-->

Pembakaran Kuil Thian Lok Si Jilid 1

Jilid 1

Bagian 01. Pengkhianatan Saudara Angkat.

Kerajaan Tang berada dalam tangan seorang Kaisar yang lemah bagaikan sebuah boneka. Kekuasaan sepenuhnya berada dalam kekuasaan para pembesar yang korup, terutama para pembesar Thaikam (orang-orang kebiri). Rakyat menderita sekali dibawah penindasan dan penghisapan orang-orang besar yang hanya mementingkan kesenangan sendiri saja. Di mana- mana timbul kerusuhan sebagai akibat hati tak puas dan perut lapar. Pembesar tertinggi di setiap kota merupakan raja sendiri, dan tuan-tuan tanah di dusun-dusun merupakan raja-raja kecil tanpa mahkota.

Keadaan ini tidak saja membuat rakyat menderita hidup yang sukar dan sengsara, akan tetapi juga membikin marah hati setiap orang yang sedikitnya mempunyai perasaan cinta bangsa dan mau yang mau menaruh perhatian kepada keadaan rakyat kecil. Akan tetapi, apa daya mereka ? Kaisar dan para pembesar yang hidup dalam laut kemewahan dan kesenangan dunia itu maklum juga akan ketidakpuasan hati rakyat dan telah menaruh curiga kalau-kalau ada rakyat yang hendak memberontak. Oleh karena ini, pemerintah membentuk barisan yang kuat, barisan yang terdiri dari orang-orang berkepandaian silat tinggi dan yang khusus diadakan untuk menindas dan memadamkan api pemberontakan. Khusus digunakan untuk

menindas dan menghancurkan rakyat sendiri ! Oleh karena takut akan hukuman, hukuman mati yang diobral secara murah oleh Kaisar dan para pembesar Thaikam, maka sakit hati dan ketidakpuasan para patriot itu hanya terpendam di dasar hati saja dan mereka hanya berani membicarakan dengan kawan- kawan sehaluan secara sembunyi-sembunyi.

Keadaan yang buruk ini pulalah yang menggerakkan hati dan membangunkan semangat dua orang sastrawan terkemuka. Mereka ini adalah Khu Liok dan Ma Eng, dua orang sastrawan pandai yang telah menjadi sahabat baik semenjak mereka masih muda. Kini mereka telah tua dan menjadi orang-orang terpelajar yang amat terkenal karena syair-syair dan tulisan mereka. Bahkan Kaisar dan orang-orang besar amat suka membaca hasil tulisan mereka dan biarpun mereka ini berasal dari rakyat biasa, namun para pangeran dan orang besar tidak merasa rendah untuk berkenalan dan bercakap-cakap dengan dua orang sastrawan ini.

Khu Liok dan Ma Eng tinggal di Kotaraja bahkan bertetangga. Mereka seringkali mengadakan pertemuan dan bercakap-cakap dan keduanya memiliki jiwa patriot, merasa marah sekali melihat ketidakadilan Kaisar dan kelaliman para pembesar. Diam-diam mereka mengutuk para pembesar, terutama para Thaikam dan akhirnya, karena sudah tidak tahan lagi menyaksikan penderitaan rakyat kecil, rasa penasaran dan sakit hati telah membuat mereka menggerakkan tangan dan mengarang sebuah kitab kecil yang diberi judul “TUHAN TELAH SALAH PILIH”

Kitab ini hanya tipis saja dan berisikan sindiran-sindiran dan protes terhadap keadaan rakyat yang sengsara dan terhadap kelaliman pemerintah. Walaupun tidak ditulis secara terang-terangan, namun dari isi karangan dapat dirasakan singgungan-singgungan yang pedas dan membuat telinga para pembesar menjadi merah dan muka menjadi pucat. Para rakyat kecil yang membaca tulisan ini, menyambut dengan penuh semangat dan isi karangan ini telah membangkitkan jiwa mereka untuk tidak tinggal diam saja dan untuk berusaha memberantas pihak yang menindas mereka. Di sana-sini para kaum tani mulai mengadakan pertemuan dan perundingan, membicarakan isi tulisan yang sangat berkesan di dalam hati mereka dan timbul pula semangat mereka untuk menumbangkan kekuasaan yang mencekik leher mereka itu.

Kaisar dan para pembesar tentu saja tahu akan hal ini dan mulailah diadakan pengusutan dan penyelidikan untuk mengetahui siapa adanya orang-orang yang begitu berani untuk menulis karangan semacam itu. Akan tetapi, oleh karena Khu Liok dan Ma Eng tidak menyebutkan nama mereka dalam tulisan itu, para penyelidik itu tak dapat menemukan siapa sebenarnya penulis karangan yang telah memerahkan telinga Kaisar dan para pembesar.

Di antara sekian banyak pangeran yang suka berkenalan dengan Khu Liok dan Ma Eng, bahkan telah mengirim anak-anak mereka untuk belajar kesusastraan dari dua orang sastrawan besar itu, terdapat seorang pangeran bernama Gu Mo Tek yang tinggal dalam sebuah gedung besar tak jauh dari rumah kedua sastrawan itu. Gu Mo Tek seringkali mengunjungi mereka, bahkan sering pula mengundang kedua sastrawan itu untuk berkunjung ke gedungnya. Sambil menghadapi arak wangi dan hidangan yang lezat, mereka bertiga bercakap-cakap sampai jauh malam. Kedua sastrawan itupun amat suka bercakap-cakap dengan pangeran Gu oleh karena pangeran itupun amat luas pandangannya dan seorang sastrawan yang pandai pula. Hubungan mereka demikian eratnya hingga pangeran Gu mengusulkan untuk mengangkat saudara. Dengan menyalakan hio ditangan, ketiganya mengangkat saudara, disaksikan oleh Bumi dan Langit.

Setelah menjadi saudara angkat, ketiga orang ini makin erat hubungannya. Keluarga mereka juga mengadakan perhubungan yang baik sekali dan tidak jarang mereka saling berkunjung. Hal ini berjalan bertahun-tahun sampai pada waktu kedua orang sastrawan ini menulis karangan yang menggemparkan itu.

Gu Mo Tek mempunyai dua orang putera yang telah kawin dan kedua orang puteranya ini juga tinggal di dalam gedungnya yang indah dan besar. Mereka bernama Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu dan menjadi murid-murid kedua orang sastrawan itu.

Khu Liok mempunyai seorang putera bernama Khu Tiong sedangkan Ma Eng juga mempunyai seorang putera bernama Ma Gi. Sungguhpun kedua orang sastrawan Khu dan Ma adalah orang-orang lemah yang hanya ahli dalam hal membaca dan menulis, akan tetapi kedua orang puteranya ini telah mempelajari ilmu silat yang tinggi dari seorang tosu di Kunlun-san. Hal ini tidak mengherankan oleh karena kedua orang sastrawan yang berpemandangan luas itu menganggap bahwa kepandaian sastra saja tak dapat menjamin keselamatan dari gangguan orang-orang jahat. Sedangkan pada waktu itu, memang keadaan di Tiongkok amat buruknya, hingga berlakulah hukum rimba, siapa kuat dia menang.

Khu Tiong dan Ma Gi juga telah beristeri, bahkan pada waktu cerita ini terjadi, kedua isteri mereka telah mengandung. Isteri Khu Tiong adalah puteri seorang penjual obat yang pandai dan juga seorang ahli silat, hingga tak mengherankan apabila nyonya Khu yang cantik itupun pandai pula memainkan senjata tajam. Sebaliknya, isteri Ma Gi adalah puteri seorang petani yang hanya pandai bekerja di sawah ladang, akan tetapi nyonya Ma ini luar biasa cantiknya hingga setiap orang melihatnya pasti akan merasa kagum dan menyangka bahwa ia adalah seorang puteri dari keraton Kaisar.

Kedua keluarga Khu dan Ma itu hidup dalam keadaan cukup dan penuh kebahagiaan, terutama sekali oleh karena keduanya sedang menanti datangnya manusia baru yang akan dilahirkan oleh nyonya Khu dan nyonya Ma. Akan tetapi, keadaan hidup manusia ini memang tidak tetap, ada pasang surutnya, maka terjadilah peristiwa hebat yang menggoncangkan seluruh kehidupan mereka dan mengubah keadaan mereka, bagaikan ketenangan air laut yang tiba-tiba terserang badai mengamuk.

******

Beberapa pekan kemudian semenjak Khu Liok dan Ma Eng menulis kitab karangan mereka dan menyebarkannya di seluruh kota dan desa sehingga menimbulkan kegemparan besar di kalangan rakyat dan Kaisar serta pembesar-pembesarnya.

Pada suatu pagi, ketika Khu Liok dan keluarganya sedang duduk di ruang dalam dan bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah serombongan perwira Kaisar yang membawa surat perintah untuk menangkap Khu Liok sekeluarga. Mendengar hal ini, dari para penjaga pintu, keluarga wanita segera pergi bersembunyi di dalam kamar dengan ketakutan, sedangkan Khu Liok dan Khu Tiong segera keluar menjumpai rombongan perwira yang terdiri dari tujuh orang itu. “Khu Liok atas nama Kaisar kami datang hendak menangkap kau dan keluargamu. Harap kau menyerah dan menurut dengan baik tanpa memaksa kami mempergunakan kekerasan!” kata seorang di antara perwira-perwira itu yang agaknya menjadi pemimpinnya.

“Dengan alasan apakah maka kami sekeluarga hendak ditangkap?” tanya Khu Liok dengan sabar dan tenang. Sementara itu, Khu Tiong berdiri dengan kedua tangan mengepal tinju.

“Tak perlu kau bertanya kepadaku, karena hal ini bukanlah urusanku. Pendeknya, kau sekeluarga ditangkap tentu ada kesalahan. Nanti saja di depan pengadilan kau boleh mendengar segala kedosaan yang telah kau lakukan”

“Bukan kami melawan, akan tetapi sebelum kau memberitahukan tentang alasan penangkapan ini, terpaksa kami tidak mau menurut!” tiba-tiba Khu Tiong berkata tegas.

Mendengar ini, ketujuh orang perwira itu serentak mencabut pedang masing-masing.

“Apa ? Kalian hendak memberontak ? Bagus ! Memang telah kami duga bahwa kalian adalah pemberontak-pemberontak jahat. Pendeknya, lekas kumpulkan semua orang untuk kami bawa sebagai tangkapan, kalau tidak, terpaksa kami akan membawa kalian dalam keadaan luka-luka atau mati!” seru komandan perwira itu dengan bengis.

Khu Liok dan Khu Tiong sudah mendengar dan kenal akan kebengisan dan kekejaman para perwira ini, maka mereka saling pandang.

“Tiong-ji, biarlah kita menurut saja. Kita lihat saja bagaimana jadinya nanti di pengadilan” kata Khu Liok. Khu Tiong merasa ragu-ragu akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak ayahnya, maka ia hanya dapat mengangguk dan ia segera masuk ke dalam untuk memberitahu kepada semua keluarga agar berkumpul dan ikut.

“Semua harus ikut, biarpun seorang pelayan atau pesuruh kecilpun tak boleh ada yang ketinggalan!” teriak perwira itu.

Pada saat itu, dari luar mendatangi seorang laki-laki dengan tubuh luka-luka. Ia berlari masuk dan menyerobot saja di antara semua perwira yang berdiri dengan gagah di pintu, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan Khu Liok. Khu Tiong yang baru saja melangkah hendak masuk ke ruang dalam, ketika melihat keadaan orang itu dan mengenal bahwa orang ini adalah seorang pelayan di rumah keluarga Ma Gi, menjadi terkejut sekali dan segera kembali keluar.

“Ada apakah ? Apa yang terjadi di sana ?” tanyanya.

“Celaka........celaka, Khu siauwya....... keluarga Ma habis binasa. Ada..... ada. perwira-perwira yang

datang hendak menangkap dan Ma siauwya melawan sehingga banyak terjadi pembunuhan. Semua...... semua ....... terbunuh atau tertangkap ”

Baru saja berkata sampai di sini, Khu Tiong sudah mencabut pedangnya dan menyerang rombongan perwira itu. Khu Liok tidak melarang puteranya oleh karena ia maklum bahwa tentu rahasianya dan rahasia Ma Eng telah bocor dan Kaisar telah mengetahui bahwa dia dan Ma Eng yang menjadi penulis kitab pemberontakan itu. Ia lalu melarikan diri ke dalam dan memanggil mantunya, yakni nyonya Khu yang bernama Ong Lin Hwa, puteri tukang obat yang pandai ilmu silat itu. Nyonya Khu telah mendengar bahwa suaminya bertempur dengan perwira-perwira di ruang depan, maka ketika mertuanya memanggilnya, nyonya muda itu telah keluar dengan pedang di tangan.

“Jangan. jangan kau ikut bertempur. Kau sudah mengandung tua, tubuhmu lemah. Dengar baik-

baik, kau harus melarikan diri dari pintu belakang ! Tinggalkan kami karena kalau kau berada di sini, tentu kau akan ditangkap pula !”

Kedua mata Ong Lin Hwa menyinarkan cahaya berapi. “Tidak, gakhu (ayah mertua) !” katanya nyaring dan tetap. “Mana bisa saja harus meninggalkan suamiku dikeroyok orang ? Maaf, kali ini saya terpaksa membandel !” Setelah berkata demikian, Lin Hwa melompat keluar dengan pedang ditangannya.

