-->

Pedang Naga Kemala Jilid 22

Jilid 22

“Kalian tidak percaya kepadaku?”

Tukang kusir membentak, lalu suaranya ditujukan ke dalam.

“Ceng Siocia, mereka ini ingin menjenguk dan memeriksa ke dalam kereta!” Tentu pada waktu itu, pantang bagi para puteri bangsawan untuk dijenguk begitu saja oleh para perajurit atau laki-laki biasa. Akan tetapi, dengan halus

Ceng Hiang menjawab.

“Karena sudah tugas mereka, biarlah, paman. Aku yang akan membuka sendiri kain penutup pintu kereta.”

Berkata demikian, dengan kedua tangannya yang berkulit halus, Ceng Hiang menguak pintu kain itu ke kanan kiri sehingga ia dan Kiki kelihatan jelas oleh mereka yang mengepung kereta dari luar.

“Apakah kalian sudah puas sekarang…”

Para perajurit itu terpesona melihat dua orang gadis yang demikian cantik jelitanya, terutama sekali Ceng Hiang. Dan di antara mereka, agaknya tidak ada seorangpun yang tidak mengenal Ceng Hiang. Semua berdiri dengan sigap dan muka mereka bahkan berubah agak ketakutan. Seorang di antara mereka yang berkumis tebal, dengan suara agak gemetar lalu berkata.

“Mohon maaf... kami… kami tidak tahu bahwa Siocia yang berada di dalam dan... kami hanya melaksanakan perintah atasan...”

Ceng Hiang tersenyum dan menutup kembali kain gorden sambil berkata dari dalam.

“Demikianlah seharusnya, setiap orang perajurit harus melaksanakan tugas dengan baik dan membela perintah atasan dengan taruhan nyawa. Paman kusir, lanjutkan perjalanan!”

“Baik, Siocia…”

Dan keretapun bergerak lagi melalui pintu gerbang, keluar dari pintu gerbang. Setelah keluar dari pintu gerbang, di sepanjang jalan tidak ada lagi penerangan. Tadi, biarpun sudah tengah malam, di sepanjang jalan masih ada lampu-lampu yang menerangi jalan, baik lampu untuk hiasan atau penerangan. Akan tetapi sekarang, mereka keluar dari kota dan yang menerangi cuaca yang gelap hanyalah sinar bintang-bintang di langit dan bulan tua yang tinggal seperempatnya.

Akan tetapi, lentera kereta itu sendiri masih cukup terang sehingga sang kusir dapat melihat jalan di depannya, sejauh sedikitnya limabelas meter. Kereta berjalan terus menuju ke sebuah dusun menurut petunjuk Kiki. Ketika mereka tiba di dusun itu, waktunya sudah hampir subuh dan dusun itu masih terbenam dalam mimpi.

“Kiki, rasanya tidak enak kalau kita mengagetkan para penghuni dusun ini. Bagaimana kalau kita menanti saja di luar dusun, dan baru memasuki dusun kalau mereka sudah bangun dan kita tinggalkan saja kereta di luar dusun agar tidak mengejutkan orang.”

Kiki semakin suka dan kagum kepada gadis yang jelita itu. Memang hebat, pikirnya. Sudah orangnya bangsawan, puteri pangeran, kaya raya, berkedudukan tinggi, cantik jelita, namun sama sekali tidak sombong, bahkan rendah hati dan mengingat nasib lain orang. Mana ada bangsawan bersikap seperti gadis ini?

Bangsawan-bangsawan atau hartawan-hartawan lain biasanya bersikap congkak dan menganggap orang dusun atau orang miskin, tidak lebih seperti anjing saja. Ia kagum dan semakin tertarik.

“Baiklah, enci Hiang.”

Ia merasa agak malu, karena andaikata ia sendiri yang datang, tentu ia akan mengetuk begitu saja pintu rumah petani itu, membangunkan pemilik rumah untuk mengambil benda yang dititipkannya.

Keduanya kini duduk di atas batu di tepi jalan, di luar dusun. Kusir melepaskan dua ekor kuda besar itu untuk memberi kesempatan mereka beristirahat dan makan rumput, sedangkan dia sendiri, setelah memperoleh perkenan nona majikannya, lalu merebahkan diri di bawah pohon, di atas rumput dan daun kering, dan sebentar saja diapun sudah mengorok saking lelahnya. Dia lelah dan ngantuk karena bekerja semalam suntuk tidak tidur. Kusir itu seorang laki-laki berusia kurang lebih empatpuluh tahun, memakai sebuah topi caping lebar yang menyembunyikan muka dan lehernya dari sengatan matahari panas karena dia duduk di depan, tak terlindung atap kereta. Pakaiannya seperti pakaian bangsawan kota raja, serba biru dengan garis-garis putih di ujung kaki, lengan dan leher. Orangnya tinggi kurus dan sikapnya juga lemah lembut, agaknya seorang terpelajar pula walaupun pekerjaannya hanya kusir.

Dua orang gadis itu duduk agak jauh dari kereta, bahkan tidak melihat kusir yang tidur ngorok itu. Mereka asyik bercakap-cakap.

“Adik Kiki, apakah engkau tidak merasa betapa antara kita yang baru saja berkenalan, ada kecocokan yang akrab? Aku terus terang saja suka kepadamu, karena engkau memiliki sifat yang gagah perkasa dan engkau cekatan, lincah dan jenaka, walaupun agak nakal, akan tetapi hatimu amat lembut dan baik…” “Idiihh, kiranya enci Hiang ini selain pandai dan cantik jelita, juga ahli merayu dan memuji orang! Tidak, aku hanya seorang gadis liar, seorang gais

kang-ouw yang bisanya hanya berkelahi saja!”

“Aku tidak percaya! Biarpun dari ayah, aku tahu bahwa engkau adalah seorang gadis yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, terutama sekali pandai bermain di air seperti seekor ikan hiu, biarpun engkau membunuh musuh- musuhmu sambil tersenyum manis, namun aku tahu bahwa engkau berjiwa pendekar dan patriot yang gagah. Ah, betapa senangnya hidup seperti engkau ini, adikku. Engkau hidup bebas seperti seekor burung terbang di angkasa raya, dapat melakukan apa saja sekehendak hatimu…”

“Ah, siapabilang? Engkau lebih bebas. Engkau puteri pangeran, engkau berkuasa dan berharta. Siapa bisa melarangmu? Lihat saja tadi. Andaikata aku yang berada di kereta sendirian saja, belum tentu aku boleh lewat begitu mudah, dan tentu mereka akan bersikap kurang ajar kepadaku. Akan tetapi kepadamu, enci… wahh, mereka seperti melihat malaikat saja, mati kutu dan ketakutan, dan begitu menghormat.”

Ceng Hiang menarik napas panjang.

“Hal itu kuakui. Memang semua pasukan, dari yang pangkatnya paling kecil sampai yang pangkatnya paling tinggi, menghormati ayahku. Ayahku hanya seorang pangeran yang tidak menduduki jabatan penting, tidak memiliki kekuasaan, hanya penjaga perpustakaan dan seorang sasterawan, akan tetapi dia tidak pernah melakukan pelanggaran, selalu jujur dan setia, tidak mau berkorupsi dan selalu bertindak tegas menentang kelaliman. ltulah yang membuat semua orang tunduk dan segan.”

“Hebat... dan ketika pertama kali aku bertemu ayahmu, biarpun dia begitu halus budi dan tubuhnya lemah lembut, namun dia begitu berwibawa, membuat aku malu. Dan dia memiliki suatu keberanian yang belum tentu dimiiki oleh orang-orang yang pandai ilmu silat. Sikapnya demikian mengesankan dan aku segera tunduk. Karena itulah, ketika orangku mendorongnya ke laut, aku lalu meloncat terjun dan menyelamatkannya, dan ketika dia berpesan tentang peti terisi kitab-kitab, akupun melaksanakannya dengan baik. Entah bagaimana, aku merasa harus mentaati orang tua itu.”

Ceng Hiang memegang kedua tangan Kiki.

“ltulah… karena engkau pada hakekatnya seorang gadis yang baik budi dan halus perasaanmu, seperti kukatakan tadi. Dan engkau tentulah murid seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, adikku.”

“Guruku adalah ayah kandungku sendiri.”

“Aih, betapa hebatnya. Siapakah nama ayahmu, kalau aku boleh tahu?” “Bumi dan langit kalau dibandingkan dengan ayahmu, enci Hiang. Ayahku

seorang kasar dan sejak muda berkecimpung dalam dunia kekerasan. Ayahku bernama Tang Kok Bu, dan dia malah lebih terkenal dengan julukan Hai-tok.”

Kalau saja subuh itu tidak begitu remang-remang dan belum terang benar, tentu Kiki akan melihat keterkejutan menyelimuti wajah Ceng Hiang mendengar disebutnya julukan Hai-tok ini.

“Hai-tok (Racun Lautan)? Apakah ayahmu itu seorang di antara Empat Racun Dunia?”

Kini Kiki yang terheran dan mengamati wajah cantik jelita itu.

“Enci Hiang, seorang halus seperti engkau ini, yang tentu hanya bergaul dengan orang baik-baik saja, yang tak pernah mengalami apalagi mengenal orang-orang kang-ouw, bagaimana bisa tahu tentang Empat Racun Dunia?”

