-->

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Jilid 6 (Tamat)

Jilid 6 (Tamat)

Bagian 16. Penangkapan Keluarga Gak-ciangkun

Pada saat itu, terlihat serombongan orang yang dipimpin oleh Can Kok mendatangi dengan cepat dan ketika mereka melihat Siauw Eng, Can Kok lalu memberi aba-aba dan semua orang yang ternyata adalah tentara-tentara kerajaan itu lalu maju mengejar dan mengurung. “Tangkap pemberontak !” seru mereka. Siauw Eng menjadi marah sekali. Dengan pedang di tangan ia menanti kedatangan mereka dan setelah dekat ia lalu berseru keras, “Ya, akulah anak pemberontak Ma Gi ! Ayoh maju, siapa yang berani, cobalah tangkap aku, Gobi Ang Sianli !”

Beberapa orang anak buah Can Kok maju menyerbu akan tetapi begitu tubuh Siauw Eng berkelebat merupakan cahaya merah, dua orang pengeroyok telah roboh mandi darah.

“Ayoo, pembunuh-pembunuh ayahku, pembunuh kakekku dan sekeluargaku ! Majulah menerima pembalasan keturunan keluarga Ma !” Siauw Eng dengan nekad menyerbu dan mengamuk. Setiap lawan yang mencoba menyambutnya, baru beberapa gebrakan saja terus roboh tak kuat menghadapi dara yang gagah dan sedang marah, hebat itu.

Can Kok terpaksa maju dengan senjata kongce yang diandalkan di tangan, lalu membantu mengeroyok dengan hebat. Siauw Eng tidak menjadi gentar, bahkan lalu mengamuk lebih hebat lagi.

Ternyata bahwa Can Kok mendengar berita dari Gu Liong dan ibunya. Memang semenjak dulu, ibu Gu Liong, yakni nyonya janda Gu Keng Siu itu, menaruh dendam hebat kepada keluarga Khu dan Ma dan selalu mengharapkan untuk dapat membalas dendam itu kepada keturunan kedua keluarga yang telah membunuh suaminya itu. Kini ia mendengar dari Gu Liong bahwa keturunan keluarga yang dibencinya itu masih ada, yakni Cin Pau dan Siauw Eng, maka segera ia mengadakan hubungan dengan Can Kok yang serta merta memimpin beberapa orang anak buahnya untuk menawan Siauw Eng.

Gu Liong sendiri tidak ikut mengeroyok karena ia dan ibunya mempunyai tugas lain yang lebih mengerikan dan kejam, yakni Gu Liong dipaksa oleh ibunya untuk mengantarkannya pergi ke makam kedua musuh besar itu.

Telah lama Can Kok memang menaruh hati iri terhadap Gak Song Ki yang mempunyai kedudukan lebih tinggi darinya. Biarpun di luarnya ia selalu bersikap ramah tamah dan hormat, akan tetapi di dalam hati ia merasa iri dan dengki. Kini mendengar bahwa puteri Gak Song Ki itu ternyata adalah anak tiri dan adalah keturunan langsung dari Ma Gi, ia menjadi girang dan segera pergi dengan maksud membikin cemar dan malu nama perwira itu, dan menawan Siauw Eng. Kebetulan sekali rombongan bertemu dengan Siauw Eng yang hendak melarikan diri, maka segera ia maju menyerang.

Namun, ia menghadapi perlawanan yang tak disangka-sangka semula. Pedang Siauw Eng ganas sekali dan dara itu sukar didekati. Siapa berani mendekati tentu menjadi kurban pedang. Bahkan kongce dari perwira itu sendiri tak banyak berdaya menghadapi pedang Siauw Eng. Karena bencinya kepada perwira ini, Siauw Eng lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk melakukan serangan bertubi- tubi. Kalau saja tidak banyak anak buahnya yang membantu, pasti perwira she Can itupun tidak kuat menahan serbuan Siauw Eng yang hebat ini.

Pada saat itu, terdengar bentakan. “Pemberontak kecil sungguh ganas.” Suara ini adalah suara Kim-i Lokai, pengemis tua yang masih berada di kota raja yang datang bersama-sama Pauw Su Kam, suheng dari Can Kok itu. Dengan datangnya dua orang lihai itu, keadaan menjadi berubah dan kini Siauw Eng terkurung rapat dan terdesak hebat sekali. Siauw Eng melawan dengan nekat dan mati-matian, mengeluarkan kedua ilmu pedangnya Sin-Coa Kiamhwat dan Pek-Tiauw Kiamhwat berganti-ganti. Akan tetapi, ia menghadapai Kim-i Lokai yang tingkat ilmu kepandaiannya sudah sejajar dengan kedua guru nona itu sendiri, sedangkan Pauw Su Kam juga memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan, maka tentu saja makin lama ia makin terkurung rapat oleh senjata-senjata lawan.

“Siauw Eng, jangan takut, aku datang membantu !” terdengar seruan garang dan berkelebatlah bayangan putih yang gesit sekali. Cin Pau yang menyusul telah tiba pada saat yang tepat dan membantu Siauw Eng menghadapi lawannya yang banyak dan lihai itu. Hebat sekali sepak terjang kedua anak muda itu yang bertempur saling membelakangi hingga tidak ada lawan dapat berlaku curang. Seorang diri Cin Pau dikeroyok oleh Kim-i Lokai, Pauw Su Kam, dan Can Kok yang merasa girang sekali dengan datangnya Cin Pau.

“Bagus, kedua turunan pemberontak telah masuk perangkap. Kita tawan keduanya !” kata Can Kok yang segera memberi perintah kepada seorang pembantunya untuk mendatangkan bala bantuan dari istana.

Cin Pau maklum akan berbahayanya keadaan mereka, maka sambil memutar-mutar pedangnya dan memainkan jurus-jurus paling istimewa dari Kui Hwa Koan Kiamhwat hingga Kim-i Lokai dan kawan- kawannya dapat didesak mundur. “Siauw Eng, mari kita pergi dari sini !” kata Cin Pau sambil menarik tangan gadis itu.

Siauw Eng juga insaf akan keadaan yang amat berbahaya, apalagi kalau jago-jago tua yang lain datang, terutama ia takut sekali kalau-kalau kedua orang gurunya datang. Ia tidak tahu bahwa semua jago-jago silat yang membantu pembasmian kuil Thian Lok Si telah pulang dan hanya Kim-i Lokai dan Pauw Su Kam saja yang masih berada di situ. Maka dengan cepat ia lalu melompat keluar kepungan sambil memutar-mutar pedangnya.

Para anak buah tentara kerajaan tidak berani menghalangi mereka karena setiap orang yang berani mencoba menghalangi dengan mudah dirobohkan oleh kedua pemuda pemudi lihai itu. Mereka berdua lalu melarikan diri dengan cepat, dikejar oleh musuh-musuhnya yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjata. Akan tetapi ilmu lari cepat kedua anak muda itu sudah mencapai tingkat

tinggi hinggahanya Kim-i Lokai saja yang dapat menyamai kepandaian mereka, akan tetapi, seorang diri saja, pengemis tua itu tidak berani turun tangan karena maklum bahwa ia takkan menang menghadapi kedua jago muda itu.

Setelah tiba di dalam hutan dan melihat bahwa tidak ada musuh yang berani mengejar lagi, Siauw Eng tiba-tiba lalu menangis sedih. Cin Pau menghela napas panjang dan ia maklum apa yang disedihkan gadis ini, maka ia lalu menghibur dengan halus.

“Siauw Eng, janganlah kau berduka. Ketahuilah bahwa kita bernasib sama, akan tetapi baru sekarang kau mengalami kesedihan dan penderitaan. Sedangkan aku, aku dan ibuku, semenjak peristiwa menyedihkan itu terjadi, kami berdua telah menderita hebat.” Ia menghela napas lagi. “Semenjak ayah meninggal karena keroyokan para perwira atas perintah kaisar, maka ibuku hidup terasing dan bertapa di puncak Kunlun-san, tidak pernah turun gunung dan melihat dunia ramai lagi.”

“Lebih baik begitu !” kata Siauw Eng dengan tiba-tiba merasa mendongkol sekali terhadap ibunya sendiri. “Jauh lebih baik hidup sengsara seperti itu dari pada seperti .... seperti ibuku ”

Cin Pau sudah mendengar dari Sian Kong Hosiang tentang riwayat ibu Siauw Eng, maka ia lalu berkata menghibur, “Jangan terlalu menyalahkan ibumu, Siauw Eng. Ingatlah bahwa ketika ia ditinggal mati oleh ayahmu, ia masih muda dan sedang mengandung. Mungkin sekali, ini hanya pendapat dan dugaanku, ia menerima pinangan perwira she Gak itu karena ia menjaga nasibmu atau .... atau siapa tahu

karena pada waktu itu ia masih muda sekali.”

Mereka lalu saling menuturkan riwayat semenjak kecil dan ketika mendengar tentang pembelaan Un Kong Sian yang sekarang telah menjadi Sian Kong Hosiang itu, Siauw Eng merasa menyesal sekali mengapa tadinya iapun ikut kena ditipu dan menganggap bahwa kuil Thian Lok Si adalah sarang penjahat.

“Mereka itu bohong belaka !” kata Cin Pau dengan mata berapi. “Kuil Thian Lok Si tak pernah menjadi sarang penjahat dan hwesio-hwesio di kuil itu tak pernah melakukan kejahatan. Ini adalah bujukan dan gosokan dari Can Kok, perwira yang berhati busuk itu. Kita harus berhati-hati terhadap perwira itu, karena kalau dipikir-pikir musuh kita yang terbesar adalah Can-ciangkun itu.”

“Akan tetapi ... ayah ayah tiriku juga ikut menyerbu Thian Lok Si dan mungkin dulu ikut pula

membasmi keluarga kita,” kata Siauw Eng dengan gemas, akan tetapi suaranya mengandung kesedihan dan kekecewaan.

“Tentu saja, ayahmu adalah seorang perwira kerajaan, maka setiap perintah raja harus dikerjakannya dengan setia dan taat.”

“Cin Pau, pernah kau melihat ayahku ?”

Pemuda itu memandang heran. “Aneh sekali pertanyaanmu ini. Tadi telah kuceritakan bahwa ketika ayah kita gugur, akupun masih berada dalam kandungan ibu. Bagaimana aku bisa melihat ayahmu atau ayahku ?”

“aku .... aku ingin melihat wajah ayahku ,” kata Siauw Eng dengan suara lemah dan seperti anak

kecil yang merengek ingin sesuatu. Cin Pau maklum bahwa gadis ini sedang bingung sekali dan hal ini tak perlu dibuat heran. Gadis ini semenjak kecil hidup mewah dan dimanjakan, dalam keadaan kaya raya, disayangi ayah bundanya. Sekarang, tiba-tiba saja, ia mendapat kenyataan bahwa ayah yang biasanya menyayanginya itu adalah seorang musuh besar, bahwa ayahnya yang tulen adalah seorang pemberontak yang selama ini ia benci. Dan kini, ia telah melarikan diri dari rumah, berpisah dari ayah bundanya, bahkan dikejar-kejar oleh para perwira dan mungkin selanjutnya akan menjadi orang buruan. Tentu saja peristiwa ini merupakan tekanan yang hebat sekali pada hati dan perasaan Siauw eng.

“Siauw Eng, mulai saat ini, pandanglah aku sebagai sahabatmu satu-satunya yang bersedia membelamu dengan jiwa dan raga,” kata Cin Pau dengan sungguh-sungguh hingga Siauw Eng merasa terharu dan memandangnya dengan kedua mata basah.