Khu Liok menggelengkan kepala dan dengan bersedih ia menjatuhkan diri di atas kursinya. “Thian (Tuhan) ....... lindungilah mereka dan biarkanlah hamba menanggung semua akibat dari semua ini ” Isterinya lalu menubruknya sambil menangis. Semua pelayan juga menangis dan lari ke sana ke mari dengan wajah pucat.

“Tiong-ji, larilah kau dengan isterimu, lekas.........! Larilah sebelum terlambat. !”

Akan tetapi Khu Tiong dan isterinya mengamuk terus hingga akhirnya empat orang perwira yang lain juga roboh dengan tubuh berlumur darah. Khu Tiong dan isterinya yang gagah perkasa itu sebentar saja telah merobohkan ketujuh orang pengeroyoknya. Khu Liok melangkah maju dan memegang tangan anaknya yang masih berdiri memandang ke luar dengan pedang di tangan, seakan-akan hendak menanti datangnya musuh-musuh baru.

“Khu Tiong ! Apakah kau tidak mau menurut perintah ayahmu ?” Khu Liok membentak dengan suara keras dan marah.

Khu Tiong membalikkan tubuh dan segera menjatuhkan diri berlutut di depan ayahnya, “Ayah .....

bagaimana anak bisa pergi meninggalkan ayah menjadi kurban mereka ?”

“Anak bodoh ! Ayahmu sudah tua dan selain itu, aku mempunyai banyak sahabat di kalangan atas. Namun, betapapun juga, kau lebih baik pergi menyelamatkan isteri dan...... dan anakmu. ” Menyebut

tentang calon cucunya ini, hati Khu Liok merasa terharu sekali. Telah berbulan-bulan ia mengharap- harapkan kehadiran cucunya, telah rindu hatinya untuk merasai kehalusan kulit tubuh bayi yang menjadi cucunya dan untuk menimang-nimang tubuh kecil munggil, menikmati tawanya yang bersih. Akan tetapi, malapetaka datang menimpa dan agaknya tak mungkin ia akan dapat melihat wajah cucunya.

“Ayah...... tapi. “ Khu Tiong masih membantah.

“Cukup ! Lekas kau siapkan kuda dan bawa pergi isterimu, atau kau tunggu sampai aku menjadi marah

?” bentak Khu Liok.

Dengan hati sedih, terpaksa Khu Tiong lalu menyiapkan dua ekor kuda. Kemudian ia dan isterinya menjatuhkan diri berlutut di depan Khu Liok suami isteri dan menangis tersedu-sedu. Nyonya Khu Liok memeluk dan menciumi puteranya, sedangkan Khu Liok hanya duduk sambil menghela napas. “Sudahlah, kau pergilah, lekas !” katanya.

Tiba-tiba pelayan di luar berseru, “Celaka, Thai-ya. , sejumlah besar perwira mendatangi lagi !”

Khu Liok cepat berdiri dan mendorong puteranya, Khu Tiong, lekas pergi dengan isterimu, mau tunggu kapan lagi ?”

Khu Tiong dengan masih ragu-ragu dan sedih, terpaksa lalu memegang tangan isterinya, keluar dari pintu belakang dan kemudian cepat naik dipunggung kuda dan melarikan kuda itu cepat melalui jalan belakang.

Ketika mereka tiba di sebuah hutan yang berada di luar Kota raja sebelah utara, tiba-tiba terdengar suara orang memanggil keras.

“Khu Tiong!!”

Khu Tiong dan isterinya mengenali suara ini dan dengan girang mereka lalu membelokkan kuda ke kiri dan menuju ke arah suara itu. Di bawah sekelompok pohon, ternyata telah berdiri Ma Gi dengan tubuh penuh peluh dan muka pucat sekali. Khu Tiong melompat turun dari kuda dan kedua orang sahabat itu segera berpelukan dan Ma Gi bahkan mengalirkan air mata.

“Bagaimana keadaan keluargamu Ma Gi ?” tanya Khu Tiong penuh kekhawatiran, sedangkan nyonya Khu melihat betapa sahabat suaminya itu mengucurkan air mata, tak tertahan lagi ia pun ikut menangis.

“Celaka sekali, Khu Tiong....... celaka sekali. “ Kemudian ia lalu menceritakan peristiwa yang

terjadi di rumah ayahnya.

Ternyata bahwa pada waktu yang sama, serombongan perwira lain telah menyerbu rumah Ma Eng dengan maksud menangkap keluarga Ma. Seperti juga Khu Tiong, Ma Gi yang gagah perkasa lalu mengadakan perlawanan, akan tetapi oleh karena kebetulan sekali pada waktu pertempuran terjadi, di depan rumahnya lewat pula serombongan perwira lain, maka ia lalu dikeroyok oleh belasan orang perwira yang berkepandaian cukup tinggi. Ma Gi mengamuk seperti harimau kelaparan dan berhasil merobohkan lima orang perwira. Akan tetapi, jumlah pengeroyoknya banyak sekali dan beberapa orang pelayan telah roboh di bawah tikaman pedang para perwira yang kejam itu. Ma Eng berteriak-teriak minta supaya anaknya yang telah membunuh perwira-perwira itu segera melarikan diri. Akhirnya Ma Gi tidak tahan lagi dan terpaksa melarikan diri meninggalkan ayah, ibu, serta isterinya.

Bukan main kaget dan sedihnya hati Khu Tiong mendengar ini dan ketika ia menceritakan kepada Ma Gi tentang malapetaka yang menimpa keluarganya pula, Ma Gi berulang-ulang menghela napas.

“Ini tentu ada hubungannya dengan tulisan ayah kita. Akan tetapi, siapa gerangan yang membocorkan rahasia ini hingga Kaisar mendapat tahu”

Khu Tiong menggeleng kepala karena iapun merasa heran. Di antara semua orang, yang tahu akan rahasia itu hanyalah Khu Liok, dan Ma Eng sendiri dan dia serta Ma Gi.

“Hanya kita berempat yang mengetahui hal ini, bahkan isteri-isteri kitapun tidak tahu” katanya. “Boleh kau tanya isteriku ini, dia belum pernah kuberitahu tentang hal itu”

“Kau lupa !” kata Ma Gi. “Bukankah Pangeran Gu Mo Tek juga mengetahuinya ?”

Khu Tiong terkejut, akan tetapi ia lalu berkata dengan suara tetap, “Tak mungkin dia mau membocorkan rahasia. Bukankah ia telah menjadi saudara angkat kedua ayah kita ?”

“Aku juga merasa ragu-ragu untuk menuduhnya, akan tetapi bagaimana mereka bisa tahu ?”

“Nanti saja kita selidiki hal ini. Paling perlu sekarang kita mencari tempat persembunyian dulu” kata Khu Tiong.

“Lebih baik kita pergi bersembunyi di gedung keluarga Un di sebelah barat”

“Un Kong Sian ?” Khu Tiong berpikir sebentar. Memang Un Kong Sian adalah seorang putera bangsawan yang telah menjadi sahabat karib mereka. Pemuda itu selain menjadi sute (adik seperguruan) mereka dalam ilmu silat, juga terkenal baik dan jujur. “Baiklah, selain Kong Sian sute, kurasa memang tidak ada lagi yang boleh kita minta pertolongan”

Mereka lalu kembali ke kota dengan jalan memutar dan setelah hari menjadi gelap, barulah mereka berani masuk kota raja dan menuju ke rumah Un Kong Sian.

Un Kong Sian adalah putera seorang congtok yang telah meninggal dunia dan hanya hidup berdua dengan ibunya yang telah tua di dalam gedungnya yang besar. Ia masih belum kawin walaupun telah ditunangkan dengan seorang puteri hartawan. Ilmu silatnya lihai juga karena ia adalah murid seperguruan dengan Khu Tiong dan Ma Gi, bahkan dalam hal ilmu menyambit dengan piauw, Kong Sian lihai sekali hingga mendapat julukan Bu-eng-piauw atau piauw tanpa bayangan.

Ketika pemuda ini melihat kedatangan Khu Tiong, Lin Hwa, dan Ma Gi yang datang-datang memeluk dengan wajah pucat, ia menggeleng-geleng kepala.

“Jiwi suheng dan kau juga so-so (sebutan untuk isteri kakak), mari masuk saja ke dalam” Setelah mereka berada di dalam kamar, Kong Sian lalu berkata dengan suara perlahan, “Aku telah mendengar semua tentang malapetaka yang menimpa keluarga kalian. Tadi, akupun telah mencari-carimu dan kebetulan sekali kalian datang ke sini. Kalian dicari-cari oleh banyak sekali perwira dan kurasa hanya di sinilah tempat yang sementara ini aman bagimu bertiga”

Khu Tiong dan Ma Gi mengucapkan terima kasihnya, kemudian setelah mereka menuturkan pengalaman mereka yang membuat Un Kong Sian menghela napas berulang-ulang, pemuda itu lalu berkata,

“Jiwi suheng (kedua kakak seperguruan), kalian adalah orang-orang gagah yang bersemangat dan berhati kuat. Maka sekarang kuatkanlah hatimu untuk mendengar penuturanku” Kemudian pemuda itu dengan suara perlahan dan hati-hati sekali menuturkan apa yang didengarnya semenjak ketiga orang itu melarikan diri dari rumah. Ternyata bahwa karena marah sekali melihat ketujuh orang perwira yang roboh ditangan Khu Tiong dan isterinya, perwira-perwira yang baru datang lalu mengamuk, membunuh semua pelayan dan hanya menangkap Khu Liok berdua isterinya. Sedangkan di rumah Ma Gi, juga terjadi hal yang sama, bahkan lebih hebat lagi, karena nyonya Ma Eng sendiri juga ikut binasa diujung senjata perwira-perwira kejam itu. Nyonya ini ketika melihat betapa komandan perwira menarik-narik tangan nyonya Ma Gi mantu perempuannya, dengan nekad lalu menubruk dan memukuli tangan komandan itu sehingga komandan itu menjadi marah dan menendang dengan keras. Nyonya tua itu roboh bergulingan dan kemudian ujung senjata perwira-perwira lain menamatkan riwayatnya.

Kemudian, setelah semua isi rumah habis binasa dan tidak ketinggalan pula barang-barang berharga juga ikut lenyap, Ma Eng lalu ditawan dan nyonya Ma Gi diseret pergi oleh komandan itu.

Khu Tiong dan Ma Gi berdiri dengan tubuh lurus dan urat-urat menegang, sepasang mata bersinar bagaikan mengeluarkan api dan dari pelupuk mata mengalir dua butir air mata, kedua tangan dikepalkan. Ong lin Hwa atau nyonya Khu Tiong, menangis terisak-isak.

“Keparat-keparat kejam ! Tunggulah pembalasanku” kata Khu Tiong sambil mengacung-acungkan tinjunya.

“Akan kubasmi perwira-perwira itu!” berkata Ma Gi. “Akan kupenggal leher komandan bangsat itu!!” Kedua orang muda itu hendak segera pergi melakukan ancaman-ancaman mereka, akan tetapi Kong Sian yang lebih sabar karena biarpun ikut berduka akan tetapi tidak terkena langsung oleh malapetaka itu, berkata menghibur,

“Suheng berdua harap suka berpikir tenang. Soal pembalasan dendam ini mudah dilakukan kelak, akan tetapi yang terpenting sekarang adalah usaha untuk menolong orang tua jiwi suheng dan juga isteri Ma suheng”

Mendengar kata-kata ini, Khu Tiong dan Ma Gi tersadar dari keadaan mereka yang dipengaruhi rasa marah luar biasa itu.

Malam itu gelap sekali dan di sekeliling tempat tahanan di mana Khu Liok, isterinya, dan Ma Eng dikeram, dijaga keras oleh para perwira. Akan tetapi, dua sosok bayangan hitam yang gerakannya gesit sekali, berhasil melewati penjagaan dan melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi tempat tahanan. Kemudian dengan gerakan Naga Sakti Naik Mega, kedua sosok bayangan itu melayang naik ke atas genteng rumah tahanan itu. Mereka ini adalah Khu Tiong dan Ma Gi yang mendatangi tempat tahanan dan mencoba menolong orang tua mereka.

Setelah membongkar genteng, kedua orang muda itu melompat ke dalam rumah. Seorang penjaga yang kebetulan masuk ke dalam ruang belakang hendak memeriksa tawanan, tiba-tiba melihat mereka, akan tetapi sebelum ia sempat bergerak atau berteriak, ujung pedang Ma Gi telah membungkam mulutnya dan ia mandi darah tanpa dapat berkutik lagi.

Khu Tiong dan Ma Gi lalu membongkar pintu dan masuk ke dalam kamar tahanan. Akan tetapi, keduanya berdiri tak bergerak di ambang pintu ketika melihat pemandangan yang berada di dalam kamar itu. Kedua orang tua Khu Tiong dan ayah Ma Gi nampak duduk di dalam kamar itu, di atas lantai yang kotor dan menyandarkan tubuh di dinding yang dingin, dan jelas sekali kelihatan betapa tubuh mereka telah menjadi korban siksaan kejam.

Kedua orang muda itu menubruk maju sambil menangis, memeluk tubuh orang tua mereka. Dan alangkah kagetnya ketika Khu Tiong melihat bahwa ibunya telah meninggal dunia dalam keadaan duduk bersandar di dinding. Sedangkan ayahnya pun pingsan tak sadarkan diri. Keadaaan Khu Liok sungguh mengerikan, kepalanya bengkak-bengkak dan tubuhnya mendapat luka bekas cambukan sedemikan rupa sehingga agaknya tak ada sepotong kulit tubuhnya yang masih utuh, napasnya empas- empis hampir putus. Keadaan Ma Eng juga amat mengenaskan dan hampir sama dengan keadaan Khu Liok, akan tetapi orang tua ini masih sadar dan ketika melihat kedatangan Ma Gi dan Khu Tiong, ia lalu menggerakkan kedua tangannya.

