka berusia dua puluh lima tahun, bertubuh padat kuat dan berwajah manis. Bagaikan orang memeriksa dan menilai ternak yang akan dibelinya, tangan Song Kim membelai tubuh gadis-gadis itu, mengelus dagu, pipi dan leher, menowel, mencolek dan mencubit sana-sini sambil tersenyum. Kemudian tangannya meraih dan terdengar bunyi kain robek ketika dia merenggutkan pakaian mereka itu terlepas dari tubuh mereka, satu demi satu sehingga kini lima orang gadis itu tergantung dalam keadaan telanjang bulat!

#Ha-ha-ha, inilah hukuman kalian yang telah berani mencoba untuk menghalangi perjalananku. Sekali lagi kalian berani menggangguku, bukan pakaianmu yang kurobek, melainkan kulitmu!# Setelah berkata demikian, Song Kim melanjutkan perjalanannya mendaki bukit. Melihat sepak terjang pria itu dari tempat persembunyiannya, Theng Toanio terkejut bukan main.

Apa yang diperlihatkan Song Kim tadi merupakan bukti bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi sekali. Maka iapun tidak mau mengambil resiko dan cepat mengerahkan semua anak buahnya, langsung dipimpinnya sendiri melakukan penghadangan. Biasanya, untuk menghadapi lawan yang berani naik ke Ang-hong-pai, ada beberapa lapis pasukan yang makin ke atas semakin kuat penjagaannya. Akan tetapi sekali ini Theng Toanio tidak mau menyia-nyiakan waktu dan membiarkan anak buahnya terancam. Ia sendiri memimpin anak buahnya. Lebih dari lima puluh orang gadis dengan pedang di tangan berbaris di belakangnya, sedangkan selebihnya menyusun diri sebagai pengepung dan penjaga tempat-tempat lain karena khawatir kalau-kalau pria yang pandai itu mempunyai teman-teman yang menyerbu dari lain jurusan.

Ada pula beberapa orang yang menolong dan melepaskan lima orang rekan yang tergantung dalam keadaan telanjang tadi. Ketika Song Kim berjalan melalui lorong yang kecil, di kanan kirinya semak-semak belukar, dia bersikap waspada.

Penciumannya menangkap bau yang asing, bau binatang buas! Tiba-tiba terdengan suara gerengan yang menggetarkan gunung itu dan Song Kim berhenti melangkah. Dari dalam semak-semak muncullah dua ekor harimau yang besar, sebesar anak sapi! Dia tidak tahu bahwa dua ekor harimau itu memang dikerahkan oleh Theng Toanio untuk menyerangnya. Inilah serangan pertama yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Theng Toanio. Melihat Song Kim, dua ekor harimau itu menggereng-gereng dan menghampiri Song Kim dari samping, mata mereka melirik dan penuh kemarahan.

Song Kim berdiri tegak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap karena dia tahu betapa kuat dan cepatnya binatang ini. Dia sama sekali tidak merasa gentar karena yakin akan kekuatan sendiri. Tiba-tiba binatang yang berada di sebelah kirinya mengaum dan menubruk dengan terkaman yang tinggi. Song Kim mengelak dengan menyuruk ke samping sehingga tubrukan itu luput. Harimau yang berada di kanan mengikuti gerakan temannya, kini menerjang ke depan dengan cakar kanan kiri menyambar buas. Kembali Song Kim mengelak dengan loncatan ke belakang. Harimau pertama menubruk lagi. Song Kim memiringkan tubuh ke belakang, lalu ketika tubuh harimau itu melayang di sisinya, diapun menggerakkan tangan kanannya, memukul dengan jari terbuka ke arah dada binatang itu.

#Desss!!# Tubuh binatang itu kuat sekali, akan tetapi pukulan Song Kim juga dahsyat sekali sehingga tubuh binatang itu terlempar dan terbanting keras. Harimau kedua menubruk pula dari belakang. Song Kim mendengar sambaran angin dari belakang, lalu membalikkan tubuh sambil mengayun kaki kirinya.

#Bukkk......!# Sebuah tendangan yang amat kuat mengenai perut binatang itu, membuat tubuh binatang itu terlempar dan terbanting pula. Agaknya, pukulan dan tendangan ini membuat dua ekor harimau menjadi ketakutan dan juga kesakitan.

Mereka mengeluarkan suara auman takut dan menyusup pergi, lenyap ditelan semak belukar. Lee Song Kim mengebut-ngebutkan jubahnya, berdiri tegak lalu berseru dengan suara melengking tinggi dan nyaring karena dia telah mengerahkan khikangnya sehingga suara itu melebihi getaran auman harimau tadi dan menggema di seluruh permukaan bukit.

#Ang-hong-pai......! Kalau masih ada lagi pertunjukanmu, keluarkanlah!#

Mendengar suara melengking ini, dan melihat betapa laki- laki itu dengan mudah mampu mengusir dua ekor harimaunya, Theng Toanio kembali terkejut. Akan tetapi ia memberi isyarat kepada pembantu-pembantunya untuk melanjutkan serangan berikutnya, yaitu menggunakan alat yang paling di andalkan : lebah-lebah beracun! Lebah-lebah yang ratusan banyaknya berada di tabung- tabung bambu yang besar, dan di dalam tabung itulah tinggal ratu lebah dan semua telur yang telah menetas. Lebah-lebah itu buas dan menyerang siapa saja. Akan tetapi para anggauta Ang-hong-pai tidak takut karena mereka telah menggunakan semacam minyak yang terbuat dari daun putih. Bau minyak ini ditakuti lebah-lebah itu sehingga tidak seekorpun berani menganggu mereka. Kini tabung-tabung itu dibuka dan ribuan ekor lebah merah berterbangan.

Mula-mula mereka nampak marah dan berterbangan di atas kepala para anggauta Ang- hong-pai, akan tetapi karena binatang-binatabg itu mencium bau yang amat ditakutinya,mereka lalu terbang tinggi mencari mangsa lain, dan tentu saja mereka segera terbang menuju ke arah Song Kim yang tidak memakai minyak anti lebah itu! Ribuan lebah merah dengan mengeluarkan suara mendengung riuh kini menyerbu ke arah Song Kim yang berdiri tegak. Dia sudah mendengar akan keganasan lebah-lebah merah ini, maka sebelum naik ke bukit itu, dia sudah siap siaga untuk menghadapinya. Mula-mula dia mempergunakan jubahnya yang dilepas untuk diputar sedemikian rupa sehingga putaran jubah itu mendatangkan angin yang amat kuat. Lebah-lebah itu terseret oleh putaran arus angin yang dibuat oleh putaran jubah.

