-->

Pedang Naga Kemala Jilid 32

Jilid 32

Mendengar tantangan Thian-tok, Hai-tok menjadi marah bukan main. Dia dan Thian-tok selama ini memang tidak pernah bersahabat. Keduanya adalah dua orang tokoh di antara Empat Racun Dunia, datuk-datuk kaum sesat yang tak pernah saling bersahabat. Kalau akhir-akhir ini mereka memiliki hubungan baik, hanyalah karena keduanya merasa berkewajiban untuk menentang pemerintah penjajah dan orang-orang asing kulit putih. Kini, begitu ada urusan mengenai murid masing-masing, tentu saja mereka saling membela murid dan siap untuk saling gempur.

“Song Kim dan Kiki! Kalian minggir dan jangan mencampuri. Biar kuhajar tua bangka gendut ini!” bentaknya kepada anak dan muridnya.

Dua orang kakek itu lalu melangkah maju saling menghampiri. Thian-tok masih memegang guci arak dan mangkoknya, dua alat minum arak akan tetapi juga dapat menjadi senjatanya yang ampuh. Adapun Hai-tok juga sudah memegang tongkatnya yang indah, tongkat yang terhias emas permata. Mereka kini berhenti dan jarak di antara mereka tinggal dua meter lagi. Sejenak mereka berdiri tegak, saling pandang seperti hendak mengalahkan lawan atau mengukur kekuatan masing-masing dengan pandang mata mereka yang mulai mencorong, sambil diam-diam keduanya mengerahkan tenaga sinkang mereka, menyalurkan tenaga itu ke arah seluruh tubuh, terutama pada kedua tangan mereka.

“Hai-tok, kau majulah kalau tubuhmu sudah gatal-gatal ingin merasakan hajaranku, ha-ha-ha!” Thian-tok berseru sambil mengamang-amangkan guci arak dan mangkoknya ke atas kepala.

“Thian-tok iblis tua bangka gendut, aku sudah sejak tadi bersiap. Engkau yang datang menantangku, majulah untuk menerima gebukan tongkatku!” tantang Hai-tok.

“Heh-heh-heh, engkau mencari penyakit!”

Kata Thian-tok, dan diapun melangkah maju, bergerak aneh dan tiba-tiba guci arak itu menyambar ke arah pelipis kiri lawan sedangkan mangkok bututnya bergerak menyambar ke arah pusar. Nampaknya kedua senjata itu tidak berbahaya, namun Hai-tok yang lebih tahu bahwa biarpun kelihatannya tidak meyakinkan, namun sepasang senjata itu telah mengangkat nama Thian- tok ke puncak ketenarannya. Dia maklum betapa lihainya lawan ini, yang dalam banyak hal memiliki tingkat yang sama dengan dia, maka diapun tidak berani bersikap sembrono. Kakinya melangkah mundur dan untuk menghindarkan serangan berganda lawan itu, dia memutar tongkatnya, bukan hanya untuk melindungi tubuh, melainkan sekaligus untuk balas menyerangI

Akan tetapi, dengan dua buah senjatanya yang istimewa, Thian-tok juga dapat menghindarkan diri dari serangan tongkat itu. Serang-menyerang terjadi dan berkali-kali terdengar suara keras ketika tongkat bertemu dengan guci atau mangkok.

Hai-tok yang maklum akan kelihaian lawan, segera mengeluarkan ilmunya yang paling diandaikan melalui tongkatnya, yaitu ilmu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas). Tongkatnya berputar seperti kitiran bahkan semakin cepat lagi sehingga tidak nampak bentuknya, yang kelihatan hanyalah sinar keemasan yang menyilaukan mata saja dibarengi suara mendengung- dengung.

Thian-tok juga tidak berani memandang rendah. Dia mengerahkan tenaganya dan memainkan limu Silat Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, dan mengimbangi kekuatan lawan dengan Kim-dong-ko, yaitu ilmu kebal yang mencuat tubuhnya dapat menahan senjata tajam. Lawannya, Hai-tok, terkenal dengan tenaga saktinya yang disebut Thai-lek Kim-kong-jiu, yang membuat tangan kakek ini dapat menghancurkan batu karang, maka Thian-tok selalu melindungi tubuhnya dengan ilmu kebalnya.

Mereka saling serang dan saling desak dengan senjata masing-masing, dan ratusan kali senjata mereka saling bertemu, menimbulkan suara nyaring dan bunga api berpijar. Sebeapa kali mereka menarik senjata dan mengamankan senjata masing-masing, takut kalau-kalau senjata yang disayang itu menjadi rusak. Akhirnya, setelah mereka bertanding selama ratusan jurus, Thian-tok melompat ke belakang.

“Nanti dulu, Hai-tok!”

“Thian-tok, kau mundur. Apakah mengaku kalah?” tanya Hai-tok sambil menggunakan lengan baju menghapus keringatnya di leher.

“Ha-ha-ha-ha, belum lecet kulitku, belum retak tulangku, bahkan belum keluar keringatku, siapa yang kalah! Ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa bergelak.

Hai-tok mengerutkan alis. Memang benar, lawannya belum berkeringat di leher dan dahinya. Dia lupa bahwa hal ini adalah karena Iawannya memakai baju yang terbuka sehingga dada, leher dan perutnya telanjang, dan tentu saja tidak mudah berkeringat seperti dia yang berbaju rapat dan tebal.

“Hemm, manusia sombong! Kalau tidak kalah, kenapa mundur dan menghentikan perkelahian?” bentak Hai-tok sambil melintangkan tongkatnya. “Aku hanya takut kalau-kalau senjata-senjataku ini rusak. Aku hendak menyimpan senjata-senjataku ini dan menantangmu untuk berkelahi dengan kedua tangan kosong. Kita dilahirkan hanya dengan kaki tangan, maka marilah kita Ianjutkan dengan menggunakan kaki tangan saja untuk melihat siapa yang sesungguhnya Iebih unggul. Atau, engkau takut bertangan kosong dan hendak menghadapi kedua tanganku dengan tongkat itu? Ha-ha-ha, begitupun aku

berani!”

“Huh, gendut sombong jangan berlagak. Siapa takut padamu? Lihat, aku juga menyimpan tongkatku, dan mari kita bertanding dengan tangan kosong sampai selaksa jurus!”

Hai-tok menyerahkan tongkatnya kepada Song Kim yang menerimanya dengan membungkuk hormat. Girang hati pemuda ini karena dia maklum bahwa dalam hal inipun dia lebih dipercaya oleh gurunya dan pada Kiki, sehingga tongkat pusaka itu dititipkan kepadanyal Selamatlah dia karena gurunya tentu akan membelanya mati-matian. Dia tadi sudah memungut pedangnya dan kini, di samping pedangnya, tongkat pusaka itu berada di tangannya. Andaikata suhunya sampai kalah, dia dapat mempergunakan tongkat itu untuk mengamuk, diapun sudah pernah mempelajari Kim-kong- pang.

Kini dua orang kakek itu, dengan tangan kosong, sudah saling menghampiri. Tubuh mereka yang sama besarnya itu, termasuk kelas beras, bergerak maju perlahan-lahan seperti dua ekor gajah yang hendak berkelahi. Tiga orang muda yang sejak tadi menjadi penonton, Kiki, Siu Coan, dan Song Kim, tidak berani bergerak untuk membantu, karena mereka sudah dilarang untuk mencampuri perkelahian tingkat tinggi itu.

Tentu saja, karena tidak boleh membantu, hati mereka menjadi penuh dengan ketegangan. Terutama sekali hati Kiki. Gadis ini merasa bingung dan diam-diam ia marah kepada ayahnya. Ayahnya sudah menyatakan persetujuannya kepada Siu Coan untuk membantunya membunuh Song Kim. Bagaimana sekarang ayahnya itu berbalik membela Song Kim? Dan kini muncul guru Siu Coan yang membela Siu Coan sehingga berkelahi mati-matian dengan ayahnya. Tentu saja sukar baginya untuk berpihak lagi! Kalau ia berpihak kepada ayahnya, seperti kecondongan hatinya, berarti ia berpihak kepada Song Kim! Dan ini tidak boleh terjadi! Sebaliknya kalau ia berpihak kepada Siu Coan, berarti ia menghadapi ayahnya sendiri sebagai musuh dan inipun tidak boleh terjadi!

Sementara itu, dua orang kakek itu sudah saling serang. Setelah tidak mempergunakan senjata, perkelahian itu menjadi semakin sengit, semakin seru dan ramai sekali. Terdengar suara bak-bik-buk ketika dua pasang lengan itu saling bertemu dan bertumbukan. Dua tenaga sakti saling bertemu dan getarannya sampai terasa oleh tiga orang muda itu. Namun, kedua orang kakek itu memang memiliki kekebalan sehingga biarpun kadang-kadang ada pukulan yang sempat mampir ke tubuh, pukulan itu dapat mereka tahan dan mereka masih juga bertahan, belum ada yang roboh. Keduanya mengerahkan tenaga dan juga mengerahkan kecepatan mereka, dan memang kedudukan mereka seimbang sehingga perkelahian itu berlarut-larut tanpa ada yang mendesak atau terdesak. Saling gebuk, saling tendang, dan kalau dua tenaga raksasa itu bertemu dengan dahsyatnya, paling-paling keduanya hanya terdorong mundur, terhuyung-huyung, kemudian melangkah maju lagi sambil mendengus-dengus penuh kemarahan dan penasaran.

