-->

Pedang Naga Kemala Jilid 21

Jilid 21

“Huh, kau sudah menjadi lemah hati, ahh… tapi ini merupakan kesempatan baik sekali!”

Tiba-tiba Hai-tok memukul telapak tangannya sendiri.

“Kau bisa mengantarkan peti ini ke kota raja, mencari pangeran itu dan menyerahkan peti ini!”

“Ayah… aku tidak butuh ganjaran!”

“Hushh, bukan itu, anak bodoh. Tapi engkau bisa menyelidiki keadaan Song Kim, murid murtad itu. Kalau sudah tahu dimana kedudukannya dan dimana dia, aku sendiri yang akan menghajar dan membunuh dia!” kata kakek itu penuh geram.

Hati Kiki mulai merasa tertarik. Ketika masih kecil, ayahnya pernah mengajaknya pesiar ke kota raja dan dia samar-samar masih teringat betapa hebat dan besarnya kota raja. Besar dan indah sekali. Dan kalau ditemukannya Pangeran Ceng Tiu Ong, tentu dia akan dapat sementara tinggal di dalam istana pangeran itu. Dan hal inipun akan menambah banyak pengalaman hidup dan pengetahuannya.

“Engkau benar, ayah. Baiklah, nanti kalau sudah ada saat dan kesempatan yang baik, aku akan mencarinya dan mengantarkan peti ini.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Ayah, baru saja aku melakukan pukulan berat kepada pemerintah dengan membakar sebuah perahunya dan membajak pangeran itu. Di antara anak buah pasukan, tentu ada yang berhasil meloloskan diri dengan berenang. Kalau sekarang aku berkeliaran di kota raja dan ketahuan oleh mereka, apakah hal itu tidak amat berbahaya?”

Hai-tok mengangguk-angguk membenarkan pendapat puterinya. Memang, kota raja tidak boleh dibuat main-main. Di sana banyak sekali terdapat tokoh yang amat sakti, bahkan dia sendiri tidak berani sembarangan merajalela di kota raja. Pihak orang kulit putih merasa marah juga ketika beberapa di antara perahu-perahu mereka juga tidak luput dari gangguan Bajak Naga Laut. Sudah ada empat buah perahu mereka dibajak dan dibakar.

Admiral Elliot tersinggung kehormatannya. Walaupun empat buah perahu yang dibajak dan dibakar itu hanya perahu-perahu kecil dan dia hanya kehilangan beberapa orang perajuritnya, namun hal itu merupakan pukulan baginya. Kekuatan pasukannya terletak pada armadanya, dan kini ada perahu- perahunya yang dibakar oleh hanya bajak-bajak laut saja. Dia sudah menyuruh orang untuk melakukan penyelidikan dimana sarang Bajak laut itu.

Orang-orangnya, terutama sekali orang-orang Harimau Terbang, hanya tahu bahwa sarang bajak laut itu adalah Pulau Layar, dikepalai oleh Hai-tok Tang Kok Bu. Akan tetapi, ketika mereka ke sana, pulau itu sudah dibumihanguskan dan tak seorangpun tahu dimana sarang baru dari para bajak laut yang berani itu.

Tentu saja sisa-sisa pasukan Harimau Terbang yang sudah ditinggalkan Koan Jit itu, dan masih dipergunakan oleh Kapten Elliot atas persetujuan Admirai Elliot, kini dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Mereka dianggap lebih paham dan mengenal daerah perairan di lautan itu, juga mengenal para bajak laut. Dan pasukan Harimau Terbang yang kini sisanya tinggal kurang lebih limapuluh orang itu dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing sepuluh orang menunggang sebuah perahu yang diperlengkapi meriam untuk mencari bajak laut dan membasminya, atau kalau mereka merasa tidak kuat, melaporkannya kepada Kapten Elliot yang akan mengirim kapal untuk menghancurkannya.

Demikianlah, kini mulai nampak perahu-perahu yang memakai hiasan meriam itu berkeliaran di sepanjang pantai lautan timur. Para anak buah Harimau Terbang adalah orang-orang yang berilmu silat didikan Koan Jit. Mereka itu orang-orang kasar yang sudah biasa mengandalkan kekuatan dan kekerasan, maka tentu saja mereka seringkali bersikap sewenang-wenang terhadap para nelayan. Kalau tidak merampas ikan-ikan hasil jerih payah semalam, tentu suka mengganggu wanita-wanita pelayan yang muda dan cantik. Dengan demikian, nama Harimau Terbang terkenal sebagai pengganggu keamanan, bahkan mereka itu lebih dibenci oleh kaum nelayan dari pada para bajak laut sendiri, karena bajak-bajak laut itu tidak pernah mau mengganggu para nelayan.

Pada suatu pagi yang cerah dan air laut amat tenangnya, hanya berkeriput- keriput kecil, nampak sebuah perahu layar kecil yang hanya ditumpangi tiga orang hilir-mudik di tengah laut, tak jauh dari pantai. Para penumpang perahu itu agaknya tidak melihat bahwa tak jauh dan pantai, ada sebuah perahu bermeriam yang mengintai. Itulah perahu yang amat ditakuti para nelayan, perahu Harimau Terbang. Pada layarnya saja terlukis harimau terbang yang menyeramkan, dan di atas perahu itu nampak sepuluh orang laki-laki tinggi besar yang kesemuanya memakai rompi kulit harimau.

Sejak tadi, perahu-perahu nelayan sudah berpencaran melarikan diri karena ketakutan. Akan tetapi perahu kecil yang ditumpangi tiga orang itu agaknya tidak mengenal kegalakan perahu Harimau Terbang, atau mungkin juga tidak memperdulikannya. Sungguh mengherankan, mana ada orang, apalagi hanya tiga orang, berani tidak memperdulikan pasukan Harimau Terbang yang terkenal galak, baik di lautan maupun di daratan itu?

Akan tetapi kalau orang mengenal siapa orang yang berada di dalam perahu layar kecil itu, orang takkan merasa heran lagi. Pemuda tampan yang berada di perahu itu, yang pakaiannya indah pesolek, menyembunyikan pedang di punggung dan sepasang pisau belati di balik pinggang, bukan lain adalah Lee Song Kim, murid tersayang dan Hai-tok!

Seperti diketahui, pemuda yang murtad terhadap gurunya sendiri itu, kini telah menjadi seorang petugas pemerintah Ceng, memiliki kedudukan yang lumayan sebagai seorang opsir. Baru-baru ini, dialah yang mengkhianati gurunya sendiri, memberi tahu kepada komandannya akan adanya rapat gelap para tokoh kang-ouw yang anti pemerintah Ceng, dan untuk laporan ini, diapun memperoleh kenaikan pangkat. Kini, dia ditugaskan melakukan penyelidikan siapa adanya bajak laut yang baru-baru ini membajak perahu besar yang bertugas mengambil kitab-kitab di kuil Mukden.

Tentu saja, Lee Song Kim sudah dapat menduga siapa pembajaknya. Siapa lagi bajak yang menggunakan perahu Naga Laut kalau bukan anak buah gurunya? Dan siapa lagi gadis cantik yang memimpin pembajakan itu kalau bukan sumoinya, Tang Ki? Setelah Pulau Layar dibakar, bukan tidak mungkin kalau gurunya itu melakukan pekerjaan lamanya, yaitu membajak. Dia dapat menduga dengan tepat dan bahkan yakin, akan tetapi tentu saja dia tidak berterus terang kepada komandannya, karena kalau ketahuan bahwa dia murid kepala bajak itu sendiri, dia tentu akan dicurigai. Dua orang lainnya juga opsir-opsir rendahan yang menjadi pembantu Song Kim. Mereka berpakaian seperti orang biasa, bukan seperti perajurit atau opsir, jadi bukan pula seperti nelayan yang pakaiannya kotor, melainkan sebagai tiga orang pelancong yang sedang bersenang-senang naik perahu layar. Dua orang pembantu Song Kim itu berusia kurang lebih empatpuluh tahun dan merupakan dua orang opsir yang pandai ilmu silat dan juga sudah banyak mengenal daerah itu.

“Di utara sana itu, yang nampak kecil hitam dari sini, adalah Pulau Layar,” kata seorang di antara dua opsir itu kepada Song Kim.

“Di sana yang menjadi majikan adalah seorang kaya raya she Tang, yang kabarnya dulupun pernah menjadi bajak laut, dan dia terkenal pula dengan julukan Hai-tok.”

“Apa? Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia?” tanya Song Kim pura-pura.

“Benar, Lee-ciangkun. Akan tetapi sudah bertahun-tahun dia tidak lagi melakukan pekerjaan membajak karena sudah kaya raya. Dan kabarnya pulau yang sudah dibakar oleh pasukan kita itu, kini ditinggalkan dan mereka lari entah kemana, sejak terjadi penyerbuan ketika Hai-tok mengadakan pesta ulang tahun itu.”

Song Kim mengangguk-angguk. Tentu saja dia tahu semua itu. Akan tetapi dia sendiripun tidak tahu ke pulau mana gurunya itu pindah. Terlalu banyak pulau kosong di tengah lautan sana, pulau-pulau kosong yang amat berbahaya. Tiba-tiba terdengar suara rumah keong besar ditiup, suaranya dari jauh terdengar seperti suara seekor lembu menguak. Song Kim dan dua orang

temannya menengok dan Song Kim berkata. “Menjemukan benar tingkah mereka itu.”

Mereka melihat betapa beberapa orang dan perahu bermeriam itu memberi tanda agar mereka datang mendekat.

“Lee-ciangkun, melihat dan pakaiannya, mereka itu tentulah orang-orang dari pasukan Harimau Terbang. Lihat itu benderanya.”

“Hemm, kaumaksudkan Pasukan Harimau Terbang yang menjadi anjing- anjing peliharaan orang kulit, putih?”

“Benar, Lee-ciangkun. Kabarnya terjadi bentrokan hebat antara para anjing penjilat orang kulit putih yang menyebabkan banyak anggauta Harimau Terbang tewas, bahkan pemimpinnya yang bernama Koan Jit kini juga telah melarikan din. Mungkin mereka itu hanya sisa-sisanya saja yang masih dipergunakan oleh pasukan Inggeris.”

