-->

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Jilid 2

Jilid 2

Bagian 04. Perkawinan Nestapa

Peristiwa yang terjadi pada keluarga Khu dan Ma itu, tidak saja mendatangkan malapetaka pada kedua keluarga tersebut, akan tetapi juga mendatangkan malapetaka yang tak kalah hebatnya pada keluarga Pangeran Gu Mo Tek dengan terbunuhnya Gu Mo Tek dan kedua orang puteranya, Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, oleh amukan Khu Tiong dan Ma Gi.

Pada malam hari terjadinya pembunuhan itu, gegerlah seluruh keluarga pangeran itu. Nyonya pangeran yang sudah tua menangis sampai jatuh pingsan beberapa kali, sedangkan isteri kedua orang muda ini memeluki jenazah suaminya sambil menangis tersedu-sedu. Mereka ini harus dikasihani oleh karena sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu menahu tentang urusan yang mendatangkan malapetaka ini, bahkan kematian Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu juga mengandung penasaran besar karena kedua orang muda inipun tidak tahu akan pengkhianatan terhadap kedua orang sastrawan tua yang dilakukan oleh ayah mereka.

Pada saat terjadinya pembunuhan ini, isteri Gu Keng Siu telah mempunyai seorang putera berusia lima bulan, sedangkan isteri Gu Leng Siu mengandung muda, paling banyak empat bulan. Dapat dibayangkan betapa hancur dan sedih hati mereka dan berbareng dengan kesedihan hebat ini, timbul pula dendam yang mendalam dan besar di dalam hati mereka terhadap Khu Tiong dan Ma Gi. Kedua nama ini mereka ingat baik-baik dan selama hidup takkan pernah mereka lupakan.

Beberapa bulan kemudian, isteri Gu leng Siu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Gu Hwee Lian. Dan karena nyonya janda ini masih muda lagi cantik jelita, maka ketika datang pinangan dari seorang komandan meliter berpangkat Touw-tong yang masih muda lagicakap dan gagah, ia menerimanya lalu berpindah ke rumah gedung Touw-tong itu ke kota Lok-keng. Towtong ini bernama Gan Hok dan ia memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi, mewarisi ilmu kepandaian silat ayahnya yang telah meninggal dunia. Gan Hok menerima anak tirinya dengan hati rela, karena iapun suka melihat anak yang mungil dan mukanya mirip ibunya itu.

Adapun nyonya janda Keng Siu tidak mau kawin lagi, bahkan bersumpah hendak menjadi janda sampai tiba saatnya menyusul suami ke alam baka dan bersumpah pula hendak menjagaputeranya yang bernama Gu Liong itu agar kelak dapat membalaskan dendam hatinya. Nyonya janda Cu Keng Siu tetap tinggal bersama ibu mertuanya di gedung nyonya pangeran ini, dan kadangkala ia mengunjungi ibu Gu Hwee Lian yang kini menjadi nyonya Gan Hok itu. Mereka tetap mengadakan perhubungan seperti biasa oleh karena biarpun yang seorang telah menjadi isteri orang lain, namun dendam hati mereka masih sama hingga seakan-akan ada pertalian erat di antara mereka berdua, bahkan Gan Hok telah berlaku baik sekali kepada nyonya janda Gu Keng Siu dan ketika diminta, ia suka menerima Gu Liong menjadi muridnya, dan mengajarsilat kepadananak laki-laki ini bersama dengan anak tirinya, yakni Hweee Lian.

Biarpun kedua orang perempuan yang mengandung dendam hati besar ini telah mendengar bahwa kedua orang musuh mereka, yakni Khu Tiong dan Ma Gi, telah dapat ditewaskan oleh para perwira, namun mereka tetap merasa kurang puas oleh karena kedua isteri musuh-musuh ini masih hidup dan bahkan sedang mengandung tua sehingga rasa dendam mereka segera berpindah kepada isteri Khu Tiong dan isteri Ma Gi beserta anak-anak mereka.

Demikian hebat rasa dendam yang sudah mengeram dan meracuni hati wanita, sehingga mereka tidak puas sebelum melihat musuh mereka di tumpas habis sampai semua keluarga dan keturunannya. ******

Nyonya janda Ma Gi yang tinggal di gedung Gak Song Ki akhirnya melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ma Siauw Eng. Nama ini dipilih oleh Kwei Lan, nyonya janda itu, untuk memperingati ayah mertuanya, Ma Eng, maka anaknya pun diberi sama dengan huruf “Eng” pula. Gak Song Ki dan ibunya girang sekali dan suka melihat anak perempuan yang cantik dan mungil itu. Adapun tentang nama, Gak Song Ki tidak menaruh keberatan karena ia amat sayang kepada Kwei Lan.

Mendapat pelayanan yang amat manis dan baik dari perwira muda yang tampan itu beserta ibunya, dan melihat pula betapa Gak Song Ki selalu bersikap ramah tamah dan sopan santun, juga amat mencintainya, maka setahun kemudian Kwei Lan tak dapat menolak dan menerima dengan hati tulus pinangan perwira muda itu sehingga ia menjadi nyonya Gak Song Ki yang gagah. Orang tak dapat menyalahkan nyonya janda ini karena ia mempunyai banyak alasan kuat untuk menerima pinangan Gak Song Ki. Pertama-tama karena ia masih amat mudah, belum lebih dua puluh tahun hingga tentu saja hatinya masih ingin sekali mempunyai rumah tangga yang bahagia. Kedua karena Gak Song Ki adalah seorang perwira muda yang cukup tampan, sopan, dan gagah perkasa. Ketiga karena nyonya janda ini merasa telah berhutang budi dan mengingat akan nasib puterinya. Kalau ia menjadi nyonya perwira ini, tentu hidupnya akan terjamin dan dengan sendirinya ia tak usah kuatirkan nasib anaknya. Pula, dengan menjadi isteri Gak Song Ki ia tak perlu kuatir lagi akan dikejar-kejar oleh kaisar dan jiwanya serta keselamatan anaknya takkan terganggu pula.

Ternyata bahwa Gak Song Ki amat menyinta Kwei Lan hingga nyonya ini merasa beruntung sekali. Terutama karena ia melihat betapa suaminya yang baru ini juga menaruh hati kasih sayang kepada Siauw Eng yang jelas sekali kelihatan bahwa ia akan menjadi seorang gadis yang cantik luar biasa seperti ibunya. Gak Song Ki adalah seorang perwira yang kurang paham tentang ilmu sastera, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi hingga karena ia tidak dapat mengajarkan ilmu kesusasteraan maka ia lalu melatih ilmu silat kepada Siauw Eng yang dianggap seperti anak sendiri itu.

Demikianlah, empat orang muda yang binasa sebagai akibat dari pada perbuatan ayah masing-masing, yakni Khu Tiong, Magi, Gu Keng Siu, dan Gu leng Siu, meninggalkan keturunan masing-masing yang hidup terpisahdan dalam keadaan yang berlainan pula, akan tetapi keempat keturunan itu semua menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi semenjak kecil dan yang kelak akan menimbulkan cerita luar biasa hebat dan ramainya.

Pada waktu itu, rakyat yang telah tertindas oleh kelaliman Kaisar beserta hulubalangnya dan para pembesar yang korup, lebih menderita lagi ketika Tiongkok diserang musim kering yang hebat. Panen menjadi rusak dan tak berhasil, namun tetap saja rakyat tani harus membayar pajak yang luar biasa beratnya hingga seakan-akan mereka tercekik dari kanan kiri. Entah dosa apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang mereka hingga pada saat yang bersamaan, Tuhan dan Kaisar telah memperlihatkan kekuasaan dan kemurkaan terhadap para petani miskin itu.

Keadaan yang amat sengsara ini telah sampai di puncaknya dan ibarat api telah bernyala-nyala. Kemudian tersebarlah buku karangan Khu Liok dan Ma Eng yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH itu yang merupakan kipas dan yang mendatangkan angin hingga api yang telah bernyalah di dada para rakyat kecil itu makin berkobar hebat. Maka pecahlah pemberontakan kaum tani pada tahun 874 dipimpin oleh seorang patriot bernama Ong Sian Ci dan dimulai di Santhung, daerah yang menderita karena musim kering. Pemberontakan menjalar luas sekali sehingga sebentar saja dimana- mana terjadi pemberontakan kaum tani yang menuntut perbaikan nasib. Ketika pemimpin pemberontakshe Ong itu tewasdalam peperangan, ia digantikan oleh seorang patriot lain bernama Oey Ciauw yang berhasil menggerakkan kaum tani dan rakyat kecil sampai mencapai barisan yang terdiri dari setengah juta rakyat lebih.

Dan tentara rakyat ini menyerbu terus, menerjang segala penghalang, sepak terjang mereka mengerihkan dan mengagumkan sekali, mati satu maju dua, roboh dua maju empat, terus menerus jumlah mereka melipat gandahingga akhirnya kekuasaan Kaisar tang dapat ditumbangkan hingga Kaisar yang lemah itu melarikan diri, mengungsi ke Secuan.

Un Kong Sian yang melihat semua ini, menghela napas dan menyesali sifat Kaisar yang kurang bijaksana hingga terjadilah pemberontakan ini. Ia tidak mau ikut campur dan hanya tinggal di rumah bersama isteri dan ibunya. Orang muda ini tidak mengalami kebahagiaan dalam rumah tangganya. Memang ia harus akui bahwa isterinya adalah seorang wanita yang selain cantik, juga sangat setia dan melayaninya dengan penuh perhatian. Akan tetapi, isterinya yang bernama Oey Bi Nio ini, terlalu pendiam dan jarang sekali tersenyum. Segala apa yang dilakukan hanya terdorong oleh tugas dan wajib semata-mata, tanpa disertai perasaan kasih sayang yang seharusnya diperlihatkan oleh seorang isteri. Kong Sian tak dapat mencela isterinya, karena memang dalam segala hal, Bi Nio berlaku baik dan memenuhi kewajiban dan inilah yang mengesalkan hatinya. Bi Nio merupakan sebuah mesin yang baik jalannya, atau seorang pelayan yang sempurna pekerjaannya, bukan merupakan seorang isteri yang merupakan lawan bercinta dan bercekcok.

Tubuh Un Kong Sian makin kurus saja, karena ia jarang keluar pintu dan kesukaannya hanya duduk di sebuah kursi dan melamun. Ibunya amat kuatir melihat keadaan puteranya ini dan sebagai seorang wanita kuno, ia cukup puas melihat anak mantunya yang tahu kewajiban dan berbakti itu, sama sekali tidak tahu tentang kekosongan hati puteranya akibat sikap pendiam dan penurut dari Bi Nio itu.

“Kong Sian, mengapa kau selalu melamun dan seperti orang yang berduka saja ?” pada suatu hari nyonya tua ini bertanya dengan suara penuh kasih sayang. Apakah kau merasa tubuhmu kurang sehat

?”

Un Kong Sian menggelengkan kepalanyadan ibunya amat terharu ketika melihat betapa di antara rambut anaknya yang hitam dan subur itu kini nampak beberapa helai rambut putih.

“Tidak ibu, aku tidak apa-apa. Hanya ”

“Hanya apakah, anakku ? Apakah yang mengganggu pikiranmu ?”

Un Kong Sian tak dapat melanjutkan kata-katanya karena memang ia tidak tahu apakah yang menyebabkan ia menjadi kesal dan seakan-akan bosan akan segala apa. Kemudian, tiba-tiba ia teringat kepada Lin Hwa yang telah empat tahun tak dijumpainya itu, maka ia segera berkata,

“Aku hanya ingin sekali pergi merantau, ibu.”

