--> -->

Pedang Naga Kemala Jilid 34 (Tamat)

Jilid 34 (Tamat)

“Ihh... kau membikin aku menjadi semakin kelaparan saja!” katanya. “Aku mempunyai roti dan dendeng bakar, koko… mari kita makan.”

Keduanya lalu makan, dan sungguh mentakjubkan. Roti dan dendeng yang biasanya merupakan makanan yang membosankan bagi Lian Hong, kini terasa luar biasa nikmatnya! Juga Ci Kong makan dengan nikmat sekali, padahal yang dimakan hanyalah roti yang sudah agak keras dan dendeng bakar, didorong air teh yang sudah dingin pula.

Perut lapar dan keadaan hati berbahagia memang dekat sekali hubungannya dengan selera. Kalau perut lapar, hati senang, makanan yang paling sederhana sekalipun akan terasa amat lezatnya. Sungguh kasihan sekali mereka yang mengejar-ngejar makanan mahal dan dianggap enak, tetap tidak dapat menikmatinya, karena hal itu jelas menunjukkan bahwa kalau bukan tubuh mereka yang tidak sehat, tentu hati mereka yang tidak bahagia!

Habislah semua roti dan dendeng, dan tak lama kemudian, mereka berdua sudah berlutut dan bersembahyang di depan makam mendiang Siauw Teng dan Gin Hwa, ayah dan ibu Lian Hong. Tanpa berjanji dan bersepakat, keduanya sudah bersembahyang dan terdengar Ci kong berkata, cukup keras sehingga terdengar oleh Liari Hong yang berlutut di sampingnya.

“Paman Siauw Teng berdua bibi, saya Tan Ci Kong, putera sahabat paman yaitu ayah Tan Seng, mohon perkenan paman berdua untuk meminang adik Siauw Lian Hong untuk menjadi isteri saya. Saya bersumpah di depan makam paman berdua, untuk mencintanya dan menjaganya sampai selama hidup kami.”

Biarpun hatinya berdebar saking bahagianya, tak urung dua titik air mata membasahi kedua mata Lian Hong karena terharu mendengar ucapan yang keluar dan mulut Ci Kong itu.

“Ayah dan ibu, aku mohon doa restu ayah dan ibu. Aku telah memilih Tan Ci Kong ini untuk menjadi jodohku… harap ayah dan ibu dapat menyetujuinya.” Setelah mereka selesai sembahyang secara sederhana sekali, Lian Hong mengeluarkan pedang Giok-Kong-kiam dari buntalannya dan menyerahkannya

kepada Ci Kong.

“Koko aku sudah berjanji di dalam hatiku untuk memberikan Giok-liong- kiam ini kepada calon suamiku. Terimalah, koko… tanda ikatan jodoh antara kita.”

Ci Kong terharu sekali, menerima pedang pusaka itu dan menciumnya, kemudian berkata dengan suara sedih.

“Moi-moi, terima kasih. Akan tetapi, aku tidak memiliki apapun untuk kuberikan kepadamu…”

Lian Hong tersenyum.

“Engkau sudah memberikan cintamu, itu berarti engkau telah memberikan segala-galanya. Koko, marilah kita bersembahyang di depan makam kedua orang tuamu, mohon doa restu.

Keduanya lalu malam-malam itu juga meninggalkan kuburan dan menuju ke sebuah tanah kuburan lain tak jauh dari situ, dimana terdapat makam Tan Seng bersama isterinya. Perlu diketahui bahwa Tan Seng yang telah menduda, setelah tewas dan dikubur secara sembarangan, oleh Ci Kong tulang-tulangnya telah dipindahkan dan dikubur di dekat kuburan ibunya. Malam itu juga, mereka bersembahyang di depan makam ayah dan ibu Ci Kong, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dua orang muda yang saling mencinta ini sudah bergandeng tangan meninggalkan dusun Tung-kang untuk pergi menemui guru mereka, karena mereka yang sudah yatim piatu itu tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk dimintai doa restu.

Kini mereka melakukan perjalanan sebagai dua orang calon suami isteri, penuh kebahagiaan dan seolah-olah mereka hendak menempuh suatu kehidupan baru yang sama sekali berbeda dengan kehidupan mereka yang lalu. Kini mereka saling memiliki dan mereka merasa seolah-olah kehidupan mereka menjadi lebih berarti, merasa saling dibutuhkan! Memang tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari pada kegembiraan karena dapat menggembirakan orang lain!

Dua orang itu tidak tahu betapa sepeninggal mereka, seorang gadis nampak meninggalkan pula dusun Tung-kang, dan dengan cepat gadis itu menuju ke kota Kanton. Gadis ini bukan lain adalah Kui Eng.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kui Eng meninggalkan kelompok pejuang yang dipimpinnya untuk pergi mencari Ci Kong, untuk mencari keputusan tentang cintanya. Di tengah penjalanan, ia bertemu dengan gurunya, dan Tee-tok segera menceritakan kepada muridnya tentang urusan perjodohan yang dibicarakan dengan Siauw-bin-hud.

“Si keparat San-tok juga datang ke sana untuk membicarakan perjodohan antara Ci Kong dengan munidnya. Kami hampir saja berkelahi dan tentu akan ribut kalau tidak dilerai Siauw-bin-hud.”

Mendengar ini, Kui Eng terkejut dan mengerutkan alisnya. “Murid yang mana, suhu?”

Kui Eng menyangka Diana, karena pernah ia melihat sikap Diana ketika mereka menghadapi Ci Kong yang terluka parah dan terancam maut. Ia sudah menduga bahwa gadis bule itu tentu mencinta Ci Kong, atau setidaknya tertarik.

“Siapalagi kalau bukan Lian Hong?” “Lian Hong??”

Nama ini benar-benar membuat Kui Eng terkejut dan heran. Tentu saja ia mengenal Lian Hong dengan baik, bahkan di antara mereka terdapat ikatan pasahabatan yang amat erat. Bukan itu saja, juga ia seakan-akan merasa berhutang budi kepada Lian Hong. Orang tuanya tewas gara-gara ayahnya, akan tetapi Lian Hong sama sekali tidak menaruh hati dendam kepadanya. Bahkan ketika ia diculik oleh Koan Jit dan terancam bahaya maut yang akan mencemarkan dirinya bahkan menewaskannya, muncul Lian Hong yang membela dan menolongnya secara mati-matian. Dan iapun mengenal Lian Hong gadis pendiam itu yang belum pernah memperlihatkan sikapnya mencinta Ci Kong. Bukankah Lian Hong pernah menggodanya sebagai pacar Ci Kong ketika mereka bersama Ci Kong menyamar dan melakukan penyelidikan sebagai pejuang-pejuang ke kota raja? Maka, mendengar bahwa kini guru Lian Hong hendak menjodohkan gadis itu dengan Ci Kong, ia terkejut dan terheran-heran.