Bukan main Iamanya perkelahian itu. Setelah matahari condong ke barat, keduanya mulai kehabisan tenaga. Hampir sehari penuh mereka berkelahi! Dan mereka adalah kakek-kakek yang usianya tujuh puluh tahun Iebih. Bahkan Thian-tok sendiri yang bajunya terbuka sekarang mandi keringat, demikian pula Hai-tok. Keduanya sudah bermandi peluh sendiri, dan dari kepala mereka keluar uap putih membumbung ke atas, tanda bahwa tubuh mereka panas sekali. Mereka kini agak terhuyung, kehabisan tenaga dan napas. Dengan napas mereka semakin berat, sementara pukulan-pukulan mereka semakin kendur. Bahkan kini mereka tidak berani lagi menendang karena salah-salah dapat terjengkang sendiri kalau menendang dengan sisa tenaga yang tinggal sedikit. Kiki merasa kasihan kepada ayahnya. Ia tidak berpihak, akan tetapi tentu saja sebagai anak, ia khawatir kalau-kalau ayahnya akan roboh bukan karena kalah, melainkan karena kehabisan tenaga dan napas, walapun keadaan Thian- tok tidak jauh bedanya. Ia lalu berkata nyaring.

“Kenapa ji-wi seperti anak-anak kecil saja? Lihat, matahari pun bosan melihat ji-wi dan bersembunyi. Kenapa tidak berhenti dulu dan dilanjutkan kalau hari sudah terang kembali?”

Teriakannya percuma saja, karena dua orang kakek itu dengan keras kepala dan keras hati masih saling gebuk walaupun gebukan mereka kini sudah hampir tak mengandung tenaga lagi, seperti saling tepuk saja.

“Locianpwe Thian-tok dan ayah. Kalau kalian mau berhenti malam ini, aku akan memasakkan daging kijang yang enak untuk kalian, dan memasakkan air teh yang hangat dan harum.”

Ucapan ini menolong. Tiba-tiba saja dua orang kakek itu mendengar betapa perut mereka berkeruyuk. Leher mereka kering haus, dan mendengar penawaran Kiki itu, mulut mereka menjadi basah oleh air liur mereka. Entah siapa yang Iebih dulu memulai, tiba-tiba saja tubuh mereka merenggang dan saling menjauhi, dan keduanya menghadapi Kiki.

“Heh...heh... aku mendengar masakan daging kijang tadi? Mana?” kata Thian-tok.

“Teh hangat? Aih, aku haus sekali Kiki!” kata Hai-tok. Kiki memandang kepada dua orang kakek itu bergantian.

“Kalau kalian mau berjanji malam ini tidak akan berkelahi, aku tentu akan menyediakan makanan dan minuman seperti yang kukatakan tadi, bahkan lebih banyak lagi.”

Dua orang kakek itu saling pandang dan agaknya mereka bimbang. Mau mengalah, merasa malu, diteruskan, sudah terlalu lelah.

“Bagaimana Thian-tok?” tanya Hai-tok. Thian-tok mengangguk cepat.

“Memang tidak enak bertanding dalam gelap. Besok bisa kita lanjutkan.” “Nah, sekarang kalian beristirahatlah, aku akan mempersiapkan makanan

dan minuman,” kata Kiki dengan girang.

Karena tidak berani bermain curang, tiga orang muda itu lalu diam-diam turun tangan dan bekerja. Tanpa diperintah, bukan untuk bermuka-muk,a melainkan karena melihat keperluannya, Song Kim lalu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun, sedangkan Siu Coan pergi untuk mencari kijang atau kelenci. Kiki sendiri sibuk mengumpulkan alat-alat dan bumbu masak.

Thian-tok mengeluarkan guci araknya dan menuangkan arak ke dalam mangkuk. Melihat itu, Hai-tok menelan ludah. Agaknya Thian-tok tahu akan hal ini, maka diapun setelah minum arak dari mangkuk, melemparkan gucinya kepada Hai-tok.

“Nah, kau minumlah dulu dari guciku, Hai-tok, sebelum anakmu selesai membuat air teh!”

Hai-tok menerima guci itu dan tanpa malu-malu lagi membuka tutupnya dan minum arak beberapa teguk, lalu melemparkan kembali guci itu, kepada pemiliknya. Kini dua orang kakek itu, di bawah penerangan sinar api unggun yang kemerahan, mulai memeriksa tubuh masing-masing. Ada perasaan memar pada beberapa bagian tubuh yang terkena pukulan, dan mereka kini memeriksa kedua lengan mereka yang bengkak-bengkak dan matang biru. Masing-masing mengeluarkan obat dan menggosok kedua lengan dan kaki dengan obat gosok.

Memang aneh sekali watak dua orang kakek yang menjadi datuk sesat di antara Empat Racun Dunia ini. Tidak ada kejahatan yang pentang mereka lakukan, namun karena kedudukan mereka yang tinggi, mereka itu merupakan orang-orang yang tidak mau melakukan hal-hal yang akan merendahkan nama mereka.

Seperti keadaan mereka sekarang itu. Kini Thian-tok hanya tinggal sendirian saja. Muridnya Siu Coan, pergi berburu binatang. Dalam keadaan kehabisan tenaga seperti itu, kalau Hai-tok mau berlaku curang, tentu mudah baginya menyuruh Song Kim turun tangan membunuh kakek itu. Akan tetapi tidak, Hai-tok sama sekali tidak sudi melakukan kecurangan ini, bahkan andai kata muridnya itu berani berbuat curang, tentu dia sendiri yang akan menentangnya. Padahal tadi, dalam perkelahian, mereka itu dengan sungguh- sungguh berusaha mencari kemenangan dan berusaha saling merobohkan atau bahkan saling membunuh! Padahal, kalau tidak menghadapi sesama datuk sesat, andaikata menghadapi lawan dari lain golongan, dua orang datuk ini tidak segan-segan untuk melakukan segala macam tipu muslihat dan kecurangan!

Kiranya di antara mereka terdapat semacam kode etik atau persetujuan tanpa kata yang dipegang teguh di antara golongan mereka sendiri! Tentu saja ini hanya dilakukan oleh mereka yang sudah menjadi datuk atau yang kedudukannya sudah tinggi, sehingga mereka perlu menjaga nama dan kehormatan mereka sebagai datuk. Tak seorangpun akan percaya kalau diberitahu bahwa di antara dua orang kakek itu terjadi perkelahian mati-matian kalau dia melihat betapa malam itu mereka berdua duduk bersama menghadapi api unggun sambil menikmati hidangan masakan yang dibuat oleh Kiki!

Kijang muda gemuk yang didapatkan Siu Coan, akhirnya habis semua dagingnya oleh mereka berlima! Setelah makan minum dengan kenyang, dua orang kakek itu menguap dan nampak betapa mereka mengantuk sekali, hampir tidak lagi dapat membuka kedua mata.

“Heh-heh-heh, enak sekali masakan anakmu, Hai-tok! Heh-heh-heh!” kata Thian-tok sambil mengelus-elus perutnya yang gendut.

Hai-tok tersenyum.

“Dan senang sekali dapat berlatih silat denganmu. Aihh, sudah puluhan tahun aku tidak dapat berlatih seenak tadi. Engkau ini tua-tua masih hebat, aku kagum sekali. Akan tetapi tunggu saja sampai besok. Besok aku akan memaksa engkau bertekuk lutut di depan kakiku!”

“Ha-ha-ha-ha!” Thian-tok tertawa.

“Engkaulah yang tua-tua keladi, makin lama makin menjadi. Akan tetapi besok engkau tentu akan roboh dan tak dapat bangkit kembali!”

Keduanya masih ingin saling mengejek, akan tetapi karena kantuk yang hampir tak tertahankan, keduanya menguap berkali-kali dan merebahkan diri dekat api unggun yang hangat.

“Kalian tak boleh menyerang siapapun, tak boleh berkelahi. Urusan ini harus kami berdua yang menyelesaikan melalui perkelahian terakhir besok!” kata Hai-tok kepada murid dan puterinya.

“Siu Coan, jangan kaucampuri urusanku ini. Tunggu sampai besok dan jangan kau melayani siapapun. Tahu?” Thian-tok juga memesan muridnya. Tiga orang muda itu hanya saling pandang. Kehebatan perkelahian antara guru-guru mereka itu membuat urusan di antara mereka, pertentangan di antara mereka nampak kecil tak berarti.

Sebelum tiga orang muda itu menjawab, dua orang kakek luar biasa itu sudah mendengkur dengan keras. Bahkan dalam dengkur itu, mereka seperti berlumba untuk saling mengalahkan. Demikian keras dengkur mereka sehingga banyak binatang hutan yang tidak berani mendekati tempat itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, begitu matahari menyinarkan cahayanya di permukaan bumi, dua orang kakek itu sudah terbangun, mengulet dan tiba-tiba saja mereka teringat akan urusan mereka dan keduanya meloncat berdiri. Mereka kembali mengulet dan merasa segar setelah malam tadi makan dan tidur sampai kenyang. Akan tetapi harus mereka akui bahwa kedua lengan mereka masih terasa nyeri-nyeri dan seluruh tubuh mereka terasa linu dan pegal, tulang-tulang mereka seolah-olah tidak benar letaknya!

Melihat betapa dua orang kakek itu nampaknya sudah siap lagi, Kiki yang tetap merasa khawatir itu berkata.

“Ayah, apakah kalian tidak mau sarapan dulu?”

“Ha-ha-ha, Hai-tok sungguh dimanja anaknya. Anak baik, kalau ayahmu terlalu kenyang makan, tentu belum seratus jurus dia sudah roboh di depan kakiku, terlalu banyak makan, ha-ha-ha…”

“Tidak perlu sarapan, Kiki. Hei, Thian-tok, lihat di angkasa sudah ada tanda-tanda bahwa hari ini adalah hari kematian Thian-tok. Kematian sudah- berada di depan mata dan engkau masih banyak berlagak?”