Ibunya menghela napas. Nyonya ini merasa kecewa dan sedih sekali oleh karena setelah kawin empat tahun lamanya, mantunya belum juga kelihatan mengandung, sedangkan ia telah amat rindu menanti datangnya seorang cucu yang mungil.

“Kalau kau pikir bahwa hal itu akan mendatangkan kegembiraan bagimu, kau pergilah, nak. Akan tetapi, jangan terlalu lama dan ingatlah bahwa ibumu yang sudah tua menanti di rumah.”

Un Kong Sian dengan girang lalu berlutut dan memeluk kaki ibunya yang mencucurkan air mata sambil mencari-cari rambut putih di kepala puteranya itu untuk dicabut.

Setelah mengadakan persiapan dan berpamit kepada isteri dan ibunya, Un Kong Sian lalu pergi, mulai dengan perjalanannya merantau. Ketika dia memberitahukan maksud dan kehendaknya kepada isterinya, Bi Nio hanya menjawab sederhana,

“Baiklah, dan aku akan menjaga ibu dengan baik-baik. Kau tetapkan hatimu dan jangan kuatirkan kami.”

******

Setelah keluar dari rumah dan berada di alam bebas, Un Kong Sian merasa seakan-akan ia telah merdeka terlepas dari kurungan, seperti seekor burung yang terlepas dan kini terbang ke angkasa dengan bebas merdeka dan gembira. Ia merasa hidup kembali dari dunia lain yang menjemukan dan mengesalkan hati.

Serbuan tentara petani ternyata mendatangkan perubahan hebat di dusun-dusun. Penderitaan berkurang dan kemiskinan agak dapat di atasi, akan tetapi timbul pula gejala-gejala baru yang sebenarnya telah tua yakni berlakunya hukum rimba. Memang, ketika mulai dengan pemberontakan, semua petani bersatu padu merupakan kesatuan yang kokoh kuat, akan tetapi setelah pemberontakan itu berhasil, mereka saling cakar seperti anjing berebut makanan. Tentu saja dalam perebutan ini, yang kuat menang dan yang kalah tetap menderita.

Dengan demikian, maka penindasan masih belum terhapus sama sekali dari muka bumi Tiongkok, hanya bertukar majikan saja. Kalau dulu yang menjadi “raja kecil” adalah hartawan terbesar atau bangsawan tertinggi, kini mereka ini dapat diusir dan kedudukan mereka digantikan oleh orang yang terkuat. Un Kong Sian langsung menuju ke Kwi-ciu untuk mendatangi kuil Thian-an-tang dan mencari Lin Hwa, wanita yang selama ini belum pernah lenyap dari ingatannya.

Akan tetapi ketika ia tiba di kuil Thian-an-tang di Kwi-ciu itu, ia melihat bahwa perubahan besar telah terjadi pula di kuil Thian-an-tang. Lan-lan Nikouw yang telah tua itu sudah meninggal dunia ketika terjadi keributan dan penyerbuan barisan tani. Ketika terjadi keributan, maka para penjahat menggunakan kesempatan itu untuk merajalela dan mengumbar nafsu jahatnya. Melihat bahwa di antara para nikouw du kuil Thian-an-tang banyak terdapat nikouw muda yang berwajah lumayan, mereka lalu berani datang mengganggu. Dan di antara para nikouw itu terdapat pula banyak wanita yang sebelum masuk menjadi nikouw menuntut penghidupan tidak patut, bahkan ada pula beberapa orang wanita pelacur yang katanya telah bertobat dan hendak menebus dosa lalu masuk menjadi pendeta perempuan. Mereka inilah yang masih belum bersih betul batinnya dan tidak kuat menghadapi godaan sehingga diam-diam mereka melakukan perhubungan rahasia dengan para penjahat itu. Hal ini diketahui oleh Lan-lan Nikouw yang juga memiliki kepandaian ilmu silat cukup tinggi. Nilouw tua yang biasanya amat sabar dan peramah itu, tak dapat menahan kemarahan hatinya. Dengan pedang ditangan ia lalu menghajar penjahat-penjahat itu dan bersama dengan para nikouw yang berjalan sesat, ia lalu membunuh mereka sehingga sebentar saja belasan orang menjadi mayat dan bergelimpangan di halaman belakang kuil Thian-an-tang.

Biarpun dalam melakukan amukan ini, Lan-lan Nikouw tidak menderita luka, bahkan tidak banyak mengeluarkan tenaga jasmani, namun rohaninya terluka hebat dan ia telah terlampau marah hingga jantung dan paru-parunya terganggu hebat. Apalagi ia merasa amat menyesal telah melanggar pantangan yang paling besar dari orang yang menyucikan batin, yakni ia telah membunuh sekian banyak orang, maka ia lalu jatuh sakit dan penyakit batin ini membawanya ke lubang kubur.

Akan tetapi, amukan dan pembunuhan ini telah membikin takut dan kapok para nikouw, juga mendatangkan kengerian di hati para penjahat, hingga hal yang memalukan nama baik kuil Thian-an- tang itu tak pernah terulang lagi. Kedudukan Lan-lan Nikouw lalu diganti oleh seorang muridnya yang bernama Bwee Lan Nikouw.

Ketika peristiwa itu terjadi, belum lama Lin Hwa meninggalkan kuil itu untuk pergi mencari bahan-bahan obat di gunung-gunung dan meninggalkan puteranya dalam rawatan para nikouw. Ketika ia pulang dan mendengar tentang hal itu, bukan main sedih dan menyesalnya, maka ia lalu membawa Cin Pau pergi dari situ. Kepada para nikouw yang bertanya kemana ia hendak pergi, ia hanya memberitahukan bahwa ia hendak pergi merantau, mencarikan guru silat yang pandai untuk puteranya.

Hanya sekian saja keterangan yang bisa didapat oleh Kong Sian, maka dengan hati berat ia meninggalkan kelenteng Thian-an-tang untuk melanjutkan perjalanannya. Ia ingin sekali bertemu dengan Lin Hwa, akan tetapi oleh karena ia tidak tahu ke mana perginya ibu dan anak itu, ia lalu menuju ke Kunlun-san untuk menjumpai suhunya, yakni Beng Hong Tosu, tokoh Kunlun-san, seorang tosu (pendeta pemeluk agama To) yang tinggi ilmu silatnya. Perjalanan ke Kunlun-san bukanlah perjalanan mudah, karena pegunungan Kunlun terletak jauh di barat dan melalui tempat yang berbahaya serta sukar ditempuh. Akan tetapi oleh karena memang maksudnya hendak merantau, Kong Sian lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke barat.

Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota yang ramai. Kota ini adalah kota Li-kiang yang tersohor karena kerajinan tangan berupa guci-guci arak berkembang yang dibuat oleh penduduk di situ. Oleh karena sudah seringkali melihat guci-guci arak itu mengagumi keindahannya, maka Kong Sian lalu mencari sebuah kamar di hotel dan mengambil keputusan untuk berdiam di hotel itu beberapa hari lamanya dan mencari tempat pembuatan guci untuk menyakskan pembuatannya.

Ia mendapat keterangan dari pelayan bahwa tukang pembuat guci yang besar di kota itu adalah seorang she Li yang tinggal di ujung selatan jalan besar, maka ia lalu menuju ke rumah orang she Li itu. Benar saja, di depan rumah yang cukup besar ituia melihat tumpukan guci-guci yang sedang dijemur dan guci-guci itu berkembang indah sekali.

Ia melihat-lihat guci yang dijemur itu karena di situ tidak ada orang, memperhatikan bentuk dan lukisannya. Mungkin sudah menjadi tabiat setiap orang, apabila melihat guci kosong, selalu tentu menggunakan jari tangan untuk mengetuk-ngetuknya hingga guci itu memperdengarkan suara berkentung, dan Kong Sian pun tidak terkecuali. Ia mengetuk-ngetuk guci-guci itu dan mendekatkan mukanya untuk melihat gambar-gambar itu lebih jelas lagi. Banyak sekali terdapat lukisan-lukisan indah di tubuh guci itu, ada lukisan naga, bunga-bunga, pemandangan alam dan sebagainya. Pada saat ia mengagumi guci-guci itu, tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Hm, tidak tahu malu ! Menyelidik pekerjaan lain orang. Pergunakan otak sendiri dan jangan hanya menjiplak buatan orang lain saja.”

Un Kong Sian terkejut dan heran sekali ketika ia berpaling dan mendapat kenyataan bahwa dialah yang dibentak itu. Yang membentaknya adalah seorang laki-laki setengah tua yang berdiri di ambang pintu rumah dan tangan kanannya memegang sebuah guci arak yang besar sekali. Dan sebelum Kong Sian sempat membuka mulut untuk memberi keterangan yang sebetulnya, tahu-tahu orang itu mengangkat tangan yang memegang guci itu ke atas dan melemparkan guci besar itu ke arah kepalanya. Guci itu besar dan berat sekali, dan juga keras karena sudah mengering dan siap untuk digambari, maka ketika dilempar ke arah kepalanya, tenaga luncuran itu kuat sekali hingga kepala orang yang tertimpanya mungkin akan menjadi remuk.

Kong Sian menjadi terkejut, akan tetapi dengan sikap tenang anak murid Kunlun-san ini lalu mengangkat kedua tangan dan menyambut guci yang melayang ke arah kepalanya itu. Ia merasa betapa tenaga tenaga lempar orang itu besar sekali, hingga baiknya ia menyambuti dengan kedua tangan, kalau ia memandang rendah dan menyambut dengan satu tangan saja, mungkin ia akan kena timpa.

Ketika Un Kong Sian meletakkan guci itu ke atas tanah dengan hati-hati dan siap hendak memberi keterangan, tiba-tiba orang itu melemparkan guci lain lagi dan kini guci yang sama besar dan beratnya itu meluncur ke arah dadanya dengan cepat sekali seakan-akan sebuah pelor besi kecil. Kali ini benar- benar Un Kong Sian terkejut dan ia maklum bahwa ia takkan dapat menyambut guci ini seperti tadi, maka untuk menjaga diri, ia lalu memukul guci yang melayang itu dengan gerak tipu Hek-Houw-to-sim atau Harimau hitam menyambar hati. Terdengar suara “brak” dan guci itu pecah bela terkena pukulan Kong Sian yang keras.

“Bagus ! Mereka telah mengirim orang yang memiliki kepandaian,” seru orang setengah tua itu dan bagaikan seekor harimau yang ganas, ia lalu melompat dan menerkam Kong Sian dengan sebuah serangan kilat.

Kong Sian cepat mengelak ke samping dan berseru, ”Hei tahan dulu!” Akan tetapi tikang guci yang berwatak berangasan itu tidak memperdulikannya, bahkan lalu menyerang dengan ilmu silat Lo-han Kun-wat atau ilmu silat pendekar tua, semacam ilmu pukulan yang lihai dari cabang Siauwlim.

Kong Sian menjadi penasaran juga dan karena maklum bahwa orang kasar ini selain bertenaga besar juga memiliki ilmu silat yang lihai, maka ia lalu melayani dengan hati-hati dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya. Ternyata bahwa pemuda ini lebih unggul tingkatnya dalam hal ginkang atau ilmu meringankan tubuh. Gerakannya lebih gesit dan cepat dan ini merupakan keuntungan besar baginya. Dengan perlahan akan tetapi tentu, ia mulai mendesak lawannya. Kalau Kong Sian menghendaki, tentu ia akan dapat merobohkan lawannya dengan serangan-serangan maut, akan tetapi oleh karena ia tidak mempunyai permusuhan dengan orang ini, maka ia hanya berusaha untuk menjatuhkan saja tanpa melukai berat. Akan tetapi, hal ini bukanlah mudah, karena lawannya juga mengeluarkan segala tenaga dan kepandaiannya untuk merobohkannya.