“Ehhh... ahhh...”

Ceng Hiang gugup juga karena pertanyaan Kiki itu benar-benar membuatnya serba salah untuk menjawab. Melihat ini, Kiki tertawa tanpa menutupi mulutnya, karena ia adalah seorang gadis yang biasa hidup bebas. Akan tetapi, tanpa ditutupi mulutnya dengan tanganpun, sama sekali tidak membuat ia nampak kasar memalukan, bahkan semakin jelas nampak kemanisannya ketika tertawa.

“Aku mengerti, enci Hiang. Tentu kakakmu yang memberi tahu, bukan? Kakakmu itu hebat sekali. Ilmu silatnya amat tinggi dan aku sudah ingin sejak tadi menanyakan, siapakah dia dan dari mana dia memperoleh ilmu silat sehebat itu. Aku sungguh kagum dan benar-benar terheran-heran. Sungguh mati, andaikata kami harus berkelahi mati-matian, aku meragukan sekali apakah aku akan menang melawan kakakmu itu!” “Kakakku...? Ah, kaumaksudkan koko (kanda)? Jangan heran, memang sejak kecil dia suka sekali mempelajari ilmu silat. Dan memang dialah yang bercerita kepadaku tentang Empat Racun Dunia. Lanjutkan dulu cerita tentang dirimu, nanti aku akan menceritakan tentang dia kalau memang engkau tertarik kepadanya.”

Mendengar nada suara gadis itu, wajah Kiki berubah merah dan ia pura- pura cemberut.

“Ihhh… siapa yang tertarik kepadanya? Aku hanya kagum dan heran, juga harimau keluargamu itu hebat.”

“Teruskan dulu ceritamu, nanti kuceritakan tentang harimau kami. Jadi, ayahmu yang berjuluk Hai-tok itu merupakan seorang di antara Empat Racun Dunia?”

“Benar sekali, enci. Nah, kau tahu sekarang, aku hanyalah anak seorang datuk kaum sesat yang menjadi datuknya semua bajak laut maupun bajak muara dan sungai telaga! Aku lahir dari keluarga jahat dan di dunia kaum hitam! Mana bisa disamakan dengan engkau, enci Hiang.”

Dalam suaranya, Kiki benar-benar menyatakan penyesalan akan keadaan keluarganya yang terkenal sebagai penjahat.

“Aku pernah mendengar dari kakakku, bahwa baru-baru ini pasukan pemerintah menyerbu Pulau Layar, bukankah di sana tempat tinggal ayahmu?” “Bukan hanya menyerbu, akan tetapi membasmi dan membakar pulau

tempat tinggal kami. Hal itu terjadi setelah pasukanmu…” “Pasukanku? Jangan ngawur, adik Kiki…”

“Ohh, maaf, maksudku… pasukan pemerintah! Pemerintah telah menyergap pesta ulang tahun yang diadakan ayahku berhubung dengan usianya yang sudah tujuhpuluh lima tahun.”

“Wah, itu sudah keterlaluan namanya! Bagaimana mungkin pesta ulang tahun, apa lagi yang berpesta itu sudah berusia tujuhpuluh lima tahun, diserbu oleh pasukan tentara?”

Kiki menghela napas, teringat akan suhengnya dan diam-diam ia merasa marah bukan main. Satu di antara tugasnya adalah menyelidiki apakah suhengnya berada di kota raja, dan kalau benar dimana tinggalnya. Mungkin ia bisa menyelidiki melalui gadis ini atau setidaknya melalui kakak adik ini. Ayahnya ingin sekali menghukum sendiri murid pengkhianat itu.

“Maaf, adik Kiki. Kalau sampai pasukan pemerintah menyerbu pesta itu, mungkin ada apa-apanya di balik pesta itu. Benarkah begitu? Aku sendiri tidak tahu apa-apa tentang pemberontakan... eh, maksudku, yang kalian sebut perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah. Kenapa sebuah pesta sampai diserbu pasukan?”

Kiki menghela napas panjang. Menghadapi seorang seperti Ceng Hiang ini, mana bisa ia membohonginya? Orang ini demikian halus, demikian baik dan jujur. Ia pun harus membalas kejujuranku.

“Memang ada alasannya! Selain berpesta ulang tahun, ayah juga mengumpulkan tokoh-tokoh besar di dunia persilatan untuk diajak mengadakan rapat rahasia tentang keinginan semua orang untuk menumbangkan pemerintah penjajah dan mengusir orang-orang kulit putih.”

“Ah, jadi begitukah? Kalau begitu... kalau begitu, orang-orang yang tadi kau katakan sebagai kaum dunia hitam itupun bersatu dengan para pem... eh, pejuang rakyat?”

“Tentu tidak Semua, enci. Hanya mereka yang masih mempunyai sekelumit semangat untuk membela nusa bangsa, membela tanah air. Dan ayahku termasuk pula orang itu…”

“Dan engkau juga?”

“Enci Hiang, engkau tadi mengatakan sendiri bahwa engkau, biarpun seorang puteri keturunan Mancu, tidak suka akan penjajahan dan penindasan!” “Kau benar, kau benar… adikku. Wah, ceritamu menarik sekali. Aku sungguh tertarik dan senang mendengarnya, juga tegang sampai jantungku

berdebar tidak karuan…”

“Dan sekarang tiba giliranmu untuk bercerita, dan aku akan bertanya. Kuharap engkau suka berlaku jujur menjawab semua pertanyaanku seperti aku tadi, enci.”

“Baiklah, akan kucoba. Nah, tanyalah.”

“Tentang ayahmu dan kau sendiri sebagai bangsawan-bangsawan yang tidak suka akan penjajahan penindasan, tadi sudah kauceritakan. Akan tetapi, sekarang aku hendak bertanya: Kenapa ayahmu demikian mementingkan kitab-kitab   kuno   itu?   Ayahku   dan   aku   dengan   susah mencoba untuk membacanya, namun kami berdua tak berhasil. Sungguh kami berdua merasa buta huruf benar-benar menghadapi huruf-huruf dalam kitab-kitab itu. Apa sih gunanya kitab-kitab seperti itu, sehingga ayahmu demikian mementingkan dan dalam keadaan terancam bahaya saja dia amat memperhatikannya dan pesan kepadaku agar kitab-kitab itu kukirimkan kepadamu kalau sampai dia tewas.” “Aku sendiri tidak akan mampu membacanya, adikku.  Kitab-kitab mengandung huruf-huruf yang amat kuno dan agaknya, di kota raja sekalipun hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang akan mampu membaca dan menterjemahkannya, termasuk ayahku, karena ayah adalah seorang ahli huruf kuno, ahli sastera Sansekerta dan India. Adapun isi kitab-kitab kuno, seperti kau tahu, tentu mengandung pelajaran tentang kebatinan, agama, dan

mungkin juga kepandaian silat.”

“llmu silat? Wah, sungguh hebat kalau begitu. Akan tetapi, ayahmu seorang yang tidak Suka akan kekerasan, tentu tidak akan belajar silat. Dan engkau... seorang dara cantik jelita dan halus. Biarpun demikian, aku dapat menduga bahwa ayahmu tentu ingin menterjemahkan kitab ilmu silat itu untuk diberikan kakakmu! Benar tidak?”

Ceng Hiang tersenyum dan hanya mengangguk saja.

“Ketika aku memasuki rumah keluargamu, aku terjebak ke di dalam ruangan bawah itu, dan aku berkesempatan untuk bertemu dengan kakakmu bersama harimaunya. llmu silatnya tinggi sekali. Bagaimana dia begitu lihai ilmu silatnya, sedangkan ayahmu hanya seorang sasrerawan lemah, dan kau juga seorang gadis lemah lembut...”

“Ah, dia itu sejak kecil memang suka belajar ilmu silat, adik Kiki… dan tentu saja dia dapat disebut pandai karena dia mewarisi ilmu silat dari keturunan, keluarga para pendekar Pulau Es”

“Ahhhl!” Kiki terbelalak kagum.

“Di antara keluarga Kerajaan Ceng, tidak ada seorangpun yang dipercaya oleh mendiang Puteri Milana kecuali keluarga kami. ltupun dilakukan secara amat rahasia. Ayahku sendiri yang menerima beberapa buah kitab pelajaran ilmu silat pulau Es, dan bersumpah bahwa ayah hanya akan menyerahkan kepada anaknya yang dianggap berbakat dan dipercaya memiliki watak yang baik. Demikianlah, ayah menerima kitab pelajaran yang amat terperinci, dari dasar-dasar ilmu silatnya sampai beberapa macam ilmu silat keluarga sakti itu. Kalau saja dapat dipelajari seluruh ilmu dari keluarga para pendekar Pulau Es, tentu akan lebih hebat lagi.”

“Aihhh... kalau begitu, dia keturunan atau murid langsung dari Pulau Es dan merupakan pewaris terakhir dan tunggal...!” seru Kiki pula dengan penuh kagum.

Ceng Hiang tersenyum manis.

“Belum tentu adikku. Jangan memujinya terlalu tinggi, karena ketahuilah bahwa keluarga Pulau Es telah menjadi keluarga yang besar dan banyak sekali. Sekarang, entah siapa saja keturunan mereka, akan tetapi aku yakin tentu banyak pula. Hanya, karena sejak dahulu keluarga Pulau Es merupakan pendekar-pendekar sakti yang tidak mau mencampuri urusan pemerintah dan tidak suka menonjolkan diri, maka mungkin tidak dikenal oleh dunia persilatan.”