Kini perahu Harimau Terbang itu mendekat, dan seorang di antara mereka yang berkumis dan berwajah bengis membentak.

“Heii... apakah kalian tuli atau buta? Dipanggil tidak mau mendekat? Hayo kalian dayung ke sini, kami harus memeriksa apa isi perahu kalian!”

Song Kim merasa mendongkol sekali.

“Kami hanya pelancong-pelancong yang tidak membawa apa-apa. Dan situpun nampak bahwa perahu kami ini kosong. Mau diperiksa apanya?”

Mendengar jawaban yang berani dan tidak halus itu, pimpinan Harimau Terbang menjadi semakin marah. Matanya melotot. Belum pernah ada orang di sepanjang pantai ini berani bersikap kasar kepadanya.

“Apakah kau gila? Kau tahu dengan siapa kalian berhadapan? Hayo ke sini kalau kalian tidak ingin kupenggal kepala kalian dan kuberikan kepada ikan hiu!” Song Kim tak dapat menahan lagi kesabarannya.

“Aku tahu berhadapan dengan Pasukan Harimau Terbang, anjing-anjing kelaparan yang menjilat-jilat sepatu orang-orang bule, bukan?”

“Keparat! Mereka itu pemberontak-pemberontak! Kejar!” Teriak si muka bengis itu, dan kini perahu Harimau Terbang mengejar perahu layar kecil itu.

Akan tetapi, Song Kim dan dua orang kawannya sengaja mempermainkan mereka. Mereka bertiga itu memiliki perahu yang lincah dan lebih dar itu, Lee Song Kim adalah murid Hai-tok dan kepandaiannya di atas maupun di dalam air luar biasa, maka dia dapat melarikan perahunya ke kanan kiri melepaskan diri dan pengejaran lawan, bahkan mempermainkannya dengan mengelilingi perahu yang jauh lebih besar itu.

Setelah berkejaran sampai setengah jam lebih tanpa hasil, akhirnya komandan perahu Harimau Terbang menjadi marah.

“Siapkan meniam Tembak mereka!”

Lee Song Kim sama sekali tidak mengira bahwa perahu Harimau Terbang itu akan melepaskan tembakan meriam terhadap perahu yang sama sekali tidak bersalah. Maka ketika tiba-tiba terdengar ledakan keras dan perahunya kena hantaman peluru sehingga dia sendiri terlempar jauh ke laut, dia terkejut bukan main. Cepat dia mencari kedua kawannya di antara perahunya yang terbakar. Namun dia hanya menemukan dua kawan itu sudah mengambang menjadi mayat di antara kepingan-kepingan kayu dan perahunya yang terbakar dan hancur.

“Keparat busuk!”

Song Kim memaki marah sekali dan tubuhnya segera lenyap ketika dia menyelam. Tak lama kemudian dia sudah berada di dekat perahu lawan, muncul di bawah perahu tanpa terlihat oleh seorangpun. Dia mendengar betapa sepuluh orang di atas perahu itu tertawa bergelak-gelak, mentertawakan perahunya yang terbakar dan hancur, dan tentu juga mentertawakan kematian dua orang kawannya dan dia sendiri yang oleh mereka tentu dianggap sudah mati. Kemarahan membuat wajah pemuda ini menjadi beringas sekali.

“Jahanam busuk!” kembali dia membentak, dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke atas, ke perahu pasukan Harimau Terbang itu.

Tentu saja semua orang terkejut setengah mati ketika tiba-tiba melihat seorang pemuda tampan berada di perahu mereka. Si muka bengis, pemimpin mereka, yang sudah memegang sebatang golok, tahu bahwa yang muncul ini tentu pihak musuh, maka dia pun cepat membacokkan goloknya yang amat tajam itu ke arah Song Kim. Pemuda ini tidak mengelak, melainkan cepat menotok siku kanan pemegang golok, dan tiba-tiba saja tangan kanan itu menjadi lumpuh. Sebelum si muka bengis itu tahu apa yang terjadi, nampak sinar goloknya yang sudah pindah tangan itu berkelebat dan tersemburlah darah muncrat-muncrat dari leher yang sudah buntung itu!

Song Kim menyambar kepala yang mencelat itu, menjambak pada rambutnya. Muka yang sudah tidak berbadan agi itu masih nampak bengis, matanya melotot, alis berkerut dan mulutnya membentuk kebengisan setengah terbuka, amat mengerikan!

Melihat betapa kepala pasukan itu tewas dengan leher putus dan kini kepalanya dijambak tangan kiri pemuda itu, para anak buahnya terkejut, ngeri akan tetapi juga marah. Mereka lalu mencabut golok masing-masing dan maju mengeroyok. Terjadilah perkelahian di atas perahu itu. Akan tetapi mana mungkin perajurit-perajurit Harimau Terbang itu mampu melawan Lee Song Kim? Sekali saja golok itu berkelebat, seorang perajurit robek perutnya dan yang kedua hampir putus lehernya, sedangkan yang ketiga menjerit karena melihat betapa muka pemimpinnya itu tiba-tiba mencium mukanya dengan keras! Sempat dia menjerit ngeri, akan tetapi dadanya segera ditembus golok di tangan Song Kim! Kini pemuda itu mengamuk dan tak seorangpun di antara sepuluh orang itu yang sempat melarikan diri, semua habis dibabat golok rampasannya dan tubuh mereka kini malang melintang di atas dek perahu, yang sudah kebanjiran darah. Bau amis amat memuakkan. Song Kim lalu membuang golok

rampasannya dan meloncat ke air, menyelam dan lenyap dan situ.

Biarpun Song Kim telah berhasil membunuh sepuluh orang anggauta Harimau Terbang itu, namun dia kehilangan dua orang pembantunya, dan hal ini membuat hatinya menjadi marah sekali. Dia cepat pulang ke kota raja, membuat laporan kepada komandannya bahwa sebelum dia sempat menemukan tempat persembunyian Bajak Naga Laut, dia bentrok dengan orang-orang Harimau Terbang yang mengakibatkan dua orang kawannya tewas.

Komandannya juga penasaran dan marah, maka Lee Song Kim lalu diutus mengepalai sebuah perahu besar dengan anak buah sebanyak seratus orang tentara pilihan, bukan hanya untuk mencari dan menumpas bajak laut, akan tetapi juga untuk menumpas pasukan Harimau Terbang kalau berani mengganggu perahu pemerintih Ceng.

Perahu besar itu memang nampaknya saja mempunyai anggauta seratus orang pasukan, akan tetapi Song Kim tidak sebodoh itu, membiarkan perahunya hanya dijaga seratus orang. Bukankah perahu Pangeran Ceng Tiu Ong juga dikawal seratus orang perajurit dan apa jadinya? Sebagian besar perajurit itu tewas dan perahunya dibakar! Dan diapun tidak mungkin hanya mengandalkan kepandaiannya sendiri, karena selain pihak bajak itu banyak, juga dipimpin oleh orang pandal pula. Kalau benar sumoinya, Kiki, yang memimpin bajak itu, tentu dia sendiri sudah akan repot menandingi sumoinya dan tidak akan dapat melindungi anak buahnya dengan baik dari serbuan para bajak. Apalagi kalau yang memimpin bajak itu Hai-tok, bekas gurunya sendiri. Akan tetapi diapun tidak takut terhadap Hai-tok. Semua ilmu silat dan kakek itu sudah dikuasainya, dan kakek yang kaya raya itu mana akan mampu menandingi kekuatannya yang masih muda?

Karena cerdiknya, opsir muda ini lalu menyembunyikan seratus orang lagi pasukan di bagian bawah perahunya. Jadi, kekuatannya hanya nampaknya saja seratus orang, padahal sebenarnya duaratus orang. Dan perahunya juga bukan perahu biasa, melainkan perahu besar yang sudah diperlengkapi dengan meriam! Benderanya besar, bendera tanda milik pemetintah Ceng-tiauw, dapat nampak dari jauh. Dan pasukannya juga dipilih pasukan yang jagoan dan yang sudah berpengalaman bertempur di atas perahu.

Pendeknya, Lee Song Kim sudah membuat persiapan yang cermat untuk menghadapi segala kemungkinan, baik melawan pasukan Harimau Terbang maupun pasukan Bajak Naga Laut.

Sementara itu, peristiwa yang terjadi atas diri sepuluh orang anggauta Harimau Terbang yang dibantai oleh Song Kim itu, segera diketahui oleh Kapten Elliot. Bukan main marahnya kapten ini. Dia segera memanggil Peter Dull, letnan yang gagah perkasa, bekas sahabat baik Koan Jit itu. Setelah Koan Jit melarikan diri tanpa pamit setelah markasnya diserang oleh Ong Siu Coan dan anak buahnya dibantu Thian-tok, lalu sisa pasukan Harimau Terbang diserahkan kepada Letnan Peter Dull. Jumlahnya masih ada kurang lebih tujuhpuluh orang bersama dengan para mata-matanya sendiri. Mendengar betapa anak buahnya dibantai orang, marahlah Peter Dull. Karena tidak terdapat saksi hidup, dia tidak tahu siapa orangnya yang telah membunuh sepuluh orang anak buah nya itu secara demikian kejamnya.

“Damn!” kutuknya penuh kegeraman.

“Mereka bukan manusia, melainkan iblis-iblis jahat, membunuh orang seperti itu!”

Letnan ini yang menyaksikan sendiri mayat-mayat bergelimpangan di atas perahu itu dengan leher putus, atau hampir putus, dengan dada berlubang tembus, dengan perut pecah sehingga ususnya berceceran, dek perahu yang banjir darah, bau amis, membuat dia muak dan menganggap pihak musuh membunuhi sepuluh orang anak buahnya itu itu seperti iblis.