Tiba-tiba muncul seorang kakek diambang pintu itu dan ia berseru, “A Lung mundurlah!”

Bentakan ini berpengaruh sekali dan orang yang berangasan tadi lalu mencelat mundur. Juga lalu Kong Sian lalu membungkuk dan menjura sebagai tanda menghormat sambil berkata,

“Maafkanlah siauwte yang dapat mengganggu, sebetulnya bukan maksud siauwte untuk menerbitkan keonaran.”

Kakek itu menatap wajahnya dengan tajam lalu berkata perlahan. “Kau anak murid Kunlun mengapa mencampuri orang lain ?”

Kong Sian terkejut karena ternyata bahwa baru melihat gerakannya sebentar saja kakek itu telah dapat mengetahui bahwa ia adalah anak murid Kunlun-pai. Maka karena maklum bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang berilmu tinggi, ia lalu menjura lagi dan berkata, “Locianpwe harap banyak memaafkan siauwte yang muda. Sebenarnya siauwte sama sekali tidak tahu apa yang locianpwe maksudkan dan sampai sekarang siauwte masih merasa penasaran dan heran mengapa datang-datang siauwte diserang oleh twako (kakak) ini ?”

“A Lung, yakinkah kau bahwa ia seorang dari mereka ?” tanya kakek itu kepada lawan Kong Sian tadi.

Orang setengah tua yang bernama A Lung itu lalu menuturkan dengan suaranya yang kasar, “Orang ini datang-datang tanpa permisi memeriksa guci-guci kita, apalagi maksudnya kalau bukan hendak menyelidiki ?”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa bergelak hingga tidak saja A Lung menjadi heran, akan tetapi kakek itu sendiri pun melengak.

“Locianpwe, ternyata sahabat ini telah salah sangka. Ketahuilah, siauwte adalah orang yang datang dari tempat jauh dan kebetulan saja siauwte berhenti di kota ini karena telah lama ingin sekali menyaksikan sendiri pembuatan guci-guci yang telah lama siauwte kagumi keindahannya. Pelayan hotel memberi tahu bahwa di sinilah tempat pembuatan guci yang paling besar, maka siauwte lalu menuju ke sini.

Ketika siauwte melihat tumpukan guci ini dan tidak melihat seorang pun yang menjaganya, maka siauwte lalu melihat-lihat dan mengagumi keindahan guci-guci ini. Tiba-tiba saja siauwte lalu diserang oleh sahabat ini. Harap locianpwe suaka memberi maaf .”

Air muka yang tadinya keruh dari kakek itu lalu menjadi terang dan ia menegur A Lung, “ A Lung, lain kali jangan kau terlalu sembrono !” A Lung yang ditegur lalu menjura kepada Kong Sian dan mulutnya bergerak meminta maaf, kemudian ia kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan pekerjaannya.

Kakek itu dengan ramah tamah lalu mempersilakan Kong Sian masuk dan duduk di dalam rumah. Kong Sian yang ingin sekali melihat cara pembuatan guci-guci itu, lalu mengikuti kakek itu ke dalam di mana ia melihat betapa guci-guci itu dibuat oleh beberapa orang laki-laki dan wanita. Ia merasa heran sekali karena ternyata menurut keterangan kakek itu bahwa semua pekerja adalah keluarga sendiri dan seorangpun tidak ada orang dari luar.

Kong Sian menyatakan keheranannya dan juga bertanya tentang sikap mereka yang aneh tadi. Kakek itu menarik napas panjang, dan mempersilakan tamunya mengambil tempat duduk, ia lalu berkata,

Keluarga kami she Li semenjak beberapa keturunan telah membuat guci-guci arak, dan demikian pula beberapa banyak keluarga lain di kota Li-kiang ini. Di anatara pembuat-pembuat guci yang terbesar dan paling terkenal adalah keluarga kami dan keluarga she Tan di ujung utara kota ini. Mereka juga pembuat-pembuat guci yang pandai. Akan tetapi di antara keluarga she Tan dan keluarga kami timbullah persaingan hebat yang terjadi semenjak kakekku masih hidup.”

“Apakah yang menimbulkan persaingan itu ? Apakah penjualan guci di satu pihak ada yang tidak laku ?” tanya Kong Sian.

“Bukan demikian soalnya, sebenarnya hanya soal keangkuhan dan saling tidak mau mengalah. Guci- guci keluaran Li-kiang tidak ada yang tidak laku, bahkan pembuat-pembuat guci yang kurang pandaipun tak pernah mengeluh karena dagangannya tidak laku. Apa yang di sini dianggap kurang baik, di daerah lain sudah menjadikan orang-orang kagum. Mungkin sekali pihak she Tan itu merasa iri hati oleh karena mereka kalah dalam hal memberi lukisan pada guci-guci. Di sana tidak ada orang yang ahli dan pandai betul melukis sepeti yang ada pada kami. Inilah agaknya yang membuat mereka menjadi penasaran sekali dan mengambil sikap bermusuh dengan kami. Bahkan seringkali terjadi perkelahian oleh karena saling merasa panasdan saling menganggap guci masing-masing lebih bagus.

Kong Sian merasa heran sekali, “Locianpwe, kau orang tua bukanlah orang sembaranganan dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, apakah mungkin locianpwe masih mempunyai darah panas yang membuat kedua pihak saling bermusuhan hanya karena urusan kecil saja ?”

“Anak muda, kau tidak tahu. Permusuhan yang memanaskan otak dan hati bukanlah tergantung dari pada sebab-sebab permusuhan itu timbul. Kalau rasa amarah sudah naik di kepala dan rasa dendam dan benci sudah membuat mata menjadi gelap, orang tidak mengingat lagi akan segala sebab-sebab permusuhan terjadi. Kami hanya mempertahankan nama dan menjaga kehormatan keluarga kami belaka. Soal kehormatan memang soal yang penting dan yang sudah selayaknya dibela dengan berkorban apapun juga.” Kong Sian amat tertarik mendengar urusan permusuhan antara tukang pembuat guci ini. Ia merasa ragu-ragu dan penasaran karena hanya mendengar keterangan di satu pihak, maka ia lalu berpamit dan langsung mengunjungi keluarga Tan di sebelah utara yang juga membuat guci arak.

Seperti halnya dengan rumah keluarga Li, di depan rumah keluarga Tan banyak bertumpuk guci-guci arak yang dijemur. Ketika Kong Sian memperhatikan, benar saja bahwa lukisan guci itu tidak seindah lukisan di guci buatan keluarga Li. Akan tetapi, buatan keluarga she Tan ini lebih halus dan ukiran- ukiran di pinggir guci lebih indah. Hingga kekalahan lukisan itu dapat tertutup oleh keindahan ukiran yang lebih tinggi mutunya dari pada ukiran guci buatan keluarga Li. Kalau ia menjadi pembeli, tentu ia bingung untuk memilih, mana yang lebih indah menarik di antara buatan kedua keluarga itu. Yang satu lebih indah ukirannya, yang lain lebih menarik gambarnya.

“Kongcu, apakah kau hendak membeli guci ?” tanya seorang wanita setengah tua ketika melihat ia memperhatikan guci-guci yang sedang dijemur itu.

Kong Sian cepat memberi hormat karena ia sudah kapok dengan pengalaman di rumah keluarga Li yang datang-datang menyerang tadi.

“Tidak, aku hanya hendak melihat-lihat saja. Guci-guci di sini lebih indah ukirannya dari pada guci-guci buatan keluarga Li di selatan itu,” katanya memancing sambil menatap wajah wanita itu.

Tiba-tiba wanita itu berseri mukanya mendengar ini. “Memang ! Mana bisa keluarga Li yang sombong itu melawan guci buatan kami ? Semua mata yang awas dapat membedakan mana barang buruk dan mana yang lebih baik. Guci buatan kami memang jauh lebih dari pada buatan mereka.”

Tiba-tiba dari dalam rumah keluar seekor anjing besar yang berlari sambil menggonggong dan menyerbu ke arah Kong Sian. Pemuda ini tidak menjadi gugup dan dengan dorongan tangan kiri ia berhasil melemparkan anjing itu ke samping sambil berseru,

“Jangan sembarangan menggigit orang !”

“Bagus !” kata wanita itu dan segera membentak anjingnya yang lari ke dalam rumah kembali sambil menyembunyikan ekor di bawah perut. “Kau lihai juga, kongcu,” katanya, kemudian seperti yang tidak memperdulikan lagi kepada Kong Sian, ia lalu mengambil guci yang bertumpuk-tumpuk di situ lalu melempar-lemparkan ke atas dengan ringan sekali. Tangannya bekerja cepat dan sebentar saja tujuh buah guci yang tadi bertumpuk, telah dilemparkan dan melayang-layang di udara. Ketika guci pertama melayang turun, lalu disambut oleh wanita itu dan dilemparkannya kembali ke atas, demikianpun dengan guci kedua dan seterusnya. Guci-guci itu berterbangan di udara bagaikan burung-burung besar dan lemparan wanita itu demikian tepat hingga guci-guci itu tidak saling beradu di tengah udara.

Diam-diam Kong Sian merasa kagum sekali. Ia maklum bahwa untuk dapat memainkan guci-guci itu sedemikian rupa, orang harus berlatih puluhan tahun dan juga harus memiliki tenaga iweekang yang besar, karena guci itu berat dan besar.

Setelah melemparkan setiap buah guci tiga kali ke atas, wanita itu lalu menaruh guci-guci itu perlahan- lahan di atas tanah dan ditumpuknya kembali seperti tadi sambil berkata,

“Kalau begini guci-guci ini lekas kering.”

“Pehbo, kau hebat sekali !” Kong sian memuji dan diam-diam ia kagum sekali. Kota Li-kiang ini memang luar biasa sekali. Baru tukang-tukang pembuat gucinya saja sudah lihai sekali.

“Anak muda, sebenarnya apakah kehendakmu datang ke sini ? Kalau orang datang ke sini tanpa maksud membeli guci, ia hanya mempunyai semacam maksud yang buruk.”

“Misalnya, menjadi penyelidik dari keluarga Li ?” kata Kong Sian menyindir. “Mungkin ! Akan tetapi, mengapa kau tahu tentang hal itu ? Kau siapakah ?”

Kong Sian lalu mengaku bahwa ia adalah seorang perantau yang kebetulan lewat saja dan bahwa ia tadi telah mengunjungi keluarga Li dan mengalami peristiwa yang tidak enak sekali.

“Memang, memang mereka itu musuh-musuh kami. Mereka itu orang-orang busuk yang merasa iri hati melihat bahwa guci buatan kami lebih baik.” “Akan tetapi, apakah lukisan-lukisan di sini juga lebih baik dari pada buatan mereka ?” Kong sian bertanya dan tiba-tiba wajah wanita itu menjadi muram.

“Memang lukisan mereka lebih baik sedikit, akan tetapi ukiran kami lebih sempurna . Orang membeli guci melihat ukirannya bukan melihat lukisannya.”

Biarpun di dalam hati Kong Sian hendak menjawab bahwa kalau ia membeli guci, ia akan memperhatikan kedua-duanya, akan tetapi mulutnya tak menyatakan sesuatu dan ia lalu berpamit dan kembali ke hotelnya, ia merasa heran sekali melihat orang-orang yang aneh akan tetapi berkepandaian tinggi itu.