“Ayah, mengapa kau sampai menjadi begini ?” tanya Ma Gi dengan air mata bercucuran, “dan bagaimana pula dengan Kwei Lan ?”

“Isterimu....... ia dibawa oleh komandan keparat...... aku...... aku dan Khu Liok....... disiksa hebat.......

takkan tahan hidup lebih lama lagi. ” “Ayah. ”

“Ma-pekhu. “ kata Khu Tiong dan mendekati orang tua itu. “Siapakah yang mengkhianati kita ?

Siapa. ??”

Dengan kuatkan tubuhdan mengumpulkan seluruh tenaga terakhir, Ma Eng menjawab, “Gu. Gu

Mo.... Tek. !” Kemudian kepalanya lemas dan napasnya berhenti.

“Ayah. !” Ma Gi berseru sambil memeluk tubuh yang lemas dan tak bernyawa pula itu.

“Gu Mo Tek ! Bangsat Pengkhianat rendah !” Khu Tiong menggertak gigi dengan marah sekali. Dan ketika ia mendekati ayahnya, ternyata bahwa ayahnya pun telah melepaskan napas terakhir.

Kedua orang muda itu saling pandang, kemudian saling pelukan dengan tangisan menyesak di dada. “Ma Gi kita harus membalas dendam sekarang juga !”

“Baik suheng, akupun rela mengorbankan jiwa untuk membuat pembalasan dendam kepada keparat Gu Mo Tek itu !” jawab Ma Gi dengan mata berapi-api. Setelah beberapa lama memeluki dan menangisi mayat-mayat orang tua mereka, kedua orang muda ini lalu melompat ke atas genteng lagi. Hati mereka panas dan penuh dengan rasa sakit hati. Dari tempat itu, mereka menempuh malam gelap dan mendatangi gedung keluarga pangeran Gu Mo Tek. Setelah mereka pergi, barulah para penjaga mendapatkan mayat penjaga yang tewas oleh pedang Ma Gi sehingga mereka menjadi ribut. Beberapa orang perwira melakukan pengejaran dan beberapa orang lagi memberi laporan kepada markas besar.

Bagian 02. Penyelamat Keturunan Khu dan Ma

Memang benar sebagaimana dikatakan oleh Ma Eng sebelum orang tua ini menghembuskan napas terakhir. Kedua orang sastrawan ini telah dikhianati oleh pangeran Gu Mo Tek yang melakukan hal ini terdorong oleh keinginannya menempatkan putera-puteranya ke dalam kedudukan tinggi. Ia melihat betapa kedua orang puteranya, yakni Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu, tak dapat merebut kedudukan tinggi oleh karena kedua anak muda ini biarpun semenjak kecil telah dilatih dengan ilmu kepandaian sastra, akan tetapi ternyata tidak bisa maju dan lebih senang belajar silat. Maka ketika ia melihat betapa Kaisar dan para pembesar tinggi menjadi gempar karena hasil tulisan kedua saudara angkatnya, ia lalu menggunakan kesempatan ini untuk mencarikan kedudukan tinggi bagi kedua puteranya dengan mengkhianati Khu Liok dan Ma Eng, kedua saudara angkatnya yang amat dikaguminya itu. Sebetulnya ia mengagumi Khu Liok dan Ma Eng hanya dalam bidang kesusastraan dan ketika kedua orang saudara angkat itu menulis karangan yang menyinggung dan memburukkan pemerintah, ia tidak setuju, karena betapa pun juga, darah bangsawan masih mengalir tebal dalam tubuhnya.

Akan tetapi, setelah ia melakukan pengkhianatan dan mendengar betapa kedua saudara angkatnya itu ditawan dan keluarganya dibasmi, ia merasa berduka dan menyesal sekali. Semenjak siang hari tadi ia duduk saja di dalam kamarnya sambil menyesali akibat perbuatannya sendiri. Ia diam-diam merasa menyesal sekali mengapa para perwira itu melakukan penumpasan yang demikian kejamnya.

Gu Keng Siu dan Gu Leng Siu yang berdiam di kamar masing-masing beserta isteri masing-masing, hanya menganggap bahwa ayah mereka berduka mendengar berita tentang malapetaka yang menimpa keluarga Khu Liok dan Ma Eng dan mereka inipun bersama semua keluarga merasa sedih. Tak seorang pun di antara mereka ini tahu bahwa Gu Mo Tek telah melakukan pengkhianatan dan menjadi biang keladi dari pada semua malapetaka itu.

Pada malam hari itu, ketika Gu Mo Tek sedang duduk seorang diri di dalam kamar buku, tiba-tiba dari jendela menyambar masuk dua orang muda dengan pedang di tangan. Gu Mo Tek terkejut dan berdiri dari tempat duduknya dan ketika melihat bahwa yang datang itu adalah Ma Gi dan Khu Tiong yang memandangnya dengan sinar mata menyatakan kemarahan dan kebencian besar, ia menjadi ketakutan dan merasa ngeri. “Eh, Khu Tiong dan Ma Gi, kalian dari manakah dan. dan mengapa datang ke sini dalam keadaan

demikian ini ?”

“Bangsat tua berhati busuk !” Khu Tiong memaki marah.

“Keparat besar, kau telah mengkhianati orang-orang tua kami dan masih berpura-pura bertanya lagi ?” berkata Ma Gi sambil melangkah maju dengan pedang ditangan.

Gu Mo Tek mundur ketakutan dan dengan wajah pucat ia bertanya, “Apa...... apa maksudmu ?”

“Anjing rendah ! Kau telah mengkhianati orang tua kami sehingga seluruh keluarga kami mati dalam tanganmu yang berdarah !” kata Khu Tiong sambil melangkah maju juga.

“Mati....... mereka telah mati. ?” Gu Mo Tek menggunakan kedua tangannya menutup muka dengan

perasaan ngeri dan menyesal.

“Dan kau harus mampus juga agar kau dapat menghadapi orang-orang tua kami di alam baka untuk minta ampun !” kata Ma Gi. Secepat kilat pedang ditangan Ma Gi dan Khu Tiong bekerja dalam saat yang sama sehingga dua batang pedang menembus dada pangeran tua itu di kanan kiri. Ketika kedua orang muda itu mencabut senjata, tubuh Gu Mo Tek terhuyung-huyung dan roboh mandi darah.

“Apa yang telah terjadi ?” tiba-tiba terdengar suara orang membentak dan pintu kamar itu terbuka keras. Gu Seng Kiu dan Gu Leng Siu melompat masuk dengan senjata golok di tangan. Melihat Khu Tiong dan Ma Gi berdiri disitu dengan pedang berlumur darah dan ayah mereka rebah mandi darah di atas lantai, kedua putera pangeran ini menjadi terkejut sekali.

“Khu Tiong dan Ma Gi ! Apakah kalian telah menjadi gila ? Kalian apakan ayah kami ?” teriak mereka.

“Keng Siu dan Leng Siu ! Mungkin sekali kalian berdua tidak tahu apa yang telah terjadi. Ayahmu telah mengkhianati ayah kami hingga kebinasaan kami boleh dikata adalah hasil perbuatan ayahmu yang durhaka !”

“Gila !” teriak Keng Siu dengan suara gemetar. “Semenjak siang tadi ayah menyedihkan malapetaka yang menimpa keluarga kalian, dan sekarang kalian datang membunuhnya”

“Menyedihi kami ? Ha, ha, ha ! Bahkan terhadap putera-putera sendiri keparat ini masih main rahasia. Ayahmu telah melaporkan kepada yang berwajib tentang tulisan ayah kami itu. Dia telah membunuh keluarga kami, maka sekarang kami datang membalas dendam. Kalau kalian merasa penasaran, kalian boleh berbuat sesukamu !” kata Khu Tiong menahan marahnya.

“Bangsat berhati kejam ! Kami tidak tahu tentang urusan yang kau sebutkan tadi, akan tetapi, jangan mengagulkan kepandaian sendiri ! Hutang jiwa harus dibayar jiwa !” teriak Keng Siu sambil melompat maju dan memutar goloknya.

“Majulah !” Ma Gi menantang dan di dalam kamar buku di mana mayat pangeran Gu Mo Tek masih rebah itu, terjadilah pertempuran sengit antara Keng Siu melawan Khu Tiong dan Leng Siu melawan Ma Gi.

Suara ribut-ribut ini terdengar oleh para pelayan dan beberapa orang penjaga segera menyerbu dengan senjata di tangan, mengeroyok Khu Tiong dan Ma Gi. Sebagian pula lalu lari melaporkan kepada markas besar penjaga di kota raja.

Biarpun Keng Siu dan Leng Siu suka akan ilmu silat, akan tetapi mereka hanya belajar dari guru-guru silat biasa saja, maka mana mereka dapat melawan Khu Tiong dan Ma Gi yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi ? Juga keroyokan beberapa orang pelayan itu tidak ada artinya bagi kedua orang pemuda yang gagah itu hingga beberapa belas jurus saja, Keng Siu telah tertusuk oleh pedang Khu Tiong sehingga roboh binasa sedangkan Leng Siu telah terbacok lehernya oleh pedang Ma Gi sehingga hampir putus. Tiba-tiba dari luar gedung pangeran Gu ini terdengar suara orang berseru-seru keras. Ternyata para perwira yang mendapat kabar bahwa dua orang putera sastrawan yang ditangkap itu mengamuk di gedung pangeran Gu Mo Tek, segera datang mengurung gedung itu.

“Sute, mari kita pergi !” kata Khu Tiong yang mendahului adik seperguruannya melompat keluar dari kamar itu dan berlari melalui pintu belakang. Beberapa orang perwira yang sudah menjaga lalu menyerbu mereka, akan tetapi dengan mudah Khu Tiong dan Ma Gi merobohkan dua orang dan mereka segera melompat naik ke atas genteng. Di antara perwira-perwira itu, banyak yang memiliki ilmu silat tinggi, sehingga ketika melihat bahwa dua orang muda yang mereka kejar-kejar telah melompat ke atas genteng, mereka ini lalu melompat pula menyusul.

Terjadilah pertempuran hebat lagi di atas genteng, di mana Khu Tiong dan Ma Gi dikeroyok oleh beberapa orang perwira. Kedua orang muda ini mengamuk hebat hingga tak sedikit yang roboh diujung pedang mereka, akan tetapi jumlah pengeroyok amat banyak dan boleh dibilang jatuh satu datang dua dan roboh dua datang empat, hingga akhirnya kedua orang muda itupun mendapat luka-luka di tubuh dan mengeluarkan banyak darah. Akan tetapi, dengan pedang yang dimainkan secara kuat dan hebat dalam ilmu pedang asli dari Kun-lun-pai, kedua anak murid Kun-lun-san ini masih dapat mempertahankan diri. Namun, mereka menjadi lelah menghadapi banyak lawan itu dan terpaksa mereka lalu membuka jalan darah dan melarikan diri dari situ dengan cepat.

Para anggota penjaga yang dipimpin oleh perwira-perwira kerajaan segera melakukan pengejaran, akan tetapi oleh karena malam masih gelap, Khu Tiong dan Ma Gi dapat menyelamatkan diri, walaupun musuh masih terus mengejar dan mencari-cari.

Menjelang fajar, ketika kedua orang muda ini berlari dan tidak berani menuju ke rumah Un Kong Sian, kuatir kalau-kalau akan merembet pemuda yang baik hati itu. Tak disangkanya, tiba-tiba pemuda itu muncul dan memberi isyarat dengan tangan agar mereka berdua suka ikut dengannya. Tanpa bertanya, Khu Tiong dan Ma Gi lalu berlari mengikuti Un Kong Sian yang membawa mereka keluar kota raja melalui tempat yang penjagaannya tidak begitu keras.

Setelah berlari cepat kira-kira sepuluh li jauhnya dari kota raja, Un Kong Sian membelok ke dalam sebuah hutan kecil dan di situ ternyata telah menanti Ong Lin Hwa, isteri Khu Tiong, di atas seekor kuda dan telah disediakan dua ekor kuda lain untuk mereka.

“Cepat ! Larilah kalian, jiwi suheng, aku telah mendengar semua tentang pembalasan dendammu !” “Sute, kau baik sekali. Terima kasih banyak” berkata Khu Tiong.

“Cepat, mereka telah datang !” kata Un Kong Sian kuatir dan benar saja, dari arah kota raja telah mendatangi banyak sekali kuda yang mengejar mereka. Agaknya para penjaga telah tahu bahwa orang- orang buruan mereka telah dapat melarikan diri keluar dari kota, maka mereka lalu mengejar cepat.

“Baiklah, sute, selamat tinggal” kata Ma Gi. Akan tetapi, ketika mereka hendak berangkat, tiba-tiba dari arah depan datang pula serombongan tentara negeri yang mengurung mereka.

“Celaka, kita terkurung” bisik Un Kong Sian dengan pucat. “Khu-suheng, lekas kau bawa soso lari, biar aku dan Ma-suheng mempertahankan diri di sini !”

“Tidak, sute !” kata Khu Tiong dengan tetap. “Kami tak dapat membiarkan kau terbawa-bawa dalam urusan kami. Kau saja pergilah cepat-cepat !”

“Khu-suheng, dalam keadaan dan waktu seperti ini, mengapa kita harus berlaku sungkan-sungkan? Pergilah kau bersama soso !” Kong Sian mendesak dan pada saat itu, berpuluh batang anak panah menyambar ke arah mereka hingga mereka bertiga, juga Lin Hwa yang memegang pedang, memutar senjata untuk menyampok semua anak panah yang menyambar ke arah mereka.