“Cin Pau .... antarkanlah aku ke makam ayahku “

Cin Pau mengangguk dan keduanya lalu berjalan perlahan menuju ke hutan di mana terdapat dua makam Khu Tiong dan Ma Gi, ayah mereka itu.

******

Ketika mendengar dari Gu Liong dan ibunya bahwa Siauw Eng adalah anak Ma Gi dan Cin Pau anak Khu Tiong, maka Can Kok selain merasa girang dan berusaha menangkap mereka, juga merasa kuatir karena kedua anak muda yang gagah perkasa itu merupakan musuh-musuh yang tangguh dan yang masih berkeliaran bebas hingga membahayakan keselamatannya.

Oleh karena itu, setelah Siauw Eng dan Cin Pau yang dikepungnya itu dapat melepaskan diri, Can Kok segera memberi kabar ke istana, memberi laporan kepada kaisar bahwa dua orang pemberontak muda, keturunan keluarga Khu dan Ma, mengacau dan hendak melanjutkan pemberontakan kakek mereka.

Kaisar terkejut sekali, apalagi ketika mendengar bahwa seorang di antara kedua orang pemberontak itu adalah Gobi Ang Sianli yang telah terkenal namanya di kota raja, dan alangkah marahnya ketika ia mendengar bahwa pemberontak ini semenjak kecil telah dipelihara dan dididik oleh Gak Song Ki, perwiranya yang setia itu. Ia lalu mengeluarkan perintah kepada Can Kok untuk menangkap Gak Song Ki dan isteri pemberontak Ma Gi yang kini menjadi isterinya itu. Juga perintah itu mengharuskan ditangkapnya Siauw Eng dan Cin Pau serta Sian Kong Hosiang, ketua Thian Lok Si yang dapat lolos itu. Semua itu berkat kelicinan dan kecerdikan Can Kok hingga sekali gus ia mendapat surat kuasa dari Kaisar untuk menawan atau membunuh musuh-musuh dan orang-orang yang tidak disukainya.

Kemudian Can Kok menyatakan kekhawatirannya karena pihak musuh adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka ia mohon diberi bantuan perwira-perwira yang pandai. Kaisar lalu memerintahkan kepada tiga orang perwira yang merupakan panglima besar dan tokoh tertinggi, yakni yang bernama Mau Kun Liong, Oey Houw, dan Oey See In.

Selain mendapat bantuan ketiga panglima ini, Can Kok juga memberi kabar kepada kawan-kawan lamanya, yakni Kongsan Hong-te dan kedua tosu dari Gobi-san, Cin San Cu dan Bok San Cu, oleh karena ia maklum bahwa biarpun Siauw Eng dan Gak Song Ki adalah murid-murid kedua orang tosu ini, akan tetapi Cin San Cu dan Bok San Cu adalah tosu-tosu yang taat dan setia kepada Kaisar. Dengan senjata surat perintah Kaisar, maka ia yakin bahwa kedua orang tosu itu tentu akan suka membantu untuk menawan murid-murid sendiri.

Setelah membawa surat perintah penangkapan dari kaisar, Can Kok tanpa membuang waktu lagi lalu membawa sepasukan pengawal dan ketiga orang panglima itu, langsung menuju ke gedung Gak Song Ki untuk menangkap perwira ini beserta isterinya.

“Gak Song Ki, kau dan nyonya Ma Gi menyerahlah untuk menjadi tawanan. Kami datang atas perintah kaisar !” kata Can Kok dengan sombong sambil memperlihatkan surat perintah itu.

Gak Song Ki adalah seorang perwira yang setia, maka setelah berlutut terhadap surat perintah kaisar itu dan menyatakan ketaatannya, ia lalu menggandeng tangan Kwei Lan dan mengikuti rombongan yang menangkapnya itu. Seluruh isi rumah menangis sedih karena peristiwa ini dan orang-orang menjadi ribut mendengar betapa perwira Gak Song Ki beserta isterinya telah ditawan oleh kaisar.

“Can-ciangkun, aku telah dapat menduga bahwa kau lah yang berdiri di belakang semua ini,” kata Gak Song Ki ketika ia mulai berjalan meninggalkan rumahnya untuk dibawa ke tempat tahanan. “Pengkhianat jangan banyak membuka mulut !” bentak Can Kok. “kau telah melindungi anak isteri pemberontak besar, percuma saja hendak menyangkal dosa-dosamu yang pantas mendapat hukuman mati !”

Gak Song Ki hanya menggigit bibir saja karena ia maklum bahwa dalam keadaan tak berdaya ini, makin banyak ia bicara, makin hebat pula Can Kok akan menghina. Karena urusan kali ini menyangkut diri seorang perwira tinggi, maka yang akan menjadi hakim adalah kaisar sendiri dan sementara menanti pengadilan, kedua suami isteri yang malang itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat tahanan yang kokoh kuat dan terjaga oleh anak buah Can Kok sendiri.

Sementara itu, kalangan perwira geger ketika mendengar tentang penangkapan ini. Gak Song Ki adalah seorang perwira yang telah banyak membuat jasa, selain ini, telah beberapa keturunan nenek moyangnya menjadi panglima-panglima yang setia kepada raja, bahkan ayahnya dulu adalah seorang panglima besar yang telah terkenal sebagai pembela kaisar yang paling gagah dan setia, maka penangkapan ini dianggap kurang adil dan menimbulkan gelisah di kalangan mereka.

Terutama sekali Gan Hok, ayah tiri Hwee Lian. Ketika mendengar dari puterinya yang datang-datang menangis dan menuturkan bagaimana ia telah mengalami hal-hal yang mengejutkan di depan kedua makam pemberontak dan mendapat kenyataan yang mengagetkan bahwa Siauw Eng adalah anak pemberontak Ma Gi, lalu berkata kepada isterinya dan anaknya,

“Sudahlah, kalian jangan ikut campur dalam urusan ini. Ingat bahwa biarpun ayah Hwee Lian tewas dalam tangan kedua orang pemberontak Khu dan Ma, akan tetapi mereka berdua juga sudah tewas pula di tangan petugas-petugas hingga boleh dibilang segala perhitungan telah beres dan lunas. Perlu apa kita harus ikut mencampuri urusan ini pula ? Sekarang kalian berdua adalah keluargaku, bukan keluarga Gu lagi, dan aku tidak suka kalau harus mengotorkan tangan menanam bibit permusuhan dengan keluarga Khu dan Ma !”

Hwee Lian menjawab ucapan ayahnya dengan hati terharu, “Kau benar, ayah. Memang, aku sendiri tidak bisa memusuhi Siauw Eng, tidak hanya karena ilmu kepandaiannya yang tinggi, akan tetapi juga karena ia begitu baik dan telah kuanggap seperti saudara sendiri. Bagaimana aku sanggup untuk menjadi musuhnya, biarpun ayah kami dulu bermusuhan ?”

“Sebetulnya ayahmu dulu pun tidak bermusuh dengan Khu Tiong dan Ma Gi, anakku,’ kata nyonya Gan Hok yang berhati sabar hingga nyonya inipun telah lama menanam rasa sakit hatinya, “bahkan ketika kakekmu pangeran Gu dan kedua orang sasterawan tua she Khu dan Ma itu masih bersahabat bahkan mengangkat saudara, ayahmu dan kedua orang itu hidup rukun dan damai bagaikan sekeluarga.

Ayahmu hanya terbawa-bawa, demikianpun Khu Tiong dan Ma Gi, terbawa-bawa oleh persoalan yang timbul antara pengeran Gu kakekmu itu dan kedua orang sasterawan tua, dan ayahmu menjadi kurban dari pada kedua saudara yang sedang mata gelap dan mengamuk itu.”

Demikianlah, ketiga orang ini dengan penuh kesadaran telah dapat menolak godaan nafsu dendam hingga mereka tidak mau ikut mencampuri urusan balas dendam yang turun temurun ini. Akan tetapi ketika Gan Hok mendengar tentang ditawannya Gak Song Ki dengan isterinya, ia menjadi terkejut sekali dan perwira ini segera keluar dari gedungnya untuk mencari tahu dan kalau mungkin menolong sahabatnya itu.

******

Siauw Eng dan Cin Pau dengan perlahan berjalan menuju ke makam orang tua mereka. Mereka tidak banyak bercakap, terbenam dalam lamunan masing-masing. Tak pernah disangkanya bahwa kini mereka berjalan berdua di dalam hutan sebagai dua orang yang dikejar-kejar dan dimusuhi kaisar.

Perbedaan keadaan mereka yang amat besar dulu itu kini musnah sama sekali dan membuat mereka senasib sependeritaan, saling dekat saling membela, seperti halnya kedua orang ayah mereka yang sampai matipun berada dalam keadaan berkumpul dan berjajar.

Ketika mereka masuk ke dalam hutan yang mereka tuju, senja telah mulai mendatang, maka mereka lalu mempercepat langkah untuk tiba di makam itu sebelum gelap. Akan tetapi ketika mereka telah tiba tak jauh dari makam, tiba-tiba mereka mendengar suara orang dan ringkik kuda. Mereka mempercepat lari sambil mengintai dan alangkah kaget kedua orang muda itu ketika melihat bahwa yang berada di situ adalah serombongan orang yang menggali kuburan ayah mereka. Dan orang-orang ini dikepalai oleh Can Kok sendiri, bersama tiga orang panglima. Gu Liong juga nampak berada di situ, bersama seorang wanita yang Siauw Eng kenal sebagai ibu pemuda itu. “Kejam !” Siauw Eng berbisik kepada Cin Pau sambil memandang dengan mata terbelalak.

“Agaknya nyonya Gu Keng Siu hendak membalas dendam kepada kerangka kedua ayah kita ” saking

merasa ngeri dan marah, Siauw Eng memegang lengan Cin Pau yang juga menegang karena pemuda ini mengepal tinjunya.

“Ingat baik-baik,” terdengar Can Kok berkata kepada para pencangkul itu yang telah mulai menemukan kedua kerangka yang dikubur di situ, “yang tertusuk panah tulang-tulang iganya adalah kerangka pemberontak Khu Tiong. Ia mampus dengan anak panah tertancap di dada.

Sedangkan rangka Ma Gi kalau tidak salah tentu tulang pahanya telah patah, karena dulu ketika ia mampus, beberapa bacokan mengenai pahanya dengan keras sekali. Kita kumpulkan tulang-tulang mereka itu untuk dipertontonkan kepada rakyat agar tidak ada yang berani main berontak-berontakan lagi !”

“Sesudah itu kita berikan tulang-tulang itu kepada anjing-anjing kelaparan supaya dimakan !” tiba-tiba terdengar suara seorang wanita, yakni suara nyonya Gu Keng Siu. Suara ini biarpun halus dan merdu akan tetapi terdengar amat menyeramkan sehingga Siauw Eng merasa bergidik. Juga Cin Pau menggertakkan gigi mendengar betapa tulang-tulang ayahnya hendak diberikan kepada anjing. Can Kok mendengar ucapan ini, tertawa bergelak dan berkata,

“Alangkah bencimu kepada mereka, Gu-hujin.”

“Kalau mereka masih hidup, aku sanggup minum darah mereka !” terdengar pula suara yang halus itu berkata lagi. “Dan aku takkan berhenti sebelum dapat membunuh keturunan pemberontak-pemberontak jahat yang telah membunuh suamiku ini !”

Tiba-tiba seorang di antara para pencangkul itu berkata, “Nah, inilah kerangka Khu Tiong ! Ada anak panah menembus tulang-tulang iganya.”

“Yang satu ini tentu tulang kerangka Ma Gi kata pencangkul yang lain.