“Akan tetapi kakakmu itu... wah, dia memang hebat!” kembali Kiki berkata, dan Ceng Hiang hanya tersenyum saja.

“Siapakah namanya, enci?”

“Namanya? Ah, namanya hampir sama dengan namaku, namanya Siang.

Ceng

Siang... tapi sudahlah, jangan bicarakan dia. Dia paling tidak suka dibicarakan oleh kaum wanita.”

“Kenapa begitu?”

“Entah, pokoknya dia tidak suka kepada gadis-gadis.” “Ahhh…”

“Kenapa?”

“Pantas sikapnya terhadap akupun menghina dan mengejek sekali!” “Maafkan dia, Ki-moi. Dia menghina dan mengejek bagaimana sih?” “Berkali-kali dia memaki aku maling dan mengejek kepandaianku yang

katanya masih rendah.”

“Wah, dia sombong! Kepandaianmu tentu hebat, adikku… kalau tidak, mana mungkin mampu memimpin bajak laut yang terkenal? Menurut ayah, kau lihai bukan main.”

“Ah, tidak. Bagaimanapun juga, harus kuakui bahwa aku belum tentu menang melawan kakakmu! Akan tetapi sekali waktu, aku ingin mengajaknya bertanding untuk menguji kepandaian.”

“Nah, sudah siang, dan itu banyak sudah orang yang keluar dari dusun, tentu hendak bekerja di sawah. Mari kita datang ke petani yang kautitipi peti itu, adik Kiki.”

Mereka lalu bangkit dan memasuki dusun setelah Ceng Hiang memesan kepada kusirnya yang sudah bangun untuk menunggu di situ. Tentu saja orang-orang dusun memandang dengan bengong, heran dan kagum melihat masuknya dua orang gadis yang demikian cantik dan mewahnya ke dusun mereka. Akan tetapi, kakek dan nenek pemilik rumah gubuk yang dititipi peti oleh Kiki, menyambut Kiki dengan muka cerah.

“Wah, girang sekali hati kami melihat nona datang. Hati kami selalu tidak enak semenjak nona menitipkan peti itu.” kata si kakek.

Kiki mengerutkan alisnya. “Kenapa, kek?”

Ketika menitipkan, Kiki hanya mengatakan bahwa isinya adalah kitab-kitab kuno yang tidak berharga dan karena keberatan, ia titipkan di situ untuk dijemput beberapa hari kemudian, dan untuk itu ia memberi upah yang cukup lumayan kepada kakek dan nenek itu.

Setelah celingukan ke sana sini, kakek itu lalu berkata kepada Kiki, suaranya berbisik.

“Beberapa hari yang lalu, di dusun ini muncul tiga orang hwesio yang amat jahat. Mereka bertanya-tanya tentang peti hitam berisi kitab-kitab. Untung kami berdua tak pernah bercerita kepada siapa saja, sehingga tidak ada orang yang tahu bahwa kamilah yang menyimpan benda itu, dan kamipun diam saja, pura-pura tidak tahu. Dan tiga orang kakek pendeta itu telah menyiksa beberapa orang laki-laki muda dari dusun ini yang dipaksanya untuk mengaku, padahal mereka benar-benar tidak tahu.”

Tentu saja Kiki merasa terkejut bukan main mendengar ini. Akan tetapi hatinya juga lega ketika ia melihat bahwa peti hitam itu masih utuh, disembunyikan di dalam kamar, di bawah tempat tidur reyot milik kakek dan nenek itu. Iadan Ceng Hiang cepat membuka peti dan melihat bahwa memang kitab-kitab kuno itu masih lengkap, jumlahnya tidak kurang dari limapuluh jilid, sebagian besar adalah kitab-kitab agama yang amat kuno dan tulisannya memakai huruf-huruf yang mereka berdua tak dapat membacanya.

“Sekarang dimana tiga orang hwesio itu, kek?” tanya Kiki, hatinya merasa tidak enak sekali.

Apalagi Ceng Hiang, alisnya berkerut dan ia mendengarkan dengan hati tegang.

“Tidak tahu, nona. Setelah menghajar orang, mereka lalu pergi dengan ancaman bahwa kalau ada yang menyembunyikan benda itu, kelak kalau terdapat orangnya akan dibakar hidup-hidup dan dikirimi ke neraka oleh doa- doa mereka!”

“lhhh!” seru Kiki.

“Hwesio macam apa sejahat itu!”

“Hati-hati, adik Kiki… aku yakin bahwa mereka itu tentu sengaja datang untuk merampas kitab-kitab ini.”

“Enci Hiang, bagaimana kau bisa tahu?”

“Sudah jelas, mereka mencari benda ini dan menyiksa orang, dan mereka adalah hwesio-hwesio, sedangkan kitab-kitab ini adalah kitab-kitab tentang agama yang kuno, yang oleh ayah diambil dari kuil besar kuno di Mukden atas perintah kaisar sendiri yang ingin menyelamatkan semua kitab kuno agar dirawat dan disusun oleh ayahku sebagai pengisi perpustakaan istana.”

“Ah, kalau begitu, tentu mereka itu pendeta-pendeta yang datang dari Mukden,” kata Kiki.

“Belum tentu. Para pendeta di sana tentu tidak berani melakukan hal yang sifatnya memberontak itu. Mungkin juga teman-teman mereka, atau pendeta- pendeta pendatang dari lain tempat yang bersekongkol dengan pendeta- pendeta Mukden.”

“Atau mungkin juga orang-orang jahat yang menyamar sebagai pendeta- pendeta untuk merampas kitab-kitab ini,” kata Kiki.

“Rasanya tidak mungkin itu, adikku. Penjahat mana yang akan suka merampas kitab kuno seperti ini? Kita sendiripun tidak bisa membacanya. Sejak kecil aku dididik ayah dengan ilmu sastera, akan tetapi kitab-kitab ini aku hanya bisa membaca beberapa belas hurufnya saja. Untuk apa mereka bersusah payah merampas kitab-kitab ini? Dijualpun takkan laku.”

Dua orang gadis itu menduga-duga, akan tetapi karena jelas bahwa ada musuh yang berniat buruk merampas peti itu, Kiki lalu cepat memanggul peti itu, di atas pundaknya dan berkata.

“Mari kita, cepat kembali ke kota raja, enci.”

Bergegas keduanya lalu keluar dari dusun itu menuju ke tempat dimana mereka meninggalkan kereta. Agaknya kusir yang tahu akan kewajibannya itu sudah siap karena dia sudah memasang lagi dua ekor kuda itu di depan kereta dan sudah duduk di tempatnya, yaitu di bangku depan. Melihat bahwa kereta sudah siap, Ceng Hiang berkata.

“Mari kita cepat pulang!”

Ceng Hiang bersama Kiki yang membawa peti hitam itu, iapun naik dan memasuki kereta. Hati mereka lega setelah kereta itu bergerak meninggalkan tempat itu dengan cepatnya. Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kereta itu makin lama bergerak semakin cepat sampai membalap seperti dikejar setan atau sedang berlumba dengan kereta lain. Melihat ini, Ceng Hiang membentak.

“Kusir, kenapa begini cepat? Lambatkan sedikit larinya kuda, apa engkau ingin celaka di tempat yang jalannya tidak rata ini?”

Sungguh aneh. Kusir tidak menjawab, akan tetapi larinya dua ekor kuda itu tidak berkurang, bahkan semakin membalap.

Kiki mengerutkan alisnya dan membuka gorden, memandang ke muka. Kusir itu masih sama seperti kemarin, jangkung dan mengenakan pakaian serba biru. Akan tetapi ia tidak melihat muka orang itu dan ia menjadi curiga.

“Berhenti! Hayo hentikan kereta ini atau engkau akan kupukul!” bentaknya kepada kusir itu.

Kiki marah, karena kini melihat bahwa kereta itu mengambil jalan yang salah, bukan menuju ke kota raja, melainkan membelok dan kini berada di luar sebuah hutan yang sunyi. Kereta itu tiba-tiba berhenti dan ketika Ceng Hiang dan Kiki membuka gorden jendela dan pintu kereta, mereka melihat bahwa kereta itu telah dikurung oleh segerombolan orang berkuda yang dikepalai oleh tiga orang hwesio gendut!

“Enci Hiang, kau di dalam saja bersama peti ini, biar aku yang menghadapi mereka!”

Kata Kiki, sedikitpun tidak merasa gentar, bahkan sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong dan mukanya merah sekali. Ia nampak semakin manis dan gagah perkasa, dan ketabahannya memancar di sinar mukanya, membuat Ceng Hiang merasa kagum bukan main. Kiki lalu melompat ke luar dan ia menghitung jumlah lawan. Ada tujuh orang. Tiga orang hwesio gendut, dua orang lagi berpakaian biasa dan kusir itu yang ternyata bukanlah kusir kereta Ceng Hiang tadi, melainkan seorang lain yang telah mengenakan pakaian yang sama. Agaknyadiam-diam kusir yang aseli telah disingkirkan dan tempatnya diganti oleh orang ini.