“Engkaulah yang akan mampus, ha-ha-ha. Mari kita Ianjutkan perkelahian kemarin, Setan Lautan Pemakan Ikan.”

“Iblis gendut, nanti kutendang pecah perutmu!”

Hai-tok juga memaki dan keduanya segera menghampiri lapangan rumput dimana kemarin mereka berkelahi. Dan di lain saat, sudah terdengar suara bak- bik-buk ketika mereka sudah saling hantam dan saling tendang dengan penuh semangat. Tenaga mereka masih utuh sekarang, walaupun badan masih terasa Ielah. Semalam mereka sudah mengatur siasat mencari akal bagaimana harus mengalahkan lawan, maka sekarang mereka mengerahkan tenaga dan menggunakan segala macam akal untuk mencapai kemenangan.

Seperti juga kemarin, Hai-tok memainkan ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu. Ketika Thian-tok yang juga sudah mengatur akal semalam untuk mencari jalan untuk mengalahkan lawan menyerangnya dengan kedua tangan dibentuk seperti cakar-cakar naga, tiba-tiba Hai-tok menangkis dan tubuhnya terpelanting, lalu rebah miring.

Tentu saja Thian-tok merasa girang, sekali dan secepat kilat dia membungkuk untuk mengirim serangan selanjutnya kepada lawan yang sudah roboh. Akan tetapi tiba-tiba tubuh yang miring itu berserak seperti seekor ikan di dalam air, lalu membalik dan kakinya menendang ke arah lutut dan pusar Thian-tok! Kiranya Hai-tok ladi hanya pura-pura saja jatuh, lalu menggunakan gerakan yang diambil dari gerakan ilmu di dalam air yang dikuiasainya ‘berenang’ dan melakukan tendangan tiba-tiba amat kuat. Thian-tok hanya mampu menyelamatkan Iututnya, akan tetapi tendangan kedua yang mengarah ke pusarnya itu terpaksa diterimanya sambil mengerahkan sinkang.

“Desss…!”

Thian-tok tidak terluka karena terlindungi hawa singkang, namun saking kerasnya tendangan, tubuhnya yang gendut itu terpental dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan duduk. “Ngeeek!”

Karena terbanting pantatnya, kakek itu merasa nyeri juga dan menyeringai lebar untuk menutupi rasa nyerinya. Dia sudah bangkit lagi ketika Hai-tok datang melakukan serangan dengan tubuh agak membungkuk seperti seekor kerbau menanduk, akan tetapi yang menjadi tanduknya adalah dua buah tangannya. Melihat serangan yang aneh ini, Thian-tok tertawa akan tetapi juga siap dengan siasat yang diaturnya semalam. Dia membiarkan lawan menyerang sampai dekat, dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan. Dan genggaman tangan kirinya keluarlah tanah dan debu yang tadi dicengkeramnya dengan diam-diam ketika dia terjatuh. Kini tanah berdebu yang dilempar dengan tenaga besar itu menyambar ke arah muka dan leher Hai-tok.

Tentu saja Hai-tok terkejut bukan main. Terpaksa memejamkan mata untuk melindungi mata kemasukan dengan kedua tangannya cepat menubruk dengan cengkeraman ke depan. Namun dia menubruk tempat kosong, dan sadar bahwa lawan menggunakan siasat, dia cepat membaik dan mengayun kedua tangan melindungi tubuh. Akan tetapi kurang cepat. Thian-tok tadi setelah menyambitkan debu, sudah meloncat dan dan atas dia menghantam ke arah tengkuk lawan.

“PIakkk!”

Pukulan itu tertangkis, akan tetapi karena agak terlambat, pukulan itu masih menyeleweng dan mengenai pundak kiri Hai-tok.

“Desss!”

Hai-tok sudah melindungi tubuhnya dengan kekebalan, akan tetapi kerasnya pukulan membuat dia terpelanting roboh! Kakek itu memang lihai sekali, begitu roboh, kedua kakinya melakukan tendangan-tendangan berantai ke atas dan dengan kedua tangan menekan tanah sehingga Thian-tok tidak berani mendekat, dan Hai-tok mampu bangkit kembali dengan loncatan.

Mereka kini berdiri saling berhadapan lagi, dengan napas agak terengah dan kedua mata melotot. Karena masing-masing sudah merasakan hantaman lawan, mereka mulai marah dan muka mereka menjadi kemerahan, sepasang mata mereka memancarkan sinar beringas! Dua orang kakek tua renta itu sudah saling berhadapan bagaikan dua ekor singa yang siap untuk saling terkam!

Tiga orang muda itu menonton seperti kemarin serasa tegang, karena mereka dapat menduga bahwa hari ini, tentu dua orang kakek itu sudah mengambil keputusan untuk menang. Perkelahian hari ini tentu mati-matian dan menentukan, apalagi karena tenaga mereka tentu tidak akan sekuat kemarin lagi. Mungkin belum sampai siang, seorang di antara mereka akan roboh dan bisa juga tewas. Hal ini membuat mereka merasa serba salah. Membantu, berarti mereka melanggar larangan suhu mereka. Tidak membantu, hati merasa tidak tega melihat betapa suhu masing-masing sudah nampak loyo dan repot.

Memang, kedua orang kakek yang usianya sudah amat tinggi itu telah memeras tenaga di luar batas kemampuan tubuh mereka yang tua, sehingga kini mereka sudah mulai nampak kehabisan tenaga dan napas walaupun mereka baru berkelahi tiga empat jam dan matahari belum naik terlalu tinggi.

Kini, dua orang kakek itu tidak dapat mengerahkan sinkang, tidak mampu bergerak cepat. Gerakan mereka lambat sekali, namun setiap gerakan masih mengandung sinkang yang kuat. Pukulan-pukulan dilakukan lambat, namun penuh tenaga, demikian pula tangkisan. Setiap pertemuan kedua lengan, baru nampak betapa hebatnya mereka mempergunakan tenaga sinkang. Sekitar mereka seolah-olah ikut tergetar apabila lengan mereka saling bertemu.

Selagi tiga orang muda itu kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka takukan, tiba-tiba terdengar suara halus namun nyaring.

“Omitohud, kalian seperti anak-anak nakal saja! Harap hentikan pertandingan itu, pinceng mau bicara!”

Tahu-tahu di situ telah berdiri seorang hwesio tua yang bertubuh gendut seperti tubuh Thian-tok, dan tiga orang muda itu tentu saja mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Siauw-biu-hud!

Akan tetapi, dua orang kakek yang sedang berkelahi itu tidak menghentikan perkelahian mereka. Bukan mereka tidak mau mendengarkan dan menuruti permintaan Siauw-bin-hud, melainkan mereka tidak mungkin lagi dapat menghentikan perkelahian itu. Gerakan-gerakan mereka yang lambat itu susul-menyusul. dan apabila seorang di antara mereka mendahului lawan menghentikan serangan, besar bahayanya dia akan terkena pukulan yang akan mendatangkan akibat yang parah.

Melihat ini, Siauw-bin-hud diam-diam terkejut. Tak disangkanya bahwa dua orang kakek sesat ini berkelahi benar-benar, bahkan sudah berada di ambang maut karena keduanya sudah berada dalam keadaan mengadu nyawa. Cepat dia mengeluarkan seruan halus.

“Omitohud!”

Dan tubuhnya menerjang ke depan di tengah-tengah antara kedua orang kakek itu. Siauw-bin-hud mengembangkan kedua lengannya ke kanan kiri, yang kanan menolak tangan Thian-tok, yang kiri menolak tangan Hai-tok.

“Desss...!”

Hebat bukan main pertemuan tenaga antara dua orang kakek yang sedang berkelahi itu dengan tenaga Siauwbin-hud yang menahan mereka. Dua orang kakek itu merasa betapa tenaga serangan mereka amblas ke dalam kelunakan yang membuat mereka merasa seperti terjatuh dan tempat tinggi sekali. Mereka melawan karena terkejut, akan tetapi perlawanan mereka itu mengakibatkan mereka terlempar ke belakang sampai dua meter, sedangkan Siauw-bin-hud berdiri dengan tubuh agak bergoyang-goyang dan mukanya agak pucat.

Kakek Siauw-Iin-pai ini baru saja terhimpit antara dua tenaga raksasa! Dari sini saja dapat diketahui betapa hebatnya kepandaian Siauw-bin-hud, dan dua orang kakek itupun harus mengakuinya. Mereka bangkit berdiri dengan agak susah. Thian-tok dibantu oleh Siu Coan dan Hai-tok dibantu oleh Song Kim yang cepat-cepat menghampini gurunya.

“Siauw-bin-hud, kenapa engkau mencampuri urusan kami? Aku sudah hampir dapat membunuhi Setan Gendut itu tadi!” kata Hai-tok setelah dia dapat mengatur pernapasannya dan dia nampak penasaran.

“Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, Setan Lautan itulah yang tadi sudah hampir mampus. Eh, hwesio yang jahil, apakah engkau hendak pamer kepandaian maka engkau berani melerai kami?”

“Omitohud, sungguh heran sekali, malah kalian yang menegur pinceng!” Siauw-bin-hud tertawa.