“Ya, Lian Hong. Seperti juga engkau, gadis itu mencinta Ci Kong. Kami berebutan dan akhirnya Siauw-bin-hud mengatakan bahwa yang memutuskan haruslah Ci Kong sendiri. Biarlah Ci Kong yang menentukan pilihannya, engkau ataukah Lian Hong. Karena itu, aku pulang dan sebaiknya kalau engkau pergi mencari Ci Kong dan minta ketegasannya agar dia melakukan pilihannya.” Mendengar keterangan gurunya, wajah Kui Eng berubah merah. Tak disangkanya kalau Lian Hong mencinta Ci Kong, ataukah itu hanya pengakuan dan San-tok saja? Ia cukup mengenal watak Empat Racun Dunia yang aneh- aneh. Ia tahu bahwa Kiki mencinta Ci Kong, bahkan pernah ia berkelahi dengan Kiki karena cemburu. Juga Diana memperlihatkan sikap tertarik kepada Ci Kong. Akan tetapi Lian Hong? Ia harus menemui Lian Hong dan menanyakan hal ini terus terang kepadanya!

Bagaimana, kalau Lian Hong benar-benar mencinta Ci Kong? Ia akan mengalah! Tentu saja kalau Ci Kong juga mencinta Lian Hong, dan iapun meragukan hal ini, karena selama dalam pergaulan mereka, ia tidak pernah melihat sikap Ci Kong mencinta gadis murid San-tok itu.

Karena Kui Eng ingin mencari ke tempat yang paling dekat dengan Kanton, yaitu di dusun Tung-kang tempat kelahiran Lian Hong, maka pergilah ia ke dusun itu dan langsung saja ia pada malam itu mengunjungi tanah kuburan dimana kedua orang tua Lian Hong dimakamkan. Dan apa yang dilihatnya? Ci Kong dan Lian Hong sedang memadu asmara! Sedang berenang di dalam lautan kemesraan, dan tanpa kata-katapun, ia melihat sendiri betapa kedua orang itu saling mencinta!

Kui Eng tidak mengganggu mereka, bahkan setelah yakin benar bahwa kedua orang itu saling mencinta, melihat mereka bersembahyang mohon doa restu di depan makam, diam-diam ia lalu meninggalkan mereka dan menghilang di dalam kegelapan malam. Dua titik air mata saja membasmi matanya. Ia tidak menangis, dua titik air mata itu mewakili bermacam perasaan yang saat itu bercampur aduk di di dalam batin. Ia merasa iri terhadap Lian Hong, dalam kebahagiaannya, dicinta oleh Ci Kong. Namun ada rasa gembira juga melihat kebahagiaan Lian Hong gadis yang disayangnya dan dikaguminya itu. Ia merasa lega pula, karena tanpa harus bicara, hal yang tentu akan lebih meriyakitkan lagi, ia kini sudah mendapatkan keputusan. Ci Kong tidak mencintainya, melainkan mencinta Lian Hong. Hal ini membuat ia lega karena ia merasa sudah terbebas dari keraguan dan harapan hampa.

Maka, dapat dibayangkan rasa girang dan heran yang membayang di wajah Thio Ki, putera ketua Kang-sim-pang itu ketika pada pagi hari itu, Kui Eng menemuinya dan secara terang-terangan dan dengan suara yang jelas, bahkan disaksikan oleh belasan orang teman yang belum berangkat bekerja di pelabuhan berkata kepadanya.

“Thio-toako, maukah engkau mengambil aku sebagai isterimu?”

Tentu saja Thio Ki terbelalak dan hampir bersorak girang. Teman-teman yang berada di situpun terbelalak. Mereka tahu bahwa gadis cantik yang menjadi pemimpin mereka itu adalah seorang gadis pejuang yang gagah perkasa, berhati keras dan jujur, akan tetapi sungguh tak mereka sangka bahwa pemimpin mereka itu akan membicarakan tentang perjodohannya.

“Tapi, Eng-moi apakah… apakah engkau cinta padaku?”

Karena semua teman sejak tadi sudah menonton mereka, Thio Ki terang- terangan mengajukan pertanyaan itu kepada Kui Eng. Dia masih merasa penasaran sekali. Kui Eng tersenyum dan memandang mesra, lalu memegang kedua tangan pemuda itu.

“Tentu saja aku cinta padamu, bodoh. Kalau tidak, masa aku mau menjadi isterimu?”

Teman-teman mereka tertawa, bersorak dan bertepuk tangan, dan Thio Ki tersipu malu, akan tetapi juga girang bukan main, dan diapun menurut saja ketika Kui Eng menarik tangannya diajak keluar untuk segera mencari dan menghadap gurunya.

Perasaan sayang kadang-kadang membuat orang menjadi kurang waspada, bahkan dapat membuat orang menjadi lengah. Rasa suka dan tidak suka membuat semua pertimbangan akal menjadi miring dan tidak dapat berfungsi dengan baik lagi. Kalau kita merasa suka kepada seseorang, timbul rasa sayang dan apapun yang dilakukan orang yang kita suka itu, bagi kita selalu nampak menyenangkan, apalagi kalau yanq dilakukannya itu memang tidak merugikan kita secara langsung. Hal ini bukan hanya teori maupun dongeng belaka.

Orang tua yang terlalu menyayang anaknya, condong untuk memanjakan anak itu dan walaupun si anak itu nampaknya nakal dan menjengkelkan hati orang-orang lain, bagi orang tuanya, kenakalannya itu bukan nampak nakal seperti pandangan orang lain, melainkan mungkin saja dianggapnya lucu dan menggelikan, menyenangkan! Sebaliknya kalau kita tidak menyukai seseorang, timbul kecondongan untuk membenci orang itu, dan kalau sudah begini, apapun yang dilakukan orang itu akan nampak tidak menyenangkan bagi kita. Bukan kelakar belaka kalau dikatakan bahwa hati yang  sedang  suka, melihat wajah cemberut orang yang disukainya nampak lebih manis.

Sebaliknya, melihat wajah orang yang dibencinya, walaupun sedang tersenyum semanis-manisnya, nampak buruk dan tidak menyenangkan!

Demikian pula dengan Hai-tok Tang Kok Bu. Datuk sesat yang kaya raya ini terlalu sayang kepada Lee Song Kim, muridnya yang paling disayangnya. Rasa sayang bukan hanya timbul karena Lee Song Kim merupakan seorang murid utama yang paling cerdik, pandai menyenangkan hati gurunya, juga bukan hanya karena Lee Song Kim merupakan seorang pemuda yang berwajah tampan dan pandai pula menemani gurunya tidur untuk memuaskan nafsu aneh dari Hai-tok yang pada usia tuanya tidak suka lagi kepada wanita, melainkan mengalihkan rasa sukanya kepada pemuda-pemuda tampan untuk menjadi kekasih dan teman tidurnya.

Bukan hanya karena Song Kim seorang murid terpandai dan kekasih tersayang, melainkan juga karena Hai-tok tang Kok Bu memang haus akan putera, haus akan anak laki-laki. Anaknya hanyalah Kiki seorang, anak perempuan, dan sejak mudanya dia amat menginginkan seorang anak laki-laki. Agaknya kehausannya akan anak laki-laki ini merupakan satu di antara sebab mengapa dia lebih suka tidur dengan seorang pemuda tampan dari pada dengan wanita cantik. Dia menganggap Song Kim sebagai munid terpandai, kekasih tersayang, dan juga sebagai puteranya sendiri.