Tiga orang hwesio dan dua orang kurus itu meloncat turun pula dari atas kuda masing-masing. Seorang di antara tiga hwesio itu, yang mempunyai tahi lalat besar di ujung hidungnya sehingga nampak lucu dan buruk, dengan perutnya yang gendut dan tubuhnya yang agak pendek, melangkah maju menghadapi Kiki.

“Serahkan peti hitam berisi kitab-kitab itu kepada kami, dan kamipun tidak akan mengganggu dua orang gadis yang lemah.”

Kiki tersenyum mengejek.

“Engkau ini hwesio dari kuil, ataukah pelawak yang menyamar sebagai hwesio, ataukah orang-orang jahat tolol, tikus-tikus kecil yang datang mengantar kematian?”

Hwesio itu melototkan matanya.

“Omitohud! Kiranya perempuan ini seorang kuntilanak yang mencari penyakit sendiri. Perempuan sombong, ketahuilah bahwa kami adalah orang- orang yang berilmu tinggi, yang menginginkan kitab-kitab itu. Jangan berani menghina kami, dan cepat serahkan peti itu!”

“Dari pada aku yang menyerahkan peti, lebih baik kalian yang menyerahkan leher kalian untuk kupenggal satu-satu sebagai hukuman atas kejahatan kalian berani mengganggu aku!”

“Suheng, perlu apa bicara banyak-banyak dengan dia? Anak ini cukup manis, biar untuk aku saja!” kata seorang di antara dua laki-laki berpakaian biasa yang bertubuh kurus.

Dan sebelum kata-katanya habis diucapkan, tubuhnya sudah menubruk ke arah Kiki. Gerakannya cepat dan dari kedua lengannya yang dikembangkan itu mengeluarkan angin pukulan yang cukup kuat. Akan tetapi Kiki tidak mau kalah gertak. Ia benci sekali kepada laki-laki yang kurang ajar, dan orang ini telah mengeluarkan kata-kata yang amat menghinanya. Oleh karena itu, melihat laki-laki kurus itu menyerangnya dengan tubrukan seperti harimau hendak menerkam kambing, kemarahannya meluap dan iapun sudah mengerahkan tenaga sinkang, dan menggunakan jurus dari ilmu Thai-lek Kim- kong-jiu yang dahsyat itu. Tangannya menyambar ke depan dan serangkum tenaga angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya menyambut laki-laki itu.

“ Dessss.!!”

Tubuh laki-laki itu terdorong ke belakang dan terbanting roboh keras sekali. Akan tetapi dia tidak tewas, melainkan mengeluarkan darah dari mulutnya, tanda bahwa dia telah menderita Iuka dalam. Tidak tewasnya orang ini mengejutkan Kiki, karena ia maklum bahwa lawannya itu sebetulnya cukup tangguh. Tadi ia dapat merobohkannya dengan mudah hanya karena laki-laki memandang rendah kepadanya dan menyerangnya dengan kedua lengan terkembang sehingga dadanya terbuka dan enak dijadikan sasaran pukulannya. Akan tetapi, yang lebih kaget lagi adalah tiga orang hwesio itu.

“Eh, perempuan muda, siapakah engkau ini!” bentak hwesio gendut bertahi lalat di ujung hidungnya.

Kiki tidak menyembunyikan siapa dirinya. “Namaku Tang Ki, dan ayahku adalah Hai-tok!”

Nama ini membuat muka empat orang itu menjadi pucat. “Hai-tok pemimpin Bajak Naga Laut?”

“Akulah pemimpinnya!” kata pula kiki.

“Celaka, kita terjebak. Larikan kereta!” bentak hwesio gendut itu, dan dia bersama tiga orang kanannya sudah menggerakkan senjata mengepung dan mengeroyok Kiki, sedangkan kusir itu sudah mengaburkan lagi kudanya.

“Berhenti kau!”

Kiki membentak dengan khawatir, akan tetapi empat orang yang menghadangnya itu ternyata amat lihai! Terutama tiga orang hwesio itu yang mainkan golok amat tangkas dan berbahaya sehingga terpaksa Kiki mengelak ke sana-sini dan tidak dapat mengejar kereta yang sudah kabur dengan cepat memasuki hutan. Tentu saja hatinya gelisah bukan main, kegelisahan bukan khawatir akan kehilangan peti berisi kitab-kitab itu, melainkan mengkhawatirkan keselamatan Ceng Hiang.

Empat orang lawannya itu ternyata memang lihai. Si laki-laki kurus satu lagi bersenjatakan pedang dan kini yang terkena pukulannya juga sudah mampu bangkit dan biarpun mukanya pucat, dia dapat pula mengeroyok dengan pedang. Lima orang itu kini sama sekali tidak berani main-main lagi, bahkan merasa terjebak ketika mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Hai- tok, bahkan pemimpin dari Bajak Naga Laut yang amat terkenal itu.

Mereka semua mengerahkan tenjata dan tenaga untuk mengeroyok Kiki yang bertangan kosong! Biarpun demikian, semua serangan mereka tidak ada yang mampu merobohkan Kiki. Gadis ini mengelak sambil berloncatan seperti seekor burung saja, bahkan tidak jarang kalau ada golok atau pedang yang tak dapat dielakkan karena datangnya terlampau cepat, ditangkisnya begitu saja dengan lengan telanjang sehingga lengan bajunya ada yang robek, akan tetapi kulit lengan yang putih mulus itu sama sekali tidak terluka oleh bacokan pedang ataupun golok lawan.

Tentu saja dalam hal ini Kiki juga berhati-hati, tidak berani ia menangkis setiap bacokan golok atau pedang yang dilakukan dengan sinkang yang terlalu kuat, karena kekuatan sinkang lawan itu akan dapat menembus pertahanan kekebalan kulit lengannya. Biarpun demikian, ia mulai terdesak hebat karena lima orang pengeroyoknya itu lihai dan ia memang tidak diberi kesempatan untuk mencari senjata. Apalagi hatinyä gelisah bukan main kalau mengingat keadaan Ceng Hiang. Gadis yang lemah lembut dan cantik jelita itu dilarikan di dalam kereta oleh kusir palsu itu yang dalam hal kekejaman dan kejahatannya tentu tidak kalah oleh rekan-rekannya. Oleh karena itu, kegelisahan ini menambah kelemahan pertahanannya dan kini Kiki mulai mundur-mundur dan mencari peluang untuk melarikan diri dan untuk mengejar kereta itu agar ia dapat melindungi Ceng Hiang.

Akan tetapi, ketika ia memandang ke arah hutan di mana kereta itu tadi menghilang, ia terbelalak melihat Ceng Hiang berjalan melenggang sambil memanggul peti hitam terisi kitab-kitab itu, dengan sikap seenaknya saja! Hampir saja lehernya kena disambar golok hwesio bertahi lalat kalau saja ia tidak cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan, lalu dari bawah ia meloncat sambil menendang.

“Bukkk!”

Tendangannya mengenai sasaran, menghantam perut hwesio gendut itu, akan tetapi tenaga tendangannya itu membalik! Kiranya hwesio ini kekuatannya terletak di perut yang gendut itu. Bukan gendut karena terlalu banyak makan, melainkan gendut karena terlatih dan kini terisi hawa sinkang yang kuat sehingga ketika ditendang, ia merasa seperti menendang sebuah balon besar terisi angin yang padat saja! Iapun bergulingan menjauh dan meloncat berdiri, agak jauh sehingga ia dapat memperoleh kesempatan melihat ke arah temannya. Dan apa yang dilihatnya?

Ceng Hiang kini sudah menaruh peti hitam itu di atas tanah dan ia sendiri duduk bersila di atas peti itu, dengan sebatang pedang di tangannya. Dan dua orang hwesio mengeroyoknya dengan golok, akan tetapi kemanapun golok menyambar, tanpa menoleh, tanpa merubah bentuk duduknya yang bersila, Ceng Hiang selalu berhasil menangkis serangan golok lawan. Semua dilakukan seenaknya seperti seorang anak kecil yang sedang main-main saja!

“Trang-tring-trang-tring...”

Berkali-kali terdengar suara senjata bertemu, dan tiba-tiba seorang hwesio meloncat ke belakang dengan muka pucat karena ujung goloknya telah somplak, patah ujungnya ketika ditangkis pedang Ceng Hiang! Melihat ini, hampir saja Kiki bersorak, akan tetapi juga ingin menampar mukanya sendiri. Ia teringat pedang itu, dan kini tahulah ia siapa Ceng Hiang. Ceng Hiang adalah opsir itu! Ia tadi berbohong saja ketika menyebut nama Ceng Siang! Pantas begitu tampan pemuda itu. Saking girangnya dan melihat bahwa ia memperoleh kesempatan karena kini lima orang itu berbalik mengeroyok Ceng Hiang untuk merampas peti, ia cepat lari ke pohon dan mematahkan sebuah cabang pohon untuk dipakai sebagai senjata tongkat, senjata yang paling enak dan ampuh baginya. Setelah kini memegang tongkat, dara inipun lari ke arena perkelahian.

“Enci Hiang, kau nakal! Kiranya engkaulah opsir lihai itu. Mari kita basmi tikus-tikus ini!”