“Kau saja yang pergi, sosomu juga dapat menjaga diri, dan biarkan kami bertiga mempertahankan diri !” Khu Tiong berkeras dan Ma Gi juga mendesaknya,

“Un-sute, kau telah menolong kami dan tidak seharusnya kau berkorban jiwa pula. Kau masih muda dan kau tidak mempunyai hubungan dengan urusan kami ini. Kau pergilah dan tinggalkan kami bertiga mempertahankan diri dan biarlah kami bertiga mati secara orang-orang gagah !” Un Kong Sian membanting kakinya dengan gemas dan pemuda yang tampan dan gagah ini merasa bingung sekali.

“Ah, jiwi suheng benar-benar kepala batu dan keras hati” katanya gemas. “Apakah artinya mati bagiku ? Apakah artinya mati membela saudara ? Lebih baik kalian mengingat akan nasib soso ini, terutama nasib anak yang dikandungnya ! Kalau kita semua mati, habis siapakah yang akan membalaskan dendam kelak ?”

Pucatlah wajah Khu Tiong dan Ma Gi karena ucapan ini menikam betul hati dan perasaan mereka.

“Dia betul suheng !” kata Ma Gi. “Kau lekaslah lari bersama soso !” Khu Tiong terpaksa lalu melompat naik ke atas kuda, lalu ia berpaling memandang Kong Sian dan Ma Gi dengan kedua mata basah air mata.

“Sampai mati aku takkan melupakan kalian” Ong Lin Hwa telah mendahului dan melarikan kudanya, akan tetapi Khu Tiong masih ragu-ragu dan beberapa kali ia berpaling memandang kedua saudara seperguruan itu. Keraguannya inilah yang mencelakakannya, karena tiba-tiba ia menjerit keras dan roboh dari kudanya. Lin Hwa mendengar jerit suaminya lalu melompat turun dari kuda dan berlari menghampiri. Ia memeluk suaminya yang ternyata terkena anak panah pada dada kanannya.

Kong Sian dan Ma Gi juga berlari menghampiri dan pada saat itu kurungan para tentara kerajaan telah makin merapat dan mendekat. Ma Gi tidak mau membuang waktu lagi.

“Khu-soso, lekaslah kau pergi, tinggalkan kami di sini. Sekarang bukan waktunya ragu-ragu dan berlaku lambat. Musuh telah dekat !”

Akan tetapi, sambil mengeluh sedih nyonya Khu bahkan lalu menjadi lemas dan roboh pingsan di samping suaminya.

“Celaka !” kata Ma Gi dengan bingung. “Sute, lekas kau pondong tubuh sosomu dan bawa dia lari cepat keluar dari kepungan ini !”

Un Kong Sian adalah seorang pemuda yang dapat berpikir cepat dan mengambil tindakan tepat pada waktunya. “Baik, Ma suheng, dan mudah-mudahan kau dan Khu suheng dapat keluar dari sini

dengan selamat !” Pemuda itu lalu memondong tubuh Lin Hwa yang pingsan dan secepatnya ia melompat ke atas kuda yang terbaik, lalu melarikan kuda itu bagaikan terbang cepatnya dari hutan itu. Beberapa batang anak panah menyambarnya, akan tetapi dengan pedang di tangan kanan, Kong Sian dapat memukul jatuh semua anak panah itu dan melarikan kudanya makin cepat lagi.

Ma Gi membungkuk dan memeriksa keadaan Khu Tiong. Orang gagah itu mengeluh dan bergerak, membuka matanya, lalu bangun duduk.

“Isterimu telah pingsan dan ditolong oleh Un sute, sudah melarikan diri” bisik Ma Gi. Dan pada saat itu terdengar sorakan riuh. Beberapa orang perwira telah datang menyerbu dengan senjata di tangan.

Terpaksa Ma Gi meninggalkan Khu Tiong untuk melompat dan menyambut musuh-musuh itu dengan pedangnya. Khu Tiong biarpun telah mendapat luka parah dan anak panah masih menancap di dadanya, lalu mencabut pedang pula dan melompat dengan garangnya. Ma Gi sendiri merasa kagum melihat sepak terjang Khu Tiong yang mengamuk hebat dan tiap lawan yang menghadapinya tentu roboh kena tusuk atau sabetan pedangnya. Kedua orang ini mengamuk hebat sekali hingga mayat musuh bergelimpangan di atas tanah, akan tetapi oleh karena malam tadi mereka telah mengalami pertempuran dan dikeroyok hingga mendapat luka dan telah lelah sekali, apalagi karena Khu Tiong telah menderita luka parah, maka mereka tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi dan beberapa buah senjata menghancurkan tubuh Khu Tiong dan Ma Gi yang gagah perkasa itu, Mereka telah melakukan perlawanan sebagai orang-orang gagah dan mati di bawah tikaman belasan buah senjata tajam hingga tubuh mereka menjadi tidak karuan lagi rupanya.

Setelah puas membalas sakit hati atas kematian kawan-kawannya dn menghujani tubuh kedua orang muda yang gagah itu dengan senjata mereka, para perwira dan tentara kerajaaan lalu mengejar terus karena mereka tadi juga melihat bahwa isteri Khu Tiong telah dapat melarikan diri. Beberapa orang di antara mereka lalu mengangkut pergi mayat kawan-kawannya dan menolong yang terluka, sedangkan mayat Khu Tiong dan Ma Gi yang sudah tidak karuan macamnya itu dibiarkan menggeletak begitu saja di dalam hutan itu. Tak seorang pun tahu betapa pada senja hari itu, dua orang penggembala kerbau yang menghalau kerbau mereka dan lewat di tempat itu, merasa terkejut sekali melihat mayat dua orang yang tak dikenalnya, akan tetapi dengan penuh hormat kedua anak penggembala itu lalu menggunakan golok pembabat rumput untuk menggali dua buah lobang di tanah dan mengubur kedua jenazah tadi.

******

Kita mengikuti pengalaman Yo Kwei Lan, nyonya Ma Gi yang dibawa pergi oleh komandan perwira ketika terjadi penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng.

Komandan itu adalah seorang muda bernama Gak Song Ki, seorang gagah perkasa yang memiliki ilmu silat tinggi, karena dia adalah murid Cin Sam Cu, tokoh besar dari Gobi-san. Ketika memimpin penyerbuan di rumah sastrawan Ma Eng dan melihat nyonya Ma Gi yang cantik jelita dan sedang hamil tua itu, timbul hati kasihan padanya dan sebelum nyonya itu menjadi korban senjata anak buahnya, ia lalu menyeret Yo Kwei Lan. Ketika nyonya Ma Eng yang hendak menolong mantunya itu dengan nekad menyerbu, ia lalu menendang nyonya tua itu yang akhirnya mati di bawah pukulan senjata para tentara yang kejam. Kwei Lan menjerit-jerit, akan tetapi dengan totokan pada jalan darah di lehernya, Gak Song Ki berhasil membuat Kwei Lan diam tak dapat mengeluarkan suara pula. Kemudian komandan itu lalu menaikkan Kwei Lan ke atas kudanya dan membawanya lari dari situ.

Kwei Lan merasa sedih dan bingung sehingga akhirnya ia jatuh pingsan di atas kuda, tidak tahu dibawa kemana oleh komandan itu. Ketika Kwei Lan membuka matanya, ia mendapatkan dirinya berada dalam sebuah kamar yang indah sekali dan seorang wanita tua sedang duduk menjaganya.

“Di mana aku.......... ? Mana suamiku.......? Mana ayah ibu.    ?” Kwei Lan berbisik perlahan dan ia

bangun duduk dengan bingung.

Wanita tua itu dengan lemah lembut lalu menyuruhnya berbaring kembali dan berkata dengan halus,

“Kau tidurlah saja, nak dan jangan banyak bergerak. Kau berada di rumahku, di rumah anakku dan jangan kau kuatirkan sesuatu”

Kwei Lan teringat akan semua yang telah terjadi dan ia menangis tersedu-sedu sambil menjatuhkan diri di atas bantal yang empuk.

“Siapakah kau ? Dan siapakah anakmu itu ? Ke mana perginya komandan keparat tadi ?”

“Tenanglah, nak. Dan jangan kau salah paham. Komandan itu adalah putera tunggalku dan aku adalah ibunya. Ia merasa kasihan kepadamu dan sengaja menolongmu dari bahaya maut.”

“Apa ? Ia menolongku ? Bangsat rendah ! Dialah yang mengepalai setan-setan itu membinasakan keluargaku,” teriak Kwei Lan dengan marah dan bangkit duduk lagi.

Nyonya itu tersenyum sabar. “Kau masih bingung dan sedih. Sudahlah, jangan kau bersedih dan ingat kepada kandunganmu. Puteraku hanya menjalankan tugas kewajibannya saja dan betul-betul karena kasihan kepadamu maka kau dapat dibawa ke sini dan terlepas dari bahaya maut.”

Kemudian dengan suara halus nyonya janda Gak ini menuturkan betapa puteranya merasa kasihan kepada Kwei Lan dan menawannya agar jangan sampai terjatuh dalam tangan para anak buahnya yang tentu akan membunuhnya pula. Dengan tangis memilukan, Kwei Lan mendengarkan ini semua dan ia menaruh kepercayaan, sungguhpun kesedihannya tidak berkurang karenanya. Ia hanya mengharapkan untuk berjumpa kembali dengan suaminya selekasnya.

Ketika Gak Song Ki datang, pemuda ini disertai ibunya menengok keadaan Kwei Lan dan sikapnya yang sopan dan halus membuat Kwei Lan tidak ragu-ragu lagi akan maksud baik perwira ini. Akan tetapi, melihat pandangan mata pemuda tampan itu mengandung perasaan hati yang mesra dan menyayang, timbul rasa malu yang besar dalam hati nyonya muda itu dan hal ini memperbesar pengharapannya untuk dapat segera bertemu kembali dengan suaminya dan selekasnya meninggalkan rumah gedung mewah dan indah ini.

“Toanio, harap kau tenang-tenang saja tinggal di rumah kami ini dan anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri. Kami takkan mengganggumu, dan kalau boleh anggap saja kami sebagai keluarga sendiri,” kata Gak Song Ki dengan ramah tamah hingga tentu saja Kwei Lan merasa makin malu dan sungkan, karena di dalam keramahan ini terkandung suara hati yang lebih mesra daripada keramahan biasa.

“Ciangkun, di manakah suamiku ? Kalau kau memang menaruh kasihan kepadaku dan bermaksud

menolongku, tak ada pertolongan yang lebih besar bagiku selain apabila kau dapat mempertemukan kami kembali.”

“Toanio, untuk apa kau memikirkan hal itu ? Suamimu terbawa-bawa oleh urusan mertuamu yang memberontak terhadap pemerintah, bahkan suamimu telah membunuh banyak sekali perwira-perwira kerajaan. Kau sebagai seorang wanita janganlah ikut-ikut memikirkan dan berdiamlah saja di sini dengan hati tentram.”

Wajah Kwei Lan yang cantik jelita dan pucat itu makin memucat mendengar ucapan ini dan hatinya berdebar-debar penuh kecemasan.

“Gak-ciangkun, katakanlah sebenarnya, bagaimana dengan suamiku ? Bagaimana nasibnya dan dimanakah dia berada ?”

Gak Song Ki menghela napas panjang berulang-ulang, dan ia nampak sukar sekali untuk membuka mulutnya. Akhirnya, sambil memandang tajam dan dengan suara lirih ia berkata, “Toanio, apakah yang harus ku katakan kepadamu ? Suamimu bersama Khu Tiong yang memberontak dan membunuh banyak sekali perwira itu telah terkurung di hutan dan akhirnya mati terbunuh.”

“Mati. ?” lemaslah seluruh tubuh Kwei Lan. Pandangan matanya menjadi suram dan tiba-tiba seluruh

isi kamar itu seakan-akan berputaran di depan matanya. Kemudian, dengan keluhan perlahan, nyonya muda ini terguling dari dari tempat tempat duduknya tak sadarkan diri. Untung sekali Gak Song Ki berlaku cepat dan memeluk tubuh itu sebelum Kwei Lan roboh dan kalau hal itu terjadi, akan membahayakan keselamatan kandungannya. Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Gak Song Ki lalu membaringkan tubuh yang lemas itu ke atas tempat tidur.

Ketika Kwei Lan siuman kembali, ia mendapatkan dirinya sudah terbaring di atas tempat tidur dan melihat bahwa pemuda perwira itu masih duduk di situ bersama ibunya, menjaganya dengan wajah nampak beriba hati. Nyonya muda itu lalu menangis sedih dan berkata dalam ratap hatinya,

“Suamiku telah binasa, demikian pula seluruh keluarga......apa artinya hidupku lagi. ? Lebih baik aku

mati saja ”

Setelah berkata demikian dan teringat akan keadaannya yang ditinggal seorang diri oleh orang-orang yang dicintainya, tiba-tiba sinar mata Kwei Lan menjadi beringas. Ia memandang kepada Gak Song Ki dan ibunya, lalu berkata dengan suara ketus,

“Kalian keluarlah dari kamar ini. Keluar !”

Nyonya tua ibu perwira itu, berdiri dan menhampiri serta membujuk, “Sabarlah, nak dan jangan kau bersedih. Tak baik bagi kesehatanmu, terutama bagi kandunganmu.”