Tulang-tulang itu lalu diangkat dan dipisahkan menjadi dua bungkus. Dan pada saat itu, Siauw Eng dan Cin Pau tak kuat menahan kemarahan hati mereka lebih lama lagi. Dengan pedang terhunus mereka keluar dari tempat persembunyian dan berseru,

“Orang-orang rendah berhati binatang !”

Secepat kilat mereka lalu menyambar ke arah para pencangkul yang sedang membungkus tulang- tulang itu dan, beberapa tendangan mereka membuat para pencangkul itu jatuh bangun dan ada pula yang terlempar ke dalam lubang kuburan yang mereka gali tadi. Cin Pau lalu mengambil bungkusan tulang ayahnya yang tadi telah dilihatnya dari tempat persembunyian, sedangkan Siauw Eng lalu menyambar bungkusan tulang ayahnya pula.

Dengan amarah yang meluap-luap, Siauw Eng menerjang kepada nyonya Gu Keng Siu sedangkan Cin Pau lalu menerjang Can Kok. Akan tetapi, tiba-tiba ketiga orang panglima itu membentak keras. Ketika Siauw Eng menyerang ibunya, Gu Liong cepat menangkis dan terjadi pertempuran di antara kedua orang muda ini, akan tetapi oleh karena kepandaian Gu Liong memang jauh berada di bawah tingkat kepandaian Siauw Eng, sebentar saja pedangnya telah terpental.

Seorang panglima yang bertubuh tinggi besar lalu maju dengan golok di tangan. Ini adalah panglima pilihan dari kaisar, yang bernama Mau Kun Liong. Tenaganya besar dan kepandaiannya tinggi sehingga ketika ia menangkis pedang Siauw Eng, gadis ini menjadi terkejut karena ternyata bahwa tangkisan itu telah membuat telapak tangannya terasa pedas. Ia berlaku hati-hati sekali dan melawan dengan ilmu pedang Sin-coa Kiamhwat yang lihai, namun perwira tinggi besar itu dapat melawannya dengan baik.

Sementara itu, Can Kok yang diserang oleh Cin Pau, melompat mundur dengan ketakutan. Perwira yang licik ini sudah pernah melihat kehebatan sepak terjang Cin Pau, maka sekarang tentu saja ia tidak berani menghadapi pemuda gagah perkasa ini seorang diri. Cin Pau mendesak terus, akan tetapi tiba- tiba dua orang perwira yang gagah maju menyambutnya dengan golok mereka. Dua orang ini adalah Oey Houw dan Oey See In yang mendapat julukan Tiang-an Ji-Koai-To atau Dua Golok Setan dari Tiang-an. Memang permainan golok kedua orang she Oey ini hebat sekali. Golok mereka lebar dan tipis, tajamnya bukan main dan karena golok mereka amat ringan sedangkan tenaganya amat besar, maka gerakan mereka juga cepat sekali hingga golok yang lebar itu merupakan sinar putih yang berkelebatan bagaikan dua ekor naga berebut mustika.

Cin Pau diam-diam terkejut melihat kegagahan dua orang panglima kaisar ini dan tahulah dia bahwa Can Kok telah mendapat bantuan panglima-panglima berkepandaian tinggi dari istana. Ketika ia mengerling ke arah Siauw Eng, ia mendapat kenyataan bahwa dara baju merah itupun sedang menghadapi seorang panglima tinggi besar bersenjata golok pula. Melihat permainan golok lawan Siauw Eng itu, diam-diam ia mengeluh karena ketiga orang ini benar-benar merupakan lawan tangguh, sedangkan di situ masih terdapat Can Kok, Gu Liong, dan banyak anggauta tentara.

“Eng-moi, mari pergi !!” serunya keras dan oleh karena keadaan telah mulai gelap dan ternyata lawannya amat tangguh, Siauw Eng juga merasa bahwa lebih baik melarikan diri oleh karena sekarang tulang rangka ayahnya telah berada di tangannya. Ia lalu mengeluarkan jurus berbahaya dari Sin-coa Kiamhwat dan pedangnya menyapu ke arah pinggang dan terus dibalikkan pula menyapu kaki lawan. Gerakan ini cepat dan dahsyat, maka Mau-ciangkun tidak berani menangkis dan melompat tinggi ke belakang hingga Siauw Eng mendapat kesempatan untuk melompat jauh dan hendak melarikan diri.

Akan tetapi, karena ia tidak menduganya dan berlaku kurang hati-hati, tiba-tiba ia merasa punggungnya sakit sekali. Untung ia telah mengerahkan tenaganya untuk menolak serangan ini dan piauw yang menyerang punggungnya itu hanya menancap sedikit, akan tetapi cukup untuk membuat ia merasa sakit dan pundaknya terasa kaku.

Cin Pau telah dapat melompat jauh, akan tetapi, ketika ia melihat betapa Siauw Eng telah terkena piauw yang dilepas oleh Mau-ciangkun, ia menjadi terkejut sekali. Cepat ia mengeluarkan biji-biji caturnya dan ketika ia mengayun tangan, dua buah biji catur melayang ke arah pelepas piauw yang melukai Siauw Eng itu. Mau Kun Liong cepat berkelit, akan tetapi sebuah biji catur lagi tetap saja melanggar lehernya hingga ia roboh sambil berteriak ngeri. Kembali Cin Pau mengayunkan tangannya empat biji catur melayang ke arah dua orang lawannya tadi yang juga hendak mengejar. Akan tetapi kedua saudara Oey ini sudah tahu akan kelihaian biji catur Cin Pau, maka dengan golok di tangan diputar cepat mereka berhasil menyampok biji-biji catur itu.

“Kejar mereka ! Kejar pemberontak-pemberontak itu !” Can Kok berseru marah, hatinya mendongkol sekali melihat betapa kedua orang muda itu kembali berani muncul, bahkan telah mencuri tulang kerangka yang ia suruh gali tadi.

Akan tetapi, Cin pau telah mempergunakan kesempatan itu untuk menghampiri Siauw Eng yang berlari sambil terhuyung-huyung, lalu ia memegang tangan gadis itu dan terus diajak lari cepat. Kawanan perwira mencoba untuk mengejar, akan tetapi malam telah menjelang datang dan keadaan di hutan itu mulai menjadi gelap. Mereka merasa ngeri terhadap biji-biji catur Cin Pau yang berbahaya itu, maka mereka membatalkan maksud hendak mengejar terus, bahkan kedua saudara Oey lalu menolong Mau Kun Liong yang menjadi kurban biji catur Cin Pau yang ganas itu. Untung sekali biji catur itu hanya mendatangkan luka dan memutuskan urat kecil saja, kalau dilepas dengan maksud membunuh, tentu jiwa Mau-ciangkun takkan tertolong lagi.

Setelah berlari jauh Siauw Eng mengeluh dan Cin Pau lalu mengajaknya berhenti. “Kau terluka, Siauw Eng ?” tanyanya, karena biarpun tadi ia melihat gadis itu terhuyung-huyung setelah panglima tinggi besar itu melepas piauw, akan tetapi di dalam gelap ia tidak melihat bagian mana yang terluka.

“Punggungku ..... aku kurang hati-hati dan piauw itu sama sekali tidak bersuara “ kata Siauw Eng

yang melepaskan buntalan kerangka di atas tanah dan ia sendiripun lalu menjatuhkan diri duduk di atas rumput. Cin Pau juga meletakkan bungkusan kerangka ayahnya pula dan berlutut di dekat Siauw Eng.

“Di Punggung ? Bagaimana rasanya ?”

“Tidak apa-apa, hanya piauw itu masih menancap agaknya.”

“Jangan kau bergerak, biar aku mencabutnya.” Sambil berkata demikian, di dalam gelap Cin Pau meraba punggung gadis itu. “Benar saja, sebatang piauw yang licin dan kecil menancap di punggung, dekat pundak kanannya.

“Biar aku membuat api dulu, jangan kau banyak bergerak !” kata Cin Pau yang lalu membuat api dari kayu-kayu kering. “Jangan, Cin Pau, nanti mereka tahu tempat kita.”

“Tidak apa, biar mereka datang kalau berani. Mengobati lukamu lebih penting lagi dan bagaimana aku bisa mengobatinya di tempat yang gelap ?”

Setelah api unggun itu menyala, Cin pau lalu memeriksa punggung Siauw Eng dan ternyata bahwa piauw itu bentuknya licin, kecil dan panjang bulat. Oleh karena piauw ini licin dan bulat, maka ketika dilontarkan tidak mendatangkan banyak suara, laju lurus seperti ular menyambar.

“Siauw Eng, terpaksa aku merobek bajumu di bagian punggung ini,” kata Cin Pau agak ragu-ragu dan malu. Gadis itu hanya mengangguk sambil menggigit bibir. Setelah pemuda itu merobek pakaian Siauw Eng di bagian yang terluka, maka terlihat betapa piauw itu menancap di kulit gadis yang halus dan putih itu.

“Awas, aku mencabutnya, jangan banyak bergerak !” Siauw Eng menahan sakit sambil menggigit bibirnya dan peluh memenuhi keningnya karena Cin Pau harus berlaku hati-hati sekali dalam mencabut piauw itu karena ternyata bahwa ujung senjata rahasia ini dipasangi kaitan kecil. Kalau saja ia kurang hati-hati mencabutnya, tentu kaitan itu akan terlepas dan tertinggal di dalam daging hingga membahayakan luka di punggung itu.

Sebagaimana diketahui, ibu Cin Pau, yaitu Lin Hwa adalah puteri seorang ahli pengobatan yang juga mewarisi kepandaian ayahnya itu, maka Cin Pau juga mengerti tentang pengobatan, mendapat pelajaran dari ibunya hingga ia selalu membawa bekal obat bubuk untuk menjaga kalau-kalau ia terluka, terutama sekali membawa obat-obat yang khusus digunakan sebagai penolak dan penyembuh luka terkena senjata beracun.

Akan tetapi, setelah memeriksa dengan teliti, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun piauw dari perwira tinggi besar itu bisa membahayakan jiwanya namun tidak mengandung racun hingga luka itu hanya nampak merah karena keluarnya darah. Ia menjadi lega dan setelah menaruh obat pada luka itu, ia lalu memberikan mantelnya kepada Siauw Eng untuk dipakai menutupi bajunya yang bolong di bagian punggung itu.

Setelah diberi obat, dan piauw itu dicabut dari punggungnya. Siauw Eng merasa enak dan tidak sakit lagi, maka gadis ini lalu menyandarkan tubuhnya pada sebatang pohon di dekat api unggun dan tak lama kemudiania tertidur pulas. Cin Pau tidak mau mengganggu, bahkan ia lalu menyelimutkan ujung mantel yang panjang itu pada kedua kaki Siauw Eng, lalu duduk menjaga dekat api unggun. Entah mengapa, semenjak saat bertemu dengan Siauw Eng yang dikeroyok oleh perwira-perwira, ia merasa seakan-akan ia mempunyai tugas untuk membela dan melindungi gadis ini.

Pada keesokkan harinya, Cin Pau menyatakan bahwa ia hendak membakar tulang-tulang kerangka kedua ayah mereka itu.

“Tulang-tulang ini tidak baik dibawa kemana-mana, bahkan berbahaya sekali. Dulu ibu pernah bercerita bahwa tulang-tulang manusia yang sudah lama terkubur di dalam tanah apabila dikeluarkan kadang- kadang mengandung racun yang jahat dan berbahaya bagi manusia hidup. Maka, lebih baik kita sempurnakan tulang-tulang kerangka kedua ayah kita ini, kemudian abunya kita bawa ke Kunlun-san untuk memberitahukan dan memberikannya kepada ibuku dan selanjutnya mengubur abu ini secara baik-baik. Sebelum kita bertindak lebih jauh, aku hendak minta nasehat suhu dan ibu.”