Dan diapun mengamuk dengan tongkatnya. Setelah kini ada Ceng Hiang yang demikian tenangnya menangkisi semua senjata, Kiki mengamuk dan tongkatnya menyambar-nyambar, merobohkan seorang hwesio. Melihat keadaan demikian berbahaya, lima orang itu lalu melarikan diri. Dua orang terluka oleh tongkat Kiki, seorang lagi terpincang-pincang karena pahanya luka oleh pedang Ceng Hiang.

Kiki hendak mengejar, akan tetapi Ceng Hiang berkata. “Tak perlu dikejar, Ki-moi. Mari kita cepat pulang!”

Kiki mengikuti Ceng Hiang yang membawa peti itu dan kembali ia tertegun. Ceng Hiang mempergunakan ilmu berlari cepat yang demikian hebat, mungkin lebih tinggi tingkatnya dari pada ilmunya sendiri. Tak lama kemudian, mereka tiba di tengah hutan dan kereta itu berada di situ. Kusir yang tadi sudah menggeletak tanpa nyawa di bawah kereta.

“Biar kita duduk di bangku kusir sambil bercakap-cakap.” kata Ceng Hiang. “Aku biasa menjadi kusir!”

Sambil tertawa, Kiki meloncat ke bangku kusir bersama Ceng Hiang dan setelah menyimpan peti di dalam kereta, dan kereta dilarikan, Kiki merangkul gadis cantik jelita itu.

“Enci, kau nakal. Kiranya engkaulah opsir muda itu! Betul tidak? Yang namanya Ceng Siang itu, juga engkau yang menyamar, bukan?”

“Hi- hik, habis aku tidak tega mengecewakan hatimu, nampaknya engkau tertarik benar kepada... heh-heh, Ceng Siang kakakku itu.”

Kiki mencubit paha Ceng Hiang.

“Tertarik? Hampir aku jatuh cinta setengah mati! Kau nakal dan kejam, mempermainkan aku, enci. Kiranya engkaulah murid keturunan keluarga Pulau Es! Aku senang sekali dapat berkenalan denganmu, enci Hiang.”

Ceng Hiang balas merangkul dengan lengan kirinya, sedangkan tangan kanannya menguasai kendali dua ekor kuda yang menarik kereta.

“Akupun suka sekali padamu, Kiki. Sayang aku bukan yang bernama Ceng Siang. Kalau aku laki-laki, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita jumpa dulu.”

“Enci Hiang, engkau begini cantik jelita, begini halus dan lembut. Kenapa malam itu engkau memakai pakaian opsir dan menyamar sebagai seorang pria?”

Ceng Hiang menghela napas panjang.

“Kasihan ayahku. Dia demikian ingin mempunyai keturunan laki-laki. Karena dia tidak punya putera, hanya mempunyai aku seorang anak saja dan ibu telah meninggal, maka untuk menyenangkan hatinya, aku seringkali menyamar sebagai pria. Kalau aku memakai pakaian pria, wah, ayahku nampak gembira bukan main, dan anehnya, dia sering menyebutku Ceng Siang karena katanya, kalau aku dulu terlahir laki-laki, tidak diberi nama Ceng Hiang melainkan Ceng Siang. Heh-heh, ayahku memang lucu dan kasihan sekali.”

“Dia seorang pangeran tua yang amat baik hati, enci. Akan tetapi kenapa engkau memakai pakaian opsir?”

“Hik-hik, itu ada rahasianya. Pakaian opsir itu adalah satu di antara kumpulan pusaka kuno yang disimpam ayahku. Pakaian itu dahulu, mungkin seratus tahun lalu, pernah menjadi pakaian panglima Puteri Nirahai, isteri pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Kebetulan terjatuh ke tangan ayah yang suka mengumpulkan benda benda kuno dan malam itu, melihat engkau memasuki rumah seperti seorang pencuri, aku sengaja memakainya dan membawa harimau peliharaanku untuk menakut-nakutimu. Eh, tidak tahunya engkau begitu cantik dan gagah perkasa, sehingga harimauku sendiri tidak mampu apa-apa kepadamu.”

“Tidak mampu apa-apa bagaimana? Hampir aku terkencing ketakutan!” Dua orang gadis itu tertawa-tawa dan mereka nampak akrab bukan main.

Memang mereka merasa saling suka dan lebih lagi ketika Kiki melihat sendiri betapa lihainya gadis bangsawan ini. Cantik jelita seperti bidadari, nampak lemah-lembut, peranakan Mancu berdarah keluarga kaisar, akan tetapi membenci penindasan dan penjajahan, dan yang lebih hebat lagi, memiliki ilmu kepandaian silat yang lebih tinggi darinya, bahkan menjadi pewaris ilmu keluarga Pulau Es! Siapa tidak akan kagum?

“Enci Hiang, akupun tidak mempunyai saudara. Anak ayahku hanya aku seorang, dan bertemu denganmu, aku benar-benar merasa seolah-olah engkau ini enciku sendiri.”

“Dan kau seperti adikku sendiri!”

Keduanya Saling pandang dan entah digerakkan oleh apa, keduanya bicara berbareng,

“Bagaimana kalau kita angkat saudara…”

Karena ucapan dikeluarkan berbareng, keduanya tak perlu menjawab lagi dan keduanya kembali tertawa-tawa.

“Adikku, bagaimanapun juga, aku harus minta perkenan dulu dari ayahku, walaupun aku berani tanggung bahwa ayah tentu akan setuju sekali. Semenjak pulang, dia selalu memuji-mujimu, dan mengatakan betapa sayangnya seorang pendekar wanita pejuang seperti engkau sampai hidup di tengah-tengah para bajak laut!”

Memang tepat seperti diduga oleh Ceng Hiang. Begitu Ceng Hiang menyerahkan peti berisi kitab-kitab kuno itu kepada ayahnya dan menceritakan semua pengalaman mereka, lalu menambahkan bahwa ia ingin sekali mengangkat saudara dengan Tang Ki, pangeran tua itu tanpa memandang kepada Kiki dan berkata.

“Mimpi apa aku ini, tahu-tahu peroleh seorang anak perempuan lagi yang segagah ini tanpa merawat ketika kecil? Mulai Saat ini, engkau adalah adik Ceng Hiang, Kiki, dan anakku yang ke dua.”

Mendengar ini, Kiki merasa terharu sekali dan cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pangeran itu.

“Terima kasih atas kebaikan budi paduka…”

“Hushhh, aku ayahmu, lupakah kau?” kata pangeran itu dengan suara pura- pura marah penuh teguran.

“Maaf… ayah…” Ceng Hiang bertepuk tangan lalu menghampiri Kiki, mengangkatnya bangkit dan merangkul lalu mencium kedua pipinya dengan penuh rasa sayang, Menghadapi kegembiraan yang demikian besarnya dari ayah dan anak itu, Kiki yang biasanya memiliki ketabahan besar dan yang biasanya pantang menangis itu, kini terisak-isak dan mendekapkan mukanya di pundak Ceng Hiang.

“Terima kasih... terima kasih, enci Hiang dan... ayah...” katanya megap- megap menahan tangis keharuannya.

“Aku… aku… hanya anak seorang datuk sesat, ah… betapa mungkin dan kalian berdua... ini. Mimpikah aku, enci? Mimpikah aku...”

Dan Kiki menjambak rambutnya sendiri untuk mendapatkan kenyataan bahwa ia benar-benar tidak sedang dalam mimpi.

“Tidak mimpi, Kiki. Dan engkau tidak perlu berterima kasih seperti itu. Pertama, engkau pernah mengembalikan nyawaku yang sudah hampir ditelan lautan, dan kedua kalinya, engkau mengembalikan peti kitab-kitab ini. Sungguh, engkau seorang anak yang baik dan mudah-mudahan selanjutnya akan sebaik Ceng Hiang. Nah, sekarang bantulah aku mengeluarkan dan membersihkan kitab-kitab ini. Akan kucari mana yang tepat untuk kita.”

Dengan gembira sekali, Ceng Hiang dan Kiki lalu mengeluarkan kitab itu satu demi satu, dibersihkan satu-satu, sedangkan Pangeran Ceng Tiu Ong mulai memeriksa judul kitab itu satu demi satu. Akhirnya, dia menyisihkan dua buah kitab kuno yang sudah kuning dan lapuk. Wajahnya berseri. Semua hanya kitab-kitab agama dan kebatinan, kecuali yang dua ini. Dua!

“Ya Tuhan, terima kasih. Memang engkau sudah berjodoh untuk menjadi keluarga kami, Kiki. Dulu, ketika memeriksa untuk yang pertama kalinya, aku teringat bahwa hanya ada sebuah kitab pelajaran silat di sini. Akan tetapi setelah kini kuteliti kembali, ternyata ada dua buah! Satu untuk Hiang, satu untuk kau! Bukankah ini sudah jodoh namanya?”

Dua orang gadis itu saling pandang. Mereka sudah memiliki ilmu-ilmu silat yang tinggi dan untuk waktu itu, jarang ada orang yang mampu menandingi mereka, apalagi wanita. Dan kini ayah mereka menemukan ilmu silat dalam kitab kuno. Untuk apa? Mana ada ilmu silat dalam kitab kuno yang usianya sudah ratusan tahun itu yang akan mampu menandingi ilmu-ilmu mereka? Apa artinya kitab pelajaran ilmu silat bagi mereka?