“Sudahlah, tiada gunanya semua hiburan dan nasehat bagiku pada saat ini. Pergilah, pergilah kalian berdua dan biarkan aku seorang diri dalam kamar ini !” Kemudian ia menangis lagi terisak-isak.

Nyonya janda she Gak memandang kepada puteranya dan Gak Song Ki memberi tanda dan mengajak ibunya keluar dari kamar itu. Setelah kedua orang itu pergi, Kwei Lan lalu bergerak turun dari pembaringan dengan cepat dan matanya memandang ke seluruh kamar, mencari-cari. Ia hendak mencari benda tajam, pisau atau gunting untuk membunuh dirinya, akan tetapi di situ tidak terdapat sebuah pun benda tajam. Ia lalu memandang ke atas, juga mencari-cari dengan maksud menggantung diri. Akan tetapi, kembali ia kecewa karena rumah gedung itu mempunyai langit-langit yang tinggi sekali dan di situ tidak terlihat balok melintang yang cukup rendah untuk digunakan sebagai tempat sabuknya mengikat lehernya bergantung. Juga tempat tidur yang ditidurinya tadi mempunyai bentuk istimewa hingga tempat kelambunya pun kecil dan tidak cukup kuat untuk menahan gantungan tubuhnya. Hal ini membuat Kwei Lan menjadi bingung sekali dan akhirnya sambil memejamkan matanya, nyonya muda yang sudah berputus asa dan nekad ini lalu mengayun tubuh dan maju membenturkan kepalanya yang indah bentuknya itu kepada dinding di depannya. Akan tetapi, kembali maksudnya gagal, Sebelum kepalanya pecah membentur dinding, tubuhnya telah ditangkap dan dipeluk oleh Gak Song Ki yang sengaja berdiri dibalik daun pintu. Karena pemuda ini telah merasa curiga dan sengaja mengintai di situ. Kwei Lan meronta-ronta, akan tetapi ia tidak berdaya melepaskan diri dari pelukan kedua lengan yang amat kuat itu, akhirnya ia menjadi lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Toanio, mengapa kau mengambil keputusan pendek ? Berdosa besar untuk membunuh diri sendiri, seakan-akan kau tidak percaya kepada keadilan Thian lagi,” pemuda itu menghibur setelah meletakkan tubuh Kwei Lan dengan hati-hati di atas pembaringan pula.

“Keadilan Thian ? Ah, kalau Thian adil tidak nanti menjatuhkan malapetaka atas keluargaku mana

keadilan Thian ?” Suaranya amat memilukan.

“Jangan berkata demikian, toanio. Keluargamu tertimpa malapetaka bukan tidak ada sebabnya. Semua itu diakibatkan oleh kesalahan dan perbuatan mertuamu dan sahabatnya orang she Khu itu. Sudahlah, toanio, kau ingatlah. Kalau kau membunuh diri, bukankah berarti kau menjadi pembunuh anak yang kau kandung sendiri ? Dosamu makin besar lagi !”

Diingatkan akan hal ini, tangis Kwei Lan menjadi-jadi karena ia merasa terharu dan sedih sekali. Gak Song Ki yang cerdik itu maklum bahwa kata-katanya mengenai sasaran tepat, maka ia lalu menyambung pula,

“Apalagi membunuh diri, baru berduka saja kau telah mempengaruhi keadaan kandunganmu dan kau telah berdosa terhadap calon anakmu. Karena Thian menghendakinya dan kau telah berada seorang diri, hidup sebatang kara, maka janganlah kau menampik uluran tangan kami yang bermaksud baik. Anakmu yang akan terlahir di sini akan menjadi penghiburmu, maka jagalah dirimu baik-baik, toanio. Kalau kau tidak kasihan kepada diri sendiri, sedikitnya, taruhlah hati kasihan kepada anak yang kau kandung itu.”

Sambil mengguguk-guguk menangis, Kwei Lan memandang wajah pemuda she Gak itu dengan teraruh dan penuh pernyataan terima kasih, lalu ia berkata perlahan, “Terima kasih ciangkun terima kasih.

Hanya Thian yang akan membalas kebaikan budimu ini ”

“Tak usah berterima kasih, toanio. Jaga dirimu baik-baik dan berlakulah seperti keluarga kami sendiri. Rumah ini rumahmu juga dan segala macam keperluanmu, katakan saja kepada pelayan atau kepada ibu, jangan kau berlaku sungkan-sungkan !” Dengan gembira dan hati tetap Gak Song Ki mengundurkan diri, keluar dari kamar itu. Ia merasa lebih gembira dari pada kalau pulang membawa kemenangan berperang. Kemenangan kali ini membuat hatinya berdebar girang dan ia merasa bahagia sekali. Demikianlah pengaruh hati yang terserang asmara.

Semenjak saat itu, benar saja Kwei Lan menghibur-hibur dirinya sendiri dan tiap kali ia teringat akan kedukaan besar yang menimpa dirinya, ia lalu mengingat kepada anak yang dikandungnya dan yang merupakan sumber kekuatan bagi jiwa raganya. Apalagi sikap Gak Song Ki dan ibunya merupakan hiburan yang besar pula hingga tak lama kemudian ia dapat tersenyum kembali hingga ibu Gak Song Ki seringkali memandang wajah yang tersenyum itu dengan amat kagumnya karena memang jarang ia melihat orang secantik Kwei Lan.

Bagian 03. Kuil Thian Lok Si

Un Kong Sian melarikan kudanya cepat sekali oleh karena ia maklum bahwa tak lama lagi para perwira kerajaan tentu akan mengejar dan tak membiarkan seorang keluarga dari Khu Liok yang dianggap pemberontak itu melarikan diri. Baiknya semua pengejar belum melihat mukanya, karena kalau hal ini terjadi maka ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan ibunya yang berada di rumah seorang diri pula.

Ia tidak merasa kuatir akan keadaan ibunya sekarang, oleh karena ketika ayahnya masih hidup, Un Congtok adalah seorang panglima yang disegani karena gagah berani dan berjasa, sedangkan selain mempunyai rumah gedung sendiri, juga keadaan nyonya janda Un cukup kaya.

Setelah melarikan kuda belasan li jauhnya, tiupan angin membuat Ong Lin Hwa siuman kembali dari pingsannya, nyonya muda ini ketika merasa bahwa ia sedang berada di atas kuda yang dilarikan keras, dipeluk oleh Un Kong sian segera berseru,

“Berhenti dulu !” Un Kong Sian girang mendengar ini karena kalau nyonya ini tetap pingsan saja maka sukar baginya untuk dapat bergerak leluasa dalam menghadapi musuh. Segera ia menghentikan kudanya dan melompat turun. Juga Ong Lin Hwa melompat turun dengan air mata membasahi kedua pipinya. “Un-te, bagaimana dengan suamiku ?” tanya nyonya ini dengan suara tetap, oleh karena sebagai seorang berkepandaian tinggi dan bersemangat gagah, nyonya muda ini tidak lemah hatinya.

“Khu-soso, ketika siauwte membawa lari soso, Khu suheng kulihat berdiri lagi dan mengamuk dengan pedang di tangan, bersama Ma suheng. Mereka berdua itu gagah sekali, soso. Sebetulnya siauwte merasa iri kepada mereka dan menghendaki agar kau dapat pergi berdua dengan suamimu biar aku dan Ma suheng yang melayani musuh. Akan tetapi, apa mau dikata ”

Ong Lin Hwa menghela napas panjang, “Tuhan menghendaki demikian, Un-te (adik Un), dan aku tahu akan kebaikan hatimu. Namun, biar pun bagaimana juga, kegagahan suamiku dan Ma-te yang gugur dengan pedang di tangan dan anak panah di tubuh, banyak mengurangi kedukaanku. Kalau sampai suamiku tewas, biar kudidik calon anak yang masih kukandung ini untuk menjadi seorang gagah perkasa agar ia dapat membalaskan dendam ayahnya dan membunuh semua perwira kerajaan yang berhati buruk dan kejam.” Sambil berkata demikian, nyonya yang gagah itu berdiri sambil mengepalkan tinjunya dan kedua matanya yang jeli dan bagus itu berapi-api.

Di dalam hatinya, Un Kong Sian tidak setuju dengan maksud Lin Hwa yang hendak memusuhi semua perwira kerajaaan, karena ia maklum bahwa tidak semua perwira kerajaan berhati kejam dan jahat belaka, akan tetapi oleh karena ia tahu pula akan kedukaan wanita muda ini, maka tak baik untuk membantahnya disaat itu.

“Khu-soso, lebih baik kita cepat melakukan perjalanan karena aku kuatir kalau-kalau mereka akan mengejar ke sini. Biarpun mereka tertinggal jauh, namun kuda mereka lebih cepat larinya dan di antara mereka banyak terdapat orang-orang gagah yang sukar dilawan!”

“Aku tidak takut ! Biar aku mati diujung senjata mereka, aku tidak takut dan akan membasmi sebanyak mungkin perajurit kerajaan yang keparat itu !”

“Aku tahu, soso, tentu saja kau atau aku tidak takut mati di ujung senjata mereka, akan tetapi kalau kita melawan begitu saja hingga akhirnya kita berdua mati, bagaimana dengan cita-citamu yang tadi kau ucapkan ? Apakah anak dikandunganmu itupun tidak akan ikut binasa ?”

Pucatlah wajah Ong Lin Hwa mendengar ini, ia memandang ke arah kuda mereka dan berkata, “Kau benar, Un-te. Mari kita pergi cepat-cepat. Akan tetapi, kuda hanya ada seekor saja.”

“Tidak apa-apa, soso. Kau sajalah naik kuda, aku akan mengejar dari belakang!”

Ong Lin Hwa belum tahu betul sampai di mana ketinggian ilmu kepandaian pemuda ini yang sebetulnya tidak kalah dari suaminya sendiri, maka wanita muda ini meragukannya. Biarpun ia sendiri memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, namun apabila dibandingkan dengan suaminya atau dengan Un Kong Sian, ia masih kalah jauh.

Lin Hwa lalu naik di punggung kudanya dan melarikan kuda itu. Un Kong Sian lalu mengeluarkan ilmu kepandaian berlari cepat, sehingga cepat sekali ia melompat ke depan dan mengejar larinya kuda.

Ketika sudah melarikan kudanya untuk beberapa lama, Lin Hwa menengok dan alangkah heran dan kagumnya ketika melihat bahwa pemuda itu berlari cepat sekali di belakang kuda, nampaknya tidak sangat sukar untuk membarengi larinya kuda yang ditungganginya.

Beberapa lama mereka berlari dan tiba-tiba mereka mendengar suara banyak kaki kuda mengejar dari belakang.

“Benar saja, soso, mereka telah mengejar dari belakang, agaknya mereka telah mendapatkan jejak kita,” kata Un Kong Sian yang mempercepat larinya sehingga dapat berlari di samping kuda itu. “Habis, bagaimana baiknya, Un-te ?” jawab Lin Hwa dengan khawatir.

“Mari kita menuju kesana, soso, ke rimba itu !” Mereka lalu melarikan diri ke dalam hutan di sebelah kira jalan, Un Kong Sian minta supaya Lin Hwa turun dari kuda, kemudian mencambuk kuda itu sehingga berlari terus dengan cepat karena merasa sakit punggungnya dicambuk oleh pemuda itu. Sementara itu, Kong Sian lalu mengajak Lin Hwa berlari cepat dan bersembunyi di dalam rimba.

Tak lama kemudian, serombongan tentara pengejar yang dikepalai oleh seorang perwira tua mendatangi dari belakang.

“Hm, Can-ciangkun sendiri yang melakukan pengejaran,” kata Un Kong Sian terkejut. Juga Lin Hwa terkejut karena pernah mendengar nama ini sebagai seorang perwira yang berilmu tinggi dan gagah sekali. Can-ciangkun yang mengejar ini adalah seorang perwira berpangkat congtok dan yang telah menjadi panglima perang karena kegagahannya. Ia ahli bermain silat dengan tombak bercagak dan biarpun usianya telah lebih dari empat puluh tahun, namun tenaganya masih besar dan lihai.

Ketika rombongan itu lewat di dekat rimba, mereka tidak berhenti dan mengejar terus, karena kuda yang tadi ditunggangi Lin Hwa masih berlari terus dan terdengar suara kakinya dari situ. Un Kong Sian dan Lin Hwa yang bersembunyi di dalam rumpun alang-alang dan mengintai keluar, merasa lega melihat rombongan yang terdiri lebih dari dua puluh orang itu melewat dengan cepat tanpa menyangka bahwa orang-orang yang mereka kejar berada di dalam rimba itu.

“Mari, soso, kalau kuda kita tersusul, mereka mungkin akan kembali dan mencari di sini !” kata Un Kong Sian yang biarpun masih muda, namun pemandangannya luas dan pikirannya cerdas. Lin Hwa menurut saja, karena selain kalah pengalaman, nyonya muda inipun lebih muda usianya dari pada Un Kong Sian hingga biarpun pemuda ini menjadi adik seperguruan suaminya dan ia menyebutnya Un-te (adik Un), namun ia tidak merasa lebih tua atau lebih pandai. Apalagi ketika tadi ia menyaksikan betapa cepat lari pemuda ini hingga dapat diduga bahwa ilmu kepandaian pemuda inipun tentu jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.

“Nanti dulu, Un-te. Kita telan ini dulu agar kelelahan kita berkurang,” kata Lin Hwa sambil mengeluarkan beberapa butir pel merah dari saku bajunya.

