-->

Pedang Naga Kemala Jilid 24

Jilid 24

“Baik, suhu…” kata Diana dengan gembira.

Dan iapun mulai bekerja membanting tulang. Ternyata tidaklah semudah yang diduganya. Sumber air itu berada jauh di bawah puncak, di lereng yang terjal. Membawa diri sendiri saja naik turun tempat itu amatlah sukarnya, apa lagi sambil memikul air! Mula-mula, air sepikul yang dibawanya itu montang- manting ketika dipikul, dan sebagian airnya tumpah sehingga ketika ia tiba di puncak, ia hanya berhasil membawa air yang bersisa sedikit sekali. Namun, gadis ini tidak pernah putus asa, dan dengan gigih ia mencoba terus. Juga ia berbasil mendapatkan sayur-sayuran yang tumbuh jauh dari puncak, membawanya pulang dan memasak sayuran itu untuk ia dan San-tok.

Setelah bekerja selama hampir satu bulan, Diana sudah mulai dapat memikul air ke puncak dan sisa air setengah lebih! Ia tidak lagi mengalami kesukaran dalam mencari bahan makanan maupun air.

Pada suatu sore, setelah bekerja hampir sebulan, Diana terpaksa berada di dalam guha, karena di luar hujan turun dengan derasnya, disertai kilat menyambar-nyambar. Ia melihat suhunya duduk bersila dan timbul rasa penasaran di hati Diana. Selama satu bulan, suhunya mendiamkannya saja, jangankan diberi pelajaran ilmu silat, diajak bicarapun tidak! Ia merasa penasaran dan sekaranglah waktuaya untuk menegur dan memprotes, pikirnya.

“Suhu...” tegurnya.

Sampai tiga kali ia memanggil, barulah San-tok membuka matanya dan memandang dengan alis berkerut.

Semenjak ada Diana, kakek ini jarang tersenyum lagi. “Ada apa lagi?” bentaknya.

“Suhu, sudah hampir satu bulan aku bekerja di sini, mengerjakan semua perintah suhu tanpa mengenal lelah. Akan tetapi selama ini, suhu belum memenuhi kewajiban suhu. Kewajiban sepatutnya dikkukan kedua pihak, bukan sepihak saja. Aku sudah memenuhi kewajibanku, memenuhi semua perintah suhu, akan tetapi suhu...”

“Aku? Berkewajiban? Eh, Diana, kewajiban apa yang ada padaku!” bentak kakek itu marah.

“Kewajiban memenuhi janji suhu. Bukankah suhu sudah menerimaku sebagai murid? Mengapa suhu belum juga mengajarkan ilmu silat?”

“Huh, bocah tolol! Apa yang kuajarkan kepadamu selama sebulan ini jauh lebih bermanfaat bagimu dari pada kalau engkau belajar ilmu pukul tendang selama tiga bulan! Dan kau masih mengomel bilang aku tidak mengajarkan apa-apa padamu? Belajar ilmu silat tidaklah semudah yang kauduga. Dan sekarang aku mau mengajarkan padamu ilmu yang luar biasa. Mari!”

Kakek itu bangkit dan dengan girang. Diana ikut pula bangkit. Akan tetapi, betapa kagetnya ketika tiba-tiba gurunya menyambar lengannya dan menariknya keluar dari dalam guha, menerjang air hujan lebat. Dan lebih kaget lagi hatinya ketika tiba-tiba gurunya memegang kedua pundaknya dan tahu- tahu tubuhnya sudah melayang naik ke atas batu karang yang berada di depan guha. Kakek itu meloncat lalu mendaki batu karang itu sambil membawa tubuh Diana, seolah-olah batu karang itu datar. Padahal, batu itu meruncing dan menjulang ke atas! Dan tidak mudah memanjat batu karang karena selain terjal juga amat licin. Akan tetapi dalam waktu sekejap, tahu-tahu kakek itu telah tiba di puncak, lalu meletakkan tubuh Diana di atas puncak.

“Nah, engkau bersila di sini dan berlatih samadhi!” katanya lalu diapun melayang turun kembali jauh di bawah, dan setelah tiba di bawah, kakek itu memandang ke atas sambil tertawa bergelak.

Kemudian diapun masuk ke dalam guha, membiarkan Diana duduk bersila di atas puncak batu karang itu sambil berteriak-teriak dan menangis!

Diana merasa takut bukan main. Hujan turun dengan lebatnya. Air hujan yang menimpa muka dan tubuhnya yang tidak dapat terlindung pakaian yang koyak-koyak itu, seperti ribuan jarum menusuk-nusuknya. Angin yang bertiup kencang seolah-olah mendorong-dorongnya agar jatuh dari atas puncak batu karang. Dan belum lagi kilat yang menyambar-nyambar. Mengerikan!

Diana menjerit-jerit memanggil suhunya dan menangis minta diturunkan. Ia sendiri tidak mungkin turun dari situ. Jangankan Diana, biar orang yang pandai ilmu silat sekalipun, takkan mudah turun dari tempat itu. Sekali terpeleset, tentu akan jatuh dan tubuh akan menimpa batu-batu di bawahnya, tentu akan remuk! Dapat dibayangkan betapa tersiksanya badan dan batin Diana. Akan tetapi gadis ini segera melihat kenyataan. Ia sudah ditaruh di situ, ini merupakan sebuah kenyataan yang sudah yang tak dapat lagi, baik oleh ia sendiri maupun oleh siapa juga! Ia berada di puncak batu karang yang menjulang tinggi, di bawah siraman air hujan, tiupan angin keras dan ancaman kilat yang menyambar-nyambar. Tak dapat diatasi dengan rasa tangis! Juga ia tidak dapat turun sendiri.

Ratap tangis hanya akan melemahkan batinnya, dan kalau mempengaruhi tubuhnya, maka ia akan menjadi semakin lemah. Rasa takut hanya datang karena ia membayangkan hal-hal yang mengerikan, membayangkan disambar kilat, membayangkan terjatuh ke bawah. Kalau tidak membayangkan hal-hal itu, tidak ada lagi rasa takut! Dan tersiksa hanya timbul kalau ia melawan dalam batinnya. Mulailah ia merasa tenang dan ia membetulkan letak duduknya bersila. Dari Lian Hong ia sudah mempelajari cara duduk yang benar dalam samadhi. Ia lalu duduk bersila dengan baik, melipat kedua lengan di depan dada. Pikirannya dibiarkan bebas dan bersatu dengan rasa di tubuhnya, tanpa ada tanggapan batin atau pikiran lagi. Dirasakannya dengan penuh perhatian tiupan angin, jatuhnya air hujan menyiram tubuhnya, didengarkan bunyi kilat dan guntur.

Dan sungguh aneh! Karena pikirannya tidak membayangkan apa-apa lagi, lenyaplah segala kekhawatiran, hilanglah segala rasa takut! Dan lebih aneh lagi, air hujan yang tadinya menyiksa di samping keruncingannya, kini terasa olehnya kesejukan yang luar biasa. Tiupan anginterasa pula kenyamanannya, dan bunyi kilat menyambar-nyambar itu tidak begitu menakutkan lagi, bahkan menimbulkan rasa kagumnya karena kebesaran alam nampak jelas di sekitar dirinya saat itu. Dan iapun mulai mengatur pernapasannya, duduk dengan diam seolah-olah menjadi bagian dari batu karang itu sendiri, menjadi puncaknya!

San-tok minum arak sambil tertawa-tawa. Rasakan kau sekarang, pikirnya. Besok pagi ia tentu akan merengek minta diturunkan dan dia akan mengajukan syarat, mau menurunkan asal gadis itu berjanji akan meninggalkan tempat itu dan selanjutnya tidak akan mengganggunya lagi! Aha, akhirnya dia yang akan menang dan gadis yang berhati baja itu tentu dapat ditundukkan!

Karena hatinya merasa puas dan lega, malam itu San-tok tidur dengan amat nyenyaknya, dan pada keesokan harinya, baru setelah matahari naik tinggi, dia bangun dari tidurnya. Segera dia teringat kepada Diana. Tentu gadis itu kini sudah lemas karena ketakutan dan kalau dia keluar, tentu dara itu akan merengek minta ampun dan minta agar diturunkan dari tempat hukumannya!

“Ha-ha-ha, tikus cilik, pagi ini engkau akan betul- betul minta ampun!”

San-tok tertawa kemudian keluar dari dalam guhanya. Akan tetapi, begitu dia keluar dari guha dan memandang ke arah batu karang meruncing itu, dia terbelalak kaget. Dia tidak melihat seorang gadis yang menangis atau lemas atau atau merengek minta ampun! Sebaliknya, dia melihat Diana duduk bersila di puncak batu karang itu, dengan tubuh tegak, kedua lengan terlipat di depan dada, dalam keadaan samadhi yang tenang! Sama sekali tidak nampak takut, bahkan tubuh itu sedikitpun tidak gemetar, melainkan duduk diam seolah-olah tubuh itu bukan dari kulit daging lagi, melainkan pahatan batu pualam yang amat indah dan yang menjadi satu dengan puncak batu karang! Demikian hebat dan indahnya pemandangan itu, membuat San-tok melongo dan dari mulutnya terdengar ucapan yang dilontarkan di luar kesadarannya,

“Hebat… indah sekali...”

Seolah-olah bukan Diana yang dilihatnya, melainkan hasil seni pahat yang amat luar biasa.

“Suhu...”

Panggilan ini mengejutkan hati San-tok, dan diapun cepat menoleh. Kiranya Lian Hong datang berlari-lari. Agaknya Lian Hong juga melihat tubuh Diana yang duduk bersila di atas batu karang itu.