“Terserah kepadamu, Cin Pau, akan tetapi, aku takkan bisa hidup bahagia sebelum membalas dendam kepada semua perwira jahat itu dan membunuh kaisar yang telah menghukum keluarga kita !” Gadis ini masih merasa sakit hati dan marah sekali hingga cita-cita satu-satunya yang terkandung dalam hatinya hanya membalas dendam.

“Memang, kita harus membalas dendam, akan tetapi kurang baik kalau kita bertindak secara sembrono dan menuruti hawa nafsu belaka. Dalam pandanganku, tidak semua perwira busuk dan jahat belaka, di antaranya banyak pula yang baik, seperti ayah tirimu itu, kurasa tak patut kalau ia dimasukkan daftar perwira-perwira jahat.”

Siauw Eng menggigit bibirnya, “Ia ..... ia telah membawa lari ibu, ia .... ia telah membujuk ibuku   ” Cin Pau menarik napas panjang. Ia tahu bahwa gadis ini terlalu terluka hatinya dan terlalu keras kepala, hingga kurang baik kalau terlalu didesak dan dibantah. “Betapapun juga, harus diingat bahwa keadaan mereka itu kuat sekali. Baru tiga orang perwira yang membantu Can Kok tadi saja sudah merupakan lawan-lawan yang tangguh, apalagi kalau ditambah Kim-i Lokai dan yang lain-lain. Kita harus minta bantuan suhu dan juga ayah angkatku.”

“Kau takut ?” tiba-tiba timbul pula kekerasan hati Siauw Eng. Memang gadis ini pemberani sekali dan boleh dikata ia tidak kenal arti takut dalam melaksanakan cita-citanya.

Cin Pau menggeleng-geleng kepala. “Aku tidak takut, Siauw Eng, hanya berhati-hati. Apa artinya kalau kita bergerak akan tetapi tidak berhasil bahkan terkena celaka pula ? Bukankah itu berarti usaha kita akan kandas dan sia-sia belaka ? Akan tetapi, biarlah kita rundingkan hal itu nanti saja. Sekarang paling perlu kita menyempurnakan tulang-tulang kedua ayah kita ini.”

Kali ini Siauw Eng tidak membantah. Ia lalu membantu Cin Pau mengumpulkan banyak kayu kering yang mudah didapat dan dikumpulkan dari dalam hutan itu, lalu menumpuk kayu itu menjadi dua bagian. Setelah itu, atas petunjuk-petunjuk Cinpau, mereka lalu mengatur tulang-tulang itu sedapat- dapatnya di tempat yang betul hingga merupakan kerangka yang utuh, dibaringkan telentang dan berjajar. Siauw Eng melakukan pekerjaan ini sambil menangis terisak-isak hingga Cin Pau juga tidak dapat menahan keluarnya air mata.

“Siauw Eng hati-hatilah kau, jangan menggunakan tanganmu untuk meraba mukamu. Biarkan saja

air matamu mengalir turun, dan sekali-kali kau tidak boleh menggunakan tanganmu untuk menjamah mukamu. Perhatikan ini baik-baik, Siauw Eng, demi keselamatanmu sendiri !”

Siauw Eng mengangguk-angguk dan menahan mengalirnya air mata seberapa dapat. Akhirnya selesailah pekerjaan itu dan Cin Pau lalu mencampurkan semacam obat bubuk putih dengan air dan mereka lalu mencuci tangan dengan campuran obat itu untuk membersihkan dan membinasakan kuman-kuman yang mungkin menempel di tangan mereka dari tulang-tulang itu.

Keduanya lalu berlutut di depan tumpukan tulang itu sambil mengheningkan cipta, memohon berkah dari roh ayah masing-masing. Setelah itu, mereka lalu menyalakan api yang membakar kayu-kayu kering itu dengan cepat.. Oleh karena kayu-kayu yang ditumpuk di bawah, di pinggir dan di atas tulang- tulang itu kering sekali, maka dengan mudah kayu-kayu itu dimakan api hingga sebentar saja api berkobar hebat dan asapnya bergulung-gulung ke atas.

Angin bertiup perlahan seakan-akan tangan-tangan yang tidak kelihatan membantu mengipasi api itu hingga menjadi makin hebat dan panas. Kedua anak muda itu berlutut lagi sambil memandang api yang membakar tulang-tulang ayah mereka.

Setelah api yang membakar tulang-tulang itu padam, maka semua tulang rangka telah menjadi abu. Dengan hati-hati, teliti, dan penuh hormat kedua orang muda itu lalu mengumpulkan abu ayah mereka ke dalam kain membungkus tulang tadi. Mereka begitu asyik dalam pekerjaan itu hingga tidak tahu bahwa sepasang mata memandang mereka dari balik pohon dengan penuh perhatian. Kemudian pemilik sepasang mata itu, seorang pengembala, keluar dari tempat mengintainya dan menghampiri mereka lalu menegur,

“Jiwi ini sedang mengapakah ? Apakah yang jiwi bakar dan itu abu apakah ?”

Cin Pau dan Siauw Eng menengok, dan ketika Siauw Eng melihat bahwa yang datang adalah pengembala penanam jenazah ayahnya, ia lalu berkata kepada Cin Pau. “Inilah dia orangnya yang telah begitu baik hati untuk mengubur jenazah kedua orang tua kita.”

Cin Pau segera berdiri dan menjura kepada orang itu dengan hormat. “Ah, kebetulan sekali. Telah lama siauwte ingin sekali bertemu dengan orang budiman yang telah mengubur jenazah ayah dan pamanku untuk menyampaikan penghargaan dan pernyataan terima kasihku.”

Pengembala itu tersenyum. “Hal yang kecil itu apa artinya untuk disebut-sebut ? Setiap orangpun tentu akan melakukan hal itu apabila ia melihat jenazah sesama manusia terlantar di tengah hutan. Jadi mereka itu adalah ayah kalian ? Bagus, bagus, aku merasa girang sekali bahwa akhirnya mereka ada juga yang mengaku. Tak ada yang lebih menyedihkan bagi orang yang telah mati kecuali kalau tidak ada orang yang mau mengakui namanya lagi. Dan jiwi ini membakar apakah ?” “Kami telah membakar tulang-tulang rangka ayah kami dan ini adalah abu mereka,” kata Siauw Eng.

Pengembala itu mengangguk-angguk. “Kalian orang-orang muda yang berbakti.” Kemudian ia memandang sekeliling seakan-akan takut kalau kata-kata yang hendak diucapkannya ini terdengar oleh orang lain. “Jiwi aku telah tahu bahwa kedua kuburan itu telah dibongkar orang. Hal ini membuat aku merasa penasaran dan heran, maka aku lalu mencari keterangan dan ternyata bahwa kuburan itu

adalah kuburan kedua orang she Khu dan Ma yang namanya telah menggemparkan seluruh dunia. Orang-orang boleh menyebutnya pemberontak, akan tetapi bagiku tetap mereka itu orang-orang gagah yang gugur dengan pedang di tangan. Makin banggalah hatiku karena akulah orangnya yang telah menguburkan mereka. Di kota raja aku telah mendengar hal yang aneh-aneh.”

“Apalagi yang kau dengar ?” tanya Cin Pau tertarik.

“Aku mendengar banyak sekali hal-hal aneh, diantaranya bahwa kabarnya kedua orang gagah yang jenazahnya kukubur itu masih mempunyai keturunan, bahkan keturunan yang seorang adalah seorang gadis muda yang semenjak kecil dipelihara oleh seorang perwira ! Kiranya kaulah nona, anak itu !! Dan anak yang seorang lagi, yang dikabarkan sebagai pemuda baju putih yang gagah perkasa, tentu kau sendiri ! Ah, ah, dan sekarang secara kebetulan sekali aku bertemu dengan jiwi dan menyaksikan betapa tulang-tulang suci kedua enghiong (orang gagah) ini diabukan. Sungguh aku seorang yang beruntung sekali, tidak seperti perwira she Gak yang malang ” Ia menarik napas panjang.

“Perwira she Gak yang malang ? Ada apakah dengan dia ?” tanya Cin Pau penuh perhatian, sedangkan biarpun ia diam saja, namun hati Siauw Eng berdebar mendengar nama ayah tirinya disebut-sebut.

Kembali pengembala itu menghela napas, “Memang dunia ini aneh dan kadang-kadang perbuatan baik dan benar tidak mendapat upah dan hadiah, bahkan mendatangkan malapetaka. Oleh karena menolong ibu nona ini dan memelihara nona sampai besar, sekarang perwira she Gak itu ditangkap oleh kaisar, beserta isterinya, diseret-seret di sepanjang jalan dan diperlakukan dengan penuh hinaan oleh perwira Can ”

Bagian 17. Penyelesaian Dendam Turunan (Tamat)

Tiba-tiba Siauw Eng melompat berdiri, lalu mengikatkan buntalan abu di atas punggungnya dan secepat kilat ia lalu lari menuju ke Tiang-an. Mendengar betapa ibu dan ayah tirinya ditangkap dan diseret-seret oleh Can Kok, ia tak dapat menahan gelora dan kemarahan hatinya lagi, lalu pada saat itu juga melompat pergi hendak menolong ayah tirinya, terutama ibunya dan menghukum kepada perwira Can yang menghina orang tuanya itu.

“Siauw Eng, tunggu !” Cin Pau berseru sambil mengikatkan pula buntalan abu tulang-tulang ayahnya

dipunggungnya dan berlari mengejar. Oleh karena memang ilmu berlari cepat dari Cin Pau masih lebih tinggi tingkatnya, maka ia berhasil menyusul gadis itu dan memegang tangannya.

“Nanti dulu, Eng-moi. Kau mau kemana ?”

“Kemana lagi ? Apakah aku harus membiarkan saja ibuku ditawan dan dihina orang ? Akan membunuh anjing she Can itu dan berusaha menolong ibu !” jawabnya dengan marah sekali.

Cin Pau maklum bahwa kehendak gadis ini takkan dapat ditahan atau dihalanginya lagi, maka terpaksa ia lalu berkata sungguh-sungguh, “Marilah, adikku, mari kita pergi bersama. Biar kita berdua memberi pelajaran kepada penjahat-penjahat kejam itu. Akan tetapi, menurut pendapatku, soal membalas dendam kepada Can Kok adalah soal kedua. Yang terpenting sekarang ialah kita harus berusaha membebaskan dan menolong Gak-ciangkun dan ibumu !”

Biarpun baru sebentar berkumpul dengan pemuda itu, namun Siauw Eng telah mendapat keyakinan betapa luas pandangan Cin Pau dan betapa cerdiknya pemuda itu, maka ia lalu menurut saja.

Demikianlah, mereka berlari-lari cepat menuju ke kota raja.

Cin Pau maklum bahwa mereka berdua sedang dicari-cari dan pintu gerbang dijaga keras sekali, maka ia mengajak Siauw Eng bersembunyi di dekat tembok kota dan menanti datangnya malam. ******

Malam itu gelap gulita, karena udara tertutup awan tebal. Keadaan di rumah tahanan di mana Gak Song Ki dan Kwei Lan dikeram, sunyi sekali. Beberapa orang penjaga dengan golok terhunus menjaga di sekeliling rumah itu, dan tiga orang penjaga lain duduk di ruang dalam depan pintu kamar tahanan sambil main dadu.