Mereka ikut pula terputar-putar dan begitu Song Kim mengebutkan jubahnya dengan kekuatan besar, lebah-lebah itupun tertiup sampai pergi jauh. Akan tetapi, lebah-lebah itu kembali lagi. mereka kebingungan dan marah karena tabung-tabung itu ditutup oleh para pembantu Theng Toanio. Mereka kehilangan tempat tinggal mereka. Dengan ditutupnya tabung, maka tidak ada tanda apa-apa lagi bagi mereka

untuk menemukan sarang mereka, maka mereka menjadi marah dan kembali kepada Song Kim untuk menyerangnya. Song Kim maklum bahwa tidak baik membunuh lebah-lebah itu. Kalau dia mau, tentu saja dengan mudah dia akan membunuh semua lebah dengan sambaran jubahnya, akan tetapi dia sayang kepada binatang-binatang yang dapat dipergunakan sebagai senjata itu, dan juga dia tidak mau membuat kesan buruk terhadap Ang-hong-pai.

Akan tetapi, kalau hanya menggunakan jubah untuk mengusir mereka, tentu mereka akan datang kembali dan akhirnya dia yang akan menjadi lelah sekali, juga menghalangi dia untuk sampai di puncak bukit. Maka dipergunakanlah cara kedua yang sudah dipersiapkan. Setelah untuk kedua kalinya dengan jubah dia membuat lebah-lebah itu tertiup jatuh, dia cepat menyalakan api dan membakar beberapa batang hio biting yang sudah dipersiapkan lebih dahulu. Dia membuat hio itu dari ramuan yang dicampur belerang. Terciumlah bau yang amat menyengat hidung dan nampak asap mengepul tebal berwarna putih kekuningan. Tepat seperti telah diperhitungkan oleh Song Kim, ketika lebah-lebah itu terbang kembali kepadanya, mereka tidak berani mendekatinya, hanya berterbangan saja mengelilingi di atasnya.

Bahkan ketika ada lebah-lebah yang terkena asap itu, mereka terbang kacau balau seperti mabok. Song Kim memegang dupa biting yang mengeluarkan asap itu dan dengan tenang melanjutkan langkahnya mendaki puncak. Lebah-lebah itu mengikutinya, akan tetapi karena asap menjadi semakin banyak, merekapun semakin menjauh. melihat ini, Theng Toanio menyuruh pembantunya untuk membuka tabung- tabung itu. Begitu tabung-tabung dibuka, tercium oleh lebah-lebah itu lalu ditutup kembali setelah semua lebah masuk tabung-tabung itu. Song Kim tiba di bawah puncak dan tiba-tiba muncullah Theng Toanio bersama puluhan orang anak buahnya. Melihat wanita yang gagah dan cantik itu, dikawal puluhan orang gadis yang manis-manis, Song Kim tersenyum dan memandang penuh perhatian dan kekaguman. Tidak salah berita yang didengarnya.

Wanita itu nampak masih muda dan menggairahkan. Wajahnya tetap cantik, kulitnya halus dan tubuhnya nampak padat. Sama sekali tidak dipercaya kalau wanita itu sudah berusia enam puluh tahun! Dan belasan orang wanita muda yang agaknya menjadi pembantu-pembantu utama ketua itu, nampak yang tercantik di antara semua anggauta. Pakaian mereka yang serba merah itu benar-benar mengagumkan, seolah- olah Song Kim merasa berhadapan dengan sekelompok bunga yang sedang mekar dengan indahnya! Di atas puncak, nampak dari situ, terdapat perkampungan dengan bangunan-bangunan yang mungil, cocok untuk menjadi rumah tempat tinggal para wanita manis itu. Song Kim tidak merasa rendah diri berhadapan dengan mereka, maka dengan sikap tenang diapun tersenyum dan menghadapi Theng Toanio.

#Kalau tidak salah duga, aku berhadapan dengan Theng Toanio, ketua Ang-hong-pai bersama para anggauta Ang-hong- pai yang cantik-cantik dan gagah perkasa,# katanya. Dilihatnya betapa pandang mata para pembantu ketua itu berseri mendengar pujiannya. Akan tetapi Theng Toanio mengerutkan alisnya dan sinar matanya berkilat. Agaknya wanita ini masih merasa penasaran dan marah karena semua serangannya tadi digagalkan dengan mudah oleh pendatang ini.

#Benar dugaanmu, sobat. Akan tetapi siapakah engkau yang demikian berani mendaki bukit Ang-hong-san dan melanggar wilayah kami?#

#Aku bernama Lee Song Kim dan dikenal dengan sebutan Lee Kongcu. Aku sengaja datang ke sini karena mendengar kebesaran nama Ang-hong-pai, untuk berkenalan dan menjadi sahabat, juga ingin sekali menguji sampai di mana kelihaian Ang- hong-pai.#

#Hemmm, dan bagaiaman pendapatmu tentang Ang-hong-pai kami?#

#Tempat yang indah, dengan perangkap-perangkap yang berbahaya, harimau buas, lebah-lebah berbahaya, anak buah yang manis-manis dan gagah. Akan tetapi biarpun semua itu cukup mengesankan, aku masih belum merasa puas kalau belum melihat sendiri sampai di mana kelihaian ketuanya!#

#Lee Kongcu, engkau menantangku?# tanya Theng Toanio, mulai tertarik karena pria ini ternyata tidak sombong dan tidak berniat buruk. Seorang pria yang menarik sekali dan selama ini ia sendiri hanya ditemani dan dilayani laki-laki yang lemah walaupun ia boleh memilih orang-orang yang ganteng. Belum pernah ia berdekatan dengan pria segagah ini, kecuali tentu saja ketika ia berada di samping Thian-tok. Akan tetapi Thian-tok hanya tinggi ilmunya saja, sebaliknya ia seorang kakek tua yang bertubuh gendut tidak menarik sama sekali!