Tidaklah mengherankan apabila Hai-tok mencurahkan kasih sayangnya kepada Song Kim. Lebih-lebih lagi setelah Kiki meninggalkannya untuk menikah dengan pria yang dicintanya, yaitu Ong Siu Coan. Kini seluruh rasa kasih sayangnya dilimpahkan kepada Song Kim. Hal ini tentu saja amat menggembirakan pemuda yang penuh ambisi itu. Dia melihat kesempatan yang amat baik. Rasa sayang yang berlebihan dan Hai-tok itu membuat dia manja dan ingin memperoleh segala-galanya. Dia menguras habis ilmu kepandaian Hai-tok, juga menganggap dirinya sebagai putera Hai-tok dan ahli waris dari kakek kaya raya itu, menjadi tuan muda dari Pulau Naga.

Semua anak buah di pulau itupun tunduk kepadanya, karena mereka semua maklum bahwa pemuda itu memang memiliki kekuasaan besar sekali dan semua perbuatannya dan kehendaknya dibenarkan saja oleh Hai-tok. Setelah semua ilmu yang dimiliki Hai-tok habis dipelajarinya, Song Kim merengek dan memanaskan gurunya suhu.

“Benarkah tidak ada lagi ilmu yang dapat suhu ajarkan kepadaku?”

Pada suatu malam Song Kim bertanya ketika mereka rebah di dalam kamar Hai-tok.

“Song Kim, sudah berapa kali kau tanyakan hal itu kepadaku? Sudah berulang kali kuberitahukan bahwa semua ilmu yang kumiliki sudah kuajarkan kepadamu. Masa engkau tidak percaya kepadaku? Satu-satunya hal yang masih kurang padamu hanyalah pengalaman saja, dalam hal ini tentu engkau masih kalah olehku. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, tidak ada ilmu yang masih kurahasiakan.”

“Kalau begitu, aku kelak dapat menjadi pengganti suhu dan melanjutkan sepak terjang suhu, dan membuat nama besar sebagai murid dan ahil waris suhu.”

“Tentu saja, muridku yang baik…”

Hai-tok merangkul murid dan juga kekasihnya.

“Akan tetapi, suhu. Hatiku masih belum puas. Melihat suhu tempo hari bertanding melawan Thian-tok, ternyata suhu belum dapat mengalahkannya.” “Ha-ha, akan tetapi diapun tidak mampu mengalahkan aku. Tingkat

kekuatan dan kepandaian kami memang seimbang.”

“Hal itulah yang mencemaskan hatiku, suhu. Dengan demikian, berarti pula bahwa tingkat ilmu silat yang kumiliki belum berapa tinggi, dan baru seimbang dengan tingkat murid-murid Thian-tok, San-tok, maupun Tee-tok. Kalau begitu, mana mungkin aku dapat menjagoi dunia kang-ouw? Belum lagi mengingat bahwa tingkat kepandaian Siauw-bin-hud masih lebih tinggi dari pada tingkat suhu, berarti bahwa aku takkan mampu menandingi ilmu kepandaian muridnya seperti Tan Ci Kong dan lain-lainnya.”

Mendengar ini, Hai-tok menarik napas panjang.

“Hal yang kaukemukakan itu memang tak dapat kusangkal, Song Kim. Akan tetapi, ilmu kepandaian memang tidak ada batasnya di dunia ini. Betapapun tingginya Gunung Thai-san, masih ada lagi awan yang lebih tinggi, dan di atas awan masih ada jutaan bintang yang lebih tinggi lagi.”

“Aku tahu, suhu, dan akupun belum gila untuk menjadi orang yang paling pandai di dunia ini. Akan tetapi setidaknya aku harus lebih kuat dari pada musuh-musuh dan sainganku, dan aku harus dapat mempelajari ilmu-ilmu yang lebih tinggi lagi. Dan hal ini, kiranya hanya dapat terjadi kalau suhu mau menolongku.”

“Hemm, menolongmu bagaimana? Sudah kukatakan bahwa semua ilmuku sudah kuajarkan kepadamu.”

“Suhu, maukah suhu menolongku?” Song Kim merajuk. Hai-tok tertawa.

“Ha-ha-ha, Song Kim. Engkau tahu bahwa aku akan mau melakukan apa saja untuk menolongmu. Bukankah aku telah menyelamatkan engkau dan melindungimu ketika engkau terancam bahaya? Bukankah aku lebih memberatkan engkau dari pada anak kandungku sendiri?”

“Kalau begitu, suhu… usahakanlah agar ilmu kepandaianku dapat meningkat. Kalau saja suhu suka meminjam kitab kitab ilmu yang dalam dari aliran persilatan yang besar di dunia persilatan, tentu aku akan dapat mempelajari kitab-kitab itu untuk memperdalam pengetahuanku.” Peribahasa yang mengatakan bahwa ‘cinta itu buta sesungguhnya keliru. Cinta kasih yang murni tidak membuat orang menjadi buta, sebaliknya malah, membuat orang menjadi waspada dan bijaksana. Yang membuat orang menjadi buta, buta batinnya, adalah nafsu, bukan cinta kasih! Nafsu, segala macam nafsu yang menguasai batin manusia, membuat batin itu menjadi keruh dan kotor, lenyap semua pertimbangan, dan bahkan kekeruhan batin itu membuat kita menjadi seperti buta.

Demikian pula halnya dengan Hai-tok. Sayangnya kepada Song Kim sesungguhnya hanyalah nafsu belaka, sehingga kakek yang biasanva amat cerdik dan juga berpemandangan luas, penuh pengalaman hidup ini, seolah- olah menjadi buta, tidak melihat betapa muridnya merengek dan merajuk seperti seorang anak kecil yang manja.

“Baiklah, Song Kim, tenangkan hatimu dan bergembiralah. Aku akan membantumu untuk meminjam kitab-kitab yang mengandung ilmu silat tinggi dari beberapa perkumpulan yang kutahu memilikinya,” katanya sambil mendekap pemuda itu.

Tentu saja Song Kim menjadi girang sekali, dan diapun berusaha keras untuk menyenangkan hati gurunya malam itu.

Janji Hai-tok dipenuhinya. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, mulailah dia mencuri atau merampok kitab-kitab dari perkumpulan besar seperti Bu-tong-pai, Lam-hai-pai, dan lain-lain. Semua kitab-kitab itu diserahkannya kepada Song Kim, bahkan dia membantu muridnya itu untuk membaca kitab-kitab kuno. Akan tetapi, nafsu membuat orang tak pernah merasa cukup. Makin dituruti nafsu itu, ia menjadi semakin lahap.

Song Kim tidak puas dengan kitab-kitab yang telah dipelajarinya, dan dia selalu merengek agar gurunya mencarikan kitab lain. Mulailah Hai-tok melakukan pencurian-pencurian di perkumpulan-perkumpulah yang lebih besar lagi. Bahkan dia berani pula mencuri kitab dari perpustakaan di kuil para tosu Kun-lun-pai, dan mencuri beberapa buah kitab ilmu simpanan dari kuil para hwesio di Go-bi-pai. Tentu saja dengan adanya kitab-kitab itu, ilmu kepandaian Song Kim meningkat dengan cepat. Dia memang amat cerdik sehingga dengan mudah dia mempelajani ilmu-ilmu silat dan kitab-kitab itu, sehingga dalam waktu singkat, dia dapat menguasai semua, hanya tinggal mematangkannya dalam latihan saja. Hai-tok kini seperti menjadi bujangnya saja. Kitab dari perkumpulan manapun yang dikehendakinya, tentu akan diusahakan oleh Hai-tok untuk memperolehnya.