“Apakah itu tidak terbalik namanya? Sepatutnya, pinceng yang harus menegur kalian! Sepatutnya kalian, seperti pinceng, berprihatin melihat keadaan negara kita. Lihat, perjuangan rakyat menurun semangatnya, pemerintah penjajah Mancu menjadi semakin Iemah tak tahu malu, menjuali bagian-bagian tanah kepada orang kulit putih, dan lihat… orang orang asing kulit putih itu kini menjadi semakin kuat, merajalela dan kekuasaan mereka semakin meluas. Dalam keadaan seperti ini, kalian bukannya bersatu untuk menyusun kekuatan menentang dan membela tanah air dan bangsa, malah kalian seperti anak-anak kecil saja yang memperebutkan kembang gula, saling pukul sampai loyo! Apakah kalian tidak malu? Omitohud, kalau kalian orang- orang tua tidak memberi contoh yang baik, apalagi yang dapat diharapkan dari yang muda-muda?”

“Ah, engkau tidak tahu apa yang tenjadi di antara kami!” Hai-tok membentak, masih penasaran.

“Murid Thian-tok memukuli muridku, siapa yang tidak akan marah?” “Maaf, locianpwe…” kata Siu Coan membela diri.

“Saya telah mendapat ijin locianpwe Tang-Kok-Bu untuk membantu puterinya, Ki-moi, mencari dan membunuh pengkhianat Lee Song Kim. Bahkan saya sudah diterima untuk menjadi calon suami Ki-moi. Akan tetapi ketika kami menghajar Lee Song Kim, muncul Tang-locianpwe menyerang saya.”

“Nah, nah… apa itu tidak gila namanya? Melihat Siu Coan diserang oleh tua bangka ini, aku merasa ditantang!” Thian-tok menyambung.

“Omitohud...!”

Siauw-bin-hud tertawa lebar.

“Heh-heh-heh, kiranya hanya urusan jodoh. Hai-tok, bagaimana pendapatmu tentang jodoh puterimu?”

“Aku belum pernah meresmikan perjodohan antara anakku dan Ong Siu Coan. Akan tetapi sekarang aku ingin menjodohkan anakku dengan Lee Song Kim!” kata Hai-tok.

“Ayah! Aku tidak sudi!!”

Kiki berteriak memandang ayahnya dengan mata terbelalak penuh penasaran dan kemarahan.

“Engkau harus mau!” kata ayahnya.

“Tidak, lebih baik aku mati saja dari pada menikah dengan dia!”

“Hemm, hendak membantah dan melawan orang tua? Kalau begitu matilah!”

Hai-tok menjadi marah dan mengambil tongkatnya, akan tetapi Siauw-bin- hud sudah di depannya sambil tertawa.

“Ha-ha-ha, urusan perjodohan adalah urusan yang menggembirakan, kenapa harus mengakibatkan seorang ayah hendak membunuh puterinya? Hai- tok, sebenarnya yang ingin menikah itu engkau ataukah puterimu? Yang hendak memilih suami itu engkau ataukah puterimu?”

Mendengar pertanyaan ini, Thian-tok tertawa bergelak, dan muka Hai-tok berubah merah sekali. Dia tahu bahwa pendeta tua itu tidak ingin mengejeknya, namun pertanyaan itu merupakan tikaman bagi hatinya karena dia memang seorang yang suka sekali kepada pemuda-pemuda tampan!

“Gila! Tentu saja anakku!” bentaknya ketus.

“Nah, kalau anakmu yang mau berjodoh, kenapa tidak membiarkan ia memilihnya sendiri? ia yang akan menikah, ia pula yang berhak menentukan calon suaminya, bukan?”

Siauw-bin-hud berkata ramah dan sambil tersenyum. Hai-tok menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya.

“Tidak, tidak akan baik jadinya kalau anak memilih sendiri. Harus orang tua yang memilihkan. Pandangan anak masih sempit dan hijau, hanya melihat ketampanan wajah seorang pemuda saja. Sebaliknya, pandangan orang tua Iebih luas dan jauh jangkauannya, memperhitungkan masa depan anaknya. Tidak, Siau-bin-hud, sekali ini engkau keliru. Pemilihan jodoh seorang anak perempuan harus di tentukan oleh orang tuanya.”

“Heh-heh-heh, ini pandanganmu sebagai orang tua, bukan? Tentu saja begitu! Orang tua memilihkan calon jodoh anak perempuannya sesuai dengan pandangannya, sesuai dengan pandangannya terhadap calon mantu itu. Dan pinceng percaya bahwa orang tua yang memilihkan jodoh anaknya akan memperhitungkannya masak-masak untuk masa depan anaknya. Akan tetapi benarkah demikian? Bukankah si orang tua hanya memperhitungkan masa depan dirinya sendiri? Si orang tua hanya mencari kesenangan hatinya sendiri tanpa memperhitungkan perasaan anaknya? Dia boleh senang kepada calon mantu yang dipilihnya, akan tetapi bagaimana dengan anaknya? Orang tua menganggap bahwa apa yang disukai tentu akan disukai pula oleh anaknya, benarkah pendapat ini? Ingat, Hai-tok, alam pikiran orang tua dan anaknya belum tentu sama, selera di antara mereka mungkin sekali berbeda.”

Sejenak Hai-tok termenung, lalu membantah.

“Akan tetapi Siauw-bin-hud, pandangan seorang gadis muda masih terlatu dangkal dan hijau untuk dapat melakukan pemilihan yang tepat. Ia akan mudah terpikat dan terbujuk omongan manis, sikap yang manis, dan wajah yang gagah tampan. Apakah orang tuanya tidak akan ikut menyesal kelak kalau sampai ternyata kemudian pilihannya itu keliru?”

“Mungkin saja bisa keliru. Akan tetapi kekeliruan karena pilihan sendiri menjadi tanggung jawabnya sendiri, dan si anak yang akan mengalami segala akibatnya, bukan? Orang tua hanya menonton saja. Kalau seorang anak keliru memilih, kelak ia akan menyesali nasib dan diri sendiri yang salah pilih, tidak menyalahkan orang tua. Sebaliknya, kalau orang tua yang salah pilih, dia akan menjadi bulan-bulan penyesalan anaknya!”

Hai-tok mengerutkan alisnya dan memandangi kepada hwesio tua itu.

“Siauw-bin-hud…. engkau memang pandai bicara. Habis, apa yang harus dilakukan orang tua? Menurut saja kepada kehendak anak perempuannya, walaupun dia tahu bahwa pilihan anaknya itu keliru?”

“Ho-ho-ho, jangan menjebak omongan, Hai-tok. Apa yang harus dilakukan orang tua? Bukan orang yang baik namanya kalau membiarkan saja, acuh saja akan segala tindakan anak-anaknya. Orang tua harus memberi kebebasan kepada anaknya, akan tetapi bukan berarti laIu acuh dan tidak perduli. Orang tua mengamati saja dari belakang, dan kalau melihat kenyataan bahwa tindakan anaknya keliru, orang tua berkewajiban untuk mengingatkannya, menasihatinya. Akan tetapi bukan berarti lalu orang tua memaksa anaknya untuk mentaati segala kehendaknya, menerima segala pilihan yang dilakukan orang tua untuk anaknya. Apalagi dalam hal memilih jodoh.”

“Mungkin ada benarnya ucapanmu itu, Siauw-bin-hud. Akan tetapi kenyataannya, kuanggap Lee Song Kim ini seorang murid dan calon mantu yang baik sekali.”

“Ha-ha-ha-ha!” Thiairtok tertawa berlagak.

“Baik apanya? Karena ulahnya, kita berdua hampir mati konyol, Hai-tok! Dan para pimpinan pejuang hampir mati konyol semua! Dan kau masih memujinya sebagai murid dan calon mantu yang baik? Heh-heh-heh!”

“Thian-tok, engkaulah yang mendurhakai golongan kita! Coba ingat baik- baik, apa jadinya dengan murid-muridmu sendiri? Apa jadinya dengan murid Tee-tok dan San-tok? Huh, mereka semua menjadi orang-orang yang meninggalkan golongan kita, condong untuk menjadi pendekar dan menentang golongan kita! Huh, lupakah engkau siapa dirimu, siapa kita, siapa Empat Racun Dunia yang namanya pernah menggemparkan jagad? Hanya muridku seorang inilah yang masih aseli! Dia melakukan apa saja yang hebat, yang tidak kalah oleh tindakan kita! Segala kecurangan dan tipu muslihat itu menunjukkan bahwa dia cerdik dan patut menjadi murid Hai-tok! Dia melakukan semua itu karena ada tujuan yang besar, bukan sekedar main gagah-gagahan! Aku suka padanya dan dia patut menjadi muridku, bahkan patut menjadi mantuku atau puteraku sekalipun I”

Dibantah seperti itu, Thian-tok tak mampu bantah lagi. Memang, tadinya diapun merasa bangga akan tinglah laku Koan-Jit, muridnya yang pertama, yang dalam hal kejahatan tidak kalah oleh Empat Racun Dunia sendiri! Akan tetapi muridnya itu akhirnya tewas sebagai seorang pendekar! Dan Siu Coan inipun tidak begitu menonjol dalam hal kejahatan seperti suhengnya. Apalagi Gan Seng Bu yang mati muda karena tergila-gila kepada seorang wanita kulit putih!

“Ha-ha-ha, sesukamulah Hai-tok, itu urusan pribadimu, aku tidak mau turut campur. Asal engkau tidak mengganggu muridku, akupun tidak perduli,” akhirnya Thian-tok berkata dengan sikap acuh.

“Omitohud...!” Siauw-bin-hud juga tertawa kini.

“Bukankah amat mudahnya melenyapkan permusuhan dan lebih enak hidup damai antara manusia! Hai-tok, urusan jodoh adalah urusan anak, hal itu sudah kau akui kebenarannya. Nah, urusan perjodohan anakmu juga serahkan saja kepadanya sendiri. Biarkan ia yang memilih calon suaminya.”

“Aku memilih Ong Siu Coan!”