#Theng Toanio, aku hanya ingin membuktikan sendiri sampai di mana kelihaianmu. Ketahuilah bahwa aku paling suka dengan ilmu silat, ingin aku mengenal semua orang yang dikabarkan berilmu tinggi, dan aku ingin menaklukkan mereka semua.#

#Ehh? Menaklukkan mereka? Engkau juga ingin menaklukkan aku?#

#Maksudku mengalahkan mereka semua. Aku ingin disebut sebagai Thian-he Te-it Bu- hiap (jago Silat Nomor Satu di Kolong Langit).# #Hemmm...... engkau masih muda akan tetapi cita-citamu setinggi langit. baiklah, aku akan melayani barang beberapa jurus. Akan tetapi, bagaimana kalau sampai engkau kalah olehku?#

#Kalau aku kalah, biarlah engkau yang akan menentukan apa yang akan kaulakukan terhadap diriku.#

#Dan kalau engkau menang?#

#Kalau aku menang, hal yang sudah pasti bagiku, maka Ang-hong-pai harus selalu mentaati perintahku dan menjadi taklukanku.#

#Engkau ingin menjadi ketua di sini menggantikan aku?#

#Tidak, jangan salah mengerti, Theng Toanio. Aku hanya ingin agar Ang-hong-pai memandang aku sebagai sekutu dan setiap saat aku membutuhkan, Ang-hong-pai harus membantuku. Yang pertama, Ang-hong-pai harus mengakui aku sebagai ketua kehormatan dan tiga belas orang anggautanya akan kupilih untuk menemaniku di perkampunganku, selanjutnya setiap kali kuminta, mengganti tiga belas orang itu dengan orang-orang baru yang pilihan.# Theng Toanio tersenyum mengejek, akan tetapi terdengar suara cekikikan karena para gadis itu merasa senang sekali dengan syarat ini. Agaknya mereka akan berebut untuk dapat dipilih karena siapa orangnya tidak akan senang menemani pria yang segagah dan seganteng ini?

#Baiklah, syaratmu itu dapat kuterima. Akan tetapi kalau engkau yang kalah, engkau harus tinggal di sini selama satu tahun untuk menjadi pelayan pribadiku.# Song Kim tertawa.

#Ha-ha-ha, betapa senangnya menjadi pelayan pribadimu di sini, toanio, di antara kembang-kembang merah yang begini cantik dan segar. Baik, kuterima syarat itu dan mari kita mulai.#

#Bersenjata ataukah bertangan kosong?# tanya Theng Toanio yang masih memandang rendah lawannya. Biarpun, lawannya tadi sudah memperlihatkan kelihaiannya, namun ia merasa yakin bahwa kalau melawan ia dalam ilmu silat, ia tentu akan dapat mengalahkan laki-laki itu. Selama ini belum pernah ada yang mampu menandinginya setelah ia digembleng ilmu oleh Thian-tok. Song Kim memang ingin menguras ilmu dari manapun juga datangnya, maka mendengar tantangan wanita itu, dia tersenyum.

#Biarlah kita main-main dengan tangan kosong dulu, kalau engkau kewalahan, baru boleh engkau mengeluarkan senjatamu, toanio.#

Mendengar ucapan yang memandang rendah ini, lenyap senyum simpul di bibir wanita itu dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.#Orang sombong, kalau tidak kau jaga mulutmu, aku khawatir sebelum aku mengeluarkan senjata, engkau telah lebih dulu roboh dan mungkin tewas!# Song Kim masih tersenyum.

#Tewas dalam pibu (adu ilmu silat) adalah hal yang lumrah, toanio dan aku tidak akan merasa menyesal kalau aku tewas di tangan toanio, walaupun aku menyesal karena tidak sempat bermesraan dengan nona-nona manis yang berada di sini.#

#Cukup, tak perlu banyak cakap lagi, orang she Lee. majulah!# Theng Toanio berseru.

#Aku adalah seorang tamu, tidak pantas kalau bergerak lebih dulu. Engkaulah yang menyerang dulu, toanio, aku hanya melayani saja,# kata Song Kim dengan sikap tenang. Diam-diam Theng Toanio merasa kagum juga. Laki-laki ini memang gagah, dan dia merasa gembira sekali kalau dapat memiliki seorang kekasih seperti ini.

#Sambut seranganku!# Theng Toanio membentak dan ia sudah menyerang dengan ganasnya. Dengan gerakan yang amat cepat wanita itu sudah menotok jalan darah di kedua pundak, leher dan dada secara bertubi-tubi. Memang hebat gerakan wanita ini, karena selain cepat bukan main, juga tusukan jarinya yang menotok itu mengeluarkan suara bercuitan saking kuatnya tenaga yang mendorongnya. Diam-diam Lee Song Kim terkejut. Tak disangkanya bahwa ketua Ang-hong-pai begini lihainya. Dia lalu mengelak dengan gerakan indah sekali, dan ketika tangan lawan masih terus mengejarnya, dia menangkis dengan kibasan tangannya.

#Plak! Plak!# Dua kali tangannya bertemu dengan ketua Ang-hong-pai itu dan keduanya meloncat mundur karena merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari telapak tangan itu.

#Bagus, agaknya engkau memiliki juga sedikit kepandaian!# bentak Theng Toanio dan wanita ini tidak main-main lagi, maklum bahwa lawannya memang lihai, maka iapun lalu mengeluarkan ilmunya yang ia pelajari dari Thian-tok. Begitu ia menggerakkan kaki tangannya, kakinya bergerak-gerak dengan langkah mengandung perubahan ngo-heng (ilmu unsur), dan kedua tangannya menyerang dengan dahsyat, Song Kim cepat mengelak dan menangkis sambil berseru kaget.

#Heiii! Kiranya toanio ada hubungan dengan Thain-tok!# kata Song Kim. Wajah Theng Toanio berobah merah. hatinya tidak senang dan ada perasaan malu ketika ia diingatkan akan hubungannya dengan Thian-tok, juga ia terkejut bagaimana laki- laki ini mengetahui akan hal itu, padahal merupakan rahasia dan tidak diketahui orang lain kecuali para anggauta Ang-hong-pai yang tak mungkin berani membuka rahasia itu.