Demikianlah kita pada umumnya. Mudah saja kita menudingkan telunjuk kepada orang lain dengan tuduhan kejam, curang, jahat dan sebagainya. Peter Dull marah marah dan menganggap perbuatan orang yang membunuh sepuluh orang anak buahnya itu kejam seperti iblis. Dia sama sekali tidak ingat kalau dia dan orangnya, entah sudah membunuh beratus atau berapa ribu orang! Dan dia mengangap bahwa membunuh dengan pistol atau bedil atau meriam itu tidaklah sekejam membunuh dengan senjata tajam. Dia sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa menyebarkan candu kepada rakyat yang jutaan banyaknya itu merupakan pembunuhan yang lebih kejam lagi, membunuh sedikit demi sedikit dengan penyiksaan lahir batin yang luar biasa kejamnya!

Inilah yang menjadi kesalahan kita semua. Kita terlalu memperhatikan orang-orang lain, terlalu menilai perbuatan perbuatan orang lain. Pikiran kita setiap detik sibuk untuk menilai perbuatan orang lain, untuk membela diri, membenarkan diri, mencari segala alasan untuk membenarkan diri sendiri, mencari segala daya upaya untuk menguntungkan diri lahir batin, sehingga kita lupa akan suatu yang teramat penting dalam kehidupan kita, yaitu : MENGAMATI DIRI SENDIRI

Kalau saja kita selalu sadar, selalu waspada untuk mengadakan pengamatan terhadap diri sendiri, BUKAN AKU mengamati AKU, melainkan ada kewaspadaan, ada kesadaran dan pengamatan yang selalu melakukan pengamatan lahir batin dan diri kita detik demi detik. Waspada kalau kita sedang melamun, kalau sedang bicara, kalau sedang bekerja, mencurahkan segala tenaga dan perhatian terhadap diri sendiri, apa yang kita lakukan baik yang terjadi di dalam maupun di luar diri. Kalau sudah begitu, kita tentu tidak akan lagi menilai orang lain. Juga tidak lagi menilai diri sendiri, karena segalanya akan sudah nampak dan dimengerti benar!

Hanya pengamatan ini sajalah yang akan mampu mengubah batin kita secara menyeluruh dan secara seketika. Perubahan lahir tidak banyak artinya. Perubahan batiniah yang penting bagi hidup, karena apa yang suka dinamakan kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan lahir. Urusan badan adalah kesenangan, dan dimana ada kesenangan tentu ada kesusahan. Badan bisa merasakan enak dan tidak enak, panas atau dingin, senang atau susah. Akan tetapi, pengamatan akan membebaskan batin dan semua pengalaman badan, sehingga batin akan tetap bebas, tidak bersandar, tidak bergantung, tidak susah atau senang, tak pernah mengeluh dan tak pernah bersorak-sorai. Hanya batin yang seperti inilah yang benar-benar dapat merasakan dan mengerti apa yang sesungguhnya dinamakan bahagia itu. Hanya yang beginilah yang mengerti apa yang dinamakan cinca kasih itu.

Kebahagiaan adalah urusan batin, bukan urusan badan. Cinta kasih adalah urusan batin bukan urusan badan. Kesenangan dan nafsu berahi, itulah urusan badan, tetapi kesenangan bisa berubah menjadi kesusahan dan cinta berahi bisa berubah menjadi kebencian!

Letnan Peter Dull, perwira berusia tigapuluh lima tahun yang ganteng itu, dengan marah lalu mempersiapkan kapal yang lengkap dengan meriam- meriam besar dan membawa serdadu sejumlah tidak kurang dari duaratus orang, semua bersenjata lengkap, lalu menjelajahi lautan timur untuk mencari bajak laut. Dia mendengar tentang bajak laut yang tersohor dengan nama Bajak Naga Laut, dan dia merasa yakin bahwa tentu bajak laut itulah yang membunuh orang-orangnya. Dia bersumpah untuk membasmi Bajak Naga Laut itu.

Peter Dull amat membenci para pejuang yang dinamakannya pemberontak, bukan hanya karena mereka banyak mengganggu bangsa kulit putih, akan tetapi terutama sekali karena dia kehilangan Diana yang dicintanya.

Beberapa hari lamanya kapalnya mencari-cari diantara pulau-pulau kosong, akan tetapi belum juga berhasil menemukan pulau yang menjadi sarang Bajak Naga Laut. Dia tidak tahu bahwa pada hari itu juga, sebuah perahu lain yang ukurannya lebih kecil dari kapalnya, juga berputar-putar mencari sarang bajak laut, dan perahu itu bukan lain perahu Kerajaan Ceng yang dipimpin oleh Lee Song Kim.

Sebetulnya, kapal yang dipimpin oleh Peter Dull itu sudah melalui sebuah pulau bukit karang dimana terdapat kapal Naga Laut, akan tetapi pemimpin kapal itu, Kiki, amatlah cerdiknya. Ia melihat kapal asing itu dan maklum bahwa untuk melawan kapal itu, amatlah berbahaya. Moncong-moncong meriam yang begitu besar dan banyak jumlahnya, serdadu-serdadu yang semua menyandang bedil di pundak dalam jumlah yang amat banyak, merupakan lawan yang terlampau berat bagi seratus orang anak buahnya. Sebelum mereka sempat menyerbu, tentu perahu naga itu akan ditenggelamkan oleh peluru- peluru meriam. Oleh karena itulah, biarpun anak buahnya menganjurkan, ia memerintahkan agar perahunya memutar haluan dan bersembunyi di balik bukit karang itu.

Setelah kapal asing itu lewat dan tidak nampak agi, barulah Kiki memerintahkan orang-orangnya untuk mengembangkan layar dan melakukan pengejaran ke arah utara, arah yang berlawanan dengan kapal asing yang tadi menuju ke selatan, karena tadipun ia melihat dengan teropongnya dari jauh bahwa ada sebuah perahu berbendera Ceng yang menuju ke utara. Perahu pemerintah Ceng itulah yang akan dibajak, bukan kapal orang kulit putih yang terlalu kuat itu. Pula, ia tidak melihat harapan untuk memperoleh banyak hasil bajakan dan kapal asing itu.

Melihat betapa kapal itu dipersenjatai dengan kuat dan berhilir mudik, ia dapat menduga bahwa kapal itu tidak memuat dagangan-dagangan yang berharga melainkan sedang melakukan patroli. Dan menyerang kapal patroli, andaikata menang juga, apa hasilnya?

Yang dikejarnya itu adalah perahu yang dipimpin oleh Lee Song Kim. Tentu saja Kiki tidak pernah menduga bahwa bekas suhengnya yang berada di perahu itu. Dan karena Song Kim melayarkan perahunya perlahan-lahan sambil mencari-cari, sedangkan perahu naga itu berlayar kencang melakukan pengejaran, tak lama kemudian perahu pemerintah Ceng itupun tersusul.

Dengan teropongnya, Kiki mempelajari keadaan perahu musuh dan hatinya merasa girang. Jumlah pasukan Ceng yang berada di atas perahu itu hanya kurang lebih setatus orang, dan jumlah itu sama sekali tidak ada artinya bagi anak buahnya yang juga berjumlah seratus orang. Makanan empuk! Dan perahu Ceng itu hanya memiliki meriam di kanan kiri perahu, dua buah saja. Maka cepat ia lalu memerintahkan menurunkan dua buah sampan kecil yang dimuat masing-masing sepuluh orang dan memberi perintah kepada mereka untuk lebih dulu melakukan penyerangan untuk mengacaukan pihak lawan dan membungkam kedua buah meriam itu. Duapuluh orang ini memiliki kepandaian yang tinggi dalam hal ilmu di dalam air dan merekapun dengan cepatnya mendahului perahu Ceng.

Kiki sendirii, yang menganggap ringan pihak lawan, ikut di dalam sebuah di antara perahu-perahu itu dan hanya menyelinapkan sebatang tongkat pendek seperti pedang yang terbuat dan pada tulang ikan yang amat kuat.

Sementara itu, Song Kim juga sudah melihat datangnya perahu naga dari jauh. Jantungnya berdebar tegang. Itulah perahu Bajak Naga Laut. Dia tidak akan keliru lagi dan tentu orang-orang itu adalah anak buah bekas gurunya. Hanya teropongnya tidak melihat adanya Kiki yang sudah ikut dengan sebuah di antara sampan-sampan itu. Akan kuhajar kalian, pikir Song Kim dengan penuh geram. Walaupun mereka itu adalah bekas teman-temannya, anak buahnya, akan tetapi kini mereka dianggap musuh yang harus dibasmi karena mereka mulai berani menyerang perahu-perahu pemerintah, bahkan belum lama ini membakar perahu yang ditumpangi oleh Pangeran Ceng Tiu Ong yang mengambil kitab-kitab kuno dari Mukden. Dia tidak dapat menduga siapa yang memimpin bajak itu, akan tetapi dia tidak takut. Biar bekas gurunya sendiri sekalipun, akan dapat berbuat apa terhadap dua meriamnya dan juga duaratus orangnya, termasuk seratus yang disembunyikan di bawah? Biarkan bajak- bajak itu memandang rendah pasukannya dan mengira hanya seratus orang, padahal ada dua ratus orang, dua kali lipat jumlah anak buah perahu Bajak Naga Laut itu sendiri.

Makin dekatlah perahu bajak itu yang nampak menyeramkan, seperti seekor naga laut berenang karena kepala perahu berbentuk naga itu memang amat indah buatannya sehingga nampak dan jauh seperti seekor naga aseli.

Song Kim tidak memerintahkan menembak perahu musuh itu. Dia tidak ingin kalau perahu itu kemudian ketakutan dan melarikan diri. Biarkan mereka dekat sekali dan baru diserbu, karena dia ingin membasmi habis semua anak buah bajak laut itu. Dia sendiri sudah menghunus sebatang golok. Biarpun dia biasanya suka memakal pedang, akan tetapi sejak menjadi perwira dan menerima sebuah golok yang bagus dari atasannya sebagai tanda pangkat, dia merubah senjatanya dari pedang menjadi golok, dan dia memang ahli dalam permainan pedang atau golok.