Kong Sian maklum bahwa nyonya ini adalah seorang puteri tukang obat yang ternama sekali ketika masih hidup, maka tentu saja Lin Hwa juga ahli dalam hal pengobatan. Akan tetapi karena melihat bahwa pel yang dibawa oleh Lin Hwa itu tidak banyak, maka ia berkata, “Perlu sekali bagimu, soso, akan tetapi aku sendiri belum lelah. Jangan kita pergunakan benda berharga ini dengan sia-sia.” Lin Hwa mengangguk, dan setelah menelan dua butir pel merah itu yang amat perlu bagi tubuhnya,

mereka berdua lalu berlari cepat ke dalam hutan. Dapat dibayangkan betapa sengsara keadaan mereka berdua ini, apalagi karena kandungan Lin Hwa sudah delapan bulan sehingga tak dapat diduga berapa hari atau berapa pekan lagi ia akan melahirkan. Hutan itu liar dan penuh jurang-jurang curam sehingga perjalanan itu sungguh-sungguh sukar dan melelahkan. Terpaksa Kong Sian mengajak Lin Hwa berkali- kali mengaso untuk menjaga agar supaya nyonya muda itu tidak terlampau lelah. Lin Hwa maklum akan hal ini dan ia makin berterima kasih kepada pemuda yang selain gagah, juga baik hati dan bijaksana sekali itu.

Malam itu mereka terpaksa bermalam di dalam hutan yang gelap dan dengan cekatan sekali Kong Sian melompat kepohon-pohon untuk mencari buah-buahan yang enak dimakan. Mereka tidak berani menyalakan api karena takut kalau-kalau ada pengejar yang berada di dalam hutan itu, sehingga mereka harus menderita dari serangan beratus nyamuk yang kecil-kecil akan tetapi amat jahat dan gigitannya panas. Kong Sian mempergunakan mantelnya untuk diobat-abitkan mengusir nyamuk- nyamuk itu.

“Un-te, percuma saja kalau diusir dengan cara demikian. Kau carilah air sebelum keadaan terlalu gelap, kata Lin Hwa. Un Kong Sian lalu pergi mencari air dan akhirnya ia mendapatkan anak sungai mengalir di dalam rimba itu. Ia mempergunakan daun-daun yang lebar untuk membawa air itu dan memberikannya kepada Lin Hwa yang mengeluarkan sebungkus bubuk obat putih.

“Ini adalah bubuk penolak racun dan selalu kubawa untuk menjaga senjata beracun atau gigitan binatang berbisa,” katanya.

Kemudian Lin Hwa mencampur obat bubuk itu dengan air lalu membalurkan obat itu keseluruh kulit tubuh yang tidak tertutup pakaian seperti muka, tangan dan kaki. Kong Sian tidak berani melukai perasaan Lin Hwa, juga meniru perbuatan nyonya muda itu dengan merasa tidak enak sekali karena pada pikirnya sungguh gila harus memarami tubuh dengan air pada saat hawa udara sedingin itu.

Akan tetapi setelah air yang menempel kulit menjadi kering dan ketika ia diamkan saja nyamuk-nyamuk yang menempel pada kulit muka dan tangannya, dengan heran sekali ia melihat dan mendengar betapa nyamuk-nyamuk itu terbang pergi dan bahkan ada yang jatuh seperti mati pada saat menempel dikulit muka atau tangannya.

“Aduh, hebat sekali obatmu ini, soso. Nyamuk-nyamuk pada mampus begitu menempel pada kulitku, seakan-akan kulitku menjadi berbisa,” katanya memuji.

Di dalam gelap ia tidak melihat betapa wajah wanita itu berseri mendengar pujiannya, akan tetapi lin Hwa hanya berkata sederhana,

“Hal itu tak perlu diherankan. Sekarang yang penting kita dapat tidur nyenyak agar besok pagi dapat melanjutkan perjalanan.”

Perjalanan ? Kemana ? Demikan Un Kong Sian berpikir bingung, walaupun mulutnya tidak berkata apa- apa. Ia merasa bahwa kini nyonya ini tentu telah menjadi janda dan sebatangkara karena ia tidak dapat meragukan akan nasib kedua suhengnya itu. Ia harus melindungi dan membela nyonya Khu ini karena selain dia sendiri, siapa lagi yang akan melindunginya ? Akan tetapi, kemana ia harus membawa Lin Hwa ? Pulang ke rumahnya tidak mungkin karena tentu para kaki tangan kaisar akan dapat mengetahuinya dan hal ini amat berbahaya. Tiba-tiba ia teringat kepada suhunya di Kunlun-san.

Membawa Lin Hwa ke pegunungan Kunlun ? Lebih tak mungkin lagi, karena perjalanan ke Kunlun-san sedikitnya makan waktu berbulan-bulan, sedangkan kandungan Lin Hwa telah mendekati kelahiran.

Habis, apa dayanya ? Un Kong Sian merasa bingung sekali dan selagi ia hendak membuka mulut mengajak Lin Hwa berunding, ia mendengar tarikan napas yang halus dan lambat, tanda bahwa wanita itu telah tidur. Maka ia urungkan maksudnya dan menyandarkan tubuh pada sebatang pohon. Dengan lindungan obat istimewa yang membuatnya kebal terhadap gangguan nyamuk, tak lama kemudian Kong Sian juga tertidur karena ia memang telah lelah sekali.

Pada keesokan harinya, baru saja mereka berdua terjaga dari tidur, mereka telah mendengar suara orang-orang di dalam hutan itu. Mereka serentak berdiri dan Un Kong Sian lalu berkata,

“Ah, mereka itu agaknya tidak tidur semalam karena gangguan nyamuk sehingga pagi-pagi benar telah mengejar kita.”

Keduanya lalu lari terus menuju ke barat dan tak lama kemudian mereka mendengar suara yang amat keras, “Hai, pemberontak-pemberontak. Menyerahlah dengan baik-baik agar kami tak usah mempergunakan tangan kejam!”

Kong Sian dan Lin Hwa terkejut karena thu bahwa suara ini digerakkan oleh tenaga khi-kang sehingga dapat terdengar jauh dan gemanya memenuhi hutan.

“Itu suara Can Kok lagi yang mengejar,” kata Kong Sian sambil mengajak kawannya berlari lebih cepat lagi. Tak lama kemudian mereka telah keluar dari rimba itu dan kini mereka berlari cepat di sepanjang sawah ladang tanda bahwa di dekat situ terdapat desa-desa tempat tinggal kaum tani yang mengerjakan sawah ladang itu. “Cepat, soso, ditempat terbuka ini kita mudah sekali kelihatan oleh musuh !”

Benar saja, setelah mereka berlari agak jauh dan telah mendekati sebuah dusun, dari dalam rimba keluarlah Can Kok diikuti oleh beberapa orang perwira yang berlari cepat sekali.

“Cepat masuk ke dusun ini !”, kata Kong Sian dengan khawatir karena ia maklum bahwa Lin Hwa tidak begitu tinggi ilmu lari cepatnya, apalagi karena kandungannya yang telah tua itu tidak memungkinkan ia berlari cepat.

Jarak antara mereka dengan para pengejar tidak jauh lagi dan ketika melihat sebuah kuil besar ditengah dusun itu, tanpa ragu-ragu lagi Kong Sian lalu memegang tangan Lin Hwa dan mengajak nyonya muda itu masuk ke dalam kelenteng.

Kelenteng ini adalah sebuash kelenteng besar yang bernama Kuil Thian-Lok-Si atau Kuil Kebahagiaan Surga. Kuil ini selain besar dan megah, juga didiami puluhan orang Hwesio (pendeta agama Buddha berkepala gundul). Ketika Kong Sian dan Lin Hwa memasuki kuil itu, para pendeta sedang berkumpul di ruang sembahyang dan sedang melakukan ibadat pagi, berkumpul dan bersembahyang bersama, kecuali beberapa orang hwesio yang bertugas, seperti mereka yang bertugas membersihkan halaman, masak, dan pekerjaan-pekerjaan lain lagi.

Seorang hwesio tukang sapu di ruang depan melihat dan menyambut kedatangan mereka dengan heran,

“Apakah jiwi (kalian berdua) hendak bersembahyang ? Masih terlalu pagi,” katanya.

“Suhu (anggilan untuk pendeta), tolonglah kami berdua yang dikejar-kejar oleh para perwira kerajaan . Demi nama Buddha yang mulia dan demi prikemanusiaan, biarkan kami bersembunyi di kuil ini,” kata Kong Sian.

Hwesio yang belum tua benar usianya itu memandang dengan ragu-ragu, akan tetapi ketika melihat perut Lin Hwa yang besar, ia lalu menyebut nama Buddha dan segera membawa mereka ke ruang belakang.

“Kalian harus menyamar sebagai hwesio,” katanya tergesa-gesa. “Telah pinceng dengar tentang kekejaman para perwira kerajaan. Akan tetapi sayang sekali, bagaimana dengan rambut jiwi ?” Kong Sian berpikir cepat, lalu mencabut pedangnya sambil memandang kepada Lin Hwa, “Soso,

beranikah kau mengorbankan rambutmu yang indah itu ?” Ia terlanjur mengucapkan kata-kata “indah” itu yang tak disengaja terloncat keluar dari mulutnya.

Untuk sejenak Lin Hwa memandang dengan muka pucat, akan tetapi dengan gagah ia lalu berkata, “Un-te jangan ragu-ragu, potonglah rambutku !” Dengan hati terharu Un Kong Sian lalu menggunakan pedangnya yang tajam untuk mencukur rambut kepala Lin Hwa yang meramkan matanya karena tidak tahan melihat betapa rambutnya yang hitam dan panjang itu tercukur habis dan jatuh ke atas lantai.

Hwesio itupun dengan cepat lalu mencukur gundul kepala Un Kong Sian. Setelah kedua orang muda itu kepalanya menjadi gundul dan bersih, hwesio tadi cepat membawa pergi rambut yang memenuhi lantai, dan mengeluarkan dua stel pakaian hwesio.

Untung sekali bahwa pakaian hwesio memang biasanya longgar dan besar hingga ketika Lin Hwa mengenakan pakaian ini, perutnya yang besar tertutup dan ia nampak sebagai seorang hwesio muda yang tampan sekali. Juga Kong Sian berubah menjadi seorang hwesio tulen hingga tanpa dapat tertahan pula, Lin Hwa memandangnya sambil tertawa geli.

“Mukamu terlalu halus dan merah,’ kata Kong Sian yang menatap wajah Lin Hwa dengan penuh perhatian. Wajah Lin Hwa memerah karena kata-kata ini walaupun sesungguhnya diucapkan karena kuatir hal ini menimbulkan kecurigaan para pengejar, akan tetapi juga dapat diartikan sebagai pujian akan kecantikannya. Nyonya muda ini memang pandai sekali dalam hal pengobatan dan penyamaran. Ia lalu minta arang dan setelah mencampur arang itu dengan tanah, ia membuat semacam bedak dan menggosok-gosok dengan bedak istimewa ini. Dan benar-benar hebat, karena kini mukanya berubah sama sekali dan kulit muka yang tadinya halus dan putih kemerahan serta tampak segar itu, kini menjadi gelap kehitam-hitaman dan kasar.

Kemudian, kedua hwesio istimewa ini lalu diantar oleh hwesio yang menyapu dan menolong mereka tadi ke ruang sembahyang di mana mereka ikut berlutut dan meniru-niru gerakan bibir hwesio lain yang sedang berkomat-kamit membaca doa.

Dan pada saat itu, setelah mencari di seluruh dusun dan tidak menemukan dua orang buruan mereka, para pengejar yang dikepalai oleh Can Kok, panglima yang kosen itu, masuk ke dalam kuil Thian-Lok- Si. Tadinya memang mereka tidak menduga bahwa kedua orang buruan itu berani memasuki kuil, akan tetapi oleh karena di seluruh dusun tidak tidak terdapat orang-orang yang mereka cari, akhirnya mereka lalu masuk ke dalam kuil. Kedatangan mereka ini disertai kutuk dan caci maki, dan sikap mereka yang kasar ini dan tidak mengindahkan kesucian kuil, membuat para pendeta menjadi marah dan mendongkol. Akan tetapi, mereka bersabar dan tidak mencari penyakit dengan memusuhi perwira=perwira yang terkenal sewenang-wenang dan kejam itu.

Melihat bahwa yang datang adalah serombongan perwira dari kota raja, maka kepala hwesio sendiri maju untuk menyambut setelah upacara sembahyang selesai. Kepala hwesio di kuil Thian-Lok-Si ini adalah seorang hwesio tua bernama Pek Seng Hwesio. Biarpun usianya telah lima puluh tahun lebih, akan tetapi wajahnya masih segar dan kemerah-merahan. Kepalanya gundul dan licin seakan-akan selama hidupnya tak pernah ditumbuhi rambut. Tubuhnya tinggi kurus dan sepasang matanya yang sipit itu nampak lemah lembut akan tetapi bersinar tajam sekali. Dengan sikap tenang, Pek Seng Hwesio menyambut kedatangan para perwira yang bersikap kasar itu dengan tubuh membungkuk sedikit dan kedua tangan terangkat ke dada sebagai penghormatan yang dilakukan kepada siapa saja yang bertemu dengannya.

“Cuwi ciangkun, selamat datang dan bolehkah pinceng ketahui maksud kunjungan yang terhormat ini ?” Can Kok yang lebih halus sikapnya dari pada semua anak buahnya, lalu melangkah maju dan membalas penghormatan kepala hwesio itu.

“Losuhu, tadi ada dua orang buruan yang berlari masuk ke dalam kuil ini. Kami datang hendak menangkap dua orang itu dan hendaknya diketahui bahwa ini adalah perintah dari kaisar sendiri yang tak boleh dilanggar oleh siapa juga.”