“Suhu, kenapa dan bagaimana Diana bisa duduk bersila di sana?” Pertanyaan itu mengandung teguran dan kekhawatiran. San-tok tertawa.

Dia seorang yang amat cerdik. Perlakuan yang diberikan kepada Diana itu untuk memaksa Diana menjadi jera dan tidak mengganggunya lagi. Akan tetapi sekarang, Lian Hong sudah kembali dan tentu saja dia tidak dapat bertindak semaunya, ia terlalu sayang sehingga agak takut kepada murid yang dipeliharanya sejak kecil ini.

“Ha-ha-ha, dara bule itu berbakat sekali! Lihat, baru satu bulan ia sudah kuberi latihan samadhi di puncak batu karang itu, padahal dahulu, setelah kepandaianmu cukup tinggi baru engkau berlatih di situ.”

“Suhu, berbahaya sekali berlatih di sana. Belum waktunya Diana diberi latihan seberat itu. Biar kuturunkan Diana!”

Berkata demikian, Lian Hong lalu memanjat batu karang itu dengan kesigapan seekor monyet. Mendengar suara Lian Hong, Diana membuka matanya. Begitu membuka mata, ia melihat betapa tingginya tempat ia duduk dan ia cepat memejamkan kembali kedua matanya. Pikirannya yang kembali membuat bayangan yang menyeramkan, membuat ia ketakutan lagi. Akan tetapi Lian Hong sudah tiba di dekatnya.

“Diana, mari kita turun. Nah, kau berpegang kepadaku dan mari kuajari bagaimana untuk dapat memanjat turun,” kata Lian Hong dengan tenang.

Ketenangan dan kesigapan Lian Hong membesarkan hati Diana dan dengan hati-hati ia lalu merangkak turun sambil berpegang kepada Lian Hong. Akhirnya mereka tiba juga di bawah dengan selamat, disambut oleh San-tok yang tertawa-tawa. Begitu tiba di bawah, Diana lalu merangkul Lian Hong dan terisak! Lian Hong membalas rangkulan gadis bule yang telah menjadi sumoinya itu.

“Eh, Diana… kenapa engkau menangis?” Lian Hong bertanya sambil melempar pandang mata tajam ke arah gurunya.

“Sumoi... aku... aku girang sekali melihat engkau pulang, Lian Hong suci!

Aku aku rindu sekali padamu...”

“Hong Hong, bagaimana dengan tugasmu?”

Kakek yang merasa lega mendengar ucapan Diana yang sama sekali tidak menuntutnya itu, kini bertanya kepada Lian Hong.

“Sudah berhasil baik, suhu. Inilah pedang itu.”

Lian Hong lalu mengeluarkan sebatang pedang dengan sarungnya yang sudah tua sekali dari balik jubahnya. San-tok menerimanya dengan girang. Pedang itu memang serupa benar dengan pedang Giok-liong-kiam yang palsu, yang mereka ambil dari Koan Jit. Sebuah pedang kecil berukir tubuh naga, terbuat dari batu kemala yang warnanya hijau kemerahan. Buatannya indah bukan main, jauh lebih indah dari pada yang palsu, walaupun bentuknya serupa.

“Ha-ha-ha, tak kusangka bahwa benda seperti ini menjadi rebutan orang sedunia!”

Kakek itu lalu membawa pedang Giok-liong-kiam ke dalam guha, sementara itu Lian Hong mengajak Diana untuk bertukar pakaian.

Berhari-hari lamanya kakek San-tok sembunyi di dalam guhanya untuk meneliti pedang dan mencari rahasia yang disembunyikan. Lian Hong yang mendapat kenyataan bahwa memang kini Diana telah memiliki keuletan dan kekuatan berkat gemblengan yang amat berat selama gadis bule itu berada di situ, mulai memberi latihan-latihan dasar ilmu silat kepada sumoinya, setelah memperoleh perkenan dari San-tok.

Tepat sepekan lamanya San-tok dengan tekun melakukan penyelidikan, dan pada suatu pagi, dengan gembira dia keluar dari guhanya. Lian Hong dan Diana yang sedang berlatih silat segera menyambutnya dan ikut bergembira melihat betapa kakek itu nampak girang bukan main.

“Sudah kudapatkan… sudah kutemukan rahasianya!”

Kakek itu bersorak sambil membuka lipatan kertas dengan hati-hati, karena kertas itu sudah kuning saking tuanya. Dia berhasil menemukan kertas lipatan itu yang disembunyikan secara cerdik sekali di dalam gagang pedang yang berlubang. Dua orang gadis itu segera mendekat dan ikut melihat apa yang tertulis di atas kertas berlipat itu.

Ternyata kertas tua itu memuat sebuah gambar pemandangan alam pegunungan. Coretannya kasar dan tak dapat disebut lukisan yang baik, akan tetapi di situ terdapat tanda-tanda dan di puncak pegunungan itu terdapat sebuah kuil. Huruf-huruf kecil yang terdapat di situ hanya menunjukkan ukuran jarak, tidak disebutkan gunung apa itu dan dimana tempat itu.

“Wah, wah... pembuat peta yang ceroboh sekali,” kakek San-tok mengomel, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar penuh ketegangan dan kegembiraan.

“Suhu, agaknya kita harus mengenal sendiri pemandangan itu, tentu demikian maksud si pembuat peta tanpa menyebutkan dimana tempatnya, yang menujukan peta itu kepada orang-orangnya sendiri yang sudah mengenal lukisan pegunungan itu,” kata Diana yang ikut membantu memikirkan.

“Engkau benar, akan tetapi siapa dapat mengenal pemandangan pegunungan seperti ini? Di mana-manapun sama saja...”

“Nanti dulu, suhu!” tiba-tiba Lian Hong berkata dan memandang lebih teliti.

“Aku seperti pernah melihat pemandangan seperti ini. Lihat puncak yang rasanya ujungnya pecah menjadi tiga itu! Dan letak kuil itu… dengan sebatang pohon yang amat besar dan tua di belakangnya. Bukankah itu kuil Siauw-lim- si? Aku masih ingat benar, ketika suhu mengajakku mengunjungi kuil itu dan bertemu dengan locianpwe Siauw-bin-hud. Ketika kita berhenti di lereng untuk makan, kuil itu sudah nampak dari sana, dan aku melihat kuil itu penuh kekaguman karena teringat akan besamya nama Siaw-lim-pai. Persis seperti dalam lukisan ini, Suhu!”

“Siauw-lim-pai... ? Wah, wah... aku tidak ingat lagi. Akan tetapi, siapa tahu dugaanmu itu benar. Urusan besar ini tak dapat kulakukan sendiri. Biar aku akan mengajak Tee-tok dan Hai-tok untuk kuajak bersama-sama. Pusaka itu harus dapat kutemukan…”

Dengan gembira sekali, kakek itu menyerahkan Giok-liong-kiam kepada Lian Hong.

“Aku sengaja menyuruh engkau yang mencari dan mengambil pusaka ini. Rahasia yang dikandungnya adalah pusaka yang akan kita sumbangkan untuk perjuangan, akan tetapi pedang ini menjadi hak milikmu. Jagalah baik-baik. Hari ini juga, aku akan berangkat mencari Tee-tok dan Hai-tok mencari pusaka itu. Hong Hong, engkau menanti aku di sini sambil melatih Diana. Kalau ia sudah menjadi muridku, setidaknya ia harus memiliki kekuatan dan kepandaian, jangan sampai kelak menjadi bahan ejekan orang bahwa ia sudah pernah berguru kepadaku. Ajarlah ia dengan keras agar ia cepat dapat menguasai ilmu-ilmu kita, walaupun tidak banyak.”

Pada hari juga, San-tok meninggalkan Pegunungan Wuyi-san. Lian Hong pun semakin giat melatih ilmu silat kepada Diana yang belajar dengan tekun. Dan memang, sebagai seorang kulit putih, Diana memiliki ketekunan dan keuletan yang mengagumkan, dan iapun berbakat sekali karena gerakan- gerakannya tidak kaku. Hal ini mungkin dapat terjadi karena gadis ini telah menyelami kehidupan para petani di negeri itu. Tata kehidupan yang sudah diselaminya itu membuat ia tidak merasa asing dengan kebudayaan di situ, dan pergaulannya dengan para ahli silat membuat ia mampu menerima pelajaran ilmu silat dengan mudah walaupun untuk dapat mengusainya, ia harus berlatih dengan giat dan tekun.

Beberapa hari setelah San-tok pergi, pada suatu pagi selagi kedua orang gadis itu berlatih silat, tiba-tiba terdengar suara halus.

“Ahai... kiranya Diana kini telah pandai bermain silat!”

Lian Hong cepat menoleh, demikian pula Diana, dan keduanya girang bukan main ketika mengenal siapa yang berseru itu.

“Kui Eng-ci...” Lian Hong berseru girang.

“Wah, kau membikin aku merasa malu saja, Kui Eng!” Diana juga berseru girang.

Lian Hong sudah mengenal baik gadis murid Tee-tok itu, bahkan ia pernah menolong Kui Eng ketika gadis itu tertawan oleh Koan Jit. Juga Diana sudah berkenalan dengan Kui Eng ketika mereka bersama guru mereka berkunjung ke kuil dimana Siauw-bin-hud mengadakan perundingan dengan guru mereka. “Enci Eng, angin baik apakah yang meniupmu simpai ke sini?” Lian Hong

bertanya sambil memegang tangan sahabatnya itu.

“Adik Hong, aku diutus oleh suhu untuk menemui suhumu. Dimanakah locianpwe Bu-beng San-kai?”