Dengan wajah berseri dan sepasang mata bersinar-sinar, Song Kim menanti datangnya perahu bajak itu dan sudah terdengar suara tanduk ditiup dan sorak-sorai kaum bajak yang kasar itu. Pasukannya yang seratus orang masih tetap bersembunyi di bawah, tidak diperbolehkan keluar sebelum terjadi pertempuran.

Dua buah sampan itu dengan kecepatan luar biasa meluncur mendekati perahu Ceng, dan perahu naga itupun semakin mendekat. Dan kedua pihak sudah terdengar sorakan-sorakan dan makian-makian saling menantang.

Tiba-tiba saja, sebelum Song Kim memerintahkan meriam yang menghadapi perahu lawan itu ditembakkan, nampak sesosok bayangan hijau meloncat dari bawah, dan tahu-tahu dia sudah berhadapan dengan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Kiki!

“Wah, kau sendiri, sumoi?” teriak Song Kim girang bukan main melihat betapa yang memimpin pembajakan itu adalah sumoinya yang pernah membuatnya tergila-gila.

Kesempatan baik untuk menangkap sumoinya yang sejak dulu sudah dirindukannya itu. Dan dia yakin benar bahwa sumoinya masih belum tahu akan perbuatannya di malam badai itu dimana hampir saja dia berhasil memperkosa sumoinya di atas perahu, kalau tidak keburu datang badal hebat melanda perahu mereka, bahkan kemudian diapun sudah hampir memperkosa sumoinya di daratan di pantai itu kalau saja tidak muncul seorang pemuda perkasa yang telah menyerang dan menghalangi perbuatannya. Kalau teringat akan semua itu, kini begitu melihat sumoinya, nafsu berahinya timbul kembali dan ingin sekali dia dapat menangkap dan mendekap sumoinya yang cantik jelita ini.

Akan tetapi Kiki tidak segembira dia bertemu dengan suhengnya di situ. Ia malah nampak marah sekali, mukanya menjadi merah dan sinar matanya berapi-api.

“Engkau pengkhianat besar! Dulu engkaulah yang melaporkan kepada pemerintah! Engkau penjadi anjing Mancu!”

“Eh, sumoi… kenapa menjadi pemberontak? Lebih baik kita mengabdi kepada pemerintah yang syah dan mencari pahala.”

“Jahanam!”

Bentak Kiki, dan gadis ini sudah menyerang dengan senjatanya yang istimewa, menusukkannya ke arah dada Song Kim dengan amat cepatnya.

“Tranggg!”

Golok di tangan Song Kim menangkis. Akan tetapi Kiki yang menyerang dengan marah itu sudah menggerakkan lagi senjatanya dan menyerang bertubi-tubi dengan amat ganasnya. Mula-mula Song Kim hanya menangkis saja, akan tetapi dia tahu bahwa kalau dia terus mengalah, dia bisa terancam maut di ujung senjata aneh yang ternyata berat dan kuat sekali itu. Maka diapun mulai membalas dengan serangan goloknya, dan berkelahilah dua orang kakak beradik seperguruan itu dengan serunya.

Tingkat kepandalan mereka memang berimbang dan keduanya amat mahir, sama-sama memiliki ginkang yang luar biasa sehingga tubuh mereka berkelebatan mengaburkan pandang mata para anak buah tentara Ceng, sehingga merekapun tidak berani mendekat. Membantu komandan mereka berbahaya, salah-salah bisa mengenai tubuh komandan itu sendiri, karena gerakan kedua orang itu sukar diikuti pandang mata. Juga sinar senjata mereka mencuat kemana-mana, dan amatlah berbahaya. Terkena sambaran angin senjata atau terkena sinar senjata itu saja sudah akan dapat mencelakai mereka.

Sementara itu, orang-orang dari kedua sampan sudah berloncatan naik dan menyerang para penjaga meriam sehingga meriam itu tidak sempat ditembakkan dan terjadilah perkelahian di atas dek. Kini perahu naga sudah dekat dan seperti blasa, mereka melemparkan kaitan bertali sehingga kedua perahu itu bergandengan. Dan mereka semua sambil bersorak-sorak berlompatan menyerang perahu Ceng.

Akan tetapi, sekali ini para bajak itu kecelik. Terdengar tembakan- tembakan senapan dan beberapa orang bajak terjungkal. Dan ketika mereka semua sudah menyerang ke atas perahu Ceng, bermunculanlah perajurit yang tadinya bersembunyi di bawah sehingga jumlah mereka dua kali lebih banyak dari pada jumlah para penyerbu.

Melihat banyaknya perajurit pemerintah, Kiki terkejut bukan main. Diserangnya bekas suhengnya itu mati-matian dan ketika suhengnya itu mundur, iapun dengan cekatan seperti seekor burung walet, tubuhnya mencelat ke atas tiang layar. Maksudnya hendak cepat kembali ke perahunya untuk memperingatkan anak buahnya agar cepat mundur, karena pihak lawan terlampau kuat.

Akan tetapi, Song Kim tidak ingin melihat sumoinya lari. Diapun berseru nyaring dan tubuhnya melayang pula ke atas, mengejar sumoinya. Kiki menyambut dengan serangan, dan kini kedua orang yang amat cekatan itu berkelahi di atas tiang layar. Karena tempat itu hanya kecil dan berdiri saja sukar, maka dapat dibayangkan hebatnya perkelahian itu. Mereka bergantungan pada tali-temali layar, menginjak bambu melincang dan seperti sepasang akrobat sedang beraksi di sirkus, keduanya  berlompatan, berjungkir balik dan saling serang di tempat yang tinggi itu. Bukan hanya dari senjata lawan datangnya bahaya, akan tetapi sekali kaki tergelincir dan tubuh

jatuh ke bawah, bisa celaka!

“Ha-ha-ha, sumoi, lebih baik engkau menyerah saja dan aku akan mengampuni semua anak buahmu. Kau tahu, aku menyembunyikan seratus orang perajurit, dan kini seratus orangmu itu melawan duaratus orang perajuritku. Dan kau sendiri, mana bisa menangkan aku? Lebih baik kau menyerah dan ikut bersamaku ke kota raja mencari kemuliaan. Marilah, sumoi yang manis!”

“Tidak sudi!” bentak Kiki.

Akan tetapi pada saat itu, Song Kim sudah mendesaknya dan ketika ia mundur mundur, Kiki terjebak. Ia mundur sampai hampir ke ujung bambu yang makin mengecil dan kalau ia mundur terus, akhirnya tentu akan tergelincir dan ujung bambu. Sedangkan Song Kim masih berdiri di atas bambu yang besar, bahkan di belakangnya ada tihang layar besar yang akan dapat dipakai berpegang kalau dia tergelincir.

“Menyerahlah, atau kau ingin mati?” bentak Song Kim sambil tetap menodongkan goloknya dengan sikap mengancam.

“Tidak sudi… lebih baik mati!” bentak Kiki, akan tetapi ini bukan bentakan putus asa karena sepasang matanya yang indah itu mengukur jarak dan melihat keadaan bambu yang diinjaknya.

“Kalau begitu mampuslah!”

Song Kim menjadi marah dan menyerang. Akan tetapi tiba-tiba, dengan menggeluarkan pekik yang melengking, tubuh Kiki yang mundur-mundur itu terpeleset dan tubuhnya mencelat! Ternyata dara perkasa ini membuat poksai (jungkir balik) ke belakang, tangan kirinya menangkap ujung bambu, tangan kanan yang memegang senjata itu menyerang ke arah kaki lawan, sedangkan kaki kanannya dengan gerakan yang amat cepat telah menendang ke arah dada Song Kim! Gerakan ini sungguh sama sekali tidak tersangka oleh Song Kim sehingga dadanya kena ditendang.

“Bukkk!!” Untung di belakangnya ada tambang dimana tangan kanannya cepat menyambar tambang, sedangkan tangan kiri yang memegang golok itu diayun ke bawah menangkis senjata Kiki. Gadis itu maklum bahwa ia berada dalam bahaya, maka sambil kembali mengeluarkan suara melengking nyaring, tubuhnya melayang ke bawah sambil membuat gerakan salto sampai lima kali.

“Byurrrr!”

Tubuhnya jatuh ke air di luar perahu musuh. Ia cepat menyembul kembali dan memberi aba-aba kepada para anak buahnya untuk mundur. Semua bajak cepat kembali ke perahu mereka dan melarikan diri setelah meninggalkan korban hampir setengah jumlah mereka. Mereka mengalami kekalahan besar dan masih untung bahwa pemimpin mereka tidak tewas dan perahu naga itupun tidak mengalami kerusakan.

Song Kim marah sekali. Mencoba untuk menyerang kapal yang melarikan diri itu dengan tem bakan meriam, akan tetapi tanpa hasil karena meriamnya tadi sudah dirusak oleh para bajak. Setelah diperbaiki dan dapat dipergunakan, perahu bajak itu telah pergi terlalu jauh di luar jangkauan peluru meriam. Memang dia memperoleh kemenangan dan telah menghajar para bajak. Akan tetapi yang membuat dia penasaran sekali adalah karena dia tidak berhasil menangkap Kiki.

Dengan uring-uringan, terpaksa Song Kim memerintahkan orang-orangnya untuk kembali saja ke daratan.

Seorang gadis yang manis menunggang kuda memasuki pintu gerbang kota raja. Wajahnya cerah dan sinar matanya jenaka, walaupun ada bayangan bahwa gadis ini keras hati dan galak. Yang membuat ia nampak manis sekali adalah setitik tahi lalat di pipi kirinya. Caranya menunggang kuda membuat banyak pria yang memandang dengan hati tertarik menjadi mundur teratur untuk berani menggoda. Penunggang kuda seperti itu yang demikian sigap dan duduknya tegak, dengan keseimbangan yang begitu sempurna, bukanlah seorang gadis yang boleh diganggu begitu saja!