Pada senja hari itu, ketika Kong Sian baru saja kembali dari berjalan-jalan di dalam kota, ia mendengar ribut-ribut dan ketika bertanya kepada pelayan, ia mendengar bahwa telah terjadi pertempuran lagi antara keluarga Li dan keluarga Tan.

Kong Sian cepat berlari keluar dan menuju ke tempat pertempuran, yakni di rumah keluarga Li. Wanita she Tan yang kosen tadi telah datang membawa empat orang kawannya dan di depan rumah itu terjadi pertempuran –pertempuran sengit. Kakek yang kosen dari keluarga Li bertempur melawan wanita she Tan, keadaan merekalah yang paling hebat karena keduanya berilmu silat tinggi. Yang lain-lain main gebuk dan hantam hingga banyak guci yang berada di luar itu roboh dan pecah-pecah.

“Tahan, tahan !” Kong Sian berseru keras dan melompat ke tengah medan pertempuran. Melihat datangnya pemuda yang bergerak cepat ini, kedua pihak berdiri dan menghentikan pertempuran dengan mata merah karena marah.

“Kau !” tegur kakek she Li, “Mau apa kau anak murid Kunlun-san datang menahan kami ?”

“Maaf, cuwi sekalian,” kata Kong Sian sambil menjura. “Kedatangan siauwte ini tak lain hanya hendak mencegah terjadinya pertempuran ini lebih lanjut.”

“Pergi kau ! Siapa sudi mendengar omongan orang luar seperti kau ?” bentak nyonya she Tan itu dengan galaknya.

“Benar, kau pergilah !” kata kakek she Li, “atau, terpaksa kami akan melemparmu keluar !”

Tiba-tiba Kong Sian tertawa geli dan suara tawanya yang bergelak ini mengherankan semua orang. “Aneh, aneh ! Cuwi sekalian ini agaknya cocok dalam satu hal akan tetapi bertentangan dalam lain hal pula !”

“Apa maksudmu ?” tanya kakek Li

Kong Sian lalu menghadapi dua orang pemimpin keluarga itu dan setelah menjura lagi lalu berkata, “Jiwi, dengarlah baik-baik. Ketika jiwi menghadapi siauwte, jiwi mempunyai anggapan dan pikiran yang sama, yakni keduanya menghendaki aku keluar dan tidak ikut campur. Ini namanya cocok dan akur atau sama pendapat. Mengapa jiwi tidak mau mempergunakan kecocokkan ini untuk membereskan perselisihan dan permusuhan dengan jalan damai pula ? Mengapa jiwi tidak mau tanam saja permusuhan ini dan bekerja dengan tekun dan tidak saling mengganggu ?”

“Tak mungkin !” kata kakek Li “Tak sudi !” jawab nyonya Tan.

“Maaf, jiwi ! Jiwi adalah orang-orang gagah dan pandai. Orang yang berani mengalah dan mengakui kesalahan barulah patut disebut orang pandai. Permusuhan jiwi hanya disebabkan oleh persaingan dalam pembuatan guci-guci ini. Semua orang telah tahu bahwa guci buatan keluarga Li lebih menang dalam lukisan, akan tetapi kalah dalam ukiran, sebaliknya guci keluaran keluarga Tan kalah dalam hal lukisan dan menang dalam ukiran. Alangkah baiknya kalau kalian semua berani mengakui kesalahan dan berani melihat kekurangan sendiri, lalu berdamai dan saling bekerja sama, saling tolong. Kalau keluarga Li dapat memberikan kepandaian melukisnya kepada keluarga Tan, sebaliknya keluarga Tan juga suka mengajarkan ilmu ukir kepada keluarga Li, bukankah nanti guci-guci keluaran kedua keluarga akan menjadi benda-benda yang amat indah dan tiada cacad celahnya ? Dan bukankah hal ini merupakan kebanggaan kota Li-kiang dan sekalian penduduknya.” “Benar, benar. Tepat sekali !” terdengar seruan keras yang serempak keluar dari banyak mulut, dan ketika Kong Sian menengok, ternyata tempat itu telah penuh dengan orang-orang yang datang menonton.

Kedua pemimpin keluarga itu termenung dan saling pandang. Akhirnya kakek she Li itu menjura kepada nyonya Tan dan berkata,

“Kata-kata anak muda ini tepat juga. Maukah kau memikir-mikirkan hal ini ?”

Nyonya Tan mengangguk dan kemudian ia lalu mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu dengan aman. Sementara itu, Kong Sian sudah menyelinap pergi di antara penonton karena ia tidak mau dijadikan perhatian orang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar ia telah melanjutkan perjalanannya. Ia tidak tahu bahwa ucapannya itu benar-benar berhasil baik dan kedua keluarga yang bermusuhan itu kini telah berbaik kembali, bahkan tak lama kemudian seorang putera keluarga Tan dijodohkan dengan seorang puteri keluarga Li.

Bagian 05. Setitik Embun Pengobat Jiwa.

Setelah meninggalkan kota Li-kiang, Un Kong sian cepat melanjutkan perjalanannya menuju ke barat. Pada malam hari, ia bermalam di dusun-dusun, bahkan kadang-kadang di dalam hutan kalau kebetulan ia berada di hutan yang luas pada waktu malam hari tiba.

Demikian, tak terasa pula beberapa pekan telah lewat dan ia makin dekat dengan daerah pegunungan Kunlun-san. Makin ke barat, makin banyaklah hutan dan makin jarang dusun, hingga pada suatu malam, ia terpaksa bermalam di sebuah hutan yang liar. Seperti biasa, ia naik ke sebatang pohon besar untuk bermalam.

Ketika ia sedang enak-enak melonjorkan kaki melepas lelah, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap. Pada malam hari itu, bulan bersinar penuh hingga ia dapat melihat bayangan lima orang laki-laki berjalan perlahan sambil bercakap-cakap.

Kong Sian tertarik hatinya dan menduga bahwa mereka ini kalau bukan pedagang-pedagang keliling, tentulah perampok-perampok. Maka diam-diam ia melompat ke cabang yang lebih rendah dan mendengarkan percakapan mereka.

“Tapi dia itu lihai sekali. Kemaren dulu, aku dan sam-te hampir saja celaka dalam tangannya. Ilmu pedangnya benar-benar tinggi dan sukar dilawan,” kata seorang di antara mereka.

“Ah, sampai dimana lihainya seorang wanita ?” mencela yang lain dengan suara menghina. “Dulu kau hanya berdua, akan tetapi sekarang kita berlima. Apa yang harus ditakutkan ?”

“Betapapun juga, kita harus cerdik dan hati-hati !” kata orang ketiga yang lebih tenang bicaranya.

“Baiknya diatur begini saja. Kalian berempat besok pagi-pagi menyerangnya dengan tiba-tiba dan aku akan menangkap anaknya. Kalau anaknya sudah kutawan, tentu ia akan menyerah kepada kita demi keselamatan anaknya. Bukankah ini sebuah akal yang cerdik ?”

“Ha, ha, ha... Memang twako banyak sekali akalnya. Bagus, bagus. Kau memang berhak mendapatkan dia lebih dulu.”

Terdengar mereka tertawa menjemukan dan mendengar ini, bukan main marahnya hati Kong Sian karena ia dapat menduga bahwa mereka ini tentulah golongan orang-orang ceriwis dan jahat yang suka mengganggu anak bini orang. Maka ia lalu melompat turun di belakang mereka dan mengikuti mereka. Ternyata bahwa ke lima orang ini menuju ke sebuah kelenteng rusak yang berada di dalam hutan itu untuk bermalam di situ. Kong Sian juga bermalam di atas pohon dekat kelenteng tua itu, menanti datangnya fajar.

Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali kelima orang laki-laki itu keluar dari kelenteng dan ternyata oleh Kong Sian bahwa mereka itu adalah orang-orang yang bersifat kasar dan usia mereka rata-rata tiga puluh tahun. Dari gerak-gerik mereka, dapat diduga bahwa mereka ini memang penjahat-penjahat yang suka mengganggu orang, yakni orang-orang gelandangan yang tidak mempunyai keluarga dan pekerjaan tetap, yang hidup mengandalkan bantuan kawan-kawan dan suka berkelahi dengan keroyokan.

Mereka menuju ke sebelah dalam hutan dan Kong Sian diam-diam mengikuti mereka. Tak lama kemudian, Kong Sian melihat sebuah tempat terbuka dalam hutan itu. Dan aneh sekali, pada pagi hari itu, di sebelah belakang rumah terdengar suara wanita bernyanyi. Merdu juga suara itu dan yang membuat Kong Sian heran adalah tempat yang sunyi itu. Di situ bukan dusun atau kampung, akan tetapi mengapa di tempat sesunyi ini ada seorang wanita yang tinggal di dalam gubuk sederhana itu dan mendengar suaranya yang pagi-pagi sudah menyanyi itu agaknya hidup tentram dan damai ?

Tiba-tiba terdengar suara anak kecil berseru memanggil ibunya. Lima orang itu, yang telah terlihat oleh anak kecil tadi, segera berlari ke arah rumah dan Kong Sian juga bergerak cepat sambil mengintai.

Empat orang penjahat lari ke belakang dan segera mereka mengurung seorang wanita muda yang melawan serangan mereka dengan sepotong kayu di tangan. Agaknya wanita itu tidak mendapat kesempatan untuk mengambil pedang dan terpaksa menghadapi empat orang pengeroyoknya dengan sepotong kayu yang dimainkannya dengan kuat dan hebat sekali hingga empat orang pengeroyok yang bersenjata pedang dan golok itu tak dapat mendekatinya.

Sementara itu, seorang penjahat yang mengatur siasat malam tadi masuk ke dalam rumah melalui pintu depan hingga tak terlihat oleh wanita muda itu. Kong Sian maklum akan maksudnya, yakni menculik anak kecil yang berseru tadi, maka dengan cepat ia lalu melompat ke arah orang itu. Sekali tangannya bergerak, orang itu telah kena ditamparnya di bagian pundak hingga orang itu mengaduh lalu roboh terguling. Ketika ia bangun berdiri dan melihat seorang pemuda kurus tampak berdiri di depannya sambil bertolak pinggang, penjahat itu menjadi marah sekali dan mencabut goloknya yang tergantung di pinggang lalu menyerang dengan hebat. Akan tetapi, ketika tubuh Kong Sian berkelebat, dalam tiga gebrakan saja ia berhasil mengetuk pergelangan tangan lawan yang memegang golok hingga senjata itu terlempar jauh, kemudian menempeleng lagi yang tepat mengenai pangkal telinga orang itu hingga orang itu terhuyung-huyung, matanya terbalik ke atas, lalu terputar-putar terus roboh mencium tanah.

Pingsan ?

Kong Sian tak mau membuang waktu lalu segera ia melompat ke belakang. Dilihatnya bahwa biarpun wanita itu cukup lihai, namun menghadapi empat orang laki-laki yang bersenjata tajam hanya dengan sepotong kayu ditangan, maka ia mulai terdesak juga. Kong Sian maklum bahwa kalau yang dipegang oleh wanita itu bukan kayu akan tetapi pedang, tentu sebentar saja empat orang penjahat itu dapat dirobohkan. Ia lalu berseru keras dan melompat bagaikan seekor naga melayang turun dari angkasa. Begitu kaki dan tangannya bergerak, berteriaklah dua orang pengeroyok yang terlempar dan tak dapat bergerak lagi. Kesempatan ini digunakan oleh wanita itu untuk mengerjakan tongkatnya, sambil mengaduh-aduh, dua orang lain kena digebuk sedemikian rupa hingga mereka roboh tak dapat bergerak lagi.