Dan makin lama Song Kim makin tidak takut kepada suhunya, apalagi setelah dia mempelajani banyak ilmu silat tinggi, sehingga tingkatnya mulai melampaui tingkat gurunya! Dan dia mulai mengancam akan meninggalkan gurunya kalau Hai-tok menolak pemintaannya. Kakek itu sendiri mulai terikat semakin erat, mulai tergantung semakin tinggi, tidak mungkin lagi dapat terpisah dan Song Kim. Karena itu, apapun permintaan muridnya selalu dipenuhinya.

Akan tetapi, Hai-tok terkejut sekali ketika pada suatu malam, muridnya minta kepadanya agar mencarikan kitab-kitab pelajaran silat yang dirahasiakan oleh para tokoh Siauw-Iim-pai!

“Song Kim, muridku yang baik, bagaimana engkau dapat meminta hal yang tak mungkin terlaksana? Kitab-kitab rahasia Siauw-lim-pai. Ah, engkau tidak tahu. Siauw-lim-pai tak boleh disamakan dengan Kun-lun-pai, Go-bi-pai atau perkumpulan silat lainnya! Perkumpulan itu bukan hanya perkumpulan silat biasa, melainkan menjadi pusat para pendeta Buddha, pusat penyebaran agama, dan di sana berkumpul tokoh-tokoh yang sakti! Ingat saja Siauw-bin- hud, dan masih banyak yang lain.”

“Aku bukan minta agar suhu menghadapi mereka secara berterang. Aku tahu bahwa suhu tentu tidak akan menang melawan mereka. Akan tetapi kalau diusahakan agar suhu dapat memasuki kamar perpustakaan mereka, memilih kitab-kitab yang hebat, tanpa melawan mereka, apa susahnya? Bukankah dengan cara itu pula suhu telah berhasil mencuri beberapa buah kitab rahasia yang amat penting dari Kun-lun-pai dan Go-bi-pai? Juga dari Bu-tong-pai, suhu bisa mendapatkan kitab tanpa harus berkelahi dengan mereka. Suhu, tolonglah aku, aku ingin sekali mempelajari ilmu yang tinggi dari Siauw-lim-pai.”

“Akan tetapi, Song Kim, bukankah selama beberapa bulan ini, tiada hentinya aku mendapatkan kitab-kitab yang amat langka di dunia ini untuknu? Kitab-kitab dari Kun-lun-pai, Go-bi-pai, Bu-tonng-pai, Kong-thong-pai, dan belasan perkumpulan lain yang paling terkenal. Masih tidak cukupkan itu? Engkau sendiripun belum sempat mempelajari semua kitab itu? Untuk apa ditambah lagi? Untuk apa terlalu banyak ilmu itu yang akan memakan waktu lama untuk kaulatih?”

“Suhu, aku ingin menaklukkan semua jagoan dari manapun perguruannya. Dan untuk itu, aku harus mengenal rahasia-rahasia ilmu silat mereka, dan menguasai ilmu-ilmu mereka yang paling tinggi. Hampir semua sudah berada di tanganku kecuali ilmu yang tertinggi dari Siauw-lim-pai. Kalau aku tidak menguasainya, bagaimana kalau kelak aku berhadapan jagoan Siauw-lim-pai sebagai lawan? Aku akan mengumpulkan dulu kitab sebanyaknya, baru perlahan dilatih.”

“Akan tetapi mencuri kitab dari Siauw-lim-si, sukarnya sama dengan naik ke langit, muridku! Siauw-lim-si terjaga ketat dan memiliki banyak alat-alat rahasia. Belum pernah ada tokoh yang dapat memasukinya.”

Song Kim tertawa.

“Aih, suhu terlalu merendahkan diri, terlalu mengangkat lawan! Siapa tidak mengenal nama besar suhu? Aku mendengar bahwa seorang lulusan Siauw- lim-pai diharuskan keluar melalui alat-alat rahasia itu, dan banyak di antara mereka, yang masih muda-muda, berhasil. Masa suhu kalah dengan murid- murid Siauw-lim-pai itu? Sudahlah, kalau suhu tidak mau, katakan saja. Suhu sudah tidak sayang iagi padaku, biarlah aku yang akan pergi mengambil sendiri kitab-kitab itu, akan tetapi aku tidak akan kembali lagi kepada suhu!”

“Aihhh, jangan begitu, Song Kim. Siapa bilang aku tidak mau? Aku tadi hanya mengatakan betapa sukarnya mencuri kitab dan Siauw-lim-pai, akan tetapi itu bukan berarti bahwa aku tidak ingin mencobanya.”

“Ah, suhu memang hebat”

Song Kim menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hai-tok yang duduk bersila itu.

“Bagiku, suhu merupakan guru dan juga pengganti ayah, satu-satunya orang yang kucinta dan sayang pula kepadaku. Terima kasih, suhu…”

Hai-tok yang sudah semakin tua itu merangkul muridnya dengan penuh perasaan gembira. Dan pada hari itu, berangkatlah Hai-tok menuju ke kuil besar Siauw-im-pai yang menjadi pusat dan perkumpulan Siauw-lim-si.

Beberapa pekan kemudian, terjadilah geger di kuil Siauw-lim-si. Di malam yang gelap dan sunyi itu, tiba-tiba terdengar bunyi kelenengan nyaring, bunyi tanda rahasia yang dipasang di bagian kuil, dan bunyi kelenengan itu menandakan bahwa tempat itu didatangi orang asing atau orang luar yang tidak tahu rahasianya. Maka, para hwesio segera memukul tambur bertalu-talu sebagai tanda bahaya, dan para pimpinan Siauw-lim-pai yang kebetulan malam itu berkumpul di situ, terkejut dan cepat berkumpul untuk melihat siapa yang telah memasuki kuil tanpa ijin.

Hai-tok yang telah berhasil melalui beberapa jebakan dan alat rahasia, sudah merasa girang sekali ketika dia tiba di bagian paling dalam dan Siauw- lim-si. Dengan kepandaiannya yang tinggi, dia berhasil berkelebat dan menyelinap ke dalam tanpa dilihat oleh para munid Siauw-lim-pai yang bertugas jaga. Bahkan dia dapat melumpuhkan beberapa macam alat rahasia yang menghadang di sepanjang lorong masuk. Akan tetapi ketika dia tiba di ruangan dalam dan sedang mencari-cari dimana letaknya kamar perpustakaan, tanpa disangkanya, kakinya menginjak bagian lantai yang dipasangi alat rahasia sehingga terdengarlah kelenengan berbunyi nyaring.

Hai-tok terkejut, akan tetapi dia bersikap tenang, siap untuk menghadapi segala bahaya. Tiba-tiba ruangan itu menjadi terang benderang, muncullah puluhan orang hwesio dengan obor di tangan, ada pula yang membawa lentera-lentera besar. Sebentar saja Hai-tok telah terkepung. Kakek ini masih bersikap tenang, siap untuk menghadapi segala akibat dari perbuatannya itu.

Akan tetapi, para hwesio muda itu hanya mengepung dalam bentuk barisan yang rapi, sama sekali tidak bergerak untuk menyerang, hanya mengepung dan tidak memberi jalan ke luar, mata mereka memandang tajam kepada Hai-tok yang masih berdiri di tengah ruangan.