Memang tidak keliru dugaan orang. Gadis itu bukan lain adalah Kiki! Dia memenuhi perintah ayahnya agar segera melaksanakan keputusan mereka untuk mengembalikan atau mengirimkan kitab-kitab dalam peti hitam kepada puteri Pangeran Cen Tiu Ong di kota raja, dan selain itu, juga menyelidiki keadaan Lee Song Kim. Semenjak mendengar tentang perbuatan Song Kim terhadap perahu naga mereka dan membunuh banyak anak buah bajak, kebencian Hai-tok terhadap bekas muridnya itu semakin menghebat, dan dia ingin cepat-cepat tahu dimana dia menemukan bekas murid itu untuk dihukumnya.

Kiki seorang gadis yang cerdik sekali. Ia menduga bahwa kalau seorang pangeran dalam keadaan terancam maut masih teringat kepada sepeti kitab- kitab kuno, hal itu hanya berarti bahwa kitab-kitab itu amatlah berharga, setidaknya bagi sang pangeran atau puterinya. Karena itu, setelah tiba di kota raja di luar tembok kota raja, ia sengaja menyembunyikan peti itu di rumah seorang petani sederhana yang sudah diberinya uang, dititipkannya peti berisi kitab-kitab yang bagi si petani tentu tidak berarti.

“Lebih baik kuselidiki dulu malam nanti,” pikir Kiki.

Ia ingin sekali mengenal lebih dahulu keadaan keluarga itu sebelum menghubunginya. Dengan mudah ia mendapatkan sebuah kamar di sebuah hotel yang sedang saja, dan sambil memberi sekedar uang, ia menyuruh seorang pelayan hotel untuk mengurus kudanya.

Setelah malam tiba, Kiki mengenakan pakaian yang ringkas, dengan rompi berkembang. Tentu saja rompi kulit buaya itu tak pernah dipakainya di tempat seperti ini. Setangkai bunga dan emas permata tak lupa menghias rambutnya, dan itulah satu-satunya hiasan yang menempel di tubuhnya. Setelah keluar dan hotel, ia langsung menuju ke jalan besar dimana berdiri gedung keluarga Pangeran Ceng Tiu Ong dengan megah, kuno, dan sunyinya. Tembok yang mengelilingi rumah itu mengingatkan Kiki pada sebuah benteng. Betapa tebalnya tembok itu dan juga lebih tinggi dari pada tumah-rumah lain di sekitarnya yang dibangun belakangan.

Menjelang tengah malam, keadaan di jalan raya depan rumah itu sudah sepi sekali, tak nampak seorangpun manusia lewat di situ. Setelah meneliti ke kanan kiri dan yakin bahwa tidak ada orang yang melihatnya, Kiki lalu menggunakan ginkangnya, dengan tubuh yang ringan sekali ia meloncat ke atas tembok yang melingkari gedung itu. Ia berdiri di atas tembok itu dan kembali celingukan memandang ke kanan kiri, depan dan belakang. Kini nampak olehnya sebuah kebun yang terawat indah, dan bangunan itu walaupun nampak dan luar amat kuno, ternyata di sebelah dalamnya juga terawat bersih.

“Hauuuunggg!”

Tiba-tiba terdengar auman harimau! Bukan main kagetnya hati Kiki sampai hampir saja ia terguling jatuh dan atas tembok itu. Ia tentu saja tidak takut berhadapan dengan harimau, akan tetapi di tempat seperti itu mendengar auman harimau, sungguh mengejutkan bukan main, karena tidak tersangka sama sekali. Andaikata ia mendengar auman itu di tengah hutan, tentu sedikitpun ia tidak akan merasa kaget. Ia memandang ke dalam, mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi tidak melihat seekorpun harimau, ekornyapun tidak.

Dan kini tidak terdengar suara apa-apa lagi. Tentu di gedung itu dipelihara seekor harimau, pikir Kiki, harimau dalam kerangkeng. Dan agaknya semua penghuninya sudah tidur, buktinya, auman harimau itupun tidak menimbulkan keributan dan agaknya para penghuni rumah itu tidak ada yang perduli dan tidur saja terus.

Dengan amat hati-hati, Kiki mengerahkan seluruh ilmu Ginkangnya sehingga tubuhnya melayang turun bagaikan sehelai daun kering saja, ia masuk ke dalam kebun. Sejenak ia berindap-indap seperti maling. Biarpun ia puteri tunggal Hai-tok, biarpun ia pemimpin perahu Bajak Naga Laut, namun selama hidupnya belum pernah Kiki melakukan pencurian. Kini memasuki rumah orang tanpa diketahui pemiliknya, mendatangkari rasa berdebar-debar di jantungnya sehingga degup jantungnya sampai terdengar di dalam telinganya sendiri. Ia seorang yang keras hati dan memiliki ketabahan luar biasa, akan tetapi memasuki rumah orang seperti maling sungguh merupakan suatu pengalaman baru yang mendebarkan.

Dengan mudahnya, Kiki memasuki pekarangan terus ke belakang dan sebuah pintu kecil yang nembus ruangan belakang dapat dibukanya dengan mudah pula. Tanpa mengeluarkan terlalu banyak tenaga, ia dapat mematahkan kunci daun pintu itu, membuka daun pintunya perlahan-lahan.

“Geriiiittt!”

Kikia tersentak kaget, lalu tersenyum seorang diri. Gobloknya, pikirnya, masih derit pintu saja membuat ia kaget setengah mati seperti mendengar suara setan. Dengan hati-hati, ia memasuki ruangan belakang itu dan ternyata ruangan itu menyerupai sebuah gudang. Tidak ada seorangpun manusia di situ, dan gudang itu penuh dengan bahan makanan. Gandum, dendeng, bumbu-bumbu. Baunya menyentuh hidung. Bau yang bercampur aduk, jadi tidak enak. Ia sempat terheran, mengapa kalau semua bahan ini sudah dimasak, bau dan rasanya menjadi nikmat.

Pintu yang terdapat di gudang ini tanpa daun, dan ketika ia memasukinya, ternyata di sebelah itupun terdapat sebuah gudang kecil lainnya berisi senjata- senjata seperti pedang, tombak, golok, anak panah, ruyung, toya dan pendeknya, ada delapanbelas macam senjata pokok terkumpul di situ. Ia merasa heran. Tempat seperti ini hanya patut dimiliki orang yang suka berlatih ilmu silat. Senjata-senjata itu bukan barang pusaka, hanya senjata-senjata biasa, dan melihat betapa gagang-gagang senjata itu licin dan kehitaman, ia mengerti bahwa senjata-senjata itu seringkali dipergunakan orang, mungkin untuk berlatih. Dan memang benar, di luar gudang senjata ini terdapat ruangan luas yang jelas adalah sebuah lian-bu-thia (ruangan berlatih silat), dan di dindingnya banyak digantungi tulisan-tulisan yang gagah, pendirian-pendirian para pendekar seperti ‘Membela kebenaran dan keadilan di atas segala’, ‘Lebih baik mati seperti seekor harimau dari pada hidup seperti seekor babi’, dan lain- lain lagi.

Akan tetapi, tiba-tiba mata Kiki yang sudah agak biasa dengan cuaca remang-remang di tempat itu karena hanya diterangi sebuah lampu tempel kecil di sudut, melihat sebatang pedang bersarung yang indah sekali di dinding yang tidak ada tulisannya. Agaknya pedang itu merupakan pedang pusaka atau pedang keramat, karena di depan dinding itu terhampar sehelai permadani merah.

Kiki tertarik sekali dan cepat dihampirinya dinding itu. Akan tetapi ketika kedua kakinya sudah menginjak permadani, tiba-tiba saja lantai yang diinjaknya terjeblos ke bawah dan tubuhnya ikut terbawa jatuh ke bawah, jelaslah bahwa jebakan ini digerakkan orang. Ia sudah berhati-hati dan tadi menginjak dulu dengan satu kaki dan tidak terjadi apa-apa. Baru setelah ia berdiri dengan kedua kaki, tempat itu tiba-tiba terjeblos dan tentu saja ja tidak mampu menghindarkan diri ikut jatuh ke bawah!

Akan tetapi Kiki memang seorang gadis yang hebat! Biarpun sudah terjeblos jatuh, ia masih mampu berjungkir balik dan meluncur ke bawah dengan kedua kaki lebih dulu, kemudian hinggap di atas tanah dengan ringan. Kiranya lantai di atas tadi tidak ikut terjeblos melainkan permadaninya. Sebuah alat jebakan yang amat cerdik dan berbahaya. Dan dara itu kini telah berada dalam sebuah kerangkeng yang lebarnya hanya dua meter persegi dan mempunyai sebuah daun pintu besi! Dan ruangan bawah tanah ini luas juga, nampak dari kerangkengnya betapa ruangan itu berdinding tebal. Sebuah obor besar menyala tak jauh dan tempat dimana ia tertahan dan suasana di situ sunyi sekali.

Kesunyian inilah yang membuat la merasa agak takut. Dan tiba-tiba kembali terdengar auman harimau seperti tadi! Ia terlonjak kaget dan melihat sekitarnya. Tidak ada harimau dalam kerangkeng itu dan hatinya lega.

“Hei, pengecut besar! Kalau memang kau gagah, keluarlah dan jangan hanya bersembunyi, mengandalkan segala jebakan curang dan harimau ompong yang hanya pandal mengaum!” teriaknya marah, sengaja menggunakan kata-kata yang menusuk untuk membikin marah orang yang menjebaknya agar mau keluar.

Terdengar langkah kaki menuruni anak tangga di depan. Mula-mula yang nampak hanya sepasang kakinya yang bersepatu mengkilap hitam, lalu pakaiannya yang ternyata adalah pakaian seorang panglima perang dan pedang yang tergantung di pinggang itu adalah pedang yang tadi tergantung di dinding dan yang menjadi umpan jebakan. Kemudian nampaklah wajah dan kepala yang bertopi itu, dan Kiki menjadi bengong. Terpesona ia memandang wajah itu. Wajah seorang panglima muda yang demikian tampan dan halus. Seumur hidupnya, belum pernah ia melihat seorang pemuda yang demikian tampannya! Matanya begitu redup, dengan bulu mata panjang melengkung, hidung kecil mancung dan mulut yang seolah-olah dibuat hanya untuk mencium dengan mesra! Begitu tampan! Dalam mimpipun, belum pernah Kiki melihat seorang pria yang demikian gantengnya! Ganteng dan lemah lembut. Baru langkahnya saja demikian gagah, satu-satu seperti langkah harimau.