Tiba-tiba Kiki berseru. Sebetulnya, hati Kiki hanya satu kali saja pernah tertarik kepada pria, yaitu kepada Tan Ci Kong. Akan tetapi karena dara inipun tahu bahwa Ci Kong dicinta banyak gadis lain, dan melihat betapa Siu Coan yang mendekatinya, iapun menentukan pilihannya kepada Siu Coan, seorang pemuda yang dianggapnya memiliki cita-cita besar sekali.

Hai-tok cemberut. Untuk menentang anaknya, dia merasa malu kepada Thian-tok dan Siauw-bin-hud. Maka sambil bersungut-sungut dia menyumpah. “Anak tolol! Kalau engkau tidak mau berjodoh dengan Song Kim pilihanku, biarlah engkau tak usah kembali ke Pulau Naga dan jangan anggap aku sebagai

ayahmu lagi!”

Kiki adalah seorang anak yang sejak kecil dimanja dan memang wataknya keras dan bandel sekali. Mendengar ucapan ayahnya itu, ia memandang ayahnya dan berkata.

“Kata ayah sendiri bahwa anak harus mentaati perintah orang tua. Nah, sekarangpun aku akan mentaati perintah ayah, aku tidak akan pulang ke Pulau Naga.”

“Ha-ha-ha!”

Thian-tok tertawa bergelak sampai perutnya yang gendut itu bergoyang- goyang.

“Bagus, bagus! Ini namanya Hai-tok rugi kehilangan anak perempuan, akan tetapi aku untung mendapatkan seorang mantu perempuan, ha-ha-ha!”

Siauw-bin-hud melihat betapa sepasang mata Hai-tok mencorong marah, maka diapun cepat berkata sambil tertawa. “Siapa bilang Hai-tok rugi? Dia boleh jadi kehilangan anak perempuan, akan tetapi dia mendapatkan seorang anak Iaki-Iaki sebagai penggantinya.”

Mendengar ini, wajah Hai-tok berseri dan diapun tertawa.

“Ha-ha-ha... orang bilang bahwa anak perempuan itu hanya mendatangkan kesialan belaka, sebaliknya anak laki-laki mendatangkan bahagia. Thian-tok memperoleh seorang anak perempuan, dan aku mendapatkan seorang anak laki-laki, biarlah semua kesialan akan menimpa Thian-tok dan semua kebahagiaan menjadi bagianku. Mulai detik ini, Song Kim kuangkat menjadi pureraku.”

Song Kim yang amat cerdik itu, begitu mendengar ucapan suhunya seperti itu, tanpa membuang waktu lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Hai-tok, memberi hormat dan berkata.

“Ayah. !”

Dian Hai-tok   menerima   penghormatan   itu   sambil   tersenyum   girang.

Dengan berkerut, Kiki melangkah maju.

“Song Kim, di antara kita masih ada perhitungan yang belum kita bereskan! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa tanpa ada campur tangan orang lain! Aku tantang kau, dan kalau engkau tidak berani menerima tantanganku, berarti engkau hanya seorang laki-laki pengecut dan hina, rendah dan tak tahu malu!”

Song Kim memang cerdik. Tadi dia sudah melihat gerakan-gerakan Kiki, dan dia maklum bahwa sumoinya itu telah memperoleh ilmu lain yang membuat sumoinya dapat bergerak amat cepatnya. Mungkin sekarang dia tidak akan mampu mengalahkan sumoinya, maka setelah selesai memberi penghormatan ke ayah angkatnya, diapun bangkit berdiri tanpa menjauhi ayahnya dan berkata dengan halus.

“Sumoi, apakah sebabnya engkau menantangku? Perhitungan apakah yang ada di antara kita?”

“Keparat! Engkau masih pura-pura tidak tahu dan berani bertanya lagi? Lupakah engkau akan apa yang kau lakukan terhadap diriku ketika aku berangkat meninggalkan Pulau Layar? Engkau menyerangku di dalam perahu dan dengan curang merobohkan aku. Kemudian engkau… engkau berusaha untuk memperkosaku!”

Song Kim tertawa, meniru suara ketawa guru atau ayah angkatnya yang jarang tertawa itu.

“Hemm, sumoi…. hal itu hanya membuktikan bahwa aku jauh Iebih cerdik dan pada engkau, sehingga engkau dapat kutundukkan di dalam perahu. Akan tetapi, tidak ada alasannya sama sekati bagimu untuk membalas dendam kepadaku, karena bukankah engkau belum ternodai.”

“Jahanam! Kalau sudah ternoda, lebih baik aku mati!” teriak Kiki marah. Hai-tok berkata, nada suaranya tegas kepada Kiki.

“Kiki, kalau engkau sudah ternoda oleh Song Kim, engkau harus menjadi isterinya. Kalau belum ternoda, sudahlah… tidak ada urusan lagi antara engkau dan dia.”

Melihat betapa ayahnya selalu membela Song Kim, Kiki menjadi marah sekali, akan tetapi ia menghadapi ayahnya, walaupun ia tidak diakui lagi, tetap saja ia tidak berani melawan ayahnya yang juga menjadi gurunya. Mukanya menjadi merah dan ia tidak tahu apakah ia harus marah-marah ataukah menangis. Melihat ini, Siu Coan cepat maju dan berkata dengan suara lantang. “Sungguh penasaran sekali kalau dosa-dosa yang dilakukan Lee Song Kim dibiarkan begitu saja! Semua urusan priibadi boleh kita lupakan. Akan tetapi kita tidak sepantasnya melupakan bahwa dia telah menjadi pengkhianat dan telah menangkap para pimpinan pejuang! Dia telah menjadi musuh para pejuang, maka kita semua akan menjadi pengkhianat pula kalau membiarkan saja dia berkeliaran!”

“Dia tidak selamanya menjadi pengkhianatl” Hai-tok cepat membela.

“Orang yang cerdik selalu bertindak menurut angin yang menguntungkan. Sekarang tidak mungkin lagi bagi dia untuk bekerja sama dengan pemerintah Mancu atau orang kulit putih, berarti dia sekarang menjadi sekutu pejuang.“

Siauw-bin-hud tertawa lagi. Dia tidak menghendaki terjadi perpecahan antara mereka yang diharapkan akan dapat membantu gerakan para pejuang. “Omitohud… di dunia ini, manakah ada yang baik selamanya? Baik dan buruk sudah menjadi pakaian manusia, menguasai diri manusia seperti siang dan malam. Perbuatan-perbuatan yang lalu, yang dianggap jahat dan buruk penuh dosa, dapat saja ditebus dengan perbuatan baik. Ingatlah kepada Koan Jit. Kurang bagaimana dia? Akan tetapi pada saat terakhir, dia menjadi seorang patriot, seorang pahiawan yang dikagumi semua orang. Kalau Lee Song Kim dapat berbuat seperti Koan Jit, bukankah orang akan melupakan semua

perbuatannya yang lalu dan mengaguminya puIa.”

Mendengar ini, Siu Coan tidak dapat membantah lagi. Harus diakui kebenaran ucapen kakek gundul itu. Suhengnya, Koan Jit, memang merupakan pengkhianat yang jauh Iebih besar dibandingkan Song Kim, akan tetapi setelah pada saat kehidupannya yang terakhir, Koan Jit melakukan perbuatan gagah berani, berkorban nyawa demi perjuangan. Orang mengaguminya dan melupakan semua dosanya yang lalu.

Thian-tok juga tidak berani membuka mulut, hanya menyeringai saja karena diapun merasa akan kebenaran omongan Siauw-bin-hud. Dia sebagai guru Koan Jit, tentu saja tidak dapat mencela Song Kim sebagai seorang pengkhianat seperti yang dilakukan oleh Siu Coan.

“Ha-ha-ha, memang tua bangka Siauw-bin-hud memiliki pandangan yang amat luas. Kita semua harus menerima pendapatnya itu, dan sudahlah… aku tidak mau memperpanjang urusan lagi. Siu Coan dan Kiki, sebaiknya kalian melanjutkan perjalanan dan buang saja pikiran kalian untuk membunuh Song Kim! Kini dia telah menjadi putera Hai-tok. Kita menjadi anggauta keluarga besar pejuang.”

“Suhu, teecu hendak melanjutkan niat teecu untuk membentuk pasukan besar,” kata Siu Coan.

“Dan aku akan membantunya!” kata pula Kiki.

“Ha-ha-ha, berangkatlah, muridku, jangan kecewakan harapan gurumu. Engkau harus menjadi pejuang nomor satu di dunia ini, ha-ha-ha!” kata Thian- tok.

Mereka lalu bubaran. Siu Coan bersama Kiki, Song Kim pergi mengikuti Hai- tok, dan yang tinggal di situ kini hanyalah Thian-tok dan Siauw-bin-hud. Dua orang kakek yang sebaya, dengan bentuk tubuh dan muka yang mirip sekali seperti dua orang kembar namun dalam keadaan yang amat berbeda, karena yang seorang adalah pendeta Siauw-lim-pai yang terkenal sebagai seorang pertapa yang hidup bersih, sebaliknya Thian-tok adalah seorang di antara Empat Racun Dunia yang paling jahat! Keduanya sama sakti, juga sama-sama suka tertawa gembira. Kini mereka berdiri berhadapan dan saling pandang sambil menyeringai lebar. “Ha-ha-ha, Siauw-bin-hud, kalau sekali ini engkau tidak muncul, entah akan bagaimana jadinya dengan Hai-tok dan aku. Mungkin kami berdua sudah mampus sekarang. Engkau ternyata dapat memperpanjang usiaku entah beberapa tabun lagi!” kata Thian-tok.