Tiba-tiba barisan yang berada di sebelah dalam terkuak dan muncullah lima orang kakek yang membuat Hai-tok diam-diam terkejut sekali. Dia mengenal dua orang di antara mereka. Yang seorang bertubuh tinggi kurus adalah Thian He Hwesio, sedangkan orang kedua adalah Thian Kong Hwesio. Keduanya adalah pimpinan Siauw-lim-pai. Thian He Hwesio sebagai ketua dan Thian Kong Hwesio sebagai pelatih.

Tentu saja Hal-tok tidak gentar menghadapi dua orang pimpinan Siauw- lim-si yang sudah dikenalnya dan diketahui sampai dimana tingkat kepandaiannya itu. Akan tetapi dia memperhatikan tiga orang kakek yang lain. Mereka memiliki pembawaan yang aneh dan mengkhawatirkan hatinya. Mata mereka itu mencorong seperti mata naga, walaupun ada kelembutan pada pandang mata mereka.

Yang seorang adalah pendeta berkepala gundul seperti hwesio-hwesio lain, akan tetapi kulit mukanya hitam dan raut wajahnya berbeda dengan orang Han. Hai-tok yang berpengalaman dapat menduga bahwa tentu hwesio yang satu ini datang dan barat, kalau tidak dan Bhutan, tentu dan Nepal atau India. Orang ke dua adalah seorang hwesio tinggi  besar  berperut  gendut, mulutnya yang lebar itu selalu tersenyum, dan melihat jubahnya yang kuning bergaris merah, dan hiasan kepala yang menutupi kepala gundulnya, dapat

diduga bahwa dia adalah seorang pendeta Lama dari Tibet.

Orang ketiga juga seorang hwesio tua, kepalanya gundul kelimis, akan tetapi mukanya penuh dengan kumis dan jenggot putih, jubahnya kuning agak kotor, namun hwesio yang bertubuh kecil ini bersikap penuh wibawa, tangannya memegang sebatang tongkat pendeta yang kedua ujungnya dihias dengan emas!

Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio tentu saja mengenal Hai-tok dan diam-diam mereka terkejut. Mau apakah datuk sesat ini muncul pada waktu tengah malam di ruangan dalam kuil itu?

“Kiranya Tang-tocu yang muncul di sini,” kata Thian He Hwesio sambil menjura.

“Sungguh mengejutkan hati kami semua. Entah ada urusan apakah tocu datang malam-malam begini dengan cara yang tidak wajar?”

Muka Hai-tok sudah berubah merah karena kikuk dan malu. Akan tetapi, dia tidak gentar menghadapi pengepungan para hwesio, apalagi di Situ tidak terdapat orang yang ditakuti, Siauw-bin-hud. Maka karena sudah tertangkup basah, diapun menjadi nekat. Tak perlu lagi dia mencari alasan dan berbohong, karena hal itu hanya akan menambah rasa malunya saja.

“Hwesio yang baik, aku datang hanya untuk meminjam beberapa buah kitab milik Siauw-lim-pai.”

Semua hwesio terkejut mendengar ini, dan Thian Kong Hwesio yang wataknya lebih keras dari pada suhengnya segera berseru.

“Omitohud… kitab-kitab kami tidak boleh dipinjam oleh orang luar!” Hai-tok Tang Kok Bu tersenyum mengejek.

“Hemm… apakah percuma saja aku menjadi kenalan dan sahabat Siauw- bin-hud? Masa meminjam kitab saja tidak diperbolehkan?”

Thian He Hwesio cepat menjura.

“Tocu, kitab apakah yang ingin tocu baca? Kalau tocu ingin membaca kitab agama dan kitab pelajaran untuk menjadi manusia benar, kiranya pinceng akan dapat meminjamkannya kepada tocu.”

Hai-tok tertawa.

“Ha-ha-ha, apakah engkau anggap aku ini anak kecil? Untuk apa segala macam kitab yang tidak ada gunaya itu? Membohongi orang-orang bodoh saja! Aku ingin memilih sendiri beberapa buah kitab dari kamar perpustakaan kalian, dan aku hanya akan meminjamnya selama setahun saja, tentu kelak akan kukembalikan.”

“Omitohud, permintaan yang tidak masuk akal, tocu. Akan tetapi kitab apakah yang ingin tocu pinjam itu?”

“Aku hanya mempunyai satu macam keahlian, yaitu ilmu silat. Kitab apalagi kalau bukan kitab ilmu silat yang menarik hatiku? Aku akan memilih dua atau tiga buah saja, ingin melihat sampai dimana kehebatan ilmu silat simpanan dari Siauw-lim-pai, dan setelah membacanya setahun, aku akan mengembalikannya.”

“Tidak mungkin!” Thian Kong Hwesio membentak. Thian He Hwesio masih bersikap lunak.

“Tak penlu pinceng menjelaskan panjang lebar, namun tentu tocu sudah maklum bahwa kami tidak mungkin dapat meminjamkan kitab pelajaran silat kepada orang luar. Bahkan murid-munid Siauw-lim-pai sendiri, tanpa ijin khusus, dilarang membaca kitab-kitab rahasia itu. Tentu tocu sudah maklum bahwa hal itu tidak mungkin, maka tocu datang malam-malam begini untuk mencuri.”

“Ha-ha-ha, kalau benar demikian, kalian mau apa? Kalau tidak boleh meminjam, biarlah kuambil sendiri saja!” kata Hai-tok dengan sikap angkuh.

“Omitohud! Orang ini benar-benar hendak mengacau. Kami bertiga sebagai tamu, tak boleh tinggal diam saja.”

Tiba-tiba kakek hwesio kecil kurus yang memegang tongkat berseru sambil melangkah maju, diikuti oleh dua orang pendeta lainnya, yaitu pendeta dari India dan dari Tibet. Mereka mengepung dengan kedudukan segitiga, dengan hwesio bertongkat di depan Hai-tok. Pada saat itu, Thian He Hwesio yang tidak keburu mencegah, membisikkan kepada tamunya bahwa pengacau itu adalah datuk sesat yang dijuluki Hai-tok. Nampak pendeta pendeta kecil kurus itu terkejut, juga dua orang kawannya terkejut.

“Omitohud, kiranya seorang di antara Empat Racun yang tersohor itu!” kata pula pendeta kecil kurus bertongkat.

“Kabarnya Empat Racun telah mencuci kotoran dan batinnya dengan membantu perjuangan rakyat menentang kelaliman, akan tetapi ternyata sekarang Hai-tok masih saja melanjutkan kesesatannya dengan perbuatan rendah, mengacau di Siauw-lim-si dan hendak merampok kitab. Sungguh patut disesalkan!”

Melihat tiga orang tamunya yang merupakan tamu agung yang dihormati, yaitu para wakil golongan Agama Buddha dari Nepal, Tibet dan Yunnan, kini maju hendak menandingi Hai-tok, dua orang pimpinan Siauw-lim-si itu merasa tidak enak hati. Thian He Hwesio segera maju.

“Sam-wi suhu harap tidak turun tangan sendiri, ini adalah urusan dalam Siauw-lim-pai, biarlah para murid yang menanggulanginya.”

Tanpa menanti jawaban, Thian He Hwesio memberi tanda kepada Thian Kong Hwesio, dan pelatih para murid Siauw-lim-pai ini segera memberi aba- aba kepada para murid.