Dua bayangan yang gesit sekali gerakannya mengintai dari jauh, memandang ke arah rumah tahanan itu dengan mata tajam. Mereka ini adalah Cin Pau dan Siauw Eng yang telah berhasil melewati tembok kota tanpa terlihat oleh penjaga.

Ketika dua orang penjaga sedang berjalan agak jauh dari rumah tahanan itu, tiba-tiba mereka roboh tanpa dapat mengeluarkan teriakan sedikitpun karena jalan darah thian-hu-hiat mereka telah tertotok oleh jari-jari tangan Cin Pau dan Siauw Eng yang cepat dan tepat gerakannya. Dengan kaki mereka, kedua orang muda itu menyepak tubuh para penjaga yang telah menjadi lemas dan pingsan itu ke tempat gelap. Kemudian mereka terus maju ke dekat pintu gerbang di mana duduk pula tiga orang penjaga di atas bangku sambil bercakap-cakap.

“Siapa ?” seorang di antaranya membentak ketika melihat dua bayangan berkelebat di dekat mereka, akan tetapi sebagai jawaban, tangan Cin Pau dan Siauw Eng bergerak cepat dan ketiga orang itu pun telah tertotok, seorang oleh Siauw Eng dan dua orang oleh Cin Pau. Kemudian kedua anak muda yang gagah itu terus masuk ke dalam. Tiga orang penjaga yang sedang main dadu terkejut sekali melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba itu, akan tetapi dengan cepat Cin Pau dan Siauw Eng dengan pedang di tangan telah melompat dan menodong dengan ujung pedang.

“Jangan bergerak dan banyak ribut !” kata Cin Pau dan sebelum ketiga orang penjaga itu sempat melawan, ia mengulurkan tangan kirinya dan menotok pula. Ilmu totok dari Cin Pau memang ajaib karena ia memperoleh didikan khusus dari Tiauw It Lojin yang menjadi ahli dalam ilmu kepandaian ini.

Mereka lalu membuka pintu kamar tahanan, mempergunakan kunci yang berada dalam kantong seorang di antara ketiga penjaga itu. Ketika pintu terbuka, Siauw Eng menubruk maju dan ia menangis sambil memeluk ibunya yang duduk menyandar tembok dengan wajah pucat dan tubuh lemas.

Sedangkan ayah tirinya ternyata telah mengalami pukulan-pukulan karena mukanya bengkak-bengkak dan iapun duduk di atas lantai menyandar tembok dengan tubuh lemas.

“Siauw Eng “ Kwei Lan berbisik lemah sambil menangis melihat puterinya datang.

“Ibu ...... ibu, ampunkan anakmu ibu mari ibu dan ayah ikut aku pergi dari sini !”

“Tak usah, Siauw Eng, tinggalkan kami, “ kata Gak Song Ki dengan angkuh. Mendengar ucapan ayah tirinya ini, Siauw Eng lalu menjatuhkan diri dan memeluk ayah tirinya.

“Ayah .... ayahku. ampunkanlah aku. Aku marah kepada ayah dalam keadaan tak sadar dan gelap

pikiran. Mari aku tolong kau ayah, mari kita keluar dan mengamuk, kita bunuh anjing Can Kok itu. Kalau perlu kita menyerbu ke istana dan membunuh Kaisar agar orang-orang tahu bahwa ayah dan anak perwira Gak bukanlah orang-orang lemah yang boleh dihina sesukanya.”

Runtuhlah air mata Gak Song Ki mendengar ucapan anak tiri yang amat disayangnya ini. “Jangan berkata demikian, anakku, kau tahu bahwa aku adalah seorang perwira yang setia.”

“Akan tetapi kau difitnah orang, ayah !”

Gak Song Ki menggeleng-gelengkan kepala sambil menghela napas.

“Biarlah, memang aku pantas mendapat hukuman ini. Aku pantas mendapat hukuman mati. Siauw Eng, kau tidak tahu, sekarang lebih baik aku terus terang saja ...... aku akulah yang dulu diberi tugas

memimpin penyerbuan pada keluarga Ma, dan dan aku pernah menendang ibu mertua Kwei Lan

ketika nenek itu hendak membela menantunya. Aku masih ingat baik-baik hal ini ....dan dan

penyesalan saja tiada artinya. Aku harus terhukum ..... aku berdosa, nak ” Terdengar isak tangis dari Siauw Eng dan Kwei Lan. Pada saat itu para penjaga lain telah dapat menemukan tubuh kawan-kawan mereka yang tertotok, maka ramailah para penjaga itu menyerbu ke dalam kamar tahanan.

Cin Pau dengan pedang di tangan menjaga di pintu dan segera pertempuran hebat terjadi. Pemuda ini dikeroyok oleh belasan orang penjaga, akan tetapi pedangnya yang bergerak bagaikan seekor naga sakti mengamuk itu membuat belasan pengeroyoknya tidak berdaya. Bahkan beberapa orang telah roboh kena tendang, kena pukul, atau tertusuk pedang.

“Siauw Eng, cepat !” kata Cin Pau. “Bawa ayah ibumu keluar dari sini !”

Siauw Eng membujuk-bujuk sambil menangis, akan tetapi Gak Song Ki berkata tegas, “Tidak anakku. Kalau kami ikut keluar, kami hanya akan menjadi perintang saja dan akhirnya kalian berdua akan mendapat celaka. Keluarlah kau bersama Cin Pau, ia ia pemuda yang baik dan gagah. Kalau kau

memang hendak membalas dendam, bunuhlah Can Kok. Dia orang jahat dan hatiku akan puas dan biarpun mati, mataku akan meram karena kau, anakku yang baik, telah dapat membalaskan dendam hatiku terhadap Can Kok yang khianat dan jahat !”

Siauw Eng menubruk ibunya sambil menangis, “Ibu, ibu kalau kau tidak mau keluar, bagaimana aku

dapat meninggalkan kau dalam keadaan begini ?”

Ibu yang mencintai anaknya itu mendekap kepala Siauw Eng pada dadanya. “Anakku, aku tak dapat meninggalkan suamiku. Ia amat baik kepadaku dan juga kepadamu, maka biarlah aku juga menyatakan kesetiaanku dan mengawaninya sampai mati. Kau pergilah nak, lihat, kawanmu itu terdesak dan dikeroyok, apakah kau tidak mau membantunya ?”

Siauw Eng menengok dan benar saja, sekarang para pengeroyok bertambah banyak karena seorang penjaga telah lari memberi laporan, bahkan di antara mereka terdapat beberapa orang perwira. Siauw Eng berseru keras dan segera melompat membantu Cin Pau dan mengamuk hebat. Makin banyaklah jatuhnya kurban dan tiba-tiba dari luar terdengar bentakan suara Can Kok yang memberi aba-aba untuk mengurung makin rapat.

“Siauw Eng, terpaksa kita harus pergi,” kata Cin Pau dengan kuatir. Siauw Eng sebetulnya tidak mau pergi, akan tetapi dengan suara memilukan, ibunya berseru,

“Eng-ji, pergilah kau. Kalau sampai kau mendapat celaka di sini, aku takkan mau mengampunkan kau

!!”

“Ibu   ” Siauw Eng menahan isaknya dan terpaksa ia lalu menyerbu hebat bersama Cin Pau membuka

jalan keluar. Kemudian, sebelum Can Kok dan perwira-perwira lain sempat masuk membantu karena tempat itu sudah penuh sesak dengan para tentara yang datang mengurung. Cin Pau dan Siauw Eng telah dapat keluar dan melompat ke atas genteng.

Ketiga orang panglima yang membantu Can Kok, yakni Mau Kun Liong, Oey Houw dan Oey See In, mengejar, akan tetapi Cin Pau menghajar mereka dengan biji-biji caturnya hingga mereka itu terpaksa melompat turun kembali karena mereka merasa takut terhadap serangan biji-biji catur yang istimewa itu. Kesempatan ini digunakan oleh Cin Pau dan Siauw Eng untuk menghilang di dalam gelap.

Dengan marah sekali Can Kok lalu membawa kedua orang tawanannya pindah tempat, dan tempat tahanan baru ini terjaga keras sekali sampai tiba saatnya keputusan hukuman dijatuhkan oleh Kaisar.

Sedangkan Siauw Eng sambil menangis sedih pergi mengikuti Cin Pau dan lari keluar dari kota Tiang- an.

“Cin Pau, apakah yang harus kita lakukan sekarang ? Ayah dan ibu tidak mau keluar dari tempat tahanan. “Ah, apakah yang harus kulakukan ?”

Cin Pau menarik napas panjang. Ia merasa kasihan sekali kepada Siauw Eng, dan dengan suara menghibur ia berkata, “Ayah tirimu benar-benar seorang jantan yang jujur. Benar bahwa ia dulu telah melakukan kesalahan, akan tetapi itu adalah karena terdorong oleh rasa sukanya kepada ibumu dan karena kini ia telah membuat pengakuan dan menyesalkan kesalahannya, maka ia dapat disebut seorang gagah. Juga kesetiaannya terhadap Kaisar patut dihormati karena memang demikianlah seharusnya seorang perwira. Kita hanya dapat berdoasemoga Kaisar akan dapat membedakan mana perwira yang setia dan mana yang curang. Orang yang paling jahat dalam hal ini adalah Can Kok. Dia yang memusuhi keluarga kita, dia yang membasmi dan membakar kuil Thian Lok Si, dan sekarang dia pula yang menjadi gara-gara hingga ayah ibumu tertawan !”

“Kita harus membunuhnya sekarang juga !” kata Siauw Eng dengan marah sekali.

“Memang, kita harus berusaha membinasakan penjahat ini, sesuai dengan permintaan ayah tirimu tadi.”

Dan pada keesokkan harinya, dengan kepandaiannya tentang obat-obatan, Cin Pau melumuri mukanya dengan semacam bedak hingga kulitnya menjadi kekuning-kuningan. Ia mengganti model ikatan rambutnya dan mengganti pakaiannya pula, sedang Siauw Eng lalu berpakaian sebagai seorang anak muda pelajar yang tampan sekali. Pedang mereka, mereka sembunyikan di dalam baju yang lebar dan longgar. Dengan dandanan seperti ini, siang-siang mereka dapat masuk melalui pintu gerbang kota tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka langsung menuju ke gedung Can Kok.

Cin Pau dan Siauw Eng terlalu memandang rendah kepada perwira ini. Sebetulnya dalam siasat dan tipu muslihat, kedua anak muda ini bukanlah lawan Can Kok yang sudah berpengalaman dan yang memang pada dasarnya cerdik dan penuh akal. Ia sudah dapat menduga akan hal ini, maka diam-diam ia menaruh mata-mata di tiap pintu gerbang, bahkan di seluruh kota ia menyebar mata-mata. Oleh karena itu, ketika Cin Pau dan Siauw Eng memasuki pintu gerbang, biarpun mereka menyamar, namun mereka ini hanya dapat mengelabuhi mata para penjaga saja. Mata para mata-mata yang cerdik tak dapat mereka tipu dan mereka telah tahu bahwa kedua orang muda ini adalah orang-orang yang harus mereka cari dan awasi. Maka sebelum Cin Pau dan Siauw Eng tiba di depan rumah gedung Can- ciangkun, perwira ini telah lebih dahulu mengetahuinya.