“Kitab pelajaran ilmu silat apakah itu, ayah?” tanya Kiki. “Mungkin hanya untuk ilmu permulaan, ayah,” kata Ceng Hiang.

“Jangan tanya aku tentang ilmu silat. Akan tetapi judulnya cukup menarik. Kalian mau tahu? Ah, nanti dulu. Sebagai ayah, aku harus bertindak adil. Aku sama sekali tidak mengenal ilmu silat dan tidak tahu mana yang lebih penting bagi kalian di antara kedua kitab ini. Oleh karena itu, sebelum kubaca judulnya dan sebelum kuterjemahkan isinya, aku akan memberikan dulu kepada kalian seorang satu. Nah, yang agak merah tulisannya ini untukmu, Ceng Hiang, karena engkau suka akan warna merah, bukan? Dan ini, yang agak hijau tulisannya, untuk Kiki. Mudah-mudahan engkau suka warna hijau, Kiki.”

“Luar biasa! Betapa bijaksana ayah kita,” kata Kiki sambil tertawa kepada encinya dan menerima kitab kuno itu.

“Kebetulan warna hijau adalah warna kesukaan saya!”

“Bagus, nah, sekarang akan kubacakan dulu judulnya. Kesinikan kitabmu itu, Hiang.”

Ceng Hiang  sambil  tersenyum  menyerahkan  kitabnya  dan  ia  merasa seolah-olah seperti sedang menarik undian. Apakah undiannya akan berhasil baik? Jangan-jangan kitabnya hanya berisi ilmu-ilmu belajar pasang kuda-kuda saja! Akan tetapi dengan alis berkerut tanda bahwa otaknya bekerja ayahnya sudah mulai membaca dengan suara perlahan-lahan.

“Kitab Pek-seng Sin-pouw, ciptaan Tat Mo Couw-su, untuk dilatih murid- murid yang bersih hatinya.”

“Pek-seng Sin-pouw (Langkah Ajaib Seratus Bintang)? Apakah itu?”

Ceng Hiang bertanya, mulai tertarik karena dari ilmu-ilmu yang didapatnya sebagai warisan dari nenek moyangnya, yaitu Puteri Nirahai, ia mempelajari juga semacam ilmu langkah ajaib untuk menghindarkan diri dari serangan- serangan musuh dengan elakan-elakan berdasarkan lika-liku langkah kaki. Akan tetapi selamanya ia belum pernah mendengar akan nama llmu Langkah Pek-seng Sin-pouw maka ia merasa tertarik sekali, apa lagi penciptanya adalah Tat Mo Couwsu yang juga disebut datuknya semua kaum persilatan.

“Wah, mana aku tahu? Nanti akan kuterjemahkan untukmu agar dapat kau baca dan pelajari sendiri. Ada lukisan garis-garis lurus dan lengkung yang aku tidak tahu artinya sebelum diterjemahkan. Dan kesinikan kitabmu itu, Kiki.”

Dengan jantung berdebar, Kiki menyerahkan kitabnya. Ia sendiripun tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan llmu Langkah Ajaib Seratus Bintang yang jatuh kepada enci angkathya, akan tetapi, karena kitab-kitab itu ciptaan Tat Mo Couwsu yang sudah didengar namanya, hatinya menjadi tegang penuh harap- harap cemas.

Setelah mempelajari sebentar, pangeran itu lalu membaca judul kitab yang menjadi hak milik Kiki.

“Kitab Hui-thian Yan-cu, ciptaan Tat Mo Couwsu untuk dilatih murid-murid yang penuh belas kasih hatinya.”

“'Hui-thian Yan-cu (Walet Terbang ke Langit)? Wah, ilmu apa lagi ini?” Kiki bertanya, dan encinya segera merangkulnya.

“Kionghi (selamat), adikku. Aku berani bertaruh bahwa kalau sudah diterjemahkan, ilmu itu tentu semacam ilmu ginkang yang akan membuat engkau mampu terbang ke langit seperti burung walet!”

Kiki tertawa.

“Dan ilmumu itu akan membuat engkau dapat melindungi diri dengan langkah ajaib yang ruwetnya sama dengan seratus bintang. Wah, dengan langkah ajaibmu yang sudah ada saja, aku dibikin setengah mati untuk dapat menyerangmu, apalagi dengan Pek-seng Sin-pouw, tentu engkau takkan dapat ditangkap oleh seratus orang yang mengepungmu. Selamat, enci!”

Keduanya gembira sekali, dan sang pangeran juga ikut bergembira.

“Aku sudah menduga bahwa kitab-kitab ini tentu berguna sekali bagimu, Ceng Hiang, tak kusangka kini malah berguna pula bagi Kiki. Dengan demikian, sedikit banyak aku sudah dapat membalas budi anakku Kiki.”

“Gi-hu (ayah angkat), harap jangan sebut-sebut lagi tentang budi. Bagaimanapun, aku pernah membunuhi anak buah pengawal ayah, dan membakar perahu...”

Suaranya mengandung penyesalan besar. Pangeran itu menggoyang- goyang tangannya.

“Jangan disebut-sebut lagi urusan itu, kalau terdengar orang lain tidak baik. Engkau melakukannya karena perjuangan, watakmu bukan karena memang suka membunuh atau merampok.” PEDANG NAGA KEMALA

( GIOK LIONG KIAM )

Oleh : Asmaraman S. Kho Ping Hoo

“Wah-wah, ayah dan siauw-moi mulai berbantah-bantah lagi, saling salahkan diri dan Saling puji. Sudahlah, mulai sekarang keduanya sudah berjanji tidak akan menyebut-nyebut lagi urusan itu dan akulah saksi hidupnya!”

Mereka bertiga tertawa, dan mulai hari itu, pangeran Ceng Tiu Ong menterjemahkan kedua kitab itu dengan seksama. Dia tidak akan memberikan kitab yang sudah selesai diterjemahkan, akan diberikan berbareng kepada dua orang anaknya dalam waktu yang sama. Jarang ada seorang ayah, atau orang tua seperti Pangeran Ceng Tiu Ong ini. Biarpun yang seorang anak kandung, yang kedua anak angkat, namun cinta kasihnya kepada mereka sama, tidak berat sebelah.

Orang tua yang bijaksana tidak akan memilih-milih anak mereka, siapa yang harus dicinta dan siapa yang kurang dicinta, bahkan siapa yang harus dibenci! Namanya bukan cinta kasih, melainkan cinta diri sendiri. Anak yang menyenangkan diri dicinta, yang tidak menyenangkan dibenci. Berarti cinta model sui-poa (alat hitung), model mesin hitung, cinta model dagang dengan dasar untung rugi.

Orang tua yang membeda-bedakan anaknya sebetulnya hanya mencinta diri sendiri, mencari kesenangan diri pribadi melalui anak-anaknya. Cinta kepada anaknya sama saja dengan cintanya kepada anjing peliharaannya, kalau anjing itu mengenal budi, kalau anjing itu tahu membalas budi dan menyenangkan, maka tetap dicinta. Kalau tidak, anjing itu akan dipukul atau bahkan diusir! Sama saja dengan mencinta barang-barang mati, yang baik dan berharga, dicinta… yang buruk dan tidak berharga, dibuang! Apakah yang begini cinta kasih orang tua terhadap anak-anaknya? Mudah-mudahan tidak, dan kalau toh ada yang demikian, mudah-mudahan dapat menyadarinya dan segera mengubahnya.

Pergaulan antara Kiki dan Ceng Hiang semakin akrab saja. Pada suatu malam, sebelum tidur, karena Ceng Hiang memaksa agar adiknya itu tidur sekamar dengannya. Kiki mulai bertanya tentang suhengnya yang bernama Lee Song Kim.

“Enci Hiang, sebetulnya ketika aku meninggalku Pulau Naga yang kini menjadi tempat tinggal keluarga ayahku, selain hendak mengirimkan peti kitab seperti yang dipesan ayah, aku masih mempunyai sebuah urusan lagi yang belum sempat kubicarakan denganmu. Ada sebuah perintah ayah, bukan gi-hu (ayah angkat) yang kumaksudkan, yang belum kulaksanakan dengan berhasil.” “Aihh, kenapa tidak kaukatakan dari kemarin dulu, adikku tayang? Tugas dari seorang yang berbakti kepada orang tuanya harus dipenuhi dengan baik,

dan kalau aku dapat, tentu aku akan membantumu sampai berhasil.”

“Terima kasih, enci Hiang, engkau baik sekali dan memang aku ingin minta tolong kepadamu, yaitu mungkin engkau dapat memberi keterangan tentang orang yang sedang kucari. Aku diperintah oleh ayah untuk mencari tahu dimana adanya seorang suhengku.” “Kiranya ayahmu mempunyai banyak murid-murid selain engkau? Wah, tentu suhengmu itu pandai sekali, baru Sumoinya saja seperti engkau, apalagi suhengnya.”

“Murid ayah hanyalah aku dan suhengku itu, enci, sudah lama dia pergi, dan aku ingin tahu dimana alamatnya karena yang kami ketahui hanya bahwa Suheng itu kini telah menjadi seorang perwira kerajaan dan tinggal di kota raja.”

“Begitukah? Dan siapa namanya?” “Namanya Lee Song Kim...”