“Dua orang buruan ?” tanya Pek Seng Hwesio dengan muka heran, “Pinceng tidak tahu sama sekali. Siapakah orang-orang buruan itu ?”

“Mereka adalah seorang wanita muda dan seorang laki-laki kawannya. Mereka itu adalah pemberontak- pemberontak keluarga pemberontak Khu Liok yang telah dihukum. Kalau Losuhu membantu kami menangkap dua orang pemberontak besar itu, tentu kuil ini akan mendapat anugerah dari kaisar.” “Pinceng tidak melihat mereka,” kata Pek Seng Hwesio dengan suara bersungguh-sungguh, karena ia memang benar-benar tidak pernah melihat Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa karena ketika kedua orang muda itu tadi masuk, ia sedang memimpin persembahyangan di ruang sembahyang.

Can Kok memandang tajam dan agaknya ia tidak percaya ucapan itu. “Benar-benarkah losuhu tidak melihatnya ?”

Pek Seng Hwesio hanya menggelengkan kepala dengan perasaan tidak puas melihat bahwa ada orang yang meragukan kata-katanya.

“Kami akan memeriksa kuil ini !” tiba-tiba Can kok berkata keras. Pek Seng Hwesio tersenyum, “silahkan, ciangkun.”

Can Kok menyebar anak buahnya dan pemeriksaan dimulai dengan kasar oleh para anak buah panglima itu. Mereka memeriksa dan mencari dengan teliti sekali hingga semua kamar dimasukinya, akan tetapi bayangan kedua orang yang dicarinya itu tidak kelihatan. Dengan penasaran sekali Can Kok mengulur tangan hendak menarik tirai sutera yang menutup meja toapekong yang besar. Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara keras dan nyaring,

“Jangan lakukan kelancangan itu !” Ini adalah suara Pek Seng Hwesio dan terdengar demikian berpengaruh hingga Can Kok menarik kembali tangannya.

“Mengapa losuhu ? Bagaimana kalau dua orang buruan itu bersembunyi di situ ?”

“Tak mungkin, pinceng yang menanggung bahwa tidak ada orang dapat bersembunyi di tempat itu. Janganlah ciangkun mengotori tempat yang suci ini.”

“Apa ? Tanganku kotor ? Ha, ha, ha ! Tidak lebih kotor daripada meja yang penuh debu dupa ini,” katanya dan ia mengulur tangan lagi hendak menarik tirai itu. Akan tetapi, tiba-tiba seorang hwesio yang berwajah bopeng dan bertubuh bongkok, melompat dan menarik tangannya.

“Jangan mengacau di sini ! Siapapun juga tanpa perkenan Pek Seng Suhu, tidak boleh menjamah tirai ini !” katanya dengan suara keras dan kedua matanya yang bundar dan lebar itu melotot marah.

Can Kok terkejut sekali karena ketika tangan hwesio buruk ini menarik tangannya, ia merasa tenaga yang besar sekali keluar dari tangan itu hingga terpaksa ia tidak dapat menjamah tirai itu. Tentu saja perwira ini marah sekali dan sambil bertolak pinggang dengan tangan kiri ia membentak,

“Kau ini hwesio kurang ajar ! Tidak tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa ?”

Hwesio yang bermuka bopeng dan hitam itu tertawa bergelak dan berkata dengan suaranya yang parau, “Dengan siapa ? Ha, ha, ha ! Pinceng tidak tahu akan perbedaan pangkat dan pakaian, akan tetapi yang sudah terang bahwa pinceng berhadapan dengan seorang yang kasar, dan terutama sekali membanggakan sedikit kepandaian yang dimilikinya.”

“Hwesio bangsat ! Buka matamu lebar-lebar. Aku adalah seorang panglima kerajaan berpangkat congtok, dan aku si Tombak Dewa Can Kok bukanlah seorang yang biasa suka menerima hinaan dari seorang hwesio hina dina macam kau !” Can Kok marah sekali hingga seluruh mukannya menjadi merah karena ia telah dihina oleh seorang hwesio biasa di depan semua anak buahnya yang telah melakukan pemeriksaan tanpa berhasil lalu mengelilingi komandannya yang hendak memberi hajaran kepada hwesio kurang ajar itu. Mereka merasa tertarik karena tadinya mereka ini merasa jengkel dan penasaran karena usaha mereka untuk menangkap kedua orang buruan itu gagal, dan mereka telah dapat membayangkan betapa Can Kok pasti akan menghajar hwesio buruk itu sampai berteriak-teriak minta ampun.

Akan tetapi, melihat kemarahan Can Kok, hwesio bermuka hitam itu tidak merasa gentar sedikitpun, bahkan lalu menjawab sambil tertawa. “Bukan kami yang menghina, akan tetapi kaulah yang mulai mencari perkara. Kalian ini datang mencari orang, setelah tak bertemu, seharusnya segera pergi agar jangan mengganggu kami dan jangan mengotori tempat suci ini dengan kekasaran-kekasaran. Akan tetapi kalian bahkan hendak menodai tempat suci. Ketahuilah, orang sombong, jangankan baru kau yang hanya berpangkat congtok saja, bahkan kaisar sendiri tak boleh menghina tempat suci.” “Bangsat sombong, rasai kepalanku !” bentak Can Kok yang segera menyerang dengan gerakan istimewa, yakni tangan kanan memukul kepala dengan tipu Thai-san-ap-teng atau Gunung Besar Menimpa Kepala sedangkan tangan kiri menggunakan gerakan Eng-jiauw-kang atau Cengkeraman Kuku Garuda yang menyerang ke arah lambung hwesio itu. Jangankan kedua serangan ini mengenai sasaran, baru salah satu saja kalau mengenai sasaran dengan tepat, cukup membuat orang yang diserang mati seketika.

Melihat serangan yang berbahaya dan disertai tenaga iweekang yang kuat ini, baik Un Kong Sian maupun Lin Hwa yang berdiri di antara puluhan orang hwesio yang berada di sekitar tempat itu menonton, menjadi terkejut dan cemas sekali. Akan tetapi, Pek Seng Hwesio bahkan tersenyum dan berkata,

“Lo-koai (setan tua), jangan kau celakakan dia !”

Hwesio muka hitam itu dengan tertawa geli lalu mengulurkan tangan ke arah cengkeraman lawannya, sedangkan pukulan yang mengarah kepalanya yang gundul pelontos itu tidak dihiraukannya sama sekali. Dua hal yang aneh sekali terjadi pada saat bersamaan. Ketika pukulan Can Kok tiba di kepala yang licin itu, tiba-tiba kepalan tangannya meleset, seakan-akan kepala itu terbuat dari pada baja yang dilumuri minyak, demikian keras dan licinnya. Sedangkan tangan Can Kok yang mencengkeram lambung, begitu kena ditangkap, lalu hwesio itu berseru keras dan tahu-tahu tubuh Can Kok telah dilempar ke atas dan jatuh bergedebukan di atas tanah, kira-kira tiga tombak jauhnya dari tempat itu. Tentu saja hal ini mengejutkan para perwira itu, juga mendatangkan rasa terkejut dan heran pada kedua orang muda yang menyamar menjadi hwesio. Sedangkan Can Kok yang biarpun tidak menderita luka berat, hanya merasa pusing saja, menjadi marah dan malu. Dia tidak tahu ilmu apa yang membuat kepala hwesio itu demikian keras dan licin dan tidak tahu pula gerak tipu apa yang digunakan oleh hwesio itu untuk melemparkannya ke udara. Dengan mengeluarkan seruan keras, Can Kok lalu menyambar tombak cagaknya yang dibawa oleh seorang pembantunya. Ia putar-putar tombak yang telah memberi julukan si Tombak Dewa kepadanyaitu, sambil berkata, “Hendak kulihat apakah kepalamu yang gundul itu cukup keras untuk menahan tombakku.” Lalu ia menyerang dengan hebatnya.

Can Kok memang lihai sekali bermain tombak bercagak yang disebut kong-ce. Permainannya berdasarkan ilmu tombak dari Butong-pai yang sudah banyak dirobah dan disesuaikan dengan keadaan kong-ce itu dan ujung kong-ce itu mempunyai ujung tiga bergerak-gerak menjadi puluhan ketika ia memutar-mutar dan menyerang dengan ganasnya ke arah hwesio muka hitam yang masih berdiri dan tertawa ha, ha, hi, hi itu.

Ketika kong-ce itu menusuk ke arah perutnya yang gendut, hwesio itu tiba-tiba saja menarik perutnya sehingga mengempis, bahkan seakan-akan perut itu pindah ke belakang tubuhnya hingga ujung kong- ce tidak mengenai sasaran.Dipermainkan secara menghina ini, Can Kok lalu mengamuk hebat dan tujuan semua serangannya ialah membunuh lawan ini.

Sekali lagi terdengar suara Pek Seng Hwesio, “Lo-koai, jangan kau celakai dia !”

“Tidak suhu, jangan kuatir. Untuk merobohkan cacing tanah ini, tak perlu membunuhnya,” jawab si hweaio muka hitam sambil mengelak ke sana ke mari dengan cepatnya hingga diam-diam Un Kong Sian kagum sekali melihat kehebatan ilmu ginkang ini. Gerak-gerik hwesio ini mengingatkan dia akan seorang tosu sahabat baik suhunya yang dalam pengembaraannya seringkali mampir di Kunlun-san, karena tosu itu pernah mendemonstrasikan ilmu silatnya atas permintaan suhunya untuk menambah pengertian anak murid Kunlun-pai dan gerakan-gerakan serta kegesitan tosu itu hampir sama dengan hwesio muka hitam ini.

Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Can Kok dengan kong-cenya, hanya diganda ketawa sambil bergerak ke sana ke mari oleh hwesio itu. Setelah Can Kok menyerang lebih dari empat puluh jurus dan mulai merasa pening karena dipermainkan, tiba-tiba hwesio itu berseru keras dan sekali ia menangkap dan membetot, tubuh Can Kok terpelanting ke kiri dan roboh mencium tanah sedangkan kong-ce itu telah pindah tangan. Sambil menjura dengan penuh hormat, hwesio muka hitam itu lalu menyerahkan kong-ce tadi kepada Pek seng Hwesio yang menerima sambil memuji, “Bagus, lo-koai!” Can Kok merayap bangun dan semua anak buahnya yang berjumlah seluruhnya dua puluh tiga orang itu, dengan senjata di tangan segera maju dan hendak menyerang. Akan tetapi, tiba-tiba mereka mendengar suara senjata di belakang mereka dan ketika mereka menengok, ternyata lebih dari empat puluh orang hwesio telah berbaris rapi dengan senjata golok besar di tangan dan sikap mereka yang tenang itu mendirikan bulu tengkuk para anak buah Can Kok.

“Cuwi, janganlah menggunakan kekerasan !” kata Pek Seng Hwesio dengan suara tenang akan tetapi berpengaruh. “Apakah salah kami maka cuwi hendak memusuhi kami ? Cuwi sedang bertugas mencari dua orang buruan, akan tetapi buruan tidak tertangkap bahkan sebaliknya mengotori tempat suci. Kalau hal ini terdengar oleh kaisar, bukankah cuwi akan mengalami hal yang tidak enak sekali ? Ciangkun, terimalah kembali senjatamu ini dan bawalah kawan-kawanmu pergi dari sini !”

Sambil berkata demikian, Pek Seng Hwesio menyerahkan kembali kong-ce itu kepada Can Kok dan ketika ia menyerahkan senjata itu ia angsurkan gagangnya kepada Can-ciangkun sedangkan ia sendiri memegang ujung kong-ce yang runcing. Terpaksa Can Kok menerima senjatanya dan tanpa banyak cakaplagi ia lalu memimpin anak buahnya keluar dari kuil Thian-lok-si yang besar itu. Ketika ia telah tiba di luar dusun, barulah dengan terkejut sekali ia melihat betapa ketiga ujung kong-cenya yang tajam itu telah patah-patah semua. Ia teringat bahwa tadi ketika memberikan senjata ini, kepala hwesio yang alim dan lemah lembut itu memegang ujung kong-ce, maka mengingat betapa hebatnya tenaga hwesio tua yang baru memegang saja sudah dapat mematahkan ketiga ujung senjatanya yang kuat dan tajam, maka dapat diukur betapa tinggi pula ilmu kepandaiannya. Diam-diam Can Kok merasa untung bahwa hwesio-hwesio itu tidak bermaksud mencelakakannya, maka ia mengambil keputusan untuk berdiam dan tidak menceritakan hal memalukan itu kepada orang lain.

Sementara itu, setelah para pengejar itu pergi jauh, serta merta Un Kong Sian dan Ong Lin Hwa menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Seng Hwesio.

Bukan main herannya pendeta tua ini melihat dua orang “hwesio” muda tiba-tiba berlutut di depannya, bahkan “hwesio” yang seorang lagi menangis dengan suara wanita. Ia mengangguk maklum dan tahu bahwa inilah dua orang buruan yang dikejar-kejar oleh Can Kok dan anak buahnya.

“Siapa yang menolong mereka ini ?” tanya Pek Seng Hwesio sambil memandang ke arah semua hwesio yang berdiri di situ dengan sikap tenang.

Hwesio tukang sapu yang tadi menolong mereka, lalu maju dan menjatuhkan diri berlutut di belakang Kong Sian. “Teecu yang menolong mereka karena teecu tidak tega melihat keadaan toanio yang sedang mengandung ini.”

Pek Seng Hwesio menghela napas panjang dan mengangguk-angguk ketika mendengar bahwa wanita yang telah berubah menjadi hwesio gundul itu sedang mengandung.