Kong Sian memandang dengan kagum, dan wanita itupun memandang dengan terimah kasih. Dua pasang mata bertemu dan !!

“Lin Hwa !”

“Kong Sian ......kau ........kau ?”

Lin Hwa melangkah maju dan ketika kedua lengan tangan Kong Sian terulur ke depan, ia lalu menubruk pemuda itu, menjatuhkan mukanya di dada Kong Sian dan menangis terisak-isak.

Sementara itu, ke lima orang penjahat yang kena gebuk dan pukul tadi, telah siuman dari pingsannya dan melihat keadaan yang tidak menguntungkan mereka, mereka ini lalu bangkit, membantu kawan- kawan yang agak berat mendapat bagian, lalu berjalan pergi sambil terpincang-pincang dan terhuyung- huyung.

Sampai lama kedua orang itu tidak bergerak maupun bersuara, yang bergerak hanyalah tubuh Lin Hwa karena tangisnya, sedangkan yang terdengar hanyalah suara sesenggukan tangisnya.

“Lin Hwa .... soso mengapa kau sampai tinggal di sini ?” “Kong Sian, jangan sebut aku dengan sebutan itu. Panggil saja namaku, itu lebih baik jangan

ingatkan aku akan hal-hal dulu lagi ” Lin Hwa lalu mengundurkan diri dan sambil menghapus

pipinya yang basah, ia lalu menatap wajah pemuda itu. Tiba-tiba timbul senyumnya hingga pipinya nampak manis sekali dengan lesung pipit di kanan kiri.

“Kong Sian, kau kau kelihatan lebih tua dan kurus sekali.”

“Dan kau nampak bertambah manis saja, Lin Hwa. Oh ya, mana anakmu ? Ingin sekali aku

memeluk nya, Mana dia ?”

“Cin Pau. ” Lin Hwa memanggil dengan suara merdu dan nada menarik. Suara nyonya muda ini

terdengar gembira sekali hingga ia sendiri merasa heran, seakan-akan tidak mengenal suaranya sendiri. Belum pernah ia mendengar suaranya sendiri segembira ini dan mengingat akan hal-hal ini tiba- tiba saja kulit mukanya menjadi kemerah-merahan.

Seorang anak kecil berusia kurang lebih empat tahun berlari-lari dari dalam rumah dan menghampiri ibunya. Anak itu ketika melihat Kong Sian, lalu berhenti berlari dan memandang dengan sepasang matanya yang lebar dan bagus. Kong Sian tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya ke arah anak itu. Anak kecil itupun lalu tersenyum, kemudian dengan muka berseri-seri ia lalu berseru,

“Ayah.......! Ayah !” Sambil berseru demikian, Cin Pau yang masih kecil itu lalu berlari cepat dan

menubruk Kong Sian. Kong Sian dengan hati amat terharu lalu memondong dan memeluk anak itu, menciumi rambutnya yang hitam dan penuh dan ketika ia melirik ke arah Lin Hwa, ternyata nyonya muda itu telah membalikkan tubuh agar Kong Sian tidak melihat betapa ia menangis dengan hati terharu karena melihat Cin Pau berteriak memanggil “ayah” kepada Kong Sian, seakan-akan sebilah pedang telah menusuk jantungnya. Seringkali anak itu menanyakan ayahnya dan selalu Lin Hwa membohonginya dan menjawab bahwa ayahnya sedang pergi memburu binatang liar dan bahwa ayahnya pada suatu waktu tentu akan datang mengunjungi mereka. Cin Pau yang masih kecil tidak tahu bahwa ibunya telah membohong dan percaya akan keterangan ini, maka ketika melihat Kong Sian, seorang laki-laki yang baik hati, penuh kasih sayang, ia tidak ragu-ragu lagi menduga bahwa orang ini tentulah ayahnya.

Kong Sian memeluk erat-erat tubuh kecil itu dan ia diamkan saja ketika berkali-kali Cin Pau menyebutnya ayah. Ketika ia melihat Lin Hwa membalikkan tubuh hendak menegur anaknya dengan mata basah, diam-diam Kong Sian menaruh telunjuknya pada bibir dan melarang Lin Hwa membantah sebutan itu. Ia pikir bahwa anak yang masih kecil ini tak perlu dilukai hatinya dengan kenyataan tentang ayahnya, maka apa salahnya kalau anak ini mengaku ayah kepadanya. Bahkan, ia merasa girang dan senang sekali mendengar sebutan ini, sebutan yang membuat hatinya makin terikat dengan hati Lin Hwa.

“Ayah mana harimau dan biruang yang kau bunuh ? Kata ibu, ayah pemburu binatang buas yang pandai dan gagah. Aku telah melihat kelihaian ayah tadi ketika bertempur dengan penjahat-penjahat karena aku mengintai dari dalam. Ayah hebat sekali. Benar kata ibu bahwa ilmu-ilmu silat ayah tinggi luar biasa. Lihat, ayah, akupun belajar dengan rajin. Kata ibu, kalau aku belajar dengan rajin kelak akan menjadi gagah seperti ayah.”

Sambil berkata-kata dengan gembira dan cepatnya, Cin Pau lalu merosot turun dari pondongan Kong Sian, lalu ia mulai bersilat di depan Kong Sian dengan gerakan yang lincah. Kong Sian merasa kagum dan senang sekali karena nyata baginya bahwa Lin Hwa tidak membuang waktu percuma dan telah mulai mendidiknya dengan dasar-dasar ilmu silat yang dapat dimainkan dengan baiknya oleh Cin Pau yang baru berusia empat tahun itu.

Untuk menyenangkan hati Cin Pau, Kong Sian membiarkan anak itu melihat dan mengagumi pedangnya dan ketika anak itu bertanya seribu satu macam tentang perburuan binatang buas, ia lalu mengarang cerita tentang perburuan binatang yang menarik hingga anak itu sambil duduk di atas pangkuan “ayahnya”, mendengarkan dengan mulut celangap dan beberapa kali menyebut, “Kau hebat sekali ayah!”

Melihat kelakuan puteranya ini, Lin Hwa membenarkan isarat Kong Sian tadi dan iapun tidak tega untuk menceritakan kepada anak itu bahwa pemuda ini bukanlah ayahnya.

“Ah, Cin Pau, kau nakal sekali. Kong , eh ayahmu baru saja datang, sudah kau ganggu dengan

kecerewetanmu. Dia lelah dan mungkin lapar sekali!” Anak itu lalu melompat turun dari pangkuan Kong Sian dan berlari ke dalam rumah sambil berkata, “Biar kupanggangkan daging kelinci yang kemarin kita tangkap.”

Memang, karena berada berdua di hutan itu, Lin Hwa telah memberi banyak pelajaran kepada puteranya, hingga Cin Pau yang masih kecil itu sudah pandai memanggang daging dan bahkan pandai menangkap kelinci dengan anak panah kecil.

Pada malam harinya, setelah Cin Pau tidur nyenyak, barulah Lin Hwa dan Kong Sian duduk saling berhadapan dan bercakap-cakap menuturkan pengalaman masing-masing selama berpisah. Melihat sikap Lin Hwa yang dari pandangan matanya jelas membisikkan sesuatu yang selalu menjadi kenangannya, Un Kong Sian tak kuasa menuturkan bahwa ia telah kawin dan mempunyai rumah tangga yang tidak berbahagia.

Ternyata bahwa Lin Hwa sudah tahu akan nasib suaminya dan nasib Ma Gi karena iapun mencari tahu akan hal itu dan mendengar berita-berita dari luar kuil ketika ia masih berdiam di kuil Thian-an-tang.

Dan setelah ia pergi meninggalkan kuil Thian-an-tang, ia lalu merantau dengan puteranya dan akhirnya tiba di hutan itu dan bersembunyi di situ bersama anaknya yang masih kecil. Lin Hwa tidak suka tinggal di dusun yang banyak orangnya, oleh karena ia seringkali mengalami gangguan, maklum karena ia masih muda lagi cantik dan janda pula.

Ketika Kong Sian memberitahukan bahwa ia hendak pergi ke Kunlun-san, Lin Hwa memandang dengan hati tertarik dan berkata, “Sudah lama sekali aku mendengar tentang keindahan bukit Kunlun dan kemashuran nama Kunlun-pai. Alangkah senangnya kalau kami bisa ikut kau pergi ke sana.”

Kong Sian hampir melompat karena girangnya, “Mengapa tidak ? Tadi baru saja aku hendak mengajak kau dan Cin Pau ikut. Dengarlah, Lin Hwa, aku mempunyai usul yang baik sekali bagi puteramu.

Biarpun aku percaya penuh akan keahlianmu mengajar dan memdidik anakmu, akan tetapi dalam hal ilmu silat, anakmu perlu mendapat didikan orang yang lebih pandai dari pada kita agar kelak Cin Pau menjadi seorang yang betul-betul gagah dan tidak mengecewakan. Oleh karena itu, lebih baik kita bawa Cin Pau ke Kunlun-san dan di sana aku akan mintakan kepada suhu supaya anak itu diterima menjadi murid. Bagaimana pikiranmu ?”

Berseri wajah Lin Hwa mendengar ini. “Kong Sian, kau memang seorang sahabat yang mulia dan berbudi. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana jadinya dengan aku dan puteraku kelak.”

“Eh, eh, jangan memuji-muji saja, bagaimana jawabmu tentang pergi ke Kunlun-san ?”

“Tentu saja aku turut dengan segala senang hati, jangan baru ke Kunlun-san, biarpun ke ujung dunia sekali pun kalau kau yang mengajak, tentu aku takkan ragu-ragu lagi untuk ikut.”

“Kenapa begitu ?” tanya Kong Sian dengan hati berdebar dan menatap wajah Lin Hwa dengan tajam. “Karena aku yakin bahwa maksudmu mulia dan baik,” jawab Lin Hwa sederhana.

Demikianlah, setelah bermalam untuk satu malam di dalam pondok kecil itu, pada keesokkan harinya, pagi-pagi benar Kong Sian, Lin Hwa dan Cin Pau yang digendong oleh Kong Sian, berangkat meninggalkan hutan itu untuk menuju ke Kunlun-san. Cin Pau yang masih kecil dan tidak kenal artinya susah itu selalu bergembira di sepanjang jalan hingga kegembiraannya mempengaruhi kedua orang muda itu dan membuat perjalanan terasa mudah dan lancar. Oleh karena Cin Pau selalu menyebut “ayah” kepada Kong Sian, maka setiap orang yang mereka jumpai di dusun-dusun tentu menganggap bahwa ini adalah sepasang suami isteri dengan anaknya.

Pernah di dalam perjalanan itu, Lin Hwa berkata kepada Kong Sian ketika Cin Pau tertidur. “Kong Sian, kau masih belum mempunyai putera akan tetapi telah disebut ayah. Apakah apakah kau tidak

merasa malu dengan sebutan itu ?”

“Malu ? Mengapa mesti malu ? Aku bahkan senang sekali dengan sebutan itu. Dan    bukankah aku

pantas sekali menjadi ayah Cin Pau ?” Jawaban ini membuat seluruh muka Lin Hwa menjadi merah sampai ke telinganya dan sambil tersenyum manis ia mengerling ke arah pemuda itu dengan sudut matanya. Percakapan-percakapan dan senda gurau seperti ini membuat hubungan mereka lebih erat lagi dan tanpa terasa, tanpa pernyataan dengan kata-kata yang langsung, keduanya membangun dan memperkokoh perasaan cinta kasih yang besar dalam hati masing-masing. Dan kemesraan Cin Pau yang benar-benar menganggap Kong Sian sebagai ayahnya, membuat kedua orang muda itu merasa seakan-akan benar-benar mereka menjadi suami isteri sejak dulu.