Girang hati Lian Hong melihat betapa gadis itu menyebut gurunya Bu-beng San-kai, bukan San-tok.

“Suhu sedang turun gunung untuk mengunjungi gurumu, enci Kui Eng!” “Ahhh... sayang… aku tidak berjumpa dengan dia di perjalanan. Kalau

begitu, perjalananku ini sia-sia belaka...” “Ada kepentingan apakah, enci Eng?”

“Suhu ingin sekali mendengar tentang hasil usaha gurumu menemukan pusaka Giok-liong-kiam yang aseli.”

“Sudah kudapatkan, enci!”

Karena tahu bahwa antara guru mereka terdapat kerja sama untuk perjuangan, Lian Hong lalu menceritakan dengan terus terang bahwa pedang Giok-liong-kiam telah ditemukannya dan suhunya telah pula mendapatkan peta yang tersembunyi di dalam gagang pedang.

“Peta itu menunjukkan tempat dimana tersimpan pusaka itu, enci Eng. Dan karena suhu menganggap urusan itu amat penting, maka dia lalu turun gunung untuk mengadakan kerja sama dengan gurumu, juga dengan locianpwe Hai- tok Tang Kok.”

Kui Eng ikut merasa girang mendengar cerita itu.

“Ah, mudah-mudahan saja guru-guru kita akan berhasil. Keadaan di tanah air kita sedemikian buruknya sehingga perlu kita semua menyumbangkan tenaga untuk mengusir penjajah Mancu dan juga…”

Kui Eng menghentikan kata-katanya dan melirik ke arah Diana. Diana tersenyum dan merangkul pundak Kui Eng.

“Kenapa berhenti? Biar kulanjutkan kata-katamu, Kui Eng. Kita harus mengusir penjajah Mancu dan orang-orang kulit putih! Jangan khawatir, aku sendiripun sama sekali tidak setuju dengan tindakan bangsaku. Mereka seharusnya menjadi tamu-tamu terhormat, menjadi rekan-rekan dalam perdagangan yang saling menguntungkan. Aku akan membantu kalian mengusir mereka kalau mereka masih bersikap seperti sekarang, menyelundupkan candu dan menduduki bandar-bandar besar dengan kekuatan kapal-kapal perang mereka!”

Lian Hong juga tersenyum.

“Jangan khawatir kepada sumoi Diana, enci Eng. Biarpun ia berkulit putih, bermata biru dan berambut emas, namun hatinya bersih dan ia memiliki kegagahan.”

Karena sudah terlanjur berada di situ dan mendengar bahwa San-tok sedang pergi mencari gurunya, Kui Eng lalu menerima undangan Lian Hong dan Diana untuk tinggal di situ selama beberapa hari. Iapun ingin sekali menikmati keindahan tamasya alam di sekitar Pegunungan Wuyi-san. Terdapat suara keakraban yang mendalam di antara tiga orang gadis ini. Setiap hari mereka berlatih silat, bercakap-cakap atau berjalan-jalan ke puncak-puncak lain dari pegunungan Wuyi-san dengan penuh kegembiraan.

Sepekan lamanya Kui Eng tinggal di puncak Naga Putih di Pegunungan Wuyi-san, setiap hari nampak bergembira bersama Diana dan Lian Hong. Hari ke delapan, iapun pamit untuk pulang karena khawatir kalau-kalau ia ditunggu- tunggu oleh suhunya. Biarpun dengan hati berat, Diana dan Lian Hong menyetujuinya dan mengantarnya sampai ke lereng puncak itu.

“Ah, aku ingin agar engkau selalu dapat berada di sini bersama kami, Kui Eng. Senang sekali dekat dengan engkau yang manis dan gagah,” kata Diana.

Kui Eng tersenyum.

“Engkaulah yang manis, Diana. Dan kelak engkaupun akan menjadi seorang gadis yang gagah perkasa. Mudah-mudahan saja kelak engkau dapat berguna bagi bangsamu, setidaknya dapat menginsyafkan bangsamu yang melakukan kelaliman di tanah air kami.”

“Enci Kui Eng… kenapa tergesa-gesa amat? Menanti beberapa hari lagi di sini kurasa tidak ada salahnya,” kata Lian Hong.

“Hong Moi, kenapa engkau ingin bersenang saja? Bukankah tenaga kita dibutuhkan oleh tanah air dan bangsa? Kalau kita yang muda-muda ini hanya ingin bersenang-senang saja, lalu sampai kapan bangsa kita tercengkeram oleh penjajah? Kurasa sudah terlalu lama kaum muda bangsa kita tertidur sehingga orang-orang Mancu itu seenaknya saja menjajah kita sampai turun-temurun. Aku harus cepat bertemu kembali dengan suhu dan secepatnya menghubungi teman-teman seperjuangan. Bukankah suhu kebagian tugas mengabarkan tentang kepalsuan Giok-liong-Kiam yang berada di tangan Koan Jit itu agar mereka semua menghentikan perebutan pusaka itu? Nah, cukup sampai di sini saja kalian mengantar, selamat tinggal sampai jumpa pula!”

Akan tetapi pada saat itu, Kui Eng dan Lian Hong terkejut. Pendengaran mereka yang terlatih dan peka itu dapat menangkap suara orang berkelahi, jauh di bawah sana. Keduanya saling pandang.

“Ada perkelahian!” kata Lian Hong dan Kui Eng mengangguk.

“Apa yang kalian maksudkan?” tanya Diana yang tidak dapat menangkap suara perkelahian yang dilakukan oleh orang-orang pandai itu.

“Mari, sumoi, di bawah sana ada orang-orang berkelahi. Jangan-jangan suhu yang berkelahi, mari kita turun dan lihat!”

Lian Hong lalu merentangkan tangan Diana dan bersama Kui Eng menggandeng tangan diana turun dari lereng itu, menuju ke arah suara perkelahian. Siapakah yang berkelahi di kaki bukit itu?

Seorang pemuda yang gagah perkasa sedang menghadapi pengeroyokan dua orang tosu (pendeta Agama To) yang juga lihai sekali. Ci Kong, pemuda itu, setelah beberapa lamanya mewakili Siauw-bin-hud membujuk para pendekar dan perkumpulan silat yang besar untuk dalam keadaan sekacau itu mengadakan persatuan dengan segala golongan untuk menghimpun kekuatan menghadapi penjajah dan orang kulit putih, kini menerima tugas dari suhunya untuk menghubungi San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, untuk memberitahu bahwa Siauw-bin-hud kini hendak bertapa selama kurang lebih satu bulan. Kakek ini memang sudah seringkali menerima getaran batin untuk melakukan tapa dan kini dia hendak bertapa untuk mencari cara terbaik untuk perjuangan kaum patriot.

Karena tempat terdekat adalah Wuyi-san, maka dia lebih dahulu berkunjung ke gunung ini untuk menjumpai San-tok. Akan tetapi, ketika ketika tiba di lereng pertama, dia bertemu deagan dua orang tosu. Agaknya, dua orang tosu ini memang sudah lama bersembunyi di tempat itu, karena ketika Ci Kong lewat, mereka secara tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, dan Ci Kong terkejut mendengar suara orang menegur.

“Orang muda, berhenti dulu!”

Dia menengok dan melihat bahwa yang tiba-tiba muncul itu adalah dua orang tosu yang usianya tentu tidak kurang dari enampuluh tahun. Dia memandang penuh perhatian. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus berjenggot panjang, mengenakan jubah kuning dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan bunga teratai putih. Kakek ini memiliki sepasang mata yang sinarnya mencorong aneh. Adapun tosu kedua bertubuh tinggi besar dengan perut gendut, mukanya bersih polos tanpa jenggot, rambutnya digelung ke atas. Kakek ini juga berjubah kuning, jubah pendeta atau pertapa, dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan pat-kwa (segi delapan).

Melihat lukisan-lukisan di dada kedua orang tosu itu, diam-diam Ci Kong terkejut. Dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan dua orang tosu dari pek- lien-pai (Perkumpulan Teratai Putih) dan Pat-kwa-pai (Perkumpulan Segi Delapan), dua buah perkumpulan yang menggunakan nama perjuangan, akan tetapi di samping memusuhi pemerintah penjajah juga melakukan bermacam kejahatan yang amat keji, sesuai dengan agama mereka yang menyeleweng dan mengarah pemuasan nafsu dengan ilmu-ilmu yang aneh dan yang biasa disebut ilmu hitam.

Ci Kong menjadi waspada, akan tetapi dia teringat akan pesan sukongnya atau gurunya, yaitu kakek Siauw-bin-hud bahwa dia bertugas untuk menghimpun segala kekuatan yang ada untuk mempersatukan kekuatan- kekuatan itu dari aliran dan golongan manapun juga agar dapat dibentuk kekuatan yang dasyat dari rakyat untuk menghadapi pemerintah penjajah dan orang asing. Maka, diapun mengesampingkan kecurigaannya dan dengan sikap hormat dia lalu menjura.

“Selamat bertemu, ji-wi locianpwe. Agaknya ji-wi mempunyai keperluan maka memanggil saya?”

Sikap ramah dan hormat dari Ci Kong agaknya tidak diperdulikan oleh dua orang kakek itu, atau dipandang ringan. Yang tinggi kurus bertanya dengan suara sambil lalu.

“Siapa engkau, orang muda… dan ada hubungan apa engkau dengan San- tok maka engkau muncul di tempat ini?”