#Hemmm, bagaimana engkau menduga demikian, Lee Kongcu?#

#Mudah saja! Bukankah engkau tadi menyerangku dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun- hoat? Biarpun gerakanmu dahsyat dan ganas sekali, namun aku masih mengenal silat andalan Thian-tok itu.# Lega rasa hati Theng Toanio. Orang she Lee ini tidak mengetahui rahasianya, hanya mengenal ilmu silat yang dipelajarinya dari Thian- tok, maka dengan cepat ia berkata,

#Mendiang Thian-tok adalah guruku.#

#Ah, kiranya toanio ini murid locianpwee itu? Pantas demikian lihai! Kalau begitu, toanio masih saudara seperguruan dengan Ong Siu Coan?#

#Raja dari kerajaan Sorga di Nan-king itu? Ah, mana aku ada harga untuk menjadi saudara seperguruan orang besar seperti beliau itu? Aku hanya menerima pelajaran selama satu tahun saja dari mendiang suhu, menjelang kematiannya.#

#Akan tetapi ilmu kepandaanmu hebat, toanio. Mari kita lanjutkan permainan kita.# Theng Toanio yang ingin sekali mengalahkan laki-laki ini agar suka menjadi pelayan pribadinya, maju lagi menyerang. Ia mengeluarkan lagi Ilmu Ngo- heng Lian-hoan Kun-hoat untuk menyerang secara bertubi-tubi dan dahsyat.

Namun, tingkat kepandaian Song Kim jauh lebih tinggi sehingga dia mampu mengelak dan menangkis semua serangan itu, sambil mempelajari setiap jurus, mengamati untuk menemukan jurus yang ampuh dan pantas dikuasainya. Wanita itu terkejut setelah lewat lima puluh jurus, ia belum juga mampu mengalahkan lawannya.

Jangankan mengalahkan, menyentuh tubuhnya saj apun tak pernah karena semua pukulan dan tendangannya dapat dielakkan atau ditangkis. Sedangkan Lee Song Kim juga sudah merasa puas. Ada beberapa jurus yang penting dan sudah dicatat dalam benaknya. Ketika Theng Toanio menendang dari samping dengan gerakan memutar tubuh, dia sengaja diam saja menanti sampai kaki yang menendang itu menyambar dekat dan tiba-tiba saja dia telah menyambar kaki itu dan sepatu kaki itu telah copot dan berada di tangannya.

#Ihhh......!# Theng Toanio berseru kaget dan mukanya berobah merah sekali. Song Kim mengamati sepatu bersulam merah itu.

#Sungguh indah sekali sepatumu, toanio,# katanya sambil menyerahkan kembali benda itu. Dengan muka merah karena dirampasnya sepatu itu tentu saja menjadi bukti kekalahannya, Theng Toanio menerima sepatunya dan memakai kembali, kemudian ia berkata,

#Lee Kongcu, dalam ilmu silat tangan kosong, engkau lihai sekali dan aku mengaku kalah. Akan tetapi belum tentu aku kalah kalau kita mempergunakan senj ata.# Lee Song Kim tersenyum.

#Tentu saja harus dicoba dulu, toanio. Nah, kaukeluarkan senjatamu, akan kuhadapi dengan tangan kosong saja.# Theng Toanio membelalakkan matanya. Orang ini terlalu sombong kalau akan menghadapi senjata-senjatanya dengan tangan kosong, pikirnya. Betapapun lihainya orang ini, bagaimana mungkin dapat melawan senjata-senjatanya? Karena merasa dipandang rendah, Theng Toanio menjadi marah.

#Bagus! Hendak kulihat bagaimana engkau menghadapi senjata-senjataku!# berkata demikian tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya telah berada di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membuka kantung yang tergantung di pinggang.

Lee Song Kim memang sengaja hendak mencari kesan mendalam di perkumpulan ini, ingin memperlihatkan ilmunya agar mereka semua tunduk dan taat kepadanya. Dia bukan sekedar membual atau menyombongkan diri kalau hendak menghadapi Theng Toanio yang bersenjata dengan tangan kosong. Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan. ketika tadi mereka bertanding tangan kosong. Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan. Ketika tadi mereka bertanding tangan kosong, dia sudah dapat mengukur dan dia merasa yakin bahwa biarpun lawan berpedang, dia sanggup dan akan dapat mengalahkannya. Kinipun dia tahu bahwa selain pedangnya, wanita itu mempersiapkan senjata rahasia dan melihat kantung di pinggang itu tempat penyimpanan senjata rahasia jarum merah beracun yang pernah didengarnya sebagai senjata rahasia andalan ketua Ang-hong- pai

#Aku sudah siap, toanio, mulailah!# katanya sambil memasang kuda-kuda yang indah. Kaki kiri ditekuk sedikit, kaki kanan dilonjorkan ke depan dengan jari- jari kaki menghadap ke atas dan tumitnya terletak di atas tanah, tangan kiri tergantung agak ke depan dengan jari tangan terbuka dan ibu jari ditekuk ke dalam, tangan kanan di pinggang dengan siku ditekuk ke belakang sedikit, juga jari tangan terbuka. Dengan kuda-kuda seperti ini dia menghadapi lawan sambil tersenyum. Melihat lawannya sudah siap, Theng Toanio yang mulai merasa penasaran itu segera menerjang sambil mengeluarkan teriakan dahsyat yang mengejutkan para anggauta Ang-hong-pai kerena teriakan itu membuat jantung mereka tergetar dan terguncang. Itulah teriakan yang disertai tenaga khikang yang disebut Sin-houw Ho-kang.

Theng Toanio hanya berlatih selama beberapa bulan saja, maka ilmunya ini masih belum matang, belum kuat benar, jauh berbeda dengan yang sudah dikuasai Thian- tok karena kakek itu ketika masih hidup, dapat saja membunuh orang dengan teriakan ini tanpa menyentuhnya! Akan tetapi, karena teriakan ini dilakukan pada saat pedangnya menyambar, maka cukup berbahaya dan Song Kim cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang. Wanita itu cepat pula mengejar dan mengirim serangan berantai yang amat dahsyat. Perlu diketahui bahwa sebagai ketua Ang-hong-pai, perkumpulan yang ahli tentang racun lebah, pedang yang dipegang Theng Toanio inipun mengandung olesan racun tawon yang amat berbahaya. Sedikit saja tergores dan terluka, maka racun itu akan bekerja dan membuat luka itu melepuh seperti kena api.