Tiba-tiba Ceng Hiang yang tadinya sudah merebahkan diri dan mereka bercakap-cakap sambil tiduran, meloncat bangkit dan duduk, matanya terbelalak memandang wajah Kiki dan sampai beberapa detik lamanya tidak menjawab.

Kiki terkejut sekali.

“Eh, ada apakah,enci Hiang?”

“Lee Song Kim…? Kaumaksudkan perwira baru itu, yang selalu membawa pedang dan sepasang pisau belati di pinggangnya? Usianya sebaya dengan kita, lebih tua satu dua tahun mungkin, sikapnya halus dan wajahnya tampan. Ilmu silatnya lihai…”

“Benar dia! Enci, engkau kenal dia? Tahukah kau dimana suhengku itu sekarang berada?”

“Tahu? Tentu saja aku tahu, lebih dari itu malah! Tapi, benarkah Lee Song Kim itu suhengmu? Murid dari ayahmu, murid dari Hai - tok Tang Kok Bu?”

“Heii, apakah engkau tidak percaya kepadaku, enci Hiang? Itulah suhengku!”

“Maksudku, apakah dia mempunyai guru lain dan hanya kebetulan saja menjadi murid ayahmu dan hanya untuk beberapa bulan atau tahun saja?”

“Tidak, dia menjadi murid ayah sejak dia masih kecil. Ayahkulah yang menggemblengnya sejak dia masih kecil sekali sampai dewasa. Bahkan hampir semua ilmu ayahku telah dia kuasai, dia murid yang amat disayang oleh ayahku.”

“Di antara banyak murid-murid ayahmu?”

“Tidak. Yang benar-benar menjadi murid ayah hanyalah Lee Song Kim itu dan aku sendiri. Yang lainnya itu bukan murid benar-benar, hanya anak buah yang dilatih satu dua jurus ilmu saja. Tapi, kenapa kautanyakan itu semua, enci?”

“Karena, adik Kiki, dia itu tidak pernah mengaku sebagai murid Hai-tok. Dia mengaku bahwa ilmu silatnya adalah ilmu silat keluarga dari nenek moyangnya.”

“Wah, kalau begitu… hanya ada dua kemungkinan! Pertama, dia itu bukan suhengku, hanya orang yang sama namanya saja, dan kedua, dia itu pembohong besar, mungkin karena dia merasa malu mengaku menjadi murid Hai-tok ayahku!”

“Dan menurut dugaanmu, di antara dua kemungkinan itu, yang manakah dia?”

“Yang kedua! Aku yakin bahwa dia itulah Lee Song Kim suhengku...” “Ssttt, nanti dulu, adikku, jangan kau memburuk-burukkan dia karena

masih ada hal lain lagi mengenai dirinya yang lebih gawat sekali bagiku. Dia adalah laki-laki yang dengan perantaraan komandannya, seorang panglima sahabat baik ayahku, yang telah... mengajukan pinangan atas diriku karena dia mengaku telah kehilangan ayah bundanya dan hidup sebatangkara tak bersanak keluarga lagi.”

“Ehh... Ohhh... kalau begitu... ahhh…”

Kiki terbelalak dan ternganga, bengong tak dapat berkata apa-apa lagi. Sungguh perkaranya kini menjadi berbalik dan berubah sama sekail! Kenyataan yang mengejutkan bahwa suhengnya itu menjadi kenalan baik, bahkan melamar Ceng Hiang, Sungguh membuat kedudukan suhengnya itu lain sama sekali dan mana dia berani menjelek-jelekkan suhengnya di depan enci angkat ini? Tapi... suhengnya itu seorang pengkhianat, seorang yang murtad dan jahat. Ia mengerutkan alisnya.

Pantaskah orang seperti Lee Song Kim menjadi suami seorang gadis seperti Ceng Hiang ini? Dan iapun menimbang-nimbang. Sebetulnya, apakah kesalahan Lee Song Kim? Tentang dia meninggalkan gurunya, hal itu memang atas perintah Hai-tok untuk mencari jejak Koan Jit. Kemudian Song Kim menjadi perwira kerajaan. Walaupun hal itu sama sekali tidak cocok bahkan bertentangan dengan politik perjuangan melawan penjajah, akan tetapi secara pribadi, apakah hal itu boleh dipersalahkan?

Dan kalau Song Kim lalu mengkhianati gurunya dan melaporkan pertemuan dalam pesta ulang tahun, bukankah kewajibannya sebagai seorang opsir dan petugas Kerajaan Ceng, dan dia hanya bertindak demi kepentingan pemerintah yang diabdinya? Juga ketika dia menyerang perahu Bajak Naga Lautan, bukankah itu juga merupakan tugasnya sebagai opsir Kerajaan Ceng?

Berpikir demikian, Kiki menjadi bimbang dan alisnya terus berkerut, mukanya sebentar merah sebentar pucat, dan ia seperti melamun, lupa bahwa sejak tadi ia dipandang oleh kakak perempuan angkatnya itu.

Ceng Hiang sejak tadi yang memperhatikan keadaan Kiki, memandang penuh selidik, juga terheran-heran, lalu memegang kedua pundak adiknya itu dan dipaksanya adiknya bertemu pandang. Sinar matanya yang bening tajam itu memandang penuh selidik.

“Haii… bangunlah, Kiki. Apakah engkau mimpi? Kenapa setelah mendengar tentang Lee Song Kim, engkau hanya ber-ah-eh-oh seperti orang yang tiba-tiba menjadi gagu?”

Tiba-tiba Ceng Hiang teringat sesuatu dan senyumnyapun menghilang, terganti kekhawatiran pada wajahnya.

“Adikku yang baik. Kita bukan orang lain. Aku encimu dan engkau adikku. Kita harus jujur. Apakah… apakah… engkau mencinta suhengmu yang bernama Lee Song Kim itu?”

Kini Kiki yang terkejut ditanya begitu.

“Mencinta suheng? Wah, tidak Sama sekali tidak ! Memang dulu pernah ayahku condong untuk menjodohkan kami, akan tetapi aku tidak mau dan sekarang ayah sama sekali tidak menghendakinya lagi.”

“Dan dia... apakah dia cinta padamu?”

“Wah, mana aku tahu, enci? Kami kakak beradik seperguruan. Hubungan kami seperti kakak dan adik saja. Hal itupun aku tidak tahu. Aku tadi terkejut karena sama sekali tidak mengira bahwa suheng mengajukan pinangan dan akan menjadi calon suamimu.”

“Hushh, jangan sembrono. Aku belum menerimanya! Kukatakan tadi bahwa dia dengan perantaraan komandannya, meminang aku, dan agaknya ayahku suka kepadanya. Akan tetapi ayah amat cinta kepadaku dan ayah tidak hendak memaksa. Dia menanti jawabanku sendiri dan karena aku masih bimbang, aku belum beri jawaban. Tapi, kenapa ayahmu yang dulu ingin menjodohkan kalian kini merubah pikirannya?”

Kiki bukan seorang gadis yahg bodoh. Ia cerdik sekali, dan kini tahulah ia bahwa encinya ini hendak menguras keterangan dari dirinya untuk mengenal siapa sebenarnya pemuda bernama Lee Song Kim yang meminangnya itu. Ia harus berhati-hati, karena tidak tahu sampai dimana hubungan antara suhengnya dan encinya ini, dan apakah encinya ini mencita Song Kim. Ia tahu bahwa Song Kim tampan gagah, dan juga pandai merayu, kelihatannya seorang pendekar sasterawan yang budiman.

“Tentu enci tahu betapa perasaan ayahku mendengar bahwa dia telah menjadi seorang perwira dari pemerintah Ceng-tiauw, bukan? Nah, sejak dia menjadi perwira itu, tentu saja pendirian ayah berubah. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, tidak ada perasaan apa-apa dalam hatiku terhadap suheng, maka akupun tidak perduli lagi.”

“Tapi, kenapa sekarang engkau disuruh ayahmu untuk mencari tempat tinggalnya?” kembali Ceng Hiang mengejar dan pandang matanya semakin tajam menyelidik.

“Terus terang saja, kalau jumpa, aku diminta oleh ayah untuk membujuk agar dia mau kembali kepada kami, mau meninggalkan kedudukannya yang sekarang.”

Ceng Hiang nampak lega dan percaya, terbukti dari helaan napasnya yang panjang.

“Ah,-begitukah? Akan tetapi kurasa dia tidak akan mau kembali. Kedudukannya sudah semakin baik, dan karena ilmu kepandaiannya tinggi, baginya terbuka kesempatan untuk mencapai kedudukan tinggi, mungkin bahkan sebagai panglima muda di istana.”

“Tapi, bagaimana dengan engkau sendiri, enci Hiang? Apakah... ada kecondongan hatimu untuk menerimanya?”

“Apakah engkau cinta padanya?”

Kini Kiki yang menatap dengan sinar mata tajam penuh selidik. Kembali Ceng Hiang menarik napas panjang dan nampak ragu ragu.

“Entahlah, adikku. Entahlah. Aku memang kagum kepadanya, akan tetapi Cinta? Entahlah, aku sendiri tidak tahu bagaimana sih cinta itu. Engkau yang hidup sebagai seorang gadis kang-ouw dan sudah luas sekali pengalamanmu, coba katakan, adikku,bagaimana sih rasanya kalau orang jatuh cinta? Aku tidak yakin apakah aku cinta atau tidak padanya, walaupun aku kagum dan suka kepada suhengmu karena dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, bertampang ganteng dan bersikap sopan dan lembut. Bagaimana sih cinta itu?”