Ci Kong mengerutkan alisnya. Tosu ini benar-benar amat sombong, dan agaknya mempunyai niat tertentu terhadap San-tok. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa San-tok adalah seorang datuk sesat, tidaklah aneh kalau San- tok kenal baik dengan tosu-tosu seperti ini. Dan siapa tahu bahwa San-tok menghubungi mereka untuk bersama menghimpun tenaga menghadapi penjajah. Maka diapun masih tetap ramah ketika memperkenalkan diri.

“Ji-wi lociapwe, dalam keadaan negara kacau seperti ini, kiranya di antara kita semua terdapat satu pertalian batin yang kokoh kuat untuk bersama-sama menghadapi pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih. Karena itu harap ji-wi tidak menaruh curiga kepada saya. Nama saya Tan Ci Kong, dan saya datang ke sini untuk menemui locianpwe San-tok karena diutus oleh kakek guru saya.”

Dua orang tosu itu saling pandang, dan kini tosu gendut tinggi besar yang bertanya, suaranya parau dan besar.

“Dan siapakah kakek gurumu itu?”

Tanpa ragu-ragu lagi, Ci Kong memperkenalkan nama besar kakek gurunya, karena dia memang bermaksud untuk membujuk kedua orang ini agar Pek-lian- pai dan Pat-kwa-pai suka bekerja sama untuk menghadapi musuh.

“Kakek guru saya dikenal dengan nama Siauw-bin-hud...” Tiba-tiba Sikap kedua orang kakek itu berubah.

“Kiranya jahanam kecil ini dari Siauw-lim-pai!” bentak tosu tinggi kurus, dan dia sudah menerjang dan menyerang Ci Kong dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala yang disusul tusukan jari tangan kiri ke arah pusar.

Gerakkan ini hebat sekali, merupakan serangan maut yang berbahaya, maka Ci Kong yang sama sekali tidak menyangka dirinya akandiserang, cepat merendahkan tubuh sehingga pukulan ke arah kepala itu luput, sedangkan tusukan jari ke arah pusarnya ditangkis dengan tangan kanannya.

“Plakk!”

Tangan tosu yang menusuk itu terpental saking kuatnya tangkisan Ci Kong. “Nanti dutu, harap ji-wi totiang (saudara pendeta berdua) suka bersabar.

Saya bukan musuh, bahkan mengajak ji-wi untuk bekerja sama...”

Akan tetapi tosu tinggi kurus tadi sudah menjadi semakin penasaran dan marah, apalagi karena tangkisan tadi membuka matanya, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, seorang pendekar dari Siauw-lim-pai yang selalu menjadi musuhnya.

“Jahanam dari Siauw-lim-pai, tak perlu banyak cakap lagi. Semua orang Siauw-lim-pai adalah musuh kami berdua!” bentaknya.

“Semua iblis sombong dari Siauw-lim-pai harus dibasmi untuk membalaskan sakit hati saudara-saudara kami yang entah sudah berapa banyak menjadi korban keganasan mereka!” bentak pula kakek gendut.

Ci Kong bukan tidak tahu bahwa memang sejak dahulu, para murid Siauw- lim-pai selalu menentang para anggauta Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, akan tetapi penentangan itu bukan didasari rasa permusuhan, melainkan karena setiap murid Siauw-lim-pai tentu akan menentang perbuatan jahat. Dan anak murid kedua perkumpulan itu terkenal jahat dan kejam, maka tentu saja di mana-mana ditentang. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu karena dia ingin mengajak mereka berbaik kali ini.

“Nanti dulu, ji-wi locianpwe. Dari kakek guru saya sendiri, Siauw-bin-hud, saya ditugaskan untuk mengajak semua aliran dan golongan di dunia persilatan untuk bekerja sama menghadapi penjajah. Alangkah baiknya kalau sementara ini, kita melupakan dulu semua urusan pribadi, menggalang persatuan untuk menghadapi penjajah.”

“Tak perlu membujuk kami, engkau seorang tokoh Siauw-lim-pai, harus mati di tangan kami!” bentak tosu pek-lian-pai.

“Harap ji-wi bersabar. Siapakah ji-wi sebenarnya yang mati-matian hendak memusuhi dan membunuh saya yang tidak pernah mengenai ji-wi?”

“Buka telingamu  baik-baik  agar  engkau  tidak   mati  menjadi  setan penasaran karena tidak tahu siapa yang menjadi pembunuhmu. Aku bernama Ciok Im Cu, seorang di antata pimpinan Pek-lian-pai, sedangkan dia ini Ban Hwa Seng-jin, seorang tokoh pimpinan pat-kwa-pai. Semenjak puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu antara Siauw-lim-pai dengan kami telah ada permusuhan. Entah berapa banyak anak buah kami yang tewas di tangan orang-orang Siauw-lim-pai, maka tak perlu banyak cakap lagi. Engkau sudah mengenal nama kami. Nah, bersiaplah untuk mampus!”

Berkata demikian, Ciok Im Cu tosu dari pek-lian-pai itu sudah menyerang lagi dengan lebih sengit, disusul oleh Ban Hwa Seng-jin yang juga menyerang dengan buas. Ci Kong maklum bahwa bicara dengan mereka ini memang tidak ada gunanya. Dan diapun menyaksikan sikap kakek gurunya. Bijaksanakah mengajak orang-orang seperti ini untuk bekerja sama? Jangan-jangan mereka ini tidak membantu perjuangan, malah mengotorkan perjuangan itu sendiri.

Teringat dia dengan sikap anak buah pasukan yang keji sekali, kejam terhadap rakyat di dalam pergolakan perang. Mereka merampok, membunuh dan memperkosa rakyat. Agaknya, orang-orang dari golongan hitampun akan berbuat serupa. Orang-orang pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ini adalah orang- orang yang menganut kepercayaan sesuatu, yang amat fanatik, dan karena kefanatikannya itu dapat berbuat kejam bukan main.

Berbeda dengan golongan seperti para datuk, seperti Empat Racun Dunia misalnya. Mereka itu adalah orang-orang yang berdiri sendiri, tidak mempunyai anak buah tertentu, dan andaikata mempunyai anak buah sekalipun, seperti halnya Hai-tok, mereka bertindak secara terbatas. Mereka ini lebih tepat dinamakan orang-orang liar yang tidak perduli akan segala tata cara atau hukum, hidup seenaknya sendiri saja.

Akan tetapi, setidaknya, orang-orang seperti datuk-datuk itu masih mempunyai perasaan cinta tanah air. Seperti telah terbukti, perjuangan orang- orang seperti pek-lian-pai dan pat-kwaipai, sejak dahulu tidak pernah berhasil, karena mereka itu hanya merongrong pemerintah dengan perbuatan-perbuatan mereka yang jahat, mengeruhkan suasana, mengadakan kekacauan dimana- mana sehingga mereka itu lebih dikenal sebagai penjahat-penjahat yang hendak dibasmi pemeritah. Bukan pejuang-pejuang yang memberontak terhadap pemerintah penjajah demi membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah asing.

Menghadapi serangan-serangan yang demikian berbahaya, Ci Kong juga cepat bergerak melakukan perlawanan sambil mengerahkan tenaga sinkangnya dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan untuk menandingi dua orang tosu yang lihai itu.

Tan Ci Kong adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang istimewa. Menurut tingkat, sebenarnya tingkatnya masih rendah, hanya terhitung murid keponakan dari empat orang pimpinan Siauw-lim-pai. Akan tetapi, karena dia menerima gemblengan langsung dari kakek Siauw-bin-hud, maka tingkat kepandaiannya dapat dikatakan sebanding dengan tingkat kepandaian ketua Siauw-lim-pai yang sekarang, yaitu Thian He Hwesio! Maka, begitu kini menghadapi dua orang lawan tangguh, dia mengeluarkan kepandaiannya dan dua orang tosu itu segera terdesak mundur!

Hal ini amat mengejutkan Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng jin. Mereka adalah tokoh-tokoh kelas satu dari perkumpulan masing-masing, dan kini mereka berdua maju mengeroyok seorang anggauta Siauw-limipai yang masih begini muda, mereka tidak mampu menang bahkan dalam waktu beberapa puluh jurus saja mereka telah terdesak mundur! Hal ini membuat kedua tokoh itu menjadi malu dan penasaran, kemudian marah sekali.

Ciok Im Cu nampak meloncat mundur, menggosok-gosok kedua tangannya, mulutnya berkemak-kemik, dan teryata dia sedang mengerahkan tenaganya menggunakan ilmu hitam atau sihirnya. Kemudian tiba-tiba dari mulutnya terdengar bunyi tangis! Tangis yang amat menyedihkan, tangis ratap memilukan disertai isak dan sesenggukan. Dan kakek inipun sambil mengeluarkan bunyi tangis itu, menerjang maju lagi dengan hebatnya.

Ci Kong tadinya terheran-heran mendengar kakek itu menangis. Akan tetapi dia menjadi terkejut karena suara tangis itu menjadi berlipat ganda banyaknya, datang dari segala penjuru seakan-akan dia terkepung oleh puluhan orang yang sedang menangis sedih! Dan pada saat itu, Ciok Im Cu sudah menyerangnya pula.

Ci Kong menguatkan batinnya untuk melawan pengaruh tangis itu, namun tetap saja kedua matanya menjadi basah air mata! Dia terkejut dan maklum bahwa kakek itu mempergunakan ilmu hitam, karena dia sudah mendengar betapa orang-orang Pek-lian-pai yang beragama Pek-lian-kauw itu pandai mempergunakan ilmu sihir atau ilmu hitam. Akan tetapi, biarpun dia memperkuat batinnya untuk menolak pengaruh ilmu itu, karena matanya basah, pandang matanya menjadi kabur dan diapun terdesak hebat oleh serangan Ciok Im Cu.