Song Kim dapat menduga akan hal ini, maka dia selalu mengelak dan kalau menangkis, dia menggunakan kebutan lengan bajunya. Biarpun ujung lengan baju, namun kalau menangkis pedang membuat Theng Toanio terkejut sekali karena pedangnya selalu terpukul menyeleweng, bahkan ujung lengan baju itu menimbulkan angin yang keras, disusul pula oleh totokan jari tangan pria itu yang mengarah jalan darah di pergelangan tangan atau sikunya. Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Hai-tok, guru Song Kim, dan Thian-tok, guruTheng Toanio, adalah seimbang. Akan tetapi Song Kim telah berguru kepada Hai-tok sejak kecil, bahkan akhir-akhir ini sebelum gurunya meninggal dunia, dia telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Hai-tok. Sebaliknya, Theng Toanio hanya setahun menjadi murid Thian-tok.

Oleh karena itu, dapat dimengerti kalau kini Song Kim dapat mempermainkan seperti tingkat guru dengan murid saja. Lebih lagi karena Song Kim telah memperdalam ilmu-ilmunya dengan ilmu-ilmu aliran lain yang telah dicuri oleh gurunya untuk dia. Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Song Kim membentak dan totokannya pada pergelangan tangan kanan Theng Toanio tak mugkin dapat dielakkan lagi. Terdengar wanita itu memekik, pedangnya terlepas dari pegangan karena tangannya itu beberapa detik lamanya tiba-tiba lumpuh. Theng Toanio meloncat ke belakang, tangan kirinya bergerak dan begitu ia menyambit, sinar merah berkeredepan menyambar ke arah tubuh Song Kim. Song Kim mirngkan tubuhnya, beberapa batang jarum yang menyambar mukanya luput, akan tetapi banyak jarum menyambar ke tubuhnya dan diapun berteriak.

#Aduh......!# Tubuhnya terhuyung lalu roboh terlentang dengan muka pucat! Beberapa orang anggauta Ang-hong-pai dan Theng Toanio berseru kaget.

Theng Toanio sendiri juga khawatir kalau-kalau pria yang menarik hatinya itu tewas oleh jarum-jarumnya. Ia hanya cepat mengobatinya. setelah mengambil pedangnya yang tadi terlepas, Theng Toanio menghampiri tubuh Song Kim. Ketika ia membungkuk untuk memeriksa lebih teliti, tiba-tiba terdengar suara ketawa. Theng Toanio hendak meloncat pergi, akan tetapi ia kalah cepat. Pedangnya sudah terampas lagi oleh Song Kim yang tiba-tiba saja bergerak melompat dan berbareng dia berhasil mencabut tusuk konde dari emas permata dari kepala Theng Toanio sehingga rambut yang digelung itu terlepas dan terurai ke atas kedua pundaknya! Tentu saja Theng Toanio terkejut bukan main dan mukanya menjadi merah sekali ketika ia memandang kepada Song Kim yang sudah berdiri di depannya sambil memegang pedang yang untuk kedua kali dirampasnya itu.

#Tapi...... tapi...... kau tadi terkena jarum-jarumku......# katanya agak bingung melihat hal yang tidak disangka-sangkanya ini. Song Kim menarik jubahnya dan memperlihatkan beberapa batang jarum yang menancap di jubahnya, akan tetapi tidak mampu menembus kulit tubuhnya yang tadi sudah dilindunginya dengan ilmu kekebalan.

#Aih, engkau memang hebat, Lee Kongcu, aku mengaku kalah,# kata Theng Toanio sambil mencabuti jarum-jarum itu, kemudian menerima kembali pedangnya dan ia mengajak tamunya yang amat menarik hati itu untuk naik ke puncak dan memasuki perkampungan Ang-hong-pai.

Para anggauta Ang-hong-pai menyambut kemenangan Lee Song Kim dengan gembira. Memang mereka sudah merasa kagum sekali, apalagi melihat betapa pria ini dengan amat mudahnya mengalahkan ketua dan guru mereka. Semua wanita kini memandang kepada Song Kim dengan senyum manis dan sinar mata memikat, wajah mereka semua cerah. sambil tertawa gembira Song Kim mengikuti ketua Ang-hong-pai dan mereka lalu mengadakan pesta di bangunan besar tempat tinggal Theng Toanio.

Demikianlah, mulai hari itu, Song Kim telah menundukkan Ang-hong-pai dan perkumpulan ini telah menjadi anak buahnya yang setiap saat siap untuk mentaati perintahnya. Dia bukan menundukkan Ang-hong-pai dengan kepandaiannya, akan tetapi juga dengan daya tariknya sebagai seorang pria yang pandai memikat hati, tampan gagah dan juga berpengalaman.

Bahkan kini di perkampungannya di Lembah Fen-ho lereng Luliang-san, terdapat pelayan-pelayan baru yang jumlahnya belasan orang, muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi juga lihai karena mereka adalah belasan orang anggauta Ang-hong-pai yang dipilihnya untuk menjadi pelayan pribadinya dan juga pengawal-pengawalnya. Demikian tunduknya Theng Toanio kepada Song Kim sehingga ketika Song Kim memerintahkan untuk memindahkan Ang-hong-pai ke lereng Luliang-san, iapun mentaatinya dan semenjak itu, perkumpulan ini pindah dari Nan-ping untuk mendekati Song Kim dan hal ini memperkuat kedudukan Lee Song Kim yang mulai menyusun kekuatan untuk mengaku diri sendiri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap.

Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi, seorang hwesio tua renta berjalan seorang diri di kaki Pegunungan Luliang-san. Hwesio ini sudah berusia lanjut, sudah hampir delapan puluh tahun, tubuhnya sedang dan masih tegak, dan wajahnya membayangkan ketenangan dan kedamaian. Tiba-tiba hwesio tua itu menahan langkahnya dan memandang ke kiri. Biarpun orangnya belum nampak, namun pendengarannya yang peka dan amat tajam sudah menangkap suara gerakan kaki yang menuju ke tempat dia berjalan. tak lama

kemudian muncullah tiga orang laki-laki yang rata-ratabberusia tiga puluh tahun, berwajah gagah dan berpakaian rapi, akan tetapi memiliki sinar mata yang beringas dan kejam. Di punggung mereka nampak senjata golok telanjang dan tiga orang ini langsung menghampiri hwesio tua yang berdiri memandang mereka. Dengan sikap kaku mereka menjura kepada hwesio itu yang cepat dibalas dengan ramah oleh hwesio tua.