Harimau! Memang benar ada harimau di belakangnya, dan kini Kiki terbelalak, bukan karena kagum akan ketampanan pria seperti tadi, melainkan karena ngeri. Ia bukan seorang penakut, dan kalau menghadapi harimau saja, agaknya ia tidak akan lari dan ia sanggup melawan seekor harimau dengan tangan kosong kalau perlu. Tapi bukan harimau seperti yang muncul, di belakang pemuda tampan itu. Harimau ini luar biasa besarnya dan selain nampak galak dan buas, juga ukurannya besar dan nampaknya kokoh kuat bukan main! Seekor harimau loreng yang sudah dewasa dan sedang kuat- kuatnya, jantan dan nampak galak. Sepasang matanya saja sudah cukup membuat hati merasa tergetar dan aumannya tadi dapat melumpuhkan orang karena ketakutan. Apa lagi ketika harimau yang berada di belakang pemuda tampan itu melihat seorang asing di dalam kerangkeng, dia memperlihatkan taringnya yang mengerikan saking besar dan runcingnya, juga keempat kakinya mempunyai kuku yang melengkung kuat dan runcing. Ngeri membayangkan tubuh dicakar kaki itu, apalagi sampai dirobek-robek oleh taring-taring itu.

Mendengar ejekan Kiki, opsir muda tampan itu tersenyum mengejek dan kem bali Kiki terpesona. Setelah tersenyum, pemuda itu menjadi lebih ganteng lagi! Lalu terdengar suaranya, suara yang halus dan terdengar sopan, tanda bahwa pemuda itu adalah seorang terpelajar.

“Nona, engkau datang sebagai seorang pencuri, setelah tertangkap engkau memaki maki. Sungguh sulit mencari orang sekurang ajar engkau ini. Apa sih yang kauandalkan maka engkau bersikap sesombong ini?”

Lalu dia menyambung.

“Melihat betapa engkau terjatuh dan lubang jebakan tanpa luka, mungkin saja engkau memiliki sedikit ilmu kepandaian. Kalau memang ada, coba perlihatkan kepandaianmu sebelum aku mengambil keputusan apa yang harus kulakukan terhadap seorang pencuri wanita.”

Tentu saja Kiki marah bukan main. Beberapa kali ia dim aki pencuri.

“Aku bukan pencuri! Kalau kau tidak menarik kembali omonganmu itu, akan kurobek mulutmu yang lancang itu.”

Opsir muda itu memhelalakkan matanya yang tajam dan jernih, yang berkilauan tertimpa sinar api obor besar.

“Kau hendak menampar mulutku? Wah,wah, bagaimana caranya?” “Kaukira aku tidak mampu keluar dan tempat ini!” bentak Kiki, dan gadis

perkasa ini lalu mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dan menerjang pintu besi dari tempat tahanan itu. Tang Ki adalah puteri tunggal Tang Kok Bu yang berjuluk Hai-tok, seorang di antara Empat Racun Dunia. Ia sudah mewarisi semua ilmu ayahnya, bahkan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu (Tenaga Besar Bersinar Emas) yang ampuh dan amat sukar itu sudah dipelajarinya dengan cukup baik. Kini, dengan ilmu itu ia menerjang pintu.

“Brakkkk!”

Daun pintu itu jebol engselnya dan terbuka! Akan tetapi Kiki juga telah menggunakan terlalu banyak tenaga sinkang sehingga mukanya menjadi pucat dan dadanya terasa agak nyeri dan dia terhuyung keluar. Pada saat itu, terdengar auman keras dan harimau itupun menerjang ke depan menyerang Kiki!

Karena gadis itu baru saja mengerahkan tenaga sinkang yang amat besar, maka untuk mengerahkan sinkang lagi, ia tidak berani, terpaksa hanya melindungi dirinya dan menggunakan kedua tangan mendorong, menyambut harimau yang menubruknya. Akan tetapi karena tenaganya sudah banyak berkurang dan harimau itu beratnya ada lima atau enam berat orang dewasa, Kiki tidak kuat menahan dan iapuri terjengkang.

Harimau itu mengaum dan mencakar. Untung bahwa Kiki menggunakan sinkangnya sehingga yang terkait robek, hanyalah kedua celana di bagian pahanya saja sehingga kulit pahanya yang putih itu nampak. Akan tetapi kulitnya tidak terluka, dan iapun mendapat kenyataan bahwa binatang yang sudah terpelihara dan terlatih baik itu agaknya memang tidak ingin membunuhnya, hanya menakut-nakutinya.

Kini binatang itu mengaum dan mukanya dekat sekali dengan muka Kiki yang sudah jatuh terduduk, sehingga ia dapat mencium bau napas binatang itu yang memuakkan. Celaka, pikirnya, harimau itu sudah siap mencakar dan menggigit. Andaikata dengan sinkang ia mampu melindungi tubuhnya, setidaknya semua pakaiannya akan dicabik-cabik dan mungkin saja ia akan ditelanjangi oleh harimau ini di depan perwira tampan itu. Pikiran ini membuat ia nekat, dan ia sudah mengerahkan tenaga, hendak memukul kepala harimau itu dengan Ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu, walaupun hal itu akan dapat mendatangkan luka di dalam tubuhnya.

Akan tetapi pada saat itu, opsir tampan bersuit nyaring dan harimau itu tiba-tiba loncat ke belakang seperti ditarik ekornya saja. Sambil menggereng- gereng marah, harimau itupun bersembunyi di belakang si opsir, persis seperti seekor kucing yang jinak. Opsir itu berdiri sambil bertolak pinggang, menghadapi Kiki sambil berkata, matanya tetap halus akan tetapi nadanya mengejek.

“Kiranya engkau boleh juga. Kulitmu tidak lecet oleh kuku kucingku. Akan tetapi kalau hanya dengan kepandaian seperti itu, engkau berani masuk ke sini, hendak melakukan pencurian, sungguh engkau bodok sekali.”

Kiki ingin menjerit dan menangis saking marahnya. Ia meloncat dan menghadapi opsir ganteng itu matanya melotot lebar.

“Berani engkau mengatakan aku pencuri lagi? Akan kurobek mulutmu itu!” Dan Kiki pun sudah menyerang kalang kabut dan karena ia dapat menduga bahwa opsir itu tentu memiliki kepandaian yang tinggi, ia sudah menyerang

dengan ilmu yang paling diandalkan, yaitu Thai-lek Kim-kong-jiu. “Haiiiittt...”

Ia membentak dan tangan kanannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada opsir itu. Angin pukulan dahsyat menyambar panas ke arah dada opsir itu yang diam-diam terkejut sekali, karena baru dia tahu benar bahwa gadis yang berani memasuki rumahnya ini benar-benar memiliki ilmu silat yang hebat dan tenaga sinkang yang kuat sekali. Akan tetapi diapun tahu bahwa tadi, ketika menjebol pintu besi, hal yang amat luar biasa, gadis itu telah mengerahkan seluruh tenaganya, sehingga kini, kalau dia menangkis dengan sinkang, mungkin saja gadis itu akan terluka lebih parah lagi. Karena itu, dia cepat mengelak dengan amat mudahnya, sambil menggeserkan kakinya secara aneh dua kali ke kanan dan ke belakang.

Tang Ki, sebagai puteri seorang datuk persilatan yang tinggi ilmunya, mengenal langkah yang aneh itu, dan tahulah dara ini bahwa iapun berhadapan dengan lawan yang pandai. Sebelum ia menyerang lagi, opsir ganteng itu sudah mengeluhkan sebutir pel dan saku bajunya, pel yang terbungkus kain putih.

“Engkau terluka ketika merobohkan pintu tadi. Telanlah dulu pel ini, baru kita lanjutkan perkelahian, karena kalau engkau roboh karena luka dalam akibat membongkar pintu tadi, berarti bukan aku yang mengalahkanmu. Pel itu akan memulihkan keadaanmu dan kau boleh melawanku sekuat tenaga tanpa bahaya.”

Dia melemparkan pel itu ke arah Kiki yang menangkapnya dengan tangan kiri. Ayah Kiki seorang datuk sesat yang tentu saja tidak asing dengan bangsa racun. Maka melihat pel itu, Kiki lalu menciumnya dan menjilatnya. Tahulah dara ini bahwa pel itu bukan racun, dan memang berbau obat untuk menyembuhkan luka dalam atau menjaga agar tidak mudah menderita luka akibat guncangan tenaga sakti. Ia tidak ragu-ragu lagi, dan karena hatinya masih marah dituduh pencuri, ia tidak berterima kasih melainkan menelan pel itu begitu saja. Ada rasa hangat di perutnya dan sebentar kemudian, rasa nyeri di dada nyapun lenyap sama sekali.

“Nah, mari kita lanjutkan perkelahian kita…” tantangnya, dan iapun sudah menerjang maju agi.

Akan tetapi kembali opsir itu menghindarkan dengan langkah-langkah ajaibnya, dan berkata sambil melompat ke belakang.

“Nanti dulu, aku malu kalau berkelahi dengan gadis yang celananya robek dan nampak kulit pahanya. Mungkin kulit pahamu yang mulus itu yang akan menyelewengkan perhatianku sehingga aku kalah. Akan kucarikan ganti untukmu!”

Dia meloncat ke atas anak tangga dan lari ke atas, diikuti dengan setia oleh harimaunya. Benar saja, tak lama dia datang lagi dan melemparkan sebuah celana sutera biru ke arah Kiki. Gadis ini menyambutnya dan kagum. Sebuah celana wanita yang amat indah. Tidak kalah indahnya dengan celana- celananya di rumah, padahal sebagai anak orang kaya, pakaiannya termasuk pakaian-pakaian yang indah dan mahal. Kain sutera celana itu halus dan tebal, sungguh merupakan celana indah yang mahal harganya.