Pada saat Ci Kong terhuyung itu, tiba-tiba Ban-hwa Seng-jin mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerangnya dari samping. Ci Kong cepat memutar tubuh dan lengannya menangkis dengan kerasnya. Tangan kakek dari Pat- kwa-pai itu terpental, akan tetapi ketika tangannya terpental, ada sebuah benda kecil panjang terlempar dan menyentuh leher Ci Kong. Pemuda itu terkejut karena tiba-tiba saja lehernya terasa nyeri. Dia cepat merengut benda yang menempel itu dan ternyata seekor ular kecil yang telah menggigit lehernya. Kiranya kakek Pat-kwa-pai tadi memegang ular ketika menyerang, dan ketika lengannya tertangkis, ular itu terlempar ke arah lebernya. Dia tidak tahu bahwa tokoh Pat-kwa-pai itu adalah seorang ahli ular beracun dan sengaja melepas ular itu pada saat dia tidak menyangkanya sama sekali.

Dengan marah Ci Kong mencengkeram kepala ular sampai hancur, kemudian dia membentak marah untuk membalas serangan lawan. Akan tetapi, tiba-tiba luka di leher yang kecil akibat gigitan ular itu terasa panas sekali, pandang matanya berkunang dan diapun roboh terpelanting dan tidak ingat apa-apa lagi.

Pada Saat Ci Kong terpelanting itulah, Kui Eng, Lian Hong dan Diana nampak muncul di sebuah tikungan. Melihat munculnya tiga orang wanita yang kelihatan amat gesit dan berlari dengan kecepatan luar biasa itu, Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin cepat melarikan diri. Mereka merasa jerih. Baru menghadapi seorang pemuda tadi saja, hampir mereka berdua kalah. Kalau tidak mempergunakan ilmu hitam dan ular, mungkin mereka berdua akan kalah menghadapi pemuda tadi. Mereka menjadi jerih karena tentu banyak terdapat orang pandai di tempat itu dan tanpa banyak cakap lagi, keduanya lalu cepat melarikan diri.

Tiga orang dara itu tadi dari jauh melihat robohnya pemuda yang dikeroyok dua orang tosu, akan tetapi karena jaraknya masih jauh, mereka tidak mengenal siapa pemuda itu dan siapa pula dua orang tosu yang melarikan diri setelah pemuda itu roboh. Mereka tentu saja tidak berpihak karena tidak mengenal orang-orang yang berkelahi, dan mereka cepat datang menghampiri orang yang roboh itu.

“Ci Kong...!”

Hampir berbareng tiga orang gadis itu meneriakkan nama ini ketika mereka mengenal wajah pemuda yang menggeletak terlentang dengan muka pucat seperti sudah mati ini. Diana dan Kui Eng sudah menjatuhkan diri berlutut di dekat tubuh Ci Kong. Dengan jari-jari tangan gemetar mereka berdua meraba- raba, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil nama Ci Kong.

Melihat keadaan dua orang gadis itu, Lian Hong lalu terduduk lemas, tak jauh dari situ, dapat memaklumi akan isi hati dua orang gadis yang menjadi sahabat baiknya itu. Mereka mencinta Ci Kong, pikirnya. Mereka berdua itu mencinta Ci Kong. Dan ia sendiri? Ia tidak tahu, akan tetapi jelas bahwa Ci Kong perlu ditolong!

Ketika tanpa disengaja tangan mereka yang memegangi tubuh Ci Kong itu saling bersentuhan, Diana dan Kui Eng saling melirik dan wajah mereka berubah merah. Mereka lalu melepaskan pegangan dan hanya berlutut dengan kebingungan. Diana menahan emosi hatinya. Tidak mau ia mengulang peristiwa yang menghebohkan seperti yang pernah dilakukannya di kuil itu. Ingin ia memeluk, merangkul dan meniupkan kembali nyawa di tubuh pemuda penolongnya yang kelihatan sudah mati itu, namun semua ini ditahannya. Ia hanya bisa mengeluh panjang pendek dengan bingung, menundukkan mukanya dan mengusap air matanya yang jatuh berderai.

Kui Eng juga bingung sekali. Iapun ingin memondong tubuh Ci Kong dan membawanya pergi, mengusahakan pengobatan. Namun ia merasa malu terhadap Diana. Ia maklum bahwa Diana, seperti juga hatinya sendiri, menaruh rasa cinta terhadap pemuda ini. Ia hanya mengepal dan membuka tangannya, bingung dan cemas, seperti Diana dan melihat betapa Diana menangis, iapun tak dapat menahan air matanya.

“Ahhh... bagaimana ini… bagaimana ini…?” Diana hanya meratap-ratap.

"Adik Hong, bagaimana baiknya? Dia… dia harus cepat ditolong...” kata Kui Eng sambil menoleh ke arah Lian Hong. Kini Lian Hong bangkit berdiri dan menghampiri.

“Kalian berhentilah menangis. Dia terluka parah, perlu ditolong, bukan ditangisi!” katanya agak ketus, mengejutkan kedua orang gadis itu yang segera menghapus air mata dan menahan tangis mereka.

Dengan teliti, Lian Hong lalu memeriksa dari akhirnya ia melihat luka kecil menghitam di leher pemuda itu.

“Hemm, agaknya luka inilah yang menyebabkannya keracunan,” katanya menuding ke arah luka.

Tiga orang gadis itu merasa khawatir sekali karena wajah Ci Kong sudah mulai nampak menghitam, tanda keracunan berat.

“Ihh! Ini ada ular...!”

Tiba-tiba Diana memekik dan benar saja. Terdapat tubuh seekor ular yang sudah luncur kepalanya, tertindih tubuh pemuda itu. Lian Hong menarik ular itu dan memeriksanya.

“Hemm… ular berbisa. Agaknya dua orang tosu tadi mempergunakan ular ini untuk merobohkan Ci Kong. Kita harus cepat mencari obat untuknya, kalau tidak…”

“Kalau tidak, dia akan mampus! Ha-ha-ha…!” Mendengar suara parau itu, tiga orang gadis itu terkejut dan berloncatan sambil memutar tubuh. Kiranya di depan mereka telah berdiri seorang kakek berkepala gundul botak dan berperut gendut sekali, tubuhnya bulat sehingga kancing-kancing terlepas semua, dan perut itu tidak tertutup lagi oleh baju. Dan Lian Hong segera mengenal kakek itu. Demikian pula Kui Eng.

Akan tetapi Diana tidak mengenalnya, dan karena ia merasa gelisah sekali mengingat keadaan Ci Kong, munculnya kakek yang sambil tertawa mengeluarkan kata-kata kasar, Diana menjadi marah.

“Penjahat kejam! Engkau tentu teman dari pembunuh-pembunuh tadi, engkau sungguh jahat sekali!”

Dan dengan gerakan nekat, Diana sudah menyerang ke arah kakek itu. Biarpun ia baru saja mulai belajar silat, akan tetapi tenaganya besar, dan gerakannya gesit berkat latihan yang keras.

Tentu saja Lian Hong terkejut bukan main dan cepat ia menubruk ke samping, memegang kedua lengan Diana.

“Sumoi, jangan sembarangan!”

Dan iapun menjura kepada kakek gendut itu sambil berkata.

“Harap lociapwe suka memaafkan sumoiku yang bersikap kurang patut karena tidak mengenal lociapwe.”

Kakek itu bukan lain adalah Thian-tok. Melihat seorang gadis bule marah- marah kepadanya, dia memandang sambil menyeringai lebar, akan tetapi ketika mendengar pengakuan Lian Hong bahwa gadis itu sumoinya, alisnya berkerut.

“Apa? Ini sumoimu? Jadi si jembel dari gunung telah mengambil murid seorang perempuan bule? Aih, sungguh luar biasa. Kalau bukan sumoimu, tentu ia sudah kubunuh sekarang juga!”

“Harap lociapwe suka melihat kami dan memaafkan Diana, ia bukan hanya murid locianpwe Bu-beng San-kai, akan tetapi juga seorang di antara kita yang membantu perjuangan para patriot.” kata pula Kui Eng.

Kini Thian-tok memandang kepada Kui Eng.

“Siapa engkau? Hemmm… ingat aku sekarang. Engkau murid Tee-tok, bukan? Ha-ha-ha… sudah berkumpul semua di sini. Bagus sekali! Dan ini orang muda pengikut Siauw-bin-hud itu. Wah, sudah lengkap, tinggal Hai-tok yang belum ada wakilnya. Bagus sekali!”

Dua orang gadis itu tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, sedangkan Diana yang kini tahu bahwa ia sangka dan bahwa kakek ini tentu orang pandai yang dikenal oleh dua orang sahahatnya, diam saja, hanya memandang dengan alis berkerut karena selain ia masih gelisah memikirkan Ci Kong, juga ia tidak percaya kepada kakek ini yang dianggapnya bersikap tidak wajar.

“Locianpwe, baru saja terjadi malapetaka atas diri Ci Kong. Dia terluka, agaknya keracunan oleh gigitan ular berbisa.”

Mendengar ucapan Lian Hong, kakek itu lalu berjongkok dekat Ci Kong. “Ha-ha, ternyata anak Siauw-lim-pai ini masih begitu bodoh, membiarkan

dirinya digigit ular betang.”