#Kami diutus oleh Lee Kongcu untuk mengundang Thian Khi Hwesio ke perkampungan kami.# Hwesio itu memang bernama Thian Khi Hwesio dan merupakan orang kedua dari pimpinan Siauw-lim-pai. bagaimana seorang tokoh tinggi dari Siauw-lim-pai dapat berada di tempat itu? Seperti kita ketahui, peristiwa pembunuhan atas diri dua orang tokoh Kun-lun-pai cukup membuat para pimpinan Siauw-lim-pai menjadi pusing.

Yang dituduh oleh para tosu Kun-lun-pai menjadi pembunuh dua orang tokoh itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang bermarga Lee. Tentu sukar bagi orang- orang Siauw-lim-pai untuk mencari siapa adanya murid yang membunuh dua orang tosu Kun-lun-pai itu. Karena maklum betapa gawatnya urusan itu yang mengandung bahaya perpecahan atau bibit permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Maka Thian Khi Hwesio sendiri lalu berangkat meninggalkan Siauw-lim-pai untuk mencari seorang murid Siauw-lim-pai yang bernama Tan Ci Kong. Biarpun termasuk orang yang masih muda, usianya masih kurang dari empat puluh tahun, namun Tan Ci Kong merupakan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi. bahkan ilmu kepandaiannya masih lebih tinggi dari tingkat kepandaian para pimpinan Siauw- lim-pai sendiri,

Karena pendekar ini pernah digembleng oleh mendiang Siauw-bin-hud, seorang hwesio tua renta yang menjadi datuk dari Siauw-lim-pai. Setelah bertukar pikiran dengan suhengnya, yaitu Thian Tek Hwesio ketua Siauw-lim-pai, Thian Khi Hwesio berangkat sendiri untuk mengunjungi Tan Ci Kong. Pendekar ini tinggal di dusun Tung-kang di luar kota Kan-ton. Setelah bertemu dengan pendekar itu dan minta bantuannya agar Tan Ci Kong suka melakukan penyelidikan dan menemukan siapa adanya murid Siauw-lim-pai she Lee yang telah membunuh dua orang tosu Kun-lun- pai, Thian Khi Hwesio lalu meninggalkan Tung-kang dan kembali ke kuil Siauw-lim- pai. Di dalam perjalanan inilah dia tiba di kaki Pegunungan Luliang-san dan di hadang oleh tiga orang yang menyampaikan undangan kepadanya.

#Omitohud, sungguh kongcu kalian itu amat baik hati sekali. Akan tetapi pinceng tidak pernah mengenal Lee Kongcu......# Tiba-tiba dia teringat. Orang she Lee? Jantungnya berdebar tegang.

#Lo-suhu, harap diketahui bahwa Lee Kongcu kami adalah orang yang pemurah dan dermawan, menghargai orang-orang pandai. Ketika dia mengetahui bahwa losuhu lewat di sini, dia mengutus kami untuk menjumpai lo-suhu dan dengan hormat mempersilahkan lo-suhu untuk singgah di perkampungan kami.# Diam-diam Thian Khi Hwesio merasa heran sekali bagaimana orang she Lee itu dapat mengetahui namanya dan mengetahui pula bahwa dia lewat di tempat itu. dan nama marga Lee itu sungguh menarik hatinya dan menimbulkan keinginan tahu untuk mengenalnya.

#Omitohud...... sungguh bahagia sekali menerima undangan seorang yang sedemikian baik budi seperti Lee Kongcu. Baiklah, sobat, pinceng memenuhi undangan itu.# Ketika memasuki sebuah perkampungan yang bersih dan teratur rapi, diam-diam Thian Khi Hwesio menjadi heran dan kagum. Dia dapat menduga bahwa penghuni perkampungan terpencil di lereng bukit ini, jauh dari pedusunan lainnya,

Tentu merupakan anggauta sebuah perkumpulan dan mungkin sekali yang menjadi ketua atau kepalanya adalah orang yang disebut Lee Kongcu itu. Bangunan-bangunan rumah di situ seragam dan di tengah-tengah terdapat sebuah bangunan besar.

Melihat keadaan rumah itu dari luar, orang tentu akan merasa kagum karena rumah yang demikian indah dan besar sepatutnya hanya berada di kota besar, dihuni oleh orang yang kaya raya. Makin tertariklah hati pendeta tua itu untuk mengenal Lee Kongcu yang mengundangnya. Ketika tiga orang itu mengantarnya sampai di depan pintu rumah besar, yang menyambut keluar adalah tiga orang gadis cantik yang berpakaian serba merah, rapi dan gagah, gerakannya juga cekatan. Tiga orang pemuda itu memberi hormat kepada mereka dan berkata,

#Harap sampaikan kepada kongcu bahwa kami telah berhasil mengundang Thian Khi Hwesio.#

#Bagus, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik.# kata seorang di antara tiga gadis itu, yang bertahi lalat di dekat hidungnya, kemudian gadis itu menjura kepada Thian Khi Hwesio, #Locianpwe, silakan masuk, Lee Kongcu telah menanti kedatangan locianpwe.#

#Omitohud, sungguh merupakan kehormatan besar bagi pinceng,# kata Thian Khi Hwesio sambil mengikuti tiga orang gadis itu. Dia makin heran. Agaknya orang- orang di sini telah mengenalnya, bukan hanya mengenal nama, akan tetapi juga agaknya mengenal bahwa dia adalah seorang tokoh persilatan sehingga gadis-gadis ini menyebut locianpwe. Dia tahu pula bahwa tiga orang gadis ini, yang menyambutnya, memiliki ilmu silat yang cukup baik, jauh lebih baik ketimbang tiga orang laki-laki yang menghadangnya di kaki bukit tadi.