Kurang lebih satu bulan mereka melakukan perjalanan menuju ke Kunlun-san, tidak dengan tergesa- gesa dan selalu beristirahat sebelum Cin Pau merasa lelah. Akhirnya sampai juga mereka di tempat tujuan. Sambil memondong anak itu, Kong Sian mengajak Lin Hwa mempergunakan ilmu lari cepat mendaki puncak kedua dari pegunungan Kunlun di mana suhunya tinggal.

Ketika mereka tiba di kuil tua yang dijadikan tempat tinggal Beng Hong Tosu, kebetulan sekali pendeta tua ini sedang duduk di depan kuil, bermain catur dengan seorang kakek tua yang jubahnya penuh tambalan, akan tetapi jubah itu bersih sekali. Melihat kedatangan muridnya yang membawa seorang wanita muda dan seorang anak kecil, Beng Hong Tosu lalu berdiri menyambut.

Kong Sian lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Hong Tosu dan menyebut, “Suhu!” Sedangkan Lin Hwa juga mengajak Cin Pau berlutut di depan pendeta sakti itu. Cin Pau turun dari gendongan ibunya dan anak itu dengan tabah sekali lalu menghampiri tosu berjubah tambalan itu dan bertanya dengan suara yang nyaring bersih, “Kakek tua, permainan apakah di atas meja itu ?”

Kakek tua berbaju tambalan itu mengangkat alisnya dan kemudian tertawa bergelak. “Anak baik, ini adalah biji-biji catur.” Kemudian ia mengambil sepuluh biji catur dan satu demi satu ia lemparkan ke udara. Biji-biji catur itu melayang tinggi sekali dan saling susul. Anehnya, ketika biji-biji catur itu turun kembali, kesemuanya telah bertumpuk menjadi satu dengan rapinya dan melayang bersama-sama ke arah tangan kakek itu yang menerimanya dengan tangan kiri.

Cin pau bertepuk tangan dengan girang, “Bagus, bagus ! Dengan mempunyai biji catur ini dan bisa melempar seperti kau, untuk menangkap burung tak perlu mempergunakan busur dan anak panah lagi.”

Kembali kakek tua itu tertawa bergelak-gelak. “Kau cerdik ! Maukah kau mempelajari permainan tadi ?”

“Tentu saja mau, tentu mau,” kata Cin Pau sambil bertepuk-tepuk tangan, kemudian ia menghampiri dan memeluk ibunya. “Ibu, bolehkah aku belajar menimpuk dengan biji catur pada kakek tua ini ?”

Melihat hal ini, Beng Hong Tosu tersenyum dan berkata, “Bu Eng Cu (Si Tanpa Bayangan), kau diam- diam telah memilih murid !” Kakek yang disebut Bu Eng Cu itu tertawa lagi. Dia adalah seorang tokoh persilatan yang aneh dan berilmu kepandaian tinggi sekali, bernama Tiauw It Lojin dan berjuluk Bu Eng Cu. Ia tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap karena memang biasa merantau ke gunung-gunung menikmati pemandangan indah. Akan tetapi, seringkali ia datang berkunjung kepada Beng Hong Tosu yang menjadi sahabat baiknya di masa mudanya. Kakek inilah yang dulu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya dan yang dilihat oleh Kong Sian ketika ia masih belajar di Kunlun-san dan ketika ia bersama Lin Hwa tertolong di kuil Thian Lok Si, ia melihat betapa ilmu silatnya hwesio muka hitam yang disebut Lokoay itu mirip betul dengan ilmu silat kakek tua ini. Maka, mengingat hal ini, ia memberi hormat dengan berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Locianpwe, teecu Kong Sian memberi hormat. Apakah selama ini locianpwe sehat-sehat saja ?”

“Baik, Kong Sian, aku baik saja. Kau pun baik ku lihat !” Jawaban ini membayangkan sifatnya yang terus terang dan tidak suka pakai banyak kata-kata muluk. Memang Bu Eng Cu ini terkenal beradat polos, bahkan kadang-kadang aneh sehingga ucapannya sukar dimengerti.

“Kong Sian, pinto telah mendengar tentang nasib kedua suhengmu,” kata Beng Hong Tosu sambil menghela napas, “kehendak Thian tak dapat ditentang dan memang sudah nasib mereka harus berkorban demi membela orang tua. Akan tetapi, mereka tewas dengan gagah perkasa dan tidak memalukan nama guru dan orang tua. Harus pinto puji dan hormati perbuatan kedua suhengmu dan ayah-ayah mereka. Memang mereka itu orang-orang berjiwa besar dan yang berani melakukan perbuatan besar pula tanpa takut menanggung akibatnya. Memang seharusnya demikianlah. Setiap orang harus berusaha dan berikhtiar sekuat tenaga demi kebaikan. Adapun akan hasil dan tidaknya, itu bukan soal kita dan ketentuan terakhir bukan berada dalam kekuasaan kita. Namun, tetap manusia harus berikhtiar sekuatnya tanpa memusingkan tentang hasil atau tidaknya.

Dua orang sastrawan tua itu telah melakukan sesuatu yang baik, sesuai dengan jiwa mereka. Dan lihatlah, ratusan ribu orang bergelora semangatnya dan berhasil menumbangkan pemerintah yang lalim. Akan tetapi, tetap saja hasil yang mereka peroleh itu bukanlah hasil yang baik dan sebagaimana yang dicita-citakan oleh orang yang paling sengsara. Keadaan tetap buruk dan sedikit sekali perbedaannya dengan keadaan dulu. Kau tentu maklum dan telah menyaksikan sendiri.”

“Teecu mengerti, suhu. Memang, keadaan masih sama, hanya berganti majikan !” kata Kong Sian.

“Itulah ! Akan tetapi, kita tak dapat menyalahkan kedua orang sastrawan besar itu. Bukan salah mereka, dan bukan demikian yang mereka kehendaki. Semua adalah kehendak Thian yang maha kuasa.

Namun, lepas dari soal berhasil atau tidak, tetap saja harus diakui bahwa kedua orang itu telah melakukan tugas sebagai manusia-manusia baik !”

Mendengar betapa guru dan murid ini bicara tentang mertuanya dan suaminya yang telah tewas, tak tertahan lagi mengalirlah air mata di sepanjang kedua pipi Lin Hwa. Luka lama yang selama ini telah mulai mengering, kini terbuka pula dan terasa perih.

Beng Hong Tosu memandang kepada Lin Hwa dan bertanya kepada Kong sian, “Kong Sian, siapakah kawanmu ini ?”

“Suhu, dia adalah isteri Khu suheng dan anak itu adalah anaknya.” Pada saat itu, Cin Pau sedang bermain-main dengan biji-biji catur sehingga ia tidak mendengarkan semua percakapan yang memusingkan kepalanya itu sehingga ia tidak mendengar pula kata-kata Kong Sian ini.

Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan memandang kepada Lin Hwa dengan terharu dan iba. Kemudian, Kong Sian dengan panjang lebar lalu menceritakan kepada suhunya tentang semua pengalaman-pengalaman semenjak peristiwa pembasmian kedua keluarga Khu dan Ma itu terjadi.

“Oleh karena itu, suhu. Teecu mohon kepada suhu sudilah kiranya menaruh hati kasihan kepada Khu- soso ini dan sudi menerima puteranya sebagai murid di Kunlun.” Kong Sian mengakhiri ceritanya.

“Bagus, bagus Beng Hong Toyu (sahabat), anak itu sendiri ingin belajar dari aku, akan tetapi muridmu ini hendak memaksanya belajar dari kau.”

Beng Hong Tosu tertawa dan meraba-raba jenggotnya yang putih dan panjang. “Kong Sian, kau mendengar sendiri ? Hayo lekas kau aturkan beribu terima kasih kepada Bu Eng Cu !”

Kong Sian dan Lin Hwa lalu berlutut di depan Tiauw it Lojin dan menghaturkan terima kasih bahwa orang tua itu suka menerima Cin Pau menjadi muridnya.

“Tak usah berterima kasih. Aku tidak memberi apa-apa, pengetahuan takkan berkurang atau hilang biarpun diberikan kepada seribu orang. Kalau kalian tidak keberatan, maka anak itu hendak ku bawa ke tempatku sekarang juga.”

Lin Hwa lalu berdiri dan menhampiri Cin Pau yang lalu dipeluk dan diciuminya. “Anakku yang baik,” katanya sambil menahan bercucurnya air mata, “Kau ingin belajar ilmu dari locianpwe ini, bukan ?” Cin Pau mengangguk.

“Kalau begitu, sekarang kau harus ikut kepadanya. Kau harus menjadi murid yang taat dan penurut, harus rajin-rajin belajar. Cin Pau, jangan mengecewakan ibumu, ya ? Jagalah dirimu baik-baik !”

“Apa ibu tidak ikut ?” tanya anak itu dengan kedua matanya yang lebar memandang ibunya.

“Tidak, nak. Tidak boleh ibu ikut. Kau yang hendak belajar, bukan ibumu. Akan tetapi, tak lama ibu tentu akan menyusulmu, nak. Kau ikutlah dengan gurumu !”

“Hayo, Cin Pau, hayo kita pergi !” kata Bu Eng Cu Tiauw It Lojin sambil menggandeng tangan anak itu. Cin Pau tidak membantah dan menjawab dengan gagah, “Baik, suhu.”

Kemudian kedua orang itu meninggalkan tempat itu setelah Bu Eng Cu berkata kepada Beng Hong Tosu, “Sampai ketemu lagi, toyu.” Cin Pau beberapa kali berpaling memandang ibunya dan ketika melihat betapa pipi ibunya basah air mata, ia berseru nyaring, “Ibu jangan menangis, kelak aku akan kembali kepadamu !” Kemudian, kepada Kong Sian ia berseru, “Ayah, jaga ibu baik-baik !”

Setelah bayangan mereka lenyap di satu tikungan jalan, Beng Hong Tosu bertanya dengan suara heran kepada Kong Sian,” Mengapa dia menyebutmu ayah ?”

Merahlah wajah Kong Sian, akan tetapi dengan suara tetap ia menjawab, “Anak itu belum tahu akan hal ihwal ayahnya dan begitu bertemu dengan teecu, ia telah menyebut ayah. Teecu tidak tega untuk melukai hatinya yang masih suci.”

Beng Hong Tosu mengangguk-angguk dan berkata, “Anak itu baik sekali, boleh diharapkan kelak.”

Bagian 06. Musuh di dalam Dada

Setelah tinggal di situ selama tiga hari, Kong Sian lalu berpamit kepada suhunya untuk pulang ke kota raja karena telah lama meninggalkan ibunya. Lin Hwa juga menyatakan hendak pergi dan mencari kuburan suaminya.

“Pergilah,” kata Beng Hong Tosu. “Dan berhati-hatilah, terutama terhadap musuh di dalam dada !” Setelah meninggalkan pesan ini, pendeta itu lalu masuk ke dalam pondoknya untuk bersamadhi.

Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan muka merah karena sungguhpun mereka tidak dapat menangkap arti kata-kata pendeta itu dengan jelas, namun mereka seakan-akan mendapat sindiran bahwa pendeta tua itu telah maklum akan apa yang menjadi perasaan hati mereka berdua.