Dia memandang ke arah bangkai ular, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jubahnya yang lebar. Botol itu terisi obat lembek seperti gajih dan diambilnya sedikit, lalu dioleskannya ke atas luka di leher Ci Kong. Tiga pasang mata para gadis itu mengikuti gerakan-gerakannya dengan hati penuh ketegangan. Mereka melihat betapa luka kecil itu setelah dipolesi obat, lalu mengeluarkan buih atau busa yang makin lama semakin hitam. Buih hitam ini lalu dihapus oleh Thian-tok, menggunakan daun yang dipetiknya di dekatnya, dan menaruh polesan baru. Sampai akhirnya, buih yang keluar berwarna putih kemerahan. Dia menghentikan pengobatan dengan polesan itu. Kemudian masukkan doa butir pel ke dalam kerongkongan Ci Kong dan mendorong dua butir pel itu dengan arak.

Ci Kong terbatuk dan siuman. Begitu melihat tiga orang gadis yang dikenalnya, dan juga Thian-tok yang duduk bersila sambil tertawa lebar, Ci Kong memandang bingung, celingukan mencari dua orang tosu yang tadi berkelahi dengannya.

“Ci Kong, engkau dilukai dua orang tosu itu yang sudah lari meninggalkanmu dalam keadaan pingsan dan keracunan. Untung datang locianpwe Thian-tok yang menolong.” Kata Lian Hong.

Tentu saja Kui Eng dan Diana merasa girang dan lega bukan main melihat pemuda itu sembuh, walaupun karena malu mereka tidak mengeluarkan kata- kata apapun. Sementara itu, Ci Kong teringat dan biarpun dia masih bingung mengapa tiga orang gadis itu tahu-tahu berada di situ, dia lalu cepat memberi hormat kepada Thian-tok.

“Terima kasih atas budi pertolongan locianpwe.” “Ha-ha-ha-ha!”

Kakek yang bentuk tubuhnya mirip Siauw-bin-hud itu tiba-tiba tertawa bergelak dan diapun sudah meloncat bangun, berdiri dengan perut bergoyang- goyang karena dia tertawa itu.

“Kaukira aku begitu baik hati untuk menyembuhkanmu begitu saja? Tapi kita hidup harus tolong-menolong dan bantu-membantu. Nah, setelah aku mengobatimu, sekarang kalian bertiga, murid-murid Tee-tok, San-tok dan Siauw-lim-pai harus membantuku.”

Mereka Saling pandang dan merasa heran, dan Ci Kong lalu menjawab. “Bantuan apakah yang dapat kami lakukan untuk locianpwe?”

“Ha-ha, banyak, banyak! Kalian tentu sudah mendengar pula dan bahkan mengetahui dengan jelas bahwa pedang Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit si jahanam itu ternyata palsu. Nah, kalian ceritakan sekarang tentang pedang Giok-liong-kiam yang aseli.”

Tentu saja Lian Hong tidak mau menceritakan, juga Kui Eng tidak mau. Mereka tahu bahwa Thian-tok, biarpun merupakan rekan dari guru-guru mereka, tidak dapat disamakan dengan Hai-tok, Tee-tok, dan San-tok. Tiga orang di antara Empat Racun Dunia ini telah sepakat untuk membanting arah kehidupan mereka untuk membantu perjuangan menyelamatkan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah, sebaliknya Thian-tok memiliki jalan hidup sendiri yang hanya memikirkan perampasan Giok-liong-kiam demi diri sendiri. Adapun Ci Kong, belum pernah mendengar tentang hasil usaha Lian Hong mencari pusaka yang aseli, walaupun dia maklum bahwa pusaka yang mengandung rahasia tentang Giok-liong-kiam aseli, telah berada di tangan San-tok. Akan tetapi diapun tahu siapa adanya Thian-tok, yang pernah mengotorkan dan menodai nama Siauw-bin-hud, maka diapun tidak sudi untuk menceritakan sesuatu, walaupun baru saja Thian-tok menyelamatkan nyawanya. Thian-tok tadi menolongnya bukan karena dorongan hati yang iba, melainkan dengan pamrih untuk memeras keterangan tentang Giok-liong-kiam darinya.

“Aku tidak tahu,” kata Lian Hong mendahului teman-temannya. “Akupun tidak tahu tentang Giok-liong-kiam!” kata Kui Eng.

“Sayang akupun tidak dapat menceritakan apa-apa kepadamu, locianpwe,” kata pula Ci Kong, diam-diam setuju sekali akan sikap dua orang gadis itu.

Menceritakan kepada kakek itu tentang apa yang mereka ketahui, tentang Giok-liong-kiam, hanya akan mendatangkan keributan saja dan kakek ini dapat menjadi penghalang besar dari usaha mereka mencari pusaka yang akan membiayai perjuangan.

“Heh-heh-heh, kiranya engkau hanya seorang muda yang tidak mengetahui budi. Kalian bertiga, berempat dengan gadis bule itu, akan kubunuh semua kalau tidak mau memberi pengakuan sejujurnya tentang Giok-liong-kiam! Hayo, kalian pilih, ceritakan tentang pusaka itu atau kalian mampus semua?”

Sepasang mata Thian-tok mencorong kini, penuh nafsu membunuh. Tiga orang muda itu sudah siap siaga, berdiri dengan penuh kewaspadaan menghadapi kakek itu.

Lian Hong mendorong Diana agar mundur, dan Diana yang tahu diri maklum akan isyarat sucinya, lalu dara itupun mundur dan berlindung di balik batang pohon besar.

“Locianpwe, kami bertiga tidak dapat bercerita apapun tentang Giok-liong- kiam!” kata Lian Hong dengan lantang, mewakili dua orang kawannya.

“Kalau locianpwe hendak memaksa dan membunuh kami, terpaksa kami akan melawan dan membela diri!”

Kui Eng dan Ci Kong setuju sepenuhnya dengan ucapan itu, dan merekapun tidak menambahkan apa-apa. Kini kakek itu mengeluarkan suara ketawa yang nyaring sekali, suara ketawanya makin lama semakin keras seperti mengaum. Diana yang berada di belakang batang pohon terkejut sekali, cepat menggunakan kedua tangan menutup kedua telinganya dan ia cepat duduk bersila untuk bersamadhi. Lian Hong yang menceritakan tentang kehebatan khikang itu dan cara untuk mengatasinya. Untung bahwa ia telah berlatih samadhi sehingga ia dapat melindungi dirinya. Biarpun demikian, ia masih gemetar juga.

Tiga orang murid orang-orang sakti itupun cepat mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh ilmu sinkang Sin-houw-kang yang dikeluarkan Thian- tok itu. Dan melihat betapa tiga orang muda itu tidak roboh oleh ilmunya, Thian- tok menjadi semakin penasaran, lalu tubuhnya bergerak melakukan penyerangan!

Ci Kong yang diserang itu mengelak dengan loncatan ke samping. Thian- tok melanjutkan serangannya, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak Kui Eng dan kaki kirinya menendang ke arah perut Lian Hong. Dua orang gadis itupun dapat menghindarkan diri dengan cepat. Thian-tok menjadi semakin marah dan dia sudah melancarkan serangan bertubi-tubi, memainkan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang ampuh. Biarpun tubuhnya hanya satu, akan tetapi kini dia seperti memiliki tiga pasang lengan yang melakukan penyerangan gencar terhadap tiga orang lawannya.

Akan tetapi, kini dia berhadapan dengan tiga orang muda yang sudah cukup matang menguasai ilmu silat mereka. Ketiganya cepat bergerak mengelak dan menangkis, bahkan membalas serangan kakek itu dari tiga jurusan dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah ampuhnya!

“Haaeehhhh…”

Berkali-kali Thian-tok mengeluarkan seruan dahsyat dan penyerangannya menjadi semakin kuat saja, angin pukulannya menyambar-nyambar dan terasa demikian kuatnya oleh tiga orang lawannya. Kiranya kakek ini menjadi penasaran karena tak pernah menyangka bahwa tiga orang muda itu akan mampu menandinginya.

Lian Hong sudah cepat mengeluarkan kipasnya, dan Kui Eng juga mencabut pedangnya. Hanya Ci Kong yang tidak memegang senjata, namun pemuda Siauw-lim-pai ini dapat bergerak cepat dan memiliki kaki tangan yang terlatih dan kuat sekali.

Diserang dari tiga jurusan oleh orang-orang muda yang amat lihai itu, Thian-tok menjadi repot juga! Ingin dia memaki-maki, merasa malu dan penasaran. Alangkah akan malunya kalau ia, Thian-tok yang pernah menggegerkan dunia persilatan bahkan mempergunakan nama Siauw-bin-hud merampas Giok-liong-kiam, sampai kalah oleh pengeroyokan tiga orang muda saja! Padahal, guru-guru dari tiga orang muda ini masih belum mampu mengalahkannya!

Adapun tiga orang muda ini juga maklum akan kelihaian lawan, maka mereka juga mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan ilmu-ilmu simpanan mereka yang paling lihai. Ci Kong memainkan jurus-jurus pilihan dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang terkenal dahsyat itu, kadang-kadang memainkan ilmu Silat Harimau dengan kedua tangan mencakar-cakar, lalu tiba-tiba mengubahnya dengan ilmu Silat Bangau, dengan tangan membentuk paruh yang menotok- notok. Dalam menghadapi terjangan kakek gendut itu, dengan jurus-jurus llmu Silat Monyet, dia dengan lincah dapat menghindarkan diri.

Kui Eng yang memegang sebatang pedang itupun sudah memainkan ilmunya yang paling ampuh, yaitu llmu Tongkat Cui-beng Hek-pang yang sudah diubahnya menjadi ilmu pedang. Gerakan-gerakan pedang itu dahsyat dan ganas sekali, sesuai dengan nama ilmunya, yaitu llmu Tongkat Pengejar Nyawa! Pedang itu berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, dan dapat membuat serangkaian serangan yang sambung- menyambung dan bertubi-tubi.