“Ngo-heng-tin silahkan maju!” bentaknya.

Dari para pengepung itu, berloncatan keluar lima orang murid Siauw-lim- pai yang berkepala gundul, mereka itu masing-masing memegang sebatang toya kuningan yang berat, senjata khas golongan hwesio yang merupakan senjata terkuat dari Siauw-lim-pai. Setelah berloncatan, mereka berlima segera membentuk posisi segi lima dan itulah yang dinamakan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Unsur).

Dikurung oleh lima orang itu, Hai-tok nampak masih tenang saja. Dia maklum akan kelihaian Ngo-heng-tin dan tahu pula bahwa dengan berani maju berlima, tentu mereka ini merupakan murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah cukup tinggi tingkatnya. Dia menggerakkan tangan ke belakang dan sudah mencabut tongkatnya, sebatang tongkat yang terbuat dari pada emas berhiaskan permata! Sebuan tongkat yang indah dan mahal sekali, namun merupakan senjata utama Hai-tok yang luar biasa ampuhnya pula.

Barisan Ngo-heng-tin itu kini bergerak perlahan mengitari lawan, gerakan mereka ketika bergeser ke depan itu amat gagah dan tegap, kaki mereka hanya bergeser ke depan sehingga terdengar suara ‘sstt-sstt-sstt’ yang berirama. Keadaan menjadi menegangkan, dan kepungan itu kini agak mundur sehingga terdapat ruangan yang cukup luas untuk perkelahian keroyokan. Juga kedua orang pimpinan Sinuw-lim-pai dan tiga orang tamu agungnya mengundurkan diri. Beberapa orang murid segera menyediakan lima buah bangku untuk mereka duduk menonton.

Pimpinan barisan Ngo-beng-tin itu adalah seorang yang bertubuh tinggi kurus. Dia memimpin barisan bukan dengan aba-aba, melainkan dengan gerakan. Dialah yang lebih dahulu bergerak, menjadi kepala binatang sedangkan yang lain menjadi tubuh dan ekotnya, yang akan bergerak secara otomatis melanjutkan atau menyambung gerakan pertama dari pemimpin barisan itu. Setiap gerakan atau serangan dari pemimpin, memiliki perkembangan tertentu dan mereka berlima sudah berlatih selama belasan tahun, sehingga kalau mereka maju sebagai Ngo-heng-tin, mereka itu seolah- olah menjadi kesatuan yang bergerak secara otomatis.

Tiba-tiba kepala barisan itu sudah menggerakkan toyanya, menyerang ke arah kepala Hai-tok, dan begitu dia bergerak menyerang, empat orang yang lain juga bergerak dengan serangan susulan! Hebatnya, di dalam serangan mereka berlima ini terdapat unsur yang saling melindungi!

“Trang-trang-trang-trang-trang!”

Lima kali beruntun terdengar suara nyaring ketika nampak gulungan sinar emas, dan ternyata serangan lima batang toya itu telah dapat tertangkis semua oleh tongkat di tangan Hai-tok. Bukan itu saja, bahkan kini Hai-tok membalas dengan serangan-serangan yang amat cepat dan kuat secara bertubi-tubi kepada lima orang lawannya!

Lima orang itu terkejut ketika toya mereka tertangkis tadi, karena hampir toya mereka terlepas dari pegangan dan tangan mereka seperti hampir patah- patah tulangnya. Apalagi kini lawan telah menyerang dengan amat ganasnya. Untung dalam barisan mereka terdapat kerja sama yang amat baik sehingga mereka dapat saling melindungi dengan cara menangkis dan menghambat serangan Hai-tok kepada seorang kawan dengan cara menyerangnya dari samping atau belakang.

Terjadilah pertandingan yang menarik dan mengagumkan. Lima orang Ngo-heng-tin itu hagaikan lima ekor burung garuda yang menyambar-nyambar, mengepung seekor ular yang melingkar di tengah yang mematuk-matuk dengan kepalanya. Akan tetapi, kanena memang kalah jauh tingkatnya, setiap kali tongkat kakek yang menjadi seorang di antara Empat Racun Dunia itu menyentuh toya, pemegangnya meringis kesakitan dan telapak tangan mereka terasa panas sekali. Karena ini, gerakan mereka, walaupun masih otomatis, nampak kacau. Dan Hai-tok makin lama semakin ganas.

Tiba-tiba terdengar Hai-tok mengeluarkan teriakan melengking, dan tongkatnya, lenyap berubah menjadi sinar emas yang menyilaukan mata. Itulah Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas) yang dimainkan dengan hebat sekali. Harus diketahui bahwa kakek ini memiliki tenaga Thai-lek kim Kong-jiu, tenaga sinkang yang dahsyat, maka begitu dia memutar tongkamya agak ke bawah, lima orang pengeroyoknya terlempar dan terpelanting ke kanan kiri. Mereka tadi sudah berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak atau menangkis. Yang menangkis kena dibabat berikut toya yang menangkisnya, sedangkan yang mengelak tetap roboh oleh angin pukulan tongkat yang dahsyat. Para murid Siauw-lim-pai cepat menolong lima orang itu dan mengotong mereka keluar dan ruangan itu.

Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio, dengan muka merah karena marah, hendak melangkah maju, akan tetapi didahului oleh tiga orang tamu agung yang dipimpin oleh kakek Hwesio kecil kurus yang memegang tongkat pendeta. Melihat majunya tiga orang ini, Hai-tok bersikap waspada. Dia dapat menduga bahwa mereka ini bukan orang sembarangan.

“Siapakah kalian dan mengapa mencampuri urusan antara aku dan Siauw- lim-pai?” bentak Hai-tok sambil melintangkan tongkat emasnya di depan dada.

Kakek kecil kurus itu tertawa.

“He-heh, kami hanyalah pendeta-pendeta yang biasa saja, tidak terkenal seperti Hai-tok. Kami maju bukan karena Siauw-lim-pai, melainkan karena melihat betapa ilmu dipergunakan orang untuk melakukan kejahatan. Kapan saja dan dimana saja, terhadap siapa saja, engkau melakukan kejahatanmu, Hai-tok. Kalau kami melihatnya, tentu kami akan berusaha menghentikanmu.” “Kalau begitu… mampuslah!”

Hai-tok cepat menyerang pada saat kakek kecil kurus itu berhenti bicara. Biarpun lebih dahulu dia bersuara, namun serangannya datang secara mendadak, cepat dan juga mengandung tenaga sinkang yang dasyat, sehingga tongkat emasnya berubah menjadi sinar gemilang dan mengeluarkan suara bersiutan nyaring. Kakek ini memang licik. Melihat tiga orang itu maju, dia hendak cepat-cepat merobohkan seorang di antara mereka, dan menurut dugaannya, pembicara itulah yang merupakan kawan paling tangguh.

“Trakkk!”

Tongkatnya bertemu dengan tongkat hwesio yang dipegang oleh pendeta kurus kecil itu, dan keduanya terdorong mundur walaupun hwesio itu terdorong dua langkah lebih jauh dibandingkan Hai-tok, tanda dia masih kalah kuat oleh Racun Lautan. Akan tetapi dua orang hwesio lainnya, yaitu pendeta dari nepal dan dan Tibet, telah bergerak maju mengepungnya. Pendeta dari Nepal itu menggunakan kedua ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar menutupi tangannya, sedangkan pendeta Lama dari Tibet telah mengeluarkan seuntai tasbeh dengan biji-biji tasbeh berwarna putih seperti batu akik.