Ketika Cin Pau dan Siauw Eng melihat betapa rumah gedung itu sunyi sekali, bahkan di luar rumah juga tidak terlihat adanya orang atau penjaga, mereka menjadi girang sekali dan dengan cepat mereka lalu masuk ke dalam halaman depan. Mereka bermaksud untuk berpura-pura mencari Can-ciangkun dan percaya bahwa penjaga-penjaga tentu takkan mengenal mereka. Akan tetapi oleh karena tidak melihat adanya orang di situ, mereka terus maju sampai di pintu depan yang terbuka lebar. Dari pintu ini mereka melihat Can Kok duduk di ruang depan, duduk seorang diri. Ketika mendengar suara tindakan mereka, perwira itu menengok dan pada mukanya terbayang keheranan seperti biasanya orang melihat datangnya tamu-tamu yang tak dikenal.

“Jiwi siapakah ? Dan ada keperluan apa ?” tanyanya dengan suara biasa dan berdiri dari bangkunya.

“Kami hendak mohon bertemu dengan Can-ciangkun,” kata Cin Pau sedangkan Siauw Eng menahan marahnya sedapat mungkin. Mereka melangkah maju mendekati perwira itu.

“Can-ciangkun tidak berada di rumah,” jawab Can Kok sambil menjura dan pada saat ia menjura itu, dari tangannya melayang dua batang piauw yang semenjak tadi telah disediakan. Cin Pau cepat mengelak, demikianpun Siauw Eng dan kedua orang muda ini cepat-cepat mencabut keluar pedang mereka dan menyerang. Akan tetapi, sambil tertawa Can Kok melarikan diri ke dalam, dikejar oleh Cin Pau dan Siauw Eng. Mereka kini berada di ruang dalam yang luas dan tiba-tiba dari seluruh penjuru muncul Mau Kun Liong, Oey Houw, Oey See In, dan beberapa orang perwira lain. Mereka ini serentak mengurungnya dengan serangan-serangan hebat.

Bukan main terkejut hati Siauw Eng dan Cin Pau melihat hal ini. Ternyata bahwa perwira she Can itu benar-benar luar biasa cerdiknya. Akan tetapi, hal ini mereka ketahui setelah terlambat karena perwira- perwira itu tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk banyak berpikir dan menyesali kesembronoan sendiri. Senjata mereka bergerak cepat bagaikan hujan menyerang secara bertubi-tubi kepada dua orang muda itu.

Cin Pau dan Siauw Eng menggigit bibir dan memutar-mutar pedang dengan hebatnya. Mereka mengerti bahwa keadaan mereka berbahaya sekali, akan tetapi mereka tidak mau menyerah begitu saja dan melakukan perlawanan nekad dan mati-matian. Akan tetapi, kepandaian ketiga orang panglima itu yang khusus diperbantukan untuk menghadapi lawan-lawan tangguh ini, cukup cekatan dan dengan bantuan perwira-perwira lain, keadaan Cin Pau dan Siauw Eng benar-benar berbahaya dan terdesak sekali.

Adapun Can Kok yang maklum bahwa kedua orang muda itu sengaja datang hendak mencari dan membunuhnya, telah pergi bersembunyi dan mengintai pertempuran itu dengan hati girang. Cin Pau dan Siauw Eng segera mencari jalan keluar karena kedua anak muda itu maklum bahwa kalau mereka tidak dapat melarikan diri, akhirnya mereka tentu akan binasa. Maka dengan mengerahkan tenaga dan kepandaian, Cin Pau dan Siauw Eng dapat merobohkan masing-masing seorang lawan.

Kegagahan ini membuat perwira-perwira lain menjadi gentar, kecuali tiga orang panglima itu yang masih mendesak dan mengurung dengan rapatnya.

Sementara itu, diam-diam Can Kok mengerahkan banyak sekali tentara mencegat di halaman depan sehingga jalan keluar bagi Cin Pau dan Siauw Eng tertutup. Hal ini diketahui pula oleh Cin Pau dan Siauw Eng karena para tentara itu berteriak-teriak di luar rumah, maka tentu saja kedua orang muda ini menjadi makin gelisah. Tiba-tiba Cin Pau memutar pedangnya dengan gerak tipu Hing Sau Chian Kun atau serampang bersih ribuan tentara. Diputar-putar pedangnya terus ke bawah hingga beberapa kali pedangnya menyerampang ke arah lawan-lawannya yang terpaksa mengelak mundur, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Cin Pau untuk memegang lengan kiri Siauw Eng dan menariknya lari ke dalam. Ia maklum bahwa jalan keluar telah tertutup, maka jalan satu-satunya ialah lari ke dalam dan mencoba untuk keluar dari pintu belakang.

Ketiga orang panglima dan lima orang perwira mengejar mereka. Cin Pau dan Siauw Eng yang berlari secara membuta karena tidak tahu harus mengambil jalan ke mana, memasuki pintu dan tiba di dalam sebuah kamar yang mewah dan indah dan di kamar ini kembali mereka mengalami hal yang mengejutkan lagi betapa lihainya orang she Can itu. Kamar itu cukup lebar dan mempunyai jendela yang lebar pula. Dari lubang jendela, Cin Pau dan Siauw Eng dapat melihat bahwa di luar kamar itu adalah taman bunga yang indah. Maka mereka menjadi girang sekali dan cepat berlari ke arah jendela itu. Akan tetapi, ketika mereka berlari di atas lantai yang bertilamkan permadani tebal dan indah itu, tiba-tiba tubuh mereka terjeblos ke bawah, ke dalam lubang besar yang tertutup permadani. Cin Pau dan Siauw Eng berseru keras karena terkejut, akan tetapi mereka tidak keburu melompat pergi dan berikut permadani tebal itu, tubuh mereka melayang ke bawah.

Untung sekali mereka memiliki ginkang yang tinggi hingga mereka bisa menggerakkan tubuh ketika melayang dan bisa mengatur hingga jatuh mereka dengan kaki di bawah dan tidak mengalami luka- luka. Akan tetapi, baru saja mereka terjatuh di dalam sebuah kamar yang berbentuk bulat, tiba-tiba dari kanan kiri masuk asap putih bergulung-gulung yang tebal. Asap ini berbau pedas sekali dan biarpun mereka mencoba untuk menahan napas namun asap itu telah membuat mata mereka pedas dan panas hingga tak dapat dibuka dan hidung telah terasa perih, Akhirnya Cin Pau dan Siauw Eng tak tahan lagi, sekali saja mereka bernapas dan menyedot asap putih yang telah memenuhi kamar itu, mereka terguling dalam keadaan pingsan.

Ketika tersadar dan siuman kembali, Cin Pau dan Siauw Eng mendapatkan bahwa mereka telah terpisah satu sama lain, keduanya berada dalam sebuah kamar terpisah dan kamar itu terbuat dari pada batu yang kuat dan kokoh sekali. Pintu tunggal yang terdapat di situ berjeruji besa tebal dan kuat sebesar lengan, hingga ketika mereka mencoba untuk membetotnya, mereka maklum bahwa tenaga mereka takkan dapat mematahkan atau menarik besi itu. Mereka telah terkurung bagaikan burung dalam sangkar, tak berdaya sama sekali. Isi kantong mereka, pedang, dan bahkan bungkusan abu telah lenyap dirampas orang.

Biarpun mereka tidak terikat kaki tangannya, namun dengan tangan kosong, apakah daya mereka menghadapi perwira-perwira yang tangguh, terutama Can Kok yang banyak tipu muslihatnya itu ? Mereka hanya dapat menunggu dan mengambil keputusan untuk melawan mati-matian apabila mereka datang hendak menangkapnya.

Biarpun kamar mereka terpisah, namun berdekatan sehingga dengan berdiri di dekat jeruji besi yang merupakan pintu, mereka dapat saling pandang dan dapat pula bercakap-cakap. Akan tetapi, kini mereka hanya dapat saling pandang saja tanpa dapat mengeluarkan kata-kata. Akhirnya Cin Pau dapat juga berkata dengan suara menghibur,

“Siauw Eng, baiknya kita masih belum tewas. Dan lebih baik lagi, kita berada di sini berdua hingga betapapun juga, kita dapat saling membantu. Kalau mereka datang hendak menangkap, kita melawan dengan mati-matian mengadu jiwa.”

“Tentu, aku lebih baik mati dari pada menjadi tawanan di tangan mereka,” jawab Siauw Eng dengan gagah dan sedikitpun gadis ini tidak kelihatan takut hingga menimbulkan kagum dalam hati Cin Pau.

Tiba-tiba pintu kamar di luar kedua kurungan itu terbuka dan masuklah berbondong-bondong beberapa orang perwira, dikepalai oleh Can Kok yang tertewa gembira. “Lihatlah, cuwi, lihatlah ! Pemberontak-pemberontak liar dan ganas ini akhirnya harus tunduk dan menyerah ditanganku. Ha, ha, ha !”

Yang masuk ternyata selain ketiga orang panglima, juga nampak Gu Liong, Hwee Lian, dan nyonya Gu Keng Siu. Nyonya Gu Keng Siu nampak gembira sekali dan sambil menuding kepada kedua orang muda dalam kurungan itu, ia berkata dengan suaranya yang halus dan nyaring, “Hm, akhirnya kalian tertangkap juga. Baru puaslah hatiku melihat dua orang keturunan terakhir dari keparat-keparat she Khu dan Ma mampus dalam keadaan rendah dan sebagai pemberontak-pemberontak jahat !”

Cin Pau dan Siauw Eng cepat membalikkan tubuh dan berdiri membelakangi mereka dengan tubuh tegak lurus seakan-akan menganggap tidak ada harganya untuk berhadapan dengan mereka. Mereka tidak melihat betapa mata Hwee Lian menjadi merah dan juga Gu Liong memandang ke arah Siauw Eng dengan tertegun dan susah. Sebenarnya Gu Liong amat sayang dan mencintai Siauw Eng dan gadis ini telah lama dirindukannya. Hanya sikap Siauw Eng yang angkuh dan tinggi hati itulah yang membuat ia ragu-ragu dan tidak berani menyatakan perasaannya. Ketika mendengar bahwa Siauw Eng adalah puteri dari Ma Gi, musuh besar yang telah membunuh ayahnya, timbul kemarahan di dalam hatinya, akan tetapi ia tidak bisa membenci gadis ini bahkan kini setelah melihat betapa gadis itu tertawan dan maut menantinya, ia merasa kasihan sekali. Ia tidak tahu bahwa juga Hwee Lian, gadis yang pendiam dan halus itu, hampir tak dapat menahan air matanya melihat Siauw Eng dan Cin Pau tertawan. Gadis ini kebetulan saja berada di situ karena diam-diam iapun ingin mendengar nasib kedua orang ini dan karenanya ia selalu mengikuti Gu Liong. Ia merasa suka sekali kepada Siauw Eng dan kepada Cin Pau yang baru beberapa kali dilihatnya itu, ia merasa kagum dan juga suka, karena belum pernah ia melihat seorang pemuda yang gagah perkasa, halus dan sopan serta tampan akan tetapi sederhana seperti Cin Pau.

“Nah, cuwi sekalian, sekarang amanlah kota raja dengan tertangkapnya dua orang pemberontak muda ini. Akan tetapi, masih ada bahaya besar mengancam kedudukan Kaisar selama ketua kuil Thian Lok Si yang jahat itu belum tertawan pula.” Kemudian ia lalu mengajak semua kawannya keluar dari tempat itu.

Tiba-tiba Gu Liong berkata kepada Can Kok dengan suara gemas dan marah, “Can-ciangkun, perkenankanlah aku membunuh dua orang keparat ini untuk melampiaskan rasa dendam dan sakit hatiku!” sambil berkata demikian, Gu Liong mencabut pedangnya dan mendekati pagar besi.

“Benar, biar anakku yang membunuh mereka seperti ayah mereka dulu membunuh ayahnya !” kata nyonya Gu Keng Siu dengan suara penuh nafsu.