Ketika dia diajak masuk ke ruangan dalam, hwesio itu mengagumi keindahan perabot rumah. Lukisan-lukisan indah dan kuno, tulisan-tulisan sajak berpasangan yang amat berharga bergantungan di dinding. Perabot-perabot rumahnya juga merupakan benda yang mahal dan biasanya mengisi gedung bangsawan yang kaya raya. Siapakah orang yang bernama Lee Kongcu ini, pikirnya. Tuan rumah itu telah menantinya di sebuah ruangan samping. seorang laki-laki yang berusia tiga puluh delapan tahun, berpakaian rapi dan mewah, melihat rambutnya yang licin dan mukanya yang tampan terawat memberi kesan pesolek, sepasang matanya mencorong dan mulutnya tersenyum. Laki-laki itu bangkit berdiri dari kursinya, memberi hormat dengan ramah kepada hwesio tua itu.

#Selamat datang, locianpwe! Sungguh bagaikan kejatuhan bulan purnama saja rasanya hati kami menerima kunjungan locianpwe, hal yang sudah lama sekali kami jadikan bunga mimpi di malam hari dan kenangan di siang hari. Agaknya para dewa mengabulkan permohonan kami dan sengaja menuntun locianpwe lewat di tempat kami ini. Silakan duduk, locianpwe.# Hwesio tua itu memperhatikan laki-laki yang disebut Lee Kongcu ini. Dia mengamati dari kepala sampai ke kaki, namun merasa belum pernah bertemu dengan orang ini. Namun dia dapat menduga bahwa orang yang pesolek dan tampan ini tentu bukan orang sembarangan. Hanya apa maksud undangannya inilah yang membuat dia merasa heran dan tidak mengerti.

#Omitohud...... pinceng (aku) adalah seorang yang sudah tua sekali dan mugkin pelupa. Agaknya kongcu sudah mengenal pinceng akan tetapi sebaliknya pinceng lupa lagi siapakah kongcu ini. Dan kapankah kita pernah saling bertemu, dan di mana?# Lee Song Kim tersenyum, bangga akan pengetahuannya yang luas sehingga dia mengenal hampir semua tokoh persilatan di dunia dan telah memberi tahu semua anak buahnya sehingga begitu melihat hwesio tua ini lewat, anak buahnya juga sudah mengenalnya. Dia memandang wajah hwesio tua yang sudah duduk di depannya sambil tersenyum.

#Siapkah yang tidak mengenal locianpwe? Locianpwe adalah Thian Khi Hwesio, wakil ketua Siauw-lim-pai yang gagah perkasa dan berilmu tinggi. kalau locianpwe hendak mengenal saya, orang memanggil saya Lee Kongcu. Melihat locianpwe lewat di sini, timbul keinginan saya untuk mengundang makan locianpwe dan belajar kenal lebih dekat karena hendaknya locianpwe ketahui bahwa saya adalah orang yang amat kagum terhadap para tokoh dunia persilatan dan ingin mengenal mereka semua. Ah, mari silakan, locianpwe. Hidangan telah dipersiapkan. Jangan khawatir, semua hidangan ini dibuat istimewa untuk para hwesio dan pertapa yang tidak makan daging. Dan minumannya juga teh yang amat harum dan baik. Silahkan!# Lee Song Kim mengajak hwesio tua itu makan minum dan memang benar, masakan yang dihidangkan tanpa daging sedangkan munumannya air teh wangi, sesuai dengan pantangan seorang hwesio. Karena dia memang lelah dan merasa lapar, Thian Khi Hwesio tidak sungkan-sungkan atau ragu-ragu lagi, segera makan minum, apalagi melihat tuan rumah juga makan minum dari mangkok dan cawan dengan hidangan dan minuman yang sama pula. Setelah makan kenyang, Lee Kongcu mengajak kakek itu ke lian-bu-thia.

#Marilah, locianpwe, pertunjukan akan segera dimulai dan locianpwe merupakan seorang tamu kehormatan kami di antara banyak tamu yang hadir.#

#Eh? Apakah kongcu sedang mengadakan sebuah pesta?# Laki-laki tampan itu tertawa.

#Boleh dinamakan pesta, ya memang pesta, pesta adu silat! Marilah, locianpwe akan menyaksikan sendiri,# katanya sambil mengajak tanunya memasuki lian-bu-thia (ruangan bermain silat) yang amat luas dan bersih, di samping sebuah taman yang besar dan indah pula. Ketika memasuki ruangan terbuka ini, Thian Khi Hwesio terbelalak heran dan terkejut.

Ada belasan orang yang hadir di situ dan kesemuanya membayangkan orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia hanya mengenal dua orang saja di antara belasan orang itu. Yang seorang adalah seorang kakek yang terkenal dengan nama Kam-kauwsu (guru silat Kam), seorang tokoh persilatan aliran Bu-tong-pai yang terkenal gagah perkasa, menjadi guru silat bayaran tinggi di Thian-cin. Dia tahu bahwa Kam-kauwsu ini memiliki ilmu silat yang tangguh, terkenal sebagai seorang ahli gwa-kang (tenaga luar) yang kekuatannya dibandingkan dengan kekuatan gajah! Adapun orang kedua yang dikenalnya adalah Tan-siucai (Mahasiswa Tan), seorang murid Pek-hwa-pai dari utara yang juga terkenal sekali sebagai seorang pendekar dari utara, dan ahli silat yang juga merupakan seorang ahli sastera yang selalu berpakaian sebagai seorang sasterawan.

Sasterawan tua ini amat terkenal dengan pedang tipisnya yang dapat digulung dan dipakai menjadi sabuk. Dua orang gagah inipun terkejut melihat munculnya tuan rumah dan seorang hwesio tua yang mereka kenal sebagai wakil ketua Siauw-lim- pai! Belasan orang lain juga memandang kepada hwesio tua itu dan mereka semua memandang kagum dan hormat ketika Lee Kongcu memperkenalkan Thian Khi Hwesio sebagai tamu agung dan wakil ketua Siauw-lim-pai. Kalau masih ada keraguan sedikit di hati para tamu ini, kini terhapus karena melihat betapa wakil ketua Siauw-lim-pai sendiripun hadir sebagai tamu dari orang she Lee yang aneh dan penuh rahasia ini. Mereka itu semua menerima undangan seperti halnya Thian Khi Hwesio, bahkan di antara mereka ada yang datang sebagai tawanan karena dipaksa!