Dan ketika mereka berdua bergerak, diam-diam Hai-tok terkejut. Kiranya tingkat kekuatan dua orang Hwesio asing itu tidak berada di sebelah bawah tingkat kekuatan Hwesio kecil kurus! Maklum bahwa dirinya dikepung tiga orang lawan yang tangguh, Hai-tok mengeluarkan suara mengereng keras dan diapun segera mainkan ilmunya yang paling diandalkan, yaitu Kim-kong-pang! Kalau melawan mereka bertiga itu seorang demi seorang, agaknya Hai-tok masih lebih unggul walaupun selisih tingkat kepandaiannya hanya sedikit lebih tinggi dari pada mereka. Akan tetapi mereka bertiga itu maju bersama, dan hal ini membuat Hai-tok kewalahan. Apalagi ilmu silat dan gerakan dua orang Nepal dan Tibet itu amat aneh dan tidak dikenalnya sama sekali. Dua ujung lengan baju dari pendeta Nepal itu lihai bukan main, kadang-kadang menjadi lemas dan ulet, dapat melakukan serangan menyabet dan mencengkeram atau mengait, kadang-kadang menjadi kaku dan dapat

dipergunakan untuk menusuk atau menotok jalan darah!

Juga untaian tasbeh di tangan pendeta Lama itu lihai bukan main. Selain batu-batu yang menjadi biji tasbeh itu kuat dan mampu menangkis tongkat emas tanpa rusak, dan untaian ini diikat dengan tali yang amat kuat dan tidak dapat putus, juga kalau digerakkan untuk menyerang, tasbeh itu mengeluarkan bunyi berkeritikan yang amat nyaring dan menusuk telinga menembus ke dalam dan menggetarkan jantung!

Hal-tok mengamuk dan memutar tongkatnya mengeluarkan jurus-jurus terampuh dan Kim-kong-pang. Melihat betapa tiga orang tamu agung itu hanya mampu mendesak, namun Hai-tok masih terlalu kuat untuk dapat dikalahkan, diam-diam Thian Kong Hwesio memberi isyarat kepada belasan orang muridnya. Dua belas orang murid lalu bergerak maju. Mereka membawa alat semacam jala terbuat dari pada baja. Empat orang memegang sehelai jala pada empat ujungnya sehingga mereka semua kini membawa tiga helai jala dan memasuki medan perkelahian.

Jala-jala itu mulai digerakkan menerkam ke arah tubuh Hai-tok. Kakek ini terkejut, mengelak dan hendak menyerang empat orang pemegang jala, akan tetapi dari belakang, jala lain menubruknya. Ketika dia mengelak, Tiga orang pendeta yang mengepungnya telah menyerangnya lagi. Dikeroyok tiga orang kakek pendeta itu saja sudah merupakan hal yang berat bagi Hai-tok, apalagi kini ditambah oleh tiga helai jarak yang amat berbahaya itu. Akan tetapi dia tidak merasa takut dan mengamuk semakin hebat.

Betapapun kuatnya, Hai-tok yang usianya sudah tujuhpuluh itu, mulai kelelahan. Napasnya mulai memburu dan badannya penuh dengan keringat. Dua kali sudah tubuhnya terkena pukulan tongkat hwesio kecil kurus, dan biarpun pukulan-pukulan itu dapat diterima oleh tubuhnya yang dilindugi kekebalan, namun isi dadanya tergetar juga.

“Brukkkk!”

Sehelai jala dari samping menubruknya pada saat dia menangkis tongkat dan tasbeh lawan. Cepat dia menggulingkan tubuh ke lantai, akan tetapi jala itu mengejarnya dan menubruk sepasang kakinya. Dengan marah Hai-tok memutar tongkatnya. Terdengar suara nyaring, dan ternyata tongkatnya tidak mampu membikin putus tali-tali jala. Dengan marah dia lalu membabat dan empat orang pemegang jala berteriak kesakitan, terpelanting dan tidak mampu bangun lagi karena kaki mereka patah tulang.

Akan tetapi, kaitan-kaitan kecil dari baja yang berada di sebelah dalam jala itu telah mengait kulit daging kaki Hai-tok. Kakek ini meronta dan melepaskan kaitan-kaitan dari kakinya. Akan tetapi pada saat itu, sebuah totokan dengan ujung lengan baju mengenai pundak kanannya, membuat lengan kanannya lumpuh seketika. Dengan marah, dia menggunakan tongkatnya di tangan kiri untuk menyerang pendeta Nepal yang terpaksa harus melompat jauh ke belakang. Jala itu sudah terlepas dari kakinya, akan tetapi lengan kanannya masih lumpuh, maka ketika tongkatnya itu bertemu dengan tongkat hwesio kecil kurus, dia tidak mampu mempertahankan lagi dan tongkat emasnya terlepas dari tangan kirinya!

Hai-tok mengeluarkan suara melengking ganas, dan kini dia mengamuk dengan tangan kosong memainkan ilmu silatnya yang paling ampuh, yaitu dengan pengerahan tenaga Thai-lek Kim-kong-jiu. Ketika sehelai jala menubruknya, dia memapaki dengan pukulan tangan kirinya.

“Braakkkk!”

Jala itu membalik dan menyelimuti empat orang pemegangnya seperti sehelai selimut tertiup angin keras dan empat orang pemegangnya menjerit- jerit kesakitan karena kaitan-kaitan baja kecil menancap di tubuh mereka! Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara berkeritik nyaring dari tasbeh, dan pendeta Lama sudah menyambar ke arah kepala Hai-tok. Kakek ini miringkan kepala dan menggunakan tangan kiri untuk menangkap tasbeh. Akan tetapi pada saat itu, tongkat di tangan hwesio kecil kurus sudah mendorong dengan amat kuatnya ke arah lambung kanannya. Hai-tok berusaha menggerakkan lengan kanan, akan tetapi ternyata lengan itu masih belum dapat digerakkan.

“Dukkk!!”

Tusukan ujung tongkat ke arah lambung kanan itu keras sekali, dan tubuh Hai-tok terpelanting dan terbanting roboh. Pendeta Lama dan pendeta Nepal dengan berbareng menubruk, tubuh pendeta Lama itu menghantam kepala dan ujung lengan baju menotok ke arah dada. Hai-tok berusaha menggulingkan tubuhnya, namun terlambat karena dia sudah berada dalam keadaan hampir tidak sadar oleh tusukan tongkat tadi. Terdengar suara keras ketika tasbeh mengenai kepalanya. Dan pada saat itu, totokan ujung lengan baju juga mengenai jalan darah tepat di dadanya. Entah yang mana lebih dulu merenggut nyawa Hai-tok pada saat itu. Tubuhnya tak bergerak lagi dan tewaslah datuk sesat yang memiliki kepandaian tinggi itu. “Omitohud!”

Tiga orang kakek itu merangkap tangan di depan dada sambil menundukkan muka, kelihatan betapa mereka prihatin sekali dan peristiwa itu sungguh tidak menyamankan hati mereka. Sudah puluhan tahun mereka tidak mencampuri dunia ramai, apalagi menyerang orang. Akan tetapi sekarang ini terpaksa mereka mengeroyok, bahkan membunuh orang, karena kalau mereka tidak turun tangan, tentu datuk sesat itu akan membunuh lebih banyak orang lagi.