“Bagaimana engkau begini kebetulan dapat muncul di sini?” Siauw-bin-hud tertawa.

“Aha... masih belum tahukah engkau, Thian-tok? Thian sendirilah yang membawa pinceng sampai di sini dan melerai kalian yang sedang berkelahi.”

“Haiii, jangan bohong engkau, hwesio tua! Bagaimana Thian dapat membawamu ke sini? Apakah engkau digendongnya? Ha-ha-ha!”

Biarpun wajahnya masih penuh senyum berseri, Siauw-bin-hud menjawab. “Thian-tok, coba rasakan, apakah jantungmu masih berdenyut?”

Thian-tok terkejut, dan sambil mengerutkan alisnya dia memperhatikan. Dan memang jantungnya masih berdenyut! Untung sekali. Dia tadi sudah terkejut setengah mati mendengar ucapan Siauw-bin-hud itu.

“Coba kauhentikan sebentar saja. Dapatkah?”

“Ha-ha-ha, apakah engkau telah menjadi gila, Siauw-bin-hud? Bagaimana mungkin menghentikan denyut jantung? Kalau berhenti berdenyut, berarti aku sudah mampus!”

“Nah, engkau mengakui juga, bukan? Kalau Tuhan menghendaki, sekarang juga denyut jantung kita terhenti dan kita mati. Namun Tuhan menghendaki bahwa engkau masih hidup, kita masih hidup. Mengertikah engkau sekarang bahwa kedatanganku ini juga dikehendaki oleh Tuhan? Segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan, karena kita hidup inipun atas kehendak Tuhan.”

“Ha-ha-ha, engkau memang pandai membujuk, Siauw-bin-hud. Aku tidak pernah memikirkan tentang Tuhan, melainkan melihat kenyataan. Engkau dapat datang ke sini, sebetulnya hendak kemanakah?”

Dia berhenti sebentar dan memandang tajam menghentikan tawanya.

“Bukankah selama ini engkau hanya bertapa saja? Mengapa sekarang keluyuran sampai di sini. mau apakah engkau?”

“Omitohud...”

Siauw-bin-hud menarik napas panjang.

“Kehendak Tuhan pun terjadilah! Pinceng mendengar akan keadaan yang makin memburuk di negeri kita. Dua kekuasaan besar yaitu pemerintah Mancu dan orang-orang kulit putih bagaikan dua ekor anjing kelaparan yang hendak memperebutkan tanah air kita. Tanah air kita mungkin akan tercabik-cabik oleh dua kekuasaan itu, dan yang menyedihkan, gerakan para pejuang kini menjadi semakin lemah. Karena itulah pinceng keluar dan ingin menganjurkan para pejuang untuk bergerak lagi lebih bersemangat. Kalau bukan kita sendiri yang bergerak, sampai kapankah bangsa dan tanah air kita terbebas dan cengkeraman penjajah?”

Thian-tok tertawa.

“Jangan engkau khawatir, Siauw-bin-hud. Tidak lama lagi akan muncul sebuah angkatan perang yang amat kuat, dengan balatentara yang besar, dipimpin oleh seorang gagah yang kelak akan mengusir penjajah dan bangsa asing Iainnya dari tanah air.”

“Omitohud, alangkah baiknya kalau ramalanmu itu benar. Siapakah orangnya yang akan mampu melakukan itu?”

“Bukan lain adalah muridku tadi… Ong Siu Coan!”

“Omitohud… pinceng melihat dia sebagai seorang muda yang penuh cita- cita. Mudah-mudahan harapanmu terkabul, Thian-tok. Nah, sekarang pinceng hendak melanjutkan perjalanan dan engkaupun usahakanlah agar dapat menghubungi para patriot di seluruh tanah air untuk membantu perjuangan.”

Dua orang kakek ini saling berpisah meninggalkan tempat itu yang kini berubah sunyi sekali.

Sunyi bukan berarti kesepian, melainkan sunyi yang hening. Keheningan mendatangkan kedamaian. Keheningan menonjolkan kekuasaan alam, dan kehenigan baru mungkin muncul kalau batin tidak dibebani oleh bermacam keinginan. Kalau airnya keruh, takkan nampak apa-apa kecuali yang berada di permukaan saja. Akan tetapi kalau airnya jernih, akan nampaklah segala rahasia dan keindahan sampai ke dasarnya.

Thian-te-pang merupakan sebuah perkumpulan orang gagah yang kini menjadi semakin besar semenjak mereka ikut terjun dalam perjuangan karena banyak orang muda perkasa yang tertarik dan masuk menjadi anggauta dan murid Thian-te-pang. Pusatnya berada di lereng bukit Kijang Putih di Propinsi Hunan, di sebelah utara kota Kanton.

Seperti kita ketahui, perkumpulan ini pernah dikuasai oleh Ong Siu Coan. Ketika ketua Thian-te-pang yang bernama Mi Ki Sun melihat betapa kekuasaan Ong Siu Coan makin besar, dia lalu minta bantuan para tokoh kang-ouw yang perkasa untuk merebut kembali kedudukannya, dan melihat betapa di situ hadir banyak tokoh besar di dunia persilatan, dengan cerdik Siu Coan lalu mengundurkan diri sehingga tidak terjadi bentrok antara dia dan Ma Ki Sun.

Pada hari itu, tempat yang menjadi pusat Thian-te-pang nampak ramai, penuh dengan para anggauta Thian-te-pang. Ada dua ratus orang Iebih anggauta Thian-te-pang kini, merupakan orang-orang muda yang rata-rata gagah perkasa dan bertubuh kuat. Pada pagi hari itu, Ma Ki Sun memang memanggil seluruh anggauta untuk berkumpul di situ. Di sebuah lapangan rumput yang amat luas di lereng bukit Kijang Putih, mereka sudah berkumpul. Di tengah lapangan rumput itu terdapat sebuah tihang bambu yang tinggi dan di ujungnya berkibar bendera Thian-te-pang yang bergambar tanda Im dan Yang, yaitu bulatan dimana terdapat bagian yang hitam dan putih saling melingkar. Ltulah tanda perkumpulan ini, dan tanda inipun terdapat di baju semua orang anggauta, terlukis di dada baju mereka.

Setelah dua ratus lebih orang itu berkumpul, keadaan menjadi bising karena mereka semua saling bercakap,seperti dalam pasar saja. Dan memang mereka membicarakan panggilan berkumpul ini, karena mereka semua tahu belaka bahwa sang ketua memanggil untuk memecahkan masalah yang timbul di antara mereka. Ada sebagian yang dengan penuh semangat ingin melanjutkan perjuangan, akan tetapi sebagian pula yang terbanyak, merasa malas dan tidak bersemangat tetapi setelah kini perjuangan pada umumnya mengendur. Banyak sudah korban jatuh di antara para pejuang, namun sampai sekian lamanya, tetap saja pemerintah Mancu bertahan, bahkan kini orang- orang kulit putih makin memperlebar sayap mereka dan bekerja sama dengan pemerintah.

Karena perbedaan paham, tentu saja terjadi pertentangan di antara mereka sendiri, dan kini Ma Ki Sun, yang menjadi pang-cu (ketua) mereka, memanggil semua anggauta untuk berkumpul pada pagi hari itu. Baru setelah ketua Thian- te-pang muncul, kegaduhan itu berhenti dan suasananya menjadi sunyi karena semua orang memperhatikan sang ketua yang memasuki lapangan rumput itu. Ma Ki Sun kini sudah berusia enampuluh enam tahun, tubuhnya kini menjadi agak gemuk, tidak sekurus dahulu. Mata kirinya yang buta membuat dia kelihatan Iebih berwibawa, dengan pakaiannya yang juga memakai tanda gambar lambang perkumpulannya. Wajahnya nampak sekali membayangkan wataknya yang angkuh dan keras, dan memang Ma Ki Sun ini seorang yang keras hati, dengan julukan It-gan Lam-eng (Pendekar Selatan Bermata Satu).

“Para anggauta dan murid sekalian, dengarkan apa yang akan kukatakan kepada kalian!”

Terdengar suara lantang sang ketua setelah dia meloncat naik ke atas panggung yang memang dipasang di bawah tihang bendera. Karena dia berada di atas panggung yang cukup tinggi, semua orang anggauta dapat melihat ketua mereka dengan jelas.

“Kalian semua tahu sudah…” sambung ketua itu yang dapat dikatakan bicara di depan para muridnya atau anak bua-nya.

“Perjuangan telah mengendur dan kedudukan kita sebagai pejuang semakin lama semakin lemah, sehingga kalau kita maju, sama saja dengan membunuh diri. Perjuangan adalah gerakan rakyat seluruhnya. Kalau yang lain mengendur dan mundur, tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk maju sendiri dan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka. Balatentara Ceng terlampau kuat, apalagi kini mereka diperkuat dengan senjata api, dan mereka bersahabat dengan orang-orang kulit putih.

“Kita lawan mereka!!” tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dari para anggauta yang bersemangat.

Banyak di antara mereka yang telah kehilangan keluarga atau kehilangan sahabat karib yang gugur dalam peluangan, maka bagi mereka kini Iebih condong kepada persoalan pribadi yang mendendam dan pada persoalan perjuangan.

“Ya... bunuh semua orang kulit putih!” teriak seseorang yang diikuti oleh banyak orang yaitu mereka yang merasa dendam kepada orang kulit putih karena keluarga mereka menjadi korban senjata api pasukan kulit putih.

Keadaan menjadi lebih gaduh dan pada tadi, karena ada pula orang-orang yang berteriak mendukung sang ketua. Kegaduhan itu tentu akan makin menjadi dan bukan tidak mungkin mereka akan berkelahi satu sama lain kalau saja sang ketua tidak cepat mengangkat kedua tangan ke atas sambil mengerahkan khi-kang dan membentak nyaring.