Namun, setelah berada di rumah laki-laki kaya raya yang aneh itu, merekapun diberi kamar dan dibiarkan bebas sampai pada hari itu mereka semua diminta berkumpul di lian-bu-thia setelah semua orang mendapatkan hidangan mewah di kamar masing-masing! Ketika semua orang berkumpul di lian- bu-thia yang amat luas itu, baru mereka tahu bahwa di tempat ini berkumpul tokoh-tokoh pilihan dari aliran-aliran persilatan yang menjagoi di dunia kang-ouw. Apakah maksud Lee Kongcu, demikian nama tuan rumah seperti yang mereka kenal, mengundang dan mengumpulkan semua tokoh persilatan yang lihai ini? Thian Khi Hwesio memperoleh tempat duduk kehormatan di dekat tuan rumah dan setelah tuan rumah duduk, Lee Kongcu memberi tanda kepada para penjaga sambil berseru,

#Persilakan Kwa-enghiong hadir!# Tempat itu terjaga oleh anak buah Lee Kongcu dan semua orang merasa kagum melihat betapa pemuda-pemuda yang tegap, gadis- gadis yang cantik, semua mengenakan pakaian serba indah dan seragam, berjaga di situ dengan sikap tegak dan gagah. Mendengar perintah Lee Kongcu, dua orang lalu memberi hormat dan masuk ke bagian belakang rumah gedung besar itu. Tak lama kemudian merekapun datang lagi bersama seorang laki-laki yang kusut sekali rambut dan pakaiannya, seorang laki-laki tinggi kurus yang usianya sekitar lima puluh tahun. Banyak di antara para tamu yang tidak mengenal laki- laki ini, akan tetapi Thian Khi Hwesio yang melihat orang ini, terkejut sekali.

#Omitohud......! Kiranya Huang-ho Sin-to (Golok Sakti dari Huang-ho) juga berada di sini!# Laki-laki yang kusut pakaian dan rambutnya itu menoleh dan ketika dia melihat Thian Khi Hwesio, dia mengerutkan alisnya.

#Eh? Thian Ki Lo-suhu juga berada di tempat aneh ini? Tempat macam apakah ini dan orang-orang macam apakah yang menjadi penghuninya?#

#Kwa-enghiong, silahkan duduk dan pertanyaanmu itu akan segera terjawab,# kata Lee Song Kim dengan muka ramah. Kwa Ciok Le memandang kepada tuan rumah dan agaknya dia teringat akan sesuatu yang tidak menyenangkan, terbukti dari suaranya yang cukup lantang sehingga terdengar oleh semua orang,

#Hemm, sebaiknya segera terjawab sebelum kesabaranku habis dan terpaksa aku menggunakan kekerasan!#

#Kwa-taihiap, silakan duduk dan mari kita lihat saja apa yang akan terjadi,# kata Thian Khi Hwesio yang khawatir kalau-kalau terjadi ketegangan karena dia mengenal watak keras dari pembasmi bajak dari Huang-ho ini. Mendengar penawaran Thian Khi Hwesio, tokoh Siauw-lim-pai yang dihormatinya itu, Kwa Ciok Le merasa tidak enak kalau bersikap kasar terus, maka dia mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu duduk di sebelah kiri hwesio tua itu.

Lee Song Kim sendiri lalu duduk di atas sebuah kursi gading dan di sebelahnya nampak seorang wanita yang berpakaian serba merah muda. Wanita itu kelihatannya berusia tiga puluh tahun, wajahnya masih nampak cantik bersemangat, tubuhnya masik padat dan ramping. Padahal, wanita ini adalah Theng Ci, ketua Ang-hong-pai yang telah menakluk kepada Lee Song Kim dan kini menjadi pembantu Lee Kongcu itu! Pasukan wanita yang nampak cantik-cantik dan gagah, yang kini berjaga bersama dengan pasukan pria anak buah Lee Kongcu, adalah bekas anak buah Ang- hong-pai. Di sebelah belakang Lee Kongcu, nampak duduk dua orang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun yang juga kelihatan gagah perkasa. Mereka itu adalah pembantu-pembantu utama dari Lee Kongcu, yang juga merupakan murid- muridnya yang paling pandai.

#Di antara para tamu yang kami hormati sudah tahu apa sebabnya kami mengundang berkumpul demikian banyaknya tokoh-tokoh kang-ouw dan ahli-ahli persilatan yang berilmu tinggi. Akan tetapi kalau ada yang belum mengarti, baiklah, kami ingin menjelaskan. Kami adalah orang yang suka sekali melihat ilmu silat, suka sekali melihat tokoh-tokoh besar memperlihatkan ilmu silat simpanan masing-masing. kami amat menghormati ahli silat yang pandai, karena itu, kami mohon dengan hormat dan sangat kepada cu-wi (anda sekalian) yang hadir sudilah memberi demostrasi ilmu silat simpanan masing-masing untuk memperkenalkan kelihaian dan untuk membuka mata kami dan memperluas pengetahuan kita bersama. Kami persilakan saudara yang gagah perkasa Tiat-pi Kim-wan (Lutung Emas Tangan Besi) untuk memperlihatkan kelihaiannya! Harap cu-wi suka menyambutnya dengan tepuk tangan untuk memberi selamat kepada pendekar perkasa Tiat-pi Kim-wan!#

Mendengar ini, sebagian dari para tamu bertepuk tangan dan seorang yang duduk di sebelah kiri bangkit berdiri. Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya yang hitam memang pantas kalau berjuluk Lutung karena hidungnya pesek mulutnya lebar mirip monyet, sepasang matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar jalang dan sejak tadi matanya jelilatan menyambar ke arah pasukan wanita yang cantik-cantik, dan mulutnya yang lebar menyeringai. Hati orang ini girang bukan main, karena julukannya yang keren itu, Lutung Emas Tangan besi, diperkenalkan, dan lebih bangga lagi dia disebut #pendekar perkasa#, padahal, dia lebih pantas dinamakan tukang pukul dan jagoan di kotanya, yaitu Ta-tung.

Setelah bangkit, dengan melangkah ke tengah ruangan yang luas itu, memberi hormat kepada Lee Kongcu, kemudian kepada semua yang hadir, keempat penjuru, diapun memberi hormat sambil bersoja.

(Lanjut ke Jilid 04)