Juga Thian He Hwesio dan Thian Kong Hwesio tidak merasa senang. Dengan bijaksana, Thian He Hwesio lalu menyuruh anak murid Siauw-lim-pai untuk mengubur jenazah Hai-tok di lereng gunung, sebelah belakang kuil. Juga memasang bong-pai bertuliskan nama Hai-tok, yaitu Tang Kok Bu. Tiga orang pendeta yang menjadi tamu agung itu juga segera berpamit dan kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Lee Soog Kim segera dapat menyelidiki keadaan gurunya, dan tahu bahwa gurunya gagal mencarikan kitab di Siauw-lim-si, bahkan gurunya tewas oleh pengeroyokkan para pendeta yang berilmu tinggi. Dia merasa menyesal kehilangan guru dan pembantu yang amat baik itu, akan tetapi dia memendam rasa penasaran itu di dalam hati saja, hanya mencatat nama-nama tiga orang pendeta yang menjadi tamu agung dan yang menggagalkan bahkan menewaskan Hai-tok. Kemudian, pemuda ini mengumpulkan semua harta kekayaan gurunya, membubarkan semua anak buah gurunya, dan sambil membawa harta pusaka dan terutama sekali kitab-kitab dari pelbagai perguruan silat yang dikumpulkan suhunya untuknya, pergi meninggalkan Pulau Naga. Dia tidak ingin bentrok dengan musuh sebelum dia menguasai semua ilmu itu, sambil menyembunyikan diri di tempat yang jauh dan dunia ramai.

Lee Song Kim dengan tekun sekali mempelajari kitab-kitab itu, dan karena dia memang memiliki kemauan keras dan bakat yang baik, dia mulai dapat menguasai ilmu-ilmu yang tinggi itu.

Para tokoh perguruan tinggi yang merasa kehilangan kitab-kitab wasiat, ketika mendengar betapa Hai-tok tewas di kuil Siauw-Nm-si dalam usahanya mencuri kitab, kini dapat menduga bahwa tentu Hai-tok pula yang telah mencuri kitab-kitab mereka. Oleh karena itu, berbondong-bondong para tokoh persilatan itu mendatangi Pulau Naga untuk mencari dan mendapalkan kembali kitab-kitab mereka. Akan tetapi, pulau itu telah kosong dan mereka tidak tahu dimana adanya kitab-kitab mereka. Akhirnya mereka tahu bahwa kitab-kitab mereka itu tentu telah lenyap bersama dengan matinya Hai-tok.

Tak seorangpun tahu bahwa kitab-kitab itu kini berada di tangan seorang pemuda yang amat lihai, yang kini menyembunyikan diri dan meggembleng diri dengan kitab-kitab yang rahasia, mempelajari ilmu-ilmu silat pilihan dari partai-partai besar, ilmu-ilmu silat yang bahkan tidak dikuasai oleh sembarangan tokoh partai-partai itu sendiri! Seorang pemuda yang kelak akan menjadi ancaman bagi ketenteraman dunia persilatan, yang akan m enggegerkan dunia persilatan, karena selain menguasai bermacam ilmu silat tinggi berbagai aliran, juga amat cerdik dan licik!

Kita tinggalkan dulu Lee Song Kim yang menggembleng diri dalam persembunyiannya itu, dan melihat keadaan para tokoh lain dalam cerita ini.

Setelah memperoleh persetujan dari guru-guru mereka, Tan Ci Kong melangsungkan pernikahannya dengan Siauw Lian Hong. Pernikahan ini sederhana namun, cukup meriah karena dihadiri oleh banyak tokoh persilatan dan para pejuang. Yang menggirangkan hati mereka adalah ketika tiga pasang orang muda yang juga baru saja menikah, hadir dalam perayaan pernikahan mereka, tiga pasang orang muda itu bukan lain adalah Ong Siu Coan yang telah menikah dengan Tang Ki tanpa sepengetahuan Hai-tok yang tidak menyetujuinya, pasangan bangsawan Yu Kiang dan Ceng Hiang, dan juga Thio Ki dan Ciu Kui Eng. Tentu saja pertemuan antara mereka menimbulkan percakapan yang ramah dan akrab, juga amat menggembirakan.

Hanya Hai-tok yang tidak hadir di antara para datuk, karena Hai-tok telah tewas. Bahkan kematiannya di kuil Siauw-lim-si menjadi bahan percakapan para tamu dalam pesta itu. Di antara para pejuang muda itu, yang paling menonjol kemampuannya adalah Ong Siu Coan. Dengan bantuan Ki Ki dan dengan harta kekayaan dari pusaka Giok-liong-kiam yang terjatuh ke dalam tangannya tanpa diketahui siapapun juga, Siu Coan mulai membangun balatentara yang besar. Dimulai dari para sisa anak buah Thian-te-pang, dia membentuk perkumpulan yang besar dan dinamakan Pai Sing-ti Hwe, balatentara yang makin lama menjadi semakin kuat dan yang kelak akan terkenal sekali dengan nama balatentara Tai Peng (Perdamaian Besar).

Ong Siu Coan kemudian mengangkat diri sendiri menjadi guru besar merangkap pemimpin atau raja, mempersatukan pasukannya dengan cara mengajarkan suatu agama baru. Pada dasarnya agama yang disiarkannya adalah Agama Kristen, akan tetapi karena pengertiannya dalam hal agama ini hanya setengah-setenigah saja, dengan penafsiran-penafsiran yang ngawur, maka agama itu sudah menyeleweng jauh dari aselinya, bahkan bercampur baur dengan pelajaran Agama Tao yang mengandung banyak mistik, dan bercampur pula dengan pelajaran filsafat Khong Cu.

Betapapun juga, seperti dapat diikuti dalam sambungan cerita ini, pemberontakan Tai Peng yang dipimpin oleh Ong Siu Coan dan isteninya Ki Ki itu, sempat menggegerkan seluruh Tiongkok, hampir berhasil menggulingkan pemerintah Mancu. Hal ini tidaklah mengherankan, karena demikian pandainya Ong Siu Coan memimpin balatentaranya sehingga menarik perhatian para orang gagah yang dengan sukarela pada permulaan pemberontakan itu mendukung dan membantunya.

Sampai di sini berakhirlah sudah cerita Giok Liong Kiam bagian pertama ini, dan pengarang terpaksa membagi cerita ini menjadi dua bagian saking panjangnya cerita, dan bagian pertama ini akan disambung dengan cerita Giok Liong Kiam bagian kedua atau Pemberontakan Tai Peng. Di dalam cerita baru ini, para pembaca akan bersua kembali dengan pasangan-pasangan pendekar muda yang menjadi tokoh-tokoh dalam cerita ini, dan Lee Song Kim akan muncul sebagai tokoh lawan yang amat sakti. Juga pedang pusaka Giok-liong- kiam tetap akan menjadi bahan perebutan dalam suasana yang baru, dengan kepentingan-kepentingan baru pula.

Pengarang menutup dengan salam bahagia. Semoga cerita ini bermanfaat bagi para pembaca, dan sampai jumpa dalam cerita berikutnya.

T A M A T