Di dalam hatinya, Kiki menaruh rasa khawatir. Memang suhengnya itu perayu benar dan pandai bersandiwara, sikapnya selalu baik dan memang tampan. Akan tetapi ditanya tentang cinta, dara inipun menjadi bingung sendiri. Apa sih cinta itu? Ia lalu mengingat-ingat, membayangkan tampang laki-laki yang pernah dikenalnya dan dikaguminya. Banyak pendekar muda yang gagah perkasa dan ganteng, terutama sekali Tan Ci Kong itu! Ia sendiri bertanya-tanya, apakah ia mencinta Ci Kong, akan tetapi ia sendiri tidak mampu menjawab. Dan kini enci angkatnya bertanya tentang cinta kepadanya! “Cinta? Wah, aku lebih muda darimu, end! Biarpun aku sudah banyak menjelajah dan banyak mengenal orang, akan tetapi dalam urusan cinta mencinta, pengetahuanku juga nol besar! Aku tak dapat menjawab. Akan tetapi, bukankah kalau benar-benar engkau mencinta seorang pemuda, ada terasa di dalam hatimu? Bagaimana perasaanmu terhadap suhengku itu? Apakah ada rindu? Apakah ada keinginan untuk berdekatan terus? Apakah ada perasaan mesra dan… ah, bagaimana lagi ya? Aku tidak tahu!”

Dan keduanya lalu tertawa. Ceng Hiang merangkulnya dan mencium pipinya. Kata-kata dan sikap adik angkatnya itu benar-benar lucu baginya, dan ia memperhatikan wajah Kiki.

“Kalau saja aku ini seorang laki-laki, atau engkau seorang laki-laki, agaknya aku bisa jatuh cinta padamu, Kiki. Tapi kita sama-sama perempuan, sehingga di antara kita tentu lain-lain rasanya di hati. Aku tidak tahu dan aku ragu-ragu. Tapi, coba ceritakan lebih banyak tentang suhengmu itu. Orang tuanya dimana? Dari mana dia berasal? Dan pekerjaan hebat apa saja yang pernah dilakukannya? Dan bagaimana dalam pergaulannya denganmu? Apakah dia jujur? Apakah dia dapat dipercaya? Apakah dia penyabar ataukah pemarah? Engkau sebagai sumoinya yang hidup sejak kecil dengan dia tentu mengenalnya dengan baik.”

Kiki menjadi semakin bingung.

“Wah, wah… pertanyaanmu ini sungguh berat bagiku untuk menjawabnya, enci. Bagaimana aku dapat menilai orang yang pernah menjadi suhengku akan tetapi juga pernah menjadi musuhku. Ketahuilah, belum lama ini belum ada dua bulan ini, telah terjadi perang antara perahu bajak yang kupimpin dan perahu kerajaan yang dipimpinnya. Terpaksa kami, suheng dan sumoi, bertanding di perahu secara mati-matian. Karena pelengkapannya lebih baik dan orang- orangnya lebih banyak, terpaksa aku melarikan diri bersama anak buahku. Ketahuilah, kami telah bertanding mati-matian dan nyaris seorang di antara kita tewas. Nah, bagaimana sekarang aku harus menilainya? memang perkelahian dan permusuhan yang terjadi antara kami berdua bukan persoalan pribadi, melainkan disebabkan karena dia meninggalkan kelompok kami dan menjadi perwira pemerintah. Tentu saja bagi kami, dia itu kami anggap seorang pengkhianat. Maafkan aku, enci...”

Ceng Hiang mengangguk-angguk.

“Tidak apa adikku, aku mengerti benar dan dapat merasakan apa yang kauceritakan semua itu.”

“Kau tidak marah kepadaku?” “Kenapa marah?”

“Orang yang... kaucinta, kumaki pengkhianat dan kau tidak marah?” “Hushh, lancang kau!”

Kini Ceng Hiang mencubit pipi Kiki. “Siapabilang aku cinta padanya?”

“Jadi benar-benar kau tidak sakit hati mendengar dia dimaki pengkhianat?”

Ceng Hiang menggeleng kepala. Kiki lalu merangkulnya.

“Horee! Kalau begitu… berarti engkau tidak cinta padanya, enci Hiang! Jelaslah! Kalau kau cinta seseorang, dan orang itu dimaki pengkhianat, sudah pasti engkau akan marah. Dan sekarang kau tidak marah, itu berarti kau tidak cinta pada bekas suhengku itu.”

“Akupun tidak tahu dan mungkin aku tidak cinta padanya, akan tetapi ayah kelihatan begitu yakin akan kebaikannya, dan agaknya ayah mengharapkan aku menerimanya. Dan aku… kau tahu, ayah hanya mempunyai anak aku seorang, aku tidak tega mengecewakan hatinya.”

“Wah-wah, kau lupa padaku, enci? Ingat, aku pun anaknya!” Ceng Hiang menciumnya.

“Maaf, tapi kan lain, adikku?”

“Jadi, kalau begitu… biarpun kau tidak cinta, engkau akan menerima saja pinangan itu dengan mata dipejamkan? Begitu?”

Ceng Hiang mengangguk.

“Mungkin saja, kalau hal itu membahagiakan hati ayah.” “Tidak betul itu! Aku akan menentangnya!”

Tiba-tiba Kiki berseru dengan nada suara marah, dan berdiri turun dari tempat tidur dan bertolak pinggang.

“Eh, eh, apa-apaan kau ini? Apa kesurupan setan? tiba-tiba marah-marah seperti itu!” Ceng Hiang mengomel.

“Aku akan menentang karena tidak adil. Kita ini bukan ayam atau kambing atau babi yang boleh begitu saja dituntun ke pejagalan disembelih, hanya untuk untuk menyenangkan manusia. Kita ini berhak memilih, enciku yang baik. Manusia yang berhak menikmati hidup ini! Kalau memang engkau tidak cinta pada Lee Song Kim dan gi-hu hendak memaksamu menerima menjadi calon isterinya, wah, aku akan memberontak! Aku akan menghadap gi-hu dan aku akan membelamu. Pendeknya, aku tidak rela melihat enciku yang tersayang dijadikan ayam betina untuk disembelih dan disuguhkan orang- orang hanya untuk membikin senang hati orang lain. Tidak! Kecuali kalau engkau cinta padanya, nah, baru itu benar namanya. Kalau engkau mencinta seorang dan orang itupun cinta padamu, barulah boleh diadakan pernikahan. Dan kalau ada yang menentang, aku pula yang akan membelamu mati-matian!” Kini kedua mata Ceng Hiang yang menjadi basah. Ia menarik tangan Kiki dan merangkul adiknya itu sambil menangis perlahan saking girang dan terharu hatinya. Selama hidupnya, Ceng Hiang belum pernah merasakan kasih sayang seorang saudara perempuan, apalagi karena ia masih kecil ketika ibunya meninggal dunia. Kiki juga menangis dan kedua orang wanita yang sama-sama gagah perkasa itu, kini benar-benar menjadi wanita-wanita sejati yang mudah dikuasai perasannya dan suka meluapkan perasaan itu lewat air

mata dari dua pasang mata yang indah itu.

Dari Ceng Hiang, Kiki mendapat keterangan bahwa Song Kim naik pangkat setelah terjadi penyerbuan di tempat ulang tahun Hai-tok, dan kini tinggal di dalam sebuah gedung yang cukup mewah, dijaga oleh serdadu-serdadu pengawal.

“Engkau jangan mengunjunginya, karena bisa terjadi salah paham setelah kalian pernah berkelahi. Juga aku ingin sekali melihat sikapnya kalau bertemu denganmu. Karena itu, Kiki… aku akan menggunakan akal agar dia datang ke sini dan...”

Ceng Hiang lalu membisikkan kata-kata di dekat telinga Kiki, dan dua orang gadis itu tertawa cekikikan seperti dua orang anak kecil yang merencanakan sesuatu yang nakal. Memang, di dalam hati masing-masing tumbuh kegembiraan yang selama ini belum pernah mereka rasakan, setelah mereka merasa saling memiliki sebagai saudara.

Memang cinta asmara merupakan suatu hal yang amat rumit. Tiada habisnya cerita di dunia ini dikisahkan oleh para Sasterawan dan pengarang tentang cinta asmara, sebab-sebabnya, akibat-akibatnya dan hal-hal yang terjadi sehubungan dengan perasaan yang selalu menyerang hati manusia itu, tak perduli dia berbangsa apa, pria atau wanita, tua ataupun muda.

Bagi sebagian besar pria, kalau dia jatuh cinta kepada seorang wanita, persoalannya lebih mudah dan sederhana lagi, dan dia sendiripun lebih mudah untuk memahami keadaan dirinya. Dia tentu selalu rindu kepada wanita yang dicintanya itu, merasa suka dan selalu merasa kasihan, ingin selalu berdekatan, ingin selalu menyenangkan hatinya, ingin selalu bermesraan dan segala sesuatu pada diri wanita itu nampak olehnya sebagai yang paling indah, paling baik dan paling benar.