Sesungguhnya Lin Hwa memang ingin sekali mencari kuburan suaminya, akan tetapi, yang lebih tepat lagi, ia ingin pergi bersama Kong Sian karena hatinya merasa berat sekali kalau kini setelah ditinggal puteranya, ia harus berpisah lagi dari pemuda ini. Ia ingin bersembahyang di depan makam suaminya, ingin mengeluarkan segala hatinya dan ingin minta perkenan dari suaminya untuk .... untuk ....

kemungkinan kawin lagi dengan Kong Sian.

Demikianlah, kedua orang muda itu lalu turun gunung, kini lebih cepat perjalanan mereka, karena tidak disertai Cin Pau

Pada suatu malam yang dingin dan gelap, Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa tiba di dalam sebuah hutan. Ketika keduanya melompat naik ke atas pohon tinggi untuk mencari-cari dan melihat-lihat barangkali di dekat situ terdapat dusun, ternyata tak nampak dusun atau cahaya api penerangan di dekat dan di sekitar hutan itu, maka terpaksa mereka harus bermalam di hutan itu.

Akan tetapi, tiba-tiba datang hujan dan angin ribut sehingga mereka menjadi bingung. Mula-mula mereka berteduh di bawah pohon yang berdaun lebat sekali, akan tetapi oleh karena hujan turun makin besar hingga air hujan menembus daun-daun pohon dan membuat mereka menjadi basah kuyup seluruh pakaian dan tubuh mereka, terpaksa mereka lalu mencari-cari tempat yang kiranya dapat digunakan untuk tempat berteduh di malam itu. Tubuh mereka terserang dingin yang luar biasa hingga kalau saja mereka tidak memiliki lweekang yang dapat disalurkan pada jalan-jalan darah untuk membuat hangat tubuh, tentu mereka tak kuat menahan rasa dingin yang menusuk tulang itu.

“Bagaimana baiknya ? Kemana kita harus pergi berlindung ?” tanya Lin Hwa yang telah mulai menggigil kedinginan, karena kepandaiannya masih belum tinggi betul. Melihat keadaan Lin Hwa, Kong Sian menjadi kasihan sekali. Ia melepaskan mantelnya dan menyelimuti tubuh Lin Hwa, akan tetapi oleh karena mantel itu pun telah menjadi basah kuyup, maka pertolongan ini tiada artinya.

Kilat menyambar-nyambar dan angin membuat semua pohon di hutan itu seakan-akan bergerak-gerak mengamuk. Lin Hwa mulai terhuyung-huyung dan tubuhnya lemah serta lelah sekali hingga Kong Sian terpaksa harus memeluknya dan menariknya di dalam hujan badai itu, maju terhuyung-huyung ke depan, mencari pohon-pohon yang lebih besar.

“Kong Sian ..... aku ....aku ..... tak kuat lagi rasanya ” “Ah, masa kau begitu lemah ?” Kong Sian menghibur dan mencoba berkelakar. “Sebentar lagi hujan badai ini juga berhenti.”

Akan tetapi, jangankan berhenti, bahkan lebih lebat datangnya air hujan dari atas, dan angin makin besar mengamuk.

Mereka berjalan berhimpit-himpitan, saling peluk dan hanya mengandalkan tenaga Kong Sian saja mereka dapat bergerak maju. Ketika cahaya kilat menyinari hutan itu, tiba-tiba Kong Sian melihat bayangan sebuah bangunan dari jauh. Ia menjadi girang sekali dan sambil menarik tubuh Lin Hwa yang setengah dipondongnya itu, ia berkata, “Cepat, di depan itu kulihat bangunan!”

Setelah berjalan beberapa lama, benar saja, di dalam cahaya kilat yang sebentar-sebentar menyambar, mereka melihat sebuah bangunan kuno di tengah hutan. Bangunan ini adalah sebuah kelenteng kuno yang telah rusak dan yang atapnya sebagian besar telah hancur. Akan tetapi masih ada juga sedikit bagian yang kuat dan dapat menahan turunnya air, maka Kong Sian lalu mendukung tubuh Lin Hwa dan masuk ke dalam kelenteng itu.

Mereka girang sekali karena di situ terdapat sebuah meja sembahyang terbuat dari pada kayu besi yang hitam dan kuat hingga buru-buru mereka berlindung di bawah meja itu. Dan dengan girang Kong Sian mendapatkan kayu-kayu kering di bawah meja, bahkan terdapat pula batu-batu api. Ia menduga bahwa ini tentu barang orang-orang yang telah pernah bermalam di tempat ini, maka cepat ia membuat api dengan susah payah, karena walaupun benda-benda itu tidak terserang air, bahan bakar itu menjadi lembab. Akan tetapi, akhirnya ia berhasil juga dan tak lama kemudian menyalahlah kayu-kayu kering di bawah meja itu.

Terdengar Lin Hwa mengeluh perlahan dan ketika Kong Sian memandang, ia melihat wajah yang cantik itu memucat dan nampak lemah sekali. Akan tetapi pada saat itu, Lin Hwa menyandarkan kepalanya pada pundak Kong Sian dan memandang pemuda itu dengan pandangan mata yang mesrah dan penuh perasaan.

Diangatkan oleh nyala api, akhirnya Lin Hwa dapat juga tidur dengan kepala masih tersandar di bahu Kong Sian. Pemuda itu lalu dengan hati-hati dan lemah lembut menidurkan kepala Lin Hwa ke atas lantai berbantalkan mantelnya yang digulung. Kemudian ia menambah kayu pada api unggun kecil di bawah meja besar itu. Setelah itu Kong Sian lalu duduk bersamadhi, mengatur napasnya hingga hawa yang hangat menjalar di seluruh tubuhnya, mengusir kelelahan dan kedinginan yang menyerangnya.

Menjelang fajar, hujan berhenti dan ketika matahari mulai menyinarkan cahayanya mengusir sisa-sisa kegelapan, terdengar burung-burung dan ayam-ayam hutan berbunyi riang, seakan-akan mereka ini sama sekali telah lupa akan amukan hujan badai malam tadi yang membuat banyak sarang mereka hancur dan telur serta anak-anak mereka rusak binasa.

Melihat bahwa Lin Hwa masih tidur dengan nyenyak, Kong Sian lalu keluar dari kuil itu dan membungkuk dengan hormat dihadapan sebuah patung yang telah rusak, seakan-akan menyatakan terima kasihnya karena kalau tidak cepat-cepat mendapat tempat berteduh yang aman sentausa itu, entah bagaimana nasib mereka malam tadi. Kemudian ia lalu keluar dan mencari makanan di dalam hutan yang liar itu. Tak lama kemudian, ia kembali ke kuil sambil membawa beberapa butir buah dan seekor kelinci yang ditangkapnya.

Akan tetapi, ketika ia tiba di dekat kelenteng rusak itu, tiba-tiba terdengar jerit Lin Hwa dari dalam kelenteng. Kong Sian melempar semua bahan makanan itu ke atas tanah dengan cepatnya melompat ke dalam kelenteng. Alangkah marah dan kagetnya ketika melihat betapa Lin Hwa telah diikat kaki tangannya dan rebah di lantai dengan pakaian tidak karuan, sedangkan di situ berdiri seorang saikong (pertapa) bermuka penuh cambang-bauk seperti seekor harimau sedang tertawa bergelak.

“Jahanam keparat!” Kong Sian membentak sambil mencabut pedangnya lalu menyerang.

Saikong itu mengelak dan membentak marah sambil melototkan matanya yang lebar, “Bangsat kecil ! Kau berani main gila di depan Pit Lek Hoatsu ?”

Kong Sian terkejut mendengar nama ini karena ia pernah mendengar nama ini sebagai seorang pendeta cabul dan jahat yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dulu suhunya pernah bercerita bahwa suhunya pernah turun gunung untuk membasmi saikong jahat ini, akan tetapi karena Pit lek Hoatsu memang gagah dan juga licin sekali, suhunya tak berhasil membekuknya. Akan tetapi, melihat betapa pendeta keparat itu hendak mengganggu Lin Hwa, Kong Sian tak mengenal arti takut dan menyerang dengan hebatnya hingga saikong itu terpaksa melayaninya.

Pit Lek Hoatsu benar-benar lihai sekali. Ketika ia membentak marah, dari pinggangnya ia mencabut keluar sabuknya yang terbuat daripada perak, merupakan rantai perak yang berujung tajam. Dan setelah ia putar-putar senjatanya ini, Kong Sian merasa terkejut sekali karena gerakan saikong ini luar biasa cepat dan buasnya. Tiap kali pedangnya terbentur oleh rantai itu, ia merasa telapak tangannya sakit sekali sehingga setelah empat kali mengalami benturan hebat, ia tidak berani lagi menangkis dengan pedangnya, dan hanya bergerak cepat mengelakkan diri dari bahaya maut yang disebar oleh rantai perak itu. Kong Sian terdesak hebat dan Lin Hwa yang terikat kaki tangannya dan duduk menyandar dinding, memandang keadaan ini dengan mata terbelalak dan kuatir sekali.

Pada saat yang berbahaya itu, tiba-tiba dari luar kuil terdengar suara orang menyebut nama Buddha, “Omitohud ! Pit lek Hoatsu, tidak tahukah kau kepada kemuliaan Buddha ?”

Berbareng dengan habisnya ucapan ini, berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu seorang hwesio yang tua dan berjenggot putih telah menyambar dan dengan ujung bajunya ia menyampok rantai perak Pit Lek Hoatsu. Sampokan ini hebat sekali karena rantai itu terbentur dan membalik, hampir saja menghantam muka Pit Lek Hoatsu sendiri. Saikong itu terkejut dan melompat ke belakang berjungkir balik, dan ketika memandang hwesio yang baru tiba itu, ia menjadi terkejut dan berseru,

“Pek Seng Hwesio ! Kau datang mencampuri urusanku ?”

“Pinceng bukan mencampuri urusan siapa-siapa, hanya berusaha mencegah terjadinya perbuatan sesat,” jawabnya tajam.

Pit Lek Hoatsu ragu-ragu. Ia maklum akan kelihaian hwesio tua ini, kemudian sambil tertawa menyeringai ia lalu menyimpan rantainya dan berkata, “Biarlah aku memandang mukamu dan lain kali kita bertemu pula !” Kemudian ia melompat pergi dan terdengar suara ketawanya yang menyeramkan.

Kong Sian lalu cepat melepaskan tali yang mengikat kaki tangan Lin Hwa, menggunakan mantelnya untuk menyelimuti tubuh Lin Hwa karena pakaiannya banyak yang robek. Kemudian, kedua orang muda itu lalu maju dan berlutut di depan Pek seng Hwesio, ketua dari kuil Thian Lok Si itu.

“Hm, kalian lagi,” kata hwesio tua itu, “Dan di mana puteramu, toanio ?”

“Cin Pau telah teecu serahkan kepada Tiauw It Locianpwe untuk dididik,” jawab Lin Hwa dengan penuh hormat.

Kong Sian lalu menceritakan pengalaman mereka di puncak Kunlun-san dan Pek Seng Hwesio mengangguk-angguk sambil berkata, “Pantas saja tadi ketika pinceng mengunjungi Kunlun, di sana tidak ada siapa-siapa. Suhumu Beng Hong Toyu telah turun gunung dan pinceng tidak dapat bertemu dengan dia. Tadinya pinceng memang bermaksud mencari Ong-toanio ini yang menurut perkiraan pinceng tentu berada di Kunlun-san oleh karena mendiang suaminya atau suhengmu adalah anak murid Kunlun-pai.”

“Losuhu mencari teecu ada keperluan apakah ?” tanya Lin Hwa.