Can Kok tersenyum dan mencegah Gu Liong. “Jangan, jangan terburu nafsu. Bersabarlah, karena mereka ini harus dibawa menghadap untuk diperiksa perkaranya oleh Kaisar sendiri. Kalau sudah ada keputusan dari Kaisar, boleh saja kau hendak menjadi algojonya.” Tak seorang pun di antara mereka itu dapat menduga bahwa Gu Liong yang kelihatan kasar itu sebenarnya sedang menjalankan aksi yang amat cerdiknya. Ia sengaja memperlihatkan kebencian besar kepada dua orang muda itu agar mendapat kepercayaan dari Can Kok.

Setelah mereka keluar, Siauw Eng berkata kepada Cin Pau sambil menghela napas panjang.

“Kalau aku dapat lolos, yang hendak kupenggal batang lehernya selain Can Kok si keparat, juga Gu Liong dan ibunya.”

Cin Pau hanya tersenyum dan Siauw Eng merasa heran sekali melihat ketenangan pemuda ini yang masih dapat tersenyum dalam keadaan seperti ini.

“Biarpun kau telah berubah menjadi seorang pemuda, namun tetap saja kau masih galak dan cantik,” Cin Pau menggoda dan baru ingatlah Siauw Eng bahwa ia masih dalam keadaan menyamar sebagai seorang pemuda. Maka iapun ikut tersenyum dan berkata,

“Cin Pau, mati bersama kau membuat aku sedikitpun tidak merasa gentar oleh karena di mana kau berada, tentu aku akan selalu terhibur.” Biarpun kata-kata ini diucapkan dengan sejujurnya, namun bagi Cin Pau merupakan pengakuan perasaan hati gadis itu.

****** Malam hari itu, Cin Pau dan Siauw Eng sedikitpun tidak mau tidur. Mereka khawatir kalau-kalau di waktu tidur, musuh datang menyerang dan menangkap mereka. Semenjak siang tadi mereka bercakap- cakap hingga kini merasa lelah dan beristirahat sambil duduk bersamadhi.

Pintu terbuka perlahan dan Siauw Eng yang berada lebih dekat dengan pintu itu segera membuka matanya. Ia melihat bahwa yang masuk adalah Gu Liong. Ternyata pemuda ini telah mendapat kepercayaan dan perkenan Can Kok untuk masuk ke situ dengan alasan hendak menghina dan memperolok-olok kedua tawanan itu.

“Boleh,” kata Can Kok sambil tertawa, “Asal kau jangan mengganggu dan melukai mereka, karena kalau sampai mereka tewas, pahalaku terhadap Kaisar berkurang besarnya.”

Siauw Eng ketika melihat Gu Liong masuk, menjadi marah sekali dan memandang dengan mata berapi.

“Ha, ha, ha !” Gu Liong tertawa keras, bahkan terlalu keras dari pada suara biasanya menurut pendengaran Siauw Eng, “Siauw Eng, Cin Pau ! Kau dua ekor tikus kecil, akhirnya aku bisa melihat kalian di dalam kurungan, persis seperti dua ekor tikus masuk jebakan ! Ha, ha, ha!” Kemudian, dengan heran sekali Siauw Eng melihat Gu Liong mendekati pintu kurungannya dan berbisik, “Siauw Eng, katakanlah ! Apa yang dapat kulakukan untuk menolongmu ?”

Bukan main terkejut dan terheran hati Siauw Eng. Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini sebenarnya hendak menolongnya dan bahwa semua lagak yang dibuatnya tadi semata-mata untuk membodohi Can Kok. Untuk beberapa lama ia hanya memandang dengan heran dan tak dapat berkata- kata, akhirnya dengan wajah berseri ia berkata, “Gu Liong, kau baik sekali. Kau carikan pedang untukku!”

Gu Liong berseru lagi keras-keras, “Siauw Eng, perempuan busuk. Kalau saja aku diberi kesempatan, akan ku tusuk dadamu dengan pedang tajam agar puas rasa hatiku.” Lalu disambungnya dengan bisikan pula, “Baik, Siauw Eng, aku akan mencarikan pedang untukmu. Ketahuilah, aku ... aku cinta padamu, Siauw Eng, dan ... dan kau berjanjilah bahwa kelak kalau kau sudah bebas, kau akan ... akan suka menjadi ... isteriku ... “

“Apa ??!!” Siauw Eng bertanya keras-keras sambil membelalakkan kedua matanya, memandang

kepada Gu Liong dengan heran dan marah.

“Berjanjilah, Siauw Eng, dan aku akan mencarikan pedang untukmu, kita tidak mempunyai banyak waktu ”

“Tidak, tidak! Bangsat rendah ! Pergi kau dari sini ! Kau kira aku demikian takut mati hingga sudi berjanji sedemikan rendah ? Tidak, lebih baik aku mati !”

Gu Liong membujuk-bujuk lagi akan tetapi Siauw Eng bahkan menjadi makin marah dan memaki- makinya hingga akhirnya Gu Liong menjadi marah pula.

“Baik, baik ! Kau matilah, matilah tanpa kepala ! Aku ingin melihat kepalamu yang cantik dan angkuh itu menggelundung di depan kakiku !” Setelah berkata demikian, Gu Liong lalu meninggalkan tempat itu.

Sunyi keadaan di kamar kurungan itu setelah Gu Liong pergi.

“Bedebah !” tiba-tiba Cin Pau berkata perlahan. “Ku kira tadinya betul-betul bangsat itu hendak berbuat kebaikan menolong kita.”

“Semenjak ia masuk, aku pun telah merasacuriga, tentu ia mempunyai maksud buruk,” kata Siauw Eng dengan mulut cemberut.

Tak lama kemudian, pintu itu terbuka lagi dan kini Hwee Lian lah yang masuk dengan perlahan.

“Apa pula kehendaknya ?” Siauw Eng berpikir sambil tetap menutup matanya dan mengintai dari balik bulu mata. Hwee Lian memandang ke arahnya, kemudian lalu terus menghampiri kurungan Cin Pau. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu lalu mengeluarkan sebilah pedang dari balik lipatan bajunya dan memberikan itu kepada Cin Pau yang menerimanya dengan mata terbuka karena heran. “Nona .... mengapa kau begini baik hati ?”

Hwee Lian tidak menjawab, hanya sambil menahan isaknya ia lalu membalikkan tubuh dan berkata perlahan. “Hati-hatilah !”

Akan tetapi pada saat itu, Can Kok menerobos masuk dengan muka merah karena marahnya. “Kau ....

pengkhianat !” katanya sambil menyerang Hwee Lian. Gadis itu terkejut dan melompat sambil mengelak.

“Can-ciangkun, mereka .... mereka adalah sahabat-sahabat baikku semenjak kecil “ ia membela diri

dan sekali lagi mengelakkan pukulan Can Kok yang marah.

Kemudian Can Kok menarik kembali tangannya yang hendak menyerang terus. “Biarlah, apa gunanya aku menyerang kau ? Kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah puteri Gan-ciangkun dan cucu pangeran Gu, tentu sekarang juga aku binasakan kau ! Tidak apa kau memberi pedang kepadanya, karena apa artinya pedang itu baginya dalam keadaan sekarang ? Kau pergilah !”

Sambil menahan isaknya, Hwee Lian lalu pergi dari situ dan Can Kok menutupkan pintu ruangan itu dengan marah sekali. Terdengar ia memaki-maki penjaga pintu yang dikatakan lancang dan memesan agar siapa saja jangan diperkenankan masuk kalau tidak bersama dia.

Cin Pau yang telah menerima pedang dari Hwee Lian, memandang pedang itu dengan termenung. Mengapa gadis itu demikian baik kepadanya ?

“Cin Pau, benar seperti dugaan ku dulu. Gadis itu mencintaimu, mencinta dengan suci dan ia berani berkorban pula !” tiba-tiba Siauw Eng berkata.

“Apa katamu ? Baru saja beberapa kali dia melihatku.”

“Apakah salahnya ? Untuk mencintai orang, sekali saja melihat sudah cukup. Ia pernah menyatakan kepadaku betapa ia kagum dan kasihan melihatmu.”

“Celaka ! Rupa-rupanya ada dua orang penggoda yang mengganggu kita,” kata Cin Pau. “Bukankah hal itu baik sekali ? Dia cantik dan baik budi,” Siauw Eng menggoda.

Terdengar Cin Pau menghela napas. “Hm, jadi tiga sekarang penggoda-penggoda itu. Tiga orang dengan engkau sendiri ! Sudahlah, Siauw Eng, jangan kita bicarakan urusan itu. Mencintai atau tidak, aku sama sekali tidak menaruh perhatian kepadanya dan pedang ini tetap pedang. Mungkin aku dapat membuka pintu ini dengan pedang !” Ia lalu membacok dengan sekuat tenaga ke arah jari-jari pintu itu, akan tetapi bukan jari-jari besi itu yang putus, bahkan pedangnya menjadi somplak. Ternyata bahwa jari-jari itu bukan terbuat dari pada besi biasa, tetapi dari baja yang tulen yang keras dan memang khusus dibikin dengan kuat dan tahan bacokan pedang. Cin Pau melempar pedang itu ke bawah dengan hati kecewa.

“He, jangan kau menyia-nyiakan cinta seorang gadis !” tegur Siauw Eng. “Apa pula maksudmu ?” tanya Cin Pau kesal.

“Pedang itu adalah pedang hadiah yang dimaksudkan untuk tanda mata, mengapa kau buang-buang ? Itu berarti bahwa kau tidak menghargai cinta kasihnya !”

Mendengar godaan itu, dengan hati merasa sebal Cin Pau lalu menjatuhkan diri dan bersandar pada dinding. Ia mulai hilang harapan untuk dapat lolos dari kurungan yang kokoh kuat ini.

Menjelang pagi, penjaga-penjaga pintu kamar kurungan itu melihat tiga orang laki-laki tua dan seorang wanita berjalan menuju ke kamar kurungan. Oleh karena mereka melihat Can Kok berada ditengah, berjalan dan bergandeng tangan dengan seorang tua dan nampaknya sebagai sahabat-sahabat baik, mereka diam saja dan tidak merasa curiga. Ketika mereka itu telah masuk ke dalam ruangan, alangkah girang dan terkejut hati Cin Pau melihat bahwa yang masuk itu adalah Tiauw It Lojin, Sian Kong Hosiang, dan Lin Hwa, Ibunya. Hampir saja ia berseru girang, akan tetapi Tiauw It Lojin telah memberi isyarat sehingga ia menahan kegembiraannya. Ketika Tiauw It Lojin melepaskan tangannya yang tadi menggandeng lengan Can Kok, perwira itu jatuh lemas bagaikan sehelai kain. Ternyata bahwa perwira ini telah ditotok sedemikian rupa oleh Bu Eng Cu sehingga tak dapat berteriak maupun bergerak, dan ketika tadi digandeng, ia sebetulnya tidak berjalan sendiri, hanya didorong oleh Tiauw It Lojin sehingga para penjaga tidak tahu bahwa sebenarnya majikan mereka itu berada di bawah kekuasaan ketiga orang tua itu.

Malam itu, dengan mempergunakan ilmu ginkang yang luar biasa, ketiga orang tua itu berhasil memasuki gedung Can Kok dan Bu Eng Cu lalu mempergunakan ilmu kepandaiannya, memasuki kamar Can Kok dan membuat perwira itu tidak berdaya dengan totokannya. Para panglima dan perwira lain yang tidur di lain kamar, tidak ada yang mendengar oleh karena sebelumnya, Lin Hwa telah mempergunakan semacam hio yang dibakar dan asapnya ditiupkan di jendela mereka hingga mereka tidur dengan amat nyenyaknya.