“Pakailah celana itu dulu. Jangan khawatir, aku tidak akan mengintai dan biar harimau ini jantan, dia sudah biasa tanpa pakaian, jadi kau tak usah malu kepadanya.”

Setelah berkata demikian, opsir itu membalikkan tubuhnya membelakangi Kiki. Hampir saja Kiki tertawa mendengar ucapan yang lucu itu. Tentu saja harimau selamanya telanjang, dan memang tak perlu malu kalau ia berganti celana ditonton harimau, walaupun harimau itu jantan dan masih muda juga! Ia, entah bagaimana, percaya begitu saja bahwa opsir muda yang amat sopan halus itu tentu tidak akan membalik sebelum ia selesai, maka iapun lalu melepaskan celananya sendiri yang tadi cabik-cabik dicakar harimau, dan kini hanya nampak celana dalamnya yang tipis. Cepat-cepat, sambil matanya tak pernah meninggalkan punggung pemuda itu, ia mengenakan celana biru itu dan sungguh amat mengherankan. Celana itu ukurannya pas benar dengan dirinya, seoah-olah ia berganti celananya sendiri saja!

“Aku sudah selesai!” katanya sambil membuang celananya yang cabik- cabik itu ke sudut. Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan matanya yang sudah lebar itu membelalak penuh kagum.

“Waduhh… engkau semakin cantik jelita saja memakai celana biru itu, nona!”

Tiba-tiba muka Kiki berubah merah. Belum pernah ia begini. Biasanya, setiap pujian dari pria dianggapnya sebagai perbuatan kurang ajar, dan pria itu bisa dihajarnya, bahkan bisa dibunuhnya. Akan tetapi sekarang, kenapa hatinya di dalam dada menjadi berdegup, bukan karena marah melainkan karena girang dan malu?

“Jangan banyak merayu gombal!” bentaknya. “Mari kita lanjutkan perkelahian tadi!”

Tanpa menanti jawaban, iapun lalu menerjang lagi dan kembali ia mainkan jurus-jurus dan Thai-lek Kim-kong-jiu yang ampuh. Opsir muda itu agaknya juga tidak berani sembrono menghadapi gadis yang galak dan lihai ini. Dan opsir itu memiliki langkah-langkah ajaib yang membuat tubuhnya sukar sekali diserang. Akan tetapi ketika Kiki menerjang lagi dengan mendorongkan kedua tangannya ke depan dengan jurus ‘Dua Tangan Menutup Guha Batu’, opsir muda itupun berdiri tegak, dengan kedua kaki terpentang dan sedikit membongkok, menekuk lutut dan kedua tangannyapun didorongkan ke depan menyambut.

“Desss...!”

Dua pasang tangan saling bertemu dan dua macam tenaga sakti yang hebat bertumbukan di udara. Opsir itu merasa betapa hawa panas menjalar melalui telapak tangan lawannya, akan tetapi mampu dihentikannya hanya sampai siku saja. Sebaliknya, Kiki terkejut setengah mati karena ada hawa dingin menjalar keluar dan telapak tangan opsir tampan itu, dan hawa dingin itu terus menjalar ke kedua lengannya sampai ke pundak, membuat la menggigil! Opsir itu melangkah ke belakang.

“Maafkan, nona. Ternyata engkau hebat sekali.”

Kiki masih berdiri, memejamkan kedua mata dan menahan napas, mengumpulkan hawa murni dan baru setelah lewat dua menit, hawa dingin itu perlahan-lahan dapat didorongnya keluar dan kedua lengannya. Kalau pada saat itu lawannya menyerang, ia tentu takkan mampu mempertahankan diri dan akan mudah dirobohkan. Akan tetapi anehnya, opsir itu tidak menyerang lagi dan hanya berdiri memandang kagum.

Setelah merasa tubuhnya segar kembali, Kiki siap untuk menyerang agi. Ia lari ke sudut ruangan itu dan menyambar sebuah toya, karena di ruangan itu juga terdapat beberapa macam senjata. Begitu memegang toya yang sama dengan tongkat, Kiki lalu maju menerjang, mainkan tongkatnya dengan limu Tongkat Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas)! Tentu saja tongkatnya itu ketika dimainkan tidak mengeluarkan sinar emas, karena tongkat itu bukan tongkat yang biasa dipergunakan ayahnya, akan tetapi ilmu tongkat itu hebat bukan main dan menjadi imbangan dari ilmu Thai-lek Kim-kong-jiu tadi. Hanya karena tongkat lebih panjang dari tangan, maka jangkauannyapun lebih jauh dan gerakannya lebih cepat.

Diserang bertubi-tubi dengan tongkat itu, opsir muda yang tadinya berloncatan sambil mengeluarkan langkah-langkah ajaibnya mengelak ke sana-sini, menjadi terdesak juga dan terpaksa dia mencabut pedang di pinggangnya. Nampak sinar menyilaukan mata ketika pedang dicabut, dan kini pedang itu diputar membentuk sinar bergulung-gulung yang menyambut gulungan sinar tongkat yang putih. Terjadi serang-menyerang dengan hebatnya, dan keduanya mendapat kenyataan bahwa memang mereka itu bertemu dengan tandingan yang sama sekali tak boleh dipandang rendah.

Yang merasa penasaran adalah Kiki. Belum pernah rasanya a bertemu dengan lawan sehebat ini kepandaiannya, padahal ia tahu benar betapa pemuda itu telah banyak mengalah dan pedangnya yang hebat itupun lebih banyak menangkis dari pada membalas serangan, padahal setiap serangan pedang itu dirasakannya amat berbahaya dan sukar dielakkan, dan setiap kali toyanya menangkis, ia merasa tangannya tergetar hebat. Padahal, kalau dilihat kenyataannya bahwa toya itu lebih panjang dan lebih berat, sesungguhnya harus si pemegang pedang yang dirugikan kalau bertemu senjata mengadu tenaga.

Setelah lewat hampir limapuluh jurus, tiba-tiba saja gerakan pedang itu berubah dan terdengar suara keras ketika kedua senjata bertemu di udara, dan toya di tangan Kiki itu patah menjadi dua potong.

Akan tetapi, bukan Kiki kalau mengalah dan mudah tunduk menyerah begitu saja. Dengan dua potongan tongkat itu, ia masih menyerang dengan hebat. Akan tetapi lawannya melompat ke belakang dan menyimpan kembali pedangnya.

“Sudahlah, nona. Sudah cukup kita main- main. Sekarang katakanlah mengapa engkau memasuki rumah kami secara diam-diam seperti orang yang hendak melakukan pencurian?”

“Aku tidak akan mencuri apa-apa. Tidak sudi aku menjadi pencuri. Lebih baik mati dan pada menjadi pencuri!” bentak Kiki dengan suara yang hampir menangis, bukan hanya karena sebal disangka pencuri, akan tetapi terutama sekali karena ia merasa bahwa ia kalah oleh pemuda itu!

Pemuda itu kembali tersenyum ramah.

“Mencuri atau tidak, akan tetapi engkau memasuki rumah orang-tanpa ijin, dan malam-malam begini masuk ke rumah, tentu saja engkau dituduh mencuri. Akan tetapi engkau memang belum mengambil apa-apa, maka akupun tidak akan menuduhmu agi mencuri. Akan tetapi, lalu apakah yang kaucari di sini?”

“Aku aku ingin mencari Pangeran Ceng Tiu Ong.”

Pemuda itu nampak terkejut dan mengerutkan alisnya. Engkau mencari Pangeran Ceng Tiu Ong? Ada keperluan apakah?”

“Keperluan pribadi yang hanya akan kukatakan kepada dia sendiri. Dimanakah dia? Kalau dia atau puterinya yang bernama Ceng Hiang menyambut kedatanganku, tentu mereka akan mengerti. Aku tidak mau bicara dengan orang lain kecuali mereka. Nah, sekarang lebih baik laporkan kepada Pangeran Ceng Tiu Ong atau nona Ceng Hiang, aku akan menanti di sini. Ataukah engkau ingin melanjutkan perkelahian? Boleh…!”

Opsir itu kembali tersenyum.

“Wah, engkau galak amat sih! Baiklah, engkau tunggu dulu di sini, akan tetapi jangan membuat onar, aku akan meninggalkan kucingku di sini untuk menjagamu agar engkau tidak melakukan kekacauan macam-macam. Pangeran Ceng Tiu Ong dan puterinya tentu akan datang ke sini kalau memang benar mereka itu mengenalmu dan mempunyai urusan denganmu.”

Opsir muda itu lalu pergi melalui anak tangga dan mengatakan sesuatu dalam bahasa aneh kepada harimau itu. Harimau itu, seperti seekor anjing yang sudah terlatih baik saja layaknya, lalu mendekam di bawah anak tangga dan matanya terus mengamati ke arah Kiki.

Kiki merasa mendongkol bukan main. Dibalasnya pandang mata harimau itu dan iapun mencibir.

”Kaukira aku takut terhadap seekor kucing macam engkau? Huh, kalau tidak ingat majikanmu, tentu sudah kupukul pecah kepalamu, tahu?”

Aneh! Harimau itupun seolah-olah mencibir kepadanya dan menggereng panjang, seperti hendak mengatakan bahwa kalau dia tidak diperintah majikannya untuk berjaga saja, tentu tubuh gadis itu sudah dicabik-cabiknya dengan kuku dan diganyang dagingnya dengan taring-taringnya yang tajam meruncing.

Kiki makin mengkal hatinya dan membuang muka. Setelah kesabarannya menanti hampir habis, tiba-tiba ia mendengar suara orang bicara dan terdengar langkah kaki menuruni tangga itu. Tak lama kemudian, muncullah dua orang, dan orang pertama segera dikenalnya sebagai Pangeran Ceng Tiu Ong! Dan orang kedua adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya, dengan pakaian yang mewah seperti puteri istana saja. Demikian cantik jelita dan demikian indah pakaian gadis itu, sehingga sejenak Kiki hanya memandang dengan bengong. Itukah puteri sang pangeran? Demikian cantiknya, akan tetapi ia melihat persamaan bentuk wajah puteri itu dengan opsir muda tadi. Celaka, jangan-jangan opsir tadi putera Pangeran Ceng Tiu Ong atau saudara dan Ceng Hiang. Iapun bangkit berdiri. Melihat Kiki, Pangeran Ceng Tiu Ong tersenyum gembira.