“Suhu yang mulia, teecu berdua menyerahkan keselamatan jiwa raga di tangan suhu. Kalau suhu menghendaki kami ditangkap dan dihukum mati, terserah, kami takkan melawan karena teecu berdua maklum bahwa melawan suhu sekalian takkan ada gunanya,” kata Un Kong Sian.

“Hm, anak muda, kau berani dan tabah sekali. Siapakah kau dan siapa pula toanio ini ?” tanya Pek Seng Hwesio.

“Teecu hanyalah seorang kawan atau saudara yang membela kawan ini, dan dia ini adalah isteri suheng yang bernama Khu Tiong. Mungkin suhu pernah mendengar nama Khu Liok sastrawan tua itu, Nah, dia ini adalah anak mantunya.”

Mendengar nama Khu Liok disebut oleh anak muda itu, wajah Pek Seng Hwesio nampak terkejut dan sikapnya berubah sungguh-sungguh. Ia lalu mengajak masuk kedua orang muda itu ke ruang dalam dan berkata,

“Pinceng sudah mendengar tentang sastrawan tua yang luar biasa itu dan pinceng sudah membaca pula tulisannya yang berjudul TUHAN TELAH SALAH PILIH. Tadinya pinceng tidak sudi membaca tulisan yang berjudul seperti itu, tidak tahunya ketika pinceng membacanya, isinya penuh dengan sifat- sifat prikemanusiaan dan keadilan yang membuat pinceng sampai mengeluarkan air mata karena teraruh. Sastrawan she Khu itu benar-benar telah membuka mata dan melukiskan keadaan rakyat jelata yang amat menderita dan secara menyindir menyatakan betapa dengan pengangkatan seorang kaisar yang tidak tahu akan keadaan rakyatnya maka seakan-akan Thian telah salah pilih, yakni salah memilih kaisar.”

Dengan penuh semangat dan bergembira, pendeta tua itu membicarakan isi tulisan Khu Liok sehingga Un Kong Sian dan Lin Hwa merasa girang karena hal ini membuktikan bahwa tulisan orang tua itu benar-benar meresap di kalangan rakyat sampai ke pendeta-pendetanya dan bahwa pendeta ini berada di pihak mereka. Kemudian Pek Seng Hwesio lalu bertanya tentang pengalaman mereka. Ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga Khu dan Ma mengalami bencana hebat dan menemui maut secara mengerikan, ia menyebut berulang-ulang,

“Omitohud Kejam, sungguh kejam. Kalau begitu, jiwi harus segera mencari tempat yang aman. Bagi

kau, sicu, lebih mudah untuk menghindari diri dari ancaman mereka karena selain kau seorang pria, juga kau memiliki ilmu silat yang cukup baik. Akan tetapi bagi toanio ini. ” Pek Seng Hwesio

memutar-mutar otaknya. Untuk menempatkan wanita muda ini di kuil Thian-lok-si adalah hal yang tidak mungkin sama sekali oleh karena di sebuah kelenteng hwesio, mana bisa ditempatkan seorang wanita muda yang cantik dan yang sedang hami pula ?

“Toanio telah mengandung tua, maka perlu sekali mendapat tempat yang tepat, hingga sewaktu-waktu melahirkan, tidak mengalami kesukaran. Pinceng mempunyai seorang kenalan baik di Kwi-ciu, yakni Lan-lan Nikouw yang mengepalai sebuah kuil wanita di kota itu. Lebih baik sicu ajak toanio ke Kwi-ciu yang tak berapa jauh letaknya dari sini sambil membawa sepucuk surat dari pinceng, Lan-lan Nikouw tentu akan suka menerima dan menolong toanio hingga sementara waktu dapat tinggal dan bersembunyi di sana sampai saat melahirkan tiba. Adapun bagi sicusendiri, tentu saja tidak bisa tinggal di sana dan pinceng rasa mudah bagi sicu untuk mencari tempat berlindung,” kata pula hwesio tua itu kepada Un Kong Sian.

“Terima kasih banyak, suhu. Sekarang juga teecu hendak membawa soso ke sana. Bagi teecu sendiri tidak ada bahaya sesuatu oleh karena menurut rasa teecu, para perwira itu tidak ada yang melihat teecu hingga setelah teecu dapat mencarikan tempat aman bagi soso, teecu dapat kembali ke kota raja dengan aman.”

Demikanlah, setelah keduanya menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada hwesio tukang sapu yang telah menolong mereka, Kong Sian dan Lin Hwa segera meninggalkan kelenteng Thian-lok-si dan menuju ke Kwi-ciu. Mereka masih menyamar sebagai dua orang hwesio yang melakukan perantauan. Oleh karena pada waktu itu memang banyak terlihat hwesio-hwesio atau tokouw-tokouw dan tosu-tosu melakukan perantauan, maka kedua orang hwesio muda yang tampan initidak banyak menarik perhatian orang dan mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman tanpa mendapat gangguan.

Bahkan para orang jahat dan perampok tidak mau mengganggu mereka, oleh karena selain mereka segan mengganggu “orang-orang suci”, juga mereka tahu bahwa dalam saku baju hwesio yang lebar itu takkan terdapat sesuatu yang berharga.

Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Kwi-ciu dan mudah saja mereka mencari kuil nikouw (pendeta wanita penganut agama Buddha). Yang bernama Thian-an-tang. Kepala pendeta di situ yang bernama Lan-lan Nikouw ternyata adalah seorang nikouw tua yang amat ramah tamah dan yang menerima mereka dengan hati terharu setelah membaca surat pek Seng Hwesio dan mendengar pengalaman mereka. Ia menyatakan kerelaan hatinya untuk menerima Lin Hwa dengan ucapan halus,

“Tentu saja toanio boleh tinggal di sini dan biarlah dia menyamar sebagai nikouw dan menanti kelahiran bayinya di kelenteng kami.” Lin Hwa sambil berlutut menghaturkan terima kasih, sedangkan Kong Sian setelah berpamit dan meninggalkan pesan agar Lin Hwa menjaga diri dengan hati-hati, lalu meninggalkan tempat itu dan kembali ke kota raja.

Sebelum masuk ke kota raja, pemuda yang selalu berhati-hati ini terlebih dahulu mendengarkan berita- berita tentang peristiwa hebat itu untuk mendengar kalau-kalau namanya disebut-sebut. Akan tetapi, sebagaimana dugaannya, dengan hati lega ia mendapat kenyataan bahwa tak seorang pun di antara para perwira ada yang mengenalnya hingga ia dapat masuk dengan aman di kota raja dan menuju ke rumahnya.

Ibunya yang sudah amat mengkhawatirkan keadaan puteranya yang lama pergi tak kunjung pulang dan yang sama sekali tidak mengabarkan ke mana perginya itu, menyambutnya dengan girang dan lega.

Kepada ibunya, Kong Sian menuturkan pengalamannya hingga orang tua inipun merasa amat terharu dan kasihan mendengar tentang nasib kedua keluarga yang dikenalnya itu pula.

Pada hari itu juga, Kong Sian mengunjungi seorang perwira yang dikenalnya dan bertanya tentang nasib kedua suhengnya. Ternyata bahwa kedua suhengnya itu telah tewas dan hal ini benar-benar membuat hati pemuda ini sakit sekali. Akan tetapi, di depan perwira itu, ia tidak berani berkata apa-apa dan kemudian ia pulang dengan hati dan pikirannya penuh mengenangkan keadaan lin Hwa Bagaimana kalau nyonya yang kini telah menjadi janda itu mendengar akan nasib suaminya ? Ia merasa kasihan sekali dan diam-diam Kong Sian merasa heran di dalam hatinya kini tumbuh semacam perasaan yang aneh terhadap diri Lin Hwa. Seakan-akan ia ikut merasakan penderitaan nyonya muda itu dan diam- diam ia merasa bahwa ia bertanggung jawab untuk mengurus dan memperhatikan nasib selanjutnya dari Lin Hwa dan diam-diam ia mempunyai kesanggupan besar untuk membela dan melindungi nyonya itu dengan taruhan jiwanya.

Nyonya Un yang selalu menguatirkan puteranya kalau-kalau sampai terlibat dalam urusan itu, lalu mengambil keputusan untuk segera melangsungkan pernikaan Un Kong Sian yang sudah lama ditunda- tunda. Ia berpendapat bahwa kalau sudah kawin, putera tunggalnya ini tentu akan menghentikan kebiasaannya merantau. Maka, ketika Kong Sian tiba di rumah, ia disambut oleh ibunya dengan kata- kata halus akan tetapi tegas,

“Kong Sian, aku akan mengirim utusan ke rumah keluarga Oey untuk menetapkan hari perkawinanmu. Ku minta supaya kali ini kau tidak akan membandel lagi !”

“Ibu. !” bantah Kong Sian, akan tetapi ketika melihat betapa sinar mata ibunya membayangkan sesal

dan duka, ia tak berani melanjutkan bantahannya.

“Anakku, kau tahu bahwa ibumu telah tua dan mungkin takkan lama lagi hidup di dunia ini. Kau tahu pula bahwa idam-idaman hati ibumu yang terutama ialah melihat kau menjadi pengantin dan kemudian kalau usia masih panjang, dapat menyaksikan kelahiran cucuku dan dapat pula menimang-nimangnya. Apakah kau begitu tega hati untuk mengecewakan dan mendukakan hati ibumu yang telah tua ini ?

Apakah dari anak tunggalku aku takkan mendapatkan kepuasan hati yang tak berapa berat dilakukannya ini ?”

Un Kong sian menundukkan kepala dan aneh sekali, pada saat ia didesak supaya kawin dengan Oey- siocia, puteri keluarga Oey yang kaya raya itu, pikirannya melayang ke kuil Thian-an-tang.

“Aku tidak berani membantah kehendakmu, ibu, hanya aku hendak menyatakan bahwa sebenarnya hatiku belum ingin kawin.”

“Kong Sian, Kong Sian apakah kau hendak menanti aku mati lebih dulu sebelum kawin ?” Sambil

berkata demikian, nyonya tua itu mulai menangis. Menghadapi senjata ampuh dari kaum wanita ini, Kong Sian menyerah dan segera berlutut di depan ibunya.

“Baiklah, ibu, baiklah dan jangan ibu bersedih hati,” jawabnya dengan lemas.

Maka giranglah hati Un-hujin ini dan segera ia mengirim utusan dan menetapkan hari pernikahan puteranya itu secepat mungkin. Semua persiapan pernikahan telah diadakan dan setiap hari nyonya tua itu sibuk sekali, akan tetapi dalam kesibukkannya, sinar kegembiraan tak pernah meninggalkan wajah nyonya tua ini sehingga diam-diam Un Kong Sian menghela napas dan tidak tega untuk mengecewakanhati ibunya. Ia pernah melihat wajah tunangannya dan harus ia akui bahwa wajah tunangannya itu cukup cantik menarik, akan tetapi entah mengapa, kini hati dan pikirannya penuh dengan bayangan Lin Hwa yang ia anggap seorang wanita gagah yang bernasib malang dan patut dikasihani.

Sebulan kemudian, perkawinan antara Un Kong Sian dan Oey Bi Nio dilangsungkan dengan meriah. Gedung nyonya Un dihias indah dan ruang yang luas itu penuh dengan tamu-tamu yang terdiri dari orang-orang hartawan dan berpangkat. Kong Sian nampak gagah dan cakap dalam pakaian pengantin sedangkan Oey-siocia kelihatan cantik bagaikan bidadari dari kayangan.

Akan tetapi, benar-benar aneh, pada saat Kong Sian berlutut disamping isterinya untuk bersembahyang, pikirannya tak dapat dipusatkan dan selalu melayang-layang ke tempat jauh, ke kuil nikouw di mana Lin Hwa berada. Bahkan, pada malam harinya, ketika ia berada di kamar pengantin dengan isterinya, ia seringkali melihat betapa wajah isterinya berubah menjadi wajah Lin Hwa yang membuatnya melamun.

Un Kong Sian sama sekali tidak tahu dan juga tidak mengira bahwa pada saat itu, tepat di hari ia menikah, pada malam harinya, Lin Hwa telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat di dalam kuil Thian- an-tang itu. Tangis bayi ini demikian nyaringnya hingga Lan-lan Nikouw mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul dan berkata,

“Bagus, bagus ! Ia calon seorang Mulia” Dengan penuh kesabaran dan telaten sekali, para nikouw di kuil itu memelihara Lin Hwa dan bayinya hingga biarpun ketika melahirkan menderita hebat oleh karena lelah dan sedih teringat kepada suaminya, namun lambat laun hati Lin Hwa yang bersemangat gagah itu dapat menundukkan kesedihannya dan apabila ia nelihat puteranya yang montok dan sehat itu, sinar kegembiraan terbayang pada wajahnya yang cantik. Atas nasehat Lan-lan nikouw, anak yang diberi nama Cin Pau oleh ibunya itu, diberi she (nama keturunan Ong, yakni she ibunya, oleh karena kalau diberi she Khu, khawatir

kalau-kalau akan menarik perhatian para perwira kerajaan. Maka, anak itu lalu bernama Ong Cin Pau dan mendapat perawatan yang sangat open dan penuh kasih sayang dari ibunya dan para nikouw di kuil Thian-an-tang. Setelah anak itu dapat berjalan, Lin Hwa mulai menggembleng tubuh puteranya dengan menggosok ramuan obat kuat yang ia buat sendiri dengan maksud agar tubuh puteranya menjadi sehat dan kuat dan kelak menjadi seorang yang gagah perkasa.