“Semua diam...! Kuminta semua tenang...!”

Bagaikan dikomando saja, semua orang berdiam diri dan kegaduhan lenyap seketika, membuat suasana menjadi lengang dan aneh rasanya. Setelah melihat keadaan menjadi tenang, Ma Ki Sun mengeluarkan suaranya lagi, kini terdengar ketus dan marah.

“Kalian bersikap seolah-olah segerombolan serigala liar yang tidak ada pemimpinnya lagi! Lihatlah aku! Bukankah aku ketua kalian, guru kalian? Akulah yang berhak mengambil keputusan dan menentukan Iangkah perkumpulan kita. Nah, sekarang dengarkan dan taati saja dan jangan membuat ribut!”

Setelah melihat semua orang tidak ada yang berani mengeluarkan suara, Ma Ki Sun melanjutkan kata-katanya.

“Seperti kukatakan tadi, para pejuang kini mengendur semangat mereka. Bukan kita yang mengendur, namun mereka. Dan kita harus bersikap cerdik, tidak bunuh diri mati konyol! Bukan berarti kita berhenti dan menentang perjuangan, melainkan berhenti dulu dan tidak melakukan hal-hal yang akan mencelakakan diri sendiri. Kita mulai sekarang tidak boleh memusuhi pemerintah atau orang kulit putih, kita melihat keadaan saja. Kalau kelak perjuangan menjadi lagi, barulah kita akan bergerak kembali!”

Tiba-tiba terdengar suara nyaring melengking.

“Ma Ki Sun telah menjadi seorang pengecut! Tidak pantas dia menjadi ketua Thian-te-pang yang gagah perkasa…”

Semua orang terkejut, apalagi setelah melihat berkelebatnya dua bayangan orang, dan ketika semua orang memandang ke arah melesatnya dua bayangan itu, tahu-tahu di atas panggung telah berdiri dua orang muda, seorang laki-laki dan seorang perempuan, berhadapan dengan Ma Kl Sun! Semua orang terkejut, apalagi ketika mengenal bahwa pemuda itu adalah Ong Siu Coan yang telah mereka kenal dengan baik! Dan gadis itu amat cantik manis dan gagah sekali sikapnya.

Sebelum Ma Ki Sun yang terkejut bukan main melihat munculnya Ong Siu Coan itu sempat menegurnya, Siu Coan sudah memandang ke arah bendera yang berkibar di puncak tihang dan berkata, suaranya tetap nyaring seperti tadi sehingga terdengar oleh semua anggauta yang berdiri mengurung di bawah panggung.

“Aiihh, sungguh sayang sekali bendera Thian-te-pang yang demikian agung itu hari ini harus tercemar oleh sikap ketuanya yang pengecut. Sebaliknya, bendera itu ku selamatkan saja dari tangan seorang pengecut. Ki- moi, tolong kau ambikan bendera itu!”

“Baik, toako!” kata Kiki.

Dan gadis itu dengan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah mencelat ke atas, membuat salto dan setiap kali berjungkir balik, tubuhnya melayang semakin tinggi, tangannya menyentuh tihang dan membuat salto lagi sampai akhirnya ia tiba di puncak tihang, tangannya kini meraih gagang bendera dan sekali cabut, bendera itu telah berada di tangannya. Lalu dengan gerakan indah, dengan salto liga kali, tubuhnya meluncur turun membawa bendera yang berkibar, dan dengan ringan kedua kakinya hinggap di atas papan panggung pula.

Menyaksikan pertunjukan demonstrasi ginkang yang demikian hebatnya, banyak anggauta Thian-te-pang tak dapat menahan kekaguman mereka dan mereka bertepuk tangan memuji, bahkan ketua Ma Ki Sun sendiri memandang bengong. Harus diakuinya bahwa gadis itu memiliki ginkang yang amat luar biasa, dan belum pernah dia melihat orang mampu melakukan hal seperti itu. Akan tetapi melihat kemunculan bekas saingannya itu, mendengar kata-kata Siu Coan, kemudian melihat bendera pusaka perkumpulannya dirampas orang, tentu saja Ma-pangcu menjadi marah bukan main.

“Ong Siu Coan! Apa maksudmu dengan kedatanganmu kali ini, dan dengan kata-katamu yang lancang bahkan berani merampas bendera kami. Engkau sudah menghina Thian-te-pang?”

Siu Coan tertawa, sengaja tertawa keras agar terdengar oleh semua anggauta.

“Ha-ha-ha! Ma Ki Sun! Aku tadi hanya kebetulan saja lewat bersama tunanganku, dan aku tidak akan mencampuri seandainya tidak mendengar kata-katamu tadi. Engkau sendiri menyelewengkan para anggauta Thiau-te- pang yang gagah perkasa dan patriotik! Engkau hendak menyeret mereka dan pejuang-pejuang gagah perkasa menjadi pengecut-pengecut dan pengkhianat- pengkhianat yang hina. Tentu saja aku tidak rela! Kalau engkau tidak lagi mampu memimpin saudara-saudara yang gagah ini, biarlah aku yang memimpinnya mulai detik ini!”

“Ong Siu Coan! Engkaulah yang pengkhianat besar! Siapa tidak tahu bahwa engkau pernah menjadi kaki tangan orang kulit putih?” bentak Ma Ki Sun, khawatir sekali karena sikap pemuda ini dapat menarik simpati para muridnya, seperti dahulu.

“Ha-ha-ha… kata-katamu itu menunjukkan bahwa engkau memang tolol! Pengetahuanmu dangkal sekali dan orang macam engkau ini akan memimpin Thian-te-pang? Phuhh! Akan dibawa kemana perkumpulan besar ini? Aku memang menyelundup ke dalam kalangan orang kulit putih, bukan untuk berkhianat seperti engkau, melainkan untuk mempelajari keadaan mereka! Nah, buktinya sekarang aku berada di luar dan menentang mereka, bukan?”

“Ong Siu Coan, jangan engkau mencampuri urusan Thian-te-pang. Engkau bukan orang kami, pergilah sebelum aku menyuruh semua anak buahku untuk menangkap atau membunuh kalian berdua, dan kembalikan bendera kami!”

Kembali Siu Coan tertawa.

“Ha-ha-ha, apakah engkau tidak melihat bahwa sebagian besar dari para saudara Thian-te-pang setuju dengan aku dan mereka berpihak kepadaku? Andaikata ada sebagian yang berjiwa pengecut sepertimu dan memihak padamu, apa yang akan dapat mereka lakukan? Lihat, tempat ini sudah terkepung!”

Siu Coan mengeluarkan suara melengking dan nampaklah puluhan orang yang memakai pakaian seragam indah biru putih, dan mereka itu semua menodongkan anak panah dan gendewa yang sudah dipentang, bahkan di antara mereka ada pula yang menodongkan senapan atau pistol! Sikap puluhan orang itu gagah sekali, pakaian mereka yang seragampun indah! Mereka adalah anak buah Siu Coan yang memang telah dipersiapkan Iebih dahulu.

Tentu saja Ma Ki Sun terkejut sekali, dan para anggauta Thian-te-pang juga terkejut dan gentar.

“Ha-ha-ha, Ma Ki Sun. Sebelum orang-orang yang berpihak denganmu bergerak, dada mereka akan ditembusi anak panah atau peluru panas! Saudara-saudara anggauta Thian-te pang semua yang tercinta. Lihatlah baik- baik... bukankah saudara-saudaramu yang kini menjadi pembantuku memiliki perlengkapan yang Iebih baik? Kalian akan menjadi seperti mereka kalau mau memilih aku menjadi ketua!”

“Hidup pendekar Ong Siu Coan!” “Hidup Ong-pangcu...!”

Teriakan-terakian ini yang menyebut Siu Coan sebagai ketua Ong membuat Ma Ki Sun marah bukan main.

“Bangsat Ong Siu Coan! Engkau baru bisa menjadi ketua setelah aku roboh tak bernyawa!”

“Ah, begitukah? Kalau begitu, mari kuantar engkau ke neraka!” kata Ong Siu Coan sambil tersenyum mengejek.

Pada saat itu, nampak seorang laki-laki melompat naik ke atas panggung. “Suhu, biar teecu yang menghadapi penjahat ini!” bentaknya, dan orang itu

bukan lain adalah Lui Siok Ek, murid kepala Thian-te-pang, murid yang paling pandai dari Ma Ki Sun.

Lui Siok Ek usianya sudah hampir enam puluh tahun, tubuhnya agak pendek namun matanya mencorong penuh semangat. Siu Coan memandang rendah.

“Ha-ha, kalian berdua majulah, biar kubereskan sekaligus!”

Akan tetapi, Ma Ki Sun yang biarpun maklum bahwa ilmu silat Siu Coan amat lihai, tidak mau merendahkan diri.

“Kami bukan golongan pengecut yang suka melakukan pengeroyokan!” Dia berkata dengan suara lantang agar didengar oleh para muridnya.

“Toako, biar aku yang menghajar tikus ini!” kata Kiki sambil menyerahkan bendera yang tadi diambilnya dari puncak tihang.