Pek Seng Hwesio tersenyum. “Memang puteramu bukan jodohku, tadinya pinceng bermaksud mengambil murid padanya, akan tetapi telah didahului oleh Tiauw It Lojin. Biarlah, Bu Eng Cu juga seorang tokoh yang berilmu tinggi dan puteramu tidak kecewa kalau menjadi muridnya.”

Setelah berkata demikian, Pek seng Hwesio lalu berkelebat dan pergi dari situ.

Kong Sian dan Lin Hwa saling pandang dengan penuh takjub. Tak mereka sangka bahwa Pek Seng Hwesio demikian lihai ilmu silatnya sehingga saikong jahat itupun agaknya jerih menghadapinya.

“Untung kau lekas datang, Kong Sian. Kalau tidak ”

“Jangan bilang untung karena aku datang, karena kalau hwesio tua itu tidak datang menolong, biarpun ada aku, agaknya sia-sia belaka,” kata Kong Sian sambil menghela napas. “Kong Sian ,” kata Lin Hwa sambil memandang dengan tajam.

“Ya ?”

“Mengapa kau sebaik ini kepadaku ?”

Kong Sian terkejut karena pertanyaan ini tak disangka-sangkanya sehingga membuat ia tak tahu harus menjawab bagaimana.

“Kenapa kau bertanya demikian ? Manusia harus saling berbaik dengan sesama hidupnya.”

Lin Hwa menggeleng-gelengkan kepalanya. “Akan tetapi kau berbeda sekali, sahabatku. Kau kau

terlalu baik padaku, dan dan ini tentu ada sebabnya.”

Kong Sian maklum bahwa Lin Hwa menuntut kepastian darinya dan ia berpikir sekaranglah saatnya untuk menyatakan isi hatinya. Ia lalu melangkah maju dan memegang kedua tangan Lin Hwa.

“Lin-moi ....... aku aku cinta padamu.”

Lin Hwa tidak terkejut mendengar ini, hanya mukanya menjadi merah dan ia tidak berani menentang pandang mata Kong Sian. Lama sekali mereka berdiam saja dan Lin Hwa juga tidak berusaha menarik kedua tangannya dari pegangan Kong Sian.

“Kong Sian .... telah lama aku dapat menduga hal ini dan ..... dan terus terang saja akupun suka

sekali kepadamu. Kau seorang yang berhati mulia dan gagah dan takkan ada hal yang lebih membahagiakan hatiku selain dari pada menjadi .... isterimu yang setia. Kau baik kepada ku dan dan

puteraku pun sayang pula kepadamu. Kau lah satu-satunya orang yang patut menjadi ayah Cin Pau.” “Lin Hwa, sayang ” kata Kong Sian dengan suara menggetar.

“Kong Sian, ketahuilah bahwa aku memang hendak mencari makam suamiku untuk minta perkenan agar aku boleh .... kawin denganmu, yakni kalau .... kalau kau meminangku ” Ia menundukkan

kepala dengan malu-malu.

“Tentu saja aku suka meminangmu, Lin Hwa. Akan teranglah dunia ini bagiku dan akan bahagialah hidupku apabila kau sudi menjadi isteriku.”

“Biarpun aku seorang janda yang telah mempunyai seorang putera dan kau ”

“Biarpun kau seorang janda, akan tetapi tidak ada duanya di muka bumi ini.” “Dan kau ”

“Dan aku bagaimana ?”

“Dan biarpun kau masih muda belia, masih jejaka, tidak malukah kelak mengawini seorang janda yang sudah berputera ?”

Ucapan ini bagaikan kilat menyambar kepala Kong Sian. Tiba-tiba ia melepaskan kedua tangan Lin Hwa, lalu menjatuhkan diri terduduk di atas lantai dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.

“Kong Sian ! Ada apakah ? Kong Sian, maafkan kalau aku bersalah, kalau aku mengucapkan kata-

kata yang menyinggung perasaanmu. Kong Sian “ Lin Hwa memeluk bahunya.

“Tidak, Lin Hwa, tidak ! Kau tidak bersalah apa-apa. Akulah yang bersalah, akulah yang sesat dan aku yang telah menipumu !”

“Kong Sian, apa maksudmu ?” Kong Sian menurunkan kedua tangannya dan Lin Hwa menjadi terkejut sekali melihat betapa pucat wajah pemuda itu dan dua titik air mata telah keluar dari matanya.

“Lin Hwa, selama ini aku telah berlaku curang kepadamu. Aku ... aku telah berlaku pengecut, tidak berani mengaku terus terang, sebenarnya, sebenarnya aku telah mempunyai seorang isteri !”

Pada saat itu, tangan kanan Lin Hwa masih ditaruh di atas pundak Kong Sian dan ketika mendengar ini, Lin Hwa secepat kilat menarik kembali tangannya, seakan-akan pundak pemuda itu terasa panas membakar tangannya. Wajahnya pucat sekali dan ia bertanya,

“Apa apa artinya ini semua ?”

Dengan cepat Kong Sian lalu menuturkan bahwa semenjak menolong Lin Hwa dulu, ia telah jatuh hati kepadanya akan tetapi apa daya, ia telah bertunangan semenjak kecil dan ketika ibunya mendesak, ia tak dapat menolak hingga akhirnya ia terpaksa kawin dengan Oey Bi Nio, tunangannya semenjak kecil, Akan tetapi ia tak merasa berbahagia dalam perkawinan itu dan bahkan merasa tersiksa. Semua ini ia ceritakan kepada Lin Hwa dengan sedih sekali.

Lin Hwa mendengarkan dengan kalbu terasa hancur dan hati perih. Akan tetapi, wanita gagah ini dapat menekan perasaannya dan tidak memperlihatkan reaksi sesuatu pada mukanya. Ia diam saja, bahkan ketika Kong Sian bertanya, “Bagaimana pikiranmu, Lin Hwa ? Apakah hal ini merobah perasaanmu terhadap aku ?” Ia menjawab, “Kong Sian, kau tidak tahu akan perasaan seorang wanita. Kalau sekali wanita itu menyatakan cintanya, ia takkan dapat merobahnya lagi, sebaliknya kalau sekali menyatakan bencinya, iapun takkan dapat melenyapkannya dengan mudah. Aku suka kepadamu dan betapapun juga, aku tetap akan suka kepadamu !”

Bukan main girang hati Kong Sian dan ia ingin memeluknya, akan tetapi Lin Hwa mengelak dan tersenyum berkata, “Bukankah kau tadi sudah pergi mencari makanan ? Mana makanan itu ?”

Kong Sian tertawa dan menyatakan bahwa kelinci yang ditangkapnya telah lari lagi, ketika ia menolong Lin Hwa tadi.

“Sayang sekali,” kata Lin Hwa dengan sungguh-sungguh, “aku ingin sekali makan daging kelinci.” Pada saat ini, tidak ada makanan yang lebih lezat dari pada daging kelinci bagiku.”

Kong Sian memandang heran lalu berkata sambil tertawa, “apa sukarnya ? Biarlah aku menangkap seekor lagi untukmu !”

“Pergilah, Kong Sian, dan tangkaplah seekor yang besar !”

Dengan hati girang Kong Sian perrgi mencari kelinci. Hatinya girang sekali oleh karena kini ia tidak menaruh hati was-was lagi. Dulu ia seringkali merasa berdebar kuatir karena Lin Hwa belum tahu bahwa ia telah beristeri. Ia takut kalau-kalau hal ini akan memutuskan hubungannya dengan wanita yang dicintainya itu. Akan tetapi sekarang, ia telah menceritakan semua dan Lin Hwa tidak berubah perasaannya. Ia masih menyinta. Sekali sayang, selamanya tetap sayang, katanya. Alangkah merdu dan indahnya kata-kata ini.

Kong Sian sengaja mencari dan menangkap seekor kelinci putih yang besar dan gemuk untuk menyenangkan hati Lin Hwa, maka perginya agak lama juga. Setelah berhasil menangkap seekor ia lalu kembali dengan cepat dan dengan hati girang

“Lin Hwa ! Lihat ini, aku telah menangkap seekor yang muda dan gemuk !” serunya bangga ketika

tiba di luar kelenteng. Akan tetapi, Lin Hwa tidak nampak keluar.

Ia lalu melompat sambil memegang kelinci itu pada kedua telinganya.

“Lin Hwa !” Akan tetapi wanita itu tidak berada di bawah meja. Ia mencari-cari sampai di belakang

kuil sambil memanggil-manggil, akan tetapi sia-sia, Lin Hwa tidak kelihatan.

Kong Sian mulai cemas. Jangan-jangan saikong jahat itu datang lagi dan pergi menculik Lin Hwa. Mengingat akan hal ini kedua kakinya menggigil. “Lin Hwa !” teriaknya keras sekali agar dapat terdengar oleh wanita itu. Karena biarpun andaikata Lin

Hwa terculik, dan dibawa lari, tentu ia akan mendengar teriakan ini dan akan menjawab. Ia memasang telinga baik-baik, akan tetapi tidak terdengar jawaban dari Lin Hwa. Kong Sian melemparkan kelinci yang berada ditangannya hingga untuk kedua kalinya. Kelinci yang sudah ditangkap lari lagi.

“Lin Hwa !” berulang kali Kong Sian memanggil sampai suaranya menjadi serak. Dikerahkannya

khikangnya untuk membuat suara panggilan ini melayang jauh.

Kemudian dengan hati kuatir sekali ia lalu kembali ke dalam kelenteng untuk melakukan pemeriksaan. Kalau terjadi pertempuran, tentu ada tanda-tandanya di situ. Ketika ia tiba di tempat di mana tadi Lin Hwa duduk, ia melihat coretan-coretan aneh di atas lantai. Ia lalu mendekati dan tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas. Ternyata bahwa coretan-coretan itu adalah tulisan Lin Hwa yang dilakukan dengan mempergunakan arang hitam bekas api unggun. Tulisan ini singkat saja dan berbunyi,

“Mari kita lawan musuh dalam dada kita sendiri”

Kata-kata ini singkat, akan tetapi mengingatkan Kong Sian akan nasehat suhunya ketika ia hendak turun gunung bersama Lin Hwa. Ia dapat menangkap artinya. Ternyata Lin Hwa bersedia berkorban, bersedia mengundurkan diri dan tidak hendak mengganggu rumah tangganya. Ia tahu bahwa Lin Hwa juga menderita batinnya karena wanita itupun mencintainya dan tetap akan mencintainya. Karena itu ia mengajak melawan musuh dalam dada sendiri-sendiri. Alangkah mulianya hati wanita itu.

“Lin Hwa ” Kong Sian berbisik dengan hati hancur dan tubuh lemah. Ia tidak hendak mengejar

karena akan percuma saja dan sedikit coretan di atas lantai itupun membuat dia sadar bahwa hubungan mereka memang tak mungkin dilanjutkan. Bagaimana dengan Bi Nio, isterinya ? Kalau ia menceraikannya, apakah ia takkan menghancurkan hati isterinya dan juga menghancurkan hati ibunya

? Ah, nasib Kong Sian menutup mukanya dan air mata mengalir melalui cela-cela jari tangannya.

“Lin Hwa ” kembali ia berbisik lemah. Ketika Kong Sian berseru keras memanggil namanya, Lin Hwa

yang belum lari jauh mendengar juga, dan suara ini seakan-akan menarik-nariknya untuk segera kembali. Lin Hwa sambil menyucurkan air mata lalu menggunakan jari-jari tangan untuk menutup telinganya dan berlari terus makin cepat. Masih saja panggilan suara Kong Sian yang keras menembus penutup telinga dan terdengar olehnya.

“Tidak ........ tidak ...... tidak !!!” Ia menjerit sambil berlari terus dan air matanya mengucur makin

deras.