Adapun Lian Hong yang mempergunakan sebuah kipas sebagai senjata, juga lihai bukan main. Gadis ini telah mewarisi ilmu kipas yang dahsyat dari gurunya, San-tok, di samping memiliki tenaga sinkang yang kuat dan kelincahan gerakan yang bahkan mengatasi tingkat ginkang dari Ci Kong sendiri!

Dikeroyok oleh tiga orang muda yang lihai ini, Thian-tok merasa kewalahan. Kakek yang tak tahu diri ini, yang selalu menganggap diri sendiri paling hebat, tidak mau melihat kenyataan ini dan dia malah menjadi penasaran dan marah sekali. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara menggereng nyaring, dan tubuhnya berpusing, kedua lengannya dikembangkan dan seperti sebuah gasing berputar, dia membuat tiga orang mengeroyoknya terpaksa mundur.

Tiba-tiba, kakek itu meloncat ke atas dan hinggap di atas batang pohon besar, lalu tangannya bergerak-gerak dan daun-daun pohon itu meluncur turun bagaikan senjata-senjata rahasia yang ampuh ke arah tiga orang muda itu.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng terkejut. Dua orang dara itu menangkis dengan senjata mereka untuk melindungi diri, sedangkan Ci Kong menggunakan kedua tangannya untuk mengibas ke sana-sini, membuat daun- daun itu runtuh. Mereka menjadi marah, dan ketiganya tanpa dikomando lagi, lalu meloncat ke atas pohon besar itu, hinggap di atas dahan di sekeliling Thian-tok. Perkelahian dilanjutkan di atas pohon, lebih seru dan lebih menegangkan dari pada tadi! Thian-tok mengamuk dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya. Akan tetapi, tiga orang muda inipun dapat menghindarkan diri dan membalas dengan tidak kalah dasyatnya. Gerakan- gerakan mereka semua mengandung tenaga sinkang yang menimbulkan angin pukul yang kuat, sehingga daun-daun pohon itu runtuh berhamburan ke bawah. Tak lama kemudian, ranting-ranting pohon itupun menjadi gundul seperti kepala kakek Thian-tok karena daun-daunnya telah gugur semua, seperti diserang musim rontok.

Agaknya perkelahian di atas pohon ini akan berlangsung lama karena di tempat itu, kontak hanya dapat diadakan dalam jarak tertentu dan agak jauh saja karena selain saling serang, merekapun harus memperhatikan tempat untuk injakan kaki. Sekali kaki salah injak atau terpeleset, tubuh tentu akan meluncur dan jatuh ke bawah! Karena mereka besikap hati-hati, maka tentu saja serangan-serangan mereka merupakan serangan jarak jauh, dan karena mereka semua telah memiliki tingkat kekuatan sinkang yang cukup besar, maka serangan dari jarak jauh itu tidak cukup kuat untuk merobohkan mereka. Yang paling merasa tegang dan cernas adalah Diana. Sejak tadi, sambil menutupi kedua telinganya, ia menonton perkelahian. Setelah kakek itu mempergunakan ilmu tidak lagi melalui suaranya, Diana membuka kedua telinganya dan ia merasa ngeri melihat betapa tiga orang temannya itu kini mengeroyok Thian-tok dan berkelahi di atas pohon. Ngeri ia membayangkan seorang di antara teman-temannya itu terpeleset dan jatuh. Gerakan mereka

demikian cepat.

Perkelahian yang dilakukan dengan serangan jarak jauh, membuat Diana bingung dan tidak tahu bagaimana keadaan tiga orang temannya, mendesak ataukah terdesak. Karena kekhawatirannya, iapun lalu menggunakan akal.

“Suhu, cepat ke sini dan bantu suci... suhu…”

Mendengar teriakan Diana itu, diam-diam Thian-tok terkejut bukan main. San-tok datang! Dia tahu bahwa tingkat kepandaiannya sama dengan San-tok, dan andaikata dia dapat mengalahkan San-tok sekalipun, tentu akan memakan waktu yang amat lama. Sedangkan melawan tiga orang muda ini saja dia kewalahan, bagaimana kalau San-tok datang membantu? Tentu dia akan celaka.

Thian-tok mengeluarkan pekik dahsyat yang membuat Diana terguling karena gadis ini tidak sempat menutupi telinganya, dan kakek itu lalu meloncat turun ke bawah, terus melarikan diri tanpa menoleh lagi, khawatir kalau-kalau tiga orang muda dibantu oleh San-tok, akan mengejarnya.

Akan tetapi tiga orang muda itu yang juga berloncatan turun, tidak mengejar, melainkan menghampiri Diana. Untung Diana, biarpun belum lama, sudah melatih diri sehingga pengaruh pekik tadi tidak begitu hebat. Ia hanya pening saja dan mukanya pucat, jantungnya berdebar. Setelah melihat bahwa Diana tidak apa-apa, Lian Hong bertanya.

“Di mana Suhu?” Diana tersenyum.

“Aku hanya pura-pura… dan ternyata akalku berhasil. Iblis tua itu pergi begitu mendengar aku memanggil suhu.”

“Kau pura-pura saja? Wah, kami tadi hampir dapat mendesaknya!” Seru Kui Eng.

“Siapabilang ia pura-pura? Aku berada di sini!”

Tiba-tiba terdengar jawaban dan muncullah tiga kakek yang membuat empat orang muda itu tertegun. Kiranya San-tok muncul bersama Hai-tok dan Tee-tok! Mereka baru saja tiba sehingga mereka tidak melihat terjadinya perkelahian tadi. Akan tetapi San-tok dapat menangkap seruan Diana tadi dan mendengarkan percakapan antara mereka. Ketika mereka tiba di situ, Thian- tok yang melarikan diri ke jurusan lain sudah pergi jauh.

“Suhu…!” kata Lian Hong, terkejut, heran dan juga girang.

“Baru saja locianpwe Thian-tok datang ke sini. Dia mengobati Ci Kong yang keracunan karena gigitan ular berbisa, akan tetapi hanya untuk memaksa kami semua membuat pengakuan tentang Giok-liong-kiam. Ketika kami menolak, dia marah-marah dan hendak membunuh kami, sehingga kami melawan dan terjadi perkelahian.”

“Perkelahian yang hebat, sampai-sampai mereka berkelahi di atas pohon. Karena khawatir kalau-kalau kalah, aku lalu berteriak, pura-pura memanggil suhu. Dan iblis itupun lari ketakutan!” tambah Diana.

“Mari kita kembali dan bicara di dalam guha. Banyak urusan penting yang harus kita bicarakan bersama,” kata San-tok.

Dan beramai-ramai mereka lalu menuju ke Puncak Naga Putih dan duduk berkumpul di dalam guha besar tempat tinggal San-tok. Setelah mereka duduk berkumpul, empat orang muda itu menceritakan tentang kemunculan Thian- tok, kemudian Ci Kong menceritakan tentang sukongnya yang bertapa, dan betapa di lereng Wuyi-san itu dia bertemu dengan dua orang kakek Pek-lian- pai dan Pat-kwa-pai yang menyerangnya dan merobohkannya dengan ilmu sihir dan setangan ular berbisa.

“Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin?” San-tok berseru ketika mendengar cerita Ci Kong itu.

“Ah, mereka adalah orang-orang penting dalam Pek-lian-pai dan Pat-Kwa pai. Heran, mengapa mereka berani datang ke wilayahku? Padahal, selama

ini dua perkumpulan itu tidak pernah saling ganggu dengan aku!” Kakek ini merasa penasaran sekali.

“Mudah saja diduga,” kata Tee-tok.

“Tentu merekapun sudah mendengar akan desas-desus yang disebarkan oleh Koan Jit itu, dan mereka ingin pula memperebutkan Giok-liong-kiam dan melakukan penyelidikan ke sini.”

San-tok dan Hai-tok mengangguk-angguk. “Benar sekali,” kata San-tok.

“Tentu itu sebabnya mengapa dua orang tikus itu berkeliaran ke sini. Akan tetapi kalau bertemu dengan aku, akan kuketok kepala mereka! Dan kebetulan engkau datang, Ci Kong,” kata san-tok.

“Sehingga kami tak perlu mencari Siauw-bin-hud di kuilnya. Telah terjadi hal-hal yang penting dan perlu diketahui oleh Siauw-bin-hud, maka dengarlah cerita kami agar engkau dapat melapor kepada kakek itu.”

San-tok dan dua orang rekannya lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Kiranya berita yang disebar oleh Tee-tok akan kepalsuan Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit, terdengar pula oleh Koan Jit dan agaknya orang ini lalu menaruh curiga kepada San-tok dan muridnya. Dia teringat akan tanda-tanda masuknya seseorang di dalam tempat penyimpanan pusaka-pusakanya. Maka diapun lalu menyebar desas-desus bahwa Giok-liong-kiam yang asli berada di tangan Empat Rarun Dunia, dan bahwa para datuk itu hendak mencari harta pusaka melalui Giok-liong-kiam untuk membiayai pemberontakan terhadap pemerintah Ceng-tiauw, dan juga mengusir orang-orang kulit putih. Berita ini tentu saja amat menghebohkan dan menarik perhatian pemerintah, bahkan menarik pula perhatian para pimpinan pasukan kulit putih. Baik pemerintah Ceng, maupun orang-orang kulit putih, lalu menyebar orang- orang pandai yang menjadi kaki tangan mereka untuk mencari dan merampas Giok-liong-kiam atau harta karun itu. Dan yang menjadi sasaran utama adalah Empat Racun Dunia. Keadaan menjadi gawat dan berbahaya bagi mereka.