Setelah membuat Can Kok tidak berdaya, dengan akal yang licin, yakni menggandeng lengan Can Kok yang tidak berdaya dan mempergunakannya sebagai surat jalan, mereka berhasil masuk ke dalam kamar kurungan. Oleh karena yang memegang kunci kurungan itu adalah Can Kok sendiri, maka dengan mudah mereka dapat merampas kunci dari kantong perwira itu dan membuka kedua kurungan.

Cin Pau lalu berlutut di depan ketiga orang itu, dan Siauw Eng juga berlutut tanpa mengucapkan sesuatu karena mereka maklum bahwa di luar masih ada penjaga-penjaga. Akan tetapi, sebelum ketiga orang itu sempat mencegah, tiba-tiba Siauw Eng dan Cin Pau yang melihat tubuh Can Kok menggeletak di situ dalam keadaan tertotok dan tak berdaya, keduanya lalu melompat dan mengirim pukulan dengan hebat. Tubuh Can Kok berkelonjot sekali dan nyawanya melayang ke akhirat.

“Omitohud ” Sian Kong Hosiang menyebut nama Buddha, dan Tiauw It Lojin hanya tersenyum.

“Memang dosa-dosanya telah melewati ukuran,” katanya perlahan, kemudian ia lalu mengajak semua orang keluar dari situ dengan cepat. Empat orang penjaga di luar pintu ketika melihat bahwa dua orang tawanan mereka telah keluar, merasa terkejut sekali dan mereka mencari-cari Can Kok dengan mata mereka.

“Di mana Can-ciangkun ?” tegur mereka dengan curiga.

“Dia berada di dalam,” kata Tiauw It Lojin dan ketika keempat orang itu menuju ke pintu, dengan cepat sekali Tiauw It Lojin mendorong mereka ke dalam kamar dan menutup pintunya. Sambil berlari, kelima orang itu lalu keluar dari rumah Can Kok.

Akan tetapi, ketika mereka keluar dari rumah, di halaman depan telah menanti Mau Kun Liong, Oey Houw, Oey See In, bahkan nampak juga Kim I Lokai dan Pauw Su Kam. Mereka ini telah mendapat tahu dari seorang penjaga dan segera menyadarkan ketiga panglima dan perwira-perwira lain yang segera menanti di situ, mencegat keluarnya kelima orang buronan itu. Tak dapat dicegah lagi, di waktu fajar mulai menyingsing itu, di halaman rumah Can Kok yang luas, terjadilah pertempuran yang luar biasa hebatnya.

Namun sepak terjang kelima orang yang dikeroyok itu terlalu hebat hingga para pengeroyok tak berdaya mengurung dan mendesak mereka. Tiauw It Lojin dan Sian Kong Hosiang dengan kedua tangan kosong menangkap-nangkapi para pengeroyoknya dan melempar-lemparkan mereka dengan mudah saja. Kim I Lokai merasa terkejut sekali hingga ia dan para perwira menjadi was-was menghadapi dua orang tua yang gagah perkasa ini.

Tiba-tiba, setelah fajar menyingsing pagi, datanglah dua orang tosu yang bukan lain adalah tosu Gobi- san, Cin San Cu dan Bok San Cu. Ketika melihat bahwa yang membela para pemberontak adalah Tiauw It Lojin, Bok San Cu berkata,

“Bu Eng Cu, mengapa kau orang tua ikut-ikut campur membela pemberontak ? Sudah lenyapkah kesetiaanmu terhadap kerajaan dan apakah kau orang tua hendak menjadi pemberontak pula ? Serahkan Siauw Eng kepadaku, dia adalah murid kami dan kami yang berhak memutuskan perkaranya

!”

“Ha, ha, ha ! Enak saja kau bicara ! Siapa yang memberontak dan siapa yang mengkhianati raja ? Perwira-perwira palsu macam Can Kok itulah yang sebenarnya memberontak dan mengacaukan keamanan negara !” “Kau pandai memutar lidah ! Serahkan Siauw Eng kepada kami !”

Akan tetapi permintaan ini diganda tertawa saja oleh Bu Eng Cu, sedangkan Cin Pau lalu maju menghalang di depan Siauw Eng dengan pedang di tangan.

“Kalau begitu, terpaksa kami harus membela kehormatan nama Gobi-pai !” seru Cin San Cu yang lalu menyerang dengan hebat, dan disambut oleh Bu Eng Cu. Pertempuran menjadi makin sengit dan ramai sekali.

Tiba-tiba datang dua orang tua yang gagah yang bukan lain ialah Pek Seng Hwesio dan Beng Hong Tosu. Mereka ini berjalan dengan cepat dan ketika tiba di tempat pertempuran, Pek seng Hwesio membentak, “Berhenti semua !”

Bentakan ini dikeluarkan dengan tenaga khikang luar biasa sekali hingga terdengar amat berpengaruh dan semua orang segera menahan senjata mereka.

“Pek Seng Hwesio dan Beng Hong Tosu, mengapa kalian berdua meninggalkan tempat pertapaan pula dan datang ke tempat ini ? Apakah kalian juga hendak membela pemberontak ?” tanya Bok San Cu yang berangasan.

Pek Seng Hwesio tersenyum. “Kalian harus belajar bersabar, sahabat. Semua adalah menjadi kurban kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh seorang jahat bernama Can Kok itu. Bahkan kaisar sendiri juga merasa menyesal karena terlalu percaya kepada orang she Can yang berhati busuk. Lihatlah, pinceng membawa surat perintah dan keputusan dari Kaisar sendiri !”

Para panglima dan kedua tosu serta para perwira segera menghampiri dan benar saja, yang dipegang oleh Pek Seng Hwesio itu adalah surat perintah dari Kaisar yang tidak saja mengampuni Gak Song Ki dan isterinya, bahkan juga mengampuni Cin Pau dan Siauw Eng, kemudian menjatuhkan keputusan hukuman mati kepada Can Kok yang dianggapnya sengaja menipu Kaisar dan menimbulkan kekacauan dan permusuhan. Juga di situ disebut dan dinyatakan bahwa Kuil Thian Lok Si adalah kuil suci yang akan dibangun lagi atas biaya pemerintah. Tentu saja semua orang merasa gembira oleh karena memang amat berat menghadapi dan melawan orang-orang tua yang gagah perkasa itu. Juga Cin San Cu dan Bok San Cu menjadi lega oleh karena mereka tak usah menghukum murid yang disayanginya itu yang terpaksa hendak dilakukannya karena kesetiaan mereka terhadap Kaisar.

Bukan main girangnya hati Siauw Eng ketika bertemu dengan ibu dan ayah tirinya lagi dalam keadaan selamat. Hal-hal yang telah lalu dilupakan dan semua merasa berbahagia sekali. Terutama perjumpaan antara Lin Hwa ibu Cin Pau dan Kwei Lan, mendatangkan keharuan besar. Mereka saling peluk dan saling menangis dengan terharu, akan tetapi di dalam itu terdapat kebahagiaan besar oleh karena mereka dapat mengikat tali perjodohan antara anak mereka, keturunan langsung dari Khu Tiong dan Ma Gi.

Yang paling merasa kecewa dan tidak berbahagia adalah Gu Liong dan Hwee Lian oleh karena kedua orang muda ini merasa kecewa, akan tetapi, Hwee Lian terhibur hatinya ketika mendengar bahwa Cin Pau dijodohkan dengan Siauw Eng, gadis yang ia kagumi dan sukai itu. Sedangkan Gu Liong beserta ibunya, yang menaruh dendam besar terhadap keluarga Khu dan Ma, pada suatu hari dengan tak tersangka-sangka telah didatangi oleh Kwei Lan dan Lin Hwa. Kedua nyonya Khu dan nyonya Ma ini mengadakan kunjungan setelah mendengar cerita anak mereka betapa nyonya Gu Keng Siu itu membenci mereka dengan hebat. Dengan sikapnya yang halus dan lemah lembut, Lin Hwa berkata, “Adikku, sebelum peristiwa hebat itu terjadi, kita telah menjadi kenalan baik, bahkan bukan kenalan biasa, boleh dikatakan seperti keluarga sendiri. Lalu terjadilah hal-hal yang amat buruk dan yang mendatangkan kesedihan besar itu. Bagi kita sekarang, tak perlu mempersoalkan mana betul mana salah. Yang penting ialah bahwa kita harus ingat akan keadaan kita sendiri. Apakah peristiwa yang terjadi itu kita kehendaki ? Tidak, hal itu datang dan terjadi secara dipaksakan kepada kita yang tak berdaya. Kalau kedua kakek Khu dan Ma dianggap bersalah, mereka sudah mendapat hukuman dan tewas. Kalau kedua suami kami itu dipersalahkan mereka juga sudah terhukum dan tewas. Mengapa kau masih menaruh dendam ? Yang berbuat sudah meninggal, sedangkan kita dan anak kita ini hanyalah merupakan keturunan yang tidak tahu menahu dalam persoalan itu. Kalau kau membalas, kemudian anak kita saling bermusuhan, lalu anak mereka bermusuhan pula, dilanjutkan dengan cucu mereka, bukankah itu berarti bahwa kita ini hanya hendak mengacaukan keadaan dan hidup kita terdorong oleh nafsu dendam yang tiada habisnya, yang membuat kita menjadi liar seperti serigala saling makan kawan sendiri ? Insaflah, adik dan kalau memang kau anggap kami bersalah, maafkanlah kami.” Mendengar uraian panjang lebar dan melihat sikap Lin Hwa yang halus ini, luluhlah kekerasan hati nyonya Gu Keng Siu. Dipeluknya Lin Hwa dan Kwei Lan dan ia menangis dengan sedihnya.

Berbeda dengan nyonya Keng Siu, ibu yang dulu menjadi nyonya Leng Siu, telah dapat menginsafi keadaan dan tidak menaruh dendam. Maka berkat kebijaksanaan Lin Hwa, berakhirlah permusuhan hebat itu. Juga Siauw Eng merasa tunduk dan kagum kepada calon ibu mertuanya yang bijaksana.

Kuil Thian Lok Si dibangun kembali atas biaya Kaisar dan kini bahkan dibangun dengan hebat, jauh lebih megah dan besar dari pada dulu. Sian Kong Hosiang menjadi pemimpin kuil itu lagi, sedangkan Pek Seng Hwesio bersama Beng Hong Tosu dan Tiauw It Lojin lalu naik ke Kunlun-san, di mana Pek Seng Hwesio lalu mendirikan sebuah kuil kecil untuk tempat ia bertapa.

Demikianlah, permusuhan hebat itu diakhiri dengan baik dan damai, dan akibat hasutan dan kejahatan hati Can Kok yang telah mengurbankan banyak jiwa dan bahkan telah memusnahkan kuil Thian Lok Si itu telah dilupakan orang. Memang tepat pendapat Lin Hwa bahwa dendam hati hanya dapat diakhiri dengan kesadaran dan kebijaksanaan, karena kalau dituruti saja nafsu dendam ini, akan berkepanjangan dan tiada akan ada habisnya.

Cerita ini ditutup dengan peristiwa bahagia, yakni ditemukannya sepasang mempelai, Khu Cin Pau dan Ma Siauw Eng yang selanjutnya hidup penuh kebahagiaan dan kerukunan. Lebih menggembirakan lagi bahwa Gu Liong dan Gu Hwee Lan lambat laun dapat melupakan pula kekecewaan hati mereka dan akhirnya pun mendapat jodoh masing-masing.

TAMAT