“Aih, kiranya engkau yang datang, nona!” katanya sambil cepat menghampiri.

Kiki adalah seorang anak datuk sesat memang, namun iapun sudah cukup mempelajari tata susila dan apalagi ia merasa pernah membuat dosa besar dengan membajak perahu pangeran ini, walaupun ia juga menyelamatkan nyawa pangeran ini dan ancaman maut. Maka iapun cepat menjura dan berkata.

“Maafkan kedatangan saya seperti ini, pangeran. Saya datang malam- malam seperti ini karena hendak menyelidiki lebih dahulu keadaan pangeran sebelum saya menyampaikan barang-barang titipan paduka dahulu itu.”

“Aih, nona Tang, marilah kita duduk dulu di ruangan tamu. Perkenalkan, ini anakku, Ceng Hiang.”

Gadis yang cantik itu lalu tersenyum dan menghampiri, dan melihat senyum itu, Kiki tidak ragu-ragu lagi. Gadis ini tentu adik dari opsir tadi! Senyumnya sama!

“Engkau tentu yang bernama Tang Ki, nona yang pernah menyelamatkan ayahku dari bahaya tenggelam di laut. Aku berterima kasih kepadamu, adik yang baik,” katanya sambil memegang tangan Tang Ki.

Kiki merasa betapa halusnya telapak tangan itu, begitu halus lembut seperti sutera!

“Ah… bukan hanya menolong, akan tetapi juga menncelakakan,” jawab Kiki berani. “Mari, mari kita duduk di ruang tamu. Engkau adalah tamu agung bagi kami sekeluarga, nona Tang.” kata pangeran itu, dan mereka lalu naik anak tangga itu diikuti oleh harimau yang segera diusir oleh nona Ceng Hiang.

Setelah melalui beberapa lorong, sampailah mereka ke ruangan tamu yang luas dan amat indahnya lagi amat terang. Mereka duduk menghadapi meja yang terukir indah, dan segera pelayan-pelayan menyuguhkan air teh dan makanan kering.

“Maafkan, pangeran. Saya tidak akan berlama-lama, karena kedatangan saya tadi telah menimbulkan keributan. Saya disangka maling dan saya bahkan telah berkelahi melawan…” ia menoleh kepada Ceng Hiang.

“Opsir muda itu tentu saudaramu, bukan?”

“Aihh dia? Benar, benar… ia saudaraku,” kata Ceng Hiang sambil tersenyum, dan Pangeran Ceng Tiu Ong hanya tertawa saja.

“Karena itu, setelah bertemu dengan jiwi, saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya, yaitu akan mengirimkan titipan pangeran pada saya dahulu, yaitu sepeti terisi kitab-kitab kuno.”

“Bagus! Ahh… adik Tang Kl yang baik, mana kitab-kitab itu?”

Yang meloncat berdiri adalah Ceng Hiang, sedangkan pangeran itu tetap duduk saja.

“Karena saya hendak menyelidiki dulu tempat tinggal pangeran, maka peti itu saya titipkan pada keluarga petani, di luar tembok kota raja.”

“Kalau begitu harus diambil sekarang… Ayah biar aku yang antar adik Tang Ki mengambilnya, dan kami akan menggunakan kereta saja.”

Ayahnya tertawa.

“Ha-ha, kalian ini orang-orang muda memang segalanya menghendaki cepat saja. Baiklah! Pelayan, suruh kusir mempersiapkan kereta sekarang juga untuk dibawa ke luar kota raja!”

Malam itu juga, kurang lebih tepat tengah malam, Kiki bersama Ceng Hiang berangkat berdua saja naik kereta. Teman satu-satunya hanyalah seorang kusir yang berada di depan dan tidak nampak oleh mereka berdua yang duduk di dalam kereta. Melihat ini, Kiki merasa girang akan tetapi juga heran. Girang bahwa keluarga pangeran itu sedemikian besar menaruh kepercayaan kepadanya sehingga ia merasa terhormat sekali, akan tetapi juga heran mengapa seorang pangeran membiarkan puterinya pergi sendiri begitu saja di tengah malam tanpa pasukan pengawal, hanya bersama ia yang sebenarnya masih asing bagi mereka dan hanya seorang kusir saja.

Setelah kereta berjalan cepat meninggalkan gedung itu, Kiki tak dapat menahan dirinya bertanya.

”Siocia...”

“Wah, jangan memanggil nona-nona segala, adik yang baik… aku menjadi canggung,” Ceng Hiang mencela.

Kiki tersenyum.

“Habis lalu memanggil apa?”

“Namaku Hiang,  she  Ceng,  cukup  kalau  kau  sebut  enci  Hiang  saja.

Bukankah aku lebih tua darimu?”

“Belum tentu… engkau kelihatan masih begini muda dan cantik jelita.” “Usiaku sudah sembilanbelas tahun.”

“Wah… kalau  begitu  memang  kau  lebih  tua  satu  tahun,  enci  Hiang.

Namaku Ki, she Tang, akan tetapi bisa dipanggil Kiki.”

“Kalau begitu… akupun akan menyebutmu Ki-moi atau Kiki begitu saja!” kata Ceng Hiang sambil tertawa, dan merekapun saling merasa suka dan akrab.

“Enci Hiang, aku merasa heran sekali. Engkau adalah puteri tunggal seorang pangeran yang berkedudukan tmggi, kenapa ayahmu membiarkan engkau pergi sendirian saja di tengah malam seperti ini tanpa ada pasukan yang mengawalmu?”

Ceng Hiang tersenyum manis.

“Bukankah ada engkau yang lebih kuat dari pada puluhan orang pengawal?”

“Tentu aku akan melindungimu dengan taruhan nyawa, akan tetapi bagaimana ayahmu dapat begitu saja percaya kepadaku…”

“Engkau malah sudah menyelamatkan nyawanya dari kematian tenggelam di lautan.”

“Akan tetapi, akupun bersama anak buahku telah membunuh pasukan pengawalnya dan membakar perahunya!”

“Ah, sudahlah, Ki-moi. Untuk apa yang sudah lalu diungkit-ungkit kembali? Ayahku mengerti, bahwa engkau dan kawan-kawanmu bukan sembarangan bajak, melainkan orang orang yang berjiwa patriot dan yang bercita-cita menggulingkan pemerintah penjajah, bukankah demikian?”

“Kalau sudah tahu begitu, lebih-lebih lagi…” kata Kiki terkejut dan heran.

Kalau dia tahu bahwa aku berjiwa patriot dan hendak merobohkan kekuasaan penjajah, mengapa dia membiarkan engkau pergi sendirian dengan aku? Bukankah kalian adalah keluarga pangeran, keluarga kaisar Mancu?

“Benar, akan tetapi apakah engkau tidak tahu, adikku, bahwa tidak semua orang keturunan Mancu suka akan penjajahan ini, suka akan kaisarnya yang lemah? Engkau tentu pernah mendengar tentang mendiang Puteri Nirahai dan Puteri Milana, dua orang puteri Mancu, akan tetapi berjiwa pendekar dan gagah perkasa, bahkan diam-diam merekapun menentang kelaliman kaisar dan para pembesar?”

Kiki belum pernah mendengar dan ia menggelengkan kepalanya. “Siapakah mereka?”

“Mereka adalah puteri-puteri aseli dari Mancu, akan tetapi mereka tidak mau menjadi puteri, walaupun keduanya pernah menjadi panglima. Tidak mau tinggal di istana, bahkan Puteri Nirahai menikah dengan Pendekar Super Sakti dari Pulau Es…”

“Wah, kalau nama itu pernah disebut-sebut oleh ayah sebagai nama seorang tokoh sakti seperti dalam dongeng.”

“Bukan dongeng, melainkan sungguh-sungguh ada. Dan Puteri Nirahai yang masih saudara kaisar itu lebih suka tinggal bersama suaminya, Pendekar Super Sakti di Pulau Es, dari pada menjadi puteri di istana. Puteri mereka, Puteri Milana, juga menikah dengan seorang pendekar sakti dan tidak mau menjadi puteri di istana. Nah, jangan lantas kausamakan saja manusia atau bangsa dengan sekarung beras.”

“Ehhh?” Kiki tidak mengerti.

“Kalau orang membeli beras, mengambil segenggam dan melihat beras itu jelek, lalu dia tidak jadi beli dan mengatakan bahwa beras sekarung itu jelek. Tidak demikian dengan bangsa. Bangsa terdiri dari manusia-manusia dan di antara manusia-manusia, tentu ada yang jelek dan ada yang baik. Ada yang suka menjajah akan tetapi ada pula yang tidak suka dengan politik penjajahan itu.” “Jadi kau dan ayahmu...”

“Kami tidak Suka dengan siasat pemerintah menjajah bangsa lain, apalagi kami tidak suka melihat kelemahan kaisar yang bertekuk lutut kepada orang- orang kulit putih. Karena itu, ayah kagum dan percaya kepadamu. Pula, siapa sih yang akan mengganggu kita?”

Kiki hanya tersenyum, dan pada saat itu, kereta berhenti sebentar karena dihentikan oleh penjaga pintu gerbang. Terdengar percakapan antara kusir dan perajurit penjaga yang dengan suara lantang mengatakan bahwa kereta itu milik Pangeran Ceng Tiu Ong dan bahwa kini dia sedang mengantarkan Ceng Sioda keluar pintu gerbang untuk utusan pribadi dan kalau terburu, mungkin malam ini juga kembali ke kota raja lagi.

“Sobat, maafkan kami. Berhubungan perintah atasan untuk melihat siapa yang keluar masuk kota raja, walaupun tidak diperiksa, hanya diawasi saja, maka terpaksa kami akan menjenguk ke dalam kereta untuk meneliti kebenaran keteranganmu ini.”