Pulau Naga, tempat baru dimana Hai-tok dan anak buahnya bersembunyi, ditemukan oleh pasukan pemerintah dan diserbu, membuat Hai-tok dan anak buahnya terpaksa melarikan diri karena pasukan yang menyerbu itu amat banyak dan kuat. Juga Tee-tok dikejar-kejar dan dicari-cari. Dan agaknya, bukan hanya pemerintah Ceng dan orang-orang kulit putih saja yang ingin merampas harta karun, akan tetapi juga banyak golongan-golongan di dunia kang-ouw agaknya tertarik juga, terbukti dan kemunculan orang-orang Pek- lian-pai dan Pat-kwa-pai di Wuyi-san. Itulah sebabnya mengapa Hai-tok dan Tee-tok lalu pergi mencari San-tok dan mereka saling berjumpa di tengah jalan, dan bersama-sama lalu pergi ke Wuyi-san.

“Keadaan sudah gawat sekarang,” akhirnya San-tok berkata.

“Kita harus cepat mengambil tindakan. Muridku ini, Lian Hong, telah berhasil mencari Giok-liong-kiam yang asli, dan aku telah menemukan rahasia yang disembunyikan di dalamnya.”

Agaknya, baru sekarang semenjak bertemu dengan kedua orang rekannya, San-tok menceritakan hal itu. Hai-tok dan Tee-tok menjadi tertarik sekali.

“Apakah adanya rahasia itu?” tanya mereka hampir berbareng.

“Sebuah peta tempat penyimpanan harta karun,” jawab San-tok sambil melirik ke arah Ci Kong.

“Akan tetapi, nanti saja kita bertiga mempelajarinya. Yang penting, sekarang kita harus membagi tugas.”

San-tok memandang kepada empat orang muda itu.

“Kami tiga orang tua bertugas mencari harta karun, dan kalian bertiga, Lian Hong, Kui Eng, dan Ci Kong, sebaiknya pergi ke kota raja dengan menyamar mencari keterangan tentang keadaan di sana, kalau mungkin, menyelidiki agar mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah selanjutnya mengenai desas-desus tentang Giok-liong-kiam. Kita harus mengetahui rencana siasat pihak musuh agar kita tidak sampai terjebak dan terkepung seperti yang sudah-sudah. Diana tetap tinggal di sini.”

“Suhu, kenapa aku tidak boleh ikut? Siapa tahu, akupun dapat membantu.” kata Diana.

“Kemunculanmu hanya akan mendatangkan masalah baru, dan ilmu kepandaianmu masih terlalu rendah. Engkau tinggallah disini dan berlatih dengan giat. Aku akan mengajarkan sebuah ilmu yang dahsyat kepadamu.”

“Luar biasa sekali melihat seorang gadis bule menjadi muridmu, Jembel Gunung!” kata Tee-tok.

“Biarlah akupun akan mengajarkan sebuah ilmu yang hebat kepadamu agar dapat kaulatih di sini.”

“Akupun akan mengajarkan sebuah,” kata pula Hai-tok.

Lenyaplah kekecewaan hati Diana, dan dia menjadi gembira sekali mendengar bahwa ia akan digembleng oleh tiga orang kakek sakti itu! Persiapan dilakukan, dan tiga orang kakek itu lalu mengajarkan semacam ilmu silat kepada Diana. Tidak banyak, masing-masing hanya tiga jurus saja. Akan tetapi jurus-jurus ini adalah jurus pilihan yang lihai bukan main. Setelah Diana hafal akan semua jurus itu, hanya tinggal mematangkannya dalam latihan, tiga orang kakek itu lalu berangkat meninggalkan guha di puncak Naga Putih.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng juga berangkat, dan Diana yang ditinggalkan seorang diri itu tenggelam dalam latihan.

Dua orang muda itu memang menarik perhatian. Bukan hanya pakaian mereka yang amat mewah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah kakak beradik yang kaya raya, akan tetapi juga wajah mereka yang amat elok itulah yang membuat semua orang menengok dan memandang ke arah mereka.

Pemuda itu, dengan sikapnya yang halus, dan amat tampan. Topinya yang indah menutupi rambut yang lebat hitam mengkilap, dikuncir besar dan panjang tergantung di punggungnya. Jubahnya yang panjang dan lebar itupun terbuat dan kain sutera halus, terhias kalung terbuat dan mutiara. Sepatunya mengkilap baru, dan tangan kirinya tidak terlepas dan sebuah kipas yang terlukis indah. Seorang pemuda terpelajar yang kaya raya, seorang kongcu (tuan muda) yang membuat setiap orang wanita yang melihatnya, memandang kagum.

Adapun gadis yang menemaninya, yang di-aku sebagai adiknya, adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, ditambah lagi dengan pakaiannya yang amat mewah, membuat ia nampak seperti seorang puteri istana saja. Rambutnya digelung tinggi ke atas dihias dengan perhiasan emas permata yang mahal, rambutnya dikepang dua dan diikat pita.

Kakak beradik yang kaya raya ini dikawal oleh seorang pelayan pria yang masih muda pula, berpakaian dan berwajah sederhana saja. Pelayan ini mendorong sebuah gerobak dorong yang terisi buntalan pakaian dan barang- barang yang menjadi bekal kakak beradik itu. Tak seorangpun akan mengira bahwa tiga orang ini sebenarnya adalah pendekar-pendekar muda yang memiliki ilmu silat tinggi sekali!

Mereka itu adalah Ci Kong yang menyamar menjadi pelayan, Lian Hong yang menyamar sebagai pemuda tampan, dan Kui Eng yang menjadi gadis kaya raya. Mereka melakukan penyamaran dengan hati-hati sekali, karena wajah mereka bukan tidak dikenal. Dengan menambah tebal alis, dengan merubah warna kulit muka dengan obat, dan merubah pula tata rambut, wajah mereka memang berubah, dan siapakah yang akan menyangka bahwa kakak beradik yang kaya raya bersama pelayan mereka ini adalah tiga orang pendekar yang amat lihai?

Tiga orang ini dapat melakukan penyamaran seperti itu berkat batuan Hai- tok yang menyerahkan sekantung emas kepada mereka. Dengan emas itu, mereka membeli perlengkapan dan perbekalan, dan melakukan perjalanan ke kota raja sebagai kakak beradik putera puteri keluarga kaya raya yang hendak berpesiar ke kota raja.

Semenjak mereka melakukan perjalanan dalam penyamaran, yang sering merasa sial adalah Ci Kong. Dia kebagian peran seorang pelayan! Dan Kui Eng yang wataknya memang nakal itu sering kali memberi perintah yang bukan- bukan kepadanya di depan orang banyak, dengan maksud untuk menggoda! Untung ada Lian Hong di situ yang bersikap serius, kadang-kadang menegur Kui Eng agar jangan keterlaluan dan menghibur Ci Kong,  mengingatkan pemuda itu bahwa mereka dalam penyamaran dan harus dapat bersikap wajar. Pada suatu pagi, setelah turun dari kereta yang mereka sewa di luar pintu gerbang kota raja, kakak beradik ini memasuki pintu gerbang, berjalan perlahan sambil memandang ke kanan kiri seperti dua orang yang menikmati pemandangan yang ramai di kota raja, diikuti oleh pelayan yang mendorong kereta. Hampir semua orang memandang ke arah mereka, bukan karena curiga, melainkan karena tertarik kepada kakak beradik itu, terutama sekali kepada gadis yang cantik jelita berpakaian mewah itu.

“Aih, koko, betapa indah dan ramainya kota raja!” kata Kui Eng dengan gaya manja kepada Lian Hong yang menyamar sebagai kakaknya.

Suaranya merdu dan sikapnya memang dibuat-buat, sehingga Ci Kong yang berdiri mengusap peluhnya karena lelah mendorong kereta, menahan senyumnya. Orang-orang yang berada di dekat pintu gerbang, memandang penuh kagum, juga seorang penjaga yang berdiri dengan tangan kanan meraba gagang golok yang tergantung di pinggangnya, memandang kagum. Tidak ada sedikitpun kecurigaan terhadap kakak beradik yang kaya raya ini.

“Moi-moi, kita mencari rumah penginapan dulu, setelah istirahat, baru nanti kita ke luar berjalan-jalan dan melihat-lihat,” jawab kakaknya dengan suara halus dan sambil bicara.

Lian Hong yang menyamar sebagai seorang kongcu itu mengipasi tubuhnya dengan kipas indah di tangan kiri. Kui Eng lalu melambaikan lengan bajunya yang lebar itu ke arah Ci Kong. Lagaknya memang meyakinkan sebagai seorang puteri hartawan, dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dahulu Kui Eng adalah puteri seorang kaya raya, yaitu hartawan Ciu Lok Tai di Tung-kang. Karena ia sendiri dahulunya puteri seorang hartawan kaya raya, tentu saja kini amat mudah baginya ketika menyamar menjadi seorang gadis kaya!

Yang sukar dalam penyamaran itu adalah Lian Hong yang harus berperan sebagai seorang pemuda kaya. Bahkan Ci Kong juga merasakan kesulitan, karena biarpun dia bukan dan tidak pernah menjadi pemuda kaya, namun diapun belum pernah menjadi pelayan!

“Heii... Akong, lekas kau pergi mencari penginapan yang baik. Dua kamar untuk kongcu dan aku, dan engkau sendiri cari kamar pelayan di belakang!” perintah Kui Eng dengan gaya angkuh, akan tetapi pandang mata dan senyum dikulum itu mengandung godaan dan ejekan.