Sambil tertawa, Siu Coan menerima bendera itu, lalu berdiri di pinggir panggung melihat Kiki yang menghadapi lawannya. Seperti juga suhunya, Lui Siok Ek sudah mengenal Siu Coan dan sudah tahu akan kelihaian Siu Coan. Bahkan mendiang Coa Bhok yang lihai, wakil ketua Thian-te-pang, sute dan Ma Ki Sun, roboh oleh Siu Coan. Akan tetapi Lui Siok Ek yang setia kepada gurunya, tidak perduli akan bahaya dan dia sudah maju mewakili suhunya. Kini, melihat bahwa yang menghadapinya bukan Siu Coan, melainkan gadis cantik itu, hatinya merasa agak lega. Biarpun gadis itu tadi memperlihatkan ilmu ginkang yang luar biasa, dia tidak merasa gentar seperti kalau harus melawan Siu Coan, dan dia sudah sudah mencabut pedangnya.

“Singgg...!”

Nampak sinar berkilau ketika pedang itu dicabutnya dan diputar-putarnya di atas kepala membentuk gulungan sinar pedang. Kiki menghadapi Lui Siok Ek sambil tersenyum mengejek. Ia tidak mengeluarkan pedangnya, melainkan menghadapi lawan itu dengan tangan kosong, karena begitu melihat gerakan pedang lawan, walaupun ia tahu bahwa lawannya cukup tangguh, namun ia merasa kuat untuk menandinginya.

“Majulah!” katanya sambil tersenyum.

“Apa perlunya kau memutar-mutar pedang itu? Di sini tidak ada anak kecil untuk ditakut-takuti!”

Diejek seperti itu, tentu saja Lui Siok Ek menjadi marah. Dia adalah jagoan nomor satu di antara semua murid dan anggauta Thian-te-pang, dan kini gadis yang masih ingusan ini mengatakan bahwa pedangnya hanya pantas untuk menakut-nakuti anak kecil. Akan tetapi dia adalah seorang gagah, tentu saja merasa malu kalau harus menyerang seorang gadis muda sekali itu dengan pedang sedangkan lawannya bertangan kosong.

“Bocah sombong, jangan banyak tingkah. Keluarkan senjatamu dan tandingi aku!”

Kiki memperlebar senyumnya. Tahi lalat di pipinya membuat senyumnya nampak manis sekali, akan tetapi ucapannya menyengat perasaan lawan.

“Aku tidak biasa mempergunakan senjata terhadap lawan yang tidak ternama. Majulah dan pergunakan pedangmu, kedua tanganku sudah cukup untuk menghadapi pisau dapurmu itu.”

Muka Lui Siok Ek menjadi semakin merah, matanya melotot. Tidak saja dia diejek sebagai lawan yang tidak ternama, akan tetapi sekarang pedangnya malah dikatakan pisau dapur! Padahal, dengan pedangnya ini, entah sudah berapa puluh lawan roboh olehnya.

“Perempuan lancang mulut! Aku adalah Lui Siok Ek, murid nomor satu di Thian-te-pang, dan kalau engkau tidak pandai menggunakan senjata, biarlah kuIawan engkau dengan tangan kosong pula!”

Dia IaIu menyimpan pedang ke dalam sarung pedangnya dan memasang kuda-kuda dengan sikap gagah di depan Kiki. Mula-mula kedua kakinya terpentang Iebar, tangan kiri membentuk cakar ke atas kepala, tangan kanan ditekuk di depan pusar, kemudian perlahan-Iahan namun dengan sikap tegap dan dua kakinya membuat gerakan melingkar dan kedua Iengannya juga membuat silang-silang di depan dada, kemudian kembali kepada posisi semula, akan tetapi kini lebih dekat di depan Kiki. Gadis ini melihat semua itu sambil tersenyum geli.

“Hanya murid?”

Kiki tertawa sambil menutup mulutnya dengan lagak mengejek sekali.

“Sayang, muridku tidak kubawa, kalau ada dia, tentu akan kusuruh dia melawanmu.”

“Cerewet! Bersiaplah dan mari kita bertanding, bukan hanya berkicau!” bentak Lui Siok Ek marah.

“Kaukira sejak tadi aku mengapa? Aku sudah siap sebelum engkau menjual Iagak. Nah, seranglah!” kata Kiki, akan tetapi tubuhnya tidak membuat gerakan apa-apa, tidak memasang kuda-kuda seperti umumnya orang hendak berkelahi atau bersilat.

Kiki berdiri begitu saja seenaknya, bahkan tangan kirinya bertolak pinggang dan sikapnya acuh, seolah-olah ia tidak sedang menghadapi seorang lawan yang siap menyerangnya, melainkan sedang bercakap-cakap dengan seorang sahabat yang akrab.

Di antara para anggauta Thian-te-pang yang tentu saja merasa kagum kepada nona yang cantik manis dan menarik perhatian dengan demonstrasinya mengambil bendera tadi, diam-diam merasa khawatir sekali. Mereka ini mengenal Lui Siok Ek, murid kepala yang mewakili ketua Thian-te-pang mengajarkan ilmu silat kepada mereka, mengenal betapa lihainya orang pendek itu, dan betapa kadang-kadang kalau marah Lui Siok Ek amat galak dan dapat bertindak keras dan kejam, mereka tahu bahwa saat itu Lui Siok Ek amat marah! Dugaan mereka memang benar. Mendengar ejekan dan melihat sikap yang memandang rendah kepadanya, dia tidak mampu lagi menahan kesabarannya.

“Perempuan sombong, lihat seranganku!”

Berkata demikian, Lui Siok Ek menggerakkan tubuhnya, tangan kiri menyambar dari atas, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala gadis itu seperti cakar garuda, sedangkan tangan kanannya membarengi serangan pertama mengirim totokan ke arah lambung Kiki! Serangan itu hebat sekali, sekaligus kedua tangan menyerang dan keduanya sama bahayanya, dapat mendatangkan maut.

Melihat serangan yang hebat ini, banyak orang merasa ngeri. Namun, Kiki masih tetap tersenyum dan masih berdiri seenaknya, seolah-olah tidak mengenal datangnya bahaya maut. Akan tetapi, setelah kedua tangan lawan tiba dekat, tangan kirinya yang tadi bertolak pinggang, tiba-tiba mencuat ke atas dan jari tangannya yang kecil mungil menyambut datangnya cengkeraman itu dengan totokan ke arah pergelangan tangan, sedangkan tangan kanannya dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, telah meluncur ke depan, kedua jari telunjuk dan tengah sudah menusuk ke arah mata lawan, sedangkan totokan tangan lawan dielakkannya dengan menggoyang pinggulnya sehingga lambung yang ditotok berpindah tempat!

Gerakannya cepat bukan main sehingga Lui Siok Ek mengeluarkan seruan kaget sekali. Bukan hanya lengan kirinya terancam totokan, akan tetapi juga sepasang matanya bisa menjadi buta kalau terkena tusukan dua jan tangan itu! Terpaksa dia lalu menarik kembali tangan kirinya dan melempar tubuh ke belakang sehingga terhindar dari bahaya, akan tetapi dia harus berjungkir balik sampai dua kali untuk menghindarkan serangan susulan lawan. Ketika dia sudah berdiri lagi dalam jarak yang agak jauh, ternyata gadis itu sama sekali tidak mengejarnya, dan masih berdiri seperti tadi, seenaknya dengan tangan kiri bertolak pinggang dan mulut tersenyum.

“Heii…! Engkau ini hendak bertanding ataukah mau main sirkus!” Kiki mengejek.

“Baru segebrakan saja sudah mau melarikan diri!”

Lui Siok Ek tidak menjawab, melainkan mengeluarkan suara menggereng marah dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, langsung mengirim pukulan- pukulan keras bertubi-tubi, seolah-olah lupa bahwa yang diserangnya secara hebat itu hanyalah seorang gadis muda. Akan tetapi Kiki memperlihatkan kelihaiannya. Ginkangnya sudah menjadi hebat bukan main semenjak ia mewarisi Ilmu Hui-thian Yan-cu dari kitab peninggalan Tat Mo Couwsu, dan kini dengan enak saja ia berlompatan ke sana sini, menggeser kaki dan tidak pernah menangkis, melainkan hanya mengelak namun tidak ada sebuahpun pukulan yang dapat mengenai sasaran, bahkan menyentuh ujung pakaiannyapun tidak. Papan panggung itu sampai mengeluarkan bunyi berkeretakan ketika Lui Siok Ek terus mendesak dengan serangan-serangan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya. Makin lama, semakin hebat pula serangannya karena ia semakin penasaran melihat betapa semua serangannya mengenai tempat kosong belaka.

Mereka berputar-putar di panggung itu, Kiki masih tersenyum-senyum sambil melangkah mundur, meloncat ke samping, kadang-kadang tubuhnya mencelat ke atas sedemikian cepatnya hingga lawan menjadi bingung, dan ketika lawan membalikkan tubuh, ternyata ia sudah berada di depannya. Semua mengikuti pertandingan ini dengan hati tegang dan kagum, kadang- kadang ada saja murid Thian-te-pang yang tidak dapat menahan ketawanya mehhat betapa Lui Siok Ek kebingungan karena kehilangan lawan yang tiba- tiba saja lenyap dari depannya dan tahu-tahu sudah berada di belakangnya! Setelah puas mempermainkan lawan, tiba-tiba terdengar suara gadis itu membentak nyaring.

“Berlututlah kau!”

Semua orang terbelalak karena melihat benar-benar Lui Siok Ek menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu! Sihirkah ini? Akan tetapi bagi Lui Siok Ek, sama sekali bukan sihir, karena ujung sepatu Kiki mencium lututnya dan tentu saja kakinya menjadi lemas seketika dan tertekuk lututnya di depan gadis itu. Lututnya tidak terluka, hanya lumpuh untuk beberapa detik saja. Hal ini membuat Siok Ek semakin marah. Dicabutnya pedang dari sarung, dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah melakukan serangan maut dengan pedangnya, kini tidak perduli lagi bahwa gadis itu sama sekali tidak memegang senjata.